PROPOSAL PENELITIAN Terapi Bermain .Upload New - 021526
PROPOSAL PENELITIAN Terapi Bermain .Upload New - 021526
Disusun Oleh :
Intan Monita Sari (199804152022032003)
Noviani Dwi Wahyuningsih (199711042022032003)
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….iii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….iv
iii
BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………41
A. Hasil………………………………………………………………………..41
B. Pembahasan………………………………………………………………..47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan……………………………………………………………….60
B. Saran ………………………………………………………………………61
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 65
iv
v
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tindakan pembedahan atau operasi merupakan suatu kata yang
mengerikan bagi kebanyakan orang yaitu timbulnya pemikiran negatif dan
kecemasan akan berbagai resiko yang bisa terjadi. Reaksi anak usia
prasekolah yang menunjukkan kecemasan seperti anak, menolak makan,
menangis diam-diam karena kepergian orang tua mereka, sering bertanya
tentang keadaan dirinya, mengalami sulit tidur, tidak kooperatif terhadap
petugas kesehatan saat dilakukan tindakan keperawatan. Adanya respon
anak terhadap hospitalisasi menimbulkan kendala dalam pelaksanaan
perawatan yang akan diberikan sehingga menghambat proses
penyembuhan. Hal tersebut menyebabkan waktu perawatan yang lebih
lama, bahkan akan mempercepat terjadinya komplikasi- komplikasi selama
perawatan. Upaya untuk mengatasi efek dari hospitalisasi pada anak pada
prinsipnya adalah meminimalkan stressor, Anak membutuhkan perawatan
yang kompeten dan sensitif untuk meminimalkan efek negatif dari
hospitalisasi.
Hospitalisasi merupakan suatu keadaan yang menyebabkan seorang
anak harus tinggal di rumah sakit untuk menjadi pasien dan menjalani
berbagai perawatan seperti pemeriksaan kesehatan, prosedur operasi,
pembedahan, dan pemasangan infus sampai anak pulang kembali ke rumah.
Respon anak terhadap hospitalisasi dipengaruhi oleh tahapan usia
perkembangan, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, mekanisme
pertahanan diri yang dimiliki, dan system dukungan yang tersedia.
Permasalahan yang muncul pada anak yang akan menjalani prosedur
pembedahan biasanya akan memiliki tingkat kecemasan dan stress yang
lebih tinggi yang dimanifestasikan dengan munculnya emosi negative
selama induksi anestesi (He et al., 2015). Intensitas kecemasan yang
berlebihan dapat mempengaruhi fisik dan kesehatan mental anak yang
menghambat kemampuan anak menghadapi operasi dan pemulihan pasca
1
operasi. Selain perasaan negative, anak yang menjalani operasi akan
mengalami nyeri operasi dengan intensitas tertentu pada lokasi luka operasi
(W.H.C Li et al., 2014).
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga dapat jatuh sakit dan
membutuhkan perawatan dirumah sakit untuk didiagnosis dan pengobatan
penyakitnya. Anak-anak yang melakukan tidakan pembedahan,
memerlukan perawatan sebelum operasi. Ansietas merupakan salah satu
diagnosa keperawatan yang dapat muncul dalam pra tindakan pembedahan.
Ansietas merupakan suatu kondisi dimana keadaan emosi dan pengalaman
subyektif dari individu terhadap suatu objek yang tidak jelas akibat dari
antisipasi bahaya yang mungkin terjadi pada individua atau tindakan yang
akan dilakukan pada individu. Penyebab terjadinya ansietas karena merasa
adanya ancaman dan kurang terpaparnya informasi. Tanda gejala ansietas
dapat berupa merasa bingung, sulit berkonsenrasi, tampak tegang, gelisah,
sulit tidur, frekuensi nafas, nadi dan tekanan darah meningkat, serta kontak
mata buruk (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017). Apabila dihitung dari
keseluruhan jumlah penduduk, angka kecemasan anak usia 0-21 tahun
sebesar 14,44 %. Jumlah rata-rata anak yang menjalani perawatan dirumah
sakit diseluruh Indonesia adalah 2,8% dari 82.666 orang total jumlah anak
(Novikasari et al., 2019)
Penelitian cohort yang dilakukan pada 131 anak berusia 2 hingga 12
tahun yang akan menjalani operasi elektif didapatkan 73% anak
menunjukkan manifestasi emosi negatif akibat kecemasan sebelum operasi
dan 93% anak mengalami nyeri post operasi. Beberapa penelitian telah
menunjukkan interkoneksi dan pengaruh antara kecemasan dan rasa nyeri.
Hubungan antara tingkat kecemasan dan nyeri post operasi pada anak yang
menjalani prosedur pembedahan menunjukkan hubungan yang bersifat
positif (Chieng et al.,2014). Penelitian-penelitian ini menunjukkan
kebutuhan dan pentingnya sebuah intervensi yang diberikan pada anak yang
akan atau telah menjalani prosedur pembedahan untuk menurunkan
kecemasan dan tingkat nyeri anak (He et al., 2015).
2
Ansietas yang terjadi pada anak dapat diatasi dengan terapi. Dimana
terapi ini bertujuan untuk meningkatkan komunikasi anak dan dapat
mengekspresikan perasaan yang sedang anak alami. Dalam mengelola
ansietas dapat dilakukan dengan terapi farmakologi dan non-farmakologi.
Terapi farmakologi ialah terapi yang dapat menggunakan obat-obatan
sehingga memberikan efek perubahan pada berbagai system organ tubuh.
Terapi non-farmakologi ialah terapi alternatif dengan metode yang
digunakan memulihkan kesehatan dengan cara memberikan kesenangan
fisik dan psiskis.
Bermain telah lama diketahui sebagai elemen vital dalam
mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal anak dan telah
digunakan secara luas untuk menurunkan tingkat stress pada pasien anak
selama hospitalisasi yang dikenal sebagai terapi bermain (William H.C. Li
et al., 2016). Terapi bermain didefinisikan sebagai suatu bentuk aktifitas
bermain yang terstruktur yang didesain berdasarkan usia, perkembangan
kognitif dan kondisi kesehatan anak (Koukourikos et al.,2015). Beberapa
penelitian ini telah menunjukkan bahwa terapi bermain dapat menurunkan
kecemasan sebelum prosedur pembedahan, tingkat nyeri post operasi dan
emosi negatif pada anak yang menjalani pembedahan (He et al.,2015).
Terapi bermain sendiri memiliki beberapa jenis sesuai dengan konten atau
isi permainan dan karakteristik permainan, diantaranya yaitu permainan
tunggal (solitary play) dan permainan asosiatif (Hockenberry dan Wilson,
2013). Permainan tipe tunggal dinilai tepat diterapkan pada anak dengan
kondisi post operasi yang belum mampu melakukan mobilisasi dari tempat
tidur sedangkan permainan asosiatif bisa diterapkan pada pasien dengan
kondisi pre operasi (Hassan et al.,2019).
RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten merupakan rumah sakit
rujukan yang banyak menerima kasus anak yang membutuhkan prosedur
pembedahan dengan angka keterisian tempat tidur yang cukup tinggi. Studi
pendahuluan yang telah kami lakukan di ruang penerimaan Instalasi Bedah
Sentral Terpadu RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten didapatkan bahwa
3
75% anak cenderung tidak kooperatif terhadap tindakan medis yang akan
dilakukan ditunjukkan dengan menangis, merintih dan menolak kedatangan
petugas yang akan melakukan tindakan yang berdampak pada pembiusan
tidak optimal sehingga memperlambat proses pembedahan. Sedangkan
terkait intervensi terapi bermain terhadap tingkat kecemasan sebelum
tindakan operasi belum dilakukan secara koninyu karena hanya dilakukan
pada saat ada mahasiswa yang sedang menjalankan praktik profesi pada
ruangan tersebut. Secara kebaharuan terkait dengan terapi bermain Teknik
non farmakolologi dalam intervensi keperawatan, tetapi dalam penelitian ini
ada perbedaan yaitu rata-rata adalah anak di hospitalisasi, sedangkan
penelitian ini difokuskan pada pre operasi. Oleh karena itu kami tim penata
anestesi tertarik untuk menerapkan terapi bermain sebagai intervensi
distraksi untuk menurunkan tingkat kecemasan pada anak pre operatif
dengan general anestesi di IBS RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain
terhadap tingkat kecemasan pada anak pre sekolah operatif di Instalasi
Bedah Sentral RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kecemasan pada anak pre operasi sebelum
diberikan terapi bermain di ruang pemulihan IBS RSUP dr Soeradji
Tirtonegoro Klaten.
b. Mengetahui tingkat kecemasan pada anak pre operasi setelah
diberikan terapi bermain di ruang pemulihan IBS RSUP dr Soeradji
Tirtonegoro Klaten.
c. Mengetahui adakah pengaruh terapi bermain terhadap kecemasan
pada anak sebelum dilakukan pembedahan di Instalasi Bedah
Sentral RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
4
C. Manfaat Kebaruan
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan edukasi ilmiah bagi dunia
pendidikan dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat
umum serta memperkaya ilmu pengetahuan dan juga dapat menjadi
edukasi pada peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktik hasil penelitian diharapkan memberi manfaat sebagai
berikut :
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan pemahaman peneliti tentang pentingnya terapi
bermain untuk mengurangi kecemasan pada pre operasi.
b. Bagi Rumah Sakit
1) Meningkatkan pengetahuan penata anestesi dan perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan tentang manfaat terapi
bermain untuk mengurangi kecemasan pada anak pre operasi.
2) Menjadi rekomendasi bagi institusi untuk meningkatkan
pelayanan dan fasilitas bermain untuk mengurangi kecemasan
anak pre operasi.
c. Bagi orangtua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran
kecemasan anak dan dapat memberikan informasi kepada orangtua
tentang cara untuk mengurangi kecemasan pada anak sebelum
dilakukan pembedahan.
d. Bagi Peneliti selanjutnya
Menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian
tentang terapi bermain pada anak dengan variabel yang berbeda
5
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Teori
1. Kecemasan
a. Definisi
6
b. Klasifikasi Tingkat Kecemasan
7
3) Kecemasan berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi,
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang rinci dan
spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. semua
perilaku ditunjukan untuk mengurangi menurunkan kecemasan
dan fokus pada kegiatan lain berkurang. Orang tersebut
memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada
sutu daerah lain. tanda-tanda kecemasan berat berupa perasaan
terancam, ketegangan otot berlebihan, perubahan pernapasan,
perubahan gastrointestinal (mual, muntah, rasa terbakar pada ulu
hati, sendawa, anoreksia dan diare), perubahan kardiovaskular
dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Adapun gangguan
kecemasan pada anak yang sering dijumpai di rumah sakit
adalah panic, fobia, obsesif-kompulsif, gangguan kecemasan
umum dan lainnya.
c. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Anak
Faktor yang mempengaruhi kecemasan anak ada 6 yaitu usia,
karakteristik saudara, jenis kelamin, pengalaman terhadap sakit,
jumlah anggota keluarga, persepsi anak terhadap sakit:
1) Usia
8
2) Karakteristik saudara
Karakteristik saudara dapat mempengaruhi kecemasan pada
anak yang dirawat di rumah sakit. Anak yang dilahirkan sebagai
anak pertama dapat menunjukan rasa cemas yang berlebihan
dibandingkan anak kedua.
3) Jenis kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress hospitalisasi,
dimana anak perempuan yang menjalani hospitalisasi memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi di banding anak laki-laki,
walaupun ada beberapa yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat
kecemasan anak.
4) Karakteristik Saudara
Karakteristik saudara dapat mempengaruhi kecemasan pada
anak yang dirawat di rumah sakit. Anak yang dilahirkan sebagai
anak pertama dapat menunjukan rasa cemas yang berlebihan
dibandingkan anak kedua.
5) Jenis Kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat stress hospitalisasi,
dimana anak perempuan yang menjalani hospitalisasi memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi di banding anak laki-laki,
walaupun ada beberapa yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat
kecemasan anak.
6) Pengalaman terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit
Menurut Tsai (2015), anak yang mempunyai pengalaman
hospitalisasi sebelumnya akan mengalami kecemasan yang lebih
rendah dibandingkan dengan anak yang belum memiliki
pengalaman sama sekali. Respon anak menunjukan peningkatan
sensitivitas terhadap lingkungan dan mengingat dengan detail
kejadian yang dialaminya dan lingkungan disekitarnya.
9
Pengalaman pernah dilakukan perawatan juga membuat anak
menghubungkan kejadian sebelumnya dengan perawatan saat
ini. Anak yang memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan
selama dirawat di rumah sakit sebelumnya akan membuat anak
takut dan trauma. Sebaliknya apabila pengalaman anak dirawat
di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik dan
menyenangkan maka akan lebih kooperatif.
7) Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah
Jumlah anggota keluarga dalam satu rumah dikaitkan dengan
dukungan keluarga. Semakin tinggi dukungan keluarga pada
anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi, maka
semakin rendah tingkat kecemasan anak. Jumlah saudara
kandung sangat erat hubungannya dengan dukungan keluarga.
Semakin banyak jumlah saudara kandung, maka anak akan
cenderung cemas, merasa sendiri serta kesepian saat anak harus
dirawat di rumah sakit. Keterlibatan orangtua selama anak
dirawat memberikan perasaan tenang, nyaman, merasa disayang
dan diperhatikan. Koping emosi yang baik dari anak akan
memunculkan rasa percaya diri pada anak dalam menghadapi
permasalahannya. Keterlibatan orangtua dapat memfasilitasi
penguasaan anak terhadap lingkungan yang asing.
8) Persepsi anak terhadap sakit
Keluarga dengan jumlah yang cukup besar mempengaruhi
persepsi dan perilaku anak dalam mengatasi masalah
menghadapi hospitalisasi. Jumlah anggota keluarga dalam satu
rumah semakin besar memungkinkan dukungan keluarga yang
baik dalam perawatan anak. Small, et al (2009) dalam Saputro.
