COVER
DAFTAR ISI
Yang Tinggal Meski Tak Bersama..................................1
Lembar Masa Depan.......................................................2
Jika Jarak Datang Menguji..............................................3
Jejak Tiga Bintang...........................................................5
Jejak Sang Lentera...........................................................6
Catatan Evan untuk Mira.................................................7
Sungai yang Menangis....................................................8
Puncak yang Memanggil Namaku..................................9
Dari Inspirasi menjadi sebuah Mimpi...........................10
Setelah Kelas XII...........................................................12
Di Bawah Payung Biru..................................................13
Persahabatan di Ambang Senja.....................................14
Lorong Bayangan..........................................................15
Rumah yang Selalu Pulang............................................17
Pelita di Ujung Jalan......................................................18
Di Balik Gerbang SMA Elite Bangsa............................20
Hutan yang Kembali Bernapas......................................21
Pagi yang Datang Tanpa Izin........................................22
Kabut Menyimpan Namamu.........................................23
Laut Menyimpan Janji...................................................24
Jalan Pulang...................................................................25
i
Kota di Bawah Langit Buatan.......................................26
Topeng Sempurna..........................................................27
Larung Janji……………………...……………………28
Bel Lonceng Pagi………………………….….……….29
Antara Pagi dan Larut…………………………………30
Langkah Kecil Dijalan Panjang……………...………..31
ii
Yang Tinggal Meski Tak Bersama
Karya: Abella Ramadhani Arifanti / 01
Cinta pertamaku bukan tentang yang pertama
datang,
tetapi tentang yang mengajarkanku arti tulus.
Namamu hadir dalam hidupku,
dan hatiku mulai tertuju padamu.
Dari ragu hingga saling percaya,
aku belajar bahwa cinta tak selalu mudah.
Namun dari dirimu,
aku mengenal arti perhatian yang sederhana.
Kau yang cuek namun penuh ketulusan,
membuatku merasa dihargai dan berarti.
Dalam kebersamaan,
aku belajar tentang sabar dan bertahan.
Meski waktu memisahkan kita,
namamu tetap tinggal di hatiku.
Dari dirimu, aku belajar,
cinta pertama adalah yang paling membekas
1
Lembar Masa Depan
Karya: Afifatul Ainiyah/02
Di pagi emas, ia memeluk mimpi
Ia menatap cita-cita di bukunya
Angka menjadi bintang penuntun
Namun ragu masih singgah di hatinya
Poster biru adalah jendela langit
Ia melihat pengumuman lomba di dinding
Nala menjadi cahaya di lorong sunyi
Mengajaknya berani melangkah
Di aula, ia berlayar di samudera angka
Tangannya gemetar mengerjakan soal
Ketelitian menjadi mutiara berkilau
Meski ia bukan juara lomba
Kini fajar tumbuh di dadanya
Ia menatap kembali mimpinya
Langkah kecil adalah sayap harapan
Menuju masa depan yang ia yakini
2
Jika Jarak Datang Menguji
Karya: Aliffany Mardyana Azzahra/04
Dengan hati yang masih sunyi,
lalu kau hadir tanpa suara
mengubah diam menjadi rasa.
Tatapmu sederhana,
namun menetap lama,
sejak saat itu
hatiku belajar berharap.
Kita tumbuh di tawa kecil,
bangku sekolah dan pesan singkat,
hari-hari berjalan pelan
mengajarkan arti dekat.
Jika jarak datang menguji,
jangan biarkan cinta pergi,
aku memilih tetap di sini
meski waktu tak lagi sama.
Jika langkah harus berbeda,
biarlah rasa tetap setia,
aku dan kamu kala itu
belajar bertahan bersama.
Waktu memisahkan arah,
seragam tak lagi sama,
namun rindu tak pernah lelah
mencari jalan pulang.
Aku belajar menunggu,
3
kau belajar bertahan,
di antara sepi dan ragu
kita memilih memperjuangkan.
