0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

62

Peraturan Bupati Jepara Nomor 62 Tahun 2020 menetapkan tata kelola sistem pemerintahan daerah berbasis elektronik untuk meningkatkan profesionalisme, efektivitas, efisiensi, dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Peraturan ini mengacu pada berbagai undang-undang dan peraturan terkait, serta menetapkan prinsip-prinsip pelaksanaan SPBE. Tujuannya adalah memberikan pedoman dalam pengelolaan SPBE di lingkungan Pemerintah Daerah Jepara.

Diunggah oleh

sdf9xvz26b
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

62

Peraturan Bupati Jepara Nomor 62 Tahun 2020 menetapkan tata kelola sistem pemerintahan daerah berbasis elektronik untuk meningkatkan profesionalisme, efektivitas, efisiensi, dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Peraturan ini mengacu pada berbagai undang-undang dan peraturan terkait, serta menetapkan prinsip-prinsip pelaksanaan SPBE. Tujuannya adalah memberikan pedoman dalam pengelolaan SPBE di lingkungan Pemerintah Daerah Jepara.

Diunggah oleh

sdf9xvz26b
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

'

BUPATIJEPARA
PROVINS!JAWA TENGAH
PERATURANBUPATIJEPARA
NOMOR 62 TAHUN 2020

TENTANG

TATA KELOLASISTEM PEMERINTAHANDAERAHBERBASIS


ELEKTRONIK

DENGANRAHMATTUHANYANG MAHAESA

BUPATI JEPARA,

Menimbang a. bahwa untuk memanfaatkan teknologi infonnasi


dan komunikasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah guna menciptakan
pemerintahan yang profesional, efektif, dan efisien
dan transparan, maka perlu adanya tata kelola
pemerintahan berbasis elektronik;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Tata Kelola
Pemerintahan Daerah Berbasis Elektronik;

Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang


Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam
Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 154);
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Infonnasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4843), sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008 tentang Infonnasi dan Transaksi Elektronik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2016 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 59521;

-2-
4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor4846;
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5038);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Republik Indonesia Nomor 5587),
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2015 Nomor58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012
tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi
Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2012 Nomor 189, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5348);
8. Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang
Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor
182);
10. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2016 tentang
Sistem Pengamanan Informasi (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 551);
11. Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Nomor 5 Tahun 2018
Tentang Pedoman Evaluasi Sistem Pemerintahan
Berbasis Elektronik (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2018 Nomor 154);
12. Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 18
Tahun 2012 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah
Kabupaten Jepara Tahun 2012 Nomor 18,
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Jepara
Nomor 15);
13. Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 14
Tahun 2016 tentang Pembentukan Dan Susunan
Perangkat Daerah Kabupaten Jepara (Lembaran
Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2016 Nomor 14,
-3-
Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Jepara
Nomor 11);

14. Peraturan Bupati Jepara Nomor 75 Tahun 2010


Tentang Pedoman Pengelolaan Pelayanan
Informasi dan Dokumentasi di Kabupaten Jepara
(Berita Daerah Kabupaten Jepara Tahun 2010
Nomor 558);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan PERATURAN BUPATI TENTANGTATA KELOLA SISTEM


PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal l

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Japara.
2. Bupati adalah Bupati Jepara.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur
penyelenggara Pemerintah Daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Otonom.
4 Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah
Kabupaten Jepara.
5 Dinas Komunikasi dan lnformatika yang
selanjutnya disebut Dinas adalah Dinas
Komunikasi Informatika Kabupaten Jepara yang
membidangi Pengelolaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi.
6 Perangkat Daerah Kabupaten Jepara yang
selanjutnya disebut Perangkat Daerah adalah
unsur pembantu Bupati dan DPRD dalam
penyelenggaraan unsur Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Daerah.
7. Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik yang
selanjutnya disingkat SPBE adalah
penyelenggaraan pemerintahan yang
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
untuk memberikan layanan kepada Pengguna
SPBE.
8. Tata Kelola SPBE adalah kerangka kerja yang
memastikan terlaksananya pengaturan,

