PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, PROMOSI, DAN HARGA
TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA USAHA KULINER SEBLAK
45 DI KOTA DEMAK
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)
pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Di susun oleh:
Naswa Kharisma Affnur
NIM 22101011042
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri kuliner di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat
pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didorong oleh perubahan gaya hidup
masyarakat yang semakin dinamis dan tingginya minat konsumen terhadap
makanan dengan cita rasa yang unik dan harga terjangkau. Industri kuliner tidak
hanya dipandang sebagai bisnis yang menjanjikan, tetapi juga menjadi salah satu
sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkontribusi
terhadap perekonomian lokal maupun nasional. Fenomena ini membuat persaingan
di dunia kuliner semakin ketat, sehingga pelaku usaha dituntut untuk terus
berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan agar dapat bertahan dan
berkembang. Seblak merupakan salah satu jenis makanan khas Sunda yang saat ini
telah menjadi tren kuliner di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota
Demak. Makanan yang berbahan dasar kerupuk basah dengan bumbu pedas ini
sangat digemari oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda yang menyukai
makanan dengan cita rasa pedas dan gurih. Popularitas seblak yang terus
meningkat membuat banyak pengusaha kuliner tertarik untuk membuka usaha
seblak, sehingga persaingan dalam industri ini menjadi semakin kompetitif. Di
tengah persaingan yang ketat tersebut, kemampuan pelaku usaha dalam memahami
faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen menjadi kunci utama untuk
meraih kesuksesan. Seblak 45 merupakan salah satu usaha kuliner seblak yang
cukup dikenal di Kota Demak. Usaha ini telah beroperasi sejak beberapa tahun
lalu dan menawarkan berbagai varian menu seblak dengan harga yang bersaing.
Meskipun demikian, dalam perjalanan usahanya, Seblak 45 menghadapi tantangan
yang tidak mudah, terutama dalam hal mempertahankan loyalitas konsumen di
tengah banyaknya pesaing yang menawarkan produk serupa. Persaingan yang
semakin ketat menuntut Seblak 45 untuk terus melakukan evaluasi terhadap
berbagai aspek usaha, khususnya terkait dengan kualitas pelayanan, strategi
promosi, dan penetapan harga yang tepat agar tetap mampu menarik minat
konsumen dan menciptakan kepuasan yang berkelanjutan. Kepuasan konsumen
merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu
usaha. Konsumen yang puas cenderung akan melakukan pembelian ulang dan
merekomendasikan produk atau jasa kepada orang lain, sehingga dapat
meningkatkan jumlah pelanggan dan pendapatan usaha. Menurut Kotler dan Keller
(2016), kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang
timbul karena membandingkan kinerja produk yang dipersepsikan terhadap
ekspektasi mereka. Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang memengaruhi
kepuasan konsumen menjadi sangat krusial bagi pelaku usaha untuk dapat
merancang strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Salah satu faktor yang
memengaruhi kepuasan konsumen adalah kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan
yang baik dapat menciptakan pengalaman positif bagi konsumen, sehingga mereka
merasa dihargai dan diperhatikan oleh penyedia jasa. Dalam konteks usaha
kuliner, kualitas pelayanan mencakup berbagai aspek seperti kecepatan penyajian,
keramahan dan kesopanan karyawan, kebersihan tempat, serta kemampuan
karyawan dalam merespons keluhan atau permintaan khusus dari konsumen.
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) mengembangkan konsep kualitas
pelayanan yang dikenal dengan model SERVQUAL, yang terdiri dari lima
dimensi utama yaitu tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness
(daya tanggap), assurance (jaminan), dan empathy (empati). Dimensi-dimensi ini
menjadi acuan penting dalam mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan
oleh suatu usaha. Selain kualitas pelayanan, promosi juga merupakan faktor
penting yang dapat memengaruhi kepuasan konsumen. Promosi merupakan salah
satu elemen dari bauran pemasaran yang berfungsi untuk mengkomunikasikan
nilai produk atau jasa kepada konsumen potensial. Melalui promosi yang efektif,
konsumen dapat memperoleh informasi yang jelas mengenai produk, harga, dan
manfaat yang ditawarkan, sehingga dapat membuat keputusan pembelian yang
tepat. Di era digital saat ini, promosi tidak hanya dilakukan melalui media
konvensional seperti brosur atau spanduk, tetapi juga melalui media sosial,
platform online, dan aplikasi pesan instan yang memungkinkan jangkauan yang
lebih luas dan interaksi yang lebih personal dengan konsumen. Kotler dan
Armstrong (2018) menyatakan bahwa promosi yang tepat sasaran dapat
meningkatkan kesadaran merek, menarik konsumen baru, dan mempertahankan
konsumen yang sudah ada. Harga merupakan faktor ketiga yang memiliki
pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen. Harga adalah sejumlah uang
yang harus dibayarkan konsumen untuk mendapatkan suatu produk atau jasa.
Penetapan harga yang tepat sangat penting karena harga tidak hanya
mencerminkan nilai produk, tetapi juga menjadi pertimbangan utama konsumen
dalam membuat keputusan pembelian. Harga yang terlalu tinggi dapat membuat
konsumen beralih ke produk pesaing, sedangkan harga yang terlalu rendah dapat
menimbulkan persepsi negatif terhadap kualitas produk. Oleh karena itu, strategi
penetapan harga harus disesuaikan dengan target pasar, nilai yang ditawarkan,
serta kondisi persaingan yang ada. Menurut Monroe (2003), konsumen akan
merasa puas apabila harga yang dibayarkan sesuai dengan kualitas dan manfaat
yang diperoleh dari produk atau jasa tersebut. Beberapa penelitian terdahulu telah
membuktikan bahwa kualitas pelayanan, promosi, dan harga memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kepuasan konsumen. Penelitian yang dilakukan oleh
Tjiptono dan Chandra (2016) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan yang baik
dapat meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen. Selain itu, penelitian oleh
Kotler dan Keller (2016) juga menegaskan bahwa promosi yang efektif dapat
meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong mereka untuk melakukan
pembelian. Sementara itu, studi yang dilakukan oleh Zeithaml, Bitner, dan
Gremler (2018) menunjukkan bahwa penetapan harga yang sesuai dengan persepsi
nilai konsumen dapat meningkatkan tingkat kepuasan mereka. Namun demikian,
penelitian-penelitian tersebut dilakukan pada konteks usaha dan lokasi yang
berbeda, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi untuk usaha kuliner
seblak, khususnya di Kota Demak. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan
peneliti, Seblak 45 di Kota Demak memiliki potensi yang baik untuk berkembang,
namun masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu mendapat perhatian.
