0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan74 halaman

PROPOSAL PENELITIAN Terapi Bermain .Upload New - 021526

Proposal penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang akan menjalani operasi dengan anestesi umum di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa kecemasan pada anak dapat mempengaruhi proses perawatan dan pemulihan, serta menyarankan terapi bermain sebagai intervensi non-farmakologis untuk mengurangi kecemasan tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi rumah sakit, orang tua, dan peneliti selanjutnya.

Diunggah oleh

Noviani Dwi W
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan74 halaman

PROPOSAL PENELITIAN Terapi Bermain .Upload New - 021526

Proposal penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang akan menjalani operasi dengan anestesi umum di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa kecemasan pada anak dapat mempengaruhi proses perawatan dan pemulihan, serta menyarankan terapi bermain sebagai intervensi non-farmakologis untuk mengurangi kecemasan tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi rumah sakit, orang tua, dan peneliti selanjutnya.

Diunggah oleh

Noviani Dwi W
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN


PASIEN ANAK USIA PRA SEKOLAH PRE OPERATIF
DENGAN GENERAL ANESTESI
DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

Disusun Oleh :
Intan Monita Sari (199804152022032003)
Noviani Dwi Wahyuningsih (199711042022032003)

RSUP dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN


Jalan KRT Jl. Dr. Soeradji Tirtonegoro No. 1, Dusun 1,
Tegalyoso, Klaten Selatan, Klaten, Jawa Tengah
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan penelitian ini. Penulis
menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada sehingga dalam menyelesaikan
penelitian ini penulis memperoleh bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan
ucapan terimakasih kepada:
1. dr. Sholahuddin Rhatomy, [Link]. (K) Hip & Knee selaku Direktur RSUP
[Link] Tirtonegoro Klaten
2. dr. Wisnu Baskoro, [Link](K) FINSS, FINPS selaku Kepala Instalasi Bedah
Sentral RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten
3. Bapak Suprapto, SST. Ners selaku Kepala Ruang Instalasi Bedah Sentral
RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten yang telah meluangkan waktunya untuk
memberikan bimbingan, arahan serta kritik dan sarannya dalam penyusunan
proposal ini,
4. Bapak Kasimun, SST selaku koordinator Penata Anestesi RSUP [Link]
Tirtonegoro Klaten yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan
bimbingan, arahan sertakritik dan sarannya dalam penyusunan penelitian ini,
5. Teman sejawat yang telah memberikan semangat, motivasi, dan kerja
samanya.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnan
penelitian ini.
Klaten, 15 Februari 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….iii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….iv

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1


A. Latar belakang ...............................................................................................1
B. Tujuan Penelitian ...........................................................................................4
C. Manfaat Kebaruan .........................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORI .................................................................................6
A. Tinjauan Teori ...............................................................................................6
1. Kecemasan………………………………………………………………6
2. Terapi Bermain………………………………………………………….14
3. Anak…………………………………………………………………….25
4. General Anestesi……………………………………………………….27f
B. Kerangka Teori ............................................................................................ 28
C. Kerangka Konsep ........................................................................................ 28
D. Hipotesis Penelitian..................................................................................... 29
BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 30
A. Jenis dan Desain Penelitian ......................................................................... 30
B. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................................... 31
C. Populasi dan Sampel ................................................................................... 31
D. Definisi Operasional .................................................................................... 34
E. Variabel Penelitian…………………………………………………………36
F. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data………………………………………37
G. Instrumen Penelitian……………………………………………………….38
H. Teknik Pengumpulan data…………………………………………………38
I. Uji Validitas dan Reabilitas……………………………………………….39
J. Prosedur Penelitian………………………………………………………..39
K. Analisa Data……………………………………………………………….39

iii
BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………41
A. Hasil………………………………………………………………………..41
B. Pembahasan………………………………………………………………..47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……………………………………………………………….60
B. Saran ………………………………………………………………………61

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 65

iv
v
vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tindakan pembedahan atau operasi merupakan suatu kata yang
mengerikan bagi kebanyakan orang yaitu timbulnya pemikiran negatif dan
kecemasan akan berbagai resiko yang bisa terjadi. Reaksi anak usia
prasekolah yang menunjukkan kecemasan seperti anak, menolak makan,
menangis diam-diam karena kepergian orang tua mereka, sering bertanya
tentang keadaan dirinya, mengalami sulit tidur, tidak kooperatif terhadap
petugas kesehatan saat dilakukan tindakan keperawatan. Adanya respon
anak terhadap hospitalisasi menimbulkan kendala dalam pelaksanaan
perawatan yang akan diberikan sehingga menghambat proses
penyembuhan. Hal tersebut menyebabkan waktu perawatan yang lebih
lama, bahkan akan mempercepat terjadinya komplikasi- komplikasi selama
perawatan. Upaya untuk mengatasi efek dari hospitalisasi pada anak pada
prinsipnya adalah meminimalkan stressor, Anak membutuhkan perawatan
yang kompeten dan sensitif untuk meminimalkan efek negatif dari
hospitalisasi.
Hospitalisasi merupakan suatu keadaan yang menyebabkan seorang
anak harus tinggal di rumah sakit untuk menjadi pasien dan menjalani
berbagai perawatan seperti pemeriksaan kesehatan, prosedur operasi,
pembedahan, dan pemasangan infus sampai anak pulang kembali ke rumah.
Respon anak terhadap hospitalisasi dipengaruhi oleh tahapan usia
perkembangan, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, mekanisme
pertahanan diri yang dimiliki, dan system dukungan yang tersedia.
Permasalahan yang muncul pada anak yang akan menjalani prosedur
pembedahan biasanya akan memiliki tingkat kecemasan dan stress yang
lebih tinggi yang dimanifestasikan dengan munculnya emosi negative
selama induksi anestesi (He et al., 2015). Intensitas kecemasan yang
berlebihan dapat mempengaruhi fisik dan kesehatan mental anak yang
menghambat kemampuan anak menghadapi operasi dan pemulihan pasca

1
operasi. Selain perasaan negative, anak yang menjalani operasi akan
mengalami nyeri operasi dengan intensitas tertentu pada lokasi luka operasi
(W.H.C Li et al., 2014).
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga dapat jatuh sakit dan
membutuhkan perawatan dirumah sakit untuk didiagnosis dan pengobatan
penyakitnya. Anak-anak yang melakukan tidakan pembedahan,
memerlukan perawatan sebelum operasi. Ansietas merupakan salah satu
diagnosa keperawatan yang dapat muncul dalam pra tindakan pembedahan.
Ansietas merupakan suatu kondisi dimana keadaan emosi dan pengalaman
subyektif dari individu terhadap suatu objek yang tidak jelas akibat dari
antisipasi bahaya yang mungkin terjadi pada individua atau tindakan yang
akan dilakukan pada individu. Penyebab terjadinya ansietas karena merasa
adanya ancaman dan kurang terpaparnya informasi. Tanda gejala ansietas
dapat berupa merasa bingung, sulit berkonsenrasi, tampak tegang, gelisah,
sulit tidur, frekuensi nafas, nadi dan tekanan darah meningkat, serta kontak
mata buruk (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017). Apabila dihitung dari
keseluruhan jumlah penduduk, angka kecemasan anak usia 0-21 tahun
sebesar 14,44 %. Jumlah rata-rata anak yang menjalani perawatan dirumah
sakit diseluruh Indonesia adalah 2,8% dari 82.666 orang total jumlah anak
(Novikasari et al., 2019)
Penelitian cohort yang dilakukan pada 131 anak berusia 2 hingga 12
tahun yang akan menjalani operasi elektif didapatkan 73% anak
menunjukkan manifestasi emosi negatif akibat kecemasan sebelum operasi
dan 93% anak mengalami nyeri post operasi. Beberapa penelitian telah
menunjukkan interkoneksi dan pengaruh antara kecemasan dan rasa nyeri.
Hubungan antara tingkat kecemasan dan nyeri post operasi pada anak yang
menjalani prosedur pembedahan menunjukkan hubungan yang bersifat
positif (Chieng et al.,2014). Penelitian-penelitian ini menunjukkan
kebutuhan dan pentingnya sebuah intervensi yang diberikan pada anak yang
akan atau telah menjalani prosedur pembedahan untuk menurunkan
kecemasan dan tingkat nyeri anak (He et al., 2015).

2
Ansietas yang terjadi pada anak dapat diatasi dengan terapi. Dimana
terapi ini bertujuan untuk meningkatkan komunikasi anak dan dapat
mengekspresikan perasaan yang sedang anak alami. Dalam mengelola
ansietas dapat dilakukan dengan terapi farmakologi dan non-farmakologi.
Terapi farmakologi ialah terapi yang dapat menggunakan obat-obatan
sehingga memberikan efek perubahan pada berbagai system organ tubuh.
Terapi non-farmakologi ialah terapi alternatif dengan metode yang
digunakan memulihkan kesehatan dengan cara memberikan kesenangan
fisik dan psiskis.
Bermain telah lama diketahui sebagai elemen vital dalam
mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal anak dan telah
digunakan secara luas untuk menurunkan tingkat stress pada pasien anak
selama hospitalisasi yang dikenal sebagai terapi bermain (William H.C. Li
et al., 2016). Terapi bermain didefinisikan sebagai suatu bentuk aktifitas
bermain yang terstruktur yang didesain berdasarkan usia, perkembangan
kognitif dan kondisi kesehatan anak (Koukourikos et al.,2015). Beberapa
penelitian ini telah menunjukkan bahwa terapi bermain dapat menurunkan
kecemasan sebelum prosedur pembedahan, tingkat nyeri post operasi dan
emosi negatif pada anak yang menjalani pembedahan (He et al.,2015).
Terapi bermain sendiri memiliki beberapa jenis sesuai dengan konten atau
isi permainan dan karakteristik permainan, diantaranya yaitu permainan
tunggal (solitary play) dan permainan asosiatif (Hockenberry dan Wilson,
2013). Permainan tipe tunggal dinilai tepat diterapkan pada anak dengan
kondisi post operasi yang belum mampu melakukan mobilisasi dari tempat
tidur sedangkan permainan asosiatif bisa diterapkan pada pasien dengan
kondisi pre operasi (Hassan et al.,2019).
RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten merupakan rumah sakit
rujukan yang banyak menerima kasus anak yang membutuhkan prosedur
pembedahan dengan angka keterisian tempat tidur yang cukup tinggi. Studi
pendahuluan yang telah kami lakukan di ruang penerimaan Instalasi Bedah
Sentral Terpadu RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten didapatkan bahwa

3
75% anak cenderung tidak kooperatif terhadap tindakan medis yang akan
dilakukan ditunjukkan dengan menangis, merintih dan menolak kedatangan
petugas yang akan melakukan tindakan yang berdampak pada pembiusan
tidak optimal sehingga memperlambat proses pembedahan. Sedangkan
terkait intervensi terapi bermain terhadap tingkat kecemasan sebelum
tindakan operasi belum dilakukan secara koninyu karena hanya dilakukan
pada saat ada mahasiswa yang sedang menjalankan praktik profesi pada
ruangan tersebut. Secara kebaharuan terkait dengan terapi bermain Teknik
non farmakolologi dalam intervensi keperawatan, tetapi dalam penelitian ini
ada perbedaan yaitu rata-rata adalah anak di hospitalisasi, sedangkan
penelitian ini difokuskan pada pre operasi. Oleh karena itu kami tim penata
anestesi tertarik untuk menerapkan terapi bermain sebagai intervensi
distraksi untuk menurunkan tingkat kecemasan pada anak pre operatif
dengan general anestesi di IBS RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain
terhadap tingkat kecemasan pada anak pre sekolah operatif di Instalasi
Bedah Sentral RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kecemasan pada anak pre operasi sebelum
diberikan terapi bermain di ruang pemulihan IBS RSUP dr Soeradji
Tirtonegoro Klaten.
b. Mengetahui tingkat kecemasan pada anak pre operasi setelah
diberikan terapi bermain di ruang pemulihan IBS RSUP dr Soeradji
Tirtonegoro Klaten.
c. Mengetahui adakah pengaruh terapi bermain terhadap kecemasan
pada anak sebelum dilakukan pembedahan di Instalasi Bedah
Sentral RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.

