Repository Revisi
Repository Revisi
ABSTRACT
Problem Statement/Background (GAP): Demand for rice in Riau Province continues to increase from
year to year. However, local production is unable to meet this need, so Riau has to rely on imports
from neighboring provinces. Even though Riau has quite good rice production potential, in reality
imports from regions such as North Sumatra, West Sumatra and Lampung are still needed to meet
this need. Kuantan Singingi also achieved increased rice production in Riau Province with a
significant increase in rice production from the January-April 2022 period, amounting to 1,735 to
2,453 tons of rice. Purpose: The purpose of this research is to find out and analyze the Regional
Government Strategy in Accelerating Rice Self-Sufficiency in Kuantan Singingi Regency, Riau
Province, to find out and analyze the supporting and inhibiting factors of the Regional Government
Strategy in Accelerating Rice Self-Sufficiency in Kuantan Singingi Regency, Riau Province, to find
out and analyzing efforts to overcome the inhibiting factors of Regional Government Strategy in
Accelerating Rice Self-Sufficiency in Kuantan Singingi Regency, Riau Province. Method: The writing
method used is qualitative writing with a descriptive method and an inductive approach. The data
collection techniques used were interviews, observation and documentation. Result: The theory used
as an analytical tool in writing this thesis is using the SOAR Strategy theory from Stavros, J.M, and
Cole which explains that the SOAR Strategy looks at 4 (four) elements, namely Strengths,
Opportunities, Aspirations. ), Results (Results). The writing method used is qualitative writing with a
descriptive method and an inductive approach. The data collection techniques used were interviews,
observation and documentation. Conclusion: With this rice self-sufficiency program, the community
is satisfied with the program implemented by the regional government of Kuantan Singingi Regency.
Factors that can influence community satisfaction are the stable supply of rice of adequate quality,
and the increase in farmers' and community income as a result of this program.
ABSTRAK
1
Permasalahan (GAP): Permintaan akan beras di Provinsi Riau terus meningkat dari tahun ke tahun.
Namun, produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan ini, sehingga Riau harus bergantung pada
impor dari provinsi tetangga. Meskipun Riau memiliki potensi produksi beras yang cukup baik, namun
kenyataannya impor dari daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung tetap
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kuantan Singingi juga mencapai produsen beras
yang meningkat di Provinsi Riau dengan peningkatan jumlah produksi beras yang cukup signifikan
dari periode Januari-April 2022 sejumlah 1.735 menjadi 2.453 Ton Beras. Tujuan: Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis Strategi Pemerintahan Daerah Dalam
Percepatan Swasembada Beras Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau, untuk mengetahui dan
menganalisis faktor-faktor pendukung dan penghambat Strategi Pemerintahan Daerah Dalam
Percepatan Swasembada Beras Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau, untuk mengetahui dan
menganalisis upaya mengatasi faktor-faktor penghambat Strategi Pemerintahan Daerah Dalam
Percepatan Swasembada Beras Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Metode: Metode
penulisan yang digunakan adalah penulisan kualitatif dengan metode deskriptif dan pendekatan
induktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil/Temuan: Strategi Pemerintahan Daerah Dalam Percepatan Swasembada Beras Di Kabupaten
Kuantan Singingi sudah berjalan dengan baik, namun dalam prosesnya masih harus dijalankan dengan
keseriusan dan komitmen dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kunatan Singingi. Pemerintah Daerah
Kabupaten Kuantan Singingi diharapkan lebih bertanggung jawab dalam meningkatkan fasilitas
sarana dan prasarana sebagai media pendukung dalam pelaksanaan kegiatan, juga pengawasan dalam
melaksanakan program agar dapat mempercepat proses swasembada beras. Kesimpulan: Dengan
adanya program swsembada beras ini, Masyarakat puas terhadap program yang dilaksanakan
pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi. Faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan
Masyarakat yaitu stabilnya pasokan beras yang kualitasnya memadai, dan penigkatannya pendapatan
petani dan masyarakat atas hasil program ini.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam rangka menyediakan pangan masyarakat sebagai wujud ketahanan pangan dalam negeri yang
telah dituangkan ke dalam Undang- undang Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, maka sektor
pertanian diharapkan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di Indonesia.
