////
FLS3N SILENT MOVIE SCRIPT
by Komang Hari
Bakat teman-temannya adalah tentang “apa yang mereka bisa” sedangkan bakat
Andi adalah tentang “siapa diri dia”
Premis
Seorang remaja disiplin bernama Andi yang merasa tidak berbakat, hingga
akhirnya ia menyadari bahwa ketekunan rutinitasnya adalah bakat tersembunyi
yang berharga.
Sinopsis
Andi adalah seorang remaja yang menjalani hidup dengan rutinitas yang teratur
dan disiplin. Setiap pagi ia melakukan semuanya dengan presisi, namun di
sekolah ia merasa tersisih di antara teman-temannya yang bersinar karena
bakat mereka. Dalam upaya menemukan kemampuannya sendiri, Andi mencoba
berbagai hal—menggambar, bermain gitar, hingga olahraga—namun semuanya
berakhir dengan kegagalan. Hingga suatu hari, Andi menyadari bahwa ketekunan
dan kedisiplinan yang selama ini ia jalani bukanlah kekosongan, melainkan
kekuatannya sendiri. Di pagi berikutnya, Andi kembali menjalani rutinitasnya,
kali ini dengan senyum kecil—menerima dirinya apa adanya.
Treatment Singkat
Andi adalah seorang remaja yang bangun pagi-pagi sekali, menjalani
rutinitas yang terstruktur dengan sangat disiplin. Andi melakukan segala hal
dengan presisi, dari mandi, gosok gigi, menyiapkan buku sekolah, memakai
seragam dengan rapi, sampai mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Di sekolah, saat apel pagi, ia melihat teman-temannya yang mendapat
piagam penghargaan sesuai dengan bakat mereka. Dari lomba menyanyi, lomba
poster, pertandingan basket, dan banyak lagi. Dari sana Andi mulai merasa
sendiri ditengah kerumunan anak-anak berbakat, ia mulai mempertanyakan apa
bakat yang dimilikinya.
Di rumah, ia duduk di meja belajarnya. Menatap kedepan dengan
kekosongan yang mendalam. Di atas meja, ada sebuah drawing book yang
tertutup rapi, Andi mengambil pensil, dan mencoba untuk melukis sesuatu.
Namun, Andi gagal, ia selalu kesal dengan hasil gambarannya. Andi mencoret
hasil lukisannya dan merobek kertas satu persatu.
Beranjak ke ruang tamu, Andi melihat ada gitar yang tergeletak. Ia
mengambil gitar itu, duduk di sofa, dan mencoba memainkannya. Sekeras apapun
Andi mencoba, ia selalu gagal, merasa kesal Andi membanting gitar itu.
Andi pergi bersepeda di sekeliling rumahnya. Berhenti tepat di suatu
taman kecil, ada sebuah tiang besar yang digunakan pull up, dengan nafas
yang tergesa-gesa Andi mencoba menggenggam besi itu. Andi jatuh, keringat
yang menyelimuti sekujur tubuhnya nampak jelas. Andi hanya diam, menatap jam
tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Keesokan harinya, Andi kembali bangun pagi, namun kali ini dengan
senyum tipis yang terpampang di wajahnya. Ia tidak hanya menjalani
rutinitasnya seperti biasa, tapi ia merasakan bahwa apa yang ia lakukan
menunjukkan sesuatu yang bernilai. Meskipun Andi tidak memiliki bakat secara
spesifik, namun disiplin dan ketekunannya adalah kekuatan dan bakat Andi yang
sebenarnya.
1. INT. RUMAH - KAMAR ANDI. PAGI HARI
Alarm Andi berbunyi tepat di jam 06.00 pagi. Andi membuka
mata, lalu mematikan alarm tersebut. Ia bangun dengan gerakan
yang sangat teratur, langsung merapikan kasurnya dengan
gesit.
Suara air keran mengalir, Andi menggosok giginya sambil
menatap dirinya di depan kaca. Merapikan kerah baju, dan juga
menata dasinya yang miring.
Andi memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, semuanya rapi dan
sejajar. Lalu Andi melihat jam tangannya, dan bergegas
keluar.
2. EXT. RUMAH - TERAS DEPAN. PAGI HARI
Andi mengikat tali sepatunya dengan simpul yang rapi. Ia
bangun lalu mengeluarkan sepedanya. Lagi-lagi ia menatap jam
tangannya.
3. EXT. JALANAN RUMAH ANDI. PAGI HARI
Andi mengayuh sepeda dengan ritme yang stabil. Menatap
kedepan dengan tegak, sesekali melihat ke kanan dan kiri.
(CONT’D SUARA TEPUK TANGAN)
4. EXT. SEKOLAH - LAPANGAN SEKOLAH. PAGI HARI
Andi sedang berbaris di lapangan. Beberapa siswa nampak maju
ke depan untuk menerima piagam-piagam lomba. Ada yang
memenangkan lomba menyanyi, lomba poster, pertandingan
basket, dan banyak lagi. Senyum dan tepuk tangan memenuhi
suasana apel pagi itu.
Andi berdiri di tengah barisan, wajahnya datar. Terpaku
dengan banyak piagam dan piala itu, Andi menatap ke bawah.
(POV) Menatap jam tangannya, pukul 7.30
(CONT’D SUARA JARUM JAM)
5. INT. RUMAH - KAMAR ANDI. SORE HARI
Andi duduk dengan rasa kosong. Di atas meja ada sebuah
drawing book yang kemudian mencuri perhatian Andi. Ia
mengambil sebuah pensil, dan membuka drawing book itu.
Kertas demi kertas dirobek. Andi mencoret semua hasil
gambarannya. Lalu membuangnya ke tong sampah.
6. INT. RUMAH - RUANG TAMU. SORE HARI
Gitar tergeletak di samping sofa, Andi mengambilnya dan mulai
memainkannya. Tak peduli sekeras apapun Andi mencoba ia
selalu gagal. Dengan rasa frustasi Andi membanting gitar itu.
7. EXT. TAMAN KECIL. SORE HARI
Andi mengayuh sepedanya dengan cepat. Sampai di sebuah taman
kecil yang berisi sebuah tempat olahraga.
Andi berdiri di depan tiang pull up, ia melompat dengan
sekuat tenaga. Mencoba mengangkat tubuhnya. Wajahnya sudah
lelah dan menggerumut.
Andi gagal, ia terjatuh, duduk di tanah dengan nafas
terengah-engah. Keringatnya mengalir.
Andi menatap ke bawah, melihat jam tangannya.
Menunjukkan pukul 18.00
Dengan kondisi terengah-engah, Andi menutup matanya.
(FLASHBACK CEPAT)
- Mengikat tali sepatu
- Menata buku sekolah
- Mengayuh sepeda
- Melihat jam tangan
Andi membuka matanya. Nafasnya kembali berjalan teratur.
(CONT’D SUARA ALARM)
8. INT. RUMAH - KAMAR ANDI. PAGI HARI
Andi berdiri di depan kaca, menggosok gigi, lalu berkumur.
Andi menatap dirinya dengan seksama, senyum tipis muncul.
(CONT’D SUARA BEL SEPEDA)
9. EXT. JALANAN RUMAH ANDI. PAGI HARI
Andi mengayuh sepedanya dengan ritme stabil. Ia melihat jam
tangannya lalu tersenyum.
Ia tetap mengayuh dengan rasa bangga.
(MS) Ban sepeda Andi melewati kamera.
(TEXT ON SCREEN) “Kamu tidak perlu menjadi yang paling
bersinar, cukup pastikan rodamu tidak pernah berhenti
berputar.”