Dari segi kualitas pelayanan, terdapat keluhan dari beberapa konsumen terkait
dengan waktu tunggu penyajian yang kadang cukup lama, terutama pada jam-jam
ramai. Selain itu, kebersihan tempat dan fasilitas pendukung juga menjadi
perhatian bagi sebagian konsumen. Dari segi promosi, Seblak 45 belum optimal
dalam memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau
konsumen yang lebih luas. Sementara dari segi harga, meskipun Seblak 45
menawarkan harga yang kompetitif, namun masih ada konsumen yang
menganggap bahwa harga yang ditawarkan belum sebanding dengan porsi dan
kualitas yang diberikan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul "Pengaruh Kualitas Pelayanan, Promosi, dan
Harga terhadap Kepuasan Konsumen pada Usaha Kuliner Seblak 45 di Kota
Demak". Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas
mengenai seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap kepuasan
konsumen, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi
pemilik usaha Seblak 45 dalam meningkatkan kualitas pelayanan, strategi
promosi, dan penetapan harga yang lebih efektif. Selain itu, hasil penelitian ini
juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang manajemen pemasaran, khususnya terkait dengan faktor-
faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen pada usaha kuliner skala kecil dan
menengah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak?
2. Apakah promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak?
3. Apakah harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak?
4. Apakah kualitas pelayanan, promosi, dan harga secara simultan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak
45 di Kota Demak?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
2. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh promosi terhadap kepuasan
konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
3. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh harga terhadap kepuasan
konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
4. Untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh kualitas pelayanan, promosi,
dan harga secara simultan terhadap kepuasan konsumen pada usaha kuliner
Seblak 45 di Kota Demak.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis
maupun praktis, sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang manajemen
pemasaran, terutama yang berkaitan dengan teori-teori tentang kualitas
pelayanan, promosi, harga, dan kepuasan konsumen.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dan bahan kajian
untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan faktor-
faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen pada usaha kuliner atau
bisnis sejenis.
3. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dan kajian empiris
mengenai penerapan konsep-konsep pemasaran dalam konteks usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, khususnya di sektor
kuliner.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Pemilik Usaha Seblak 45
1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan masukan
bagi pemilik usaha Seblak 45 dalam meningkatkan kualitas pelayanan,
merancang strategi promosi yang lebih efektif, dan menetapkan harga
yang sesuai dengan ekspektasi konsumen.
2. Penelitian ini dapat membantu pemilik usaha dalam mengidentifikasi
kelemahan dan kekuatan yang dimiliki, sehingga dapat mengambil
keputusan strategis yang tepat untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas
konsumen.
b. Bagi Pelaku Usaha Kuliner Lainnya
5. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi pelaku usaha
kuliner lainnya, khususnya yang bergerak di bidang yang sama, untuk
memahami faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen dan
menerapkan strategi pemasaran yang lebih efektif.
6. Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya aspek
kualitas pelayanan, promosi, dan penetapan harga dalam menciptakan
keunggulan kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat.
c. Bagi Peneliti
7. Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai
penerapan teori-teori manajemen pemasaran dalam konteks nyata, khususnya
terkait dengan faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan konsumen pada
usaha kuliner.
8. Penelitian ini merupakan sarana bagi peneliti untuk mengaplikasikan ilmu
yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan dan mengembangkan
kemampuan dalam melakukan penelitian ilmiah.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini disusun secara sistematis dan terstruktur
untuk memudahkan pemahaman terhadap isi dan alur penelitian. Adapun sistematika
penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang masalah yang mendasari dilakukannya
penelitian, rumusan masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian yang ingin dicapai,
manfaat penelitian baik secara teoritis maupun praktis, serta sistematika penulisan
yang menggambarkan struktur keseluruhan penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memuat landasan teori yang menjadi dasar dalam penelitian, meliputi teori-
teori mengenai kualitas pelayanan, promosi, harga, dan kepuasan konsumen. Selain
itu, bab ini juga menyajikan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik
penelitian, kerangka pemikiran yang menggambarkan hubungan antar variabel, serta
hipotesis penelitian yang akan diuji.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan, meliputi jenis dan desain
penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, variabel
penelitian dan definisi operasional, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data,
serta teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan gambaran umum objek penelitian, deskripsi data hasil penelitian,
hasil analisis data yang telah dilakukan, hasil pengujian hipotesis, serta pembahasan
hasil penelitian yang mengaitkan temuan dengan teori dan penelitian terdahulu yang
telah diuraikan pada bab sebelumnya.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, yang merupakan
jawaban atas rumusan masalah dan tujuan penelitian. Selain itu, bab ini juga
menyajikan saran dan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan oleh pemilik usaha
Seblak 45, pelaku usaha kuliner lainnya, serta peneliti selanjutnya yang tertarik untuk
melakukan penelitian dengan topik yang sama atau sejenis. Keterbatasan penelitian
juga diuraikan dalam bab ini sebagai bahan refleksi dan perbaikan untuk penelitian
mendatang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
1. Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
keberhasilan suatu usaha dalam memenangkan persaingan dan mempertahankan
loyalitas konsumen. Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988), kualitas
pelayanan adalah perbandingan antara harapan konsumen dengan kinerja layanan
yang diterima. Apabila layanan yang diterima sesuai atau melebihi harapan, maka
konsumen akan merasa puas. Sebaliknya, jika layanan yang diterima tidak
memenuhi harapan, maka konsumen akan merasa kecewa. Tjiptono (2014)
mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan
dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
konsumen. Kualitas pelayanan yang baik akan menciptakan pengalaman positif
bagi konsumen dan meningkatkan kepuasan mereka. Dalam konteks bisnis,
kualitas pelayanan tidak hanya terbatas pada aspek fisik produk, tetapi juga
mencakup keseluruhan pengalaman konsumen dalam berinteraksi dengan
penyedia jasa. Menurut Kotler dan Keller (2016), kualitas pelayanan adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.