Pembangunan pertanian diharapkan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang positif
dengan perbaikan/perubahan strategi peningkatan produktivitas, penguatan nilai tambah produk,
investasi berkelanjutan, perbaikan pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM). (Hartini:2021)
Di Indonesia untuk menjaga keterjangkauan harga beras di tingkat konsumen, pemerintah melakukan
stabilisasi pasokan dan harga beras melalui penetapan harga eceran tertinggi beras yang diatur dalam
2
Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2023 Tentang Harga Eceran
Teringgi Beras. Sedangkan Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras diatur
dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Harga
Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras untuk melindungi pendapatan petani,
pemerintah melakukan stabilisasi pasokan dan harga gabah dan beras di tingkat produsen melalui
penetapan harga pembelian pemerintah dan rafaksi harga gabah dan beras pada tingkat produsen
sebagai pedoman pembelian pemerintah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengimpor beras sebanyak 1,786 juta ton
selama Januari sampai September 2023. Nilai total impor tersebut mencapai US$ 980 juta. Ada 3
negara yang menjadi sumber utama impor beras RI. Di urutan pertama ada Thailand dengan angka
ekspor senilai US$ 466 juta, Vietnam US$ 456 juta dan ketiga India. Adapun beras yang diimpor
terdiri dari berbagai macam jenis, di antaranya beras medium, khusus, premium sekaligus beras pecah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor beras ke Indonesia mencapai 1,59 juta ton
selama periode Januari-Agustus 2023. Adapun berdasarkan negara asalnya, impor beras ke RI
mayoritas berasal dari Thailand, yakni mencapai 802 ribu ton atau berkontribusi 50,36% dari total
impor beras. Urutan kedua, ditempati oleh Vietnam dengan volume impor sebesar 674 ribu ton atau
menyumbang 42,33%. Ketiga, berasal dari India yang telah mengimpor 66 ribu ton beras ke Tanah
Air yang mencakup 4,16% dari total impor beras. Kemudian disusul oleh Pakistan sebesar 45 ribu ton
atau mencakup 2,85%. Sementara dari negara lainnya hanya mengimpor 5 ribu ton beras atau
menyumbang 0,30%. Kuota impor beras Indonesia adalah sebanyak 2 juta ton pada tahun ini. Bulog,
sebagai pelaksana impor, telah mendatangkan 1,6 juta ton beras dari berbagi negara di Asia.
Permintaan beras di Indonesia meningkat setiap tahunnya sehingga membuat kesenjangan semakin
besar antara produksi dan konsumsi. Upaya Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan
berkelanjutan saat ini sangat tergantung pada cara negara ini mengelola komoditas makanan yang
paling penting, yaitu beras. Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dalam intervensi pasar beras
domestik melalui berbagai metode untuk mengarahkan dinamika ekonomi dan politik dalam beberapa
tahun terakhir. Kombinasi antara stabilisasi harga dan kebijakan terkait produksi beras telah
menghasilkan kebijakan saat ini yang melindungi perdagangan internasional.
Permintaan akan beras di Provinsi Riau terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, produksi lokal
tidak mampu memenuhi kebutuhan ini, sehingga Riau harus bergantung pada impor dari provinsi
tetangga. Meskipun Riau memiliki potensi produksi beras yang cukup baik, namun kenyataannya
impor dari daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung tetap diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Kuantan Singingi juga mencapai produsen beras yang meningkat di
Provinsi Riau dengan peningkatan jumlah produksi beras yang cukup signifikan dari periode Januari-
April 2022 sejumlah 1.735 menjadi 2.453 Ton Beras. Dengan capaian sebagai produsen beras terbesar
di Provinsi Riau yang angka produksinya terus meningkat Gubernur Riau menjadikan Kabupaten
Kuantan Singingi sebagai sentra pertanian di Provinsi Riau. Salah satu latar belakangnya adalah
Kabupaten Kuantan Singingi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau yang berpotensi
mencapai swasembada beras. Salah satu contohnya adalah Desa Pulau Lancang, sebelumnya, ditahun
2022 lalu dengan luas lahan sawah 28.5 hektar, dengan rata-rata produktivitas 5.7 ton per hektar dan
produksi pada tahun 2023 sekitar 6.4 ton perhektar, dengan demikian terlihat desa ini produktivitas
3
nya meningkat sesuai dengan target Plt. Bupati Kuantan Singingi untuk pada tahun 2024 mendatang
Kuantan Singingi harus menjadi kabupaten yang mandiri pangan.
1.2. Kesenjangan Masalah yang Diambil (GAP)
Permintaan beras di Indonesia meningkat setiap tahunnya sehingga membuat kesenjangan semakin besar
antara produksi dan konsumsi. Kelebihan permintaan ditutupi oleh impor beras yang menyebabkan
harga beras dalam negeri merespons pergerakan harga beras global yang merugikan produsen dan
konsumen (Rahim, Radjab:2017) Upaya Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan saat
ini sangat tergantung pada cara negara ini mengelola komoditas makanan yang paling penting, yaitu
beras. Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dalam intervensi pasar beras domestik melalui berbagai
metode untuk mengarahkan dinamika ekonomi dan politik dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi
antara stabilisasi harga dan kebijakan terkait produksi beras telah menghasilkan kebijakan saat ini yang
melindungi perdagangan internasional. Kuantan Singingi juga mencapai produsen beras yang meningkat
di Provinsi Riau dengan peningkatan jumlah produksi beras yang cukup signifikan dari periode Januari-
April 2022 sejumlah 1.735 menjadi 2.453 Ton Beras. Dengan capaian sebagai produsen beras terbesar
di Provinsi Riau yang angka produksinya terus meningkat Gubernur Riau menjadikan Kabupaten
Kuantan Singingi sebagai sentra pertanian di Provinsi Riau. Salah satu latar belakangnya adalah
Kabupaten Kuantan Singingi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau yang berpotensi
mencapai swasembada beras. Faktor lain yang berpengaruh pada swasembada beras di Kabupaten
Kuantan Singingi mencakup tingkat dukungan yang diberikan oleh sumber daya aparatur, baik dalam
hal jumlah maupun kualitasnya.
