0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan83 halaman

M Ridwan

Dokumen ini adalah laporan tugas akhir mengenai pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembayaran pada PT DNA oleh KAP Sodikin Budhananda Wandestarido untuk tahun 2022/2023. Audit ini bertujuan untuk memastikan bahwa transaksi yang dilakukan oleh PT DNA sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tercatat dengan akurat dalam laporan keuangan. Penulis juga membahas pentingnya audit dalam memberikan keyakinan kepada pemangku kepentingan terkait laporan keuangan yang disajikan.

Diunggah oleh

24360020
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan83 halaman

M Ridwan

Dokumen ini adalah laporan tugas akhir mengenai pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembayaran pada PT DNA oleh KAP Sodikin Budhananda Wandestarido untuk tahun 2022/2023. Audit ini bertujuan untuk memastikan bahwa transaksi yang dilakukan oleh PT DNA sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tercatat dengan akurat dalam laporan keuangan. Penulis juga membahas pentingnya audit dalam memberikan keyakinan kepada pemangku kepentingan terkait laporan keuangan yang disajikan.

Diunggah oleh

24360020
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PELAKSANAAN AUDIT SIKLUS PEMBELIAN DAN PEMBAYARAN PADA

PT DNA TAHUN 2022/ 2023 OLEH KAP SODIKIN BUDHANANDA


WANDESTARIDO

LAPORAN TUGAS AKHIR

DISUSUN OLEH:
M RIDWAN
5190111160

FAKULTAS BISNIS & HUMANIORA


UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2025
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Akuntan Publik yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah
profesi dalam memberikan jasa akuntansi profesional kepada individu dan bisnis
secara independen. Jasa akuntansi yang diberikan oleh akuntan publik ini
diantaranya, jasa assurance, jasa atestasi, dan jasa nonassurance. Akuntan publik
memberikan jasa seperti mengaudit atau memeriksa laporan keuangan yang
dibuat oleh klien atau entitas, diakhir penugasan akan memberikan opini audit
dari kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh klien sesuai dengan standar
akuntansi. Laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor memberikan nilai
tambah bagi klien atau entitas dan memberikan kepecayaan kepada pengguna
laporan keuangan. Dalam bekerja seorang akuntan publik haruslah independen
dan kompeten agar tidak terjadi conflict of ineterest atau intervensi oleh klien
dalam proses pengauditan.
Sehingga dalam praktiknya harus ada acuan yang mengatur agar berjalan
dengan profesional dan independen. Dewan Standar Profesional Akuntan Publik
Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI) mengeluarkan Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Kode Etik Profesi Akuntan Publik.
SPAP adalah acuan yang menjadi standar akuntan publik di Indonesia. Standar ini
diterbitkan oleh yang diadopsi dari International Standard on Auditing (ISA).
Standar Profesional Akuntan publik ini menjelaskan secara singkat bagaimana
opini audit yang menjadi pelaporan auditor dapat relevan bagi pengguna,
konsisten dan meningkatkan kredibilitas di pasar global. (Purwanti, et, al 2023)