Cinta pertamaku bukan tentang akhir,
melainkan tentang tumbuh dan dewasa,
aku, dan kamu kala itu
akan selalu tinggal
sebagai kisah
yang paling aku jaga.
Jejak Tiga Bintang
Karya : Andriani Wahyu Dwiputri F./ 05
4
Kami datang sebagai tiga nama asing
di pagi sekolah yang masih basah oleh harap.
Kelas X-12 membuka pintunya perlahan,
menyambut tawa gugup dan doa yang diam-
diam tumbuh.
Putri yang tenang, Nony yang berani, Lisa yang
ceria,
berbeda watak namun searah langkah.
Tanpa janji dan tanpa rencana panjang,
persahabatan lahir dari kebersamaan sederhana.
Hari-hari berjalan bersama tugas dan canda,
kantin menjadi saksi cerita yang terus berulang.
Di sela lelah dan panik yang singgah sebentar,
kami belajar kuat dengan saling menguatkan.
Waktu tak selalu ramah pada kebersamaan,
kesibukan perlahan berubah menjadi jarak.
Diam menyimpan luka yang tak terucap,
hingga kata hampir kehilangan maknanya.
Air mata jatuh, maaf menemukan jalannya,
pelukan menyatukan hati yang sempat retak.
Kami sadar, kehilangan bukan tentang pergi,
melainkan lupa cara saling memahami.
Kini langkah kami tak lagi sejajar,
namun langit kenangan tetap sama menaungi.
Starveil, Morgana, Aurora—tiga bintang satu
cahaya,
tak padam oleh waktu, hanya belajar bersinar
dari jauh.
5
Jejak Sang Lentera
Karya: Aura Agustin / 06
Jarum menari menyulam mimpi yang tinggi.
Layar tua menyulap ruang menjadi taman.
Meski suara sumbang mencoba mencuri nyali.
Jiwa itu teguh memeluk harapan.
Sepeda tua membelah badai prasangka.
Menabung peluh demi menembus
cakrawala.
Ejekan tajam tak mampu hentikan
langkahnya.
Hingga mimpi mekar di langit yang
berbeda.
Sang cahaya pulang membawa fajar.
Menyirami tanah desa dengan ilmu yang dipetik.
Luka lama kini sembuh dan memancar.
Menjadi lentera bagi jiwa yang terdidik.
6
Catatan Evan untuk Mira
Karya: Azka Kamila Putri / 07
Kau datang seperti gaduh
di pagi yang ingin tenang,
kupikir kau hanya masalah
yang singgah lalu menghilang.
Di jalan sempit dan gelap
kau tarik aku berlari,
saat dunia ingin menjatuhkanku
kau berdiri di depanku sendiri.
Tawamu keras, lukamu diam,
kau hidup dengan cara nekat,
dan tanpa sadar aku belajar
cara bertahan dari melihatmu.
Jika suatu hari kita berpisah
dan kota memisahkan arah,
ingat—di antara semua gaduh
kau jadi bagian yang kupilih
untuk tinggal.
7
Sungai yang Menangis
Karya: Dini Cahya Pertiwi/ 09
Dulu sungai mengalir tenang
Menemani tawa anak desa
Kini air berubah keruh
Ikan pergi tanpa jejak
Malam membawa suara lirih
Tangis air tertahan lama
Bukan angin bukan binatang
Ini luka dari manusia
Tangan kecil mulai membersihkan
Meski tak cukup sendiri
Langkah lain pun datang
Kesadaran tumbuh perlahan
Dari air kembali bernapas lega
Malam menjadi lebih tenang
Kini sungai tak menangis
Hanya gemericik tanda hidup
8
Puncak yang Memanggil Namaku
Karya: Fatehah / 10
Pagi dingin menyambut langkah pertama
Embun menempel di sepatu dan rasa
Tawa sahabat menguatkan jiwa
Menuju puncak dengan doa bersama
Langkah demi langkah kami bersuara
Cerita kecil mengalir sepanjang jalur hutan rimba
Lelah hadir namun hati tetap menyala
Gunung seolah mendengar semua cerita
Kabut menipis, langit membuka warna
Napas berat dibalas rasa bahagia
Di puncak kami berdiri penuh makna
Awan bergulung di bawah cahaya semesta
Aku terdiam menarik napas lega
Gunung memanggil namaku tanpa suara
Syukur jatuh di dalam dada
Dan aku tahu, suatu hari aku akan kembali ke
sana
9
Dari Inspirasi menjadi sebuah Mimpi
Karya: Galang Arya Dewangga/ 13
Di ruang yang sunyi bernama tekad,
seorang remaja menatap masa depan,
ia membaca keadilan dari sebuah undang-
undang,
menganyam mimpi menjadi seorang hakim.