Definisi ini menekankan bahwa kualitas pelayanan harus dipandang dari perspektif
konsumen, bukan hanya dari sudut pandang penyedia jasa. Oleh karena itu,
perusahaan harus selalu berupaya memahami kebutuhan dan harapan konsumen
agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas.
2. Dimensi Kualitas Pelayanan
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) mengembangkan model SERVQUAL
yang terdiri dari lima dimensi kualitas pelayanan. Dimensi-dimensi tersebut
menjadi acuan dalam mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan yang
diberikan oleh suatu perusahaan. Kelima dimensi tersebut adalah:
1. Tangibles (Bukti Fisik): Kemampuan perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak eksternal. Bukti fisik mencakup penampilan
fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material komunikasi. Dalam konteks
usaha kuliner, tangibles meliputi kebersihan tempat, dekorasi ruangan,
penampilan karyawan, serta peralatan yang digunakan.
2. Reliability (Keandalan): Kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
Keandalan berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
janjinya mengenai penyampaian layanan, penyelesaian masalah, dan
penetapan harga. Dalam usaha kuliner, reliability mencakup ketepatan waktu
penyajian, konsistensi rasa makanan, dan keakuratan pesanan.
3. Responsiveness (Daya Tanggap): Kesediaan untuk membantu konsumen dan
memberikan pelayanan dengan cepat dan tanggap. Daya tanggap
mencerminkan komitmen perusahaan untuk memberikan pelayanan yang tepat
waktu dan responsif terhadap permintaan konsumen. Hal ini termasuk
kecepatan dalam merespons keluhan, pertanyaan, dan permintaan khusus dari
konsumen.
4. Assurance (Jaminan): Pengetahuan, kesopanan, dan kemampuan karyawan
untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan konsumen. Jaminan
mencakup kompetensi karyawan, kredibilitas perusahaan, keamanan, dan
sopan santun. Dalam konteks usaha kuliner, assurance meliputi pengetahuan
karyawan tentang menu, kehigienisan dalam pengolahan makanan, dan
kemampuan menjawab pertanyaan konsumen.
5. Empathy (Empati): Pemberian perhatian yang tulus dan bersifat individual
atau pribadi kepada konsumen dengan berupaya memahami keinginan
mereka. Empati mencakup kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan
konsumen. Karyawan yang empatik akan membuat konsumen merasa dihargai
dan diperhatikan.
2.1.2 Promosi
[Link] Pengertian Promosi
Promosi merupakan salah satu elemen penting dalam bauran pemasaran yang
berfungsi untuk mengkomunikasikan produk atau jasa kepada konsumen dan
mempengaruhi mereka untuk melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Armstrong
(2018), promosi adalah aktivitas yang mengkomunikasikan manfaat dari sebuah
produk atau jasa dan membujuk target konsumen untuk membelinya. Promosi
membantu konsumen untuk mengetahui keberadaan produk, memahami manfaat
yang ditawarkan, dan membuat keputusan pembelian.
Tjiptono (2015) mendefinisikan promosi sebagai bentuk komunikasi pemasaran yang
berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi, dan mengingatkan pasar sasaran
atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada
produk yang ditawarkan. Promosi yang efektif dapat meningkatkan kesadaran merek,
menarik konsumen baru, mempertahankan konsumen lama, dan pada akhirnya
meningkatkan penjualan.
Menurut Swastha dan Irawan (2008), promosi adalah arus informasi atau persuasi
satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan
yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Dengan kata lain, promosi
merupakan upaya perusahaan untuk mempengaruhi konsumen agar tertarik dan
membeli produk yang ditawarkan melalui berbagai strategi komunikasi pemasaran.
[Link] Bauran Promosi
Menurut Kotler dan Keller (2016), bauran promosi terdiri dari lima alat komunikasi
pemasaran utama, yaitu:
6. Periklanan (Advertising): Segala bentuk presentasi non-personal dan promosi
gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang teridentifikasi melalui media
massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan media online.
Periklanan memiliki jangkauan yang luas dan dapat membangun citra merek
jangka panjang.
7. Promosi Penjualan (Sales Promotion): Insentif jangka pendek untuk
mendorong pembelian atau penjualan produk atau jasa. Promosi penjualan
dapat berupa diskon, kupon, hadiah, undian, sampel gratis, atau program
loyalitas yang bertujuan untuk merangsang respons konsumen yang lebih
cepat dan kuat.
8. Hubungan Masyarakat (Public Relations): Membangun hubungan baik
dengan berbagai publik perusahaan melalui publisitas yang menguntungkan,
membangun citra korporat yang baik, dan menangani atau menghilangkan
rumor, cerita, dan peristiwa yang tidak menguntungkan. Public relations
membantu membangun kepercayaan dan kredibilitas perusahaan di mata
masyarakat.
9. Penjualan Personal (Personal Selling): Presentasi personal oleh wiraniaga
perusahaan dengan tujuan melakukan penjualan dan membangun hubungan
dengan konsumen. Penjualan personal memungkinkan komunikasi dua arah
yang interaktif dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik konsumen.
10. Pemasaran Langsung (Direct Marketing): Penggunaan surat, telepon, email,
atau media lainnya untuk berkomunikasi langsung dengan atau meminta
respons atau dialog dari konsumen tertentu. Di era digital, pemasaran
langsung juga mencakup penggunaan media sosial, aplikasi pesan instan, dan
platform digital lainnya untuk berinteraksi secara personal dengan konsumen.