Audit merupakan suatu proses sistematis untuk memperoleh dan


mengevaluasi bukti mengenai pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi,
dengan tujuan untuk memberikan pendapat tentang derajat kesesuaian pernyataan
tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam konteks perusahaan, audit
bertujuan untuk memberikan keyakinan kepada berbagai pihak, seperti pemegang
saham, kreditor, dan pihak manajemen, bahwa laporan keuangan yang disajikan
telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).
Audit memiliki banyak manfaat bagi perusahaan. Beberapa manfaat audit
secara ekonomis, antara lain akses ke pasar modal, biaya modal, biaya modal
menjadi lebih rendah, pencegahan terjadinya tidak efisien, kecurangan, perbaikan
dalam pengendalian dan oprasional. Selain itu audit laporan keuangan juga
diharapkan dapat menjembatani pertentangan kepentingan antara pihak internal
perusahaan yaitu manajemen dengan pihak eksternal perusahaan yaitu, investor,
kreditor, pemerintah, dan masyarakat. (Koj and Maroun, 2021)
Agar audit dapat bemanfaat bagi para pemakainya, auditor independen
memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan pendapat yang benar-benar dapat
dipertanggung jawabkan dan memiliki objektifitas tinggi. Dalam menunjang
profesionalisme sebagai akuntan public dalam melaksakan tugas auditnya, untuk
dapat menghasilkan kualitas audit yang baik, maka akuntan publik di Indonesia
wajib melakukan audit atas laporan keuangan berdasarkan ISA (International
Standards On Auditing). Akuntan publik yang memberikan jasa audit diantaranya
adalah Kantor Akuntan Publik Sodikin Budhananda Wandestarido (KAP SBW).
KAP SBW merupakan akuntan independen yang telah membantu sejumlah
perusahaan dan pengusaha untuk memecahkan permasalahan akuntansi keuangan.
Salah satu klien KAP SBW adalah PT DNA yang merupakan nama sebenarnya
dialasan kerahasiaan klien.
Siklus pembelian dan pembayaran merupakan elemen penting bagi
perusahaan, sebab siklus pembelian dan pembayaran melibatkan proses dan
keputusan yang diperlukan untuk memperoleh barang dan jasa guna
mengoprasikan sebuah bisnis Sehingga siklus pembelian dan pembayaran
merupakan kegiatan utama dari operasional perusahaan selain penjualan.
Transaksi pembelian memiliki frekuensi yang banyak sehingga rentan terjadi
fraud berupa transaksi fiktif, penghilangan potongan pembelian, pencurangan
invois, pembelian yang tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan, maupun
kesalahan penyajian yang disengaja. (Desy, 2017)
Salah satu siklus yang menjadi fokus dalam audit adalah siklus pembelian
dan pembayaran. Siklus ini mencakup seluruh aktivitas yang terkait dengan
pengadaan barang atau jasa, mulai dari permintaan pembelian hingga pembayaran
kepada pemasok. Siklus ini sangat penting karena melibatkan sejumlah besar
transaksi keuangan dan memiliki potensi risiko yang cukup tinggi, seperti
kesalahan pencatatan, kecurangan, atau ketidaksesuaian harga.
PT DNA, sebagai sebuah entitas bisnis, tentu memiliki kepentingan untuk
memastikan bahwa transaksi pembelian dan pembayaran yang dilakukan telah
sesuai dengan prosedur yang berlaku dan tercatat secara akurat dalam laporan
keuangan. Oleh karena itu, KAP Sodikin Budhananda Wandestarido ditunjuk
untuk melaksanakan audit terhadap siklus pembelian dan pembayaran pada PT
DNA untuk periode tahun 2022/2023.
PT. DNA menyajikan laporan keuangan dalam mata uang rupiah. Pada PT
DNA 2023 memiliki utang sebesar Rp9.935.901.163 Yang turun 19,99% dari
tahun sebelumnya sebesar Rp8.280.594.984. Pada pembelian PT DNA pada
tahun 2023 sebesar Rp28.979.765.090 yang berarti mengalami peningkatan
sebesar 17,20% dari tahun sebelumnya sebesar Rp26.387.563.022. Peningkatan
ini bisa menunjukkan adanya penyesuaian dalam strategi pembelian atau
pengurangan pengeluaran untuk barang atau bahan baku, yang mungkin
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti peningkatan permintaan, efisiensi dalam
proses pembelian, atau perubahan dalam kondisi pasar.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengangkat
permasalahan tersebut dalam penulisan tugas akhir yang berjudul “Pelaksanaan
Audit Siklus Pembelian Dan Pembayaran Pada PT DNA Tahun 2023 Oleh KAP
Sodikin Budhananda Wandestarido”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
dalam penulisan laporan ini adalah “Bagaimana pelaksanaan audit siklus
pembelian dan pembayaran yang dilakukan oleh KAP Sodikin Budhananda
Wandestarido?”.
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka penulis membatasi
penulisan Tugas Akhir ini hanya pada pembahasan tahap pembelian dan
pembayaran serta utang usaha PT DNA untuk buku yang berakhir pada 31
Desember 2023 yang dilakukan oleh KAP Sodikin Budhananda Wandestarindo.
D. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui
pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembayaran oleh KAP Sodikin
Budhananda Wandestarindo.
E. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan laporan ini adalah memberikan
wawasan dan pengalaman tentang dunia bisnis yang sesungguhnya, agar lebih
siap dalam dunia kerja terutama pada bidang audit dan juga membandingkan
antara praktik audit selama magang dan juga teori yang sudah dipelajari selama
dibangku perkuliahan, sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang baru dan
dapat memperbaiki praktik yang telah berjalan dengan landasan teori.
F. Outcome
Outcome dari penulisan tugas akhir ini diharapkan mampu memberikan
gambaran dan pemahaman bagi pembaca mengenai proses audit khususnya siklus
pembelian dan pembayaran terhadap laporan keuangan PT DNA yang dilakukan
oleh KAP Sodikin Budhananda Wandestarindo. Tujuan dilakukannya audit siklus
pembelian dan pembayaran ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya kesalahan
penyajian material pada laporan keuangan PT DNA periode 2023 oleh KAP
Sodikin Budhananda Wandestarindo.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengauditan
1. Pengertian Audit
Definisi Audit menurut (Jusup, 2014) adalah sebuah proses Secara
teratur mengumpulkan dan menilai bukti terkait dengan Asersi mengenai
tindakan dan kejadian ekonomi dengan sikap objektif. Untuk menilai sejauh
mana kepatuhan antara asersi tersebut dengan kriteria yang ada telah
diputuskan dan disampaikan hasil tersebut kepada pihak-pihak yang terkait.
Menurut (Arens et al., 2015) definisi audit adalah Mengumpulkan dan
mengevaluasi bukti informasi guna menetapkan dan Melaporkan tingkat
kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Ditentukan. Audit sebaiknya dilakukan oleh individu yang memiliki keahlian
dan juga independen.
2. Tujuan Audit
Tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan tingkat keyakinan
pengguna laporan keuangan yang dituju. Hal ini dicapai melalui pernyataan
suatu opini oleh auditor tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam
semua hal yang material, sesuai dengan suatu kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku. Dalam hal kebanyakan kerangka bertujuan umum, opini
tersebut adalah tentang apakah laporan keuangan disajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka. Suatu audit yang
dilaksanakan berdasarkan standar audit dan ketentuan etika yang relevan
memungkinkan auditor untuk merumuskan opini (IAPI, 2021).
Menurut Musfiroh (2021) Tujuan keseluruhan auditor atas audit laporan
keuangan adalah:
a. Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang
disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan oleh karena itu
memungkinkan auditor untuk menyatakan suatu opini tentang apakah
laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan
suatu kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
b. Melaporkan atas laporan keuangan dan mengkomunikasikannya
sebagaimana ditentukan oleh Standar Audit (SA) berdasarkan temuan
auditor.
3. Jenis Audit
Menurut Musfiroh (2021) Jenis audit pada umumnya dibagi menjadi
tiga yaitu audit laporan keuangan, audit operasional, audit ketaataan. Berikut
adalah penjelasan dari masing-masing dari ketiga jenis audit tersebut:
a. Audit Laporan Keuangan
Audit laporan keuangan adalah memeriksa laporan keuangan untuk
menentukan apakah laporan keuangan tersebut memberikan gambaran
yang benar dan wajar atau menyajikan laporan keuangan secara wajar
sesuai kriteria-kriteria tertentu, seperti Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (International Financial Reporting Standards-IFRS),
Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted
Accounting Principles-GAAP). (Hayes, et. al., 2017).
Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan
keuangan (informasi yang diverifikasi) telah dinyatakan sesuai dengan
kriteria tertentu. (Ares et. al.,2015). Audit ini dilakukan untuk menilai dan
menentukan apakah laporan keuangan Telah disajikan oleh manajemen
perusahaan, Sesuai dengan prinsip Akuntansi berterima umum (terdiri
dari laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan posisi
keuangan, dan laporan arus kas), serta menentukan tingkat kesesuaian
dengan kriteria/ketentuan yang telah ditetapkan dan memastikan bahwa
laporan keuangan tidak mengandung salah saji material yang berpengaruh
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan (Arum, 2021).
b. Audit Operasional/Audit
Kinerja Audit operasional adalah mengevaluasi efisiensi dan
efektivitas setiap bagian dari prosedur dan metode operasi organisasi.
(Arens et. al 2015). Audit operasional menurut Hayes et. al., (2017)
adalah kajian mengenai unit tertentu dalam sebuah organisasi dengan
tujuan untuk mengukur kinerjanya. Audit operasional mereviu seluruh
atau sebagian dari prosedur operasi organisasi untuk mengevaluasi
efektivitas dan efisiensi operasi.
Audit kinerja merupakan pemeriksaan yang sistematis terhadap
kinerja dari sumber daya yang dimiliki perusahaan apakah sudah berjalan
secara efektif dan efisien guna meningkatkan nilai perusahaan. Contoh
audit kinerja antara lain audit terhadap proses penggajian pegawai, audit
terhadap kinerja staf dan manajemen.
c. Audit ketaataan/kepatuhan
Audit kepatuhan adalah reviu prosedur organisasi untuk menentukan
apakah organisasi mengikuti prosedur, regulasi atau aturan tertentu yang
ditetapkan oleh beberapa otoritas yang lebih tinggi (Hayes et. al., 2017).
Sedangkan audit ketaatan (compliance audit) dilaksanakan untuk
menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur, aturan
atau ketentuan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi
(Arens et. al. 2015).
Audit kepatuhan merupakan pemeriksaan atas kepatuhan suatu entitas
dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas terhadap kebijakan, standar
operasional perusahaan, kebijakan dan peraturan perundangundangan
(misalnya perpajakan). Audit Kepatuhan banyak dilakukan oleh auditor
pemerintah, Namun tidak menutup juga dilakukan oleh Kantor Akuntan
Publik (KAP). Contoh audit kepatuhan yaitu pemeriksaan atas
pengembalian pajak (restitu) atau kepatuhan perpajakan, audit kepatuhan
penyaluran kredit. Contoh lain dilingkungan Perguruan Tinggi Negeri
seperti kepatuhan Perguruan Tinggi dalam mengelola pendapatan, belanja
pegawai, pengelolaan dana penelitian, pengadaan atau pengolaan Barang
Milik Negara, pelaksanaan Pembangunan Gedung Baru, kepatuhan
fakultas dan Prodi (audit mutu internal) dan sebagainya.
4. Jenis Auditor
Menurut Hayes et. al., (2017), Tipe dasar auditor ada dua yaitu auditor
internal dan auditor eksternal. Auditor pemerintah mengambil peran dari
kedua fungsi tersebut yaitu auditor internal pemerintah misalnya Satuan
Pengawasan Internal (SPI) dan auditor eksternal pemerintah misalnya BPK.
Namun, penulis membedakan Jenis-jenis Auditor menjadi tiga yaitu auditor
internal, auditor eksternal dan auditor pemerintah. Berikut masing-masing
penjelasan dari ketiga jenis auditor tersebut:
a. Auditor Eksternal/Auditor
Auditor eksternal merupakan pihak luar yang bukan karyawan
persahaan, berkedudukan independen, dan tidak memihak baik terhadap
auditee-nya (pengguna laporan keuangan). Auditor eksternal dapat
melakukan semua jenis audit. Auditor eksternal merupakan akuntan yang
bekerja pada kantor akuntan publik (Arum,2021). KAP mencermintakan
fakta bahwa auditor yang menyatakan pendapat audit atas laporan
keuangan harus memiliki lisensi sebagai akuntan publik KAP sering kali
disebut auditor eksternal. (Arens et. al., 2015).
Auditor eksternal biasanya disebut juga dengan auditor independen
karena statusnya bukan karyawan dari perusahaan yang diaudit (auditee).
Auditor ini bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Auditor eksternal
melakukan audit laporan keuangan, audit kepatuhan, audit operasional,
audit forensik dan sebagainya. Auditor eksternal dalam menjalankan
tugasnya harus mematuhi Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik),
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan peraturan perundang-
undangan.
b. Auditor Internal
Auditor internal merupakan pegawai dari perusahaan dari perusahaan
yang di audit dan mendapat gaji dari perusahaan. Auditor internal
melibatkan diri dalam suatu kegiatan penilaian independen dalam
lingkungan perusahaan. Auditor internal biasanya melakukan audit
kepatuhan dan audit operasional. Audit internal juga memberikan
rekomendasi bagi perusahaan (Arum, 2021)
Audit internal adalah audit yang bekerja pada perusahaan yang
diaudit yang biasanya bertugas melakukan audit operasional perusahaan
dan memberikan rekomendasi perbaikan secara continue atas kinerja atau
sistem perusahaan. Selain itu auditor internal merupakan jembatan antara
perusahaan dengan auditor eksternal.
c. Auditor Pemerintahan
Auditor pemerintah adalah auditor yang bertugas melakukan audit
atas keuangan negara pada instansi-instansi pemerintah (Hery, 2019).
Auditor pemerintah di Indonesia dibedakan menjadi auditor eksternal dan
audit internal.
5. Bukti Audit
Setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah
informasi yang tersedia untuk diaudit telah dinyatakan sesuai dengan kreteria
yang telah ditetapkan dan dapat dipertanggung jawabkan disebut juga sebagai
bukti audit, Arens et. al., (2015). Bukti audit yang didapat auditor sebagai
informasi yang sah dan dapat dipertanggung jawabkan keabsahaannya, selain
itu bukti audit juga mendukung temuan-temuan yang sedang dalam pengujian
auditor.
a. Pengertian Bukti Audit
Menurut Jusup (2014), bukti audit adalah semua informasi
yang digunakan auditor untuk mencapai kesimpulan yang menjadi dasar
opini audit. Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur audit
yang tepat sesuai dengan kondisi untuk memperoleh bukti audit yang
cukup dan tepat. Bukti audit harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar yang
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang telah
diaudit.
Bukti adalah segala informasi yang digunakan oleh auditor
untuk menentukan apakah informasi yang sedang di audit telah
dinyatakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, informasi dapat
berbeda-beda, dalam hal bahan bukti ini mampu meyakinkan auditor
apakah laporan keuangan dinyatakan sesuai dengan standar akuntansi,
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (Damayanti, 2021)
b. Prosedur untuk Memperoleh Bukti
Audit Jusup (2014) menyatakan bahwa dalam memutuskan
prosedur audit yang akan digunakan, auditor dapat memilih dari
delapan kategori bukti yang disebut tipe audit. Setiap prosedur audit
bisa mendapatkan satu atau lebih tipe bukti berikut:
1) Inspeksi
Inspeksi mencakup pemeriksaan atas catatan atau dokumen
baik internal maupun eksternal dalam bentuk kertas, elektronik,
media lain atau pemeriksaan fisik atas suatu aset. Apabila auditor
menggunakan dokumentasi untuk mendukung catatan transaksi
atas dasar jumlah tertentu disebut dengan vouching dan apabila
auditor menelusur dari dokumen pendukung ke dokumen sumber
disebut dengan tracking.
2) Observasi
Observasi terdiri dari melihat langsung suatu proses atau
prosedur yang dilakukan oleh orang lain. Observasi memberikan
bukti audit tentang pelaksanaan suatu proses atau prosedur, namun
hanya terbatas pada titik waktu tertentu pada saat observasi
dilaksanakan. Hasil observasi biasanya diikuti dengan mencari
bukti pendukung lainnya.
3) Konfirmasi Eksternal
Konfirmasi eksternal merupakan bukti audit yang diperoleh
auditor sebagai respon langsung tertulis dari pihak ketiga (pihak
yang mengkonfirmasi) dalam bentuk kertas, elektronik atau media
lain. Konfirmasi dipandang sebagai tipe bukti yang berkualitas.
4) Perhitungan Ulang
Perhitungan ulang meliputi pengecekan ulang atas suatu hasil
perhitungan yang telah dilakukan klien. Pengecekan ulang atas
perhitungan klien meliputi pengujian atas ketelitian perhitungan
dan mencakup prosedur-prosedur seperti memeriksa hasil
perkalian dalam faktur pendapatan dan persediaan, penjumlahan
dalam jurnal dan buku pembantu, serta pengecekan perhitungan
beban depresiasi atau beban dibayar dimuka.
5) Pelaksanaan Kembali
Pengujian auditor secara independen atas prosedur
pengendalian akuntansi dan sistem pengendalian internal.
Pelaksanaan kembali dilakukan dengan mengecek prosedur lain,
yaitu auditor membandingkan jumlah yang telah ditetapkan
perusahaan atau auditor mengerjakan ulang pembuatan daftar
umum piutang.
6) Prosedur Analitis
Prosedur analitis terdiri pengevaluasian atas informasi
keuangan yang dilakukan dengan menelaah hubungan yang dapat
diterima antara data keuangan dengan non-keuangan. Prosedur
analitis ini meliputi investigasi atau fluktuasi yang telah
diidentitaskan, hubungan yang tidak konsisten antara suatu
informasi dengan informasi lainnya atau data keuangan yang
menyimpang secara signifikan dari jumlah yang telah
diprediksikan sebelumnya. Prosedur analitis sangat luas digunakan
dalam praktik dan wajib dilakukan auditor dalam tahap
perencanaan dan tahap penyelesaian semua audit.
7) Permintaan Keterangan
Permintaan keterangan terdiri dari pencarian informasi atas
orang yang memiliki pengetahuan, baik keuangan maupun non
keuangan di dalam atau di luar entitas. Permintaan keterangan
digunakan secara 17 luas sepanjang audit sebagai tambahan untuk
prosedur audit lainnya. Respon atas permintaan keterangan dapat
memberikan informasi yang sebelumnya tidak dimiliki oleh
auditor atau menguatkan bukti audit.
6. Tahapan Audit
Terdapat empat tahapan dalam proses audit (Jusup, 2014), tahapan audit
tersebut yaitu:
a. Tahap I: Merencanakan dan Merancang Suatu Pendekatan Audit
Pada SA 300 tentang “Perencanaan Suatu Audit Atas Laporan
Keuangan” menyatakan tanggungjawab auditor adalah untuk
merencanakan audit atas laporan keuangan agar audit tersebut dapat
dilaksanakan secara efektif. Perencanaan yang cukup akan bermanfaat
dalam audit atas laporan keuangan, termasuk hal-hal berikut:
1) Membantu auditor untuk mencurahkan perhatian yang tepat
terhadap area yang penting dalam audit.
2) Membantu auditor untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah yang potensial secara tepat waktu.
3) Membantu auditor untuk mengorganisasi dan mengelola perikatan
dengan baik.
4) Membantu dalam pemilihan anggota tim perikatan (tim audit)
dengan tingkat kemampuan dan kompetensi yang tepat untuk
merespon risiko yang diantisipasi dan penugasan pekerjaan yang
tepat kepada mereka.
5) Memfasilitasi arah dan supervisi atas pekerjaan mereka.
6) Membantu, jika relevan, dalam pengoordinasian hasil pekerjaan
yang dilakukan oleh auditor komponen dan pakar.
Terdapat delapan tahapan dalam proses perencanaan yang dilakukan
sebelum memulai program audit, yaitu:
1) Penerimaan klien dan pembuatan rencana audit awal.
2) Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien.
3) Menilai risiko bisnis klien.
4) Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan.
5) Menetapkan materialitas dan menilai risiko audit yang dapat
diterima dan risiko inheren.
6) Memahami pengendalian internal dan menilai risiko
pengendalian.
7) Mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan.
8) Menyusun strategi audit keseluruhan dan program audit.
b. Tahap II: Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Golongan
Transaksi.
Pada tahap ini auditor melakukan pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi, tujuannya adalah:
1) Memperoleh bukti untuk mendukung pengendalian spesifik yang
memberikan kontribusi terhadap penilaian risiko pengendalian
yang dilakukan auditor (menurunkan risiko pengendalian pada
suatu batas tertentu dibawah maksimum).
2) Memperoleh bukti untuk mendukung koreksi moneter transaksi
hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi
merupakan penentu utama luasnya pengujian rinci saldo, maka
pengujian tersebut seringkali dilakukan dua atau tiga bulan
sebelum tanggal neraca.
Auditor terkadang melakukan pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi pada saat yang bersamaan. Berikut
gambaran proses audit pada tahap pengujian pengendalian dan
pengujian substantif transaksi (Jusup, 2014):
1) Merencanakan untuk mengurangi terkait risiko pengendalian.
2) Melakukan pengujian pengendalian.
3) Melakukan pengujian substantif transaksi.
4) Menilai kemungkinan kesalahan penyajian dalam laporan
keuangan.
c. Tahap III: Prosedur Analitis dan Pengujian Rinci Saldo
Tujuan tahap ini adalah untuk memperoleh tambahan bukti yang
cukup untuk menentukan apakah saldo akhir dan pengungkapan
dalam laporan keuangan telah ditetapkan secara wajar. Terdapat dua
kategori pada prosedur-prosedur dalam tahap ini, yaitu:
1) Prosedur analitis substantif yang menilai kewajaran menyeluruh
dari transaksi dan saldo.
2) Pengujian rinci saldo yaitu proses audit yang menguji salah saji
moneter dalam saldo di laporan keuangan.
d. Tahap IV: Penyelesaian Audit dan Penerbitan Laporan Audit
Setelah auditor menyelesaikan seluruh prosedur untuk setiap
akun yang ada pada laporan keuangan beserta pengungkapan yang
bersangkutan. Pada tahap ini auditor mengakumulasi seluruh bukti
dan informasi yang diperoleh untuk mencapai suatu kesimpulan
auditor mengenai kewajaran laporan keuangan klien. Untuk itu
auditor harus melakukan beberapa hal terkait, yaitu:
1) Melakukan Pengujian Tambahan untuk Penyajian dan
Pengungkapan
Auditor harus mengumpulkan bukti yang berkaitan dengan
tujuan penyajian dan pengungkapan. Prosedur-prosedur yang
dilakukan auditor untuk mendukung tujuan penyajian dan
pengungkapan adalah serupa dengan prosedur-prosedur untuk
audit transaksi dan audit saldo.
2) Mengumpulkan Bukti Final
Selain bukti yang diperoleh untuk setiap siklus, auditor harus
mengumpulkan bukti-bukti berikut untuk laporan keuangan
sebagai keseluruhan selama tahap penyelesaian:
a) Melaksanakan prosedur analitis final.
b) Mengevaluasi asumsi going concern.
c) Minta surat pernyataan dari klien.
d) Membaca informasi dalam laporan tahunan untuk memastikan
bahwa informasi tersebut konsisten dengan laporan keuangan.
3) Menerbitkan Laporan Audit
Jenis laporan yang diterbitkan tergantung pada bukti yang
dikumpulkan dan temuan audit.
4) Komunikasi dengan Manajemen dan Pihak yang Bertanggung
jawab atas Tata Kelola
Standar audit mewajibkan auditor untuk mengkomunikasikan
definisi signifikan dalam pengendalian internal kepada
manajemen dan kepada pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola (termasuk didalamnya komite audit) segera setelah audit
selesai.
7. Opini Audit
Opini audit adalah kesimpulan/output/hasil dari serangkaian kegiatan
prosedur audit yang telah dilakukan selama proses audit. Laporan audit
berfungsi untuk mengkomunikasikan temuan-temuan auditor kepada para
pengguna laporan keuangan (Arens et al., 2014).
Pemberian opini audit berdasarkan beberapa pertimbangan auditor terkait
temuan-temuannya selama proses audit. Secara umum terdapat lima jenis
opini audit, antara lain opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), opini Wajar
Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelas, opini Wajar Dengan
Pengecualian (WDP), opini Tidak Wajar, dan opini Tidak Memberikan
Pendapat.
8. Dokumentasi Audit
a. Dokumentasi Audit
Jusup (2014) menyebutkan dokumentasi audit adalah dokumentasi
atas prosedur audit yang telah dilakukan, bukti audit yang relevan yang
diperoleh dan kesimpulan yang ditarik. Dokumentasi audit harus
mencakup semua informasi yang dipandang perlu oleh auditor untuk
memenuhi pelaksanaan audit dan menjadi pendukung atas laporan audit.
b. Tujuan Dokumentasi Audit
Menurut Arens et al. (2015) menyatakan, bahwa tujuan dokumentasi
audit adalah untuk membantu auditor dalam mendapatkan kepastian yang
layak bahwa audit yang memadai telah dilaksanakan sesuai dengan
standar auditing. Secara spesifik dokumentasi audit memberikan:
1) Dasar bagi perencanaan audit.
2) Catatan bukti yang dikumpulkan dan hasil pengujian.
3) Data untuk menentukan jenis laporan audit yang tepat.
4) Suatu dasar untuk dapat direview oleh Supervisor dan Partner.
9. Standar Audit
Standar Audit mencakup pertimbangan kualitas profesional, antara lain
persyaratan kompetensi dan independensi, pelaporan dan bukti. Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) membentuk dewan standar yang ditetapkan
sebagai badan teknis senior dari IAPI untuk menerbitkan pernyataan-
pernyataan tentang standar audit. Berikut judul-judul dari isi standar audit
yang diterbitkan oleh IAPI (2021):
Prinsip-prinsip Umum dan Tanggung Jawab
Tujuan Keseluruhan Auditor Independen dan Pelaksanaan Audit
SA 200
Berdasarkan Standar Audit.
SA 210 Persetujuan atas Ketentuan Perikatan Audit.
SA 220 Pengendalian Mutu untuk Audit atas Laporan Keuangan.
SA 230 Dokumentasi Audit.
Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu
SA 240
Audit atas Laporan Keuangan.
Pertimbangan atas Peraturan Perundang-undangan dalam Audit atas
SA 250
Laporan Keuangan
Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata
SA 260
Kelola.
Pengomunikasian Defisiensi dalam Pengendalian Internal Kepada
SA 265
Pihak yang Bertanggung Jawab.
Penilaian Risiko dan Respon terhadap Risiko yang Telah Dinilai
SA 300 Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan.
Pengidentifikasian dan Penilaian Risiko Kesalahan Penyajian
SA 315
Material melalui Pemahaman atas Entitas dan Lingkungannya.
SA 320 Materialitas dalam Tahap Perencanaan dan Pelaksanaan Audit.
SA 330 Respon Auditor terhadap Risiko yang Telah Dinilai.
Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang Menggunakan
SA 402
Suatu Organisasi Jasa.
SA 450 Pengevaluasian atas Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi Selama
Audit.
Bukti Audit
SA 500 Bukti Audit.
SA 501 Bukti Audit-Pertimbangan Spesifik atas Unsur Pilihan.
SA 505 Konfirmasi Eksternal.
SA 510 Perikatan Audit Tahun Pertama-Saldo Awal.
SA 520 Prosedur Analitis.
SA 530 Sampling Audit.
Audit atas Estimasi Akuntansi, Termasuk Estimasi Akuntansi Nilai
SA 540
Wajar dan Pengungkapan yang Bersangkutan.
SA 550 Pihak Berelasi.
SA 560 Peristiwa Kemudian.
SA 570 Kelangsungan Usaha.
SA 580 Representasi Tertulis.
Penggunaan Pekerjaan Pihak Lain
SA 600 Pertimbangan Khusus-Audit atas Laporan Keuangan Grup.
SA 610 Penggunan Pekerjaan Auditor Internal.
SA 620 Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor.
Kesimpulan Audit dan Pelaporan
SA 700 Perumusan Suatu Opini dan Pelaporan atas Laporan Keuangan.
SA 705 Modifikasi terhadap Opini dalam Laporan Auditor Independen.
Paragraf Penekanan Suatu Hal dan Paragraf Hal Lain dalam Laporan
SA 710
Auditor Independen.
Informasi Konfirmasi Angka yang Berkaitan dan Laporan Keuangan
SA 720
Komparatif.
Area-area Khusus
Audit atas Laporan Keungan yang Disusun Sesuai dengan Kerangka
SA 800
Khusus.
SA 805 Audit atas Laporan Keuangan Tunggal dalam Suatu Unsur, Akun
dan Pos lain
SA 810 Perikatan untuk Melaporkan Ikhtisar Laporan Keuangan.

