LK 0.
1: Lembar Kerja Belajar Mandiri
Judul Modul Modul 1 Tata Bahasa
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Ejaan dan Tanda Baca
2. Kata dan Proses
Pembentukannya
3. Kalimat dan Proses
Pembentukannya
4. Kalimat Efektif
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 Ejaan dan Tanda
dipelajari Baca
A. Ejaan
Pada materi ini dipelajari tentang penggunaan
ejaan berupa pemakaian huruf seperti huruf
kapital, huruf miring dan huruf cetak tebal.
Penggunaan huruf kapital dibagi menjadi
beberapa bagian antara lain digunakan pada
huruf pertama awal kalimat; menyebutkan nama
tuhan; setiap unsur nama orang; nama gelar
kehormatan, keturunan dan keagamaan yang
diikuti nama orang; huruf pertama unsur nama
jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi,
atau nama tempat yang digunakan sebagai
pengganti nama orang tertentu; huruf pertama
nama jabatan atau nama instansi yang merujuk
kepada bentuk lengkapnya; huruf pertama
singkatan nama orang yang digunakan sebagai
nama jenis atau satuan ukuran; huruf pertama
nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa; huruf
pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya;
huruf pertama unsur unsur nama peristiwa
sejarah; huruf pertama unsur nama diri geografi;
huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang
diikuti nama diri geografi; huruf pertama nama
diri atau nama diri geografi jika kata yang
mendahuluinya menggambarkan kekhasan
budaya; huruf pertama semua unsur nama resmi
negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan,
badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata
tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk; huruf
pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna
yang terdapat pada nama lembaga resmi,
lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi,
dan judul karangan; huruf pertama semua kata
(termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di
dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan
makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari,
dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada
posisi awal; huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan
dengan nama diri; huruf pertama petikan
langsung; huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu,
saudara, kakak, adik, dan paman, yang
digunakan dalam penyapaan atau pengacuan;
huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan yang tidak digunakan dalam
pengacuan atau penyapaan; huruf pertama kata
Anda yang digunakan dalam penyapaan; huruf
pertama pada kata, seperti keterangan, catatan,
dan misalnya yang didahului oleh pernyataan
lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan
dengan pernyataan lengkap itu.
Pada penggunaan huruf miring dibagi menjadi
beberapa bagian, antara lain menegaskan huruf,
bagian kata, kata, atau kelompok kata;
menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar
yang dikutip dalam tulisan; menuliskan kata atau
ungkapan yang bukan bahasa Indonesia, seperti
bahasa daerah dan bahasa asing;
Pada penggunaan huruf cetak tebal dibagi
menjadi beberapa bagian, antara lain menuliskan
judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar
tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan
lampiran; menuliskan lema dan sublema serta
untuk menuliskan lambang bilangan yang
menyatakan polisemi dalam kamus.
B. Tanda Baca
Berbagai macam aturan penulisan tanda baca
yang harus diperhatikan saat menulis adalah
penggunaan tanda titik, penggunaan tanda koma,
penggunaan titik koma, penggunaan titik dua,
penggunaan tanda hubung, penggunaan tanda
tanya, penggunaan tanda seru, penggunaan tanda
petik tunggal, penggunaan tanda petik dua,
penggunaan tanda kurung, dan penggunaan garis
miring.
Tanda titik digunakan pada akhir kalimat;
memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan jangka waktu; Penulisan waktu
dengan angka dalam sistem 12 dapat dilengkapi
dengan keterangan pagi, siang, sore, atau malam;
memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang menunjukkan jumlah; dan daftar pustaka.
Tanda koma digunakan pada suatu perincian;
nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya; di muka angka desimal atau di
antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan
angka; memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara berikutnya yang didahului dengan
kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan
kecuali; memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk
kalimatnya; mengapit keterangan tambahan yang
sifatnya tidak membatasi; di belakang
penghubung antarkalimat; memisahkan o, ya,
wah, aduh, dan kasihan; memisahkan kata
sapaan, seperti bu, dik, atau mas dari kata lain
yang terdapat di dalam kalimat; memisahkan
petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat;
antara (a) nama dan alamat, (b) bagian bagian
alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama
tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis
berurutan; memisahkan bagian nama yang
dibalik susunannya dalam daftar pustaka;
menghindari salah baca/salah pengertian di
belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat.
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan
kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk
setara; mengakhiri pernyataan perincian dalam
kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata;
memisahkan dua kalimat setara.
Tanda titik dua digunakan di antara (a) tahun dan
halaman dalam kutipan, (b) bab dan ayat dalam
kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu
karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku
acuan dalam karangan; sesudah kata atau
ungkapan yang memerlukan pemerian; naskah
drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku
dalam percakapan; akhir suatu pernyataan
lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.
Tanda penghubung digunakan untuk
menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh
pergantian baris; menyambung awalan dengan
bagian kata yang mengikutinya atau akhiran
dengan bagian kata yang mendahuluinya pada
pergantian baris; menyambung unsur-unsur kata
ulang; menyambung bagian-bagian tanggal dan
huruf dalam kata yang dieja satu-satu;
memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata
atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa
atau kelompok kata; merangkai se- dengan kata
berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital;
merangkai ke- dengan angka; merangkai angka
dengan –an; merangkai kata atau imbuhan
dengan singkatan berhuruf kapital; merangkai
kata ganti Tuhan yang berbentuk imbuhan;
merangkai gabungan kata yang merupakan satu
kesatuan; merangkai unsur bahasa Indonesia
dengan unsur bahasa asing.
Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya;
di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian
kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat
dibuktikan kebenarannya.
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan
atau pernyataan yang berupa seruan atau
perintah dan menggambarkan emosi penutur.
Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit
makna kata; mengapit petikan yang terdapat di
dalam petikan lain; mengapit makna, kata atau
ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing.
Tanda petik dua digunakan untuk mengapit
petikan langsung yang berasal dari pembicaraan,
naskah, atau bahan tertulis lain; mengapit judul
puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai
dalam kalimat; mengapit istilah ilmiah yang
kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti
khusus.
Tanda kurung digunakan untuk mengapit
tambahan keterangan; mengapitpenjelasan yang
bukan bagian utama kalimat; mengapit kata yang
kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan;
mengapit angka atau huruf yang memerinci
urutan keterangan.
Tanda garis miring digunakan untuk nomor
surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa
satu tahun yang terbagi dalam dua tahun
kalender atau tahun ajaran; Tanda garis miring
dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan
ataupun.
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 Kata dan
Proses Pembentukannya
A. Kata
Kata merupakan satuan bahasa terkecil yang
dapat berdiri sendiri dengan makna yang bebas.
Kata terdiri atas kata dasar dan kata berimbuhan.
Kata berimbuhan adalah kata dasar yang telah
diberi imbuhan, baik itu awalan, sisipan, akhiran,
maupun awalan-akhiran. Nama lain dari kata
berimbuhan adalah kata turunan.
B. Pembentukan Kata Berimbuhan/Turunan
Pembentukan kata berimbuhan/ turunan terjadi
melalui proses morfologis. Terdapat tiga proses
morfologis yaitu proses afiksasi, reduplikasi, dan
pemajemukan.
Afiksasi adalah proses yang mengubah leksem
menjadi kata kompleks, Harimurti (2007:28).
Afiksasi terdiri atas: Prefiks (awalan); Infiks
(tengah; Sufiks (akhiran); Konfiks (awalan dan
akhiran).
Reduplikasi adalah proses pembentukan kata
dengan mengulang satuan bahasa baik secara
keseluruhan maupun sebagian. Jenis kata ulang
ada lima yaitu kata ulang utuh; kata ulang
sebagian; kata ulang berimbuhan; kata ulang
berubah bunyi; kata ulang dwipurwa; kata ulang
fonologis; kata ulang idiomatis; kata ulang
morfologis; kata ulang sintaksis.
Pemajemukan adalah penggabungan dua kata
atau lebih dalam membentuk kata yang
menimbulkan makna baru. Ciri-ciri kata
mejemuk yaitu 1) Memiliki makna dan fungsi
baru yang tidak persis sama dengan fungsi
masing-masing unsurnya; 2) Unsur-unsurnya
tidak dapat dipisahkan baik secara morfologis
maupun secara sintaksis.
C. Pengertian Kategorisasi Kata
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
kosakata adalah perbendaharaan kata. Artinya,
kosakata adalah kumpulan beragam kata dalam
bahasa Indonesia. Dalam kajian morfologi, kata
merupakan satuan terbesar dalam unit analisis,
sedangkan dalam kajian sintaksis, kata
merupakan satuan analisis terkecil. Berdasarkan
deskripsi sintaksis, kata dikategorisasi menjadi
sembilan, yaitu: 1) verba, 2) nomina, 3)
adjektiva, 4) numeralia, 5) adverbia, 6) preposisi,
7) konjungsi, 8) pronomina, dan 9) kata tugas.
D. Kosa Kata Baku dan Tidak Baku
Kata baku adalah kata yang digunakan sesuai
dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah
ditentukan. Kamus Besar Bahasa Indonesia
merupakan sumber utama dan menjadi acuan
untuk menentukan kata baku bahasa Indonesia.
Penggunaan kata baku dan tidak baku
dihadapkan kepada dua ragam yaitu ragam resmi
dan tidak resmi. Ragam resmi merupakan
keadaan atau situasi yang bersifat formal seperti
penulisan karya ilmiah, pidato kenegaraan, dan
lain-lain. Ragam tidak resmi merupakan keadaan
atau situasi yang bersifat tidak formal seperti
dalam percakapan sehari-hari. Kata baku
biasanya digunakan untuk kegiatan a) Membuat
karya ilmiah; b) Membuat surat lamaran
pekerjaan; c) Membuat surat dinas, surat
edaran, dan surat resmi lainnya; d) Membuat
laporan; e) Membuat nota dinas; f) Saat
berpidato dan rapat dinas; g) Saat
musyawarah atau diskusi.
Kata tidak baku adalah kata yang digunakan
tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa
sudah ditentukan. Adapun faktor-faktor yang
dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku
yang diantaranya a) Yang menggunakan bahasa
tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata
yang dia maksud; b) Yang menggunakan bahasa
tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan
suatu kata, itulah yang menyebabkan kata tidak
baku selalu ada; c) Yang menggunakan bahasa
sudah terpengaruh oleh orang-orang yang
terbiasa menggunakan kata yang tidak baku; d)
Yang menggunakan bahasa sudah terbiasa
memakai kata tidak baku.
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 Kalimat dan
Proses Pembentukannya
A. Fungktor Kalimat
Fungtor adalah kata yang tidak mempunyai arti
sendiri dan biasanya hanya mempunyai fungsi
gramatikal dalam sintaksis. Fungtor dalam
bahasa Indonesia meliputi unsur-unsur kalimat
yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, dan
pelengkap (S-P-O-K-Pel).
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur
utama kalimat. subjek berfungsi Membentuk
kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal,
kalimat majemuk; Memperjelas makna; Menjadi
pokok pikiran; Menegaskan makna;
Memperjelas pikiran ungkapan; Membentuk
kesatuan pikiran.
predikat kalimat kebanyakan muncul secara
eksplisit. Dalam kalimat, predikat berfungsi
Membentuk kalimat dasar, kalimat tunggal,
kalimat luas, kalimat majemuk; Menjadi unsur
penjelas, yaitu memperjelas pikiran atau gagasan
yang diungkapkan dan menentukan kejelasan
makna kalimat; Menegaskan makna;
Membentuk kesatuan pikiran; Sebagai sebutan.
Kehadiran objek dalam kalimat bergantung pada
jenis predikat kalimat dan ciri khas objek itu
sendiri. objek berfungsi Membentuk kalimat
dasar pada kalimat berpredikat transitif;
Memperjelas makna kalimat; Membentuk
kesatuan atau kelengkapan pikiran.
Keterangan kalimat berfungsi memperjelas atau
melengkapi informasi pesan-pesan kalimat.
Tanpa keterangan, informasi menjadi tidak jelas.
ciri-ciri keterangan adalah Bukan unsur utama
kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan, pesan
menjadi tidak jelas, dan tidak lengkap; Tempat
tidak terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir
kalimat; Dapat berupa: keterangan waktu,
tujuan, tempat, sebab, akibat, syarat, cara,
posesif dan pengganti nomina.
B. Frasa
Frasa adalah gabungan dua atau lebih yang
bersifat nonpredikatif. Frasa sering disebut pula
gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi
kalimat. Fungsi yang dimaksud adalah subjek,
predikat, objek, dan keterangan.
C. Jenis-jenis Frasa
frasa terdiri atas dua jenis, yaitu frasa
endosentrik dan frasa eksosentrik.
Frasa endosentris memiliki distribusi unsur-
unsur setara dalam kalimat. Dalam frasa
endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi
tertentu dapat digantikan oleh unsurnya. Unsur
frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam
fungsi tertentu disebut unsur pusat (UP). Frasa
endosentris adalah frasa yang memili unsur
pusat.
Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak
mempunyai distribusi yang sama dengan semua
unsurnya.
D. Klausa
Klausa merupakan satuan gramatikal berupa
kelompok kata yang sekurang kurangnya terdiri
atas subjek (S) dan predikat (P). Klausa
berpotensi menjadi kalimat.
E. Jenis-jenis Klausa
Berdasarkan kategori tertentu, klausa dapat
dibagi menjadi beberapa jenis. Penggolongan
klausa didasarkan pada 1) Struktur intern, 2) Ada
tidaknya kata negative, dan 3) Kategori kata atau
frasa yang menduduki fungsi P.
Klausa terdiri atas S dan P. Meskipun S
merupakan unsur inti, namun sering juga
dihilangkan, misalnya dalam kalimat luas
sebagai akibat penggabungan klausa. Klausa
yang terdiri atas S dan P disebut klausa lengkap,
sedangkan klausa yang tak memiliki S disebut
klausa tidak lengkap.
Penggolongan klausa berdasarkan ada
tidaknya kata negatif yang secara gramatik
menegatifkan P. Penggolongan ini terdiri atas
klausa positif dan negatif.
Berdasarkan kategori kata terdapat empat
jenis klausa yang menduduki fungsi P antara lain
Klausa nominal; Klaus verbal; Klausa bilangan;
Klausa depan atau klausa preposisional.
F. Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang
memuat pikiran secara utuh yang memiliki
intonasi akhir. Dilihat dari segi bentuknya,
kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi
sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau
lebih.
G. Jenis Kalimat
Kalimat dibagi menjadi berberapa jenis.
Kalimat perintah bertujuan meemberikan
perintah kepada orang lain untuk melakukan
sesuatu.
Kalimat berita merupakan kalimat yang
sekadar memberikan informasi.
Kalimat tanya bertujuan memperoleh suatu
informasi atau reaksi (jawaban). Kalimat ini
diakhiri dengan tanda tanya (?) dalam penulisan
dan dilafalkan menggunakan intonasi menurun.
Kalimat seruan adalah kalimat yang digunakan
untuk mengungkapakan perasaan ‘yang kuat’
atau ungkapan untuk peristiwa mendadak.
Kalimat seruan biasanya ditandai dengan
intonsi yang tinggi dalam pelafalan dan
menggunakan tanda seru (!) atau tanda titik (.)
dalam penulisan.
H. Penggolongan Kalimat
Penggolongan kalimat dalam modul ini dibahas
dengan beberapa kategori yaitu Pengucapan;
Struktur gramatikal; Unsur kalimat; Susunan
Subjek – Predikat.
Penggolongan Kalimat Berdasarkan Pengucapan
dibagi menjadi dua bagian yakni kalimat
langsung dan kalimat tidak langsung. Kalimat
langsung adalah kalimat yang secara cermat
menirukan ucapan orang. Kalimat tak langsung
adalah kalimat yang menceritakan kembali
ucapan atau perkataan orang lain.
Penggolongan Kalimat Berdasarkan Stuktur
Gramatikal dibagi menjadi tiga bagian yakni
kalimat tunggal; kalimat majemuk; kalimat
majemuk bertingkat.
Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki
satu klausa dan terdiri atas satu subjek serta satu
predikat. Kalimat majemuk terdiri atas dua atau
lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan
baik koordinasi maupun subordinasi. Kalimat
majemuk setara terdiri atas satu suku kalimat
bebas dan satu suku kalimat yang tidak bebas.
I. Penggolongan Kalimat Berdasrkan Unsur
Kalimat
Penggolongan kalimat berdasrkan unsur kalimat
dibagi menjadi dua bagian yakni kalimat lengkap
dan kalimat tak lengkap. Kalimat lengkap
sekurang-kurangnya terdiri dari satu subjek dan
satu predikat. Kalimat tidak lengkap adalah
kalimat yang tidak sempurna karena hanya
memiliki subjek saja, atau predikat saja, atau
objek saja, atau keterangan saja.
J. Penggolongan Kalimat Berdasarkan Susunan
Subjek dan Predikat
Penggolongan kalimat berdasarkan susunan
subjek dan predikat dibagi menjadi dua bagian
yakni kalimat inversi dan kalimat versi. Kalimat
inversi adalah kalimat yang predikatnya
mendahului subjeknya. Kalimat versi adalah
kalimat yang susunan dari unsur-unsur
kalimatnya sesuai dengan pola kalimat dasar
bahasa Indonesia (S-P-O-K).
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 Kalimat Efektif
A. Kalimat Efektif
kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu
mengungkapkan pikiran pendengar atau
pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran
penulis atau pembicara.
B. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Ciri-ciri kalimat efektif antara lain Memiliki
unsur pokok, minimal tersusun atas subjek dan
predikat; Menggunakan diksi yang tepat;
Menggunakan kesepadanan antara struktur
bahasa dan jalan pikiran yang logis serta
sistematis; Menggunakan tata aturan ejaan yang
berlaku; Memperhatikan penggunaan kata, yaitu
penghematan penggunaan kata; Menggunakan
variasi struktur kalimat; Menggunakan
kesejajaran bentuk bahasa.
C. Syarat-syarat Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki beberapa syarat yaitu
Sesuai ejaan yang disempurnakan; sistematis;
tidak boros dan bertele-tele; tidak ambigu;
D. Prinsip-prinsip Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki prinsip-prinsip yang
harus dipenuhi, yaitu kesepadanan, kepararelan,
kehematan kata, kecermatan, ketegasan,
kepaduan, dan kelogisan kalimat.
2 Daftar materi yang sulit 1. Membedakan klausa dan kalimat
dipahami dimodul ini 2. Jenis-jenis Frasa
3 Daftar materi yang 1. Klausa dan kalimat
sering mengalami
miskonsepsi
Judul Modul Modul 2 Semantik dan Wacana
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Hubungan Bentuk dan Makna
2. Eufemisme
3. Wacana
4. Pragmatik
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 Hubungan
dipelajari Bentuk dan Makna
a. Jenis Makna
Bapak linguistik modern, Ferdinand de
Saussure mengatakan bahwa setiap tanda
linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu
signifie dan signifiant. Oleh karena itu,
setiap bentuk kebahasaan terdiri dari dua
unsur, yaitu bentuk dan makna. Lebih
lanjut, Saussure mengatakan bahwa
hubungan bentuk dan makna bersifat
arbitrer dan konvensional. Bentuk
kebahasaan berhubungan dengan konsep
dalam pikiran manusia yang dikenal
dengan istilah makna. Konsep seperti ini
umumnya berhubungan dengan sesuatu di
luar bahasa yang biasa disebut dengan
referen. Makna tersebut terdapat dalam
satuan bahasa seperti morfem, kata, frasa,
klausa, kalimat, paragraf hingga wacana.
Secara dikotomis berbagai jenis makna
dikelompokkan menjadi beberapa macam.
Pengelompokkan makna ini dapat dilihat
dengan berbagai sudut pandang. Berikut
ini jenis-jenis makna yang dikemukan oleh
para ahli.
Makna Leksikal dapat diartikan sebagai
makna yang bersifat leksikon, leksem, dan
kata. Makna leksikal adalah makna yang
makna sesungguhnya, sesuai dengan
referennya, sesuai dengan penglihatan
pancaindra.
Makna gramatikal baru dapat
diidentifikasi setelah unsur kebahasaan
yang satu digabungkan dengan unsur
kebahasaan yang lainnya. Makna
gramatikal muncul karena adanya proses
gramatikal. Makna ini terjadi karena
adanya hubungan antarunsur bahasa dalam
satuan yang lebih besar.
Makna Referensial Makna referensial
berkaitan langsung dengan sumber yang
menjadi acuan. Makna ini mempunyai
hubungan dengan makna yang telah
disepakati bersama.
Makna Nonreferensial makna yang tidak
memiliki acuan.
Makna Denotatif makna yang
sesungguhnya, makna dasar yang merujuk
pada makna yang lugas atau dasar dan
sesuai dengan kesepakatan masyarakat
pemakai bahasa (Suwandi, 2008: 80).
Makna Konotatif sering disandingkan
dengan makna konotasi. Konotasi sebagai
sebuah leksem, merupakan seperangkat
gagasan atau perasaan yang mengelilingi
leksem tersebut dan juga berhubungan
dengan nilai rasa yang ditimbulkan oleh
leksem tersebut.
Makna Literal berhubungan dengan
makna harfia atau makna lugas. Dalam
makna literal, makna sebuah satuan bahasa
belum mengalami perpindahan makna
pada referen yang lain.
Makna Figuratif adalah makna yang
menyimpang dari referennya. Dalam
makna figuratif, makna satuan
disimpangkan dari referen yang
sesunggunya.
Makna Primer adalah makna-makna yang
dapat diketahui tanpa bantuan konteks
(Wijana dan Rohmadi 2008: 26).
Makna Sekunder adalah Makna satuan
kebahasaan yang baru dapat
didentifikasikan dengan bantuan konteks.
b. Hubungan Bentuk dan Makna
Ketika kita melakukan tindak berbahasa,
kita kadangkala menemukan adanya relasi
atau hubungan antara satuan bahasa yang
satu dengan yang lainnya. Hubungan ini
dapat terjadi dalam banyak bahasa, salah
satunya bahasa Indonesia. Relasi makna
ini dapat berkaitan dengan kesamaan
makna (sinonim), kebalikan makna
(antonim), perbedaan makna (homonim),
kegandaan makna (polisemi atau
ambiguitas), ketercakupan makna
(hiponim), dan kelebihan makna
(rudundansi).
Sinonim adalah bentuk bentuk bahasa
yang memiliki makna kurang lebih sama
atau mirip, atau sama dengan bentuk lain.
Antonim hubungan di antara kata-kata
yang dianggap memiliki pertentangan
makna (Djayasudarma, 2012: 73).
Homonim adalah hubungan antara kata
yang ditulis dan atau dilafalkan dengan
cara yang sama dengan kata 17 yang lain,
tetapi maknanya tidak saling berhubungan
(Kridalaksana, 1984: 68).
Polisemi adalah satuan bahasa yang
memiliki lebih dari satu.
Ambiguitas dapat diartikan dengan
‘makna ganda’.
Redundansi sering diartikan sebagai
sesuatu yang belebih-lebihan, misalnya
berlebihan pemakaian unsur segmental
dalam kalimat.
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 Eufemisme
a. Perubahan Makna
Bahasa sebagai bagian dari kehidupan
manusia terus mengalami perkembangan.
Jika suatu bahasa mengalami perubahan
yang sangat besar dan penting, baik itu
perubahan kosakata maupun bunyi dan
strukturnya, bahasa tersebut dapat berubah
menjadi bahasa baru atau bahasa lain,
seperti bahasa Romawi Modern yang
berasal dari bahasa Latin (Ohoiwutun,
2007: 19).
Faktor Penyebab Perubahan Makna
disebabkan oleh faktor kebahasaan, faktor
kesejarahan, faktor sosial, faktor
psikologis, pengaruh bahasa asing,
kebutuhan kosa kata.
Perubahan makna karena faktor kebahasan
berkaitan dengan cabang linguistik, seperti
fonologi, morfologi, dan sintaksis.
Perubahan makna karena faktor
kesejarahan berhubungan dengan
perkembangan kata.
Perubahan ini disebabkan karena
perkembangan makna kata dalam
penggunaannya di masyarakat. Karena
dipengaruhi faktor sosial, makna kata
dapat mengalami perubahan.
Karena faktor psikologis penutur, sebuah
kata dapat berubah maknanya.
Untuk keperluan berkomunikasi,
kebutuhan penutur akan kosakata yang
beraneka ragam kadang diperlukan. Tidak
menutup kemungkinan penutur akan
mengambil kosakata dari bahasa asing
karena dalam bahasa yang biasa digunakan
tidak terdapat konsep tersebut.
Jenis-jenis perubahan makna terjadi
dikarenakan perluasan makna,
penyempitan makna, peninggian makna,
penurunan makna, pertukaran makna,
persamaan makna, dan metafora.
Salah satu perubahan yang terjadi dalam
bahasa adalah perluasan makna. Indikator
perluasan makna dapat dilihat bahwa
makna sekarang lebih lusa daripada makna
terdahulu.
Penyempitan makna terjadi ketika sebuah
kata yang pada awalnya mempunyai
makna yang luas kemudian maknanya
berubah menjadi lebih sempit.
Peninggian makna atau ameliorasi
berhubungan dengan nilai rasa yang lebih
baik atau sopan. Perubahan ini akan
membuat kosakata atau ungkapan menjadi
lebih halus, tinggi, hormat daripada
kosakata pilihan yang lainnya.
Penurunan makna atau peyorasi
berkebalikan dengan ameliorasi. Proses
perubahan makna ini dapat dilihat dari
makna kata atau yang mempunyai makna
lebih rendah, kasar, atau kurang sopan.
Pertukaran makna disebut sinestesia.
Perubahan makna ini disebabkan karena
pertukaran tanggapan indra, seperti
pendengaran, pengecapan, dan
penglihatan.
Persamaan makna disebut juga dengan
asosiasi. Persamaan makna yang dimaksud
di sini adalah makna yang berupa
perumpamaan karena kesamaan sifat.
Metafora berkaitan dengan pemakaian kata
kiasan yang memiliki kemiripan makna.
Metafora digunakan untuk
menggambarkan perbandingan analogis
pada dua hal yang berbeda. Kata-kata yang
digunakan bukan makna yang sebenarnya.
b. Eufemisme
Secara etimologi, eufemisme berasal dari
bahasa Yunani eu bermakna ‘bagus’ dan
phemeoo bermakna ‘berbicara’. Dengan
demikian, eufemisme bermakna berbicara
dengan menggunakan perkataan yang
halus dan sopan sehingga memberikan
kesan yang baik. Konsep eufemisme
mengacu pada penggantian suatu bentuk
yang bernilai rasa kasar dengan bentuk
yang dirasa lebih halus dan sopan. Dengan
kata lain, eufemisme digunakan dalam
berkonumikasi agar tuturan menjadi sopan
dan halus sehingga dapat memberikan
kesan yang baik (Fromklin dan Rodman
melalui Ohuiwutun, 1997: 96).
Pembahasan mengenai eufemisme tidak
terlepas dari referennya.
Referen Eufemisme dalam tuturan dapat
dijadikan cermin penutur atau masyarakat
tuturnya. Hal ini juga dapat dijadikan
penanda khas individu atau masyarakat
penuturnya. Referensi eufemisme tidak
hanya nama hewan, tetapi juga mengacu
pada referen lainnya, seperti keaadaan,
pekerjaan, bagian tubuh, dan yang lainnya.
Manfaat Eufemisme untuk menghaluskan
tuturan agar tidak terkesan kasar dan
menyakiti perasaan orang lain. Dalam
bidang-bidang tertentu, eufemisme
digunakan sebagai sarana pendidikan, alat
untuk berdiplomasi, merahasiakan sesuatu,
dan sebagai penolak bahaya (Wijana dan
Rohmadi, 2008: 104-109).
Desfemisme berhubungan dengan
pengasaran. Konotasi kasar ini terjadi
karena efek semantik atau nuansa makna
yang muncul kerena pengetuan
ensiklopedik tentang makna denotasi yang
berhubungan dengan pengalaman,
kepercayaan, dan konteks yang digunakan
dalam tuturan.
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 Wacana
A. Konsep Wacana
wacana melibatkan unsur segmental dan
nonsegmental. Sebagai wujud penggunaan
bahasa dalam kegiatan berkomunikasi,
wacana tidak hanya menggunakan
seperangkat alat linguistik, seperti: fonem,
morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat,
tetapi juga memperhatikan konteks tuturan.
Agar tercipta wacana yang padu dan utuh,
aspek kohesi dan koherensi juga perlu
diperhatikan agar wacana agar terbentuk
teks yang baik.
B. Kohesi
Kohesi merupakan aspek formal dalam
sebuah teks. Kohesi digunakan sebagai
penanda hubungan antarkalimat dalam
teks. kohesi gramatikal meliputi referensi,
penggantian, dan konjungsi.
Kohesi Leksikal terdiri dari dua macam,
yaitu reiterasi dan kolokasi (Rentel melalui
Rani dkk, 2004: 129).
C. Koherensi
Kohesi gramatikal berhubungan dengan
berbagai pemarkah kohesi yang
melibatkan penggunaan unsur-unsur
kaidah bahasa. Unsur-unsur tersebut
terwujud dalam berbagai macam penanda
yang dapat digunakan sebagai penghubung
antarkata,frasa, klausa, kalimat, hingga
paragraf.
Referensi dalam kajian ilmu bahasa
berkaitan dengan antara kata dan benda
yang mewakilinya.
Substitusi adalah penggantian suatu unsur
bahasa dengan unsur bahasa yang lain.
Substitusi digunakan untuk menghindari
pengulangan bentuk yang sama.
Konjungsi adalah Salah satu alat kohesi
gramatikal yang memiliki fungsi
menghubungkan antara gagasan yang satu
dengan yang lainnya. Peran konjungsi
untuk menandai hubungan antarbagian dari
sebuah teks. Dengan menggunakan
konjungsi yang tepat, sebuah teks akan
mudah untuk dipahami. Konjungsi berbeda
dengan kohesi gramatikal yang lainnya
yang mengacu pada referen sebelum atau
sesudahnya.
Elipsis berhubungan dengan pelesapan
yang terdapat pada kalimat. Pelesapan
yang dilakukan adalah dengan tidak
menyebutkan salah satu bagian dari sebuah
kalimat. Pelesapan tidak akan membuat
kalimat sulit untuk dimengerti.
Koherensi merupakan pertalian atau
jalinan antarkata, klausa, atau kalimat
dalam sebuah teks. Dua buah kalimat yang
menggambarkan fakta yang berbeda dapat
dihubungkan sehingga tampak koheren,
sehingga fakta yang tidak berhubungan
pun dapat bertalian ketika seseorang
menghubungkannya.
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 Pragmatik
a. Konsep Pragmatik
Konsep pragmatik menurut Yule (1996: 3)
adalah studi tentang makna yang
disampaikan oleh penutur atau penulis dan
ditafsirkan oleh mitra tutur atau pembaca.
Pragmatik digunakan untuk menjelaskan
bagaimana mitra tutur dapat
menyimpulkan terkait apa yang dituturkan
serta bagaimana mitra tutur dapat
menginterpretasi makna yang dimaksud
oleh penutur. pragmatik berkaitan dengan
tindak ujar. Pada bagian berikutnya akan
dibahas kajian pragmatik berupa prinsip
kerja 83 sama dan prinsip kesantunan.
Kedua prinsip ini menjadi salah satu
bahasan yang penting dalam kajian
pragmatik, terutama dalam tindak ujar
(speech act).
b. Prinsip Kerja Sama
Salah satu tujuan seseorang bertutur adalah
untuk melakukan interaksi sosial. Agar
proses komunikasi berjalan dengan baik
dan lancar, peserta tutur diharapkan
terlibat aktif dalam proses berkomunikasi
tersebut. Jika salah satu peserta tutur tidak
terlibat aktif, bisa jadi proses komunikasi
akan terhambat. Bisa saja arah
pembicaraan menjadi tidak jelas. Kerja
sama antar peserta tutur sangat diperlukan
ketika berkomunikasi. Jika penutur dan
mitra tutur tidak saling bekerja sama ketika
melakukan tindak tutur maka proses
interaksi menjadi terhambat. Jika itu
terjadi, maka tujuan pragmatis sebuah
tuturan tidak akan tercapai.
Grice (melalui Leech, 1983: 8)
menyatakan ada empat aturan percakapan
atau empat maksim yang secara umum
dipandang sebagai prinsip atau dasar kerja
sama.
Maksim Kuantitas, terdapat dua aturan
yang harus diperhatikan oleh penutur dan
mitra tutur dalam maksim kuantitas ini,
yaitu berikan informasi secukupnya dan
jangan memberikan informasi melebihi
yang diperlukan. Penutur diharapkan
memberikan 84 informasi yang cukup dan
seinformatif mungkin. Jika informasi yang
diberikan oleh penutur berlebihan maka
akan melanggar prinsip kerja sama, yaitu
pelanggaran maksim kuantitas.
Maksim kualitas mengatur penutur untuk
tidak mengatakan sesuatu yang
menurutnya salah atau keliru. Selain itu,
penutur jangan mengatakan sesuatu yang
tidak ada buktinya. Dengan kata lain,
penutur yang terlibat dalam sebuah tuturan
tidak boleh berbohong, tidak ikut terlibat
dalam tuturan jika tidak mempunyai bukti
yang memadai terkait apa yang sedang
dibicarakan.
Maksim Relevansi peserta tutur
diharapkan memberikan informasi yang
relevan dan mudah dimengerti. Dengan
kata lain, agar komunikasi berjalan dengan
lancar, tuturan yang satu dengan yang
lainnya harus ada keterkaitan satu sama
lain.
Maksim Pelaksanaan adalah maksim yang
mengatur agar para peserta tutur
menghindari pernyataan-pernyataan yang
samar, menghindari ketaksaan, dan
mengusahakan agar pernyataan yang
disampaikan ringkas, teratur, tidak
berpanjang lebar dan bertele-tele.
c. Prinsip Kesantunan
Dalam kegiatan bertutur, mematuhi prinsip
kerja sama saja dirasa tidak cukup. Prinsip
lain yang harus diperhatikan adalah
kesopanan.
Prinsip kesantunan yang dikemukakan
oleh Leech (1983) direalisasikan ke dalam
enam maksim, yaitu maksim kearifan,
kedermawanan, pujian, kerendahan hati,
dan kesepakatan.
Maksim Kearifan penutur meminimalkan
kerugian pada atau memberikan
keuntungan kepada orang lain sebesar
mungkin.
Maksim Kedermawanan digunakan
untuk menghormati mitra tutur. Salah satu
cara untuk menghormati orang lain adalah
mengurangi keuntungan bagi dirinya dan
memaksimalkan keuntungan bagi orang
lain. Peserta tutur diharapkan membuat
keuntungan diri sendiri sekecil mungkin
dan membuat kerugian diri sebesar
mungkin.
Maksim Pujian mengatur agar penutur
sedikit memberikan kecaman pada orang
lain. Tuturan yang diharapkan dalam
maksim ini adalah agar penutur sering
memuji orang lain.
Maksim Kerendahan Hati mengatur
peserta tutur untuk bersikap rendah hati,
yaitu mengurangi pujian terhadap diri
sendiri. Prinsip maksim kerendahan hati
adalah pujilah diri sendiri sedikit mungkin,
kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Maksim Kesepakatan adalah setiap
peserta tutur berusaha agar kesepakatan
antara diri sendiri dan orang lain sebanyak
mungkin. Dengan kata lain, peserta tutur
harus meminimalkan ketidaksepakatan
antara diri sendiri dan orang lain terjadi
sekecil mungkin.
Maksim Simpati mengurangi antipati
antara diri sendiri dan orang lain dan
meningkatkan rasa simpati antara diri
sendiri dan orang lain. Sikap antipati
terhadap perilaku orang lain dianggap
sebagai perbuatan yang tidak santun.
2 Daftar materi yang sulit 1. Perbedaan polisemi dan Ambiguitas
dipahami di modul ini 2. Kohesi (apa itu piranti?)
3 Daftar materi yang sering 1. Kohesi leksikal dibagi menjadi dua
mengalami miskonsepsi reiterasi dan kolokasi. Yang dijelaskan
repetisi dan kolokasi.
Judul Modul Modul 3 Kesastraan
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Genre Puisi dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 2013
2. Genre Prosa Fiksi dalam Pembelajaran
Sastra Kurikulum 2013
3. Genre Drama dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 2013
4. Perangkat Pembelajaran Sastra Kurikulum
2013
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 Genre Puisi
dipelajari dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 2013
a. Hakikat Puisi
Menurut Sayuti (2002:3), puisi adalah
sebentuk pengucapan bahasa yang
mempertimbangkan adanya aspek bunyi-
bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan
pengalaman imajinatif, emosional, dan
intelektual penyair yang ditimba dari
kehidupan individual dan sosialnya, yang
diungkapkan dengan teknik pilihan
tertentu, sehingga puisi itu mampu
membangkitkan pengalaman tertentu pula
dalam diri pembaca atau pendengar-
pendengarnya.
b. Ciri, Struktur, dan Isi Puisi Rakyat
Pantun merupakan salah satu warisan
nenek moyang. Pantun ini berkembang
hingga sekarang. Pantun ini tumbuh dan
berkembang dalam budaya masyarakat.
Pantun sering digunakan untuk sambutan,
ceramah, dan khotbah sehingga menarik
(Gawa, 2009:xiv).
Karmina merupakan pantun pendek yang
hanya terdiri dari 2 baris. Karmina sering
juga disebut pantun kilat. Baris pertama
merupakan sampiran. Baris kedua
merupakan isi. Jumlah suku kata setiap
baris 8-12. Karmina juga memiliki sajak 8
yang terletak di tengah dan di akhir.
Berdasarkan bunyinya, sajak tersebut
berupa sajak sempurna dan sajak paruh.
Menurut Waluyo (2003:46), gurindam
merupakan puisi yang terdiri dari dua baris
yang kesemuanya merupakan isi dan
menunjukkan hubungan sebab akibat.
Kebanyakan gurindam bersajak sempurna
a-a, namun ada pula yang bersajak paruh
a-b. Gurindam ini biasanya berisi nasihat
yang bermanfaat untuk kehidupan.
Syair merupakan puisi lama yang berasal
dari Arab dan berkembang di kalangan
masyarakat Melayu. Setiap bait syair
terdiri atas 4 baris. Setiap baris terdiri atas
8-12 suku kata. Syair bersajak sama a-a-a-
a dan tidak memiliki sampiran. Syair
terdiri atas beberapa bait yang merupakan
satu rangkaian cerita yang utuh.
c. Unsur Pembangun Puisi
Unsur pembangun puisi terdiri dari unsur
fisik dan unsur batin. Unsur fisik adalah
unsur yang secara fisik tampak dapat
dilihat, seperti rima, gaya bahasa, imaji,
diksi, struktur, dan perwajahan. Rima,
gaya bahasa, imaji, dan diksi tampak
melalui kata atau frase yang digunakan
dalam puisi. Perwajahan puisi tampak
melalui bentuk penyajian puisi. Unsur
batin adalah unsur yang ada dalam batin
puisi, yaitu berupa tema, feeling
(perasaan), nada, dan amanat.
Unsur Fisik Puisi
Menurut Sayuti (2008:104), rima atau
persajakan merupakan perulangan bunyi
yang sama dalam puisi. Pengertian ini
dapat diperluas sehingga persajakan dapat
diartikan sebagai kesamaan dan atau
kemiripan bunyi tertentu dalam dua kata
11 atau lebih, baik yang berada di akhir
kata, maupun yang berupa perulangan
bunyi-bunyi yang sama yang disusun pada
jarak atau rentangan tertentu secara teratur.
Diksi merupakan pemilihan kata yang
dilakukan oleh penyair untuk
mengekspresikan gagasan dan perasaan-
perasaan.
Salah satu keindahan puisi terletak pada
gaya bahasanya. Gaya bahasa yang sering
muncul dalam puisi antara lain simile,
metafora, metonimi, sinekdok,
personifikasi, repetisi, pertanyaan retoris,
dan ironi (Sayuti, 2002).
Citraan merupakan rangkaian kata yang
mampu menggugah pengalaman keindraan
(membentuk gambaran angan-angan).
Gambar yang muncul dalam angan-angan
disebut citra (imaji). Sesuatu itu tergambar
dengan sarana indra. Karena itu, jenis
citraan sellau dikaitkan dengan indra ini.
Perwajahan merupakan bagian dari wujud
visual puisi.
Unsur Batin Puisi
Tema merupakan gagasan pokok atau
subject matter yang dikemukakan penyair
(Waluyo, 1995:106).
Perasaan (feeling) merupakan sikap
penyair terhadap pokok persoalan yang
ditampilkannya.
Nada dalam puisi dapat diketahui dengan
memahami apa yang tersurat. Nada
berhubungan dengan suasana karena nada
menimbulkan suasana tertentu pada
pembacanya. Suasana adalah keadaan jiwa
pembaca (sikap pembaca) setelah 19
membaca puisi atau akibat psikologis yang
ditimbulkan puisi terhadap pembaca
(Waluyo, 1995:71).
Amanat adalah pesan yang ingin
disampaikan penyair kepada pembaca.
d. Menulis Puisi dengan Memperhatikan
Unsur Pembangun
Menulis puisi dapat dimulai dengan
menemukan gagasan yang akan ditulis.
Gagasan itu dapat diperoleh melalui
berbagai sarana, seperti objek gambar
pemandangan, video, lagu, kisah inspiratif,
dan sebagainya. Dari objek-objek itu kita
dapat menginventaris kata.
e. Mendemonstrasikan Puisi
Salah satu cara mengapresiasi puisi adalah
dengan mendemonstrasikannya menjadi
sebuah pembacaan yang menarik. Untuk
melakukan pembacaan puisi dengan baik,
kita perlu memahami isi puisi tersebut.
Aktivitas menemukan unsur batin puisi,
baik berupa tama, perasaaan, nada,
maupun amanat, di atas dapat menjadi
bekal untuk membaca puisi.
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 Genre Prosa
Fiksi dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 2013
a. Hakikat Prosa Fiksi
Istilah fiksi digunakan untuk menandai
karya sastra dalam bentuk prosa, seperti
cerpen, dongen, dan novel. Prosa fiksi
sering juga disebut cerita rekaan atau cerita
khayalan, artinya cerita yang tidak
sungguh-sungguh terjadi atau bersifat
imajinatif. Prosa fiksi menampilkan
permasalahan manusia. Meskipun begitu,
28 sebuah prosa fiksi haruslah tetap
merupakan bangunan struktur yang
koheren dan tetap mempunyai tujuan
estetik (Wellek dan Warren, 2014).
b. Unsur-Unsur Prosa Fiksi
Alur cerita merupakan rangkaian peristiwa
yang disusun berdasar hubungan kausalitas
atau hubungan sebab akibat (Sayuti, 2002).
Artinya, peristiwa-peristiwa dalam prosa
fiksi itu saling berhubungan. Peristiwa
pertama menyebabkan peristiwa kedua,
peristiwa kedua menyebabkan peristiwa
ketiga, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa
itu tidak berdiri sendiri atau peristiwa hadir
sebagai peristiwa yang sumbang.
Cerita digerakkan oleh tokoh. tokoh dapat
dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan
tokoh tambahan (Sayuti, 2002). Tokoh
utama paling terlibat dengan makna atau
tema, paling banyak berhubungan dengan
tokoh lain, paling banyak memerlukan
waktu penceritaan.
Latar cerita merupakan unsur fiksi yang
mengacu pada tempat, waktu, dan kondisi
sosial cerita itu terjadi. H
c. Jenis-Jenis Fiksi dalam Kurikulum 2013
Fabel merupakan prosa fiksi yang
menggunakan tokoh binatang.
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap sebagai kejadian yang sungguh-
sungguh terjadi.
Menurut Hamzah (1996:128), hikayat
adalah prosa fiksi lama yang menceritakan
kehidupan istana atau raja serta dihiasi
oleh kejadian yang sakti dan ajaib. Hikayat
sering mengangkat latar kehidupan
kerajaan dengan tokoh-tokoh yang
memiliki kesaktian. Keajaiban juga sering
muncul dalam alur hikayat dalam bentuk
kejadian-kejadian yang mustahil.
Anekdot merupakan cerita singkat yang
menarik karena lucu dan mengesankan,
biasanya mengenai orang penting atau
terkenal dan berdasarkan kejadian yang
sebenarnya.
Cerpen adalah cerita yang pendek,
sedangkan novelet adalah cerpen yang
panjang tetapi lebih pendek dari novel.
Jika diurutkan berdasarkan panjangnya
maka diperoleh urutan: cerpen-novelet-
novel. Sayuti (2000) menyatakan bahwa
istilah cerpen biasanya digunakan untuk
pada prosa fiksi yang panjangnya antara
1.000 sampai 5.000 kata, sedangkan novel
umumnya berisi lebih dari 45.000 kata.
Sementara itu, novelet berkisar antara
5.000 sampai 45.000 kata.
Menurut Nurgiyantoro (2013), cerita
fantasi menampilkan tokoh, alur, atau
tema yang derajat kebenarannya
diragukan, baik dalam seluruh cerita
maupun dalam sebagian cerita.
Prosa fiksi merupakan salah satu genre
fiksi yang sifatnya imajinatif. Akan tetapi,
karya fiksi dapat mendasarkan diri pada
fakta. Fiksi sejarah berbeda dengan teks
sejarah. Fiksi sejarah bersifat imajinatif,
sedangkan teks sejarah bersifat faktual.
Fiksi sejarah dapat memanfaatkan teks
sejarah sebagai sumber inspirasi ceritanya.
d. Menulis Prosa Fiksi
Tompkins (2004) menyatakan ada lima
tahapan dalam menulis, yaitu tahap pre-
writing (pramenulis), drafting (menulis
draf), revising (revisi), editing
(penyuntingan), dan publishing (publikasi).
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 Genre
Drama dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 2013
a. Hakikat Drama
Drama merupakan salah satu genre sastra
dengan kekhasan pada unsur dialog. Prosa
fiksi berbentuk cerita atau memiliki alur
yang dikisahkan secara langsung. Berbeda
dengan prosa fiksi, penuturan cerita dalam
naskah drama ditampilkan melalui dialog
para tokohnya. Drama menampilkan alur
dengan konflik kehidupan.
b. Unsur Drama
Alur atau plot atau kerangka cerita
merupakan jalinan cerita atau kerangka
dari awal hingga akhir yang merupakan
jalinan konflik antara dua tokoh yang
berlawanan (Waluyo, 2001:8).
Tokoh adalah pelaku yang menggerakkan
alur drama. Cara menggambarkan tokoh
disebut penokohan.
Waluyo (2001: 23) menyatakan bahwa
setting atau tempat kejadian cerita disebut
latar cerita.
Tema adalah pikiran pokok yang
mendasari lakon drama, yang
dikembangkan sedemikian rupa sehingga
menjadi cerita yang menarik (Wiyanto,
2002: 23).
Seorang pengarang drama, sadar atau tidak
sadar, pasti menyampaikan amanat atau
pesan dalam karyanya. Pembaca dan
penonton mencari amanat dari drama yang
dibacanya atau pementasan yang
ditontonnya.
Dialog merupakan ciri khas drama. Dialog
dilakukan oleh para tokoh dan harus
mendukung karakter tokoh yang
diperankan.
Lakuan merupakan gerak-gerik pemain di
atas pentas. Lakuan harus berkaitan
dengan alur dan watak tokoh. Lakuan
adalah proses perwujudan adanya sebuah
konflik di dalam sebuah drama.
Teks samping atau petunjuk teknis
mempunyai nama lain yaitu kramagung.
c. Unsur Pementasan Drama
Dalam naskah drama terdapat dialog dan
teks samping yang akan menjadi panduan
pementasan.
Pemain merupakan orang yang
memerankan cerita di atas pentas.
Menurut Waluyo (2003:36), tugas
sutradara adalah mengkoordinasi segala
anasir pementasan, sejak latihan sampai
dengan pementasan selesai.
Tata rias adalah seni menggunakan bahan
kosmetika untuk menciptakan wajah peran
sesuai tuntutan lakon (Waluyo, 2003:131).
Penata busana mengatur pakaian pemain,
seperti bahan, model, dan cara
mengenakannya.
Tata pentas adalah segala hal yang terkait
dengan penataan tempat pementasan.
Penata lampu bertugas mengatur
pencahayaan di panggung. Karena itu,
bagian ini sangat terkait dengan tata
panggung.
Tata suara bisa terkait pengaturan
pengeras suara (sound system),
microphone, musik latar, musik dan suara-
suara pengiring, dan sebagainya.
Penonton menjadi unsur penting dalam
pementasan drama.
d. Jenis Drama
Drama tradisional atau drama rakyat
(folk drama) adalah drama yang lahir dan
diciptakan masyarakat tradisional.
Drama modern adalah drama yang lahir
pada masyarakat industri.
e. Apresiasi Drama
Ada banyak cara untuk mengapresiasi
drama, di antaranya menginterpretasi
drama. Menginterpretasi drama merupakan
kegiatan menafsirkan makna drama yang
dibaca atau pementasan drama yang
ditonton.
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 Perangkat
Pembelajaran Sastra Kurikulum
2013
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sebagaimana disebutkan dalam
Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016
tentang Standar Proses dan Permendikbud
No. 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi
Inti/Kompetensi Dasar, RPP harus disusun
secara lengkap dan sistematis agar
pembelajaran berlangsung secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, efisien, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
RPP harus memuat identitas yang meliputi
satuan pendidikan, nama mata pelajaran,
kelas/semester, materi pokok, dan alokasi
waktu. Alokasi waktu harus cukup untuk
pencapaian Kompetensi Dasar. Karena itu,
alokasi waktu berkaitan dengan langkah
kegiatan pembelajaran yang direncanakan.
b. Menentukan Indikator Pencapaian
Kompetensi (IPK)
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
merupakan rumusan kemampuan yang
menunjukkan ketercapaian KD. IPK ini
menjabarkan KD ke dalam unit-unit yang
lebih kecil dan rinci. IPK ini akan menjadi
acuan untuk menentukan tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran,
langkah pembelajaran, lembar kerja
peserta didik, dan instrumen penilaian.
Karena itu, ketepatan merumuskan IPK
menjadi penentu bagi keberhasilan
pencapaian KD. IPK harus dirumuskan
dengan kata kerja operasional yang tepat,
spesifik, dan terukur.
c. Menentukan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan
dengan jelas, berdasarkan KD dan IPK
yang akan dicapai. Tujuan pembelajaran
ini menunjukkan kecakapan yang harus
dimiliki oleh siswa. Karena itu, tujuan
pembelajaran harus dirumuskan dengan
menggunakan kata kerja operasional yang
dapat diamati dan diukur, yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
d. Menyusun Materi Pembelajaran Sastra
Sesuai dengan Permendikbud Nomor 22
Tahun 2016, materi pembelajaran dalam
RPP harus memuat fakta, konsep, prinsip,
dan prosedur yang relevan, dan ditulis
dalam bentuk butir-butir sesuai dengan
rumusan indikator ketercapaian
kompetensi.
e. Menentukan Media/Alat Pembelajaran dan
Sumber Belajar
Media/alat pembelajaran merupakan
sarana bagi guru untuk melaksanakan
pembelajaran di kelas. Media ini harus
relevan dengan kompetensi yang ingin
dicapai, sehingga media harus menjadi
bagian yang integral dari keseluruhan
proses pembelajaran yang saling
berhubungan dengan komponen lainnya
(Sumiharsono dan Hasanah, 2018:14).
Istilah media dan alat pembelajaran sering
kali dibedakan. RPP juga harus memuat
sumber belajar. Sumber belajar ini dapat
berupa buku, media cetak dan elektronik,
alam 77 sekitar, orang, lingkungan alam,
atau sumber belajar lain yang relevan
untuk mencapai kompetensi.
f. Menyusun Langkah Kegiatan
Pembelajaran
Secara umum langkah pembelajaran
meliputi bagian pendahuluan, inti, dan
penutup. Metode pembelajaran yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran sastra
antara lain scientific learning dan
discovery learning dengan sintak yang
tepat.
g. Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik
(LKPD)
Menurut Depdiknas (2008), Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) adalah lembaran-
lembaran berisi tugas yang harus
dikerjakan oleh peserta didik. Lembar
kegiatan biasanya berupa petunjuk,
langkah-langkah untuk menyelesaikan
suatu tugas, dan tugas yang harus
dikerjakan siswa. Lembar kerja peserta
didik (LKPD) akan membantu dan
mempermudah kegiatan belajar mengajar
sehingga terukur pencapaian
kompetensinya.
h. Menyusun Penilaian dalam Pembelajaran
Sastra
Dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun
2016 dijelaskan bahwa penilaian dalam
pembelajaran meliputi penilaian proses
dan penilaian hasil belajar. Penilaian
proses pembelajaran menggunakan
pendekatan penilaian otentik (authentic
assesment) yang menilai kesiapan peserta
didik, proses, dan hasil belajar secara utuh.
Hasil penilaian otentik digunakan guru
untuk merencanakan program perbaikan
(remedial) pembelajaran, pengayaan
(enrichment), atau pelayanan konseling.
Selain itu, hasil penilaian otentik
digunakan sebagai bahan untuk
memperbaiki proses pembelajaran sesuai
dengan Standar Penilaian Pendidikan.
2 Daftar materi yang sulit 1. Cerpen, Novelet dan Novel.
dipahami di modul ini 2. Cerita Fantasi
3 Daftar materi yang sering 1. Media/alat
mengalami miskonsepsi
Judul Modul Modul 4 Kemampuan Berbahasa Reseptif
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Dasar dan Prinsip Keterampilan Menyimak
2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Keterampilan
Menyimak
3. Dasar dan Prinsip Keterampilan Membaca
4. Pembelajaran Keterampilan Membaca di
Sekolah
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 Dasar dan
dipelajari Prinsip Keterampilan Menyimak
Dasar dan Prinsip Keterampilan Menyimak
Pengertian/Hakikat Menyimak
Keterampilan berbahasa secara umum digolongkan
menjadi empat keterampilan secara garis besar yaitu
keterampilan menyimak/memirsa, berbicara,
membaca, dan menulis.
Secara lengkap, menyimak didefinisikan sebagai
kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara
sungguh-sungguh, seksama, sebagai upaya untuk
memahami ujaran itu sebagaimana yang
dimaksudkan oleh pembicara dengan melibatkan
seluruh aspek mental kejiwaan seperti
mengidentifikasi, menginterpretasi, dan
mereaksinya.
Proses Menyimak
Proses menyimak merupakan proses yang cukup
kompleks karena merupakan serangkaian proses
penerimaan sekaligus penyimpanan informasi yang
disampaikan secara lisan baik menggunakan media
audio maupun audiovisual atau bahkan tanpa media.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menyimak
Secara umum faktor-faktor tersebut dapat
digolongkan ke dalam dua golongan besar yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal,
yaitu penyimak sebagai penerima pesan dan faktor
eksternal berupa segala sesuatu di luar penyimak
yang dapat memengaruhi pemahaman terhadap
pesan yang disampaikan di dalam kegiatan
menyimak tersebut yaitu: pembicara, media yang
digunakan dalam menyampaikan pesan dapat berupa
bahasa lisan/audio maupun gambar/visual, serta
lingkungan di sekitar berlangsungnya proses
menyimak.
Jenis-Jenis Menyimak
Wolvin & Coakely menngolongkan jenis menyimak
dalam lima tipe yaitu: diskriminatif (discriminative),
komprehensif (comprehensive), terapeutik
(therapeutic), kritis (critical), dan apresiatif
(apreciative) (Goh:2002).
Strategi dan Teknik Menyimak
Chamot menyampaikan bahwa terdapat tiga kategori
strategi di dalam pembelajaran menyimak yaitu
kognitif, metakognitif, dan sosial-afektif (Goh,
2002: 7).
Strategi kognitif di dalam menyimak merupakan
strategi yang fokus pada proses, interpretasi,
penyimpanan dan recall (pemanfaatan) ingatan
dalam menyimak. Strategi metakognitif
(metacognitive), yaitu strategi yang berfungsi untuk
mengelola dan memfasilitasi proses mental, serta
mengatasi kesulitan selama menyimak (Goh,
2002:7). Strategi sosial-afektif merupakan strategi
menyimak yang melibatkan pihak lain dalam
prosesnya. Dalam hal ini selama proses menyimak,
penyimak memerlukan bantuan orang lain untuk
membantu pemahaman.
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 Peinsip-prinsip
Pebelajaran Keterampilan Menyimak
Pembelajaran Menyimak dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran menyimak dalam kurikulum 2013
terkemas dalam pembelajaran teks yang beragam.
Pembelajaran keterampilan berbahasa tidak
diajarkan secara terpisah, tetapi secara terpadu
bersama dengan keterampilan berbahasa yang lain
dan dikemas dalam sebuah teks sesuai dengan
kompetensi dasar yang terdapat di kurikulum. Oleh
karena itu, hal ini memerlukan pencermatan
tersendiri karena salah persepsi terhadap kompetensi
dasar (KD) dapat mengakibatkan melesetnya arah
pembelajaran dari yang seharusnya. Untuk
memahami dengan benar, guru harus betul-betul
menguasai pembelajaran berdasar kurikulum, yaitu
yang sekarang berlaku adalah Kurikulum 2013 yang
pelaksanaannya didasari Permendikbud RI No 020
Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar dan menengah; Permendikbud RI
No. 021 tahun 2016 tentang Satuan Isi Pendidikan
Dasar dan Menengah; Permendikbud RI No. 022
Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah; Permendikbud RI No. 023
Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan
Dasar dan Menengah; dan Permendikbud No. 024
Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar Pelajaran Kurikulum 2013 pada
Pendidikan Dasar dan Menengah yang direvisi lagi
pada tahun 2018, tetapi belum banyak perbedaan. 25
Pemahaman terhadap Permendikbud tersebut sangat
membantu guru dalam menyesuaikan arah
pembelajaran yang mungkin dirasakan sangat
berbeda dari kurikulum sebelumnya.
Strategi Pembelajaran Menyimak dalam
Kurikulum 2013
Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran keterampilan menyimak adalah
penerapan strategi metakognitif yang dapat
diimplementasikan 28 menjadi tiga tahapan yaitu:
(1) Kegiatan Pramenyimak, (2) Pada Saat
Menyimak, dan (3) Pascamenyimak (Goh, 2002).
Tiga tahapan tersebut dapat dijabarkan dalam
Rencana Program pembelajaran yang merupakan
bentuk persiapan, kontrol pelaksanaan, dan
perencanaan evaluasi pembelajaran.
Penilaian Keterampilan Menyimak
penilaian pembelajaran keterampilan perlu
dirumuskan rubrik penilaian sesuai dengan
kompetensi dasar terkait dengan kata-kerja
operasional, dan jenis teks yang digunakan dalam
proses menyimak/memirsa. Rubrik penilaian
menyimak untuk sekolah SMP/SMA dapat merujuk
pada rubrik penilaian keterampilan reseptif
(Nurgiyantoro, 2011). Dalam prinsip penilaian
reseptif tersebut dikatakan bahwa pengukuran
kompetensi menyimak dapat berupa tagihan
pemahaman dan tanggapan terhadap pesan yang
disampaikan dengan cara merespons jawaban
(Nurgiyantoro, 2011: 57). Rubrik dapat dimodifikasi
atau disesuaikan dengan jenis/genre teksnya
sehingga alat evaluasi yang digunakan valid. Prinsip
penilaian dalam keterampilan menyimak
menggunakan penilaian otentik yaitu proses
pengumpulan informasi yang dilakukan oleh guru
tentang perkembangan dan pencapaian peserta didik
(Nurhadi, 2004:172).
Implementasi Keterampilan Menyimak dalam
Pembelajaran
Implementasi pembelajaran keterampilan menyimak
mengacu pada implementasi proses pembelajaran
yang dirancang dalam sebuah Rencana Program
Pembelajaran (RPP) yang sudah disusun
sebelumnya. Pembuatan RPP dilakukan untuk
menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
di dalam kelas yang mencerminkan indikator
pencapaian, tujuan, metode/strategi, materi, dan
evaluasi yang sudah disesuaikan satu sama lain.
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 Dasar dan
Prinsip Keterampilan Membaca
Pengertian Membaca
Membaca merupakan salah satu keterampilan
berbahasa yang berperan penting bagi kehidupan
seseorang sebagai sarana komunikasi serta informasi
dalam rangka pengembangan pengetahuan.
Membaca merupakan salah satu keterampilan
berbahasa yang bersifat resepif.
Tujuan Membaca
Pada dasarnya tujuan membaca ditentukan dan
dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain informasi
yang diperlukan oleh pembaca dan jenis bacaan
yang dipilih. Berdasar tujuan pembaca, selanjutnya
dikemukakan berbagai tujuan membaca 1)
Memahami secara detail dan menyeluruh isi bacaan;
2) Menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara
cepat; 3) Mendapatkan informasi tentang sesuatu; 4)
Mengenai makna kata; 5) Ingin mengetahui
peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia; 6)
Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di
masyarakat sekitar.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca
Snow (2002:11-12 ) mengemukakan bahwa ada tiga
elemen utama yang mempengaruhi pemahaman
pembaca, yaitu pembaca, teks, dan aktivitas di mana
pemahaman menjadi bagiannya.
Dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi pembaca, Tampubolon (2015:11)
menyatakan bahwa ada enam faktor utama, yaitu:
(1) kompetensi kebahasaan, (2) kemampuan mata,
(3) penentuan informasi fokus, (4) teknik dan
metode membaca, (5) fleksibilitas membaca, dan (6)
kebiasaan membaca. Dalman (2013: 21-22)
mengemukakan bahwa membaca dipengaruhi oleh
fleksibilitas membaca, yaitu kemampuan untuk
mengatur kecepatan membaca dan memilih strategi
yang sesuai agar informasi yang diperlukan dapat
diterima dengan baik.
Jenis-Jenis Membaca
Membaca Nyaring adalah suatu aktivitas atau
kegiatan yang merupakan alat bagi pembaca atau
pendengar untuk menangkap serta memahami
informasi, pikiran, dan perasaan penulis (Tarigan,
2015:23) Membaca nyaring merupakan suatu
keterampilan yang serba rumit dan kompleks.
Dikatakan rumit dan kompleks karena di dalam
membaca nyaring diperlukan pemahaman terhadap
aksara di atas halaman kertas serta memproduksi
suara yang tepat dan bermakna.
Membaca dalam Hati adalah kegiatan membaca
yang dilakukan tanpa bersuara. Dalam membaca
dalam hati pembaca menggunakan ingatan visual
yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan
karena tujuan utamanya adalah untuk memperoleh
informasi. Membaca dalam hati dibedakan atas
membaca ekstensif dan intensif (Tarigan, 2015: 30-
31).
Berbagai Jenis Membaca dalam Pembelajaran
Keterampilan Membaca di Sekolah
Membaca cepat sebagai bagian dari membaca
ekstensif adalah kegiatan membaca yang
mengutamakan kecepatan dengan tanpa
mengabaikan pemahaman. Artinya, dalam proses
menbaca kecepatan membaca harus disertai dengan
pemahaman isi bacaan secara keseluruhan.
Kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh berbagai
hal seperti tujuan membaca, tingkat keterbacaan,
bahan bacaan, teknik atau strategi membaca,
motivasi serta hal-hal lain sebagai penentu
keberhasilan membaca (Tampubolon, 2015:7).
Kecepatan membaca seseorang diukur berdasar
jumlah kata yang dibaca per menit, sedangkan
pemahaman diukur berdasar persentase jawaban
benar terhadap pertanyaan isi bacaan. Hasil
pengukuran kedua aspek tersebut 61 diintegrasikan
sehingga dapat menunjukkan kemampuan membaca
secara keseluruhan.
Membaca pemahaman merupakan proses
pemerolehan makna secara aktif dengan melibatkan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh
pembaca dan dihubungkan dengan isi bacaan. Hal
ini berarti kegiatan membaca pemahaman
menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki dengan bacaan sehingga pembaca
memahami isi bacaan secara menyeluruh (Somadyo,
2011:10). Membaca pemahaman merupakan proses
menyadap (extracting) dan mengonstruksi
(constructing) makna melalui interaksi dan
keterlibatan dengan bahasa penulis. Ketiga elemen
tersebut memiliki batasan atau ruang lingkup
masing-masing. Untuk memahami sebuah bacaan,
pembaca harus memiliki sejumlah kapasitas dan
kemampuan. Hal itu mencakup kapasitas kognitif,
motivasi, dan berbagai tipe pengetahuan.
Membaca Kritis adalah kemampuan pembaca
mengolah bahan bacaan secara kritis untuk
menemukan keseluruhan makna bahan bacaan baik
makna tersurat maupun tersirat melalui tahap
mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis,
dan menilai. Mengolah secara kritis artinya dalam
proses membaca 65 seorang pembaca tidak hanya
menangkap makna yang tersurat tetapi juga
menemukan makna antar baris, dan makna di balik
baris (Nurhadi, 2010: 59).
Nurhadi (2010:59) mengemukakan berbagai ciri
pembaca kritis. Seseorang dikatakan sebagai
pembaca kritis bila: (1) dalam kegiatan membaca
selalu melibatkan kemampuan berpikir kritis,
(2) tidak begitu saja menerima apa yang dikatakan
penulis, (3) membaca kritis adalah usaha mencari
kebenaran yang hakiki, (4) membaca kritis selalu
terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan
dalam bacaan, (5) membaca kritis adalah mengolah
bahan bacaan bukan mengingat, (6) hasil membaca
untuk diingat dan diterapkan.
Di dalam membaca kritis ada berbagai jenis
keterampilan yang dilakukan. Keterampilan-
keterampilan tersebut berkaitan dengan usaha
menemukan makna yang tersirat dalam bacaan.
Beberapa jenis keterampilan tersebut ialah:
(1) menemukan informasi faktual, (2) menemukan
ide pokok yang tersirat, (3) menemukan
unsururutan, perbandingan, dan sebab akibat yang
tersirat, (4) menemukan suasana, (5)
membuat simpulan, (6) menemukan tujuan
penulis, (7) memprediksi dampak, (8) membedakan
opini dan fakta, (9) membedakan realitas
dan fantasi, (10) mengikuti petunjuk, (11)
menemukan unsur propaganda, (12) 66 menilai
keutuhan gagasan, (13) menilai kelengkapan
antargagasan, (14) menilai kesesuaian antargagasan,
(15) menilai keruntutan gagasan, (16) menilai
kesesuaian antara judul dan isi bacaan, (17)
membuat kerangka bahan bacaan, dan (18)
menemukan tema karya sastra (Nurhadi, 2010: 59-
60).
Metode dan Strategi Membaca
Pendekatan DRTA (Directed reading–thinking
activity) didasarkan pada hubungan langsung antara
proses berpikir dan aktivitas membaca. DRTA
merupakan strategi pengajaran yang dirancang untuk
memberikan pengalaman kepada anak dalam
memprediksi apa yang akan dikatakan oleh penulis,
membaca teks untuk mengonfirmasi atau meninjau
kembali prediksi dan mengelaborasi respon (Walker
melaui Westwood, 2001).
Strategi K-W-L (Know. Want to know. Learned)
diciptakan oleh Ogle (1986) dan sesudah itu
direkomendasikan di dalam berbagai teks
metodologi membaca. Salah satu versi dari strategi
itu, yang bisa digunakan secara klasikal, kelompok
kecil, atau secara individual diperlukan adanya
persiapan yang berupa “peta KWL” (KWL chart).
Strategi 3H (Here, Hidden, In my Head) Tujuan
strategi ini adalah untuk mengajari anak di mana
jawaban terhadap pertanyaan yang dibuatnya dapat
ditemukan. Jawaban itu mungkin (i) secara eksplisit
terdapat di dalam teks (here atau tersurat), (ii)
tersirat di dalam teks dan dapat ditarik
kesimpulannya jika pembaca menggunakan
beberapa informasi yang ada di dalam teks dan
mengombinasikannya dengan pengetahuan yang
sudah dimiliki sebelumnya (hidden atau tersirat),
atau tidak terdapat di dalam teks tetapi sudah ada di
dalam latar belakang pengetahuan anak (in my head
atau termiliki).
Strategi PQRS itu hanya sederhana; rencana
tindakan langkah-demi-langkah yang mungkin
dipakai anak ketika dihadapkan pada tugas membaca
(reading assignment) (Westwood, 1997). Langkah-
langkah itu adalah P = preview (meninjau); Q =
question (mempertanyakan); R = read (membaca); S
= summarise (meringkas).
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 Pembelajaran
Keterampilan Membaca di Sekolah
Pembelajaran Keterampilan Membaca dalam Kurikulum
2013
Pembelajaran keterampilan membaca dalam
Kurikulum 2013 diimplementasikan ke dalam
berbagai genre teks baik fiksi maupun nonfiksi.
Pembelajaran keterampilan membaca disajikan
secara mandiri, bersama-sama, atau sebagai
alternatif pilihan. Hal ini dapat dicermati di dalam
Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia seperti tertera pada Permendikbud No.37
Tahun 2018 tetang KI dan KD. Pembelajaran
keterampilan membaca dalam Kurikulum 2013
diimplementasikan ke dalam berbagai genre teks
baik fiksi maupun nonfiksi.
Penilaian Pembelajaran Keterampilan Membaca
Penilaian pembelajaran dilakukan dalam rangka
mengukur ketercapaian kompetensi yang telah
ditetapkan dalam KI dan KD. Dalam kaitannya
dengan penilaian pendidikan, pendidik/guru menjadi
ujung tombak pelaksanaan penilaian. Penilaian
pendidikan oleh pendidik dilakukan pada setiap
mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan.
Penilaian oleh pendidik berupa penilaian proses dan
hasil pembelajaran. Berdasar Permendikbud Nomor
22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan
Dasar dan Menengah, penilaian proses pembelajaran
dilakukan menggunakan penilaian otentik yang
menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil
belajar secara utuh. Hasil penilaian otentik
digunakan guru untuk merencanakan program
perbaikan, pengayaan, atau pelayanan konseling,
serta sebagai bahan untuk memperbaiki proses
pembelajaran sesuai standar penilaian Pendidikan.
Penilaian proses dilakukan saat proses pembelajaran
sedangkan penilaian hasil dilakukan saat proses
pembelajaran dan di akhir satuan pelajaran. Hasil
evaluasi akhir diperoleh dari gabungan evaluasi
proses dan hasil pembelajaran. Instrumen penilaian
yang digunakan oleh pendidik berupa tes dan nontes
sesuai dengan karakteristik masing-masing
kompetensi dan perkembanagn peserta didik.
Implementasi Keterampilan Membaca dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam mengimplementasikan pembelajaran,
pendidik/guru dituntut untuk memahami standar
proses pendidikan meliputi perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar.
Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran, penyiapan media
dan sumber belajar, perangkat penilaian
pembelajaran, dan skenario pembelajaran.
2 Daftar materi yang sulit 1. Metode dan Strategi Membaca
dipahami di modul ini
3 Daftar materi yang 1. Penilaian Pembelajaran Keterampilan
sering mengalami Membaca
miskonsepsi
Judul Modul Modul 5 Keterampilan Berbahasa
Produktif
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Keterampilan Berbicara
2. Pembelajaran Keterampilan
Berbicara
3. Keterampilan Menulis
4. Pembelajaran Keterampilan
Menulis
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1
dipelajari Keterampilan Berbicara
Hakikat Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan keterampilan berbahasa
yang bertujuan untuk mengungkapkan ide,
gagasan, serta perasaan secara lisan sebagai
proses komunikasi kepada orang lain.
Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui
membaca, menyimak, pengamatan dan
diskusi.
Kegiatan berbicara akan terjadi jika
terpenuhinya tiga unsur yaitu: pembicara,
pembicaraan atau pesan, dan lawan bicara.
Selain ketiga unsur tersebut, ada satu hal yang
lebih penting yaitu kesempatan berbicara,
artinya: (a) kepada siapa ia berbicara, atau
bagaimana keadaan audience itu, (b) kapan
waktu bicara yang tepat, (c) tempat dimana ia
berbicara. Jika seorang pembicara
memperhatikan hal-hal tersebut tentunya
proses komunikasi akan terlaksana dengan
baik.
Untuk meningkatkan kemampuan berbicara
perlu adanya latihan secara berkelanjutan. Ada
beberapa bentuk tugas kegiatan berbicara yang
dapat dilatih untuk meningkatkan dan
mengembangkan keterampilan berbicara pada
peserta didik seperti bercerita, wawancara,
bercakap-cakap, berpidato, dan berdiskusi.
Faktor Pendukung Keterampilan Berbicara
Kemampuan berbicara seseorang sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu penguasaan
kebahasaan dan non kebahasaan.
Faktor Kebahasaan, Faktor-faktor tersebut
antara lain adalah: ketepatan ucapan (tata
bunyi), Seorang pembicara harus
membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi
bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa
yang kurang tepat, dapat mengalihkan
perhatian pendengar. Pengucapan bunyi
bahasa yang kurang tepat atau cacat tersebut
juga dapat menimbulkan kebosanan, kurang
menyenangkan, atau kurang menarik.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap
cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari
ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik
perhatian, mengganggu komunikasi, atau
pemakainya (pembicara) dianggap aneh.
Penempatan Tekanan, Kesesuaian
penempatan atau penggunaan tekanan, nada,
sendi, atau tempo dan durasi akan menjadi
daya tarik tersendiri bagi pendengar. Bahkan
kadang-kadang merupakan faktor penentu.
Kesalahan dalam penempatan hal-hal tersebut
berakibat pada kurang jelasnya isi dan pesan
pembicaraan yang ingin disampaikan kepada
lawan bicara. Jika penyampaian materi
pembicaraan datar saja, hampir dapat
dipastikan akan menimbulkan kejenuhan dan
keefektifan berbicara tentu berkurang. Pilihan
kata (diksi), Faktor penting yang berpengaruh
terhadap pilihan kata adalah sikap pembicara,
yakni sikap yang berkenaan dengan umur dan
kedudukan lawan bicara yang dituju,
permasalahan yang disampaikan, dan tujuan
informasinya. dan kalimat efektif Kalimat
yang benar adalah kalimat yang memenuhi
persyaratan gramatikal, yaitu harus disusun
berdasarkan kaidah yang berlaku. Kalimat
yang baik adalah kalimat yang sesuai dengan
konteks dan situasi yang berlaku. Kalimat
yang tepat adalah kalimat yang dibangun dari
pilihan kata yang tepat, disusun menurut
kaidah yang benar, dan digunakan dalam
situasi yang tepat pula. Kalimat yang benar
dan jelas yang dapat dengan mudah dipahami
pendengar sesuai dengan maksud pembicara
disebut kalimat efektif.. Kalimat efektif
memiliki ciri-ciri keutuhan, perpaduan,
pemusatan perhatian, dan kehematan.
Faktor Non Kebahasaan adalah (1) sikap
yang wajar, tenang, dan tidak kaku, Sikap
wajar, tenang, dan tidak kaku akan timbul
dalam praktik berbicara salah satunya
disebabkan oleh penguasaan materi berbicara
oleh pembicara. Kalau seorang pembicara
tidak atau kurang siap dengan materi
pembicaraan yang akan disampaikan maka
akan timbul sikap-sikap yang (2) kontak mata
atau pandangan harus diarahkan kepada
audien atau khalayak pendengar, Melihat
audiens secara sekilas sangat penting saat
pidato. Pandangan kita terhadap audiens harus
merata ke seluruh ruangan. Berikan pandangan
positif dan penuh semangat agar audiens
konsentrasi terhadap apa yang kita sampaikan.
(3) gerak-gerik dan mimik yang tepat,
Gerak-gerik berkaitan dengan penggunaan
anggota badan untuk memperjelas pesan yang
akan disampaikan. Gerak-gerik dalam
berpidato atau berkomunikasi antara lain
adalah: anggukan dan gelengan kepala,
mengangkat tangan, mengangkat bahu,
menuding, mengangkat ibu jari, menuding,
sikap berdiri, daan sebagainya. (4)
kenyaringan suara, Tingkat kenyaringan
suara ini tentunya juga disesuaikan dengan
situasi, jumlah pendengar, tempat, dan akustik.
Yang penting, ketika berpidato, pendengar
dapat menerima suara pembicara dengan jelas
dan enak didengar di telinga. Suara yang
digunakan tidak terlalu keras atau terlalu
pelan. Ketika berbicara dengan mikrofon,
maka jangan sampai mikrofon tersebut terlalu
dekat dengan mulut, karena suara yang
dihasilkannya akan kurang baik dan tidak
nyaman didengarkan. (5) kelancaran,
Kelancaran dalam berpidato akan
memudahkan pendengar dalam menerima atau
menangkap isi pembicaraan. Apabila
pembicara menguasai materi pembicaraan,
maka dia akan dapat berpidato dengan lancar
tanpa adanya gangguan dalam proses
pembicaraannya. (6) relevansi atau
penalaran Gagasan demi gagasan haruslah
berhubungan dengan logis. Proses berpikir
untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah
logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian
dalam kalimat, hubungan kalimat dengan
kalimat harus logis dan berhubungan dengan
pokok pembicaraan. Kalau dalam pidato
seorang pembicara dapat memperhatikan
relevansi atau penalaran dalam proses
bicaranya maka akan diperoleh pembicaraan
yang efektif.
Persiapan dan Strategi Keterampilan
Berbicara
Persiapan-persiapan yang perlu dilakukan oleh
seseorang sebelum berbicara adalah
menganalisis tujuan, menemukan kata kunci,
memahami suasana teks, penggunaan bahasa
tubuh, dan pemilihan metode. Untuk menjadi
pembicara yang handal bukan hal yang mudah.
Selain mengetahui strategi-strategi berbicara
di atas perlu juga penguasaan materi yang
mendalam. Selain itu, Larry King (2007: 63)
menyebutkan bahwa terdapat delapan ciri
untuk menjadi pembicara yang baik sebagai
berikut. 1) Mereka memandang suatu hal dari
sudut pandang yang baru, mengambil titik
pandang yang tak terduga pada hal-hal yang
umum. 2) Mereka mempunyai cakrawala yang
luas, yaitu mampu memikirkan dan
membicarakan isu-isu beragam pengalaman
dari luar kehidupan mereka sehari-hari. 3)
Mereka antusias, menunjukkan minat besar
pada apa yang mereka perbuat dalam
kehidupan mereka, maupun pada apa yang
dikatakan pada kesempatan itu. 4) Mereka
tidak pernah menceritakan diri mereka sendiri
5) Mereka selalu ingin tahu dan terbuka
terhadap kritik dan saran. 6) Mereka
menunjukan empati (memposisikan diri pada
apa yang dikatakan). 7) Mereka mempunyai
selera humor. 8) Mereka punya gaya bicara
sendiri.
Ragam Keterampilan Berbicara
Berbicara Retorika yaitu kemampuan untuk
memilih dan menggunakan bahasa dalam
situasi tertentu secara efektif untuk
mempersuasi orang lain. Retorika adalah
gabungan yang serasi antara pengetahuan,
pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara.
Dalam bahasa populer, retorika berarti pada
tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas
cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-
kata yang tepat, benar dan mengesankan.
Kajian berbicara retorika menekankan pada
kemampuan seseorang untuk menyampaikan
gagasan tanpa adanya jawaban dari
komunikan. Jadi berbicara retorika merupakan
ilmu tentang seni berbicara secara monolog,
dimana hanya seorang yang berbicara dan
lainnya sebagai audien saja. Bentuk-bentuk
yang tergolong dalam retorika monologika
adalah pidato, seminar, ceramah, bercerita, dan
deklamasi.
Berbicara Dialektika adalah keterampilan
menuangkan hasil pemikiran secara teratur,
logis, dan teliti yang diawali dengan tesis,
antitesis, dan sintesis melalui Bahasa lisan.
Berbicara dialektika adalah ilmu tentang seni
berbicara secara dialog, dimana dua orang atau
lebih berbicara atau mengambil bagian dalam
satu proses pembicaraan. Bentuk berbicara
dialektika adalah diskusi, rapat, wawancara,
talkshow/percakapan dan debat.
2. Kegiatan Belajar (KB) 2
Pembelajaran Keterampilan
Berbicara
Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Berbicara adalah keterampilan berbahasa yang
bersifat produktif berbentuk ucapan kata-kata
dari pendapat atau pikiran penuturnya.
Berbicara merupakan kemampuan
mengucapkan bunyi artikulasi atau kata-kata
untuk mengekspresikan, menyatakan, serta
menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan
(Tarigan, 1985). Berdasarkan definisi di atas
dapat disimpulkan bahwa berbicara
merupakan aktivitas berbahasa yang sering
disebut berkata, berbahasa, melahirkan
pendapat, berunding dengan mengucapkan
bunyi artikulasi atau kata-kata.
Pembelajaran berbicara berdasarkan
kurikulum 2013 masuk dalam Kompetensi
Dasar 4 (KD 4). Keterampilan berbicara
berdasarkan kurikulum 2013 menekankan
pada keterampilan menyampaikan secara lisan
berbagai teks yang dipelajari Keterampilan
berbicara tergolong dalam kemampuan
berbahasa yang bersifat produktif. Dalam
merencanakan pembelajaran (RPP) guru harus
mampu menyusun indikator, tujuan, langkah-
langkah pembelajaran dan evaluasi sesuai
dengan keterampilan berbicara yang akan
dicapai. Untuk mengukur ketercapaian
tersebut diperlukan pula alat ukur (rubrik)
penilaian yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Metode dan Media Pembelajaran
Keterampilan Berbicara
Metode pembelajaran merupakan suatu cara
yang dipilih oleh seorang guru untuk
menyampaikan pelajaran agar mencapai tujuan
pembelajaran yang diinginkan. Fungsi metode
pembelajaran berkaitan dengan aktivitas dan
ketepatan selama guru menjalankan proses
belajar mengajar di kelas. Dalam kaitannya
dengan proses belajar mengajar fungsi dari
metode pembelajaran menjadi penting
terutama dalam hal mencapai tujuan dari
sebuah pembelajaran.
Metode Saintifik adalah suatu proses
pembelajaran yang dirancang supaya peserta
didik secara aktif mengkonstruksi konsep,
hukum, atau prinsip melalui kegiatan
mengamati, merumuskan masalah,
mengajukan/merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik,
menganalisis data, menarik kesimpulan, dan
mengkomunikasikan (Hosnan, 2014).
Metode Two Stay Two Stray, memungkinkan
setiap kelompok untuk saling berbagi
informasi dengan kelompok-kelompok lain
(Huda (2014: 140).
Metode Bermain Peran (role playing)
merupakan sebuah metode yang digunakan
dalam pembelajaran bahasa khususnya
pembelajaran keterampilan bercerita. Metode
bermain peran sebagai salah satu metode
pembelajaran keterampilan bercerita
mempunyai fungsi, tujuan, serta manfaat di
dalam penerapanya. Tujuan metode bermain
peran seperti yang diungkapkan oleh Soeparno
(2008: 101) antara lain: (1) memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melatih
kemampuan berbicara menggunakan kalimat
yang sesuai dengan pola yang telah diajarkan;
(2) memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berlatih memahami kalimat- kalimat
yang diucapkan orang lain secara tepat sesuai
dengan apa yang dimaksudkan; (3) melatih
siswa untuk menghadapi situasi yang terjadi di
dalam masyarakat yang sebenarnya; (4)
mengembangkan dan menanamkan sikap serta
tingkah laku yang baik serta dapat mengoreksi
sikap serta tingkah laku yang kurang baik.
Penilaian Pembelajaran Keterampilan
Berbicara
Ada dua jenis penilaian yang digunakan dalam
pembelajaran berbicara, yaitu penilaian proses
dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan
selama kegiatan pembelajaran berlangsung
untuk menilai sikap siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran. Penilaian hasil
dilakukan berdasarkan unjuk kerja yang
dilakukan siswa ketika menyajikan
kompetensi berbicara yang dituntut kurikulum
atau mempresentasikan secara individual.
Aspek penilaian yang dapat digunakan untuk
menilai keterampilan berbicara meliputi aspek
isi, penguasaan diksi, tuturan kalimat,
artikulasi, kelancaran, gestur dan mimik. Salah
satu model yang dapat digunakan dalam
penilaian berbicara (khususnya dalam
berpidato dan bercerita) adalah sebagai
berikut. (a) keakuratan informasi (b) hubungan
antarinformasi (c) ketepatan struktur dan
kosakata (d) kelancaran (e) kewajaran (f) gaya
pengucapan.
Implementasi Keterampilan Berbicara
dalam Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam
bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada
Standar Isi. Perencanaan pembelajaran
meliputi penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran dan penyiapan media dan
sumber belajar, perangkat penilaian
pembelajaran, dan skenario pembelajaran.
Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan
pendekatan pembelajaran yang digunakan.
Silabus merupakan acuan penyusunan
kerangka pembelajaran untuk setiap bahan
kajian mata pelajaran. Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu
pertemuan atau lebih.
3. Kegiatan Belajar (KB) 3
Keterampilan Menulis
Konsep Dasar Menulis
Menulis merupakan kemampuan seseorang
menuangkan ide, gagasan atau gambaran yang
ada di dalam pikiran manusia dalam bentuk
karya tulis yang dapat dibaca, dipahami dan
dimengerti orang lain. Menulis digunakan oleh
pelajar untuk mencatat atau merekam,
meyakinkan, melaporkan atau
memberitahukan, dan mempengaruhi. Maksud
dan tujuan menulis dapat dicapai dengan baik
oleh seseorang yang dapat menyusun gagasan,
pikiran, argumen, dan menuangkannya dengan
jelas. Kejelasan ini tergantung pada penalaran,
organisasi, bahasa, ejaan, dan tanda baca yang
digunakan.
Faktor-faktor Pendukung Menulis
Faktor-faktor pendukung seseorang untuk
mampu menulis dengan baik perlu
memperhatikan tiga aspek yaitu isi, bahasa dan
penyajian. Aspek isi erat kaitannya dengan
ide, gagasan, atau temuan yang ingin
disampaikan dalam tulisannya. Untuk aspek
bahasa seorang penulis harus menguasai diksi,
penulisan kalimat, paragraf, ejaan serta tanda
baca. Aspek penyajian terkait dengan
kemampuan seseorang menguasai sistematika
dan ketentuan penulisan yang disyaratkan.
Dalam pendekatan proses menulis, penulis
perlu menguasai pengetahuan struktur bahasa
yang meliputi pilihan kata, kalimat efektif, dan
paragraf efektif.
Kata adalah unsur bebas terkecil yang
bermakna. kata merupakan unsur pembentuk
kalimat. Sebagai unsur pembentuk kalimat,
kata digunakan untuk mewadahi dan
menyampaikan pesan. Dengan demikian, kata
menjadi salah satu unsur pembentuk kalimat
yang menentukan tingkat keefektifan kalimat.
Kalimat efektif merupakan satuan bahasa
(kata-kata) untuk menyampaikan pesan,
gagasan, dan perasaan sesuai dengan maksud
penulis dan kaidah penulisan kalimat. Untuk
itu, kalimat harus memenuhi beberapa
ketentuan, di antaranya adalah struktur kalimat
harus benar, pilihan kata tepat, hubungan antar
bagian logis, dan ejaan harus benar. Penulisan
kalimat dalam sebuah karangan hendaknya
sesuai dengan ketentuan penulisan kalimat
efektif. Hal tersebut bertujuan agar karangan
yang kita tulis dapat sampai ke pembaca sesuai
dengan informasi atau pesan yang kita
sampaikan.
Paragraf Efektif adalah suatu bagian dari bab
pada sebuah karangan yang penulisannya
dimulai dengan baris baru (Kuncoro, 2009:72).
Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea.
Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama
pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke
sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
Demikian pula dengan paragraf berikutnya
mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
Paragraf efektif harus memenuhi dua syarat
lain, yaitu adanya kesatuan dan kepaduan.
Kesatuan paragraf artinya jika seluruh kalimat
dalam paragraf hanya membicarakan satu ide
pokok atau satu masalah. Apabila dalam
sebuah paragraf terdapat kalimat yang
menyimpang dari masalah yang sedang
dibicarakan, berarti dalam paragraf itu terdapat
lebih dari satu ide. Kepaduan paragraf dapat
diketahui dari susunan kalimat yang
sistematis, logis, dan mudah dipahami.
Kepaduan semacam itu dapat dicapai jika
jalinan kalimat-kalimatnya terangkai secara
apik.
4. Kegiatan Belajar (KB) 4
Pembelajaran Keterampilan Menulis
Pembelajaran Keterampilan Menulis
Pembelajaran bahasa Indonesia dalam
Kurikulum 2013 berdasarkan pendekatan
genre teks. Artinya, pembelajaran dalam
Kurikulum 2013 memuat Kompetensi Dasar
(KD) yang didalamnya berorientasi pada teks
dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Melalui teks tersebut, siswa tetap akan
diarahkan pada keterampilan berbahasa yaitu
berbahasa reseptif (membaca dan menyimak)
dan produktif (berbicara dan menulis). Oleh
karena itu, pembelajaran keterampilan menulis
secara tidak langsung sudah masuk dalam
Kompetensi Dasar yang akan dijabarkan ke
indikator oleh guru. Aspek keterampilan
menulis berdasarkan Kurikulum 2013 di
jenjang SMA/MA terbagi dalam berbagai
genre teks. Kompetensi Dasar Keterampilan
atau KD 4 akan dikembangkan menjadi
indikator dengan memperhatikan kata
operasional yang relevan. Kata operasional
tersebut sebagai dasar guru ketika
mengembangkan indikator dalam RPP. Kata
operasional yang dapat digunakan seperti
menginterpretasi, mengontruksi,
mengembangkan, menciptakan, menceritakan,
memproduksi, menyusun, menyampaikan,
mengungkapkan, menyaji, dan merancang.
Model Pembelajaran Menulis
Model pembelajaran mengacu pada
pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, tujuan pengajaran, tahap-tahap
dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Jadi,
model pembelajaran adalah prosedur atau pola
sistematis yang digunakan sebagai pedoman
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
didalamnya terdapat strategi, teknik, metode,
bahan, media dan alat penilaian pembelajaran.
Model pembelajaran digunakan dalam
pembelajaran menulis sesuai dengan tujuan
dan genre teksnya. Model pembelajaran yang
direkomendasikan kemendikbud sesuai
Kurikulum 2013 seperti (1) Model
pembelajaran saintifik, (2) Pembelajaran
Berbasis Masalah, (3) Pembelajaran Berbasis
Proyek, dan (4) Discovery Learning/Inquiry.
Keempat model tersebut dapat digunakan guru
untuk mengajarkan keterampilan menulis.
Selain itu, terdapat beberapa model/strategi
pembelajaran menulis yang diperkenalkan
oleh para ahli. Model/strategi tersebut
diantaranya adalah Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dan Think
Pair and Share (TPS)
Penilaian Keterampilan Menulis
Tes kemampuan menulis cukup potensial
untuk dijadikan tes yang bersifat pragmatik
dan atau otentik. Terdapat banyak model
penilaian menulis yang dikemukakan oleh para
ahli. Dalam Kegiatan Belajar ini menggunakan
model penilaian pembobotan tiap komponen.
Model penilaian ini banyak digunakan pada
program ESL (English as a Second Language)
yang terbilang lebih rinci dalam melakukan
penyekoran. Model penilaian yang digunakan
kemudian dimodifikasi dan disesuaikan
dengan ragam teks yang dinilai.
Penulis melakukan modifikasi model penilaian
yang sesuai diterapkan untuk penyekoran
menulis teks berita. Modifikasi tersebut
meliputi kriteria penilaian dan perolehan skor.
Kriteria atau deskriptor dalam profil penilaian
dimodifikasi dengan menyesuaikan kaidah
penulisan teks berita.
Implementasi Keterampilan Menulis dalam
Pembelajaran
Guru merupakan pelaksana utama untuk
mengimplementasikan kurikulum dalam setiap
pembelajaran. Untuk mencapai pengajaran
yang optimal dalam mengimplementasikan
Kurikulum 2013, guru berkesempatan
menyusun sendiri Rencana Pembelajaran
berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) penentuan kompetensi inti, (2) penentuan
kompetensi dasar, (3) pengembangan
indikator, (4) pemilihan materi pembelajaran,
(5) penggunaan metode & media
pembelajaran, (6) langkah-langkah
pembelajaran, dan (7) penilaian.
Misi yang ingin dicapai dalam kurikulum
2013, antara lain, agar suatu lulusan dari
jenjang pendidikan tertentu benar-benar
memiliki kemampuan atau kompetensi yang
dapat diukur atau diamati. Adapun yang
dimaksud dengan istilah kompetensi adalah
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak. Sementara itu,
kompetensi dipandang sebagai kemampuan
yang dapat dilakukan oleh siswa, yang
mencakup pengetahuan, keterampilan dan
perilaku. Berkaitan dengan kompetensi itu
jelas kemampuan yang dituntut dari suatu
lulusan adalah meliputi ranah kognitif,
psikomotorik, dan afektif.
2 Daftar materi yang sulit 1. ….
dipahami di modul ini 2. …
3 Daftar materi yang sering 1. Berbicara Dialektika (Seminar)
mengalami miskonsepsi 2. Perbedaan Metode dan Model
Judul Modul Modul 6 Genre Teks dalam Bahasa
Indonesia
Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Konsep Dasar Teks Berbasis Genre
2. Genre Teks Fiksi dalam Kurikulum 2013
3. Genre Teks Nonfiksi Kurikulum 2013
4. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Teks
Berbasis Genre
No Butir Refleksi Respon/Jawaban
1 Garis besar materi yang 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 Konsep
dipelajari Dasar Teks Berbasis Genre
Hakikat Teks dan Pendekatan Berbasis Genre
Butir-butir penting genre adalah 1) Genre
adalah konsep pengorganisasian untuk praktik
budaya; 2) Setiap bidang genre merupakan
perbandingan dengan berbagai standar atau
parameter; 3) Genre adalah tempat acara,
fungsi, perilaku dan struktur interaksi, bukan
hanya dipandang sebagai 'teks'; 4) Kompetensi
budaya mencakup pengetahuan mengenai
kesesuaian apapun jenis genre, mengetahui
baris dan variasi, serta mengetahui bagaimana
mengganti dari satu jenis teks ke jenis teks
yang lain.
Ada beberapa karakteristik dari pendekatan
berbasis genre yang dikemukakan Luu (2011:
123) antara lain 1) Pendekatan berbasis genre
menekankan pada pentingnya menjelajahi
konteks sosial dan budaya penggunaan bahasa
pada tempat penulisan dibuat; 2) Pendekatan
ini menyoroti besarnya pembaca dan konvensi
linguistik bahwa tulisan yang baik adalah
tulisan yang dapat diterima pembacanya; 3)
Pendekatan genre menegaskan bahwa menulis
adalah kegiatan sosial. Belajar menulis dengan
cara ini diyakini dapat menghilangkan
perasaan terisolasi yang sering dialami oleh
peserta didik saat menulis. Selain itu,
pendekatan ini juga membantu siswa memiliki
bantuan yang positif tentang pengetahuan
linguistik, konten dan ide dalam menulis
sebuah teks; 4) Pendekatan ini berkaitan
dengan mengajarkan kepada peserta didik
bagaimana menggunakan pola bahasa agar
koheren atau saling berhubungan, terutama
dalam menulis prosa. Pokok pikiran utamanya
adalah "we do not just write, we write
something to achieve some purpose" (Hyland
dalam Luu: 2011: 123). Dalam pendekatan ini,
siswa diminta untuk menemukan tujuan sosial
dari keseluruhan isi teks; 5) Pendekatan ini
menekankan peran penting dari interaksi
antara penulis dan pembaca melalui tulisan.
Firkins, dkk. (2007: 7) menjabarkan mengenai
siklus belajar mengajar menggunakan
pendekatan genre, terdiri atas tiga tahap, 1)
Modelling a text; 2) Joint construction of a
text; 3) Independent construction of text.
Berbagai Jenis Teks Berbasis Genre dalam
Kurikulum
Genre dengan tipe teksnya diklasifikasikan
menjadi 5 kelompok yakni menggambarkan
(describing) dengan tipe teks laporan serta
deskripsi, menjelaskan (explaining) dengan
tipe teks eksplanasi, memerintah (instructing)
dengan tipe teks instruksi/prosedur,
berargumen (arguing) dengan tipe teks
eksposisi dan diskusi, serta menceritakan
(narrating) dengan tipe teks rekon (recount),
narasi, dan puisi.
Teks Laporan Hasil Observasi merupakan
teks yang memberikan informasi secara umum
tentang sesuatu berdasarkan fakta dari hasil
pengamatan secara langsung. Teks laporan
hasil observasi bersifat informatif, komunikatif
dan objektif. Isi teks laporan hasil observasi
harus dapat memberikan sebuah informasi
yang mudah dipahami oleh pembaca atau
pendengarnya dan setiap informasi disajikan/
ditulis secara objektif dan faktual atau dengan
fakta/ kenyataan yang sebenarnya yang telah
diamati sebelumnya, tidak dibuat-buat atau
tidak menurut opini sang penulis, serta dapat
dibuktikan kebenarannya. Teks laporan
observasi memiliki fungsi atau manfaat bagi
penulis maupun orang lain. Pertama sebagai
bahan penelitian karena teks ini berdasarkan
fakta dari pengamatan secara langsung. Kedua,
sebagai bahan sumber yang dapat dipercaya
karena dilaporkan secara objektif. Ketiga
sebagai laporan tugas atau kegiatan
pengamatan. Keempat sebagai dokumentasi
yang dapat dijadikan bank data. Kelima,
sebagai kajian ilmu pengetahuan. Keenam,
sebagai dasar penyusunan kebijakan,
pengambilan keputusan, maupun pemecahan
masalah.
Teks eksposisi yaitu sebuah paragraf atau
karangan yang di dalamnya mengandung
sejumlah informasi yang isi dari paragraf
tersebut ditulis dengan tujuan untuk
menjabarkan atau memberikan pengertian
dengan gaya penulisan yang singkat, padat dan
akurat. Beberapa jenis teks eksposisi yang
dikenal dan sering muncul dalam buku teks
antara teks eksposisi definisi, proses, ilustrasi,
laporan, perbandingan, dan pertentangan.
Teks Prosedur diartikan sebagai teks yang
berisi cara, tujuan untuk membuat atau
melakukan sesuatu hal dengan langkah demi
langkah yang tepat secara berurutan sehingga
menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan.
Teks Prosedur memuat langkah-langkah yang
harus ditempuh untuk mencapai tujuan yang
diinginkan dan terdapat penjelasan/keterangan
dalam langkah tersebut. Langkah-langkah
dalam teks prosedur harus disusun secara
informatif, detil, objektif, aktual, akurat, logis,
dan universal. Tujuan akhirnya adalah
pembaca dapat melakukan seperti yang ada
dalam sajian teks prosedur. Teks prosedur
dibagi menjadi 3 macam 1) teks prosedur
sederhana; 2) teks prosedur kompleks; 3) teks
prosedur protokol.
Teks Eksplanasi adalah teks yang berisi
tentang proses mengapa dan bagaimana suatu
peristiwa alam, ilmu pengetahuan, sosial,
budaya, dan juga lainnya bisa terjadi. Tujuan
dari teks eksplanasi diantaranya:
1) menjelaskan fenomena yang terjadi;
2) menjelaskan sebab-akibat suatu peristiwa.
teks eksplanasi mempunyai ciri-ciri yang
sangat khusus yaitu 1) Strukturnya itu terdiri
dari pernyataan umum, urutan sebab akibat,
serta juga interpretasi; 2) Informasi yang
dimuat itu dengan berdasarkan fakta (faktual);
3) Faktual tersebut memuat informasi yang
sifatanya itu ilmiah/keilmuan, contohnya
seperti sains; 4) Sifatnya itu informatif serta
tidak berusaha untuk mempengaruhi pembaca
untuk bisa percaya terhadap hal yang dibahas;
5) Memiliki/menggunakan sequence markers.
contohnya pertama, kedua, ketiga, dan
sebagainya. Bisa juga dengan menggunakan:
pertama, berikutnya, terakhir.
Teks Cerpen atau cerita pendek adalah bentuk
karya fiksi berupa kisah tentang manusia dan
seluk beluknya lewat tulisan pendek. Cerpen
merupakan sebuah cerita yang selesai dibaca
dalam sekali duduk berkisar antara setengah
sampai 2 jam berbeda dengan tokoh novel
tokoh dalam cerpen tidak mengalami
perubahan nasib. Cerpen diklasifikasikan
dalam beberapa jenis yaitu berdasarkan
panjang pendek cerita, Berdasarkan
Banyaknya Kata, Berdasarkan Tema dan Isi.
Puisi dikenal sebagai suatu karya sastra
tertulis dimana isinya merupakan ungkapan
perasaan seorang penyair dengan
menggunakan bahasa yang bermakna semantis
serta mengandung irama, rima, dan ritma
dalam penyusunan larik dan baitnya. Ada juga
yang menyebutkan pengertian puisi adalah
suatu karya sastra yang isinya mengandung
ungkapan kata-kata bermakna kiasan dan
penyampaiannya disertai dengan rima, irama,
larik dan bait, dengan gaya bahasa yang
dipadatkan.
Teks drama adalah suatu teks cerita yang
dipentaskan di atas panggung atau biasa
disebut teater ataupun tidak dipentaskan di
atas panggung seperti drama radio, televisi,
dan film. Drama secara luas dapat diartikan
sebagai salah satu bentuk sastra yang isinya
tentang suatu kehidupan yang disajikan atau
dipertunjukkan dalam bentuk gerak. Drama
merupakan perjalanan, kisah, atau alur hidup
yang diceritakan kembali dan dapat
diperagakan oleh orang lain. Sebelum
memperagakan sebuah drama, biasanya
terlebih dahulu membuat naskah drama.
Naskah drama dapat berbentuk teks berisi
komposisi drama yang ditulis di atas naskah
berupa kertas.
Teks drama mengandung beberapa unsur,
1) Alur, yaitu berupa rangkaian cerita yang
terjadi pada drama; 2) Amanat, yaitu pesan
yang terkandung dalam drama; 3) Tokoh, yaitu
pelaku yang memerankan seorang karakter
dalam cerita; Penokohan adalah
penggambaran watak setiap tokoh. Ada 3
macam tokoh, protagonis yaitu tokoh yang
menampilkan kebaikan, antagonis yaitu tokoh
jahat atau tokoh penentang kebaikan, dan
tritagonis yaitu tokoh pendukung protagonis.
4) Tema, yaitu ide pokok cerita atau gagasan;
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 Genre Teks
Fiksi dalam Kurikulum 2013
Struktur Retorik dan Kaidah Kebahasaan
Genre Teks Fiksi dalam Kurikulum 2013
Tingkat SMP/MTs
Teks yang dibahas adalah jenis teks yang
berada di jenjang SMP/MTs kelas VII, VIII,
IX. Teks tersebut terdiri dari cerita
imajinasi/fantasi, puisi rakyat, fabel, puisi,
drama, cerpen, serta cerita inspirasi.
Cerita fantasi merupakan sebuah karya tulis
yang dibangun menggunakan alur cerita yang
normal, namun memiliki sifat imajinatif dan
khayalan semata. Umumnya unsur unsur dan
struktur cerita fantasi ini seperti setting, alur,
penokohan, konflik, ending dan lain
sebagainya akan dibuat berlebihan dan
terkesan tidak akan pernah terjadi di dunia
nyata. Struktur cerita fantasi umumnya hampir
sama dengan struktur teks narasi yakni terdiri
dari orientasi, konflik, resolusi dan ending.
Puisi rakyat mempunyai nilai-nilai yang
berkembang di dalam kehidupan masyarakat.
Termasuk juga dari puisi rakyat yaitu puisi
lama yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan
warisan leluhur bangsa Indonesia. Di dalam
dunia kesastraan mempunyai warisan turun-
temurun yang berupa tentang cerita rakyat atau
puisi rakyat yang tidak diketahui siapa
pengarangnya karena cerita atau puisi tersebut
sudah ada sejak dulu kala. Karena puisi lama
hasil turun temurun dan tidak diketahui siapa
pengarangnya, biasanya puisi lama
disampaikan dengan cara mulut ke mulut.
Fabel adalah cerita yang menggambarkan
kehidupan hewan yang memiliki perilaku
layaknya manusia (Rubin, 1993). Cerita
tersebut tidak mungkin kisah nyata. Fabel
adalah cerita fiksi, maksudnya khayalan
belaka (fantasi). Kadang fabel memasukkan
karakter minoritas berupa manusia. Cerita
fabel juga sering disebut cerita moral karena
pesan yang berkaitan dengan moral. Teks fabel
ini memiliki struktur pembangun orientasi,
komplikasi, resolusi dan koda.
Unsur kebahasaan teks fabel adalah kata
kerja, kata kerja aktif transitif, kata kerja aktif
intransitif, penggunaan kata sandang si dan
sang, penggunaan keterangan tempat dan
waktu, penggunaan konjungsi,
Puisi Pada umumnya memiliki unsur-unsur
yang dapat dibagi berdasarkan strukturnya
menjadi dua jenis yakni struktur fisik dan
struktur batin.
Drama perlu dipahami terlebih dahulu
struktur yang membangun naskah drama.
Secara umum, struktur drama meliput: 1)
prolog (pengenalan, tokoh, latar, latar
belakang cerita); 2) Dialog (orientasi,
konflikasi, resolusi); dan 3) Epilog (penutup,
intisari, dan cerita).
Cerpen terdiri atas bagian-bagian abstrak,
orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, koda.
Beberapa unsur kebahasaan teks cerpen ragam
bahasa sehari-hari, kosakata, majas atau gaya
bahasa, dan kalimat deskriptif.
Cerita inspirasi teks yang berisi cerita fiksi
maupun pengalaman yang benar-benar terjadi
yang mampu menggugah inspirasi dan
semangat seseorang yang membacanya.
Struktur teks cerita inspiratif tidak jauh
berbeda dengan struktur teks narasi lainnya
yakni terdiri dari orientasi, rangkaian
peristiwa, komplikasi, resolusi, dan koda.
Struktur Retorik dan Kaidah Kebahasaan
Genre Teks Fiksi dalam Kurikulum 2013
Tingkat SMA/MA/SMK
Pembahasan mengenai genre teks fiksi pada
jenjang SMA/MA/SMK difokuskan pada
jenis-jenis genre fiksi seperti yang sudah
dikemukakan pada bagian awal Kegiatan
Belajar ini. Genre fiksi pada jenjang ini antara
lain: anekdot, hikayat, puisi, cerpen, drama,
dan novel.
Teks anekdot merupakan salah satu jenis teks
yang dipakai untuk membuat teks cerita dari
pengalaman seseorang, dimana teks tersebut
berisikan cerita singkat dan juga menghibur.
Selain berisi cerita yang menghibur, terdapat
juga cerita peristiwa-peristiwa menarik,
ataupun ungkapan tentang kebenaran.
Struktur teks sangat penting sekali dalam
penyusunan teks, seperti halnya menyusun
teks anekdot maka harus diketahui terlebih
dahulu struktur teksnya. 52 Struktur teks
anekdot berbeda dengan teks eksposisi
ataupun jenis teks lainnya, struktur teks
anekdot yaitu abstraksi, orientasi, even, krisis,
reaksi, dan koda.
Kata hikayat berasal dari kata kerja bahasa
Arab yang artinya "memberitahu" dan
"menceritakan". Hikayat menyampaikan kisah
manusia (legendaris) dan seringkali juga
tentang hewan yang bersifat layaknya
manusia, seperti kemampuan untuk berbicara.
Hikayat jarang digambarkan sebagai laporan
yang bersifat sejarah (Mcglynn 1999:76).
Struktur hikayat terdiri dari empat unsur yaitu
tema, penokohan, latar, dan sudut pandang.
Novel menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI, 2017), diartikan sebagai
‘karangan prosa yang panjang, mengandung
rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan
orang di sekelilingnya dengan menonjolkan
watak dan sifat setiap pelaku’. Novel juga bisa
didefinisikan sebagai sebuah karya fiksi prosa
yang yang tertulis dan naratif.
Struktur teks adalah bagian-bagian terpisah
yang menyusun sebuah teks hingga menjadi
sebuah teks yang utuh. Adapun struktur teks
pada teks novel meliputi abstrak, orientasi,
komplikasi, evaluasi, resolusi dan koda.
Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam
teks novel adalah 1) Berusaha menghidupkan
perasaan atau menggugah emosi pembacanya;
2) Biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan
ilmiah populer; 3) Dipengaruhi oleh
subjektivitas pengarangnya; 4) Bahasa
bermakna denotatif juga konotatif, asosiatif,
ekspresif, sugestif, dan plastis.
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 Genre Teks
Nonfiksi Kurikulum 2013
Struktur Retorik dan Kaidah Kebahasaan
Genre Teks Nonfiksi dalam Kurikulum
2013 Tingkat SMP/MTs
Teks yang dibahas adalah jenis teks yang
berada di jenjang SMP/MTs kelas VII, VIII,
IX. Teks tersebut terdiri dari teks deskripsi,
prosedur, laporan hasil observasi, berita,
eksposisi, eksplanasi, dan pidato persuasif.
Salah satu keterampilan pertama yang muncul
oleh pengguna bahasa adalah menggambarkan
atau mendeskripsikan sesuatu. Keterampilan
ini paling banyak digunakan di semua di area
pembelajaran. Deskripsi memungkinkan
pengkategorian atau klasifikasi berbagai
pengalaman, pengamatan, dan interaksi yang
hampir tak terbatas (Knapp & Watkins, 2005:
97). Genre teks deskripsi kemudian banyak
diartikan sebagai tulisan dimana gagasan
utamanya itu disampaikan dengan cara
menggambarkan dengan secara jelas objek,
tempat, atau peristiwa yang sedang menjadi
topik atau tema kepada pembaca sehingga si
pembaca seolah-olah merasakan langsung apa
yang sedang diungkapkan di dalam teks
tersebut.
Ada empat (4) struktur yang menyusun teks
deskripsi agar menjadi satu keutuhan, yakni
Identifikasi, Klasifikasi, Deskripsi bagian dan
Penutup.
Kaidah Kebahasaan Teks Deskripsi 1)
Menggunakan kata benda sesuai dengan topik
yang dideskripsikan; 2) Menggunakan frasa
yang mengandung kata benda; 3) Mengandung
kata sifat yang menggambarkan sesuatu; 4)
Mengandung kata kerja transitif untuk dapat
memberikan informasi subjek; 5) Mengandung
kata kerja (perasaan, pendapat) dengan tujuan
ialah mengungkapkan sebuah pandangan
pribadi si penulis mengenai/tentang sebuah
subjek; 6) Mengandung kata keterangan untuk
memberikan sebuah informasi tambahan
mengenai suatu objek; 7) Mengandung bahasa
kiasan merupakan sebuah perumpamaan atau
metafora.
teks prosedur diartikan sebagai teks yang
berisi cara, tujuan untuk membuat atau
melakukan sesuatu hal dengan langkah demi
langkah yang tepat secara berurutan sehingga
menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan.
Teks prosedur terdiri dari 3 bagian utama,
yakni: 1) tujuan, 2) material, dan 3) langkah-
langkah. pada teks prosedur juga mempunyai
kaidah kebahasaan 1) Konjungsi temporal, 2)
Kata kerja imperatif, 3) Verba material dan
tingkah laku.
Teks Laporan Hasil Observasi merupakan
teks yang memberikan informasi secara umum
tentang sesuatu berdasarkan fakta dari hasil
pengamatan secara langsung.
Adapun struktur lainnya dari teks laporan ini
adalah definisi umum, definisi bagian, definisi
manfaat, dan penutup. Kaidah kebahasaan teks
laporan hasil observasi antara lain 1)
Menggunakan frasa nomina; 2) Menggunakan
verba relasional; 3) Menggunakan verba aktif
alam; 4) Menggunakan kata penghubung; 5)
Menggunakan paragraf dengan kalimat utama;
6) Menggunakan kata keilmuwan atau teknis.
Teks Berita adalah teks yang berisi tentang
segala peristiwa yang terjadi di dunia yang
disebarkan melalui berbagai media seperti
radio, televisi, internet, situs web, maupun
media yang lainnya. Teks ini mempunyai 3
struktur yang saling berhubungan yang
kemudian membentuk teks ini secara utuh
yaitu orientasi berita, peristiwa, dan sumber
berita. Beberapa kaidah kebahasaan teks
berita, antara lain 1) Verba transitif; 2) Verba
pewarta; 3) Adverbia atau kata keterangan; 4)
Konjungsi temporal; 5) Kalimat langsung; 6)
Kalimat tidak langsung; 7) Bahasa yang
digunakan.
Teks eksposisi yaitu sebuah paragraf atau
karangan yang di dalamnya mengandung
sejumlah informasi yang isi dari paragraf
tersebut ditulis dengan tujuan untuk
menjabarkan atau memberikan pengertian
dengan gaya penulisan yang singkat, padat dan
akurat. Struktur teks eksposisi yang harus
diajarkan kepada siswa adalah judul,
pernyataan umum, argumentasi atau alasan,
dan penegasan ulang pendapat (simpulan).
Unsur atau kaidah kebahasaan teks eksposisi
adalah 1) Pronomina; 2) Nomina dan Verba;
3) Konjungsi.
Struktur teks eksplanasi terdiri atas bagian-
bagian yang memperlihatkan pernyataan
umum (pembukaan), deretan penjelasan (isi),
dan interpretasi/penutup. Teks eksplanasi pada
umumnya memiliki kaidah kebahasaan 1)
Fokus pada hal umum “generic” bukan
partisipan manusia (nonhuman participants)
misalnya gempa bumi, banjir, hujan dan
udara.; 2) Dimungkinkan menggunakan istilah
ilmiah; 3) Lebih banyak menggunakan kata
kerja material dan relasional “kata kerja aktif”;
4) Menggunakan konjungsi waktu dan kausal
misalnya jika, bila, sehingga, sebelum,
pertama dan kemudian; 5) Menggunakan
kalimat pasif; 6) Eksplanasi ditulis untuk
membuat justifikasi bahwa sesuatu yang
diterangkan secara kausal itu benar.
Pidato persuasif adalah pidato yang berisi
ajakan kepada masyarakat untuk melakukan
sesuatu. pidato persuasif bertujuan untuk
mengajak atau membujuk pendengar agar
terpengaruh terhadap isi pidato yang
disampaikan. prinsip penyusunan pidato
persuasif yaitu Membujuk demi konsistensi,
Membujuk demi perubahan-perubahan kecil,
Membujuk demi keuntungan, Membujuk demi
pemenuhan kebutuhan, Membujuk
berdasarkan pendekatan-pendekatan gradual
(sedikit demi sedikit) Efektivitas pidato
persuasif bergantung pada penerimaan
khalayak terhadap perubahan yang disarankan
pembicara.
Struktur teks pidato persuasif terdiri atas salam
pembuka, pendahuluan, isi, dan penutup
(Mahsun, 2013). Sementara itu, kaidah
kebahasaan yang diterapkan dalam pidato
persuasif antara lain (1) bersifat mengajak dan
memengaruhi, (2) dicirikan dengan adanya
kata-kata persuasi atau bujukan seperti ‘ayo’
dan ‘mari’, (3) mengandungi kata-kata dengan
dan imbuhan -lah, (4) diakhiri dengan tanda
baca seru (!), (5) memuat sejumlah pendapat
dan fakta, (6) banyak menggunakan kata ganti
kita, sebagai tanda bahwa tidak ada pembeda
antara penulis dengan pembaca sehingga daya
bujuk terhadap pembaca akan lebih kuat, (7)
menggunakan kalimat yang bersifat
membangun, (8) menggunakan intonasi yang
baik, yang dapat mempersuasi pendengar (bila
dilisankan), dan (9) lafal harus jelas (bila
dilisankan).
Struktur Retorik dan Kaidah Kebahasaan
Genre Teks Nonfiksi dalam Kurikulum 2013
Tingkat SMA/MA/SMK
Teks negosiasi adalah suatu bentuk interaksi
sosial yang berfungsi untuk mencapai
penyelesaian bersama di antara pihak-pihak
yang mempunyai perbedaan kepentingan. Hal
yang membedakan teks negosiasi dengan teks
lainnya yakni teks ini memiliki ciri-ciri yaitu:
a) menghasilkan kesepakatan (yang saling
menguntungkan); b) mengarah pada tujuan
praktis; c) memprioritaskan kepentingan
bersama; d) merupakan sarana untuk mencari
penyelesaian. Secara umum, struktur retorik
teks negosiasi terdiri dari empat yaitu
Negosiator, Pembuka, Isi, Penutup.
Kaidah kebahasaan yang biasanya digunakan
dalam teks negosiasi antara lain: a)
menggunakan bahasa yang santun; b) terdapat
ungkapan persuasif (bahasa untuk membujuk),
c) berisi pasangan tuturan; d) Kesepakatan
yang dihasilkan tidak merugikan dua belah
pihak; e) bersifat memerintah dan memenuhi
perintah; f) tidak berargumen dalam 1 waktu;
g) didasari argumen yang kuat disertai fakta;
h) minta alasan dari pihak mitra negosiasi
(mengapa ya/tidak); i) tidak menyela argumen.
Resensi Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2017), resensi ini diartikan ialah
sebagai pertimbangan atau juga pembicaraan
dan ulasan mengenai [Link] teks
resensi ini yang meliputi beberapa bagian
yaitu identitas, orientasi, sinopsis, analisis,
evaluasi.
Teks Editorial merupakan pernyataan
mengenai fakta dan opini secara singkat, logis,
menarik ditinjau dari segi penulisan dan
bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau
memberikan interpretasi terhadap suatu berita
yang menonjol sebegitu rupa sehingga bagi
kebanyakan pembaca surat kabar akan
menyimak pentingnya arti berita yang
ditajukkan tadi (Spencer dalam Assegaff:
1991). Ada tiga struktur utama yang menyusun
teks editorial/opini, yaitu Pernyataan pendapat,
Argumentasi dan Pernyataan/Penegasan ulang
pendapat. Kaidah kebahasaan yang digunakan
dalam tek editorial yaitu 1) Adverbia; 2)
Konjungsi; 3) Verba material; 4) Verba
rasional; 5) Verba mental.
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 Penyusunan
Perangkat Pembelajaran Teks
Berbasis Genre
Pemetaan Kompetensi Dasar dan Penetuan
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Komponen terpenting implementasi kurikulum
adalah pelaksanaan proses pembelajaran yang
diselenggarakan di dalam dan/atau luar kelas
untuk membantu peserta didik mencapai
kompetensi sikap, pengetahuan dan
keterampilan. Bagian pertama dari penyusunan
perangkat adalah memetakan kompetensi
dasar dan penentuan indikator pencapaian
kompetensi. Memetakan KD merupakan
langkah menentukan kelompok KD, dalam
mapel bahasa Indonesia berdasarkan pada teks
pada setiap jenjangnya.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan
penilaian, terdapat dua rumusan indikator,
yaitu: (1) indikator pencapaian kompetensi
yang dikenal sebagai indikator; (2) indikator
penilaian yang digunakan dalam menyusun
kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal
sebagai indikator soal. Kata kerja operasional
berkaitan dengan proses kognitif C1, C2, C3,
C4, C5, dan C6. Seperti tampak di gambar 4.
Level koginitif C1-C3 masuk dalam kategori
LOTS, sedangkan C4-C6 masuk dalam
kategori HOTS.
Penyusunan Silabus Pembelajaran Teks
Berbasis Genre
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada
suatu mata pelajaran yang mencakup
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar
(Permen No 59 tahun 2014 tentang Kurikulum
2013). Silabus ini merupakan acuan bagi guru
dalam melakukan pembelajaran Bahasa
Indonesia agar siswa mampu mengembangkan
kepercayaan diri sebagai komunikator, pemikir
(termasuk pemikir imajinatif), dan menjadi
warga negara Indonesia yang melek literasi
dan informasi. Silabus ini bersifat fleksibel.
Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia secara
leluasa dapat membina dan mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap
berkomunikasi yang diperlukan siswa dalam
menempuh pendidikan, hidup di lingkungan
sosial, dan berkecakapan di dunia kerja.
Komponen dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
Format RPP mengikuti Permendikbud No. 22
Tahun 2016 tentang Standar Proses dan
Permendikbud No. 24 Tahun 2016 tentang
Kompetensi Inti/Kompetensi Dasar.
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan
dengan jelas, berdasarkan KD dan IPK yang
akan dicapai. Tujuan pembelajaran ini
menunjukkan kecakapan yang harus dimiliki
oleh siswa. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran diusahakan harus memuat empat
hal yang biasa dikenal dengan singkatan
ABCD.
Materi pembelajaran harus dirumuskan dalam
materi faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif. Materi pembelajaran dalam RPP
harus memuat fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang relevan, dan ditulis dalam
bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator ketercapaian kompetensi. Materi ini
relevan dengan dimensi pengetahuan yang
dirumuskan oleh Anderson dan Krathwoll
(Kemdikbud, 2018:6-8).
Pendekatan, Model, dan Metode
Pembelajaran pendekatan pembelajaran
diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang (perspektif) terhadap proses
pembelajaran (Sanjaya, 2007: 127). Ada
banyak jenis model pembelajaran yang dikenal
antara lain model pembelajaran saintifik,
jigsaw, cooperative learning, mind mapping,
dll. Metode merupakan langkah operasional
dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam
mencapai tujuan belajar sehingga
penggunaannya harus disesuaikan dengan
jenis strategi yang digunakan.
Rudy Bretz yang dikutip Sadiman, dkk (1996:
20), mengidentifikasi jenis jenis media
berdasarkan tiga unsur pokok yaitu: 109 suara,
visual dan gerak. Berdasarkan tiga unsur
tersebut, Bretz mengklasifikasikan media ke
dalam delapan kelompok, yaitu: 1) media
audio, 2) media cetak, 3) media visual diam, 4)
media visual gerak, 5) media audio semi
gerak, 6) media semi gerak, 7) media audio
visual diam, 8) media audio visual gerak.
Sumber belajar ini dapat berupa buku, media
cetak dan elektronik, alam sekitar, orang,
lingkungan alam, atau sumber belajar lain
yang relevan untuk mencapai kompetensi.
Penilaian merupakan sebuah proses yang
meliput tahapan: (1) perencanaan, (2)
pengumpulan data, (3) pengolahan data, (4)
penafsiran, dan (5) penggunaan hasil
penilaian. Secara umum teknik penilaian
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
teknik tes dan teknik nontes.
2 Daftar materi yang sulit 1. ….
dipahami di modul ini 2. …
3 Daftar materi yang sering 1. Pendekatan, model dan metode
mengalami miskonsepsi pembelajaran