2.1.3 Harga
[Link] Pengertian Harga
Harga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang sangat penting karena
harga adalah satu-satunya elemen yang menghasilkan pendapatan, sementara elemen
lainnya menimbulkan biaya. Menurut Kotler dan Armstrong (2018), harga adalah
sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai
yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan
produk atau jasa tersebut. Harga mencerminkan nilai yang konsumen berikan untuk
produk atau jasa yang mereka terima.
Tjiptono (2015) mendefinisikan harga sebagai satuan moneter atau ukuran lainnya
yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang
atau jasa. Harga memiliki peran penting dalam proses pengambilan keputusan
konsumen, yaitu sebagai indikator kualitas produk dan sebagai variabel yang
menentukan apakah konsumen akan membeli produk tersebut atau tidak.
Menurut Monroe (2003), harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan
konsumen untuk memperoleh produk atau jasa. Konsumen akan mengevaluasi
apakah pengorbanan yang mereka keluarkan sebanding dengan manfaat yang
diperoleh. Jika konsumen merasa bahwa harga yang dibayarkan sesuai atau lebih
rendah dari nilai yang diterima, maka mereka akan merasa puas. Sebaliknya, jika
harga dianggap terlalu tinggi dibandingkan dengan nilai yang diterima, konsumen
akan merasa tidak puas.
[Link] Indikator Harga
Menurut Kotler dan Armstrong (2018), terdapat beberapa indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur variabel harga, antara lain:
11. Keterjangkauan Harga: Harga yang ditetapkan oleh perusahaan harus sesuai
dengan daya beli konsumen. Harga yang terjangkau akan membuat produk
lebih mudah diakses oleh berbagai segmen pasar dan meningkatkan
kemungkinan terjadinya pembelian.
12. Kesesuaian Harga dengan Kualitas Produk: Konsumen cenderung
membandingkan harga dengan kualitas produk yang diterima. Harga harus
mencerminkan kualitas produk sehingga konsumen merasa mendapatkan nilai
yang sebanding dengan uang yang dikeluarkan.
13. Daya Saing Harga: Harga yang ditawarkan harus kompetitif dibandingkan
dengan harga produk sejenis yang ditawarkan oleh pesaing. Perusahaan perlu
melakukan analisis harga pasar untuk memastikan bahwa harga yang
ditetapkan tidak terlalu tinggi sehingga konsumen beralih ke pesaing, namun
juga tidak terlalu rendah sehingga merugikan perusahaan.
14. Kesesuaian Harga dengan Manfaat: Konsumen akan mengevaluasi apakah
manfaat yang diperoleh dari produk sebanding dengan harga yang dibayarkan.
Jika konsumen merasa bahwa manfaat yang diterima lebih besar daripada
harga yang dibayarkan, maka mereka akan merasa puas dan kemungkinan
besar akan melakukan pembelian ulang.
2.1.4 Kepuasan Konsumen
[Link] Pengertian Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen merupakan tujuan utama dari setiap kegiatan pemasaran.
Konsumen yang puas akan menjadi aset berharga bagi perusahaan karena mereka
cenderung melakukan pembelian ulang, memberikan rekomendasi positif kepada
orang lain, dan loyal terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Menurut Kotler dan
Keller (2016), kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang
yang timbul karena membandingkan kinerja produk yang dipersepsikan terhadap
ekspektasi mereka. Jika kinerja memenuhi ekspektasi, konsumen akan puas. Jika
kinerja melebihi ekspektasi, konsumen akan sangat puas atau senang. Sebaliknya, jika
kinerja tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan tidak puas.
Menurut Tjiptono (2014), kepuasan konsumen adalah situasi yang ditunjukkan oleh
konsumen ketika mereka menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka sesuai
dengan yang diharapkan serta terpenuhi secara baik. Kepuasan konsumen
dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas produk atau jasa, harga, kualitas
pelayanan, faktor emosional, dan kemudahan dalam memperoleh produk atau jasa.
Zeithaml, Bitner, dan Gremler (2018) mendefinisikan kepuasan konsumen sebagai
evaluasi konsumen terhadap produk atau jasa dalam hal apakah produk atau jasa
tersebut telah memenuhi kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Kegagalan dalam
memenuhi kebutuhan dan ekspektasi diasumsikan akan menyebabkan ketidakpuasan
terhadap produk atau jasa tersebut. Oleh karena itu, perusahaan harus selalu berupaya
memahami kebutuhan dan harapan konsumen agar dapat memberikan produk atau
jasa yang memuaskan.
[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen
Menurut Lupiyoadi (2013), terdapat lima faktor utama yang mempengaruhi kepuasan
konsumen, yaitu:
1. Kualitas Produk: Konsumen akan merasa puas apabila hasil evaluasi
mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
Kualitas produk mencakup aspek seperti fitur, daya tahan, keandalan, dan
estetika produk.
2. Kualitas Pelayanan: Konsumen akan merasa puas apabila mendapatkan
pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Kualitas
pelayanan mencakup dimensi tangibles, reliability, responsiveness,
assurance, dan empathy.
3. Emosional: Konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan
bahwa orang lain akan kagum terhadap dirinya bila menggunakan produk
dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang
lebih tinggi. Faktor emosional ini berkaitan dengan status sosial dan citra
diri konsumen.
4. Harga: Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
konsumen. Konsumen cenderung merasa puas jika harga yang dibayarkan
sebanding atau lebih rendah dari nilai yang diterima.
5. Biaya dan Kemudahan: Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya
tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu
produk atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut.
Kemudahan akses dan efisiensi waktu menjadi pertimbangan penting bagi
konsumen modern.
[Link] Indikator Kepuasan Konsumen
Menurut Hawkins dan Lonney (2007) dalam Tjiptono (2014), indikator kepuasan
konsumen dapat diukur melalui beberapa aspek, yaitu:
15. Kepuasan Pelanggan Keseluruhan: Menanyakan konsumen mengenai tingkat
kepuasan mereka terhadap produk atau jasa secara keseluruhan dan
membandingkannya dengan ekspektasi yang mereka miliki sebelumnya.
