0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan66 halaman

Fertilizer For Yield Making

Dokumen ini menjelaskan pentingnya pemupukan untuk tanaman, terutama kelapa sawit, dengan fokus pada fungsi unsur hara dan dampak pemupukan terhadap produksi. Pemupukan yang tepat dapat meningkatkan hasil dan efisiensi, sementara kesalahan dosis dapat menyebabkan kerugian. Selain itu, dokumen ini membahas berbagai jenis pupuk dan strategi pemupukan yang efektif.

Diunggah oleh

Budi Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan66 halaman

Fertilizer For Yield Making

Dokumen ini menjelaskan pentingnya pemupukan untuk tanaman, terutama kelapa sawit, dengan fokus pada fungsi unsur hara dan dampak pemupukan terhadap produksi. Pemupukan yang tepat dapat meningkatkan hasil dan efisiensi, sementara kesalahan dosis dapat menyebabkan kerugian. Selain itu, dokumen ini membahas berbagai jenis pupuk dan strategi pemupukan yang efektif.

Diunggah oleh

Budi Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

Apakah Pupuk Itu

Bahan (organik/an organik) yang diberikan kepada tanaman untuk memenuhi


kebutuhan unsur haranya agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan
baik.

Pemupukan Adalah :

Usaha yang dilakukan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman untuk
pertumbuhan vegetatif tanaman dan produksi sesuai dengan potensinya

Pertanyaan: Kenapa kita harus tetap memupuk ?


GAP Produksi Pada
Tanaman Kelapa Sawit ?

Dikutip dari: Fairhurst (2012)


Peran Penting Pemupukan Terhadap Produksi Kelapa Sawit

Ø Penelitian dilakukan pada 3 plot percobaan (plot


dengan pemupukan secara continue, pemupukan
kembali setelah lama tidak dipupuk, dan plot tanpa
pemupukan)
Ø Ketika pupuk dihentikan, lalu dilakukan
pemupukan kembali maka “pemulihan produksi”
akan berlangsung cukup lama (hingga tahun ke-5
baru bisa menyamai plot yang dipupuk
continue).
Ø Kelapa sawit cenderung “me-recovery” vegetatif
terlebih dahulu baru setelahnya generatif.

Sidhu et al., (2009)


FUNGSI UNSUR HARA
Unsur Hara Makro:
• Nitrogen (N):
• Berperan penting dalam pertumbuhan vegetatif, terutama dalam pembentukan daun dan batang,
serta mempercepat pertumbuhan tunas. Kekurangan nitrogen dapat menyebabkan daun menjadi
kuning pucat dan pertumbuhan tanaman kerdil.
• Fosfor (P):
• Berperan dalam pembentukan akar, batang, dan kualitas buah. Kekurangan fosfor dapat
menyebabkan daun berwarna keunguan dan pertumbuhan tanaman terhambat.
• Kalium (K):
• Berperan dalam proses fotosintesis, meningkatkan kualitas buah, dan membantu tanaman dalam
menyerap air dan unsur hara lainnya. Kekurangan kalium dapat menyebabkan daun berwarna kuning
atau kecoklatan dan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
• Magnesium (Mg):
• Berperan penting dalam proses fotosintesis dan pembentukan klorofil. Kekurangan magnesium dapat
menyebabkan daun menguning di antara tulang daun.
• Kalsium (Ca):
• Berperan dalam pembentukan dinding sel tanaman, memperkuat batang, dan meningkatkan
ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan kalsium dapat menyebabkan pertumbuhan
tanaman terhambat dan daun menjadi keriting.
• Sulfur (S):
• Berperan dalam pembentukan protein dan enzim dalam tanaman. Kekurangan sulfur dapat
Unsur Hara Mikro:
• Boron (B):
• Berperan dalam perkecambahan biji, pertumbuhan akar, dan mencegah penyakit crown
disease. Kekurangan boron dapat menyebabkan daun keriting, ujung daun terlipat, dan
daun berwarna hijau tua.
• Tembaga (Cu):
• Berperan dalam aktivasi enzim, fotosintesis, dan pembentukan klorofil. Kekurangan
tembaga dapat menyebabkan daun berwarna pucat dan ujung daun tidak merata.
• Seng (Zn):
• Berperan dalam berbagai proses enzim dalam tanaman. Kekurangan seng dapat
menyebabkan daun menjadi kerdil dan klorosis.
• Besi (Fe):
• Berperan dalam pembentukan klorofil. Kekurangan besi dapat menyebabkan daun menjadi
kuning pucat, terutama pada daun muda.
Produksi Pelepah Rata Perbulan adalah :
• Tanaman Muda : 3 Pelepah/Bulan
• Tanaman Dewasa : 2 Pelepah/Bulan

