Rehab Spec INA
Rehab Spec INA
F. REVEGETASI ................................................................................................................................ 48
TUJUAN ............................................................................................................................................................... 48
STRATEGI REVEGETASI..................................................................................................................................... 48
JENIS REVEGETASI ............................................................................................................................................ 48
Perawatan dan perbaikan ......................................................................................................................... 48
Stabilisasi ....................................................................................................................................................... 48
Rehabilitasi akhir ........................................................................................................................................ 48
Persetujuan
Tanggal
Versi Alasan perubahan GM Mining Manager
diterbitkan
Operations Environment
1. Working draft
2. Cetakan pertama Jan. 2001
PENDAHULUAN
Buku pedoman ini menyajikan spesifikasi dan catatan pembangunan tempat penimbunan batuan
dan rehabilitasi di KPC. Tujuan dari buku pedoman ini adalah untuk membantu tercapainya
standar-standar rehabilitasi di lokasi tambang, yang:
• konsisten di seluruh lokasi tambang
• memenuhi praktek industri yang paling baik.
Dalam sebagian besar bab-bab, spesifikasi disertai catatan pembangunan, yang bertujuan untuk
mendokumentasikan cara yang paling bisa diandalkan dan paling efisien untuk mencapai
spesifikasi tersebut.
Kesesuaian dengan spesifikasi ini akan dinilai dan diaudit melalui sistem jaminan mutu. Sistem
tersebut mengidentifikasikan rantai kepemilikkan mulai dari perencanaan tempat penimbunan
sampai pembangunan tempat penimbunan hingga pemantauan bentuk lahan yang sudah selesai.
Pada tahap-tahap kunci sepanjang proses ini, diperlukan persetujuan untuk memastikan bahwa
spesifikasi telah dipenuhi.
Konstruksi dan rehabilitasi tempat penimbunan batuan di KPC adalah proses yang rumit yang
memerlukan masukan dari banyak orang. Keberhasilan dari hasilnya tergantung pada mutu
dari langkah-langkah antaranya. Dengan demikian diperlukan sistem jaminan mutu/kendali
mutu (QA/QC) jika praktek yang paling baik harus dicapai secara konsisten.
Blangko tersendiri harus diisi untuk masing-masing tempat penimbunan, atau bagian dari
tempat penimbunan. Selain menyediakan mekanisme untuk QA/QC, blangko ini juga
menyediakan catatan tentang konstruksi dan memperagakan kepada auditor ataupun Pemerintah
bahwa persyaratan-persyaratan telah dipenuhi.
Daftar Periksa Audit Rehabilitasi digunakan oleh Departemen Environmental untuk mengaudit
pekerjaan rehabilitasi secara teratur dan menyediakan umpan balik yang tepat waktu kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
LANGKAH 5 PENYELESAIAN
Spesifikasi yg. dapat diterapkan G
Untuk memastikan bahwa lokasi tersebut telah sesuai dengan kriteria
Tujuan rehabilitasi dan dapat dimasukkan dalam penghitungan jumlah daerah yang
direhabilitasi untuk tujuan pelaporan.
Yang menyetujui Environmental
Auditor : ............................................................................................................................
Tanggal : ............................................................................................................................
Tempat penimbunan : ............................................................................................................................
SPESIFIKASI PEMENUHAN
PERMASALAHAN YANG BISA KOMENTAR
OK PERBAIKAN YANG
DITERAPKAN DIPERLUKAN
Desain tempat penimbunan
yang disetujui dan jadwal B
konstruksi yang tersedia
Penempatan batuan pe-
nutup
• Bentuk pokok timbunan
BD
dan tapal jajak
• Penempatan batuan yang
selektif
Bentuk tempat timbunan
yang didozer akhir
• Penentuan tempat
• Pendozeran tempat yang B
sudah ditetapkan
• Kemiringan lereng
• Lebar jenjang/berm
Konstruksi tutup
• Ketebalan D
• Pemadatan
• NAG
Sarana pengendali erosi
• Jenjang (tanggul,
kemiringan, dan backslope)
• Drop structure C
• Kolam dan perangkap
sedimen
Tanah
• Mutu E
• Ketebalan
Revegetasi F
TUJUAN-TUJUAN
• Untuk menentukan langkah-langkah konstruksi pembuatan permukaan akhir timbunan
yang stabil.
• Untuk menentukan langkah-langkah penempatan batuan penutup yang berpotensi
membentuk asam dan batuan penutup bukan pembentuk asam di dalam tempat penimbunan
sedemikian rupa sehingga drainase asam tambang bisa diminimalkan.
Catatan: Meskipun spesifikasi ini menjelaskan langkah-langkah yang diperlukan untuk
rehabilitasi akhir, kebanyakan isinya juga sesuai untuk stabilisasi tempat penimbunan.
(lihatlah Spesifikasi G).
PRINSIP-PRINSIP UMUM
Penimbunan dari tebing tinggi bisa menimbulkan terbentuknya lahan yang tidak stabil secara
luas terutama bila yang ditimbun adalah material yang lunak dan terjadi curah hujan yang
tinggi seperti terlihat di KPC.
LIFT 3
LIFT 2
LIFT 1
H2 O O2
(A) Pandangan konseptual tempat pe-
nimbunan batuan yang mengandung
sulfida tanpa penutup. Air dan oksigen
akan dengan mudah masuk ke dalam
penimbunan tersebut dan bereaksi
dengan sulfida (pyrit). Hasilnya adalah air
Sulpida asam tambang.
H2 O O2
Pembentukan penutup dengan tanah liat
atau batuan yang dipadatkan
Pengendalian sedimen
Pada waktu dilakukan pembuatan tempat penimbunan ada sejumlah teknik yang harus dilakukan
secara rutin untuk mengurangi jumlah sedimen di lokasi tambang. Perhatian utama dalam
pengendalian tersebut haruslah terletak pada tempat penimbunan itu sendiri bukannya pada
perangkap sedimen di hilir. Teknik-teknik itu akan dibahas secara terperinci dalam Spesifikasi
untuk Pengendalian Erosi.