16. Konfirmasi Harapan: Kesesuaian antara harapan konsumen sebelum
melakukan pembelian dengan kinerja aktual produk atau jasa yang diterima.
Jika kinerja memenuhi atau melebihi harapan, konsumen akan puas.
17. Minat Pembelian Ulang: Kesediaan konsumen untuk melakukan pembelian
kembali di masa yang akan datang. Konsumen yang puas cenderung akan
kembali membeli produk atau jasa yang sama.
18. Kesediaan untuk Merekomendasikan: Konsumen yang puas akan dengan
sukarela merekomendasikan produk atau jasa kepada orang lain, baik
keluarga, teman, maupun kolega. Word of mouth positif ini sangat berharga
bagi perusahaan.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengaruh kualitas pelayanan, promosi, dan harga terhadap
kepuasan konsumen telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan berbagai
objek penelitian. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan
penelitian ini:
19. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2019) dengan judul "Pengaruh
Kualitas Pelayanan dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen pada Restoran
Cepat Saji di Jakarta". Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas
pelayanan dan harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan
metode kuantitatif dengan sampel sebanyak 100 responden. Persamaan
dengan penelitian ini adalah penggunaan variabel kualitas pelayanan dan
harga terhadap kepuasan konsumen. Perbedaannya adalah penelitian ini
menambahkan variabel promosi dan objek penelitian yang berbeda.
20. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Wijaya (2020) dengan judul
"Pengaruh Promosi dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen pada Kafe di
Surabaya". Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi dan harga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Variabel
promosi memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan dengan harga.
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan 150
responden. Persamaan dengan penelitian ini adalah penggunaan variabel
promosi dan harga. Perbedaannya adalah penelitian ini menambahkan variabel
kualitas pelayanan dan lokasi penelitian yang berbeda.
21. Penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2021) dengan judul "Pengaruh
Kualitas Pelayanan, Promosi, dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen pada
Warung Makan di Yogyakarta". Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga
variabel independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen baik secara parsial maupun simultan. Kualitas pelayanan memiliki
pengaruh yang paling dominan terhadap kepuasan konsumen. Penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling dengan 120 responden. Persamaan
dengan penelitian ini adalah penggunaan ketiga variabel independen yang
sama yaitu kualitas pelayanan, promosi, dan harga. Perbedaannya adalah
objek penelitian dan lokasi penelitian yang berbeda.
22. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dan Susanto (2022) dengan judul
"Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Konsumen pada
Industri Kuliner UMKM di Semarang". Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen. Dimensi reliability dan responsiveness memiliki pengaruh yang
paling besar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan 200
responden dari berbagai usaha kuliner UMKM. Persamaan dengan penelitian
ini adalah penggunaan variabel kualitas pelayanan dan fokus pada industri
kuliner UMKM. Perbedaannya adalah penelitian ini menambahkan variabel
promosi dan harga serta berfokus pada satu objek usaha kuliner tertentu.
23. Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2023) dengan judul "Pengaruh
Promosi Media Sosial dan Harga terhadap Kepuasan Konsumen Generasi
Milenial pada Usaha Kuliner di Bandung". Hasil penelitian menunjukkan
bahwa promosi melalui media sosial dan harga berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan konsumen generasi milenial. Promosi media
sosial memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan harga. Penelitian
ini menggunakan sampel sebanyak 180 responden generasi milenial.
Persamaan dengan penelitian ini adalah penggunaan variabel promosi dan
harga. Perbedaannya adalah penelitian ini tidak membatasi pada kelompok
usia tertentu dan menambahkan variabel kualitas pelayanan. Berdasarkan
penelitian-penelitian terdahulu di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas
pelayanan, promosi, dan harga merupakan faktor-faktor penting yang
mempengaruhi kepuasan konsumen pada usaha kuliner. Namun, penelitian
dengan konteks usaha seblak khususnya di Kota Demak masih terbatas,
sehingga penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan tersebut dan
memberikan kontribusi baru dalam literatur mengenai kepuasan konsumen
pada usaha kuliner UMKM.
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu
Peneliti & Persamaan &
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Tahun Perbedaan
1 Hidayat (2019) Pengaruh Kualitas Persamaan:
Kualitas pelayanan dan variabel kualitas
Pelayanan dan harga berpengaruh pelayanan dan
Harga terhadap positif dan harga.
Kepuasan signifikan Perbedaan:
Konsumen pada terhadap kepuasan menambahkan
Restoran Cepat konsumen variabel promosi
Saji di Jakarta
Sari dan Wijaya Pengaruh Promosi dan harga Persamaan:
(2020) Promosi dan berpengaruh variabel promosi
Harga terhadap positif dan dan harga.
2 Kepuasan signifikan. Perbedaan:
Konsumen pada Promosi lebih menambahkan
Kafe di Surabaya dominan kualitas
pelayanan
3 Pratama (2021) Pengaruh Ketiga variabel Persamaan:
Kualitas berpengaruh semua variabel
Pelayanan, positif dan sama.
Promosi, dan signifikan. Perbedaan:
Harga terhadap Kualitas objek dan lokasi
Kepuasan pelayanan paling penelitian
Konsumen pada dominan
Warung Makan
di Yogyakarta
Rahmawati dan Analisis Kualitas Persamaan:
Susanto (2022) Pengaruh pelayanan kualitas
Kualitas berpengaruh pelayanan, fokus
Pelayanan positif dan UMKM kuliner.
terhadap signifikan. Perbedaan:
4
Kepuasan Reliability dan menambahkan
Konsumen pada responsiveness promosi dan
Industri Kuliner paling harga
UMKM di berpengaruh
Semarang
Nugroho (2023) Pengaruh Promosi media Persamaan:
Promosi Media sosial dan harga promosi dan
Sosial dan Harga berpengaruh harga.
terhadap positif dan Perbedaan: tidak
Kepuasan signifikan. terbatas pada
5
Konsumen Promosi lebih usia tertentu,
Generasi dominan menambahkan
Milenial pada kualitas
Usaha Kuliner di pelayanan
Bandung
2.3 Kerangka Pemikiran Teoretis
Kerangka pemikiran teoretis dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara
variabel independen (kualitas pelayanan, promosi, dan harga) dengan variabel
dependen (kepuasan konsumen). Kerangka pemikiran disusun berdasarkan landasan
teori dan hasil penelitian terdahulu yang telah diuraikan sebelumnya.