Fase Kritis I : 20-30 Bulan Sebelum Panen Fase Kritis II : 9 – 15 Bulan Sebelum Panen Fase Kritis III : 3-6 Bulan Sebelum Panen
Pengaruh Pupuk Terhadap Berat Tandan

Arifin (2010;2014)

Pemupukan saat ini akan mempengaruhi berat tandan


(pengisian minyak) / 2 – 2,5 bulan sebelum panen
*34 Ton/Ha TBS *23.5 Ton/Ha TBS *23.5 Ton/Ha TBS *13.5 Ton/Ha TBS

*Asumsi Rendemen Pabrik 26%


?

Dominan : Ca, Mg, P, N

Dominan : Ca, Mg, Zn, Cu, B, Fe


Perkembangan akar
pada awal tanaman menghasilkan
berada pada area piringan
Ilustrasi perkembangan akar
tanaman sawit menghasilkan
Kebutuhan Hara Kelapa Sawit
Pupuk = Buah
Jenis Pupuk
• satu hara utama • SRF/CRF (coating)
• Koreksi hara mudah • Nano fertilizer
Tunggal • Aplikasi tidak praktis
• Harga lebih murah
An-organik
NPK bulk
• Lebih dari 1 hara utama blend
Mejemuk (+mikro/as humat) NPK in 1
• Komposisi by request Particle
• Plus (mikro, hormone, ashumat)
• Lebih praktis
Compound
NPK
Pupuk Organik Berasal dari tumbuhan, hewan, limbah organik
lainnya yang telah melalui proses rekayasa, NPK in
berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya separate
Particle
dengan bahan mineral dan/atau mikroba,
yang bermanfaat untuk meningkatkan
kandungan hara dan bahan organik tanah
serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan 70/Permentan/SR.140/10/2011
biologi tanah.

Produk biologi aktif terdiri atas mikroba yang


Hayati dapat meningkatkan efisiensi pemupukan,
serta kesuburan dan kesehatan tanah
S t r a t e g i Pemupukan

1. Meningkatkan efisiensi penggunaan hara 2. Meminimalisir Kehilangan Hara 3. Pemilihan Pupuk


(Efisiensi dan Efektivitas Pemupukan)

Memperbaiki Kesehatan tanah: Run-off / Tercuci air permukaan Pemilihan Pupuk


• Fisik tanah sesuai areal
• Kimia Leaching/tercuci air tanah
• Biologi
Pemamfaatan Bahan
Memperbaiki Praktik Pemupukan: Organik
• Waktu Volatilization/Penguapan
• Cara/metode
• Spesifik lokasi Pupuk Hayati

Perhatikan faktor potensi tanaman:


• Umur tanaman
• Potensi Produksi

Pemupukan spesifik lokasi

Pemupukanberimbang (5T)
T I N G K A T EFEKTIVITAS & EFISIENSI P E M U P U K A N

HARA TIDAK SEIMBANG


(20 - 50%)
WAKTUAPLIKASI TIDAK TEPAT
(10 - 20%)

JENIS PUPUK TIDAK TEPAT


(? %) PENEMPATAN PUPUK TIDAK TEPAT
PENURUNAN
(5 - 10%)
EFISIENSIPUPUK

GULMA
SERANGAN HAMA
(15 –50%)
(5 – 50%)
POPULASI TAN TDK CUKUP
(10 –25%)

Sumber:Nazeeb (1997) di modifikasi


Apa yang terjadi jika Dosis pupuk salah ?
• Dosis kurang : Kebutuhan untuk mendukung vegetatif dan produksi tidak tercukupi
à Produksi Tidak maksimal

• Dosis Berlebih : Terjadi ketidak seimbangan hara, sebagian bisa sebagai toxic (meracuni
tanaman) à Produksi Tidak maksimal & Pemborosan.

