0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan41 halaman

Mektan

Laporan praktikum mekanika tanah ini disusun oleh Kelompok 9 dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Malahayati untuk memahami sifat fisik dan mekanik tanah melalui pengujian laboratorium. Praktikum bertujuan untuk menganalisis parameter tanah dan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang karakteristik tanah dalam konteks teknik sipil. Dokumen ini mencakup teori dasar, prosedur praktikum, dan pentingnya mekanika tanah dalam perancangan struktur teknik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan41 halaman

Mektan

Laporan praktikum mekanika tanah ini disusun oleh Kelompok 9 dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Malahayati untuk memahami sifat fisik dan mekanik tanah melalui pengujian laboratorium. Praktikum bertujuan untuk menganalisis parameter tanah dan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang karakteristik tanah dalam konteks teknik sipil. Dokumen ini mencakup teori dasar, prosedur praktikum, dan pentingnya mekanika tanah dalam perancangan struktur teknik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

MEKANIKA TANAH

Disusun Oleh:
KELOMPOK 9
1. Lydia Apriliani (22110013)
2. Zelpa Vutrha Andika (22110028)
3. Bagus Adi Guna Pratama (22110042)
4. Jailani (22110059)
5. Nesha Revina Cahyani (22110073)
6. Serli Angelita Sitanggang (22110091)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2026
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR ASISTENSI JILID
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mekanika tanah merupakan cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari sifat
fisik dan mekanik tanah serta perilakunya sebagai material pendukung bangunan.
Tanah memiliki peranan yang sangat penting dalam perencanaan dan pelaksanaan
konstruksi, karena hampir seluruh struktur bangunan seperti gedung, jalan,
jembatan, dan bendungan berdiri di atas tanah. Oleh karena itu, pemahaman
terhadap karakteristik tanah sangat diperlukan untuk menjamin keamanan,
kestabilan, dan keberlanjutan suatu konstruksi.
Setiap jenis tanah memiliki sifat yang berbeda-beda, baik dari segi butiran,
kadar air, kepadatan, maupun kekuatannya dalam menahan beban. Perbedaan sifat
tersebut dapat memengaruhi daya dukung tanah dan perilaku tanah terhadap
perubahan kondisi lingkungan. Apabila sifat tanah tidak diketahui dengan baik,
maka dapat menyebabkan kegagalan konstruksi seperti penurunan tanah, retak,
atau bahkan keruntuhan bangunan.
Praktikum mekanika tanah dilakukan sebagai upaya untuk memahami secara
langsung sifat-sifat tanah melalui pengujian di laboratorium. Melalui praktikum
ini, mahasiswa dapat mempelajari metode pengujian tanah, menganalisis hasil
pengujian, serta mengaitkannya dengan teori yang telah dipelajari di perkuliahan.
Dengan demikian, praktikum ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
mahasiswa mengenai karakteristik tanah dan penerapannya dalam bidang teknik
sipil.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum Mekanika Tanah adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui dan memahami sifat fisik dan mekanuka tanah melalui
pengujian laboratorium.
2. Menentukan parameter-parameter tanah, seperti kadar air, berat jenis,
distribusi ukuran butir, batas-batas Atterberg, kepadatan dan kuat geser
tanah.

1.3 Tempat dan Waktu Praktikum


Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Prodi Teknik Sipil Universitas
Malahayati. Waktu pelaksanaan pada bulan Desember 2025 s/d selesai.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Mekanika Tanah


Mekanika tanah adalah cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari sifat-sifat
teknik tanah serta perilakunya sebagai material pendukung bangunan di bawah
pengaruh beban dan kondisi lingkungan tertentu. Terzaghi menekankan bahwa
tanah merupakan material alami yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan
ilmiah dalam menganalisis kekuatan, deformasi, dan stabilitas tanah (Karl
Terzaghi, 1925).
Mekanika tanah merupakan cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari sifat
fisik, mekanik, dan perilaku tanah terhadap pengaruh gaya dan perubahan kondisi
lingkungan. Tanah sebagai material alam memiliki karakteristik yang sangat
kompleks dan bervariasi, sehingga memerlukan pendekatan ilmiah untuk
memahami responsnya terhadap beban struktur. Ilmu mekanika tanah menjadi
dasar dalam perencanaan dan analisis struktur geoteknik seperti pondasi, lereng,
dinding penahan tanah, timbunan, dan perkerasan jalan (Das, 2014).

2.2 Asal-usul dan Pembentukan Tanah


Asal muasal tanah adalah dari pelapukan batuan induk (beku, sedimen,
metamorf) yang terjadi sangat lambat selama ribuan hingga jutaan tahun,
bercampur dengan bahan organik (sisa tumbuhan/hewan), air, dan udara, serta
dipengaruhi oleh faktor iklim, topografi (relief), dan organisme, membentuk
lapisan-lapisan unik (horizon) melalui proses fisik, kimia, dan biologi yang
disebut pedogenesis.
Berdasarkan proses pembentukannya, tanah dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Tanah residual, yaitu tanah yang terbentuk dan tetap berada di atas batuan
induknya.
2. Tanah transportasi, yaitu tanah yang mengalami perpindahan oleh media
air, angin, es, atau gravitasi sebelum mengendap di lokasi tertentu
(Hardiyatmo, 2012).
2.3 Sistem Tiga Fase Tanah
Sistem 3 fase tanah adalah konsep dasar dalam geoteknik dan ilmu tanah yang
menyatakan bahwa tanah terdiri dari tiga komponen utama yang saling
berhubungan: fase padat, fase cair, dan fase gas yang mengisi ruang pori-porinya.
Komponen-komponen fase tanah:
 Fase Padat: Merupakan matriks tanah yang terdiri dari partikel mineral
(pasir, lanau, lempung) dan bahan organik.
 Fase Cair: Air tanah yang mengisi sebagian ruang pori, terdiri dari air
terlarut dan air yang melekat pada partikel tanah.
 Fase Gas: Udara yang mengisi sisa ruang pori, utamanya terdiri dari
nitrogen, oksigen, dan karbon dioksida.

