0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan72 halaman

Main

Dokumen ini menyajikan analisis data curah hujan harian maksimum di Kota Kendari selama lima tahun (2017-2021) dengan perhitungan statistik dan probabilitas. Data menunjukkan variasi curah hujan maksimum tahunan dan analisis lebih lanjut dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai distribusi curah hujan. Hasil analisis mencakup perhitungan standar deviasi, koefisien skewness, dan koefisien kurtosis, serta penggambaran probabilitas untuk perencanaan drainase.

Diunggah oleh

Alda Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan72 halaman

Main

Dokumen ini menyajikan analisis data curah hujan harian maksimum di Kota Kendari selama lima tahun (2017-2021) dengan perhitungan statistik dan probabilitas. Data menunjukkan variasi curah hujan maksimum tahunan dan analisis lebih lanjut dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai distribusi curah hujan. Hasil analisis mencakup perhitungan standar deviasi, koefisien skewness, dan koefisien kurtosis, serta penggambaran probabilitas untuk perencanaan drainase.

Diunggah oleh

Alda Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

ANALISA DATA

3.1 Analisis Perhitungan Curah Hujan


Berikut ini adalah data rekapitulasi curah hujan harian maksimum Kota
Kendari selama 5 tahun terakhir (2017-2021), pada pos pengamatan stasiun
Metereolgi Maritim Kendari.

Tabel 3.1 Rekapitulasi Curah Hujan Kota Kendari Selama 5 Tahun


Bulan
Tahun
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2017 51.7 81.8 45.3 43.7 137.1 97.5 83.6 24.8 7.7 41.6 63.3 33.5
2018 44.8 45.8 69 43.1 82.8 80.3 87.6 2 16.6 0 56 73
2019 36 81.2 49.5 37 89.2 66.9 26 5.3 2.5 14.6 0 47.5
2020 57.8 61.4 93.4 50.2 36.6 61.2 47.9 12.8 38.6 2.7 35.6 15.8
2021 34.7 36.7 38.9 32.7 59 74.5 93.8 47.9 42.7 21.6 37.5 30.2
(Sumber : BMKG, 2022)

Dari data diatas, dapat diketahui curah hujan maksimum tahunan, salama 5
tahun terakhir sebagai berikut:

Tabel 3.2 Rekapitulasi Curah Hujan Harian Maksimum Tahunan (2017- 2021)
Tahun Xi (mm)
2017 77.6
2018 89.5
2019 137.1
2020 87.6
2021 89.2
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Menurut Tata Cara Penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan –
Ditjen Cipta Karya, dalam menganalisis drainase pengelompokan data dilakukan
minimal sebanyak 10 tahun. Oleh karena data curah hujan yang kami miliki terbatas,
yaitu 5 tahun, maka curah hujan maksimum tahunan seperti pada tabel 3.1 diatas
dibagi dalam interval 6 bulan untuk mencapai 10 data. Berikut, data curah hujan
maksimum 6 bulanan.

Tabel 3.3 Rekapitulasi Curah Hujan Maksimum 6 bulanan


Tahun Xi (mm)
20171 137.10
20172 83.60
20181 82.80
20182 87.60
20191 89.20
20192 47.50
20201 82.80
20202 47.90
20211 74.50
20212 93.80
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Berdasarkan data curah hujan maksimum 6 bulanan diatas, maka dapat


dilakukan analisa curah hujan rencana.

3.2 Perhitungan Curah Hujan Rencana


3.2.1 Analisa parameter stastik
1. Pengukuran dispersi normal
Diketahui:
X = Besarnya Curah Hujan (mm)
𝑋̅ = Rata-rata curah hujan maksimum daerah (mm)
Tabel 3.4 Perhitungan Dispersi Normal

Tahun x x - Rerata x (x - Rerata x)2 (x - Rerata x)3 (x - Rerata x)4


20171 137.1 53.36 2847.29 151931.37 8107058.07
20172 83.6 -0.14 0.02 0.00 0.00
20181 82.8 -0.94 0.88 -0.83 0.78
20182 87.6 3.86 14.90 57.51 222.00
20191 89.2 5.46 29.81 162.77 888.73
20192 47.5 -36.24 1313.34 -47595.35 1724855.65
20201 93.4 9.66 93.32 901.43 8707.80
20202 47.9 -35.84 1284.51 -46036.68 1649954.64
20211 74.5 -9.24 85.38 -788.89 7289.33
20212 93.8 10.06 101.20 1018.11 10242.17
Jumlah 837.40 0.00 5770.64 59649.44 11509219.17
Rerata 83.74
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

a. Standar deviasi (Sx)

√∑
n
Sx = ( Xi−X )2
i=1

Sx =
√5770 , 64
10−1
Sx = 25,32

b. Koefisien Skewness (Cs)


n
n ∑ ( Xi−X )
3

Cs = i=1

( n−1 ) ( n−2 ) Sx 3
10 x ( 59649.44 )
Cs =
( 10−1 ) ( 10−2 ) 25 , 323
Cs = 0,51

c. Koefosien Kurtosius (Ck)


n
n 2 ∑ ( Xi− X )
4

Ck = i=1

( n−1 ) ( n−2 ) ( n−3 ) Sx 4


2
10 x 11509219.17
Ck =
( 10−1 ) ( 10−2 )( 10−3 ) 25 ,324
Ck = 5.55

d. Koefisien Variasi (Cv)


Sx
Cv =

25 , 32
Cv =
83 ,74
Cv = 0,30

2. Pengukuan Disperse Logaritma


Diketahui :
X = Besarnya curah hujan daerah (mm)X̅
X̅ = rata-rata curah hujan maksimum daerah (mm)

Tabel 3.5 Perhitungan Disperse Logaritma


Log Xi - rerata (Log Xi - Rerata (Log Xi - Rerata (log Xi-Rerata
Tahun Xi Log Xi
X x)2 x)3 X)4
137.1
0.23 0.05421896
20171 0 2.14 0.01262486 0.00293970
20172 83.60 1.92 0.02 0.00032467 0.00000585 0.00000011
20181 82.80 1.92 0.01 0.00019162 0.00000265 0.00000004
20182 87.60 1.94 0.04 0.00146814 0.00005625 0.00000216
20191 89.20 1.95 0.05 0.00213232 0.00009846 0.00000455
20192 47.50 1.68 -0.23 0.05175361 -0.01177365 0.00267844
20201 93.40 1.97 0.07 0.00437702 0.00028958 0.00001916
20202 47.90 1.68 -0.22 0.05010985 -0.01121721 0.00251100
20211 74.50 1.87 -0.03 0.00102602 -0.00003286 0.00000105
20212 93.80 1.97 0.07 0.00462604 0.00031464 0.00002140
837.4
Jumlah 0 19.04 0.00 0.17022824 -0.00963141 0.00817758
Rerata 83.74 1.90
(Sumber : Hasil Analisa Perhitungan,2022)
a. Standar deviasi (Sx)

√∑
n
Sx = ( Xi−X )2
i=1

Sx =
√0 , 17
10−1
Sx = 0,14

b. Koefisien Skewness (Cs)


n
n ∑ ( log Xi−log X )
3

Cs = i=1

( n−1 ) ( n−2 ) Sx 3
10 x (−0,009 )
Cs =
( 10−1 ) ( 10−2 ) 0 , 143
Cs = -0,41

c. Koefosien Kurtosius (Ck)


n
n 2 ∑ ( log Xi−log X )
4

Ck = i=1

( n−1 ) ( n−2 ) ( n−3 ) Sx 4


2
10 x 0,008
Ck =
( 10−1 ) ( 10−2 )( 10−3 ) 0 ,14 4
Ck = 4,54

d. Koefisien Variasi (Cv)


Sx
Cv =

0 ,14
Cv =
1 , 90
Cv = 0,07

3.2.2 Analisis Probabilitas


Sebelum dilakukan penggambaran, data harus diurutkan dari yang terbesar
sampai terkecil terlebih dahulu. Penggambaran posisi (plotting position) yang dipakai
adalah cara yang dikembangkan oleh Weibull dan Gumbel. Adapun rumus yang
digunakan, yaitu :
1. Menghitung Probabilitas
m
P (Xm) = x 100 %
n+1

2. Menghitung Periode Distribusi

1
T (Xm) =
P
Dimana :
P (Xm) = Probabilitas
x = Data sesudah dirangking dari besar kekecil
m = Nomor urut
n = Jumlah data
T ( Xm ) = Periode distribusi ( Tahun )

Data analisa probabilitas dari data terbesar ke data terkecil dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 3.6 Data Analisa Probalitas


Tahun Data Terbesar Ke yang Terkecil
20171 137.10
20212 93.80
20201 93.40
20191 89.20
20182 87.60
20172 83.60
20181 82.80
20211 74.50
20202 47.90
20192 47.50
(Sumber : Hasil Analisa Perhitungan,2022)

a. Analisa Probalitas Normal


Tabel 3.7 Rekapitulasi Perhitungan Probalitas Normal
Urutan Tahun Xi Probabilitas (%) P. Distribusi
1 20171 137.10 9.09 11.00
2 20212 93.80 18.18 5.50
3 20201 93.40 27.27 3.67
4 20191 89.20 36.36 2.75
5 20182 87.60 45.45 2.20
6 20172 83.60 54.55 1.83
7 20181 82.80 63.64 1.57
8 20211 74.50 72.73 1.38
9 20202 47.90 81.82 1.22
10 20192 47.50 90.91 1.10
Jumlah 837.40
Rata-rata 83.74
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

b. Analisa Probalitas Logaritma


Tabel 3.8 Rekapitulasi Perhitungan Probalitas Logaritma
Urutan Tahun Xi Log Xi Probabilitas (%) T ( Tahun )
1 20171 137.10 2.14 9.09 11.00
2 20212 93.80 1.97 18.18 5.50
3 20201 93.40 1.97 27.27 3.67
4 20191 89.20 1.95 36.36 2.75
5 20182 87.60 1.94 45.45 2.20
6 20172 83.60 1.92 54.55 1.83
7 20181 82.80 1.92 63.64 1.57
8 20211 74.50 1.87 72.73 1.38
9 20202 47.90 1.68 81.82 1.22
10 20192 47.50 1.68 90.91 1.10
Jumlah 837.40 19.04
Rata-rata 83.74 1.90
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

c. Distribusi Normal
Berikut ini adalah data curah hujan selama lima tahun (2017-2021) yang
dikelompokkan dalam interval 6 bulan.
Diketahui :
Xi = Besarnya curah hujan daerah ( mm )
X = Rata-rata curah hujan maksimum daerah (mm)

Tabel 3.9 Rekapitulasi Perhitungan Distribusi Normal


Tahun Xi x - Rerata x (x - Rerata x)2
20171 137.10 53.36 2847.29
20172 83.60 -0.14 0.02
20181 82.80 -0.94 0.88
20182 87.60 3.86 14.90
20191 89.20 5.46 29.81
20192 47.50 -36.24 1313.34
20201 93.40 9.66 93.32
20202 47.90 -35.84 1284.51
20211 74.50 -9.24 85.38
20212 93.80 10.06 101.20
jumlah 837.40 0.00 5770.64
Rerata 83.74
Sx 25.32
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Adapun langkah-langkah penggunaan distribusi normal dalam analisis jenis


sebaran adalah sebagai berikut:
n

1. Hitung harga rata-rata data curah hujan


∑ xi
x= i=1
n
837,40
¿
10
¿ 83.74 mm


n
. Hitung harga standar deviasi data
2
S x= ∑ ¿¿¿¿
i=1

¿
√ 5770.64
10-1
= 25,32

3. Menentukan nilai KT diperoleh dari tabel: Tabel nilai KT untuk distribusi


normal pada tabel berikut:
Tabel 3.10 Nilai Variabel Reduksi Gauss
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)
4. Mnenentukan harga curah hujan rencana ( XT) untuk setiap periode ulang:
XT = X + (SX × KT). Contoh untuk periode 1.01 Tahun :
XT = 83,74 + (25,32 x -2.33)
=24,74 mm

