0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan120 halaman

SKRIPSI

Skripsi ini mengkaji pengaruh sistem pengendalian internal, whistleblowing system, dan good corporate governance terhadap pencegahan fraud, dengan moralitas individu sebagai variabel moderasi, di bank-bank di Kota Ambon. Penelitian ini melibatkan 37 pegawai bank dan menggunakan analisis data dengan SPSS 23. Hasil menunjukkan bahwa ketiga sistem tersebut berpengaruh terhadap pencegahan fraud, dan moralitas individu dapat memoderasi pengaruh tersebut.

Diunggah oleh

stenly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan120 halaman

SKRIPSI

Skripsi ini mengkaji pengaruh sistem pengendalian internal, whistleblowing system, dan good corporate governance terhadap pencegahan fraud, dengan moralitas individu sebagai variabel moderasi, di bank-bank di Kota Ambon. Penelitian ini melibatkan 37 pegawai bank dan menggunakan analisis data dengan SPSS 23. Hasil menunjukkan bahwa ketiga sistem tersebut berpengaruh terhadap pencegahan fraud, dan moralitas individu dapat memoderasi pengaruh tersebut.

Diunggah oleh

stenly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL,


WHISTLEBLOWING SYSTEM DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD DENGAN MORALITAS INDIVIDU
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(STUDI EMPIRIS PADA BANK DI KOTA AMBON)

STENLY RIVAL SAISELAR


2019-30-006

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON
2023
LEMBARAN PERSETUJUAN

PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL,


WHISTLEBLOWING SYSTEM DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD DENGAN MORALITAS INDIVIDU
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(STUDI EMPIRIS PADA BANK DI KOTA AMBON)

SKRIPSI

OLEH :
STENLY RIVAL SAISELAR
2019-30-006

Skripsi ini telah diperiksa oleh Dosen Pembimbing I dan Dosen Pembimbing II
serta telah diketahui oleh Ketua Jurusan Akuntansi dan telah disahkan oleh Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Ambon yang diajukan guna
untuk memenuhi syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Program Sarjana Strata
Satu Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura
Ambon

PEMBIMBING I PEMBIMBINGII

Rita J. D. Atawaman, SE.,[Link]..,Ak.,CA Alfrin E. M. Usmany, SE.,[Link]


NIP : 19720906 200012 2 002 NIP : 19900722 201903 1 013

ii
LEMBARAN PENGESAHAN

PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL,


WHISTLEBLOWING SYSTEM DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD DENGAN MORALITAS INDIVIDU
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(STUDI EMPIRIS PADA BANK DI KOTA AMBON)

SKRIPSI

OLEH :

STENLY RIVAL SAISELAR


2019-30-006
DISAHKAN OLEH
PEMBIMBING I PEMBIMBINGII

Rita J. D. Atawaman, SE.,[Link]..,Ak.,CA Alfrin E. M. Usmany, SE.,[Link]


NIP : 19720906 200012 2 002 NIP : 19900722 201903 1 013

DISAHKAN OLEH MENGETAHUI


DEKAN KETUA JURUSAN

Dr. Erly Leiwakabessy, [Link] Dr. Jefry Gasperz,SE.,[Link],Ak


NIP. 196208201988031003 NIP. 19681224 199803 1 004

iii
MOTTO

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehenaki Allah di
dalam Kristus Yesus bagi kamu”
(1 Tesalonika 5 : 18)

iv
ABSTRAK

Pengaruh Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System Dan Good


Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud Dengan Moralitas
Individu Sebagai Variabel Moderasi
(Studi Empiris Pada Bank Di Kota Ambon)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh sistem


pengendalian internal, whistlewblowing system dan good corporate governance
terhadap pencegahan fraud, serta menguji apakah moralitas individu mampu
memoderasi sistem pengendalian internal, whistleblowing system dan good
corporate governance terhadap pencegahan fraud.

Sampel dalam penelitian ini adalah 37 pegawai bank pada Bank BRI, BTN,
Mandiri dan BPD Maluku. Teknik pengambilan sampel menggunakan Pruposive
Sampling dengan penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Teknik
analisis data menggunakan bantuan software SPSS 23.

Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem pengendalian internal, whistleblowing


system dan good corporate governance berpengaruh terhadap pencegahan fraud.
sedangkan moralitas individu mampu memoderasi pengaruh sistem pengendalian
internal, whistleblowing system dan good corporate governance terhadap
pencegahan fraud.

Kata kunci : Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System, Good


Corporate Governance, Pencegahan Fraud, Moralitas Individu

v
ABSTRACT
The Influence of Internal Control Systems, Whistleblowing Systems and Good
Corporate Governance on Fraud Prevention with Individual Morality as a
Moderating Variable
(Empirical Study of Banks in Ambon City)

This research aims to empirically test the influence of the internal control
system, whistleblowing system and good corporate governance on fraud
prevention, as well as test whether individual morality is able to moderate the
internal control system, whistleblowing system and good corporate governance
on fraud prevention.

The sample in this study was 37 bank employees at Bank BRI, BTN, Mandiri
and BPD Maluku. The sampling technique uses Pruposive Sampling by
determining samples based on certain criteria. Data analysis techniques use
SPSS 23 software.

The research results show that the internal control system, whistleblowing
system and good corporate governance have an influence on fraud prevention.
while individual morality is able to moderate the influence of the internal
control system, whistleblowing system and good corporate governance on fraud
prevention.

Keywords: Internal Control System, Whistleblowing System, Good


Corporate Governance, Fraud Prevention, Individual Morality

vi
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus
sang pemberi hidup, karena atas rahmat dan anugrah yang diberikan kepada
penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh
Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System Dan Good Corporate
Governance Terhadap Pencegahan Fraud Dengan Moralitas Individu
Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris Pada Bank Di Kota Ambon)
Penyusunan skripsi diajukan untuk memenuhi syarat mencapai gelar
Sarjana Ekonomi (S.E) bagi mahasiswa program S-1 di jurusan Ekonomi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Pattimura Ambon. Dalam
penyusunan Skripsi ini banyak hambatan serta rintang yang penulis hadapi namun
pada akirnya penulis dapat melaluinya berkat adanya bimbingan, doa, saran serta
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini dengan segala
kerendahan hati penulis hendak menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, [Link] selaku Rektor Universitas
Pattimura Ambon beserta staf dan civitas akademik Universitas
Pattimura
2. Dr. Erly Leiwakabessy,SE.,[Link] selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Pattimura serta para Wakil Dekan.
3. Dr. Jefry Gasperz,SE.,[Link],Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi dan
Ibu Yuyun Yuniari Layn.,SE.,[Link] selaku Sekretaris Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura.
4. Rita J. D. Atawaman, SE.,[Link]..,Ak.,CA selaku Pembimbing I yang
sudah banyak memberikan arahan dan petunjuk dalam menyelesaikan
skripsi ini.
5. Alfrin E. M. Usmany, SE.,[Link] selaku Pembimbing II yang sudah
memberikan banyak arahan , nasehat dan petunjuk dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Cecillia Engko, S.E.,[Link].,Ak selaku penguji I, Theresia Sitanala,
S.E.,[Link].,Ak.,CA selaku penguji II dan Alfrin Usmany, S.E.,[Link]

vii
selaku penguji III yang dengan tulus memberikan masukan dan arahan
kepada penulis untuk perbaikan skripsi ini
7. Ibu Fanny Monica Anakotta,SE.,[Link] selaku mentor yang selama ini
sudah menasehati penulis mengarahkan selama masa studi.
8. Bapak dan Ibu pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Pattimura Ambon khusus program studi akuntansi yang telah
memberikan bekal, wawasan, nasehat dan ilmu pengetahuan selama
penulis berada dibangku perkuliahan.
9. Para pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura
Ambon yang telah melayani penulis selama proses perkuliahan.
10. Seluruh pegawai dan staf dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank
Tabungan Negara (BTN), Bank Mandiri dan Bank Pembangunan
Daerah Maluku dan Maluku Utara yang telah melayani dan membantu
penulis selama proses penelitian.
11. Orang tua terkasih Papa Alm. Allo Saiselar dan Mama Herlina
Batlayeri terima kasih untuk segalanya yang telah diberikan, sehinnga
penulis bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Terima kasih juga
untuk dukungan doa dan kasih sayang yang tanpa batas sehingga
penulis dapat menyelesaikan studi ini dengan baik.
12. Kakak terkasih Steven I. Saiselar dan ketiga adik terkasih Rendy A.
Saiselar, Mario F Saiselar dan Tini T Saiselar yang telah memberikan
semangat dan dukungan kepada penulis semoga Tuhan memberkati
kalian berdua dalam proses studi yang sedang ditempuh
13. Keluarga besar Saiselar-Batlayeri yang ada di Ambon maupun di Luar
Ambonyang telah memberikan semangat dan dukungan doa kepada
penulis.
14. Teman-teman Pengurus Ranting 5 Gatik Periodee 2020-2022, Periode
2022-2024 dan Periode 2024-2026 dan juga teman-teman anggota
ranting 5 Gatik yang telah memberikan semangat, dukungan serta doa
selalu.
15. Teman-teman mabar Mobile Legend, Roger, Pei, Saron.

viii
16. Teman-teman seperjuangan “peace, love, and solid group” Aprilianti
Titaley, Melinda Lerebulan, Dina Sahetapy, Marcel Paunno, Gilberd
Baa, Francezco Pattiradjawane, Kelvin Sopaheluwakan, Marinska
Lasamahu, Yuliana Lucas, Tessalonika Nikijuluw, Excellian
Latuperissa, Remsy Parinussa, Julian Rehy, Revolino Leasa,
Rebosari Mulwere, Florencia Lamawitak, Rudolf Loppies, Betsi
Tomhisa, Clinton Tupan, Adolf Tomatala.
17. Teman-teman angkatan 2019 yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Dan juga yang telah memberikan semangat
dan dukungan kepada penulis selama masa studi.

Ambon, 24 April 2024

Stenly Rival Saiselar

ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................iii
MOTTO.................................................................................................................iv
ABSTRAK..............................................................................................................v
ABSTRACT............................................................................................................vi
KATA PENGANTAR..........................................................................................vii
DAFTAR ISI...........................................................................................................x
DAFTAR TABEL...............................................................................................xiii
DAFTAR GABAR...............................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1. Latar Belakang................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................7
1.3. Tujuan Penelitian............................................................................................7
1.4. Manfaat Penelitian..........................................................................................8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................9
2.1. Landasan Teori................................................................................................9
2.1.1. Fraud Diamod Theory..........................................................................9
2.1.2. Fraud..................................................................................................11
2.1.3. Pencegahan Frud................................................................................15
2.1.4. Sistem Pengendalian Internal...............................................................1
2.1.5. Whistleblowing System.......................................................................19
2.1.6. Good Corporate Governance.............................................................21
2.1.7. Moralitas Individu..............................................................................24
2.2. Penelitian Terdahulu....................................................................................25
2.3. Pengembangan Hipotesis..............................................................................27
2.3.1. Pengaruh Sistem Pengendaliahn Internal Terhadap Pencegahan
Fraud.............................................................................................................27

x
2.3.2. Pengaruh Whistleblowing System Terhadap Pencegahan Fraud........28
2.3.3. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud
......................................................................................................................29
2.3.4. Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud
Yang Dimoderasi Oleh Moralitass Individu.................................................29
2.3.5. Pengaruh Whistleblowing System Terhadap Pencegahan Fraud Yang
Dimoderasi Oleh Moralitas Individu............................................................30
2.3.6. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud
Yang Dimoderasi Oleh Moralitas Individu..................................................30
2.4. Model Penelitian............................................................................................31
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................32
3.1. Jenis Dan Sumber Data Peneliian...............................................................32
3.2. Objek Dan Lokasi Penelitian.......................................................................32
3.3. Populasi Dan Sampel....................................................................................32
3.3.1. Populasi Penelitian.............................................................................32
3.3.2. Sampel Penelitian...............................................................................32
3.4. Metode Pengumpulan Data..........................................................................33
3.5. Defenisi Variabel...........................................................................................33
3.6. Metode Analisis Data....................................................................................35
3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif..............................................................35
3.6.2. Uji Validitas.......................................................................................36
3.6.3. Uji Reliabilitas...................................................................................36
3.6.4. Uji Asumsi Klasik..............................................................................37
3.6.5. Analisis Regresi Linear Berganda......................................................38
3.6.6. Analisis Regresi Moderasi (MRA).........................................................
3.7. Uji Hipotesis.......................................................................................................
3.7.1. Uji t.........................................................................................................
3.7.2. Uji Kefisien Determinasi........................................................................
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN...........................................................
4.1. Gambaran Umum Dan Objek Penelitian.......................................................
4.1.1. Tempat Dan Waktu Penelitian...............................................................

xi
4.1.2. Profil Responden....................................................................................
4.2. Hasil Uji Instrumen Penelitian........................................................................
4.2.1. Hasil Uji Statistik Deskriptif..................................................................
4.2.2. Hasil Uji Kualitas Data..........................................................................
[Link]. Hasil Uji Validitas...............................................................................
[Link]. Hasil Uji Reliabilitas...........................................................................
4.3. Hasil Uji Asumsi Klasik....................................................................................
4.3.1. Hasil Uji Normalitas..............................................................................
4.3.2. Hasil Uji Multikolinearitas.....................................................................
4.3.3. Hasil Uji Heteroskedastisitas.................................................................
4.4. Hasil Uji Hipotesisi............................................................................................
4.4.1. Hasil Uji Regresi Berganda....................................................................
4.4.2. Hasil Uji Koefisien Determinasi............................................................
4.4.3. Hasil Uji Regresi Moderasi (MRA).......................................................
4.4.4. Hasil Uji Simultan (Uji F)......................................................................
4.4.5. Koefisien Determinasi............................................................................
4.5. Pembahasan.......................................................................................................
4.5.1. Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud. .
4.5.2. Pengaruh Whistleblowing System Terhadap Pencegahan Fraud............
4.5.3. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud. .
4.5.4. Moralitas Individu Memoderasi Pengaruh Sistem Pengendalian
Internal Terhadap Pencegahan Fraud...............................................................
4.5.5. Moralitas Individu Memoderasi Pengaruh Whistleblowing System
Terhadap Pencegahan Fraud.............................................................................
4.5.6. Moralitas Individu Memoderasi Pengaruh Good Corporate
Governance Terhadap Pencegahan Fraud........................................................
BAB V PENUTUP....................................................................................................
5.1. Kesimpulan........................................................................................................
5.2. Saran...................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
LAMPIRAN..............................................................................................................

xii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
2.1. Penelitian Terdahulu...........................................................................................
3.1. Defenisi Dan Pengukuran Variabel.....................................................................
4.1. Data Sampel Penelitian.......................................................................................
4.2. Hasil Uji Deskriptif Berdasarkan Jenis Kelamin................................................
4.3. Hasil Uji Deskriptif Berdasarkan Usia................................................................
4.4. Hasil Uji Deskriptif Berdasarkan Pendidikan Terakhir......................................
4.5. Hasil Uji Deskriptif Berdasarkan Jabatan...........................................................
4.6 Hasil Uji Deskriptif Berdasarkan Lama Bekerja..................................................
4.7. Hasil Uji Statistik Deskriptif...............................................................................
4.8. Hasil Uji Validitas Sistem Pengendalian Internal...............................................
4.9. Hasil Uji Validitas Whistleblowing System.........................................................
4.10. Hasil Uji Validitas Good Corporate Governance.............................................
4.11. Hasil Uji Validitas Pencegahan Fraud..............................................................
4.12. Hasil Uji Validitas Moralitas Individu..............................................................
4.13. Hasil Uji Reliabilitas.........................................................................................
4.14. Hasil Uji Normalitas-One Sample Kolmogorov - Smirnov...............................
4.15. Hasil Uji Multikolinearitas ...............................................................................
4.16. Hasil Uji Heteroskedastisitas – Uji Glesjer.......................................................
4.17. Analisis Regresi Linear Berganda.....................................................................
4.18. Hasil Uji Koefisien Determinasi.......................................................................
4.19. Hasil Uji Interaksi Moderasi (MRA)................................................................
4.20. Hasil Uji F (Uji Simultan).................................................................................
4.21. Hasil Uji Koefisien Determinasi.......................................................................

xiii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1.1. Elemen Fraud Diamond Theory.........................................................................
2.1. Model Penelitian.................................................................................................
4.1. Hasil Uji Normalitas menggunakan Grafik P-Plot..............................................
4.2. Hasil Uji Normalitas menggunakan Grafik Histogram.......................................
4.3. Hasil Uji Heteroskedastisitas – Grafik Scatterplot.............................................

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian


Lampiran 2. Rekapitulasi Jawaban Responden
Lampiran 3. Hasil Output SPSS

xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh sebuah perusahaan
sampai saat ini adalah kasus kecurangan (fraud). Stamler, et all (2010:15)
menyatakan bahwa kecurangan (fraud) mencakup semua tindakan yang
melanggar hukum yang sengaja dirancang seseorang untuk mendapatkan beberapa
manfaat, misalnya penipuan, memberikan informasi atau materi palsu kepada
pihak-pihak lain. Namun saat ini kecurangan (fraud) yang terjadi dilingkungan
suatu perusahaan baik disektor swasta maupun pemerintahan masih sering terjadi
dan sulit untuk diatasi. Salah satu upaya untuk menghentikan munculnya tindakan
kecurangan atau fraud adalah dengan cara melakukan pencegahan kecurangan
atau fraud.
Menurut Karyono (2013:47) pencegahan kecurangan merupakan segala
upaya yang dilakukan untuk menangkal pelaku potensial, mempersempit ruang
kegiatan yang berisiko terjadinya gerak dan mengidentifikasi kegiatan yang
berisiko terjadinya kecurangan (fraud). Tunggal (2012:59) mengemukakan bahwa
terdapat beberapa tata kelola untuk mencegah terjadinya fraud diantaranya yaitu
dengan cara menerapkan budaya jujur dan etika yang tinggi, tanggung jawab
manajemen untuk mengevaluasi pencegahan kecurangan dan pengawasan oleh
komite audit.
Tindakan yang mengakibatkan pidana dalam bisnis Bank saat ini semakin
berbeda dalam struktur dan strategi maupun caranya karena selain memperluas
informasi, pengetahuan manusia yang didukung oleh teknologi yang semakin
berkembang, Tindak pidana dalam Bank juga diimbangi dengan variasi dalam
metodologi yang biasa dilakukan di area dan waktu yang sudah dipilih oleh
pelakunya. Kecurangan atau fraud adalah kesalahan yang sengaja dilakukan untuk
mendapat keuntungan pribadi. Dalam tataran lingkungan akuntansi, gagasan
kecurangan atau fraud merupakan penyimpangan dari sistem akuntansi yang
seharusnya diterapkan dalam suatu perusahaan. Penyimpangan ini akan
mempengaruhi laporan keuangan yang ada di suatu perusahaan. The Assertion of
Inspecting Standard mencirikan kecurangan sebagai tindakan yang disengaja

1
untuk menciptakan kesalahan material dalam ringkasan anggaran yang menjadi
subjek bagi audit oleh Norbarani (2012).
Kecurangan (Fraud) adalah suatu tindakan melawan hukum yang sengaja
dilakukan untuk menipu atau membohongi secara terencana dan bermakna
ketidakjujuran untuk mengambil, mencuri, mengelapkan, menghilangkan,
menyembunyikan, merampas bahkan termasuk korupsi hak kepemilikan orang
lain yang sah dapat berupa harta, benda, jasa dan dapat dilakukan oleh satu
individu, kelompok bahkan lebih yang bertanggung jawab atas tata kelola,
karyawan bahkan pihak ketiga.
Menurut The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2020),
fraud adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan dengan
sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau memberikan laporan keliru
terhadap pihak lain) yang dilakukan orang-orang dari dalam atau luar organisasi
untuk mendapatkan keuntungan pribadi ataupun kelompok baik secara langsung
atau tidak langsung merugikan pihak lain. The Association of Certified Fraud
Examiners (ACFE) mengklasifikasikan kecurangan (fraud) ke dalam tiga bentuk
berdasarkan perbuatan, yaitu penyimpangan atas asset (asset misappropriation),
kecurangan laporan keuangan (fraudulent financial reporting) dan korupsi
(corruption). Dapat disimpulkan bahwa fraud bisa terjadi dari dalam ataupun dari
luar organisasi hanya untuk mendapatkan keuntungan individu maupun
kelompok.
Prinsip fraud pada awalnya memiliki tiga unsur,antara lain: adanya
pelanggar hukum yang dilakukan oleh orang-orang baik dari dalam maupun dari
luar organisasi dan dilakukan untuk mendapat keuntungan individu dan kelompok
yang diperoleh dengan merugikan kelompok lain baik yang secara langsung
ataupun yang tidak langsung. Soekardi Husodo mengungkapkan bahwa ada tiga
hal yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, yaitu: tekanan, (peluang) dan
pembenaran. Tekanan atau faktor penekan pada umumnya disebabkan oleh
perilaku individu pekerja yang bisa membuat mereka memakukan tindakan fraud.
Bisa jadi faktor tekanan adalah karena masalah keuangan (financial pressing
factor) yang dipicu oleh gaya hidup yang berlebihan, sifat yang serakah dan

2
tamak, banyak tunggakan atau hutang, dsb, yang membuat seseorang menjadi
"terkekang" sehingga menyebabkan terjadinya kecurangan.
Sistem Pengendalian Internal adalah suatu kebijakan dari prosedur
perusahan untuk melindungi asset perusahan dari segala bentuk tindakan
penyalahgunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi yang akurat dan
memastikan bahwa semua ketentuan hukum atau undang-undang dan kebijakan
manajemen telah dipatuhi. Sistem Pengendalian Intenal sangat diperlukan dalam
sektor Bank di Indonesia. Sistem Pengendalian Interanal sangat penting dalam
mencegah kecurangan/fraud. Sistem pengendalian internal merupakan salah satu
sistem yang diterapkan untuk mencapai tujuan perusahan. Untuk mewujudkan
sistem perusahan yang baik dan tepat diperlukan analisa dan evaluasi.
Implementasi sistem pengendalian internal yang kurang baik akan mempengaruhi
kualitas laporan keuangan perusahan. Oleh karena itu sistem pengendalian
internal sangat penting untuk menjaga kekayaan perusahan agar terhindar dari
segala bentuk tindakan yang merugikan perusahan.
Di dalam suatu perusahan, sistem pengendalian internal diperlukan apabila
ada kesalahan dan penyimpangan yang disebabkan oleh faktor manusia baik
disengaja maupun tidak disengaja. Pengendalian internal tidak hanya mencakup
masalah penelaahan atas catatan, tetapi juga menyangkut penilaian atas berbagai
fungsi operasional yang ada di dalam perusahan. Untuk itu sistem pengendalian
internal sangat diperlukan untuk membantu pihak manajemen dalam
mengendalikan perusahan.
Kecurangan maupun korupsi dapat dicegah dengan melakukan
Whistleblowing System. Whistleblowing System merupakan tindakan yang
dilakukan seseorang untuk mengungapkan sesuatu hal pelanggaran hukum ke
media massa maupun ke atasan. Saat ini menemukan orang yang berani
melakukan Whistleblowing System cukup sulit, karena sebagian orang tidak ingin
mengambil resiko dengan melakukan Whistleblowing System. Banyak sekali
orang yang memilih untuk diam dari pada melakukan Whistleblowing System.
Hal ini dikarenakan banyak orang yang berpikir jika melakukan Whistleblowing
System tersebut akan membuat dirinya maupun kelurganya mendapat masalah
kedepannya nanti, sehingga dibutuhkan seorang yang memiliki keberanian dan