2.4 Sifat Fisik Tanah


Sifat fisik tanah merupakan karakteristik dasar yang dapat diukur secara
langsung melalui pengujian laboratorium. Sifat-sifat ini berpengaruh besar
terhadap perilaku mekanik tanah.
2.4.1 Kadar Air
Kadar air adalah perbandingan antara berat air dengan berat kering tanah
dan dinyatakan dalam persen. Kadar air sangat memengaruhi kekuatan,
konsistensi, dan daya dukung tanah.
2.4.2 Berat Isi dan Berat Jenis Tanah
Berat isi tanah adalah berat tanah per satuan volume, sedangkan berat jenis
tanah adalah perbandingan antara berat volume butiran tanah dengan berat volume
air. Nilai berat jenis umumnya berkisar antara 2,60–2,75 untuk tanah mineral
(Craig, 2004).
2.4.3 Angka Pori dan Porositas
Angka pori (e) adalah perbandingan antara volume pori dengan volume
butiran padat, sedangkan porositas (n) adalah perbandingan antara volume pori
dengan volume total tanah. Nilai ini menunjukkan tingkat kerapatan susunan
butiran tanah.
2.5 Analisis Ukuran Butiran Tanah
Analisis ukuran butiran bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran partikel
tanah. Metode yang digunakan meliputi:
1. Analisis saringan untuk tanah berbutir kasar,
2. Analisis hidrometer untuk tanah berbutir halus. Hasil analisis ini disajikan
dalam bentuk kurva distribusi ukuran butir yang digunakan untuk
klasifikasi tanah dan evaluasi sifat teknisnya (Das, 2014).

2.6 Batas-batas Atterberg


Batas Atterberg adalah kadar air kritis pada tanah berbutir halus (lanau dan
lempung) yang menentukan perubahan konsistensi atau fase tanah dari padat
menjadi semi-padat, plastis, hingga cair. Batas-batas tersebut terdiri dari:
1. Batas Cair (Liquid Limit, LL): Kadar air tertinggi di mana tanah masih
berperilaku plastis (dapat dibentuk) sebelum berubah menjadi cairan atau
lumpur.
2. Batas Plastis (Plastic Limit, PL): Kadar air terendah di mana tanah mulai
menunjukkan perilaku plastis; tanah dapat digulung menjadi benang tipis
tanpa retak.
3. Batas Susut (Shrinkage Limit, SL): Kadar air terendah di mana tanah
berhenti menyusut volumenya saat dikeringkan.

2.7 Klasifikasi Tanah


Klasifikasi tanah bertujuan untuk mengelompokkan tanah berdasarkan sifat
sifat tertentu agar memudahkan analisis teknik. Sistem klasifikasi yang umum
digunakan adalah: 1. Unified Soil Classification System (USCS) 2. AASHTO Soil
Classification System Sistem USCS mengelompokkan tanah berdasarkan ukuran
butir dan batas Atterberg, sedangkan sistem AASHTO lebih berorientasi pada
perencanaan perkerasan jalan (Das, 2014).
2.8 Pemadatan Tanah
Pemadatan tanah merupakan proses peningkatan kepadatan tanah dengan cara
mengurangi rongga udara menggunakan energi mekanis. Pemadatan bertujuan
untuk meningkatkan kekuatan tanah, mengurangi penurunan, dan meningkatkan
stabilitas tanah.
Hubungan antara kadar air dan berat isi kering maksimum diperoleh melalui
uji pemadatan Proctor, yang terdiri dari:
1. Proctor Standar.
2. Proctor Modifikasi.

2.9 Kuat Geser Tanah


Kuat geser tanah adalah kemampuan tanah untuk menahan gaya geser yang
bekerja padanya, yang dipengaruhi oleh kohesi antarpartikel tanah dan gesekan
internal antarbutir tanah. Kuat geser tanah merupakan faktor penting dalam
analisis stabilitas tanah, seperti pada perencanaan pondasi dan lereng (Karl
Terzaghi, 1943).

2.10 Peranan Mekanika Tanah Dalam Teknik Sipil


Mekanika tanah adalah cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari sifat fisik
dan mekanik tanah serta penerapannya dalam analisis dan perancangan struktur
teknik, seperti pondasi, dinding penahan tanah, dan lereng. Mekanika tanah
digunakan untuk memprediksi perilaku tanah terhadap beban sehingga kegagalan
konstruksi dapat dihindari (Das, 2011).
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Hand Boring dan Sampling