Ilustrasi Jika salah dosis (Kasus Berlebih)


Dosis/Pokok/Th Jumlah Harga Jumlah Biaya Dosis/Pokok Jumlah Harga Jumlah Biaya
No. Jenis Pupuk No. Jenis Pupuk
(Kg) Kg/Kapling (2 Ha) Pupuk/Kg Pupuk /Th (Kg) Kg/Kapling (2 Ha) Pupuk/Kg Pupuk
1 Urea 2.25 612 Rp6,000 Rp3,672,000 1 Urea 2.50 680 Rp6,000 Rp4,080,000
2 RP 1.50 408 Rp2,200 Rp897,600 2 RP 1.50 408 Rp2,200 Rp897,600
3 KCL 2.75 748 Rp5,000 Rp3,740,000 3 KCL 3.00 816 Rp5,000 Rp4,080,000
4 Kieserit 1.50 408 Rp2,500 Rp1,020,000 4 Kieserit 1.50 408 Rp2,500 Rp1,020,000
5 HGFB 0.10 27.2 Rp10,000 Rp272,000 5 HGFB 0.10 27.2 Rp10,000 Rp272,000
Jumlah 8.10 2203.2 Rp25,700 Rp9,601,600 Jumlah 8.60 2339.2 Rp25,700 Rp10,349,600
*SPH : 136/Ha
• Pada ilustrasi diatas dosis Urea dan KCL masing-masing selisih 0,25 kg/Pokok. Karena kesalahan dosis tersebut
perushaan mengalami kerugian karena terjadi pemborosan pupuk yaitu senilai RP. 748,000,-/Kapling atau Setara
Rp. 374,000/Ha.
• Luasan FR All Region 233,223 Ha (planted) x Rp 374,000 = Rp. 80,928,492,040 (Pemborosan urea dan MOP)
Kehilangan Hara lewat Runoff

Faktor yangmempengaruhi:
• Struktur tanah telah rusak akibat pemadatan : kecepatan
resapan air berkurang (infiltrasi kecil).
• LCC kurang baik (erodibilitas tanah tinggi) : partikel tanah
terlepas oleh “tumbukan” air hujan dan hanyut
• Topografi curam (kombinasi dengan CH tinggi)
Solusi:
ü Memelihara tanaman penutup tanah à daerah lereng
ü Pengendalian gulma secara selektif
ü Membangun KTAyang standar à teras kontur, individu
ü Menyusun potongan pelepah sejajar kontur
ü Mulching à Jankos
ü Menghindari pemupukan ketika Curah Hujan tinggi
ü Metode aplikasi à pocket
Kehilangan Hara lewat Pencucian (leaching)
Faktor yangmempengaruhi:
• Tekstur tanah kasar à dominan pasir (pori makro tinggi), kombinasi dengan CH
tinggi
• Kation Ca2+, Mg2+, dan K+ dan anion NO3- paling rentan terhadap pencucian
• Areal rendahan à sering tergenang
• Antagonisme hara
Solusi:
ü Menerapkan prinsip keseimbangan hara (nutrisi yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan tanaman).
ü Menghindari aplikasi pupuk dalam dosis yang tinggi (khususnya untuk N, K dan Mg)
à perbanyak frekuensi aplikasi.
ü Menyebarkan pupuk secara merata untuk memaksimalkan kontak dengan
sistem akar
ü Menghindari pemupukan selama periode hujan lebat à manfaatkan data CH
ü Tingkatkan KTK tanah à aplikasi bahan organik (Jankos).
ü Tingkatkan pH tanah melalui pengapuran untuk meningkatkan kapasitas
tukar kation pada tanah muatan variabel.
Kehilangan Hara lewat Penguapan (volatilization) à Nitrogen
Faktor yangmempengaruhi:
• Nitrogen hilang menguap ketika kelembaban (dari tanah atau udara) hanya cukup untuk melarutkan urea
yang diaplikasikan ke permukaan tanah tetapi tidak cukup untuk melarutkan urea dan produk dekomposisinya
(amonium bikarbonat) ke dalam tanah à Kehilangan terjadi karena amonium bikarbonat dihidrolisis menjadi
amonium hidroksida dan karbon dioksida à CO(NH2)2 + 2H+ + 2H2O – (urease) – à2NH3 + 2H+ + H2CO3
• Aplikasi Urea ketika kering (kemarau) à kelembaban tanah rendah
• LCCburuk à kelembaban tanah rendah

