0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan21 halaman

Pemicu 3 "Gigi Sari Yang Berlubang" BLOK 15 (Restorative Dentistry I)

Dokumen ini membahas kasus seorang anak berusia 6 tahun dengan gigi berlubang, termasuk hasil pemeriksaan klinis dan diagnosis karies. Selain itu, dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies pada anak, seperti kebiasaan menyikat gigi, pengetahuan anak dan orang tua, serta penghasilan keluarga. Terdapat juga penjelasan mengenai alergi yang perlu ditanyakan sebelum tindakan restorasi gigi dilakukan.

Diunggah oleh

Naura permata sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan21 halaman

Pemicu 3 "Gigi Sari Yang Berlubang" BLOK 15 (Restorative Dentistry I)

Dokumen ini membahas kasus seorang anak berusia 6 tahun dengan gigi berlubang, termasuk hasil pemeriksaan klinis dan diagnosis karies. Selain itu, dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies pada anak, seperti kebiasaan menyikat gigi, pengetahuan anak dan orang tua, serta penghasilan keluarga. Terdapat juga penjelasan mengenai alergi yang perlu ditanyakan sebelum tindakan restorasi gigi dilakukan.

Diunggah oleh

Naura permata sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMICU 3

“Gigi Sari yang berlubang”


BLOK 15 ( Restorative Dentistry I )

Oleh :
Naura Permata Sari
180600062
Kelas B
Kelompok 10

Fasilitator : Fitri Yunita B,drg.,MDSc.,[Link]

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
PEMICU 4

Nama Pemicu : Gigi Sari yang berlubang

Penyusun : Ami Angela Harahap, drg., Sp. KGA, MSc,

Irma Ervina, drg.,[Link](K), Astrid Yudith, drg., [Link]

Hari/ Tanggal : Rabu / 23 September 2020.

Skenario :

Seorang anak perempuan usia 6 tahun dibawa ibunya ke RSGM FKG USU untuk
memeriksakan giginya yang banyak berlubang. Ini merupakan kunjungan pertama ke dokter
gigi. Hasil anamnese, anak bersekolah di PAUD “X”. Kebiasaan makan dan minum diluar
jam makan utama anak, rata-rata 3 kali perhari dan anak tidak menyukai sayuran dan buah-
buahan. Anak sudah teratur menyikat gigi pada usia 3 tahun pada waktu mandi sore dan
menjelang tidur malam, lama sikat gigi hanya kira-kira 1 menit. Keadaan umum anak: berat
badan 16,5 kg dan tinggi badan 106 cm. Anak merupakan anak normal, tidak mempunyai
alergi dan kategori fisik anak adalah ASA I. Hasil pemeriksaan klinis diperoleh gingiva
inflamasi dan kemerahan hampir diseluruh regio belakang, skor debris 1,5 dan skor kalkulus
0,67. Lidah terlihat lapisan tipis pseduomembran putih kekuningan pada bagian dorsal lidah,
Hubungan oklusi gigi molar permanen Klas I Angle. Diagnosis gigi 85 karies di oklusal,
karies mencapai pulpa, vitalitas (+), perkusi dan palpasi (-), di permukaan oklusal. Gigi 84,
karies di oklusal dan lingual, karies mencapai dentin. Gigi 75, keluhan terkadang ngilu jika
makan es, karies mencapai dentin dipermukaan oklusal dan lingual. Gigi 74, 65 tidak ada
keluhan, karies mencapai dentin dipermukaan oklusal. Gigi 64, karies mencapai dentin di
permukaan oklusal dan distal. Gigi 46 terlihat pit dan fisur dalam. Dokter gigi berencana akan
melakukan perawatan pada anak.
Produk / Pertanyaan :

1. Hitung BMI dan BMI percentile anak berdasarkan CDC growth charts, dan
anak termasuk pada kategori mana?
Jawab : Body Mass Index (BMI) atau Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah
satu indek pengukuran status gizi yang biasa digunakan untuk mengukur status gizi
usia remaja dan dewasa. Penilaian status gizi dengan BMI atau IMT adalah nilai dari
perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. BMI atau IMT
dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh
seseorang. BMI atau IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi
penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung
lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry. BMI
atau IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah
serta metode skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.

BMI = berat badan (kg) / (tinggi badan (m))2

Skor BMI Keterangan

> 18,5 Kurang

18,5 – 22,9 Normal

23 – 29,9 Berlebih

> 30 Obesitas

Sedangkan CDC Growth Charts adalah grafik yang digunakan dalam


penentuan tingkat status gizi dan tumbuh kembang anak. Grafik pertumbuhan WHO
adalah standar internasional yang menunjukkan bagaimana anak yang sehat
seharusnya tumbuh secara normal. Standar ini menjelaskan pertumbuhan anak yang
tinggal di enam negara (termasuk Amerika Serikat) di lingkungan yang diyakini
mendukung secara optimal pertumbuhan. Salah satu dari beberapa kriteria yang
ditetapkan untuk pertumbuhan optimal adalah kondisi menyusui. Grafik pertumbuhan
WHO menggunakan pertumbuhan bayi yang disusui sebagai patokan untuk
pertumbuhan. Grafik ini sesuai dengan pedoman internasional yang
merekomendasikan menyusui sebagai metode pemberian makan bayi yang optimal.
Terdapat beberapa grafik yang disesuaikan dengan umur anak yang diperiksa.
Untuk kasus di atas, diketahui berat badan anak adalah 16,5 kg, dan memiliki
tinggi badan yaitu 106 cm. Dari data tersebut dapat diketahui BMI dengan cara
menggunakan rumus di atas.

