KENDALA YANG DIHADAPI GURU DALAM PENERAPAN
KURIKULUM MERDEKA DI SD
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat dan dapat
menjadikan manusia untuk lebih mandiri, beretika, dan bermoral. Pendidikan juga dapat
membuat kita menjadi cerdas dalam bertindak. Jadi pendidikan, yaitu suatu yang dapat
menjadikan kita lebih baik lagi dari sebelumnya melalui proses bimbingan dan latihan di dunia
pendidikan. Pendidikan akan membentuk manusia lebih baik lagi dan menjadikan manusia lebih
bermartabat. Peserta didik baik dalam bersikap, bertindak dan meyakinkan peserta didik dalam
setiap kehidupan.
Pengembangan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari pembaharuan kurikulum,
dalam tiap periode tertentu kurikulum selalu mengalami proses evaluasi. Bahkan tak sedikit yang
beranggapan bahwa kurikulum itu berganti seiring pergantian pemangku kebijakan. Sebagai
negara yang terus berinovasi dalam pengembangan kurikulum, Berbagai inovasi dan
pengembangan dalam mendesain pembelajaran yang di lakukan oleh negara Indonesia, yaitu
terus mengalami perubahan kurikulum.
Kurikulum adalah suatu sistem yang terpusat yang memiliki komponen
mengenai mata pelajaran dengan berbagai prosedur kerja yang telah ditata
untuk mencapai tujuan nasional maupun tujuan instansi, kurikulum di
Indonesia sering mengalami perubahan didasarkan pada kebutuhan yang
sering berubah-ubah dan mengikuti kemajuan teknologi, sudah sebelas kali
kurikulum di Indonesia mengalami perubahan, perubahan yang terjadi pun
mengikuti pergantian Menteri Pendidikan yang menjabat, bukan suatu
keharusan untuk mengganti penerapan kurikulum yang berlangsung namun
fenomena yang terjadi menegaskan bahwa kurikulum berganti setelah
penetapan Menteri Pendidikan dilakukan. :
[Link]
kurikulum yang saat ini diterapkan di Indonesia oleh mentri pendidikan adalah
kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka merupakan rancangan baru dibuat oleh pemerintah
untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat menghasilkan siswa dengan lulusan yang
unggul dalam menghadapi tantangan di masa depan. Dirancangnya kurikulum merdeka ini
menjadi langkah awal pemulihan pembelajaran di Indonesia yang diakibatkan pandemi Covid-19
(Zahir, 2022).
Kurikulum merdeka sebelumnya dikenal dengan sebutan kurikulum prototipe,
dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel dan berfokus pada materi
esensial. Kurikulum merdeka menjadi salah satu konsep kurikulum yang menuntut kemandirian.
Setiap peserta didik diberikan kebebasan dalam mengakses ilmu yang diperoleh dari pendidikan
formal maupun pendidikan non formal (Manalu et al., 2022). Hal ini sejalan dengan pendapat
Ainia (2020), kurikulum merdeka ini berfokus pada kebebasan belajar secara mandiri dan kreatif,
yang nantinya akan berdampak pada terciptanya karakter peserta didik yang memiliki karakter
yang merdeka. Di era Revolusi Industri 4.0 sistem pendidikan diharapkan dapat mewujudkan
peserta didik memiliki keterampilan yang mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah,
kreatif dan inovatif serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi.
penerapan kurikulum merdeka belajar diharapkan bisa membawa perubahan yang baik
untuk pendidikan di Indonesia. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam melakukan suatu
kegiatan pasti terdapat berbagai kendala yang menghampiri. Seperti halnya dalam menerapkan
kurikulum merdeka belajar ini. Kurangnya kemampuan guru dalam beradaptasi menyebabkan
timbulnya berbagai problematika dalam penerapan merdeka belajar. Berikut adalah problematika
dari implementasi kurikulum merdeka belajar di sekolah dasar, antara lain: 1. Kurangnya
pemahaman guru dalam menyusun dan penggunaan RPP merdeka belajar Dalam mengajar, RPP
merupakan hal yang harus ada dan disiapkan oleh pendidik. Sebab, keberhasilan dalam proses
belajar tidak terlepas dari kemampuan atau kualitas yang dimiliki guru dalam mengembangkan
dan melaksanakannya.( Jurnal Kajian Penelitian dan Pendidikan dan Pembelajaran, 7 (2)
(2023) 1490-1499)
Dengan melakukan perencanaan yang baik dan sesuai maka diyakini akan mendapatkan
hasil yang baik pula. Hal itu diperkuat dengan pernyataan yang diberikan oleh permendikbud
nomor 22 tahun 2016 yang menyatakan bahwa setiap pendidik memiliki sebuah kewajiban untuk
merancang RPP secara sistematis agar pembelajaran dapat berjalan secara inspiratif, interaktif,
menantang, efisien, menyenangkan, serta dapat memberi motivasi peserta didik untuk ikut
berpartisipasi aktif di dalam proses pembelajaran. Serta pendidik juga harus memberikan ruang
yang cukup untuk siswa mengembangkan kreativitas dan kemandirian. Selain itu, pilihan peserta
didik harus sesuai dengan minat, bakat, dan perkembangan yang dimiliki peserta didik. Selain
itu, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harus disesuaikan dengan kompetensi dasar
pada kurikulum (Probosiwi, dkk: 2020). Setelah itu pendidik juga harus mengembangkan model
pembelajaran yang inovatif agar peserta didik tidak merasa bosan dalam belajar.
Guru ingin membantu peserta didik untuk mengerjakan ketertinggalan di kelas, tetapi
waktu habis untuk mengerjakan administrasi tanpa manfaat yang jelas. Guru mengetahui potensi
peserta didik tidak dapat diukur dari hasil ujian, namun dikejar oleh angka yang didesak oleh
berbagai pemangku kepentingan. Guru ingin mengajak peserta didik ke luar kelas untuk belajar
dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup petualangan. Guru sangat
frustasi bahwa didunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi menentukan kesuksesan
anak, bukan kemampuan menghafal. Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki
kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman mengalahkan keberagaman sebagai prinsip birokrasi.
Guru ingin setiap peserta didik terinspirasi, tetapi guru tidak diberi kepercayaan untuk
berinovasi.
Kurikulum merdeka menuntut guru harus menyelesaikan admistrasinya, perangkat
pembelajaran harus di ubah dari RPP ke modul ajar, kemudian guru diharuskan menyelesaikan
admistrasi lain di aplikasi PMM maupun aplikasi My ASN, tujuan utama guru adalah mengajar
dan mendidik siswa menjadi terkendala karena harus menyelesaikan administrasi tersebut,
sedangkan guru sendiri belum memahami dan mengerti untuk masuk dan menyelesaikan
permaslahan yang harus diselesaikan di aplikasi PMM maupum My ASN, persoalan yang
dihadapi guru saat ini yaitu guru harus mengetahui Teknologi sedangkan masih banyak guru
yang belum memahami teknologi, dan masih banyak daerah yang mengalami kendala jaringan
internet. Penerapan kebijakan pemerintah dengan adanya kurikulum merdeka menimbulkan
kendala bagi guru dalam proses pembelajaran, Inilah yang membuat penulis tertarik meneliti
tentang kendala yang di hapai guru dalam penerapan kurikulum merdeka di SD.
METODE PENELITIAN/PENULISAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian deskriptif.
Terknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi dan wawancara. Teknik analisis
data menggunakan reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan penarikan kesimpulan.