0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan16 halaman

Suction

Buku Panduan Skill Laboratorium ini disusun untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari keterampilan suction dalam pemeriksaan fisik pernapasan. Buku ini mencakup tujuan instruksional, dasar teori, prosedur, serta alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan tindakan suction dengan aman dan efektif. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini di masa mendatang.

Diunggah oleh

sintiyaasafitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan16 halaman

Suction

Buku Panduan Skill Laboratorium ini disusun untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari keterampilan suction dalam pemeriksaan fisik pernapasan. Buku ini mencakup tujuan instruksional, dasar teori, prosedur, serta alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan tindakan suction dengan aman dan efektif. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini di masa mendatang.

Diunggah oleh

sintiyaasafitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUKU PANDUAN

SKILL LABORATORIUM

SUCTION

DISUSUN OLEH
AAN DWI SENTANA [Link].,[Link]

POLTEKKES KEMENKES MATARAM


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI SARJANA
TERAPAN KEPERAWATAN MATARAM
2025
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
karena buku ini telah selesai disusun. BUKU PANDUAN SKILL LABORATORIUM
KETERAMPILAN SUCTION. Buku pedoman ini disusun agar dapat membantu para
mahasiswa dalam mempelajari keterampilan melakukan pemeriksaan fisik pernapasan.

Penulis pun menyadari jika didalam penyusunan buku ini mempunyai kekurangan,
namun penulis meyakini sepenuhnya bahwa sekecil apapun buku ini tetap akan
memberikan sebuah manfaat bagi pembaca.

Akhir kata untuk penyempurnaan buku ini, maka kritik dan saran dari pembaca
sangatlah berguna untuk penulis kedepannya.

Mataram, 31 Juli 2025

Penulis
KETERAMPILAN SUCTION:

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti pembelajaran ini maka mahasiswa mampu melakukan tindakan
suction.

Tujuan Instruksional Khusus


1. Mampu menyebutkan alat dan bahan persiapan tindakan suction.
2. Mampu melakukan tindakan suction.

Metode Pembelajaran
1. Demonstrasi sesuai daftar panduan belajar.
2. Ceramah.
3. Diskusi.
4. Partisipasi aktif dalam skill lab.
5. Evaluasi melalui check list.
DASAR TEORI :

Definisi
Suction adalah suatu tindakan untuk membersihkan jalan nafas dengan memakai kateter
penghisap melalui nasotrakeal tube (NTT), orotraceal tube (OTT), traceostomy tube (TT) pada
saluran pernafasa bagian atas. Bertujuan untuk membebaskan jalan nafas, mengurangi retensi
sputum, merangsang batuk, mencegah terjadinya infeksi paru. Prosedur ini
dikontraindikasikan pada klien yang mengalami kelainan yang dapat menimbulkan spasme
laring terutama sebagai akibat penghisapan melalui trakea gangguan perdarahan, edema
laring, varises esophagus, perdarahan gaster, infark miokard (Elly, 2000).

Tujuan
Mengidentifikasi penerapan suction metode tertutup pada pasien dengan endotracheal tube
dan ventilator terhadap saturasi oksigen, tekanan darah, denyut jantung.

Prinsip
Dalam melakukan tindakan suction, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan
diantaranya:
1. Aseptik
Segala upaya yang dilakukan untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam
tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi. Hal-hal yang harus
diperhatikan meliputi alat steril dan cara steril (standar precaution)
2. Asianotik
Tindakan yang tidak boleh menimbulkan sianosis dan hal yang harus diperhatikan dalam
tindakan adalah tindakan dilakukan dalam waktu <15 detik, kateter suction tidak
menutup total ETT, Oksigenasi 100% sebelum dan sesudah tindakan.
3. Afektif
Tindakan yang dilandaskan gaya atau makna yang menunjukkan perasaan dan emosi.
4. Atraumatik
Tindakan yang mecegah terjadinya trauma. Hal yang harus diperhatikan adalah:
a. Kateter masuk tidak kasar
b. Kateter masuk sampai karina dan ditarik 1-2 cm
c. Dikeluarkan secara memutar
d. Tekanan secara memutar
e. Tekanan suction:
- Bayi: 60 – 80 mmHg
- Anak: 80 – 100 mmHg
- Dewasa: 100 – 120 mmHg

Indikasi
Indikası dilakukannya suction meliputi adanya batuk, sekret di jalan napas, distres
pernapasan, auskultası terdengar ronchi, peningkatan tekanan. puncak pernapasan pada
ventilator dan penurunan saturası oksigen. Untuk klien yang menggunakan ventilator
mekanis, jika pola gıgı gergajı (sawtooth pattern) yang dapat dilihat pada monitor dan atau
terdapat suara pernapasan atas trakea hasıl berarti menunjukkan bahwa adanya sekresı
tertahan. Adanya peningkatan tekanan puncak inspirası selama volume control ventilası
mekanık atau penurunan tidal volume selama ventilasi pressure-control, penurunan saturası
oksigen dan atau nilai analısa gas darah, sekresı yang kelihatan pada jalan napas,
ketidakmampuan klien untuk menghasilkan batuk spontan yang efektil, distress pemapasan
akut, aspirası lambung atau sekresı jalan napas bagian atas.

Apabila tindakan suction tidak dilakukan pada klien dengan gangguan bersihan jalan nafas
maka sekret tersebut akan mengalami kekurangan suplai 02 (hipoksemia), dan apabila suplai
02 tidak terpenuhi dalam waktu 4 menit maka dapat menyebabkan kerusakan otak yang
permanen.

Dalam melakukan suction kepada pasien harus di pastikan bahwa pasien tersebut memang
diindikasikan untuk dilakukan tindakan suction. Indikasi pasien harus dilakukan tindakan
suction adalah:
1. Pasien yang pita suaranya tidak dapat tertutup karena kelemahan otot epiglotis.
2. Pasien yang koma dengan produksi sputum meningkat.
3. Pasien yang tidak bisa batuk karena kelumpuhan darı otot pernafasan.
4. Bayı atau anak dibawah umur 2 tahun dengan produksi sputum meningkat.
5. Pasien yang sekretnya sangat banyak dan kental, dimana dia sendırı sulit untuk
mengeluarkannya.

Kontraindikasi
Kontraindikası dilakukannya suction adalah pada klien dengan peningkatan tekanan
intrakranial karena akan mempengaruhi meningkatkan tekanan intrakranial, tekanan darah,
dan denyut jantung secara signifikan.
Adapun kontradiksi yang terjadi apabila dilakukan suction adalah:
1. Hipoksia.
2. Trauma jaringan.
3. Meningkatkan resiko infeksi.
4. Stimulasi vagal (menurunkan heart rate) dan bronkospasme.
ALAT DAN BAHAN PEMBELAJARAN :

Persiapan:
1. Kateter pengisap steril disertai penutup No 12-16 Fr-dewasa No 8-10 Franak-anak
2. Air/NaCl 0,9% steril dalam wadah
3. Sarung tangan steril
4. Sarung tangan bersih
5. Masker
6. Pelindung wajah dan gaun bila perlu
7. Nampan ginjal
8. Swab alkohol
9. Stetoskop
Sebuah nampan steril berisi:
1. Duk steril
2. Mangkuk
3. Potongan-potngan kasa
Peralatan Tambahan:
1. Ambu bag (BVM)
2. Kantung resusitasi dengan reservior yang terhubung pada sumber oksigen 100%
3. Alat pengisap mesin pengisap portebel atau unit pengisap yang tergantung pada dinding.
Prosedur:
Tindakan Keperawatan Rasionalisasi
1. Nilai kedalaman dan frekuensi Memastikan kebutuhan untuk pengisapan.
pernapasan, auskultasi bunyi napas.
Pantau frekuensi denyut jantung bila
pasien berada dalam pemantauan
jantung yang kontinyu
2. Jelaskan prosedurnya dan apa yang Penjelasan yang lengkap akan mengurangi
akan dirasakan pasien selama prosedur kecemasan dan mendorong kerjasama dari
kepada pasien (bila sadar)/ keluarganya pasien.
3. Bantu pasien berada dalam posisi semi- Posisi duduk membantu pasien untuk
Fowler atau Fowler bila sadar. Pasien dapat batuk dan bernafas lebih mudah.
tidak sadar harus diposisikan miring Posisi ini juga memanfaatkan gaya
menghadap anda. gravitasi untuk mempermudah pemasukan
kateter. Posisi miring mencegah
penyumbatan saluran napas dan
merangsang pengeluaran sekret.
4. Kumpulkan peralatan, periksa fungsi Pastikan semua alat berfungsi dengan baik
peralatan pengisap dan kantung sebelum melakukan teknik steril, untuk
resusitasi manual tersambung pada mencegah terjadinya gangguan,
sumber oksigen 100% pemakaian oksigen akan membantu
mencegah hipoksia.
5. Pakai masker wajah dan cuci tangan Mencegah infeksi
secara menyeluruh.
6. Buka nampan steril.
7. Buka set kateter steril dan letakkan di
atas nampan steril. Isi mangkuk dengan
air steril.
8. Bila pasien sedang diventilasi secara
mekanik, pastikan bahwa pelepasan
sambungan ventilitator dapat
dilakukanan dengan satu tangan.
9. Pakai sarung tangan steril. Ambil duk Tangan yang dibuat steril harus tetap tidak
dan letakkan di atas dada pasien. terkontaminasi sehingga mikro-organisme
Letakkan swab alkohol di sudut duk tidak masuk ke dalam paru-paru. Tangan
steril. Pakai satu tangan sebagai yang lain yang memakai sarung tangan
bersih untuk melepas sambungan, melindung perawat dari infeksi.
memompa, dan mengendalikan
pengisapan. Biasanya tangan yang
dominan dijaga tetap steril dan akan
dipakai untuk memutar kateter
pengisap
10. Sambungan kateter pengisap ke mesin
pengisap.
11. Dengan tangan yang bersih, lepaskan Mencegah kontaminati sambungan.
sambungan ventilator, alat CPAP atau
sumber oksigen lainnya dari pasien
(letakkan sambungan ventilator di atas
duk steril dan lipat salah satu sudut duk
untuk menutupi sambungan agar
jangan sambungan agar jangan sampai
ada cairan yang menciprat area
tersebut.
12. Ventilasi dan oksigenasikan pasien Ventilasi sebelum pengisapan membantu
menggunakan kantung resusitasi, cegah hipoksia. Usaha untuk
tekan secara kuat dan setotal mungkin, memventilitasi melawan usaha bernafas
kurang lebih 4-5 kali menggunakan pasien sendiri dapat menimbulkan tekanan
tangan bersih pada pasien yang saluran pernafasan pasien sendiri dapet
bernafas spontan, koordinasikan menimbulkan tekanan saluran pernafasan
vintilasi manual dengan usaha yang tinggi, yang merupakan risiko untuk
inspirasi pasien sendiri (Bila terjadinya barotrauma.
memungkinkan, minta bantuan
perawat atau terafis pernafasan untuk
memompa).
13. Lumasi kateter dengan Pelumasan memudahkan pemasukan.
mencelupkannya dalam wadah NaCl Kateter silikon tidak memerlukan
0,9% / air steril (kecuali kateter pelumasan.
silikon).
14. Nyalakan mesin pengisap
menggunakan tangan yang bersih.
15. Cubit kateter bila tidak ada port “Y” Mengisap ketika masukkan kateter dapat
dan masukan kateter sekitar 12,5 cm menimbulkan trauma pada mukosa dan
pada orang dewasa, lebih pendek pada mengeluarkan oksigen dari saluran
anak-anak atau sampai pasien batuk pernapasan. Tahanan biasanya berarti
atau sampai anda merasakan adanya ujung kateter telatar telah mencapai karina.
tahanan Bila menemui tahanan, kateter harus
ditarik 1-2 cm sebelum melakukan
pengisapan.
16. Lakukan pengisapan dengan dengan Memutar kateter ketika ditarik membantu
melepaskan ibu jari dari port Y atau membersihkan permukaan saluran
dengan melepaskan jepitan tangan pernafasan dan mencegah terjadinya
pada kateter. Rotasikan kateter secara cedera pada mukosa trakea.
perlahan menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk dari tangan yang steril ketika
kateter ditarik
17. Lakukan pengisapan dengan waktu Mengisap lebih lama dari 10 detik dapat
maksimal hanya 10 detik. Hiper menimbulkan hipoksia hiverventilasi akan
ventilasi 3-5 kali di antara pengisapan menyebabkan reoksigenasi paru-paru.
atau dorong pasien untuk batuk daan
bernafas dalam di antara pengisapan
yang satu dengan yang lainya.
18. Bilas kateter di antara pengisapan Membilas akan membersihkan kateter dan
dengan memasukkan ujung kateter di melumasinya untuk pemasukan yang
dalam cangkir berisi air steril dan berikutnya
kemudian lakukan pengisapan lagi
19. Ulangi pengisapan sesuai kebutuhan Memberikan interval waktu dan
dan sesuai toleransi pasien terhadap memassang Kembali pemberian oksigen
prosedur. Biarkan pasien beristirahat membantu mengkompensasi hipoksia
paling tidak selama satu menit diantara akibat pengisapan sebelumnya. Iritasi
pengisapan dan pasang kembali akibat pengisapan yang terlalu banyak
pemberian oksigen bila perlu. Jangan
melakukan lebh dari empat kali isapan akan menimbulkan peningkatan jumlah
pada setiap episode pengisapan. sekret.
20. Ketika saluran napas sudah bersih,
pasang kembali ventilator atau CPAP
atau sumber pemberian oksigen
lainnya.
21. Isap sekret oral dari orofaring. Mengeluarkan sekret oral yang
menumpuk.
22. Ketika prosedur sudah selesai Mencegah transmisi mikro-organisme.
dilakukan, matikan mesin pengisap
dan lepaskan kateter dari selang
pengisap. Lepas sarung tangan secara
terbalik dan buang sarung tangan serta
kateter pada tempat yang seharusnya.
23. Simpan kembali alat-alat, bersihkan
kantung ambu dan masker dengan
alkohol, tutup dengan sarung tangan
steril atau kasa steril 4x4 dan cuci
tangan.
24. Posisikan pasien secara nyaman. Auskultasi membantu memastikan apakah
Auskultasi area paru-paru. saluran pernapasan sudah bersih dari
sekert atau belum.
25. Catat waktu pengisapan dan ciri serta Memberikan dokumentasi yang akurat dan
jumlah sekret. Perhatikan pula pola memeberikan perawatan yang
pernapasan pasien sebelum dan komperehensif.
sesudah pengisapan.
26. Lakukan prosedur hygiene oral bila Sekeret pernapasan yang menumpuk akan
dibutuhkan. mengiritasi membran mukosa daan
menimbulkan rasa tidak nyaman pada
pasien.
PENUNTUN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN TINDAKAN SUCTION

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan : langkah-langkah tidak dilakukan dengan benar atau
tidak sesuai dengan urutannya
2. Mampu : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan
urutannya tapi tidak efisien
3. Mahir : langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan
urutannya dan efisien

N LANGKAH NILAI
O KLINIK
Tahap pre interaksi : 0 1 2

[Link] tangan
[Link] sarung tangan bersih
[Link] alat dan bahan
[Link] kembali data klien

Tahap orientasi :
1. Perkenalkan diri kepada pasien
2. Tanyakan identitas pasien
3. Berikan penjelasan tujuan dan prosedur sebelum melakukan tindakan
pada pasien.

Tahap kerja :
1. Nilai kedalaman dan frekuensi pernapasan, auskultasi bunyi napas.
Pantau frekuensi denyut jantung bila pasien berada dalam pemantauan
jantung yang kontinyu
2. Jelaskan prosedurnya dan apa yang akan dirasakan pasien selama
prosedur kepada pasien (bila sadar)/ keluarganya
3. Bantu pasien berada dalam posisi semi-Fowler atau Fowler bila sadar.
Pasien tidak sadar harus diposisikan miring menghadap anda.
4. Kumpulkan peralatan, periksa fungsi peralatan pengisap dan kantung
resusitasi manual tersambung pada sumber oksigen
5. Pakai masker wajah dan cuci tangan secara menyeluruh.
6. Buka nampan steril.
7. Buka set kateter steril dan letakkan di atas nampan steril. Isi mangkuk
dengan air steril.
8. Bila pasien sedang diventilasi secara mekanik, pastikan bahwa
pelepasan sambungan ventilitator dapat dilakukanan dengan satu
tangan.
9. Pakai sarung tangan steril. Ambil duk dan letakkan di atas dada pasien.
Letakkan swab alkohol di sudut duk steril. Pakai satu tangan sebagai
yang bersih untuk melepas sambungan, memompa, dan mengendalikan
pengisapan. Biasanya tangan yang dominan dijaga tetap steril dan akan
dipakai untuk memutar kateter pengisap
10. Sambungan kateter pengisap ke mesin pengisap.
11. Dengan tangan yang bersih, lepaskan sambungan ventilator, alat CPAP
atau sumber oksigen lainnya dari pasien (letakkan sambungan ventilator
di atas duk steril dan lipat salah satu sudut duk untuk menutupi
sambungan agar jangan sambungan agar jangan sampai ada cairan yang
menciprat area tersebut.
12. Ventilasi dan oksigenasikan pasien menggunakan kantung resusitasi,
tekan secara kuat dan setotal mungkin, kurang lebih 4-5 kali
menggunakan tangan bersih pada pasien yang bernafas spontan,
koordinasikan vintilasi manual dengan usaha inspirasi pasien sendiri
(Bila memungkinkan, minta bantuan perawat atau terafis pernafasan
untuk memompa).
13. Lumasi kateter dengan mencelupkannya dalam wadah NaCl 0,9% / air
steril (kecuali kateter silikon).
14. Nyalakan mesin pengisap menggunakan tangan yang bersih.
15. Cubit kateter bila tidak ada port “Y” dan masukan kateter sekitar 12,5
cm pada orang dewasa, lebih pendek pada anak-anak atau sampai pasien
batuk atau sampai anda merasakan adanya tahanan
16. Lakukan pengisapan dengan dengan melepaskan ibu jari dari port Y
atau dengan melepaskan jepitan tangan pada kateter. Rotasikan kateter
secara perlahan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan yang
steril ketika kateter ditarik
17. Lakukan pengisapan dengan waktu maksimal hanya 10 detik. Hiper
ventilasi 3-5 kali di antara pengisapan atau dorong pasien untuk batuk
daan bernafas dalam di antara pengisapan yang satu dengan yang lainya.
18. Bilas kateter di antara pengisapan dengan memasukkan ujung kateter di
dalam cangkir berisi air steril dan kemudian lakukan pengisapan lagi
19. Ulangi pengisapan sesuai kebutuhan dan sesuai toleransi pasien
terhadap prosedur. Biarkan pasien beristirahat paling tidak selama satu
menit diantara pengisapan dan pasang kembali pemberian oksigen bila
perlu. Jangan melakukan lebh dari empat kali isapan pada setiap episode
pengisapan.
20. Ketika saluran napas sudah bersih, pasang kembali ventilator atau
CPAP atau sumber pemberian oksigen lainnya.
21. Isap sekret oral dari orofaring.
22. Ketika prosedur sudah selesai dilakukan, matikan mesin pengisap dan
lepaskan kateter dari selang pengisap. Lepas sarung tangan secara
terbalik dan buang sarung tangan serta kateter pada tempat yang
seharusnya.
23. Simpan kembali alat-alat, bersihkan kantung ambu dan masker dengan
alkohol, tutup dengan sarung tangan steril atau kasa steril 4x4 dan cuci
tangan.
24. Posisikan pasien secara nyaman. Auskultasi area paru-paru.
25. Catat waktu pengisapan dan ciri serta jumlah sekret. Perhatikan pula
pola pernapasan pasien sebelum dan sesudah pengisapan.
26. Lakukan prosedur hygiene oral bila dibutuhkan.
Tahap Terminasi
1. Evaluasi perasaan klien
2. Lakukan kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
3. Cuci tangan

Tahap Dokumentasi
Catat hasil tindakan yang telah dilakukan dalam catatan keperawatan

Keterangan:
0 = Tidak dilakukan sama sekali
1 = Dilakukan tidak sepenuhnya dan dengan bantuan
2 = Dilakukan sepenuhnya tanpa bantuan
Sumber Bacaan:

Ahmed Sayed, Z. (2019). Effect of Open versus Closed Suction System on Cardiorespiratory
Parameters and Suction Duration among Critically Ill Mechanically Ventilated Patients.
Egyptian Journal of Health Care, 10(2), 409–418. [Link]
halaman 307

Dewi, R. S. (2018). Panduan Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah di Rumah Sakit.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Elly, R. (2000). Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Pernapasan. Jakarta: EGC.

HUSADA, S. K. (2015). Perubahan Saturasi Oksigen pada Pasien Kritis yang Dilakukan Tindakan
Suction Endotracheal Tube di ICU RSUD DR. Moewardi Surakarta.

NANDA International. (2021). NANDA Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021–
2023. Thieme Medical Publishers.

Anda mungkin juga menyukai