4
C. Manfaat Kebaruan
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan edukasi ilmiah bagi dunia
pendidikan dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat
umum serta memperkaya ilmu pengetahuan dan juga dapat menjadi
edukasi pada peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktik hasil penelitian diharapkan memberi manfaat sebagai
berikut :
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan pemahaman peneliti tentang pentingnya terapi
bermain untuk mengurangi kecemasan pada pre operasi.
b. Bagi Rumah Sakit
1) Meningkatkan pengetahuan penata anestesi dan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan tentang manfaat terapi
bermain untuk mengurangi kecemasan pada anak pre operasi.
2) Menjadi rekomendasi bagi institusi untuk meningkatkan
pelayanan dan fasilitas bermain untuk mengurangi kecemasan
anak pre operasi.
c. Bagi orangtua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran
kecemasan anak dan dapat memberikan informasi kepada orangtua
tentang cara untuk mengurangi kecemasan pada anak sebelum
dilakukan pembedahan.
d. Bagi Peneliti selanjutnya
Menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian
tentang terapi bermain pada anak dengan variabel yang berbeda

5
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori
1. Kecemasan
a. Definisi

Kecemasan atau ansietas merupakan respon individu


terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh
semua makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia
prasekolah biasanya mengalami separation anxiety atau kecemasan
perpisahan karena anak harus berpisah dengan lingkungan yang
dirasakannya aman, nyaman, penuh kasih sayang, dan
menyenangkan seperti lingkungan rumah, permainan, dan teman
sepermainannya. Kecemasan terbesar pada anak usia prasekolah
selama menjalani hospitalisasi adalah kecemasan terjadinya
perlukaan pada bagian tubuhnya. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan pemahaman anak mengenai tubuh (Dayani, 2015).
Kecemasan atau ansietas adalah keadaan emosi tanpa objek
tertentu. Hal ini dipicu oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai
semua pengalaman baru. Karakteristik ansietas ini yang
membedakan dari rasa takut (Stuart dan Sundeen, 2016).
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa cemas
merupakan reaksi atau situasi baru dan berbeda terhadap suatu
ketidakpastian dan ketidakberdayaan. Cemas yang muncul
disebabkan banyak faktor seperti lingkungan fisik rumah sakit
antara lain bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas, pakaian
putih petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesame
pasien anak, ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu
sendiri (Wong, 2009).

6
b. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Menurut Stuart dan Sundeen (2016), kecemasan terbagi menjadi 4


tingkatan yaitu :
1) Kecemasan Ringan
Kecemasan tingkat ini berhubungan dengan ketegangan
dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan ini menyebabkan
individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsi.
Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menumbuhkan
kreativitas. Respon fisiologis ditandai dengan sesekali nafas
pendek, nadi, dan tekanan darah naik, gejala ringan pada
lambung, muka berkerut, bibir bergetar. Respon kognitif
merupakan lapang persepsi luas, mampu menerima rangsangan
yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan
masalah secara efektif. Respon perilaku dan emosi seperti tidak
bisa duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-
kadang meningkat.
2) Kecemasan Sedang
Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk
memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang
lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif,
namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Pada
kecemasan sedang, seseorang akan kelihatan serius dalam
memperhatikan sesuatu. Tanda-tanda kecemasan sedang berupa
suara bergetar, perubahan dalam nada suara takikardi, gemetaran,
peningkatan ketegangan otot.

7
3) Kecemasan berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi,
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang rinci dan
spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. semua
perilaku ditunjukan untuk mengurangi menurunkan kecemasan
dan fokus pada kegiatan lain berkurang. Orang tersebut
memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada
sutu daerah lain. tanda-tanda kecemasan berat berupa perasaan
terancam, ketegangan otot berlebihan, perubahan pernapasan,
perubahan gastrointestinal (mual, muntah, rasa terbakar pada ulu
hati, sendawa, anoreksia dan diare), perubahan kardiovaskular
dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Adapun gangguan
kecemasan pada anak yang sering dijumpai di rumah sakit
adalah panic, fobia, obsesif-kompulsif, gangguan kecemasan
umum dan lainnya.
c. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Anak
Faktor yang mempengaruhi kecemasan anak ada 6 yaitu usia,
karakteristik saudara, jenis kelamin, pengalaman terhadap sakit,
jumlah anggota keluarga, persepsi anak terhadap sakit:
1) Usia

Usia dikaitkan dengan pencapaian perkembangan


kognitif anak. Anak usia prasekolah belum mampu menerima
dan mempersiapkan penyakit dan pengalaman baru dengan
lingkungan asing. Dalam penelitian Tsai (2009), semakin muda
usia anak, kecemasan hospitalisasi akan semakin tinggi. Anak
usia infant, toddler dan prasekolah lebih mungkin mengalami
stress akibat perpisahan karena kemampuan kognitif anak yang
terbatas untuk memahami hospitalisasi. Hal ini sejalan dengan
penelitian dari Spence, et al (2015), yang mengatakan bahwa
kecemasan banyak dialami oleh anak dengan usia 2,5 sampai 6,5
tahun.

8
2) Karakteristik saudara
Karakteristik saudara dapat mempengaruhi kecemasan pada
anak yang dirawat di rumah sakit. Anak yang dilahirkan sebagai
anak pertama dapat menunjukan rasa cemas yang berlebihan
dibandingkan anak kedua.
3) Jenis kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress hospitalisasi,
dimana anak perempuan yang menjalani hospitalisasi memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi di banding anak laki-laki,
walaupun ada beberapa yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat
kecemasan anak.
4) Karakteristik Saudara
Karakteristik saudara dapat mempengaruhi kecemasan pada
anak yang dirawat di rumah sakit. Anak yang dilahirkan sebagai
anak pertama dapat menunjukan rasa cemas yang berlebihan
dibandingkan anak kedua.
5) Jenis Kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress hospitalisasi,
dimana anak perempuan yang menjalani hospitalisasi memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi di banding anak laki-laki,
walaupun ada beberapa yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat
kecemasan anak.
6) Pengalaman terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit
Menurut Tsai (2015), anak yang mempunyai pengalaman
hospitalisasi sebelumnya akan mengalami kecemasan yang lebih
rendah dibandingkan dengan anak yang belum memiliki
pengalaman sama sekali. Respon anak menunjukan peningkatan
sensitivitas terhadap lingkungan dan mengingat dengan detail
kejadian yang dialaminya dan lingkungan disekitarnya.

9
Pengalaman pernah dilakukan perawatan juga membuat anak
menghubungkan kejadian sebelumnya dengan perawatan saat
ini. Anak yang memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan
selama dirawat di rumah sakit sebelumnya akan membuat anak
takut dan trauma. Sebaliknya apabila pengalaman anak dirawat
di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik dan
menyenangkan maka akan lebih kooperatif.
7) Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah
Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah dikaitkan dengan
dukungan keluarga. Semakin tinggi dukungan keluarga pada
anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi, maka
semakin rendah tingkat kecemasan anak. Jumlah saudara
kandung sangat erat hubungannya dengan dukungan keluarga.
Semakin banyak jumlah saudara kandung, maka anak akan
cenderung cemas, merasa sendiri serta kesepian saat anak harus
dirawat di rumah sakit. Keterlibatan orangtua selama anak
dirawat memberikan perasaan tenang, nyaman, merasa disayang
dan diperhatikan. Koping emosi yang baik dari anak akan
memunculkan rasa percaya diri pada anak dalam menghadapi
permasalahannya. Keterlibatan orangtua dapat memfasilitasi
penguasaan anak terhadap lingkungan yang asing.
8) Persepsi anak terhadap sakit
Keluarga dengan jumlah yang cukup besar mempengaruhi
persepsi dan perilaku anak dalam mengatasi masalah
menghadapi hospitalisasi. Jumlah anggota keluarga dalam satu
rumah semakin besar memungkinkan dukungan keluarga yang
baik dalam perawatan anak. Small, et al (2009) dalam Saputro.
H & Fazrin. (2017) menyatakan bahwa anak usia prasekolah
selama di hospitalisasi bisa menyebabkan dampak bagi anak
sendiri maupun orangtua. Munculnya dampak tersebut karena
kemampuan pemilihan koping yang belum baik dan kondisi

10
stress karena pengobatan.
d. Respon Terhadap Kecemasan
1) Respon fisiologi terhadap kecemasan (Guyton dan Hall, 2014)

Stress fisik atau emosional mengaktivasi amygdala yang


merupakan bagian dari sistem lymbik yang berhubungan dengan
komponen emosional dari otak. Respon emosional yang timbul
ditahan oleh input dari pusat yang lebih tinggi di forebrain.
Respon neurologis dari amygdala ditransmisikan dan
menstimulasi respon hormonal dari hipotalamus. Hipotalamus
akan melepaskan hormone CRF (Corticotropin Releasing
Factor) yang menstimulasi hipofisis untuk melepaskan hormone
lain yaitu ACTH (Adrenocortocotropic Hormone) ke dalam
darah. ACTH sebagai gantinya menstimulasi kelenjar adrenal
untuk menghasilkan kortisol yaitu suatu kelenjar kecil yang
berada di atas ginjal. Semakin berat stress, kelenjar adrenal akan
menghasilkan kortisol semakin banyak dan menekan sistem
imun.

Secara simultan, hipotalamus bekerja secara langsung


pada sistem otonom untuk merangsang respon yang segera
terhadap stress, yang ditandai dengan produksi air liur yang
berlebihan (hipersaliva). Sekresi air liur berada dibawah control
sistem saraf otonom. Sistem otonom sendiri diperlukan dalam
menjaga keseimbangan tubuh. Sistem otonom terbagi dua yaitu
sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis bertanggung
jawab terhadap adanya stimulasi atau stress. Reaksi yang timbul
berupa peningkatan denyut jantung, nafas yang cepat,
penurunan aktivitas gastrointestinal. Sementara sistem
parasimpatis membuat tubuh kembali ke keadaan istirahat
melalui penurunan denyut jantung, perlambatan pernafasan,
meningkatkan aktivitas gastrointestinal. Perangsangan yang

11
berkelanjutan terhadap sistem simpatis menimbulkan respon
stress yang berulang-ulang dan menempatkan sistem otonom
pada keseimbangan. Keseimbangan antara kedua sistem ini
sangat penting bagi kesehatan tubuh. Dengan demikian tubuh
dipersiapkan untuk melawan atau reaksi menghindar melalui
satu mekanisme rangkap; satu respon saraf, jangka pendek, dan
satu respon hormonal yang bersifat lebih lama.
2) Respon Psikologis terhadap Kecemasan
Respon perilaku akibat kecemasan adalah tampak gelisah,
terdapat ketegangan fisik, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat,
kurang koordinasi, menarik diri dari hubungan interpersonal,
melarikan diri dari masalah, menghindar, dan sangat waspada.
3) Respon kognitif
Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik
proses pikir maupun isi pikir, diantaranya adalah tidak mampu
memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunnya
lapang persepsi, bingung, sangat waspada, kehilangan
objektivitas, takut pada gambaran visual, takut pada cedera atau
kematian dan mimpi buruk.
4) Respon Afektif
Secara afektif klien akan mngekspresikan dalam bentuk
kebingungan, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada,
khawatir, mati rasa, rasa bersalah atau malu, dan curiga
berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan.
e. Alat Ukur Kecemasan
Tingkat kecemasan dapat terlihat dari manifestasi yang ditimbulkan
oleh seseorang. Alat ukur kecemasan terdapat beberapa versi
menurut Saputro. H & Fazrin. (2017), antara lain:
1) Zung Self Rating Anxiety Scale
Zung Self Rating Anxiety Scale dikembangkan oleh W.K
Zung tahun 1971 merupakan metode pengukuran tingkat

12
kecemasan. Skala ini berfokus pada kecemasan secara umum
dan koping dalam mengatasi stress. Skala ini terdiri dari 20
pertanyaan dengan 15 pertanyaan tentang peningkatan
kecemasan dan 5 pertanyaan tentang penurunan kecemasan.
2) Hamilton Anxiety Scale
Hamilton Anxiety Scale (HAS) disebut juga dengan Hamilton
Anxiety Rating Scale (HARS). Pertama kali dikembangkan oleh
Max Hamilton pada tahun 1956, untuk mengukur semua tanda
kecemasan baik kecemasan psikis maupun somatic. HARS terdiri
dari 14 item pertanyaan untuk mengukur tanda adanya
kecemasan pada anak dan orang dewasa. HARS telah
distandarkan untuk mengevaluasi tanda kecemasan pada individu
yang sudah menjalani pengobatan terapi, setelah mendapatkan
obat antidepresan dan setelah mendapatkan obat psikotoprika.
3) Preschool Anxiety Scale
Preschool Anxiety Scale dikembangkan oleh Spence, et al, dalam
kuesioner ini mencakup pernyataan dari anak (Spence Children’s
Anxiety Scale) tahun 1994 dan laporan orangtua (Spence
Children’s Anxiety Scale Parent Report) pada tahun 2000.
Masing- masing memiliki 45 dan 39 pertanyaan yang
menggunakan pernyataan tidak pernah, kadang- kadang, sering
dan selalu.
4) Children Manifest Anxiety Scale (CMAS)
Pengukur kecemasan Children Manifest Anxiety Scale (CMAS)
ditemukan oleh Janet Taylor. CMAS berisi 50 butir pertanyaan,
dimana responden menjawab keadaan “ya” atau “tidak” sesuai
dengan keadaan dirinya, dengan memberi tanda (O) pada kolom
jawaban “ya” atau tanda (X) pada kolom jawaban “tidak”.
5) Screen for Child Anxiety Related Disorders (SCARED)
Screen for child Anxiety Related Disorders (SCARED)
merupakan instrument untuk mengukur kecemasan pada anak