3.1.1 Standar Acuan
ASTM D 1452 “Standard Practice for Soil Investigation and Sampling by
Auger Borings”.
ASTM D 1587 “Standard Practice for Thin-Walled Tube Sampling of Soils
for Geotechnical Purposes”.
3.1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Memeriksa karakteristik tanah secara visual mengenai warna, ukuran
butiran, dan jenis tanah. Selain itu, percobaan ini bertujuan untuk mengambil
sampel tanah undisturbed yang akan digunakan dalam praktikum selanjutnya.
3.1.3 Alat-alat dan Bahan
1. Auger Iwan
2. 2 buah batang bor dan 1 buah kepala pemutar
3. Batang pemegang
4. Kunci inggris
5. Kunci monyet
6. Socket
7. Tabung contoh 2 buah
8. Palu dan kepala pemukul
9. Beberapa kantong plastik
10. Lilin / Parafin / Plastik
11. Dongkrak (bila diperlukan)
12. Peralatan penunjang
a. Oli
b. ikat baja
c. Kain lap
d. Kontainergkul / linggis
e.
3.1.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Dalam percobaan ini diambil sampel tanah terganggu (disturbed sample)
dan sampel tanah tidak terganggu (undisturbed sample). Disturbed sample adalah
sampel tanah yang diambil tanpa ada usaha yang dilakukan untuk melindungi
struktur asli tanah tersebut. Undisturbed sample adalah sampel tanah yang masih
menunjukkan sifat asli tanah. Sampel tidak terganggu ini secara ideal tidak
mengalami perubahan struktur, kadar air, dan susunan kimia. Sampel tanah yang
benar-benar asli tidak mungkin diperoleh, tetapi untuk pelaksanaan yang baik
maka kerusakan contoh dapat dibatasi sekecil mungkin.
1. Pengeboran Auger
Pengeboran auger merupakan salah satu metode yang sederhana dalam
melakukan investigasi tanah (soil investigation) dan pengambilan sampel
(sampling). Pengeboran dapat dilakukan hingga kedalaman tertentu
tergantung dari kondisi muka air tanah, karakteristik tanah, serta peralatan
yang digunakan.
Pengeboran auger dapat dilakukan secara manual oleh tangan manusia
(hand- operated auger) dan dapat dilakukan secara mekanis oleh mesin
(machine- operated auger). Pada praktikum ini, pengeboran dilakukan secara
manual menggunakan auger tipe Iwan (Auger Iwan) yang merupakan bor
terdiri dari dua segmen plat baja (menyerupai tabung) dengan dua mata pisau
di ujungnya.
2. Pengambilan Sampel Tanah Tidak Terganggu
Pengambilan sampel tanah tidak terganggu dapat dilakukan dengan
menggunakan tabung baja tipis (ASTM D 1587). Adapun syarat dari tabung
baja tipis ini yaitu memenuhi ketentuan inside clearance ratio, Gambar 3.2
menjelaskan jenis tabung yang digunakan dalam pengambilan sampel tidak
terganggu.
3. Boring Log
Boring log merupakan catatan hasil pengeboran yang digunakan sebagai
identifikasi jenis lapisan tanah. Adapun dalam boring log biasanya berisi
informasi antara lain:
a. Kedalaman lapisan tanah
b. Elevasi permukaan titik bor, elevasi lapisan tanah, dan elevasi muka air
tanah.
c. Simbol jenis tanah secara grafis
d. Deskripsi tanah: jenis tanah, warna, konsistensi/kepadatan
e. Posisi dan kedalaman pengambilan contoh. Juga disebutkan kondisi
contoh terganggu atau tidak terganggu.
f. Informasi umum seperti nama proyek, lokasi, tanggal, dan nama
penanggung jawab pekerjaan pengeboran.
3.1.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Siapkan alat-alat praktikum.
b. Tentukan titik pengeboran dan bersihkan permukaan tanah dari
rumput dan batuan.
2. Jalannya Praktikum
a. Bersihkan daerah sekitar lubang yang akan dibor.
b. Pasang auger pada stang bor, lalu pasang pemutarnya.
c. Tekan auger kedalam tanah sambil diputar, setelah contoh tanah
mengisi auger sampai penuh (20 cm) auger diangkat dengan hati
hati.
d. Keluarkan tanah pada auger untuk dibuat diskripsinya jenis tanah
(kedalaman, jenis tanah, warna tanah, symbol, dan deskripsi tanah)
dan simpan dalam kaleng / kantung plastik beri nomor titik bor,
kedalaman dan tanggal pengeboran.
e. Ulangi prosedur c dan d sampai pada kedalaman yang diinginkan.
Contoh tanah yang di dapat adalah contoh tanah yang tidak asli
(disturbed sample) dan hanya digunakan untuk keperluan
klasifikasi tanah dan deskripsinya.
f. Untuk mendapatkan tanah yang asli (undisturbed sample) maka
auger yang dipasang diganti dengan tabung contoh yang sudah
disambung dengan batang bor dan di kenkontainergkan dengan
kunci monyet. Bila tanahnya lunak cukup ditekan saja, sampai
tabung contoh penuh (40 cm) kemudian diputar untuk melepaskan
contoh pada dasar tabung, untuk diangkat. Bila tanahnya keras
maka stang pemutar diganti dengn kepala boring dan dipalu
perlahan lahan sampai tabung contoh penuh.
g. Setelah contoh tanah didapat dalam tabung, maka tabung contoh
diangkat.
h. Bila pengangkatan batang boring (auger atau tabung contoh)
sangat sulit, dapat digunakan dongkrak untuk mengangkat batang
boring tersebut.
i. Setelah didapat tanah asli, lepaskan tabung dengan kunci monyet
dan tabung dibersihkan dari kotoran atau tanah yang melekat.
j. Kedua ujung tabung ditutup dengan cairan lilin atau paraffin atau