H & Fazrin. (2017) menyatakan bahwa anak usia prasekolah
selama di hospitalisasi bisa menyebabkan dampak bagi anak
sendiri maupun orangtua. Munculnya dampak tersebut karena
kemampuan pemilihan koping yang belum baik dan kondisi
10
stress karena pengobatan.
d. Respon Terhadap Kecemasan
1) Respon fisiologi terhadap kecemasan (Guyton dan Hall, 2014)
11
berkelanjutan terhadap sistem simpatis menimbulkan respon
stress yang berulang-ulang dan menempatkan sistem otonom
pada keseimbangan. Keseimbangan antara kedua sistem ini
sangat penting bagi kesehatan tubuh. Dengan demikian tubuh
dipersiapkan untuk melawan atau reaksi menghindar melalui
satu mekanisme rangkap; satu respon saraf, jangka pendek, dan
satu respon hormonal yang bersifat lebih lama.
2) Respon Psikologis terhadap Kecemasan
Respon perilaku akibat kecemasan adalah tampak gelisah,
terdapat ketegangan fisik, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat,
kurang koordinasi, menarik diri dari hubungan interpersonal,
melarikan diri dari masalah, menghindar, dan sangat waspada.
3) Respon kognitif
Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik
proses pikir maupun isi pikir, diantaranya adalah tidak mampu
memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunnya
lapang persepsi, bingung, sangat waspada, kehilangan
objektivitas, takut pada gambaran visual, takut pada cedera atau
kematian dan mimpi buruk.
4) Respon Afektif
Secara afektif klien akan mngekspresikan dalam bentuk
kebingungan, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada,
khawatir, mati rasa, rasa bersalah atau malu, dan curiga
berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan.
e. Alat Ukur Kecemasan
Tingkat kecemasan dapat terlihat dari manifestasi yang ditimbulkan
oleh seseorang. Alat ukur kecemasan terdapat beberapa versi
menurut Saputro. H & Fazrin. (2017), antara lain:
1) Zung Self Rating Anxiety Scale
Zung Self Rating Anxiety Scale dikembangkan oleh W.K
Zung tahun 1971 merupakan metode pengukuran tingkat
12
kecemasan. Skala ini berfokus pada kecemasan secara umum
dan koping dalam mengatasi stress. Skala ini terdiri dari 20
pertanyaan dengan 15 pertanyaan tentang peningkatan
kecemasan dan 5 pertanyaan tentang penurunan kecemasan.
2) Hamilton Anxiety Scale
Hamilton Anxiety Scale (HAS) disebut juga dengan Hamilton
Anxiety Rating Scale (HARS). Pertama kali dikembangkan oleh
Max Hamilton pada tahun 1956, untuk mengukur semua tanda
kecemasan baik kecemasan psikis maupun somatic. HARS terdiri
dari 14 item pertanyaan untuk mengukur tanda adanya
kecemasan pada anak dan orang dewasa. HARS telah
distandarkan untuk mengevaluasi tanda kecemasan pada individu
yang sudah menjalani pengobatan terapi, setelah mendapatkan
obat antidepresan dan setelah mendapatkan obat psikotoprika.
3) Preschool Anxiety Scale
Preschool Anxiety Scale dikembangkan oleh Spence, et al, dalam
kuesioner ini mencakup pernyataan dari anak (Spence Children’s
Anxiety Scale) tahun 1994 dan laporan orangtua (Spence
Children’s Anxiety Scale Parent Report) pada tahun 2000.
Masing- masing memiliki 45 dan 39 pertanyaan yang
menggunakan pernyataan tidak pernah, kadang- kadang, sering
dan selalu.
4) Children Manifest Anxiety Scale (CMAS)
Pengukur kecemasan Children Manifest Anxiety Scale (CMAS)
ditemukan oleh Janet Taylor. CMAS berisi 50 butir pertanyaan,
dimana responden menjawab keadaan “ya” atau “tidak” sesuai
dengan keadaan dirinya, dengan memberi tanda (O) pada kolom
jawaban “ya” atau tanda (X) pada kolom jawaban “tidak”.
5) Screen for Child Anxiety Related Disorders (SCARED)
Screen for child Anxiety Related Disorders (SCARED)
merupakan instrument untuk mengukur kecemasan pada anak
13
yang terdiri dari 41 item, dalam instrumen ini responden
(orangtua/pengasuh) diminta untuk menjelaskan bagaimana
perasaan anak dalam 3 bulan terakhir. Instrumen ini ditujukan
pada anak usia 8 tahun hingga 18 tahun.
6) The Pediatric Anxiety Rating Scale
The Pediatric Anxiety Rating Scale (PARS) digunakan untuk
menilai tingkat keparahan kecemasan pada anak-anak dan
remaja, dimulai usia 6 sampai 17 tahun. PARS memiliki du
abgain daftar periksa gejala dan item keparahan. Daftar periksa
gejala digunakan untuk menentukan gejala-gejala pada minggu-
minggu terakhir. Ke tujuh item, tingkat keparahan digunakan
untuk menentukan tingkat keparahan gejala dan skor total PARS.
Gejala yang termasuk dalam penilaian umumnya diamati pada
pasien dengan gangguan-gangguan seperti gangguan panic dan
fobia spesifik.
2. Terapi Bermain
A. Pengertian
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat
melakukan atau mempraktikan ketrampilan, memberikan ekspresi
terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk
berperan dan berperilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang
memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan, kognitif,
dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat
bermain bagi anak merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya
sebagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan makan,
kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan lain-lain. Bagi
orangtua bermain pada anak harus selalu diperhatikan sebagaimana
memperhatikan terhadap kebutuhan lainnya. Dengan bermain anak
akan selalu mengenal dunia, mampu mengembangkan kematangan
dari fisik, emosional, dan mental sehingga akan membuat anak
14
tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh inovatif
(Suriadi dkk, 2010).
Menurut Nursalam (2009) bermain merupakan suatu
kegiatan yang menyenangkan bagi anak, meskipun hal tersebut
tidak menghasilkan komoditas tertentu misalnya keuntungan
finansial (uang). Menurut Suriadi dkk (2010), secara umum bermain
sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara
spontan, menyangkut lima aspek penting, yaitu:
1) Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsic pada
anak
2) Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat
intrinsic
3) Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan
bebas dipilih oleh anak
4) Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
5) Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan suatu yang
bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar
bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa bermain adalah: “kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain
sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan
stress anak, belajar berkomunikasi dengan lingkungan,
menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar mengenal dunia dan
meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.”
B. Masa Pra Sekolah
Pada usia pra sekolah (3-6 tahun) anak sudah mulai mampu
mengembangkan kreativitasnya dan sosialisasi sehingga sangat
diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan
menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa,
mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas,
mengembangkan koordinasi motoric, mengembangkan dalam
15
mengontrol emosi, motoric kasar dan halus, memperkenalkan
pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan
pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan
suasana komepetensi serta gotong royong.
