0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

Argumentative Text

Teks ini menjelaskan tujuan, struktur, dan fitur bahasa dari teks argumentatif, yang bertujuan untuk menyampaikan pendapat, meyakinkan pembaca, dan melatih berpikir kritis. Struktur teks argumentatif terdiri dari pendahuluan, argumen yang mendukung, argumen yang menentang, dan kesimpulan. Fitur bahasa yang digunakan termasuk simple present tense, modal verbs, kata penghubung, kata kerja opini, serta kalimat formal dan kompleks.

Diunggah oleh

anggasaputra05133
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

Argumentative Text

Teks ini menjelaskan tujuan, struktur, dan fitur bahasa dari teks argumentatif, yang bertujuan untuk menyampaikan pendapat, meyakinkan pembaca, dan melatih berpikir kritis. Struktur teks argumentatif terdiri dari pendahuluan, argumen yang mendukung, argumen yang menentang, dan kesimpulan. Fitur bahasa yang digunakan termasuk simple present tense, modal verbs, kata penghubung, kata kerja opini, serta kalimat formal dan kompleks.

Diunggah oleh

anggasaputra05133
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ARGUMENTATIVE TEXT

A. Purpose of Argumentative Text (Tujuan Teks Argumen)

Secara umum, argumentative text memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya:

1. Menyampaikan pendapat

Teks ini juga bertujuan untuk menyampaikan opini atau pandangan penulis tentang suatu
topik atau masalah yang sedang dibahas.

2. Meyakinkan pembaca

Tujuan utama dari argumentative text adalah membuat pembaca percaya atau setuju
dengan pendapat penulis. Oleh karena itu, penulis harus memberikan alasan dan bukti yang
kuat agar pendapatnya bisa diterima.

3. Melatih berpikir kritis

Saat menulis teks ini, penulis belajar untuk menilai argumen mana yang benar-benar kuat
dan yang lemah, sehingga bisa berpikir lebih logis dan rasional.

4. Menyeimbangkan pandangan

Walaupun penulis mendukung satu sisi, ia juga bisa beropini terkait pandangan lawan, agar
tulisannya terlihat lebih adil dan dipercaya.

5. Mengajak pembaca berpikir lebih dalam

Argumentative text dengan penjelasan yang logis dan jelas dapat membuat pembaca
berpikir ulang tentang pendapat mereka sendiri.

6. Mengembangkan kemampuan berbahasa

Karena menggunakan bahasa formal dan kalimat yang terstruktur, teks ini bisa membantu
siswa meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris.

B. Structure of Argumentative Text (Struktur Teks Argumen)

Nah guys, kalau kita mau menulis argumentative text yang baik, kita harus tahu dulu nih
struktur dasarnya. Struktur ini disebut juga generic structure of argumentative text.
Tujuannya supaya tulisan kita terarah, logis, dan mudah dipahami oleh pembaca. Yuk kita
bahas satu per satu!

Baca Juga: Review Text: Pengertian, Struktur, dan Contohnya


1. Introduction (Pendahuluan)

Bagian introduction dalam argumentative text berfungsi sebagai pembuka


yang memperkenalkan topik serta memberikan sedikit latar belakang atau konteks
mengenai isu yang akan dibahas.

Penulis bisa memulainya dengan kalimat pembuka yang menarik, kemudian menjelaskan
gambaran umum tentang permasalahan yang akan dibahas. Di akhir paragraf, penulis harus
menyertakan thesis statement, yaitu pernyataan utama yang menunjukkan pendapat
penulis terhadap isu tersebut, apakah mendukung, menolak, atau memiliki pandangan
tertentu.

Dengan demikian, bagian introduction tidak hanya menjadi pengantar, tetapi juga
memberikan dasar yang kuat bagi pembaca untuk memahami argumen yang akan
dikembangkan pada bagian selanjutnya.

Contoh:

In today’s digital era, social media has become an essential part of our daily lives. However,
many people believe it has more negative effects on teenagers than positive ones. This essay
argues that social media brings more harm than good to young people.

(Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita.
Namun, banyak orang percaya bahwa dampaknya terhadap remaja lebih banyak negatif
daripada positif. Tulisan ini berpendapat bahwa media sosial lebih banyak membawa
dampak buruk bagi remaja.)

2. Arguments for (Argumen yang Mendukung)

Kalau bagian ini, merupakan inti dari argumentative text, karena berisi alasan dan bukti
yang mendukung pendapat penulis. Penulis bisa menjelaskan mengapa ia setuju atau tidak
setuju terhadap suatu isu dengan cara menyajikan argumen yang logis, disertai data,
contoh, atau fakta yang relevan.

Biasanya, bagian ini terdiri dari dua atau lebih paragraf, dan setiap paragraf membahas satu
alasan utama yang kemudian diperkuat dengan penjelasan atau bukti pendukung.
Fungsinya, untuk mendukung thesis statement yang telah disampaikan di awal, serta
meyakinkan pembaca melalui pernyataan yang masuk akal, didukung fakta yang dapat
dipercaya.

Contoh:

Firstly, social media often causes cyberbullying, which negatively affects teenagers’ mental
health. Secondly, teenagers spend too much time online, leading to lower productivity and
poor academic performance.
(Pertama, media sosial sering menyebabkan perundungan daring yang berdampak buruk
pada kesehatan mental remaja. Kedua, remaja menghabiskan terlalu banyak waktu online,
yang menurunkan produktivitas dan prestasi belajar.)

3. Arguments againts (Argumen yang Menentang/Kontra)

Dalam bagian arguments against atau counter-argument, penulis mengakui adanya


pandangan lain yang berlawanan dengan pendapatnya, lalu menjelaskan secara logis
mengapa pandangan tersebut kurang tepat, lemah, atau tidak sekuat argumennya sendiri.

Dengan cara ini, penulis dapat menunjukkan bahwa ia memahami isu dari berbagai sisi,
tidak berpihak secara buta, dan tetap mampu mempertahankan argumennya dengan alasan
yang kuat. Selain itu, bagian ini juga membuat tulisan menjadi lebih seimbang, kredibel, dan
meyakinkan di mata pembaca.

Contoh:

Some people argue that social media helps teenagers stay connected and express
themselves freely. While this may be true, excessive use can still lead to serious problems
such as addiction and social isolation.

(Beberapa orang berpendapat bahwa media sosial membantu remaja tetap terhubung dan
mengekspresikan diri dengan bebas. Meskipun hal ini benar, penggunaan yang berlebihan
tetap dapat menimbulkan masalah serius seperti kecanduan dan isolasi sosial.)

4. Conclusion (Kesimpulan/Penegasan Ulang)

Pada bagian ini, penulis biasanya merangkum kembali argumen-argumen utama yang telah
disampaikan sebelumnya tanpa menambahkan ide baru, agar tulisan tetap fokus dan
konsisten. Selain itu, penulis sering kali menambahkan saran untuk meninggalkan kesan
mendalam bagi pembaca.

Contoh:

In conclusion, although social media has some benefits, its negative impact on teenagers’
mental health and productivity is far greater. Therefore, teenagers should limit their use of
social media to maintain a healthy balance in life.

(Kesimpulannya, meskipun media sosial memiliki beberapa manfaat, dampak negatifnya


terhadap kesehatan mental dan produktivitas remaja jauh lebih besar. Oleh karena itu,
remaja sebaiknya membatasi penggunaan media sosial agar hidupnya lebih seimbang.)
C. Language Features of Argumentative Text (Kaidah Kebahasaan Teks Argumen)

Dalam Bahasa Inggris, language features of argumentative text terdiri dari beberapa ciri
yang harus dipahami, berikut penjelasannya:

1. Menggunakan Simple Present Tense

Argumentative text umumnya menggunakan simple present tense, karena membahas


fakta, opini, atau isu yang masih berlaku sampai sekarang.

