0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan23 halaman

Chapter II

Dokumen ini membahas peranan air dalam higiene sanitasi, termasuk standar baku mutu yang meliputi parameter fisik, biologis, dan kimia. Sumber air dibagi menjadi air permukaan, hujan, laut, dan tanah, dengan penjelasan tentang kualitas dan jenis kesadahan air. Persyaratan kualitas air untuk keperluan minum mencakup syarat fisik, kimia, mikrobiologis, dan radioaktif yang harus dipenuhi.

Diunggah oleh

elisnoviana0001
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan23 halaman

Chapter II

Dokumen ini membahas peranan air dalam higiene sanitasi, termasuk standar baku mutu yang meliputi parameter fisik, biologis, dan kimia. Sumber air dibagi menjadi air permukaan, hujan, laut, dan tanah, dengan penjelasan tentang kualitas dan jenis kesadahan air. Persyaratan kualitas air untuk keperluan minum mencakup syarat fisik, kimia, mikrobiologis, dan radioaktif yang harus dipenuhi.

Diunggah oleh

elisnoviana0001
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Peranan Air

Standar baku mutu kesehatan lingkungan untuk media air untuk

keperluan higiene sanitasi meliputi parameter fisik, biologi, dan kimia yang

dapat berupa parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib

merupakan parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan parameter tambahan

hanya diwajibkan untuk diperiksa jika kondisi geohidrologi mengindikasikan

adanya potensi pencemaran berkaitan dengan parameter [Link] untuk

keperluan higiene sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan kebersihan

perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan

pangan,peralatan makan, dan pakaian. Selain itu air untuk keperluan higiene

sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum (Kemenkes, RI, 2017).

Berdasarkan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 Parameter kimia untuk

kesadahan dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan yaitu sebesar

500 Mg/L.

B. Sumber Air

Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna, dan [Link]

dari hidrogen (H) dan Oksigen (O2) dengan rumus H2O. Air adalah semua air

yang terdapat pada diatas maupun dibawah permukaan tanah, termasuk dalam
pengertian air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di

darat(UUD, RI, NO. 7, 2004). Menurut (Sutrisno, 2010) sumber - sumber air

dapat dibagi menjadi empat, yaitu :

1. Air permukaan

Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi.

Secara umum air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama

pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang - batang kayu, daun-daun

dan sebagainya. Air permukaan ada 2 macam, yakni: air sungai dan air

rawa/danau (Sutrisno, 2010).

a. Air sungai

Seacara penggunaannya sebagai air minum, haruslah

mengalamisuatu pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air

sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi

sekali. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air

minum pada umumnya dapat mencukupi (Sutrisno, 2010).

b. Air rawa/danau

Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya

zat - zat organis yang telah membusuk, misalnya asam humus yang

larut dalam air yang menyebabkan warna kuning cokelat (Sutrisno,

2010).

2. Air hujan

Air hujan adalah airyang sangat bersih karena dengan adanya pengotoran
udara yang disebabkan oleh kotoran- kotoran industri/debu dan lainnya

dapat menyebabkan air hujan menjadi terkontaminasi. Maka dari itu

hendaknya jika ingin menjadikan air hujan sebagai sumber air minum,

jangan menampung air hujan pada saat hujan baru turun, karena masih

banyak mengandung kotoran (Sutrisno, 2010).

3. Air laut

Air laut ini mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl.

Kadar garam NaCl dalam air laut sebesar 3%. Dengan demikian untuk

menjadikan air laut sebagai sumber air bersih haruslah melalui

pengolahan khusus (Sutrisno, 2010).

4. Air tanah

Air tanah terbagi atas tiga macam, yaituair tanah dangkal, air

tanah dalam dan mata air (Sutrisno, 2010).

a. Air tanah dangkal

Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan

tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri,

sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat

kimia (garam-garam yang terlarut) karena melalui lapisan tanah yang

mempunyai unsure - unsur kimia tertentu untuk masing - masing

lapisan tanah. Lapis tanah di sini berfungsi sebagai saringan (Sutrisno,

2010).

b. Air tanah dalam


Kualitas dari air tanah dalam umumnya lebih baik dari air

dangkal, karena penyaringnya lebih sempurna dan bebas dari bakteri.

Susunan unsur - unsur kimia tergantung lapisan tanah yang dilalui.