plastik untuk melindungi sampel tanah dari gangguan atau
pengaruh lainnya.
k. Tulis label yang berisi nomor titik bor, kedalaman, bagian atas
bawah, tanggal pengambilan contoh dan lainnya dibagian luar
tabung.
l. Contoh tanah asli sebaiknya dimasukkan kedalam peti pelindung
terutama bila tempat pemeriksaan / laboratorium cukup jauh. Dan
secepatnya dilakukan analisa laboratorium agar didapat diskripsi
tanah yang cukup akurat.
m. Catatan:
1) Sampel tanah yang asli (undisturbed sample) diambil pada
kedalaman 1.60 m dan 2.60 m.
2) Bila diperlukan untuk pengujian sampel tanah asli dimasukkan
kedalam plastik / kleng lapangan.
3) Bila didapat air, dicatat muka air tanah.
3.1.6 Perawatan
1. Bersihkan mata bor dan stangnya setiap kali selesai digunakan dengan
sikat kawat dan diberi oli secukupnya menghindari karat.
2. Sebelum dipakai tabung contoh harus dalam keadaan bersih dibagian
dalamnya dan diberi pelumas sehingga tanah bisa masuk dan keluar
dengan mudah.
3.1.7 Data Pengujian
3.1.8 Kesimpulan
3.2 Cone Penetration Test (Sondir)
3.2.1 Standar Acuan
ASTMD3 441 “Standard Test Method For Mechanical Cone Penetration
Tests of Soil”
SNI 2827:2008 “Cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir”
3.2.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui tahanan konus (end bearing) dan hammbatan lekat (skin
friction) tanah pada kedalaman tertentu. Pengujian ini merupakan pengujian
lapangan yang hasilnya digunakan dalam menghitung daya dukung tanah ketika
akan dilakukan pekerjaan tanah dan juga pekerjaan pondasi untuk struktur
bangunan.
3.2.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat Sondir (Hydraulic Dutch Penetrometer)
2. Manometer 2 buah, berkapasitas 0– 60kg/cm2 dan 0–250 kg/cm2
3. Pipa sondir lengkap dengan pipa dalamnya
4. Biconus standar dengan luas konus10 cm2 dan luas mantel 150 cm2
5. Angkur 2 buah lengkap dengan penguncinya
6. Besi kanal 4 buah
7. Kunci Inggris
8. Oli, kuas dan kain lap
3.2.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Uji sondir merupakan salah satu pengujian lapangan dimana dilakukan
penetrasi batang serta konus yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah
pada setiap lapisan, yaitu berupa tahanan ujung (end bearing) dan juga tahanan
gesek (skin friction). Selain itu, pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui
kedalaman tanah keras.
Pengujian sondir dilakukan dengan melakukan penetrasi alat sondir, yang
terdiri dari batang silindris dengan ujung berupa konus. Biasanya konus yang
digunakan adalah biconus, yang dilengkapi dengan selimut untuk mengukur
hambatan lekat tanah. Gambar 2.1 merupakan alat sondir berdasarkan SNI
2827:2008.
Hasil dari pengujian sondir ini adalah tahanan ujung yang diambil sebagai
gaya penetrasi per satuan luas penampang ujung sondir, atau qc dan tahanan ujung
total, atau qt. Pengujian sondir ini dilakukan hingga mencapai tanah keras atau
hingga mencapai kemampuan maksimum alat, yaitu tekanan qc =250 kg kg/cm2.
Berikut merupakan proses kerja bikonuspada saat dilakukan penetrasi alat sondir.
Pengujian sondir ini dilakukan hingga mencapai tanah keras atau hingga
mencapai kemampuan maksimum alat, yaitu tekanan qc =250 kg kg/cm2. Berikut
merupakan proses kerja bikonuspada saat dilakukan penetrasi alat sondir. Setelah
didapatkan data tahanan qc dan qt, dilakukan perhitungan nilai friksi yang terjadi
pada selimut bikonus (fs), hambatan pelekat (HP), jumlah hambatan pelekat
(JHP), serta Friction Ratio (FR). Berikut rumus yang digunakan dalam
perhitungan:
3.2.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Permukaan tanah lokasi yang akan dilakukan percobaan terlebih
dahulu dibersihkan dan diratakan agar alat mesin alat sondir dapat
berdiri tegakdiatas tanah.
b. Buka baut penutup lubang pengisi oli dan kedua kran manometer,
pasang kunci piston pada ujung piston, tekan berkali-kali kunci piston
keatas sehingga oli keluar semuanya.
c. Setelah oli lama habis keluar, kran tetap terbuka. Isi oli baru hingga
penuh. Gerakan kunci piston naik / turun secara perlahan - lahan untuk
menghilangkan gelembung udara. Setelah gelembung udara habis
tutup kembali lubang pengisi oli.
d. Tutup salah satu kran manometer dan tekan piston pada alas rangka.
Perhatikan kenaikan jarum manometer dan hentikan penekanan serta
tahan kunci piston bila manometer mencapai 25% batas maksimum
manometer. Apabila terjadi penurunan pada jarum manometer berarti
ada kebocoran antara lain sambungan neaple. Baut penutup oli atau
pada sel piston. Lakukan langkah kerja 2 hingga 4 untuk manometer 1
lagi.
e. Selanjutnya untuk pemasngan angker,buat lubang bujur sangkar
dengan ukuran 30 cm sisinya dengan kedalaman 20 cm atau sampai
kedalaman dimana tidak dijumpai lagi lapisan yang mengandung akar
tanaman.
f. Pasang angkur pada dua sisi dimana alat sondir akan ditempatkan.
g. Letakkan mesin sondir lalu pasang baja kanal sebagai penahan agar
