Report paper study
Handout 3
“Pengantar Latar Belakang Kritik Seni Rupa”
Tanggal : 11 Mei 2020
Pemateri : Pak Bambang Sapto
Berbicara mengenai kritik dalam seni berhubungan tentang baik buruknya
suatu karya seni. Disini terdapat suatu relasi publik seni yaitu seorang seniman,
masyarakat awam dan juga seorang kritikus. Dari hubungan tersebut, tentu akan
berpengaruh terhadap perguruan tinggi seni. Sebagai seorang mahasiswa, tentunya
saya membutuhkan pengetahuan yang bukan hanya bersifat motorik saja namun juga
perlu yang sifatnya kognisi dan afeksi. Masalahnya kedua sifat tersebut saling
melengkapi dan tidak terpisahkan. Apabila seorang mahasiswa hanya mengandalkan
afeksi saja, maka ia hanya menggunakan passion atau keinginan ia semata, namun
seringkali timbul masalah kognitif yang sulit di selesaikan. Seperti ketika seorang
mahasiswa lukis hanya mengandalkan konsep saja, namun sulit untuk mengeksekusi
secara teknis. Baegitupun sebaliknya, apabila hanya mengandalkan teknik saja tanpa
konsep maka hasilnya pun tidak akan seberapa. Seperti itulah analogi dari afeksi dan
kognisi yang disertai dengan sifat motorik. Maka, penting bagi perguruan tinggi seni
untuk memikirkan hal tersebut supaya lebih berkembangnya lagi pengetahuan tentang
seni.
Mengenai kurang berkembangnya seni rupa pada zaman dahulu karena ada
anggapan bahwa seorang pelukis kurang terampil menulis kritik seni saya pikir tidak
semua pelukis tidak terampil dalam menulis. Yang di garis bawahinya adalah karna
menulis itu perlu Ilmu. Diantaranya adalah mengenai pemahaman materi terhadap
apa yang ditulis kemudian ilmu tentang sistematika penulisan sehingga penulisannya
benar secara aturan. Bisa jadi pelukis itu punya materi atau gagasan yang kuat namun
ilmu tentang cara penulisannya tidak dikuasai sehingga tidak menulis kritik seni
misalnya. Ada juga yang ia mampu menulis dengan baik namun kurang tertarik untuk
menulis. Dan ada juga yang memang tidak punya materi untuk ditulis. Dan untuk
adanya pergaulan antara seorang pelukis dengan sastrawan saya pikir itu untuk
membangun silaturahmi dan juga relasi dari bidang yang berbeda sehingga
menciptakan suatu karya kombinasi yang baru. Seperti Muchtar Apin yang melukis
Chairil Anwar dan juga puisi Chairil Anwar yang berisi tentang gagasan karya
Affandi. Lalu mucullah pandangan bahwa kegiatan itu bernilai negative karena
orang-orang memandang para pelukis tidak bisa menulis kritik seni. Sehingga muncul
lah Sudjojono seorang perupa yang menjadi pelopor sekaligus menunjukkan bahwa
pelukis pun bisa terampil dalam menulis. Dan dari tulisan ini pun muncul istilah jiwa
ketok yang dipaparkan oleh Sudjojono.
Hingga pada masa kekinian para lulusan dari perguruan tinggi lebih
cenderung memilih untuk menjadi seni rupawan dibanding menjadi kritikus. Dan para
seniman lebih berkembang ke arah post modern untuk mencari gaya seni yang baru.
Maka muncul aliran seperti abstrak, dan aliran-aliran yang cenderung aneh. Dan
karena masyarakat awam sulit memahami kriteria seperti ini, maka para seniman
perlu untuk terjun langsung dan menjelaskan maksud dari karyanya supaya apresiasi
terhadap karya lebih terasa.
Namun betul, hal ini seperti itu terlihat kurang memperhatikan adanya seorang
kritikus. Maksudnya apabila pelukis terjun langsung menjelaskan karyanya, peran
seorang kritikus
menjadi terkikis. Dimana peran seorang kritikus adalah menjembatani menjembatani
sebagai komunikator kepada masyarakat, dengan tujuan meningkatkan kualitas
apresiasi. Disinilah peran kritik seni untuk dapat membangun suatu karya yang dapat
lebih bersahabat di masyarakat. Jadi tidak ada lagi kurang pahamnya antara apresiator
terhadap suatu karya.
Kesimpulannya adalah penting bagi seorang seniman mengetahui batas-batas
bidang tertentu supaya tidak menonjolkan suatu egosentris. Kritik seni berperan untuk
menjembatani antara karya dengan relasi publik supaya karya tersebut lebih welcome
dan dapat diterima di suatu masyarakat.