C. Jenis Permainan
Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini
seperti benda-benda sekitar rumah. Karakteristik:
Permainan imaginative yang dominan, permainan dramatic
yang menonjol, fokus pada pengembangan keterampilan gerakan
halus, senang berlari, melompat atau meloncat, berkhayal dengan
kawan bermain, mulai dengan koleksi-koleksi, senang membangun
sesuatu misalnya dari pasir atau adonan, permainannya sederhana
dan imaginative.
Contoh permainan dan aktivitas:
1) Buku bacaan
2) Bahan-bahan yangdapat dibuat bangunan atau diciptakannya.
3) Bahan-bahan yang dapat diwarnai dan digambar
4) Bahan yang lempung, cat kuku, pasir yang dibuat bangunan
atau membuat adonan, plastisin, slime
5) Memotong, alat pukulan yang lempung
6) Boneka, bahan-bahan mainan seperti ; binatang,
dan lain-lain
Mengenakan pakaian
D. Fungsi Terapi Bermain
Suriadi, dkk (2010) mengungkapkan bahwa fungsi khusus bermain
pada anak mencakup perluasan keterampilan sensorimotor,
kreativitas, intelektual, dan perkembangan sosial. Berikut adalah
fungsi bermain bagi anak.
1) Perkembangan fisik
a) Perkembangan keterampilan gerakan halus dan kasar
b) Koordinasi otot-otot
16
c) Eksplorasi
d) Stimulasi kinestetik
e) Perkembangan sendi dan tulang
2) Perkembangan kognitif
a) Penggunaan rasa, sentuhan, penglihatan, prndengaran, bau
dan rasa.
b) Belajar mengenal warna,ukuran, ketajaman, tekstur, objek
yang penting.
c) Penyelesaian masalah, berpikir kritis
d) Kreativitas
e) Koordinasi tangan-kaki
3) Perkembangan emosional
a) Belajar strategi koping
b) Memberikan jalan keluar pada stress
c) Memberikan bermain, dengan memberikan rasa atau makna
penting
d) Perkembangan sosial
e) Keterampilan perkembangan sosial
f) Belajar salah dan benar
g) Belajar membedakan peran melalui permainan imaginative
4) Perkembangan moral
a) Belajar berperilaku yang dapat diterima dan tidak diterima
b) Belajar sharring menyadari perasaan oranglain
c) Belajar siapa mereka dan tempat mereka di alam ini
E. Klasifikasi Bermain
Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkategorikan
kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu
jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya
dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya.
1) Menurut Jean Piaget dalam Suriadi dkk (2015) kegiatan
bermain terdiri dari beberapa tahap:
17
a) Permainan sensori motorik (±3/4 bulan-1/2 tahun) Bermain
diambil pada periode perkembangan kognitif sensori
motoric, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat
dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya
merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti
kegiatan makan atau mengganti sesuatu, jadi merupakan
pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut
reproduktif assimilation.
b) Permainan simbolik (±2-7 tahun).
Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan
pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan
bermain pura-pura. Pada masa ini anak akan lebih banyak
bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal
berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas, dan
sebagainya. Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak
terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan
walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak
sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi
benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan
kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga
berfungsi untuk mengasimilasikan dan
mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap
hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam
kegiatan bermainnya.
c) Permainan social yang memiliki aturan (±8-11 tahun)
Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam
kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih
banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.
d) Permainan yang memiliki aturan dan olahraga (11 tahun
keatas)
Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah
18
olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan
dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat
dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan
permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.
Anak senang melakukan berulang- ulang dan terpacu
mencapai prestasi yang sebaik- baiknya.
2) Tahapan perkembangan bermain menurut E. Hurlock dalam
Suriadi dkk (2010)
a) Tahap penjelajahan (Exploratory Stage) Berupa kegiatan
mengenal objek atau oranglain, mencoba menjangkau atau
meraih benda disekelilingnya atau mengamatinya.
Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat
merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati
setiap benda yang diraihnya.
b) Tahap mainan (Toy stage)
Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Antara
2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat
permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah,
anak-anak di taman kanak-kanak (TK) biasanya bermain
dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain
seperti layaknya teman bermainnya.
c) Tahap bermain (Play stage)
Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah
dasar (SD). Pada masa ini jenis permainan anak semakin
bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang
lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan
bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.
d) Tahap melamun (Daydream stage)
Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas,
dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan
bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai
19
menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal.
Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari
oranglain atau merasa kurang dipahami oleh oranglain
20
mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-
temannya. Disamping itu mengumpulkan benda-benda
dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan social
anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja
sama dan bersaing.
(5) Permainan olahraga
Dalam permainan olahraga, anak banyak menggunakan
energi fisiknya, sehingga sangat membantu
perkembangan fisiknya. Disamping itu, kegiatan ini
mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul,
bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta
menilai diri dan kemampuannya secara realistic dan
sportif.
(6) Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok
menjadi rumah-rumahan.
(7) Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan
dengan teman-temannya.
b) Bermain Pasif
Bermain pasif, yaitu anak melakukan kegiatan dengan
sedikit menggunakan aktivitas fisik dan sumber rasa
senangnya diperoleh dari aktivitas yang dilakukan oleh
oranglain, contohnya menonton film, pertunjukan,
menonton permainan sepak bola, volley ball dan lain-lain.
misalnya:
(1) Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik
secara positif maupun negative. Pengaruh positifnya
adalah anak akan bertambah pengetahuan, sedangkan
pengaruh negative yaitu apabila anak meniru hal-hal
21
yang disiarkan radio seperti kekerasan, criminal, atau
hal-hal negative lainnya.
(2) Menonton televisi
Menonton televisi pengaruhnya sama dengan seperti
mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun
negatifnya.
4) Berdasarkan isinya, bermain dikategorikan menjadi :
a) Social affective play
Anak belajar memberi respon terhadap respon yang
diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan,
misalnya orangtua mengajakan anak bermain dan anak
tertawa senang, dan anak diharapkan dapat bersosialisasi
dengan lingkungan.
b) Sense of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu objek yang ada
disekitarnya, dengan bermain dapat merangsang perabaan
alat, misalnya bermain plastisin atau bermain slime.
c) Skill play
Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh
keterampilan tertentu dan anak akan melakukan secara
berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda.
d) Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang
menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan
dan skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri
dan atau temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai
dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern.
Misalnya: ular tangga, congkla, puzzle, dll.
e) Onuccapied behavior
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar- mandir,
tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk- bungkuk,
22
memainkan kursi, meja taua apa saja yang disekelilingnya.
Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan
tertentu, dan situasi atau objek yang ada disekelilingnya
yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak tampak
senang, gembira, asyik dengan situasi serta lingkungannya
tersebut.
f) Dramatika play role play
Sesuai dengan sebutannya pada permainan ini anak
memainkan peran sebagai orang lain melalui permainan.
Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa,
misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan
sebagainya yang ia tiru.
g) Solitary play
Pada permainan ini anak tampak berada dalam kelompok
permainan tetapi anak bermain sendiri dengan alat
permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut
berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya,
tidak ada kerja sama, atau komunikasi dengan teman
sepermainan.
h) Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat
permainan yang sama dengan anak lain, tetapi antara satu
anak dengan anak yang lain tidak terjadi kontak satu sama
lain sehingga antara anak yang satu dengan anak yang lain
tidak ada sosialisasi. Biasanya permainan ini dilakukan oleh
anak usia toddler.
i) Assosiatif play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu
anak dengan anak yang lain, tetapi tidak terorganisasi tidak
ada pemimpin atau yang memimpin permainan sesuai
dengan tujuan permainan tidak jelas. contoh bermain
23
boneka, bermain hujan-hujanan, bermain masak-masakan.
j) Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada
permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin permainan.
Anak yang memimpin permainan mengatur dan
mengarahkan anggotanya, untuk bertindak dalam
permainan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam
permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola.
F. Manfaat Bermain
Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain memiliki
manfaat yang besar dan positif bagi perkembangan anak usia dini.
Plato, Aristoteles dan Frobel menganggap bermain sebagai kegiatan
yang mempunyai nilai praktis. Hal ini, berarti bahwa bermain
sebagai media untuk memperkuat potensi dan ketrampilan tertentu
pada anak. Ketrampilan dan potensi pada anak dapat terbentuk
melalui tiga aspek perkembangan yaitu aspek kognitif, aspek fisik,
dan aspek sosio-emosi. Pendapat yang sama dikemukakan oleh
Isenberg dan Jalongo (1997) dalam Suriadi dkk (2010) bahwa
bermain dapat memberikan manfaat aspek kognitif, aspek fisik, dan
aspek sosio-emosi.
a. Manfaat bagi aspek kognitif.
Dengan bermain anak mampu belajar dan mengembangkan daya
pikirnya. Selain bermain sebagai sarana rekreasi, bermain juga
harus memiliki nilai edukasi. Sehingga anak memiliki
kemampuan mengembangkan pengetahuannya.
b. Manfaat bagi aspek fisik
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan
kegiatan yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh yang membuat
tubuh anak sehat dan otot-otot tubuh menjadi kuat.
Perkembangan fisik inilah berpengaruh pada perkembangan
motoric halus dan motoric kasar yang mana dalam bermain
24
dibutuhkan gerakan dan koordinasi tubuh (tangan, kaki, mata).
Selain itu berpengaruh juga pada perkembangan alat indera
(penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan
perabaan) yang memberikan manfaat bahwa dengan bermain
anak akan lebih tanggap atau peka terhadap hal-hal disekitarnya.
c. Manfaat bagi aspek sosio-emosi
Dalam bermain ada keterlibatan emosi dan kepribadian. Melalui
bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang ada dalam
dirinya. Anak dapat menyalurkan perasaan dan menyalurkan
dorongan-dorongan yang membuat anak lega dan relaks. Dengan
bermain anak di ajarkan untuk mempunyai rasa percaya diri,
bersikap suportif terhadap sesame, dan melatih kemampuan
untuk bisa membangun hubungan yang kompetitif dengan teman,
tetapi nilai kompetitif itu didalam kegiatan yang positif
3. Anak
a. Pengertian
Menurut UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak, pasal 1 ayat 1, anak adalah seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Sedangkan menurut definisi WHO, batasan usia anak
adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun.
Berdasarkan Konversi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis
Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 november
1989 dan ratifikasi Indonesia pada tahun 1990, bagian 1 pasal 1,
yang dimaksud anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18
tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi
anak ditentukan bahwa usia dewasa telah dicapai lebih awal
(Kemenkes, 2014).
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkemabnagn yang dimulai dari bayi hingga remaja.
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan
25
yang dimuali dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/toddler (1-2,5
tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga
remaja (11-18 tahun). Rentang ini berbeda antara satu anak
dengan anak yang lain mengingat latar belakang anak berbeda.
Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan
perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses
berkembang anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola
koping, dan perilaku sosial.
b. Masa Pra Sekolah
Pada pertumbuhan masa pra sekolah pada anak,
pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-
rata per tahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas
motoric tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan
seperti berjalan, melompat, dan lain-lain. pada pertumbuhan
khususnya ukuran tinggi badan anak akan berubah rata-rata 6,75-7,5
cm setiap tahunnya.
Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola
makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk
makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukan proses
kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan
kognitif sudah mulai menunjukan perkembangan dan anak sudah
mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dan tampak sekali
kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa
yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar
dengan lingkungan dan orangtuanya. Sedangkan perkembangan
psikososial pada anak sudah menunjukan adanya rasa inisiatif,
konsep diri yang positif serta mampu mengidentifikasi identitas
dirinya.
c. Perkembangan anak usia pra sekolah
1) Perkembangan Kognisi
Perkembangan kognisi pada masa pra sekolah adalah
26
perkembangan preoperasional, dengan ciri-ciri:
a) Penggunaan symbol-simbol tapi tidak dapat
berfikir logis, misalnya anak menggunakan benda-
benda untuk menggambarkan sesuatu.
b) Memahami identitas, yaitu anak mulai memahami
bahwa perubahan permukaan tidak merubah
bentuk asal suatu objek.
c) Memahami sebab akibat secara sederhana.
2) Perkembangan Sosioemosional
a) Pertumbuhan emosi. Pada masa ini anak dapat
mengatakan apa yang sedang dirasakan dan
merasakan apa yang dirasakan oleh oranglain.
Selain itu emosi malu dan bangga mulai
berkembang karena anak mulai mendapatkan
kesadaran tentang dirinya.
b) Harga diri (self esteem). Pada masa ini masih bersifat
global, seperti “saya baik” atau “saya jahat”. Tingkah
laku orangtua secara suportif akan meningkatkan harga
diri anak. Semakin tinggi harga diri, semakin anak
termotivasi untuk mencapai sesuatu. Sebaliknya jika
anak mengalami kegagalan, anak akan memandang
kegagalan sebagai pukulan baginya dan merasa tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan
lebih baik. Untuk menghindari hal ini, orangtua dan
guru sebaiknya memberikan umpan balik yang tidak
bersifat mengkritik.
4. General Anestesi
a. Pengertian
Anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari sensasi yang
meliputi sensasi sakit/nyeri, rabaan, suhu, posisi sedangkan analgesia
yaitu hilangnya sensasi sakit atau nyeri tetapi modalitas yang lain masih
tetap ada. Anestesi umum atau general anesthesia mempunyai tujuan
agar dapat ; menghilangkan nyeri, membuat tidak sadar, dan
menyebabkan amnesia yang bersifat reversibel dan dapat diprediksi.
