BAB II — KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Evaluasi
1.1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses sistematis, berkelanjutan, dan berbasis bukti
yang bertujuan untuk menentukan nilai, mutu, atau efektivitas suatu program,
kebijakan, atau kegiatan tertentu. Evaluasi mencakup dua unsur utama, yaitu
pengukuran (measurement) dan penilaian (assessment).
Menurut Rossi, Lipsey, dan Henry (2019), evaluasi adalah proses sistematis untuk
menilai rancangan, implementasi, dan hasil dari suatu program, dengan tujuan
memberikan dasar empiris bagi pengambilan keputusan. Sementara Newcomer,
Hatry, dan Wholey (2015) menekankan bahwa evaluasi tidak hanya
mengumpulkan data, tetapi juga menafsirkan informasi tersebut untuk menilai
sejauh mana tujuan program tercapai.
Secara konseptual:
Pengukuran (measurement) adalah kegiatan memberikan angka atau
skor terhadap suatu atribut atau variabel yang diobservasi secara objektif.
Penilaian (assessment) merupakan interpretasi hasil pengukuran untuk
memahami arti atau maknanya.
Evaluasi kemudian menjadi langkah terakhir, yaitu memberikan
keputusan nilai (judgment) terhadap hasil pengukuran dan penilaian
berdasarkan kriteria tertentu (McDavid, Huse, & Hawthorn, 2019).
Dengan demikian, evaluasi tidak hanya mengandalkan data kuantitatif, tetapi juga
analisis kualitatif untuk memahami konteks, relevansi, serta dampak suatu
intervensi terhadap kelompok sasaran (Merle, 2024). Evaluasi modern
menekankan keseimbangan antara akurasi pengukuran, ketepatan penilaian,
dan relevansi keputusan yang diambil dari hasilnya.
1.2. Tujuan Evaluasi
Tujuan utama evaluasi adalah untuk menyediakan informasi yang akurat dan
relevan sebagai dasar pengambilan keputusan. Menurut Wholey, Hatry, dan
Newcomer (2015), evaluasi memiliki beberapa fungsi utama:
1. Akuntabilitas, untuk menunjukkan bahwa sumber daya digunakan secara
efektif dan efisien.
2. Perbaikan program (program improvement), melalui identifikasi
kelemahan dan rekomendasi solusi.
3. Pengambilan keputusan kebijakan, guna menentukan kelanjutan,
modifikasi, atau penghentian program.
4. Pembelajaran organisasi (organizational learning), agar lembaga dapat
meningkatkan kapasitas internalnya.
5. Pembuktian dampak (impact evaluation), untuk mengetahui efek atau
perubahan yang dihasilkan oleh intervensi tertentu.
Havsteen-Franklin et al. (2021) menegaskan bahwa evaluasi yang dilakukan
secara reflektif dan berorientasi pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas
dan keberlanjutan program. Dengan kata lain, evaluasi bukan sekadar mengukur
hasil, melainkan juga menjadi alat strategis bagi organisasi untuk belajar dan
beradaptasi terhadap perubahan konteks.
1.3. Model-model Evaluasi
Berbagai model evaluasi dikembangkan untuk membantu peneliti atau evaluator
memilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan dan konteks program. Berikut
adalah beberapa model evaluasi yang banyak digunakan:
1. Model CIPP (Context, Input, Process, Product) — dikembangkan oleh
Daniel L. Stufflebeam; menilai program dari aspek konteks, masukan,
proses, dan produk/hasil. Cocok untuk evaluasi program pendidikan dan
kebijakan publik.
2. Model Kirkpatrick (Four Levels) — oleh Donald L. Kirkpatrick; menilai
efektivitas pelatihan berdasarkan empat level: reaksi, pembelajaran,
perilaku, dan hasil organisasi.
3. Model Utilization-Focused Evaluation (UFE) — oleh Michael Q. Patton;
menekankan pada kegunaan hasil evaluasi bagi pemangku kepentingan
utama.