Bukan hanya mengejar gelar,
namun demi kebenaran yang sering terabaikan.
Api itu tumbuh dari inspirasi,
dari sidang-sidang yang ia saksikan,
dari kata-kata hukum yang menggema.
Namun, jalannya tak selalu lurus,
emosi yang kerap mendahului logika,
serta kata-kata yang terkunci oleh dentuman
suara.
Di sebuah arena debat,
mimpinya sempat runtuh oleh amarah,
argumen tajam berubah menjadi sebuah luka,
malu dan ragu membelenggu di dada,
seolah mimpi tinggi yang dicitakan
tak lagi pantas untuk di genggam.
Namun, waktu mengajarinya bernapas,
menundukkan ego,
dan mendengar sebelum berbicara.
Ia belajar satu hal, bahwa keadilan
tak lahir dari suara yang keras,
melainkan dari pikiran yang jernih dan hati
tenang.
10
Perlahan ia bangkit,
menyusun kata demi kata,
mengendalikan emosi dengan kebijaksanaan,
menjadikan ketenangan
sebagai senjata yang kuat.
Kini, ia berdiri dengan cara yang berbeda,
mendengar dengan saksama,
berbicara penuh makna,
meski tanpa kemenangan di tangan,
ia menang atas dirinya sendiri.
Dan saat ditanya rahasia keberhasilannya
ia pun tersenyum,
“Karena keadilan harus dimulai dari kedewasaan
emosi."
Dari inspirasi yang sederhana,
lahirlah mimpi yang luar biasa
bahwa cita-cita besar
menuntut jiwa yang kuat
serta hati yang tenang.
11
Setelah Kelas XII
Karya: Grensilia Ataya R/14
Bandung berkabut di atap sekolah,
Masa depan terasa jauh dan menakutkan.
Teman-teman sudah punya tujuan,
Aku masih mencari nama untuk mimpiku.
Kelulusan tiba, pertanyaan datang,
“Sudah yakin jadi apa?”
Aku belum yakin,
Tapi aku menulis surat untuk diriku sendiri:
“Kalau takut, tetap jalan.”
Setahun berjalan, air mata dan kopi pahit,
Braga senja dan tugas tak selesai.
Aku tetap takut,
Tapi kini aku tetap melangkah.
Dan aku mengerti,
Masa depan bukan tentang siap,
Melainkan berani memulai.
12
Di Bawah Payung Biru
Karya: Imroatus Sholihah Ramadhani/16
Hari pertama aku belajar ragu
Seragam baru, langkahku kelu
Pagi masih dingin di halaman sekolah
Dan jantungku mulai tak biasa
Namamu singgah di papan absen
Lalu tinggal tanpa kuizinkan
Dari senyum sederhana itu
Aku tahu, aku mulai jatuh
Mencintai diam-diam
Seperti memegang angin
Tak pernah bisa kugenggam
Namun selalu ingin
Di bawah payung biru
Hujan jatuh perlahan
Tak ada kata “aku cinta”
Tapi rasanya bertahan
Sapaan pagi yang sederhana
Pulpen pinjaman, tawa kecilmu
Tak sempurna, tapi nyata
Justru di situ aku jatuh padamu
Aku tak meminta lebih
Tak ingin janji panjang
Cukup rasa yang jujur
Meski hanya kupendam
Cinta pertama mungkin pergi
Tak tumbuh jadi cerita panjang
Tapi namamu akan selalu pulang
Di ingatan yang paling tenang
13
Persahabatan di Ambang Senja
Karya: Lubbna Saffa Bintang As S/18
Di kota beraroma roti pagi,
dua anak belajar bertahan.