Solusi:
ü Aplikasi N (urea) hanya selama bulan-bulan “lembab” (CH 150-200mm/bulan atau > 20 mm/hari setelah
aplikasi) à hindari aplikasi jika diprediksi CHsetelah aplikasi < 5 mm/hari.
ü Menutup pupuk N dengan tanah/mulsa setelah aplikasi
ü Memperkecil dosis setiap aplikasi à memperbanyak frekuensi.
ü Stasiun meteorologi à “merekam” data curah hujan

Havlin et al (2017)
Pupuk :
Setiap material, baik organik ataupun anorganik,
alami atau sintetis, yang memberikan satu atau lebih
unsur kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
tanaman (Jain, et. al, 1992)

Tujuan Pemupukan:
• Mengganti kehilangan unsur hara yang digunakan
oleh tanaman membentuk buah, tercuci , erosi, dan
terikat oleh tanah
Biaya Pemupukan Dalam Pemeliharaan
• 50 – 70 % dari biaya pemeliharaan lapangan.

• 25 – 30 % dari biaya produksi CPO.


• Pupuk yang diberikan harus seimbang.
• Ada Faktor minimum sebagai
pembatasnya.
• Pupuk adalah salah satu penentu untuk
keberhasilan produksi, disamping faktor
iklim dan praktek di lapangan.
• Pemupukan yang benar untuk akan
meningkatkan produksi yang lebih besar
dibanding dengan biaya ,hal menjamin
produksi tinggi yang berkesinambungan
dan menjadikan biaya yang kita
keluarkan efektif
PRINSIP UTAMA PEMUPUKAN
“Setiap pokok yang menerima setiap
jenis pupuk harus sesuai dengan dosis
yang telah ditentukan di buku
rekomendasi pemupukan”.

KETEPATAN DAN KETELITIAN dalam aplikasi sangat penting agar


Prinsip utama dapat tercapai.
Kualitas Pemupukan
Efisiensi pemupukan ditentukan oleh 6 faktor :
Jenis, Dosis, Penyimpanan, Waktu, Cara, Tempat.

Kualitas pemupukan dilihat dari 2 hal :


• Kualitas panaburan pupuk di lapangan, yaitu Pengelolaan
(Perencanaan, Pelaksanaan, Organisasi dan Administrasinya)
• Kualitas pupuk : Kandungan unsur hara dan kadar air
(moisture)
Keterkaitan Unsur Hara dan Buah
Ukuran Jumlah Kualitas Buah Kulitas Kulit Daya Simpan

N X X

P X X X

K X X X X

Ca X X X

Mg X X X

S X X

Mn X X X

B X X X X

Zn X X
KATA MUTIARA

“Seandainya pokok sawit punya tangan dan


kaki, kita tidak perlu mengantarnya sampai
kepasar tengah.
Tetapi
dia hanya punya mulut, maka kita harus yakin
bahwa pupuk kita bisa ditelannya, jika perlu
disuntikkan sampai ke jaringannya”.
Jenis Pupuk
Pemahaman terhadap kriteria jenis dan sifat pupuk sangat
diperlukan dimana masing-masing jenis pupuk mempunyai
karakteristik tersendiri, yang akan berpengaruh terhadap
efektivitas dan efisiensi Pemupukan

