0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Analisis Akar Permasalahan Ketidakhadiran Siswa Mts Kota Malang Menggunakan Dan Diagram

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakhadiran siswa di MTs Kota Malang dan upaya untuk meningkatkannya. Metode yang digunakan termasuk analisis akar permasalahan dengan teknik '5 why analysis' dan Fishbone diagram, menunjukkan bahwa ketidakhadiran dipengaruhi oleh faktor internal, eksternal, dan sosial. Meskipun sekolah telah menerapkan peraturan dan upaya untuk meningkatkan kehadiran, tingkat ketidakhadiran siswa masih tinggi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Analisis Akar Permasalahan Ketidakhadiran Siswa Mts Kota Malang Menggunakan Dan Diagram

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakhadiran siswa di MTs Kota Malang dan upaya untuk meningkatkannya. Metode yang digunakan termasuk analisis akar permasalahan dengan teknik '5 why analysis' dan Fishbone diagram, menunjukkan bahwa ketidakhadiran dipengaruhi oleh faktor internal, eksternal, dan sosial. Meskipun sekolah telah menerapkan peraturan dan upaya untuk meningkatkan kehadiran, tingkat ketidakhadiran siswa masih tinggi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Proceedings Series of Educational Studies

Seminar Nasional dengan Tema “Penguatan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan
dalam Program Guru Penggerak dan Merdeka Belajar pada Era Digital 5.0”

Analisis akar permasalahan ketidakhadiran siswa MTs Kota


Malang menggunakan Root Cause Analysis “5 why analysis”
dan Fishbone diagram
Egi Dina Aulia*

Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang, Jawa Timur, Indonesia

*Penulis korespondensi, Surel: [Link].2301328@[Link]

Abstract
Even though the school has set rules in the discipline as a form of symbolic interaction between
school members, many students still choose not to attend. This absence means that students do not
physically participate in school activities. Student attendance is considered important for learning
achievement and enjoyment of school. This research aims to: 1) Find out the factors that influence
student absenteeism at MTs Malang City, 2) Describe efforts to increase student attendance at
Madrasah Tsanawiyah (MTs) Malang City. This research uses a qualitative approach and descriptive
method, where the researcher acts as the main instrument. The research location is MTs Malang City.
Data was collected through document studies, field observations and in-depth interviews, as well as
literature observations to complete the data. The research results show that student absences at MTs
Malang City are influenced by internal, external and social factors. Internal factors include self-
awareness, learning concentration, and the ability to follow the learning process. External factors
include the school environment, principal, teachers, and school rules. Social factors include the family
and community environment. School efforts to increase student attendance include: 1) Consistent
implementation of rules, 2) Involving students in activities that encourage discipline, such as scouts,
3) Formulating rules of conduct by involving the homeroom teacher, students and parents.

Keywords: student absences; factors influencing attendance; efforts to increase student attendance

Abstrak
Meskipun sekolah telah menetapkan aturan dalam tata tertib sebagai bentuk interaksi simbolik antar
warga sekolah, banyak siswa masih memilih untuk tidak hadir. Ketidakhadiran ini berarti siswa tidak
berpartisipasi secara fisik dalam kegiatan sekolah. Kehadiran siswa dianggap penting untuk prestasi
belajar dan ketertiban sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi ketidakhadiran siswa di MTs Kota Malang, 2) Mendeskripsikan upaya untuk
meningkatkan kehadiran siswa di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kota Malang. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, di mana peneliti berperan sebagai
instrumen utama. Lokasi penelitian adalah MTs Kota Malang. Data dikumpulkan melalui studi
dokumen, observasi lapangan, dan wawancara mendalam, serta tinjauan literatur untuk melengkapi
data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran siswa di MTs Kota Malang dipengaruhi
oleh faktor internal, eksternal, dan sosial. Faktor internal meliputi kesadaran diri, konsentrasi
belajar, dan kemampuan mengikuti proses belajar. Faktor eksternal mencakup lingkungan sekolah,
kepala sekolah, guru, dan tata tertib sekolah. Faktor sosial meliputi lingkungan keluarga dan
masyarakat. Upaya sekolah untuk meningkatkan kehadiran siswa meliputi: 1) Penerapan tata tertib
yang konsisten, 2) Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan yang mendorong disiplin, seperti
pramuka, 3) Merumuskan tata tertib dengan melibatkan wali kelas, siswa, dan orang tua.

Kata kunci: ketidakhadiran siswa, faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran, upaya


