0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Review

Penelitian ini mengkaji hubungan antara konsep diri siswa dan miskonsepsi pada konsep Kesetimbangan Kimia, melibatkan 235 siswa dari tiga SMA di Gowa. Hasil menunjukkan adanya korelasi negatif antara konsep diri dan jumlah miskonsepsi, yang berarti semakin baik konsep diri siswa, semakin sedikit miskonsepsi yang dialaminya. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan konsep diri untuk mengurangi miskonsepsi dalam pembelajaran kimia.

Diunggah oleh

b2fr75qjmt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Review

Penelitian ini mengkaji hubungan antara konsep diri siswa dan miskonsepsi pada konsep Kesetimbangan Kimia, melibatkan 235 siswa dari tiga SMA di Gowa. Hasil menunjukkan adanya korelasi negatif antara konsep diri dan jumlah miskonsepsi, yang berarti semakin baik konsep diri siswa, semakin sedikit miskonsepsi yang dialaminya. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan konsep diri untuk mengurangi miskonsepsi dalam pembelajaran kimia.

Diunggah oleh

b2fr75qjmt
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1.

2021
JIT 5 (1) (2021) 96-102 ISSN 2597-8977
JURNAL IPA TERPADU
[Link]

p-ISSN : 2597-8977
e-ISSN : 2597-8985 HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN MISKONSEPSI
SISWA PADA KONSEP KESETIMBAGAN KIMIA

Jusniar *) Abstrak: Penelitian survey ini bertujuan mendeskripsikan hubungan antara


Universitas Negeri Makassar konsep diri siswa dengan miskonsepsinya pada konsep Kesetimbangan
Kimia (KK). Subjek penelitian sebanyak 235 siswa dari tiga SMA di
kabupaten Gowa (80 siswa SMAN 1 Gowa; 83 Siswa SMAN 2 Gowa; dan 72
Syamsidah siswa SMAN 3). Penelitian ini dilakukan pada semester Ganjil 2018/2019.
Universitas Negeri Makassar Instrumen Tree-tier Diagnostik pada konsep KK sebanyak 30 item dan
angket konsep diri siswa pada konsep KK 20 item. Hasil penelitian
menunjukkan konsep diri berkorelasi negatif dengan jumlah miskonsepsi
siswa pada konsep KK (masing-masing -0,384, -0,254, dan -0,327). Hal ini
menunjukkan bahwa semakin baik konsep diri siswa pada konsep-konsep
Kesetimbangan Kimia, maka akan semakin kecil jumlah miskonsepsi yang
dialaminya.

Kata Kunci: Konsep diri, miskonsepsi, Kesetimbangan Kimia

Abstract: This survey study aims to describe the relationship between


students' self-concepts and their misconceptions about the concept of
Chemical Equilibrium (CE). The research subjects were 235 students from
three high schools in Gowa district (80 students of SMAN 1 Gowa; 83
students of SMAN 2 Gowa; and 72 students of SMAN 3). This research was
conducted in the 2018/2019 Odd semester. The Diagnostic Tree-tier
instrument on the CE concept is 30 items and the students' self-concept
questionnaire on the CE concept is 20 items. The results showed that self-
concept was negatively correlated with the number of students'
misconceptions about the CE concept (-0.384, -0.254, and -0.327)
respectively. This shows that the better the students' self-concepts on the
concepts of Chemical Equilibrium, the smaller the number of
misconceptions they experience.