B. Siklus Pembelian dan Pembayaran


1. Siklus
Siklus menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah putaran waktu
yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara
tetap dan teratur.
a. Pengertian Siklus
Menurut Desy (2017) pengertian Siklus adalah sebagai berikut : Siklus
merupakan urut- urutan kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
yang terus menerus, tidak ada awal dan tidak ada akhirnya dan dalam
suatu siklus terdapat proses, dimana urut-urutan suatu pekerjaan yang
mempunyai permulaan dan mempunyai tahap akhir dalam pekerjaan
yang bersangkutan.
b. Pengertian Siklus Akuntansi
Menurut Radiansyah et., al (2023) Siklus akuntansi merupakan proses
atau rangkaian kegiatan atau tindakan akuntansi yang dilakukan secara
sistematis dalam kurun waktu tertentu mulai dari pengumpulan,
pencatatan, pengikhtisaran data transaksi hingga pembuatan laporan
keuangan.
Siklus akuntansi pada perusahaan dagang adalah proses yang dimulai
dengan pembelian barang dagang, penyimpanannya, penjualan barang
dan penerimaan uang dari penjualan barang. Oleh karena itu, selama
perusahaan beroperasi, proses pembukuan ini berlangsung terus-menerus,
sehingga prosesnya sirkular. Dengan adanya siklus akuntansi ini, dapat
membantu para pengusaha memahami status keuangan usahanya. Dua
kata yang digunakan di seluruh pengantar akuntansi dan literatur
akuntansi keuangan adalah periode akuntansi dan proses akuntansi.
c. Tahapan- Tahapan dalam Siklus Akuntansi
Menurut Hery (2014) tahapan- tahapan dalam siklus akuntansi dapat
diurutkan sebagai berikut:
1) Mula-mula dokumen pendukung transaksi dianalisis dan informasi
yang terkandung dalam dokumen tersebut dicatat dalam jurnal.
2) Lalu data akuntansi yang ada dalam jurnal diposting ke buku besar.
3) Seluruh saldo akhir yang terdapat pada masing- masing buku besar
akun “didaftar” (dipindahkan) ke neraca saldo untuk membuktikan
kecocokan antara keseluruhan nilai akun yang bersaldo normal debet
dengan keseluruhannilai akun yang bersaldo normal kredit.
4) Menganalisis data penyesuaian dan membuat ayat jurnal penyesuaian.
5) Memposting data jurnla penyesuaian ke masing- masing buku besar
akun yang terkait.
6) Dengan menggunakan pilihan (optional) bantuan neraca lajur sebagai
kertas kerja (Work sheet), neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted
trial balance) dan laporan keuangan disiapkan.
7) Membuat ayat jurnal penutup (closing entries).
8) Memposting data jurnal penutup ke masing-masing buku besar akun
yang terkait.
9) Menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post closing trial
balance).
10) Membuat ayat jurnal pembalik (reversing entries).
Untuk perusahaan yang telah memiliki system komputerisasi akuntansi
yaitu sebuah perangkat lunak (Software) yang memuat program
pemprosesan data dan pelaporan akuntansi, akan secara otomatis
memposting jurnal ke buku besar, hingga menghasilkan laporan
keuangan dan berbagai laporan lainnya yang dibutuhklan perusahaan,
dalam kondisi ini kertas kerja yang sifatnya optional tentu tidak
dipergunakan lagi.

2. Pembelian
Menurut Desy (2017) tujuan utama diselenggarakannya transaksi
pembelian yaitu untuk mengidentifikasi pembelian yang diperlukan baik
untuk bahan baku, perlengkapan dan aktiva lain, untuk memilih pemasok
yang cocok dan untuk menjamin bahwa barang yang dibeli memang
dibutuhkan.
a. Pengertian Pembelian
Menurut Dina Fitria (2014) pengertian pembelian adalah sebagai berikut:
“Pembelian adalah transaksi yang dilakukan guna menambah jumlah
persediaan dapat dilakukan secara kredit dan debit”.
b. Jenis- Jenis Pembelian
Menurut Desy (2017) menyatakan bahwa:
1) Pembelian tunai yaitu pembelian yang pada saat bersamaan langsung
dibayar dengan kas.
2) Pembelian kredit yaitu pembelian barang dagangan yang
pembayarannya dilakukan beberapa waktu kemudian sesudah tanggal
pembelian.
c. Aktivitas Pembelian
Menurut Desy (2017) Secara umum aktivitas prokuremen
/pembelian dapat diuraikan sebagai berikut: Menentukan Kebutuhan
Produk/Jasa (Permintaan Pembelian). Merupakan dokumen internal yang
dibuat untuk meminta sesuatu pada suatu bagian tertentu, dokumen
internal dapat dibuat secara otomatis oleh suatu sistem aplikasi tertentu
dan dapat pula dipersiapkan secara manual.
1) Memilih Barang dan Jasa sesuai dengan Kebutuhan.
Aktivitas ini dilakukan bagian pembelian untuk memilih jenis
sumber daya yang dibutuhkan/diminta dan menyortir apakah
permintaan tersebut dapat distujui atau tidak.

2) Memilih Pemasok.
Proses pemilihan ini dilakukan dengan pertimbangan untuk
mendapatkan barang/jasa yang berkualitas dan harga yang telah
disepakati bersama.
3) Menerbitkan Pesanan Pembelian.
Pesanan pembelian dapat dilakukan dengan cara menerbitkan
dokumen pesanan pembelian yang dikirimkan pemasok kebagian
pembelian seperti surat atau fax dan dokumen electronic data
interchange (EDI).
4) Penerimaan Barang.
Bagian penerimaan barang akan melakukan pengecekan secara fisik
jumlah barang yang dikirimkan yang dicocokkan dengan dokumen
pengirimannya.
5) Verifikasi Faktur.
Verifikasi faktur dengan dokumen penerimaan barang dan dokumen
pesanan pembeliannya dilakukan ketika perusahaan akan melakukan
pembayaran kepada pemasok.
6) Pembayaran Kepada Pemasok.
Apabila ketiga dokumen tersebut sudah cocok maka perusahaan
akan melakukan pembayaran kepada pemasok, pembayaran
dilakukan sesuai dengan jangka waktu pembayaran dan persyaratan
yang ditentukan dalam pesanan pembelian.
d. Catatan yang Digunakan dalam Transaksi Pembelian
Menurut Hery (2014) Pencatatan Pembelian yaitu : Pembelian barang
dagang dari pemasok dapat dilakukan baik secara tunai maupun kredit.
Transaksi pembelian pada umumnya baru akan dicatat ketika barang
sudah diterima dari pemasok (penjual). Pembelian tunai dicatatat dengan
menaikkan saldo akun persediaan barang dagang dan mengurangi saldo
akun kas sedangkan pembelian secara keredit akan menambah saldo
utang bagi perusahaan yang membeli.
Menurut Desy (2017) catatan akuntansi yang digunakan dalam
proses pembelian tunai, pembelian kredit dan retur pembelian yaitu :
1) Catatan akuntansi yang digunakan dalam pembelian tunai :
a) Jurnal pembelian (tunai) digunakan untuk merekam terjadinya
transaksi pembelian.
b) Jurnal pengeluaran kas digunakanuntuk merekam terjadinya
pengeluaran uang tunai yang akan mengurangi kas.
c) Jurnal umum untuk mencatat pembelian : Pembelian xxxxx
Kas xxxx
d) Kartu persedian barang
e) Kartu gudang.
2) Catatan akuntansi yang digunakan dalam pembelian kredit :
a) Jurnal pembelian (kredit) digunakan untuk merekam terjadinya
transaksi pembelian.
b) Kartu utang untuk mencatat utang perusahaan kepada
perusahaan lain.
c) Jurnal umum untuk mencatat pembelian : Pembelian xxxxx
Utang xxxx
d) Kartu persedian barang
e) Kartu gudang.
3) Catatan akuntansi yang digunakan dalam retur pembelian : Jurnal
umum untuk mencatat retur pembelian : Kas xxxx Pembelian xxxxx
(Apabila awalnya pembelian dilakukan secara tunai ) Utang Usaha
xxxx Persediaan Barang Dagang xxxx (Apabila awalnya pembelian
dilakukan secara kredit )