2.3.1 Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Konsumen
Kualitas pelayanan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi
kepuasan konsumen. Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988), kualitas
pelayanan yang baik akan menciptakan pengalaman positif bagi konsumen dan
meningkatkan tingkat kepuasan mereka. Dalam konteks usaha kuliner, kualitas
pelayanan mencakup berbagai aspek seperti kebersihan tempat, kecepatan penyajian,
keramahan karyawan, dan kemampuan merespons keluhan konsumen.
Tjiptono (2014) menyatakan bahwa konsumen akan merasa puas apabila
mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Pelayanan
yang berkualitas akan membuat konsumen merasa dihargai dan diperhatikan,
sehingga meningkatkan kepuasan mereka terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2019) dan Rahmawati dan Susanto (2022)
membuktikan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin baik kualitas
pelayanan yang diberikan oleh Seblak 45, maka semakin tinggi tingkat kepuasan
konsumen. Oleh karena itu, kualitas pelayanan diduga memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
2.3.2 Hubungan Promosi dengan Kepuasan Konsumen
Promosi merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang berperan penting
dalam mempengaruhi kepuasan konsumen. Menurut Kotler dan Armstrong (2018),
promosi yang efektif dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produk,
memberikan informasi yang jelas mengenai manfaat produk, dan membantu
konsumen dalam membuat keputusan pembelian yang tepat. Promosi yang dilakukan
dengan baik akan menciptakan ekspektasi yang sesuai dengan kenyataan, sehingga
konsumen akan merasa puas setelah melakukan pembelian.
Tjiptono (2015) menyatakan bahwa promosi yang tepat sasaran dapat membantu
konsumen memahami nilai produk yang ditawarkan dan membentuk persepsi positif
terhadap produk tersebut. Ketika promosi yang dilakukan sesuai dengan kenyataan
produk, konsumen akan merasa bahwa ekspektasi mereka terpenuhi, sehingga
meningkatkan kepuasan mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Wijaya
(2020) serta Nugroho (2023) menunjukkan bahwa promosi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan konsumen pada usaha kuliner.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa promosi yang dilakukan oleh
Seblak 45 akan mempengaruhi kepuasan konsumen. Semakin efektif dan informatif
promosi yang dilakukan, maka semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen. Oleh
karena itu, promosi diduga memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen
pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
2.3.3 Hubungan Harga dengan Kepuasan Konsumen
Harga merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi
kepuasan konsumen. Menurut Monroe (2003), konsumen akan merasa puas apabila
harga yang dibayarkan sesuai dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh dari
produk atau jasa tersebut. Harga yang dianggap wajar atau terjangkau akan
meningkatkan persepsi nilai konsumen, sehingga meningkatkan kepuasan mereka.
Kotler dan Armstrong (2018) menyatakan bahwa harga mencerminkan nilai yang
konsumen berikan untuk produk atau jasa yang mereka terima. Jika konsumen merasa
bahwa harga yang dibayarkan sebanding atau lebih rendah dari nilai yang diterima,
maka mereka akan merasa puas. Sebaliknya, jika harga dianggap terlalu tinggi
dibandingkan dengan nilai yang diterima, konsumen akan merasa tidak puas.
Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2019), Sari dan Wijaya (2020), dan Pratama
(2021) membuktikan bahwa harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa harga yang ditetapkan oleh
Seblak 45 akan mempengaruhi kepuasan konsumen. Semakin sesuai harga dengan
kualitas dan manfaat yang diterima konsumen, maka semakin tinggi tingkat kepuasan
konsumen. Oleh karena itu, harga diduga memiliki pengaruh positif terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
2.3.4 Hubungan Kualitas Pelayanan, Promosi, dan Harga Secara Simultan
terhadap Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi merupakan
hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berinteraksi. Menurut Lupiyoadi
(2013), kepuasan konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk kualitas
produk, kualitas pelayanan, harga, faktor emosional, dan kemudahan. Dalam konteks
penelitian ini, kualitas pelayanan, promosi, dan harga secara bersama-sama diduga
mempengaruhi kepuasan konsumen.
Penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2021) menunjukkan bahwa kualitas
pelayanan, promosi, dan harga secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada warung makan di Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa
ketiga variabel tersebut saling melengkapi dalam menciptakan kepuasan konsumen.
Kualitas pelayanan yang baik, promosi yang efektif, dan harga yang sesuai akan
menciptakan pengalaman konsumen yang positif dan meningkatkan kepuasan mereka
secara keseluruhan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan, promosi,
dan harga secara simultan diduga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak. Kombinasi dari
ketiga faktor tersebut akan menciptakan nilai tambah bagi konsumen dan
meningkatkan kepuasan mereka secara keseluruhan.
Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu yang telah diuraikan, maka
kerangka pemikiran teoretis dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoretis
[Model kerangka pemikiran dapat digambarkan secara visual dengan diagram yang
menunjukkan hubungan antara variabel independen (Kualitas Pelayanan, Promosi,
dan Harga) dengan variabel dependen (Kepuasan Konsumen), baik secara parsial
maupun simultan]
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang
kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Berdasarkan landasan teori, penelitian
terdahulu, dan kerangka pemikiran teoretis yang telah diuraikan, maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1: Kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
H2: Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen
pada usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
H3: Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen pada
usaha kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
H4: Kualitas pelayanan, promosi, dan harga secara simultan berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kepuasan konsumen pada usaha kuliner Seblak 45 di
Kota Demak.
Hipotesis-hipotesis di atas akan diuji secara statistik menggunakan metode analisis
regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh parsial dan simultan dari variabel
independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian hipotesis akan menunjukkan
apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak berdasarkan data empiris yang
diperoleh dari penelitian
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan kausal.
