0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

LP Asma

Dokumen ini membahas tentang asma sebagai penyakit peradangan kronis pada saluran napas, termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan. Asma dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti asma alergi dan non-alergi, serta memiliki berbagai faktor pencetus dan gejala yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penatalaksanaan meliputi pengobatan non-farmakologik dan farmakologik, serta pengkajian dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk pasien asma.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

LP Asma

Dokumen ini membahas tentang asma sebagai penyakit peradangan kronis pada saluran napas, termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan. Asma dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti asma alergi dan non-alergi, serta memiliki berbagai faktor pencetus dan gejala yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penatalaksanaan meliputi pengobatan non-farmakologik dan farmakologik, serta pengkajian dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk pasien asma.

Diunggah oleh

putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN ASMA

Oleh:

Kelompok 2 :

DISUSUN OLEH
PUTRIANI
14420251001

PRESEPTOR LAHAN PRESEPTOR INSTITUSI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

2026
A. KONSEP MEDIS
1. PENGERTIAN
Asma adalah suatu penyakit heterogen, yang biasanya ditandai dengan adanya
peradangan pada saluran napas kronis. Hal ini ditentukan oleh riwayat gejala
pernapasan seperti mengi, sesak napas, dada sesak dan batuk yang sangat lama dan
dalam intensitas, bersama dengan kondisi keterbatasan aliran udara ekspirasi yang
bervariasi (Natul & Yona, 2021).
Penyakit asma ialah gangguan inflamasi kronik pada jalan napas. Inflamasi
kronik dapat menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan napas yang ditandai
dengan wheezing, sulit bernapas, dada sesak dan batuk (Manese et al., 2021).
Asma merupakan penyakit peradangan kronik pada saluran napas. Ditandai
dengan mengi, batuk dan rasa sesak di dada yang berulang dan timbul pada malam
atau menjelang pagi akibat penyumbatan saluran penapasan (Afgani & Hendriani,
2020).
2. KLASIFIKASI
Menurut Umarah et al (2021) Asma dibagi menjadi bebeapa jenis :
1. Allergic Astmaini adalah tipe asma yang paling sering dikenali, yang sering
dimulai pada masa kanak-kanak dan dikaitkan dengan Riwayat alergi dimasa
lalu atau keluarga seperti eksim, rhinitis alergi, atau alergi makanan atau
obat.
2. Non Alergic Asma
Beberapa pasien memiliki asma yang tidak berhubungan dengan alergi.
Profil seluler sputum ini mungkin neutrofilik, eusonofilik atau hanya
mengandung sedikit sel inflamasi (paucigranulocytic). Pasien dengan asma
non alergi sering mrnunjukan respons jangka pendek yang kurang terhadap
ICS.
3. Asma dengan keterbatasan aliran aliran udara persisten
Asma persisten atau reversible diduga karena remodeling dinding saluran
nafas
3. ETIOLOGI
Menurut Umarah et al (2021) Asma disebut juga sebagai Reactive Airway
Disease (RAD) yaitu suatu penyakit obstruksi jalan nafas secara reversible
yang ditandai dengan inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap
berbagai stimulant. Secera garis besar asma disebabkan oleh berbagai hal
diantaranya :
1. Faktor Ekstrinsik
Reaksi antigen antibody karena inhalasi allergen (bulu-bulu binatang,
debu dan serbuk-serbuk)
2. Faktor instrinsi
Infeksi para infulenza, virus, pneumonia, mycoplasma
3. Fisik
Cuaca dingin, perubahan tempeartur, polusi udara (asap rokok, parfum)
4. Emosional
Rasa takut, cemas, tegang dan aktivitas yang berlebihan juga dapat
menjadi faktor pencetus.