4. Model Theory-Based / Realist Evaluation — berorientasi pada
pemahaman mekanisme “bagaimana” dan “mengapa” suatu program
berhasil dalam konteks tertentu.
5. Model Logic (Logic Model) — menggambarkan hubungan sebab-akibat
antara input, kegiatan, output, outcome, dan dampak program sebagai
kerangka sistematis untuk evaluasi.
1.4. Evaluasi Model Logic (Logic Model Evaluation)
Penelitian ini menggunakan evaluasi model logika (logic model) yang
dikembangkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sebagai
kerangka konseptual untuk menilai keterkaitan antara sumber daya, kegiatan,
hasil, dan dampak program. Logic model digunakan karena mampu memberikan
gambaran menyeluruh tentang bagaimana program dirancang untuk mencapai
tujuan, sekaligus mengidentifikasi titik-titik kritis yang perlu dievaluasi (McDavid
et al., 2019).
Secara umum, komponen utama dalam logic model meliputi:
Komponen Deskripsi
Sumber daya yang diinvestasikan dalam program, seperti dana,
Input
tenaga kerja, sarana, dan dukungan organisasi.
Tindakan atau proses yang dilakukan menggunakan input,
Activities
misalnya pelatihan, penyuluhan, sosialisasi, atau implementasi
(Kegiatan)
kebijakan.
Outputs Hasil langsung dari kegiatan, seperti jumlah peserta, produk,
(Keluaran) dokumen, atau layanan yang dihasilkan.
Perubahan yang diharapkan terjadi akibat output, baik jangka
Outcomes pendek (pengetahuan/sikap), jangka menengah
(Hasil) (perilaku/keterampilan), maupun jangka panjang (kondisi
sosial/organisasi).
Impact Pengaruh luas dan berkelanjutan terhadap sistem, masyarakat,
(Dampak) atau kebijakan publik.
Hubungan antar komponen dalam model logic bersifat kausal dan berurutan,
mengikuti prinsip “if… then…” (jika… maka…):
Jika input tersedia dan dimanfaatkan → maka kegiatan dapat
dilaksanakan.
Jika kegiatan terlaksana → maka output akan dihasilkan.
Jika output tercapai → maka outcomes yang diharapkan akan muncul.
Jika outcomes tercapai secara konsisten → maka impact jangka panjang
dapat diwujudkan.
Menurut Havsteen-Franklin et al. (2021), logic model membantu evaluator
mengidentifikasi indikator kinerja kunci (key performance indicators) di setiap
tahap dan memastikan bahwa pengukuran dilakukan secara objektif dan relevan.
Merle (2024) menambahkan bahwa logic model juga efektif dalam menilai
kompleksitas implementasi program, karena memungkinkan visualisasi hubungan
antar komponen secara sistematis.
Dalam konteks penelitian ini, model logic digunakan untuk:
1. Memetakan alur input → kegiatan → output → outcome program yang
dievaluasi.
2. Menentukan indikator yang tepat di setiap tahapan.
3. Menilai sejauh mana hasil yang diperoleh konsisten dengan teori
perubahan program.
Dengan demikian, evaluasi model logic tidak hanya menjadi alat analisis, tetapi
juga instrumen konseptual untuk memastikan keterpaduan antara rancangan,
pelaksanaan, dan hasil program secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Buku (2015–2025):
1. Rossi, P. H., Lipsey, M. W., & Henry, G. T. (2019). Evaluation: A Systematic
Approach (8th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
2. Newcomer, K. E., Hatry, H. P., & Wholey, J. S. (Eds.). (2015). Handbook of
Practical Program Evaluation (4th ed.). San Francisco, CA:
Jossey-Bass/Wiley.
3. McDavid, J. C., Huse, I., & Hawthorn, L. R. L. (2019). Program Evaluation
and Performance Measurement: An Introduction to Practice (3rd ed.). Los
Angeles: Sage Publications.