alat tidak terangkat atau goyang.
h. Mesin sondir distabilkan dengan waterpass untuk mencapai
keseimbangan mesin sondir. Bila belum stabil maka baut pemutar
pada angkur diatur sehingga mesin sondir akan stabil kembali.
i. Pasang conus atau biconus pada batang sondir di lubang pemusat kaki
sondir tepat di bawah ruang oli. Pasang knop penekan dan
kekontainergkan.
j. Dorong treker pada posisi lubang terpotong, putar engkol pemutar
(handle) sampai menyentuh ujung atas batang sondir.
2. Prosedur Langkah Kerja
a. Batang sondir diberi tanda setiap 20 cm dengan spidol untuk
mengetahui pembacaan manometer setiap batang sondir 1 meter.
b. Engkol kembali diputar sehingga conus atau biconus masuk kedalam
tanah. Setelah 20 cm, engkol diputar sedikit demi sedikit dengan arah
berlawanan. Treker ditarik kedepan dalam posisi lubang bulat.
c. Buka kran yang berhubungan dengan manometer 60 kg/cm2.
d. Engkol diputar kembali, sehingga batang sondir tertekan kedalam
tanah dengan kecepatan 2 cm/ detik. Stang dalam batang sondir akan
menekan piston dan oli di dalamnya. Tekanan yang terjadi akan
terbaca pada manometer dan dicatat bacaan pertama yang
menunjukkan tekanan ujung (qc). Terus lakukan pemutaran
e. Setelah pembacaan kedua, engkol diputar perlahan – lahan searah
jarum jam sampai manometer menunjukkan angka nol berarti piston
tidak menekan stang dalam batang sondir. Kemudian penekanan terus
dilakukan untuk kedalaman 20 cm berikutnya, seperti langkah kerja d.
f. Apabila selama penekanan jarum manometer menunjukkan angka
sama atau lebih dari 50 kg / cm2, maka kran manometer tersebut di
tutup dan kran manometer 250 kg/cm2 dibuka, sehingga jarum
manometer akan terus berputar.
g. Setelah dicapai kedalaman tertentu, dimana pembacaan telah
mencapai 150 kg/cm2 atau lebih. Percobaan dapat dihentikan dan
batang-batang sondir yang masuk kedalam tanah sudah dapat diangkat
(dicabut) kembali.
3.2.6 Pengangkatan Batang Sondir
1. Putar engkol pemutar, agar piston terangkat.
2. Tarik treker pada posisi lubang penuh.
3. Pasang socket penarik dan putar engkol sampai treker melewati kepala
stang sondir. Dorong treker pada posisi lubang terpotong.
4. Putar engkol pemutar (searah jarum jam) sehingga batang sondir
terangkat sampai batang sondir berikutnya terlihat.
5. Tahan batang sondir yang dibawah dengan kunci pipa agar rangkaian
batang sondir tidak jatuh.
6. Lepaskan batang sondir atas dengan kunci pipa lainnya.
7. Pasang kembali socket penarik seperti langkah kerja c.
8. Ulangi langkah kerja d dan seterusnya untuk batang berikutnya.
3.2.7 Perawatan
1. Batang – batang sondir, angker spiral, conus / biconus dan alat – alat
lainnya dibersihkan dari kotoran yang melekat. Khusus batang sondir
dan conus / biconus segera dilumuri oli secukupnya.
2. Periksa kembali peralatan (kunci-kunci) yang dipakai, agar tidak ada
yang tertinggal.
3.2.8 Pengolahan Data
3.2.9 Kesimpulan
3.3 Atterberg Limits (Liquid Limit / Batas Cair)
3.3.1 Standar Acuan
ASTM D 4318 "Standard Test Methods for Liquid Limit, Plastic Limit, and
Plasticity Index of Soils".
AASHTO T 89 "Determining the Liquid Limit of Soils".
SNI 1967:2008 "Cara uji penentuan batas cair tanah".
3.3.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Mencari kadar air pada liquid limit (batas cair) dari sampel tanah. Hasil uji
batas cair ini dapat diterapkan untuk menentukan konsistensi perilaku material
dan sifatnya pada tanah kohesif, dimana konsistensi tanah tergantung dari nilai
batas cairnya. Disamping itu, nilai batas cair ini dapat digunakan untuk
menentukan nilai indeks plastisitas tanah yaitu nilai batas cair dikurangi dengan
nilai batas plastis.
3.3.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Alat Cassagrande
b. Standard grooving tool
c. Kontainer
d. Spatula
e. Mangkuk porselin
f. Oven
g. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram
h. Botol penyemprot
2. Bahan
a. Sampel tanah lolos saringan no. 40 ASTM sebanyak 1 kg
b. Air suling
3.3.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Di dalam laboratorium, liquid limit didefinisikan sebagai kadar air dimana
sampel tanah yang telah dimasukkan pada alat cassagrande, dibuat celah di
tengahnya dengan standard grooving tool lalu alat cassagrande diputar dengan
kecepatan 2 ketukan per-detik dan tinggi jatuh 10 mm, sehingga pada ketukan ke
25 sampel tanah yang digores dengan grooving tool merapat sepanjang 0,5 inch.
Dalam batas cair kita mempelajari kadar air dalam keadaan tertentu. Dalam
hal ini hanya dipelajari/diuji dalam tiga keadaan, yaitu batas cair, batas plastis,
dan batas susut dari tanah, atau secara skematis diwakili pada sebuah diagram
yaitu:
Cair Plastis Semi Plastis Solid
BATAS CAIR BATAS PLASTIS BATAS SUSUT
Semakin ke kanan diagram di atas, kadar airnya semakin sedikit. Batas cair
ini ditentukan dengan percobaan memakai alat percobaan liquid limit. Alat ini
dikembangkan oleh Cassagrande dan besarnya batas cair ditentukan pada ketukan
