0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan58 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, asuhan kebidanan, dan ketidaknyamanan yang sering dialami pada trimester III. Kehamilan berlangsung selama 280 hari dan asuhan antenatal penting untuk kesehatan ibu dan bayi. Ketidaknyamanan seperti nyeri punggung, edema, gangguan tidur, dan peningkatan frekuensi berkemih dijelaskan beserta cara penanganannya.

Diunggah oleh

Nurul Np
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan58 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, asuhan kebidanan, dan ketidaknyamanan yang sering dialami pada trimester III. Kehamilan berlangsung selama 280 hari dan asuhan antenatal penting untuk kesehatan ibu dan bayi. Ketidaknyamanan seperti nyeri punggung, edema, gangguan tidur, dan peningkatan frekuensi berkemih dijelaskan beserta cara penanganannya.

Diunggah oleh

Nurul Np
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Kehamilan


1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan dan
terdiri dari ovulasi (pelepasan ovum), migrasi spermatozoa dan ovum,
konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, dan
pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai
aterm (Manuaba, 2020). Masa kehamilan dimulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari Hari Pertama Haid Terakhir
(HPHT) (Saifuddin, 2020).
Usia yang tidak baik untuk bereproduksi merupakan pada usia
40 tahun, memiliki penyakit yang beresiko, misalnya kelainan bawaan
dan penyulit pada waktu persalinan yang disebabkan oleh otot rahim
kurang baik untuk menerima kehamilan. Proses reproduksi sebaiknya
berlangsung pada ibu berumur 20 hingga 34 tahun karena jarang
terjadi penyulit kehamilan dan persalinan (Prawihardjo, 2020).
2. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan
Asuhan antenatal adalah upaya preventik program pelayanan
program pelayanan kesehatan obstetric untuk optimalisasi luaran
maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin
selama kehamilan (Prawirohardjo, 2020).
1) Jadwal Kunjungan Asuhan Antenatal
Sebaiknya kunjungan ANC dilakukan 6 kali selama kehamilan,
yaitu:
a) Dua kali pada trimester I
b) Satu kali pada trimester ke II
c) Tiga kali pada trimester ke III

9
10

2) Pemeriksaan kehamilan dialakukan berulang-ulang dengan


ketentuan
a) Satu kali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28
minggu
b) Satu kali kunjungan antenatal selama 28-36 minggu
c) Dua kali kunjungan antenatal pada kehamilan di atas 36
minggu
3) Standar Asuhan Kebidanan (14T)
1) Pengukuran Tinggi Badan Timbang Berat Badan

2) Ukur Tekanan Darah

3) Ukur Tinggi Fundus Uteri (TFU)

4) Pemberian tablet Besi (minimum 90 tablet selama

kehamilan)

5) Tetanus Toksoid

6) Tes Laboratorium

7) Pemeriksaan Veneral Diseases Reasearch Laboratory

(VDRL)

8) Perawatan Payudara (tekan pijat payudara)

9) Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil)

10) Temu wicara atau konseling

11) Tes atau pemeriksaan protein urine

12) Tes atau pemeriksaan urine redusi

13) Terapi iodium kapsul khusus daerah endemic gondok

14) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah edemic malaria


11

4) Edukasi Kesehatan Bagi Ibu Hamil


1) Makanan (Diet) Ibu Hamil menurut Prawirohardjo (2020)
(1) Kalori
Jumlah kalori yang dibutuhkan bagi ibu hamil
setiap harinya adalah 2.300 kalori. Jumlah kalori
yang berlebih dapat menyebabkan obesitas dan hari
ini merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya
pre-eklampsia. Sebaiknya jumlah pertambahan berat
badan tidak melebihi 10-12 kg selama hamil.
(2) Protein
Protein yang dibutuhkan ibu ha mil adalah 65
gram per hari. Sumber protein diperoleh dari
tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau hewani
(ikan, ayam, keju, susu, telur). Kekeurangan protein
dapat menyebabkan bayi premature, anemia dan
edema.
(3) Kalsium
Kebutuhan kalsium ibu hamil adlah 1 gram
per hari. Sumber kalsium dari susu, keju, yogurt,
dan kalsium karbonat. Kekurangan kalsium dapat
menyebabkan riketsia pada bayi atau osteomalasia
pada ibu.
(4) Zat Besi
Jumlah zat besi yang dibutuhkan ibu adalah
17 gram atau 30 mg/hari terutama setelah trimester
kedua. Jenis zat besi berupa ferrous gluconate,
ferrous fumarate, atau ferrous sulphate. Kekurangan
zat besi dapat menyebabkan anemia.
12

(5) Asam Folat


Jumlah asam folat yang dibutuhkan ibu adalah
400 mikrogram per hari. Kekurangan asam folat
menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu hamil.
2) Perawatan Payudara
Kutang yang dipakai harus sesuai dengan
pembesaran payudara yang sifatnya menyokong buah dada
dari bawah bukan menekan dari depan.
Dua bulan sekali dilkukan pengurutn (massage),
kolostrum dikeluarkan untuk mencegah penyumbatan.
Putting susu, areola payudara dirawat secara baik dengan
dibersihkan menggunakan air sabun bocream dengan cara
mengoleskan air susu ke putting da areola sesudah
menyusui untuk mencegah putting susu kering dan pecah-
pecah (Mochtar, 2021).
3) Kebersihan Tubuh dan Pakaian
(1) Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan
yang ketat pada daerah perut.
(2) Memakai kutang yang menyokong payudara
(3) Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu
tinggi.
(4) Pakaian dalam selalu bersih
Dianjurkan mandi menggunakan sabun
lembut/ringan. Tidak dianjurkan mandi berendam
(Mochtar, 2021).
4) Istrahat
Tidur siang menguntungkan dan baik bagi
kesehatan. Hindari tempat rekreasi yang ramai, sesakdan
panas karena dapat menyebabkan pingsan (Mochtar,
2021).
13

5) Bergerak
Dianjurkan berjalan di pagi hari dalam udara masih
segar. Gerak yang dianjurkan yaitu, berdiri-jongkok,
terlentang-kaki diangkat, terlentang-kaki diangkat, melatih
pernapasan (Mochtar, 2021).
3. Ketidaknyamanan Trimester III
a. Nyeri punggung bawah
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu
ketidaknyamanan yang dirasakan pada kehamilan trimester III
(Hutahaean, 2020). Nyeri punggung merupakan nyeri diabgian
lumbar, lumbosacral, atau didaerah leher. Nyeri punggung
disebabkan oleh regangan otot otau tekanan pada saraf dan
biasanya dirasakan sebagai rasa sakit, tegangan, atau rasa kaku
dibagian punggung (Huldani, 2020). Nyeri tersebutlah yang
menyebabkan reaksi reflektoril pada otot-otot lumbodorsal
terutama pada otot erector spine pada L4 dan L5 sehingga
terjadi peningkatan tonus yang terlokalisir. Nyeri yang dirasakan
dengan inetnesitas tinggi dan kuat biasanya akan menetap
kurang lebih 10-15 menit kemudian hilang timbul lagi (Pearce,
2020).
Nyeri punggung bawah merupakan masalah otot dan
tulang yang sering dialami dalam kehamilan yang menyebabkan
rasa tidak nyaman. Nyeri punggung bawah dihubungkan dengan
lordosis yang diakibatkan karena peningkatan berat uterus yang
menarik tulang belakang keluar dari garis tubuh (Cunningham,
et al, 2020).
Nyeri punggung bawah biasanya akan meningkat seiring
bertambahnya usia kehamilan pada trimester III. Hal ini
dikarenakan berat uterus yang semakin membesar dan postur
tubuh secara bertahap mengalami perubahan karena janin
membesar dalam abdomen sehingga untuk mengompensasi
14

penambahan berat badan ini, bahu lebih tertarik ke belakang dan


tubuh lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur dan
dapat menyebabkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III
(Purnamasari dan Widyawati, 2022).
Adapun faktor yang dapat mempengaruhi nyeri punggung
bawah pada ibu hamil diantaranya, berubahnya titik berat tubuh
seiring dengan membesarnya rahim, postur tubuh, posisi tidur,
meingkatya hormone, keahmailan kembar, riwayat nyeri pada
kehamilan lalu, dan kegemukan (Mafikasari dan Kartikasari,
2021). Selain itu aktivitas sehari-hari (seperti duduk, bergerak,
mengangkat, membungkuk serta melakukan pekerjaan rumah
tngga dan aktivitas kerja rutin) juga bisa menjadi salah satu
factor penyebab nyeri punggung pada ibu hamil (Puspasari,
2022).
Cara mengatasinya:
1) Massage daerah pinggang dan punggung
2) Hindari sepatu hak tinggi
3) Gunakan bantal sewaktu tidur untuk meluruskan punggung
4) Tekuk kaki daripada membungkuk ketika mengangkat
apapun.
5) Lebarkan kedua kaki dan tempatkan satu kaki sedikit
didepan kaki yang lain saat menekukkan kaki, sehingga
terdapat jarak yang cukup saat bangkit dari posisi setengah
jongkok (Syaiful dan Fatmawati, 2022).
b. Edema ekstremitas bawah
Edema fisiologis pada kaki timbul akibat gangguan
sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstermitas
bawah. Gangguan ini terjadi karena penumpukan cairan
dijaringan. Hal ini ditambah dengan penekanan pembuluh darah
besar di perut sebelah kanan (vena kava) oleh uterus yang
membesar, sehingga darah yang kembali ke jantung berkurang
15