4. Patton, M. Q. (2018). Utilization-Focused Evaluation (5th ed.). Thousand
Oaks, CA: Sage Publications.
Artikel Jurnal (Scopus/SINTA 2021–2025):
1. Havsteen-Franklin, D., et al. (2021). Developing a program logic model to
guide arts-based psychosocial practice. Frontiers in Psychology, 12,
735912.
2. Merle, J. L. (2024). Refining the implementation research logic model.
Implementation Science Communications, 5(1), 12–23.
3. Luo, X., et al. (2024). Theoretical frameworks and logic models in program
evaluation: A systematic review. Education and Information Technologies,
29(3), 2431–2450.
4. Evaluation and Program Planning (Elsevier), Vol. 98 (2023). Various
articles on model-based evaluation (Scopus Q1).
5. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (2023). Analisis penerapan
model logika dalam evaluasi program pendidikan. Universitas Negeri
Yogyakarta. (SINTA 2).
B. Sekolah Sehat Jiwa (SSJ)
a. Pengertian Sekolah Sehat Jiwa
Berdasarkan Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 80 Tahun 2024 tentang
Rencana Aksi Daerah (RAD) Upaya Kesehatan Jiwa Kota Yogyakarta Tahun 2024–
2028, Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) adalah sekolah yang melaksanakan upaya
kesehatan jiwa di lingkungan sekolah dengan tujuan menciptakan lingkungan
yang sehat, aman, nyaman, dan sejahtera bagi seluruh warga sekolah, sehingga
mampu menyiapkan generasi yang tangguh dan berdaya saing
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
Konsep SSJ berangkat dari pendekatan promotif dan preventif dalam bidang
kesehatan jiwa, yang menekankan bahwa kesejahteraan mental merupakan
bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan. Dengan demikian, SSJ tidak
hanya berorientasi pada pencegahan gangguan jiwa, tetapi juga pada
pembangunan budaya sekolah yang mendukung kesehatan mental seluruh
warga sekolah — siswa, guru, maupun tenaga kependidikan.
b. Dasar Hukum Sekolah Sehat Jiwa
Pelaksanaan program Sekolah Sehat Jiwa memiliki dasar hukum yang kuat baik di
tingkat nasional maupun daerah, yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang
menegaskan pentingnya upaya promotif dan preventif dalam peningkatan
kesehatan jiwa masyarakat.
2. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 13 Tahun 2022
tentang Penyelenggaraan Kesehatan Jiwa, yang mengatur tanggung
jawab pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang
mendukung kesehatan mental.
3. Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 80 Tahun 2024 tentang Rencana
Aksi Daerah (RAD) Upaya Kesehatan Jiwa Tahun 2024–2028, yang
menetapkan Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) sebagai bagian dari strategi daerah
dalam mewujudkan masyarakat sehat jiwa
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
.
4. Kebijakan pendukung dari Kementerian Kesehatan RI terkait
Transformasi Sistem Kesehatan Nasional (pilar pertama: transformasi
layanan primer) yang mengintegrasikan kesehatan jiwa di institusi
pendidikan
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
c. Tujuan Sekolah Sehat Jiwa
Tujuan dari program Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) di Kota Yogyakarta adalah:
1. Meningkatkan kesadaran dan literasi kesehatan jiwa bagi siswa, guru,
dan orang tua.
2. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan suportif,
sehingga menurunkan risiko kekerasan, perundungan (bullying), dan stres
akademik.
3. Meningkatkan ketahanan psikologis (resiliensi) peserta didik agar
mampu mengelola tekanan belajar maupun kehidupan sosial.
4. Mencegah dan mendeteksi dini masalah kesehatan mental, melalui
skrining rutin dan konseling sekolah.