Satu jatuh dan terluka,
satu lain menyimpan sakit yang
tak selesai.
Mereka tumbuh bersama,
melewati hujan, ejekan,
dan genggaman
yang saling menguatkan.
Senja menjadi saksi
hal-hal yang tak terucap.
Suatu hari, warnanya tetap sama,
namun satu tempat
tak lagi terisi.
Kini ia menatap langit sendiri,
menepati janji
untuk tetap hidup.
Karena yang pergi
tak selalu hilang,
sebagian tinggal di senja
dan ingatan.
14
Lorong Bayangan
Karya: Marcella Thalita Octaviana/19
Kota bernafas dalam bisu
Jalan basah menelan rahasia, lampu
Memantul wajahmu: tersesat, kerlip, lalu
Lenyap di waktu yang tak bisa kau genggam.
Bayangan bergerak. Bukan untuk menaklukkan.
Ia mengajar: takut sejati
Adalah menatap cermin sendiri
Yang selalu kau hindari tiap fajar.
Kakimu berat, hatimu retak.
Orang berlalu tanpa melihat, tanpa tahu.
Namun bayangan berbisik: sunyi
Bukan hukuman, ia ruang
Di mana kau akhirnya menjadi dirimu.
Yang kau elak hari ini
Akan menemuimu esok. Bukan untuk menjerat,
Tapi menumbuhkan: tabah di dada,
Berani di tulang, memahami di mata lelah.
Jangan lari dari gelap.
Jangan gentar pada senyum asing.
Rahasia terdalam: baca dirimu
Di lorong basah ini, di sela
Bayangan yang diam menatap, menanti.
Kota sakit. Napasmu berat.
Tapi ingat: kau bukan penonton.
Kau pengamat yang mengubah takut jadi
ajar,
Gelap jadi terang
Dan lorong bayangan menjadi jalan pulang.
15
Aku di sini.
Di antara sunyi dan tanya.
Melawan, menerima, lalu mengerti.
16
Rumah yang Selalu Pulang
Karya: Mukhammad Wahyu Satria / 24
Di bawah langit pagi yang belum sepenuhnya
terang,
aku belajar melangkah tanpa banyak bilang.
Ada lelah yang kusembunyikan pelan-pelan,
agar mimpi tetap punya ruang untuk bertahan.
Angin mengajariku arti sabar,
daun gugur tak pernah menyesali jatuhnya.
Waktu memang tak selalu ramah,
namun harapan selalu menemukan jalannya.
Jika dunia terasa terlalu bising dan berat,
aku memilih diam, menata niat.
Sebab tenang bukan tanda menyerah,
melainkan cara hati agar tetap kuat.
Dan kelak saat langkah ini sampai tujuan,
aku ingin menoleh tanpa penyesalan.
Karena pernah bertahan, pernah percaya,
bahwa aku bisa, meski perlahan.
17
Pelita di Ujung Jalan
Karya: Natasya Puteri Amelia/26
Aku berjalan di pagi hari, dengan seragam yang
rapi.
Menyusuri hari-hari yang selalu terburu oleh
waktu.
Di punggungku, bukan hanya tas sekolah,
melainkan ada mimpi yang ingin ku raih.
Aku pernah terlambat
bukan karena malas,
melainkan karena hati
memilih berhenti sejenak
untuk mengangkat beban orang lain.
Teguran jatuh seperti hujan yang dingin dan
tajam,
membuatku ragu
apakah aku cukup layak
untuk menggapai cita-cita sebesar langit.