Gambar teknik yang sesuai tampak dalam Gambar 4. Tabel 1 memperlihatkan ringkasan
parameter desain. Setiap langkah konstruksi dibahas secara mendetail sebagai berikut.
0 10 15 20 30 40 50 60 70 80
10
2% 0%
al
dividu Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM
4:1 In
0 10 15 20 30 40 50 60 70 80
0.70 m SUBSOIL
15 m
0.30 m TOPSOIL
2% 0%
10
ual
divid
4 : 1 In
Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM
0 10 20 30 40 50 55 60 70 80
Penempatan tanah
luruhan
5.5 : 1 Kese
0.70 m SUBSOIL Lift 2 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM
15 m
0.30 m TOPSOIL
2% 0%
10
idual ruhan
Indiv Keselu
4:1 5.5 : 1 Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM BATUAN PEMBENTUK ASAM
20 2% 0%
ruhan
5.5:1 Keselu
0.70 m SUBSOIL al
dividu Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM
15 m 4:1 In
0.30 m TOPSOIL
2%
10 0%
SPESIFIKASI REHABILITASI: REVISI 2 - 2000
al
dividu n
4:1 In seluruha
5.5:1 Ke
Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM BATUAN PEMBENTUK ASAM
0.70 m SUBSOIL
0.30 m TOPSOIL
20 2% 0%
seluruhan
al 5.5:1 Ke
dividu
0.70 m SUBSOIL 4:1 In
15 m Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM
0.30 m TOPSOIL
2%
10 0%
al
dividu ruhan
4:1 In 1 Keselu
5.5:
Lift 1 (nominal 10 m) TIDAK MEMBENTUK ASAM BATUAN PEMBENTUK ASAM
Rencana tempat penimbunan yang disetujui adalah dasar keberhasilan konstruksi tempat
penimbunan.
• Superintenden Pit Technical harus mendapatkan salinan rencana tempat penimbunan yang
disetujui (dari Mine Planning).
• Superintenden Pit Technical harus mengkomunikasikan dengan jelas rencana tempat
penimbunan yang disetujui kepada Superintenden General Production yang akan
mengkomunikasikannya kepada Superintenden Shift Production.
Rencana tempat penimbunan dibuat oleh Departemen Mine Planning dan harus:
• mempunyai skala 1:1000
• menetapkan batas-batas tepi tempat penimbunan akhir
• menetapkan batas luar tempat penimbunan overburden yang menghasilkan bahan
bukan asam
• menetapkan batas luar tempat penimbunan overburden yang berpotensi menghasilkan
asam
• menetapkan lokasi dan desain struktur pengendali erosi
• menentukan sistem penutupan yang akan digunakan (jika perlu)
Rencana penimbunan yang disetujui harus diparaf oleh Manajer berikut: Environmental,
Mining Services, Mine Planning, Geology, dan Pit Operation. Rencana tersebut dianggap
tidak disetujui jika salah satu saja tidak dipenuhi.
Catatan: Peranan khusus Manajer Geology adalah untuk memastikan bahwa masalah kestabilan
geoteknis telah ditelaah.
Ada 3 jenis pasak untuk menetapkan batas luar bund overburden yang tidak menghasilkan
asam (Gambar 5):
• Batas tepi tempat penimbunan akhir harus ditandai dengan pasak berwarna hijau-putih.
• Posisi bund toe luar harus ditunjukkan dengan pasak warna kuning. Pasak-pasak tersebut
adalah batas untuk penimbunan overburden yang tidak menghasilkan asam.
• Batas untuk penimbunan overburden yang berpotensi menghasilkan asam harus ditandai
dengan pasak-pasak berwarna hijau. Pasak-pasak tersebut juga menunjukkan batas dalam
tempat penimbunan overburden yang tidak menghasilkan asam.
• Semua pasak harus berjarak kurang lebih 20m satu sama lain.
• Lokasi pasak harus diperiksa secara fisik di lapangan dan disesuaikan dengan rencana
tempat penimbunan oleh Superintenden Pit Technical sebelum penimbunan mulai dilakukan.
Penimbunan tidak boleh dilakukan sebelum pasak-pasak ditempatkan di lokasi yang benar.
• Pasak-pasak tersebut harus diperiksa setiap shift oleh Superintenden Shift Production untuk
memastikan bahwa pasak-pasak yang rusak dan hilang akan diganti dalam shift tersebut.
BATAS AKHIR
KELILING
TIMBUNAN BATAS BATAS
Pasak hijau- TIMBUNAN TIMBUNAN
putih Pasak kuning Pasak hijau
10 m
15 m
100 m
Gambar 5: Pasak ditempatkan pada tepi tempat penimbunan akhir dan batas penimbunan (lift pertama).
• Batuan penutup yang tidak menghasilkan asam harus dibuang di bund luar timbunan.
Permukaan setiap lift harus mempunyai kemiringan permukaan kurang lebih 2% untuk
jarak paling tidak 50 m dari tepinya (Gambar 6).
• Supervisor Overburden dan Superintenden Shift Production harus memastikan bahwa hanya
batuan penutup yang tidak menghasilkan asam saja yang boleh dibuang di tanggul/bagian
timbunan sebelah luar.
• Penimbunan harus dipantau secara terus menerus untuk memastikan bahwa penimbunan
dilakukan di dalam batas yang ditandai dengan pasak kuning dan hijau dan sesuai dengan
kemiringan dan ketinggian desain.