dan menumpuk di tungkai bawah. Penekanan ini terjadi saat ibu


berbaring terlentang atau miring ke kanan. Oleh karena itu, ibu
hamil trimester III disarankan untuk berbarik kea rah kiri
(Irianti, 2020).
Edema pada kehamilan dipicu oleh perubahan hormone
esteogen, sehingga dapat meningktkan retensi cairan.
Peningkatan retensi cairan berhubungan dengan perubahan fisik
yang terjadi pada kehamilan trimester akhir, yaitu semakin
membesarnya uterus seiring dengan pertambahan berat badan
janin dan usia kehamlan (Juanita, Harvrialni, dan Fadmiyanor,
2022). Edema fisiologis menyebabkan ketidaknyamanan sepeti
perasaan berat, kram, dan juga kesemutan pada kaki (Coban dan
Sirin, 2020). Cara mengatasinya:
1) Meningkatkan periode istirahat dan berbaring pada posisi
miring kiri
2) Meninggikan kaki apabila duduk serta memakai stoking
3) Meningkatkan asupan protein
4) Menurunkan asupan karbohidrat karena dapat meretensi
cairan di jaringan
5) Menganjurkan untuk minum 6-8 gelas cairan sehari untuk
membantu diuresis natural
6) Menganjurkan ibu untuk cukup berolahraga dan sebisa
mungkin jangan berlama-lama dalam sikap statis atau
berdiam diri dalam posisi yang sama (Fauziah dan Sutejo,
2020; Hutahaean, 2020; Syaiful dan Fatmawati, 2022).
c. Gangguan tidur
Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III disebabkan
oleh perubahan fisik dan perubahan emosi selama kehamilan.
Perubahan fisik yang terjadi seperti rasa mual dan muntah pada
pagi hari, meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari,
16

pembesaran uterus, nyeri punggung, dan pergerakan janin jika


janin tersebut aktif (Ardilah, Setyaningsih, dan Narulita, 2022).
Sedangkan perubahan emosi meliputi kecemasan, rasa
takut, dam depresi (Palifiana dan Wulandari, 2022). Selain itu,
gangguan tidur timbul mendekati saat melahirkan, ibu hamil
akan sulit mengatur posisi tidur akibat uterus yang membesar
dan pernafasan akan terganggu karena diafragma tertekan ke
atas karena semakin besar kehamilan (Sukorini, 2021).
Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III yang
berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis.
Dari kesehatan fisik, kurang tidur akan menyebabkan muka
pucat, mata sembab, kantung mata bewarna hitam, badan lemas
dan daya tahan tubuh menurun sehingga mudang terserang
penyakit. Dari kesehatan psikis, kurang tidur dapat
menyebabkan timbulnya perubahan suasana kejiwaan, sehingga
penderita akan menjadi lesu, lamban menghadapi rangsangan,
dan sulit berkonsentrasi (Kozier et al, 2020), Cara
mengatasinya:
1) Lakukan relaksasi napas dalam
2) Pijat punggung
3) Topang bagian tubuh dengan bantal
4) Minum air hangat (Fauziah dan Sutejo, 2020).
d. Hiperventilasi dan sesak nafas
Peningkatan jumlah progesteron selama kehamilan
memengaruhi langsung pusat pernafasan untuk menurunkan
kadar karbondioksida dan meningkatkan kadar oksigen.
Hiperventilasi akan menurunkan kadar dioksida. Uterus
membesar dan menekan diafragma sehingga menimbulkan rasa
sesak (Hutahaean, 2020), Cara mengatasinya:
1) Bantu cara mengatur pernapasan
2) Posisi berbaring dengan semifowler
17

3) Latihan napas melalui senam hamil


4) Tidur dengan bantal yang tinggi
5) Hindari makan terlalu banyak (Fatmawati dan Sutejo,
2020; Hutahaean, 2020; Syaiful dan Fatmawati, 2022).
e. Peningkatan frekuensi berkemih
Frekuensi kemih meningkat pada trimester III karena
terjadi efek lightening. Lightening yaitu bagian presentasi akan
menurun masuk kedalam panggul dan menimbulkan tekanan
langsung pada kandung kemih. Peningkatan frekuensi berkemih
disebabkan oleh tekanan uterus karena turunnya bagian bawah
janin sehingga kandung kemih tertekan, kapasitas kandung
kemih berkurang dan mengakibatkan frekuensi berkemih
meningkat (Ardiansyah, 2021).
Pada trimester III kandung kemih tertarik keatas dan
keluar dari panggul sejati ke arah abdomen. Uretra memanjang
sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah atas.
Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan oleh hiperemia
kandung kemih dan uretra. Tonus kandung kemih dapat
menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung kemih
sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama pembesaran uterus
menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih
meskipun kandung kemih hanya berisi sedikit urine (Hutahaean,
2020), Cara mengatasinya:
1) Latihan kegel
2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum
tidur
3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur. Namun
agar kebutuhan air pada ibu hamil tetap terpenuhi,
sebaiknya minum lebih banyak di siang hari (Fauziah dan
Sutejo, 2020; Hutahaean, 2020).
18

f. Nyeri ulu hati


Penyebab nyeri ulu hati adalah peningkatan hormon
progesterone sehingga merelaksasikan sfingter jantung pada
lambung, motilitasgastrointestinal karena otot halus relaksasi
dan tidak ada ruang fungsional untuk lambung karena tekanan
pada uterus (Hutahaean, 2020), Cara mengatasinya:
1) Makan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari
lambung yang menjadi penuh
2) Hindari makanan yang berlemak, lemak mengurangi
mortilitas usus dan sekresi asam lambung yang dibutuhkan
untuk pencernaan
3) Hindari minum bersamaan dengan makan karena cairan
cenderung menghambat asam lambung
4) Hindari makanan dingin
5) Hindari makanan pedas (Hutahaean, 2020).
g. Kram kaki
Kram kaki merupakan kontraksi otot yang memendek atau
kontraksi sekumpulan otot yang terjadi secara mendadak dan
singkat, yang biasanya menyebabkan nyeri. Kram kaki dapat
disebabkan oleh kurang mengkonsumsi kalsium, kurang aliran
darah ke otot, kelelahan dan dehidrasi, serta kurangnya gizi
selama kehamilan. Pada ibu hamil trimester III terjadi karena
berat badan atau rahim ibu yang bertambah besar sehingga
terjadi gangguan asupan oksigen yang membuat aliran darah
tidak lancar dan menimbulkan rasa nyeri pada kaki. Kram kaki
yang dirasakan biasanya menyerang pada malam hari selama 1-
2 menit. Hal itu terjadi juga karena bayi mengambil sebagian
besar gizi ibu sehingga meninggalkan sedikit untuk ibunya
(Krisnawati, Fatimah, dan Isroh, 2020), Cara mengatasinya:
1) Saat kram terjadi, yang harus dilakukan adalah
melemaskan seluruh tubuh terutama bagian tubuh yang
19

kram. Dengan cara menggerak-gerakan pergelangan


tangan dan mengurut bagian kaki yang terasa kaku
2) Pada saat bangun tidur, jari kaki ditegakkan sejajar dengan
tumit untuk mencegah kram mendadak
3) Kompres hangat pada kaki
4) Banyak minum air putih
5) Ibu sebaiknya istirahat yang cukup (Fauziah dan Sutejo,
2020; Hutahaean, 2020; Syaiful dan Fatmawati, 2022).
h. Varises
Varises biasanya menjadi lebih jelas terlihat seiring
dengan usia kehamilan, peningkatan berat badan, dan lama
waktu yang dihabiskan dalam posisi berdiri. Tekanan femoralis
makin meningkat seiring dengan tuanya kehamilan (Hutahaean,
2020), Cara mengatasinya:
1) Hindari menggunakan pakaian ketat
2) Hindari berdiri lama
3) Sediakan waktu istirahat untuk mengelevasi kaki secara
teratur
4) Lakukan latihan ringan dan berjalan secara teratur
menggunakan bantalan karet
5) Lakukan latihan kegel untuk mengurangi varises vulva
atau haemoroid untuk meningkatkan sirkulasi
6) Lakukan mandi hangat yang menenangkan (Hutahaean,
2020).
i. Hemoroid
Hemoroid merupakan pelebaran vena dari anus. Hemoroid
dapat bertambah besar ketika kehamilan karena adanya kongesti
darah dalam rongga panggul. Relaksasi dari otot halus pada
bowel, memperbesar konstipasi dan tertahannya gumpalan
(Hutahaean, 2020), Cara mengatasinya:
1) Hindari konstipasi
20

2) Beri rendaman hangat/dingin pada anus


3) Bila mungkin gunakan jari untuk memasukkan kembali
hemoroid ke dalam anus dengan pelan-pelan
4) Bersihkan anus dengan hati-hati sesudah defekasi
5) Usahakan BAB yang teratur
6) Ajarkan ibu tidur dengan posisi knee chest selama 15
menit
7) Ajarkan latihan kegel untuk menguatkan perineum dan
mencegah hemoroid (Hutahaean, 2020; Syaiful dan
Fatmawati, 2022).
j. Konstipasi
Konstipasi disebabkan karena pengerasan feses yang
terjadi akibat penurunan kecepatan kerja peristaltik karena
progesteron yang menimbulkan efek relaksasi, pergeseran usus
akibat pertumbuhan uterus atau suplemasi zat besi dan akivitas
fisik yang kurang (Hartinah, Karyati, dan Rokhani, 2022), Cara
mengatasinya:
1) Asupan cairan yang adekuat, yakni minum air minimal 8
gelas/ hari (ukuran gelas minum)
2) Istirahat cukup, Hal ini memerlukan periode istirahat pada
siang hari
3) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk
menstimulasi peristaltik
4) Makan-makanan berserat dan mengandung sarat alami
5) Miliki pola defikasi yang baik dan teratur
6) Lakukan latihan secara umum, berjalan setiap hari,
pertahankan postur tubuh yang baik, mekanisme tubuh
yang baik, latihan kontraksi otot abdomen bagian bawah
secara teratur. (Hutahaean, 2020; Syaiful dan Fatmawati,
2022).
21

k. Kesemutan dan baal pada jari


Perubahan pusat gravitasi menyebabkan wanita
mengambil postur dengan posisi bahu terlalu jauh kebelakang
sehingga menyebabkan penekanan pada saraf median dan aliran
lengan yang akan menyebabkan kesemutan dan baal pada jari-
jari (Syaiful dan Fatmawati, 2020), Cara mengatasinya:
1) Mengatur pola nafas
2) Merilekskan badan
3) Berikan kompres hangat (Hutahaean, 2020; Syaiful dan
Fatmawati, 2022).
B. Persalinan
1. Definisi
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil komsepsi
(janin dan uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari Rahim melalui
jalan lahir atau dengan jalan lain (Mochtar, 2021).
Persalinan normal adalah proses dimana bayi, plasenta dan
selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal
jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37
minggu) tanpa diserta penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak
uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada servik
(membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara
lengkap. Ibu belum dapat dikategorikan inpartu jika kontraksi uterus
tidak mengakibatkan perubahan atau pembukaan serviks (JNPK-KR,
2021).
2. Tanda dan Gejala
Yang merupakan tanda pasti dari persalinan adalah:
a. Timbulnya kontraksi uterus
Biasa juga disebut dengan his persalinan yaitu his
pembukaan yang mempunyai sifat sebagai berikut:
1) Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut bagian
depan.
22

2) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.