-4-
pengarahan, dan pengendalian dalam penerapan
SPBE secara terpadu.
9. Manajemen SPBE adalah serangkaian proses untuk
mencapai penerapan SPBE yang efektif, efisien, dan
berkesinambungan, serta layanan SPBE yang
berkualitas.
10. Audit Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah
proses yang sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara objektif terhadap aset
teknologi informasi dan komunikasi dengan tujuan
untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara
teknologi informasi dan komunikasi dengan kriteria
dan/atau standar yang telah ditetapkan.
11. Penyelenggara SPBE adalah Tim Koordinasi SPBE
yang dibentuk oleh Bupati guna untuk
meningkatkan keterpaduan pelaksanaan Tata
Kelola SPBE, Manajemen SPBE, dan Audit
Teknologi lnformasi dan Komunikasi, serta
pemantauan dan evaluasi SPBE Pemerintah
Daerah.
12. Percepatan SPBE dilakukan Untuk meningkatkan
kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan publik.
13. Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan SPBE
bertujuan untuk meningkatkan mutu
penyelenggaraan SPBE.
14. Arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis
Elektronik yang selanjutnya disebut Arsitektur
SPBE adalah kerangka dasar yang
mendeskripsikan integrasi proses bisnis, data dan
informasi, infrastruktur SPBE, aplikasi SPBE, dan
keamanan SPBE untuk menghasilkan layanan
SPBE yang terintegrasi.
15. Peta Rencana SPBE Pemerintah Daerah yang
selanjutnya disebut Peta Rencana SPBE adalah
dokumen yang mendeskripsikan arah dan langkah
penyiapan dan pelaksanaan SPBE yang
terintegrasi.
16. Rencana dan anggaran SPBE disusun oleh
Perangkat Daerah sesuai dengan proses
perencanaan dan penganggaran tahunan
pemerintah.
17. Proses Bisnis adalah sekumpulan kegiatan yang
terstruktur dan saling terkait dalam pelaksanaan
tugas dan fungsi Pemerintah Daerah.
18. Data adalah sekumpulan informasi atau juga
keterangan - keterangan dari suatu hal yang
diperoleh dengan melalui pengamatan atau juga
pencarian ke sumber - sumber tertentu.
- 5-
19. Informasi adalah keterangan, pemyataan, [Link],
dan tanda - tanda yang mengandung nilai, makna,
dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya
yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang
disajikan dalam berbagai kemasan dan format
sesuai dengan perkembangan TIK secara elektronik
ataupun non elektronik.
20. lnfrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis
Elektronik yang selanjutnya disebut Infrastruktur
SPBE adalah semua perangkat keras, perangkat
lunak, dan fasilitas yang menjadi penunjang utama
untuk menjalankan sistem, aplikasi, komunikasi
data, pengolahan dan penyimpanan data,
perangkat integrasi/penghubung, dan perangkat
elektronik lainnya serta memberikan layanan
SPBE.
21. Aplikasi SPBE adalah satu atau sekumpulan
program komputer dan prosedur yang dirancang
untuk melakukan tugas atau fungsi Layanan
SPBE.
22. Keamanan SPBE adalah pengendalian keamanan
yang terpadu dalam SPBE.
23. Layanan SPBE adalah keluaran yang dihasilkan
oleh 1 (satu) atau beberapa fungsi aplikasi SPBE
dan yang memiliki nilai manfaat.
24. Pusat Data adalah fasilitas yang digunakan untuk
penempatan sistem elektronik dan komponen
terkait lainnya untuk keperluan penempatan,
penyimpanan dan pengolahan data, dan pemulihan
data.
25. Jaringan Intra adalah jaringan tertutup yang
menghubungkan antar simpul jaringan da1am
suatu organisasi.
26. Sistem Penghubung Layanan adalah perangkat
integrasi/penghubung untuk melakukan
pertukaran Layanan SPBE.
27. Aplikasi Umum adalah Aplikasi SPBE yang sama,
standar, dan digunakan secara berbagi pakai oleh
lebih dari satu Perangkat Daerah.
28. Aplikasi Khusus adalah Aplikasi SPBE khusus yang
dikembangkan, digunakan, dan dikelola oleh
Perangkat Daerah tertentu guna mendukung
uraian tuga.s pokok dan fungsi serta memenuhi
kebutuhan khusus Perangkat Daerah.
29. Pelayanan publik merupakan kegiatan atau
rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga [Link] dan
penduduk atas barang, jasa, dan / atau pelayanan
-6 -
administratif yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik.
30. Penyelengara Pelayanan Publik merupakan
institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga
independen yang dibentuk berdasarkan undang-
undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan
badan hukum lain yang dibentuk semata-mata
untuk kegiatan pelayanan publik.
31. Pengguna SPBE adalah instansi pusat, pemerintah
daerah, pegawai Aparatur Sipil Negara, perorangan,
masyarakat, pelaku usaha, dan pihak lain yang
memanfaatkan Layanan SPBE.
32. Repository aplikasi SPBE adalah tempat
penyimpanan seluruh aplikasi SPBE, source code,
dan berbagai dokumen aplikasi lainnya.
33. Pusat Pemulihan Bencana yang selanjutnya disebut
Disaster Recovery Centeradalah suatu fasilitas yang
digunakan untuk memulihkan kembali data atau
informasi serta fungsi-fungsi penting SPBE yang
terganggu atau rusak akibat terjadinya bencana
yang disebabkan oleh alam atau manusia.
34. Proses Teknologi Informasi dan Komunikasi yang
selanjutnya disingkat proses, adalah kumpulan
aktivitas-aktivitas terkait pengelolaan TIK yang
terstruktur dengan masukan dan menghasilkan
luaran tertentu.
35. Perangkat Daerah Mandiri TIK adalah Perangkat
Daerah yang dinilai telah mampu membangun,
mengembangkan, dan mengelola aplikasi dan/atau
infrastruktur SPBE.
36. Perangkat Daerah Pemilik Layanan adalah
Perangkat Daerah yang berdasarkan uraian tugas
pokok dan fungsinya merupakan penanggungjawab
utama layanan terkait.
37. Pelayanan Level l, atau selanjutnya disebut dengan
Service Desk Tier 1, adalah staf atau unit di
Perangkat Daerah yang memiliki tugas dan
wewenang sebagai pihak pertama dan satu-satunya
yang dihubungi pengguna layanan TIK (single point
contact) untuk melaporkan dan meminta
pertolongan terkait permasalahan TIK di Perangkat
Daerah tersebut.
38. Pelayanan Level 2, atau selanjutnya disebut dengan
Service Desk Tier 2, adalah unit di Dinas
Komunikasi dan Informatika yang memiliki tugas
dan wewenang sebagai pihak yang dihubungi
Service Desk Tier 1 apabila terdapat permasalahan
TIK Perangkat Daerah yang tidak mampu
diselesaikan oleh Service Desk Tier 1 dan dihubungi
pengguna layanan TIK untuk melaporkan dan
-7 -
meminta pertolongan terkait permasalahan TIK
yang disediakan langsung oleh Dinas Komunikasi
dan Informatika.
39. Petunjuk Teknis adalah panduan detail aktivitas-
aktivitas yang harus dilakukan, mencakup
didalamnya: dokumen yang digunakan dan/atau
yang dihasilkan, cara atau metode yang digunakan,
dan masukan dan infonnasi atau produk yang
dihasilkan, dan standar masing-masing aktivitas,
masukan, dan keluaran.

Bagian Kedua
Tujuan dan Prinsip
Pasal 2

Tujuan disusunnya Peraturan Bupati ini yaitu


untuk memberikan acuan, pedoman, dan panduan
dalam pelaksanaan pengelolaan SPBE di lingkungan
Pemerintah Daerah;

Pasal 3

(1) SPBE di lingkungan Pemerintah Daerah


dilaksanakan dengan prinsip :
a. Efektifitas;
b. Keterpaduan;
c. Kesinambungan;
d. Eflsiensi;
e. Akuntabilitas;
f. Interoperabilitas; dan
g. Keamanan.
(2) Efektivitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a merupakan optimalisasi pemanfaatan
sumber daya yang mendukung SPBE yang berhasil
guna sesuai dengan kebutuhan.
(3) Keterpaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b merupakan pengintegrasian sumber daya
yang mendukung SPBE.
(4) Kesinambungan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf c merupakan keberlanjutan SPBE secara
terencana, bertahap, dan terus menerus sesuai
dengan perkembangannya.
(5) Efisiensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d merupakan optimalisasi pemanfaatan
sumber daya yang mendukung SPBE yang tepat
guna.
(6) Akuntabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf e merupakan kejelasan fungsi dan
pertanggungjawaban dari SPBE;
\

-8-
(7) lnteroperabilitas [Link] dimaksud pada ayat
(1) huruf f merupakan koordinasi dan kolaborasi
antar Proses Bisnis dan antar sistem elektronik,
dalam rangka pertukaran data, informasi, atau
Layanan SPBE.
(8) Keamanan [Link] dimaksud pada ayat (1)
huruf g merupakan kerahasiaan, keutuhan,
ketersediaan, keaslian, dan kenirsangkalan
(nonrepudiation) sumber daya yang mendukung
SPBE.

Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 4

Ruang lingkup pengaturan dalam Peraturan Bupati ini


meliputi:
a. Tata Kelola;
b. Manajemen SPBE;
c. Audit Teknologi Komunikasi dan lnformasi;
d. Penyelenggara SPBE;
e. Percepatan SPBE; dan
f. Pemantauan dan Evaluasi SPBE;

BAB II
TATAKELOLA
Bagian Kesatu
Umum

Pasal 5

(1) Tata Kelola SPBE merupakan serangkaian langkah


dalam penerapan unsur-unsur SPBE secara
terpadu.
(2) Unsur-unsur SPBE sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. Arsitektur SPBE;
b. Peta Rencana SPBE;
c. rencana dan anggaran SPBE
d. Proses Bisnis;
e. Data dan informasi;
f. lnfrastruktur SPBE;
g. Aplikasi SPBE;
h. Keamanan SPBE; dan
i. Layanan SPBE.
-9-

Bagian Kedua
Arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
Pasal 6

(1) Arsitektur SPBE bertujuan untuk memberikan


panduan dalam pelaksanaan integrasi Proses
Bisnis, data dan informasi, Infrastruktur SPBE,
Aplikasi SPBE, dan Keamanan SPBE untuk
menghasilkan Layanan SPBE yang terpadu di
lingkungan Pemerintah Daerah;
(2) Arsitektur SPBE memuat :
a. referensi arsitektur; dan
b. domain arsitektur.
(3) Referensi arsitektur sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a mendeskripsikan komponen dasar
arsitektur baku yang digunakan sebagai acuan
untuk penyusunan setiap domain arsitektur.
(4) Domain arsitektur mendeslaipsikan substansi
arsitektur yang memuat :
a. domain arsitektur Proses Bisnis;
b. domain arsitektur data dan informasi;
c. domain arsitektur lnfrastruktur SPBE;
d. domain arsitektur Aplikasi SPBE;
e. domain arsitektur Keamanan SPBE; dan
f. domain arsitektur Layanan SPBE
(5) Pelaksanaan SPBE di lingkungan Pemerintah
Daerah wajib mengacu pada Arsitektur SPBE;
(6) Arsitektur SPBE ditetapkan dengan Keputusan
Bupati;
(7) Arsitektur SPBE ditetapkan untuk :
a. jangka waktu 5 (lima) tahun apabila Arsitektur
SPBE ditetapkan sesuai jangka waktu Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD); atau
b. kurang dari jangka waktu 5 (lima) tahun
apabila Arsitektur SPBE ditetapkan pada [Link]
tahun berjalan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD).
(8) Dinas melakukan pemantauan dan evaluasi
terhadap Arsitektur SPBE setiap tahun;
(9) Perubahan Arsitektur SPBE dapat dilakukan
sewaktu-waktu dengan memperhatikan :
a. perkembangan keadaan;
b. kebutuhan Daerah;
c. penyesuaian atau perubahan Arsitektur SPBE
Nasional;
d. basil pemantauan dan evaluasi SPBE di
Pemerintah Daerah;
• 10 ·
e. perubahan pada unsur SPBE Pemerintah
Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (2);
f. perubahan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah; dan/atau
g. ketentuan peraturan perundang-undangan.
(10) Perubahan Arsitektur SPBE sebagaimana
dimaksud pada ayat (7) ditetapkan dengan
Keputusan Bupati.

Bagian Ketiga
Peta Rencana Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
Pasal 7

( 1) Peta Rencana SPBE disusun dengan berpedoman


pada Arsitektur SPBE Pemerintah Daerah, Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),
dan rencana strategis Pemerintah Daerah;
(2) Peta Rencana SPBE disusun untuk jangka waktu 5
(lima) tahun;
(3) Peta Rencana SPBE ditetapkan dengan Keputusan
Bupati;
(4) Dinas melakukan pemantauan dan evaluasi
terhadap Peta Rencana SPBE setiap tahun;
(5) Perubahan Peta Rencana SPBE dapat dilakukan
sewaktu-waktu dengan memperhatikan:
a. perkembangan keadaan;
b. kebutuhan Daerah;
c. penyesuaian atau perubahan Peta Rencana
SPBE Nasional;
d. perubahan rencana strategis Pemerintah
Daerah;
e. perubahan Arsitektur SPBE Pemerintah
Daerah;
f. hasil pemantauan dan evaluasi SPBE di
Pemerintah Daerah; dan/atau
g. ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Perubahan Peta Rencana SPBE sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) ditetapkan dengan
Keputusan Bupati.

Bagian Keempat
Rencana dan Anggaran Sistem Pemerintahan Berbasis
Elektronik
Pasal 8

(1) Rencana dan anggaran SPBE disusun sesuai


dengan proses perencanaan dan penganggaran
tahunan Pemerintah Daerah;
• - 11 -
(2) Rencana dan Anggaran SPBE berpedoman pada
Arsitektur SPBE dan Peta Rencana SPBE.

Bagian Kelima
Proses Bisnis
Pasal 9

( 1) Penyusunan Proses Bisnis bertujuan untuk


memberikan pedoman dalarn penggunaan data dan
informasi serta penerapan Aplik:asi SPBE,
Keamanan SPBE, dan Layanan SPBE;
(2) Penyususnan Proses Bisnis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berdasarkan pada Arsitektur SPBE;
(3) Proses Bisnis yang saling terkait disusun secara
terintegrasi untuk mendukung pembangunan dan
pengembangan Aplik:asi SPBE dan Layanan SPBE
yang terintegrasi;
(4) Proses bisnis dan aplik:asi SPBE harus terintegrasi
dengan proses bisnis/aplik:asi di daerah
lain/pemerintah dan atau pemerintah daerah lain;
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Proses Bisnis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman
pada peraturan perundang-undangan.

Bagian Keenam
Data dan lnformasi
Pasal 10

(l) Setiap Perangk:at Daerah menyediakan data dan


informasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
(2) Data dan lnformasi mencakup semua jenis Data
dan lnforrnasi yang dimiliki oleh Perangk:at Daerah,
dan/atau yang diperoleh dari masyarak:at, pelaku
usaha, dan/atau pihak lain;
(3) Data dan lnformasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus memenuhi standar keamanan,
kerahasiaan, kekinian, akurasi serta keutuhan
data dan informasinya;
(4) Struktur serta format data dan informasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai
dengan standar yang ditetapkan dengan
memperhatikan prinsip interoperabilitas dan
kearnanan;
(5) Penggunaan data dan informasi dilakuk:an dengan
mengutamakan bagi pakai data dan informasi
an tar Instansi Pusat dan/ atau Pemerintah Daerah
dengan berdasarkan tujuan dan cakupan,
penyediaan akses data dan informasi, dan
- 12 -
pemenuhan standar interoperabilitas data dan
informasi;
(6) Penggunaan data dan informasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
mengacu pada Arsitektur SPBE.

Pasal 11

(1) Perlindungan keamanan, kerahasiaan, kekinian,


akurasi serta keutuhan data dan informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3)
menjadi tanggung jawab Perangkat Daerah sesuai
dengan kewenangannya dengan memperhatikan
tugas dan fungsi masing-masing Perangkat Daerah;
(2) Pelaksanaan perlindungan sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) dilakukan dengan berpedoman pada
ketentuan peraturan perundang-undangan;
(3) Pelaksanaan perlindungan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) dilakukan dengan melalui :
a. menetapkan klasifikasi keamanan, pembatasan
akses dan pengendalian keamanan lainnya;
b. menerapkan otentikasi dan pendeteksian
modifikasi;
c. menjaga kerahasiaan data dan informasi dari
pihak yang tidak berwenang;
d. menjaga keutuhan dan orisinalitas data dan
informasi;
e. menjamin ketersediaan akses data dan
informasi oleh pihak yang berwenang.