meningkatkan kehadiran siswa

168
Proceedings Series of Educational Studies

1. Pendahuluan
Ketidakhadiran siswa di sekolah juga dikenal sebagai absensi, adalah suatu masalah
yang penting dalam pengelolaan siswa di sekolah. Kehadiran siswa di sekolah dianggap sebagai
suatu indikator penting dalam menentukan prestasi belajar siswa dan juga sebagai gambaran
tentang ketertiban suatu sekolah (Fitriadi et al., 2019). Kehadiran siswa di sekolah (school
attendance) adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental terhadap
aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah ketiadaan
partisipasi secara fisik siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Secara administratif,
pengelolaan kehadiran dan ketidakhadiran siswa pada tingkat kelas menjadi tanggung jawab
wali kelas. Oleh karena itu, wali kelas seyogyanya dapat mendata secara akurat tingkat
kehadiran dan ketidakhadiran siswa di kelas yang menjadi tanggung jawabnya sekaligus dapat
menganalisis dan menyajikannya dalam bentuk grafik atau tabel (diusahakan tersedia catatan
harian dan tabel/grafik bulanan). Sedangkan pada tingkat sekolah data ketidakhadiran siswa
di sekolah menjadi tanggung jawab wakasek kesiswaan. Wakasek dapat mendata secara akurat
tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa secara keseluruhan serta dapat menganalisis dan
menyajikannya dalam bentuk grafik/tabel. Informasi tingkat kehadiran dan ketidakhadiran
siswa ini sangat berguna untuk pengambilan kebijakan, baik pada tingkat kelas maupun
sekolah serta dapat digunakan untuk kepentingan pemberian bimbingan kepada siswa yang
mengalami kesulitan dalam menunaikan kewajiban kehadirannya di sekolah.

Penyebab siswa tidak hadir ke sekolah dapat dikategorikan menjadi 3 bagian, yaitu : (1)
alfa yaitu ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas dengan alasan yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan (2) izin yaitu ketidakhadiran dengan keterangan dan alasan tertentu
yang bisa dipertanggungjawabkan, biasanya disertai surat pemberitahuan dari orang tua; dan
(3) sakit yaitu ketidakhadiran dengan alasan gangguan kesehatan, biasanya disertai surat
pemberitahuan dari orang tua atau surat keterangan sakit dari dokter (Putra & Nora, 2020).
Ketidakhadiran siswa di sekolah dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor
internal seperti kesulitan belajar, kebosanan, dan kemalasan, serta faktor eksternal seperti
lingkungan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, dan teknologi pendidikan (Fitriadi et
al., 2019). Kesulitan belajar dapat berupa kesulitan dalam memahami materi, kesulitan dalam
mengerjakan tugas, dan kesulitan dalam menghadapi ujian. Ketika siswa sedang mengalami
kesulitan mengerjakan tugas atau memahami materi pelajaran namun tidak mendapat
dukungan dari lingkungan sekitarnya, siswa cenderung tidak memiliki motivasi untuk belajar
hingga enggan datang ke sekolah. Siswa ini lebih memilih untuk pergi dengan teman yang
lainnya bukan untuk mengerjakan tugas sekolah tetapi untuk mencari hiburan (Santosa &
Tawardjono, 2016). Selain faktor kesulitan mengerjakan tugas, faktor lain seperti kebosanan,
kemalasan, atau kondisi siswa yang merasa kelelahan karena tuntutan yang besar baik dari
guru dan orangtua membuat siswa kurang semangat pada saat datang ke sekolah (Sutja et al.,
2022). Jika kondisi ini terus berlangsung maka dikhawatirkan semakin sedikit keinginan siswa
untuk datang ke sekolah. Faktor eksternal yang mendukung siswa untuk tidak hadir di sekolah
salah satunya adalah ajakan teman untuk membolos.

Pengelolaan kehadiran siswa di sekolah dilakukan dengan terbentuknya aturan


ketidakhadiran yang jelas dan tegas (Alzizah et al., 2022). MTs Kota Malang telah membuat
peraturan mengenai tingkat kehadiran yang dimana siswa wajib mengikuti pembelajaran tatap
muka minimal 85% dari jumlah total tatap muka efektif dalam satu tahun pelajaran. Berikut
peraturan tata tertib MTs Kota Malang: (1) Peserta didik hadir 10 menit sebelum bel masuk
berbunyi, bel masuk dibunyikan jam 07.00 WIB. Proses belajar mengajar aktif jam 07.15 wib

169
Proceedings Series of Educational Studies

dan pagar ditutup jam 07.30 (kecuali senin bel masuk jam 06.45 wib untuk pelaksanaan
upacara), (2) Peserta didik yang masuk terlambat maksimal 10 menit dapat arahan/ sanksi
dari piket pembina diizinkan masuk kelas setelah dapat surat izin masuk dari guru piket, (3)
Peserta didik yang terlambat lebih dari 10 menit mendapat arahan/sanksi dari piket pembina
disuruh ke Bimbingan Konseling untuk pembinaan dan dapat masuk kelas pada jam pelajaran
ke 2 setelah dapat surat izin dari guru Bimbingan Konseling, (4) Peserta didik yang terlambat
sampai jam 07.45 wib atau lebih dengan alasan yang jelas harus mendapatkan surat izin masuk
dari Pimpinan Sekolah, (5) Peserta didik yang sakit lebih dari 3 hari, agar mengirimkan ke
sekolah surat keterangan sakit dari dokter, (6) Peserta didik yang sakit dalam jam pelajaran
atau ada halangan penting diizinkan meninggalkan sekolah setelah mendapatkan izin dari guru
mata pelajaran dan guru piket, (7) Peserta didik yang kehadirannya kurang dari 80% tidak
diperbolehkan mengikuti ujian semester/ akhir kecuali sakit yang dilengkapi dengan surat
keterangan dari dokter.

