0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan12 halaman

Metodologi Perencanaan

Dokumen ini menjelaskan metodologi perencanaan jembatan tipe Warren Truss dengan bentang total 60 meter dan lebar 9 meter, mengikuti standar SNI-1725-2016. Perhitungan mencakup beban mati, beban hidup, dan beban angin, serta spesifikasi material seperti mutu beton fc 30 MPa dan mutu baja BJ 37. Semua data dan spesifikasi disusun berdasarkan acuan yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Struktur Jembatan 1.

Diunggah oleh

Preghi Adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan12 halaman

Metodologi Perencanaan

Dokumen ini menjelaskan metodologi perencanaan jembatan tipe Warren Truss dengan bentang total 60 meter dan lebar 9 meter, mengikuti standar SNI-1725-2016. Perhitungan mencakup beban mati, beban hidup, dan beban angin, serta spesifikasi material seperti mutu beton fc 30 MPa dan mutu baja BJ 37. Semua data dan spesifikasi disusun berdasarkan acuan yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Struktur Jembatan 1.

Diunggah oleh

Preghi Adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

METODOLOGI PERENCANAAN

Konsep Perencanaan
Perencanaan kali ini memanfaatkan data-data dan batasan-batasan yang diberikan
oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Struktur Jembatan 1. Seluruh proses perencanaan
mengacu pada standar yang berlaku agar jembatan memenuhi persyaratan kekuatan,
kestabilan, dan kinerja selama umur layanannya.

Spesifikasi Jembatan
Model jembatan yang direncanakan merupakan tipe Warren Truss, dan
perencanaannya mengacu pada model jembatan yang ditetapkan oleh Dosen Pengampu
Mata Kuliah Struktur Jembatan 1 sebagaimana pada gambar (3.1).

Gambar 3. 1 Model Jembatan


(sumber: Dokumen pribadi)

Data-data Bangunan
Bentang total : 60 meter
Lebar Jembatan : 9 meter
Lebar lantai kendaraan : 2 × 3,5 meter
Lebar trotoar : 2 × 1 meter
Mutu baja : BJ 37

1
Sambungan : Baut
Mutu beton : fc 30 MPa
Mutu tulangan : fy 400 MPa
3

Konstruksi atas:
Struktur rangka : rangka baja
Lantai jembatan : lapis aspal beton
Perikatan angin : tertutup
Konstruksi bawah:
Abutmen : beton bertulang
Pondasi : sumuran
HASIL PERHITUNGAN
Pembanan Utama Pada Jembatan
Pembebanan yang bekerja mencakup seluruh gaya yang akan bekerja pada struktur
selama masa layananya. Dalam perencanaan ini, beban ditetapkan berdasarkan
ketentuan SNI-1725-2016. Setiap jenis beban dihitung untuk memastikan bahwa
jembatan mampu menahan gaya yang akan bekerja. Berikut beban-beban yang sudah
dihitung:

Beban Mati (Dead Load)


Beban mati jembatan merupakan kumpulan berat setiap kopmponen struktural
dan non-struktural. Berat sendiri adalah berat bagian tersebut dan elemen-elemen
struktural lain yang dipikulnya, termasuk dalam hal ini adalah berat bahan dan bagian
jembatan yang merupakan elemen struktural, ditambah dengan elemen nonstruktural
yang dianggap tetap. Beban mati ini meliputi beban struktur itu sendiri, dan berat lantai
jembatan (MA & MS).

Beban mati sendiri


a) Pelat lantai beton
Mutu : fc 30 Mpa
Ketebalan : 20 cm
Berat jenis beton : 2400 kg/m³
b) Baja struktur
Mutu : BJ 37
Berat jenis baja : 7850 kg/ m³

4
Ketebalan pelat lantai beton 20 cm ditetapkan dengan mengacu pada RSNI T-
12:2004, sedangkan mutu beton fc 30 MPa dan mutu baja tulangan BJ 37 ditentukan
sesuai nilai yang diberikan oleh dosen pengampu.

Beban mati tambahan


Beban mati tambahan pada jembatan mencakup beban dari lapis perkerasan aspal
serta beban akibat genangan air yang terjadi di atas jembatan.
a. Lapisan perkerasan aspal
Ketebalan : 0,05 m
Berat jenis aspal : 22 kN/ m³
Berat aspal = berat jenis aspal x tebal aspal
= 22 kN/ m³ x 0,05 m
= 1,1 kN/m²
b. Genangan air
Ketebalan : 0,05 m
Berat jenis air : 9,81 kN/ m³
Berat genangan air = berat jenis air x tebal genangan air
= 9,81 kN/ m³ x 0,05 m
= 0,4905 kN/m²

Ketebalan lapis aspal ditentukan dengan mengacu pada Persyaratan Umum


Perencanaan Jembatan No. 07/SE/M/2015, sedangkan ketebalan genangan air
ditetapkan berdasarkan acuan SNI 1725:2016.