Report paper study
Handout 4
“Penghayatan Nilai Manusia dan Masyarakat”
Tanggal : 11 Mei 2020
Pemateri : Pak Bambang Sapto
Berbicara tentang kritik seni ini erat kaitannya dengan filsafat keindahan atau
estetika. Dan semua itu merupakan kegiatan budaya yang berlangsung antara kreator
atau seniman dengan apresian atau apresiator termasuk kritikus seni yang
menjembatani antara seniman dan apresiator. Jelas adanya perbedaan kualitas antara
apresiator yang hanya sebagai penikmat seni dengan apresiator yang sekaligus juga
kritikus. Jenis yang pertama hanya mengandalkan perasaan atau pengalaman
sederhana saja tanpa mendalami keilmuannya yang apabila diminta
pertanggungjawaban atas pendapatnya seringkali tidak nyambung. Berbeda dengan
kritikus seni yang merupakan seseorang yang mempunyai ilmu secara mendalam dan
telah menekuni bidangnya serta mampu mempertanggungjawabkan argumennyya
secara kuat. Di dalam diri kritikus, terdapat ilmu yang disebabkan oleh kesehariannya
yang seringkali bergaul dan bersosialisasi dengan seniman. Selain itu, selalu
mengamati karya-karya seni sehingga ia peka dan tau mana karya yang bagus dan
yang tidak. Dalam dirinya terjadi dialog ke dalam dan juga ke luar. Maksudnya ke
dalam adalah ia berkomunikasi dengan jiwa batinnya sehingga didapatkan suatu
pencerahan ilmu. Atau bisa dibilang adanya sympathy dan juga empathy. Hal ini
dapat mencciptakan suatu value atau nilai terhadap suatu karya seni.
Demikianlah pemaparan tentang peranan seorang kritikus seni yang terbilang
penting. Mengapa dibilang demikian? Karena menurut saya peran kritikus lebih
mencari kurangnya suatu karya sehingga setelah seorang seniman mengetahui
kekurangannya, ia dapat memperbaiki kekurangan itu dan menjadikan karyanya lebih
baik lagi. Namun memang benar adanya, istilah kritik di Indonesia masih terseok-
seok dan nilainya cenderung negatif. Menurut saya, yang menjadikannya negatif
adalah karena yang di kritiknya tidak menerima atas kritikan tersebut. Artinya, orang
yang dikritik mempunyai ego yang tinggi dan menganggap bahwa karyanya sudah
tidak perlu dikritik lagi. Dan juga, seorang seniman harus melihat dengan betul siapa
dan mmemahami yang mengkritiknya. Apakah orang yang mengkritiknya itu orang
yang benar-benar ahli? Apakah kritikan tersebut benar-benar membangun? Atau
malah hanyalah cacian semata? Apabila kritikan tersebut datangnya dari seorang ahli,
dan sifatnya adalah membangun supaya mebuat lebih baik lagi, maka sudah
sepatutnya kritikan tersebut diterima dan disyukuri. Namun apabila kritikan tersebut
hanyalah sebuah cacian, maka tindakan terbaik adalah dengan mengabaikannya.
Apabila dilihat dari segi istilahnya, critic dalam bahasa Inggris dipetik dari bahasa
Yunani yaitu kritikos yang erat kaitannya dengan krinein yang mengandung arti
memisahkan, mengamati, membandingkan, dan menimbang. Pada budaya Yunani
ada istilah krites yang artinya hakim dennggan kata kerja krinein yang artinya
menghakimi. Istilah tersebut banyak mengalami perkembangan, namun sampai pada
zaman modern ini masih banyak yang beranggapan bahwa kegiatan kritik adalah
suatu ajang penghakiman terhadap seni. Benarkah seperti itu? Menurut saya
penghakiman di dalam suatu karya seni bukan tentang benar atau salahnya suatu
karya. Dalam konteks kekaryaan tidak ada kaarya yang salah selama itu dapat
dipertanggungjawabkan, misalnya ada seniman yang memajang suatu kanvas kosong
lalu dii pamerkan. Kalau dilihat secaara sekilas itu apa-apaan, namun itu boleh
selama konsepnya nyambung. Nah, peran kritik seni disini adalah memastikan dan
menimbang apakah suatu karya tersebut tepat sasaran atau ada yang kurang. Maka
dengan adanya kritik, seniman harus lebih berhati-hati lagi untuk menciptakan karya
seni yang dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesiaa sendiri kritik merupakan
pengadopsian dari Bahasa Inggris dimana yang digarisbawahinya adalah subjeknya
atau pengkritiknya yang ditegaskan oleh bahasa Belanda yakni criticus. Namun di
Indonesia kata tersebut mrnjadi rancu, bahkan dalam kamus Purwadarminta kritik
berarti kemelut, keadaan genting, dan lain-lain. Disinilah dapat terlihat bahwa
pandangan masyarakat Indonesia terhadap kritik maasih cenderung negatif dan
merasa tidak perlu akan kritik padahal meskipun saya bukan tipe orang yang suka
mengkritik orang lain, tapi tidak ada salahnya untuk dikritik. Dari setiap masa
dimulai masa primitive sampai modern, peran kritik masih sama yaitu sebagai
komunikator antara seniman dan apresian supaya meningkatkan kualitas apresiasi
daan menyadari nilai-nilai suatu budaya. Kesimpulannya adalah kritik seni
merupakan suatu upaya untuk meninngkatkan kualitas apresiasi dan menjembaatani
antara kreator dan apresiator. Namun di Indonesia sendiri masih banyak yang
beranggapan bahwa kritik itu nilainya negatif. Maka ini menjadi evaluasi bagi saya
sebagai seorang mahasiswa untuk lebih memahami apa kriitik seni itu sebenarnya.