Jika melalui tanah lumpur, maka air itu akan menjadi sadah, karena

mengandung Ca (HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Jika melalui batuan granit,

maka air itu lunak dan agresif karena mengandung gas CO2 dan Mn

(HCO3) (Sutrisno, 2010).

c. Mata air

Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya dari

dalam tanah menuju permukaan. Mata air yang berasal dari tanah

dalam hampir tidak berpengaruh terhadap perubahan musim dan

kualitasnya sama dengan air dalam (Sutrisno, 2010). Menurut (Daud,

2007) dari segi hidrologi lapisan equifer sebagai sumber air tanah

terbagi duayaitu:

1) Lapisan equifer dangkal(dekat dengan permukaan air tanah)yang

memperoleh suplai langsung dari air hujan yang jatuh dari aliran

air hujan diatas permukaan tanah dan umumnya mempunyai

kedalaman kurang dari 50meter.

2) Lapisan equifer tertutup, umumnya jatuh lebih dalam dibatasi

oleh lapisan tanah yang kedap air (impermeable) dan airnya

diperoleh dari infiltrasi. Letaknya cukup jauh dibawah permukaan

tanah yaitu lebih dari 100meter.


Kualitas air tanah adalah dengan bermacam - macam debit kecil sampai debit

besar, karena hal ini sangat bergantung pada lapisan tiap lapisan tanah.

Khususnya air tanah dangkal dan mata air gravitasi seringkali dipengaruhi

oleh musim (Daud, 2007).

Kebutuhan kualitas air tanah di alam ini terjadi dengan dua cara, yaitu

berlangsung secara alami dan akibat perbuatan manusia. Perubahan kualitas

air secara alamiah terjadi sejalan dengan berlangsungnya proses hidrologi di

alam. Sebelum jatuh ke bumi, air hujan mempunyai kualitas sebagai air

suling/aquadest sebagai penguapan dengan bantuan sinar matahari. Di atas

permuakaan dan di dalam lapisan tanah, kualitas air akan berubah menurut

keadaan/kondisi tanah yang dilaluinya. Secara alamiah, perubahan kualitas

tersebut akan tergantung pada kondisi atau jenis tanah yang dilaluinya (Daud,

2007).

Perubahan kualitas air dapat terjadi karena adanya buangan bahan

organik ke dalam air tanah atau didefenisikan dengan berbagai cara, tetapi

pada dasarnya berawal pada konsentrasi yang cukup lama untuk

menimbulkan pengaruh tertentu di dalam air. Potensi kualitas air haruslah

didasarkan pada gambaran yang jelas mengenai berbagai sifat kuantitas air

yang dimiliki, dimana kualitas air itu digambarkan dalam sifat fisik, kimia,

dan bakteriologis (Daud, 2007).

Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel air sumur yang

bersumberdari air tanah.


A. Persyaratan Air

1. Kualitas air

Menurut (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017) Air untuk

Keperluan Higiene Sanitasi dapat digunakan sebagai air baku air minum

apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan

radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan.

a. Syarat – syaratfisik

Secara fisik air minum harus dalam kondisi (Sutrisno, 2010):

1) Tidak boleh berwarna,

2) Tidak boleh berasa,

3) Tidak boleh berbau,

4) Air harus jernih,

5) Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk ±25oC).

b. Syarat - syarat kimiawi

Air minum tidak boleh mengandung bahan - bahan kimia dalam

jumlah yang melampaui batas. Beberapa bahan kimia tersebut antara

lain :

1) pH (asam) yang mempengaruhi proseskorosi,

2) Zat padat total (total solid) berasal dari residu padapenguapan,

3) Zat organik yang berasal dari alam,

4) CO2agresif yang berasal dari udara dan dekomposisi


zat organik,

5) Kalsium,

6) Besi,

7) Mangan,

8) Tembaga,

9) Seng,

10) Klorida,

11) Nitrit dan fluorida.

c. Syarat – syarat mikrobiologis

Air minum tidak boleh mengandung bakteri - bakteri penyakit

(patogen) sama sekali dan tak boleh mengandung bakteri golongan

coli melebihi batas - batas yang telah ditentukannya yaitu 1 Coli/100

ml air. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air diantaranya:

kuman-kuman thypus, kolera, disentri, entamoeba hystolotica dan

bakteri enteritis (penyakit perut) (Sutrisno, 2010)

d. Syarat - syarat radioaktif

Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan bahan-

bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma

(Sutrisno, 2010).