7
11 PC Unit 3
12 Server -
13 Printer 6
14 Scanner -
15 Proyektor 2
16 Mesin Foto Copy -
17 Videotron -
18 Smartboard -
19 Handy Cam 1
20 Kursi Besi 1
21 Kursi Rapat 34
22 Kursi Pegawai 39
23 Meja Kerja 29
24 Televisi 2
25 Soundsystem -
26 Wireles 1
Meja Kerja Pejabat
27 9
Eselon IV
Kursi Kerja Pejabat
28 9
Eselon IV
Meja Kerja Pejabat
29 4
Eselon III
Kursi Kerja Pejabat
30 4
Eselon III
31 Unit Power Supply -
32 Kelengkapan Komputer -
33 Lemari Buku 25
34 Camera -
35 Tabung Pemadam -
8
36 Dispenser -
37 Kursi Tamu/Sofa 4
38 Mesin Air -
39 Tangki Air 1 -
JUMLAH 280
Untuk suatu aset yang berwujud dalam program swasembada beras yang ada di Kabupaten
Kuantan Singingi ini adalah pemerintah telah menyediakan sarana dan prasarana untuk
membantu kelangsungan proses swasembada beras daerah Kabupaten Kuantan Singingi
menjadi daerah mandiri pangan. Aset ini sebagai penunjang proses percepatan ini untuk
menjadikan Kabupaten Kuantan Singingi sebagai daerah mandiri pangan.
b. Aset Yang Tidak Berwujud: Aset yang tidak berwujud adalah Aset yang digunakan
bukan karena fisiknya, tetapi karena kepemilikan atas aset tersebut sehingga kita memliliki
hak untuk melakukan sesuatu Aset yang digunakan bukan karena fisiknya, tetapi karena
kepemilikan atas aset tersebut sehingga kita memliliki hak untuk melakukan sesuatu. Selain
aset yang berwujud, Pemkab juga telah menyediakan berberapa aset yang tidak berwujud
seperti peraturan dan aturan dalam program percepatan ini. Sehingga dapat menungjang
percepatan swasembada beras bagi Kabupaten Kuantan Singingi. Untuk suatu aset yang
tidak berwujud dalam program swasembada beras yang ada di Kabupaten Kuantan
Singingi ini adalah pemerintah juga membuat aturan dan peraturan untuk mengikat proses
ini yang bertujuan untuk menunjang percepatan daerah menjadi suatu daerah yang mandiri
pangan.
3.2. Opportunities (Peluang)
a. Kompetensi Sumber Daya Manusia: Kompetensi Sumber Daya Manusia adalah
kemampuan dan karakteristik yang dimiliki seseorang berupa pengetahuan, keterampilan,
dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatanya dalam lingkungan
pekerjaanya. Sumber daya manusia dalam program ini merupakan seluruh perangkat-
perangkat yang mempunya hak dan wewenang dalam melaksanakan kegiatan ini. Baik itu
pemerintah daerah maupun Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Hal ini harus memiliki
kualitas yang baik agar terwujudnya program mandiri pangan ini. Sumber daya manusia
yang mempengaruhi ialah apartur sipil negara dan petani. Aparatur Sipil Negara mempunyai
peran penting dalam pelaksanaan proses percepatan swasembada beras di Kabupaten
Kuantan Singingi. Dan Aparatur Sipil Negara dituntut dapat menyeimbangi perubahan
teknologi dan zaman dalam proses pelaksanaannya. Dan untuk sumber daya manusia yaitu
petani dilibatkan dalam proses ini. Tetapi untuk kapasitas dan kompetensi dari sumber daya
manusia ini masih rendah karena para petani masih berpendidikan rendah sehingga sulit
untuk mengikuti perubahan teknologi dan zaman.
9
b. Kepercayaan Masyarakat: Kepercayaan masyarakat dapat ditingkatkan melalui
transparansi dalam pengelolaan program swasembada beras, keterlibatan mereka dalam
pengambilan keputusan, dan evaluasi terbuka atas kinerja program. pengelolaan program
yang baik, lancar dan teratur akan memberikan indikasi atau stigma positif dari masyarakat
sebagai konsumen. Pandangan masyarakat terhadap program swasembada beras ini besar
harapan dengan diadakannya program ini mampu menjadikan daerah Kabupaten Kuantan
Singingi lebih baik. Masyarakat percaya terhadap apa yang dilakukan pemerintah selagi
masih baik dan bermanfaat bagi daerah dan Masyarakat. Menurut informan, Pemerintah
selalu melibatkan peran Masyarakat dalam program ini sehingga masyarkat percaya
terhadap akan suksesnya program ini.
3.3. Aspirations (Aspirasi)
a. Visi: Visi akan sangat berpengaruh ketika organisasi tersebut hendak melakukan perubahan.
Visi membuat organisasi tersebut tetap berjalan sesuai dengan apa yang pendiri cita-citakan,
sehingga visi akan mencegah sebuah organisasi untuk membentuk arah baru atau melenceng
dari tujuan visi. Visi Kabupaten Kuantan Singingi ialah “Terwujudnya Kabupaten Kuantan
Singingi yang Berbudaya, Religius, Maju, Berwawasan, Sejahtera dan Harmonis
(KUANTAN SINGINGI NEGERI BERMARWAH) di Provinsi Riau Tahun 2026.