13
yang terdiri dari 41 item, dalam instrumen ini responden
(orangtua/pengasuh) diminta untuk menjelaskan bagaimana
perasaan anak dalam 3 bulan terakhir. Instrumen ini ditujukan
pada anak usia 8 tahun hingga 18 tahun.
6) The Pediatric Anxiety Rating Scale
The Pediatric Anxiety Rating Scale (PARS) digunakan untuk
menilai tingkat keparahan kecemasan pada anak-anak dan
remaja, dimulai usia 6 sampai 17 tahun. PARS memiliki du
abgain daftar periksa gejala dan item keparahan. Daftar periksa
gejala digunakan untuk menentukan gejala-gejala pada minggu-
minggu terakhir. Ke tujuh item, tingkat keparahan digunakan
untuk menentukan tingkat keparahan gejala dan skor total PARS.
Gejala yang termasuk dalam penilaian umumnya diamati pada
pasien dengan gangguan-gangguan seperti gangguan panic dan
fobia spesifik.

2. Terapi Bermain
A. Pengertian
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat
melakukan atau mempraktikan ketrampilan, memberikan ekspresi
terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk
berperan dan berperilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang
memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan, kognitif,
dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat
bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya
sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan makan,
kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan lain-lain. Bagi
orangtua bermain pada anak harus selalu diperhatikan sebagaimana
memperhatikan terhadap kebutuhan lainnya. Dengan bermain anak
akan selalu mengenal dunia, mampu mengembangkan kematangan
dari fisik, emosional, dan mental sehingga akan membuat anak

14
tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh inovatif
(Suriadi dkk, 2010).
Menurut Nursalam (2009) bermain merupakan suatu
kegiatan yang menyenangkan bagi anak, meskipun hal tersebut
tidak menghasilkan komoditas tertentu misalnya keuntungan
finansial (uang). Menurut Suriadi dkk (2010), secara umum bermain
sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara
spontan, menyangkut lima aspek penting, yaitu:
1) Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsic pada
anak
2) Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat
intrinsic
3) Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan
bebas dipilih oleh anak
4) Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
5) Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan suatu yang
bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar
bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa bermain adalah: “kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain
sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan
stress anak, belajar berkomunikasi dengan lingkungan,
menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar mengenal dunia dan
meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.”
B. Masa Pra Sekolah
Pada usia pra sekolah (3-6 tahun) anak sudah mulai mampu
mengembangkan kreativitasnya dan sosialisasi sehingga sangat
diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan
menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa,
mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas,
mengembangkan koordinasi motoric, mengembangkan dalam

15
mengontrol emosi, motoric kasar dan halus, memperkenalkan
pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan
pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan
suasana komepetensi serta gotong royong.
C. Jenis Permainan
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini
seperti benda-benda sekitar rumah. Karakteristik:
Permainan imaginative yang dominan, permainan dramatic
yang menonjol, fokus pada pengembangan keterampilan gerakan
halus, senang berlari, melompat atau meloncat, berkhayal dengan
kawan bermain, mulai dengan koleksi-koleksi, senang membangun
sesuatu misalnya dari pasir atau adonan, permainannya sederhana
dan imaginative.
Contoh permainan dan aktivitas:
1) Buku bacaan
2) Bahan-bahan yangdapat dibuat bangunan atau diciptakannya.
3) Bahan-bahan yang dapat diwarnai dan digambar
4) Bahan yang lempung, cat kuku, pasir yang dibuat bangunan
atau membuat adonan, plastisin, slime
5) Memotong, alat pukulan yang lempung
6) Boneka, bahan-bahan mainan seperti ; binatang,
dan lain-lain
Mengenakan pakaian
D. Fungsi Terapi Bermain
Suriadi, dkk (2010) mengungkapkan bahwa fungsi khusus bermain
pada anak mencakup perluasan keterampilan sensorimotor,
kreativitas, intelektual, dan perkembangan sosial. Berikut adalah
fungsi bermain bagi anak.
1) Perkembangan fisik
a) Perkembangan keterampilan gerakan halus dan kasar
b) Koordinasi otot-otot

16
c) Eksplorasi
d) Stimulasi kinestetik
e) Perkembangan sendi dan tulang
2) Perkembangan kognitif
a) Penggunaan rasa, sentuhan, penglihatan, prndengaran, bau
dan rasa.
b) Belajar mengenal warna,ukuran, ketajaman, tekstur, objek
yang penting.
c) Penyelesaian masalah, berpikir kritis
d) Kreativitas
e) Koordinasi tangan-kaki
3) Perkembangan emosional
a) Belajar strategi koping
b) Memberikan jalan keluar pada stress
c) Memberikan bermain, dengan memberikan rasa atau makna
penting
d) Perkembangan sosial
e) Keterampilan perkembangan sosial
f) Belajar salah dan benar
g) Belajar membedakan peran melalui permainan imaginative
4) Perkembangan moral
a) Belajar berperilaku yang dapat diterima dan tidak diterima
b) Belajar sharring menyadari perasaan oranglain
c) Belajar siapa mereka dan tempat mereka di alam ini
E. Klasifikasi Bermain
Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkategorikan
kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu
jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya
dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya.
1) Menurut Jean Piaget dalam Suriadi dkk (2015) kegiatan
bermain terdiri dari beberapa tahap:

17
a) Permainan sensori motorik (±3/4 bulan-1/2 tahun) Bermain
diambil pada periode perkembangan kognitif sensori
motoric, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat
dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya
merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti
kegiatan makan atau mengganti sesuatu, jadi merupakan
pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut
reproduktif assimilation.
b) Permainan simbolik (±2-7 tahun).
Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan
pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan
bermain pura-pura. Pada masa ini anak akan lebih banyak
bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal
berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas, dan
sebagainya. Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak
terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan
walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak
sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi
benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan
kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga
berfungsi untuk mengasimilasikan dan
mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap
hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam
kegiatan bermainnya.
c) Permainan social yang memiliki aturan (±8-11 tahun)
Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam
kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih
banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.
d) Permainan yang memiliki aturan dan olahraga (11 tahun
keatas)
Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah

18
olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan
dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat
dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan
permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.
Anak senang melakukan berulang- ulang dan terpacu
mencapai prestasi yang sebaik- baiknya.
2) Tahapan perkembangan bermain menurut E. Hurlock dalam
Suriadi dkk (2010)
a) Tahap penjelajahan (Exploratory Stage) Berupa kegiatan
mengenal objek atau oranglain, mencoba menjangkau atau
meraih benda disekelilingnya atau mengamatinya.
Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat
merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati
setiap benda yang diraihnya.
b) Tahap mainan (Toy stage)
Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Antara
2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat
permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah,
anak-anak di taman kanak-kanak (TK) biasanya bermain
dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain
seperti layaknya teman bermainnya.
c) Tahap bermain (Play stage)
Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah
dasar (SD). Pada masa ini jenis permainan anak semakin
bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang
lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan
bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.
d) Tahap melamun (Daydream stage)
Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas,
dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan
bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai

19
menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal.
Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari
oranglain atau merasa kurang dipahami oleh oranglain

3) Ditinjau dari sumber kegembiraannya bermain dikategorikan


menjadi 2:
a) Bermain Aktif
(1) Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi Dalam
permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang
diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam
permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan
permainan tersebut selama permainan tersebut
menimbulkan kesenangan dan akan berhenti apabila
permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya.
Dalam permainan ini anak akan melakukan eksperimen
atau menyelidiki, mencoba, dan mengenai hal-hal baru.
Misalnya; memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada
bunyi, mencium, meraba, menekan, dan kadang-kadang
berusaha membongkar.
(2) Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan,
menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan
yang nyata, atau dalam mass media.
(3) Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk
mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu bekerja
sama dengan teman-teman sebayanya dalam
memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau
memainkan alat music.
(4) Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu Kegiatan ini
sering menimbulkan rasa bangga, karena anak

20
mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-
temannya. Disamping itu mengumpulkan benda-benda
dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan social
anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja
sama dan bersaing.
(5) Permainan olahraga
Dalam permainan olahraga, anak banyak menggunakan
energi fisiknya, sehingga sangat membantu
perkembangan fisiknya. Disamping itu, kegiatan ini
mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul,
bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta
menilai diri dan kemampuannya secara realistic dan
sportif.
(6) Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok
menjadi rumah-rumahan.
(7) Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan
dengan teman-temannya.
b) Bermain Pasif
Bermain pasif, yaitu anak melakukan kegiatan dengan
sedikit menggunakan aktivitas fisik dan sumber rasa
senangnya diperoleh dari aktivitas yang dilakukan oleh
oranglain, contohnya menonton film, pertunjukan,
menonton permainan sepak bola, volley ball dan lain-lain.
misalnya:
(1) Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik
secara positif maupun negative. Pengaruh positifnya
adalah anak akan bertambah pengetahuan, sedangkan
pengaruh negative yaitu apabila anak meniru hal-hal

21
yang disiarkan radio seperti kekerasan, criminal, atau
hal-hal negative lainnya.
(2) Menonton televisi
Menonton televisi pengaruhnya sama dengan seperti
mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun
negatifnya.
4) Berdasarkan isinya, bermain dikategorikan menjadi :
a) Social affective play
Anak belajar memberi respon terhadap respon yang
diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan,
misalnya orangtua mengajakan anak bermain dan anak
tertawa senang, dan anak diharapkan dapat bersosialisasi
dengan lingkungan.
b) Sense of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu objek yang ada
disekitarnya, dengan bermain dapat merangsang perabaan
alat, misalnya bermain plastisin atau bermain slime.
c) Skill play
Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh
keterampilan tertentu dan anak akan melakukan secara
berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda.
d) Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang
menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan
dan skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri
dan atau temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai
dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern.
Misalnya: ular tangga, congkla, puzzle, dll.
e) Onuccapied behavior
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar- mandir,
tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk- bungkuk,

22
memainkan kursi, meja taua apa saja yang disekelilingnya.
Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan
tertentu, dan situasi atau objek yang ada disekelilingnya
yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak tampak
senang, gembira, asyik dengan situasi serta lingkungannya
tersebut.
f) Dramatika play role play
Sesuai dengan sebutannya pada permainan ini anak
memainkan peran sebagai orang lain melalui permainan.
Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa,
misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan
sebagainya yang ia tiru.
g) Solitary play
Pada permainan ini anak tampak berada dalam kelompok
permainan tetapi anak bermain sendiri dengan alat
permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut
berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya,
tidak ada kerja sama, atau komunikasi dengan teman
sepermainan.
h) Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat
permainan yang sama dengan anak lain, tetapi antara satu
anak dengan anak yang lain tidak terjadi kontak satu sama
lain sehingga antara anak yang satu dengan anak yang lain
tidak ada sosialisasi. Biasanya permainan ini dilakukan oleh
anak usia toddler.
i) Assosiatif play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu
anak dengan anak yang lain, tetapi tidak terorganisasi tidak
ada pemimpin atau yang memimpin permainan sesuai
dengan tujuan permainan tidak jelas. contoh bermain