Pasal 12

(1) Dalam rangka perlindungan kearoanan,


kerahasiaan, kekinian, akurasi serta keutuhan
data dan informasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (3), Dinas menyusun kebijakan
keamanan informasi;
(2) Kebijakan keamanan informasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup antara lain:
a. panduan penggunaan sarana-prasarana TIK di
lingkungan Pemerintah Daerah, termasuk
penggunaan email resmi kantor, penggunaan
akses Internet, pengaksesan data kantor baik
dari LAN, WAN, maupun Internet;
b. panduan membawa peralatan TIK pribadi ke
kantor dan menghubungkannya dengan
[Link] TIK di lingkungan Pemerintah
Daerah (kebijakan Bring your Own Devices atau
BYOD);
- 13 -
c. kewajiban setiap Perangkat Daerah untuk
mengimplementasikan perangkat lunak dan
perangkat keras keamanan informasi di sistem
internal Perangkat Daerah tersebut atau LAN,
khususnya sistem TIK yang langsung
terkoneksi dengan Internet;
d. kewajiban mengimplementasikan perangkat
lunak dan perangkat keras keamanan informasi
di sistem antar Perangkat Daerah atau WAN
serta memonitor keamanan informasi
khususnya di sarana-prasarana TIK yang
menjalankan fungsi vital bagi jalannya
Pemerintahan Daerah.
(3) Kebijakan keamanan infonnasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) berlaku untuk semua
Perangkat Daerah penyedia data dan informasi.

Bagian Ketujuh
Infrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik

Paragraf 1
Umum
Pasal 13

(1) lnfrastruktur SPBE Pemerintah Daerah terdiri atas:


a. Pusat Data;
b. Jaringan Intra Pemerintah Daerah; dan
c. Sistem Penghubung Layanan Pemerintah
Daerah;
(2) Pembangunan dan Pengembangan lnfrastruktur
SPBE Pemerintah Daerah harus didasarkan pada
Arsitektur SPBE;
(3) Penggunaan Infrastruktur SPBE Pemerintah
Daerah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi,
keamanan, dan kemudahan integrasi dalam rangka
memenuhi kebutuhan Infrastruktur SPBE bagi
internal dan antar Perangkat Daerah;
(4) Penggunaan lnfrastruktur SPBE Pemerintah
Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan secara bagi pakai oleh internal Perangkat
Daerah dan antar Perangkat Daerah, dan saling
terhubung;
(5) Pusat data sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a merupakan Pusat Data yang digunakan
secara bagi pakai oleh Perangkat Daerah dan saling
terhubung;
(6) Jaringan Intra pemerintah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b merupakan jaringan
interkoneksi tertutup yang menghubungkan antar
Perangkat Daerah;
- 14 -
(7) Sistem Penghubung Layanan pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
merupakan perangkat integrasi pertukaran
Layanan SPBE antar Perangkat Daerah dan antara
Perangkat Daerah dengan Instansi Pusat.

Paragraf2
Pusat Data
Pasal 14

(1) Penggunaan Pusat Data bertujuan untuk


meningkatkan efisiensi dalam memanfaatkan
sumber daya Pemerintah Daerah;
(2) Pusat Data sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa :
a. pusat data nasional, atau
b. pusat data yang dibangun sendiri oleh
pemerintah daerah dalam hal pusat data
nasional belum ditetapkan atau belum sesuai
kriteria kebutuhan pemerintah daerah.
(3) Pusat Data sebagairoana dimaksud pada ayat (2)
huruf b dikelola oleh Dinas;
(4) Infrastruktur Pusat Data sebagaimana dimaksud
dalam ayat 2 harus sesuai dengan standar yang
ditetapkan dan ketentuan perundangundangan
yang berlaku;
(5) Setiap Perangkat Daerah di Iingkungan Pemerintah
Daerah wajib menempatkan data dan/atau
servemya di Pusat Data;
(6) Pusat Data sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
menyediakan jaminan colocation, keamanan server
dan up-time server;
(7) Perangkat Daerah Mandiri TIK dapat mengadakan
sendiri server serta melakukan konfigurasi,
operasional dan perawatan server;
(8) Dalam hal Perangkat Daerah tidak dapat
mengadakan server sendiri sebagaimana dimaksud
pada ayat (6), maka Dinas dapat menyediakan
fasilitas Virtual Private Server (VPS) beserta
konfigurasi dan perawatan server di Pusat Data.

Pasal 15

( 1) Penyimpanan data dilaksanakan secara terpusat


dan terintegrasi di Pusat Data;
(2) Dalam rangka integrasi data di Pusat Data
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas
melakukan pengelolaan data setelah mendapat
persetujuan dari Perangkat Daerah pemilik data.
- 15 -
Pasal 16

( 1)Setiap Perangkat Daerah wajib melakukan


pencadangan (back-up) data secara berkala ke
dalam server di Pusat Data Pemerintah Daerah;
(2) Dinas melakukan koordinasi dan supervisi
terhadap Perangkat Daerah terkait pelaksanaan
kewajiban pencadangan (back-up) data
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 17

Dinas menjamin kerahasiaan dan keamanan data yang


disimpan di dalam Pusat Data sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;

Paragraf 3
Jaringan Intra Pemerintah Daerah
Pasal 18

(1) Penggunaan Jaringan Intra Pemerintah Daerah


bertujuan untuk menjaga keamanan dalam
melakukan pengiriman data dan informasi antar
simpul jaringan dalam Perangkat Daerah;
(2) Jaringan Intra Pemerintah Daerah merupakan
janngan interkoneksi tertutup yang
menghubungkan antar Perangkat Daerah;
(3) Setiap Perangkat Daerah menyelenggarakan
Jaringan Intra Pemerintah Daerah masing -
ma sing;
(4) Perencanaan, pembangunan, pemeliharaan,
pengoperasian dan/atau pengembangan Jaringan
Intra Pemerintah Daerah ditetapkan sebagai
berikut:
a. Dinas melaksanakan perencanaan,
pembangunan, pemeliharaan, pengoperasian
dan/atau pengembangan infrastruktur WAN
hingga router Perangkat Daerah seluruh
Pemerintah Daerah, termasuk jaringan fiber
optic Pemerintah Daerah;
b. Perangkat Daerah Mandiri TIK melaksanakan
perencanaan, pembangunan, pemeliharaan,
pengoperasian dan/atau pengembangan
infrastruktur LAN dan infrastruktur khusus
Perangkat Daerah sesuai dengan
kewenangannya dengan memperhatikan tugas
pokok dan fungsi masing-masing Perangkat
Daerah.
(5) Perencanaan, pembangunan, pemeliharaan,
pengoperasian dan/atau pengembangan
- 16 -
infrastruktur LAN dan infrastruktur khusus
Perangkat Daerah selain Perangkat Daerah Mandiri
TIK dapat [Link] oleh Dinas.