BATAS AKHIR
KELILING
TIMBUNAN BATAS Kurang lebih 2% kemiringan BATAS
Pasak hijau- TIMBUNAN permukaan TIMBUNAN
putih Pasak kuning Pasak hijau
100 m
• Overburden yang berpotensi menghasilkan asam harus ditimbun di bagian yang dibatasi
oleh pasak hijau atau di belakang tanggul luar menjadi lift biasa (Gambar 7).
• Penimbunan harus dipantau oleh pengawas produksi paling sedikit 3 kali setiap shift untuk
memastikan bahwa penimbunan dilakukan di dalam batas yang ditandai dengan pasak-
pasak hijau dan sesuai dengan ketinggian dan kemiringan yang telah direncanakan.
• Perangkap sedimen dan kendali erosi harus dibangun di permukaan tempat penimbunan
sesuai dengan spesifikasi untuk kendali erosi.
15 m
100 m
Bagian luar timbunan overburden yang tidak menghasilkan asam harus dibentuk dengan
kemiringan lereng tunggal 4:1 (Gambar 8).
• Puncak lereng akhir harus disurvei dan ditandai dengan pasak-pasak berwarna merah sesuai
dengan rencana penimbunan yang disetujui. Pasak puncak harus berada pada jarak 40m
dari lokasi pasak toe berwarna hijau-putih.
• Dozer harus cut and fill lereng timbunan sampai mencapai target kemiringan lereng 4:1.
Material yang didozer tidak boleh melampaui daerah yang diberi tanda pasak toe berwarna
hijau-putih.
• Sisa atau kelebihan material harus disingkirkan dari kaki timbunan atau didorong kembali
naik ke atas lereng. Lebih baik bila kaki timbunan terlalu curam daripada kurangnya lebar
tanggul drainase.
40 m pasak
(merah)
OUT
Pasak hijau
dan putih gan 4:1
Kemirin
FILL
15 m
40 m
Setelah setiap lereng selesai dibentuk, tanah harus ditempatkan seperti tampak dalam Gambar
9. Hal itu harus dilakukan sebelum selesai membentuk tanggul drainase (untuk menghindari
terjadinya kerusakan pada bund luar).
Subsoil dan topsoil diratakan dengan dozer. Untuk mendapatkan ketebalan yang benar, ketinggian
pasak-pasak harus ditempatkan dengan interval yang teratur di seluruh daerah tersebut. Bila
pasak telah tertutup material berarti telah tercapai ketebalan yang benar.
Setelah tanah disebar, topsoil dan subsoil harus digaru searah kontur sedalam kurang lebih 0,4
m dengan interval 1 m. Tujuan penggaruan adalah untuk menambah daya serap tanah dan
untuk mengendalikan erosi. Penggaruan tanah harus dilakukan searah kontur kalau tidak
akan timbul erosi berupa selokan.
0.30 m Topsoil
0.70 m Subsoil
:1
ng 4 Batuan penutup
Lere
Tanggul drainase perlu dibuat di sekitar tempat penimbunan sebagai batas sepanjang tiap
lereng yang berpotensi menimbulkan erosi. Tanggul tersebut juga berfungsi sebagai jalan
kendaraan (Gambar 10).
• Harus dibuat sebuah tanggul/berm drainase yang lebar sepanjang tepi puncak lereng luar.
Tanggul harus mempunyai lebar total 15m, dan mempunyai backslope sebesar 5% dan
kemiringan aliran sebesar 1%.
Catatan: permukaan parit harus sudah mempunyai backslope kurang lebih 2% (Langkah
3). Backslope 5% dicapai dengan dozer atau grader sepanjang lebar tanggul drainase.
• Berm tersebut harus mempunyai tanggul dari subsoil yang dipadatkan dengan dozer
sepanjang tepi luarnya. Bund tersebut harus mempunyai lebar kurang lebih 4m dan tinggi
1m.
• Bentuk akhir berm drainase harus dicek dan diperiksa survei untuk memastikan bahwa
bentuknya sudah memenuhi spesifikasi.
• Setelah berm selesai, lift berikutnya bisa mulai dilakukan. Pasak toe berwarna kuning akan
dipasang sebagai tanda batas luar penimbunan untuk lift berikutnya.
• Pembuatan lift berikutnya harus dilakukan seperti langkah nomor 1 di atas.
• Lift akhir tempat penimbunan harus terdiri dari overburden yang tidak menghasilkan asam.
Penimbunan
1m material
4m
15 m
15 m
Drop structures (pengendali aliran) harus dibentuk sepanjang permukaan tempat penimbunan
agar bisa menerima aliran dari berm drainase dan mengalirkannya ke bawah lereng dengan
aman (Gambar 11).
• Pengendali aliran harus dibangun sesegera mungkin setelah pembentukan lereng sebesar
4:1.
• Desain, jarak dan lokasi struktur tersebut harus ditentukan kasus per kasus oleh Mine Planning
Department dan diperlihatkan secara jelas dalam Desain Tempat Penimbunan. Jarak antara
drop structures sepanjang aliran kontur penimbunan tidak boleh lebih dari 200m.
• Drop structures harus diteruskan mengikuti lereng dari lift timbunan bund luar berikutnya.
• Aliran air permukaan dari bagian atas tempat penimbunan yang aktif tidak boleh diarahkan
pada drop structures pada lereng luar kecuali hal tersebut tidak dapat dihindarkan.
Pasak hijau
dan putih
15 m
40 m
TUJUAN
Untuk menentukan sarana-sarana pengendali erosi sementara dan permanen yang diperlukan
selama konstruksi tempat penimbunan guna mengendalikan sedimen dari daerah-daerah tempat
penimbunan yang aktif dan yang telah direhabilitasi.
Rencana tempat penimbunan yang sudah disetujui adalah dasar dari pengendalian erosi yang
berhasil. Itu dibuat oleh Departmen Mine Planning.
• Superintenden Pit Technical akan mendapatkan salinan rencana tempat penimbunan yang
disetujui.