Beban Hidup
Beban hidup (Live Load/LL) adalah beban yang ditimbulkan oleh lalu lintas
kendaraan, pejalan kaki, serta peralatan ynag bergerak di atas jembatan. Beban ini
bersifat tidak tetap, berubah-ubah tergantung kondisi operasional, jumlah
kendaraan, dan berat kendaraan.

Beban Lalu Lintas


Beban lalu lintas yang bekerja pada jembatan terdiri dari Beban Lajur “D”
(yang mencakup BGT dan BTR) dan Beban Truk “T”.

6
Beban lajur (D)
a. Beban terbagi rata (BTR)
Jika L ≤ 30 m : q = 9,0 kPa

Jika L ¿ 30 m (
: q=9 , 0∗ 0 ,
5∗15
L )
Dengan panjang bentang jembatan yang direncanakan sebesar 60 m, maka
digunakan ketentuan untuk bentang L > 30 m dengan nilai beban merata:

(
q=9 , 0∗ 0 ,
5∗15
60 )
=1 , 12 kPa

Beban garis terpusat (BGT)


Berdasarkan SNI 1726:2016, nilai BGT perlu dikalikan dengan Faktor Beban
Dinamis yang disesuaikan dengan panjang bentang jembatan.

Gambar 4. 1 Dinamis panjang jembatan

p=49 kN /m
Faktor beban dinamis : L>50=30 %
¿ 1+0 , 3
¿ 1 ,3
p=49 kN /m×1 , 3
¿ 63 , 7 kN /m
1. Beban Truk (T)

Jadi masukin gambar truk di sni dan buat penjelasan nya

Beban satu gandar : 225 kN

Beban satu roda : 112,5 kN

Faktor beban dinamis : 0,4 (karena bentang yang direncanakan ¿50 m)

Faktor ultimit : 2,0

Tu=( 1+ FBD ) × Beban Satu Roda × faktor ultimit

¿ ( 1+0 , 4 )∗112 ,5∗2

¿ 315 kN

Beban pejalan kaki


Beban : 5 kPa ~ 5 kN/m²

Lebar trotoar :1m

Beban Pejalan Kaki=Beban × Lebar Trotoar

¿ 5 kN /m²∗1 m

¿ 5 kN /m²

Beban gaya rem (TB)


Beban Gaya Rem diambil yang terbesar dari:

a. 25% dari berat gandar truk desain:


TB1 = 0,25 × 225
= 56,25 kN
b. 5% dari berat gandar truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata (BTR):

TB2 = 5% × 500 + (q × Panjang Jembatan × Lebar Lajur)

= 0,05 × [500 + (9 × 50 × 3,5)]


= 103,75 kN
= 103,75 x 1,8
= 186,75 kN

Karna gaya ini harus diasumsikan untuk bekerja secara horizontal pada jarak 1800
mm diatas permukaan jalan pada masing-masing arah longitunal dan dipilih yang palimg
menentukan

Beban angin
Termasuk beban angin yang bekerja pada kendaraan (EWL) serta beban angin
yang bekerja pada struktur jembatan (EWs).

a. Beban Angin Pada Kendaraan


Vo=13 ,2
V 10=126 Km / jam
VB=126 Km / jam
z=5 m=0,005 km
zo=70 mm=0,00007 km

VDz=2, 5∗Vo∗ ( VVB10 ) ln ( zoz )


¿ 2 ,5∗13 , 2∗( ) ln (
0,00007 )
126 0,005
=140 , 8 km/ jam
126
¿ 140 , 8 km/ jam∗0 , 54 kN =76,032 kN /m

b. Beban angin pada struktur


Pb ( angin tekan )=0,0024 Mpa
Pb ( angin hisap ) =0,0012 Mpa

( )
2
VDz
P Dt=PB∗
VB

¿ 0,0024∗(
126 )
2
140 ,8

¿ 0,0029 kN /mm

( )
2
140 ,8
P DH =0,0012∗
126
¿ 0,0014 kN /mm
= 4,4 kN/mm
Karna gaya total beban angin tidak boleh diambil kurang dari 4,4 kN/mm pada
bidang tekan dan 2,2 kN/mm pada bidang hisap pada struktur rangka dan
pelengkung

Beban gempa
Perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut:

Gambar 4. 2 Beban Gempa

Anda mungkin juga menyukai