Perhitungan diatas adalah perhitungan curah hujan rencana periode


1.01 tahun dengan metode normal, untuk periode selanjutnya dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 3.11 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode
Normal
Periode Ulang (Th) Sx Rerata X Kt Xt
1.01 -2.33 24.74
2 0 83.74
5 0.84 105.01
10 1.28 116.15
25.32 83.74
15 1.46 120.71
20 1.64 125.27
25 1.71 126.99
50 2.05 135.65
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

d. Distribusi Log Normal


Diketahui:
Xi = Besarnya curah hujan daerah (mm)
X = Rata-rata curah hujan maksimum daerah (mm)

Tabel 3.12 Rekapitulasi Perhitungan Distribusi Log Normal


(Log Xi - Rerata
Tahun Xi Log Xi Log Xi - rerata X
x)2
20171 137.10 2.14 0.23 0.05421896
20172 83.60 1.92 0.02 0.00032467
20181 82.80 1.92 0.01 0.00019162
20182 87.60 1.94 0.04 0.00146814
20191 89.20 1.95 0.05 0.00213232
20192 47.50 1.68 -0.23 0.05175361
20201 93.40 1.97 0.07 0.00437702
20202 47.90 1.68 -0.22 0.05010985
20211 74.50 1.87 -0.03 0.00102602
20212 93.80 1.97 0.07 0.00462604
Jumlah 837.40 19.04 0.00 0.17022824
Rerata 83.74 1.90
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Adapun langkah-langkah penggunaan distribusi log-normal dalam analisis


jenis sebaran adalah sebagai berikut.
1. Ubah data curah hujan ( Xi ) ke dalam bentuk Log Xi
X1 = Log x1
X1 = Log 89.20
= 1.95
2. Hitung harga rata-rata logaritma data
n

∑ log X i
log X = i=1
n
19.15
¿
10
= 1.92
3. Hitung harga standar deviasi logaritma data

√∑
n
S x= ¿¿¿¿
i=1

=
√ 0.17
10−1
= 0.14
4. Hitung nilai logaritma curah hujan rencana ( log XT ) untuk setiap periode
ulang dengan rumus : Log Xt = LogX + Sx .KT
Log Xt = 1.90 + 0.14 x -2.33
= 1.58 mm
5. Harga curah hujan rencana denngan periode ulang tertentu ( X T ) diperoleh
dengan cara mencari anti logaritma dari log XT.
Jadi anti Log Xt= 38,35 mm
Perhitungan diatas, adalah perhitungan curah hujan rencana periode 1.01
tahun dengan metode log normal, untuk periode selanjutnya dapat dilihat pada
tabel berikut:

Tabel 3.13 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode


Log Normal
Periode Ulang (Th) Sx Rerata Log X Kt Log XT XT (mm)
1.01 -2.33 1.58 38.35
2 0 1.90 80.20
5 0.84 2.02 104.64
10 1.28 2.08 120.29
0.14 1.90
15 1.46 2.10 127.34
20 1.64 2.13 134.81
25 1.708 2.14 137.75
50 2.05 2.19 153.50
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

e. Distribusi Log Person Type III


Berikut ini adalah perhitungan curah hujan rencana dengan metode log person
type III :

Tabel 3.14 Rekapitulasi Perhitungan Distribusi Log Person Type III


Log Xi - (Log Xi - (Log Xi - (log Xi-
Tahun Xi Log Xi
rerata X Rerata x)2 Rerata x)3 Rerata X)4
20171 137.10 2.14 0.23 0.05421896 0.01262486 0.00293970
20172 83.60 1.92 0.02 0.00032467 0.00000585 0.00000011
20181 82.80 1.92 0.01 0.00019162 0.00000265 0.00000004
20182 87.60 1.94 0.04 0.00146814 0.00005625 0.00000216
20191 89.20 1.95 0.05 0.00213232 0.00009846 0.00000455
20192 47.50 1.68 -0.23 0.05175361 -0.01177365 0.00267844
20201 93.40 1.97 0.07 0.00437702 0.00028958 0.00001916
20202 47.90 1.68 -0.22 0.05010985 -0.01121721 0.00251100
20211 74.50 1.87 -0.03 0.00102602 -0.00003286 0.00000105
20212 93.80 1.97 0.07 0.00462604 0.00031464 0.00002140
Jumlah 837.40 19.04 0.00 0.17022824 -0.00963141 0.00817758
Rerata 83.74 1.90
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Berikut ini adalah langkah-langkah penggunaan distribusi log – pearson


Type III adalah sebagai berikut:
1. Ubah data curah hujan ( X ) kedalam bentuk logaritma,
X =Log Xi
= Log 89.20
= 1.95
2. Hitung harga rata-rata logaritma data
n
LogX i
LogX=∑
i =1 n
19.04
¿
10
¿ 1.90

3. Hitung harga standar deviasi logaritma data

Sx=¿ √ ( log xi −logx ) ²


n−1

¿
√ 0.17
10−1
¿ 0.14
4. Hitung koefisien kemencengan (skewness) logaritma data :
n
Cs=n ∑ ¿ ¿ ¿
i=1

10 x (-0.009)
¿
( 10-1 ) (10-2 ) 0.14 3
= -0.51

5. Hitung nilai logaritma curah huja n rencana ( Log X T) untuk setiap periode
ulang dengan rumus : Log XT = Log X + K . Cs
Log XT = 1.90 + (-1,397) x 0.51
= 2,62 mm
Nilai K diperoleh dari table nilai K distribusi log pearson tipe III dan
nilainya tergantung pada koefisien kemencengan G (Cs).

6. Harga curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu ( Xt ) diperoleh


dengan cara mencari anti logaritma dari Log Xt.
Anti Log XT= 419,37 mm
Perhitungan diatas, adalah perhitungan curah hujan rencana periode 1.01
tahun dengan metode log normal, untuk periode selanjutnya dapat dilihat
pada tabel berikut:

Tabel 3.15 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode


Log Person Type III
Periode Ulang (Th) G Rerata Log X K Log XT XT (mm)
1.01 -1,397 2,62 419,37
2 -0,207 2,01 102,48
-0.51 1.90
5 0,722 2,00 100,81
10 1,339 2,09 122,56
15 1,594 2,12 132,86
20 1,849 2,16 144,04
25 2,104 2,19 156,15
50 2,658 2,27 186,10
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

f. Distribusi Gumbel
Berikut ini adalah data curah hujan selama lima tahun (2017-2021) yang
dikelompokkan dalam interval 6 bulan.

Tabel 3.16 Rekapitulasi Perhitungan Distribusi Gumbel


TAHUN x x - Rerata x (x - Rerata x)2
20171 137.10 53.36 2847.29
20172 83.60 -0.14 0.02
20181 82.80 -0.94 0.88
20182 87.60 3.86 14.90
20191 89.20 5.46 29.81
20192 47.50 -36.24 1313.34
20201 93.40 9.66 93.32
20202 47.90 -35.84 1284.51
20211 74.50 -9.24 85.38
20212 93.80 10.06 101.20
jumlah 837.40 0.0 5770.64
Rerata 83.74
Sx 25.32
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)
Adapun langkah-langkah penggunaan distribusi normal dalam analisis
jenis sebaran adalah sebagai berikut.
n

1. Hitung harga rata-rata data curah hujan ( x ).


∑ log X i
X = i =1
n
837.40
=
10
= 83.74

√∑
n
2. Hitung harga simpangan baku data (Sx). sx= ¿¿¿¿
i=1


=
5770.64
10−1
= 25.32
3. Tentukan nilai reduced variate ( YTɤ ). Nilai reduced variate ( YTɤ ) untuk
setiap periode ulang dapat diperoleh dari lampiran pada tabel LA-3 Metode
Gumbel – Reduced Variate ( YTɤ ) sebagai fungsi periode ulang.
4. Tentukan harga reduced mean ( Yn ) dan reduced standard deviation (Sn )
yang harganya tergantung pada jumlah data ( n ). Harga Yn dan Sn diperoleh
dari lampiran Tabel LA-1 Metode Gombel- Reduced Mean untuk harga Yn
dan Tabel LA-2 Metode Gombel – Reduced Standard Deviation untuk
harga Sn.
5. Tentukan harga reduced variate, YT. Adapun tabel Yt diperoleh dari tabel
reduced variate.
6. Hitung nilai faktor probabilitas ( K ). Berikut adalah contoh perhitungan K
untuk periode ulang 2 tahun.

Dik : Yn = 0.4952 ( diperoleh dari tabel )


Sn = 0.9496( diperoleh dari tabel )
YT = 0.3665 ( diperoleh dari tabel )
Dit : K...?
Peny :
𝑌𝑇 − 𝑌𝑛
𝐾=
𝑆𝑛

1,5293−0,4952
=
0,9497
= -2,132
7. Menentukan harga curah hujan rencana (XT) untuk setiap periode ulang.
Berikut adalah contoh perhitungan curah hujan rencana untuk periode ulang
2 tahun.

Dik : X = 83.74 mm
Sx = 25.32 mm
K = -2,132
Dit : XT ...?
Peny :
XT = X + Sx.K
= 83.74+ (25,32 x -2,132)
= 29,75 mm

Untuk hasil perhitungan curah hujan rencana pada setiap periode ulang
dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.17 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode


Gumbel
Rerata
Periode Ulang (Th) Sx Yn Sn YT K XT (mm)
1.01 -1.5293 -2.132 29.75
2 0.3665 -0.136 80.31
5 1.4999 1.058 110.53
10 2.2504 1.848 130.54
83.74 25.32 0.4952 0.9496
15 2.6738 2.294 141.83
20 2.9702 2.606 149.74
25 3.1985 2.847 155.83
50 3.9019 3.588 174.58
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)
g. Analisa Pemilhan Distribusi Curah Hujan
a. Data hasil pengukuran dispersi
Tabel 3.18 Dispersi Normal

No. Dispersi Statistik


1 S 25,23
2 Cs 0,51
3 Ck 5,55
4 Cv 0,30
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Tabel 3.19 Dispersi Log Normal


No. Dispersi Statistik
1 S 0.14
2 Cs -0.51
3 Ck 4,54
4 Cv 0.07
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

b. Hasil Uji Distribusi


Tabel 3.20 Rekapitulasi Uji Distribusi Yang Memenuhi
Jenis Distribusi syarat Perhitungan Kesimpulan
Cs ≈ 0 Cs = 1,86
Normal Tidak memenuhi
Ck ≈ 3 Ck = 7,41
Cs ≤ 1,1396 Cs = 1,86
Gumbel Tidak memenuhi
Ck ≤ 5.4002 Ck = 7,41
Log Person
Type III Cs ≠ 0 Cs = 0,13 Memenuhi
2 2
Cs ≈ 3Cv +(Cv )= 3 3Cv + ( Cv ) =
Log Normal Memenuhi
0,214
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan,2022)