Pasal 19

(1) Infrastruktur Jaringan Intra Pemerintah Daerah


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 harus
sesuai dengan standar yang ditetapkan dan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
(2) Infrastruktur LAN Perangkat Daerah harus dapat
diperiksa oleh Dinas;

Pasal 20

(1) Setiap Perangkat Daerah wajib menyerahkan


diagram infrastruktur LAN yang terbangun kepada
Dinas;
(2) Setiap Perangkat Daerah wajib melaporkan detail
perubahan infrastruktur LAN apabila terdapat
peru bahan infrastruktur LAN;

Paragraf 4
Sistem Penghubung Layanan antar Perangkat Daerah
Pasal 21

(1) Penggunaan Sistem Penghubung Layanan antar


Perangkat Daerah bertujuan untuk memudahkan
dalaro roelakukan integrasi antar Layanan SPBE;
(2) Sistem Penghubung layanan Pemerintah Daerah
merupakan perangkat integrasi yang terhubung
dengan sistem penghubung layanan instansi pusat
dan Pemerintah Daerah untuk melakukan
pertukaran layanan SPBE antar instansi pusat
dengan Pemerintah Daerah dan/atau internal
Pemerintah Daerah;
(3) Setiap Perangkat Daerah wajib [Link] sistem
penghubung layanan untuk layanan SPBE yang
membutuhkan integrasi dengan data dan/atau
layanan SPBE yang dikelolanya;
(4) Sistem Penghubungan Layanan sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (2) dibangun oleh Dinas atau
Perangkat Daerah Mandiri TIK;
(5) Dalam penyediaan Sistem Penghubung Layanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Perangkat
Daerah harus :
a. membuat keterhubungan dan akses data dan
Jaringan Intra Perangkat Daerah dengan
- 17 -
Jaringan Intra Perangkat Daerah yang
membutuhkan;
b. memenuhi standar interoperabilitas antar
Layanan SPBE dan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku; dan
c. mendapatkan pertimbangan kelaikan operasi
dan keamanan dari Dinas.

Bagian Kedelapan
Aplikasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
Pasal 22

(1) Aplikasi SPBE digunakan Pemerintah Daerah


untuk memberikan Layanan SPBE;
(2) Aplikasi SPBE sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas :
a. Aplikasi umum; dan
b. Aplikasi khusus.
(3) Keterpaduan perencanaan, pembangunan,
pemeliharaan dan/atau pengembangan aplikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1)
dikoordinasikan oleh Dinas dan harus sesuai
dengan Proses Bisnis TlK dan harus didasarkan
pada Arsitektur SPBE;
(4) Pelaksanaan perencanaan, pembangunan,
pemeliharaan dan/atau pengembangan aplikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan
sebagai berikut :
a. perencanaan, pembangunan, pemeliharaan
dan/atau pengembangan Aplikasi Umum
dilakukan oleh lnstansi Pusat, atau Dinas
dalam hal daftar resmi Aplikasi Umum belum
ditetapkan oleh lnstansi Pusat yang berwenang;
b. perencanaan, pembangunan, pemeliharaan
dan/atau pengembangan Aplikasi Khusus
dilakukan oleh Dinas atau Perangkat Daerah
Mandiri TIK;
(5) Aplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dioperasikan oleh Perangkat Daerah Pemilik
Layanan;
(6) Aplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus sesuai dengan standar yang ditetapkan dan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 23

(1) Perangkat Daerah yang melakukan pembangunan


dan/atau pengembangan aplikasi khusus wajib
melakukan pengujian Aplikasi yang dirancang
- 18 -
sebelum diimplementasikan ke infrastruktur
layanan yang sebenarnya;
(2) Dalam pelaksanaan pengujian aplikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus
dilengkapi:
a. dokumen kebutuhan perangkat lunak;
b. dokumen perancangan aplikasi;
c. dokumen manual penggunaan aplikasi; dan
d, Source Code dengan penjelasan fungsi masing-
masing procedure.
(3) Perangkat Daerah dapat melibatkan dinas dalam
pelaksanaan pengujian untuk memastikan
kesesuaian fungsinya;
(4) Aplikasi beserta kelengkapannya sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) wajib diserahkan kepada
Dinas untuk didokumentasi dan disirnpan di
Repositori;
(5) Hak cipta atas Aplikasi beserta kelengkapannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi milik
Pemerintah Daerah.

Bagian Kesembilan
Keamanan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
Pasal 24

(1) Keamanan SPBE mencakup penjaminan


kerahasiaan, keutuhan, ketersediaan, keaslian, dan
kenirsangkalan (nonrepudiation) sumber daya
terkait data dan informasi, Infrastruktur SPBE, dan
Aplikasi SPBE;
(2) Penjaminan kerahasiaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan melalui penetapan
klasifikasi keamanan, pernbatasan akses, dan
pengendalian keamanan lainnya;
(3) Penjaminan keutuhan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui pendeteksian modifikasi;
(4) Penjaminan ketersediaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan
cadangan dan pemulihan;
(5) Penjaminan keaslian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui penyediaan mekanisme
verifikasi dan validasi;
(6) Penjaminan kenirsangkalan (nonrepudiation)
sebagaimana dimaksud pada ayat {l) dilakukan
melalui penerapan tanda tangan digital dan
jaminan pihak ketiga terpercaya melalui
penggunaan sertifikat digital sesuai dengan
perundang-undangan.
- 19 -
Pasal 25

(1) Setiap Perangkat Daerah harus menerapkan


Keamanan SPBE;
(2) Dalam menerapkan Keamanan SPBE harus
didasarkan pada Arsitektur SPBE;
(3) Dalam menerapkan Keamanan SPBE dan
menyelesaikan permasalahan Keamanan SPBE,
pimpinan Perangkat Daerah dapat melakukan
konsultasi dan atau koordinasi dengan Dinas.

Bagian Kesepuluh
Layanan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik

Paragraf 1
Umum
Pasal 26

(1) Layanan SPBE terdiri atas:


a. layanan administrasi pemerintahan berbasis
elektronik; dan
b. layanan publik berbasis elektronik.
(2) Layanan administrasi pemerintahan berbasis
elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a merupakan Layanan SPBE yang
mendukung tata laksana internal birokrasi dalam
rangka meningkatkan kinerja dan akuntabillitas
Pemerintah Daerah;
(3) Layanan publik berbasis elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan
Layanan SPBE yang mendukung pelaksanaan
pelayanan publik di Pemerintah Daerah.
(4) Setiap Perangkat Daerah wajib mengadakan,
mengembangkan, dan mengelola situs web yang
berisi informasi dan layanan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan dengan
memperhatikan tugas pokok dan fungsi masing-
masing Perangkat Daerah;
(5) Situs web setiap Perangkat Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) harus merupakan sub
domain atau menginduk pada portal Pemerintah
Daerah [Link]
(6) Perangkat Daerah harus menggunakan surat
elektronik resmi Pemerintah Daerah dalam setiap
transaksi elektronik urusan kedinasan;
(7) Surat elektronik resmi Perangkat Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) wajib
menggunakan domain Pemerintah Daerah
namaperangkatdaerah@[Link].
- 20 -
Paragraf2
Layanan administrasi pemerintahan berbasis elektronik
Pasal 27

