0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan19 halaman

Report Paper Study Fix

Dokumen ini membahas pentingnya kritik seni dalam hubungan antara seniman, masyarakat, dan kritikus, serta peran kritik dalam meningkatkan apresiasi seni. Kritik seni dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan karya dengan publik, dan penting bagi seniman untuk memahami kritik sebagai sarana untuk memperbaiki karya mereka. Selain itu, kritik seni memiliki prospek besar dalam meningkatkan nilai budaya dan apresiasi seni di masyarakat.

Diunggah oleh

syahrul mujahid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan19 halaman

Report Paper Study Fix

Dokumen ini membahas pentingnya kritik seni dalam hubungan antara seniman, masyarakat, dan kritikus, serta peran kritik dalam meningkatkan apresiasi seni. Kritik seni dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan karya dengan publik, dan penting bagi seniman untuk memahami kritik sebagai sarana untuk memperbaiki karya mereka. Selain itu, kritik seni memiliki prospek besar dalam meningkatkan nilai budaya dan apresiasi seni di masyarakat.

Diunggah oleh

syahrul mujahid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Report paper study

Handout 3

“Pengantar Latar Belakang Kritik Seni Rupa”

Tanggal : 1 Oktober 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Berbicara mengenai kritik dalam seni berhubungan tentang baik buruknya


suatu karya seni. Disini terdapat suatu relasi publik seni yaitu seorang seniman,
masyarakat awam dan juga seorang kritikus. Dari hubungan tersebut, tentu akan
berpengaruh terhadap perguruan tinggi seni. Sebagai seorang mahasiswa, tentunya
saya membutuhkan pengetahuan yang bukan hanya bersifat motorik saja namun juga
perlu yang sifatnya kognisi dan afeksi. Masalahnya kedua sifat tersebut saling
melengkapi dan tidak terpisahkan. Apabila seorang mahasiswa hanya mengandalkan
afeksi saja, maka ia hanya menggunakan passion atau keinginan ia semata, namun
seringkali timbul masalah kognitif yang sulit di selesaikan. Seperti ketika seorang
mahasiswa lukis hanya mengandalkan konsep saja, namun sulit untuk mengeksekusi
secara teknis. Baegitupun sebaliknya, apabila hanya mengandalkan teknik saja tanpa
konsep maka hasilnya pun tidak akan seberapa. Seperti itulah analogi dari afeksi dan
kognisi yang disertai dengan sifat motorik. Maka, penting bagi perguruan tinggi seni
untuk memikirkan hal tersebut supaya lebih berkembangnya lagi pengetahuan tentang
seni.
Mengenai kurang berkembangnya seni rupa pada zaman dahulu karena ada
anggapan bahwa seorang pelukis kurang terampil menulis kritik seni saya pikir tidak
semua pelukis tidak terampil dalam menulis. Yang di garis bawahinya adalah karna
menulis itu perlu Ilmu. Diantaranya adalah mengenai pemahaman materi terhadap
apa yang ditulis kemudian ilmu tentang sistematika penulisan sehingga penulisannya
benar secara aturan. Bisa jadi pelukis itu punya materi atau gagasan yang kuat namun
ilmu tentang cara penulisannya tidak dikuasai sehingga tidak menulis kritik seni
misalnya. Ada juga yang ia mampu menulis dengan baik namun kurang tertarik untuk
menulis. Dan ada juga yang memang tidak punya materi untuk ditulis. Dan untuk
adanya pergaulan antara seorang pelukis dengan sastrawan saya pikir itu untuk
membangun silaturahmi dan juga relasi dari bidang yang berbeda sehingga
menciptakan suatu karya kombinasi yang baru. Seperti Muchtar Apin yang melukis
Chairil Anwar dan juga puisi Chairil Anwar yang berisi tentang gagasan karya
Affandi. Lalu mucullah pandangan bahwa kegiatan itu bernilai negative karena
orang-orang memandang para pelukis tidak bisa menulis kritik seni. Sehingga muncul
lah Sudjojono seorang perupa yang menjadi pelopor sekaligus menunjukkan bahwa
pelukis pun bisa terampil dalam menulis. Dan dari tulisan ini pun muncul istilah jiwa
ketok yang dipaparkan oleh Sudjojono.
Hingga pada masa kekinian para lulusan dari perguruan tinggi lebih
cenderung memilih untuk menjadi seni rupawan dibanding menjadi kritikus. Dan para
seniman lebih berkembang ke arah post modern untuk mencari gaya seni yang baru.
Maka muncul aliran seperti abstrak, dan aliran-aliran yang cenderung aneh. Dan
karena masyarakat awam sulit memahami kriteria seperti ini, maka para seniman
perlu untuk terjun langsung dan menjelaskan maksud dari karyanya supaya apresiasi
terhadap karya lebih terasa.
Namun betul, hal ini seperti itu terlihat kurang memperhatikan adanya seorang
kritikus. Maksudnya apabila pelukis terjun langsung menjelaskan karyanya, peran
seorang kritikus
menjadi terkikis. Dimana peran seorang kritikus adalah menjembatani menjembatani
sebagai komunikator kepada masyarakat, dengan tujuan meningkatkan kualitas
apresiasi. Disinilah peran kritik seni untuk dapat membangun suatu karya yang dapat
lebih bersahabat di masyarakat. Jadi tidak ada lagi kurang pahamnya antara apresiator
terhadap suatu karya.
Kesimpulannya adalah penting bagi seorang seniman mengetahui batas-batas
bidang tertentu supaya tidak menonjolkan suatu egosentris. Kritik seni berperan untuk
menjembatani antara karya dengan relasi publik supaya karya tersebut lebih welcome
dan dapat diterima di suatu masyarakat.
Report paper study