Berdasarkan hasil data rekapitulasi uji distribusi di atas, dapat kita


lihat bahwa yang memenuhi syarat adalah distribusi Log Pearson Type III.
3.2.3 Pengujian Kesesuain Distribusi Probabilitas
1. Perhitungan Nilai Chi-kuadrat (X2)
Uji kesesuaian metode chi-kuadrat menggunakan rumus:
n 2
(Of −Ef )
X 2 =∑
i=1 Ef
Dimana:
X2 : Nilai chi-kuadrat terhitung
Of : Frekuensi yang diamati pada kelas yang sama
Ef : Frekuensi yang diharapkan sesuai dengan pembagian kelasnya
n : jumlah data

Suatu distrisbusi dikatakan selaras jika nilai X 2 hitung < dari X2 kritis.. Dari
hasil pengamatan yang didapat dicari penyimpangannya dengan chi-kuadrat kritis
paling kecil. Derajat kebebasan ini secara umum dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
DK = K − (α +1)
K =1+ 3.322 log n
n
Ef =
K

Dimana :
DK = derajat kebebasan,
K = jumlah kelas.
Α = banyaknya keterikatan (banyaknya parameter), untuk uji chi-
kuadrat adalah2.
n = jumlah data
Ef = nilai yang diharapkan.
Selanjutnya distribusi probabilitas yang dipakai untuk menentukan curah
hujan rencana adalah distribusi probabilitas yang mempunyai simpangan maksimum
terkecil dan lebih kecil dari simpangan kritis, atau dirumuskan sebagai berikut:

𝑋2 < 𝑋2 𝑐𝑟
Dimana:
X2 = Parameter Chi-Kuadrat terhitung
X2 cr = Parameter Chi-Kuadrat Kritis

Prosedur perhitungan dengan menggunakan dengan Metode Uji Chi Kuadrat


adalah sebagai berikut:
1. Urutkan data dari besar ke kecil atau sebaliknya
2. Menghitung jumlah kelas
3. Menghitung derajat kebebasan (Dk) dan X2 cr
4. Menghitung kelas distribusi
5. Menghitung interval kelas
6. Perhitungan nilai X2
7. Bandingankan nilai X2 terhadap X2cr.

Berikut Adalah Perhitungan Pengujian Metode Chi-Kuadrat

a. Data curah hujan diurut dari besar ke kecil


Tabel 3.21 Urutan data curah hujan tertinggi ke terendah
Tahun Xi Xi(*)
20171 137.10 137.10
20172 83.60 93.80
20181 82.80 93.40
20182 87.60 89.20
20191 89.20 87.60
20192 47.50 83.60
20201 93.40 82.80
20202 47.90 74.50
20211 74.50 47.90
20212 93.80 47.50
Jumlah 837.40
Rata-rata 83.74
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

b. Menghitung jumlah kelas


 Jumlah data (n) = 10
 Kelas distribusi (k) = 1 + 3.3 log n
= 1 + 3.3 log 10
= 4.3 ≈ 5 kelas
 Menghitung Frekuensi yang diharapkan
n 10
Ef = = =2
K 5

c. Menghitung derajat kebebasan (Dk) dan X2Cr


 Parameter (p) = 2
 Derajat kebebasan (Dk) = k – (p+1)
= 5 – (2+1)
=2

Nilai X2Cr dengan jumlah data (n) = 10, Derajat nyata atau derajat kepercayaan
(α) = 5 % dan derajat kebebasan (Dk) = 2 , Maka nilai X2Cr adalah 5.991 (tabel nilai
parameter Uji Chi Kuadrat Kritis).

d. Menghitung kelas distribusi


1
Kelas distribusi = x 100 % = 20 %
5
Interval distribusi adalah 20 %, 40%,60%, dan 80%.
 Persentase 20%
1 1
P(x) = 20% diperoleh, T = = = 5 tahun
P x 0 ,20
 Persentase 40%
1 1
P(x) = 40% diperoleh, T = = = 2,5 tahun
P x 0 , 40
 Persentase 60%
1 1
P(x) = 60% diperoleh, T = = = 1,67 tahun
P x 0 , 60
 Persentase 80%
1 1
P(x) = 80% diperoleh, T = = = 1,25 tahun
P x 0 , 80

e. Menghitung interval kelas


 Distribusi Normal
Nilai KT di peroleh berdasarkan nilai T pada tabel “Nilai Variabel reduksi
Gauss”, yaitu:
T = 5 tahun maka KT = 0,84
T = 2.5 tahun maka KT = 0,25
T = 1.67 tahun maka KT = -0,25
T = 1.25 tahun maka KT = -0,84
Nilai X = 113,51 mm
Nilai Sx = 40,72 mm

Analisa Perhitungan interval kelas untuk T = 5 tahun

XT = X + Sx . KT
X5 = 83,74 + 40,72 x 0,84

= 117,95 mm
Setelah dilakukan perhitungan, didapati nilai seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.22 Hasil Perhitungan Distribusi Normal


T (Tahun ) Xi Rata-rata Sx KT Xt
5 0.84 117,95
2.5 0.25 93,92
83.74 40,72
1.67 -0.25 73,56
1.25 -0.84 49,53
(Sumber: Hasil Analisa perhitungan, 2022)

 Distribusi Log Normal


Nilai KT diperoleh berdasarkan nilai T pada tabel “Nilai Variabel Reduksi
Gauss” (tabel 3.10), yaitu:
T = 5 tahun maka KT = 0,84
T = 2,5 tahun maka KT = 0,25
T = 1,67 tahun maka KT = -0,25
T = 1,25 tahun maka KT = -0,84
Nilai log x = 2,03 mm
Nilai Sx = 0,13 mm

Analisa Perhitungan Interval Kelas untuk T = 5 tahun

YT = log X + Sx . KT
Y5 = 2,03+ 0,13 x 0,84
= 2,15 mm

XT = Anti Log YT
= 140,17 mm
Setelah dilakukan perhitungan, didapati nilai seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.23 Hasil Perhitungan Distribusi Log Normal
T (Tahun ) Log ( Xi Rata-rata ) Sx Log X KT Log Xt Xt
5 0.84 2.15 140,17
2.5 0.25 2,07 116,96
2.03 0.13
1.67 -0.25 2,00 100,31
1.25 -0.84 1,92 83,71
(Sumber: Hasil Analisa perhitungan, 2022)

 Distribusi Probabilitas Log Pearson Type III


Nilai KT dihitung berdasarkan nilai Cs = -0,28 dan nilai T untuk berbagai
periode ulang adalah:
T = 5 tahun maka KT = 0,722
T = 2,5 tahun maka KT = 0,181
T = 1,67 tahun maka KT = 0,092
T = 1,25 tahun maka KT = -1,397
Nilai Kt Log Person Type III Berdasarkan Cs atau G.

Analisa Perhitungan Interval Kelas untuk T = 5 tahun


YT = log X + Sx . KT
Y5 = 2,03 + 0,13 x 0,722
= 2.13 mm
XT = Anti Log YT
= 135,19 mm

Setelah dilakukan perhitungan, didapati nilai seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.24 Hasil Perhitungan Distribusi Log Pearson Type III


T (Tahun ) Log ( Xi Rata-rata ) Sx Log X KT Log Xt Xt
5 0.722 2.13 135,19
2,03 0.13
2.5 0.181 2,06 114,50
1.67 0,092 2,05 111,42
1.25 -1.397 1.85 70,55
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

 Distribusi Gumbel
Dengan jumlah data (n) = 10, maka diperoleh:
Yn = 0,4952
Sn = 0,9497

Analisa Perhitungan Nilai K untuk curah hujan 5 tahun

( Tr−1 )
Y5 = -ln {−ln }
Tr
(5−1)
= - ln (-ln )
5
= 1,5

Y 5−Yn
K5 =
Sn

1,500−0,4952
=
0,9497

= 1,058

Analisa Perhitungan Interval Kelas untuk T = 5 tahun

XT = X + Sd . KT
X5 = 83,74+ 40,72 x 1,058
= 126,82 mm
Setelah dilakukan perhitungan, didapati nilai seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.25 Hasil Perhitungan Distribusi Gumbel


Xi
T ( Tahun ) n Yn Sn Sd Yt K Xt
Rerata
5 1.500 1.058 126,82
2.5 0.672 0.186 91,31
83.74 10 0.4952 0.9497 40,72
1.67 0.091 -0.426 66,40
1.25 -0.476 -1.023 42,10
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Perhitungan Nilai X2
Uji kesesuaian metode chi-kuadrat menggunakan rumus:
n 2
(Of −Ef )
X 2 =∑
i=1 Ef
Dimana:
X2 : Harga chi-kuadrat terhitung
Of : Frekuensi yang diamati pada kelas yang sama
Ef : Frekuensi yang diharapkan sesuai dengan pembagian kelasnya
n : jumlah data

a. Distribusi Normal
Adapun rekapitulasi perhitungan distribusi normal dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 3.26 Rekapitulasi Perhitungan Metode Chi Kuadrat Distribusi Normal


No Batasan Of Ef (Of - Ef)² (Of - Ef)²/Ef
1 < 49,53 1 2 1 0.50
2 49,53 - 73,56 5 2 9 4.50
3 73,56 - 93,92 1 2 1 0.50
4 93,92 - 117,95 2 2 0 0.00
5 > 117,95 1 2 1 0.50
Jumlah 10 10 X² 6.00
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai x2 = 6
Syarat:
X2 < X2 cr
6.00 < 9,21 (Diterima)
Sehingga, Distribusi Normal Metode Chi-Kuadrat diterima.

b. Distribusi Log Normal


Pada perhitungan distribusi Log Normal ini untuk perhitungan metode Chi-
Kuadrat didapatkan:
Of = 1
Ef = 2
• Untuk (Of-Ef)2
(Of – Ef)2 = (1-2)2
=1
( Of −Ef )2 ( 1−2 )2
• Untuk =( = 0,50
Ef 2

Adapun rekapitulasi perhitungan distribusi log normal dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 3.27 Rekapitulasi Perhitungan Metode Chi-Kuadrat Distribusi Log Normal


N
o Batasan Of Ef (Of - Ef)² (Of - Ef)²/Ef
1 < 83,71 1 2 1 0.50
2 83,71 - 83,71 5 2 9 4,50
100,3
3 2 - 100,32 0 2 4 2.00
116,9
4 6 - 116,96 3 2 1 0.50
5 > 140,17 1 2 1 0.50
Jumlah 10 10 X² 8.00
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai x2 = 8.00
Syarat:
X2 < X2 cr
8.00 < 9,31
Sehingga, Distribusi Log Normal Metode Chi-Kuadrat diterima.

c. Distribusi Log Pearson Type III


Pada perhitungan distribusi Log pearson type III l ini untuk perhitungan metode
Chi-Kuadrat didapatkan:
Of = 0
Ef = 2
• Untuk (Of-Ef)2
(Of – Ef)2 = (0-2)2
=4
( Of −Ef )2 ( 0−2 )2
• Untuk =( = 2,0
Ef 2

Adapun rekapitulasi perhitungan distribusi log pearson type III dapat dilihat
pada tabel berikut:

Tabel 3.28 Rekapitulasi Perhitungan Metode Chi-Kuadrat Distribusi Log Pearson


Type III
No Batasan Of Ef (Of - Ef)² (Of - Ef)²/Ef
1 < 70,55 0 2 4 2.00
111,4
2 70,55 - 2 1 2 1 0.50
114,5
3 111,42 - 0 5 2 9 4.50
135,1
4 114,50 - 9 3 2 1 0.50
5 > 135,19 1 2 1 0.50
Jumlah 10 10 X² 8.00
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai x2 = 8,00,
Syarat:
X2 < X2Cr
8.00 < 9,21 (Diterima)
Sehingga, Distribusi Log Pearson Type III Metode Chi-Kuadrat diterima.

d. Distribusi Gumbel
Pada perhitungan distribusi gumbel ini untuk perhitungan metode Chi-Kuadrat
didapatkan:
Of = 0
Ef = 2
• Untuk (Of-Ef)2
(Of – Ef)2 = (0-2)2
=4

( Of −Ef )2 ( 0−2 )2
• Untuk =( = 2,0
Ef 2

Adapun rekapitulasi perhitungan Metode Chi-Kuadrat distribusi gumbel untuk


masing – masing interval dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.29 Rekapitulasi Perhitungan Metode Chi-Kuadrat Distribusi Gumbel


No Batasan Of Ef (Of - Ef)² (Of - Ef)²/Ef
1 < 42,10 0 2 4 2.00
2 42,10 - 66,40 6 2 16 8.00
3 66,40 - 91,31 0 2 4 2.00
4 91,31 - 126,82 3 2 1 0.50
5 > 126,82 1 2 1 0.50
Jumlah 10 10 X² 13.00
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai x2 = 13,00


Syarat:
X2 < X2 cr
13,00 < 9,21
Sehingga, Distribusi Gumbel Metode Chi-Kuadrat tidak diterima.

Dari keempat Distribusi Probabilitas yang telah dijabarkan pada perhitungan


di atas untuk Nilai X2 dan X2Cr dapat digabungkan sehingga menjadi tabel
rekapitulasi seperti di bawah ini :

Tabel 3.30 Rekapitulasi Nilai X2 dan X2Cr


Hasil Pengujian
Jenis Distribusi
X2 Terhitung X2Cr Keterangan

Normal 6.00 9.21 Diterima


Log Normal 8.00 9.21 Diterima
Log Person Type III 8.00 9.21 Diterima
Gumbel 13.00 9.21 Tidak Diterima
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan proses pengujian kesesuaian atau kecocokan diatas


dengan metode chi-kuadrat, distribusi probabilitas yang memiliki nilai X2 < X2 Cr
adalah adalah normal, Log Normal, Log Pearson Type III dapat diterima dan Gumbel
Tidak dapat Diterima maka dapat disimpulkan bahwa 3 distribusi probabilitas dapat
diterima.

2. Metode Smirnox-Kolmogrof (Secara Analitis)


Pengujian distribusi probabilitas dengan Metode Smirnov-Kolmogorof dilakukan
dengan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut:
 Urutkan data (Xi) dari besar ke kecil atau sebaliknya.
 Tentukan peluang empiris masing-masing data yang sudah diurut tersebut
P(Xi) dengan rumus tertentu, rumus Weibull misalnya.

𝑃(𝑋𝑖) =
i
(n+1)

Dimana:
i : nomor urut data
n : jumlah data
 Tentukan peluang teoritis masing-masing data yang sudah diurut tersebut
P'(Xi) berdasarkan persamaan distribusi probabilitas yang dipilih (Gumbel,
Normal, dan sebagainya).
 Hitung selisih (∆P), antara peluang empiris dan teoritis untuk setiap data yang
sudah diurut: ∆P = |P(Xi) - P'(Xi)|
 Tentukan apakah ∆P max < ∆P kritis, jika "tidak" artinya Distribusi
Probabilitas yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.
 ∆P kritis dapat dilihat pada Lampiran Tabel Nilai ∆P kritis Smirnov
Kolmogorof.

Berikut adalah perhitungan untuk masing –masing pengujian distribusi


probabilitas.
a. Distribusi Probabilitas Normal
Untuk Perhitungan Rh area (Xi) = 137,10 mm
1. Perhitungan Peluang Empiris P (xi)
i
P (xi) =
n+1
1
=
10+1
= 0,09
2. Perhitungan nilai F(t) atau K untuk distribusi probabilitas normal
x−x
F (t) =
sd
137 ,10−83 , 74
=
40 , 72
= 1,31
3. Perhitungan Peluang teoritis
P’(x) = 1 – luas kurva normal
= 1 – 0,9908
= 0,01
Untuk nilai kurva normal diambil pada tabel penentuan Kt (Tabel Nilai
Variabel Reduksi Gauss) dapat dilihat pada lampiran.
4. Perhitungan selisih (∆p)
ΔP = |P (xi) – P’(xi)|
= 0,09 – 0,01
= 0,08
Berikut adalah tabel hasil Analisa distribusi probabilitas normal.
Tabel 3.31 Rekapitulasi Perhitungan Metode Smirnov Distribusi Normal
No Xi P sd Ft Kurva P' |ΔP|
1 137.10 0.09 1,31 0,9908 0,01 0,08
2 93.80 0.18 0,25 0,5881 0,41 0,23
3 93.40 0.27 0,24 0,5832 0,42 0,14
4 89.20 0.36 0,13 0,5546 0,45 0,08
5 87.60 0.45 40,72 0,09 0,4753 0,52 0,07
6 83.60 0.55 0,00 0,4645 0,54 0,01
7 82.80 0.64 -0,02 0,4610 0,54 0,10
8 74.50 0.73 -0,23 0,3703 0,63 0,10
9 47.90 0.82 -0,88 0,2465 0,75 0,06
10 47.50 0.91 -0,89 0,0463 0,95 0,04
ΔP maks 0.16
X rerata 83.74
ΔP Kritis 0.49
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan tabel diatas, terlaihat bahwa ∆P maksimum adalah 0,23. Karena


jumlah data 10 dan α (derajat kepercayaan) adalah 5 %, maka ∆P kritis adalah 0,49.
Syarat: ∆P maksimum < ∆P kritis. Sehingga, 0,16 < 0,49, distribusi normal metode
smirnov diterima.

b. Distribusi Probabilitas Log Normal


Untuk Perhitungan Rh Area (𝐿𝑜𝑔 𝑋) = 2,14 mm
1. Perhitungan Peluang empiris P (xi)
i
P (xi) =
n+1
1
=
10+1
= 0,09
2. Perhitungan F(t) atau K untuk distribusi probabilitas log normal
log x−log x
F (t) =
sd
2 ,14−1 , 90
=
0 ,13
= 1,76
3. Perhitungan Peluang Teoritis
P’(x) = 1 – luas kurva normal
= 1 – 0,9754
= 0,02
Untuk nilai kurva normal diambil pada tabel penentuan Kt (Tabel Nilai Variabel
Reduksi Gauss) dapat dilihat pada lampiran.
4. Perhitungan selisih (∆p)
ΔP = |P (xi) – P’(xi)
= 0,09 – 0,02
= 0,07

Berikut adalah tabel hasil analisa distribusi probabilitas Log normal.

Tabel 3.32 Rekapitulasi Perhitungan Metode Smirnov Distribusi Log Normal


Kurv
No Log Xi P sd Ft P' |ΔP|
a
1 2.14 0.09 1,75 0,9754 0,02 0,07
2 1.97 0.18 0,51 0,6292 0,37 0,19
3 1.97 0.27 0,50 0,6254 0,37 0,10
4 1.95 0.36 0,35 0,5986 0,40 0,04
5 1.94 0.45 0,29 0,5279 0,47 0,02
0.13
6 1.92 0.55 0,14 0,5199 0,48 0,07
7 1.92 0.64 0,10 0,5144 0,49 0,15
8 1.87 0.73 -0,24 0,4080 0,59 0,14
9 1.68 0.82 -1,68 0,2598 0,74 0,08
10 1.68 0.91 -1,71 0,0019 1,00 0,09
0.18
ΔP maks
X rerata 1.90 9
ΔP Kritis 0.49
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan tabel diatas, terlaihat bahwa ∆P maksimum adalah 0,189. Karena


jumlah data 10 dan α (derajat kepercayaan) adalah 5 %, maka ∆P kritis adalah
0,49. Syarat: ∆P maksimum < ∆P kritis. Sehingga, 0,189 < 0,49, distribusi log
normal metode smirnov diterima.

c. Distribusi Probabilitas Log Pearson Type III


Untuk Perhitungan Rh Area (𝐿𝑜𝑔 𝑋) = 2,14 mm
1. Perhitungan Peluang empiris P (xi)
i
P (xi) =
n+1
1
=
10+1
= 0,09

2. Perhitungan F(t) atau K untuk distribusi probabilitas log normal


log x−log x
F (t) =
sd
2 ,14−1.90
=
0 ,13
= 1,75
3. Perhitungan Peluang teoritis
Perhitungan nilai P’(Xi) ditentukan berdasarkan nilai Cs dan nilai Kt atau F(t)
pada tabel Nilai K untuk distribusi Log Pearson Type III. Sehingga untuk nilai F(t) =
2,21 dan Cs= -1,28 (data dari hasil analisa 3.2 metode Log Pearson Type III)
diperoleh presentase peluang teoritis terlampaui P’(Xi) dengan cara interpolasi nilai
pada tabel LA-4 Nilai K untuk distriibusi Log Person Type III adalah 5,03 % atau
0,05.
Perhitungan selisih (∆p)
ΔP = |P (xi) – P’(xi)
= 0,09 – 0,02
= 0,07
Berikut adalah tabel hasil analisa distribusi probabilitas Log Pearson Type III.

