0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan775 halaman

Dia Berbohong

Kiran merasa kesal dan terganggu dengan kedatangan Handaru yang mengaku sebagai pacarnya di depan keluarganya, meskipun Kiran tidak menyukainya. Lifia dan Murni, ibu Kiran, mencoba untuk mendukung Handaru dan memperlihatkan bahwa ia adalah sosok yang baik. Namun, Kiran tetap menolak Handaru dan merasa frustrasi dengan situasi yang terjadi antara mereka.

Diunggah oleh

adib57077
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan775 halaman

Dia Berbohong

Kiran merasa kesal dan terganggu dengan kedatangan Handaru yang mengaku sebagai pacarnya di depan keluarganya, meskipun Kiran tidak menyukainya. Lifia dan Murni, ibu Kiran, mencoba untuk mendukung Handaru dan memperlihatkan bahwa ia adalah sosok yang baik. Namun, Kiran tetap menolak Handaru dan merasa frustrasi dengan situasi yang terjadi antara mereka.

Diunggah oleh

adib57077
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dia berbohong.

Dia berbohong
Lifia menahan tawanya melihat ekpresi kesal dan penasaran yang ditunjukkan Kiran. Kiran saat ini tidak
tahu, jika Handaru datang bersama Defran dan sepertinya Defran membantu Handaru agar biasa
mengenal keluarga Kiran lebih dekat. "Siapa Lifia? kamu jangan jadi nyebelin ya..." kesal Kiran.

"Romeonya Mbak dong lihat saja didepan lagi ngobrol sama Mas Serkan dan sama Ayah," ucap Lifia.

"Paling yang datang Mas Defran, yang tergila-gila sama Mas Defran itu kamu, bukan Mbak," ucap Kiran.

"Itu dulu sekarang nggak lagi dong," ucap Lifia.

"Nggak yakin, kamu bisa melupakan Mas Defran secepat itu. Kita semua tahu siapa kamu, termasuk
kecerdasan dan juga ketololan kamu Dek," ucap Kiran.

"Orang kan bisa berubah, udah kenapa jadi bahas perasaan aku sih...noh sambut disana diluar ada Mas
Handaru, katanya dia mau pendekatan sama keluarga kita!" ucap Lifia.

"Untuk apa dia datang kemari? Pendekatan apa sih maksudnya? sekarang dia jadi suka sama kamu
makanya dia mau pendekatan sama keluarga kita, "ucap Kiran.

"Dia sukanya sama Mbak, bukan sama aku loh..." goda Lifia.

"Mana ada, jangan bicara sembarangan kamu," kesal Kiran.

"Loh...tadi itu aku perginya bareng Mas Defran sama Mas Handaru dan dia bilang terus terang sama aku
kalau dia mau dekatin Mbak, sumpah Mbak aku nggak bohong," ucap Lifia membuat Murni
menyunggingkan

1/6

Dia berbohong
senyumannya.

"Loh kalau ada yang suka sama kamu, coba kamu mengenalnya dengan baik, jangan langsung ditolak
siapa tahu jodoh nak!" Ucap Murni membuat Kiran membuka mulutnya.

"Ibu nggak tahu sih dia itu orangnya seperti apa, dia nyebelin Bu dan suka banget buat aku itu susah,"
ucap Kiran.

Murni tersenyum ia sangat mengenal karakter putrinya ini dan sepertinya sosok laki-laki bernama
Handaru itu sosok yang sangat kuat dan berkarakter hingga membuat Kiran kesal. "Bu, Mas Handaru itu
tampan banget manis gula-gula Bu dan terkenal juga sama kayak Mbak Kiran. Dia pengacara terkenal
dan hampir semua kasus yang dia tangani itu menang Bu," ucap Lifia.

"Wah...cocok banget sama kamu Kiran, Alhamdulilah akhirnya ada yang bisa mengendalikan Mbakmu
ini," ucap Murni. Tadinya Murni khawatir dengan sikap putrinya yang terlalu cerdas bahkan hampir
membahayakan dirinya, karena mulutnya ditakuti para petinggi dan juga orang-orang terkenal.
Beberapa kali ada laki-laki yang melamarnya, namun Kiran segera menolaknya dengan dingin. Ada
kekhawatiran di hati Murni jika kali ini pasti Kiran akan melakukan hal yang sama dengan menolak
Handaru.

"Ibu apa-apaan sih, ibu jangan percaya sama dia Bu. Si Handaru itu mana ada bagusnya Bu dan dia
bukan orang yang baik," ucap Kiran membuat Lifia terkekeh.

"Hehehe..kalau bukan orang baik, udah keluar masuk penjara tuh...Mas Handaru," ucap Lifia sengaja
ingin membuat Kiran kesal.

"Nyebelin banget sih...awas ya kamu Lifi," ucap Kiran kesal.

"Iya Mbak sayang aku bakal sangat hati-hati mulai

2/6

Dia berbohong
dari sekarang," ucap Lifia tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kesal Kiran.

"Ini kamu yang antar!" Perintah Kiran menujuk kopi dan kue yang ada diatas meja membuat Lifia
terkekeh.

"Hehehe...oke siap," ucap Lifia. Ia membawakan teh dan juga kue buatannya tadi menuju tuang tamu.
Disana terlihat Handaru, Serkan, Defran dan Subekti sedang berbincang bersama. Lifia meletakkan teh
diatas meja dan kemudian ia juga membawakan lagi kue buatannya keatas meja. "Ini Ayah tahu siapa
yang buat kuenya, ini pasti buatan kamu ya nak..." ucap Subekti sambil memakan kue buatan Lifia. Lifia
tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya. "Kalian tahu nggak anak-anak perempuan Ayah itu
semuanya pintar masak dan makanan yang mereka buat itu, pasti enak," ucap Subekti tersenyum
bangga.

"Iya Yah, masakan Kana sangat enak dan Papi juga selalu memuji masakan Kana," ucap Serkan yang
setuju jika anak-anak perempuan Subekti sangat pandai memasak.

"Makanya dulu Kakek kalian berdua itu suka sekali makan masakkan Kana dan dia selalu bilang Kana
akan menjadi cucu menantunya," ucap Subekti membuat mereka semua tersenyum. "Kenapa bediri
disitu, kamu duduk disini Lifia, mana Ibu dan Mbak-mbakmu?" Tanya Subekti mencari kedua anak
perempuannya yang lain dan juga istrinya.

"Masih dibelakang Yah, kalau Mbak Kana tadi lagi sama anak-anak," ucap Lifia.
"Kiran...Kana...Ibu sini dong duduk ngeteh sama-sama kita!" Panggil Subekti.

"Iya Yah...sebentar," ucap Murni.

Lifia duduk disamping Defran, sebenarnya ia tidak nyaman duduk disana tapi ia tidak mungkin duduk

3/6

Dia berbohong
disamping Serkan, karena sebentar lagi Kana kakaknya itu pasti akan duduk disamping suaminya itu.
Murni, Kana dan Lifia melangkahkan kakinya mendekati mereka dan duduk bersama di ruang keluarga
ini. Serkan memang meminta tiga pengasuh anaknya untuk menjaga anak-anaknya, agar ia dan istrinya
bisa berbincang bersama keluarganya. "Bu ini nak Handaru dia ini pengacara terkenal Bu," ucap Subekti
tersenyum bangga. la sangat senang bisa bertemu dengan Handaru apalagi sepak terjang Handaru telah
ia dengar dari berita-berita dimedia masa.

"Ini temannya nak Defran apa temannya Kiran?" Tanya Murni berpura-pura tidak tahu maksud dari
kedatangan Handaru, meskipun ia telah tahu maksud kedatangan Handaru dari Lifia.

"Temannya Mas Defran Bu, bukan temannya Kiran!"

Ucap Kiran dingin membuat Serkan, Kana, Defran dan Lifia menyunggingkan senyumannya.

"Saya temannya Defran, Mas Serkan dan juga temannya Kiran, Bu," ucap Handaru. "Nama saya Handaru
Laksamana Dewandaru Bu, dipanggil Handaru," ucap Handaru memperkenalkan dirinya.

"Dia hanya mengaku saja teman Kiran, tapi dia bukan teman Kiran, Bu. Ibu dan ayah jangan percaya!"
Ucap Kiran.

"Kayaknya mereka sedang bertengkar ini, Kiran coba kamu selesaikan masalah kamu sama Handaru,
kasihan Handaru sudah datang kesini kamu gituin. Ini nih...Bu kalau pacaran jadinya kan gitu ribut-ribut
kecil dan ambekan," ucap Kana sengaja ingin menggoda Kiran, membuat Kiran melototkan matanya
sedangkan Lifia berusaha keras menahan tawanya melihat ekspresi kesal Kiran.

"Nggak ada siapa yang pacaran sama dia, Mbak tega banget sih..." kesal Kiran.

"Maaf Ayah...Ibu, selama ini saya tidak pernah datang

4/6

Dia berbohong
kemari secara langsung karena Kiran tidak mengizinkan saya untuk datang. Kami telah pacaran cukup
lama, tapi Kiran belum mau menikah. Saya rasa umur saya dan Kiran sudah sangat pantas membina
rumah tangga, makanya saya ingin segera mengenal Ibu dan Ayah karena saya ingin hubungan kami
mendapatkan restu!" Ucap Handaru membuat Kiran bediri dan ia menujuk Handaru dengan kesal.
"Jangan ngarang kamu, sejak kapan aku pacaran sama kamu..." ucap Kiran prustasi. Berani-beraninya
Handaru berbohong seperti ini didepan keluarganya dan ia kesal, karena Kana juga ikut-ikutan
mendukung kebohongan Handaru.

"Kiran, Mbak kan sudah bilang...dari pada pacaran sebelum menikah, lebih baik kamu kayak Mbak dan
Mas Serkan pacaran setelah menikah," ucap Kana membuat

5/6

Dia berbohong
Kiran bertambah prustasi. "Lagian apa coba kurangnya Handaru, ganteng dan gagah gitu, dia juga
berasal dari keluarga terpandang," ucap Kana. la sangat setuju jika Kiran bisa menikah dengan Handaru
yang juga adalah sahabat suaminya.

"Tapi bagi aku dia nggak enak dipandang Mbak, nyebelin, sombong dan...kurang ajar," ucap Kiran.

"Kurang ajar? Apa yang saya lakukan hingga kamu bilang saya kurang ajar. Jangan-jangan kamu masih
marah sama saya, karena saya marah sama kamu waktu kamu cium saya," ucap Handaru membuat
Kiran benar-benar sangat murka saat ini dan ia menarik tangan Handaru dengan kasar agar
mengikutinya ke Taman belakang.

Mereka butuh bicara dan ia tidak akan melepaskan Handaru begitu saja karena telah berani mengarang
cerita kepada keluarganya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

30

6/6

Jangan lancang.
Jangan lancang
Handaru menyunggingkan senyumannya saat tangannya ditarik oleh Kiran. "Ikut saya sekarang juga!"
Teriak Kiran prustasi dengan kelakukan Handaru.

"Kiran kamu jangan jadi nggak sopan sama Handaru loh, Nak!" Ucap Murni mengingatkan anaknya agar
bertindak sedikit lembut kepada Handaru. "Kamu itu perempuan lembut sedikit dong!" Pinta Murni. la
terkadang aneh dengan Kiran yang sering kali bersikap dingin dengan laki-laki yang mencoba
mendekatinya, kalau seperti ini terus kapan dia menikah.

"Nggak apa-apa Bu sudah biasa," ucap Handaru membuat Kana dan Lifia terkikik geli.
"Hehehe...biasa dijudesin dia Lifia," ucap Kana.

"Iya Mbak hehehe," ucap Lifia.

Handaru menatap tangan Kiran yang sedang menariknya dan ia terlihat pasrah mengikuti Kiran yang
melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Saat ini keduanya sedang berada di Taman. Kiran
menatap Handaru dengan tatapan dingin, ia sangat kesal dengan Handaru yang dengan lancang
mengatakan jika ia memiliki hubungannya dengannya. Tak tanggung-tanggung Handaru mengatakan
dirinya didepan keluarganya sebagai kekasihnya. Sejak kapan ia menjadi kekasih Handaru Laksamana
Dewandaru dan itu membuat Kiran sangat kesal.

"Kenapa kamu tega banget sama aku, Mas?" tanya Kiran prustasi "Sekarang aku tanya sama kamu kapan
kita pacaran, boro-boro pacaran kamu itu menyebalkan dan aku mana mau jadi pacar kamu, lagian
kamu lancang sekali datang ke Rumah orang tuaku dan mengaku jadi pacar

1/7

Jangan lancang
aku. Mau kamu itu apa, Mas?" Teriak Kiran.

Handaru mengangkat sudut bibirnya baginya Kiran Ayu adalah sosok yang sangat menarik dan selama ini
ia telah berusaha menahan dirinya agar tidak mengejarnya dengan cara ekstrim, seperti laki-laki lainnya
yang berusaha menaklukan hatinya. la ingin mendapatkan Kiran dengan cara berbeda, hingga
membiarkan Kiran didekati laki-laki lain, namun tetap dalam pengawasannya. Baginya mereka yang
berusaha mendekati Kiran bukanlah seseorang yang pantas dipilih oleh Kiran, apa lagi ia tahu sikap Kiran
yang ambisius dan mau menang sendiri, hanya akan takluk dengan laki-laki tegas dan pengancam seperti
dirinya.

"Mau kamu itu apa Mas?" Teriak Kiran kembali bertanya apa yang diinginkan Handaru.

"Mau deketin keluarga kamu," ucap Handaru berterus terang dan ia tdiak menutupi keinginannya yang
memang ingin memiliki hubungan serius dengan Kiran.

"Kenapa? Apa tujuan kamu?" Tanya Kiran kesal.

"Tujuan saya ingin berhubungan serius dengan kamu," ucap Handaru dan ia menyunggikan
senyumannya saat mata Kiran melotot karean terkejut mendengar ucapannya.

"Aku nggak mau, aku nggak suka sama kamu dan kamu tahu itu," ucap Kiran kesal.

"Kamu boleh tidak suka sama saya, tapi saya yang suka sama kamu, tidak ada larangan dari siapapun
untuk menyukai seseorang," ucap Handaru.

"Itu berati kamu memaksa saya, kamu itu pengacara Mas dan kamu mengerti hukum," ucap Kiran kesal.

"Saya sangat mengerti hukum," ucap Handaru tersenyum sinis.


"Saya bisa melaporkan kamu ke polisi," ucap Kiran

2/7

Jangan lancang
mencoba membalik keadaan dengan mengancam Handaru.

"Lapor saja! itu ada Defran didepan, dia polisi kamu tinggal bilang perbuatan saya yang tidak
menyenangkan mana yang telah saya lakukan sama kamu!" Ucap Handaru.

"Pasti aku pasti akan melaporkan kamu," ucap Kiran.

"Saya juga akan melaporkan kamu karena kamu juga pernah melecehkan saya!" ucap Handaru membuat
Kiran melototkan matanya.

"Kapan aku melecehkan kamu, Handaru Laksamana...kamu jangan ngarang!" Teriak Kiran murka.

Sejak kapan ia pernah melecehkan Handaru bukannya selama ini Handaru yang selalu mencari masalah
dengannya.

Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia menarik tangan Kiran, lalu mengajaknya duduk. "Jangan
emosi nanti kamu cepat tua, ayo duduk disamping saya!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan
matanya, namun ia yang sangat kesal memilih untuk tidak menuruti perintah Handaru yang memintanya
untuk duduk disampingnya.

"Kamu itu bukan pengacara, tapi pembohong..." teriak Kiran.

"Sejak kapan calon suami kamu ini jadi pembohong, jelas-jelas saya itu pengacara terkenal dan anak
seorang Mentri," ucap Handaru. la menarik Kiran agar duduk disampingnya. "Duduk!" Perintah Handaru
dengan nada memaksa.

Handaru mengelurakn ponselnya, ia menujukkan cctv yang menunjukkan Kiran yang sempoyongan dan
memeluk dirinya lalu mencium bibirnya. "Ini bukti kalau saya dilecehkan sama kamu," ucap Handaru.

3/7

Jangan lancang
"Itu saat aku dikasih obat aneh sama penjahat kelamin nggak tahu diri, aku nggak maksud memeluk
kamu apalagi mencium kamu," lirih Kiran.

"Yang jelas kamu harus tanggung jawab! Saya belum pernah dipeluk lawan jenis apalagi dicium, kamu
telah membuat saya kehilangan keperawann saya sebagai laki-laki sejati," ucap Handaru membuat Kiran
membuka mulutnya.

"Dimana-mana kalau berkaitan dengan hal ini perempuan yang dirugikan bukan laki-laki!" Ucap Kiran tak
habis pikir dengan kalimat yang keluar dari bibir Handaru.
"Kalian para perempuan selalu berkoar kesetaraan gender, tapi jika dihadapkan dengan masalah seperti
ini selalu saja laki-laki yang disalahkan," ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya, mulut
Handaru memang sangat luar biasa dan ia bahkan tidak pernah kalah dalam perdebatan. "Kamu pikir
kamu tidak salah, karena kamu memeluk saya dan mencium saya? kamu telah membuat saya bermimpi
yang iya...iya sama kamu. Saya sudah sangat berdosa karena tingkah kamu, dengan kamu menjadi istri
saya dosa itu akan sedikit berkurang," ucap Handaru.

"Kamu pikir itu salah aku? Itu bukan salah aku Handaru," teriak Kiran. Bagiamana caranya agar laki-laki
yang ada disampingnya ini berhenti menganggunya. la sangat kesal setiap kali bertemu ia selalu saja
berdebat dengan Handaru Laksaman Dewandaru. "Harusnya kamu salahkan orang yang telah
memberikanku obat, aku nggak sadar apa yang aku lakukan, lagian itu hanya kecelakaan!" Ucap Kiran.
Handaru memang menyelamatkannya dengan membawanya ke sebuah hotel, lalu menghubungi
seorang dokter untuk mengobatinya namun setelah kejadian itu Handaru, selalu mengganggunya. la
bahkan tak segan menatapnya sinis atau mengatakan kata-kata kasar

4/7

Jangan lancang
padanya, hingga keduanya akhirnya berdebat.

"Kecelakaan? Itu bukan kecelakaan, kamu benar-benar bernafsu kepada saya makanya kamu tiba-tiba
mencium saya saat itu," ucap Handaru. "Harusnya kamu itu bersyukur saya membiarkan kamu
mengecup bahkan menjelajahi bibir saya," ucap Handaru.

"Nggak...gila kamu ya...Asataga kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki gila kayak kamu," ucap Kiran
dan

ia sangat prustasi menghadapi Handaru Laksamana Dewandaru.

Handaru menarik tangan Kiran agar Kiran melihat kearahnya, Kiran yang kesal memilih mengalihkan
padangannya namun tangan Handaru memegang dagu Kiran. "Kita sama-sama terkenal, kamu pikir
bagaimana jika video kita yang sedang bergumul mesra ini disebar luaskan dimedia masa?" Tanya
Handaru membuat Kiran

5/7

Jangan lancang
membuka mulutnya.

"Kamu mengancam aku? Astagfirlullah tega sekali kamu Mas..." ucap Kiran dan ia sangat putus asa saat
ini.

"Saya bisa melakukan apapun Kiran, apapun itu...demi mencapai tujuan saya!" Ucap Handaru.
"Kamu pikir menikah denganku itu adalah jalan keluar bagi kamu, nggak. Pernikahan hanya akan
membawa masalah bagi kita berdua karena kita sama-sama tidak menginginkannya. Kamu hanya ingin
status menjadi suamiku karena Pak Mentri ingin aku jadi menantunya," ucap Kiran yang menebak
keinginan Handaru yang ingin menikahinya, kemungkinan ada ada ikut campur Mentri yang pernah ia
wawancarai satu tahun yang lalu.

"Anggap saja begitu," ucap Handaru dan ia melihat ekspresi muram Kiran.

"Pernikahan bukan permainan, aku nggak mau menikah dengan kamu!" ucap Kiran, ia tidak ingin
terjebak pernikahan politik terlebih lagi statusnya sebagai pembawa acara terkenal memang sering
sekali berkaitan dengan orang-orang politik. la sering mendengar pernikahan politik untuk mengambil
keuntungan dalam pernikahan itu.

"Kamu haru mau dan saya akan memberikan kamu waktu untuk mengenal saya lebih dekat, sebelum
saya mengumumkan jika saya akan segera menikahi kamu!" Ucap Handaru.

"Jangan lancang Handaru!" Teriak Kiran.

Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia mengelus kepala Kiran dengan lembut. "Mau video ini
saya sebar luaskan? Menurut kamu apa yang akan dipikirkan Ayah kamu tentang kamu, beliau yang
begitu bangga memilki kamu sebagai putri kesayangannya," ucap Handaru sinis.

6/7

Kalian pacarana.
Kalian pacaran
Mendengar ucapan Handaru yang telah

mengancamnya dengan nama ayahnya, membuatnya sungguh benar-benar merasa sangat sedih dan
juga kecewa. Baginya keduanya orang tuanya adalah segalanya, ia dan para saudaranya tidak pernah
berpikir untuk membuat kedua orang tua mereka kecewa. Apalagi selama ini, ia selalu berusaha keras
untuk membanggakan kedua orang tuanya dan ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Orang
tuanya berasal dari keluarga yang sederhana, Kiran ingat bagaimana Ayahnya Subekti banting tulang
membesarkan anak-anaknya agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi. Papinya bahkan
menjadi supir untuk anak-anak pergi ke Sekolah bahkan ia juga tak segan mengantar kue-kue buatan
istrinya kepada para pelanggan dan toko-toko yang bekerja sama dengan istrinya.

Subekti dan Murini sangat bangga dengan pencapaian karir anak-anaknya. Seperti Kana berjuang
menjadi seorang dokter dan ia juga telah membanggakan kedua orang tuanya, apalagi Kana juga
mendapatkan suami yang baik seperti Serkan. Jika Kana menjadi seorang dokter, Kiran menjadi seorang
pembawa acara terkenal demi impiannya yang memang ingin bekerja di Media pertelevisian. Kiran juga
memeiliki beberpa acara sendiri di Tv bahkan chanel u tube miliknya.
Anak permepuan kesayangan Murni dan Subekti selanjutnya adalah Lifia. Lifa merupakan anak adik
ibunya yang telah lama menjadi bagian dari keluarganya, tapi baginya Lifia adalah adik perempuannya
dan ia juga telah berusaha menjadi seorang artis terkenal walaupun

1/6

Kalian pacaran
sebelumnya orang tuanya tidak menyetujui keinginan Lifia.

Kiran ingat bagaimana kedua orang tuanya sangat sedih ketika Lifia terkena gosip buruk dan ibunya
sampai menangis saat itu. Kiran tidak ingin membuat skandal mengenai dirinya dan Handaru akan
merusak citranya, bahkan orang tuanya akan malu dengan pemberitaan buruk mengenai dirinya.
"Terima tawaran saya Kiran atau kamu sebenaranya telah siap menerima akibat dari video ini," Ucap
Handaru.

"Aku akan bilang ancaman kamu ini kepada Mas Serkan!" Ucap Kiran dan ia akan meminta bantuan
Serkan untuk menyelesaikan masalah ini. la berharap Handaru akan takut mencari masalah dengannya
jika ia membawa nama Serkan.

"Serkan akan lebih setuju kamu adik iparnya ini menjadi istri saya Kiran, jika kamu mengatakan perihal
pengancaman saya ini, dia pasti akan meminta saya segera melamar kamu agar saya bisa menikahi kamu
secepatnya!" Ucap Handaru. "Saya sudah berbaik hati datang kemari untuk memperkenalkan diri saya
sebagai pacar kamu," ucap Handaru dan ia tersenyum penuh kemenangan, melihat Kiran merasa
terpojok. Handaru mengelus kepala Kiran dengan lembut, membuat Kiran segera menepisnya dengan
kasar.

"Jangan lancang kamu Handaru..." teriak Kiran lagi dan ia benar-benar murka saat ini. Menikahi laki-laki
licik seperti Handaru hanya akan membuat hidupnya susah, apalagi Handaru adalah sosok yang keras
kepala sama seperti dirinya.

"Putuskan sekarang juga, apa kamu membiarkan kita saling berdekatan untuk saling mengenal atau
kamu menolak saya dan saya akan segera menyebarkan video ini ke media masa!" Ucap Handaru
dengan suara beratnya.

2/6

Kalian pacaran
"Nama baik saya rusak itu bukan masalah karena saya akan mengakui kamu sebagai calon istri saya, tapi
bagaimana dengan kamu yang tidak mengakui saya sebagai calon suami kamu?" Tanya Handaru. "Nama
baik kamu akan tercoreng sebagai perempuan murahan karena mau-maunya kamu mencium laki-laki
yang bukan kekasih kamu, apalagi bukan calon suami kamu," sinis Handaru.

Kiran mengepalkan kedua tangannya, ia sangat kesal dan juga bingung dengan langkah apa yang harus ia
ambil saat ini. Handaru pasti akan melakukan apa yang ia katakan dan ia tidak akan mewujudkan
keinginanya, walaupun ia memohon dengan berlutut dikaki Handaru. Langkah yang harus ia ambil, yaitu
ia harus merelakan dirinya ikut dalam permainan Handaru Laksamana Dewandaru. "Kita akan jalani
proses saling mengenal, kamu harus datang mengunjungi keluarga saya dan kamu juga harus sering
datang ke Apartemen saya, kita pacaran!" Perintah Handaru. "Saling mengenal untuk menjalin
hubungan yang serius!" Ucap Handaru lagi.

Handaru menatap wajah Kiran yang muram apalagi Kiran terlihat sangat tidak bersemangat saat ini. la
menyunggingkan senyumannya karena berhasil membuat Kiran dengan terpaksa benar-benar menjadi
kekasihnya. Sudah sejak lama ia ingin mengikat Kiran dengan rencananya, karena mendekati Kiran
dengan cara biasa pasti akan mengalami kegagalan. Apalagi pesan Papinya jangan pernah melepaskan
Kiran dengan mudah, tangkap lalu ikat dia seumur hidupnya, itu pesan Papinya padanya.

Handaru berdiri dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kiran yang sedang berpikir keras, ia yakin
Kiran tidak akan gegabah memutuskan. Kiran pasti akan setuju menjalani hubungan serius dengannya, ia
mendengar tawa renyah Subekti dan ia kembali duduk

3/6

Kalian pacaran
bersama keluarga Kiran. "Bagiaman pembicaraan kamu dan dia, apa berjalan lancar?" Tanya Defran.

"Pasti berjalan lancar," ucap Handaru membuat Defran menyunggingkan senyumannya.

Kiran melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia terpaksa duduk disamping Handaru. "Sekarang
sepertinya sudah damai," ucap Kana dan ia menahan tawanya melihat ekspresi kesal adik
perempuannya ini. Kana memang telah mendengar dari Serkan, jika Handaru memiliki niat baik untuk
meminang Kiran namun Kana ragu Kiran akan mau menikah dengan Handaru, melihat bagaimana
bencinya Kiran kepada Handaru. Tapi entah apa yang dilakukan Handaru, sehingga Kiran akhirnya mau
duduk disamping Handaru dengan sukarela, walaupun ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal saat ini.

"Hmmm...saya sangat senang bisa bertemu Ayah dan Ibu, saya meminta izin agar ibu dan Ayah bersedia
mengizinkan saya menjalani hubungan yang serius kepada Kiran. Sebenarnya saya ingin mengajak Kiran
segera menikah tapi Kiran menolaknya," ucap Handaru membuat Kiran menatap kesal Handaru. "Kiran
lagi fokus sama karirnya," ucap Handaru.

Kiran sangat kesal dengan tingkah Handaru yang seenaknya mengarang cerita, solah ia yang tidak mau
menikah dengannya. Tapi setelah ia pikir-pikir memang benar, ia yang belum mau menikah saat ini
sedangkan laki-laki yang ada disampingnya ini telah siap menikah dengannya.

"Fokus sama karir itu sampai kapan Nak? Nak Handaru ini sangat cocok sama kamu, dia pasti bisa
mensuport karir kamu Nak!" Ucap Subekti.

"Kiran belum siap Yah, jadi istrinya dia," ucap Kiran dan ia menatap Handaru dengan sinis.

"Sampai kapan kamu akan siap? Nggak usah ditunggu


4/6

Kalian pacaran
kesiapan kalau dia ini sudah siap menjadi suami kamu, hal baik itu tdak boleh ditunda! Lagian kalian ini
sudah pacaran kalau kebablasan bagaimana Nak," ucap Subekti.

"Yah...memang Nak Handaru ini pacarnya Kiran?"

Ucap Murni penasaran.

"Iya Bu saya dan Kiran benar-benar pacaran," ucap Handaru.

'Pacaran dari Hongkong. nyebelin banget sih...ini gara laki-laki yang pernah menjebak aku itu, aku nggak
terima semua ini gara-gara dia. Lagian ngapain sih aku tu minta diciumnya sama Handaru, waktu itu,"
Batin Kiran kesal.

"Kiran dia memang pacar kamu?" Tanya Murni.

"Iya Bu," ucap Kiran apalagi saat ini tangan besar yang

5/6

Berhati-hati.
Berhati-hati
Lifia tahu jika ada yang kurang beres dengan hubungan Kiran dan Handaru, ia penasaran apa yang telah
Handaru lakukan hingga Kiran saat ini mengatakan jika ia dan Handaru sedang berpacaran. Lifia tahu
betul bagaimana hubungan keduanya selama ini, apalagi Kiran selalu em ceritakan kekesalannya pada
sosok Handaru.

Kana menyunggingkan senyumannya dan itu semakin membuat Lifia penasaran karena sepertinya Kana
sangat mendukung keduanya itu agar memiliki hubungan yang serius. Apa yang telah Lifia lewatkan
hingga ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kepada Kiran hingga rasa penasarannya benar-benar
membuatnya kesal.

Setelah sholat magrib berjamaah, semua keluarga saat ini berkumpul dimeja makan. Makanan yang
dimasak Murni Ibunya ini memang benar-benar sangat lezat. Tiba-tiba terdengar suara dari depan dan
sosok yang sejak tadi ditunggu itu terlihat. "Assalamuaikum," ucapnya dan Murni segera berdiri lalu ia
memeluk putra tampannya itu dengan erat. Altaf putra bungsunya yang telah pergi beberapa bulan
karena tugasnya sebagai polisi itu akhirnya pulang.

"Waalikumsalam," ucap mereka semua.

"Wah hanya Ibu kayaknya yang kangen banget sama aku," ucap Altaf.
"Kita kangen banget dek, sini peluk!" Ucap Kana dan ia berdiri lalu merentangkan kedua tangannya,
membuat Altaf melepaskan pelukannya dan ia segera memeluk Kakak sulungnya Kana.

Altaf. "Mbak semakin hari semakin cantik saja," ucap

1/6

Berhati-hati
"Wah...kalau kamu muji Mbak begini pasti kamu baru saja menerima uang transferan dari suami Mbak
ini," ucap Kana.

Kana sangat mengenal adik bungsunya ini dan juga suaminya Serkan. Kana tahu bertapa Serkan sangat
menyayangi Altaf dan telah menganggap Altaf seperti adiknya sendiri. Altaf sangat beruntung ketika ia
pendidikan di akademi kepolisian, Defran dan Serkan beberapa kali bertemu dengannya saat Altaf sudah
bisa dikunjungi keluarganya. Kedekatan mereka terlihat tidak memiliki celah, hingga Altaf menerima
dengan senang hari transferan dari Serkan ataupun Defran.

"Namanya juga Kakak ipar yang baik hati Mbak," ucap Altaf. la melepaskan pelukannya kepada Kana lalu
ia mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Serkan.

Kiran tersenyum bangga melihat Adik bungsunya ini terlihat sangat tampan dan gagah, dulu Altafnya ini
sangat manja kepada mereka. Apalagi Altaf merupakan anak laki-laki satu-satunya yang sering kali
menjadi b***k pesuruh di rumah ini, karena menjadi adik bungsu mereka.

Altaf memeluk Kiran dengan erat, "Mbak kebanggaanku ini katanya sudah punya pacar ya sekarang,"
ucap Altaf dan ia menatap Handaru yang mengulurkan tangannya kepada Altaf. Altaf tersenyum ramah
dan tentu saja ia setuju Handaru menjadi pacar Kiran, apalagi ia tahu Handaru merupakan salah satu
sahabat dari Serkan dan Defran.

"Mohon kerja samanya adik Ipar," ucap Handaru menyunggingkan senyumannya membuat Altaf
tersenyum senang.

"Dengan senang hati dan suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan Mas ipar," ucap Handaru.

"Calon ipar, belum jadi ipar!" Ucap Kiran sinis.

2/6

Berhati-hati
"Loh kok jadi galak gitu sama pacarnya, ya ampun Mas kayak nggak ada perempuan lain saja, cari aja
perempuan yang lemah lembut, diluar sana banyak loh! Kiran dan Lifia ini berbanding terbalik seratus
delapan puluh derajat sifatnya, kalau Mbak Kiran terlihat seperti karang kalau Mbak Lifia kayak mentega
lembek banget," ucap Altaf membuat Lifia menatap Altaf dengan kesal.
"Kamu itu yang nggak sopan, seenaknya panggil nama doang, memangnya kita seumuran...pengen
banget nih mukulin kamu, tapi kalau aku lupa sekarang kamu itu udah lebih gede dari aku," ucap Kiran.
Dulu ia sangat-sangat sering memarahi Altaf yang bersikap nakal ketika mereka masih kecil dan biasanya
Altaf akan menangis.

Tatapan Altaf tertuju pada sosok tampan yang hanya menujukkan tatapan dinginnya. la segera memberi
penghormatan kepada sosok tanpan berwibawa itu.

"Selamat malam Kasuh," ucap Altaf.

"Sudah Desuh nggak usah terlalu formal, saat ini kita berada di rumah!" Ucap Defran membuat Altaf
segera mendekati Defran lalu ia memeluk Defran dengan erat. Altaf memanggil seniornya yang juga
sama seperti dirinya seorang yang berasal dari akademi kepolisian dengan panggilan Kasuh yaitu Kakak
asuh dan sebaliknya untuk adik dipanggil Desuh yaitu adik asuh.

"Astaga Mas aku tu rindu banget sama Mas...Mas hanya datang ketemu denganku dua bulan yang lalu,"
ucap Altaf yang terlihat sangat mengagumi Defran.

"Akhir-akhir Mas sedikit sibuk dan belum bisa mendatangi kamu di kota tempat kamu bekerja," ucap
Defran.

"Kalian berdua ini kayak kekasih yang sudah lama tidak bertemu," ucap Lifia sinis membuat Altaf segera
mendekati Lifia dan ia memeluk Lifia, lalu mengelus kepala Lifia dengan lembut. "Kurang ajar banget
kamu Altaf, aku

3/6

Berhati-hati
itu lebih tua dari kamu," ucap Lifia kesal.

"Tua sedikit, jangan sok tua Lifia," sinis Altaf. "Kalau kamu cemburu bilang saja, kamu bisa peluk Mas
Defran sekarang loh... dan dijamin dia nggak akan nolak kalau didepan keluarga kayak gini!" ucap Altaf
tersenyum menggoda, membuat Lifia melototkan matanya dan mereka semua tertawa.

"Hahaha..." tawa mereka.

"Udah lama nggak ketemu bukannya berubah jadi lebih dewasa, tapi tetap saja kayak anak kecil," ucap
Altaf dan ia kembali mengelus kepala Lifia. "Akhir-akhir ini kamu buat masalah apa?" Tanya Altaf
membuat Lifia benar-benar kesal. Altaf memang sangat tidak sopan padanya dan selalu sok dewasa
didepannya seperti ia yang lebih tua darinya.

Lifia. "Masalah apa yang bisa aku buat, nggak ada," kesal

"Ada, di hampir membahayakan nyawanya," ucap Defran.

"Astaga...benar-benar mengkhawatirkan," ucap


Altaf.

"Pekerjaannya itu memang beresiko," sinis

Defran.

"Nggak ada pekerjaan yang nggak beresiko," ucap Lifia.

"Udah Mbak berhenti saja, pensiun...cari suami kayak dan jadi ibu rumah tangga saja dari pada bekerja
jadi artis banyak resikonya," ucap Altaf.

"Nggak mau, enak saja nanti suami selingkuh dan aku nggak punya uang lagi karena udah berhenti
bekerja, aku sama siapa? Paling aku jadi nyusahin Ayah Ibu, nggak mau...aku bakal tetap kerja, banyak
kok laki-laki yang ngajakin aku nikah dan mereka semua kaya-kaya juga.

4/6

Berhati-hati
Mereka izinin aku kerja kok, tapi aku saja yang sekarang belum memikirkan pernikahan," ucap Lifia.

"Mau cari yang bagaimana lagi Nak, kalau sudah ada yang suka sama kamu dan bibit...bebet...bobotnya
cocok yang udah kamu nikah saja Nak, syukur-syukur dia masih mengizinkan kamu kerja didunia
selebriti," ucap Subekti. Semua keluarga memang mengharapkan Defran bisa bersama Lifia, namun cinta
tidak bisa dipaksakan apalagi

Defran sepertinya hanya menganggap Lifia adiknya.

"Nanti Yah, aku sedang tahap seleksi Yah, hmmm...Mas Defran tenang saja, kalau aku punya pacar atau
calon suami, semua keluarga akan berhenti menjodohkan kita!" Ucap Lifia dengan suaranya yang
terdengar tegar, tapi bagi Kana dan Kiran itu adalah kalimat putus asah dari Lifia.

Murni menghela napasnya dan ia tersenyum sambil

5/6

Berhati-hati
melihat kearah Defran yang saat ini menatap Lifia dengan dingin. "Acara makan malam ini, ibu dan Ayah
selenggarakan khusus untuk Nak Defran karena telah menyelamatkan Lifia, kita mau mengucapkan
terimakasih karena Nak Defran berulang kali menyelamatkan Lifia," ucap Murni.

"Harusnya Ibu nggak perlu repot begini Bu, saya ikhlas menolong Lifia karena itu memang tugas saya,"
ucap Defran. "Untuk selanjutnya Lifia harus lebih berhati-hati lagi kedepannya!" Ucap Defran menatap
Lifia dengan dingin.

Komentar lainnya
Berikan Suara

24

6/6

Maaf ya Mas.
Maaf ya Mas
Setelah makan malam, para lelaki sedang berbincang di ruang keluarga sedangkan Murni, Lifia, Kana dan
Kiran sedang duduk di Kamar Kiran. Mereka ingin mendengar bagaimana hubungan Kiran dengan
Handaru saat ini. "Udah Dek kenapa kamu mesti pacaran lama-lama, kamu sama Handaru langsung
menikah saja!" Ucap Kana.

"Nggak segampang itu Mbak, aku belum mengenal dia banget," ucap Kiran.

"Ibu bisa melihat kalau Nak Handaru itu anak yang baik Kiran, diberita itu dia hebat banget kasus-kasus
yang ditangani itu kasus berat dan dia berhasil memenangkannya. Kamu itu pasangan serasi sama-sama
jago berdebat Nak," ucap Murni.

"Sama-sama jago berdebat itu hanya bikin semuanya tambah berantakan Bu, jadi keributan dan tidak
ada yang mau mengalah," ucap Kiran yang bisa menduga apa yang akan terjadi padanya nanti, jika
mereka menikah.

Murni menyunggingkan senyumannya melihat

kekesalan Kiran dan ia menjadi kagum dengan calon menantunya Handaru yang bisa mengendalikan
putrinya ini. Murni mengelus kepala Kiran dengan lembut dan sebagai seorang ibu ia lebih memilih
putrinya disukai laki-laki secara brutal, dibandingkan putrinya menggilai lelaki itu tapi lelaki itu tidak.
"Ayah sangat mencintai Ibu, Nak. Dia mengupayakan semua yang ibu inginkan dan dia nggak mau ibu
sedih, perjuangan Ayah untuk sama Ibu itu luar biasa," ucap Murni.

Subekti bukan berasal dari keluarga kaya raya sedangkan Murni berada dari keluarga kaya di Desa.
Bahkan orang tua Murni saat itu kurang setuju karena

1/6

Maaf ya Mas
Subekti hanya Karyawan permerintah kan biasa dan tidak memiliki ambisi untuk memiliki jabatan.
Merskipun orang tua Murni ingin memberikan sejumlah uang untuk membantu perekonomian keluarga
namun Subekti menolak untuk menerimanya. Selama ini keuangan kekuarga dikelola oleh Murni dan
Subekti bahkan tidak mengetahui berapa jumlah uang di tabungan Murni, jika Murni tidak
mengatakannya.
"Dari tatapan Handaru, Ibu tahu kalau dia itu seperti ayah kamu, dia berterus terang dengan
perasaannya dan dia itu bertanggung jawab," ucap Murni.

"Iya Mbak kiran, Mas Handaru itu kelihatan kok sayang banget sama Mbak Kiran," ucap Lifia "Lagian tadi
dia juga langsung menganggap aku itu adik iparnya, dia benar-benar suka sama Mbak makanya minta
izin Ibu dan Ayah buat dekatin Mbak loh..." ucap Lifia.

"Coba jalani saja Lifi, Mbak juga setuju karena Mas Serkan juga bilang kalau Handaru itu tipe laki-laki
yang bertanggung jawab sekali, lagian sulit bagi kamu buat lepas dari dia Dek," ucap Kana tersenyum
penuh arti.

"Jadi makan malam ini bukan tentang Mas Defran yang nyelamati Lifia lagi tapi tentang bagaimana
semua orang yang ada dirumah memaksa aku agar menerima si Handaru itu," ucap Kiran sinis.

"Loh nggak ada yang maksa kamu kan ya...kamu sendiri tadi bilang kalau kamu itu pacarnya," ucap Kana
dan ia menatap Kiran dengan tatapan menyelidik membuat Kiran salah tingkah. la tidak ingin
keluarganya tahu mengenai video cctv ia yang sedang mencium Handaru. Jika orang tuanya dan para
saudaranya ini tahu, ia akan menjadi bahan olok-olok kan mereka hingga Papinya pasti akan meminta
Handaru untuk segera menikahinya. Lebih baik menyetuju keinginan Handaru sementara ini dan
membuat Handaru menyerah akan dirinya, itu yang

2/6

Maaf ya Mas
sekarang ini Kiran rencanakan.

"Iya dia memang pacarku, pacar yang nyebelin," ucap Kiran.

"Nyebelin banget ya Mbak, tapi tetap aja dijadiin pacar ya Mbak," goda Lifia.

"Iya kamu juga udah dijelitin dan dicuekin Mas Defran kamu masih saja suka sama dia," ucap Kiran sinis.

"Kalau itu nggak tahu ya kenapa aku itu jadi bodoh bisa suka sama dia, tapi aku kan juga udah berusaha
agar tidak dekat sama dia. Tapi tetap saja ketemu juga akhirnya sama dia," ucap Lifia menyebikkan
bibirnya membuat Kana tersenyum.

"Defran itu memang seperti itu sikapnya tapi hanya kamu loh satu-satunya perempuan yang bisa
deketin keluarganya dan semua keluarga setujunya kamu yang jadi istri Defran, Defran itu kayak patung
yang nggak ada ekspresi kalau dirumah, kita bahkan nggak tahu kalau ada dia didekat kita karena dia
jarang sekali bicara lebih dulu. Biasanya dia itu selalu sibuk dengan buku atau sama IPadnya," ucap Kana.
Adik iparnya itu memang sangat unik, jika ada perempuan yang mendekatinya perempuan itu akan
bosan dicueki olehnya dan bahkan harus mendengar ucapan kasar darinya.

Kenapa keluarga besarnya sangat menyukai Lifia, karena satu-satunya perempuan yang mendapatkan
perhatian Defran dengan menatapanya sepersekian detik itu hanya Lifia. Defran bahkan memperlakukan
Lifia seperti ia memperlakukan Salsa adik bungsunya dan juga Kila sepupunya, bahkan Defran juga sering
mengajaknya berdebat. Defran juga sering melarang Lifia melakukan sesuatu yang tidak ia suka dan ia
juga akan menghukum Lifia jika melakukan kesalahan. Ya Defran memperlakukannya seperti ia
memperlakukan Salsa dan Kila, itu dapat diartikan bagi Lifia Defran selama ini hanya

3/6

Maaf ya Mas
menganggapnya sebagai adiknya.

"Mbak aku tu mau lupain dia, Mbak," lirih Lifia. la menahan air matanya mengingat ia pernah melihat
seorang perempuan menatap Defran dengan mesra dan Defran membiarkan perempuan itu duduk
disampingnya ketika acara ulang tahu Salsa saat itu.

"Nak Defran itu hanya anggap Lifia adiknya, Kana...Ibu ingin Lifia bahagia menemukan pasangan yang
benar-benar sayang sama dia!" ucap Murni mendukung keputusan Lifia untuk mencoba melupakan
Defran. "Coba buka hati kamu temukan laki-laki baru Nak!" Ucap Murni. la memang setuju Defran
menikah dengan Lifia tapi jika Defran tidak menyukai Lifia, ia ingin Lifia segera menghapus rasa sukanya
kepada Defran dan mencari calon suami yang lain.

"Mami Liana nggak rela Mi, baginya Lifia satu-satunya yang paling cocok untuk Defran. Mami bilang
Defran itu suka sama Lifia, dia yakin benar begitu..." ucap Kana. Setiap kali ia meminta Mami Liana untuk
berhenti membuat adiknya berharap bisa menjadi istri Defran, Mami Liana ibu mertuanya itu
mengatakan jika Defran menyukai Lifia.

"Mami sih bilang begitu tapi nyatanya dia nggak suka

sama aku Mbak," ucap Lifia sendu.

"Semua keputusan ada ditangan kamu nak!" Ucap Murini dan ia tersenyum lalu memeluk Lifia dengan
erat.

"Yaudah kalian berbincang dulu ya, Ibu mau lihat apa yang sedang dilakukan para lelaki kita disana!"
ucap Murni dan ia melepaskan pelukannya kepada Lifia.

"Ibu ini kayak Handaru dan Defran itu udah jadi menantu ibu saja, para lelaki kita hehehe..." kekeh Kana.

"Loh ini juga sebagian dari doa loh Nak, ibu pengen laki-laki yang terbaik untuk anak-anak Ibu," ucap
Murni dan

4/6

Maaf ya Mas
ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kana, Kiran dan Lifia menuju ruang keluarga.
Saat ini Kana mengelus kepala Lifia dengan lembut, ia tidak rela melihat Lifia menderita karena dulu
ketika kecil Lifia sangat menderita. Kana ingat bagaimana wajah Lifia yang lebam akibat pukulan, juga
tangis Lifia memeluk ibunya dan mengatakan kepada Ibunya agar membawa dia pergi. Tangis pilu yang
membuat Murni saat itu berlutut

dihadapan Subekti memohon agar bersedia membawa Lifia tinggal bersamanya. Subekti pun akhirnya
memutuskan mengancam Ayah kandung Lifia dengan ingin menjebloskan ibu tiri Lifia ke penjara, jika ia
tidak mengizinkan Lifia tinggal bersamanya saat itu.

"Gimana kalau kamu tarik ulur saja sama Defran, hmmm....kamu cuekin dia dan jangan terlihat kalau
kamu mengharapkan dia," ucap Kana memberikan saran terbaik

5/6

Maaf ya Mas
untuk adiknya ini. "Terkadang menahan perasan salah satu metode ampuh agar membuat perasaan
kamu sedikit demi sedikit bisa melupakan dia," ucap Kana.

"Mas Defran itu mulutnya kasar dan dingin, tapi tetap saja dia menyelamatkan Lifi Mbak, dia menjadi
pelindung Lifi, jadi bagaimana Lifi ingin bisa cepat melupakannya, jika dia terus muncul dengan sikapnya
yang kaku dan dingin itu, tapi dibalik sikapnya itu dia masih menolong Lifi. Bagi Lifi lebih baik dia
memperlakukan Lifi dengan asing, dari pada dia menganggap Lifi adiknya," ucap Lifia sendu.

"Makanya dari awal kan aku sudah bilang jangan mudah jatuh cinta! kamu nggak denger banget dan
ngeyel kalau dibilangin. Jadi cewek itu jangan lembek, ini kalau kamu nolak orang yang menembak kamu
jadi pacarnya pasti kamu selalu pakek kata maaf diawal kalimat. Maaf ya aku lagi fokus kuliah, maaf ya
aku telah menyukai orang lain tapi sekarang kamu pasti bilang begini sama Mas Defran. Maaf ya Mas
aku nggak bisa lupain kamu Mas," ucap Kiran menirukan cara bicara Lifia membuat Kana tertawa.

"Hahaha...kok kalian ini lucu banget ya..." tawa Kana.

"Lucu dari mana Mbak, ini Mbak Kiran sengaja banget ngejekin aku," kesal Lifia membuat Kana dan Kiran
terkekeh.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Dia lebih baik.
Dia lebih baik
Lifia mengingat bagaimana makan malamnya bersama Defran beberapa hari yang lalu dan ia sangat
kesal jika mengingatnya. Apalagi Ibunya Murni juga telah mengatakan jika ia memang harus melupakan
Defran dan mencoba memilki hubungan dengan laki-laki lain. la tak pantas mengharapkan seseorang
seperti Defran yang sepertinya tidak akan luluh dan berbalik menyukainya. Betapapun ia mencintainya,
ia tidak bisa memkasa Defran untuk bersamanya.

Hari ini Lifia sangat lelah bagaimana tidak ia telah menjalani pembacaan naskah dengan teman-
temannya yang akan syuting film baru dan syutingnya akan diadakan diluar negeri. Film yang akan ia
mainkan berkisah tentang seorang perempuan yang menyukai laki-laki tampan yang agamis
membuatnya akhirnya memutuskan menggunakan hijab, hanya karena ingin mengambil hati laki-laki itu.
Namun dalam perjalanannya laki-laki itu ternyata telah dijodohkan dengan sahabatnya yang
mengajarkannya tentang nilai-nilai agama hingga akhirnya ia hampir kembali menjadi dirinya yang dulu.
Tapi akhirnya ia memilih untuk tetap berjalan di jalannya dan berusaha menjadi sosok perempuan
sholeha hingga jodohnya terbaiknya pun datang.

"Lifi kamu itu kalau pakai hijab tambah cantik gitu,"

ucap Azura yang juga bermain difilm yang sama dengannya. Azura merupakan artis yang juga dibesarkan
oleh manajemen yang sama dengan dirinya.

"Alhamdulilah ya," ucap Lifia tersenyum.

Sandra mendekati mereka dan ia tersenyum melihat keduanya. "Aduh senang banget akhirnya kalian
akan

1/7

Dia lebih baik


bermain film bersama lagi," ucap Sandra.

"Iya Alhamdulilah, untung saja suamiku tetap mengizinkanku syuting film asalkan adegannya ya...tetap
nggak boleh ada adegan ciuman," ucap Azura membuat Lifia tersenyum.

"Beruntung banget dapat suami pengertian, andai saja ya aku itu punya suami nanti kayak suami kamu
yang mengizinkan aku tetap boleh syuting, pasti aku akan sangat bahagia," ucap Lifia.

"Awalnya sih aku nggak dibolehin sama suamiku tapi akhirnya dia ngerti kok, nah...baru juga dibilangin
dianya ehhh... dianya udah jemput," ucap Azura tersenyum senang saat melihat suaminya yang datang
menjemputnya. Lifia tersenyum melihat kebahagian Azura dan ia bisa melihat betapa suaminya Azura
sangat mencintai Azura, terbukti Azura sering kali pulang syuting dijemput oleh suaminya. "Suamiku
udah jemput aku, Lifia. Aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok... Assamaluakikum," ucap Azura dan ia
mencium pipi kanan dan pipi kiri Lifia, ia juga mencium pipi kana dan kiri Sandara lalu segera
melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.

"Lifia, ingat nggak dulu karirnya Azura pernah hancur karena fitnah mantan calon tunangannya. Dia
nggak jadi tunangan sama si Baska itu dan keluaganya Baska malah ngejelekin Azura hingga
menyalahkan Azura, atas batalnya pertuangan mereka," ucap Sandra.

"Iya dulu aku kasihan banget sama Azura tapi Alhamdulilah penderitaan yang dia alami, akhirnya
berbuah manis, dia mendapatkan suami dan keluarga yang sangat menyayanginya," ucap Lifia.

"Iya Alhamdulilah, apalagi semenjak Ibu Ike yang pegang kendali manajemen. Semuanya berjalan
dengan baik dan bahkan kita kebanjiran job. Bukan hanya iklan dan endorose saja, tapi juga acara amal
hingga kontrak

2/7

Dia lebih baik


eksklusif brand ternama," ucap Sandra dan memang saat ini Lifia menjadi brand ambasador barang-
barang mewah.

"Karir boleh cermerlang, tapi dunia percintaan tidak," ucap Lifia.

"Sekarang gimana udah yakin bener buat melupakan dia? kalau udah yakin itu tuh ada Pak Andre ngajak
makan siang katanya," ucap Sandra menatap sosok yang melangkahkan kakinya mendekati mereka.
Andre seorang pengusaha terkenal dibidang tambang itu memang beberapa kali mencoba mendekati
Lifia.

"Kalau perginya sama kamu, aku sih oke-oke saja tapi kalau berdua, aku nggak mau!" ucap Lifia. la tidak
ingin mendapatkan gosip jika ia hanya pergi berdua saja dengan Andre, apalagi sejujurnya ia tidak terlalu
suka dengan sosok Andre. Andre sering kali memberikan hadia barang mewah untuknya meskipun
berulang kali ia telah menolaknya.

"Yaudah kita pergi sama-sama saja!" Ucap Sandra.

"Nggak mau Sandra, kamu urus dia aku mau pulang lewat jalan belakang hotel ini saja!" Ucap Lifia.

Liria mempercepat langkah kakinya meninggalkan Sandra, lalu ia menuju pintu belakang hotel ini. Andre
ternyata tidak menyerah dan sepertinya Andre berusaha mengejarnya, membuat Lifia bersembunyi
dibalik pilar. Setelah aman Lifia memilih menaiki lift dan ia menuju lantai dimana ruang rapat khusus
berada. la meminta salah satu karyawan hotel membantunya menuju lantai itu dengan bantuan kartu
akses yang dimilikinya. Lifia berhasil mendapatkan tempat yang cukup aman dan ia menghembuskan
napas leganya.

'Gila...dia tetap sana ngejar aku ke hotel ini pada hal disini kan tadi kita sedang meeting, kok aku jadi
takut sama
3/7

Dia lebih baik


di Andre, Batin Lifia. la mempercepat langkah kakinya namun tanpa sengaja ia berhadapan dengan sosok
perempuan cantik yang tengil yang saat ini sedang tersenyum senang padanya.

"Mbak Lifia," panggilnya.

"Salsa," ucap Lifia membuat Salsa tersnyum. "Loh kenapa ada disini?" Tanya Lifia penasaran.

"Ada acara sama Mami, makanya disini. Mami lagi rapat itu disana! Ayo ikut dulu...Mbak sedang nggak
buru-buru kan?" Tanya Salsa. Lifia bingung menolak ajakan Salsa atau menerimanya, namun Salsa segera
menarik tangan Lifia agar mengikutinya. "Udah pekerjaan Mbak sudah selesai," ucap Salsa dan keduanya
melangkahkan kakinya menuju ruang rapat.

Salsa masuk kedalam ruang rapat dengan membawa Lifia, membuat beberapa orang terkejut melihat
Lifia. Lifia yang sangat terkenal tentu saja membuat mereka kagum dengan kecantikan Lifia, apalagi jika
dilihat dari jarak dekat seperti saat ini. "Wah calon menantu Mami ada disini juga rupanya, sini Nak!"
Ucapnya meminta Lifia melangkahkan kakinya mendekati Liana dan ia mencium punggung tangan Liana
lalu tanpa diduga, Liana mencium pipi kanan dan pipi kiri Lifia.

"Kamu jangan pulang dulu ya Nak, tunggu Mami selesai rapat kamu ikut Mami pulang! Jangan menolak
Mami sudah lama nggak ketemu kamu!" Ucap Liana menatap Lifia dengan tatapan penuh harap.

Liana merupakan Mami kandung Defran dan ia juga mertuanya Kana Kakak sepupunya. Liana sangat
dekat dengannya apalagi setelah Kana menikah dengan Serkan Satyas. Lifia sangat sering menghabiskan
waktu bersantainya di Rumah Liana, namun sudah beberapa bulan ini Lifia tidak pernah lagi berkunjung
ke Kediaman orang tuanya Defran. Lifia hanya ingin melupakan Defran

4/7

Dia lebih baik


dan ia harus menghindari hal yang berkaitan dengan Defran, termasuk orang tua Defran. Apalagi Mami
Liana sangat menyayanginya dan ia akan sangat sedih ketika ia telah banyak menerima kasih sayang,
tapi kelak Defran memilih menikahi perempuan lain. Lifia akan sangat hancur dan ia pasti akan sangat
bersedih jika saat itu tiba, makanya dengan pergi menjauh dari keluarga Defran sekarang, ia berharap ia
akan menjadi terbiasa dengan

dirinya dan ikhlas melepaskan Defran untuk perempuan lain.

Lifia mendengarkan rapat yang sedang berlangsung, ia menyadari beberapa dari mereka sejak tadi
mencuri pandang melihat kearahanya. Kebanyakan dari mereka, menatapnya dengan tatapan menilai
dan itu yang membuat Lifia jadi salah tingkah, apalagi Liana memang selalu saja mengatakan
mengatakan kepada orang-orang
5/7

Dia lebih baik


disekitarnya, jika Lifia adalah calon menantunya. Rapat telah selesai saat ini diruang rapat hanya ada
Lifia, Salsa dan juga Liana.

"Aduh Mami kangen banget sama kamu Nak, kenapa kamu nggak pernah datang ke Rumah Mami lagi?"
Tanya Liana.

"Lifia sibuk akhir-akhir ini Mi," ucap Lifia.

"Dulu kamu lebih sibuk tapi kamu bisa sarapan pagi di Rumah, kamu sama Defran itu sama-sama gila
kerja, sekarang Defran lebih sering tinggal di Apartemennya dari pada pulang," ucap Liana membuat
Lifia tersenyum.

"Kamu ya Nak jangan bikin Mami sedih karena rindu sama kamu, kamu dan Defran sedang marahan tapi
itu kan bukan salahnya Mami. Kamu nikah saja sama Defran yang penting status kamu istrinya Defran,
kalau Defran nggak mau pulang ke Rumah Mami lagi juga nggak apa-apa, tapi kamu tetap tinggal sama
Mami!" Ucap Liana membuat Salsa terkekeh mendengar ucapan Maminya itu.

"Kan...Mami bisa angkat Mbak Lifia sebagai anak angkat Mami saja tanpa harus menikahkan Mas Defran
sama Mbak Lifia!" Ucap Salsa.

"Mana bisa begitu, Mami itu mau lihat cucu Mami itu dari Lifia sama Defran, pasti anak mereka cakep-
cakep ngegemesin gitu. Mami nggak terima menantu lain kalau Defran tetap kekeuh nikah sama
perempuan lain. Defran jangan pernah bawa istri lain kecuali Lifia. Kalau nggak nikah sama Lifia, lebih
baik dia jomblo saja selamanya!" Ucap Liana membuat Salsa terkekeh mendengar ucapan Maminya ini.

12

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/7

Kamu yang diakui.


Kamu yang diakui
Lifia menghembuskan napasnya sulit baginya menolak keinginan Liana apa lagi Liana menatapnya
dengan tatapan memohon seperti ini. Salsa menyunggingkan senyumannya dan ia yakin Lifia pasti akan
ikut bersamanya pulang ke Kediaman orang tuanya dan malam ini, ia akan sangat senang karena bisa
kumpul bersama Kila, Lifia dan Kana. la tinggal membujuk Kiran agar segera datang ke Rumahnya dan
menginap bersama seperti sebelumnya.
"Kalau kamu nggak ikut Mami pulang, berarti kamu nggak sayang sama Mami, apa kamu jadi benci
Mami ya Nak?" Tanya Liana sendu.

"Nggak Mi, aku sayang kok sama Mami...iya aku ikut Mami pulang!" ucap Lifia dan ia terpaksa ikut
pulang karena ia tak ingin Liana bersedih karenanya. Apalagi ia telah berusaha menghindar dari keluarga
Defran namun tetap saja Mami Liana masih mencarinya dan memintanya untuk pulang.

"Alhamdulilah, Mami senang banget nak..." ucap Liana dan ia tersenyum penuh kemenangan.

Lifia tidak tahu jika hotel ini adalah milik Satyas grup yang seharusnya dikelola oleh Defran, namun
karena Defran sangat sibuk dengan dunianya sebagai Abdi negara, Mami Liana akhirnya membantu
Defran. Saat ini keduanya melangkahkan kakinya menuju mobil yang ada dilobi, Lifia mengedarkan
pandangannya, ia seolah menghindar dari seseorang membuat Salsa menatapnya dengan tatapan
penasaran. "Ada apa Mbak?" Tanya Salsa.

"Tadi ada yang mau ngajakin makan siang sama dia tapi aku nggak mau, soalnya takut banget. Dia udah
aku

1/6

Kamu yang diakui


ditolak berulang kali tapi masih juga ngejar-ngejar gitu. Mungkin kayak gitu juga ya Sa, Mas Defran saat
dulu aku ingin dekatin dia. Dia pasti takut banget sama aku ya Sa," ucap Lifia dengan suara rendahnya
agar Liana tidak mendengar pembicaraan mereka.

"Mas Defran takut sama Mbak? Mana ada...ini ya kalau Mbak tiba-tiba peluk dia, Salsa yakin deh dia
nggak bakal mendorong Mbak buat melepaskan pelukannya, tapi dia akan membiarkan Mbak
memeluknya dengan erat, gimana kalau Mbak coba!" Ucap Salsa mencoba menantang Lifia.

"Nggak mau...kalau dia dorong aku terus aku jatuh, jadinya kan malu banget Salsa," ucap Lifia membuat
Salsa terkekeh.

"Itu nggak akan mungkin terjadi, percayalah Mbak. Kenapa semua keluarga kita itu setujunya Mbak
sama Mas Defran, pasti ada sesuatu yang kami yakini kalau kalian itu sangat cocok," ucap Salsa.

'Cocok dari Hongkong, kalau setiap kita bertemu, kita itu selalu saja bertengkar' Batin Lifia.

Semua yang hadir dirapat tadi jadi menyakini jika Lifia memilki hubungan spesial dengan Defran Satyas,
apalagi hanya Defran anak laki-laki Liana yang belum menikah dan Liana tadi sempat memanggil Lifia
sebagai calon menantunya. Pembicaraan ini kemudian tersebar dari mulut ke mulut dan gosip
kedekatan Lifia dan Defran sebentar lagi akan merebak. Saat ini mereka telah masuk kedalam mobil dan
Lifia mengirimkan pesan kepada Sandra, agar Sandra pulang lebih dulu karena ia akan pergi ke Kediaman
orang tua Defran.
Dalam perjalanan menuju Kediamannya, Liana tersenyum penuh arti dan ia ingin Lifia segera menjadi
menantunya. Lifia bukan hanya cantik, tapi memilki hati yang tulus sama seperti Kana. Subekti dan
Murni memang

2/6

Kamu yang diakui


berhasil mendidik putra dan putrinya menjadi anak-anak yang sangat baik. Liana menjadi semakin
sayang kepada Lifia ketika Murni menceritakan siapa Lifia sebenarnya. Kisah masa kecil Lifia yang penuh
kesedihan itu membuat Liana ingin melindunginya.

"Jadi alasan kamu nggak datang-datang ke Rumah Mami itu kenapa?" Tanya Liana membuka
pembicaraannya.

"Lagi ada kesibukkan Mi," ucap Lifia.

"Kesibukan apa? Nggak usah bohong sama Mami sayang! Itu Kana udah cerita sama Mami katanya kamu
udah nggak sayang gitu sama Defran, Yaudah kalau nggak sayang sama Defran, sama Mami kamu nggak
boleh gitu!" Ucap Liana. "Kalau benci sama Defran, kamu nggak usah tegur dia saja tapi kamu tetap
harus datang seminggu sekali ke Rumah Mami!" Ucap Liana.

"Tiap malam minggu biasanya aku menginap di Rumah ibu Mi, makanya nggak bisa main ke Rumah
Mami," ucap Lifia.

"Kalau gitu hari minggu malam senin kamu nginap di Rumah Mami!" Ucap Liana membuat Salsa
menahan tawanya karena Maminya benar-benar nggak akan melepaskan Lifia untuk menjadi
menantunya.

"Defran itu kalau nggak didekatin sama perempuan dia nggak akan dekat gitu, cueknya minta apapun
dia itu sama kayak sepupunya. "Si Fajrin itu kalau Mami dan adiknya Mami nggak maksa dia buat dekatin
Bita, sampai sekarang mungkin sama kayak Defran belum nikah juga," ucap Liana. "Asal kamu tahu ya
nak, Mami itu sudah sering mau deketin Defran sama anak temannya Mami, tapi Defran itu tetap saja
nggak mau," ucap Liana.

Lifia. 'Sama juga, dia juga nggak mau sama aku, Batin

"Mbak gimana kalau Mbak tinggal di Rumah kita saja

3/6

Kamu yang diakui


dulu Mbak, nanti Mbak kerja kan bisa diantar sopir Mami. Kalau Mas Defran itu ada perasaan sama
Mbak dia pasti sering pulang ke Rumah dari pada di Apartemen," ucap Salsa.
"lya...seminggu ini ya tinggal sama Mami sayang, pelase minggu depan kan Mami ulang tahun!" Ucap
Liana menatap Lifia dengan tatapan memohon.

Lifia. "Tapi Mi, bajuku masih di Apartemenku!" Ucap

"Tinggal pakai baju Salsa atau Kana, baju Mami kan juga bisa sayang!" Ucap Liana.

"Pakaian dalam..." ucap Lifia.

"Gini aja, besok kamu ambil pakaian buat seminggu nginap di Rumah Mami! Oke sayang!" Ucap Liana
mencubit pipi Lifia membuat Lifia tersenyum. Jika ia berhadapan dengan Liana, ia akan sangat sulit
menolak Liana. Apalagi Liana sangat lembut dan penyayang padanya, sosok yang sangat

lagi. mudah dirindukan. "Oke kan Nak?" Tanya Liana

"Iya Mi," ucap Liana.

Lifia terpaksa menyentujuinya, apalagi ia baru saja mendapatkan email jika keberangkatannya diluar
negeri untuk suatu acara akan ditunda hingga bulan depan. Liana menyunggingkan senyumannya, kali
ini ia akan membuat Defran menghabiskan banyak waktu bersama Lifia dan jangan panggil ia Liana, jika
ia tidak bisa membuat Defran membuka hatinya untuk Lifia. Apalagi ia tahu putranya itu memiliki
perhatian pada Lifia dan oleh karena itu ia sering berkata kasar kepada Lifia sebenarnya karena
kahwatir.

Salsa sengaja mengambil foto dirinya bersama Lifia dan ia mengirimkan fotonya ini kepada Defran. la
yakin Kakaknya itu akan pulang dan ia pasti akan membuat Lifia

4/6

Kamu yang diakui


bertambah kesal padanya. Salsa bahkan tidak mengerti dengan sikap Defran yang sangat dingin dan
acuh tak acuh, namun memiliki sisi berbeda dari sikapnya itu kepada Lifia. Beberapa menit kemudian
mereka sampai di kediaman Nasir Alisatyas dan jantung Lifia berdetak dengan kencang. Sudah beberapa
bulan ini ia tidak datang ke Kediaman ini, biasanya ia datang kemari pasti ia akan terlihat sangat
bersemangat karena ia akan bertemu

Defran, namun hari ini semangatnya itu seakan hilang.

Kembali datang kemari seolah memberinya harapan jika keluarga ini juga akan menjadi bagian dari
hidupnya. Liana menatap wajah sendu Lifia, "Hanya kamu yang akan Mami akui sebagai menantu Mami,
istri dari Defran, kalau Defran menikah dengan perempun selain kamu, Mami nggak akan mengakuinya.
Kalau mau Mami mengakuinya, Defran boleh membawanya kemari ketika dia udah

5/6
Terserah.
Terserah
Rumah terasa sangat ramai ternyata ada si kembar yang sedang bermain di ruang tengah kediaman
Nasir Satyas, kedua kembar itu bernama Radiatama dan Radianata. Melihat kedatangan Omanya yang
membawa Lifia membuat keduanya tersenyum senang. "Ante Lifi..." ucap keduanya dan keduanya
mengulurkan tangannya.

"Aduh Ante bingung mau salim yang mana dulu," ucap Lifia tersenyum senang.

"Suit Atama!" Pinta Nata.

"Nggak kamu aja duluan, aku ngalah deh...!" Ucap Atama membuat Liana dan Salsa tersenyum.
Radianata dan Radiatama merupakan anak angkat Serkan dan Kana, bagi keluarga besar mereka
Radianata dan Radiatama adalah cucu sulung mereka. Radianata dan Radiatama juga merupakan anak
mendiang sahabat Serkan Satyas dan sejak bayi memang Serkan dan rekannya yang menjaga mereka.
Namun ketika Serkan telah menikah, ia akhirnya membawa mereka ke Kediamanya atas izin istrinya dan
akhirnya mereka benar-benar mengadopsi si kembar secara resmi.

Nata mencium punggung tangan Lifia, ia juga mencium punggung tangan Salsa dan juga Liana begitu pun
juga Atama. "Ante kok nggak pernah main ke sinis lagi?" Tanya Atama sendu. Terlihat dari tatapannya ia
sangat sedih Lifia sudah lama tidak datang kemari.

"Iya kenapa Ante?" Tanya Nata.

"Nah...ayo jawab Ante kenapa, ini mereka berdua sangat merindukan Ante Lifia, iya kan sayang?" Tanya
Liana.

1/7

Terserah
"Iya Oma, rindu sekali," ucap Nata.

"Kata Ante Kiran, Ante berantem sama Om Def ya?"

Tanya Atama membuat Lifia terkejut. la kesal kepada Kiran yang pasti sengaja mengatakan hal ini
kepada keponakannya ini. Serkan dan Kana minggu kemarin juga tidak mengajak si kembar menginap di
rumah orang tuanya kareana ternyata si kembar menginap di rumah Uyut Alisatyas.

Lifia. "Nggak kok, siapa bilang kita berantem," ucap

"Om nggak berantem sama Ante Lifi kan Om..." teriak Nata.

Defran mengalihkan pandangannya menatap kearah Lifia membuat Lifia terkejut, namun ia segera
menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu. "Siapa yang berantem?" Tanya Defran.
"Om dan Ante Lifi makanya Ante nggak main kesini lagi, Ante sini!" ucap Atama dan ia menarik tangan
Lifia agar mendekati Defran membuat Lifia terkejut. "Om...Om..." panggil Atama namun Defran fokus
dengan buku yang sedang ia baca. "Om kalau dipanggil lihatin dong orangnya yang manggil!" Pinta
Atama membuat Salsa dan Liana terkikik geli melihat tingkah si kembar.

Defran menutup bukunya, ia mengangkat wajahnya menatap sosok Lifia dan Atama yang ada
dihadapannya. "Om baikan dulu sama Ante biar Ante sering main kesini, nggak ada Ante nggak seru loh
Om!" Ucap Atama menatap Defran dengan tatapan memohon.

"Iya Om, Ante sering ngajakin kita main monopoli soalnya," ucap Nata. "Ante juga sering ngajakin kita
makan es krim," ucap Nata.

Nata mendekati Defran dan ia menarik tangan Defran agar mengulurkan tangannya, sedangkan Atama
menarik tangan Lifia agar menyambut uluran tangan Defran.

2/7

Terserah
Dengan sangat terpaksa Lifia menyambut uluran tangan Defran. "Om dan Ante baikan dan jangan
musuhan lagi ya!

Kata Opa dosa loh..." ucap Atama.

"Iya dosa, harus damai gitu biar nggak ada keributan dan hati tenang," ucap Nata.

"Wah...Nata dan Atama udah kayak Ayah Serkan aja ngomongnya, pinter banget ya nak," ucap Salsa.

Defran menatap Lifia dengan tatapan datarnya membuat Lifia menghela napasnya, "Kapan saya
musuhan sama kamu?" Tanya Defran.

"Kita memang nggak ada musuhan," ucap Lifia. Lifia melihat sisi sofa yang kosong tempat dimana Defran
sedang duduk.

"Kalau mau duduk, duduk saja!" Ucap Defran.

"Nggak usah!" ucap Lifia.

"Duduk aja Mbak!" Ucap Salsa dan ia mendorong tubuh Lifia agar duduk disamping Defran dan ia
sengaja duduk disamping Lifia agar jarak Lifia dan Defran semakin dekat.

"Mas tumben pulang?" Tanya Salsa.

"Biasanya juga pulang," ucap Defran.

"Ya ampun Mas senyum dikit kenapa sih, sok cool banget..." goda Salsa.
Liana duduk dihadapan mereka sambil memangku Nata sedangkan Atama duduk disamping Liana.
"Def..."

panggil Liana.

"Iya Mi," ucap Defran.

"Besok kamu anterin Lifia ke Hotelnya kamu katanya ada syuting, lagian besok kamu libur kan nggak ke
Rumah Sakit!" perintah Liana.

"Nggak usah Mi, nanti aku bisa minta Sandra jemput aku, Mi!" Ucap Lifia.

"Kalau dia nggak mau Defran anterin nggak usah

3/7

Terserah
dipaksa Mi!" Ucap Defran membuat Liana melototkan matanya.

"Nata sama Tama ke Mbak dulu disana, Oma mau bicara sama Om yang nakal karena nggak nurutin
maunya Oma!" Ucap Liana.

"Oke Oma," ucap Atama dan Nata bersamaan.

Keduanya segera melangkahkan kakinya menjauh menuju lantai dua.

Liana menatap Defran dengan dingin dan ia kesal dengan sikap Defran. "Kamu maunya apa Defran?
Sampai sekarang kamu masih jomblo sedangkan yang suka sama kamu banyak sekali, tapi ingat ya Mami
nggak setuju kamu sama siapapun kecuali Lifia!" Ucap Liana.

"Terserah Mami," ucap Defran.

"Maksud kamu apa? Kamu sikapnya dingin begini sama Lifia, terus ini apa terserah Mami?" ucap Liana.

"Sikap Mas Defran memang begini Mi, nggak sama Mbak Lifia saja kayak gini, sama semua orang juga
gitu," ucap Salsa.

"Mami nggak mau ya gara-gara kamu Lifia jadi nggak mau datang kemari!" Ucap Liana.

"Defran nggak pernah melarang dia datang kemari Mi, mau tinggal disini sekalian terserah dia!" ucap
Defran.

Wajah Lifia merah padam dan ia sangat kesal dengan perlakuan Defran padanya. Jelas-jelas selama ini ia
menujukkan jika ia menyukai Defran, tapi Defran bersikap acuh tak acuh padanya bahkan sering kali
mengeluarkan kata pedas yang menyakiti hatinya. "Jadi kalau Lifia setuju Mami lamar untuk kamu,
terserah dia juga itu maksud kamu? Ya ampun Defran nyebelin banget ini anak...maunya apa coba?"
ucap Liana prustasi dengan sikap Defran.
"Udah Mi lamar saja sama orang tua Mbak Lifia!" Ucap Salsa.

4/7

Terserah
"Sekarang memangnya Lifia mau sama kamu? Dia nggak mau sama kamu!" Ucap Liana kesal. "Lifia kamu
mau dinikahi sama robot nggak punya hati ini?" Tanya Liana kesal.

"Nggak mau, Mi," ucap Lifia.

"Yaudah dia nggak akan bisa nikah sama perempuan lain kalaupun nanti kamu menikah dengan laki-laki
lain, biar di jomblo seumur hidup udah menyia-nyiakan kamu,

Lifia!" ucap Liana.

"Berhenti kamu jadi artis, jadi ibu rumah tangga saja!" Ucap Defran membuat Lifia mengalihkan
pandangannya menatap Defran dengan kesal. la tahu Defran sengaja mengatakan hal ini untuk
membuatnya berhenti berharap karena ia tidak mungkin berhenti bekerja menjadi artis seperti
keinginan Defran.

"Ya ampun Lifia kamu bisa dapat suami yang lebih

5/7

Terserah
tampan dan nggak banyak aturan!" Ucap Liana kesal.

"Iya Mi, lagian siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki dingin acuh dan sombong," ucap Lifia
dingin membuat Defran mengangkat sebelah alisnya.

"Kamu bilang apa?" Tanya Defran dingin.

"Sombong," ucap Lifia.

Defran menghela napasnya membuat Liana terkikik geli melihat interaksi diantara keduanya. "Yaudah
kalian bicara berdua dulu!" Ucap Liana.

"Nggk usah Mi," ucap Lifia dan ia bediri lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Defran membuat Liana
menepuk bahu Defran, sedangkan Salsa mengikuti Lifia dari belakang.

"Defran..." panggil Liana.

"Ada apa Mi?" Tanya Defran dan ia mengerutkan dahinya menunggu apa yang ingin ditanyakan Liana
padanya.
"Kamu suka sama Lifia? Mami tahu Defran siapa kamu," ucap Liana. "Kamu bakalan nyesel kalau Lifia
sama laki-laki lain nak," ucap Liana. Defran menatap Liana dengan dingin "Kamu ini kurang ajar sekali
Defran, pantas saja Lifia itu sedih banget kalau bicara sama kamu. Kamu itu kayak nggak punya hati
gitu..." ucap Liana. Putranya ini memang terlalu mandiri dan penyendiri sejak kecil, itu yang
membuatnya terlihat dingin dan sombong karena terlihat tidak memperdulikan orang lain.

"Mami ingin ikut campur urusan pribadi Defran, kalau begitu jangan setengah-setang Mi!" Ucap Defran
membuat Liana mengerutkan dahinya.

"Kamu ini bicara saja sama Mami pakek isyarat gitu, maksud kamu apa sih? Kamu meminta mami
mengatur semuanya begitu termasuk pernikahan kamu? Ya Ampun Defran kamu ini keterlaluan sekali..."
ucap Liana

6/7

Hati-hati.
Hati-hati
Lifia menatap pintu kamarnya, setiap ia menginap di Kediaman Nasir Ali Satyas orang tuanya Defran ini,
ia akan bermalam dikamar yang tepat berhadapan dengan kamar Defran. la menghela napasnya dan
sebenarnya jika ia terus menghidari Defran, ternyata itu hanya akan percuma saja dan harusnya ia bisa
menghadapi Defran. Defran adalah adik kandung Serkan kakak iparnya dan karena ia masih kerabat
mereka, ia akan sering bertemu dengan Defran.

Lifia membuka pintu kamarnya dan ia tekejut saat melihat Defran juga membuka pintu kamarnya. Lifia
melewati Defran, membuat Defran mengangkat sebelah alisnya. "Sejak kapan kamu menjadi tidak sopan
Lifia," ucap Defran sinis. Lifia menghentikan langkah kakinya dan ia menatap Defran dengan kesal.

"Sejak kapan kamu jadi peduli sama aku?" Tanya Lifia sinis dan ia mendekati Defran, lalu mengangkat
wajahnya menatap wajah tampan Defran. "Kalau kamu itu Kakek, Mami, Papi, aku memang harus
hormat banget dan bersikap sopan sama mereka, tapi kalau kamu...emangnya kamu siapanya aku?
Kamu bukan kakak aku dan kamu itu menyebalkan, egois dan sombong," ucap Lifia kesal.

Defran mengerutkan dahinya dan ia terlihat tidak suka dengan ucapan Lifia. Defran menarik tangan Lifia
agar mengikutinya namun Lifia menolaknya dan ia menghempaskannnya. "Udah Defran nggak usah
dekat-dekat gitu sama aku!" Kesal Lifia. la sangat jingga memanggil Defran tanpa Mas.

"Kamu itu harus diberi hukuman!" Ucap Defran dingin.

1/6

Hati-hati
"Hukuman? Ngapain kamu ngasih aku hukuman?
kamu bukan siapa-siapa aku!" Ucap Lifia memperingatkan Defran jika ia bukan siapa-siapanya Defran
dan harusnya Defran tidak perlu mengaturnya apalagi menghukumnya.

Defran menarik tangan Lifia dan ia tidak peduli Lifia yang mencoba memberotak darinya. "Lepaskan!"
Teriak Lifia.

"Teriak saja biar semua orang yang ada di Rumah ini tahu, tingkah kamu!" Ucap Defran.

"Lihat saja aku akan bilang sama Mami tingkah kamu ini, Defran..." ucap Lifia.

sini. "Apa...ulangi kamu manggil saya apa?" Tanya Defran

"Defran," ucap Lifia kesal dan Defran masuk kedalam kamarnya dan ia mendorong Lifia hingga Lifia
terduduk diranjang. Jantung Lifia berdetak dengan kencang dan ia mengangkat wajahnya menatap sosok
angkuh yang saat ini ada dihadapannya. "Ini KDRT namanya, kamu mau aku laporkan!" ucap Lifia dengan
nada yang cukup tinggi karena kesal.

Defran memegang dagu Lifia dan ia menatap datar Lifia. "KDRT? Katanya kamu bukan siapa-siapa saya?"
Tanya Defran sinis.

"Memang aku bukan siapa-siapa kamu, aku ini tamu di Rumah ini," ucap Lifia.

"Tamu yang selalu merepotkan," ucap Defran.

"Kapan aku merepotkan kamu? Nggak ada...gini aja kalau aku sedang berada di Rumah ini ketemu sama
keluarga kamu, kamu nggak usah pulang kemari!" Ucap Lifia.

Defran mengangkat sebelah alisnya "Kamu berani memerintah saya?" Tanya Defran dan ia menatap
wajah

2/6

Hati-hati
cantik itu yang saat ini terlihat pucat pasih dan ia memundurkan langkah kakinya mengambil sesuatu.

"Iya dan demi kebaikan bersama, kamu nggak suka ketemu sama aku, aku juga begitu!" Ucap Lifia kesal.

Defran mengambil sebuah kain pembersih untuk membersihkan meja kerjanya yang ada dikamarnya ini.

"Bersihkan meja kerja samya dan juga kaca lemari!" Ucap Defran seenaknya membuat Lifia membuka
mulutnya.

"Dasar gila kamu pikir aku itu pembantu kamu?"

Tanya Lifia kesal membuat Defran menatap Lifia dengan dingin.


"Gila? Sikap gila mana yang saya tunjukkan sama kamu?" Tanya Defran dan ia kembali melangkahkan
kakinya semakin mendekati Lifia membuat Lifia gugup dan ia segera menjauh dari Defran.

"Bersihkan sekarang juga atau kamu nggak usah makan malam!" Ucap Defran.

"Mami pasti akan kemari dan marahin kamu! Dia akan cari aku disini!" Ucap Lifia.

"Nggak akan, nggak ada yang berani masuk ke kamar ini tanpa izin saya!" Ucap Defran. "Siapapun itu
termasuk Mami!" Ucap Defran. "Tinggal pilih, bersihkan kamar saya sebagai hukuman berbicara kasar
kepada saya dan ini juga sebagai balas budi karena kamu masih bisa hidup hari ini berkat saya!" Ucap
Defran.

Lifia mengambil mengambil kain serbet itu dan ia mulai membersihkan meja Defran dengan kesal.
Defran memperhatikan tingkah Lifia dan tatapan matanya ini seolah sedang menilai apa yang dilakukan
Lifia. "Mami saya terlalu menyukai kamu, jadi saya harus bagaimana menyikapi keinginannya?" Tanya
Defran. la duduk santai disofa dan memperhatikan Lifia, ia sengaja mengajak bicara Lifia berbincang
seperti ini sambil melihat Lifia yang sedang berkerja. Lifia menyemprotkan cairan pembersih ke

3/6

Hati-hati
meja Defran dan sebelumnya, ia telah menyingkirkan berkas-berkas penting yang ada diatas meja.
Sebenaranya ia ingin juga menyemprotkan cairan pembersih ini ke wajah Defran sekarang juga namun
tidak ia lakukan, karena ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan Defran.

"Bilang saja semua hal ketidaksukaan kamu kepada aku sama Mami, agar Mami mengerti dan tidak
menyakitkan aku dengan kamu lagi, lalu kamu segera

menikah dengan perempuan yang kamu inginkan!" Ucap Lifia. Sebenarnya kata-kata ini tidak akan
keluar dari bibirnya namun ia bisa apa, inilah harga diri yang ia punya. Meskipun hatinya sakit
mengatakan ini, ia harus menahan dirinya untuk terlihat tegar dan ia harus tetap fokus membersihkan
meja Defran. Lifia memilih untuk tidak menatap mata wajah Defran yang sepertinya sedang
memperhatikannya.

4/6

Hati-hati
"Kalau saya menuruti ucapan kamu ini, kamu yang sangat diuntungkan, istri yang saya nikahi tidak boleh
dibawa kemari bertemu Mami, artinya saya menikah tanpa restu Mami, jika saya berumur tujuh puluh
tahun saya baru diperbolehkan membawa keluarga saya kemari, sedangkan kamu dibebaskan datang
kemari seperti menantunya," ucap Defran.

"Itu kan maunya Mami dan bukan aku yang minta Mami melakukan itu," ucap Lifia kesal dan ia
menyusun berkas Defran keatas meja dengan sangat rapi.
"Lemari kaca!" Ucap Defran.

"Mas...udah, kamu bisa minta maid buat bersihkan kamar kamu!" Kesal Lifia. Sebegitu banyaknya
pembantu kenapa harus dia yang membersihkan meja dan lemari Defran.

"Kamu jangan perhitungan Lifia, coba kamu hitung berapa kali saya menyelamatkan kamu!" Ucap Defran
dingin.

"Jadi kamu sekarang perhitungan sekali, selama ini apa yang kamu lakukan itu hanyalah pencitraan saja.
Dulu bangga banget jadi abdi negara punya misi menyelamatkan masyarakan dan menolong orang,"
ucap Lifia kesal.

"Itu kalau sama orang lain saya memang baik sekali tapi sama kamu, saya harus hitung-hitung.
Seterusnya kamu harus bantu saya bersih-bersih kamar ini kalau kamu pulang kemari!" Ucap Defran.
Lifia membuka mulutnya dan ia sangat kesal dengan tingkah Defran ini.

"Nggak mau!" Ucap Lifia kesal.

"Harus mau!" Ucap Defran.

"Nggak mau!" Ucap Lifia dengan nada yang cukup tinggi.

"Jangan menolak keinginan saya!" Ucap Defran. "Atau

5/6

Hati-hati
saya akan menghukum kamu dengan membuat kamu susah seumur hidup kamu!" Ancam Defran dan ia
menyunggingkan senyumannya melihat wajah Lifia terlihat sangat kesal.

'Astaga Lifia kenapa kamu bodoh banget sih...bisa cinta mati sama dia, kalau kamu pun kamu sudah di
selamatin sama dia...dia memperlakukan kamu kayak gini apa pantas?' batin Lifia.

Defran membaca bukunya dengan santai dan keadaan tenang seperti ini sangat ia sukai, sesekali ia
melirik Lifia yang membersihkan lemarinya namun Lifia terlihat kesulitan saat ingin membersihkan
bagian atas lemarinya. Lifia mengambil kursi kerja Defran dan ia menaikinya, namun kursi kerja itu
memiliki roda dibawahnya membuatnya bergerak hingga Lifia hampir terjatuh jika Defran tidak
memeluk tubuhnya.

"Hati-hati!" Ucap Defran dengan suara beratnya. Sikap Defran yang seperti ini yang telah membuat Lifia
mudah luluh dan merasa Defran ternyata baik kepadanya. Defran menurunkan Lifia dari pelukannya.
"Sudah kamu boleh keluar dari kamar ini!" Usir Defran. Lifia membalik tubuhnya dengan cepat dan ia
mendorong pelan tubuh Defran agar menyingkir darinya. la melangkahkan kakinya dengan cepat keluar
dari pintu kamar Defran dan ia terkejut saat melihat Salsa menyunggingkan senyumannya saat
melihatnya.
Komentar lainnya

Berikan Suara

15

6/6

Temenin dia.
Temenin dia
Salsa sejak tadi mencari Lifia bahkan ia mengetuk pintu kamar Lifi, lalu ia membukannya karena tidak
terdengar suara Lifia dari dalam kamar. Salsa menebak jika Lifia berada didalam kamar defran dan ia
sengaja mengambil video Lifia, yang sedang keluar dari kamar Defran. Benar saja Lifia saat ini keluar dari
kamar Defran dengan wajah kesal. Kamar Defran adalah hal terlarang kare'a Defran tidak suka kamarnya
dimasukin orang lain tanpa seizinnya. Salsa saja sangat sulit untuk masuk kesana tapi perempuan yang
ada dihadapannya ini, bisa masuk kedalam kamar Defran begitu saja.

"Mbak lagi ngapain di kamar Mas Defran?" Goda Salsa. "Aduh lagi ngapain? Kenapa aku jadi mikirnya
yang iya...iya gitu ya," ucap Salsa.

"Nggak lagi ngapa-ngapain, Salsa," ucap Lifia dan wajahnya memerah melihat eskpresi Salsa yang tidak
percaya padanya dan pasti Salsa sedang berpikiran aneh tentangnya saat ini.

"Nggak yakin Salsa, hehehe...Mbak nggak ngapa-ngapain sama Mas Defran, hmmm pelukan ciuman
kangen mungkin," goda Salsa.

"Nggak," ucap Lifia.

"Terus ngapain dong Mbak sayang? Hmmm...Salsa tebak ya! Mbak lagi main rumah-rumahan, bobok-
bobokan ya?" Goda Salsa.

"Nggak," ucap Lifia kesal. "Aku diminta bersiin meja kerjanya dan juga lemarinya," ucap Lifia membuat
Salsa terkekeh.

"Wow...dia mana suka ada yang nyentuh meja kerjanya, suster di Rumah Sakit aja aneh sama tingkah dia

1/6

Temenin dia
Mbak, dia nggak mau barang-barangnya disentuh orang lain. Tapi hehehe... Mbak boleh, barang Mas
Defran yang lain apa dong yang disentuh Mbak Lifia?" Tanya Salsa.

"Nggak ada..." ucap Lifia kesal.


Salsa merangkul bahu Lifia, ia sangat bahagia jika Lifia menjadi kakak iparnya apalagi selama ini
kehidupan Defran kakaknya itu terlalu suram dan datar saja tanpa ada kisah menarik seperti kedekatan
Defran kepada perempuan yang ia sukai. "Kata temannya Mas Defran, Mbak Lifia itu pacarnya Mas
Defran, soalnya saat itu Mas Defran segera menyelamatkan Mbak Lifia dulu, baru kembali ke misi
utamanya loh," ucap Salsa.

Lifia menatap Salsa dengan tatapan penasaran, namun ia tidak langsung percaya begitu saja ucapan
Salsa. "Mbak...please nggak usah menghidari Mas Defran! Yakin deh sama aku dan Mami, atau gini aja
kita kerjain Mas Defran, gimana?" Ucap Salsa

Lifia menggelengkan kepalanya dan untuk saat ini ia nggak mau merepotkan orang lain apalagi hanya
demi perasaannya. "Nggak usah Salsa, aku sekarang fokus sama kerjaan saja, lagian dia udah bilang kan
maunya istrinya itu bukan dari kalangan artis kayak aku," ucap Lifia. Salsa menghela napasnya, kalimat
yang diucapkan Defran tentang ia ingin istrinya itu bukan dari kalangan artis; telah menghancurkan hati
Lifia hingga Lifia ingin segera melupakan Defran.

Mereka menuju dapur dan terlihat Liana sedang memasak beberapa hidangan bersama para maid. Lifia
tersenyum melihat sosok perempuan parubaya yang merupakan adik kandung Liana. "Tante Lely apa
kabar?" Tanya Lifia membuat Lely tersenyum senang melihat kedatangan Lifia.

"Calon mantu idaman," ucap Lely dan ia memeluk Lifia dengan erat. Nah...bertambah lagi salah satu
tetua

2/6

Temenin dia
dikeluarga ini yang menganggapnya menantu. "Ya ampun semakin hari kamu itu semakin cantik Nak,
kenapa jarang kemari?" Tanya Lely. Lifia tersenyum pertanyaan ini pasti akan sering ia dengar oleh
anggota keluarga ini, saat bertemu dengannya.

"Lagi sibuk Tante..." ucap Lifia.

"Sibuk apaan, ini pasti kamu berantem sama Defran kan...ya ampun itu anak tingkahnya sama kayak
Fajrin, kalau bukan karena Mama dorong dia buat nikahin Bita sampai sekarang Mama nggak ada cucu,"
ucap Lely. "Fajrin itu sama cewek dingin banget, kalau didekatin sama cewek dikasarin, untung Bita
sabar banget ngadepin dia dan sekarang itu anak bucin banget sama istrinya, nggak boleh itulah nggak
boleh inilah," ucap Lely membuat Liana terkekeh.

"Hehehe...memang mirip tapi Defran yang lebih aneh. Defran belum nikah saja sama Lifia, larangannya
banyak banget...udah dari A sampai Z, masa Lifia diminta jadi ibu rumah tangga saja," ucap Liana.

Lifia tersenyum miris, pembicaraan seperti ini membuatnya merasa ia benar-benar memiliki hubungan
khusus dengan Defran, kurang lebih seperti sedang berpacaran dan semua keluarga sedang menunggu
kapan hubungan mereka menuju ke pelaminan. Padahal sampai detik ini, ia tidak memiliki hubungan
apapun kepada Defran Satyas.
Defran menuruni tangga sambil membawa kunci mobilnya. "Kamu mau kemana Defran?" Tanya Liana
yang melihat putranya sepertinya ingin pergi.

"Pulang ke Aprtemen sebentar Mi, ada berkas yang mau diambil," ucap Defran dengan suara beratnya.

"Pulang sama Lifia, ya nak!" apartemen kalian itu kan tempatnya deketan kalau nggak salah Mami ya,"
ucap Liana. Salsa menahan tawanya karena ia tahu, Apartemen

3/6

Temenin dia
Lifia dan Defran itu berada digedung yang sama, bahkan keduanya adalah tetangga dekat. "Lifia mau
ambil pakaian dalam," ucap Liana membuat Lifia tersedak ketika ia sedang meminum segelas air dan
wajahnya memerah karena malu.

"Nggak usah Mi!" Ucap Lifia menolak.

"Pergi saja sama Defran Nak, masa nggak ganti pakaian dalam kamu hari ini, Mami kasih stok pakaian

dalam Mami yang belum dipakai pasti kamu tolak kayak biasa!" ucap Liana membuat wajah Lifia
memerah karena Liana kembali membahas pakaian dalam tepat didepan Defran. "Ayo pergi sama
Defran!" Ucap Liana.

"Ponsel sama tas Lifia diatas Mi," ucap Lifia dan ia ingin mengambil ponsel dan tasnya dulu.

"Nggak usah, kan hanya ke apartemen saja!" Ucap Liana. Jika Lifia tidak membawa ponselnya, maka ada

4/6

Temenin dia
jaminan Lifia kembali pulang kemari tapi jika ia membawa ponsel dan tasnya, bisa saja Lifia mencari
alasan untuk tidak kembali.

Defran melangkahkan kakinya lebih dulu dan Liana menarik tangan Lifia agar pergi bersama Defra.
"Kamu dengerin Mami sayang... Defran itu suka sama kamu, percaya sama Mami!" Ucap Liana mencoba
meyakinkan Lifia.

"Nggak Mi, dia nggak suka sama aku," ucap Lifia.

"Dia hanya nggak suka kamu bekerja Nak," ucap Liana tapi tetap saja Lifia tidak percaya ucapan Liana,
apalagi rasa kecewanya begitu besar. Kesabarannya telah habis untuk menunggu Defran dan berharap
Defran mencintainya seperti ia mencintai Defran. "Pokoknya kamu coba rukun dulu sama dia ya, Nak!
Bicara sama dia baik-baik dan cerna ucapannya biar kamu nggak salah arti gitu, anak itu memang aneh.
Mami bingung dia itu maksudnya mau apa gitu, soalnya bahasanya pelanet gitu," ucap Liana.
Lifia ingin menjawab tidak, ia sulit untuk berbicara baik-baik dengan Defran dan mencoba mengerti
setiap ucapan dingin Defran, namun sulit baginya menetang keinginan Liana. Liana telah ia anggap
seperti ibunya Murni yang telah membesarkannya dan ia sangat beruntung dipertemukan kedua ibu
yang baik seperti keduanya. Saat ini Lifia sampai didepan mobil Defran, sedangkan Defran telah berada
didalam mobilnya.

"Masuklah nak!" Ucap Liana.

"Iya Mi," ucap Lifia. la masuk kedalam mobil Defran sambil menghela napasnya dan ia melirik Defran
yang saat ini telah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

5/6

Aku ini apanya kamu.


Aku ini apanya kamu
Lifia bingung ingin membicarakan apa dan ia memilih untuk diam, hingga tiba-tiba mobil Defran masuk
kedalam sebuah rumah sakit. Lifia menghembuskan napasnya karena Defran ternyata tidak mengatakan
jika ia ingin pergi ke Rumah sakit. "Katanya mau ke Apartemen tapi ini kenapa kesini Mas?" Tanya Lifia
kesal.

"Saya memang mau ke Apartemen, tapi nanti," ucap Defran.

"Terus kalau kamu masuk ke Rumah sakit, aku nunggu kamu di mobil? Kamu lama nggak Mas?" Tanya
Lifia.

"Lumayan lama," ucap Defran.

"Mas aku nggak mau disini sendirian," ucap Lifia.

Apalagi ia berada diparkiran sepi seperti dan ia ditinggalkan sendirian. "Aku ingin ikut tapi aku nggak ada
masker Mas, kalau orang kenal sama aku gimana?" Tanya Lifia.

"Ya resiko kamu," ucap Defran.

"Mas nyebelin banget sih, aku itu serius Mas...aku gimana?" Tanya Lifia kesal.

Defran membuka dasboard dan ia mengambil masker lalu memberikan masker itu kepada Lifia. Lifia
segera memakainya "Kalau pakek masker kayak gini masih kelihatan, itu aku nggak Mas?" Tanya Lifia
lagi.

"Tergantung, kalau mereka melihat kamu secara detail dari atas hingga kebawah dan mengira-ngira
kalau itu kamu atau bukan, kalau mau ketahuan itu kamu, kamu buka saja!" Ucap Defran membuat Lifia
menyebikkan bibirnya.

Defran mendekatkan tubuhnya membuat jantung Lifia


1/6

Aku ini apanya kamu


berdetak dengan kencang, padahal Defran hanya ingin mengambil topi yang berada dibalik jok mobil
yang Lifia duduki. Defran mendekatkan wajahnya kewajah Lifia, membuat Lifia menjadi salah tingkah,
hingga wajahnya merah padam. Defran memakaikan topi itu kepada Lifia, topi yang baunya terasa
harum shampo yang dipakai Defran dan bodohnya ia merasa sangat suka dengan bau harumnya. la
takut dikeramaian yang tidak ada penjaganya karena ada beberapa fans fanatik yang membuatnya
kesulitan jika menghadapi mereka..

Defran mematikan mesin mobilnya dan ia segera turun dari dalam mobil membuat Lifia dengan cepat
segera turun dari mobil. Lifia sangat gugup apalagi ia jarang pergi sendirian tanpa ponsel, tanpa dompet
seperti ini. Defran melangkahkan kakinya masuk kedalam lobi Rumah sakit membuat Lifia segera
mengikutinya dan ia menarik tangan Defran, membuat Defran menghentikan langkah kakinya.

"Jangan cepat banget Mas jalannya! Kalau aku kehilangan jejak kamu, aku gimana?" Tanya Lifia.

"Kamu bukan anak kecil, yang nggak bisa pulang sendiri ke Rumah," ucap Defran dengan suaranya yang
berat.

"Aku memang nggak bisa pulang ke Rumah sendiri karena aku nggak bawa dompet dan ponsel, Mas,"
ucap Lifia dan dengan wajah malu ia memeluk lengan Defra karena terpaksa.

Defran membiarkan tangannya dipeluk oleh Lifia dan ia melanjutkan langkah kakinya dengan santai
menuju ruangannya. Beberapa orang melihat kearahnya dan Defran sangat dikenal di Rumah Sakit ini.
Defran seperti biasa sangat jarang mengumbar senyumannya dan ia juga sangat kaku dalam menangani
pasien-pasiennya, namun ia akan sangat perhatian kepada pasien-pasiennya.

'Terpaksa banget peluk lengan kamu Mas karena kamu

2/6

Aku ini apanya kamu


sangat-sangat sering membuat aku menderita, bisa saja kan kamu ninggalin aku gitu saja sendiri dan aku
bingung mau pulang gimana, apalagi aku nggak ada yang kenal disini, Batin Lifia.

Lifia merasa diperhatiakan oleh beberapa orang yang melihat kearahnya dan itu membuatnya gugup. la
tidak ingin mereka mendekatinya dengan penampilannya yang seperti ini, apalagi ia tiba-tiba ke Rumah
sakit dengan seorang laki-laki. Gosip akan menyebar dan jika ia mendapatkan berita buruk mengenai
dirinya, maka karirnya pun akan dipertaruhkan. "Mas kira-kira mereka sejak tadi lihatin aku, mereka
tahu nggak kalau itu aku?" Tanya Lifia.

"Apa perlu saya tanya mereka satu-satu, mereka tahu itu kamu apa nggak?" Ucap Defran dengan nada
mengejek, membuat Lifia menghela napasnya, ucapan. Defran selalu saja membuatnya kesal.
Seorang perempuan cantik yang memakai jas berwarna putih mendekati mereka dan ia menatap Lifia
dari atas kebawah lalu ia menyapa Defran. "Mas Def..." panggilnya. Terlihat name tag didadanya itu
bertuliskan Dokter Soraya. Entah mengapa Lifia merasa tatapan mata perempuan itu seolah ingin
mengulitinya dan perempuan itu terlihat tidak suka dengan kehadirannya, apalagi sejak tadi ia melihat
kearah tangan Lifia yang sedang memeluk lengan Defran.

"Siapa dia Mas?" Tanya Soraya.

"Apa saya harus memberitahu semua orang yang sedang bersama saya sama kamu?" Tanya Defran
membuat Lifia terkejut, apalagi nada bicara Defran terdengar sangat dingin ditambah lagi suaranya
berat mengisyaratkan agar perempuan ini tidak mengusiknya.

"Hmm...aku penasaran Mas," ucap Soraya.