Meskipun sekolah telah membuat aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam tata tertib
dan peraturan akademik yang mana tata tertib ini merupakan salah satu bentuk interaksi
simbolik antar warga sekolah namun masih banyak siswa yang memilih tidak hadir disekolah.
Sehingga, data rekapitulasi ketidakhadiran siswa menjadi fokus utama sekolah dalam
penyelenggaraan layanan pendidikan. Ketidakhadiran siswa di sekolah merupakan gambaran
bagaimana keinginan dan dorongan hati siswa untuk belajar di sekolah sudah tidak
berkembang yang bisa menyebabkan proses belajar mengajar menjadi terganggu. Agar proses
belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, pihak sekolah telah melakukan beberapa
upaya untuk bisa membuat siswa datang ke sekolah. Pertama, melakukan pemantauan
kehadiran siswa dan rekapan kehadiran siswa secara cepat. Pihak sekolah sudah
mengintegrasikan dari presensi manual menjadi presensi fingerprint sehingga memudahkan
pihak sekolah untuk mendapatkan rekapitulasi kehadiran secara cepat. Kedua, melakukan
komunikasi dua arah yaitu menyampaikan hasil rekapitulasi kehadiran dalam bentuk file
kepada orangtua siswa melalui grup WA. Melalui bentuk komunikasi antara orangtua siswa
dengan pihak sekolah diharapkan orang tua dapat memiliki andil lebih besar dalam
pengawasan kehadiran siswa di sekolah. Ketiga, pihak sekolah memanggil orang tua dari siswa
yang tidak hadir ke sekolah dalam beberapa hari dan kemudian apabila tidak ada perubahan,
selanjutnya dilakukan program anjangsana yaitu pihak sekolah mendatangi rumah-rumah
siswa dengan tujuan untuk bisa melakukan komunikasi interpersonal dan mengetahui secara
mendalam kondisi lingkungan rumah siswa. Walaupun memiliki peraturan yang jelas dan ketat
dibarengi dengan upaya-upaya pihak sekolah untuk meningkatkan partisipasi/kehadiran
siswa di sekolah, namun tingkat ketidakhadiran siswa di MTs Kota Malang masih tergolong
tinggi.

Tabel 1. Rekap ketidahadiran siswa kelas VII MTs Kota Malang bulan Desember 2023

Kelas Jumlah Siswa Jumlah Ketidakhadiran

S I A

VII A 17 2 1 299

VII B 17 8 1 301

170
Proceedings Series of Educational Studies

Sumber: file rekapitulasi presensi siswa VII MTs Kota Malang

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan oleh pihak
sekolah belum mampu untuk meningkatkan kehadiran siswa di sekolah, sehingga diperlukan
sebuah analisis akar permasalahan. Maka tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis
akar permasalahan ketidakhadiran siswa di sekolah menggunakan teknik analisis Root Cause
Analysis “5 why analysis” dan Fishbone Diagram.

Root Cause Analysis “5 why analysis”

Teknik analisis 5 why, juga dikenal sebagai Root Cause Analysis (RCA), adalah metode
yang digunakan untuk menemukan akar permasalahan yang terjadi dalam suatu organisasi atau
sistem. Metode ini dikembangkan oleh Sakichi Toyoda pada tahun 1930 dan dipopulerkan oleh
Toyota Production System pada tahun 1970. Penelitian yang menggunakan metode Root Cause
Analysis relatif masih jarang digunakan. Root Cause adalah bagian dari beberapa faktor
(kejadian, kondisi, faktor organisasional) yang memberikan kontribusi, atau menimbulkan
kemungkinan penyebab dan diikuti oleh akibat yang tidak diharapkan. Why-Why Diagram
merupakan alat analisis yang digunakan untuk menggali akar penyebab suatu masalah. Metode
Ini membantu mengidentifikasi dan menganalisis penyebab yang mendasarinya dengan terus
mengajukan pertanyaan "mengapa" secara berulang. Langkah - langkah perbaikan yang relevan
dapat diambil untuk mengatasi permasalahan yang ada. Dengan pemahaman yang lebih jelas
tentang penyebab mendasar dari masalah-masalah tersebut, organisasi dapat fokus pada solusi
yang tepat dan efektif (Salsabilah, 2023). Teknik 5 why ini sangat efektif dalam pemecahan
masalah terhadap proses yang terjadi, terutama dalam menemukan akar penyebab masalah
yang kompleks dan rumit. Teknik 5 why memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (1) mampu
menemukan akar penyebab masalah yang kompleks dan rumit; (2) dapat mengidentifikasi
faktor-faktor yang terkait dengan masalah tersebut; (3) mampu merancang dan menentukan
rencana perbaikan yang efektif; Serta (4) mampu meningkatkan kemampuan organisasi dalam
menyelesaikan masalah. Menurut Max Ammerman (1998) dalam bukunya yang berjudul Root
Cause Analysis terdapat beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan
analisis akar masalah:

1. Mengidentifikasi masalah
Dalam mengidentifikasi masalah harus memperhatikan kejadian yang menyebabkan
sebuah dampak atau kerugian yang tinggi, sehingga sangat diperlukan untuk melakukan
tindakan perbaikan.
2. Menjelaskan apa yang terjadi
Pada langkah ini, peneliti melakukan analisis ulang dengan cara mengumpulkan data,
informasi dan fakta tentang kejadian untuk memahami permasalahan apa yang
sebenarnya terjadi.
3. Mengidentifikasi faktor penyebab
Pada langkah ke-3 ini digunakan untuk menggali lebih dalam mengenai masalah apa
yang terjadi dan menemukan mengapa permasalahan tersebut terjadi.
4. Mengidentifikasi akar penyebab
Melakukan analisis secara menyeluruh terhadap faktor-faktor permasalah yang
mengidentifikasi akar penyebab dari permasalahan. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggali lebih dalam mengenai akar penyebab dengan mengajukan pertanyaan

171
Proceedings Series of Educational Studies

“mengapa” secara berulang kali hingga diketahui akar permasalahan, teknik tersebut
dikenal metode “five (5) why analysis”
5. Merancang dan menentukan rencana perbaikan
Merancang dan menentukan rencana perbaikan dalam memperbaiki sebuah masalah
dan mencegah agar masalah tersebut tidak terjadi kembali dimasa yang akan datang.

Fishbone Diagram

Tujuan menggambarkan masalah dalam suatu diagram atau gambar adalah untuk lebih
memudahkan kita memahami gambaran permasalahan dan faktor-faktor penyebab munculnya
permasalahan dalam satu diagram atau gambar. Konsep dasar dari diagram fishbone adalah
permasalahan mendasar diletakkan pada bagian kanan dari diagram atau pada bagian kepala
dari kerangka tulang ikannya. Penyebab permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya
(Murnawan & Mustofa, dalam (De Fretes, 2022).

Langkah-langkah dalam penyusunan Diagram Fishbone atau CED (Doggett, 2005) yaitu:

a) Tetapkan permasalahan yang akan dipecahkan atau dikendalikan.


b) Tuliskan permasalahan di bagian kanan dan gambar panah dari arah kiri ke kanan.
c) Tuliskan faktor-faktor utama yang berpengaruh atau berakibat pada permasalahan
pada cabang utama. Faktor-faktor utama permasalahan dapat ditentukan dengan
menggunakan 4M (Material, Method, Mechanism, dan Manpower) atau menggunakan 4P
yaitu Parts (raw material), Procedures, Plant (equipment) dan people). Namun, kategori
juga bisa ditentukan sendiri tergantung permasalahannya.

2. Metode

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan data yang berasal dari hasil observasi langsung di
lapangan dan wawancara kepada pihak sekolah. Wawancara yang dilaksanakan pada
penelitian ini merupakan jenis wawancara semi-terstruktur. Menurut Sugiyono (2012),
wawancara semi-terstruktur merupakan jenis wawancara yang sudah memenuhi kategori
in-depth interview. Wawancara dilaksanakan secara mendalam, namun dari segi
pelaksanaannya lebih bebas apabila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan
dari wawancara semi-terstruktur adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih

172
Proceedings Series of Educational Studies

terbuka. Disamping itu, peneliti juga dapat memperoleh informasi melalui keterangan dan
pendapat dari informan. Sedangkan data sekunder yang digunakan berupa data kehadiran
siswa yang sudah dikumpulkan dalam bentuk tabel excel. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi dan wawancara. Metode pengolahan data dilapangan
menggunakan 5-Why Analysis yaitu memberikan pertanyaan “why” secara berulang-ulang
hingga mendapatkan akar penyebab permasalahan.

3. Hasil dan Pembahasan


Analisis akar permasalahan ketidakhadiran peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Kota
Malang melalui beberapa tahap berdasarkan Teknik analisis 5 whys. Secara lebih jelas,
tahapan- tahapan yang dilakukan yaitu:
1) Mengidentifikasi masalah
Ketidakhadiran siswa di Madrasah Tsanawiyah Malang berada pada kategori tinggi.
Adanya masalah siswa yang dengan sengaja atau dengan alasan tertentu tidak datang
ke sekolah dapat mengganggu kegiatan pembelajaran di kelas. Selain membawa
dampak buruk terhadap pelaksanaan pembelajaran, ketidakhadiran ini juga
mempengaruhi proses evaluasi atau penilaian siswa (Nugraha, 2022).
2) Menjelaskan apa yang terjadi
Setelah dilakukan analisis data rekapitulasi kehadiran selama sebulan penyebab
ketidakhadiran siswa di sekolah sebagian besar dalam kategori alpha, yaitu
ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas dengan alasan yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Sedangkan untuk data ketidakhadiran peserta didik dalam
kategori ijin dan sakit jumlahnya hanya sedikit dari total ketidakhadiran siswa di
sekolah. Jumlah ketidakhadiran siswa yang tidak sedikit menandakan tingkat
kedisiplinan yang dimiliki masih rendah. Seiring berjalannya waktu apabila perilaku
disiplin siswa tidak diperbaiki maka pendidikan karakter tidak bisa terimplementasi
dengan baik di sekolah tersebut (Jannah et al., 2023). Mengingat pentingnya pendidikan
karakter yang dibangun melalui perilaku disiplin hadir disekolah, maka ketidakhadiran
siswa di sekolah menjadi permasalahan yang harus segera diselesaikan.
3) Mengidentifikasi faktor penyebab
Beberapa upaya telah dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatasi ketidakhadiran
peserta didik untuk datang ke sekolah. Mulai dari pengetatan aturan kehadiran,
melibatkan orangtua siswa dalam proses pengawasan siswa disekolah, melakukan
integrasi dari presensi manual menjadi presensi elektronik sehingga menghasilkan data
rekapan yang cepat, hingga melakukan aksi kunjungan ke rumah-rumah siswa dalam
rangka mengetahui kondisi lingkungan siswa secara detail dan memberi arahan secara
pribadi dan terfokus kepada peserta didik dan orangtua yang bersangkutan. Namun
upaya-upaya tersebut belum dapat mengatasi permasalahan utama dimana penyebab
ketidakhadiran siswa dipengaruhi oleh faktor yang beragam (Alzizah et al., 2022)
4) Mengidentifikasi akar penyebab
Dalam melakukan analisis akar masalah yang menjadi penghambat pihak sekolah dalam
mengatasi ketidakhadiran siswa di sekolah, penulis melakukan pengumpulan data
melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil analisis akar permasalahan
ketidakhadiran siswa di sekolah melalui why diagram dapat dilihat pada tabel 1.
Fishbone diagram.