3) Sifatnya teratur, inerval makin lama makin pendek dan
kekuatannya makin besar.
4) Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan
serviks.
5) Makin beraktifitas ibu akan menambah kekuatan kontraksi.
Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada
serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit). Kontraksi
yang terjadi dapat menyebabkan pendataran, penipisan dan
pembukaan serviks.
b. Penipisan dan pembukaan serviks
Penipisan dan pembukaan serviks ditandai dengan adanya
pengeluaran lendir dan darah sebagai tanda pemula.
c. Bloody Show (lendir disertai darah dari jalan lahir)
Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis
cervicalis keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang
sedikit ini disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian
bawah segmen bawah rahim hingga beberapa capillair darah
terputus.
d. Premature Rupture of Membrane
Adalah keluarnya cairan banyak secara mendadak dari jalan
lahir. Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin
robek. Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan lengkap atau
hampir lengkap dan dalam hal ini keluarnya cairan merupakan
tanda yang lambat sekali. Tetapi kadang-kadang ketuban pecah
pada pembukaan kecil, malahan kadang-kadang selaput janin
robek sebelum persalinan. Walaupun demikian persalinan
diharapkan akan mulai dalam 24 jam setelah air ketuban keluar
(Ari Kurniarum, [Link]., 2020).
23

3. Asuhan Kebidanan pada Persalinan (60 Langkah)


Asuhan Persalinan Normal (APN) dengan 60 langkah sebagai berikut:
a. Mengenali gejala dan tanda kala dua
1) Mendengar dan melihat tanda kala dua persalinan
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
b) Ibu merasakan ada tekanan yang semakin meningkat
pada rektum dan vagina
c) Perineum tampak menonjol
d) Vulva dan sfinger ani membuka
b. Menyiapkan pertolongan persalinan
2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana
komplikasi segera pada ibu dan bayi baru lahir.
Untuk asuhan bayi baru lahir atau resusitasi→siapkan:
a) Tempat datar, rata, bersih, kering, dan hangat
b) 3 handuk/kain bersih dan kering (termasuk ganjal bahu
bayi)
c) alat penghisap lender
d) lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh
bayi
Untuk ibu:
a) Menggelar kain di perut bawah ibu
b) menyiapkan oksitosin 10 unit
c) alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3) Pakai celemek plastik atau dari bahan yang tidak tembus
cairan
4) Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai,
cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang
bersih dan kering.
24

5) Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan


untuk periksa dalam.
6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan
tangan yang memakai sarung tangan DTT atau steril dan
pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik).
c. Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan
hati-hati dari anterior (depan) ke posterior (belakang)
menggunakan kapas atau kasa yang dibatasi air DTT.
a) Jika introitus vagina, perineum atau anus
terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari
arah depan ke belakang
b) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi)
dalam wadah tersedia
c) jika terkontaminasi, lakukan dekontaminasi, lepaskan
dan rendam sarung tangan tersebut dalam larutan
klorin 0,5% →langkah #9. Pakai sarung tangan
DTT/Steril untuk melaksanakan langkah selanjutnya.
8) Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan
[Link] selaput ketuban masih utuh saat pembukaan
sudah lengkap maka lakukan amniotomi.
9) Dekontaminasi sarung tangan (celupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%,
lepaskan sarung tangan dalam keadan terbalik, dan rendam
dalam klorin 0,5% selama 10 menit). Cuci kedua tangan
setelah sarung tangan dilepaskan.
10) Periksa denyut jantung (DJJ) setelah kontraksi uterus
mereda (relaksasi) untuk memastikan DJJ masih dalam
batas normal (120- 160x/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
25

b) Mendokumentasikan hasil-hasil periksa dalam, DJJ,


semua temuan pemeriksaan dan asuhan yang diberikan
ke dalam partograf
d. Meyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses meneran
11) Beritahukan pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan
posisi nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
a) Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin
meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan
kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman
penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua
temuan yang ada.
b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang peran mereka
untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu dan
meneran secara benar.
12) Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran jika
ada rasa ingin meneran atau kontraksi yang kuat. Pada
kondisi itu, ibu diposisikan setengah duduk atau posisi lain
yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman.
13) Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ingin
meneran atau timbul kontraksi yang kuat:
a) Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan
efektif
b) Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai
c) Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai
piihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam
waktu yang lama)
d) Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi
e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat
untuk ibu
26

f) Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum)


g) Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai
h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera
lahir setelah pembukaan lengkap dan dipimpin
meneran ≥ 60 menit (1 jam) pada multigravida.
14) Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan
untuk meneran dalam selang waktu 60 menit
e. Persiapan untuk melahirkan bayi
15) Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di
perut bawah ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva
dengan diameter 5-6 cm
16) Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian sebagai alas
bokong ibu
17) Buka tutup partus set dan periksa kembali kelengkapan
peralatan dan bahan
18) Pakai sarung tangan DTT/Steril pada kedua tangan
f. Pertolongan untuk melahirkan bayi
Lahirnya kepala
19) Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm
membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu
tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering, tangan
yang lain menahan belakang kepala untuk mempertahankan
posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan
ibu meneran secara efektif atau bernapas cepat dan dangkal.
20) Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil
tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi), segera lanjutkan
proses kelahiran bayi. Perhatikan!
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar lepaskan
lilitan lewat bagian atas kepala bayi
27

b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat
di dua tempat dan potong tali pusat di antara dua klem
tersebut
21) Setelah kepala lahir, tunggu putaran paksi luar yang
berlangsung secara spontan
g. Lahirnya bahu
22) Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi
secara biparental. Anjurkan ibu untuk meneran saat
kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala ke arah bawah
dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis
dan kemudian gerakkan ke arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang
h. Lahirnya badan dan tungkai
23) Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk
menopang kepala dan bahu. Gunakan tangan atas untuk
menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.
24) Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kedua kaki
dan pegang kedua kaki dengan melingkarkan ibu jari pada
satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi yang lain agar
bertemu dengan jari telunjuk)
i. Asuhan Bayi Baru Lahir
25) Lakukan penilaian (selintas)
a) Apakah bayi cukup bulan ?
b) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa
kesulitan ?
c) Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
j. Bila salah satu jawaban adalah ―Tidak― lanjut ke langkah
resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia (lihat penuntun
belajar resusitasi bayi asfiksia)
28

k. Bila semua jawaban adalah ―Ya‖, lanjut ke-26


26) Keringkan tubuh bayi
l. Manajemen aktif kala tiga persalinan (MAK III)
27) Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi
yang lahir (hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda
(gemeli)
28) Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik
29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin
10 unit (intramuskuler) di 1/3 distal lateral paha (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin).
30) Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir, pegang tali
pusat dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar bayi,
kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan lain menjepit
tali pusat dan geser hingga 3 cm proksimal dari pusar bayi.
Klem tali pusat pada titik tersebut kemudian tahan klem
untuk mendorong tali pusat ke arah ibu (sekitar 5 cm) dan
klem tali pusat pada sekitar 2 cm distal dari klem pertama.
31) Pemotongan dan pengikatan tali pusat
a) Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah
dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan
pengguntingan di antara 2 klem tersebut
b) Ikat tali pusat dengan benang DTT/Steril pada satu sisi
kemudian lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat tali
pusat dengan simpul kunci pada sisi lainnya
c) Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah
disediakan
32) Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak kulit ibu
bayi luruskan bahu bayi sehingga dada bayi menempel di
dada ibunya. Usahakan kepala bayi berada diantara
29

payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting susu


atau areola mamae ibu.
a) Selimuti ibu bayi dengan kain kering dan hangat,
pasang topi di kepala bayi
b) Biarkan bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada
ibu paling sedikit 1 jam
c) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi
menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu
untuk pertama kali akan berlangsung sekitar 10-15
menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara
d) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam
walaupun bayi sudah berhasil menyusu
33) Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva
34) Letakkan satu tangan di atas kain pada perut bawah ibu (di
atas simfisis), untuk mendeteksi kontraksi. Tangan lain
memegang klem untuk meneganggkan tali pusat.
35) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah
bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah
belakang atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk
mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah
30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu
hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi kembali
prosedur diatas.
m. Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau
anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.
Mengeluarkan plasenta
36) Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus
kearah dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat
kearah distal maka lanjutkan dorongan kearah cranial
hingga plasenta dapat dilahirkan.
30

a) Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan


(jangan ditarik secara kuat terutama jika uterus tak
berkontraksi) sesuai dengan sumbu jalan lahir (kearah
bawah-sejajar lantai-atas)
b) jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem
hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan
lahirkan plasenta
c) jika plasenta tidak terlepas setelah 15 menit
menegangkan tali pusat ulangi pemberian oksitosin 10
unit IM , lakukan katerisasi (gunakan teknik aseptik)
jika kandung kemih penuh, minta keluarga untuk tali
pusat 15 menit berikutnya, jika plasenta tak lahir dalam
30 menit sejak bayi lahir atau terjadi perdarahan maka
segera lakukan tindakan plasenta manual.
37) Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan
plasenta pada wadah yang telah disediakan.
n. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril
untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-
jari tangan atau klem ovum DTT / steril untuk mengeluarkan
selaput yang tertinggal.
Rangsangan taktil (masase) uterus:
38) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
messase uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan
lakukan messase dengan gerakan melingkar dengan lembut
hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)
o. Lakukan tindakan yang di perlukan (Kompresi Bimanual
Internal), Kompresi Aorta Abdominalis, Tampon Kondom-
Kateter) jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah
rangsangan taktil / messase
31

