Catat Tipis-Tipis
HURUF KAPITAL
Huruf kapital dipakal sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa. Contoh: Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan
peristiwa sejarah. Contoh: tahun Ajriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan
Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal.
Huruf kapital dipakal sebagai huruf pertama nama geografi. Contoh: Asia
Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi
Dieng.
Huruf kapital tidak dipakal sebagai huruf pertama Istilah geografi yang tidak
menjadi unsur nama diri. Contoh: berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberabangi
selat, pergi ke arah tenggara.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan
sebagai nama jenis. Contoh: garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang
ambon.
Huruf kapital dipakal sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti
dan. Contoh: Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak.
Huruf kapital tidak dipakal sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara,
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Contoh: Menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara
pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur
kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul
karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untukyang tidak terletak pada
posisi awal. Contoh: Saya Bacalah telah majalah membaca Bahasa buku Dari Ave
Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan
seperti bapak, ibu, kakak, adik. Dipakai sebagai sapaan atau pengganti nama diri.
Contoh : paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. "Kapan Bapak
berangkat?" tanya Harto. Adik bertanya, "Itu aра, Bu?
Huruf capital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kkerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan. Contoh: Kita
semua harus menghormati bapak dan bu kita.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Contoh: Surat Anda
telah kami terima.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Contoh: Adik
bertanya, "Kapan kita pulang?"
HURUF MIRING
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan
surat kabar yang dikutip dalam tulisan. b с. Contoh: Ulasan buku Para
Priyayikarya Oemar Kayam dapat kita abaca di Tempo dan Republika. majalah
Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara
Rakyat.
Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, suku kata,
kata, atau kelompok kata. Contoh: Huruf terakhir kata pintu adalah u. Mereka
menipu bukan ditipu. Coba tulis karangan dari kata terbang
Dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah
disesuaikan ejaanya. Contoh: Politik devide et impera pernah merajalela di negeri
ini.
KATA
КАТА DASAR Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya
bahwa engkau tahu. Kantor pajak penuh sesak. Buku Itu sangat tebal.
В. КАТА TURUNAN
1) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh: bergetar,
dkelola, penetapan, menengok, mempermainkan.
2) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata
yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi,
menganak sungai, sebar luaskan
3) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur
gabungan kata itu ditulus serangkai. Contoh: menggarisbawahi, menyebarluaskan,
dilipatgandakan, penghancurleburan
4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis
serangkai. Contoh: adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat,
bickimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna,
ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, inkonvensional, Introspeksi, kolonialisme,
kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multlateral, narapidana, norkolaborasi, Pancasila,
panteisme, parpurna, poligami, pramunlaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida,
semiprofessional, subseksi.
С. КАТА ULANG Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Contoh: anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-
kupu.
D. GABUNGAN КАТА
1) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-
unsurnya ditulis terpisah. Contoh: duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata
pelajaran, meja tulis, model linier, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang
empat.
2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian
dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.
Contoh: Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-
bapak kami, watt-jam, orang-tua muda.
3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Contoh Adakalanya, akhirulkalam, Alhamdulillah,
astaghfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra,
daripada, darmabakti, darmawisata, dukacita,
E. KATA GANTI -ku-, kau-, -mu, dan -nya serangkai
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya;
-ku-, -mu, dan -nya ditulis dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Apa yang kumiliki boleh kau ambil. Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di
perpustakaan.
F. KATA DEPAN di, ke, dan dari
Kata depan di,ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh: Kain itu terletak di dalam lemari. Bermalam sajalah di sini. Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
G. KATA Si dan Sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contoh: Harimau itu marah
sekali kepada sang Kancil. Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
H. PARTIKEL 1. Partikel Hah, -kah, -tah ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
2. kata Partikel hubung pun harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Akan tetapi,
ketika berfungsi sebagai pun harus digabung. 3. partikel per harus dipisah ketika bermakna tiap-
tiap/setiap
Aturan utama partikel pun (PUEBI):
1 Ditulis terpisah (PALING SERING)
1️⃣
Jika pun berfungsi sebagai partikel penegas yang berarti juga, saja, meskipun.
Contoh:
● Saya pun setuju.
● Dia pun datang.
● Apa pun risikonya, saya siap.
● Siapa pun bisa melakukan itu.
● Kapan pun dia dipanggil, dia datang.