Pemerintah sudah jelas arah dan tujuan untuk mewujudkan Kabupaten Kuantan Singingi
menjadi sebuah daerah yang mandiri pangan. Karena Kabupaten Kuantan Singingi dan
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kuantan Singingi
sudah mempunyai visi yang selaras untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
b. Misi: Misi dari OPD yang bertanggung jawab terhadap sektor tanaman pangan ialah
memperkuat sistem dukungan bagi petani melalui penyediaan pupuk, benih berkualitas
tinggi, dan layanan pertanian yang terjangkau, mengembangkan sistem distribusi yang
efisien untuk memastikan pasokan beras yang stabil dan terjangkau bagi Masyarakat,
melakukan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk menjaga kesuburan
tanah dan keberlanjutan ekosistem pertanian, dan memperkuat kerjasama antara pemerintah,
sektor swasta, dan masyarakat dalam mendukung program swasembada beras. Misi yang
telah ditetapkan pemerintah bertujuan untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Besar
harapan bagi pemerintah dukungan dari masyarakat untuk mewujudkan program tersebut.
Dengan adanya koordinasi antara pemerintah dan masyarakat akan mampu mempercepat
proses menjadikan daerah yang mandiri pangan.
c. Kualitas Sarana dan Prasarana: Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas
Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kuantan Singingi juga
harus didukung oleh sumber daya aset/modal yang memadai. Pemerintah sudah
menyediakan fasilitas sarana dan prasaran sebagai penunjang program swasembada beras
ini. Kualitas sarana dan prasarana sangat berpengaruh dalam melaksanakan program ini.
Adanya sarana dan prasarana dengan teknologi pertanian yang telah modern dapat
mempermudah Masyarakat dan petani dalam pekerjaanya sehingga swasembada beras di
daerah Kabupaten Kuantan Singingi dapat dipenuhi.
3.4. Results (Hasil)
10
a. Tujuan: Harapan dalam pelaksanaan program ini ialah daerah Kabupaten Kuantan Singingi
mampu menjadi daerah yang mandiri pangan. Dengan tujuan agar Kuantan Singingi bisa
memproduksi beras sendiri dan menghindari keegiatan impor beras terus menerus.
Pemerintah sangat berharap dengan adanya program ini mampu menjadikan daerah
Kabupaten Kuantan Singingi daerah yang mandiri pangan. Sehingga, Kabupaten Kuantan
Singingi mampu mengurangi kegiatan impor beras ke luar daerah dan teroptimalisasi nya
mandiri pangan di Kabupaten Kuantan Singingi dengan target sampai ke daerah terpelosok
yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. Dan besar harapan bagi masyarakat dengan
adanya program swasembada beras ini mampu meningkatkan daya saing antara petani
daerah lain. Dan meningkatnya luas panen padi di Kabupaten Kuantan Singingi. Dengan
adanya peningkatan produksi padi bagi petani lokal dapat meningkatkan pereknomian
Masyarakat yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi.
b. Kepuasan Masyarakat: Pemerintah sebagai penyedia layanan publik bertanggung jawab
dan terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Kepuasan
masyarakat tercermin dari stabilitas pasokan beras, kualitas beras yang memadai, dan
peningkatan pendapatan petani. yang menjadi poin utamanya yaitu peningkatan pendapatan
para petani yang menandakan bahwa percepatan swasembada beras berjalan dengan efektif
dan efisien. Pandangan masyarakat terhadap program swasembada beras ini sangat penting
untuk keberlangsungan hidup dalam kehidupan sehari-hari. Faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan Masyarakat yaitu stabilnya pasokan beras yang kualitasnya
memadai, dan penigkatannya pendapatan petani dan Masyarakat atas hasil program ini. Dan
juga dengan adanya swasembada beras ini, Kabupaten Kuantan Singingi mampu
memproduksi beras lokal yang dapat meningkatkan perekonmian masyakarat Kabupaten
Kuantan Singingi dengan kualitas yang bagus dan harga terjangkau.
c. Inovasi dapat diterima keberadaannya oleh masyarakat: Bahwa keberadaan inovasi
pelayanan perizinan keliling kelurahan (SIAP KAKA) di Kota Madiun sudah diterima oleh
masyarakat pelaku usaha di Kota Madiun, dikarenakan dengan adanya program inovasi ini
membantu masyarakat dalam menerbitkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai dokumen
perizinan yang sah atas usaha yang mereka jalankan.
3.5. Analisis Matriks SOAR
Matriks SOAR berfungsi untuk menyusun faktor-faktor strategis yang menggambarkan bagaimana
kekuatan dan peluang eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan aspirasi dan hasil terukur yang
dimiliki (Nugraha, 2020)
a. Strategi S-A: Strategi S-A adalah strategi yang diperoleh dari Strengths (kekuatan) dan
Aspirations (aspirasi). Strategi S-A yang dapat dilakukan:
• Menyediakan alat dan mesin pertanian modern seperti traktor, mesin penanam, dan
pemanen untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
• Pemerintah dapat menyediakan alat dan mesin pertanian modern seperti traktor, mesin
penanam, dan pemanen. Kelompok tani dikoordinasikan untuk penggunaan bersama
alat-alat tersebut, mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.
11
• Penggunaan traktor dan alat berat modern untuk meningkatkan efisiensi dalam
pengolahan lahan, penanaman, dan panen. Mekanisasi ini dapat mengurangi waktu dan
tenaga kerja yang diperlukan, serta meningkatkan produktivitas
• Mengembangkan standar praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices -
GAP) untuk memastikan produksi beras yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.