23
boneka, bermain hujan-hujanan, bermain masak-masakan.
j) Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada
permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin permainan.
Anak yang memimpin permainan mengatur dan
mengarahkan anggotanya, untuk bertindak dalam
permainan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam
permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola.
F. Manfaat Bermain
Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain memiliki
manfaat yang besar dan positif bagi perkembangan anak usia dini.
Plato, Aristoteles dan Frobel menganggap bermain sebagai kegiatan
yang mempunyai nilai praktis. Hal ini, berarti bahwa bermain
sebagai media untuk memperkuat potensi dan ketrampilan tertentu
pada anak. Ketrampilan dan potensi pada anak dapat terbentuk
melalui tiga aspek perkembangan yaitu aspek kognitif, aspek fisik,
dan aspek sosio-emosi. Pendapat yang sama dikemukakan oleh
Isenberg dan Jalongo (1997) dalam Suriadi dkk (2010) bahwa
bermain dapat memberikan manfaat aspek kognitif, aspek fisik, dan
aspek sosio-emosi.
a. Manfaat bagi aspek kognitif.
Dengan bermain anak mampu belajar dan mengembangkan daya
pikirnya. Selain bermain sebagai sarana rekreasi, bermain juga
harus memiliki nilai edukasi. Sehingga anak memiliki
kemampuan mengembangkan pengetahuannya.
b. Manfaat bagi aspek fisik
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan
kegiatan yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh yang membuat
tubuh anak sehat dan otot-otot tubuh menjadi kuat.
Perkembangan fisik inilah berpengaruh pada perkembangan
motoric halus dan motoric kasar yang mana dalam bermain

24
dibutuhkan gerakan dan koordinasi tubuh (tangan, kaki, mata).
Selain itu berpengaruh juga pada perkembangan alat indera
(penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan
perabaan) yang memberikan manfaat bahwa dengan bermain
anak akan lebih tanggap atau peka terhadap hal-hal disekitarnya.
c. Manfaat bagi aspek sosio-emosi
Dalam bermain ada keterlibatan emosi dan kepribadian. Melalui
bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang ada dalam
dirinya. Anak dapat menyalurkan perasaan dan menyalurkan
dorongan-dorongan yang membuat anak lega dan relaks. Dengan
bermain anak di ajarkan untuk mempunyai rasa percaya diri,
bersikap suportif terhadap sesame, dan melatih kemampuan
untuk bisa membangun hubungan yang kompetitif dengan teman,
tetapi nilai kompetitif itu didalam kegiatan yang positif
3. Anak
a. Pengertian
Menurut UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak, pasal 1 ayat 1, anak adalah seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Sedangkan menurut definisi WHO, batasan usia anak
adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun.
Berdasarkan Konversi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis
Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 november
1989 dan ratifikasi Indonesia pada tahun 1990, bagian 1 pasal 1,
yang dimaksud anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18
tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi
anak ditentukan bahwa usia dewasa telah dicapai lebih awal
(Kemenkes, 2014).
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkemabnagn yang dimulai dari bayi hingga remaja.
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan

25
yang dimuali dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/toddler (1-2,5
tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga
remaja (11-18 tahun). Rentang ini berbeda antara satu anak
dengan anak yang lain mengingat latar belakang anak berbeda.
Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan
perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses
berkembang anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola
koping, dan perilaku sosial.
b. Masa Pra Sekolah
Pada pertumbuhan masa pra sekolah pada anak,
pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-
rata per tahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas
motoric tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan
seperti berjalan, melompat, dan lain-lain. pada pertumbuhan
khususnya ukuran tinggi badan anak akan berubah rata-rata 6,75-7,5
cm setiap tahunnya.
Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola
makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk
makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukan proses
kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan
kognitif sudah mulai menunjukan perkembangan dan anak sudah
mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dan tampak sekali
kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa
yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar
dengan lingkungan dan orangtuanya. Sedangkan perkembangan
psikososial pada anak sudah menunjukan adanya rasa inisiatif,
konsep diri yang positif serta mampu mengidentifikasi identitas
dirinya.
c. Perkembangan anak usia pra sekolah
1) Perkembangan Kognisi
Perkembangan kognisi pada masa pra sekolah adalah

26
perkembangan preoperasional, dengan ciri-ciri:
a) Penggunaan symbol-simbol tapi tidak dapat
berfikir logis, misalnya anak menggunakan benda-
benda untuk menggambarkan sesuatu.
b) Memahami identitas, yaitu anak mulai memahami
bahwa perubahan permukaan tidak merubah
bentuk asal suatu objek.
c) Memahami sebab akibat secara sederhana.
2) Perkembangan Sosioemosional
a) Pertumbuhan emosi. Pada masa ini anak dapat
mengatakan apa yang sedang dirasakan dan
merasakan apa yang dirasakan oleh oranglain.
Selain itu emosi malu dan bangga mulai
berkembang karena anak mulai mendapatkan
kesadaran tentang dirinya.
b) Harga diri (self esteem). Pada masa ini masih bersifat
global, seperti “saya baik” atau “saya jahat”. Tingkah
laku orangtua secara suportif akan meningkatkan harga
diri anak. Semakin tinggi harga diri, semakin anak
termotivasi untuk mencapai sesuatu. Sebaliknya jika
anak mengalami kegagalan, anak akan memandang
kegagalan sebagai pukulan baginya dan merasa tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan
lebih baik. Untuk menghindari hal ini, orangtua dan
guru sebaiknya memberikan umpan balik yang tidak
bersifat mengkritik.
4. General Anestesi
a. Pengertian
Anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari sensasi yang
meliputi sensasi sakit/nyeri, rabaan, suhu, posisi sedangkan analgesia
yaitu hilangnya sensasi sakit atau nyeri tetapi modalitas yang lain masih
tetap ada. Anestesi umum atau general anesthesia mempunyai tujuan
agar dapat ; menghilangkan nyeri, membuat tidak sadar, dan
menyebabkan amnesia yang bersifat reversibel dan dapat diprediksi.

27
Anestesi umum disebut juga sebagai narkose atau bius. Anestesi umum
juga menyebabkan Amnesia yang bersifat anterodrad yaitu hilangnya
ingatan saat dilakukan pembiusan dan operasi sehingga saat pasien
sudah sadar, pasien tidak mengingat peristiwa pembedahan atau
pembiusan yang baru saja dilakukan sifat anestesi umum yang reversibel
memungkinkan memungkinkan pasien bangun kembali tanpa efek
samping anestesi juga dapat diperkirakan berhasilnya dengan
penyesuaian dosis.( Pramono, 2017 )
b. Anestesi Pada Pedriatik
Bergantung pada umur pengalaman pembedahan sebelumnya dan
maturitas, seorang anak menderita berbagai macam tingkat stres ketika
berhadapan dengan pembedahan yang akan dilakukan, Berbeda dengan
orang dewasa yang tepat terhadap kemungkinan kemungkinan terjadinya
kematian pada anak tapi takut terhadap nyeri dan takut tidak dipisah
dengan orang tuanya (Widianti, 2017). Persiapan beroperasi dengan
dengan free visit pada anak dan mendiskusikan rencana tindakan
anastesi yang akan dilakukan. Buku-buku, video, atau alat alat lainnya
dapat digunakan dalam kunjungan. Spesialis terapi bermain adalah
anggota tim yang penting diikutsertakan dalam kunjungan ketika
memberikan informasi pada anak harus disesuaikan dengan tingkat anak
anak anak perlu diberi informasi beberapa hari sebelum dilakukan
operasi. Kunjungan pre operasi bermanfaat bagi anak, orang tua dan
dokter anastesi karena udah mematikan beberapa hal antara lain :
1. Anak siap memasuki ruang operasi
2. Semua pemeriksaan sudah lengkap
3. Anak dan orang tua sudah diberikan informasi tentang rencana
tindakan yang akan dilakukan dan pilihan Anestesi yang akan
digunakan.
4. Informed consent rencana tindakan operasi
5. Dokumentasi sudah lengkap
Kecemasan pada anak memang biasa terjadi dan mereka sulit
untuk mengungkapkannya. Biasanya, kehadiran orang tua pada saat
induksi dan di ruang recovery sangat membantu Anak anak yang
menjalani operasi biasanya menggunakan anastesi umum. Menurut
28
Widianti (2017) anestesi umum merupakan tindakan meniadakan nyeri
secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali
(reversible) . Anestesi umum menyebabkan mati rasa karena obat ini
jarang masuk ke jaringan otak dengan tekanan setempat yang tinggi
anestetik yang sering digunakan pada anak anak berbeda hal ini
dikarenakan :
1. Konsentrasi Alveolar minimal (MAC) zat-zat volatie lebih
tinggi pada anak anak dibanding dewasa (MAC) tertinggi
adalah pada infan satu sampai enam bulan. Bayi Prematur dan
neona tes mempunyai (MAC) yang rendah.
2. Anak-anak mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap
efek disritmik epinefrin pada anastesi umum dengan zat zat
volatile.
3. Anak anak pada umumnya mempunyai keperluan obat (mg/kg)
yang lebih tinggi karena mempunyai distribusi volume yng
lebih besar (lebih banyak lemak, lebih banyak cairan tubuh) 61
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4. Opioid sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada anak anak
yang berusia kurang dari satu tahun yang lebih sensitif
terhadap efek depresan pernapasan

29
B. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat


Terapi bermain (bola, puzzle, Kecemasan pre-operatif pada
mobil - mobilan,alat masak, anak usia pra-sekolah
ring donat, xhilophone) (3-6 tahun)

Variabel Pengganggu
Faktor yang memengaruhi
kecemasan:
1. Usia
2. Karakteristik saudara
3. Jenis Kelamin
4. Pengalaman Terhadap Sakit
5. Jumlah Anggota Keluarga
6. Persepsi anak terhadap sakit

Keterangan
: diteliti

: tidak diteliti

Gambar 2 1 Kerangka Konsep

C. Hipotesis Penelitian
Terdapat pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan pasien anak usia
pra sekolah pre operatif dengan general anestesi di RSUP [Link]
Tirtonegoro Klaten.

30
D. KERANGKA TEORI
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka kerangka teori
dalam penelitian inu dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Faktor yang memengaruhi


kecemasan:
1) Usia
2) Karakteristik saudara
Hospitalisasi 3) Jenis Kelamin
Preoperatif anak Kecemasan
4) Pengalaman Terhadap
usia pra sekolah Pre- operatif Sakit
(3-6 thn)
5) Jumlah Anggota
Keluarga
6) Persepsi anak terhadap
Pemberian Terapi Bermain: sakit
bola, puzzle, mobil -
mobilan,alat masak, ring Kecemasan
donat, xhilophone menurun

Gambar 2 2 Kerangka Teori


Sumber: Suriadi dkk (2010), Stuart dan Sundeen (2016)

31
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperiman adalah
penelitian tentang kemungkinan hubungan sebab-akibat
dengan cara eksperimental dalam satu kondisi atau lebih
dengan membandingkan hasil yang dikontrol atau tidak.
Eksperimen merupakan suatu cara untuk mencari hubungan
sebab-akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja
ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminisasi atau
mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang
mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud
untuk melihat akibat suatu perlakuan.
Pada penelitian ini menggunakan bentuk penelitian
pre- eksperimental design. Jenis penelitian ini digunakan
karena keterbatasan subjek yang akan diteliti. One-group pre-
test-post-test design, yaitu satu kelompok eksperimen diukur
variabel dependennya (pre-test), kemudian diberikan stimulus, dan
diukur kembali variabel dependennya (post-test), tanpa ada
kelompok pembanding
Gambar 3.1
Desain Penelitian “One-group pre-test-post-test design”

O1 X O2

Keterangan :
O1= Nilai Pre-test (observasi) kecemasan preoperative
sebelum diberikan terapi bermain
2= Nilai Post-test (observasi) kecemasan preoperative
setelah diberikan perlakuan
X = Treatment (perlakuan) pemberian terapi bermain selama
10-15 menit satu kali pemberian
Pengukuran dilakukan setelah pemberian perlakuan selesai dengan
cara menilai tingkat kecemasan anak menggunakan instrument Spence
Children’s Anxiety Scale Preschool (SCAS-P)dan hasilnya dilakukan dengan
uji statistik.

