0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan29 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep pengetahuan dan kehamilan, termasuk definisi, tingkat, cara memperoleh pengetahuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pengertian kehamilan, klasifikasinya, dan tanda-tanda kehamilan. Pengetahuan dan kehamilan diuraikan dengan mengacu pada berbagai sumber dan teori yang relevan.

Diunggah oleh

hannis oktaria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan29 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas konsep pengetahuan dan kehamilan, termasuk definisi, tingkat, cara memperoleh pengetahuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan pengertian kehamilan, klasifikasinya, dan tanda-tanda kehamilan. Pengetahuan dan kehamilan diuraikan dengan mengacu pada berbagai sumber dan teori yang relevan.

Diunggah oleh

hannis oktaria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Konsep Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu
seseorang terhadap objek tertentu melalui indera yang dimilikinya.
Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera
pendengaran (telinga) dan indera pengelihatan (mata) (Notoatmodjo,
2012).
b. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkat, yaitu :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
Hal ini dapat digambarkan apabila seseorang hanya mampu
menjelaskan secara garis besar apa yang telah dipelajarinya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi
materi tersebut secara benar. Seseorang dikatakan faham jika
seseorang berada pada tingkat pengetahuan dasar dan dapat
menerangkan kembali secara mendasar ilmu pengetahuan yang
dipelajarinya.
3. Aplikasi (Applicaton)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya).
2

Pada tingkatan ini seseorang telah mampu untuk menggunakan apa


yang telah dipelajarinya dari suatu situasi untuk diterapkan pada
situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau objek ke dalam komponen-kompenen. Tetapi masih didalam
suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
Pada tingkatan ini, kemampuan seseorang lebih meningkat
sehingga ia dapat menerangkan bagian-bagian yang menyusun suatu
bentuk pengetahuan tertentu dan menganalisa hubungan suatu dengan
lain.
5. Sintetis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Sintesis dapat dinilai jika seseorang disamping
mempunyai kemampuan untuk menganalisa, ia pun mampu menyusun
kembali kebentuk semula atau kebentuk lain.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-
penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pada tingkatan ini
seseorang telah mampu mengetahui secara menyeluruh dari semua
bahan yang dipelajarinya (Notoadmodjo, 2012).
c. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012), cara untuk memperoleh
kebenaranpengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua yakni cara
tradisional atau non ilmiah yakni tanpa melalui penelitian ilmiah dan cara
modern atau cara ilmiah yakni melalui proses penelitian. Lebih jelasnya
dapat dijelaskan sebagai berikut :
3

1) Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari :


a) Cara coba – salah ( Trial and Error)
Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan,
bahkan mungkin sebelum adanya peradaban apabila seseorang
menghadapi persoalan atau masalah upaya pemecahannya
dilakukan dengan coba-coba. Cara coba-coba ini dilakukan
dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak
berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut
dapat terpecahkan.
b) Secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena
tidakdisengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh
adalah penemuan enzim urase oleh Summers pada tahun 1926.
c) Cara Kekuasaan Atau Otoritas
Dalam kehidupan sehari-hari ditemukan banyak sekali
kebiasaandan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak.
Kebiasaan seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat
tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern.
Kebiasaan ini seolah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran
yang mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa
pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal.
Para pemuka agama, pemegang pemerintahan dan lain
sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh
berdasarkan pada pemegangotoritas, yakni orang mempunyai
wibawa atau kekuasaan, baiktradisi, otoritas pemerintah, otoritas
pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan atau ilmuwan.
d) Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah.
Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu
merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan
4

suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh


sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
e) Cara Akal Sehat ( Common Sense)
Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat
menemukan teori atau kebenaran. Misalnya pemberian hadiah
dan hukuman merupakan cara yang masih dianut oleh banyak
orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan.
f) Kebenaran Melalui Wahyu
Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang
diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus
diterima dan diyakini oleh pengikut agama yang bersangkutan,
terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak.
Sebab kebenaran ini diterima oleh para Nabi adalah sebagai
wahyu dan bukan karena hasil usaha penalaran atau penyelidikan
manusia.
g) Kebenaran Secara Intuitif
Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat
sekali melalui proses di luar kesadaran dan tanpa melalui proses
penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui
intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan
cara yang rasional dan yang sistematis.
h) Melalui Jalan Pikiran
Sejalan dengan perkembangan perkembangan kebudayaan
umat manusia cara manusia berfikir ikut berkembang. Dari sini
manusia mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh
pengetahuan. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara
melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-
pernyataan yang dikemukan. Apabila proses pembuatan
kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan yang khusus
5