Defran tidak mengatakan apapun lagi dan ia

3/6

Aku ini apanya kamu


mengacuhkan Soraya yang terlihat masih pemasaran dengan sosok Lifia namun Defran tidak
memberikan penjelasan padanya. Defran melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan Lifia
mengikutinya segera kembali memeluk lengan Defran karena tak ingin Defran meninggalkannya. Defran
masuk kedalam ruangannya bersama Lifia, membuat Soraya yang sejak tadi mengikutinya menatap
pintu ruangan Defran dengan kesal. Selama ini ia selalu menujukkan perhatiannya kepada Defran dan
mencoba mendapatkan hati Defran, namun ia tak pernah bisa mendapatkannya. la kesal melihat Lifia
yang dengan mudahnya menggandeng tangan Defran dan bisa masuk kedalam ruangan Defran berdua
saja.

Defran Alisatyas memang selalu bersikap dingin kepada para perempuan dan ia seolah menjaga jarak
dengan mereka. Apalagi Defran tidak suka beramah tamah kepada orang lain, kecuali ketika pasiennya
itu seorang anak-anak. la akan mengubah eskpresi wajahnya agar tidak telrihat menakutkan karena
menujukkan ekspresi dinginnya ketika menangani pasien anak-anak. Lifia mengedarkan pandangannya
melihat ruangan Defran dan ia membuka masker yang ia pakai. Sebenaranya ia sangat bosan keluar
rumah dengan menggunakan masker seperti ini, namun ia juga tidak ingin menimbulkan kegaduhan
ketika fans atau orang yang mengenalnya, mendekatinya untuk sekedar meminta foto kepadanya,
apalagi jika itu tanpa pengawalan.

Defran membuka laci dimeja kerjanya dan ia mengambil beberapa berkas dari dalam meja. Lifia melihat
beberapa penghargaan yang ada di ruangan Defran dan ada foto Defran bersama anak-anak berkulit
hitam dan juga foto Defran, bersama anak-anak Afghanistan. Lifia memang mendengar Defran sering
pergi keluar negeri untuk menjalankan misi sosialnya dan biasanya ia mengambil cuti kerja bukan hanya
untuk liburan. Lifia diduduk

4/6
Aku ini apanya kamu
dihadapan Defran dan ia melihat Defran membaca berkasnya. "Kalau kamu nggak ada kesibukan
didalam ruangan ini, lebih baik kamu cari kesibukan dengan merapikan meja kerja saya ini!" Ucap Defran
dan ia mengambil berkas yang sedang ia baca lalu melangkahkan kakinya duduk disofa.

Lifia membuka mulutnya dan ia datang kemari bukan ingin membersihkan meja kerja Defran. "Aku
bukan babu

kamu Mas, astaga kenapa mesti aku yang beresin meja kerja kamu?" Tanya Lifia kesal.

"Kamu selalu membersihkan meja kerja saya lebih bersih dan rapi dari pada saya," ucap Defran.

Lifia menghela napasnya, sebenarnya ia dulu yang salah karena pernah membersihkan meja kerja
Defran yang ada di Satya grup, ketika ia berusaha mendekati Defran dan masuk kedalam ruang kerja
Defran tanpa seizin Defran.

5/6

Aku ini apanya kamu


Saat itu sekretaris Defran melarangnya untuk menunggu Defran didalam ruangannya, namun ketika
Liana mengatakan untuk membiarkan Lifia menunggu Defran didalam ruangan Defran, sekretaris Defran
tidak bisa melakukan apapun. la hanya berdoa ketika Defran menemukan Lifia berada didalam
ruangannya, Lifia tidak keluar dengan wajah muram atau bersimbah air mata, karena ucapan kasar
Defran. Lifia ternyata membersihkan meja kerja Defran karena melihatnya sangat berantakan dan
ternyata Lifia keluar dari ruangan Defran dengan selamat.

"Hanya karena aku pernah membersihkan meja kerja kamu di Satyas grup, sekarang kamu minta aku
membersihkan semua meja kerja kamu disetiap kantor kamu, itu maksud kamu? Sekalian saja bawa aku
ke Mabes kalau disana ada meja kerja kamu juga!" Ucap Lifia dengan kesal.

"Boleh saja," ucap Defran membuat Lifia menatap kesal Defran dan ia membuka mulutnya karena begitu
takjub dengan sikap Defran.

"Cepat, kita mau ke Apartemen lagi!" Ucap Defran. Lifia menghela napasnya dan dengan hati kesal ia
membersihkan meja kerja Defran dengan cepat. "Kerja itu harus dengan suka rela biar hasilnya bagus!"
Ucap Defran sambil menatap Lifia dengan datar.

18

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Tidak boleh menyakiti hati.
Tidak boleh menyakiti hati
Banyak yang telah Lifia lakukan untuk mendapatkan perhatian Defran selama beberapa tahun ini. la
sering datang menemui Defran disela-sela kesibukannya syuting dengan membawakan makanan yang ia
buat. la selalu mendapatkan informasi dimana keberadaan Defran oleh Liana yang bekerja sama dengan
asisten Defran di Satyas grup. Liana juga mendapatkan jadwal kerja Defran di Rumah sakit milik Polri,
oleh rekan kerja Defran hanya untuk memberikan informasi kepada Lifia, termasuk jadwal rumah sakit
milik Nasir suami Liana.

Defran selalu meletakkan peralatan membereskan meja kerjanya di sudut ruangan, karena ia tidak suka
mejanya berdebu dan berantakan dipagi hari ketika ia mulai duduk dimeja kerjanya. la tidak suka orang
lain menyetuh barang-barangnya karena bisanya ia akan kehilangan beberapa berkas berceceran dan
disusun tidak berarturan oleh pekerjanya, berbeda dengan Lifia yang menyusunnya dengan sangat rapi,
hingga ia mudah menemukan berkas yang ingin ia dapatkan. Setelah membersihkan meja kerja Defran,
Lifia menyusun berkas yang ia rapikan dengan meneplkan memo yang telah ia tulis didepan berkas itu
lalu mengurutkannya sesuai tanggal dan kepentingannya.

"Ini udah selesai," ucap Lifia dan ia menatap Defran dengan kesal. Defran mengedarkan pandangannya
dan benar saja Lifia telah membersihkan meja kerjanya dan ia bahkan meletakan perekatan untuk
membersihkan meja kerjanya rak yang terdapat disudut ruangan ini.

"Oke, ayo kita Apartemen!" Ucap Defran dan ia segera bediri dari duduk santainya.

1/6

Tidak boleh menyakiti hati


Lifia merapikan rambutnya yang berantakan dan ia segera menguncir rambutnya, lalu ia kembali
memakai masker diwajahnya dan ia juga memakai topi dikepalanya.

Keduanya keluar dari ruangan ini dan melangkahkan kakinya melewati koridor namun Ingkahkan kaki
keduanya terhenti saat sosok laki-laki parubaya menatapnya dengan tatapan dingin. "Kamu sama
siapa?" Tanya dan ia menatap kearah Lifia membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang apalagi
tangan Lifia memeluk lengan Defran.

Dengan cepat Lifia melepaskan pelukan tangannya dan wajahnya merah padam saat ini, karena merasa
telah melakukan hal bodoh didepan Nasir Satyas.

Defran mengulurkan tangannya dan ia mencium punggung tangan laki-laki parubaya ini "Def...kamu
tahu kan Mamimu seperti apa, Papi hanya bisa mendukung kamu bersama perempuan ini diam-diam,
kalau kamu benar-benar menyukainya, tapi kamu tetap tidak boleh menyakiti hati Lifia. Def!" Ucap Nasir
membuat Lifia terkejut mendengar ucapan Nasir Alisatyas yang ternyata sangat memperdulikannya.
Wajah Lifia memerah karena ia sangat malu saat ini, ingin rasanya ia segera membuka masker
diwajahnya ini sekarang juga.

Nasir memperingatkan Defran karena sikap Defran sangat kerterlaluan jika membawa perenpuan ini ke
Kediamannya hari ini terlebih lain saat ini istrinya mengatakan, jika ada Lifia di Rumah mereka. "Jangan
bawa dia ke Rumah karena ada Lifia di Rumah!" Ucap Nasir.

Lifia menelan ludahnya dan Defran menghela napasnya. "Apa saya harus membuka masker wajahnya
sekarang Pi?" Tanya Defran dingin. "Dia Lifia..." ucap Defran.

Nasir melototkan matanya karena terkejut dan ia kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... Papi
kira kamu sama perempuan mana Defran, kamu bikin Papi

2/6

Tidak boleh menyakiti hati


kesal saja..." ucap Nasir. la segera mendekati Lifia dan ia memeluk Lifia. "Ya ampun nak, nggak ada kamu
datang ke Rumah, rumah terasa ada kurang begitu, jangan terlalu sibuk! Kamu sering-sering pulang ke
Rumah!" Ucap Nasir dan ia menepuk-nepuk pelan kepala Lifia. "Ya sudah Papi tenang kalau Lifia yang
gandengan tangan sama Defran," ucap Nasir membuat Lifia terkejut dengan ucapan Nasir.

Lifia mengulurkan tangannya dan ia mencium punggung tangan Nasir. "Mau ambil barang Lifia di
Apartemen Pi, Mami minta Lifia nginap Pi," ucap Lifia.

Nasir tersneyum dan tentu saja istrinya sangat bahagia

saat ini karena bisa membuat Defran pergi bersama Lifia.

"Pi kita mau balik ke Apartemen dulu!" Ucap Defran.

"Kalian kalau berduaan seperti ini kayak suami istri Def, kamu nggak kepingin punya istri Def?" Goda
Nasir.

"Papi semakin hari tingkahnya semakin mirip Mami,"

ucap Defran dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Nasir membuat Nasir tersenyum kepada Lifia.

"Sampai jumpa di rumah ya Nak, Papi masih ada kerjaan tapi sebelum magrib Papi sudah pulang," jelas
Nasir.

"Iya Pi, Lifia pamit Pi!" Ucap Lifia dan ia kembali mencium punggung tangan Nasir lalu melangkahkan
kakinya menyusul Defran yang telah melangkahkan kakinya lebih cepat.

Nasir tersenyum melihat punggung Lifia yang berjalan menjauh darinya dan mempercepat langkah
kakinya mendekati Defran. Defran Satyas anak keduanya itu memang sangat dingin dan terlihat tidak
memiliki simpati kepada orang lain, tapi sebenarnya Defran itu anak yang baik. Menjadi anak kedua dan
terlihat tidak terlalu diperhatikan olehnya dan istrinya, membuatnya semakin

3/6

Tidak boleh menyakiti hati


hari terlihat semakin mandiri. Tapi Defran juga sangat Nasir khawatirkan karena Defran terlalu nyaman
menyendiri.

Dulu Nasir sempat membawa Defran ke psikolog untuk mengetahui apakah ada trauma di hati Defran
hingga ia menjadi sangat dingin, keras dan penyendiri. Namun tidak ditemukan apapun dan Defran
normal seperti anak pada umunya, hanya saja Defran memang lebih suka berada di tempat hening yang
membuatnya fokus membaca buku-buku kesukaannya hingga ia memang memilih untuk menyendiri
dari pada bermain riang bersama anak-anak lain. Sedangkan Lifia merupakan keponakan Subekti yang
telah menjadi sahabatnya sekaligus besannya saat ini.

Subekti banyak sekali menceritakan tentang Lifia padanya, bagaimana perjuangannya membawa Lifia
pergi dari ayah kandungnya. Lifia saat kecil mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan
Ibu tirinya, ia mengalami trauma dan ketakutan berkepanjangan hingga Lifia kecil memohon kepada
Murni istrinya Subekti, untuk membawanya pergi ketika mereka berkunjung di Kediaman mendiang
adiknya Murni itu. Nasir merasa prihatin dan ia sangat bersyukur karena Lifia tumbuh dengan baik saat
ini hingga menjadi sosok yang ceria.

Sejujurnya ia mendukung keinginan istrinya untuk menjadikan Lifia menantunya apalagi ia tahu Lifia
menyukai putranya yang dingin itu.

Lifia menghela napasnya, Defran sangat cepat melangkahkan kakinya hingga ia kesulitan untuk
menyusulnya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya dengan kencang dan itu membuat Lifia
menghentikan langkah kakinya. "Kamu siapanya Mas Defran?" Tanyanya.

Lifia melihat tanda bahaya dari tatapan tajam perempuan yang bernama Soraya ini. "Saya rasa kamu
tidak perlu tahu siapa saya!" Ucap Lifia.

4/6

Tidak boleh menyakiti hati


"Saya ingatkan kamu, Mas Defran itu bukanlah laki-laki sembarang yang bisa kamu dapatkan, ingat ya
kamu nggak akan bertahan lama bersamanya!" Ucap Soraya. Lifia menghela napasnya, jika ia meladeni
perempuan ini, bisa saja perempuan ini akan bersikap kasar kepadanya hingga menarik masker
wajahnya.

"Oh ya? Bilang saja kamu sangat terpukul saat ini melihat kedekatan saya bersama Mas Defran, lebih
baik
kamu lebih bekerja keras untuk mendapatkan hatinya!" Ucap Lifia sinis membuat Soraya menatap Lifia
dengan tatapan murka.

Lifia menghempaskan tangan perempuan itu dan mempercepat langkah kakinya menjauh dari
perempuan yang beranama Soraya ini. la sangat bersyukur Soraya tidak mengikutinya dan ia bernafas
dengan lega, karena mobil Defran ternyata masih berada disana dan ia segera

5/6

Dia bukan siapa-siapa.


Dia bukan siapa-siapa
Dalam perjalanan menuju apartemen lagi-lagi keduanya memilih diam, Lifia juga memilih untuk tidak
mengajak Defran berbicara jika nanti keduanya akan berdebat atau bahkan ia harus mendengar ucapan
dingin Defran. Hari ini ia benar-benar menjadi babunya Defran dan ia menyadari kebodohannya yang
tetap saja terpesona dengan wajah tampan yang sering kali menujukkan ekspresi dingin padanya. Lifia
sebenarnya ingin membahas Soraya apalagi tangannya memerah akibat ditarik Soraya dengan kasar,
namun jika ia mengatakan hal ini kepada Defran, apa Defran akan membelanya dan nanti memarahi
Soraya. Sepertinya tidak, Defran bahkan tak peduli padanya yang datang menyusulnya cukup lama.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di Apartemen, Defran segera mematikan mesin mobilnya dan
turun dari mobil diikuti oleh Lifia. Lifia melangkahkan kakinya dengan santai, ia membiarkan Defran
melangkah kakinya lebih dulu dan ia mengikutinya dari belakang. Lift hampir tertutup namun Defran
hanya menatapnya dengan datar tanpa menghentikan lift, agar tidak tertutup. Pintu lift sudah tertutup
membuat Lifia mengumpat kesal namun tiba-tiba pintu lift kembali terbuka.

"Masuk!" Perintah Defran dingin.

Lifia melangkahkan kakinya masuk kedalam Lift dan ia bediri tepat disamping Defran. "Kamu sengaja
berjalan lambat agar tidak naik lift bersama saya?" Tanya Defran. Akhirnya ia mendengar suara Defran
karena sejak berada didalam mobil tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Defran.

"lya," ucap Lifia.

1/6

Dia bukan siapa-siapa


Defran memilih diam dan itu membuat Lifia kesal, satu kalimat pertanyaan dari mulut Defran lalu
setelah ia menjawab iya, Defran bahkan tidak bertanya lagi atau menanggapi ucapannya. Lift terbuka
keduanya melangkahkan kakinya menuju unit Apartemen mereka dan Lifia menekan tombol kunci
pasword pintunya. la terkejut karena Defran tiba-tiba berada tepat dibelakangnya. "Kamu ngapain
Mas?" Tanya Lifia kesal. Defran melipat kedua tangannya dan menatap Lifia dengan datar.
"Ambil pakaian dalam kamu dan setelah itu kamu ikut saya masuk ke unit Apartemen saya!" Ucap
Defran membuat Lifia membuka mulutnya karena terkejut dengan permintaan Defran.

"Ngapain aku harus ikut masuk ke Unit Apartemen kamu Mas? Yang benar saja dan kesal Lifia.

"Ada yang harus kamu kerjakan!" Ucap Defran dengan ekspresinya yang terlihat sangat menyebalkan.

"Apalagi sih...aku udah bersihin dua meja kerja kamu ditempat yang berbeda," ucap Lifia kesal, namun
Defran tidak memperdulikan kekesalan Lifia.

Defran mendorong pintu apartemen Lifia dan ia masuk kedalam Aprtemen Lifia tanpa izin dari Lifia.
Defran melangkahkan kakinya dan ia duduk disofa dengan santai membuat Sandra terkejut, melihat
kehadiran Defran dan Lifia. "Kalian berdua pacaran?" Tanya Sandra dengan mimik wajahnya yang
terlihat begitu terkejut melihat keduanya, namun setelah memahami situasi ini Sandra menyunggingkan
senyumannya.

"Wah...akhirnya kalian berdua..." ucap Sandra mengerjapkan keduanya matanya dan tersenyum penuh
arti membuat Lifia menghembuskan napasnya.

"Kita nggak pacaran, dia hanya nemenin aku ambil..." ucap Lifia kesal.

"Serius nggak pacaran, ya tapi dua-duaan," goda

2/6

Dia bukan siapa-siapa


Sandra. "Emang kamu mau ambil apa Lifi?" Tanya Sandra.

"Pakaian dalam," ucap Defran membuat Lifia semakin kesal karena Defran mengatakan tentang pakaian
dalamnya.

"Pakaian dalam Lifia yang berenda..." ucap Sandra dengan nada menggoda membuat Lifia segera
menarik tangan Sandra agar mengikutinya.

"Stop please Sandara!" Kesal Lifia, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya. Lifia
menatap Sandar dengan kesal, saat ini keduanya telah berada didalam kamar. "Kamu kalau bicara
jangan sembarangan Sandra!" Kesal Lifia.

"Loh...siapapun akan mengira kalian berdua itu pacaran, mana kalian berdua sama-sama memiliki wajah
bangsawan gitu cantik dan tampan, kalian berdua juga terlihat serasi gitu. Apalagi pulang ke Apartemen
berdua saja, coba kalau aku nggak ada di Apartemen kalian ngapain berdua saja di dalam Apartemen
ini? mau main kawin-kawinan ya?" Goda Sandra.

"Dasar gila...nggak mau enak saja, emang dia suami aku apa?" Ucap Lifia kesal.
"Padahal didalam hati kamu itu, mau banget ya jadiin dia itu suami kamu, ya ampun Lifia...itu Mas
Defran yang kamu kangenin terus Lifia," goda Sandra membuat wajah Lifia memerah dan ia
menyebikkan bibirnya. "Biasanya kan kamu natap fotonya Defran diponsel kamu!lama banget karena
rindu," goda Sandra membuat Lifia menghela napasnya.

"Kalau ngomong pelan-pelan saja Sandra! Gimana kalau dia dengar? hmmm...kesel banget sih gimana
aku bisa melupakan dia, kalau kalian semua sikapnya kayak gini. Kalian dukung banget aku sama dia, tapi
dianya kan nggak suka sama aku," ucap Lifia sendu.

3/6

Dia bukan siapa-siapa


"Nggak usah dipikiran dia suka apa nggak dan kamu nggak perlu menjauh gitu Lifia sayang, kan Mas
Defrannya belum ada pacar juga sama kayak kamu, udah nikmati saja berduan sama dia apalgi keluarga
kalian kan mendukung banget. Lagian dia mau saja kan nemenin kamu balik ke Apartemen, kayanya
kamu masih ada kesempatan," ucap Sandra.

"Dia itu bukannya nemenin aku, tapi dia ada yang mau diambil juga di Apartemenya dia," jelas Lifia.

"Sama saja, itu namanya kesempatan

Lifia...kesempatan buat kamu bisa pergi sama dia!"

ucap Sandra.

"Kesannya aku itu perempuan penggoda banget kalau udah dikasarin sama dia, masih saja tetap suka
sama dia dan ngejar-ngejar dia. Aku kan capek..." jujur Lifia.

"Nggak usah dikejar-kejar kayak dulu biarin aja dia mau apa, tapi kalau ada laki-laki lain yang bisa
memberikan masa depan kepada kamu ya...terpaksa kamu harus mengalihkan pikiran kamu sama laki-
laki baru yang kamu inginkan ada dimasa depan kamu Lifia!" Ucap Sandra.

"Iya...kamu benar," ucap Lifia dan ia mengambil beberapa pakaian serta barang-barang lainnya dan
memasukkannya kedalam tas yang cukup besar.

"Aku pergi dulu ya Sandra, maaf ninggalin kamu di Apartemen sendirian!" ucap Lifia sendu.

"Lebay banget, malam ini aku mau kerja lembur juga, lagian anak-anak manajemen ngajakin menginap
di Apartemennya Mbak Tanti, ada acara kumpul-kumpul para asisten artis," ucap Sandra. "Selamat
menikmati acara kumpul keluarga!" Ucap Sandra tersenyum penuh arti.

"Iya..." ucap Lifia dan ia mengecup pipi kanan dan pipi kiri Sandra lalu ia segera melangkahkan kakinya
keluar dari kamarnya. la mendekati Defran yang sedang

4/6
Dia bukan siapa-siapa
memainkan ponselnya.

"Mas..." panggil Lifia. Defran mengangkat wajahnya dan melihat kearah Lifia, ia segera bediri dan
mengambil tas yang dipegang Lifia, lalu melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini. Lifia
melambaikan tangannya kepada Sandra dan ia mengikuti Defran yang masuk kedalam Apartemennya.

Apartemen Defran sangat rapi dan ia takjub dengan

kebersihan seorang Defran. "Ayo!" Ajak Defran.

"Kemana Mas?" Tanya Lifia.

"Ke kamar!" Ucap Defran.

"Mau ngapain?" Tanya Lifia penasaran dan wajahnya bersemu merah karena malu, apalagi Defran
mengajaknya masuk kedalam kamarnya.

"Ikut saja!" Perintah Defran. Lifia menyebikkan

5/6

Dia bukan siapa-siapa


bibirnya dan ia akhirnya ikut masuk kedalam kamar Defran.

'Astaga bego banget sih kamu Lifia mau-maunya masuk kamar Mas Defran, jantung kamu ini juga nggak
bisa dikondisikan, mudah banget mikirin yang iya...iya. Kayak nggak pernah ketemu cowok ganteng aja,
Batin Lifia.

Lifia mengedarkan pandangannya dan ternyata kamar ini hampir sama saja dengan kamar Defran yang
ada di Kediaman orang tua Defran. Defran mengambil beberapa baju yang ternyata merupakan pakaian
dinasnya membuat Lifia mengerutkan dahinya. "Ngapain kamu ngajakin aku ke kamar kamu Mas?"
Tanya Lifia kesal.

"Bereskan meja kerja saya dan susun filenya!" Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya karena
kesal.

"Sebenarnya kamu itu punya meja kerja ada berapa sih Mas?" Kesal Lifia dan ia menatap Defran dengan
tajam.

"Menurut kamu ada berapa?" Tanya Defran menatap Lifia dengan dingin.

23

Komentar lainnya

Berikan Suara
6/6

Dia tak ada kabar.


Dia tak ada kabar
Sementara itu saat ini Kiran sedang berada distudio, ia baru saja syuting acara diskusi bersama para
pejabat pemerintah dan juga para kritikus politik. Acara ini selalu saja menjadi terding topik setelah
disiarkan dan Kiran memang menjadi salah satu perempuan kuat dengan ucapan-ucapanya yang berani
seperti bisanya. Mengkritik bahkan memberikan saran-saran kepada para pelaku kebijakan dengan pro
kontrak yang menuai opini berbagai macam kalangan. Saat ini Kiran merasa sangat lelah dan ia melihat
pesan diponselnya membuatnya tersenyum membacanya. Ternyata Kana memintanya untuk menginap
di Kediaman orang tua suaminya yang saat ini Kana tempati juga, bersama keluarga kecilnya.

Suara ponselnya berbunyi dan ia mengeraskan rahangnya karena yang menghubunginya adalah sang
pengancam, yang telah menghilang setelah menyatakan kepada keluarganya, jika ia adalah pacarnya.
Kiran sengaja tidak mengangkat ponselnya dan ia membiarkannya karena ia benar-benar lelah dengan
sikap seenaknya Handaru padanya. Beberapa kali ponselnya berbunyi lagi dan lagi, ia tetap saja sengaja
tidak mengangkatnya. Seorang perempuan yang merupakan salah satu Karyawan stasiun Tv ini
mendekati Kiran, "Kiran itu Pak Beben ngrimin lo bunga lagi dan beliau mau ngajakin lo makan malam,"
ucapnya.

"Aku nggak bisa, ada cara makan malam bersama keluarga malam ini!" Ucap Kiran dan ia memang
sedang tidak berbohong kalau ia telah memiliki janji makan malam bersama keluarganya. "Lagian udah
dibilangin juga kalau aku sudah punya pacar, tapi nggak ada yang percaya,"

1/6

Dia tak ada kabar


ucap Kiran kesal.

"Mana ada yang percaya sama lo Kiran sayang, lo nggak pernah dijemput sama pacar lo," ucapnya.
Karyawan yang bernama Lety ini memang telah dipercaya untuk mengurusi semua kebutuhan Kiran
ketika Kiran bekerja di stasiun TV ini.

"Nanti aku kenalin sama kamu Lety biar kamu tahu kalau aku memang sudah punya pacar, pacar aku
sangat sibuk dan dia itu sekarang setelah beberapa hari menghilang baru menghubungi aku hari ini,
dasar kambing..." ucap Kiran membuat Lety terkekeh.

"Hehehe...pacar lo, lo katain kambing...memang aneh lo," ucap Lety yang tak habis pikir dengan sosok
Kiran yang mengatakan pacarnya kambing.

Lety memang terbiasa memakai biasa santai lo gue dan saat ia bersama Kiran berdua saja seperti ini,
keduanya memang terlibat obrolan santai seperti biasa. "Dia memang nyebelin dan ya...pengen ditonjok
mukanya," ucap Kiran kesal mengingat senyum penuh kemenangan yang dimiliki Handaru Laksamana
Dewandaru.

"Siapa sih? Lo nggak pernah cerita kalau lo sudah punya pacar...jahat banget lo jadi teman," ucap Lety.

"Sekarang saja ngakunya teman, dulu-dulu kan nggak," ucap Kiran.

"Salah sendiri kamu galak banget kalau jadi atasan, semuanya harus sempuran kan nyebelin banget,"
ucap Lety. "Hmmm...Ran katanya ada reuni SMA lima angkatan itu, angkatannya kita pada ikutan semua,
kamu ikut juga yuk!" Ajak Lety. la dan Kiran memang satu SMA namun keduanya dulu ketika SMA, tidak
terlalu akrab karena Kiran tidak sepopuler Lety yang berada di grup anak-anak kaya raya dan cantik
diangkatannya. Kiran bergaul dengan teman-teman bisanya dan ia juga dikenal pintar, cantik dan ramah
saat itu.

2/6

Dia tak ada kabar


"Paling kamu mau kumpul sama gank kaya rayamu itu kan Ran? Aduh...malas banget sih ikutan cara
begitu tapi kalau nggak ikut, nanti aku dikira sombong dan Yah...ada-ada yang mau cari panggung kayak
tahun lalu," ucap Kiran. Tahun ia tidak ikut acara reuni dan ada salah akun mengatakan jika mereka telah
berusaha mengundang pembawa acara terkenal Kiran namun ditolak oleh Kiran, yang ternyata super
sibuk dan sombong. Kali ini akan ada berita apalagi tentang dirinya, entalah pastinya akan ada berita
miring yang keluar jika ia tidak datang diacara reuni lagi.

"Makanya datang, dengar-dengar kepala sekolah SMA kita itu fans berat kamu loh Ran..." ucap Lety.

"Iya makanya aku harus ikut," ucap Kiran.

"Asyik..." ucap Lety. Ketukan pintu membuat Lety membukannya dan sosok laki-laki berumur empat
puluh tahun itu tersenyum padanya. Laki-laki ini salah satu penggemar berat Kiran dan berusaha ingin
menjadikan Kiran istrinya.

"Kiran..." ucapnya tersenyum ramah. Kiran memberikan senyumannya, namun hatinya saat ini terlihat
sangat kesal dengan sosok yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan ini. Kiran dengan isyarat matanya
meminta Lety untuk tetap berada diruangan ini bersamanya.

Beben merupakan salah satu politikus yang karirnya cemerlang namun tidak dengan kehidupan
asamaranya. la pernah mengalami kegagalan rumah tangganya dengan seorang artis terkenal dan
dikaruniai dua orang anak. Bukan hanya itu saja, ia yang merasa banyak uang ini memiliki kekasih dari
berbagai macam kalangan dan gosipnya, ia juga telah melakukan praktik nikah sirih. Beben menatap
Kiran dengan tatapan kagum dan terlihat dengan jelas, jika Beben ingin sekali melucuti pakaian yang
dikenakan Kiran saat ini juga. Kiran sang perempuan

3/6
Dia tak ada kabar
cantik yang galak dan sulit ditaklukan ini membuat sosok Beben tambah terpesona hingga berusaha
keras untuk mendapatkan Kiran.

"Kiran makan malam dengan saya, saya telah menyiapkan banyak hadia untuk kamu!" Ucapnya.

'Hadia? Wah...gila nih orang dia pikir aku tu suka sama uangnya....' Batin Kiran kesal.

Beben memang seringkali memberikan barang-barang mewah kepada perempuan yang sedang ia
dekati. "Maaf Pak saya tidak bisa Pak, soalnya pacar saya baru saja pulang dan hari ini kami juga
berencana makan malam bersama keluarga kamu," jelas Kiran berusaha menolak dengan lembut.

"Pacar?" Tanya Beben mengerutkan dahinya dan ia terlihat tidak suka dengan ucapan Kiran.

"Kalau kamu ingin menolak ajakan saya, kamu nggak usah berpura-pura punya pacar Kiran. Saya tahu
kamu belum memiliki pacar, tidak ada informasi mengenai kamu yang telah memiliki kekasih," ucap
Beben dingin.

"Saya memang merahasiakan pacar saya karena saya tidak ingin dia terlibat dengan media, Pak," ucap
Kiran. Beben tidak akan berhenti menganggunya walaupun ia telah secara terang-terangan selalu
menolak Beben.

"Kalau hanya pacar saya masih bisa bersaing dengannya, bahkan jika kamu memiliki suami saya masih
sangat bersedia memiliki hubungan khusus sama kamu!" ucapnya mencoba merayu Kiran. Kesebaran
Kiran sudah habis dan Lety menahan tawanya karena seorang Kiran yang kesal bahkan tak peduli dengan
siapa lawan yang ada dihadapannya saat ini.

"Pak Beben, jangan bersikap kurang ajar sama saya, saya ini bukan perempuan murahan yang akan
tunduk hanya karena uang, keluarga saya memang berasal dari keluarga biasa tapi kami punya harga
diri," ucap Kiran

4/6

Dia tak ada kabar


dingin.

"Anda jangan arogan sekali Kiran, pantas saja anda terkenal dengan julukan perempuan kejam dan
sombong, tidak ada laki-laki yang betah meladeni anda dengan sikap anda yang sombong seperti ini.
Anda memang pantas menjadi simpanan dibandingkan menjadi istri yang diakui," ucap Beben dan itu
membuat Kiran sangat murka.

"Benarkah?" Tanya Kiran tersenyum, namun kedua tangannya terkepal. Ingin sekali ia memukul wajah
sombonh Beben itu saat ini juga. Namun ia menahan dirinya untuk bersabar, dihina dan dilecehkan
seperti ini sering kali ia alami namun sekarang saatnya memanfaatkan laki-laki yang telah mengaku
pacaranya itu.
Kira mengambil ponselnya dan juga tasnya, ia

5/6

Nggak butuh.
Nggak butuh
Kiran sangat kesal dan ia membaca pesan dari Handaru yang mengatakan ia menunggu diparkiran atau
jika Kiran tidak kunjung datang, dia akan datang langsung menjemput Kiran distudio. Tentu saja Kiran
memilih untuk segera menemuinya saat ini juga karena ia kesal dengan Beben si pemaksa yang sudah
beberapa hari ini membuatnya pusing. la menghubungi Handaru dan ia kesal karena sosok Beben masih
mengikutinya saat ini.

"Assamaluaikum," ucap Handaru.

"Waalikumsalam, aku udah diparkiran Mas kamu keluar dari mobil sekarang juga, itu Pak Beben mau
ngajakin aku makan malam tapi maksa. Aku sudah bilang kaya sudah punya pacar dan dia maksa aku,
aku sebel banget dia juga ngomongin aku yang macam-macam pokoknya!" Ucap Kiran sengaja
mengatakan hal ini dengan keras agar Beben mendengarnya dan ia segera menutup ponselnya ketika
Handaru keluar dari dalam mobilnya. la berharap Beben segera pergi dan mengurungkan niatnya untuk
mengikutinya sampai bertemu dengan Handaru.

Handaru Laksamana Dewandaru tampak sangat tampan dengan baju kaos dan jeans yang ia kenakan,
hari ini ia tidak memakai pakaian formal seperti biasanya. la melihat dari kejauhan sosok Kiran terlihat
sedang diikuti oleh seorang laki-laki. Sementara itu Beben seolah tak gentar untuk memaksa Kiran agar
mau makan malam bersamanya. "Kiran sayang...coba makan malam dengan Mas sekali saja!" Ucap
Beben dan ia mencoba membujuk Kiran agar mau makan malam bersamanya.

1/6

Nggak butuh
"Pak pacar saya itu pencemburu dan saya tipe perempuan setia!" Ucap Kiran kesal. la sengaja
menghentikan langkah kakinya karena ia yakin Handaru akan menghampirinya.

"Saya izin sama pacar kamu, bagaimana?" Ucap Beben seenaknya.

"Bapak yakin mau izin sama dia?" Tanya Kiran.

"lya," ucapnya tersenyum penuh kemenangan. Bahkan ia ingin memberikan uang sebagai kompensasi
kepada pacarnya Kiran, agar membiarkannya makan malam bersama Kiran. "Saya akan memberikan
imbalan kepada pacar kamu asalkan dia bersedia membatalkan janji makan malam kamu sama dia!"
Ucap Beben sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Mas..." panggil Kiran ketika ia menyadari jika Handaru telah berada dihadapannya dan ia sengaja
memeluk Handaru. Handaru menyunggingkan senyumannya kapan lagi macan cantik ini terlihat manja
padanya, ia bahkan mengecup bibir Kiran dengan cepat membuat Kiran merasa kesal, namun ia hanya
bisa menahan dirinya untuk tidak marah saat ini, agar bisa mengelabui Beben jika ia benar-benar
pacaran dengan Handaru..

"Pak Handaru," panggil Beben dan wajahnya merah padam saat ini. Siapa yang tidak mengenal sosok
Handaru Laksmana Dewandaru yang merupakan salah satu pengusaha, pengacara hebat dan juga anak
mentri yang sangat dikagumi banyak orang. Handaru bahkan memeluk pinggang ramping Kiran dan ia
mengecup pipi Kiran lagi dan lagi didepan Beben. la merasa sangat beruntung bisa berkontak fisik sesuai
hatinya seperti ini dan Kiran tidak menolak sentuhan bibirnya.

'Sabar Kiran...sabar...' Batin Kiran, ingin rasanya ia memukul wajah Handaru saat ini juga, karena berani

2/6

Nggak butuh
mengambil kesempatan menciumnya.

"Ada apa Pak?" Tanya Handaru.

"Tadi Pak Beben katanya mau bicara sama kamu Mas?" Tanya Kiran dan ia menyunggingkan
senyumannya.

"Bicara apa?" Tanya Handaru dan ia merapikan rambut Kiran dan ia sengaja tidak ingin melihat kearah
Beben karena kesal.

"Nggak ada Pak Handaru, nggak ada. Saya permisi dulu Pak!" Ucapnya.

"Tunggu dulu Pak! katanya tadi Bapak mau izin sama Mas Handaru kalau dia mau ngajakin aku makan
malam, Mas...boleh?" Tanya Kiran. "Soalnya Pak Beben ini mau memberikan Mas imbalan kalau Mas
mengizinkan dan membatalkan acara makan malam kita," ucap Kiran.

"Boleh sekali," ucap Handaru membuat Kitan kesal karena Handaru mengatakan boleh. "Tapi kalau Pak
Beben siap kaki Pak Beben saya patahkan bagaimana?" Tanya Handaru menatap Beben dengan tatapan
ramah dan ia tersenyum penuh makna. Senyum yang menakutkan bagi orang-orang yang mengenal
seorang Handaru Laksamana Dewandaru.

"Nggak Pak saya hanya bercanda sama Kiran," ucapnya gugup dan ia terlihat ketakutan saat ini.

"Apa Bapak siap kehilangan kerja sama dengan perusahaan saya? Apa Bapak siap saya tuntut Bapak
karena bersikap kurang ajar dengan calon istri saya?" Tanya Handaru dan lagi-lagi ia tersenyum seolah
pembicaraan ini bukanlah pembicaraan yang serius. Handaru kembali mencium pipi Kiran dan itu
membuat Kiran sangat murka.
"Sa..saya permisi Pak..." ucapnya dan ia melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan mereka.
Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia

3/6

Nggak butuh
tahu sosok yang berada didalam pelukannya ini akan memberontak membuatnya tiba-tiba mengangkat
tubuh Kiran.

"Mas gila kamu ya, astaga turunkan aku Mas!" Pinta Kiran dan memukul d**a Handaru agar segera
menurunkannya.

"Jangan teriak kalau kamu teriak satpam akan kemari dan melihat kamu yang berteriak bahagia, karena
saya gendong seperti ini atau kamu mau cctv disini menjadi bukti betapa kamu tega melakukan kdrt
kepada saya kalau kamu memukul saya?" Ucap Handaru sambil melangkahkan kakinya mendekati
mobilnya.

"Kamu gila Mas..." ucap Kiran kesal.

"Gila karena kamu," ucap Handaru dan ia membuka pintu mobilnya lalu mendudukkan Kiran. la seger
amelangkhkan kakinya emjutar dan masuk kedalam mobil lalu ia menghidupkan mesin mobilnya. la
menatap Kiran yang saat ini terlihat kesal padanya dan ia mengambil ponselnya lalu menghubungi
seseorang.

"Halo, batalkan perjanjian kerja sama dengan Pak Beben Ciokro dan bisa tidak kamu tabrak mobilnya
dari belakang dalam keadaan parkir dan matikan semua cctv Dewandaru grup. Kalau dia marah dan
minta ganti, bilang temui Handaru Laksaman Dewandaru!" Ucap Handaru.

Kiran melototkan matanya dan ia tidak menyangka jika Handaru benar-benar membuat Beben kesulitan.
"Kamu menghubungi siapa, Mas?" Tanya Kiran.

"Penasaran ya?" Tanya Handaru dan ia ingin mendekati Kiran membuat Kiran menghidar dari Handaru.

"Mas aku serius, kamu nggak benar-benar melakukan itu sama Pak Beben?" Tanya Kiran.

"Kamu pikir saya ini main-main? Siapa yang berani

4/6

Nggak butuh
mengganggu kamu harus menerima akibatnya. Saya ini laki-kaki yang bertanggung jawab, saya akan
melindungi kamu," ucap Handaru dan ia memegang dagu Kiran sambil menatap mata Kiran dengan
dalam membuat kiran menelan ludahnya.
Binar menampar pipu Handaru karena kesal namun ia menyesal ketika Handaru sama sekali tidak
menghindar.

"Pukul saja kalau kamu mau!" Ucap Handaru.

"Kamu menyebalkan dan kurang ajar Handaru..." ucap Kiran meluapkan emosinya. Handaru
menyunggingkan senyumannya dan ia ingin memeluk Kiran namun Kiran mendorong tubuh Handaru.
"Stop Mas kamu pikir kamu bisa menyentuh aku sesuka hati kamu..." kesal Kiran.

"Tentu saja bisa, kamu ini pacar saya Kiran!" Ucap Handaru dan mengelus pipi Kiran membuat Kiran
menepis tangan Handaru membuat Handaru tertawa. "Galak sekali

5/6

Nggak butuh
Nyonya Handaru," goda Handaru.

"Kamu itu gila...siapa yang kamu bilang Nyonya Handaru, aku? Dasar kambing kamu Mas...setelah kamu
datang ke rumah orang tuaku dan bilang kamu pacar aku, setelah itu besoknya kamu menghilang begitu
saja," ucap Kiran dengan nada tinggi.

"Saya keluar negeri, harusnya kamu telepon saya kalau rindu!" ucap Handaru dan ia menyunggingkan
senyumannya melihat kemarahan Kiran padanya.

"Dibelakang ada oleh-oleh untuk kamu, jangan ngambek!" ucap Handaru menujuk beberapa paperbag
yang ada dikursi belakang dan sebenarnya ia ingin mengelus kepala Kiran, namun melihat Kiran
menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan membuatnya mengurungkan niatnya.

"Nggak perlu, aku nggak butuh!" Ucap Kiran menolak oleh-oleh dari Handaru.

"Jangan galak-galak, kalau kamu galak kayak gini, saya makin cinta sama kamu," ucap Handaru dengan
senyumannya yang terlihat mengesalkan. Kiran merasa Handaru sangat suka mempermainkannya dan ia
tidak percaya dengan laki-laki licik seperti Handaru. "Malam ini kita makan malam di Rumah Defran,"
ucap Handaru.

"Bukan kita tapi hanya aku!" Ucap Kiran kesal.

Komentar lainnya

Berikan Suara

22

6/6
Hasil introspeksi diri.
Hasil introspeksi diri
Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
membuat Kiran menyadari kebodohannya. "Eh...ini mau kemana?" Tanya Kiran kesal. Seharusnya ia
tidak benar-benar pergi bersama Handaru, karena tadinya ia hanya ingin membuat Beben berhenti
mengikutinya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Handaru penasaran.

"Aku bisa naik taksi aja!" Ucap Kiran.

"Hari ini kamu nggak bawa mobil, tadi saya sudah izin sama Ayah mau jemput kamu," ucap Handaru.
Kiran menghela napasnya karena sekarang Handaru telah berani menghubungi Ayahnya. Apalagi
Handaru dengan lancangnya memanggil Subekti Ayah dan itu artinya Ayahnya sudah sangat setuju
Handaru menjadi calon menantunya.

"Kamu kenapa sih Mas kayak gini sama aku? Kamu bisa menemukan perempuan lain yang rela jadi pacar
kamu beneran dan kamu berhenti gangguin aku, Mas!"

Ucap Kiran kesal.

"Saya sudah bilang saya menginginkan kamu jadi istri saya Kiran, sudah cukup saya berdiam diri
menunggu kamu menyukai saya, bukannya menyukai saya kamu malah benci sama saya," ucap
Handaru. "Saya tidak akan berhenti menganggu kamu seumur hidup saya," ucap Handaru.

"Kamu itu introspeksi diri Mas kenapa aku itu jadi kesal banget sama kamu," ucap Kiran kesal. la meras a
tidak sanggup menghadapi sikap Handaru yang seperti ini.

1/6

Hasil introspeksi diri


"Sudah...ini makanya hasil dari introspeksi diri saya, saya sekarang akan lebih perhatian sama kamu!"
Ucap Handaru membuat Kiran membuka mulutnya. Introspeksi yang ia maksud itu hasilnya bukan
seperti ini, ia tidak butuh perhatian dari Handaru.

"Aku nggak butuh perhatian dari kamu Mas, lagian kamu merasa sekarang kamu itu lebih perhatian
sama aku? Lebih perhatian dari mana?" Sinis Kiran. "Nyebelin banget kamu Mas, yang kamu lakukan itu
bukan perhatian tapi kurang ajar Mas," ucap Kiran kesal.

"Kurang ajar? Apanya yang kurang ajar? nggak ada,"

ucap Handaru mengangkat sudut bibirnya melihat kekesalan Kiran padanya dan sambil tetap fokus
mengemudikan mobilnya.
"Mas yang namanya cium orang tanpa izin itu namanya kurang ajar," ucap Kiran. Apa ia harus
menjelaskan secara detail apa saja kekurangajaran yang dilakukan Handaru hari ini.

"Namanya juga pacaran, aneh kalau tiba-tiba minta izin dulu kalau mau cium," ucap Handaru menbuat
wajah Kiran memerah. "Loh kita bukan pura-pura pacaran Kiran, saya itu mengajak kamu pacaran
karena kamu bilang, kamu mau berdua dulu untuk memahami maunya saya," ucap Defran membuat
Kiran membuka mulutnya. Sejak kapan dia mengatakan ingin memahami maunya Handaru.

"Aku nggak pernah bilang begitu, ingat ya Mas kita pacaran itu karena kamu ngancem aku pakai video
itu, Mas," kesal Kiran.

"Oh iya hampir lupa," ucap Handaru membuat Kiran benar-benar kesal dengan sosok Handaru ketika
muncul dihadapannya selalu saja menujukkan sikap menyebalkannya. "Lain kali kamu kalau merindukan
saya, telepon saya Kiran jangan sungkan!" Ucap Handaru.

2/6

Hasil introspeksi diri


Kiran menghembuskan napas kasarnya karena Handaru benar-benar sangat menyebalkan dan sejak
kapan ia merindukan Handaru. "Jangan menyangkal, setelah kita pacaran saya bukan sengaja nggak
memberitahu kamu kalau saya paginya harus pergi ke Luar Negeri," ucap Handaru.

"Yang namanya pacaran itu, harusnya kamu ngerti kan bagiamana?" Kesal Kiran.

"Iya pacar, makanya saya membawakan oleh-oleh untuk kamu, karena saya ingat kamu. Ingat calon istri
saya yang kemungkinan besar akan marah karena calon suaminya tidak ada kabar beberapa hari ini,"
ucap Handaru melirik Kiran sekilas memastikan Kiran fokus menatapnya.

"Aku nggak marah," ucap Kiran sinis.

"Bagus deh kalau kamu nggak marah!"

ucap Handaru.

Kiran memilih diam dan ia memilih untuk melanjutkan pembicaraan ini, ia mengedarkan pandangannya
dan terkejut. Kiran membuka mulutnya saat Handaru bukannya membawanya pulang, tapi tiba-tiba
mengajaknya ke gedung Apartemen Kiran. "Ngapain kesini?" Tanya Kiran kesal.

"Ke Apartemen saya dulu, saya ingin memberitahu kamu tempat pribadi kita Kiran. Jika nanti kamu
nggak mau pulang ke Rumah Ibu dan Ayah, kamu bisa pulang ke Apartemen kita!" Ucap Handaru.

"Di sini itu ada Apartemen Lifia juga, ngapain aku ke apartemen kamu kalau aku nggak mau pulang ke
Rumah," ucap Kiran.
Handaru menghentikan mobilnya dibasement apartemen dan ia menatap wajah cantik Kiran. Baginya
Kiran yang diam dan Kiran yang berbicara panjang lembar sama cantiknya. "Kita akan menikah sebaiknya
kamu

3/6

Hasil introspeksi diri


mengetahui dimana tempat tinggal kita nanti, jika kamu sedang banyak pekerjaan di Stasiun Tv," ucap
Handaru. "Apartemen Lifia hanya bisa dikunjungi tapi tidak untuk menjadi tempat bermalam kamu!"
Ucap Handaru.

"Pantas saja ya kamu yang setampan, sepintar dan sekaya ini belum menikah," ucap Kiran membuat
Handaru menaikan sebelah alisnya. "Gimana perempuan mau betah sama kamu Mas kalau perlakuan
kamu sama mereka seperti ini. Selalu kamu hina habis-habisam dan kamu selalu mengajaknya
bertengkar tiba-tiba kamu ngajakin pacaran dengan tujuan menikah. Mana mau perempuan kamu
perlakuan begitu!" Sinis Kiran.

"Saya belum pernah memperlakukan perempuan lain seperti saya memperlakukan kamu, saya bahkan
nggak pernah serepot ini memberikan oleh-oleh untuk perempuan demi menyenangkannya," ucap
Handaru.

"Hanya kamu satu-satunya yang saya perlakukan seperti ini kamu you are the only one, Kiran," ucap
Handaru.

Kiran menyebikkan binatang dan ia menatap Handaru dengan dingin. "Nggak percaya," ucap Kiran.

"Sekarang nggak apa-apa nggak percaya nanti kamu akan tahu siapa saya, tidak ada yang lebih baik dari
saya dalam hal menjadi suami terbaik untuk kamu!" Ucap Handaru. la menarik tangan Lifia dan
menatapanya dengan dalam. "Kamu nggak mau cium saya dulu?" Tanya Handaru membuat Kiran
terkejut dengan ucapan Handaru. "Apa saya harus izin dulu kalau mau cium kamu?" Tanya Handaru lagi.

"Asatga Mas, ya ampun nyebelin banget sih kamu..." ucap Kiran dan ia segera turun dari mobil,
membuat Handaru menyunggingkan senyumannya. la berhasil membuat Kiran turun dari mobilnya dan
ia menarik tangan Kiran agar mengikutinya.

"Nggak usah ditarik begini Mas!" Kesal Kiran.

4/6

Hasil introspeksi diri


"Kalau nggak mau ditarik kamu peluk lengan saya!"

Pinta Handaru membuat Kiran menghela napasnya.


"Kok aku jadi geli ya Mas kamu berubah kayak gini, dulu kamu itu cool banget gitu dan nggak akan
sikapnya kayak gini sama aku," ucap Kiran.

"Kamu katanya benci sama saya yang dulu, ini saya berubah perhatian sama kamu Kiran, ini hasil
introspeksi diri saya kenapa kamu masih kesal dan benci sama saya,"

ucap Handaru.

Wajah Handaru sangat tampan, memiliki prestasi yang sangat menganggumkan dan Kiran ingat kenapa
awalnya ia sangat membenci Handaru. Dulu salah satu temannya menyukai Handaru ketika mereka
duduk dikelas satu SMA dan Handaru saat itu duduk di kelas tiga SMA. Temannya ini menyatakan
cintanya kepada Handaru, namun Handaru menolaknya dengan dingin didepan Kiran. Saat itu tatapan

5/6

Hasil introspeksi diri


Handaru padanya dan temannya itu terlihat seperti merendahkanya, itu yang membuat Kiran merasa
sangat terhina. Apalagi ketika bertemu dengan Handaru lagi, ia telah bekerja di Stasiun Tv, Handaru
terlihat sangat menyebalkan karena sering kali mengajaknya berdebat dan setiap kali berdebat, Kiran
akan kalah darinya.

Keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam lift dan Lifia tidak menyangka jika Apartemen Handaru
ternyata satu lantai dengan Apartemen Lifia. "Mas ini kan satu lantai dengan apartemen Lifia Mas," ucap
Kiran.

"Apartemen Defran juga berada dilantai ini!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya karena
terkejut.

"Pantas saja Lifia jarang pulang ternyata dia...ckckck...katanya dia mau melupakan Mas Defran, kalau
tinggal cekatan kayak gini namanya sengaja," sinis Kiran.

Komentar lainnya

Berikan Suara

15

6/6

Ngapain Mas.
Ngapain Mas
Handaru dan Kiran melangkahkan kakinya menuju unit Apartemen Handaru, namun Kiran sengaja
menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu apartemen Lifia dan ia menekan bell. Handaru ikut
berhenti seolah menunggu Kiran, namun tangannya bersiap-siap memegang tangan Kiran, jika Kiran
memilih masuk kedalam Apartemen Lifia. Pintu akhirnya terbuka terlihat sosok Sandra yang terkejut
melihat kedatangan Kiran dan ia tersenyum.

"Mbak Kiran," ucap Sandra dan ia segera memeluk Kiran membuat Kiran tersenyum.

Handaru tiba-tiba memegang lengan Kiran bak seorang tawanan membuat Kiran sangat kesal. Sandra
terkejut melihat Handaru Laksmana Dewandaru yang sangat terkenal itu saat ini ada disamping Kiran.
Sandra memang sering bertemu dengan Handaru di Apartemen ini, setiap bertemu dengan Handaru ia
sangat kagum dengan ketampanan Handaru. "Lifia mana?" Tanya Kiran segera mengalihkan
pembicaraan agar Sandra tidak menanyakan apa hubungan Handaru dengannya.

"Kayaknya masih ada disebelah," ucap Sandra.

"Sebelah mana? Maksudnya didalam?" Tanya Kiran dan saat ia ingin masuk kedalam apartemen Lifia,
Handaru memegang lengannya.

"Kamu ini apa-apaan sih Mas!" Kesal Kiran dan ia ingin sekali menghempaskan tangan Handaru saat ini
juga, agar Handaru segera melepaskan lengannya.

"Tujuan kita bukan kesana, tapi ke Apartemen saya Kiran!" Ucap Handaru.

"Aku mau bertemu adikkku, apa itu salah? Masa udah

1/7

Ngapain Mas
disini aku nggak menemui dia, apalagi kalau dia ada di Apartemen, ingat ya Mas dia lebih penting dari
pada kamu!" Ucap Kiran kesal.

"Sekarang memang dia lebih penting dari pada saya, tapi nanti saya yang harus menjadi lebih penting
dari Lifia!" Ucap Handaru dingin.

Sandra menyunggingkan senyumannya karena akhirnya Kiran si perempuan cantik dan galak itu
mendapatkan laki-laki galak yang juga bisa mengimbanginya. "Kenapa senyum-senyum gitu Sandra,
sekarang Mbak tanya sama kamu Lifia dimana?" Tanya Kiran kesal karena Sandra mulai ingin ikut
menggodanya.

"Lifia ada disebelah Mbak, di unit apartemen Mas Defran," ucap Sandra.

"Ngapain disana? Mau main gundu?" Tanya Kiran kesal dan ia ingin melangkahkan kakinya mendekati
Apartamen Lifia, namun lengannya ditarik Handaru. "Mas aku mau kesana dulu, kamu ngapain sih
pegang lengan aku kayak gini!" Kesal Kiran.

"Kamu mau ngapain kesana?" Tanya Handaru.


"Mau lihat mereka lagi ngapain Mas!" ucap Kiran dan ia melangkahkan kakinya mendekati apartemen
yang berada disebelah apartemen Lifia, ketika lengannya berhasil terlepas dari tangan besar Handaru.

Kiran menekan bel unit pintu apartemen Defran dan tak butuh waktu lama, sosok Defran terlihat dari
balik pintu Apartemen ini. Kiran mendorong pintu agar terbuka lebar dan ia mencari Lifia yang ternyata
tidak ada diruang tengah. Kiran melihat baju yang dikenakan Defran masih rapi membuat Defran
mengerutkan dahinya ketika Kiran meneliti tubuhnya.

"Kamu kenapa Lifia, main masuk seperti pencuri?" Tanya Defran melipat kedua tangannya.

2/7

Ngapain Mas
"Mana adik aku Mas? kata Sandra dia disini!" Ucap Kiran. "Lifia..." teriak Kiran dan ia mengedarkan
pandangannya mencari sosok Lifia yang belum ia temukan.

"Sory Def," ucap Handaru. "Hanya mampir sebentar," ucap Handaru lagi.

"Bereskan kekacauan ini dan bawa pergi dia!" Ucap Defran dingin.

"Iya, kamu tenang saja!" Ucap Handaru tersenyum penuh arti ketika melihat wajah datar itu terlihat
menujukkan ekspresi kesal. Defran memang tidak menyukai orang lain yang masuk kedalam ruang
pribadinya dan Apartemen ini, termasuk ruang pribadinya yang jarang sekali menerima pengunjung
untuk datang.

"Tenang, kamu tahu kan saya suka ketenangan," sinis Defran kesal.

"Iya makanya biarkan dia bertemu adiknya dulu!" Ucap Handaru.

Kiran membuka pintu kamar Defran membuat Defran mengeraskan rahangnya sedangkan Kiran
menatap Lifia dengan kesal. " Loh ada Mbak Kiran," ucap Lifia dan ia saat ini sedang melipat baju Dinas
Defran kedalam tas.

"Ngapain kamu di Apartemen Mas Defran? Pakek ngelipatin bajunya segala...kamu lagi main

rumah-rumahan ya?" Tanya Kiran kesal. la terlihat murka dengan tingkah adiknya ini.

"Nggak Mbak bukan begitu, dia minta tolong lipatin bajunya aja Mbak dan ini mau dibawa pulang gitu,"
ucap Lifia.

"Astaga dasar bodoh mau-maunya diperintah sama si Kambing ke dua," ucap Kiran.

"Kambing kedua?" Tanya Lifia bingung apa maksud

3/7
Ngapain Mas
Kiran.

"Iya kambing kedua yang gila dan mereka itu sahabatan," kesal Kiran. la sangat kesal dengan Defran
karena berani-benarnya membawa adiknya ke Apartemenya dan memerintahkannya melipat pakaian
yang akan ia bawa ke Kediaman orang tuanya.

"Kambing pertama siapa Mbak?" Tanya Lifia menahan tawanya karena Kiran mengatakan Defran
kambing.

"Itu si kampret Handaru siapa lagi..." kesal Kiran membuat Lifia tersenyum.

"Mbak ini aneh, masa panggil pacar sendiri itu kambing," ucap Lifia.

"Astaga Lifia kamu yang aneh dan saraf, ngapain coba kamu mau-maunya disuruh ngelipatin bajunya
sudah kayak istrinya saja, nanti dia minta tidur sama kamu, kamu mau. Astaga bodoh banget sih..." ucap
Kiran terlihat emosi.

"Siapa juga yang mau ditiduri Mbak, mbak itu kalau marah ngomongnya nggak boleh gitu!" Kesal Lifia
karena Kiran terlihat sangat marah padanya.

"Itu kenapa kamu mau..." ucap Kiran dan ucapannya terhenti karena lengannya tiba-tiba ditarik oleh
Handaru.

"Sudah ketemu sama Lifia? kalau sudah ayo ikut pulang!" Ucap Handaru kepada Kiran.

"Pulang kemana?" Tanya Kiran kesal.

"Ke Apartemen kita dan kamu jangan ganggu orang lain!" Ucap Handaru dan ia menarik lengan Kiran
agar segera keluar dari kamar Defran, namun Kiran menolaknya dan ia sekuat tenaga menahan langkah
kakinya agar tidak ikut terseret keluar bersama Handaru.

"Astaga calon istri saya yang bandel dan galak ini kenapa jadi keras kepala begini," gerutu Handaru dan
ia

4/7

Ngapain Mas
tiba-tiba mengangkat tubuh Kiran membuat Kiran terpekik.

"Lepasan Handaru...kambing..." teriak Kiran membuat Lifia membuka mulutnya. la terkejut melihat Kiran
berteriak seperti itu. "Lifia tolong..." teriak Kiran lagi seolah ia sangat membutuhkan pertolongan karena
sedang diculik. "Ini pemaksaan namanya, Handaru bego...jangan kayak gini!" Teriak Kiran.

"Teriak saja, biar semua dengar!" Ucap Handaru.


Lifia segera mengikuti Kiran yang dibawa Handaru keluar dari kamar ini, namun saat ia ingin mendekati
Handaru dan Kiran, suara Defran menghentikan langkah kakinya. "Jangan ikut campur urusan mereka,
kerjakan apa yang saya minta!" Ucap Defran membuat Lifia menghembuskan napasnya.

"Iya Tuan," ucap Lifia sinis, ia melangkahkan kakinya

5/7

Ngapain Mas
masuk kembali kedalam kamar dan melanjutkan pekerjaanya yang tadi belum selesai.

Sementara itu saat ini Kiran mencoba memberontak, namun kekuatan seorang Handaru ternyata jauh
lebih kuat darinya. "Diam!" Perintah Handaru. "Kamu mau saya jatuhin kamu tiba-tiba?" Tanya Handaru,
apalagi posisi Kiran saat ini berada dibahu Handaru.

Handaru membuka pintu apartemennya dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemennya
dan mendudukkan Kiran disofa. "Mas kamu itu keterlaluan, Mas..." teriak Kiran.

"Keterlaluan?" Tanya Handaru sinis.

"Iya kamu itu kerterlaluan banget," ucap Kiran kesal.

"Aku lagi mau menasehati adik aku Mas, bisa-bisanya dia diperintahkan Mas Defran melipat pakaiannya,
memangnya dia itu istrinya Mas Defran, apa? Mas Defran itu bukannya nggak suka sama Lifia terus dia
ngapain memperlakukan Lifia kayak gitu," ucap Kiran emosi.

Handaru mengambil segelas air dan ia memberikan segelas air putih itu kepada Kiran. "Minum dulu!"
Pinta Handaru namun Kiran menatap segelas air putih itu dengan curiga.

"Kenapa? Takut ada obat tidur atau sejenisnya? Kamu pikir saya ini akan mengambil kesempatan
meniduri kamu kalau kamu nggak sadar?" Tanya Handaru.

"Kan bisa saja begitu," ucap Kiran membuat Handaru mengambil segelas air itu dari tangan Kiran dan ia
meminumnya, lalu ia tiba-tiba mencium Kiran membuat Kiran terkejut. Handaru melepaskan
ciummannya ketika air yang ia minum mengalir kedalam mulut Kiran. Kiran mengigit bibir Handaru
karena kesal.

"Dasar gila..." ucap Kiran kesal dan ia memegang bibirnya yang baru saja dicium Handaru.

"Kamu yang gila sama pacar sendiri kamu tidak

6/7
Ingin di mengerti.
Ingin di mengerti
Handaru mengerjapkan kedua matanya melihat kepanikan Kiran yang berteriak keras padanya. "Kamu
kenapa?" Tanya Handaru.

Kiran menghela napasnya karena ternyata Handaru membuka bajunya dan bertelanjang d**a
didepannya.

"Ngapain buka baju didepan aku Mas..." ucap Kiran kesal dan ia mengalihkan pandangannya agar tidak
melihat otot-otop perut dan d**a bidang milik Defran yang sangat menggiurkan untuk dipeluk.

"Hanya buka baju nggak buka yang lain," ucap Handaru menyunggingkan senyumannya karena ia
berhasil menggoda Kiran.

"Handaru Laksamana Dewandaru ternyata kamu itu c***l banget, kamu sadar nggak kalau kamu itu
seorang pengacara yang ngerti hukum," ucap Kiran kesal.

"Sangat sadar, tapi saya ini manusia biasa, Kiran,"

ucap Handaru dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya, membuat Lifia segera
melangkahkan kakinya menuju pintu keluar apartemen dan ia mencoba membuka pintu, namun pintu
tak kunjung terbuka.

"Shitttt..." Kiran mengumpat kesal dan ingin sekali rasanya menghancurkan pintu ini agar ia bisa segera
keluar dari Apartemen ini.

"Percuma saja kamu mencoba membuka pintu Apartemen ini karena saya belum mengizinkan kamu
pulang!" Ucap Handaru dengan suaranya yang terdengar sangat lantang dan dingin, membuat Kiran
sangat kesal karena merasa kesabarannya benar-benar sedang diuji saat ini. Kiran akhirnya kembali
duduk disofa dengan kesal dan ia harus menunggu sang pemilik Apartemen ini keluar

1/7

Ingin di mengerti
dari kamarnya.

Handaru keluar dari kamarnya dengan memakai kaos berkera dan juga celana dasar berwarna biru
muda.

Handaru terlihat seperti CEO muda yang tampan dengan pakaian formal, namun juga terkesan santai. la
kembali duduk disamping Kiran.

"Kenapa pakai acara ganti baju segala," ucap Kiran kesal.


"Saya mau bertemu ibu dan ayah mertua saya, kalau terlalu santai nanti kurang berkesan," ucap
Handaru.

"Kamu mau ketemu Ayah dan Ibu? Ngapain?" Tanya Kiran.

"Izin mau ngajakin kamu makan malam bersama di kediaman Defran, sekalian nanti malamnya kita
kencan bagaimana?" Tanya Handaru dan ia menatap Kiran dengan tatapan dalam membuat Kiran
menelan ludahnya.

'Sialan kenapa sih ini orang dari dulu sampai sekarang itu tampan banget,' Batin Kiran. 'Ingat Kiran
jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia!'

"Kencan apaan?" Kesal Kiran.

"Galak sekali kamu," ucap Handaru dan ia menangkup kedua pipi Kiran membuat Kiran panik dan ia
berusaha menjauh dari Handaru namun sulit untuk lepas dari dari Handaru. Cup... Handaru mengecup
bibir Kiran dan ia tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah Kiran bersemu merah.

"Stempel sayang," ucap Handaru dengan wajahnya yang menawan, ia mencoba merayu Kiran.

"Mas...kamu ngapain cium aku? ya ampun aku bisa gila kalau sikap kamu kayak gini sama aku. Kamu
nggak bisa normal kayak dulu apa Mas? aku jadi geli gitu ngelihat kamu kayak gini," ucap Kiran kesal.

"Kalau kamu nggak mau saya begini, stop menolak

2/7

Ingin di mengerti
saya dan bisa tidak kamu terlihat menerima ketulusan saya sama kamu!" Ucap Handaru dengan
tatapannya yang dalam kepada Kiran.

"Gimana mau menerima kamu kalau kamu itu seenaknya kayak gini sama aku, Mas," ucap Kiran.

"Saya tidak peduli kamu suka atau tidak sama saya sekarang, tapi ingat selama saya masih hidup kamu
hanya akan jadi milik saya!" Ucap Handaru dingin dan ia memegang dagu Kiran lalu menatap mata Kiran
yang sedang menatapnya dengan tatapan dalam. "Sama calon suami sendiri, tingkah kamu ini seperti
musuh, apa saya harus mengirimkan video ciumman kita ke media masa sekalian biar kita cepat
dinikahkan sama keluarga kita!" Ucap Handaru mencoba kembali mengancam Kiran.

"Jangan Mas!" Ucap Kiran kesal.

"Coba jangan galak sama saya!" Ucap Handaru mulai protes dengan sikap Kiran.

"Aku ya aku, mana bisa berubah gitu saja Mas!" Ucap Kiran kesal.
"Kenapa nggak bisa? Harus bisa...kamu nggak mungkin menujukkan sikap pemberontak kamu ini
didepan keluarga saya Kiran, kamu harus tahu batasan kamu!" Ucap Handaru dan kali ini ia terlihat
sangat serius berbicara dengan Kiran.

"Kenapa kamu melakukan ini sama aku?" Tanya Kiran dan suaranya terdengar lirih karena ia begitu
terkejut mendapati dirinya akan sulit untuk lepas dari Handaru.

"Saya menginginkan kamu menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya nanti, keputusan saya sudah bulat
karena kamu yang memaksakan diri masuk kedalam hidup saya Kiran, kamu harus jadi milik saya
selamanya!" Ucap Handaru membuat Kiran membuka mulutnya karena terkejut. Sejak kapan ia
memaksakan diri masuk kedalam

3/7

Ingin di mengerti
kehidupan Handaru Laksamana Dewandaru.

"Aku nggak pernah tu memaksakan diri buat masuk dalam hidup kamu, Mas. Kita saja tidak begitu dekat
Mas," ucap Kiran kesal.

"Kamu yang membuat saya suka sama kamu," ucap Handaru.

"Nggak ada, kapan aku ngebuat kamu jadi suka sama aku Mas? lagian setiap kita bertemu kamu yang
mulai ngajakin ribut. Kamu komentar hal-hal yang nggak perlu dikomentarin." Ucap Kiran mengingat
bagaimana pertemuan keduanya yang selalu dihiasi dengan pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu
dilakukan.

"Siapa yang cium saya duluan?" Tanya Handaru

membuat Kiran membuka mulutnya dan ia terkejut dengan pertanyaan Handaru.

"Kamu Mas yang cium saya lebih dulu siapa lagi," ucap Kiran kesal.

"Yakin saya?" Tanya Handaru dan ia menarik tangan Kiran agar menatap matanya, namun Kiran
berusaha menghindari tatapan Handaru.

"lii...ya..." ucap Kiran gugup.

"Kamu yang cium saya duluan Kiran, di video itu," ucap Handaru.

"Nggak ada, itu kan namanya nggak sadar Mas, kok jadi dihitung gitu..." ucap Kiran protes.

"Jelas saja dihitung, bibir ketemu bibir namanya ciuuumman coba kamu tanya sama Ayahmu!" Ucap
Handaru kesal, membuat Kiran menghembuskan napas kasarnya.
"Mas...gila kamu ya Mas, masa aku harus tanya Ayah aku," ucap Kiran tak habis pikir dengan ucapan
Handaru yang selalu saja membuatnya emosi. "Anak kecil juga tahu Mas kalau cium itu bibir ketemu apa
gitu," ucap Kiran dan

4/7

Ingin di mengerti
ia menyesal terjebak dengan ucapannya sendiri karena Handaru.

"Tetap saja kan kamu yang mencium saya lebih dulu," ucap Handaru. "Bibir ketemu bibir bukan?" Goda
Handaru membuat wajah Kiran kembali memerah.

Handaru mengelus kepala Kiran dengan lembut membuat jantung Kiran berdetak dengan kencang, ia
menggeser tubuhnya agar memberikan jarak duduknya

dengan Handaru, namun Handaru kembali menggeser duduknya seolah tak ingin memberi jarak kepada
Kiran.

"Kamu jangan menghidar dari saya Kiran, kamu yang mencium saya lebih dulu hingga membuat saya
ingin terus menciuumm kamu," ucap Handaru membuat wajah Kiran merah padam. "Kamu harus
bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu perbuat kepada saya!" Ucap Handaru.

5/7

Ingin di mengerti
"Kalau waktu itu aku nggak ciuumm kamu, kamu juga nggak akan suka kayak gini sama aku, itu maksud
kamu?" Tanya Kiran.

"Iya saya nggak akan secandu itu sama kamu," ucap Handaru.

"Nanti kamu dicium sama perempuan lain kamu juga kan merasa candu, begitu maksud kamu
Mas?"'sinis Kiran dan menahan emosinya yang sejak tadi telah membakar amarahnya.

"Sebelumnya saya pernah dicium beberapa wanita yang menyukai saya, tapi saya tidak menyukai
mereka tapi kamu berbeda," ucap Handaru. "Setidaknya saya jujur dengan perasaan saya Kiran, saya
ingin kamu menjadi istri saya dan satu-satunya bagi saya!" ucap Handaru dan bagi Kiran ucapan Handaru
ini begitu mendadak. la tidak tahu bagaimana perasaanya saat ini kepada Handaru dan jujur saja
Handaru adalah laki-laki pertama yang pernah ia cium.

Handaru menarik pelan wajah Kiran dan ia menatap

Kiran dengan dalam, membuat wajah Kiran memerah dan

ia ingin menghidar dari tatapan Handaru. "Jangan


menghidar Kiran, harusnya kamu bisa menghadapi saya!" Ucap Handaru dan ia mencium bibir Kiran
dengan lembut menbuat Kiran terdiam dan ia merasa kebingungan. Handaru menarik Kiran kedalam
pelukkannya dan ia membisikan sesuatu ditelinga Kiran "Kamu jangan galak sama saya Kiran! kalau
kamu masih galak, saya akan lebih galak sama kamu! Kalau kamu selalu menolak saya, saya akan
membuat kamu segera menjadi milik saya! Kamu mengertikan apa maksud saya?" Tanya Handaru
dingin.

6/7

Kalian ada hubungan.


Kalian ada hubungan
Lifia menatap Defran dengan sinis, setelah menyelesiakan perintah Defran ternyata Defran langsung
mengajaknya pulang ke Kediaman orang tua Defran, padahal tadi Lifia bermaksud untuk menjelaskan
kesalahpahama Kiran yang mengatakannya bodoh. la kesal dengan Kiran dan ia ingin menjelaskan
kenapa ia menuruti perintah Defran untuk membantunya melipat pakaian Defran. Lifia ingin menemui
Kiran yang sepertinya masih berada di kediaman Handaru. Saat ini Lifia bosan dan bingung untuk
memulai mengajak Defran berbincang ketika keduanya saat ini sedang berada didalam mobil. Lifia
melihat ponsel Defran yang ada didekat shift knob tuas gigi dan ingin membuka aplikasi kesukaannya.
"Mas kode ponsel kamu apa?" tanya Lifia dan ia beharap Defran memberitahukannya

"Tanggal lahir saya," ucap Defran.

"Oke Mas," ucap Lifia tersenyum ia segera mendowload aplikasi membaca novel dan ia memilih
membaca novel kesukaannya dibandingkan ia melihat kearah Defran, lalu membuatnya kembali jatuh
cinta.

Defran tiba-tiba berhenti disebuah cafe yang tidak jauh dari Kediaman orang tuanya, membuat Lifia
melototkan matanya karena kesal. "Katanya mau pulang kenapa ke sini, Mas?" Tanya Lifia dan terlihat
jika cafe ini sedang sangat ramai.

"Kamu tunggu disini sebentar!" Ucap Defran.

"Nggak mau, aku takut ditinggal sendirian, aku Lifia Mas dan aku nggak mau tiba-tiba ada yang
mengetuk kaca mobil ini!" ucap Lifia.

"Hanya sebentar, saya hanya ingin membeli kopi!"

1/6

Kalian ada hubungan


ucap Defran.

"Aku ikut saja ya Mas!" Ucap Lifia dan ia kembali memakai masker diwajahnya.
Defran keluar dari mobilnya dan ia melangkahkan kakinya lebih dulu seolah ingin meninggalkan Lifia.
"Mas..." kesal Lifia. Defran menghentikan langkah kakinya dan ia menunggu Lifia datang mendekatinya.

Lifia tanpa canggung memeluk lengan Defran, ia menghela napasnya karena kebiasaanya yang dulu
selalu menempel pada Defran kembali lagi hari ini. Lifia sulit untuk menghindar dari Defran hari ini
karena kebodohannya yang tidak membawa ponselnya dan ia takut ditinggal sendirian. "Mas jangan
lama dong, soalnya nggak enak aku nggak bantu Mami masak, lihat sekarang sudah sore banget..." ucap
Lifia menujukkan jam ditangannya.

Defran tidak mengatakan apapun dan ia bak patung berjalan sama sekali tidak menjawab ucapan Lifia.
Lifia memang harus banyak bersabar menghadapi patung tampan yang sangat irit berbicara ini, Defran
mengantri kopi dan beberapa orang wanita menatap kearah Defran. 'Dia sih tampan banget makanya
cewek-cewek ngelihatin dia dari tadi, ya ampun Mas pasti banyak banget saingan aku diluar sana, batin
Lifia kesal.

Saat ini giliran Defran yang memesan kopi dan ia melihat kearah Lifia. "Kamu mau minum apa?" Tanya
Defran.

"Thai tea aja Mas," ucap Lifia.

"Frappuchino dan tai tea," ucap Defran kepada karyawan cafe itu yang saat ini berada dikasir. Lifia
melihat red velvet yang ada dietalase dan ia menelan ludahnya karena sepertinya redvelvet itu sangat
enak.

'Kayaknya enak banget cakenya, astaga harusnya aku kan diet...' batin Lifia.

2/6

Kalian ada hubungan


"Cake yang itu satu!" Ucap Defran.

"Yang mana, Mas?" Tanya Karyawan itu dan ia terlihat sangat menganggumi Defran.

"Yang dilihat dia!" Ucap Defran.

"Hmmm...Mbak mau yang mana?" Tanya karyawan itu kepada Lifia, masker Lifia terlepas dan Karyawan
itu terkejut melihat Lifia.

"Mbak...Li..." ucapnya dan Lifia mengatupkan kedua tangannya sambil tersenyum dan ia memohon
kepada karyawan itu untuk tidak menyebutkan namanya, agar tidak ada yang menyadari kehadirannya
disini. "Oke Mbak..." ucapnya mengisyaratkan jika ia tidak akan menyebut nama Lifia.

Lifia tersenyum dan ia segera kembali memakai maskernya "Makasih Mbak, saya pesan redvelvet Mbak
dua loyang ini," ucap Lifia. "Mas...itu buat anak-anak juga," ucap Lifia.

"Iya," ucap Defran membuat Lifia bernapas lega karena Defran menjawab ucapannya.
Karyawan cafe itu terlihat sangat bahagia mengetahui jika perempuan yang berada di sebelah laki-laki
tampan itu adalah Lifia artis favoritenya. Lifia terkenal sangat ramah dengan fansnya dan itu terbukti jika
Lifia tadi tersenyum padanya. Setelah membeli kopi ia dan Defran segera melangkahkan kakinya keluar
dari cafe ini namun seorang laki-laki tiba-tiba menyapa Defran.

"Defran..." panggilnya membuat Defran menghentikan langkahnya dan laki-laki itu mengulurkan
tangannya menjabat tangan Defran. "Wah kebetulan sekali, ini siapa Def? Calon ya?" Godanya. "Calon
ibu Bayangkari ini kayaknya," ucapnya lagi. Baru kali ini ia melihat Defran bersama perempuan, karena
selama ini Defran terlihat sangat dingin kepada perempuan.

"Hai...Mbak saya Ronal temannya pacar Mbak, saya

3/6

Kalian ada hubungan


takjub loh hari ini teman saya ini bawa seseorang yang spesial," ucap Ronal dan ia menatap Lifia dengan
tatapan menilai. Lifia saat ini masih memakai masker, namun mata Lifia terlihat indah, ia yakin Lifia pasti
sangat cantik dibalik masker yang dipakainya.

"Kamu sama siapa Ronal?" Tanya Defran.

"Sama itu..." ucap Ronal menujuk rekan kerja mereka yang lain. "Mau gabung bentar nggak?" Tanya
Ronal.

"Lain kali," ucap Defran.

"Wah...Def banyak banget yang patah hati kalau tahu dokter Defran ini ternyata sudah punya
gandengan," ucapnya.

"Siapa yang patah hati, kamu?" Sinis Defran.

"Gila lo ya, gini-gini saya masih normal, Def," ucap Ronal kesal.

"Saya ini Mas adiknya Mas Defran," ucap Lifia mengkonfirmasi hubungannya dengan Defran, jika ia
bukanlah kekasih Defran seperti apa yang dipikirkan Ronal.

"Adik ketemu besar ya Mbak hehehe..." kekeh

Ronal.

"Kita duluan Ronal! Ucap Defran dan ia mengangkat tangannya kepada rekan kerjanya yang lain.

"Oke lain kali, kita dikenali ya Def sama calonmu ini!"

Ucap Ronal namun Defran tidak mengatakan apapun dan ia memilih mengacuhkan Ronal.
Defran melangkahkan kakinya keluar dari cafe ini dan ia menuju mobilnya, lalu segera masuk kedalam
mobil. Defran meminum kopinya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lifia mengambil
minumannya dan ia juga meminum thai tea miliknya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di
Kediaman Nasir Satyas, keduanya segera turun dari mobil dan melangkah kakinya

4/6

Kalian ada hubungan


masuk kedalam rumah. Lifia membawa cake yang tadi ia beli dan ketika para keponakannya
mendekatinya, ia segera meminta pengasuh mereka untuk memotong cake itu.

Lifia saat ini memilih duduk bersama para keponakannya, sedangkan Defran membawa tas miliknya dan
juga tas Lifia ke lantai dua. Lifia menikmati redvelvet itu bersama para keponakannya dan tiba-tiba sosok
Kana

duduk disampingnya. "Lifia..." panggil Kana.

"Iya Mbak," ucap Lifia.

"Tadi Kiran telepon Mbak, katanya dia ketemu kamu lagi di Apartemen Defran dan kamu sedang berada
didalam kamarnya? Kamu ngapain?" Tanya Kana dan ia menyunggingkan senyumannya.

"Aku diminta bantu Mas Defran beres-beres kamarnya Mbak," ucap Lifia.

5/6

Kalian ada hubungan


"Wah...pantas saja Mami setuju banget kamu jadi menantunya," ucap Kana tersenyum penuh arti.

"Kok ini sih yang dibahas lagi, Mas Def itu minta aku balas budi Mbak, dia telah menyelamatkan aku kan
Mbak beberapa kali, makanya sekarang dia nuntut aku jadi babunya," jelas Lifia.

"Babu kesayangan maksudnya," goda Kana.

"Mbak jangan mulai ya Mbak, aku itu nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Mbak!" ucap Lifia kesal.
"Nggak usah senyum-senyum kayak gitu Mbak!" Kesal Lifia.

"Kalian itu nggak usah pura-pura nggak ada hubungan!" Ucap Kana tersenyum menggoda.

"Memang nggak ada hubungan, Mbak," ucap Lifia.

"Udah ya Mbak, aku mau mandi dulu dan ingat ya Mbak! Jangan ikut-ikutan buat meminta aku agar bisa
berjodoh sama dia, Mbak!" Ucap Lifia. la melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lantai dua dengan
wajah memerah, ia kesal dengan Kiran yang telah menghubungi Kana tentang ia yang berada di kamar
Defran yang ada di Apartemen.
23

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Ketahuan.
Ketahuan
Makan malam bersama Keluarga terasa begitu membahagiakan bagi Liana karena ia bisa berkumpul
bersama keluarganya di Kediamannya. Setelah makan malam bersama, saat ini Kakek Ali sedang
menasehati para cucu-cucunya dan terdengar canda dan tawa dari mereka. Apalagi pasangan Kiran dan
Handaru sedang menjadi topik hangat keluarga ini. Handaru Laksamana Dewandaru merupakan sahabat
Serkan dan Defran sejak dulu. la bahkan sering sekali datang mengunjungi keluarga ini dan hadir ketika
keluarga ini mengadakan acara yang cukup besar.

Lifia melirik Defran yang sedang memainkan ponselnya, sekarang ia sudah tahu kode ponsel Defran dan
ia ingin tahu siapa perempuan yang sedang mendekati Defran. Terkadang ia merasa kesal kepada dirinya
karena sulit untuk mengabaikan Defran, jika ia sering bertemu Defran seperti ini. Lifia membayangkan
bagaimana jika disini Defran duduk bersama calon istrinya dan ia hanya bisa menatap lirih dari tempat
duduknya ini.

'Astaga kalau itu terjadi, aku akan menjadi perempuan yang banyak sekali mengalami patah hati setiap
kumpul keluarga seperti ini,' Batin Lifia.

Lifia bahkan tak menyimak apa yang sedang diperbincangkan oleh mereka karena ia sibuk dengan
pemikirannya sendiri saat ini. Tiba-tiba Salsa menepuk punggung Lifia, membuat Lifia terkejut. "Lagi
mikirin apa Mbak cantikku?" Tanya Salsa.

"Astaga Salsa kamu ngagetin aja..." ucap Lifia.

"Kita itu lagi mau membahas liburan bersama, Mbakku sayang. Ini Mbak lagi mikirin apa sih?," ucap
Salsa

1/6

Ketahuan
tersenyum menggoda.

"Ohh..."ucap Lifia.

"Kok oh sih...Mbak ini liburan bersama yang pastinya sangat menyenangkan, yang traktir kita kan
Mami," ucap Salsa.
"Kayaknya Mbak nggak ikut," ucap Lifia jadwalnya memang agak padat akhir-akhir ini dan ia tidak ingin
memberikan harapan jika ia bisa ikut.

"Mbak ini sepertinya memang sedang tidak fokus ya, Mbak lagi mikirin apa sih?" Tanya Salsa kembali
mengulang pertanyaannya.

"Nggak ada," ucap Lifia.

"Kelihatan bohongnya...Mbakku sayang kita sudah tahu loh dari Mbak Kiran kalau Mbak itu diajak ke
apartemen sama Mas Defran, Mbak juga masuk kedalam kamarnya, pertanyaannya Mbak lagi ngapain?"
Tanya Salsa tersenyum menggoda.

"Nggak lagi ngapa-ngapain sih...aku hanya banyu Mas Defran lipatin pakaiannya dan menyusunnya aja,"
ucap Lifia.

"Daebak, Mbak memang luar biasa, Mas Defran sedang mengajari calon istrinya agar menyebyu harap-
barang pribadinya jangan-jangan persiapan ini menyetuh yang sangat pribadi banget gitu..." ucap Salsa.

"Astaga Salsa, pikirannya..." teriak Lifia kesal.

"Hehehe...loh laki-laki itu kalau udah ngajakin ke kamarnya, mau ngapain coba. Apalagi itu Mas Defran
yang nggak suka kamarnya dimasukin orang lain Mbak, dia itu selektif banget tapi sama Mbak kayak
nggak gitu, fix...Mbak ini memang calon Kakak iparku," ucap Salsa.

"Apaan sih, hanya bantu beresin saja nggak ada yang aneh seperti pikiran kamu Salsa..." ufap Lifia kesal.

2/6

Ketahuan
"Mami..." teriak Salsa.

"Apa Sa, nggak usah teriak-teriak gitu, Mami belum tuli!" Ucap Liana kesal dengan anak bungsunya ini.

"Hehehe...Mami mau dengar gosip nggak?" Tanya Salsa membuat Liana pernasaran termasuk Defran,
Handaru, Kiran, Kakek Ali dan Serkan.

"Ada apa?" Tanya Liana penasaran dan ia menatap Salsa dengan serius.

"Tapi ini bukan gosip, ini beneran terjadi Mi...itu Mbak Lifia masuk kedalam kamar Mas Defran yang ada
di Apartemen dan juga kamar Mas Defran di Rumah ini. Kalau di Rumah ini, Salsa saksinya Mi tapi kalau
di Apartemen Mbak Kiran Saksinya," ucap Salsa membuat Liana membuka mulutnya karena ia terkejut
dan ia menatap kearah Lifia dengan tersenyum bahagia.

"Alhamdulilah, sayang selamat ya..." ucap Liana membuat Lifia melototkan matanya karena Liana tiba-
tiba mengatakan selamat padanya. "Selamat datang didunia Defran Satyas," ucap Liana.
Lifia mengerjapkan kedua matanya, ia bingung apa maksud Liana mengatakan hal ini. Apalagi
mengatakan selamat datang didunia Defran, seolah ia adalah penghuni dunianya Defran. "Mami...Mbak
Lifia itu nggak ngerti apa maksud Mami," ucap Salsa menahan tawanya melihat wajah Lifia yang terlihat
sangat bingung.

"Def...kamu ini keterlaluan sekali sama Lifia, kapan kamu bertanggung jawab Def, kamu ngajakin anak
gadis orang masuk ke kamar itu apa maksudnya?" Sinis Liana.

Defran hanya menatap Liana dengan datar, Maminya ini memang sangat berlebihan dan sering kali
berdrama. Lifia membuka mulutnya dan tentu saja ia tidak setuju Defran dipaksa untuk bertanggung
jawab padanya, jika hanya karena ia dijadikan babu oleh Defran. "Mami hanya

3/6

Ketahuan
salah paham Mi, aku hanya membantu Mas Defran lipatin pakaiannya dan nggak ada yang lain, paling
aku merapikan meja kerja Mas Defran dan juga lemarinya," jelas Lifia.

"Wah justru itu kamu sangat luar biasa sayang," ucap Liana.

Defran tidak mengatakan apapun dan ia lebih memilih memainkan ponselnya dari pada mendengar
ucapan Liana. "Kapan kamu libur sayang? Mami mau main ke Rumah Ibu dan Ayah kamu!" Ucap Liana
tersenyum penuh arti.

"Nggak usah nanya seperti itu, Mami juga sering pergi ke Rumah orang tua Kiran," ucap Defran
membuka suaranya membuat Kakek Ali terkekeh.

"Hehehe....Aduh semakin hari Kakek semakin merasa tua, Def kalau kamu mau nikah segera ya Cu, biar
Kakek bisa melihat pernikahan kamu. Salsa juga begitu kalau sudah punya calon suami segera menikah
ya, Cu!" Pinta Kakek Ali.

"Salsa belum kepikiran Kek, soalnya nggak ada calonya," ucap Salsa membuat Nasir mengangkat sebelah
alisnya.

"Gimana kalau kamu menikah sama anak temannya

Papi, kalian sama-sama dokter dan dia juga sangat pintar. Kalau dia jadi menatu Papi, Rumah sakit kita
akan bertambah besar dan sukses," ucap Nasir.

"Siapa Pi?" Tanya Serkan pensaran siapa yang ingin Papinya jodohkan kepada Salsa.

"Anaknya Dokter Kenzo, Zilo," ucap Nasir membuat Serkan tersenyum dan ia menganggukkan
kepalanya.

"Kalau kau jodohin anak perempuan harus hati-hati, Nasir!" Ucap Alisatyas.
"Pi, bukan hanya Papi yang bisa mencarikan calon mantu yang baik seperti Kana, Nasir juga bisa Pi!"
Ucap

4/6

Ketahuan
Nasir. "Dokter Zilo itu anak yang baik dan dia juga dokter yang sangat menganggumkan," ucap Nasir.

"Tapi cerewet banget Pi, Papi pikir aku nggak kenal sama dia? Aku kenal banget dan aku nggak mau Pi!"
Ucap Salsa.

"Coba dulu ketemuan berdua saja dan bicara dari hari ke hati nanti Papi atur kalian makan malam dulu,
gimana?

Kalau kamu sama dia kamu bakalan jadi istri pemilik

rumah sakit juga Salsa," ucap Nasir.

"Papi matre banget," ucap Salsa membuat mereka semua tertawa.

Lifia menatap Defran dengan dingin dan ia menghela napasnya karena keluarga mereka masih saja
berusaha untuk menjodohkannya bersama Defran. Liana tiba-tiba menarik tangan Lifia agar
mengikutinya membuat Lifia terkejut dan ia memilih mengikuti Liana. "Kamu ikut Mami

5/6

Ketahuan
sebentar sayang!" Ucap Liana.

Lifia menganggukkan kepalanya dan ia melangkahkan kakinya menuju Taman bersama Liana. Saat ini
keduanya sedang duduk berdua di Taman dan Liana menatap Lifia dengan tatapan sayang. "Mami mau
kasih kamu sesuatu sayang!" Ucap Liana membuat Lifia menelan ludahnya dan tentu saja ia merasa
gugup saat ini. "Kamu harus terima dan nggak boleh menolak!" Ucap Liana.

"Iya Mi," ucap Lifia.

Liana mengeluarkan sebuah kotak bludur dan ia mengeluarkan sebuah cincin yang terlihat sangat cantik.
"Ini oleh-oleh dari Mami sayang, jangan menolak ya!" Ucap Liana membuat Lifia terkejut dan ia
menggelengkan kepalanya. "Kan Mami udah bilang jangan ditolak, ini Mami beli di Singapura loh, Mami
juga beliin Kiran gelang kaki, Salsa kalung, Kila juga kalung, Kana dan kamu cincin," ucap Liana.

"Tapi ini kan mahal banget Mi! Lagian harusnya aku yang kasih Mami kado ulang tahun untuk Mami
karena sebentar lagi Mami ulang tahun," ucap Lifia.
"Ya ampun sayang ini itu oleh-oleh dari Mami, Mami suka banget melihat perhiasan gitu makanya Mami
beliin kalian oleh-oleh! Pokoknya kamu pakai ya sayang!" Pinta Liana menatap Lifia dengan tatapan
penuh harap.

15

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Teman syuting.
Teman syuting
Hal yang paling menyebalkan yang saat ini Lifia rasakan adalah ketika ia harus terpaksa berada didalam
situasi aneh bersama Defran. Satu minggu berada di Kediaman Nasir Satyas membuatnya menjadi bahan
godaan selama satu minggu ini. Apalagi laki-laki yang ada disampingnya ini menanggapi bahan godaan
itu dengan santai dan seperti tidak memiliki beban, tidak seperti dirinya yang merasa sangat kesal. Liana
juga memutuskan ingin liburan dua minggu lagi karena ia telah memeriksa jadwal kerja Lifia. Liana
memang memaksa Lifia untuk ikut liburan bersamanya dan ia bahkan mendapatkan jadwal kerja Lifia
dari asisten Lifia dan itu membuat Lifia sangat terkejut.

Saat ini Lifia sedang membaca naska yang ada dipangkuannya dan Defran yang pagi ini mengantarnya
pergi syuting sekalian ia akan apel pagi di Kantornya.

Untung saja hari ini ia tidak perlu kembali menginap di Kediaman Nasir Satyas dan ia akan kembali ke
aktivitasnya seperti biasanya. Mobil berhenti didepan parkiran dan Lifia menatap Defran yang saat ini
sedang duduk disampingnya. la akan menjadi sosok yang sangat bodoh jika berhadapan dengan Defran
dan itu telah terjadi dibeberapa tahun ini.

"Terimkasih sudah mengantar aku Mas," ucap Lifia. "Hari ini terakhir kali Mas merasa direpotkan dan
hutang aku sudah lunas Mas, semua pekerjaan yang kamu perintahkan juga sudah aku lakukan!" Ucap
Lifia.

Defran mengalihkan pandangannya menatap Lifia. "Saya tidak yakin jika kamu tidak akan merepotkan
saya lagi," ucap Defran.

1/6

Teman syuting
"Kenapa tidak yakin? Aku nggak akan minta bantuan kamu lagi!" Kesal Lifia.

"Kamu nggak minta bantuan saya tapi kamu selalu menimbulkan masalah untuk saya," ucap Defran.
"Kali ini ya Mas walaupun tahu aku ada masalah, kaku nggak usah tolong aku nggak apa-apa, aku mati
aja juga nggak apa-apa dan nggak usah peduli!" Kesal Lifia.

"Ohhh...paling kalau kamu mati saya bantu menguburkan kamu saja dan kamu tidak perlu balas budi
lagi!" Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya. Defran menatap dua kancing kemeja Lifia yang
terbuka dan ia mengerutkan dahinya. "Kamu mau syuting atau mau menggoda para lelaki?" Tanya
Defran sinis

"Menggoda?" Tanya Lifia memutar bola matanya karena ia kesal, tentu saja niat aku sekarang harus
menggoda laki-laki dan semua laki-laki yang suka sama aku akan aku goda!" Ucap Lifia kesal.

Defran menatap Lifia dengan datar dan tidak ada raut wajah kesal yang ditunjukkan Defran. Itu artinya
Defran memang sama sekali tidak menyukainya, "Hari ini aku bakalan ketemu sama Tristan, dia
temannya Mas Handaru. Dia orangnya sopan, banyak bicara, tampan dan perhatian," ucap Lifia.
Sebenarnya hari ini tidak ada jadwal ia bertemu Tristan dan ia juga belum pernah bertemu Tristan,
hanya saja Tristan pernah beberapa kali mengirimkan pesan di media sosialnya dan mengajaknya untuk
bertekuk

"Keluar sana, saya masih ada jadwal kerja!" Usir Defran.

"Dengan senang hati dan nggak usah antar aku lagi atau jemput aku lagi, walaupun Mami yang
memerintahkan kamu!" Ucap Lifia kesal.

Lifia menyebikkan bibirnya dan ia segera membuka pintu mobil lalu melangkahkan kakinya dengan
kesal.

2/6

Teman syuting
Defran melihat kedatangan Lifia disambut oleh berapa orang, termasuk seorang laki-laki yang
mengulurkan tangannya dan tersenyum lembut padanya. Laki-laki lawan mainnya di film ini yang
menurut gosip yang beredar, jika laki-laki ini juga sangat menyukai Lifia. Defran melanjukan mobilnya
dengan kecepatan sedang menuju kantornya untuk melaksanakan apel pagi ini.

Sementara itu saat ini Lifia menatap Sandra dengan kesal, ia tidak mengerti kenapa Sandra seolah
berpihak kepada Liana dan membocorkan semua jadwal kerjanya dua bulan kedepan. "Lifia sayang,
kayaknya ini lagi ngambek ya sama aku?" tanya Sandra. "Itu cincinnya bagus sekali, dari Mas Defran ya?"
Tanya Liana membuat Lifia menghembuskan napasnya. Lifia duduk dikursi santai yang memang telah
disiapkan khusus untuknya dan pagi ini Lifia memang telah memakai pakaian dari rumah untuk syuting
pertamanya hari ini.

"Sejak kapan Mas Defran jadi baik dan kasih aku cincin? Nggak ada...ini oleh-oleh dari Mami Liana," ucap
Lifia. Sandra saat ini sedang merapikan makeup yang dikenakan Lifia dan ia memoles beberapa bagian
yang menurutnya harus segera dipoles agar Lifia terlihat lebih cantik natural dan setelah itu ia duduk
disamping Lifia.
"Hehehe...aku kira cincinnya dari Mas Defran," ucap Sandra.

"Jadi kapan nih dikawinin sama Mas Defran?" Tanya Sandra. Lifia melototkan matanya dan ia terlihat
kesal saat ini, apalagi pertanyaan Sandra menjurus dengan kata kawin. la bahkan memilih untuk tidak
akan pernah ingin bermimpi lagi melakukan hal kawin yang dimaksud Sandra.

"Kawin...kawin...nggak ada kayaknya, lebih enak ngejomblo nggak pusing mikirin cinta, lagian nikah dulu

3/6

Teman syuting
baru kawin," ucap Lifia kesal.

Sandra terkekeh, jika mengenai Defran pasti Lifia akan seperti sosok yang plin-plan dan berusaha keras
menujukkan, jika ia perempuan tangguh yang pasti akan segera melupakan Defran. Tapi itu hanya
hitungan jam saja, jika sosok Defran yang tampan itu muncul dihadapanya, lagi-lagi melupakan Defran
hanyalah niat saja. Apalagi semua keluarga Lifia dan Defran mengharapkan keduanya segera menikah
dan membina rumah tangga.

"Moreno kayaknya suka tuh sama kamu, lihat dia kesini mau nyamperin kamu Lifia," ucap Sandra dan ia
ikut guguk karena laki-laki tampan pemeran film ini datang mendekatinya.

"Lifi, nanti siang kita makan siang bersama bagaimana?" Tanya Moreno.

"Boleh," ucap Lifia membuat Moreno tersenyum. Lifia memang harus bisa akrab dengan pemeran utama
laki-laki ini agar ia bisa mendapatkan chemistry ketika mereka memerankan peran yang mereka
mainkan.

Moreno memberikan Lifia paperbag berisi sarapan dan itu membuat Lifia terkejut namun ia berusaha
untuk menerima pemberian Moreno untuk menjaga hubungan baiknya dengan Moreno. "Terimakasih,"
ucap Lifia.

"Sama-sama Lifi," ucap Moreno tersenyum penuh arti. la melangkahkan kakinya meninggalkan Lifia
membuat Sandra tersenyum senang.

"Ya ampun Moreno itu cakep banget...jantung aku sampai deg-degan gitu melihat dia yang perhatian
banget sama kamu Lifi," ucap Sandra.

"Ini kayaknya kamu deh yang naksir Moreno," ucap Lifia.

"Kalau dia mau hehehehe...sayangnya yang dia suka itu kamu, kata Mbak Ike saat tahu kamu yang akan
jadi tokoh utama perempuannya dia langsung bilangan setuju

4/6
Teman syuting
memerankan tokoh utama laki-lakinya," ucap Sandra.

"Ohh..." ucap Lifia.

"Kok...ohhh...aja sih, kayak nggak antusias gitu, kelihatan banget ya kamu itu sulit move on Lifia. Katanya
mau move on dari Mas Defran, itu tuh coba buka hati sama Moreno!" Ucap Sandra.

"Iya makanya kita makan siang bersama dia nanti," ucap Lifia.

"Nggak sekalian makan malam romantis?" Tanya Sandra.

"Baru juga dekat masa mau langsung makan malam bersama, semua ada prosesnya!" Ucap Lifia
membuat Sandra tersenyum.

Lifia dan Sandra tidak menyadari jika tadi saat sosok Moreno yang memberikan makanan kepada Lifia,
telah

5/6

Teman syuting
dipotret oleh wartawan dan ini akan menjadi gosip hangat mengenai kedekatan keduanya saat ini.
Apalagi film yang akan mereka perankan sudah ditunggu oleh para fans mereka, jika benar keduanya
memiliki hubungan kekasih maka film ini dapat dipastikan akan menjadi topi hangat para fans mereka
saat ini.

"Lifi syuting udah dimulai!" Ucap salah satu kru film berteriak memanggil Lifia.

"Oke," ucap Lifia tersenyum dan ia segera berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekati semua kru yang
telah bersiap untuk syuting pada take pertama.

Komentar lainnya

Berikan Suara

15

6/6

Makan siang bersama.


Makan siang bersama
Syuting berjalan dengan lancar dan banyak para artis yang terlibat merasa sangat kagum dengan
kemampuan akting Lifia, mereka bahkan tak perlu banyak adegan berulang-ulang apalagi jika Lifia yang
sedang memerankan perannya. Berbeda dengan beberapa artis lainnya yang sangat sering lupa dengan
naskah yang telah mereka pelajari dan melakukan beberapa adegan yang salah. Jam menunjukkan pukul
dua belas siang dan sosok Moreno saat ini melangkahkan kakinya mendekati Lifia dan Sandra.

"Ayo makan siang, ada waktu dua jam buat kita makan siang bersama!" ucap Moreno menatap Lifia
dengan tatapan penuh harap. la telah lama menganggumi Lifia dan memang berusaha mendekati Lifia.
Apalagi Lifia selama ini sangat ramah kepada siapapun dan dulu sebelum terkenal seperti ini Lifia pernah
tersenyum sangat manis padanya.

Tentu saja sosok Lifia membuatnya ingin mendekati Lifia dan bermaksud mengambil hati Lifia.

"Tumben lama istirahatnya," ucap Lifia.

"Hari ini karena ada sosok artis yang jago akting jadi syutingnya jadi lancarc apalagi sutradara juga nggak
banyak marah seperti syuting-syuting film sebelumnya," ucap Moreno sengaja memuji Lifia dan ia
tersenyum kepada Lifia. Terlihat dengan jelas jika ia sangat kagum dengan Lifia dan itu membuat Sandra
tersenyum penuh arti. Baginya Lifia harus mendapatkan sosok laki-laki yang baik dan menyayanginya
dengan tulis, namun tetap saja keluarga Satyas adalah yang terbaik karena semua keluarganya sangat
menyayangi Lifia.

Saat ini mereka memilih makan siang di Restauran

1/6

Makan siang bersama


yang tidak terlalu jauh dari lokasi syuting dan memang syuting film ini, dijadwalkan harus diselesaikan
bulan ini karena Lifia telah memiliki proyek film baru bersama Azura artis yang juga sangat berbakat
sama seperti dirinya. Saat ini mereka telah duduk di Restauran dan Sandra memang sengaja ikut makan
siang bersama, agar tidak ada gosip mengenai Moreno dan Lifia. Setiap kali Lifia menjadi pemeran
utama di film, ia selalu dikaitkan dengan pemeran utama laki-laki. Apalagi Lifia selalu berhasil menipu
para penonton dengan menujukkan chemistrynya bersama setiap lawan mainnya.

Mereka memesan beberapa makanan dan Moreno tampak perhatian kepada Lifia dengan memberikan
beberapa lauk makanan kepada Lifia. "Wah ternyata Mas Moreno ini baik banget ya orangnya," puji
Sandra.