173
Proceedings Series of Educational Studies

Tabel 1. Why-why diagram

No Why? Jawaban

1 Mengapa tingkat ketidakhadiran siswa di Sebagian besar siswa belum memiliki


madrasah tsanawiyah malang sangat motivasi yang kuat dan kesadaran dari
tinggi? diri sendiri untuk hadir ke sekolah.

2 Mengapa kesadaran diri dan motivasi Terbawa pengaruh teman di


untuk hadir di sekolah yang dimiliki oleh lingkungan sekolah yang tidak takut
siswa masih rendah? akan hukuman yang diberikan oleh
sekolah.

3 Mengapa hukuman yang diberikan oleh Pemberiaan hukuman bagi siswa yang
sekolah tidak memberikan efek jera tidak hadir disekolah belum konsisten
kepada siswa yang tidak hadir ke atau ajeg, namun hanya diberlakukan
sekolah? pada saat tertentu saja.

4 Mengapa aturan yang dibuat oleh Pelaksanaan hukuman bagi siswa


sekolah khususnya punishment belum karena ketidakhadirannya di sekolah
mampu dilaksanakan secara konsisten? belum didukung oleh pihak-pihak lain
yang berkaitan langsung dengan
keseharian siswa.

5 Mengapa beberapa pihak yang sehari- Masing-masing pihak belum


hari bersinggungan dengan siswa belum memahami peranannya dalam
mendukung sekolah dalam perencanaan memotivasi peserta didik untuk hadir
maupun pelaksanaan hukuman? di sekolah sehingga kerjasama yang
dilaksanakan pihak sekolah tidak
berjalan secara berkelanjutan.

Fishbone diagram penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah pada gambar 3. Terdapat


2 faktor utama ketidakhadiran siswa di sekolah yaitu, faktor internal dan eksternal.

Gambar 3. faktor ketidakhadiran siswa melalui diagram Fishbone

174
Proceedings Series of Educational Studies

• Faktor internal disebabkan dari dalam peserta didik sendiri yaitu kurangnya
kesadaran diri tentang manfaat yang didapatkan ketika datang ke sekolah. Selain itu
rendahnya motivasi peserta didik untuk terus belajar dan menyelesaikan tanggung
jawab yang ada di sekolah juga menyebabkan siswa merasa malas untuk datang ke
sekolah. Dalam penelitian Sondakh & Mega (2022) menyatakan pentingnya motivasi
untuk menumbuhkan semangat belajar siswa di sekolah. Siswa yang memiliki motivasi
dari diri sendiri maupun motivasi yang berasal dari luar akan berpartisipasi aktif
dalam kegiatan pembelajaran.
• Faktor eksternal disebabkan dari luar, yang berasal dari lingkungan sekolah dan pihak-
pihak diluar sekolah. Lingkungan sekolah yang mempengaruhi ketidakhadiran siswa
di sekolah diantaranya adalah kebijakan (tata tertib sekolah), budaya sekolah dan
keteladanan dari warga sekolah yang lain (kepala sekolah, pendidik, teman sekolah
dan lain-lain). Sedangkan lingkungan diluar sekolah meliputi lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat, pengaruh paparan media, lingkungan pertemanan peserta
didik. Lingkungan sekolah maupun luar sekolah sangat mempengaruhi keberhasilan
siswa dalam membiasakan perilaku disiplin hadir di sekolah. Hal tersebut sejalan
dengan pendapat Nurmalia (2023) dimana karakter, perilaku, kepribadian serta hal-
hal yang berkaitan dengan perkembangan siswa terbentuk oleh gaya dan warna
lingkungan sekitarnya.