kepada yang umum dinamakan induksi sedangkan deduksi


adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum
ke khusus.
i) Induksi
Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai
dari pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat
umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi pembuatan
kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman
empiris yang ditangkap oleh indra kemudian disimpulkan
kedalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk
memahami suatu gejala.
j) Deduksi
Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-
pernyataan umum ke khusus. Di dalam proses berpikir deduksi
berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum pada
kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua persitiwa
yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu.
2) Cara Ilmiah Atau Modern
Cara baru atau dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa
ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode
penelitian ilmiah, atau metodologi penelitian ( research metodology).
Cara ini dikembangkan oleh Francis Bacon yang mengembangkan
metode berpikir induktif kemudian dikembangkan oleh Deobold van
Dallen yang menyatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan
dilakukan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat
pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan
objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok :
a) Segala sesuatu yang positif yakni gejala tertentu yang muncul
pada saat dilakukan pengamatan.
b) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak
muncul pada saat dilakukan pengamatan.
6

c) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi yaitu gejala-gejala


yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu.
d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Erfandi (2012), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang, yaitu :
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar,
makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk
menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan
cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain
maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk
semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.
Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana
diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut
akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan
bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak
diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada
pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek
juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif.
Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap
seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari
obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap makin positif
terhadap obyek tersebut .
2. Mass Media / Informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun
non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek ( immediate
impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan
pengetahuan.
7

Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media


massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang
inovasi baru.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa
seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa
membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat
mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai
sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
pengetahuan terhadap hal tersebut.
3. Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan
demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak
melakukan.
Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya
suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga
status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun social. Lingkungan
berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam
individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi
karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang
kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah
yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang
dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan
8

professional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat


mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan
manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang
bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
6. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola piker
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta
lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan
lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal
dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini.
e) Kategori Pengetahuan
Menurut Arikunto (2012), pengetahuan dibagi menjadi dalam 3
kategori, yaitu :
1) Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100%
dari seluruh pertanyaan.
2) Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75%
dari seluruh pertanyaan.
3) Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar ≤55 % dari
seluruh pertanyaan.

2. Konsep Kehamilan
a. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah masa pertumbuhan dan perkembangan janin
mulai dari konsepsi sampai permulaan persalinan (Mochtar, 2012).
Masa kehamilan mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, dimana
lamanya lahir normal adalah 280 hari atau 40 minggu atau 9 bulan 7 hari
dihitung dari hari pertama haid terakhir (saifuddin, 2012).
9

Proses pada kehamilan merupakan suatu mata rantai yang


berkesinambungan yang dimulai dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan
ovum, terjadi konsepsi (Sastrawinata S, 2015).
Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-
kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).
Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila
kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan
antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur.
Berdasarkan pengertian diatas maka ditarik kesimpulan, kehamilan
merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan mulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin.

b. Klasifikasi Kehamilan
Menurut Hani, dkk (2013 : 72) ditinjau dari tuanya, kehamilan
dibagi dalam tiga bagian :
1) Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu).
2) Kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu).
3) Kehamilan triwulan terakhir (antara 28 sampai 40 minggu)

c. Tanda-Tanda Kehamilan
1) Tanda Dugaan Hamil
a. Amenorea (tidak dapat haid). Gejala ini sangat penting karena
umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui
tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya
kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.
b. Nausea (enek) dan emesis (muntah). Terjadi umumnya pada bulan-
bulan pertama kehamilan, disertai kadang-kadang oleh emesis.
Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim
disebut morning sickness. Dalam batas-batas tertentu keadaan ini
masih fisiologik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum.
10

c. Mengidam (ingin makanan atau minuman tertentu). Mengidam


sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang
dengan makin tuanya kehamilan.
d. Pingsan. Sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai.
Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat ramai pada bulan-
bulan pertama kehamilan. Hilang sesudah kehamilan16 minggu.
e. Mammae menjadi tegang dan membesar. Keadaan ini disebabkan
oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli
dan alveoli di mamma.
f. Anoreksia (tidak ada nafsu makan). Pada bulan-bulan pertama terjadi
anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi. Hendaknya
dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk dua orang,
sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
g. Sering kencing terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada
triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang
membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan gejala
bisa timbul karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan
menekan kembali kandung kencing.
h. Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh
pengaruh hormone steroid.
i. Pigmentasi kulit terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada
pipi, hidung dan kadang-kadang tampak deposit pigmen yang
berlebihan, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Areolae mammae
juga menjadi lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang
berlebih. Daerah leher lebih hitam. Demikian pula linea alba di garis
tengah abdomen menjadi lebih hitam (linea gresia). Pigmentasi ini
terjadi karena pengaruh dari hormon kortiko-steroid plasenta yang
merangsang kulit.
j. Epulis adalah suatu hipertrofi papilla ginggivae. Sering terjadi pada
triwulan pertama.
11

