BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Peranan Air
Standar baku mutu kesehatan lingkungan untuk media air untuk
keperluan higiene sanitasi meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia yang
dapat berupa parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib
merupakan parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan
hanya diwajibkan untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan
adanya potensi pencemaran berkaitan dengan parameter [Link] untuk
keperluan higiene sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan kebersihan
perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan
pangan,peralatan makan, dan pakaian. Selain itu air untuk keperluan higiene
sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum (Kemenkes, RI, 2017).
Berdasarkan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 Parameter kimia untuk
kesadahan dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan yaitu sebesar
500 Mg/L.
B. Sumber Air
Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna, dan [Link]
dari hidrogen (H) dan Oksigen (O2) dengan rumus H2O. Air adalah semua air
yang terdapat pada diatas maupun dibawah permukaan tanah, termasuk dalam
pengertian air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di
darat(UUD, RI, NO. 7, 2004). Menurut (Sutrisno, 2010) sumber - sumber air
dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1. Air permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi.
Secara umum air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama
pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang - batang kayu, daun-daun
dan sebagainya. Air permukaan ada 2 macam, yakni: air sungai dan air
rawa/danau (Sutrisno, 2010).
a. Air sungai
Seacara penggunaannya sebagai air minum, haruslah
mengalamisuatu pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air
sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi
sekali. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air
minum pada umumnya dapat mencukupi (Sutrisno, 2010).
b. Air rawa/danau
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya
zat - zat organis yang telah membusuk, misalnya asam humus yang
larut dalam air yang menyebabkan warna kuning cokelat (Sutrisno,
2010).
2. Air hujan
Air hujan adalah airyang sangat bersih karena dengan adanya pengotoran
udara yang disebabkan oleh kotoran- kotoran industri/debu dan lainnya
dapat menyebabkan air hujan menjadi terkontaminasi. Maka dari itu
hendaknya jika ingin menjadikan air hujan sebagai sumber air minum,
jangan menampung air hujan pada saat hujan baru turun, karena masih
banyak mengandung kotoran (Sutrisno, 2010).
3. Air laut
Air laut ini mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl.
Kadar garam NaCl dalam air laut sebesar 3%. Dengan demikian untuk
menjadikan air laut sebagai sumber air bersih haruslah melalui
pengolahan khusus (Sutrisno, 2010).
4. Air tanah
Air tanah terbagi atas tiga macam, yaituair tanah dangkal, air
tanah dalam dan mata air (Sutrisno, 2010).
a. Air tanah dangkal
Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan
tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri,
sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat
kimia (garam-garam yang terlarut) karena melalui lapisan tanah yang
mempunyai unsure - unsur kimia tertentu untuk masing - masing
lapisan tanah. Lapis tanah di sini berfungsi sebagai saringan (Sutrisno,
2010).
b. Air tanah dalam
Kualitas dari air tanah dalam umumnya lebih baik dari air
dangkal, karena penyaringnya lebih sempurna dan bebas dari bakteri.
Susunan unsur - unsur kimia tergantung lapisan tanah yang dilalui.
Jika melalui tanah lumpur, maka air itu akan menjadi sadah, karena
mengandung Ca (HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Jika melalui batuan granit,
maka air itu lunak dan agresif karena mengandung gas CO2 dan Mn
(HCO3) (Sutrisno, 2010).
c. Mata air
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya dari
dalam tanah menuju permukaan. Mata air yang berasal dari tanah
dalam hampir tidak berpengaruh terhadap perubahan musim dan
kualitasnya sama dengan air dalam (Sutrisno, 2010). Menurut (Daud,
2007) dari segi hidrologi lapisan equifer sebagai sumber air tanah
terbagi duayaitu:
1) Lapisan equifer dangkal(dekat dengan permukaan air tanah)yang
memperoleh suplai langsung dari air hujan yang jatuh dari aliran
air hujan diatas permukaan tanah dan umumnya mempunyai
kedalaman kurang dari 50meter.