5) Merancang dan menentukan rencana perbaikan

Setelah mengetahui akar permasalahan ketidakhadiran siswa di sekolah, selanjutnya


dilakukan analisis rencana perbaikan yang efektif untuk meningkatkan angka kehadiran siswa
di sekolah. Adapun tindakan perbaikan yang dapat dilakukan pihak sekolah adalah sebagai
berikut:

175
Proceedings Series of Educational Studies

a. Penguatan Motivasi dan Kesadaran diri siswa


Kesadaran diri dan motivasi peserta didik merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi peserta didik apakah akan memilih untuk hadir disekolah atau
sebaliknya. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Tiga aspek penting dalam motivasi yaitu: pertama, motivasi mengawali terjadinya
perubahan pada diri seseorang, karena dalam perkembangan motivasi akan membawa
beberapa perubahan energi di dalam sistem neurophysiological yang ada pada
organisme manusia, yaitu penampakan kegiatan fisik. Kedua, motivasi ditandai dengan
munculnya, rasa/feeling, afeksi seseorang. Ketiga, motivasi akan terangsang karena ada
tujuan, jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yakni
tujuan, tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan (Rahmawati & Ulfa, 2021). Siswa
akan mampu untuk bisa mengendalikan diri atau secara sadar memilih untuk hadir di
sekolah dan tidak ikut-ikutan untuk membolos bersama temannya apabila siswa
tersebut memiliki berkuasa penuh akan sikap dan perilakunya sendiri. Kesadaran diri
yang kuat bisa menjadikan peserta didik madrasah tsanawiyah agar tidak mudah
terpengaruh akan pendapat atau perilaku negatif dari orang lain, seperti teman sebaya,
teman bermain, maupun terhadap masyarakat (Esmiati et al., 2020).
Upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah sehingga siswa memiliki kesadaran
diri untuk hadir di sekolah yaitu, pertama memberikan edukasi dan pelatihan tentang
self-awareness yang membuat siswa bisa belajar dari pengalaman. Dalam penelitian
Esmiati et al., (2020) melalui pelatihan kesadaran diri siswa bisa lebih terbuka akan
permasalahan yang terjadi di sekolah seperti kebosanan dalam belajar, kelelahan dalam
mengerjakan tugas ataupun karena lingkungan kelas yang tidak nyaman. Apabila siswa
sudah terbuka akan permasalahan yang dihadapi di sekolah harapannya siswa tersebut
menjadi lebih termotivasi untuk hadir di sekolah. Kedua, adanya kebijakan penggunaan
pendekatan Quantum Learning yang akan membuat peserta didik merasa senang, aman,
dan nyaman saat kegiatan belajar dikelas. Dalam penelitian (Nurfadilah & Kun, 2023)
rancangan pembelajaran yang akan dialami siswa dalam pendekatan Quantum Learning
tergambar dalam istilah TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Rayakan)
memberikan sugesti positif dan efek yang baik terhadap siswa sehingga menjadikan
mereka termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
b. Pemberian hadiah dan hukuman (punishment) yang tepat
Pemberian hadiah dan hukuman yang tepat dapat menjadi strategi efektif
dalam mengatasi ketidakhadiran siswa di sekolah. Hadiah dikategorikan sebagai
penguatan positif yaitu sebuah dukungan yang dapat meningkatkan semangat dan
memberikan rasa percaya diri pada siswa, sehingga mereka lebih berprestasi dan aktif
dalam proses pembelajaran. Hadiah dapat diberikan dalam berbagai bentuk, seperti
pujian, hadiah, atau bentuk lain yang sesuai dengan prestasi siswa. Pujian yang baik
adalah pujian yang keluar dari hati seseorang secara wajar dengan maksud untuk
memberikan penghargaan kepada siswa atas jerih payahnya (Susanty, 2021).
Penggunaan hukuman juga dapat menjadi alat pendidikan yang efektif, terutama dalam
membentuk anak menjadi makhluk sosial. Membentuk kedisiplinan untuk hadir di
sekolah diperlukanlah hukuman (punishment) untuk memperbaiki tingkah laku peserta
didik (Bazikho, 2023). Punishment dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa
agar menyadari bahwa setiap tindak pelanggaran

