OPENING
Narator: Setiap pagi, beliau datang lebih dulu. Setiap sore, beliau pulang paling akhir.
Dan hari ini… untuk pertama kalinya, bel itu akan berbunyi tanpa dirinya
Bu Guru (pelan): Empat puluh tahun… dan baru hari ini terasa berat.
(Mengusap meja.)
SCENE 1 — KELAS TERAKHIR
(Siswa masuk perlahan, tidak seramai biasanya.)
AMAR : Bu…. Ko hari ini kelasnya sepi
Mana yang lain bu ko ibu sendirian??
ARMESI : biasanya ribut
Bu Guru: Karena hari ini… kita belajar pakai hati.
(Semua terdiam.)
Farrel: Maksudnya, Bu?
Bu Guru: Ini… pertemuan terakhir kita. (Siswa kaget.)
NURI : Ha serius buk?
Bu Guru (mengangguk): Iya
SCENE 2 — KENANGAN
(Bu Guru berdiri di depan kelas.)
Bu Guru: Dulu… Ibu datang ke sekolah ini masih muda. Takut salah. Takut gagal. Nabila… waktu
kamu pertama masuk, kamu pendiam sekali.
NABILA (tersenyum): Iya, Bu…
Bu Guru: Amar… sering bolos dulu.
Amar (tertunduk): Maaf, Bu…
Bu Guru : Zahwa... zahwa anaknya pendiem ga banya bunyi
zahwa : hehe iya bu
Bu Guru: Farrel… paling susah diatur.
Farrel: Hehe…
Bu Guru: Tapi sekarang… kalian semua sudah berubah. Dan Ibu bangga.
Narator: Guru mengingat bukan kesalahan, tapi proses.
SCENE 3 — KEJUJURAN HATI
(Suasana makin hening.)
ARMESI : Bu… kalau Ibu pergi, siapa yang bakal ingetin kami?
NURI : Siapa yang bakal marahin kami kalau salah?
Bu Guru (suara bergetar): Sekarang… kalian yang harus jaga diri sendiri.
Ibu cuma titip satu: jangan pernah merasa sendirian. Karena doa Ibu… selalu ada.
(Menahan tangis.)
SCENE 4 — PENGHORMATAN KEPALA SEKOLAH
(Suasana masih hening. Bu Guru duduk. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar.)
(Narator pelan)
Seseorang datang…
bukan untuk memutus kenangan,
tapi untuk menguatkannya.
(Kepala Sekolah masuk perlahan.)
Kepala Sekolah: Assalamu’alaikum…
(Semua berdiri.)
Kepala Sekolah: Silakan duduk…
(Hening sebentar.)
Saya berdiri di sini… bukan sebagai kepala sekolah. Tapi sebagai saksi. Saksi perjuangan Ibu
selama puluhan tahun.
(Pandang Bu Guru.)
Saat hujan deras, Ibu tetap datang. Saat lelah, Ibu tetap mengajar. Saat hampir menyerah,
Ibu tetap bertahan.
(Pause.)
Banyak guru mengajar. Tapi tidak semua… mendidik dengan hati.
Dan Ibu… melakukan keduanya.
(Bu Guru menunduk, menahan tangis.)
Kepala Sekolah: Anak-anak… Lihatlah guru kalian baik-baik. Kelak… kalian akan sadar…
orang seperti beliau… tidak mudah ditemukan.
(Mengambil piagam.)
Dengan penuh hormat… Sekolah ini mengucapkan terima kasih
atas cinta, waktu, dan hidup yang Ibu persembahkan.
(Memberikan piagam.)
Kami bangga… pernah punya guru seperti Ibu.
(Berjabat tangan lama.)
Bu Guru (pelan): Terima kasih… sudah percaya pada saya.
Kepala Sekolah: Justru kami… yang berterima kasih.
SCENE 5 — PERPISAHAN
(Siswa maju satu per satu.)
Amar: Bu… kalau saya sukses nanti… itu karena Ibu.
Farrel: Kalau saya jatuh… saya ingat Ibu bilang: bangkit.
NABILA : Kalau saya ragu… saya ingat Ibu percaya.
ARMESI : Kalau saya lelah… saya ingat Ibu nggak pernah menyerah.
NURI : Terima kasih… sudah jadi rumah buat kami.
(Bersama.)
Kami sayang Ibu.
(Bu Guru menangis.)
Bu Guru: Kalian… alasan Ibu bertahan selama ini.
PENUTUP
(Bu Guru berdiri di depan pintu kelas.)
Bu Guru: Kalau suatu hari kalian lupa pelajaran Ibu… nggak apa-apa. Tapi jangan lupa…
Ibu pernah sayang kalian.
Narator: Seorang guru tak pernah benar-benar pergi.
Ia hidup… dalam mimpi murid-muridnya.
(Semua berdiri.)
Bersama:
Terima kasih, Guru.
(Lampu padam. Musik pelan.)