k. Varises. Sering dijumpai pada triwulan terakhir. Di dapat pada


daerah genetalia eksterna, kaki dan betis. Pada multigravida kadang-
kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul
kembali pada triwulan pertama. Kadang-kadang timbulnya varises
merupakan gejala pertama kehamilan (Wiknjosastro, 2015).
2) Tanda Kemungkinan Hamil (Probability sign)
Pada pemeriksaan kehamilan dapat diduga hamil bila dijumpai
pembesaran rahim dan perut, pemeriksaan memberi petunjuk adanya
kehamilan ,terdapat kontraksi rahim saat diraba, ada tanda hegar,
Chadwick, piscaseck, ballottement, dan reaksi pemeriksaan kehamilan
positif (Liz, 2014).
a) Perut membesar
Terjadi pembesaran abdomen secara progresif dari
kehamilan 7 sampai 28 minggu, pada minggu 16-22, pertumbuhan
terjadi secara cepat dimana uterus keluar panggul dan mengisi
rongga abdomen.
b) Uterus membesar
Terjadi perubahan dalam bentuk, besar dan konsistensi dari
rahim.
c) Tanda hegar
Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak
terutama daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri
mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada
triwulan pertama mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih
lunak.
d) Tanda chadwik
Perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada
vulva, vagina, dan serviks. Perubahan warna ini disebabkan oleh
pengaruh hormon estrogen.
e) Tanda piscaceck
Uterus mengalami pembesaran, kadang–kadang
pembesaran tidak rata tetapi di daerah telur bernidasi lebih cepat
12

tumbuhnya. Hal ini menyebabkan uterus membesar ke salah satu


jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran.
f) Kontraksi-kontraksi kecil atau braxton hicks
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda khas
untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang
membesar tetapi tidak ada kehamilan misalnya pada mioma uteri,
tanda Braxton-Hicks tidak ditemukan.
g) Teraba ballottement
Merupakan fenomena bandul atau pantulan balik. Ini adalah
tanda adanya janin di dalam uterus.
h) Reaksi kehamilan positif
Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human
chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing
pertama pada pagi hari. Dengan tes ini dapat membantu
menentukan diagnosa kehamilan sedini mungkin.
3) Tanda Pasti (Tanda Positif)
a. Gerakan janin yang dapat dilihat, dirasa atau diraba gerakan janin
pada primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18
minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu.
b. Denyut jantung janin
 Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec
 Dicatat dan didengar dengan alat Doppler
 Dicatat dengan feto-elektro kardiogram (pada kehamilan 12
minggu)
 Dilihat pada ultrasonograf
Dengan USG, akan dapat dilihat gambaran janin yang berupa
ukuran kantong janin, panjangnya janin dan diameter biparietalis
hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan (Kuswanti, ina. 2014 :
103).
d. Perubahan fisiologis pada kehamilan
Perubahan yang terjadi pada tubuh pada saat hamil, bersalin dan
nifas adalah perubahan yang hebat dan menakjubkan. Sistem-sistem tubuh
13

berubah dengan otomatis menyesuaikan dengan keadaan hamil, bersalin


dan nifas.
Perubahan fisiologis pada kehamilan menurut Hani, dkk, 2013 :
51-67, dapat dilihat meliputi :
1. Uterus
Uterus yang semula besarnya hanya sebesar jempol atau
beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperpla-sia, sehingga
menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot dalam rahim
mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan
dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin
2. Sistem Reproduksi
a. Serviks
Terjadi hipervaskularisasi dan perlunakan pada serviks
peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan lendir
serviks yang disebut dengan operkulum. Kerapuhan meningkat
sehingga mudah berdarah saat melakukan senggama.
b. Vagina
Perubahan yang terjadi pada vagina selama kehamilan antara lain
terjadinya peningkatan vaskularitas dan hiperemia (tekanan darah
meningkat) pada kulit dan otot perineum, vulva, pelunakan pasa
jaringan ikat, munculnya tanda chadwick yaitu warna kebiruan
pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan hiperemia, serta
adanya keputihan karena sekresi serviks yang meningkat akibat
stimulasi estrogen.
c. Ovarium
Ovulasi berhenti selama kehamilan dan pematanga folikel ditunda.
Biasanya hanya satu corpus luteum kehamilan dapat ditemukan di
dalam ovarium wanita hamil dan hanya berfungsi maksimal
sampai 6-7 minggu pertama kehamilan dan selanjutnya fungsinya
menurun sampai akhirnya pada minggu ke-16 kehamilan
fungsinya digantikan oleh plasenta untuk menghasilkan estrogen
dan progesterone.
14

3. Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular beradaptasi selama masa kehamilan
terhadap beberapa perubahan yang terjadi. Meskipun perubahan sistem
kardiovaskular terlihat pada awal trimester pertama, perubahan pada
sistem kardiovaskular berlanjut ke trimester kedua dan ketiga, ketika
cardiac output meningkat kurang lebih sebanyak 40 % daripada pada
wanita yang tidak hamil. Cardiac output meningkat dari minggu
kelima kehamilan dan mencapai tingkat maksimum sekitar minggu ke-
32 kehamilan, setelah itu hanya mengalami sedikit peningkatan sampai
masa persalinan, kelahiran, dan masa post partum. Sekitar 50%
peningkatan dari cardiac output telah terjadi pada masa minggu
kedelapan kehamilan. Meskipun, peningkatan dari cardiac output
dikarenakan adanya peningkatan dari volume sekuncup dan denyut
jantung, faktor paling penting adalah volume sekuncup, dimana
meningkat sebanyak 20% sampai 50% lebih banyak daripada pada
wanita tidak hamil. Perubahan denyut jantung sangat sulit untuk
dihitung, tetapi diperkirakan ada peningkatan sekitar 20% yang terlihat
pada minggu keempat kehamilan. Meskipun, angka normal dalam
denyut jantung tidak berubah dalam masa kehamilan, adanya terlihat
penurunan komponen simpatis (Birnbach,[Link]., 2015).
Pada trimester kedua, kompresi aortocava oleh pembesaran
uterus menjadi penting secara progresif, mencapai titik maksimum
pada minggu ke- 36 dan 38, setelah itu dapat menurunkan perpindahan
posisi kepala fetal menuju pelvis. Penelitian mengenai cardiac output,
diukur ketika pasien berada pada posisi supine selama minggu terakhir
kehamilan, menunjukkan bahwa ada penurunan dibandingkan pada
wanita yang tidak hamil, penurunan ini tidak diobservasi ketika pasien
berada dalam posisi lateral decubitus. Sindrom hipotensi supine, yang
terjadi pada 10 % wanita hamil dikarenakan adanya oklusi pada vena
yang mengakibatkan terjadinya takikardi maternal, hipotensi arterial,
penurunan kesadaran, dan pucat. Kompresi pada aorta yang dibawah
dari posisi ini mengakibatkan penurunan perfusi uteroplasental dan
15

mengakibatkan terjadinya asfiksia pada fetus. Oleh karena itu,


perpindahan posisi uterus dan perpindahan posisi pelvis ke arah lateral
harus dilakukan secara rutin selama trimester kedua dan ketiga dari
kehamilan.
Naiknya posisi diafragma mengakibatkan perpindahan posisi
jantung dalam dada, sehingga terlihat adanya pembesaran jantung pada
gambaran radiologis dan deviasi aksis kiri dan perubahan gelombang T
pada elektrokardiogram (EKG). Pada pemeriksaan fisik sering
ditemukan adanya murmur sistrolik dan suara jantung satu yang
terbagi-bagi. Suara jantung tiga juga dapat terdengar. Beberapa pasien
juga terlihat mengalami efusi perikardial kecil dan asimptomatik
(Morgan, 2016).
4. Sistem Pencernaan
Timbulnya rasa tidak enak di ulu hati disebabkan karena
perubahan posisi lambung dan aliran asam lambung ke esophagus
bagian bawah. Produksi asam lambung menurun. Sering terjadi nausea
dan muntah karena pengaruh human Chorionic Gonadotropin (HCG),
tonus otot-otot traktus digestivus juga berkurang. Saliva atau
pengeluaran air liur berlebihan dari biasa. Pada beberapa wanita
ditemukan adanya ngidam makanan yang mungkin berkaitan dengan
persepsi individu wanita tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi
rasa mual.
5. Sistem Perkemihan
Peningkatan sensitivitas kandung kemih dan pada tahap
selanjutnya merupakan akibat kompresi pada kandung kemih. Pada
trimester kedua, kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul
sejati ke arah abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena
kandung kemih bergeser kearah atas.
6. Sistem Integument
Perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH), pengaruh lobus
hipofisis anterior , dan pengaruh kelenjar suprarenalis.
16

Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum lividae atau alba,


areola mamae, papila mamae, linea nigra, dan pipi (chloasma
gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.
Perubahan kondisi kulit yang berubah terbalik dari keadaan semula,
yang biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering, maka kini akan
menjadi berminyak, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena
adanya perubahan hormone didalam tubuh ibu hamil. Rambut menjadi
lebih kering atau berminyak karena adanya perubahan
7. Sistem Intergumen
Yaitu perubahan kulit. Terdapat garis pigmentasi dari simfisis
pubis sampai bagian atas fundus di garis tengah tubuh diinduksi
hormon timbul.
8. Sistem neurologi dan musculosketal
Penurunan kalsium dan alkalosis terjadi akibat perubahan pada
sistem pernafasan, tekanan uterus pada saraf, keletihan, dan sirkulasi
yang buruk pada tungkai.

