LAPORAN PENDAHULUAN
GEA (Gastroenteritis)
Disusun Oleh
Rina Restu Pujianti
(0290223095)
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN YAPKESBI
TAHUN 2025/2026
I. Kondisi Medis
A. Definisi
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan
manifestasi diare, dengan atau tanpa disertai muntah,serta ketidaknyamanan
abdomen. (Mutaqqin. 2020)
Gastroenteritis atau diare akut merupakan penyakit yang ditandai
dengan berubahnya bentuk tinja dengan intensitas buang air besar secara
berlebihan (lebih dari 3 kali dalam kurun waktu satu hari) (Prawati & Haqi,
2019).
Dapat disimpulkan Gastroenteritis merupakan suatu keadaan
pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai
dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali
sehari. Berdasarkan waktu terjadinya, diare akut berlangsung kurang dari 14
hari dan diare kronik berlangsung lebih dari 4 minggu. (Meisuri et al.,
2020).
B. Penyebab
a. Faktor infeksi : Bakteri (Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus
(Enterovirus), Parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
b. Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada
anak- anak).
c. Faktor malabsorbsi :
1) Karbohidrat.
Terutama pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu
formula dapat menyebabkan GE. Gejalanya berupa GE berat , tinja
berbau asam, sakit daerah perut. Jika sering terkena GE seperti ini,
maka bisa menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.
2) Malabsorbsi Lemak.
Lemak terdapat dalam makanan yaitu yang disebut dengan
triglyserida. Dengan bantuan kelenjar lipase, triglyserida mengubah
lemak menjadi micelles yang bisa di serap [Link] karena
1
kegagalan penyerapan sehingga lemak tidak dapat diproses akibat
tidak ada lipase karena kerusakan dinding usus sehingga terjadi
GEA pada kasus ini fecesnya berlemak.
3) Malabsorbsi Protein.
GE yang terjadi akibat mukosa usus tidak dapat menyerap protein
d. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak,
sayuran dimasak kurang matang.
e. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.
f. Obat-obatan : antibiotic.
g. Penyakit usus : colitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis, obstruksi
usus (Ramanda, Felisitas, & Widi, 2021) :
C. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi
pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan
selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
d. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme
hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung,
mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan
2
toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya
akan menimbulkan diare. Kardiyudiani & Susanti, 2019)
D. Manifestasi Klinis
Gastroenteritis akut sering disertai tanda dan gejala klinis lainnya
seperti gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan menurun, dehidrasi,
tinja cair berlendir kadang bercampur darah, turgor kulit jelek, BB menurun,
mata cekung, ubun - ubun ke dalam (pada balita) . keadaan ini merupakan
gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit (Abdullah,
Almuhardi, & Antoni, 2020).
Tanda dan gejala klinis GE antara lain :
a. Sering BAB dengan konsistensi tinja cair atau encer.
b. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi (turgor kulit jelek ,elastisitas
kulit menurun ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa
mulut dan bibir kering).
c. Kram abdominal.
d. Demam,mual,muntah dan anorexia
e. Badan lemah, pucat dan perubahan TTV (nadi dan napas capat)
f. Urine menurun atau tidak ada pengeluaran (anuria) (Abdullah,
Almuhardi, & Antoni, 2020).
E. Pemeriksaan Penunjang
a. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan
b. Kultur tinja
c. Pemeriksaan elektrolit, BUN, creatinine, dan glukosa.
d. Pemeriksaan tinja : pH, leukosit, glukosa, dan adanya darah (Ramanda,
Felisitas, & Widi, 2019).
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis pada pasien diare meliputi: pemberian cairan,
dan pemberian obat-obatan. Pemberian cairan pada pasien diare dan
memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
3
a. Pemberian cairan
Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan yang di berikan
peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCL dan
glukosa untuk diare akut.
b. Cairan Parenteral
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang di perlukan sesuai dengan
kebutuhan pasien, tetapi semuanya itu tergantung tersedianya cairan
setampat. Pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL) di berikan
tergantung berat / ringan dehidrasi, yang di perhitungkan dengan
kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
1) Dehidrasi Ringan 1 jam pertama 25 -50 ml / kg BB / hari,
kemudian 125 ml / kg BB /oral.
2) Dehidrasi sedang1 jam pertama 50 -100 ml / kg BB / oral kemudian
125 ml / kg BB /hari.
3) Dehidrasi berat1jampertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg
BB / menit(inperset 1 ml : 20 tetes), 16 jam nerikutnya 105 ml / kg
BB oralit peroral.
c. Obat-obatan.
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui
tinja dengan / tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit
dan glukosa / karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dsb).
1) Obat anti sekresi Asetosal, dosis 25 mg / ch dengan dosis minimum
30 [Link], dosis 0,5 -1 mg / kg BB / hari.
2) Obat spasmolitik, umumnya obat spasmolitik seperti
papaverinekstrak beladora, opium loperamia tidak di gunakan
untuk mengatasi diare akut lagi, obat pengeras tinja seperti kaolin,
pectin,charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi
diare sehingga tidak diberikan lagi. Antibiotic umumnya tidak
diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas. Bila penyebabnya
kolera, diberikan tetrasiklin 25 -50 mg /kg BB / hari. Antibiotic
juga diberikan bila terdapat penyakitseperti OMA, faringitis,
4
bronchitis / bronkopeneumonia (Abdullah, Almuhardi, & Antoni,
2020).
G. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari Gastroenteritis adalah :
a. Hipokalemia (dengan gejala matiorisme hipotonic otot lemah bradikardi
perubahan elektrokardiogram).
b. Cardiac dysrhythimia akibat hipokalemia dan hipokalsemi
c. Hipotermia
d. Syok Hipovolemik
e. Asidosis Dehidrasi (Ramanda, Felisitas, & Widi, 2019)
5
II. Penyimpangan KDM (PATHWAY)
III. Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,
observasi, psikal assesment.
1. Identitas pasien/biodata
6
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir,
umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua,pekerjaan dan No
telpon.
2. Keluhan utama
Buang air besar (Bab) lebih dari 3 kali sehari, Bab < 4 kali dan cair
(GE tanpa dehidrasi), Bab 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan/sedang), atau
Bab > 10 kali (dehidrasi berat). Apabila GE berlangsung < 14 hari maka GE
tersebut adalah GE akut, sementara apabila langsung selama 14 hari atau
lebih adalah GE persisten
3. Riwayat penyakit sekarang
a. Keadaan umum klien. suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan
menuruatau tidak ada, dan kemungkinan timbul GE.
b. Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna
tinja berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.
c. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam.
d. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah GE.
e. Apabila telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi
f. Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi dehidrasi.
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat imunisasi terutama campak, karena GE lebih sering terjadi atau
berakibat berat pada anak-anak dengan campak atau yang baru
menderita campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai akibat dari
penurunan kekebalan pada pasien.
b. Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik) karena
factor ini merupakan salah satu kemungkinan penyebab GE
c. Riwayat penyakit yang terjadi sebelum, selama, atau setelah GE.
Informasi diperlukan untuk melihat tanda dan gejala infeksi lain yang
menyebabkan GE.
5. Riwayat Nutrisi
Riwayat pola makanan sebelum sakit GE meliputi:
7
a. Konsumsi makanan penyebab GE, pantangan makanan atau makanan
yang tidak biasa dimakannya.
b. Perasaan haus. Pada pasien yang GE tanpa dehidrasi tidak merasa haus
(minum biasa). Pada dehidrasi ringan/sedang pasen merasa haus dan
ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi berat, sudah malas
minum atau tidakmau minum.
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Baik, sadar (tanpa dehidrasi)
2) Gelisah, (dehidrasi ringan atau sedang)
3) Lesu, lemah ,lunglai atau tidak sadar (dehidrasi berat)
b. Kulit
Untuk mengetahui elastisitas kulit, dapat dilakukan pemeriksaan turgor,
yaitu dengan cara mencubit daerah perut atau tangan menggunakan
kedua ujung jari (buka kedua kuku). Apabila turgor kembali dengan
cepat (Kurang dari 2 detik), berarti GE tersebut tanpa dehidrasi. Apabila
turgor kembali dengan lambat (cubit kembali dalam waktu 2 detik), ini
berarti GE dengan dehidrasi ringa/sedang. Apabila turgor kembali
sangat lambat (cubitan kembali lebih dari 2 detik), ini termasuk GE
dengan dehidrasi berat.
c. Kepala
Pada klien dewasa tidak di temukan tanda - tanda tapi pada anak
berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi, biasanya ubun -
ubun cekung kedalam.
d. Kelopak mata tampak cekung bila dehidrasi berat saja
e. Mulut dan lidah
1) Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
2) Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan/sedang)
3) Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)
f. Abdomen kemungkinan mengalami distensi kram dan bising usus yaitu
1) Inspeksi : melihat permukaan abdomen simetris atau tidak dan
tanda lain
8
2) Auskultasi : Terdengar bising usus meningkat > 30 x/ menit
3) Perkusi: biasanya Terdengar bunyi tympani / kembung
4) Palasi : Ada tidak nyeri tekan epigastrium kadang juga terjadi
distensi perut’
g. Anus, apakah terdapat iritasi pada kulitnya
h. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam meningkatkan
diagnosis yang tepat, sehingga dapat memberikan terapi yang tepat
pula. Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada klien yang mengalami
GE, yaitu: Pemeriksaan tinja, baik secara mikroskopis maupun
mikroskopi dengan kultur . Test malabsorbsi yang meliputi karbohidrat
(ph, Clini Test) dan lemak.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Diare ( SDKI D.0020)
2. Hipovolemia ( SDKI D.0023)
3. Hipertermia ( SDKI D.0130)
4. Nyeri akut ( SDKI D.0077)
5. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit ( SDKI D.0037)
6. Risiko Gangguan integritas kulit ( SDKI D.0139)
C. Intervensi
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
1. Diare Setelah dilakukan tindakan Manajemen Diare
(D.0020) keperawatan selama 3x24 jam (1.03101)
diharapkan eliminasi fekal membaik Observasi
(L.04033) Dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi penyebab diare
1. Kontrol pengeluaran (mis, inflamasi gastrointestinal.
pendapatan meningkat iritasi gastrointertinal, proses
2. Keluhan buang air besar infeksi, malabsorpsi, ansietas,
lama dan sulit menurun stres, efek obat-obatan,
9
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
3. Mengejan saat buang air pemberian botol susu)
besar menurun 2. Identifikasi riwayat pemberian
4. Konsistensi feses membaik makanan
5. BAB meningkat 3. Identifikasi gejala invaginasi
6. Peristaltik usus membaik (mis. tangisan keras, kepucatan
pada bayi)
4. Monitor warna, volume,
frekuensi, dan konsistensi tinja
5. Monitor tanda dan gejala
hypovolemia (mis takikardia,
nadi teraba lemah, tekanan
darah turun,
turgor kulit turun, mukosa
mulut kering, CRT melambat,
BB menurun)
6. Monitor iritasi dan ulserasi kulit
di daerah perianal
7. Monitor jumlah pengeluaran
diare
8. Monitor keamanan penyiapan
makanan
Terapeutik
1. Berikan asupan
cairan oral (mis. larutan garam
gula, oralit, pedialyte, renalyte)
2. Pasang jalur intravena
3. Berikan cairan intravena (mis,
ringer asetat, ringer laktat), jika
perlu
Ambil sampel darah untuk
pemeriksaan darah lengkap dan
elektrolit
10
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
4. Ambil sampel feses
untuk kultur, jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan makanan porsi kecil
dan sering secara
bertahap
2. Anjurkan menghindari makanan
pembentuk gas, pedas dan
mengandung laktosa
3. Anjurkan melanjutkan
pemberian ASI
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat
antimotilitas (mis. loperamide,
difenoksilat)
2. Kolaborasi pemberian obat
antispasmodic/spas molitik
(mis. papaverin, ekstak
belladonna, mebeverine)
3. Kolaborasi pemberian obat
pengeras feses (mis. atapulgit,
smektit, kaolin-pektin)
2 Hipovolemia Setelah dilakukan tindakan
(D.0023) keperawatan selama 3x24 jam Manajemen Hipovolemia
diharapan keseimbangan cairan (I.03116)
meningkat (L03020) dengan kriteria Observasi
hasil : 1. Periksa tanda dan gejala
1. Keluaran urin meningkat hipovolemia (mis: frekuensi
2. Membran mukosa lembab nadi meningkat, nadi teraba
meningkat lemah, tekanan darah menurun,
3. Tekanan darah meningkat tekanan nadi menyempit, turgor
kulit menurun, membran
11
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
4. Nadi membaik mukosa kering, volume urin
5. Kekuatan nadi membaik menurun, hematokrit
meningkat, haus, lemah).
2. Pantau asupan dan keluaran
cairan
Terapeutik
1. Hitung kebutuhan cairan
2. Berikan posisi Trendelenburg
yang dimodifikasi
3. Berikan asupan cairan oral
Edukasi
4. Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral
5. Anjurkan menghindari
perubahan posisi mendadak
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian cairan IV
isotonis (mis: NaCL, RL)
2. Kolaborasi pemberian cairan IV
hipotonis (mis: glukosa 2,5%,
NaCl 0,4%)
3. Kolaborasi memberikan cairan
koloid (albumin, plasmanate)
4. Kolaborasi menghadirkan
produk darah
3 Hipertermia Setelah dilakukan tindakan
(D.0130) keperawatan selama 3x24 Manajemen Hipertermia
jam diharapan termoregulasi (1.15506)
12
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
membaik (L14134) Observasi
Dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi penyebab
1. Menggigil menurun hipertermia (mis. dehidrasi,
2. Suhu tubuh membaik paparan lingkungan panas,
3. Suhu kulit membaik penggunaan inkubator)
2. Monitor suhu tubuh
3. Monitor kadar
elektralit
4. Monitor haluaran urine
5. Monitor komplikasi akibat
hipertermia
Terapeutik
1. Sediakan lingkungan yang
dingin
2. Longgarkan atau lepaskan
pakaian
3. Basahi dan kipasi permukaan
tubuh
4. Berikan cairan oral
5. Ganti linen setiap hari atau
lebih sering jika mengalami
hiperhidrosis (keringat berlebih)
6. Lakukan
pendinginan eksternal (mis,
selimut hipotermia atau
kompres dingin pada dahi,
leher, dada, abdomen, aksila)
7. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
8. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
9. Anjurkan tirah baring
13
Diagnosa Perencanaan
No Tujuan
keperawatan Intervensi
Kolaborasi
10. Kolaborasi pemberian cairan
dan elektrolit intravena, jika
perlu
D. Implementasi
Implementasi merupakan tahap proses keperawatan dimana perawat
memberikan intervensi keperawatan langsung dan tidak langsung pada pasien.
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
perawatan. Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Implementasi
keperawatan respiratory distress syndrome sesuai dengan intervensi yang telah
dibuat sebelumnya (Herlinda, 2021).
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi
adalah kegiatan yang disengaja dan terus-menerus dengan melibatkan pasien,
perawat, dan anggota tim lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang
kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk
menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk
melakukukan (Herlinda, 2021).
14
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Almuhardi, I., & Antoni. (2020). Aktivitas Antibakteri Actinomycrtes Desa
Cempaka Kapuas Hulu Kalimantan Barat Terhadap Enteropatogenik
Gastroenteritis. 13 (1).
Herlinda. (2021). Pengobatan Imunosupresif pada Gejala Anemia (pp. 12-26).
Kardiyudiani,
N. K., & Susanti, B. D. (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1. PT.
PUSTAKA BARU.
Meisuri, N. P., Perdani, R. R. W., Mutiara, H., & Sukohar, A. (2020). Efek
Suplementasi Madu Terhadap Penurunan Frekuensi Diare Akut Pada Anak
di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Majority, 9(2), 26-32.
PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2017). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
Prawati, D. D., & Haqi, D. N. (2019). Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Diare di
Tambak
Sari Kota Surabaya. Jurnal Promkes: The Journal of Healt Promotion and
Healt Education, 7(1), 34-45. [Link]
Ramanda, E., Felisitas, & Widi. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Klien
Gastroenteritis Dengan Masalah Defisit Volume Cairan Di RS Pantai
Waluya Malang.
Samiyati, M., Suhartono, & Dharminto. (2019). Hubungan Sanitasi Lingkungan
Rumah Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1),
388-395. [Link]
15