Key word: Self-concept, misconceptions, Chemical Equilibrium

*) Correspondence Author:
jusniar@[Link]

PENDAHULUAN

JURNAL IPA TERPADU 96


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

PENDAHULUAN

Topik Kesetimbangan Kimia penting dipahami dengan utuh karena merupakan dasar untuk
memahami materi yang berhubungan, seperti kesetimbangan asam-basa, hidrolisis, dan kelarutan
(Voska & Heikkinen, 2000). Kesetimbangan kimia merupakan salah satu topik dengan konsep-
konsep yang bersifat kompleks dan sulit untuk dipelajari (Maia & Justi, 2009; Quiles, 2004;
Koutshana, et al., 2002; Tyson, et al., 1999). Hal ini diduga berhubungan dengan karakteristik topik
ini yang mencakup konsep terdefinisi, konsep abstrak, hitungan matematis, dan grafik.
Karakteristik tersebut membuat siswa cenderung mengalami kesulitan memahami konsep.
Kesulitan ini pada akhirnya menyebabkan kesalahan memahami konsep. Kesalahan memahami
konsep yang terjadi secara konsisten berpotensi adanya miskonsepsi. Miskonsepsi adalah
pemahaman konsep yang tidak sesuai dengan pemahaman para ahli (Barke, et al., 2009; Herron,
1996; dan Nakhleh, 1992). Kesalahan konsep disebut juga dengan konsep alternatif (Horton, 2007).
Beberapa miskonsepsi yang terjadi pada topik kesetimbangan kimia diantaranya sebagai
berikut. Laju reaksi maju lebih cepat pada keadaan setimbang (Niaz, 1998 dan Hackling & Garnett,
1985). Keadaan setimbang tercapai ketika konsentrasi reaktan dan produk sama (Yakmaci-Guzel,
2013; Barke, et al., 2009; Özmen, 2008; Hackling & Garnett, 1985). Kenaikan temperatur
menyebabkan laju reaksi maju menurun dan laju reaksi balik meningkat (Barke, et al., 2009; Bilgin
& Uzuntiryaki, 2003; dan Hackling & Garnett, 1985). Kesetimbangan adalah proses yang statis
(Yakmaci-Gusel, 2013; Barke, et al., 2009). Kesetimbangan dinamis adalah kondisi dimana
konsentrasi berubah-ubah (Jusniar, et al, 2020) Pada reaksi eksotermik, kenaikan temperatur akan
menurunkan laju reaksi maju (Sozbilir, et a, 2010; Banerjee, 1991). Harga K yang besar menyebabkan
reaksi maju berlangsung lebih cepat (Bilgin & Uzuntiryaki, 2003; Banerjee, 1991; Hackling & Garnett,
1985). Penambahan reaktan (fase padat) pada sistem kesetimbangan heterogen menyebabkan
reaksi bergeser ke arah produk (Piquitte & Heikkinen, 2005). Penambahan reaktan pada sistem
kesetimbangan gas akan menggeser kesetimbangan ke arah produk (Karpudewan, et al., 2015).
Katalis menyebabkan peningkatan konsentrasi produk (Bilgin & Uzuntiryaki, 2003; Voska &
Heikkinen, 2000; Gorodetsky & Gussarsky, 1986; dan Hackling & Garnett, 1985). Jadi, miskonsepsi
terjadi pada hampir seluruh konsep kesetimbangan kimia.
Miskonsepsi dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan awal
(Taber, 2002), komunikasi yang tidak efektif (Dhindsa & Treagust, 2014; Johnstone, 2010),
Miskonsepsi pada konsep prasyaratnya (Jusniar et al, 2020); ketidakcukupan informasi yang
diberikan oleh guru dan keterbatasan isi buku teks (Erman, 2017; Devetak, et al., 2010; Garnet, et al.,
1995), sifat abstrak dan simbolik konsep kimia (Yakmaci-Guzel, 2013), dan prakonsepsi siswa (Barke,
et al., 2009; Horton, 2007). Akibatnya siswa membangun pengetahuannya berdasarkan pada
miskonsepsinya (Taber, 2011).
Selain faktor-faktor di atas Pintrich (1996) mengemukakan bahwa pemahaman konsep juga
dipengaruhi oleh aspek afektif seperti minat, motivasi, self efficacy, self esteem dan self konsep.
Secara spesifik Baur (2005) berpendapat bahwa pemahaman konsep kimia dipengaruhi oleh
konsep dirinya. Indikator konsep diri terdiri dari lima yaitu konsep diri tentang matematika, kimia,
akademik, kreatifitas dan kesenangan akademik serta konsep diri problem solving (Nielsen &
Yezierski, 2015). Lewis, et al. (2009) melaporkan bahwa konsep diri (Self concept) merupakan salah
satu prediktor kuat yang berpengaruh terhadap pengetahuan konseptual dan psikomotorik anak
serta keberhasilan dalam pemahaman kimia umum. Nielsen & Yezierski (2015) melaporkan bahwa
self konsep siswa / mahasiswa berkorelasi dengan hasil tes Mozart (misconception orientation
standart based assessment resource for teacher) dengan nilai koefisien korelasi 0.35. Menurut
Bong & Skaalvik (2003) konsep diri telah diidentifikasi sebagai komponen yang berorientasi
lampau, berkontribusi dalam model harapan, motivasi dan perubahan konseptual anak.
Berdasarkan hal tersebut diduga bahwa konsep diri berkorelasi positif maupun negatif terhadap
pemahaman konsep dan miskonsepsi yang dimiliki mahasiswa. Sebagaimana karakteristik