2. Kuantitas air
Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau

dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat

digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah

dan jumlah penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga

dapat ditinjau dari standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen

sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih (Sutrisno, 2010).

3. Kontinuitas air

Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan

fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun

musim hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus

tersedia 24 jam per hari, atau setiap saat diperlukan kebutuhan air

tersedia. Akan tetapi kondisi ideal tersebut tidak dapat dipenuhi pada

setiap wilayah di Indonesia, sehingga untuk menentukan tingkat

kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan cara pendekatan

aktivitas konsumen terhadap prioritas pemakaian [Link] pemakaian

air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam - jam aktivitas

kehidupan, yaitu pada pukul 06.00 - 18.00 yang tidak ditentukan.

Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari beberapa aspek, salah

satunya adalah kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen

memerlukan air untuk kehidupan dan pekerjaannya dalam jumlah yang

tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan dan fasilitas

energi yang siap setiap saat (Sutrisno, 2010).


B. Kesadahan

1. Pengertian Air sadah

International Standart of Drinking Water tahun 1971 dari(Gorchev

and Ozolins, 2004), Kesadahan air dinyatakan dalam satuan Milli-

Equivalent perliter (mEq/l), selain itu, 1 mEq/l dari ion penghasil

Kesadahan pada air sebanding dengan 50 mg CaCO3 (50 ppm) di dalam 1

liter air (Sumantri, 2010).

Air sadah adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung

kationpenyebab kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh

adanya logam - logam atau kation - kation yang bervalensi 2, seperti Fe,

Sr, Mn, Ca dan Mg, tetapi penyebab utama dari Kesadahan adalah

Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Kalsium dalam air mempunyai

kemungkinan bersenyawa dengan Bikarbonat, Sulfat, Khlorida dan Nitrat,

sementara itu Magnesium dalam air kemungkinan bersenyawa dengan

Bikarbonat, Sulfat dan Khlorida (Ruliasih, 2001).

Kesadahan merupakan salah satu parameter tentang kualitas air

bersih, karena kesadahan total menunjukan ukuran pencemaran air oleh

mineral-mineral terlarut seperti Ca2+ dan Mg2+. Menurut (Gorchev and

Ozolins, 2004), kesadahan adalah ukuran kapasitas air untuk bereaksi

dengan sabun, air sadah memerlukan banyak sabun dalam menghasilkan

busa (Manalu, 2013).


2. Jenis Kesadahan

Kesadahan pada prinsipnya terdiri dari dua jenis,yaitu:

a. Air Sadah Sementara

Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion

bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa

kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat

(Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa - senyawa

tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat

dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari

ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa

tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi

adalah:Ca(HCO3)2 (aq) → CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2(Sumantri,

2010).

b. Air SadahTetap

Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion

bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti

senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2),

kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium

klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat

(MgSO4). Air yang mengandung senyawa - senyawa tersebut disebut

air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya


dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari

kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan

mereaksikan air tersebut dengan zat - zat kimia tertentu. Pereaksi yang

digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3

(aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk

mengendapkan ion Ca2+ dan atauMg 2+.

CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) → CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq)

+ K2CO3 (aq) → MgCO3 (s) + 2KNO3

Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut

telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air

tersebut telah terbebas dari kesadahan(Sumantri, 2010).

3. Karakteristik Kesadahan

Menurut (Sumantri, 2010) beberapa batasan kesadahan pada air adalah

sebagai berikut :

a. Lunak : <1 mEq/l (50 ppm)

b. Agak keras : 1-3 mEq/l (50-150 ppm)

c. Keras : 3-6 mEq/l (150-300 ppm)

d. Sangat keras : >6 mEq/l (>300 ppm)

4. Faktor Penyebab Kesadahan

Kesadahan air disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang

berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan
molekul. Elemen terbesar (major elemen) yang terkandung dalam air

adalah Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+), Natrium (Na+), dan Kalium

(K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-, HCO3, SO4-, Cl-,

NO3-, dan P-. Kadar mineral tersebut dalam tanah sangat bervariasi,

tergantung jenis tanahnya. Kandungan mineral inilah yang menentukan

parameter kekerasan air atau kesadahan air (Tancung, Adi Baso, 2007).