3. Pembayaran
Menurut Desy (2017) menyatakan bahwa tujuan utama dilakukan
aktivitas ini adalah untuk melindungi kas dengan cara memberikan jaminan
bahwa pengeluaran kas yang dilakukan adalah sah.
a. Langkah- Langkah Siklus Pembayaran
Menurut Mardi (2014:) langkah- langkah siklus pembayaran itu dibagi
menjadi dua yaitu :
1) Menyetujui Faktur Pembelian, Peran fungsi pembelian dan
penerimaan merupakan faktor kunci untuk memberikan informasi
terhadap pengakuan sejumlah utang usaha.
2) Memperbaiki Proses Utang Usaha Aktivitas pelaksanaan otomatis
transaksi dilakukan dengan verifikasi faktur yang diterima dari
pemasok dengan pesanan pembelian dan dokumen laporan
penerimaan barang.
4. Tujuan Pengendalian Intern dalam Kegiatan Pembelian dan Pengeluaran kas.
Menurut Mardi (2014) adapun tujuan Pengendalian Intern dalam kegiatan
pembelian dan pengeluaran kas yaitu :
a. Mengawasi setiap bisnis, apakah telah diotorisasi dengan benar dan
jelas.
b. Semua aktivitas bisnis adalah kejadian yang benar- benar terjadi, bukan
transaksi yang deirekayasa.
c. Semua bentuk kejadian transaksi yang valid dan telah diotorisasi harus
dicatatat secara benar.
d. Menjaga dari resiko kehilangan atau pencurian terhadap asset
perusahaan dalam bentuk kas, persediaan barang, dan data perusahaan
lainnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah proses audit yang dilakukan oleh KAP Sodikin,
Budhananda dan Wandestarindo terhadap laporan keuangan tahun 2023 yang
dihasilkan oleh PT Kusuma Abadi. Proses audit yang dianalisis adalah proses
audit terhadap siklus pembelian dan pembayaran pada PT DNA tahun 2023.
1. Profil Perusahaan
PT DNA pada awalnya didirikan di Tangerang berdasarkan akta notaris
Linda Hapsari Yuwono, S.H No.4 pada tanggal 11 September 2006. Akta
pendirian tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.W7-01939
[Link].2006 tanggal 20 oktober 2006.
Pabrik dan Kantor Perusahaan saat ini berlokasi di Kawasan Industri
Jatake, Jl. Industri 3, Blok AC No. 6B Tangerang, Banten, Indonesia. Dalam
kegiatan usahanya PT DNA bergerak dalam bidang manufacfturing/industri,
perdagangan, dan jasa. Kegiatan utama dalam bidang industry adalah
menjalankan usaha dalam bidang industri cat interior mobil termasuk
pembuatan, perdagangan, dan pengecatan interior mobil.
2. Susunan Pengurus
Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir dengan akta notaris Melina Sidarta, S.H di Jakarta Amandemen
tersebut telah diterima dan disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia melalui surat [Link]-AH.01.03-0212233
tanggal 5 juni 2023. Susunan pemegang saham untuk tahun yang berakhir
pada tanggal 31 Desember 2023 dan 2022 adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1
Daftar Pemegang Saham PT DNA
NO Pemegang Saham Jumlah Jumlah Modal %
kepemilikian Di Setor (Rp)
(Lembar)
1 VIP 2295 [Link] 51%
2 FKC 2205 [Link] 49%
Jumlah 4500 [Link] 100%
Sumber: Data Pemegang Saham PT DNA
Sedangkan untuk susunan direksi dan komisaris untuk tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2023 dan 2022 adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2
Susunan Pengurus PT DNA
2023 2022
Presiden Komisaris Tn. HK Presiden Komisaris
Komisaris [Link] Komisaris
Presiden Direktur [Link] Presiden Direktur
Direktur [Link] Direktur
Sumber: Data KAP SBW
3. Iktisar Kebijakan Akuntansi
Berikut ini adalah iktisar kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam
penyusunan laporan keuangan perussahaan, yang sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
a. Penrapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas
Berdasarkan persyaratan dan kriteria dalam Standar Akuntansi
Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), perusahaan
memenuhi kriteria sebagai perusahaan tanpa akuntabilitas publik. Oleh
karena itu, manajemen perusahaan memutuskan untuk menerapkan SAK
ETAP sebagai basis dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan
perusahaan efektif tahun buku 1 januari 2011 sampai dengan saat ini.
Apabila dibandingkan dengan persyaratan dalam standar akuntansi
keuangan (SAK) yang berlaku dan diterapkan oleh perusahaan untuk
tahun–tahun buku sebelumnya maka persyaratan dalam SAK ETAP lebih
sederhana. Perusahaan lebih memilih untuk menerapkan SAK ETAP,
dengan pertimbangan bahwa informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan berdasarkan SAK ETAP masih mampu mencerminkan substansi
ekonomi dari kegiatan operasi dan bisnis perusahaan. Pertimbangan
lainnya adalah biaya dan manfaat dalam penyusunan laporan keuangan
berdasarkan SAK ETAP lebih efisien bagi perusahaan.
Meskipun persyaratan dalam SAK ETAP lebih sederhana
dibandingkan dengan SAK yang diterapkan sebelumnya maupun
perkembangan terkini SAK tersebut, tetapi perusahaan tetap
mengedepankan penyajian wajar dan mengungkapkan secara penuh atas
informasi keuangan yang relevan dan andal bagi pemakai sebagaimana
disyaratkan oleh standar tersebut. Oleh karna itu, tujuan penyajian laporan
keuangan bagi sebagian besar pemakai tetap terpenuhi. Perusahaan
mengidentifikasikan secara jelas setiap komponen laporan keuangan
termasuk catatan atas laporan keuangan. Jika laporan keuangan merupakan
komponen dari laporan lain, maka laporan keuangan harus dibedakan dari
informasi lain dalam laporan tersebut.
Sebagai mana diatur dalam SAK ETAP bab 3 “penyajian laporan
keuangan” manajemen perusahaan membuat penilaian atas kemampuan
perusahaan meanjutkan kelangsungan usaha. Perusahaan mempunyai
kelangsungan usaha kecuali jika manajemen bermaksud melikuidasi
perusahaan tersebut atau menghentikan operasi, atau tidak mempunyai
alternatif realitas kecuali melakukan hal-hal tersebut. Dalam membuat
penilaian kelangsungan usaha, manajemen menyadari terdapat
ketidakpastian yang material terkait dengan pristiwa atau kondisi yang
mengakibatkan keraguan signifikan terhadap kemampuan perusahaan
untuk melanjutkan usaha, maka perusahaan untuk melanjutkan usaha,
maka perusahaan mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Sekalipun
demikian untuk hal-hal yang tidak diatur dalam SAK ETAP maka
kebijakan akuntansi yang akan digunakan perusahaan merujuk pada
standar akuntansi keuangan lainnya yang berlaku di Indonesia.
b. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan perusahaan terdiri atas neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan
keuangan. Laporan keuangan disusun berdasarkan basis kesinambungan
usaha dan biaya historis. Laporan keuangan juga disusun berdasarkan
akrual, kecuali laporan arus kas yang disusun berdasarkan basisi kas.
Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas
dan setara kas perusahaan, yang menunjukan secara terpisah perubahan
yang terjadi sealama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan. Laporan arus kas disusun dengan metode tidak langsung
dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan. Investasinya umumnya diklasifikasikan sebagai setara kas
hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang
sejak tanggal perolehan.
c. Mata Uang Pelaporan
Berdasarkan SAK ETAP Bab 25 tentang “Mata Uang Pelaporan” mata
uang pelaporan yang digunakan oleh perusahaan adalah mata uang rupiah.
Mata uang rupiah digunakan karena memenuhi indikator sebagai mata
uang fungsional, yaitu indikator arus kas, indikator harga jual, dan
indikator biaya, pembukuan perusahaan diselenggarakan dalam mata uang
rupiah. Sedangkan transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam
rupiah dengan kurs tunai (spot rate) pada saat terjadinya transaksi. Tanggal
transaksi adalah tanggal dimana transaksi pertama kali memenuhi syarat
pengakuan sesuai dengan SAK ETAP. Pada tanggal pelaporan, saldo aset
dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam rupiah
dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut.
B. Data Dan Metode Perolehan Data
1. Data
Data yang digunakan dalam Laporan Tugas Akhir ini adalah data
primer, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh dari tangan pertama
atau perusahaannya langsung. Data primer juga disebut data asli atau data
yang memiliki sifat up to date. Data primer yang diperoleh dapat berupa
laporan keuangan, buku besar, data rekening koran, data sampel penjualan
dan dokumen pendukung lainnya. Proses pengambilan data yang
dilakukan adalah mengikuti proses audit yang dilakukan di PT DNA
dengan melakukan magang di KAP Sodikin Budhananda Wandestarido.
Data primer yang digunakan terkait dengan siklus penjualan dan
pengumpulan piutang PT DNA misalnya data dan dokumen sejarah
perusahaan, perizinan usaha, struktur organisasi, kebijakan-kebijakan
perusahaan, catatan piutang perusahaan, serta dokumen yang digunakan
untuk mendukung proses audit siklus pembelian dan pembayaran. Tahap
terakhir yaitu melakukan pencocokan antara data-data dan dokumen yang
diperoleh dengan cara tercatat oleh perusahaan melalui proses tracing.
2. Metode Perolehan
Data Proses pengumpulan data PT DNA ini dilakukan dengan melakukan
magang di Kantor Akuntan Publik Sodikin Budhananda Wandestarido
Semarang Selama proses magang juga melakukan analisis data dan
dokumen yang terkait dengan siklus penjualan dan pengumpulan piutang
PT DNA misalnya struktur organisasi, kebijakankebijakan perusahaan,
invoice, dan catatan piutang perusahaan.
C. Metode Analisis Data
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, metode analisis data yang
digunakan adalah metode deskriptif. Menurut Sugiyono (2015) metode deskriptif
merupakan metode yang menggambarkan dan mengimplementasikan objek sesuai
dengan fakta atau apa adanya. Metode analisis deskriptif digunakan untuk
memperoleh gambaran dan data secara sistematis mengenai berbagai hal yang
berkaitan dengan pelaksanaan audit PT DNA, sehingga dapat mengolah dan
menyajikan data yang sistematis, aktual, dan serta dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1. Tahapan Analisis PT DNA
a. Mengumpulkan Informasi Umum Perusahaan
Informasi umum yang dimaksud ialah informasi yang menyangkut sejarah
perusahaan, bidang usaha perusahaan, visi, misi, dam tujuan perusahaan.
b. Analisis Struktur Organisasi
Tahap awal analisis dari analisis struktur organisasi melalui tahapan ini
diperoleh informasi mengenai struktur organisasi perusahaan dan job
description.
c. Analisis Sistem dan Prosedur serta Dokumen yang Dihasilkan
Tahap ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem dan prosedur yang
diterapkan oleh perusahaan, hal ini mencakup standar Operasional Prosedur
(SOP) dan kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan terkait siklus
pembelian dan pembayaran.
d. Identifikasi Masalah yang Dihadapi
Tahap ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi
oleh manajemen. Dengan mengetahui permaslahan yang sering dihadapi
akan dapat diketahui hal yang dibutuhkan oleh perusahaan.
2. Tahap Evaluasi atau Pembelian dan Pembayaran Pada PT. DNA
a. Tahap evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara yang dilakukan
oleh perusahaan dengan teori yang ada. Tahap evaluasi mempertimbangkan
atas kemungkinan risiko yang terjadi dan kelemahan pengendalian internal.
b. Menentukan alternatif solusi atas kelemahan dan kemungkinan terjadinya
berbagai penyimpangan.
BAB IV
ANALISIS DATA
A. Aktivitas Magang
Kegiatan magang dilaksanakan di Kantor Akuntan Publik Sodikin
Budhananda Wandesterido Semarang yang beralamat di Jl. Pamularsih Raya
No.16, Bongsari, Kec. Semarang Barat, Kota Semarang Jawa Tengah 50148.
Kegiatan Magang dilakukan mulai tanggal 05 Maret 2024 sampai dengan tanggal
05 Juni 2023. Kegiatan magang dilaksanakan sesuai dengan jadwal operasional
KAP Sodikin Budhananda Wandestarido Semarang, yaitu setiap hari Senin
sampai Jumat mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
Pelaksanaan kegiatan magang, mahasiswa magang diposisikan sebagai staf
junior auditor di dalam tim audit. Setelah itu diberi pengarahan oleh staf kantor
serta diperkenalkan dengan para staf dan auditor yang ada di KAP Sodikin
Budhananda Wandestarido Semarang. Senior auditor juga memberikan gambaran
mengenai prosedur, cara kerja, tanggung jawab, dan aturan-aturan yang berlaku.
Dalam pelaksanaan audit, mahasiswa magang tidak sepenuhnya turut andil
karena ada beberapa tahapan yang ditangani langsung oleh senior auditor dan
manajer seperti pelaksanaan pengujian audit substantif untuk menemukan
kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran
penyajian laporan keuangan. Selama melaksanakan magang, tugas yang
dilakukan antara lain melakukan vouching secara sampling ke klien, membuat
dokumentasi audit, membuat kertas kerja pemeriksaan, mengarsipkan berkas dan
bukti audit, serta mengamati senior auditor melakukan cash opname, pula
membantu dalam membuat surat konfirmasi piutang, kemudian melakukan
tracing dengan cara menelusuri dokumen sumber sampai ke buku besar secara
urut dari awal sampai akhir.
B. Manfaat Magang
Manfaat yang diperoleh dari keikutsertaan pada pelaksanaan audit di KAP
Sodikin Budhananda Wandertarido Semarang adalah dapat mempraktikkan
prosedur-prosedur audit, yaitu:
1. Mempraktikkan salah satu prosedur audit dalam memperoleh bukti audit
yaitu melakukan tracing dengan cara menelusur suatu transaksi dari dokumen
sumber ke buku besar.
2. Mempraktikkan membuat surat konfirmasi hutang dan piutang usaha kepada
pihak ketiga dan membuat daftar jawaban hutang dan piutang usaha yang
selanjutnya akan dicocokkan ke saldo akun hutang dan piutang usaha.
3. Mempraktikkan secara langsung pembuatan Kertas Kerja Pemeriksaan
(KKP), kegiatan tersebut melatih ketelitian, kemampuan Analisa serta
kecermatan.
C. Gambaran Umum KAP Sodikin Budhananda Wandestarido
1. Sejarah KAP Sodikin Budhananda Wandestarido Semarang
Kantor Akuntan Publik Sodikin Budhananda Wandestarido Semarang adalah
gabungan kerja sama antara 3 (tiga) rekan akuntan yang 55 terdiri dari 2
(dua) orang rekan Akuntan Publik dan 1 (satu) rekan non Akuntan Publik.
Kantor Akuntan Publik Sodikin Budhananda Wandestarido berdiri
pada tanggal 4 Juni 2013 di Semarang. Kantor Akuntan Publik Sodikin
Budhananda Wandestarido Semarang telah mendapatkan ijin usaha kantor
akuntan publik dari Menteri Keuangan pada tanggal 10 September 2013
dengan nomor ijin 629/KM.1/2013. KAP Sodikin Budhananda Wandestarido
Semarang sebelumnya adalah cabang KAP Ngurah Arya yang kemudian
mengundurkan diri dari persekutuan.
Saat ini KAP Sodikin Budhananda Wandestarido telah berkembang di
tiga kota yaitu:
a. Kantor Pusat berlokasi di Jl. Pamularsih Raya No.16, Bongsari, Kec.
Semarang Barat, Jawa Tengah. Kantor Pusat Semarang dipimpin oleh
Pimpinan Pusat Drs. Sodikin Manaf, MCom, CPA.
b. Kantor Cabang Denpasar-Bali berlokasi di Jl. Tukad Irawadi No. 18A,
Kel. Panjer Denpasar Bali dipimpin oleh Rekan Pimpinan Ida Ayu
Budhananda Munidewi, S.E., MSA., CA., CPA
c. Kantor Cabang Palembang terletak di Jl, Sukabangun 2, Lrg. Masjid,
Perumahan Griya Raffi Residence 2, Blok B2 RT. 102 RW. 07, Kel
Sukajaya, Kec, Sukarami, Palembang dipimpin oleh Rekan Pimpinan
Wandestarido, [Link]., Ak., CA., BKP., CPA.
2. Profil KAP Sodikin Budhananda Wandestrido Semarang
KAP Sodikin Budhananda Wandestarido Semarang dipimpin oleh Drs.
Sodikin Munaf, [Link]., CPA dan memiliki izin usaha 629/KM.1/2013
tanggal 10 September 2013. KAP Sodikin Budhananda Wandestarido
Semarang beralamat di Jl. Pamularsih Raya No.16, Bongsari, Kec. Semarang
Barat, Kota Semarang Jawa Tengah 50148. Telepon (024) 7601329. Email
[Link]@[Link].
3. Visi dan Misi KAP Sodikin Budhananda Wandestrido Semarang
a. Visi
Menjadi KAP yang memiliki integritas yang tinggi, professional dan
dipercaya oleh masyarakat dikawasan regional dan nasional.
b. Misi
1) Memberikan jasa Profesional Akuntan Publik dengan kompetensi
tinggi, integritas, objektif dan sesuai standar profersional yang berlaku.
2) Merekrut, mengembangkan dan mempertahankan Staf Profesional
yang kompeten, integrias tinggi dan komunikatif.
3) Memberikan value added bagi Klien, Sraf Profesional dan Akuntan
Publik
4. Struktur Organisasi KAP Sodikin Budhananda Wandestarido Semarang
Struktur organisasi merupakan kerangka yang menggambarkan
bagaimana tugas, tanggung jawab, dan hubungan antara berbagai bagian atau
unit dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Struktur organisasi KAP
Sodikin Budhananda Wandestrido Semarang adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2
Struktur Organisasi KAP SBW