5. Memperkuat jejaring kolaboratif lintas sektor, antara sekolah,
puskesmas, dinas pendidikan, dan lembaga masyarakat dalam
pelaksanaan upaya kesehatan jiwa
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
d. Fungsi Sekolah Sehat Jiwa
Fungsi utama Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) dalam kebijakan kesehatan daerah
meliputi:
1. Sebagai wadah intervensi promotif dan preventif, dalam upaya
meningkatkan kesadaran kesehatan mental sejak usia sekolah.
2. Sebagai sarana pengembangan perilaku hidup sehat secara mental dan
sosial, melalui pendidikan keterampilan sosial dan emosional.
3. Sebagai jejaring rujukan awal (early referral) antara sekolah dan fasilitas
pelayanan kesehatan jiwa (puskesmas dan rumah sakit rujukan).
4. Sebagai pusat literasi kesehatan jiwa, yang memberikan informasi,
edukasi, dan kampanye anti-stigma terkait kesehatan mental
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
5. Sebagai indikator daerah sehat jiwa, yang menjadi bagian dari sistem
pembangunan kesehatan masyarakat Kota Yogyakarta.
e. Program dan Kegiatannya
Program Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) dilaksanakan secara bertahap oleh Dinas
Kesehatan Kota Yogyakarta bersama lintas sektor lainnya, sesuai dengan
Rencana Aksi Daerah (RAD) Upaya Kesehatan Jiwa 2024–2028.
Secara rinci, kegiatan SSJ terbagi dalam enam komponen utama sebagai berikut:
1. Sosialisasi dan Advokasi Sekolah Sehat Jiwa
Program awal SSJ diawali dengan kegiatan sosialisasi dan advokasi untuk
membangun komitmen bersama lintas sektor.
Kegiatan meliputi:
Sosialisasi kebijakan, tujuan, dan panduan pelaksanaan SSJ kepada kepala
sekolah, guru, tenaga kesehatan, dan komite sekolah.
Advokasi kepada dinas terkait agar SSJ terintegrasi dalam program sekolah
dan rencana kerja tahunan (RKS).
Pembentukan tim koordinasi lintas sektor yang melibatkan Dinas
Kesehatan, Dinas Pendidikan, puskesmas, serta organisasi profesi seperti
HIMPSI dan IDI
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
.
2. Pengembangan Kapasitas (Capacity Building) Warga Sekolah
Komponen ini bertujuan meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam
memahami, mendeteksi, dan menangani permasalahan kesehatan jiwa.
Kegiatan meliputi:
Pelatihan guru BK dan wali kelas dalam deteksi dini gangguan mental
emosional siswa (menggunakan SRQ-20, GHQ-12, atau DASS-21).
Pelatihan kader sebaya (peer educator) di kalangan siswa untuk menjadi
agen promosi kesehatan jiwa.
Workshop manajemen stres, regulasi emosi, dan komunikasi empatik
bagi guru dan siswa.
Pelatihan petugas UKS dan puskesmas dalam memberikan pendampingan
teknis dan konseling dasar
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
3. Pelaksanaan Kegiatan Promotif dan Preventif
Kegiatan promotif dan preventif dilakukan untuk menanamkan nilai dan budaya
sehat jiwa di sekolah.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
Penyuluhan dan diskusi kesehatan jiwa dengan topik seperti stres
akademik, manajemen emosi, pencegahan bullying, dan kesehatan jiwa
remaja.
Kampanye literasi dan aksi sosial, seperti Hari Kesehatan Jiwa Dunia,
lomba poster edukasi, dan pementasan teater edukatif.
Talkshow dan kelas inspirasi dengan menghadirkan psikolog, praktisi, dan
tokoh muda inspiratif.
Program “Kesehatan Jiwa On The Road”, yaitu kegiatan edukatif keliling
ke sekolah-sekolah di wilayah kemantren bersama tim Dinas Kesehatan
dan puskesmas
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
4. Layanan Deteksi Dini dan Konseling
Komponen ini menekankan deteksi dini dan intervensi awal terhadap masalah
kesehatan mental siswa.