32
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan pada bulan April - Agustus tahun 2024 di ruang
penerimaan IBS RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Menurut Donsu (2016), populasi merupakan seluruh objek atau
subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang sudah
ditentukan oleh peneliti sebelumnya. Populasi dapat disimpulkan sebagai
objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah yang telah memenuhi
syarat penelitian. Populasi penelitian ini adalah semua pasien anak pre
operasi dengan pembiusan general anestesi di RSUP dr Soeradji
Tirtonegoro Klaten. Jumlah pasien anak di IBS RSUP dr Soeradji
tirtonegoro Klaten yang dilakukan pembedahan dengan general anestesi
kurang lebih 20 pasien setiap bulan.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap mewakili
populasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
consecutive sampling adalah pemilihan sampel dengan menetapkan subjek
yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai
kurun waktu tertentu, sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi
(Notoadmojo, 2018). Sampel pada penelitian ini adalah pasien anak
prasekolah operasi dengan General Anestesi di Ruang Penerimaan RSUP dr
Soeradji Tirtonegoro Klaten.
a. Teknik Pengambilan Sampel
Pengertian sampel menurut Suharismi Arikunto (2013) sampel
adalah “sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Menurut Sugiyono
(2015) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi” dapat disimpukan bahwa sampel merupakan
bagian dari populasi yang mempunyai karakteristik dan sifat yang
mewakili seluruh populasi yang ada. Menurut Sugiyono (2015) total
sampling adalah “teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama
dengan jumlah populasi yang ada”. Peneliti melakukan pengambilan sampel
pada bulan April - Agustus 2024 sebanyak 40 pasien anak pre sekolah yang
menjalani tindakan operasi dengan general anestesi di RSUP [Link]
33
Tirtonegoro Klaten sehingga populasi awal pada penelitian ini sebanyak 36
anak.
b. Besar Sampel
Penentuan besar sampel dihitung dengan aplikasi sample size
mengacu pada metode Lemeshow, (1997) dengan Hypothesis test for
one population proportions (one-sided-test) yaitu pengambilan
sampel yang cocok untuk satu kelompok :

Keterangan :

Dari hasil perhitungan diatas didapatkan responden sebanyak 26 anak.


Untuk mengantisipasi drop out maka sampel yang diperoleh ditambahkan
10% yakni menjadi 39 responden

34
21

35
21

c. Kriteria Sampel
Kriteria Sampel dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik
umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau
dan akan diteliti. Sedangkan kriteria eksklusi adalah menghilangkan
subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi yang
memungkinkan variabel kontrol memiliki pengaruh terhadap
variabel yang akan diteliti (Nursalam, 2017). Kriteria inklusi dan
Eksklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Kriteria Inklusi
a) Bersedia menjadi responden penelitian
b) Status fisik penderita ASA 1dan 2
c) Tindakan operasi general anestesi
d) Pasien anak usia 3-6 tahun.
e) Responden tidak ada kontra indikasi untuk melakukan
terapi bermain.

f) Operasi ringan dan sedang

2) Kriteria Eksklusi
Pasien berkebutuhan khusus (retardasi mental, down
syndrome, autism, Gangguan Pemusatan Perhatian
Hiperaktivitas [GPPH], fracture costae, fractur cranio,).

36
21
D. Definisi Operasional

Tabel 3 1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional Instrumen Hasil Skala


Penelitian Pengukuran
1. Terapi Suatu bentuk kegiatan Bola, Nilai 1 : Nominal
bermain untukmenurunkan puzzle, Diberikan
kecemasan dengancara mobil- mainan
memberikanpermainan mobilan,
kepadasubjek selama 15- alat masak, Nilai 2 :
30 menit ring donat, Tidak
xhilophone diberikan
mainan
2. Kecemasan Kecemasan anak usia Alat Ukur Hasil Ordinal
Pre Operasi prasekolah dengan pre Menggunakan pengukuran
pasien anak operatif dalam penelitian lembar tingkat
usia ini yaitu suatu respon instrumen kecemasan :
prasekolah psikologis pasien kecemasan - Kecemasan
ditandai dengan perasaan SCAS-P ringan (skor <
khawatir, gugup, tegang, 18),
Gelisah, dan - Kecemasan
kebingungan pada anak sedang (skor
usia prasekolah y ang 18-36),
akan dilakukan tindakan - Kecemasan
pembedahan. berat (skor 36-
Pengukuran dilakukan 54),
di ruang perawatan - Kecemasan
yang diukur dua sangat
kaliyaitu sebelum berat/panik
pemberian terapi (skor >54)
bermain dan sesudah
pemberian
terapi bermain.

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data


Berdasarkan sumbernya terdapat 2 cara yang dapat digunakan yaitu
melalui data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh
dari sumber langsung (kuesioner, observasi, wawancara dengan narasumber),
sedangkan data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secara tidak
langsung (rekam medis, buku teori, majalah). Bentuk pengumpulan data
terbagi dalam berbagai cara. Melalui observasi, tes, angket, wawancara dan
dokumentasi. Peneliti berhak menentukan teknik yang akan digunakan dalam
pengumpulan data (Donsu, 2016).
Penelitian ini menggunakan jenis data primer. Peneliti mengumpulkan data
langsung dari sumbernya yaitu dengan mengukur kecemasan anak dengan
37
21
menggunakan sebuah kuesioner. Sampel penelitian adalah pasien yang akan
menjalani operasi elektif, sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi yang
akan dilakukan tindakan operasi. Pasien yang akan menjadi sampel penelitian
akan diukur tingkat kecemasannya menggunakan instrumen one group pre test
and post test kemudian setelah diketahui tingkat kecemasannya, pasien akan
diberikan terapi bermain menggunakan media permainan selama 15 menit,
pasien akan dievaluasi menggunakan instrumen Spence Children’s Anxiety
Scale Preschool (SCAS-P) pretest 30 menit sebelum pasien dibawa ke ruang
operasi atau 15 menit setelah dilakukan pemberian terapi bermain untuk
mengukur tingkat kecemasan (posttest).
Peneliti menggunakan instrumen kuesioner yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan pemberian terapi bermain terhadap kecemasan pra
operasi pada pasien anak usia prasekolah.
F. Instrumen Penelitian
Instrument terapi bermain dalam penelitian ini adalah buku
bergambar,yang diberikan selama 15-30 menit. Sedangkan dalam pengukuran
tingkat kecemasan anak yaitu menggunakan instrument Spence Children’s
Anxiety Scale Preschool (SCAS-P) adalah instrumen kecemasan untuk
mengukur kecemasan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun). Skala SCAS-P
terdiri dari 18 pertanyaan kecemasan, Skala SCAS-P dilengkapi dengan
meminta orang tua untuk mengikuti petunjuk pada lembar instrumen. Jumlah
skor maksimal pada skala kecemasan SCAS Preschool adalah 72. 18 item
kecemasan tersebut memberikan ukuran keseluruhan kecemasan, selain nilai
pada enam sub-skala masing-masing menekankan aspek tertentu dari
kecemasan anak, yaitu kecemasan umum, kecemasan sosial, gangguan obsesif
kompulsif, ketakutan cedera fisik dan kecemasan pemisahan (Spence, 2011).
Hasil total skor kuesioner akan menjadi kriteria tingkat kecemasan
anak, dengan rentang skor kecemasan sebagai berikut: ringan (skor < 18),
sedang (skor 18-36), berat (skor 36-54), dan sangat berat/panik (skor >54).
Jumlah pertanyaan dalam instrumen ini terdiri dari 6 sub-skala kecemasan
dan pada item pertanyaan sebagai berikut:
a) Kecemasan umum (1, 4, 8 dan 14)
b) Kecemasan sosial (2, 5, 11 dan 15)
c) Gangguan obsesif kompulsif (3, 9 dan 18)
d) Ketakutan cedera fisik (7, 10, 13 dan 17)

38
21
e) Kecemasan pemisahan (6, 12, dan 16)
G. Prosedur Penelitian
1. Tindakan pertama dilakukan dengan peneliti atau observer melakukan visite
ke responden sebelum responden dilakukan tindakan operasi
2. Peneliti/surveyor menentukan responden sesuai dengan kriteria inklusi
sebagai subyek penelitian
3. Peneliti atau observer meminta ijin kepada orangtua dan melakukan kontrak
dengan menyampaikan maksud, tujuan dan prosedur penelitian. Selanjutnya
orangtua diberikan inform consent dan menandatanganinya sebelum
dilakukan tindakan operasi.
4. Peneliti menyiapkan alat yang akan digunakan yaitu berupa kuesioner
SCAS-P, informed consent, alat tulis, media bermain.
5. Sebelum dilakukan intervensi dilakukan pretest kecemasan terlebih dahulu
sebelum anak dilakukan tindakan operasi dan diberikan mainan selama 15-
30 menit, kemudian peneliti atau observer melakukan observasi tingkat
kecemasan (post test) 15 menit setelah anak diberikan mainan. Kemudian
peneliti melakukan observasi tingkat kecemasan kembali menggunakan
instrument SCAS-P sebelum pasien masuk ke ruang operasi.
6. Peneliti atau observer mengumpulkan data hasil pengukuran yang
didapatkan kemudian melanjutkan ke tahap pengolahan data.

[Link] Data

1. Analisisa Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat
tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean
atau rata-rata, media, dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis
ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari setiap
variabel (Notoatmojo, 2012). Dilakukan untuk mengetahui distribusi
frekuensi karakteristik responden meliputi usia, paritas, pendidikan,
pekerjaan, status fisik ASA, bromage score.

39
21
Menggunakan rumus :

2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat yaitu analisis data untuk mengetahui pengaruh
antara variable bebas dan variable terikat. Seluruh data yang diperoleh
diolah menggunakan Saphiro Wilk. Apabila data terdistribusi normal
menggunakan uji T-paired test untuk menentukan perbedaan nilai pre
dan post pada kelompok anak usia prasekolah. Analisa bivariat yang
digunakan untuk menghasilkan hubungan antara dua variabel yang
bersangkutan, yaitu variabel independen dan variabel dependen
(Notoatmojo, 2010). Uji hipotesa yang digunakan adalah parametric
menggunakan data analisis Paired Sample T-Test. P = 0,000 yang
nilainya lebih kecil dari taraf kesalahan 5% (P < 0,05)

40
21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Anak yang menjadi responden dalam penelitian ini, adalah anak yang

berada di luar ruang penerimaan RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten. Ruang

penerimaan di IBS RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten ini campur antara

pasien anak dan dewasa. Tidak ada ruang bermain anak yang disediakan di

area ruang penerimaan IBS RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten. Setelah

adanya terapi bermain ini diharapkan mampu meminimalkan kecemasan anak

saat akan menjalani tindakan perioperatif.

Pengambilan data untuk kepentingan penelitian dilakukan di luar

ruang penerimaan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan sample

sebanyak 40 anak. Petugas bedah di IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

sebanyak 46 perawat yang terdiri 1 perawat yang berlatar belakang pendidikan

S2 Keperawatan, S1 Keperawatan sebanyak 15 orang dan 30 orang Perawat

yang berlatar belakang pendidikan D3. Petugas anestesi di IBS RSUP

[Link] Tirtonegoro Klaten sebanyak 24 orang yang terdiri dari 18 orang

yang berlatar belakang D4 dan 6 orang berlatar belakang D3.

41
21

1. Analisis Univariat
Hasil penelitian didapatkan dari analisis data karakteristik

responden anak yang akan menjalani operasi di RSUP Dr. Soereadji

Tirtonegoro Klaten pada April - Agustus 2024 yang berjumlah 40

orang. Penelitian ini dilakukan dengan studi dokumen, observasi

dan wawancara. Hasil dari pengumpulan data ini disajikan dalam

bentuk tabel yang terdiri dari hasil univariat dan bivariat. Analisis

univariat dilakukan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel

dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsinya untuk

mengetahui karakteristik responden.

a. Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang menjadi subjek penelitian

faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan pra operasi

pada pasien anak meliputi usia, jenis kelamin, pengalaman

operasi sebelumnya dan pendidikan. Responden yang menjadi

subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

berjumlah 40 responden.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik responden di


RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2024 (n: 40)

Karakteristik F %
1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki 25 62,5
b. Perempuan 15 37,5

42
43

2. Umur
a. 3 tahun 4 10
b. 4 tahun 8 20
c. 5 tahun 13 32,5
d. 6 tahun 15 37,5
3. Tingkat pendidikan
a. Belum sekolah 13 32,5
b. SD/TK 27 67,5
4. Pengalaman operasi
a. Belum pernah 31 77,5
b. Pernah 9 22,5
Data Primer, 2024
Tabel 2. Menunjukan bahwa berdasarkan jenis kelamin
responden yang paling banyak yaitu laki-laki sebanyak 25
orang (62,5%) sedangkan dilihat dari umur responden yang
paling banyak yaitu berumur 6 tahun sebanyakm 15 orang
(37,5%), responden yang dominan di tingkat pendidikan yaitu
responden yang sudah sekolah yaitu 27 orang (67,5%), dari
tabel diatas juga dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden belum pernah mendapatkan pengalaman operasi dan
dirawat dirumah sakit yaitu 31 orang (77,5%) dari total
responden.

