Prospek Swasembada Beras Di Provinsi Kalimantan Timur Wajar Mey Handani, Nunung Kusnadi, Dan Dwi Rachmina
Prospek Swasembada Beras Di Provinsi Kalimantan Timur Wajar Mey Handani, Nunung Kusnadi, Dan Dwi Rachmina
ABSTRACT
Rice self-sufficiency in Indonesia remains a national priority program since rice is a staple food of the
majority of the population. This national program has become an economic development agenda in almost
all local governments at the provincial and district levels. East Kalimantan Province is one of the provinces
that set the rice self-sufficiency on the local medium-term planning (RPJMD) 2013-2018. This research
generally aimed at analyzing the prospect of rice self-sufficiency in East Kalimantan Province. Specifically,
the research aimed to measure the potential for developing rice in East Kalimantan Province and to analyze
the production technical efficiency of rice farming. The data used in this research were national and
provincial agriculture land area and 337 units of rice farm from Agricultural Census 2013. Using LQ
(Location Quotient) method indicated that economically rice was not a basic commodity of East Kalimantan
Province. At the provincial level, there were only two out of four districts that had rice as a basic commodity.
Stochastic production frontier analysis showed that the technical efficiency of rice production was 0.64,
which indicated that rice production in the province was 36 per cent below its production frontier. Planting
patterns and land status significantly improved technical efficiency. From this research can be concluded
that the self-sufficiency program in East Kalimantan Province was not supported by regional potential of
rice production nor by technically efficient rice production at the farm level.
Keywords: basic commodity, location quotient, stochastic frontier analysis, technical efficiency, translog
ABSTRAK
Swasembada beras di Indonesia tetap menjadi program prioritas nasional, dikarenakan beras
menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk. Program nasional ini telah menjadi agenda
pembangunan ekonomi di hampir semua pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun
kabupaten. Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu provinsi yang menetapkan
swasembada beras pada RPJMD 2013-2018. Penelitian ini umumnya bertujuan menganalisis
prospek swasembada beras di Provinsi Kalimantan Timur. Secara khusus, penelitian ini
bertujuan untuk mengukur potensi pengembangan padi di Provinsi Kalimantan Timur dan
menganalisis efisiensi teknis produksi pertanian padi. Penelitian ini menggunakan data luas
lahan pertanian nasional dan provinsi, dan 337 unit petani padi dari Sensus Pertanian 2013.
Menggunakan metode LQ (Location Quotient) menunjukkan bahwa padi secara ekonomi bukan
komoditas basis Provinsi Kalimantan Timur. Di tingkat provinsi, hanya ada dua dari empat
kabupaten yang berpotensi mengembangkan padi sebagai komoditas basis. Analisis produksi
efisiensi teknis frontier stochastic sebesar 0,64, yang menunjukkan bahwa produksi padi di
provinsi ini masih 36 persen di bawah batas produksinya. Pola penanaman dan status lahan
secara signifikan meningkatkan efisiensi teknis. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
program swasembada di Provinsi Kalimantan Timur tidak didukung oleh potensi produksi padi
regional maupun oleh produksi padi yang efisien secara teknis di tingkat petani.
Kata kunci: efisiensi teknis frontier stochastic, komoditas basis, location quotient, translog
Keterangan:
METODE Lki = luas lahan komoditi i di kabupaten
pada tahun tertentu (ha)
PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS
ΣLpk = total luas lahan sektor pertanian di
Data yang digunakan dalam penelitian ini kabupaten pada tahun tertentu (ha)
yaitu data sekunder, terdiri atas data time series Lkpi = luas lahan komoditi i di tingkat
areal tanaman pangan, hortikultura, dan provinsi pada tahun tertentu (ha)
perkebunan, dan data cross section usahatani ΣLpp = total luas lahan sektor pertanian
padi. Data areal tanaman diperoleh dari tingkat provinsi pada tahun tertentu
dokumen Kementerian Pertanian RI tahun (ha)
2013-2017, data BPS dan Laporan Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Potensi wilayah dalam mengembangkan
Provinsi Kalimantan Timur tahun 2017 dan komoditas didasarkan pada besaran LQ relatif
2018, serta SIDATA (Sistem Informasi Data) antar komoditas di tingkat provinsi dan
Kalimantan Timur tahun 2013-2017. Data kabupaten. Komoditas dapat dikatakan
usahatani padi menggunakan data Sensus sebagai basis jika memiliki nilai LQ lebih dari
Pertanian 2013 Survey Rumah Tangga Usaha satu (LQ>1).