BMI = BB(Kg) / TB(m)2

= 16,5 / (1,06)2

= 16, 5 / 1,1236

BMI = 14, 66

Untuk BMI pasien anak memiliki hasil yaitu 14, 66 yang dapat dikatakan
bahwa berat anak tersebut KURANG.

Untuk penilaian BMI Percentile CDC Growth Charts dapat dilihat pada grafik
dibawah ini
Dari hasil CDC 200 diketahui bawah anak tersebut termasuk ke dalam
kategori GIZI KURANG (MODER M) dengan persentase 70% - 80%.

Sumber : Kuczmarski, R.J. & Ogden, Cynthia & Grummer-Strawn, Laurence &
Flegal, Katherine & Guo, S.S. & Wei, R & Mei, Z & Curtin, L.R. & Roche, A.F. &
Johnson, C.L.. (2000). CDC growth charts: United States. Advance data. 8. 1-27.

2. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies pada anak!

Jawab : Faktor resiko karies dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu, faktor primer dan
faktor modifikasi. Faktor primer adalah faktor biologis yang secara langsung
memengaruhi biofilm, seperti saliva, efek buffer, komposisi saliva, jumlah,
konsistensi, efek cleansing, diet, bentuk anatomi gigi, frekuensi serta jumlah makanan
dan asupan fluoride. Faktor modifikasi yaitu faktor-faktor yang secara tidak langsung
mempengaruhi biofilm, seperti status sosio ekonomi, lifestyle, riwayat dental dan
riwayat medis. Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas biofilm serta
terjadinya karies.
Berbeda dengan gigi permanen, maka pada gigi sulung karies paling banyak
ditemukan pada permukaan mesial, diikuti oleh permukaan distal, atau dengan kata
lain permukaan proksimal lebih banyak mengalami kerusakan dibandingkan dengan
permukaan oklusal pada gigi sulung. Hal ini berhubungan dengan faktor diet dan
kebersihan mulut. Anak usia 6-7 tahun cenderung lebih banyak mengkonsumsi
makanan yang kariogenik dan bersifat lengket, makanan menempel terutama pada
sela-sela gigi, namun tidak dibersihkan setiap hari dengan baik. Anak usia ini
cenderung belum dapat melakukan pemeliharaan kebersihan mulut secara baik dan
teratur, sehingga sisa makanan yang terperangkap pada sela-sela gigi mengalami
dekomposisi dan menurunkan pH di sekitar gigi tersebut sehingga lambat laun akan
mengakibatkan demineralisasi enamel gigi yang dapat membentuk kavitas. Selain itu
gigi sulung pada masa ini sudah erupsi lebih lama dibandingkan gigi permanen,
sehingga kerusakan yang dialami cenderung lebih parah.

Adapun faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya karies pada anak, yaitu :

a. kebiasaan menyikat gigi

kebiasaan menyikat gigi yang buruk dapat mempengaruhi terjadinya karies.


Masalah menyikat gigi bukan hanya tentang berapa kali menyikat gigi dalam sehari,
tapi lebih mengenai akan pentingnya menggosok gigi dalam mencegah gigi berlubang
serta kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tua dalam menanamkan
kebiasaan menggosok gigi yang baik. Dengan terciptanya kebiasaan menyikat gigi
dengan baik dan benar, secara alami salah satu faktor karies pada anak akan
berkurang.

b. Pengetahuan anak

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui adanya hubungan antara pengetahuan


anak dengan kejadian karies gigi. Hal tersebut disebabkan karena seorang anak yang
memiliki pengetahuan yang baik sebagian besar mengetahui waktu-waktu yang tepat
dan baik untuk menggosok gigi sehingga hal tersebut diterapkan oleh responden
dalam kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut yang


diberikan kepada anak sangatlah penting karena dalam membentuk sikap dan
kebiasaan yang baik pada anak untuk mencegah terjadinya karies dan penyakit yang
lain. Seorang ibu harusnya memberikan edukasi yang baik terhadap anaknya,
sehingga anak tersebut dapat menerapkan pola hidup yang sehat demi menjaga
kebersihan gigi dan mulutnya.

c. Pendidikan Dan Pengetahuan Ibu

Hasil penelitian Wigen dan Wang (2009) menunjukkan adanya hubungan


antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian karies gigi pada anak dengan OR
sebesar 2,1 yang berarti bahwa tingkat pendidikan ibu merupakan faktor resiko
terjadinya karies gigi dan anak yang mempunyai ibu dengan tingkat pendidikan yang
rendah memiliki peluang 2,1 kali lebih besar untuk terkena karies gigi dibandingkan
anak yang mempunyai ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Hal tersebut
disebabkan karena sebagian besar ibu yang memiliki pengetahuan yang rendah kurang
mengetahui mengenai cara memelihara dan merawat gigi anak dengan baik dan benar
serta ketidaktahuan dampak dari gigi berlubang terhadap tumbuh kembang anak
membuat ibu tidak pernah memanfaatkan kesehatan gigi untuk pemeliharaan
kesehatan gigi anak kecuali terjadi ketanggalan pada gigi anak. Selain itu, ibu dengan
pendidikan yang rendah sebagian besar kurang memperhatikan kondisi kesehatan gigi
anak bahkan tidak mengajak anak untuk menggosok gigi secara teratur.