Tabel 3.33 Rekapitulasi Perhitungan Metode Smirnov Distribusi Log Pearson


Type III
No Log Xi P sd Cs F(t) P' |ΔP|
1 2.14 0.09 1,75 0,02 0,07
2 1.97 0.18 0,51 0,40 0,21
3 1.97 0.27 0,50 0,40 0,13
4 1.95 0.36 0.13 1,28 0,35 0,43 0,06
5 1.94 0.45 0,29 0,49 0,04
6 1.92 0.55 0,135 0,50 0,04
7 1.92 0.64 0,104 0,50 0,13
8 1.87 0.73 -0,24 0,55 0,18
9 1.68 0.82 -1,68 0,63 0,19
10 1.68 0.91 -1,71 0,91 0,00
ΔP maks 0.21
X rerata 1.90
ΔP Kritis 0.49
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa ∆P maksimum adalah 0,21. Karena


jumlah data 10 dan α (derajat kepercayaan) adalah 5 %, maka ∆P kritis adalah 0,49.
Syarat: ∆P maksimum < ∆P kritis. Sehingga, 0,20 < 0,49, distribusi probabilitas log
pearson type III diterima.

d. Distribusi Probabilitas Gumbel


Untuk Perhitungan Rh Area (Xi) = 137.10 mm
1. Perhitungan Peluang empiris P (xi)
i
P (xi) =
n+1
1
=
10+1
= 0,09
2. Perhitungan F(t) atau K untuk distribusi probabilitas normal
x−x
F (t) =
sd
137 ,10−83 , 74
=
40 , 72
= 1,31
3. Perhitungan nilai Yt
Untuk n = 10 maka nilai Yn = 0,4952 dan Sn = 0,9497
Yt = F(t) x Sn + Yn
= 1,31 x 0,9497 + 0,4952
= 1,74
4. Perhitungan nilai T
Nilai T diperoleh dari interpolasi berdasarkan Tabel Nilai Reduced Variate
(Y) pada lampiran. Sehingga untuk Yt = 2,50 dapat diperoleh T = 19,81
5. Perhitungan Peluang teoritis
1
P’(x) =
T
1
=
19 ,81
= 0,05
6. Perhitungan selisih (∆p)
ΔP = |P (xi) – P’(xi)|
= 0,09 – 0,05
= 0,04

Berikut adalah tabel hasil analisa distribusi probabilitas Gumbel:

Tabel 3.34 Rekapitulasi Perhitungan Metode Smirnov Distribusi Gumbel


No Xi P sd Ft Yt T P' |ΔP|
19,8
1 137.10 0.09 1,31 1,740 0,05 0,04
1
2 93.80 0.18 0,25 0,730 3,79 0,26 0,08
3 93.40 0.27 0,24 0,720 3,48 0,29 0,01
4 89.20 0.36 0,13 0,623 2,93 0,34 0,02
5 87.60 0.45 40,72 0,09 0,585 1,62 0,62 0,16
6 83.60 0.55 0,00 0,492 1,61 0,62 0,08
7 82.80 0.64 -0,02 0,473 1,40 0,71 0,08
8 74.50 0.73 -0,23 0,280 1,88 0,53 0,19
9 47.90 0.82 -0,88 -0,341 1,52 0,66 0,16
10 47.50 0.91 -0,89 -0,350 1,35 0,74 0,17
ΔP maks 0.19
X Rerata 83.74
ΔP Kritis 0.49
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa ∆P maksimum adalah 0,19. Karena


jumlah data 10 dan α (derajat kepercayaan) adalah 5 %, maka ∆P kritis adalah 0,49.
Syarat: ∆P maksimum < ∆P kritis. Sehingga, 0,19 < 0,49, distribusi probabilitas
gumbel diterima.

Tabel 3.35 Rekapitulasi Pengujian Kesesuaianatau Kecocokan Distribusi Metode


Smirnov Kolmogorof

Hasil Pengujian
Jenis Distribusi Smirnov -
Analisa Hujan Rencana Chi Kuadrat
Kolmogorof

Normal Tidak memenuhi Diterima Di Terima


Log Normal Tidak memenuhi Diterima Diterima
Log Person Type III Memenuhi Diterima Diterima
Gumbel Memenuhi Tidak Diterima Di Terima
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Berdasarkan hasil data rekapitulasi di atas, dapat kita lihat bahwa dari hasil
analisa hujan rencana, hanya metode distibusi Log Pearson III yang dapat diterima
untuk menganalisis intensitas hujan. Pada uji Distribusi Chi Kuadrat metode gumbel
distibusi tidak dapat diterima untuk menganalisis intensitas hujan. Sedangkan pada
uji Distribusi Smirnov-Kolmogorof (baik analitis maupun grafis) terlihat bahwa
semua metode distibusi dapat diterima untuk menganalisis intensitas hujan.
Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa hanya metode distibusi Log
Pearson III yang dapat memenuhi seluruh persyaratan pada kedua tabel rekapitulasi
di atas.

e. Periode Ulamg
Periode ulang didefinisikan sebagai waktu hipotetik di mana atau hujan dengan
suatu besaran tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu
tersebut.
 Peluang Terjadi Pada X Tahun
1
Periode ulang 2 tahun = = 0,5 = 50%
2
1
Periode ulang 5 tahun = = 0,2 = 20%
5
1
Periode ulang 10 tahun = = 0,1 = 10%
10
1
Periode ulang 20 tahun = = 0,05 = 5%
20
1
Periode ulang 25 tahun = = 0,04 = 4%
25
1
Periode ulang 50 tahun = = 0,02 = 2%
50

 Peluang Tidak Terjadi Pada X Tahun


1
Periode ulang 2 tahun = 1− = 0,5 = 50%
2
1
Periode ulang 5 tahun = 1− = 0,8 = 80%
5
1
Periode ulang 10 tahun = 1− = 0,9 = 90%
10
1
Periode ulang 20 tahun = 1− = 0,95 = 95%
20
1
Periode ulang 25 tahun = 1− = 0,96 = 96%
25
1
Periode ulang 50 tahun = 1− = 0,98 = 98%
50

 Peluang Terjadi Pada X Tahun Secara Berurutan

( ) = 0,75 = 75%
2
1
Periode ulang 2 tahun = 1− 1−
2

Periode ulang 5 tahun = 1−(1− ) = 0,36 = 36%


2
1
5

Periode ulang 10 tahun = 1−(1− ) = 0,19 = 19%


2
1
10
( ) = 0,0975 = 10%
2
1
Periode ulang 20 tahun = 1− 1−
20

Periode ulang 25 tahun = 1−(1− ) = 0,0784 = 8%


2
1
25

Periode ulang 50 tahun = 1−(1− ) = 0,0396 = 4%


2
1
50

3.3 Analisa Intensitas Curah Hujan


Diketahui data yang kita miliki adalah data yang berasal dari curah hujan harian,
sehingga perhitungan intensitas curah hujan dapat ditentukan dengan metode
Mononombe. Adapun rumus dari metode tersebut adalah :

( )
2/ 3
R 24 24
I= x
24 t
Keterangan:
I : Intensitas Curah Hujan Harian (mm/jam)
R24 : Curah Hujan Harian Maksimum atau curah hujan rencana (mm)
T : Durasi Curah Hujan (jam)

Contoh Perhitungan metode mononobe:


Diketahui Curah hujan berdasarkan metode Log Pearson Type III

Tabel 3.36 Perhitungan Curah Hujan Log Pearson Type III


Periode Ulang (thn) Kt Log Xt Xt (mm)
2 -1,397 0,250 1,779
5 -0,207 1,770 79,837
10 0,722 2,131 102,700
15 1,339 2,213 113,842
20 1,594 2,247 117,896
25 1,849 2,281 122,095
50 2,104 2,315 126,444
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
Misalnya : Pada perhitungan 1.01 tahun periode ulang 1 jam
R 24 24
I= x ( ¿ 2/3
24 t
2
1, 78 24 3
I= x( )
24 1
= 0,62 mm/jam
Untuk Hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel rekapitulasi berikut ini

Tabel 3.37 Rekapitulasi Perhitungan Intensitas Hujan


Periode Ulang Intensitas
1.01 th 2 th 5 th 10 th 15 th 20 th 25 th 50 th
R₂₄ (mm) 1,78 79,84 102,70 113,84 117,90 122,10 126,44 138,90
t t mm/jam mm/jam mm/jam mm/jam mm/jam mm/jam mm/jam mm/jam
(menit) (jam)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
60 1 0,62 27,68 35,60 39,47 40,87 42,33 43,84 48,15
120 2 0,39 17,44 22,43 24,86 25,75 26,67 27,61 30,33
180 3 0,30 13,31 17,12 18,97 19,65 20,35 21,07 23,15
240 4 0,24 10,98 14,13 15,66 16,22 16,80 17,40 19,11
300 5 0,21 9,47 12,18 13,50 13,98 14,48 14,99 16,47
360 6 0,19 8,38 10,78 11,95 12,38 12,82 13,28 14,58
420 7 0,17 7,56 9,73 10,79 11,17 11,57 11,98 13,16
480 8 0,15 6,92 8,90 9,87 10,22 10,58 10,96 12,04
540 9 0,14 6,40 8,23 9,12 9,45 9,78 10,13 11,13
600 10 0,13 5,96 7,67 8,50 8,81 9,12 9,44 10,37
660 11 0,12 5,60 7,20 7,98 8,26 8,56 8,86 9,74
720 12 0,12 5,28 6,79 7,53 7,80 8,08 8,36 9,19
780 13 0,11 5,01 6,44 7,14 7,39 7,66 7,93 8,71
840 14 0,11 4,76 6,13 6,79 7,04 7,29 7,55 8,29
900 15 0,10 4,55 5,85 6,49 6,72 6,96 7,21 7,92
960 16 0,10 4,36 5,61 6,22 6,44 6,67 6,90 7,58
1020 17 0,09 4,19 5,39 5,97 6,18 6,40 6,63 7,28
1080 18 0,09 4,03 5,18 5,75 5,95 6,16 6,38 7,01
1140 19 0,09 3,89 5,00 5,54 5,74 5,94 6,16 6,76
1200 20 0,08 3,76 4,83 5,36 5,55 5,74 5,95 6,54
1260 21 0,08 3,64 4,68 5,19 5,37 5,56 5,76 6,33
1320 22 0,08 3,53 4,53 5,03 5,21 5,39 5,58 6,13
1380 23 0,08 3,42 4,40 4,88 5,05 5,23 5,42 5,95
1440 24 0,07 3,33 4,28 4,74 4,91 5,09 5,27 5,79
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
60
Grafik Intensitas Curah Hujan

50
Intensitas Hujan (mm/jam)

40

30

20

10

0
0 5 10 15 20 25 30

Durasi (jam)
1.01 th 2 th 5 th 10 th 15 th 20 th 25 th 50 th
Gambar 3.1 Grafik Intensitas Hujan
(Sumber : Analisa Perhitungan, 2022)
Dari grafik Intensitas Curah Hujan di atas dapat disimpulkan bahwa intensitas
curah hujan yang tinggi berlangsung pada durasi pendek, sebaliknya curah hujan
dengan intensitas yang rendah cenderung terjadi pada durasi yang relatif Panjang.
Hal ini dapat dilihat juga dalam kurva diatas dimana pada durasi 0 – 1 jam, hubungan
antara intensitas hujan dan durasi hujan berbanding lurus. Hal ini ditandai dengan
garis kurva yang linear,akan tetapi ketika berada pada durasi 1 jam intensitas hujan
mengalami kenaikan, dan pada durasi 2 jam kurva mengalami penurunan yang
konstan hingga durasi 24 jam.

