PROPOSAL
FORMULASI DAN UJI MUTU FISIK SEDIAAN KRIM
EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG KAYU JAWA
( Lannea Coromandelica )
Oleh :
MUH. YUSUF BAKRI
PO.[Link].1.075
PROGRAM STUDI D-III FARMASI
JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
2023
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Luka didefenisikan dengan adanya kerusakan kontinuitas/kesatuan
jaringan tubuh yang disertai dengan hilangnya substansi jaringan (Mansjoer,
Wardhani, Setiowulan, Triyanti, & Savitri, 2000). Luka sayat biasanya
ditimbulkan oleh irisan benda yang bertepi tajam seperti pisau dan silet. Luka
sayat biasanya memanjang dan berbentuk lurus (Sinta, 2010). Penanganan
luka biasanya dilakukan dengan dua cara, pertama secara medis dan kedua
secara empiris. Penanganan secara medis biasanya dilakukan di daerah yang
memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, sedangkan penanganan secara
empiris seringkali dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan
yang minim akan fasilitas kesehatan. Pada kasus penanganan luka secara
empiris biasanya digunakan tanaman yang ada disekitar, salah satunya yaitu
tanaman kayu jawa.
Tanaman kayu jawa bagi masyarakat Sulawesi Selatan diketahui untuk
mengobati berbagai jenis penyakit, misalnya untuk pengobatan luka bakar,
dan penyakit lainnya. Berdasarkan penelitian (Indrayangingsih et al., 2015)
Kulit batang Lannea digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan muntah
darah dan perawatan pasca melahirkan. Penggunaan lain tanaman Kayu Jawa
adalah sebagai analgesik, anti ulkus, dan aphrodisiac, getahnya sebagai
penyembuhan luka, daunnya mengobati pembengkakan akibat keseleo, dan
kortex kayu jawa sebagai antiinflamasi, antimitosis dan antioksidan (Ismail et
al., 2016). kulit batang tanaman kayu tammate (Lannea coromandelica)
dilaporkan mengandung senyawa golongan karbohidrat, steroid, alkaloid,
terpenoid, saponin, tannin, dan flavonoid (Yumita et al., 2019).
3
Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan ekstrak kulit batang kayu
jawa pada luka, maka dapat dibuat dalam sediaan krim yang dinilai lebih
praktis dalam pengaplikasiannya.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ekstrak batang kayu jawa ( Lannea Coromandelica ) dapat dibuat
menjadi sediaan krim luka?
2. Apakah sediaan krim luka ekstrak batang kayu jawa ( Lannea
Coromandelica ) dapat memenuhi standar uji mutu fisik ?
I.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai
berikut:
1. Untuk membuat sediaan krim luka dari ekstrak batang kayu jawa (
Lannea Coromandelica )
2. Untuk mengetahui apakah sediaan krim luka ekstrak batang kayu jawa
(Lannea Coromandelica ) dapat memenuhi persyaratan uji mutu fisik
I.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin Peneliti capai dalam penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi pada masyarakat tentang pemanfaatan kulit batang
kayu jawa sebagai bahan baku pembuatan krim luka.
2. Salah satu bentuk pengembangan ilmu pengetahuan sehingga dapat
menambah wawasan mengenai pembuatan formulasi krim dari ekstrak
kulit kayu jawa ( lannae Coromandelica ).
3. Turut berkontribusi ilmiah khususnya dalam pembuatan formulasi sediaan
krim dari ekstrak kulit kayu jawa ( lannae Coromandelica ).
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Kayu Jawa ( lannae Coromandelica )
2.1.1. Morfologi Dan Klasifikasi Kayu Jawa
Kayu Jawa merupakan deciduous tree atau pohon gugur yang
dapat tumbuh hingga mencapai 25 meter ( umumnya 10-15 m ).
Permukaan batang berwarna abu-abu, sampai coklat tua, kasar ada
pengelupasan, serpihan kecil yang tidak teratur, batang dalam berserat
berwarna merah atau merah muda gelap dan memiliki eksudat yang
bergetah daun meruncing dan berjumlah 7 sampai 11, bunga berkelamin
tunggal berwarna hijau kekuningan (Avinash, 2004).