Tanaman Padi oleh BPS dengan jumlah petani Efisiensi teknis di dalam penelitian ini
sampel 337 unit. menggunakan konsep efisiensi Farrell (1957)
dan Coelli et al. (2005). Fungsi produksi padi
METODE ANALISIS menggunakan bentuk fungsi produksi
translog (Christensen et al. 1973), diduga
Potensi wilayah Provinsi Kalimantan
dengan metode stochastic frontier. Model fungsi
Timur dalam memproduksi padi dianalisis
produksi translog dalam penelitian ini
dengan metode Location Quotient (LQ) untuk
dirumuskan sebagai berikut:
menentukan komoditas basis. Komoditas
basis diukur dalam dua level wilayah, yaitu
lnY = β0 + β1lnX1 + β2lnX2+ β3lnX3 + β4lnX4
level wilayah nasional dan level wilayah
+β5lnX5 + β6lnX6 + β11* 0.5lnX12 +
provinsi. LQ dihitung berdasarkan luas lahan
β22*0.5lnX22 + β33*0.5lnX32 + β44*0.5lnX42 +
pertanian nasional dan luas lahan pertanian
β55*0.5lnX52 + β66*0.5lnX62 + β12lnX1lnX2 +
provinsi. Pengukuran LQ menggunakan
β13lnX1lnX3 + β14lnX1lnX4 + β15lnX1lnX5 +
rumus Hendayana (2003), sebagai berikut:
β16lnX1lnX6 + β23lnX2lnX3 + β24lnX2lnX4 +
β25lnX2lnX5+ β26lnX2lnX6 + β34lnX3lnX4 +
nilai LQ tertinggi adalah kelapa sawit dengan komoditas padi, baik untuk masing-masing
nilai rata-rata LQ 3,69. Komoditas non-padi jenis padi maupun secara total memiliki nilai
selain kelapa sawit yang juga mempunyai nilai lebih kecil dari satu (Tabel 1). Artinya,
LQ tinggi adalah komoditi lada. Padi di komoditas padi di Kalimantan Timur belum
Kalimantan Timur tidak memiliki keung- menjadi spesialisasi kegiatan masyarakat dan
gulan komparatif dibandingkan dengan belum mendapat alokasi penggunaan lahan
komoditas pertanian lainnya. yang memadai. Hal tersebut mengindikasikan
Berdasarkan analisis LQ tanaman pa- bahwa komoditas padi belum memiliki
ngan di tingkat nasional, seluruh komoditas potensi untuk dikembangkan lebih lanjut di
tanaman pangan di Kalimantan Timur tidak Kalimantan Timur.
menjadi komoditas basis wilayah. Begitu juga Lebih lanjut LQ juga dihitung di tingkat
dengan komoditas hortikultura secara kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur.
nasional bukan merupakan komoditi basis Hasil perhitungan LQ ditingkat kabupaten
Kalimantan Timur. Pada penelitian ini, fokus lebih bervariasi. Pada Tabel 2 disajikan jumlah
utama swasembada beras Kalimantan Timur kabupaten menurut nilai LQ. Dari tabel ter-
adalah komoditas padi, sehingga lebih lanjut sebut terlihat bahwa padi sawah terkonsen-
akan membahas nilai LQ komoditas padi. trasi di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten
Berdasarkan analisis alokasi luas lahan ta- Penajam Paser Utara, Kabupaten Kutai Karta-
naman padi dibandingkan dengan luas total negara, Kota Samarinda, dan Kota Bontang.