3.4 Perhitungan Luas Catchmen Area Persegmen


Dari gambar di atas, didapatkan luas segmen yang dihitung secara otomatis
berdasarkan Luas Area suatu lahan yang diinginkan dengan menggunakan aplikasi
ArcGis dalam satuan m2. Perhitungan tiap segmen pada gambar diatas dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.38 Luasan Catchmen Area Per Segmen

LUAS DI ARGIS
SEGMEN CA
(km) (m) (m^2)
A1 0.004647 0.4647 46.47
A2 0.003666 0.3666 36.66
A3 0.001108 0.1108 11.08
A
A4 0.004216 0.4216 42.16
A5 0.005469 0.5469 54.69
A6/A7 0.000883 0.0883 8.83
B1 0.005068 0.5068 50.68
B2 0.003978 0.3978 39.78
B
B3 0.005221 0.5221 52.21
B4/B5 0.000829 0.0829 8.29
TOTAL 0.035085 3.5085 350.85
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
3.5 Perhitungan Tinggi Titik Patok Saluran Elevasi Hulu dan Hilir Saluran
Analisa perhitungan ini merupakan, salah satu perhitungan yang wajib, karena
perhitungan ini untuk menentukan elevasi hulu dan elevasi hilir saluran pada
perhitungan debit rencana. Pada Analisa perhitungan ini, terlebih dahulu kami
meletakkan patok pada peta kontur untuk daerah catchmen area. Patok tersebut
diletakkan pada setiap pojok saluran dalam CA. Untuk patok yang sudah kami
letakkan pada catchmen area sudah kami beri tanda dan dapat dilihat pada Lampiran
Gambar 7.
Dari kontur yang sudah kami tandai letak patoknya, dapat kami lihat Kt, X, Y,
dan IK pada setiap titik patok, sebagai berikut:

Tabel 3.39 Perhitungan Tinggi Titik Patok Saluran

Segmen Nama Titik kt x y X Y Ik Tinggi Titik

A1 7 1.78 1.69 0.01779 0.01689 1 8.0533


A2 3 2.04 1.56 0.02042 0.01555 1 4.3132
A3 3 0.37 0.48 0.00368 0.0048 1 3.7667
A
A4 4 0.88 0.88 0.00881 0.00883 1 4.9977
A5 4 2.30 2.02 0.02297 0.02022 1 5.1360
A6/A7 1 0.40 0.34 0.00401 0.00344 1 2.1657
B1 8 1.64 1.62 0.01644 0.01623 1 9.0129
B2 3 2.25 1.97 0.02252 0.01968 1 4.1443
B
B3 3 2.28 2.26 0.02283 0.02264 1 4.0084
B4/B5 1 0.37 0.34 0.00367 0.00344 1 2.0669
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

3.6 Perhitungan Debit Rencana


a. Metode Rasional Modifikasi
Metode Rasional merupakan rumus yang tertua dan yang terkenal di antara
rumus-rumus empiris. Metode Rasional dapat digunakan untuk menghitung debit
puncak sungai atau saluran namun dengan daerah pengaliran yang terbatas. Dalam
Montarcih (2009) dijelaskan jika ukuran daerah pengaliran > 5000 Ha maka koefisien
pengaliran (C) bisa dipecahpecah sesuai tata guna lahan dan luas lahan yang
bersangkutan. Dalam Suripin (2004) dijelaskan penggunaan Metode Rasional pada
daerah pengaliran dengan beberapa sub daerah pengaliran dapat dilakukan dengan
pendekatan nilai C gabungan atau C rata-rata dan intensitas hujan dihitung
berdasarkan waktu konsentrasi yang terpanjang.
Perhitungan besarnya debit rencana untuk berbagai periode ulang dengan
metode rasional menggunakan persamaan berikut :
Qt= 0,278 x C x I T x A

Keterangan :

Qt = debit rencana dengan periode ulang T tahun (m3/dtk)


C = koefisien pengaliran (tanpa dimensi)
I T = intensitas curah hujan dengan periode ulang T tahun (mm/jam)
A = luas daerah pengaliran (km2)

Contoh Analisa Pada Saluran ST1 dengan sakala 1:2000


 Data – data Saluran
1. Panjang Saluran (L)
L = 46,47 m
= 0,465 cm
= (0,465 x 2000)/100000
= 0,00929 km
2. Luas Daerah Pengaliran (A)
A = 46,47 m2
= 41,26 x 20002
= 185880000 cm2
= 0,01859 km2
3. Elevasi Hulu (H1)
H1 = 8,0533 m
= 0,008 km

4. Elevasi Hilir ( H2 )
H2 = 4,3132 m
= 0,004 km

5. Koefisien Aliran (C)


Digunakan nilai 0.5 dengan asumsi daerah perencanaan merupakan kawasan
Rumah Tinggal . Nilai Koefisien Aliran ( C ) dapat dilihat pada lampiran Koefisien
Aliran ( C ) untuk Rumus Rasional.

 Analisis Perhitungan

1. Kemiringan rata- rata lahan ( S )


∆H
S=
L
0 , 0 08−0,004
¿
0.9 x 46 , 47
¿ 0,402

2. Perhitungan Nilai tc
Nilai tc dapat di hitung dengan rumus Kirpich berikut.

( )
2 0,385
0 , 87 x 7 , 09
tc =
1000 x s

=(
1000 x 0,402 )
2 0,385
0 , 87 x 7 , 09

= 1,81 jam
= 108,58 menit
3. Perhitungan Nilai Intensitas curah hujan ( IT )
Berikut contoh perhitungan nilai I untuk periode ulang 2 tahun dengan nilai
tc = 0,402 jam

[ ][ ]
2/ 3
R 24 24
I= x
24 tc

[ ][ ]
2 /3
79 , 84 24
= x
24 0.402

= 18,64 mm/jam

4. Perhitungan nilai debit rencana (Qt)


Pada saluran A1 merupakan saluran tersier sehingga luasannya adalah:
Qsaluran = 0,278 x C x I x A
= 0,278 x 0,5 x 18,64 x 0,01859
= 0,04815 m3/dtk

5. Perhitungan Debit Limbah


Dalam perencanaan drainase, kita harus menghitung debit. Debit yang masuk
kedalam saluran tidak hanya berasal dari air hujan, melainkan bersumber dari limbah
rumah tangga juga . sehingga perlu diperhitungkan besarnya debit limbah atau debit
ari kotor.
Dari data Badan Pusat Statistik Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara
Tahun 2021, diperoleh data demografi untuk wilayah Kecamatan Kambu, Kelurahan
Lalolara, Lorong Anawai Depan Kampus UHO (Lampiran)
Dik :
Luas Catchmen Area = 0,035085 km2
Luas Daerah Kelurahan Lalolara = 2,96 km2
Jumlah Penduduk Kelurahan Lalolara = 6759 Orang
Dit :
Jumlah Penduduk Ca =…orang?
Tingkat Kepadatan Penduduk (Kp) Ca =… orang/km2 ?
Peny :
Dengan menggunakan perbandingan antara kelurahan Lalolara dan Ca, diperoleh,
jumlah penduduk Ca, sebagai berikut:
Jumlah penduduk kelurahan lalolara Jumlah penduduk CA
=
Luas daerah kelurahanlalolara Luas Catchmen Area
6759 X
= =
2 ,96 0,035085
6759 x 0,035085
X=
2 , 96
= 80,1147 orang

Tingkat Kepadatan Penduduk (Kp) diperoleh dengan bentuk persamaan


sebagai berikut:
Jumlah Penduduk dalam CA
Kp =
Luas CA
80,1147
Kp =
0,035085
= 2283,4459 Orang/km2

Kuantitasnya air limbah dapat diasumsikan adlah 50%-70% dari rata-rata pemakaian
air bersih (120-140 liter/orang/hari) (Sumber: Kodoatie dan Sjarief, 2005)

Jadi, Tingkat Pemakaian Air bersih (Qb) = 120 Liter/org/hari


Presentasi Air Limbah (Pa) = 50 %
Sehingga persamaan limbah diperoleh dengan bentuk sebagai berikut :
Qlimbah = Kp x Qb x Pa
50
= 2283,446 x 120 x
100
= 137006,76 liter/hari/km2

Tabel 3.40 Hasil perhitungan limbah kawasan


Presentase
T. Pemakaian
T. kepadatan Air Limbah QLimbah
Air Bersih (Qb)
Penduduk (Kp) (Pa)

org/Km ltr/org/hari % (ltr/hari)/Km


2283.446 120 50.00 137006.76
(Sumber : Analisa Perhitungan, 2022)

Ditanyakan :
Qlimbah = …..m3/dtk
Penyelesaian :
𝑄𝐿𝑖𝑚𝑏𝑎ℎ = 𝑄𝑙 𝑥 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐶𝐴
24
Qlimbah = 137006,76 x 0,01859 x 0,001 x ( )
3600
= 1,697787 m3 /detik

6. Perhitungan Debit Gabungan (Qgab)


Qgab diperoleh dari jumlah Qlimbah dan Qsaluran, sehingga untuk saluran
A1 diperoleh :
Qgab = Qsal + Qlimbah
= 0,04815 + 1,697787
= 1,7459 m3/detik

7. Menghitung debit rencana


Debit rencana merupakan besarnya debit total yang akan mengaliri sebuah
saluran dalam suatu jaaringan drainase, dengan kata lain debit rencana merupakan
akumulasi dari debit gabungan suatu saluran dengan debit gabungan saluran
sebelumnya yang berada dalam satu arah aliran. Karena saluran A1 hanya menerima
aliran dari daerah layanannya sendiri, maka Q Rencananya sama dengan Q
gabungannya = 1,7459 m3/detik.
Untuk Analisa perhitungan debit rencana pada saluran lainnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.41 Rekapitulasi Perhitungan Debit Rencana


Panjang Elevasi Elevasi Q Q
Tc Tc T I A Real Q Saluran Q Rencana
No. Nama keterangan Sal. Hulu Hilir kemiringan Limbah Gabungan
C Keterangan
Saluran Saluran saluran lahan (S)

(Km) (Km) (Km) (jam) (menit) (Tahun) (mm/jam) (m^2) (m^3/dtk) (m^3/dtk) (m^3/dtk) (m^3/dtk)

1 A1 ST1 0.0093 0.00431 0.004313 0.4024 1.8098215 108.5893 2 18.64 0.01859 0.5 0.04815 1.6977877 1.7459 [Link] 1.7459

2 A2 SS1 0.0073 0.00377 0.003767 0.0745 2.8858680 173.1521 5 17.57 0.01466 0.5 0.0358 1.3393781 1.3752 [Link] 1.3752

3 A3 SS2 0.0022 0.00377 0.003767 0.5555 0.5300249 31.8015 5 54.36 0.00443 0.5 0.0335 0.4048093 0.4383 [Link] 0.4383

4 A4 SS3 0.0084 0.00500 0.004998 0.0164 5.7569525 345.4171 5 11.08 0.01686 0.5 0.0260 1.5403213 1.5663 [Link] 1.5663

5 A5 SS4 0.0109 0.00805 0.008053 0.0877 3.6879169 221.2750 5 14.92 0.02188 0.5 0.0454 1.9981065 2.0435 [Link] 2.0435

6 A6-A7 SP1 0.0018 0.00217 0.002166 1.0434 0.3491375 20.9483 10 79.60 0.00353 0.5 0.0391 0.3226052 0.3617 [Link] 0.3617

7 B1 ST2 0.0101 0.00401 0.004008 0.0134 7.1678298 430.0698 2 7.45 0.02027 0.5 0.0210 1.8516006 1.8726 [Link] 1.8726

8 B2 SS5 0.0080 0.00207 0.002067 0.2440 1.9466535 116.7992 5 22.84 0.01591 0.5 0.0505 1.4533677 1.5039 [Link] 1.5039

9 B3 SS6 0.0104 0.00377 0.003767 0.0523 4.3414987 260.4899 5 13.38 0.02088 0.5 0.0388 1.9074994 1.9463 [Link] 1.9463

10 B4-B5 SP2 0.0017 0.00207 0.002067 1.1710 0.3181312 19.0879 10 84.69 0.00332 0.5 0.0390 0.3028763 0.3419 [Link] 0.3419

(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)