D. Tahapan Audit
Dari kegiatan magang yang telah dilaksanakan, dapat dipahami mengenai
tahapan audit yang dilakukan pada PT DNA oleh KAP Sodikin Bhudananda
Wandestarido dimulai dari tahapan perencanaan dan perancangan suatu
pendekatan audit, pengejuian pengendalian dan pengujian substantif golongan
transaksi, penerapan prosedur analitis dan pengujian rinci atau saldo, sampai
tahapan penyelesaian audit dan penerbitan laporan audit sebagai berikut.
1. Tahapan dalam proses ini terdapat delapan tahapan proses perencanaan yang
dilakukan oleh KAP SBW. Delapan tersebut antara lain:
a. Penerimaan Klien dan Pembuatan Rencana Audit Awal
Dalam tahapan penerimaan perikatan dan pembuatan rencana audit
awal penulis tidak ikut serta karena pada tahap ini sudah dilakukan oleh
auditor senior dan timnya. dalam tahapan tersebut biasanya merupakan
tanggung jawab auditor senior dan timnya karena mereka memiliki
pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai
kompleksitas serta kebutuhan spesifik dari audit tersebut. Auditor senior
biasanya bertanggung jawab untuk menetapkan tujuan audit,
mengidentifikasi risiko yang relevan, dan merencanakan prosedur audit
yang sesuai.
b. Memperoleh Pemahaman Tentang Bisnis dan Bidang Usaha Klien
Auditor melakukan review data bisnis klien, bertujuan memperoleh
informasi mengenai bisnis dan bidang usaha klien, PT DNA merupakan
klien lama KAP SBW sehingga auditor cukup menelaah kertas kerja tahun
sebelumnya untuk mengidenfikasi masalah-masalah audit ada pada tahun
selanjutnya. Berdasarkan Keterkaitan antar Tahun, Efisiensi Waktu,
Idenfikasi masalah berulang atau yang belum terselesaikan, dan Penerapan
pengalaman sebelumnya. Secara keseluruhan, menelaah kertas kerja tahun
sebelumnya memungkinkan auditor untuk menghemat waktu dan fokus
pada masalah yang relevan, sekaligus memastikan bahwa audit berikutnya
dapat berjalan lebih efektif dengan pemahaman yang lebih mendalam
tentang kondisi klien.
c. Menilai Resiko Bisnis Klien
Auditor melakukan riview tentang bisnis dan bidang usaha klien untuk
menilai risiko bisnis, yaitu risiko kegagalan klien dalam mencapai tujuan,
dengan cara auditor melakukan wawancara kepada para petinggi
Perusahaan. seperti direksi dan manajer kunci, guna memahami visi,
strategi, dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan. Selain itu, auditor
juga menggali informasi terkait dengan faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan, seperti kondisi pasar, persaingan,
perubahan regulasi, dan tren industri. Dengan wawancara ini, auditor
dapat mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin timbul dan
mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan, serta mengevaluasi apakah
perusahaan telah mengambil langkah-langkah mitigasi yang memadai
untuk mengelola risiko tersebut.
d. Melakukan Prosedur analitis Pendahuluan
Pada prosedur analitis dilakukan dengan menghitung rasio–rasio, dan
membandingkan apakah terdapat perubahan yang signifikan antara akun-
akun saldo laporan keuangan tahun lalu, dalam tahapan ini auditor
membandingkan laporan keuangan sebelumnya dan tahun berjalan untuk
mengetahui kenaikan dan penurunan yang signifikan.
e. Menetapkan Materialitas dan Menilai Risiko Audit yang dapat Diterima
dan Risiko Bawaan
Materialitas adalah besarnya kelalaian atau pernyataan yang salah
pada informasi akuntansi yang menimbulkan kesalahan dalam
pengambilan keputusan. Perusahaan memiliki kondisi keuangan yang
stabil pada tahun ini, oleh karena itu materialitas yang digunakan rentang
5%-10% dari laba bersih sebelum pajak.
Berdasarkan analisa auditor tingkat materialitas awal yang sesuai
dengan komdisi perusahaan adalah sebesar 5% dari total laba bersih
sebelum pajak. Dengan total laba berasih sebelum pajak yang dijadikan
acuan untuk perusahaan ini. Berikut tabel 4.1 penentuan materialitas,

Faktur Nilai (Rp) Presentas Perhitunga


e n
(%) (Rp)
Total laba bersih sebelum [Link] 5% 734.461.28
pajak 84 4

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat materialitas


yang diterapkan yaitu sebesar Rp 734.461.284. Hal tersebut
menandakan bahwa jika ada informasi yang melampaui dari batas
materialitas, maka bisa mempengaruhi pendapat auditor.
f. Memahami Pengendalian Internal dan Menilai Risiko Pengendalian
Pengendalian internal meliputi struktur organisasi, semua metode dan
ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi dianut oleh perusahaan untuk
melindungi harta dan kekayaan, memeriksa ketelitian dan seberapa jauh
data akuntansi dapat dipercaya meningkatkan efesiensi usaha dan
mendukung ditaatinya kebijakan perusahaan yang telah diterapkan.
Dalam hal ini auditor mengajukan pertanyaan kepada klien, memeriksa
dokumen catatan beserta laporan, dan observasi mengenai aktivitas yang
terkait dengan pengendalian. Hasil dari pengendalian internal yang
dilakukan oleh auditor melalui pertanyaan kepada klien, pemeriksaan
dokumen, catatan beserta laporan, dan observasi mengenai aktivitas yang
terkait dengan pengendalian adalah penilaian terhadap efektivitas dan
efisiensi pengendalian internal perusahaan.
g. Mengumpulkan Informasi untuk Menilai Risiko Kecurangan
Tahapan ini dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung
kepada manajemen tentang risiko kecurangan yang mungkin dihadapi
oleh perusahaan. Misalnya auditor bertanya apakah manajemen tahu
atau menaruh kecurigaan atas terjadinya suatu kecurangan di perusahaan.
Bisa juga dilakukan dengan berkomunikasi dengan tim audit, karena
risiko kecurangan bisa saja tidak diketahui oleh segelintir anggota ditim
audit. Dengan berkomunikasi secara menyeluruh dan melakukan diskusi
dengan seluruh tim audit maka risiko kecurangan dapat lebih mudah
untuk diukur, dipahami, dan diidentifikasi. Selain itu, diskusi ini
membantu auditor untuk memperoleh berbagai perspektif yang lebih
lengkap mengenai potensi risiko, serta memverifikasi apakah ada tanda-
tanda atau pola yang mencurigakan yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Proses ini juga memungkinkan auditor untuk memastikan bahwa
langkah-langkah pencegahan yang memadai sudah diterapkan oleh
perusahaan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan, serta
mengevaluasi efektivitas pengendalian internal dalam mendeteksi dan
mencegah tindakan curang.

h. Menyusun Strategi Audit Keseluruhan dan Program Audit


Setelah ke tujuh tahapan sebelumnya sudah dilaksanakan
pengindentifikasian dan peniliaian risiko kesalahan penyajian material
pada tingkat laporan keuangan dan asersi. Dalam melaksanakan audit
atas siklus pembelian dan pembayaran PT DNA, auditor menggunakan
lima pengujian yaitu pengujian pengendalian, pengujian substantif
golongan transaksi, pengujian analitis, pengujian substantif rinci saldo,
serta penyajian dan pengungkapkan. Dalam masing-masing pengujian
yang dilakukan auditor terdapat tujuan audit yang harus terpenuhi.
Tujuan audit golongan transaksi yang ditetapkan oleh KAP SBW
terkait pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembeyaran dapat dilihat
pada tabel 4.2 untuknpembelian dan tabel 4.3 untuk pengeluaran kas
berikut ini.
Tabel 4.2
Tujuan audit golongan transaksi siklus pembelian dan pembayaran-
pembelian
Tujuan Audit Asersi
1 2 3 4 5
Semua pembelian dicatat dengan lengkap dan benar X
Pembelian yang dicatat merupakan kewajiban X
perusahaan
Pembelian benar-benar terjadi dan tercatat telah X
terbukukan secara akurat
Pembelian telah disajikan dan diungkapkan dengan X
benar dalam laporan keuangan
Pencatatan pembelian telah dinilai, digolongkan, X
dan dicatat pada tanggal yang benar
Keterangan:
(1=Eksistensi, 2= hak dan kewajiban, 3=kelengkapan, 4=penilaian
dan alokasi, 5=penyajian dan pengungkapan)
Sumber: Data KAP SBW yang di olah

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui tujuan audit golongan transaksi


pembelian terdiri dari lima tujuan yang masing-masing tujuan tersebut
memenuhi asersi eksistensi, hak dan kewajiban, kelengkapan, penilaian
dan alokasi, serta penyajian dan pengungkapan. Sehingga auditor dapat
menentukan program audit untuk pembelian.

Tabel 4.3
Tujuan audit golongan transaksi siklus pembelian dan pembayaran-Pembayaran
Tujuan Audit Asersi
1 2 3 4 5
Pengeluaran kas yang dibukukan adalah barang dan X
jasa yang telah diterima
Transaksi pengeluaran kas telah dibukukan dengan X
tepat pada priode yang bersangkutan
Transaksi pengeluaran kas yang telah dibukukan X
Pengeluaran kas telah disajikan dan diungkapkan X
dengan benar dalam laporan keuangan
Pencatatan pengeluaran kas telah dinilai, digolongkan, X
dan dicatat pada tanggal yang benar
Keterangan:
(1=Eksistensi, 2= hak dan kewajiban, 3=kelengkapan, 4=penilaian dan alokasi,
5=penyajian dan pengungkapan)
Sumber: Data KAP SBW yang di olah

Berdasarkan table 4.3 diketahui tujuan audit golongan transaksi pengeluaran


juga terdiri dari lima tujuan yang masing-masing tujuan tersebut memenuhi
setiap asersi eksistensi, hak dan kewajiban, kelengkapan, penilaian dan alokasi,
serta penyajian dan pengungkapan. Sehingga auditor dapat menentukan
program audit untuk pengeluaran kas.

Berikut ini tujuan audit saldo yang digunakan dalam pengujian substantif rinci
saldo akun utang usaha tersaji dalam tabel 4.4 berikut

Tabel 4.4
Tujuan Audit Atas Saldo Akun Utang Usaha
Tujuan Audit Asersi
1 2 3 4 5 6
Memperoleh keyakinan tentang kecocokan saldo X
utang usaha dengan yang dicantumkan di laporan
keuangan
Membuktikan keberadaan utang usaha X
keterjadian transaksi yang berkaitan dengan
utang usaha yang dicantumkan di laporan
keuangan
Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat X
dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo
utang usaha yang dicantumkan di laporan posisi
keuangan
Membuktikan hak kepemilikan klien atas utang X
usaha yang dicantumkan di laporan keuangan
Membuktikan kewajaran penilaian utang usaha X
yang dicantumkan di laporan posisi keuangan
Membuktikan kewajaran penyajian dan X
pengungkapan utang usaha di laporan posisi
keuangan

Keterangan: (1=Eksistensi, 2=Hak dan Kewajiban, 3=Kelengkapan, 4=Penilaian dan


Alokasi, 5=Penyajian dan Pengungkapan, 6=Kecocokan Saldo)

Sumber: Data KAP SBW

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa utang usaha terdiri dari 6 tujuan audit
yang masing-masing dari tujuan audit tersebut memenuhi asersi yang telah ditentukan
antara lain eksistensi, hak dan kewajiban, kelengkapan, penilaian dan alokasi,
penyajian dan pengungkapan, serta kecocokan saldo, Sehingga dengan ini auditor
dapat menentukan program audit untuk utang usaha.

Tujuan audit yang terakhir yaitu tujuan audit untuk penyajian dan
pengungkapan yang ditentukan oleh KAP SBW yang harus terpenuhi dalam
penyajian dan pengungkapan pada siklus pembelian dan pembayaran PT DNA.
Berikut tujusan audit untuk penyajian dan pengungkapan disajikan pada tabel 4.5.

Tabel 4.5

Tujuan Audit Penyajian dan Pengungkapan

Tujuan Audit Asersi


1 2 3 4
Ungkapan peristiwa dan transaksi yang telah terjadi dan X
berkaitan dengan entitas
Semua pengungkapan yang seharusnya dimasukkan ke X
dalam laporan keuangan telah dimasukan
Informasi keuangan telah digolongkan dengan tepat dan X
pengungkapannya dinyatakan dengan jelas
Informasi keuangan dan informasi lainnya telah diungkapan X
secara wajar dan pada jumlah yang tepat
Keterangan:
(1=Eksistensi Hak dan Kewajiban, 2=Kelengkapan, 3=Penilaian dan Alokasi,
4=Penyajian dana Pengungkapan)
Sumber: Data KAP SBW
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penyajian dan pengungkapan
memiliki 4 tujuan yang masing-masing memenuhi asersi eksistensi hak dan
kewajiban, kelengkapan, penilaian dan alokasi, serta penyajian dan pengungkapan.
Maka dari itu auditor dapat menentukan program untuk penyajian dan pengungkapan.

Lima pengujian tersebut dilakukan oleh auditor dengan membuat program


audit yang berisi prosedur-prosedur audit yang akan memenuhi tujuan-tujuan audit
diatas. Berikut program audit siklus pembelian dan pembayaran disajikan dalam tabel
4.6

Tabel 4.6
Program Audit Siklus Pembelian dan Pembayaran
Jenis Prosedur Indeks Tanggal Ket
Pengujian KKP Realisasi
Pengujian Pembelian
Pengendalian 1. Memastikan adanya
pemisahan fungsi yang
melakukan otoritas
pembelian, pencatatan
pembelian, pembayaran
dan pengelolaan
persediaan.
2. Riview kebijakan
pembelian. Pastikan adanya
kebijakan pembelian
(tertulis), tender, benturan
kepentingan, otorisasi
pembelian dll.
3. Melalui observasi, lakukan
inspeksi dan tanya jawab,
pastikan adanya
pengendalian terhadap
akses ke data yang
berhubungan dengan
pembelian (data pemasok,
harga, order pembelian,
utang usaha, persediaan
dll).
4. Melalui observasi, inspeksi
dan tanya jawab, pastikan
adanya sistem penomoran
atas dokumen pembelian
seperti order pembelian,
penerimaan barang,
pembayaran dll.
5. Melalui observasi, inspeksi
dan tanya jawab, pastikan
barang hanya bisa dipesan
apabila ada order
pemesanan yang telah
diotorisasi.
6. Melalui observasi, inspeksi
dan tanya jawab, pastikan
transaksi pembelian
(persediaan, utang usaha)
dibukukan dalam sistem
tepat waktu.