Menilai perdarahan
39) Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan
plasenta telah dilahirkan lengkap. Masukkan plasenta ke
dalam kantung plastik atau tempat khusus.
40) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Lakukan penjahitan bila terjadi laserasi derajat 1 dan 2
yang menimbulkan perdarahan.
p. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera
lakukan penjahitan.
Asuhan pasca persalinan
41) Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
42) Pastikan kandung kemih kosong. Jika penuh lakukan
kateterisasi. Evaluasi
43) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan
kedalam larutan klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan
cairan tubuh, dan bilas di air DTT tanpa melepas sarung
tangan, kemudian keringkan dengan handuk.
44) Ajarkan ibu / keluarga cara melakukan messase uterus dan
menilai kontraksi.
45) Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik.
46) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
47) Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik (40- 60 kali / menit)
a) Jika bayi sulit bernafas, merintih, atau retraksi,
diresusitasi dan segera merujuk kerumah sakit.
b) Jika bayi nafas terlalu cepat atau sesak nafas, segera
rujuk ke RS Rujukan.
c) Jika kaki teraba dingin pastikan ruangan hangat.
Lakukan kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan
ibu-bayi dalam satu selimut.
32

q. Kebersihan dan keamanan


48) Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas
peralatan setelah didekontaminasi.
49) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
yang sesuai
50) Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan
menggunakan air DTT. Bersihkan cairan ketuban, lendir
dan darah di ranjang atau disekitar ibu berbaring. Bantu ibu
memakai pakaian yang bersih dan kering.
51) Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI.
Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan
makanan yang diinginkannya
52) Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%
53) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan
kedalam larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam
keadaan terbalik, dan rendam dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.
54) Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan tangan dengan tissue atau handuk
pribadi yang bersih dan kering
55) Pakai sarung tangan bersih / DTT untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi
56) Lakukan pemeriksaan fisik bayi baru ahir. Pastikan kondisi
bayi baik, pernafasan normal (40-60 kali / menit) dan
temperatur tubuh normal (36,5 – 37,5°C) setiap 15 menit.
57) Setelah 1 jam pemberian vitamin K1, berikan suntikan
Hepatitis B dip aha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di
dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu dapat disusukan.
58) Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
rendam didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
33

59) Cuci kedua tangan dalam sabun dan air mengalir


kemungkinan keringkan dengan tissue atau handuk pribadi
yang bersih dan kering
r. Dokumentasi
60) Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa
tanda vital dan asuhan kala IV Persalinan (PP IBI, 2020).
4. Partograf
a Pengertian Partograf
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif
persalinan (Sari dan kurnia, 2021).
b Kegunaan partograf
1) Mencatat kemajuan persalinan
2) Mencatat kondisi ibu dan janin
3) Mancatat asuhan yang diberikan selama persalinan
4) Mendeteksi secara dini penyulit persalinan
5) Membuat keputusan klinik cepat dan tepat (Kemenkes RI,
2020).
Petugas harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut:
1) Denyut jantung janin. Catat setiap satu jam.
2) Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan
pemeriksaan vagina, dengan menggunakan kode:
U : selaput Utuh,
J : selaput pecah, air ketuban Jernih,
M : air ketuban bercampur Mekonium,
D : air ketuban bernoda Darah,
K : tidak ada cairan ketuban/ Kering.
3) Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase),
dengan menggunakan kode:
0 : sutura terpisah,
1 : sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat/
bersesuaian,
34

2 : sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki,


3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki.
4) Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai setiap 4 jam
dan diberi tanda silang (x).
5) Penurunan : mengacu pada bagian kepala (dibagi 5
bagian) yang teraba (pada pemeriksaan abdomen/luar)
diatas simfisis pubis; catat dengan tanda lingkaran (O)
pada setiap pemeriksaan dalam. Pada posisi 0/5, sinsiput
(S) atau paruh atas kepala berada disimfisis pubis.
6) Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani
sesudah pasien diterima.
7) Jam, catat jam sesungguhnya.
8) Kontrasksi, Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi
untuk menghitung banyknya kontrasksi dalam 10 menit
dan lamanya tiap-tiap kontrasksi dalam hitungan detik:
a) Kurang dari 20 detik;
b) Antara 20 dan 40 detik;
c) Lebih dari 40 detik.
9) Oksitosin. Jika memakai oksitosin, catatlah banyaknya
oksitosin pervolume cairan infus dan dalam tetesan per
menit.
10) Obat yang diberikan. Catat semua obat yang diberikan.
11) Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan tandai dengan
sebuah titik besar.
12) Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan
anak panah.
13) Suhu badan. Catatlah setiap 2 jam
14) Protein, aseton , dan protein urin. Catatlah setiap kali ibu
berkemih. Jika temuan-temuan melintas kearah kanan dari
garis waspada, petugas kesehatan harus melakukan
35

penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera


mencari rujukan yang tepat (Saifuddin, 2020).
C. Nifas
1. Pengertian Nifas
Masa nifas berasal dari bahasa latin, yaitu puer artinya bayi dan
parous artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan. Asuhan
kebidanan masa nifas adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan
pada pasien mulai dari saat setelah lahirnya bayi sampai dengan
kembalinya tubuh dalam keadaan seperti sebelum hamil atau
mendekati keadaan sebelum hamil (Saleha, 2020). Masa Nifas dimulai
setelah 2 jam postpartum dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama
6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan baik secara fisiologi
maupun psikologis akan pulih dalam waktu 3 bulan (Nurjanah, dkk,
2021). Masa nifas dibagi dalam 3 tahap, yaitu puerperium dini
(immediate puerperium), puerperium intermedial(early puerperium)
dan remote puerperium (later puerperium).
Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a Puerperium dini (immediate puerperium), yaitu pemulihan di
mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan (waktu
0-24 jam Postpartum). Dalam agama islam dianggap telah bersih
dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b Puerperium intermedial (early puerperium), suatu masa di mana
pemulihan dari organ -organ reproduksi secara menyeluruh
selama kurang lebih 68 minggu.
c Remote puerperium (later puerperium), waktu yang diperlukan
untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan yang sempurna
secara bertahap terutama jika selama masa kehamilan dan
persalinan ibu mengalami komplikasi, waktu untuk sehat bisa
berminggu-minggu, bulan bahkan tahun.
36

2. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas


Perubahan Fisiologis pada masa nifas: (Walyani, 2021)
a Sistem Kardiovaskular
Denyut jantung, volume dan curah jantung meningkat
segera setelah melahirkan karena terhentinya aliran darah ke
plasenta yang mengakibatkan beban jantung meningkat yang
dapat diatasi dengan haemokonsentrasi sampai volume darah
kembali normal, dan pembuluh darah kembali ke ukuran
semula.
b Sistem Reproduksi
1) Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi)
sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
a) Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat
uterus 1000gr
b) Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2
jari bawah pusat dengan berat uterus 750gr
c) Satu minggu postpartum tinggi fundus uteri teraba
pertengahan pusat simpisis dangan berat uterus
500gr
d) Dua minggu postpartum tinggi fundus uteri tidak
teraba diatas simpisis dengan berat urterus 350gr
e) Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah
kecil dengan berat uterus 50 gr
2) Lochea
Lochea adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri
dan vagina dalam masa nifas. Macam-macam lochea:
Tabel 2.1
37

Perubahan lochea berdasarkan waktu dan warna Lochea


Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra Merah Berisi darah segar dan sisa-
sisa (cruenta) partum
selaput ketuban, sel-sel
desidua, verniks kaseosa,
lanugo, dan meconium
Sanguinolenta 3-7 hari postpsrtum, Berisis darah dan lendir
berwarna merah
kekuningan
Serosa 7-14 hari Cairan serum, jaringan
postpartum, merah desidua, leukosit, dan
jambu kemudian eritrosit.
kuning
Alba 2 minggu Cairan berwarna putih
postpartum, seperti krim terdiri dari
berwarna putih leukosit dan sel-sel desidua
Purulenta Terjadi infeksi Keluar cairan seperti nanah
berbau busuk
Lochea statis Lochea tidak lancar
keluarnya (Walyani, 2021).

3) Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek,
kendur, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini
disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks
tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan
serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah
kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera
setelah bayi lahir, tangan pemeriksa masih dapat
dimasukkan 2-3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja
yang dapat masuk. Namun demikian, selesai involusi,
ostium eksternum tidak sama seperti sebelum hamil
(Rukiyah, dkk, 2021).
4) Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta
peregangan yang sangat besar salama proses melahirkan
38

bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses


tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan
kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina
secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara
labia menjadi lebih menonjol (Walyani, 2021).
5) Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses
laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai
dua mekanisme fisiologis, yaitu produksi susu dan sekresi
susu (let down). Selama sembilan bulan kehamilan,
jaringan payudara tumbuh menyiapkan fungsinya untuk
menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah
melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak
ada lagi untuk menghambat kelenjar pituitary akan
mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Ketika
bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang lobus
posterior pituitary untuk menyekresi hormon oksitosin.
Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan),
sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus laktiferus
payudara ke duktus yang terdapat pada puting. Ketika ASI
dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel
acini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak
(Saleha, 2020).
c Perubahan Sistem Pencernaan
Setelah kelahiran plasenta, maka terjadi pula penurunan
produksi progesteron. Sehingga hal ini dapat menyebabkan
heartburn dan konstipasi terutama dalam beberapa hari pertama.
Kemungkinan terjadi hal ini karena kurangnya keseimbangan
cairan selama persalinan dan adanya reflek hambatan defekasi
39

dikarenakan adanya rasa nyeri pada perineum karena adanya


luka episiotomi (Bahiyatun, 2020).
d Perubahan Sistem Perkemihan
Diuresis dapat terjadi setelah 2-3 hari postpartum. Diuresis
terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini
akan kembali normal setelah 4 minggu postpartum. Pada awal
postpartum, kandung kemih mengalami edema, kongesti, dan
hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat
kala dua persalinan dan pengeluaran urine yang tertahan selama
proses persalinan. Sumbatan pada uretra disebabkan oleh adanya
trauma saat persalinan berlangsung dan trauma ini dapat
berkurang setelah 24 jam postpartum (Bahiyatun, 2020).
e Perubahan Tanda-tanda Vital
Perubahan Tanda-tanda Vital terdiri dari beberapa, yaitu:
(Nurjanah, dkk, 2021).
1) Suhu Badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik
sedikit oo (37,5 ˚C-38˚C) sebagai akibat kerja keras waktu
melahirkan, kehilangan cairan (dehidrasi) dan kelelahan
karena adanya bendungan vaskuler dan limfatik. Apabila
keadaan normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada
hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya
pembentukan ASI, payudara menjadi bengkak, berwarna
merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun
kemungkinan adanya infeksi endometrium, mastitis,
tractus genetalis atau system lain.
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa antara 60-80
kali per menit atau 50-70 kali per menit. Sesudah
melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat. Denyut
40

nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada


kemungkinan infeksi atau perdarahan postpartum.
3) Tekanan Darah
Tekanan darah meningkat pada persalinan 15 mmHg
pada systole dan 10 mmHg pada diastole. Biasanya setelah
bersalin tidak berubah (normal), kemungkinan tekanan
darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada
perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat
menandakan terjadinya preeklamsi pada masa postpartum.
4) Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan
keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak
normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali
apabila ada gangguan khusus pada saluran napas
contohnya penyakit asma. Bila pernapasan pada masa
postpartum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-
tanda syok.
f Perubahan Sistem Kardiovaskular
Curah jantung meningkat selama persalinan dan
berlangsung sampai kala tiga ketika volume darah uterus
dikeluarkan. Penurunan terjadi pada beberapa hari pertama
postpartum dan akan kembali normal pada akhir minggu ke-3
postpartum (Bahiyatun, 2020).
3. Perubahan Psikologis Nifas
Periode Postpartum menyebabkan stress emosioPeriode
Postpartum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan
lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat. Faktor-
faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi
orang tua pada masa postpartum, yaitu: (Bahiyatun, 2020)
a Respon dan dukungan dari keluarga dan teman
41

b Hubungan antara pengalaman melahirkan dan harapan serta


aspirasi
c Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lain
d Pengaruh budaya
Dalam menjalani adaptasi psikososial menurut Rubin setelah
melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut:
(Nurjanah, dkk, 2021)
1) Masa Taking In (Fokus pada Diri Sendiri)
Masa ini terjadi 1-3 hari pasca-persalinan, ibu yang
baru melahirkan akan bersikap pasif dan sangat tergantung
pada dirinya (trauma), segala energinya difokuskan pada
kekhawatiran tentang badannya. Dia akan bercerita
tentang persalinannya secara berulang-ulang.
2) Masa Taking On (Fokus pada Bayi)
Masa ini terjadi 3-10 hari pasca-persalinan, ibu
menjadi khawatir tentang kemampuannya merawat bayi
dan menerima tanggung jawabnya sebagai ibu dalam
merawat bayi semakin besar. Perasaan yang sangat sensitif
sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang
hati-hati.
3) Masa Letting Go (Mengambil Alih Tugas sebagai Ibu
Tanpa Bantuan NAKES)
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab
akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah
melahirkan. Ibu mengambil langsung tanggung jawab
dalam merawat bayinya, dia harus menyesuaikan diri
dengan tuntutan ketergantungan bayinya dan terhadap
interaksi social. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri
dengan ketergantungan. Keinginan untuk merawat diri dan
bayinya meningkat pada fase ini.
42

4. Tanda bahaya masa nifas


Setelah ibu melahirkan, selanjutnya ibu memasuki tahap masa
nifas atau lazim disebut puerperium. Masa nifas dimulai 1 jam setelah
plasenta lahir hingga 6 minggu (42 hari) setelahnya. Menurut
Saifuddin, asuhan masa nifas sangat diperlukan karena masa nifas
merupakan masa kritis yang memungkinkan untuk terjadinya
masalah-masalah yang berakibat fatal karena dapat menyebabkan
kematian ibu. oleh karena itu perhatian penuh dari bidan sangat
diperlukan salah satunya dengan memberikan asuhan kebidanan
berkesinambungan yang berkualitas secara optimal. Dampak yang
terjadi jika cakupan pelayanan yang diberikan rendah, dapat
menyebabkan permasalahan pada ibu nifas seperti perdarahan post
partum, infeksi saat masa nifas, dan masalah obstetri lainya pada masa
nifas (Wahyuni, Sri, 2021). Tanda bahaya masa nifas yang perlu
diwaspadai oleh ibu diantaranya:
a. Perdarahan pascasalin
Perdarahan paska persalinan yaitu perdarahan pervaginam
yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Perdarahan pascasalin
menurut Kemenkes RI (2020) dibagi menjadi 2, yaitu:
1) Perdarahan pascasalin primer (Early Postpartum
Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24
jam pertama paska persalinan segera. Penyebab
perdarahan ini diantaranya atonia uteri, retensio plasenta,
sisa plasenta yang tertinggal, dan robekan jalan lahir.
2) Perdarahan pascasalin sekunder (Late Postpartum
Haemorrhage), yaitu perdarahan yang terjadi setelah 24
jam pertama paska persalinan. Penyebab utama
perdarahan ini diantaranya robekan jalan lahir, sisa
plasenta yeng tertinggal atau membran. Sakit kepalayang
hebat. Pembengkakan di wajah, tangan dan kaki. payudara
yang berubah merah, panas dan terasa sakit. Ibu yang
43

dietnya buruk, kurang istirahat dan anemia mudah


mengalami infeksi.
b. Infeksi masa nifas
Bakteri dapat menjadi salah satu penyebab infeksi setelah
persalinan. Selain kurang menjaga kebersihan dan perawatan
masa nifas yang kurang tepat, faktor lain yang memicu seperti
adanya luka bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran
genetalia termasuk episiotomi pada perineum ataupun dinding
vagina dan serviks. Gejala umum yang dapat terjadi:
1) Temperatur suhu meningkat >38°C,
2) Ibu mengalami peningkatan pernapasan (takikardi) dan
penurunan pernapasan (bradikardi) secara drastis, serta
tekanan darah yang tidak teratur,
3) Ibu terlihat lemah, gelisah, sakit kepala dan kondisi
terburuknya ibu tidak sadar/ koma,
4) Proses involusi uteri terganggu,
5) Lokea yang keluar berbau dan bernanah.
c. Demam, muntah dan nyeri saat berkemih
Pada masa nifas ini ibu cenderung mengalami peningkatan
suhu badan dan nyeri saat berkemih. Nyeri ini disebabkan oleh
luka bekas episiotomi, atau laserasi periuretra yang
menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu. Demam dengan suhu
>38°C mengindikasikan adanya infeksi, serta terjadinya diuresis
dan overdistensi dapat menyebabkan infeksi pada saluran
kemih.
d. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
Selepas persalinan ibu akan mengalami kelelahan yang
amat berat, karena tenaga ibu bayak terkuras saat menjalani
proses persalinannya. Karena kelahan ini akhirnya berdampak
pada nafsu makan ibu yang menurun. Pada masa ini dukungan
44

keluarga sangat diperlukan dalam membantu ibu untuk tetap


makan dan mencukupi kebutuhan nutrisinya dengan baik.
e. Payudara berubah kemerahan, panas dan terasa sakit
Jika ASI ibu tidak disusukan pada bayinya maka dapat
menyebabkan terjadi bendungan ASI, payudara memerah,
panas, dan terasa sakit yang berlanjut pada mastitis, atau terjadi
radang (peradangan pada payudara).
f. Pembengkakan pada wajah dan ekstremitas
Waspadai preeklamsi yang timbul dengan tanda-tanda:
1) Tekanan darah ibu tinggi,
2) Terdapat oedem/ pembengkakan di wajah dan ekstremitas.
3) Pada pemeriksaan urine ditemukan protein urine.
5. Kunjungan masa nifas
Program kebijakan nasional menetapkan kunjungan pada masa
nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan (Prawirohardjo, 2020).
a. Kunjungan pertama 6-8 jam pasca persalinan
Tujuan :
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk
bila perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas
karena atonia uteri.
4) Pemberian ASI awal
5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
b. Kunjungan kedua 6 hari pasca persalinan
Tujuan :
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
45

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau


perdarahan bnormal.
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makan, cairan dan
istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat yi
sehari-hari.
c. Kunjungan ketiga 2 minggu pasca persalinan
Tujuan sama seperti 6 hari pasca persalinan
d. Kunjungan keempat 6 minggu pasca persalinan
Tujuan :
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia
atau bayi alami
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini
D. Bayi Baru Lahir
1. Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu,dengan berat
badan 2500-4000 gram, nilai apgar > 7 tanpa cacat (Rukiyah dan Lia,
2021). Neonatus normal adalah bayi yang baru lahir dengan usia
kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu
36 – 40 minggu (Mitayani, 2021). Masa neonatal adalah masa sejak
lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran. Neonatus
adalah bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan
sesudah lahir. Neonatus dini adalah bayi berusia 0-7 hari. Neonatus
lanjut adalah bayi berusia 7-28 hari (Marmi dan Kukuh, 2020).
46

2. Asuhan segera bayi baru lahir


Menurut (Nurhayati, 2020) asuhan segera bayi baru lahir adalah
asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah
kelahiran. Sebagian besar bayi baru lahir akan menunjukkan usaha
pernafasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan. Aspek-
aspek penting dari asuhan segera bayi baru lahir antara lain:
a. Jagalah bayi agar tetap kering dan hangat
b. Usahakan adanya kontak kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera
mungkin
c. Segera setelah bayi baru lahir
d. Sambil secara cepat menilai pernafasannya, letakkan bayi
dengan handuk diatas perut ibu
e. Dengan kain bersih dan kering atau kasa, lap darah atau lendir
bayi dari wajah bayi untuk mencegah jalan udaranya terhalang.
Periksa ulang pernafasan bayi.
3. Tanda bahaya pada bayi baru lahir
Menurut (Nurhayati, 2020). Semua bayi baru lahir harus dinilai
adanya tanda-tanda kegawatan/kelainan yang menunjukan suatu
penyakit. Berikut penilaian bayi baru lahir untuk tanda kegawatan.
a. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu
atau beberapa tanda sebagai berikut:
1) Sesak nafas
2) Frekuensi pernafasan 60 x/m
3) Gerakan retraksi di dada
4) Malas minum ASI
5) Panas atau suhu badan bayi rendah
6) Kurang aktif
7) Berat badan rendah (1500-2500 gram) dengan kesulitan
minum
47

b. Tanda-tanda bayi baru lahir sakit berat, apabila terdapat salah


satu atau lebih tanda-tanda berikut:
1) Sulit minum
2) Sianosis sentral
3) Perut kembung
4) Periode apneu
5) Kejang atau periode kejang-kejang kecil
6) Merintih
7) Perdarahan
8) Kulit sangat kuning
9) Berat badan lahir <1500 gram
4. Kunjungan Neonatus
Standar kunjungan neonatus dilakukan minimal 3 kali yakni
sebagai berikut (Kemenkes RI, 2020) :
a. Kunjungan neonatus (KN 1) pada 6 jam sampai 48 jam bayi
lahir.
1) Mempertahankan suhu tubuh bayi
Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya enam
jam dan hanya setelah itu jika tidak terjadi masalah medis
dan jika suhunya 36,5 ºC bungkus bayi dengan kain yang
kering dan hangat,kepala bayi harus tertutup.
2) Pemeriksaan fisik pada bayi
b. Kunjungan neonatus kedua (KN 2) pada 3-7 hari bayi lahir
1) Menjaga tali pusat dalam keadaaan bersih dan kering
2) Menjaga kebersihan bayi
3) Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi
bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah dan masalah
pemberian ASI.
4) Memberikan ASI (bayi harus disusukan minimal 10-15
kali dalam 24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan.
5) Menjaga keamanan bayi
48

6) Menjaga suhu tubuh bayi


7) Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan
ASI eksklusif pencegahan hipotermi dan melaksanakan
perawatan bayi baru lahir dirumah dengan menggunakan
buku KIA.
8) Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan.
c. Kunjungan neonatus ketiga (KN 3) pada 8-28 hari bayi lahir.
1) Pemeriksaan fisik
2) Menjaga kebersihan bayi
3) Memberitahukan ibu tentang tanda-tanda bahaya bayi baru
lahir
4) Memberikan ASI bayi harus disusukan minimal 10-15 kali
dalam 24 jam dalam 2 minggu pasca persalinan.
5) Menjaga keamanan bayi
6) Menjaga suhu tubuh bayi
7) Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan
ASI eksklusif pencegahan hipotermi dan melaksanakan
perawatan bayi baru lahir dirumah dengan menggunakan
buku KIA.
8) Memberitahukan ibu tentang imunisasi BCG
9) Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan
E. Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana
Keuarga berencana (KB) atau Family planning/planned
parenthood adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai alat
kontrasepsi sehingga dapat mewujudkan keluarga kecil, bagaia dan
sejahtera (Maritalia, 2022). Keluarga Berencana sebagai suatu usaha
yang mengatur banyak kehamilan sedemikian rupa sehingga
berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang
49

bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagi akibat


langsung dari kehamilan tersebut (Titk lestari, 2021).
Keluarga berencana merupakan usaha suami-istri untuk
mengukur jumlahanak dan jarak anak yang [Link] yang
dimaksud termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan
perencanaan keluarga. Prinsip dasar metodekontrasepsi adalah
mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita
(fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplitasi
(melekat) dan berkembang didalam Rahim (Purwoastuti, 2021).
Di Indonesia, program KB diatur oleh lembaga pemerintah non
depertemen yaitu Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN). Dulu BKKBN merupakan singkatan dari Badan
Coordinator Keluarga Berencana Nasional. BKKBN pernah sukses
dengan slogan dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja.
Namun, untuk menghormati hak asasi manusia, kini BKKBN memiliki
slogan dua anak lebih baik (Dewi maritalia, 2020).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87
Tahun 2014 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan
Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, Dan Sistem Informasi
Keluarga, yang dimaksud dengan program keluarga berencana (KB)
adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal
melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan
bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga
yangberkualitas, (Depkes, 2021).
2. Tujuan Program KB
Program Keluarga Berencana (KB) menurut UU No. 10 Tahun
1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan
keluarga berencana) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran
serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUS),
pengaturan kelahiran, pembinaan ketehanan keluarga, peningkatan
50

kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Handayani,


2021).
Tujuan KB adalah membentuk keluarga bahagia dan sejahtera
sesuai dengan keadaan social ekonomi suatu keluarga dengan cara
pengaturan kelahiran anak, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga agar dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya (Maritalia, 2022).
Tujuan KB meliputi :
a. Keluarga dengan anak ideal
b. Keluarga sehat
c. Keluarga berpendidikan
d. Keluarga sejahtera
e. Keluarga berketahanan
f. Keluarga yang terpenuhi hal-hak reproduksinya
g. Penduduk tumbuh seimbang (Mulyani, 2020)
3. Manfaat KB
Menurut (WHO, 2020) manfaat kontrasepsi adalah sebagai berikut :
a. Mencegah Kesehatan Terkait Kehamilan
Kemampuan wanita untuk memilih hamil dan kapan ingin
hamil memiliki dampak langsung pada kesehatan dan
kesejahteraannya. KB mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan,termasuk wanita yang lebih tua dalam menghadapi
peningkatan risiko terkait kehamilan. Kontrasepsi
memungkinkan wanita yang ingin membatasi jumlah keluarga
mereka. Bukti menunjukkan bahwa wanita yang memiliki lebih
dari 4 anak berisiko mengalami kematian ibu. Dengan
mengurangi tingkat kehamilan yang tidak diinginkan, kontrasepsi
juga mengurangi kebutuhan akan aborsi yang tidak aman.
b. Mengurangi Angka Kematian Bayi (AKB)
Kontrasepsi dapat mencegah kehamilan dan kelahiran yang
berjarak dekat dan tidak tepat waktu. Hal ini berkontribusi pada
51

beberapa angka kematian bayi tertinggi di dunia. Bayi dengan


ibu yang meninggal akibat melahirkan juga memiliki risiko
kematian yang lebih besar dan kesehatan yang buruk.
c. Membantu Mencegah Human Immunodeficiency Virus (HIV) /
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
Kontrasepsi mengurangi risiko kehamilan yang tidak
diinginkan diantara wanita yang hidup dengan HIV,
mengakibatkan lebih sedikit bayi yang terinfeksi dan anak yatim.
Selain itu, kondom pria dan wanita memberikan perlindungan
ganda terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan terhadap
Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV.
d. Memberdayakan Masyarakat dan Meningkatkan Pendidikan
KB memungkinkan masyarakat untuk membuat pilihan
berdasarkan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi
serta memberikan peluang bagi perempuan untuk mengejar
pendidikan tambahan dan berpartisipasi dalam kehidupan publik,
termasuk mendapatkan pekerjaan yang dibayar.
e. Mengurangi kehamilan remaja
Remaja hamil lebih cenderung memiliki bayi prematur atau
bayi berat lahir rendah (BBLR). Bayi yang dilahirkan oleh
remaja memiliki angka kematian neonatal (AKN) yang lebih
tinggi. Banyak gadis remaja yang hamil harus meninggalkan
sekolah. Hal ini memiliki dampak jangka panjang bagi mereka
sebagai individu, keluarga dan komunitas.
f. Perlambatan jumlah penduduk
Kontrasepsi adalah kunci untuk memperlambat
pertumbuhan penduduk yang tidak berkelanjutan dengan dampak
negatif yang dihasilkan pada ekonomi, lingkungan, dan upaya
pembangunan nasional dan regional.
52

4. Jenis-jenis Kontrasepsi
Berdasarkan peraturan kepala BKKBN nomor 24 tahun 2017
tentang pelayanan keluarga berencana pasca persalinan dan pasca
keguguran, jenis kontrasepsi dibagi menjadi dua kategori yaitu,
berdasarkan jangka waktu pemakaian atau efektivitas dan berdasarkan
komposisinya (BKKBN, 2020).
a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Menurut BKKBN metode kontrasepsi jangka Panjang
adalah alat kontrasepsi untuk menunda, menjarangkan serta
menghentikan kesuburan yang digunakan dalam jangka panjang.
Selain itu, MJKP lebih rasional dan mempunyai efek samping
sedikit. Metode kontrasepsi yang tergolong kontrasepsi jangka
Panjang adalah IUD, Implan, Metode Oprasi Wanita (MOW),
dan Metode Oprasi Pria (MOP).
b. Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (non MKJP)
Metode kontrasepsi yang tergolong kontrasepsi jangka
pendek adalah pil, suntik, kondom, dan metode kontrasepsi lain
yang tidak disebutkan dalam MKJP.
5. Jenis-jenis KB
1) Metode Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal merupakan metode kontrasepsi yang
dapat mencegah kehamilan karena mengandung estrogen dan
progesteron (Zettira et al., 2022). Kontrasepsi hormonal termasuk
dalam metode kontrasepsi efektif, kontrasepsi hormonal adalah
salah satu atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah
kehamilan dimana yang akan mengubah produksi hormon pada
tubuh wanita dalam kontrasepsi (Saswita, 2021). Metode
kontrasepsi yang termasuk ke dalam jenis hormonal yaitu :
a) Kontrasepsi Pil
Metode yang efektif untuk mencegah kehamilan dan
salah satu metode yang paling disukai karena kesuburan
53

langsung kembali bila penggunaan dihentikan. Ada dua


macam kontrasepsi pil yaitu : pil kombinasi dan pil
progestin. Kegagalan kontrasepsi pil oral kombinasi dapat
disebabkan karena kurangnya kepatuhan dalam
mengkonsumsi pil tersebut. Kepatuhan diartikan sebagai
sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang
diberikan oleh profesional kesehatan. Sedangkan dalam
teori sudah dijelaskan bagaimana cara pemakaian pil oral
kombinasi harus diminum setiap hari dan sebaiknya pada
saat yang sama. Jika pasien patuh, maka akan minum pil
tersebut setiap hari pada saat yang sama sesuai anjuran
profesional kesehatan (Prasetyawati, 2022).
b) Kontrasepsi Implant
Suatu alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit,
biasanya dilengan bagian atas. Implant mengandung
levonogestrel. Keuntungan dari metode ini tahan sampai
lima tahun. Setelah kontrasepsi diambil kesuburan akan
kembali dengan segera. Efek samping dari pemakaian
kontrasepsi implant ini yaitu peningkatan berat badan
karena hormon yang terkandung dapat pengendalian napsu
makan di hipotalamus (Larasati, 2022).
c) Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsi yang
disuntikan ke dalam tubuh kemudia masuk ke pembuluh
darah dan diserap oleh tubuh yang digununakan untuk
mencegah kehamila (Siti Qomariah et al., 2020).
Menurut Siti Qomariah et al (2020) beberapa jenis
kontrasepsi suntik sebagai berikut :
a) Suntik 1 bulan (Cyclofem)
Kontrasepsi suntik 1 bulan ini mengandung
hormon medroxy progesteron acetate (hormon
54

progetin) dan estradiol cypionate (hormon estrogen).


Komposisi hormon dan cara kerja suntikan KB 1
bulan mirip dengan pil KB kombinasi. Suntikan
pertama diberikan 7 hari pertama periode mentruasi
atau 6 minggu setelah melahirkan bila tidak
menyusui. Dosis kontrasepsi suntik cyclofem 25 mg
medroksi progesteron asetat dan 5 mg estrogen
sipionat diberikan setiap bulan.
b) Suntik 3 bulan (DMPA)
Depo medroksiprogesteron asetat (depoproven)
mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan 3 bulan
dengan cara disuntikan intra muscular (di daerah
pantat), disimpan dalam suhu 200C-250C. suntikan
diberikan setiap 90 hari.
2) Metode Kontrasepsi Non Hormonal
Kontrasepsi non hormonal adalah kontrasepsi yang tidak
mengandung hormon melainkan untuk mencegah sperma masuk
kedalam vagina, yang akan mencegah terjadinya fertilisasi, yang
termasuk ke dalam jenis non hormonal adalah kondom, IUD,
MOW, dan MOP (Siti Qomariah et al., 2020).
1) Kondom
Kondom merupakan alat kontrasepsi pada pria yang
berupa selubung karet sebagai salah satu metode untuk
mencegah kehamilan atau penularan penyakit seksual
(PMS) saat berhubungan seksual.
2) IUD (intrauterine device)
IUD terdiri dari 2 jenis yaitu IUD hormonal dan
nonhormonal. IUD hormonal bekerja dengan cara melepas
hormonal progestin di setiap harinya, dan hormonal ini
yang akan mengentalkan cairan di bagian leher rahim
sehingga sel sperma jadi lebih sulit untuk bisa masuk
55

kedalam rahim. Sedangkan IUD nonhormonal memiliki


lilitan tembaga di sekelilingnya, dan tembaga ini yang akan
mengeluarkan zat yang menimbulkan peradangan di dalam
rahim sehingga membuat sel telur yang dibuahi susah untuk
menempel.
3) MOW (Metode Oprasi Wanita) atau tubektomi
MOW adalah prosedur bedah yang dilakukan pada
wanita sebagai bentuk sterilisasi permanen dan memiliki
efektifitas yang sangat tinggi. Prosedur ini melibatkan
pengangkatan sebagian atau seluruh tabung falopi yang
merupakan saluran penghubung antara ovarium dan rahim.
Dengan memotong atau mengikat tabung falopi, prosedur
ini mencegah sperma bertemu dengan sel telur, sehingga
dapat mencegah kehamilan.
4) MOP (Metode Oprasi Pria) atau vasektomi
MOP adalah prosedur bedah yang dilakukan pada pria
sebagai bentuk sterilisasi permanen. Prosedur ini
melibatkan pemutusan atau penutupan dukus deferens,
yang menghubungkan testis dengan uretra. Dengan
memutuskan atau menutup tabung tersebut, dapat
mencegah sperma mencampur dengan air mani saat
ejakulasi, sehingga mencegah kehamilan.
6. Efek Samping KB
Dalam penelitan yang dilakukan oleh Monayo et al (2020)
mengatakan bahwa kontrasepsi mempunyai beberapa efek samping
untuk penggunanya, yaitu :
1) Adanya gangguan siklus mentruasi
Terjadinnya ketidak seimbangan siklus mentruasi
diakibatkan karena tidak ada keseimbangan hormon, yang
utamanya pada hormon estrogen dengan dosis rendah, efeknya
endometrium mengalami perubahan athropi.
56

2) Perubahan berat badan


Kandungan pil KB mengandung hormon estrogen dan
progesteron yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan.
Kandungan hormon estrogen menyebabkan odem dan retensi air,
sedangkan hormon progesteron dapat merubah karbohidrat dan
gula menjadi lemak, merangsang napsu makan berlebih, dan
mengurangi aktivitas fisik manusia.
3) Mual/ muntah
Pil KB mengandung hormon estrogen yang dapat
mentimulus reseptor dopamine di chemoreceptor trigger zone
atau yang disebut CTZ. CTZ merupakan stimulus pusat muntah
yang berada pada stimulus otak.
4) Pusing/ sakit kepala
Hormon estrogen dalam pil KB membawa efek pada
pembuluh darah otak, sehingga terjadi penyempitan dan
hipertrofi aeteriode.
5) Jerawat
Jerawat muncul dikarenakan adanya gangguan hormon
yang menyebabkan siklus haid yang tidak menentu, sehingga
peningkatkan kadar androgen dalam tubuh serta ditambah dengan
pola makan yang tidak benar.
6) Flek hitam atau chloasma
Adanya peningkatan DMPA dari KB suntik yaitu kenaikan
konsentrasi hormon progesteron yang dapat merangsang
pembentukan melanosis/ melanin. Apabila banyak melanin bisa
terjadi perubahan warna kulit dan ditambah adanya sinar
matahari dapat meningkatkan pembentukan melanin.
F. Asuhan Komprehensif / Asuhan kelanjutan
1. Pola Pikir Tujuh Langka Menurut Varney
Menurut Varney 2021, proses manajemen kebidananan
terdiridari 7 (tujuh) langkah/step, yaitu sebagai berikut:
57

a. Pengumpulan data dasar


Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan
semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien
secara lengkap, yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik
sesuai dengan kebutuhannya, meninjau catatan terbaru atau
catatan sebelumnya, serta meninjau data laboratorium dan
membandingkan dengan hasil studi.
Pada keadaan tertentu dapat terjadi langkah pertama
overlap dengan langkah 5 dan 6 (atau menjadi bagian dari
langkah-langkah tersebut), karena data yang diperlukan diambil
dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan
diagnostik yang lain.
Pada langkah ini penulis tidak merasa ada hambatan
dalam pengumpulan data dasar awal yang lengkap karena
adanya kerja sama yang baik antara orang tua bayi, perawat,
bidan dan dokter yang ada diruangan untuk mendapatkan
informasi atau datadari orang tua bayi yaitu nama/identitas
lengkap, serta ibu mengatakan bayinya lahir tanggal 14 Juni
2023 jam 04.30 Wita dengan kaki/tangan teraba dingin dengan
usia gestasi 39 minggu 4 hari, bayi telah dirawat dibawah infant
warmer, JK: Laki-laki, BB: 3300 gram, PB: 49 cm, AS: 7-9 dan
pengukuran antropometri dan melakukan pengkajian dan
pemeriksaan fisik sesuai dengan penyakit pada bayi tersebut
sehingga memudahkan tindakan selanjutnya.
b. Pengkajian setelah lahir
Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi bayi
barulahir dari kehidupan dalam uterus ke kehidupan luar uterus
yaitu denganpenilaian APGAR, meliputi:
58

Gambar 2.2 Kriteria Apgar Score

Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Akronim


Warna kulit Seluruh Warna kulitWarna kulit Appearance
badan biru tubuh normal
tubuh,
atau pucat merah muda,tangan dan
tetapi tangan
kaki normal
dan kaki
merah
kebiruan muda, tidak
ada sianosis
Denyut Tidak ada ≤100 kali ≥100 kali Pulse
jantung atau menir atau menit
Respon Tidak ada Meringis atau Meringis Grimace
reflex respon menangis atau bersin
terhadap lemah ketika atau batuk
stimulasi distimulasi saat
stimulasi
saluran
napas
Tonus otot Lemah Sedikit Bergerak Activity
atau tidak gerakan aktif
ada
Pernapasan Tidak ada Lemah atau Menangis Respiration
tidak teratur kuat,
pernapasan
baik dan
teratur

Gambar 2.3 Interpretasi Skor

Jumlah skor Interpretasi Catatan


7-10 Normal
4-6 Asfiksia Ringan Memerlukan tindakan medis segera
seperti penyedotan lendir yang
menyumbat jalan napas, atau
pemberian oksigen untuk membantu
bernapas
0-3 Asfiksia Berat Memerlukan tindakan medis yang
lebih intensif

Hasil nilai APGAR skor dinilai setiap variabel dinilai


dengan angka 0, 1 dan 2, nilai tertinggi adalah 10, selanjutnya
ditentukan keadaan bayi:Nilai 7-10 menunjukkan bayi baik
59

(vigorous baby), Nilai 4-6 menunjukkan depresi sedang dan


membutuhkan tindakan resusitasi, Nilai 0-3 menunjukkan
bayimengalami depresi serius dan membutuhkan resusitasi
segera sampai ventilasi.
c. Pengkajian keadaan fisik
Data subjektif bayi baru lahir yang harus dari riwayat
kesehatan bayi baru lahir yang penting adalah:
1) Faktor genetic
2) Faktor maternal (ibu)
3) Faktor antenatal
4) Faktor perinatal
Data objektif bayi baru lahir yang harus dikumpulkan
antaralain :
1) Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penanganan
Segera
Mengeidentifikasi perlunnya tindakan segera oleh
bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim yang lain yang
sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat ini
mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen
kebidanan dari data yang dikumpulkan dapat
menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan
segera sementara yang lain harus menunggu intervensi
sesuai kebutuhan klien yaitu penanganan segera pada bayi
baru lahir denga hipotermia seperti: kontak kulit dengan
kulit, perawatan metode kangguru (PMK), Inisiasi
menyusui dini (IMD) dan inkubator.
2) Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang
menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
60

diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau


diantisipasi, pada langkah ini informasi atau data dasar
yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan
yang menyeluruh tidak hanya meliputi tentang hal yang
sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap
masalah yang berkaitan, tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi terhadap bayi tersebut tentang hal
yang akan terjadi berikutnya.
Pada langkah ini perlu asuhan yang menyeluruh
adapun penanganan atau upaya yang dapat dilakukan
untuk mencegah kehilangan panas dari tubuh bayi adalah:
a) Keringkan bayi secara seksama
Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah
bayi lahir untuk mencegah kehilangan panas secara
evaporasi. Selain untuk menjaga kehangatan tubuh
bayi, mengeringkan dengan menyeka tubuh bayi
jugamerupakan rangsangan taktil yang dapat
merangsang pernafasan bayi.
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih,
kering dan hangatkan.
Bayi yang di selimuti kain yang sudah basah
dapat terjadi kehilangan panas secara konduksi.
Untuk itu setelah mengeringkan tubuhbayi, ganti
kain tersebut dengan selimut atau kain yang bersih,
kering dan hangat.
c) Tutup bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi merupakan permukaan
yang relatif luasdan cepat kehilangan panas. Untuk
itu tutupi bagian kepala bayi agar bayi tidak
kehilangan panas.
61

d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya


Selain untuk memperkuat jalinan kasih sayang
ibu dan bayi, kontak kulit antara ibu dan bayi akan
menjaga kehangatan tubuh bayi. Untuk itu anjurkan
ibu untuk memeluk bayinya.
e) Perhatikan cara menimbang bayi atau jangan segera
memandikan bayi baru lahir
f) Menimbang bayi tanpa alas timbangan dapat
menyebabkan bayi mengalami kehilangan panas
secara konduksi. Jangan biarkan bayi ditimbang
telanjang. Gunakan selimut atau kain bersih.
g) Bayi baru lahir rentan mengalami hipotermi untuk
itu tunda memandikan bayi hingga 6 jam setelah
lahir.
(1) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat
Jangan tempatkan bayi di ruang ber-AC.
Tempatkan bayi bersama ibu (rooming in).
Jika menggunakan AC, jaga suhu ruangan agar
tetap hangat.
(2) Jangan segera memandikan bayi baru lahirayi
baru lahir akan cepat dan mudah kehilangan
panas karena sistem pengaturan panas di
dalam tubunya belum sempurna. Bayi
sebaiknya di mandikan minimal enam jam
setelah lahir. Memandikan bayi dalam
beberapa jam pertama setelah lahir dapat
menyebabkan hipotermia yang sangat
membahayakan kesehatan bayi baru lahir.
3) Melaksanakan Perencanaan
62

Pada langkah ke-6 ini, perencanaan yang


menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah 5
dilaksanakan secara efesien dan aman. Perencanaan ini
bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagia oleh
klien atau anggotatim kesehatan lainnya dalam menangani
klien. Langkah ini memerlukan pelaksanaan asuhan
kebidanan pada BBL sesuai tindakan yang yang telah
direncanakan sebelumnya dan memerlukan tindakan
segera sesuai kebutuhan klien dan memberikan
penanganan yang baik sesuai standar operasional
kesehatan.
4) Evaluasi
Pada langkah ke-7 ini dilakukan keefektifan dari
asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan
kebutuhan terhadap bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasikan didalam masalah dan diagnosis. Evaluasi
merupakan tahapan akhir dari asuhan kebidanan yang
penting guna mengetahui sejauh mana kemajuan dan
keberhasilan telah dicapai dalam evaluasi dan pemantauan
dalam perencanaan tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif pelaksanaannya. Mengevaluasi
apakah penanganan bayi baru lahir dengan hipotermiatelah
diberikan dengan semaksimal mungkin dan komplikasi-
komplikasi yang mungkin terjadi dapat teratasi.
2. Metode Pendokumentasian SOAP
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses
pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai
dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan
kiat kebidanan yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan
63

Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2020. Standar ini dibagi menjadi


enam yaitu:
a Standar I (Pengkajian) Bidan mengumpulkan semua informasi
yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien.
b Standar II (Perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan)
Bidan menganalisis data yang diperoleh pada pengkajian,
mengintepretasikannya secara akurat dan logis untuk
menegakan diagnose dan masalah kebidanan yang tepat.
c Standar III (Perencanaan) Bidan merencanakan asuhan
kebidanan berdasarkan diagnosa dan atau masalah yang telah
ditegakkan.
d Implementasi (Standar IV) Bidan melaksanakan rencana asuhan
kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien dan aman
berdasarkan evidence based pasien dalam bentuk upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan
secara mandiri, kolaborasi dan rujukan
e Evaluasi (Standar V) Bidan melakukan evaluasi secara
sistematis dan berkesinambungan untuk melihat efektifitas dari
asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan
perkembangan kondisi klien.
f Pencatatan asuhan kebidanan (Standar VI) Bidan melakukan
pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai
keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam
memberikan asuhan kebidanan. Pencatatan asuhan kebidanan ini
ditulis dalam bentuk catatan perkembangan Subyektif, Obyektif,
Analisa dan Penatalaksanaan (SOAP).
Model dokumentasi yang digunakan dalam asuhan kebidanan
adalah dalam bentuk catatan perkembangan, karena bentuk asuhan
yang diberikan berkesinambungan an menggunakan proses yang terus
menerus (proses notes), (Muflilah, 2021).
64

a. S : Subyektif
Data informasi yang subyektif (mencatat hasil anamnesa)
berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)
yang merupakan ungkapan langsung seperti menangis atau
informasi dari ibu.
b. O : Obyektif
Data informasi obyektif (hasil pemeriksaan, observasi),
data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik
pada bayi baru lahir.
c. A : Assesment
Mencatat hasil analisa (diagnosa dan masalah kebidanan),
berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat esimpulan
meliputi iagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial,
serta perlu tidaknya tindakan segera.
d. P : Planning
a Mencatat seluruh penatalaksanaan (tindakan antisipasi,
tindakan segera, tindakan rutin, penyuluhan, support,
kolaborasi, ujukan, dan evaluasi), (Mufdlilah, 2021).
G. Gambaran Lahan Praktek
1. Gambaran Umum
Tempat penelitian ini dilakukan di Puskesmas Penana’e yang
bertempat di Kota Bima yang merupakan Puskesmas Perawatan atau
Rawat Inap yang ada di Kota Bima. Puskesmas Penana’e memiliki
tenaga kesehatan yang bervariasi mulai dari dokter, dokter gigi,
perawat, bidan, sanitarian, ahli kesehatan masyarakat, analisis
kesehatan, serta tenaga kesehatan lainya (Puskesmas Penana’e Kota
Bima, 2024).
2. Gambaran tempat pengambilan kasus
a. Visi
65

Terwujudnya pelayanan kesehatan yang berkualitas di Wilayah


Kerja UPT. Puskesmas Penana’e.
b. Misi
1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan sesuai
standar
2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat sesuai
standar
3) Menyelenggarakan manajemen dan administrasi pelayanan
kesehatan sesuai standar
4) Mendorong kemandirian dan melibatkan masyarakat untuk
ikut serta dalam pembangunan kesehatan
5) Mamfasilitasi pembangunan berwawasan kesehatan
c. Tujuan
1) Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan
2) Meningkatkan kualitas gizi masyarakat
3) Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu, anak dan
usia lanjut
4) Terlindungnya masyarakat dari penyakit menular
5) Terciptanya lingkungan yang sehat
6) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam
pembangunan kesehatan
7) Meningkatkan kapasitas sumberdaya, sarana dan prasarana
kerja serta kualitas aparatur.
66

H. Struktur Puskesmas

Anda mungkin juga menyukai