27
Anestesi umum disebut juga sebagai narkose atau bius. Anestesi umum
juga menyebabkan Amnesia yang bersifat anterodrad yaitu hilangnya
ingatan saat dilakukan pembiusan dan operasi sehingga saat pasien
sudah sadar, pasien tidak mengingat peristiwa pembedahan atau
pembiusan yang baru saja dilakukan sifat anestesi umum yang reversibel
memungkinkan memungkinkan pasien bangun kembali tanpa efek
samping anestesi juga dapat diperkirakan berhasilnya dengan
penyesuaian dosis.( Pramono, 2017 )
b. Anestesi Pada Pedriatik
Bergantung pada umur pengalaman pembedahan sebelumnya dan
maturitas, seorang anak menderita berbagai macam tingkat stres ketika
berhadapan dengan pembedahan yang akan dilakukan, Berbeda dengan
orang dewasa yang tepat terhadap kemungkinan kemungkinan terjadinya
kematian pada anak tapi takut terhadap nyeri dan takut tidak dipisah
dengan orang tuanya (Widianti, 2017). Persiapan beroperasi dengan
dengan free visit pada anak dan mendiskusikan rencana tindakan
anastesi yang akan dilakukan. Buku-buku, video, atau alat alat lainnya
dapat digunakan dalam kunjungan. Spesialis terapi bermain adalah
anggota tim yang penting diikutsertakan dalam kunjungan ketika
memberikan informasi pada anak harus disesuaikan dengan tingkat anak
anak anak perlu diberi informasi beberapa hari sebelum dilakukan
operasi. Kunjungan pre operasi bermanfaat bagi anak, orang tua dan
dokter anastesi karena udah mematikan beberapa hal antara lain :
1. Anak siap memasuki ruang operasi
2. Semua pemeriksaan sudah lengkap
3. Anak dan orang tua sudah diberikan informasi tentang rencana
tindakan yang akan dilakukan dan pilihan Anestesi yang akan
digunakan.
4. Informed consent rencana tindakan operasi
5. Dokumentasi sudah lengkap
Kecemasan pada anak memang biasa terjadi dan mereka sulit
untuk mengungkapkannya. Biasanya, kehadiran orang tua pada saat
induksi dan di ruang recovery sangat membantu Anak anak yang
menjalani operasi biasanya menggunakan anastesi umum. Menurut
28
Widianti (2017) anestesi umum merupakan tindakan meniadakan nyeri
secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali
(reversible) . Anestesi umum menyebabkan mati rasa karena obat ini
jarang masuk ke jaringan otak dengan tekanan setempat yang tinggi
anestetik yang sering digunakan pada anak anak berbeda hal ini
dikarenakan :
1. Konsentrasi Alveolar minimal (MAC) zat-zat volatie lebih
tinggi pada anak anak dibanding dewasa (MAC) tertinggi
adalah pada infan satu sampai enam bulan. Bayi Prematur dan
neona tes mempunyai (MAC) yang rendah.
2. Anak-anak mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap
efek disritmik epinefrin pada anastesi umum dengan zat zat
volatile.
3. Anak anak pada umumnya mempunyai keperluan obat (mg/kg)
yang lebih tinggi karena mempunyai distribusi volume yng
lebih besar (lebih banyak lemak, lebih banyak cairan tubuh) 61
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4. Opioid sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada anak anak
yang berusia kurang dari satu tahun yang lebih sensitif
terhadap efek depresan pernapasan
29
B. Kerangka Konsep
Variabel Pengganggu
Faktor yang memengaruhi
kecemasan:
1. Usia
2. Karakteristik saudara
3. Jenis Kelamin
4. Pengalaman Terhadap Sakit
5. Jumlah Anggota Keluarga
6. Persepsi anak terhadap sakit
Keterangan
: diteliti
: tidak diteliti
C. Hipotesis Penelitian
Terdapat pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan pasien anak usia
pra sekolah pre operatif dengan general anestesi di RSUP [Link]
Tirtonegoro Klaten.
30
D. KERANGKA TEORI
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka kerangka teori
dalam penelitian inu dapat digambarkan seperti di bawah ini:
31
BAB III
METODE PENELITIAN
O1 X O2
Keterangan :
O1= Nilai Pre-test (observasi) kecemasan preoperative
sebelum diberikan terapi bermain
2= Nilai Post-test (observasi) kecemasan preoperative
setelah diberikan perlakuan
X = Treatment (perlakuan) pemberian terapi bermain selama
10-15 menit satu kali pemberian
Pengukuran dilakukan setelah pemberian perlakuan selesai dengan
cara menilai tingkat kecemasan anak menggunakan instrument Spence
Children’s Anxiety Scale Preschool (SCAS-P)dan hasilnya dilakukan dengan
uji statistik.
32
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan pada bulan April - Agustus tahun 2024 di ruang
penerimaan IBS RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Keterangan :
34
21
35
21
c. Kriteria Sampel
Kriteria Sampel dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik
umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau
dan akan diteliti. Sedangkan kriteria eksklusi adalah menghilangkan
subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi yang
memungkinkan variabel kontrol memiliki pengaruh terhadap
variabel yang akan diteliti (Nursalam, 2017). Kriteria inklusi dan
Eksklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Kriteria Inklusi
a) Bersedia menjadi responden penelitian
b) Status fisik penderita ASA 1dan 2
c) Tindakan operasi general anestesi
d) Pasien anak usia 3-6 tahun.
e) Responden tidak ada kontra indikasi untuk melakukan
terapi bermain.
2) Kriteria Eksklusi
Pasien berkebutuhan khusus (retardasi mental, down
syndrome, autism, Gangguan Pemusatan Perhatian
Hiperaktivitas [GPPH], fracture costae, fractur cranio,).
36
21
D. Definisi Operasional
38
21
e) Kecemasan pemisahan (6, 12, dan 16)
G. Prosedur Penelitian
1. Tindakan pertama dilakukan dengan peneliti atau observer melakukan visite
ke responden sebelum responden dilakukan tindakan operasi
2. Peneliti/surveyor menentukan responden sesuai dengan kriteria inklusi
sebagai subyek penelitian
3. Peneliti atau observer meminta ijin kepada orangtua dan melakukan kontrak
dengan menyampaikan maksud, tujuan dan prosedur penelitian. Selanjutnya
orangtua diberikan inform consent dan menandatanganinya sebelum
dilakukan tindakan operasi.
4. Peneliti menyiapkan alat yang akan digunakan yaitu berupa kuesioner
SCAS-P, informed consent, alat tulis, media bermain.
5. Sebelum dilakukan intervensi dilakukan pretest kecemasan terlebih dahulu
sebelum anak dilakukan tindakan operasi dan diberikan mainan selama 15-
30 menit, kemudian peneliti atau observer melakukan observasi tingkat
kecemasan (post test) 15 menit setelah anak diberikan mainan. Kemudian
peneliti melakukan observasi tingkat kecemasan kembali menggunakan
instrument SCAS-P sebelum pasien masuk ke ruang operasi.
6. Peneliti atau observer mengumpulkan data hasil pengukuran yang
didapatkan kemudian melanjutkan ke tahap pengolahan data.
[Link] Data
1. Analisisa Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat
tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean
atau rata-rata, media, dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis
ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari setiap
variabel (Notoatmojo, 2012). Dilakukan untuk mengetahui distribusi
frekuensi karakteristik responden meliputi usia, paritas, pendidikan,
pekerjaan, status fisik ASA, bromage score.