4. PATOFISIOLOGI
Asma adalah obstruksi jalan nafas difus reversibel. Obstruksi disebabkan
oleh satu atau lebih dari konstraksi otot-otot yang mengelilingi bronkhi, yang
menyempitkan jalan nafas, atau pembengkakan membran yang melapisi
bronkhi, atau penghisap bronkhi dengan mukus yang kental. Selain itu, otot-
otot bronkhial dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental, banyak
dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di
dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini belum
diketahui, tetapi ada yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem
imunologis dan sisitem otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk
terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian
menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen
mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan
produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A).
Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan
kelenjar jalan nafas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membaran
mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak. Sistem saraf otonom
mempengaruhi paru.
Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem
parasimpatis, Asma idiopatik atau nonalergik, ketika ujung saraf pada jalan
nafas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi
dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan
asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga
merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu
dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis.
Selain itu, reseptor α- dan β- adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak
dalam bronki. Ketika reseptor α- adrenergik dirangsang terjadi
bronkokonstriksi, bronkodilatasi terjadi ketika reseptor βadregenik yang
dirangsang.
Keseimbangan antara reseptor α- dan βadregenik dikendalikan terutama
oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor alfa
mengakibatkan penurunan cAMP, mngarah pada peningkatan mediator
kimiawi yang dilepaskan oleh sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi reseptor
beta adrenergik mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP yang menghambat
pelepasan mediator kimiawi dan menyababkan bronkodilatasi. Teori yang
diajukan adalah bahwa penyekatan β- adrenergik terjadi pada individu dengan
asma. Akibatnya asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator
kimiawi dan konstriksi otot polos.

5. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Umarah et al (2021) ada penderita asma biasanya ditemukan tanda
dan gejala sebagai berikut :
1. Batuk (disertai lendir atau tidak) biasanya terjadi batuk kering pada
awalnya dan diikuti dengan batuk yang lebih kuat dengan produksi
sputum yang berlebih.
2. Sesak nafas (dyspnea) yang lebih sering menyerang pada malam hari dan
pagi hari nafas dangkal dan berubah
3. Gelisah
4. Terdapat suara nafas tambahaan (wheezing) sehingga mengakibatkan
obstruksi jalan nafas yang memburuk yang dapat menimbulkan dispnea
dan peningkatan tekanan nadi yang cepat.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yaitu :
1. Spirometri Untuk mengkaji jumlah udara yang dinspirasi
2. Uji provokasi bronkus
3. Pemeriksaan sputum
4. Pemeriksaan cosinofit total
5. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan
berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
6. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum
7. Foto thorak untuk mengetahui adanya pembengkakan, adanya
penyempitan bronkus dan adanya sumbatan
8. Analisa gas darah Untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenas

7. KOMPLIKASI
Menurut Umarah et al (2021) Jika penderita asma tidak ditangani dengan
baik akan sangat mempengaruhi kualitas hidup, dimana pada orang tersebut
dapat timbul keluhan-keluhan seperti kelelahan, kinerja menurun, masalah
psikologi termasuk stress, kecemasan dan depresi. Beberapa komplikasi yang
mungkin muncul pada penderita asma adalah gangguan pernafasan serius
diantaranya : pneumonia (infeksi paru-paru), kerusakan Sebagian atau seluruh
paru-paru, gagal nafas dimana kadar oksigen dalam darah menjadi sangat
rendah , status asthmaticus (serangan asam berat yang tidak merespon
pengobatan).
8. PENATALAKSAAN
1. Pengobatan non farmakologik terdiri dari :
a. Penyuluhan
b. menghindari faktor pencetus
c. fisioterapi dan relaksasi napas dalam
Tujuannya dari relaksasi napas dalam untuk meningkatkan ventilasi
alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, dan
meningkatkan efisiensi batuk.
2. Kemudian pengobatan farmakologik asma terdiri dari: agonis beta,
metilxantin, kortikosteroid, kromolin dan iprutropium bromide
(Fida’Husain et al., 2020).