• Rapat Berkala, mengadakan rapat koordinasi berkala untuk membahas perkembangan,
tantangan, dan solusi yang diperlukan untuk mencapai target swasembada pangan.
• Kebijakan Anggaran, alokasi anggaran yang memadai untuk pembangunan dan
pemeliharaan infrastruktur pertanian dalam anggaran nasional dan daerah.
b. Strategi O-A: Strategi O-A adalah strategi yang diperoleh antara Opportunities (peluang)
dan Aspirations (aspirasi). Strategi ini dibentuk untuk dapat mengetahui dan memenuhi
aspirasi dari setiap stakeholder yang berpotensi kepada peluang yang ada. Strategi O-A yang
dapat dilakukan ialah :
• Menyelenggarakan pelatihan teknis secara berkelanjutan bagi petani, pekerja pertanian,
dan penyuluh pertanian mengenai teknologi terbaru, mekanisasi, dan praktik pertanian
yang efisien.
• Pemberian Dukungan dan Akses Teknologi, pemerintah dapat membantu menyediakan
akses ke teknologi pertanian modern dan memberikan dukungan teknis. Dengan
koordinasi yang baik, distribusi teknologi ini dapat dilakukan secara merata dan tepat
sasaran.
• Penggunaan Efektif Teknologi, dengan adanya pelatihan yang tepat, petani dapat
menggunakan teknologi pertanian modern dengan lebih efektif, meningkatkan efisiensi
kerja dan produktivitas lahan mereka.
• Membangun forum-forum diskusi dan konsultasi antara pemerintah dan masyarakat
untuk memastikan bahwa masukan masyarakat diperhitungkan dalam pelaksanaan
program.
• Evaluasi dan Feedback, akuntabilitas juga mencakup evaluasi berkala dan pengumpulan
umpan balik dari masyarakat. Koordinasi yang baik memastikan bahwa masukan dari
masyarakat digunakan untuk meningkatkan efektivitas program.
• Publikasi Laporan Keuangan dan Progres, membuat laporan keuangan dan progres
program yang mudah diakses oleh masyarakat untuk memastikan keterbukaan dalam
penggunaan anggaran.
c. Strategi S-R:
Strategi S-R adalah strategi yang diperoleh antara Strengths (kekuatan) dan Results (hasil).
Strategi ini dibentuk untuk dapat mewujudkan kekuatan untuk mencapai hasil yang terukur.
Strategi S-R yang dapat dilakukan ialah:
12
• Menggunakan bibit padi unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit serta memiliki
produktivitas tinggi.
• Memperkuat peran Perum Bulog sebagai lembaga yang bertugas mengelola cadangan
beras nasional dan menjaga stabilitas harga dan pasokan beras.
• Mengembangkan sistem manajemen risiko yang komprehensif untuk membantu petani
mengelola ancaman terhadap produksi beras.
• Mengatur kebijakan impor beras secara bijaksana untuk memastikan pasokan dalam
negeri cukup tanpa merugikan petani lokal.
d. Strategi O-R:
Strategi O-R adalah strategi yang diperoleh antara Opportunities (peluang) dan Results
(hasil). Strategi ini berorientasi kepada peluang untuk mencapai hasil yang sudah terukur.
Strategi O-R yang dapat dilakukan ialah:
• Pelatihan Teknologi Pertanian, melatih petani lokal di Kuantan Singingi tentang
teknologi pertanian modern seperti penggunaan mesin panen otomatis, irigasi tetes, dan
teknologi pertanian presisi.
• Menggunakan teknik pertanian modern untuk meningkatkan hasil dan kualitas beras.
Misalnya, pemanfaatan varietas unggul, pemupukan yang tepat, dan pengendalian hama
yang efektif.
• Pemantauan dan Evaluasi, mengadakan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang
melibatkan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan
rencana dan dana digunakan secara efisien.
• Pengelolaan yang Efisien, dengan transparansi dalam penggunaan dana dan akuntabilitas
dalam setiap tahap pelaksanaan program, pemerintah dapat memastikan bahwa sumber
daya dialokasikan secara efisien untuk meningkatkan kualitas dan stabilitas pasokan
beras.
3.6. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Strategi Pemerintahan Daerah Dalam
Percepatan Swasembada Beras Di Kabupaten Kuantan Singingi
a. Faktor Pendukung
Pemerintahan Daerah Kabupaten Kuantan Singingi mendukung penuh atas proses
percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi. Terdapat berberapa faktor
pendukung dalam hal ini, yaitu kapasitas aparatur sipil negara yang menangani
permasalahan ini, sosialisasi program mandiri pangan bagi daerah Kabupaten Kuantan
Singingi, dan ketersediaan fasilitas untuk swasembada beras di Kabupaten Kuantan
Singingi.
Tokoh-tokoh sangat mendukung penuh program swasembada beras. Dengan adanya
program ini, Masyarakat umumnya mampu menjaga perekonomian per daerah individu.
