0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Document

Penelitian ini membandingkan efektivitas tiga model pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, yaitu Problem-Based Learning dengan Gallery Walk, Think Pair Share dengan Problem Posing, dan Problem-Based Learning biasa, serta dampaknya terhadap self-confidence siswa. Hasil menunjukkan bahwa model dengan Gallery Walk dan Think Pair Share lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dibandingkan model lainnya, dan siswa dengan self-confidence tinggi menunjukkan kemampuan yang lebih baik. Namun, tidak ditemukan interaksi signifikan antara model pembelajaran dan tingkat self-confidence terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.

Diunggah oleh

eva agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Document

Penelitian ini membandingkan efektivitas tiga model pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, yaitu Problem-Based Learning dengan Gallery Walk, Think Pair Share dengan Problem Posing, dan Problem-Based Learning biasa, serta dampaknya terhadap self-confidence siswa. Hasil menunjukkan bahwa model dengan Gallery Walk dan Think Pair Share lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dibandingkan model lainnya, dan siswa dengan self-confidence tinggi menunjukkan kemampuan yang lebih baik. Namun, tidak ditemukan interaksi signifikan antara model pembelajaran dan tingkat self-confidence terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.

Diunggah oleh

eva agustina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

E-ISSN: 2579-9258 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika

P-ISSN: 2614-3038 Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan


Gallery Walk dan Think Pair Share dengan Problem Posing terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence

Yemi Kuswardi1, Juniati2, Sutopo3, Budi Usodo4, Henny Ekana Chrisnawati5,


Farida Nurhasanah6
1, 2, 3, 4, 5, 6 Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret,
Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa tengah
yemikuswardi@[Link]
Abstract
This study aims to determine: (1) which method provides better problem-solving skills, namely learning with the
Problem-Based Learning Model with Gallery Walk, Think Pair Share with Problem Posing, or Problem -Based
Learning, (2) which group produces better problem-solving skills, namely students with high, medium, or low
self-confidence, (3) whether there is an interaction between the learning model and the level of self-confidence
on mathematics problem solving. The research method used in this study is a quasi-experimental with a 3 x 3
factorial design. The research population consisted of all tenth-grade students at a public high school in
Sukoharjo. The sample was selected using cluster random sampling. The measuring instruments used to collect
data included a quadratic function test to obtain data on students' problem-solving abilities and a self-confidence
questionnaire to obtain data on students' self-confidence levels. The data analysis technique used was ANOVA
with two unequal cells. The results showed that: (1) the Problem-Based Learning model with Gallery Walk and
Think Pair Share with Problem Posing provided better problem-solving skills than the Problem-Based Learning
model, the Problem-Based Learning model with Gallery Walk provided problem-solving skills that were as good
as the Think Pair Share with Problem Posing learning model, (2) students with higher self-confidence have better
problem-solving skills than students with lower self-confidence, (3) there is no interaction between the learning
model and the self-confidence on mathematics problem solving of students.
Keywords: Problem-Based Learning, Gallery Walk, Think Pair Share, Problem Posing, Problem-Solving Skills,
Self-Confidence

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) manakah yang memberikan kemampuan pemecahan masalah yang
lebih baik, pembelajaran dengan model Problem-Based Learning dengan Gallery Walk, Think Pair Share dengan
Problem Posing, atau Problem-Based Learning, (2) manakah yang menghasilkan kemampuan pemecahan
masalah yang lebih baik, peserta didik dengan self-confidence tinggi, sedang atau rendah, (3) Ada tidaknya
interaksi antara model pembelajaran dan self-confidence terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain faktorial 3 x 3.
Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas X pada salah satu SMA Negeri di Sukoharjo. Sampel
dipilih dengan menggunakan cluster random sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data
meliputi tes pada materi fungsi kuadrat untuk mendapatkan data kemampuan pemecahan masalah peserta didik
dan angket Self-confidence untuk mendapatkan data kepercayaan diri peserta didik. Teknik analisis data yang
digunakan adalah ANOVA dengan dua sel yang tak sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model
pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan Problem Posing
memberikan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada model pembelajaran Problem-Based
Learning, model pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk memberikan kemampuan
pemecahan masalah yang sama baiknya dengan model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing,
(2) peserta didik dengan self-confidence lebih tinggi mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang lebih
baik dari pada peserta didik dengan self-confidence lebih rendah, (3) Tidak ada interaksi antara model
pembelajaran dengan self-confidence terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
Kata kunci: Problem-Based Learning, Gallery Walk, Think Pair Share, Problem Posing, Kemampuan
Pemecahan Masalah, Self-Confidence