2) Lapisan equifer tertutup, umumnya jatuh lebih dalam dibatasi
oleh lapisan tanah yang kedap air (impermeable) dan airnya
diperoleh dari infiltrasi. Letaknya cukup jauh dibawah permukaan
tanah yaitu lebih dari 100meter.
Kualitas air tanah adalah dengan bermacam - macam debit kecil sampai debit
besar, karena hal ini sangat bergantung pada lapisan tiap lapisan tanah.
Khususnya air tanah dangkal dan mata air gravitasi seringkali dipengaruhi
oleh musim (Daud, 2007).
Kebutuhan kualitas air tanah di alam ini terjadi dengan dua cara, yaitu
berlangsung secara alami dan akibat perbuatan manusia. Perubahan kualitas
air secara alamiah terjadi sejalan dengan berlangsungnya proses hidrologi di
alam. Sebelum jatuh ke bumi, air hujan mempunyai kualitas sebagai air
suling/aquadest sebagai penguapan dengan bantuan sinar matahari. Di atas
permuakaan dan di dalam lapisan tanah, kualitas air akan berubah menurut
keadaan/kondisi tanah yang dilaluinya. Secara alamiah, perubahan kualitas
tersebut akan tergantung pada kondisi atau jenis tanah yang dilaluinya (Daud,
2007).
Perubahan kualitas air dapat terjadi karena adanya buangan bahan
organik ke dalam air tanah atau didefenisikan dengan berbagai cara, tetapi
pada dasarnya berawal pada konsentrasi yang cukup lama untuk
menimbulkan pengaruh tertentu di dalam air. Potensi kualitas air haruslah
didasarkan pada gambaran yang jelas mengenai berbagai sifat kuantitas air
yang dimiliki, dimana kualitas air itu digambarkan dalam sifat fisik, kimia,
dan bakteriologis (Daud, 2007).
Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel air sumur yang
bersumberdari air tanah.
A. Persyaratan Air
1. Kualitas air
Menurut (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017) Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum
apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan
radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan.
a. Syarat – syaratfisik
Secara fisik air minum harus dalam kondisi (Sutrisno, 2010):
1) Tidak boleh berwarna,
2) Tidak boleh berasa,
3) Tidak boleh berbau,
4) Air harus jernih,
5) Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk ±25oC).
b. Syarat - syarat kimiawi
Air minum tidak boleh mengandung bahan - bahan kimia dalam
jumlah yang melampaui batas. Beberapa bahan kimia tersebut antara
lain :
1) pH (asam) yang mempengaruhi proseskorosi,
2) Zat padat total (total solid) berasal dari residu padapenguapan,
3) Zat organik yang berasal dari alam,
4) CO2agresif yang berasal dari udara dan dekomposisi
zat organik,
5) Kalsium,
6) Besi,
7) Mangan,
8) Tembaga,
9) Seng,
10) Klorida,
11) Nitrit dan fluorida.
c. Syarat – syarat mikrobiologis
Air minum tidak boleh mengandung bakteri - bakteri penyakit
(patogen) sama sekali dan tak boleh mengandung bakteri golongan
coli melebihi batas - batas yang telah ditentukannya yaitu 1 Coli/100
ml air. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air diantaranya:
kuman-kuman thypus, kolera, disentri, entamoeba hystolotica dan
bakteri enteritis (penyakit perut) (Sutrisno, 2010)
d. Syarat - syarat radioaktif
Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan bahan-
bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma
(Sutrisno, 2010).
2. Kuantitas air
Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau
dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah
dan jumlah penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga
dapat ditinjau dari standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen
sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih (Sutrisno, 2010).
3. Kontinuitas air
Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan
fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun
musim hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus
tersedia 24 jam per hari, atau setiap saat diperlukan kebutuhan air
tersedia. Akan tetapi kondisi ideal tersebut tidak dapat dipenuhi pada
setiap wilayah di Indonesia, sehingga untuk menentukan tingkat
kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan cara pendekatan
aktivitas konsumen terhadap prioritas pemakaian [Link] pemakaian
air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam - jam aktivitas
kehidupan, yaitu pada pukul 06.00 - 18.00 yang tidak ditentukan.
Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari beberapa aspek, salah
satunya adalah kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen
memerlukan air untuk kehidupan dan pekerjaannya dalam jumlah yang
tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan dan fasilitas
energi yang siap setiap saat (Sutrisno, 2010).
B. Kesadahan
1. Pengertian Air sadah
International Standart of Drinking Water tahun 1971 dari(Gorchev
and Ozolins, 2004), Kesadahan air dinyatakan dalam satuan Milli-
Equivalent perliter (mEq/l), selain itu, 1 mEq/l dari ion penghasil
Kesadahan pada air sebanding dengan 50 mg CaCO3 (50 ppm) di dalam 1
liter air (Sumantri, 2010).
Air sadah adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung
kationpenyebab kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh
adanya logam - logam atau kation - kation yang bervalensi 2, seperti Fe,
Sr, Mn, Ca dan Mg, tetapi penyebab utama dari Kesadahan adalah
Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Kalsium dalam air mempunyai
kemungkinan bersenyawa dengan Bikarbonat, Sulfat, Khlorida dan Nitrat,
sementara itu Magnesium dalam air kemungkinan bersenyawa dengan
Bikarbonat, Sulfat dan Khlorida (Ruliasih, 2001).
Kesadahan merupakan salah satu parameter tentang kualitas air
bersih, karena kesadahan total menunjukan ukuran pencemaran air oleh
mineral-mineral terlarut seperti Ca2+ dan Mg2+. Menurut (Gorchev and
Ozolins, 2004), kesadahan adalah ukuran kapasitas air untuk bereaksi
dengan sabun, air sadah memerlukan banyak sabun dalam menghasilkan
busa (Manalu, 2013).
2. Jenis Kesadahan
Kesadahan pada prinsipnya terdiri dari dua jenis,yaitu:
a. Air Sadah Sementara
Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion
bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa
kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat
(Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa - senyawa
tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat
dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari
ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa
tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi
adalah:Ca(HCO3)2 (aq) → CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2(Sumantri,
2010).
b. Air SadahTetap
Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion
bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti
senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2),
kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium
klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat
(MgSO4). Air yang mengandung senyawa - senyawa tersebut disebut
air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya
dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari
kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan
mereaksikan air tersebut dengan zat - zat kimia tertentu. Pereaksi yang
digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3
(aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk
mengendapkan ion Ca2+ dan atauMg 2+.
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) → CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq)
+ K2CO3 (aq) → MgCO3 (s) + 2KNO3
Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut
telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air
tersebut telah terbebas dari kesadahan(Sumantri, 2010).
3. Karakteristik Kesadahan
Menurut (Sumantri, 2010) beberapa batasan kesadahan pada air adalah
sebagai berikut :
a. Lunak : <1 mEq/l (50 ppm)
b. Agak keras : 1-3 mEq/l (50-150 ppm)
c. Keras : 3-6 mEq/l (150-300 ppm)
d. Sangat keras : >6 mEq/l (>300 ppm)
4. Faktor Penyebab Kesadahan
Kesadahan air disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang
berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan
molekul. Elemen terbesar (major elemen) yang terkandung dalam air
adalah Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+), Natrium (Na+), dan Kalium
(K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-, HCO3, SO4-, Cl-,
NO3-, dan P-. Kadar mineral tersebut dalam tanah sangat bervariasi,
tergantung jenis tanahnya. Kandungan mineral inilah yang menentukan
parameter kekerasan air atau kesadahan air (Tancung, Adi Baso, 2007).
Menurut (Sudarmadji, 2014), kesadahan pada air ini dapat terjadi karena
air mengandung :
a. Persenyawaan dari kalsiumdan magnesium dengan Bikarbonat.
b. Persenyawaan dari Kalsium dan Magnesium dengan Sulfat, Nitrat,
dan Klorida.
c. Garam – garam Besi, Zink, dan Silika.