Menurut (Sudarmadji, 2014), kesadahan pada air ini dapat terjadi karena

air mengandung :

a. Persenyawaan dari kalsiumdan magnesium dengan Bikarbonat.

b. Persenyawaan dari Kalsium dan Magnesium dengan Sulfat, Nitrat,

dan Klorida.

c. Garam – garam Besi, Zink, dan Silika.

5. Dampak Kesadahan

Air untuk keperluan minum dan masak hanya diperbolehkan dengan

batasan kesadahan antara 1-3 ml Eq/l (50- 150 ppm). Konsumsi air yang

batas kesadahannya lebih dari 3 ml Eq/l (150 ppm) akan menimbulkan

kerugian - kerugian sebagai berikut:

a. Pemakaian sabun yang meningkat karena sabun sulit larut dan sulit

berbusa.

b. Air sadah bila didihkan akan membentuk endapan dan kerak pada

cerek (boiler).

c. Penggunaan bahan bakar menjadimeningkat, tidak efisien, dan dapat


meledakkan boiler.

d. Biaya produksi yang tinggi (high cost production) pada industri yang

menggunakan air sadah (Sudarmadji, 2014).

Dampak yang ditimbulkan akibat air sadah bagi kesehatan antara lain

adalah dapat menyebabkan cardiovascular desease (penyumbatan

pembuluh darah jantung) dan urolithiasis (batu ginjal)(Nyoman, Amri

and Harun, 2018).

6. Cara Mengatasi Kesadahan

Kesadahan pada air dapat dihilangkan. Metode yang dapat

digunakan untuk menghilangkan kesadahan tersebut(Sudarmadji, 2014),

antara lain :

a. Pemasakan

Pemasakan air menyebabkan terlepasnya atau dikeluarkannya

CO2 dari dalam air dan terbentuknya endapan CaCO3 yang tidak

terlarut(Sudarmadji, 2014).

Ca(HO3)2 →CaCO3 + H2O +CO2

Cara ini sangat mahal jika digunakan untuk skala yang besar.

b. Penambahan kapur

Penambahan kapur (Metode Clark) pada air yang sifat

kesadahannya sementara dapat mengabsorbsi CO2 dan mengendapkan

CaCO3 yang tidak terlarut. Untuk menghilangkan kesadahan

sementara kalsium, ditambahkan kapur. Reaksi yang terjadi


:Ca(HCO3)+Ca(O)2 CaCO3 + 2 H2O

Untuk menghilangkan kesadahan tetap kalsium, ditambahkan soda

abu. Reaksi yang terjadi :

CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4

CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2 NaCl

Untuk menghilangkan kesadahan magnesium sementara, ditambahkan

kapur + kapur.

Tahap 1

Mg(HCO3)2 + Ca(OH)2 MgCO3 + CaCO3 + H2O.

Tahap 2 :

MgCO3+Ca(OH)2 Mg(OH)2 +CaCO3

Untuk menghilangkan kesadahan magnesium tetap ditambahkan

kapur + soda abu.

c. Penambahan Natrium Karbonat dapat menghilangkan kesadahan

sementara atau menetap reaksi berikut berlangsung di dalam

penambahan Natrium Karbonat :

Na2CO3+Ca(HCO3)2 2NaHCO3 + CaCO3

CaSO4+Na2CO3 CaCO3 +Na2SO4

d. Proses pertukaran basa (base exchange process)

Dalam melakukan pelunakan terhadap persediaan air ukuran besar,

digunakan proses permutit. Natrium Permutit merupakan

persenyawaan kompleks dari Natrium, Alumunium, dan Silika


(Na2Al, SiO, XH2O).

e. Pertukaran ion

Pada proses pertukaran ion, ion Kalsium dan Magnesium ditukar

dengan ion Sodium. Pertukaran ini berlangsung dengan cara

melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat dari

bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Terdapat

beberapa bahan penukar ion yaitu bahan penukar ion alam yang

disebut greensand atau zeolit, kemudian bahan penukar ion zeoilt

buatan (Ruliasih, 2001).

Dalam penelitian ini, untuk mengatasi kadar kesadahan atau

menurunkan kesadahan dengan cara pertukaran ion dengan bahan

filter zeolit.