Copyright (c) 2025 Yemi Kuswardi, Juniati, Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati,
Farida Nurhasanah
 Corresponding author: Yemi Kuswardi
Email Address: yemikuswardi@[Link] (Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa tengah)
Received 04 November 2025, Accepted 28 November 2025, Published 05 December 2025
DoI: [Link]
Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan
Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence, Yemi Kuswardi, Juniati,
Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati, Farida Nurhasanah 41
PENDAHULUAN
Pada era abad ke-21, dunia pendidikan menghadapi perubahan yang sangat cepat seiring
berkembangnya teknologi, informasi, dan kebutuhan kompetensi global. Sekolah dituntut tidak hanya
menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan
pemecahan masalah, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan komunikasi, dan kemampuan
kolaborasi yang menjadi inti berbagai framework pembelajaran abad ke-21. Tantangan ini menuntut
guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang mampu mendorong keterlibatan aktif,
kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Proses pemecahan masalah dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengambil langkah-
langkah yang diperlukan guna mencapai tujuan tertentu. Seringkali, langkah-langkah yang terlibat
dalam proses pemecahan masalah tidak diketahui dan mungkin perlu diselesaikan dalam urutan
tertentu untuk mencapai tujuan (Hughes & Estrada, 2017). Para matematikawan dan pengajar
matematika mengenal beberapa tahap dalam pemecahan masalah, yang merupakan fondasi dalam
pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis dalam pendidikan matematika. Salah satu
diantaranya tahap pemecahan masalah menurut Polya yaitu (1) memahami permasalahan (understand
and problem); (2) membuat rencana penyelesaian (device a plan); (3) melaksanakan rencana
penyelesaian (carry out the plan); (4) melihat dan memeriksa kembali (looking for). Tahapan
pemecahan menurut polya dapat digunakan sebagai acuan dalam mengukur tingkat kemampuan
pemecahan masalah.
Namun pada kenyataanya, kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada bidang
matematika di Indonesia masih tergolong rendah. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil survei
Programme for International Students Assesment (PISA) tahun 2022 untuk mengukur tingkat literasi
dasar peserta didik usia 15 tahun. Pada literasi matematika Indonesia menempati peringkat 69 dari 80
negara untuk mata pelajaran matematika didapatkan skor sebanyak 366, skor tersebut turun sebanyak
13 dari skor PISA negara Indonesia pada tahun 2018 (OECD, 2022). Skor tersebut juga merupakan
skor terendah sejak 2006. Soal-soal PISA diketahui adalah soal yang dapat mengukur kemampuan
berpikir tingkat tinggi, memuat kemampuan pemecahan masalah (OECD, 2017). Berdasarkan hasil
PISA dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada bidang
matematika masih tergolong rendah serta peserta didik kesulitan terhadap persoalan yang
membutuhkan kemampuan pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah dapat dilatih dengan penerapan model pembelajaran yang
tepat. Terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan pemecahan masalah
peserta didik, diantaranya adalah model pembelajaran Problem-Based Learning, model pembelajaran
Problem-Based Learning dengan gallery walk dan model pembelajaran think pair share dengan
problem posing. Pada penerapan model Problem-Based Learning (PBL) peserta didik dalam
mempelajari konsep didasarkan pada masalah kontekstual, sehingga untuk dapat memahami konsep
dengan baik melalui inkuiri diperlukan kemampuan yang baik dalam mengkaitkan pengetahuan dan
42 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