Contoh:

Social media causes anxiety among teenagers. (Media sosial menyebabkan kecemasan di
kalangan remaja.)

2. Menggunakan Modal Verbs

Teks argumentatif juga sering menggunakan modal verbs, seperti should, must, can,
might, atau could untuk menunjukkan saran, kewajiban, kemungkinan, atau penegasan
terhadap suatu pendapat. Modal verbs membuat argumen terdengar lebih persuasif dan
sopan, terutama saat menyampaikan pendapat atau rekomendasi.

Contoh:

Governments should regulate online content more strictly. (Pemerintah seharusnya


mengatur konten online dengan lebih ketat.)

3. Menggunakan Connective Words (Kata Penghubung)

Agar teks tersusun dengan baik, argumentative text harus menggunakan connective words.
Kata penghubung ini membantu menghubungkan satu argumen dengan argumen lainnya,
sehingga tulisan terasa runtut dan mudah diikuti pembaca.

Beberapa kata penghubung yang sering digunakan antara lain:

 Untuk menambah pernyataan/argumen: Firstly, Secondly, Moreover, In addition,


Furthermore.

 Untuk menyatakan pendapat yang berlawanan: However, On the other hand,


Although, In contrast.

 Untuk menyimpulkan: Therefore, Thus, In conclusion, To sum up.


Contoh:

Social media can be useful for communication. However, it also increases the risk of
cyberbullying. (Media sosial bisa berguna untuk berkomunikasi. Namun, juga meningkatkan
risiko perundungan daring.)

4. Menggunakan Opinion Verbs (Kata Kerja Opini)

Ciri khas lain dari argumentative text adalah penggunaan kata kerja yang menunjukkan
opini, seperti believe, think, argue, claim, suggest, state, dan agree/disagree. Kata-kata ini
juga menandakan kalau teks yang dibuat merupakan pendapat pribadi penulis.

Contoh:

Many experts argue that social media has more disadvantages than benefits. (Banyak ahli
berpendapat bahwa media sosial memiliki lebih banyak kerugian daripada manfaat.)

5. Menggunakan Kalimat Formal dan Kompleks

Karena argumentative text berisi opini terhadap suatu isu, jadi gaya bahasanya harus formal
dan terstruktur. Itu sebabnya penulis sering menggunakan kalimat kompleks
(compound atau complex sentences), kadang juga menggunakan kalimat pasif untuk
membuat tulisan terlihat lebih profesional.

Contoh:

It is believed that social media contributes to poor self-esteem among young people.
(Dipercaya bahwa media sosial berkontribusi terhadap rendahnya rasa percaya diri di
kalangan anak muda.)

Read the text below, then answer the questions correctly

Alternative medicine is, by definition, an alternative to something else: modem, Western


medicine. But the term ’alternative’ can be misleading, even off-putting for some people.

Few practitioners of homeopathy, acupuncture, herbalism and the like regard their
therapiesas complete substitutes of modern medicine. Rather, they consider their disciplines
as supplementary to orthodox medicine.

The problem is that many doctors refuse even to recognize ‘natural’or alternative medicine,
it calls for a radically different view of health, illness, and cure. But whatever doctors may
think, the demand for alternative forms of medical therapy is stronger than ever before, as
the limitations of modern medical science become more widely understood.
Alternative therapies are often dismissed by orthodox medicine because they are sometimes
administered by people with no formal medical training. But, in comparison with many
traditional therapies, western medicine as we know it today is a very recent phenomenon.
Until only 150 years ago, herbal medicine and simple inorganic compounds were the most
effective treatments available.

Despite the medical establishment’s intolerant attitude, alternative therapies are being
accepted by more and more doctors, and the World Health Organization has agreed to
promote the integration of proven, valuable, ‘alternative’ knowledge and skills in western
medicine.

1. What is the best title of the text above?

2. What kind of text type is the passage above? Explain your answer!

3. What are alternative therapies and Western medicine?

4. To what group of people does this text suit? Why?

5. Find the similar meaning “alternative” in the text above !

Anda mungkin juga menyukai