BUILDING LEARNING COMMITMENT (BLC)
I. DESKRIPSI SINGKAT
Dalam suatu pelatihan terutama pelatihan dalam kelas, bertemu sekelompok
orang yang belum saling mengenal sebelumnya, berasal dari tempat yang
berbeda, dengan latar belakang sosial budaya, pendidikan/ pengetahuan,
pengalaman, serta sikap dan perilaku yang berbeda pula, pada awal
memasuki suatu pelatihan, sering para peserta menunjukkan suasana
kebekuan (freezing), karena belum tentu pelatihan yang diikuti merupakan
pilihan prioritas dalam kehidupannya. Mungkin saja kehadirannya di pelatihan
karena terpaksa, tidak ada pilihan lain, harus menuruti ketentuan/persyaratan.
Agar pelatihan sukses, partisipatif dan berbasis aktifitas peserta, kita harus
memperkenalkan rasa percaya antar peserta. Dalam lingkungan peserta yang
saling percaya, peserta akan lebih disiapkan untuk berani mengambil resiko,
berkontribusi dan lebih menyenangi proses belajar dan membantu kelancaran
proses pembelajaran selanjutnya.
Untuk menciptakan rasa saling percaya ini, kita harus memecahkan kebekuan
dengan proses pencairan (unfreezing) pada awal pelatihan dengan cara saling
mengenal antar peserta dan menciptakan perasaan positif satu sama lain.
Membangun Komitmen Belajar (BLC) adalah salah satu metode atau proses
untuk mencairkan kebekuan tersebut. BLC juga mengajak peserta mampu
mengemukakan harapan-harapan mereka dalam pelatihan ini, serta
merumuskan nilai-nilai dan norma yang kemudian disepakati bersama untuk
dipatuhi selama proses pembelajaran. Jadi inti dari BLC juga adalah
terbangunnya komitmen dari semua peserta untuk berperan serta dalam
mencapai harapan dan tujuan pelatihan, serta mentaati norma yang dibangun
berdasarkan perbauran nilai nilai yang dianut dan disepakati. Proses BLC
adalah proses melalui tahapan dari mulai saling mengenal antar pribadi,
mengidentifikasi dan merumuskan harapan-harapan pelatihan, sampai
terbentuknya norma kelas yang disepakati bersama serta kontrol kolektifnya.
Keberhasilan pelatihan biasanya tergantug pada kematangan pencapaian
BLC, karena pada saat awal inilah peserta akan menilai makna pelatihan
selanjutnya. Keberhasilan pecapaian tujuan BLC sangat tergatung pada
kepiawaian fasilitator dalam “memainkannya”, keterlibatan seluruh peserta
1
akan memermudah pencapaian tujuan BLC.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu berperilaku kondusif
dan sepakat untuk menciptakan iklim pembelajaran yang positif selama
pelatihan berlangsung.
B. Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat:
1. Saling mengenal diantara warga pembelajar pada pelatihan sanitasi
tanggap darurat;
2. Menyiapkan diri untuk belajar bersama secara aktif dalam suasana yang
kondusif;
3. Merumuskan harapan-harapan yang ingin dicapai bersama baik dalam
proses pembelajaran suatu materi maupun hasil yang ingin dicapai di akhir
pelatihan;
4. Merumuskan kesepakatan norma kelas yang harus dianut oleh seluruh
warga peserta selama pelatihan berlangsung; dan
5. Merumuskan kesepakatan bersama tentang kontrol kolektif dalam
pelaksanaan norma kelas selama pelatihan berlangsung.
III. MATERI POKOK DAN SUB MATERI POKOK
1. Perkenalan;
2. Pencairan (ice breaking);
3. Harapan dalam proses pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai;
4. Norma kelas dalam pembelajaran;
5. Kontrol kolektif dalam pelaksanaan norma kelas.
6. Organisasi Kelas
IV. METODE
Presentasi diri;
Curah Pendapat;
Dialogue;
2
Diskusi kelompok; dan
Presentasi kelompok.
V. MEDIA DAN ALAT BANTU
Slide tayangan, PC & Dekstop Projector, Instrumen Exercises.
VI. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
Langkah 1: Pengkondisian dan Perkenalan
1. Memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Mengajak peserta untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
3. Memandu peserta untuk proses perkenalan dengan cara:
Dalam 5 menit pertama setiap peserta diminta berkenalan dengan peserta
lain sebanyak- banyaknya.