keterampilan yang dimilikinya. Hal ini mendorong peserta didik untuk membangun keterampilan
berpikir kritis serta keahlian dalam pemecahan masalah (Suryani et al., 2018). Terdapat lima tahapan
pada penerapan model pembelajaran PBL, (1) identifikasi masalah; (2) analisis; (3) pengembangan
alternatif solusi; (4) penerapan strategi, dan (5) evaluasi (Johnson, 1999).
Model pembelajaran PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang telah diterapkan di
salah satu SMAN di Sukoharjo, namun dalam implementasinya kurang maksimal. Ada beberapa hal
yang menyebakan hal tersebut terjadi (1) kurangnya kepercayaan diri peserta didik selama proses
pembelajaran, yang dipicu adanya rasa takut salah dalam berpendapat dan kurang keterampilan
berkomunikasi peserta didik; (2) peserta didik lebih nyaman dengan pembelajaran yang lebih
terstruktur, (3) peserta didik belum mampu mengorganisasi pekerjaannya dalam grup.
Hal ini berdampak pada adanya kesulitan peserta didik dalam menyusun langkah-langkah yang
tepat untuk memecahkan masalah, yang pada gilirannya mengurangi efektivitas PBL dalam mengasah
keterampilan pemecahan masalah. Berdasarkan data rata-rata Penilaian Sumatif Akhir Semester salah
satu SMA di Kabupaten Sukoharjo masih rendah terutama pada materi Peluang. Begitu pula data hasil
nilai ulangan matematika materi peluang diperoleh kurang dari 50% peserta didik yang lulus KKTP.
Hal ini dapat dikatakan bahwa peserta didik di salah satu SMA di Sukoharjo tersebut memiliki
kemampuan pemecahan masalah matematika kurang baik. Oleh karena itu, penting untuk mencari
metode pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan pemahaman akademis tetapi juga mendukung
peningkatan rasa percaya diri peserta didik.
Salah satu cara untuk mengatasi tantangan di atas adalah dengan menerapkan pendekatan PBL
menggunakan metode gallery walk. Gallery walk merupakan model pembelajaran berkelompok di
mana setiap anggota kelompok memiliki kesempatan untuk berkontribusi dengan pendapat dan
pemikiran mereka sendiri (Silberman, 2013). Dalam metode ini, peserta didik diharuskan untuk
bergerak aktif keliling ruangan, mengumpulkan konsep penting, menulis, dan berbicara di depan
umum. Project Based Learning dengan gallery walk merupakan model pembelajaran berbasis proyek
yang dipadukan dengan aktivitas gallery walk, yaitu kegiatan di mana hasil kerja proyek siswa
dipajang dalam bentuk “gallery ”, kemudian siswa lain berkeliling (walk) untuk mengamati,
mendiskusikan, memberi umpan balik, dan merefleksikan hasil karya tersebut (Che-aron & Matcha,
2023). Aktifitas-aktifitas ini merupakan cara yang efektif untuk mengevaluasi dan mengingat apa yang
telah dipelajari peserta didik, serta meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Gallery walk juga berfungsi sebagai metode diskusi yang dapat memotivasi peserta
didik untuk aktif dalam proses pembelajaran. Keberagaman pemahaman antar peserta didik dapat
mendorong koreksi dan saling pertukaran ide, baik dalam kelompok maupun antar peserta didik secara
keseluruhan.
Alternatif lain model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
peserta didik adalah model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan Problem Posing. Model
pembelajaran ini merupakan model pembelajaran TPS yang dimodifikasi dengan pembelajaran
Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan
Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence, Yemi Kuswardi, Juniati,
Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati, Farida Nurhasanah 43
Problem Posing. Jika model pembelajaran TPS tidak ada kegiatan mengajukan soal dari peserta didik,
maka pada model pembelajaran TPS dengan Problem Posing ini peserta didik melalui tahapan (1)
mengajukan dan membuat soal dari permasalahan, kemudian dicari penyelesaiannya sehingga
diharapkan kemampuan pemecahan masalah matematis tumbuh. Permasalahan yang disajikan dapat
berupa gambar, cerita, atau situasi lain, (2) soal yang telah dibuat diajukan kepada peserta
didik/kelompok lain untuk selanjutnya dapat kerjakan dan dipahami oleh peserta didik, (3)
mempresentasikan hasil diskusi. Hal tersebut dapat membantu peserta didik mendapat soal yang
bervariasi serta membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Dalam
kegiatan tersebut guru dapat memantau serta memandu peserta didik apabila kesulitan dalam
memahami tahapan maupun permasalahan yang ada.
Self-confidence dalam mencari solusi adalah kunci untuk memperbaiki kemampuan pemecahan
masalah. Self-confidence memungkinkan individu untuk merasa yakin dalam membuat keputusan
ketika menghadapi masalah. Intervensi yang meningkatkan Self-confidence dapat meningkatkan
performa dalam membuat keputusan, terutama dalam menghadapi situasi kompleks atau tidak pasti
(Pedditzi et al., 2023). Orang dengan Self-confidence tinggi tidak ragu dalam memilih langkah-
langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah, bahkan dalam situasi yang kompleks atau penuh
ketidakpastian. Sebaliknya, Self-confidence yang rendah bisa membuat seseorang merasa ragu-ragu
dan takut untuk mengambil keputusan, yang dapat menghambat proses pemecahan masalah.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rohim & Umam (2019) Syaiful Rohim dan Khoirul
Umam (2019) menemukan bahwa problem-posing dan think-pair-share sangat efektif untuk
meningkatkan prestasi matematika siswa. Namun dilihat dari standar keterampilan pemecahan
masalah matematika dan keterampilan komunikasi matematika siswa think-pair-share lebih efektif
daripada problem-posing. Penelitian Yuhana & Fajari (2025) menemukan bahwa Problem-Based
Learning L secara konsisten memiliki dampak yang kuat pada keterampilan pemecahan masalah. Oleh
karena itu, penerapan Problem-Based Learning sangat direkomendasikan sebagai strategi yang efektif
untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa secara signifikan. Penelitian ini
memberikan dukungan empiris yang kuat terhadap efektivitas Problem-Based Learning dalam
meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa di berbagai disiplin ilmu. Sedangkan penelitian
yang dilakukan Argaw et al (2016) menyarankan bahwa untuk meningkatkan prestasi siswa, sekolah
harus mengadaptasi model Problem-Based Learning secara cermat karena penerapan Problem-Based
Learning tidak memberikan perbedaan yang signifikan dalam motivasi belajar siswa.
Penelitian Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair
Share dengan Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-
Confidence ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, karena pada penelitian ini membandingkan
penerapan 3 model sekaligus sedangkan penelitian-penelitian yang sudah ada biasanya hanya
membandingkan 2 model pembelajaran saja. Selain itu modifikasi model pembelajaran Problem-Based
Learning dengan Gallery Walk dan modifikasi model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem
44 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