C. Zeolit

1. Pengertian Zeolit

Kata “zeolit” berasal dari kata Yunani zein yang berarti membuih

dan lithos yang berarti batu. Zeolit merupakan mineral hasil tambang

yang bersifat lunak dan mudah kering. Warna dari zeolit adalah putih

keabu - abuan, putih kehijau - hijauan, atau putih kekuning - kuningan.

Ukuran kristal zeolit kebanyakan tidak lebih dari 10–15 mikron (Dwita

Srihapsari, 2006).

2. Struktur Zeolit

Menurut Barrer, Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit-unit


tetrahedral [AlO4] dan [SiO4] yang saling berhubungan melalui atom O.

Gambar [Link] Media Filter Zeolit (Weller, 1994)


Gambar 1. Kerangka Utama Zeolit
Dalam struktur tersebut Si4+ dapat diganti Al3+, sehingga rumus umum

komposisi zeolit dapat dinyatakan sebagai berikut :

Mx/n[(AlO2)x(SiO2)y]mH2O

Dimana :

n = Valensi kation M (alkali / alkali tanah)

x,y = Jumlah tetrahedron per unit sel

m = Jumlah molekul air per unit sel

M = Kation alkali / alkali tanah

Sedangkan struktur penyusun zeolit dapat dilihat sebagai

berikut :

Gambar 2. Struktur Penyusun Media Filter Zeolit(Weller, 1994)


3. Sifat-Sifat Zeolit

a. Dehidrasi

Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat

adsorsinya. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga

permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas kedalam rongga

utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan

diadsorbsi, jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori ruang

hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit tersebut

dipanaskan (Dwita Srihapsari, 2006).

b. Adsorbsi

Dalam keadaan normal ruang hampa dalam kristal zeolit terisi

oleh molekul air bebas yang berada di sekitar kation. Bila Kristal

zeolit dipanaskan pada suhu 30oC – 40oC maka air tersebut akan

keluar ion exchange sehingga zeolit dapat berfungsi sebagai penyerap

gas atau cairan. Selain mampu menyerap gas atau cairan, zeolit juga

mampu memisahkan molekul dan kepolarannya, meskipun ada 2

molekul atau lebih yang dapat melintas tetapi hanya sebuah saja yang

dapat lolos. Hal ini dikarenakan faktor selektivitas dari mineral zeolit

tersebut yang tidak ditemukan pada adsorbent padat lainnya (Dwita

Srihapsari, 2006).

c. Pertukaran ion (ion exchange)

Pertukaran ion adalah proses menghilangkan kation maupun


anion yang tidak dinginkan pada air buangan. Kation akan ditukar

oleh ion Hydrogen atau Natrium dan anion ditukar dengan ion-ion

Hidroksil.

Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk

menjaga kenetralan zeolit. Ion - ion ini dapat bergerak bebas sehingga

pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan

maupun jenis zeolitnya (Dwita Srihapsari, 2006).

d. Katalis

Ciri paling khusus dari zeolit yang secara praktis akan

menentukan sifat khusus mineral ini adalah adanya ruang kosong yang

akan membentuk saluran di dalam strukturnya. Bila zeolit digunakan

pada proses penyerapan atau katalis makaakan terjadi difusi molekul

ke dalam ruang bebas diantara kristal. Zeolit merupakan katalisator

yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan

yang maksimum (Dwita Srihapsari, 2006).

e. Penyaring atau pemisah

Meskipun banyak media berpori yang dapat digunakan sebagai

penyaring atau pemisah campuran uap atau cairan, tetapi distribusi

diameter dari pori-pori media tersebut tidak cukup efektif seperti

halnya penyaring molekular zeolit yang mampu memisahkan

campuran berdasarkan perbedaan ukuran, bentuk dan polaritas dari

molekul yang disaring. Zeolit dapat memisahkan molekul gas atau zat
lain dari suatu campuran tertentu karena mempunyai ruang hampa

yang cukup besar dengan garis tengah yang bermacam – macam

berkisar antara 2Ǻ hingga 8Ǻ, tergantung dari jenis zeolit (Dwita

Srihapsari, 2006).