sektor pertanian di Provinsi Kalimantan Nilai LQ padi relatif lebih rendah dibanding-
Timur, maka tanaman padi bukan merupakan kan komoditi yang lainnya. Komoditi tanaman
komoditas basis. Hal ini terlihat dari nilai LQ pangan memiliki nilai LQ relatif lebih tinggi
Tabel 2. Jumlah Kabupaten Menurut Nilai LQ dan Jenis Komoditas di Provinsi Kalimantan
Timur
Jumlah Kabupaten
Komoditas Rata-rata LQ
LQ<1 LQ>1
Tanaman Pangan
Padi sawah 6 4 1,31
Padi ladang 0 0 0,33
Jagung 4 6 2,52
Kedelai 6 4 1,20
Kacang hijau 8 2 0,66
Kacang tanah 5 5 1,99
Ubi kayu 4 6 4,42
Ubi jalar 4 6 2,29
Perkebunan
Kakao 7 3 1,85
Lada 7 3 1,02
Kopi 5 5 1,31
Karet 4 6 1,82
Kelapa sawit 7 3 0,68
Kelapa 3 7 2,36
Hortikultura
Bawang merah 7 3 1,39
Cabai besar 5 5 1,52
Cabai rawit 5 5 2,22
Kubis 7 3 1,42
Tomat 0 0 0,03
dari komoditi padi sawah yaitu jagung, kacang memiliki nilai LQ komoditas padi relatif
tanah, ubi kayu dan ubi jalar. Komoditi jagung, tinggi. Padahal secara empiris Kota Sama-
ubi kayu dan ubi jalar relatif menjadi konsen- rinda dan Bontang memiliki total luas lahan
trasi pada 6 kabupaten/kota di Provinsi pertanian relatif kecil dan tidak dominan
Kalimantan Timur. dibandingkan Kabupaten Penajam Paser Utara
Berdasarkan nilai LQ komoditi per- dan Kutai Kartanegara. Hal ini terjadi karena
kebunan, nilai LQ padi lebih rendah di- porsi luas lahan padi Kota Samarinda dan
bandingkan komoditi kakao, karet dan kelapa. Bontang terhadap luas lahan pertanian kota
Komoditi karet dan kelapa relatif dominan tersebut relatif lebih besar dibanding porsi luas
menjadi basis di kabupaten/kota. Komoditi lahan padi provinsi terhadap luas lahan
karet mendominasi 6 kabupaten/kota sedang- pertanian provinsi. Oleh karena itu dalam
kan kelapa mendominasi 7 kabupaten/kota. konteks pengembangan komoditas, besaran
Begitu juga dengan komoditi hortikultura nilai LQ di tingkat kabupaten perlu memperhatikan
LQ komoditi bawang merah, cabai besar, cabai posisi komoditas tersebut di tingkat provinsi.
rawit, dan kobis lebih tinggi dibandingkan Nilai LQ yang tinggi tidak mencerminkan luas
nilai LQ padi sawah. Jika secara nasional lahan yang lebih luas, tetapi cerminan dari
komoditi kelapa sawit menjadi basis Provinsi nilai relatif porsi luas lahan komoditas padi
Kalimantan Timur, namun pada tingkat dalam wilayah tersebut (Hendayana 2003).
kabupaten komoditi perkebunan selain sawit Kelapa sawit selain menjadi komoditas
menjadi komoditas basis beberapa kabupaten. basis provinsi juga menjadi basis di Kabupaten
Hal ini menyebabkan nilai LQ komoditi lain Berau, Kutai Timur dan Paser. Artinya kelapa
menjadi lebih tinggi dibanding kelapa sawit. sawit di ketiga kabupaten tersebut dominan.
Hal yang menarik disini adalah posisi Meskipun hanya tiga kabupaten yang menjadi
Kota Samarinda dan Kota Bontang yang basis kelapa sawit, namun demikian kelapa
sawit lebih berperan dalam kontribusi Kopi, karet, kelapa, cabai besar, cabai rawit.
terhadap perekonomian wilayah dan menjadi Sama halnya dengan kabupaten Kutai
spesialisasi kegiatan ekonomi Provinsi Kartanegara, memiliki komoditi basis Padi
Kalimantan Timur. Pada Tabel 3 disajikan sawah, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang
kabupaten berdasarkan pada jenis komoditi tanah, ubi kayu, lada, kopi, kelapa, cabai besar,
basisnya. cabai rawit. Keempat kabupaten/kota basis
Pengembangan tanaman padi yang tidak padi tersebut, padi merupakan bukan satu-
kompetitif di tingkat kabupaten harus satunya komoditi basis.