Posing belum pernah ditemukan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

METODE
Penelitian ini dilakukan di salah satu SMA Negeri di Sukoharjo pada semester genap pada tahun
ajaran 2023/2024. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu (quasi experimental
research). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X di salah satu SMA Negeri
di Sukoharjo tahun ajaran 2023/2024. Dalam penelitian ini, sampel ditetapkan dengan cluster random
sampling, sehingga diperoleh kelas X.7 sebanyak 36 peserta didik sebagai kelas eksperimen 1,
pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk.
Kelas X.8 sebanyak 36 peserta didik sebagai kelas eskperimen 2, pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing. Kelas X.9 sebanyak 36 peserta didik sebagai
kelas kontrol, pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem-Based Learning.
Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes dan metode angket. Instrumen yang
digunakan berupa tes kemampuan pemecahan masalah dan angket Self-Confidence. Instrumen angket
di uji menggunakan uji validitas isi, konsistensi internal dan reliabilitas. Instrumen tes kemampuan
pemecahan masalah diuji dengan menggunakan validitas isi, uji tingkat kesukaran, uji daya beda, dan
uji reliabilitas. Uji coba instrument angket dan tes kemampuan pemecahan masalah dilakukan terhadap
36 peserta didik. Data awal yaitu data ulangan harian pada materi fungsi kuadrat digunakan untuk uji
keseimbangan. Uji keseimbangan menggunakan anava satu jalan dengan sel yang sama. Sebelum
dilakukan uji keseimbangan dilakukan uji normalitas dengan menggunakan metode Liliefors dan uji
homogenitas dengan menggunakan metode Bartlett. Uji hipotesis menggunakan analisis variansi dua
jalan dengan sel tak sama. Jika hasil analisis dari variansi dua jalan dengan sel tak sama menunjukkan
bahwa hipotesis nol ditolak maka dilakukan uji komparasi ganda menggunakan metode Scheffe.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Prasyarat Penelitian
Uji prasyarat penelitian terdiri dari, uji normalitas dan uji homogenitas. Data yang digunakan
adalah data ulangan harian matematika pada materi fungsi kuadrat, pada kelas X.7 sebagai kelas
eskperimen 1 yaitu kelas dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem-Based
Learning dengan Gallery Walk, kelas X.8 sebagai kelas eksperimen 2 yaitu kelas yang menerapkan
model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing, serta kelas X.9 sebagai kelas kontrol,
yaitu kelas yang menerapkan model Problem-Based Learning dalam pembelajarannya.
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode Liliefors dengan taraf signifikansi 0,05
dan dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan
Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence, Yemi Kuswardi, Juniati,
Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati, Farida Nurhasanah 45
Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Prasyarat Penelitian
Kelas n 𝑳𝒐𝒃𝒔 𝑳𝜶;𝒏 Keputusan
Eksperimen 1 36 0,1173 0,1477 𝐻0 diterima
Eksperimen 2 36 0,1172 0,1477 𝐻0 diterima
Kontrol 36 0,1295 0,1477 𝐻0 diterima

Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah vaiansi-variansi dari sejumlah populasi
sama atau tidak. Hasil uji homogenitas diperoleh bahwa χ2obs = 2,08 untuk masing-masing sampel
tidak melebihi χ2(0,05;2) = 5,991 dengan taraf signifikansi 5%, diperoleh hasil 𝐻0 diterima.
Berdasarkan hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sampel yang digunakan berasal dari
populasi dengan variansi yang homogen.
Uji Keseimbangan
Uji prasyarat sebelum dilakukan uji keseimbangan sudah dipenuhi. Sehingga dapat dilakukan
uji keseimbangan dengan menggunakan uji anava dengan sel yang sama dengan taraf signifikansi 0,05.
Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan Fobs = 0,03 dengan daerah kritik DK={ F|F> F0.05;2,105} =
3,07. Fobs ∉ DK maka 𝐻0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen Problem-Based
Learning dengan Galery walk, kelas eksperimen Think Pair Share dengan problem posing, dan kelas
kontrol Problem-Based Learning memiliki kemampuan yang sama
Pengujian Prasyarat Analisis
Uji Normalitas
Uji normalitas dengan menggunakan metode Liliefors dengan taraf signifikansi 0.05. hasil uji
normalitas dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Uji Normalitas
Sumber n 𝐿𝑜𝑏𝑠 𝐿𝛼,𝑛 Keputusan Simpulan
PBL GW 36 0,0886 0,1477 𝐻0 diterima Normal
TPS PP 36 0,1284 0,1477 𝐻0 diterima Normal
PBL 36 0,0946 0,1477 𝐻0 diterima Normal
Self-Confidence Tinggi 25 0,1613 0,2000 𝐻0 diterima Normal
Self-Confidence Sedang 54 0,1034 0,1206 𝐻0 diterima Normal
Self-Confidence Rendah 29 0,0844 0,1610 𝐻0 diterima Normal

Berdasarkan Tabel 2 diperoleh bahwa 𝐿𝑜𝑏𝑠 untuk masing-masing sumber kurang dari 𝐿𝛼;𝑛
dengan taraf signifikansi 0,05, sehingga 𝐻0 diterima. Berdasarkan hasil tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa masing-masing sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan pada penelitian ini adalah uji Bartlett dengan tingkat signifikasi
0,05. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
46 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

Tabel 3. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas


𝟐 2
Sumber 𝜒𝒐𝒃𝒔 𝜒(𝛼,𝑛−1) Keputusan Simpulan
Model Pembelajaran 3,0601 5,991 𝐻0 diterima Homogen
Self-confidence 1,4899 5,991 𝐻0 diterima Homogen

Hasil Uji Hipotesis


Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.
Berikut disajikan hasil perhitungan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dengan taraf
signifikansi 0,05.
Tabel 4. Hasil Perhitungan dari Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama
Sumber JK dk RK F Ftabel Keputusan Uji
Model (A) 3741,39 2 1870,69 7,7234 3,0700 𝐻_0𝐴 ditolak
Self-confidence (B) 7370,48 2 3685,24 15,2151 3,0700 𝐻_0𝐵 ditolak
Interaksi (AB) 422,68 4 105,67 0,4363 2,4500 𝐻_0𝐴𝐵 tidak ditolak
Galat 23978,79 99 242,21 - - -
Total 35513,34 107 - - - -

