SPS (SCIENTIFIC PROBLEM SOLVING)
A. Pendahuluan
Salah satu faktor penting yang menentukan kecakapan seorang pimpinan organisasi
adalah faktor kemampuan melakukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
secara efektif. Selanjutnya, faktor ini senantiasa perlu ditingkatkan dan dikembangkan
sejalan dengan semakin kompleksnya masalah yang dihadapi organisasi di era global ini.
Makna dari pernyataan tersebut adalah bahwa masalah-masalah akan selalu timbul dan
semakin kompleks, sehingga organisasi semakin dituntut untuk meningkatkan dan
mengembangkan kemampuan melakukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
yang efektif.
Masalah yang timbul perlu dipecahkan atau diselesaikan karena masalah yang tidak
dipecahkan akan menimbulkan gangguan atau kerugian bagi organisasi, atau bahkan dapat
berkembang menjadi masalah yang lebih besar yang dapat menghambat kelancaran dan
upaya pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, metode problem solving menjadi salah
satu poin yang wajib dimengerti di dalam sebuah organisasi. Dengan keberadaan berbagai
macam individu di berbagai bidang atau lembaga, maka konflik dan masalah dapat muncul
kapan saja. Inilah yang membuat kita harus mengerti bagaimana mengatasi dan
menyelesaikan masalah dengan optimal.
B. Pengertian Scientific Problem Solving
Scientific problem solving berasal dari bahasa Inggris. Scientific artinya ilmiah,
problem artinya masalah. Sedangkan solving yang berasal dari kata solve artinya
pemecahan. Dengan demikian, scientific problem solving dapat diartikan sebagai pemecahan
masalah secara ilmiah. Sedangkan problem dalam organisasi ialah suatu masalah yang
menuntut adanya pemecahan atau jalan keluar. Suatu problem akan menjadi masalah apabila
terjadi ketidaksesuaian antara kenyataan dan tujuan sebenarnya yang harus dicapai.
C. Analisa Problem (Masalah)
Dalam suatu kehidupan banyak berbagai masalah yang harus dipecahkan. Hal ini
telah menjadi keharusan bagi setiap individu dan organisasi. Namun, persepsi setiap orang
terhadap masalah tidaklah sama. Bahkan, sering terjadi suatu keadaan yang dianggap
sebagai masalah besar oleh satu pihak, akan tetapi bagi pihak yang lainnya itu bukanlah
suatu masalah yang besar. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah tersebut
dibutuhkan suatu proses berpikir aktif dan hati-hati yang dilandasi pemikiran ke arah yang
bisa disimpulkan secara definitif dengan rangsangan metode penyelesaian masalah secara
ilmiah yang disebut scientific problem solving. Adapun dalam menghadapi masalah, ada dua
sikap pokok yaitu:
1. Penuh konsekuen dan tanggung jawab dalam menghadapi masalah sebagai tantangan
hidup, yang berarti pihak yang mempunyai masalah aktif berusaha memecahkan
masalahnya.
2. Lari dari masalah yang dihadapi karena ketidakmampuannya menghadapi masalah
tersebut.
Sebuah masalah dapat dikenali dari gejala-gejalanya. Seperti halnya masalah
mekanisme organisasi yang tidak berjalan dengan lancar. Dari masalah tersebut, kita dapat
melihat gejalanya antara lain:
1. Tidak adanya tugas dari para pengurus.
2. Para pengurus bekerja sendiri-sendiri.
3. Administrasi atau surat-menyurat tercecer (manajemen tidak berjalan dengan baik).
4. Program kerja tidak bisa berjalan karena tidak adanya dana.
5. Anggota diliputi perasaan apatis dan lain-lain.
D. Metode Pemecahan Masalah
Pada awalnya, metode ini dikembangkan oleh Alex Osborn dan Sidney Parnes pada
pertengahan tahun 1950an. Prinsip dasar metode ini adalah pemecahan masalah dengan
menggunakan teknik sumbang saran (brainstorming) dan pola berpikir kreatif (creative
thinking) untuk menemukan solusi atau pemecahan masalah yang terbaik (the Co-Creativity
Institute, 1995).