176
Proceedings Series of Educational Studies

memiliki konsekuensi yang harus di pertanggung jawabkan, memperbaiki


sikap, perilaku, dan perbuatan peserta didik yang salah kearah kebaikan sesuai dengan
nilai dan norma kebaikan. Hukuman dapat diberikan sebagai bentuk teguran kepada
siswa yang melakukan kesalahan, dengan tujuan memperbaiki tingkah laku mereka
(Susanty, 2021). Berdasarkan penelitian Rahmawati & Ulfa (2021) secara psikologis,
hukuman pada kondisi tertentu akan membuat siswa merasa ada hal yang perlu ditakuti
dan dipertimbangkan sebelum lebih jauh untuk melakukan kesalahan. Pelibatan siswa
dalam kesepakatan jenis hukuman akan menjamin pelaksanaan hukuman menjadi
ajeg/konsisten karena pihak yang mengawasi kedisiplinan tidak hanya dari pihak
sekolah tetapi juga dari siswa. Dengan adanya legalitas pemberian hukuman bukan
berarti kita bisa menghukum semau kita tanpa ada aturan dan mekanisme kendali yang
efektif, melainkan harus melalui prosedur standar sebagai berikut.
1. Jenis hukuman yang dipakai perlu disepakati di awal bersama peserta didik
2. Jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga siswa dapat memahami dengan
baik konsekuensi kesalahan yang ia lakukan.
3. Hukuman harus dapat terukur sejauh mana efektifitas dan keberhasilannya dalam
mengubah perilaku peserta didik.
[Link] harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak dengan cara
yang menakutkan, apalagi memunculkan ketraumaan yang berkepanjangan.
[Link] harus dilakukan secara konsisten maksudnya menentukan terlebih dahulu
tindakan hukuman yang tepat.
c. Meningkatkan kolaborasi sekolah dengan pihak eksternal
Membangun hubungan yang baik dengan pihak eksternal sehingga bisa
menjalin kolaborasi yang aktif dan berkelanjutan perlu dilakukan oleh sekolah
mengingat pengelolaan hubungan tersebut dapat meningkatkan citra dan kemajuan
sekolah (Putris, 2022). Permasalahan tingkat kehadiran siswa yang masih rendah tentu
akan menghambat kemajuan sekolah. Maka dalam penelitian ini, hubungan yang baik
antara pihak sekolah dengan eksternal ini akan terfokus pada satu tujuan yaitu
mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah. Teknik membangun hubungan
yang aktif dan berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara: adanya kebijakan adil dan
transparan, menjamin komunikasi secara aktif dan dinamis, memanfaatkan teknologi
dalam rangka mengawasi aktivitas siswa didalam maupun diluar sekolah, serta
mengadakan koreksi dan saran dengan pimpinan organisasi dan masyarakat terutama
kegiatan yang dapat mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa. Setelah hubungan yang
terjalin antara pihak eksternal dengan sekolah dapat berjalan dengan baik dan efektif,
maka upaya untuk memberikan kesadaran kepada pihak-pihak tersebut dalam
memotivasi peserta didik untuk hadir di sekolah akan semakin mudah dilakukan.
Beberapa hal berikut yang dapat dilakukan pihak sekolah untuk dapat meningkatkan
pemahaman pihak eksternal tentang peranannya dalam memotivasi peserta didik:
1. Pendidik
Pihak sekolah bersama dengan pendidik terus melakukan pengembangan strategi
disiplin yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini karena, motivasi
dan kesedaran peserta didik berguna untuk memelihara dan meningkatkan
semangat siswa untuk hadir di sekolah.
Strategi ini harus berfokus pada meningkatkan kesadaran dan motivasi siswa, serta
mengurangi kehadiran siswa yang tidak tepat waktu. Dalam penelitian Arianti
(2018), penguatan dan penanaman motivasi peserta didik ada ditangan pendidik.

177
Proceedings Series of Educational Studies

Pendidik yang melakukan komunikasi efektif dengan siswa, termasuk memberikan


feedback yang konstruktif dan bermakna. Akibatnya, peserta didik menjadi
terdorong, termotivasi dan bersemangat untuk sampai di sekolah.
2. Orangtua
Kerjasama yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan orang tua dapat dikatakan
sebagai pondasi atau sebab utama keberhasilan peserta didik dalam meningkatkan
prestasinya termasuk kehadirannya di sekolah namun diperlukan upaya-upaya
maksimal dari kedua belah pihak (Nisa, 2020). Pertemuan yang berkelanjutan
antara pihak sekolah dengan orangtua menjadi salah satu upaya kolaborasi dalam
memaksimalkan angka kehadiran siswa di sekolah. Pertemuan ini diadakan diluar
acara penerimaan raport sehingga pembahasannya hanya fokus pada informasi
yang relevan dan bermanfaat tentang kondisi atau perilaku peserta didik di sekolah
dan diluar sekolah. Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dapat memberikan
arahan dan bimbingan kepada orangtua akan pentingnya kemampuan self-
regulation yang dimiliki oleh peserta didik seperti mengatur waktu, mengatur
prioritas, dan mengatur emosi. Kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan kesadaran dan motivasi siswa. Pihak sekolah juga perlu
mengedukasi orang tua mengenai motivasi yang positif yang harus diberikan
kepada anaknya, termasuk memberikan pujian dan apresiasi yang sah.
3. Masyarakat
Pihak sekolah dapat meminta dukungan kepada masyarakat untuk turut andil
dalam mengawasi dan mendukung kebijakan sekolah dalam mendisiplinkan
kehadiran siswa di sekolah melalui kegiatan-kegiatan seni, olahraga atau kegiatan
lainnya dimana pada saat ini sekolah sedang berkolaborasi dengan masyarakat.
Masyarakat dapat berperan sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, ahli
pendidikan, pengusaha, maupun pihak profesional. Masyarakat dapat berperan
dalam mengembangkan kemitraan dengan sekolah dan orang tua/wali, sehingga
siswa dapat memiliki lingkungan yang mendukung kehadirannya di sekolah.
4. Simpulan
Kehadiran siswa di sekolah merupakan indikator penting dalam menentukan prestasi
belajar siswa, juga sebagai gambaran tentang ketertiban suatu sekolah. Kehadiran siswa di
sekolah (school attendance) adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental
terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah
ketiadaan partisipasi secara fisik siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Meskipun sekolah
telah membuat aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam tata tertib dan peraturan akademik,
namun masih banyak siswa yang memilih tidak hadir disekolah. Sehingga, data rekapitulasi
ketidakhadiran siswa menjadi fokus utama sekolah dalam penyelenggaraan layanan
pendidikan. Ketidakhadiran siswa di sekolah merupakan gambaran bagaimana keinginan dan
dorongan hati siswa untuk belajar di sekolah sudah tidak berkembang yang bisa menyebabkan
proses belajar mengajar menjadi terganggu. Upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah untuk
meningkatkan angka kehadiran peserta didik disekolah yaitu penguatan motivasi dan
kesadaran diri peserta didik, pemberian hadiah dan hukuman (punishment) yang tepat, dan
meningkatkan kolaborasi sekolah dengan pihak eksternal.