ke – 25.
W1-W2
W = X 100 %
W2-W3
Dengan:
W = kadar air
W1 = berat tanah basah + kontainer
W2 = berat tanah kering + kontainer
W3 = berat container
3.3.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Siapkan tanah lolos saringan no. 40 ASTM, dengan kondisi kering
udara.
b. Pastikan kebersihan alat-alat.
c. Kalibrasi timbangan yang akan digunakan.
d. Siapkan botol penyemprot dan air suling.
e. Siapkan dan keringkan kontainer yang diperlukan.
2. Jalannya Praktikum
a. Masukkan sampel tanah ke dalam mangkuk porselin dan kemudian
campur dengan air suling dan aduk dengan spatula hingga tanah
menjadi homogen.
b. Masukkan sampel tanah ke dalam mangkuk cassagrande selapis demi
selapis dan diusahakan tidak ada udara di antara setiap lapisan dengan
spatula. Tebal tanah yang dimasukkan kurang lebih hingga setebal 0.5
inch pada bagian tengahnya.
c. Buat celah di tengah-tengah tanah dalam mangkuk cassagrande
dengan menggunakan grooving tool dalam arah tegak lurus mangkuk,
dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi retak pada bagian
bawahnya.
d. Jalankan alat cassagrande dengan kecepatan konstan 2 putaran per-
detik dan tinggi jatuh 1 cm, dilakukan hingga tanah tepat merapat
sepanjang 0.5 inch. Pada saat itu hentikan alat cassagrande dan catat
jumlah ketukan.
e. Timbang kontainer terlebih dahulu, lalu ambil sebagian tanah dalam
mangkuk cassagrande dan masukkan ke dalam kontainer dan
kemudian timbang berat kontainer + tanah. Terakhir, masukkan
kontainer + tanah ke dalam oven.
f. Ulangi seluruh langkah di atas untuk lima sampel dan dengan nilai
ketukan antara 10 hingga 50 ketukan, hal ini dibantu dengan cara
menambahkan air suling atau menambahkan tanah.
g. Setelah kurang lebih 18 jam dalam oven, keluarkan sampel tanah dari
oven dan timbang kembali.
h. Hitung kadar airnya.
3.3.6 Perbandingan dengan ASTM
Pada ASTM jumlah ketukkan adalah antara 25 -35 ketukan, sedangkan
pada percobaan ini jumlah ketukan adalah antara 10 – 50 ketukkan, hingga tanah
merapat sepanjang 0.5 inch.
3.3.7 Menentukan Kadar Air
3.3.8 Menentukan Nilai Liquid Limit
3.4 Atterberg Limits (Plastic Limit / Batas Plastis)
3.4.1 Standar Acuan
ASTM D 4318 "Standard Test Methods for Liquid Limit, Plastic Limit, and
Plasticity Index of Soils”.
AASHTO T 90 “Determining The Plastic Limit and Plasticity Index Of
Soils”.
SNI 1966:2008 "Cara uji penentuan batas plastis dan indeks plastisitas
tanah”
3.4.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Mencari kadar air pada batas plastis (plastis limit) dari sebuah sampel tanah
atau untuk menentukan batas terendah kadar air ketika tanah dalam keadaan
plastis, dan angka Indeks Plastisitas suatu tanah.
3.4.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Pelat kaca
b. Kontainer
c. Spatula
d. Mangkuk porselin
e. Oven
f. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram
2. Bahan
a. Sampel tanah lolos saringan No. 40 ASTM
b. Air suling
3.4.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Di dalam laboratorium, plastic limit didefinisikan sebagai kadar air pada
batas dimana sampel tanah digulung pada pelat kaca hingga mencapai diameter
kurang lebih 1/8 inch (3.2 mm) dan tanah tersebut tepat retak-retak halus. Dari
percobaan ini dapat ditentukan Plastic Index (IP), dimana:
Ip = LL - LL
Kadar air tanah dalam keadaan aslinya biasanya terletak antara batas plastis
dan batas cair. Rumus yang digunakan:
W1-W2
W= X 100%
W2-W3
Dengan:
W = kadar air / Plastic Limit
W1 = berat tanah basah + kontainer
W2 = berat tanah kering + kontainer
W3 = berat kontainer
3.4.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Bersihkan alat-alat yang akan digunakan.
b. Siapkan botol penyemprot dan air suling.
c. Siapkan tanah lolos saringan No.40 ASTM.
d. Timbang berat kedua kontainer.
2. Prosedur Langkah Kerja
a. Masukkan sampel tanah ke dalam mangkuk porselin dan kemudian
campur dengan air suling dan diaduk dengan spatula hingga homogen.
b. Ambil sampel tanah tersebut sedikit lalu gulung di atas pelat kaca
sampai berdiameter 1/8 inch. Bila kadar air berlebih, pada waktu
sampel tanah mencapai diameter 1/8 inch tidak terjadi retak-retak, maka
percobaan ini harus diulang kembali dengan menambahkan sampel
tanah. Sedangkan bila kadar air kurang, sampel tanah akan retak-retak
sebelum mencapai diameter 1/8 inch. Percobaan ini harus diulang
kembali dengan menambahkan air sehingga sampel tanah tepat retak
retak pada waktu mencapai diameter 1/8 inch.
c. Masukkan sampel tanah yang mulai retak-retak halus pada diameter 1/8
inch ke dalam dua kontainer yang sudah ditimbang beratnya. Berat
kontainer + tanah minimum adalah 15 gram.
d. Tutup kontainer secepatnya agar kadar air tidak berkurang karena
penguapan. Kemudian timbang kontainer yang telah berisi tanah
tersebut.
e. Masukkan kontainer dalam keadaan terbuka ke dalam oven berisi tanah
yang telah ditimbang selama kurang lebih 18 jam.