Jenis Pupuk dapat dikelompokkan berdasarkan Jenis dan Sifat Pupuk


untuk tanaman kelapa sawit

Sifat pupuk antara lain adalah :


• Mudah menguap (volatization)
• Mudah tercuci (leacing)
• Ketersediaan didalam tanah “mobile”
• Ketersediaan didalam tanaman “mobile”
• Sinergis & Antagonisc.
• Antagonisme dan Sinergisme pencampuran pupuk
Jenis Pupuk
Berdasarkan
Kelompok
WAKTU APLIKASI PEMUPUKAN
Dipengaruhi oleh dua Faktor

1. CURAH HUJAN

2. INTEREAKSI DARI BEBERAPA JENIS PUPUK


Pengaruh Curah Hujan Terhadap Waktu Aplikasi

Curah Hujan Keterangan


(mm/Bulan)
• Urea tidak boleh diaplikasi
< 60 • Pupuk makro & mikro yg lain dapat diaplikasi,sesuai
untuk aplikasi semua jenis pupuk
• Sesuai untuk aplikasi semua jenis pupuk
60 - 300
• Pupuk yang cepat larut (MOP, Kies, Urea, HGFB,CuSO4,
> 300 ZnSO4) tidak boleh diaplikasi.
• RP & Dolomite masih dapat diaplikasi.
Hubungan Aplikasi Pupuk dengan Curah Hujan