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Menurut Rohmah & Walid (2019) Pengkajian adalah proses melakukan
pemeriksaan atau penyelidikan oleh seorang perawat untuk mempelajari
kondisi pasien sebagai langkah awal yang akan dijadikan pengambilan
keputusan klinik keperawatan. Oleh karena itu pengakjian harus dilakukan
dengan teliti dan cermat sehingga seluruh kebutuhan keperawatan dapat
teridentifikasi. Pada pasien asma pengkajian meliputi :
1. Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan, pekerjaan,
agama, suku/bangsa, status pernikahan
2. Identitas Pennggung Jawab
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan, pekerjaan,
agama, suku/bangsa, status pernikahan, hubungan dengan pasien
3. Pengkajian TRIAGE
a. Keluhan utama
Keluhan utama pada pasien asma adalah sesak disertai batuk berdahak
b. Riwayat Keluhan Utama
Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan asma bervariasi tingkat
keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batuk – batuk saja,
hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis yang berat. klien
dengan asma juga sering mengeluh malaise, , badan terasa lamah,
banyak berkeringat, takikardia, dan takipnea.
c. Riwayat Kesehatan Masa lalu
Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali klien
mengeluh pernah mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-
penyakit yang disinyalir sebagai penyebab asma.

4. Pengkajian Primer
a. Airway
Kaji kepatenan jalan napas, observasi adanya lidah jatuh, adanya
benda asing pada jalan napas (bekas muntahan, darah, sekret yang
tertahan), adanya edema pada mulut, faring, laring, disfagia, suara
stidor, gurgling atau wheezing yang menandakan adanya masalah
pada jalan napas.
b. Breathing
Kaji keefektifan pola napas, respiratory rate, abnormalitas
pernapasan, pola napas, bunyi napas tambahan, penggunaan otot
bantu napas, adanya napas cuping hidung, saturasi oksigen.
c. Circulation
Kaji heart rate, tekanan darah, kekuatan nadi, capillary refill, akral,
suhu tubuh, warna kulit, kelembaban kulit, perdarahan eksternal jika
ada
d. Disability
Berisi pengkajian kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS) atau
AVPU, ukuran dan reaksi pupil.
e. Exposure
Berisi pengkajian terhadap suhu serta adanya injury atau kelainan
lain. Atau kondisi lingkungan yang ada di sekitar klien
5. Pemeriksaan Sekunder
a. Keadaan umum
b. Tanda-tanda vital
c. Head to toe
d. Data Fokus

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan
yang sering muncul pada kasus asma menurut PPNI (2017) sebagai berikut
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d b.d penumpukan secret yang
berlbihan (D.0001)
2. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru. (D.0005)
3. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
(D.0003)
4. Defisit nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolisme (D0019)
5. Intoleran aktivitas b.d kelelahan (D.0056)
6. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpapar infromasi
(D.0111)
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

SLKI-SIKI
Diagnosa Keperawatan
NO
(SDKI) SLKI SIKI

1. D0001 Setelah dilakukan intervensi Observasi


Bersihan pada jalan nafas b.d keperawatan diharapkan 1. Monitor pola nafas
sekresi yang tertahan. bersihan jalan nafas meningkat 2. Monitor bunyi nafas
Dibuktikan dengan : dengan kriteria hasil : 3. Identifikasi Kemampuan batuk
- Sputum berlebih - Produksi sputum menurun 4. Monitor sputum (jumlah, warna,
- Batuk tidak efektif - Mengi menurun aroma)
- Tidak mampu batuk - Wheezing menurun 5. Monitor tanda & gejala infeksi
- Mengi, Wheezing, atau - Frekuensi nafas dalam saluran nafas
ronki kering rentang normal
- Dispnea - Batuk efektif meningkat Teraupetik
- Pola nafas berubah - Pola nafas meningkat 6. Posisikan semi fowler
- Frekuensi nafas bertambah 7. Berikan minum air hangat
8. Lakukan suction selama 15 detik
9. Berikan oktisgen, jika perlu