Meminta peserta yang berkenalan dengan jumlah peserta terbanyak,
dan dengan jumlah peserta paling sedikit untuk memperkenalkan teman-
temannya.
Meminta peserta yang belum disebut namanya untuk memperkenalkan
diri, sehingga seluruh peserta saling berkenalan.
Catatan:
Jenis game perkenalan ini dapat pula diganti atau ditambahkan dengan jenis
lain sesuai minat dan kemampuan fasilitator.
Langkah 2: Pencairan Suasana (ice breaking)
1. Menyiapkan kursi sejumlah peserta dan disusun melingkar.
2. Meminta semua peserta duduk di kursi dan satu diantaranya duduk di tengah
lingkaran.
3. Peserta yang duduk di tengah lingkaran diminta memberi aba-aba, agar peserta
yang disebut identitasnya pindah duduk, misalnya dengan menyeru:”Semua
peserta berbaju merah pindah” Pada keadaan tersebut akan terjadi pertukaran
tempat duduk dan saling berebut. Hal tersebut menggambarkan suasana
“storming”, atau seperti “badai” yang merupakan tahap awal dari suatu
pembentukan kelompok.
4. Mengulangi lagi, setiap peserta yang duduk di tengah lingkaran untuk
menyerukan identitas yang berbeda, misalnya peserta yang berkaca mata atau
yang berbaju batik dan lain-lain. Lakukan permainan tersebut selama 10 menit.
5. Memandu peserta untuk merefleksikan perasaannya dalam permainan tersebut
serta pengalaman belajar apa yang diperolehnya
6. Membuat rangkuman bersama-sama peserta, agar terjadi proses yang dinamis.
3
Catatan: Jenis game pecairan ini dapat pula diganti atau ditambahkan
dengan jenis lain sesuai minat dan kemampuan fasilitator.
Langkah 3 Kesepakatan Harapan dalam Proses Pembelajaran
dan Hasil yang ingin dicapai.
1. Membagi peserta dalam kelompok kecil @ 5-6 orang, menjelaskan penugasan
kelompok yaitu:
a. Masing-masing kelompok menentukan harapan terhadap pelatihan ini serta
kekhawatiran dalam mencapai harapan tersebut. Mula-mula secara individu,
kemudian hasil setiap individu dibahas dan dilakukan kesepakatan sehingga
menjadi harapan kelompok.
b. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusikan. Peserta
lainnya diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan.
c. Fasilitator memandu peserta untuk membahas harapan dan kekhawatiran
dari setiap kelompok tersebut sehingga menjadi harapan kelas yang
disepakati bersama.
d. Berdasarkan harapan kelas yang telah disepakati kemudian fasilitator
memandu peserta untuk merumuskan norma kelas yang disepakati bersama.
Peserta difasilitasi sedemikian rupa agar semua berperan aktif dan
memberikan komitmennya untuk mentaati norma kelas tersebut.
Langkah 4 Norma Kelas dan Kontrol Kolektif dalam
Pelaksanaan Norma Kelas.
1. Memandu brainstorming tentang sanksi apa yang harus diberlakukan bagi orang
yang tidak mematuhi atau melanggar norma yang telah disepakati. Tuliskan hasil
brainstorming di papan flipchart agar bisa dibaca oleh semua peserta.
2. Memfasilitasi peserta sedemikian rupa sehingga aktif dalam melakukan
brainstorming.
3. Memandu pembahasan hasil brainstorming, sehingga dapat dirumuskan sanksi
yang disepakati kelas.
4. Meminta salah seorang peserta untuk menuliskan dengan jelas rumusan sanksi
yang telah disepakati tersebut pada kertas flipchart
5. Menempelkan hasil tulisan tersebut di dinding agar bisa dibaca dan dipergunakan
sebagaimana mestinya.
4
Langkah 5 Penutup
1. Memandu peserta membuat rangkuman dari semua proses dan hasil
pembelajaran selama sesi ini.
2. Memberi ulasan singkat tentang materi yang terkait dengan BLC.
3. Meminta peserta untuk berdiri membentuk lingkaran sambil berpegangan
tangan, dan mengucapkan ikrar bersama untuk mencapai harapan kelas dan
mematuhi norma yang telah disepakati.
4. Mengakhiri sesi dengan tepuk tangan bersama.
5. Mengucapkan salam dan mengajak semua peserta saling bersalaman.
VII. URAIAN MATERI
MATERI POKOK 1. PERKENALAN
Memulai memasuki sebuah pelatihan, sering para peserta menunjukkan
suasana kebekuan (freezing), karena belum tentu pelatihan yang diikuti
merupakan pilihan prioritas dalam kehidupannya. Mungkin saja kehadirannya
di pelatihan karena terpaksa, tidak ada pilihan lain, harus menuruti
ketentuan/persyaratan. Mungkin juga terjadi, pada saat pertama hadir sudah
memiliki anggapan merasa sudah tahu semua yang akan dipelajari atau
membayangkan kejenuhan yang akan dihadapi. Untuk mengantisipasi semua
itu, perlu dilakukan suatu proses pencairan(unfreezing).
Proses BLC adalah proses melalui tahapan dari mulai saling mengenal antar
pribadi, mengidentifikasi dan merumuskan harapan dari pelatihan ini, sampai
terbentuknya norma kelas yang disepakati bersama serta kontrol kolektifnya.
Pada proses BLC setiap peserta harus berpartisipasi aktif dan dinamis.
Keberhasilan atau ketidakberhasilan proses BLC akan berpengaruh pada
proses pembelajaran selanjutnya.
Pada tahap perkenalan fasilitator memperkenalkan diri dan asal usul
institusinya dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kemudian mengajak peserta untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses
pembelajaran. Dalam memandu peserta untuk proses perkenalan dengan
menggunakan metode yaitu : dalam 5 menit pertama setiap peserta diminta
berkenalan dengan peserta lain sebanyak-banyaknya. Meminta peserta yang
berkenalan dengan jumlah peserta terbanyak, dan dengan jumlah peserta
paling sedikit untuk memperkenalkan teman-temannya. Meminta peserta yang
belum disebut namanya untuk memperkenalkan diri, sehingga seluruh peserta
5
saling berkenalan, diikuti juga oleh panitia untuk memperkenalkan dirinya.
MATERI POKOK 2. PENCAIRAN SUASANA
Fasilitator menyiapkan kursi sejumlah peserta dan disusun melingkar.
Fasilitator meminta semua peserta duduk di kursi dan satu diantaranya duduk
di tengah lingkaran. Peserta yang duduk di tengah lingkaran diminta memberi
aba-aba, agar peserta yang disebut identitasnya pindah duduk, misalnya
dengan menyeru: ”Semua peserta berbaju merah pindah” Pada keadaan
tersebut akan terjadi pertukaran tempat duduk dan saling berebut antar
peserta. Hal tersebut menggambarkan suasana “storming”, atau seperti
“badai” yang merupakan tahap awal dari suatu pembentukan kelompok.
Ulangi lagi, setiap peserta yang duduk di tengah lingkaran untuk menyerukan
identitas yang berbeda, misalnya peserta yang berkaca mata atau yang
berbaju batik dan lain-lain. Lakukan permainan tersebut selama 10 – 15 menit,
tergantung situasi dan kondisi.
Fasilitator memandu peserta untuk merefleksikan perasaannya dalam
permainan tersebut serta pengalaman belajar apa yang diperolehnya.
Fasilitator membuat rangkuman bersama-sama peserta, agar terjadi proses
yang dinamis.
MATERI POKOK 3. HARAPAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN
DAN HASIL YANG INGIN DICAPAI
Fasilitator membagi peserta dalam kelompok kecil @ 5 – 6 orang, kemudian
menjelaskan tugas kelompok tersebut. Masing-masing kelompok akan
menentukan harapan terhadap pelatihan ini serta kekhawatiran dalam
mencapai harapan tersebut. Juga didiskusikan bagaimana solusi (pemecahan
masalah) untuk mencapai harapan tersebut serta menghilangkan
kekhawatiran yang akan terjadi selama pelatihan. Mula-mula secara individu,
kemudian hasil setiap individu dibahas dan dilakukan kesepakatan sehingga
menjadi harapan kelompok.
Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dan
peserta dari kelompok lainnya diminta untuk memberikan tanggapan dan
masukan bila ada. Fasilitator memandu peserta untuk membahas harapan dan
kekhawatiran dari setiap kelompok tersebut sehingga menjadi harapan kelas
yang disepakati bersama. Berdasarkan hasil pemaparan diskusi seluruh
6
kelompok maka disepakati bersama fasilitator untuk menentukan ketua kelas
dan sekretaris yang akan memandu peserta secara bersama- sama untuk
merumuskan norma-norma kelas yang akan disepakati bersama. Peserta
difasilitasi sedemikian rupa agar semua berperan aktif dan memberikan
komitmennya untuk metaati norma kelas tersebut.
Komitmen merupakan keterikatan, keterpanggilan seseorang
terhadap apa yang dijanjikan atau yang menjadi tujuan dirinya atau
kelompoknya yang telah disepakati dan terdorong berupaya sekuat
tenaga untuk mengaktualisasinya dengan berbagai macam cara
yang baik, efektif dan efisien. Komitmen belajar/pembelajaran,
adalah keterpanggilan seseorang/ kelompok/ kelas (peserta
pelatihan) untuk berupaya dengan penuh kesungguhan
mengaktualisasikan apa yang menjadi tujuan
pelatihan/pembelajaran. Keadaan ini sangat menguntungkan
dalam mencapai
keberhasilan individu/ kelompok/ kelas, karena dalam diri setiap
orang yang memiliki komitmen tersebut akan terjadi niat baik dan
tulus untuk memberikan yang terbaik kepada individu lain,
kelompok dan kelas secara keseluruhan.
Dengan membangun komitmen belajar maka para peserta akan
berupaya untuk mencapai harapan yang diinginkannya dalam
setiap proses pembelajaran. Dalam hal ini harapan peserta adalah
kehendak/ keinginan untuk memperoleh atau mencapai sesuatu.
Dalam pelatihan berarti keinginan untuk memperoleh atau
mencapai tujuan yang diinginkan sebagai hasil proses
pembelajaran. Dalam menetukan harapan harus realistis dan
rasional sehingga kemungkinan untuk mencapainya menjadi besar.
Harapan jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah. Harapan
juga harus menimbulkan tantangan atau dorongan untuk
mencapainya, dan bukan sesuatu yang diucapkan secara asal-
asalan. Dengan demikian dinamika pembelajaran akan terus
terpelihara sampai proses pembelajaran berakhir.
MATERI POKOK 4. NORMA KELAS DALAM PEMBELAJARAN
Dalam sesi BLC, lebih banyak menggunakan metode games/ permainan,
penugasan individu dan diskusi kelompok, yang pada intinya adalah untuk
7
mendapatkan komitmen belajar, harapan, norma kelas dan kontrol kolektif.
Proses BLC sendiri adalah proses melalui tahapan dari mulai saling mengenal
antar pribadi, mengidentifikasi dan merumuskan harapan dari pelatihan ini,
sampai terbentuknya norma kelas yang disepakati bersama serta kontrol
kolektifnya. Pada proses BLC setiap peserta harus berpartisipasi aktif dan
dinamis. Keberhasilan atau ketidak berhasilan proses BLC akan berpengaruh
pada proses pembelajaran selanjutnya.
Pada kesempatan ini juga fasilitator akan merumuskan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai dalam kegiatan membangun komitmen belajar, sehingga
dengan demikian para peserta dengan sendirinya sadar akan peran dan
tanggung jawabnya dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran yang
dilaksanakan pada pelatihan tersebut.
Norma kelas merupakan nilai yang diyakini oleh suatu kelompok atau
masyarakat, kemudian menjadi kebiasaan serta dipatuhi sebagai patokan
dalam perilaku kehidupan sehari hari kelompok/ masyarakat tersebut. Norma
adalah gagasan, kepercayaan tentang kegiatan, instruksi, perilaku yang
seharusnya dipatuhi oleh suatu kelompok. Norma dalam suatu
pelatihan,adalah gagasan, kepercayaan tentang kegiatan, instruksi, perilaku
yang diterima oleh kelompok pelatihan, untuk dipatuhi oleh semua anggota
kelompok (peserta, fasilitator/ fasilitator dan panitia).
MATERI POKOK 5. KONTROL KOLEKTIF DALAM PELAKSANAAN
NORMA KELAS
Ketua kelas dan sekretaris beserta fasilitator memandu brainstorming tentang
sanksi apa yang harus diberlakukan bagi orang yang tidak mematuhi atau
melanggar norma yang telah disepakati agar komitmen yang dibangun
menjadi lebih kuat. Tuliskan hasil brainstorming di papan flipchart agar bisa
dibaca oleh semua peserta. Peserta difasilitasi sedemikian rupa sehingga aktif
dalam melakukan brainstorming, sehingga dapat dirumuskan sanksi yang
disepakati kelas. Kontrol kolektif merupakan kesepakatan bersama tentang
memelihara agar kesepakatan terhadap norma kelas ditaati. Biasanya
ditentukan dalam bentuk sanksi apa yang harus diberlakukan apabila norma
tidak ditaati atau dilanggar.
MATERI POKOK 6. ORGANISASI KELAS
Dengan terbangunnya BLC, juga akan mendukung terwujudnya saling
percaya, saling kerja sama, saling membantu, saling memberi dan menerima,
sehingga tercipta suasana/ lingkungan pembelajaran yang kondusif.
8
Fasilitator memandu peserta membuat rangkuman dari semua proses dan
hasil pembelajaran selama sesi ini. Fasilitator memberi ulasan singkat tentang
materi yang terkait dengan BLC. Fasilitator meminta peserta untuk berdiri
membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan, dan mengucapkan ikrar
bersama untuk mencapai harapan kelas dan mematuhi norma yang telah
disepakati. Dan untuk mengakhiri sesi diminta kepada peserta secara
bersama-sama untuk bertepuk tangan. Fasilitator mengucapkan salam dan
mengajak semua peserta saling bersalaman.
VIII. RANGKUMAN
Modul dalam membangun komitmen belajar atau (Building Learning
Commitment-BLC) adalah pembelajaran awal yang sangat penting dibangun
untuk menyiapkan peserta berperilaku kondusive dan menyepakati dalam
menciptakan iklim pembelajaran yang positive selama pelatihan. Topik yang
dikembangkan dalam BLC adalah perkenalan, pencairan suasana dengan ice
breaking, kesepakatan harapan dalam proses pembelajaran serta hasil yang
ingin dicapai, norma kelas dalam pembelajaran serta control kolektive dalam
pelaksanaan norma kelas. Dalam BLC menggunakan metode presentasi diri,
curah pendapat, permainan, dialog, diskusi kelompok dan presentasi
kelompok.
IX. REFERENSI
1. Departemen Kesehatan RI (2006), Modul Pelatihan Desa
Siaga, Pusdiklat SDM Kesehatan, Jakarta.
X. LAMPIRAN
A. Lembar Kerja
1. Lembar Penugasan Permainan untuk Perkenalan dan Pencairan
Suasana.
Untuk memfasilitasi proses perkenalan dan pencairan suasana,
fasilitator dapat melakukan kegiatan interaktif melalui berbagai
cara, seperti pada contoh berikut:
Pengantar:
Perkenalan merupakan proses yang sangat penting dalam suasana
pelatihan untuk menciptakan suasana akrab dan dinamika positif.
Fasilitator harus
menyiapkan suasana agar peserta, termasuk fasilitator, dapat saling
9
mengenal satu sama lain. Proses perkenalan yang dinamis dapat
mencairkan suasana, menciptakan kondisi belajar yang mendukung
dimana peserta dapat dengan leluasa mengungkapkan gagasan,
ide dan pengalamannya, serta berbagi untuk memahami masalah-
masalah yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat,
dan masalah kesehatan sevara umum. Proses belajar akan seperti
dengan pembuktian yang ada di masyarakat.
Metode : Permainan Kreatif
Waktu : 20 menit
Tujuan :
1. Mencairkan situasi kaku dan saling mengenal antar peserta
sehingga mudah untuk bekerjasama.
2. Terjadinya interaksi antar individu dalam kelompok secara
lebih mendalam dan dinamis.
3. Terbentuknya sikap kesetiakawanan, keterbukaan dan
kebersamaan antar seluruh peserta.
Alat Bantu : tergantung permainan yang digunakan,
misalnya spidol, kertas metaplan, bola plastik,
tali rafia, kerta koran.
Langkah-langkah:
Acara perkenalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, berikut ini
2 alternatif yang bisa digunakan:
Alternatif 1:
Bagilah seluruh partisipan (peserta, fasilitator dan panitia) menjadi
beberapa kelompok (5-6 kelompok).
Pada setiap kelompok, setiap individu memperkenalkan dirinya
kepada anggota kelompok lainnya (nama lengkap, nama panggilan
dan lembaga asalnya serta bisa ditambahkan hal-hal lain seperti:
tanggal lahir, status perkawinan,
Lakukan ke tingkat pleno, misalnya dengan cara meminta kesediaan
perwakilan kelompok untuk memperkenalkan seluruh anggota
kelompoknya.
Jika seluruh anggota kelompok telah diperkenalkan, cobalah
10
bersama dengan seluruh partisipan untuk menghafal bersama
nama seluruh partisipan pelatihan.
Puncak acara perkenalan dapat dilakukan dengan menanyakan:
“siapa yang paling banyak hafal nama partisipan? Untuk itu,
mintalah kepada partisipan yang mengatakan paling banyak hafal
nama partisipan untuk membuktikan kemampuannya menghafal
nama partisipan dengan cara menyebut nama dan menunjuk
orangnya satu per satu.
Alternatif 2 :
Mintalah partisipan berpasang-pasangan. Disarankan untuk
berpasangan dengan partisipan lain yang belum/kurang dikenal
Setiap pasangan saling memperkenalkan diri (nama lengkap, nama
panggilan, lembaga asal, tanggal lahir, status perkawinan, jumlah
anak, dsb.).
Setelah setiap pasangan selesai saling memperkenalkan diri,
mintalah untuk memperkenalkan ke tingkat pleno dengan cara
setiap orang memperkenalkan secara rinci tentang pasangannya.
Jika seluruh pasangan telah diperkenalkan, cobalah bersama
dengan seluruh partisipan untuk menghafal bersama nama seluruh
partisipan pelatihan.
Puncak acara perkenalan dapat dilakukan dengan menanyakan:
“siapa yang paling banyak hafal nama partisipan?” Untuk itu,
mintalah kepada partisipan yang mengatakan paling banyak hafal
nama partisipan lainnya untuk membuktikan kemampuannya
menghafal nama partisipan dengan cara menyebut nama dan
menunjuk orangnya satu per satu.
Catatan untuk Perkenalan dan Bina Suasana:
Ada kemungkinan beberapa partisipan tidak mau terlibat dalam
perkenalan dan pencairan suasana ini.
Ajaklah mereka secara persuasif (dengan melibatkan partisipan
lainnya) agar mereka mau terlibat. Jangan paksa mereka, tetapi
jangan pula membatalkan proses karena beberapa individu tidak
bersedia terlibat.
Untuk mempercepat perkenalan, peserta diminta menulis nama
panggilan dan asal instansi pada secarik kertas dengan spidol dan
ditempelkan pada dada sebelah kiri.
Untuk membangun komitmen belajar, langkah-langkah kegiatan
11
pembelajaran dapat juga dikombinasikan dengan langkah-langkah
yang biasa digunakan dalam pelatihan-pelatihan STBM, misalnya
dapat dilakukan dengan cara:
a. Fasilitator membuat gambar telapak tangan raksasa di lantai.
b. Fasilitator menanyakan kepada peserta berapa besar tingkat
pemahamannya terhadap materi.
c. Fasilitator meminta peserta menempatkan dirinya pada salah
satu jari yang dipilih sesuai penilaian diri sendiri terkait materi
yang ditanya.
Keterangan 5 Jari:
1. Jempol Sudah tahu STBM Bencana, sudah
Pengertian Jari terampil dalam
memicu dan mampu menularkan pengetahuan STBM
Situasi Bencana kepada orang lain
2. Telunjuk Sudah pernah melakukan pemicuan STBM Situasi
Bencana
3. Jari Tengah Tahu kedua konsep : STBM Situasi Bencana
4. Jari Manis Tahu salah satu konsep : STBM Situasi Bencana
5. Jari Kelingking Baru dengar tentang STBM Situasi Bencana, dan tidak
tahu kepanjangan STBM.
Pencairan suasana ditujukan untuk membangun hubungan antar
partisipan yang kondusif (suasana kesetaraan: tidak kaku, tidak
formal, tidak ada sekatsekat) untuk mencapai tujuan pelatihan
dalam tingkat optimal.
Pada akhir session ini, pastikanlah bahwa seluruh partisipan sudah
saling mengenal dan memiliki hubungan yang akrab.
12