b. Tingkat kecemasan sebelum diberikan terapi bermain


Tabel 3. Tingkat Kecemasan Sebelum Diberikan Terapi
Bermain
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Kecemasan Ringan 3 7.5 7.5 7.5
Kecemasan Sedang 23 57.5 57.5 65.0
Kecemasan Berat 12 30.0 30.0 95.0
Kecemasan Sangat Berat 2 5.0 5.0 100.0
Total 40 100.0 100.0
Data Primer, 2024

43
44

Berdasarkan tabel 3. Kecemasan pada kelompok intervensi

sebelum diberikan terapi bermain sebagian besar mengalami

kecemasan sedang dengan prosentase sebanyak 57,5%, untuk

kecemasan ringan 7,5%, kecemasan berat 30% dan sangat berat

dengan prosentase sebanyak 5%.

c. Tingkat kecemasan setelah diberikan terapi bermain

Tabel 4. Tingkat Kecemasan Setelah Diberikan Terapi

Bermain

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kecemasan Ringan 29 72.5 72.5 72.5
Kecemasan Sedang 7 17.5 17.5 90.0
Kecemasan Berat 4 10.0 10.0 100.0
Total 40 100.0 100.0

Data Primer, 2024

Berdasarkan Tabel 4. setelah diberikan terapi bermain

didapatkan hasil bahwa kecemasan yang dirasakan mengalami

penurunan yaitu kecemasan ringan sebanyak 72,5%,

kecemasan sedang sebanyak 17,5%, kecemasan berat sebanyak

10%

44
45

d. Pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan pasien


anak usia prasekolah pre operasi dengan general anestesi di
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Sebelum dilakukan uji bivariate, maka terlebih dahulu


dilakukan uji untuk menentukan sebaran (uji normalitas data)
dengan hasil data determinasi tidak normal. Untuk mengetahui
pengaruh terapi bermain dalam menurunkan tingkat kecemasan
maka dilakukan pengujian kecemasan sebelum dan sesudah
dengan menggunakan uji t-test pada kelompok intervensi.
Pengujian normalitas sebaran data dilakukan dengan cara
membandingkan nilai Shapiro Wilk dengan bantuan program
SPSS.

Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data Tingkat Kecemasan


Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
PreTest 0.154 40 0.018 0.936 40 0.026
PostTest 0.300 40 0.000 0.793 40 0.000

a. Lilliefors Significance Correction


Normalitas Saphiro Wilk untuk mengetahui data penelitian
berdistribusi normal atau tidak
Dasar pengambilan keputusan :
1. Jika nilai Sig > 0,05, maka data penelitian berdistribusi
normal
2. Jika nilai Sig < 0,05, maka data penelitian tidak
berdistribusi normal
Pada baris pertama, nilai Sig sebesar 0,026, yang lebih kecil dari 0,05
sehingga hasilnya signifikan. Pada baris kedua nilai Sig sebesar 0,000
yang juga jauh lebih kecil dari 0,05, menunjukkan hasil yang sangat
signifikan. Jadi kedua uji normalitas ini menunjukkan berdistribusi
normal

45
46

Berdasarkan tabel 5 dapat disimpulkan bahwa hasil dari uji

normalitas pre test dan post test untuk sample berdistribusi

normal. Karena data diketahui berdistribusi normal, maka analisis

data yang digunakan adalah uji statistik non parametric yaitu

untuk mengetahui perbedaan antara kecemasan sebelum dan

sesudah diberikan perlakuan pada kelompok intervensi diuji

menggunakan uji t-test.

2. Analisis Bivariat

Tabel 6 Hasil Uji T Test


Paired Differences
95% Confidence Interval of
Std. Std. Error the Difference
Mean Deviation Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)
Pair PreTest - 14.400 5.495 0.869 12.643 16.157 16.574 39 0.000
1 PostTest

Data Primer, 2024


Berdasarkan tabel 6. Didapatkan data bahwa pada kelompok

intervensi menunjukan adanya pengaruh yang signifikan pada

pasien setelah diberikan terapi bermain dilihat dari uji Paired

samples Test dengan p-value = 0.000 (p<0.05) terhadap tingkat

kecemasan responden. Jadi terdapat pengaruh terapi bermain

terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah pre operatif

dengan general anestesi.

46
47
B. Pembahasan
1. Tingkat Kecemasan Sebelum diberikan Terapi Bermain

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau

mempraktikan ketrampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran,

menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku

dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam

kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif maka sepatutnya diperlukan

suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatu

kebutuhan bagi dirinya sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan

makan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan lain-lain.

Dengan bermain anak akan selalu mengenal dunia, mampu

mengembangkan kematangan dari fisik, emosional, dan mental sehingga

akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh

inovatif (Suriadi dkk, 2010). Bermain dapat digunakan sebagai media psiko

terapi atau pengobatan terhadap anak yang dikenal dengan sebutan terapi

bermain adapun tujuan bermain bagi anak di rumah sakit yaitu mengurangi

perasaan takut, cemas, sedih, tegang dan nyeri (Wowiling, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ada beberapa faktor

yang mempengaruhi kecemasan pada anak yaitu usia, jenis kelamin, dan

pengalaman rawat inap/operasi. Jumlah anak paling banyak yang

mengalami kecemasan sedang yaitu sebanyak 15 anak (37,5%), dan yang

mengalami kecemasan berat sebanyak 4 anak (10%) atau hampir anak usia

6 tahun mengalami kecemasan sedang dan berat. Dengan demikian peneliti

berpendapat bahwa semakin muda usia anak maka akan semakin sukar

baginya untuk menyesuaikan diri dengan pengalaman di rawat di rumah

sakit. Menurut Supartini (2012), reaksi anak terhadap sakit berbeda-beda

47
48
sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Hal ini sejalan dengan hasil

penelitian Dewi (2018) bahwa tingkat kecemasan dapat dipengaruhi oleh

faktor usia, karena usia sangat berkaitan dengan tingkat perkembangan

kognitif anak. Semakin tua usia anak maka semakin tinggi kecemasan yang

dialami.

Berdasarkan penelitian anak yang berjenis kelamin terbanyak

adalah anak berjenis kelamin laki-laki yaitu sejumlah 25 anak (63,5%)

sedangkan untuk perempuan sejumlah 15 anak (37,5%). Menurut Saputro

H & Fazrin jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress hospitalisasi

dimana anak laki-laki yang mengalami hospitalisasi memiliki tingkat

kecemasan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan, walaupun ada

beberapa yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan

antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan anak seperti yang

diungkapkan oleh Schwartz (2014) mengatakan bahwa faktor jenis kelamin

tidak memiliki pengaruh yang berarti pada kecemasan preoperatif anak.

Sesuai teori Notoadmojo (2010) ciri anak prasekolah

mengekspresikan emosinya dengan kebebasan, sikap marah sering

diperlihatkan. Pada usia ini masih takut hal baru, hal ini biasanya

menimbulkan kecemasan. Anak belum bisa mengontrol emosinya,

sehingga bisa mempengaruhi berat, sedang, atau ringannya kecemasan

hospitalisasi pada anak. Dengan demikian peneliti berpendapat bahwa

semakin bertambahnya usia anak maka pengalaman semakin banyak.

48
49
Hasil penelitian berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa sebelum

diberikan terapi bermain, dari 40 orang responden terdapat 3 anak (7,5%)

mengalami kecemasan ringan, 23 anak (57,5%) mengalami cemas sedang,

12 anak (30%) mengalami cemas berat, 2 anak (5%) dan mengalami

kecemasan sangat berat atau panik, anak yang mengalami kecemasan berat

sampai sangat berat atau panik yaitu anak yang menerima keadaannya

dengan menangis, menghindari orang baru, dan reaksi wajah tegang. Hal

ini sesuai teori Stuart dan Sundeen (2016) Kecemasan atau ansietas adalah

keadaan emosi tanpa objek tertentu. Hal ini dipicu oleh hal hal yang tidak

diketahui dan menyertai semua pengalaman baru. Karakteristik ansietas ini

yang membedakan dari rasa takut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian

yang dilakukan oleh Alfiyanti, dkk dalam Hasim (2013), bahwa terdapat 14

anak (70%) dari 20 responden yang mengalami kecemasan sebelum

diberikan terapi bermain, sisanya 6 anak (30%) tidak mengalami

kecemasan.

Pembahasan diatas sesuai observasi pada saat penelitian, kecemasan

anak sebelum diberikan terapi bermain, sebagian besar anak tidak mau

ditinggal orang tuanya, anak takut dan tidak mau berpisah dengan orang

yang terdekat pada saat anak mengalami hospitalisasi, hal tersebut

mempengaruhi sehingga anak yang hospitalisasi sebagian besar dalam

cemas sedang. Stress karena penyakit biasanya membuat anak menjadi

kurang mampu menghadapi perpisahan, akibatnya mereka menunjukkan

banyak perilaku cemas dan protes (Supartini,2012). Anak prasekolah

belum mampu menerima persepsi tentang penyakit serta lingkungan asing

rumah sakit.

49
50
2. Tingkat Kecemasan Setelah diberikan Terapi Bermain
Hasil penelitian tabel 4 menunjukkan bahwa kecemasan pre operatif pada
anak prasekolah di IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sesudah
diberikan terapi bermain mengalami kecemasan ringan yaitu 29 anak
(72,5%), cemas sedang 7 anak ( 1 7 , 5 %), c e m a s berat 4
a n a k ( 1 0 % ) dan tidak ada yang mengalami kecemasan sangat
berat ataupun panik dengan gambaran wajah rileks, lebih terbuka dan lebih
kooperatif. Berdasarkan tabel 6 hasil penelitian dari 40 responden anak
prasekolah yang mengalami pre operatif, responden mengalami penurunan
tingkat kecemasan, yaitu tampak lebih tenang dan rileks setelah diberikan
terapi bermain, mengalami peningkatan kecemasan dari yang awalnya
menghindar dari peneliti menjadi menangis karena tidak mau bermain
dengan permainan yang diberikan oleh peneliti namun setelah dibujuk oleh
orangtua pasien anak sudah mau pelan-pelan bermain permainannya,
setelah diberikan terapi bermain dan responden dengan kecemasan tetap
ini saat sebelum dan setelah diberikan mainan tampak tenang dan mau
kooperatif.
Hasil pada penelitian ini sejalan dengan Hartini (2019) setelah
dilakukan terapi mewarnai gambar didapatkan sebagian besar anak tidak
cemas sebesar 86,1%, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
angka dari sebelum dilakukan terapi mewarnai gambar sebesar 63,9%.
Sesuai dengan hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
anak setelah diberikan terapi bermain anak-anak merasakan selama
mendapatkan intervensi diterima apa adanya, dihargai keunikannya, dan
tidak terlalu cepat di evaluasi, dan merasa aman secara psikologis,

50
51

Secara keseluruhan terjadi kecenderungan penurunan respon

kecemasan antara sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain. Keadaan

tersebut karena karakter setiap anak mempunyai faktor stressor yang

berbeda-beda. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Pratiwi (2012) bahwa Anak yang dirawat di rumah sakit mengalami respon

kecemasan, tetapi setelah diberi terapi bermain respon kecemasan tersebut

menurun dari cemas berat menurun menjadi cemas sedang dan dari cemas

sedang menurun menjadi cemas ringan kemudian pada cemas ringan yang

semula terdapat tiga atau dua gejala menurun menjadi dua atau satu gejala.

Hal ini menunjukkan penurunan kecemasan yang sangat signifikan.

Terbukti bahwa permainan mampu menurunkan kecemasan, sebagaimana

penelitian Subardiah (2009) yang menunjukkan bahwa permainan mampu

menurunkan kecemasan.

Penelitian Ahmed (2011) menyatakan bahwa distraksi dan

intervensi perilaku pengembangan keterampilan koping yang baik

merupakan cara yang paling efektif pada anak untuk mengurangi

kecemasan praoperatif. Hal ini sesuai dengan penurunan kecemasan

praoperatif yang terjadi pada penelitian Butar Butar, Ruth Marshinta

(2018), dimana bermain slime merupakan salah satu contoh distraksi yang

dapat mengalihkan kecemasan pada saat bermain. Dalam penelitian in

51
52

koping yang baik semakin ditekankan pada anak lewat percakapan sambil

anak asyik bermain sehingga anak lupa terhadap kecemasannya. Hal ini

dapat diterima oleh responden dan sebagian dari responden menganggap

bahwa mereka tidak takut dioperasi.