Pengeluaran Kas
1. Periksa ada tidaknya
persetujuan pembayaran.
2. Periksa keberuntungan
pengguna bukti
pengeluaran bank.
3. Periksa ada tidaknya
verifikasi internal.
4. Periksa paraf pada akun-
akun besar sebagai tanda
telah dibandingkan.
Pengujian Pembelian
Substantif 1. Melakukan vouching untuk
Golongan memastikan bahwa
Transaksi transaksi benar-benar telah
terjadi dan kebenaran atau
jumlah dari transaksi
pembelian.
2. Pastikan bukti pendukung
transaksi pembelian
lengkap dan sesuai dengan
transaksi pembelian yang
dicatat.
Pengeluaran Kas
1. Periksalah bukti
pengeluaran bank,
penandatangannya, atau
gunakan data bank bahwa
utang telah dibayar bank.
2. Tes ketelitian dengan
memeriksa penjumlahan
vertical (footing) jurnal dan
telusuri psting ke buku
besar.
3. Bandingkan tanggal pada
check atau catatan
elektronik bank dengan
jurnal pengeluaran kas.
Prosedur 1. Lakukan perbandingan
Analisis rasio utang usaha dengan
total uang
2. Dapatkan penjelasan dari
pihak yang berwenang atas
perbandingan yang
signifikan.
Pengujian 1. Dapatkan daftar utang
Substantif usaha dan bandingkan
Rinci Saldo saldonya dengan buku
besar.
2. Konfirmasi semua utang
usaha ke pemasok yang
material (termasuk ke
pihak yang terkait).
Konfirmasi juga harus
dikirim atas utang usaha
yang sekarang saldonya
nihil, negative, atau tidak
ada mutase.
3. Perikssa pembayaran,
faktur-faktur yang belum
diproses ssesudah tanggal
neraca. Apabila
berhubungan dengan
barang/jasa yang diterima
di tahun buku dan
dipastikan utang usaha
sudah diakui dan dicatat.
Penyajian dan 1. Riview kebijakan penyajian
Pengungkapan dan pengekuan utang usaha
2. Periksa apakah kebijakan
penyajian dan
pengungkapan utang usaha
telah dilakukan dengan
tepat oleh Perusahaan.
3. Periksa penyajian utang
usage dalam laporan
keuangan apakah
jumlahnya sudah sesuai
dengan buku besar.
Sumber: Data KAP SBW yang diolah

2. Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengejuian Substantif transaksi

Tahapan pelaksanaan ini merupakan realisasi dari program audit atau skedul
yang telah dibuat oleh auditor dalam tahapan perencanaan. Tujuan audit atas
siklus pembelian dan pembayaran adalah untuk menilai apakah akun-akun yang
dipengaruhi oleh pembelian barang dan jasa serta pengeluaran kas untuk
pembelian tersebut telah disajikan secara wajar menurut Standar Akuntansi
Keuangan Entinitas tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Pelaksanaan audit
siklus pembelian dan pembayaran mempengaruhi beberapa akun, diantaranya
akun persediaan, peralatan, beban dibayar dimuka, potongan pembelian, dan lain-
lain. Maka dari itu, Langkah pertama yang dilakukanoleh auditor yaitu meminta
laporan keuangan PT DNA per 31 Desember 2023.

Berikut disajikan neraca dan laporan laba rugi pada tabel 4.7 dan tabel 4.8
Neraca dan laporan laba rugi PT DNA disajikan dalam satuan mata uang rupiah
yang digunakan oleh Perusahaan dalam pelaporan karena memenuhi indikator
sebagai mata uang fungsional, yaitu indikator arus kas, indikator harga jual, dan
indikator biaya.
Tabel 4.7
Neraca PT DNA
PT DNA
NERACA
Per 31 Desember 2023
(Dalam Rupiah)
Notes 2023 2022
ASET
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 2e,2i,3 [Link] [Link]
2
Piutang Usaha 2d,4 [Link] [Link]
Persediaan 2e,5 [Link] [Link]
7
Uang Muka Pembelian 2f,6 808.445.308 [Link]
Aset Lain-Lain 7 30.646.000
Jumlah Aset Lancar [Link] [Link]
3
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap 2g,8 [Link] [Link]
Jumlah Aset Tidak Lancar [Link] [Link]
JUMLAH ASET [Link] [Link]
6
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Janka Pendek
Utang Usaha 9a [Link] [Link]
Utang Lain-Lain 9b 12.485.840 3.792.952
Utang Pajak 10 532.411.053 841.378.556
Biaya Yang Masih Harus 11 167.314.047 377.488.618
Dibayar
Jumlah Liabilitas Jangka [Link] [Link]
Pendek 4
Liabilitas Jangka Panjang
Tunjangan Karyawan 12 [Link] 983.376.645
Jumlah Liabilitas Jangka [Link] 983.376.645
Panjang
Ekuitas
Modal Saham 13 [Link] [Link]
Laba Ditahan 14 [Link] [Link]
7
Jumlah Ekuitas [Link] [Link]
7
JUMLAH LIABILITAS DAN [Link] [Link]
EKUITAS 6
Sumber: Data KAP SBW

Pada tabel 4.7 yang menunjukkan laporan neraca usaha sebesar Rp


[Link] yang meningkatkan sebesar 19,99% dari tahun sebelumnya
sebesar Rp [Link], jumlah tersebut merupakan jumlah yang material
jika dibandingkan dengan kewajiban lain yang dimiliki PT DNA.
Tabel 4.8
Laporan Laba Rugi PT DNA
PT DNA
LAPORAN LABA RUGI
Per 31 Desember 2023
(Dalam Rupiah)
Notes 2023 2022
PENDAPATAN USAHA [Link] [Link]
BEBAN POKOK ([Link]) ([Link])
PENJUALAN
LABA KOTOR 2e,2i,3 [Link] [Link]
Beban Operasional 2d,4 ([Link]) ([Link])
LABA USAHA 2e,5 [Link] [Link]
Pendapatan dan (Beban) 2f,6 796.940.374 326.255.045
Lain-Lain
LABA SEBELUM PAJAK 7 [Link] [Link]
Penyisihan Pajak ([Link]) ([Link])
LABA SETELAH PAJAK [Link] [Link]
Sumber: Data KAP SBW
Pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembayaran pada tahap ini
menggunakan 2 pengujian yaitu pengujian pengendalian dan pengujian
substantif golongan transaksi.

a. Pengujian Pengendalian
Dalam melakukan pengujian pengendalian, terdapat dua macam
pengujian yang akan dilakukan oleh auditor yaitu pengujian
pengendalian untuk pembelian dan pengeluaran kas.
1) Pengujian Pengendalian untuk Pembelian
Berdasarkan program audit pada tabel 4.8 auditor menentukan
prosedur audit untuk menguji pengendalian untuk pembelian
sebagai berikut:
a) Auditor memastikan adanya pemisahan fungsi atas otorisasi
pembelian, pencatatan pembelian, pembayaran dan
pengelolaan persediaan dengan melalukan wawancara dan
juga mengajukan Internal Control Question (ICQ) kepada
manajer PT DNA mengenai pengendalian yang dilakukan
sehubungan dengan pemisahan fungsi atas otorisasi transaksi
pembelian. Berikut ICQ disajikan dalam tabel 4.9 beriku.
Pada tabel ICQ tersebut menunjukkan bahwa terdapat
pemisahan tugas antara pencatatan pembelian, pembayaran
dan pengelola persediaan. Selain itu dalam pengendalian PT
DNA terdapat otorisasi pejabat tertentu dalam transaksi
pembelian. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa
pengendalian internal mengenai pembelian telah dilakukan
dengan baik.

Tabel 4.9
Internal Control Question
Klien: PT DNA Y=Ya
T=Tidak
TR= Tidak
Relevan
i. ORDER PEMBELIAN Y T TR
1. Apakah pembelian dilakukan:
1.1 Oleh pejabat/bagian khusus?
Sebutkan oleh siapa
Bagian Pembelian
1.2 Yang terpisah dari bagian:
a. Akuntansi?
b. Pembayaran?
c. Penerimaan Barang?
d. Penyimpanan?
e. Pencatatan Persediaan?
1.3 Dengan syarat yang menguntungkan (misalnya
tender, supplier terseleksi)
2. Apakah order pembelian (purchase order):
2.1 Dibuat untuk semua pembelian?
2.2 Diotorisasi pejabat tertentu?
2.3 Diberikan nomor urut tercetak?
2.4 Tersimpan lengkap, termasuk yang dibatalkan?
2.5 Blanko tersimpan dengan baik?
2.6 Tembusan dikirimkan kepada:
a. Bagian akuntansi untuk dicocokkan dengan
laporan penerimaan Barang dan Faktur?
b. Bagian Penerimaan Barang sebagai otorisasi
untuk menerima barang?
3. Apakah pembelian dikoordinasi dengan:
3.1 Program Produksi?
3.2 Anggaran Penjualan?
3.3 Batas persediaan minuman dan maksimun?
4. Apakah kebikjasaan pembelian tidak dilakukan
dengan memberikan keuntungan luar biasa kepada:
4.1 Penjual tertentu?
4.2 Relasi staf pembelian atau lainnya?
4.3 Suatu Perusahaan dimana seorang staf
mempunyai kepentingan?
4.4 Perusahaan afiliasi?
5. Apakah harga penawaran penjual yang terdaftar
(approved ditinjau secara berkala, untuk memastikan
bahwa selalu merupakan harga pesaing
Sumber: Dokumentasi Audit

a) Riview kebijakan pembelian yang ada di PT DNA apakah ada kebijakan


secara tertulis atau tidak ada transaksi pembelian. Pada hal tersebut
kebijakan pembelian yang dilakukan PT DNA adalah dengan
menggunakan metode fisik dengan mencatat pembelian pada akun
pembelian.
b) Auditor memastikan apakah terdapat akses data yang berhubungan dengan
pembelian seperti data pemasok, utang usaha, dan persediaan.
c) Melakukan pemeriksaan terhadap penomoran dokumen pembelian,
prosedur ini dilakukan dengan cara vouching ke PT DNA dengan
menggunakan sampel transaksi. Auditor mengambil sampel dan melihat
penomoran yang ada didokumen pembelian dan di-vouching ke jurnal
untuk mencocokkannya serta hasilnya sama terdapat penomoran dan
sesuai dengan yang dicatat Perusahaan.
d) Auditor memeriksa apakah ada otorisasi terhadap dokumen pembelian dan
memeriksa apakah pencatatan sudah di bukukan tepat waktu sesusai
dengan keterjadiannya. Auditor mengambil salah satu sampel dan melihat
ada otorisasi yang dilakukan oleh Perusahaan dan mencocokkan tanggal
pembelian dan tanggal yang ada di jurnal atau pencatatan dan hasilnya
sama.
2) Pengujian Pengendalian untuk Pengeluaran Kas

Program audit yang disajikan pada tabel 4.8 auditor melakukan pengujian
pengendalian atas pengeluaran kas sebagai berikut.

a) Auditor melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang ada


tentang pengeluaran kas seperti bukti pengeluaran kas untuk
mengetahui persetujuan pembayaran atas transaksi pengeluaran kas.
Dalam tahap ini auditor melakukan vouching atas bukti pengeluaran
kas. Ada kurang lebih sekitar 16.000 transaksi pengeluaran kas
selama tahun 2023, namun supaya lebih efesien, berikut hanya akan
disajikan sebanyak 25 transaksi yang diambil secara random pada
tabel 4.10
Tabel 4.10
Daftar Pengeluaran Kas PT DNA Tahun 2023
Tanggal No Invois Supplier Jenis Barang Amount
(Rp)
04/01/2023 0000071/R61/2023 NIEI, FPX-400R- 29.112.500
PT Balck
06/01/2023 0000083/R61/2023 NIEI, FPX-400R- 29.567.118
PT Black
06/01/2023 0000010/R61/2023 NIEI, Solvent 7.200.000
PT Alkohol
21/01/2023 0000020/R42/2023 MAP, Thinner 17.662.151
PT 317RM6
21/01/2023 0000021/R42/2023 MAP, Thinner 17.662.151
PT 317RM6
19/02/202 0000108/R80/2023 MAP, Thinner NH- 17.112.129
3 PT 446
26/02/2023 0000180/R61/2023 NIEL, FPX-400R- 25.252.619
PT Black
01/03/2023 0000120/R25/2023 CLPI, Cellosove 5.302.000
PT Acetate
26/03/2023 0000151/R61/2023 NIEl, PT Solvent 7.200.000
Alkohol
04/04/2023 0000163/R61/2023 NIEL, FPX-4930P- 25.111.127
PT Blue
16/04/2023 0000114/R57/2023 NIEL, FPX-CR95- 27.820.000
PT White
20/04/2023 0000099/R65/2023 CMK, Polyurethane 9.180.000
PT 5717
15/05/2023 0000120/R42/2023 MAP, Thinner 18.962.221
PT 317RM6
15/05/2023 0000123/R42/2023 MAP, Thinner 17.602.387
PT 317RM6
20/06/2023 0000323/R91/2023 ICK, PT Methyl 2.165.000
ProxitolPM
27/07/2023 0000680/R61/20223 NIEL, FPX-CR95- 28.112.990
PT White
11/08/2023 0000781/R61/2023 NIEL, Solvent 7.300.000
PT Alkohol
02/09/2023 0000441/R91/2023 ICK, PT Basonol 7.650.000
HPE1170
30/09/2023 0000200/R55/2023 CMK, 4801FM 19.127.345
PT Blue 3N
10/10/2023 0001092/R61/2023 NIEL, Solvent 7.200.000
PT Alkohol
21/10/2023 0000221/R55/2023 CMK, 4801FM MB 29.920.000
PT Clear
13/11/2023 0000321/R55/2023 CMK, Irodin 205 980.000
PT WNT
29/11/2023 0000340/R55/2023 CMK, Tinta Bulk 1.200.000
PT Cyan
05/12/2023 0001123/R61/2023 NIEL, FPX-400- 29.454.225
PT Black
22/12/2023 0001192/R61/2023 NIEL, Solvent 7.500.000
PT Alkohol
Sumber : Dokumentasi Audit

b) Melakukan observasi tentang transaksi pengeluaran kas untuk


mengetahui ada tidaknya verifikasi internal yang dilakukan oleh
Perusahaan. Berikut salah satu contoh pengeluaran kas pada gambar 4.2.
BUKTI BANK KELUAR

BANK : NO. BBK : 5076


ACCOUNT : TANGGAL : 15-5-2023

NO KETERANGAN BANK [Link]/CEK DEBIT CREDIT

INV/0000151/R61/2023 7.200.000
Date : 26-3-108
Solvent Alkohol
800 liter @9.000

Penerima Finance Accounting Direksi

Sumber: Dokumentasi Audit


Gambar 4.2
Bukti Pengeluaran Kas
c) Melakukan vouching untuk mengetahui ada tidaknya otorisasi pada buku besar
sebagai bukti telah dibandingkan dengan bukti transaksi jurnal pengeluaran kas.