2️⃣Ditulis digabung (PENGECUALIAN)
Hanya pada kata-kata tertentu yang sudah dianggap satu kesatuan.
Contoh yang digabung:
● walaupun
● meskipun
● adapun
● ataupun
● bagaimanapun
● sekalipun
● andaipun
● kalaupun
● biarpun
● kendatipun
📌 Ini bukan aturan bebas, tapi daftar pengecualian yang memang harus dihafal.
Aturan penulisan per (PUEBI)
1 Ditulis terpisah
1️⃣
Jika per berfungsi sebagai kata depan yang berarti tiap / demi / untuk setiap.
Contoh:
● Harga beras lima belas ribu per kilogram.
● Gaji dihitung per bulan.
● Kecepatan 60 km per jam.
● Tiket dijual per orang.
2️⃣Ditulis digabung
Jika per menjadi awalan (membentuk kata kerja atau kata benda).
Contoh:
● perjalanan
● peraturan
● perbaikan
● pernikahan
● pertemuan
3️⃣Ditulis dengan tanda hubung (-)
Jika per dipakai untuk menyatakan tingkatan / pembagian bertahap atau bilangan.
Contoh:
● satu per satu
● dua per tiga
● hari per hari
● langkah per langkah
Kesalahan umum:
● ❌ perhari → ✅ per hari
● ❌ perorang → ✅ per orang
● ❌ perbulan → ✅ per bulan
Ringkasan cepat:
● per + satuan/waktu → dipisah
● per + kata dasar (awalan) → digabung
● per berulang/tingkatan → pakai tanda hubung
Kalau mau, bilang aja—aku bisa buatin tabel perbandingan pun vs per biar nggak ketuker pas
ngerjain soal ✍️
I. ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN
1) Kurang dari dua kata harus menggunakan huruf Contoh: Ada seratus orang.
2) Lebih dari satu kata harus menggunakan angka Contoh: Ada 25 orang.
3) Tidak bisa mengawali kalimat
Meskipun kurang dari dua kata tetap ditulis dengan angka kalau rincian Contoh: Ia kurang
membeli 2 sapi, 6 kerbau, dan 10 kambing.
4) Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah
sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada
awal kalimat
Contoh: Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu. Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja. : Perusahaan itu baru saja
mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Saya lamirkan
tanda terima uang sebesar Rp999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan dan tujh puluh
lima perseratus rupiah)
1 Pengertian singkat
1️⃣
✅ Induk kalimat
● Kalimat utama
● Bisa berdiri sendiri
● Maknanya sudah lengkap
🔹 Anak kalimat
● Kalimat penjelas
● Tidak bisa berdiri sendiri
● Biasanya diawali kata penghubung (konjungsi)
2️⃣Cara paling gampang: hapus anak kalimatnya
👉 Kalau bagian yang tersisa masih masuk akal → itu induk kalimat
Contoh:
Saya belajar karena besok ada ujian.
● Saya belajar → ✔️masih jelas → induk kalimat
● karena besok ada ujian → ❌ tidak bisa berdiri sendiri → anak kalimat
3️⃣Kenali kata penghubung anak kalimat
Biasanya anak kalimat diawali:
● karena
● jika / kalau
● ketika
● walaupun / meskipun
● agar / supaya
● sehingga
● yang
● sejak
● sementara
Contoh:
Dia tetap datang meskipun hujan deras.
4️⃣Posisi bisa di depan atau belakang
Anak kalimat di depan:
Jika hujan turun, kami tidak berangkat.
● Anak kalimat: jika hujan turun
● Induk kalimat: kami tidak berangkat
Anak kalimat di belakang:
Kami tidak berangkat jika hujan turun.
Kalimat Setara (Koordinatif)
Pengertian:
Kalimat setara adalah kalimat majemuk yang unsurnya sejajar / sama kedudukannya.
👉 Tidak ada induk dan anak kalimat.
Ciri-ciri:
● Bisa dipisah jadi dua kalimat tunggal
● Keduanya tetap bermakna lengkap
● Dihubungkan dengan dan, atau, tetapi, lalu
Contoh:
● Saya belajar dan adik menonton TV.
● Dia ingin pergi tetapi hujan turun.
● Ayah bekerja lalu ibu memasak.