JURNAL IPA TERPADU 97


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

miskonsepsi bahwa konsep yang dipahami salah sulit untuk diubah karena menurut mereka benar
dan masuk akal (Papaphotis &Tsaparlis, 2008).
Berdasarkan fenomena di atas di duga bahwa konsep diri siswa berhubungan dengan
miskonsepsi kesetimbangan kimia. Boleh jadi antara siswa yang paham konsep dan yang salah
konsep keduanya memiliki self konsep yang tinggi dan harus dikonfirmasi dengan hasil tes
miskonsepsi pada konsep kesetimbangan kimia. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah:
Apakah ada korelasi antara konsep diri siswa dengan miskonsepsi siswa pada konsep
Kesetimbangan Kimia?

METODE
1. Jenis dan Sampel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey yang bersifat korelasional. Subjek penelitian sebanyak
235 siswa dari tiga SMA di kabupaten Gowa (80 siswa SMAN 1 Gowa; 83 Siswa SMAN 2 Gowa; dan
72 siswa SMAN 3). Teknik sampling diambil secara acak yang bersifat insedentil. Pemberian tes
dilakukan kepada siswa berturut-turut yakni tes miskonsepsi (waktu 60 menit) kemudian angket
konsep diri (durasi 15 menit).

2. Instrumen Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester Ganjil 2018/2019. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan instrumen Tree-tier Miskonsepsi pada konsep KK (TMKK) sebanyak 30 item yang
telah dikembangkan oleh Jusniar, et al (2020) dan angket konsep diri siswa pada konsep KK 20 item
diadaptasi dari Bauer (2005).
Tes Miskonsepsi Kesetimbangan Kimia (TMKK) ini berbentuk three tier sebanyak 30 item
terdiri 6 item konsep keadaan setimbang dan kesetimbangan dinamik, 4 item konsep
kesetimbangan, 5 item konsep Kc dan Kp, 2 item konsep tetapan K pada kesetimbangan heterogen,
11 item konsep faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan dan 2 item konsep
aplikasi Kesetimbangan Kimia di industri. Tier pertama berisi soal yang terdiri dari empat pilihan
jawaban, tier kedua berisi alasan yang terdiri dari empat pilihan alasan dan tier ketiga berisi
keyakinan dari jawaban dan alasan dengan tiga pilihan yaitu 1) menerka, 2) tidak yakin, dan 3) yakin.
Penentuan siswa yang mengalami miskonsepsi mengadaptasi kriteria yang ditetapkan oleh Arslan,
et al. (2012) seperti pada Tabel 1. Sebelum digunakan TMKK telah divalidasi isi dan empirik.