Daftar Rujukan
De Fretes, R. A. (2022). Analisis Penyebab Kerusakan Transformator Menggunakan Metode Rca (Fishbone
Diagram And 5-Why Analysis) Di Pt. Pln (Persero) Kantor Pelayanan Kiandarat. Agustus, 16(2).

178
Proceedings Series of Educational Studies

Esmiati, A. N., Prihartanti, N., & Partini, P. (2020). Efektivitas pelatihan kesadaran diri untuk meningkatkan
kedisiplinan siswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 8(1), 113.
[Link]

Fitriadi, R., Jurusan Bimbingan Konseling, M., & Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, F. (2019). Analisis Faktor-
Faktor Penyebab Ketidakhadiran Siswa Di Sekolah Dan Upaya Guru Bk Dalam Mengatasinya (Suatu
penelitian pada MAN 4 Kabupaten Aceh Besar). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling,
4.

Haerezky Alzizah, E., Safitri Wulandari, D., Rahim, R., Wulan Syah, J., STAI Sangatta Kutai Timur, M., & UIN
Alaudin Makassar, M. (n.d.). Pengelolaan ketidakhadiran siswa berbasis aplikasi di smk 1
muhammadiyah sangatta. [Link] 200

Jannah, W., & Pandang, A. (2023). Konseling Individu Teknik WDEP System untuk Meningkatkan Kedisiplinan
Peserta didik. Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan Pembelajaran, 5(3), 1076-1082..

Arianti, A. (2019). Peranan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Didaktika: Jurnal
Kependidikan, 12(2), 117-134..

Nugraha, T. S. (2022). Kurikulum Merdeka untuk pemulihan krisis pembelajaran. Inovasi Kurikulum, 19(2),
251–262. [Link]

Nurfadilah, K., & Nurachadijat, K. (2023). Peran Pembelajaran Quantum Learning dalam Meningkatkan
Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa di MA AL-Istiqomah Kota Sukabumi. Jurnal Inovasi, Evaluasi dan
Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), 3(1), 22-28.

Putris, A. F. H., & BK, M. T. (2022). Teknik Membangun Hubungan Internal dan Eksternal Lembaga
Pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(4), [Link], A. R. B., & Nora, D. (2020).
Faktor Penghambat dalam Mengatasi Ketidakhadiran Siswa Kelas XI IPS di SMAN 1 Lubuk Basung.
Jurnal Sikola: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Pembelajaran, 1(4), 253–264.
[Link] Rahmawati & Ulfa, 2021. (n.d.).

Santosa, D. T. (2016). Faktor-faktor penyebab rendahnya motivasi belajar dan solusi penanganan pada
siswa kelas XI jurusan teknik sepeda motor. E-Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif-S1, 13(2).

Sondakh, D. C., Febriani, M., Fakuktas, S., Islam, A., & Pendidikan Guru, D. (2022). Kesulitan Pembelajaran
Kosakata Bahasa Inggris Tingkat Sekolah Dasar. In Karimah Tauhid (Vol. 1, Issue 3).

De Vaus, D. A. (2014). Surveys in social research. Sydney, Australia: Allen & Unwin.

McKenzie, H., Boughton, M., Hayes, L., & Forsyth, S. (2008). Explaining the complexities and value of nursing
practice and knowledge. In I. Morley & M. Crouch (Eds.), Knowledge as value: Illumination through
critical prisms (pp. 209-224). Amsterdam, Netherlands: Rodopi.

Putra, E. M., Handarini, D. M., & Muslihati, M. (2019). Keefektifan achievement motivation training untuk
meningkatkan motivasi berprestasi siswa sekolah menengah pertama. Jurnal Kajian Bimbingan dan
Konseling, 4(2), 62-68.

Scheinin, P. (2009). Using student assessment to improve teaching and educational policy. In M. O'Keefe, E.
Webb, & K. Hoad (Eds.), Assessment and student learning: Collecting, interpreting and using data to
inform teaching (pp. 12-14). Melbourne, Australia: Australian Council for Educational Research.
Makmara. T. (2009). Tuturan persuasif wiraniaga dalam Berbahasa Indonesia: Kajian etnografi komunikasi.
(Unpublished master’s thesis) Universitas Negeri Malang, Malang, Indonesia.

179

Anda mungkin juga menyukai