1. Curah hujan < 60 mm: Urea tidak tepat diaplikasi karena memiliki potensi
penguapan yang tinggi
2. Curah hujan > 300 mm: Pupuk yang mudah larut seperti Urea, ZA, Kieserit,
MOP, TSP, CuSO4, ZnSO4 dan HGFB tidak tepat untuk diaplikasi karena
berpotensi losses tinggi melalui proses pencucian, aliran permukaan dan
erosi
3. Pupuk yang lambat terlarut (contoh: RP dan Dolomit) dapat diaplikasi pada
kondisi curah hujan tinggi, walaupun kehilangannya 3-5% tetapi masih
dapat terjadi lagi losses oleh aliran permukaan atau erosi tanah, terutama
pada daerah miring
4. Pada umumnya, semua pupuk diaplikasi pada bulan dengan curah hujan
cukup (60 – 300 mm), saat itu tanah cukup basah (tidak jenuh) sehingga
memudahkan terpenuhinya unsur hara
Waktu Aplikasi
Intereaksi Beberapa Jenis Pupuk
Interaksi Pupuk
• Nitrogen dan pupuk alkalis
• Untuk mengurangi penguapan terhadap unsur nitrogen, pupuk nitrogen seperti Urea dan ZA
tidak boleh dicampur dengan pupuk alkalis seperti RP, TSP, Dolomit. Selain itu juga, pupuk
tersebut tidak boleh diaplikasi secara bersamaan. Interval waktu aplikasi tidak kurang dari 4
minggu dan harus dijaga antara aplikasi nitrogen dengan pupuk alkalis.
• Antagonis K & Mg dan K & Borate
• Untuk menghindari pengaruh antagonis antara K dengan Mg dan K dengan B, MOP tidak boleh
dicampur dengan Kieserit/Dolomit atau Borate. Selain itu juga, tidak boleh diaplikasi secara
bersamaan.
• Interval aplikasi antara MOP dan Kieserit atau antara MOP dan Dolomit atau MOP dan HGFB
tidak boleh kurang dari 3 minggu.
• Urea dan RP/CuSO4 ,
• Urea dan RP cenderung mengurangi pengaruh unsur besi pada tanaman. CuSO4 tidak dapat
diaplikasi dengan segera setelah aplikasi Urea atau RP. Interval aplikasi pupuk tersebut tidak
kurang dari 4 minggu.
• Pupuk bersinergi
• K bersinergi dengan N dan Cu. Sebelum diaplikasi MOP dapat dicampur dengan Urea dan MOP
dengan CuSO4 atau pupuk tersebut dapat diaplikasi dalam waktu yang sama.
Waktu Aplikasi
Intereaksi Beberapa Jenis Pupuk
Aplikasi Pupuk Harus Tepat Dosis
1. Semua pupuk harus diaplikasi dengan menggunakan
takaran yang telah distandardisasi.
2. Setiap pokok harus mendapatkan pupuk sesuai dosis
yang direkomendasikan untuk mendapatkan
jaminan pertumbuhan kelapa sawit yang baik dan
seragam.
Waktu Dan Frekwensi Pemupukan
• Waktu PemupukanPemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil,
namun > 60 mm/bulan.
• Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
• Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih
dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang
perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan Urea/Z A.
• Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/ ZA
minimal 4 minggu.
Frekwensi Pemupukan
• Pemupukan dilakukan kali tergantung pada kondisi lahan,
jumlah pupuk, dan umur - kondisi tanaman.
• Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan
dengan frekwensi yang lebih banyak.
• Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi
tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan
kebun lainnya
• Frekuensi dan waktu pengaplikasian pupuk harus berdasarkan
dari program yang telah disusun akan diberikan oleh Departemen
R&D pada program pemupukan tahunan.
PEMUPUKAN PADA KONDISI AREAL TERTENTU
• Areal bermasalah
• Kebun harus memberitahukan dan membawa staf Departemen
R&D ke areal yang pertumbuhannya kurang baik atau areal yang
mengalami defisiensi unsur hara untuk dapat segera dilakukan
perbaikan.
• Penambahan pupuk yang diaplikasi oleh managemen kebun
(tanpa konsultasi dengan R&D) harus dihindari, karena
kesalahan identifikasi terhadap masalah/defisiensi
selanjutnya dapat menjadi penyebab utama
ketidakseimbangan unsur hara.
Persiapan & Persyaratan Lapangan
Persiapan Pupuk
• Jenis dan jumlah pupuk yang diperlukan harus tersedia di kebun pada
waktunya.
• Stock pupuk lama dan pupuk yang karung goninya rusak harus digunakan
lebih dahulu (prinsip FIFO : first in first out).
• Pupuk yang membatu/menggumpal harus dikeluarkan dari karungnya dan
dihancurkan untuk kemudian diuntil dengan disertai label jenis pupuk dan
beratnya.
• Karena sistim aplikasi pupuk dilakukan dengan teknik untilan, maka stok
pupuk yang keluar dari gudang sentral sudah harus berupa untilan yang
jenis dan berat pupuknya disesuaikan dengan rencana areal yang akan
dipupuk dan kemampuan penabur.
Ketentuan
1. Tenaga TIM UNIT PUPUK (TUP) : 15 orang
§ 3 (tiga) Penguntil, 12 (dua belas) Penabur
2. 1 (satu) Untilan Pupuk Maksimal 8 (delapan) pokok.
3. Takaran Pupuk setiap jenis Pupuk Wajib berbeda sesuai dengan dosis per
pokok dan jenis Pupuk
4. Setiap Pemupuk Wajib ada Paku di gantung dileher .
5. Ember tabur sesuai dengan Standart Perusahaan
6. Penaburan Pupuk dengan memakai Sapu lidi Pupuk.
7. Setiap Penabur wajib Pakai Apron
CONTOH TAKARAN
TAKARAN PUPUK CONTOH EMBER TAKARAN
UNTIL/Per karung

UREA
UREA
12 Kg
8 Kg

MOP
RPH
12 Kg
12 Kg

Gbr. Takaran & Penyusunan Takaran Tabur Gbr. Takaran EMBER Until Karung
Ember Pupuk Pengunaan Paku