3
keyakinan melakukannya. Di Indonesia sudah ada undang-undang yang mengatur
tentang Whistleblowing System, yaitu UU No. 13 Tahun 2006 tentang
perlindungan saksi dan korban. Selain itu ada juga Surat Edaran Mahkamah
Agung No. 4 Tahun 2011 tentang perlakuan terhadap pelapor tindak pidana dan
saksi pelaku yang bekerja sama,
Good Corporate Governance adalah suatu sistem pengelolaan perusahan
yang dirancang untuk meningkatkan kinerja perusahan, melindungi kepentingan
pemangku kepentingan serta meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan dan nilai etika yang berlaku secaraa umum. Whistleblowing
System bisa terwujud karena adanya lingkuungan orgaisasi yang baik. Supaya
lingkungan organisasi tercipta denggan baik, dibuutuhkan tata kelola perusahan
yang baik juga (Good Corporate Governance).
Untuk mengatasi potensi kecurangan itu, maka good corporate governance
sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi karena merupakan bagian yang vital.
Suatu perusahan dengan good corporate governance yang baik tidak seharusnya
terjadi kecurangan di dalamnya. Jika dalam perusahan tersebut masih ada
kecurangan yang dilakuakan oleh orang-orang yang secara langsung taupun tidak
langsung terlibat dialamnya, maka dapat dipastikan bahwa good corporate
governance dalam perusahan tersebut tidak baik (andy pratama dan Mustamu,
2013; hariningsi, 2010).
Kecurangan (Fraud) merupakan kejahatan tersembunyi, tidak ada yang
dilakukan secara terang-terangan, tidak ada korban yang segera menyadari bahwa
fraud telah terjadi. Dalam menghadapi tingkat fraud yang semakin meluas, maka
diperlukan adanya upaya pencegahan dan pendeteksian. Apabila terjadi kegagalan
dalam mendeteksi dan mencegah akan mempunyai konsekuensi yang sangat
serius bagi sebuah perusahan.
Pencegahan kecurangan atau fraud adalah salah satu tindakan yang harus
dilakukan dalam organisasi untuk memberantas tindakan fraud. Oleh karena itu
kecurangan harus diberantas dengan melakukan pencegahan kecurangan (fraud).
BPKP menyatakan bahwa pencegahan kecurangan merupakan tindakan yang
dilakukan untuk memerangi kecurangan dengan biaya yang murah. Pencegahan
kecurangan dianalogikan dengan penyakit, yaitu lebih baik mencegah dari pada

4
mengobati. Jika menunggu kecurangan itu terjadi baru ditangani itu artinya sudah
ada kerugian yang terjadi dan hasil kerugian sudah dinikmati oleh pihak yang
melakukan kecurangan, jika pencegahan kecurangan dilakukan lebih awal, maka
tidak ada kerugian yang terjadi. Oleh karena itu, pencegahan kecurangan harus
dilakukan sedini mungkin dalam perusahan agar dapat mencegah bahkan
menghidari kecurangan, sehingga tujuan dan sasaran organisasi kedepan akan
tercapai dan membuat reputasi organisasi menjadi lebih baik.
Purba (2015) menyatakan bahwa pencegahan kecurangan berfungsi
sebagai penghambat yang kuat terhadap orang-orang yang berupaya untuk
melakukan tindakan kecurangan. Oleh karena itu, dengan melaksanakan
pencegahan kecurangan secara efektif akan menjadi penghalang yang kuat bagi
para pelaku kecurangan potensial. Pencegahan dini terhadap kecurangan dianggap
sebagai sebuah solusi guna untuk menangkap pelaku potensial, mempersempit
ruang gerak dan mengidentifikasi kegiatan yang beresiko tinggi terjdinya
kecurangan (Karyono, 2017).
Moralitas individu merupakan salah satu sikap individu yang mampu
menjauhi berbagai penyelewengan dan tindakan kecurangan. Manajemen juga
perlu menyusun program peningkatan moralitas individu yang berdampak pada
tingginya usaha individu untuk berusaha mematuhi aturan yang ditetapkan dengan
melakukan tindakan yang benar. Dengan kata lain, upaya pencegahan kecuragan
akan membaik dengan sendirinya karena adanya perubahan sikap dan perilaku
individu untuk bekerja lebih baik, bukanya hanya sekedar memenuhi formal
administrative saja (Kartadjumena & Indriyati 2021).
Penelitian ini didukung dengan adanya beberapa kejadian/kasus yang
terjadi di bidang keuangan di Indonesia. Bukan hanya satu kasus tapi sudah
banyak kasus yang merambah dan terjadi di Indonesia. berikut kajian fenomena
yang pernah terjadi di sektor Bank Indonesia. Dilansir dari (AMBON,
[Link] -) Kasus tindak pidana korupsi dan pencucian uang (TPPU) yang
terjadi pada Bank Negara Indonesia (BNI) Kota Ambon pada 18 Oktober 2019.
Enam terdakwa yang divonis bersalah oleh majelis hakim itu yakni mantan wakil
pimpinan BNI Ambon bidang pemasaran, F. Y. yang divonis 20 tahun penjara.
Selanjutnya, mereka yang divonis 18 tahun masing-masing mantan Kepala Kantor

5
Cabang Pembantu (KCP) Masohi, M. M., mantan Kepala KCP Tual, C. R.,,
Kepala KCP Aru, J. M,. Kepala KCP Mardika A. R. dan S. P yang merupakan
anak angkat F. Y.
Para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak
pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) secara bersama-sama
dan berlanjut. Kasus pembobolan dana nasabah BNI cabang Ambon senilai Rp.
58,9 Miliar, setelah investigasi internal yang dilakukan, ditemukan adanya
sejumlah transaksi dan investasi yang tidak wajar yang dilakukan Wakil Kepala
BNI cabang Ambon, F. Y. Setelah dilaporkan, F.Y ditangkap polisi disebuah
rumah di Citra Land Kawasan Lateri Ambon. Saat penangkapan itu polisi menyita
uang tunai milyaran rupiah yang diduga merupakan hasil kejahatan faradiba.
Sidang yang berlangsung secara virtual di ruang persidangan Pengadilan
Negeri Ambon itu hanya dihadiri majelis hakim, jaksa penuntut dan kuasa hukum
para terdakwa. Sedangkan keempat terdakwa mengikuti sidang putusan itu dari
Lapas Kelas II A Ambon. Sekitar uang Rp.1 Milyar uang hasil kejahatan yang
ditarik tunai dihadikan Saat kasus ini terungkap, BNI mengakui kejanggalan
transaksi dan penggelapan dana yang terjadi di BNI Ambon yang merupakan
perbuatan oknum dalam investasi tidak wajar.
Penelitian pengendalian internal, whistleblowing system dan good
corporate governance telah banyak dilakukan, namun menunjukan
ketidakkonsistenan. Oleh karena itu Sugiyono (2017) mengatakan bahwa perlu
dilakukan pendekatan kontijensi dengan menambahkan variabel moderasi yang
dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Tiara Firiana Azhari
(2022) Pengaruh penerapan pengendalian internal dan good corporate governance
terhadap pencegahan fraud pada perbankan di kota kupang. Perbedaan pertama
penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu peneliti menambahkan satu
variabel bebas yaitu whistleblowing system dan satu variabel moderasi yaitu
moralitas individu. Alasan mengapa peneliti menambahkan whistleblowing
system, karena hasil penelitian milik Lestari & Ayu (2021) mennjukan bahwa
whistleblowing system memiliki pengaruh terhadap pencegahan fraud, hasil

6
penelitian Komang & Sri (2020) menunjukan bahwa Moralits individu juga
menjadi salah satu faktor yang mampu menjuhi berbagai tindakan penyelewengan
dan kecurangan. Perbedaan Kedua pada lokasi penelitian yang dilakukan, dimana
penleitian sebelumnya dilakukan pada Bank di kota Kupang, sedangkan penelitian
ini akan dilakukan pada bank di kota Ambon.
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti termotivasi untuk melakukan
penelitian dengan judul : “Pengaruh Sistem Pengendalian Internal,
Whistleblowing System dan Good Corporate Governance Terhadap
Pencegahan Fraud dengan Moralitas Individu Sebagai Variabel Moderasi
(Studi Empiris Pada Bank di Kota Ambon)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, permasalahan yang dapat
diangkat dalam kaitannya dengan judul “Pengaruh Sistem Pengendalian
Internal, Whistleblowing System dan Good Corporate Governance Terhadap
Pencegahan Fraud dengan Moralitas Individu Sebagai Variabel Moderasi.
(Studi Empiris Pada Bank di Kota Ambon)”. Sebagai Berikut :
1. Apakah Sistem Pengendalian Internal berpengaruh Terhadap
Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon,?
2. Apakah Whistleblowing System berpengaruh Terhadap Pencegahan
Fraud pada Bank di Kota Ambon,?
3. Apakah Good Corporate Governance berpengaruh Terhadap
Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon,?
4. Apakah Moralitas Individu mampu Memoderasi Sistem Pengendalian
Internal terhadap Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon?
5. Apakah Moralitas Individu mampu Memoderasi Whistleblowing
System terhadap Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon?
6. Apakah Moralitas Individu mampu Memoderasi Good Corporate
Governance terhadap Penceahan Fraud pada Bank di Kota Ambon?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas dan rumusan masalah yang
diangkat, maka tujuan penelitian dari judul proposal ini dapat disusun sebagai
berikut :

7
1. Untuk menguji secara empiris pengaruh Sistem Pengendalian Internal
terhadap Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon.
2. Untuk menguji secara empiris pengaruh Whistleblowing System terhadap
pencegahan fraud pada Bank di Kota Ambon.
3. Untuk menguji secara empiris pengruh Good Coprate Governace terhadap
Pencegahan Fraud pada Bank di Kota Ambon.
4. Untuk menguji secara empiris peran Moralitas Individu sebagai Moderasi
dalam Hubungan Sistem Pengendalian terhadap Pencegahan Fraud pada
Bank di Kota Ambon.
5. Untuk menguji secara empiris peran Moralitas Individu sebagai Moderasi
dalam Hubungan Whistleblowing System terhadap Pencegahan Fraud pada
Bank di Kota Ambon.
6. Untuk menguji secara empiris peran Moralitas Individu sebagai Moderasi
dalam Hubungan Good Corporate Governance terhadap Pencegahan
Fraud pada Bank di Kota Ambon.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini :
1. Manfaat Teoritis
Manfaat dari penelitian akan membantu ilmu akuntansi aitu auditing dan
memberikan keuntungan sebagai bahna pertimbangan, pemahaman dan
meningkatkan awarnes di industri perbankan terhadap pencegahan fraud
2. Bagi Pihak Bank
Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber daya dan sumber
pengetahuan mengenia dapak perilaku bisnis etis dan metode untuk
melaporkan tindakan kecurangan. Temuan penelitian ini juga dapat
diterapkan untuk memperkuat kemampuan bank dalam mencegah tindakan
fraud.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Fraud Diamond Theory
Fraud Diamond adalah pandangan baru terhadap fenomena fraud yang
diusulkan oleh Wolfe & Hermanson (2004). Teori ini adalah bentuk pembaruan
dari Teori Fraud Triangle oleh Cressey (1950) yang menambahkan elemen
qualitatif yang diyakini memiliki hubungan signifikan dengan tindakan fraud. Jika
dalam Teori Fraud Triangle (Cressey, 1950) Tuanakotta (2010:207) menjelaskan
bahwa terdapat elemen yaitu Incentive/Pressure (tekanan), Opportunity (peluang),
dan Rasionalization (rasionalisasi), 3 elemen tersebut dalam Teori Fraud
Diamond mengalami penambahan elemen yaitu Capability/Capacity
(kemampuan).
Gambar 1.1 Fraud Diamod Theory (Wolfe & Hermanson, 2004)

a. Incentive Pressure (Tekanan)


Incentive atau tekanan dapat didefinisikan sebagai motif dari perilaku
seseorang untuk melakukan penyelewengan karena dipicu oleh adanya dorongan
yang dirasakan (Arles, 2014). Setiap pelaku harus menghadapi beberapa jenis
tekanan untuk dapat melakukan penipuan. Tekanan yang dirasakan diartikan
sebagai motivasi yang menuntun pelaku untuk terlibat dalam perilaku yang tidak
etis. Tekanan semacam ini dapat terjadi pada semua pihak di semua tingkatan
organisasi dan dapat terjadi karena berbagai alasan (Ruankaew, 2016). Alasannya
dapat berupa adanya tekanan finansial, tekanan karena adanya dorongan dari
kebiasaan yang buruk dan tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan
(Wijayani, 2016).

9
b. Opportunity (Peluang/Kesempatan)
Elemen Opportunity dalam kaitannya dengan fraud diartikan sebagai suatu
keadaan yang memungkinkan seseorang untuk dapat melakukan tindakan yang
tidak dibenarkan seperti tindakan penyelewengan (Arles, 2014). Peluang bisa
terjadi karena dipengaruhi oleh lemahnya pengendalian internal, pengawasan yang
kurang terkontrol, atau karena posisi yang strategis. Dengan memanfaatkan suatu
kondisi atau posisi tertentu, seseorang dapat dengan leluasa mengatur kepentingan
orang banyak.
c. Rationalization (Rasionalisasi)
Konsep rasionalisasi menunjukkan bahwa pelaku harus bisa merumuskan
beberapa bentuk rasionalisasi yang dapat diterima secara moral sebelum terlibat
dalam perilaku yang tidak etis (Abdullahi, Mansor & Nuhu, 2015). Rasionalisasi
memungkinkan penipu memandang tindakan ilegalnya sebagai suatu tindakan
yang dapat diterima. Alasan seperti tergoda untuk melakukan fraud karena merasa
rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas
tindakan fraud tersebut bisa menjadi pembenaran dari penyelewengan yang terjadi
(Zulaikha & Hadiprajitno, 2016). Pada akhirnya, tindakan rasionalisasi ini hanya
akan menghasilkan pemakluman dari tindakan fraud yang telah terjadi, apalagi
jika tindakan fraud dilakukan secara terus-menerus.
d. Capacity/Capability (Kemampuan)
Capacity atau kapabilitas diartikan sebagai suatu kemampuan atau
kelebihan seseorang dalam memanfaatkan keadaan yang melingkupinya, yang
mana kemampuan ini lebih banyak diarahkan pada situasi untuk mengelabui
sistem pengendalian internal dengan tujuan untuk melegalkan hal-hal yang
sebenarnya dilarang dalam suatu organisasi (Arles, 2014).
Kaitan antara teori Fraud Diamond dengan penelitian ini menekankan
pada motif untuk melakukan suatu tindakan, baik itu tindakan untuk tetap patuh
pada aturan seperti mengikuti SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ada atau
sebaliknya, menyimpang dari jalur yang sebenarnya. Implikasinya adalah tentang
bagaimana pressure (tekanan) dapat memotivasi seseorang untuk bertindak
negatif, tekanan ini bisa berasal dari atasan seperti adanya kewajiban upeti,

10
menyetor sejumlah dana kepada pimpinan atau instansi lain yang terkait sebagai
balas jasa karena telah memperjuangkan anggaran dari suatu proyek pekerjaan.
Opportunity (kesempatan/peluang) berkaitan dengan lemahnya
pengendalian internal atau tidak berjalan sebagaimana mestinya atau adanya
hubungan internal antara penyedia barang dan kontraktor sehingga menjadi celah
bagi pelaku untuk merekayasa pemenangan tender, memanipulasi harga,
gratifikasi terkait perizinan, ketidaksesuaian spesifikasi terhadap pengadaan
barang jasa.
Rasionalization (rasionalisasi) pada proses pengadaan akan berdampak
pada pemikiran bahwa tindakan fraud yang dilakukan merupakan tindakan yang
sudah umum dilakukan oleh kebanyakan orang. Pelaksana kegiatan secara
rasional merasa bahwa tindakan penyelewengan pengadaan barang dan jasa
adalah hal yang lumrah terjadi, seperti pembenaran bahwa nilai yang dikorupsi
masih dalam jumlah yang sedikit sehingga kekurangannya tidak akan begitu jelas
terlihat. Sementara untuk
Capability (kemampuan) berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melihat celah tentang kapan dan bagaimana pelaku dapat mengurangi spesifikasi
dari barang/jasa, penurunan kualitas pekerjaan atau bagaimana melakukan
tindakan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa untuk suatu proyek
tertentu. Keempat elemen dari Fraud Diamond Theory tentu bisa menjadi alasan
mengapa pihak pelaksana pengadaan barang jasa dapat saja melakukan tindakan
fraud.
2.1.2 Fraud (Kecurangan)
[Link] Pengertian Fraud
Fraud secara sederhana diartikan sebagai kecurangan. Secara umum fraud
diartikan sebagai tindak kecurangan atau penipuan secara sengaja untuk
memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok dan berdampak menyesatkan
orang lain. Fraud diartikan secara berbeda oleh berbagai pihak. Menurut kamus
online Mirriam Webster, penipuan adalah “sebuah penyimpangan yang disengaja
dari kebenaran dalam perintah untuk membujuk orang lain untuk berpisah dengan
sesuatu yang berharga atau untuk menyerahkan sesuatu yang sah Baik.
"Sedangkan Black’s Law Dictionary (dalam Vona, 2006) mendefinisikan

11
penipuan sebagai “sebuah kekeliruan yang mengetahui kebenaran atau
penyembunyian fakta material untuk mendorong orang lain bertindak yang
merugikannya.”
AICPA (dalam Vona, 2006) mendefinisikan fraud berdasarkan kategori.
Penipuan eksternal yaitu “melibatkan pencurian atas penggunaan yang tidak benar
dari organisasi sumber daya yang dilakukan oleh individu di luar organisasi”.
Sedangkan Penipuan internal adalah: Aktivitas yang dilakukan di dalam
organisasi seperti kesengajaan, kesalahan penyajian laporan keuangan atau
transaksi laporan keuangan, pencurian, penggelapan, atau penyalahgunaan sumber
daya organisasi, termasuk penipuan karyawan dan manajemen. Walaupun
kecurangan memiliki arti yang berbeda-beda tergantung bagaimana individu
mendefinisikannya. Kecurangan pasti dilakukan dengan unsur kesengajaan. Lain
halnya dengan error yang dilakukan murni bukan karena kesengajaan. Fraud
diterjemahkan sebagai penyimpangan, demikian pula dengan error dan
irregularities masing-masing diterjemahkan sebagai kekeliruan dan
ketidakberesan (Dewi & Apandi, 2012).
SAS No.99 mendefinisikan kecurangan sebagai tindakan kesengajaan
untuk menghasilkan salah saji material dalam laporan keuangan (Rustiarini &
Sunarsih, 2015). Perbedaan dari penyimpangan dan kekeliruan adalah apakah
tindakan yang mendasarinya, apakah tindakan tersebut merupakan tindakan yang
disengaja atau tidak. Fraud atau penyimpangan dilakukan dengan unsur
kesengajaan dalam melakukannya. ACFE’s mendefinisikan fraud sebagai
tindakan mengambil keuntungan secara sengaja dengan cara menyalahgunakan
suatu pekerjaan/jabatan atau mencuri asset/sumberdaya dalam organisasi
(Singleton & Singleton, 2010).
Fraud adalah kejahatan yang dapat ditangani dengan dua cara yaitu
mencegah dan mendeteksi, bahkan fraud yang terungkap merupakan bagian kecil
dari seluruh fraud yang sebenarnya terjadi (Tuanakotta, 2012). Fraud
menunjuk pada penyajian fakta yang bersifat material secara salah yang
dilakukan oleh satu pihak ke pihak lain dengan tujuan untuk membohongi dan
mempengaruhi pihak lain untuk bergantung pada fakta tersebut, fakta yang akan
merugikannya dan berdasarkan hukum yang berlaku, suatu tindakan yang curang

12
(fraudulent act) harus memenuhi lima kondisi ini: 1) harus terdapat laporan yang
salah atau tidak diungkapkan; 2) fakta yang sifatnya material, suatu fakta harus
merupakan faktor yang substansial yang mendorong seseorang untuk bertindak; 3)
harus terdapat tujuan untuk menipu atau pengetahuan bahwa laporan tersebut
salah; 4) ketergantungan yang dapat dijustifikasi, penyajian yang salah harus
merupakan faktor yang substansial yang menyebabkan pihak lain merugi karena
ketergantungannya; 5) Perbuatan tidak adil atau kerugian. Kebohongan tersebut
telah menyebabkan ketidakadilan atau kerugian bagi korban fraud (Hall, 2001).
Fraud atau kecurangan adalah objek utama yang diperangi dalam
akuntansi forensik. Kecurangan adalah suatu pengertian umum yang
mencakup beragam cara yang dapat digunakan oleh kecerdikan manusia, yang
digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain melalui
perbuatan yang tidak benar. Kecurangan adalah penipuan yang disengaja,
umumnya dalam bentuk kebohongan, penjiplakan dan pencurian. Kecurangan
dilakukan untuk memperoleh keuntungan berupa uang dan kekayaan, atau untuk
menghindari pembayaran atau kerugian jasa, atau menghindari pajak serta
mengamankan kepentingan pribadi atau usaha.
[Link]. Bentuk-bentuk Kecurangan (Fraud)
Menuurt Theodorus (2016:196) Examination Manual 2006 dari
Association of Certified Fraud Examiner yang diikuti oleh karyono (2013;17)
fraud terdiri dari tiga kelompok besar yaitu :
1) Kecurangan Laporan (Fraudelent Statement)
2) Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropiation)
3) Korupsi (Coruption)

Bentuk-bentuk kecurangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :


1) Fraud atas Laporan
Fraud atas laporan sering dilakukan dengan menggunakan cara
mencatat lebih tinggi atas akun harta dan pendapatan. Fraud atas laporan
ini dilakukan karena terdapat tekanan yang kuat dari atasan. Hal ini
dilakukan supaya perusahaan menunjukan kinerja yang bagus dan
mencapai target. Oleh karena itu dibutuhkan proses pelaporan yang jelas
dan terarah. Proses pelaporan dapat didasari oleh suatu konsep yang di

13
tuangkan ke dalam dokumen resmi. Dengan adanya laporan setiap periode
dapat dijadikan acuan dalam evaluasi di akhir periode.
2) Penyalahgunaan Aset
Asset merupakan suatu kemampuan secara ekonomi dimasa depan
yang dipunyai oleh suatu organisasi. Penyalahgunaan asset biasanya
dikelompokkan dalam 2 macam fraud, yaitu:
(a) cash fraud yang dimaksud ialah mencuri kas atau kas keluar dengan
cara curang sebagai contoh memalsukan cek.
(b) kecurangan atas persediaan dan aset lain, yang dimaksud adalah
kecurangan berupa pemakaian dan pencurian yang dilakukan untuk
kepentingan pribadi terhadap persediaan atau aset lainnya.
3) Korupsi
Korupsi merupakan salah satu jenis fraud yang dilakukan diluar
pembukuan. Korupsi biasanya dilakukan dengan cara pemberian hadiah,
penambahan komisi dan sebagainya. Korupsi terbagi menjadi tiga, yaitu
(a) pertentangan kepentingan yang merupakan suatu keadaan yang terjadi
ketika pekerja mempunyai kepentingan pribadi terhadap suatu transaksi
yang nantinya akan berdampak negatif bagi perusahaan.
(b) Suap yang merupakan pemberian, penawaran permohonan ataupun
penerimaan sesuatu yang memiliki tujuan guna memengaruhi
pembentukan keputusan.
(c) pemberian illegal yang merupakan pemberian yang menyerupai suap
tetapi tidak memiliki maksud untuk mempengaruhi pembentukan
keputusan karena pelaku hanya mempermainkannya saja.
(d) pemerasan secara ekonomi yang dimaksud adalah penjual menawarkan
untuk memberi suap atau hadiah kepada pembeli yang memesan produk
dari perusahaannya.
Kecurangan memiliki berbagai definisi menurut beberapa pakar yang telah
dijelaskan diatas. Namun untuk mengidentifikasi bahwa suatu tindakan termasuk
dalam kategori kecurangan, BPK (n.d.) menyatakan bahwa kecurangan memiliki
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation)