• Superintenden Pit Technical akan mengkomunikasikan dengan jelas rencana tempat
penimbunan yang sudah disetujui kepada Superintenden General Production yang kemudian
akan mengkomunikasikan ini kepada para Superintenden Shift Production.
Bagian atas permukaan masing-masing lift di tempat penimbunan sebaiknya dibentuk untuk
mencegah luapan air membanjiri lereng yang direhabilitasi (Gambar12).
• Grade box sebaiknya digunakan untuk mengendalikan penimbunan dari masing-masing
lift.
• Bagian atas masing-masing lift sebaiknya dimiringkan dengan gradien 2% sejauh minimum
50 m dari muka lereng luar.
• Daerah-daerah lain di atas lift bisa dibentuk sedemikian sehingga menyediakan penampungan
untuk menampung air hujan.
• Luapan air dari daerah-daerah ini harus dialirkan ke sarana pengelolaan air seperti saluran
air, kolam sedimen, atau drop structure (pengendali aliran). Ini sebaiknya dicantumkan
dalam rencana tempat penimbunan. Setiap saat luapan air harus dicegah agar tidak menggerus
jalan/ramps dan lereng.
50 m dengan kemiringan 2%
Pasak
hijau dan
putih Pasak kuning
Gambar 12: Bentuk setiap lift sedemikian rupa mengarahkan aliran air menjauhi dinding (face)
Lift timbunan 10 m
50 m
Tanggul-tanggul diperlukan di sepanjang tepi tiap-tiap lift tempat penimbunan untuk mencegah
air melampaui tepi dan mengakibatkan kikisan erosi pada tingkat yang lebih rendah (dan
untuk keselamatan).
• Ketika seluruh daerah dari suatu lift timbunan selesai, sebaiknya dibangun tanggul di
sepanjang tepi luar. Ini demi keselamatan dan pengendalian erosi (Gambar 14).
• Jika operasi penimbunan di suatu daerah terganggu atau tertunda lebih dari satu shift,
tanggul sebaiknya dibangun.
• Tanggul sebaiknya berupa windrow yang bersambungan atau tumpukan batuan yang bisa
didorong dengan bulldozer atau ditumpuk oleh truk pengangkut. Sebaiknya tidak ada celah-
celah di dalam tanggul.
• Jika bagian atas dari tempat penimbunan dibentuk seperti ditentukan dalam Langkah 2,
maka seharusnya tidak ada genangan air di dekat tepi tempat penimbunan. Jika air tergenang
di permukaan tempat penimbunan menyebabkan masalah-masalah keselamatan dan
operasional, air itu bisa dialirkan ke perangkap sedimen pada lift timbunan yang sama. Air
yang tergenang sebaiknya tidak dialirkan melewati tepi tempat penimbunan.
4m
Gambar 14: Buatlah tanggul pelindung erosi/tanggul pengaman pada tepi luar setiap lift
Tindakan-tindakan harus dilakukan untuk mengurangi jumlah kikisan erosi dan pengangkutan
sedimen pada jalur angkut/jalan. Syarat-syarat berikut ini bisa diterapkan pada semua jalur
angkut/jalan.
• Jumlah kikisan erosi pada jalur angkut sebaiknya diminimalkan dengan membentuk sudut
kemiringan 3% pada jalur angkut/jalan dan dengan membangun saluran (profil lengkung)
yang dangkal pada masing-masing sisinya (Gambar 15).
• Saluran pinggir jalan harus mengalir ke sarana pengelola air menjauh dari tempat penimbunan
yang terpadu dengan rencana pengelolaan air di tempat itu.
• Profil saluran (profil lengkung) harus dipelihara. Jika saluran berubah menjadi profil-V,
maka akan terjadi erosi pada selokan tersebut.
• Jika erosi selokan terjadi pada saluran air, maka pemulihan harus dilaksanakan dengan
cepat. Ini bisa dicapai dengan memasang lapisan pada saluran, atau dengan membangun
perangkap erosi pada interval yang teratur sepanjang saluran.
• Pemasangan lapisan hanya praktis pada jarak-jarak yang pendek. Batu atau ban-ban bisa
digunakan untuk itu.
• Perangkap erosi bisa mencakup gabion basket (bronjong) yang sederhana, atau kolam kecil
dengan saluran keluarnya dilapis batu (Gambar 16).
• Perangkap sedimen sebaiknya diperiksa secara teratur dan dibersihkan sebagaimana perlunya.
Saluran
Saluran
Perangkap sedimen
Check Dum
2m
4m
Gambar 16: Sarana pengendali erosi untuk haul ramp dibuat sesuai kebutuhan
Drainase yang tak terencana dekat bagian luar puncak penimbunan bisa mengakibatkan erosi
selokan yang sangat merusak lereng timbunan.
• Hanya drainase yang disetujui dan pekerjaan tanah yang diijinkan di tempat itu (seperti
diperlihatkan pada rencana yang disetujui).
• Hanya operator di bawah pengawasan Superintenden Shift Production yang boleh bekerja
di tempat itu.
• Pemasangan bendera atau tanda-tanda diperlukan untuk membatasi akses kendaraan.
• Sebagai contoh, jika genangan air yang berlebihan menyebabkan masalah-masalah
keselamatan dan operasional, maka air harus dialirkan ke perangkap sedimen di lift timbunan
bersangkutan. Air yang menggenang sebaiknya tidak dialirkan melewati tepi tempat
penimbunan.
Puncak
Timbunan
SPESIFIKASI REHABILITASI: REVISI 2 - 2000
Batuan
Gambar 17: Keterpaduan sarana pengelolaan air di sebuah penimbunan batuan di KPC.
SPESIFIKASI REHABILITASI: REVISI 2 - 2000 31
D. KENDALI DRAINASE ASAM TAMBANG DARI
TIMBUNAN BATUAN
PENGANTAR
Seperti umumnya di banyak tambang, batuan di KPC secara alami mengandung sulfida dalam
jumlah yang berubah-ubah (khususnya dalam bentuk pyrit).
