0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

DISERTASI

Disertasi ini mengembangkan perangkat pembelajaran fisika dengan pendekatan problem posing berbantuan scaffolding untuk meningkatkan karakter peserta didik SMA. Penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan karakter dan hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa guru fisika kesulitan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran secara mandiri.

Diunggah oleh

Nur Ilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

DISERTASI

Disertasi ini mengembangkan perangkat pembelajaran fisika dengan pendekatan problem posing berbantuan scaffolding untuk meningkatkan karakter peserta didik SMA. Penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan karakter dan hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa guru fisika kesulitan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran secara mandiri.

Diunggah oleh

Nur Ilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DISERTASI

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN


PENDEKATAN PROBLEM POSING BERBANTUAN SCAFFOLDING
UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER PESERTA DIDIK SMA

CEVELOPMENT OF PHISICS LEARNING TOOLS WITH SCAFFOLDING


ASSISTED PROBLEM POSING APPROACH TO IMPROVE THE CHARACTER
OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS

NUR ILMI SHAQINAH

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2022
PRAKATA

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, taufik,
dan rahmatNYA sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini. Penulisan disertasi ini
merupakan kewajiban akademik yang membutuhkan perjuangan panjang, ketabahan dan
kesabaran dalam menghadapi segala kendala
ABSTRAK

NUR ILMI SHAQINAH. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan


Problem Posing Berbantuan Scaffolding untuk Meningkatkan Karakter Peserta didik SMA.
( Dibimbing oleh Promotor …………. Dan ………………………….)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuan: (1) gambaran tentang perangkat


pembelajaran yang dimiliki guru fisika SMA, (2) prototipe perangkat pembelajaran fisika dengan
pendekatan problem posing berbantuan scaffolding untuk meningkatkan karakter peserta didik
SMA, dan (3) tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan perangkat pembelajaran fisika
dengan pendekatan problem posing berbantuan scaffolding untuk meningkatkan karakter peserta
didik SMA. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XII SMA Negeri Darma Yadi Makassar
sebanyak 27 orang. Prosedur Pengembangan perangkat pembelajaran dilakukan dengan
mengadaptasi model 4D oleh Thiagarajan, dkk. (1974), yang terdiri atas langkah-langkah
pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan
(disseminate). Data studi pendahuluan diperoleh melalui wawancara dengan guru fisika kelas
XII. Data kevalidan perangkat diperoleh melalui instrumen validasi perangkat pembelajaran.
Data kepraktisan perangkat diperoleh melalui lembar observasi pengelolaan pembelajaran dan
angket respon guru terhadap perangkat pembelajaran. Data keefektifan perangkat diperoleh
melalui lembar observasi nilai-nilai karakter, tes hasil belajar, lembar observasi aktivitas peserta
didik dan angket respon peserta didik. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1)
guru fisika masih sulit mengembangkan perangkat pembelajarannya secara mandiri sehingga
perangkat pembelajaran yang dikembangkan guru masih terbatas pada RPP dan tes hasil belajar;
(2) perangkat pembelajaran fisika yang dikembangkan memuat karakteristik accepting
(penerimaan informasi) dan challenging ( pemberian tantangan) disertai dengan pemberian
scaffolding sebagai pola dukungan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam
pembelajaran; (3) RPP, LKPD, dan instrumen penilaian hasil belajar berada pada kategori
sangan valid, sedangkan buku guru dan buku peserta didik berada pada kategori valid; perangkat
pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria praktis, karena kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran dalam kategori baik dan respon guru terhadap penggunaan perangkat
pembelajaran adalah positif, perangkat pembelajaran dinyatakan efektif, karena adanya
peningkatan karakter peserta didik, hasil belajar peserta didik tuntas secara klasikal; aktivitas
peserta didik mencapai kriteria ideal, dan peserta didik memberikan respons positif terhadap
perangkat pembelajaran.