2️⃣Kalimat Tidak Setara (Bertingkat / Subordinatif)
Pengertian:
Kalimat tidak setara adalah kalimat majemuk yang unsurnya tidak sejajar.
👉 Ada induk kalimat dan anak kalimat.
Ciri-ciri:
● Salah satu bagian tidak bisa berdiri sendiri
● Ada kata penghubung bertingkat
Kata penghubung umum:
● karena, jika, ketika, meskipun, agar, sehingga, yang
Contoh:
● Saya belajar karena besok ujian.
● Jika hujan turun, kami tidak berangkat.
● Dia tetap datang meskipun sakit.
3️⃣Perbandingan singkat
Kalimat Setara Kalimat Tidak
Setara
Kedudukan Ada induk &
sejajar anak
Tidak saling Saling
bergantung bergantung
dan, atau, tetapi karena, jika,
ketika
Bisa dipisah Tidak bisa
dipisah
4️⃣Contoh cepat (bedain yuk):
● Saya makan dan dia minum → ✅ setara
● Saya makan karena lapar → ❌ tidak setara
Kesimpulan:
● Setara → sama kuat
● Tidak setara → bertingkat
Kalimat perincian (daftar/rincian) memang harus setara supaya jelas dan rapi.
Kenapa perincian harus setara?
Karena setiap unsur perincian:
● kedudukannya sama
● menjelaskan hal yang sejenis
● tidak saling bergantung
Kalau tidak setara, kalimat jadi rancu.
Contoh perincian yang BENAR (setara):
Kegiatan hari ini meliputi membersihkan kelas, menyapu halaman, dan
merapikan meja.
Semua berbentuk kata kerja → setara ✔️
Perlengkapan sekolah itu terdiri atas buku tulis, pensil, dan penghapus.
Semua kata benda → setara ✔️
Contoh perincian yang SALAH (tidak setara):
❌ Kegiatan itu meliputi membersihkan kelas, halaman disapu, dan meja rapi.
(bentuknya beda-beda → tidak sejajar)
Contoh perincian bertingkat (tetap benar, tapi bukan setara
penuh):
Ia datang karena hujan reda, setelah jalan kering, dan ketika malam tiba.
Ini bukan perincian biasa, tapi hubungan bertingkat, jadi tidak wajib setara.
Resiprok (atau resiprokal) adalah hubungan timbal balik, yaitu dua pihak saling
melakukan tindakan satu sama lain.
Dalam Bahasa Indonesia, istilah ini sering dipakai untuk menjelaskan makna atau bentuk
kalimat yang menunjukkan saling.
1️⃣Resiprok dalam Bahasa Indonesia (paling sering
keluar di pelajaran)
Ciri utama:
● Tindakan tidak satu arah
● Subjek saling melakukan sesuatu
Penanda resiprok:
● kata saling
● imbuhan ber- (makna timbal balik)
● bentuk me- + -i / -kan tertentu (tergantung konteks)
Contoh:
● Mereka saling membantu.
● Kedua tim berhadapan.
● Anak-anak itu berpelukan.
● Mereka berbalas-balasan surat.
Kata Benda (Nomina) -> dapat didahului kata bukan
Pengertian
Kata benda adalah kata yang menyatakan nama orang, tempat, benda, atau konsep (sesuatu
yang dianggap ada).
Ciri-ciri kata benda:
● Bisa didahului kata ini / itu
● Bisa didahului kata bilangan (satu, dua, beberapa)
● Umumnya tidak bisa didahului kata sangat
● Menjawab pertanyaan apa atau siapa
Contoh:
● Orang: guru, siswa, ibu
● Tempat: sekolah, rumah, Gunung Sindoro
● Benda: buku, meja, tas
● Konsep: kejujuran, kebersihan, kebahagiaan
Contoh dalam kalimat:
● Buku itu sangat tebal.
● Kejujuran adalah sikap terpuji.
2️⃣Kata Kerja (Verba) -> dapat didahului kata tidak dan
jangan
Pengertian
Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan, perbuatan, atau proses.
Ciri-ciri kata kerja:
● Bisa didahului kata sedang / akan / telah
● Umumnya berimbuhan me-, di-, ber-, ter-
● Menjawab pertanyaan apa yang dilakukan
Contoh kata kerja:
● belajar
● menulis
● membaca
● berjalan
● dibersihkan
Contoh dalam kalimat:
● Siswa belajar dengan sungguh-sungguh.