Menurut Chemiawan et. al (2004), kurangnya pengetahuan orang tua


mengenai kesehatan gigi dan mulut pada anak menyebabkan anak tidak dibiasakan
untuk melakukan penyikatan gigi sejak dini oleh orang tua sehingga tidak adanya
motivasi dan kesadaran dari anak untuk memelihara kebersihan serta kesehatan gigi
dan mulut.

d. Penghasilan Keluarga

Penghasilan orang tua tidak terlalu menjadi faktor yang begitu penting dalam
pengaruh terhadap tejadinya karies pada anak. Karena penghasilan keluarga dapat
menjadikan nilai positif maupun negatif terhadap terjadinya karies pada anak.
Misalnya saja, pada keluarga yang memiliki jumlah penghasilan yang cukup besar,
kemungkinan uang jajan yang diberikan pada anak juga lebih banyak dibanding anak
dengan penghasilan keluarga rendah. Dengan lebih banyaknya uang yang ia punya,
maka ia dapat membeli makanan manis, makanan yang menjadi faktor terjadinya
karies. Namun, jika penghasilan keluarga juga besar, keluarga tersebut dapat
membawa anak ke dokter gigi untuk memeriksa gigi anak secara berkala, dan dapat
membeli makanan kaya akan gizi yang baik untuk anak. Faktor ini sangat erat
kaitannya dengan faktor pengetahuan ibu dan anak, serta tingkat pendidikan ibu.

Sumber :

1. Suwelo, Ismu Suharsono. Karies Gigi pada Anak dengan Pelbagai Faktor
Etiologi. Jakarta: EGC. 1992.

2. Schouc, L dan Uitenbroek, D. Social and Behavioural Indicators of Caries


Experience in 5-year-old Children, Community Denstistry and Oral
epidemiology, vol. 23, no. 5, pp. 276-281.

3. Jelaskan alergi apa saja yang harus ditanyakan kepada anak dan orangtua dan
jelaskan hubungannya dengan tindakan perawatan restorasi yang akan
dilakukan

Jawab : Reaksi alergi menjadi lazim di populasi umum dan bahan yang digunakan
untuk dental filling, instrumen ortodontik, dan lain-lain harus memenuhi spesifikasi
biokompatibilitas karena diindikasikan untuk waktu yang lama di dalam rongga
mulut. Kasus pertama alergi logam gigi terjadi akibat restorasi amalgam dalam rongga
mulut yang mengakibatkan stomatitis dan dermatitis di sekitar anus (Fleischmann
1928). Reaksi alergi terwujud dalam bentuk urtikaria, bengkak, ruam dan rhinorrhea
yang juga dapat menyebabkan kondisi darurat seperti edema laring, anafilaksis dan
aritmia jantung.

Alergi kontak dari rongga mulut merupakan reaksi hipersensitivitas yang


dimediasi oleh sel T (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis bervariasi mulai
dari rasa terbakar, rasa sakit dan kekeringan mukosa sampai stomatitis dan cheilitis
tidak spesifik. Berikut beberapa pertanyaan tentang alergi yang berkaitan dengan
restorasi pada anak :

a. Alergi terhadap material resin komposit

Meskipun bahan restoratif berbasis resin dianggap aman, konstituen mereka


dapat terlepas keluar dan menyebabkan alergi. Monomer MMA dinyatakan sebagai
penyebab utama dari dermatitis alergi pada dokter gigi dan teknisi laboratorium gigi.
Terdapat dua mekanisme utama yang dapat menyebabkan pelepasan zat dari bahan
polimer: pertama monomer bebas dan / atau aditif dielusi oleh pelarut setelah setting,
kedua kebocoran komponen disebabkan oleh degradasi atau erosi dari waktu ke
waktu. Degradasi polimer dapat disebabkan oleh hidrolisis atau katalisis enzim.
Secara umum, degradasi polimer didefinisikan sebagai proses pemotongan rantai
selama rantai polimer dibelah menjadi oligomer dan dalam kasus khusus akhirnya
menjadi monomer, sedangkan erosi adalah hilangnya bahan dari polimer.

b. Fissure Sealent

Bahan resin komposit gigi dan pit and fissure sealant memiliki komposisi
dasar yang sama, yang mencakup bis-glisidil dimetakrilat (Bis-GMA), urethane
dimetakrilat (UDMA) dan Triethylene glycol dimetakrilat (TEGDMA). Bisphenol-A
(BPA) bukan merupakan bahan yang langsung terdapat pada sealant gigi, melainkan
merupakan bahan kimia yang muncul dalam produk akhir hanya ketika bahan baku
gagal untuk bereaksi sepenuhnya. Ketika konversi monomer selama proses kuring
dari sealant tidak lengkap, monomer sisa itu dapat larut dari cured resin. BPA
diketahui dapat mengikat reseptor estrogen dan menyebabkan gangguan dalam
metabolisme.

c. Alergi Terhadap Merkuri Terkait dengan Restorasi Amalgam

Merkuri dilepaskan dari amalgam gigi terutama dalam bentuk uap merkuri.
Paparan merkuri dari restorasi amalgam gigi terjadi melalui beberapa cara: udara
intraoral yang mengandung uap merkuri dari amalgam gigi dapat terhirup; partikel
amalgam gigi dapat terkelupas dari permukaan restorasi karena mengalami keausan
mekanis atau dapat dihasilkan selama penempatan atau penggantian restorasi, partikel
terkelupas dari restorasi dapat ikut masuk dalam proses pencernaan; melalui air liur
berupa merkuri anorganik produk korosi maupun elemen merkuri terlarut yang dapat
ditelan. 3 Merkuri dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas tipe IV atau dermatitis
kontak pada beberapa pasien yang mungkin telah sensitif terhadap merkuri. Ini dapat
bermanifestasi intraoral sebagai reaksi lichenoid atau ekstraoral berupa ruam dan
gatal-gatal pada leher, wajah dan permukaan lentur anggota badan.