Berdasarkan tabel perhitungan tersebut, hipotesis 𝐻_0𝐴 tidak diterima, yang mengindikasikan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari masing-masing model pembelajaran terhadap
kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Hal itu berarti ada perbedaan pada kemampuan
pemecahan masalah antara peserta didik yang dikenai model pembelajaran Problem-Based Learning
dengan Gallery Walk, Think Pair Share Dengan Problem Posing, dan Problem-Based Learning. Untuk
mengetahui manakah yang menghasilkan keamampuan pemecahan masalah peserta didik yang dikenai
tiga model tersebut akan dilakukan uji komparasi ganda antar baris. Namun sebelum itu ditentukan
rerata marginalnya terlebih dahulu. Berikut merupakan rangkuman hasil perhitungan rerata
marginalnya.
Tabel 5. Rerata Marginal
Model SELF-CONFIDENCE Marginal
Tinggi Sedang Rendah
PBL dengan Gallery Walk 84,00 71,05 59,25 70,94
TPS dengan Problem Posing 81,60 68,27 57,45 68,67
PBL 63,38 60,33 47,60 57,47
Marginal 76,44 66,70 54,55

Tabel 6. Hasil Uji Komparasi Ganda Antar Baris


Komparasi ̅𝒊 − 𝒙
(𝒙 ̅𝒋 )
𝟐 𝟏 𝟏 RKG 𝐅𝐨𝐛𝐬 Kritik Keputusan
( + )
𝒏𝒊 𝒏𝒋
𝝁_(𝟏. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟐. ) 5,19 0,06 242,21 0,39 6,14 𝐻0 diterima
𝝁_(𝟏. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟑. ) 181,50 0,06 242,21 13,49 6,14 𝐻0 ditolak
𝝁_(𝟐. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟑. ) 125,32 0,06 242,21 9,31 6,14 𝐻0 ditolak
Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan
Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence, Yemi Kuswardi, Juniati,
Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati, Farida Nurhasanah 47
Berdasarkan hasil uji komparasi ganda antar baris pada Tabel 7, dapat disimpulkan bahwa
peserta didik yang dikenai model pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan
Think Pair Share dengan Problem Posing memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan
pemecahan masalah, jika dibandingkan dengan model pembelajaran PBL. Sedangkan model
pembelejaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk tidak mempebrikan pengaruh yang
signifikan terhadap model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing. Berdasarkan rerata
marginalnya, didapatkan kesimpulan bahwa peserta didik yang dikenai model pembelajaran Problem-
Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan Problem Posing memberikan
kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan peserta didik yang dikenai model
pembelajaran Problem-Based Learning. Serta kemampuan masalah peserta didik yang dikenai model
pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk sama baiknya dengan peserta didik yang
dikenai model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing.
Hal ini dikarenakan Problem-Based Learning dengan Gallery Walk merupakan merupakan
model pembelajaran berbasis masalah dengan pameran berjalan sehingga membantu peserta didik
untuk menganalisis dan mengingat apa yang telah dipelajari peserta didik selama ini. Peserta didik
dituntut untuk aktif dalam pembelajaran dikarenakan peserta didik diberi tanggung jawab untuk
menyampaikan dan mempertahankan hasil diskusinya serta menanyakan hasil diskusi kelompok lain.
Model pembelajaran ini mempunyai ciri peserta didik tidak hanya menyelesaikan proyek, tetapi juga
mempresentasikan hasilnya ke teman sekelas, mengevaluasi proyek teman, dan memberi umpan balik.
Sehingga peserta didik diberi tanggung jawab untuk menyampaikan dan mempertahankan hasil
diskusinya serta menanyakan hasil diskusi kelompok lain (Che-aron & Matcha, 2023). Selanjutnya
kombinasi model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem Posing mengharuskan siwa untuk
menyusun pertanyaan dan merumuskan permasalahan serta menyelesaikan permasalahan yang
diberikan membuat peserta didik lebih terlatih dalam memecahkan suatu permasalahan yang beragam.
Berbeda halnya dengan model Problem-Based Learning, interaksi hanya terjadi dikelompok saja
sehingga jika terdapat masalah yang diperlajari sulit dipecahkan menyebabkan hilangnya minat atau
kepercayaan, sehingga peserta didik enggan untuk mencoba.
Begitu pula dengan 𝐻_0𝐵 , berdasarkan hasil analisis di atas hipotesis 𝐻_0𝐵 ditolak, berarti
terdapat pengaruh antar masing-masing tingkat self-confidence peserta didik terhadap kemampuan
pemecahan masalah peserta didik. Jadi terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara
masing-masing tingkatan self-confidence peserta didik. Untuk mengetahui manakah yang
menghasilkan keamampuan pemecahan masalah peserta didik yang lebih baik dari ketiga tingkatan
self-confidence tersebut akan dilakukan uji komparasi rerata antar kolom. Berikut disajikan rangkuman
uji komparasi rerata antar kolom.
48 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