mengorbankan komoditas basis di kabupaten Kabupaten sentra pengembangan padi
tersebut. Terlihat bahwa di kabupaten basis yang ditetapkan SK Menteri Pertanian Nomor
komoditi padi, juga terdapat komoditi lain 472/Kpts/Rc.040/6/2018 hanya dua yang
sebagai basis. Kota Samarinda selain menjadi memiliki kesesuaian potensi antara SK Menteri
basis padi sawah, juga menjadi basis komoditi Pertanian dengan hasil perhitungan LQ yaitu
jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai
jalar, Lada, kopi, karet, kelapa, cabai besar dan Kertanegara. Kabupaten Paser tidak memiliki
cabai rawit. Kabupaten Penajam Paser Utara potensi sebagai kawasan pengembangan
komoditi padi bersaing dengan jagung, komoditas padi karena komoditas basis di
kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, lada, kabupaten tersebut adalah kelapa sawit, kopi
karet, kelapa, cabai besar, dan kobis. Kota dan bawang merah. Oleh karena itu komoditas
Bontang memiliki komoditi basis selain padi padi berpotensi dikembangkan di Kabupaten
yaitu jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.
Tabel 3. Jumlah Kabupaten Menurut Nilai LQ dan Jenis Komoditas di Provinsi Kalimantan
Timur
Komoditi basis
Kabupaten/Kota
Tanaman Pangan Perkebunan Hortikultura
Samarinda Padi sawah, jagung, kedelai, Lada, kopi, karet, Cabai besar,
kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar kelapa cabai rawit
Penajam Paser Padi sawah, jagung, kedelai, Lada, karet, Cabai besar,
Utara kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar kelapa Kobis
Bontang Padi sawah, jagung, kacang tanah, Kopi, karet, kelapa Cabai besar,
ubi kayu, ubi jalar cabai rawit
Kutai Kartanegara Padi sawah, jagung, kedelai, Lada, Kopi, kelapa Cabai besar,
kacang hijau, kacang tanah, ubi cabai rawit
kayu
Paser - Sawit, Kopi, Bawang
merah
Berau Jagung, kedelai, kacang hijau, Sawit, kakao, lada, Bawang
kacang tanah, ubi jalar kelapa merah,
Kobis
Kutai Timur - Sawit, Kakao -
Kutai Barat Ubi kayu Kopi, Karet
Balikpapan Jagung, Kacang tanah, ubi kayu, Lada, kopi, karet, Cabai besar,
ubi jalar kelapa cabai rawit,
kobis
Mahulu Ubi kayu Kakao, kopi, karet,
kelapa
Tabel 5. Rata-rata Penggunaan Input Usahatani Padi Sawah di Provinsi Kalimantan Timur
Variabel input Rata-rata Maksimal Minimal
Luas lahan (ha) 1,15 5,00 0,075
Benih (kg/ha) 39,52 80,00 2,50
Pupuk N (kg/ha) 65,28 228,50 0,30
Pupuk P (kg/ha) 26,30 120,00 0,20
Pupuk K (kg/ha) 20,16 108,00 0,20
Tenaga kerja (HOK/ha) 55,03 222,00 5,33
melebihi dosis yang dianjurkan. Badan kinkan untuk meningkatkan produksi sebesar
Litbang Pertanian merekomendasikan peng- 34 persen.
gunaan benih 25 kg per hektar, lebih rendah Selanjutnya pada Tabel 7 disajikan nilai
dari rata-rata penggunaan benih di petani LQ padi dan efisiensi teknis berdasarkan
(39,52 kg per hektar). Sama halnya dengan kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur.