3. Tanda Bahaya Kehamilan TM 1


Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan
adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan/ periode antenatal, yang
apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu
(Pusdiknakes,2012).
Menurut Kusmiyati dkk, 2015, kehamilan merupakan hal yang
fisiologis. Namun kehamilan yang normal dapat berubah menjadi patologi.
Salah satu asuhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menapis
adanya risiko ini yaitu melakukan pendeteksian dini adanya komplikasi/
penyakit yang mungkin terjadi selama hamil.
a. Tanda Bahaya Kehamilan Trimester I (0 – 12 minggu)
1. Perdarahan Pervaginaan
Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya
Perdarahan. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan.
Pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus,
17

misscarriage, early pregnancy loss. Perdarahan pada kehamilan


muda dikenal beberapa istilah sesuai dengan pertimbangan masing-
masing, setiap terjadinya perdarahan pada kehamilan maka harus
selalu berfikir tentang akibat dari perdarahan ini yang menyebabkan
kegagalan kelangsungan kehamilan (Hadijanto, 2011).
(a) Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan
ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang
dari 500 gram (Hadijanto, 2011). Menurut SDKI tahun 2007
penyebab kematian ibu dikarenakan abortus (5%). Berdasarkan
jenisnya Sujiyatini dkk (2010) menyebutkan abortus dibagi
menjadi:
(1) Abortus Imminens (threatened)
Suatu abortus imminens dicurigai bila terdapat
pengeluaran vagina yang mengandung darah, atau
perdarahan pervaginam pada trimester pertama kehamilan.
Suatu abortus iminens dapat atau tanpa disertai rasa mules
ringan, sama dengan pada waktu menstruasi atau nyeri
pinggang bawah. Perdarahan pada abortus imminens
seringkali hanya sedikit, namun hal tersebut berlangsung
beberapa hari atau minggu. Pemeriksaan vagina pada
kelainan ini memperlihatkan tidak adanya pembukaan
serviks. Sementara pemeriksaan dengan real time ultrasound
pada panggul menunjukkan ukuran kantong amnion normal,
jantung janin berdenyut, dan kantong amnion kosong,
serviks tertutup, dan masih terdapat janin utuh.
(2) Abortus Insipien (inevitable)
Merupakan suatu abortus yang tidak dapat
dipertahankan lagi ditandai dengan pecahnya selaput janin
dan adanya pembukaan serviks. Pada keadaan ini didapatkan
juga nyeri perut bagian bawah atau nyeri kolek uterus yang
18

hebat. Pada pemeriksaan vagina memperlihatkan dilatasi


osteum serviks dengan bagian kantung konsepsi menonjol.
Hasil Pemeriksaan USG mungkin didapatkan jantung janin
masih berdenyut, kantung gestasi kosong (5-6,5 minggu),
uterus kosong (3-5 minggu) atau perdarahan subkorionik
banyak di bagian bawah.
(3) Abortus Incompletus (incomplete)
Adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang
tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vagina, canalis
servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam cavum
uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari osteum uteri
eksternum. Pada USG didapatkan endometrium yang tipis
dan ireguler.
(4) Abortus Completus (complete)
Pada abortus completus semua hasil konsepsi sudah
dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit,
osteum uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak
mengecil. Selain ini, tidak ada lagi gejala kehamilan dan uji
kehamilan menjadi negatif. Pada Pemeriksaan USG
didapatkan uterus yang kosong.
(5) Missed Abortion
Adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu,
tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau
lebih.
(6) Abortus Habitualis (habitual abortion)
Adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut tiga
kali atau lebih. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi
hamil, namun kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu.
(b) Kehamilan ektopik
Adalah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur telah
dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum
19