Handout 4

“Pengertian Kritik Seni hingga tujuannya”

Tanggal : 8 Oktober 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Berbicara tentang kritik seni ini erat kaitannya dengan filsafat keindahan atau
estetika. Dan semua itu merupakan kegiatan budaya yang berlangsung antara kreator
atau seniman dengan apresian atau apresiator termasuk kritikus seni yang
menjembatani antara seniman dan apresiator. Jelas adanya perbedaan kualitas antara
apresiator yang hanya sebagai penikmat seni dengan apresiator yang sekaligus juga
kritikus. Jenis yang pertama hanya mengandalkan perasaan atau pengalaman
sederhana saja tanpa mendalami keilmuannya yang apabila diminta
pertanggungjawaban atas pendapatnya seringkali tidak nyambung. Berbeda dengan
kritikus seni yang merupakan seseorang yang mempunyai ilmu secara mendalam dan
telah menekuni bidangnya serta mampu mempertanggungjawabkan argumennyya
secara kuat. Di dalam diri kritikus, terdapat ilmu yang disebabkan oleh kesehariannya
yang seringkali bergaul dan bersosialisasi dengan seniman. Selain itu, selalu
mengamati karya-karya seni sehingga ia peka dan tau mana karya yang bagus dan
yang tidak. Dalam dirinya terjadi dialog ke dalam dan juga ke luar. Maksudnya ke
dalam adalah ia berkomunikasi dengan jiwa batinnya sehingga didapatkan suatu
pencerahan ilmu. Atau bisa dibilang adanya sympathy dan juga empathy. Hal ini
dapat mencciptakan suatu value atau nilai terhadap suatu karya seni.
Demikianlah pemaparan tentang peranan seorang kritikus seni yang terbilang
penting. Mengapa dibilang demikian? Karena menurut saya peran kritikus lebih
mencari kurangnya suatu karya sehingga setelah seorang seniman mengetahui
kekurangannya, ia dapat memperbaiki kekurangan itu dan menjadikan karyanya lebih
baik lagi. Namun memang benar adanya, istilah kritik di Indonesia masih terseok-
seok dan nilainya cenderung negatif. Menurut saya, yang menjadikannya negatif
adalah karena yang di kritiknya tidak menerima atas kritikan tersebut. Artinya, orang
yang dikritik mempunyai ego yang tinggi dan menganggap bahwa karyanya sudah
tidak perlu dikritik lagi. Dan juga, seorang seniman harus melihat dengan betul siapa
dan mmemahami yang mengkritiknya. Apakah orang yang mengkritiknya itu orang
yang benar-benar ahli? Apakah kritikan tersebut benar-benar membangun? Atau
malah hanyalah cacian semata? Apabila kritikan tersebut datangnya dari seorang ahli,
dan sifatnya adalah membangun supaya mebuat lebih baik lagi, maka sudah
sepatutnya kritikan tersebut diterima dan disyukuri. Namun apabila kritikan tersebut
hanyalah sebuah cacian, maka tindakan terbaik adalah dengan mengabaikannya.
Apabila dilihat dari segi istilahnya, critic dalam bahasa Inggris dipetik dari bahasa
Yunani yaitu kritikos yang erat kaitannya dengan krinein yang mengandung arti
memisahkan, mengamati, membandingkan, dan menimbang. Pada budaya Yunani
ada istilah krites yang artinya hakim dennggan kata kerja krinein yang artinya
menghakimi. Istilah tersebut banyak mengalami perkembangan, namun sampai pada
zaman modern ini masih banyak yang beranggapan bahwa kegiatan kritik adalah