Ditinjau dari segi teori Supartini (2012), bermain dapat dilakukan

oleh anak yang sehat maupun sakit. Walaupun anak sedang sakit, tetapi

kebutuhan akan bermain tetap ada. Terapi bermain membuat aktifitas anak

menjadi menyenangkan. Terapi bermain dilakukan pada anak yang

hospitalisasi dapat meminimalkan atau menurunkan stress pada anak yang

dirawat. Bermain merupakan aktifitas yang menyenangkan bagi anak

(Adriana, 2013). Pada hasil penelitian sesudah diberikan terapi bermain

yang paling banyak adalah cemas ringan.

Kecemasan pada anak yang sedang dirawat bisa berkurang karena

adanya dukungan orang tua yang selalu menemani anak selama dirawat,

teman-teman anak yang berkunjung ke rumah sakit atau anak yang sudah

membina hubungan yang baik dengan petugas kesehatan sehingga dapat

menurunkan tingkat kecemasan. Selain itu, mengurangi kecemasan anak

akibat hopitalisasi sangat diperlukan, karena selain membuat anak menjadi

lebih kooperatif juga menunjang proses penyembuhan. Melalui terapi

bermain dapat meminimalkan atau menurunkan kecemasan pada anak

selama perawatan dan anak mempunyai koping yang positif sehingga akan

membantu penyembuhan. Tujuan dari terapi bermain menurut Saputro H &

52
53

Fazrin (2017) adalah agar anak dapat melanjutkan fase tumbuh kembang

secara optimal, mengembangkan kreativitas anak sehingga anak dapat

beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Terapi bermain dapat membantu

anak menguasai kecemasan dan konflik dengan ketegangan mengendor

dalam permainan, anak dapat menghadapi masalah kehidupan,

memungkinkan anak menyalurkan kelebihan energi fisik dan melepaskan

emosi yang tertahan. Permainan juga sangat mendukung pertumbuhan dan

perkembangan anak baik dari perkembangan koginitif bahasa fisik,

maupun sosial dan emosional. Pada saat anak dirawat dirumah sakit, anak

akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan

seperti marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan

dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa

stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Dalam kondisi sakit atau anak

dirumah sakit, aktivitas bermain ini tetap dilaksanakan namun harus sesuai

dengan kondisi anak. Dengan melakukan permainan anak akan terlepas

dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan

permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainan.

Aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak dirumah sakit dapat

memberikan keuntungan meningkatkan hubungan antara klien (anak dan

keluarga) dan perawat karena dengan melaksanakan kegiatan bermain

perawat mempunyai kesempatan untuk membina hubungan baik dan

menyenangkan baik dengan anak maupun keluarganya. Bermain

53
54

merupakan alat komunikasi yang efektif antara perawat dan klien. Setelah

diberikan terapi bermain anak lebih merasa tenang dan mau berinteraksi

atau berkomunikasi dengan petugas kesehatan (Mulyanti S & Kusmana,

2018).

3. Pengaruh Pemberian Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan.

Tingkat kecemasan yang terjadi pada anak usia prasekolah selama

dirawat di rumah sakit mengalami perubahan sesudah diberikan terapi

bermain dimana 23 anak (57,5%) yang mengalami cemas sedang sebelum

diberikan terapi bermain, semuanya mengalami perubahan menjadi cemas

ringan, kemudian 12 anak (30%) yang mengalami cemas berat dan sangat

berat mengalami perubahan menjadi cemas sedang, dari anak yang

mengalami cemas ringan setelah dilakukan terapi bermain tetap mengalami

cemas ringan. Perubahan ini menunjukkan bahwa terapi bermain

berpengaruh terhadap kecemasan anak usia prasekolah yang mengalami pre

operatif.

Selain itu, lama rawat inap juga dapat berpengaruh, dimana anak

sudah mulai dapat beradaptasi dengan lingkungan sehingga tingkat

kecemasannya mulai turun serta anak dapat mengekspresikan perasaannya

sehingga anak dapat mengalihkan rasa sakit dan nyeri yang dialaminya

selama menjalani perawatan dirumah sakit. Lama perawatan juga sangat

berpengaruh sekali terhadap kecemasan yang terjadi pada anak prasekolah

yang menjalani hospitalisasi atau perawatan dirumah sakit, karena semakin

54
55

cepat kejadian hospitalisasi pada anak maka kecemasan yang dialami anak

akan semakin menurun, ini disebabkan karena tekanan psikologis yang

terjadi pada anak pra sekolah yang mendapatkan pelayanan dan fasilitas

ruang perawatan yang memadai maka tingkat kecemasan anak akan

semakin menurun, karena anak dapat mengalihkan kecemasannya dengan

fasilitas yang memadai tersebut (Putra Yudiana,2016). Hasil analisa antara

tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain dengan

uji Wilcoxon Signed Rank Test Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh

nilai p = 0,000 (p < 0,05), sehingga Ha diterima, berarti ada pengaruh yang

signifikan antara terapi bermain terhadap tingkat kecemasan pre operatif

dengan general anestesi di IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten..

Penelitian Alini (2017) yang dilakukan penelitian pengaruh terapi

bermain playdough terhadap kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun)

yang mengalami hospitalisasi diketahui bahwa terjadi penurunan tingkat

kecemasan setelah diberikan terapi dengan rata-rata tingkat kecemasan

responden sebelum diberikan intervensi adalah 14,07 sedangkan setelah

diberikan terapi bermain playdough rata-rata tingkat kecemasan responden

adalah 9,60 sehingga perbedaan tingkat kecemasan responden sebelum dan

setelah pemberian terapi bermain playdough adalah sebesar 4,467.

Terapi bermain yang bertujuan mengekspresikan perasaan,

keinginan dan fantasi serta ide-idenya. Perawatan anak di rumah sakit

merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak maupun

55
56

orangtua. Beberapa bukti ilmiah, menunjukan bahwa lingkungan fisik

rumah sakit antara lain bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas,

pakaian putih petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesama

pasien anak, ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri.

Perasaan, seperti takut, cemas, tegang, nyeri dan perasaan yang tidak

menyenangkan lainnya, seringkali dialami anak. Hal ini sejalan dengan

penelitian Widiyatmoko (2018), Sebelum anak diberikan terapi bermain

tingkat kecemasan anak responden (%) mengalami kecemasan ringan,

responden (%) mengalami kecemasan sedang, dan responden (%)

mengalami kecemasan berat. Hasil ini menunjukan bahwa anak usia

prasekolah yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi di RSUD

Surakarta sebagai respon yang tidak menyenangkan seperti di infus, suntik,

minum obat, lingkungan yang berbeda, tidak bisa melakukan aktivitas

dengan teman sebaya ataupun berpisah dengan orang tua Untuk itu, anak

memerlukan media yang dapat mengekspresikan perasaan tersebut dan

mampu bekerja sama dengan petugas kesehatan selama dalam perawatan.

Bermain juga menyediakan kebebasan untuk mengeksplorasikan

emosi dan memberikan perlindungan anak terhadap stress, sebab bermain

membantu anak menanggulangi pengalaman yang tidak menyenangkan,

pengobatan dan prosedur invasif. Disini peneliti menggunakan terapi

bermain untuk menurunkan tingkat kecemasan anak prasekolah selama

56
57

dirawat di rumah sakit. Setelah diberikan terapi bermain, kecemasan pada

anak menjadi menurun hal ini didukung oleh penelitian Azizah (2014),

dengan hasil, kecemasan anak prasekolah mengalami penurunan. Hal yang

sama didukung oleh Sa’diah (2014), kecemasan anak prasekolah sebelum

diberikan terapi bermain % menjadi %. Melalui aktifitas bermain, emosi

dan perasaan yang ada didalam diri bisa dikeluarkan, sehingga dapat

menciptakan koping yang positif. Koping positif ini ditandai dengan

perilaku dan emosi yang positif. Keadaan tersebut akan membantu dalam

mengurangi stress/cemas yang dialami anak.

Dalam penelitian (Dera, 2014), menyimpulkan bahwa kecemasan

dalam hospitalisasi dapat diminimalisasi dengan pemberian terapi bermain

sebagai persiapan untuk melakukan prosedur medis maupun tindakan

keperawatan. Kemudian penelitian ini sejalan dengan penelitian

(Yitnawanti, 2013), mengingat begitu besar dampak kecemasan yang

terjadi pada anak maka perawat dapat melakukan teknik terapi bermain,

disini ada beberapa teknik terapi bermain yaitu salah satunya terapi

Biblioterapi dengan menggunakan buku cerita bergambar, karena dengan

gambar, anak akan dapat dengan mudah mengeksplorasikan cerita tersebut,

sehingga anak akan terhibur dan tertarik untuk melihat dengan senang hati.

Terapi bermain tepat diberikan untuk anak yang mengalami

hospitalisasi dan terapi bermain sebagai salah satu teknik yang dapat

mengalihkan perhatian anak akan suatu obyek yang mencemaskannya.

57
58

Pada pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terapi bermain terhadap

tingkat kecemasan anak usia prasekolah pre operatif dengan general

anestesi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan

kecemasan anak yang mengalami pre operatif. Hal tersebut sesuai dengan

pendapat Saputro. H & Fazrin. (2017) bahwa terapi bermain merupakan

terapi yang digunakan anak untuk menghadapi ketakutan, kecemasan dan

mengenal lingkungan, belajar mengenai perawatan dan prosedur yang

dilakukan staf rumah sakit yang ada. Hal ini sejalan dengan Asosiasi Terapi

Bermain 2008, dalam Homeyer, 2008, terapi bermain didefinisikan sebagai

penggunaan sistemastis model teoritis untuk membangun proses antar

pribadi untuk membantu seseorang mencegah atau mengatasi kesulitan

psikososial serta mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa terapi bermain

merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat

paling efektif untuk mengatasi stress anak ketika dirawat di rumah sakit.

Karena hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan anak dan sering

disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk

mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai ala koping

dalam menghadapi stress. Keberhasilan pemberian terapi bermain dalam

menurunkan kecemasan anak usia prasekolah selama menjalani

hospitalisasi dipengaruhi oleh alat dan jenis permainan yang cocok dan

sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak, sehingga apabila sesuai

58
59

dengan tumbuh kembang anak maka akan membuat anak tertarik terhadap

permainan yang disediakan. Rasa tertarik anak terhadap permainan yang

diberikan akan menimbulkan rasa senang selama dirawat dirumah sakit.

Rasa senang inilah yang dapat mengalihkan perasaan takut, sedih, tegang

dan nyeri yang dirasakan anak sehingga dapat menurunkan kecemasan

anak (Dayani E, dkk. 2015). Penelitian sebelumnya Handayani (2017) yang

berjudul “Pengaruh terapi bermain pop-up book terhadap kecemasan

preoperatif menggunakan anestesi umum pada anak usia sekolah di RS

PKU Muhammadiyah Yogyakarta”, bahwa sebagian besar yang mengalami

cemas sedang sebelum diberikan terapi menjadi cemas ringan sesudah

diberikan terapi bermain. Kecemasan anak sesudah diberikan terapi

bermain cemas ringan lebih banyak daripada cemas sedang.

Hasil uji statistik t test tingkat kecemasan sebelum dan sesudah

diberikan terapi bermain rata-rata responden mengalami penurunan tingkat

kecemasan yang ditunjukan dengan hasil p: 0.000 (P< α 0.05) dapat

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi

bermain dengan tingkat kecemasan pasien usia prasekolah pre operatif

dengan general anestesi di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

4. Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian yang telah terlaksana terdapat keterbatasan maupun

kelemahan yang tidak terlalu berarti, jadi peneliti tidak mencantumkan

kelemahan tersebut

59
60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general

anestesi sebelum diberikan terapi bermain di IBS RSUP [Link]

Tirtonegoro Klaten sebagian besar tergolong sedang yaitu sebanyak 23

orang anak (57,5%)

2. Tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general

anestesi setelah diberikan terapi bermain di IBS RSUP [Link]

Tirtonegoro Klaten sebagian besar tergolong ringan sebanyak 7 orang

anak (17,5%).

3. Ada pengaruh pemberian terapi bermain terhadap penurunan tingkat

kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general anestesi

di IBS RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten dengan nilai signifikasi P

value = 0,000 (p < 0,05).

60
61

B. Saran

1. Bagi Penata Anestesi RSUP [Link] Tirtonegoro Klaten

Hasil penelitian ini diharapkan Penata Anestesi mampu

menerapkan tentang pentingnya terapi bermain sebagai salah satu cara

untuk membantu menurunkan kecemasan anak khususnya anak usia

prasekolah pre operatif dengan general anestesi .