Tabel 1. Kriteria Pengelompokan Konsepsi Siswa Berdasarkan Three Tier Test


First tier Second Third tier Kategori
tier
Benar Benar Yakin Paham konsep
Benar Benar Tidak yakin/menerka Paham konsep (tidak percaya
diri)
Benar Salah Tidak yakin/menerka Pemahaman kurang
Salah Benar Tidak yakin/menerka Pemahaman kurang
Salah Salah Tidak yakin/menerka Pemahaman kurang
Benar Salah Yakin Miskonsepsi
Salah Benar Yakin Miskonsepsi
Salah Salah Yakin Miskonsepsi

Angket konsep diri siswa pada konsep kesetimbangan kimia terdiri dari 20 item yang
memuat tiga aspek yaitu: confidence of understanding; class contribution and achievement

JURNAL IPA TERPADU 98


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

appraisal. Angket ini diadaptasi dari Bauer (2005), yang mana memuat pernyataan-pernyataan
tentang konsep kimia secara umum di spesifikkan dengan konsep keseteimbangan kimia.
Wawancara semi struktur dilakukan dengan menggunakan pedoman hasil analisis angket
konsep diri dan TMKK. Dilakukan terhadap siswa yang memiliki skor angket konsep diri tinggi
(memiliki keyakinan memahami konsep), namun jumlah miskonsepsinya tergolong tinggi.

3. Analisis Data
Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan korelasi dengan menggunakan
berbagai sumber data penelitian. Korelasi Pearson digunakan untuk menentukan hubungan antara
skor konsep diri siswa dengan jumlah miskonsepsinya pada konsep KK. Analisis ini dilakukan
dengan menggunakan SPSS for windows 21.0. Uji ini digunakan karena semua kelompok skor
konsep diri dan jumlah miskonsepsi berdistribusi normal. Deskripsi konsep diri dan jumlah
miskonsepsi untuk kategori tinggi adalah siswa yang memperoleh skor atau jumlah miskonsepsi di
atas rata-rata. Kategori konsep diri dan jumlah miskonsepsi rendah jika skor di bawah rata-rata, hal
ini merujuk pendapat Brigdes and Harnish (2015).

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Penelitian
Deskripsi data hasil penelitian tentang konsep diri siswa, jumlah miskonsepsi yang dialami
pada konsep Kesetimbangan Kimia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Statistika Deskriptif Konsep Diri, Jumlah Miskonsepsi Siswa, dan Hasil Korelasinya
Data SMAN 1 GOWA SMAN 2 GOWA SMAN 3 GOWA
Skor KD JM Skor KD JM Skor KD JM
Jumlah sampel 80 80 83 83 72 72
Mean 47,81 7,99 46,77 6,76 46,78 7,92
SD 8,70 4,05 10,39 3,97 11,11 3,61
Skor Ideal 80 30 80 30 80 30
Jumlah 43 (53,8) 35 (42,2) 37 (44,6) 33 (45,8) 27
Kategori tinggi 34 (42,5%) (37,5)
(%)
Jumlah 46 (57,5%) 37 (46,2) 48 (57,8) 46 (55,4) 39 (54,2) 45
Kategori (62,5)
rendah (%)
Harga Korelasi -0,383 -0,254 -0,327
Pearson KD-JM
Keterangan: KD : konsep diri; JM : Jumlah miskonsepsi