uteri. Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada di saluran telur


(tuba Fallopii). Kejadian kehamilan ektopik tidak sama diantara
senter pelayanan kesehatan. Hal ini bergantung pada kejadian
salpingitis seseorang. Di Indonesia kejadian sekitar 5-6 per
seribu kehamilan. Patofisiologi terjadinya kehamilan ektopik
tersering karena sel telur yang telah dibuahi dalam
perjalanannya menuju endometrium tersendat sehingga embrio
sudah berkembang sebelum mencapai kavum uteri dan
akibatnya akan tumbuh di luar rongga rahim. Bila kemudian
tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan
besarnya buah kehamilan, akan terjadi rupture dan menjadi
kehamilan ektopik terganggu (Hadijanto, 2011).
Tanda dan gejala pada kehamilan muda, dapat atau tidak
ada perdarahan pervaginam, ada nyeri perut kanan/kiri bawah.
Berat atau ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah
yang terkumpul dalam peritoneum. Dari Pemeriksaan fisik
didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor didaerah
adneksa. Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu hipotensi,
pucat dan ekstremitas dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut
yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas
dinding abdomen. Dari Pemeriksaan dalam serviks teraba lunak,
nyeri tekan, nyeri pada uterus kanan dan kiri.
(c) Mola hidatidosa
Adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar
dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis
mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Secara
makroskopik, molahidatidosa mudah dikenal yaitu berupa
gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan
jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa millimeter
sampai 1 atau 2 cm.
Menurut Hadijanto (2011) pada permulaannya gejala mola
hidatidosa tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa yaitu
20

mual, muntah, pusing, dan lain-lain, hanya saja derajat


keluhannya sering lebih hebat. Selanjutnya perkembangan lebih
pesat, sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari
umur kehamilan. Ada pula kasus-kasus yang uterusnya lebih
kecil atau sama besar walaupun jaringannya belum dikeluarkan.
Dalam hal ini perkembangan jaringan trofoblas tidak begitu
aktif sehingga perlu dipikirkan kemungkinan adanya dying
mole. Perdarahan merupakan gejala utama mola. Biasanya
keluhan perdarahan inilah yang menyebabkan mereka datang ke
rumah sakit.
Gejala perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan
pertama sampai ketujuh dengan rata-rata 12-14 minggu. Sifat
perdarahan bias intermiten, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak
sehingga menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan
ini umumnya pasien mola hidatidosa masuk dalam keadaan
anemia.
2. Hiperemesis Gravidarum
a. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan
sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari – hari dan
bahkan membahayakan hidupnya ( Manuaba, 2013).
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan
atau tidak terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan
dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi,
dan kehilangan berat badan (Lowdermilk, 2014).
Hiperemesis gravidarum adalah gejala yang wajar dan
sering kedapatan pada kehamilan trimester pertama. Gejala-
gejala ini kurng lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid
terakhir dan berlangsung kurang lebih 10 minggu (Wiknjosastro,
2012).
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebih pada
wanita hamil, sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena
21

keadaan umumnya menjadi buruk, sebagai akibat terjadinya


dehidrasi (Hidayati, 2009).
b. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara
pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor
toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan –
perubahan anatomic pada otak, jantung, hati, dan susunan saraf,
disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat – zat lain akibat
inanisi. Beberapa factor predisposisi dan faktor lain yang telah
ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut:
1) Faktor predisposisi : primigravida, overdistensi rahim :
hidramnion, kehamilan ganda, estrogen dan HCG tinggi,
mola hidatidosa.
2) Faktor organik: masuknya vili khorialis dalam sirkulasi
maternal, perubahan metabolik akibat hamil, resistensi yang
menurun dari pihak ibu dan alergi
3) Faktor psikologis: rumah tangga yang retak, hamil yang
tidak diinginkan, takut terhadap kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dan kehilangan
pekerjaan (Wiknjosastro, 2012).
c. Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual
dan muntah pada hamil muda terjadi terus menerus dapat
menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan
alkalosis hipokloremik (Wiknjosastro, 2012).
Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan
karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi.
Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis
dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik
dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan yang
diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi
sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan
22

khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan


hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang. Kekurangan
kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi
lewat ginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak,
dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran yang sulit
dipatahkan.
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit
dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung
(Sindroma Mallory Weiss) dengan akibat perdarahan
gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan
perdarahan dapat berhenti sendiri, jarang sampai diperlukan
transfusi atau tindakan operatif (Wiknjosastro, 2012).
d. Manifestasi Klinik
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam
kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada; tetapi bila
keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap
sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum
menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 tingkatan
(Wiknjosastro, 2012).
a. Tingkatan I: Muntah terus menerus yang mempengaruhi
keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan
tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada
epigastrium. nadi meningkat sekitar 100 kali/menit dan
tekanan darah sistolik turun, turgor kulit mengurang, lidah
mongering dan mata cekung.
b. Tingkatan II: penderita tampak lebih lemah dan apatis,
turgor kulit mengurang, lidah mengering dan Nampak
kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan
mata sedikit ikterik. Berat badan menurun dan mata
menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi oliguria dan
konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan,
23