Jika sulfida bertemu dengan oksigen dan air, maka akan beroksidasi dan menghasilkan asam:
sulfida + oksigen + air ➞ asam + hidroksida besi
Dalam batuan yang tidak terganggu, proses ini berlangsung sangat pelan. Namun, di dalam
timbunan batuan, tingkat reaksi bisa jauh lebih cepat karena permukaan batuan yang lebih
luas.
Di bawah kondisi-kondisi ini, air yang keluar dari timbunan batuan penutup adalah asam, dan
bisa menyebabkan kerusakan lingkungan. Kejadian ini umumnya disebut sebagai air asam
tambang (AMD) atau air asam batuan (ARD). Jika tidak berhasil dikendalikan, air asam tambang
dari timbunan batuan bisa bertahan sampai bertahun-tahun.
Keseimbangan antara 1) kandungan sulfida dan 2) mineral penetral seperti karbonat menentukan
apakah suatu batuan berpotensi menimbulkan asam atau tidak. Batuan tanpa atau dengan
kandungan sedikit sulfida bisa dikatakan sebagai bukan pembentuk asam (NAF). Batuan dengan
jumlah sulfida lebih banyak (dan lebih sedikit bahan penetral, seperti karbonat) mempunyai
kemampuan memproduksi asam lebih tinggi. Bahan-bahan ini disebut bahan potensial pembentuk
asam (PAF).
Jenis-jenis batuan di KPC yang sangat berpotensi membentuk asam adalah batu serpih berkarbon,
batu lempung, dan batu lanau. Uji geokimia menunjukkan bahwa kira-kira 35% batuan penutup
di KPC berpotensi membentuk asam.
Tanpa pengendalian yang memadai, timbunan batuan di KPC bisa menghasilkan air asam
tambang, yang mengarah ke dampak lingkungan jangka panjang. Tujuan dari spesifikasi ini
adalah untuk menentukan pengendalian yang dimaksud di atas.
Produksi asam dalam timbunan batuan bersulfida bisa dikendalikan dengan pembatasan jumlah
oksigen dan air. Namun studi telah memperlihatkan bahwa di timbunan yang tampaknya cukup
kering, terdapat cukup air yang memungkinkan produksi asam dalam jumlah besar. Dalam
prakteknya, satu-satunya cara untuk menghentikan oksidasi di timbunan adalah mengontrol
suplai oksigen dengan memakai penutup yang membatasi masuknya oksigen.
Oksigen dapat dengan mudah menembus timbunan batuan, batuan penutup, atau penutup
tanah liat, dengan cara difusi melalui ruang-ruang antara partikel batuan atau lempung. Ruang
antara ini membentuk jalur-jalur di antara atmosfir dan bagian dalam timbunan.
Namun, tingkat difusi oksigen melalui air sangat rendah. Studi telah memperlihatkan bahwa
jika 80% atau lebih lubang pori dalam penutup terisi oleh air, tingkat difusi oksigen melalui
ruang antara akan sangat berkurang (Gambar 18).
Pada iklim dengan curah hujan yang teratur, kita dapat membuat penutup dari lempung, subsoil,
ataupun batuan penutup yang dapat menahan sebagian air sepanjang tahun, dan membentuk
penghalang efektif terhadap difusi oksigen.
Jika lapisan dipadatkan, lubang-lubang pori berkurang. Lebih sedikit air yang diperlukan untuk
mengisi lubang-lubang pori, dan begitu air berada di dalamnya, air tersebut ditahan lebih
ketat. Inilah mengapa penutup yang dipadatkan bisa lebih tipis daripada penutup yang tidak
dipadatkan dengan tingkat pengendalian yang sama. Pada penutup tanah liat yang sangat
dipadatkan, contohnya, hanya sedikit air yang diperlukan untuk mencapai tingkat kejenuhan
80%.
Gambar 18a. Pada penutup yang kering, terdapat lebih Gambar 18b. Pada penutup yang dijenuhkan sebagian,
banyak jalur difusi oksigen. tingkat difusi oksigen sangat berkurang.
Di KPC, kita telah mengambil dua pendekatan terhadap pengembangan dan validasi penutup
timbunan batuan.
Modelling : Unjuk kerja penutup kita telah dinilai dengan menggunakan berbagai model
numerik. Model yang paling canggih adalah model HEAPCOV yang
dikembangkan oleh ANSTO (Organisasi Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
Nuklir Australia). Metoda modelling dapat mengkaji sejumlah pilihan penutup
dalam waktu yang singkat.
Pengukuran : Untuk mengesahkan hasil modelling, kita telah melengkapi beberapa
timbunan batuan di KPC dengan peralatan tertentu sehingga kita bisa
mengukur profil oksigen dan suhu di kedalaman secara langsung. Hal ini
memungkinkan penentuan tingkat oksidasi yang aktual. Hasil-hasil ini
konsisten dengan hasil-hasil modelling.
Studi rinci telah menunjukkan adanya tiga konfigurasi penutup yang akan mengurangi air
asam tambang di timbunan batuan KPC hingga tingkat rendah yang dapat diterima:
Masing-masing pilihan penutup ini memiliki keuntungan khusus dalam situasi-situasi tertentu
(Tabel 1). Pilihan penutup batuan NAF yang tidak dipadatkan pada prinsipnya lebih disukai
karena usaha ini bisa tepat daya dalam biaya, berisiko erosi rendah, dan bebas dari penurunan
timbunan (settlement – yang bisa meretakkan penutup yang dipadatkan). Namun, usaha ini
memerlukan bahan NAF dari tambang dalam jumlah besar.
Perhatikan bahwa pada penutup DC01 dan DC02, fungsi dari lapisan yang dipadatkan adalah
untuk membentuk rintangan terhadap difusi oksigen; batuan penutup di atasnya tidak dipadatkan
dan berfungsi untuk melindungi lapisan di bawahnya dari erosi dan air yang tersimpan.