penggunaan tenaga kerja lebih tinggi di Pada tabel terlihat Kota Samarinda dan
banding rata-rata penggunaan tenaga kerja Kabupaten Kutai Kartanegara dengan nilai LQ
nasional yaitu 47 HOK per hektar (Haryanto et tinggi mempunyai nilai efisiensi teknis lebih
al. 2016). Analisis efisiensi teknis menunjuk- besar dari 0,70, artinya kedua kabupaten/kota
kan rata-rata efisien teknis sebesar 0,64 dengan tersebut sudah efisien secara teknis namun
produktivitas rata-rata sebesar 3,14 ton/ha masih dapat ditingkatkan sebesar 22 persen
(Tabel 6). Hasil tersebut, menunjukkan bahwa dan 24 persen. Kabupaten/Kota Penajam
rata-rata petani berproduksi 34 persen di Paser Utara dan Bontang menunjukkan belum
bawah tingkat produksi yang efisien (frontier). efisien secara teknis dengan nilai efisiensi
Dalam konteks potensi peningkatan produksi, teknis 0,55 dan 0,51. Hal tersebut menunjuk-
dengan teknologi yang sama masih memung- kan bahwa Kabupaten/kota basis padi
tersebut memiliki peluang yang lebih tinggi
Tabel 6. Jumlah Petani Menurut Selang Nilai Efisiensi, Rata-rata Efisiensi, dan Produktivitas
Padi
Rata-rata
Selang Nilai Jumlah Persen Rata-rata Efisiensi
Produktivitas
Efisiensi petani (%) Teknis
(ton/ha)
< 0,3 42 12 0,20 1,04
0,3 - 0,49 57 17 0,41 2,09
0,5 - 0,69 88 26 0,61 3,01
≥ 0,7 150 45 0,86 4,19
Total 337 100 0,64 3,14
Tabel 7. Nilai LQ Padi Sawah, Jumlah Petani, dan Efisiensi Teknis Berdasarkan Kabupaten
di Provinsi Kalimantan Timur
Kabupaten LQ rata-rata Jumlah petani Rata-rata efisiensi teknis
Samarinda 5,99 35 0,78
Penajam Paser Utara 2,36 81 0,55
Bontang 1,67 9 0,51
Kutai Kartanegara 1,67 2 0,76
Paser 0,49 25 0,55
Berau 0,47 141 0,74
Kutai Timur 0,15 12 0,70
Kutai Barat 0,14 32 0,36
Balikpapan 0,10 0 0,00
Mahulu 0,05 0 0,00
untuk ditingkatkan sebesar 45 persen dan 49 2018). Kepemilikan lahan membuat petani
persen. Hasil analisis efisiensi teknis juga me- peduli terhadap keberlanjutan usahatani dan
nunjukkan kabupaten nonbasis sudah efisien lebih berhati-hati dalam mengolah lahannya.
secara teknis yaitu Kabupaten Berau dan kutai Petani akan memanfaatkan lahan milik sendiri
Timur. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa dengan sebaik-baiknya karena rasa memiliki
pengembangan padi di satu kabupaten perlu (Kusnadi et al. 2011; Delwina et al. 2019). Irigasi
mempertimbangkan baik potensi wilayah diharapkan meningkatkan efisiensi teknis
maupun efisiensi produksi. usahatani padi di Indonesia sehingga harus
Efisiensi teknis dapat ditingkatkan de- dipertimbangkan dalam kebijakan pemerintah
ngan peningkatan variabel-variabel yang (Haryanto et al. 2016). Berbeda dengan hasil
menentukan efisiensi. Variabel yang diduga penelitian ini, irigasi menurunkan efisiensi
mempengaruhi efisiensi teknis pada peneli- teknis usahatani padi di Kalimantan Timur.