Edukasi
10. Anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari
11. Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi
12. Kolaborasi pemberian
broncodilaor
2. D0005 Setelah dilakukan intervensi Observasi
Pola nafas tidak efektif b.d keperawatan diharapkan pola 1. Monitor pola nafas (frekuensi,
penurunan ekspansi paru. nafas membaik dengan kriteria kedalaman, usaha nafas)
Dibuktikan dengan : hasil : 2. Monitor bunyi nafas tambahan
- Penggunaan otot bantu - Kapasitas vital membaik (Gurgling, mengi, wheezing,
pernapasan
- Fase ekspirasi memanjang - Tekanan ekpirasi meningkat ronki)
- Dispnea - Tekanan inspirasi meningkat 3. Auskultasi bunyi nafas
- Pola nafas abnormal - Dyspnea menurun 4. Monitor saturasi oksigen
(takipnea, bradipnea, - Penggunaan otot bantu nafas
hipoventilasi) menurun Teraupetik
- Pernafaan cuping hidung - Frekuensi nafas membaik 5. Posisikan semi fowler
- Tekanan ekspirasi menurun 6. Lakukan fisioterapi dada
- Tekanan inspirasi menurun 7. Berikan oksigen, jika perlu
Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian
bronkodilator

3. D0003 Setelah dilakukan intervensi Observasi


Gangguan pertukaran gas b.d keperawatan diharapkan
1. Monitor frekuensi, irama,
ketidakseimbangan ventilasi- pertukaran gas meningkat
kedalaman dan upaya nafas
perfusi. Dibuktikan dengan : dengan kriteria hasil :
2. Monitor adanya sumbatan jalan
1. Dispnea 1. Dispnea menurun
nafas
2. Takikardi 2. Bunyi nafas tambahan
3. Auskultasi bunyi nafas
3. Bunyi nafas tambahan mnurun
4. Monitor saturasi oksigen
4. PCO2 meningkat/menurun 3. Pusing menurun
5. Monitor kecepatan oksigen
5. P02 menurun 4. Penglihatan kabur menurun
6. Monitor kemampuan melepaskan
6. Pusing 5. Gelisah menurun
oksigen saat makan
7. Penglihatan kabur 6. Nafas cuping hidung
8. Sianosis menurun
9. Gelisah 7. PCO2 membaik Teraupetik
10. Nafas cuping hidung 8. PO2 membaik
11. Pola nafas abnormal 9. Takikardia membaik 7. Pertahankan kepatenan jalan

12. Kesadaran menurun 10. Sianosis membaik nafas

11. Pola nafas membaik 8. Berikan oksigen tambahan jika

- Warna kulit membaik perlu

Kolaborasi

9. Kolaborasi penentuan dosis


oksigen
[Link] penggunaan oksigen
saat aktivitas dan tidur
1.
4. D.0019 Setelah dilakukan intervensi Observasi
Defisit nutrisi b.d peningkatan keperawatan diharapkan status 1. Identifikasi status nutrisi
kebutuhan metabolisme. nutrisi membaik dengan kriteria 2. Identifikasi makanan yang disukai
Dibuktikan dengan : hasil : 3. Identifikasi kebutuhan kalori dan
- Nafsu makan menurut - Berat badan membaik jenis makanan
- Berat badan menurun - Indeks masa tubuh membaik 4. Monitor asupan makanan
- Bising usus hiperaktif (IMT) 5. Monitor mual & muntah
- Membrane mukosa pucat - Frekuensi makan membaik 6. Monitor berat badan
- Sariawan - Nafsu makan membaik
- Membrane mukosa membaik Teraupetik
7. Lakukan oral hygiene sebelum
makan
8. Berikan makanan yang tinggi
serat untuk mencegah konstipasi
9. Berikan makanan yang tinggi
protein dan tinggi kalori
[Link] suplemen makanan