Kata Kunci : perangkat pembelajaran, problem posing, scaffolding, karakter.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan


bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Ini berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak hanya membentuk insan indonesia
yang cerdas, namun juga memiliki kepribadian atau karakter yang bersumber dari nilai-nilai
luhur bangsa serta agama.
Sekolah menengah akhir (SMA) sebagai bagian dari lembaga pendidikan dasar
diharapkan peran pentingnya untuk menjadi peletak dasar terkait dengan kemampuan berpikir
kritis, membaca, menulis, berhitung, penguasaan dasar untuk mempelajari sains dan teknologi,
kemampuan berkomunukasi, dan menanaman nilai-nilai karakter yang merupakan kemampuan
tuntutan minimal dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab keberhasilan mengikuti pendidikan di
sekolah menengah akhir dan perguruan tinggi banyak dipengaruhi oleh keberhasilan dalam
mengikuti pendidikan dasar (ALI, 2009:33). Dengan demikian, keberhasilan guru mengelola
pembelajaran pada setiap mata pelajaran di SMA akan membantu peserta didik mengikuti proses
pembelajaran di jenjang pendidikan menengah akhir bahkan perguruan tinggi.
Fisika sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di semua jenjang
pendidikan, tentunya perlu penanaman konsep dan penumbuhan sikap lebih intensif sejak
pendidikan dasar. Fisika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya
sehingga memungkinkan siapapun yang mempelajarinya dapat berpikir secara rasional dan kritis
dalam menghadapi permasalahn hidup sehari-hari. Ditegaskan pula dalam standar isi kurikulum
2013 bahwa untuk menguasai dan menciptakan teknologi masa depan di perlukan penguasaan
konsep-konsep fisika yang baik sejak dini ( Kemendikbud, 2016). Olehnya itu, salah satu
kompetensi yang perlu dicapai peserta didik dalam pembelajaran Fisika di SMA sesuai
Permendiknas nomor 21 tahun 2016 adalah menunjukka sikap logis, kritis, analitis, cermat dan
teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah.
Jadi, pemebelajaran fisika diarahkan untuk pembentukan kemampuan berpikir dan kepribadian
yang bermuara pada kemampuan menggunakan fisika sebagai bahasa dan alat untuk
menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupannya.
Namun pada kenyataannnya, upaya guru dalam mengelola pembelajaran fisika belum
mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Fisika masih dianggap sebagai salah satu mata
pelajaran yang cukup sulit, karena fisika itu sendiri merupakan salah satu ilmu yang
membutuhkan suatu kemampuan dan penalaran dalam mempelajarinya (Suharitini & Santoso,
2014). Fakta rendahnya prestasi belajar fisika, ditunjukkan pada perolehan nilai ujian nasional
berbasis komputer (UNBK) pada tahun 2018 yang terus mengalami penurunan dibandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, adanya isu-isu moralitas dikalangan remaja seperti penggunaan narkotika,
pornografi, pornoaksi, tawuran antarpelajar, aborsi, pemerkosaan, perampasan, pencurian,
pembunuhan, dan tindakan-tindakan amoralsudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini
belum dapat diatasi secara tuntas. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
menyatakan bahwa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2018, anak berhadapan dengan hukum
(ABH) seperti: jadi pelaku narkoba, mencuri, hingga asusila menjadi kasus yang menempati
posisi paling tinggi (Ikhsanudin: 2018). Ditambah agi dengan laopran komisioner KPAI bidang
pendidikan bahwa mulai bulan Januari sampai dengan 13 Februari 2019 telah menerima laporan
24 kasus di sektor pendidikan terkait kekerasan terhadap anak dengan korban atau pelakunya
adalah anak atau peserta didik (Abdi: 2019). Demikian pula dengan adanya perilau tidak jujur
dalam dunia pendidikan yang dilakukan peserta didik, misalnya mencontek saat ujian atau hasil
pekerjaan rumah, menjiplak hasil karya orang lain tanpa menyertakan sumber, dan mencari-cari
alasan untuk lari dari tanggung jawab atas tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru
(Koesoema, 2009:183).
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru-guru Fisika SMA, mereka mengeluh dengan
menurunnya rasa ingin tahu peserta didik karena jarang mengajukan pertanyaan selama proses
pembelajaran, kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, gampang meyerah
dalam memecahkan masalah yang diberikan, dan kurang kreatif dalam pembelajaran. Kasus-
kasus tersebut sebagai indikasi lemahnya penanaman nilai-nilai karakter dalam lembaga
pendidikan, termasuk dalam pembelajaran fisika.
Memperhatikan uaraian diatas,tmpak bahwa pada satu sisi betapa pentingnya peranan
fisika dalam mengembangkan pengetauan, keterampilan

Anda mungkin juga menyukai