Rangkaian kegiatan:
Skrining berkala menggunakan kuesioner standar (SRQ-20, DASS-21)
untuk mendeteksi gejala awal stres, depresi, atau kecemasan.
Konseling individual dan kelompok oleh guru BK, psikolog sekolah, atau
petugas kesehatan jiwa puskesmas.
Pendampingan kasus ringan hingga sedang melalui koordinasi antara
sekolah dan puskesmas.
Rujukan terintegrasi ke layanan spesialis (RSJ Grhasia atau psikolog klinis)
bagi kasus berat.
Pemantauan tindak lanjut oleh tim SSJ sekolah untuk memastikan
keberlanjutan intervensi
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
5. Penguatan Jejaring dan Kolaborasi
Kegiatan ini bertujuan menciptakan ekosistem pendukung yang berkelanjutan.
Langkah-langkah implementasi:
Pembentukan forum jejaring SSJ antar sekolah di tiap kemantren untuk
berbagi praktik baik.
Kolaborasi dengan LSM, organisasi profesi, dan lembaga masyarakat
dalam penyuluhan dan pendampingan psikososial.
Integrasi kegiatan SSJ dengan program Kelurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ)
untuk memperkuat sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan.
Pengembangan sistem informasi monitoring SSJ dalam Sistem Informasi
Kesehatan Daerah (SIKDA) untuk pelaporan capaian program
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
6. Monitoring, Evaluasi, dan Pengembangan Panduan Teknis
Kegiatan ini memastikan keberlanjutan dan peningkatan mutu program SSJ.
Bentuk pelaksanaan:
Penyusunan Buku Panduan Pelaksanaan Sekolah Sehat Jiwa, yang
menjadi pedoman resmi implementasi.
Monitoring dan evaluasi berkala oleh Dinas Kesehatan dan puskesmas
terhadap sekolah-sekolah pelaksana.
Pelaksanaan rapat evaluasi tahunan lintas sektor untuk menilai capaian,
hambatan, dan rekomendasi pengembangan.
Revisi pedoman SSJ berdasarkan hasil evaluasi dan umpan balik dari
sekolah pelaksana
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
f. Pilot Project Sekolah Sehat Jiwa
Sebagai tahap awal, Pemerintah Kota Yogyakarta melaksanakan pilot project
Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) pada tahun 2024–2025 di beberapa SLTP dan SLTA di
wilayah kota.
Kegiatan pilot project meliputi:
1. Sosialisasi lintas sektor (Dinkes, Dikpora, Puskesmas, sekolah, dan
TPKJM).
2. Pelatihan penerapan SSJ untuk guru, konselor, dan petugas kesehatan
sekolah.
3. Pelaksanaan kegiatan promosi, skrining, dan konseling di sekolah
percontohan.
4. Monitoring dan evaluasi hasil implementasi guna mengukur efektivitas
program.
5. Penyusunan panduan final SSJ berdasarkan hasil pembelajaran dari pilot
project.
Target capaian program adalah 100% SLTP dan SLTA di Kota Yogyakarta
melaksanakan SSJ pada tahun 2028
Perwal Kota Jogja Nomor 80 Tahu…
.
Pilot project ini diharapkan menjadi model nasional yang memperkuat kolaborasi
pendidikan dan kesehatan dalam membentuk sekolah yang ramah dan sehat
jiwa.
B. Penelitian Terdahulu
1. Rua, Y. M., Naibili, M. J. E., Bete, R. N. S., & Asa, S. M. S. (2023).
Pelatihan Kader Sekolah Sehat Jiwa (Sehati) dalam Deteksi Dini Kesehatan
Jiwa di SMA.
International Journal of Community Service Learning, 7(1), 63–76.