Pada bagian berikut ini, masing-masing pilihan penutup dibicarakan lebih rinci.
Catatan: Tiga rangkaian standar penutup di atas merupakan standar rehabilitasi KPC. Perubahan
dari ketiga standar tersebut bisa dilakukan asalkan disertai dengan modeling ‘kadar oksigen’
dan telah dikaji oleh Departemen Enviro maupun oleh Divisi Mining Operation. Secara
keseluruhan, inilah rangkaian penutup yang ada dalam rencana rehabilitasi yang harus
diterapkan.
PILIHAN KOMENTAR
Perlu penempatan lapisan tanah liat yang dipadatkan setebal satu meter di atas timbunan yang
berpotensi membentuk asam (PAF) (Gambar 19). Pelapisan ini dilakukan dua kali per setengah
meter.
Jika tanah liat yang akan digunakan memiliki kandungan kelembaban di bawah yang diperlukan
(-2% hingga + 3% dari optimum), maka tanah liat harus disesuaikan sebelum pemadatan.
Penyesuaian ini dilaksanakan pada masing-masing lift setengah meter sebagai berikut:
• Garu yang dalam sampai kedalaman setengah meter dengan menggunakan bulldozer jenis
D7.
• Siram dengan air sedikitnya dua lintasan truk air.
• Ulangi hal di atas sampai tercapai kandungan kelembaban yang diperlukan.
Pemadatan dilakukan pada masing-masing lift dengan menggunakan vibrating pad foot roller
sampai spesifikasi pemadatan tercapai. Ini memerlukan kira-kira tujuh kali lintasan dengan
CAT 533C atau lima kali lintasan dengan Ingersoll Rand SD-180.
Setelah lapisan yang dipadatkan selesai, lapisan tersebut ditutup dengan dua meter lapisan
pelindung, yang terdiri dari batuan penutup yang tidak membentuk asam yang tidak dipadatkan.
Pada hal-hal tertentu, ketebalan lapisan ini bisa dikurangi sampai satu meter. Keadaan ini
adalah:
• bila suplai bahan NAF sangat terbatas (atau perlu jarak angkut yang jauh), dan
• bila daerah yang bersangkutan berada di puncak timbunan (di mana bahaya erosi relatif
rendah).
Topsoil
Batuan NAF
1m tidak dipadatkan
Batuan PAF
1m
Perlu penempatan lapisan batuan penutup yang dipadatkan setebal dua meter di atas batuan
yang berpotensi membentuk asam (Gambar 20).
Bahan disebarkan dalam empat lift yang masing-masing setebal setengah meter. Masing-masing
lift dikondisikan dan dipadatkan sebelum penyebaran lift berikutnya.
Pengkondisian dilakukan pada masing-masing lift sebagai berikut:
• Garu yang dalam sampai kedalaman setengah meter dengan menggunakan bulldozer D7.
• Sesuaikan kelembaban dengan penyiraman oleh sedikitnya dua truk air.
• Ulangi hal di atas (kira-kira sepuluh kali) sampai kandungan kelembaban optimum (11%)
tercapai.
Pemadatan dilakukan pada masing-masing lift setengah meter dengan menggunakan vibrating
pad foot roller sampai spesifikasi pemadatan tercapai (Tabel 3). Ini memerlukan kira-kira tujuh
kali lintasan dengan CAT 533C atau lima kali lintasan dengan Ingersoll Rand SD-180.
Lapisan batuan yang dipadatkan itu ditutup dengan lapisan pelindung setebal dua meter, yang
terdiri dari subsoil atau batuan penutup bukan pembentuk asam yang tidak dipadatkan. Dalam
keadaan khusus, ketebalan lapisan ini bisa dikurangi sampai satu meter. Keadaan ini adalah:
• bila suplai bahan NAF sangat terbatas (atau perlu jarak angkut yang lama), dan
• bila daerah yang bersangkutan berada di puncak timbunan (di mana bahaya erosi relatif
rendah).
Topsoil
Batuan NAF
1m tidak dipadatkan
2m Batuan NAF
dipadatkan
2m Batuan PAF
Memerlukan penempatan hingga 20 m batuan yang tidak membentuk asam di atas batuan
yang mungkin membentuk asam (Gambar 21). Ketebalan desain akan ditentukan dalam rencana
timbunan yang disetujui.
Penempatan penutup dilakukan selama penimbunan batuan penutup secara normal (lihat
Spesifikasi Rehabilitasi: Konstruksi Tempat Penimbunan).
Topsoil
1m
Batuan NAF
tidak dipadatkan
10 m to 20 m
(ditentukan dalam
rencana timbunan
yang disetujui)
Batuan PAF
Efektivitas penutup timbunan batuan bergantung pada tercapainya sejumlah kriteria teknis
dan geokimia, seperti massa jenis, distribusi ukuran pori penutup, ketebalan dan homogenitas
penutup, dan potensi pembentukan asam. Pengendalian mutu teknis yang baik dibutuhkan
supaya dapat mencapai kriteria ini.
Kriteria kendali mutu untuk pembentukan penutup berbagai jenis ini ditunjukkan pada Tabel 2,
3, dan 4.
Tabel 2. Kendali Mutu untuk Penutup Tanah Liat Satu Meter Dipadatkan (DC01)
Test Tujuan Prosedur Pelak- Kriteria Tindakan yang
Pengujian sana tes Pemenuhan dilakukan bila tidak
memenuhi kriteria
Tes Memastikan Tes pemadatan di- Seksi 90% titik tes / Pemadatan ulang di
Pema- bahwa target laksanakan di atas Geoteknik percobaan masing-masing daerah
datan pemadatan telah permukaan masing- atau harus meme- 20x20m yang tidak
terpenuhi. masing lift setebal Kontraktor nuhi >95% memenuhi syarat seperti
setengah meter pemadatan yang direkomendasikan
yang dipadatkan. standar. oleh Bagian Geoteknik
Pengetesan dila- Setiap titik ku- (alternatifnya, perco-
kukan pada jarak 20 rang dari 90% baan tambahan bisa
m x 20 m atau yang pemadatan dilakukan untuk lebih
ekuivalen. s t a n d a r mengidentifikasi daerah
dianggap se- tersebut).