● Kelas itu dibersihkan oleh petugas.
3️⃣Kata Sifat (Adjektiva) -> dapat didahului kata tidak
Pengertian
Kata sifat adalah kata yang menjelaskan atau menerangkan kata benda, terutama tentang
keadaan, sifat, atau kondisi.
Ciri-ciri kata sifat:
● Bisa didahului kata sangat, lebih, paling
● Bisa diingkari dengan kata tidak
● Menjawab pertanyaan bagaimana keadaannya
Contoh kata sifat:
● besar
● bersih
● rajin
● indah
● panas
Contoh dalam kalimat:
● Kelas itu sangat bersih.
● Gunung Sindoro sangat indah.
1️⃣Fungsi adverbia
Adverbia memberi keterangan tentang:
● cara → bagaimana
● waktu → kapan
● tempat → di mana
● tingkat/intensitas → seberapa
● penyangkalan/penegasan
2️⃣Ciri-ciri adverbia
● Tidak bisa menjadi subjek
● Umumnya bisa dipindah posisinya dalam kalimat
● Sering menjawab pertanyaan: bagaimana, kapan, di mana, seberapa
1️⃣Predikat
Predikat = bagian kalimat yang menerangkan subjek (apa yang dilakukan subjek).
Contoh:
● Siswa belajar. → belajar = predikat
2️⃣Aktif
Disebut aktif karena:
● Subjek melakukan tindakan
● Biasanya berimbuhan me-
Contoh:
● membaca
● menulis
● membersihkan
3️⃣Transitif
Disebut transitif karena:
● Harus ada objek
● Tanpa objek, kalimat terasa belum lengkap
4️⃣Gabungan: Predikat Aktif Transitif
Ciri utama:
● Kata kerja aktif (me-)
● Membutuhkan objek
● Bisa diubah ke kalimat pasif (di-)
Contoh kalimat:
● Siswa membaca buku.
○ Predikat: membaca
○ Objek: buku
● Ibu membersihkan kamar.
○ Predikat: membersihkan
○ Objek: kamar
Kalau objeknya dihilangkan:
● ❌ Siswa membaca. (kurang jelas baca apa)
5️⃣Bandingkan biar jelas
❌ Aktif intransitif (tidak perlu objek):
● Siswa berlari.
● Anak itu tidur.
✅ Aktif transitif (perlu objek):
● Siswa mengerjakan tugas.
● Ayah memperbaiki sepeda.
6️⃣Bisa jadi pasif
Kalimat aktif transitif bisa diubah ke pasif:
● Aktif: Siswa mengerjakan tugas.
● Pasif: Tugas dikerjakan siswa.
Ini pertanyaan bagus banget karena sering jadi jebakan ujian 👍
Aku jelasin kapan kalimat majemuk setara perlu koma dan kapan tidak.
1️⃣Perlu koma (WAJIB)
a) Jika klausa setara dipisahkan tanpa konjungsi
Saya belajar, adik menonton TV.
👉 Dua klausa setara tanpa penghubung → pakai koma.
b) Jika konjungsinya tetapi, melainkan, sedangkan
Saya ingin pergi, tetapi hujan turun.
Dia bukan marah, melainkan kecewa.
Ayah bekerja, sedangkan ibu memasak.
📌 Koma ditulis sebelum kata hubungnya.
2️⃣Tidak perlu koma
a) Jika memakai dan, atau, lalu
Saya belajar dan adik menonton TV.
Kamu bisa datang atau menunggu di rumah.
Ayah pulang lalu ibu memasak.
➡️Tidak pakai koma.
b) Jika subjeknya sama
Saya belajar dan mengerjakan tugas.
(Saya = subjek sama → tanpa koma)
KONJUNGSI
PPU
Apa itu D–M?
D–M adalah pola frasa di mana:
● D (diterangkan) = unsur inti / yang dijelaskan
● M (menerangkan) = unsur yang memberi keterangan
📌 Dalam Bahasa Indonesia, pola umumnya D–M
(berbeda dengan bahasa Inggris yang sering M–D).
2 Cara menentukan D dan M (langkah praktis)
2️⃣
Langkah 1: Cari kata inti
Tanya ke diri sendiri:
“Yang dimaksud itu apa?”
👉 Kata yang menjawab pertanyaan itu = D (diterangkan)
Langkah 2: Cari kata penjelas
Tanya:
“Dijelaskan oleh apa?”
👉 Kata yang menjelaskan inti = M (menerangkan)
3️⃣Contoh sederhana
a) rumah besar
● Yang dimaksud: rumah → D
● Dijelaskan oleh: besar → M
➡️D–M
b) buku pelajaran
● Yang dimaksud: buku → D
● Dijelaskan oleh: pelajaran → M
➡️D–M
c) Gunung Sindoro
● Yang dimaksud: gunung → D
● Dijelaskan oleh: Sindoro → M
➡️D–M
4️⃣Contoh frasa panjang
buku pelajaran bahasa Indonesia
● Inti: buku → D
● pelajaran bahasa Indonesia → M
Bisa diurai:
● buku (D)
● pelajaran (M1)
● bahasa Indonesia (M2)
5 Trik
5️⃣ cepat (sering keluar di ujian )
👉 Bisa disisipi “yang”
Kalau masuk akal, berarti benar pola D–M.
● rumah yang besar
● buku yang pelajaran ❌ → tapi “buku pelajaran” sudah
membentuk makna khusus
👉 Bisa dibalik?
Kalau dibalik maknanya rusak → D–M
6️⃣Bandingkan dengan M–D (biar nggak ketukar)
tiga buku
● tiga → M
● buku → D
➡️M–D (pengecualian)
Kesimpulan singkat:
➡️D = inti frasa
➡️M = penjelas
➡️Bahasa Indonesia dominan D–M
eksosentris = full M-M
Majas
1️⃣Perluasan Subjek
Pengertian
Perluasan subjek adalah penambahan unsur keterangan pada subjek agar maknanya lebih jelas
dan spesifik.
Bentuk perluasan subjek:
● Frasa kata sifat
● Frasa kata benda
● Klausa (biasanya diawali yang)
Contoh:
● Siswa rajin itu memenangkan lomba.
→ siswa = subjek
→ rajin itu = perluasan subjek
● Anak yang duduk di depan bertanya kepada guru.
→ anak = subjek
→ yang duduk di depan = perluasan subjek
2️⃣Perluasan Predikat
Pengertian
Perluasan predikat adalah penambahan unsur pada predikat agar tindakan atau keadaan lebih
lengkap.
Bentuk perluasan predikat:
● Keterangan cara
● Keterangan waktu
● Keterangan tempat
● Keterangan tujuan
Contoh:
● Siswa belajar dengan sungguh-sungguh.
→ belajar = predikat
→ dengan sungguh-sungguh = perluasan predikat
● Guru menjelaskan materi di kelas pagi tadi.
→ menjelaskan = predikat
→ materi di kelas pagi tadi = perluasan predikat
3️⃣Perluasan Objek
Pengertian
Perluasan objek adalah penambahan keterangan pada objek agar objeknya lebih terperinci.
Bentuk perluasan objek:
● Kata sifat
● Frasa
● Klausa penjelas (yang …)
Contoh:
● Siswa membaca buku pelajaran bahasa Indonesia.
→ buku = objek
→ pelajaran bahasa Indonesia = perluasan objek
● Ibu membeli tas baru berwarna hitam.
→ tas = objek
→ baru berwarna hitam = perluasan objek
4️⃣Contoh kalimat lengkap (gabungan)
Siswa rajin kelas IX
(perluasan subjek)
mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh
(perluasan predikat)
buku latihan matematika yang baru
(perluasan objek).
5️⃣Perbandingan singkat
Jenis Diperluasnya Contoh
Subjek Pelaku siswa rajin
Predikat Tindakan belajar sungguh-sungguh
Objek Sasaran buku pelajaran
Kesimpulan:
● Perluasan subjek → memperjelas pelaku
● Perluasan predikat → memperjelas tindakan
● Perluasan objek → memperjelas sasaran
Kalau mau, kirim kalimat dari soal, nanti aku bantu tandai mana perluasan subjek, predikat, dan
objeknya satu per satu 📝📘
Prinsip kalimat efektif (yang perlu diingat)
Kalimat efektif itu:
● jelas
● padat
● tidak mubazir
● tidak ambigu
Jadi, perluasan boleh ada kalau memang dibutuhkan untuk kejelasan.