tian ini yaitu persentase penggunaan kredit, Begitu juga dengan dummy penyuluhan, dan
dummy penyuluhan, dummy irigasi, dummy dummy alat secara nyata menurunkan efisiensi
pola tanam, dummy alat dan dummy status teknis. Kelompok petani yang mengolah lahan
lahan. Hasil pendugaan variabel inefisiensi irigasi, mengikuti penyuluhan dan menggun-
(Tabel 8) menunjukkan terdapat lima variabel aan alat traktor tidak efisien dalam usaha-
yaitu dummy penyuluhan, dummy irigasi, taninya. Hal ini disebabkan oleh kondisi petani
dummy pola tanam, dummy alat dan dummy di lapangan, masih banyak tidak mengolah
status lahan berpengaruh signifikan terhadap lahan irigasi, tidak mengikuti penyuluhan dan
efisiensi teknis. Variabel kredit tidak menggunakan alat tenaga hewan dan
berpengaruh terhadap efisiensi teknis meski- manusia. Kelompok petani yang mengolah
pun hasil estimasi bertanda negatif. Diduga sawah irigasi, mengikuti penyuluhan, dan
pada saat penelitian persentase penggunaan menggunakan traktor masih menimbulkan
kredit belum berperan terhadap efisiensi. keragaman produksi, dan masih banyak
Petani yang menggunakan pola tanam petani berproduksi di bawah frontiernya.
lebih dari satu kali dalam setahun lebih efisien Prospek swasembada beras yang diukur
dibandingkan dengan pola tanam satu kali melalui produksi dan efisiensi teknis,
dalam setahun. Begitu juga dengan variabel menunjukkan kondisi saat ini petani belum
dummy status kepemilikan lahan, memenga- mencapai tingkat produksi maksimum dan
ruhi peningkatan efisiensi. Petani yang efisien secara teknis. Artinya pada tingkat
menggarap lahan milik sendiri lebih efisien teknologi yang sama, berpotensi meningkat-
dibandingkan lahan sewa dan lainnya (lahan kan produksi dan memiliki peluang yang
pinjaman, dan lahan kelompok). Hal ini tinggi untuk meningkatkan efisiensi teknis.
disebabkan karena keputusan petani untuk Produksi masih responsif terhadap luas lahan,
mengolah lahan milik sendiri memper- pupuk N, P, dan K. Peningkatan produksi
timbangkan status keberlanjutan lahan milik- dilakukan dengan meningkatkan pengguna-
nya, sejalan dengan penelitian (Apriani et al. an variabel tersebut. Namun pupuk N paling
Tabel 8. Hasil Analisis Pendugaan Variabel Inefisiensi Usahatani Padi di Kalimantan Timur
Variabel inefisiensi Koefisien Pr(>|z|)
Kredit -0,003 0,444
Dummy penyuluhan 0,156* 0,084
Dummy irigasi 0,619*** 0,000
Dummy pola tanam -1,220*** 0,000
Dummy alat 0,784*** 0,000
Dummy status lahan -0,257** 0,003
Keterangan: * = signifikan pada taraf nyata 10 persen,
** = signifikan pada taraf nyata 1 persen,
*** = signifikan pada taraf nyata 0,1 persen
[BPS] Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur. Komoditas Unggunal Nasional. Jurnal
2018. Luas Panen dan Produksi Padi Informatika Pertanian. 12:1-21
Provinsi Kalimantan Timur. [Internet].
[Diunduh pada 2019 Juli 16]. Tersedia Kasryno F, M Badrun, E Pasandaran. 2011.
pada [Link] Land Grabbing Perampasan Hak
Konstitusional Masyarakat. YAPARI-
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2019. Berita Resmi Yayasan Pertanian Mandiri.
(BRS) Luas Panen dan Produksi Padi
Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat [Kementan] Kementerian Pertanian RI. 2007.
Statistik Peraturan Mentan No.
40/Permentan/OT.140/04/2007 Tentang
Christensen LR, Jorgensen DW, Lau LJ. 1973. Rekomendasi Pemupukan N, P dan K
Transcedental logarithmic production pada Padi Sawah Spesifik Lokasi. Jakarta
frontiers. The review of Economic and (ID): Badan Litbang Pertanian.
Statistic 55 (1):28-45
[Kementan] Kementerian Pertanian RI. 2018.
Coelli TJ, Rao DSP, Donell CJ, Battese G. 2005. Keputusan Menteri Pertanian Republik
An Introduction to Efficiency and Indonesia Nomor
Productivity Analysis Second Edition. 472/Kpts/Rc.040/6/2018 Tentang Lokasi
New York: Springer Scince Business Kawasan Pertanian Nasional. Jakarta
Media Inc. (ID): Kementerian Pertanian