• Setiap Penabur wajib di


gantungkan paku di leher
• Setelah Penabur selesai
menaburkan Penabur
menuliskan dengan paku di
pokok.
Penulisan:
• Urea Rot 1 : U1
• Urea Rot 2 : U2
• MOP Rot 1 : M1
• MOP Rot 2 : M2
• Rph :R
• Kieserit :K
• Dolomit : D
• Borat :B
Peta Detail Titik TPP
Peta Detail PDF

Blok F-19
Skema Lay Out Peletakan Pupuk
Pelaksanaan

Pembuatan RKH, BPPB

Pengambilan pupuk di Gudang Sentral

Penguntilan pupuk per 10 pokok (Gudang Until)


Pelaksanaan
Langsir pupuk dari Gudang until ke Blok/TPP

Penaburan pupuk menggunakan sistem 2:1

Setiap tim diberikan pita


Pembuatan RKH & BPPB
§ Pembuatan RKH dibuat H-1 sebelum H-0 pemupukan.
§ Yang harus direncanakan adalah TK untuk pekerjaan Bongkar Muat
Pupuk dari Gudang Central ke Gudang Until, Gudang until ke Blok, TK
until pupuk, TK tabur pupuk.
§ Pembuatan BPPB harus dilakukan pada H-3 sebelum penaburan
pupuk.
§ Pengisian tabel penguntilan dan peletakan TPP
§ Pelaksana : Mandor Pupuk dan Asisten
§ Pemeriksa : Askep/Manager
Organisasi Penguntilan Di Gudang
• Menentukan blok mana yang akan dipupuk besok hari dan apa jenis pupuk
serta dosisnya.
• ContohAfdeling : IV (Empat)
• Blok : D90 F (OP’ 1990 = 30 ha = 4057 pkk)
• Pupuk : Urea = 8114 kg = 162,3 zak
• Dosis : 2 kg/pokok
• Jumlah ppk/until: 6 pkk, ditentukan atas dasar bahwa kg/until adalah 12 kg
(6 x 2 kg) sehingga 1 until = 2 takaran, atau 12 kg per until
• Jumlah untilan : 8114/12 = 676,16 = 677 until
• Goni untuk untilan digunakan eks goni pupuk sebelumnya, tidak boleh
menggunakan goni yang baru dibuka. Hal ini perlu karena jumlah goni
bukaan baru adalah merupakan kontrol apakah jumlah kg atau zak yang
dibuka sama dengan jumlah yang sudah diuntil
Pengambilan Pupuk di Gudang Central

§ H-3 sebelum penaburan dengan menggunakan BPPB yang sudah disetujui oleh
MK/GM
§ H-2 pengambilan pupuk ke Gudang Central menuju Gudang Until.
§ Pelaksana : Mandor Pupuk dan Asisten
§ Pemeriksa : Askep /MK
Persiapan Alat Untilan