Metode ini menggunakan tahap-tahap pemecahan masalah yang dikenal dengan
istilah OFPISA, yang merupakan singkatan dari kata-kata sebagai berikut: O (objective
finding), F (fact finding), P (problem finding), I (idea finding), S (solution finding), dan A
(acceptance finding). Tahap-tahap tersebut diuraikan secara ringkas, sebagai berikut:
1. Tahap Objective Finding (Perumusan Tujuan)
a. Objective finding merupakan tahap untuk merumuskan atau menetapkan tujuan atau
keinginan yang akan dicapai dalam melakukan pemecahan masalah. Misalnya, dalam
rangka mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu masalah,
menghentikan proses atau kejadian yang merugikan, dan lain-lain.
b. Bila objective finding dilakukan dalam suatu kelompok kerja, maka perlu disepakati
(konsensus) oleh semua anggota tim tentang tujuan yang akan dicapai dalam
memecahkan masalah yang dihadapi tersebut.
c. Dalam tahap objective finding, dilakukan identifikasi terhadap masalah-masalah
yang sedang dihadapi organisasi: “apa saja masalah-masalah yang dihadapi
organisasi dewasa ini?”.
d. Salah satu cara untuk mengidentifikasi masalah-masalah dilakukan dengan teknik
brainstorming (teknik sumbang saran, yaitu melalui suatu forum diskusi kelompok,
dan meminta para anggota kelompok untuk mengemukakan ide-ide secara bebas,
terbuka, dan tanpa dikritik). Ide-ide tersebut dicatat dan dibahas ulang dalam
kelompok, sampai ditemukan ide-ide terbaik yang disepakati oleh kelompok.
2. Tahap Fact Finding (Pengumpulan Fakta/Data)
a. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan fakta/data yang relevan dengan daftar
masalah yang timbul atau masalah yang sedang dihadapi.
b. Fakta atau data yang dikumpulkan tersebut digunakan untuk memberikan gambaran
tentang besarnya (magnitude) masing-masing masalah.
3. Tahap Problem Finding (Perumusan Masalah)
Dalam tahap ini dilakukan beberapa hal, yaitu:
a. Memilih dan merumuskan apa yang menjadi pokok masalah atau masalah utama
yang harus segera diselesaikan (dari daftar masalah yang telah diidentifikasi).
b. Setelah pokok masalah ditetapkan, kemudian dilakukan identifikasi terhadap faktor-
faktor yang diduga menjadi penyebab timbulnya masalah.
c. Berdasarkan identifikasi faktor-faktor penyebab masalah, dirumuskan deskripsi
faktor-faktor tersebut.
4. Tahap Idea Finding (Identifikasi Ide-Ide untuk Pemecahan Masalah)
Pada tahap ini dilakukan beberapa hal, yaitu:
a. Tiap anggota kelompok, melalui teknik brainstorming, diminta untuk
mengemukakan ide-ide yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
b. Membuat daftar ide-ide yang merupakan alternatif solusi (pemecahan masalah).
c. Berdasarkan daftar alternatif solusi, dilakukan diskusi kelompok untuk memilih
alternatif-alternatif yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan.
5. Tahap Solution Finding (Memilih/Menentukan Alternatif-Alterntif Solusi Terbaik)
Pada tahap ini dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Alternatif-alternatif yang telah disepakati (melalui konsensus dalam kelompok),
kemudian dianalisis. Misalnya, dengan menggunakan teknik cost and benefit
analysis (teknik yang menimbang sisi manfaat dan sisi biaya dari setiap perlakuan
risiko) dan teknik stakeholders analysis (analisa pemangku kepentingan) atau teknik-
teknik lainnya.
b. Pengambilan keputusan (pemilihan alternatif solusi)
Pengambilan keputusan hendaknya didasarkan pada prinsip keputusan ‘SMART’
(Specific: solusi harus dijabarkan secara spesifik; Measurable: output dari solusi
yang digunakan harus bisa diukur; Applicable: solusi harus bisa
diterapkan/dilaksanakan; Relevant: solusi harus relevan dengan masalah yang ingin
dipecahkan, dan Time-framed: solusi harus memiliki batasan waktu atau dapat
dijadwalkan proses pencapaiannya).
c. Hasil analisis di atas digunakan untuk memilih alternatif solusi terbaik yang menjadi
keputusan-keputusan untuk memecahkan masalah.
6. Tahap Acceptance Finding (Mempersiapkan Langkah-Langkah Tindakan)
Pada tahap ini dilakukan beberapa hal:
a. Merumuskan langkah-langkah tindakan (action plan) untuk tiap keputusan yang
telah ditetapkan bersama (konsensus).
b. Tiap anggota kelompok diminta untuk memberikan ide yang kreatif (melalui
brainstorming) tentang langkah-langkah tindakan untuk tiap keputusan.
Langkah-langkah tindakan yang baik setidaknya mengandung faktor 4W+1H
(What, Who, When, Where, and How Much or How Long)
a. What: Apa keputusannya?
b. Who: Siapa yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keputusan?
c. When: Kapan jadwal waktu pelaksanaan keputusan?
d. Where: Di mana/tempat keputusan dijalankan?
e. How: Bagaimana metode/teknik menjalankan keputusan, berapa besar biayanya,
berapa besar dampak/hasilnya (target) bila dijalankan, dan lain-lain.¹¹⁶
E. Konsep Dasar Pengambilan Keputusan
Organisasi bukanlah milik perorangan, tetapi milik semua warga yang menjadi
anggotanya. Namun, perlu disadari bahwa anggota telah membentuk pimpinan atau
pengurus. Oleh karena itu, jika terjadi masalah, pimpinan atau pengurus tersebut yang
bertanggung jawab untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Dalam memecahkan masalah, maka pimpinan atau pengurus harus berani mengambil
keputusan yang mengikat pada seluruh warganya. Dalam mengambil keputusan kita dapat
menggunakan jenis-jenis pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Greenberg dan
Baron (2008) yang secara ringkas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Keputusan terprogram (programmed decision): keputusan yang bersifat rutin, pada
umumnya dilakukan oleh lower level personnel (personel tingkat bawah), dan dilakukan
berdasarkan aturan-aturan (kebijakan) yang telah ditetapkan. Jenis keputusan ini
tergolong memiliki frekuensi terbanyak dalam organisasi.
2. Keputusan tidak terprogram (non-programmed decisions): keputusan yang diambil
pada situasi-situasi tertentu (tidak terduga), memerlukan pemikiran kreatif untuk
¹¹⁶ Dr. Bibin Rubini, [Link]. dan Dr. Widodo Sunaryo, [Link]., MBA. Pemecahan Masalah dan Pengambilan
Keputusan yang Efektif (Bogor: Paspa Press, 2016), 26–29.
menemukan solusi. Pada umumnya dilakukan oleh upper-level personnel (personel
tingkat atas).
3. Keputusan strategis (strategic decision): keputusan yang membawa dampak
(konsekuensi, risiko, ataupun benefits) jangka panjang bagi organisasi. Pada umumnya
dilakukan oleh high level executives (pimpinan organisasi), dan berorientasi terhadap visi
dan misi organisasi.
4. Top down decision making: pengambilan keputusan dilakukan oleh pimpinan organisasi
(high level executives) yang wajib ditaati oleh bawahan.
5. Empowered decision making: para bawahan didorong oleh pimpinan untuk mengambil
keputusan-keputusan yang diperlukan dalam pelaksanaan kinerjanya.117
117
Dr. Bibin Rubini, [Link]. dan Dr. Widodo Sunaryo, [Link]., MBA. Pemecahan Masalah dan Pengambilan
Keputusan yang Efektif , 22.