Terima kasih
Report paper study
Handout 5
“Serbaneka Prospeksi Kritik Seni”
Tanggal : 15 Oktober 2020
Pemateri : Pak Bambang Sapto
Kritik seni dikatakan sebagai tambang emas dimana kritik mampu
menjanjikan kegemilangan atau kesuksesan di masa mendatang bagi seniman dan
masyarakat. Bahkan Popo Iskandar dalam bukunya menyebutkan bahwa kritik seni
ini mempunyai prospek yang besar. Bagaimana tidak, apabila kita melihat ke masa
klasik dahulu, seni itu dikuasai oleh pihak kerajaan. Ada sebuah lembaga yang
dinamakan salon dimana tugas dari lembaga tersebut adalah menyeleksi mana yang
termasuk karya seni dan mana yang bukan. Karena ketatnya seleksi yang ada di
kerajaan tersebut memunculkan sebuah lembaga baru yaitu ‘Salon de Refuses’
dimana ini merupakan kegiatan pameran yang karyanya tidak terpilih atau ditolak
penyeleksi. Ada sebuah hal yang mengejutkan dimana karya dari seorang seniman
yang bernama Edouard Manet yang berjudul ‘Luncheon The Grass’ sangat
menggemparkan dunia. Dimana karya yang ditolak pada saat itu dipamerkan di salon
de refuses dan berhasil menarik perhatian dunia. Dari paparan di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa salon merupakan embrio dari kritik seni dan kuratorial seni
modern.
Lalu apabila kita melihat masa sekarang ini, kegiatan kritik seni tak seperti
kegiatan salon zaman dulu, dimana pada saata itu mencela dan menjelek-jelekkan
terlebih dahulu kemudian menyeleksi karya yang dianggap memenuhi selera raja.
Padahal sesungguhnya kritik seni itu berupa komentar filosofis yang dapat
meningkatkan mutu apresiatif dan sekaligus jadi pressure bagi seniman untuk
berkarya semakin baik lagi. Kritik seni terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama
ketika memberikan kritik sebaiknya mengutarakan sisi negatifnya. Yang kedua
golongan yang lebih suka mengutarakan hal positif daripada kejelekannya. Yang
ketiga menurut saya golongan yang paling baik dimana menyebutkan sisi negatif
sekaligus sisi positifnya. Dan golongan ini lengkap, ada kritik sekaligus juga dengan
sarannya.
Beberapa tujuan dari kritik seni diantaranya yang pertama kritik seni sebagai
pemberitahuan. Maksudnya memberitahukan bahwa ada suatu karya seni yang
disuguhkan. Kemudian yang kedua kritik seni sebagai pembicaraan suatu gejala
kehidupan budaya, sebagai bahan evaluasi estetik danuntuk meningkatkan mutu
apresiasi. Kritik seni itu memang dinamis, namun bagaimanapun juga harus kita ikuti
perkembangannya.
SOAL
1. Kalau melakukan kegiatan kritik seni di masa kini, apakah boleh memakai
pengertian Krinein yang caranya memakai empat langkah
2. kalau setuju bahwa boleh memakai cara Krinein apa alasannya, Kalau tak setuju
memakai cara Krinein apa alasanya
3. Kriik seni dilakukan pertama kali di Indonesia oleh Sudiojono, apakah di masa kini
pelukis juga dapat menjadi kritikus seni.