Sebelum penge-
tesan, permukaan bagai kega- Perlu dilakukan tin-
tanah setebal 100 galan. dakan perbaikan se-
mm harus dipotong. belum menambahkan
lapisan yang selan-
Pengetesan dila- jutnya.
kukan dengan ‘sand
replacement’ atau
‘neutron probe’.
NAG Periksa bahwa • Kumpulkan con- Depar- Batuan PAF Data dievaluasi oleh
Permu- lapisan NAF toh permukaan temen tidak lebih Departemen Enviro dan
kaan yang tidak di- pada jarak 20m x Enviro dari 5% rekomendasi dibuat
padatkan telah 20 m untuk keperluan:
diklasifikasikan • Pada setiap titik • Investigasi lanjutan
dan ditimbun diambil contoh (pengambilan sampel
dengan benar. seberat 2 kg hing- tambahan).
Catatan: Hanya ga kedalaman 0,2 • Tindakan perbaikan
diperlukan jika m. (misalnya, pemin-
batuan penutup • Analisis NAG di- dahan).
(bukan subsoil) laksanakan pada
yang digunakan Perlu adanya kese-
semua sampel. suaian sebelum me-
untuk mem-
bentuk lapisan nambahkan lapisan
pelindung. selanjutnya.
Catatan: NAF = Batuan yang tidak membentuk asam (Non Acid Forming rock), PAF = Batuan yang berpotensi
membentuk asam (Potentially Acid Forming rock)
Tabel 3. Kendali Mutu untuk Penutup Batuan NAF Dua Meter Dipadatkan (DC02)
Catatan: NAF = Batuan yang tidak membentuk asam (Non Acid Forming rock), PAF = Batuan yang berpotensi
membentuk asam (Potentially Acid Forming rock)
YA
Rehabilitasi
akhir
Gambar 22. Kendali Mutu untuk Penutup Batuan NAF Tidak Dipadatkan (DC03)
Tumpang tindih
Kadang-kadang, timbunan batuan bisa memiliki daerah atau blok batuan NAF yang saling
bercampur dengan daerah batuan PAF. Simulasi komputer telah menunjukkan bahwa pemberian
tutup pada batuan PAF harus tumpang tindih dengan daerah batuan NAF sedikitnya 50 meter
untuk mencegah oksigen berdifusi melalui daerah timbunan dan mencapai bahan PAF (Gambar
23).
Tumpang tindih
Cover
50 m
PAF NAF
Rencana perpanjangan
penutup Penutup dipadatkan
PAF
Setelah penambangan berlangsung, suatu daerah dengan batuan yang berpotensi menghasilkan
asam bisa saja tertinggal/terbuka di lantai lubang tambang. Walaupun akan menghasilkan
asam, namun tingkat penghasilan asam daerah tersebut dianggap kurang dari batuan PAF
yang terganggu/tertambang.
Strategi rehabilitasi daerah-daerah tersebut akan ditentukan secara kasus per kasus. Asalkan
semua batu bara dan batuan lepas sudah diambil, maka tidak diperlukan penutupan khusus.
Jika tidak diperlukan penutup khusus, maka spesifikasi standar untuk singkapan lantai batuan
terledakkan adalah:
• 2.0 m batuan NAF tak terpadatkan yang ditutup oleh
• 0.7 m subsoil tak terpadatkan, dilapisi oleh
• 0.3 m top soil tak terpadatkan.
Rancang bangun untuk perkuatan lereng terjal akan disetujui kasus per kasus (semua kasus,
harus memenuhi persyaratan kestabilan geoteknis).
Pembukaan lahan hanya boleh dilakukan di wilayah pinjam pakai untuk pertambangan. Jika
tanah ini dikuasai perambah hutan dan ada tanaman-tanaman, hubungi Departmen Community
Services and External Relations untuk nasihat bagaimana pembukaan lahan bisa dilakukan.
PENGELOLAAN TANAH
Pengelolaan tanah yang baik sangat penting bagi program restorasi tanah KPC. Pemulihan
kembali, penanganan dan pemakaian tanah secara benar menjamin pemeliharaan struktur tanah,
unsur hara dan bank benih. Ini sangat penting untuk keberhasilan rehabilitasi. Ketersediaan
tanah sangat terbatas, untuk itu pemulihannya harus dimaksimalkan.
PENGUPASAN TANAH
Sebelum mulai
1 Pastikan bahwa pembukaan lahan sudah dilaksanakan sesuai spesifikasi pembukaan lahan.
Sebelum mulai
1 Pastikan bahwa lokasi penyimpanan yang sudah direncanakan itu tidak terpengaruh oleh
lalu lintas tambang, kendaraan yang parkir, penambangan, penimbunan (dumping) atau
kegiatan-kegiatan yang lain selama lokasi tersebut digunakan untuk penyimpanan topsoil.
2 Daerah penyimpanan sebaiknya mempunyai permukaan yang kokoh dan drainase yang
baik. Bahan-bahan pembentuk asam tidak boleh ada karena bisa mencemari topsoil pada
saat pemulihan.
Prosedur-prosedur
1 Penyimpanan sebaiknya dimulai dari tempat yang paling jauh dari akses (jalan masuk) ke
dalam daerah penyimpanan dan berjalan mundur ke arah akses guna mencegah kendaraan-
kendaraan melindasi materi topsoil.