Reaksi paling umum untuk amalgam adalah perkembangan lesi lichenoid oral
(OLL) melibatkan mukosa dalam kontak langsung dengan restorasi amalgam. OLL
umumnya merupakan hipersensitivitas tipe IV. Hipersensitivitas tipe IV sering disebut
hipersensitivitas tipe lambat sebagai reaksi yang membutuhkan waktu yang lama dan
dalam hal ini bisa bulan hingga tahun. OLL disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap
amalgam biasanya memiliki hubungan anatomis yang jelas untuk tambalan gigi
amalgam, biasanya lesi unilateral dan tidak simetris. Paling sering terlihat pada
mukosa bukal dan lidah dimana meliputi lapisan mukosa yang kontak dengan
restorasi. Gingiva, palatum, atau dasar mulut, yang jauh dari restorasi jarang terkena.

d. Alergi Terhadap Sarung Tangan Lateks

Lateks mengandung berbagai jenis protein, di antaranya adalah enzimenzim


yang berperan dalam proses polimerisasi isoprena menjadi senyawa hidrokarbon
rubber (enzim transferase karet), protein yang dapat menyebabkan alergi (protein
alergen), dan beberapa protein lain yang berfungsi untuk memantapkan elastisitas
rubber. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, protein tersebut dapat menyebabkan
reaksi alergi bagi pengguna yang sensitive.

Paparan terhadap rubber latex natural dapat menimbulkan tiga sindroma klinis
yang berbeda yaitu dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi, danreaksi
hipersensitivitas tipe I. Dermatitis kontak iritan merupakan efek sitotoksik lokal
langsung dari bahan iritan, baik secara fisik maupun kimia, bersifat tidak spesifik
pada sel-sel epidermis dengan respon peradangan dalam waktu dan konsentrasi yang
cukup. Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang disebabkan oleh reaksi
hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan-bahan kimia yang kontak dengan kulit
dan dapat mengaktivasi reaksi alergi. Reaksi hipersensitivitas tipe I biasanya
disebabkan kontak langsung dengan produk lateks dan inhalasi partikel powder
sarung tangan lateks.

e. Alergi Terhadap Anestesi Lokal

Alergi dari anastesi local paling sering disebabkan oleh anastesi jenis ester
yang menghasilkan antigenicagent p-aminobenzoic acid saat dipecah dalam tubuh.
Kebanyakan reaksi yang dianggap allergi ternyata merupakan reaksi psikogenik
maupun sinkop vasovagal. Jadi dokter gigi harus bisa membedakan reaksi anafilaktik
dengan penyebab kolaps kardiovaskular lainnya.

Reaksi alergi yang sebenarnya dapat diperiksa menggunakan skin test. Yaitu
injeksi sedikit obat anastesi secara subkutan untuk melihat apakah ada reaksi lokal.
Tetapi perlu diketahui juga bahwa tes ini tidak 100% akurat.
Reaksi anafilaksis terhadap anastesi local dipengaruhi beberapa factor. Selain
alergi, reaksi ini juga dipengaruhi penyakit kardiovaskular, penyalahgunaan obat,
asma maupun penyakit respirasi lainnya, dan rendahnya kadar vitamin D.

Sumber :
1. Chantiora Yua. Alergi Penggunaan Natural Rubber Latex (NRL) Pada Kedokteran
Gigi Anak. 2012.
2. Sporcic Z, Paranos S. Allergy to a tooth devitalizing material. Allergy 2001;56:
249.
3. Simonsen RJ. Pit and fissure sealant. Pediatric Dentistry. 2002; 24(5): 393- 414.
4. Mousavinasab SM. Biocompatibility of composite resins. Dent Res J (Isfahan).
2011 Dec; 8(1): 21-29

4. Hitung skor OHI-S anak, dan jelaskan klasifikasi penyakit gingiva pada anak,
dan sebutkan diagnosis serta diagnosis banding pada kasus diatas!

Jawab : Pengukuran kebersihan gigi dan mulut menurut Green dan Vermilion (dalam
Putri, Herijulianti, dan Nurjanah, 2012), dapat menggunakan index yang dikenal
dengan Oral Hygiene Index (OHI) dan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S).
Awalnya index ini digunakan untuk menilai penyakit peradangan gusi dan penyakit
periodontal, akan tetapi dari kata yang diperoleh ternyata kurang berarti atau
bermakna, oleh karena itu index ini hanya digunakan untuk mengukur tingkat
kebersihan gigi dan mulut dan menilai efektivitas dari menyikat gigi.

Debris index merupakan nilai (skor) yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
terhadap endapan lunak di permukaan gigi yang dapat berupa plak, material alba, dan
food debris, sedangkan calculus index merupakan nilai (skor) dari endapan keras yang
terjadi akibat pengendapan garam-garam anorganik yang komposisi utamanya adalah
kalsium karbonat dan kalsium posfat yang bercampur dengan debris, mikroorganisme,
dan sel-sel ephitel deskuamasi (Putri, Herijulianti, dan Nurjanah, 2012).

Menurut Green dan Vermilion (dalam Putri, Herijulianti, dan Nurjanah, 2012),
kriteria penilaian debris dan calculus sama, yaitu mengikuti ketentuan sebagai berikut:

a. Baik : jika nilainya antara 0-0,6

b. Sedang : jika nilainya antara 0,7-1,8


c. Buruk : jika nilainya antara 1,9-3,0

Sedangkan OHI-S mempunyai kriteria tersendiri, yaitu mengikuti ketentuan


sebagai berikut :

a. Baik : jika nilainya antara 0-1,2

b. Sedang : jika nilainya antara 1,3-3,0

c. Buruk : jika nilainya antara 3,1-6,0

Pada kasus diketahui bahwa pasien anak memiliki skor debris 1,5 dan skor
kalkulus 0,67. Untuk mendapatkan Skor OHI-S maka menggunakan rumus:

Skor OHI-S = Debris Index (DI) + Calculus Index (CI)

Skor OHI-S Pasien = 1,5 + 0,67

= 2,1

Dengan hasil tersebut maka, Skor OHI-S pasien anak 2,1 dengan kategori
penilaian SEDANG.