5. Dampak Kesadahan
Air untuk keperluan minum dan masak hanya diperbolehkan dengan
batasan kesadahan antara 1-3 ml Eq/l (50- 150 ppm). Konsumsi air yang
batas kesadahannya lebih dari 3 ml Eq/l (150 ppm) akan menimbulkan
kerugian - kerugian sebagai berikut:
a. Pemakaian sabun yang meningkat karena sabun sulit larut dan sulit
berbusa.
b. Air sadah bila didihkan akan membentuk endapan dan kerak pada
cerek (boiler).
c. Penggunaan bahan bakar menjadimeningkat, tidak efisien, dan dapat
meledakkan boiler.
d. Biaya produksi yang tinggi (high cost production) pada industri yang
menggunakan air sadah (Sudarmadji, 2014).
Dampak yang ditimbulkan akibat air sadah bagi kesehatan antara lain
adalah dapat menyebabkan cardiovascular desease (penyumbatan
pembuluh darah jantung) dan urolithiasis (batu ginjal)(Nyoman, Amri
and Harun, 2018).
6. Cara Mengatasi Kesadahan
Kesadahan pada air dapat dihilangkan. Metode yang dapat
digunakan untuk menghilangkan kesadahan tersebut(Sudarmadji, 2014),
antara lain :
a. Pemasakan
Pemasakan air menyebabkan terlepasnya atau dikeluarkannya
CO2 dari dalam air dan terbentuknya endapan CaCO3 yang tidak
terlarut(Sudarmadji, 2014).
Ca(HO3)2 →CaCO3 + H2O +CO2
Cara ini sangat mahal jika digunakan untuk skala yang besar.
b. Penambahan kapur
Penambahan kapur (Metode Clark) pada air yang sifat
kesadahannya sementara dapat mengabsorbsi CO2 dan mengendapkan
CaCO3 yang tidak terlarut. Untuk menghilangkan kesadahan
sementara kalsium, ditambahkan kapur. Reaksi yang terjadi
:Ca(HCO3)+Ca(O)2 CaCO3 + 2 H2O
Untuk menghilangkan kesadahan tetap kalsium, ditambahkan soda
abu. Reaksi yang terjadi :
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2 NaCl
Untuk menghilangkan kesadahan magnesium sementara, ditambahkan
kapur + kapur.
Tahap 1
Mg(HCO3)2 + Ca(OH)2 MgCO3 + CaCO3 + H2O.
Tahap 2 :
MgCO3+Ca(OH)2 Mg(OH)2 +CaCO3
Untuk menghilangkan kesadahan magnesium tetap ditambahkan
kapur + soda abu.
c. Penambahan Natrium Karbonat dapat menghilangkan kesadahan
sementara atau menetap reaksi berikut berlangsung di dalam
penambahan Natrium Karbonat :
Na2CO3+Ca(HCO3)2 2NaHCO3 + CaCO3
CaSO4+Na2CO3 CaCO3 +Na2SO4
d. Proses pertukaran basa (base exchange process)
Dalam melakukan pelunakan terhadap persediaan air ukuran besar,
digunakan proses permutit. Natrium Permutit merupakan
persenyawaan kompleks dari Natrium, Alumunium, dan Silika
(Na2Al, SiO, XH2O).
e. Pertukaran ion
Pada proses pertukaran ion, ion Kalsium dan Magnesium ditukar
dengan ion Sodium. Pertukaran ini berlangsung dengan cara
melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat dari
bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Terdapat
beberapa bahan penukar ion yaitu bahan penukar ion alam yang
disebut greensand atau zeolit, kemudian bahan penukar ion zeoilt
buatan (Ruliasih, 2001).
Dalam penelitian ini, untuk mengatasi kadar kesadahan atau
menurunkan kesadahan dengan cara pertukaran ion dengan bahan
filter zeolit.
C. Zeolit
1. Pengertian Zeolit
Kata “zeolit” berasal dari kata Yunani zein yang berarti membuih
dan lithos yang berarti batu. Zeolit merupakan mineral hasil tambang
yang bersifat lunak dan mudah kering. Warna dari zeolit adalah putih
keabu - abuan, putih kehijau - hijauan, atau putih kekuning - kuningan.