karena pempunyai aroma yang khas dan dapat pula


ditemukan dalam kencing.
c. Tingkatan III : Keadaan umum lebih parah, muntah
berhenti, kesadaran makin menurun hingga mencapai
somnollen atau koma, terdapat ensefalopati werniche yang
ditandai dengan : nistagmus, diplopia, gangguan mental,
kardiovaskuler ditandai dengan: nadi kecil, tekanan darah
menurun, dan temperature meningkat, gastrointestinal
ditandai dengan: ikterus makin berat, terdapat timbunan
aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam.
Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan
termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus
menunjukkan adanya payah hati (Wiknjosastro, 2012).
e. Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar.
Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah terus
menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun
demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit
pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang
dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat
menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi
perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera
dilakukan (Wiknjosastro, 2012).
f. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar ridak
terjadi hiperemesis gravidarum dengan cara :
a. Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologik.
b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang
muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan
muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
24

c. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan


makanan dalam jumlah kecil tapi sering.
d. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun
dari tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau
biscuit dengan teh hangat.
e. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya
dihindarkan.
f. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau
sangat dingin.
g. Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor
penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula
(Wiknjosastro, 2012).
g. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum menurut
(Wiknjosastro, 2012).
1) Obat – obatan; Sedativa : Phenobarbital, Vitamin : Vitamin
B1 dan B6 atau B – kompleks, Anti histamine : dramamin,
avomin, Anti emetik (pada keadaan lebih berat) : Dislikomin
hidrokloride atau khlorpromasine. Penanganan hiperemesis
gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.
2) Isolasi; Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang,
tetapi cerah danperedaran udara yang baik, catat cairan yang
keluar masuk, hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke
dalam kamar penderita sampai muntah berhenti pada
penderita mau makan. Tidak diberikan makanan atau
minuman dan selama 24 jam. Kadang – kadang dengan isolasi
saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa
pengobatan.
3) Terapi psikologika; perlu diyakinkan kepada penderita bahwa
penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena
kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah
dan konflik.
25

4) cairan parenteral; cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat


dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan fisiologis (2 – 3
liter/hari), dapat ditambah kalium dan vitamin (vitamin B
komplek, vitamin C), bila kekurangan protein dapat
diberiakan asam amino secara intravena, bila dalam 24 jam
penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat
diberikan minuman dan lambat laun makanan yang tidak cair.
Dengan penanganan diatas, pada umumnya gejala – gejala
akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.
5) Menghentikan kehamilan; Bila keadaan memburuk dilakukan
pemeriksaan medik dan psikiatrik, manifestasi komplikasi
organis adalah delirium, takikardi, ikterus, anuria dan
perdarahan dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan
untuk mengakhiri kehamilan keadaan yang memerlukan
pertimbangan gugur kandung diantaranya:
a. Gangguan kejiwaan ditandai dengan: delirium, apatis,
somnolen sampai koma, terjadi gangguan jiwa
ensepalopati wernicke.
b. Gangguan penglihatan ditandai dengan: pendarahan retina,
kemunduran penglihatan.
c. Ganggguan faal ditandai dengan: hati dalam bentuk
ikterus, ginjal dalam bentuk anuria, jantung dan pembuluh
darah terjadi nadi meningkat, tekanan darah menurun.
3. Hipertensi Gravidarum
a. Definisi
Hipertensi dalam pada kehamilan adalah hipertensi yang
terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan
terakhir kehamilan atau lebih setelah 20 minggu usia kehamilan
pada wanita yang sebelumnya normotensif, tekanan darah
mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30
mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal
(Junaidi, 2010).
26

b. Epidemiologi
Hipertensi pada kehamilan berperan besar dalam
morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Hipertensi
diperkirakan menjadi komplikasi sekitar 7-10% seluruh
kehamilan. Dari seluruh ibu yang mengalami hipertensi selama
hamil, setengah sampai dua pertiganya didiagnosis mengalami
preeklampsi atau eklampsi (Bobak, 2015).
Di Indonesia, mortalitas dan morbiditas hipertensi pada
kehamilan juga masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh
etiologi yang tidak jelas, dan juga perawatan dalam persalinan
masih ditangani petugas non medik serta sistem rujukan yang
belum sempurna. Hipertensi pada kehamilan dapat dipahami oleh
semua tenaga medik baik di pusat maupun di daerah
( Prawirohardjo, 2013).
c. Klasifikasi
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan
The National High Blood Pressure Education Program Working
Group on High Blood Pressure in Pregnancy (NHBPEP)
memberikan suatu klasifikasi untuk mendiagnosa jenis hipertensi
dalam kehamilan, (NHBPEP, 2014) yaitu :
a. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur
kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali
didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan
hipertensi menetap sampai 12 minggu pascapersalinan.
b. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20
minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Eklampsia
adalah preeklampsi yang disertai dengan kejang-kejang
dan/atau koma.
c. Preeklampsia pada hipertensi kronik (preeclampsia
superimposed upon chronic hypertension) adalah hipertensi
kronik disertai tanda-tanda preeklampsi atau hipertensi
kronik disertai proteinuria.
27

d. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang timbul pada


kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi
menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kematian
dengan tanda-tanda preeklampsi tetapi tanpa proteinuria
(Prawirohardjo, 2013)
Tabel 1. Perbedaan gambaran klinis antara hipertensi kronik, hipertensi
gestasional dan preeklampsia (Suyono S, 2009).
Hipertensi Hipertensi
Gambaran Klinis Preeklampsia
Kronik Gestasional

Saatnya Muncul Kehamilan Biasanya Kehamilan <20


Hipertensi <20 minggu trimester III Minggu
Derajat HT Ringan-berat Ringan Ringan-berat
Proteinuria Tidak ada Tidak ada Biasanya ada
Serum Urat > 5,5 Ada padasemua
Jarang Tidak ada
mg/dl Kasus
Ada pada kasus
Hemokonsenterasi Tidak ada Tidak ada
preeklampsi berat
Ada pada kasus
Trombositopenia Tidak ada Tidak ada
preeklampsi berat
Ada pada kasus
Disfungsi Hati Tidak ada Tidak ada
preeklampsi berat

4. Nyeri perut bagian bawah


Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan
normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin
menunjukkan masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah
hebat, menetap dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini bisa berarti
appendiksitis, kehamilan ektopik, aborsi,penyakit kantong empedu,
iritasi uterus, infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya.
Penanganan:
28

Istirahat yang cukup apabila tidak terjadi perubahan, segera ke


rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, karena kemungkinan
terjadi kehamilan ektopik, aborsi sangat besar (Wiknjosastro, 2015).

4. Hubungan Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda


Bahaya Kehamilan TM I
Pengetahuan adalah hasil “tahu” dan ini terjadi ketika seseorang
melakukan pengindraan terhadap suatu subyek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui panda indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2012).
Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan.
Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan
bahwa dengan pendidikan tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya (Wawan, A, dkk. 2010).
Hasil penelitian puji (2012) menunjukkan hasil peneltian terdapat
hubungan antara karakteristik ibu hamil dengan tingkat pengetahuan tentang
tanda bahaya pada kehamilan di Puskesmas Sidoharjo Kabupaten Sragen.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang
tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan,
pertimbangan dan kebijakan. Sehingga pendidikan dan pengetahuan saling
berkaitan. Wanita yang berpendidikan akan membuat keputusan yang benar
dalam memperhatikan kesehatan anak-anaknya serta kesehatan dirinya sendiri.

B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara
variable yang satu dengan variable yang lain dari masalah yang ingin diteliti
(Notoadmojo, 2012).
Variabel Independent Variabel Dependent
Pendidikan Ibu Hamil Pengetahuan Tentang Tanda
Bahaya Kehamilan TM I

Bagan 1. Variabel Penelitian


29

C. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan batasan terhadap variabel-variabel
yang diamati atau diteliti (Notoadmojo, 2012).
Tabel 1. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
. Operasional Ukur
1 Independen Jenjang Mengisi Chek list 0 : Dasar (SD – Ordinal
Pendidikan pendidikan formal Chek List SMP)
Ibu Hamil yang pernah 1 : Menengah
ditempuh oleh ibu (SMA)
hamil TM I. 2 : Tinggi
(Akademi-PT)
2 Dependent Informasi yang Mengisi Kuesioner 0 : Kurang (skor ≤ Ordinal
Pengetahuan diketahui oleh Kuesioner 55% jawaban
tentang tanda seseorang tentang benar)
bahaya tanda bahaya 1 : Cukup (score
Kehamilan Kehamilan TM I 56-75% jawaban
TM I a. Pendarahan benar dari total
pervaginaan pertanyaan
b. Hiperemesis 2 : baik (skor 76-
Gravidarum 100% jawaban
c. Hipertensi benar)
Gravidarum
d. Nyeri Perut
Bagian
Bawah

D. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep diatas, maka hipotesis dalam penelitian
ini dapat dirumuskan bahwa :
Ha : Ada hubungan pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang tanda
bahaya kehamilan TM I di Puskesmas Kota Manna tahun 2018.

Anda mungkin juga menyukai