Poin penting penelitian:
o Penelitian ini mengkaji efektivitas pelatihan kader sekolah sehat
jiwa (Sehati) sebagai upaya peningkatan kemampuan siswa dalam
mendeteksi dini gangguan kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.
o Pelatihan diberikan kepada siswa dan guru SMA untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar dalam
mengenali tanda-tanda stres, kecemasan, dan depresi.
o Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan
dalam kemampuan kader sekolah untuk memberikan dukungan
awal dan melakukan rujukan ke pihak terkait.
o Kesimpulannya, pelatihan kader menjadi strategi efektif dan
berkelanjutan untuk membangun lingkungan sekolah yang peduli
kesehatan jiwa dan memperkuat implementasi konsep Sekolah
Sehat Jiwa (SSJ).
2. Yuliasari, H., Azizah, F. N., Prawita, E., Asmarani, I., & Fadiya, A. (2024).
Peer Support Program untuk Mewujudkan Sekolah Sehat Jiwa di Pondok
Pesantren.
Poin penting penelitian:
o Penelitian ini mengembangkan dan mengimplementasikan
program dukungan sebaya (peer support program) di lingkungan
pondok pesantren untuk mewujudkan sekolah yang sehat jiwa.
o Tujuannya adalah membentuk kader sebaya yang berperan
sebagai teman konselor bagi santri dalam memberikan dukungan
emosional, mendengarkan keluhan, dan membantu mencari solusi
atas masalah psikologis.
o Program ini melibatkan pelatihan keterampilan komunikasi
empatik, literasi kesehatan mental, dan mekanisme rujukan ke
tenaga profesional bila diperlukan.
o Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sebaya
meningkatkan rasa percaya diri, keterbukaan, dan solidaritas antar
santri serta menurunkan kecenderungan stres dan isolasi sosial.
o Kesimpulannya, pendekatan peer support efektif diterapkan di
lembaga pendidikan berbasis pesantren dan sejalan dengan tujuan
Sekolah Sehat Jiwa sebagai wadah penguatan kesejahteraan
psikologis komunitas sekolah.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini menggunakan evaluasi model logika (logic model evaluation)
sebagai pendekatan dalam menilai pelaksanaan Program Sekolah Sehat Jiwa
(SSJ) di Kota Yogyakarta. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik
program yang bersifat lintas sektor, masih dalam tahap awal pelaksanaan, serta
menekankan hubungan antara sumber daya, kegiatan, dan hasil langsung
(output) yang dapat diamati secara objektif.
Menurut McDavid, Huse, dan Hawthorn (2019) serta Rossi, Lipsey, dan Henry
(2019), logic model merupakan alat konseptual untuk menggambarkan hubungan
sebab-akibat antara input, kegiatan, output, outcome, dan dampak. Model ini
membantu evaluator memahami bagaimana suatu program direncanakan untuk
bekerja (theory of change), serta pada tahap mana evaluasi dapat dilakukan
secara realistis.
Dalam konteks Sekolah Sehat Jiwa (SSJ), kerangka evaluasi ini digunakan untuk
menilai sejauh mana input dan kegiatan program telah menghasilkan keluaran
(output) sesuai rencana. Mengingat program SSJ di Kota Yogyakarta baru berjalan
selama dua tahun (2024–2025), maka evaluasi difokuskan hanya sampai tahap
output, karena hasil jangka menengah (outcome) seperti perubahan perilaku dan
penurunan angka gangguan mental belum dapat diukur secara valid dalam
periode waktu yang singkat.
Kerangka Evaluasi Model Logika Sekolah Sehat Jiwa
Berikut struktur kerangka pikir evaluasi berdasarkan model logika yang digunakan
dalam penelitian ini:
1. Input
Merupakan semua sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan Sekolah
Sehat Jiwa (SSJ), meliputi:
Dukungan kebijakan: Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 80 Tahun
2024.
Sumber daya manusia: guru BK, tenaga kesehatan puskesmas, kader
sebaya, dan tim pelaksana SSJ.