Berdasarkan prosedur audit pengujian pengendalian transaksi pembelian dan


pengeluaran kas yang dilakukan auditor, terbukti bahwa pengujian pengendalian
atas transaksi pembelian dan pengeluaran kas sudah efektif. Sehingga dapat
ditarik hasil jika pengujian pengendalian sudah berjalan efektif, maka auditor
cukup mengumpulkan bukti-bukti yang lebih sedikit.

b. Pengujian Substantif Golongan Transaksi

Pengujian substantif golongan transaksi atas pembelian dan pembayaran ini


dibagi menjadi dua macam yaitu:

1) Pengujian Substantif Golongan Transaksi untuk Pembelian

Prosedur pengujian ini audit melakukannya sesusai progam audit yang


disajikan dalam tabel 4.6 sebagai berikut.

a) Audtitor melakukan vouching terhadap pembelian Vouching dilakukan


bersamaan antara pengujian pengendalian dan pengujian substantif
golongan transaksi sehingga dokumen dijadikan satu dokumentasi audit.
Auditor dalam melakukan Vouching biasanya menggunakan sampel
sekitar 60%-80% dari total transaksi, namun karena dalam pengujian
pengendalian PT DNA sudah memiliki pengendalian yang efektif maka
sampel yang digunakan auditor biaya sebanyak 60% dari total transaksi
yang berjumlah kurang lebih 16.000 transaksi, karena alasan efiseinsi
maka hanya sekitar 15 transaksi saja yang disajikan pada tabel 4.11.
Tabel 4.11

Vouching untuk Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Golongan


Transaksi Pembelian

No Tanggal No. Bukti Keterangan Nominal (Rp)


Catatan Transaksi
1 04/01/2023 0000071/ FPX-400R- 29.112.500 29.112.500
R61/2023 Black
2 06/01/2023 0000083/ FPX-400R- 29.567.118 29.567.118
R61/2023 Balck
3 26/02/2023 0000192/ Solvent Alkohol 7.200.000 7.200.000
R61/2023
4 26/02/2023 0000180/ FPX-400-Balck 25.252.619 25.252.619
R61/2023
5 20/04/2023 0000099/ Polyurethane 9.180.000 9.180.000
R65/2023 5717
6 15/05/2023 0000120/ Thinner 18.962.221 18.962.221
R42/2023 317RM6
7 15/05/2023 0000123/ Thinner 17.602.387 17.602.387
R42/2023 317RM6
8 18/06/2023 0000480/ FPX-1020D- 27.660.125 27.660.125
R61/2023 Brown
9 09/07/2023 0000220/ Thinner 18.562.951 18.562.951
R42/2023 317RM6
10 27/07/2023 0000680/ FPX-CR95- 28.112.990 28.112.990
R61/2023 White
11 22/08/2023 0000304/ Thinner 16.998.112 16.998.112
R42/2023 317RM6
12 30/09/2023 0000200/ 4801FM Blue 19.127.345 19.127.345
R55/2023 3N
13 04/10/2023 0000444/ Thinner 17.123.221 7.123.221
R42/2023 317RM6
14 20/10/2023 0000226/ Disparlon PFA- 9.678.789 9.678.789
R80/2023 220
15 07/11/2023 0000999/ FPX-CR95- 29.442.187 29.442.187
R61/2023 White
Sumber: Dokumentasi Audit

Berdasarkan tabel dokumentasi audit diatas atau terdapat beberapa unsur yang
menjadi indikator saat pengujian berlangsung diantaranya:

i. Tanggal transaksi pada tabel 4.11 digunakan untuk membandingkan dengan


tanggal pada faktur pembelian. Pada tabel diatas tanggal transaksi pada faktur
pembelian sudah sesuai dan berlaku untuk semua faktur yang disampel.
ii. Pada Vouching yang dilakukan oleh auditor, transaksi pembelian terdiri dari
beragam pembelian yang dilakukan oleh Perusahaan.
iii. Nomor bukti digunakan untuk memastikan bahwa transaksi pembelian benar-
benar terjadi dan dicatat oleh Perusahaan sehingga pencatatan nomor bukti ini
sudah memenuhi tujuan audit eksistensi serta penilaian dan alokasi, berlaku
untuk semua invois yang disampel.
iv. Kolom nominal pada tabel diatas digunakan untuk mengetahui perbandingan
antara jumlah pembelian yang dilakukan oleh Perusahaan di master file
dengan yang ada pada invois. Pada jumlah yang ada di tabel 4.9 sudah sesuai
antara jumlah pada invois dan jumlah pada pencatatan, hal ini menunjukkan
bahwa tujuan audit penyajian dan pengungkapan sudah terpenuhi.
b) Auditor memastikan jumlah pembelian pada bukti pendukung telah sesuai dengan
yang dicatat oleh Perusahaan dengan mencocokkan bukti pendukung dengan sampel
dalam Vouching. Berikut bukti pendukung disajikan pada gambar 4.3, 4.4 dan 4.5.
No. Dokum :218000256
PT DNA PURCHASE ORDER Tgl Terbit :08.03.2023
Tgl kirim :28.03.2023
Halaman 1 dari 1

No P.O : 218000256 To :[Link]

P.O Date :08.03.2023

Terms :14 Hari

No Nama Barang Qty UoM Harga Unit Jumlah


1 Alkohol 96% 800 LTR IDR 9.000 IDR 7.200.000

Ket Alcohol 96% Sub Total IDR 7.200.000

200 ltr, 4 drm Disc

Tax

Freight

Total IDR 7.200.000

Approved By Hormat Kami Menyetujui Penjual

Sumber: Dokumentasi Audit


Gambar 4.3

Purchase Order

Berdasarkan gambar purchase order diatas pembelian dengan total rp 7.200.000


telah sesuai dengan jumlah pembelian pada gambar 4.4 dan bukti pengeluaran bank
pada gambar 4.2, berdasarkan data tersebut pembelian memiliki dokumen
pendukung, sehingga terbukti bahwa pengujian yang dilakukan sudah memenuhi
tujuan audit yang ada

PT DNA
KONTRAK BON
Terima Tagihan dari : PT NIEI
Invoice/ Faktur No. : 0000151/R61/2023
Tanggal Invoice : 26.03.2023
Jumlah : Rp. 7.200.000
(Tujuh juta dua ratsu ribu rupiah)
Atas Pembelian : Solvent Alcohol 800 Liter

……………, 06.04.2023
Yang menerima,
Yang Menyerahkan,

( )
( )

Sumber: Dokumentasi Audit


Gambar 4.4
Kontra Bon
LPB No :086
Tanggal :26.03.2023
PT DNA No. PO :218000256
No. SJ :0000151/R61/2023
Supplier :PT NIEI

LAPORAN PENERIMAAN BARANG

No Kode Nama Barang Satuan Jumlah Keterangan

Solvent Alkohol 96% drum 4 @200 liter

Diterima Yang menyerahkan Disetujui

( ) ( ) ( )

Sumber: Dokumentasi Audit


Gambar 4.5
Bukti penerimaan Barang
Berdasarkan hasil penelusuran bukti transaksi, terbukti bahwa bukti
pendukung udah sudah disajikan secara lengkap. Maka dari itu, terbukti bahwa
pengujian substantif golongan transaksi atas pembelian sudah dilakukan dengan dan
memenuhi kelima tujuan audit.

2) Pengujian Substantif Golongan Transaksi untuk Pengeluaran Kas


Berdasarkan program audit yang telah dibuat oleh auditor untuk melakukan
pengujian substantif golongan transaksi adalah sebagai berikut.
a) Auditor melakukan Vouching atas transaksi pengeluaran kas, untuk memastikan
keberadaan dan kebenaran atas trasnaksi pengeluaran kas yang dilakukan.
Vouching atas transaksi pengeluaran kas dilakukan bersamaan dengan pembelian.
b) Berdasarkan vouching yang telah dilakukan pada tabel 4.11, auditor dapat
memeriksa otorisasi dan bukti pembayaran bank. Sehingga auditor dapat
memastikan pembayaran yang telah dilakukan benar-benar ada.
c) Auditor memastikan bahwa penjumlahan atas transaksi pengeluaran kas yang
telah dilakukan sudah benar dan sesuai dengan buku besar utang usaha.
d) Auditor memastikan tanggal bukti pengeluaran kas dengan jurnal pengeluaran
bank untuk memastikan tanggal dicatata sama.

Berdasarkan pengujian diatas yang dilakukan oleh auditor dimana pengujian


dilakukan bersamaan pada satu dokumentasi audit, terbukti bahwa pengujian
substantif golongan transaksi atas pengeluaran kas sudah memenuhi tujuan audit.

Berdasarkan dokumentasi audit atas pengujian substantif golongan transaksi,


kelengkapan dokumen pendukung transaksi pembelian dan pengeluaran kas sudah
lengkap. Sehingga dapat disimpulkan pelaksanaan pengujian substantif golongan
transaksi telah dilakukan auditor dan memenuhi tujuan audit serta tidak
mengandung kesalahan penyajian material.

3) Melaksanakan Prosedur Analisis dan Pengujian Rinci Saldo


Tahapan ini, tahapan selanjutnya yang dilakukan oleh auditor untuk mengaudit
laporan keuangan, tahapan ini terdiri dari 2 bagian yaitu:
a. Prosedur Analitis

Prosedur analitis dilakukan dengan membandingkan antara suatu nilai tertentu


dengan nilai yang lain. Tujuan prosedur analitis yaitu untuk menunjukkan ada
tidaknya ketidakwajaran saldo utang usaha, auditor membandingkan antara saldo
tahun berjalan dan saldo tahun lalu. Berikut adalah prosedur analitis yang dilakukan;

1) Perbandingan Saldo Tahun Berjalan dengan Tahun Sebelumnya

Saldo utang usaha akhir tahun 2023 adalah Rp9.935.901.163 sedangkan


tahun sebelumnya saldo utang usaha sebesar Rp8.280.594.984. Jumlah saldo
pada akhir tahun 2023 mengalami peningkatan sebesar Rp1.655.306.179 atau
naik sebesar 19,99% dari tahun sebelumnya.

2) Perhitungan Rasio keuangan Terkait Akun Utang Usaha

Auditor menghitung rasio keuangan, yaitu menghitung perbandingan nilai


utang usaha dengan total kewajiban yang dimiliki Perusahaan dan
membandingkan saldo utang usaha dengan saldo penjualan, serta
membandingkan rasio tersebut pada tahun 2022 dan 2023. Perhitungan
disajikan pada tabel 4.12

Tabel 4.12
Prosedur Analitis PT DNA
2018 (Rp) 2017 (Rp) Selsilih
1 Utang usaha [Link] [Link]
terhadap total [Link] [Link]
utang 3,32%
= 82,28% 78,96%

2 Uang usaha [Link] [Link]


terhadap [Link] [Link]
penjualan 1,41%
= 14,95% =13,54

Sumber: Dokumentasi Audit


Pada perhitungan rasio keuangan perbandingan utang usaha terhadap total
utang, dapat dilihat bahwa antara rasio pada tahun 2018 sebesar 82,28%,
sedangkan pada tahun 2017 sebesar 78,96%, sehingga terdapat selisih berupa
kenaikan sebesar 3,32%. Tabel diatas menunjukkan jumlah utang usaha
mengalami kenaikan, dan pada tahun 2018 total utang juga mengalami
kenaikan yang signifikan, dimana total utang menjadi pembanding dari utang
usaha. Sehingga rasio keuangan utang usaha terhadap jumlah kewajiban
mengalami kenaikan sebesar 3,23%.
Sedangkan perbandingan rasio utang usaha terhadap penjualan pada tahun
2023 sebesar 14,95% yang mengalami kenaikan 1,41% 2022 sebesar 14,54%.
Rasio yang lebih rendah menunjukan peningkatan kelayakan perusahaan
tersebut untuk memperoleh kredit jangka pendek berupa dana bebas bunga
pada tahun berjalan.
Berdasarkan prosedur analitis yang telah dilakukan oleh auditor diatas
dapat disimpulkan bahwa auditor tidak menemukan adanya kenaikan atau
penurunan rasio yang material yang terjadi pada PT DNA, sehingga bisa
disimpulkan bahwa tidak ada kesalahan penyajian yang material atas
perhitungan auditor.
b. Pengujian Substantif Rinci Saldo
Pengujian substantif rinci saldo digunakan untuk saldo akun tertentu saja, dalam
hal ini siklus pembelian dan pembayaran akun utang usaha menjadi objek
pengujian. Berdasarkan program audit yang telah dibuat auditor, prosedur pengujian
substantif golongan transaksi atas utang usaha sebagai berikut.
1) Auditor memeriksa daftar utang usaha yang dimiliki perusahaan dan
membandingkan dengan master file utang usaha. Berikut disajikan dalam
tabel 4.13.
Tabel 4.13
Daftar utang usaha PT DNA Tahun 2023
No. Nama Supplier Jumlah (Rp)
1 PT NIEI [Link]

2 PT MAP 250.495.300

3 PT CLPI 194.658.750

4 PT MCS 123.571.800

5 PT CMK 100.091.200

6 PT PMMK 72.049.808
7 PT ICK 50.787.000
8 PT JJII 36.181.530
9 Utang Lainnya 52.960.723
(Kurang dari Rp. 20.000.000)
Jumlah [Link]
Sumber: KKP KAP SBW

Berdasarkan daftar utang usaha pada table 4.12 di atas terbukti bahwa
jumlah utang usaha sebesar Rp.[Link] dan telah sesuai dengan yang
ada pada master file utang usaha. Berikut disajikan potonhan buku besar PT
JJII table 4.14 berikut.

Tabel 4.14
Potongan Buku Besar Atas Utang Usaha dari PT JJII
Tanggal Keterangan Debit (Rp) Kredit(Rp) Saldo (Rp)
28/12/2023 Purchasing 3.412.740 22.731.400
28/12/2023 Purchasing 7.200.000 29.931.400
28/12/2023 Purchasing 6.250.130 36.181.530
Sumber: Dokumentasi Audit
Berdasarkan table 4.14 di atas dapat dilihat bahwa saldo akhir dari
utang usaha PT JJII adalah sebesar Rp36.181.530, jumlah ini sesusai dengan
jumlah utang usaha pada daftar utang usaha di table 4.13
Mengirim Konfirmasi atas Sampel Utang Usaha
Surat konfirmasi utang digunakan untuk memastikan bahwa kebenaran utang
dan jumlahnya yang dimiliki PT DNA benar. Dalam hal ini auditor akan
mengirimkan surat konfirmasi kepada supplier/pihak ketiga tentang jumlah utang
yang dimiliki PT DNA kepada supplier/pihak ketiga, dalam tahapan konfirmasi akan
di berikan tenggang waktu dan apabila sampai tenggang waktu surat balas belum
diterima maka akan dilakukan pengujian alternatif sesuai dengna kebijakan KAP
Sodikin Biudhananda Wandestarido.
Auditor Melakukan Pemeriksaan Pembayaran
Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan faktur-faktur yang berhubungan
dengan barang dan jasa, kemudian pastikan bahwa utang usaha sudah diakui dan
dicatat.
Berikut disajikan pengujian substantif rinci saldo akun usaha pada gambar 4.6
untuk lead schedule dan gambar 4.7 untuk supporting schedule.