Gambar 2.1 tumbuhan kayu jawa
Adapun Klasifikasi dari Lannae Coromandelica yaitu ( taksonomi
tumbuhan spermatophyte gembong tcitrosoepomo )
Kingdom : Plantae
Phylum : Mannoliophyta
Class : Magnoliatae
Order : Sapindalales
Family : Anacardiaceae
Genus : Lannae
Spesies : Lannae Coromandelica
5
2.1.2. Nama Daerah
Tumbuhan kayu jawa ( Lannae Coromandelica )
dikenal oleh Masyarakat Indonesia dengan nama daerah
kayu jawa, tammate, pohon cina, pohon kudo, jaranan,
ki kuda, dan pohon rewo.
2.1.3. Kandungan dan Manfaat Kayu jawa
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa kulit batang kayu
jawa mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid,
carbohidrates, gums dan mucilages dan tanin. Menurut Soni & Singhai
(2012) senyawa tanin dapat berperan sebagai astringent pada luka
sedangkan saponin bekerja meningkatkan kecepatan epitelisasi.
Senyawa flavonoid juga berperan dalam penyembuhan luka dengan
menghentikan perdarahan yaitu melalui mekanisme vasokontriksi pada
pembuluh darah, penangkal radikal bebas, penghambat hidrolisis dan
oksidasi enzim, serta antiinflamasi.
Kayu jawa umumnya dimanfaatkan kulit batangnya sebagai obat
luka sayat maupun lecet, daunnya bisa dijadikan obat diare dengan
mengambil daun muda kemudian direbus lalu hasil rebusan diminum.
Penggunaan lain tanaman Kayu Jawa adalah sebagai analgesik,
anti ulkus, dan aphrodisiac, getahnya sebagai penyembuhan luka,
daunnya mengobati pembengkakan akibat keseleo, dan kortex kayu
jawa sebagai antiinflamasi, antimitosis dan antioksidan (Ismail et al.,
2016).
2.2 Ekstrak
Tanaman menghasilkan berbagai senyawa organik yang sebagian besar
tidak berperan langsung dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Metabolit diklasifikasikan menjadi dua, yaitu metabolit primer dan metabolit
sekunder. Metabolit sekunder hanya dapat ditemukan pada satu spesies atau
kelompok spesies tertentu, sedangkan metabolit primer (asam amino,
nukleotida, gula, lipid) terdapat pada hampir semua tumbuhan. Metabolit
sekunder adalah produk sampingan atau produk antara dari metabolisme
6
primer. Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (FI
Eds. VI 2020).
7
2.3 . Ekstraksi
Ekstraksi atau penyarian merupakan proses pemisahan senyawa dari
matriks atau simplisia dengan menggunakan pelarut yang [Link]
ekstraksi dalam analisis fitokimia sangat penting karena sejak tahap awal
hingga akhir menggunakan proses ekstraksi, termasuk fraksinasi dan
pemurnian. Ada beberapa istilah yang banyak digunakan dalam ekstraksi,
antara lain ekstraktan (yakni, pelarut yang digunakan untuk ekstraksi), rafinat
(yakni, larutan senyawa atau bahan yang akan diekstraksi) dan linarut (yakni,
senyawa atau zat yang dinginkan terlarut dalam rafinat). Metode ekstraksi
yang digunakan tergantung pada jenis. sifat fisik, dan sifat kimia kandungan
senyawa yang akan diekstraksi. Pelarut yang digunakan tergantung pada
polaritas senyawa yang akan disari, mulai dari yang bersifat nonpolar hingga
polar, sering disebut sebagai ekstraksi bertingkat. Pelarut yang digunakan
dimulai dengan heksana, petroleum eter, lalu selanjutnya kloroform atau
diklometana, diikuti dengan alkohol, metanol, dan terakhir, apabila
diperlukan, digunakan air. Simplisia dikumpulkan dan dibersihkan dari
pengotor dengan cara pemilahan (pemisahan simplisia lain yang tidak
digunakan) atau pencucian. Dalam melakukan ekstraksi terhadap simplisia
sebaiknya digunakan simplisia yang segar, tetapi karena berbagai keterbatasan
umumnya dilakukan terhadap bahan yang telah dikeringkan. Keria berbagai
enzim yang terdapat dalam simplisia segar akan dihambat pada proses
ekstraksi. Pengeringan simplisia dilakukan setelah kerja enzim dihambat
dengan cara mencelupkan dalam metanol mendidih selama beberapa detik
sehingga perubahan senyawa secara enzimatis dapat dicegah atau dikurangi.