Sarana dan prasarana: ruang konseling, media edukasi, alat skrining
kesehatan jiwa.
Dukungan anggaran dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan.
Kolaborasi lintas sektor: puskesmas, sekolah, TPKJM, dan LSM.
2. Kegiatan (Process/Activities)
Tahapan pelaksanaan program yang dirancang untuk mencapai tujuan SSJ, antara
lain:
Sosialisasi dan advokasi lintas sektor.
Pelatihan guru, tenaga kesehatan, dan kader sebaya.
Pelaksanaan kegiatan promotif–preventif: penyuluhan, kampanye literasi,
dan “Kesehatan Jiwa On The Road”.
Skrining kesehatan jiwa siswa dan layanan konseling dasar.
Pembentukan jejaring SSJ antar sekolah dan forum evaluasi rutin.
3. Output
Hasil langsung dari kegiatan yang telah dilakukan, mencakup:
Terbentuknya sekolah pelaksana SSJ dan tim pelaksana di setiap sekolah.
Tersedianya tenaga terlatih (guru BK, kader sebaya, dan petugas
puskesmas).
Terlaksananya kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan konseling di sekolah.
Terbitnya panduan teknis pelaksanaan SSJ.
Meningkatnya literasi kesehatan jiwa di kalangan siswa dan guru.
4. Outcome Pendek 1-3 th panjang 4-6 th
Tahap ini mencakup perubahan jangka menengah seperti peningkatan resiliensi
siswa, penurunan stres akademik, dan penguatan budaya sekolah sehat jiwa.
Namun, karena program SSJ baru dua tahun berjalan, indikator outcome hanya
sampai jangka pendek tidak sampai ke oytcome jangka panjang dan impact
5. Impact
tabel kerangka
D. Pertanyaan Evaluasi
Berdasarkan kerangka Logic Model Evaluation yang digunakan dalam penelitian
ini, evaluasi difokuskan pada 4 komponen, yaitu input, activities (kegiatan),
output dan outcome.
Masing-masing komponen dijabarkan dalam satu pertanyaan evaluatif utama
sebagai berikut:
1. Komponen Input
Bagaimana kesiapan dan kecukupan sumber daya (manusia, sarana, kebijakan,
dan kolaborasi lintas sektor) dalam mendukung pelaksanaan Program Sekolah
Sehat Jiwa di Kota Yogyakarta?
2. Komponen Activities (Kegiatan)
Bagaimana pelaksanaan kegiatan Program Sekolah Sehat Jiwa di sekolah,
meliputi sosialisasi, pelatihan, promosi kesehatan jiwa, dan layanan deteksi
dini, sesuai dengan pedoman pelaksanaan yang ditetapkan oleh Dinas
Kesehatan Kota Yogyakarta?
3. Komponen Output
Apa hasil langsung (output) yang telah dicapai dari pelaksanaan Program
Sekolah Sehat Jiwa selama dua tahun berjalan, dilihat dari terbentuknya
sekolah pelaksana, tenaga terlatih, dan peningkatan literasi kesehatan jiwa
warga sekolah?
[Link] outcome ? apa hasil outcome jangkpa pendek? k perubahan spesifik
yang dapat berupa keterampilan, perilaku, pengetahuan, status, dan tingkat
fungsi peserta program. Outcome ini terbagi menjadi 2 yakni jangka pendek (1-3
tahun)
Penegasan Batasan Evaluasi
Penelitian ini tidak mengevaluasi tahap impactkarena Program Sekolah Sehat
Jiwa (SSJ) baru berjalan selama dua tahun (2024–2025).
Oleh karena itu, fokus penelitian terbatas pada input, kegiatan, hasil langsung
(output), dan outcome jangka pendek untuk menilai sejauh mana program telah
berjalan sesuai rencana dan menghasilkan dampak awal yang terukur.