suatu ajang penghakiman terhadap seni. Benarkah seperti itu? Menurut saya
penghakiman di dalam suatu karya seni bukan tentang benar atau salahnya suatu
karya. Dalam konteks kekaryaan tidak ada kaarya yang salah selama itu dapat
dipertanggungjawabkan, misalnya ada seniman yang memajang suatu kanvas kosong
lalu dii pamerkan. Kalau dilihat secaara sekilas itu apa-apaan, namun itu boleh
selama konsepnya nyambung. Nah, peran kritik seni disini adalah memastikan dan
menimbang apakah suatu karya tersebut tepat sasaran atau ada yang kurang. Maka
dengan adanya kritik, seniman harus lebih berhati-hati lagi untuk menciptakan karya
seni yang dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesiaa sendiri kritik merupakan
pengadopsian dari Bahasa Inggris dimana yang digarisbawahinya adalah subjeknya
atau pengkritiknya yang ditegaskan oleh bahasa Belanda yakni criticus. Namun di
Indonesia kata tersebut mrnjadi rancu, bahkan dalam kamus Purwadarminta kritik
berarti kemelut, keadaan genting, dan lain-lain. Disinilah dapat terlihat bahwa
pandangan masyarakat Indonesia terhadap kritik maasih cenderung negatif dan
merasa tidak perlu akan kritik padahal meskipun saya bukan tipe orang yang suka
mengkritik orang lain, tapi tidak ada salahnya untuk dikritik. Dari setiap masa
dimulai masa primitive sampai modern, peran kritik masih sama yaitu sebagai
komunikator antara seniman dan apresian supaya meningkatkan kualitas apresiasi
daan menyadari nilai-nilai suatu budaya. Kesimpulannya adalah kritik seni
merupakan suatu upaya untuk meninngkatkan kualitas apresiasi dan menjembaatani
antara kreator dan apresiator. Namun di Indonesia sendiri masih banyak yang
beranggapan bahwa kritik itu nilainya negatif. Maka ini menjadi evaluasi bagi saya
sebagai seorang mahasiswa untuk lebih memahami apa kriitik seni itu sebenarnya.
Terima kasih
Report paper study

Handout 5

“Serbaneka Prospeksi Kritik Seni”

Tanggal : 15 Oktober 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Kritik seni dikatakan sebagai tambang emas dimana kritik mampu


menjanjikan kegemilangan atau kesuksesan di masa mendatang bagi seniman dan
masyarakat. Bahkan Popo Iskandar dalam bukunya menyebutkan bahwa kritik seni
ini mempunyai prospek yang besar. Bagaimana tidak, apabila kita melihat ke masa
klasik dahulu, seni itu dikuasai oleh pihak kerajaan. Ada sebuah lembaga yang
dinamakan salon dimana tugas dari lembaga tersebut adalah menyeleksi mana yang
termasuk karya seni dan mana yang bukan. Karena ketatnya seleksi yang ada di
kerajaan tersebut memunculkan sebuah lembaga baru yaitu ‘Salon de Refuses’
dimana ini merupakan kegiatan pameran yang karyanya tidak terpilih atau ditolak
penyeleksi. Ada sebuah hal yang mengejutkan dimana karya dari seorang seniman
yang bernama Edouard Manet yang berjudul ‘Luncheon The Grass’ sangat
menggemparkan dunia. Dimana karya yang ditolak pada saat itu dipamerkan di salon
de refuses dan berhasil menarik perhatian dunia. Dari paparan di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa salon merupakan embrio dari kritik seni dan kuratorial seni
modern.