"Tentu saja," ucap Moreno dan ia menatap Sandra dengan tatapan kesal membuat Sandra terkejut.

'Loh kok sama gue jadi dijulidtin begini, kayak mau marah begitu...' batin Sandra 'Apa karena gue ikut
mereka makan siang, kalau itu mah gue memanh harus ikut. Kalau gue nggak ikut makan siang dan
hanya mereka berdua saja yang makan siang, bisa-bisa ada berita gosip mengenai kedekatan mereka
yang dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak dinginkan. Padahal ini baru pertama kakinya makan siang
bersama kayak gini sama Moreno, tapi dia udah mau berkuasa gitu pengen makan berdua saja sama
Lifia,' Barin Sandra.
"Kalau sama Lifia mau makan siang bersama seperti ini, asisten kamu memang harus ikut, ya Lifia?"
Tanya Moreno membuat Lifia mengerutkan dahinya. la tidak mungkin pergi makan siang hanya berdua
saja dengan Moreno, apalagi baru kali ini ia makan siang bersama. Sebagai sesama orang yang berkerja
dibidang ini, Moreno pasti tahu apa resiko dari pekerjaan mereka.

2/6

Makan siang bersama


Apalagi dulu Lifia pernah difitnah memakai narkoba karena berdekatan dengan salah satu artis yang
mengaku sahabatnya dan juga ikut memfitnahnya, demi popularitas mereka.

"Iya, aku nggak pernah makan sendiri biasanya Sandra selalu menemani aku makan siang apalagi aku
batu mengenal orang itu," ucap Lifia membuat Moreno menghela napasnya.

"Tapi sekarang kamu sedang tidak makan sendiri," ucap Moreno dan ia tersneyum lembut kepada Lifia.

Biasanya senyumannya ini mampu membius para perempuan yang ada disekitarnya. "Ada saya yang
makan sama kamu, lagian tempat ini sangat privat Lifia," ucap Moreno. Saat ini mereka memang berada
dilantai dua dan tempat ini memang sangat berkelas hingga hanya orang-orang tertentu yang sering
makan disini.

Seorang perempuan cantik mendekati mereka dan ia tersenyum melihat mereka. "Ya ampun ternyata
Jakarta itu sempit banget, Mbakku sayang makan sama siapa nih..." godanya dan ia tersenyum melihat
Lifia, namun ketika ia menatap Moreno ia menjadi sangat kesal.

Sandra menahan tawanya karena ia juga tidak menduga jika saat ini mereka bisa bertemu ditempat ini.

"Salsa makan siang sama siapa?" Tanya Lifia.

"Itu tuh..." ucap Slasa menujuk sosok yang saat ini sedang duduk santai sambil memakan makannya.

Defran Satyas sedang makan siang bersama Lifia dan itu cukup mengejutkan karena biasanya Defran
memilih pulang ke Apartemenya jika siang seperti ini. Defran memilih memasak sendiri makanannya
atau ia menunggu Salsa membawakan makanan yang dimasak Mami mereka.

Tapi ada kalanya ia akan makan siang bersmaa kolega bisnis atau rekan kerjanya. "Hari ini kita nggak
makan masakan Mami Mbak, Mami lagi pergi sama Mama Lely

3/6

Makan siang bersama


katanya mau ke klinik kecantikan gitu," ucap Salsa.

"Kamu siapa?" Tanya Moreno penasaran dengan sosok Salsa Satyas.


"Hai Mas ganteng kenalin nama aku Salsa!" Ucap Salsa mengulurkan tangannya kepada Moreno.

"Moreno," ucap Salsa dan ia menatap Salsa dengan tatapan menilai. Salsa terlihat sangat imut dan
cantik, apalagi ia juga terlihat manja dengan suaranya yang merdu.

"Kamu siapanya Lifia?" Tanya Moreno membuat Lifia segera duduk disamping Moreno.

"Saya adiknya Mbak Lifia," ucap Salsa membuat Lifia tersenyum.

"Kuliah atau masih SMA, tapi jam segini anak SMA pasti belum pulang," ucap Moreno.

"Tebak deh Mas aku masih kuliah atau masih SMA?"

Tanya Salsa tersenyum ramah dan memang kadar kecantikan Salsa akan meningkat drastis jika ia
tersenyum seperti ini.

"Kayaknya masih SMA." Ucap Moreno.

"Dia ini sudah bekerja di Rumah Sakit," ucap Lifia.

"Ih....kok dikasih tahu sih Mbak," ucap Salsa menyebikkan bibirnya.

"Siapa tahu kita bisa berteman, Salsa. Ternyata kamu punya adik yang cantik sama kayak kamu, Lifia,"
ucap Moreno.

Lifia saat ini tidak fokus dengan mereka karena sejak tadi matanya mencuri pandang sosok Defran yang
sedang duduk santai sambil memakan makannya. Apalagi Defran bertambah tampan karena ia masih
mengenakan seragamnya, selama ini ia hanya beberapa kali melihat Defran mengunakan seragamnya
dan biasanya Defran

4/6

Makan siang bersama


selalu memakai pakaian bebas jika mereka bertemu.

Defran memang selalu terlihat mempesona disetiap penampilannya membuat wajah Lifia memerah,
karena memikirkan bagaimana ia bisa memeluk tubuh tegap itu yang sangat ingin ia peluk.

'Dasar gila... sempat-sempat ya mikir pengen dipeluk sama dia, Batin Lifia kesal.

Makan siang mereka pun terlihat ramai karena Salsa

dan Moreno berbincang bersama, Lifia dan Sandra hanya mendengarkan keduanya. Beberapa menit
kemudian makan siang pun berakhir, apalagi Moreno tiba-tiba dihubungi sutradara yang memintanya
untuk segera datang ke lokasi lebih dulu karena ada beberapa adegan yang ternyata harus ia ulang.
Berbeda dengan Lifia yang akan dijadwalkan syuting kembali jam empat nanti sore.
"Aku pamit dulu, hmmm...Lifia..." ucap Moreno bingung

5/6

Makan siang bersama


karena tadi Lifia dan Sandra pergi bersamanya.

"Duluan saja kita bisa naik mobil online kok," ucap Sandra. Jika tahu akan begini, tadi lebih baik ia
membawa mobil masing-masing bukan naik mobil bersama Moreno.

"Maaf, nggak tahu kenapa tiba-tiba ada adegan ulang syuting yang tadi," ucap Moreno membuat Salsa
menyunggingkan senyumannya.

"Nggak apa-apa nanti biar aku sama Mas Defran yang anterin Mbak Lifia, itu loh Mas Defran..." tunjuk
Salsa kepada sosok Defran yang saat ini sedang memainkan ponselnya.

"Mas..." tegur Moreno tersenyum ramah, namun Defran hanya diam saja dan menatap Moreno sekilas
lalu ia kembali memainkan ponselnya.

Berikan Suarга

20

Komentar lainnya

6/6

Sandiwara aneh.
Sandiwara aneh
Lifia memilih duduk ditempatnya alih-alih pindah ke tempat Defran duduk, meskipun saat ini Salsa
memintanya dan Sandra untuk duduk bersama di tempat Defran duduk.

"Ayo lah Mbak pindah duduk disana!" Pinta Salsa menunjuk tempat dimana Defran sedang duduk.

"Nggak usah kita duduk disini saja!" Ucap Lifia menolak untuk bergabung duduk bersama Defran. Pagi
tadi ia sudah sangat kesal dengan Defran dan siang ini bertemu lagi dengan Defran yang sialnya semakin
hari, semakin tampan.

"Mbak Sandra duduk disini saja! Ini aku udah pesan cemilan gitu, lagian katanya syutingnya jam empat
lagi ,kan masih lama banget....kebetulan aku dan Mas Defran lagi free ya Mas jadi nanti kita aja yang
antar ke lokasi syutingnya!" ucap Salsa. "Mbak Sandra ayo pindah duduk!" Pinta Salsa.

"Oke," ucap Sandra.

"Sandra kok lo tega banget sih...duduk disini saja Sandra!" ucap Lifia.
"Rezeki nggak boleh ditolak Lifia, mana cemilannya enak-enak banget," ucap Sandra.

"Dasar penghianat," ucap Lifia kesal membuat Sandra terkekeh.

"Hehehe...ayo pindah!" Ucap Sandra namun Lifia menggelengkan kepalanya.

Sandra duduk disamping Salsa dan ia masih melihat kearah Lifia yang terlihat keras kepala dengan masih
duduk disana, tanpa ingin bergabung bersama dengan mereka.

"Tunggu saja, Mbak Lifia mana betah duduk sendiri," ucap

1/6

Sandiwara aneh
Salsa.

Seorang laki-laki tersenyum kepada Lifia, ia mengisyaratkan ingin duduk dihadapan Lifia membuat Lifia
segera menggelengkan kepalanya dan menolak secara halus. Defran menatap kearah Lifia dan matanya
bertemu dengan mata Lifia, Defran mengisyaratkan Lifia agar duduk disampingnya, namun Lifia hanya
diam saja. "Duduk!" Ucap Defran memerintah Lifia duduk disampingnya membuat Lifia menghela
napasnya.

Laki-laki yang berada tidak jauh dari Lifia itu melangkahkan kakinya mendekati Lifia, membuat Lifia
segera bergegas duduk disamping Defran. Jantungnya berdetak dengan kencang karena dibandingkan ia
harus berbincang dengan laki-laki yang tidak ia kenal, lebih baik ia duduk bersama mereka saat ini. "Wah
makananya enak-enak semua kayaknya ini," ucap Sandra. "Mas Def boleh y- dimakan?" Tanya Sandra.

"Makan saja!" ucap Defran.

"Mbak Lifia makan juga dong, tadi aku lihat Mbak makanya sedikit sekali, Mbak...banyak pikiran ya?

Kelihatan nggak fokus gitu apa Mbak kurang sehat atau ada yang sakit?" Tanya Salsa dan ia sengaja
mengatakan hal ini untuk menilai ekspresi wajah Kakaknya ini apakah terlihat berubah dari datar dan
tampak sedikit khawatir kepada Lifia.

"Aku nggak apa-apa," ucap Lifia.

"Beneran Mbak? Tapi sebaiknya Mas Defran periksa Mbak Lifia, Mas!" Ucap Salsa sengaja ingin
menggoda keduanya.

"Nggak usah!" Ucap Lifia kesal membuat Sandra dan Salsa terkekeh.

"Kalau nggak sakit, makan dong Mbak!" Goda

Salsa.

"Iya," ucap Lifia dan ia mengambil beberapa makanan


2/6

Sandiwara aneh
lalu memakannya dengan lahap. Defran memperhatikannya dan itu membuatnya terkejut, entah ada
angin apa hingga Defran memperhatikannya dengan tatapan datarnya ini.

"Mas Def, gimana Mbak Lifia mau lahap makanya kalau Mas Def negeliatin Mbak Lifia kayak gitu," ucap
Salsa membuat Sandra menahan tawanya. Bagi Sandra dan Salsa interaksi antara Defran dan Lifia
terlihat sangat menggemaskan.

"Habiskan!" Perintah Defran. Defran memang tidak banyak bicara dan sekalinya bicara, biasanya hanya
memerintahkannya saja.

"Ini banyak banget, masa harus aku habiskan sendiri, Mas?" Protes Lifia. "Mas minta mereka juga dong
yang habisin!" Ucap Lifia kesal.

"Kamu lebih kurus dari mereka," ucap Defran.

"Terus kalau aku kurus apa urusan sama kamu, Mas," ucap Lifia kesal.

"Kamu jadi merusak pemandangan," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya karena kesal.

"Astaga nggak usah dilihat kalau kamu nggak suka, Mas!" Ucap Lifia dengan suaranya yang agak
meninggi karena ia benar-benar emosi saat ini.

Salsa dan Sandra berpura-pura tidak mendengar pembicaraan keduanya, keduanya saat ini sengaja
fokus dengan sosial media mereka. Keduanya menyimak pembicaraan Defran dan Lifia lalu keduanya
akan terkekeh mendengar percakapan aneh keduanya. "Kalau nggak suka melihat aku, Mas itu juga
usahain dong nggak usah ketemu aku lagi dan ingat ya nggak usah lihat aku!" Ucap Lifia kesal.

"Memangnya mata saya bisa saya perintahkan untuk tidak bisa melihat kamu? Tidak bisa," ucap Defran.

3/6

Sandiwara aneh
"Mana mungkin tidak bisa, Mas pasti ngerti kan kalau indra manusia itu akan menuruti perintah otak
dan hati Mas, kalau Mas bilang jangan lihat ya jangan lihat!" ucap Lifia kesal.

"Oh ya...begitu ya?" Tanya Defran menatap Lifia dengan tatapan dinginnya menbuat Lifia benar-benar
kesal.

"Harusnya kita nggak usah makan disini kalau kitda harus ketemu dia, Sandra!" Ucap Lifia sinis.

"Namanya juga kebetulan Mbak, lagian ketemu Mas Def dan Mbak Salsa kan seru, kita ditraktir. Hari ini
semua makanan kita ditraktir oleh sama Mas Defran dan Moreno," ucap Sandra.
"Moreno itu kelihatan banget suka sama Mbak Lifia, makanya tadi aku hehehe...sengaja ajak dia ngobrol
banyak biar dia nggak natap Mbak Lifia terus. Soalnya matanya itu natap dalam banget dan hati-hati loh
Mbak bisa-bisa nanti Mbak jatuh cinta sama dia, kalau Mbak sama dia kan kita sekeluarga yang sedih,"
ucap Salsa dan ia melirik Defran. la menunggu Defran mengatakan sesuatu namun Kakaknya itu hanya
diam saja dan tidak menanggapi ucapanya.

"Dia memang tampan dan baik, bisa dipertimbangkan buat jadi calon pacar," ucap Lifia.

"Iya Mbak, aduh kasihan Mami calon menatunya akan segera direbut orang lain," ucap Salsa berpura-
pura sedih.

"Sekarang sudah jam tiga, dari pada kita terlambat lebih baik kita datang lebih dulu ke lokasi syuting,
Sandra!"

ucap Lifia.

"Biar kita yang antar Mbak!" Ucap Salsa.

"Nggak usah Salsa kita bisa naik mobil online saja!"

Ucap Lifia.

4/6

Sandiwara aneh
"Nggak usah keras kepala!" Ucap Defran dan ia segera bediri dan melangkahkan kakinya keluar dari
Restauran ini.

"Beneran nggak usah Salsa!" Lirih Lifia dan ia sangat kesal saat ini.

"Mbak Mas Def loh yang ngajakin aku makan di Restauran ini, tiba-tiba aku ditelepon gitu sama dia dan
jemput aku ke Rumah Sakit, kenapa coba dia mau makan

disini?" Ucap Salsa dan ia mengajak Lifia melangkahkan kakinya bersama menuju pintu keluar Restauran
ini.

Keduanya menatap punggung tegap Defran yang berada jauh didepan mereka saat ini "Kita makan disini
itu kayaknya, ini bukan kebetulan loh Mbak," ucap Salsa dan ia yakin Defran memang ingin makan siang
disini karena ia tahu Lifia makan siang disini bersama Moreno.

"Nggak mana ada dia kayak gitu, dia itu nyebelin

5/6
Sandiwara aneh
banget sih...aku tuh sampai pusing banget karena tingkahnya yang aneh dan kayaknya kesal banget
sama aku," ucap Lifia.

"Hmmm...Mbak kenapa nggak coba nangis didepan Mas Def!" Ucap Salsa.

"Ngapain juga nangis didepan dia," ucap Lifia kesal dengan saran Salsa.

"Hmmm...pura-pura sakit gitu, tapi nanti pasti ketahuan, aku lupa Mbak kalau Mas Def itu Dokter juga
hehehe..." kekeh Salsa.

"Lifia kalau datang bulan biasanya sakit perut gitu dan nggak mau keluar kemana-mana, makanya kalau
datang bulan sering banget minta izin nggak kerja dihari pertama dan kedua datang bulan," ucap Sandra.
"Gimana kalau kamu nanti minta urusin Mas Def aja Lifia kalau bukan ini datang bulan!" Ucap Sandra
membuat Lifia melototkan matanya dan ia snagat tekejut dengan Idak buruk dari Sandra.

"Nggak mau...udah fix aku nggak mau buat sandiwara aneh, hanya untuk menarik perhatian dia," ucap
Lifia kesal.

Komentar lainnya

Berikan Suara

11

6/6

Bodoh banget.
Bodoh banget
Lifia, Sandra dan Salsa melangkahkan kakinya menuju mobil dan ketika Lifia ingin masuk ke pintu
belakang, Salsa segera semenarik lengan Lifia. "Mbak duduk didepan sama Mas, Def!" Ucap Salsa
tersenyum penuh arti dan ia mengerjapkan kedua matanya seolah memohon, agar Lifia mau duduk
didepan tepat disamping Defran.

Lifia menghembuskan napasnya dan ia akhirnya menarik pintu depan, lalu duduk disamping Defran. la
melirik Defran yang sedang menatapnya dan ia segera fokus menatap kedepan agar tidak bertemu mata
dengan Defran. Jantungnya berdetak dengan kencang dan tetap saja hatinya itu selalu membuatnya
kesal karena selalu saja terpesona pada sosok yang ada disampingnya ini tapi sebagian dari dirinya
berusaha menolak keras menyukai Defran lagi dan ia harus segera melupakan Defran, tapi sebagian dari
dirinya mengatakan jika ia tidak akan pernah bisa melupakan Defran.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan tidak ada pembicaraan diantara Defran dan Lifia, namun
tidak dengan Sandra dan Salsa yang sedang berbisik, lalu keduanya terkekeh seolah sedang mengejek
Defran dan Lifia. Beberapa menit kemudian mereka sampai di lokasi syuting, Lifia ingin segera turun dari
mobil dan ia menarik handel pintu mobil, namun suara Salsa menghentikannya untuk segera keluar dari
mobil.

"Mbak kata Mami kalau bisa Mbak tinggal saja di Rumah kita Mbak, nanti Mbak Sandra juga bisa ikut
tinggal di rumah kita!" Ucap Lifia menyampaikan pesan dari Liana.

"Nggak usah Salsa, aku tinggal di Apartemen saja!"

1/6

Bodoh banget
Ucap Lifia.

Lifia tidak mau terbiasa menerima kasih sayang keluarganya Defran, karena ia tak ingin mengharapkan
sesuatu yang tidak pasti dan ia tahu sakitnya jika nanti Defran menikah dengan perempuan lain.
Jangankan menikah dengan perempuan lain, Defran baru berpacaran saja dengan perempuan lain saja,
ia pasti akan menangis pilu. Oleh karena itu, ia merasa ia harus bersiap diri dari kemungkinan terburuk
itu, bahwa ia harus tahu diri dengan posisinya saat ini di Keluarga Satyas.

Lifia tersenyum melihat Salsa, Salsa segera turun ketika Lifia turun dan ia segera memeluk Lifia dengan
erat, lalu mencium pipi kanan dan kiri Lifia. "Kalau Mbak nggak pergi acara liburan keluarga, aku juga
nggak mau pergi Mbak," ucap Salsa.

"Kok gitu?" Tanya Lifia.

"Ngapain coba seru-seruan hanya berdua sama Kila, Mas Serkan sibuk sama anak dan istrinya, Mas
Fajrin juga begitu, Mami dan Papi juga, Mama Lely dan Papa Le juga gitu, mereka semua mau jalan-jalan
sama pasangan mereka masing-masing. Mas Defran mana mau pergi jalan-jalan paling dianya baca buku
atau apalah...dia juga biasanya main sama motor gedenya keliling sendirian gitu, lebih baik nggak usah
liburan kurang seru nggak ada Mbak sama Mbak Kiran," ucap Salsa mencoba membujuk Lifia. "Kata
Mbak Kiran kalau Mbak Lifia nggak pergi, dia juga nggak akan mau pergi," jelas Salsa.

"Iya nanti Mbak usahakan bisa pergi," ucap Lifia tersenyum.

"Oke Mbak sayang, selamat bekerja!" Ucap Salsa. "Mbak Sandra jagain Mbak Lifia ya! jangan kecapean
nanti bisa sakit!" Ucap Salsa.

"Siap Salsa," ucap Sandra.

Salsa melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil

2/6
Bodoh banget
dan ia melihat dari balik kaca jendela, Lifia dan Sandra melangkahkan kakinya menuju lokasi syuting
yang telah terlihat ramai. Defran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan Salsa menatap
Defran dengan kesal.

"Mas..." panggil Salsa.

"lya," ucap Defran singkat.

"Mas itu nyebelin banget ya Mas, Mas beda banget sama Mas Serkan yang sat set gitu sama Mbak Kana,
Mas nggak belajar dari pengalaman Mas Serkan?" Sinis Salsa. "Mas Serkan itu hampir banget kehilangan
Mbak Kana, karena kebodohannya itu yang menunda-nunda ketemu Mbak Kana, akhirnya Mbak Kana
setuju saat itu nikahnya sama Mas Amran," ucap Salsa mengingat kisah cinta sang kapten Serkan dan
Dokter Kana.

"Tapi mereka nggak nikah," ucap Defran.

"Itu hanya keberuntungan Mas, kalau Mas Amran nggak memiliki hubungan dengan wanita lain pasti
sekarang Mbak Kana itu jadi istrinya Mas Amran. Mas Serkan akan patah hati dan menyesal seumur
hidupnya," ucap Salsa.

"Buktinya Serkan tetap ada untuk Kana," ucap Defran dan seperti biasa ia mengatakan hal ini dengan
ekspresi datarnya, hingga orang lain sulit untuk membaca pikiran seorang Defran Satyas.

"Ya ampun Mas...kalau aku punya laki-laki yang suka sama aku itu yang sikapnya sama kayak Mas, udah
aku tolak ribuan kali. Jelas-jelas Mas itu suka sama Mbak Lifia kenapa ngomongnya selalu kasar," ucap
Salsa kesal.

"Kasar? Saya tidak mengerti ucapan kamu Salsa, saya tidak berbuat kasar sama dia," ucap Defran.

"Mas...nggak ada laki-laki yang berbicara kayak gitu sama perempuan yang mau diajak serius menjalani
hubungan," ucap Salsa kesal. "Gini deh...adekmu ini tanya sama kamu dan kamu harus jawab jujur,
Mas!" Ucap Salsa

3/6

Bodoh banget
kesal.

"Tanya apa?" Tanya Defran dan matanya tetap fokus mengedari mobilnya.

"Mas tahu dari mana Mbak Lifia mau makan di Restauran itu? Jangan bilang Mas punya mata-mata?"
Tanya Salsa dan ia menatap Defran dengan tatapan menyelidik.

"Makan ya makan dan bertemu dengan orang yang kita kenal di Restauran itu, sudah biasa," ucap
Derfran.
"Mas...ih nyebelin banget sih, makanya Mami capek ngurusin kamu Mas, udah dikasih jalan biar sering
ketemu Mbak Lifia malah diajak berantem melulu, nggak capek apa? Perempuan itu harusnya disayang
Mas. Kalau Mami nggak paham sikap Mas ini, kita semua mengira Mas itu benar-benar nggak suka sama
Mbak Lifia," ucap Salsa kesal. "Mas jawab pertanyaan Salsa, Mas! Mas itu ngajakin aku makan siang
disana karena Mas tahu Mbak Lifia juga mau makan siang disana sama Moreno kan Mas?" Tanya Salsa.

"Menurut kamu?" Tanya Defran.

"Itu bukan jawaban Mas, nyebelin banget sih kok jadinya pertanyaan lagi, pinter banget ya Mas
membuat orang disekitar kamu itu kesal sama kamu," ucap Salsa sangat murka mendengar ucapan
Defran, yang menguras emosinya saat ini. "Aku itu udah curiga sama kamu, tumben banget kamu
ngajakin aku makan siang Mas, apalagi hanya berdua saja kayak gini...nggak ada yang namanya bertemu
disengaja, apa aku harus cerita sama Mami apa yang kamu lakukan sama Mbak Lifia? Udah deketin saja
dengan serius, udah tahu dari dulu Mbak Lifia itu punya hati sama kamu Mas, yang aneh itu kamu," ucap
Salsa.

"Diam Sa! kamu ini menyebalkan sekali, cerewet kayak

4/6

Bodoh banget
Mami!" Ucap Defran membuat Salsa membuka mulutnya.

"Mas itu dikasih tahu nggak mau, ini masukan kedepannya untuk kamu Mas, kalau kamu kayak gini terus
Mas, selamanya kamu itu akan jomblo terus," ucap Salsa.

"Kamu nyumpahin Mas Salsa..." ucap Defran

dingin.

"Habisnya susah banget berkomunikasi sama kamu Mas, kamu itu harus banyak belajar komunikasi biar
orang lain nggak salah paham sama kamu!" Ucap Salsa.

"Kamu itu masih kecil jangan lancang ngajari saya, Salsa! kamu pikir saya ini bodoh," ucap Defran dingin.

"Iya, Mas itu bodoh, bodoh banget..." kesal Salsa.

5/6

Butuh pelukan.
Butuh pelukan
Kiran membaca pesan dari Lifia jika saat in ia telah kembali tinggal di Apartemennya. la menghela
napasnya, karena adiknya itu beberapa kali menolak pulang untuk menemui orang tua kandungnya.
Permaslaah pelik yang dialami Kiran ketika masih kecil, membuatnya sangat trauma dan memilih untuk
melupakan ayah kandungnya yang telah memilki keluarga barunya, ketika ibunya baru saja meninggal.
Apalagi Lifia mengetahui fakta saat ibunya masih hidup, ternyata ayahnya telah memiliki hubungan
dengan perempuan itu yang saat ini telah menjadi istri ayah kandungnya menggantikan ibunya.

"Susah kali membujukknya untuk pulang padahal harusnya Lifia juga bertemu dengan ayahnya yang
kurang ajar itu," ucap Kiran. "Kenapa sih banyak banget laki-laki aneh jin ajaib yang bisanya hanya
membuat pusing," ucap Kiran.

Kiran mendengar notifikasi dari ponselnya dan ia menghela napasnya karena pengacara kurang kerjaan
itu, mengirimkan pesan yang sangat tidak penting untuknya. Sebuah kalimat yang membuat wajahnya
memerah karena ucapan itu sungguh memalukan dan tidak sopan menurutnya.

Pengacara gila:

Pengen ciuum kamu...

Kalimat yang mampu membuat wajah Kiran merah padam karena mengingat tingkah konyol Handaru
Laksamana Dewandaru, yang sangat suka memaksa menciumnya diberbagai kesempatan. la menghela
napasnya mengingat bagiamana tingkah Handaru padanya sebelum Handaru menyatakan jika ia
mencintainya dan

1/6

Butuh pelukan
ingin menikahinya. Kiran kira apa yang dilakukan Handaru hanya untuk mempermainkannya dan mengisi
jadwal santainya, namun ternyata tidak. Handraru bahkan setiap tiga Jam sekali akan menghubunginya
dan jika ia tidak mengangkat ponselnya, Handaru akan mengirimkan kalimat aneh yang mampu
membuatnya malu seperti saat ini.

Kiran menghela napasnya, ia ingat mantan kekasihnya beberapa tahun yang lalu yang sampai saat ini,
masih mengharapkan ia kembali padanya. Namun laki-laki itu ternyata pernah berdebat sengit dengan
Handaru dan kalah dipersidangan, di setiap kesempatan mereka bertemu. Mantan kekasihnya itu selalu
mengatakan ketidaksukaannya kepada Handaru dan mengatakan akan menghancurkan Handaru. Kiran
bahkan sangat kesal karena seriap mereka bertemu, mantan pacarnya itu selalu saja membahas
pekerjaan. Mantan kekasihnya itu tidak membahas mengenai hubungan mereka saat itu dan ia sibuk
dengan membahas kasus-kasus yang ditanganinya.

Satu tahun Kiran mencoba bertahan dengan hubungan yang sangat membosankan baginya dan saat itu
ia merasa sudah tidak tahan lagi. Kiran akhirnya memutuskan untuk menyudahi kisah cintanya itu.
Sekarang lagi-lagi ia berpacaran dengan seorang pengacara namun pengacara yang ia kenal ini tidak
pernah membahas masalah perkerjaan padanya, tapi membahas masalah keinginanya yang ingin segera
menikah dengannya.

"Mbak Kiran semuanya sudah selesai, Mbak. Kata Pak Bowo Mbak bisa pulang karena jadwal syuting
diundur besok!" Ucapnya.
"Oke..." ucap Kiran. la melihat jam ditangannya yang saat ini menunjukkan pukul dua belas siang dan
sosok Handaru sebentar lagi pasti akan menghubunginya.

2/6

Butuh pelukan
Semenjak ia kesal, Handaru tiba-tiba menghilang dari peredarannya, ketika datang menemui
keluarganya dan berbohong tentang hubungan mereka. Semenjak itu juga Handaru selalu memberikan
kabar padanya, namun apa yang dilakukan Handaru sangatlah berlebihan.

Nah...benar saja ponselnya berdering dan tulisan pengacara gila tertera di layar ponselnya. Kiran
memilih untuk tidak mengangkatnya dan notifikasi pesan kembali masuk kedalam ponselnya,
membuatnya menghela napasnya. Jika ia bersikap acuh tak acuh, senjata yang paling ampuh yang sering
Handaru lakukan padanya, yaitu pengancaman. Seperti sekarang kalimat pengancaman kembali ia lihat
di pesan yang dikirimkan Handaru Laksamana Dewandaru ini.

Pengacara gila:

Calon suamimu ini merindukanmu, keluar sekarang juga saya tunggu diparkiran atau kamu mau saya
menjemput kamu ke dalam studio!

"Dasar pemaksa," ucap Kiran dan ia segera membalas pesan Handaru Laksamana Dewandaru dengan
kesal.

Kiran:

Iya aku kesana sekarang!

Kiran mengambil tasnya dan ia memasukan ponselnya kedalam tas, lalu ia mendekati beberapa kru yang
ada distudio. la segera pamit pulang karena hari ini ia juga tidak ada jadwal lagi. Kiran melangkahkan
kakinya dengan cepat menuju parkiran mobil dan benar saja mobil hitam milik Handaru ada disana, ia
melangkahkan kakinya mendekati mobil itu, lalu ia mengetuk kaca mobil Handaru.

Handaru menurunkan kaca mobilnya dan terlihat dengan jelas wajah kesalnya itu terlihat dari ekspresi
wajahnya yang tidak bersahabat. "Kenapa Mas? Mau marah sama aku?" Tanya Kiran yang memilih untuk
tidak masuk

3/6

Butuh pelukan
kedalam mobil, jika Handaru akan marah padanya.

"Enggak, ayo masuk!" Ucap Handaru.


Kiran segera menarik handel pintu mobil dan ia duduk disamping Handaru. Matanya melirik Handaru
yang saat ini sedang menatapnya dengan dingin. Inilah sosok asli Handaru yang ia kenal, bukan Handaru
yang pecicilan yang beberapa hari ini sengaja ia tujukan untuk menyembunyikan topeng aslinya.
Handaru mendekati Kiran, membuat Kiran terkejut dan ia mencoba menjauh dari Handaru. Ternyata
Handaru memakaikannya seatbelt, hingga mereka nyaris berpelukan saat ini.

"Mau saya ciumm disini atau nanti saja?" Tanya Handaru dan ia sengaja melihat lurus kedepan dari pada
menatap wajah cantik Kiran. "Kamu yang meminta saya agar saya harus izin, jika saya mau ciumm
kamu," ucap Handaru membuat Kiran menghembuskan napasnya.

"Mas hal kayak gini nggak usah kamu tanya, kamu itu nyeblin banget sih..." ucap Kiran membuat
Handaru mengangkat sudut bibir dan ia segera mendekati Kiran. Wajah keduanya sangat dekat hingga
membuat jantung Kiran berdetak dengan kencang karena wajah tampan itu begitu dekat dengannya,
seolah ingin mempersempit jaraknya.

Handaru mencium bibir Kiran dengan lembut dan seolah ia benar-benar sangat merindukan Kiran, ia
bahkan melahap habis bibir itu, hingga wajah Kiran memerah. Handaru memeluk Kiran dengan lembut
dan ia sangat suka mencium bau harum rambut Kiran. "Stawberry harum sekali, saya merindukan
kamu...Kiran," ucap Handaru dengan suara berat dan seraknya yang menambah kesan seksi.

"Mas jangan kayak gini, baru dua hari kamu nggak ketemu aku!" ucap Kiran kesal dan ia mendorong
pelan tubuh Handaru agar menjauh darinya.

4/6

Butuh pelukan
"Ciuum saya dan saya akan melepaskan kamu sekarang! Tapi kalau kamu tidak mau...kita berpelukan
satu jam saja bagaimana?" Tanya Handaru.

"Jangan gila Mas...astaga kamu ini sekarang lagi terkena virus apa sih sampai jadi kayak gini...." Kesal
Kiran.

"Dulu kamu nggak kayak gini Mas..." ucap Kiran.

"Dulu memangnya saya seperti apa?" Tanya Handaru dan ia melepaskan sedikit pelukannya agar bisa
melihat wajah cantik Kiran. Matanya seolah meneliti wajah cantik itu dan itu membuat Kiran dilanda
gugup.

"Kamu yang dulu nggak kekanakan dan nggak nafsuan kayak gini... kamu itu kok jadi m***m begini,"

ucap Kiran merasa sangat kesal saat ini.

"Tahu apa kamu dengan nafsu saya? Pasti kamu nggak tahu seberapa besar keinginan saya untuk
memilki kamu. Semakin bertambahnya usia, saya tidak bisa lagi mengontrol diri saya hanya dengan
mengajak kamu berdebat untuk menarik perhatian kamu," ucap Handaru.

Beberapa tahun ini, itu yang dilakukan Handaru selama ini, ia hanya ingin Kiran mengingatnya dengan
cara membuat Kiran membencinya dengan sangat luar biasa dan saat ini yang ingin ia lakukan adalah
menarik perhatian Kiran, agar mau hidup bersamanya. la akan mengupayakan apapun agar semua
keinginanya sejak lama itu terwujud. "Dulu Masmu ini sibuk dengan banyak jadwal dan sekarang sudah
tidak lagi karean saya juga tidak banyak mengambil kasus seperti dulu dan sekarang ini, saya ingin fokus
menjadi pengusaha agar bisa memberikan kehidupan mewah untuk kamu!" Ucap Handaru dan tidak ada
kebohongan atas ucapannya ini.

Kiran terkejut dengan ucapan Handaru dan apalagi ia juga mendengar dari beberapa media, jika
Handaru mulai mengurangi aktivitasnya sebagai pengacara. la bahkan

5/6

Semuanya milik saya.


Semuanya milik saya
Kiran merasa kesal dengan tingkah Handaru namun ia sulit untuk menolak Handaru karena ancaman
Handaru yang membuatnya ketakutan jika keluarganya tahu dan juga para fansnya. "Mas...sudah
pelukannya, aku risih Mas...!" kesal Kiran. "Mas...ih...ngeselin banget sih..." kesal Kiran.

"Mau dilepaskan? Kalau mau, kamu ciuum saya dulu!" Ucap Handaru dan dengan lancangnya ia
mencium leher Kiran.

"Astagfirullah Mas, stop iya...aku ciummm," ucap Kiran membuat Handaru menatap Kiran dengan dalam
dan ia seolah menunggu Kiran menciummnya.

Kiran dengan sangat terpaksa mencium pipi Handaru membuat Handaru menjauhkan tubuhnya dan
melepaskan pelukannya. Setidaknya saat ini Kiran mencium pipinya dan selanjutnya ia yakin nanti Kiran
akan rela memeluknya, tanpa ia perintah atau paksa seperti ini. "Kita makan siang dulu! Hmm...kamu
mau makan dimana?" Tanya Handaru, ia ingin Kiran memilih Restauran kesukaannya agar ia tahu
makanan kesukaan Kiran. Handaru ingin tahu lebih banyak mengenai Kiran.

"Kita pulang saja!" Ucap Kiran dingin.

"Jangan begitu dong Kiran, apa kita makan di Apartemen saja? tapi kamu yang masak!" Ucap Handaru. la
juga ingin merasakan masakan Kiran karena ia tahu dari Lifia jika Kiran sangat pintar memasak.

"Nggak mau," ucap Kiran. Wajahnya memerah karena ia tahu jika Handaru mengajaknya ke Apartemen
pasti Handaru akan melakukan sesuatu padanya. Apalagi Handaru yang cool dan terlihat tidak
memperhatikannya

1/5
Semuanya milik saya
selama ini, sangatlah berbeda dengan Handaru yang sekarang terlihat sangat bernafsu padanya.

"Jadi kemana? Makan siang dimana kamu mau, kamu katakan saja!" Ucap Handaru dan ia menatap
Kitan dengan tatapan datarnya. Handaru dengan mode tatapan datar seperti ini terlihat seperti Handaru
normal yang Kiran kenal sebelumnya.

"Aku mau pulang saja!" Ucap Kiran.

"Kalau pulang ada dua pilihan, pertama kamu pulang ke Kekediaman orang tua kamu atau pulang ke
Kediaman orang tua saya Kiran!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya karena terkejut.

"Ngapain aku ke Kediaman orang tua kamu Mas?" Tanya Kiran kesal.

"Kamu harus mengenal Mami saya, dia pasti sangat menyukai kamu!" Ucap Handaru. "Apalagi Papi saya
juga sangat menyukai kamu, selama ini dia penasaran bagaimana wajah kamu dari dekat," ucap Handaru
membuat Kiran lagi-lagi terkejut dengan ucapan Handaru.

"Ke..kenapa saya harus mengenal Mami kamu?" Tanya Kiran gugup.

"Ya harus segera kenalan sama Mami saya Kiran! Kamu itu akan menjadi istri saya. Hubungan kita ini
bukan main-main karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah melepaskan kamu! Kamu itu harus
jadi istri saya!" Ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya. "Mulai sekarang kamu harus ingat
dipikiran kamu, jika kamu itu milik saya dan kamu juga harus menanamkan cinta hanya untuk saya dihati
kamu, Kiran!" Ucap Handaru dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.

"Oke...tapi jangan sekarang! Aku belum siap ketemu Mami kamu!" Ucap Kiran dan tentu saja ia belum
siap bertemu dengan keluarga Handaru. Apalagi saat ini ia

2/5

Semuanya milik saya


masih memakai pakaian kerjanya dan ia juga bingung bagaimana bersikap nantinya ketika ia bertemu
dengan orang tua Handaru.

"Kalau menunggu kamu siap, itu pasti akan membutuhkan waktu lama," ucap Handaru.

"Jangan sekarang pokoknya Mas!" Ucap Kiran kesal.

Handaru seenaknya tiba-tiba mengajaknya ke Rumah orang tuanya dan ia belum memilki persiapan
apapun untuk bertemu mereka.

"Kalau kamu terus menunda, Mami saya bisa saja menjodohkan saya dengan perempuan lain, beliau
ingin saya segera memiliki hubungan serius dengan seorang wanita," ucap Handaru. "Apa kamu rela?"
Tanya Handaru. Ditanya seperti itu oleh Handaru membuat Kiran bingung, ia belum tahu mengenai
perasaanya saat itu tapi jika ia salah dalam menjawab ucapan Handaru, Handaru bisa saja murka
padanya. Apalagi ia telah mengikuti permainan Handaru hingga mengaku kepada keluarganya jika ia
sedang berpacaran dengan Handaru.

"Jangan hari ini, minggu depan mungkin Mas lagian nanti malam aku ada acara Mas," ucap Kiran.

"Acara apa?" Tanya Handaru dengan tatapan menyelidik.

"Acara makan malam sama temanku Mas," ucap Kiran.

"Laki-laki?" Tanya Handaru dan ia menatap Kiran dengan dingin.

"Ada laki-laki dan perempuan juga," ucap Kiran dan ia mengerutkan dahinya melihat tatapan marah
Handaru padanya.

"Saya tidak suka kalau kamu berbohong kepada saya, kalau kamu berani membohongi saya, saya akan
menghukum kamu hingga kamu nggak akan bisa pergi jauh dari saya lagi! Saya bisa bilang kalau
hubungan kita telah

3/5

Semuanya milik saya


sangat jauh hingga melanggar batas norma agama dan kita harus segera menikah," ucap Handaru
membuat Kiran membuka mulutnya. "Saya bahkan tidak perduli dengan gosip buruk mengenai saya,
apalagi jika nama saya buruk akibat pengakuan saya yang telah...." Ucap Handaru terhenti karena Kiran
segera memotong pembicaraannya.

"Stop Mas, nggak usah dilanjutin kalimatnya! Astaga Mas, kamu ini menyebalkan sekali," kesal Kiran.

Kiran tidak habis pikir dengan tingkah Handaru yang seperti ini, dulu ia memang benci dengan sosok
Handaru yang selalu mengajaknya berdebat, walaupun hanya hal remeh tapi ia juga sempat kagum
dengan kecerdasan yang dimiliki Handaru Laksamana Dewandaru. Sang pengacara hebat ini sangat
menganggumkan dan sejujurnya, ia juga pernah mengidolakan Handaru saat itu. Tapi setelah mengenal
Handaru lebih dekat, dulu pikirannya menjadi berubah karena merasa Handaru Laksmana Dewandaru
adalah makhluk berbahaya yang harus ia hindari. Tapi sekarang Handaru menjadi pacarnya karena
ancaman dan itu membuat Kiran sangat pusing menghadapi Handaru. Belenggu dari Handaru sangat
sulit untuk ia lepaskan dan sepertinya ia akan selamanya bersama Handaru, apalagi hanya Handaru laki-
laki yang bisa membuatnya merasa takut.

"Saya ini pencemburu Kiran, saya tidak suka kamu makan bersama laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu
menyukai kamu, jangan bilang kalau kamu masih sering bertemu dengan mantan kekasih kamu itu,"
ucap Handaru membuat Kiran terkejut. "Kamu pikir selama ini saya hanya mengambil perhatian kamu
dengan cara membuat kamu membenci saya?" Tanya Handaru sinis.

"Memangnya apalagi yang kamu lakukan Mas?" Tanya Kiran sinis.

4/5
Semuanya milik saya
"Saya ini mengawasi kamu, mencari tahu semua tentang kamu, saya bahkan membuat mantan pacar
kamu itu kesulitan agar dia sibuk dan tidak memiliki waktu untuk pergi sama kamu," jelas Handaru.

Handaru memegang dagu Kiran dan ia menatap wajah cantik Kiran. "Apapun yang ada ditubuh kamu
semuanya milik saya!" Ucap Handaru. "Untungnya kamu ini sangat pandai dalam menjaga diri kamu, jika
tidak saya pasti akan melakukan hal lebih ekstrim lagi agar mereka yang memilki niat mendekati kamu
itu, memilih mundur," ucap Handaru.

Kira menghela napasnya dan ia menepis tangan Handaru agar melepaskan dagunya. "Aku lapar...Mas,"
ucap Kiran sengaja ingin mengubah topik pembicaraan.

"Kita makan di Mall saja dan nanti sekalian kita ke mart membeli bahan makanan untuk kamu masak
nanti malam!" Ucap Handaru.

"Siapa juga yang ingin masak," gerutu Kiran.

"Kamu, kamu harus memasakkan saya makanan!"

Ucap Handaru dingin dan ia menatap mata Kiran dengan tatapan kesal. "Kalau kamu tidak mau, saya
akan melakukan hal ekstrim lagi sama kamu!" ancam Handaru.

12

Komentar lainnya

Berikan Suara

5/5

Orang gila.
Orang gila
Handaru memang sosok aneh bin ajaib dibalik sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat, ia
tetap saja dingin kepada banyak perempuan kecuali Kiran. Marco adiknya yang menyarankan agar
Handaru merubah sikapnya dalam memperlakukan Kiran. Saat ini Handaru mengajak Kiran ke Mall
hanya untuk makan siang bersama. Sedangkan di Mall akan banyak orang-orang yang melihat

mereka, ia tidak mengerti kenapa Handaru melakukan hal ini padanya. Apalagi ia tidak begitu percaya
jika Handaru mencintainya, ya ia tidak yakin Handaru memilki rasa cinta padanya seperti apa yang
dikatakan Handaru padanya. Saat ini mereka sampai disebuah Mall dan Handaru segera

1/6
Orang gila
memarkirkan mobilnya dan ia menghentikan mobilnya lalu menatap Kiran yang saat ini sedang melihat
kearahnya.

"Mas, kenapa harus makan di Mall?" Tanya Kiran.

"Kenapa memangnya? Tadi saya minta kamu memilih mau makan dimana, tapi kamu menolaknya," ucap
Handaru. "Sekarang ini sudah jadi pilihan saya untuk makan disini, salahkan kamu yang tadi tidak mau
memilih!" Ucap Handaru dan itu artinya dia tidak ingin dibantah.

"Tapi yang benar saja Mas, aku lupa kalau Mall pasti rame banget, kamu pikir aku itu orang biasa yang
bisa pergi sesuka hati aku, Mas? Kalau kita jalan berdua kayak gini pasti nanti ada yang memotret kita
dan gosip akan jadi besar Mas. Apalagi kamu juga banyak fansnya, dari berbagai macam profesi, itu artis
yang namanya Bianca. Bianca kan suka sama kamu dan dengar-dengar dia ngejar kamu Mas..." ucap
Kiran.

"Terus... lanjutkan apa yang ada dipikiran kamu tentang mereka sekarang!" Ucap Handaru membuat
Kiran menghela napasnya.

"Dia juga bilang kalau kamu itu calon suaminya dimasa depan, Papanya kan seorang ketua partai politik
Mas. Lagian waktu itu aku yang mewawancarai dia dan bertanya siapa yang dia sukai atau siapa
kekasihnya gitu, dia jawab dia pengen memiliki hubungan sama kamu kalau bisa jadi istrinya kamu,"
ucap Kiran.

Bianca bahkan lebih cantik dari dirinya, wajah ayunya yang khas membuatnya juga memiliki banyak fans.
Memiliki hubungan bersama Handaru hanya akan membuatnya menyatakan perang pada Bianca,
karena Kiran tahu bagaimana sikap Bianca selama ini. "Kamu takut sama Bianca?" Tanya Handaru.

"Kamu ini apa-apaan sih Mas...nyebelin banget," ucap

2/6

Orang gila
Kiran kesal.

"Kamu itu hanya ingin tahu, apa benar saya itu dulu memilki hubungan sama Bianca," ucap Handaru.
Ucapan Handaru benar, Kiran menjadi sangat penasaran karena baru saja tadi ia juga melihat foto
Handaru bersama Bianca dan menjadi tranding topik mingguan. "Saya hanya datang ke acara ulang
tahun Pak Riyasd, menggantikan Papi yang tidak bisa datang," ucap Handaru. la tidak suka
kesalahpahaman diantara ia dan Kiran terjadi, apalagi ia baru saja berdamai dengan Kiran. Membujuk
Kiran untuk menikah dengannya saja, masih membutuhkan waktu yang cukup panjang mengingat
tingkahnya dimasalalu.
"Mas itu, gosipnya dekat sama dia nanti tiba-tiba ada gosip Mas dekat sama aku, nanti hubungan kita
dibicarakan banyak orang dan dikira aku itu merebut kamu dari Bianca, Mas," ucap Kiran.

"Sejak kapan Kiran menjadi sangat penakut dengan pemberitaan? Kamu yang sangat saya kenal nggak
akan gentar hanya dengan gosip tidak sedap," ucap Handaru membuat Kiran menyebikkan bibirnya.

Sebenarnya ia bukannya takut dengan gosip buruk menimpa dirinya, apalagi setelah mendengar
penjelasan Handaru, dia tahu Handaru tidak memiliki hubungan apa-apa kepada Bianca. Tapi ketika
publik tahu ia memiliki hubungan dengan Handaru Laksamana Dewandaru seorang anak mentri yang
disukai banyak publik, maka kehidupan pribadinya akan kembali menjadi konsumsi publik. la pasti akan
didesak untuk segera menikah dengan Handaru, tapi sampai saat ini ia pun belum yakin dengan
perasaanya. Apakah ia benar-benar menyukai Handaru apa tidak, itu yang saat ini ada dipikiran Kiran.

Handaru mengambil masker dan ia memakainya kepada Kiran. "Pakai masker saja!" Ucap Handaru.

"Mas, juga pakai Masker!" Ucap Kiran. Handaru

3/6

Orang gila
mematikan mesin mobilnya dan ia menatap mata cantik Kiran, lalu tiba-tiba mencium dahi Kiran
membuat wajah Kiran merah padam.

"Saya tidak perlu pakai masker serta kamu dan yang takut ketahu jalan berdua kan kamu, kalau saya
tidak," ucap Handaru dengan nada sinis. la menarik Kiran agar turun dari mobil lalu keduanya
melangkahkan kakinya masuk kedalam Mall.

Handaru memegang tangan Kiran dan jantung Kiran berdetak dengan kencang karena perlakuan
Handaru yang seperti ini padanya. "Kamu mau belanja?" Tanya Handaru. Ketika mereka melewati
beberapa toko yang menjual tas "Tas, baju atau perhiasan?" Tanya Handaru lagi dan ia sudah bisa
menebak apa jawaban Kiran.

"Nggak," ucap Kiran membuat Handaru tersenyum.

"Uang saya banyak loh...selama ini nggak pernah jajanin perempuan," ucap Handaru.

"Bohong banget, kamu nggak mungkin nggak pernah punya pacar," sinis Handaru.

"Dulu ada sih diluar negeri tapi lebih suka nempelin saya dari pada jajan," ucap Handaru. "Harusnya
kamu pilih salah satu, nemepelin saya atau berburu belanjaan seperti perempuan yang suka
kemewahan, saya tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk kamu!" Ucap Handaru dan mulut
manisnya ini sangat menyebalkan.

"Kamu kan sudah tahu kalau aku nggak kayak gitu makanya kamu mau pacaran sama aku, biar kamu
nggak miskin," ucap Kiran membuat Handaru terkekeh.
"Hehehe....Semakin hari kamu ini semakin manis, kalau sejak dulu saya ngejar kamu kayak gini...prestasi
saya sebagai pengacara, pasti nggak akan bagus," ucap Handaru.

"Loh kenapa aku jadi yang kamu salahkan, Mas?" sinis

4/6

Orang gila
Kiran.

"Soalnya saya lebih memilih dekat sama kamu setiap hari, dibandingkan menangani kasus," ucap
Handaru membuat wajah Kiran lagi-lagi memerah. Mulut manis Handaru sungguh luar biasa, Handaru
sangat cocok menjadi seorang Playboy dengan wajah tampannya dan juga perlakuan manisnya. "Kamu
jangan berpikiran buruk tentang saya, saya bukan pembohong dan kamu tahu itu!" Ucap Handaru.

Sedikit banyak Kiran bisa membaca karakter Handaru, kapan ia berkata serius kapan ia bercanda tapi kali
ini kalimat yang terucap dari bibirnya itu adalah kalimat seriusnya. Beberapa orang melihat kearah
Handaru khususnya para perempuan dan mereka berteriak histeris, karena Handaru terlihat sangat
tampan, tapi mereka juga sangat penasaran siapa sosok perempuan yang saat ini berada disamping
Handaru. Apalagi perempuan itu memakai masker diwajahnya. Kiran menghela napasnya, karena
Handaru berhasil menarik perhatian pengunjung Mall bak seorang aktor terkenal yang dieluh-eluhkan.

"Padahal kamu bukan aktor Mas, tapi fans kamu banyak sekali," ucap Kiran. "Kamu senang banget ya
Mas jadi pusat perhatian kayak gini," sinis Kiran.

"Nggak senang kok, tapi saya memang tidak suka pakai masker, saya juga tidak suka menyembunyikan
hubungan saya sama kamu. Kalau kamu mau kamu buka saja masker diwajah kamu, biar mereka tahu
secantik apa wanita milik saya ini!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya.

"Nggak mau," ucap Kiran kesal.

"Ya sudah kalau tidak mau, saya tidak memaksa kamu!" ucap Handaru.

"Kamu itu memang tidak memaksa aku Mas tentang hal ini, tapi kamu memaksa aku dengan hal yang
lain,"

5/6

Orang gila
ucap Kiran membuat Handaru menyunggingkan senyumannya dan sialnya Handaru tampak lebih manis
ketika menyunggingkan senyumannya sedikit saja seperti ini.

'Sial...mana dia ganteng banget sih...' ucap Kiran kesal.


Keduanya berhenti disebuah Restauran dan Handaru melangkahkan kakinya bersama Kiran masuk
kedalam Restauran itu. la memilih duduk yang berada agak jauh didalam Restauran, agar Kiran merasa
nyaman. "Kalau pendiam dan pakai masker kayak gini kamu tambah cantik," ucap Handaru.

"Hanya orang gila yang bilang perempuan cantik pakai masker tanpa tahu wajahnya," ucap Kiran kesal.

"Anggap saja saya orang gila itu, yang tergila-gila sama kamu," ucap Handaru menatap mata indah Kiran
dengan tatapan dalam membuat Kiran menjadi salah tingkah.

Komentar lainnya

Berikan Suara

17

6/6

Stop.
Stop
Setelah makan siang bersama Handaru dan Kiran menuju ke Hmart yang ada di Mall ini. Sesuai dengan
permintaan Handaru, Kiran akan memasak makan malam di Apartemen Handaru. Sulit baginya untuk
menolak keinginan Handaru apalagi Handaru mengatakan jika Kiran harus mengenalnya lebih dalam lagi,
hingga Kiran harus sering menghabiskan waktu bersamanya. Kiran merasa seperti pasangan pengantin
baru apalagi Handaru sangat setia menemaninya berbelanja seperti ini. Beberapa orang terlihat sibuk
mengambil foto mereka dari jauh, membuat Kiran merasa tidak nyaman. Handaru mengatupkan kedua
telapak tangannya memohon kepada beberapa orang agar tidak memotret ia dan Kiran.

"Harusnya kamu pakai masker juga Mas, kalau begini kan mereka sengaja ambil foto kamu dari jauh,
besok pasti ada pemberitaan tentang kamu, Mas," ucap Kiran.

Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia seolah tidak perduli dengan kekesalan Kiran. "Nggak
apa-apa ini namanya belajar tampil di publik karena kamu juga tidak mungkin bersembunyi dan
menghindari orang banyak. Lagian sebelum bekerja menjadi pembawa berita, kamu

kan sudah tahu resikonya kalau kamu dikenal oleh orang banyak Kiran," ucap Handaru. "Iya aku tahu
tapi kan hubungan kita masih seumur

jagung dan harusnya nggak usah dipublikasikan dulu Mas. Kalau nggak sampai nikah kan malu,
nambahin daftar mantan pacar saja," ucap Kiran.

"Mantan pacar saya hanya satu dan sekarang sudah menikah. Kemungkinan untuk bertemu juga sulit
karena dia tinggal di Inggris," ucap Handaru. "Jangan bilang kalau

1/6
Stop
kamu yang banyak sekali memiliki mantan pacar," ucap Handaru.

"Nggak banyak, tapi yang suka sama aku itu banyak," ucap Kiran dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.

"Iya, buktinya saya jadi cinta banget sama kamu," ucap Handaru membuat wajah Kiran memerah.

'Sial pintar banget kamu Mas merayu aku...nyebelin banget sih...' batin Kiran kesal.

"Kamu kok jadi perayu ulung kayak gini, udah berapa perempuan yang kamu rayu, Mas?" Tanya Kiran
sambil memasukkan beberapa bahan makanan kedalam keranjang.

"Hanya kamu, saya juga jadi seperti ini karena Marco," jujur Handaru, membuat Kiran menghentikan
langkah kakinya begitu juga dengan Handaru.

"Kamu bisa nggak jadi kamu yang biasanya saja gitu sama aku!" Ucap Kiran.

"Nggak bisa," ucap Handaru. "Sikap saya itu yang seperti ini sama kamu, karena saya sudah menganggap
kamu itu milik saya, perempuan yang akan menjadi partner hidup saya," ucap Handaru.

Kiran menghela napasnya dan ia menatap wajah tampan Handaru, lalu ia segera mengalihkan
pandangannya karena merasa Handaru benar-benar sangatlah tampan. "Ambil saja bahan apa yang
kamu mau, kalau nanti nggak ada disini, besok Mas akan menyuruh maid buat mengisi kulkas di
Apartemen kita!" Ucap Handaru. Kiran merasa ia dan Handaru lagi-lagi seperti pasangan suami istri yang
sedang hangat-hangatnya menjalani kisah Rumah tangga yang bahagia.

"Kalau misalnya nanti kita menikah memangnya kamu mau menemani aku berbelanja seperti ini?
soalnya aku lebih suka memasak sendiri dari pada meminta orang lain buat memasak makanan untuk
aku, kecuali makannya di

2/6

Stop
Restauran gitu atau dirumah keluarga," jelas Kiran.

"Nggak ada kata misalnya, kita harus nikah! Saya akan banyak meluangkan waktu sama kamu dan
berbelanja seperti ini akan sangat menyenangkan jika bisa berbelanja sama kamu," ucap Handaru.
"Sekarang Mas tanya sama kamu, apa kamu nggak suka Mas temanin?" Tanya Handaru.

"Nggak tahu," ucap Kiran gugup ditanya seperti itu. la bahkan tidak tahu dengan perasaanya saat ini. la
memang menginginkan memiliki pasangan yang sering menghabiskan waktunya bersamanya, sama
seperti Ayahnya yang sangat menyayangi Ibunya. Ayahnya selalu mendukung ibunya dan bahkan tidak
membiarkan ibunya pergi sendiri ke pasar misalnya, apalagi pergi keacara pernikahan kerabatnya atau
tetangga mereka. Pak Nasir terkenal dengan suami yang sangat sayang dengan istrinya dan melihat
sikap Handaru saat ini, Handaru terlihat seperti ayahnya.
Setelah semua bahan makanan dan perbumbuan telah lengkap berada didalam keranjang, keduanya
segera menuju kasir. Ketika Kiran ingin mengeluarkan uangnya, Defran segera memberikan kartu hitam
miliknya kepada kasir. "Biar suami kamu yang bayar!" Ucap Handaru, membuat Kiran melototkan
matanya sedangkan kasir itu tersenyum mendengar ucapan Handaru.

"Pak Handaru sudah menikah? Wah...kita patah hati nih," ucapnya yang ternyata merupakan fans
Handaru.

"Alhamdulilah segera ya Mbak, nanti diundang secara online ya sepertinya nanti nikahnya akan disiarkan
secara live kayaknya," ucap Handaru sambil menatap wajah Kiran.

"Wah...ini Mbaknya pasti cantik sekali, soalnya Masnya juga tampan banget," ucapnya dan ia mencoba
menatap Kiran dan menebak siapa yang berada dibalik masker

3/6

Stop
itu.

"Iya...dia sangat cantik sekali, makanya saya jatuh cinta sama dia," ucap Handaru.

Kiran melototkan matanya dan tentu saja ucapan Handaru ini membuatnya melayang, namun ia
menahan dirinya agar tidak terlihat menyukai ucapan Handaru.

Setelah membayar semua barang belanjaan mereka, keduanya segera menuju mobil dan saat ini mereka
telah sampai diparkiran mobil. Handaru memasukkan semua barang belanjaannya kedalam mobil dan
Kiran segera duduk didalam mobil, lalu disusul Handaru yang duduk dikursi kemudi. Handaru melajukan
mobilnya dengan kecepatan sedang, ia seolah menikmati perjalanan ini, apalagi ia sengaja memutar
musik di mobilnya dengan lagu-lagu romantis.

Lifia mengalihkan pandangannya ke jendela mobil, tentu saja ia akan sangat gugup jika hanya makan
malam berdua saja di Apartemen Handaru. Sepertinya ia memang harus mengajak Lifia, apalagi tadi ia
telah mengirimkan pesan kepada Lifia dan mengatakan jika saat ini, ia telah berada di Apartemennya.
"Mas..." panggil Kiran.

"Iya..." ucap Handaru dan ia melirik Kiran sekilas, lalu ia kembali fokus mengemudi.

"Kita makan malam sama Lifia ya Mas! dia sudah ada di Apartemennya malam ini, kemarin kan dia
menginap di Rumah mertuanya Mbak Kana," ucap Kiran.

"Kalau kamu mau ngajakin Lifia, saya juga mau mengajak Defran!" Ucap Handaru.

"Iya ajak saja Mas," ucap Kiran. Lebih baik makan malam bersama mereka dari pada, ia merasa gugup
makan malam hanya berdua saja dengan Handaru. Kiran mengirimkan pesan kepada Lifia dan
mengatakan jika malam ini, ia ingin Lifia makan malam bersamanya di Apartemen Handaru. "Lifia bilang
iya Mas, soalnya malam
4/6

Stop
ini Sandra juga ada acara sama temannya dan dia makan malam diluar, jadi Lifia mau makan malam
sama kita," jelas Kiran dan ia terlihat sangat lega.

"Oke," ucap Handaru.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di gedung Apartemen Handaru, keduanya segera keluar dari
mobil, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam lobi Apartemen. Jantung Kiran berdetak dengan
kencang,

walaupun ini bukan pertama kalinya ia datang kemari namun tetap saja berada didalam unit Apartemen
Handaru berdua saja, membuatnya gugup. Keduanya masuk kedalam lift dan tak butuh waktu lama lift
terbuka, dilantai tempat unit Apartemen Handaru berada. Keduanya keluar dari lift dan segera
melangkahkan kakinya menuju unit Apartemen Handaru, sebenarnya Kiran ingin sekali berhenti di unit
Apartemen Lifia, namun pasti Handaru

5/6

Stop
akan kesal kepadanya.

Handaru menekan tombol pasword hingga pintu terbuka, ia dan Kiran melangkahkan kakinya masuk
kedalam Apartemen ini. Kiran mengedarkan pandangannya dan ia melangkahkan kakinya menuju dapur
diikuti oleh Handaru. Handaru meletakkan bahan makanan yang mereka beli diatas meja dan ia
menatap Kiran yang berada disampingnya. Kiran ingin segera memulai acara memasaknya, namun
Handaru tiba-tiba memeluk Kiran dari belakang. "Kapan kamu benar-benar menjadi penghuni
apartemen ini bersama saya...hmmm?" Goda Handaru.

"Mas...kamu ini lancang banget sih, peluk-peluk aku bahkan cium-cium aku..." kesal Kiran.

"Nggak lancang ini namanya saya sangat menginginkan kamu!" Bisik Handaru membuat bulu kuduk
Kiran meremang.

"Stop Mas jangan gila!" Kesal Kiran membuat Handaru terkekeh, ia melepaskan Kiran lalu ia
melangkahkan kakinya menjauh dari Kiran dan ia memilih duduk disofa dengan santai.

Komentar lainnya

Berikan Suara

12

6/6
Kata yang menyakitkan.
Kata yang menyakitkan
Lifia merasa bosan dan sebenarnya ia ingin segera datang ke Apartemen Handaru, untuk membantu
Kiran memasak makan malam untuk mereka. Tapi Lifia mengurungkan niatnya itu, karena takut
mengganggu kemesraan diantara Handaru dan Kiran. Sebenarnya ia sangat terkejut dengan pengakuan
Handaru, yang mengatakan jika ia menyukai Kiran secara tiba-tiba. Dulu Handaru dan Kiran selalu
bertengkar, jika keduanya bertemu hingga membuat Kiran sangat membenci Handaru, lalu
menganggapnya musuh besarnya. Musuh besar itu saat ini mungkin sedang melakukan hal romatis
bersama, membuat Lifia terkekeh jika membayangkan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.

Lifia membuka mulutnya dengan lebar dan

sebenarnya, ia sangat mengantuk tapi jika ia memilih tidur, ia pasti akan tertidur sampai magrib. Lifia
memilih untuk segera mandi agar ia merasa segar, apalagi sebentar lagi azan magrib akan
berkumandang. Lifia bergegas menuju kamar mandi dan ia segera mandi, setelah selesai mandi ia segera
mengganti pakainya. Tak butuh waktu lama, ia kemudian menunaikan sholat magrib dan setelah itu ia
bersiap untuk makan malam di Apartemen Handaru. Lifia membawakan pakaian santainya untuk Kiran,
tadi memang Kiran meminta Lifia membawanya pakaian untuknya tapi Lifia sengaja menundanya, agar
ia tidak mengganggu momen kebersamaan antara Handaru dan Kiran.

Lifia melangkahkan kakinya keluar dari unit

Apartemenya dan ia terkejut, ketika melihat sosok Defran juga keluar dari unit Apartemen yang berada
bersebelahan dengan unit Apartemennya. "Ini orang kayaknya pakek

1/6

Kata yang menyakitkan


cctv, kok tahu saja kalau aku buka pintu," gerutu Lifia.

Lifia melangkahkan kakinya mendekati Defran, namun ia sengaja tidak menyapa Defran dan hanya
melewatinya saja, namun Defran dengan cepat menarik tangan Lifia.

"Mau kemana kamu?" Tanya Defran.

"Mau kemana lagi...ke tembok? Jelas-jelas kamu tahu Mas kalau didepan apartemen kamu ini
apartemen siapa," sinis Lifia.

"Tapi kamu kelewatan makanya saya tarik tangan kamu!" Ucap Defran membuat Lifia gugup karena
ucapan Defran benar, ia merasa sangat malu saat ini karena aksinya yang berpura-pura tidak melihat
Defran, namun ternyata ia kelewatan pintu apartemen Handaru dan itu terjadi karena kebodohannya.
'Astaga...malu-maluin banget sih..,' Batin Lifia apalagi lengannya saat ini terperangkap oleh tangan
Derfan

Defran menariknya mendekati pintu unit Apartemen

Handaru dan ia menekan bell nya. "Mas kamu narik aku kayak aku ini penjahat, Lepasin Mas!" Kesal
Lifia.

"Itu karena otak kamu sekarang sedang tidak sehat jadi butuh bimbingan saya!" Ucap Defran dingin.

"Otak kamu yang nggak sehat, kamu ini nyebelin banget sih Mas," kesal Lifia.

Defran menekan tombol bel dan pintu terbuka, lalu ia masuk kedalam apartemen Handaru sambil
menarik lengan Lifia. Handaru mengangkat sebelah alisnya melihat interaksi diantara keduanya. "Kalian
datang bareng?"

Tanya Handaru.

"Pertanyaan yang aneh yang kamu lontarkan Handaru," ucap Defran.

"Lepasin Mas!" Pinta Lifia membuat Defran melepaskan tangannya, yang memegang lengan Lifia.

"Jangan terlalu kasar sama Lifia Def, harusnya kamu

2/6

Kata yang menyakitkan


lebih mesrah seperti saya dan Kiran!" ucap Handaru melipat kedua tangannya membuat Defran
mengerutkan dahinya.

"Awas Handaru, nanti kamu kebablasan berbuat dosa!" Ucap Defran memperingatkan Handaru.

"Tinggal dinikahi saja Def," ucap Handaru seenaknya.

Kiran mendekati Lifia dan ia mengambil paperbag ditangan Lifia. "Ikut Mbak kekamar!" Perintah Kiran
membuat Lifia menganggukkan kepalanya dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.

"Wah...kamarnya Mas Handaru bagus juga ya Mbak," ucap Lifia.

"Sengaja banget nih...mau mengalihkan pembicaraan," kesal Kiran.

"Nggak usah kesal gitu Mbak, kalau tadi aku tahu ada Mas Def makan malam juga disini, aku nggak mau
ikut," ucap Lifia dan ia juga terlihat kesal dengan Kiran.

"Kamu pikir Mbak juga mau makan malam berdua saja sama Mas Handaru, nggak dek... Mbak nggak
mau. Mas Handaru itu licik, terlibat sedikit saja adegan romatis sama dia.m, Mbakmu ini bisa-bisa nggak
perawan lagi," ucap Kiran membuat Lifia terkekeh.
"Hehehe...memangnya Mas Handaru itu sebrutal itu, bukannya dia itu cool banget ya Mbak dan
kayaknya sopan banget sama perempuan. Lagian dia itu tampan banget loh Mbak dan kalau dia nakal,
dia pasti sudah jadi Playboy cap buaya darat Mbak," ucap Lifia.

"Dia itu brutal banget, cool dari mana. Kamu tahu nggak dia itu bukan hanya suka peluk, tapi juga suka
ciumm-ciumm aku makanya sama laki-laki dingin itu sebenarnya dia hanya pencitraan saja," ucap Kiran
kesal.

3/6

Kata yang menyakitkan


"Tapi kan kalau pacaran, itu bisa saja kalau peluk atau ciumm dan anak muda zaman sekarang kan gitu,"
ucap Lifia. "Bahkan ada yang sudah kayak suami istri Mbak, hehehe...apa Mbak juga gitu sama Mas
Handaru udah...ya gitu deh..." ucap Lifia menatap kearah kebagian bawah Kiran. Kiran memukul lengan
Lifia dengan cukup keras membuat Lifia tekejut. "Aduh sakit Mbak, ihhh...tega banget sih sama
adiknya.," ucap Lifia kesal.

"Harus tega sama kamu, soalnya kamu jahat banget mikirin Mbak kayak gitu. Kalau Ayah tahu
pembicaran kita ini menjurus ke hal itu, kita bisa di pukul sama Ayah Lifia," kesal Kiran. "Makanya Mbak
itu minta kamu kemari biar Mbak nggak perlu lama gitu, berdua saja sama Mas Handaru. Kamu bayangin
saja ya, Mbak digoda sama laki-laki yang sialnya tampan itu dan dia pakek nyatain cinta, lalu merayu
lagi...ih neyeblin banget kan," kesal Kiran.

"Nggak menyebalkan, Mbak. Mbak itu beruntung diminati sama Mas Handaru sedalam itu hingga dia
yang punya harga diri tinggi itu, berusaha untuk mendapatkan perhatian Mbak, kalau dipikir-pikir
perjuangannya kayak Ayah yang dulu mengejar Ibu. Mbak ingat nggak bagaimana perjuangan Ayah biar
bisa sama Ibu, lagian ya Mbak coba Mbak pahami dulu sosok Mas Handaru! Jangan-jangan Mbak dulu
itu bukan benci sama Mas Handaru, tapi malah cinta," ucap Lifia membuat Kiran melototkan matanya.

"Dulu cinta? Nggak ada..." ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah karena malu. Melihat ekspresi
Kiran yang terlihat malu, membuat Lifia yakin jika Kiran memang dulu menyukai Defran.

"Terlalu benci itu artinya juga terlalu cinta," ucap Lifia menggoda Kiran.

"Udah berani ya kamu nantangin Mbak, oke

4/6

Kata yang menyakitkan


Lifia...tunggu aja!" Ucap Kiran.

"Apaan sih Mbak..." kesal Lifia.


Kiran melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi dan ia segera mandi, lalu mengganti
pakaiannya dengan pakaian yang tadi dibawakan oleh Lifia. Setelah itu Kiran melihat Lifia ternyata masih
duduk disofa menunggunya. "Kamu sama Mas Defran bagiamana?" Tanya Kiran.

"Ya...biasa saja kok nggak ada yang aneh, lagian aku itu sama dia nggak ada hubungan asmara kayak
Mbak dan Mas Handaru," ucap Lifia.

"Nggak ada? Yakin? Bukanya kamu dulu cinta banget sama dia dan kayaknya sekarang masih cinta sama
dia," ucap Kiran.

"Cinta yang nggak bersambut ngapain dipertahankan

5/6

Kata yang menyakitkan


didalam hati, sekarang aku itu berusaha menjadikannya Kakak biar aku lega, ketika nanti sering bertemu
dia sama istrinya," ucap Lifia sendu.

"Terserah kamu dek, yang jelas semua keluarga itu mendukung kamu sama dia. Lagian ya...kata Mami
Liana, Mas Defran itu suka sama kamu loh..." ucap Kiran.

"Mana ada dia itu sukanya ngejekin aku dan kata-katanya nyakitin hati banget Mbak..." ungkap Lifia
mengingat ucapan sinis dan kejam dari Defran Satyas.

Komentar lainnya

Berikan Suara

13

6/6

Jangan bohong.
Jangan bohong
Setelah mengganti pakaiannya, Kiran dan Lifia segera menyiapkan makan malam dan menyusunnya
diatas meja makan. Defran memang sosok yang jarang berbincang jika tidak diajak berbincang lebih dulu
dan sekarang Handaru membuka pembicaraan dan ia memang suka sekali membahas masalah politik,
hukum dan ekonomi, membuat Defran mengeluarkan pendapatnya. Lifia menyimak pembicaraan
mereka dan ternyata Defran memang sosok yang sangat cerdas dan semua ucapannya seperti seorang
yang memang memahami dan mendalami banyak ilmu hingga sangat cakap dengan pengetahuan yang
ia miliki. Seorang Dokter yang sebenarnya peka akan sekitarnya itu dan itulah Defran Satyas dibalik
wajah dinginnya.
"Udah ayo makan!" Ucap Kiran membuat Defran dan Handaru segera bergabung bersama mereka
diduduk dikursi makan.

Lifia berpikir jika Kiran, Defran dan Handaru berdebat sengit mengenai berbagai masalah hukum, politik
dan ekonomi mungkin menjadi pendengar yang baik. "Wah istri saya pintar sekali memasak," ucap
Handaru ketika melihat berbagai hidangan telah berada diatas meja makan, membuat Defran
mengangkat sebelah alisnya sedangkan Lifia menahan tawanya. Apalagi Lifia tahu jika Kiran pasti akan
kesal mendengar ucapan Handaru yang mengatakan jika Kiran adalah istrinya.

"Apaan sih Mas...aku tu belum jadi apa-apanya kamu ya!" Ucap Kiran kesal.

"Ohh...lupa kalau sekarang status kamu itu masih pacar, gimana besok kita ubah statusnya jadi tunangan

1/7

Jangan bohong
atau langsung saja menikah!" Ucap Handaru.

"Dasar gila..." kesal Kiran. Orang gila mana yang mengajaknya menikah disetiap kesempatan dan terlihat
tidak ada niat khusus untuk membuatnya menjadi spesial, atau membujukknya dengan rencana yang
telah disiapkan.

Orang gila itu hanyalah sosok Handaru yang selalu menawarkan pernikahan padanya.

Lifia mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri dan tiba-tiba, ia dan Defran mengambil paha ayam
bumbu kacang yang sama membuat Lifia menatap mata Defran dengan kesal. Defran biasanya tidak
akan mengalah padanya namun Defran tiba-tiba menggeser sendoknya, lalu memgambil bagian ayam
yang lain membuat Lifia bisa bernapas dengan lega.

'Bagus kalau dia tahu diri...ngalah sama aku, Batin Lifia.

Lifia melihat kearah Kiran yang terlihat sangat terpaksa mengambilkan beberapa makanan untuk
Handaru, sebenaranya Lifia sangat penasaran kenapa Kakak perempuannya itu, bisa takluk dengan
Handaru tiba-tiba seperti ini, setelah ia selalu menyatakan perang kepada Handaru. Apalagi Kiran
memasak untuk Handaru layaknya seorang kekasih yang sangat mencintai Handaru, dengan membuat
menu masakan yang sepertinya merupakan kesukaan Handaru.

Mereka makan dengan santai, Lifia sengaja menundukkan kepalanya dan memilih fokus dengan
makananya. Berbeda dengan Defran yang melihat kearah Lifia bahkan menatap tingkah Lifia itu dengan
kesal. "Ada apa dipiring kamu? Makananya tidak enak? Apalagi wajah kamu itu sepertinya sangat kesal,"
ucap Defran melihat kearah Lifia dengan dingin.

"Dek...itu Mas Defran nanyain kamu!" Ucap Kiran menyenggol lengan Lifia.

2/7
Jangan bohong
"Ohh...aku yang ditanyain kamu ya Mas kirain siapa," sinis Lifia. "Makananya enak, tapi aku lagi malas
saja ngelihatin kamu!" Ucap Lifia membuat Defran mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa?" Tanya Defran.

Handaru mengehela napasnya dan ia menepuk bahu Defran "Ajak Lifia jalan saja setelah makan, biar dia
bilang dia kenapa malas ngeliahatin kamu atau sekalian kamu bicara di apartemennya saja atau
apartemen kamu kalau nggak mau pergi jalan-jalan!" Ucap Handaru membuat Kiran menahan tawanya
ketika melihat ekspresi wajah Lifia bertambah kesal.

"Nggak perlu, ngapain juga jalan-jalan apalagi ke Apartemen dia, mau jadiin aku babu lagi? Nggak
mau...aku udah capek banget kerja hari ini!" Ucap Lifia kesal dengan ucapan Handaru.

'Aku juga udah capek banget ngadepin kamu... Mas...' Batin Lifia.

Mereka makan dengan lahap kecuali Lifia yang kesal dengan tingkah Defran yang menatapnya dengan
tatapan menyelidik. Apalagi ekspresi Lifia sungguh sangat tidak bersahabat padanya, hingga membuat
Defran memilih untuk melihat setiap pergerakan Lifia. Setelah makan, ternyata Defran segera menarik
tangan Lifia membuat Kiran dan Handaru terkejut. "Kita pamit pulang, terimakasih acara makan
malamnya!" Ucap Defran.

Lifia melototkan matanya dan ia sangat kesal dengan tingkah Defran. "Iya, sebaiknya kalian memang
pulang saja!" Usir Handaru karena baginya kedatangan Defran dan Lifia kemari, hanya akan menganggu
aktivitasnya bersama Kiran.

"Eh...kenapa buru-buru, kita ngobrol dulu! Lagian bentar lagi aku mau pulang!" Ucap Kiran membuat
sebuah tangan memeluk pinggangnya dan mengangkat tubuhnya

3/7

Jangan bohong
seenaknya. "Mas...gila kamu..." teriak Kiran karena Handaru mengangkat tubuhnya dengan seenaknya.

"Kalian pulang saja dan terimakasih atas kedatangannya, lain kalian berdua yang mengundang kami
makan malam bersama!" Ucap Handaru.

"Dasar gila Lepasin aku Handaru...astaga Handaru..." teriak Kiran dan ia berusaha untuk lepas dari
Handaru namun kekuatan tangan Handaru menbuatnya tidak berkutik.

"Diam! Saya hanya ingin menghabiskan dua jam waktu yang tersisa ini hanya berdua bersama kamu!"
Ucap Handaru. la telah berjanji kepada calon Ayah mertuanya jika ia akan mengantarkan Kiran pukul
sepuluh malam dan itu artinya hanya tinggal dua jam saja ia bisa menikmati waktu berdua besama Kiran.
Sementara itu Defran menarik tangan Lifia agar segera mengikutinya keluar dari Apartemen Handaru
dan saat ini keduanya telah berhasil keluar, membuat Lifia menghempaskan tangan Defran dengan
kasar. "Ngapain narik tangan aku Mas, kamu mau ajak aku kemana?" Tanya Lifia kesal.

"Handaru tidak ingin kita berlama-lama di Apartemennya," ucap Defran.

"Harus bilang saja terus terang, nggak usah kasar begitu pakai narik tangan aku, sakit tahu nggak!" Kesal
Lifia menbuat Defran menatap wajah Lifia dengan tatapan menilai, lalu ia kembali mendekati Lifia
membuat Lifia memundurkan langkah kakinya. Defran menyadari ada seseorang yang sedang
mengamati ia dan Lifia saat ini, membuatnya menarik tangan Lifia menuju Apartemenya lalu segera
masuk kedalam sana. Lifia membuka mulutnya dan ia terlihat sangat kesal dengan tingkah Defran ini. la
ingin membuka pintu Aprtemen Defran dan keluar dari sana, namun Defran memukul pintu
Apartemenya dan

4/7

Jangan bohong
menghalangi jalan keluar Lifia.

"Jangan keluar!" Ucap Defran.

"Kenapa? Aku itu mau pulang, Mas!" Ucap Lifia kesal.

"Kamu sendirian di Apartemen kamu?" Tanya Defran.

"Sandra kemana?" Tanya Defran.

"Sandra pergi sama temannya," ucap Lifia.

"Kalau begitu kamu tidak perlu sendirian di

Apartemen kamu!" Ucap Defran dengan nada memerintah.

"Kenapa memangnya, selama ini aku sering di Apartemen sendirian," ucap Lifia.

Defran menarik tangan Lifia dan ia mendorong tubuh Lifia agar duduk disofa bersamanya. Lifia segera
berdiri, namun Defran kembali menarik tangannya. "Duduk!"

5/7

Jangan bohong
Perintah Defran dingin membuat Lifia terkejut. Lifia ingat Defran dengan tatapan dinginnya yang
membuat ketakutan seperti ini pernah terjadi, ketika ia berada di Club waktu itu. Defran terlihat sangat
murka hingga membuat Lifia sangat terkejut melihat raut wajah Defran saat itu.
"Sekarang saya tanya sama kamu, kenapa kamu akhirnya pindah ke Apartemen ini? Ada apa di
Apartemen kamu sebelumnya?" Tanya Defran dengan tatapan menyelidik.

"Nggak...ngggak ada apa-apa," ucap Lifia gugup.

"Jangan bohong!" Ucap Defran dingin. Tatapan mengisyaratkan agar Lifia jangan pernah menutupi
sesuatu darinya apalgi berbohong.

"Kalau kamu tidak memberitahu saya, kamu pikir saya tidak bisa cari tahu semuanya?" Tanya Defran.

Selama setengah tahun yang lalu ia pergi ke negara yang sedang berperang dan membantu mereka
disana untuk mengobati luka akibat perang. Sebagai seorang dokter, itu adalah hal yang memang ingin
ia lakukan selama ini. Kesibukannya sebagai seorang abdi negara dan juga terpilih sebagai pasukan
khusus membuatnya sangatlah sibuk, hingga ia pun jarang berada di Indonesia. Defran hanya pulang
beberapa minggu dan kemudian akan pergi beberapa bulan, tapi sudah dua bulan ini ia kembali
menetap di Jakarta dan bekerja di rumah sakit.

"Kamu masih tidak mau memberitahu saya?" Tanya Defran.

Lifia menatap Defran dengan tatapan sendu dan ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Nggak ada
apa-apa kok Mas, aku pindah ke Apartemenku sekarang itu karena aku tahu kalau kamu sering berada di
Apartemen kamu Mas," ucap Lifia dan ia menundukkan kepalanya karena gugup.

6/7

Siapa mereka.
Siapa mereka
Beberapa hari ini Defran memang merasa jika ada sesuatu yang aneh ketika ia berada didekat Lifia, ada
seseorang yang membuntuti Lifia dan ini terjadi lagi.

Defran merasa penguntit itu terlihat sangat berbahaya apalagi dari postur tubuhnya ia adalah seorang
laki-laki. Defran sengaja tidak mengejarnya dan berpura-pura tidak tahu kehadirannya. Lifia memang
sangat tertutup dan tidak menceritakan apa yang ia alami selama ini kepada keluarganya, padahal ia
memiliki Serkan yang pasti akan membantunya jika ia dalam keadaan berbahaya.

Defran menghubungi rekan kerjanya dan ia mendapatkan informasi jika Ike dan Sandra melaporkan
kasus yang terjadi di Apartemen Lifia. Lifia pernah dikirimi banyak barang mewah oleh seseorang yang
tidak Lifia kenal, bahkan orang itu menujukkan kekagumannya kepada Lifia dengan puisi-puisi nakal yang
membuat Lifia ketakutan. Apalagi orang itu secara terang-terang menyatakan lewat pesan surat yang
dikirimnya, jika ia ingin memiliki Lifia dengan cara apapun.

Kejadian yang membuat Lifia memutuskan pindah dari Apartemen lamanya dan ia histeris ketakutan
adalah ketika lampu Apartemennya dipadamkan secara tiba-tiba, lalu tiga orang laki-laki berusaha untuk
membawanya pergi paksa dari Apartamennya saat itu. Lifia ketakutan dan mengurung dirinya dikamar
mandi hingga akhirnya bantuan datang, tapi sampai saat ini orang yang melakukan kejahatan itu tidak
ditemukan. Lifia sengaja hanya menceritakan kejadian itu kepada Ike dan Sandra, karena ia tidak ingin
keluarganya mengkhawatirkannya.

1/7

Siapa mereka
"Jadi kejadian itu saat saya tidak ada di Jakarta?"

Tanya Defran dan ia menutup ponselnya ketika ia telah selesai berbicara dengan rekan kerjanya.

"Kejadian apa?" Tanya Lifia pura-pura tidak tahu.

"Stop berbohong sama saya Lifia! Kamu harus menceritakan segalanya, saya sudah dengar kasus ini dari
teman saya, kamu pikir ini kasus biasa. Kamu selamat itu hanya keberuntungan saja dan saat itu Satpam
disana terluka saat ingin menyelamatkan kamu, jika Sandra tidak datang tepat waktu bagaimana dengan
keadaan kamu?" Tanya Defran dingin. "Jadi ini alasan kamu, kamu pindah ke Apartemen yang ada
digedung ini," ucap Defran mmebuat Lifia menghela napasnya dan ia tidak bisa menutupi masalah itu
dari Defran.

"Iya, makanya aku merasa tinggal didekat Apartemen kamu lebih aman, daripada tinggal ditempat lain.
Kalau aku pulang ke rumah ibu dan ayah aku akan merepotkan mereka dan kalau orang-orang itu nekat
datang ke Rumah orang tuaku gimana, Mas? orang tuaku akan dalam bahaya Mas," ucap Lifia. "Tapi
buktinya sejak aku tinggal disini nggak ada lagi yang gangguin aku Mas," ucap Lifia membuat Defran
menghembuskan napas kasarnya. la menatap Lifia dengan kesal dan merasa Lifia benar-benar bodoh
karena berpikiran seperti itu.

"Kenapa kamu tidak jujur sama saya dan menceritakan ini semua kepada saya, Lifia?" Tanya Defran
kesal.

Lifia lagi-lagi menghela napasnya dan ia menatap Defran dengan sendu. "Kamu nggak suka sama aku
Mas, aku tahu itu...dan bukanya kamu bilang aku itu selalu merepotkan kamu, makanya aku memilih
diam. Aku merasa kalau didekat kamu itu aku aman, lagian kamu selalu nolongin aku. Tapi aku nggak
boleh terus-terusan meminta tolong sama kamu, makanya aku diam Mas," ucap

2/7

Siapa mereka
Lifia dan ia menahan air matanya agar tidak menetes.

"Dasar bodoh...bukanya saya baru saja menolong kamu saat dihotel dan kamu memang selalu
merepotkan saya Lifia," ucap Defran mengeraskan rahangnya.

"Iya aku memang bodoh makanya kamu nggak usah tanya lagi tentang masalah ini. Lagian semua sudah
berlalu dan mereka juga nggak ganggu aku lagi, Mas..." ucap Lifia.
Defran menatap Lifia dengan dingin, mereka bahkan berani menyusup kedalam apartemen ini dengan
mudah itu artinya orang yang memerintahkan penguntit itu adalah orang yang memilki akses di
Apartemen ini. Defran yakin jika orang itu bukanlah orang biasa, apalagi rekan kerjanya saja kesulitan
untuk menemukan penguntit itu meskipun dua orang dari mereka telah diketahui identitasnya saat itu.
Jika ia memberitahu Lifia, orang-orang itu masih menguntitnya, bahkan mengawasinya bisa-bisa Lifia
akan sangat ketakutan. Sepertinya Defran harus memerintahkan orang-orang suruhannya untuk
mengawasi Lifia dan melihat pergerakan mereka mulai saat ini.

Defran mencengkram dagu Lifia dan ia menatap Lifia dengan dingin. "Pekerjaan kamu ini banyak
resikonya, apa kamu mengerti? Saya sudah bilang lebih baik kamu berhenti bekerja saja!" Ucap Defran.

"Mas menjadi artis itu keinginan aku sejak lama, aku suka akting dan pekerjaanku juga bukan yang aneh-
aneh Mas. Lagian sekarang manajemenku menjagaku dengan sangat baik nggak ada yang aneh-aneh
lagi," ucap Lifia. Inilah yang ia takutkan jika keluarga besarnya tahu masalah yang ia hadapi saat itu,
apalagi ia tak ingin membuat semua keluarganya khawatir lalu memaksanya untuk pensiun dari dunia
yang telah membesarkan namanya.

"Saya bisa memaksa kamu untuk berhenti kalau saya

3/7

Siapa mereka
mau, kamu tahukan akibatnya jika kamu telah membuat kesabaran saya habis," ucap Defran dan ia
mengeraskan rahangnya membuat Lifia menepis tangan Defran yang memegang dagunya. "Kamu mau
marah dan bilang saya jangan ikut campur masalah kamu?" Tanya Defran sinis.

"kalau kamu nggak mau ikut campur nggak usah ikut campur, Mas!" Lirih Lifia dan ia ingin menangis saat
ini

juga. Hanya Defran yang sering kali menekannya dan mempermainkan emosinya.

"Jadi kalau saya bilang mereka masih mengincar kamu dan berkeliaran disekitar kamu, bagaimana?"
Tanya Defran membuat bulu kuduk Lifia meremang dan ia terlihat ketakutan saat ini.

"Itu nggak mungkin selama aku tinggal disini semua baik-baik saja, lagian sekarang ada Sandra yang
tinggal

4/7

Siapa mereka
sama aku," ucap Lifia dan entah mengapa ia menjadi sangat-sangat ketakutan. Apalagi jika itu benar, ia
akan menghadapi masalah besar dan ia tak ingin kejadian saat itu terulang kembali. Lifia ingat
bagaimana ia menangis pilu ketika orang-orang itu berusaha membuka paksa pintu apartemennya dan
yang ia sebut saat ia ketakutan adalah nama Defran. la mencoba menghubungi Defran namun saat itu
Defran tidak berada di Indonesia dan Lifia sangat putus asa.

Lifia tiba-tiba terisak dan ia menatap Defran dengan tatapan nanar. "Mas hiks...hiks...mereka nggak akan
datang lagi kan, Mas?" Tanya Lifia. "Makanya aku memilih tinggal disini Mas hikss...hiks...dan juga
meminta Sandra jadi asisten aku karena dia pintar bela diri Mas," ucap Lifia. "Mas apa tadi kamu lihat
ada yang mengikuti aku, Mas? hiks...hiks...aku takut..." jujur Lifia panik dan ia mengedarkan
pandangannya seolah takut ada yang menatapnya dari sudut apartemen ini.

Defran menghela napasnya dan ia menarik Lifia kedalam pelukannya, pelukan ini yang selalu membuat
Lifia merasa aman dan akhirnya jatuh cinta berkali-kali dengan seorang Defran Satyas. "Mas, kalau nggak
ada Sandra kamu tinggal sama aku atau aku yang kesini!" Ucap Lifia.

"Bukannya kamu bilang kamu nggak mau dekat-dekat saya hmmm..." ucap Defran dengan suara
beratnya.

"Kalau nggak ada yang ganggu aku lagi, maksud aku penguntit itu sudah ditangkap, aku janji nggak akan
ganggu kamu lagi, Mas!" Lirih Lifia dan ia ingin bertekad untuk menjauh dari Defran tapi itu nanti setelah
rasa takutnya itu hilang. "Mas...jawab boleh apa nggak?" Tanya Lifia dan air matanya lagi-lagi menetes
begitu saja.

"Kenapa kalau didepan saya kamu itu sering sekali menangis?" Tanya Defran.

5/7

Siapa mereka
"Nggak tahu, aneh kan...hiks...hiks..." ucap Lifia.

"Makanya aku janji nggak mau merepotkan kamu lagi nanti dan aku janji akan menjauh dari kamu!"
Ucap Lifia.

"Kamu tidak perlu berjanji kalau kamu tidak bisa menempatinya!" Ucap Defran dingin.

Lifia. "Aku janji Mas, kali ini aku akan menepatinya!" Ucap

"Nggak usah berjanji mengenai hal itu! Ngerti kamu!" Ucap Defran kesal.

"Kenapa nggak boleh?" Tanya Lifia dan matanya menatap Defran dengan tatapan takut, hingga air
matanya masih juga menetes.

Defran menghapus air mata Lifia dengan jemarinya.

"Bisa tidak mulai sekarang kamu harus menuruti ucapan saya tanpa membantah!" Ucap Defran. la
mengelus pipi Lifia dengan lembut dan menatap Lifia dengan tatapan dalam. "Kalau saya bilang tidak
boleh ya tidak boleh!"
Ucap Defran.

Lifia memeluk Defran dan ia membuang rasa malunya hingga membuatnya memutuskan memeluk
Defran dengan erat. Buktinya Defran tidak menolak pelukannya dan ia merasa sangat nyaman. "Kalau
akting aku nggak bisa Mas, aku tetap mau berakting, aku suka main film," ucap Lifia. la tahu ia telah
lancang memeluk Defran, padahal selama ini Defran memperlakukannya sebagai adiknya sendiri. Defran
menganggapnya seperti Salsa dan Kila yang bisa bersikap manja padanya begitupula dengan dirinya saat
ini.

"Buka blokir nomor ponsel saya!" Perintah Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya dengan
pelan dan ia malu karena Defran mengetahui jika ia memblokir nomor ponselnya.

6/7

Jangan tinggalkan.
Jangan tinggalkan
Lifia merasa sangat senang bisa memeluk Defran seperti ini, apalagi Defran tidak menolak pelukannya.

Defran melepaskan pelukannya dan ia melangkahkan kakinya menuju balkon Apartemenya, sambil
mencoba menghubungi seseorang. Saat ini Defran memang ingin menghubungi orang-orangnya untuk
mencari tahu siapa dalang orang yang ingin menculik Lifia. la yakin saat ini Lifia bukan hanya sekedar
ditakut-takuti, tapi sebenarnya ingin diculik oleh mereka tapi saat ini mereka belum memiliki
kesempatan lagi.

Lifia menghela napasnya dan ia melihat pesan dari Sandra yang mengatakan jika Sandra memintanya
untuk ditemani Defran atau pulang ke Kediaman orang tuanya, karena malam ini sepertinya Sandra
harus mengambil beberapa barang di rumah kontrakannya yang lama, yang jaraknya cukup jauh dari
Apartemen ini. Kemungkinan besar Sandra akan menginap disana malam ini karena berbahaya jika ia
pulang terlalu malam seorang diri.

Defran kembali masuk kedalam Aprtemennya dan ia duduk disamping Lifia, "Mas..." panggil Lifia
canggung.

lya," ucap Defran singkat.

"Hmmm...Sandra nggak pulang Mas, katanya dia sedang dalam perjalanan ke Rumah kontrakannya yang
lama, ada beberapa barang penting yang harus dia ambil. Dia bilang aku pulang ke Rumah ibu atau
minta ditemanin sama kamu, hmmm....malam ini kamu nggak dinas kan Mas?" Tanya Lifia dengan hati-
hati. la sepertinya harus bersiap mendengar kekesalan Defran padanya.

"Nggak, saya Serkarang dinas pagi sampai sore di

1/6
Jangan tinggalkan
Rumah Sakit," ucap Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya dan ia merasa lega karean Defran
tidak marah padanya.

"Jadi aku harus gimana, Mas?" Tanya Lifia dan ia merasa sangat gugup saat ini. "Hmmm...maksudku apa
aku pulang ke Rumah ayah dan Ibu, apa aku disini saja sama kamu?" Tanya Lifia.

"Disini saja!" Ucap Defran membuat Lifia bernapas dengan lega.

"Iya Mas," ucap Lifia tersenyum canggung.

"Hmmm...ada yang mau aku ambil di Apartemenku Mas, tai aku takut sendirian karena kita baru saja
bahas masalah itu, jadi temanin aku ke unit apartemenku ya Mas!" Ucap Lifia dengan tatapan
memohon.

"Oke," ucap Defran membuat Lifia tersenyum senang.

Keduanya berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini. Jantung Lifia berdetak dengan
kencang dan ia merasa sangat senang karena ada Defran yang saat ini bak seorang penjaga, berada
dibelakangnya. Lifia merasa sangat aman berada didekat Defran, baginya Defran bukan hanya
penyelamatnya tapi Defran seseorang yang sangat berarti dihidupnya. Lifia ingin membuka pintu
Apartemennya, namun ia terkejut karena pintu ini ternyata tidak terkunci. "Pintunya tadi aku kunci loh
Mas," ucap Lifia dan tiba-tiba ia merasa sangat kahwatir, hingga ia memeluk lengan Defran dengan erat.
Defran tidak menujukkan ekspresi khawatirnya dan wajahnya tetap saja datar seperti ia tidak tekejut
dengan hal ini dan yang sedang mereka hadapi ini, bukanlah apa-apa baginya.

"Mas jangan pernah tinggalin aku!" Pinta Lifia dan ia berharap Defran mengatakan ya saat ini agar ia
merasa tenang. "Mas apa kita ke apartemen kamu saja lagi, kok aku jadi takut gini..." ucap Lifia. Defran
menghidupkan lampu

2/6

Jangan tinggalkan
dan ia mengedarkan pandangannya lalu melangkahkan kakinya diikuti oleh Lifia. Apartemen ini terlihat
biasa saja tidak terlihat berantakan seperti ada seorang penyusup yang masuk kemari. Defran kembali
melangkahkan kakinya menyelusuri setiap sudut ruangan dan ia memasuki kamar Lifia. Defran melihat
diatas tempat tidur Lifia ada baju seksi disana dan juga kotak yang sepertinya bersisi kue.

Lifia yang mengikuti Defran dari belakang membuka

mulutnya dan ia tekejut dengan baju lingerie yang berada diatas tempat tidurnya dan ia tahu itu bukan
baju miliknya.

"Ini bukan punya aku Mas, lagian aku nggak pernah tidur hanya memakai pakaian kayak gini, Mas..."
ucap Lifia dan ia mengigit bibirnya karena merasa cemas.
"Buka itu!" Ucap Defran memerintah Lifia membuka kotak yang berada disamping baju itu.

"Nggak mau...aku takut..." ucap Lifia dan ia memeluk lengan Defran dengan erat.

"Waktu itu isi kotaknya boneka Barbie, tapi ada darahnya dan ada tulisan katanya aku itu sombong sama
dia, kalau aku masih saja bersikap sombong sama dia, dia akan membuat aku berdarah agar aku
memohon untuk dia maafkan," ucap Lifia dan ia merasa sekujur tubuhnya bergetar karena ia ketakutan
ketika mengingat hal itu.

Defran membuka kotak itu dan ternyata didalam kotak itu berisi cake ulang tahun seperti yang tadi ia
duga. Besok adalah hari ulang tahun Lifia dan sepertinya penguntit ini memberikan lebih dulu hadia
ulang tahun ini kepada Lifia. Defran membaca selembar kertas yang terdapat disamping kue ulang tahun
itu.

Dear, cintaku

Selamat ulang tahun cintaku, pakai baju dan makan Kuenya lalu kamu keluar dari balkon dengan
memakai baju itu cintaku lalu perlihatkan kepada kekasihmu ini!

Jangan menolak, karena jika menolak akan ada

3/6

Jangan tinggalkan
kejutan lainnya untuk kamu!

Defran mengeraskan rahangnya dan ia menatap kearah Lifia yang saat ini wajahnya terlihat sangat
pucat.

Defran menghela napasnya dan ia menarik Lifia kedalam pelukannya. "Aku nggak mau pakai itu Mas!"
Ucap Lifia dengan suaranya yang bergetar.

Wajah cantik Lifia memang sangat sulit untuk diabaikan, ia masih tetap cantik walaupun tanpa makeup

sekalipun, wajah yang selalu terlihat menonjol dibandingkan perempuan lainnya, ini yang membuat
orang-orang disekitarnya selalu memuji kecantikannya. Sebenarnya inilah yang selalu dikhawatirkan
Nasir dan Murni, karena putri berharganya ini akan menjadi berbahaya jika berada didunia entertaimen
tanpa pengawasan mereka.

Defran memgambil ponselnya dan ia duduk disamping

4/6

Jangan tinggalkan
Lifia, sambil memeluk Lifia. la menghubungi orang-orangnya dan mengatakan agar mereka mencari tahu
gedung apartemen yang ada disebelah gedung apartemen ini yang bisa melihat Lifia dari balkon dengan
jelas, dari unit apartemen yang ada disana. "Ambil barang-barang yang kamu inginkan!" Ucap Defran
membuat Lifia melepaskan pelukannya dan ia memgambil baju tidur dan baju kerja yang akan ia
kenakan besok.

"Aku nggak mau masuk ke apartemen ini seorang diri, Mas!" Ucap Lifia.

"Besok saya akan perbaiki kunci pintu rumah kamu atau bila perlu untuk sementara ini, kamu dan
Sandra tinggal bersama saya di apartemen saya!" Ucap Defran. Dari unit Apartemenya ia bisa melihat
siap yang sedang memperhatikan apartemen Lifia dengan teropong milik Serkan. Sepertinya ia harus
meminjam teropong itu kepada Serkan, untuk memecahkan kasus ini. Kasus ini bukanlah kasus biasa
dan ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Lifia.

"Masukan baju kamu kedalam koper itu!" Perintah Defran karena Lifia kesulitan membawa barang-
barangnya.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Sebenarnya tempat yang paling aman untuk Lifia tinggali saat ini adalah Kediaman orang tua Defran.
Siapapun tidak akan berani mendekati Kediaman Keluarganya apalagi Serkan dan Fajrin pasti akan
bertindak, jika ada hal yang mencurigakan yang mendekati kediaman mereka. Defran mengangkat koper
milik Lifia dan ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen ini bersama Lifia. Mereka saat ini telah
sampai di Apartemen Defran dan Lifia bisa bernapas dengan lega. Defran menatap Lifia yang masih
terlihat sangat khawatir saat ini, hingga air mata Lifia pun kembali menetes.

5/6

Jangan tinggalkan
"Resiko pekerjaan kamu sangat luar biasa dan kamu ternyata sangat cengeng seperti ini," ucap Defran.
Kata-kata Defran benar, ia ingin membantahnya tapi ia merasa tak sanggup membatah ucapan Defran
saat ini.

"Setiap pekerjaan kan ada resikonya Mas tapi aku nggak tahu hiks...hiks...kenapa jadi begini. Apa aku
ada salah ya Mas sama orang..." ucap Lifia terisak. Hanya didepan Defran, ia bisa sesuka hatinya
menangis seperti ini, ia tak akan pernah terisak sejadinya didepan Nasir arau Murni, orang tuanya.

"Mas jangan beritahu Ibu dan Ayahku ya Mas! aku nggak mau mereka kepikiran. Di dunia ini yang selalu
perhatian dan memikirkan aku itu hanya Ibu dan Ayah. Papa kandungku tidak menyayangiku, kalau
nggak ada mereka aku nggak akan bisa jadi Lifia yang sekarang Mas. Aku itu hanya akan jadi anak tiri
yang diperlakukan buruk oleh mereka," ucap Lifia sendu.