Namun di kursi rotan tua
aku belajar memahami
bahwa mimpi besar
tak hanya membutuhkan disiplin,
melainkan juga keberanian untuk peduli.
Kebaikan ternyata tidak hilang,
ia menemukan jalannya sendiri,
menjadi saksi
bahwa karakter lebih kuat
dari sekadar ketepatan waktu.
Aku melangkah lagi,
lebih awal, lebih kuat, lebih sadar.
18
Karena di ujung jalan ini
ada pelita kecil yang menyala dengan disiplin
yang teguh
dan hati yang tetap manusiawi.
Dan dengan
dua kaki itu,
aku yakin,
aku akan sampai.
19
Di Balik Gerbang SMA Elite Bangsa
Karya: Neva Putri Maharani/27
Di gerbang megah SMA Elit Bangsa,
Shaka berdiri dengan hati gundah.
Ia datang sebagai siswa biasa,
menyembunyikan jati diri demi sebuah
kebenaran.
Disiplin, prestasi yang membajang, Namun di
balik itu, hembusan misteri membayang.
Organ hilang, siswa terpilih jadi korban senyap,
Shaka menyelidik, agar kebenaran tak terkapar
rapat.
Dengan arahan Bara di balik earbud kecil,
Shaka melangkah hati-hati menyelidik.
Riki, Jarrel, dan Januar ikut membantu,
membuka pintu-pintu yang lama tertutup dusta.
Sonya datang membawa kabar yang
menggetarkan,
tentang Seno dan ruang medis tersembunyi.
Namun langkahnya terhenti di lorong kelam,
dan suaranya hilang bersama kebenaran.
Malam tiba, keberanian mengalahkan takut.
Pintu logam terbuka, kejahatan terbongkar.
Seno ditemukan, masih bertahan,
dan keadilan akhirnya berjalan
20
Hutan yang Kembali Bernapas
Karya: Nofal Afifuddin / 28
Di pagi yang berbalut embun,
Hutan menyapa dengan damai,
Daun berbisik pada angin,
Menyimpan harapan di setiap ranting.
Namun sunyi mulai terluka,
Oleh suara mesin yang kejam,
Pohon tua rebah tanpa kata,
Bumi menangis dalam diam.
Air mata tanah mengalir,
Membawa cerita kehilangan,
Burung kehilangan rumah,
Langit pun redup harapan.
Aku berdiri dengan keberanian kecil,
Menjaga hijau yang tersisa,
Menyatukan suara dan doa,
Demi alam yang terluka.
Kini hutan kembali bernapas,
Menyebar segar ke seluruh desa,
Mengajarkanku arti tanggung jawab,
Menjaga bumi untuk masa depan.
21
Pagi yang Datang Tanpa Izin
Karya: Nonny Azwa B.D/29
Pagi masuk tanpa izin.
Alarm menjerit.
Air dingin menempel di kulit.
Dan hari terasa salah sejak awal.
Bangku kosong terisi.
Oleh seseorang yang terlalu diam.
Tatapannya menyimpan sesuatu.
Yang tidak ingin diingat.
Ketika tubuh jatuh di lapangan.
Semua orang mundur.
Ia berlutut.
Tangannya gemetar.
Seolah mengulang keterlambatan lama.
Sirene membuka luka
Yang belum selesai
Sore di halte.
Cerita jatuh pelan.
Tentang kehilangan.
Dan rasa bersalah.
Keesokan harinya.
Takdir berbisik.
Orang yang ia selamatkan.
Adalah darahnya sendiri.
Trauma tidak pergi.
Tapi kali ini.
Ia kalah.
Dan pagi yang dibenci.
Ternyata.
Adalah awal.
Kesempatan kedua.