Lalu apabila kita melihat masa sekarang ini, kegiatan kritik seni tak seperti
kegiatan salon zaman dulu, dimana pada saat itu mencela dan menjelek-jelekkan
terlebih dahulu kemudian menyeleksi karya yang dianggap memenuhi selera raja.
Padahal sesungguhnya kritik seni itu berupa komentar filosofis yang dapat
meningkatkan mutu apresiatif dan sekaligus jadi pressure bagi seniman untuk
berkarya semakin baik lagi. Kritik seni terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama
ketika memberikan kritik sebaiknya mengutarakan sisi negatifnya. Yang kedua
golongan yang lebih suka mengutarakan hal positif daripada kejelekannya. Yang
ketiga menurut saya golongan yang paling baik dimana menyebutkan sisi negatif
sekaligus sisi positifnya. Dan golongan ini lengkap, ada kritik sekaligus juga dengan
sarannya.

Beberapa tujuan dari kritik seni diantaranya yang pertama kritik seni sebagai
pemberitahuan. Maksudnya memberitahukan bahwa ada suatu karya seni yang
disuguhkan. Kemudian yang kedua kritik seni sebagai pembicaraan suatu gejala
kehidupan budaya, sebagai bahan evaluasi estetik danuntuk meningkatkan mutu
apresiasi. Kritik seni itu memang dinamis, namun bagaimanapun juga harus kita ikuti
perkembangannya.

Kesimpulannya kritik seni mempunyai prospeksi yang cukup besar. Karena


dengannya, kesenian akan menjadi suatu nilai atau value yang menjanjikan di masa
mendatang. Kritik seni mempunya beberapa tujuan diantaranya adalah sebagai
pemberitahuan dan membicarakan suatu nilai budaya. Dengan begitu, mutu apresiatif
akan meningkat.

SOAL
1. Kalau melakukan kegiatan kritik seni di masa kini, apakah boleh memakai
pengertian Krinein yang caranya memakai empat langkah
2. kalau setuju bahwa boleh memakai cara Krinein apa alasannya, Kalau tak setuju
memakai cara Krinein apa alasanya
3. Kriik seni dilakukan pertama kali di Indonesia oleh Sudiojono, apakah di masa kini
pelukis juga dapat menjadi kritikus seni.
4. Kalau anda setuju bahwa pelukis boleh menjadi kritikus seni, apa alasanya Kalau
anda tak setuju apa alasanya
5. Pengertian Salon di Indonesia memang sangat tepat untuk maksud sesuatu yang
sangat bagus dan maasyarakat umumnnya di Indonesia sudah terbiasa membudaya
dan akrab dengan sebutan salon tersebut. Berikan satu contoh apa dan Bagaimana
6. Apa tujuan kegiatan kritik seni yang sesungguhnya. Cobalah utarakan pengalaman
anda terhadap kegiatan kritik seni di masa lampau anda dan selanjutnya di masa kini
situasi dan keadaan kesenian di sekitar anda atau di kampus anda Bagaimana
sudahkah tepat, ataukah tak tepat.
JAWABAN

1. Kegiatan Seni di masa kini tak seperti salon masa lalu dimana keseniaan
dicela dan dikecam terlebih dahulu dan karya dinilai baik ketika memenuhi
selera raja. Padahal sesungguhnya kritik seni itu berupa ulasan yang positif
terhadap suatu karya seni yang sifatnya filosofis. Ada yang senang
mengutarakan kejelekannya, ada yang senang mengutarakan kebaikannya dan
ada juga yang suka mengutarakan sisi negative sekaligus sisi positifnya.

Mengenai boleh tidaknya di masa kini menggunakan metode krinein, menurut


saya boleh-boleh saja.

2. Alasan mengapa saya setuju dengan menggunakan metode krinein adalah


karena caranya jelas dan baik. Dimana dalam krinein ada beberapa proses atau
empat langkah untuk melakukan kegiatan kritik. Diantaranya adalah proses
memisahkan, mengamati, membandingkan dan menimbang. Dengan melalui
proses tersebut kegiatan kriitik akan menjadi terarah dan bersifat objektif.
Lalu keempat proses tersebut tidak lekang oleh waktu. Baik di masa lampau
atau di masa kini saya pikir keempat proses tersebut baik dan harus dilakukan.