( l) Perangkat Daerah pemilik layanan harus


menyediakan layanan administrasi pemerintahan
berbasis elektronik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (1) huruf a meliputi layanan yang
mendukung kegiatan di bidang :
a. Perencanaan;
b. Penganggaran;
c. Keuangan;
d. Kepegawaian;
e. jaringan informasi kearsipan;
f. pengelolaan barang milik negara;
g. akuntabilitas kinerja organisasi;
h. sasaran kinerja pegawai;
i. layanan pemantauan dan evaluasi perencanaan
serta penganggaran;
j. pengawasan internal pemerintah;
k. naskah dinas elektronik, dan
I. layanan lain sesuai dengan kebutuhan internal
birokrasi pemerintahan.
(2) Layanan administrasi pemerintahan berbasis
elektronik diterapkan dengan pembangunan dan
pengembangan aplikasi umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23.

Paragraf 3
Layanan publik berbasis elektronik
Pasal 28

(1) Layanan publik berbasis elektronik sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) hurufb meliputi:
a. layanan pengaduan pelayanan publik;
b, layanan satu data;
c. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum
(JDIH);
d. pengadaan barang dan jasa;
e. sektor pendidikan/pengajaran;
f. pekerjaan dan usaha;
g. komunikasi dan informasi;
b. lingkungan hidup;
i. kesehatan;
j. jaminan sosial;
k. perhubungan;
I. pariwisata, dan
m. sektor lainnya.
(2) Layanan publik berbasis elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dibangun dan
- 21 -
dikembangkan sesuai kebutuhan pelayanan publik
di Pemerintah Daerah dengan mengacu pada
peraturan perundang-undangan;
(3) Layanan publik berbasis elektronik diterapkan
dengan pembangunan dan pengembangan aplikasi
umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan
Pasal 23;
(4) Dalam hal layanan publik berbasis elektronik
memerlukan aplikasi khusus, Perangkat Daerah
dapat melakukan pembangunan dan
pengembangan aplikasi khusus sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23.

Paragraf3
Integrasi layanan sistem pemerintahan berbasis
elektronik
Pasal 29

(1) Integrasi layanan SPBE merupakan proses


menghubungkan dan menyatukan beberapa
layanan SPBE kc dalam satu kesatuan alur kerja
layanan SPBE;
(2) Pemerintah Daerah menerapkan integrasi Layanan
SPBE didasarkan pada Arsitektur SPBE Pemerintah
Daerah;
(3) lntegrasi Layanan SPBE antar Perangkat Daerah
dikoordinasikan oleh Dinas.

BAB III
MANAJEMEN SISTEM PEMERINTAHAN
BERBASIS
ELEKTRONIK

Bagian Kesatu
Umum
Pasal 30

(1) Perangkat Daerah melaksanakan Manajemen


SPBE, meliputi :
a. manajemen risiko;
b. manajemen keamanan informasi;
c. manajemen data;
d. manajemen aset teknologi informasi dan
komunikasi;
e. manajemen sumber daya manusia;
f. manajemen pengetahuan;
g. manajemen perubahan; dan
h. manajemen Layanan SPBE
(2) Pelaksanaan Manajemen SPBE sebagaimana
dimaksud pada ayat (1). berpedoman pada Standar
- 22 -
Nasional Indonesia, atau standar intemasional
apabila Standar Nasional Indonesia belum tersedia;
(3) Dinas mengkoordinir dan melakukan pemantauan
pelaksanaan manajemen SPBE sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1).

Bagian Kedua
Manajemen Risiko
Pasal 31

( 1) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 30 ayat (1) huruf a bertujuan untuk
menjamin keberlangsungan SPBE dengan
meminimalkan dampak risiko dalam SPBE;
(2) Manajemen risiko dilakukan melalui serangkaian
proses identifikasi, analisis, pengendalian,
pemantauan, dan evaluasi terhadap risiko dalam
SPBE;
(3) Manajemen risiko sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilaksanakan berdasarkan pedoman
manajemen risiko SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen risiko, Perangkat
Daerah berkoordinasi dan dapat melakukan
konsultasi dengan Dinas.

Bagian Ketiga
Manajemen Keamanan lnformasi
Pasal 32

(1) Manajemen keamanan informasi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf b
bertujuan untuk menjamin keberlangsungan SPBE
dengan meminimalkan dampak risiko keamanan
informasi;
(2) Manajemen keamanan infonnasi dilakukan melalui
serangkaian proses yang meliputi penetapan ruang
lingkup, penetapan penanggung jawab,
perencanaan, dukungan pengoperasian, evaluasi
kinerja, dan perbaikan berkelanjutan terhadap
keamanan infonnasi dalam SPBE;
(3) Manajemen keamanan infonnasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan
pedoman manajemen keamanan informasi SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen keamanan
informasi, Perangkat Daerah berkoordinasi dan
dapat melakukan konsultasi dengan Dinas.
- 23 -
Bagian Keempat
Manajemen Data
Pasal 33

(1) Manajemen data sebagaimana Pasal 30 ayat (1)


huruf c bertujuan untuk menjamin terwujudnya
data yang akurat, mutakhir, terintegrasi, dan dapat
diakses sebagai dasar perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi, dan pengendalian pembangunan nasional;
(2) Manajemen data dilakukan melalui serangkaian
proses pengelolaan arsitektur data, data induk,
data referensi, basis data, dan kualitas data;
(3) Manajemen data sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilaksanakan berdasarkan pedoman manajemen
data SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen data, Perangkat
Daerah berkoordinasi dan dapat melakukan
konsultasi dengan Dinas.

Bagian Kellina
Manajemen Aset Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pasal 34

(1) Manajemen aset teknologi informasi dan


komunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
ayat (1) huruf d bertujuan untuk menjamin
ketersediaan dan optimalisasi pemanfaatan aset
teknologi informasi dan komunikasi dalam SPBE;
(2) Manajemen aset teknologi informasi dan
komunikasi dilakukan melalui serangkaian proses
perencanaan, pengadaan, pengelolaan, dan
penghapusan perangkat keras dan perangkat lunak
yang digunakan dalam SPBE;
(3) Manajemen aset teknologi informasi dan
komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilaksanakan berdasarkan pedoman manajemen
aset teknologi informasi dan komunikasi SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen aset telmologi
informasi dan komunikasi, Perangkat Daerah
berkoordinasi dan dapat melakukan konsultasi
dengan Dinas dan Perangkat Daerah yang
berwenang mengelola urusan asset Pemerintah
Daerah.