4. Kalau anda setuju bahwa pelukis boleh menjadi kritikus seni, apa alasanya Kalau
anda tak setuju apa alasanya
5. Pengertian Salon di Indonesia memang sangat tepat untuk maksud sesuatu yang
sangat bagus dan maasyarakat umumnnya di Indonesia sudah terbiasa membudaya
dan akrab dengan sebutan salon tersebut. Berikan satu contoh apa dan Bagaimana
6. Apa tujuan kegiatan kritik seni yang sesungguhnya. Cobalah utarakan pengalaman
anda terhadap kegiatan kritik seni di masa lampau anda dan selanjutnya di masa kini
situasi dan keadaan kesenian di sekitar anda atau di kampus anda Bagaimana
sudahkah tepat, ataukah tak tepat
JAWABAN
1. Kegiatan Seni di masa kini tak seperti salon masa lalu dimana keseniaan
dicela dan dikecam terlebih dahulu dan karya dinilai baik ketika memenuhi
selera raja. Padahal sesungguhnya kritik seni itu berupa ulasan yang positif
terhadap suatu karya seni yang sifatnya filosofis. Ada yang senang
mengutarakan kejelekannya, ada yang senang mengutarakan kebaikannya dan
ada juga yang suka mengutarakan sisi negative sekaligus sisi positifnya.
Mengenai boleh tidaknya di masa kini menggunakan metode krinein, menurut
saya boleh-boleh saja.
2. Alasan mengapa saya setuju dengan menggunakan metode krinein adalah
karena caranya jelas dan baik. Dimana dalam krinein ada beberapa proses atau
empat langkah untuk melakukan kegiatan kritik. Diantaranya adalah proses
memisahkan, mengamati, membandingkan dan menimbang. Dengan melalui
proses tersebut kegiatan kriitik akan menjadi terarah dan bersifat objektif.
Lalu keempat rses tersebut tidak lekang oleh waktu. Baik di masa lampau atau
di masa kini saya pikir keempat proses tersebut baik dan harus dilakukan.
3. Kritikus seni pertama di Indonesia adalah Sudjojono. Beliau mengkritik
kesenian di Indonesia pada masa Mooi Indie dimana seni difungsikan hanya
untuk souvenir bagi bangsa luar. Dengan hal itu ia menulis kritik dan
mengutarakan bahwa seni itu harus mengandung “jiwa ketok” atau jiwa
seorang seniman yang diinterpretasikan dalam karyanya.
Mengenai boleh tidaknya seorang pelukis menjadi kritikus seni, menurut saya
boleh saja selama yang ia tulis itu benar-benar penting dan menciptakan suatu
pengetahuan atau pandangan baru. Selain itu apabila ingin menjadi kritikus,
harus menguasai landasan kritikus. Dan harus benar-benar bergelut di
bidangnya dengan waktu yang cukup lama.
4. Alasan mengapa saya setuju mengenai bolehnya pelukis menjadi kritikus
adalah karena ilmu pengetahuan bisa datang dari siapa saja. Bukan berarti
meremehkan seorang sastrawan, tapi apabila ada seorang pelukis yang
menulis kritik dan menghasilkan atau pandangan baru kenapa tidak. Namun
ini juga perlu pertimbangan yang matang, pasalnya sudah ada bidang masing-
masing baik itui pelukis maupun kritikus seni. Namun apabila tulisan itu
penting dan menciptakan suatu pengetahuan, pandangan yang baru maka
pelukis boleh menjadi kritikus.
5. Salon di masa kini berbeda dengan salon masa lampau. Dulu di Perancis
sangat kental dengan pengaruh kerajaan. Dimana suatu karya seni yang
dianggap bagus ialah yang memenuhi selera Raja. Tentu ini sedikit menggeser
value dari seni itu sendiri. Menjadi subjektif karena patokan. Di Indonesia
sendiri salon ini semacam patokan bahkan apabila lolos maka sudah
dipastikan karya itu bagus. Salon disini semacam kuratorial sebuah pameran
dimana kurator berhak memilih dan memilah mana karya yang sekiranya
memenuhi tema dari suatu pameran.
6. Tujuan dari kritik seni yang sesungguhnya diantaranya adalah yang pertama
sebagai pemberitahuan. Maksudnya adalah memberitahukan bahwa ada suatu
karya seni yang disuguhkan supaya merangsang kegiatan seni budaya di
masyarakat. Kemudian tujuan selanjutnya adalah sebagai pembicaraan suatu
gejala budaya, memberikan pengantar lalu memberikan evaluasi estetiknya
sehingga meningkatkan mutu apresiasi. Dengan begitu, seniman dapat
merenung tentang proses kreatifnya sehingga karyanya sesuai dengan isi,visi,
dan misinya. Menurut saya peran kritik seni ini penting baik di masa lampau,
kini dan masa yang akan datang. Pasalnya dengan kritik ini, mampu
meningkatkan kualitas baik untuk apresian maupun untuk senimannya itu
sendiri. Sebagai contohnya di kampus, seorang mahasiswa mengerjakan tugas
studio, tentunya butuh kritikan dari dosennya. Tujuannya tidak lain adalah
supaya karyanya lebih baik lagi.
Report paper study
Handout 6
“Serbaneka Prospeksi Kritik Seni”
Tanggal : 15 Oktober 2020
Pemateri : Pak Bambang Sapto