3. Kritikus seni pertama di Indonesia adalah Sudjojono. Beliau mengkritik


kesenian di Indonesia pada masa Mooi Indie dimana seni difungsikan hanya
untuk souvenir bagi bangsa luar. Dengan hal itu ia menulis kritik dan
mengutarakan bahwa seni itu harus mengandung “jiwa ketok” atau jiwa
seorang seniman yang diinterpretasikan dalam karyanya.

Mengenai boleh tidaknya seorang pelukis menjadi kritikus seni, menurut saya
boleh saja selama yang ia tulis itu benar-benar penting dan menciptakan suatu
pengetahuan atau pandangan baru. Selain itu apabila ingin menjadi kritikus,
harus menguasai landasan kritikus. Dan harus benar-benar bergelut di
bidangnya dengan waktu yang cukup lama.

4. Alasan mengapa saya setuju mengenai bolehnya pelukis menjadi kritikus


adalah karena ilmu pengetahuan bisa datang dari siapa saja. Bukan berarti
meremehkan seorang sastrawan, tapi apabila ada seorang pelukis yang
menulis kritik dan menghasilkan atau pandangan baru kenapa tidak. Namun
ini juga perlu pertimbangan yang matang, pasalnya sudah ada bidang masing-
masing baik itui pelukis maupun kritikus seni. Namun apabila tulisan itu
penting dan menciptakan suatu pengetahuan, pandangan yang baru maka
pelukis boleh menjadi kritikus.

5. Salon di masa kini berbeda dengan salon masa lampau. Dulu di Perancis
sangat kental dengan pengaruh kerajaan. Dimana suatu karya seni yang
dianggap bagus ialah yang memenuhi selera Raja. Tentu ini sedikit menggeser
value dari seni itu sendiri. Menjadi subjektif karena patokan. Di Indonesia
sendiri salon ini semacam patokan bahkan apabila lolos maka sudah
dipastikan karya itu bagus. Salon disini semacam kuratorial sebuah pameran
dimana kurator berhak memilih dan memilah mana karya yang sekiranya
memenuhi tema dari suatu pameran.

6. Tujuan dari kritik seni yang sesungguhnya diantaranya adalah yang pertama
sebagai pemberitahuan. Maksudnya adalah memberitahukan bahwa ada suatu
karya seni yang disuguhkan supaya merangsang kegiatan seni budaya di
masyarakat. Kemudian tujuan selanjutnya adalah sebagai pembicaraan suatu
gejala budaya, memberikan pengantar lalu memberikan evaluasi estetiknya
sehingga meningkatkan mutu apresiasi. Dengan begitu, seniman dapat
merenung tentang proses kreatifnya sehingga karyanya sesuai dengan isi,visi,
dan misinya. Menurut saya peran kritik seni ini penting baik di masa lampau,
kini dan masa yang akan datang. Pasalnya dengan kritik ini, mampu
meningkatkan kualitas baik untuk apresian maupun untuk senimannya itu
sendiri. Sebagai contohnya di kampus, seorang mahasiswa mengerjakan tugas
studio, tentunya butuh kritikan dari dosennya. Tujuannya tidak lain adalah
supaya karyanya lebih baik lagi.
Report paper study

Handout 6

“Landasan Ideal yang diperlukan menjadi kritikus seni”