Bagian Keenam
Manajemen Sumber Daya Manusia
Pasal 35

(1) Manajemen sumber daya manusia sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf e
- 24 -
bertujuan untuk menjamin keberlangsungan dan
peningkatan mutu layanan dalam SPBE;
(2) Manajemen sumber daya manusia dilakukan
melalui serangkaian proses perencanaan,
pengembangan, pembinaan, dan pendayagunaan
sumber daya manusia dalam SPBE;
(3) Manajemen sumber daya manusia mernastikan
ketersediaan dan peningkatan kompetensi sumber
daya manusia untuk pelaksanaan Tata Kelola
SPBE dan Manajemen SPBE di semua Perangkat
Daerah;
(4) Manajemen sumber daya manusia sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan
pedoman manajemen sumber daya manusia SPBE.
(5) Dalam pelaksanaan manajemen sumber daya
manusia, Perangkat Daerah berkoordinasi dan
dapat melakukan konsultasi dengan Dinas dan
Perangkat Daerahyang berwenang mengelola
urusan aparatur Pemerintah Daerah.

Bagian Ketujuh
Manajemen Pengetahuan
Pasal 36

( 1) Manajemen pengetahuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 30 ayat (1) huruf f bertujuan untuk
meningkatkan kualitas Layanan SPBE dan
mendukung proses pengambilan keputusan dalam
SPBE;
(2) Manajemen pengetahuan dilakukan melalui
serangkaian proses pengumpulan, pengolahan,
penyimpanan, penggunaan, dan alih pengetahuan
dan teknologi yang dihasilkan dalam SPBE;
(3) Manajemen pengetahuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan pedoman
manajemen pengetahuan SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen pengetahuan,
Perangkat Daerah berkoordinasi dan dapat
melakukan konsultasi dengan Dinas.

Bagian Kedelapan
Manajemen Perubahan
Pasal 37

(1) Manajemen perubahan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 30 ayat (1) huruf g bertujuan untuk
menjamin keberlangsungan dan meningkatkan
kualitas Layanan SPBE melalui pengendalian
perubahan yang terjadi dalam SPBE;
- 25 -
(2) Manajemen perubahan dilakukan melalui
serangkaian proses perencanaan, analisis,
pengembangan, implementasi, pemantauan dan
evaluasi terhadap perubahan SPBE;
(3) Manajemen perubahan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan pedoman
manajemen [Link] SPBE;
(4) Dalam pelaksanaan manajemen peru [Link],
Perangkat Daerah berkoordinasi dan dapat
melakukan konsultasi dengan Dinas.

Bagian Kesembilan
Manajemen [Link] SPBE
Pasal 38

( 1) Manajemen [Link] SPBE sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 30 ayat (2) huruf h bertujuan untuk
menjamin keberlangsungan dan meningkatkan
kualitas [Link] kepada Pengguna SPBE;
(2) Manajemen [Link] SPBE dilakukan melalui
[Link] proses pelayanan Pengguna SPBE,
pengoperasian [Link] SPBE, dan pengelolaan
Aplikasi SPBE;
(3) Pelayanan Pengguna SPBE sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) merupakan kegiatan pelayanan
terhadap keluhan, gangguan, masalah, permintaan,
dan [Link] [Link] SPBE dari Pengguna
SPBE;
(4) Pengoperasian [Link] SPBE sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) merupakan kegiatan
pendayagunaan dan pemeliharaan lnfrastruktur
SPBE dan Aplikasi SPBE;
(5) Pengelolaan Aplikasi SPBE sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) merupakan kegiatan pembangunan
dan pengembangan aplikasi yang berpedoman pada
metodologi pembangunan dan pengembangan
Aplikasi SPBE;
(6) Manajemen [Link] SPBE sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan pedoman
manajemen Layanan SPBE;
(7) Dalam rangka pelaksanaan Manajemen [Link]
SPBE, maka:
a. setiap perangkat daerah menunjuk minimal 1
(satu) orang staf atau membentuk tim untuk
melaksanakan uraian tugas dan fungsi sebagai
teknisi TIKsekaligus Service Desk Tier 1;
b. Dinas membentuk tim sebagai Service Desk Tier
2.
(8) Service Desk Tier 1 sebagaimana dimaksud dalam
ayat (7) huruf a bertanggung-jawab untuk
- 26 -
menyelesaikan berbagai permasalahan layanan
SPBE di tingkat Perangkat Daerah;
(9) Dalam hal Service Desk Tier 1 tidak mampu
menyelesaikan permasalahan layanan SPBE di
tingkat Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (8), maka Service Desk Tier 1
menyampaikan permintaan solusi pennasalahan ke
Service Desk Tier 2;
( 10) Service Desk Tier 2 bertanggung-jawab
menyelesaikan pennasalahan layanan SPBE yang
tidak mampu diselesaikan Service Desk Tier 1;
( 11) Dinas melakukan koordinasi dan supervisi antara
Service Desk Tier 1 di masing-masing Perangkat
Daerah dengan Service Desk Tier 2 di Dinas;
(12) Dalam pelaksanaan manajemen Layanan SPBE,
Perangkat Daerah berkoordinasi dan dapat
melakukan konsultasi dengan Dinas.

BAB IV
AUDITTEKNOLOGIKOMUNIKASIDANINFORMASI
SISTEM PEMERINTAHANBERBASIS ELEKTRONIK

Bagian Kesatu
Urn um
Pasal 39

( 1)Audit Teknologi lnfonnasi dan Komunikasi terdiri


atas:
a. audit Infrastruktur SPBE;
b. audit Aplikasi SPBE; dan
c. audit Keamanan SPBE.
(2) Audit Teknologi Informasi dan Komunikasi meliputi
pemeriksaan hal pokok teknis pada :
a. penerapan tata kelola dan manajemen teknologi
infonnasi dan komunikasi;
b. fungsionalitas teknologi informasi dan
komunikasi;
c. kinerja teknologi informasi dan komunikasi
yang dihasilkan; dan
d. aspek teknologi infonnasi dan komunikasi
lainnya.
(3) Audit Teknologi lnformasi dan Komunikasi
dilaksanakan oleh lembaga pelaksana Audit
Teknologi lnformasi dan Komunikasi pemerintah
atau lembaga pelaksana Audit Teknologi Informasi
dan Komunikasi yang terakreditasi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
(4) Audit Teknologi lnformasi dan Komunikasi
dilaksanakan berdasarkan kebijakan umum
- 27 -
penyelenggaraan Audit Teknologj lnformasi dan
Komunikasi;

Bagian Kedua
Audit Infrastruktur SPBE
Pasal 40

(1) Audit lnfrastruktur SPBE sebagaimana dimaksud


pada Pasal 39 ayat (1) dilaksanakan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 2 (dua) tahun oleh Dinas;
(2) Audit Infrastruktur SPBE sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) dilaksanakan berdasarkan standar
dan tata cara pelaksanaan audit lnfrastruktur
SPBE;
(3) Dalam melaksanakan audit Infrastruktur SPBE
Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan
lnformatika terkait pemantauan, evaluasi, dan
pelaporan audit Infrastruktur SPBE Pemerintah
Daerah.