Untuk kelainan pada gusi anak tersebut adalah Gingivitis, Gingivitis adalah
peradangan pada jaringan gingiva karena adanya akumulasi plak dan kalkulus pada
bagian supra dan sub gingiva. Gejala klinis gingivitis adalah kemerahan, pembesaran
jaringan gingiva, dan perdarahan bila ada stimulus seperti menggosok gigi. Dampak
gingivitis dapat berupa permasalahan kurang gizi, berat badan bayi lahir rendah,
penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes, hingga infeksi pada jaringan paru.

Pada anak seperti pada dewasa, penyebab utama gingivitis adalah


dental plak yang berhubungan dengan kebersihan mulut yang buruk. Hubungan
antara plak dan indeks gingiva masih lemah dan belum jelas. Meskipun gingivitis
sangat sering terjadi pada anak, namun tidak seberat apa yang ditemukan
pada orang dewasa. Kondisi kebersihan mulut serupa menghasilkan keparahan
penyakit yang berbeda antara anak dan dewasa.

Diagnosa yang tepat untuk pasien anak tersebut adalah Gingivitis Marginalis
Kronis. Gingivitis marginalis kronis, merupakan suatu peradangan gusi pada daerah
margin yang banyak dijumpai pada anak, ditandai dengan perubahan warna, ukuran
konsistensi, dan bentuk permukaan gusi. Penyebab peradangan gusi pada anak-anak
sama seperti pada dewasa, yang paling umum yaitu disebabkan oleh penimbunan
bakteri plak. Perubahan warna dan pembengkakan gusi merupakan gambaran umum
terjadinya gingivitis kronis.

Diagnosa banding dari Gingivitis Marginalis Kronis adalah Eruption


Gingivitis. Eruption gingivitis, merupakan gingivitis yang terjadi di sekitar gigi yang
sedang erupsi dan berkurang setelah gigi tumbuh sempurna dalam rongga mulut,
sering terjadi pada anak usia 6-7 tahun ketika gigi permanen mulai erupsi. Eruption
gingivitis lebih berkaitan dengan akumulasi plak daripada dengan perubahan jaringan
(Carranza, 2002). McDonald dan Avery (2004) mengatakan bahwa gingivitis dapat
berkembang karena pada tahap awal erupsi gigi, margin gusi tidak mendapat
perlindungan dari mahkota sehingga terjadi penekanan makanan di daerah tersebut
yang menyebabkan proses peradangan. Selain itu sisa makanan, materia alba, dan
bakteri plak sering terdapat di sekitar dan di bawah jaringan bebas, sebagian meliputi
mahkota gigi yang sedang erupsi hal ini mengakibatkan peradangan.

Sumber :

1. Newman M, Takei H, Klokkevold P, Carranza F. Carranza’s Clinical


Periodontology. 11th Editi. Carranza F, Forrest J, Kenney B, Novak J, Preshaw P,
Takei H, et al., editors. Missou: Elsevier Saunders; 2012. 28- 32 p.

2. Richardson, E. R. 1979. Periodontal Diseases in Children and Adolescent: State of


The Art. Tennesse.

5. Jelaskan etiologi dan pathogenesis terjadinya inflamasi gingiva di daerah


posterior kasus tersebut!

Jawab : Penyebab paling umum dari gingivitis adalah kebersihan mulut yang buruk.
Kebersihan mulut yang buruk memungkinkan plak menumpuk di antara gingiva dan
gigi; gingivitis tidak terjadi di daerah tak bergigi. Iritasi akibat plak memperdalam
celah normal antara gigi dan gingiva, menciptakan kantong gingiva. Kantong ini
mengandung bakteri yang dapat menyebabkan radang gusi dan karies akar. Faktor
lokal lainnya, seperti maloklusi, kalkulus gigi, impaksi makanan, kerusakan gigi
restorasi, dan xerostomia, memainkan peran sekunder. Penyebab gingivitis yang
diinduksi plak adalah plak bakteri, yang beraksi untuk memicu respons tubuh. Plak
terakumulasi di celah-celah kecil di antara gigi, di alur gingiva dan di area yang
dikenal sebagai perangkap plak: lokasi yang berfungsi untuk menumpuk dan
mempertahankan plak. Contoh perangkap plak termasuk tepi restorasi yang besar dan
menjorok, penjepit gigi palsu sebagian lepasan, dan kalkulus (karang gigi) yang
terbentuk pada gigi. Meskipun akumulasi ini mungkin kecil, bakteri di dalamnya
menghasilkan bahan kimia, seperti enzim pengurai, dan racun, seperti lipopolisakarida
(LPS, atau dikenal sebagai endotoksin) atau asam lipoteikoat (LTA), yang
meningkatkan respons peradangan pada jaringan gusi. Peradangan ini dapat
menyebabkan pembesaran gingiva dan pembentukan selanjutnya. Patogenesis
inflamasi gingiva bermula dari biofilm plak yang menyebabkan sebagian besar cedera
pada jaringan periodontal melalui mekanisme tidak langsung yang bergantung pada
inisiasi dan penyebaran reaksi inflamasi jaringan host. Perkembangan gingivitis
terutama disebabkan oleh infiltrasi jaringan ikat oleh banyak sel pertahanan, terutama
neutrofil, makrofag, sel plasma, dan limfosit. Akumulasi sel-sel pertahanan ini dan
pelepasan ekstraseluler dari enzim destruktif mereka menyebabkan kerusakan kolagen
dan proliferasi epitel junctional yang selanjutnya menyebabkan vasodilatasi,
peningkatan permeabilitas vaskular, dan jaringan gingiva hiperplastik. Secara klinis
tampak sebagai gingiva eritematosa dan edematosa.
Sumber :

1. Porter RS, Kaplan JL. The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. 19 th
ed. Whitehouse Station: MSD, 2011:622.
2. Preethanath RS, Ibraheem WI, Anil A. Pathogenesis of gingivitis. Oral
Diseases 2020:1-19. DOI: [Link]

6. Jelaskan diagnosis karies dan rencana perawatan awal dan akhir pada kasus
tersebut kemudian susunlah rencana kunjungan (ingat bahwa ini adalah
kunjungan pertama anak ke dokter gigi.