Tanggal : 22 Oktober 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Menjadi seorang kritikus seni bukanlah hal yang mudah. Seseorang yang
ingin menjadi kritikus, harus menggeluti bidangnya dengan tekun dan sungguh-
sungguh. Kritikus harus mempunyai daya serap dan cerap kemudian melakukan
proses sympathy dan empathy. Selain itu, harus punya rasa cinta dan juga kuriositas
yang tinggi terhadap kesenian sehingga ilmunya benar-benar didapat dan dikuasai.
Seorang kritikus tidak selalu harus menjadi seniman yang kreatif. Ia cukup dengan
punya kepekaan dan memahami seluk beluknya filsafat seni. Bukan berarti tidak
perlu menjadi seniman kreatif, namun itu menjadi poin plus dalam menjadi kritikus.
Baik seniman maupun kritikus mempunyai keepekaan atau daya cerap terhadap daya
tanggap imajinasi. Karena seni itu bisa berupa tanda atau symbol yang selanjutnya di
olah menjadi incoding dan decoding. Maka ada istilah bahwa seni itu “bisu” tidak
bisa bicara, tetapi sebenarnya seni itu padat dengan dialog pembicaraan yang unik.
Disinilah peran kritikus sebagai komunikator untuk memperjelas kepada apresian.
Disinilah pentingnya kritikus untuk dapat menguasai filsafat seni. Selain itu, kritikus
harus berjiwa besar, rendah hati dan bersifat objektif dalam mengungkapkan
pendapat. Tidak boleh memojokkan golongan lain dan menganggap dirinya lebih
baik. Karena kritikus tidak dapat mengelak dengan adanya polemik perbedaan
pendapat dengan orang lain. Maka disini kritikus harus bijak dalam mengutarakan
pendapatnya. Seperti adanya Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang semakin
popular dengan adanya peran kritikus. Begitu juga dengan dadaisme di Barat. Selain
itu kritikus juga harus mempunyai kepribadian yang kuat. Tidak hanya
menguntungkan diri sendiri namun juga harus menjadi komunikator yang efektif bagi
orang lain.

Kesimpulannya adalah bahwa untuk menjadi seorang kritikus harus


mempunyai modal yang besar. Selain harus berwawasan yang luas, kritikus juga
harus bergelut di bidangnya dalam waktu yang lama. Selain itu, harus cinta
kebijaksanaan dan rendah hati tidak menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.

SOAL

1. Kalau tulisan kritik seni di masa kini, lantas ditanggapi menjadi polemik oleh
kritikus lain. Mengapa hal demikian dapat terjadi.

2. Terangkan istilah polemik yang sebenarnya Pilih salah satu apakah anda setuju
atau tidak setuju bahwa boleh saja terjadi polemik secara lisan Jika setuju apa
alasannya Jika tidak setuju apa alasannya?

3. Kritik seni pertama di Indonesia ialah Sudjojono, tulisannya pernah melawan


pelukis Abdullah Surjo Subroto tentang melukis alam di zaman perang

kemerdekaan Indonesia. Kritik seni itulah membuat terkenal istilah “Jiwa Ketok”

cobalah terangkan sedikit banyak peran kritikus ketika itu, bagaimana demikian ?

4. Gara-gara kritikus Sodjojono begitu pula mengapungkan menjadi populer istilah


“Mooii Indie" akibat tulisannya kritik seni ketika zaman perang kemrdekaan

Indoensia Coba sedikit banyak jelaskan dari segi peranan kritikus.

5. Kalau anda berminat menjadi kritikus, apa saja landasan ideal yang harus
dimiliki ? Lantas selanjutnya anda pasti ragu-ragu menjadi kritikus, karena alasan
tentang honorariuum tak seimbang dibandingkan dengan menjadi pelukis. Apa
benar ?

cobalah buat tulisan alasan manfaat dan kegunaannya dan bagaimana upayanya.

6. Kegiatan kritik seni di lndonesia masih rancu. Cobalah terangkan kerancuan


tersebut sehingga berpengaruh kepada tujuan kritik seni yang sebenarnya. Berikan
satu contoh apa dan bagaimana.

7. Jelaskan beberapa istilah sbb: a) Galeri Seni; b) Polemik; c) Kolektor Seni;


d)Salon; e) Krinein; f) Sanggar Seni; g) Simpathy; h) Isoterik; i) Empathy; j) GSRBI.