Baru kali ini Lifia menceritakan sedikit kisah masalalunya kepada Defran. Selama ini ia selalu
menyembunyikan identitasnya dan menganggap jika ia bukanlah keponakan Murni, yang dibesarkan
oleh Murni dan Nasir, tapi ia adalah anak ketiga dari Murni dan Nasir. Hal yang sangat terlarang untuk ia
bahas namun didepan Defran hari ini, ia menujukkan semua kelemahannya dan ketakutannya. Defran
memberikan tisu kepadanya dan mengisyaratkan agar ia segera menyeka air matanya.
17

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Ingin meminta sesuatu.


Ingin meminta sesuatu
Lifia merasa canggung dan bingung ingin melakukan apa, sementara itu Defran saat ini sedang sibuk
dengan ponselnya sejak tadi, ia bahkan menghubungi seseorang dan mengucapkan kata-kata dingin.
Sepertinya sifat dingin Defran memang adalah sifat asli yang sulit untuk dirubah, namun dibalik kata-
kata dingin dan kasarnya itu, Defran adalah sosok yang baik. Kalau tidak baik, ia tidak akan dengan
bodohnya jatuh cinta kepada Defran sejak dulu. Apalagi Defran telah beberapa kali menolongnya ketika
ia dalam kesulitan, jika tidak ada Defran mungkin ia telah mendapatkan banyak masalah.

Lifia sebenarnya ingin segera mengganti pakaiannya, namun ia merasa tidak sopan jika ia masuk ke
Kamar Defran tanpa dipersilahkan oleh Defran. Lifia membuka ponselnya dan ia tekejut saat melihat
pesan dari nomor yang tidak ia kenal. "Mas..." panggil Lifia panik. Defran mengalihkan pandangannya
dan ia segera menutup sambungan teleponnya lalu menatap Lifia dengan tatapan penasaran.

"Ada apa?" Tanya Defran. Lifia memberikan ponselnya kepada Defran, membuat Defran membaca
pesan itu.

Dear, cintaku

Kamu tidak menuruti permintaan kekasihmu ini dan sekarang kamu bermalam bersama laki-laki lain,
kamu akan menerima hukumannya.

Defran menatap sinis pesan yang ia baca dan ia melihat kearah Lifia yang terlihat sangat prustasi.
"Gimana Mas?" Tanya Lifia ketakutan.

Defran menangkup kedua tangannya ke pipi Lifia dan ia meminta Lifia menatap matanya. "Kamu tahu
kan saya

1/6

Ingin meminta sesuatu


ini siapa? Dia bukan siapa-siapa selama kamu bersama saya, tidak akan terjadi sesuatu sama kamu!"
Ucap Defran.

"Kalau kamu pergi kayak dulu aku gimana?" Tanya Lifia. la pernah terluka saat syuting hanya karena ia
tidak memakai pakaian yang dihadiahkan penguntit itu.
"Kamu ini aneh seperti tidak memiliki keluarga saja, kamu pikir kamu hanya punya Ayah dan Ibu kamu?
Kamu punya saya dan keluarga saya Lifia," ucap Defran. Defran menepuk-nepuk pelan kepala Lifia,
"Sudah berhenti menangis, jangan takut...orang itu sebentar lagi akan panik setelah tahu siapa yang
sedang bermalam bersama kamu!" Ucap Defran.

Menyusup kedalam Apartemen ini saja adalah suatu tindakan yang sangat nekat, ia tahu jika orang itu
saat ini pasti telah mencari tahu siapa laki-laki yang saat ini bersama dengan Lifia. Defran baru saja
menghubungi Serkan dan ia sangat marah kepada Serkan, karena lalai tidak mengawasi Lifia seperti
mengawasi Kila dan Salsa selama ini. Padahal ia telah menitipkan Lifia kepada Serkan sebelumnya, ketika
ia pergi ke luar negeri beberapa waktu yang lalu. "Kamu ganti baju dan pergi tidur sekarang!" Ucap
Defran dengan isyarat matanya meminta Lifia untuk masuk kedalam kamarnya. Lifia segera
melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Defran, ia segera membuka kopernya dan mengambil
piyama tidurnya lalu segera memakainya.

Defran memegang ponsel Lifia dan ia melacak nomor ponsel yang tadi baru saja mengirimkan pesan
kepada Lifia. Sialnya nomor ponsel itu ternyata milik pedagang kaki lima yang telah diberikan sejumlah
uang untuk mengirimkan pesan itu kepada Lifia. "Sial..." ucap Defran kesal.

Defran sangat murka karean orang ini telah berani

2/6

Ingin meminta sesuatu


menggagu keluarganya dan ia tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Ponsel Lifia berdering dan
nomor tidak dikenal itu menghubunginya, Defran mengangkatnya dan ia menunggu orang yang
menteror Lifia ini mengeluarkan suaranya. "Kenapa kamu tidak menuruti perintah dari saya Lifia, kamu
tahu saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Ingat kamu milik saya!" Ucapnya membuat wajah
Defran memerah. "Kenapa diam? Jawab sayang...hadia ulang tahun dari saya pasti sangat berkesan
untuk kamu," ucapnya.

"Tidak berkesan sama sekali karena Lifia tidak perlu memakai baju itu ditempat tidur saya, dia bahkan
tidak memerlukan baju apapun jika berada dipelukan saya..."

ucap Defran kesal.

"Siapa anda beraninya anda memakai ponsel Lifia," ucapnya sinis.

"Kamu yang siapa, tunjukkan diri kamu mari kita

bertemu dan menyelesiakan masalah ini secara jantan!"

Ucap Defran dan sambungan teleponnya putus.


"Annnnjing..." ucap Defran dan baru kali ini ia mengupat kesal. la menyugar rambutnya dan
mengeraskan rahangnya. Lagi-lagi nomor yang tidak dikenal menghubunginya dan mengatakan Lifia
akan mendapatkan hadia terindah malam ini karena telah menghianati cintanya.

Satu jam lebih Defran menunggu ponsel Lifia kembali berdering namun kali ini nomor Salsa yang muncul
membuatnya menghela napasnya. la melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya dan melihat
Kifua sedang mengeringkan rambutnya. Defran memberikan ponsel itu kepada Lifia membuat Kifua
terkejut karena nomor Salsa yang sedang menghubunginya apalgi Salsa mengajaknya video call.

"Mas..." panggil Lifia.

3/6

Ingin meminta sesuatu


"Ya..." ucap Defran.

"Salsa nggak pernah masuk dalam kamar kamu yang di apartemen ini, Mas?" Tanya Lifia. la menghidari
gosip yang bisa saja disebarkan oleh Salsa kepada keluarganya, jika ia ketahuan sedang berada di
Apartemen Defran saat ini.

"Nggak," ucap Defran.

Lifia segera mengangkat ponselnya dan terlihat Salsa

tersenyum padanya. "Selamat ulang tahun Mbakku yang paling cantik, panjang umur, sehat selalu dan
segera menikah sama Mas Defran!" Ucap Salsa sambil tersenyum senang membuat wajah Lifia memerah
karena malu. Apalagi saat ini Defran masih berada dikamar ini dan mendengar suara Salsa yang
mengatakan doa untuknya.

"Amin, terimakasih..." ucap Lifia pelan karena ia

4/6

Ingin meminta sesuatu


sangat malu saat ini.

"Mbak kata Mami...hari minggu Mbak pulang ke Rumah, ada perayaan kecil-kecilan Mbak untuk
merayakan ulang tahun Mbak!" Ucap Salsa. "Eits jangan menolak!" Ucap Salsa.

"Iya," ucap Lifia.

"Loh...itu kayaknya ada orang dikamar Mbak ya, terlihat dikaca," ucap Salsa membuat Defran menaikkan
sebelah alisnya. "Mbak jangan bilang itu laki-laki ya Mbak," ucap Salsa. "Mbak nggak boleh menghianati
Mas Defran...ini Mbak lagi dimana, Mbak bukan sedang syuting adegan aneh dikamar sama laki-laki kan,
Mbak?" Tanya Salsa penasaran membuat Lifia merasa bingung ingin menjawab apa.
Defran mengambil ponsel Lifia dan memperlihatkan wajahnya membuat Salsa tersenyum senang.

"Alhamdulilah..." ucap Salsa lega.

"Diam...kamu berisik sekali Salsa!" ucap Defran kesal.

"Ya udah, Salsa janji nggak bilang ke Mami atau yang lain asalkan Mas Def kirimkan Salsa uang tiga juta
saja Mas, buat tambahan belanja!" ucap Salsa. Defran mengangkat sebelah alisnya, membuat Salsa
tersenyum. "Terimakasih Mas Sayang," ucap Salsa. Lifia membuka mulutnya, ia tidak mendengar Defran
mengatakan iya setuju memberikan Salsa uang sebagai imbalan tutup mulut.

"Mbak selamat ulang tahun jangan lupa minta kado sama Mas Defran! Kalau nggak diminta dia nggak
kasih kado loh Mbak, kepekaannya itu nol persen," ucap Salsa.

Defran mengembalikan ponsel itu kepada Lifia "Mbak hehehe...tempelin saja terus Mbak, Mbak nggak
akan gagal pasti dinikahin!" Ucap Salsa.

5/6

Ingin meminta sesuatu


"Apa-apan sih Sa, nggak usah bahas begituan!" Ucap Lifia malu.

"Mbak minta aja beliin apa gitu sama Mas Defran, pasti dibelikan, lagian uangnya banyak. Apalagi
keuntungan perusahaan keluarga baru saja dibagi loh Mbak sama Mami, itu Mas Def nggak pernah jajan
tabungannya banyak banget," ucap Salsa. Lifia menghembuskan napasnya, memangnya ia semudah itu
meminta sesuatu sama Defran, lagian ia malu mengatakan permintaannya karena Defran telah banyak
membantunya. Tapi hari ini bolehkan ia lancang meminta sesuatu kepada Defran dimalam pergantian
hari ulang tahunnya. Lifia mengigit bibirnya dan ia masih mempertimbangkan apa yang ia inginkan
malam ini.

Komentar lainnya

Berikan Suara

28

6/6

Keinginan dan permintaan.


Keinginan dan permintaan
Lifia melihat kearah Defran dengan wajahnya yang bersemu merah, apalagi ia sengaja menyusul Defran
yang saat ini sedang duduk diruang tengah tepatnya disofa. Lifia duduk disampingnya dengan gugup,
malam ini hari ulang tahunnya dan malam ini juga pertama kalinya ia bisa bersama dengan Defran
dimalam spesial baginya ini. la ingin sekali mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari Defran, hanya
itu saja. Tapi untuk mengatakan hal ini kepada Defran, ia sepertinya tidak mampu. Ada perasaan malu
dan ia tak ingin menjadi seorang pengemis yang butuh perhatian Defran, apalagi meminta Defran
mengatakan selamat ulang tahun padanya, sepertinya apa yang ia inginkan ini sangatlah berlebihan.

"Kamu kenapa?" Tanya Defran membuka suaranya karena melihat wajah Lifia yang merah padam.

"Sebenarnya aku itu malu Mas mengatakannya," ucap Lifia membuat Defran mengerutkan dahinya,
karena bingung dengan apa yang dimaksud Lifia saat ini.

"Malu? Kamu yakin masih punya malu sama saya?" Tanya Defran sinis, membuat Lifia menghela
napasnya.

Menghadapi Defran dengan mode yang seperti ini membuatnya harus banyak-banyak bersabar.

Lifia memeluk lengan Defran, membuat Defran menatapnya dengan tatapan dingin dan jantung Lifia
berdetak dengan kencang, karena ia takut ditolak Defran atau Defran mendorongnya dengan kasar. Tapi
ternyata itu semua tidak terjadi, Defran tidak melakukan apapun dan membiarkan ia yang saat ini
sedang memeluk lengannya. "Katakan apa yang ingin kamu katakan!" Ucap Defran dengan suara
beratnya membuat jantung Lifia berdetak

1/6

Keinginan dan permintaan


dengan kencang. Apalagi mata Defran menatapnya dengan tatapan seriusnya dan tentu saja Lifia
merasa sangat gugup saat ini. la kesal kepada dirinya yang sangat mudah gugup hanya karena Defran
Satyas.

"Mas malam ini aku ulang tahun, kamu nggak mau ngucapin selamat ulang tahu sama aku?" Tanya Lifia
dengan suaranya yang pelan.

"Jam 12 nanti sekarang baru jam sebelas," ucap Defran membuat Lifia menelan ludahnya dan ia
mengerjapkan kedua matanya karena terkejut dengan ucapan Defran. Berarti Defran akan
mengucapkan selamat ulang tahun padanya jam dua belas nanti.

Defran memainkan ponselnya dan ia melirik Lifia sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya "Kamu
mau makan kue?" Tanya Defran tanpa melihat kepada Lifia.

"Memangnya Mas punya kue?" Tanya Lifia.

"Di dalam kulkas, Mami yang beli," ucap Defran membuat Lifia segera bediri, ia tersenyum senang dan ia
melangkahkan kakinya mendekati kulkas. Lifia membuka kulkas, lalu ia melihat ada kota kue yang masih
terbungkus rapi.

Lifia mengeluarkan kotak itu dari dalam kulkas dan ia meletakkan kotak kue itu diatas meja lalu
membuka kotak kue itu. Lifia terkesima melihat kue tart yang berukuran cukup besar itu, apalagi kue
tart itu sangatlah cantik berwarna pink dan ada tulisan Happy bday, namun tidak ada nama Happy bday
itu ditujukan untuk siapa. Lifia tidak peduli yang penting saat ini ada kue tart dihadapannya. la
membawanya dan meletakkannya diatas meja. Defran melirik Lifia yang sedang tersenyum melihat kue
itu, lalu ia segera mengalihkan pandangannya dan fokus dengan ponselnya.

"Mas kuenya boleh aku makan dan

hmmm...pura-puranya aku sedang merayakan ulang

2/6

Keinginan dan permintaan


tahunku sama kamu ya Mas!" Ucap Lifia.

"Pura-pura?" Tanya Defran.

"Iya tiup lilin gitu sebentar terus nanti kuenya disimpan aja lagi dikulkas dan nggak dimakan Mas" ucap
Lifia pelan. la merasa kue ulang tahun ini kemungkinan besar untuk orang spesial bagi Defran apalagi
Mami Liana yang menyiapkannya.

"Nggak usah pura-pura kamu makan saja kuenya sampai habis, saya bisa meminta Mami membeli kue
itu lagi nanti!" ucap Defran.

"Tapi aku nggak enak Mas, sama orang yang mau kamu kasih kue," ucap Lifia pelan dan ia menatap
Defran dengan sendu. Sepertinya dugaannya benar, kue itu untuk seorang perempuan apalagi kue itu
berwarna pink. Lifia merasa sangat sedih dan ekspresi wajahnya terlihat sendu membuat Defran
menghela napasnya dan ia menatap Lifia dengan kesal.

"Kamu nggak usah memikirkan orang lain, yang harusnya kamu pikirkan itu diri kamu sendiri!" Sinis
Defran.

"Tiup lilin dan kuenya kamu makan!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia. Jika ia menolak perintah Defran, pasti akan sangat kesal padanya dan ia tidak ingin
sikap Defran menjadi buruk padanya hari ini. Apalagi Defran bisa saja mengatakan hal sinis padanya.

"Kue itu nggak ada yang punya, karena kamu yang ulang tahun jadi itu kuenya untuk kamu!" Ucap
Defran membuat ekspresi wajah Lifia yang sendu berubah dan ia tersenyum senang.

"Makasih Mas," ucap Lifia. Tiba-tiba terdengar nada dering diponsel Lifia dan nama Murni terlihat
dilayar ponselnya membuatnya segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Bu," ucap Lifia dan suaranya terdengar sangat ceria ketika berbicara dengan Murni.

3/6
Keinginan dan permintaan
"Walaikumsalam nak, kamu lagi dimana?" Tanya Murni.

"Di Apartemen Bu," ucap Lifia.

"Udah makan nak?" Tanya Murni. Ini pertanyaan yang setiap hari Murni tanyakan kepada anak-anaknya,
bahkan keempat anaknya sengaja mengirimkan foto makanan kepada Murni, agar Murni merasa
tenang.

"Sudah Bu, tadi makannya sama Mbak Kiran makanya

Lifia nggak fotoin makanannya, karena pasti Mbak Kiran sudah laporan duluan sama Ibu," jelas Lifia.

"Iya nak, selamat ulang tahun ya Nak, semoga panjang umur dan sehat selalu. Besok kamu bisa pulang
sebentar nggak?" Tanya Murni.

"Makasi Bu," ucap Lifia terharu. "Sore Bu, jam empat Lifia pulang," ucap Lifia.

4/6

Keinginan dan permintaan


"Oke, tapi hmmm...kamu ajak Nak Defran sama Sandra juga ya!" Ucap Murni.

"Iya Bu nanti Lifia tanya Mas Defran dan Sandra, mereka ikut Lifia pulang ke Rumah apa nggak," ucap
Lifia.

"Oke Nak, ibu juga mau ngucapin sama kamu sekali lagi selamat ulang tahun ya nak, semoga panjang
umur dan sehat selalu, Ibu udah ngantuk banget nunggu Jam dua belas," ucap Murni membuat Lifia
terkekeh.

"Hehehe...iya Bu nggak apa-apa, makasih ya Bu! Lifi sayang banget sama Ibu," ucap Lifia sangat terharu.
Biasanya ibunya tidak menelponnya selarut ini, tapi Ibunya sengaja untuk tidak tidur lebih cepat demi
menelponnya. "Ibu kalau sudah mengantuk Ibu tidur saja sekarang!" Ucap Lifia.

"Iya sayang, besok Ibu telepon lagi ya! Assalamualikum," ucap Murni.

"Waalikumsalam," ucap Lifia dan sambungan telepon terputus.

Lifia melihat kearah Defran yang saat ini sedang membaca buku dan ia membiarkan Defran fokus
membaca bukunya beberapa menit sebelum ia akan meniup lilinya di Jan dua belas nanti. Lifia merasa
sangat mengantuk saat ini dan ia melihat jam ditangannya, dalam hitungan menit jam akan segera
menunjukkan pukul dua belas. Lifia tersenyum dan ia menarik lengan baju Defran dengan pelan.
"Mas..." panggil Lifia.

Defran mengalihkan pandangannya menatap wajah cantik Lifia. "Ada apa?" Tanya Defran.
"Besok, Mami bilang dia minta kamu dan Sandra ikut aku pulang ke Rumah," ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran.

"Jam empat loh Mas," ucap Lifia.

5/6

Keinginan dan permintaan


"Iya," ucap Defran singkat.

Defran melihat jam ditangannya dan ia mendekati kue tart lalu menyalakan lilinnya. "Selamat ulang
tahun Lifia," ucap Defran.

"Terimakasih Mas," ucap Lifia tersenyum senang.

"Tiup lilinya!" Perintah Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia dan ia mengucapkan sesuatu didalam hatinya, sebelum ia meniup lilin ini.

'Semoga Mas Defran menyukaiku dan aku

bisa...hmmm menjadi istrinya, Batin Lifia. 'Astaga doanya kok begini sih...' ucap Lifia kesal dengan dirinya
karena bukannya berdoa agar dia diberikan kesehatan dan umur yang panjang, tapi ia malah meminta
agar Defran menyukainya dan menikahinya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

16

6/6

Akting.
Akting
Lifia meniup lilinya dan hari ini menjadi ulang tahun yang paling berkesan baginya, walaupun ada
perasaan takut karena kejadian penguntit yang baru saja masuk kedalam apartemennya. Dibalik
kesulitan ada jalan bahagia yang ia alami, itu yang saat ini membuatnya tersenyum senang. "Mas fotoin
dong!" Pinta Lifia. la berniat memosting foto ia yang sedang memegang kue ulang tahun ini di media
sosialnya.

"Oke," ucap Defran.


Lifia mengangkat kuenya dan ia menghidupkan lilin di kue itu, lalu Defran memotretnya. Lifia tersenyum
bahagia, ia menujukkan beberapa pose andalannya dan ia kembali meniup lilinya. "Gimana hasilnya
Mas?" Tanya Lifia dan ia meletakkan kue tart itu diatas meja, lalu melihat kearah Defran. la tersenyum
melihat hasil fotonya dan ia sangat puas. "Makasih Mas," ucap Lifia dan ia menujukkan senyumannya
yang teramat manis kepada Defran.

"Sama-sama," ucap Defran dengan suara beratnya.

Lifia memotong kuenya dan ia ingin memberikan potongan kue itu kepada Defran. la menatap Defran
dan sebenarnya ia ingin menyuapkan Defran kue ulang tahunya itu, tapi ia merasa ragu. la tidak mau
Defran menolak suapan kue itu dan ia lagi-lagi akan merasa sangat kecewa nantinya. Lifia menghela
napasnya dan ia sepertinya harus mencoba memberikan kue itu kepada Defran. Setidaknya ia sudah
mencoba walaupun nanti ditolak Defran dan membuatnya kecewa. Lifia menyendok kue itu lalu
mengulurkannya ke mulut Defran. Defran menatap Lifia dengan dingin, membuat Lifia menatap Defran
dengan

1/6

Akting
sendu, namun ternyata Defran membuka mulutnya dan ia mengunyah kue itu dengan pelan lalu
terbitlah senyum manis Lifia.

Lifia segera memakan kue itu, ia terlihat sangat menikmatinya karena ia mengunyahnya dengan hati
bahagia. "Enak banget Mas kuenya, nanti aku tanya sama Mami beli dimana," ucap Lifia.

"Nggak perlu tanya sama Mami, kamu minta sama saya, nanti saya belikan!" Ucap Defran.

"Serius Mas?" Tanya Lifia.

"Ya..." ucap Defran singkat.

"Oke," ucap Lifia dan jantungnya berdetak dengan kencang saat ini. Ada euphoria yang bergejolak
didalam diri Lifia, yang sulit ia tunjukkan dengan jelas jika ia saat ini sangat-sangat bahagia. Bisakah ia
selalu merasakan kebahagian seperti ini bersama Defran, cintanya. la hanya bisa terus berharap dan ia
takut apa yang ia alami ini, hanyalah mimpi. Lifia mencubit tangannya dan ia merasakan sakit.

Lifia. "Dasar bodoh..." ejek Defran melihat tingkah

"Aku pikir aku sedang mimpi Mas hehehe...biasanya kalau ulang tahun, aku itu di Rumah dirayain sama
Ibu kalau aku pulang, kalau dihari ulang tahunku itu biasanya aku lewati sendiri gitu Mas. Aku akan
berada dikamar seharian dan biasanya aku mengingat kenangan masa kecilku sama mendiang
Mamaku," ucap Lifia dan air matanya menetes begitu saja membuatnya segera menghapusnya dengan
jemarinya. "Maaf Mas udah ngerepotin dan aku jadi cengeng begini," ucap Lifia.
"Dimaafkan," ucap Defran. Lifia menyebikkan bibirnya, mengharapkan Defran mengeluarkan kata-kata
manis untuk menghiburnya dan itu sepertinya tidaklah mungkin terjadi.

2/6

Akting
"Mas aku boleh minta hadia dari kamu? Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa!" ucap Lifia
membuat Defran mengangkat sebelah alisnya. "Serius Mas nggak apa-apa aku itu sadar diri kok udah
banyak ngerepotin kamu, padahal aku kan hanya kerabat dekat kamu dan bukan siapa-siapa kamu juga
kan," ucap Lifia dan ia berharap Defran akan mengatakan sesuatu dari pernyataannya ini.

"Kamu ini apa-apaan, kamu yang minta dan setelah itu menolak seolah kamu nggak salah apa-apa
dengan permintaan kamu," sinis Defran.

Lifia menyebikkan bibirnya dan ia menundukkan kepalanya. Kalau ia bersikap lancang lagi, Defran bisa
saja mengusirnya dan malam-malam begini, ia harus kembali ke Apartemennya. Jika ia meminta tolong
dengan calon Kakak iparnya, belum tentu saat ini Handaru Laksmana ada di Apartemenya, karena pasti
tadi Hadaru sedang pergi mengantar Kiran pulang. "Kamu mau minta apa sama saya?" Tanya Defran.

"Nggak jadi, Mas! Ucap Lifia menundukkan kepalanya.

"Kamu minta apa?" Tanya Defran lagi dengan suara dinginnya.

Lifia. "Minta hadia, apapun itu asal dari kamu," ucap

"Oke," ucap Defran singkat. Lifia mengangkat wajahnya dan ia melihat wajah Defran yang menunjukkan
ekspresi datarnya.

"Kalau Mas keberatan nggak usah, Mas!" Ucap Lifia membuat Defran mengerutkan dahinya.

"Kamu pikir saya ini miskin nggak punya uang?" Tanya Defran.

"Nggak kok, aku tahu kamu kaya," ucap Lifia pelan.

3/6

Akting
"Saya bahkan bisa membayar gaji kamu sebagai artis atau kamu mau saya mengatakan pada kamu
seberapa banyak uang saya? Saya bahkan bisa berinvestasi pada film yang kamu perankan saat ini dan
dengan pengaruh saya, saya bisa meminta sutradara agar mencari peran utama yang lain!" Ucap Defran.

"Astaga Mas kok jadi marah gitu sama aku, iya aku percaya kamu bisa melakukan segalanya," ucap Lifia.

Malam ini ia harus mengalah dan berhenti melakukan berdebatan yang nantinya akan merugikan dirinya
sendiri, karena jika Defran marah besar padanya, Defran tidak akan mau melindunginya lagi.
"Masuklah ke kamar Lifia, istirahat ini sudah malam!" Ucap Defran.

"Aku nggak mau tidur sendirian Mas, kalau nanti tiba-tiba dibalkon ada penguntit itu gimana? Dia saja
bisa

4/6

Akting
masuk ke dalam Apartemenku Mas," ucap Lifia. "Mas kamu didalam kamar saja Mas, temanin aku ya
Mas!" Ucap Lifia lagi. "Please!" Pinta Lifia menatap Defran dengan tatapan penuh harap dan ia
memohon agar Defran mau menemaninya malam ini.

"Ya sudah!" Ucap Defran. la melangkahkan kakinya lebih dulu masuk kedalam kamar, Lifia dengan cepat
Lifia menuju dapur dan ia memasukkan sisa kue tartnya kedalam kulkas, lalu ia segera menyusul Defran
masuk kedalam kamar. Jantungnya berdetak dengan kencang, apalagi Defran membuka kancing
kemejanya dan bertelanjang d**a didepannya.

'Astagfirullah, ini rezeki yang nggak terduga hihihi...seksi banget kamu Mas. Astaga kok aku jadi m***m
begini...memalukan banget nggak sih...' Batin Lifia.

Defran masuk kedalam kamar mandi dan ia

membersihkan tubuhnya dan menganti pakaiannya dengan pakaian santai yaitu baju kaos berwarna
putih dengan celana pendek bewarna hitam. Defran melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan
ia melihat Lifia telah tertidur disofa. Lifia memang telah memejamkan matanya, namun ia sama sekali
tidak bisa tidur. Apalagi saat ini jantungnya berdetak dengan kencang, karena berada dalam satu kamar
dengan laki-laki yang sangat ia cintai. Lifia bisa mendengar dengan jelas langkah kaki yang mendekatinya
dan tiba-tiba tubuhnya terangkat dan ia sekuat tenaga tidak membuka matanya, meskipun ia ingin. la
memilih berpura-pura tertidur dan ia menerapkan bakat aktingnya malam ini untuk menipu Defran.

Defran membaringkan Lifia diatas ranjang dengan pelan dan ia merapikan posisi tidur Lifia, agar terlihat
nyaman. la menyelimuti Lifia lalu mematikan lampu dan ia membaringkan tubuhnya disofa. Defran
mengambil ponsel Lifia dan ia memeriksa isi ponsel Lifia. Kotak masuk email

5/6

Akting
bahkan seluruh media sosial milik Lifia dan semua aplikasi ditelusuri oleh Defran, lalu ia juga menghapus
hal-hal yang menurutnya sangat tidak penting. Defran melirik Lifia yang terlelap diranjangnya dan ia
memperhatikan Lifia dari sana dengan mata tajamnya yang bak elang seolah mangsa yang ingin ia
terkam itu sedang tidak berdaya.

Komentar lainnya

Berikan Suara
16

6/6

Hukuman dari dia.


Hukuman dari dia
Menjelang pagi, Lifia membuka matanya yang terasa sangat berat, apalagi cahaya lampu membuat
tidurnya terganggu. la tidak tahu jam berapa ia benar-benar terlelap malam tadi dan saat ia membuka
mata yang lihat sosok Defran sedang menjalankan ibadah sholat subuh, hingga membuatnya segera
terduduk dan ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. la mandi dengan air hangat dan sialnya ia
lupa membawa pakaiannya. Dikamar mandi Defran bahkan tidak memiliki piyama handuk yang biasanya
ia pakai. Lifia terpaksa melilitkan handuk milik Defran itu ke tubuhnya dan ia sangat malu saat ini karena
ia harus keluar mengambil bajunya yang masih berada didalam koper dengan hanya menggunakan
handuk pendek.

'Astaga sial banget sih...harusnya Mas Defran itu punya piyama handuk, Batin Lifia kesal.

Lifia keluar dari kamar mandi dan ia melihat Defran sedang duduk membaca buku disofa, membuatnya
menghela napasnya. "Harusnya Mas Def duduk diluar saja," gerutu Lifia. la keluar dengan santai dan
matanya bertemu dengan mata Defran yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan menilai
penampilannya, membuat wajahnya memerah. "Lu...lupa bawa baju Mas," ucap Lifia merasa risih
ditatap seperti itu oleh Defran. Lifia segera mempercepat langkah kakinya mendekati kopernya, lalu ia
mengambil bajunya dan Lifia segera kembali masuk kedalam kamar mandi dengan wajah bersemu
merah.

Setelah memakai pakaiannya, ia keluar dari kamar mandi dan ia segera menunaikan sholat subuh.
Beberapa menit kemudian ia melipat mukenanya dan mencari

1/7

Hukuman dari dia


keberadaan Defran yang sepertinya telah berada diruang tengah. Lifia menyusun isi kopernya dan
setelah itu ia kembali keluar mencari keberadaan Defran. la melihat Defran sedang duduk di Tv dan ia
melangkahkankan kakinya mendekati Defran. Defran menyadari keberadaan Lifia yang saat ini bediri
dihadapannya "Saya terbisa sarapan di Rumah, pagi ini kamu buatkan saya sarapan!" Pinta Defran.

Lifia. "Iya Mas," ucap Lifia. "Mas mau sarapan apa?" Tanya

"Sarapan sehat seperti yang sering kamu makan setiap

Pagi," ucap Defran membuat Lifia terkejut.

"Loh kamu tahu dari mana kalau aku sarapan sehat Mas? Aku itu makannya realfood gitu," ucap Lifia.
Defran menujukkan ponsel Lifia yang saat ini berada ditangannya. "Ohh..." ucap Lifia menebak jika
Defran melihat isi ponselnya. Lifia membuka mulutnya karena terkejut saat ini ponselnya masih berada
ditangan Defran. Di ponselnya ada pesan digrup keluarga yaitu Salsa, Kiran, Kila dan Kana. Isi
pembicaraan mengenai berbagai hal termasuk tentang curhatan ya mengenai Defran Satyas.

"Mas kamu nggak baca chatan aku kan, Mas?" Tanya Lifia panik.

"Baca," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Astaga Mas...itu kan privasi aku, Mas," ucap Lifia kesal karena Defran berani membaca semua chat dan
pesan pribadinya.

"Sekarang kamu itu tidak akan ada privasi lagi diantara saya sama kamu!" Ucap Defran dingin. Lifia
melototkan matanya dan ia terlihat sangat kesal dengan ucapan Defran. "Saya tidak suka kamu
berbohong apalagi bertindak tidak jujur, selama ini saya membiarkannya dan

2/7

Hukuman dari dia


kamu lihat apa yang terjadi pada kamu, kamu mendapatkan masalah yang serius!" ucap Defran dengan
suara beratnya dan terlihat dari raut wajahnya jika ia saat ini tidak ingin Lifia membatah ucapannya.

Lifia menghela napasnya dan ia melangkahkan kakinya menuju dapur, lalu melihat bahan-bahan
makanan yang ada didapur. la membuat jus dan juga merebus telur omega. la melihat roti gandum dan
ia membuat sandwich sayuran dengan potongan telur dan ayam. Beberapa menit kemudian sarapan
telah terhidang diatas meja makan dan Lifia kembali mendekati Defran. "Sarapannya sudah siap," ucap
Lifia.

"Oke," ucap Defran dan ia melangkahkan kakinya mendekati meja makan, lalu ia segera duduk.
Keduanya sarapan bersama dan Defran terlihat sangat menikmati sarapannya. "Kalau kamu berada di
Apartemen, setiap pagi kalau saya berada di apartemen ini kamu yang harus membuatkan sarapan
untuk saya!" Ucap Defran dan ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu hitam miliknya. "Beli
apapun yang kamu mau dengan ini!" Ucap Defran dan ia meletakan kartu itu diatas meja.

"Nggak usah, kalau hanya membut sarapan untuk kamu dan untuk aku, uangku juga ada!" ucap Lifia.

Defran menatap Lifia dengan dingin karena Lifia tidak kunjung mengambil kartu itu, membuat Lifia
menghela napasnya dan ia segera mengambil kartu itu. Mereka makan dengan santai dan ponsel Lifia
berbunyi membuat Lifia segera mengangkatnya. Terdengar suara rintihan kesakitan dari ponsel Lifia.
"Sandra..." lirih Lifia. "Kamu kenapa?" Tanya Lifia khawatir.

"Aku mau jemput kamu Lifia dan saat aku mau membeli cemilan di Mart, ada yang tiba-tiba nyerang
aku...tanganku sakit sekali..." ucap Sandra dengan suaranya yang terdengar sedang merintih.

3/7
Hukuman dari dia
Defran mengambil ponsel itu dari tangan Lifia. "Kamu dimana?" Tanya Defran. Sandra menyebutkan
dimana tempatnya saat ini, membuat Defran segera menutup ponselnya. Defran menghubungi Marco
Laksamana Dewandaru sahabatnya yang posisinya saat ini tidak jauh dari posisi Sandra.

"Assalamualikum Marco," ucap Defran.

"Waalikumsalam," ucap Marco dan terdengar suaranya

sangat serak saat ini.

"Bangun sekarang juga dan tolong kamu jemput Sandra!" Ucap Defran.

"Siapa lagi Sandra Def? jangan bilang kalau kamu sekarang mulai ingin jadi Playboy ya Def, ingat kamu
itu sudah..." ucap Marco segera dipotong oleh Defran.

"Marco...ini penting, cuci muka dan bawa Sandra ke

4/7

Hukuman dari dia


Apartemen kamu. Sandra itu asistennya Lifia dan dia sedang terluka saat ini, kemungkinan dia sedang
bersembunyi," ucap Defran.

"Hubungi polisi saja Def, ya ampun aku ini baru melakukan operasi darurat dan ngantuk banget Defran,
bisa-bisanya kamu memerintahkan aku seperti ini," kesal Marco. "Lagian kamu kan polisi, rekan kerja
kamu banyak Defran!" Ucap Marco sangat kesal.

"Marco..." teriak Defran.

"Iya...nyebelin banget sih sama kayak Handaru," kesal Marco dan ia segera mematikan ponselnya.

Lifia menatap sendu Defran dan ia merasa selera makannya hilang saat ini. "Makan!" Perintah Defran.

"Mana bisa makan Mas, aku nggak tahu keadaan Sandra," lirih Lifia.

"Makan dan jangan membantah!" Ucap Defran membuat Lifia kembali memasukan makanan kedalam
mulutnya dengan pelan dan ia menahan diri untuk tidak menangis karena ia sangat kahwatir.

Defran mengirimkan pesan kepada Sandra dan meminta Sandra agar segera mengirimkan lokasinya, lalu
ia akan meneruskan lokasi Sandra saat ini kepada Marco. "Sandra akan baik-baik saja, Marco akan
menolongnya!" ucap Defran.

Marco Laksamana Dewandaru seorang Dokter yang sangat diperhitungkan didunia kesehatan, ia
merupakan adik kandung Handaru Laksamana Dewandaru. Marco seorang don juan yang seringkali
menaklukan hati banyak perempuan dengan wajah tampannya dan mulut manisnya. la merupakan
penasehat cinta bagi mereka semua sahabatnya nanun cinta yang ia miliki selalu saja kandas. Ya
sebenarnya Marco belum menemukan cinta sejatinya dan ia lebih suka ditemani banyak perempuan
disekitarnya sambil menikmati masa kesendiriannya.

5/7

Hukuman dari dia


Bunyi notifikasi diponsel Lifia membuat Defran membacanya dan ia mengeraskan rahangnya. "Ada apa
Mas?" Tanya Lifia.

Dear cintaku

Hadia terindah karena kamu telah menghianatiku cintaku, asistenmu tidak akan baik-baik saja.

Lifia mendekati Defran dan ia membaca pesan itu membuat Lifia tubuhnya bergetar karena ketakutan.

"Mas...Sandra..." ucap Lifia panik.

"Dia akan baik-baik saja," ucap Defran.

"Nggak, itu tadi dia kesakitan Mas..." teriak Lifia dan ia ingin memangis saat ini juga karena khwatir.

"Orang itu hanya bisa bersembunyi dibalik orang-orang suruhannya, sebentar lagi dia akan bertemu
dengan saya dan kamu tidak perlu khawatir!" ucap Defran.

"Mas...sekarang ini Sandra, gimana?" Lirih Lifia.

"Dia berhasil bersembunyi dan Marco yang akan membantunya!" Ucap Defran. "Hari ini bukanya kamu
harus ke lokasi syuting?" Tanya Defran.

"Aku takut...tapi hari ini syuting terakhir film itu Mas, dan adegan aku hanya sedikit," ucap Lifia.

"Mas...aku gimana? Kamu mau ke Rumah sakit terus aku pergi sama siapa?" Tanya Lifia.

Defran melangkahkan kakinya mendekati pintu apartemennya dan terlihat lima orang Bodyguard telah
berada disana. "Mulai sekarang mereka akan menjaga kamu!" Ucap Defran.

Lifia menganggukkan kepalanya "Tapi kamu nanti jemput aku dilokasi syuting kan, Mas?" Tanya Lifia dan
ia memegang tangan Defran dengan erat. Wajah Lifia telihat pucat dan ia telihat sangat ketakutan saat
ini.

"Iya nanti saya akan menjemput kamu dilokasi

6/7
Si Brengsssek.
Si Brengsssek
Sandra sangat ketakutan dan ia saat ini bersembunyi dibalik dinding yang terdapat sampah untuk
menutupi tubuhnya. la memang jago bela diri, tapi menghadapi lima orang yang juga jago bela diri dan
mereka semua adalah laki-laki, membuatnya memilih untuk segera melarikan diri. Mereka semua
berniat ingin membunuhnya apalagi salah satu dari mereka membawa pisau lipat hingga melukai
tangannya. Sebenarnya tujuan Sandra pulang ke Kontrakannya untuk melihat kondisi anak laki-lakinya
yang sedang sakit. Ya rahasia terbesar yang disembunyikan Sandra saat ini adalah kelahiran putranya
yang tidak diketahui keluarganya.

Hidup yang Sandra jalani saat ini adalah suatu kebohongan yang selama ini ia simpan dengan sangat
rapat. Enam tahun yang lalu, ia telah melakukan suatu kesalahan besar hingga hamil dengan laki-laki
b******k yang sialnya mungkin saja juga tidak ingat jika mereka pernah tidur bersama, apalagi ia
mengenal sifat gila laki-laki itu yang sangat manis dengan setiap perempuan yang berada disekitarnya.
Gila...semua yang terjadi pada dirinya saat itu membuat semua yang mati-matian ia pertahankan,
hancur begitu saja. la bahkan tidak bisa melanjutkan kuliah kedokterannya dan sekarang ia cukup
bersyukur bisa menjadi asisten Lifia berkat pertolongan Azura, yang memberikan pekerjaan padanya
sebagai asisten aktris diperusahaan keluarga Azura.

Pekerjaannya ini ternyata sangat beresiko karena saat ini ia menjadi asisten artis, yang sangat cantik
yaitu Lifia Ayu yang juga sangat terkenal. Banyak sekali laki-laki yang menyukainya Lifia dan ada juga
para perempuan, yang

1/6

Si Brengsssek
merupakan pesaing Lifia yang juga sangat membencinya Lifia, secara tidak langsung karena iri dengan
kesuksesan Lifia. Air mata Sandra menetes karena ia merasa lukanya sangat perih dan sejujurnya ia
ketakutan saat ini. la takut hidupnya berakhir, lalu bagaimana nasib putra semata wayangnya. la harus
selamat dan bertahan lalu kali ini kalau ia selamat, haruskah ia menemui ayah kandung putranya itu
untuk memintanya bertanggung jawab.

Laki-laki itu harus tahu keberadaan anaknya dan ia tidak akan bersembunyi dibalik penampilannya yang
menggunakan kaca mata tebalnya selama ini, padahal ia sama sekali tidak memiliki mata minus.

Ponsel Sandra berdering dan ia segera

mengangkatnya. "Kamu dimana? saya berada tidak jauh dari posisi kamu," ucap seseorang laki-laki yang
terdengar sangat kesal. "Saya temannya Defran," ucap laki-laki itu.

"Saya sedang bersembunyi karena sepertinya mereka masih mencari saya Pak," ucap Sandra. la mengira
orang yang disuruh Defran membantunya adalah seorang polisi.
"Tunggu saya kesana sekarang," ucap Marco.

Ya...laki-laki yang diminta membantu Defran adalah Marco dan saat ini Marco mencari keberadaan
Sandra. Defran memberikan ciri-ciri Sandra padanya, berkulit putih, berambut panjang dan
berkacamata, ciri-ciri ini membuat Marco sangat kesal karena banyak perempuan yang memiliki ciri-ciri
seperti ini.

Sandra merasa jika ia terus bersembunyi orang suruhan Defran juga tidak akan menemukannya. la
mengedarkan pandangannya dan siapnya seorang dari mereka menemukannya. Sandra segera berlari
dengan cepat dan mereka mengejar Sandra. "Aku harus selamat kasihan Dikta kalau aku nggak ada lagi,
bisa-bisa anakku akan dibesarkan di Panti," lirih Sandra.

2/6

Si Brengsssek
Keringat Sandra bercucuran dan ia sangat lelah, namun tidak ada jalan baginya untuk lari lagi karena
gang ini ternyata gang buntu. "Aku harus bagaimana?" lirih Sandra dan ia terlihat sangat putus asah.

Lima orang kawanan itu terlihat sangat beringas membuat Sandra menghembuskan napas kasarnya.
"Maafkan Mama nak," ucap Sandra. Seorang laki-laki sengaja mendekatinya dengan pelan dan Sandra

bersiap-siap dengan kuda-kudanya. la akan menghancurkan siapa saja yang berani menyentuhnya, ia
lebih memilih mati jika ia akan diperkosa oleh ke lima laki-laki ini.

Laki-laki itu menampar wajah Sandra namun Sandra berhasil membalasnya dengan menerjang laki-laki
itu. "Masih mau melawan?" ucapnya. Wajah Sandra memerah dan ia merasa pipinya sangat sakit. Kedua
laki-laki itu

3/6

Si Brengsssek
mendekati Sandra dan mencoba menangkap tubuh Sandra hingga keduanya menarik paksa kaca mata
Sandra. "Wah...ternyata dia sangat cantik, bos meminta kita memperkosanya dan hahaha...ini jakcpot
namanya," ucapnya dan mereka semua tertawa.

"Ayo kita bawa dia ke tempat yang lebih baik untuk bercinta!" Ucap salah satu dari mereka.

"Bajingan...lepaskan aku b******k!" teriak Sandra.

Sandra mencoba memberontak, namun ia kesulitan karena lengannya dipegang dengan sangat keras.
Tiba-tiba seseorang datang mendekati mereka dan ia menerjang salah satu dari mereka, yang saat ini
memegang lengan Sandra. Ya...Marco saat ini berhasil menemukan Sandra, ia melihat wajah Sandra dan
ia mengerutkan dahinya karena wajah ini wajah yang sangat familiar baginya. Dua orang lainnya
mencoba menyerang Marco, namun Marco dengan sigap melawan mereka. Bagi seorang Marco mereka
adalah lawan yang sangat mudah ia kalahkan, karena mereka hanya memiliki kekuatan saja, tapi tidak
bisa ilmu bela diri seperti dirinya. Marco bahkan berhasil menghindar dari serangan-serangan kacau
yang berhasil ia baca dengan begitu mudahnya.

Dua dari mereka berhasil Marco tumbangkan dan sisa tiga orang, Marco menghajar mereka dengan
cepat. Sandra masih bisa melawan, ia menghempaskan tangan laki-laki yang masih memegang
lengannya dan ia menerjangnya, lalu memukulnya dengan pukulan yang cukup keras. Marco kembali
menghajar mereka agar mereka kesulitan untuk berdiri dan ia segera menghubungi pihak yang berwajib,
agar segera menangkap mereka. Marco melihat kearah Sandra yang saat ini meringis kesakitan
membuatnya menghela napasnya.

"Kemana saja kamu selama ini?" Tanya Marco sinis.

4/6

Si Brengsssek
Sandra membuka mulutnya dan ia menatap Marco dengan tatapan bingung. "Larisa Sandara Davis,"
ucap Marco. Larisa mengeraskan rahangnya dan ia mengepalkan tangannya, lalu ia meninju wajah
Marco dengan kencang.

"Playboy cap kucing," kesal Sandra.

Marco menyunggingkan senyumannya, kemana ia selama ini dan kenapa ia tidak sadar jika Sandra
ternyata berada disekitarnya. "Kamu ikut aku Larisa!" Ucap Marco dan ia mencoba menarik tangan
Sandra.

"Kamu mau aku pukul lagi?" Tanya Larisa dingin.

"Kalau itu membuat kamu tenang dan memaafkan

kesalahanku, silahkan pukul aku!" Ucap Marco menunjuk pipinya. Sandra menatap sinis Marco apalagi
saat ini hidung Marco terlihat mengeluarkan darah akibat pukulannya. Sandra mempercepat langkah
kakinya menjauh dari Marco, namun Marco tentu saja tidak akan membiarkan perempuan yang ia cari
selama ini menghilang begitu saja. "Kamu tinggal dimana?" Tanya Marco.

"Itu bukan urusan kamu!" ucap Sandra dan ia mengambil kaca matanya yang terjatuh, lalu segera
memakainya.

"Jadi kaca mata itu yang membuat kamu sangat sulit untuk ditemukan, Larisa," ucap Marco.

"Stop mengikuti aku!" Ucap Sandra dingin.

"Aku sedang memohon agar kamu memaafkan aku Larisa!" ucap Marco.

"Sudah aku maafkan," ucap Sandra dengan suaranya yang bergetar.

"Aku obati luka kamu dan kamu ikut aku, Larisa!"


Pinta Marco.

"Aku nggak mau!" Ucap Sandra.

5/6

Si Brengsssek
"Harus mau!" Ucap Marco. "Kamu terluka, kulitmu yang putih ini harusnya tidak boleh dinodai oleh
apapun!" Ucap Marco membuat Sandra menatap Marco dengan garang.

"Maksud kamu hanya kamu yang boleh menodai aku? Begitu? Dasar b******n," Teriak Sandra dan ia
terlihat sangat murka.

"Larisa, kamu harusnya tidak menghilang! Kita bisa menyelesaikan ini semua baik-baik!" Ucap Marco.

"Anjjjinggg, brengsesk, bbbabiii gila...itu kamu!" Teriak Sandra mengupat kesal membuat Marco
menghembuskan napasnya. "Aku menyesal bertemu dengan kamu brengseeek..." teriak Sandra murka.

Komentar lainnya

Berikan Suara

36

6/6

Larisa.
Larisa
Sandra terlihat sangat menyesal saat ini, ia menyesal mengatakan jika ia ingin menemui ayah putranya
dan mengatakan identitas putranya itu kepada ayah kandung putranya itu. Jika ia tidak ada lagi dunia ini
apakah anaknya lebih baik tinggal dipanti dari pada hidup bersama laki-laki b******k yang memiliki
banyak perempuan. Entalah... Sandra bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, ia melangkahkan
kakinya dengan pelan menjauh dari Marco berharap Marco berhenti mengikutinya. Sandra menolehkan
kepalanya kebelakang dan ia menghela napasnya karena ternyata Marco mengikutinya sambil
tersenyum membuat Sandra merasa sangat kesal.

"Berhenti mengikuti aku!" Teriak Sandra.

"Kakiku ini nggak mau berhenti, dia sangat suka dengan kakimu!" Ucap Marco.

"Marco..." teriak Sandra lagi karena ia sangat kesal saat ini. Apalagi wajah Marco terlihat sangat tampan
dan khas seorang donjuan yang memang disukai banyak perempuan, hanya dengan modal wajah
tampan, sukses, kaya raya dan bermulut manis pasti membuatnya sangat populer dikalangan
perempuan.
"Apa sayang?" Ucap Marco.

"Dasar menjijikkan," ucap Sandra kesal.

"Menjijikkan? Yakin laki-laki kesayanganmu ini menjijikkan, bukanya kamu yang saat itu memohon pada
aku agar kita..." ucap Marco menyunggingkan senyuman ketika melihat wajah Sandra merah padam.
Ternyata Sandra mengingat malam itu, malam yang mengubah segalanya dari tingkatan Sandra yang ia
anggap sebagai

1/6

Larisa
adiknya, berubah menjadi perempuan miliknya.

"Nggak..." teriak Sandra.

"Kan sudah diperingatkan Sandra di Flat saja jangan kemana-mana, ngapain nakal ke Club malam!" ucap
Marco.

"Annnjiiinggg..." ucap Sandra.

"Ya sudah...Mas mu ini jadi anjjiinggg kamu biar selalu bisa mengendus keberadaan kamu!" Ucap Marco.

Sandra tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya yang melihat kearahnya. Apalagi saat ini
penampilannya sangat kusut. Marco merasa membujuk perempuan banteng kesayayangannya ini ia
akan merasa kesulitan, jika ingin membawanya pulang dan ia mengedarkan pandangannya menunggu
tempat yang dilewatinya ini sepi, lalu dengan cepat ia akan menyusul Sandra. Marco menyunggingkan
senyumannya karena sekarang waktu yang tepat untuknya menjalankan rencanya dan bugh...ia
memukul tengkuk Sandra hingga Sandra kehilangan kesadarannya. Marco mengangkat sudut bibirnya
karena berhasil membuat Sandra pingsan dan dengan mudah ia mengangkat tubuh Sandra, lalu
membawanya masuk kedalam mobil miliknya yang tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini.

Beberapa menit kemudian ia sampai diparkiran mobilnya dan ia membaringkan Sandra di Mobilnya lalu
ia segera duduk dikursi pengemudi. la mengambil obat dan memasukkan obat itu kedalam mulut
Sandra. "Jaga-jaga kalau bangun banteng cantik ini, dia pasti akan mengamuk lagi, hobi kamu ini
menyeruduk Larisa...makanya saat masih kecil kuliahnya baik-baik!" Ucap Marco.

Marco mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan ia berencana membawa Larisa ke
Rumah pribadinya. Kalau Papi dan Maminya sampai tahu kesalahan yang pernah ia perbuat dimasalalu,
ia akan

2/6
Larisa
diberikan hukuman yang pastinya cukup berat. Kesalahan terbesar karena bukannya menolong Larisa
yang saat itu di berikan obat oleh salah satu laki-laki di Club yang menginginkan Larisa, tapi ia dengan
bodohnya tergoda karena Larisa yang terpengaruh obat itu merayunya. Sialnya saat itu ia menganggap
Larisa adiknya karena Larisa memiliki wajah imut dan cantik seperti Binar adik sahabatnya, yang sangat
ia sayangi. Bahkan Larisa

memberikan kepercayaan kepadanya dan sering mengajaknya berbincang dengannya disela-sela waktu
santai perkuliahan mereka.

Larisa juga tahu kebiasaan seorang Marco yang memiliki sikap don juan dengan deretan perempuan
yang menyukainya dan Larisa sering memaki Marco Playboy, lalu berharap jika nanti dirinya pasti
menikah dengan laki-laki yang tidak suka menggoda perempuan seperti Marco.

3/6

Larisa
Marco menyugar rambutnya dan ia melirik wajah cantik bak boneka itu masih tetap sama dimatanya
yaitu cantik. "Kemana saja kamu selama ini hmmm...? kamu pikir setelah meniduri aku kamu bisa bebas
begitu saja, Larisa," Ucap Marco. "Harusnya kamu bertanggung jawab Larisa, karena kamu setiap hari
koleksi permpuan cantik diotak saya selama enam tahun ini wajahnya didalam mimpi, selalu saja wajah
kamu," ucap Marco.

Beberapa menit kemudian Matco sampai di Kediamannya, ia mengendarai mobilnya hingga masuk
kedalam perkarangan rumahnya. Rumah ini rumah yang ia bangun secara rahasia dari keluarganya
karena ia yakin suatu saat, ia akan menemukan Larisa. Jika Larisa menikah dengan laki-laki lain saat ia
temukan, ia akan tetap menculik Larisa dan memohon maaf padanya. la juga akan membujuk Larisa dan
suaminya untuk bercerai karena baginya suami Larisa, pasti bukanlah laki-laki yang cocok untuk
menghadapi Larisa. Marco harus berterimkasih kepada Defran karena memaksanya menyelamatkan
asisten Lifia, yang ternyata adalah perempuan yang selama ini ia cari.

Dua orang maid terkejut melihat kedatangan Marco yang dengan santai menggendong seorang
perempuan cantik. Mereka memilih untuk membungkukkan tubuhnya dan tidak bertanya kepada Marco
siapa perempuan yang ada didalam pelukan Marco. Mereka berdua sangat senang bekerja dengan
Marco, karena sikap Marco yang royal dan juga baik kepada mereka. Marco tersenyum kepada kedua
maidnya dan ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. la masuk kedalam kamar
utama dan ia membaringkan Sandra keatas ranjang. Marco memgambil peralatan medisnya dan ia
menggunting lengan baju Sandra untuk melihat luka dilengan Sandra.

"Sialan berani sekali dia melukai banteng kesayangan Marco, memang tidak bisa dibiarkan ini!" Ucap
Marco

4/6
Larisa
murka. Luka ini pasti sangat perih dan wanita sekecil ini dilukai dengan pisau yang tajam membuat
Marco mengepalkan tangannya, ingin rasanya melakukan hal yang sama bahkan menghancurkan laki-
laki yang telah melukai Larisanya.

Marco mengobati lengan Sandra dan kemudian menjahit luka Sandra dengan sangat rapi lalu
membalutnya. Marco melihat wajah Sandra telihat pucat dan ia memasang infus ditangan Sandra, wajah
cantik itu telah terlihat sisi dewasanya dan Marco tidak bisa melupakan senyum diwajah Sandra setiap
kali Sandra mengejeknya. Marco mencium dahi Sandra dengan lembut dan ia kembali mengobati luka
lebam Sandra, lalu ia segera menghubungi asistennya untuk membelikan Sandra pakaian dan untuk
sementara ini, Sandra akan memakai kemeja miliknya. Marco mencium kedua pipi Sandra dengan
lembut, lalu ia menyelimuti Sandra. la mengambil ponselnya dan ia menghubungi Defran untuk
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kenapa Sandra diserang.

"Assalamuaikum Def," ucap Marco.

"Waalaikumsalam," ucap Defran. "Bagaimana keadaan Sandra?" Tanya Defran.

"Sudah diamankan," ucap Marco membuat Defran bingung. "Maksud saya Def, dia sudah
diobati...dimanjain," ucap Marco.

"Jangan macam-macam Marco, dia asistennya Lifia!" Ucap Defran dingin.

"Tapi gimana dia cantik," ucap Marco.

"Kamu dimana? Saya akan meminta orang suruhan saya membawa Sandra ke Rumah sakit, dari pada dia
berada bersama kamu!" ucap Defran.

"Jangan! Biarkan dia bersama saya Def! Kali ini saya sedang berbicara serius sama kamu, dia
Larisa...kamu ingat saya mencari perempuan bernama Larisa?" Tanya

5/6

Larisa
Marco.

"Perempuan polos yang kamu tiduri karena kamu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyetuhnya dan
perempuan itu lari menghilang karena tahu siapa kamu," ucap Defran.

"Tidak perlu kamu jelaskan seperti itu, kamu tahu alasannya saya tidak pernah serius dengan
perempuan, semuanya itu karena dia, dia yang harus menjadi istri saya dan saya akan melakukannya
dengan cara apapun!" Ucap Marco. "Jangan ikut campur urusan saya Defran, demi persahabatan kita!"
Ucap Marco dingin. la tidak pernah seserius ini apalagi mengancam Defran mengatasnamakan
persahabatan mereka. "Tapi kenapa Larisa bisa diserang? segera temukan siapa dalangnya dan saya
akan ikut menghukumnya Def," ucap Marco dengan suaranya yang terdengar sangat serius.
Marco yang semua orang kenal adalah sosok pecicilan yang terlalu ramah dengan orang-orang
disekitarnya. Wajahnya yang tampan dan ia yang sangat cerdas, menjadi daya tarik para perempuan,
untuk berlomba-lomba merebut hatinya. la pun tidak menolak perhatian para perempuan itu dan
menerimanya dengan senang hati. Larisa sangat kesal setiap melihatnya membawa pulang perempuan
cantik dan Marco menerima dengan senang nanti saat pipi, bibir serta lehernya diserang para
perempuan yang menyukainya. Larisa selalu mengatakan kepada Marco, lebih baik memiliki suami jelek
dari pada tampan tapi sikapnya seperti Marco.

19

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Was-was.
Was-was
Lifia merasa sangat cemas saat berada di Lokasi syuting dan ia mencoba untuk bersikap profesional
dalam urusan pekerjaan. Seorang laki-laki tersenyum padanya dan ia memberikan Lifia beberapa
makanan. Laki-laki itu merupakan salah satu investor film yang memang sangat baik dengan semua kru
film dan juga para pemeran difilm ini. "Selamat ulang tahun Lifia," ucapnya tersenyum.

"Terimakasih, Pak," ucap Lifia tersenyum ramah.

"Ada film baru lagi ini, kamu mau ikut serta? Kebetulan saya juga akan menjadi investornya, Lifia,"
ucapnya.

"Hmmm...terimakasih tawarannya Pak, saya masih memikirkannya Pak sebelumnya saya baru saja
menandatangi kontrak film baru Pak, nanti Bapak bisa bicarakan sama manajer saya Pak!" Ucap Lifia.

"Kenapa tidak kita bicara bersama dengan manajer kamu sekalian sutradara...hmmm mana Manejer
kamu Lifia?" Tanyanya mencari asisten manajer yaitu Sandra yang biasanya selalu menemani Lifia.

"Sandra lagi sibuk Pak, ada yang harus dia lakukan," ucap Lifia.

"Ohhh...karena itu Ibu Ike memerintahkan para Bodyguard untuk menjaga, kamu?" Tanyanya penasaran
dengan lima orang Bodyguard Lifia.

"Iya Pak Guntur," ucap Lifia tersenyum dan ia sebenarnya tidak ingin membahas hal ini karena ia hari
merasa sangat tidak nyaman.

Saat ini Lifia terlihat wasapada dengan siapapun karena tentu saja siapa saja bisa jadi pelaku yang
melakukan teror padanya dan jika mengingat itu semua,
1/6

Was-was
bulu kuduk Lifia meremang. "Padahal, saya ingin sekali mengenalkan Lifia dengan keluarga saya karena
mereka fans berat kamu Lifia," ucap Guntur.

Lifia menatap wajah Guntur yang terlihat sangat ramah padanya dan ia sangat kesal pada dirinya yang
sangat mudah mencurigai orang lain. Seperti Moreno yang baru saja mengucapkan selamat padanya dan
memberikannya kado ulang tahun padanya, membuatnya pun menjadi curiga dengan sosok Moreno.
Lifia bahkan curiga dengan beberapa kru yang terlihat mencoba menarik perhatiannya dan itu
membuatnya prustasi. Kalau seperti ini terus, ia tidak akan nyaman bekerja. "Lifia..." panggil Guntur
karena Lifia terlihat sedang melamun dan tidak menjawab pertanyaannya tadi.

"Iya Pak, maaf..." ucap Lifia dan ia melihat kearah Guntur yang saat ini mengangkat sudut bibirnya dan
kemudian menatapnya dengan dalam.

"Kamu nggak apa-apa, Lifia?" Tanya Guntur.

"Nggak...nnngggak apa-apa Pak," ucap Lifia gugup.

Bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak dengan kencang apalagi Guntur terlihat sedang
menatapnya. Satu-satunya tatapan dingin yang membuat hatinya hangat hanyalah Defran Satyas. Jika
saat ini ada Defran disampingnya, ia tidak akan merasa was-was seperti ini.

Guntur meletakkan telapak tangannya didahi Lifia membuat Lifia terkejut dan ia segera menjauh dari
Guntur. "Saya hanya ingin memeriksa kamu apakah kamu demam atau tidak!" Ucapnya membuat Lifia
menelan ludahnya dan ia merasa tidak nyaman saat ini.

Tiba-tiba terdengar suara musik dan nyanyian selamat ulang tahun oleh para kru dan artis lainnya,
membuat Lifia terkejut. Azura membawakan kue ulang tahun ditangannya dan ia melangkahkan kakinya
mendekati Lifia, "Happy

2/6

Was-was
bday Lifia sayang..." ucap Azura membuat Lifia menatap Azura dengan haru.

"Wah...kejutan banget didatangi Azura, terimakasih banyak Azura..." ucap Lifia.

"Tiup lilinya dong!" Ucap Azura. Lifia segera meniup lilinya, ia mengecup pipi kana dan pipi kiri Azura.

Sebuah kue tiba-tiba telah berada dihadapan Lifia dengan lilin yang juga telah dihidupkan oleh salah satu
kru.
Jantung Lifia berdetak dengan kencang karena kue itu adalah kue yang sangat mirip, yang dikirim oleh
penguntit alias penjahat itu padanya di Apartemennya. Wajah Lifia memucat dan ia begitu terkejut tapi
ia merasa ia harus tetap menujukkan senyumannya dan berakting jika saat ini tidak ada yang terjadi.
Lifia meniup lilinya dan teriakan mereka mengucapkan selamat ulang tahun membuat suasana sangat
meriah saat ini.

Setelah itu saat ini Lifia dan Azura berada disebuah ruangan, Azura duduk disamping Lifia. Tadi ia
terkejut melihat lima orang Bodyguard ternyata dipekerjakan untuk menjaga Lifia. "Ada apa Lifia?
Biasanya kamu nggak ada Bodyguard kayak gini," ucap Azura penasaran.

Lifia menghembuskan napasnya, Azura tahu mengenai penguntit yang selama ini membuntutinya dan
kejadian di Apartemen Lifia sebelumnya. "Apa berkaitan dengan kejadian sebelumnya? Bukanya setelah
kamu pindah ke Apartemen yang baru, tidak ada lagi yang datang mengganggu kamu," ucap Azura.

"Ternyata masih ada dan kali ini dia berani banget masuk ke Apartemenku kayak dulu saat aku hampir
saja dibawa mereka. Aku sangat takut Azura, untung saja ada Mas Defran yang sekarang jagain aku,
kalau misalnya aku pulang ke Rumah Ayah dan Ibu, bisa-bisa aku akan membahayakan Ayah dan
Ibu...Azura," ucap Lifia sendu. la tidak ingin ada lagi yang menjadi korban seperti Sandra

3/6

Was-was
karena masalah ini. "Sandra saja telah menjadi korban dan dia terluka," ucap Lifia membuat Azura
terkejut.

"Keadaan Sandra bagiamana? mbak Ike cerita katanya sejak kemarin Sandra nggak bisa dihubungi,"
Ucap Azura sendu.

Lifia. "Maafkan aku Azura, karena aku Sandra terluka," исар

Azura menggelengkan kepalanya dan ia tidak ingin Lifia kepikiran. "Nggak apa-apa setiap pekerjaan tidak
ada yang selalu berjalan baik tanpa ada masalah, Lifia," Ucap Azura.

"Iya, tapi tetap saja aku merasa sangat bersalah dengan Sandra, untung saja saat ini Sandra
diselamatkan Dokter Marco temannya Mas Defran," ucap Lifia.

"Alhamdulilah, apa? Tunggu? Siapa?" Tanya Azura.

"Jangan bilang yang nyelamatin Sandra itu Marco Laksamana Dewandaru?" Tanya Azura.

"Iya temannya Mas Defran kan Marco hanya Dokter Marco Laksamana Dewandaru dan sekarang Mas
Marco yang merawat Sandra," ucap Lifia.

Azura menghela napasnya jangan sampai Sandra menjadi korban Marco dan akhirnya jatuh cinta dengan
Marco. Sebagai temannya Sandra Azura merasa kasihan jika temanya itu jatuh cinta pada Playboy yang
sangat sering memberikan perempuan harapan, lalu ketika perempuan itu jatuh cinta sepenuhnya
padanya, ia akan menjawab jika ia tidak mencintainya. "Mas Marco itu keluargaku, tapi tetap saja aku
waspada karena dia sangat mudah membuat perempuan jatuh cinta, kalau Sandra sampai jatuh cinta
sama dia dan patah hati kan kasihan banget," ucap Azura.

"Jadi gimana? Kita jenguk Sandra dan tanyakan dimana dia! Ponselnya sekarang itu tidak aktif makanya
aku masih cemas walaupun kata Mas Defran dia sudah

4/6

Was-was
tidak apa-apa," ucap Lifia.

"Aku akan menghubungi Mas Marco Lifi, hmmm...itu sepertinya sudah ada yang menjemput kamu,"
ucap Azura melihat sosok Bodyguard Lifia yang melangkahkan kakinya mendekati mereka.

Lifia melihat kearah Bodyguard yang mendekatinya.

"Bapak telah menunggu dimobil Bu!" ucapnya.

Azura tersenyum melihat Lifia menganggukkan

kepalanya menerima informasi tentang Bapak yang menjemputnya.

"Kayaknya sebentar lagi akan ada berita membahagiakan tentang hubungan kamu dan Mas Defran,"
bisik Azura.

"Nggak ada kok, Mas Defran itu nganggep aku adiknya Azura, sebenarnya aku bersyukur banget
dianggap adik

5/6

Was-was
sama dia, tapi namanya juga manusia pada akhirnya meminta lebih, aku lebih senang kalau dia
menggagap aku wanitanya," lirih Lifia.

"Setidaknya sekarang dia perhatian sama kamu Lifa, sayang..."ucap Azura membuat Lifia tersenyum dan
ia setuju dengan ucapan Sandra karena Lifia memperhatikannya.

"Ya sudah aku balik dulu Azura, nanti kalau kamu atau aku mendapatkan informasi Sandra, kita saling
hubungin ya!" Pinta Azura.

"Oke," ucap Lifia.

Azura segera pamit pulang dan tadi ia datang kemari bersama Ilham suaminya yang memang selalu
berusaha menemani Azura. Lifia sangat bersyukur karena Azura akhirnya telah menemukan cintanya
dan masalalu buruk mengenai gagalnya acara pertunangannya saat itu, akhirnya berbuah manis dengan
ia yang menikahi seorang Ilham. Lifia segera melangkahkan kakinya menuju mobil Defran, diikuti lima
orang Bodyguard yang berada dibelakang Lifia dan ia tidak menyadari jika saat ini ada sepasang mata
yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.

Komentar lainnya

Berikan Suara

22

6/6

Pelukan hangat penghilang cemas.


Pelukan hangat penghilang cemas
Lifia mempercepat langkah kakinya menuju mobil yang saat ini ada Defran didalamnya, namun Moreno
memanggil Lifia membuat Lifia menghentikan langkah kakinya. la melihat kearah Moreno yang saat ini
mendekatinya dan Moreno memberikan sesuatu kepada Lifia yaitu sebuah paperbag. "Untuk kamu,
selamat ulang tahun Lifia dan hari ini saya hanya mau bilang sama kamu, kalau saya mencintai kamu,"
ucap Moreno membuat Lifia terkejut mendapatkan pernyataan cinta dari Moreno.

"Tapi saya..." ucap Lifia bingung. la ingin menolaknya dengan tegas, tapi ia tak ingin menyakiti Moreno
apalagi ia saat ini sedang menghadapi masalah yang membuatnya sangat pusing.

"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang! saya lega karena telah menyatakan perasaan saya sama
kamu. Saya hanya ingin kamu tahu kalau saya mencintai kamu Lifia," ucap Moreno. Lifa hanya diam dan
ia mengerjapkan kedua matanya, karena ia sangat terkejut dengan pernyataan cinta Moreno yang
begitu mendadak seperti ini.

Seorang Bodyguard menatap Lifia dengan tatapan dingin. "Maaf Bu, Bapak telah menunggu ibu didalam
mobil!" Ucapnya.

"Saya permisi dulu Moreno!" Ucap Lifia membuat Moreno mengeraskan rahangnya, siapa Bapak yang
dimaksud Bodyguard Lifia. la harus segera mencari tahu siapa yang saat ini sedang mendekati Lifia selain
dirinya. Lifia melangkahkan kakinya menjauh dari Moreno dan ia segera menuju mobil Defran. Lifia
masuk kedalam mobil dan ia melihat Defran yang saat ini sedang duduk santai dengan pakaian
santainya.

1/7

Pelukan hangat penghilan...


"Mas sudah pulang ke Apartemen?" Tanya Lifia dan ia mengulurkan tangannya mencium punggung
tangan Defran.

"Tidak," ucap Defran.


"Kenapa sudah ganti baju Mas?" Tanya Lifia dan tatapan Defran tertuju pada paperbag yang saat ini ada
ditangan Lifia.

"Ada baju ganti di mobil saya, itu dari siapa?" Tanya Defran melihat paperbag itu.

"Dari Moreno," ucap Lifia. "Hmmm...dia tadi juga bilang..." ucap Lifia ragu mengatakannya.

"Dia bilang apa?" Tanya Defran dingin.

"Dia bilang dia mencintaiku," ucap Lifia dan ia menungguh reaksi dari Defran, namun Defran terlihat
tidak terpengaruh dengan ucapannya.

Defran memerintahkan supir untuk melajukan mobilnya. Biasanya Defran lebih nyaman mengendarai
mobilnya sendiri dari pada meminta supir untuk mengedari mobilnya. "Ini mobil siapa, Mas?" Tanya
Lifia.

"Punya Mas Serkan," ucap Defran. Biasanya Defran tidak memakai mobil alphard seperti saat ini dan ia
memilih memakai rubicon miliknya.

"Mas hmmm...kita kemana?" Tanya Lifia.

"Kamu mau kemana?" Tanya Defran.

Lifia. "Aku tadinya mau ketemu Sandra, Mas," ucap

"Untuk saat ini Marco meminta kita jangan dulu bertemu Sandra!" Ucap Defran.

"Loh kenapa, Mas?" Tanya Lifia penasaran. "Sandra ponselnya juga nggak bisa dihubungi Mas, aku ingin
tahu keadaan Sandra," lirih Lifia.

"Percaya saja pada Marco, dia bilang Sandra tidak

2/7

Pelukan hangat penghilan...


apa-apa," ucap Defran berusaha menyakinkan Lifia, jika Sandra benar-benar tidak apa-apa saat ini.

"Kalau dia tidak apa-apa, kenapa Mas Marco tidak memperbolehkan kita bertemu dengannya?" ucap
Lifia kesal.

"Ada hal pribadi diantara Sandra dan Marco, yang belum bisa Marco ceritakan," ucap Defran.

"Apa Mas? Soalnya Mas kata Azura, Mas Marco itu Playboy nanti kalau Sandra diapa-apain bagaimana?"
Tanya Lifia khawatir.

"Paling Marco nikahi dia, lagian mereka itu teman lama dan selama! ini Marco memang mencari Larisa,"
ucap Defran.
"Larisa?" Tanya Lifia bingung.

"Larisa Sandara Davis, itu nama Sandra," ucap Defran yang telah mendapatkan informasi mengenai
Sandra dengan cepat, bahkan ia juga telah mengetahui kehadiran Dikta putra kandung Marco, yang saat
ini belum diketahui Marco keberadaannya.

Defran sengaja membiarkan Marco mencari tahu sendiri atau Sandra yang mengatakan semuanya
kepada Marco dan seperti keinginan Marco, ia dilarang ikut campur masalah pribadi Marco dan Sandra.
"Ada yang aneh dilokasi syuting?" Tanya Defran mengalihkan pembicaraan membuat Lifia menghela
napasnya.

"Ada Mas," ucap Lifia dan ia menatap Defran dengan sendu. "Tadi dilokasi syuti g mereka merayakan
ulang tahunku Mas, termasuk Azura yang membawakan kue tart untukku tapi..." ucap Lifia terhenti dan
ia menghembuskan napasnya dan ia mencoba untuk terlihat tidak ketakutan saat ingin mengatakan hal
ini kepada Defran. Defran mengerutkan dahinya karena penasaran dan ia seolah menunggu apa yang
ingin Lifia katakan padanya.

"Ada apa?" Tanya Defran dan ia menatap Lifia dengan

3/7

Pelukan hangat penghilan...


tatapan menyelidik.

"Begini Mas...tadi itu salah satu kru juga memberikan kue tart untuk aku, tapi kuenya itu mirip sama kue
penguntit itu Mas, itu artinya dia juga tahu keberadaan aku dimana Mas," ucap Lifia dan tubuhnya
bergetar hebat membuat Defran menghela napasnya.

"Kemari!" Ucap Defran meminta Lifia untuk menggeser tubuhnya, agar mendekatinya. Tanpa kata Lifia
memeluk Defran dengan erat dan ia memang sejak tadi membutuhkan pelukan Defran karena
sejujurnya ia sangat ketakutan.

"Aku takut banget tadi Mas, tapi aku menahan diri biar nggak ketakutan gitu, bisa saja penguntit itu ada
di sekitarku tadi Mas dan dia senang Mas kalau melihat aku itu menderita. Kayaknya penguntit itu rada
gila, Mas," lirih Lifia. Defran membiarkan Lifia memeluknya dengan erat dan ia menepuk-nepuk
punggung Lifia dengan pelan. "Aku tadi hampir nangis disana, Mas," lirih Lifia lagi.

Defran bisa melihat dengan jelas jika saat ini Lifia benar-benar ketakutan dan ia memang sangat
membutuhkan perlindungannya. Apalagi orang gila itu memang harus segera ditangkap dan ia saat ini
sedang mengumpulkan bukti untuk memberatkanna karena bukti sebelumnya di Apartemen lama Lifia
telah lenyap.

"Jadi kita ke Rumah Ibu saja Mas sebentar dan jangan lama-lama nanti Ibu dan Ayah kena masalah. Tapi
Mas, apa kita nggak usah kesana...Mas?" Tanya Lifia ragu.
Defran melihat kebelakang dan benar saja jika saat ini ada yang sedang mengikuti Lifia, ia mengambil
ponselnya dan menghubungi seseorang. "Kalau kamu nyaman saya peluk, peluk saja!" Ucap Defran
meminta Lifia mengeratkan pelukkannya.

"Mas nggak marah?" Tanya Lifia takjub dengan ucapan Defran.

4/7

Pelukan hangat penghilan...


"Enggak," ucap Defran membuat Lifia mengeratkan pelukkannya.

"Halo, kalian cegat mobil berwarna putih yang berada di belakang mobil kalian dengan jarak dua mobil!"
Ucap Defran dan ia mematikan ponselnya.

Lifia ingin menolehkan kepalanya ke belakang namun Defran melarangnya. "Kamu tidak perlu khawatir!"
Ucap Defran dan ia menatap mata Lifia dengan tatapan

dinginnya.

"Tapi aku takut Mas..." lirih Lifia.

"Tidak ada yang perlu kamu takutkan!" ucap Defran.

"Rekan kerja saya juga sedang bertindak bukan hanya Bodyguard yang menjaga kamu," jelas Defran.

Lifia. "Aku sepertinya harus istirahat syuting ya Mas?" lirih

5/7

Pelukan hangat penghilan...


"Tidak usah syuting juga tidak apa-apa!" Ucap Defran membuat Lifia menbuka mulutnya.

"Jangan Mas! Aku masih ingin bermain beberapa film, tadi Pak Guntur juga bilang mau aku bermain film
baru dan dia itu sebagai investornya Mas," ucap Lifia.

"Tidak perlu, mulai sekarang film yang kamu mainkan harus sesuai keputusan Ike dan saya, saya akan
ikut campur juga dalam mengambil keputusan," ucap Defran membuat Lifia terkejut.

"Mas juga?" Tanya Lifia bingung.

"Iya agar kamu tidak perlu terlibat dengan orang-orang aneh," ucap Defran.

Defran menolehkan kepalanya kebelakang dan mobil yang mengikutinya tadi, sudah tidak terlihat lagi
saat ini. Lifia merasa sangat nyaman berada dipelukkan Defran dan dulu ia sering kali membayangkan
jika ia ingin sekali menjadi Salsa, karena setiap keluarga mereka berlibur bersama Salsa sangat manja
kepada Defran. Salsa sangat suka memeluk Defran dengan erat seperti ini ketika mereka menempuh
perjalanan jauh. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Kediaman orang tua Lifia namun itu
semua membuat Lifia sangat cemas saat ini.

"Mas..." panggil Lifia. Defran melihat wajah cantik Lifia, membuat Lifia menatap sendu Defran "Kalau
penjahat itu mengikuti kita gimana Mas? mereka saja sudah menjahati Sandra dan aku nggak mau ibu
dan Ayah juga..." lirih Lifia.

"Serkan tidak akan membiarkan ibu dan ayah mertuanya diganggu siapapun!" Ucap Defran membuat
Lifia melepaskan pelukkannya dan ia menatap Defran dengan tatapan memohon.

"Kapan semua ini selesai Mas, aku ketakutan dan aku sangat tidak nyaman Mas, aku cemas dan aku
selalu merasa was-was," ucap Lifia dan ia menteskan air matanya

6/7

Pelukan hangat penghilan...


karena sejujurnya ia sangat-sangat ketakutan saat ini.

"Kalau aku ditinggal sama kamu Mas, aku nggak akan bisa ditidur Mas, semua ini membuat aku trauma
dan lelah," ucap Lifia.

"Saya hanya tinggal mengumpulkan banyak bukti, agar dia sangat lama berada didalam penjara," ucap
Defran seolah telah mengetahui siapa dalang penguntit itu.

16

Komentar lainnya

Berikan Suara

7/7

Jasa dia.
Jasa dia
Lifia dan Defran turun dari mobil, lalu keduanya segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kediaman
Nasir dan Murni. Lifia mengetuk pintu rumah dan sosok Murni terlihat dari balik pintu, ia tersenyum
senang melihat Lifia menepati janjinya untuk pulang. "Assalamuaikum, Bu," ucap Lifia.

"Waalikumsalam," ucap Murni. Lifa mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Murni, Murni
menarik Lifia kedalam pelukannya dengan haru, tak terasa keponakannya ini telah dewasa dan semakin
hari Lifia sangat mirip dengan Almarhumah adik kandungnya yang sangat cantik itu. Murni tersenyum
saat mendapati Defran ternyata yang mengantar Lifia pulang, "Ada nak Defran, masuk nak!" Ucap
Murni.
Defran mengulurkan tangannya dan ia mencium punggung tangan Murni, lalu ia melangkahkan kakinya
masuk kedalam kediaman ini mengikuti Lifia. Murni terlihat sangat bahagia, baginya Defran adalah laki-
laki yang terbaik yang bisa mmggantikan ia dan suaminya menjaga Lifia. Apalagi Liana sangat menyangi
Lifia, Liana adalah sosok ibu mertua yang selalu menyayangi menantunya seperti putrinya sendiri dan
jika Lifia mendapatkan mertua seperti itu, matipun Murni menyusul mendiang adiknya kelak ia akan
sangat tenang.

"Ibu membuatkan kamu makanan, kalau kue pasti kamu sudah banyak mendapatkan kue," ucap Murni.
"Selamat ulang tahun ya sayangnya Ibu," ucap Murni membuat Lifia kembali memeluk Murni dengan
erat.

Lifia. "Iya Bu terimkasih banyak, Lifi sayang ibu," ucap

1/6

Jasa dia
Murni melepaskan pelukannya dan ia menarik tangan Lifia agar mengikutinya menuju ruang makan.

"Kejutan..." teriak Kana dan Kiran membuat Lifia membuka mulutnya. la sangat terharu melihat kedua
kakak perempuannya ini telah hadir lebih dulu darinya.

Keduanya memegang kue ulang tahun untuknya dan terlihat diruang makan saat ini Serkan dan Subekti
sedang duduk santai dikursi makan.

"Katanya nggak ada kue, itu kuenya ada dua," ucap Lifia membuat Murni tersenyum melihat tingkah
Lifia yang sangat senang diberikan kejutan kecil oleh para saudari perempuannya ini.

"Ibu yang nggak buat kue untuk kamu Dek, ibu buatin tumpeng itu...ada sambal hati kentang kesukaan
kamu," ucap Kana membuat Lifia segera mendekati tumpeng itu.

"Wah...enak banget..." ucap Lifia.

"Hey Salim dulu sama Ayah dan Mas Serkan! Kue juga belum kamu tiup!" Protes Kiran membuat Lifia
terkekeh. la mendekati Subekti lalu mencium punggung tangan Subekti dan ia juga mencium punggung
tangan Serkan. Defran duduk disamping Serkan,

sedangkan Lifia saat ini sedang bernyanyi selamat ulang tahun bersama kedua saudari perempuannya
dengan riang. Lifia meniup lilin dan kemudian memeluk satu persatu saudari perempuannya.

"Udah...Ayah lapar ini!" Ucap Subekti membuat mereka bertiga segera bergabung duduk dikursi makan.

Lifia melihat kursi yang ada disamping Kiran kosong membuatnya menyunggingkan senyumannya.
"Pacar Mbak mana?" Tanya Lifia.

"Nggak tahu," ucap Kiran.


2/6

Jasa dia
"Kayaknya lagi berantem, Ayah telepon Nak Handaru katanya Kiran tidak memberitahu dia kalau ada
cara ulang tahun kamu di Rumah," uap Subekti membuat Kiran menghela napasnya.

"Dia itu sibuk Ayah makanya nggak usah diajak!" Ucap Kiran.

"Kamu ini gimana hubungan kamu mau lancar sama Handaru, kalau dikit-dikit kamu ngambek Kiran.
Ayah malu ah...punya anak ambekan," goda Subekti membuat Kana dan Lifia terkekeh apalagi saat ini
Kiran terlihat sangat kesal saat ini.

"Ayah itu jangan percaya banget sama Mas Handaru, dia itu mungkin sekarang lagi di luar kota," ucap
Kiran.

"Coba saya telepon dia dimana!" Ucap Defran membuka suaranya membuat Kiran melototkan matanya.

"Wah parah ini Mas Defran, Mas jangan ikut campur urusan pri..." ucap Kiran segera dipotong Lifia yang
nggak rela Defran disalahkan oleh Kiran.

"Urusan asmara maksudnya ya Mbak? Mas Def hanya mau nanya dimana Mas Handaru sahabatnya,
nggak ada tuh kaitannya dengan hubungan asmara Mbak dengan Mas Handaru!" Ucap Lifia.

Defran menaikkan sebelah alisnya dan ia berhasil menghubungi Handaru. "Dimana?" Tanya Defran.

"Didepan," ucap Handaru.

"Didepan Yah...Handaru baru saja sampai!" Ucap Defran sambil mematikan sambungan teleponnya
bersama Handaru, membuat Kiran menyebikkan bibirnya dan Murni segera membukakan pintu
rumahnya.

Tak butuh waktu lama, sosok Handaru terlihat bersama Murni sedang mendekati mereka. la duduk

3/6

Jasa dia
disamping Kiran dan seperti biasa, tangannya yang jahil akan mengelus kepala Kiran dengan sayang.
"Biasa dia ambekan, jadi pacarnya ini nggak diberitahu kalau ada acara keluarga," ucap Handaru
membuat Kiran menatap Handaru dengan kesal. Sejak kapan ia ambekan dan kemarin ini Handaru
memang sibuk, ia juga tidak tahu kemana Handaru karena ia malas untuk menghubungi Handaru.

"Kenapa kalian berdua ini nggak segera menikah saja!" Ucap Serkan membuka suaranya.

"Siapa maksud Mas yang menikah?" Tanya Kana kepada suaminya.


"Ya mereka, Handaru dan Kiran...dari pada pacaran lebih baik langsung menikah saja kayak kita!" Ucap
Serkan membuat Kana tersenyum dan ia setuju dengan ucapan suaminya ini. Kiran melototkan matanya
dan ia

4/6

Jasa dia
menggelengkan kepalanya, menikahi sekarang dengan Handaru hanya akan menambah masalah
baginya, apalagi Handaru selalu membuatnya kesal.

"Rencananya memang begitu, tapi Kiran belum mau menikah, katanya masih mau pacaran dulu ala-ala
ABG," ucap Handaru. Kiran mengepalkan kedua tangannya, kapan ia mengatakan jika ia ingin pacaran
ala-ala ABG bersama Handaru, memikirkan tingkah ajaib Handaru saja, membuat kepalanya terasa ingin
pecah karena ia benar-benar sangat malu setiap menghadapi sosok Handaru Laksmana Dewandaru.
"Kalau Ibu dan Ayah izinkan, Handaru mau membawa Papi dan Mami Handaru bertemu Ibu dan Ayah!"
Ucap Handaru sambil tersenyum. Sebenarnya ia ingin langsung menikahi Kiran, apalagi semakin hari
saingannya mendapatkan Kiran semakin banyak dan jika ia lengah sedikit saja, Kiran bisa direbut
darinya.

"Nggak jangan dulu! Apaan kamu Mas...baru pacaran sebentar kamu sudah mau ngajakin keluarga kita
bertemu!" Ucap Kiran kesal.

"Loh...dari pada kita berbuat dosa nyicil terus lebih baik kita menikah!" Ucap Handaru membuat Murni
menahan tawanya melihat anak gadisnya yang pemberani itu, terlihat tidak berkutik menghadapi
Handaru Laksamana Dewandaru. "Kamu diajak ke Rumah orang tua saya banyak sekali alasannya," ucap
Handaru.

"Ya sudah Kiran minggu ini kamu ke Rumah orang tua Handaru Nak, jangan begitu sama calon mertua
yang pengen ketemu kamu!" Ucap Subekti dan ia menatap Kiran dengan tatapan seriusnya. "Menikah
itu ibadah, niat baik jangan ditunda!" Ucap Subekti.

"Tuh dengar nggak Defran!" Ucap Kana membuat Lifia menatap kearah Defran.

"Ucapan Ayah benar, Mbak Kiran," ucap Defran.

5/6

Jasa dia
"Mas Def, kamu juga...astaga kamu cepat nikahi Lifia jangan jadikan dia pembantu kamu!" Ucap Kiran
kesal membuat semua mata tertuju kepada Defran, Lifia membuka mulutnya dan ia menggelengkan
kepalanya.

"Nggak kayak gitu, aku itu suka rela bantuin Mas Defran karena dia sudah banyak banget nolongin aku,
jasanya itu gede banget, kata Ibu dan Ayah kan aku harus bersikap baik sama Mas Defran makanya aku
bantuin Mas Defran beres-beres Apartemennya," ucap Lifia membuat Defran mengangkat sudut
bibirnya mendengar ucapan Lifia yang terlihat membelanya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

26

6/6

Dia si Playboy.
Dia si Playboy
Sosok wanita cantik itu terlelap diranjang besar yang cukup mewah dan empuk saat ini dan ia menang
telah lama tertidur pulas. Tubuhnya terasa sangat sakit dan ia merasakan nyeri hebat dilengannya,
matanya saat ini juga terasa sangat berat dan ia mencoba membuka matanya perlahan. Perlahan-lahan
matanya berhasil ia bukan dan ia melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya,
ya...kamar ini tampak sangat asing baginya. la menghela napasnya dan rasa takut saat ini ada di
benaknya. la ingat terakhir kali ia ditolong oleh Marco, laki-laki b******k yang dulu ia anggap sebagai
kakaknya itu, telah membuat hidupnya hancur. Laki-laki Playboy yang mengandalkan uang dan
ketampanannya dalam memikat banyak perempuan puan telah merenggut sesuatu yang sangat
berharga bagi dirinya.

Laki-laki yang dulu sering mengajaknya berbincang dan bahkan mereka tertawa bersama mendengar
ceritanya yang menceritakan tentang hal konyol, yang membuat mereka merasa dekat satu sama lainya.
Laki-laki yang merenggut kesuciannya dengan alasan ingin membantunya dari pengaruh obat. Laki-laki
yang membuatnya berhenti kuliah, karena hamil dan menjadi anak jahat yang telah mengecewakan
kedua orang tuanya. Dibuang dan tidak dianggap oleh keluarga besarnya, seorang Davis yang tidak
dianggap lagi setelah membuat malu keluarga besarnya karena kehamilannya.

Sandra seakan telah lupa dengan namanya yang dulu yaitu Larisa Sandara Davis, yang menjadi salah satu
murid kebanggaan disetiap sekolahnya. Larisa...sosok cantik yang sangat pintar itu berhasil
mendapatkan beasiswa di

1/6

Dia si Playboy
Universitas diluar negeri karena kemampuannya dibidang akademik. la anak yang sangat polos, namun
ia juga sangat pemberani. Sandra turun dari ranjang dan ia mendekati pintu keluar kamar ini, namun
sebelum ia berhasil menarik handel pintu, pintu kamar ini tiba-tiba terbuka.
Sosok laki-laki tampan itu saat ini ada dihadapannya membuatnya, memundurkan langkah kakinya. la
sangat murka dan ia mendorong laki-laki yang bernama Marco Laksamana Dewandaru itu agar menjauh
darinya.

"Jauh...jauh... jangan dekat!" Teriak Sandra.

"Tidak bisa Larisa, Mas kangen sama kamu!" Ucap Marco dan ia ingin mendekati Sandra. "Enam tahun
kamu menghilang begitu saja, kamu kenapa pergi dari Mas Larisa! Mas sudah bilang akan bertanggung
jawab sama kamu!" Ucap Marco.

"Tanggung jawab apa? Nggak perlu!" Teriak Sandra dan ia menatap Marco dengan tajam dan saat ia
ingin mengangkat tangannya ingin memukul Marco, ia merasa sangat kesakitan. "Aw..." ucap Sandra.

Marco menghela napasnya dan ia segera menggendong Sandra membuat Sandra tekejut. "Diam...!"
Ucap Marco dingin. la mendudukkan Sandra disofa dan ia menatap Sandra dengan dalam.

"Tidak usah kekanak-kanakan dengan kabur sesuka hati kamu!" ucap Marco dan ia tidak suka dibantah
saat ini.

Tatapannya bahkan sangat tajam membuat Sandra menghela napasnya. "Ya saya mengaku saya salah
tapi saya ingin bertanggung jawab, saya minta kamu tunggu di apartemen saya, tapi apa yang kamu
lakukan, kamu pergi menghilang..." ucap Marco.

"Aku nggak mau sama Playboy gila kayak kamu," ucap Sandra kesal. la paling benci dengan laki-laki yang
suka mempermainkan perempuan seperti Marco. "Dan saya bukan perempuan murahan yang sangat
suka kamu rayu,"

2/6

Dia si Playboy
ucap Sandra dingin.

"Siapa bilang kamu perempuan murahan, nggak ada yang bilang begitu, saya satu-satunya laki-laki yang
tidur dengan kamu," ucap Marco.

"Siapa bilang, saya sekarang sudah punya laki-laki lain yang menemani saya tidur bukan hanya kamu,"
ucap Sandra dingin.

"Siapa? Pertemukan saya dengan dia sekarang!" Ucap Marco.

"Untuk apa? Nggak perlu!" Teriak Sandra.

"Perlu! kenapa bilang tidak perlu? Kalau dia laki-laki yang kamu maksud itu suami kamu, maka kalian
harus bercerai, pernikahan kalian tidak sah karena saya yang harusnya jadi suami kamu!" Ucap Marco.
"Jangan gila Marco dari mana kamu bisa mengatakan kalau kamu suami saya? Kamu bukan suami saya!"
Teriak Sandra.

"Apa dia tahu kalau saya ini laki-laki pertamanya kamu, saya yang mengambil keprrrawanna kamu, saya
akan bilang dengan dia kalau tidak sekali dua kali kita berhubungan," ucap Marco.

"Jangan fitnah, kalau bukan pengaruh obat itu aku juga nggak akana melakukan itu sama kamu!" Ucap
Sandra emosi.

"Oo...berbeda dengan saya, kalau waktu itu karena pengaruh obat, sekarang kalau kamu mau saya siap
melakukannya lagi dan lagi sama kamu tanpa pengaruh obat!" Ucap Marco membuat Sandra sangat
murka.

"Jangan gila...jangan ganggu aku lagi!" Pinta Sandra.

"Tidak bisa, saya akan selalu mengganggu kamu. Saya bahkan siap merusak rumah tangga kamu, jika itu
diperlukan," ucap Marco.

3/6

Dia si Playboy
"Dassarr Iblisss..." teriak Sandra.

"Ya...saya memang Ibllisss makanya saya sangat suka kamu rayu saat itu, apa perlu kamu diberikan obat
lagi dan nanti memohon kepada saya agar saya menyentuh kamu. Mas...tolong saya..." ucap Marco
sinis. Sandra merasa sangat kesal dan ia seakan kehilangan tenaganya saat ini. Wajahnya terlihat sangat
pucat membuat Marco menghela napasnya. "Jangan berdebat lagi! Kita damai saja, saya

ingin bertemu laki-laki yang kamu maksud!" Ucap Marco menatap Sandra dengan tatapan dalam.

"Dia sedang tidak ada di Indonesia," bohong Sandra.

"Kalau begitu sampai dia pulang ke Indonesia, kamu tinggal disini saja. Syukur-syukur nanti kalau dia
mengira kamu berselingkuh dengan saya dan akhirnya dia menceraikan kamu!" Ucap Marco membuat
Sandra sangat

4/6

Dia si Playboy
terkejut dengan ucapan Marco. "Salahkan kamu yang membuat mimpi indah saya itu hanya kamu Larisa,
tinggal bersama saya sampai saya yakin laki-laki itu jauh lebih baik dari saya!" Pinta Marco.

"Tidak bisa, kamu jangan gila saya harus pulang, saya punya pekerjaan!" Ucap Sandra.

"Itu bukan alasan baby... kamu tidak harus bekerja kalau tinggal bersama saya!" Ucap Marco.
lagi. "Aku tidak mau...aku harus pulang!" Ucap Sandra

"Saya tinggal bilang sama Defran kalau kamu berhenti

jadi asistennya Lifia atau apa perlu saya mendatangi Azura? Azura itu keluarga saya dan apa kamu lupa
nama lelaki mu ini Larisa, Marco Laksamana Dewandaru," ucap Marco dan ia tersenyum penuh
kemenangan karena Ike atasannya Sandra merupakan istri dari Albiseka Dewandaru pemilik perusahaan
tempat ia bekerja. Albi adalah kakak sepupu Marco dan itu artinya Sandra akan sangat mudah dipecat
dari perusahaannya.

"Aku punya anak dan aku tidak bisa meninggalkannya bersama pengasuhnya," ucap Sandra. la juga tidak
ingin terjadi sesuatu kepada Dikta dan bukannya Dikta juga harus tahu siapa Ayahnya ini. Si brengsesk
yang seharusnya tidak pantas dipanggil Papa oleh Dikta. "Aku sudah menikah dan punya anak," ucap
Sandra lagi.

"Cerai saja, saya akan menerima anak kamu sebagai anak saya, Larisa!" Ucap Marco. "Sebutkan
alamatnya saya akan meminta asisten saya menjemputnya!" Ucap Marco.

"Tidak, dia tidak akan mau pergi dengan siapapun kecuali saya Mamanya dan pengasuhnya," ucap
Sandra.

"Bagaimana kalau Papa tirinya ini yang menjemputnya, kalau saya berhasil membawanya pulang

5/6

Dia si Playboy
kemari besama saya tanpa paksaan, apa yang akan kamu berikan kepada saya Larisa? Pelukkan hangat
atau ucapan terimakasih dengan tidur dengan saya lagi?" Goda Marco.

"Anjjitnhgg..." umpat Sandra membuat Marco tertawa terbahak-bahak. "Hahahaz..." tawa Marco. Ya...ia
merasa gila mencari Larisa selama ini dan Larisa ingin pergi darinya...ohhh...ia tidak akan membiarkan
itu terjadi.

"Kalau kamu tidak mau memberikan alamat dimana anak kamu itu tinggal, jangan harap saya
mengizinkan kamu keluar dari rumah ini!" Ucap Marco menatap Sandra dengan dingin.

Komentar lainnya

Berikan Suara

26

6/6
Dia yang tidak pantas.
Dia yang tidak pantas
Marco yang kesal dengan sikap Sandra memutuskan mengunci Sandra didalam kamar dan ia
melangkahkan kakinya keluar dari kamar, ia memerintahkan maid untuk mengantarkan makanan
kepada Sandra lalu memerintahkan dua orang satpam untuk menjaga pintu kamar Sandra. la sangat
murka mengetahui Sandra telah menikah dan ia saat ini menghubungi Defran dan ingin membicarakan
sesuatu dengan Defran.

"Assalamualikum," ucap Marco.

"Waalikumsalam," ucap Defran.

"Dimana?" Tanya Marco.

"Di rumah mertuanya Mas Serkan," ucap Defran.

Marco menghela napasnya, rumah persembunyiannya sialnya berada dalam atau komplek dengan
kediaman mertua Serkan Satyas itu artinya saat ini ia bahkan bisa bertemu dengan Defran, hanya
dengan berjalan kaki. 'Sial saya pikir rumah ini sudah jauh sekali dari mereka semua, tenyata rumah ini
dekat komplek rumah calon kakak ipar,' Batin Marco kesal. Jika Handaru menikah dengan Kiran, maka ia
akan menjadi tetangga mertuanya Handaru kakak sulungnya itu.

"Aku kesana sekarang," ucap Marco.

"Oke," ucap Defran.

Marco memutuskan sambungan teleponnya dan ia memutuskan segera ke Kediaman calon Mertua
Handaru. la ingin menceritakan apa yang terjadi pada dirinya hanya dengan Defran, karena jika Handaru
tahu masalahnya, ia akan mendapatkan masalah yang sangat besar. Apalagi Abib Laksamana Dewandaru
Papinya, pasti akan murka

1/7

Dia yang tidak pantas


padanya dan Handaru tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti padanya jika masalahnya
ini terbongkar.

Marco memutuskan untuk membawa mobilnya agar tidak ada yang curiga, jika rumahnya berada
disekitar komplek perumahan ini. la masuk kedalam mobilnya dan sengaja berkeliling komplek mencari
jalan lain biar terlihat jauh dan akhirnya, ia berhenti tepat didepan Rumah sederhana milik Subekti dan
Murni orang tua Kana, Kiran dan Lifia. la melangkahkan kakinya turun dari mobilnya dan ia melihat sosok
Defran sedang berbincang dengan Serkan dan Handaru.
Marco mendekati Subekti dan Murini, lalu ia mencium punggung tangan mereka setelah ia
mengucapkan salam kepada mereka. "Saya Marco Bu, adik kandung Handaru," ucap Marco
memperkenalkan dirinya membuat Kana dan Lifia tersenyum, sedangkan Kiran menghela napasnya.

Belum selesai kesalnya kepada Kakaknya, sekarang adiknya pun telah berani datang ke rumah orang
tuanya.

"Wah makan dulu Marco, ayo masuk kedalam!" Ucap Subekti.

"Nanti saja Pak, saya mau bertemu mereka dulu sebentar!" Ucap Marco menujuk Defran, Handaru dan
Serkan yang sedang duduk santai di Taman.

"Tunggu sebentar, aku mau tanya keadaan Sandra Mas Marco!" Ucap Lifia.

"Nanti ya saya jelasin keadaannya, soalnya saya mau kesana dulu!" Ucap Marco tersenyum.

"Oke," ucap Lifia menghela napasnya.

Marco melangkahkan kakinya mendekati Handaru, Defran dan Serkan, ketiganya terlihat sedang
berbincang. Apalagi Defran terlihat sangat kesal dan ekspresi wajahnya begitu dingin saat ini. "Mas
sangat lalai, diminta menjaga keluarga tapi apa yang telah Mas lakukan?" Tanya

2/7

Dia yang tidak pantas


Defran.

"Jadi kita bertemu hanya untuk mengungkapkan kekesalanmu, setelah kamu menelepon saya dengan
marah-marah?" Tanya Serkan dingin dan Defran menghela napasnya.

"Kamu hanya mengatakan sekilas Defran, kamu pikir saya akan mengingat semua apa yang kamu
katakan saat itu, kamu tidak secara langsung menyebutkan kalau saya harus benar-benar menjaga Lifia
bahkan mengawasinya seperti saya mengawasi tingkah Salsa dan Kila," ucap Serkan dingin. "Lifia
memang kerabat dekat kita dan dia adiknya Kana, tapi saya tidak bisa lancang ikut campur masalah dia
semuanya. Kamu pikir bagaimana tanggapan Lifia saat itu, kalau saya memerintahkan Bodyguard yang
kita pekerjakan untuk mengawasinya?" Tanya Serkan dingin.

"Tapi saya sudah meminta Mas untuk menjaganya," ucap Defran dingin.

"Menjaga hanya menjaga, jika terlihat mengawasi semua kegiatan dia apa jadinya," sinis Serkan. "Lagian
jika sudah begini, kamu selesaikan masalah ini segera dan Lifia akan aman, kamu itu terlalu pendendam
dan ingin membuat orang itu dipenjara dalam waktu lama, padahal sekarang pun kamu bisa
memenjarakannya dia jika kamu mau," ucap Serkan.

"Buktinya kurang memberatkan Mas, saya harus menjebaknya atau mendapatkan bukti lebih banyak
lagi!" Ucap Defran. "Biar saya yang mengendalikan perusahan keamanan kalau sekarang taring yang Mas
miliki mulai berkurang," sisni Defran membuat Serkan menatap dingin Defran. Serkan memang memiliki
saham di perusahaan keamanan yang dikelola oleh Januarta Sanjaya Satyas sahabatnya.