Jawab : Diagnosis karies untuk tiap gigi adalah sebagai berikut:


 Gigi 85 karies di oklusal mencapai pulpa, vitalitas (+), perkusi dan palpasi (-),
termasuk K3 V.
 Gigi 84 karies di oklusal dan lingual mencapai dentin, di termasuk K2.
 Gigi 75 karies di oklusal dan lingual mencapai dentin dengan keluhan ngilu,
termasuk K2.
 Gigi 74 dan 65 karies di oklusal mencapai dentin, termasuk K2.
 Gigi 64 karies di oklusal dan distal mencapai dentin, termasuk K2.
 Gigi 46 terdapat pit dan fisur dalam.
Mengingat ini adalah kunjungan pertama anak, dokter gigi dapat melakukan
pemeriksaan saja untuk anak agar mengenali lingkungan praktik dokter gigi.
Pemeriksaan mencakupi ekstra oral dan intra oral serta anamnesis. Riwayat klinis
harus diambil dengan cara yang logis dan sistematis untuk pasien. Pengambilan
riwayat secara menyeluruh memakan waktu dan membutuhkan latihan. Namun, ini
adalah kesempatan untuk mengenal anak dan keluarga. Lebih jauh, riwayat
memfasilitasi diagnosis berbagai kondisi, bahkan sebelum pemeriksaan langsung.
Setelah selesai, segera rencanakan kunjungan berikutnya untuk dilakukan perawatan.
Rencana perawatan awal dan akhir untuk tiap gigi adalah sebagai berikut:
 Gigi 85 perawatan awal dilakukan pulpotomi dan perawatan akhir dilakukan
pemasangan PMC.
 Gigi 84, 75, 74, 65, 64 tidak ada perawatan awal dan perawatan akhir
dilakukan restorasi dengan RMGIC.
 Gigi 46 perawatan akhir dilakukan fissure sealant dengan GIC.
Rencana kunjungan adalah sebagai berikut:
 Kunjungan pertama: Pengenalan dokter gigi dan lingkungan klinik, anamnesis,
pemeriksaan.
 Kunjungan ke-2: Perawatan gigi 85 dan 84.
 Kunjungan ke-3: Perawatan gigi 75 dan 74.
 Kunjungan ke-4: Perawatan gigi 65, 64, dan 46.
 Catatan: kunjungan dan jadwal perawatan dapat berubah tergantung dengan
sikap anak dan dapat berlanjut ke kunjungan ke-5.

Sumber : Buku American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on periodicity


of examination, preventive dental services, anticipatory guidance/counseling, and oral
treatment for infants, children, and adolescents. Pediatr Dent 2013;35(5):E148-56.
7. Jelaskan alasan pemilihan bahan restorasi pada semua rencana perawatan yang
anda pilih dibandingkan dengan bahan lain

Jawab: Pemilihan bahan yang akan digunakan dalam situasi tertentu tidak selalu
sederhana dan tidak boleh hanya berdasarkan pertimbangan teknis. Faktor selain
durabilitas mungkin sama pentingnya dalam pemilihan bahan, terutama pada anak-
anak. Di sini dokter gigi juga memikirkan umur yang berpengaruh pada tingkat
kooperatif anak dan risiko karies. Dalam pengambilan keputusan klinis, memilih
bahan restorasi akan bergantung pada kemampuan profesional, individualitas, dan
keinginan pasien. Faktor-faktor seperti kebutuhan estetika, teknik yang ramah,
aktivitas karies, jenis substrat, dan rongga yang akan direstorasi juga harus
dipertimbangkan dalam pemilihan material restoratif. Ionomer gelas atau GIC terdiri
dari gelas basa dan bubuk asam yang larut dalam air yang terbentuk melalui reaksi
asam-basa antara dua komponen. Manfaat utama GIC adalah dapat melekat secara
kimiawi pada jaringan keras gigi. Semen ionomer kaca modifikasi resin atau RMGIC
dikembangkan untuk mengatasi masalah sensitivitas kelembaban dan kekuatan
mekanik awal yang rendah. RMGIC terdiri dari GIC bersama dengan sistem resin
berbasis air yang memungkinkan fotopolimerisasi terjadi sebelum reaksi asam-basa
dari ionomer kaca selesai. Reaksi ini kemudian terjadi dalam kerangka resin
terpolimerisasi cahaya. Resin meningkatkan kekuatan fraktur dan ketahanan aus GIC.
GIC modifikasi resin dibuat sebagai bahan restoratif dan pelapis untuk digunakan
pada gigi primer dan permanen. Mahkota untuk geraham sulung adalah jenis restorasi
yang sudah dibentuk sebelumnya dan tersedia dalam berbagai ukuran dan bahan
untuk ditempatkan di atas gigi yang mengalami karies atau cacat perkembangan.
Mahkota dapat dibuat sepenuhnya dari baja tahan karat yang dikenal sebagai PMC
(preformed metal crown) atau, untuk memberikan estetika yang lebih baik, dapat
dibuat dari baja tahan karat dengan penutup veneer putih atau seluruhnya dibuat dari
bahan keramik putih. Dalam kebanyakan kasus, gigi dipangkas agar mahkota
dipasang secara konvensional menggunakan anestesi lokal. Mahkota
direkomendasikan untuk merestorasi gigi molar sulung yang telah menjalani
perawatan pulpa, sangat membusuk, atau rusak parah. Dalam kasus indikasi Hall
Technique (HT), PMC disemen menggunakan GIC di atas gigi berkaries tanpa
anestesi lokal, diikuti pengangkatan jaringan karies atau preparasi gigi. Ini menyegel
biofilm kariogenik di bawah mahkota, menahan proses karies. Penelitian telah
melaporkan tingkat kelangsungan hidup HT yang tinggi, dengan hasil tingkat
keberhasilan 98% dan 95% setelah evaluasi 1 tahun dan 48 bulan. Bahan yang dipilih
untuk setiap gigi yang bermasalah antara lain: PMC untuk gigi 85; RMGIC untuk gigi
84, 74, 75, 64, 65; fissure sealant GIC untuk 46. PMC digunakan untuk gigi yang
sudah karies mencapai pulpa, RMGIC digunakan karena kemampuannya melepaskan
fluoride, dan fissure sealant GIC karena hal yang sama.