Jenis Pupuk : Urea


Afd : 1 (satu)
Jumlah Untilan : 677 until
Kg/Until : 12 Kg
Tgl Until : 10-Apr-25
Tgl Tabur : 11-Apr-25
Penguntilan Pupuk
§ Tim until tersendiri/tetap
§ Asisten membuat permintaan karung sesuai jumlah until yang dibutuhkan
§ Semua pupuk yang akan diuntil dipisahkan dan ditumpuk tersendiri. Benang pada karung pupuk dibuka
secara manual, dan tidak diperkenankan menggunakan pisau atau benda tajam lain yang dapat
merusak karung
§ Takaran besar untuk memasukkan pupuk ke eks Karung pupuk. Besarnya takaran ini adalah kelipatan
dari dosis pupuk per pokok. Takaran besar ini dibuat dari jerigen eks herbisida/Ember dan diberi label
yang jelas yang mencantumkan jenis pupuk, dosis per pokok dan berat total per untilan. Takaran
disusun rapi di gudang pupuk untuk memudahkan pengontrolan kebenaran dan ketelitiannya
§ Pupuk setelah sampai ke Gudang Until maka pupuk akan diuntil utk kebutuhan 8 (delapan) pokok
dengan menggunakan alat takar yang sudah dikalibrasi
§ Dosis/pkk 1 kg/pkk = 8 kg/until
§ Dosis/pkk 1,5 kg/pkk = 12 kg/until
§ Pupuk yang sudah diuntil akan disusun secara tumpukan (1 tumpukan; 10 until karung)
§ Lembaran eks karung pupuk atau terpal dipersiapkan sebagai alas untuk memecah pupuk yang
menggumpal.
§ Pelaksana : Mandor Pupuk dan Asisten
§ Pemeriksa : Askep / MK
Langsir Pupuk ke Blok/TPP
§ Langsir pupuk ke TPP dilaksanakan pada H-0 saat akan dilaksanakan penaburan pupuk,
peletakan jumlah until pupuk di TPP disesuaikan dengan jumlah kebutuhan Until per TPP.
Pengeceran pupuk dari atas kendaraan harus ditangani oleh petugas yang terlatih, dan
diletakkan pada tempat pengeceran yang sudah ditentukan. Tumpukan untilan pupuk yang
diecer harus diletakkan di TPP dan tidak dibenarkan diletakkan di jalan diluar TPP
§ Pengeceran untilan pupuk pada H-0 dilakukan oleh Mandor Pupuk bersama dengan kenek
transport.
§ Pengeceran untilan dilakukan sesuai rencana pada Peta Detail Blok dan jumlah untilan yang
diturunkan dari transport harus benar
§ Pelaksana : Mandor Pupuk dan Asisten
§ Pemeriksa : Asisten/Askep
Penaburan pupuk menggunakan sistem 2:1

§ Penaburan pupuk menggunakan sistem tim, 1 tim berisikan 3 orang, 1 orang bertugas sebagai pengecer untilan
pupuk per 8 (delapan) pokok, 2 orang bertugas sebagai penabur.
§ Pupuk yang sudah diuntil harus ditabur esok harinya supaya tidak terjadi penggumpalan.
§ Pengeceran untilan dari TPP harus dimulai dari pokok pertama pasar pikul (teras) dengan mengecer per 8
(delapan) pokok
§ Penaburan pupuk harus merata. Jumlah pupuk yang ditabur per pokok harus sesuai dengan takaran tabur (sesuai
dosis) dan menggunakan sapu lidi.
§ Setelah ditabur pemupuk wajib mengoret dengan paku menandakan pupuk sudah ditabur dengan kode yang
sudah ditentukan
§ Karung kosong eks untilan dikumpulkan digulung/diikat @10 lembar untuk memudahkan pengecekan dan
memastikan semua untilan sudah teraplikasi. Gulungan karung dikumpulkan di pinggir jalan yang mudah untuk
diangkut kembali ke Tempat Untilan.
§ Pupuk yang sudah diecer harus selesai ditabur hari itu juga. Apabila pupuk tidak selesai ditabur akibat hujan, maka
sisa pupuk harus dibawa kembali ke Tempat Untilan.
§ Pelaksana : Mandor Pupuk dan Asisten
§ Pemeriksa : Askep /MK
Pengumpulan Karung

§ Tim Penabur mengembalikan karung until kepada Mandor sesuai dengan jumlah karung until .
§ Karung until pupuk yang dibawa Kembali ke Afdeling harus sesuai dengan jumlah untilan yang
dibawa ke Blok
§ Pelaksana : Tim Penabur pupuk
§ Pemeriksa : Mandor Pupuk/Asisten
Pemasangan Pita

§ Pemasangan Pita berisikan nama anggota tim tabur, tanggal pemupukan


beserta jenis pupuk yang ditabur.
§ Fungsi dari pemasangan pita ini untuk memudahkan monitoring dan
pengecekan kualitas pemupukan
§ Isi Pita : Nama ; Jenis Pupuk; Tgl Pemupukan
§ Pelaksana : Tim Penabur pupuk
§ Pemeriksa : Mandor Pupuk/Asisten

Anda mungkin juga menyukai