Edukasi
11. Anjurkan posisi duduk
[Link] diet yang diprogramkan

Kolaborasi
[Link] pemberian
medikasi sebelum makan

5. D.0056 Setelah dilakukan intervensi Observasi


Intoleransi aktivitas b.d tirah keperawatan diharapkan 1. monitor kelelahan fisik
baring, kelemahan, toleransi aktivitas meningkat 2. identifikasi kemampuan
ketidakseimbangan antara dengan kriteria hasil : berpartisipasi dalam aktivitas
suplai dan kebutuhan oksigen. - kemudahan dalam melakukan tertentu
Dibuktikan dengan : aktivitas sehari-hari
- Mengeluh lelah meningkat Teraupetik
- Frekuensi jantung - kekuatan tubuh bagian atas 3. latihan gerak pasif dan aktif
meningkat dan bawah meningkat 4. libatkan keluarga dalam aktivitas
- Dyspnea - keluhan lelah membaik
- sianosis - dispneu saat aktivitas Kolaborasi
menurun 5. anjurkan melakukan aktivitas
secara bertahap
6. D.0111 Setelah dilakukan intervensi Observasi
Defisit Pengetahuan keperawatan diharapkan tingkat 1. Identifikasi kesiapan dan
berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan meningkat kemampuan meneima informasi
terpapar infromasi. Dibuktikan dengan kriteria hasil : 2. Idetifikasi pengetahuan saat ini
dngan. : 1. Menunjukan peilaku sesuai
1. Menunjukan peilaku sesuai anjuran Teraupetik
anjuran 2. Menunjukan persepsi yang 3. Sediakan materi dan media
2. Menunjukan persepsi yang tidak keliru terhadap masalah Pendidikan Kesehatan
keliru terhadap masalah Edukasi
4. Menjelaskan kepada keluarga
dan pasien tentang keluarga
5. Beri pasien dan keluarga
bertahan

D. IMPLEMENTASI
Implementasi Keperawatan adalah pelaksanaan rencana keperawatan
yang dilakukan secara mandiri maupun dengan kolaborasi dengan
multidisiplin yang lain. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan
keperawatan yang berfokus pada pasien dan berorientasi pada tujuan dan hasil
yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dimana tindakan dilakukan dan
diselesaikan, sebagaimana di gambarkan dalam rencana yang sudah dibuat
(Patrisia et al., 2020)
E. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan
cara membandingkan tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap hasil
yang diharapkan. Evaluasi juga dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh
mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan
evaluasi, perawat seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam
memahami respon terhadap intervensi keperawatan, kemampuan
menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang ingin dicapai serta
kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan dalam kriteria hasil
(Patrisia et al., 2020).
DAFTAR PUSTAKA

Afgani, A. Q., & Hendriani, R. (2020). Review Artikel: Manajemen Terapi Asma.
Jurnal Farmaka Universitas Padjadjaran, 18(1), 1–15.
[Link]
Fida’Husain, Purnamasari, A. O., Istiqomah, A. R., & Putri, A. L. (2020).
Management Keperawatan Sesak Nafas pada Pasien Asma di Unit Gawat
Darurat : Literature Review. Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing, 1(1), 1–10.
[Link]
Manese, M., Bidjuni, H., & Rompas, S. (2021). Faktor Resiko Yang Berhubungan
Dengan Riwayat Serangan Pada Penderita Asma Di Kabupaten Minahasa
Selatan. Jurnal Keperawatan, 9(2), 33–39.
Natul, F. K., & Yona, S. (2021). Buteyko Breathing Technique (Bbt) Terhadap
Perubahan Nilai Peak Expiratory Flow Rate (Pefr) Dan Kualitas Hidup Penderita
Asma. Jurnal Keperawatan Silampari, 5(1), 1–77.
Patrisia, I., Juhdeliena, J., Kartika, L., Pakpahan, M., Siregar, D., Biantoro, B.,
Hutapea, A. D., Khusniyah, Z., & Sihombing, R. M. (2020). Asuhan
Keperawatan Dasar Pada Kebutuhan Manusia (Edisi 1). Yayasan Kita Menulis.
[Link]
_Dasar/VeMNEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1
Rohmah, N., & Walid, S. (2019). Proses Keperawatan Berbasis KKNI (Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia) (Edisi I). AR-RUZZ Media.
[Link]
Kerangk/2UXbDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=0
Umarah, A. F., Wulandary, I. S. M., Supriadi, E., & Rukmi, D. K. (2021).
Keperawatan Medical Bedah Sistem Respirasi (Edisi pert). Yayasan Kita
Menulis.

Anda mungkin juga menyukai