Tabel 7. Hasil Uji Komparasi Ganda Antar Kolom


Komparasi ̅𝒊 − 𝒙
(𝒙 ̅𝒋 )
𝟐 𝟏 𝟏 RKG 𝑭_𝒐𝒃𝒔 Kritik Keputusan
( + )
𝒏𝒊 𝒏𝒋
𝝁_(𝟏. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟐. ) 94,80 0,06 242,21 6,69 6,14 𝐻0 ditolak
𝝁_(𝟏. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟑. ) 479,10 0,07 242,21 26,56 6,14 𝐻0 ditolak
𝝁_(𝟐. ) 𝒗𝒔 𝝁_(𝟑. ) 147,67 0,05 242,21 11,50 6,14 𝐻0 ditolak

Hasil uji komparasi rerata antar kolom menunjukkan bahwa peserta didik dengan self-
confidence tinggi memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan pemecahan masalah, jika
dibandingkan dengan self-confidence sedang maupun rendah. Begitu pula dengan self-confidence
sedang memberikan kemampuan pemecahan masalah yang berbeda terhadap self-confidence rendah.
Dilihat dari rerata marginalnya, diperoleh kesimpulan bahwa peserta didik dengan self-confidence
tinggi memberikan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik dengan
self-confidence sedang. Serta peserta didik dengan self-confidence sedang memberikan kemampuan
pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik dengan self-confidence rendah.
Hal ini sesuai dengan temuan pada penelitian (Mafakheri et al., 2013) bahwa siswa dengan
self-confidence tinggi dalam pemecahan masalah menunjukkan performa yang lebih baik dibanding
mereka yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah. Artinya, semakin tinggi tingkat self-confidence
peserta didik, kemungkinan besar kemampuan mereka dalam memecahkan masalah matematis juga
meningkat, dan sebaliknya. Kesesuaian antara hasil penelitian dan hipotesis yang diajukan disebabkan
faktor atau indikator dalam diri peserta didik seperti percaya terhadap kemampuan yang dimiliki,
mengambil keputusan secara mandiri, memiliki konsep diri yang positif, serta berani dalam
menyatakan pendapat.
Karena 𝐻_0𝐴𝐵 diterima, maka tidak perlu dilakukan uji komparasi ganda antar sel, sehingga
dapat disimpulkan bahwa pada masing-masing model pembelajaran, peserta didik dengan self-
confidence tinggi mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik
dengan self-confidence sedang, serta peserta didik dengan self-confidence sedang mempunyai
kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik dengan self-confidence
rendah. Begitu pula, dapat disimpulkan bahwa pada masing-masing tingkat self-confidence peserta
didik, model pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share
dengan Problem Posing memberikan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada model
pembelajaran PBL. Serta, model pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk
memberikan kemampuan pemecahan masalah yang sama baiknya dengan model pembelajaran Think
Pair Share dengan Problem Posing.
Tidak terpenuhinya hipotesis ketiga dikarenakan adanya faktor lain yang tidak bisa dikontrol
berpengaruh terhadap proses penelitian antara lain, siswa dengan self-confidence sedang selama
diberikan tes kemampuan pemecahan masalah, memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap
kemampuan yang ada pada dirinya. Sehingga ketika diberikan tes kemampuan pemecahan masalah
Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan
Problem Posing terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Self-Confidence, Yemi Kuswardi, Juniati,
Sutopo, Budi Usodo, Henny Ekana Chrisnawati, Farida Nurhasanah 49
peserta didik berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal seperti halnya peserta didik dengan
self-confidence tinggi. Selain itu, adanya kemungkinan kondisi Kesehatan yang kurang baik dari
peserta didik dengan self-confidence tinggi sehingga pada saat mengerjakan tes kemampuan
pemecahan masalah tidak maksimal berdampak pada indikator kemampuan pemecahan masalah tidak
tercapai dengan baik.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, pada peserta didik kelas X salah satu SMA Negeri
di Sukoharjo pada materi Peluang disimpulan berikut ini: (1) Peserta didik yang dikenai model
pembelajaran Problem-Based Learning dengan Gallery Walk dan Think Pair Share dengan Problem
Posing memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik yang dikenai
model pembelajaran Problem-Based Learning, peserta didik yang dikenai model pembelajaran
Problem-Based Learning dengan Gallery Walk memiliki kemampuan pemecahan masalah yang sama
baiknya dengan peserta didik yang dikenai model pembelajaran Think Pair Share dengan Problem
Posing pada materi Peluang; (2) Peserta didik dengan self-confidence tinggi memiliki kemampuan
pemecahan masalah yang lebih baik daripada peserta didik dengan self-confidence sedang, peserta
didik dengan self-confidence sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik
daripada peserta didik dengan self-confidence rendah pada materi Peluang; (3) Tidak ada interaksi
antara model pembelajaran dengan self-confidence terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta
didik.