2. Pembahasan
Berdasarkan data pada Tabel 2 terlihat bahwa dari tiga sekolah di Kabupaten Gowa
menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara jumlah miskonsepsi dengan
konsep diri siswa pada konsep Kesetimbangan Kimia. Penguian korelasi Pearson dilakukan pada
tiga sekolah tersebut setelah Uji persyaratan normalitas terpenuhi. Korelasi negatif
diinterpretasikan bahwa siswa dengan konsep diri tinggi mengalami sedikit miskonsepsi (jumlah
miskonsepsinya kecil). Ini tentunya sangat diharapkan karena konsep diri tinggi dan tepat
menunjukkan tidak terjadinya miskonsepsi pada siswa. Sebaliknya konsep diri siswa yang tinggi
boleh jadi terjadi kesalahan memahami konsep. Ini diindikasikan dengan korelasi yang positif
antara konsep diri dengan jumlah miskonsepsi siswa .
Hal ini didukung oleh gambaran persentase konsep diri kategori tinggi yang berturut turut
besarnya 42,5, 42,2, dan 45,8%. Sementara jumlah miskonsepsi kategori tinggi juga beturut-turut

JURNAL IPA TERPADU 99


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

53,8, 44,6, dan 37,5%. Fenomena ini menunjukkan bahwa konsep diri siswa yang tinggi, belum tentu
memiliki pemahaman yang baik.
Dengan demikian konsep diri siswa pada konsep KK boleh jadi berkorelasi positif maupun
negatif terhadap pemahaman konsep dan miskonsepsi yang dimiliki siswa. Sebagaimana
karakteristik miskonsepsi bahwa konsep yang dipahami salah, sulit untuk diubah karena menurut
mereka benar dan masuk akal (Papaphotis &Tsaparlis, 2008).
Beberapa miskonsepsi yang ditemukan dimana siswa yang memiliki konsep diri dengan skor
yang tinggi mengalami miskonsepsi diantaranya: Miskonsepsi (1) Pada kondisi setimbang laju
peningkatan jumlah reaktan lebih cepat dari pada laju penurunan jumlah produk. Pernyataan
miskonsepsi (1) didukung dengan hasil wawancara terhadap siswa yang mengalami miskonsepsi ini
dengan konsep diri yang tinggi artinya merasa benar pemahamannya.
P: “Pada item (3) dari TMKK ; bagaimana laju reaksi maju dibandingkan
dengan laju reaksi balik dalam keadaan setimbang?"
S: “Reaksi akan berlangsung terus dengan laju reaksi maju lebih besar
daripada sebaliknya reaksi.
P: Mengapa Anda berpendapat begitu?
S : Kondisi kesetimbangan bersifat dinamis yang artinya berubah-ubah
Nampaknya siswa yang miskonsepsi tersebut berpendapat demikian, karena mengalami
kesalahan memahami bahwa “pada kondisi kesetimbangan” reaksi maju dan reaksi balik bervariasi
karena jumlah reaktan dan produk juga bervariasi. Miskonsepsi ini telah dilaporkan oleh Jusniar, et
al (2020). Dengan demikian, laju reaksi juga bervariasi dan menurutnya lebih cepat ke arah
pembentukan produk.
Miskonsepsi di atas perlu untuk diluruskan. Konsep yang benar adalah pada kondisi setimbang laju
reaksi ke arah produk sama dengan laju reaksi balik. Makna kesetimbangan dinamis adalah pada
kondisi setimbang reaksi berlangsung terus meskipun secara makroskopik sudah tidak terjadi lagi
perubahan, namun secara mikroskopik reaksi dalam dua arah tetap berlangsung dengan laju yang
sama (Burdge & Overby, 2017).
Miskonsepsi (2) pada kesetimbangan H2(g) + Br2(g) ⇌ 2HBr (g), peningkatan volume sistem
akan menggeser kesetimbangan ke arah kiri. Hasil wawancara kepada siswa yang miskonsepsi
dengan skor konsep diri tinggi diperoleh bahwa:
Miskonsepsi ini disebabkan karena siswa memahami subskrip H dan Br sebagai jumlah mol. Siswa
ini memahami bahwa jumlah mol pada ruas kiri adalah empat mol, dan pada kanan, ada dua tahi
lalat. Siswa-siswa ini tidak konsisten dalam menggunakan koefisien dengan indeks atau subscript
untuk mengekspresikan
jumlah mol zat dalam persamaan reaksi.
Konsep yang benar adalah jumlah mol pada kedua sisi sama, sehingga perubahan
tekanan/volume gas tidak akan menggeser posisi kesetimbangan. Penurunan volume gas
menyebabkan pergeseran kesetimbangan ke arah jumlah mol gas yang sedikit (Burge & Overby,
2017). Namun untuk reaksi pada fasa gas antara hidrogen dengan bromin menghasilkan hidrogen
bromida, perubahan volume sistem tidak menggeser sistem kesetimbangan karena jumlah mol sisi
kiri dan kanan sama.
Berdasarkan temuan-temuan yang dipaparkan nampak bahwa tidak semua siswa dengan
konsep diri tinggi pemahamannya akan tepat atau tidak mengalami miskonsepsi. Karakteristik
konsep diri adalah multidimensi (7kognitif dan afektif) dan berorientasi pada apa yang telah dimiliki
oleh siswa dan bersifat stabil (Bong & Skaalvik, 2003). Beberapa karakteristik konsep diri relatif
sesuai dengan sifat miskonsepsi seperti relatif stabil, dimensinya kognitif, dan berorientasi lampau
atau telah dimiliki siswa.
Beberapa keterbatasan penelitian survey ini diantaranya adalah tidak adanya perlakuan yang
diterapkan dalam penelitian ini. Misalnya perlakuan dalam rangka mengeliminasi miskonsepsi yang

