0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Definisi

Rest plasenta adalah kondisi di mana sisa plasenta tertinggal di dalam rahim setelah persalinan, yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum dan infeksi. Faktor predisposisi termasuk usia ibu, paritas, anemia, dan abnormalitas plasenta. Penanganan meliputi eksplorasi rahim dan pemberian antibiotik untuk mencegah komplikasi serius.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Definisi

Rest plasenta adalah kondisi di mana sisa plasenta tertinggal di dalam rahim setelah persalinan, yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum dan infeksi. Faktor predisposisi termasuk usia ibu, paritas, anemia, dan abnormalitas plasenta. Penanganan meliputi eksplorasi rahim dan pemberian antibiotik untuk mencegah komplikasi serius.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Definisi

Plasenta yang masih tertinggal disebut Rest plasenta. Rest plasenta merupakan tertinggalnya
sisa plasenta dan membrannya dalam kavum uteri, dan merupakan tertinggalnya bagian
plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau
perdarahan postpartum lambat yang biasanya terjadi dalam 6 hari sampai 10 hari pasca
persalinan.

Sisa plasenta yang masih tertinggal didalam uterus dapat terjadinya perdarahan, bagian
plasenta yang masih menempel pada dinding uterus mengakibatkan uterus tidak adekuat
sehingga pembuluh darah yang terbuka pada dinding uterus tidak dapat
berkontraksi/terjepit dengan sempuma. Sisa plasenta dalam nifas menyebabkan perdarahan
dan infeksi, perdarahan yang banyak dalam nifas hamper selalu disebabkan oleh sisa
plasenta. Jika pada pemeriksaan plasenta ternyata jaringan plasenta tidak lengkap, maka
harus dilakukan eksplorasi dari cavum uteri. diketahui biasanya Potongan-potongan plasenta
yang ketinggalan dapat menimbulkan perdarahan postpartum lambat.

B. Etiologi Sisa Plasenta

Faktor penyebab utama perdarahan baik secara primer maupun sekunder Adalah grande
multipara, jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun, pesalinan yang dilakukan tindakan,
pertolongan kala uri sebelum waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun, persalinan
dengan tindakan paksa, persalinan dengan narkoba.

Penyebab rest plasenta:

1. Pengeluaran plasenta tidak hati-hati

2. Salah pimpinan kala III : terlalu terburu-buru untuk mempercepat lahirnya plasenta.

3. Abnormalitas Plasenta

Abnormalitas plasenta meliputi bentuk plasenta dan penanaman plasenta dalam uterus
yang mempengaruhi mekanisme pelepasan plasenta.

4. Kelahiran bayi yang terlalu cepat

Kelahiran bayi yang terlalu cepat akan mengganggu pemisahan plasenta secara fisiologis
akibat gangguan dari retraksi sehingga dapat terjadi gangguan retensi sisa plasenta.

C. Faktor Predisposisi Sisa Plasenta


Faktor predisposisi sisa plasenta adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya
sisa plasenta. Sisa plasenta adalah keadaan dimana sebagian jaringan plasenta tertinggal di
dalam rahim setelah persalinan. Kondisi ini bisa berakibat serius bagi ibu, seperti perdarahan
hebat, infeksi dan bahkan kematian.

Berikut beberapa faktor predisposisi sisa plasenta :

Faktor Ibu :

1. Usia

Wanita yang melahirkan anak pada usia lebih dari 35 tahun merupakan faktor predisposisi
terjadinya perdarahan postpartum yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini
dikarenakan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami
penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal.

2. Paritas

Salah satu penyebab perdarahan postpartum adalah multiparitas. Paritas menunjukan


jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.
Primipara adalah seorang yang telah pernah melahirkan satu kali satu janin atau lebih yang
telah mencapai batas viabilitas, oleh karena itu berakhirnya setiap kehamilan melewati
tahap abortus memberikan paritas pada ibu. Seorang multipara adalah seorang wanita yang
telah menyelesaikan dua atau lebih kehamilan hingga viabilitas. Hal yang menentukan
paritas adalah jumlah kehamilan yang mencapai viabilitas, bukan jumlah janin yang di
lahirkan. Paritas tidak lebih besar jika wanita yang 23 bersangkutan melahirkan satu janin,
janin kembar, atau janin kembar lima, juga tidak lebih rendah jika janinnya lahir mati. Uterus
yang telah melahirkan banyak anak, cenderung bekerja tidak efisien dalam semua kala
persalinan.

3. Anemia dalam kehamilan

Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin dibawah
nilai normal, dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 11g/dl. Kekurangan
hemoglobin dalam darah dapat menyebabkan komplikasi lebih serius bagi ibu baik dalam
kehamilan, persalinan, dan nifas. Oksigen yang kurang pada uterus akan menyebabkan otot-
otot uterus tidak berkontraksi dengan adekuat sehingga dapat timbul atonia uteri yang
mengakibatkan perdarahan postpartum.
4. Riwayat Persalinan

Riwayat persalinan dimasa lampau sangat berhubungan dengan hasil kehamilan dan
persalinan berikutnya. Bila riwayat persalinan yang lalu buruk petugas harus waspada
terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan yang akan berlangsung.

5. Kehamilan ganda

Kehamilan dengan bayi kembar memiliki risiko lebih tinggi.

6. Merokok

Ibu yang merokok memiliki risiko yang lebih tinggi.

7. Obesitas

Ibu yang obesitas memiliki risiko lebih tinggi.

8. Penggunaan Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat-obatan anti inflamasi nonsteroid (NSAID),


dapat meningkatkan risiko sisa plasenta.

Faktor Plasenta :

1. Plasenta Previa

Kondisi dimana plasenta menutupi bagian atau seluruh jalan lahir.

2. Plasenta Akreta

Kondisi dimana plasenta melekat terlalu dalam ke dinding rahim.

3. Plasenta Increta

Kondisi dimana plasenta tumbuh menembus dinding rahim.

4. Plasenta Percreta

Kondisi dimana plasenta tumbuh menembus otot dinding rahim dan orgaan
di sekitarnya.

Factor persalinan cepat

1. Persalinan Cepat

Persalinan yang berlangsung terlalu cepat dapat menyebabakan plasenta tidak terlepas
dengan sempurna.

2. Persalinan dengan Intervensi

Persalinan dengan operasi caesar, induksi persalinan, atau penggunaan forsep dapat
meningkatkan risiko sisa plasenta.

3. Persalinan dengan Robekan Perineum

Robekan perineum yang luas dapat menyebabkan kesulitan dalam mengeluarkan plasenta.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua ibu dengan faktor predisposisi ini akan mengalami
sisa plasenta. Namun, mengetahui faktor-faktor ini dapat membantu dokter untuk
mengidentifikasi risiko dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.

D. Tanda dan Gejala

Rest Plasenta dalam nifas menyebabkan perdarahan dan infeksi. Perdarahan yang banyak
dalam nifas selalu disebabkan oleh sisa plasenta. Jika pada pemeriksaan plasenta ternyata
hampir jaringan plasenta tidak lengkap, maka harus dilakukan eksplorasi dari cavum uteri.

Tanda dan gejalanya:

1. Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap.

2. Terjadi perdsrshsn rembesan atau mengucur, saat kontraksi uterus keras, darah berwarna
merah muda, bila perdarahan hebat timbul syok, pada pemeriksaan inspekulo terdapat sisa
plasenta.

3. Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

4. Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak
dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi
mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta.
Tertinggalnya sebagian plasenta (rest plasenta)

5. Keadaan umum lemah

6. Peningkatan denyut nadi


7. Tekanan darah menurun

8. Pernafasan cepat

9. Gangguan kesadaran (syok)

10. Pasien pusing dan gelisah

11. Tampak sisa plasenta yang belum keluar

E. Komplikasi Sisa Plasenta

Komplikasi sisa plasenta adalah polip plasenta artinya plasenta masih tumbuh dan dapat
menjadi besar, perdarahan terjadi intermiten sehingga kurang mendapat perhatian, dan
dapat terjadi degenerasi ganas menuju korio karsinoma dengan manifestasi klinisnya.
Menurut Manuaba 2008, memudahkan terjadinya:

1. Anemia yang berkelanjutan

2. Infeksi puerperium

3. Kematian akibat perdarahan

4. Sumber infeksi dan perdarahan potensial

5. Memudahkan terjadinya anemia yang berkelanjutan

6. Terjadinya plasenta polip

8. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah

F. Penanganan atau Penatalaksanaan

1. Penemuan secara dini hanya di mungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan


plasenta setelah di lahirkan.

2. Berikan antibiotik karena pendarahan juga merupakan gejala [Link] yang


dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV di lanjutkan dengan 3x1 g oral dikombinasikan
dengan metronidasol 1 g supositoria di lanjutkan dengan 3x500 mg oral. 3. Dengan
dipayungi antibiotik tersebut, Ikukan ekplorasi digital (bila servik terbuka) dan mengeluarkan
bekuan darah atau jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui alat kuretase, lakukan evakuasi
sisa plasenta dengan AVM atau dilatasi dan kuretase.

4. Bila kadar Hb < 8 gr% beri transfusi darah, bila kadar Hb > 8 gr% berikan sulfas ferosus 600
mg/hari selama 10 hari.
Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar atau setelah melakukan
plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat
melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum
pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus
dilakukan eksplorasi kedalam rahim dengan cara manual/digital atau kuret dan pemberian
uterotonika. Anemia yang ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah
sesuai dengan keperluannya.

Penatalaksanaan :

Dengan perlindungan antibiotik sisa plasenta telah dikeluarkam secara digital atau dengan
kuret besar. Jika ada demam ditunggu dulu sampai suhu turun dengan pemberian antibiotik
dan 3-4 hari kemudian Rahim dibersihkan, namun jika perdarahan banyak, maka rahim
segera dibersihkan walaupun ada demam.

A. Kesimpulan

Rest Plasenta adalah tertinggalnya potongan-potongan plasenta seperti kotiledon dan


selaput plasenta yang menyebabkan terganggunya kontraksi uterus sehingga sinus-sinus
darah tetap terbuka dan menimbulkan perdarahan postparum. Perdarahan postpartum dini
dapat terjadi sebagai akibat tertingginya sisa plasenta atau selaput janin. Bila hal tersebut
terjadi, harus dikeluarkan secara manual atau di kuratase dan pemberian obat-obatan
uterotonika intravena.

Pada proses persalinan normal, setelah bayi lahir, uterus akan berkontraksi kuat untuk
membantu pelepasan dan pengeluaran plasenta. Kontraksi ini menyebabkan terbentuknya
bidang pemisahan antara plasenta dan dinding uterus pada lapisan desidua spongiosa.
Setelah terlepas seluruhnya, plasenta akan dikeluarkan melalui jalan lahir dalam waktu ± 30
menit setelah kelahiran bayi.

Namun, pada kasus sisa plasenta (rest plasenta), sebagian jaringan plasenta tertinggal di
dalam kavum uteri karena proses pelepasan dan pengeluaran yang tidak sempurna. Hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme patologis, antara lain:

1. Kontraksi dan retraksi uterus yang tidak adekuat (atonia uteri)


Setelah bayi lahir, uterus seharusnya berkontraksi secara ritmis. Bila kontraksi lemah,
bidang pemisahan antara plasenta dan dinding uterus tidak terbentuk sempurna,
sehingga sebagian jaringan plasenta tetap melekat. Kondisi ini menyebabkan
sebagian plasenta tidak terlepas dan tertinggal di dalam rahim.

2. Perlekatan abnormal antara plasenta dan dinding uterus


Pada kondisi seperti plasenta adhesiva, increta, atau percreta, sebagian atau seluruh
vili korion menembus lebih dalam dari lapisan desidua normal dan melekat kuat
pada miometrium. Akibatnya, sebagian jaringan plasenta sulit terlepas spontan dan
sebagian tertinggal di kavum uteri.
3. Tindakan manual kala III yang tidak adekuat
Penanganan kala III (pengeluaran plasenta) yang tidak sesuai prosedur, misalnya
penarikan tali pusat tanpa kontraksi uterus atau tekanan berlebihan pada fundus
uteri, dapat menyebabkan sebagian jaringan plasenta robek dan tertinggal di dalam
rahim.

4. Adanya kelainan pada plasenta itu sendiri


Misalnya plasenta berlobus (bilobed) atau dengan aksesori lobus (placenta
succenturiata). Jika lobus tambahan tidak terlepas dan tertinggal di uterus, maka
akan terjadi rest plasenta.

Akibat sisa jaringan plasenta yang tertinggal, uterus tidak dapat berkontraksi secara optimal
sehingga pembuluh darah pada tempat implantasi plasenta tetap terbuka. Hal ini
mengakibatkan perdarahan postpartum (post partum hemorrhage) yang dapat berlangsung
terus-menerus. Selain itu, jaringan plasenta yang tertinggal dapat mengalami nekrosis dan
menjadi media pertumbuhan bakteri, menyebabkan infeksi puerperium (endometritis),
bahkan sepsis jika tidak segera ditangani.

Anda mungkin juga menyukai