UCAPAN TERIMA KASIH


Artikel ini didanai oleh kelompok riset Dana Penelitian P2M UNS tentang Pembelajaran
Matematika Kontemporer dengan nomor kontrak 371/UN27.22/ PT.01.03/2025

REFERENSI
Argaw, A. S., Haile, B. B., Ayalew, B. T., & Kuma, S. G. (2016). The Effect of Problem-Based
Learning (PBL) Instruction on Students’ Motivation and Problem Solving Skills of Physics.
EURASIA Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 13(3).
[Link]
Che-aron, Z., & Matcha, W. (2023). Project-Based Learning with Gallery Walk: The Association with
the Learning Motivation and Achievement. International Journal of Modern Education and
Computer Science, 15(5), 1–13. [Link]
Hughes, C., & Estrada, J. (2017). Problem Solving. In Encyclopedia of Clinical Neuropsychology (pp.
1–1). Springer International Publishing. [Link]
Johnson, D. W. , & J. R. T. (1999). Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and
Individualistic Learning (5th ed.). Allyn & Bacon.
50 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 40-50

Mafakheri, S., Rostamy-Malkhalifeh, M., Shahvarani, A., & Behzadi, M.-H. (2013). The Study of
Effect of the Main Factors on Problem Solving Self-Confidence Using Cooperative Learning.
Mathematics Education Trends and Research, 2013, 1–7. [Link]
00023
Pedditzi, M. L., Nonnis, M., & Fadda, R. (2023). Self-efficacy in life skills and satisfaction among
adolescents in school transitions. Journal of Public Health Research, 12(4).
[Link]
Rohim, S., & Umam, K. (2019). THE EFFECT OF PROBLEM-POSING AND THINK-PAIR-
SHARE LEARNING MODELS ON STUDENTS’ MATHEMATICAL PROBLEM-
SOLVING SKILLS AND MATHEMATICAL COMMUNICATION SKILLS. In Journal of
Education, Teaching, and Learning (Vol. 4).
Silberman, M. (2013). Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Pearson / Allyn & Bacon.
Suryani, H., Tawani, R., & Arfandi, A. (2018). The Effectiveness of Problem-Based Learning Models
in Improving Students Scientific Thinking Skills. International Journal of Scientific
Development and Research, 3. [Link]
Yuhana, Y., & Fajari, L. E. W. (2025). Cross-disciplinary effects of problem-based learning on
problem-solving skills in mathematics and beyond: A comprehensive meta-analysis and
bibliometric. In Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education (Vol. 21,
Issue 11). Modestum LTD. [Link]

Anda mungkin juga menyukai