3.7 Dimensi Saluran
Dalam perencanaan drainase perhitungan dimensi adalah tahap akhir dalam
perencanaannya. Setelah mengetahui berapa besarnya debit banjir yang akan terjadi
dalam saluran, kita bisa menentukan berapa dimensi atau ukuran, atau kapasitas
saluran drainase yang akan kita renacanakan. Perencanaan dimensi saluran dilakukan
dengan pasangan batu, untuk mengurangi resiko terjadinya longsor akibat debit yang
besar. Pada perencanaan saya, direncakan berbentuk persegi panjang.
Dalam merencanakan drainase, kita harus memilih dimensi yang ekonomis dan
efisien. Saya menggunakan saluran dengan bentuk persegi Panjang dengan
pertimbangan, Bentuk segiempat merupakan bentuk yang biasa digunakan pada ruas
jalan yang mempunyai daerah ROW jalan terbatas, karena bentuk ini dapat
diterapkan untuk daerah lebar milik jalan yang sempit, lahan tersedia terbatas. karena
dalam perencanaan drainase saya, seperti yang dapat dilihat pada lampiran gambar,
bahwa CA saya perencanaannya dominan berada didalam lorong (gang) yang kita
ketahui bersama pada Kawasan ini memiliki lahan yang relatif sempit, kurang
memadai, karena space antar rumah yang sangat rapat. Jarak antara rumah dan jalan
pun sangat dekat, lebar jalan berkisar antara 2-4 m, sehingga dalam perencanaan saya
bentuk dimensi saluran segiempat adalah yang paling ekonomis dan efisien. Seperti
kita ketahui, pada bentuk saluran persegi.
Panjang dalam kawasan seperti lorong atau gang memang sudah sangat sering
digunakan, dan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dengan pertimbangan
diperuntukkan untuk lahan kecil, karena pada bentuk saluran persegi Panjang dari
lebar dasar saluran dan lebar permukaan sama, dengan dinding tebing yang tegak
(vertikal), dan tidak membutuhkan lebar talut, sehingga bentuk ini yang paling
ekonomis karena tidak perlu memangkas rumah ataupun jalan, karena lahannya yang
sempit. Diambil satu contoh perhitungan untuk dijabarkan, yaitu untuk saluran B1-B2
(STB1). Diperoleh nilai debit banjir dan kemiringan saluran berdasarkan perhitungan
debit dengan Metode Rasional. Pada perhitungan dimensi ini digunakan rumus
persamaan manning. Dengan nilai n diambil dari tabel ketentuan, sebagai berikut:
Tabel 3.42 Nilai Koefisien Manning

(Sumber : Chow, 1999)

a. Saluran Tersier
Perencananaan dimensi saluran Tersier dilakukan dengan pasangan batu, karena
debitnya yang kecil, lahan yang tidak cukup luas. Maka direncanakan berbentuk
persegi. Berikut perhitungan untuk ST1
Diketahui :
Q = 1,7459 m3/dtk
Parameter perhitungan untk dimensi saluran ekonomis. Berikut ini
perhitungannya :
 Nilai kemiringan saluran (S)
∆h
S=
0.9 x L
0 , 0 08−0,004
S=
0.9 x 46 , 72
¿ 0,402 m

Nilai n (koefisien kekasaran manning) = 0,025 (Terlampir)


 Tinggi permukaan air saluran (h)
Q= A x V
()
2 1
1 h
Q=h2 √ 3 x x 3
x S2
n 2
8
3 Q
y = 1
1 1 2
√3 x x 3 x S 2
n (2)
8
1,7459
y3
( ) x¿¿
2
1 1
√3 x x 3
0,025 2
8
y 3 =0,063
y=0 ,35 m

 Lebar dasar saluran (b)


b=2 y
b=2 x 0 , 35
b=0 , 71 m
 Kecepatan aliran air (V)

()
2 1
1 h
V= x 3
x S2
n 2

( )
2 1
1 0 , 35
V= x 3
x 0,402 2
0,025 2
V =8 ,01 m/dtk
 Luas penampang basah (P)
P=4 y
P=4 x 0 ,35
P=1 , 42 m
 Tinggi muka air jagaan untuk saluran diperoleh berdasarkan besarnya
debit yang terjadi pada saluran tersebut. Sehingga berdasarkan debit yang
terjadi, diperoleh nilai W sebesar 0,20 m (Lampiran Tinggi Jagaan
Saluran)
 Lebar muka air (T)
T =2 y
T =2 x 0 , 35
T =0 , 7 1 m
 Lebar Atas Saluran (B)
B=2 y
B=2 x 0 ,35
B=0 , 7 1 m

 jari-jari Hidrolis (R)


A
R=
P
0,22
R=
1 , 42
R=0 ,15 m

b. Saluran Sekunder
Perencanaan dimensi saluran sekunder dilakukan dengan pasangan batu,
karena debitnya yang kecil, lahan yang sempit dan estetika, maka direncanakan
berbentuk persegi karena lebih efisien Berikut ini Saluran sekunder yang kita tinjau di
SS.1.

Diketahui :
Q = 1,3752 m3/dtk
Untuk perhitungan dapat dilihat dibawah ini:

 Nilai kemiringan saluran (S)


∆H
S=
L
4,313−3,766
S=
0 , 9 x 36 ,66
S=0,075 m
 Nilai n (koefisien kekasaran manning) = 0,25 (Terlampir)
 Tinggi permukaan air saluran (h)
Q= A x V

()
2 1
1 h
Q=h2 √ 3 x x 3
x S2
n 2
8
3 Q
y = 1
1 1 2
√3 x x 3 x S 2
n (2)
8
1,3752
y3
( ) x¿¿
2
1 1
√3 x x 3
0,025 2
8
y 3 =0 ,115
y=0 , 44
 Lebar dasar saluran (b)
b=2 y
b=2 x 0 , 44
b=0 , 89 m
 Kecepatan aliran air (V)

()
2 1
1 h
V= x 3
x S2
n 2

( )
2 1
1 0 , 44
V= x 3
x 0,075 2
0,025 2
V =4 , 01 m/dtk

 Luas penampang basah (P)


P=4 y
P=4 x 0 , 44
P=1 , 78 m

 Tinggi muka air jagaan untuk saluran diperoleh berdasarkan besarnya


debit yang terjadi pada saluran tersebut. Sehingga berdasarkan debit yang
terjadi, diperoleh nilai W sebesar 0,20 m (Lampiran Tinggi Jagaan
Saluran)

 Lebar muka air (T)


T =2 y
T =2 x 0 , 44
T =0 , 89 m

 Lebar Atas Saluran (B)


B=2 y
B=2 x 0 , 44
B=0 , 89 m

 jari-jari Hidrolis (R)


A
R=
P
0 , 34
R=
1, 78
R=0 ,19 m

c. Saluran Primer
Perencanaan dimensi saluran primer dilakukan dengan pasangan beton, untuk
mengurangi resiko terjadinya longsor akibat debit yang besar. Direncanakan
berbentuk persegi karena lebih efisien dan mudah serta lebih umum di gunakan
dilapangan. Saluran primer yang kita tinjau di SP1.
Diketahui :
Q = 0,3617 m3/detik

Parameter perhitungan untuk dimensi saluran ekonomis. berikut ini


perhitungannya :

 Nilai kemiringan saluran (S)

∆H
S=
L

4 , 00−2 , 16
S=
0 , 9 x 8 , 83

¿ 1 , 04 m

 Nilai n (koefisien kekasaran manning) = 0,025 (Terlampir)

 Tinggi Permukaan Air Saluran (h)

Q =Axv

()
2 1
1 h
Q = h √3 x
2
x 3
x S2
n 2

8
Q
h3 = 1

( ) xS
2
1 1
√3 x x 3 2
n 2
8
0,3617
h3 =
( ) x¿¿
2
1 1
√3 x x 3
0,025 2
8
3
y =0,008

y=0 ,16 m
 Lebar Dasar Saluran (b)
B=2 h

= 2 x 0,16

¿ 0,33 m

 Kecepatan Aliran AIir (v)

()
2 1
1 h
v = x 3
x S2
n 2

( ) x 1 , 0 43
2 1
1 0 , 16 2
= x 3
0,025 2

= 7,72 m/dtk
 Luas Penampang Basah (A)
Q
A =
v

0,3617
=
7 , 72

= 0,05 m²

 Keliling Penampang Basah (P)

P =4y

= 4 x 0 , 16
= 0,66 m
 Tinggi Muka air Jagaan (W)
Tinggi muka air jagaan untuk saluran diperoleh berdasarkan
besarnya debit yang terjadi pada saluran tersebut. Sehingga berdasarkan
debit yang terjadi, diperoleh nilai W sebesar 0,20 m ( Lampiran tinggi
jagaan untuk saluran pasangan)

 Lebar Muka air (T)


T= 2y
= 2 x 0 , 16
= 0,33 m

 Lebar Atas Saluran (B)


B =2y
= 2 x 0 , 16
= 0,33 m
 Jari – Jari Hidrolis (R)
A
R=
P
0 , 05
=
0 , 66
= 0,07 m

Untuk perhitungan Berikutnya Dapat Dilihat Pada tabel dibawah ini:


Tabel 3.43 Hasil Perhitungan Dimensi Saluran

Koefisie
n Kecepata
No. Nama Qrencana y^8/3 y b A P W T B R Bentuk
keteranga Kemiringa Mannin n (v)
Salura Salura Salura
n saluran n Sal, (S) g
n n n

(m3/dtk) (n) (m) (m) (m) (m/dtk) (m2) (m) (m) (m) (m) (m)

1 A1 ST1 1.7459 0.4024 0.025 0.063 0.35 0.71 8.01 0.22 1.42 0.20 0.71 0.71 0.15 persegi

2 A2 SS1 1.3752 0.0745 0.025 0.115 0.44 0.89 4.01 0.34 1.78 0.20 0.89 0.89 0.19 persegi

3 A3 SS2 0.4383 0.5555 0.025 0.013 0.20 0.40 6.40 0.07 0.80 0.20 0.40 0.40 0.09 persegi

4 A4 SS3 1.5663 0.0164 0.025 0.280 0.62 1.24 2.35 0.67 2.48 0.20 1.24 1.24 0.27 persegi

5 A5 SS4 2.0435 0.0877 0.025 0.158 0.50 1.00 4.71 0.43 2.00 0.20 1.00 1.00 0.22 persegi

6 A6-A7 SP1 0.3617 1.0434 0.025 0.008 0.16 0.33 7.72 0.05 0.66 0.20 0.33 0.33 0.07 persegi

7 B1 ST2 1.8726 0.0134 0.025 0.371 0.69 1.38 2.28 0.82 2.76 0.20 1.38 1.38 0.30 persegi

8 B2 SS5 1.5039 0.2440 0.025 0.070 0.37 0.74 6.40 0.24 1.47 0.20 0.74 0.74 0.16 persegi

9 B3 SS6 1.9463 0.0523 0.025 0.195 0.54 1.08 3.83 0.51 2.17 0.20 1.08 1.08 0.23 persegi

10 B4-B5 SP2 0.3419 1.1710 0.025 0.007 0.16 0.32 7.95 0.04 0.63 0.20 0.32 0.32 0.07 persegi

(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)


3.8 Dimensi Gorong-Gorong
Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air
(saluran drainase atau pembuang) melewati bawah jalan air lainnya (biasanya
saluran) yang bertujuan untuk meneruskan aliran dari saluran drainase serta aliran
permukaan yang terpotong oleh jalan raya. Gorong-gorong adalah bangunan drainase
yang berfungsi untuk, memberi jalan kepada air yang mengalir dari parit atau sungai
kecil yang mengalir melintasi jalan dan mengalirkan air yang telah terkumpul di
dalam bakbak penampung selokan samping untuk dibuang keluar ke tempat
pembuangan. Sehingga untuk nilai Panjang Saluran (L) sama dengan nilai lebar jalan,
diasumsikan lebar jalan adalah 7 m, sehingga untuk Panjang saluran gorong-gorong
adalah 7 m, untuk debit dan kecepatan saluran diambil dari nilai debit dan kecepatan
pada saluran yang diterima. Sedangkan untuk kecepatan aliran yang dipakai didalam
perencanaan gorong-gorong bergantung pada jumlah energi yang ada dan geometri
lubang masuk dan keluar. Untuk tujuan-tujuan perencanaan, kecepatan diambil
1,5m/detik untuk gorong-gorong di saluran irigasi dan 3m/detik untuk gorong-gorong
di saluran pembuang (drainase). (Sumber : Kriteria Perencanaan III:2013).
Bentuk gorong – gorong direncanakan dengan penampang segi empat terbuat
dari beton (box culvert). Berikut adalah contoh analisa dimensi gorong-gorong pada
ruas GG.1.