PENEMPATAN TANAH
Sebelum mulai
1 Pastikan bahwa daerah yang ditargetkan untuk penempatan tanah telah memenuhi
persyaratan-persyaratan yang sudah ditandatangani pada blangko QA/QC.
2 Pastikan desain kedalaman topsoil dan subsoil dari perencanaan penimbunan (ini bisa
bervariasi dari satu tempat dengan tempat yang lain atau diperbarui sepanjang waktu).
F. REVEGETASI
TUJUAN
Menentukan berbagai metode yang digunakan untuk melakukan revegetasi pada timbunan
bahan penutup sebagai bagian dari proses rehabilitasi.
STRATEGI REVEGETASI
Tujuan program revegetasi di KPC adalah:
1. Stabilisasi yang cepat untuk mencegah terjadinya erosi dan mengurangi terbentuknya
endapan. Hal ini dilakukan dengan penanaman spesies tumbuhan penutup tanah yang
cepat tumbuh, terutama jenis rumput-rumputan dan polong-polongan.
2. Dalam jangka panjang membentuk ekosistem hutan yang mirip dengan ekosistem asli. Ini
menunjukkan komitmen kepada Pemerintah serta memberikan kesempatan sebesar-besarnya
untuk mencapai kestabilan lahan dalam jangka panjang.
JENIS REVEGETASI
Terdapat tiga jenis program rehabilitasi yang diterapkan di KPC, yang mencerminkan berbagai
macam tahapan dalam proses penambangan dan rehabilitasi, yaitu:
• Perawatan dan perbaikan
• Stabilisasi
• Rehabilitasi akhir
Stabilisasi Drainase dan penggaruan Hydroseeding polong-polongan dan benih rumput sebanyak
sesuai dengan Spesifikasi 100 kg/hektar.
Rehabilitasi. Penggunaan pupuk NPK (16, 16, 16) sebanyak 200 kg/
Minimal terdapat material hektar.
bukan penghasil asam
setebal 1m di atas per-
mukaan tanah.
Tanpa topsoil/subsoil.
Rehabilitasi Pemberian tanah, peng- Penanaman tumbuhan perintis dan pohon buah lokal dan
Akhir garuan, dan drainase sesuai non-lokal sebanyak 555 pohon/hektar.
dengan Spesifikasi Reha- Penyebaran manual benih polongan dan rumput sebanyak
bilitasi. 100 kg/hektar.
Penggunaan pupuk NPK (16, 16, 16) sebanyak 200 kg/
hektar.
Perawatan sebanyak 3 kali pada tahun pertama setelah
penanaman dan sekali pada tahun kedua (pemupukan,
penyiangan, dan penyulaman sesuai kebutuhan).
Penanaman spesies hutan tropis setelah terbentuk kanopi
(kurang lebih 3 tahun) sebanyak 100 batang pohon/hektar.
G. KRITERIA PENYELESAIAN
TUJUAN-TUJUAN
Untuk menentukan kriteria-kriteria bahwa daerah yang akan direhabilitasi dapat dikatakan
telah mencapai tahap-tahap yang ditetapkan.
Ini akan sangat penting saat menentukan kemajuan Rencana Tahunan, penanda-tanganan
akhir pada blangko QA/QC, dan laporan pada Pemerintah.
JENIS-JENIS REHABILITASI
Tiga tahap rehabilitasi yang ditetapkan untuk daerah yang ditambang di KPC:
• Stabilisasi
• Rehabilitasi
• Penyelesaian
Stabilisasi
Pekerjaan yang dilakukan untuk menyediakan stabilitas sementara (kendali sedimen) untuk
daerah-daerah yang bukan rona akhir dan dengan demikian tidak bisa direhabilitasi.
Stabilisasi menghasilkan biaya-biaya tambahan (Gambar 18) dan merupakan kompromi yang
dihasilkan dari hambatan-hambatan perencanaan. Biaya-biaya stabilisasi bisa diminimalkan
dengan pembangunan tempat penimbunan yang benar (lihat Konstruksi Tempat Penimbunan).
Pengendalian sedimen dicapai dengan penanaman tanaman penutup yang tumbuh cepat, dan
hydroseeding adalah metode yang lebih disukai. Cara ini tidak menggunakan tanah pucuk.
Sarana-sarana pengendali erosi biasanya diperlukan.
Sasaran kunci stabilisasi adalah penutupan lahan. Penutupan lahan sebesar 70% atau lebih
akan menyediakan kendali erosi yang memadai.
Istilah-istilah ini berlaku pada daerah-daerah yang berada pada rona perencanaan akhir dan
telah memenuhi syarat-syarat proses rehabilitasi QA/QC (Spesifikasi A sampai E). Daerah-daerah
ini mempunyai pengendali drainase yang layak, langkah-langkah untuk mengendalikan air
asam di tambang (jika diperlukan) dan sudah ditaburi benih dan dipupuk. Biasanya, daerah-
daerah tersebut sudah mempunyai tanah pengganti. Pendeknya, daerah-daerah tersebut sudah
mempunyai semua masukan-masukan yang, berdasarkan pengetahuan terbaru, sudah cukup
untuk menghasilkan ekosistem yang stabil dan mandiri.
Perlu dicatat bahwa diperlukan waktu, hujan yang memadai, dan perlindungan dari api maupun
gangguan yang lain untuk daerah yang direhabilitasi agar mencapai status selesai.
Penyelesaian
Daerah-daerah yang sudah direhabilitasi sepenuhnya dan telah cukup berkembang dalam hal
berlimpahnya spesies-spesies, keaneka-ragaman dan biomassa yang menunjukkan bahwa
stabilitas jangka panjang sudah mungkin dan tidak perlu lagi pemeliharaan lebih jauh.
Penggaruan tanah
Pengendali aliran
Pengendali aliran
Hydro-seeding
Pemeliharaan