39
21
Menggunakan rumus :
2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat yaitu analisis data untuk mengetahui pengaruh
antara variable bebas dan variable terikat. Seluruh data yang diperoleh
diolah menggunakan Saphiro Wilk. Apabila data terdistribusi normal
menggunakan uji T-paired test untuk menentukan perbedaan nilai pre
dan post pada kelompok anak usia prasekolah. Analisa bivariat yang
digunakan untuk menghasilkan hubungan antara dua variabel yang
bersangkutan, yaitu variabel independen dan variabel dependen
(Notoatmojo, 2010). Uji hipotesa yang digunakan adalah parametric
menggunakan data analisis Paired Sample T-Test. P = 0,000 yang
nilainya lebih kecil dari taraf kesalahan 5% (P < 0,05)
40
21
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Anak yang menjadi responden dalam penelitian ini, adalah anak yang
pasien anak dan dewasa. Tidak ada ruang bermain anak yang disediakan di
sebanyak 40 anak. Petugas bedah di IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
41
21
1. Analisis Univariat
Hasil penelitian didapatkan dari analisis data karakteristik
bentuk tabel yang terdiri dari hasil univariat dan bivariat. Analisis
a. Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang menjadi subjek penelitian
berjumlah 40 responden.
Karakteristik F %
1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki 25 62,5
b. Perempuan 15 37,5
42
43
2. Umur
a. 3 tahun 4 10
b. 4 tahun 8 20
c. 5 tahun 13 32,5
d. 6 tahun 15 37,5
3. Tingkat pendidikan
a. Belum sekolah 13 32,5
b. SD/TK 27 67,5
4. Pengalaman operasi
a. Belum pernah 31 77,5
b. Pernah 9 22,5
Data Primer, 2024
Tabel 2. Menunjukan bahwa berdasarkan jenis kelamin
responden yang paling banyak yaitu laki-laki sebanyak 25
orang (62,5%) sedangkan dilihat dari umur responden yang
paling banyak yaitu berumur 6 tahun sebanyakm 15 orang
(37,5%), responden yang dominan di tingkat pendidikan yaitu
responden yang sudah sekolah yaitu 27 orang (67,5%), dari
tabel diatas juga dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden belum pernah mendapatkan pengalaman operasi dan
dirawat dirumah sakit yaitu 31 orang (77,5%) dari total
responden.
43
44
Bermain
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kecemasan Ringan 29 72.5 72.5 72.5
Kecemasan Sedang 7 17.5 17.5 90.0
Kecemasan Berat 4 10.0 10.0 100.0
Total 40 100.0 100.0
10%
44
45
45
46
2. Analisis Bivariat
46
47
B. Pembahasan
1. Tingkat Kecemasan Sebelum diberikan Terapi Bermain
akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh
inovatif (Suriadi dkk, 2010). Bermain dapat digunakan sebagai media psiko
terapi atau pengobatan terhadap anak yang dikenal dengan sebutan terapi
bermain adapun tujuan bermain bagi anak di rumah sakit yaitu mengurangi
yang mempengaruhi kecemasan pada anak yaitu usia, jenis kelamin, dan
mengalami kecemasan berat sebanyak 4 anak (10%) atau hampir anak usia
berpendapat bahwa semakin muda usia anak maka akan semakin sukar
47
48
sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Hal ini sejalan dengan hasil
kognitif anak. Semakin tua usia anak maka semakin tinggi kecemasan yang
dialami.
diperlihatkan. Pada usia ini masih takut hal baru, hal ini biasanya
48
49
Hasil penelitian berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa sebelum
kecemasan sangat berat atau panik, anak yang mengalami kecemasan berat
sampai sangat berat atau panik yaitu anak yang menerima keadaannya
dengan menangis, menghindari orang baru, dan reaksi wajah tegang. Hal
ini sesuai teori Stuart dan Sundeen (2016) Kecemasan atau ansietas adalah
keadaan emosi tanpa objek tertentu. Hal ini dipicu oleh hal hal yang tidak
yang membedakan dari rasa takut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian
yang dilakukan oleh Alfiyanti, dkk dalam Hasim (2013), bahwa terdapat 14
kecemasan.
anak sebelum diberikan terapi bermain, sebagian besar anak tidak mau
ditinggal orang tuanya, anak takut dan tidak mau berpisah dengan orang
rumah sakit.
49
50
2. Tingkat Kecemasan Setelah diberikan Terapi Bermain
Hasil penelitian tabel 4 menunjukkan bahwa kecemasan pre operatif pada
anak prasekolah di IBS RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sesudah
diberikan terapi bermain mengalami kecemasan ringan yaitu 29 anak
(72,5%), cemas sedang 7 anak ( 1 7 , 5 %), c e m a s berat 4
a n a k ( 1 0 % ) dan tidak ada yang mengalami kecemasan sangat
berat ataupun panik dengan gambaran wajah rileks, lebih terbuka dan lebih
kooperatif. Berdasarkan tabel 6 hasil penelitian dari 40 responden anak
prasekolah yang mengalami pre operatif, responden mengalami penurunan
tingkat kecemasan, yaitu tampak lebih tenang dan rileks setelah diberikan
terapi bermain, mengalami peningkatan kecemasan dari yang awalnya
menghindar dari peneliti menjadi menangis karena tidak mau bermain
dengan permainan yang diberikan oleh peneliti namun setelah dibujuk oleh
orangtua pasien anak sudah mau pelan-pelan bermain permainannya,
setelah diberikan terapi bermain dan responden dengan kecemasan tetap
ini saat sebelum dan setelah diberikan mainan tampak tenang dan mau
kooperatif.
Hasil pada penelitian ini sejalan dengan Hartini (2019) setelah
dilakukan terapi mewarnai gambar didapatkan sebagian besar anak tidak
cemas sebesar 86,1%, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
angka dari sebelum dilakukan terapi mewarnai gambar sebesar 63,9%.
Sesuai dengan hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
anak setelah diberikan terapi bermain anak-anak merasakan selama
mendapatkan intervensi diterima apa adanya, dihargai keunikannya, dan
tidak terlalu cepat di evaluasi, dan merasa aman secara psikologis,
50
51
Pratiwi (2012) bahwa Anak yang dirawat di rumah sakit mengalami respon
menurun dari cemas berat menurun menjadi cemas sedang dan dari cemas
sedang menurun menjadi cemas ringan kemudian pada cemas ringan yang
semula terdapat tiga atau dua gejala menurun menjadi dua atau satu gejala.
menurunkan kecemasan.