Kapan perluasan dipertahankan? ✅
Jika perluasan:
● membuat makna lebih jelas
● memberi informasi penting
● tidak menimbulkan pengulangan
Contoh (efektif, perluasan perlu):
Siswa kelas IX yang mengikuti lomba memperoleh juara satu.
👉 Tanpa perluasan, maknanya bisa jadi terlalu umum.
Kapan perluasan dihilangkan? ❌
Jika perluasan:
● mengulang makna yang sama
● membuat kalimat bertele-tele
● tidak menambah informasi penting
Contoh (tidak efektif):
Para siswa-siswa yang semuanya hadir mengikuti kegiatan tersebut.
➡️Diperbaiki menjadi:
Para siswa mengikuti kegiatan tersebut.
atau
Siswa mengikuti kegiatan tersebut.
1️⃣Predikat (sebagai pusat)
Predikat adalah unsur inti kalimat yang menentukan:
● perlu objek atau tidak
● perlu pelengkap atau tidak
● bisa diikuti keterangan atau tidak
📌 Jadi, objek, pelengkap, dan keterangan sangat bergantung pada jenis predikatnya.
2️⃣Objek (O)
Pengertian
Objek adalah unsur yang melengkapi predikat transitif (kata kerja yang membutuhkan
objek).
Ciri-ciri:
● Letaknya langsung setelah predikat
● Wajib ada (jika dihilangkan, kalimat tidak lengkap)
● Bisa menjadi subjek dalam kalimat pasif
● Umumnya berupa kata benda / frasa benda
Contoh:
● Siswa mengerjakan tugas.
○ Predikat: mengerjakan (aktif transitif)
○ Objek: tugas
➡️Pasif:
● Tugas dikerjakan siswa. ✔️
3️⃣Pelengkap (Pel)
Pengertian
Pelengkap adalah unsur yang melengkapi predikat, tetapi bukan objek.
Ciri-ciri:
● Tidak bisa menjadi subjek dalam kalimat pasif
● Biasanya muncul setelah objek (jika ada)
● Umumnya berupa kata benda, kata sifat, atau frasa
Contoh:
● Ayah memberi adik hadiah.
○ Predikat: memberi
○ Objek: adik
○ Pelengkap: hadiah
➡️Pasif:
● Adik diberi hadiah oleh ayah.
(hadiah tetap pelengkap, tidak bisa jadi subjek)
4️⃣Keterangan (Ket)
Pengertian
Keterangan adalah unsur yang memberi informasi tambahan tentang predikat, seperti:
● waktu
● tempat
● cara
● tujuan
● sebab
Ciri-ciri:
● Tidak wajib
● Bisa dihilangkan tanpa merusak struktur
● Bisa berpindah posisi
● Biasanya diawali kata depan (di, ke, dari, dengan, karena, agar)
Contoh:
● Siswa belajar di kelas.
● Guru menjelaskan pelajaran dengan jelas.
● Mereka berangkat pagi tadi.
Apakah kalimat HARUS ada pelengkap kalau tidak ada objek?
❌ Tidak harus.
Itu tergantung jenis predikatnya.
🔹 a) Predikat intransitif
➡️Tidak butuh objek dan tidak butuh pelengkap
Contoh:
● Siswa berlari.
● Ayah tidur.
Kalimat ini sudah lengkap, meskipun:
● ❌ tidak ada objek
● ❌ tidak ada pelengkap
🔹 b) Predikat yang menuntut pelengkap
➡️Ada beberapa kata kerja yang wajib diikuti pelengkap, meskipun tanpa objek.
Contoh:
● Dia menjadi guru.
● Ayah berasal dari Jawa.
Tanpa pelengkap:
● ❌ Dia menjadi. (tidak lengkap)
2️⃣Apakah kalimat bisa:
❓ tidak ada objek, tidak ada pelengkap, tapi ada
keterangan?
✅ BISA.
Kalau predikatnya intransitif, keterangan boleh hadir sebagai penjelas tambahan.
Contoh:
● Siswa belajar di kelas.
● Mereka bermain di halaman.
● Ayah bekerja di kantor.
Struktur:
● Predikat: belajar / bermain / bekerja
● ❌ objek: tidak ada
● ❌ pelengkap: tidak ada
● ✅ keterangan: ada
Kalimatnya tetap lengkap dan efektif.