4. Jenis – Jenis Zeolit

a. Zeolit alam

Mineral zeolit telah diketahui sejak tahun 1756 oleh ahli

mineralogi berkebangsaan Swedia bernama F.A.F Constedt. Di alam

banyak dijumpai zeolit dalam lubang-lubang batuan lava dan dalam

batuan sedimen terutama sedimen piroklastik halus. Telah diketahui

lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam, dari jumlah tersebut hanya

20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen

piroklastik (Dwita Srihapsari, 2006)

b. Zeolit Sintetis

Karena sifat zeolit yang unik yaitu susunan atom maupun

komposisinya dapat dimodifikasi, maka para peneliti berupaya untuk

membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan

keperluannya. Dari usaha itu dapat direkayasa bermacam-macam

zeolit sintetis, antara lain : Zeolit kadar Si rendah (kaya Al), Zeolit Si

sedang, Zeolit Si tinggi, Zeolit Si.

Dalam penelitian ini,jenis zeolit yang digunakan yaitu zeolit

alam.
5. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Proses Filtrasi

Menurut (Kusnaedi, 2010), faktor - faktor yangmempengaruhi proses

filtrasi antara lain :

a. Debit

Debit aliran adalah laju aliran (dalam bentuk volume air) yang

melewati suatu penampung melintang persatuan waktu. Dalam sistem

satuan besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik

(m3/dt). Bila kecepatan aliran dan debit air meningkat maka efektifitas

penyaringan akan semakin turun. Kecepatan aliran air dan debit air

akan mempengaruhi kejenuhan(Kusnaedi, 2010).

b. Ketebalan Lapisan Filter

Lapisan adalah angka untuk ketebalan media filter yang

digunakan untuk filtrasi. Filtrasi dengan media penyaring tunggal atau

[Link] ada lapisan [Link] media sangat

mempengaruhi waktu kontak dan bahan penyaring. Semakin tebal

lapisan filter maka akan semakin lama waktu kontak air dengan

lapisan media filter, sehingga kualitas air hasil penyaringan semakin

baik (Kusnaedi, 2010).

c. Diameter Butiran Filter

Semakin kecil diameter butiran maka akan menyebabkan celah

antara butiran akan rapat sehingga kecepatan penyaringan semakin

pelan sehingga kulitas penyaringan semakin baik (Kusnaedi, 2010).


d. Lamanya Pemakaian Media Untuk Penyaringan

Semakin lama media yang digunakan maka semakin banyak

filter yang tertahan dalam media filter, sehingga media tersebut lama-

lama akan tersumbat atau jenuh, untuk itu perlu dilakukan pencucian

pada media filter (Kusnaedi, 2010).

e. Waktu Kontak

Waktu kontak merupakan lama waktu yang dibutuhkan oleh air

untuk bisa kontak dengan media filter. Waktu kontak yang digunakan

akan berpengaruh terhadap hasil filtrasi. Semakin lama waktu

kontakyang digunakan antara air dengan media filter maka kualitas air

setelah kegiatan filtrasi akan semakin membaik(Kusnaedi, 2010).


D. Kerangka KonsepPenelitian

Air Sumur diDusun Ngajaran


Sidomulyo dengan kadar
kesadahan tinggi

Tanpa Diolah Diolah

Kadar kesadahan tidak turun Sifat penjerap dengan


cara pertukaran ion

1. Tidak dapat di konsumsi


2. Kerugian secara teknik :mengakibatkan Menggunakan media filter zeolit
korosif dan pengkerakan. dengan ketebalan yaitu 40 cm, 50 cm,
3. Kerugian secara ekonomi :biaya 60 cm.
pergantian peralatan.
4. Kerugian bagi kesehatan :gangguan Efektivitas Ketebalan
pada hemoglobin darah, gangguan pada Zeolit
syaraf dan mengganggu sistem
pencernaan.
5. Kerugian secara fisik : air menjadi Penurunan kadar
keruh, bau Kesadahan(CaCO3)

Memenuhi syarat (Permenkes RI No.


32 Tahun 2017)

Aman untuk
digunakan
Keterangan :

= diteliti/diolah
= tidak diteliti/tidak diolah
Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian.
E. Hipotesis

1. Hipotesis Mayor

Ada ketebalan zeolit yang efektif untuk menurunkan kesadahan air.

2. Hipotesis Minor

a. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan

penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 40 cm.

b. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan

penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 50 cm.

c. Ada penurunan kadar kesadahan sebelum dan setelah dilakukan

penyaringan menggunakan zeolit dengan ketebalan 60 cm.

Anda mungkin juga menyukai