2. Bagi RSUP [Link] Tirtonegro Klaten

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu rumah sakit

dalam meningkatkan sarana untuk mengatasi kecemasan pada anak

usia prasekolah yang akan mengalami pembedahan dengan general

anestesi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pustaka dan

kajian ilmiah, sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan dan

wawasan bagi pembaca tentang pengaruh terapi bermain terhadap

tingkat kecemasan anak usia prasekolah pre operatif dengan general

anestesi.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti

selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang terapi bermain pada

anak dengan variabel yang berhubungan dengan anak usia prasekolah

61
62

pre operatif atau faktor kecemasan pada pasien anak usia prasekolah
preoperatif, serta melakukapenelitian menggunakan kelompok kontrol
agar dapat membandingkan dengan kelompok intervensi.

62
63

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. (2013), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : EGC

Azizah, S., & Ernawati, S. (2014). Upaya Menurunkan Tingkat Stres Hospitalisasi
Dengan Aktifitas Mewarnai Gambar Pada Anak Usia 4-6 Tahun Di Ruang
Anggrek RSUD Gambiran Kediri. Journal Universitas Nusantara PGRI
Kediri Vol. 1 No. 25.

Butar butar, Ruth Marsinta. (2018). Pengaruh Terapi Bermain Slime Terhadap
kecemasan pada Anak Usia Sekolah Sebelum Menjalani Operasi.
[Skripsi]. Fakultas Keperawatan. Universitas Sumatera Utara

Coplan, R. J., & Arbeau, K. A. (2009). Peer interactions and play in early
childhood. In K. [Link], W. M. Bukowski, & B. Laursen (Eds.),
Handbook of peer interactions, relationships, and groups. New York:
Guilford

Dayani E, dkk. (2015). Terapi Bermain Clay Terhadap Kecemasan Pada Anak Usia
Prasekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani Hospitalisasi di RSUD
Banjarbaru. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan. Banjarmasin. Program
Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin. DK Vol.3/No.2/September/2015

Dera. (2014). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kegemasan Anak Usia
Prasekolah Selama Tindakan Keperawatan di Ruang Lukman Rumah
Sakit Roemani Semarang. Jurnal Keperawatan Fikkes. Semarang.
Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas
Muhammadiyah Semarang.

Dewi Permata, D. A. I. (2018). Pengaruh Terapi Bermain Plastisin Terhadap


Penurunan Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Prasekolah
(3-6tahun). Jurnal STIKES Insan Cendekia Medika Repository. Jombang.
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan. STIKES Cendekia Medika.

Donsu, J.,(2016). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru.


Fradianto I., (2014) Pengaruh Terapi Bermain Lilin Terhadap
Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah Yang
Mengalami Hospitalisasi Di Rsud Dr. Soedarso. Jurnal Proners.
Pontianak. Program Studi [Link] Kedokteran. Universitas
Tanjungpura.

Green, L.W. (2010). Health Promotion Planning An Educational and


Environmental Approach. Toronto: Mayfield Published Company.

Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta

63
64

: EGC, 1022

Handayani, N., (2017). Pengaruh Terapi Bermain Pop- Up Book Terhadap


Kecemasan Preoperatif menggunakan Anestesi Umum Pada Anak Usia
Sekolah Di RS PKU Muhammadiyah. [Skripsi]. Yogyakarta. Prodi DIV
Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Hartini, Sri dkk. (2019). Perbedaan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah Saat
Hospitalisasi Sebelum Dan Setelah Dilakukan Terapi Bermain Mewarnai
Gambar Di Ruang Bogenvile RSU Kudus. Jurnal Keperawatan dan
Kesehatam Masyarakat. Kudus: Program Studi Ilmu Keperawatan.
STIKES Cendekia Utama Kudus.

Hasim, Mariyani. (2013). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan


Anak Prasekolah yang Mengalami Hospitalisasi di Ruang Cendana
RSUD Sleman Yogyakarta. E-Library Alma Ata. Yogyakarta. Program
Studi S1 Ilmu Keperawatan. STIKES Alma Ata Yogyakarta.

Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Kemenkes RI; 2015

Lubis, P.Y., Efri W., & Afif A.A. (2014). Tingkat kecemasan orangtua dengan
anak yang akan dioperasi. E-Journal Keperawatan, 2 (3), 154-159

Mulyanti S., & Kusmana T. (2018). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat
Kecemasan Anak Usia Prasekolah Akibat Hospitalisasi Di RSUD Dr.
Soekardjo Kota Tasikmalaya. Jurnal Bintas Umtas. Tasikmalaya. Prodi
D3 Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah
Tasikmalaya. Vol 2 Nomor 1 E-ISSN 2622-075X.

Muttaqin, A., & Kurmala, S. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan


Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba
Medika

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.


Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
[Link], S. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.

Nursalam. (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan.

Pramono, Ardi.2017. Buku Kuliah Anestesi. Jakarta:EGC.

Pratiwi, Y. 2012. Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Respon Kecemasan Anak


Usia Pra Sekolah Di Ruang Perawatan Anak Rsud Syekh Yusuf
Kabupaten Gowa. Jurnal UIN Alaudin Makassar Repository. Makassar.
Jurusan Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri
Alaudin Makassar.

64
65

Pravitasari. 2012. Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Anak Usia Prasekolah


Sebelum Dan Sesudah Program Mewarnai. Jurnal Keperawatan
Diponegoro. Semarang : Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas
Kedokteran , Universitas Diponegoro.

Purwati, Devi. 2017. Pengaruh Pemberian Terapi Bermain Mewarnai Gambar


Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah selama Hospitalisasi di
RSUD Kota Madiun. [Skripsi]. Madiun. Prodi S1 Keperawatan. STIKES
Bhakti Husada Mulia Madiun.

Putra Yudiana, I Gede. (2016). Terapi Bercerita Berpengaruh Terhadap Kecemasan


Akibat Hospitalisasi Pada Anak Prasekolah. Jurnal Gema Keperawatan.
Akper Kesdam IX. Udayana. Vol.9 Nomor 1 Juni 2016 hlm 1-8.

Potter, A., & Perry, A. G. (2009). Fundamentals of Nursing. Australia: Mosby


Elsevier

Potter, A., & Perry, A.G. (2010). Fundamental Keperawatan, Ed 8, buku 1. Jakarta:
Salemba Medika.

Putri Kurnia D., (2017). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan
Anak Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Bangsal Melati
RSUD Dr. Soedirman Kebumen. [Skripsi]. Gombong. Program Studi S1
Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah.

Roshdal, Caroline Bunker, (2014), Buku Ajar Keperawatan Dasar vol:5, Jakarta :
EGC

Sa'diah, R. H., Hardiani, R. S., & Rondhianto. (2014). Pengaruh Terapi Bermain
Origami terhadap Tingkat Kecemasan pada Anak Prasekolah dengan
Hospitalisasi di Ruang Aster RSD dr. Soebandi Jember. e-Jurnal Pustaka
Kesehatan, Vol. 2 No. 3.

Sari. S dan Sulisno, (2012). Hubungan Kecemasan Ibu Dengan Kecemasan


AnakSaat Hospitalisasi Anak di RSUD Ambarawa. Jurnal Keperawatan
Diponegoro, Semarang : Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas
Kedokteran , Universitas Diponegoro.

Saputro. H & Fazrin. (2017). Anak Sakit Wajib bermain Di Rumah sakit. Sukorejo:
Forikes

Schwartz S, et al. (2014). Principles of Surgery. United States of America :


McGraw-Hill companies.

Setiawati E., dan Sundari. (2019). Pengaruh Terapi Bermain dalam Menurunkan
Kecemasan Pada Anak Sebagai Dampak Hospitalisasi di RSUD
Ambarawa. Indonesian Jurnal of Midwifery. Semarang. Fakultas Ilmu
Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo.

65
66

Spence, S. H., Barrett, P. M., Turner, C. M. (2011). Psychometric properties of the


spence children’s anxiety scale with young adolescents. Journal of Anxiety
Disorders, 17 (2011 605–625.
[Link] diakses pada rabu
tanggal 11 desember 2019 pukul 21.00 WIB

Stuart & Sudeen. (2016), Buku Saku Keperawatan Jiwa Jakarta:EGC.

Subardiyah, I.P. (2009). Pengaruh permainan terapeutik terhadap kecemasan,


Kehilangan kontrol, dan ketakutan anak prasekolah selama dirawat di
RSUDDr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung. [Skripsi]. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia.

Supartini, Y. 2012. Buku Ajar Konsep Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.


Suriadi dan Rita, (2010). Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto
Tsai, C., (2009). The effect of animal assisted therapy on children’s
stress during
hospitalization. Doctoral distertasi of phylosopy. University of Marylan,School
of Nursing
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002. Perlindungan anak.
(Lembaran Negara Nomor 109 Tahun 2002, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4235). Jakarta.
Utami, Y., (2014). Dampak Hospitalisasi Terhadap Perkembangan Anak. E-jurnal
Fakultas Kedokteran. Universitas Sumatera Utara. Vol.2 No.2, pp: 9-20.
Widianti. (2017). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kecemasan Anak (6-12
Tahun)Preoperative General Anestesi Di RSU Dr. R. Soedjono Selong.
[Skripsi]. Lombok Timur. Prodi DIV Keperawatan. Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta.
Widiyatmoko, A. 2018. Pengaruh Terapi Bermain Super Bubbles Terhadap
Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Pra Sekolah Di RSUD
Surakarta. Electronic Theses and Dissertations UMS. Surakarta: Program
Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Wong,D,L. [Link] Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi VI. Editor : Komara,
EY, Jakarta : EGC
Wowiling E. 2014. Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat
Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah Akibat Hospitalisasi Di Ruang
Irina E Blu RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. E-Journal Unsrat.
Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Sam
Ratulangi Manado.
Yitnawanti, P. W. (2013). Hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan
perpisahan pada anak usia Pra Sekolah yang menjalani Hospitalisasi di
Bangsal Anak RSUD Wonosari.

66
67

Lampiran : (satu) bendel Klaten, 2 April 2023


Perihal : Permohonan Izin Penelitian

Yth. Direktur Utama


RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Di Tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan pelaksanaan penelitian di lingkungan RSUP dr. Soeradji


Tirtonegoro Klaten, maka kami Tim Peneliti dari kelompok Penata Anestesi
Instalasi Bedah Sentral yang beranggotakan :

No Nama NIP Pangkat/Golongan


Satuan
Kerja
1. Noviani Dwi 199711042022032003 Penata Anestesi Ahli Instalasi
Wahyuningsih, Pertama Bedah Sentral
[Link] (IBS)
2. Intan 199804152022032003 Penata Anestesi Ahli Instalasi
Monitasari, Pertama Bedah Sentral
[Link] (IBS)
Bermaksud mengajukan permohonan kepada Ibu Direktur Utama untuk dapat
memberikan izin penelitian kami yang berjudul “Pengaruh Terapi Bermain
Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Anak Pra Sekolah pada Pre Operasi
dengan General Anestesi di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten”. Adapun
tempat penelitian akan dilaksanakan di ruang penerimaan Instalasi Bedah Sentral.
Sebagai bahan pertimbangan kami lampirkan proposal penelitian. Besar harapan
kami kiranya Ibu Direktur Utama dapat memberikan izin.

Demikian permohonan kami, atas perhatian dan perkenaan ibu, kami mengucakan
terima kasih.

Hormat saya,

(Noviani Dwi W, [Link])

67
68

RINCIAN ANGGARAN BIAYA PENELITIAN

Nama Kegiatan : Penelitian


Judul : Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien

Anak Pra Sekolah Pada Pre Operatif Dengan General Anestesi

di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten


Mata Anggaran : Penelitian
Peneliti : 1. Intan Monita Sari, [Link]
2. Noviani Dwi Wahyuningsih, [Link]

No Uraian Satuan TOTAL


1 Pembantu Peneliti 2 orang Rp 350.000,00

2 Sekretariat Peneliti 2 orang Rp 600.000,00

3 Alat Penelitian 1 Paket alat terapi Rp 1.000.000,00


bermain (Ring
donat, Puzzale
kayu, Lego,
Xilofon, Molen)
4 Pengolah Data 1 Penelitian Rp 1.500.000,00
5 Pembantu Lapangan 2 orang x 22 hari Rp 3.300.000,00
6 Peneliti 2
JUMLAH TOTAL 2 0rang Rp 6.750.000,00
Terbilang : Enam
Juta Tujuh Ratus
Lima Puluh Ribu
Rupiah

68

Anda mungkin juga menyukai