Handaru menghela napasnya dan ia mengerutkan

3/7

Dia yang tidak pantas


dahinya, ketika melihat sosok adiknya tiba-tiba berada disini. la ingin bertanya namun sekarang yang
lebih menarik yaitu melihat perdebatan diantara Serkan dan Defran. "Kamu ini memang menyebalkan,
kamu mau dihajar?" Tanya Serkan dingin. "Kamu introfeksi diri kalau marah Def, memangnya apa arti
Lifia bagi kamu sampai kamu semarah ini sama Mas?" Tanya Serkan dingin. "Kamu berusaha sangat
melindunginya dan terlihat kalau kamu marah saat ini karena dia dalam bahaya, kamu suka sama Lifia?"
ucap Serkan.

"Kalau itu sepertinya tidak perlu ditanyakan, Mas Serkan," ucap Handaru membuat Serkan menepuk
punggung Defran dengan keras seolah memperingatkan Defran.

"Jangan diluar batas, kalau kamu menginginkannya lindungi dia dan beri dia satus yang jelas! Ingat
hanya laki-laki b******k yang tidak bertanggung jawab pada wanitanya!" Ucap Serkan namun
tatapannya tertuju pada sosok Marco, membuat wajah Marco memerah.

"Ada apa ini, saya melihat ada sesuatu hal yang kalian sembunyikan dari saya?" Tanya Handaru.

"Tidak ada Mas, biasa Mas Serkan hanya emosi karena kesal sama adiknya ini!" Ucap Marco dan ia
menatap Defran agar tidak mengatakan apapun.

"Handaru lebih baik kita berbincang disana dan biarkan orang yang bermasalah ini mencoba berdiskusi
mengenai hidup mereka yang aneh!" Ucap Serkan membuat Defran mendelik kesal, sama halnya dengan
Marco yang sangat kesal dengan sosok Serkan yang bisa saja membocorkan rahasianya.

Handaru dan Serkan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah karena dari pada mendengar
pembicaraan Defran dan Marco, lebih baik ia membahas rencana liburan singkat mereka bersama
keluarga. Apalagi

4/7

Dia yang tidak pantas


Handaru saat ini sedang berusaha mengambil hati Subekti dan Murini, calon mertuanya itu. Saat ini
hanya tinggal Defran dan Marco yang sedang duduk santai. Defran menatap Marco dengan dingin,
membuat Marco mengehela napasnya.

"Def...sekarang masalahku itu sangat genting," ucap Marco mencoba menjelaskan permasalahan
dengan Defran.
"Segenting apa?" Tanya Defran dingin.

"Begini...asisten Lifia itu ternyata perempuan yang saya cari selama ini, Def. Dulu saya memang hanya
menganggapnya adik karena dia itu dulunya lucu sekali seperti Binar adiknya Elang, yang cantik itu Def,
tapi setelah tidur sama dia saya malah tidak bisa melupakan dia. Kalau mimpi itu ya...you know mimpi
apa kita biasanya ya..wajahnya dia itu Def. Kayak surga dunia sekali kalau

5/7

Dia yang tidak pantas


saya itu bisa sama dia Def, jadi saya akan mempertahankan Larisa apapun yang terjadi," jelas Marco.

"Jadi dia kamu amankan dimana? Tadi kamu telepon saya sepertinya kamu berada dekat dari sini," ucap
Defran.

"Lumayan jauh, tadi itu kebetulan saya lagi nongkrong ditempat kopi yang ada didekat sini karena gabut
makanya cepat sampainya Def, sekarang Larisa ada di rumah kami Def, rumah saya dan Larisa," ucap
Defran sengaja berbohong kepada Defran. "Def..." panggil Marco.

Defran saat ini sedang memikirkan hal lain dan ia telihat tidak fokus menanggapi curahan hati Marco.
"Def...dengerin dulu cerita sahabatmu ini, Def!" Kesal Marco.

"Apa lagi?" Tanya Defran membuat Marco menghela napasnya.

"Kata Larisa dia sudah punya anak dan menikah, saya berencana ingin membuat mereka cerai Def, laki-
laki itu tidak pantas untuk Larisa buktinya dia mentelantarkan Larisa hingga Larisa harus bekerja, Def,"
ucap Marco.

"Marco kamu sudah gila, kamu tidak mau menjaga nama baik Papimu, gila anak mentri merencanakan
merebut istri orang. Otak kamu ada dimana?" Tanya Defran kesal dengan tingkah sahabatnya ini.

"Def, Papi juga tidak berniat menjadi presiden jadi karirnya hanya disitu saja, tidak perlu memiliki nama
yang terlalu baik, lagian kasus saya ini hanya karena cinta Def, jadi paling saya dipecat jadi anaknya tapi
saya lebih memilih dipecat jadi anak Pak Mentri dari pada kehilangan dia. Calon istri manisku sekarang
telah berubah menjadi banteng Def, bawaanya marah saja makanya dia dikurung," ucap Marco
membuat Defran menghembuskan napasnya karena sahabatnya ini benar-benar telah gila.

6/7

Dia yang tidak pantas


"Besok temani aku membujuk anaknya Larisa agar ikut Papa tirinya ini Def!" Pinta Marco membuat
Defran mengepalkan tangannya dan tiba-tiba Defran memukul perut Marco.

"Aww...gila kamu Def..." teriak Marco kesal.


"Sekarang kamu itu hubungi Megan! Minta dia siapkan Bodyguard lagi!" Ucap Defran.

"Buat siapa lagi?" Tanya Marco.

"Buat kamu, jika nanti suami Larisa datang ingin membunuh kamu," ejek Defran membuat Marco
menatap Defran dengan kesal.

"Dia ayah anak itu, tidak pantas jadi suami Larisa karena dia yang bego itu tega menelantarkan anak dan
istrinya!" Ucap Marco kesal.

"Memang dia tidak pantas," ucap Defran menatap Marco dengan sinis dan Marco saat ini tersenyum
karena Defran menyetujui ucapannya. "Dasar bego," ucap Defran dingin.

33 Komentar lainnya

Berikan Suara

7/7

Dia tahu rahasiaku.


Dia tahu rahasiaku
Defran dan Lifia saat ini sedang dalam perjalanan menuju Apartemen. Lifia terlihat was-was karena ia
takut ada yang mengikutinya dan seperti yanga da difilm-film, mereka tiba-tiba disergap. Tokoh utama
laki-laki tiba-tiba ditembak oleh penjahat dan ia akan terluka parah, bahkan ada film yang sengaja
membuat tokoh laki-laki atau tokoh perempuannya mati. Memikirkan itu semua membuat bulu kuduk
Lifia meremang dan ia menghembuskan napas panjangnya. la melihat kearah Defran yang saat ini duduk
disampingnya dan ia menatap Defran dengan sendu.

Defran mengalihkan pandangannya menatap Lifia yang saat ini terlihat khawatir.

"Kamu kenapa?" Tanya Defran. Lifia mengedarkan pandangannya melihat kebelakang, kesamping dan
kedepan. "Nggak ada yang mengikuti kita kalau itu yang kamu khawatirkan," ucap Defran.

"Aku itu takut saja Mas, kalau ada yang ngikutin kita kayak di film-film Mas," lirih Lifia dan jantungnya
berdetak dengan kencang.

"Hayalan kamu itu ada-ada saja, kamu pikir orang itu sangatlah berbahaya seperti mafia dan saya tidak
bisa menghadapinya?" Tanya Defran sinis.

"Semua bisa terjadi Mas, aku saja terkejut sekali saat kejadian di hotel itu. Tiba-tiba saja hotel jadi kacau
karena ada teroris. Lagian dulu kamu pernah kena tembak Mas dan jantung aku rasanya mau copot
sampai aku pingsan," ucap Lifia membuat Defran mengangkat sebelah alisnya mengingat peristiwa itu.
Saat itu ia memang pernah terkena luka tembak dan Lifia pingsan mendengar berita itu. Bahkan
Maminya menceritakan kejadian itu kepadanya
1/7

Dia tahu rahasiaku


hingga membuatnya sangat terhibur ketika ia sedang dirawat di Rumah Sakit. Setelah itu Kelvin Wiyasa
sahabatnya selalu menggap Lifia istri Defran dan setiap bertemu Kelvin selalu menayakan kemana istri
Defran itu berada.

"Kenapa kamu pingsan?" Tanya Defran.

"Panik Mas, aku itu takut kamu kenapa-napa," ucap Lifia dan wajahnya memerah mengatakan hal ini
kepada Defran.

Dulu ketika Defran akan berangkat ke negara konflik bersama rekan kerjanya yang lain, Lifia mencoba
menyusul Defran ke Bandara yang saat itu akan berangkat bersama rekan kerjanya. Lifia hanya bisa
melihat Defran dari jauh bersama para keluarga rekan kerja Defran dan ia melambaikan tangannya
hingga air matanya menetes karena khawatir. Lifia menangis histeris seperti para istri lainnya yang
menatap kepergian suaminya, ia menutup wajahnya dengan masker dan kaca mata dengan rambut
palsunya agar ia tidak dikenali orang lain sebagai Lifia.

Namun semua orang menjadi tetarik ketika mendengar tangisannya yang menyebut ia tidak ingin
ditinggalkan oleh Defran. Lifia bahkan dengan lantang menyebut nama Defran hingga orang-orang
merasa Lifia sepertinya istri Defran Satyas. 'Sayang nggak bisa jauh sama Mas Def...hiks...hiks, tangis Lifia
saat itu.

"Mbak sayang," ucap Defran membuat Lifia menatap kearah Defran. "Mereka berspekulasi kalau saya
sudah menikah sirih dengan peremuan yang menangis terseduh-seduh ketakutan suaminya tidak pulang
lagi dari negara konflik," ucap Defran membuat wajah Lifia memerah. Lifia memperkenalkan dirinya
kepada salah satu istri rekan kerja Defran saat itu, kalau namanya selalu dipanggil Defran nama Mbak
sayang. "Penyamaran kamu sangat luar biasa dengan penampilan aneh kamu sebagai istri saya, kamu
bahkan meminta mereka

2/7

Dia tahu rahasiaku


menginformasikan kalau saya membawa perempuan lain ketika ada acara resmi, mereka harus
melaporkan kepada kamu semua perempuan yang ingin mendekati saya," ucap Defran membuat Lifia
sangat malu karena Defran ternyata mengetahui semua tingkah konyolnya selama ini.

"Kamu takut penguntit tapi kamu juga penguntit, lebih tepatnya kamu si Sayang istri simpanan saya,"
ucap Defran. "Kamu tidak takut kalau ada berita Lifia seorang artis ternyata menjadi penguntit dan
menipu orang-orang dengan mengatakan dia itu istri simpanan Defran yang belum diakui," ucap Defran
dingin.

"Aku bukan penguntit Mas," lirih Lifia, ia benar-benar kehilangan muka saat ini dan ia sangat malu.
"Istri rekan kerja saya selalu menyinggung saya karena melakukan praktek nikah siri sampai saya
dipanggil penyidik untuk mengetahui kebenaran berita buruk mengenai saya," ucap Defran dan baru kali
ini Defran membahas hal ini padanya.

"Maaf Mas, tingkahku dimasa muda telah membuat kamu mendapatkan masalah," lirih Lifia.

Supir yang ada didepan menahan tawanya mendengar ucapan Defran yang saat ini begitu panjang
kepada Lifia.

"Kamu begitu mencintai saya?" Tanya Defran membuat wajah Lifia memerah dan ia segera menutup
mulut Defran dengan telapak tangannya agar tidak menanyakan hal ini padanya terlebih lagi didepan
supir seperti ini. Lifia mengerjapkan kedua matanya karena tidak yakin akan ada hari ini dimana Defran
membahas semua tingkah konyolnya dimasalalu.

"Mas nggak usah dibahas...itu kita sudah sampai," ucap Lifia sengaja mengalihkan pembicaraan dan saat
ini mobil telah berhenti di parkiran. Defran keluar dari dalam mobil bersama Lifia dan ia
menyunggingkan senyumannya saat melihat ada dua orang yang ternyata berani

3/7

Dia tahu rahasiaku


mengawasinya lagi. Defran merangkul Lifia sambil melangkahkan kakinya menuju lobi apartemen.
Jantung Lifia berdetak dengan kencang, karena Defran memeluknya seperti ini.

"Terimkasih untuk setiap perhatian yang kamu berikan kepada saya selama ini," ucap Defran sengaja
mengatakan hal ini untuk mengalihkan perhatian Lifia agar Lifia tidak menyadari jika saat ini mereka
sedang

diikuti.

Wajah Lifia memerah dan ia sungguh tak percaya jika Defran akan mengatakan hal ini padanya. Banyak
yang terjadi dengan dirinya yang berada dimasalalu, yang membuatnya melakukan hal begitu konyol
karena menjadi fans utama Defran saat itu. la bahkan ikut perkumpulan para istri rekan kerja Defran
secara diam-diam dan ia memiliki gank yang mengawasi Defran. Dengan

4/7

Dia tahu rahasiaku


kemampuan Lifia yang menyamar mereka sampai saat ini, tidak tahu jika Lifia adalah Sayang. Nama
sayang yang Lifia pakai saat berkenalan dengan mereka semua.

Tanpa terasa saat ini mereka sampai di Apartemen Defran, Lifia menghela napasnya dan ia benar-benar
sangat malu saat ini. "Kamu benar-benar telah melupakan saya?" Tanya Defran melipat kedua
tangannya sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dan ia menatap Lifia dengan dalam. "Sayang..."
ucap Defran dan wajah Lifia kembali memerah karena malu. la seperti berada didalam sidang dan Defran
mengungkapkan semua fakta, hingga rahasia yang ia simpan selama ini.

"Kalau Mas tahu selama ini kenapa Mas nggak bilang sama aku?" Tanya Lifia kesal. "Mas juga bis/
menghentikan semua tingkah aku selama ini," lirih Lifia.

"Kenapa saya harus bilang sama kamu dan kenapa saya harus menghentikannya?" Tanya Defran.

Lifia. "Mas pikir ini lucu? Mas mempermainkan aku..." lirih

"Besok bukannya kamu harus bertemu dengan perkumpulan ibu-ibu itu, kamu mau menjadi
pendongeng menceritakan bagaimana si sayang menjalani hari-harinya bersama Dokter Defran dan
menunggu Dokter Defran benar-benar menikahinya?" Tanya Defran sinis.

"Kamu sudah tahu masalah ini Mas, kenapa kamu diam saja," lirih Defran.

Defran mendekati Lifia dan ia memegang dagu Lifia lalu menatap mata indah Lifia "Besok kamu tetap
pergi menjadi si sayang perempuan yang menderita karena tidak dinikahi secara resmi oleh Defran.
Jangan lupa traktir mereka seperti biasanya!" Ucap Defran.

"Aku nggak mau pergi," ucap Lifia. "Kamu jahat kalau sudah tahu apa yang aku lakukan kenapa kamu
membiarkannya," lirih Lifia.

5/7

Dia tahu rahasiaku


"Bukannya menyenangkan menjadi si Sayang?" Tanya Defran. "Saya bahkan telah memiliki istri dan
kamu bilang apa? Orang tua saya tidak menyetujui kamu sebagai menantunya? Kamu yakin si sayang
tidak disetujui Mami?" Tanya Defran.

Lifia menatap Defran dengan sendu, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja karena kesal dan ia
sangat malu saat ini. "Main rumah-rumahan sama saya sampai kapan? Saya membiarkan tingkah kamu
karena semua itu menarik, gosip mengenai saya yang memiliki istri simpanan membuat para rekan kerja
saya yang mencoba menarik perhatian saya, berhenti melakukan tingkah aneh dan cukup hanya kamu
saja yang aneh dalam hidup saya, saya tidak memerlukan perempuan aneh lainnya disekitar saya!" Ucap
Defran.

"Mas...hmmm... Mami tahu tingkah aku ini?" Tanya Lifia. "Kamu cerita sama Mami?" Tanya Lifia lagi dan
ia menudukkan kepalanya sambil terisak malu.

"Mami tahu semuanya, dia senang kamu mengaku sebagai istri simpanan saya dan yang lebih gilanya
Mami berharap saya dipecat agar saya mewarisi perusahaan keluarga," ucap Defran.

"Aku janji Mas nggak akan mengganggu kamu lagi!" Ucap Lifia.
"Percuma saja kamu berhenti menganggu saya Lifia, lakukan sampai akhir!" Perintah Defran membuat
Lifia menelan ludahnya.

"Ma...maksud kamu Mas?" Tanya Lifia.

"Tetap menjadi si sayang!" Ucap Defran membuat Lifia melototkan matanya.

44

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/7

Memaksanya berkumpul.
Memaksanya berkumpul
Pagi ini wajah Lifia sangat kusut, ia mengingat bagaimana Defran mengetahui semua tingkahnya selama
ini. la tidak memiliki harga diri lagi dan ia sangat kesal karena begitu bodoh hingga melakukan apapun
untuk Defran. la fans fanatik yang aneh hingga berkhayal menjadi istrinya Defran. Lifia telrihat sangat
kesal dengan tingkah bodohnya itu dan pagi ini ia harus membuatkan Defran sarapan pagi dan saat ini
Defran terlihat sesekali melirik kearahnya yang sedang memasak sarapan. Sarapan sehat ala Lifia yang
ternyata rasanya sangat enak menurut Defran dan sepertinya Lifia memang harus menjadi koki
pribadinya.

Mata Lifia terlihat masih telihat sangat mengantuk meskipun pagi ini ia telah mandi saat ingin
menjalankan ibadah sholat subuh. Malam tadi Lifia baru bsia tidur pukul dua pagi, karena memikirkan
selama ini Defran jahat sekali padanya karena berpura-pura tidak tahu, dengan apa yang ia lakukan
selama ini.

Lifia meletakkan sarapan yang ia buat diatas meja dan ia melihat kearah Defran dengan kesal. "Mas
sarapan!" Ucap Lifia dingin.

Defran segera berdiri dan ia melangkahkan kakinya duduk dikursi makan bergabung bersama Lifia. "Jam
berapa kamu pergi sama bestie kamu?" Tanya Defran dengan ekspresi wajahnya yang datar namun
terlihat begitu menyebalkan bagi Lifia. "Ingat ya harus pergi!" Ucap Defran memperingatkan Lifia
membuat Lifia kesal.

"Ngapain aku harus pergi Mas?" Kesal Lifia.

"Si Sayang jarang absen setiap dia kumpul," ucap Defran. Lifia penasaran siapa diantara para bestie yang

1/6
Memaksanya berkumpul
selalu melaporkan pertemuan mereka kepada Defran.

"Siapa si Sayang aku nggak kenal," sinis Lifia.

"Kamu yakin tidak kenal sama si Sayang?" Tanya Defran membuat Lifia terlihat sangat murka.

"Mas...jangan panggil aku gitu! Namaku Lifia..." ucap Lifia kesal. Defran mengangkat sebelah alisnya
ternyata Lifia sangat imut, jika terlihat kesal seperti ini padanya.

"Si Sayang, kamu mau diantar saat makan siang ketika bertemu bestie?" Tanya Defran lagi.

"Mas...nyebelin banget sih..." ucap Lifia prustasi dan ia merasa sangat malu saat ini. la tak berkutik
karena Defran sengaja menganggunya dengan memanggilnya sayang, jika sayang yang dimaksud Defran
adalah benar-benar sayang padanya, tentu saja ia sangat bahagia.

"Ingat ya kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat sama saya! Nama baik saya
sudah tidak bisa diperbaiki lagi dan hanya kamu yang bisa memperbaikinya!" Ucap Defran sinis.

"Aku mau ngaku saja sama mereka kalau selama ini aku itu membohongi mereka kalau aku itu istrinya
kamu!" Ucap Lifia.

"Sekalian si sayang konferensi pers dan bilang ke publik kalau kamu ini si Sayang yang melakukan
penyamaran menjadi istri saya dan bilang alasan kamu melakukan ini!" Ucap Defran. Mengakui ke publik
tentang masalah ini, sama saja dengan ia yang ingin menghancurkan karirnya selama ini.

"Nggak bisa gitu dong Mas, itu menyangkut nama baikku dan juga karirku dipertaruhkan," ucap Lifia
kesal.

"Hancurkan saja karirmu agar kamu tidak perlu bekerja lagi menjadi artis!" Ucap Defran sambil
mengunyah

2/6

Memaksanya berkumpul
makananya dan ia telihat sangat menikmati makanan yang sedang ia makan saat ini.

"Kalau begitu kamu juga hancurkan karirmu Mas jangan karirku saja!" Kesal Lifia.

"Siapa yang membuat masalah, kamu atau saya?"

Tanya Defran sinis.

"Kamu!" lirih Lifia dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Saya tidak pernah menipu kalau saya telah menikah siri dengan si Sayang," ucap Defran.
"Udah cukup nggak usah dibahas, iya Mas aku yang salah..." ucap Lifia dan ia menyebikkan bibirnya.

"Kalau kamu yang salah, kamu harus mendengarkan saya! Kamu lanjutkan pertemuan si Sayang dengan
bestie-bestienya!" Perintah Defran dan ia menyunggingkan senyumannya ketika melihat ekspresi wajah
Lifia, yang terlihat sangat kesal padanya. "Ceritakan si Sayang paling suka sama Defran kalau Defran lagi
ngapain aja!" Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya karena ternyata Defran mengetahui detail
percakapan yang sering mereka bahas ketika mereka berkumpul.

Para bestie jika berkumpul selalu membicarakan tentang suami mereka, mereka bahkan saling memuji
suami mereka masing-masing, bahkan mengatakan kegiatan apa yang disukai Defran Satyas. Si Sayang
selalu membahas mengenai tentang Defran yang akan sangat tampan dipagi hari dengan tubuh seksinya
dan wajah bantalnya. Si Sayang juga mengatakan jika ia selalu suka menemani Defran berenang dan ia
akan duduk ditepi, menunggu Defran yang biasanya akan mendekatinya lalu memberikan kecupan
sayang padanya.

Lifia. "Nggak ada, si sayang nggak bilang apa-apa," ucap

"Tapi si Sayang bilang Defran akan sangat tampan

3/6

Memaksanya berkumpul
saat pagi..." ucap Defran segera dipotong Lifia.

"Udah nggak usah dibahas, yang penting aku pergi ngumpul sama mereka!" Kesal Lifia dengan wajahnya
yang bersemu merah karena malu.

"Oke," ucap Defran.

"Kamu kira ini semua menyenangkan ya Mas?" Tanya Lifia sinis.

"Bukanya ini sangat menyenangkan bagi kamu," ucap

Defran.

"Kamu anggap ini permainan yang menyenangkan Mas," ucap Lifia kesal.

"Kamu yang mulai duluan dan kamu sangat suka menjadi istri simpanan Defran yang namanya si
Sayang," ucap Defran.

"Salahkan mereka yang percaya begitu saja sama

4/6

Memaksanya berkumpul
aku," ucap Lifia menyebikkan bibirnya karena kesal.
"Kamu pintar akting dan sudah berapa banyak penghargaan yang kamu dapatkan, jika hanya menipu
mereka itu sangat mudah bagi kamu," sinis Defran.

"Hari ini si Sayang jangan lupa pakai tahi lalat palsunya," ucap Defran.

"Mas...cukup!" Kesal Lifia.

"Kenapa? Kamu kesal sama saya? Tapi saya merasa tidak apa-apa mengikuti aktingnya si sayang, apa
perlu si Sayang pergi bergandengan tangan dengan Defran?" Tanya Defran.

"Nggak perlu!" Kesal Lifia dan ia mengunyah makanannya dengan cepat.

Sebenarnya Lifa sudah beberapa kali ingin berhenti menemui para bestie yang selama ini menjadi teman
curhatnya itu, tapi ia selalu mengurungkan niatnya itu karena ternyata berkumpul bersama mereka
sangat mengasyikkan. Lifia bisa menjadi dirinya sendiri dan mereka juga teman yang sangat bisa
diandalkan. Biasanya Lifia akan selalu mendapatkan banyak pujian cantik oleh orang-orang yang
mengenalnya, tapi dengan para bestie mereka bahkan bisa saling memaki. Mereka juga berani
mengatakan ia bodoh karena mau dijadikan istri sirih Defran. Mereka juga sangat ingin menanyakan
keseriusan Defran dan meminta Defran menikahi Si Sayang secara kedinasan apapun caranya. Mereka
menyayangi si Sayang apa adanya dan menganggap si Sayang juga adalah sosok yang sangat
menyenangkan bagi mereka.

Setelah sarapan Lifia memilih bersantai di dalam kamar sambil menonton Tv, ia merasa sangat lega
karena biasanya ia akan menerima banyak pesan dari nomor yang tidak dikenal. Bisanya pesan itu dari
penguntit jahat yang selalu mengganggunya, tapi semenjak ia memakai ponsel Defran, ia merasa sangat
senang apalagi ia juga bisa

5/6

Memaksanya berkumpul
melihat privasi milik Defran seperti media sosial Defran. Defran jarang sekali mengupload foto dirinya,
tapi pagi ini Lifia sengaja mengupload foto sarapan paginya bersama Defran dan tentu saja banyak sekali
fans Defran yang mengomentari postingannya itu.

Defran memasuki kamar dan ia melihat Lifia sedang duduk santai, ia menatap Lifia dengan datar. "Saya
bekerja didulu, ada Bodyguard yang menjaga kamu diluar, aktifkan ponsel kamu dan nanti kalau si
Sayang pergi kamu kabari saya!" Ucap Defran.

"Iya..." ucap Lifia kesal.

Komentar lainnya

Berikan Suara

21
6/6

Para bestie.
Para bestie
Lifia melihat jam di dinding kamar ini dan jam menujukkan pukul sebelas siang, ia bersiap untuk segera
pergi menemui para bestie. Defran memang tidak mengembalikan ponselnya karena ia masih
melakukan penyelidikan dan Defran mengirimkan chat grup tentang pertemuan mereka hari ini, ke
ponselnya yang berada ditangan Lifia. Semua para bestienya itu pasti tidak tahu jika saat ini, yang
sedang membalas pesannya mereka itu ternyata Defran. Lifia memakai baju dress feminimnya yang ia
dapatkan dari Defran dan ia mulai memakai makeupnya lalu memasang tahi lalat di dekat bibirnya.

Defran tadi telah memberikan paperbag berisi pakaian yang akan dipakai oleh Sayang. Lifia tak lupa
memakai kaca matanya, ia memang sangat mahir menyamar sperti ini karena ia juga mempelajarinya
secara khusus saat ia berada di Jepang oleh penata rias ternama disana. Saat itu ada syuting film yang
mengambil set di Jepang dan Lifia berkenalan dengan penata rias yang sangat terkenal disana. Dari Lifia
juga Sandra berlajar banyak cara bermakeup agar merubah penampilannya. Lifia sat ini membuat garis
kontur wajahnya agar tidak menjadi seperti Lifia dengan wajah normalnya, yang sebenarnya tak perlu
sentuhan makeup karena telah terlihat sangat cantik.

"Ya ampun Sayang, kamu kok cantik begini," ucap Lifia menatap wajahnya dicermin yang telah jauh
berbeda dari wajah aslinya. Sayang juga tidak terlihat jelek hanya saja tahi lalat dan juga ia yang
memakai bedak lumayan tebal, hingga ia juga memerlukan kaca mata untuk menyamarkan matanya.

1/6

Para bestie
Lifia juga sengaja memakai soflens mata berdiameter kecil, agar tidak terlihat seperti mata aslinya. Gaun
yang Sayang gunakan saat ini bermotif bunga-bunga dan itu memang ciri khas seorang Sayang membuat
Lifia menghela napasnya, karena Defran ternyata mengetahui semua tingkah lakunya selama ini.

Ponselnya berbunyi, membuat Lifia segera mengangkatnya dan terlihat wajah Liana membuat Lifia
menelan ludahnya. "Ini ponselnya Defran kan ya? Hmmm...kamu Sayang ya?" Tanya Liana membuat Lifia
menelan ludahnya. "Sayang istrinya Defran," goda Liana lagi.

"Mami..." lirih Lifia membuat Liana terkekeh.

Lifia. "Hehehe gimana cantikkan bajunya Sayang?" goda

"Mami sudah lama tahu ya, Mi?" Tanya Lifia

sendu.
"Hehehe...awalnya Mami nggak tahu, tapi Mami kan kesal saat ada yang tanya sama Mami kalau Defran
katanya sudah nikah sama si Sayang, Mami cari tahu dong Hahaha..." tawa Liana.

"Mami pasti sudah tahu dari dulu ya Mi?" Lirih

Lifia.

"Temannya Mami kebetulan putranya juga berangkat ke luar negeri bareng Defran dan istrinya putra
temannya Mami itu bilang, katanya ada perempuan nangis histeris nyebut-nyebut nama Defran dan
bilang jangan tinggalin dia," ucap Liana. "Setelah itu Mami minta Salsa untuk cari tahu dan tanya sama
Defran siapa selingkuhan Defran m, Hahaha...ternyata hahaha...Defran nggak pernah selingkuh karena si
sayang itu kamu Lifia," ucap Liana tertawa terbahak-bahak.

"Mami... aku malu..." ucap Lifia. "Sabtu aku nggak jadi nginap ya Mi, aku di sini saja!" Ucap Lifia karena ia
sangat

2/6

Para bestie
malu saat ini.

"Loh....kenapa malu Nak? kamu kan memang sayangnya Defran, kamu udah nikah sirih sama Defran
ya?"

Goda Liana lagi membuat Lifia ingin menangis rasanya, karena ia benar-benar telah kehilangan muka.
Pantas saja keluarga Defran seolah tak percaya ucapannya yang ingin berusaha moveon dari Defran.
"Hahaha... Yaudah ini kok Mami mau pipis karena kebanyakan ketawa, Mami kalau tinggal sama kamu
dan Defran kayaknya Mami akan umur panjang Lifia, tiap hari ketawa bikin awet muda," ucap Liana.
"Sayang..." panggil Liana sambil tersenyum jahil.

"Mami...udah jangan kayak gini! Nggak usah panggil aku Sayang...!" Pinta Lifia.

"Hahaha... oke Nak, itu kamu walau dandan kayak gitu tetap saja cantik," ufap Liana. "Yaudah sampai
jumpa hari sabtu ya Sayang, Assalamualikum," ucap Liana.

"Waalaikumsalam," ucap Lifia dan ia mematikan sambungan teleponnya.

Lifia menghela napasnya dan apa yang terjadi padanya saat ini adalah cobaan, ada ketakutan dan ada
juga rasa malu yang teramat dalam ia rasakan saat ini. Lifia mengambil tasnya dan ia melangkah kakinya
keluar dari kamar di Apartemen ini, lalu ia segera menuju pintu keluar. Ada lima orang Bodyguard yang
akan mengawalnya, ada satu Bodyguard nanti yang akan menemani Lifia masuk kedalam cafe dan ia
akan menjaga Lifia agak jauh dari posisi Lifia. Mereka sangat tekejut melihat penampilan Lifia dan
mereka sebenarnya tidak menyadari jika itu Lifia, jika Lifia tidak memberitahu mereka.
Lifia segera menuju parkiran mobil bersama para bodyguardnya dan saat ini Lifia telah berada didalam
mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju Cafe tempat mereka berjanji untuk berkumpul.
Beberapa

3/6

Para bestie
menit kemudian mereka sampai dan Lifia segera melangkahkan kakinya turun dari mobilnya. Salah satu
Bodyguard melangkahkan kakinya mengikuti Lifia dari belakang, namun ia sengaja memberikan jarak
cukup jauh dari Lifia sedangkan empat Bodyguard lainnya, menunggu diluar. Lifia saat ini telah masuk
kedalam Cafe, ia mengedarkan pandangannya melihat kesekelilingnya dan akhirnya, ia bertemu para
bestie yang terlihat sedang

berbincang bersama.

"Wah ada Sayang...Sayang disini!" Panggilnya. Tyas nama perempuan yang saat ini memanggil Lifia, ia
adalah istri dari Jordi rekan kerja Defran, yang juga seorang polisi.

Lifia mendekati mereka semua dan ia mengecup pipi kana dan kiri mereka satu persatu. "Sayang tampak
kurusan sekarang," ucap Anyelir. Anyelir istrinya Purnomo

4/6

Para bestie
yang juga menjadi rekan kerja Defran, yang bertugas sebagai ketua pasukan saat itu.

"Iya, kamu kok kurusan...apa kamu makan hati sama Pak Defran?" Tanya Novi yang juga istri dari
seorang polisi bernama Saif.

"Pisah saja Sayang, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang juga mencintai kamu Sayang!" Ucap
Anyelir. "Lagian kenapa sih dia nggak mau nikahin kamu secara resmi, ya walaupun dia ganteng dan itu
tu anuhhngya gedong tapi kalau makan hati kan gimana ya nggak banget," ucap Anyelir kesal.

Wajah Lifia memerah karena ia ingat jika ia pernah mengarang cerita, jika annuhhnya Defran gedong
juga sama seperti punyanya suami Anyelir.

"Iya Sayang, wajah tampan itu akan dimakan usia lagian, kamu sih...mau-maunya dinikahin siri sama Pak
Defran, kalau nanti dia punya istri resmi gimana, Sayang?" Lirih Novi.

Lifia menelan ludahnya dan wajahnya tampak pucat, ia bingung apa yang harus ia katakan, sementara
saat ini salah satu dari mereka ternyata adalah mata-mata Defran Satyas. "Kalau masalah gedongg itu
yang itu perkututtt, kamu bisa cari laki-laki yang kayak gitu lagi, tapi ya memang sih nikah kayak gitu itu
mesti test drive biar tahu gendongg apa nggak hehehe..." kekeh Anyelir.
"Loh kok diam dan wajah kamu pucat banget...jangan-jangan kamu hamil ya?" Tanya Novi membuat
Tyas menahan tawanya, sedangkan Lifia menggelengkan kepalanya.

"Nah apa aku bilang kan enaknnyya itu dimalam Jumat ibadahnya...kamu pasti sudah belajar kan dari
aku gerakan yang membuat Pak Defran pasti ketagihan, sudah kamu praktekan?" Tanya Anyelir
menatap Lifia dengan tatapan menyelidik. Lifia bingung ingin menjawab apa,

5/6

Para bestie
kalau dia mengatakan sebenarnya ia bukan istri Defran, ini hanya akan menambah masalah saja karena
Defran akan marah besar padanya.

"Aku nggak hamil Mbak," ucap Lifia.

"Bukan nggak hamil Sayang tapi belum hamil,

makanya kamu harus sering ibadah gitu, apalgi kata kamu Pak Defran itu kuat banget nggak perlu
minum jamu," ucap Novi mengingat kembali ucapan Lifia sebelumnya, tentang Defran dan bagaimana
keperkasaan Defran diranjang. Lifia menyesal telah mengarang cerita tentang Defran, hingga
menbuatnya malu sendiri. Apalagi akting yang ia jalani saat ini sebagai Sayang, ternyata telah menjadi
senjata makan tuan.

"Udah bahas masalah ranjang terus, ayo Sayang pesan makannya!" Ucap Tyas memberikan buku menu
makanan kepada Lifia.

Komentar lainnya

Berikan Suara

16

6/6

Berpengaruh.
Berpengaruh
Lifia memesan makananya dan ia nenjadi pendengar pembicaraan mereka mengenai beberapa hal, Novi
menceritakan mengenai perselingkuhan yang terjadi pada salah satu rumah tangga temannya dan ia
mengatakan jika itu terjadi akibat temannya itu, tidak ikut pindah ketika suaminya berpindah tugas ke
daerah lain.

"Kalau sudah menikah kita nggak boleh egois, ngalah gitu sama suami dukung karirnya, kalau menikah
sama abdi negara harus tahu resikonya. Suami bisa berpindah dari pergi karena tugas bahkan bisa mati
saat menjalankan tugas," ucap Novi.
"Aduh jangan bahas begituan! aku itu was-was banget takut suamiku dikirim tugas di negara konflik atau
didaerah berbahaya lagi," ucap Anyelir.

"Itu terjadi biasanya pada tim khusus atau permintaan pribadi mereka, suami kita sudah pernah kesana
sepertinya nggak akan kesana lagi, kecuali mereka yang minta," jelas Tyas.

"Sayang, itu Pak Defran kata suamiku udah dua kali kesana kalau dia mau pergi lagi kesana kamu izinkan
nggak?" Tanya Novi. Lifia menghembuskan napasnya jika ia benar-benar menjadi istri Defran, dia tidak
akan mengizinkannya. "Aku yakin kemarin saat Pak Defran pergi kamu juga nggak mengizinkannya kan?
Apalagi lihat reaksi kamu menangis histeris gitu," ucap Novi.

"Aku memang nggak mau ditinggalkan sama dia apalagi sejauh itu dan tempatnya juga berbahaya," ucap
Lifia.

"Iya sih...gini-gini kita kan nggak mau jadi janda, kita ini pencinta suami gitu, apa sih yang nggak untuk
suami

1/6

Berpengaruh
kita," ucap Anyelir.

"Ya kalau ada yang ganggu suami kita, kita basmi sampai ke akar-akarnya, pelakor zaman sekarang itu
banyak banget akalnya buat ngerayu suami kita," ucap Novi.

"Makanya suami itu dihargai dan dihormati di Rumah, dibuat nyaman setelah mereka pulang lelah
bekerja!"ucap Tyas.

"Mbak Tyas memang bijak sekali makanya Pak Jordi cinta banget sama Mbak Tyas," ucap Anyelir. la
selalu kagum melihat betapa Jordi suaminya Tyas, sangat perhatian kepada Tyas. Jordi selalu
menyempatkan waktunya untuk mengantar jemput Tyas walaupun sebenarnya Jordi bisa saja meminta
tolong bawahannya, jika ia sedang sangat sibuk.

"Saya pacaran sama Mas Jordi sejak SMA dan kami seumuran, terkadang ego saya yang tinggi dan keras
kepala saya juga membuat ada perdebatan kecil diantar saya dan Mas Jordi. Tapi Mas Jordi yang hebat
selalu sabar menghadapi saya, saya sangat bersyukur beliau sampai saat ini tidak pernah berubah dalam
memperlakukan saya," ucap Tyas tersenyum mengingat betapa manisnya suaminya membuat mereka
semua menjadi iri.

"Suamiku juga begitu walaupun dia sibuk setiap hari dia tanya aku, lagi apa atau tadi siang makan
siangnya apa, apalagi kalau beliau berada diluar kota, diteleponin mulu takut istrinya kenapa-napa gitu,"
ucap Anyelir tak mau kalah jika itu membicarakan tentang suaminya.
"Wah sekarang suami kamu sudah berubah banget Anyelir, kalau dulu...kamu yang takut banget dia
selingkuh apalagi dia pernah jalan sama mantan pacarnya tiga bulan setelah kalian menikah," ucap Novi
membuat Anyelir menghela napasnya.

"Ya...dia berbuah ketika aku hampir meninggal saat

2/6

Berpengaruh
aku melahirkan putrinya," ucap Anyelir mengingat perjuangannya saat itu. la menikah dijodohkan oleh
keluarganya, sementara saat itu suaminya telah memiliki kekasih yang ia cintai tapi kesabaran Anyelir
akhirnya berbuah manis.

"Sayang kalau capek lelah berjuang berhenti saja! mumpung kamu dan Pak Defran belum punya anak
atau gini saja, kamu datangi keluarganya lalu bilang sama mereka kalau kamu itu istri yang dinikahi siri
sama Pak Defran!" Ucap Anyelir.

"Iya Sayang, kamu harus tegas sama kepastian Pak Defran, kamu harus minta status yang jelas! enak saja
kamu ditiduri mulu sama dia, tapi satus pernikahan kamu nggak jelas begitu, aku tuh nggak percaya
kalau Pak Defran yang setampan dan berwibawa gitu tega banget sama pacaranya hanya dinikahin siri,"
ucap Novi kesal.

"Iya bener banget padahal aku sudah menceritakan masalah kamu ini ke provos tapi nggak ada tuh
dihukum Pak Defrannya," ucap Anyelir membuat Lifia membuka mukutnya lalu ia menatap mereka
dengan tatapan sendu.

'Astaga ternyata ulah aku membuat Mas Defran kesulitan, Batin Lifia menyesal dengan perbuatannya

"Loh...jangan sedih gitu...kita memang paham kalau Pak Defran itu cool banget sama kamu, kata
suamiku Pak Defran itu selalu saja mematahkan hati rekan kerjanya yang suka sama dia, ada juga dokter
yang saat pendidikan itu sama-sama Pak Defran saja sampai putus asa banget, karena dicuekin terus
sama Pak Defran. Sayang....hmmm, kamu lumayan beruntung walaupun dinikahin siri, jadi kamu jangan
menyerah...tapi kalau lelah berhenti saja!" Nasehat Novi dan ia menatap Lifia dengan tatapan prihatin.

"li...iya," ucap Lifia gugup dan keringat dinginya

3/6

Berpengaruh
menetes saat ini.

Lifia merasa sangat tidak nyaman dan ia was-was saat ini, ingin rasanya ia menyembunyikan dirinya saat
ini juga karena ia sangat malu. "Kamu kenapa Sayang? Kamu kurang sehat ya? Apa kamu hamil?" Tanya
Tyas.
"Nggak, aku baik-bain saja hanya memang tadi sedikit flu," ucap Lifia dan ia memegang hidungnya
berpura-pura jika hidupnya saat ini sedang tersumbat.

"Pertemuan selanjutnya gimana kalau kita piknik keluarga gitu? maksudku kita ajak keluarga kita makan
bersama sambil jalan-jalan, kita tentukan dulu waktunya kapan," ucap Tyas.

"Aku setuju banget, lagian suami kita kan rekan kerja gitu udah lama juga kan mereka nggak kumpul
sama-sama, karena berada unit kerja," ucap Anyelir.

4/6

Berpengaruh
"Sayang... Pak Defran mau nggak kira-kita ngumpul gitu? Ikut gabung maksudnya," ucap Novi.

Lifia. "Aku belum tahu bisa ikut apa nggak bestie," ucap

"Iya sih, hubungan mereka kan masih dirahasiakan nanti kalau terlalu go publik, Pak Defran bisa saja
dipanggil lagi sama penyidik, bisa kena tidak disiplin dia," ucap Anyelir.

"Iya...lagian suamiku itu nggak mau pergi bersama aku ke acara gitu, dia nggak suka. Aku saja pergi
nggak pernah diantar sama dia apalagi dijemput," ucap Lifia.

"Ya ampun Sayang, kamu itu tulus banget cinta sama dia dan sabar, kalau aku sih udah aku ceraiin laki-
laki kayak gitu!" ucap Novi dengan napas memburu, jika mungkin ada Defran dihadapannya saat ini, ia
akan memaki Defran.

"Sayang kalau nanti hubungan kamu sama dia berakhir, kamu minta ganti rugi yang banyak sama dia!
Bilang sebagai pelayanan kamu sebagai istrinya kamu berhak minta uang yang banyak dan ingat ya
jangan jadi bodoh! Sekarang itu nggak zamannya lagi menderita karena cinta! Kamu pakek duitnya
untuk senang, pergi liburan atau kamu operasi itu tahi lalat segede chocho chip itu, kamu itu cantik
kalau tahi lalat itu disingkirkan dari wajah mulus kamu!" Ucap Novi.

"Kamu pergi ke Korea saja minta operasi mirip artis Lifia!" Ucap Anyelir. "Eh...dulu Lifia itu pernah ada
gosip loh sama Pak Defran, kalau nggak salah dia terciduk sama Wartawan lagi main di Club sama
Lifia...tapi kata suamiku Lifia dan Pak Defran itu memang kenal gitu masih kerabat atau apalah...mereka
juga ada kok diacara Kakak permpuannya Lifia, si Kiran di Tv," ucap Anyelir.

"Kamu harus hati-hati sama Lifia soalnya dia cantik

5/6

Berpengaruh
banget, suami kamu bisa saja direbut sama dia, apalagi kata suamiku juga, Pak Defran nolongin dia saat
kejadian dihotel beberapa waktu yang lalu, hmmm...maaf Sayang kita jadi bahas ini tapi ini..." ucap Novi
merasa tidak enak dengan si Sayang.
"Nggak apa-apa," lirih Lifia dan ia memegang tengkuknya karena gugup.

"Lifia digendong sama Pak Defran kayak Romeo dan Juliet gitu, hmmm....beritanya nggak ke up media
karena keluarga Pak Defran berpengaruh," ucap Novi.

Berpengaruh sekali sampai tingkah konyolnya saat ini pun diketahui Defran dan Maminya. Lifia merasa
sangat pusing saat ini, rasanya ia mau tidur seharian lalu melupakan tindakannya yang memalukan saat
ini. Akhirnya acara makan siang ini pun berakhir dan Lifia memilih pamit lebih dulu, dengan alasan ia
kurang sehat saat ini.

Komentar lainnya

Berikan Suara

30

6/6

Si Sayang.
Si Sayang
Lifia masuk kedalam mobil dan ia menatap jalanan hingga ia tidak sadar saat ini bukannya diantar pulang
ke Apartemen, tapi mobil tiba-tiba berhenti di Rumah Sakit.

Terlihat sosok Defran sedang melangkhkan kakinya mendekati mobil ini dengan memegang jas putihnya
yang berada dilengannya. "Bapak kenapa nggak bilang kalau kita jemput Mas Defran juga," ucap Lifia
kesal dengan supir yang mengemudikan mobil ini tersenyum.

"Nyonya nggak tanya dan sejak tadi diam saja," ucapnya. Lifia memang tidak banyak bertanya ketika ia
telah masuk kedalam mobil ini.

Defran duduk disamping Lifia dan ia mengerutkan dahinya melihat sosok sayang yang sangat terlihat
berbeda dengan Lifia yang ia kenal. "Kamu si sayang?" Tanya Defran mengerutkan dahinya. la memang
pernah dikirim foto si Sayang ini oleh salah satu bestienya Sayang, namun kali ini ia baru pertama kalinya
melihat langsung dan dari dekat seperti ini.

"Tahi lalatnya besar sekali seperti coklat," ucap Defran memperhatikan tailalat palsu Defran.

"Mau makan ambil, Mas!" Kesal Lifia.

"Bahas apa tadi saat ketemu?" Tanya Defran dan ia menatap Lifia dengan tatapan menyelidik. la
menyunggingkan senyumannya karena sosok perempuan yang ada disampingnya ini terlihat aneh. Ingin
sekali rasanya mencopot tahilalat yang ada di wajah Lifia.

"Nggak ada bahas apa-apa," ucap Lifia pelan.


"Yakin?" Tanya Defran.

"Mas...udah...cukup nggak usah bahas!" Pinta Lifia

1/6

Si Sayang
dengan tatapan memohon.

Defran kembali memperhatikan penampilan Lifia dan ia menarik dagu Lifia untuk melihat apa yang
membuat wajah si Sayang menjadi sangat berbeda saat ini. "Ternyata ini yang namanya si Sayang istri
siri Defran Satyas," ucap Defran dan ia menggerakan wajah Lifia ke kanan dan kiri membuat Lifia kesal. la
mencoba menepis tangan Defran, namun ia kesulitan untuk menepisnya hingga ia hanya memukul-
mukul lengan Defran. Defran mendekati telinga Lifia dan ia berbisik ditelinga Defran "Suka yang
geddong, memang punyanya Defran gedoongg?" Tanya Defran dengan suaranya yang berat membuat
Lifia menelan ludahnya.

"Apa?" Tanya Lifia berpura-pura tidak tahu.

"Tadi yang kalian bahas, gedonggg apa yang gedongg punyanya Defran, memang kamu sudah pernah
lihat?" Tanya Defran membuat Lifia menelan ludahnya.

"Maksud kamu apa Mas? Aku nggak ngerti," ucap Lifia dan wajahnya merah padam saat ini. "Mas aku
nggak bilang gitu..." bohong Lifia.

"Pak. pulang ke Rumah orang tua saya!" Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Kenapa kesana?" Tanya Lifia panik.

"Mami mau ketemu si Sayang," ucap Defran membuat Lifi melototkan matanya dan saat ini ia terlihat
sangat terkejut.

"Aku nggak mau!" Ucap Lifia, ia menggelengkan kepalanya dan memegang lengan Defran dengan erat.
"Please Mas, tadi Mami juga udah lihat aku kok melewat video call di ponsel kamu!" Ucap Lifia.

"Mami belum pernah ketemu istri sirih saya yang namanya Sayang!" Ucap Defran dan ucapannya
telrihat sangat serius saat ini.

2/6

Si Sayang
"Nggak ada, kamu nggak ada istri yang namanya si Sayang!" Lirih Lifia.

"Ada," ucap Defran dan ia menatap dingin Lifia membuat Lifia menghela napasnya.
"Maafin aku Mas!" Lirih Lifia dan ia menatap Defran dengan tatapan memohon agar Defran
memaafkannya.

"Semudah itu kamu minta maaf," ucap Defran dingin.

Mobil tetap melaju ke Kediaman Nasir Satyas dan Defran seolah tidak peduli dengan permohonan Lifia
yang tidak ingin pulang ke Kediaman orang tuanya.

"Terus aku harus bagaimana Mas?" tanya Lifia sendu dan ia ingin menangis saat ini juga karena ia sangat
malu.

Apalagi jika ia digoda semua keluarga Defran dan harga dirinya sudah tidak tersisa lagi. "Aku harus
bagaimana agar kamu memaafkan aku Mas?" Tanya Lifia.

"Kamu hanya perlu bertanggung jawab sampai akhir!"

Ucap Defran membuat Lifia terisak dan ia menyebikkan bibirnya.

"Hiks....hiks...ampun Mas," ucap Lifia membuat Defran menahan dirinya untuk tidak tertawa saat ini.
"Aku nggak mau ke Rumah Mami dengan penampilan kayak gini!" Pinta Lifia dan ia menteskan air
matanya. "Mas..." rengek Lifia dan ia tanpa malu ia memeluk Defran dengan erat. "Mas jangan jahat
banget sama aku Mas hiks...hiks..." ucap Lifia dan ia berusaha agar Defran tidak membawanya datang ke
Kediaman orang tua Defran.

"Oke, kalau begitu kamu temani saya ngopi!" Ucap Defran.

"Oke Mas, asal nggak ke tempat Mami!" Ucap Lifia dan ia segera menghapus air matanya.

"Tetap jadi Sayang biar kamu nggak perlu memakai masker!" Ucap Defran.

3/6

Si Sayang
"Ngopi dimana?" Tanya Lifia.

"Di cafe teman saya!" Ucap Defran.

"Nggak ada tempat lain Mas?" Tanya Lifia.

"Nggak ada," ucap Defran.

"Oke," ucap Lifia.

Defran meminta supir agar segera memutar arah ke cafe yang ia maksud. Lifia menghela napasnya dan
saat ini ia tidak menyadari, jika ia masih memeluk Defran dengan
erat. Ternyata berada dipelukkan Defran membuatnya sangat nyaman. "Sampai kapan kamu akan
memeluk saya seperti ini?" Tanya Defran membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Aku kan si Sayang, istri sirih kamu," ucap Lifia.

"Oh iya. saya lupa," ucap Defran dan ia mengangkat sudut bibirnya melihat tingkah Lifia.

4/6

Si Sayang
Lifia menghela napasnya, nyatanya cinta yang telah membuatnya melakukan banyak hal konyol seperti
ini. la seperti fans fanatik yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Defran, tapi apa
yang ia lakukan sangatlah berlebihan hingga membuatnya sangat malu. Beberapa menit kemudian
mereka sampai di Cafe yang dimaksud Defran "Sepertinya si Sayang sangat suka memeluk saya," ucap
Defran. Lifia segera melepaskan pelukannya dengan gugup dan ia berusaha terlihat tidak gugup didepan
Defran.

"Iya..memangnya kenapa?" Tanya Lifia kesal membuat Defran mengangkat sebelah alisnya.

"Ohh... sekarang kamu sudah mulai berani sama saya?" Tanya Defran kesal.

"Si Sayang berani," ucap Lifia dan ia menatap mata Defran dengan tatapan berani.

Defran melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya dan ia menatap Lifia dengan sinis. "Ayo keluar!"
Pinta Defran.

"Kamu mau ketemu siapa, Mas?" Tanya Lifia.

"Permepuan," ucap Defran.

"Pacar kamu Mas?" Tanya Lifia panik.

"Perempuan yang dekat dengan saya!" Ucap

Defran.

"Aku nggak mau Mas!" Lirih Lifia sendu.

"Cepat turun! Atau mau saya gendong!" Ancam Defran dan Lifia tahu jika ia tetap bersih keras menolak,
Defran pasti akan tetap melakukannya. Defran pasti akan menggendongnya dengan paksa sambil
membawanya masuk kedalam cafe itu. "Apa kamu mau saya hapus makeup kamu," Ucap Defran dingin.

"Iya aku keluar!" Ucap Lifia kesal.

Lifia menyambut uluran tangan Defran, lalu ia

5/6
Si Sayang
melangkahkan kakinya mengikuti Defran. Defran melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe ini diikuti
oleh Lifia dan semua mata menatap kearah Defran membuat Defran menghela napasnya. Apalagi Defran
bukan hanya tampan, tapi ia telah dikenal sebagai Dokter polisi yang tampan. Lifia memeluk lengan
Defran dengan erat, Defran harus merasakan dipeluk perempuan bertahi lalat dan bisa saja ada orang
yang mengambil foto ini lalu memviralkannya.

'Kamu sengaja ingin mempermainkan aku kan Mas, lihat kamu akan malu karena menggandeng si
Sayang dan kalau ada yang tanya aku siapa, aku akan dengan lantang bilang aku istri kamu, Batin Lifia
kesal.

Komentar lainnya

Berikan Suara

23

6/6

Tidak marah.
Tidak marah
Defran menuju lantai dua dan tentu saja Lifia sengaja memeluk lengan Defran dengan erat, membuat
beberapa orang menatap kearahnya dengan tatapan penasaran. Cafe ini memang menjadi tempat
favorite teman-teman Defrabn berkumpul bersama akan ada banyak hal yang mereka bahas saat
berkumpul bersama. Ketika Lifia dan Defran sampai di lantai dua Cafe ini, Lifia sangat terkejut saat ia
melihat dua ada sosok laki-laki yang merupakan sahabat Defran Satyas. Marco Laksamana Dewandaru
dan Elang Manggala adalah beberapa sahabat Defran yang membuat Lifia sangat terkejut melihat
tingkah keduanya saat ini, Lifia membuka mulutnya dan ia menatap Defran dengan kesal.

"Mas kenapa mereka ada disini?" Tanya Lifia kesal.

"Tadi kamu bilang sama aku kalau yang ingin kamu temui di Cafe ini perempuan Mas," ucap Lifia kesal.

"Saya juga bingung kenapa mereka ada disini," ucap Defran. Sebenarnya Defran juga tidak memilki janji
bertemu dengan Elang Manggala dan Marco, sepertinya Marco yang menghubungi Elang Manggala dan
kemungkinan meminta pendapat Elang Manggala salah satu sahabat mereka.

Marco melambaikan tangannya membuat Defran melangkahkan kakinya mendekati mereka, diikuti oleh
Lifia. Saat ini Marco menatap Lifia dengan tatapan menyelidik, jujur saja ia sangat asing melihat sosok
Lifia yang berpenampilan seperti ini. "Def...dia pacar baru kamu?" Tanya Marco membuka
pembicaraannya "Gila kasihan sekali sama Lifia," ucap Marco.

Defran duduk dan ia menarik Lifia agar juga duduk


1/6

Tidak marah
bersamanya. "Perkenalkan siapa kamu!" Perintah Defran.

"Nggak mau ngapain," ucap Lifia menolak perintah Defran, membuat Elang Manggala mengerutkan
dahinya dan ia terlihat kesal melihat tingkah Lifia yang menolak keinginan Defran.

"Dia calon istri kamu Def? Sombong sekali dia tidak mau berkenalan dengan kita, sudah jelek banyak
ulah harusnya kamu bersyuku sekali Def disukai Lifia, bukan gadis jelek dan sombong seperti dia," sinis
Elang Manggala. Elang bebicara selalu saja berterus terang dan ia tidak peduli jika perempuan ini, akan
sangat kesal padanya bahkan menangis.

Marco menatap Lifia dengan tatapan menilai dan ia setuju dengan ucapanya Elang, jika perempuan yang
ada dihadapannya ini sangatlah menyebalkan. Lifia menghela napasnya dan ia bingung ingin
mengatakan apa, jika ia mengaku kepada mereka ia adalah Lifia, maka ia yang akan sangat malu saat ini.
Apalagi penampilannya yang seperti ini, pasti akan membuat para sahabat Defran ini penasaran kenapa
ia sengaja berpenampilan seperti ini. Defran bisa saja menceritakan tingkah konyolnya ini dan ia akan
sangat malu, dengan para sahabat Defran ini.

"Perkenalan diri kamu atau kamu mau saya hukum!"ancam Defran membuat Lifia menyebikkan
bibirnya.

"Perkenalkan nama saya Sayang," ucap Lifia membuat Marco terbatuk dan ia menatap Lifia dengan
tatapan penasaran. Suara Lifia memang sangat tidak asing bagi Marco, namun ia juga belum sadar jika si
sayang ini adalah Lifia yang sedang melakukan penyamaran.

"Kamu siapanya Defran?" Tanya Elang tumben saja Defran mau dipeluk lengannya sama kamu,
aduh...dasar aneh kamu Defran, disukai artis papan atas yang sangat

2/6

Tidak marah
cantik tapi milihnya dia, siapa namanya Sayang ya?" Tanya Elang yang sangat kesal melihat tingkah
Defran yang lebih memilih sayang, padahal Defran harusnya memilki permepuan cantik dan baik
bernama Lifia.

"Jawab kamu siapanya saya!" Pinta Defran dingin.

"Istrinya Mas Defran," lirih Lifia dengan pelan membuat Elang dan Marco terkejut. Lifia mengigit
bibirnya, ia merasa sangat malu dan gugup saat ini.

Defran memberikan isyarat kepada Elang dan Marco agar tidak menyudutkan Lifia saat ini. "Kata kamu
yang ingin kamu temui itu perempuan Mas, tapi kenapa mereka Mas," ucap Lifia pelan namun Defran
tidak menanggapi ucapan Lifia.
"Nanti kita bicarakan lagi dan saya kesana dulu!" Ucap Defran kepada Elang dan Marco. Defran menarik
tangan Lifia agar mengikutinya pergi menjauh dari keduanya.

Saat ini Defran dan Lifia melangkahkan kakinya menuju ruang vip yang ada di cafe ini. Keduanya masuk
kedalam ruangan VIP dan ternyata diruangan itu, telah ada yang menunggu kedatangan mereka. Dua
orang perempuan yang sangat teramat penting bagi Defran.

Kedua orang perempuan itu adalah Liana dan Salsa. Wajah Lifia memucat dan ingin sekali ia
menyembunyikan wajahnya saat ini juga karena ia sangat malu atau ia segera pergi dari ruangan ini
dengan cepat.

"Mas kamu jahat banget..." lirih Lifia membuat Defran mengangkat sebelah alisnya.

"Apanya yang jahat, Mami dan Salsa ingin sekali bertemu istri sirih saya yang membuat mereka ikut
memarahi saya karena saya telah menikah sirih dengan perempuan yang bernama sayang," ucap Defran.

"Kamu tega Mas, kamu ingin balas dendam sama aku," lirih Lifia.

3/6

Tidak marah
"Sayang kemari nak!" Pinta Liana yang ingin Lifia segera mendekatinya tanpa berdebat lagi dengan
Defran.

Defran menarik tangan Lifia dan ia mendudukkan Lifia tepat dihadapan Liana dan Salsa. "Namanya
Sayang dan dia perempuan yang mengaku menjadi istrinya Dokter Defran," ucap Defran dingin
membuat Lifia menelan ludahnya. "Mami silahkan interogasi dia, Mi!" Ucap Defran

membuat Salsa terkikik geli, melihat wajah Lifia memucat dan ia terlihat sangat kesal dan marah pada
Defran.

Defran melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini dan meninggalkan Lifia bersama Salsa dan Liana.
Saat ini hanya tinggal Liana, Salsa dan Lifia. Liana memperhatikan penampilan Lifia dari atas hingga
kebawah dan ia lagi-lagi terkikik geli melihat penampilan Lifia saat ini.

"Hahaha...pintar banget ya nak kamu dandan menyamar

4/6

Tidak marah
kayak gini, Mami hampir tidak percaya jika yang ada dihadapan Mami ini kamu Lifia," ucap Liana
membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Sama saja Mi, Salsa juga hampir tidak percaya kalau Mbak sayang ini ternyata Mbak Lifia hehehe..."
kekeh Salsa.
Lifia menudukkan kepalanya dan ia seolah bersiap menerima hukuman dari Liana. "Maaf Mi, aku
sebenarnya nggak bermaksud begitu," ucap Lifia sendu. la menundukkan kepalanya dan rasanya ia ingin
kembali menangis saat ini.

Liana tersenyum dan ia mendekati Lifia lalu, memeluk Lifia dengan erat. "Nggak perlu minta maaf
sayang!" Ucap Liana. "Kamu itu menantunya Mami, Mami suka banget aya kamu nak," ucap Liana.

"Maaf Mi, aku malu banget," ucap Lifia dan akhirnya ia terisak. "Hiks...hiks.... Aku nggak bermaksud
membuat gosip mengenai Mas Defran yang ternyata telah menikah sirih sama Sayang, aku saja yang
berlebihan, pengen tahu bayak mengenai arti dihidup," jelas Lifia.

"Loh kenapa kamu nangis sih Nak? Mami nggak marah sama kamu, Sayang," Ucap Liana. Mendengar
Liana mengatakan kata Sayang membuat Lifia semakin terisak.

"Mami mau ngejekin aku hiks..hiks aku ngaku salah Mi," ucap Lifia.

"Mbak jangan nangis dong! nanti tahi lalatnya yang itu hilang, Mbak," ucap Salsa dan ia menahan
tawany-ketika melihat Lifia sangat kesal saat ini.

"Salsa kamu kok jahat banget sih sama Mbak, hiks...hiks..." tangis Lifia. la berharap dengan ia menangis
saat ini, Liana dan Salsa akan berhenti mengejeknya.

5/6

Kesayangan Mami.
Kesayangan Mami
Liana memeluknya dengan erat, ia merasa sangat bahagia karena ada perempuan yang mencintai
putranya dengan sangat luar biasa. Apalagi lifia telah banyak berkorban dengan perasaannya selama ini,
berusaha melupakan, tapi tetap saja selalu peduli dengan sosok Defran Satyas. Defran memang tak
pernah secara gamblang mengatakan jika ia menyukai Lifia, tapi sebagai ibu Liana tahu siapa putranya
itu. Putranya tidak akan membiarkan begitu saja perempuan mengacaukan hidupnya, apalagi
membuatnya berulang kali kesulitan dalam pekerjaaannya. Defran dikenal sangat-sangat mencintai
pekerjaannya dan selalu memberikan yang terbaik ketika ia bekerja.

Sejak Lifia menjelma menjadi sosok si Sayang, membuat perkerjaan Defran sebagai seorang Dokter polisi
yang selama ini mulus tanpa hambatan kedisiplinan itu, akhirnya tercoreng dengan gosip yang
mengatakan Defran memiliki istri siri. Istri Siri yang saat ini menangis karena takut Liana marah besar
karena telah membuat nama putranya itu tercoreng. "Terlambat untuk bilang mundur apalagi berniat
untuk bilang akan melupakan anakku, Lifia sayang," ucap Liana mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Mbak Sayang, sudah jadi istrinya Mas Defran masa mau mundur sih..." goda Salsa.
Salsa sangat menyayangi Lifia karena Lifia adalah sosok perempuan istimewa yang paling tepat untuk
Defran Kakaknya yang merupakan seorang makhluk dingin tak berperasaan itu. Dulu Salsa sempat
berpikir jika Mas Defrannya itu kemungkinan akan jomblo dalam waktu

1/7

Kesayangan Mami
yang sangat lama, sampai menemukan belahan jiwanya atau Defran akan hidup sendiri selamanya.
Defran yang tak pernah nyaman berdekatan dengan orang lain dalam waktu lama dan ia menganggap
mereka sebagai pengganggu, namun membiarkan perempuan cantik bernama Lifia itu mengganggunya
membuat Liana akhirnya mengerti seistimewa apa Lifia bagi Defran.

"Minta dinikahin sama Mas Defran Mbak!" Ucap Salsa tersenyum menggoda.

"Mana mau dia..." ucap Lifia membuat Liana terkekeh dan ia melepaskan pelukannya, lalu memgambil
tisu untuk Lifia. Makeup Lifia luntur membuat Liana terkikik geli, bisa-bisa calon menatunya ini memiliki
bakat lain selain menjadi seorang aktris. Lifia menyamar dengan sangat baik dan hebatnya ia sangat jauh
berbeda dengan sosok Lifia asli.

"Kalau Mbak Sayang itu sudah berani sekali pegang-pegang tangan Mas Defran, minta cium juga nggak
Mbak?" Goda Salsa membuat Lifia melototkan matanya.

"Nggak ada, aku belum pernah minta yang kayak gitu," ucap Lifia.

"Minta dong Nak! biar tambah seru gitu main rumah-rumahannya," ucap Liana sambil menyampirkan
beberapa helai rambut Lifia ke telingannya.

"Belum pernah tapi nanti pasti ada kemungkinan mau minta ya, Mbak?" Goda Salsa.

"Nggak..." ucap Lifia dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Hahaha...Mbak jujur kamu itu ngegemesin banget loh Mbak," ucap Salsa. la sangat terkejut saat
mengetahui fakta jika Lifia ternyata menyamar menjadi sosok Sayang dan mendekati para istri rekan
kerja Defran.

"Kamu ini idenya sangat hebat ya kalau dalam hal

2/7

Kesayangan Mami
mengganggu Defran," ucap Liana. "Jadi istri sirihnya Defran dan namanya Sayang lagi...ih...ngegemesin
banget sih kamu," ucap Liana dan ia mencubit pelan pipi Salsa.

"Aku nggak sengaja Mi, Sa...beneran semuanya ini nggak direncanakan, waktu itu aku pengen banget
nganterin Mas Defran berangkat dan sebenarnya aku nggak mau dia pergi sejauh itu Mbak," ucap Lifia
sendu. "Aku takut Mas Defran kenapa-napa, jadi saat melihat pesawatnya berangkat aku teriak nyebut
nama dia terus, aku nangis gitu dan istri rekan kerja Mas Defran itu mendekati aku Mbak, saat pertama
kali ngumpul aku diminta buka masker dan nggak ada cara lain selalin dandan kayak gini," ucap Lifia. la
tidak mungkin menujukkan betapa seorang Lifia berteriak histeris seperti orang gila di Bandara karena
sedih ditinggal Defran Satyas yang sebenarnya adalah sosok laki-laki yang telah mematahkan hatinya.

"Tapi kamu cantik juga loh Lifia kayak gini...sekarang kamu ini jadi kesayangan Mami sesuai nama kamu
sayang kamu hebat banget Nak bisa membuat putra Mami itu perhatian sama kamu, kayaknya Defran
juga sayang banget sama si Sayang ini," ucap Liana dan ia kembali memeluk Lifia dengan erat.

Lifia merasa sangat cemas apalagi jika Liana dan Salsa mengetahui pembicaraan ia selama ini bersama
para bestienya. la terpaksa mengatakan kepada mereka jika Liana tidak menyukainya dan itu alasan
kenapa ia hanya dinikahi siri oleh Defran. la sangat bersalah dengan Liana dan ia mengeratkan
pelukannya. "Lifi sayang banget sama Mami, Mami nggak akan marah besar sama Lifi?" Tanya Lifia
sendu.

"Nggak, kecuali kalau kamu nggak jadi menantu Mami, Mami akan marah besar. Kapan lagi coba dapat
menatu satu frekuensi begini, apalagi seumur hidup Mami, Mami nggak akan bosan sama kamu karena
kamu itu

3/7

Kesayangan Mami
semenggemaskan itu Sayang," ucap Liana.

"Hahaha iya Mami benar, Mbak Lifia paket lengkap buat Mas Defran loh..." ucap Salsa membuat wajah
Lifia bersemu merah.

"Selamat ulang tahun ya sayang tapi Mami maunya kita makan-makan bersama di Rumah!" Ucap Liana
membuat Lifia tersenyum menganggukkan kepalanya.

"Iya Mi, terimakasih," ucap Lifia tersenyum bahagia.

Sementara itu saat ini Defran memilih duduk bersama Elang Manggala dan juga Marco Laksamana
Dewandaru. Marco tampak sangat kusut dan itu artinya saat ini Marco sedang bermasalah dengan Larisa
perempuan dimasalalunya. Elang Manggala biasanya akan menyarankan Marco untuk melakukan hal
eskrtrim sesuai dugaannya dan keduanya saat ini terlihat bagaikan dua orang keras kepala yang sangat
bodoh bagi Defran, bodoh jika mengikuti saran Elang.

"Ada apa kalian berkumpul berdua saja seperti ini?

Mana yang lain?" Tanya Defran kepada Marco dan Elang.

"Gila aja Lang, kamu minta mereka datang semua, kalian mau mereka ngehakimi aku..." kesal Marco
prustasi.
Defran mengerutkan dahinya dan ia menunggu ucapan Marco apa dia telah mengetahui jika Larisa
memiliki anak dengannya. "Apa yang terjadi padamu dan Larisa?" Tanya Defran.

"Dia membohongi aku Def, dia bilang...dia akan menuruti aku tapi ternyata dia pergi Def... Astaga bisa-
bisanya dia turun dari lantai dua dengan baju yang diikat seperti kain memanjang Def, kalau dia terluka
bagaimana?" Lirih Marco.

"Kamu sudah menemukan dia?" Tanya Defran.

4/7

Kesayangan Mami
"Belum makanya aku tu hampir gila cariiin dia, astaga mau minta bantuan Serkan, Kelvin atau Janu pasti
mereka akan memberitahu Handaru, dari Handaru pasti dia akan bilang ke Albi dan dari Albi ke
Papi...matilah aku Defran," ucap Marco. Selama ini ia bahkan mengumpulkan uang untuk membangun
rumah sakit impiannya dan ia sering kali menjadi dokter pribadi teman-temannya dengan upah yang
sangat tinggi agar ia tidak meminta bantuan

Papinya.

"Kalian belum tahu saja betapa mengerikan si Bapak Mentri," ucap Marco mengingat bagaimana sosok
Abib Laksamana Dewandaru. "Untung saja dia tidak mencalonkan dirinya sebagai presiden kalau tidak,
aku akan menjadi bagian kecacatan dalam karirnya, anak laki-lakinya memperawaniii anak gadis orang
hingga masa depannya hancur. Larisa itu sepertinya tidak melanjutkan

5/7

Kesayangan Mami
kuliah kedokterannya di Universitas lain, saat dia memutuskan pergi beberapa tahun yang lalu," ucap
Marco yang sangat memperdulikan masa depan Larisa.

"Aku hanya bisa meminta bantuan Elang atau...kamu..." ucap Marco menujuk Defran.

"Masalah saya saja belum selesai dan kamu meminta saya membantu kamu?" Sinis Defran. "Bukanya
kamu yang bilang jika saya tidak boleh ikut campur masalah pribadi kamu Marco?" Tanya Defran dingin
membuat Marco menelan ludahnya.

"Udah...aku cabut pernyataannya, tolong bantu aku Defran, Elang!" Ucap Marco dengan tatapan
memohon.

"Lang...membantu si bodoh ini sangat mudah," ucap Defran.

"Kamu pasti mengetahui sesuatu," tanya Elang dengan tatapan menyelidik.

"Ya tentu saja," sinis Defran menatap Marco dengan tajam.


"Yang jelas setelah menemukannya, cari cara agar mengancamnya!" Ucap Elang. "Kita cari kelemahan
Larisa dulu Marco!" Ucap Elang lagi. Ini adalah pernyataan bodoh maksud Defran dan ia yang pasti juga
akan menyetujui ucapan Elang, juga termasuk si bodoh jika itu mengenai masalah percintaan.

"Bukannya kamu seorang laki-laki nomor satu disukai para perempuan Marco, menghadapi satu
perempuan bernama Larisa, kamu tidak bisa," ejek Defran.

"Aku berbeda dengan kalian aku tidak ingin melukai perasaan Larisa," ucap Marco sendu.

"Jadi kalau perempuan lain boleh kamu sakiti tapi kalau Larisa jangan?" Sinis Elang.

"Iya, begitulah," ucap Marco.

6/7

Jahat siapa.
Jahat siapa
Saat ini Lifia sedang bersama Defran didalam mobil menuju ke Apartemen, tadi Lifia sangat malu apalagi
Liana dan Salsa memintanya berfoto bersama dengan penampilan si Sayang. Tingkah konyolnya yang
terlalu mencintai sosok laki-laki yang ada disampingnya ini, telah membuatnya kehilangan mukanya dan
ia sangatlah malu.

Bahkan laki-laki ini telah menipunya dengan mengatakan akan bertemu teman perempuannya di Cafe
tapi ternyata teman perempuannya itu adalah Maminya dan juga adiknya. Tentu saja hal ini membuat
Lifia sangat kesal dan merasa Defran Satyas telah mempermainkannya.

Defran menyadari tatapan sinis Lifia padanya, membuatnya mengerutkan dahinya. "Ada apa?" Tanya
Defran.

"Nggak ada apa-apa," ucap Lifia sinis.

"Kenapa kamu sepertinya kesal sama saya?" ucap Defran dingin. "Kamu marah sama saya?" Tanya
Defran lagi.

"Pikir saja sendiri kenapa aku kesal sama kamu Mas!"

ucap Lifia dingin.

"Kalau begitu saya tidak usah memikirkannya," ucap Defran seenaknya membuat Lifia membuka
mulutnya dengan kesal.

"Mas..." kesal Lifia. Jika ia memiliki kekuatan super seperti super hero wanita mungkin Defran telah ia
hajar saat ini juga.
Defran menaikkan sebelah alisnya dan ia melihat kearah Lifia dengan tatapan penasaran. Penasaran
dengan

1/6

Jahat siapa
apa yang saat ini sedang Lifia pikirkan hingga membuatnya terlihat sangat kesal padanya. "Kamu udah
janji nggak ke Rumah Mami dan kamu bilang tadi yang ingin kamu temui itu teman perempuan kamu
Mas, tapi tadi kenapa Mami dan Salsa ada di Cafe itu, kamu sengaja ngerjain aku kan Mas? Kamu jahat
banget sih Mas sama aku," lirih Lifia dan ia menyebikkan bibirnya.

"Mami ini itu perempuan dan dia bukan hanya seperti seorang ibu tapi juga teman bagi saya," ucap
Defran.

"Tetap saja kamu jahat Mas, udah tahu kau tu malu ketemu sama keluarga kamu dan kamu sengaja
kan?" Tanya Lifia kesal.

"Mana lebih jahat saya atau kamu?" Ucap Defran dengan tatapan datarnya.

"Kamu, kamu yang jahat sama aku," ucap Lifia kesal.

"Saya jahat sama kamu? Bagian mana saya yang jahat sama kamu?" Tanya Defran dingin.

"Kamu nggak pernah ngertiin aku Mas, kamu tahu kan aku itu...arhghhh...nyebelin banget sih... makanya
males ngobrol sama kamu," ucap Lifia kesal karena haruskah ia mengatakan jika ia sangat mencintai
Defran dan apakah Defran selama ini tidak tahu apa berpura-pura tidak tahu tentang perasaanya selama
ini.

"Ya sudah sekarang kamu diam saja kalau kamu nggak mau berbicara sama saya!" Ucap Defran
membuat Lifia menghela napasnya.

Sepanjang perjalanan Lifia memilih diam dan ia mengikuti kemauan Defran yang memintanya untuk
diam, namun ternyata Defran bukannya mengajaknya pulang ke Apartemen tapi Defran mengajaknya ke
sebuah taman yang biasanya banyak dikunjungi orang. "Loh kenapa kesini?" Tanya Lifia kesal.

"Disini ada batagor yang saya suka," ucap Defran.

2/6

Jahat siapa
"Mas malam-malam begini kamu ngajakin makan Batagor?" Tanya Lifia kesal.

"Kenapa memangnya dengan makan Batagor? Kalau kamu tidak suka kamu tidak usah makan!" Ucap
Defran sinis, membuat Lifia menyebikkan bibirnya.
"Semua orang juga tahu Mas kalau aku itu sangat suka makan Batagor," ucap Lifia kesal. la pernah
mengatakan disebuah acara podcast, kalau cemilan kesukaannya itu adalah Batagor.

"Oh ya?" Tanya Defran membuat Lifia menyebikkan bibirnya.

Derfran turun dari mobilnya membuat Lifia juga ikut turun dari mobil ini, Lifia sangat bersyukur karena
sepertinya tidak ada orang yang saat ini mengenalnya sebagai seorang Lifia dan ia bisa berpergian
seperti ini dengan bebas. Lifia menggandeng tangan Defran dan ia mengikuti Defran menuju gerobak
yang menjual Batagor.

"Memangnya batagor disini itu enak ya Mas? Tanya Lifia penasaran.

"Enak," ucap Defran.

"Kalau enak, kayaknya kau memang harus sering makan disini," ucap Lifia. "Aku tuh suka banget makan
batagor, saya sih cemilan ini kalau kebanyakan bsia bikin aku gendut," ucap Lifia. "Dengan penampilan
aku yang kayak begini, aku berani loh Mas pergi sendiri kesini," ucap Lifia.

"Jangan pergi sendirian ke tempat umum seperti ini!" Ucap Defran.

"Nggak sendiri paling sama Sandra," ucap Lifia. Lifia menghela napasnya ia hampir lupa dengan sosok
Sandra.

"Mas diponsel aku Sandra telepon aku, nggak Mas? Aku kangen sama dia Mas...aku tadi itu mau
menanyakan keadaan Sandra sama, Mas Marco," ucap Lifia dan tenyata ia lupa menanyakan Sandra.

3/6

Jahat siapa
"Sandra menghilang," ucap Defran membuat Lifia terkejut. Saat ia ingin menanyakan tentang Sandra,
Defran malah sibuk mendekati gerobak batagor itu.

Defran memesan dua batagor untuk makan disini, enam lainnya untuk lima Bodyguard dan satu
supirnya akan ia bungkus. Lifia duduk disamping Defran dan ia masih sangat penasaran dengan ucapan
Defran, yang mengatakan jika Sandra menghilang. "Mas Sandra benaran menghilang?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran.

"Mas aku mau lapor polisi, Mas!" Ucap Lifia.

"Untuk apa lapor?" Tanya Defran.

"Mas...Sandra itu sangat penting bagi aku, Mas," lirih Lifia. "Dia bukan hanya sebagai asisten aku, tapi
dia juga sahabat aku Mas," lirih Lifia. "Dia nggak mungkin pergi gitu aja tanpa kabar."

Defran mengeluarkan ponsel Lifia dari saku celananya dan ia memberikan ponsel itu kepada Lifia. "Dia
kirim pesan untuk kamu," ucap Defran.
Lifia mengambil ponsel itu dan ia segera membaca pesan yang dikirimkan Sandra padanya. Sandra
mengatakan jika ia meminta maaf kepada Lifia dan untuk sementara ini, ia tidak bisa menemani Lifia
sampai keadaannya membaik. Lifia menghembuskan napasnya karena ia sangat sedih Sandra terluka
karena dirinya. "Aku merasa bersalah Mas, jika bukan karena aku, Sandra pasti akan baik-baik saja," lirih
Lifia.

"Dia baik-baik saja," ucap Defran.

"Dari mana Mas tahu kalau dia baik-baik saja Mas?"

Tanya Lifia kesal.

"Sandra itu sekarang sedang ada masalah sama Marco dan dia menghindari Marco," ucap Defran.

"Kok bisa begitu? Sebenarnya ada apa sih, Mas? Kamu

4/6

Jahat siapa
pasti tahu sesuatu, please cerita sama aku Mas!" Pinta Lifia menatap Defran dengan tatapan memohon.

"Sandra itu dulu pacarnya Marco, jadi setelah bertemu kembali Marco berencana untuk menikahinya,"
ucap Defran, sedikit banyak ia sudah bisa menduga apa yang ingin Marco lakukan kepada Sandra.

"Tapi Sandranya nggak mau ya Mas?" Tanya Lifia.

"Sepertinya tidak mau," ucap Defran.

"Pada hal Mas Marco itu kan baik, dokter dan dia juga sangat tampan," ucap Lifia membuat Defran
mengangkat sebelah alisnya. "Sandra juga sangat cantik kok, tapi mungkin Mas Marco bukan tipenya
dia," ucap Lifia.

Batagor mereka datang dan Defran memberikan sepiring Batagor itu kepada Lifia. Lifia mengunyah
makananya dengan pelan dan ia merasakan sensasi

5/6

Jahat siapa
kelezatan batagor itu, hingga membuatnya merasa sangat senang. "Ternyata Batagornya sangat enak
Mas," ucap Lifia takjub. "Mas tahu aja tempat makanan enak kayak gini, besok kita kemana lagi Mas.
Aku bisa kok kemana saja sama kamu dengan penampilan kayak gini. Lagian sekarang aku kan sedang
pengangguran, syuting film barunya dimulai bulan depan Mas," ucap Lifia.

"Memangnya kamu sudah berani pergi syuting?"

Tanya Defran membuat Lifia menghela napasnya.


"Nggak Mas, tapi kan film itu sudah lama aku tunggu, Mas kenal sama Azura nggak Mas? itu artis yang
sangat cantik dan berbakat. Dia itu beruntung banget suaminya mengizinkan dia main film Mas," ucap
Lifia, ia berharap Defran mengatakan sesuatu tapi Defran hanya diam saja dan ia lebih memilih fokus
memakan batagor miliknya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

14

6/6

Pulang Mas.
Pulang Mas
Lifia menghela napasnya sebenarnya ia merasa sangat bosan, apalagi sudah dua hari ini ia tidak
melakukan apapun bahkan Defran terlihat sangat sibuk dengan pekerjaanya. la hanya menonton,
memasak dan tidur, itu adalah pekerjaan rutinnya selama dua hari ini di Apartemen Defran. Hari Kamis
yang melelahkan, itu yang saat ini ini Lifia pikirkan karena bisanya ia akan disibukkan dengan jadwal
syuting film atau iklan. Lifia tiba-tiba merasakan perutnya terasa sangat sakit dan ia menghela napasnya,
karena sepertinya hari ini adalah jadwal datang bulannya.

"Ih...sakit banget..." ucap Lifia dan ia melangkahkan kakinya menuju kamar, lalu ia segera membaringkan
tubuhnya. la melihat jam diponselnya yang menujukkan pukul tiga sore dan biasanya Defran akan
pulang pukul lima sore.

Lifia menghela napasnya dan harusnya, ia membawa obat penahan rasa sakit yang sering ia minum
namun sepertinya obatnya itu, juga tidak ada di Apartemennya. la meringkuk di ranjang dan matanya
terpejam "Aduh sakit banget..." ucap Lifia dan ia lagi-lagi merintih kesakitan. Setiap datang bulan ia akan
merasakan sakit seperti ini, apalagi akhir-akhir ini ia memang tidak meluangkan waktunya untuk
berolahraga.

Lifia mengambil ponselnya, ia bingung ingin menghubungi siapa, jika ia menghubungi Kiran, Kiran akan
tahu ia tinggal di Apartemen Defran. Kiran pasti akan marah besar padanya dan mengatakan hal yang
menyakitkan untuknya. Nasehat Kiran selalu tepat sasaran dan ia tidak ingin Kiran, juga akan
memberitahu Subekti

1/6

Pulang Mas
Ayahnya yang pastinya akan menjemputnya dengan paksa, jika tahu ia tinggal bersama Defran. Padahal
dengan tinggal disini, ia bisa melihat wajah tampan Defran setiap hari sesuka hatinya, ia yang tinggal
bersama seperti ini, membuatnya merasa sangat nyaman dan tenang.
"Kalau telepon Mbak Kana juga pasti Mami Liana yang akan datang kemari dan beliau pasti akan sangat
kahwatir loh, aku bisa saja dibawa ke Rumah sakit atau diminta untuk tinggal di Rumahnya. Kalau sudah
begitu, semua keluarga akan tahu dan aku yang akan dimarahin sama Kiran," ucap Lifia. Pendapat Kiran
akan menjadi sangat penting baginya, karena Kiran yang selama ini selau menasehatinya.

Lifia menghela napasnya, sepertinya ia harus menghubungi Defran dan mengatakan keadaannya agar
Defran pulang lebih cepat. Tapi jika Defran bertanya ia sakit apa, akan sangat malu jika ia jujur tentang
penyakitnya ini hanya dikarenakan tamu bulanannya datang. Keringat dingin bercucuran dan ia ingin
menangis rasanya, beginilah kalau ia tinggal seorang diri di Apartemen tanpa ada yang menemani. Ibu
dan Ayahnya pernah bilang, ia memang harus memilki pasangan hidup agar ia memiliki seseorang yang
bisa menemaninya. Apalagi Subekti dan Murni sudah menua, keduanya mengatakan jika keduanya
sudah tidak ada lagi nanti, maka laki-laki yang jadi suami Lifia yang akan menjaga Lifia.

Lifia memejamkan matanya dan ia berusaha untuk terlelap, namun tetap saja ia merasa kesakitan. Lifia
menteskan air matanya dan ia menangis karena kesakitan. "Hiks...hiks...sakit banget..." tangis Lifia. la
menjadi sangat sensitif dan merasa sendirian itu sangat tidak enak, karena dulu ketika ia sakit akan ada
Murni, Kana dan Kiran yang akan mengelus perutnya dengan minyak angin dan juga memberikannya
obat. Lifia yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Defran. la

2/6

Pulang Mas
tidak peduli jika ia harus menahan malu dan mengatakan kepada Defran jika ia sakit perut karena datang
bulan.

"Aku video call saja soalnya nanti kamu nggak percaya Mas, kalau aku sedang sakit," ucap Lifia. la segera
menghubungi Defran dan tiga kali ia menghubungi Defran, namun Defran tak kunjung mengangkatnya.
"Kamu kemana Mas...?" ucap Lifia mengigit bibirnya dan ia kembali terisak.

Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi, membuatnya segera mengangkatnya dan terlihat sosok
Defran yang saat ini menatap wajahnya dilayar ponselnya. "Assalamuaikum," ucap Defran dengan suara
beratnya.

"Waalikumsalam, Mas..." lirih Lifia.

"Kamu kenapa?" Tanya Defran dan ia mengerutkan dahinya saat melihat wajah pucat Lifia.

"Kamu kapan pulang?" Lirih Lifia..

"Biasanya jam lima," ucap Defran.

"Bisa pulang lebih cepat nggak Mas? Please...!" Pinta Lifia dengan tatapan memohon.

"Bisa," ucap Defran membuat Lifia merasa lega.

"Sekarang Mas!" Pinta Lifia membuat Defran memperhatikan wajah Lifia.


"Kamu sudah makan?" Tanya Defran. la seolah mencari penyebab kenapa wajah Lifia terlihat sangat
pucat.

"Sudah Mas, tadi pagi saat sarapan sama kamu," ucap Lifia, ia bahkan sempat membuatkan bekal makan
siang untuk Defran pagi tadi.

"Makan sekarang, ini sudah jam berapa!" Ucap Defran dingin.

"Aku sakit perut, sakit banget gitu..." ucap Lifia sendu dan ia memang terlihat sedang menahan rintihan
rasa

3/6

Pulang Mas
sakitnya.

"Oke saya pulang!" Ucap Defran dan ia tidak menyadari jika ada dua orang temanya Defran, tanpa
sengaja melihat Lifia yang sedang video call dengan Defran.

Sambungan telepon terputus dan Lifia mencoba menenangkan dirinya dengan segera ingin rasa sakitnya
ini hilang.

Beberapa menit kemudian Lifia mendengar suara pintu kamarnya terbuka, namun matanya begitu berat
untuk terbuka apalagi perutnya masih terasa sakit. Defran menyingkirkan selimut yang dipakai Lifia dan
mata Lifia akhirnya terbuka dan ia menatap Defran dengan sendu.

"Perutku sakit Mas..." lirih Lifia, seolah sedang mengadu kepada laki-laki yang kemungkinan besar ia
harapkan untuk khawatir padanya.

Defran menyingkap bagian atas baju Lifia, hingga perut Lifia terekspose. Defran menekan pelan perut
Lifia dengan telapak tangannya "Disebelah mana yang sakit?" Tanya Defran.

"Mas...aku tuh sakit karena datang bulan, Mas," jujur Lifia. "Setiap datang bulan begitu Mas, apalgi kalau
aku jarang berolahraga," jelas Lifia.

Defran melihat raut wajah pucat Lifia, membuatnya menggendong Lifia dan memperbaiki posisi tidur
Lifia agar lebih nyaman. Matanya menatap Lifia dengan tatapan dingin. "Sejak kapan kamu sering seperti
ini?" Tanya Defran.

"Sejak dulu Mas," ucap Lifia.

"Sudah diperiksa?" Tanya Defran.

"Sudah katanya nggak apa-apa," ucap Lifia.

Defran meletakan telapak tangannya didahi Lifia.


"Kamu juga demam," ucap Defran. Defran ingin melangkahkan kakinya ke meja kerjanya untuk
menuliskan resep obat namun tangan Lifia menahan

4/6

Pulang Mas
pergerakannya.

"'Mas jangan pergi! Aku nggak suka sakit seperti ini sendirian!" Pinta Lifia dengan tatapan memohon.

"Saya hanya ingin menuliskan resep untuk kamu!" Ucap Defran.

"Mas, hmmm..." ucap Lifia pelan, karena ia malu untuk mengatakannya.

"Ada apa?" Tanya Defran.

"Bisanya Ibu dan Mbak Kiran yang mengelus perutku sambil mengoleskan minta angin, Mas," ucap Lifia
sendu.

Defran mengambil minyak angin yang ada dinakas dan ia segera mengoleskannya ke perut Lifia dengan
pelan, sambil menatap Lifia dengan tatapan dingin. Jantung Lifia berdetak dengan kencang, karena ada
desiran aneh yang

5/6

Pulang Mas
saat ini melintas dipikirannya. Tiba-tiba ia merasa sangat malu karena prilakunya ini namun ia juga tidak
menduga Defran tidak menolak permintaannya itu. Tangan Defran bahkan sangat terampil mengelus
perut Lifia hingga Lifia mengigit bibirnya.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Defran dingin.

"Kalau kamu mau pergi lagi, aku ikut Mas! soalnya aku nggak mau kamu tinggalkan sendirian, Mas!"
Pinta Lifia. Sebenarnya yang sedang ia pikirkan saat ini bukan hanya tentang sakitnya tapi juga tentang
Sandra asistennya itu.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Elusanmu menghangatkanku.
Elusanmu menghangatkanku
Lifia dalam mode datang bulan telrihat sangat manja dan sifat asli Lifia yang seperti ini, baru diketahui
Defran. "Saya mau menuliskan resep obat, kalau kamu minta saya mengelus perut kamu seperti ini terus
menerus, itu hanya akan percuma saja!" Ucap Defran dingin.

"Tapi Biasanya dielus kayak gini sama Ibu dan Mbak Kiran sembuh loh Mas," ucap Lifia dan ia merasa
sangat nyaman dielus seperti ini oleh Defran, apalagi tangan Defran yang besar terasa sangat hangat
diperutnya.

"Jangan ngarang kamu, memangnya dengan tangan yang ngelus-ngelu perut kamu itu, sakitnya akan
hilang," sinis Defran.

"Biasnya begitu Mas, sembuh..." lirih Lifia.

"Saya telepon Ibu kamu atau Kiran biar mereka kesini!" Ucap Defran membuat Lifia panik.

"Jangan Mas...kalau mereka kesini, mereka tahu aku tinggal sama kamu dan kalau aku bilang alasannya
ada penguntit mereka akan khawatir banget sama aku!" Lirih Lifia. "Lagian kan ada kamu yang bisa
bantu elusin perut aku Mas!" Ucap Lifia.

"Saya ini laki-laki Lifia, tidak pantas saya memegang perut kamu berjam-jam seperti maunya kamu,"
ucap Defran ingin.

Lifia. "Dipantesin aja Mas, aku nyaman sama kamu," ucap

"Kamu ini polos atau bego," kesal Defran.

"Terserah Mas mau bilang apa yang penting Mas tetap elus perut aku!" Ucap Lifia.

"Kurang kerjaan banget saya elus perut kamu," ucap

1/6

Elusanmu menghangatkan...
Defran dan ia menatap Lifia dengan tatapan dingin.

"Mas...aku tu kesakitan hiks...hiks...coba kamu jadi perempuan rasain gimana jadi aku!" Isak Lifia.

"Saya nggak akan jadi perempuan," ucap Defran dingin.

"Coba bayangin aja kamu jadi aku misalnya gitu Mas..." teriak Lifia membuat Defran menaikan sebelah
alisnya karena Lifia berani berteriak padanya.

"Bisa-bisanya kamu berteriak seperti ini sama saya," ucap Defran.


"Hiks...hiks...kamu bukanya nolongin tapi marah-marah sama aku hiks...hiks...aku itu sekarang
bergantung sama kamu. Kamu mau aku mati?" ucap Lifia membuat Defran lebih takjub lagi dengan sikap
Lifia saat ini.

"Kamu itu sakit datang bulan bukan penyakit berat yang menyebabkan kematian, jadi nggak usah
berlebihan Lifia. Apa kamu mau besok saya bawa kamu periksa ke Rumah sakit. Biar saya yang periksa
kamu secara menyeluruh!" Ucap Defran sinis.

"Nggak mau hiks...hiks...kamu tega banget sama aku kalau ngomong selalu nyebelin hiks...hiks...kenapa
sih aku sakit gini kamu nggak bisa lembut sama aku Mas," ucap Lifia. "Kalau misalnya aku hamil kalau
kamu jadi suami aku, kamu marah-marah kayak gini gimana?

hiks...hiks...kayanya kita cerai aja..." ucap Lifia membuat Defran menghela napasnya.

"Saya itu mau menuliskan resep obat buat kamu dan minta Bodyguard yang ada diluar untuk beli obat
itu di apotik, saya tidak akan kemana-mana dan kembali lagi kesini!" Ucap Defran menjelaskan detail
yang ingin ia lakukan agar Lifia tidak merengek dan menangis ia tinggal sebentar.

"Tapi nanti elus perut aku lagi ya Mas!" Pinta Lifia

2/6

Elusanmu menghangatkan...
dengan tatapan penuh harap dan sosok Lifia sangat jauh berbeda dengan Lifia yang Defran kenal selama
ini.

Sosoknya yang sakit ternyata sangat manja dan cengeng.

"lya," ucap Defran.

"Janji!" Pinta Lifia sambil mengelus perutnya.

"Janji," ucap Defran membuat Lifia tersenyum

lega.

"Iya udah, tapi jangan lama!" Ucap Lifia membuat Defran mengerutkan dahinya.

"Ternyata si Sayang itu sifat asli kamu yang sebenarnya," sinis Defran membuat Lifia menelan ludahnya.
"Manja, suka nempelin kemana-kemana dan suka ngomel," ucap Defran.

"Aku kan memang Lifia, bukan si Sayang yang fiktif tercipta karena kekesalan aku sama kamu," ucap Lifia
dan ia terlihat sangat emosi saat ini karena Defran mengeluh dengan sikapnya yang manja.

"Satu lagi, kamu jinternyata sangat garang seperti singa," ucap Defran membuat Lifia kesal, ia merintih
kesakitan dan tambah terasa sakit karena sosok Defran yang menyebalkan sengaja ingin mengejeknya.
Defran menyunggingkan senyumannya melihat kekesalan Lifia dan ia segera melangkahkan kakinya,
keluar dari kamar ini. Defran dengan cepat menuliskan resep obat dan meminta salah satu Bodyguard
Lifia untuk membeli obat yang ia resepkan di apotik. Defran duduk disofa dengan santai dan tak butuh
waktu lama suara Lifia kembali terdengar.

"Mas... Mas Defran..." teriak Lifia.

Defran menghela napasnya dan baru kali ini ia merasa sangat kerepotan dengan seorang perempuan
terlebih lagi perempuan ini sekarang sangat berani berteriak padanya.

3/6

Elusanmu menghangatkan...
"Mas...," ucap Lifia namun kali ini suaranya terdengar lirih. Lifia ternyata membuka pintu kamar dan
berjalan pelan mendekati Defran, membuat Defran mengalihkan pandangannya dan tiba-tiba Lifia
memeluknya.

"Apa semua perempuan yang kesakitan datang bulan sifatnya akan seperti kamu?" Sinis Defran dan ia
mengangkat tubuh Lifia agar duduk dupangkuannya. Lifia yang dulu malu-malu menjelma menjadi
perempuan tidak tahu malu jika sakit seperti ini. "Badan kamu terasa hangat," ucap Defran dan saat ini
Lifia juga sedang demam. Lifia mengalungkan kedua tangannya dileher Defran dan ia memeluk Defran
dengan erat sambil menyadarkan kepalanya dibahu Defran.

"Nggak enak banget Mas kalau sedang sakit, perut sakit dan badanku sakit semua," ucap Lifia.

"Nanti membaik kalau kamu sudah minum obat!"

ucap Defran.

"Obatnya pahit nggak Mas?" Tanya Lifia.

"Pahit," ucap Defran.

"Aku minum obatnya pakai pisang Mas kalau pahit atau Ibu akan memberikan aku permen," ucap Lifia.

Defran mengambil ponselnya dan ia menuliskan pesan kepada salah satu bodyguardnya untuk membeli
permen dan pisang. Lifia menarik tangan Defran dan ia meletakannya diperutnya. Dari pada ia merintih
kesakitan, lebih baik ia membuang rasa malunya dengan mendapatkan elusan dari tangan Defran
berharap sakit diperutnya semakin berkurang. "Kamu kurus sekali Lifia,"

ucap Defran.

"Biar enak dilihat di Tv, Mas," ucap Lifia.


"Untung saja tidak semua bagian tubuh kamu yang kurus," jujur Defran membuat Lifia kesal jika saat ini
ia tidak merasa kesakitan. "Sebelum minum obat kamu makan sedikit!" Ucap Defran. Obat yang ia
resepkan bukan

4/6

Elusanmu menghangatkan...
hanya agar rasa sakit Lifia berkurang tapi juga agar Lifia tertidur.

"Tapi kamu nggak akan pergi kemana-mana kan Mas?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran.

Sebenaranya hari ini ia juga telah membuat rencana dengan meminta seorang perempuan yang postur
tubuhnya mirip Lifia, untuk tinggal di Apartemen Lifia

seorang diri. la sengaja melakukan itu untuk memancing penguntit itu memerintahkan orang untuk
mengganggu Lifia. Derfan bahkan telah menyiapkan cctv pengawas dan ia juga akan memerintahkan
para bodyguardnya untuk menyingkir beberapa hari ini agar penguntit itu leluasa untuk menjalankan
rencananya.

Defran ingin mengintograsi orang itu secara langsung dan ia akan mendapatkan bukti akurat. Orang
yang telah

5/6

Elusanmu menghangatkan...
berani membuat perempuan didalam pelukannya ini ketakutan, harus segera menerima akibatnya. la
akan menjembloskannaya ke penjara dengan waktu yang cukup lama dan ia tak akan membiarkan orang
itu berdamai, dengan uang atau apapun. Bahkan Defran akhirnya menyetujui keinginan Kakeknya untuk
menjadi CEO dari perusahaan miliknya asalkan Kakeknya memberikan kekuasaan untuknya untuk
menghancurkan siapapun yang berani mengusik keluarganya. Dengan uang dan kekuasaan yang telah
diberikan padanya, ia akan menghancurkan perusahan orang yang telah berani membuat Lifia ketakutan
selama ini.

Komentar lainnya

Berikan Suara

33

6/6
Berterimakasih dengan.
Berterimakasih dengan
Lifia terlelap dipelukan Defran dan wajahnya memang masih terasa panas, membuat Defran menghela
napasnya. Defran ingin membangunkan Lifia agar segera makan dan minum obat. Defran mengangkat
tubuh Lifia dan ia membawanya masuk kedalam kamar, lalu membaringkannya diatas ranjang. Setelah
itu ia melangkahkan kakinya menuju dapur, ia memasak bubur untuk Lifia. Beberapa menit kemudian
Bubur telah selesai dimasak dan Defran kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. la meletakkan
semangkok bubur itu atas nakas lalu ia duduk disamping Lifia.

"Lifia bangun!" Perintah Defran. Lifia terlihat tidak bergeming dan ia masih tertidur dengan lelap. "Lifia,
bangun!" Ucap Defran dengan nada yang cukup tinggi. Lifia membuka matanya dengan pelan dan ia
menatap wajah Defran dengan sendu. Wajahnya terlihat sangat pucat dan Defran membantunya duduk
dengan memeluknya lalu menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang.

"Makan dulu!" Ucap Defran.

"Nggak selera makan, Mas!" Ucap Lifia.

"Kamu jangan manja!" Ucap Defran dingin.

"Aku nggak bisa nggak manja kalau sakit!" Ucap Lifia sendu. "Lagian aku manjanya hanya sama orang-
orang tertentu Mas, kamu harusnya bersyukur karena beruntung aku manjanya ingin sama kamu!" Ucap
Lifia.

"Jadi kamu nggak mau makan?" Tanya Defran dingin.

"Mau, tapi kamu suapin!" Pinta Lifia menatap Defran dengan tatapan penuh harap.

1/6

Berterimakasih dengan
"Saya dapat apa kalau melayani kamu yang manja ini?" Tanya Defran.

"Pelukan dari aku Mas," ucap Lifia dan ia menatap Defran dengan tatapan polosnya seolah memeluknya
itu tidak memiliki arti apapun. Namun bagi Defran bersentuhan dengan Lifia membuatnya ia merasa ada
sesuatu yang salah pada dirinya.

"Kalau sakit kayak gini bicara kamu ngelantur terus," sinis Defran.

"Mas suapin!" Pinta Lifia. "Nanti kalau kamu sakit, aku juga akan melakukan apa yang kamu mau
termasuk suapin kamu!" Ucap Lifia mencoba membujuk Defran.
Defran menghela napasnya dan ia mengambil semangkok bubur yang ada diatas nakas, lalu ia segera
menyuapkannya kedalam mulut Lifia. Lifia mengunyahnya dengan pelan dan ia terlihat sangat malas
memakan makanannya. "Aku itu lapar Mas tapi lidahku pahit gitu," ucap Lifia.