Sumber :
1. Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry. Edinburgh: Mosby
Elsevier, 2013:79-83.
2. Leal SC, Takeshita EM. Pediatric Restorative Dentistry. Cham: Switzerland,
2019:162-5.

8. Jelaskan tahapan preparasi pada gigi 64, 74, dan gigi 65 serta penggunaan
instrumentasi yang digunakan!
Jawab :

Karena gigi 64, 74, dan 65 dilakukan perawatan yang sama, maka preparasi untuk
ketiga gigi juga sama. Tahapan kerja termasuk preparasinya sebagai berikut:
 Anestesi lokal dan isolasi rubber-dam harus digunakan jika diperlukan.
 Garis besar kavitas harus mengikuti luasnya lesi karies.
 Hapus semua karies lunak menggunakan bur bulat lambat atau dengan
instrumen tangan. Waspadai ruang pulpa yang besar karena pulpa molar
primer mudah terekspos.
 Saat memasang GIC, prakondisikan dentin menggunakan asam poliakrilat
10% selama 10 detik, lalu cuci dan keringkan. Saat menggunakan kompomer,
biasanya gigi yang telah disiapkan tidak perlu dikondisikan, namun primer
pengikat dentin harus digunakan sesuai petunjuk pabrik.
 Saat menggunakan bahan yang dienkapsulasi, pastikan bahwa kapsul
dikompresi setidaknya selama 3 detik untuk memfasilitasi pencampuran yang
memadai dari komponen bubuk dan cairan. Setelah pencampuran selama 10
detik dalam amalgamator, buang 3–4 mm pertama dari bahan yang telah
tercampur, karena ini seringkali tidak memuaskan. Tempatkan sisanya
langsung ke dalam kavitas.
 Setelah bahan yang relatif tebal ditempatkan ke dalam kavitas, kompresi
dengan ball burnisher, mencelupkan ujungnya sedikit ke dalam bahan bonding
atau resin yang tidak terisi akan mencegah bahan tersebut menempel pada
instrumen.
 Restorasi akhir harus dilindungi dari kontaminasi kelembaban. Hal ini paling
baik dicapai dengan menempatkan lapisan tipis resin tidak terisi di atas
permukaan dan melakukan polimerisasi selama 20 detik. Pada anak kecil
dengan masalah manajemen perilaku, penggunaan Vaseline mungkin lebih
cocok.
 Oklusi harus diperiksa saat melepas bendungan karet.

Sumber : Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry. Edinburgh:


Mosby Elsevier, 2013:84-5.

9. Jelaskan bagaimana tahapan pekerjaan rencana perawatan final yang akan


dilakukan pada gigi 85 (beserta alat dan bahan).
Jawab :