Menurut Sugiyono (2019), penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau
sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data
bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan, promosi, dan
harga terhadap kepuasan konsumen pada Usaha Kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
Pendekatan kausal dipilih karena penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis
hubungan sebab-akibat antara variabel independen (kualitas pelayanan, promosi, dan
harga) terhadap variabel dependen (kepuasan konsumen).
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
3.2.1 Variabel Penelitian
Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel,
yaitu:
1. Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel independen adalah variabel
yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel independen adalah: a. Kualitas Pelayanan (X1) b. Promosi (X2)
c. Harga (X3)
2. Variabel Dependen (Variabel Terikat) Variabel dependen adalah variabel
yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas
(Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen
adalah Kepuasan Konsumen (Y).
3.2.2 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel adalah penentuan konstruk atau sifat yang akan
dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasional
menjelaskan cara tertentu yang digunakan untuk meneliti dan mengoperasikan
konstruk, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi
pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran konstruk
yang lebih baik (Indriantoro dan Supomo, 2018).
Berikut adalah definisi operasional dari masing-masing variabel dalam penelitian ini:
Variabel Definisi Indikator Skala
Kualitas Kualitas pelayanan adalah 1. Bukti Fisik
Pelayanan tingkat keunggulan yang (Tangibles) 2. Keandalan
(X1) diharapkan dan (Reliability) 3. Daya
pengendalian atas tingkat Tanggap
keunggulan tersebut untuk (Responsiveness) 4. Likert
memenuhi keinginan Jaminan (Assurance) 5.
konsumen (Tjiptono, Empati (Empathy)
2019). (Parasuraman et al.,
1988)
Promosi Promosi adalah aktivitas 1. Periklanan
(X2) komunikasi untuk (Advertising) 2. Promosi
meningkatkan volume Penjualan (Sales
penjualan dengan pameran, Promotion) 3. Media
Likert
periklanan, demonstrasi, Sosial 4. Informasi yang
dan usaha lainnya yang Jelas (Kotler &
bersifat persuasif (Kotler & Armstrong, 2018)
Keller, 2016).
Harga (X3) Harga adalah sejumlah 1. Keterjangkauan Harga
uang yang ditagihkan atas 2. Kesesuaian Harga
suatu produk atau jasa, atau dengan Kualitas 3. Daya
jumlah dari nilai yang Saing Harga 4.
ditukar konsumen atas Kesesuaian Harga Likert
manfaat karena memiliki dengan Manfaat (Kotler
atau menggunakan produk & Keller, 2016)
atau jasa tersebut (Kotler &
Armstrong, 2018).
Kepuasan Kepuasan konsumen 1. Kesesuaian Harapan 2. Likert
Konsumen adalah tingkat perasaan Minat Berkunjung
(Y) seseorang setelah Kembali 3. Kesediaan
membandingkan kinerja Merekomendasikan 4.
atau hasil yang dirasakan Kepuasan Keseluruhan
dengan harapannya (Kotler (Tjiptono, 2019)
& Keller, 2016).
Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala Likert dengan 5 (lima)
alternatif jawaban, yaitu:
1. Sangat Setuju (SS) dengan skor 5 2. Setuju (S) dengan skor 4 3. Netral (N) dengan
skor 3 4. Tidak Setuju (TS) dengan skor 2 5. Sangat Tidak Setuju (STS) dengan skor
3.3 Populasi, Sampel, Besar Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2019). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh konsumen yang pernah membeli produk di Usaha
Kuliner Seblak 45 di Kota Demak. Jumlah populasi dalam penelitian ini tidak
diketahui secara pasti karena tidak terdapat data yang mencatat jumlah total
konsumen yang pernah berkunjung.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah
konsumen yang pernah membeli dan mengkonsumsi produk di Usaha Kuliner Seblak
45 di Kota Demak minimal 2 (dua) kali kunjungan. Kriteria ini ditetapkan agar
responden memiliki pengalaman yang cukup untuk dapat menilai kualitas pelayanan,
promosi, harga, dan memberikan penilaian terhadap kepuasan konsumen.
3.3.3 Besar Sampel
Karena jumlah populasi tidak diketahui secara pasti, maka penentuan jumlah sampel
dalam penelitian ini menggunakan rumus Lemeshow (dalam Riduwan & Kuncoro,
2017) sebagai berikut:
n = Z² × p × q / d²
Keterangan: n = Jumlah sampel Z = Tingkat kepercayaan (95% = 1,96) p = Estimasi
proporsi populasi (0,5) q = 1 - p (0,5) d = Tingkat kesalahan (0,10 atau 10%)
Berdasarkan rumus tersebut, maka perhitungan sampel adalah:
n = (1,96)² × 0,5 × 0,5 / (0,10)² n = 3,8416 × 0,25 / 0,01 n = 0,9604 / 0,01 n = 96,04
≈ 96 responden
Untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan dalam pengisian kuesioner dan
meningkatkan validitas hasil penelitian, maka jumlah sampel dibulatkan menjadi 100
responden.
3.3.4 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
non-probability sampling dengan metode
accidental sampling. Menurut Sugiyono (2019),
accidental sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu
siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
Kriteria responden yang dijadikan sampel adalah: 1. Konsumen yang sedang atau
pernah membeli produk di Usaha Kuliner Seblak 45 di Kota Demak 2. Konsumen
yang telah berkunjung minimal 2 (dua) kali 3. Berusia minimal 17 tahun (dianggap
sudah mampu memberikan penilaian yang objektif) 4. Bersedia menjadi responden
penelitian
3.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
langsung oleh peneliti dari sumber pertamanya (Indriantoro & Supomo,
2018). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari hasil pengisian
kuesioner oleh konsumen Usaha Kuliner Seblak 45 di Kota Demak mengenai
kualitas pelayanan, promosi, harga, dan kepuasan konsumen.
4. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (Indriantoro & Supomo, 2018).
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari studi pustaka berupa jurnal,
buku, artikel, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian,
serta data profil usaha dari Usaha Kuliner Seblak 45 di Kota Demak.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
5. Kuesioner (Angket) Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2019). Kuesioner
dalam penelitian ini berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan
kualitas pelayanan, promosi, harga, dan kepuasan konsumen. Kuesioner
menggunakan skala Likert dengan lima alternatif jawaban.