Defran menatapnya dengan tatapan dalam dan ia kembali menyuapkan sesendok makanan kepada Lifia.
"Mas buburnya enak tapi aku nggak suka makan bubur," ucap Lifia.

"Suka atau tidak kamu harus tetap makan!" Ucap Defran.

"Mas..." rengek Lifia.

Defran tidak peduli Lifia merengek dan tidak ingin makan karena ia tetap saja menyuapkan Lifia
makanan. "Kalau mau cepat sembuh, kamu makan dan segera minum obat!" Perintah Defran. Lifia
kembali mengunyah dengan pelan dan ia merasa mual namun tatapan Defran yang teramat dingin
padanya membuatnya berusaha keras untuk menelannya dari pada memuntahkannya.

"Udah ya Mas!" Ucap Lifia dengan tatapan memohon. Defran meletakkan semangkok bubur itu dinakas
dan ia

2/6

Berterimakasih dengan
melipat kedua tangannya menatap Lifia dengan dingin.

"Kamu marah sama aku?" Lirih Lifia.

"Maaf hiks...hiks..aku ngerepotin kamu, aku nggak maksud begitu Mas tapi...hiks...hiks...tapi aku nggak
ada siapa-siapa lagi yang bisa aku mintai tolong kecuali kamu. Lagian kamu itu tempat ternyamannya
aku Mas..." ucap Lifia.

Lifia meneteskan air matanya membuat Defran menghela napasnya. Tatapan matanya yang seperti ini
adalah tatapan biasa yang sering ia perlihatkan pada Lifia, tapi hari ini Lifia terlihat sangat sensitif hingga
salah paham dengan tatapannya. "Kamu jangan salah paham sama saya!" Ucap Defran dingin.

"Hiks...hiks...tapi kamu marah kan Mas? Aku nggak maksud ngerepotin kamu tapi kalau sakit begini aku
memang gitu Mas," ucap Lifia dan ia memegang tangan Defran.

"Minum obat dulu!" Ucap Defran.

"Kamu belum jawab pertanyaan aku Mas, kamu nggak marah sama aku kan Mas?" Lirih Lifia dan ia
menghapus air matanya dengan jemarinya.

"Nggak," ucap Defran singkat. la mengambil obat, pisang dan permen, lalu ia memberikannya kepada
Lifia.

"Minum obatnya!" Ucap Defran.


Lifia menganggukkan kepalanya dengan pelan dan ia mengambil dua tablet ditangan Defran. "Mas
makannya satu-satu saja ya!" Ucap Lifia kembali meletakan obat itu ditangan Defran.

"Terserah sama kamu, tapi dua-duanya harus diminum!" Ucap Defran dingin.

"Iya Mas," ucap Lifia. "Mas jangan marah!" Ucap Lifia membuat Defran menghela napasnya.

"Saya tidak marah sama kamu apalagi untuk hal

3/6

Berterimakasih dengan
sepeleh, kamu yang membuat saya jadi pembicaraan orang di kantor hingga dikira menikahi si sayangi
dengan sirih saja, saya masih bisa menahan kemarahan saya. Buktinya sekarang saya ada dihadapan
kamu!" Ucap Defran dingin.

"Iya Mas terimakasih," ucap Lifia dan ia segera memeluk Defran dengan erat tanpa malu. Ingat tanpa
malu, seperti Lifia yang biasanya yang tidak akan berani memeluknya seperti ini dan Lifia terbiasa
menghindari tatapannya dengan wajahnya yang pasti bersemu merah.

"Kapan kamu meminum obatnya?" Tanya Defran dan ia mengangkat tangannya dengan ragu, namun
perlahan ia akhirnya mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Iya ini aku mau minum obatnya! Kalau kamu nggak mau lihat, nggak apa-apa!" Ucap Lifia. Defran sudah
tahu bagaimana seorang Lifia yang bisa saja tidak menelan obatnya dan malah membuangnya, jika ia
tidak melihatnya meminum obat.

"Minum sekarang!" Ucap Defran. Lifia mengambil obat itu dengan pelan dan memasukannya kedalam
pisang yang telah ia buka, lalu ia memakannya. "Ditelan Lifia!" Perintah Defran membuat Lifia segera
menelannya dan Defran memberikan segelas air kepada Lifia.

"Udah Mas," ucap Lifia.

"Satu lagi!" Ucap Defran.

Lifia menghela napasnya dan satu tablet obat ini berukuran cukup besar. Lifia menatap Defran dengan
tatapan memohon dan ia ingin menolak meminum obat ini.

"Mas udah ya tadi itu udah aku minum!" Ucap Lifia.

"Kamu jangan kayak anak kecil Lifia!" ucap Defran kesal.

"Kalau kata Ibu aku itu masih kecil Mas, apalagi aku belum menikah, aku masih tanggung jawab Ibu dan
Ayah,"

4/6
Berterimakasih dengan
ucap Lifia membuat Defran geram. Lifia sangat menyebalkan hari ini apalagi jika menganggap dirinya
anak kecil hingga sangat mudah memeluknya bahkan meminta ini itu padanya.

"Minum sekarang juga!" Perintah Defran. Lifia menatap Defran dengan sendu "Awas kalau kamu nangis
lagi, saya cium mau kamu?" Tanya Defran kesal.

"Lebih enak dicium dari pada minum obat!" Ucap

Lifia. Defran mengepalkan kedua tangannya dan kesabarannya benar-benar diuji dengan makhluk cantik
yang ada dihadapannya.

"Makan obatnya!" Perintah Defran dan ia mengambil satu tablet obat dari tangan Lifia. "Buka mulut
kamu!" Perintah Defran membuat Lifia dengan terpaksa membuka mulutnya. Defran memasukkan obat
itu kedalam mulut Lifia dengan cepat. "Telan!" Ucap Defran.

5/6

Berterimakasih dengan
"Nggak bisa pahit Mas!" ucap Lifia.

Defran mengambil segelas air dan ia meminumkan

segelas air itu kepada Lifia "Telan!" Perintah Defran lagi. Lifia mencoba menelannya dan akhirnya
berhasil, biasanya yang berhasil membujukknya meminum obat seperti ini hanyalah Kiran. Kiran bahkan
memarahinya terlebih dulu, lalu membuatnya menangis hingga akhirnya terpaksa meminum obatnya.

Lifia kembali memeluk Defran dengan erat. "Mas mulutku rasanya pahit sekali!" Lirih Lifia.

Defran membuka permen dan ia menarik dagu Lifia dengan pelan, lalu memasukan permen itu dengan
jarinya hingga mengenai bibir Lifia.

"Kamu ini makin hari membuat saya semakin memupuk dosa," kesal Defran menatap Lifia dengan kesal.

Lifia menatap wajah tampan Defran dengan sendu, ciuman pertamanya itu hanya akting dengan lawan
mainnya dan itu membuatnya sangat kesal, walau hanya bersentuhan dengan cepat. Lifia ingin
merasakan bibir seksi yang ada dihadapanya ini dan ia menghela napasnya karena keinginannya ini
membuatnya menjadi sangat tidak tahu diri.

"Terimakasih Mas," ucap Lifia lagi dan ia mengecup bibir Defran dengan singkat lalu ia memeluk Defran
dengan erat. Lifia menyembunyikan wajahnya yang pastinya memerah karena malu dengan tingkahnya.

25

Komentar lainnya
Berikan Suara

6/6

Merasa bodoh.
Merasa bodoh
Hari ini Lifia berencana akan menginap di Kediaman Mami Liana bersama Defran, sebenarnya ia masih
sangat malu untuk datang kesana karena pasti mereka akan menggodanya, namun jika ia tidak pergi
menginap disana, ia akan terjebak berdua saja bersama Defran di Apartemen ini. Apalagi ia sangat malu
mengingat tingkah bodohnya yang mencium bibir Defran begitu saja. Tentu saja ia sangat malu dengan
tingkah gilanya ini namun, ia bisa apa karena itulah keinginannya yang sebenarnya, mencium Defran
dengan alasan berterimakasih kepada Defran.

Lifia melihat Defran yang saat ini sedang mengambil beberapa berkas miliknya dan memasukkannya
kedalam tasnya. Defran juga memintanya memakai gamis dengan jilbab dikepalanya, ketika keluar dari
Apartemen ini. "Mas kenapa mesti bergamis kayak gini?" Tanya Lifia.

"Kenapa memangnya?" Ucap Defran dingin, bukannya menjawab pertanyaan Lifia tapi Defran balik
bertanya padanya.

"Mas...aku itu kan nggak pakek jilbab, ngapain aku berpenampilan kayak gini," ucap Lifia protes.
Sebenarnya Defran ingin membawa Lifia keluar dari gedung Apartemen ini, agar tidak diketahui
penguntit itu karena saat ini ia telah menyiapkan umpan dengan membayar sosok perempuan yang
posturnya mirip dengan Lifia. Dengan memakai baju seperti ini Lifia akan terlihat jauh sangat berbeda
dengan dirinya.

"Itu biar kamu tobat, kamu pikir apa yang kamu lakukan kemarin itu kepada saya adalah sesuatu yang
lumrah dan sering kamu lakukan sama lawan mainmu difilm. Kamu tidak bisa mencium saya sesuka hati
kamu

1/6

Merasa bodoh
Lifia!" ucap Defran kesal.

"Anggap saja kamu itu lawan mainku, Mas," ucap Lifia kesal. "Lagian apa yang aku lakukan itu sebagai
rasa terimakasih seorang anak kepada ayahnya," ucap Lifia lagi, wajahnya memerah karena malu dan
inilah alasannya yang bisa ia katakan saat ini.

"Mana ada anak mencium ayahnya dibibir," ucap Defran sinis.


"Anggap saja kecupan terimaksih dari si Sayang, kan yang tergila-gila sama kamu itu si sayang bukan
Lifia," ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena malu. "Tapi kalau nggak suka aku janji nggak
akan cium kamu lagi!" Ucap Lifia.

"Nggak usah berjanji kalau nggak bisa menepatinya!" Ucap Defran dingin.

"Aku serius Mas, aku akan menepatinya, tapi kamu tolong dulu tangkap orang yang menguntit aku
setelah itu aku akan pergi dari kamu dan aku juga akan pergi bersama si Sayang juga!" Ucap Lifia.
Ya...tentu saja jika ia pergi dari hidupnya Defran, ia juga akan mengatakan secara jujur kepada para
bestie, kalau dia selama ini membohongi mereka dan dia bukan istri siri Defran.

"Saya sudah bilang jangan berjanji kamu akan pergi dari saya!" Ucap Defran dingin.

"Aku ingin janji karena kamu kayaknya kesal banget aku cium, kamu nggak suka dan aku minta maaf!"
ucap Lifia sendu.

"Bibir kamu sering cium lawan main kamu dan saya tidak suka," ucap Defran.

"Nggak sering dan hanya kecupan saja nggak lebih itupun hanya dua film yang kayak gitu, kecup aja
nggak ada yang berlebihan. Lagian aku menganggap lawan mainku itu kayak Ibuku dan cupp gitu aja,"
jelas Lifia. "Lagian aku sepertinya akan menetap di Paris saja, ada tawaran kerja

2/6

Merasa bodoh
disana untuk jadi model, mereka butuh model Asia dengan wajah Indonesia dan aku terpilih. Aku terpilih
menjadi model intensional majalah dan juga peragaan busana sama artis Jepang dan Korea yang juga
terpilih sama seperti aku." Jelas Lifia.

"Saya tidak mengizinkan kamu pergi!" Ucap Defran.

"Kamu nggak bisa larang aku Mas, kamu bukan siapa-siapa aku!" Lirih Lifia.

"Si Sayang istri sirih saya," ucap Defran menatap Lifia dengan tatapan sangat dingin.

"Yang dikontrak sama mereka itu bukan si Sayang Mas, tapi Lifia," ucap Lifia kesal.

"Kamu pikir saya tidak bisa melarang kamu untuk tidak pergi?" Ucap Defran dingin.

"Memang nggak bisa," ucap Lifia.

"Setelah membuat kekacauan kamu ingin pergi, kalau begitu saya tidak ingin menangkap penguntit itu,
agar kamu selamanya tidak bisa bebas dari saya!" Ucap Defran sinis.

"Memangnya polisi itu hanya kamu saja, Mas? Apa nggak ada polisi lebih hebat dari kamu? pasti ada
yang lebih hebat dari kamu yang akan membantu aku menangkap orang itu," ucap Lifia kesal.
"Sepertinya kamu memang lebih baik sakit, kalau sikap kamu seperti ini," sinis Defran.

"Terus kamu maunya apa?" Ucap Lifia prustasi dengan sikap Defran padanya.

"Berhenti jadi aktris apalagi jadi model!" Ucap Defran.

"Nggak mau," ucap Lifia.

"Pada akhirnya kamu memang harus vakum pada semua kegiatan yang kamu agung-agungkan saat ini
Lifia!"

3/6

Merasa bodoh
Ucap Defran. la menyerahkan sebuah masker kepada Lifia.

"Pakai!" Perintah Defran.

"Untuk apa pakai masker segala," ucap Lifia

kesal.

"Kalau kamu nggak mau pakai masker diwajah kamu, kamu jadi si Sayang saja!" Perintah Defran.

"Nggak mau," ucap Lifia.

"Kamu harus mau! kamu harus pakai masker ini karena saya ingin melindungi bibir saya dari bebek yang
suka mencium saya!" ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Siapa yang bebek? memangnya bibir aku kayak bebek?" ucap tanya Lifia kesal. "Mas aku udah minta
maaf dan janji nggak akan gitu lagi Mas, aku nggak akan cium kamu lagi. Bulan depan saat aku datang
bulan aku juga nggak akan minta ditemanin kamu lagi!" Lirih Lifia.

"Kamu nggak usah janji!" Kesal Defran.

"Hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu nggak jijik sama aku, apalagi kamu pasti mengira aku
murahan banget sampai berani gitu aja cium kamu, aku nggak pernah melakukan ini sebelumnya Mas,
nggak pernah. Aku juga nggak pernah pacaran yang berlebihan seperti yang kamu kira karena aku nggak
mau dan nggak pernah suka sama mereka yang deketin aku. Apa salah kalau aku itu maunya dekat sama
kamu?" Lirih Lifia.

Lifia terlihat sangat putus asah saat ini. "Apa salah kalau aku berterus terang selama ini kalau aku suka
sama kamu," lirih Lifia membuat Defran menghembuskan napas kasarnya. la mengepalkan tangannya
dan ia melangkahkan kakinya mendekati Lifia dengan cepat, lalu ia menarik pinggang Lifia agar tak ada
jarak baginya. Defran menatap wajah cantik itu dengan tatapan dalam dan ia tiba-tiba mencium bibir
Lifia dengan lembut. Lifia mengerjapkan kedua matanya, karena merasa sangat terkejut.
4/6

Merasa bodoh
Lifia saat ini terlihat sangat terkejut membuat Defran menatap mata indah itu dengan tatapan menilai.
"Saya saat ini menjadi suami yang cium istrinya si Sayang," ucap Defran dengan wajahnya yang merah
padam. Keduanya terlihat terpaku dengan apa yang baru saja terjadi, hingga Lifia hampir saja terjatuh
jika Defran tidak memeluk pinggangnya. "Pakai maskernya dan kita pulang ke Rumah Mami!" Pinta
Defran, membuat Lifia menganggukkan

kepalanya dengan pelan.

"li...iya Mas," ucap Lifia gugup dan ia segera memakai masker diwajahnya. la sangat terkejut dengan
sikap Defran yang tiba-tiba menciumnya dan itu ia menduga jika Defran melakukannya, karena kesal
padanya.

Defran melirik Lifia yang masih terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan dan ia
menarik tangan Lifia agar mengikutinya keluar dari Apartemen ini.

5/6

Merasa bodoh
Lifia sangat bingung dengan apa yang terjadi dan Defran menciumnya begitu saja, lalu bodohnya ia
merasa sangat hangat dengan perlakuan Defran tadi padanya. Lifia merasa sangat gugup dan ia hanya
mengikuti Defran yang menariknya agar ikut melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini. Keduanya
saat ini masuk kedalam lift, tak butuh waktu lama pintu lift terbuka dan keduanya melangkahkan kakinya
keluar dari lift. Defran melihat sosok laki-laki yang mencurigakan yang baru saja melewatinya dan baru
saja masuk kedalam lift. Defran yakin laki-laki ini juga merupakan bagian dari laki-laki yang ingin sekali
Defran jebloskan kedalam Penjara.

Komentar lainnya

Berikan Suara

21

6/6

Tersembunyi.
Tersembunyi
Rencana Defran pasti akan berhasil menguak semuanya dan mendapatkan bukti, ia hanya tinggal
memantau dan melihat apa yang akan lakukan psikopat yang menganggap Lifia hanya permainan dan
orang itu mencoba untuk memiliki Lifia. Saat ini ia dan Lifia sedang berada didalam mobil, Lifia terlihat
kesal karena Defran memintanya memakai baju gamis dan Lifia segera membuka bajunya dengan cepat.
la memang sengaja memakai baju dua lapis agar ia bisa membukanya seperti ini.

"Kamu ini nggak ada malunya didepan laki-laki," ucap Defran membuka suaranya.

"Didepan kamu juga, nggak apa-apa Mas lagian aku kan nggak telanjang," ucap Lifia dan wajahnya
memerah karena lagi-lagi mengingat adegan bagaimana Defran tiba-tiba menciumnya.

"Kenapa kamu berniat telanjang didepan saya?" Tanya Defran sinis.

"Nggak, ngapain telanjang didepan kamu gila aja, jangan karena aku pernah cium dan peluk kamu, kamu
membuat aku terhina sekali," ucap Lifia.

"Terhina? Apa maksud kamu dengan terhina?" Tanya Defran sinis.

"Mas aku itu bukan perempuan murahan yang mau saja melakukan hal itu kepada yang bukan kekasih
aku apalagi bukan suami," ucap Lifia.

"Bagus kalau kamu sadar nggak akan melakukan hal itu dengan laki-laki lain. Ingat ya kalau sakit kamu
jangan menghubungi sembarang orang untuk menjaga kamu, Sakit saja kamu sangat berbeda dan suka
menyentuh

1/7

Tersembunyi
saya," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Jadi kamu maunya kalau aku yang sedang sehat ini maksudnya bebas boleh menyentuh kamu gitu?"
Ucap Lifia kesal.

"Kalau mau silahkan saja!" Ucap Defran. "Tapi bukanya kamu sudah mengetahui semua bentuk dan
ukuran milik saya... seberapa besar hmmm...kata kamu gedongg ya?" Tanya Defran membuat Lifia
tergagap dan wajahnya merah padam.

"Sia sih...siapa Mas teman aku yang suka melaporkan semua tingkah aku? Itu hanya fitnah Mas aku
nggak ada bilang begitu," ucap Lifia mencoba menyangkalnya.

"Jangan menyangkal karena kamu berdosa kalau menyangkal apa yang kamu lakukan!" Ucap Defran.

"Sekarang dosa kamu masih kamu tanggung sendiri, tapi nanti kalau sudah jadi istri jika suami tidak
mengingatkan kamu, berarti kamu membuat suami kamu masuk neraka," ucap Defran.

"Kenapa bahas ginian, kamu mau jadiin aku istri?

Nggak kan?" Lirih Lifia dan ia menatap Defran dengan tajam sedangkan Defran menyunggikan
senyumannya.
"Semakin hari kamu sudah semakin berani melawan saya, kamu tidak memikirkan apa akibatnya dengan
melawan saya, Lifia?" Tanya Defran sinis.

"Jadi kalau kamu nyebelin aku diam saja gitu? Kayak istri di sinetron yang jadi babu suaminya hingga
suaminya main serong dengan perempuan lain," ucap Lifia kesal "Aku nggak mau seperti Mamaku yang
meninggal karena suaminya menyiksanya lahir batin, perempuan yang nggak mandiri financialnya hanya
dipandang sebelah mata," ucap Lifia mengingat masalalu dimana Almarhum Mamanya sangat menderita
saat itu.

2/7

Tenang dulu.
Tenang dulu
Lifia menghela napasnya, ia belum bisa menghubungi Sandra padahal banyak hal yang ingin ia bicarakan
kepada Sandra, apalagi mengenai keberangkatannya ke Paris bulan depan. Lifia sangat bosan dan ia
menunggu Defran yang berjanji akan pulang pukul dua sedangkan jam tiga, ia sebenarnya telah berjanji
kepada Mami Liana yang ingin mengajaknya pergi, namun dilarang oleh Defran. Selama penguntit itu
belum ditangkap, selama itu pula ia akan sulit pergi kemanapun seperti saat ini. Apalagi Defran seolah
memanfaatkannya menjadi pembantu di apartemen ini dan mengurungnya.

Pagi-pagi Lifia telah bangun pagi untuk membuatkan Defran sarapan dan siang ini, Defran telah berjanji
makan siang bersamanya di Apartemen ini. "Udah janji mau pulang jam dua, awas kalau dia nggak
pulang," sinis Lifia.

Lifia melihat jam dan ia segera memanaskan makanan yang telah ia siapkan. Beberapa menit kemudian
terdengar suara ketukan pintu membuat Lifia segera melangkahkan kakinya mendekati pintu, lalu ia
membukanya, Lifia menelan ludahnya saat melihat tatapan seorang perempuan yang saat ini
menatapnya dengan kesal.

Jantung Lifia berdetak dengan kencang karena dari semua keluarganya, yang paling ia takuti adalah
Kiran. "Jadi selama ini ponsel kamu itu dikuasai Defran, ckckck gila ya kamu tinggal disini Dek, yang
benar saja," ucap Kiran kesal. la beberapa kali menghubungi Lifia namun Lifia tidak pernah
menghangatkan selama beberapa hari ini. Tapi kemudian Lifia akan membalasanya dengan pesan
singkat, yang mengatakan jika ia sedang sibuk. Adiknya ini tidak

1/6

Tenang dulu
pernah bersikap seperti ini padanya dan itu membuatnya curiga.

Lifia menarik Kiran agar segera masuk kedalam Apartemen. "Masuk dulu Mbak dan jangan marah dulu!"
Ucap Lifia. la memang meminta Defran untuk tidak mengunci pintu Apartemen ini dan ia berjanji tidak
akan gegabah membuka pintu, apalagi saat ini ada bodoyguard yang menjaga apartemen ini dari luar.
Kiran memang datang bersama Handaru, Handaru tiba-tiba memaksanya untuk makan bersamanya dan
ia curiga saat melihat beberap Bodyguard, menjaga apartemen Defran.

Setahunya Defran tidak butuh pengawalan seperti ini dan ia curiga siapa yang saat ini ada didalam sana.

Tadinya Kiran dilarang untuk masuk, namun Kiran meminta Handaru menunjukkan kehebatannya
sebagai sahabat Defran, agar ia bisa melihat siapa yang berada didalam apartemen Defran. Handaru
berhasil membujuk Defran, agar mengizinkan Kiran untuk masuk ke Apartemen apalagi sebenarnya
Handaru tahu siapa yang ada didalam Aprtemen Defran.

"Mbak duduk dulu!" Pinta Lifia. la segera menuju dapur, lalu mematikan sup yang tadi ia panaskan.

"Kamu kenapa tinggal disini? kamu kayak istrinya Mas Defran Dek, minta hubungan kamu dan Defran
menjadi jelas!" Pinta Kiran, membuat Lifia menghela napasnya. Andai saja semudah itu mengatakannya,
aia pasti akan mengatakannya dengan jelas.

"Mbak kam tahu gimana Mas Defran, lagian Mas Defran itu nggak suka sama aku," ucap Lifia.

"Kalau nggak suka kenapa kamu tinggal disini sama dia dan kenapa juga kamu diberikan hadia kalung
sama dia!" Ucap Kiran.

"Siapa yang memberitahu Mbak?" Tanya Lifia dengan menatap Kiran dengan tatapan penasaran.

2/6

Tenang dulu
"Mbak Kiran dan Salsa siapa lagi," ucap Kiran

sinis.

"Ooo..." ucap Lifia.

"Ooo???" Tanya Kiran dengan kesal.

Lifia menghela napasnya, ia pun tidak mengerti Defran dan setahunya Defran hanya menganggap dia
adiknya selama ini. "Kalau kamu tinggal di Desa kamu sudah dinikahkan oleh kepala Desa sama Defran,
tinggal didalam satu Apartemen tanpa ikatan namanya kumpul kebo," ucap Kiran membuat Lifia sangat
kesal.

"Mbak aku dan Mas Defran nggak kayak gitu, Mbak!" Ucap Lifia. "Mas Defran saja tidurnya disofa dan
dia nggak macam-macam sama aku," ucap Lifia dan selama ini Defran memang tidur disofa. "Aku punya
alasan kenapa aku tinggal sama Mas Defran dan pelase percaya sama aku, Mbak!" Ucap Lifia dengan
tatapan memohon.

"Gimana Mbak mau percaya sama kamu kalau selama ini kamu nggak jujur sama, Mbak!" Ucap Kiran.
"Aku jujur sama Mbak, Mbak nggak nanya sama aku, aku tinggal dimana," lirih Lifia. "Mbak aku itu ada
masalah dan aku tinggal disini juga karena masalah itu," lirih Lifia.

"Kamu hamil? Defran menghamili kamu?" Tanya Kiran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Nggak Mbak!" Ucap Lifia kesal.

"Kalau iya pun juga nggak apa-apa!" Ucap Kiran.

"Dosa tanggung masing-masing Dek, tapi kamu tahu gimana kecewanya kedua orang tua kita," ucap
Kiran.

"Mbak serius, aku itu nggak hamil dan aku tinggal disini karena ada masalah genting," ufap Lifia.

"Kamu tinggal sekamar sama laki-laki yang selama ini kamu cintai, tidak menutup kemungkinan kalau
kamu menggoda Mas Defran dan naik keranjangnya sampai dia

3/6

Tenang dulu
kelepek sama kamu, demi cinta biasanya orang akan melakukan apapun," jelas Kiran.

"Ya...kurang lebih seperti saya, saya akan melakukan apapun demi Kiran!" Ucap Handaru membuat Lifia
membuka mulutnya karena terkejut dengan kehadiran Handaru. Sejak kapan Handaru Laksamana
Dewandaru, masuk kedalam Apartemen ini. Mengingat Handaru Lifia jadi mengingat sosok Marco
Laksamana Dewandaru.

"Kapan Mas masuk? Mbak kamu harus hati-hati sama Mas Handaru! Nanti kamu bisa dihamili sama
dia!" Ucap Lifia membuat Handaru menyunggikan senyumannya, karena tentu saja ia akan menghamili
Kiran jika nanti ia menikah dengan Kiran.

"Kalau itu sudah pasti, Kiran akan hamil anak saya," ucap Handaru.

"Jangan sampai tergoda Mbak, para Dewandaru itu terkenal banget Playboy cap kucing kayak Mas
Marco," ucap Lifia, membuat Handaru mengerutkan dahinya. la bingung kenapa Lifia telihat kesal sekali
padanya, bahkan mengatakan keluarganya Playboy termasuk Marco.

"Adik ipar, saya bukan seorang Playboy, coba kamu cari tahu tentang skandal saya! pasti saya bersih dari
segala tuduhan kamu itu!" Ucap Handaru.

Lifia menghela napasnya, hampir saja ia keceplosan karena masalah ini dan ia tidak berhak ikut campur
mengenai hal yang berkaitan dengan Marco dan Sandra. Biarlah nanti mereka yang menyelesaikan
masalah mereka sendiri dan tanpa campur tangannya yang tahu mengenai Marco, yang telah memiliki
anak bersama Sandra.
"Sekarang ini kamu jangan mengalihkan pembicaraan Dek, Mbak pengen tahu masalah apa yang kamu
hadapi hingga kamu tinggal di Apartemen Defran bahkan dijaga dengan para Bodyguard seperti ini!
Ucap Kiran dingin.

Terdengar suara pintu terbuka, membuat Kiran berdiri

4/6

Tenang dulu
dan ia menatap Defran dengan dingin. Kiran bak singa yang ingin menerkam Defran yang sangat
menyebalkan. Jika Defran menyukai Lifia, harusnya Defran memberikan status yang jelas untuk Lifia,
Defran bahkan tidak lebih baik dari Handaru. Handaru Laksamana Dewandaru memohon ingin
mendapatkan status hubungan yang jelas dengan dirinya tidak seperti Defran.

"Assalamulaikum," ucap Defran.

"Waalikumsalam," ucap Lifia dan Handaru bersamaan.

"Defran Satyas, kamu sebenaranya ada hubungan apa dengan adikku? kenapa dia bisa tinggal di
Apartemen kamu?" Tanya Kiran dingin. Lifia memukul dahinya dan ia menggelengkan kepalanya karena
baginya tindakan kakak perempuannya ini, pasti akan membuatnya malu.

"Menurut kamu apa?" Tanya Defran dingin.

5/6

Tenang dulu
"Dasar kambing lo ya...astaga adik saya ini yang bodoh dan t***l bisa-bisanya suka lo Mas, kayak nggak
ada laki-laki lain saja!" Ucap Kiran murka. Lifia jelas-jelas mengatakan kepadanya, jika Defran
menolaknya dan Defran tidak menyukainya.

"Wajar kalau dia suka sama saya, yang nggak wajar kalau dia suka sama Handaru," ucap Defran dingin
membuat Kiran melototkan matanya karena nama Handaru dibawa-bawa oleh Defran.

"Jangan memberikan harapan sama adik aku kalau kamu hanya ingin mempermainkannya!" Ucap Kiran.

"Mbak...tenang dulu, Mbak itu hanya salah paham.

Mas Defran itu nolongin Lifia, Lifia tinggal disini karena Lifia sedang ada masalah," ucap Lifia.

"Dari tadi sedang ada masalah? Masalah apaan?"

Teriak Kiran kesal membuat Handaru menyunggingkan senyumannya karena pesona calon istrinya ini,
membuatnya semakin mencintai Kiran. Semakin garang Kiran, ma semakin menarik baginya dan ia ingin
sekali
segera menjadikan Kiran istrinya.

10

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Dukungan tiba-tiba.
Dukungan tiba-tiba
Lifia merasa kepalanya pusing melihat kemarahan Kiran, terlebih lagi Kiran akan menjadi singa betina
ganas yang pastinya akan mengamuk, jika ia tidak mengatakan masalah yang ia hadapi saat ini. Lifia
menatap Kiran dengan sendu dan ia memang harus menjelaskan semuanya kepada Kiran saat ini.

"Mbak aku itu diikuti penguntit dan gilanya mereka sampai ingin menculik aku Mbak," lirih Lifia
membuat Kiran mengerjapkan keduanya matanya dan ia ingin Lifia mengulangi apa yang Lifia katakan
saat ini.

"Kamu nggak bohong?" Tanya Kiran seolah tidak percaya dengan ucapan Kiran.

"Ngapain aku bohong Mbak," lirih Lifia.

"Karena kamu kan memang pengen tinggal sama Mas Defran," ucap Kiran membuat wajah Lifia
memerah dan ia kesal dengan Kiran karena telah membahas hal ini padanya.

"Mbak pikir aku sampai segitunya membohongi Mbak hanya karean ingin tinggal disini sama Mas
Defran? aku tahu diri Mbak, kalau mau tinggal sama lelaki itu harusnya aku nikah dulu tapi kan Mas
Defran ini niatnya hanya nolongin aku doang, nggak ada niat begitu!" Jelas Lifia dan wajahnya merah
padam saat ini, apalagi ia mengatakan hal ini didepan Defran "Penguntit itu jahat banget sama aku
sampai aku harus pindah Apartemen, aku pikir dengan aku pindah digedung yang sama dengan unit
Apartemn Mas Defran, aku bisa aman tapi tidak mereka masih saja mencariku Mbak, aku ketakutan
banget," jujur Lifia.

Lifia bahkan tidak berani tinggal di Apartemen seorang diri, jika tidak dijaga oleh para Bodyguard yang

1/6

Dukungan tiba-tiba
ditugaskan Defran untuk menjaganya. "Tetap saja Dek, kamu yang merahasiakan ini sama Mbak itu
salah banget," ucap Kiran. "Kamu bisa minta Mbak untuk menemani kamu disini atau kamu bisa pulang
ke Rumah orang tua kita, lagian kamu sepertinya tidak ada kegiatan syuting," ucap Kiran kesal. "Ike tahu
masalah ini?" Tanya Kiran penasaran apakah sahabatnya itu tahu jika salah satu artisnya ini sedang
menghadapi masalah besar seperti saat ini.

"Mbak Ike tahu Mbak, tapi aku yang memohon sama Mbak Ike biar nggak melibatkan Mbak, lagian
Mbak bisa dalam bahaya kalau berada didekat aku, Sandra saja juga diserang sama penguntit itu," jelas
Lifia.

"Terus kamu ngadunya sama Mas Defran?" Tanya Kiran sinis.

"Iya sama siapa lagi," lirih Lifia. Kiran tahu Lifia sangat nyaman berada didekat Defran, tapi jika Defran
tidak menyukai Lifia maka reputasi adiknya ini akan memburuk, apalagi jika publik tahu Lifia tinggal
bersama Defran tanpa ikatan.

"Kamu tinggal seperti ini sama Mas Defran pasti akan membuat imagemu jadi buruk Lifia dan
reputasimu dipertaruhkan," ucap Kiran. "Kamu mau tidak bisa berkecimpung lagi menjadi aktris?" Tanya
Kiran.

"Aku masih mau akting Mbak," lirih Lifia.

"Akan lebih baik kalau dia tidak berkecimpung menjadi aktris!" Ucap Defran.

"Mas Def, kamu kayaknya senang banget kalau Lifia nggak kerja lagi?" Tanya Kiran kesal.

"Dari pada dia memilki banyak penggemar yang aneh, lebih baik dia tidak perlu bekerja lagi!" ucap
Defran.

"Kalau Lifia tidak berkerja memangnya Mas Defran mau bertanggung jawab? Perempuan itu banyak
kebutuhan dan keinginan Mas," ucap Kiran membuat Lifia menggigit bibirnya, karena gugup Defran akan
mengatakan

2/6

Dukungan tiba-tiba
apa tentang masalah ini.

"Saya akan memberikannya uang setiap bulan," ucap Defran membuat wajah Lifia terasa panas,
haruskah ia merasa bahagia, Defran mengatakan hal ini padanya seolah Defran ingin menafkahinya.

"Wah dermawan sekali anda, Mas Def," ucap Kiran kesal.

"Loh...Mas juga akan memberikan kamu banyak uang Kiran sebanyak yang kamu mau asalkan kita
menikah, semua tabungan Mas selama ini akan jadi milik kamu!" Ucap Handaru menatap Kiran dengan
tatapan tulus dan tidak ada kebohongan dari tatapannya itu.

"Aku itu sedang berbicara sama Mas Defran, Mas bukan sama kamu!" Ucap Kiran membuat Handaru
mengangkat sudut bibirnya.
"Kiran kita tinggal dihotel saja atau dimana! Kemasi barang-barang kamu, kalau kamu nggak mau pulang
kita bisa cari kontrakan lain atau Apartemen lain! Kita tidak perlu merepotkan Mas Defran lagi, kalau
pacarnya tahu kamu tidur disini bisa gawat!" Ucap Kiran membuat Lifia menatap sendu Kiran dan ia
menghela napasnya.

"Iya Mbak," ucap Lifia.

"Tidak, Lifia tidak akan kemana-mana, Kiran kamu jangan sok hebat, Lifia akan tetap tinggal bersama
saya! Setuju atau tidak saya tidak peduli pendapat kamu!" Ucap Defran dingin. Kiran membuka
mulutnya karena kesal dengan ucapan Defran yang berani memerintahnya.

"Apa hak kamu Mas? Lifia adikku dan bukan adikmu," kesal Kiran.

"Saya punya hak dan kamu bisa tanyakan saja dengan orang tua kamu! Pulang sana!" Usir Defran. "Bawa
itu calon istri kamu pulang!" Sinis Defran kepada Handaru.

Mendengar ucapan Defran menbuat Kiran merasa jika

3/6

Dukungan tiba-tiba
Defran, mungkin telah meminta izin Lifia untuk tinggal bersamanya kepada kedua orang tuanya, agar
Defran bisa menjaga Lifia. "Nggak mau aku mau makan dulu!" Ucap Kiran dan kesempatan untuk
memakan sop buatan Lifia, tidak akan ia lewati begitu saja. Apalagi sejak tadi ia telah mencium bau
harum makanan yang dimasak Lifia.

"Kalau mau makan disini apa kamu bisa sedikit tenang?" Tanya Defran dingin.

"Jangan marah sama Kiran Def, dia itu begitu karena khawatir dengan adiknya!" Ufap Handaru.

"Kamu...harusnya kamu juga khawatir dengan adikmu!" Ucap Defran membuat Handaru mengerutkan
dahinya karena penasaran dengan apa yang dimaksud Defran.

"Ada apa dengan Marco?" Tanya Handaru dingin.

Raut wajah ramah dan senyumannya itu hilang begitu saja. Kiran mengerutkan dahinya melihat ekspresi
Handaru yang serius seperti ini, membuatnya merasa aneh karena setelah menyatakan Handaru
menyukainya, Handaru terlihat tenang dan bahkan selalu menunjukan senyuman ramahnya, seolah ia
bukanlah sosok yang dingin. Namun saat Defran mengatakan tentang adiknya raut wajahnya berubah
menjadi sangat dingin, seolah ia akan melakukan apa saja kepada siapapun yang menyakiti adiknya.
Sebegitu kahwatirnya Handaru kepada adiknya itu dan itu membuat Kiran penasaran dengan sosok
Handaru yang sebenarnya. Handaru seperti memakai topeng dan menyembunyikan sikap aslinya
membuat Kiran merasa ia harus semakin waspada dengan sosok Handaru Laksamana Dewandaru.
"Cari tahu, sebagai Kakaknya harusnya kamu memperhatikan semua gerak-besok Adikmu itu. Saya
hanya memberikan petunjuk sedikit sama kamu Def," ucap Defran membuat Handaru mengepalkan
tangannya.

4/6

Dukungan tiba-tiba
"Mas mau makan disini apa, nggak?" Tanya Kiran.

"Makan disini," ucap Handaru dengan nada dingin membuat Kiran menelan ludahnya. Entah mengapa
Handaru merasa jika sepertinya Defran tahu mengenai sesuatu yang terjadi pada adiknya, namun Defran
kemungkinan telah berjanji untuk tidak ikut campur masalah adiknya itu.

Kiran menarik Lifia agar menuju ke dapur, untuk

menyiapkan makanan untuk mereka dan Lifia melihat wajah Kiran pucat pasih. "Kenapa Mbak?" Tanya
Lifia.

"Nggak apa-apa hanya saja belum terbiasa melihat Mas Handaru kayak tadi," ucap Kiran.

"Mbak...hehehe kalau aku sudah biasa banget ngadepin Mas Defran yang minim ekspresi dan dia itu
sangat dingin," ucap Lifia membuat Kiran menghela napasnya.

5/6

Dukungan tiba-tiba
"Apa kamu sudah berbuat lebih sama Mas Defran?

kalau dia berani cium kamu, kamu minta tanggung jawab saja sama dia. Minta dinikahin! Itu kan yang
kamu inginkan selama ini!" Ucap Kiran membuat Lifia menelan ludahnya.

"Tapi aku ingin melupakannya," lirih Lifia.

"Nggak usah dilupakan, kamu itu jelas banget suka sama dia dan nggak bisa melupakan dia. Sudah pepet
terus saja dan nikahin dia!" Ucap Kiran membuat Lifia membuka mulutnya. "Untuk apa jadi fansnya saja,
asal kamu tahu Lifia, kamu itu satu-satunya perempuan yang pernah tidurin ranjangnya! Tapi ingat ya
nikah dulu jangan mau ditiduri tanpa ikatan!" Ucap Kiran membuat Lifia mengerjapkan kedua matanya,
bingung dengan dukungan tiba-tiba dari Kiran setelah tadi Kiran marah besar kepadanya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Dia yang tak kukenal.
Dia yang tak kukenal
Lifia tidak mengerti kenapa Kiran tiba-tiba berubah seperti ini setelah setuju dengan keinginannya untuk
moveon dari Defran. "Mbak aku nggak mau kelihatan murahan banget gitu, lagian kata kamu waktu itu
aku itu cantik dan ada banyak laki-laki yang mau sama aku," ucap Lifia.

"Tapi nggak ada yang lebih baik dari Mas Defran, semua keluarga dukung kamu, dia juga bukan laki-laki
Playboy yang memiliki banyak perempuan, dia juga memberi kamu hadia ulang tahun yang dengar-
dengar harganya sangat mahal, ngapain sih kasih kalung sama perempuan dengan harga fantastis kalau
dia nggak suka sama kamu," ucap Kiran menatap kalung yang sedang dipakai Lifia.

"Kalau hanya hadia aku itu banyak juga loh Mbak dapat hadia mahal," ucap Lifia. la memang banyak
mendapatkan hadia dari brand terkenal lainnya dan juga beberapa orang yang menyukainya. Hadia ynh
diberikan oleh mereka saat ini masih tersimpan di Manjamennya Lifia. Lifia yang tiba-tiba kehilangan
kontak, kesulitan untuk ditemui secara langsung hingga mereka menitipkan hadia itu langsung kepada
manajemen Lifia.

"Itu karena dihati kamu udah nganggep dia itu nggak akan suka sama kamu, sebegitu kecewanya kamu
selama ini karena ucapannya yang merujuk jika dia nggak suka sama kamu, padahal kamu juga nggak
pernah dengarkan dia bilang dia benar-benar nggak suka sama kamu," ucap Kiran.

"Dia anggap aku adik," lirih Lifia dan ia melirik Defran yang saat ini sedang berbicara serius di balkon
bersama

1/6

Dia yang tak kukenal


Handaru.

"Pokoknya kalau dia udah cium kamu, kamu minta saja dinikahin sama dia!" Ucap Kiran.

"Berati sebentar lagi Mbak akan nikah sama Mas Handaru? Mbak pasti sering banget dicium Mas
Handaru," ucap Lifia.

"Itu masalahnya beda, kalau Handaru itu suka cium-cium gitu dan beda kasus sama kamu. Kalau Mas
Defran nggak suka kontak fisik sembarangan, kalau Mas Handaru itu siapa yang tahu dia kayak gitu juga
dulu cium-cium mantan pacaranya, kita kan nggak tahu asli dia sebenarnya. Kita itu udah kenal Mas
Defran sudah lama banget loh Lifia, sedikit banyak kita tahu sifatnya dia," ucap Kiran.

"Tapi bukannya Mbak sejak dulu juga sudah kenal lama banget sama Mas Handaru, satu SMA kan
Mbak?" Tanya Lifia.
"Itu ceritanya beda lagi, ini kenapa jadi nanya-nanya Mbak, yang sekarang itu bermasalah kamu...hebat
banget tidur disatu unit apartemen tapi dia nggak nyetuh kamu, coba kalau malam kamu itu pura-pura
tidur, siapa tahu kamu kedapatan dia lagi cium-cium kamu!" Ucap Kiran. "Tapi...kamu kan kalau tidur
kaya orang mati, bangunin kamu saja susah banget...mau gempa mau apa tidur mulu kalau sudah
ketemu kasur," ucap Kiran.

"Kan memang gitu, kalau aku tidur nyeyak gitu, mau digendong juga nggak kebangun, mau sih pura-pura
tidur tapi biasanya juga langsung ketiduran gitu, apalagi kalau tidur malam hehehe...tidur siang juga gitu
ya Mbak. Kalau nggak bisa tidur biasanya aku tu karean takut..." ucap Lifia. Yang jelas Defran lebih mahir
dalam mengetahui ia sedang bersandiwara, apa tidak selama ini, semua rahasianya pun telah diketahui
Defran.

"Hey...kalau sakit kamu manjanya kayak anak kecil,

2/6

Dia yang tak kukenal


perut minta dielus lah pengen dipeluk terus...kamu nggak minta hal aneh gitu sama Mas Defran?" Tanya
Kiran dengan tatapan menyelidik.

"Hhhmmm...nggak," ucap Lifia gugup.

"Bohong banget, pasti sudah kamu lakukan, udah...capek mau moveon itu kejar aja terus dia sampai
kamu benar-benar sakit hati karena nggak dapetin dia, baru kamu pergi aja pulang ke Rumah Papa kamu
yang gila kerja itu dan gila perempuan sundel itu untuk liburan disana!" Ucap Kiran.

"Aku nggak pernah niat mau pulang Mbak!" Jujur Lifia. Selama ini ia hanya mengirimkan hadia ketika
Papanya itu berulang tahun, namun untuk bertemu rasanya berat mengingat ibu tirinya yang sangat
kejam itu sangat pinta memutarbalikkan fakta hingga ia yang selalu salah saat itu.

"Pulang saja sama Mas Defran, kamu dan Mas Defran nggak mungkin main rumah-rumahan terus Dek,
jelas banget kalau dia membuka dirinya untuk kamu masukin kehidupannya, Mas Defran itu berbeda
dengan laki-laki yang dengan mudahnya bisa menerima orang lain di hidup tenangnya. Apalagi setelah
mengenal kamu, dia pasti tidak pernah merasa tenang." Ucap Kiran.

"Nggak tahu Mbak yang jelas bulan depan aku akan ke Paris dan disana sudah banyak tawaran kerja,
Mbak!"ucap Lifia membuat Kiran mengelus rambutnya dengan lembut.

"Mbak tahu kamu mencoba mandiri, tapi kamu tidak bisa menjadi sangat mandiri karena kamu itu Lifia,"
ucap Kiran. "Hmmm...tapi kata Salsa kamu kan Sayangnya Mas Def," ucap Kiran membuat wajah Lifia
memerah.

"Nggak usah dibahas!" Ucap Lifia kesal dan Kiran terkekeh.

"Hehehe...kalian itu manis banget, Mbak mau ajak


3/6

Dia yang tak kukenal


kamu pulang saja dia malah ngusir Mbak," ucap Kiran membuat Lifia lagi-lagi menghela napasnya.

Lifia dan Kiran telah menghidangkan makanan diatas meja, "Ini namanya bukan makan siang, kalau
makannya udah hampir mau jam tiga," ucap Lifia.

"Nggak apa-apa karena kan kamu memang suka makan jam segini Dek sebenarnya" ucap Kiran. "Panggil
mereka Dek!" perintah Kiran.

Lifia mendekati Defran dan Handaru, ia menatap Handaru yang terlihat sedang tidak baik-baik saja saat
ini. Lifia merasa aura yang mencekam dan ia mendekati Defran apalagi saat ini Handaru sedang
menghubungi seseorang. "Mas..." panggil Lifia dan ia memegang lengan Defran membuat Defran
mengalihkan pandangannya menatap Lifia. "Ayo makan!" Ajak Lifia.

"Handaru..." panggil Defran membuat Handaru segera menutup ponselnya.

"Ya..." ucap Handaru.

"Makan!" Ucap Defran singkat.

"Mas Handaru kalau lagi marah kayak gini nyeremin banget, Mbak Kiran sampai ketakutan kalau aku kan
udah biasa melihat Mas Defran dingin banget dan diam gitu," ucap Lifia membuat Handaru menghela
napasnya, sedangkan Defran menarik tangan Lifia agar segera mengikutinya.

"Nggak usah ikut campur masalah orang lain!" Ucap Defran dingin.

"Tapi mereka bukan orang lain Mas, Mas Handaru itu calon Kakak iparku," ucap Lifia.

"Pikirkan masalah kamu sendiri!" Perintah Defran membuat Lifia menyebikkan bibirnya.

Saat ini mereka telah duduk dimeja makan dan mereka makan dengan tenang. Jika Defran terlihat
sangat

4/6

Dia yang tak kukenal


menikmati makanannya berbeda dengan Kiran dan Handaru yang terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Kiran merasa sosok yang ada dihadapanya sangatlah asing baginya dan itu membuktikan, jika Handaru
Laksmana Dewandaru sosok asing yang mencoba masuk kedalam kehidupannya, namun tidak ingin
menujukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Kiran merasa asing dengan sosok Handaru saat ini dan ia
lebih memilih diam alih-alih

mengajak Handaru berbincang.


Setelah selesai makan bersama Kiran segera mengambil tasnya dan ia mendekati Lifia, lalu mencium
kedua pipi Lifia. "Mbak pulang dulu ya Dek!" Ucap Kiran.

"Loh cepat banget," ucap Lifia terkejut dengan Kiran yang tiba-tiba pamit pulang.

"Ada urusan mendesak," bohong Kiran karena

5/6

Dia yang tak kukenal


sebenarnya ia sedang kesal dengan sosok Handaru Laksamana. Dari pada ia murka dan suasana menjadi
tidak kondusif karena perasaan kesalnya, lebih baik ia pulang sekarang juga.

"Mas Def, titip Lifia!" Ucap Kiran membuat Defran menganggukan kepalanya dan Kiran sengaja tidak
menatap Handaru saat ini. la melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini. "Assalamualikum," ucap
Kiran.

"Waalikumsalam," ucap Defran dan Lifia.

Handaru menghela napasnya dan ia segera bediri,

"Makasi makan siangnya, saya pamit pulang, Assalamualaikum!" Ucap Handaru. la segera keluar dari
Apartemen ini meninggalkan Lifia dan Defran yang saat ini sedang menatap pintu Apertemenya.
"Waalikumsalam," ucap Defran dan Lifia bersamaan. Lifia mendekati pintu dan ia mencoba untuk
mengintip dari balik pintu.

Lifia. "Mas...kayanya mereka berantem ya Mas?" Tanya

"Telepon dan tanya sama Mbak kamu itu atau kamu video call sekalian kalau bisa," sinis Defran
membuat Lifia menelan ludahnya dan ia duduk disamping Defran dengan tersenyum malu. "Mau tahu
urusan mereka saja, kamu ini..." ucap Defran.

"Aku itu mau tahu kalau mereka berantem itu gimana, Mas? apa sayang-sayangan gitu dan pelukan lalu
damai," ucap Lifia membuat Defran menatap kearah Lifia dengan dingin. "Iya aku nggak kepo..." ucap
Lifia kesal.

12

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Bicarakan semuanya.
Bicarakan semuanya
Kiran merasa sangat kesal melihat perubahan sikap Handaru yang tiba-tiba menjadi sangat dingin, ia
merasa seolah ia tidak mengenal Handaru Laksmana Dewandaru.

Rasa kecewanya begitu besar mengingat selama mendekati dirinya, Handaru selalu menujukkan
senyumannya dan ia terlihat sangat ramah padanya. Bahkan Handaru menujukkan sisi romantisnya
dengan memeluknya bahkan menciumnya yang membuatnya geli. Namun tadi sikap Handaru terlihat
berbeda, Kiran tahu jika Handaru yang terlihat serius sangat berbeda dengan Handaru yang selalu
bersamanya saat ini, apalagi ketika Handaru sedang berada dipersidangan, Handaru akan menjadi sosok
dingin yang mengeluarkan kata-kata pedasnya, tapi saat ini mereka sedang bukan dipersidangan.

"Mau kemana?" Tanya Kiran. saat ia sedang menekan timbol lift.

"Pulang," ucap Kiran.

"Saya tidak mengizinkan kamu pulang!" Ucap Handaru.

"Saya ingin pulang dan itu tidak perlu izin kamu!" Ucap Kiran kesal.

"Perlu karena apapun yang kamu lakukan saat ini semuanya perlu izin saya!" Ucap Handaru dan ia
mengeraskan rahangnya. "Saya bisa jadi sosok yang paling kamu suka, tapi inilah saya yang sekarang jika
saya sedang sangat marah dan Kiran, bukanya kamu harus tahu semua tentang saya!" Ucap Handaru
membuat Kiran menelan ludahnya. la terlihat kesulitan melihat sososk Handaru Laksamana Dewandaru
yang seperti ini. "Terus apa masalahnya dengan aku kenapa kamu kayak marah juga

1/7

Bicarakan semuanya
sama aku!" Kesal Kiran.

Handaru menarik tangan Kiran agar mengikutinya, membuat Kiran menghempaskan tangannya dengan
kasar. "Aku mau pulang dan kamu nggak berhak begini sama aku!" Ucap Kiran.

Handaru seolah tidak peduli dengan penolakan Kiran dan ia menggendong Kiran, membuat Kiran kesal
hingga tas miliknya terjatuh. "Tas aku..." teriak Kiran. "Turunin aku!" Kesal Kiran.

"Saya turunkan kamu tapi kamu harus janji sama saya, ikut saya ke Apartemen saya!" Ucap Handaru. la
menurunkan Kiran dari gendongannya, membuat Kiran mengambil tasnya dan ia menatap Handaru
dengan tajam. "Ikut saya atau kamu mau saya paksa?" Tanya Handaru membuat Kiran menghembuskan
napas kasarnya

"Iya, aku ikut kamu!" Lirih Kiran. la melangkahkan kakinya mengikuti Handaru yang mengajaknya ke unit
Apartemennya. Rencananya tadi mereka memang akan menghabiskan waktu diunit Apartemen ini dan
Handaru akan membiarkan Kiran menyelesaikan perkerjaannya disini. Keduanya masuk kedalam unit
Apartemen dan Kiran duduk disofa sambil menatap Handaru dengan dingin. la merasa asing dengan
sosok Handaru, yang seperti ini dan ia merasa ia tidak mengenal Handaru.

"Kenapa kamu mau pulang?" Tanya Handaru kesal.

"Ngapain aku disini kalau hanya ingin melihat kamu marah, apalagi marahnya kamu itu aku tidak tahu
apa penyebabnya," ucap Kiran dingin. Handaru menggeser tubuhnya agar ia bisa lebih dekat dengan
Kiran. "Stop aku kesal sama kamu dan jangan dekat-dekat aku!" Kesal Kiran.

"Tapi saya nggak bisa jauh dari kamu!" Ucap Handaru.

2/7

Bicarakan semuanya
"Aku nggak percaya sama kamu," kesal Kiran lagi.

"Kamu harus percaya!" Ucap Handaru dingin dan ia terlihat tidak ingin dibantah.

"Kamu nyebelin..." ucap Kiran.

"Nggak, aku nggak nyebelin...sini peluk!" Pinta Handaru merentangkan tangannya.

"Aku nggak mau!" Kesal Kiran.

"Harus Mau!" Perintah Handaru.

"Kamu gila..." kesal Kiran dan entah mengapa ia sangat kesal dengan sosok Handaru Laksamana
Dewandaru hari ini.

"Iya saya memang gila, tergila-gila sama kamu," ucap Handaru membuat Kiran menghela napasnya.

"Kamu itu orang teraneh yang pernah aku temui," ucap Kiran kesal.

"Berarti aku itu spesial," ucap Handaru.

"Sepesial dari mana kamu itu nyebelin..." kesal Kiran.

"Jangan marah Kiran, saya tidak bermaksud membuat kamu marah, saya hanya kesal sama adik saya,"
ucap Handaru dan tiba-tiba ia membaringkan kepalanya dipaha Kiran.

"Apa-apaan kamu? Jangan kayak gini!" Kesal Kiran.

"Saya butuh kamu untuk meredakan emosi saya, Kiran!" Ucap Handaru dengan suaranya yang berat.

"Nggak gini juga kali Mas!" Kesal Kiran.


"Semakin kamu galak, saya semakin mencintai kamu!" Ucap Handaru membuat Kiran menghela
napasnya.

"Aku serius nanya sama kamu, memangnya kamu itu memang begini ya? Kalau marah kamu nyeremin
banget sih," ucap Kiran.

3/7

Bicarakan semuanya
"Nggak kalau sama kamu saya janji tidak akan marah seperti tadi, khusus sama kamu Kiran!" Ucap
Handaru.

Begitulah Abib Papinya Handaru yang memperlakukan istrinya dengan penuh cinta dan ia hampir tak
pernah marah, kepada dang istri. Apalagi Maminya terlihat sangat bahagia menjadi istri seorang Abib
Laksamana Dewandaru, yang sekarang telah menjadi salah satu mentri di Negara ini. Bagi Handaru
seorang permepuan yang akan menjadi istrinya harus diperlakukan secara istimewa dan penuh cinta
apalagi jika telah menjadi istrinya.

"Aku nggak suka kamu kayak tadi kalau lagi sama aku! aku nggak suka kamu itu bersikap dingin dan
pendendam kayak tadi, jadi pendiam dan wajah kamu jadi aneh kalau berekspresi seperti itu, nyebelin
banget sumpah," ucap Kiran kesal.

"Maaf ya sayang jangan marah, saya itu marahnya bukan sama kamu tapi sama Marco!" ucap Handaru
membuat Kiran penasaran ada apa dengan Marco Laksamana Dewandaru yang merupakan Playboy
kelas kakap itu. Wajah tampan dan rupawan yang sangat mirip dengan Handaru, tapi tingkah laku Marco
sangatlah menyebalkan.

"Kenapa dengan Marco, jelasin kalau kamu anggap aku itu penting bagi kamu!" Ucap Kiran.

Handaru segera duduk dan ia menyunggingkan senyumannya, lalu ia memeluk Kiran dengan erat. "Kamu
lebih suka saya tersenyum? Kamu memang bilangkan kalau tipe kamu ya...cowok ramah, smart dan
sayang sama kamu. Saya ini paket lengkap untuk kamu Kiran!" Ucap Handaru.

"Nggak, mana ada paket lengkap, sikap kamu itu hanya sandiwara saja, nyebelin banget sukanya marah-
marah," ucap Kiran.

4/7

Bicarakan semuanya
"Baru sekali itu aja marah tapi kan marahnya bukan sama kamu," ucap Handaru.

"Cepat ceritakan kalau nggak mau cerita berarti kamu tidak ingin aku itu mengenal kamu lebih dekat,
kamu selalu menujukkan kamu yang palsu, jangan-jangan kamu hanya mempermainkan aku dan
keluargaku selama ini," ucap Kiran kesal.
"Nggak begitu sayang..." ucap Handaru dan ia

mencium pipi Kiran membuat Kiran kesal. "Jadi begini, saya dan Adik saya selalu ditekankan oleh Papi
kita untuk selalu menghargai setiap perempuan. Jangan pernah mencoba menyakitinya, tapi yang terjadi
kepada adik saya, dia telah melakukan suatu kesalahan yang sangat buruk dan memalukan," ucap
Handaru. "Saya ingin segera memberikan dia pelajaran, hmmm...dia ternyata sudah memiliki anak, itu
artinya anak kita nanti bukan menjadi

5/7

Bicarakan semuanya
cucu pertama Papi dan Mami, si Marco kurang ajar itu benar-benar membuat Mas kesal Kiran," ucap
Handaru, membuat Kiran ingin tertawa tapi ia menahannya.

"Kamu bayangin saja, keponakan saya sudah lima tahun dan sata belum pernah bertemu dengannya, itu
burungnya si Marco bertindak sembarangan dan kamu tahu perempuan yang dihamili Marco itu sampai
saat ini, belum dia nikahi. Astaga...itu anak mau saya pukul Kiran," ucap Handaru murka.

"Jadi kalau aku mau ikut Mas ketemu adik Mas boleh?" Tanya Kiran dan ia ingin melihat Marco dihukum
Handaru, tapi sebenaranya ia hanya ingin menjadi penengah masalah ini.

"Nanti kamu ketakutan kalau saya memukul dia didepan kamu, saya hanya memukul dia yang kurang
ajar dan kamu jangan takut! Nanti kamu ketakutan dan mengira saya akan memukul kamu juga kalau
saya sedang marah," ucap Handaru dan jujur saja ia tidak ingin memperlihatkan betapa brutalnya ia,
yang ingin menghajar adiknya itu.

"Bisa dibicarakan baik-baik tanpa memukul, Mas!" Ucap Kiran. "Kamu kan pengacara pasti kamu tahu
loh hukumannya kalau memukul orang termasuk tindak kriminal," ucap Kiran membuat Handaru
menghela napasnya.

"Terkadang tinju ini memiliki arti bagi seorang laki-laki untuk menghukum orang yang pantas dihukum,
jangan samakan dengan hukuman peraturan perundag-undangan Kiran, hukuman yang saya ingin
berikan kepada Marco untuk membuktikan jika saya Kakaknya yang telah gagal mendidik adiknya dan
sang adik memang harus diberikan hukuman karena salah!" Ucap Handaru dingin.

6/7

Para pangeran satyas.


Para pangeran satyas
Defran menatap Serkan yang saat ini sedang duduk disampingnya, ya hari ini Serkan mengajak Defran
bertemu di Satyas grup. Tentu saja kali ini Januarta Sanjaya Satyas dan Megantara Sanjaya Satyas juga
hadir. Para pangeran Satyas ini biasanya akan bekumpul dan salin berargumen seperti biasanya apalagi
jika itu mengenai bisnis. Janu merasa lelah karena hampir semua bisnis keluarga ia yang membantu
mengelolahnya. Sedangkan ia juga memiliki perusahaan sendiri yang juga sangat besar sama seperti
perusahaan keluarga disebelah ibunya ini.

"Saya dengar kamu sekarang sudah mengambil alih salah satu bisnis Kakek, Def?" tanya Janu.

"Iya," ucap Janu.

"Kalau begitu jangan hanya satu, kalian berdua juga harus memikirkan saya," ucap Janu kesal.

"Megan saja yang bantu!" Ucap Serkan membuka suaranya.

"Wah ini kalian berdua sudah kerterlaluan, berhenti bekerja jadi abdi negara dan kembali mengurusi
bisnis keluarga!" Pinta Janu.

"Tidak bisa, memangnya kamu istri saya Janu? Berani sekali meminta saya tidak bekerja lagi, kamu pikir
apa yang kami lakukan selama ini hanya bersantai saja?" Sinis Serkan. Jika para sepupunya ini
menyinggung masalah perkerjaannya, ia akan menjadi sensitif dan kesal.

"Salah satu perusahaan saja Mas!" Pinta Janu membuat Serkan menghela napasnya. "Perusahaan
keluarga kita semakin hari semakin bertumbuh dengan pesat dan butuh pengawasan kalian!" Ucap Janu.

1/7

Para pangeran satyas


"Udah tiga perusahaan yang aku pegang, kapan aku bisa memilki waktu istrirahat bersama keluarga,
istriku bahkan juga bekerja memegang rumah sakit keluarga kita sekarang ini!" Ucap Serkan kesal.

"Megan...kenapa kamu diam saja, nggak ada rasa bersalah sama sekali melihat kita berdebat kayak gini,"
kesal Janu.

"Nggak ada," ucap Megan membuat Defran menyunggingkan senyumannya karena baginya Janu
memang yang terbaik dalam hal bisnis dari pada mereka semua.

"Mas...saya akan mengendalikan perusahaan sawit milik keuarga kita, tapi jangan ikut campur jika aku
mengendalikan pasar dan membuat perusahaan lain bangkrut!" ucap Defran membuat Janu menghela
napasnya karena ia adalah ketua himpunan.

"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu seakan berkata ada perusahaan yang sedang kamu
incar," ucap Serkan. "Jangan bilang ini ada kaitannya dengan Lifia," ucap Serkan.

"Kalau itu sudah pasti, Defran tidak akan mau memiliki kekuasaan selama ini dan sekarang seolah rela
menggunakan waktu luangnya untuk perusahaan," ucap Megan yang menebak apa yang sedang
dipikirkan Kakak sepupunya itu, jika berkaitan dengan perempuan tentu saja pikiran mereka bisa
langsung berubah.
"Masalah penguntit?" Tanya Janu dan ia menyunggingkan senyumannya karena dengan ini
pekerjaannya menjadi sedikit berkurang.

"Ya...ada kaitan dengan pemilik perusahan sawit yang menjadi pesaing, selama ini perushaan kita
bekerja sama untuk mengendalikan pasar tapi kali ini, saya ingin mereka semua bertekuk lutut. Ingin
menghukum mereka yang sengaja melakukan ini semua," ucap Defran.

2/7

Para pangeran satyas


"Tapi bukannya dia yang ikut menyediakan pesuruh untuk melancarkan aksi penguntit itu masih
keluarga Lifia," ucap Serkan..

"Keluarga? Sepertinya bukan," sinis Defran. "Mereka semua harus menerima akibatnya dimulai dengan
aktor bodoh yang juga menjadi salah satu pesuruh mereka," ucap Defran dingin.

Dua orang Bodyguard membawa dua orang laki-laki yang merupakan kaki tangan mereka dan keduanya
melangkahkan kakinya mendekati mereka. "Jadi kamu minta kita untuk menjadi penyidik juga ya Def?
kenapa nggak melibatkan rekan kerja kamu?" Tanya Janu.

"Kalau media tahu, Lifia akan menjadi lebih sibuk dari sekarang dan itu sangat mengganggu," ucap
Defran membuat Janu tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha...Kakak Defran baik banget sama adek Lifia, jadi sekarang itu pengorbanan waktu seorang
Kakak yang melindungi adiknya, apa pengorbanan waktu seorang kekasih yang ingin melindungi
perempuan yang dia cintai," ucap Janu.

"Kayaknya itu cinta, kamu sudah sadar apa belum Def dengan apa yang kamu lakukan?" Tanya Megan
membuat Defran menatap Megan dengan sinis.

"Sekarang kita bahas mereka dulu, biar mengaku...belum sepat di introgasi tapi biayaya makan mereka
cukup besar, lihat beberapa kali dikurung mereka malah jadi lebih gemuk," ucap Defran membuat Janu
dan Serkan terkekeh. Inilah Defran yang berusaha membujuk mereka untuk menjadi orang-orangnya
yang akan membantunya untuk menjebak mereka.

"Jadi kalian ini dibayar oleh siapa? Jawab yang jujur karena saya telah memberi kalian makan enak tanpa
memukul kalian lagi!" Ucap Defran membuat keduanya saling menatap. "Kalian mau nasib kalian sama
dengan

3/7

Para pangeran satyas


teman kalian yang telah saya sikat habis hingga tidak bersisa? sekarang dia tidak bisa tahu lagi caranya
bernapas, mungkin sekarang sedang menuju ke neraka," ucap Defran berbohong jika ia telah
melenyapkan satu teman mereka.
"Ampun Pak, jangan bunuh kami!" Ucapnya dengan raut wajah ketakutan.

"Kamu dibayar siapa untuk menyulik Lifia?" Tanya Defran.

"Pak Ronal," ucapnya.

"Ronal temannya Guntur, jadi Ronal apa Guntur?" Tanya Defran.

"Ronal," ucapnya.

"Jadi Guntur hanya kamuflase, si Ronal sengaja mendekati Guntur dan mengatakan jika Lifia bisa dengan
mudah didapatkan asalkan selalu diberikan kejutan manis," ucap Serkan yang juga telah membantu
Defran menyelidiki masalah ini, setelah mereka bertengkar. Defran Adiknya itu menujukkan kemarahan
yang berlebihan saat Lifia diusik dan itu menujukkan jika Defran sangat menyukai Lifia.

"Yang memberikan kue ulang tahun yang sama dilokasi syuting dengan kue ulang tahun di Apartemen
juga atas perintah Ronal, dia sengaja meminta pengantar kue mengganti kue yang dipesan Moreno,"
ucap Defran.

"Moreno bagian dari rencana Ronal dan asisten Moreno orang suruhan Ronal," ucap Serkan.

"Jadi Ronal ini siapa?" Tanya Megan jadi ikut bingung dengan penjabaran mereka mengenai kasus
penguntit ini.

"Jadi Guntur dan Moreno adalah bidak catur yang dimainkan si Ronal?" Tanya Janu.

"Ya...dan yang pernah datang datang ke Apartemen

4/7

Para pangeran satyas


Lifia yang lama adalah Guntur dan orang suruhannya," ucap Defran.

"Gila, Ronal ingin mempermainkan mereka semua dan dia hanya menjalankan bidak catur dengan
santai," ucap Megan tak habis pikir dengan orang yang bernama Ronal sangat nekat.

"Sekarang Guntur sudah diintograsi oleh polisi, tapi masalah ini tidak akan selesai sampai disini," ucap
Defran.

"Akan ada lagi bidak catur yang akan dimainkan orang yang bernama Ronal ini dan itu sangat
membahayakan Lifia," ucap Defran.

"Def, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Serkan.

"Mengusai semua hal yang dia kuasai, membuatnya bangkrut dan akhirnya menemui saya dengan
identitas aslinya," ucap Defran. Guntur dan Moreno telah dipanggil
5/7

Para pangeran satyas


pihak yang berwajib terkait masalah ini. Guntur juga memohon maaf kepada Defran dan berjanji tidak
akan mengganggu Lifia, namun tidak dengan Moreno yang mengatakan jika ia mencintai Lifia. la hanya
akan memecat asistennya dan sebenarnya ia tidak bersalah. la hanya orang yang mencintai Lifia dengan
tulus dan ingin membahagiakan Lifia tanpa memaksanya.

"Jadi mereka berdua mau diapakan, Def?" Tanya Janu.

"Saya akan bekerja sama Bapak dan mencari

informasi tentang Pak Ronal!" Ucap salah satu dari mereka. Mereka lebih takut kepada Serkan, Janu,
Megan dan Defran yang ada dihadapannya ini dari pada Ronal.

"Oke, saya ingin kalian mencari orang untuk bekerja dengan saya, orang itu harus menjadi orang
kepercayaan Ronal diperusahaannya, bawa dia bertemu saya dan saya akan memberikan gaji yang jauh
lebih besar dari pada yang diberikan Ronal!" Ucap Defran membuat Serkan dan Janu saling
berpandangan.

"Def, penguntit sudah ditangkap dan Lifia tidak harus tinggal bersama kamu!" Ucap Serkan membuat
Defran menghela napasnya. Selama ini Serkan hanya diam saja karena percaya adiknya itu, tidak akan
menyetuh Lifia tapi sekarang berbeda, Defran terlihat sangat menyukai Lifia dan itu tanda bahaya.

"Dia belum aman dan dia akan tetap tinggal bersama saya!" Ucap Defran.

"Nikahi dia!" Ucap Serkan dingin membuat Defran mengangkat sebelah alisnya mendengar perintah
Serkan.

19

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/7

Apa benar.
Apa benar
Pagi ini Defran mengajak Lifia pergi di Kediaman orang tuanya, ia tidak menceritakan kepada Lifia
mengenai Guntur dan juga Moreno yang menjadi biduk catur orang yang mengendalikan mereka untuk
mencelaki Lifia.
Keduanya adalah orang yang mencintai Lifia, rasa cinta itu pula yang membut keduanya tidak sadar jika
keduanya telah terjebak dengan rencana Ronal. Jika Moreno bisa bebas namun tidak dengan Guntur,
Defran telah melaporkan Guntur dan minggu depan Lifia akan dimintai keterangan di Kantor polisi.
Defran meredam semua pemberitaan agar masalah ini tidak disebarkan oleh media dan hebatnya,
Defran mengambil alih salah satu media yang memiliki opini kuat disetiap pemberitaan, hingga ia bisa
menutupi berita ini.

Hanya satu kata bagi Kakek Alisatyas kepada cucunya yang satu ini yaitu gila. Kakek Ali tahu kegilaan
Defran yang mulai peka terhadap bisnis begitu tiba-tiba dan berniat mengambil alih beberapa
perusahaan keluarga. Defran mengatakan sudah saatnya ia membantu perusahaan Satyas dan ia bisa
melakukan itu sambil tetap berkerja menjadi abdi negara. Bahkan Defran membangun manajemen yang
kuat, hingga bisa ia koordinir meskipun ia tidak berada langsung di tempat. "Ngapain ke rumah orang
tua kamu, Mas?" Tanya Lifia.

"Ada Kakek di Rumah Papi, kamu sudah lama tidak bertemu Kakek," ucap Defran dan ucapan Defran
memang benar. la sudah sangat lama tidak bertemu dengan Alisatyas dan bahkan ia belum sempat
mengunjunginya seperti dulu.

"Iya aku belum sempat mengunjungi Kakek," ucap

1/6

Apa benar
Lifia.

"Ayo kita sekalian sarapan disana, semuanya sedang berkumpul!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Keduanya segera keluar dari Apartemen dan Defran memang hanya meminta Bodyguard untuk menjaga
Lifia, jika ia sedang tidak berada didekat Lifia. Tapi jika ia sedang berada bersama Lifia seperti ini, ia
meminta mereka semua untuk segera menyingkir, untuk saat ini memang Defran melonggarkan
penjagaan kepada Lifia, lalu memerintahkan mereka untuk mengawasi Lifia dari jauh. Mereka menuju
parkiran mobil dan saat ini keduanya telah berada didalam mobil. Defran memarkirkan mobilnya dengan
kecepatan sedang dan saat ini Lifa memilih memainkan ponselnya, alih-alih menatap Defran dengan
tatapan kagum. la memang sedang berencana untuk menyiapkan dirinya ke Paris, apalagi waktu untuk ia
kesana hanya tinggal hitungan hari.

Lifia. "Ada yang mau dibeli?" Tanya Defran kepada

"Kalau pagi kayak gini batagor yang waktu itu belum buka ya, Mas?" Tanya Lifia.

"Belum," ucap Defran.

"Beli apa ya...hmmm kue jadul gitu Mas, Mami dan Kakek suka makan kue-kue tradisional," ucap Lifia.
"Oke," ucap Defran.

Defran menuju ke toko kue yang menjual kue-kue tradional, ia paling suka kue cenil, singkong, jagung,
getuk dan beberapa makanan lainnya. Lifia segera turun dari mobil bersama Defran dan tenyata ia
menarik perhatian pengujung toko. la lupa memakai masker hingga beberapa orang memang sengaja
mengambil fotonya dan ia juga tidak menyadari jika Defran yang pergi bersamanya pagi ini ke toko ini,
akan menjadi bahan pembicaraan di

2/6

Apa benar
media.

Setelah membeli aneka kue tradisional mereka segera menuju Kediaman Nasir Satyas. Mobil Defran
telah memasuki kawasan kediamana Nasir Satyas dan terlihat dihalaman rumah, anak-anak sedang
beramin riang. Lifia tersenyum, ia paling suka dengan anak-anak yang baginya sangat menggemaskan
bahkan ia rela menghabiskan waktunya hanya untuk bermain bersama mereka. Masa kecil Lifia tidak
membahagiakan seperti anak-anak yang bisa fokus bermain bebas seperti ini, karena masalah
dikeluarganya membuat masa kecilnya begitu menyedihkan.

"Wah lucu banget mereka," ucap Lifia dan ia segera turun dari dalam mobil tanpa menghiraukan Defran
yang saat ini baru saja mematikan mesin mobilnya.

"Tante..." teriak Nata ketika melihat kedatangan Lifia dan ia mendekati Lifia sambil tersenyum senang.
Seorang maid mendekati Lifia, membuat Lifia segera menyerahkan kue yang tadi ia beli.

"Loh kok nggak sekolah?" Goda Lifia. la tahu jika hari ini hari libur karena tanggal merah dan anak-anak
kebetulan akan libur hari Jumat, Sabtu dan pastinya minggu.

"Libur Tante panjang tiga hari," ucap Nata tersenyum.

"Aduh gemesin banget sih...pengen punya anak juga jadinya," ucap Lifia. la mengelus kepala Nata
dengan lembut dan terlihat dengan jelas ia menyayangi para keponakan Defran dengan tulus.

"Om jemput Tante juga ya? Om Def sibuk terus jarang pulang kesini," protes Nata.

"Om...kata Oma kita mau liburan hari ini Om, Om dan Ante Lifi udah datang tinggal menunggu Ante
kecil," ucap Nata. "Ante Kila katanya mau ikut juga," ucap Nata yang

3/6

Apa benar
memanggil adik Killa sepupu Defran dengan Tante kecil.
"Tama mana?" Tanya Defran mengedarkan pandangannya karena teman-teman yang bermain bersama
Nata, tidak terlihat Tama berada disana. Biasanya Tama akan lebih hebo ketika bertemu Lifia dan
Defran.

"Berenang sama Ayah, soalnya Nata nggak boleh berenang sekarang, Nata lagi flu Om..." ucap Nata.

Keluarga besarnya memang mengizinkan beberapa maid untuk membawa anak mereka tinggal di
Kediamannya ini, agar cucunya memiliki teman bermain setelah pulang sekolah. Bagi Serkan
perkembangan anaknya harus lebih ditekankan kepada sosial aktivitas dari pada terlalu fokus dengan
nilai akademik.

"Om sama Tante masuk dulu mau ketemu Oma!" Ucap Defran.

"Oke Om..." ucap Nata mengacungkan jari jempolnya.

Keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan Lifia sebenarnya, ingin memeluk lengan
Defran namun ia merasa tidak pantas. Defran menuju taman samping dan ternyata saat ini semuanya
sedang sarapan di taman yang berdekatan dengan kolam renang baru. "Mas aku belum coba kolam
renang ini," ucap Lifia.

"Kalau mau berenang masih bisa cuaca tidak terlalu panas," ucap Defran.

"Hehehe...aku nggak berani main air takut tenggelam," ucap Lifia. "Apalagi nggak ada yang jagain,
Mas..." ucap Lifia.

'Bilang aja Lifi kalau kamu mau ditemani Mas Defran...!

Batin Lifia.

Lifia tidak akan mengatakan hal ini karena ia takut Defran menyemburkan kata-kata sinis seperti dulu.

4/6

Apa benar
Akhir-akhir ini Defran tidak terlalu berkata kejam seperti bisanya padanya dan ia juga sedikit perhatian.
Apalagi ia bisa dengan mudahnya menghubungi Defran dengan ponselnya yang sedang berada pada
Defran. la bisa menanyakan alasan apakah ada orang penting atau teman-temannya yang
menghubunginya.

Lifia tersenyum ketika melihat sosok Liana merentangkan tangannya. "Si sayang sama suaminya

pulang..." teriak Liana membuat wajah Lifia memerah karena malu. Ingin rasanya berbalik pergi dari sini
karena ia benar-benar telah kehilangan wajahny saat ini. Apalagi Kakek Ali tersneyum padanya,
sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi Lifia dan ia harus menahan malu karena si
sayang pasti akan menjadi pembahasan menarik bagi mereka.
Liana mengecup pipi kanan dan kiri Lifia, lalu ia

5/6

Apa benar
menarik tangan Lifia agar segera bergabung bersama mereka semua. Lifia mendekati Kakek Ali dna ia
mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Kakek Ali. "Cucu menantu Kakek akhirnya
datang, apa kabar Cu?" Tanya Kakek Ali.

"Alhamdulilah baik Kek," ucap Lifia. Kakek Ali memegang tangan Lifia dan menatap Lifia dengan sayang.

"Kamu harus sabar ya menghadapi Defran, dia terlalu mirip dengan Kakek dimasa muda hahaha..." tawa
Kakek Ali membuat Lifia tersenyum. "Defran itu nggak banyak bicara, tapi dia itu penyayang kayak
mendiang Neneknya," ucap Kakek Ali. "Dia pemberontak dan mana mau dijodohkan maunya memilih
sendiri," ucap Kakek Ali.

'Iya aku tahu Kek makanya dia kesal kalau kalian selalu mengatakan ingin aku jadi menatu kalian,' Batin
Lifia.

"Pilihannya ternyata sesuai dengan pilihan Maminya, iya nggak Pi?" Tanya Liana kepada Kakek Ali.

"Iya...makanya Papi bersyukur tinggal disegerakan saja!" Ucap Kakek Ali membuat Lifia mengerjapkan
kedua matanya, bingung dengan ucapan Kakek Ali dan Liana.

Komentar lainnya

Berikan Suara

14

6/6

Terjatuh lagi.
Terjatuh lagi
Lifia terkadang tidak mengerti dengan pembicaraan keluarganya Defran, ia seolah akan segera menjadi
menantu mereka, sementara itu Defrannya sendiri bersikap bukan seperti laki-laki yang memiliki
hubungan khusus dengannya. Tapi jika ia pikir Defran Satyas pernah menciumnya tapi hanya
menempelkan bibir sebentar saja dan sama seperti dirinya yang juga pernah mengecup singkat bibir
Defran, astaga memikirkan itu membuat Lifia malu sendiri.

Saat ini Lifia duduk disamping Defran, ia ikut bergabung bersama keluarga besar Satyas. Semua keluarga
memang sedang berkumpul untuk sarapan pagi bersama. "Wah...menantuku ini ingat saja kalau
Maminya ini suka banget makan kue tradisional kayak gini," ucapnya membuat Lifia tersenyum. "Papi
senang kan semua keluarga bisa sarapan sama Papi rame kayak gini, nanti minggu depan kita yang
sarapan pagi sama Papi di Rumah Papi!" Ufap Liana.

"Iya Liana, Papi tambah senang kalau Defran segera menikah sama Lifia," ucap Alistyas.

"Kita tunggu saja ini kayaknya nggak bakal lama lagi, iya Kan Mbak sayang..." ucap Salsa. Lifia menelan
ludahnya ia bingung ingin menjawab apa, sedangkan Defran hanya diam saja seolah sedang menikmati
sarapannya.

"Yakin nggak akan lama," ucap Kana tersenyum melihat wajah adiknya itu memerah. Tadinya ia kurang
yakin dengan sosok Defran apa benar menyukai Lifia, namun setelah suaminya juga mengatakan ia
sangat mengenal sikap adiknya, ia akhirnya yakin jika Defran memiliki perasaan yang sama dengan Lifia.
Tapi melihat

1/7

Terjatuh lagi
ekspresi Lifia, sepertinya ia masih belum sadar jika Defran menyukainya.

Kana sebenarnya ingin meyakinkan Lifia tapi, adiknya ini pasti akan menyangkalnya karena baginya
Defran itu seorang pangeran yang sulit untuk ia jangkau. "Def, kamu dan Lifia jadi ikut kita liburan hari
ini?" Tanya Liana, membuat Lifia terkejut. Hari ini? Defran bahkan tidak mengatakan apapun padanya
dan kalau perginya hari ini ia tidak memiliki persiapan apapun. "Mami sudah beli tiket persawat kalian
berdua," ucap Liana.

"Oke," ucap Defran membuat Lifia melototkan matanya dan ia menarik lengan baju Defran.

"Mas..." ucap Lifia kesal.

"Loh kenapa Lifia?" Tanya Liana mengerutkan dahinya melihat ekspresi calon menatunya ini terlihat
sangat terkejut. "Defran nggak bilang kalau hari ini kita mau liburan bersama?" Tanya Liana, membuat
Lifia menggelengkan kepalanya membuat Liana menghela napasnya.

"Defran kamu ini keterlaluan banget, kenapa nggak bilang sama Lifia kalau kita mau pergi liburan," ucap
Liana kesal dengan sosok Defran.

"Kalau saya pergi, dia pergi. Kalau saya tidak pergi, dia tidak pergi!" Ucap Defran membuat Liana
menghela napasnya.

"Seperti biasa anak Papi Nasir yang ini sangat menyebalkan, kamu pikir pergi liburan itu nggak ada
persiapan apa? Lifia itu perempuan bukan kayak kamu yang laki-laki bisa pergi gitu aja..." ucap Liana
kesal.

"Tinggal beli baju saja disana dan beli kebutuhannya dia juga disana!" ucap Defran membuat Liana
menghela napasnya.
"Gimana kalau kita pulang dulu Mas ambil baju dan perlengkapan, aku?" Pinta Lifia.

2/7

Terjatuh lagi
"Nggak usah!" Ucap Defran membuat Lifia menghela napasnya.

Setelah sarapan bersama, Lifia melangkahkan kakinya menuju kamar Salsa dan melihat persiapan Salsa
untuk berangkat liburan ke Bali. la duduk diranjang bersama Kila yang baru saja datang. "Wah banyak
banget yang kamu bawa Mbak," ucap Kila melihat beberapa koper Salsa.

"Hehehe...dua koper ini koper kosong, dari pada beli koper lagi pemborosan, lebih baik kan nggak beli
koper lagi kalau nanti kita belanja gitu hehehe...aku mau beli banyak barang lucu mumpung Mas Serkan
dan Mas Defran ikut, jadi atm ku tambah banyak," ucap Salsa tak ingin melewatkan kesempatan ini.

"Aku bawa satu koper saja, aku juga dapat uang jajan dari Mas Fajrin. Mas Fajrin dan Mbak Bita minta
maaf nggak bisa ikut serta, soalnya Mas Fajri baru ambil cuti," ucap Kila.

"Iya Mama Lely juga sudah bilang sama Mami," ucap Salsa.

"Yang itu koper siapa?" Tanya Kila melihat koper yang berada disudut kamar Salsa.

"Punya Mbak Lifia, itu Mas Def minta aku siapin khusus untuk Mbak sayangnya," ucap Salsa tersenyum
menggoda.

"Serius itu untuk aku?" Tanya Lifia.

"Iya Mbak, Mas Defran empat hari yang lalu bilang, dia minta aku nyiapin berberapa baju untuk Mbak
dan semuanya ukuran Mbak juga. Baju baru sudah dilaundry tapi hehehe...bajunya nggak ada yang seksi
ya Mbak," jelas Salsa.

"Jadi nggak ada baju Mbak Lifia untuk ke Pantai gitu?" Tanya Kila.

"Nggak ada Kila, baju sopan yang banyak mana ada

3/7

Terjatuh lagi
yang kurang bahan apalagi buat pamer tubuh seksi di pantai, bisa-bisa Mbak Lifia nggak bisa keluar
kemana-mana sama Mas Defran," ucap Salsa.

Lifia menghela napasnya, Defran ternyata telah menyiapkan ini semua untuknya. Ada perasaan bahagia
tapi sebenarnya ia juga kesal. la kesal karena Defran harusnya bertanya kepadanya, apa ia bersedia ikut
liburan atau tidak dan bukannya mengambil keputusan secara sepihak seperti sekarang. Lifia mengambil
ponselnya, membuat Kila membuka mulutnya, "Wow ponsel Mas Defran," ucap Kila takjub karena
ponsel Defran berada ditangan Lifia. Apalagi casing yang digunakan di ponsel ini adalah ciri khas miliknya
Defran Satyas.

"Udah lama kali mereka berdua tukaran ponsel," ucap Salsa.

"Mbak Lifia, akhirnya hubungan kalian akan segera diresmikan," ucap Kila membuat Lifia menghela
napasnya.

"Nggak kayak gitu Kila ceritanya, nanti deh Mbak cerita!" Ucap Lifia. "Mbak telepon Mas Defran dulu!"
Ucap Lifia.

Cie...Cie...tinggal cari saja Mas Def dikamarnya Mbak, apa Mbak sudah lupa kamarnya suami Mbak?"
Goda Salsa membuat Lifia menghela napasnya, lelah dengan anggapan mereka yang menganggap ia
telah memiliki hubungan serius dengan Defran dan ia segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar
Salsa, lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar Defran.

Lifia mengetuk kamar Defran dan pintu terbuka menujukkan sosok Defran dengan tatapan datarnya.
"Ada apa?" Tanya Defran.

"Aku nggak boleh masuk?" Tanya Lifia kesal.

"Boleh," ucap Defran membuat Lifia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Defran.

4/7

Terjatuh lagi
Lifia melihat Defran membawa ransel kecil miliknya dan ada beberapa kaos diatas tempat di tidurnya.
"Aku nggak bawa baju tapi kamu bawa baju," lirih Lifia.

"Kamu bawa baju, bajunya sudah disiapkan Salsa," ucap Defran.

"Mas kalau kamu kayak gini sama aku, seluruh keluarga kita akan bertambah jadi salah paham sama
kita," ucap Lifia kesal.

"Salah paham? salah paham apa maksud kamu?" Tanya Defran dingin.

"Hubungan kita, mereka bilang aku calon istri kamu," ucap Lifia membuat Defran mengerutkan dahinya,
seolah ingin mendengar semua ucapan yang ingin Lifia utarakan padanya. "Mas gimana kalau aku benar-
benar ingin jadi istri kamu...?" ucap Lifia kesal dan ia menatap Defran dengan tatapan marah.

5/7

Terjatuh lagi
"Berhenti menatap saya seperti itu!" Ucap Defran dingin. "Apa kamu tidak sadar juga siapa kamu
dirumah ini?" Tanya Defran kesal.
"Aku sadar Mas, sangat sadar kalau kamu nggak suka sama aku makanya jangan begini, jelasin sama
keluarga kamu kalau kita nggak ada hubungan apa-apa!" Ucap Lifia kesal.

"Kamu memang calon istri saya, kamu si sayang bukannya kamu sudah mengakui kalau kamu istri saya?"
Tanya Defran membuat Lifia terkejut. "Keluarga saya tidak akan mengizinkan saya menikahi perempuan
lain selain kamu!" Ucap Defran dan bukan ini yang ingin Lifia dengar. Jika seperti ini, Defran terdengar
sangat terpaksa menjalani ini semua.

"Kamu jangan terpaksa gitu Mas hanya karena keluarga kita!" Lirih Lifia dan ia terlihat sangat kesal.

"Siapa yang bisa memaksa saya? Nggak ada yang bisa!" Ucap Defran.

"Kalau ngomong yang jelas hiks...hiks...nyebelin banget sih..." ucap Lifia dan ia meneteskan air matanya
sambil terisak.

"Nggak usah pakai nangis Lifia!" Ucap Defran dingin.

"Jadi gimana jelasin sama mereka, Mas?" Tanya Lifia membuat Defran menangkup wajah Lifia.

"Kamu jadi si Sayang saja kalau kamu nggak percaya diri seperti ini jadi calon istri saya!" Ucap Defran
membuat Lifia tekejut.

"Jadi aku benar-benar jadi calon istri kamu?" Tanya Lifia mengerjapkan kedua matanya.

"Iya," ucap Defran membuat Lifia menatap Defran dengan tatapan terkejut dan tiba-tiba Lifia kehilangan
keseimbangannya dan ia terjatuh tidak sadarkan diri seolah berita yang ia terima ini sangat
mengejutkannya.

6/7

Menggemaskan sekali.
Menggemaskan sekali
Defran menghembuskan napasnya, untung saja Lifia tidak benar-benar terjatuh dilantai dan ia bisa
segera menarik tubuh Lifia kedalam dekapannya. Defran menggendong Lifia lalu membaringkan tubuh
Lifia diranjang. Bukan pertama kalinya perempuan ini tiba-tiba pingsan karena dirinya, karena
sebelumnya Lifia pernah pingsan hanya karena mendengar berita jika ia terkena tembak karean
menjalan tugas beberapa waktu yang lalu. Defran menatap wajah cantik yang saat ini terlihat tidak
sadarkan diri itu, Defran segera menyadarkan Lifia dengan memberikan obat didaerah hidung Lifia agar
segera sadar.

Lifia merasakan bau menyengat dihidungnya membuatnya, mengerjapkan kedua matanya dan ia
membuka matanya perlahan. la melihat sosok Defran yang ada dihadapannya, membuatnya terkejut.
Defran menjetikkan dahi Lifia dengan pelan, "Kebiasaan..." ucap Defran. Lifia menatap Defran dengan
tatapan bingung dan ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya yang membuat sangat
terkejut dan ia tidak menyangka apa yang tadi ia dengar dari telinganya hingga membuatnya jatuh
pingsan. la duduk dan ia tak berani menatap Defran, karena ia benar-benar sangat malu saat ini hingga
ingin rasanya ia segera menghilang sekarang juga.

"Kenapa?" Tanya Defran.

'Pakek ditanya lagi kenapa, malu Mas...aku malu banget...' Batin Lifia berteriak.

"Masih pusing?" Tanya Defran.

"Enggak," ucap Lifia pelan.

'Bisa nggak aku kabur dari sini sekarang juga kemana

1/6

Menggemaskan sekali
kek biar nggak malu banget kayak gini... Batin Lifia.

Defran menatap Lifia yang saat ini bak seorang tersangka dan Lifia menundukkan kepalanya. Lifia
menyadari Defran yang masih menatap kearahnya membuatnya segera memeluk Defran dengan erat,
dengan wajahnya yang merah padam. Jujur saja ia sangat malu saat ini, hingga jantungnya berdetak
dengan kencang dan ia kesal kenapa ia pingsan hanya karena mendengar ucapan Defran.

"Mas..." panggil Lifia.

"Nggak usah tanya lagi jika saya menjawabnya kamu akan pingsan lagi!" Ucap Defran membuat Lifia
menganggukkan kepalanya.

Sebenarnya ada banyak hal yang ia ingin tanyakan seperti kenapa Defran memutuskan menjadikannya
benar-benar calon istrinya. "Anggap saja tidak ada perempuan lain yang cocok menjadi istri saya selain
kamu!" Ucap Defran seolah mengerti apa yang ingin Lifia tanyakan padanya. Itu artinya tidak akan ada
perempuan yang lebih baik dari dirinya yang menjadi istri Defran, apa yang Defran maksud ini cinta?
Entalah tapi setidaknya Lifia bersyukur jika Defran setuju menjadikannya istrinya.

"Kamu bisa mati kalau sedikit-sedikit pingsan hanya karena mendengar berita mengejutkan dari saya,
Lifia," ucap Defran.

"Iya Mas, aku itu nggak tahu aku itu... hiks...hiks...aku nggak menyangka Mas," ucap Lifia, ia sangat malu
saat ini bahkan ia tidak berani menatap wajah Defran dan ia memilih untuk memeluk Defran dengan
erat agar bisa menyembunyikan wajahnya.

Defran ingin melepaskan pelukkan Lifia, namun Lifia mengeratkan pelukannya. "Aku malu jadi jangan
lihat wajah aku Mas!" Ucap Lifia.

"Kamu kalau sudah peluk saya seperti ini, kamu akan


2/6

Menggemaskan sekali
tertidur dan kamu pikir mudah bagi saya untuk membangunkan kamu?" Tanya Defran. "Asal kamu tahu
saya lebih mudah membangunkan kamu saat pingsan, dari pada membangunkan kamu tidur," ucap
Defran dengan suara beratnya yang terdengar serak.

Defran bahkan menangkup hidungnya saat berusaha ingin membangunkannya atau Defran akan
menidurkannya dibathup, lalu ia akan mengguyur Lifia dengan air. Yang lebih ekstrim lagi, Defran
memaksa mata Lifia terbuka dengan jarinya dan ia bahkan membisikkan kata-kata ancaman jika Lifia
tidak segera bangun. Terdengar suara ketukkan pintu, membuat Lifia melepaskan pelukannya kepada
Defran, Defran melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya. "Mas kita sudah mau siap-siap
nih...Mbak Lifia mana? Kenapa sih dikurung didalam kamar?" Tanya Salsa dan ia mencoba melihat
kearah dalam kamar Defran. "Mas aku ingin masuk ke kamar kamu juga Mas, masa Mbak Lifia boleh aku
nggak boleh!" Ucap Salsa menyebikkan bibirnya. la ingin Lifia mendengar ucapannya agar Lifia tahu
betapa spesialnya Lifia bagi Defran, bahkan mengalahkan adiknya satu-satunya ini yang juga spesial bagi
Defran.

"Sebentar lagi saya dan Lifia turun, kamu tunggu dibawah!" Perintah Defran dan ia menutup pintu
kamarnya, lalu kembali mendekati Lifia.

Defran melihat kearah Lifia yang saat ini menatap kearahnya, lalu tiba-tiba ia mengalihkan
pandangannya karena ia masih canggung. "Susun bajunya!" Pinta Defran membuat Lifia menganggukkan
kepalanya dengan pelan. "Kenapa kamu nggak mau melihat kearah saya?" Tanya Defran mengerutkan
dahinya.

"Lagi fokus melipat baju," ucap Lifia dengan wajahnya yang merah padam. la memasukkan baju Defran
kedalam tas ransel Defran. "Hmmm...tasnya kecil sekali Mas," ucap Lifia.

3/6

Menggemaskan sekali
"Kalau nanti baju saya kurang, tinggal kamu beli saja dan kamu bisa menyusunnya baju saya kedalam
koper kamu!" Ucap Defran.

'Astaga Mas udah kayak suami istri beneran....aduh malu banget... Batin Lifia.

"Susu...sudah Mas," ucap Lifia gugup.

"Ayo keluar!" Ucap Defran dan ia memegang tasnya lalu sebelah tangannya memegang tangan Lifia.
Keduanya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah tempat berkumpul para keluarga besarnya.
"Mas jangan cerita sama siapapun tadi aku pingsan!" Ucap Lifia.

"Kenapa memangnya kalau saya cerita sama mereka?" Tanya Defran.


"Jangan pokoknya, aku malu! Kamu mau mempermalukan calon...hmmm...calon istri kamu?" ucap Lifia
dengan wajahnya yang merah padam. la masih malu mengakui jika ia adalah calon istri seorang Defran
Satyas.

"Iya ya...saya lupa kalau kamu itu pemalu," ucap Defran dingin seolah mengejeknya jika ia adalah sosok
pemalu.

"Mas...please jangan buat aku malu Mas, aku nggak ada muka lagi kalau begini!" Lirih Lifia.

Defran mengangkat sebelah alisnya dan ia memilih tidak menjawab ucapan Lifia. Keduanya mendekati
para keluarganya dan mereka telah terlihat siap untuk menuju Bandara. "Wah ini namanya liburan yang
sangat luar biasa," ucap Kakek Ali. "Kakek sudah sangat tua jadi Kakek di rumah saja!" Ucap Kakek Ali.

"Iya Kek nanti Salsa belikan oleh-oleh tapi hehehe...bukan calon nenek baru ya Kek," goda Salsa
membuat mereka semua tertawa karean Kakek Ali tertawa.

4/6

Menggemaskan sekali
"Nasir....ini Salsa segera carikan dia jodoh, biar nggak jomblo lagi, siapa itu anaknya Kenzo?" Tanya
Kakek Ali.

"Zilo," ucap Nasir.

"Iya...jodohkan saja sama dia, dia anak yang pintar saat memeriksa Papi dia sangat sopan dan baik
sekali," ucap Kakek Ali yang selalu memuji laki-laki tampan yang merupakan dokter muda yang juga
merupakan pemilik

salah satu Rumah Sakit swasta terbaik dinegara ini.

"Dia hanya pencitraan Kek, jangan percaya. Orangnya itu lebih dingin dan kejam dari Mas Defran!" ucap
Salsa.

"Mas Defran nggak kejam," ucap Lifia tiba-tiba kesal saat Salsa mengatakan Defran kejam.

"Wah...ini nih yang lagi kasmaran," goda Kana

5/6

Menggemaskan sekali
membuat Lifia membuka mulutnya, karena ia merasa terkejut dengan dirinya yang tiba-tiba kesal saat
Salsa mengatakan jika Defran kejam.

"Jadi Def sekarang sudah ada yang belain dia," goda Liana.

"Wah...sweeet banget," ucap Kila.


"Nggak bukan gitu..." ucap Lifia mencoba menyangkal namun ketika tatapanya tertuju kepada Defran,
membuatnya gugup seketika. Lifia lebih takut lagi jika Defran menceritakan apa yang tadi terjadi
padanya yang tiba-tiba pingsan, karena mendengar ucapan Defran mengenai ia yang menjadi calon istri
Defran dan itu akan membuatnya sangat malu. Lebih baik, ia benar-benar menjadi perempuan pembela
Defran Satyas nomor satu. "Mas Defran itu baik hati, nggak sombong apalagi kejam, jangan salah paham
sama Mas Defran!" Pinta Lifia membuat Liana dan Salsa saling bertatapan, lalu keduanya tertawa
terbahak-bahak.

"Hahaha....menggemaskan banget," ucap Liana.

"Mbak sayang segera gih...nikah gitu sama Mas Def!" Ucap Salsa.

"Iya nanti kita bicarakan ya Mas!" Ucap Lifia dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Iya," ucap Defran membuat Kana, Kila, Lifia dan Liana segera bersorak riang mendengar satu kata 'Ya'
oleh Defran Satyas.

Komentar lainnya

Berikan Suara

25

6/6

Jangan tidur.
Jangan tidur
Kalau yang namanya cinta Lifia pun bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa jatuh cinta kepada
makhluk aneh bernama Defran Satyas yang saat ini sedang berdiri disampingnya, sambil berbincang
bersama Serkan Satyas dan Nasir Satyas. Lifia mengedarkan pandangannya mencari sosok keluarga
Defran yang lain, ia melihat Kila sedang berbincang dengan Salsa sambil tertawa dan ia tertarik untuk
mendekati mereka. Kila dan Salsa sama seperti Defran, keduanya berprofesi sebagai Dokter, jika Salsa
saat ini berencana ingin mengambil spesialis, berbeda dengan Kila yang baru saja menyelesaikan
kuliahnya.

"Kalian kalau ngobrol ajak-ajak dong, Mas Def kan sibuk sama Papi dan Mas Serkan, mereka itu kalau
sudah ngobrol bertiga, pasti banyak banget obrolan yang Mbak nggak ngerti gitu," ucap Lifia.

"Mbak sih dari tadi ngikutin Mas Defran terus," ucap Salsa.

Saat ini mereka sedang menunggu diruang tunggu untuk ke berangkatan pesawat ke Bali. Kila baru saja
membeli cemilan pipibread kue yang sangat ia suka, ia bisa saja menghabiskan tiga kue sekaligus seperti
saat ini dan sejak tadi ia tidak berhenti memakan kue ini. "Ini Mbak makan! Jangan takut gula kan
sesekali Mbak!" Ucap Kila memberikan sekotak kue itu kepada Lifia.
"Nggak usah makan aja Kila!" Tolak Lifia.

"Kamu itu Kila kalau makan gula hanya di kue ini aja doyannya, biasanya Kila itu kalau diajak minum
manis ngopi atau nongkrong gitu dia nolak. Baru-baru ini aja dia mau Mbak karena katanya bosan
jomblo mau cari cowok.

1/6

Jangan tidur
Cari cowoknya itu loh ditempat nongkrong, padahal di Rumah sakit Papi kan banyak cowok-cowok
ganteng. Ada yang perawat, dokter atau pacaran saja sama pasien tapi lihat dulu ganteng apa nggak
atau kerjaannya apa gitu biar Tante Lely nggak ngamuk!" Ucap Salsa. "Ingat ya restu orang tua itu adalah
yang paling penting!" Ucap Salsa memperingatkan Kila.

"Iya, yang paling penting itu restu orang tua," ucap Lifia. la mengingat sosok Papinya kandungnya apa
harus ia panggil Papi seakan Papinya itu Ayah kandungnya yang menyayanginya sedangkan selama ini
tidak ada kenangan yang sangat indah saat ia bersama sang Papi.

"Mbak sama Mas Defran kapan nikahnya?" Tanya Kila sambil mengunyah makanannya.

"Nggak tahu kapan," ucap Lifia. Bagaimana ia tahu kapan ia menikah karena Defran saja langsung
menyebutkannya sebagai calon istri tanpa ada kalimat jika Defran mencintainya seperti layaknya
pasangan pada umumnya.