22
Kabut Menyimpan Namamu
Karya: Nur Rachma Aulia/30
Aku mendaki di antara napasmu
Menyebut namamu
Dalam diam yang kupeluk
Kau melangkah ringan
Tak pernah tahu
Aku tertinggal oleh rasa sendiri
Kabut turun
Seperti rahasia
Yang kupendam terlalu lama
Tanganku bertepuk pelan
Menyambut cinta
Yang tak pernah kau dengar
Jika gunung menyimpan gema
Biarlah namamu
Tinggal di sana
Bersama rinduku
Yang tak sempat pulang
23
Laut Menyimpan Janji
Karya: Rifzatul Nur Maulidiah/31
Laut tak bersuara menyimpan luka,
karang memucat,ikan menjauh pergi.
Sampah dan besi datang bersama kuasa,
manusia menamai semua itu kemajuan diri.
Seorang anak berdiri di tepi pantai,
matanya membaca duka yang dalam.
Ia memilih menjaga,bukan menghianati,
meski suaranya kecil di tengah riuh zaman.
Ketika karang pecah dan ombak murka,
alam menjawab tanpa kata-kata.
Yang merusak menuai kehancuran,
yang menjaga belajar tentang makna.
Jika laut terluka,manusia pun luka,
hidup terikat pada keseimbangan.
Alam menyimpan janji setia,
Dijaga ia memberi kehidupan.
24
Jalan Pulang
Karya: Rino Dwi Anugrah/32
Aku pulang menenteng senja,
langit menggantungkan warna pucat,
di langkah yang berjalan perlahan.
Angin menyimpan letih di pundakku,
seolah tahu beban yang tak pernah kututurkan.
Rumah berdiri dengan dada yang dingin,
pintu menyambut dengan sunyi,
sunyi menggantung di setiap dinding,
seperti kata-kata yang gagal untuk terucap.
Ayah dan Ibu retak oleh keadaan,
oleh hari-hari yang terlalu berat,
aku tumbuh di sela kecil luka yang diam,
belajar dewasa sebelum saatnya.
Tangis jatuh menjadi doa,
malam menampung segala kekacauan.
Pelukan menjahit kembali kepercayaan,
menyambung hati yang hampir lepas.
Maaf menemukan jalannya pulang,
hangat perlahan kembali menetap,
dan rumah berangsur kembali bernapas,
bersama harapan yang kami jaga.
25
Kota di Bawah Langit Buatan
Karya: Tri Saka Anita Dewi/34
Langit di Luminera tak pernah berubah,
biru yang diprogram, matahari yang patuh,
namun di mata Alya
kesempurnaan selalu menyimpan retak.
Kilatan muncul di malam sunyi,
kaca langit bergetar menahan panas dunia,
bersama Raka ia melawan senyap,
memadamkan cahaya demi hidup kota.
Retakan menutup, kota bernapas lega,
manusia dipuji, teknologi dipercaya lagi,
namun Alya tahu—
bahaya tak pernah benar-benar pergi.
Di luar tembok, cahaya lain menanti,
sebuah sinyal mengetuk langit rapuh,
masa depan tak dijaga oleh mesin,
melainkan keberanian untuk bertanya
26
Topeng Sempurna
Karya: Wanti Amaliah/35
Embun menulis pagi di jendela sekolah,
seorang gadis melangkah membawa cahaya.
Setiap kata yang jatuh dari bibirnya
adalah panah tepat ke pusat sasaran.
Namun, di balik mahkota angka seratus,
ada dada yang sesak oleh sunyi.
Ia panggung yang tak boleh redup,
bintang yang lupa cara beristirahat.
Hujan pun berbisik pada
langkahnya,
“Tak semua kilau harus abadi.”
Di meja malam ia menulis luka kecil:
aku manusia, bukan legenda.
27
Larung Janji
Karya: Jane Azzellea Zahra/16
Senja jingga di Sungai Porong
doa mengalir bersama lumpur dan angin.
Perahu dilabuh bukan untuk dibuang
Tapi untuk mengingat janji manusia pada alam.