Dan di suatu daerah khususnya Kabupaten Kuantan singingi mampu menjaga kestabilan
13
perekonomian dan mengurangi kegiatan impor beras dari daerah lain.
b. Faktor Penghambat
Ada berberapa hambatan dalam melaksanakan program swasembada ini. Salah satunya
terkendalanya pengawasan yang ketat karena ada berberapa armada jalan yang rusak dan
cuaca yang kurang mendukung bagi kita untuk melakukan pendampingan. Selain itu
kurang optimalnya kinerja aparatur sipil negara walaupun kapasitas dan jumlah pegawai
yang cukup banyak. Dan juga penyuluh pertanian yang kurang optimal dalam pendamping
dan menyuluh untuk menunjang perkembangan proses program swasembada beras ini.
Untuk faktor-faktor yang menghambat proses percepatan swasembada beras adalah
keterbatasan lahan,rendahnya akses pasar. Turun dan naiknya harga beras sangat
berpengaruh dalam percepatan swasembada beras termasuk lahan tempat bertani. Serangan
Hama dan penyakit tanaman padi yang masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan
produksi padi. Banjir dan kekeringan juga dapat mengganggu produksi padi serta akses
jalan yang kurang memadai di beberapa daerah akan menyulitkan petani dalam
mengangkut hasil panen.
3.7. Upaya Mengatasi Faktor penghambat Strategi Pemerintahan Daerah Dalam Percepatan
Swasembada Beras Di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau
a. Upaya langsung dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi,
pemerintah daerah turut andil secara langsung turun ke lapangan. Pemerintah daerah
melaksanakan pendampingan agar lancarnya proses pelaksanaan program swasembada
beras ini. Upaya langsung dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan
Singingi yaitu peningkatan Luas Lahan Tanam Padi seperti membuka lahan tidur dan
cetak sawah Baru serta rehabilitasi jaringan irigasi untuk mendukung sistem tanam padi
sawah. Melakukan penerapan sistem tanam padi dua kali setahun Indeks pertanaman 200
(IP200) atau bahkan tiga kali setahun (IP300) di daerah yang memungkinkan. Peningkatan
kualitas sarana dan prasarana. Melaksanakan kegiatan peningkatan mutu intensifikasi
(PMI). Penggunaan pupuk dan pestisida secara efisien dan tepat guna. Dan melakukan
gerakan pengendalian penanggulangan Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT).
b. Upaya langsung eksternal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecahkan
penghambat dan kendala melalui kegiatan yang langsung yang berhasal dari luar lingkup
pemerintah daerah. Peran langsung dari Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi ialah
turut aktif dalam segala kegiatan program swasembada pangan ini. Tidak semerta-merta
menunggu bola dari pemerintah daerah. Para petani wajib aktif dalam menyukseskan
Kabupaten Kuantan Singingi mampu menjadikan daaerah swasembada pangan. Tokoh-
tokoh secara langsung berupaya melaksanakan program swasembada beras ini.
Masyarakat turut aktif dalam segala kegiatan program pemerintahan daerah. Masyarakat
juga melaksanakan Kerjasama dan upaya bersama dengan pemerintah daerah dengan
melaksanakan pendampingan untuk meningkatkan jumlah panen padi daerah Kabupaten
Kuantan Singingi. Dan untuk melaksanakan program ini, Masyarakat sangat mendukung
penuh program swasembada beras. Dengan adanya program ini, Masyarakat haruslah
mengurangi kegiatan mengimpor beras ke daerah luar.
14
c. Upaya tidak langsung internal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecah
penghambat dan kendala melalui kegiatan yang tidak secara langsung dilakukan oleh
pemerintah daerah. pemerintah daerah secara tidak langsung berupaya menyukseskan
program swasembada beras ini dengan berbagai cara. Pemerintah daerah membuat suatu
regulasi dan kebijakan untuk mengatur jalannya program ini. Pemerintah daerah juga
menyediakan penyuluh untuk membantu memberikan pelatihan kepada petani dan
Masyarakat tentang Teknik budidaya padi mandiri. Pemerintah menyediakan fasilitas atau
berbagai sarana dan prasarana sebagai bentuk Upaya untuk melaksanakan program ini.
d. Upaya tidak langsung eksternal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecah
penghambat dan kendala melalui kegiatan yang tidak secara langsung dilakukan oleh
pihak luar pemerintah daerah. Tokoh-tokoh secara tidak langsung berupaya membantu
atas program swasembada beras yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Dengan cara
mengenalkan hasil tani lokal ke daerah daerah luar untuk bisa meningkat pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Kuantan Singingi. Dan masyarakat dapat membuat suatu pupuk
organik untuk membantu pemerintah daerah dalam proses program swasembada beras ini.
3.8. Diskusi Temuan Utama Penelitian
Dalam pelaksanaan program swasembada beras masih ditemukan faktor penghambat yang menjadi
kendala dalam proses percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.
Berikut beberapa penghambat strategi pemerintahan daerah dalam percepatan swasembada beras di
Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau yaitu Ada berberapa hambatan dalam melaksanakan
program swasembada ini. Salah satunya terkendalanya pengawasan yang ketat karena ada berberapa
armada jalan yang rusak dan cuaca yang kurang mendukung bagi kita untuk melakukan pendampingan.
Selain itu kurang optimalnya kinerja aparatur sipil negara walaupun kapasitas dan jumlah pegawai
yang cukup banyak. Dan juga penyuluh pertanian yang kurang optimal dalam pendamping dan
menyuluh untuk menunjang perkembangan proses program swasembada beras ini.