Anestesi lokal harus digunakan saat memasang PMC secara konvensional karena
adanya pemanipulasian jaringan lunak. Rubber dam, meskipun terkadang sulit
dipasang pada gigi yang rusak harus digunakan jika memungkinkan. Tahapan
kerjanya sebagai berikut:
 Restorasikan gigi menggunakan GIC atau compomer sebelum persiapan untuk
PMC.
 Pangkas permukaan oklusal sekitar 1,5 mm menggunakan diamond bur
berbentuk api atau meruncing. Reduksi oklusal yang seragam akan
memfasilitasi penempatan mahkota tanpa mengganggu oklusi.
 Dengan menggunakan diamond bur yang halus, panjang, dan meruncing, yang
ditahan agak konvergen ke sumbu panjang gigi, potong irisan interproksimal
secara mesial dan distal. Pengurangan harus memungkinkan probe melewati
bidang kontak.
 Reduksi bukolingual harus dijaga seminimal mungkin, karena permukaan ini
penting untuk retensi. Namun, reduksi mungkin diperlukan bila telah terjadi
kehilangan ruang proksimal yang signifikan atau fitur anatomi, seperti cusp
Carabelli yang menonjol.
 Ukuran yang tepat dari mahkota yang telah berkontur dipilih dengan
mengukur lebar mesiodistal.
 Uji coba dilakukan sebelum sementasi. Mahkota harus berada tidak lebih dari
1 mm secara subgingiva. Jika terjadi pemucatan jaringan gingiva yang
berlebihan, panjang mahkota harus dikurangi dan tepi harus dihaluskan
dengan batu putih.
 Sementasi mahkota dengan GIC. Jika mahkota telah dibuat sebelum
penempatan mahkota, semen pengikat ionomer kaca dapat digunakan, jika
tidak GIC restoratif harus digunakan. Hati-hati saat memegang mahkota
karena dapat dengan mudah jatuh selama penempatan. Kelebihan semen harus
dibersihkan dan lapisan Vaseline ditempatkan di sekitar tepi saat semen
mengeras.
 Minta pasien menggigit mahkota hingga oklusi. Jangan gunakan stik gigitan
atau kapas. Menggigit tongkat gulung atau gigitan akan menciptakan hipo-
oklusi dan mengubah kedudukan mahkota. Ketika semen mencapai keadaan
gel, dokter gigi mulai membuang bahan berlebih secara proksimal dan
subgingivial. Ini dapat dicapai dengan instrumen ukiran dan benang gigi.
Bersihkan area interproksimal untuk menghilangkan kelebihan semen. Harap
diingat bahwa waktu sangat penting karena semen mengeras dengan cepat.
Untuk anak yang susah diajak kooperatif dapat digunakan teknik Hall. Teknik ini
digunakan tanpa anestesi lokal.
 Radiografi pra-prosedur dan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan
adanya kelainan pulpa. Kelainan pulpa adalah kontraindikasi.
 Pemisah ortodontik dapat dipasang pada pertemuan sebelumnya, untuk
memudahkan penempatan mahkota.
 Anak harus duduk tegak atau setengah berbaring, tetapi tidak terlentang dan
kain kasa dapat digunakan untuk melindungi jalan pernapasan.
 Gigi bisa dibersihkan dengan sikat gigi dan jika diinginkan karies yang kotor
dapat dihilangkan dengan hand excavator.
 Mahkota baja tahan karat dipilih, yang akan dipasang di atas gigi tanpa
preparasi apa pun.
 Sebuah semen GIC ditempatkan di mahkota yang akan digigit oleh anak.
 Kelebihan semen dapat dicuci atau diseka, sebelum mengeras.

Sumber : Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry. Edinburgh:


Mosby Elsevier, 2013:86-89.

10. Jelaskan kapan kontrol berkala anak setelah seluruh perawatan selesai
dilakukan! (berdasarkan penentuan risiko karies pada anak berdasarkan
CAMBRA).

Jawab :

Meskipun pasien anak sudah melewati batas usia 5 tahun, dokter gigi masih dapat
menggunakan CAMBRA Caries Risk Assessment Tool for ages 0 to 5 years
dikarenakan anak masih berumur 6 tahun dan juga tidak pernah mengunjungi dokter
gigi sebelumnya. Dalam penentuan risiko ini, ada tiga tabel sebagai berikut:
 Tabel pertama terdapat indikator penyakit dari pemeriksaan klinis seperti
karies gigi yang jelas serta bila terdapatnya restorasi sebelumnya. Jika tabel ini
terdapat jawaban “iya” maka pasien dikatakan berisiko tinggi.
 Tabel kedua terdapat faktor biologis atau lingkungan serta faktor biologis dari
pemeriksaan klinis. Faktor biologis atau lingkungan mencakup pengemilan
snack (3 kali sehari atau lebih), menggunakan botol untuk minuman selain
susu atau air, ibu memiliki riwayat karies, keluarga termasuk ke dalam sosial-
ekonomi rendah atau memiliki kesadaran ilmu kesehatan rendah, dan obat-
obatan yang memicu hiposalivasi. Faktor biologis yang diperoleh dari
pemeriksaan klinis adalah kuantitas bakteri kariogenik dan terlihatnya plak
berat di gigi.
 Tabel ketiga terdapat faktor protektif yang dapat mengurangi risiko karies.
Faktor-faktor ini meliputi keluarga tinggal di area yang terdapat air
berfluorida, meminum air berfluorida, menggunakan pasta gigi fluorida
setidaknya dua kali sehari, dan pernah menggunakan fluoride varnish dalam
enam bulan terakhir.
Jika tidak ada indikator penyakit, sangat sedikit atau tidak ada faktor risiko dan faktor
protektif berlaku, pasien dianggap berisiko rendah. Jika tidak ada indikator penyakit
dan faktor risiko serta faktor protektif tampak seimbang, maka penentuan risiko karies
sedang sesuai. Jika ragu, pindahkan klasifikasi sedang ke tinggi. Pasien anak pada
kasus termasuk ke dalam risiko tinggi akibat terdapatnya karies dengan jelas dari
pemeriksaan klinis. Anak-anak dengan tanda-tanda karies yang jelas pada setiap tahap
dan anak-anak dengan beberapa faktor risiko dan paparan fluorida minimal berisiko
tinggi mengembangkan lebih banyak lesi karies di masa depan. Selain terapi kimia
(rekomendasi pasta gigi-fluorida dan promosi bentuk lain dari paparan fluorida serta
penggunaan agen yang meningkatkan remineralisasi dan netralisasi asam atau
menghambat transmisi Streptococcus mutan) dan konseling perilaku untuk
memperbaiki perubahan gaya hidup seperti yang disebutkan sebelumnya, pasien
diberitahu manfaat aplikasi fluoride varnish tambahan di klinik dokter gigi dengan
interval tiga hingga enam bulan. Oleh karena itu, kunjungan berkala tiga sampai enam
bulan harus mencakup aplikasi fluoride varnish, memperkuat tujuan manajemen diri
untuk mengurangi faktor risiko tertentu dan melakukan pengawasan lesi secara aktif
di semua tahap.

Sumber : Featherstone JDB, Chaffee BW. The evidence for caries management by
risk assessment (CAMBRA). Adv Dent Res 2018;29(1):9-14.

Anda mungkin juga menyukai