JURNAL IPA TERPADU 100


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

terjadi atau meningkatkan konsep diri siswa. Sehingga menjadi rekomendasi untuk disempurnakan
oleh peneliti selanjutnya.

KESIMPULAN

Ada korelasi negatif yang signifikan antara konsep diri siswa dengan miskonsepsinya pada
pemahaman konsep Kesetimbangan Kimia pada tiga SMA di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
Interpretasi dari harga r berkorelasi negatif adalah siswa dengan tingkat konsep diri tinggi, kecil
kemungkinannya mengalami miskonsepsi. Peneliti lebih lanjut dapat mengeksplorasi hubungan
konsep diri dengan variable-variable lain. Atau dapat menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arslan, H.O., Cygdemoglu, C., & Moseley, C. (2012). A-Three-Tier Diagnostic Test to AssessPre-
Service Teachers’ Misconceptions about Global Warming, Greenhouse Effect, Ozone Layer
Depletion, and Acid Rain. International Journal of Science Education, 34(11): 1667–1686.
Banerjee, A.C. (1991). Misconceptions of Students and Teachers in Chemical Equilibrium.
International journal of Science Education, 13(4): 487-494.
Barke, H.D; Hasari, A; Yitbarek D. (2009). Misconceptions in Chemistry. Book Chapter (145-170).
Verlag Berlin Heidelberg: Springer.
Bauer, C.F. 2005. Beyond “Student attitude”: Chemistry Self Concept Inventory for Assesment of
the Affective Component of Student Learning. Journal Chemical Education, 82(12), 1864-1870.
Bong, M & Skaalvik, E.M. 2003. Academic Self Concept and Self Efficacy: How Different are They
Really? Educationan Physicology Review, 15(1), 1-40.
Bilgin, I, Uzunttiryaki, E, (2003). Students’ Misconception on the Concept of Chemical
[Link] and Science, 28(127): 10-17.
Burdge, J., & Overby, J. (2017). Chemistry atom (3rd ed.). McGraw Hill.
Gorodetsky, M. & Gussrasky, E. (1986). Misconceptualization of the Chemical
Equilibrium Concept as Revealed by Different Evaluation Methods. Euoropa Journal Science
Education. 8(4): 427-441.
Hackling, M. W & Garnett, P. J. (1985). Misconceptions of Chemical Equilibrium. European Journal
of Science Education, 7(2), 205–214. [Link] org/10.1080/0140528850070211
Herron, J.D. (1996). The Chemsitry Classroom Formula for Successful Teaching. Whasington, DC:
American Chemical Society.
Horton, C. (2007). Students Alternative Conception in Chemistry. California Journal of Science
Education, 7(2): 18-38.
Jusniar, Effendy, Budiasih, E., & Sutrisno. (2019). The Misconception of Stoichiometry and its Impact
on the Chemical Equilibrium. Advance in Social Science, Education, and Humanities Research.
227, 138–141.
Jusniar, J., Effendy, E., Budiasih, E., & Sutrisno, S. (2020). Developing a three-tier diagnostic
instrument on chemical equilibrium (TT-DICE). Educacion Quimica, 31(3), 84–102.
[Link]
Karpudewan, M., Treagust, D. F., Mocerino, M., Won, M., Chandrasegaran, A.L. (2015). Investigating
High School Students’ Understanding of Chemical Equilibrium Concepts. International
Journal of Enviromental &Science Education, 10 (6): 845-863.
Koutshana, M & Tsaparlis, G. (2002).Students’ Errors in Solving Numerical-Equlibrium Problems.
Chemistry Education: Research and Practice in Europe, 3(1): 5 -17.