Untuk faktor-faktor yang menghambat proses percepatan swasembada beras adalah keterbatasan
lahan,rendahnya akses pasar. Turun dan naiknya harga beras sangat berpengaruh dalam percepatan
swasembada beras termasuk lahan tempat bertani. Serangan Hama dan penyakit tanaman padi yang
masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan produksi padi. Banjir dan kekeringan juga dapat
mengganggu produksi padi serta akses jalan yang kurang memadai di beberapa daerah akan
menyulitkan petani dalam mengangkut hasil panen .
Adapun Upaya dalam mengatasi faktor penghambat dalam strategi pemerintahan daerah dalam
percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau ialah :
a. Upaya langsung dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi, pemerintah
daerah turut andil secara langsung turun ke lapangan. Pemerintah daerah melaksanakan
pendampingan agar lancarnya proses pelaksanaan program swasembada beras ini. Upaya langsung
dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi yaitu peningkatan Luas Lahan
Tanam Padi seperti membuka lahan tidur dan cetak sawah Baru serta rehabilitasi jaringan irigasi untuk
mendukung sistem tanam padi sawah. Melakukan penerapan sistem tanam padi dua kali setahun
Indeks pertanaman 200 (IP200) atau bahkan tiga kali setahun (IP300) di daerah yang memungkinkan.
Peningkatan kualitas sarana dan prasarana. Melaksanakan kegiatan peningkatan mutu intensifikasi
(PMI). Penggunaan pupuk dan pestisida secara efisien dan tepat guna. Dan melakukan gerakan
pengendalian penanggulangan Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT).
b. Upaya langsung eksternal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecahkan penghambat dan
15
kendala melalui kegiatan yang langsung yang berhasal dari luar lingkup pemerintah daerah. Peran
langsung dari Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi ialah turut aktif dalam segala kegiatan
program swasembada pangan ini. Tidak semerta-merta menunggu bola dari pemerintah daerah. Para
petani wajib aktif dalam menyukseskan Kabupaten Kuantan Singingi mampu menjadikan daaerah
swasembada pangan. Tokoh-tokoh secara langsung berupaya melaksanakan program swasembada
beras ini. Masyarakat turut aktif dalam segala kegiatan program pemerintahan daerah. Masyarakat
juga melaksanakan Kerjasama dan upaya bersama dengan pemerintah daerah dengan melaksanakan
pendampingan untuk meningkatkan jumlah panen padi daerah Kabupaten Kuantan Singingi. Dan
untuk melaksanakan program ini, Masyarakat sangat mendukung penuh program swasembada beras.
Dengan adanya program ini, Masyarakat haruslah mengurangi kegiatan mengimpor beras ke daerah
luar.
c. Upaya tidak langsung internal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecah penghambat dan
kendala melalui kegiatan yang tidak secara langsung dilakukan oleh pemerintah daerah. pemerintah
daerah secara tidak langsung berupaya menyukseskan program swasembada beras ini dengan
berbagai cara. Pemerintah daerah membuat suatu regulasi dan kebijakan untuk mengatur jalannya
program ini. Pemerintah daerah juga menyediakan penyuluh untuk membantu memberikan pelatihan
kepada petani dan Masyarakat tentang Teknik budidaya padi mandiri. Pemerintah menyediakan
fasilitas atau berbagai sarana dan prasarana sebagai bentuk Upaya untuk melaksanakan program ini.
d. Upaya tidak langsung eksternal merupakan upaya yang dilakukan untuk memecah penghambat
dan kendala melalui kegiatan yang tidak secara langsung dilakukan oleh pihak luar pemerintah daerah.
Tokoh-tokoh secara tidak langsung berupaya membantu atas program swasembada beras yang
dilakukan oleh pemerintah daerah. Dengan cara mengenalkan hasil tani lokal ke daerah daerah luar
untuk bisa meningkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuantan Singingi. Dan masyarakat dapat
membuat suatu pupuk organik untuk membantu pemerintah daerah dalam proses program swasembada
beras ini.
3.9. Diskusi Temuan Menarik Lainnya (Opsional)
Pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi mengalami berberapa hambatan dalam proses
program swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi, yaitu kurang optimalnya kinerja aparatur
sipil negara walaupun kapasitas dan jumlah pegawai yang cukup banyak dan juga penyuluh pertanian
yang kurang optimal dalam pendamping dan menyuluh untuk menunjang perkembangan proses
program swasembada beras ini. Selain itu juga terdapatnya serangan hama dan penyakit tanaman padi
yang menjadi kendala dalam peningkatan intensitas padi daerah Kabupaten Kuantan Sigingi. Dari segi
alam, banjir dan kekeringan sebagai kendala karena dapat mengganggu produksi padi, serta akses jalan
yang kurang layak sehingga petani kesulitan dalam proses pemanenan.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasi penulisan yang telah dilakukan oleh penulis mengenai strategi pemerintahan daerah
dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau, maka penulis
menarik kesimpulan yaitu: dengan adanya program Swasembada Beras ini mampu menjadikan daerah
Kabupaten Kuantan Singingi daerah yang mandiri pangan. Sehingga, Kabupaten Kuantan Singingi
mampu mengurangi kegiatan impor beras ke luar daerah dan teroptimalisasi nya mandiri pangan di
Kabupaten Kuantan Singingi dengan target sampai ke daerah terpelosok yang ada di Kabupaten
Kuantan Singingi. Besar harapan bagi Masyarakat dengan adanya program swasembada beras ini
mampu meningkatkan daya saing antara petani daerah lain. Dan meningkatnya luas panen padi di
16
Kabupaten Kuantan Singingi. Dengan adanya peningkatan produksi padi bagi petani lokal dapat
meningkatkan pereknomian Masyarakat yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi.