Bagian Ketiga
Audit Aplikasi SPBE
Pasal 41

( 1)Audit Aplikasi SPBE dilakukan pada Aplikasi


Khusus;
(2) Audit Aplikasi SPBE sebagaimana dimaksud pada
ayat ( 1) dilaksanakan berdasarkan standar dan tata
cara pelaksanaan audit Aplikasi SPBE;
(3) Audit Aplikasi Khusus sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dilaksanakan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 2 (dua) tahun oleh Dinas;
(4) Dalam melaksanakan audit Aplikasi Khusus, Dinas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkoordinasi
dengan Kementerian Komunikasi dan lnformatika
terkait pemantauan, evaluasi, dan pelaporan audit
Aplikasi Khusus;

Bagian Keempat
Audit Keamanan SPBE
Pasal 42

( 1) Audit keamanan SPBE dilakukan pada


lnfrastruktur SPBE Pemerintah Daerah dan
Aplikasi Khusus;
(2) Audit keamanan SPBE sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) dilaksanakan berdasarkan standar
dan tata cara pelaksanaan audit Keamanan SPBE;
- 28 -
(3) Audit keamanan Infrastruktur SPBE Pemerintah
Daerah dan audit keamanan Aplikasi Khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
paling sedikit 1 (satu) kali dalam 2 (dua) tahun oleh
Dinas;
(4) Dalam melaksanakan audit keamanan
Infrastruktur SPBE Pemerintah Daerah dan audit
keamanan Aplikasi Khusus sebagaimana dimaksud
ayat (1) Dinas berkoordinasi dengan Kementerian
Komunikasi dan lnformatika terkait pemantauan,
evaluasi, dan pelaporan audit keamanan
Infrastruktur SPBE Pemerintah Daerah dan audit
keamanan Aplikasi Khusus.

Bagian Kelirna
Monitoring dan Evaluasi SPBE
Pasal 43

( 1) Dinas melaksanakan monitoring dan evaluasi


mandiri terhadap implementasi SPBE bertujuan
untuk mengukur kemajuan dan meningkatkan
kualitas SPBE di Pemerintah Daerah,
mengidentifikasi permasalahan SPBE, peluang
SPBE, pelaksanaan Arsitektur SPBE dan Peta
Rencana SPBE;
(2) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh
Perangkat Daerah terkait;
(3) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan yang
berlaku;
(4) Hasil kegiatan monitoring dan evaluasi
sebagaimana di maksud ayat (1) dilaporkan kepada
Bupati melalui Sekretaris Daerah.

BABV
PENYELENGGARASlSTEM PEMERINTAHANBERBASIS
ELEKTRONIK

Bagian Kesatu
Tim Koordinasi SPBE
Pasal 44

(1) Untuk meningkatkan keterpaduan pelaksanaan


Tata Ketola SPBE, Manajemen SPBE, dan Audit
Teknologi lnformasi dan Komunikasi, serta
pemantauan dan evaluasi SPBE Pemerintah
Daerah, Bupati membentuk Tim Koordinasi SPBE;

- 29 -
(2) Tim Koordinasi SPBE sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Bupati;
(3) Tim Koordinasi SPBE sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) mempunyai tugas melakukan koordinasi
dan penerapan kebijakan SPBE pada Pemerintah
Daerah;
(4) Sekretaris Daerah sebagai Koordinator SPBE.

Bagian Kedua
Perangkat Daerah Mandiri TIK
Pasal 45

( 1) Dalam rangka mewujudkan upaya peningkatan


kemampuan dan kapasitas Pemerintah Daerah
dalam memenuhi dan mengantisipasi kebutuhan
serta tuntutan layanan berbasis TIK, maka dapat
ditetapkan Perangkat Daerah Mandiri TIK;
(2) Penetapan Perangkat Daerah Mandiri TIK
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
setelah melalui proses penilaian evaluasi kelayakan
terhadap Perangkat Daerah;
(3) Proses penilaian evaluasi kelayakan terhadap
Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan oleh Dinas;
(4) Proses penilaian evaluasi kelayakan terhadap
Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilaksanakan dengan mendasarkan pada
kriteria sebagai berikut:
a. memiliki SDM TIK; dan
b. telah memiliki kemampuan dan pengalaman
membangun, mengelola dan/atau
mengembangkan aplikasi SPBE secara mandiri;
(5) Berdasarkan basil proses penilaian evaluasi
kelayakan terhadap Perangkat Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Dinas
mengusulkan Perangkat Daerah yang layak untuk
ditetapkan sebagai Perangkat Daerah Mandiri TIK
kepada Bupati;
(6) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) Bupati menetapkan Perangkat Daerah
Mandiri TIK dengan Keputusan Bupati.

- 30 -
BABVI
PERCEPATANSISTEM PEMERINTAHANBERBASIS
ELEKTRONIK
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 46

(1) Untuk meningkatkan kuatlitas penyelenggaraan


pemerintah dan pelayanan publik, dilakukan
percepatan SPBE di lingkungan Pemerintah
Daerah;
(2) Percepatan SPBE sebagairoana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dengan membangun aplikasi khusus
dan infrastruktur SPBE untuk memberikan
layanan SPBE;
(3) Aplikasi khusus sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (2) adalah aplikasi yang dikembangakan
berdasarkan kebutuhan perangkat daerah;
(4) Untuk mendukung pengoperasian Aplikasi Khusus
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Perangkat
daerah melalukan pengembangan lnsfrastruktur
SPBE;
(5) Pembangunan dan/atau pengembangan
lnfrastruktur SPBE dikoordinasikan oleh Dinas.

Bagian Kedua
Pendanaan
Pasal 47

Pendanaan pelaksanaan SPBE di lingkungan


Pemerintah Daerah bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah dan/atau sumber
pendanaan lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB VII
PEMANTAUAN DANEVALUASI
Pasa.148

(1) Tim Koordinasi SPBE mengkoordinir pemantauan


dan evaluasi terhadap penyelenggaraan SPBE;
(2) Pimpinan Perangkat Daerah melakukan evaluasi
secara berkala dan menyeluruh terhadap
penyelenggaraan SPBE;
(3) Setiap perangkat daerah melakukan perbaikan
routu penyelenggaraan SPBE secara
berkesinarnbungan.

- 31 -

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 49

Perangkat Daerah yang telah melaksanakan urusan


yang diselenggarakan secara elektronik sebelum
berlakunya peraturan Bupati ini, wajib menyesuaikan
dengan peraturan Bupati ini dalam jangka waktu paling
lama 2 (dua) tahun sejak peraturan Bupati ini
diundangkan.

BAB IX
KETENTUANPENUTUP
Pasal 50

Peraturan Bupati ini berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Bupati mt dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Jepara.

Ditetapkan di Jepara
pada tanggal 26 November 2020

BUPATI JEPARA,

NDI

Diundangkan di Jepara
padatanggal 26 November 2020

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JEPARA,

'~

EDY SUJATMIKO

SERITA DAERAH KABUPATEN JEPARA TAHUN 2020 NOMOR : 62

Anda mungkin juga menyukai