(2018), dimana bermain slime merupakan salah satu contoh distraksi yang
51
52
koping yang baik semakin ditekankan pada anak lewat percakapan sambil
anak asyik bermain sehingga anak lupa terhadap kecemasannya. Hal ini
oleh anak yang sehat maupun sakit. Walaupun anak sedang sakit, tetapi
kebutuhan akan bermain tetap ada. Terapi bermain membuat aktifitas anak
adanya dukungan orang tua yang selalu menemani anak selama dirawat,
teman-teman anak yang berkunjung ke rumah sakit atau anak yang sudah
selama perawatan dan anak mempunyai koping yang positif sehingga akan
52
53
Fazrin (2017) adalah agar anak dapat melanjutkan fase tumbuh kembang
maupun sosial dan emosional. Pada saat anak dirawat dirumah sakit, anak
seperti marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan
stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Dalam kondisi sakit atau anak
dirumah sakit, aktivitas bermain ini tetap dilaksanakan namun harus sesuai
53
54
merupakan alat komunikasi yang efektif antara perawat dan klien. Setelah
diberikan terapi bermain anak lebih merasa tenang dan mau berinteraksi
2018).
ringan, kemudian 12 anak (30%) yang mengalami cemas berat dan sangat
operatif.
Selain itu, lama rawat inap juga dapat berpengaruh, dimana anak
sehingga anak dapat mengalihkan rasa sakit dan nyeri yang dialaminya
54
55
cepat kejadian hospitalisasi pada anak maka kecemasan yang dialami anak
terjadi pada anak pra sekolah yang mendapatkan pelayanan dan fasilitas
uji Wilcoxon Signed Rank Test Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh
nilai p = 0,000 (p < 0,05), sehingga Ha diterima, berarti ada pengaruh yang
merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak maupun
55
56
rumah sakit antara lain bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas,
pasien anak, ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri.
Perasaan, seperti takut, cemas, tegang, nyeri dan perasaan yang tidak
dengan teman sebaya ataupun berpisah dengan orang tua Untuk itu, anak
56
57
anak menjadi menurun hal ini didukung oleh penelitian Azizah (2014),
dan perasaan yang ada didalam diri bisa dikeluarkan, sehingga dapat
perilaku dan emosi yang positif. Keadaan tersebut akan membantu dalam
terjadi pada anak maka perawat dapat melakukan teknik terapi bermain,
disini ada beberapa teknik terapi bermain yaitu salah satunya terapi
sehingga anak akan terhibur dan tertarik untuk melihat dengan senang hati.
hospitalisasi dan terapi bermain sebagai salah satu teknik yang dapat
57
58
kecemasan anak yang mengalami pre operatif. Hal tersebut sesuai dengan
dilakukan staf rumah sakit yang ada. Hal ini sejalan dengan Asosiasi Terapi
merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat
paling efektif untuk mengatasi stress anak ketika dirawat di rumah sakit.
mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai ala koping
hospitalisasi dipengaruhi oleh alat dan jenis permainan yang cocok dan
58
59
dengan tumbuh kembang anak maka akan membuat anak tertarik terhadap
Rasa senang inilah yang dapat mengalihkan perasaan takut, sedih, tegang
4. Keterbatasan Penelitian
kelemahan tersebut
59
60
BAB V
A. Kesimpulan
1. Tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general
2. Tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general
anak (17,5%).
kecemasan pada anak usia prasekolah pre operatif dengan general anestesi
60
61
B. Saran
anestesi.
61
62
pre operatif atau faktor kecemasan pada pasien anak usia prasekolah
preoperatif, serta melakukapenelitian menggunakan kelompok kontrol
agar dapat membandingkan dengan kelompok intervensi.
62
63
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, S., & Ernawati, S. (2014). Upaya Menurunkan Tingkat Stres Hospitalisasi
Dengan Aktifitas Mewarnai Gambar Pada Anak Usia 4-6 Tahun Di Ruang
Anggrek RSUD Gambiran Kediri. Journal Universitas Nusantara PGRI
Kediri Vol. 1 No. 25.
Butar butar, Ruth Marsinta. (2018). Pengaruh Terapi Bermain Slime Terhadap
kecemasan pada Anak Usia Sekolah Sebelum Menjalani Operasi.
[Skripsi]. Fakultas Keperawatan. Universitas Sumatera Utara
Coplan, R. J., & Arbeau, K. A. (2009). Peer interactions and play in early
childhood. In K. [Link], W. M. Bukowski, & B. Laursen (Eds.),
Handbook of peer interactions, relationships, and groups. New York:
Guilford
Dayani E, dkk. (2015). Terapi Bermain Clay Terhadap Kecemasan Pada Anak Usia
Prasekolah (3-6 Tahun) Yang Menjalani Hospitalisasi di RSUD
Banjarbaru. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan. Banjarmasin. Program
Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Lambung
Mangkurat Banjarmasin. DK Vol.3/No.2/September/2015
Dera. (2014). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kegemasan Anak Usia
Prasekolah Selama Tindakan Keperawatan di Ruang Lukman Rumah
Sakit Roemani Semarang. Jurnal Keperawatan Fikkes. Semarang.
Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta
63
64
: EGC, 1022
Hartini, Sri dkk. (2019). Perbedaan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah Saat
Hospitalisasi Sebelum Dan Setelah Dilakukan Terapi Bermain Mewarnai
Gambar Di Ruang Bogenvile RSU Kudus. Jurnal Keperawatan dan
Kesehatam Masyarakat. Kudus: Program Studi Ilmu Keperawatan.
STIKES Cendekia Utama Kudus.
Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Kemenkes RI; 2015
Lubis, P.Y., Efri W., & Afif A.A. (2014). Tingkat kecemasan orangtua dengan
anak yang akan dioperasi. E-Journal Keperawatan, 2 (3), 154-159
Mulyanti S., & Kusmana T. (2018). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat
Kecemasan Anak Usia Prasekolah Akibat Hospitalisasi Di RSUD Dr.
Soekardjo Kota Tasikmalaya. Jurnal Bintas Umtas. Tasikmalaya. Prodi
D3 Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah
Tasikmalaya. Vol 2 Nomor 1 E-ISSN 2622-075X.
64
65
Potter, A., & Perry, A.G. (2010). Fundamental Keperawatan, Ed 8, buku 1. Jakarta:
Salemba Medika.
Putri Kurnia D., (2017). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan
Anak Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Bangsal Melati
RSUD Dr. Soedirman Kebumen. [Skripsi]. Gombong. Program Studi S1
Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah.
Roshdal, Caroline Bunker, (2014), Buku Ajar Keperawatan Dasar vol:5, Jakarta :
EGC
Sa'diah, R. H., Hardiani, R. S., & Rondhianto. (2014). Pengaruh Terapi Bermain
Origami terhadap Tingkat Kecemasan pada Anak Prasekolah dengan
Hospitalisasi di Ruang Aster RSD dr. Soebandi Jember. e-Jurnal Pustaka
Kesehatan, Vol. 2 No. 3.
Saputro. H & Fazrin. (2017). Anak Sakit Wajib bermain Di Rumah sakit. Sukorejo:
Forikes
Setiawati E., dan Sundari. (2019). Pengaruh Terapi Bermain dalam Menurunkan
Kecemasan Pada Anak Sebagai Dampak Hospitalisasi di RSUD
Ambarawa. Indonesian Jurnal of Midwifery. Semarang. Fakultas Ilmu
Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo.
65
66
66
67
Dengan hormat,
Demikian permohonan kami, atas perhatian dan perkenaan ibu, kami mengucakan
terima kasih.
Hormat saya,
67
68
68