Ukuran kristal zeolit kebanyakan tidak lebih dari 10–15 mikron (Dwita
Srihapsari, 2006).
2. Struktur Zeolit
Menurut Barrer, Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit-unit
tetrahedral [AlO4] dan [SiO4] yang saling berhubungan melalui atom O.
Gambar [Link] Media Filter Zeolit (Weller, 1994)
Gambar 1. Kerangka Utama Zeolit
Dalam struktur tersebut Si4+ dapat diganti Al3+, sehingga rumus umum
komposisi zeolit dapat dinyatakan sebagai berikut :
Mx/n[(AlO2)x(SiO2)y]mH2O
Dimana :
n = Valensi kation M (alkali / alkali tanah)
x,y = Jumlah tetrahedron per unit sel
m = Jumlah molekul air per unit sel
M = Kation alkali / alkali tanah
Sedangkan struktur penyusun zeolit dapat dilihat sebagai
berikut :
Gambar 2. Struktur Penyusun Media Filter Zeolit(Weller, 1994)
3. Sifat-Sifat Zeolit
a. Dehidrasi
Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat
adsorsinya. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga
permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas kedalam rongga
utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan
diadsorbsi, jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori ruang
hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit tersebut
dipanaskan (Dwita Srihapsari, 2006).
b. Adsorbsi
Dalam keadaan normal ruang hampa dalam kristal zeolit terisi
oleh molekul air bebas yang berada di sekitar kation. Bila Kristal
zeolit dipanaskan pada suhu 30oC – 40oC maka air tersebut akan
keluar ion exchange sehingga zeolit dapat berfungsi sebagai penyerap
gas atau cairan. Selain mampu menyerap gas atau cairan, zeolit juga
mampu memisahkan molekul dan kepolarannya, meskipun ada 2
molekul atau lebih yang dapat melintas tetapi hanya sebuah saja yang
dapat lolos. Hal ini dikarenakan faktor selektivitas dari mineral zeolit
tersebut yang tidak ditemukan pada adsorbent padat lainnya (Dwita
Srihapsari, 2006).
c. Pertukaran ion (ion exchange)
Pertukaran ion adalah proses menghilangkan kation maupun
anion yang tidak dinginkan pada air buangan. Kation akan ditukar
oleh ion Hydrogen atau Natrium dan anion ditukar dengan ion-ion
Hidroksil.
Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk
menjaga kenetralan zeolit. Ion - ion ini dapat bergerak bebas sehingga
pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan
maupun jenis zeolitnya (Dwita Srihapsari, 2006).
d. Katalis
Ciri paling khusus dari zeolit yang secara praktis akan
menentukan sifat khusus mineral ini adalah adanya ruang kosong yang
akan membentuk saluran di dalam strukturnya. Bila zeolit digunakan
pada proses penyerapan atau katalis makaakan terjadi difusi molekul
ke dalam ruang bebas diantara kristal. Zeolit merupakan katalisator
yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan
yang maksimum (Dwita Srihapsari, 2006).
e. Penyaring atau pemisah
Meskipun banyak media berpori yang dapat digunakan sebagai
penyaring atau pemisah campuran uap atau cairan, tetapi distribusi
diameter dari pori-pori media tersebut tidak cukup efektif seperti
halnya penyaring molekular zeolit yang mampu memisahkan
campuran berdasarkan perbedaan ukuran, bentuk dan polaritas dari
molekul yang disaring. Zeolit dapat memisahkan molekul gas atau zat
lain dari suatu campuran tertentu karena mempunyai ruang hampa
yang cukup besar dengan garis tengah yang bermacam – macam
berkisar antara 2Ǻ hingga 8Ǻ, tergantung dari jenis zeolit (Dwita
Srihapsari, 2006).