14
2. Dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present)
3. Fakta bersifat material (material fact)
4. Dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make knowingly or
recklessly)
5. Dengan maksud (intent) untuk menyebabkan suatu pihak beraksi
6. Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan
tersebut (misrepresentation)
7. Yang merugikannya (detriment)
2.1.3. Pencegahan Kecurangan (Fraud)
[Link]. Pengertian Pencegahan Kecurangan (Fraud)
Kasus kecurangan (Fraud) yang semakin marak terjadi membuat
kerugian yang cukup besar bagi perusahan apabila kecurangan tidak dapat
dikurangi atau dicegah, maka akna berakibat fatal bagi perusahan. Untuk itu
manajemen perlu mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinnya
kecurangan. Menurut Arizal (2004;4) pencegahan fraud adalah usaha untuk
menghiulangkan tau mengeliminir sebab-sebab akan terjadinya suatu perbuatan
curang dan akan lebih mudah daripada mengatasi apbila kecurangan sudah terjadi.
Pencegahan fraud menurut Theodorus M. Tuanakotta didefenisiskan
sebagai suatu sistem dengan proses dan prosedur yang secara khusus diarahkan,
dirancang dan dimplementasikan untuk tujuan utama yaitu mencegah dan
mengahambat terjadinya kecurangan. Pencegahan kecurangan menurut Amin
Widjaya Tunggal (2012;33) merupakan upaya terintegrasi yangdapat menekan
terjadinya penyebab fraud, yaitu :
1. Memperkecil peluang terjasdinya kesempatan untuk berbuat kecurangan
2. Menurunkan tekanan pada pegawai agar ia mampu memenuhi
kebutuhannya
3. Mengeliminasi alasan untuk membuat pembenaran atau rasionalisasi atas
tindakan fraud yang dilakukan

Pencegahan fraud merupakan suatu upaya yang dilakukan semua pihak


dalam mengurangi penyebab terjadinya fraud. Pencegahan kecurangan atau fraud
menurut Alretcht (Priantara, 2013:184-186) adalah :
1. Budaya kerja. Merupakan kesempatan atau peluang yang dapat
dieksploitasi oleh pelaku. Tahap awal dalam pencegahan fraud ini adalah

15
menghilangkan kesempatan atau peluang melakukan fraud dengan
membangun dan menerapkan manajemen risiko, pengendalian internal dan
tata kelola perusahan yang jujur.
2. Pengedalian internal dan tata kelola, Meliputi :
a) Menerapkan pengendalian internal yang baik untuk mencegah dan
mendeteksi fraud
b) Mendorong pihka ketiga agar mematuhi kebijakan perusahan
termasuk yang terikat dengan hubungan bisnis yang bebas korupsi,
kolusi dan nepotisme.
c) Memantau dan mengenal pegawai, khususnya perilku yang
menyimpang sehingga dapat lebih dini membina pegawai tersebut.
d) Hukuman, ketentuan pelaku dan pelaku potensial akan mendapat
hukuman tyang jelas dan tegas atas terjdinya perbuatan yang tidak
jujur atau fraud.
Efektifitas pencegahan kecurangan tidak terlepas dari sistem pengendalian
internal yang semakin efektif diterapkan oleh organisasi atau perusahan.
Pengendalian internal yang efektif sangat membantu untuk melindungi asset
perusahan, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan manajerial yang dapat
dipercaya, meningkatkan kepatuhan terhadap ketetuan yang berlaku serta
mengurangi risiko terjadinya kerugian, penyimpangan dan pelanggaran. (Susanto
2017).
Dorongan untuk penceagahan fraud dan keinginan untuk mengungkapkan
kecurangan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, untuk itu terdapat
beberapa langkah praktis untuk melindungi fraud dalam perusahan, diantaranya :
a) Set an ethical tone that stars from the top. Setiap perusahan perlu
memiliki aturan tertulis yang mereflesikan etika yang dijunjung oleh
perusahan
b) Establish regular fraud detection procedurs. Prosedur audit internal yang
teratur yang dirancang khusus untuk mendeteksi fraud merupakan alat
yang sangat bernilai
c) Educate employees about fraud. Mendidik pegawai tentang risiko,
dampak dan sanksi fraud dapat dilakukan dengan mudah. Dengan

16
menggunakan alat seperti poster yang diletakan didalam ruangan istirahat,
ruang pertemuan, majalah internet atau selebaran.
d) Have a hotline. Tata kelola perusahan yang baik sekarang menganjurkan
perusahan menyediakan cara bagi karyawan agar dapat menyampaikan
kekhawatirannya secara anonym (tanpa identitas) atau dengan identitas.
e) Have a Certified Fraud Examiners on Staff. Audit internal memiliki
modal dasar yang baik namun mereka harus diedukasi mengenai teknik
mendeteksi fraud dan investigasi dengan mengikuti kursus anti fraud atau
belajar untuk menjadi Certified Fraud Examiners (CTE).

Pencegahan fraud merupakan seluruh usaha untuk mengurangi


kesempatan dan mempersempit peluang terjadinya kecurangan (Karyono,
2013:47). Dapat disimpulkan bahwa pencegahan fraud merupakan suatu tindakan
meminimalisasikan penyebab kecurangan sebelum terjadi. Tindakan pencegahan
kecurangan dilakukan untuk menghindari penipuan, manipulasi, plagiarisme,
pencurian yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk memperoleh keuntungan
pribadi (Suradi, 2006) Karena apabila upaya pencegahan yang diterapkan oleh
oleh suatu entitas, maka dapat meminimalisir kecurangan. Karyono (2013:61)
menyebutkan bahwa pencegahan kecurangan dilakukan dengan Teori Diamond
Fraud, yakni:
1. Mengurangi “tekanan” yang memungkinkan kecurangan.
2. Mengurangi “kesempatan” melakukan kecurangan.
3. Mengurangi “pembenaran” melakukan kecurangan.
4. Mengurangi “kemampuan” melakukan kecuangan
[Link]. Tujuan Pencegahan Kecurangan (Fraud)
Kecurangan merupakan masalah yang dalam lingkungan perusahan,
dan harus dicegah sedini mungkin. Pencegahan kecurangan yang efektif memiliki
lima tujuan menurut Pusdiklatwas BPKP (2008;38) adalah
1. Prevention, mencegah terjadinya kecurangan secara nyata pada semua lini
organnisasi
2. Detterence, menangkal pelaku potensial bahkan tindakan yang bersifat
coba-coba. Karena pelaku potensial melihat sistem pengendalian risiko

17
fraud efektif berjalan dan telah memberi sanksi tegas dan tuntas sehingga
membuat jera pelaku potensial
3. Disruption, mempersulit gerak langkah pelaku kecurangan sejauuh
mungkin.
4. Identification. Mengidebtifikasi kegiatan beresiko tinggi dan kelemahan
pengendalian.
5. Civil action prosecution, melakukan tuntutan dan penjatuhan sanksi yang
setimpal atau perbuatan curang kepada pelakunya.
Sedangkan tujuan pencegahan kecurangan menurut Amin Widjaja
Tunggal (2012;33), yaitu
1. Ciptakan iklim budaya jujur, keterbukaan dan saling membantu
2. Proses rekreuitmen yang jujur
3. Pelatihan fraud awarness
4. Lingkup kerja yang positif
5. Kode etik yang jelas, mudah dimengerti dan ditaati
6. Program bantuan kepada pegawai yang mendapa kesulitan
7. Tanamkan kesan bahwa setiap tindak kecurangan akan mndapat sanksi
setimpal

2.1.4 Sistem Pengendalian Internal


[Link] Pengertian Sistem Pengendalian Internal
Menurut Arens (2003:396) suatu sistem pengendalian internal terdiri dari
kebijakan dan proses yang dirancang untuk memberikan manajemen jaminan yang
wajar bahwa perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya. Krismadji (2002:219)
mengatakan bahwa sistem pengendalian internal adalah metoda yang digunakan
untuk menjaga atau melindungi aktiva, menghasilkan informasi yang dapat
dipercaya, memperbaiki efisiensi dan untuk melindungi kebijakan manajemen.
Sistem pengendalian internal merupakan perencanaan meliputi metode,
alat, struktur organisasi yang dikoordinasikan untuk meningkatkan kepatuhan
terhadap kebijakan dilakukan oleh manajemen (Pratolo et al.,2016)
[Link] Komponen Sistem pengendalian Internal
Dalam framework COSO (2013) menyatakan bahwa tujuan pengendalian
internal yaitu dapat dipercaya laporan keuangan, kepatuhan dengan hukum dan

18
aturan yang berlaku serta efisiensi dan efektifitas operasi. COSO (2013)
menjelaskan terdapat lima komponen pengendalian internal yang saling
berhubungan dan dilaksanakan oleh perusahan dan manajemen untuk meyakinkan
bahwa tujuan pengendaliann tercapai dan berjalan dengan lancar. Komponen-
komponen pengendalian internal tersebut meliputi :
1) Lingkungan pengendalian (control environtment)
Menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran
pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendaian merupakan dasar
untuk semua pengendalian internal, menyediakan disiplin dan struktur.
Lingkungan pengendaian mencakup: (1) Integritas dan nilai etika, (2)
Komitmen terhadap kompetensi, (3) Partisipasi dewan komisaris atau komite
audit, (4) Filosofi dan gaya operasi manajemen, (5) Struktur organisasi, (6)
Pemberian wewenang dan tanggung jawab, (7) Kebijakan dan praktik sumber
daya manusia.
2) Penaksiran resiko (risk Assesment)
Penaksiran resiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap
resiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk
menentukan bagaiman resiko harus dikelola. Resiko dapat timbul atau
berubah karena keadaan berikut; (1) Perubahan dalam lingkungan organisasi,
(2) Personel baru, (3) Sistem informasi yang baru atau diperbaiki, (4)
Teknologi baru, (5) Lini produk, produk atau aktivitas baru, (6) Operasi luar
negeri, (7) Standar akuntansi baru
3) Standar Pengendalian (control activities)
Standar pengendalian adalah kebijakan dari prosedur yang membantu
menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan prosedur
yang dimaksud berkaitan dengan (1) Penelaahan terhadap kinerja, (2)
Pengolahan informasi, (3) Pengendalian fisik, (4) Pemisahan tugas
4) Informasi dan komunikasi (Information And Communication)
Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, pengungkapan,
dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dari waktu yang
memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka. Sistem
informasi mencakup sistem akuntansi, terdiri atas metode dan catatan yang

19
dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan transaksi
entitas dan untuk memelihara akuntabilitas bagi aktiva, utang dan ekuitas.
Komunikasi mencakup penyediaan suatu pemahaman tentang peran dan
tanggung jawab individual berkaitan dengan pengendalian internal terhadap
pelaporan keuangan.
5) Pemantauan (monitoring)
Pemantuan adalah proses menentukan mutu kinerja pengendalian
internal sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain dan
operasi pengendalian yang tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi.
[Link] Ciri-ciri Pengendalian yang Kuat dan Keterbatasanya
Menurut Tunggal (2010:209), ciri-ciri pengendalian intern yang kuat yaitu:
1. Karyawan yang kompeten dan jujur antara lain menguasai standar
akuntansi, peraturan perpajakan, dan peraturan pasar modal.
2. Transaksi diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.
3. Transaksi dicatat dengan benar (jumlah, estimasi, dan perlakuan
akuntansi)
4. Pemisahan tugas yang mengambil inisiatif timbulnya suatu transaksi, yang
mencatat, dan menyimpan
5. Akses terhadap asset dan catatan perusahaan sesuai dengan fungsi dan
tugas karyawan
6. Perbandingan secara periodik antara saldo menurut buku dengan jumlah
secara fisik.
2.1.5. Whistleblowing System
[Link]. Pengertian Whistleblowing System
Whistleblowing System adalah sistem pelaporaan pelanggran, dimana
seorang karyawan yang bekerja disuatu instansi atau perusahan dapat melaporkan
tindakan pelanggaran atau kecurangan yang disebut sebagai whistleblower. Pihak
tersebut dirahasiakan identitasnya, demi kenyamanan serta terhindar dari segala
bentuk ancaman balas dendam dari pihak yang dilaporkan. Pelaporan harus
disadari itikad baik dan bukan meruapakan suatu keluhan pribadi ataupun
kehendak buruk/fitnah. Pihak yang mengelola Whistleblowing system adalah

20
pihak independen yang bertugas memverifikasi dan menindaklanajuti laporan
pelanggaran yang dilaporkan oleh karyawan.
Istilah Whistleblowing System diidentikkan dengan perilaku seseorang
yang melaporkan perbuatan yang terindikasi kecurangan atau perbuatan
melanggar hukum disuatu organisasi, yang menimbulkan kerugian/ancaman.
Whistleblowing System menurut Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG 2008) Tuanakotta (2010:611) adalah pengungkapan tindakan pelanggaran
atau pengungkapan perbuatan yang melawan hukum, tidak etis/tidak bermoral
atau tindakan lain yang merugikan organisasi maupun pemangku kepentingan
yang dilakukan oleh seseoarang kepada pimpinan suatu oraganisasi, maupun
lembaga lain yang dapat mengambil tindakan atas pelanggaran tersebut.
Whistleblowing System bermanfaat untuk menimbulkan keengganan
untuk melakukan pelanggaran, deteksi dini, mengurangi risiko dan biaya yang
dihadapi organisasi akibat pelanggaran serta yang terpenting adalah memeberikan
masukan terkait kelemahan pengendalian internal dan meningkatkan reputasi
perusahaan dimata stakeholders, regulator dan masyarakat pada umumnya.
Menurut Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK, 2011),
Whistleblowing System didefinisikan sebagai tindakan mengungkap atau
melaporkan suatu tindak pidana atau tindakan yang dianggap ilegal di
tempatnya bekerja atau orang lain berada, kepada otoritas internal
organisasi atau kepada publik seperti media masa atau lembaga pemantau
publik. Pengungkapan tersebut tidak selalu didasari iktikad baik sang pelapor,
tetapi tujuannya untuk mengungkap kejahatan atau penyelewengan yang
diketahuinya. Dalam hal ini, orang yang mengungkapkan kecurangan
atau penyelewengan disebut sebagai whistleblower dan identitasnya di rahasiakan
dan dilindungi.
Whistleblowing System merupakan suatu istilah yang muncul sejak
adanya Sarbanes Oxley Act 2002 (SOX) di Amerika Serikat yang dapat
mendorong para pegawai dari perusahaan untuk melakukan pelaporan atas
pelanggaran yang terjadi tanpa ada rasa takut terhadap pihak yang
dilaporkan. Di Indonesia, Pedoman Sistem Pelaporan dan Pelanggaran
atau Whistleblowing System System diterbitkan oleh Komite Nasional

21
Kebijakan Governance (KNKG) pada tanggal 10 November 2008.
Whistleblowing System merupakan mekanisme yang digunakan untuk
melaporkan segala bentuk tindakan kecurangan (Mahdi & Darwis, 2020).
Tuankotta (2010) menyebutkan bahwa pada dasarnya whistleblower adalah
karyawan dari organisasi itu sendiri (pihak internal), akan tetapi tidak menuutp
kemungkinan adanya pelapor yang berasal dari pihak eksternal (pelanggan,
pemasok, masyarakat)
Dalam tindakan pendeteksian fraud, selain dengan menerapkan
proses audit yang cukup efektif, Whistleblowing System juga merupakan
salah satu cara yang cukup mudah dalam mendeteksi adanya fraud.
Dengan adanya mekanisme deteksi dini (early warning system) atas
kemungkinan terjadinya masalah akibat suatu pelanggaran, perusahaan
memiliki kesempatan untuk menangani masalah pelanggaran secara internal
terlebih dahulu, sebelum meluas menjadi masalah pelanggaran yang bersifat
publik. Whistleblowing System juga dapat berperan dalam pencegahan fraud.
Akan timbul keengganan untuk melakukan pelanggaran, dengan semakin
meningkatnya kesediaan untuk melaporkan terjadinya pelanggaran, karena
kepercayaan terhadap system pelaporan yang efektif (Tuanakotta, 2012:612-
613).
[Link]. Whistleblower
Whistlwblower adalah orang yang mengungkapkan atau melaporkan
tindakan pelanggaran atau kecurangan yang ditemukannya dalam suau instansi
atau perusahan. Perlindungan twhistleblower diatur dalam UU No.13 tahun 2006
tentang perlindungan saksi dan korban dimana pada pasal 10 ayat (1) menyatakan
bahwa seorang saksi atau korban pelapor tidak dapat dituntut secara hukum
pidana maupun perdata atas laporann yang akan, sedang atau telah diberitakan.
Menurut Semendawai, ddk (2011;1) seorang whistleblower harus memnuhi
dua kriteria mendasar yaitu :
1. Pelapor harus menyerahkan atau mengungkapkan laporan kepada pihak
yang berwenang. hal ini dimaksudkan agar dengan memberi tahu pihak
berwenang, kejahatan apat ditemukan dan diekspos.

22
2. Pelapor harus orang dalam , atau seorang yang melaporkan penyimpangan
dan kejahatan yang terjadi ditempat kerja mereka atau arean lain yang
ditunjuk. Skandal kejahatan selalu diatur, oleh karena itu seorang
whistleblower kadang-kadang bisa menjadi salah satu penjahat itu sendiri.

[Link]. Manfaat Whistlebowing System


Menurut KNKG (2008:2), beberapa manfaat penyelenggaraan
whistleblowing system antara lain :
1. Adanya transmisi informasi yang penting bagi perusahan kepada pihak
yang berwenang untuk dapat menanganinya dengan cepat dan aman.
2. Dengan meningkatkan kepercayaan erhadap suatu sistem pelaporan,
makaakan menimbulkan dorongan untuk mengungkapkan kecurangan.
3. Adanya sistem atau perangkat dengan tujuan untuk melakukakn deteksi
dini ( early warning system) atau potensi terjadinya masalah yang timbu
akibat suaru pelanggaran
4. Sebelum menjadi masalah pelanggaran publik, terdapat kesempatan untuk
menyelesaikan terlebih dahulu masalah pelanggaran internal.
5. Meminimalkan risiko yang dihadapi perusahahn terkait pelanggaran dari
segi keuangan, operasional, hukum, keselamatan kerja dan reputasi
6. Menurunkan bi
7. ya untuk menangani akibat terjadinya kecurangan.
8. Meningkatkan kedudukan dan nilai perusahan untuk menyelidiki lebih
jauh area penting dan proses kerja yanglemah dalam sistem pengendalian
internal, serta cara untuk membuat tindakan perbaikan yang tepat.

[Link]. Indikator Whistleblowing System


KNKG (2008:2-27) menerbitkan pedoman Whiateblowing system
yang terdiri dari tiga aspek yaitu :
1. Aspek Struktural
Aspek struktural terdapat empat elemen whistlelowing system yaitu :
a) Pernyataan Komitmen
Harus terdapat pernyataan komitmen dari seluruh pegawai
dalam kesediannya untuk menggunakan sistem pelaporan

23
pelanggaran dan ikut mengambil bagian dalam mengungkapkan
jika ditemukan adanya tindakan kecurangan atau pelanggaran
b) Kebijakan Perlindungan Pelapor
Perusahan harus menyusun kebijakan perlindungan
pelapor yang menyusun dengan jelas dan tegas bahwa perusahan
bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan terhadap
pelapor kecurangan yang beritikad baik dan perusahan akann taat
dalam penerapan best practies yang berlaku dalam penyelengaraan
whistleblowing system.
c) Struktur Pengelolaan Sistem Pelaporan Pelanggaan
Direksi, khususnya direktur utama, bertanggungjawabb
untuk mengelola sistem pelaporan pelanggaran, karena
whisleblowing system merupakan salah satu sistem kontrol
perusahan untuk menghindari penipuan.
2. Aspek Operasional
Dalam UU 31/1999 Pasal 41 dan KUHP Pasal 1 Butir 21, untuk
masyarakat umum dan pegawai dalam melaporkan suatu kecurangan
merupkan hak dan bukan merupakan kewajiban. Artinya mereka dapat
melaporkan atau tidak melaporkan ketika terjadi tindakan penipuan
maupun kecurangan dan pelanggaran tersebut harus dilaporkan dengan
kesadaran dari dalam diri untuk menyampaikan adanya tindakan
kecurangan untuk mencegah dampak yag tidak diinginksn bagi perusahan
Namun bagi manajer maupun posisi lain yang memiliki tugas dan
fungsi hal pengawasan (supervisor) mempunyai kewajiban untuk
menegakan peraturan dan patuh terhadap etika perusahan dalam lingkup
tugasnnya. Pelaporan dapat dilakukan secra anonim atau dengan identitas
lengkap, setelah itu petugas WBS akan menindaklanjuti laporan tersebut
dan melakukan investigasi. Dengan adanya penerapan WBS diharapkan
dapat mengurangi tindakan kecurangan dan mendorong budaya
transparansi dan jujur.
3. Asper Perawatan

24
Aspek perawatan adalah aspek yang menjadi penyebab apakah
whistleblowing system dijalankan secara efektif dan efisien dalam jangka
waktu panjang. Sehingga perusahan perlu menyelenggarakan pelatihan
khusus dan pendidikan berkelanjutan untuk memastikan setiap orang
memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola dan memperbarui
sistem pelaporan pelanggaran. Komunikasi yang berkala juga diperlukan
untuk saling mencipttakan budaya jujur dan transpapransi, insentif bagi
pelapor, dan perlu dipertimbangkan untuk diadakannya apresiasi bagi
pelapor yang menarik agar memotivasi mereka dalam melaporkan temuan
kecuangan yang terjadi.

2.1.6. Good Corporate Governance


[Link]. Pengertian Good Corporate Governance
Istilah good corporate governance pertama kali diperkenalkan oleh
komite Calburry pada tahun 1992 yang dikenal sebagai Cadbury report. laporan
ini dipandang sebagai titik balik yang sangat menentukan bagi praktik Corporate
Governance diseluruh dunia. Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG 2008) good corporate governance adalah salah satu pilar dari sistem
ekonomi pasar. Penerapan good corporate governance mendorong terciptanya
persaingan yang sehat dan iklim usahaaa yang kondusif. Oleh karena itu
penerapan good corporate governance bagi perusahan-perusahan di Indonesia
sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang
berkesinambungan.
GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahan
agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahan dalam
memberikan pertanggungjawaban kepada para shareholders khususnya
stakeholders pada umumnya. Hal ini berkitan dengan peratutan kewenangan
pemilik, direktur, manajemen, pemegang saham dan sebagainnya. GCG adalah
suatu pola hubungan, sistem dan proses yang digunakan oleh organ perusahan
(direksi, dewan komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada
pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap
memperhatikan kepenntingan stakeholders lainnya, berlandaskan kepentingan

25
peratutan perundang-undang dan norma yang berlaku. Dari defenisi diatas dapat
disimpulkan bahwa GCG adalah :
1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan tentang para dewan
komimsaris, direksi, RUPS dan para stakeholerds lainnya.
2. Suatu sistem check and balance mencakup perimbangan kewenangan atas
pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang :
pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan asset perusahan.
3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahan, pencapaan
dan pengukuran kinerja.
[Link]. Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Menurut Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI), Good
Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan
antara pemegang saham, pengurus, kreditur, pemerintah, karyawan serta para
pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka, atau dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Good Corporate Governance
adalah suatu sistem yang mengatur mengenai pola hubungan baik antara
perusahan dan pemangku kepentingannya untuk mencapai kinerja perusahan yang
semaksimal mungkin dengan cara-cara yang tidak merugikan pemangku
kepentingannya.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa Good Corporate Governance
merupakan tata kelola bank melalui penerapan beberapa prinsip, yaitu:
a. Transparency (Keterbukaan), yaitu prinsip yang menjunjung keterbukaan
dalam mengungkapkan segala informasi yang material secara memadai,
tepat waktu dan akurat serta keterbukaan perusahaan dalam pengambilan
keputusan.
b. Accountability (Akuntabilitas), yaitu prinsip yang menuntut adanya
kejelasan fungsi atau pemisahan tugas dan pelaksanaan tanggung jawab
setiap bagian dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat dikelola
dengan baik.
c. Responsibility (Pertanggungjawaban), yaitu prinsip yang mengharuskan
agar pengelolaan perusahaan sesuai dan patuh terhadap prinsip korporasi

26
yang sehat dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku.
d. Independency (Kemandirian), yaitu prinsip yang mengharuskan
pengelolaan perusahaan secara profesional tanpa benturan kepentingan
atau tekanan dari pihak manapun.
e. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran), yaitu prinsip yang menuntut
pemenuhan hak-hak pemegang saham secara adil dan setara sesuai dengan
perjanjian yang disepakati dan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

[Link]. Tujuan dan manfaat Good Corporate Governance


Cadbury Committee (1992) menyatakan tujuan corporate Governance
adalah menciptakan nilai tambah bagi semua pihak stakeholders.
Pedoman umum GCG Indonesia menyatakan bahwa salah satu tujuan
pelaksanaan Corporate Governance adalah mendorong timbulnya kesadaran
masyarakat terhadap kelestarian lingkungan di sekitar perusahan sehingga
terpelihara kesinambungan usaha jangka panjang. Penerapan Prinsip GCG secara
konkret memiliki tujuan perusahan yaitu :
1. Memudahkan akses terhadap investasi domestic maupun asing
2. Mendapatkan cost of capital yang lebih mudah
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja
ekonomi perusahan.
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercyaan dari stakeholders terhadap
perusahan.
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
Menurut Trinanda dan Mukodim (2010), manfaar dari pelaksanaan Good
Corporate Governance adalah sebagai berikut :
1. Dapat meningkatkan nilai perusahan
2. Dapat menignkatkan kinerja keuangan
3. Mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan komisaris
dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan diri sendiri.
4. Meningkatkan kepercayaan investor.

27
2.1.7. Moralitas Individu
Moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. moralitas
adalah ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan sikap seseorang atau individu,
sedangkan ahklak adalah tingkah laku seseorang yang didiorong oleh sesuatu
keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan (Laksmi dan Sujana,
2019). Moralitas mempunya arti yang ada pada dasarnya sama dengan Moral,
yaitu kemampuan memahami hal yang benar dan salah. Menurut Radhiah &
Hariyani (2016) menyatakan moralitas merupakan kualitas mengenai baik
buruknya perilaku seseorang, seseorang yang tidak bermomral cenderung
bertindak akan merugikan orang lain. Sedangkan menurut Ariani et al. (2014),
didalam akuntansi moralitas individu berbanding terbalik terhadap
kencenderungan kecurangan. Artinya semakin tinggi moralitas individu untuk
melakukan kecurangan akuntansi akan semakin menurun.
Moralitas Individu adalah keseluruhan sifat atau nilai seseorang yang
dapat bernilai baik atau buruk. Moralitas sendiri juga berangkat dari aspek agama,
tradisi budya yang dianut (Kurnniawan Saputra et al., 2020). Penalaran atas
moral merupakan bentuk landasan seseorang dalam berperilaku. Moralitas
merupakan kemampuan penalaran moral seseorang dalam bertindak untuk
memecahkan suatu masalah dengan melakukan penilaian terlebuh dahulu terkait
tindakan yang akan dilakukan tersebut etis atau tidak (Prena & Kusnawan, 2020),
Menurut Kohlbreg (1995) pada penleitian milik Yusuf et al., (2021). Moral
memiliki perkembangan teori, dengan melalui beberapa tahapan yaitu :
1) Tahap Pre-conventional, yaitu sikap atas suatu tindakan seseorang yang
disadari oleh rasa takut untuk mlakukan sesuatu karena takut pada aturan
atau hukum yng berlaku.
2) Tahap Coventional, yaitu sikap yang perlu dilakukan pada diri seseorang
disadari oleh persetujuan oleh orang-orang disekitarnya dan juga norma
yang berlaku pada masyarakat.
3) Tahap Post-convertional, yaitu tindakan seseorang untuk melakuakan
suatu tindakan dengan selalu mempertimbangkan atau memperhatikan
kepentingan orang lain.

28
Moralitas Individu yaitu tingkah laku terpuji yang dimana individu
tersebut tidah menagih imbalan (Udayani dan Sari, 2017). Moralitas bisa
didefeisikan sebagai mutu yang memperlihatkan apakah tindakan yang dilakukan
individu baik atau tidak. Apabila individu mempunyai pesona berkepribadian
baiik yang mempunyai nilai positif pada penilaian kebudayaan penduduk sekitar
maka individu tersebut dikatakan bermoral (Marsini et all., 2019)
Menurut Aprilia dan Yniasih (2021) moral bisa diketahui melalui
tindakan atau perkataan individu saat bersosialisasi dengan manusa. Individu
dianggap bermoral baik jika individu berbuat selaras dengan nilai rasa yang
berlaku pada penduduk tersebut dan bisa diterima serta membahagiakan di daerah
penduduknya.
Terdapat enam indikator moralitas individu berdasar pada konsep
(Fathia dan Indriani, 2022), yaitu :
1. Kepatuhan dan hukuman
Diukur melalui kesesuaian antara pekerjaan dan tanggungjawab serta
kesadaran akan tanggngjawab bekerja
2. Individualisme
Diukur melalui memberikan bantuan kepada sesama rekan kerja guna
mencapai tujuan
3. Kesesuaian antar pribadi
Diukur melalui kemampuan dalam beradaptasi dengan baik di lingkup
pekerjaan serta lingkup lainnya
4. Keselarasan sosial
Diukur melalui kesesuaian antara perbuatan dengan moral yang berlaku
pada tempat bekerja serta masyarakat
5. Utilitas sosial
Diukur melalui komitmen ntuk berperilaku dan bersikap sesuai norma
yang berlaku
6. Prinsip etika universal
Diukur melalui kejujuran pada saat bekerja dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya

29
2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
No Peneliti dan Judul Penelitian Hasil dan Pembahasan
Tahun
1 Kadek Deni Pengaruh Whistleblowing Menunjukan Whistleblowing system,
Sandira Utama, I System, Kompetensi, Good Kompetensi Sumber Daya Manusia,
Gede Putu Banu Corporate Governance dan Good Corporate Governance dan
Astawa. (2021) Efektifitas Pengnedalian Efektifitas Pengendalian Internal
Internal Terhadap Berpengaruh positif dan Signifikan
Pencegahan Kecurangan terhadap Pencegahan Kecurangan
terhadap Pengelolaan dana LPD di
Kabupaten Buleleng.
2 Glenardy, Pengaruh Audit Internal, Hasil Dari Penelitian Ini Menunjukkan
Michael Romi, Pengendalian Internal, Bahwa Sebagian Besar Kualitas Audit
Ricky, Bayu Kualitas Audit, Good Berpengaruh Positif Signifikan
Wulandari (2022) Corporate Governance, Terhadap Tindakan Pencegahan
Terhadap Pencegahan Kecurangan, Sementara Itu, Untuk
Kecurangan (Fraud) Pada Audit Internal, Pengendalian
Bank Bca Area Medan Internal ,Dan Good Corporate
Governance Tidak Memiliki Pengaruh
Dan Tidak Signifikan Pada Pencegahan
Kecurangan (Fraud).
3 Tiara Fitriana Pengaruh Penerapan Hasil Penelitian Menunjukan Bahwa
Azhari, Anthon Pengendalian Internal Dan Pengendalian Internal Secara Parsial
Simon. Kerihi, Good Corporate Tidak Berpengaruh Tehadap
Novi Theresia Governance Terhadap Pencegahan Kecurangan, Sedangkan
Kiak (Juni 2022) Pencegahan Fraud Pada Tata Kelola Perusahan Yang Baik
Bank Di Kota Kupang Secara Parsial Berpengaruh Terhadap
Pencegahan Kecurangan. Dan Simultan
Pengendalian Internal Dan Tata Kelola
Perusahan Yang Baik Berpengaruh
Pada Bank Di Kota Kupang.
4 Ferdi Okta Pengaruh Ssistem Menunjukan Bahwa Terdapat Pengaruh
Rahmadi, Popi Pengendalian internal, Good Yang Signifikan Antara Good
Fauziati, Corporate Governace Dan Corporate Governance Dan
Nurhuda. (2022) Whsteblwing System Whistleblowing System Terhadap
Terhadap Pencegahan Fraud Pencegahan Fraud Pada Bank BRI,
Bank Jambi, Bank Kerici, Dan JNT
Dan JNE Express Di Kota Sungai
Penuh. System Pengendalian internal
tidak berpengaruh terhadap pencegahan
fraud Pada Bank BRI, Bank Jambi,
Bank Kerici, Dan JNT Dan JNE
Express Di Kota Sungai Penuh.
5 M Fahmullah, Pengaruh Pengendalian Menunjukan Bahwa Pengendalian
Fauzal Farochi, Intenal dan Good Corporate Internal Berpengaruh Terhadap
Arief Himmawan Governance Terhadap Pencegahan Fraud, Good Cororate
, Dwi Nugroho. Pencegahan Fraud Governance Berpengaruh Terhadap
(2022) Pencegahan Fraud
6 Dewi Sartikah Pengaruh Internal Audit Hasil Dari Penelitian Ini Menunjukkan
Putri Harahap Dan Whistleblowing Bahwa Audit Internal Dan
1* , Nasrizal 2 , System Terhadap Whistleblowing System Berpengaruh
Dan Novita Pencegahan Fraud Dengan Terhadap Pencegahan Kecurangan Dan
Indrawati 3 , Siti Moralitas Individu Sebagai Moralitas Individu Memoderasi
Hanifa Sandri 4 Variabel Moderator (Studi Hubungan Antara Audit Internal Dan
(, Juni 2022) Empiris Pada Bank Whistleblowing System Terhadap

30
No Peneliti dan Judul Penelitian Hasil dan Pembahasan
Tahun
Perkreditan Rakyat Di Pencegahan Kecurangan.
Provinsi Riau)
7 Agus Budi Pengaruh Pengendalian Hasil penelitian ini adalah
Hartono, Arief Intenal terhadap pencegahan Pengendalian Internal dan Good
Himmarwan, Dwi Fraud dengan intervening Corporate Governance memiliki
Nugroho (2022) Good Corporate pengaruh signifikasi terhadap
Governance pencegahan fraud dan pengendalian
memiliki pengaruh signifikasi teradap
good Corporate Governance.
8 Dennyca Pengaruh Pengendalian Hasil penelitian menunjukan bahwa
Hendryanto Internal dan Good variabel pengnedalian internal dan
Nugroho, Zaenal Corporate Governance good corporate governance
Afiti (2022) terhadap Pencegahan Fraud berpengaruh terhadap pencegahan
fraud, variabel pengendalian internal
berpengaruh terhadap good corporate
governance.
9 Megawari & Pengaruh pengendalian Hasil penelitian menunjukan bahwa
Reskino (2023) internal, Whistleblowing pengnedalian internal, Whistleblowing
System dan komitmen System, komitmen organisasi dan
organisasi terhadap moralitas individu berpengaruh
pencegahan kecurangan terhadap pemcegahan kecurangan.
dengan moralitas individu Sedangkan moralitas individu mampu
sebagai variabel moderasi memoderasi pengnedalian internal,
Whistleblowing System dan komitmen
organisasi terhadap pencegahan
kecurangan. Sedangkan besarnya
pencegahan kecurangan dapat
dijelaskan dari adanya pengendalian
internal, Whistleblowing System
system dan komitmen organisasi, serta
efek moderasi moralitas individu
sebesar 81.2%
10 Komang Sri Moralitas Individu Sebagai Hasil menunjukan bahwa variabel tata
Widiantari, Ni Pemoderasi Pengaruh kelola erusahan yang baik dan
kadek Diah Ynita Penerapan Good Corporate pengendalian internal berpengaruh
Bella (2023) Governance dn positif, efek pada pencegahan fraud dan
Pengendalian Internal moralitas individu mampu memperkuat
terhadap Pencegahan Fraud hubungan antara tata kelola perusahan
pada badan Pengelola yang baik dan pengendalian internal
Kueangan dan Aset Daerah terhadap pencegahan fraud
kabupaten bandung

2.3 Pengembangan Hipotesis


2.3.1 Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud
Sistem pengendalian internal merupakan suatu proses berkaitan dengan
prosedur yang dirancang dan dilaksanakan untuk mencegah terjadinya fraud
(Tuanakotta, 2013). Sujana et al., (2020) menyatakan semakin kuat sistem
pengendalian internal maka dapat mencegah atau mengurangi terjadinya fraud,

31
begitupun sebaliknya jika pengendalian internal lemah maka kecenderungan
terjadinya fraud semakin meningkat.
Berdasarkan fraud diamond theory, salah satu faktor pemicu terjadinya
kecurangan yaitu adanya kesempatan (opportunity). Berkaitan dengan teori
fraud diamond theory maka sistem pengendalian internal di organisasi yang lemah
akan memberikan peluang atau kesempatan bagi pelaku untuk melakukan
tindakan kecurangan. Menurut Ardiana & Sugianto (2020) melemahnya sistem
pengendalian internal menyebabkan terjadinya Fraud. Selaras dengan hal tersebut
Armelia & Wahyuni (2020) menyatakan adanya kesempatan untuk melakukan
tindakan fraud dapat meningkatkan niat seseorang untuk melakukan tindakan
fraud tersebut.
Islamiyah et al., (2020) dalam penelitiannya menemukan bahwa
sistem pengendalian internal memiliki pengaruh positif signifikan
terhadap pencegahan fraud. Hasil ini didukung oleh penelitian Romadaniati et al.,
(2020), Sujana et al., (2020) dan Ariastuti et al., (2020) yang menunjukkan sistem
pengendalian internal berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan.
Merujuk dari konsep, teori dan hasil penelitian maka dihipotesiskan sebagai
berikut:
H1: Sistem Pengendalian Internal berpengaruh positif terhadap pencegahan
fraud
2.3.2 Pengaruh Whistleblowing System Terhadap Pencegahan Fraud
Fraud dapat dicegah dengan Whistleblowing system, karena
Whistleblowing System meupakan mekannisme penyampaian pengaduan tindak
pidana korupsi yang telah terjadi atau yang akan terjadi yang secara langsung
melibatkan karyawan dan orang lain terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi
yang dilakukan dalam lingkugan orgnisasi tempat mereka bekerja. (Larasati, et
all;2017). Penelitian Agusyani, et All(2016), Akbar (2020) dan Anandya (2020)
menyatakan bahwa Whistleblowing System berpengaruh terhadap pencegahan
kecurangan. Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan Hipotesis sebagi
berikut.
H2 : Whistleblowing System Berpengaruh positif Terhadap Pencegahan
Fraud

32
2.3.3 Pengaruh Good Corporte Governance Terhadap Pencegahan Fraud
Fraud Diamod Theory menjelaskan fraud dapat terjadi ketika terjadi
situasi dengan tekanan tinggi dan terdapat kesempatan serta didukung dengan
individu yang berintegritas rendah. Albrecht (2004) menyatakan bahwa factor
keinginan untuk mencari keuntungan untuk pribadi merupakan motivasi bagi
seseorang untuk melakukan fraud. Prinsip Good Corporate Governance
diperlukan dalam rangka mencegah potensi fraud yang terjadi pada perusahan
maupun orgnisasi sektor public. Prinsip Good Corporate Governance adalah
bentuk kode etik dan prinsip lain yang digunakan untuk mencegah organisasi dari
kejahatan yang bertentangan dengan hukum (Soleman 2013). Gusnardi (2011)
menemukan bahwa pengendlian internal dan Good Corporate Governance dapat
mencegah tterjadiny fraud. Hal ini berarti bahwa pencegahan fraud dapat
dilakukan organisasi apabila diterapkan Good Corporat Governance dalam
perusahan.
Zyen (2012) menyatakan bahwa penerapan Good Corporate Governance
dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keuangan dan dapat
memperkecil terjadinya kecurangan. Janah (2016) menyatakan bahwa Penerapan
Good Corporate Governance yang sangat baik dapat mencegah terjaddinya fraud.
Berdasarkan uraiaan di atas maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Good Corporate Governance berpengaruh positif terhadap Pencegahan
Fraud
2.3.4. Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan
Kecurangan yang Dimoderasi oleh Moralitas Individu
Pengendalian internal pada dasarnya merupakan sebuah proses yang
melibatkan Sumber Daya Manusia (SDM) pada suatu perusahaan yang
direncanakan untuk membantu mengefektifkan dan mengefisiensikan segala aspek
yang dapat menunjang kelancaran perusahaan. Dalam mencegah terjadinya
kecurangan laporan keuangan, perusahaan harus mempunyai pengendalian
internal yang baik di dalamnya. Adanya moralitas yang tinggi oleh karyawan
membuat peranan dari pengendalian internal lebih efektif sehingga dapat
digunakan sebagai alat untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber

33
daya yang ada di perusahaan (Carmenita, 2017). Berdasarkan penjelasan diatas
maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H4 : Moralitas Individu Mampu Memperkuat Pengaruh Sistem
Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud
2.3.5. Whistleblowing System berpengaruh Terhadap Pencegahan
Kecurangan yang Dimoderasi oleh Moralitas Individu
Whistleblowing System menjadi sarana bagi pelapor untuk dapat
melaporkan faktafakta yang terjadi terkait hal-hal yang mencurigakan dan
menyimpang, melanggar hukum, adanya ketidakpatuhan terhadap undang-
undang, tindakan kriminal, serta berbagai tindakan yang menutup-nutupi
perbuatan yang tidak benar. Semakin tinggi moralitas individu maka akan
semakin aktif peran dan kesadaran mereka untuk melaporkan segala bentuk
indikasi yang mengarah pada kecurangan dalam setiap kegiatan operasionalnya
(Wiyawati dan sari 2017). Hal ini diharapkan dapat meminimalisir berbagai
kecurangan yang mungkin akan terjadi. Berdasarkan penjelasan diatas maka
dirumuskan hopotesis sebagai berikut.
H5 : Moralitas Individu Mampu Memperkuat Pengaruh Whistleblowing
System Terhadap Pencegahan Fraud
2.3.6. Moralitas Individu Mampu Memoderasi Good Corporate Governance
Terhadap Pencegahan Fraud
Adanya pengawasan yang tinggi terhadap good corporate governance
dapat meningkatkan kinerja perusahan, tujuan perusahan dapat berjalan dengan
baik sertadapat mencegah terjadinya konflik kepentingan dalam perusahan antara
principal dan agen sehingga pencegahan kecurangan (fraud) juga dapat dicegah
dengan baik, Kusmayadi (2015). Dalam upaya meningkatkan tata kelola
perusahan yang baik seseorang karyawan perlu memiliki sikap patuh terhadap
aturan yang berlaku dalam perusahan. Memalui sikap moralitas yang tinggi, akan
semakin kuat seorang individu untuk menjalankan tugasnya sesuai tujuan
organisasi dan akan mengurangi kecurangan. Berdasarkan pernyataan diatas maka
dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H6 : Moralitas Individu Mampu memperkuat Pengaruh Good Corporate
Govrnance terhadap Pencegahan Fraud

34
35
2.4 Model Penelitian

Sistem Pengendalian
Internal (X1)
H1

Whistleblowing system Pencegahan Fraud


H2
(X2) (Y)

H3
Good Corporate
Governance ( X3)

H4 H5 H6

Moralitas Individu
(Z)

Gambar 2.1 Model Penelitian

36
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data kuantitatif
merupakan data yang berbentuk angka (Gani & Amalia, 2018).Penelitian
asosiatif/kuantitatif, berperan untuk menguji hubungan antar variabel yang telah
ditetapkan oleh peneliti. Penelitian ini menguji hubungan sistem pengendalian
internal, Whistleblowing System dan good corporate governance sebagai variabel
bebas, pencegahan fraud sebagai variabel terikat dan moralitass individu sebagai
variabel moderasi.
Sumber data pada penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang
didapatkan dari sumber pertama melalui kuesioner yang dibagikan kepada
responden (Sarwono, 2006). Menurut Indrianto & Supomo (1999) data primer
merupakan data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti melalui sumbernya
sesuai dengan objek penelitian.
3.2 Objek dan Lokasi Penelitian
Objek dari penelitian ini adalah pengaruh Sistem Pengendalian Internal,
Whistleblowing System dan Good Corporate Governance terhadap pencegahan
Fraud dengan Moralitas Individu sebagai variabel Moderasi dengan lokasi
Penelitian yaitu pada Bank di kota Ambon.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi adalah semua dari subjek atau objek yang akan menjadi sasaran
penelitian, serta memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti.
Populasi pada penelitian ini terdiri dari 5 Bank yaitu : BNI, BRI, BTN, Bank
Mandiri dan BPD Maluku di kota Ambon.
3.3.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti. Sampel
dalam penelitian ini yaitu sebanyak 50 karyawan dengan teknik sampling yang
digunakan adalah pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling
dengan kriteria :
1. Karyawan tetap dengan rentang lama bekerja > 2 tahun.

37
2. Karyawan tetap yang bekerja sebagai staf divisi bank, mulai dari Teller,
Customer Service (CS), Staf operasional bank hingga supervisor, dll yang
mengetahui tentang Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System
Good Corporate Governance.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang
diperoleh langsung dari sumbernya. Data yang digunakan berupa opini dari
subyek penelitian yang dikumpulkan dengan mengunakan metode survei yaitu
melalui kuesioner.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan personally
administered questionnaires (kuesioner secara personal) yang artinya peneliti
dapat berhubungan langsung dengan responden dan memberikan penjelasan
seperlunya tentang kuesioner dan dapat langsung dikumpulkan setelah
selesai dijawab oleh responden (Indriantoro & Supomo, 2009:154). Demi
menghindari kuesioner yang tidak kembali maka peneliti yang akan mengantarkan
kuesioner kepada responden dan akan diambil kembali jika kuesioner sudah
selesai diisi sesuai waktu yang telah disepakati.
3.5 Definisi dan Pengukuran Variabel
Peneliti mengembangkan kuesioner dengan cara mengadopsi dari
penelitian sebelumnya dan juga mengembangkan sendiri mengacu pada indikator
teori yang ada. Kuesioner yang digunakan akan mengukur satu variabel
dependen ,tiga variabel independen dan satu variabel moderasi sesuai model
penelitian yang telah ditetapkan. Skala yang digunakan untuk pengukuran adalah
skala likert yang dinyatakan dengan rentang angka 1 sampai dengan angka 5.
[Link] Terikat (Dependen)
Variabel Dependen (Y) merupakan variabel yang dipengaruhi yang
menjadi akibat adanya variabel independen (Sugiyono, 2012). Variabel dependen
dalam penelitian ini adalah pencegahan fraud pada bank. Pencegahan kecurangan
dalam bank merupakan usaha untuk meminimalisir sebab-sebab timbulnya
kecurangan yang ditimbulka. Pencegahan terjadinya fraud akan lebih mudah
daripada mengatasi fraud yang telah terjadi. Variabael dependen dalam pemelitian
ini adalah Pencegahan Fraud.

38
[Link] Tidak Terikat (Independen)
Variabel Independen (X) dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel,
yaitu Sistem pengendalian internal, Whistleblowing System, good corporate
governance. diukur dengan skala likert skor 1-5.
c. Variabel Moderasi
Variabel Moderasi (Z) dapat disebut sebagai variabel perantara yang
dapat meghubungkan antara variabel X dan variabel Y denga menunnjukan kuat
atau lemahnya hubungan antara variabel-variabel tersebut. Variabel Moderasi
dalam Penelitian ini adalah Moralitas Individu.
Tabel 3.1
Defenisi dan Pengukuran Variabel
Variabel Definisi Variabel Indikator Skala
Sistem Sistem pengendalian internal Menurut COSO (2017:18) Skala
pengendalian merupakan perencanaan meliputi  Lingkungan Likert
internal metode, alat, struktur organisasi pengendalian 5 Point
(X1) yang dikoordinasikan untuk  Penilaian resiko
meningkatkan kepatuhan terhadap  Kegiatan
kebijakan dilakukan oleh pengendalian
manajemen (Pratolo et al.,2016)  Informasi
komunikasi
 Kegiatan
pengawasan
Whistleblowing Whistleblowing System Menurut KNKG (2008) Skala
System (X2) merupakan mekanisme yang  Aspek Struktual Likert
digunakan untuk melaporkan  Aspek Operasional 5 Point
segala bentuk tindakan  Aspek perawatan
kecurangan (Mahdi & Darwis,
2020)
Good Corporate Good Corporate Governance Menurut KNKG (2004) Skala
Governance adalah seperangkat aturan yang  Transparansi Likert
(X3) mengatur hubungan antara pihak-  Akuntabilitas 5 Point
pihak yang berkepentingan demi  Resposibilitas
tercapainya tujuan sebuah  Independensi
perusahan atau instansi.  Kewajaran
Pencegahan Suatu sistem dengan prosedur Menurut Theodorus Skala
Fraud (Y) yang secara khusus diarahkan,  Korupsi Likert
dirancang dan diimplementasikan  Penyalahgunaan Aset 5 Point
untuk tujuan utama yaitu  Fraud atas Laporan
mencegah dan menghambat
terjadinya kecurangan. Theodorus
M.. Tuanakota (2012; 277)
Moralitas Menurut Lestari & Ayu (2021) Menurut Fathia & Indrani Skala
Individu (Z) Moralitas Indivdu yaitu sifat (2022) Likert
moral yang ada pada setiap orang  Kepatuhan dan 5 Point
mengenai baik buruknya perbuaan Hukuman
atau tingkah laku yang  Individualisme
dikerjakannya  Kesesuaian antar
pribadi
 Keselarasan Sosial

39
Variabel Definisi Variabel Indikator Skala
 Utilitas Sosial
 Prinsip Etika
Universal

3.6. Uji Kualitas Data


3.6.1. Statistik Deskriptif
Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner penelitian akan diperiksa
kebenarannya. Setelah data tersebut diuji kebenarannya selanjutnya akan dianalisis
menggunakan statistik diskriptif dalam bentuk tabulasi numerik atau grafik
sehingga dapat mudah dipahami dan diintepretasikan (Ghozali, 2018). Selain itu
menurut Gani & Amalia (2018) statistik deskritif dapat memformulasikan data
ke bentuk tabel yang bertujuan memudahkan dalam menganalisis data.
Deskripsi data dilakukan pada variabel-variabel yang akan diuji, terdiri dari
variabel dependen yaitu Pencegahan fraud (PF) dan variabel independen yaitu
Sistem Pengendalian Internal (X1), Whistleblowing System (X2), dan
Good Corporate Governance (X3) untuk menentukan skor maksimum, skor
minimum, mean dan standar deviasi dan disajikan dalam bentuk tabel
menggunakan software SPSS. Sedangkan statistik deskriptif responden terdiri
dari jenis kelamin, jabatan dan usia responden.
3.6.2. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang
dirancang dalam bentuk kuesioner dapat menjalankan fungsinya sebagai alat
ukur yang mengukur dengan benar dan nyata. Alat ukur yang tidak valid akan
memberikan informasi yang tidak benar dan kesimpulannya menjadi bias
(Siyoto & Sodik, 2015).
3.6.3. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas menurut Abdullah (2015) reliabilitas mengukur
konsistensi sejauh mana alat ukur dapat digunakan secara berulang. Data
dinyatakan reliable jika dapat mengukur variabel (Gani & Amelia,2018).Uji
reabilitas dilakukan dengan menggunakan metode cronbach's alpha. Jika
cronbach’s alpha > 0,70 maka instrumen penelitian dinyatakan reliabel (Ghozali,
2018).
3.6.4. Uji Asumsi Klasik

40
[Link]. Uji Normalitas
Bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan
variabel independen mempunyai distribusi normal atau tidak. Metode yang
digunakan adalah dengan menggunakan One-Sample Kolgomorov-Smirnov. Hasil
uji Kolmogorov-Smirnov dalam penelitian ini diperoleh nilai A symp. Sig. (2-
tailed) 0,452 yang lebih besar dari 0,05. Hal itu berarti residual data
berdistribusi normal.
[Link]. Uji Multikolinieritas
Bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi
antar variabel bebas (Ghozali, 2016:103). Untuk menguji ada tidaknya
multikolinieritas dapat digunakan nilai tolerance atau variance factor (VIF).
[Link]. Uji Heteroskedastisitas
Bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah regresi terjadi
ketidaksamaan varian pada residual dari satu pengamatan lainnya (Ghozali,
2016:134). Cara untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat diketahui
dengan menggunakan uji statistik Glejser. Model regresi tidak mengandung
adanya heteroskedastisitas bila nilai signifikansi variabel bebasnya terhadap nilai
absolute residual statistic di atas α = 0,05. Uji statistik Glejser diperoleh nilai
signifikansi variabel akuntabilitas sebesar 0,088, dan kompetensi SDM sebesar
0,282, semua nilai sig pada kedua variabel bebas lebih besar dari 0,05. Hal ini
berarti model regresi tersebut tidak mengandung gejala heteroskedastisitas.
3.6.5 Analisis Regresi Linear Berganda
Menurut Ghozali (2018) Analisis regresi menunjukkan arah hubungan antara
variabel dependen dan variabel independen. Alat analisis digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui
pengaruh atau hubungan antara variabel bebas yaitu : Sistem pengendalian internal
(X1), Whistleblowing System (X2), Good Corporate Governance (X3) terhadap
variabel terikat yaitu pencegahan fraud (Y) pada bank di kota Ambon. Perhitungan
statistik dalam Moderated Regression analisis nantinya akan dibantu
menggunakan program SPSS.

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

41
Keterangan :
Y : Pencegahan Fraud
a : Konstanta
b : Koefisien Regresi
X1 : Sistem Pengendalian Internal
X2 : Whistleblowing System
X3 : Good Corporate Governance
Z : Moralitas Individu
e : Error Term

3.6.6 Moderated Regression Analysis (MRA)


Tujuan analisis regresi moderasi adalah untuk mengetahui apakah variabel
moderasi akan memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel
independen terhadap variabel dependen. Dalam analisis regtresi moderasi, semua
asumsi analisi berlaku, artinya asumsi-asumsi dalam regresi moderasi sama
dengan asumsi-asumsi dalam analisis regresi berganda (Imam Ghozali, 2011 ;
229). Model regresi moderasi adalah sebagai berikut

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4(X1.Z) + b5 (X2..Z) + b6(X3.Z) + e

Keterangan :
Y : Pencegahan Fraud
a : Konstanta
b : Koefisien Regresi
X1 : Sistem Pengendalian Internal
X2 : Whistleblowing System
X3 : Good Corporate Governance
Z : Moralitas Individu
(X1.Z) : Moderasi Sistem Pengendalian Internal terhadap
Pencegahan Fraud
(X2.Z) : Moderasi Whistleblowing Ssytem terhadap Pencegahan
Fraud
(X3.Z) : Moderasi Good Corporate Governance terhadap
Pencegahan Fraud
b1, b2, b3, b4, b5, b6 : Koefisien
e : Error Term

42
3.7. Uji Hipotesis
3.7.1. Uji t
Uji t menunjukan bagaimana variabel independen terhadap variabel
dependen (Ghozali, 2018). Dasar pengembalian keputusan jika nilai signifikasi
yang dihasilkan menunjukan nilai probabilitas <0,05 maka hipotesis diterima dan
dapat disimpulkan bahwa variabel independen berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen (Latan & Temalagi, 2012)
3.7.2. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji R2 bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model
dalam menjelaskan variabel- variabel dependen pencegahan fraud. Jika nilai
kurang dari satu atau mendekati satu berarti variabel independen menjelaskan
dengan sangat terbatas, begitupun sebaliknya jika R² nilainya satu artinya variabel
independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan (Ghozali, 2016).

43
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum dan Objek Penelitian
4.1.1. Tepat dan Waktu Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada empat bank

diantaranya, Bank BRI, BTN, BNI, Mandiri dan Bank Maluku. Sampel yang

digunakan pada penelitian itu yaitu sebanyak 50 karyawan dengan masing-masing

10 karyawan pada tiap bank. Dan telah memenuhi krtiteria-kriteria pada teknik

pengambilan sampel yaitu pruposif sampling. Yang berpartisipasi dalam

pengisian kuesioner penelitian ini adalah karyawan tetap dengan jabatan Teller,

Customer Servicce (CS), Staf Operasional Bank dll yang memiliki rentang lama

bekerja > 2 tahun.

Adapun kuesioner yang disebar adalah sebanya 50 buah kuesioner. Dari

keseluruhan kuesioner yang disebar, jumlah kuesoner yang dapat diolah sebanyak

37 kuesioner. Kuesioner yang tidak kembali sebanyak 13 kuesioner.

Tabel 4.1.
Data Sampel Penelitian
No Keterangan Jumla Presentase
h
1 Kuesioner yang disebar 50 100%
2 Kuesioner yang kembali 37 74%
3 Kuesioner yang tidak kembali 13 26%

4.1.2. Profil Responden


Responden dalam penelitian ini adalah Bank Officce, Accounting Staff,

Frontliner, Admin Staff, Business Control, Customer Service, Teller. Staff

Administasi, Auditor, Administratif Assistant, Administrasi, Account Officer,

Account Manager, Funding Staff, Brunch Comerccial Risk Head and Account

44
Staff. Berikut ini adalah deskripsi mengenai indentitas responden penelitian

berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, jabatan dan lama bekerja

a) Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel berikut ini menyajikan hasil uji deskripsi responden

berdasrakan jenis kelamin

Tabel 4.2
Hasil Uji Deskriptif Berdasaran Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Vali Laki-Laki 19 51.4 51.4 51.4
d Perempuan 18 48.6 48.6 100.0
Total 37 100.0 100.0
Sumber: Output SPSS

b) Deskriptif Responden Berdasarkan Usia


Tabel berikut ini menyajikan hasil uji deskriptif responden
berdasarkan usia

Tabel 4.3
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Usia
Usia
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Vali 20-30 Tahun 16 43.2 43.2 43.2
d 31-40 Tahun 15 40.5 40.5 83.8
41-50 Tahun 6 16.2 16.2 100.0
Total 37 100.0 100.0
Sumber: Output SPSS

c) Deskriptif Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir


Tabel berikut ini menyajikan hasil uji deskriptif responden
berdasarkan pendidikan terakhir.

45
Tabel 4.4
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Terakihr
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Vali Diploma 5 13.5 13.5 13.5
d Strata 32 86.5 86.5 100.0
1/Sarjana
Total 37 100.0 100.0
Sumber: Output SPSS

d) Deskriptif Responden Berdasarkan Jabatan


Tabel berikut ini menyajikan hasil uji deskriptif responden
berdasarkan jabatan

Tabel 4.5
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jabatan
Jabatan
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Vali Bank Office 10 27.0 27.0 27.0
d Accounting Staff 2 5.4 5.4 32.4
Frontliner 1 2.7 2.7 35.1
Admin Staff 2 5.4 5.4 40.5
Customer Services 3 8.1 8.1 48.6
Teller 4 10.8 10.8 59.5
Staff Administrasi 3 8.1 8.1 67.6
Auditor 4 10.8 10.8 78.4
Administratif Assisant 1 2.7 2.7 81.1
Administrasi 1 2.7 2.7 83.8
Account Officer 1 2.7 2.7 86.5
Account Manager 2 5.4 5.4 91.9
Funding Staff 1 2.7 2.7 94.6
Brunch Comercial Risk 1 2.7 2.7 97.3
Head
Account Staff 1 2.7 2.7 100.0
Total 37 100.0 100.0
Sumber: Output SPSS

46
e) Deskriptif Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Tabel Berikut ini menyajikan hasil uji deskriptif responden
berdasarkan lama bekerja

Tabel 4.6
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Lama Bekerja
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Vali 2-5 Tahun 14 37.8 37.8 37.8
d 6-10 Tahun 13 35.1 35.1 73.0
>10 Tahun 10 27.0 27.0 100.0
Total 37 100.0 100.0
Sumber: Output SPSS

4.2. Hasil Uji Instrumen Penelitian


4.2.1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Tabel 4.7
Hasil Uji Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Sistem Pengendalian
37 38.00 50.00 47.0000 3.68179
Internal
Whistleblowing System 37 11.00 15.00 13.8919 1.24239
Good Corporate
37 35.00 50.00 47.5676 4.87363
Governance
Pencegahan Fraud 37 6.00 12.00 8.7568 1.93513
Moralitas Individu 37 22.00 30.00 28.7297 2.44550
Valid N (listwise) 37
Sumber: Output SPSS

Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif diatas dapat dijelaskan bahwa

distribusi data yan didapat oleh peneliti adalah

1. Variabel (X1) Sistem Pengendalian Internal, berdasarkan tabel diatas

dapat dijelaskan bahwa nilai minimum 38,00, nilai maximum 50,00, mean

sebesar 47,000 dan standar deviasi 3,68179

47
2. Variabel (X2) Whistleblowing System, berdasarkan tabel diatas, dapat

dijelaskan bahwa, niali minimum 11,00, nilai maximum 15,00, mean

13,8378 dan standar deviasi 1,14294.

3. Variabel (X3) Good Corporate Governnce, berdasarkan tabel diatas dapat

dijelaskan bahwa nilai minimum 35,00, nilai maximum 50,00, mean

47,5676 dan standar deviasi 4,87363

4. Variabel (Y) Pencegahan Fraud, berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan

bahwa, nilai minimum 6,00, nilai maximum 12,00, mean 8.7568 dan

standar deviasi 1.93513

5. Variabel (Z) Moderasi Moralitas Individu, berdasarkan tabel diatas dapat

dijelaskan bahwa nilai minimum 22,00, nilai maximum 30,00, mean

28,7297 dan standar deviasi 2,44550

4.2.2. Hasil Uji Kualitas Data

[Link]. Hasil Uji Validitas

Tujuan dari uji validitas adalah untuk menentukan reliabilitas kuesioner.

Tes ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Corelation, yang menetapkan

ambang batas di mana model dianggap valid. Jika ambang batas ini terpenuhi,

item pertanyaan dianggap valid. Untuk mengetahui item pernyataan itu valid

dengan melihat corrected item total corelation. Apabila item pernyataan

mempunyai nilai r hitung > nilai r tabel, maka dapat dikatakan valid. Pada

penelitian ini jumlah sampel (n) 37 responden dan besarnya (df = n - 2) = 37-2=

35. Dengan demikian didapat nilai tabel r = 0,3246. Item pernyataan dikatakan

valid jika mempunya r hitung lebih besar dari 0,3246

48
Berikut adalah rincian tabel hasil uji validitas untuk setiap variabel yang

digunakan dalam penelitian ini:

1) Uji Validitas Variabel X1 Sistem Pengendalian Internal

Berikut ini adalah hasil pegujian validitas variabel Sistem Pengendalian

Internal dalam tabel di bawah ini

Tabel 4.8
Hasil Uji Validitas Sistem Pengendalian Internal
No Butir Pearson Tabel r Sig (2- Keteragan
Pernyataa Correlation Tailed)
n
1 X1.1 0.801** 0,3246 0.000 Valid
2 X1.2 0.573** 0,3246 0.000 Valid
3 X1.3 0.684** 0,3246 0.000 Valid
4 X1.4 0.866** 0,3246 0.000 Valid
5 X1.5 0.810** 0,3246 0.000 Valid
6 X1.6 0.751** 0,3246 0.000 Valid
7 X17 0.866** 0,3246 0.000 Valid
8 X1.8 0.763** 0,3246 0.000 Valid
9 X1.9 0.781** 0,3246 0.000 Valid
10 X1.10 0.810** 0,3246 0.000 Valid
Sumber: Output SPSS

Dari Tabel 4.8 diatas menunjukan bahwa Variabel Sistem

Pengendalian Internal mempunyai kriteria Valid untuk semua item

pernyataan dengan nilai signifikansi dibawah 0.05. maka dapat

disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk variabel Sitem

pengendalian Internal adalah valid.

2) Uji Validitas Variabel X2 Whistleblowing System

Berikut ini adalah hasil pengujian validitas variabel Wistleblowing System

dalam tabel 4.9 berikut.

49
Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Whistleblowing System
No Butir Pearson Tabel r Sig (2- Keteragan
Pernyataa Correlation Tailed)
n
1 X2.1 0.889** 0,3246 0.000 Valid
**
2 X2.2 0.937 0,3246 0.000 Valid
**
3 X2.3 0.593 0,3246 0.000 Valid
Sumber: Output SPSS

Dari Tabel 4.9 diatas menunjukan bahwa Whistleblowing System

mempunyai kriteria Valid untuk semua item pernyataan dengan nilai

signifikansi dibawah 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa semua butir

pernyataan untuk variabel Whistleblowing System adalah valid.

3) Uji Validitas Variabel X3 Good Corporate Governance

Berikut ini adalah hasil pengujian validitas variabel Good Corporate

Governance dalam tabel 4.10 berikut.

Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Good Corporate Governance
No Butir Pearson Tabel r Sig (2- Keteragan
Pernyataa Correlation Tailed)
n
1 X3.1 0.948** 0,3246 0.000 Valid
2 X3.2 0.948** 0,3246 0.000 Valid
3 X3.3 0.958** 0,3246 0.000 Valid
4 X3.4 0.902** 0,3246 0.000 Valid
5 X3.5 0.865** 0,3246 0.000 Valid
6 X3.6 0.923** 0,3246 0.000 Valid
7 X3.7 0.916** 0,3246 0.000 Valid
8 X3.8 0.860** 0,3246 0.000 Valid
9 X3.9 0.936** 0,3246 0.000 Valid
10 X3.10 0.934** 0,3246 0.000 Valid
Sumber: Output SPSS

50
Dari Tabel 4.10 diatas menunjukan bahwa Good Corporate

Governance mempunyai kriteria Valid untuk semua item pernyataan

dengan nilai signifikansi dibawah 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa

semua butir pernyataan untuk variabel Good Corporate Governance

adalah valid.

4) Uji Validitas Variabel Y Pencegahan Fraud

Berikut ini adalah hasil pengujian validitas variabel Penceahan Fraud

dalam tabel 4.11 berikut.

Tabel 4.11
Hasil Uji Validitas Pencegahan Fraud
No Butir Pearson Tabel r Sig (2- Keteragan
Pernyataa Correlation Tailed)
n
1 Y.1 0.710** 0,3246 0.000 Valid
2 Y.2 0.773** 0,3246 0.003 Valid
3 Y.3 0.782** 0,3246 0.002 Valid
4 Y.4 0.789** 0,3246 0.000 Valid
5 Y.5 0.723** 0,3246 0.001 Valid
6 Y.6 0.743** 0,3246 0.008 Valid
Sumber: Output SPSS
Dari Tabel 4.11 diatas menunjukan bahwa Good Corporate

Governance mempunyai kriteria Valid untuk semua item pernyataan

dengan nilai signifikansi dibawah 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa

semua butir pernyataan untuk variabel Pencegahan Fraud adalah valid.

5) Uji Validitas Variabel Z Moralitas Individu

Berikut ini adalah hasil pengujian validitas variabel Moralitas Individu

tabel 4.12 berikut.

Tabel 4.12

51
Hasil Uji Validitas Moralitas Individu
No Butir Pearson Tabel r Sig (2- Keteragan
Pernyataa Correlation Tailed)
n
1 Z.1 0.919** 0,3246 0.000 Valid
2 Z.2 0.919** 0,3246 0.000 Valid
3 Z.3 0.929** 0,3246 0.000 Valid
4 Z.4 0.944** 0,3246 0.000 Valid
5 Z.5 0.947** 0,3246 0.000 Valid
6 Z.6 0.977** 0,3246 0.000 Valid
Sumber: Output SPSS

Dari Tabel 4.12 diatas menunjukan bahwa Moralitas Individu

mempunyai kriteria Valid untuk semua item pernyataan dengan nilai

signifikansi dibawah 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa semua butir

pernyataan untuk variabel Moralitas Individu adalah valid

[Link]. Hasil Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau andal

jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari

waktu ke waktu. Uji reliabilitas data dilakukan dengan menggunakan metode

Alpha Cronbach yaitu suatu instrumen dikatakan reliabl apabila memiliki koisien

keandalan reliabilitas sebesar 0.70 atau lebih. Hasil pengu7jian reliabilitas dapat

dilihat pada tabel 4.13 berikut.

Tabel 4.13
Hasil Uji Reliabilitas
N Variabel Cronbach’s N of item Keterangan
o Alpha
1 Sistem Pengendalian Internal 0.924 10 Reliabel
2 Whistleblowing System 0.743 3 Reliabel
3 Good Corporate Governnce 0.979 10 Reliabel

52
4 Pencegahan Fraud 0.724 6 Reliabel
5 Moralitas Individu 0.972 6 Reliabel
Sumber: Output SPSS
Tabel 4.13 diatas menunjukan bahwa nilai Cronbach’s allpha untuk

semua variabel lebih besar dari 0.70. sehingga dapat disimpulkan bhwa

instrumen kuesioner yang digunakan untuk menjelaskan variabel Sistem

pengendalian Internal, Whistleblowing System, Good Corporatte Governance

dan Pencegehan Fraud dapat dikatakan andal atau dapa dipercaya sebagai alat

ukur variabel.

4.3. Hasil Uji Asumsi Klasik


4.3.1. Hasil Uji Normalitas
Uji Normalitas diperlukan agar dapat melihat variabel-variabel yang

dipergunakan untuk menguji hipotesis telah terdistribusi dengan normal atau

tidak. Uji Normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan salah

satu cara yaitu Kolmogorov Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov lebih sering

digunakan karena menghaasilkan angka-angka yang lebih detail dan hasilnya

dapat dipercaya. Suatu persmaan regresi dapat dikatakan normal apabila nilai

probabilitas Kolmogorov Sminov lebih besar dari 0.05. hasil uji Kolmogorov

Smirnov dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.14
Hasil Uji Normalitas – One Sample Kolmogorov Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 37
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .93471245
Most Extreme Absolute .099
Differences Positive .099
Negative -.078
Test Statistic .099

53
Asymp. Sig. (2-tailed)c .200d
Monte Carlo Sig. (2- Sig. .459
tailed)e 99% Confidence Lower .446
Interval Bound
Upper .472
Bound
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
e. Lilliefors' method based on 10000 Monte Carlo samples with starting seed
2000000.
Sumber: Output SPSS 29 (2023)
Berdasarkan Tabel 4.14 diatas dapat dilihat signifikasi nilai Kolmogorov

Smirnov yang ditunjukan dengan asymp sig (2-tailed) dengan nilai 0,200 berada

diatas 0.05 atau 5% yaitu sebesar 0.200 atau 20%. Hal tersebut menunjukan

bahwaa data atau variabel—variabel dalam penelitian ini terdistribusi normal.

Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik P-Plot

Sumber: Output SPSS

Berdasarkan gambar 4.1 diatas membandingkan data pengamatan

dengan distribbusi yang mendekati normal, ditunjukan pada grafik P-plot.

54
Hasil uji normalitas menggunakan grafik histogram disajikan

pada gambar 4.2. berikut ini.

Gambar 4.2.
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik Histogram

Sumber: Output SPSS


4.3.2. Uji MultikolInieritas

Uji MultikolInieritas bertjuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan korelasi atau hubungan antar variabel bebas (independen). Model

regresi yang baik seharusnya tidak terjadi hubungan antar variabel bebas

(independen). Pengujian multikolInieritas dapat dilihat dari Tolerance Value atau

Variance Inflation factor (VIF), sebagai berikut

a. Jika nilai tolerance>0,10 dan VIF <10, maka dapat disimpulkan bahwa

tidak terjadi gejala multikolInieritas.

b. Jika nilai tolerance<0,10 dan VIF >10, maka dapat disimpulkan bahwa

terjadi gejala multikolInieritas.

55
Tabel 4.15
Hasil Uji Multikolonieritas
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
X1 Sistem Pengendalian Internal .740 1.351
X2 Whistleblowing System .850 1.177
X3 Good Corporate Governane .819 1.222
Z Moralitas Individu .937 1.067
Sumber : Output SPSS

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel diatas. nilai tolerance yang

menunjukan nilai yang lebih besar dari 0,10. Dimana variabel X1 Sistem

pengendalian Internal senilai 0,783, X2 Wwhistleblowing System senilai 0,858

dan X3 Good Corporate Governance seniali 0,819 dan Moralitas Individu 0,937.

Nilai VIF untuk semua variabel memiliki nilai lebih kecil dari 10, dimana variabel

X1 Sistem pengendalian Internal 1,277, variabel X2 Whistleblowing System

1,166, variabel X3 Good Corporate Governance 1,222 dan Moralitas Individu

1.067. Hal ini menunjukan bahwa tidak terdapat gejala multikolonieritas awntar

variabel independen karena semua nilai tolerance berada diatas 0,10 dan nilai VIF

lebih kecil dari 10.

4.3.3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan

menggunakan scatter plot. Apabila tidak terdapat pola yang teratur, model regresi

tersebut bebas dari masalah heteroskedastisitas. Hasil pengujian

heteroskedastisitas dengan metode scatter plot dapat dilihat pada gambar berikut.

56
Gambar 4.3.
Hasil Uji Heteroskedastisitas – Grafik Scatterplot

Sumber : Output SPSS


Hasil uji heteroskedastisitas pada gambar diatas menunjujan bahwa grafik

scatterplot antara SRESID dan ZPRED menunjukan pola penyebaran, dimana

titik-titik menyear secara acak serta tersebar diatas maupun dibawah angka 0 pada

sumbu Y. hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji Heteroskedastisitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan uji

glesjer. Uji glesjer digunakan untuk memeperkuat hasil dari grfaik scatterplot.

Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0.05, maka tidak terjadi gejala

heteroskedastisitas dan apabila nilai probabilitas lebih kecil dari 0.05, maka terjadi

gejala heteroskedastisitas. Hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

57
Tabel 4.16
Hasil Uji Heteroskedastisitas – Uji Glesjer
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -.955 2.175 -.439 .664
X1 Sistem
-.009 .029 -.059 -.294 .771
Pengendalian Internal
X2 Whistleblowing
.065 .091 .135 .716 .479
System
X3 Good Corporate
.005 .028 .035 .185 .854
Governane
a. Dependent Variable: ABS_RES
Sumber : Output SPSS

Berdasarkan hasil uji glesjer pada tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai

probabilitas variabel independen sistem pengendalian internal yaitu 0,771,

whistleblowing system 0,479 dan good corporate governance 0,854 berada diatas

nilai signifikansi 0,05, sehingga variabel dalam penelitian ini terbebas dari

heteoskedastisitas.

4.4. Hasil Uji Hipotesis

Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis H 1, H2, H3

menggunakan analisis regresi berganda dengan meregresikan variabel independen

(sistem pengendalian internal, whistleblowing system dan good corporate

goernance) terhadap variabel dependen (pencegahan fraud), sedangkan untuk

hipotesis H4, H5, H6 untuk menguji pengaruh moderasi pengendalian akuntansi

dengan menggunakan analisis regresi moderasi melalui pendekatan uji interaksi

atau Moderated Regression Analysis (MRA). Uji hipotesis ini dibantu dengan

menggunakan program SPSS.

58
4.4.1. Hasil Uji Regresi Berganda Hipotesis Penelitian H1, H2, H3

Pengujian hipotesis H 1, H2, H3 dilakukan dengan analisis regresi berganda

untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil

pengujian tersebut pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.17
Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 7.863 1.528 5.148 .000
Sistem Pengendalian
-.036 .092 -.140 2.395 .006
Internal
Whistleblowing System .091 .151 .119 2.603 .008
Good Corporate
.152 .054 .779 2.792 .009
Governance
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud
Sumber : Output SPSS

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel diatas, persamaan regresi yang


terbentuk adalah

Y = 7.863 – 0,036 + 0,091 + 0,152 + e

Persamaan diatas dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

a. Nilai konstanta sebesar 7.863 mengidentifikasikan bahwa jika variabel

independen (Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System dan

Good Corporate Governance) adalah nol (konstan) maka nilai Y

Pencegahan Fraud adalah sebesar 7.863

b. Koefisien Regresi variabel X1 (Sistem Pwengendalian Internal) sebesar -

0,036 mengindikasikan bahwa setiap kenaikan satu satuan maka variabel

Pencegahan Fraud akan menurun sebesar 0,036.

c. Koefisien Regresi variabel X2 (Whistleblowing System) sebesar 0,091

mengindikasikan bahwa setiap kenaikan satu satuan variabel

59
whistleblowing system, maka variabel pencegahan fraud akan meningkat

sebesar 0,091.

d. Koefisien Regresi variabel X3 (Good Corporate Governance) sebesar

0,152 mengindikasikan bahwa setiap kenaikan satu satuan variabel Good

Corporate Governance, maka variabel pencegahan fraud akan meningkat

sebesar 0,,152.

Hipotesis yang diajukan akan menginterpretasikan berdasarkan

hasil uji T atau uji parsial diatas. Dengan nilai t tabel yang memiliki nilai

sig = 0.05 dan df = n – k - 1 = 37 – 4 = 33, maka nilai t tabel diperoleh

2,035. Hasil interpretasi hipotesis penelitian (H 1, H2 dan H3) yang diajukan

dapat dilihat sebagai berikut

1) Sistem Pengendalian Internal berpengaruh positif terhadap pencegahan

fraud (H1)

Berdasarkan tabel 4.17 dapat dilihat bahwa variabel Sistem

Pengendalian Internal memiliki nilai t hitung sebesar 2,395 > dari t tabel

dan tingkat signifikansi 0,006 < nilai sig. 0,05, maka H 1 diterima. Hal ini

berarti sistem pengendalian internal berpengaruh terhadap pencegahan

fraud. hal ini menunjukan bahwa semakin kuat sistem pengendalian

internal, maka kecenderungan terjadinya fraud akan semakin berkurang.

2) Whistleblowing System berpengaruh terhadap pencegahan fraud (H2)

Berdasarkan tabel 4.17 di atas dapat dilihat bahwa variabel

Whistleblowing System memliki nilai t hitung sebesar 2,603 < t tabel dan

tingkat signifikansi 0,008 > nilai sig. 0,05, maka H 2 diterima. Hal ini

60
berarti whistleblowing system berpengaruh terhadap pencegahan fraud.

dengan demikian hasil penelitian ini menunjukan para karyawan memiliki

komitmen dalam melaporkan tindakan pelanggaran kecurangan.

3) Good Corporate Governance berpengaruh terhadap pencegahan fraud (H3)

Berdasarkan tabel 4.17 diatas dapat dilihat bahwa variabel good

corporate governance memiliki nilai t hitung sebesar 2.792 > t tabel dan

nilai signifikansi 0,009 < nilai sig. 0,05, maka H3 diterima. Hal ini berarti

good corporate governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap

pencegahan fraud. dengan demikian semakin tinggi penerapan good

cororate governance maka dapat memperkecil peluang dan mencegah

terjadinya kecurangan atau fraud.

4.4.2. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R 2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerngkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien

determinasi adalah diantara nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil berarti kemampuan

variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel independen amat

terbatas. Nilai yang mendekati satu berarati variabel tersebut memberikan hampir

semua informasiyaang dibtuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

Tabel 4.18
Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summary
Model R R Square Adjusted R Std. Error of the
Square Estimate
a
1 .715 .511 .466 .69341
a. Predictors: (Constant), Good Corporate Governance, Whistleblowing
System, Sistem Pengendalian Internal
Sumber : Output SPSS

61
Dari output pada tabel 4.18 diatas, diketahui nilai koefisien determinasi

Adjustd R Square sebesar 0,466 atau 46,6%. Hal ini menunjukan bahwa

independen (sistem pengendalian internal, whisteblowing system dan good

corporate governance) berpengaruh terhadap pencegahan fraud sebesar 46,6%

sedangankan sisanya 53,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diketahui

dalam penelitian ini. biasa di sebut sebagai error (e)

4.4.3. Hasil Uji Regresi Moderasi atau Moderated Regression Analysis (MRA)

terhadap Hipotesis Penelitian H4, H5, H6

Tabel 4.19
Hasil Uji Interaksi Moderasi (MRA)
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -47.834 115.001 -.416 .681
Sistem Pengendalian
-2.719 2.938 -5.172 -.925 .363
Internal
Whistleblowing System 4.242 4.504 2.723 .942 .354
Good Corporate
2.301 2.494 5.796 .923 .364
Governance
Moralitas Individu 2.269 4.710 2.868 .482 .044
X1.Z .105 .104 10.849 3.016 .011
X2.Z -.161 .159 -4.645 2.114 .032
X3.Z -.093 .096 -11.296 2.063 .010
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud
Sumber : Output SPSS

Dari tabel 4.19 diatas maka persamaan regresi yanng terbentuk dari uji ini

adalah :

Y = 47,834 – 2,719 X1 + 4,242 X2 + 2,301 X3 + 2,269 Z + 0,105 X1Z + 0,161

X2.Z + 0,093 X3.Z + e

Keterangan :

Y = Pencegahan Fraud
X1 = Sistem Pengendalian Internal

62
X2 = Whistleblowing System
X3 = Good Corporate Governance
Z = Moralitas Individu
X1.Z = Interaksi Sistem Pengendalian Internal terhadap
Moralitas Individu
X2.Z = Interaksi Whistleblowing System terhadap Moralitas
Individu
X3.Z = Interaksi Good Corporate Governance terhadap
Moralitas Individu
a = Konstanta
e = Error Term

Berdasarkan persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pada model regresi ini konstanta sebesar 47,834 menunjukan bahwa jika

variabel independen (sistem pengendalian internal, whisteblowing system

dan good corporate governance) diasumsikan dengan nol, maka

pencegahan fraud akan meningkat sebesar 47,834.

b. Nilai koefisien regresi variabel sistem pengendalian internal sebesar -

2,179, dapat diartikan bahwa ketika variabel sistem pengendalian internal

mengalami peningkatan sebesar satu satuan, maka variabel pencegahan

fraud mengalami penurunan sebesar -2,179

c. Nilai koefsien regresi variabel whisteblowing system pada penelitian ini

2,301, dapat diartikan bahwa ketika variabel good corporate governance

mengalami peningkatan sebesar satu satuan, maka variabel pencegahan

fraud mengalami peningkatansebesar 4,242

d. Nilai koefsien regresi variabel good corporate governance pada penelitian

ini 2,301, dapat diartikan bahwa ketika variabel good corporate

governance mengalami peningkatan sebesar satu satuan, maka variabel

pencegahan fraud mengalami peningkatansebesar 2,301.

63
e. Nilai koefsien regresi variabel Moralitas Individu pada penelitian ini -

2,269, dapat diartikan bahwa ketika variabel Moralitas Individu

mengalami peningkatan sebesar satu satuan, maka variabel pencegahan

fraud mengalami peningkatansebesar 2,269.

f. Nilai koefisienn regresi interaksi antara sistem pengendalian internal

dengan moralitas individu pada penelitian ini sebesar 0,105, dapat

diartikan bahwa dengan adanya interaksi antara sistem pengendalian

internal dengan moralitas individu, maka pencegahan fraud mengalami

peningkatansebesar 0,105.

g. Nilai koefisien regresi interaksi antara whisteblowing system dengan

moralitas individu pada penelitian ini sebesar -0,161, dapat diartikan

bahwa dengan adanya interaksi antara whisteblowing system dengan

moralitas individu, maka pencegahan fraud mengalami penurunan sebesar

-0,161.

h. Nilai koefisien regresi interaksi antara good corporate governance dengan

moralitas individu pada penelitian ini sebesar -0,093, dapat diartikan

bahwa dengan adanya interaksi antara good corporate governance dengan

moralitas individu, maka pencegahan fraud mengalami penurunan sebesar

-0,093.

Pembahasan terkait pengujian hipotesis yang melibatkan variabel moderasi pada

hipotesis H4,H5 dan H6 dapat dijelaskan sebagai berikut :

4). Moralitas Individu memoderasi hubungan antara sistem pengendalian

internal terhadap pencegahan fraud (H4)

64
Berdasarkan hasil uji regresi moderasi pada tabel 4.19 menunjukan

bahwa variabel moderasi X1.Z mempunyai nilai t hitungn sebesar 3,016 >

nilai tabel t (2,035) (sig. a=0,05 dan df=n-k-1, yaitu 37-4=33) dengan

tingkat signifikansi sebesar 0,011 yang lebih kecill dari 0,05, maka H 4

diterima. Hal ini menunjukan bahwa variabel moralitas individu

merupakan variabel yang mampu memperkuat hubungan variabel sistem

pengendalian internal terhadap pencegahan fraud.b dengan demikian

hipotesis (H4) yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

5). Moralitas Individu memoderasi hubungan antara whistleblowing system

terhadap pencegahan fraud (H5)

Berdasarkan hasil uji regresi moderasi pada tabel 4.19 menunjukan

bahwa variabel moderasi X1.Z mempunyai nilai t hitungn sebesar 2,114 <

nilai tabel t (2,035) (sig. a=0,05 dan df=n-k-1, yaitu 37-4=33) dengan

tingkat signifikansi sebesar 0,011 yang lebih kecill dari 0,032, maka H 4

diterima. Dengan demikian, hal ini menunjukan bahwa variabel moralitas

individu merupakan variabel yang mampu memoderasi hubungan variabel

whistleblowing system terhadap pencegahan fraud. Dengan demikian

hipotesis (H5) yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

6). Moralitas Individu memoderasi hubungan antara good corporate

govrnance terhadap pencegahan fraud (H6)

65
Berdasarkan hasil uji regresi moderasi pada tabel 4.19 menunjukan

bahwa variabel moderasi X1.Z mempunyai nilai t hitungn sebesar 2,063 >

nilai tabel t (2,035) (sig. a=0,05 dan df=n-k-1, yaitu 37-4=33) dengan

tingkat signifikansi sebesar 0,010 yang lebih kecill dari 0,05, maka H 6

[Link] demikian hal ini menunjukan bahwa variabel moralitas

individu merupakan variabel yang mampu memoderasi hubungan variabel

good corporate governance terhadap pencegahan fraud. dengan demikian

hipotesis (H6) yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

4.4.4. Hasil Uji Simultan (Uji F)

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa nilai F dan signifikansi secara

simultan adalah sebagai berikut

Tabel 4.20
Hasil Uji F (Uji Simultan)

ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 18.948 7 2.707 5.822 .000b
Residual 13.484 29 .465
Total 32.432 36
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud
b. Predictors: (Constant), X3.Z, Whistleblowing System, Sistem Pengendalian Internal, Good
Corporate Governance, X2.Z, Moralitas Individu, X1.Z

Sumber : Output SPSS

Pada tabel 4.20 diatas nilai F hitung > F tabel yaitu 5,822 > 2,89 dengan

tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa variabel sistem pengendalian

internal, whistleblowing system dan good corporate governance serta Interaksi

Sistem Pengendalian Internal terhadap Moralitas Individu, Interaksi

Whistleblowing System terhadap Moralitas Individu dan Interaksi Good Corporate

66
Governance terhadap Moralitas Individu dapat mempengaruhi secara langsung

pada pencegahan fraud.

4.4.5. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R 2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerngkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien

determinasi adalah diantara nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil berarti kemampuan

variabel moderasi dalam menjelaskan hubungan antara variabel independen

terhadap variabel dependen amat terbatas.

Tabel 4.21
Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .764 .584 .484 .68188
a. Predictors: (Constant), X3.Z, Whistleblowing System, Sistem
Pengendalian Internal, Good Corporate Governance, X2.Z, Moralitas
Individu, X1.Z

Sumber : Output SPSS


Berdasarkan hasil uji pada tabel 4.20 diatas koefisien determinasi R 2 (R

Square) sebesar 0,584. Hal ini berarti 58,4% pencegahan fraud dapat dijelaskan

oleh variabel sistem pengendalian internal, whistleblowing system dan good

corporate governance sedangkan sisanya 41,6% pencegahan fraud dapat

dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4.5. Pembahasan

4.5.1. Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud

Hipotesis H1 yang diajukan dalam penelitian ini adalah sistem pengendalian

internal berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud. berdasarkan hasil analisis

regresi berganda menunjukan bahwa hasil uji parsial (uji t) yang membuktikan

67
bahwa nilai t hitung 2,395 > 2,035 dengan tingkat signifikasi 0,006 < 0,05. Yang

menunjukan bahwa Sistem pengendalian internal berpengaruh positif dan

signifikan terhadap pencegahan fraud, dengan demikian hipotesis pertama

diterima. Artinya semakin baik sistem pengendalian internal, semakin tinggi

upaya dalam mencegah kecurangan atau fraud.

Sistem pengendalian internal merupakan kebijakan dan proses

yang dirancang untuk memberikan manajemen jaminan yang wajar bahwa

perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya. Sistem pengendalian internal

merupakan suatu proses berkaitan dengan prosedur yang dilaksanakan

untuk mencegah terjadinya fraud. Elemen opportunity dalam Fraud

diomond theory menyatakan bahwa jika pengendalian lemah, maka akan

ada kesempatanatau peluang untuk seseorang dapat melakukan tindakan

fraud, artinya bahwa semakin kuat sistem pengendalian internal maka

dapat mencegah atau mengurangi terjadinya fraud, begitupun sebaliknya

jika pengendalian internal lemah maka kecenderungan terjadinya fraud

semakin meningkat atau melemahnya sistem pengendalian internal

menyebabkan terjadinya fraud.

Sistem Pengendalian internal yang telah diteliti oleh penelitian

dalam negeri antara lain : (Tuanakotta, 2013). Sujana et al., (2020),

Adriana dan Sugiarto (2020), Armelia dan Wayhuni (2020), Islamiyah

(2020) yang berhasil membuktikan terdapat pengaruh sistem pengendalian

internal terhadap pencegahan fraud. Dengan demikian maka dalam

penelitian ini Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini

68
diterima yang berarti bahwa sistem pengendalian internal berpengaruh

terhadap pencegahan fraud.

4.5.2. Pengaruh Whistleblowing System terhadap pencegahan Fraud

Hipotesis H2 yang diajukan dalam penelitian ini adalah

Whistleblowing System berpengaruh terhadap pencegahan fraud.

berdasarkan hasil analisis regresi berganda menunjukan bahwa hasil uji

parsial (uji t) yang membuktikan bahwa nilai t hitung 1,063 > 2,035

dengan tingkat signifikasi 0,108 < 0,05. Dengan demikian.

Whistleblowing System berpengaruh positif dan signifikan terhadap

pencegahan fraud, dengan demikian hipotesis kedua diterima. Artinya

bahwa semakin tinggi komitmen karyawan dalam melaporkan tindakan

kecurangan atau fraud, maka akan berdampak pada fraud prevention.

Whistleblowing System adalah sistem pelaporaan pelanggaran,

dimana seorang karyawan yang bekerja disuatu instansi atau perusahan

dapat melaporkan tindakan pelanggaran (whistleblower) atau kecurangan

yang disebut sebagai whistleblower. Istilah Whistleblowing System

diidentikkan dengan perilaku seseorang yang melaporkan perbuatan yang

terindikasi kecurangan atau perbuatan melanggar hukum disuatu

organisasi, yang menimbulkan kerugian/ancaman. Dalam kaitannya

dengan fraud diamond theory yang menyatakan bahwa terdapat empat

elemen yang mendorong seseorang melakukan tindakan fraud diantaranya

pressure, opportunity,rasionalization and capability. Dalam penelitian ini

elemen peluang yang berkaitan dengan whistlwblowing system, artinya

69
bahwa jika terdapat peluang, maka akan ada kesempatan untuk seseorang

dapat melakukan tindakan kecurangan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Whistleblowing

system yang telah diteliti oleh Ni Putu (2020), Dewi Sartikah (2022) yang

menyatakan bahwa whistleblowing system berpengaruh terhadap

pencegahan fraud.

4.5.3. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Pencegahan Fraud

Hipotesis H 3 yang diajukan dalam penelitian ini adalah Good Corporate

Governance berpengaruh terhadap pencegahan fraud. berdasarkan hasil analisis

regresi berganda menunjukan bahwa hasil uji parsial (uji t) yang membuktikan

bahwa nilai t hitung 3,792 > 2,035 dengan tingkat signifikasi 0,009 < 0,05.

Berdasarkan hasil penelitian ini Yang menunjukan bahwa Good Corporate

Governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan fraud,

dengan demikian hipotesis ketiga diterima. Artinya semakin baik penerapan

prinsip-prinsip Good Corporate Governance maka akan semakin baik pencegahan

fraud dapat dilakukan organisasi/perusahan. Good corporate governance

dirancang untuk melindungi hak dan kepentingan para pemegang saham,

meningkatkan nilai perusahan serta efisiensi dan efektifits kinerja dewan

pengurus.

Good Corporate Governance adalah suatu sistem dan mekanisme yang

mengatur mengenai pola hubungan baik antara perusahan dan pemangku

kepentingan untuk mencapai kinerja perusahan yang semaksimal mungkin dengan

cara-cara yang tidak merugikan pemangku kepentinganya.

70
Lima prinsip dasar good corporate governance berdasarkan pedoman Bank

Indonesia yang telah diterapkan pada bank di kota Ambon, sehingga dapat

meminimalisir terjadinya fraud. primsip-prinsp tersebut yaitu transparency

(keterbukaan), perusahan secara terbuka mengungkapkan segala informasi secara

memadai, tepat waktu dan akurat, accountability (akuntabilitas), perusahan secara

jelas mengharuskan pemisahan tugas dan pelaksanaan tanggungjawab,

responsibility(pertanggungjawaban) pengelolaan perusahan sesuai prinsip

korporasi yang sehat, independency (kemandirian) perusahan mengharuskan

pengelolaannya secara profesional tanpa benturan kepentingan, fairness

(kesetaraan/kewajaran) perusahan mengharuskan pemenuhan hak-hak pemegang

saham secara adil dan setara sesuai ketentuan yang berlaku.

Hasil Penelitian mengenai Good Corporate Governance sejalan dengan

fraud diamond theory yang dikemukakan dalam penelitian Kusmayadi (2015)

yang menyatakan bahwa good coporate governance adalah suatu sistem

pengelolaan perusahan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja perusahan,

melindungi kepentingan pemangku kepentingan serta meningkatkan kepatuhan

terhadap undang-undang dan nilai etika yang berlaku. Penelitian ini juga sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oeh Sofia (2020) yang menyatakan bahwa good

corporate governance berpengaruh terhadap pencegahan fraud.

4.5.4. Moralitas Individu Memoderasi Pengaruh Sistem Pengendalian

Internal Terhadap Pencegahan Fraud

Berdasarkan hasil uji regresi moderasi/Moderated Regression Analysis

(MRA) menunjukan bahwa moralitas individu mampu memoderasi hubungan

sistem pengendalian internal terhadap pencegahan fraud pada Bank di kota

71
Ambon. Hal ini dibuktikan dengan variabel moderasi sistem pengendalian

internal_moralitas individu (X1.Z) mempunyai nilai t hitung sebesar 3,016 >

2,035 dengan tingkat signifikasi 0,011.

Sistem Pengendaian Internal pada dasarnya merupakan sebuah proses yang

melibatkan SDM pada suatu perusahan yang direncanakan untuk membantu

mengefektifkan dan mengefisiensikan segala aspek yang dapat menunjang

kelancaran perusahan. Dalam mencegah terjadinya kecurangan, perusahaan harus

mempunyai pengendalian internal yang baik di dalamnya. Dengan adanya

moralitas yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan, dapat membuat peranan dari

pengendalian internal lebih efektif sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk

mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya yang ada di perusahaan

(Carmenita, 2017).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Megawati, Reskino (2023) yang membuktkan bahwa moralitas individu mampu

memoderasi sistem pengendalian internal terhadap pencegahan kecurangan/fraud.

4.5.5. Moralitas Individu Memoderasi Pengaruh Whistleblowing System

Terhadap Pencegahan Fraud

Berdasarkan hasil uji regresi moderasi/Moderated Regression Analysis

(MRA) menunjukan bahwa moralitas individu memoderasi hubungan

whislwblowing system terhadap pencegahan fraud. Hal ini dibuktikan dengan

variabel moderasi whislwblowing system_moralitas individu (X2.Z) mempunyai

nilai t hitung sebesar 2,114 > 2,035 dengan tingkat signifikasi 0,032 < 0,05.

Whistleblowing System merupakan sarana bagi pelapor untuk dapat

melaporkan fakta-fakta yang terjadi terkait hal-hal yang mencurigakan dan

72
menyimpang, melanggar hukum, adanya ketidakpatuhan terhadap undang-

undang, tindakan kriminal, serta berbagai tindakan yang menutup-nutupi

perbuatan yang tidak benar. Dalam kaitanya dengan fraud dioamond theory, yaitu

elemen peluang/kesempatan dan kemampuan. Apabila whistleblowing system

tidak berjalan dengan dengan baik dalam organisasi/perusahan, maka akan

muncul peluang/kesempatan serta kemapuan sesorang untuk bisa melakukan

tindakan fraud. dengan adanya moralitas individu, Semakin tinggi moralitas

individu maka akan semakin aktif peran dan kesadaran mereka untuk melaporkan

segala bentuk indikasi yang mengarah pada kecurangan dalam setiap kegiatan

operasionalnya (Widyawati dan sari (2017)).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mark

(2022) Saida (2023) yang menyatakan bahwa whistleblowing system berpengaruh

dalam pencegahan fraud. hasil penelitian ini didukung juga oleh penelitian Wijaya

et all. (2022) whistleblowing system akan berdampak baik pencegahan fraud.

4.5.6. Moralitas individu Memoderasi Pengaruh Good Corporate Governance


terhadap Pencegahan Fraud
Berdasarkan hasil uji regresi moderasi/Moderated Regression Analysis

(MRA) menunjukan bahwa moralitas individu tidak memoderasi hubungan

sistem pengendalian internal terhadap pencegahan fraud. Hal ini dibuktikan

dengan variabel moderasi whislwblowing system_moralitas individu (X2.Z)

mempunyai nilai t hitung sebesar 2,063 < 2,035 dengan tingkat signifikasi 0,010 >

0,05.

Adanya pengawasan yang tinggi terhadap good corporate governance dapat

meningkatkan kinerja perusahan, tujuan perusahan dapat berjalan dengan baik

sertadapat mencegah terjadinya konflik kepentingan dalam perusahan antara

73
principal dan agen sehingga pencegahan kecurangan (fraud) juga dapat dicegah

dengan baik, Kusmayadi (2015). Dalam upaya meningkatkan tata kelola

perusahan yang baik seseorang karyawan perlu memiliki sikap patuh terhadap

aturan yang berlaku dalam perusahan. Melalui sikap moralitas yang tinggi, akan

semakin kuat seorang individu untuk menjalankan tugasnya sesuai tujuan

organisasi dan akan mengurangi terjadinya tindakan kecurangan/fraud.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa moralitas individu mampu

memperkuat good corporate governance terhadap pencegahan fraud pada Bank

di Kota Ambon. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan moralitas individu

mampu meningkatkan hubungan good corporate governance terhadap

pencegahan fraud. penelitian ini sejalan dengan fraud diamond theory yang

merupakan 4 faktor penyebab seseorang ingin melakukan kecurangan, oleh karena

itu, faktor-faktor ini memiliki hubungan dengan variabel good corporate

governance. Salah satu faktor tersebut yang menyebabkan seseorang dapat

melakukan tindakan fraud adalah Rasionalisasi, yaitu adanya sikap, karakter atau

nilai-nilai etis yang memperbolehkan pihak-pihak tertentu melakukan tindakan

fraud.. dengan adanya Moralitas individu, diyakini sebagai sikap yang mampu

mengubah pola pikir individual untuk meminimalisir terjadinya risiko

kecurangan, maka dalam penerapan fraud dioamond theory moralitas individu

dijadikan sebagai variabel yang dikhususkan untuk mengetahui pengaruh yang

ditimbulkan antar hubungan good corporate governance terhadap pencegahan

fraud.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan

oleh Fitriani (2020) menyatakan bahwa moralitas individu memoderasi hungan

74
antara good corporate governance terhadap pencegahan fraud serta penelitian

yang dilakukan oleh Isniawati (2022) yang juga menyatakan bahwa moralitas

individu memoderasi hubungan antara good corporate governance terhadap

pencegahan fraud.

75
BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan hasil

pengujian hipotesis mengenai sistem pengtendalian internal,

whistleblowing system , good corporate governance, dengan moralitas

individu sebagai moderasi, maka dpat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil anaisis regresi berganda menunjukan bahwa sistem

pengendalian internal berpengrauh positif dan signifikan terhadap

pencegahan fraud. hal ini berarti bahwa semakin baik sistem pengtendalian

internal, maka semakin tinggi kecurangan/fraud dapat dicegah

2. Berdasarkan hasil anaisis regresi berganda menunjukan whistleblowing

system berpengrauh positif dan signifikan terhadap pencegahan fraud. hal

ini berarti bahwa semakin baik whistleblowing system, maka semakin

tinggi kecurangan/fraud dapat dicegah

3. Berdasarkan hasil anaisis regresi berganda menunjukan bahwa good

corporate governance berpengrauh positif dan signifikan terhadap

pencegahan fraud. hal ini berarti bahwa semakin baik good corporate

governance, maka semakin tinggi kecurangan/fraud dapat dicegah

4. Berdasarkan hasil analisis regresi moderasi Moderatetd Regression

Analysis (MRA) menunjukan bahwa moralitas individu merupakan

variabel moderasi yang memperkuat hubungan sistem pengendalian

internal terhadap pncegahan fraud.

5. Berdasarkan hasil analisis regresi moderasi Moderatetd Regression

Analysis (MRA) menunjukan bahwa moralitas individu merupakan

76
variabel moderasi yang memperkuat whistleblowing system terhadap

pncegahan fraud.

6. Berdasarkan hasil analisis regresi moderasi Moderatetd Regression

Analysis (MRA) menunjukan bahwa moralitas individu merupakan

variabel moderasi yang memperkuat hubungan good corporate

governance terhadap pncegahan fraud.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan serta

kesimpulan yang didapat, maka saran yang dapat diberikan sebagai berikut

A). Bagi Pihak Bank

1. Meningkatkan Sistem pengendalian internal dengan memperhatikan

kegiatan pengendalian dan aktivitas pemantauan.

2. Meningkatkan whstleblowing system dengan berani melaporkan tindakan

fraud.

3. Meningkatkan good corporate governane dengan lebih meningkatkan

kebijakanbank dan aturan yang berlaku sehingga tujuan perusahan dapat

tercapai dengan baik

4. Meningkatkan moralitas individu dengan memperhatikan keinginan

karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawa sesuai SOP.

B). Bagi penelii selanjutnya agar dapat memperluas objek penelitian dan

menambah jumlah responden. tidak hanya pada Bank BUMN dan Bank Daeah

melainkan juga dapat dilakukan pada Bank Swasta, serta dapat meneliti variabel

lain yang lebih berpengaruh terhadap pencegahan fraud.

77
DAFTAR PUSTAKA
ACFE, (2020) Survei Fraud Indonesia 2019, dipetik Agunstu 12, 2020
Agusyani, Ni Kadek Siska, Edy Sujana dan made Arie Wahyuni. (2020).
Pengaruh Whistleblowing System dan Ko9mpetensi Sumber Daya
Manusia Terhadap Pencegahan Kecurangan pada Pengelolaan
Keuangan Penerimaan Pendapatan Asli daerah (Studi Pada Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten Buleleng). E-Journal s1 Ak. Vol.6 No.
3. Universitas Pendidikan Ganesha.
Akbar, Mhd Ali. (2020). Mencegah Fraud di dalam Indstri Perbankan. Scientific
Journal Of Reflection. Vol 3 No. 1 Universitas Pamulang Banten
Anandya, Candra Restalini, and Desak Nyoman Sri Werastuti.(2020) "Pengaruh
whistleblowing system, budaya organisasi dan moralitas individu
terhadap pencegahan fraud pada PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero)
Benoa Bali." Jurnal Ilmiah Akuntansi Dan Humanika 10.2
Anggoe, Megawati, and Reskino Reskino. (2023) "Pengaruh Pengendalian
Internal, Whistleblowing System, Dan Komitmen Organisasi
Terhadap Pencegahan Kecurangan Dengan Moralitas Individu
Sebagai Variabel Moderasi." Jurnal Akuntansi Trisakti 10.1: 31-50.
Apriliani, K. W. I., & Yunish, N. W. (2021). Pengaruh Kompetensi Aparatur Desa
, Moralitas Individu dan Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan
kecurangan (Fraud) dalam Pengellaan Keuangan Desa (Studi Empiris
Pada Pemerintah Desa Se-Kota Denpasar). Hita Akuntansi dan
Keuangan Universitas Hindu Indonesia.
Arens, A.A ddk (2012). Jasa Audit dan Assurance. Edisi 14 jakarta : Saemba
Empat
Ariani, K. S., Musmini, L. S., & Herawati, N. T. (2014). Analisis Pengaruh
Moralitas Individu, Asimetri Informasi dan Keefektifan pengendalian
Internal Terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi di Pdam
Kabupaten Bangli
Atik, Isniawati, Putri Afifah Salsabella, And Heningtyas Oryza Sativa. (2022): 50-
57. "Analisis Sistem Pengendalian Internal Dan Good Corporate
Governance Dalam Mencegah Kecurangan Dengan Moderasi
Moralitas Individu." Financial: Jurnal Akuntansi 8.1
Atik, Isniawati, Putri Afifah Salsabella, and Heningtyas Oryza Sativa.(2022)
"Analisis Sistem Pengendalian Internal Dan Good Corporate
Governance Dalam Mencegah Kecurangan Dengan Moderasi
Moralitas Individu." Financial: Jurnal Akuntansi 8.1: 50-57.

78
Azhari, Tiara Fitriana, Anthon Simon Y. Kerihi, and Novi Theresia Kiak. (2022)
"Pengaruh Penerapan Pengendalian Internal Dan Good Corporate
Governance Terhadap Pencegahan Fraud Pada Bank Di Kota
Kupang." Jurnal Akuntansi 10.1 (2022): 34-42.
Carmenita, J. (2017). Pengendalian Internal Untuk Mendukung Kualitas Produksi
Pada PT Angkasa Pura. Universitas Katolik Parahayangan
COSO (2013). Internal Control Integrated Framework, Committee of Sponsoring
Organization of The Tradeway Commision, Vol. 2
Cressey, D. (1953). Other peopole’s Money, dalam: “Detecting and Predicting
Financial Statement Fraud: The Effecctivenes of The Fraud : The
Effectiveness of The Fraud Triagle and SAS No.99, Skousen et al.
2009. Journal of Corporate Governance and Firm Performance, Vol.
13 h, 53-81
D. Wolfe and D. R. Hermanson, (2004) “The Fraud Diamond : Considering four
elements of fraud” The CPA journal, vol. 73 issue the 12, pp. 38-42.
Darajati, Anna Widya. 2022. Pengaruh Pengendalian Internal dan Good
Corporate Governance terhadap Pencegahan Fraud dengan
Moralitas Sevagai Variabel Moderasi pada Rumah Sakit. Diss.
Universitas Jenderal Soedirman.
Fahreza, M. B,. Nugroho, W. S., % Purwantini, A. H., (2022). Pengaruh
Kepatuhan Pelaporan Keuangan, Sitem Pengendalian Internal,
Whistleblowing System dan Kompetensi Aparatur Desa Terhadap
Pencegahan Fraud Pengelolaan Dana Desa (Studi Empiris Pada Desa
Di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purwarejo). In UMMagelang
Converence Series, 584-605
Fathia, J., & Indriani, M. (2022). Pengaruh Sistem Keuangan Desa terhadap
pencegahan Kecurangan (Fraud) Pengelolaan dana Desa Degan
Moralitas Individu Sebagai Pemoderasi (Studi di Desa
Kabupaten/Kota Provinsi Aceh)
Farochi, M. Fahmullah Fauzal, and Arief Himmawan Dwi Nugroho. (2022)
"Pengaruh Pengendalian Internal dan Good Corporate Governance
terhadap Pencegahan Fraud." Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Sains dan Humaniora 6.1: 86-92.
Fitriani, D.A (2021). Pengaruh pengendalian internal dan good corporate
governance terhadap pencegahan fraud dalam pengelolaan dana desa:
studi empiris pada di Kecamatan Tulangan, Sidorajo (Doctoral
disesertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).)
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multiariate dengan Program IBM SPSS25
Edisi 9. Semarang; Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Harahap, Dewi Sartikah Putri, et al. (2022) "The Pengaruh Internal Audit Dan
Whistleblowing System Terhadap Pencegahan Fraud Dengan
Moralitas Individu Sebagai Variabel Moderator (Studi Empiris Pada

79
Bank Perkreditan Rakyat Di Provinsi Riau)." Jurnal Akuntansi Dan
Ekonomika 12.1: 82-91.
Hartono, Agus Budi, and Arief Himmawan Dwi Nugroho. (2022). "Pengaruh
pengendalian internal terhadap pencegahan fraud dengan intervening
good corporate governance." Fair Value: Jurnal Ilmiah Akuntansi dan
Keuangan [Link] Issue 4: 1912-1920.
I Gusty Ayu Putri Yuniarty, P.R.M. (2022). Pengaruh Penegakan Peraturan,
Asimetri Informasi da Moralitas Individu terhadap Kecenderungan
Kecurangan (Studi pada Badan Usaha Milik Desa Karangasem).
JIMAT (Jurnal Imliah Mahasiswa Akuntansi)Universitas pendidikan
Ganesa
Islamiyah, F., Made., A., & Sari, A. R. (2020). Pengaruh Kompetensi Aparatur
Desa, Moralitas, Sistem Pengendalian Internal dan Whistleblowing
System terhadap Pencegahan Fraud dalam Pengelolaan Dana Desa di
Kecamatan Wajak. Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi
Jannah, S. F. (2016). Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Pencegahan
Fraud di Bank Perkreditan Rakyat (Studi Pada Bank Perkreditan
Rakyat di Surabya). Jurnal Akuntansi, 7(2),177-191
Karyono (2013), Forencic Fraud. Yogyakarta; Andi.
KNKG (2008). Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran –SPP (Whistleblowing
System- WBS). Jakarta:KNKG.
Komang C. R. A. & Desak N. Sri Werastuti. (2020) Pengaruh Whistlwblowing
System dan Moralitas Individu Terhadap Pencegahan Fraud pada PT.
Pelabuhan Indonesua III (Persero) Benoa Bali. Jurnal Ilmiah
Akuntansi dan Humanika
Komang Sri Widiantari, Ni kadek Diah Yonita Bella. (2023). Moralitas Individu
sebagai pemoderasi pengruh penerapan good corporate governance
dan pengendalian internal, terhadap pencegahan fraud pada badan
pengelola keuangan dan aset daerah kabupaten Bandung. Universitas
Pendidikan Nasional.
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). (2008) Pedoman Umum Good
Corporate Governance Indonesia
Kusmayadi, D., Rudiana, D. dan Badruzman, J. (2015). Good Co9rporate
Governance. Tasikmalaaya; LPPM Universitas Siliwangi.
Lembaga perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). (2011) memahami
Whistleblower, Jakarta; LPSK.
Lestari, I. A. M. E. & Ayu P. C. (2021). Pengaruh Moralitas Individu, Komitmen
Organisasi dan Whistleblowing System Terhadap Pencegahan
Kecurangan (Fraud) Dalam Pengelolaan Keuangan Desa (Studi
Empiris Pada Desa Di Kecamatan Mengwi). Hita Akuntansi dan
Keuangan, 2(3), 101-116

80
Maisaroh, Phuji, and Maulida Nurhidayati. (2021) "Pengaruh Komite Audit, Good
Corporate Governance dan Whistleblowing System terhadap Fraud
Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2016-2019." Etihad:
Journal of Islamic Banking and Finance 1.1: 23-36.
Marsini, N. L. Y., Sujana, E., & Wahyuni, M, A. (2019), Pengaruh Moralitas
Individu, Internal Control System dan Penegakan Hukum terhadap
kecenderungan Fraud dalam Pengelolaan Keuangan badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Buleleng. Jurnal Akuntansi
Prfesi, 10(2). 76-88
Ni Putu Yulia Paramitha, Made Pradana Adiputra (2020). Pengaruh
Whistleblowing system, godd corporate governance dan efektifitas
sistem pengendalian internal terhadap pencegahan kecurangan dalam
pengelolaan dana desa. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi.
Universitas Pendidikan Ganesa. Vol 11 No. 2 Tahun 2020
Nugroho, V. O. (2015), Pengaruuh Presepsi Karyawan Mengenai Whistleblowing
System Terhadap Pencegahan Fraud Dengan Perilaku Etis Sebagai
Varabel Intervening Pada PT Pangilaran. Skripsi Jurusan Pendidikan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
Nugroho, Dennyca Hendriyanto, and Zaenal Afifi.(2022) "Pengaruh pengendalian
internal dan good corporate governance terhadap pencegahan
fraud." Yudishtira Journal: Indonesian Journal of Finance and
Strategy Inside 2.3, 301-316.
Peby Aulia (2023). Pengaruh Whistleblowing System , Sistem Pengendalian
Internal dan Budaya Organisasi Terhadap Pencegahan Fraud.”Jurnal
Kajian Ilmiah Akunansi Fakultas Ekonomi UNTAN” Volume 1, No. 3,
Page 33-48
Romadaniati, Taufik, T., & Natsir, A. (2020). The Influence Of Vilage Aparature
Competence, Internal Control System and Whistleblowing System on
Fraud Prevention In Village Government With Individual Morality as
Moderated Variables (Study in Village In Bengkalis District). Jurnal
Ilmiah Akuntansi, 4(3), 227-237
Saida, Surya, Maslichah Maslichah, and Dewi Diah Fakhriyyah. (2023)
"Pengaruh Kepatuhan Pelaporan Keuangan, Sistem Pengendalian
Internal, Whistleblowing System, dan Good Corporate Governance
Terhadap Pencegahan Fraud Pengelolaan Dana Desa (Studi pada Desa
di Kecamatan Pandaan)." e_Jurnal Ilmiah Riset Akuntansi 12.0: 614-
624.
Sihotang, A. R. (2018), Pengaruh Persepsi Karyawan Mengenai Whistleblowing
System Dan Moralitas Individu Dan Moralitas Individu Terhadap
Pencegahan Fraud Pada Universitas Sriwijaya, Skripsi, Politeknik
Negeri Sriwijaya

81
Sofia, I. P. (2020). “The Impact of Internal Control and Good Corporate
Governance on Fraud Prevention,” 2nd International Seminar on
Accounting Society, (Januari), hal. 251-257
Soleman, Rusman. (2013) "Pengaruh pengendalian internal dan good corporate
governance terhadap pen cegahan fraud." Jurnal Akuntansi dan
Auditing Indonesia 17.1: 57-74.
Stamler, Rodney. Marschdorf & Possamai. (2014). Fraud Prevention and
Detection (Warning Signs and The Red Flag System). Taylor Franccis
Group. New York
Sugiono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. CV Alfabeta
Sujana, I Ketut, I Made Sadha Suardhika dan Putu Santi Putri Laksmi. (2020).
Whistleblowing System Comptence, Morality, and Internal Control
Sytem Agains Fraud Prevention on Vilage Financial Management in
Denpasar. E-Journal Akuntansi Vol. 30 No. 11 Universitas Udayana
Indonesia
Tuanakotta, T. M. (2010), Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif , Penerbit
Salemba Empat
Udayani, A. A. K. F., & Sari , M. M. R. (2017), Pengaruh Pengendalian Internal
Dan Moralitas Individu Pada Kecurangan Akuntansi. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana, 18(3), 17744-1779.
Utama, Kadek Deni Sandira, and I. Gede Putu Banu Astawa. (2021) "Pengaruh
Whistleblowing System, Kompetensi, Good Corporate Governance,
dan Efektivitas Pengendalian Internal terhadap Pencegahan
Kecurangan." Vokasi: Jurnal Riset Akuntansi 10.01: 56-67.
Wardana, Gede Adi Kusuma, Sujana dan Wahyuni. (2017). Pengaruh
Pengendalian Internal, Whiatleblowing System dan Moralitas
Terhadap Pencegahan Kecurangan Pada Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Buleleng. E-Journal S1 Ak. Vol.8, N9o. 2. Universitas
Pendidikan Ganesha

Wijaya, Rizky Eka. 2020. Pengaruh Good Corporate Governance, Pengendalian


Internal Dan Whistleblowing System terhadap Efektivitas Pencegahan
Kecurangan (Studi Empiris pada Bank Perkreditan Rakyat se-
Kabupaten Temanggung). Diss. Skripsi, Universitas Muhammadiyah
Magelang,
Wolfe, D. T,. & Hermanson, D. R. (2004). The Fraud Diamond : Considering the
Four Elements Of Fraud . CPA Journal
Wulandari, Bayu, et al. (2022) "Pengaruh Audit Internal, Pengendalian Internal,
Kualitas Audit, Good Corporate Governance, Terhadap Pencegahan
Kecurangan (Fraud) Pada Bank Bca Area Medan." JIMAT (Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha 13.01: 210-221.

82
LAMPIRAN - LAMPIRAN

83
LAMPIRAN 1
KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL,


WHISTLEBLOWING SYSTEM DAN GOOD CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD DENGAN
MORALITAS INDIVIDU SEBAGAI VARIABEL MODERASI
( STUDI EMPIRIS PADA BANK DI KOTA AMBON )
Responden yang Terhormat,,,
Sebelumnya saya ingin menyampaikan terima kasih atas kesediaan Bapak/
Ibu untuk mengisi kuesioner ini. Saat ini saya sedang menyelesaikan tugas akhir
dengan judul “Pengaruh Sistem Pengendalian Internal, Whistleblowing System
dan Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan Fraud Dengan Moralitas
Individu Sebagai Variabel Moderasi ( Studi Empiris Pada Bank di Kota Ambon ).
Saya ingin mohon kesediaan bantuan Bapak/ Ibu untuk memberikan
jawaban atas parnyataan-pernyataan dengan lengkap dan menurut kenyataan
sebenarnya yang tersedia dengan mengisi kuesioner berikut. Seluruh data yang
terkumpul melalui kuesioner ini murni untuk tujuan pendidikan dan akan
diperlakukan sesuai dengan kode etik ilmiah. Setiap jawaban sertai identitas
Bapak/ Ibu akan saya jamin kerahasiaannya. Atas perhatian dan kerjasamanya,
saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

Stenly Rival Saiselar

DAFTAR KUESIONER

84
A. Data Respoden
Beri tanda (✅ ) pada alternatif yang Ibu/Bapak pilih :
1. Nama Responden :……………………………………………...(Boleh
Inisial)
2. Jenis Kelamin :  Pria  Wanita

3. Usia Responden :  < 25 Tahun  36-50 Tahun


 25-35 Tahun  >50 Tahun
4. Pendidikan Terakhir :  Diploma  S2
 S1  S3
5. Jabatan :  Teller  Customer Service (CS)
 Bank Office  Staf Administrasi
 Supervisor  Lainnya…………………………
6. Lama bekerja :  < 3 Tahun  > 5-10 Tahun

 3-5 Tahun  > 10 Tahun

B. Petunjuk Pengisian
Berilah tanda (✅ ) pada salah satu jawaban yang Bapak/ Ibu anggap
mendekati kenyataan yang sebenarnya dan dilakukan sesuai dengan
kejujuran hati nurani sebagaimana adanya. Tidak ada jawaban benar/salah
dalam kuesioner ini sehingga silahkan dijawab tanpa ada perasaan
terpaksa, bersalah, dan tidak nyaman. Segala data yang disampaikan
dalam kuesioner ini akan dipegang kerahasiaannya sebagai kode etik
penelitian ilmiah.
C. Daftar Pertanyaan
Berikut keterangan Kriteria penilaian untuk masing-masing kolom.
Untuk setiap pertanyaan ini mohon dijawab dengan member tanda (✅ )
pada kolom jawaban.

Sangat Tidak Setuju Ne Set Sanga


Tidak (TS) tra uju t
Setuju (2) l (S Setuju
(STS) ( ) ( SS )
(1) N (4 (5)
) )

85
(3
)
SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL ( VARIABEL X1 )
NO PERNYATAAN STS TS N S SS
Lingkungan Pengendalian
1 Saya telah melaksanakan tugas dan
tanggungjawab berdasarkan aturan dan pedoman
yang telah ditentukan
2 Tempat saya bekerja menerangkan secara jelas
struktur organisasi, tentang pembagian tugas,
wewenang dan tanggung jawab
Penilaian Resiko
3 Tempat saya bekerja sudah memiliki prosedur
kerja yang jelas sehingga dapat mengurangi
potensi penggelapan dan kesalahan
4 Tempat saya bekerja telah menerapkan
pengendalian internal dan manajamen terhadap
resiko akan terjadinya kecurangan/fraud
Aktivitas Pengendalian
5 Tempat saya bekerja memilih aktivitas
pengendalian yang berkontribusi terhadap mitigasi
(upaya untuk mengurangi) risiko dalam
pencapaian tujuan
6 Tempat saya bekerja telah menerapkan sistem
pemisahan tugas sesuai fungsi dan tanggung
jawab yang memadai
Informasi dan Komunikasi
7 Perusahan telah menerapkan sistem informasi
untuk mendukung pengendalian internal
Perusahan mengkomunikasikan perihal
8 pengnedalian internal yang relevan kepada pihak
eksternal
Pemantauan

86
9. Perusahan melakukan evaluasi berkelanjutan
untuk memastikan bahwa pengendalian internal
tetap ada dan berfungsi
10 Perusahan Mengevaluasi dan mengkomunikasikan
secara berkala kekurangan pengendalian internal
kepada yang bertanggung jawab
(Sumber : Fareza el al, 2022 serta Romadaniati et al, 2020)

WHISTLEBLOWING (VARIABEL X2)


NO PERNYATAAN STS TS N S SS
Aspek Struktural
1 Saya tidak takut untuk melaporkan pelanggaran
atau kecurangan yang terjadi karena ada kebijakan
mengenai perlindungan pelapor/whistleblower
dalam whistleblowing system
Aspek Operasional
2 Saya lebih mudah dalam melaporkan pelanggaran
yang terjadi karena tersedianya wadah khusus
untuk melaporkan pelanggaran
Aspek Perawatan
3 Perusahan harus melakukan komunikasi secara
berkala dengan karyawan mengenai hasil
penerapan whistleblowing system
(Sumber : Sihotang, 2018)
GOOD CORPORATE GOVERNANCE (VARIABEL X3)
NO PERNYATAAN STS TS N S SS
Transparansi
1. Perusahan tempat bpk/ibu bekerja mampu
menyediakan informasi secara tepat waktu,
memadai dan jelas sehingga mudah diakses oleh
pihak yang berkepentingan
2 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja mampu

87
menyediakan informasi secara akurat dan dapat
diperbandingkan seehingga mudah diakses oleh
pihak yang berkepentingan
Akuntabilitas
3 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja dapat
menetapkan rincian tugas dan tanggungjawab
secara jelas dan selaras dengan visi misi
4 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja memastikan
adanya sistem pengendalian internal yang efektif
Responsibilitas
5 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja berpegang pada
kepatuhan anggaran dasar dan peraturan instanis
6 Perusahan tempat bpk/ibu berpegang pada prinsip
kehati-hatian dan memastikan keparuhan terhadap
peraturan perundang-undang
Independesni
7 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja tidak
terpengaruh oleh pihak manapun
8 Perusahan tempat bpk/ibu telah melaksanakan
fungsi dan tugasnya sesuai anggaran dasar,
peraturan perundang-undang, tidak saling
mendominasi dan saling melempar
tanggungjawab satu sama lain
Kewajaran
9 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja telah
memberikan kesempatan bagi para pemangku
kepentingan untuk menyampaikan pendapat bagi
kepentingan instansi
10 Perusahan tempat bpk/ibu bekerja memberikan
perlakuan yang setara dan wajar kepada
pemangku kepentingan
(Sumber : Indrawanto, 2012)

88
PENCEGAHAN FRAUD (VARIABEL Y)
NO PERNYATAAN STS TS N S SS
Korupsi
1 Saya dapat memanfaatkan jabatan saya dengan tujuan
mendapatkan keuntungan pribadi yang lebih dari
organisasi lain diluar perusahan
2 Saya akan melakukan apapun untuk menambah
keuntungan pribadi walaupun dengan melakukan
korupsi
Penyalahgunaan Aset
3 Saya akan mengambil dan menggunakan uang kas
perusahan yang berasal dari hasil pembayaran dan
pembelian produk oleh pelanggan ke perusahan untuk
keuntungan pribadi saya.
4 Dalam mencatat transaksi keuangan, saya dapat
mengubah tanggal transaksi tersebut lebih awal dari
waktu yang sebenarnya
Pelaporan Keuangan yang Menyesatkan
5 Dalam menyusun lapoan keuangan saya diminta
untuk merekayasa laporan keuangan perusahaan
dengan mengabaikan prinsip penyusunan laporan
keungan yang berlaku agar lebi menarik investor
untuk menanamkan modalnya
6 Saya dapat menciptakan dan mencatat pendapatan
perusahan yang sebenarnya tidak terjadi, agar
pendapatan perusahan terlihat meningkat

(Sumber : Nugroho, 2015)


MORALITAS INDIVIDU (VARIABEL Z)
NO PERNYATAAN STS TS N S SS
1 Saya bekerja sesuai tanggungjawab saya di tempat
saya bekerja

89
2 Saya sadar akan tanggungjawab saya di tempat
saya bekerja
3 Saya membantu rekan atau organisasi dimana
saya bekerja untuk mencapai tujuan
4 Saya dapat beradaptasi dengan baik dalam
lingkungan kerja saya dan juga lingkup lainnya
5 Saya bertindak sesuai moral yang berlaku dalam
organisasi saya bekerjadan juga masyarakat
6 Saya memiliki komitmen untuk berperilaku dan
bersikap sesuai norma yang berlaku
(Sumber : Fathia & Indriani, 2022)

90
LAMPIRAN 2
REKAPITULASI JAWABAN UNTUK 37 RESPONDEN
1. Variabel Sistem Pengendalian Internal
X1.1
X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 0 X1
5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 49
5 5 3 3 5 5 5 5 4 4 44
5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 49
5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 47
3 5 5 4 4 5 5 5 4 3 43
5 4 5 5 5 4 4 4 5 5 46
5 5 4 4 4 5 4 4 4 5 44
5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 48
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
3 3 4 3 5 3 5 4 4 5 39
5 5 5 5 4 4 5 5 4 4 46
3 4 4 4 4 5 4 5 4 3 40
4 4 5 3 4 3 5 5 4 4 41
5 4 4 5 5 4 5 5 5 5 47
5 5 4 4 5 4 5 5 5 3 45
4 3 4 3 5 4 3 4 3 5 38
3 5 3 4 4 4 4 5 4 4 40
4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 47
5 4 3 3 4 3 4 5 4 4 39
3 4 4 4 4 4 5 4 4 5 41
5 4 5 4 5 4 5 4 5 5 46
3 5 3 3 5 5 3 5 5 3 40
4 5 5 5 5 3 5 5 4 5 46
5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 47
5 4 4 4 5 5 5 5 5 5 47
5 4 4 5 4 4 4 3 4 3 40
3 3 4 4 5 3 5 5 5 4 41
4 4 5 5 4 5 4 4 5 4 44
5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 48
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 5 3 5 4 5 4 3 4 4 42
5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 49
4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 48
3 3 3 5 5 3 4 3 4 5 38
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
4 4 4 5 5 5 4 3 3 4 41
5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 49

91
2. Variabel Whistleblowing System
X2.1 X2.2 X2.3 X2
5 5 5 15
5 5 5 15
5 5 5 15
5 5 5 15
5 5 5 15
5 5 5 15
4 4 3 11
5 5 5 15
5 5 5 15
5 4 5 14
5 5 5 15
4 5 5 14
4 5 4 13
4 5 5 14
4 5 5 14
4 5 5 14
4 5 3 12
4 5 3 12
4 5 5 14
4 5 5 14
5 5 4 14
4 5 4 13
4 3 5 12
5 4 4 13
4 5 4 13
5 4 4 13
5 4 5 14
5 4 5 14
5 5 5 15
5 5 5 15
3 5 5 13
5 5 5 15
4 5 5 14
4 4 4 12
4 5 5 14
4 3 5 12
4 5 4 13

3. Variabel Good Corporate Governance

92
X3.1
X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 0 X3
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 49
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 5 5 5 5 4 3 4 4 4 44
4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 43
5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 49
5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 49
4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 48
5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 49
5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 48
5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 48
5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 49
5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 49
5 5 5 5 4 4 3 4 3 4 42
5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 46
5 3 3 5 4 5 3 5 5 4 42
5 3 3 4 3 5 4 4 5 3 39
5 5 5 5 4 4 3 4 4 3 42
5 4 4 4 3 5 3 4 5 3 40
4 3 3 5 3 4 3 3 5 4 37
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
5 4 4 4 5 5 5 5 5 4 46
4 5 5 4 4 5 3 4 5 4 43
4 3 3 5 3 3 5 4 3 5 38
4 5 5 5 5 5 4 5 3 3 44
4 5 5 5 3 4 5 4 5 4 44
5 5 5 5 4 4 5 4 3 5 45
5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 49
4 5 5 4 4 4 5 4 5 5 45
5 5 5 5 4 5 5 5 4 5 48
5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 48
3 5 5 4 3 5 3 4 4 4 40
5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 49
4 5 5 5 5 5 5 4 4 5 47
5 5 5 4 5 5 4 4 5 4 46

4. Variabel Y Pencegahan Fraud

93
Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5 Y.6 Y
1 2 2 1 2 1 9
1 2 2 1 2 2 10
1 2 2 1 2 2 6
2 1 2 1 1 1 8
2 1 2 1 1 1 8
2 2 2 2 2 1 11
2 1 2 1 2 2 10
2 2 1 1 2 2 10
2 2 2 1 2 2 11
2 2 1 1 1 1 8
2 2 2 1 1 1 9
1 1 1 1 1 2 7
1 2 2 1 1 2 9
1 2 1 1 1 1 7
1 1 1 1 1 1 6
2 2 2 2 2 2 12
2 2 2 2 2 2 12
1 1 1 1 1 1 6
1 2 1 1 2 2 9
2 2 2 1 2 2 11
1 1 1 1 1 1 6
2 2 2 2 2 2 12
1 1 1 1 1 2 7
2 1 1 1 1 1 7
1 1 1 1 1 1 6
2 2 2 1 2 2 11
2 1 1 1 2 2 9
2 2 2 1 1 1 9
1 2 2 2 1 1 9
1 2 2 1 1 1 8
1 1 2 1 1 1 7
1 2 1 1 1 1 7
2 1 1 1 2 2 9
1 1 1 1 1 1 6
2 2 2 2 2 1 11
2 2 2 1 2 1 10
2 2 2 2 1 2 11

5. Variabel Z Moderasi Moralitas Individu


Z.1 Z.2 Z.3 Z.4 Z.5 Z.6 Z

94
5 5 5 4 5 4 28
5 4 4 5 5 5 28
5 5 5 5 5 5 30
5 5 4 4 4 5 27
5 4 4 4 4 4 25
5 5 5 5 4 4 28
5 5 4 5 5 5 29
5 4 4 4 5 5 27
5 5 4 4 4 5 27
5 4 4 4 5 5 27
5 5 4 4 4 5 27
4 4 4 4 5 5 26
5 5 4 4 5 5 28
5 4 4 4 4 5 26
4 4 4 4 4 5 25
5 5 5 5 5 5 30
5 5 5 5 5 5 30
4 4 4 4 4 4 24
5 4 4 5 5 5 28
5 5 4 5 5 5 29
4 4 4 4 4 4 24
5 5 5 5 5 5 30
4 4 4 4 5 4 25
4 4 4 4 4 4 24
4 4 4 3 4 5 24
5 5 5 5 5 5 30
4 4 4 4 5 5 26
5 5 4 4 4 4 26
5 4 5 4 4 4 26
5 5 4 4 4 4 26
4 5 4 4 4 4 25
5 4 4 4 4 4 25
4 4 4 5 5 4 26
4 4 4 4 4 4 24
5 5 5 5 4 5 29
5 5 5 5 4 5 29
5 5 5 5 5 4 29

LAMPIRAN 3
HASIL OUTPUT SPSS 23

95
1. Hasil Uji Validitas
Variabel X1 Sistem Pengendalian Internal
Correlations
X1.1
X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 0 X1
X1.1 Pearson * * * * *
.529 .557 .495 .476 .644 .801*
Correlatio 1 * * .940** * * .940** * .356* .367* *
n
Sig. (2-
.001 .000 .000 .002 .003 .000 .000 .031 .026 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.2 Pearson * * *
.529 .615 .461 .573*
Correlatio * 1 * .492** .277 .340* .492** * .340* .262 *
n
Sig. (2-
.001 .000 .002 .097 .039 .002 .004 .039 .117 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.3 Pearson
.557* .615* .749* .684*
Correlatio * * 1 .655** .325* .275 .655** * .275 .426** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .050 .100 .000 .000 .100 .009 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.4 Pearson * * * * * *
.940 .492 .655 .530 1.000 .826 .866*
Correlatio * * * 1 * .409* * * .409* .507** *
n
Sig. (2-
.000 .002 .000 .001 .012 .000 .000 .012 .001 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.5 Pearson * * *
.495 .813 .912 .810*
Correlatio * .277 .325* .530** 1 * .530** .364* * .779** *
n
Sig. (2-
.002 .097 .050 .001 .000 .001 .027 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.6 Pearson * * *
.476 .813 .890 .751*
Correlatio * .340* .275 .409* * 1 .409* .236 * .770** *
n
Sig. (2-
.003 .039 .100 .012 .000 .012 .160 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.7 Pearson * * * * * *
.940 .492 .655 1.000 .530 .826 .866*
Correlatio * * * * * .409* 1 * .409* .507** *
n
Sig. (2-
.000 .002 .000 .000 .001 .012 .000 .012 .001 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.8 Pearson * * *
.644 .461 .749 .763*
Correlatio * * * .826** .364* .236 .826** 1 .347* .540** *
n
Sig. (2-
.000 .004 .000 .000 .027 .160 .000 .035 .001 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1.9 Pearson * *
.912 .890 .781*
Correlatio .356* .340* .275 .409* * * .409* .347* 1 .869** *
n
Sig. (2-
.031 .039 .100 .012 .000 .000 .012 .035 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37

96
X1.1 Pearson
.426* .779* .770* .540* .869* .810*
0 Correlatio .367* .262 * .507** * * .507** * * 1 *
n
Sig. (2-
.026 .117 .009 .001 .000 .000 .001 .001 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X1 Pearson * * *
.801 .573 .684 .810 .751*
*
.763 *
.781 *
Correlatio * * * .866** * * .866** * * .810** 1
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Variabel X2 Whistleblowing System


Correlations
X2.1 X2.2 X2.3 X2
X2. Pearson
1 .906** .192 .889**
1 Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .254 .000
N 37 37 37 37
X2. Pearson
.906** 1 .331* .937**
2 Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .045 .000
N 37 37 37 37
X2. Pearson
.192 .331* 1 .593**
3 Correlation
Sig. (2-tailed) .254 .045 .000
N 37 37 37 37
X2 Pearson
.889** .937** .593** 1
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 37 37 37 37
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

97
Variabel X3 Good Corprate Governance
Correlations
X3.1
X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 0 X3
X3.1 Pearson * * * * * * * *
1.000 .852 .866 .775 .908 .715 .859 .857 .948*
Correlatio 1 * * * * * * * * .903** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.2 Pearson * * * * * * * *
1.000 .852 .866 .775 .908 .715 .859 .857 .948*
Correlatio * 1 * * * * * * * .903** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.3 Pearson * * * * * *
.811 .914 .852 .938 .897 .871 .958*
Correlatio .852** .852** 1 * * * * * * .826** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.4 Pearson * * * * * *
.811 .823 .866 .677 .728 .812 .902*
Correlatio .866** .866** * 1 * * * * * .859** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.5 Pearson * * * * * *
.914 .823 .866 .840 .728 .931 .923*
Correlatio .775** .775** * * 1 * * * * .859** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.6 Pearson * * * * * *
.852 .866 .866 .715 .669 .857 .916*
Correlatio .908** .908** * * * 1 * * * .800** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.7 Pearson * * * * * *
.938 .677 .840 .715 .842 .749 .860*
Correlatio .715** .715** * * * * 1 * * .699** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.8 Pearson * * * * * *
.897 .728 .728 .669 .842 .781 .891*
Correlatio .859** .859** * * * * * 1 * .847** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3.9 Pearson * * * * * *
.871 .812 .931 .857 .749 .781 .936*
Correlatio .857** .857** * * * * * * 1 .949** *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37

98
X3.1 Pearson
.826* .859* .859* .800* .699* .847* .949* .934*
0 Correlatio .903** .903** * * * * * * * 1 *
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
X3 Pearson * * * * * * *
.958 .902 .923 .916 .860 .891 .936
Correlatio .948** .948** * * * * * * * .934
**
1
n
Sig. (2-
.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000
tailed)
N 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Variabel Y Pencegahan Fraud


Correlations
Pencegahan
Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5 Y.6 Fraud
Y.1 Pearson
1 .175 .343* .307 .415* .197 .710**
Correlation
Sig. (2-tailed) .299 .037 .065 .011 .242 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Y.2 Pearson
.175 1 .491** .377* .384* .160 .773**
Correlation
Sig. (2-tailed) .299 .002 .021 .019 .344 .003
N 37 37 37 37 37 37 37
Y.3 Pearson
.343* .491** 1 .399* .319 .099 .782**
Correlation
Sig. (2-tailed) .037 .002 .014 .054 .562 .002
N 37 37 37 37 37 37 37
Y.4 Pearson
.307 .377* .399* 1 .247 .109 .789**
Correlation
Sig. (2-tailed) .065 .021 .014 .141 .523 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Y.5 Pearson
.415* .384* .319 .247 1 .565** .723**
Correlation
Sig. (2-tailed) .011 .019 .054 .141 .000 .001
N 37 37 37 37 37 37 37
Y.6 Pearson
.197 .160 .099 .109 .565** 1 .743*
Correlation
Sig. (2-tailed) .242 .344 .562 .523 .000 .008
N 37 37 37 37 37 37 37
Pencegahan Pearson
.710** .473** .482** .589** .523** .343* 1
Fraud Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .003 .002 .000 .001 .038
N 37 37 37 37 37 37 37
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

99
Variabel Moderasi Z Moralitas Individu
Correlations
Moralitas
Z.1 Z.2 Z.3 Z.4 Z.5 Z.6 Individu
Z.1 Pearson
1 .824** .852** .801** .824** .891** .919**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Z.2 Pearson
.824** 1 .852** .801** .824** .891** .919**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Z.3 Pearson
.852** .852** 1 .807** .852** .879** .929**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Z.4 Pearson
.801** .801** .807** 1 .947** .944** .944**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Z.5 Pearson
.824** .824** .852** .947** 1 .891** .947**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Z.6 Pearson
.891** .891** .879** .944** .891** 1 .977**
Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
Moralitas Pearson
.919** .919** .929** .944** .947** .977** 1
Individu Correlation
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000
N 37 37 37 37 37 37 37
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

100
2. Uji Reliabilitas
Variabel Sistem Pengendalian Internal

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.924 10

Variabel Whistleblowing System

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.743 3

Variabel Good Corporate Governance

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.979 10

Variabel Pencegahan Fraud

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.724 6

Variabel Moralitas Individu

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.972 6

101
3. Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 37
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .93471245
Most Extreme Absolute .099
Differences Positive .099
Negative -.078
Test Statistic .099
Asymp. Sig. (2-tailed)c .200d
Monte Carlo Sig. (2- Sig. .459
tailed)e 99% Confidence Lower .446
Interval Bound
Upper .472
Bound
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
e. Lilliefors' method based on 10000 Monte Carlo samples with starting seed
2000000.

102
Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas – Uji Glesjer


Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -.955 2.175 -.439 .664
X1 Sistem
-.009 .029 -.059 -.294 .771
Pengendalian Internal
X2 Whistleblowing
.065 .091 .135 .716 .479
System
X3 Good Corporate
.005 .028 .035 .185 .854
Governane
a. Dependent Variable: ABS_RES

Uji Multikolinearitas
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
X1 Sistem Pengendalian Internal .740 1.351
X2 Whistleblowing System .850 1.177
X3 Good Corporate Governane .819 1.222
Z Moralitas Individu .937 1.067

103
4. Uji Hipotesis
a. Analisis Regresi Linear Berganda

Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .715 .511 .466 .69341
a. Predictors: (Constant), Good Corporate Governance, Whistleblowing
System, Sistem Pengendalian Internal
b. Dependent Variable: Pencegahan Fraud

ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 16.565 3 5.522 11.484 .000b
Residual 15.867 33 .481
Total 32.432 36
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud
b. Predictors: (Constant), Good Corporate Governance, Whistleblowing System, Sistem
Pengendalian Internal

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 7.863 1.528 5.148 .000
Sistem Pengendalian
-.036 .092 -.140 2.395 .006
Internal
Whistleblowing System .091 .151 .119 2.603 .008
Good Corporate
.152 .054 .779 2.792 .009
Governance
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud

b. Uji Regresi Moderasi atau Moderatetd Regression Analysis (MRA)

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
1 .764a .584 .484 .68188
a. Predictors: (Constant), X3.Z, Whistleblowing System, Sistem
Pengendalian Internal, Good Corporate Governance, X2.Z, Moralitas
Individu, X1.Z

104
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 18.948 7 2.707 5.822 .000b
Residual 13.484 29 .465
Total 32.432 36
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud
b. Predictors: (Constant), X3.Z, Whistleblowing System, Sistem Pengendalian Internal, Good
Corporate Governance, X2.Z, Moralitas Individu, X1.Z

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -47.834 115.001 -.416 .681
Sistem Pengendalian
-2.719 2.938 -5.172 -.925 .363
Internal
Whistleblowing System 4.242 4.504 2.723 .942 .354
Good Corporate
2.301 2.494 5.796 .923 .364
Governance
Moralitas Individu 2.269 4.710 2.868 .482 .044
X1.Z .105 .104 10.849 3.016 .011
X2.Z -.161 .159 -4.645 2.114 .032
X3.Z -.093 .096 -11.296 2.063 .010
a. Dependent Variable: Pencegahan Fraud

105

Anda mungkin juga menyukai