JAWABAN

1. Kritik seni merupakan suatu pemikiran filosofis logis dari seseorang tentang
kesenian berdasarkan keilmuan yang dimiliki. Jadi merupakan suatu hal yang
wajar apabila terjadi sebuah polemik karena pada dasarnya pemikiran manusia
itu berbeda-beda. Beda orang, beda juga pemikirannya. Bahkan polemik itu
bisa bagus dan menciptakan suatu pengetahuan yang teruji. Namun di dalam
polemik tersebut harus disampaikan dengan sehat dan bersifat objektif.
2. Polemik adalah sejenis perdebatan yang sengit di tayangkan di media massa
yang berupa tulisan. Menurut saya boleh saja terjadi suatu perdebatan secara
lisan asalkan memenuhi tata karma dalam berkomunikasi. Polemik bukan
berarti menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah dan bukan pula
sebagai ajang tepuk tangan. Polemik adalah sebuah metode untuk
mendapatkan hasil terbaik dari sebuah pemikiran.
3. Peran kritikus pada masa itu cukup krusial. Pasalnya pada masa Mooi Indie
para seniman banyak berkarya tentang pemandangan alam dan wanita
Indonesia. Ini cukup memprihatinkan dimana pada masa itu Indonesia sedang
dalam keadaan dijajah. Maka berangkat dari pemikiran itu Sudjojono sebagai
kritikus mengutarakan pendapatnya bahwa tidak tepat kalau hanya melukis
tentang alam saja. Seharusnya para seniman membuat karya yang lebih
mendobrak dan menciptakan yang sifatnya semangat kemerdekaan. Maka
muncullah istilah “Jiwa Ketok” dimana seniman harus menggambarkan isi
jiwa di setiap karyanya.
4. Istilah Mooij Indie merupakan sebutan untuk masa Hindia Jelita atau
Indonesia molek. Dimana pada masa ini para seniman banyak
menggambarkan tentang pemandangan alam dan wanita Indonesia. Peranan
kritikus disini tentu harus menilai, menimbang, memutuskan apakah Mooi
Indie ini tepat atau baik bagi kesejahteraan apresiator atau senimannya
sendiri? Maka saya pikir Sudjojono adalah pahlawan pada masa itu. Dimana
ia mendobrak pemikiran seniman untuk merubah karyanya menjadi nuansa
semangat perjuangan kemerdekaan.
5. Landasan ideal harus dimiliki untuk menjadin seorang kritikus adalah tentu
saja saya harus mencintai kesenian tenggelam dalam rasa cinta tersebut.
Selain itu menjadi seorang kritikus harus menguasai ilmu filsafat seni dimana
cinta kebijaksanaan. Selain itu harus berjiwa besar, tidak menganggap diri
lebih baik dari orang lain. Mengenai masalah honorarium, saya tidak terlalu
mempermasalahkan. Sebagai profesi apapun, itu patut disyukuri dengan tetap
melaksanakan kewajiban sebaik mungkin.
6. Pemahaman tentang kritik di Indonesia masih rancu, pasalnya ketika
mendengar istilah kritik persepsi masyarakat langsung mengarah ke hal yang
negatif. Berdasarkan dari hasil analisa saya, alasan mengapa hal tersebut dapat
terjadi adalah karena ego dari masyarakat masih tinggi dan merasa tidak butuh
kritik serta masukan dari orang lain atau kritikus. Selain itu, masyarakat
menganggap bahwa kritik adalah suatu ajang penghakiman terhadap karya
seni yang menyebabkan ketakutan, rasa traumatic dan lain-lain. Hal ini
menyebabkan kritik masih rancu dan mengikis tujuan sesungguhnya dari
kritik itu sendiri. Padahal sebenarnya kritik itu tidak menakutkan karena yang
mengkritik itu adalah seorang ahli atau berilmu dalam istilah krinein yang
empat langkah guna mendukung kebaikan seni. Contoh kecilnya adalah ketika
sesorang berkarya, ia lebih senang mendapat pujian semata tapi tidak suka
ketika ada orang yang mengkritik karyanya. Maksudnya seniman tersebut
tujuan utamanya adalah untuk tepuk tangan padahal sebenarnya seni bukan
hanya untuk pujian namun sebagai ilmu pengetahuan.