Bakau yang ditebang membuat air murka
kapal terdiam, ilmu pun lelah.
Lalu tangan menanam, hati meminta maaf
dan sungai kembali membuka jalan.
Tradisi bukan masa lalu
ia hidup di akar yang tumbuh.
Janji yang dijaga
agar manusia tak lupa pulang pada alam.
Bel Lonceng Pagi
28
Karya: Nabila Putri Nirwani/25
Bel pagi bergaung di lorong sekolah,
mengantar langkah pada hari yang baru.
Bagi Rani,
dentangnya bukan sekadar tanda,
melainkan panggilan untuk berani
bertumbuh.
Di depan kelas ia berdiri sendiri,
gemetar menahan gelisah di dada.
Tatapan banyak mata menjadi beban,
namun kepercayaan teman menyalakan
cahaya.
Perlahan kata demi kata terucap.
Tak lagi dikalahkan oleh rasa takut.
Keheningan berubah menjadi perhatian,
dan keberanian menemukan jalannya.
Ketika tepuk tangan menggema,
ia tahu tembok itu telah runtuh.. Bel pagi kini
menjadi
saksi,
bahwa keberanian lahir dari keyakinan.
29
Antara Pagi dan Larut
Karya: Frizqeeanda E.R / 11
Pagi datang bersama kabut tipis
Langkah kecil menuju ruang kelas
Aku terbiasa diam dan rapi
Menyimpan sepi di balik seragam
Aku bukan suara paling keras
Bukan tawa yang mudah diingat
Hanya wajah biasa di barisan depan
Menjalani hari tanpa banyak cerita
Lalu kamu hadir tanpa aba aba
Duduk di sampingku membawa lelah
Tatapanmu penuh cerita sunyi
Seolah dunia terlalu berat
Kita berbagi hal sederhana
Pulpen waktu dan keheningan
Di tangga belakang sekolah
Aku belajar arti didengar
Sore menyala di aula sekolah
Naskah dan peran kita jalani
Lampu panggung membuatmu berani
Dan aku bangga dalam diam
Larut datang tanpa pernah bertanya
Langkahmu menjauh dari hidupku
Hari berjalan tanpa bayangmu
Namamu tinggal sebagai kenangan
Langkah Kecil Dijalan Panjang'
30
Karya: ([Link] ALMULTAZAM)
Embun menggantung di ujung pagi,
seperti doa bening di kelopak daun,
Raka melangkah di jalan tanah sunyi,
menggendong harap dalam keranjang rotan
yang anyamannya mengikat mimpi.
Ayah terbaring, waktu pun melambat,
rumah menjadi sunyi tanpa denting besi,
namun bahu kecil itu tak runtuh,
ia memikul hari dengan senyum tipis,
menjahit sabar di sela letih.
Pasar berisik seperti ombak tak menentu,
namun hujan datang sebagai dinding kelabu,
sayurannya basah, hatinya runtuh,
langit seolah menumpahkan duka,
dan jalan berubah jadi cermin air mata.
Namun angin berbisik lewat nasihat tua,
“Rezeki datang seperti napas semesta,”
Raka pun bangkit dari lumpur kecewa,
mengumpulkan cahaya dari sisa percaya,
31
meski langkahnya kecil, tekadnya raksasa.
Ia merawat pagi dengan lebih telaten,
menata sayur seperti menata harapan,
senyum tumbuh menjadi matahari kecil,
menghangatkan lapak yang dulu sepi,
hingga rezeki belajar pulang padanya.
Saat ayah terbaring di ranjang sakit,
Raka menggenggam tangan penuh luka,
air matanya jatuh seperti hujan doa,
namun dari retak itu tumbuh kekuatan,
seperti tunas menembus tanah keras.
Kini ia mengerti makna perjalanan:
hidup bukan tentang cepat sampai tujuan,
melainkan tentang kaki yang setia berjalan,
sebab langkah kecil di jalan panjang
adalah jembatan menuju masa depan.
32
33
34
35