Cara pengeringan dipilih yang tidak mengakibatkan terjadinya perubahan
metabolit baik secara kualitatif ataupun kuantitatif. Pengeringan dilakukan
secepat-cepatnya, selain pengaruh sinar matahari dengan suhu yang tidak
terlalu tinggi. salah satu contoh pengeringan yang sering dilakukan adalah
dengan aliran udara. Sebelum simplisia diekstraksi, simplisia kering dapat
disimpan dalam wadah tertutup rapat dan tidak terlalu lama, untuk mencegah
8
timbulnya hama/kutu yang dapat merusak kandungan kimia. Berikut
penjelasan lebih lanjut dari metode-metode ekstraksi.
2.3.1 Maserasi
Maserasi adalah cara ekstraksi simplisia dengan merendam
dalam pelarut pada suhu kamar sehingga kerusakan atau degradasi
metabolit dapat diminimalisasi. Pada maserasi, teriadi proses
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel
sehingga diperlukan penggantian pelarut secara berulang. Kinetik
adalah cara ekstraksi, seperti maserasi yang dilakukan dengan
pengadukan, sedangkan digesti adalah cara maserasi yang dilakukan
pada suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar, yaitu 40-60°
[Link]
Perkolasi adalah cara ekstraksi simplisia menggunakan pelarut
yang selalu baru, dengan mengalirkan pelarut melalui simplisia hingga
senyawa tersari sempurna. Cara ini memerlukan waktu lebih lama dan
pelarut yang lebih banyak. Untuk meyakinkan perkolasi sudah
sempurna, perkolat dapat diuji adanya metabolit dengan pereaksi yang
spesifik.
[Link]
Refluks adalah cara ektraksi dengan pelarut pada suhu titik
didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative
konstan dengan adanya pendingin balik. Agar hasil penyarian lebih baik
atau sempurna, refluks umumnya dilakukan berulang-ulang (3-6 kali)
terhadap residu pertama. Cara ini memungkinkan terjadinya penguraian
senyawa yang tidak tahan panas.
2.8.3. Sokhletasi
Sokhletasi adalah cara ekstraksi menggunakan pelarut organic
pada suhu didih dengan alat soxhlet. Pada soxhletasi, simplisia dan
ekstrak berada pada labu berbeda. Pemanasan mengakibatkan pelarut
menguap, dan uap masuk dalam labu pendingin. Hasil kondensasi jatuh
bagian simplisia sehingga ekstraksi berlangsung terus-menerus dengan
9
jumlah pelarut relatif konstan. Ekstraksi ini dikenal sebagai ekstraksi
sinambung.
[Link]
Infusa adalah cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut air,
pada suhu 96-98°C selama 15-20 menit (dihitung setelah suhu 96°C
tercapai). Bejana infusa tercelup dalam air.
2.4 . Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai. Istilah secara tradisional digunakan untuk sediaan setengah padat
yang mempunyai konsistensi relatif cair yang diformuasikan sebagai
emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan
tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam
air atau disperse mikrokristal asam asam lemak atau alkohol berantai
panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air atau lebih ditujukan
untuk penggunaan kosmetika dan estetika (Anonim, 1995).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan penelitian bersifat
eksperimen. Penelitian eksperimen berupa pembuatan krim dan pengujian
mutu fisik (uji organoleptis, homogenitas, pH krim, uji daya serap, uji
daya sebar, dan stabilitas terhadap suhu) dari ekstrak kulit batang kayu
jawa (lannae coromandelica) yang diambil dari daerah Desa Paitana
[Link] Kabupaten Jeneponto.
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat dan Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun
2024 bulan maret sampai selesai. Penelitian bertempat di Laboratorium
Mikrobiologi Jurusan Farmasi Polekkes Kemenkes Makassar.
3.3 Alat Dan Bahan Penelitian
3.2.1. Alat Penelitian
Cawan petri, maserator, timbangan analitik, blank disc,
rotavapor, oven, bunsen, hotplate, deck glass, obyek glass,
blender , tabung reaksi, erlenmayer, korek api, penggaris dan
batang pengaduk.