4. Jenis – Jenis Zeolit
a. Zeolit alam
Mineral zeolit telah diketahui sejak tahun 1756 oleh ahli
mineralogi berkebangsaan Swedia bernama F.A.F Constedt. Di alam
banyak dijumpai zeolit dalam lubang-lubang batuan lava dan dalam
batuan sedimen terutama sedimen piroklastik halus. Telah diketahui
lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam, dari jumlah tersebut hanya
20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen
piroklastik (Dwita Srihapsari, 2006)
b. Zeolit Sintetis
Karena sifat zeolit yang unik yaitu susunan atom maupun
komposisinya dapat dimodifikasi, maka para peneliti berupaya untuk
membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan
keperluannya. Dari usaha itu dapat direkayasa bermacam-macam
zeolit sintetis, antara lain : Zeolit kadar Si rendah (kaya Al), Zeolit Si
sedang, Zeolit Si tinggi, Zeolit Si.
Dalam penelitian ini,jenis zeolit yang digunakan yaitu zeolit
alam.
5. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Filtrasi
Menurut (Kusnaedi, 2010), faktor - faktor yangmempengaruhi proses
filtrasi antara lain :
a. Debit
Debit aliran adalah laju aliran (dalam bentuk volume air) yang
melewati suatu penampung melintang persatuan waktu. Dalam sistem
satuan besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik
(m3/dt). Bila kecepatan aliran dan debit air meningkat maka efektifitas
penyaringan akan semakin turun. Kecepatan aliran air dan debit air
akan mempengaruhi kejenuhan(Kusnaedi, 2010).
b. Ketebalan Lapisan Filter
Lapisan adalah angka untuk ketebalan media filter yang
digunakan untuk filtrasi. Filtrasi dengan media penyaring tunggal atau
[Link] ada lapisan [Link] media sangat
mempengaruhi waktu kontak dan bahan penyaring. Semakin tebal
lapisan filter maka akan semakin lama waktu kontak air dengan
lapisan media filter, sehingga kualitas air hasil penyaringan semakin
baik (Kusnaedi, 2010).
c. Diameter Butiran Filter
Semakin kecil diameter butiran maka akan menyebabkan celah
antara butiran akan rapat sehingga kecepatan penyaringan semakin
pelan sehingga kulitas penyaringan semakin baik (Kusnaedi, 2010).
d. Lamanya Pemakaian Media Untuk Penyaringan
Semakin lama media yang digunakan maka semakin banyak
filter yang tertahan dalam media filter, sehingga media tersebut lama-
lama akan tersumbat atau jenuh, untuk itu perlu dilakukan pencucian
pada media filter (Kusnaedi, 2010).
e. Waktu Kontak
Waktu kontak merupakan lama waktu yang dibutuhkan oleh air
untuk bisa kontak dengan media filter. Waktu kontak yang digunakan
akan berpengaruh terhadap hasil filtrasi. Semakin lama waktu
kontakyang digunakan antara air dengan media filter maka kualitas air
setelah kegiatan filtrasi akan semakin membaik(Kusnaedi, 2010).
D. Kerangka KonsepPenelitian
Air Sumur diDusun Ngajaran
Sidomulyo dengan kadar
kesadahan tinggi
Tanpa Diolah Diolah
Kadar kesadahan tidak turun Sifat penjerap dengan
cara pertukaran ion
1. Tidak dapat di konsumsi
2. Kerugian secara teknik :mengakibatkan Menggunakan media filter zeolit
korosif dan pengkerakan. dengan ketebalan yaitu 40 cm, 50 cm,
3. Kerugian secara ekonomi :biaya 60 cm.
pergantian peralatan.
4. Kerugian bagi kesehatan :gangguan Efektivitas Ketebalan
pada hemoglobin darah, gangguan pada Zeolit
syaraf dan mengganggu sistem
pencernaan.
5. Kerugian secara fisik : air menjadi Penurunan kadar
keruh, bau Kesadahan(CaCO3)
Memenuhi syarat (Permenkes RI No.
32 Tahun 2017)
Aman untuk
digunakan
Keterangan :
= diteliti/diolah
= tidak diteliti/tidak diolah
Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian.
E. Hipotesis
1. Hipotesis Mayor
Ada ketebalan zeolit yang efektif untuk menurunkan kesadahan air.
2. Hipotesis Minor
a. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan
penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 40 cm.
b. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan
penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 50 cm.
c. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan
penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 60 cm.