6. Studi Pustaka Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan
mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-
catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang
dipecahkan (Nazir, 2014). Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh
landasan teori dan referensi yang mendukung penelitian ini.
7. Dokumentasi Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara
mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian. Dalam
penelitian ini, dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data profil usaha,
foto lokasi penelitian, dan dokumen pendukung lainnya dari Usaha Kuliner
Seblak 45 di Kota Demak.
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
3.6.1 Uji Instrumen
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2018).
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Jika r
hitung > r tabel dan nilai positif maka butir atau pertanyaan atau indikator tersebut
dinyatakan valid.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator
dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika
jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu (Ghozali, 2018). Pengukuran reliabilitas menggunakan uji statistik Cronbach
Alpha (α). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha >
0,60.
3.6.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan
dalam penelitian ini layak atau tidak. Uji asumsi klasik yang dilakukan meliputi:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2018). Untuk menguji
normalitas data, penelitian ini menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi > 0,05.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen (Ghozali, 2018).
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai
Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai Tolerance > 0,10 dan nilai
VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel
independen dalam model regresi.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang
baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,
2018). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat menggunakan
uji Glejser. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.6.3 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, analisis regresi linier
berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan, promosi, dan
harga terhadap kepuasan konsumen. Persamaan regresi linier berganda dapat
dirumuskan sebagai berikut (Ghozali, 2018):
Y = a + b₁X₁ + b₂X₂ + b₃X₃ + e
Keterangan: Y = Kepuasan Konsumen a = Konstanta b₁, b₂, b₃ = Koefisien regresi
X₁ = Kualitas Pelayanan X₂ = Promosi X₃ = Harga e = Error (variabel pengganggu)
3.6.4 Uji Hipotesis
a. Uji t (Uji Parsial)
Uji t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen secara
parsial terhadap variabel dependen (Ghozali, 2018). Kriteria pengujian adalah: - Jika
nilai signifikansi < 0,05, maka Ha diterima (ada pengaruh signifikan) - Jika nilai
signifikansi > 0,05, maka Ha ditolak (tidak ada pengaruh signifikan)
b. Uji F (Uji Simultan)
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama-sama
(simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali, 2018). Kriteria pengujian adalah: -
Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ha diterima (ada pengaruh signifikan secara
simultan) - Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ha ditolak (tidak ada pengaruh
signifikan secara simultan)
3.6.5 Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua
informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali,
2018). Dalam penelitian ini menggunakan nilai Adjusted R Square karena lebih dapat
dipercaya dalam mengevaluasi model regresi, terutama ketika jumlah variabel
independen lebih dari satu.
DAFTAR PUSTAKA
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hawkins, D. I., & Lonney, D. L. (2007). Consumer Behavior: Building Marketing
Strategy (10th ed.). McGraw-Hill/Irwin.
Hidayat, R. (2019). Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Harga terhadap Kepuasan
Konsumen pada Restoran Cepat Saji di Jakarta. Jurnal Manajemen
Pemasaran, 13(2), 45-56.
Indriantoro, N., & Supomo, B. (2018). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi
dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2018). Principles of Marketing (17th ed.). Pearson
Education Limited.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2018). Principles of Marketing. 17th Edition. New
Jersey: Pearson Education.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson
Education, Inc.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. 15th Edition. New Jersey:
Pearson Education, Inc.
Lupiyoadi, R. (2013). Manajemen Pemasaran Jasa: Berbasis Kompetensi (Edisi 3).
Salemba Empat.
Monroe, K. B. (2003). Pricing: Making Profitable Decisions (3rd ed.). McGraw-Hill.
Nazir, M. (2014). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nugroho, A. (2023). Pengaruh Promosi Media Sosial dan Harga terhadap Kepuasan
Konsumen Generasi Milenial pada Usaha Kuliner di Bandung. Jurnal Bisnis
dan Kewirausahaan, 19(1), 78-92.
Parasuraman, A., Zeithaml, V. A., & Berry, L. L. (1988). SERVQUAL: A Multiple-
Item Scale for Measuring Consumer Perceptions of Service Quality. Journal
of Retailing, 64(1), 12-40.
Parasuraman, A., Zeithaml, V. A., & Berry, L. L. (1988). SERVQUAL: A Multiple-
Item Scale for Measuring Consumer Perceptions of Service Quality. Journal
of Retailing, 64(1), 12-40.
Pratama, D. (2021). Pengaruh Kualitas Pelayanan, Promosi, dan Harga terhadap
Kepuasan Konsumen pada Warung Makan di Yogyakarta. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis, 15(3), 112-125.
Rahmawati, S., & Susanto, E. (2022). Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap
Kepuasan Konsumen pada Industri Kuliner UMKM di Semarang. Jurnal
Manajemen UMKM, 10(2), 88-101.
Riduwan, & Kuncoro, E. A. (2017). Cara Menggunakan dan Memaknai Path
Analysis (Analisis Jalur). Bandung: Alfabeta.
Sari, D. P., & Wijaya, T. (2020). Pengaruh Promosi dan Harga terhadap Kepuasan
Konsumen pada Kafe di Surabaya. Jurnal Pemasaran Modern, 12(1), 34-48.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Swastha, B., & Irawan. (2008). Manajemen Pemasaran Modern (Edisi 2). Liberty
Yogyakarta.
Tjiptono, F. (2014). Pemasaran Jasa: Prinsip, Penerapan, dan Penelitian. Andi Offset.
Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran (Edisi 4). Andi Offset.
Tjiptono, F. (2019). Strategi Pemasaran. Edisi 4. Yogyakarta: Andi Offset.
Tjiptono, F., & Chandra, G. (2016). Service, Quality & Satisfaction (Edisi 4). Andi
Offset.
Zeithaml, V. A., Bitner, M. J., & Gremler, D. D. (2018). Services Marketing:
Integrating Customer Focus Across the Firm (7th ed.). McGraw-Hill
Education.