"Mas Defran itu nggak akan bilang gitu kalau nggak ditanya, itu orang memang aneh banget sikapnya.
Terlihat menyebalkan ya Mbak, tapi terkadang keanehannya itu jadi manis banget gitu," ucap Salsa
mengingat sikap Defran selama ini kepada Lifia.

"Iya, nggak tahu tiba-tiba saja bisa dingin banget dan dia juga bisa baik banget gitu tapi nggak kejam ya
Sa," ucap Lifia membuat Salsa tersenyum. Beruntung sekali Defran Satyas kakaknya itu mendapatkan
perempuan sebaik dan selembut Lifia.

"Kalian enak sudah punya pasangan semua, aku nggak punya," ucap Kila.

"Memang Salsa punya pacar?" Tanya Lifia penasaran.

"Nggak punya, kalau ada ini pasti aku ajak ikut liburan

2/6

Jangan tidur
juga!" Ucap Salsa.

"Kata Papi Nasir kan punya Mbak, Mbak mau dijodohkan gitu," ucap Kila.
"Nggak mau dijodohin, cinta itu akan datang pada waktunya nggak perlu dijodohin gitu. Bebereda
kasusnya sama Mbak Lifia dan Mas Defran yang memang kita semua sangat setuju mereka bersama,
makanya kita berusaha keras mendekatkan mereka dan mempromosikan mereka agar segera menikah
gitu. Soalnya kita semua keluarganya sudah saling mengenal dan Mami sayang banget sama Mbak Lifia,
Mas Defran juga sayang banget sama Mbak Lifia," ucap Salsa tersenyum menggoda melihat wajah Lifia
memerah karena malu.

lagi. "Aku pengen dicintai dari pada mencintai," ucap Kila

"Itu namanya bego, emangnya mau hidup sama laki-laki yang mencintai kita tapi kita tidak cinta? Jangan
mau...itu namanya bego. Bego jangan dipelihara...mau aja dibobokin sama cowok yang kita nggak cinta,
aku tidak mau loh...pengennya ketika kita bangun tidur dan kita buka mata cilup...ba...gitu yang kita lihat
yang segar-segar. Bibir yang seksi kalau mencium kita, mata yang tajam dan hehehe...tubuh seksi yang
menggoda,

Kayak abang-abang jago olahraga diranjang," ucap Salsa membuat Kila terkekeh karena ucapan Salsa
baginya sangat benar.

Mendengar ucapan Salsa membuat Lifi menelan ludahnya. Apa yang diucapkan Salsa memang benar dan
Mas Defranya seindah itu ditatap, sejagi itu olahraga dengan membuat bentuk tubuhnya menjadi seksi
dan hangat, Defran juga semaskulin itu dalam bertindak dan pastinya sejago itu diranjang.

"Iya, kalau seperti itu indah banget rasanya dimalam dan pagi hari saat menutup dan membuka mata,"
ucap

3/6

Jangan tidur
Lifia membuat Salsa dan Kila terkekeh.

"Cie...cie nanti malam Mbak yang diam-diam pergi ke Kamar Mas Def, apa Mas Def diam-diam ke kamar
Mbak Lifia? nggak mungkin kan satu kamar berdua dihotel, apalagi ada Mami dan Papi kita hehehe...,"
goda Salsa membuat wajah Lifia bersemu dengan merah.

Jujur saja akhir-akhir ini ia seolah telah terbiasa dengan kehadiran Defran Satyas dihidupnya, semua
aktivitasnya juga berada disekeliling Defran. Jujur saja jika ia pergi ke Paris nanti, ia pasti akan
merindukan Defran. Ya...niatnya untuk bekerja menetap disana ia urungkan tapi kontrak kerja sama
yang telah ia tandatangani sebelumnya, akan tetap ia lakukan. la akan ke Paris selama satu minggu. Satu
minggu tanpa Defran, akan seperti apa karena ia telah terbiasa ada Defran dalam hidupnya.

Kana dan Liana memanggil mereka agar segera masuk kedalam pesawat. Lifia melangkahkan kakinya
mendekati Defran karena tatapan tajam itu mengisyaratkan agar ia berada disampingnya. Lifia yang
memakai masker diwajahnya itu segera mempercepat langkah kakinya lalu ia memeluk lengan Defran
dengan erat. Keduanya segera menuju pesawat dan saat ini mereka semua telah berada didalam
pesawat. Defran duduk disamping Lifia, membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang ketika mata itu
bertemu dengan matanya.

Lifia mengalihkan pandangannya dengan wajahnya yang merah padam, Defran dengan tatapannya itu
membuat wajahnya memanas. Sosok yang sangat ia cintai itu telah mendeklarasikan dirinya sebagai
calon istrinya. ....setidaknya ia mencintai Defran Satyas dan si tampan calon suaminya ini bersedia
menikahinya, walaupun ia belum tahu perasaan Defran yang sesungguhnya padanya. Lifia bahkan bisa
melihat pesona seorang Defran pun membuat salah satu pramugari disana, melihat Defran seperkian
detik lalu ketika mata Lifia menangkap basah

4/6

Jangan tidur
pramugari cantik itu, ia segera mengalihkan pandangannya. Untung saja Defran bukan Marco, yang
pastinya akan menujukkan senyumannya kepada perempuan cantik, apalagi jika perempuan itu terlihat
menyukainya.

"Kamu kenapa?" Tanya Defran saat melihat Lifia menatap wajahnya, namun setelah ia melihat kearah
Lifia, Lifia segera mengalihkan pandangannya.

"Nggak apa-apa Mas," ucap Lifia. Defran mematikan ponselnya, membuat Lifia juga mematikan
ponselnya. la melihat kesampingnya, Kana kakak perempuannya itu sangat manja dengan Serkan
suaminya dan itu membuatnya tersenyum. la menyandarkan kepalanya dibahu Defran, membuat Defran
melirik Lifia dan ia membiarkan kepala Lifia bersandar dengannya.

"Kalau mengantuk tidur saja!" Ucap Defran.

5/6

Jangan tidur
"lya, Mas tapi nanti kalau aku susah bangunnya gimana?" Tanya Lifia.

"Menurut kamu gimana?" Tanya Defran, membuat Lifia memikirkan apa yang akan dilakukan Defran jika
ia sulit untuk dibangunkan. Apa mungkin Defran menyiram wajahnya dengan segelas air, tapi sepertinya
itu tidak mungkin Defran lakukan. Yang paling memungkinkan saat ini, Defran membawanya turun
dengan menggendongnya membuat wajah Lifia memerah dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak
tidur.

Komentar lainnya

Berikan Suara

15

6/6
Tatapanya itu.
Tatapanya itu
Saat ini mereka telah sampai di Bali, beberapa mobil mewah telah datang menjemput mereka. Lifia
sekarang percaya, jika Defran ternyata memiliki banyak usaha di Bali dan Defran memang sangat sering
pergi ke Bali, dari pada ke daerah lain. Mobil-mobil yang telah menjemput mereka adalah mobil mewah
milik Defran yang ia jadikan bisnis penyewaan mobil. Defran memang telrihat sederhana, namun
sebenarnya memiliki banyak uang, persis dengan apa yang dikatakan Salsa kepada Lifia.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di Resort Satyas Kencana, Lifia pernah ikut pemotretan disini dan
resort ini sangatlah mewah. Lifia melangkahkan kakinya mengikuti Kila dan Salsa yang mengikuti
karyawan Resort yang mengantar mereka menuju kamar mereka masing-masing. Mereka melewati
koridor yang terlihat sangat indah karena sangat aesthetic. Mereka berhenti didepan kamar dan
karyawan resort membuka pintu kamar untuk mereka.

"Kita tidurnya bertiga aja!" Ucap Lifia membuat Salsa dan Kila terkejut, melihat kehadiran Lifia yang
ternyata sejak tadi ada dibelakang mereka.

"Loh Mbak, kenapa ngikutin kita bukanya Mbak harusnya itu ngikutin Mas Defran? kamar Mbak itu
dekat sama kamar Mas Defran," ucap Salsa.

"Mas Defran nggak bilang apa-apa," ucap Lifia.

"Astaga nggak percaya banget sih sama kita," ucap Salsa.

"Iya Mbak, pasti kamar Mbak itu dekat banget sama kamar Mas Defran," ucap Kila.

"Bisanya kan gitu kalau kita liburan," ucap Salsa. Lifia

1/6

Tatapanya itu
mencoba mengingat apa benar yang diucapkan Salsa dan Kila, jika kamarnya ketika liburan berdekatan
dengan kamar Defran. "Coba deh Mbak ingat lagi!" Ucap Salsa.

Lifia terlihat sedang berpikir keras tentang liburannya bersama para Satyas beberapa waktu yang lalu
dan akhirnya ia ingat, jika setiap liburan bersama keluarga pasti kamarnya pasti berdekatan dengan
kamar Defran.

"Kayaknya iya, itu kan Mami yang selalu atur," ucap Lifia.

"Yakin Mami? Hehehe...aku nggak yakin loh...Mbak," ucap Salsa tersenyum menggoda.
"Sama Kila juga nggak yakin, hmmm...kayaknya itu maunya Mas Defran deh...bukanya Mas Def itu
sangat suka menganggu Mbak Lifia. Tapi memang Mas Defran itu, orangnya itu agak aneh gitu kalau
dalam hal menujukkan perhatiannya," ucap Salsa membuat Lifia memikirkan ucapan Salsa.

Lifia mengambil ponselnya dan ia menghubungi Defran karena ia ingin menanyakan hal ini kepada
Defran.

"Assalamualikum Mas," ucap Lifia.

"Waalikumsalam," ucap Defran.

"Kamu dimana, Mas?" Tanya Lifia.

"Di lobi resort," ucap Defran. "Kamu itu yang kemana?" Tanya Defran dingin.

"Iya aku kesana lagi, tunggu ya Mas!" Ucap Lifia.

"Iya," ucap Defran singkat.

"Mbak ke lobi dulu!" Ucap Lifia.

"Kan tadi sudah aku bilang Mbak Sayang, Mas Defran itu pasti sudah menyiapkan kamar khusus buat
Mbak, paling nanti yang bisa terhubung satu sama lainnya," goda Salsa.

"Semoga saja begitu," ucal Lifia menbuat Salsa dan

2/6

Tatapanya itu
Kila terkekeh.

"Hehehe..manis banget sih Mak...ini nih yang membuat Mas Defran itu jadi suka sama Mbak," goda
Salsa.

"Apa-apaan sih...Sa, suka banget godain Mbak," ucap Lifia menyebikkan bibirnya.

"Hehehe...aku itu serius Mbak, coba aja Mbak manja-manja gitu sam Mas Defran, pasti dia nggak akan
nolak!" Ucap Salsa.

"Mana ada gitu, Mbak nggak mau ambil resiko terus Mbak dimarahin sama Mas Defran," ucap LifiaZ

"Mbak peluk Mas Def aja! dia pasti nggak akan nolak. Makanya Mbak, jadi Mbak sayang saja yang nggak
malu nunjukkin perasaannya kepada semua orang hehehe ngaku...istrinya Mas Defran didepan istri
rekan kerjanya." Goda Salsa.

"Awas ya Sa, tunggu saja nanti Sa! Mbak juga aja sering banget menggoda kamu sama pacar kamu nanti,
biar kamu tahu gimana rasanya digoda sma sekalian setiap kali berkumpul!" Ucap Lifia kesal membuat
tersneyum senang. "Kalian berdua itu bilang saja kalau kalian memang mau tidur sekamar berdua tanpa
Mbak," kesal Lifia.

"Kita ini masih jomblo tapi kita itu sangat pengertian loh Mbak," goda Kila.

Lifia yang kesal segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini dan ia kembali menuju lobi resor
untuk menemui Defran Satyas. Saat ini Lifia melihat sosok Defran sedang duduk santai disofa lobi, Lifia
mengedarkan pandangannya mencari para Satyas lainnya yang ternyata saat itu sudah diantar Karyawan
Resort untuk beristirahat dikamar mereka. "Mas..." panggil Lifia dengan suara lembutnya membuat
Defran mengangkat wajahnya menatap Lifia.

3/6

Tatapanya itu
"Dari mana?" Tanya Defran dingin dan ka menatap Lifia dengan tatapan menilai.

Lifia. "Aku tadi ke kamarnya Salsa dan Kila, Mas," jelas

Defran berdiri dan ia melangkahkan kakinya membuat Lifia bingung, namun ia segera mengikuti langkah
kaki Defran. "Mas jalanya jangan cepat-cepat!" Pinta Lifia.

Defran menghentikan langka kakinya, membuat Lifia hampir saja menabrak punggung Defran. Lifia
memeluk lengan Defran dan ia melangkahkan kakinya bersama Defran. Lifia tersenyum karena ternyata
Defran memang tidak menolaknya sejak dulu, jika ia mencoba menyetuh Defran seperti ini. Defran
membawa Lifia kesebuah kamar yang tidak terlalu jauh dari Restauran resort. Defran memberikan dua
kartu kunci kepada Lifia. "Kamu bisa masuk lewat pintu yang ini atau pintu yang itu!" Ucap Defran
menujuk pintu kamar sebelah.

"Kok bisa pintunya ada dua?" Tanya Lifia. Defran tidak menjawabnya dan ia melangkahkan kakinya
masuk kedalam kamar, membuat Lifia menghela napasnya. la ingin protes karena Defran sangat irit
berbicara, hingga sering kali membuatnya salah paham seperti saat ini.

"Masuk!" Perintah Defran dengan matanya yang menatap Lifia dengan dingin.

Lifia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ini dan ia takjub dengan isi perabotan yang ada
dikamar ini. "Bagus banget..." ucap Lifia.

"Kamu tinggal pilih mau tidur dikamar ini atau dikamar sebelah!" Ucap Defran.

"Aku nggak mau tidur sendiri!" ucap Lifia dan sejujurnya ia memang masih sangat takut dengan kejadian
yang pernah ia alami sebelumnya. "Mas tidur sama aku!" Pinta Lifia dan ia menatap Defran dengan
tatapan memohon.

4/6
Tatapanya itu
"Jadi kamu mau tidur dikamar yang akan saya tiduri? Tanya Defran.

"Iya...kalau nggak mau nggak apa-apa, aku bisa tidur sama Kila dan Salsa!" Ucap Lifia.

"Tidak aman kalau kamu tidur sendirian," ucap Defran.

"Sudah tahu tidak aman masih nanya," ucap Lifia kesal.

"Kemari!" Ucap Defran membuat Lifia menghela napasnya dan ia segera duduk disamping Defran.

"Kamu pikir orang tua saya akan setuju dengan perbuatan kita jika mereka tahu kita tidur bersamaan
saat ini," ucap Defran.

"Kita hanya tidur Mas!" Ucap Lifia. Defran menatap Lifia dengan dalam, membuat Lifia menelan
ludahnya

5/6

Tatapanya itu
dan bolehkah jika ia ingin memeluk Defran saat ini juga "Mas peluk sambil tidur, Mas mau nggak?"
Tanya Lifia dan ia mengerjapkan kedua matanya karena ia takut Defran menolaknya.

"Ok," ucap Defran singkat membuat Lifia tersenyum senang dan ia memeluk Defran dengan erat.
"Jangan tidur disofa!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia. Jantung Lifia berdetak dengan kencang saat Defran menatapnya dengan dalam.
Lifia segera mengalihkan pandangannya dan ia mencoba meredakan suara detak jantungnya, yang
membuatnya menggila hanya dengan tatapan Defran yang seperti ini kepadanya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

22

Kamu ketahuan.
Kamu ketahuan
Defran Satyas sosok yang tak pernah menatapnya seperti ini tentu saja membuat Lifia menjadi sangat
gugup. la lebih memilih memeluk Defran dari pada membiarkan tatapan itu terus tertuju kepadanya dan
membuatnya salah tingkah. Lifia memberanikan diri untuk memeluk Defran dengan erat seperti sosok si
Sayang yang tidak tahu malu.
"Mas aku nggak bawa sabun muka gitu dan skincarenya," ucap Lifia dengan suaranya yang lembut.

"Sudah ada semua, saya sudah meminta asisten saya untuk membelinya," ucap Defran dan ia menunjuk
paperbag yang ada diatas nakas. Lifia terkejut dan ia tidak menyangka Defran akan menyiapkan skincare
untuknya. la bahkan baru ingin mengajak Defran membelinya, namun ternyata Defran lebih sigap dan
menyiapkan segalanya untuknya.

"Memang Mas tahu brand apa yang aku pakai?" Tanya Lifia, tapi ia tidak berani menatap wajah Defran
hingga ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya didada Defran.

"Kamu pikir saya tidak punya mata melihat semua skincare yang kamu pakai selama ini," ucap Defran
membuat Lifia tersenyum. Cara bicara Defran yang seperti ini harus ia pahami sebagai maksud yang lain
agar ia tidak salah paham seperti biasanya dan sepertinya selama ini, Defran Satyas itu kemungkinan
besar tidak marah padanya ketika berbicara seperti ini padanya. Hanya saja Lifia belum terbisa
menghadapi Defran Satyas dan mengartikan semua kalimat sinisnya.

"Mas jangan galak!" Ucap Lifia ia mengangkat wajahnya dan cupp...ia mengecup pipi Defran.

1/6

Kamu ketahuan
"Terimakasih udah dibeliin skincarenya," ucap Lifia malu-malu. Jika Defran menganggapnya calon
istrinya, ia akan memganggap Defran pacarnya, sebelum ia benar-benar menjadi istri Defran Satyas.

lifia sangat malu namun ia menahan dirinya untuk tidak terkejut apalagi pingsan hanya dengan ucapan
Defran walaupun ucaoan Defran sebenarnya bagiakan mimpi baginya. Defran yang manis padanya tentu
saja akan sangat mengejutkan dirinya. "Mas...aku mau tanya, kasus penguntit itu bagaimana sekarang?
Apa mereka sudah ditemukan?" Tanya Lifia.

"Belum," bohong Defran. "Makanya kamu jangan pernah pergi sendirian apalagi tanpa kabar! untuk
sementara ini kamu nggak usah ambil pekerjaan dulu!" Pinta Defran.

"Tapi aku bosan di Rumah terus menerus Mas, ada beberapa tawaran endrose aku mau ambil tapi aku
butuh Sandra buat bantuin aku, setelah pulang dari Bali kita ke tempat Sandra ya Mas!" Pinta Lifia
menatap Defran dengan tatapan memohon.

"Oke," ucap Defran. Lifia tersenyum senang sepertinya hari-harinya akan sangat menyenangkan, ia bisa
melaluinya bersama dengan Defran Satyas

Defran mendengar suara ketukan pintu membuatnya mengangkat sebelah alisnya. "Biar aku yang buka,
Mas!" ucap Lifia, ia segera melepaskan pelukkannya dan ia melangkahkan kakinya mendekati pintu, lalu
membuka pintu tanpa melihat siapa tamu yang datang. Terlihat sosok Nasir dan Liana yang ternyata
datang ke kamar ini. Liana tersenyum melihat Lifia dan ia segera masuk kedalam kamar, tanpa
mengatakan apapun kepada Lifia.
Liana dan Nasir melihat Defran sedang duduk santai disofa membuat Liana menghela napasnya. "Kamar
Defran disini apa disebelah?" Tanya Liana.

2/6

Kamu ketahuan
"Disini," ucap Defran.

"Disebelah," ucap Lifia mengatakan hal ini bersamaan dengan Defran namun ucapan keduanya berbeda.

"Kalian tidur bersama?" Tanya Nasir dingin membuat Lifia menelan ludahnya.

"Dikamar yang berbeda Pi," ucap Lifia pelan.

Nasir melangkahkan kakinya membuka pintu samping dan ternyata tebakannya benar, pintu itu adalah
pintu penghubung membuatnya menghela napasnya. "Def kamu dan Lifia sudah..."

"Apa yang Papi pikirkan itu tidak benar!" Ucap Defran.

"Saya hanya menjaganya dan belum menyentuhnya!" Ucap Defran membuat Nasir menghembuskan
napasnya dan ia menatap Defran dengan murka.

"Belum? Artinya kamu akan segera melakukannya

begitu? Astaga Nak...nikah dulu baru..." ucap Nasir dan ia Lifia segera memotong pembicaraan.

Lifia. "Mas Def menjaga Lifia Pi, hanya menjaga saja!" Ucap

"Nggak usah melindungi Defran Lifia! Kalau dia memang salah...dia harus dihukum!" Ucap Nasir dingin.

Liana tersenyum bukannya ia sedih melihat putranya akan dihukum suaminya, tapi ia merasa sangat
bahagia.

Sebenarnya ia sengaja mengajak Nasir kemari karena ingin memancing kemarahan Nasir, agar bertindak
memarahi putranya ini. la kesal dengan Defran seolah tidak melakukan tindakan apapun atas Lifia pada
hal diberita kebersamaannya bersama Lifia, saat ini sedang menjadi gosip hangat. Liana tidak ingin
Defran lalai lalu kedua orang tua yang membesarkan Lifia akan murka, pada tindakan bodoh Defran yang
tidak segera mengikat Lifia menjadi miliknya secepat mungkin.

3/6

Kamu ketahuan
"Papi saya ini masih Defran yang akan menjaga harga diri calon istrinya saya bukan hanya didepan publik
tapi dihadapan Tuhan," ucap Defran membuat Nasir menatap putranya ini dengan tatapan menilai. la
sangat mengenal Defran Satyas yang pastinya tidak akan melakukan dosa yang tadi ia pikirkan dan jika
Defran memanh mau, mungkin ia telah menikahi Lifia secepat mungkin.
"Sekarang Papi dan Mami nggak usah ikut campur urusan Defran dan Lifia!" Ucap Defran dingin.

"Tapi di berita itu, sudah menyebar luas tentang hubungan kalian," ucap Liana membuat Lifia terkejut.

Lifia mengambil ponselnya dan ia mencari berita mengenai dirinya. Ada nama Defran Satyas dan ia yang
digosipkan memiliki hubungan khusus dengannya "Tidak perlu ditutupi lagi, memangnya kenapa kalau
publik tahu?" Tanya Defran membuat Liana tersenyum. Sepertinya putranya ini sengaja ingin publik
mengetahui tentang hubungannya dengan Lifia, hingga Defran tidak ingin menutupinya lagi.

"Ingat ya Defran, kamu harus bertanggung jawab atas Lifia! Kalau nanti kamu sampai tidak menikahi Lifia
dan membuat namanya menjadi buruk, Papi tidak akan memaafkan kamu! Kamu punya adik perempuan
bagaimana kalau Adik kamu diperlakukan seperti kamu yang menyakiti hati Lifia?" Tanya Nasir.

"Saya tidak menyakiti Lifia Pi, Papi jangan asal menuduh!" Ucap Defran dingin. la menatap Nasir dengan
tatapan kesal karena Nasir telah menuduhnya ingin menyakiti Lifia. "Ayah dan Ibu Lifia juga sudah tahu
niat saya dengan putrinya jadi Papi dan Mami nggak perlu cemas!" Ucap Defran membuat Liana
tersenyum bahagia dan ia memeluk Lifia dengan erat. Sedangkan Lifia terlihat sangat tekejut dengan
ucapan Defran.

"Alhamdulilah, akhirnya mulut Defran terbuka juga,

4/6

Kamu ketahuan
kamu itu akan segera menjadi istrinya Defran sayang..." ucap Liana tersenyum bahagia.

"Jadi Def, ingat ya jangan kawin dulu!" Ucap Liana memperingatkan Defran.

"Iya...sudah Mami dan Papi, jangan bikin hebo!" Ucap Defran membuat Liana segera memeluk lengan
Nasir, lalu menarik tangan Nasir agar segera mengikutinya keluar dari kamar ini.

"Papi sayang kita keluar, kita percaya sama anak kita ini, didikan agamanya kan kuat Pi. Kalau nanti oleng
sedikit ya sudah kita tinggal menikahkan mereka saja!" Ucap Liana membuat Lifia lagi-lagi terkejut
dengan ucapan Liana dan sejak tadi, wajahnya merah padam karena malu. "Lagian ya Pi...menantu kita
cantik begini memang sulit sekali nggak begitu Pi, Lifia itu cobaan bagi Defran atas ketaaatan dia sama
keteguhannya dalam menjalani

5/6

Kamu ketahuan
masa menahan diri sebagai seorang pria sejati, Pi," ucap Liana membuat Defran menghembuskan
napasnya. Jika saja kedua orang tua yang ada dihadapannya ini bukan orang tuanya, mungkin sejak tadi
ia telah mengusir keduanya.

"Ya sudah...Defran awas ya Lifia hamil sebelum kalian menikah!" Ancam Nasir.
"Iya..." ucap Defran.

"Iya apa? lya mau kamu hamili itu maksud kamu?" Tanya Nasir.

"Tidak Pi, saya tahu batasan saya!" Ucap Defran geram.

"Lifia bagiamana kalau kamu pindah kamar ke kamar yang lain?" Tanya Nasir.

"Tidak perlu Pi!" Ucap Defran dingin.

"Perlu!" Ucap Nasir.

"Tidak perlu..." ucap Defran kesal dan ia menatap Nasir dengan tatapan dingin membuat Nasir ingin
sekali memukul wajah tampan putranya ini.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

21

Menjauh saja.
Menjauh saja
Nasir melepaskan tangan Liana yang saat ini memeluknya dan ia menatap Defran dengan tatapan
murka. "Kamu nantangin Papi Defran?" Tanya Nasir dingin. Semakin hari putranya ini semakin berani
melawannya dan itu membuatnya sangat kesal.

"Nggak Pi, tapi coba Papi jadi Defran apa Papi akan mengikuti keinginan Kakek jika diminta menjauh dari
kamar Mami," ucap Defran dingin.

Liana mengangkat sudut bibirnya, tentu saja Nasir akan menolak keinginan Papinya, jika Papinya
meminta untuk pisah kamar dengan Liana ketika ia ingin selalu berdekatan dengan Liana. "Pi...jadilah
orang tua yang pengertian!" Ucap Defran dan itu terdengar sangat menyebalkan bagi seorang Nasir
Satyas.

"Kurang ajar sekali kamu Defran..." ucap Nasir mengepalkan tangannya. Jika disini tidak ada istrinya
mungkin ia telah memukul Defran saat ini juga. Nasir tidak ingin melihat istrinya ini bersedih, jika ia
memukul putra kesayangannya ini. Biasanya Liana akan menangis dan ia mengatakan hal yang membuat
Nasir menjadi kesal bahkan merasa menyesal telah menjadi alasan istrinya itu menangis

Liana akan menangis dan membahas tentang Defran yang kurang kasih sayang dari mereka, hingga
Defran menjadi anak yang penyendiri. Defran sosok anak yang terlalu mandiri dan ia memang jarang
sekali membuat masalah, namun ketika membuat masalah sering kali membuat ia dan istrinya
bertengkar hebat hingga istrinya itu murka padanya.

"Mi...ajak Papi kembali ke Kamar Mami dan Papi! nanti

1/6

Menjauh saja
Papi pukul Defran dan suasana jadi nggak kondusif lagi kan Mi, apalagi Defran akan segera mengajak
Lifia pulang ke Jakarta sekarang juga kalau papi dan Defran bertengkar!" Ucap Defran yang sengaja
mengancam Liana dengan cara seperti ini, membuat Liana menghela napasnya. Bukan maksudnya untuk
membuat Suaminya ini bertengkar dengan Defran putranya.

"Pi jangan gitu, biarkan mereka menikmati masa pacarannya, percaya sama Defran kalau dia nggak akan
membuat dosa Pi, Mami janji kalau Defran nakal nanti, Mami yang hukum!" Ucap Liana menatap Nasir
dengan tatapan memohon agar tidak bertengkar dengan Defran.

"Mami ini terlalu memanjakan Defran," kesal Nasir.

"Iya maaf...maaf Pi!" lirih Liana membuat Nasir segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini,
membuat Liana bisa bernapas dengan lega dan ia segera melangkahkan kakinya, keluar dari kamar ini
mengikuti Nasir. Sebenarnya Nasir sudah bisa menduga jika istrinya ini ingin memanfaatkannya, agar
memergoki Defran lalu memaksa Defran agar segera menikahi Lifia.

"Papi...Papi jalanya jangan cepat-cepat!" Pinta Liana kepada Nasir membuat Nasir menghela napasnya.
la menghentikan langkah kakinya, karena ia tidak ingin berdebat dengan istrinya ini. "Papi marah sama
Mami?" Lirih Liana.

"Sejujurnya iya!" Ucap Nasir.

"Kenapa Pi?" Tanya Liana berpura-pura tidak tahu kenapa Nasir marah padanya, padahal Liana tahu jika
suaminya itu sedang kesal dengannya karena telah menduga perbuatannya ini.

"Kamu sengaja kan, datang ke kamar mereka untuk memperlihatkan perbuatan anak kamu yang sok
hebat itu,

2/6

Menjauh saja
berani sekali dia melawan Papinya sendiri," ucap Nasir yang kesal dengan Defran. "Defran itu sejak kecil
nggak pernah berubah," kesal Nasir. la ingat dulu ia pernah menghukum Defran, ketika ia masih kecil
dengan memukulnya dengan mistar di lengannya, ia berharap Defran akan menangis namun putranya
itu sama sekali tidak menangis seperti harapannya.
"Maaf Pi, Mami hanya ingin mereka berdua segera menikah," ucap Liana. "Kalau mereka sudah
menikah, target Papi yang ingin Salsa segera menikah, juga bisa segera terealisasikan, Pi!" Ucap Liana.
"Papi kan pengen banget menantu Papi itu anaknya si Kenzo," ucap Liana.

"Iya," ucap Nasir.

"Yaudah nggak usah marah sama Mami dong, Pi!"

Pinta Liana.

"Oke, tapi kalau sampai anak kamu itu tidak menikahi Lifia tahun ini juga, Papi akan bertindak!" Ucap
Nasir.

la akan memaksa Defran dan Lifia menikah jika tidsk ia akan membuat karir keduanya berakhir.

"Iya Pi," ucap Liana tersenyum kepada suaminya itu dan ia segera memeluk lengan Nasir sambil
melangkahkan kakinya menuju kamarnya bersama Nasir.

Sementara itu saat ini wajah Lifia merah padam dan ia merasa tidak enak dengan kedua orang tua
Defran, apalagi ia dan Defran seperti telah melakukan dosa dengan tinggal bersama selama ini. la sangat
malu untuk bertemu mereka lagi nanti, tapi ia tidak bisa menghindar terlebih lagi, saat ini mereka
sedang liburan bersama seperti ini. Defran melihat kearah Lifia dan keduanya bertemu pandang
membuat Lifia menghela napasnya. "Mas apa aku pindah kamar saja?" Tanya Lifia sendu.

"Pindah saja kalau kamu mau saya hukum!" Ucap Defran.

3/6

Menjauh saja
"Mas aku serius ini, aku malu banget Mas sama orang tua kamu, kita itu kayak terpergok berduaan
sedang melakukan dosa gitu...Mas," lirih Lifia.

"Jangan mendramatisir keadaan, Lifia!" Kesal Defran.

"Tapi Mas, memang begitu apa yang aku rasakan saat ini Mas, aku itu malu banget Mas!" Lirih Lifia.
Defran menatap Lifia dengan dingin dan ia terlihat sangat kesal saat ini.

"Malu karena kamu bersama saya?" Tanya Defran dingin.

"Bukan itu Mas, aku itu malu saja dengan apa yang terjadi tadi, Papi sampai salah paham sama kita
padahal kita tidak pernah tidur seranjang gitu," ucap Lifia sendu.

"Yakin tidak pernah tidur seranjang? Tanya Defran membuat Lifia melototkan matanya karena terkejut
dengan ucapan Defran.

"Memang kita sekamar, tapi kan kamu tidurnya terpisah gitu sama aku!" Ucap Lifia.
"Yakin terpisah?" Tanya Defran sinis.

"Yakin," ucap Lifia.

"Ya sudah kalau yakin," sinis Defran membuat Lifia membuka mulutnya, karena kesal dengan ucapan
Defran Satyas yang sangat menyebalkan.

Lifia yang kesal memilih memainkan ponselnya, namun lagi-lagi berita mengenai dirinya menjadi sangat
hebo di sosial media. Apalagi selama ini, Lifia diperebutkan oleh banyak lelaki dan ia juga jauh dari gosip
miring mengenai seorang lelaki yang benar-benar dekat dengannya dan bukan sekedar berita palsu. Tapi
kali ini banyak sekali orang-orang yang mendukung hubungannya dengan Defran Satyas, karena bagi
mereka Defran adalah

4/6

Menjauh saja
kandidat suami Lifia yang paling terbaik. Apalagi Defran Satyas tidak memiliki record buruk bersama
seorang wanita sebelumnya.

"Jadi gosip mengenai hubungan kita gimana, Mas?" Tanya Lifia pensaran dengan tanggapan Defran.

"Biarkan saja mereka membicarakan hubungan kita karena semua itu memang benar," ucap Defran.
"Apa kamu mau membohongi publik terus menerus mengenai satus

kamu? Apa kamu merasa memiliki hubungan dengan saya itu, sesuatu yang buruk bagi kamu?" Tanya
Defran dingin membuat Lifia membuka mulutnya karena ia tidak akan pernah bermaksud seperti itu.

"Astaga Mas, ih...nyebelin banget, harusnya yang marah itu aku Mas bukan kamu!" Kesal Lifia.

"Saya tidak marah," ucap Defran dingin.

5/6

Kebodohannya.
Kebodohannya
Lifia mengunci pintu penghubung kamarnya agar Defran tidak bisa masuk sesuka hatinya dan ia pun juga
menahan dirinya untuk tidak masuk ke kamar Defran. Jika malam nanti ia merasa ketakutan, ia akan
memilih tidur bersama Kila dan Salsa. la sangat kesal dengan sikap Defran yang sering melakukan
tindakan semena-mena padanya tanpa bertanya kepadanya ingin apa. Seperti mengenai liburan ini, ia
sama sekali tidak tahu jika ia akan pergi liburan bersama para keluarga Satyas dan ia belum sempat izin
pergi kepada Ibu, Ayah dan juga Kiran. Walaupun ia yakin Kana sudah menghubungi kedua orang tua
mereka jika ia saat ini sedang liburan bersama keluarga.
Lifia membuka kopernya dan sialnya skincare miliknya masih berada dikamar sebelah, Lifia membuka
pintu kamar dan ia mengedarkan pandanganya mencari sosok Defran yang saat ini masih duduk santai
disana. Lifia mengambil paperbag yang berisi skincare miliknya dan ia kembali melangkahkan kakinya
segera kembali kedalam kamarnya lalu ia segera mengunci pintu penghubung kamar itu. Lifia segera
menuju kamar mandi, ia kagum dengan interior kamar ini yang sangat mengagumkan, apalagi kamar
mandi ini khas akan alam dengan banyak bebatuan alam dan ornamen ukiran indah menghiasi dinding
kamar mandi ini. Kamar mandi ini terlihat seperti pemandian putri zaman kuno dengan gaya seni tingkat
tinggi.

"Ada tempat berendamnya juga, astaga kayaknya kamar ini kamar utamanya karena lebih besar dan
mewah daripada kamar yang ada disebelah tempat Mas Defran,

1/7

Kebodohannya
aku beruntung banget memilih kamar ini," ucap Lifia.

Lifia segera bergegas membersihkan tubuhnya tak lupa ia berendam karena tubuhnya memang benar-
benar butuh relax karena telah mengeluarkan esmoinya yang cukup banyak ketika berdebat dengan
Defran. Setelah selesai mandi, Lifia membuka kopernya dan benar saja semua pakaiannya adalah
pakaian sopan yang terdiri dari baju kaos dan jeans bahkan hanya ada gaun panjang yang ada di
kopernya. "Astaga bajunya kok kayak gini semua," ucap Lifia kesal.

Lifia tidak menyangka selera fashion Salsa ternyata sangat buruk, hingga tidak membelikan satu pun
baju untuk menikmati pemandangan pantai dengan gaun ala-ala pantai. Lifia memakai baju kaos dengan
jeansnya dan ia segera memakai pakaiannya. la mengambil ponselnya dan ia menghubungi Salsa.

"Assalamuaikum Salsa," ucap Lifia.

"Walaikumsalam Mbak sayang," ucap Salsa dengan suaranya yang terdengar sangat ceria.

"Sa, kenapa bajuku semuanya kayak gini Sa, nggak ada baju kepantai gitu, masa aku pakai jeans sama
baju kaos saja Sa?" Tanya Lifia.

"Kemarin itu udah aku beliin Mbak, tapi sama Mas Defran nggak boleh gitu tapi tenang saja aku bawa
kok baju lain untuk Mbak hehehe.." ucap Salsa. "Pasti Mbak mau bilang gini kan kok selesa Fashion aku
itu jelek banget," ucap Salsa yang bisa menebak apa yang dipikirkan Lifia tentang dirinya ketika
membuka kopernya.

"lya..." ucap Lifia.

"Mas Def kan nggak suka kalau Mbak itu pakai baju seksi yang mengundang gitu, mengundang jiwa
raganya hahaha....apalagi akan ada banyak laki-laki di beach Club, dia pasti sangat kesal dong. Secara
Mbak sayang yang cantik itu akan menjadi konsumsi publik Hehehe...mana
2/7

Kebodohannya
seksi, cantik dan berkelas," puji Salsa.

"Mana ada begitu," ucap Lifia.

"Mbak janga coba-coba membuat Mas Defran marah, dia kalau marah ihhh...ngeri banget Mbak, Mas
Serkan saja kalau marah nggak segalak Mas Defran," ucap Salsa.

"Kalian lagi ngapain?" Tanya Lifia penasaran karena terdengar suara teriakan Kila yang memanggilnya.

"Berenang dong, coba buka gorden Mbak, dibelakang itu kan ada kolam renang, mandi sama sama Mas
Defran sama, pasti kamarnya Mbak itu kamar family yang dua kamarnya memiliki satu kolam renang
bersama," ucap Salsa.

Lifia bediri dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, lalu ia menarik gorden kamarnya dan telihat
kolam renang dari sana. "Wah keren banget, mau mandi juga rasanya tapi lupa aku kan takut air," ucap
Lifia.

"Minta gendong gitu sama Mas Defran Mbak hehehe...gedong didalam kolam biar nggak takut," goda
Salsa.

"Nggak takut, bisanya kalau dikolam Mbak berendam saja," ucap Lifia.

"Lagian kolamnya nggak dalam hanya satu meter Mbak," ucap Salsa. "Yaudah Mbak gangguin Mas
Defran aja ya, Assalamuaikum," ucap Salsa menutup ponselnya membuat Lifia membuka mulutnya.

"Astaga neyeblin banget kam Sa," ucap Lifia dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju
kolam renang. Air kolam bewarna biru muda dan tampak tenang itu, membut suasana hati Lifia merasa
damai saat menatapnya. Lifia terkejut melihat Defran ternyata sedang menghubungi seseorang sambil
menatap kearahnya dan Defran keluar dari kamar, lalu mendekatinya. la mematikan ponselnya dan
menatap Lifia dari atas hingga kebawah.

3/7

Kebodohannya
"Mau kemana kamu?" Tanyanya.

"Nggak kemana-mana, memangnya kamu bolehin aku pergi sesuai hati aku?" Tanya Lifia.

"Silahkan saja kalau berani," ucap Defran dingin. la duduk santai dikursi yang tidak jauh dari Lifia berdiri.

"Kenapa Mas mengira aku mau pergi?" Tanya Lifia.

"Baju kamu," ucap Defran.


Lifia membuka mulutnya dan ia mendekati Defran lalu duduk disamping Defran dengan kesal. "Baju ini
itu dari kamu Mas, semua baju di koper itu baju yang kamu yang minta Salsa bawakan untuk aku, hanya
beberapa baju seperti ini semua dan ada baju panjang, memangnya aku mau kemana pakai baju
tertutup kayak gitu, Bali panas Mas aku juga bukuan cewek berhijab," ucap Lifia. "Hanya baju seperti ini
yang normal dipakai sekarang," ucap Lifia.

"Biasanya kamu ke Bali pakai baju kurang bahan, kamu sengaja bersikap genit," ucap Defran.

Lifia menghela napasnya dan ia menarik tangan Defran, agar Defran menatap kearahnya. "Lihat aku
sini!"

Perintah Lifia. "Mas lihatin aku!" Ucap Lifia kesal. Defran mengalihkan pandangannya melihat Lifia dan ia
mengangkat sebelah alisnya saat Lifia sedang menatap wajahnya. "Memangnya aku ini genit?" Tanya
Lifia dan ia ingin Defran jujur padanya.

"Iya, kamu genit," ucap Defran membuat Lifia terlihat sangat kesal kepada Defran.

"Atas dasar apa kamu bilang aku genit Mas?" Tanya Lifia kesal.

"Tatapan kamu kepada saya, cara bicara kamu kepada saya, dan baju kamu yang kurang bahan, kamu
sengaja ingin melecehkan saya," ucap Defran membuat Lifia benar-benar prustasi.

4/7

Kebodohannya
"Dasar gila, aku nggak pernah niat ingin melecehkan kamu Mas," ucap Lifia kesal. Harusnya ia bisa
romantisan dengan Defran dan memeluk Defran, sambil menatap indahnya kolam renang ini bukannya
bertengkar seperti ini.

"Tapi kamu melakukan itu," ucap Defran.

"Kapan aku melakukannya?" Tanya Lifia tidak terima Defran mengatakan jika ia telah melecehkannya.

"Setiap hari kamu melakukannya, puncaknya kamu melibatkan orang lain dengan pelecehan kamu
kepada saya," ucap Defran dan ia sangat suka melihat wajah Lifia telihat kesal padanya, hingga ingin
sekali memarahinya bahkan memakinya seperti saat ini.

"Aku nggak kayak gitu, kamu jangan fitnah aku Mas," ucap Lifia kesal.

5/7

Kebodohannya
"Kamu yakin kamu nggak melibatkan orang lain dalam pelecehan ini kepada saya, kamu pikir si Sayang
itu Istri sirih saya apa yang telah dia lakukan? dia telah membicarakan bagaimana gagahnya punya si
Defran didepan istri tenan-temannya," ucap Defran sinis. la ingat teman-temannya menatap bagian
bawahnya dan mengatakan apa benar perkututtnya lebih besar dari milik rekan kerja yang lain dan
tahan lama diranjang seperti yang dikatakan si Sayang. Bahkan teman-temannya meminta obat ampuh
kepada Defraan beberapa waktu yang lalu, karena ulah Lifia yang telah menyebarkan gosip permainan
ranjangnya.

"Terkadang kamu itu kalau bicara itu dipikirkan dulu Lifia! Kamu membicarakan hal yang belum pernah
kamu rasakan," ucap Defran membuat Lifia menelan ludahnya.

"Jadi gimana?" Tanya Lifia. "Kamu kasih resepnya sama mereka?" Tanya Lifia, ia merasa tidak enak
dengan Defran dan ia juga malu dengan kebohongannya dimasa lalu.

"Kamu pikir bagaimana?" Tanya Defran kesal.

"Hubungan suami istri itu bukan konsumsi publik Lifia!"

Ucap Defran.

"Waktu itu keadaannya genting loh Mas...genting banget," ucap Lifia, ia ingin Defran mengerti jika saat
itu ia bukannya ingin sengaja ingin berbohong. "Mereka bilang kamu selalu menolak perempuan di
kantor yang suka sama kamu, mereka bilang kamu nggak suka perempuan dan berpikir kamu suka
sesama jenis atau punya kamu mungkin nggak berfungsi karena saat dirayu perempuan cantik, katanya
kamu menolak," ucap Lifia.

"Terus?" Tanya Defran seolah menunggu apa yang ingin dikatakan Lifia.

"Mereka bicarakan masalah ranjang mereka, aku kan

6/7

Kebodohannya
suka baca novel romantis gitu Mas jadi aku menggambarkan kamu seperti tokoh laki-laki kuat diranjang
gitu, aku bilang kalau punya kamu gedeee banget dan tahan lama..." ucap Lifia dengan suaranya yang
pelan.

"Tunggu kamu ya, saatnya tiba kamu akan benar-benar merasakan apa yang kamu katakan tentang
saya!" Ucap Defran dingin. "Kamu pasti membayangkan tentang saya?" Tanya Defran.

"Aku nggak membayangkan tentang itu, nggak...Mas..." ucap Lifia gugup dan wajahnya merah padam.
Apalagi dengan bodohnya ia melihat kerah bawah Defran, lalu ia segera mengalihkan pandangannya.

"Kamu ini benar-benar tidak sopan!" Ucap Defran kesal dan wajahnya merah padam karena Lifia benar-
benar telah membuat batas kesabarannya habis.

Komentar lainnya

Berikan Suara
20

7/7

Mau dimana.
Mau dimana
Lifia hanya bisa diam setelah Defran memarahinya, ia tidak menyangka karena kebohongannya Defran
juga mengalami hal konyol karena teman-temanya menanyakan resep obat kuat kepadanya. Lifia tahu
hal ini pasti membuat Defran sangat marah padanya namun Defran menahan kemarahannya. la melihat
Defran sedang sibuk membicarakan bisnis dengan berbicara bahasa mandarin yang tidak ia mengerti.
Lifia merasa bosan dan ia ingin segera meninggalkan Defran, namun ternyata Defran menarik tangannya
ketika ia ingin pergi menjauh dari Defran. Sambil berbincang, Defran bediri lalu ia menarik tangan Lifia
agar masuk kedalam kamar mengikutinya, membuat Lifia hanya bisa pasrah melangkahkan kakinya
mengikuti Defran.

Defran dengan isyarat matanya meminta Lifia duduk disofa dan ia menutup pintu kamar yang menuju
area kolam renang. Lifia duduk disofa sesuai dengan perintah Defran dan setelah itu, ia menyelesaikan
pembicaraannya dengan rekan bisnisnya itu. Lifia kagum dengan sosok Defran yang sangat pintar dan
menguasai beberapa bahasa, benar apa kata calon ibu mertuanya Defran sangatlah pintar dan sejak
kecil, ia memang sangat menyukai ilmu pengetahuan. Defran akan asyik berbincang jika itu mengenai
hal yang sedang ia pelajari.

Defran menutup ponselnya dan matanya saat ini tertuju pada sosok Lifia. "Katanya kamu tetap ingin ke
Paris?" Tanya Defran membuka pembicaran mengenai Paris kepada Lifia.

"Ya...aku sudah tanda tangan kontrak Mas, lagian aku itu juga dalam rangka menjadi model pakaian dari

1/7

Mau dimana
perancang Indonesia yang juga sangat terkenal disana," jelas Lifia.

"Tidak bisa ditunda?" Tanya Defran.

"Nggak bisa, kamu pikir aku itu siapa bisa melanggar kontrak sesuai keinginan aku Mas, apalagi
menundanya kalau aku melanggar itu namanya wanprestasi Mas, aku nggak mau jadi orang yang
melanggar kontrak," ucap Lifia, ini terkait dengan keartisannya. "Jadi Mas hmmm...aku boleh pergi?
lagian kayaknya penjahat itu nggak kayak kemarin buntutin aku lagi dan mengganggu aku. Mungkin
karena dia itu takut sama kamu Mas, makanya berhenti gangguin aku," ucap Lifia dan ia menatap Defran
dengan tatapan menyelidik. "Jadi aku akan tetap pergi ke Paris," ucap Lifia.

"Berapa lama?" Tanya Defran.


"Nggak tahu Mas, aku juga ada syuting beberapa adegan film disana," ucap Lifia.

"Nanti saya pertimbangkan," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya karena kesal. la kesal
karenq Defran seperti atasannya dan ia harus meminta izin untuk mengambil cuti pergi atau persetujuan
dinas luar.

'Lagian sebenarnya kenapa juga aku harus izin sama kamu, kamu bukan suamiku' Batin Lifia kesal.

Lifia melihat jam menunjukkan pukul enam sore, saatnya mereka melaksanakan ibadah sholat magrib
sebelum semua keluarga akan berkumpul untuk makan malam bersama. Apalagi Liana telah menyiapkan
makan malam keluarganya secara privat, Liana ingin malam ini ia menghabiskan waktunya bersama
anak-anak, menantu dan para cucunya. Lifia kembali kedalam kamarnya dan ia melaksanakan sholat
Magrib dan setelah itu ia memilih untuk membaringkan tubuhnya diranjang sambil memainkan
ponselnya.

Lifia terkejut saat melihat banyak berita mengenai

2/7

Mau dimana
dirinya, apalagi kedekatan dirinya dan Defran mulai terendus. Gosip lama pun kembali muncul mengenai
video bagaimana Defran menariknya dan mengajaknya keluar dari Club. Lifia membuka mulutnya karena
para fans, mendesaknya untuk melakukan konferensi pers mengenai masalah ini. Apalagi sebagian dari
mereka mengharapkan Lifia benar-benar segera menjadi istri Defran Satyas, namun ada juga yang tidak
setuju Lifia bersama Defran. Sebagian dari mereka setuju Lifia bersama Moreno dan ada juga yang
setuju Lifia bersama Fariz salah satu pemain bulu tangkis terkenal yang berterus terang mengaku
menyukai Lifia.

"Astaga ini kenapa ada kubu begini," ucap Lifia.

Beberapa menit kemudian Defran masuk kedalam kamar ini, membuat Lifia menghela napasnya karena
ia lupa mengunci pintu penghubung kamar ini hingga Defran bisa masuk tanpa mengetuk pintunya.

"Kenapa nggak ketuk pintu dulu Mas, main masuk aja.

Lihat saja nanti aku kunci pintunya!" Ucap Lifia.

"Kamu yakin berani tidur sendiri?" Tanya Defran sinis.

Lifia menyebikkan bibirnya jika ia mengatakan berani, Defran bisa saja akan meninggalkannya sendirian
di Apartemen. Apalagi saat ini Sandra masih belum bisa kembali bekerja bersamanya. Jika Sandra tidak
ingin bersama Marco Laksamana Dewandaru, Lifia bermaksud mengajak Dikta juga tinggal bersamanya
dan Sandra, jika semuanya sudah aman. Apalagi tabungannya saat ini sudah bisa membuatnya membeli
rumah yang cukup besar untuknya.

"Mungkin nanti akan berani," ucap Lifia.


"Kamu nggak akan berani," ucap Defran. "Kamu juga nggak bisa mengunci pintu kamar ini karena saya
memiliki akses pintu masuk lewat pintu utama!" Ucap Defran membuat Lifia menelan ludahnya.

3/7

Mau dimana
"Mas, itu gosip gimana?" Tanya Lifia sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Gosip apa? saya bukan ibu-ibu yang suka menonton gosip," ucap Defran.

"Tapi kamu kan harus lihat gosip ini itu tentang kita Mas," ucap Lifia.

"Biarkan saja selama ini gosip baik," ucap Defran. "Lagian, kamu juga harus bertanggung jawab dengan
saya,

masalah si sayang yang bikin reputasi saya buruk di Kantor," ucap Defran. Lifia menghembuskan
napasnya karena ia memang telah menghancurkan reputasi Defran. Defran yang tidak memiliki skandal
apapun itu, akhirnya memilki scandal yang cukup menghebokan karena dirinya.

"Nanti akan aku jelaskan semuanya Mas," ucap Lifia sendu. Sebenarnya ia belum siap menghadapi para

4/7

Mau dimana
bestienya, tapi ia juga harus bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.

"Saya hanya bercanda kamu nggak usah sesedih itu!" Ucap Defran membuat Lifia menatap Defran
dengan kesal.

"Apanya yang bercanda?" Tanya Lifia.

"Saya tidak marah sama perbuatan kamu," ucap Defran. Lifia membuka mulutnya dan ia mengerjapkan
kedua matanya.

"Mas serius nggak marah?" Tanya Lifia takjub dan ia tersenyum kepada Defran.

"Menurut kamu?" Tanya Defran membuat senyuman diwajah Lifia hilang sudah.

"Mas maaf ya...jangan marah!" Ucap Lifia dan ia mendekati Defran lalu ia memeluk Defran dengan erat.

"Jangan marah sama aku! Itu karena aku terpaksa gitu Mas, aku nangis sedih kamu tinggalin aku saat
kamu pergi, makanya aku kenal mereka dan ternyata istri rekan kerja kamu itu baik semua sama aku,"
ucap Lifia.

"Jadi nanti kamu akan mengenalkan diri kamu sebagai siapa? Lifia apa si Sayang?" Tanya Defran.
"Aku kan orang yang sama Mas, tetap saja yang jadi sayang itu Lifia, Lifia yang suka sama kamu," ucap
Lifia dengan wajahnya yang merah padam karena malu.

"Saya terima rasa suka kamu dan mulai sekarang kamu jadi perempuan yang nurut apa kata saya!" Ucap
Defran.

"Tergantung harus menuruti kamu apa dulu Mas," ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena
malu.

Dulu ia selalu saja mendengarkan pernyataan cinta laki-laki padanya dan ia akan menolaknya dengan
lembut, tapi sekarang ia yang menyatakan suka dengan laki-laki yang sekarang ternyata membalas
pelukannya. "Mas..." panggil

5/7

Mau dimana
Lifia.

"Ada apa?" Tanya Defran membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang dan rasanya ingin meledak
saat ini juga.

"Kita ini pacaran ya Mas?" Tanya Lifia.

"Menurut kamu?" Tanya Defran.

"Aku nggak tahu, kamu nyebelin banget ditanyain gitu jawabnya menurut kamu mulu!" kesal Lifia
membuat Defran menaikkan sebelah alisnya.

"Kalau orang pacaran apa saja tahapannya?" Tanya Defran.

"Nah kan...kok pertanyaan lagi sih Mas..." kesal Lifia.

"Aku mau tahu kita itu pacaran apa nggak?" Tanya Lifia lagi.

Defran menjetikkan telinga Lifia, "Ini telinga kamu perlu dibersihkan, saya sudah bilang kamu itu calon
istri saya," ucap Defran, ia menatap Lifia dengan tatapan dingin.

Lifia. "Kalau calon istri itu lebih dari pacaran?" ucap

"Iya," ucap Defran singkat membuat Lifia tersenyum.

Lifia mencium pipi Defran dan ia menatap Defran dengan malu-malu.

Lifia. "Kamu nggak marah kan aku cium pipi kamu," ucap

"Kamu boleh ciumm saya tapi saya jangan dulu ciumm kamu!" ucap Defran membuat Lifia kesal.
"Mas...masa gitu aku agresif banget cium kamu duluan tapi kamu nggak mau ciumm aku!" Ucap Lifia
kesal.

Defran menggaruk tengkuknya dan ia menghela napasnya "Papi melarang saya menyetuh kamu!" ucap
Defran. "Tapi kalau kamu menyetuh saya sepertinya itu tidak masalah," ucap Defran.

6/7

Mau dimana
"Tapi kan Mas, Papi nggak lihat!" ucap Lifia pelan. Defran menyunggingkan senyumannya dan Lifia ikut
tersenyum.

"Mau diciumm dimana?" Tanya Defran menatap Lifia dengan tatapan dalam. Lifa tersenyum malu dan ia
menunjuk pipinya membuat Defran mencium pipinya dengan lembut. "Udah jangan minta lagi, saya bisa
mencium bagian yang lain kalau kamu terus memancing saya!" Ucap Defran dengan suara beratnya.

"lii...iya Mas," ucap Lifia gugup dan jantungnya yang berdetak dengan kencang.

Komentar lainnya

Berikan Suara

27

7/7

Harus disegerakan.
Harus disegerakan
Defran dan Lifia saat ini akan segera bergabung dengan para keluarganya yang telah berada di Taman
Resort yang telah disulap menjadi tempat makan malam yang terlihat sangat mewah. Biasanya ditempat
ini sering diadakan acara pernikahan, namun kali ini tempat ini akan secara khusus digunakan untuk
acara makan malam keluarga oleh pemilik Resort ini. Selain liburan bersama, para lelaki dikeluarga ini
besok pagi akan mengadakan rapat dan mereka memang mengumpulkan semua karyawan penting
beberapa bisnis Satyas grup yang ada di Bali.

Lifia memeluk lengan Defran dengan erat sambil tersenyum bahagia. Tadi ia juga meminta kepada
Defran agar ia tidak memakai masker saat liburan ini dan Defran mengizinkannya. "Mas nanti kalau aku
ditanya sama wartawan apa hubungan aku sama kamu, gimana?" Tanya Lifia.

"Jawab saja sejujurnya," ucap Defran.

Lifia. "Aku bilang kalau aku itu calon istri kamu," ucap

"Iya," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.


Lifia melihat Kana melambaikan tangannya memintanya agar segera bergabung bersama mereka,
membuat Lifia menganggukkan kepalanya dan ia melepaksan legan Defran. "Mas aku kesana sama
Mbak Kana dulu ya Mas!" Ucap Lifia.

"Oke m," ucap Defran.

Lifia segera melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati mereka semua. la duduk disamping Kana
membuat Kana tersenyum penuh arti dan Kana

1/6

Harus disegerakan
membisikkan suatu ditelinga Lifia "Kamu sekarang sudah resmi jadi calon istrinya Defran, Dek. Mami
cerita kalian..." ucap Kana.

"Nggak kayak gitu ceritanya Mbak, beneran! Aku dan Mas Defran kayak orang pacaran sehat gitu Mbak,"
potong Lifia pelan.

"Bohong banget, kamu yang pastinya memeluk dia, mungkin kamu yang cium dia duluan," ucap Kana
membuat Lifia menelan ludahnya karena tebakkan Kana memang benar. "Kamu itu Dek luar biasa
banget bucinnya sampai patah hati gitu saat dicuekin. Padahal Defran sikapnya memang begitu acuh tak
acuh, tapi sebenarnya dia itu nggak seperti itu," ucap Kana.

"Iya Mbak, sekarang aku itu sudah tahu kalah Mas Defranku itu baik banget walaupun dingin begitu,"
ucap Lifia tersenyum melihat Defran yang saat ini sedang berdiri bersama Serkan dan Nasir. Sebenarnya
saat ini Defran sedang disidang oleh Nasir dan Serkan, karena Nasir memergoki Defran sengaja
menepatkan kamar Lifia terhubung dengan kamarnya.

Sementara itu Serkan dan Nasir ingin bebicara banyak kepada Defran mengenai hubungan Defran dan
Lifia. Oleh karena itu ketiganya memilih agar menjauh dari mereka semua untuk membicarakan hal ini.
"Sejak kapan kamu suka sama Lifia?" Tanya Serkan membuka suaranya.

"Nggak perlu tanya sejak kapan, lagian kalian berdua tidak perlu tahu!" ucap Defran sinis.

"Lihat Pi, si Defran sudah berani menyela Kakaknya," ucap Serkan kesal. "Mulai nggak hormat dengan
yang lebih tua," ucap Serkan.

"Gimana nggak hormat, Mas sendiri gagal melindunginya, jika terjadi sesuatu sama Lifia itu semua
karena Mas," ucap Defran dingin. "Kalau Mas sedang bertugas saya menjaga anak dan istri Mas, tapi apa
yang

2/6
Harus disegerakan
Mas lakukan Mas tidak memerintahkan orang-orang Mas untuk menjaga Lifia sesuai perintah saya,
Mas!" Ucap Defran dingin.

Nasir mengerutkan dahinya dan ia penasaran dengan apa yang terjadi, hingga Defran terlihat sangat
marah saat ini. "Kalian menyembunyikan apa dari Papi?" Tanya Nasir penasaran dengan apa yang terjadi
saat ini.

"Saat Defran ke luar negeri Pi, Lifia hampir diculik di

Apartemennya, Mas Serkan tidak memperdulikan apa yang telah Defran titip padanya," ucap Defran
kesal.

"Salahkan kamu yang terlihat sama sekali tidak menyukai Lifia," ucap Serkan. "Kalau kamu terlihat
benar-benar menyukai Lifia, Mas akan secara khusus meminta Bodyguard mengawasi Lifia, kalau Mas
mengawasi Lifia statusnya hanya akan sebagai adik sepupu istri Mas itu sangat salah besar, orang yang
tahu

3/6

Harus disegerakan
Bodyguard itu dari Mas akan curiga dan Lifia yang bisa kena imbasnya, karena dia adalah publik figur.
Kamu mau ada berita kalau Lifia dianggap selingkuhan Kakak iparnya karena saya terlalu perhatian sama
dia," ucap Serkan kesal. Hanya inilah alasan dari kelalaiannya karena jika ia mengatakan ia lupa meminta
orang-orangnya untuk menjaga Lifia, maka Defran akan bertambah murka padanya.

"Sudah yang penting Lifia nggak apa-apa, sekarang yang kamu pikirkan bagaimana caranya agar kamu
bisa menikah segera mungkin dengan Lifia. Kamu pikir baik ya Nak, menahan sesuatu yang sudah tidak
sanggup kamu tahan?" Tanya Nasir membuat Defran terbatuk sedangkan Serkan menyunggingkan
senyumannya.

"Uhuk..." Defran terbatuk membuat Serkan menepuk keras punggung Defran seolah ingin mengambil
kesempatan, untuk memukul adiknya itu.

"Kita perlu menemui Ayah kandung Lifia walaupun Murni dan Subekti telah setuju dengan hubungan
kalian, paling tidak kita meminta wali untuk pernikahan kamu dan Lifia!" Ucap Nasir.

"Iya Pi," ucap Defran. "Saya juga akan mengatakan kepada keluarga itu jika Lifia tidak perlu harta
warisan, jadi mereka tidak perlu mengirimkan orang-orang untuk mencelakai Lifia," ucap Defran
membuat Nasir terkejut.

"Jadi maksud kamu?" Tanya Nasir penasaran.

"Mereka dalang utamanya Pi, bidak catur yang mereka mainkan berhasil menyakiti Lifia, motifnya hanya
satu yaitu uang," ucap Defran.
"Bukan hanya terkait harta warisan tapi," ucap Serkan.

"Tapi apa Serkan?" Tanya Nasir.

"Sejak kecil ibu kandung Lifia telah membayarkan

4/6

Harus disegerakan
asuransi yang sangat besar untuk Lifia dan juga asuransi dari ibunya. Selama ini asuransi dari ibunya
belum dicairkan karena Lifia juga belum tahu mengenai asuransi ini," ucap Serkan.

"Mereka ingin mencelakai Lifia dengan maksud dan tujuan yang sangat jelas," ucap Defran. Jika Lifia
meninggal dunia maka yang diuntungkan adalah Ayah kandung Lifia. Sebenarnya Defran tidak yakin
Ayah kandung Lifia terlibat dengan masalah ini, karena selama ini yang bertindak adalah pihak dari ibu
tiri Lifia.

"Pi lapar!" Teriak Liana.

"Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita, walaupun Papi ini hanya seorang dokter, tapi kalian berdua
jangan meremehkan Papi!" Ucap Nasir. "Ceritakan semuanya kepada Papi! Papi ini masih memilki
kekuasaan dan jangan lupa Papi ini anak Alisatyas yang paling Tua," ucap Nasir membuat kedua
putranya itu tersenyum.

Mereka bertiga segera bergabung duduk bersama para keluarganya. Keluarga Satyas bahkan
memperlakukan para pengasuh cucunya seperti keluarga mereka sendiri, bahkan Nasir meminta mereka
juga untuk duduk bergabung makan bersama dimeja yang sama. Lifia melihat Kana mengambilkan
makanan untuk Serkan, begitu juga dengan Liana yang mengambilkan makanan untuk Nasir suaminya.
Lifia akhirnya juga berinisiatif mengambilkan Defran makanan, membuat Kila dan Salsa saling
berpandangan.

"Cie...Cie...Mbak Sayang ambilin suaminya makanan, romantis sekali sih Mbak sayang..." goda Salsa.

"Mbak Sa, Kila juga pengen dapetin pasangan," rengek Kila membuat wajah Lifia memerah.

"Udah jangan godain Mbak kalian, soalnya Mbak kalian itu lagi belajar terbiasa melayani calon
suaminya!" ucap Liana.

5/6

Harus disegerakan
"Mas Def, segera ya Mas kita adakan pesta besarnya!"secepat mungkin!" Ucap Salsa.

"Iya," ucap Defran singkat.

"Mas kalau kasih penjelasan itu yang panjang, pelit banget sih jawabnya hanya iya!" Protes Salsa.
"Coba kalau lagi ngomelin kita, pasti panjang banget nasehatnya," ucap Kila.

"Kamu nggak usah hiraukan mereka, sekarang kamu makan!" Perintah Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia dengan wajah yang memerah karena malu.

Komentar lainnya

Berikan Suaга

11

6/6

Jangan bahas.
Jangan bahas
Setelah makan malam selesai, Lifia menunggu Defran yang masih berbincang dengan beberapa
karyawannya sedangkan semua keluarga terlihat telah kembali ke kamar mereka. Lifia melihat jam
ditangannya menunjukkan pukul sebelas malam, ia merasa sangat mengantuk saat ini dan ia kembali
menatap Defran yang masih sibuk berbincang dengan karyawannya. Sebenarnya Lifia ingin kembali ke
kamar hotel seorang diri, namun ia masih takut jika ada orang lain yang mengikutinya. Kejadian itu tentu
saja membuatnya sangat trauma untuk tinggal seorang diri.

Malam ini untung saja acara ini adalah acara privat keuarga jika tidak, pasti akan banyak orang yang
mendekatinya untuk sekedar meminta berfoto bersama dengannya.

"Masih lama banget Mas Def...aku itu sudah ngantuk banget," ucap Lifia kesal namun ia memilih untuk
tidak mengajak Defrab ke kamar karena tidak ingin menganggu pekerjaan Defran.

Lifia yang kesal akhirnya menghubungi Salsa dan ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar
Salsa, ia bahkan meminta salah sayu Karyawan hotel untuk menemaninya menuju kamar Salsa dan Kila.
Saat ini Lifia telah sampai di kamar Salsa dan Kila, ia mengetuk pintu kamar dan telihat Kila menatapnya
dengan tatapan terkejut. "Loh kenapa kemari Mbak?" Tanya Kila penasaran dan ia mencari sosok Defran
yang ternyata tidak ada dibelakangnya.

"Bosan dan Mbak udah ngantuk banget, Kila," ucap Lifia. Lifia melihat kearah salah satu karyawan yang
telah mengantarnya. "Makasih Mbak, sudah mengantar saya kemari!" Ucap Lifia.

1/7

Jangan bahas
"Sama-sama Mbak, saya pamit!" Ucapnya ramah membuat Lifia tersenyum dan ia menganggukkan
kepalanya.
"Yaudah masuk, Mbak!" Ucap Kila membuat Lifia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ini.

"Siapa?" Tanya Salsa. "Hai Mbak..." ucap Salsa menyapa Lifia.

"Pura-pura nggak tahu itu Mbak, nyebelin banget sih Dek," ucap Lifia dan ia duduk disofa tepat
disamping Salsa.

"Mas Def mana?" Tanya Salsa. "Mbak kemari apa sudah pamit sama Mas Def? Wah...kalau belum pamit
nanti Mas Def marah loh...Mbak," ucap Salsa.

"Salah sendiri kenapa sibuk banget dan lama gitu, Mbak nggak punya teman ngobrol tadi, jadi Mbak
ngantuk banget," ucap Lifia. "Mbak tidur sama kalian saja ya!" Ucap Lifia menatap Salsa dan Kila dengan
tatapan penuh harap.

"Telepon dulu Mas Defran Mbak, jangan cari masalah sama dia! Mbak harus tahu ya kalau Mas Defran
itu nggak takut apapun, mau Papi, Kakek marahin dia dan hukum dia, dia nggak takut sama sekali. Mas
Defran itu menakutkan banget kalau susah marah makanya aku itu berusaha keras banget untuk tidak
membuatnya marah sama aku," ucap Salsa.

"Iya, Mas Def juga membuat teman laki-laki di Sekolahku itu takut saat aku masih SMP, dulu sebelum
tinggal di Palembang aku kan tinggalnya sama Mami Liana sekolah di Jakarta," ucap Kila yang merupakan
keponakan Liana, anak dari Lely adik kandungnya. "Mama sama Papa sibuk, Palembang Jakarta dan
Korea jadi aku dititipkan sama Mami Liana. Mas Def kalau marah menakutkan banget, Mbak," ucap Kila.
"Jadi jangan coba-coba membuat dia marah besar!" Ucap Kila membuat Lifia

2/7

Jangan bahas
mengigit bibirnya dan selama ini ia telah melakukan hal diluar batas yang harusnya membuat Defran
sangat marah padanya.

"Tapi kalau sama Mbak, Mas Def nggak akan marah mungkin kemarahannya itu akan Mas Def
sembunyikan sama dia, repot kan kalau istri sendiri takut banget sama Suami, baru didekatin sedikit
istrinya malah lari hehehe..." kekeh Salsa. "Gimana mau nyetuh istrinya kalau istrinya

bilang gini jangan Mas...jangan, aku benci kamu...kamu jahat...aku taku sama kamu Mas!" Goda Salsa
membuat Kila tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha..."

"Kalian suka banget ya godain Mbak," kesal Lifia.

"Kalau Mbak Lifia bukan gitu Mbak Sa, kayak gini...Mas...bobok yuk...nggak tahan adek kangen gitu..."
ucap Kila sambil menujukkan eskpresi ingin meminta

3/7
Jangan bahas
kehangatan membuat Lifia membuka mulutnya. "Mas pengen peluk...pengen ciummm...!" Ucap Kila
membuat wajah Lifia merah padanya

"Gila genit amat kamu Kila..." ufap Lifia terkejut dan ia tidak menyangka Kika akan ikut menggodanya
seperti ini.

"Ckckc...ketahuan kamu sama Mas Def, Mas Serkan dan Mas Fajrin genit begini, kamu nggak akan bisa
bebas adikku sayang," goda Salsa.

"Ya ampun ini kan akting pura-pura jadi Mbak Lifia Mbak, Mas Def...panjat aku Mas, panjat..." goda Kila
membuat Salsa tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha...lucu banget sih..." tawa Salsa.

"Lucu dari Hongkong," ucap Lifia kesal. Ketukan pintu terdengar membuat Slasa menyunggingkan
senyumannya karena tadi ia telah memberitahukan Kakak tercintanya itu, jika Lifia berada dikamarnya
dan berniat ingin tidur bersama mereka.

Salsa segera membukakan pintu dan terlihat sosok Defran menatap mereka dengan dingin. "Mbak Lifia
udah ada yang datang jemput Mbak loh..." goda Salsa.

Lifia menghela napasnya dan ia segera bediri, "Apa Mas Def mau bobok rame-rame dikamar ini juga?"
Tanya Kila.

"Kurang kerjaan," ucap Defran dingin. la menarik tangan Lifia agar mengikutinya lalu ia mempercepat
langkah kakinya keluar dari kamar ini, sambil menarik tangan Lifia. "Assalamualikum," ucap Defran.

"Waaliukmsalam," ucap Salsa dan Kila.

"Tadi datang nggak pakek salam, pulang baru pakek salam," ucap Kila.

"Biasa Mas Def, anak Mami yang paling dingin dan pelit senyum itu, tiap Mami kasih kehangatan dan
ingin

4/7

Jangan bahas
manjain dia, dia bilang begini sama Mami jangan lebay, saya itu bukan anak kecil. Itu sudah terjadi ketika
Mas Def berumur tujuh tahun dia merasa dia sudah dewasa saat itu," ucap Salsa mengingat cerita
Maminya tentang sosok Defran kakak keduanya itu.

Sementara itu saat ini Defran menarik tangan Lifia agar mengikutinya dan ia melangkah kakinya dengan
cepat, membuat Lifia merasa kesulitan untuk mengikutinya. "Mas jangan cepat-cepat jalannya!" Pinta
Lifia. Defran menghentikan langkah kakinya dan ia menatap wajah Lifia yang kesal. "Kaki aku pendek
nggak sepanjang kaki kamu!" Ucap Lifia.
Defran kembali menarik tangan Lifia, namun ia mengurangi kecepatan langkah kakinya. Keduanya
berjalan santai melewati koridor dan Defran memilih untuk tidak mengatakan apapun padanya saat ini.
'Dia malam diamin aku, nggak ngerti banget sama kamu Mas, nyebelin...' Batin Lifia.

"Harusnya tadi kamu nggak usah jemput aku!" Исар Lifia. "Aku bsia tidur sama mereka, Mas," ucap Lifia
lagi dan ia menunggu respon dari Defran. "Mas..." panggil Lifia.

Lifia menghela napasnya dan ia memilih diam daripada mengajak Defran berbicara, lalu Defran
mendiamkannya seperti ini. Tanpa terasa keduanya telah berada didepan pintu Apartemen dan Defran
kembali menarik tangan Lifia agar masuk kedalam kamarnya.

Defran membuka kedua kancing kemejanya membuat Lifia mengerjapkan kedua matanya lalu menelan
ludahnya, Defran mengerutkan dahinya dan ia menepuk pelan dahi Lifia.

"Kebiasaan..." ucap Defran.

"Apaan sih Mas?" Tanya Lifia kesal.

"Mata kamu itu suka sekali melecehkan saya,"

5/7

Jangan bahas
ucap

Defran.

"Salah sendiri kenapa kamu berani banget buka baju didepan aku," ucap Lifia kesal. "Kamu mau pamer
kalau otot perut kamu itu seksi," ucap Lifia.

"Tidak usah pamer kamu juga sudah tahu kalau semua tubuh saya ini sangat menggiurkan untuk kamu,
buktinya perkututtt saya saja kamu sudah tahu segede apa," ucap Defran membuat Lifia menghela
napasnya dan dengan bodohnya ia menatap bagian bawah Defran.

"Mata kamu Lifia!" Ucap Defran dingin. Semakin hari Lifia semakin berani padanya apalagi menggodanya
seperti ini.

"Salah sendiri kenapa Mas bahas yang itu...astaga ini itu pembicaraan apaan sih..." ucap Lifia dengan
wajahnya yang memerah.

"Kalau kamu mau kenalan sama dia nanti setelah saya nikahin kamu, saya kenalkan sama dia sekalian
kamu rasakan bagaimana kinerja dia!" Ucap Defran dingin. "Tidak perlu kamu mengira-ngira bagaimana
kehebatannya!" Ucap Defran membuat Lifia melototkan matanya dan ia terlihat sangat kesal.

"Itu kan yang mulai kamu Mas, kamu Mas suka pamer badan kamu. Coba kalau buka baju itu dikamar
mandi aja!" kesal Lifia.
"Ya sudah kamu pamer juga buka baju disini!" ucap Defran menaikan sebelah alisnya ketika melihat
wajah Lifia merah padam.

"Udah Mas kamu nyebelin banget ih giliran bahas beginian panjang banget, giliran bahas yang lain irit
banget ngomongnya," ucap Lifia kesal.

"Ganti baju sana!" Usir Defran membuat Lifia segera melangakahkan kakinya menuju kamar mandi.

6/7

Jangan menyalahkan.
Jangan menyalahkan
Sandra membaca email dari Lifia, ternyata saat ini Lifia sedang pergi liburan dengan keluarga besar
Defran Satyas, ia tidak menyangka jika Defran mau menjaga Lifia.

Sekarang ia yakin jika Defran Satyas itu ternyata menyukai Lifia sejak dulu dan ia merasa sangat lega
menerima kabar dari Lifia jika Defran mengatakan Lifia adalah calon istrinya. la juga membaca pesan
mengenai keinginan Lifia agar ia tetap bekerja dengannya. Beberapa hari ini Marco memang tidak bicara
lagi dengannya, setelah pertengkaran mereka. Sandra tidak akan mungkin menyerahkan putranya
seperti keinginan Marco yang menginginkan hak asuh Dikta berada ditangan Marco. Sedangkan saat ini
ia dan Marco sama sekali tidak memiliki status sebagai suami istri, lalu apa Marco berhak ingin
mengambil putranya itu darinya.

Banyak pengorbanan yang telah Sandra lalui selama ini, ia memilih hidup mandiri dan meninggalkan
studynya demi melahirkan Dikta. Dulu sebenarnya ia bisa saja menggugurkan kandungannya tanpa
sepengetahuan Marco, tapi tidak ia lakukan karena ia tidak ingin menyesal dikemudian hari. Putranya
tidak bersalah, selayaknya kesalahannya itu harus ia perbaiki dengan cara melahirkannya ke dunia ini
dan berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya itu. la tidak ingin menjadi seperti orang tuanya
yang egois dan tidak memberikan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya. Sandra bahkan rela
menukar kebahagiaannya demi Dikta.

Malam ini Sandra ingin berbicara dengan Marco dan ia ingin tetap menjaga Dikta bersama-sama
walaupun mereka tidak harus menikah. Sandra melihat Dikta telah

1/6

Jangan menyalahkan
terlelap dan ia segera menggendongnya lalu membawanya menuju kamar. Sandra membaringkan Dikta
di ranjang dan ia menatap wajah putranya itu dengan sendu. la hanya mengandung Dikta selama
sembilan bulan, namun Dikta sangat mirip dengan Papanya. Wajah tampan Dikta, bagaikan pinang
dibelah dua dengan Marco Laksamana Dewandaru.

Sandra keluar dari kamar dan ia melihat Marco baru


saja pulang, Sandra melangkahkan kakinya menuruni tangga dan ia mendekati Marco yang saat ini
duduk santai disofa. Marco meliriknya dan ia melepaskan kedua kancing kemeja atasnya sambil
menatap lurus kedepan, berusaha mengacuhkan Sandra. Tadi ia mendapatkan laporan dari orang yang
ia tugas kan menjaga rumah ini, jika Sandra telihat ingin berusaha kabur dari rumah. Marco tidak akan
membiarkan itu terjadi dan ia akan berusaha memiliki apa yang memang seharusnya ia miliki, walaupun
ia harus memaksanya.

"Marco..." panggil Sandra membuat Marco mengangkat wajahnya dan ia menatap Sandra dengan
dingin. Tatapan Marco terlihat sangat tidak bersahabat dan itu menandakan ada tanda bahaya yang saat
ini sedang menghampirinya. "Marco kamu dengar nggak aku manggil kamu?" Tanya Sandra.

"Berani sekali kamu memanggil saya hanya dengan nama saya? kamu nggak kenal rasa takut sama saya
Sandra?" Ucap Marco dingin. "Kamu mau apa lagi dari saya?" Tanya Marco sinis.

"Maunya aku itu banyak, yang jelas bebaskan aku!" Ucap Sandra.

"Saya akan membebaskan kamu, asalkan kamu menyerahkan hak asuh Dikta kepada saya dan kamu
menandatangi perjanjian yang isinya kamu tidak boleh ketemu Dikta lagi!" Ucap Marco.

2/6

Jangan menyalahkan
"Kamu jangan gila Marco..." teriak Sandra.

"Saya memang gila dan itu alasan kamu melahirkan Dikta tanpa memberitahu saya, karena kamu
menganggap Ayah kandung Dikta itu gila," ucap Marco dingin membuat Sandra menghembuskan
napasnya.

"Aku nggak akan pernah menyerahkan Dikta sama kamu, lagian kamu bukan suami aku dan tidak ada
yang namanya perebutan hak asuh karean Dikta adalah anak

aku!0'ucap Sandra.

"Siapa bilang saya tidak berhak atas Dikta, kalau bukan karena saya Dikta anak kita itu tidak akan
setampan itu, apa saya perlu menjelaskan proses biologis bagaimana Dikta tercipta dari kecebong milik
saya hingga bertumbuh dirahim kamu," ucap Marco. Wajah Sandra merah padam dan ia sangat murka
saat ini, ia tak habis pikir kenapa Marco masih saja menginginkan Dikta.

3/6

Jangan menyalahkan
"Kamu bisa menanam kecebong ketubuh perempuan lain jika kamu ingin memilki anak lagi!" Ucap
Sandra.
"Nah sekarang kamu yang sinting, mana ada perempuan meminta ayah kandung anaknya untuk
menanam kecebong ke tubuh wanita lain kecuali kamu. Kalau ada berarti perempuan itu sinting, kasihan
sekali Dikta memilki ibu yang sinting dan Ayah yang gila, ingat ya kamu yang bilang saya gila," ucap
Marco membuat Sandra sangat kesal.

"Marco kamu gila..." kesal Sandra.

"Kamu sinting Larisa, kamu ibu yang sangat egois," ucap Marco.

"Aku itu nggak mungkin berada di Rumah ini terus menerus, aku punya kehidupan dan aku nggak mau
terkurung disini," ucap Sandra.

"Apa kepentingan kamu itu jauh lebih penting dari kepentingan anak kita? Apa kamu tidak mau sedikit
berkorban demi anak kita?" Tanya Marco kesal.

"Apa kamu bilang sedikit berkorban? nyawaku pun akan aku berikan untuk Dikta," ucap Sandra dengan
emosinya yang memuncak.

"Begitu besar pengorbanan kamu untuk Dikta dan sekarang kalau pernikahaan adalah pengorbanan
yang tidak membuat kamu kehilangan nyawa kamu, berarti kamu harus menikah dengan saya demi
Dikta!" Ucap Marco membuat Sandra membuka mulutnya dan ia sangat terkejut hingga sangat-sangat
kesal kepada Marco. Ingin sekali ia menghajar Marco tapi ia tahu sejago-jagonya ia mengusai ilmu bela
diri tetap saja ia tidak akan mampu melawan Marco yang pernah mengajarkannya Ilmu bela diri
dikampusnya.

Marco berwajah tampan, terlihat seorang yang lembut dan baik hati, namun itu hanyalah daya tarik
yang sengaja ia tebarkan kepada banyak perempuan namun tidak pada

4/6

Jangan menyalahkan
dirinya. Tapi setelah Marco pernah membantunya mengerjakan tugas yang tidak ia mengerti dan Marco
bertindak sebagai seorang Kakak yang membuatnya sangat mempercayainya. Marco tega menidurinya
ketika ia dalam keadaan pengaruh obat.

"Saya rasa pilihan yang terbaik untuk kita sekarang, yaitu menjadi orang tua yang baik untuk Dikta,
berikan keluarga yang utuh agar dia tumbuh dengan baik dan bahagia. Ada Papa dan Mamanya, pasti dia
akan bahagia," ucap Marco.

"Dikta tidak perlu Papa yang Playboy kayak kamu!" ucap Sandra.

"Saya tidak Playboy Larisa, satu-satunya perempuan penerima kecebong saya itu hanya kamu, nggak ada
yang lain!" Ucap Marco dan ucapanya memang benar, ia tidak pernah meniduri perempuan lain kecuali
Sandra. "Kamu nggak percaya sama saya, astaga Larisa selama ini kamu pikir saya tidak mencari kamu?
Saya mencari kamu ingin menikahi kamu makanya sampai sekarang saya belum menikah, kamu lagi
pakai membohongi saya sudah menikah, kamu pikir saya tidak akan mencari tahu semua tentang
kamu..." kesal Marco.

"Maksud kamu, kamu ingin menikah dengan saya?"

Tanya Sandra.

"Iya, kamu mau anak kita tidak memiliki identitas yang jelas? Dia harus menjadi anak saya, Dikta
Laksamana Dewandaru!" Ucap Marco. "Anggap saja kita menikah demi anak, saya akan memberikan
nafkah kepada kamu lahir batin!" Ucap Marco menyunggingkan senyumannya dan ia ingin selamanya
menjadi Sandra istrinya bahkan ia akan berusaha agar Dikta segera memiliki seorang adik.

Tiba-tiba dua orang yang bertugas menjaga rumah ini melangkahkan kakinya mendekati Marco
membuat Marco mengerutkan dahinya karena laki-laki itu tampak terluka.

5/6

Jangan menyalahkan
"Ada apa?" Tanya Marco dingin. la sangat murka karena sepertinya ada tamu yang datang tidak
diundang.

"Kamu pikir mereka ini bisa membuat saya tidak bisa masuk kedalam rumah ini?" Tanyanya menatap
Marco dengan tajam.

"Dasar Defran anjjiingg," kesal Marco.

"Jangan menyalahkan siapapun...kamu memang perlu diberi pelajaran!" Ucapnya menatap Marco
dengan murka dan ia ingin sekali memukul wajah tampan Marco yang telah berani membuatnya sangat
kesal.

Komentar lainnya

Berikan Suara

13

6/6

Salah siapa.
Salah siapa
Marco menghembuskan napasnya dan ia merasa sangat kesal dengan Defran Satyas, ia tahu Defran
pasti memberitahu mengenai masalah ini kepada Handaru.

Apalagi ia memang sengaja ingin menunda memberitahukan hal ini kepada Handaru, karena ia ingin
Larisa bersedia menikah dengannya terlebih dahulu.
"Siapa dia?" Tanya Handaru Laksmana Dewandaru.

Perempuan yang berada disebelah Handaru menatap Sandra dengan tatapan sendu. la mendekati
Sandra lalu memeluk Sandra dengan erat.

Tentu Kiran sangat mengenal Sandra, yang ternyata adalah Larisa Sandara Davis yang dicari Marco
selama ini.

Kiran sengaja ingin bertemu dengan Sandra karean Lifia menceritakan mengenai Sandra kepadanya dan
meminta Kiran untuk melindungi Sandra. "Jawab Marco!" Teriak Handaru.

"Mas kita bisa bicarakan baik-baik!" Pinta Marco. la tahu Handaru ingin menghajarnya dan sebagai
seorang adik yang telah melakukan kesalahan, ia bahkan tak berhak untuk membela diri saat ini.

"Kamu benar-benar telah mengecewakan saya Marco! Selama ini dengan gosip yang beredar tentang
kamu, saya sama sekali tidak mempercayainya karena saya tahu siapa kamu tapi..." ucap Handaru
mengeraskan rahangnya membuat Marco hanya bisa pasrah.

"Dia Larisa Mas, perempuan yang selalu saya cari selama ini," ucap Marco.

"Larisa yang pernah kamu tiduri dan ternyata kamu telah memiliki anak dengannya," ucap Handaru, ia
mendekati Marco lalu memukul Marco dengan keras

1/6

Salah siapa
membuat Sandra terkejut. Sandra ingin mendekati mereka, namun Kiran memegang lengannya.

Marco hanya diam saja dan ia menerima hukuman dari sang Kakak. Hingga wajah Marco terlihat lebam
dan ia menahan rasa perih di luka yang diberikan Handaru. Kiran sangat tekejut karena baginya Handaru
sekarang bukan lagi yang namanya menghukum adiknya tapi benar-benar ingin menghajar adiknya,
hingga adiknya tidak mampu lagi berdiri. Kiran mendekati Handaru dan ia menarik lengan Handaru,
sedangkan Sandra menteskan air matanya. Sandra ingin membantu namun ia merasa ragu.

"Cukup Mas, kamu jangan gila!" Teriak Kiran namun Handaru tidak berhenti. Bugh...bugh...pukulan demi
pukulan membuat keadaan Marco teihat sangat memperhatinkan "Sandra bantu!" Teriak Kiran karena
ternyata ia tak mampu menghentikan Handaru yang sedang mengamuk saat ini. Sandra mendekati
mereka dan ia menarik Marco, namun Handaru tidak sengaja memukul tangan Sandra menbuat Marco
murka.

"Kamu boleh menghajar aku Mas, tapi jangan memukul Larisa!" Teriak Marco.

Kiran menghela napasnya, ia saat ini berada diantara Marco dan Handaru, ia ingin lihat apa Handaru
masih tidak menghiraukannya. "Cukup Mas! Kamu keterlaluan...Marco punya anak dan kamu ingin
membuat keponakan kamu menjadi yatim?" Tanya Kiran.
"Dia tidak akan mati jika hanya menerima pukulan dari saya Kiran!" Ucap Handaru.

"Sudah Mas! Kamu masih mau memukul dia? Aku nggak akan mau ketemu kamu lagi! Kamu kayak
preman bukan kayak Handaru yang aku kenal!" Ucap Kiran berusaha membujuk Handaru agar berhenti.

Sandar melihat wajah Marco babak belur dan keadaannya terlihat sangat mengenaskan. "Saya berhenti

2/6

Salah siapa
memukul kamu karena ada Kiran kalau tidak..." ucap Handaru mengepalkan tangannya.

"Sudah cukup!" Ucap Kiran. "Mas kita dengerin dulu penjelasan mereka jangan main hakim sendiri kayak
gini!" Kesal Kiran. la membantu Sandra memapah Marco dan mendudukkan Marco disofa.

"Dia tidak perlu kamu papah seperti itu, lukanya tidak parah!" Ucap Handaru.

Sandra mengepalkan kedua tangannya, sejak tadi ia hanya diam saja ketika melihat Marco dipukuli,
namun ia tidak menyangka jika Marco akan dipukul secara brutal hingga mendapati banyak luka seperti
ini. Marco terbatuk-batuk membuat Sandra sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya saat ini. la
menatap Handaru dengan tatapan dingin, "Berhenti! Please...saya mohon berhenti memukuli Mas
Marco!" Ucap Sandra membuat

3/6

Salah siapa
Marco melihat kearah Sandra dan ia mengerjapkan katanya seolah tidak percaya Sandra membelanya.

"Kamu siapanya Marco?" Tanya Handaru dingin. Kiran menghela napasnya orang secerdas Handaru
tidak mungkin tidak tahu, siapa perempuan yang saat ini duduk disamping adiknya itu.

"Saya...saya...saya Mamanya Dikta, Dikta itu anak kami," ucap Sandra.

"Kenapa kamu merahasiakan anak kamu dari keluarga kami?" Tanya Handaru membuat Sandra menelan
ludahnya. Jika ia mengatakan hal yang sebenarnya jika ia kecewa dengan Marco karena Marco
menidurinya ketika ia masih dalam pengaruh obat apa Handaru akan kembali memukuli Marco.

"Kalau Mas mau bertanya, bertanya kepada saya saja Mas jangan kepada Larisa!" Pinta Marco. "Larisa
tidak mencintai saya, saya yang salah karena tergoda dengan Larisa yang dipengaruhi obat, Mas tahukan
selama ini betapa saya selalu bisa menahan dirinya. Saya tidak melakukan seks bebas walaupun banyak
dari mereka yang mencoba merayu saya. Tapi saat Larisa terpengaruh dengan obat, saya tidak bisa
menahan diri untuk memilikinya karena sejak dulu saya memang menyukai dia Mas," ucap Marco.

Handaru menghela napasnya, tetap saja alasan itu tidak bisa dijadikan acuan untuknya bisa meredakan
amarahnya begitu saja. "Coba Mas digoda dan dirayu Mbak Kiran, apa Mas bisa menahan diri untuk
tidak menyetuh Mbak Kiran?" Tanya Marco dengan tatapan seriusnya. Jawaban Handaru tentu saja
tidak bisa, ia tidak bisa menahan diri jika itu berkaitan dengan Kiran perempuan yang sangat ia inginkan.

"Mas maafkan saya dan bantu saya menghadapi Papi!" Ucap Marco.

4/6

Salah siapa
"Bukan hanya Papi yang harus kamu waspadai tapi Papi Abahasil Dewandaru dan Albiseka Dewandaru,
mereka pasti akan sangat marah dengan kecerobohan kamu yang tidak tahu, jika kekasihmu ini hamil
anak kamu!" Ucap Handaru.

'Kekasih? sayangnya aku bukan kekasih dia,' Batin Sandra.

"Kalian harus segera menemui Papi dan Mami!" Ucap Marco. "Kamu tahu kenapa Albi akan sangat
marah sama kamu?" Tanya Handaru.

"Iya saya tahu, Dikta akan menjadi cucu pertama laki-laki di Keluarga kita dan aku telah melangkahi Albi,
Mas," ucap Marco.

"Ya...jadi sekarang apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Handaru.

"Menikah," ucap Marco dan ia menatap Sandra dengan dingin karena jika Sandra berani mengatakan ia
tidak ingin menikah dengan Marco, maka permasalahan yang akan Marco hadapi akan bertambah
banyak. Bisa saja ia juga tidak mendapatkan hak asuh Dikta, karena kedua orang tuanya pasti akan
mengambil Dikta darinya dan dari Sandra.

"Putuskan dengan cepat jangan menundanya, jika tidak, kalian akan menerima akibatnya!" Ucap
Handaru memperingatkan Sandra dan Marco. "Tapi sebaiknya kita yang lebih dulu menikah dari pada
mereka Kiran!" Ucap Handaru membuat Kiran menatap Handaru dengan kesal.

"Kamu pikir nikah itu mudah? Nggak mudah Mas, bahkan tadi kamu nggak mau dengerin aku! Kamu
malah masih sibuk mukulin Marco dan kamu nggak pedulikan keinginan aku!" Ucap Kiran kesal.

"Aku peduli sama kamu sayang, jangan marah ya! Setelah ini kamu mau kemana Mas akan temani!"
Ucap

5/6

Salah siapa
Handaru, mencoba membujuk Kiran membuat Sandra dan Marco terkejut melihat interaksi diantara
keduanya. "Kita menikah lebih cepat, agar saya nggak dilangkahi sama Marco!" Pinta Handaru.

Sementara itu Defran membaca pesan yang dikirimkan Marco untuknya dan ia tertawa, membuat Lifia
yang mendengarnya menjadi aneh melihat Defran tertawa seperti itu. Saat ini Defran sedang duduk
ditepi pantai bersama keluarganya, ia melihat Serkan yang sedang bermain speedboat bersama Kana
istrinya.

"Kamu ketawa kenapa Mas?" Tanya Lifia.

"Marco dihajar sama Handaru," ucap Defran.

"Dan kamu ketawa hanya karena itu?" Tanya Lifia dengan nada sinis. "Dasar aneh, kamu malah bahagia
sekali melihat sahabat kamu bertengkar, Mas," ucap Lifia.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Si Sayang apa Lifia.


Si Sayang apa Lifia
Defran memang telah menduga akan ada hari dimana Handaru memukuli Marco karena kebodohan
Marco.

Beberapa hari yang lalu Defran sudah memperingatkan Marco, agar segera jujur dengan masalah yang ia
hadapi ini kepada Handaru. Apalagi Handaru sangat menyayanginya dan rasa kasih sayang yang berubah
menjadi kecewa itu, akan berdampak sangat buruk kepada Marco. "Mas kamu ini aneh banget nggak
sih...kalau orang normal nonton drama lucu bakalan ketawa tapi kalau kamu melihat teman kamu
berantem kamu malah ketawa," ucap Lifia.

"Kamu mau bilang saya ini gila?" Tanya Defran dingin.

"Aku nggak bilang gitu tapi ya...tapi kamu memang seaneh itu," ucap Lifia.

"Saya yang kamu bilang aneh ini, saya ini yang kamu sukai," ucap Defran. "Kamu juga bagian dari
keanehan yang ada disekitar saya," ucap Defran membuat Lifia menyebikkan bibirnya. "Saya ada tugas
mendadak jadi besok kita pulang lebih dulu!" Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Mas liburannya masih ada sisa tiga hari lagi dan aku belum belanja Mas. Aku masih mau pergi ke
beberapa tempat sama Kila dan Salsa," ucap Lifia.

"Kamu bisa pergi belanja kapan saja nanti, kamu juga bisa berbelanja di Jakarta saja!" Ucap Defran
membuat Lifia melototkan matanya.

"Mas saja yang pulang lebih dulu, aku disini saja dulu liburan, Mas!" Ucap Lifia.

"Nggak bisa, enak sekali kamu liburan dan saya sibuk bekerja," ucap Defran.
1/7

Si Sayang apa Lifia


"Mas, memangnya aku bisa bantuin kerjaan kamu apa? Nggak kan Mas, aku pulang sama kamu saja
nanti aku juga di Apartemen terus sedirian," ucap Lifia.

"Kamu nggak sendirian, ada Bodyguard yang jagain kamu didepan," ucap Defran. Lifia mengepalkan
tangannya bukan itu point utama yang ia jelaskan dan ia ingin Defran mengerti. Apa Defran pura-pura
bego dan sengaja ingin membuatnya kesal, hingga tidak mengerti keinginannya yang masih ingin
menikmati liburan ini. Sepertinya ia memang harus jujur dengan keingiannya saat ini.

"Aku masih ingin liburan Mas! Please kamu saja yang pulang dan aku tetap disini ya Mas!" Pinta Lifia
menatap Defran dengan tatapan penuh harap, agar Defran mengizinkannya untuk tetap berada disini.

"Kamu tetap pulang bersama saya, kamu ingin pergi liburan sendiri sementara saya bekerja, kamu
memang calon istri yang sungguh mengesankan," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya,
karena Defran tidak ingin sedikit saja mengalah padanya. "Apa kamu pikir sekarang ini tidak ada bahaya
yang mengintai kamu? Kamu mau melibatkan orang lain dalam masalah kamu? Misalnya keselamatan
kedua adik saya?" Tanya Defran membuat bulu kuduk Lifia meremang dan ada perasaan takut yang saat
ini tiba-tiba ia rasakan. Tentu saja ia tidak ingin permasalahannya ini jadi melibatkan keselamatan Kila
dan Salsa.

"Mas..." lirih Lifia.

"Hanya saya yang bisa melindungi kamu, apa kamu lupa?" Tanya Defran dingin.

"Aku nggak lupa, iya hanya kamu...tapi sampai kapan aku harus kayak gini terus Mas, hidupku kayak
nggak normal," ucap Lifia kesal.

"Nggak akan lama, makanya kamu harus bersabar!" Ucap Defran. Sekarang hubungannya bersama Lifia
telah

2/7

Si Sayang apa Lifia


menjadi perbincangan banyak orang dan sudah sampai ditelinga mereka yang ingin segera Defran beri
pelajaran. "Chat grup bestie kamu menyakan kabar bagaimana perasaan kamu, ketika tahu suami kamu
memiliki hubungan dengan artis terkenal," ucap Defran membuat Lifia mengedarkan pandangannya
mencari ponselnya yang saat ini masih berada ditangan Defran.

"Mana ponselnya?" Tanya Lifia. Defran dengan isyarat

matanya menujuk bagian kantung celana yang ia pakai membuat Lifia tanpa banyak berpikir segera
merabanya.
"Kamu melecehkan saya lagi Lifia," ucap Defran.

"Iya aku memang suka melecehkan kamu, memangnya kenapa?" Tanya Lifia kesal dan ia memasukkan
tangannya kedalam kantung celana Defran. "Salah sendiri kamu nggak punya tangan buat ambilin ini
ponselnya," ucap Lifia

3/7

Si Sayang apa Lifia


berhasil mengambil ponselnya itu dan ia melihat wajah Defran memerah padam seolah sedang
menahan sesuatu yang saat ini bergejolak didirinya, karena ulah Lifia yang meraba tubuhnya. Apalagi
posisi Lifia saat ini sangat tidak pantas dengan duduk dipangkuannya dan itu membuat Defran merasa
tubuhnya disiksa oleh Lifia.

"Kamu benar-benar melakukan pelecehan bukan hanya secara verbal tapi non verbal," ucap Defran
dingin dengan suara beratnya yang terdengar serak. Lifia seolah tidak peduli dan ia merasa lega
mendapatkan ponselnya, lalu ia segera turun dari pangkuan Defran. la memilih duduk santai lalu
membaca chat grup dan juga chat pribadi dari teman-temannya. Lifia membuka mulutnya ketika
membaca chat yang mengatakan keprihatinannya mereka atas perselingkuhan Defran.

"Kamu dibilang selingkuh sama Lifia," ucap Lifia menahan tawanya. "Mas kamu baca semua isi grup
bestieku?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Mereka ingin memotong burrung Defran karena ternyata Defran telah jahat berselingkuh dari si
Sayang, mereka sangat membenci perselingkuhan apalagi mereka juga mengejek Lifia yang tega
merebut suami orang lain. Mereka juga menasehati si Sayang dan mengatakan si Sayang bodoh karena
mau-maunya menjadi istri siri Defran Satyas. Walaupun sebagian dari mereka juga tidak menyalahkan
kebodohan Sayang karena Defran Satyas sangat sulit digapai dan menjadi istri sirihnya saja, merupakan
suatu keberuntungan.

Lifia membaca kalimat di chat para bestie yang benar-benar membuatnya malu "Burungnya itu gede
banget ya Sayang makanya kamu harus bisa melayani si burung biar nggak berpindah hati, kan sudah
dinasehati

4/7

Si Sayang apa Lifia


dari dulu kalau pemilik burung gedongg itu pergi, kamu harus ikut dia kemana dia pergi biar pelakor
nggak berani merebut dia dari kamu," ucap Defran yang hapal salah satu percakapan mereka.

"Maaf Mas..." ucap Lifia menangkup kedua telapak tangannya memohon maaf kepada Defran.
"Mulut teman-teman kamu ini memang nggak ada filter sama sekali, kalian asyik membicarakan suami
kalian satu sama lainnya, yang lebih parah itu kamu yang mengatakan mengenai burrung saya seolah
kamu sudah sangat lama mengenalnya," ucap Defran sinis.

"Mas kalau bahas ginian sama aku, kamu ini betah banget ya Mas..." ucap Lifia kesal.

"Kamu juga sangat suka membahas hal ini dengan teman-teman kamu, kamu bilang sama mereka kamu
itu liar kalau diranjang," ucap Defran membuat Lifia tersenyum malu dan ia menggigit bibirnya sambil
menatap Defran dengan tatapan menyelidik.

"Mas... aku itu sama temanku itu hanya bercanda loh Mas, aku kan belum pernah dapat teman yang
ya...sefrekuensi gitu Mas," ucap Lifia.

"Cerita soal ranjang jadi bahan becandaan, khas ibu-ibu komplek itu maksud kamu?" Tanya Defran.

"Ya mau gimana lagi, ngobrol sama mereka itu seseru itu loh...Mas," ucap Lifia. "Nah ini...lusa mereka
ajak aku ketemuan Mas," ucap Lifia. "Aku boleh pergi?" Tanya Lifia.

"Jadi si sayang aja, tapi kan aku juga nggak rela Mas Lifia dijelekin sama mereka," ucap Lifia. "Mas aku
harus gimana? Aku pengen ngumpul sama mereka tapi kalau yang dibahas masalah perselingkuhan
kamu sama Lifia, kan aku jadi kayak orang bodoh Mas, nanti suatu saat mereka tahu aku itu Lifia mereka
jadi marah sama aku," ucap Lifia.

5/7

Si Sayang apa Lifia


"Teman yang tulus itu tidak suka dibohongi, kamu mengerti maksud saya!" ucap Defran.

Lifia. "Iya aku ngerti, aku mau jujur sama mereka," ucap

"Mas aku ngantuk," ucap Lifia.

"Besok kita bangun pagi karena kita pulang ke Jakarta dengan pesawat pagi!" Ucap Defran.

Lifia. "Kita pamit dulu sama Mami dan Papi!" Ucap

"Tidak perlu kita pamit lewat telepon saja!" Ucap Defran.