3.2.2. Bahan Penelitian
Bahan – bahan yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah
kulit batang jayu jawa ( lannae coromandelica ), etanol 70%, etanol
96%, tween , Aquadest
22
11
3.4 Prosedur penelitian
3.4.1. Penyiapan Sampel dan Ekstrak
Kulit pohon kayu jawa akan diambil dari desa paitana
Kecamatan turatea Kab. jeneponto, kemudian dibersihkan dan
dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran
dan cemaran yang melekat. Selanjutnya dirajang dan dikeringkan
dengan cara dioven dan setelah kering dibuat menggunakan
blender. hasilnya dapat digunakan untuk proses ekstraksi
Proses ekstraksi Serbuk kulit kayu jawa dengan metode maserasi,
direndam selama 3x24 jam, Hasil rendaman kemudian disaring
untuk dikentalkan menggunakan alat rotavapor, setelah diperoleh
ekstrak kental, ekstrak akan diuji kadar airnya. Dibuat 2 formula
krim yaitu krim dengan basis dan krim dengan zat aktif dengan
masing-masing kadar ekstrak yaitu 5%, 10%, 20, dan 40%
masing-masing dibuat 50 gram sehingga total krim 250 gram.
3.4.2. Pembuatan Krim
Bahan-bahan yang berfase air (natrium benzoate dan aquades)
dipisahkan dengan bahan-bahan yang berfase minyak (tween 80,
sera alba, parafin cair dan setil alkohol). Fase air dilarutkan dengan
pemanasan menggunakan hot plate. Sedangkan fase minyak,
dilebur dengan penangas air dengan suhu 70°C. Setelah semuanya
melarut, fase air ditambahkan perlahanlahan ke dalam lumpang
panas yang berisi fase minyak selanjutnya diaduk dengan
kecepatan konstan hingga terbentuk masa krim. Ekstrak daun dan
kulit batang Kalapapa yang sudah ditimbang dicampurkan ke
dalam basis krim sedikit demi sedikit hingga homogen, selanjutnya
dibuat krim dengan cara yang sama untuk konsentrasi ekstrak yang
berbeda-beda.
3.4.3. Pengujian Mutu Fisik sediaan Krim
Pengujian mutu fisik yang dilakukan meliputi uji
organoleptis, homogenitas, pH krim, uji daya serap, uji daya sebar,
dan stabilitas terhadap suhu.
12
a. Pengujian organoleptik yang dilakukan dengan
mengamati sediaan krim dari bentuk, bau, dan warna sediaan
aktivitas
b. Uji homogenitas bertujuan untuk melihat dan
mengetahui tercampurnya bahan-bahan sediaan krim. Pengujian
dilakukan secra visual dengan mengamati warna krim dan ada
tidaknya bagian – bagian yang tidak tercampur dengan baik pada
semua formula krim
c. Uji pH bertujuan mengetahui keamanan sediaan
krim saat digunakan sehingga tidak mengiritasi kulit. Pengukuran
pH dilakukan dengan menggunakan pH stik universal yang
dilakukan dengan mencocokkan warna yang diperoleh dengan tabel
warna yang ada.
d. Uji daya sebar dilakukan untuk melihat kemampuan
sediaan menyebar pada kulit, dimana suatu krim sebaiknya
memiliki daya sebar yang baik untuk menjamin pemberian bahan
obat yang memuaskan. Pengujian dilakukan dengan cara
menimbang 0,5 gram krim yang diletakan di atas kaca bulat, kaca
lain diletakkan di atas krim dimana berat kaca penutup ditimbang
terlebih dahulu. Setelah dibiarkan selama 1 menit, ditambahkan
beban 100 gram, didiamkan lagi 1 menit, lalu diukur diameternya
e. Uji daya serap dilakukan dengan cara meneteskan
air pada 1 gram sampel krim sambil diaduk. Penetesan air
dilakukan perlahan dan sedikit demi sedikit sampai krim tidak
dapat menyerap air lagi yang ditandai dengan terjadinya pemisahan
antara krim dan air
f. Uji stabilitas krim terhadap suhu perlu dilakukan
untuk melihat kestabilan krim pada waktu penyimpanan. Stabilitas
krim dapat diketahui dengan cara membandingkan organoleptis dan
homogenitas sediaan krim selama masa penyimpanan, serta dengan
mengamati sediaan apakah selama pemisahan terjadi pemisahan
13
fase atau tidak. Stabilitas krim terhadap suhu dilakukan pada suhu
dingin selama 8 minggu.
3.5 Analisis Data
Analisis dilakukan dengan pengamatan makroskopik dan
mikroskopik dengan pembanding rujukan Pustaka.
3.6 Kerangka Konsep