Kantor Akuntan publik


SUKARDI HASAN DAN REKAN
Registered Public Accountable
Prepared by: Date:
PT F
IS 15-Nov-23
ACCOUNTS PAYBLE – RELATED PARTY Prepared by: Date:
M1
December 31, 2023 HE 17-Nov-23

WP Balance per
WP CAJ Balance per Audit Incrase (Descrase)
Description Ref Book PAJE
Ref. E
. 31-Dec-23 31-Dec-23 31-Dec-22 Amount %
Trade Payable
PT NEI [Link] [Link] [Link] [Link] 24% []
PT MAP 250.495.300 250.495.300 221.592.467 28.902.833 13% []
PT CLPI 194.658.750 194.658.750 170.973.000 23.685.750 14% []
PT MCS 123.571.800 123.571.800 245.419.350 (121.847.550) -50% []
PT CMK 100.091.200 100.091.200 57.750.000 42.341.200 73% []
PT PMMK 72.049.808 72.049.808 41.770.041 30.279.767 72% []
PT ICK 50.787.000 50.787.000 97.427.770 (46.640.770) -48% []
PT JJI 36.181.530 36.181.530 34.220.780 1.960.750 6% []
PT OMG - - 91.774.144 (91.774.144) -100% []
PT HSP - - 8.034 (8.034) -100% []
Order (Less than 52.960.723 21.475.662 31.485.061 147% []
52.960.723
Rp20.000.000)
- - 0%

Total [Link] - - [Link] [Link] [Link]

[^] [^]

Tickmarks:
[TB] – agreed with trial balance
[PY] – agreed with prior year audited balance
[^] – agreed with trial balance
[v] – formula and calcutation have been tested
Sumber: Dokumentasi Audit yang diolah

Gambar 4.7
Supporting Schedule Pengujian Substantif Rinci Saldo Akun utang Usaha

Sama denngan top schedule, supporting schedule juga memiliki tick marck yang
sama tetapi disajikan secara detail berdasarkan masing-masing supplier. Berdasarkan
tick mark yang ada pada top schedule dan supporting schedule terbukti bahwa
pengujian substantif rinci saldo akun tidak terdapat kesalahan penyajian material.
Berdasarkan pengujian substantif rinci saldo akun yang telah dilakukan oleh
auditor, dapat disimpulkan bahwa akun utang usaha telah disajikan secara wajar.
Auditor tidak menemukan adanya kesalahan penyajian yang material dan telah
memenuhi tujuan aduit atas saldo akun utang usaha.
a) Kecocokan Saldo
Proses ini dilakukan dengan cara mencocokkan bukti buku besar dan master
file utang usaha yang ada, apakah sesuai dengan daftar utang usaha atau
belum. Pencocokkan dari kedua dokumen dapat disimpulkan bahwa utang
usaha tersebut telah memenuhi asersi ini.
b) Eksistensi, Hak dan Kewajiban, Kelengkapan, Penilaian dan Alokasi
Konfirmasi utang usaha kepada supplier/pihak ketiga dilakukan untuk memenuhi
asersi-asersi tersebut, prosedur konfirmasi utang ini dilakukan dengan cara
mengirimkan surat konfirmasi kepada supplier/pihak ketiga terkait utang dimiliki
PT DNA. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa saldo utang usaha yang
telah dicatat telah sama dengan yang dimiliki supplier/pihak ketiga.
c) Penyajian dan Pengungkapan
Tujuan audit ini terpenuhi dengan cara auditor mengecek utang usaha yang
disajikan di laporan posisi keuangan telah sesuai disajikan sesuai dengan catatan
yang ada. Dalam hal ini utang usaha telah disajikan sesuai dengan catatn yang ada
dan dapat disimpulkan bahwa asersi ini telah terpenuhi.
[Link] Audit dan menertibkan LAI
Tahapan ini adalah tahapan terakhir yang dilakukan auditor untuk mengaudit
laporan keuangan, sebelum auditor menerbitkan Laporan Auditor Independen
(LAI) auditor akan menguji penyajian dan pengungkapan yang telah dilakukan
PT DNA telah sesuai PSAK atau belum. Setelah pengujian selsai maka auditor
akan menerbitkan LAI, pengujian ini untuk mengetahui kemungkinan adanya
informasi penting terkait utang usaha yang belum diungkapan dalam laporan
keuangan. Berdasarkan program audit yang dibuat oleh auditor prosedur audit
penyajian dan pengungkapan sebagai berikut.
a. Auditor melakukan observasi mengenai kebijakan penyajian dan
pengungkapan untuk memahami kebijakannya, prosedur ini dilakukan
untuk memastikan kebijakan penyajian dan pengungkapan sesuai
dengan PSAK.
b. Auditor memastikan bahwa perusahaan sudah melakukan kebijakan
penyajian dan pengungkapan utang usaha dengan tepat dengan
melakukan wawancara kepada petinggi perusahaan mengenai
kebijakannya.
c. Auditor memeriksa penyajian utang usaha dalam laporan keuangan
apakah jumlahnya sesuai dengan buku besar atau belum.
Berdasarkan disajikan pada tabel 4.15 yang menunjukkan penyajian utang usaha
pada laporan neraca per 31 Desember 2023.
Tabel 4.15
Neraca PT DNA
PT DNA
NERACA
Per 31 Desember 2023
(Dalam Rupiah)
Notes 2023 2022
ASET
Aset Lancar
Kas dan Setara Kas 2e,2i,3 [Link] [Link]
2
Piutang Usaha 2d,4 [Link] [Link]
Persediaan 2e,5 [Link] [Link]
7
Uang Muka Pembelian 2f,6 808.445.308 [Link]
Aset Lain-Lain 7 30.646.000
Jumlah Aset Lancar [Link] [Link]
3
Aset Tidak Lancar
Aset Tetap 2g,8 [Link] [Link]
Jumlah Aset Tidak Lancar [Link] [Link]
JUMLAH ASET [Link] [Link]
6

LIABILITAS DAN EKUITAS


Liabilitas Janka Pendek
Utang Usaha 9a [Link] [Link]
Utang Lain-Lain 9b 12.485.840 3.792.952
Utang Pajak 10 532.411.053 841.378.556
Biaya Yang Masih Harus 11 167.314.047 377.488.618
Dibayar
Jumlah Liabilitas Jangka [Link] [Link]
Pendek 4
Liabilitas Jangka Panjang
Tunjangan Karyawan 12 [Link] 983.376.645
Jumlah Liabilitas Jangka [Link] 983.376.645
Panjang
Ekuitas
Modal Saham 13 [Link] [Link]
Laba Ditahan 14 [Link] [Link]
7
Jumlah Ekuitas [Link] [Link]
7
JUMLAH LIABILITAS DAN [Link] [Link]
EKUITAS 6
Sumber: Data KAP SBW
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa utang usaha masuk
kedalam kelompok liabilitas jangka pendek karena utang usaha merupakan kewajiban
yang menjadi bagian dari kegiatan dari kegiatan operasional dari perusahaan.
Oleh karena itu, auditor menyimpulkan bahwa penyajian utang usaha telah
sesuai dengan PSAK 50 tentang penyajian instrument keuangan. Dalam catatan atas
laporan keuangan mengungkapkan utang usaha seperti yang disajikan dalam gambar
4.8 berikut.
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN – Lanjutan NOTES TO FINANCIAL STATEMENTS – Continued
Untuk Tahun Yang Berakhir For The Year Ended
Pada Tanggal 31 Desember 2023 As of December 31, 2023
(Disajikan dalam Rupiah penuh, Kecuali dinyatakan lain) (Expressed in full of Rupiah, unless otherwise stated)
31 31
Desember/December Desember/December
Notes 31, 2023 31, 2022
Liabilitas LIABILITIES
Liabilitas jangka pendek Short-term liabilities
Trade payables-third
Utang usaha – pihak ketiga 9a [Link] [Link]
parties
Utrang lain-lain 9b 122.485.840 3.792.952 Other payable
Utang pajak 2j,9b 532.411.053 841.378.556 Taxes Payables
Biaya masih harus dibayar 12 167.314.047 377.488.618 Accured Expenses
Total short-term
Jumlah liabilitas jangka pendek [Link] [Link]
liabilities

Sumber: KAP SHR


Gambar 4.8
Potongan CaLK PT DNA Tahun 2023
Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan pengungkapan utang usaha
telah sesuai dengan PSAK 60 tentang pengungkapan instrumen keuangan. Sealian itu
penyajian dan pengungkapan yang dilakakukan oleh auditor telah sesuai dengan
tujuan audit.
Setelah penyajian dan pengungkapan telah sesuai, auditor akan berkomunikasi
dengan manajer dan partner KAP Sodikin Budhananda Wandesrido dan rekan untuk
menentukan pendapat untuk PT DNA yang akan diterbitkan melalui LAI.
BAB V
KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pelaksanaan audit siklus pembelian dan pembayaran pada PT DNA
oleh KAP Sodikin budhananda wandestarido dan berdasarkan penjelasan-penjelasan
yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan audit siklus
pembelian dan pembayaran PT DNA oleh KAP Sodikin budhananda Wandestarido
dilakukan dengan beberapa pengujian sesuai dengan program audit. Sebelum
melaksanakan program audit, auditor terlebih dahulu Ketika menghitung tingkat
materialitas untuk menetukan tingkat toleransi salah saji material yang dihitung
dengan tingkat materialitas laporan keuangan dan saldo akun, sehingga dapat
dijadikan acuan ketika terdapat kesalahan penyajian material pada saat pelaksanaan
program audit. Program audit siklus ini dilaksanakan dengan melakukan 5 (lima)
prosedur pengujian yaitu terdiri dari:
1. Pengujian Pengendalian
Auditor melakukan pengujian pengendalian akun yang terkait siklus
pembelian dan pembayaran melalui tanya jawab atau wawancara sescara
langsung dengan manajemen. Auditor menyimpulkan bahwa pengendalian
internal akun yang terkait siklus pembelian dan pembayaran PT DNA
dinyatakan baik dan berjalan efektif.
2. Pengujian Substantif Golongan Transaksi
Auditor melakukan pengujian substantif golongan transaksi pada siklus
pembelian dan pembayaran yang telah dilakukan oleh auditor, disimpulkan
bahwa transaksi pembelian dan pengeluaran kas telah dicatat secara tepat dan
sesuai tujuan audit.
3. Pengujian Analitis
Berdasarkan prosedur analiitis yang telah dilakukan auditor, dapat
disimpulkan bahwa auditor tidak menemukan adanya kesalahan penyajian.
4. Pengujian Substantif Rinci Saldo
Berdasarkan pengujia substantif rinci saldo utang usaha pada siklus pembelian
dann pembayaran yang dilakukan oleh auditor, disimpulkan bahwa saldo utang
usaha di akhit periode sudah dilakukan dengan benar.
5. Penyajian dan Pengungkapan
Pada penyajian dan pengungkapan, auditor menyoimpiulkan bahwa penyajian
dan pengugkapan utang usaha yang dilakukan oleh perusahaan telah sesuai
dengan ketentuan dalam Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik (ETAP)
B. Keterbatasan
Keterbatasan dalam penyususan laporan tugas akhir ini adalah tidak dilibatkan
dalam pelaksanaan audit secara keseluruhan, sehingga terdapat beberapa tahapan
dalam pelaksanaan audit yang kurang dimengerti.
C. Saran
Penulisan tugas akhir ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulisan tugas akhir selanjutnya disarankan untuk benar-benar mendalami proses
audit siklus pembelian dan pembayaran pada perusahaan yang dijadikan objek
penulisan, sehingga dapat lebih memahami setiap tahapan audit yang dilakukan
dan pada saat melaksanakan magang lebih matang untuk mempersiapkan diri agar
prosesnya tidak mendapat kesulitan dalam melaksanakan praktik audit dalam
lingkungan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Arens, Alvin A., Elder R., dan Beasley M. (2015). Auditing & Jasa Assurance
(Pendekatan Terintegrasi). Edisi 15 jilid 1. Terjemahan Herman Wibowo dan
Tim Perti. Jakarta: Erlangga

Arum Ardianingsih, S. E., & CA, A. (2021). Audit laporan keuangan. Bumi Aksara.

Damayanti, E. (2021). Pengaruh Independensi Auditor Dan Bukti Audit Terhadap

Opini Audit (Doctoral dissertation, Universitas Komputer Indonesia).

Desy Amaliati Setiawan, (2017). Tinjauan atas Implementasi Siklus Pembelian dan
Pembayaran barang Import, Jurnal STEI Ekonomi Vol 26,

Dina Fitria. 2014. Buku Pintar Akuntansi Untuk Orang Awam & Pemula, Jakarta
Timur: Laskar Aksara

Hayes, Rick., Wallage P., dan Gortemaker H. (2017). Prinsip-prinsip Pengauditan


(International Standards on Auditing). Edisi 3. Terjemahan Sopana dkk.
Jakarta: Salemba Empat.

Hery. (2019). Auditing Dasar-dasar Pemeriksaan Akuntansi. Jakarta : PT Grasindo.

Hery. 2014. Akuntansi Dasar 1 dan 2, Jakarta: Grasindo.

IAPI. 2021. Standar Audit. Tersedia pada: [Link]

Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).(2012). Info Keanggotaan. Diakses 18 Juli


2021 dari [Link]
International Auditing and Assurance Standards Board. (2007). ISA 200: Overall
Objective of the Independent Auditor, and the Conduct of an Audit in
Accordance with International Standards on Auditing. United States of
America: International Federation of Accountants

Jusup, A. H. 2014. Auditing. II. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN.

Kok, M., & Maroun, W. (2021). Not all experts are equal in the eyes of the
International Auditing and Assurance Standards Board: On the application of ISA510
and ISA620 by South African registered auditors. South African Journal of Economic
and Management Sciences, 24(1), 1-13.

Luluk Musfiroh, 2021. Auditing I. IAIN Jember

Purwanti, Ari et. al (2021). Auditing, [Link] MEDIA AKSARA

Radiansyah, A., Ansari, M. I., Levany, Y., Azhar, I., Fajriah, A. N., Aisyah, S., ... &
Nainggolan, E. P. (2023). Pengantar Akuntansi. Sada Kurnia Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai