LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN JIWA
ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI
Disusun Oleh :
..................................
NIM: ...........................
BAB I
PENDAHULUAN
A. DEFINISI
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan atau bahkan
sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain (Purba, dkk. 2008).
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu
terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan
lingkungan (Dalami, dkk. 2009).
Isolasi soaial adalah pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima sebagai
perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi yang negatif atau mengancam (Wilkinson, 2007).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif dan mengancam ( Twondsend, 1998 ). Atau suatu keadaan dimana
seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain (Budi Anna Kelliat, 2006 ). Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Pawlin, 1993 dikutip Budi Kelliat,
2001). Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku
isolasi sosial. (Budi Anna Kelliat, 2006).
B. ETIOLOGI
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah:
a. Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses,
karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan menghambat masa
perkembangan selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan pengalaman
bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kurangnya stimulasi, kasih
sayang, perhatian dan kehangatan dari ibu/pengasuh pada bayi bayi akan memberikan rasa
tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan
tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan di
kemudian hari. Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak
mersaa diperlakukan sebagai objek.
Menurut Purba, dkk. (2008) tahap-tahap perkembangan individu dalam berhubungan terdiri
dari:
1) Masa Bayi
Bayi sepenuhnya tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis
maupun psikologisnya. Konsistensi hubungan antara ibu dan anak, akan menghasilkan
rasa aman dan rasa percaya yang mendasar. Hal ini sangat penting karena akan
mempengaruhi hubungannya dengan lingkungan di kemudian hari. Bayi yang
mengalami hambatan dalam mengembangkan rasa percaya pada masa ini akan
mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain pada masa berikutnya.
2) Masa Kanak-kanak
Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang mandiri, mulai mengenal
lingkungannya lebih luas, anak mulai membina hubungan dengan teman-temannya.
Konflik terjadi apabila tingkah lakunya dibatasi atau terlalu dikontrol, hal ini dapat
membuat anak frustasi. Kasih sayang yang tulus, aturan yang konsisten dan adanya
komunikasi terbuka dalam keluarga dapat menstimulus anak tumbuh menjadi individu
yang interdependen, Orang tua harus dapat memberikan pengarahan terhadap tingkah
laku yang diadopsi dari dirinya, maupun sistem nilai yang harus diterapkan pada anak,
karena pada saat ini anak mulai masuk sekolah dimana ia harus belajar cara
berhubungan, berkompetensi dan berkompromi dengan orang lain.
3) Masa Praremaja dan Remaja
Pada praremaja individu mengembangkan hubungan yang intim dengan teman sejenis,
yang mana hubungan ini akan mempengaruhi individu untuk mengenal dan mempelajari
perbedaan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Selanjutnya hubungan intim dengan teman
sejenis akan berkembang menjadi hubungan intim dengan lawan jenis. Pada masa ini
hubungan individu dengan kelompok maupun teman lebih berarti daripada hubungannya
dengan orang tua. Konflik akan terjadi apabila remaja tidak dapat mempertahankan
keseimbangan hubungan tersebut, yang seringkali menimbulkan perasaan tertekan
maupun tergantung pada remaja.
4) Masa Dewasa Muda
Individu meningkatkan kemandiriannya serta mempertahankan hubungan interdependen
antara teman sebaya maupun orang tua. Kematangan ditandai dengan kemampuan
mengekspresikan perasaan pada orang lain dan menerima perasaan orang lain serta peka
terhadap kebutuhan orang lain. Individu siap untuk membentuk suatu kehidupan baru
dengan menikah dan mempunyai pekerjaan. Karakteristik hubungan interpersonal pada
dewasa muda adalah saling memberi dan menerima (mutuality).
5) Masa Dewasa Tengah
Individu mulai terpisah dengan anak-anaknya, ketergantungan anak-anak terhadap
dirinya menurun. Kesempatan ini dapat digunakan individu untuk mengembangkan
aktivitas baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan diri. Kebahagiaan akan dapat
diperoleh dengan tetap mempertahankan hubungan yang interdependen antara orang tua
dengan anak.
6) Masa Dewasa Akhir
Individu akan mengalami berbagai kehilangan baik kehilangan keadaan fisik, kehilangan
orang tua, pasangan hidup, teman, maupun pekerjaan atau peran. Dengan adanya
kehilangan tersebut ketergantungan pada orang lain akan meningkat, namun kemandirian
yang masih dimiliki harus dapat dipertahankan.
b. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk mengembangkan
gangguan tingkah laku.
1) Sikap bermusuhan/hostilitas
2) Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak
3) Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapatnya.
4) Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada pembicaananak,
hubungan yang kaku antara anggota keluarga, kurang tegur sapa, komunikasi kurang
terbuka, terutama dalam pemecahan masalah tidak diselesaikan secara terbuka dengan
musyawarah.
5) Ekspresi emosi yang tinggi
6) Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan yang membuat
bingung dan kecemasannya meningkat)
c. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh karena norma-norma yang
salah yang dianut oleh satu [Link] anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial.
d. Factor Biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Insiden tertinggi skizofrenia
ditemukan pada keluarga yang anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Berdasarkan
hasil penelitian pada kembar monozigot apabila salah diantaranya menderita skizofrenia
adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot persentasenya 8%. Kelainan pada struktur otak
seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perubahan
struktur limbik, diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
2. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor internal maupun
eksternal, meliputi:
a. Stressor Sosial Budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan, terjadinya penurunan
stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai, kehilangan
pasangan pada usia tua, kesepian karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara.
Semua ini dapat menimbulkan isolasi sosial.
b. Stressor Biokimia
1) Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik serta tractus
saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan meningkatkan dopamin
dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO adalah sebagai enzim yang menurunkan
dopamin, maka menurunnya MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
3) Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada pasien skizofrenia.
Demikian pula prolaktin mengalami penurunan karena dihambat oleh dopamin.
Hypertiroidisme, adanya peningkatan maupun penurunan hormon adrenocortical
seringkali dikaitkan dengan tingkah laku psikotik.
4) Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan gejala-gejala psikotik
diantaranya adalah virus HIV yang dapat merubah stuktur sel-sel otak.
c. Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial
Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi akibat interaksi
antara individu, lingkungan maupun biologis.
d. Stressor Psikologis
Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan
dengan orang lain. Intesitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan
individu untuk mengatasi masalah akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan pada
tipe psikotik.
Menurut teori psikoanalisa; perilaku skizofrenia disebabkan karena ego tidak dapat menahan tekanan
yang berasal dari id maupun realitas yang berasal dari luar. Ego pada klien psikotik mempunyai
kemampuan terbatas untuk mengatasi stress. Hal ini berkaitan
dengan adanya masalah serius antara hubungan ibu dan anak pada fase simbiotik sehingga
perkembangan psikologis individu terhambat.
Menurut Purba, dkk. (2008) strategi koping digunakan pasien sebagai usaha mengatasi kecemasan
yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Strategi koping yang sering
digunakan pada masing-masing tingkah laku adalah sebagai berikut:
a) Tingkah laku curiga: proyeksi
b) Dependency: reaksi formasi
c) Menarik diri: regrasi, depresi, dan isolasi
d) Curiga, waham, halusinasi: proyeksi, denial
e) Manipulatif: regrasi, represi, isolasi
Skizoprenia: displacement, projeksi, intrijeksi, kondensasi, isolasi, represi dan regrasi.
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. MASALAH UTAMA
Isolasi Sosial : Menarik Diri
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif/mengancam (Townsend, 2010). Atau suatu keadaan dimana seorang
individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
sekitarnya, klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina
hubungan yang berarti dengan orang lain (Keliat, 2009)
Perilaku isolasi sosial menarik diri adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan
menganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2006)
2. Tanda Dan Gejala
a. Subyektif : didapati klien menolak berkomunikasi, menjawab pertanyaan singkat seperti kata
iya, tidak, tidak tahu
b. Obyektif: apatis, ekspresi sedih, efek tumpul, menghindari orang lain, komunikasi kurang (klien
tampak tidak bercakap-cakap dengan orang lain), tidak ada kontak mata, klien sering menunduk,
berdiam diri di ruangan/kamar kurang mobilitasnya, menolak berhubungan dengan orang lain,
pergi jika diajak bercakap-cakap, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, posisi janin saat tidur
3. Jenis Dari Masalah Utama
Klien dengan isolasi sosial menarik diri semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah
laku yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi resiko gangguan sensori
persepsi: halusinasi, mencederai diri sendiri dan orang lain, penurunan aktivitas sehingga
menyebabkan deficit perawatan diri
4. Penyebab Terjadinya Masalah
Menurut Budi Anna Keliat (2009) salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri
rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa
jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan
5. Faktor predisposisi
Menurut Stuart dan sundeen (2007)
a. Faktor perkembangannya
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses. Karena
apabila tugas perkembangannya ini tidak dapat terpenuhi maka akan menghambat masa
perkembangan selanjutnya.
b. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial/mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan berhubungan.
c. Faktor biologis
Genetic merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Insiden tertinggi skizofrenia
ditemukan pada keluarga yang anggota keluarganya ada yang menderita skizofrenia.
6. Faktor presipitasi
Menurut stuart dan sundeen (2007) stressor terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor
internal dan eksternal.
a. Stressor sosial budaya
Dapat memicu kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
b. Stressor biokimia
1. Teori dopamine
Kelebihan dopamine pada mesokartikal serta fragrus saraf dapat berupa indikasi terjadinya
skizofrenia
2. Faktor endokrin
Jumlah TSH yang rendah ditemukan pada klien skizofrenia, demikian pula proklatin
mengalami penurunan karena dihambat
7. Akibat Terjadinya Masalah
Klien dengan perilaku isolasi sosial menarik diri dapat berakibat terjadinya resiko perubahan
persepsi sensori (halusinasi). Halusinasi merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive,
dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya
klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan eksternal.
C. POHON MASALAH
Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
Isolasi sosial: menarik diri
Core problem
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan persepsi sensori: halusinasi
2. Isolasi sosial: menarik diri
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
E. RENCANA PERAWATAN
Diagnosa 1 Perubahan persepsi sensori: halusinasi
Tujuan Umum: klien tidak mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Tujuan Khusus
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran interaksi selanjutnya
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
a. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
b. Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya
c. Bantu klien mengenal halusinasinya
1) Tanyakan apakah ada suara yang didengar
2) Apa yang dikatakan halusinasinya
3) Katakan perawat percaya klien mendengar suara itu namun perawat sendiri tidak
mendengarkannya
4) Katakan bahwa klien lain ada yang seperti itu
5) Katakan bahwa perawat akan membantu klien
d. Diskusikan dengan klien
1) Situasi yang menimbulkan/ tidak menimbulkan halusinasi
2) Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,siang, sore, malam)
e. Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut,sedih, senang)
beri kesempatan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
a. Identifikasi bersama klien cara, tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah,
menyibukkan diri, dll)
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian
c. Diskusikan cara baru untuk memutuskan/mengontrol timbulnya halusinasi
1) Katakan ” saya tidak mau dengar”
2) Menemui orang lain
3) Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
4) Minta kleuarga/ teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak bicara sendiri
d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutuskan halusinasinya secara bertahap
e. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih
f. Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
g. Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita, stimulasi persepsi
4. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
a. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi
b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung kerumah):
1) Gejala halusinasi yang dialami klien
2) Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutuskan halusinasi
3) Cara merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi dirumah: diberi kegiatan, jangan
biarkan sendiri, makan atau bepergian bersama
4) Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu bantuan: halusinasi tidak terkontrol, resiko
mencederai diri dan orang lain
5. Klien memanfaatkan obat dengan baik
a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat minum obat
b. Anjurkan klien meminta obat sendiri kepada perawat dan merasakan manfaatnya
c. Anjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping minum obat yang
dirasakan
d. Diskusikan akibat minum obat tanpa konsultasi
e. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
Diagnosa 2: isolasi sosial: menarik diri
Tujuan Umum: klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
a. Kaji pengetahuan klien tentang menarik diri dan tanda-tandanya
b. Beri kesempatan klien mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda dan penyebab yang muncul
d. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain
a. Identifikasi bersama klien cara/tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
b. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
1) Beri kesempatan klien mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan
orang lain
2) Diskusikan bersama klien manfaat berhubungan dengan orang lain
3) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain
c. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
1) Beri kesempatan klien mengungkapkan perasaan dengan orang lain
2) Diskusikan bersama klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
3) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian
bila tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
a. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
b. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap:
Klien-perawat
Klien-perawat-perawat lain
Klien-perawat-perawat lain-klien lain
Klien-keluarga atau kelompok masyarakat
c. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang dicapai
d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain
e. Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien mengisi waktu
f. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
g. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain
c. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang: perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik
diri, akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi
klien menarik diri
c. Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi
dengan orang lain
d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal seminggu
sekali
e. Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai anggota keluarga
Diagnosa 3: Gangguan konsep diri: harga diri rendah
Tujuan Umum: klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
b. Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif
c. Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dpat dilanjutkan penggunaannya
4. Klien dapat menetapkan/merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
a. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
(kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan
total)
b. Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien
c. Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh dilakukan klien
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah
b. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah
STRATEGI PELAKSANAAN 1
PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG
RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
a. Klien mengatakan malas untuk bergaul dengan teman dan tetangga
b. Klien tampak sering mondar mandir
c. Klien tampak sering duduk dan tidur sendiri
d. Klien tampak sering menundukkan kepala
e. Afek datar tanpa ekspresi.
2. Diagnosa keperawatan
Menarik diri : isolasi sosial
3. Tujuan SP 1
a. Klien dapat mempraktikkan cara berkenalan dengan orang lain
b. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
c. Klien dapat mengetahui keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Klien dapat mengetahui kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
e. Klien dapat mempraktikkan kegiatan latihan berbincang-bincang
f. Klien dapat memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam
kegiatan harian
Tindakan keperawatan :
a. Bina hubungan saling percaya
b. Diskusi dengan klien tentang keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
c. Bantu klien barlatih cara berkenalan dengan 1 orang
d. Bantu klien memasukkan cara berkenalan dengan orang lain ke dalam jadwal kegiatan
hariannya.
B. Strategi Komunikasi
1. FASE ORIENTASI (PERKENALAN)
a Salam Terapeutik
“ Selamat pagi ibu, perkenalkan nama saya.......biasa dipanggil..........”saya mahasiswa
STIKES Kusuma Husada yang akan merawat ibu.
“kalau boleh tau nama ibu siapa? Suka dipanggil siapa?
b Evaluasi/Validasi
“Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Ibu disini sudah berapa lama?apakah ibu masih
ingat siapa yang membawa ibu kesini?saya lihat ibu sering menyendiri, apakah ibu
jarang ngobrol sama teman?
c Kontrak Waktu
“Bagaimana kalau kita ngobrol tentang keuntungan dan kerugian berkenalan dengan
teman serta cara berkenalan dengan teman? Ibu maunya kita ngobrol berapa lama?
dimana kita ngobrol?ditempat tidur ibu saja ya ? Bagaimana jika 15menit?
2. FASE KERJA
”sekarang coba ibu ceritakan, apa yang membuat ibu suka menyendiri?apakah ibu sebelumnya
suka menyendir? Penyebabnya apa bu?sama tidak dengan sekarang? Menurut ibu apa saja
keuntungan berkenalan dengan orang lain? Kalau kerugiannya apa pak?ada berapa tahap
berkenalan dengan orang lain bu? Yang pertama ibu memperkenalkan nama ibu..hai boleh
kenalan tidak?n Nama saya….suka dipanggil….namamu siapa? Suka dipanggil siapa?ayo coba
ibu lakukan cara perkenalan dengan orang lain. Bagus..ibu pinta sudah bisa berkenalan dengan
orang lain.
3. FASE TERMINASI
a. Evaluasi Subyektif
”Bagaimana perasaan Ibu setelah kita ngobrol tadi?senangkah ibu sudah bisa mengobrol
b. Evaluasi Obyektif
Coba ibu sebutkan penyebab ibu menyendiri? Apa keuntungannya dan kerugiannya
berkenalan dengan orang lain?coba ibu praktikkan cara berkenalan dengan orang lain?
c. Rencana Tindak Lanjut
“Bagaimana jika kegiatan ini dimasukkan ke jadwal kegiatan harian ibu?
d. Kontrak
1. Topik
“bagaimana kalau ibu mempraktekkan cara berkenalan dengan 1 orang teman yang ada
disini?
2. Waktu
”bagaimana kalau besok? Berkenalan 15 menit saja
3. Tempat
”Besok kenalannya disebelah kamar ibu saja….
DAFTAR PUSTAKA
Budi A Keliat. (2009). Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC
Depkes RI. (2008). Standar Pedoman Perawatan Jiwa
Kaplan Sadoch. (2007). Sinopsis Psikiatri Edisi 7. Jakarta: EGC
Stuart G W. (2011). Buku Saku Keperawataan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC
Townsend M C. (2008) Diagnosa Keperawatan Pada Perawatan Psikiatri: Pedoman Untuk Pembuatan
Rencana Perawatan. Jakarta: EGC