Dik:
 Panjang Gorong-Gorong (L) = 5 m
 Debit masuk (Qmasuk)
Qmasuk= Q∑ss1+ss2
= 3,12 m3/dtk
 Kecepatan Saluran (Vsaluran)
vsaluran = 4.0 [Link]
 Kecepatan Gorong-Gorong(Vgorong-gorong)
Vgorong-gorong = 3 m/dtk (Lampiran Kecepatan Aliran Gorong-Gorong)
 Nilai n (dilihat berdasarkan tabel kecepatan aliran) = 1
 Koefisien kekasaran manning = 0,25
 Koefisien debit ( μ) = 0,80 (lampiran harga-harga μ dalam gorong-gorong
pendek)
 Tipe gorong-gorong yang direncanakan adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Tipe gorong-gorong yang direncanakan

Sehingga:
ξ masuk =0 ,50

ξ keluar =1 , 00

Adapun perhitungan untuk dimensi gorong-gorong adalah sebagai berikut :

 Perhitungan luas penampang gorong-gorong (A)


Q
A=
V gorong−gorong
3 , 12
A=
3,0
2
A=1 ,04 m
 Jika direncanakan gorong-gorong berbentuk persegi sehingga tingginya (h)
n = 1,0
b =nxh
b = 1,0 x h
Maka,
A =bxh
1,04 =1,0 x h2

y=
√ 1 ,04
1,0
y=1,020 m

 Menghitung lebar dasar gorong-gorong (b)


b=nxh
= 1,0 x 1,020
= 1,020 m

 Ruang udara di dalam gorong-gorong adalah 1/4 y maka ¼ x 1,020 = 0,25 m


sehingga y total = 1,020 + 0,25 = 1,27 m

 Perhitungan keliling penampang basah (P)


P = b + 2h
= 1,020 + 2 x 1,020
= 3,06

 Perhitungan jari-jari hidrolis (R)


A
R=
P

1 , 04
R=
3 , 06

R=0 ,34

 Kehilangan Tinggi Energi


 Kehilangan Masuk
2
( v saluran −v gorong )
∆ H masuk =ξ masuk
2∙ g
( 4−3 )2
∆ H masuk =0 , 50
2 x 9 ,81
∆ H masuk =0 , 0 260
 Kehilangan Keluar
2
( v saluran −v gorong )
∆ H keluar =ξ keluar
2∙ g

( 4−3 , 0 )2
∆ H keluar =1 , 0
2 x 9 , 81

∆ H keluar =0 , 0 520 m

 Kehilangan akibat Gesekan


Mencari nilai dari koefisien chezy ( C ) dengan rumus berikut:
1
1
C= ∙ R 6
n
1
1
C= ∙ 0 ,34 6
0 ,25
C=33
Maka tinggi energi pada kehilangan akibat gesekan yaitu :

2
v saluran ∙ L
∆ H f= 2
C ∙R
2
4 ∙5 , 0
∆ H f= 2
33 x 0 , 34
∆ H f =0.2117 m
 Tinggi Kehilangan
z=∆ H masuk +∆ H keluar + ∆ H f

z=0 , 0 260+0 , 0 520+0 , 2117

z=0 , 2897 m
 Debit masuk pada gorong-gorong (Qgorong-gorong)
Q gorong− gorong=μ ∙ A ∙ √ 2 g ∙ z

Q gorong− gorong=0 ,80 x 0 , 08 x √ 2 x 9 , 81 x 0 , 2897

Q gorong− gorong=1,9843 m3/dtk

 Syarat :
Qgorong-gorong < Qmasuk
1,9843 m3/dtk < 3,12 m3/dtk  Dimensi memadai

Untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 3.44 Rekapitulasi Perhitungan Dimensi Gorong-Gorong

ruang
Panjang v v
Qmasuk A y (h) b udara y tot P R
Nama Ruas Gorong - Gorong (L) (saluran) (gorong- n (h/4)
gorong)

(m) (m3/dtk) (m/dtk) (m2) (m) (m) (m) (m) (m) (m)

GG1 5.00 3.12 4.0 3.000 1.04 1.00 1.020 1.020 0.25 1.27 3.06 0.34

GG2 5.00 0.44 2.3 3.000 0.15 1.00 0.382 0.382 0.10 0.48 1.15 0.13

GG3 5.00 3.97 4.7 3.000 1.32 3.45 0.620 2.136 0.15 0.77 3.38 0.39

GG4 5.00 1.95 2.3 3.000 0.65 1.00 0.805 0.805 0.20 1.01 2.42 0.27

∆Hmasu ∆Hkelua koefisie Qgorong


g ∆Hf z
ξmasu k r n koefisie -gorong
μ ξkeluar Ket
k mannin n chezy
(m/ g
(m) (m) (m) (m) (m3/dtk)
dtk2)
0.0260 0.0520 0.025 33 0.2117 0.2897 1.9843 Dimensi Memadai
0.0108 0.0217 0.025 28 0.2687 0.3012 0.2841 Dimensi Memadai
0.80 0.50 1.00 9.81
0.0737 0.1475 0.025 34 0.2406 0.4618 3.1877 Dimensi Memadai
0.0108 0.0217 0.025 32 0.0994 0.1320 0.8352 Dimensi Memadai
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)
3.9 Perhitungan Profil Memanjang
Perhitungan Profil memanjang pada patok P1
Diketahui:
Elevasi Patok P1 = 8,21 m
Jarak antar patok = 5m
Jarak langsung = 15 m
Kemiringan Sal. ( I ) =0,4024
Tinggi Saluran ( h ) = 0,10 m
Tinggi jagaan ( W ) = 0,20 m
Penyelesaian:
 Perhitungan tinggi muka saluran
Tinggi muka Saluran = 8,21 m

 Perhitungan tinggi muka air


Tinggi muka air=Tinggi muka Saluran−Tinggi jagaan=8 ,21−0 , 20
Tinggi muka air=8 , 01m

 Perhitungan tinggi dasar saluran


Tinggi dasar saluran=Tinggi muka air−h
¿ 8 , 01−0 ,10
Tinggi dasar saluran=7 , 91m
Hasil analisa secara lengkap dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 3.45 Rekapitulasi Analisa Profil Memanjang Saluran

Elevasi Elevasi Elevasi


Jarak Jarak
Nama Muka Muka Dasar
c Patok kt (m) x (m) y(m) Ik (m) h W Lansun Beda Tinggi (m)
Patok Saluran Air Saluran
(m) g (m)
(m) (m) (m)
TANAH
ASLI (m)
P0 0 7.00 1.78 1.69 1.00 8.05 7.95 7.75 7.65 0 P0 - 1 0.05
ST1 1 10 7.00 1.75 1.75 1.00 8.00 0.10 0.20 7.90 7.70 7.60 10 1 - P1 0.31
P1 5 7.00 2.04 1.56 1.00 8.31 8.21 8.01 7.91 15

P2 0 3.00 2.04 1.56 1.00 4.31 4.21 4.01 3.91 0 P2 - 1 0.63


SS1 1 10 3.00 1.30 1.90 1.00 3.68 0.13 0.20 3.58 3.38 3.28 10 1 - P3 0.08
P3 6 3.00 0.37 0.48 1.00 3.77 3.67 3.47 3.36 16

P3 0 3.00 0.37 0.48 1.00 3.77 3.67 3.47 3.36 0 P3 - 1 0.12


SS2 1 10 3.00 0.56 0.87 1.00 3.64 0.08 0.00 3.54 3.34 3.24 10 1 - P4 0.35
P4 9 3.00 0.88 0.88 1.00 4.00 3.90 3.70 3.59 19

P4 0 3.00 0.88 0.88 1.00 4.00 3.90 3.70 3.59 0 P4 - 1 0.79


SS3 1 10 4.00 1.56 1.98 1.00 4.79 0.16 0.00 4.69 4.49 4.38 10 1 - P5 0.35
P5 3 4.00 2.30 2.02 1.00 5.14 5.04 4.84 4.73 13

P1 0 7.00 2.30 2.02 1.00 8.14 8.04 7.84 7.73 0 P1 - 1 3.30


SS4 1 10 4.00 1.56 1.87 1.00 4.83 0.14 0.00 4.73 4.53 4.43 10 1 - P5 0.33
P5 5 4.00 0.40 0.34 1.00 5.17 5.07 4.87 4.76 15

SP1 P5 0 4.00 0.40 0.34 1.00 5.17 0.07 0.00 5.07 4.87 4.76 0 P5 - 1 3.26
1 10 1.00 0.89 0.98 1.00 1.91 1.81 1.61 1.51 10 1 - P6 0.10
P6 9 1.00 1.64 1.62 1.00 2.01 1.91 1.71 1.61 19

P7 0 8.00 1.64 1.62 1.00 9.01 8.91 8.71 8.61 0 P7 - 1 0.19


ST2 1 10 8.00 1.35 1.64 1.00 8.82 0.16 0.00 8.72 8.52 8.42 10 1 - P10 0.32
P10 10 8.00 2.25 1.97 1.00 9.14 9.04 8.84 8.74 20

P10 0 8.00 2.25 1.97 1.00 9.14 9.04 8.84 8.74 0 P10 - 1 5.21
SS5 1 10 3.00 2.00 2.14 1.00 3.93 0.11 0.00 3.83 3.63 3.53 10 1 - P11 0.07
P11 5 3.00 2.28 2.26 1.00 4.01 3.91 3.71 3.61 15

P7 0 8.00 2.28 2.26 1.00 9.01 8.91 8.71 8.61 0 P7 - 1 5.16


SS6 1 10 3.00 1.68 1.98 1.00 3.85 0.14 0.00 3.75 3.55 3.45 10 1 - P8 0.22
P8 5 3.00 0.37 0.34 1.00 4.07 3.97 3.77 3.66 15

P8 0 3.00 0.37 0.34 1.00 4.07 3.97 3.77 3.66 0 P8 - 1 2.61


SP2 1 10 1.00 6.87 1.21 1.00 6.68 0.07 0.00 6.58 6.38 6.27 10 1 - P9 4.62
P9 10 1.00 1.78 1.69 1.00 2.05 1.95 1.75 1.65 20
(Sumber: Hasil Analisa Perhitungan, 2022)

Anda mungkin juga menyukai