a. Strategi S-A: Strategi yang dapat diambil untuk mencapai swasembada beras, melalui
penyediaan teknologi pertanian modern, koordinasi kelompok tani, penerapan praktik pertanian
yang baik, rapat koordinasi berkala, dan alokasi anggaran yang tepat, pemerintah dapat
meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produksi beras untuk mencapai
swasembada pangan.
b. Strategi O-A: Strategi yang dapat diambil dalam mencapai swasembada beras yaitu dengan
meningkatkan efisiensi pertanian dengan memberikan pelatihan teknis, mendukung akses
teknologi modern, dan membangun forum diskusi dengan masyarakat untuk evaluasi program
secara terbuka.
c. Strategi S-R: Strategi yang dapat diambil untuk mencapai swasembada beras dan menjaga
stabilitas pasar, diperlukan penggunaan bibit unggul, penguatan peran Bulog, pengembangan
manajemen risiko yang efektif, dan kebijakan impor beras yang bijaksana. Semua ini akan
membantu meningkatkan produksi, menjaga stabilitas pasokan dan harga, serta melindungi
petani lokal.
d. Strategi O-R: Strategi yang dapat diambil untuk mencapai dan menjaga swasembada beras
serta stabilitas pasokan, memberdayakan petani dengan pelatihan teknologi pertanian modern
untuk meningkatkan hasil beras. Menerapkan teknik pertanian modern dan melakukan
pemantauan serta evaluasi program secara partisipatif. Transparansi dalam pengelolaan dana
mendukung efisiensi sumber daya untuk stabilitas pasokan beras.
Keterbatasan Penelitian. Penelitian ini memiliki keterbatasan utama yakni waktu dan biaya
penelitian. Penelitian juga hanya dilakukan pada satu kelurahan saja sebagai model studi kasus yang
dipilih berdasarkan pendapat dari Stavros, J.M, dan Cole.
Arah Masa Depan Penelitian (future work). Penulis menyadari masih awalnya temuan penelitian,
oleh karena itu penulis menyarankan agar dapat dilakukan penelitian lanjutan pada lokasi serupa
berkaitan dengan strategi pemerintahan daerah dalam percepatan swasembada beras di Kabupaten
Kuantan Singingi Provinsi Riau untuk menemukan hasil yang lebih mendalam.
V. UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih terutama ditujukan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan
Ketahanan Pangan Kabupaten Kuantan Singingi beserta jajarannya yang telah memberikan
kesempatan penulis untuk melaksanakan penelitian, serta seluruh pihak yang membantu dan
mensukseskan pelaksanaan penelitian.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Fahlevi. (2019). Usulan Perbaikan Strategi Pemasaran Penjualan Jasa Pengisian APAR Dengan
Metode Analisis SOAR (Strenght, Opportunity, Aspirations, Result) (Studi Kasus PT Asta
Guna Mandiri).
Hartini. (2021). Manajemen Strategi (Membangun Keunggulan Kompetitif). Media Sains Indonesia.
17
Nisa, Khoirun Afwa. (2018). Strategi Pemerintah Kabupaten Malang dalam Mewujudkan
Swasembada Beras.
Rumpoko, Andian Puji. (2013). Strategi Peningkatan Swasembada Beras Provinsi Jawa Timur Tahun
2020.
Rahim, A. R., & Radjab, E. (2017). Manajemen Strategi. Makasar: Lembaga Perpustakaan dan
Penerbitan Universitas Muhammadiyah Makassar
Simangunsong, Fernandes. 2017. Metodelogi Penulisan Pemerintahan. Bandung : Alfabeta.
Shafiani, Fanni. (2018). Implementasi Program Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai dalam Upaya
Swasembada Pangan (Studi pada Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa)
Sibuea, Et., Hendri. (2014). Proyeksi Produksi Beras dan Strategi Mewujudkan Swasembada Beras di
Kabupaten Ketapang. Jurnal Social Economic of Agriculture.
Stavros, J.M, & Cole (2013). SOARing towards Positive Transformation and Change.
Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alphabet.
Febriana, hening (2019). Strategi dinas pertanian dan ketahanan pangan dalam meningkatkan
ketahanan pangan di kabupaten tangerang.
Irawan, Hengki (2018). Strategi pemerintah dalam pemenuhan ketahanan pangan di kecamatan
wonomulyo kabupaten polewali mandar.
Pratama, Yoga (2019). Analisis kebijakan impor beras terhadap kondisi panen petani di kabupaten
lampung tengan.
Kus Nugroho, Yuliar (2023). Kkeberlanjutan swasembada beras melalui penguatan ekonomi hijau
guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Rocky Siregar, Paul (2015). Analisis penawaran beras di sumatera utara.
18