f. Setelah kurang lebih 18 jam dalam oven, keluarkan lalu timbang
kontainer berisi tanah tersebut guna mencari kadar airnya. Pada saat
menghitung kadar air ini jangan lupa tambahkan berat penutup
kontainer agar berat total kontainer seperti pada saat menimbang berat
tanah basah sebelumnya.
3.4.6 Perbandingan dengan ASTM
Pada percobaan, waktu penggulungan tanah tidak ditentukan, sedangkan
pada ASTM waktu penggulungan tanah maksimum adalah dua menit. Pada
percobaan, setelah tanah digulung dan terjadi retak-retak, maka tanah tersebut
dibagi menjadi dua bagian sama besar dan dimasukkan ke dalam kontainer.
Sedangkan pada ASTM, tanah yang telah digulung akan diremukkan kembali dan
digulung kembali sampai sampel tanah tersebut sukar untuk digulung kembali.
3.4.7 Perhitungan Batas Plastis
3.4.8 Kesimpulan
3.5 Kadar Air
3.5.1 Standar Acuan
ASTM D 2216 "Laboratory Determination of Water (Moisture) Content of
Soil and Rock Mass".
SNI 1965:2008 "Cara Uji Penentuan Kadar Air untuk Tanah dan Batuan di
Laboratorium".
3.5.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Pemeriksaan ini bertujuan unutuk menentukan kadar air tanah berdasarkan
beratnya dengan meode pengujian di laboratorium.
3.5.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Dessicator
b. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
c. Oven
d. Kontainer
2. Bahan
a. Sampel tanah seberat 30-50 gram
b. Air suling
3.5.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Rumus yang digunakan untuk menghitung Kadar Air adalah:
W1-W2
W= X 100%
W2-W3
Dimana:
W = kadar air
W1 = berat tanah basah + kontainer
W2 = berat tanah kering + kontainer
W3 = berat container
3.5.5 Prosedur Praktikum
1. Tanah yang akan diperiksa ditempatkan dalam kontainer yang bersih,
kering dan telah diketahui beratnya.
2. Kontainer dan isinya kemudian ditimbang dan beratnya dicatat.
3. Lalu kontainer dan isinya dioven sampai beratnya konstan.
4. Kemudian kontainer dan contoh tersebut dikeluarkan dari oven dan
didinginkan, setelah itu ditimbang berat keringnya dan dicatat.
3.5.6 Hasil Praktikum
3.5.7 Kesimpulan
3.6 Berat Volume
3.6.1 Standar Acuan
ASTM D 422-63 "Standard Test Method for Particle-Size Analysis of Soils".
3.6.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Untuk menentukan berat volume tanah basah dalam keadaan asli yaitu
berupa perbandingan antar berat tanah dengan volume tanah.
3.6.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Ring contoh
b. Pisau
c. Kaca dengan tebal 5 mm
d. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
2. Bahan
Sampel tanah undisturb dari handbore.
3.6.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Rumus yang digunakan untuk menghitung berat volume adalah:
W1-W2
W =
V
Dimana:
W = Berat Volume
W1 = Berat ring + tanah
W2 = Berat ring
V = Volume ring
3.6.5 Prosedur Praktikum
1. Membersihkan ring contoh dan menimbang lalu memberikan oli untuk
menghindari tanah lekat pada ring.
2. Menimbang berat ring (W2).
3. Pengambilan sampel tanah dari tabung dengan cara menekan ring
kedalam sampel tanah sehingga ring masuk kedalam tanah.
4. Meratakan ring dengan permukaan pisau.
5. Menimbang ring dengan tanah (W1).
3.6.6 Hasil Praktikum
3.6.7 Kesimpulan
3.7 Specific Gravity (Berat Jenis)
3.7.1 Standar Acuan
ASTM D 854 "Standard Test Methods for Specific Gravity of Soil Solids by
Water Pycnometer".
AASHTO T 100 "Specific Gravity of Soils".
SNI 1964:2008 "Cara Uji Berat Jenis Tanah".
3.7.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Mendapatkan nilai specific gravity dari butiran tanah, yaitu perbandingan
berat isi tanah dan berat isi air suling pada suhu tertentu. Specific gravity pada
tanah dapat digunakan untuk menghitung hubungan pada fase tanah, seperti angka
pori (void ratio), derajat kejenuhan (degree of saturation), serta densitas dari
tanah.
3.7.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Pycnometer dengan volume 500 ml
b. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
c. Oven
d. Kompor Listrik
e. Termometer
f. Kontainer
g. Alat Penyemprot
2. Bahan
a. Sampel tanah lolos saringan No. 40 sebanyak 500 gram, kering oven
b. Air suling
3.7.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Rumus yang digunakan unuk menghitung Berat Jenis yaitu dengan
persamaan sebagai berikut:
W 2-W 1
W = x K
( W4 - W1) - (W3 - W2)
Dimana:
Gs = Berat Jenis
W1 = Berat picnometer
W2 = Berat picnometer + tanah
W3 = Berat picnometer + tanah + air
W4 = Berat picnometer + air
K = Suhu Koreksi (α)
Berikut merupakan factor koreksi suhu (α) yang digunakan berdasarkan
acuan standard SNI 1964-2008.
Hubungan Kerapatan Faktor Koreksi
No Temperatur (°C)
Relatif Air Suhu (α)
1 18 0.99862 1.0004
2 19 0.99843 1.0002
3 20 0.99823 1.0000
4 21 0.99802 0.9998
5 22 0.99780 0.9996
6 23 0.99757 0.9993
7 24 0.99733 0.9991
8 25 0.99708 0.9989
9 26 0.99682 0.9986
10 27 0.99655 0.9983
11 28 0.99627 0.9980
12 29 0.99598 0.9977
13 30 0.99568 0.9974