JURNAL IPA TERPADU 101


Jusniar, Syamsidah / JIT Vol 5. No 1. 2021
ISSN 2597-8977

Nakhleh, M.B, (1992). “Why Some Student Don’t Learn Chemistry (Chemical Misconception)”.
Journal of Chemical Education, 59(3): 191-194.
Nielsen, S.E & Yezierski, E. 2015. Eksploring the Struktur and Function of the Chemistry Self Concept
Inventory With High School Chemistry Scudent. Journal of Chem. Eduation, 1-8
Nieswandt, M. 2007. Student Affect and Conceptual Understanding in Learning Chemistry. Journal
of Research in Science Teaching, 44(7), 908-937.
Özmen H. (2008). Determination of Students’ Alternative Conceptions about Chemical equilibrium:
a Review of research and the Case of Turkey. Journal Chemistry Education Research and
Practise, 9, 225-233.
Piquitte, J. S. & Heikkinen, H. W. (2005). Strategies Reported Used by Instructors to Address
Student Alternate Conceptions in Chemical Equilibrium. Journal of Research in Science
Teaching, 42 (10): 1112-1134.
Quilez, J; Solaz, J.J. (1995). Students’ and Teachers’ Misapplication of Le Chatelier’s Principle:
Implication for the Teaching of Chemical Equilibrium. Journal of Research in Science Teaching,
32(9), 939-957.
Sozbilir, M., Pinarbasi, T., Conpolat. (2010). Prospective Chemistry Teachers’ Conceptions of
Chemical. Eurasia Journal of Mathematic, Science, and Technology Education, 6(2): 111-120.
Tyson, L; Treagust, D.F; Bucat, R.B. (1999). The complexity and Leaching and Learning Chemical
Equilibrium. Journal of Chemical Education, 79 (4), 554-558.
Voska, K.W & Heikkinen, H.W. (2000). Identification and Analisys of Students Conception Used to
Solve Chemical Equilibrium Problems. Journal of Research in Science Teaching. (32) (2): 160-
176.
Yakmaci-Guzel, B. 2013. Preservice Chemistry Teacher in Action: As Evaluation of Attempts for
Changing High School Students’ Chemistry Misconception into More Scientific Conception.
Chemistry Education Research and Practice, 14, 95-104.

Received, 01 September 2021 Accepted, 30 September 2021

Jusniar
Dosen Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNM, aktif melakukan penelitian pada bidang
pendidikan kimia, dapat dihubungi melalui email: jusniar@[Link]

Syamsidah
Dosen Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga FT UNM, aktif melakukan penelitian
pada bidang pendidikan kesejahteraan keluarga, dapat dihubungi melalui email:
syamsidah@[Link]

JURNAL IPA TERPADU 102

Anda mungkin juga menyukai