7. Beberapa istilah :
a. Galeri Seni adalah sebuah ruangan atau gedung tempat berpameran karya
seni.
b. Polemik adalah sejenis perdebatan yang sengit di tayangkan di media
massa yang berupa tulisan.
c. Kolektor seni adalah seseorang yang mampu dalam hal materi ekonomi
dan suka mengkoleksi atau membeli karya-karya seni.
d. Salon adalah suatu lembaga yang menyeleksi sesuatu yang dapat dianggap
atau disebut karya seni dan bukan. Tugas ini hampir sama dengan peran
kritik seni dahulu di Perancis yang dipimpin oleh Raja Louis.
e. krinein adalah bahasa Yunani dari kritik yang berarti memisahkan,
mengamati , membandingkan dan menimbang.
f. Sanggar Seni adalah suatu tempat atau sarana untuk kegiatan seni seperti
sanggar lukis, sanggar tari dan lain-lain.
g. Sympathy adalah suatu komunikasi kedalam dimana seseorang berdialog
kedalam batinnya melalui penghayatan dan perenungan suatu nilai atau
value.
h. Isoterik adalah suatu kumpulan tulisan tentang pemikiran yang sifatnya
khusus, rahasia, serba terbatas dan hanya dimengerti oleh kalangan
tertentu.
i. Empathy adalah suatu komunikasi keluar dimana seseorang melakukan
suatu dialog atau dapat mengerti apa yang orang lain rasakan dan
kemukakan sehingga sehingga mampu memahami value suatu karya seni.
j. GSRBI adalah singkatan dari Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia dimana
gerakan ini merupakan erakan yang muncul dari sebuah keinginan untuk
bereksperimen di dunia seni rupa dengan lebih bebas tanpa ikatan baku.

Report paper study

Handout 1

“Pengantar perkuliahan awal”

Tanggal : 17 September 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Karena keadaan pandemic covid-19 ini, maka perkuliahan kritik seni I ini
dilakukan dengan system online atau daring. Maka oleh sebab itu, saya sebagai
mahasiswa harus rajin studi mandiri dan sering baca-baca buku yang mendukung
perkuliahan ini. Selain itu, mahasiswa juga dianjurkan untuk membuat kesimpulan di
setiap pertemuan perkuliahan atau kali ini yang disebut handout. Kemudian
mahasiswa harus mampu melakukan studi integral dan sektoral serta membangun
kuriositas dalam pembelajaran.

Disini, mahasiswa dan juga harus cerdik. Harus bisa beradaptasi dengan
keadaan, karena ilmu itu harus tetap dituntut dalam keadaan apapun. Dan semua itu
kembali lagi kepada pelaksana keilmuan tersebut. Baik mahasiswa maupun dosen
mempunyai hak dan juga kewajiban masing-masing. Mahasiswa tugasnya belajar,
mengerjakan tugas dan dosen tugasnya membimbing, mengarahkan dan memberikan
wawasan yang disatukan di dalam satu almamater.

Perkuliahan ini berlangsung selama enam belas kali termasuk UTS dan UAS
yang terdiri dari tujuh kali menjelang UTS dan tujuh kali menjelang UAS.
Mekanisme perkuliahan ini dilakukan dengan menggunakan Whats App group Kritik
Seni I.

Demikianlah pertemuan kali ini, kesimpulannya adalah mata kuliah Kritik


Seni I ini dilakukan secara daring lewat Whats App group. Dimana disetiap
handoutnya mahasiswa ditugaskan untuk membuat sebuah tulisan tentang pokok
pembahasannya.

Report paper study

Handout 2

“Pengantar belajar Kritik Seni Rupa”

Tanggal : 17 September 2020

Pemateri : Pak Bambang Sapto

Dalam perkuliahan Kritik Seni ini mengutamakan pembahasan teoritik


mengenai pengertiannya, dasar kegiatan kritik, teori kritik seni, cara pendekatan kritik
seni, sekaligus belajar metode kritik dengan segala penyokongnya termasuk belajar
filsafat seni. Jadi dalam kritik seni ini ilmunya padat dan juga nyambung dengan
komunikasi seni, sosiologi seni, sosiologi seni dan lain-lain. Kritik seni ini dianggap
sebagai “Jembatan emas” bagi kritikus untuk menghubungkan seniman dengan
masyarakat melalui karya seniman. Teori ini menjadi pertumbuhan sikap intelegensi
bagi siapapun yang berminat belajar secara sektoral dan integral.

Tujuan dari mata kuliah ini adalah mahasiswa mampu memberikan pendapat
filosofis dan juga mengutamakan proses unutuk mencapai hasil. Disini juga lebih
mendekati ke filsafat dimana mencintai kebijaksanaan yang berarti mahasiswa harus
bijak dalam segala hal termasuk keilmuan. Hal ini juga bertujuan agar mahasiswa
mampu menjelaskan dan komunikator bagi masyarakat awam tentang perkembangan
dan pertumbuhan kesenian.

Anda mungkin juga menyukai