Nilai Gs pada umumnya yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah


hasil percobaan benar atau tidak adalah sebagai berikut:
Tipe Tanah Gs
Pasir 2.65 - 2.67
Pasir kelanauan 2.67 – 2.70
Lempung Anorganik 2.70 – 2.80
Tanah dengan mika dan besi 2.75 – 3.00
Tanah organik 1.0+ - 2.60
3.7.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Siapkan pycnometer yang telah dibersihkan dan dikeringkan.
b. Untuk bahan uji digunakan sampel tanah sebanyak 500 gram lolos
saringan No. 40 ASTM dan sudah dikeringkan dalam oven selama
±24 jam dengan temperatur 5°C (230 °F) 110° ± 5°C (230 ± 9° F).
2. Prosedur Langkah Kerja
a. Contoh tanah dioven selama 24 jam, kemudian dihaluskan (ditumbuk)
dan disaring dengan ayakan no. 4.
b. Timbang piknometer yang akan digunakan (W1).
c. Contoh tanah dimasukkan dalam piknometer (W2).
d. Masukkan aquades secukupnya (1/3 tinggi piknometer) kemudian
masukkan dalam desikator vacum dan hidupkan, perhatikan sampai
semua udara yang ada dalam piknometer keluar. Penghampaan udara
ini harus dialakukan dengan cara seksama, bila perlu piknometer
digoyang- goyangkan sambil divacum, hingga didalam contoh tanah
benar-benar tidak ada lagi udara yang terperangkap. Setelah itu
diamkan hingga contoh tanah mengendap.
e. Tambahkan aquades dengan hati-hati sampai penuh, dengan catatan
contoh tanah tidak terganggu. Ukur temperatur suhunya.
f. Bagian luar dari piknometer dikeringkan dan ditimbang (W3).
g. Piknometer dikosongkan dan dicuci sampai bersih, kemudian isi
aquade sampai penuh.
h. Ukur temperatur suhunya, kemudian timbang beratnya (W4).
3.7.6 Perbandingan dengan ASTM
Alat dan bahan yang digunakan pada prosedur ASTM D 854-5:
1. Pycnometer yang digunakan dapat berupa botol labu dengan volume 100
ml atau stop erred bottle dengan volume 50 ml.
2. Sampel tanah yang digunakan adalah seberat 25 gram untuk botol labu
dan 10 gram untuk stoperred bottle.
Jalannya percobaan menurut prosedur ASTM:
1. Pycnometer dibersihkan dan dikeringkan, kemudian dicatat beratnya.
2. Pycnometer diisi dengan air suling (dianjurkan memakai kerosin) dan
ditimbang beratnya (Wbw).
3. Dibuat tabel untuk Wbw pada beberapa suhu air yang diinginkan.
4. Sampel tanah dimasukkan ke dalam botol labu/stoperred bottle yang
berisi air suling/kerosin
5. Udara yang terperangkap di dalamnya dapat dihilangkan dengan cara:
a. Dididihkan
b. Diberi tekanan udara
6. Pycnometer diisi dengan air suling kembali sampai penuh.
7. Berat botol labu/stoperred bottle yang telah berisi tanah dihitung dan
dicatat suhunya.
Perbedaan antara prosedur praktikum dengan prosedur ASTM:
1. Volume pycnometer yang digunakan adalah 500 ml.
2. Sampel tanah yang dipakai 100 gram, lolos saringan No. 40 ASTM dan
kering oven.
3. Banyaknya percobaan yang dilakukan bukan berdasarkanı suhu air yang
diinginkan tetapi berdasarkan jumlah sampel yang diinginkan.
3.7.7 Hasil Praktikum
3.7.8 Kesimpulan
3.8 Sieve Analysis (Analisa Saringan)
3.8.1 Standar Acuan
ASTM D 421 “Standard Practice for Dry Preparation of Soil Samples for
Particle-Size Analysis and Determination of Soil Constants”.
ASTM D 422 "Standard Test Method for Particle-Size Analysis of Soils”.
AASHTO T 88 "Standard Method of Test for Particle Size Analysis of
Soils”.
SNI 3423:2008 "Cara Uji Analisis Ukuran Butir Tanah".
3.8.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
Mengetahui distribusi ukuran butiran tanah yang berdiameter 4.75mm
sampai 0.075mm (lolos saringan No. 4 ASTM dan tertahan saringan No. 200)
dengan cara mekanis.
3.8.3 Alat-alat dan Bahan
1. Alat
a. Timbangan dengan ketelitian 0.01 gram
b. Saringan standar ASTM No. 4. 10, 18, 40, 60, 100, 200, serta Pan
Piringan kaleng
c. Kontainer Motorized Dynamic Sieve Shaker
d. Sikat gigi
e. Oven
2. Bahan
a. Tanah yang telah dikeringkan sebanyak 500 gr
b. Air Bersih
3.8.4 Teori dan Rumus yang Digunakan
Tanah terdiri atas tiga unsur yaitu butiran, air, dari udara. Sifat-sifat suatu
tanah tertentu banyak tergantung pada ukuran butirannya. Ukuran butiran
menentukan klasifikasi macan tanah tersebut. Untuk butirani yang kasar dipakai
metode sieving dalam penentuan distribusi ukurannya.
Tanah dikeringkan dan disaring pada serangkaian saringan dengan ukuran
diameter kisi saringan tertentu mulai dari yang kasar hingga yang halus. Dengan
demikian butiran tanah terpisah menjadi beberapa bagian dengan batas ukuran
yang diketahul. Rumus yang digunakan untuk percobaan sieve analysis ini adalah:
Wtertahan
Presentase tanah tertahan (% tertahan) = x 100
Wtotal
Presentase tanah lolos (% lolos) = 100% - % tertahan
W tertahan = Wtanah – Wtanah total sesudah penyaringan
Kesalahan relative penimbangan sampel tanah sebelum dan sesudah
penyaringan adalah:
W d - Wt
KR = x 100% tidak boleh melebihi 2%
Wd
Dengan;
Wd = Berat butiran tanah sebelum proses sieving
Wt = Berat butiran total setelah proses sieving
3.8.5 Prosedur Praktikum
1. Persiapan
a. Saring tanah dengan saringan No. 200 ASTM agar bersih dari butiran
clay, silt, dan koloid-koloid.
b. Masukkan tanah yang sudah bersih ke dalam kontainer, lalu masukkan
ke dalam oven selama 24 jam.
2. Prosedur Langkah Kerja
a. Keluarkan tanah dari oven dan diamkan sejenak, lalu timbang
beratnya.
b. Timbang masing-masing saringan.
c. Susun saringan menurut urutan nomor yaitu: 4, 10, 18, 40, 60, 100,
200 (dari yang terbesar di atas hingga yang terkecil), dan terbawah
adalah pan. d. Masukkan tanah yang telah ditimbang ke atas saringan
No. 4 ASTM.
d. Letakkan susunan saringan pada mesin penggunkontainerg listrik
(Motorizied Dynamic Sieve Shaker) dan tutup, kemudian nyalakan
selama 15 menit.
e. Kumpulkan sampel tanah yang tertahan pada masing-masing saringan
dan selanjutnya timbang dan catat beratnya.
f. Bersihkan saringan dari butiran-butiran tanah yang tertinggal.
g. Pada setiap saringan dengan bantuan sikat gigi.
3.8.6 Hasil Praktikum
3.8.7 Kesimpulan
BAB IV
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai