Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.
Judul: Rumah yang Mengingat Namamu
Bab 1 — Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Tidak ada yang aneh dari rumah itu, kecuali satu hal:
rumah itu seolah mengenal siapa pun yang pernah tinggal di dalamnya.
Rumah tua itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, catnya mengelupas seperti kulit yang
lupa cara sembuh. Jendelanya besar, tapi tirainya selalu tertutup, seakan ia
menolak melihat dunia yang terus berubah. Orang-orang di sekitar menyebutnya
rumah peninggalan, dengan nada setengah hormat dan setengah takut.
Arga berdiri di depan pagar besi yang berderit pelan saat disentuh angin. Sudah
sepuluh tahun ia tidak kembali ke kota ini. Sepuluh tahun yang dihabiskannya untuk
meyakinkan diri bahwa ia tidak pernah rindu.
Nyatanya, ia salah.
Kunci tua itu masih pas di lubangnya. Sebuah detail kecil yang membuat dada Arga
mengencang. Ia mendorong pintu, dan bau kayu lembap serta debu lama langsung
menyambutnya—bau yang sama seperti ingatannya, bau masa kecil yang belum
sempat disembuhkan.
“Masih sama,” gumamnya.
Langkahnya menggema di ruang tamu. Sofa cokelat itu masih ada, meski kainnya
pudar. Jam dinding di sudut ruangan berhenti di pukul 02.17. Arga ingat betul, jam
itu berhenti tepat malam ibunya pergi dan tidak pernah kembali.
Ia tidak berniat lama-lama. Hanya ingin mengambil beberapa dokumen lama untuk
menjual rumah ini. Menutup satu bab hidupnya yang terlalu lama terbuka.
Tapi rumah itu, seperti manusia keras kepala, tidak suka ditinggalkan begitu saja.
Saat Arga menaiki tangga menuju lantai dua, papan kayu berderit di bawah kakinya
—bunyi yang dulu selalu membuatnya berhenti dan menahan napas saat pulang
larut malam. Di ujung lorong, kamar lamanya menunggu, pintunya sedikit terbuka,
seperti mengundang.
Di dalam kamar itu, waktu berhenti.
Meja belajar kecil di sudut ruangan masih menyimpan bekas goresan pisau—bekas
nama yang pernah ia ukir dengan tangan gemetar: Arga. Rak buku berisi novel-
novel lama, sebagian menguning. Dan di atas kasur, ada sebuah amplop cokelat.
Arga membeku.
Amplop itu jelas baru. Tidak berdebu. Tidak pudar. Namanya tertulis di sana dengan
tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan ibunya.
Tangannya bergetar saat mengambil amplop itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat,
seolah ingin keluar dan lari lebih dulu. Perlahan, ia membuka segelnya.
Di dalamnya ada sepucuk surat.
Arga,
Jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk kembali.
Maaf karena Ibu pergi tanpa pamit. Beberapa rumah tidak hanya menyimpan
barang, tapi juga kesalahan. Dan Ibu tidak ingin kamu tumbuh bersama kesalahan
Ibu.
Arga menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Rumah ini akan mengingatmu, bahkan saat kamu lupa padanya.
Jangan marah jika kamu merasa diperhatikan.
Jangan takut jika kamu mendengar suara.
Dan apa pun yang terjadi—jangan buka pintu loteng sebelum waktunya.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
“Ini… nggak masuk akal,” bisik Arga.
Loteng.
Ia menatap langit-langit kamar. Pintu loteng ada di ujung lorong, selalu terkunci,
selalu dilarang. Ibunya sangat keras soal satu hal itu. Bahkan ayahnya pun tidak
pernah membantah.
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke saku jaket. Ia seharusnya pergi.
Sekarang. Tapi rasa penasaran itu seperti tangan tak kasat mata yang menariknya
perlahan ke lorong.
Lampu lorong menyala dengan kedipan singkat, lalu stabil. Sesuatu bergerak di
balik pintu loteng. Bukan suara keras. Lebih seperti… napas yang ditahan.
“Cuma rumah tua,” Arga mencoba menenangkan diri. “Cuma kenangan.”
Namun saat ia berbalik untuk kembali ke tangga, ia melihat sesuatu yang membuat
darahnya membeku.
Jam dinding di lorong—yang seharusnya mati—bergerak.
Jarumnya menunjuk 02.17.
Dan berdetak.
Tok.
Tok.
Tok.
Rumah itu, ternyata, belum selesai dengannya.