"Mas itu namanya tidak sopan," ucap Lifia kesal.

"Ikuti perintah saya atau kamu mau, kamu saya hukum! Hukuman saya bukan hanya sekedar kurungan
Lifia!" Ucap Defran membuat Lifia menatap Defran dengan tatapan menilai dan ia memutuskan untuk
mengucapkan selamat tidur kepada Defran dengan sedikit menggoda Defran agar berhenti kesal
padanya.
"Selamat tidur Mas, mimpi indah...hmmm...mimpiin aku dan jangan suka marah-marah!" Ucap Lifia dan
ia mengecup pipi Defran, lalu segera melangkahkan kakinya menuju rajang dan ia membaringkan
tubuhnya.

Defran melirik Lifia dan ia seolah menunggu putri cantik itu benar-benar tertidur pulas, seperti
kebiasaannya yang tidur seolah mati. Setelah itu ia akan membaringkan tubuhnya tidur disamping Lifia
hingga subuh. Hal yang sering ia lakukan sejak dulu, ketika Lifia bermalam di kediaman orang tuanya,
perempuan yang selalu membuatnya tertidur nyenyak jika berada disampingnya.

Lifia sosok yang menyembuhkan kesulitan tidurnya selama ini dan ia tak memerlukan obat apapun
asalkan Lifia berada didekatnya.

6/7

Tentang dia.
Tentang dia
Defran membaca berkas yang dikirimkan lewat email oleh asistennya, ia memang sangat sibuk akhir-
akhir ini karena ia menyusun ritme pekerjaan yang baru ia ambil.

Sejak dulu Defran Satyas memiliki kebiasaan yang berlebihan yaitu membaca, ia bahkan sering kali
melupakan waktu istirahatnya hingga itu menjadi kebiasan buruk untuknya. Defran sering kali
mengantuk dipagi hari karena malam hari ia tidak bisa tidur, ia bahkan memilih bekerja dimalam hari
dan tidur dipagi hari hingga kebiasan buruk itu, membuat pekerjaannya dipagi hari sering kali kacau
padahal ia juga harus mengikuti apel pagi.

Defran mendekati Lifia yang sedang terlelap dan perenpuan cantik yang sedang tertidur ini, juga
memiliki kebiasaan buruk yaitu tidur terlelap bagiakan orang mati, ia bahkan tidak akan sadar jika ia
sering kali tidur disamping Defran Satyas sejak dulu. Bayangkan sejak dulu Defran dengan mudahnya
menyelinap kedalam kamar Lifia, termasuk apartemen Lifia namun ketika Lifia dulu tinggal di Apartemen
lamanya, ia merasa kesulitan hingga ia akhirnya merasa lega saat Maminya meminta Lifia lebih sering
menginap di kediaman orang tuanya itu seminggu dua kali. Paling tidak ada waktu dua kali dalam
seminggu, ia bisa tidur malam dengan sangat nyenyak. Defran jadi mengingat masalalu dimana ia
pertama kalinya, akhirnya tidur disamping perempuan cantik ini hingga ia pun, ikut merasa mengantuk
dan akhirnya ia tertidur lelap.

Kebiasan tidur nyenyak disamping Lifia itu, diawali ketika Maminya sengaja memberikan kamarnya
untuk Lifia tiduri dan keesokan harinya ketika ia pulang, ranjangnya yang berantakkan belum dirapikan
itu membuatnya

1/6
Tentang dia
bingung. Karena ia yang sangat lelah mencoba membaringkan tubuhnya dan ia merasa sangat nyaman.

Akhirnya Lifia tertidur dengan sangat nyenyak karena mungkin, aroma tubuh seseorang yang baru saja
memasuki kamarnya ini, sepertinya menjadi alasan kenapa ia bisa tidur sangat nyenyak. Defran yang
penasaran siapa yang berani masuk kedalam kamarnya itu, akhirnya memutuskan untuk bertanya
kepada Maminya. Tadinya Liana Maminya itu mengatakan jika tidak ada orang yang tidur di kamarnya
namun Defran akhirnya memeriksa cctv dikoridor kamarnya dan ia melihat Liana mengantar Lifia masuk
kedalam kamarnya.

Defran yang penasaran itu pun, merasa sangat aneh dengan apa yang terjadi pada dirinya. la akhirnya
memutuskan untuk mencari tahu kenapa ia bisa tertidur lelap diranjang, yang pernah Lifia tiduri. Defran
masuk kedalam kamar yang ditiduri Lifia di minggu berikutnya ketika Lifia menginap di rumah orang
tuanya. la mendekati Lifia dan melihat wajah cantik itu begitu tertidur dengan, Defran duduk disamping
Lifia dan ia tetarik menyingkirnya helaian rambut Lifia saat itu. la melakukannya, ia menyetuh wajah
perempuan cantik itu dan ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.

Defran juga menusuk pelan pipi Lifia dan dengan jahilnya ia berusaha memaksa membuka mata Lifia,
agar terbuka namun Lifia tidak membuka matanya. Defran bertambah penasaran dan ia mengangkat
tubuh Lifia, lalu menggesernya kesamping namun Lifia tetap saja tidak membuka matanya. Defran
membaringkan tubuhnya dan Lifia memeluknya dengan erat dengan matanya yang masih terpejam.
Defran menghela napasnya, ia mencoba memejamkan matanya dan benar saja ia terlelap sampai subuh.

Mengingat itu semua membuat Defran

2/6

Tentang dia
menghembuskan napasnya, sekarang ia bahkan kertegantungan dengan Lifia hingga ia selama ini telah
melakukan banyak hal yang tidak diketahui Lifia. Sekarang Defran tidak ingin kenyamanannya itu
direnggut oleh siapapun dan mungkin yang hanya bersaing dengannya nanti, yaitu anaknya sendiri.
Ya...Lifia adalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya. Defran hanya merasa keberuntungan selalu
berada dipihaknya ketika ia

menyadari Lifia menyukainya, terlihat dari tatapan malu-malu Lifia padanya ketika menatapnya.

Saat ini Defran membaringkan tubuhnya diranjang tepat disamping Lifia, ia memejamkan matanya dan
tanpa terasa akhirnya ia ikut terlelap. Defran sengaja menghidupkan alaram pukul empat pagi, agar ia
bisa pindah tidur disofa dan seperti itu pola yang ia lakukan selama ia tinggal bersama Lifia. Tapi dulu
Defran akan

3/6
Tentang dia
keluar dari kamar Lifia, bak seorang maling yang tak ingin ketahuan oleh siapapun. Namun ketika Lifia
tinggal didekat Apartemennya, ia kesulitan bertemu dengan Lifia karena kehadiran Sandra dan ia
semakin kesal, saat Lifia tidak pernah datang lagi bermalam di kediaman orang tuanya.

Pagi menjelang Defran terbangun, ketika mendengar alaram jam setengah empat diponselnya, ia segera
bediri dan melepaskan pelukan Lifia. la kemudian kembali tidur disofa, agar Lifia tidak menyadari jika ia
tadi tidur lelap disampingnya. Defran akan membangunkan Lifia, ketika azan subuh seperti sekarang ia
mendekati Lifia. "Bangun Lifia!" Pinta Defran.

Defran tidak akan bisa membangunkan Lifia jika hanya memintanya bangun seperti ini dan seperti
biasanya, ia memilih menggendong Lifia lalu membaringkan tubuh Lifia di bathup. Defran menghidupkan
shower dan ia menyiram wajah Lifia dengan shower yang ada ditangannya. la juga menghidupkan air
hangat di bathup agar Lifia tidak kedinginan. Lifia membuka matanya dan ia melihat wajah Defran, dulu
ia akan berteriak kesal karena tingkah Defran tapi sekarang ia menatap Defran dengan tatapan manja.

"Sudah subuh," ucap Defran. "Udah nggak ngantuk lagi?" Tanya Defran. Lifia menggelengkan kepalanya
dan ia mengulurkan tangannya, agar Defran membantunya berdiri.

"Gendong Mas!" Pinta Lifia membuat Defran mengangkat tubuh Lifia dan ia membantu Lifia bediri. "Aku
mau mandi disana saja jangan berendam!" Ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran.

Lifia ingin mandi menggunakan shower atas yang langsung menyiram tubuhnya dari atas kepalanya.
Defran membawa Lifia mendekati shower karena Lifia memang seperti ini sejak dulu. Kebiasan Lifia ini
tercipta ketika

4/6

Tentang dia
Murni sangat memanjakan Lifia lebih dari anaknya yang lain. Saat masih kecil Lifia mengalami trauma
berat dan ia kesulitan untuk tidur namun setelah tinggal bersama Murni yang memperlakukannya
dengan lembut dan penuh kasih sayang, membuat Lifia seakan sembuh dari traumanya, namun ia jadi
memiliki kebiasaan tidur teramat lelap.

Defran keluar kamar mandi dan ia akan menuju kamar mandi yang berada disebelah kamar ini.
Beberapa menit kemudian keduanya telah selesai sholat subuh dan Defran meminta Lifia untuk
mengemas barang-barang mereka.

"Mas bisa nggak kita sarapan dulu disini saja sama Mami dan Papi?" Tanya Lifia.

"Nggak bisa," ucap Defran.


"Tapi kan masih sempat, Bali nggak macet seperti Jakarta Mas," ucap Lifia. Sebenarnya alasan Defran
tidak ingin pamit secara langsung, karena Maminya pasti tidak mengizinkannya membawa Lifia pulang
ke Jakarta pagi ini bersamanya.

"Nggak usah banyak tanya ikut saja perintah saya Lifia!" Ucap Defran membuat Lifia menyebikkan
bibirnya.

Ketukkan pintu membuat Defran segera membuka pintu kamar dan Karyawan hotel membawakan
makanan yang telah dipesan khusus oleh Defran untuk sarapan mereka. Defran memintanya untuk
meletakkan sarapan itu di meja makan yang berada didekat kolam renang, setelah itu keduanya sarapan
bersama. Cahaya matahari mulai terbit membuat Lifia kagum ketika melihat langit mulai berwana
orange dan perlahan matahari telah menerangi langit.

"Cantik banget langitnya," ucap Lifia membuat Defran mengangkat sebelah alisnya. "Mas kapan kita
liburan lagi?" Tanya Lifia.

"Segera nanti setelah semua urusan kita selesai," ucap

5/6

Prihatin.
Prihatin
Kembali ke Jakarta tanpa meminta izin secara

langsung kepada orang tua Defran, membuat Lifia merasa tidak enak kepada keluarga besar Defran dan
ia bingung menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka, jika ia akan bertemu mereka nanti. Apalagi
kemarin Liana calon Mami mertuanya itu, menghubunginya dan mengatakan kenapa ia harus mengikuti
maunya Defran, untuk ikut segera pulang ke Jakarta. Lifia sudah menjelaskan semuanya kepada Liana,
jika Defran memaksanya ikut pulang. Lifia menatap Defran yang saat ini sedang sarapan pagi
bersamanya, Defran terlihat sangat tampan dengan memakai seragam polisi dan itu membuat jantung
Lifia berdetak dengan kencang.

"Kenapa kamu lihatin saya seperti itu?" Tanya Defran mengerutkan dahinya melihat Lifia tersenyum
manis sambil menatapnya.

"Kamu gagah banget sih Mas, mana tampan gitu bikin aku tambah gimana gitu sama kamu," ucap Lifia.

Jika dulu Defran sangat kesal dan pasti

mengatakannya centil sebenarnya itu hanyalah pengalihan dari rasa senangnya, karena Lifia
menyukainya. "Kalau saya tampan seperti ini memangnya kamu mau apa? Apa kamu hanya puas dengan
memandangi saya saja?" Tanya Defran mengerutkan dahinya karena kesal.
"Aku nggak puas kalau hanya melihat kamu saja, Mas sayang...aku maunya peluk kamu boleh nggak?"
Tanya Lifia dengan wajah memerah karena malu mengatakan keinginanya yang ingin dipeluk Defran
Satyas. la seperti ingin memeluk idolanya yang telah lama ia rindukan dan menjadi impiannya, bisa
memeluk idolanya itu.

1/6

Prihatin
Defran mengangkat sebelah alisnya dan ia menatap Lifia dengan tatapan dingin. "Aku nggak maksa kok,"
ucap Lifia menyebikkan bibirnya, karena kesal. la begitu berterus terang dengan keinginannya tapi
Defran terlihat tidak menanggapi keinginannya itu. "Nanti kamu nggak usah pulang Mas, itu bekal
makan siang udah aku buatin, aku mau kumpul sama si Bestie siang ini, mereka baru akan datang
setelah mereka pulang dari arisan bhayangkari," ucap Lifia.

"Kamu nggak ikut Arisan Bhayangkari?" Tanya Defran sengaja ingin mengejek Lifia.

"Nggak dinikahin mana bisa ikut arisan Bhayangkari," ucap Lifia kesal. Harusnya ia tidak terpancing untuk
menjawab pertanyaan Defran, yang sengaja ingin memprovokasinya.

"Kapan kamu mau saya nikahi?" Tanya Defran menatap Lifia dengan tatapan menyelidik.

"Kamu itu aneh Mas, nyebelin banget nggak ada basa-basi sama sekali, lamar aku kek apa gitu...kayak
nggak niat sama sekali buat nikahin aku," protes Lifia dan ia sangat kesal dengan tingkah Defran yang
seperti ini. Status sebagai calon istri akan ia sandang berapa lama dan Lifia kahwatir Defran menemukan
perempuan yang sangat ia cintai, hingga ia akhirnya tersingkirkan. la merasa ia harus segera menjadi istri
sah Defran agar hidupnya bisa tenang.

"Niat...saya sangat niat sekali ingi nikahin kamu!" ucap Defran dan ia meminum segelas jus sayuran yang
dibuat Lifia dengan sekali tandas. la dan Lifia memiliki banyak kecocokan, seperti kecocokan dalam
selera makanan dan juga kecocokan dalam hal tidur. Tentu saja setelah tinggal bersama Lifia seperti
sekarang ini, Defran merasa ia menjadi lebih sehat karena memiki waktu tidur yang pas.

2/6

Prihatin
"Mana buktinya?" Tanya Lifia seolah menantang seorang Defran Satyas.

"Buktinya ada, kamu saja yang tidak menyadarinya," ucap Defran dingin.

"Mas kamu itu yang aneh pakek teka-teki gitu sama aku, coba saja ya Mas kalau kamu itu berterus
terang gitu sama aku, jadinya kita itu nggak akan ada salah paham," ucap Lifia.

"Kamu yang sering salah paham sama saya, kalau saya tidak merasa salah paham sama kamu," ucap
Defran. Tatapanya datar dan gayanya yang memang terlihat dingin itu, menjadikan Defran menjadi
sangat-sangat tampan dan misterius bagi Lifia.
"Mas kamu itu suka nggak sama aku?" Tanya Lifia. Pagi ini ia ingin memastikan apa ia cukup berarti bagi
Defran.

"Dasar aneh, kenapa saya harus menjelaskan sama kamu panjang lebar tentang saya yang suka sama
kamu atau tidak, jika yang saya tawarkan itu pernikahan, karena menjadikan kamu itu istri saya, artinya
saya menginginkan kamu!" ucap Defran dingin dan tidak ada kebohongan dari tatapan Defran kepada
Lifia saat ini.

Lifia menyebikkan bibirnya, ia memilih untuk tidak melihat kearah Defran, ia sangat kesal karena sulit
baginya untuk mendengarkan suara Defran yang menyatakan cinta padanya. Setelah sarapan selesai,
Defran segera melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini dan meninggalkan Lifia seorang diri.
Defran memang menjaganya dengan memerintahkan Bodyguard, untuk mengikutinya nanti pergi
kemanapun Lifia pergi.

Pukul sebelas siang Lifia sedang bersiap memakai pakaiannya dan ia akan menjadi si Sayang, yang akan
bertemu para bestienya. la telah mengubah sosoknya menjadi Sayang yang terlihat sangat ceria dengan
bajunya

3/6

Prihatin
yang bermotif bunga. Lifia membaca pesan dari para bestie, yang menyampaikan jika mereka saat ini
telah selesai arisan Bhayangkara. Lifia menghela napasnya dan ia membayangkan betapa cantik dirinya
jika ia benar-benar, telah menjadi seorang istri Defran Satyas dan ia akan bergabung dengan para
perkumpulan istri polisi seperti mereka. la juga akan memakai baju bewarna pink yang menjadi seragam
ibu-ibu Bhayangkari.

Lifia saat ini menatap wajahnya dicermin, ia merasa penampilanya sebagai si Sayang telah sempurna dan
ia segera mengambil tasnya, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu luar apartemen ini. Saat ia
membuka pintu Apartemen ini kedua Bodyguard membungkukkan tubuhnya dan keduanya mengikuti
Lifia yang melangkahkan kakinya menuju lift. la masuk kedalam lift diikuti kedua Bodyguard itu dan saat
ini mereka telah kembali keluar dari dalam lift, lalu menuju lobi Apartemen. Disana terlihat sebuah
mobil merah yang datang untuk menjemputnya.

"Silahkan masuk Nyonya!" ucap salah satu Bodyguard itu membuat Lifia segera masuk kedalam mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju salah satu Restauran tempat ia akan bertemu dengan
para bestienya. "Nanti kalau aku masuk ke Restauran kalian jangan jagain aku terlalu dekat, biar tampak
alami aku kesana tanpa pengawal ya Pak!" Pinta Lifia.

"Baik Nyonya," ucap mereka. Lifia sebenarnya masih sangat canggung dengan para Bodyguard yang
diperintahkan Defran untuk menjaganya ini, namun ia berusaha untuk bisa terbisa dengan kehadiran
mereka demi keselamatannya.
Beberapa menit kemudian mobil telah sampai di Restauran, Lifia melangkahkan kakinya turun dari
mobil. la melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam Restauran dengan santai, meskipun jantungnya
berdetak dengan

4/6

Prihatin
kencang karena harus bersiap dengan apa yang akan menjadi pembicaran mereka nanti.

Novi melihat kedatangan Lifia dan ia melambaikan tangannya, agar Lifia mengetahui keberadaan
mereka. Lifia melihat ketiga sahabatnya itu masih memakai baju Bhayangkari dan ia segera
mempercepat langkah kakinya mendekati mereka. "Sayang..." ucap Novi, ia segera memeluk Lifia
dengan erat dan Novi melepaskan

pelukannya, lalu menatap Lifia dengan sendu.

"Kangen banget sama kamu." Ucap Tyas mendekati Lifia dan ia memeluk Lifia dengan erat.

"Sama aku kangen banget sama kalian..." ucap Lifia.

Sejujurnya ia memang sangat kangen dengan para bestie sahabatnya si Sayang ini.

"Aku juga peluk dong!" Pinta Anyelir dan ia merentangkan tangannya agar Lifia mendekatinya, lalu ia

5/6

Dengerin dulu.
Dengerin dulu
Anyelir merasa sangat kasihan dengan Sayang karena kemungkinan besar, Sayang akan segera
dicampakkan oleh Defran Satyas. Apalagi saingan cinta Sayang adalah sorang artis cantik bernama Lifia
yang sangat populer. Beberpaa waktu yang lalu sebelum gosip hangat ini mulai beredar, Lifia memang
pernah digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Defran Satyas. Terbukti dengan beberapa foto
Lifia yang sedang ditarik Defran Satyas saat itu, tapi kemudian keduanya membatah gosip itu dan
mengatakan jika mereka masih kerabat dekat. Tapi kali ini gosip itu kembali muncul apalagi Defran
tertangkap basah sedang jalan berdua ditempat umum bersama Lifia.

Sejujurnya Anyelir ingin mengatakan, jika Defran dan Lifia adalah pasangan serasi dari pada sahabatnya
ini namun ia merasa tertampar karena Defran juga memiliki hubungan dengan Sayang dan bahkan
memberikan harapan palsu kepada Sayang. "Sayang gimana kalau kamu melaporkan Pak Defran itu ke
Kantor polisi dan bilang kalau kamu dinikahi siri oleh Pak Defran, kamu lengkapi buktinya nanti aku
minta tolong suamiku untuk membantu masalah ini. Sayang kamu berhak mendapatkan status yang
jelas karena kamu istrinya dan bukan Lifia istrinya. Secantik apapun si Lifia itu, harusnya Pak Defran ingat
siapa yang menemaninya selama ini!" Ucap Anyelir sendu dan ia tidak ingin melihat Sayang bahagia.
Anyelir bisa merasakan perasaan Sayang yang pastinya sangat sedih menerima kabar ini. Kabar duka
dihati Sayang karena ia sangat mencintai makhluk dingin bernama Defran Satyas. Banyak perempuan
yang patah

1/6

Dengerin dulu
hati karena kabar ini, apalagi yang berpacaran dengan Defran saat ini adalah sosok perempuan yang
dikagumi dan memiliki kecantikan bak Dewi. "Tapi kamu pernah bilang sama kita kamu mau nyerah gitu
sama Pak Defran, tapi menurutku ini nggak adil banget, nggak adil..." ucap Novi dan ia menatap sendu
Sayang dan ia berusaha agar air matanya tidak menetes.

Rasanya Novi ingin menangis saat ini juga, ternyata rasa sakit yang dirasakan Sayang membuatnya ikut
merasakannya. Apalagi Sayang sangat mencintai Defran Satyas, hingga saat itu Sayang pun menangis
pilu ketika Defran pergi bertugas. Jika pergi bertugas saja saat itu telah membuat Sayang terlihat sangat
hancur, apalagi sekarang ketika Sayang akan diceraikan oleh Defran karena lebih memilih Lifia. Sayang
sudah banyak menderita dan berkorban demi cintanya kepada Defran, harusnya Defran mengerti
perasaan Sayang, bahwa sebenarnya fisik bukanlah hal utama dalam sebuah rumah tangga, apalagi
Defran telah menikahinya.

"Aku juga akan membujuk suamiku untuk mendukung kamu, Sayang! kamu yang harusnya menjadi
Bhayangkari bukan Lifia!" Lirih Novi.

"Iya Sayang, harusnya kamu bisa diakui dengan jelas sebagai istri Pak Defran, astaga kok aku kesal
banget sama Pak Defrab kamprettt, pengen banget gue getok kepalanya dia sampai peyang..." kesal
Anyelir karena ia terlihat sangat emosi saat ini.

"Lifia sepertinya perempuan yang baik dan dia nggak tahu kalau Pak Defran itu telah menikah,
bagaimana kalau kita cari tahu dimana Lifia tinggal, kita beritahu dia tentang Pak Defran. Semoga saja
Lifia mundur dan putus maksudku dari Pak Defran, perempuan yang baik pasti tidak akan mau merebut
suami orang lain. Aku benci banget yang namanya pelakor," ucap Novi kesal karena rumah tangga
kakaknya itu hancur akibat serangan dari

2/6

Dengerin dulu
pelakor yang telah merebut suami kakak kandungnya itu.

Lifia menghela napasnya sejak tadi ia ingin bebricara dengan mereka dan menjelaskan semuanya namun
mereka terlihat tidak memberi kesempatan untuknya berbicara. "Kamu harus sering berhubungan sama
Pak Defran bira cepat hamil Sayang! Kalau kamu hamil kamu punya kekuatan dan kartu as untuk
mempertahankan posisi kamu!" Ucap Anyelir dan ia terlihat berapi-api saat ini.
Tyas memegang tengkuknya melihat kedua sahabatnya yang merupakan fans berat Lifia itu, tiba-tiba
berubah membela Sayang dan sebelum Sayang datang, keduanya bahkan berusaha mencari cara agar
Sayang tetap menjadi istri seorang Defran Satyas. Selama ini memang Tyas yang melaporkan semua
tentang Sayang kepada Defran, karena Defran memintanya secara khusus untuk menjaga Lifia dan
memberitahu apa yang dilakukan Lifia ketika berkumpul bersama mereka. Oleh sebab itu Tyas yakin
Defran mencintai Sayang dan sebenarnya ia juga belum tahu jika si Sayang adalah Lifia Ayu, seorang artis
yang sangat terkenal yang sekarang sedang menjadi gosip hangat tentang hubungan mereka.

"Defran Satyas benar-benar keterlaluan dia memanfaatkan kepolosan kamu Sayang, hawa nafsunya
yang gede itu sama seperti ukuran bruuung perkututtnya yang kurang ajar seolah tidak puas dengan
satu wanita. Pinter banget ya menyembunyikan dirinya yang terlihat seperti laki-laki baik tapi ternyata
itu hanya topeng. Dibalik topeng itu dia hanyalah laki-laki gila perempuan," ucap Anyelir terlihat sangat
emosi dan ia menyesal dulu sempat kagum dengan sosok Defran rekan kerja suaminya itu.

Lifia menepuk dahinya, jika dibiarkan para sahabatnya ini akan berbicara buruk tentang Lifia dan Defran.
"Mbak, dengerin penjelasan aku dulu please!" Lirih Lifia namun lagi-lagi ucapanya diabaikan hingga
mereka

3/6

Dengerin dulu
terus saja berbicara secara bergantian.

"Sayang...kamu jangan sedih hiks...hiks...kok aku jadi nangis kayak gini. Aku rasanya nggak sanggup kalau
suamiku menduakan aku. Aku sudah berusaha jadi istri yang baik sama kayak si sayang, aku sudah
melahirkan anak-anak, membesarkan anakku dan suami, aku juga sudah nggak kerja dan fokus sama
keluarga. Dulu aku itu cantik sebelum bongkar mesin melahirkan tapi kan kalau diselingkuhin sama yang
lebih cantik kan bikin kesal dan sedih banget hiks...hiks..." tangis Novi.

Tyas memberikan tisu kepada Novi, ia juga tidak menyangka akan seperti ini jadinya tapi setahunya
Defran itu sangat menyukai Sayang. "Sayang aku minta maaf sama kamu!" Ucap Tyas dan sudah saatnya
ia mengakui kesalahannya yang telah menjadi mata-mata Defran Satyas, bahkan ia merekam
percakapan mereka agar Defran memberikannya uang jajan seperti yang Defran janjikan padanya dan ia
diminta Defran membayar semua makanan yang mereka makan di Restauran setiap mereka berkumpul

"Loh kenapa kamu yang jadi minta maaf Tyas?" Tanya Anyelir menatap Tyas dengan tatapan bingung.

"Aku salah juga sama Sayang, maaf ya please!" Pinta Tyas dan rasanya ia juga ingin menangis.

Lifia menelan ludahnya teman-temanya yang sangat baik padanya itu seolah sangat bersedih dengan
apa yang menimpa si Sayang. la ingin segera menjelaskannya.

"Begini...Mbak..." ucap Lifia namun Tyas memotong ucapan Lifia.


"Sayang, selama ini aku sudah jadi penghianat diantara kalian...aku menjadi mata-mata Pak Defran
karena beliau bilang dia akan memberi sejumlah yang yang aku gunakan juga untuk kita makan-makan
di Resturan. Aku diminta Pak Defran menjaga Sayang dan katanya istrinya

4/6

Dengerin dulu
itu sangat polos dan..." ucap Tyas membuat Anyelir sangat emosi.

"Tyas tega banget kamu sama Sayang, karena uang astaga Yas...gue kecewa banget sama lo.
Pertemanan kita sudah menyenangkan seperti ini kenapa sih harus ada penghianatan?" Tanya Anyelir
dan ia telihat sangat emosi saat ini. Beberapa orang di Resturan ini melihat kearah mereka yang terlihat
sedang bertengkar.

Lifia membuka mulutnya, ternyata orang yang memberitahukan pembicaraan mereka selama ini adalah
Tyas dan ia tidak menyangka orang itu adalah Tyas. "Aku itu bukan karena uang sebenarnya tapi aku
nggak nyangka kalau Pak Defran itu semanis itu sama Sayang, dia bilang dia ingin tahu aktivitas Sayang,
bahkan dia mau membayar makanan kita setiap kita bekumpul. Sayang kesepian di rumah dan butuh
teman bicara kata Pak Defran, Sayang

5/6

Harus jujur.
Harus jujur
Anyelir tidak menyangka jika semua pembicaraan mereka dibocorkan oleh Tyas kepada Defran dan
baginya itu semua sudah sangat keterlaluan. Begitu juga dengan Novi yang terlihat sangat kesal,
sedangkan Lifia saat ini benar-benar menyesal karena kebohongannya ini membuat semua orang
menjadi ribut seperti ini. la harus segera jujur mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada
mereka semua.

"Nafsu makan aku hilang, aku kecewa banget Yas...sumpah," ucap Anyelir yang sangat kecewa dengan
sikap Tyas.

"Aku nggak menyangka akan jadi begini, kenapa bisa Yas kamu menjadi duri dalam daging di
persahabatan kita ini," ucap Novi.

"Maaf...aku nggak bermaksud begitu, Pak Defran itu mengaku kepadaku kalau Sayang adalah istrinya
dan ia memintaku untuk menjaga Sayang," jelas Tyas sendu.

"Menjaga Tyas? Kamu yakin menjaga Tyas..yang kamu lakukan itu memberikan informasi tentang apa
yang kita bicarakan tentang Pak Defran, kamu nggak kasihan sama si Sayang...ya ampun Tyas..." ucap
Novi kesal.
"Maaf..." ucap Lifia. "Aku yang salah sama kalian, kalian tidak boleh bertengkar dan jangan juga marah
sama Mbak Tyas. Mas Defran memang begitu, dia memang suka mengawasiku jadi ini bukan salah Mbak
Tyas!" Ucap Lifia dan ia tidak ingin teman-temannya ini saling menyalahkan.

"Nggak gitu Sayang...tetap saja Tyas yang salah," ucap Novi kesal.

"Iya Sayang, aku salah maaf!" Ucap Tyas menatap Lifia

1/6

Harus jujur
dengan tatapan penuh harap agar Lifia

memaafkannya.

"Nggak, disini aku yang salah Mbak maafkan aku! Mas Defran nggak salah, dia nggak selingkuh!" ucap
Lifia.

"Lifia suamiku bilang kalau Pak Defran sudah mengurus syarat nikah dinas dan mereka tanya siapa
calonnya, gosipnya calonya Lifia Ayu, aktris itu sayang," ucap Anyelir sendu dan ia sangat prihatin
dengan keadaan Lifia.

Lifia terkejut dan ia tidak menyangka Defran telah mengurus sarat menikah seperti apa yang diucapakan
Anyelir. "Sabar ya Sayang! Hmmm...gimana kalau kamu laporkan saja Pak Defran dan nanti pasti akan
secepatnya diproses," ucap Novi.

"Jangan Mbak nggak perlu seperti itu sebenarnya aku itu..." ucap Lifia lagi-lagi dipotong.

"Kamu jangan takut biarpun mereka itu orang kaya dan bekuasa, kamu pasti mendapatkan hak kamu,
paling tidak kamu bisa mendapatkan uang cukup banyak Sayang, Pak Defran itu dengar-dengar anak
orang kaya dan kalau kamu bercerai dari dia, kamu minta kompensasi!" Ucap Anyelir.

"Mbak sebenarnya aku ini Lifia Mbak, nama asliku itu Lifia Ayu!" Jujur Lifia membuat Novi, Anyelir dan
Tyas saling berpandangan dan ketigaya menghembuskan napasnya karena mereka bertiga tidak percaya
dengan ucapan Lifia. "Sayang...kamu jangan sampai stres hanya karena laki-laki! Kita semua lihat
pemberitaan dan kamu bukan Lifia," lirih Novi dengan suaranya yang begertar.

"Aku Lifia Mbak, Sayang itu nama panggilan aku saja Mbak, aku itu sengaja memakai makeup seperti ini
biar bisa bebas berpergian," ucap Lifia.

"Kamu jangan bercanda Sayang!" ucap Tyas dan ia tidak percaya dengan ucapan Lifia.

2/6
Harus jujur
"Aku sedang tidak bercanda, aku memang Lifia," ucap Lifia dan ia mencoba untuk menyakinkan mereka
bertiga.

"Sayang...kita sangat mengenal Lifia Ayu kekasih Pak Defran dan wajahnya itu wara-wiri di televisi," ucap
Novi. la tidak ingin mengatakan kepada si sayang jika ia juga merupakan fans berat Lifia.

"Ini hanya makeup Mbak, Mbak semua harus percaya sama aku! Sebentar aku hapus makeupnya dulu!"
Ucap Lifia.

Lifia mengambil kapas dan pembersih makeup yang ada didalam tasnya dan ia membersihkan
makeupnya dengan pelan, lalu ia melepaskan beberapa tempelan yang ada di kelopak matanya dan juga
tempelan dipipi tirusnya itu. Terlihat wajah Lifia yang saat ini ada dihadapan mereka membuat mereka
bertiga menelan ludahnya.

"Lifia..dia benaran Lifia," lirih Anyelir.

"Astaga...apa ini mimpi?" Tanya Novi dan ia mencubit pipinya.

"Jadi kamu..." ucap Tyas.

"Iya Sayang itu Lifia Ayu Mbak, ini caraku agar aku tidak ketahuan pergi kemanapun apalagi jika ingin
pergi bersama Mbak semua. Mbak pasti nggak nyaman kalau pergi dengan Lifia dan bertemu banyak
orang yang bisa saja menjadikanku pusat perhatian gitu Mbak. Maafkan aku Mbak, aku nggak ada
maksud untuk membohong Mbak-Mbak semua, aku sangat senang berteman dengan Mbak yang
semuanya sangat sayang banget sama aku!"

Ucap Lifia membuat ketiganya mencerna ucapan Lifia, lalu mereka saling berpandangan.

Novi merasa kecewa dan ada kemarahan yang membuatnya sangat kesal karena Lifia seolah menipunya
selama ini, namun ketika ia memikirkan alasan Lifia, mungkin itu semua benar membuat kemarahannya
itu

3/6

Harus jujur
hilang. "Aku nggak ada maksud untuk membohongi Mbak semua, nggak ada Mbak. Aku itu senang
banget punya teman kayak Mbak semua," lirih Lifia. la ingin berusaha untuk tidak menangi tapi jujur saja
ia sangat takut kehilangan pra sahabatnya ini yang benar-benar tulus menyayanginya. Akan sulit baginya
untuk mendapatkan sahabat seperti mereka lagi.

Lifia terisak dan ia sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis karena ia tahu rasanya sangat
kecewa kepada orang yang telah ia percayai. la mengerti perasaan ketiga sahabatnya ini. "Jangan marah
sama aku Mbak hiksss...aku mohon Mbak Novi, Mbak Anyelir, Mbak Tyas!" Pinta Lifia dengan tatapan
memohon. "Aku..." ucap Lifia dan tiba-tiba Novi memeluk Lifia dan diikuti oleh Anyelir dan Tyas.
"Jangan nangis Sayang, kami juga sayang sama kamu.

Ternyata kamu itu Lifia kita senang banget karena idola kita ternyata juga sahabat kita yang paling baik
dan ramah, "ucap Novi.

"Iya Lifia kamu nggak usah nangis, kita malah sangat bersyukur jika kamu benar-benar Lifia karena apa
yang kita harapkan selama ini akans segera terwujud!" Ucap Anyelir.

"Memangnya harapannya itu apa Mbak?" Tanya Lifia dengan suara seraknya.

"Harapan kita itu, kamu jadi Ibu Bhayangkari kayak kita dan kamu bahagia dengan Pak Defran," ucap
Novi.

"Iya Mbak, sekarang ini saja aku sudah sangat bahagia karena dipertemukan dengan orang-orang baik
seperti Mbak bertiga ini," ucap Lifia dan mereka melepaskan pelukannya. Lifia menghapus air matanya
dengan jemarinya dan mereka pun ikut menangis karena teharu. Kemarahan yang membuatnya kecewa
karena merasa

4/6

Harus jujur
ditipu Lifia, akhirnya hilang sudah apalagi mereka sangat bersyukur Lifia ternyata adalah si Sayang
sahabat mereka.

"Kamu hebat banget Sayang bisa makeup seperti itu, kita itu sampai terkejut banget karena si sayang
dan Lifia itu menjadi dangat berbeda.

"Ajarin kita makeup kayak gitu juga Sayang!" Ucap Anyelir. "Hmmm...aku lebih nyaman memanggil kamu

Sayang, Li...Lifia!" Ucap Anyelir gugup. Tentu saja ia belum terbiasa memanggil si Sayang itu Lifia dan
saat menyebut nama Lifia, ia terlihat sangat gugup seperti saat ini.

"Iya Lifia ajarin kita soalnya dengan menyamar jadi orang lain seperti kamu, aku bisa memata-mematai
Suamiku!" Ucap Novi, ia ingin melihat siapa saja yang berani mendekati suaminya.

"Iya, Mbak nanti aku ajari!" ucap Lifia tersenyum

5/6

Dia ternyata baik dan penyayang.


Dia ternyata baik dan penyayang
Lifia menghembuskan napas leganya karena ketiga teman-temanya itu tidak marah padanya, bahkan
mereka memintanya untuk berfoto bersama. Anyelir Novi dan Tyas sangat senang karena ternyata Lifia
Ayu adalah dirinya. Seperti saat ini setelah ketiganya menangis dan mengakui kesalahan masing-masing,
mereka akhirnya bisa makan bersama dengan tenang. Apalagi nafsu makan mereka bertambah karena
mereka sangat bahagia, si Sayang sebentar lagi akan menikah secara resmi dengan Defran Satyas dan itu
artinya Lifia akan menjadi seorang ibu Bhayangkari seperti mereka.

Saat ini Lifia sedang berada didalam mobil menuju kediaman orang tua Defran. la ingin meminta maaf
kepada orang tua Defran, karena pulang lebih dulu namun tiba-tiba supir memutar arah dan tidak
menuruti perintahnya, setelah supir itu menerima telepon yang Lifia duga adalah telepon dari Defran
Satyas. "Loh Pak kenapa memutar arah? aku itu kan mau ke Rumah orang tua Mas Defran!" ucap Lifia.

"Pak Defran bilang Ibu diminta datang ke Rumah Sakit tempat Bapak Praktek, Bu," ucapnya.

"Oke Pak," ucap Lifia. Tidak ada gunanya menolak perintah Defran Satyas, apalagi Defran pasti akan
tetap melakukan apa yang ia inginkan seperti biasanya. Mobil segera menuju Rumah Sakit tempat
Defran bekerja dan beberapa menit kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit.

"Bu kata Bapak, Ibu diminta datang ke Ruangan Bapak yang ada di Rumah sakit ini, Bu!" Ucapnya
membuat Lifia membuka mulutnya karena ia baru saja menghapus

1/7

Dia ternyata baik dan peny...


makeupnya dan jika ia datang ke Rumah sakit ini, pasti akan ada banyak orang-orang yang menyadari
jika ia adalah Lifia Ayu. Apalagi ia tidak memiliki masker untuk menutupi wajahnya seperti biasanya, Lifia
sebenarnya masih khawatir jika ia menarik perhatian orang disekitarnya, apalagi kasus penguntit itu
belum selesai. la memang tidak tahu jika Defran telah mengetahui dalangnya dan juga telah menangkap
orang-orang yang diperintahkan untuk menjadi penguntit, termasuk pion yang telah menyakiti Lifia.

Lifia mengambil ponselnya dan ia mencoba menghubungi Defran Satyas, namun Defran tak kunjung
mengangkat ponselnya. "Astaga nyebelin banget kamu Mas," ucap Lifia kesal dan ia akhirnya segera
turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit. Beberapa orang mengenalinya
dan mereka terlihat kagum dengan sosok Lifia yang selalu terlihat sangat cantik. Lifia tersenyum kepada
mereka dan ia melangkahkan kakinya mendekati resepsionis. la mengedarkan pandanganya berharap
ada Bodyguard yang sedang mengikutinya, ternyata tidak ada dan itu membuatnya panas dingin. Bunyi
ponselnya membuatnya segera mengangkatnya dan itu adalah telepon dari Defran Satyas.

"Assalamuaikum Mas," ucap Lifia.

"Waalaikumsalam," ucap Defran.

"Kamu dimana, Mas? Kamu jangang ngerjain aku kayak gini, dong Mas!" Kesal Lifia.

"Ngerjain kamu gimana?" Tanya Defran.


"Mas pikirin sendiri kenapa aku tiba-tiba diminta kesini sementara aku nggak bawa masker Mas, Aku
sekarang sudah berada di lobi rumah sakit, terus aku kemana Mas?" Tanya Lifia kesal. "Kamu minta aku
temui kamu di Rumah sakit dan aku nggak ada persiapan

2/7

Dia ternyata baik dan peny...


apa-apa," ucap Lifia.

"Sekarang kamu ke Lantai tiga, menuju ruangan Melati, saya ada disana!" ucap Defran. "Tidak usah
membantah!" Ucap Defran dingin.

"Oke," ucap Lifia. la kemudian tersenyum kepada Resepsionis yang berada dihadapannya dan ia sengaja
tidak bertanya lagi dimana ia harus menemui Defran saat ini.

Seorang perempuan memberanikan dirinya mendekati Lifia lalu ia meminta foto bersama Lifia. Lifia
tersenyum ramah dan ia menganggukan kepalanya setuju untuk berfoto bersama peremluan itu, namun
ternyata ada tiga orang lainnya yang juga ingin berfoto bersamanya. Setelah itu Lifia segara pamit pergi
menjauh dari mereka, karena Defran pasti akan kesal padanya jika ia terus menuda menuju lantai tiga,
seperti yang diperintahkan Defran. Setelah itu Lifia segera masuk kedalam lift dan benar saja Defran
kembali menghubunginya. "Iya Mas...tunggu sebentar!" Ucap Lifia. la mematikan ponselnya dan lift
terbuka, ia melangkahkan kakinya menuju resepsionis ruangan Melati ini.

"Selamat sore Mbak, ada Dokter Defran nya Mbak?"

Tanya Lifia, membuat mereka hebo bahak histeris melihat kedatangan Lifia. Diantara mereka ada yang
melompat dari duduknya ketika salah satu perawat menyebut nama Lifia.

"Mbak Lifia foto dong Mbak!" Ucap mereka.

"Oh...oke," ucap Lifia gugup.

Mereka mengambil beberapa foto bersama lalu terlihat Defran sedang menatap mereka dengan datar,
membuat mereka semua segera menghentikan aksi foto bersama mereka. Defran dengan isyarat
matanya meminta Lifia untuk ikut dengannya. "Saya permisi dulu!" Ucap Lifia tersenyum ramah kepada
para suster itu dan ia

3/7

Dia ternyata baik dan peny...


melangkahkan kakinya mengikuti Defran. Terdengar suara bisik-bisik yang mengatakan tentang
hubungannya dengan Defran Satyas membuat wajah Lifia memerah karena malu.

Di Rumah Sakit ini siapa yang tidak mengenal seorang Defran Satyas. Defran bukan hanya seorang
dokter tekenal, ia juga sangat tampan namun ia juga memilki sikap yang sangat tegas kepada para
bawahannya hingga mereka semua. bukan hanya takut menghadapi Defran tapi mereka juga segan.
"Mas kamu ini kayaknya galak banget sama bawahan kamu," ucap Lifia.

"Mungkin saja," ucap Defran singkat. Nyatanya seorang Defran Satyas memang sangatlah dingin dengan
rekan kerjanya yang berjenis kelamin perempuan.

Mereka masuk kedalam ruang perawatan anak dan telihat beberapa anak terkejut melihat kedatangan
Lifia. "Mbak Lifia...," teriak mereka. Lifia tekejut dan ia tersenyum kepada anak-anak ini. Sebenarnya ia
merasa sedih karena anak-anak ini berada didalam ruang perawatan ini menandakan jika mereka saat
ini sedang sakit.

"Wah pacarnya Dokter Defran," ucap salah satu dari mereka. la memakai infus ditangannya dan terlihat
ia sangat sulit untuk bergerak. "Suli....Pak Dokter beneran ngajakin Lifia artis kesukaan kamu datang,
salam sama Mbak Lifianya!" Ucap orang tua Suli.

Lifia mengulurkan tangannya membuat Suli mencium punggung tangan Lifia. Suli berumur delapan
tahun dan saat ini ia dirawat intensif di Rumah sakit ini, karena ia mengalami penyakit jantung. Sejak
kecil Suli memang sering kali bolak balik rumah sakit dan besok Suli akan segera dioperasi, operasi yang
sangat beresiko. Defran ingin mengabulkan keinginan Suli untuk bertemu Lifi, apalagi Suli telah melihat
berita di TV mengenai kedekatan Defran dengan Lifia.

4/7

Dia ternyata baik dan peny...


"Boleh peluk Sulinya nggak, Mas?" Tanya Lifia kepada Defran.

"Boleh," ucap Defran membuat Lifia segera memeluk Suli dengan hati-hati.

"Senang banget bertemu sama Suli, Suli mau apa dari Mbak Lifia?" Tanya Lifia dan ia melepaskan
pelukannya agar bisa melihat wajah cantik Suli. Suli terlihat malu untuk mengatakannya, membuat
Defran mendekati Suli.

"Suli katanya mau boneka yang besar?" Tanya Defran.

"Iya Dokter mau," ucap Suli.

"Tadi Mbak Lifianya sudah membelikan boneka buat Suli tapi Suli janji harus tetap semangat ya Nak!"
Ucap Defran.

"Iya Pak Dokter, hmmm...mana bonekanya?" Tanya

5/7
Dia ternyata baik dan peny...
Suli membuat seorang Suster memberikan paperbag berisi boneka itu kepada Defran dan Defran segera
memberikannya kepada Lifia.

"Berikan bonekanya untuk Suli!" Perintah Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia dan ia memberikan boneka itu kepada Suli.

"Untuk Suli semoga suka ya sayang!" Ucap Lifia menatap Suli dengan tatapan sayang.

"Terimakasih Mbak Lifia," ucap Suli membuat ibu Suli menteskan air mata bahagia melihat kebahagiaan
putrinya. Suli segera menerimanya dan ia membuka paper bag itu dibantu oleh ibunya, membuat Suli
terlihat sangat senang saat tahu isi paperbag itu boneka beruang besar.

"Makasih Mbak Lifia," teriaknya dan Defran ternyata juga membelikan hadia kepada anak-anak yang ada
didalam ruangan ini.

Lifia menatap Defran dengan tatapan kagum, ternyata ia tidak salah sangat mencintai seorang Defran
Satyas karena ternyata Defran, sangatlah penyayang dan baik hati. Setelah itu Defran mengajak Lifia
keluar dari ruang perawatan ini, menuju ruanganya, semua orang takjub melihat kecantikan Lifia bagi
mereka Lifia dan Defran adalah pasangan sempuran. Saat ini Lifia telah berada didalam ruangan Defran
dan ia duduk disofa membuat Defran mengerutkan dahinya.

"Bereskan meja saya!" Ucap Defran.

"Kenapa harus aku?" Tanya Lifia membuat Defran menatap Lifia dengan datar. "Suster dan OB kan
banyak Mas!" Tanya Lifia kesal.

"Saya lebih suka kamu yang membereskan ruangan saya ketika saya berada di ruangan ini, saya tidak
suka orang lain bekeliaran disekitar saya karena itu membuat saya tidak nyaman. Kamu bukan orang lain
bagi saya!"

6/7

Pemaksaan.
Pemaksaan
Lifia sangat gugup saat ini jantungnya berdetak dengan kecang, apalagi Defran tiba-tiba mengangkat
tubuhnya saat ia memeluknya dan mendudukkannya disofa. Mata tajam Defran menyelusuri wajahnya
hingga membuat tubuh Lifia merasa panas. Apalagi Defran menyelusuri setiap inci wajahnya dengan
tatapannya yang seolah sedang menilainya. "Mas...ma..mau ngapain?" Tanya Lifia gugup, Defran dengan
mode seperti selalu saja membuatnya gugup dan merasa Defran ingin melakukan sesuatu padanya.

"Menurut kamu saya mau ngapain?" Tanya Defran dengan tatapan seriusnya.
"Mana aku tahu Mas kamu mau ngapain," ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena malu.
Defran mendekati wajahnya membuat wajah Lifia semakin memerah dan ia sangat malu saat ini.
"Mas..." ucap Lifia berusaha mencegah Defran agar tidak melewati batas pertahannya. Defran
menggerakan bibirnya, ia mengangkat sebelah alisnya dan ia menatap mata indah Lifia.

"Bagaimana kamu mengakhiri kisah si Sayang bersama dengan teman-teman kamu?" Tanya Defran
membuat Lifia menghela napasnya. la kesal dengan Defran kalau hanya ingin menanyakan hal ini
padanya harusnya Defran tidak perlu berbicara sedekat ini padanya.

"Mas dekat banget!" Ucap Lifia mengalihkan pandangannya namun Defran menusuk pipi Lifia dengan
pelan. "Nggak usah tanya-tanya masalah itu kamu itu nyebelin, Mas jangan dekat banget!" Pinta Lifia.

"Kenapa memangnya kalau dekat?" ucap Defran.

"Kamu anggap jarak sedekat ini sama aku itu nggak

1/8

Pemaksaan
apa-apa? Kamu yakin nggak apa-apa kalau aku, nggak, aku nggak bisa bilang kalau aku nggak apa-apa
saat ini!" ucap Lifia kesal dengan tindakan Defran yang sengaja ingin menggodanya.

Defran menarik pipi Lifia dan matanya menatap bibir Lifia, "Kamu pakai Lipstik?" Tanya Defran.

"Iya," ucap Lifia dan ia menepis tangan Defran yang menarik pipinya.

"Nempel nggak?" Tanya Defran.

Lifia. "Kayaknya nggak, ini lipstiknya tahan, Mas," ucap

"Boleh dicoba?" Tanya Defran membuat Lifia terkejut Defran ingin mencoba memakai lipstik.

"Memangnya Mas mau pakai lipstik ya? Ya ampun aneh banget kamu Mas kayak perempuan," ucap
Lifia.

Defran menciumm bibir Lifia membuat Lifia terkejut dan ia tidak menyangka Defran akan mencium
bibirnya.

"Mas...kamu..." ucap Lifia kesal dengan tingkah Defran yang tiba-tiba menciumnya.

"Kenapa?" Tanya Defran.

"Kenapa?" Tanya Lifia kesal "Mas...kamu itu sudah ciumm bibir aku, Mas," ucap Lifia dan ia terlihat
sangat malu saat ini.

"Saya hanya ingin mencoba apakah lipstik kamu akan menempel dibibir saya," ucap Defran membuat
Lifia membuka mulutnya karena takjub dengan ucapan Lifia.
"Mas ngeselin banget sih..." ucap Lifia kesal.

"Mulai sekarang kalau bicara, kamu pikirkan dulu Lifia, kamu yakin saya ini mengesalkan?" Tanya Defran
dan ia mengangkat sebelah alisnya bingung kenapa Lifia mengatakan jika ia telah membuatnya kesal.

"Iya kamu mengesalkan, kamu kenapa bayar Tyas buat

2/8

Pemaksaan
memata-mataiku, Mas?" Tanya Lifia.

"Saya ingin mengetahui apa yang kamu katakan mengenai saya, terbukti kamu mulai berani mengatakan
banyak hal yang negatif mengenai saya didepan istri rekan kerja saya," ucap Defran. "Kamu mau saya
jabarkan apa saja yang kamu katakan dengan para bestie kamu itu?" tanya Defran sinis.

"Nggak usah Mas kamu pikir aku itu pelupa apa," ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena
malu dan ia menatap bibir Defran membuatnya menelan ludahnya. Lifia tiba-tiba mengecup pipi Defran
karena kesal dengan tindakan Defran yang sejak tadi sengaja mempersempit jaraknya. Defran menatap
Lifia dengan dingin dan itu membuat jantung Lifia lagi-lagi berdetak dengan kencang.

"Jangan memancing!" Ucap Defran dingin.

"Kamu duluan kan Mas, bukan aku...kamu kenapa cium bibir aku?" Tanya Lifia.

"Saya ingin coba lipstik kamu tahan lama apa tidak," ucap Defran.

Lifia mengecup bibir Defran membuat Defran mengangkat sebelah alisnya. "Aku juga mau coba kalau
aku yang cium kamu Mas, lipstiknya nempel apa nggak," ucap Lifia membuat Defran mengangkat
sebelah alisnya. Semakin hari Lifianya ini semakin berani dengannya.

"Sepertinya kamu memang ingin bertindak lebih pada tubuh saya Lifia, kamu memang sangat suka
menggoda saya," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya, karena tekejut dengan ucapan
Defran, ia tidak menyangka Defran mengatakan hal ini. Padahal tadi yang menciumnya lebih dulu adalah
Defran Satyas yang saat ini sengaja ingin menyalahkannya.

"Kamu jangan memutar balikkan fakta ya Mas, yang menudukkan aku dimeja siapa? Yang cium aku
duluan itu

3/8

Pemaksaan
siapa Mas? nyebelin banget malah aku yang kamu salahkan. Aku nggak mau godain kamu lagi atau
apapun itu!" Ucap Lifia kesal.
"Jangan berjanji Lifia, kalau kamu tidak bisa menepatinya!" Ucap Defran dingin. "Setiap hari yang kamu
lakukan hanyalah menggoda saya," ucap Defran.

"Astaga Mas aku nggak kayak gitu, kalau ingin menggoda kamu bukan kayak gini, Mas,"

Kesal Lifia. "Kamu mau tahu gimana perempuan kalau mau menggoda laki-laki?" Tanya Lifia sinis. "Kayak
gini!" Ucap Lifia kesal dan ia membuka kancing baju atasannya sambil menatap Defran dengan tatapan
menggoda, tentu saja ia tahu bagaimana cara menggoda seorang laki-laki, apalagi ia pernah memainkan
peran perempuan penggoda.

Defran mengangkat sebelah alisnya saat Lifia mencoba

4/8

Pemaksaan
menatapnya dengan tatapan menggoda, tapi Defran terlihat tidak bergeming dan hanya menujukkan
ekspresi wajahnya yang datar. Lifia yang kesal, ia menarik tangan Defran dan tanpa banyak berpikir ia
telah melakukan sesuatu kesalahan yang besar dengan menepatkan tangan bersar itu diatas dadddanya.
Defran merasa ini semua semakin menarik dan perempuan yang ia inginkan menjadi istrinya ini, semakin
lama semakin membuatnya tidak bisa menahan diri lagi, untuk tidak menyentuhnya. Lifia semakin
terprovokasi dengan tatapan Defran yang datar seolah mengejek dirinya, jika saat ini apapun yang
dilakukan Lifia, seorang Defran Satyas tidak akan tergoda.

"Kamu kayaknya hommo ya Mas?" Tanya Lifia dan ia menatap Defran dengan sendu. Defran
mengerutkan dahinya karena kesal beraninya Lifia mengatakan dirinya penyuka sesama jenis.

"Apa kamu bilang?" Tanya Defran dan ekspresi datarnya hilang sudah dan saat ini, terlihat ekspresi
kemarahan karena merasa Lifia sedang mengejeknya. "Kamu bisa buktikan nanti setelah kita menikah,
betapa jantannya saya betapa saya akan membuat kamu tidak bisa berbuat sesuka hati kamu, kepada
saya!" Ucap Defran dingin dan tatapannya itu mengisyaratkan jika ia benar-benar akan melakukan hal ini
jika mereka sudah menikah nanti.

Defran menarik Lifia kedalam pelukkannya, ia memeluk Lifia dengan erat, hingga napas hangat Defran
memgenai lehernya. Defran mencium tengkuk Lifia dan itu membuat suasana menjadi semakin panas
dan Lifia bak patung memilih diam karena sangat-sangat terkejud dengan apa yang dilakukan Defran
padanya. "Mau ciumm yang lain sekarang?" Tanya Defran dengan suara seraknya.

"Enggak Mas," lirih Lifia. Laki-laki yang memeluknya

5/8

Pemaksaan
ini benar-benar akan melakukannya, jika ia mengatakan ya, ia yakin itu.
"Kamu tahu saya bisa lepas kontrol dalam hal menahan diri untuk tidak menyentuh kamu, jadi mulai
sekarang jangan pernah memancing keinginan saya untuk menyentuh kamu!" Ucap Defran
memperingatkan Lifia. "Jawab ya kamu mengerti ucapan saya! Jika tidak akan terjadi secandal di Rumah
sakit ini seorang Dokter memaksa seorang artis berciinta diatas meja! Ucap Defran.

"Iya Mas..." ucap Lifia.

"Iya apa?" Tanya Defran.

"Jangan menggoda memancing ikan!" Ucap Lifia.

"Ikan?" Tanya Defran sinis.

"Nggak perlu dibahas Mas!" Pinta Lifia kesal.

"Jadi bagian tubuh saya yang mana menurut kamu yang kamu andaikan sebagai ikan?" Tanya Defran
sinis.

"Nggak ada Mas, maksudku itu memancing burung..."

Ucap Lifia membuat Defran mengangkat sudut bibirnya dan pemandangan iDefran tersenyum seperti
itu, benar-benar mengejutkannya. Untung saja saat Defran mengecup bibirnya tadi, ia tidak pingsan
karena takjub dengan sikap Defran Satyas yang berubah tiga ratus delapan puluh derajat padanya.

Defran menarik laci yang ada didekatnya dan ia mengeluarkan sebuah berkas lalu menyerahkannya
kepada Lifia. "Tanda tangani berkas ini!" Perintah Defran.

"Untuk apa ditanda tangani? Memangnya aku ada pekerjaan sama kamu? atau apa sih Mas, pakek tanda
tangan segala!" Ucap Lifia bingung.

"Baca!" Ucap Defran.

6/8

Pemaksaan
"Gimana mau baca kalau kamu itu dekat banget sama aku," kesal Lifia.

Defran menjauh dari Lifia dan ia duduk dikursi kerjanya. Lifia turun dari meja kerja Defran dan ia
membuka berkas itu. Lifia membacanya ternyata surat kelengkapan nikah kantor dan disana hanya
tinggal tanda tangannya saja karena Defran sudah menandatanginya.

"Maksud Mas apa ini?" Tanya Lifia.

"Nggak usah banyak tanya, tanda tangani saja kalau kamu mau hidup kamu selamat!" Ucap Defran
membuat Lifia melototkan matanya.
"Astaga Mas kamu ini mau nikahin aku kenapa sih nggak bisa mintanya baik-baik dan ini nikah loh Mas,
kamu kayak nggak niat gitu ngajakin aku nikah!"

lirih Lifia.

"Saya sudah minta baik-baik," ucap Defran.

"Kapan kamu mintanya baik-baik nggak ada Mas, kamu nggak pernah bilang kamu lamar aku," ucap Lifia
kesal. "Tunangan dulu terus kamu kasih aku cincin dan kamu tanya sama aku mau nikah sama kamu apa
nggak?

Kayak gitu prosesnya Mas!" Protes Lifia.

"Jadi kamu nggak mau menikah dengan saya?" Tanya Defran.

"Mau...aku mau..." ucap Lifia.

"Saya sudah tahu jawaban kamu kenapa saya mesti banyak tanya sama kamu, lagian yang penting kamu
bisa bersama saya terus seumur hidup kamu, kamu bisa minta apapun nanti setelah menikah dengan
saya!" Ucap Defran. "Kalau kamu tidak mau menandatangi berkas ini jangan harap kamu bisa melihat
matahari sesuka hati kamu!" Ucap Defran dengan wajah dinginnya yang terlihat sangat kaku itu.

Itu artinya Lifia akan dikurung oleh Defran jika Lifia

7/8

Pemaksaan
tidak menandatangi berkas itu sampai Lifia menyerah.

"Kalau aku laporkan ke polisi kamu menyandera aku gimana?" Tanya Lifia.

"Saya juga akan laporkan si Sayang..." ucap Defran membuat Lifia menelan ludahnya.

"Kamu nggak akan pernah menang melawan saya Lifia!" Ucap Defran tersenyum penuh kemenangan
dan itu sanga menyebalkan bagi Lifia.

"Kamu itu Mas, bisa-bisanya melakukan ini semua, apa kamu pikir aku itu nggak ada keluarga?" Tanya
Lifia kesal.

"Ada, kamu ada keluarga, saya ini keluarga kamu, buktinya kita sering tidur bersama dalam waktu yang
cukup lama," ucap Defran.

20

Komentar lainnya

Berikan Suara
8/8

Karena cinta.
Karena cinta
Lifia tidak punya banyak pilihan dan ia akhirnya segera menandatangi berkas yang sudah ia baca itu.
Defran memang kaku dan sulit baginya untuk berkata romantis atau mencoba merayunya seperti laki-
laki pada umumnya. Tapi Lifia yang tergila-gila dengan Defran ini, tidak akan melewatkan kesempatan
menjadi istri Defran Satyas.

Apalagi ia tidak sanggup melihat Defran bersama perempuan lain dan rasanya lebih sakit, ia lebih
memilih menjadi istri Defran dari pada membiarkan perempuan lain memiliki Defran Satyas.

Defran menatap wajah Lifia dengan tatapan datarnya dan ia mendekati Lifia lalu menangkup kedua pipi
Lifia.

"Bulan depan kita menikah!" Ucap Defran dan ia mengelus pipi Lifia dengan lembut. "Saya sudah banyak
memberi kamu kesempatan agar menjauh dari saya selama ini, tapi kamu yang keras kepala berulang
kali masuk kedalam kehidupan tenang saya, hingga saya terjebak. Karena ulah kamu, saya benar-benar
terjebak Lifia, jebakan kamu ini berhasil membuat saya tidak ingin melepaskan kamu! Hidup kamu itu
milik saya!" Ucap Defran terlihat seperti psikopat jika perempuan yang ada dihadapannya ini, tidak
mencintainya. Tapi sayangnya perempuan ini juga tergila-gila padanya, hingga ia merasa bahagia
mendengar kata-kata ancaman ini untuknya.

"Hidup kamu juga milik aku kan Mas?" Tanya Lifia tersenyum penuh arti membuat Defran menyetil dahi
Lifia dengan pelan. "Aku itu sayang banget sama kamu, Mas," ucap Lifia.

"Kamu tidak takut saya mengurung kamu dan mengekang hidup kamu?" Tanya Defran.

1/6

Karena cinta
"Kamu nggak sejahat itu sama aku," ucap Lifia dan ia yakin calon suaminya ini akan bersikap baik
padanya. Lifia tidak tahu jika langkah yang Defran ambil ini sengaja ia percepat untuk membuatnya
segera bertemu ayah kandung Lifia dan keluarganya.

"Sore ini kita ke rumah Marco, kamu mau mau ketemu Sandra?" Tanya Defran.

"Mau mas aku kangen banget sama Sandra lagian, aku

kan mau pergi ke Paris sama Sandra," ucap Lifia.

"Kamu izinkan aku ke Paris kan Mas?" Tanya Lifia.

"Nggak," ucap Defran.


"Please udah tanda tangan kontrak, aku nggak mau batalin ini Mas, ke Paris itu menjadi impian aku
kesana!"

Pinta Lifia.

"Akan saya pertimbangkan," ucap Defran.

2/6

Karena cinta
"Mas..." ucap Lifia kesal dan ia memeluk lengan Defran dengan erat.

"Percuma saja kamu membujuk saya, kalau ada tetap tidak ingin kamu pergi kamu bisa apa?" Tanya
Defran sinis membuat Lifia menghela napasnya. "Lagian kalau hanya pergi kesana itu impian kamu, saya
bsia mengajak kamu kesana kapanpun saya mau!" ucap Defran.

Lifia menyebikkan bibirnya dan ia menghela napasnya karena inilah resikonya menjadi perempuanya
Defran Satyas. Tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu membuat Defran merasa sangat terganggu, ia
paling tidak suka orang lain mengetuk ruangannya ini karean tuangan ini bukan ruangan yang bisa
dimasuki sembarang orang. Defran membuka pintu dan terlihat sosok perempuan yang menatap Defran
dengan tatapan penuh cinta.

"Mas Def," ucapnya dan Lifia tidak suka dengan permepuan yang saat ini menatap Defran dengan
tatapan mendamba. Apalagi sekarang ia bisa dnegan percaya diri mengklaim dirinya bukan pacaranya
Defran tapi calon istrinya Defran Satyas.

"Ada apa Dokter Soraya?" Tanya Defran dingin.

Soraya melihat sosok Lifia dan ternyata benar apa yang tadi ia dengar dari beberapa Karyawan rumah
sakit ini jika Defran sedang bersama permepuan cantik yang mirip dengan Lifia aktris terkenal yang
digosipkan dengannya. "Mas..kamu dan dia?" Tanya Soraya dengan ya tanya yang terdengar lirih.

"Iya, dia calon istri saya," ucap Defran membuat wajah Soraya memucat dan ia terlihat tidak menerima
jika Defran memilki calon istri dan itu bukan dirinya. Ada perasaan yang teramat kecewa mendengar
kabar ini.

"Kenapa Mas? Kenapa bukan aku?" Tanya Soraya dan telihat dengan jelas saat ini ia sangat marah
apalagi Defran menujukkan sikap yang berbeda kepada Lifia, terbukti Lifia

3/6

Karena cinta
diizinkan Defran berada didalam ruangannya ini dengan waktu yang lama.
Defran menatap Soraya dengan dingin, sekarang, dulu hingga kini ia selalu menghindari Soraya bahkan
ia tidak pernah memberikan kesempatan kepada Soraya, untuk berada didekatnya. Sebagai rekan kerja,
Defran menghargainya dan ia juga secara tegas selalu menolak Soraya yang berusaha memberi
perhatian padanya.

"Kamu bukan dia," ucap Defran dingin.

"Mas... saya mencintai kamu!" Lirih Soraya.

"Apakah pantas kamu mengatakan hal ini didepan calon istri saya?" Ucap Defran dan ia terlihat sangat
kesal saat ini.

"Jika semua perempuan yang mencintai saya, saya terima dengan alasan kasihan kira-kira ada berapa
istri saya?" Tanya Defran.

"Aku nggak mau dimadu," ucap Lifia menatap Defran dengan sendu. Inilah yang membuat Defran sangat
kesal jika berurusan dengan perempuan yang menyukainya kecuali Lifia, yang menurutnya sangatlah
lucu dan menggemaskan. Hanya Lifia satu-satunya perempuan yang membuat tidurnya sangat nyenyak
dan membuatnya merasa sangat nyaman, setiap kali beriteraksi dengannya.

"Kamu dengar? Calon istri saya tidak mengizinkan saya memiliki perempuan lain selain dirinya!" Ucap
Defran.

Sonya mendekati Lifia, ia menatap tajam Lifia dan ia ingin sekali menghancurkan Lifia saat ini juga, "Dia
hanya seorang aktris yang tidak memiliki kecerdasan apapun, dia tidak pantas bersama dengan kamu
Mas, kamu dan saya setara kita sama-sama dokter yang berpikiran luas," ucap Soraya.

"Jadi maksud kamu aku itu nggak pantas sama Mas

4/6

Karena cinta
Defran karena aku hanya Aktris yang kamu anggap bodoh, coba kalau kamu jadi saya apa kamu bisa
berakting seperti saya dan terkenal?" Tanya Lifia kesal. Menghina profesi orang lain sungguh sangat
keterlaluan apalagi selama ini ia berjuang keras dalam hal menujukkan bakat aktingnya hingga membuat
orang-orang terpukau. la bahkan telah banyak menerima penghargaan atas pencapaiannya dibidang
perfilman.

"Mas Defran lebih cocok bersama seorang dokter seperti saya!" Ucapnya.

"Tapi sayangnya Mas Defran maunya nikahin aku bukan kamu!" Ucap Lifia kesal dan ia memeluk lengan
Defran dengan erat. "Ayo pergi Mas!" Ajak Lifia karena ia benar-benar kesal dengan sosok Soraya yang
telah menghinanya dan mengatakan jika ia tidak pantas untuk Defran. Ucapan Soraya sangat memukul
dirinya karena apa mungkin ada banyak orang-orang yang juga mengatakan hal ini jika ia tidak pantas
untuk seorang Defran Satyas.
"Ayo kita pergi!" Ucap Defran. "Keluar dari ruangan saya! Atau kamu mau saya mengusir kamu dengan
suara yang sangat keras hingga membuat banyak orang mendengarnya?" Tanya Defran sinis. "Atau
kamu mau kehilangan pekerjaan yang kamu banggakan ini?" Ancam Defran membuat Soraya menelan
ludahnya dan seperti biasa Defran selalu saja bersikap seperti ini padanya.

"Mas...saya..." ucap Soraya. Namun Defran mendorong pelan tubuh Soraya, agar keluar dari ruangan ini.

Lifia menatap Defran yang saat ini kembali duduk dikursinya setelah ia berhasil mengusir Soraya.
"Kenapa kita belum pergi Mas?" Tanya Lifia bingung.

"Biar hubungan kita diketahui semua orang dan kamu akan dikenal sebagai calon istri saya," ucap
Defran. Sebenarnya ia yakin saat ini Soraya masih berada didepan,

5/6

Karena cinta
selama ini Defran memang telah menduga jika Soraya pasti akan berbuat nekat dengan datang
menemuinya, ketika ia bersama perempuan yang ingin ia nikahi. Apalagi Soraya telah menyebarkan
gosip mengenai dirinya yang memilki hubungan khusus dengannya. "Apa yang diucapkan Soraya jangan
pernah kamu percayai!" Ucap Defran.

"Iya Mas aku tahu, lagian dia itu hampir mirip sama aku, bodoh banget karena suka sama kamu," ucap
Lifia membuat Defran menatap Lifia dengan kesal.

28

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Kenapa bukan saya.


Kenapa bukan saya
Defran berhasil membuat semua orang akhirnya dengan berita mengenai kedekatannya dengan Lifia
Ayu artis cantik yang sangat terkenal. Apalagi saat ini ia memang meminta Lifia datang langsung untuk
menemuinya di Rumah sakit. Baginya sudah saatnya rumor mengenai kedekatannya dengan Lifia
bukanlah isapan jempol belaka dan nyatanya, ia memnag ingin segera menikahi Lifia. Kedekatannya
dengan Lifia ini juga untuk membuat orang itu berhenti menggunakan trik kotor untuk menyakiti Lifia,
apalagi dengan adanya Defran Satyas yang saat ini memiliki hubungan dengan Lifia, Defran harap orang
itu tidak akan berani untuk mengganggu Lifia lagi. Defran akan selalu melindungi Lifia dan ia akan
membuat orang itu menerima hukuman. Apa yang dilakukan mereka sungguh sudah sangat keterlaluan
dan Defran tidak akan memaafkannya.
"Mas sudah satu jam loh, mungkin dia sudah pergi!"

Ucap Lifia. la yakin Soraya akan segera pergi dari sini saat ini juga. "Aku itu pengen cerita banyak sama
Sandra Mas," ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran menutup berkas yang sejak tadi ia baca dan ia segera bediri membuat Lifia
tersenyum.

"Walaupun nanti si Tante cantik itu ada didepan, kita tetap pergi ya Mas!" Ucap Lifia. "Kalau bukan aku
itu harus menjaga wibawa kamu di Rumah Sakit ini, mungkin aku sudah maki dia karena kesal. Dia sok
pinter banget, aku tu ya Mas lebih milih akting karena aku suka, dari pada aku ambil s2. Aku itu capek
banget Mas belajar terus. Lagian nggak harus jadi dokter kan Mas biar setara sama kamu?" Ucap Lifia
kesal dengan ucapan Soraya tentangnya.

1/6

Kenapa bukan saya


Defran mengerutkan dahinya, sepertinya Lifia kepikiran dengan ucapan Soraya "Memangnya saya
pernah bilang sama kamu kalau saya mau istri saya dokter?" Tanya Defran dan ia menatap wajah cantik
Lifia dengan tatapan dingin.

"Nggak, Mas nggak pernah bilang tapi Mas pernah bilang kalau Mas itu nggak mau punya istri yang
pekerjaan Aktris, hmmm...aku kan aktris Mas," ucap Lifia sendu. Hal

itu yang membuatnya merasa sangat sedih dan patah hati selama ini hingga membuatnya merasa sangat
putus asa. Lifia merasa Defran benar-benar tidak menyukainya dan ia harus mengakhiri keinginannya
untuk menjadi istri Defran Satyas. Lifia berusaha melupakan Defran selama ini namun tetap saja ia tidak
bisa melupakan Defran. Ada banyak air mata yang ia teteskan karena kahwatir dan takut kehilangan
Defran Satyas.

2/6

Kenapa bukan saya


"Mau gimana lagi kalau yang saya inginkan menjadi istri saya sekarang itu, ternyata seorang Aktris,"
ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

"Mas.., walaupun aku aktris kan aku juga sudah menyelesiakan kuliahku, nilaiku juga bagus jadi aku
termasuk agak pintar juga kan Mas," ucap Lifia.

"Iya," ucap Defran singkat. Lifia tersenyum dan ia memeluk lengan Defran dengan erat lalu keduanya
melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini.

Lifia membuka mulutnya karena ketika ia keluar bersama Defran dari ruangan ini, ternyata perempuan
bernama Soraya itu masih berada disini. la terlibat pembicaraan dengan Kana yang ternyata juga sedang
berada di Rumah Sakit ini. Lifia melepaskan tangannya yang memeluk Defran Satyas dan ia mendekati
Kana, lalu mengulurkan tangannya. "Mbak..." ucap Lifia tersenyum malu dan ia mencium punggung
tangan Kana.

"Buat hebo satu Rumah Sakit kalian ini," ucap Kana dan ia menghela napasnya. Tadi ia sangat terkejut
mendengar Defran membawa seorang perempuan cantik masuk kedalam ruangannya dengan waktu
yang cukup lama, ia sudah bisa menduga siapa yang berada diruangan Defran, apalagi mereka
mengatakan wanita cantik itu seorang aktris.

"Dokter Kana kenal sama... maksudku ini artis tiba-tiba datang menemui Mas Defran dan dia nggak
keluar dari ruangan Mas Defran sejak tadi," ucap Soraya kesal.

"Saya sangat mengenal Lifia dia adik saya," ucap Kana membuat orang-orang yang ada disekitar mereka
saling berbisik. Selama ini Lifia memang mengenalkan Kiran sebagai kakaknya, tapi ia juga mengatakan
jika ia memiliki kakak perempuan lainnya yang berprofesi sebagai sorang Dokter.

3/6

Kenapa bukan saya


Lifia membisikkan sesuatu ditelinga Kana membuat Kana tersenyum dan ia mengelus kepala Lifia dengan
lembut. "Ya sudah nanti Mbak telepon kamu!" Ucap kana.

"Iya Mbak," ucap Lifia.

Defran seperti biasanya hanya melirik sekilas Kana, lalu ia segera melangkahkan kakinya melewati
koridor rumah sakit bersama Lifia. Hampir semua keluarga terbiasa dengan sikap tidak ramahnya
Defran, namun mereka tahu seorang Defran Satyas, tidak bermaksud seperti itu. Defran yang normal
memang memperlakukan siapapun seperti ini dan sekarang Defran yang tidak normal bagi Kana yang
sengaja menujukkan kedekatannya dengan Lifia. Bahkan Defran membiarkan tangan Lifia bergelayut
manja dilengannya. Sungguh pemandangan aneh yang luar biasa yang ditunjukkan Defran Satyas hari ini
padanya.

Saat ini Lifia dan Defran telah masuk kedalam mobil dan Defran melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang menuju Kediaman Marco Laksamana Dewandaru. Marco masih marah padanya dan itu jugalah
yang membuat Defran sengaja mengajak Lifia untuk datang ke Kediaman Marco. "Mas nanti kita mampir
ke tempat Ibu dan Ayah ya Mas!" Pinta Lifia. "Atau kita menginap saja disana gimana, Mas?" Tanya Lifia
lagi.

"Kalau menginap disana kamu nggak bisa tidur sekamar sama saya," ucap Defran.

Lifia. "Kamu kan bisa tidur dikamarnya Altaf Mas," ucap

"Kalau nanti ada penguntit tiba-tiba masuk kedalam kamar kamu bagaimana?" Tanya Defran membuat
Lifia membuka mulutnya dan ia menelan ludahnya karena ucapan Defran itu benar.

Sebenaranya Defran hanya tidak ingin menginap


4/6

Kenapa bukan saya


disana dan ia bisa saja tidak mendapatkan tidur nyenyaknya. Selama tinggal bersama Lifia, ia mampu
beristirahat dengan tenang sampai pagi. la bahkan lupa dengan buku-buku yang selama ini sangat sering
ia baca karena tergoda dengan sosok Lifia yang berada diranjangnya. Untung saja perempuan yang ada
disebelahnya ini memilki kebiasan tidur yang sangat nyenyak hingga pagi. Apalagi Lofia tidak akan sadar
ketika ia tdiur ia berada disampingnya sepanjang malam bahkan tidur sambil memeluknya.

"Tapi kan Mas aku rindu sama Ibu dan Ayah, aku juga rindu kamarku disana Mas," ucap Lifia.

"Nanti saja kalau sudah menikah dengan saya kita bisa sering menginap di Rumah Ibu dan Ayah, kalau
sekarang alasan apa kamu bisa sekamar dengan saya disana?" Ucap Defran membuat Lifia menelan
ludahnya dan ia setuju dengan ucapan Defran jika ia menginap di Rumah orang tuanya, ia akan tidur
terpisah.

Lifia menatap Defran dengan tatapan menilai, entah mengapa semakin hari sikap ia Defran berbeda
dengan sikapnya yang sebelumnya. la bingung apa Defran menikahinya hanya dengan alasan demi
melindunginya atau bahkan bukan cinta. Tapi dilihat dari alasan Defran melakukan semua ini demi
dirinya, ia cukup bangga karena Defran ternyata sangat baik padanya.

"Mas hmmm...nanti kalau penjahatnya tertangkap dan kita belum menikah aku kan bisa pulang ke
Rumah orang tuaku lebih sering Mas!" ucap Lifia lagi karena ia ingin memastikan Defran, akan menjawab
apa tentang pernyataannya ini.

"Kamu hanya bisa menginap di Rumah orang tua kamu, jika kita sudah menikah!" Ucap Defran. Akan
merepotkan baginya jika ia harus menyelinap dikamar Lifia yang berada di Kediaman orang tua Lifia.

5/6

Jangan ya Mas.
Jangan ya Mas
Tanpa terasa saat ini mereka telah sampai di gerbang kediaman Marco Laksamana Dewandaru. Terlihat
jika saat ini gerbang dijaga oleh tiga orang satpam. Defran membuka kaca mobilnya dan tiga orang
satpam itu sepertinya tidak mengizinkannya, masuk membuat Defran mengambil ponselnya lalu ia
menghubungi Marco.

"Buka pintu sekarang juga atau kau akan menerima akibatnya!" Ucap Defran dingin. "Kamu mau saya
melaporkan kamu atas semua tindakan gila kamu.

Sekarang saja Sandra tidak kamu izinkan bebas dan kamu itu melanggar hukum, Marco!" Ucap Defran
dingin.
Marco mematikan ponselnya membuat Defran kesal,

jika Marco tidak mengizinkannya masuk ia akan akan memaksa masuk, walaupun harus dengan cara
kekerasan. Pintu gerbang terbuka lebar dan satpam mempersilahkan Defran untuk masuk, Lifia sempat
terkejut melihat ekspresi marah Defran dan ia tidak ingin Defran bertengkar dengan Marco saat ini.
"Mas kamu jangan bertengkar di Rumah orang Mas, nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku
gimana?" Tanya Lifia membuat Defran mengangkat sebelah alisnya, sepertinya Lifia memang belum
mengenal siapa dirinya dan Lifia pasti akan terkejut jika melihat betapa menakutkannya dirinya ketika ia
marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.

"Kamu tidak usah lihat saya bertengkar dengan Marco!" ucap Defran.

"Nggak bisa begitu dong Mas, aku nggak mau kamu terluka!" Ucap Lifia.

"Marco yang akan terluka bukan saya Lifia!" Ucap Defran membuat Lifia menghela napasnya.

1/6

Jangan ya Mas
Lifia. "Pokoknya kamu nggak boleh berkelahi!" Ucap

"Meskipun saya membantu Sandra agar bisa keluar dari rumah ini?" Tanya Defran.

Lifia. "Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik, Mas!" Ucap

Defran memilih diam dan ia menghentikan mobilnya diparkiran. Keduanya keluar dari dalam mobil dan
Lifia memeluk lengan Defran dengan erat lalu keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Seorang maid menyambut kedatangan mereka dan terlihat sosok Marco sedang duduk santai sambil
memangku Dikta. "Bik, bawa Dikta ke Pavilium belakang Bik!" Ucap Marco.

"Dikta mau sama Mama, Pa!" ucap Dikta.

"Nanti sore!" Ucap Marco. Pengasuh Dikta segera membawa Dikta menjauh dari mereka sesuai dengan
perintah Marco.

Lifia menatap Marco dengan tatapan penasaran, kemana sosok Sandra jika Dikta ingin bertemu dengan
Sandra sore nanti. "Sandra dimana Mas Marco?" Tanya Lifia penasaran.

"Ada," ucap Marco dan ia terlihat kesal saat matanya menatap sosok Defran yang merupakan
penghianat baginya.

"Marco, dimana Sandra?" Tanya Defran dingin dan ia ingin memastikan agar Marco bisa
mempertemukan Sandra dengan Lifia.

"Untuk apa? Bukannya kamu ingin bertemu denganku dan menjelaskan ketololan kamu karena telah
membuat saya bertengkar dengan Handaru," ucap Marco kesal.
"Wah berani sekali kamu..." ucap Defran dan ia ingin mendekati Marco membuat Lifia membuka
mulutnya dan ia segera memeluk tubuh Defran.

2/6

Jangan ya Mas
"Mas please!" Pinta Lifia dengan suarnya yang lirih.

"Jangan bertengkar Mas!" Pinta Lifia menatap Defran dengan sendu.

"Mana Sandra? Jangan membuat saya melibatkan mereka untuk membuat konflik diantara kita pecah!
Kamu tahu akibatnya Marco dan ingat disini yang salah siapa?" Tanya Defran sinis.

"Saya memang bersalah tapi yang lebih bersalah lagi

itu kamu, saya minta waktu sedikit saja agar saya bisa memberitahukan tentang masalah saya ini pada
Handaru, Def tapi kamu menceritakan semuanya kepada Handaru," kesal Marco.

"Kamu tahu Handaru akan lebih murka lagi jika saya yang telah tahu tentang masalah kamu ini, hanya
diam saja tanpa memberitahu dia lagian seberntar lagi Handaru bukan hanya akan jadi sahabat saya
Marco, tapi dia akan

3/6

Jangan ya Mas
menjadi saudara ipar saya!" Ucap Defran. Biasanya Lifia akan tersneyum senang mendengar Defran
mengatakan Handaru akan menjadi suami Kiran yang artinya jika ia menikah nanti, Defran akan menjadi
ipar bagi Handaru.

"Gila..kamu memang gila, kamu pikir saya ini bukan sahabat kamu hingga kamu berpihak kepada
Handaru," ucap Marco prustasi. "Kita Emha adaah sahabat Defran ingat itu!" Ucap Marco sangat kesal
saat ini.

"Ini bukan karena saya harus berpihak kepada siapa, tapi kita sama-sama ingin menyelesaikan masalah
kamu Marco. Buktinya sampai saat ini Handaru tidak memberitahukan masalah ini kepada Papimu dan
Albiseka Dewandaru," ucap Defran membuat Marco menghela napasnya. Handaru memang tidak
melakukan apapun saat ini dan ia memberikannya waktu untuk menyelesaikan semuanya.

"Dimana Sandra?" Tanya Defran lagi dengan nada yang terdengar amat dingin. Lifia terlihat ketakutan
dan itu membuat Defran menghela napasnya "Saya tidak akan bertengkar dengan Marco!" Ucap Defran.

Lifia. "Jangan pukul-pukul pokoknya ya Mas!" Ucap


"Iya," ucap Defran dan ia mengalihkan pandangannya menatap Marco "Apa saya harus bertanya sekali
lagi sama kamu?" Tanya Defran sinis dan terlihat saat ini Defran seolah mengancam sedang Marco
dengan tatapannya.

"Dia ada dikamarnya dan saya memang membatasi Dikta untuk bertemu Mamanya!" Ucap Marco.

"Kenapa? Kamu mengurung Sandra?" Tanya Lifia.

"Ya..saya mengurungnya, dia menolak menikah dengan saya dan dia juga menolak memberikan Dikta
kepada saya," ucap Marco.

"Astaga Mas Marco kenapa kayak gitu, kan kasihan

4/6

Jangan ya Mas
Sandra," ucap Lifia.

"Kamu hanya kasihan sama Sandra tapi kamu nggak kasihan sama saya," ucap Marco kesal.

"Ngapain juga kasihan sama kamu Mas, kamu bisa mendapatkan uang yang banyak dengan bekerja
menjadi dokter dan selama ini, kamu terlihat bahagia dengan banyak perempuan disekitar kamu Mas,"
ucap Lifia kesal. "Sandra berjuang seorang diri membesarkan anaknya, jika aku hamil sendirian seperti
itu mungkin aku juga akan merasa marah dengan laki-laki yang menghamili aku," ucap Lifia dan ia
menatap kearah Defran.

"Saya tidak seperti itu," ucap Defran kesal.

"Iya Mas aku tahu," ucap Lifia dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi karena jika ia hamil, Defran harus
bertanggung jawab memberikan kasih dan sayangnya kepada istri dan anaknya.

"Kamu tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada saya dan Larisa, saya ingin segera menikahinya tapi
dia menolaknya. Dia tidak mengizinkan saya menjadi Papanya Dikta, kalau saya melepaskannya begitu
saja, dia akan bersama laki-laki lain dan bagaimana dengan hidup saya," ucap Marco. Apapun yang
terjadi, ia tidak akan pernah melepaskan Larisa Sandara Davis.

"Larisa milik saya dan kamu pikir mudah untuk melepaskannya setelah beberapa tahun ini saya selalu
mencari dia. Ada anak atau tidak, saya memang tidak akan pernah melepaskan Larisa, saya hanya
menggertaknya selama ini," ucap Marco. "Kamu bisa keatas untuk menemuinya dan bujuk dia agar mau
menikah dengan saya!" Ucap Marco.

Lifia menatap Defran dan ia menggerakkan lengan Defran. "Mas...aku kesana dulu ya Mas!" Pinta Lifia
karena Marco memberikan kesempatan padanya untuk bertemu Sandra dan ia tidak akan melewatkan
kesempatan ini.

5/6
Jangan ya Mas
"Oke," ucap Defran.

Lifia melangkahkan kakinya mengikuti maid yang diperintahkan Marco, untuk mengantarnya menuju
kamar Sandra. Saat ini hanya Marco dan Defran yang sedang saling menatap dengan dingin, namun
percuma saja Marco menujukkan sisi kekesalannya saat ini, karena seorang Defran Satyas tidak akan
pernah mengalah padanya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Tidak bisa melepaskannya.


Tidak bisa melepaskannya
Defran menatap sinis Marco membuat Marco pun menatapnya dengan tatapan tak kalah sinisnya.
Keduanya terlihat sangat kesal satu sama lainnya, selama ini Marco selalu mengalah karena bertengkar
dengan Defran hanya akan membuang tenaganya. Defran terlihat dominan, egois, dan sombong namun
dibalik sikapnya itu, Defran satu-satunya sahabatnya selain Elang yang akan berada digarda depan ketika
ia mengalami kesulitan. Defran pasti sengaja membuat Handaru mengetahui masalahnya ini, juga
karena memikirkan keadaannya selama ini.

"Sudahlah...bertengkar denganmu hanya akan membuang waktuku!" ucap Marco kesal.

"Bagus kalau kamu sadar," ucap Defran dingin.

"Selama ini kamu sangat hebat dalam menasehati kita soal cinta dan bukannya kamu sangat pintar
dalam hal merayu perempuan?" Tanya Defran sinis.

"Justru itu yang aneh perempuan yang saya cintai ini Def, sudah banyak kata-kata manis yang saya
katakan seperti biasanya tapi dia nggak akan percaya kalau saya itu sebenarnya bukan seorang Playboy,"
ucap Marco.

Marco memang pintar sekali berkata manis kepada setiap perempuan yang berada didekatnya, ia
terlihat lembut dan penyayang hingga membuat para perempuan jatuh cinta padanya, namun tidak
dengan Larisa. Selama ini Larisa bahkan selalu menghindarinya hingga itu membuat sosok Marco tertarik
dengan sikap Larisa yang seperti itu padanya.

"Tapi semua tamu kamu Playboy," ucap Defran.

"Hanya Larisa perempuan yang pernah saya tiduri," ucap Marco.


1/7

Tidak bisa melepaskannya


"Benarkah?" Tanya Defran sinis seolah tidak percaya dengan ucapan Marco. Setahunya Marco bahkan
sering kali menghabiskan waktunya di Club, tapi memang Marco sangat kuat minum dan ia belum
pernah mabuk didepannya selama ini. Jika pin terlihat mabuk biasanya Marco hanya berpura-pura
mabuk. Sedangkan ia dan Serkan memang tidak suka minum seperti Marco.

"Kamu tega sekali tidak percaya dengan saya, Def," ucap Marco kesal.

"Saya percaya," ucap Defran.

"Sulit bagi saya membuatnya percaya dan saya bingung harus melakukan apa lagi agar dia percaya
kepada saya Def, saya hanya bisa mengurungnya dikamar agar membuat terpaksa menikahi saya, Def,"
ucap Marco. la bahkan sengaja tidak menemui Sandra agar tidak perlu berkomunikasi dengan Sandra
dan ia berharap Sandra yang bosan dikurung dikamar akan segera setuju untuk menikah dengannya.

"Kalau dia sudah setuju menikah dengan saya, saya tinggal memohon maaf kepada Papi, kehadiran Dikta
pasti bisa membuat Papi memaafkan saya," ucap Marco. la bingung harus melakukan apa ketika nanti
mengatakan hal ini kepada kedua orang tuanya. Apalagi ia tahu Papinya sangatlah disiplin padanya dan
kemungkinan ia akan mendapatkan hukuman berat, bahkan mungkin bukan hanya pukulan oleh Papinya
yang akan ia peroleh nanti.

"Bagiamana hubunganmu dengan Lifia?" Tanya Marco.

"Kau tidak usah mengkhawatirkan hubungan saya dengan Lifia, tapi khwatirkan hubunganmu dengan
Larisa!" sinis Defran.

"Sebagai sahabat, saya juga mengkhawatirkan hubungan kamu yang nggak ada kemajuan dengan Lifia,

2/7

Tidak bisa melepaskannya


kamu terlihat tidak suka dengannya tapi sebenarnya kamu menginginkannya, kamu itu laki-laki aneh
Defran," ucap Marco.

"Kamu mau dengar saranku?" Tanya Defran menatap Marco dengan tatapan seriusnya.

"Jangan bilang kau akan menyarankanku untuk meniduri Larisa lagi, hingga dia hamil anak kedua kami,
kalau saya melakukan itu saya benar-benar tidak akan

hidup tenang karena Papi pasti akan menarik semua fasilitas yang ia berikan kepada saya termasuk
janjinya yang ingin membantu saya memiliki rumah sakit impian saya," ucap Marco.
Selama ini Marco bahkan hidup berhemat dan ia tidak menghambur-hamburkan uangnya kecuali
membayar orang-orang untuk mencari Larisa. Marco ingin memilki rumah sakit dan ia ingin
mendedikasikan hidupnya untuk

3/7

Tidak bisa melepaskannya


dunia kesehatan, hingga menolong orang-orang yang membutuhkan untuk mendapatkan fasilitas
kesehatan yang layak.

"Kamu mau mendengar saran saya atau tidak? Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa!" Ucap Defran
menatap Marco dengan dingin. "Saran saya bukan dalam hal mempergunakan burungmu dengan baik
untuk berkembang biak. Gunakan otakmu agar bisa mengikatnya perlahan!" Ucap Defran.

"Jelaskan secara detail Def!" Pinta Marco melipat kedua tangannya bersiap mendengar saran dari
Defran.

"Buat dua perjanjian, satu perjanjian palsu yang isinya tentang kontrak pernikahan kalian sesuai yang dia
inginkan tapi minta ia mendatangi kertas kosong yang memilki jarak cukup jauh dibawahnya untuk
meletakkan tanda tangan Larisa. Nanti kamu tinggal menuliskan diatas lembar kosong yang ada tanda
tangan Larisa tentang kontrak lanjutan. Kamu bisa menuliskan poin lanjutan seperti semua isi kontrak
akan diubah sesuai dengan kesepakatan pihak pertama yaitu kamu!" Ucap Defran.

"Wah...itu licik sekali Def," ucap Marco sinis.

"Larisa itu keras kepala, perempuan mandiri yang bisa saja hidup tanpa kamu, berbeda dengan calon
istri saya yang tidak akan bisa bahagia tanpa saya karena saya ini calon suami terbaik yang bisa
membahagiakan dia. Hanya saya yang bisa membuat Lifia bahagia tidak seperti kamu yang tidak dicintai
Larisa," ucap Defran membuat Marco mengeraskan rahangnya. la tahu Larisa tidak menyukainya, tapi
haruskan Defran mengatakan hal ini secara lantang padanya, sungguh Defran Satyas sangatlah
menyebalkan.

"Kamu bahkan memilih menidurinya untuk

4/7

Tidak bisa melepaskannya


mendapatkannya, bahkan sengaja tidak menggunakan pengaman. Seorang dokter dewasa seperti kamu
tidak mungkin ceroboh dan kamu bukan sosok yang tidak bisa menahan hawa nafsu kamu Marco," ucap
Defran.

Marco menghembuskan napasnya dan ia menatap Defran dengan tatapan kesal. "Kamu tidak tahu saja
bagaimana dia merayu saya dan saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyentuhnya Def, dia
begitu seksi. Jika Lifia merayu kamu saya yakin kamu juga tidak akan tahan apalagi saat itu Larisa
membuka pakaiannya didepan saya, wah itu surga Def...surga. Kalau perempuan lain melakukan itu
didepan saya...si uler berisi banyak kecebong ini nggak akan meronta untuk dikeluarkan," jelas Marco
membuat Defran menyunggikan senyumannya.

"Pertimbangkan apa yang saya sarankan Marco!

Perempuan seperti Larisa memang sulit ditaklukan tapi bukan berati tidak bisa, don juan seperti kamu
sangat mudah melakukannya. Yang kamu pikirkan sekarang kamu tidak mau mengambil resiko hingga
membuat Larisa bebas dan dia pergi lagi dari hidup kamu," ucap Defran membuat Marco berpikir keras
saat ini dan sepertinya ia memang harus menawarkan pernikahan kontrak kepada Larisanya.

Sementara itu saat ini Lifia sedang memeluk Larisa alias Sandra dengan erat dan kedunya memang
sangat merindukan satu sama lainnya. Lifia melihat Sandra

terlihat lebih kurus dari pada sebelumnya dan ia merasa kasihan kepada Sandra. "Sulit bagi aku untuk
keluar dari sini Lifia, bagaimana aku bisa menemani kamu ke Paris kalau Marco mengurungku disini,"
ucap Sandra sendu. "Untung saja aku masih bisa bertemu dengan Dikta disini," lirih Sandra dengan
suaranya yang bergetar menahan tangis.

"Apa kamu tidak bisa memohon kepada Mas Marco

5/7

Tidak bisa melepaskannya


agar dia membebaskan kamu?" Tanya Lifia.

"Sudah saya lakukan tapi dia tidak mau membebaskan aku selama aku menolak menikah dengan dia,"
ucap Sandra.

"Apa kamu tidak mencintainya dan kamu sangat membencinya?" Tanya Lifia. Sandra menghela
napasnya ia menatap Lifia dengan sendu.

"Dia Playboy kurang ajar Lifia, aku nggak mau nanti setelah menikah dengannya akan ada permepuan
yang datang dan mengaku memiliki anak sepertiku, aku nggak siap!" Lirih Sandra.

"Tapi kalau dia berubah bagaimana? Bisa saja Mas Marco itu tidak seperti yang kamu duga Sandra, dia
mencintai kamu buktinya dia mencari kamu selama ini," ucap Lifia.

"Jangan mudah percaya mulut lelaki Lifia, apalagi mulut lelaki yang terbiasa berkata manis seperti
Marco!" ucap Sandra.

"Bagaimana kalau kalian mencoba saja menikah Sandra, demi status Dikta. Paling tidak Dikta akan
memilki akte lahir yang jelas maksudku dia memiliki seorang ayah. Kalau nanti kamu ingin bercerai dari
Mas Marco, kamu bisa mengajukan perceraian dengannya," ucap Lifia.
"Jika aku menikah dengannya aku nggak yakin bisa melepaskannya dan mungkin aku harus bersiap
menghadapi perempuan lain yang mungkin akan datang, lalu mengaku memiliki hubungan kusus
dengannya. Aku bisa saja gila Lifia, aku menginginkan kehidupan rumah tangga yang berjalan tanpa ada
orang ketiga dalam rumah tangga kami. Yang aku jaga itu mental anakku, aku sangat bodoh karena
terjebak dengan laki-laki Playboy seperti Marco," ucap Sandra dan tanpa sadar ia meneteskan air
matanya.

6/7

Jangan pergi lagi.


Jangan pergi lagi
Defran dan Lifia pamit pulang setelah pembicaraan mereka yang cukup panjang, Sandra berjanji akan
berusaha keras agar bisa pergi bersama Lifia ke Paris karena Paris telah keduanya nantikan untuk pergi
bersama sejak beberapa bulan yang lalu. Sandra memang sangat terpukul dengan apa yang terjadi
padanya, hingga ia harus terkurung dirumah mewah ini. Hidup bak burung disangkar emas dan ia tidak
bisa terus begini. Sandra menatap pintu kamarnya yang kembali terkunci dan siapnya ia pun tidak
diberikan ponselnya pada jam-jam seperti ini. Matco membatasi semua aksesnya dan itu sangat
menyebalkan baginya yang terbiasa hidup bebas.

Sandra mengetuk pintu dengan kencang, agar Marco mendengar teriakannya. "Marco buka...buka
pintunya Marco...!" teriak Sandra, namun tidak ada tanda-tanda jika pintu ini akan terbuka. Sandra
menghembuskan napasnya dan ia mencari barang-barang yang ada dikamarnya ini yang bisa
mengelurakan suara yang cukup keras, ia tertarik pada pintu menuju balkon yang terbuat dari kaca dan
tanpa banyak berpikir, Sandra mengambil vas yang ada diatas nakas dan ia melemparnya ke pintu kaca
dengan kencang hingga menimbulkan suara yang keras.

Marco yang sedang berada diluar segera mempercepat langkah kakinya menuju kamar Sandra dan ia
segera membuka pintu kamar, ia melihat Sandra sedang berada balkon dan ia berhasil membuka pintu
kamar menuju balkon. "Mau kemana kamu? Mau kabur lagi?" Tanya Marco dingin dan ia menatap
Sandra dengan tatapan tajam, entah apa yang ada dipikirkan Sandra hingga ia ingin pergi darinya lagi
dan itu membuat Marco prustasi.

1/7

Jangan pergi lagi


"Iya, aku mau pergi dari sini, apa hak kamu mengurung aku disini Marco, kamu tidak punya hak!" Ucap
Sandra dingin.

Marco menarik tangan Sandra dan ia menyeret Sandar hingga masuk kembali kedalam kamar. Marco
bahkan tidak peduli ketika lengannya terkena pecahan kaca saat melewati pintu kaca yang terdapat sisa
pecahan kaca. Sandra memberontak dan ia mencoba menghajar Marco, terjadilah perkelahian antara
keduanya. "Kamu pikir kamu bisa menang melawan saya Sandra, ingat! Saya ini siapa..." ucap Marco
dingin. Marco jugalah yang pernah menjadi guru pelatih ilmu bela diri di universitas mereka dulu, tentu
saja Marco lebih hebat dari dirinya. Dandra berhasil mengenai lengan Marco yang terluka lalu ia
mempercepat langkah kakinya keluar dari balkon.

Marco menghela napasnya dan ia ingin mendekati Sandra, Sandra segera menaikkan satu kakinya
dipagar pembatas yang ada dibalkon ini. "Kalau kamu mendekati aku, aku akan melompat!" Ancam
Sandra.

"Kamu mau bunuh diri? Tega sekali kamu sama anak kita, sebenci-bencinya kamu sama saya kamu harus
tetap pikirkan bagaimana keadaan Dikta, jika ia harus kehilangan Mamanya. Astaga Sandra jahat sekali
kamu, kalau kamu mau mati dengan cara bunuh diri kamu akan membuat hidup anak kita menderita.
Mamanya mati bunuh diri, lalu untuk apa kamu melahirkannya ke dunia ini jika hanya ingin
membuatnya menjadi seorang anak tidak memiliki Mamanya karena Mamanya lebih memilih bunuh diri
dari pada membesarkannya. Saya mohon berhenti egois mari kita berdamai secara baik-baik!" Pinta
Marco prustasi.

Sandra mengerjapkan kedua matanya dan ia melihat sosok Marco yang sangat khawatir padanya atau
khawatir jika anaknya akan menderita karena kehilangan dirinya. "Larisa..." kesal Marco.

2/7

Jangan pergi lagi


"Mama..."

"Dikta..." lirih Sandra, ia terkejut ketika melihat dari lantai dasar ada Dikta yang memanggilnya.

"Mama..." panggil Dikta membuat Sandra mengalihkan pandangannya dan Marco segera mendekatinya
lalu memeluknya dari belakang.

Sandra tekejut namun ia segera mengubah ekspresi wajahnya ketika Dikta menatapnya dengan tatapan

kahwatir, apalagi Dikta tiba-tiba menangis. "Loh kenapa memangis, ini Mama sama Papa mau turun
makan malam sama Dikta," ucap Sandra mencoba menenangkan Dikta.

"Mama hiks...hiks...Mama..." tangis Dikta.

"Bik, bujuk Dikta ya...nanti saya turun sama Papanya kebawah!" Teriak Sandra kepada pengasuh Dikta.

3/7

Jangan pergi lagi


Marco menghela napasnya dan ia membisikkan sesuatu ditelinga Sandra. "Puas kamu melihat anak kita
menangis seperti itu karena ulah kamu?" Tanya Marco dingin.
"Gila kamu Mas," ucap Sandra dan ia ingin menangis saat ini juga karena ia menyesal membuat putranya
itu menangis.

"Apa salahnya kita menikah Sandra? Kalau kamu tidak percaya sama saya kita menikah dengan kontrak,
demi anak kita!" Ucap Marco. Sandra menelan ludahnya dan ia menatap Marco dengan dingin.

"Kontrak?" Tanya Sandra dengan suara rendahnya.

"Ya..kontrak, kamu bebas menentukan apa yang kamu inginkan asalkan kita menikah," ucap Marco.

"Termasuk tidak ada hubungan seks diantara kita?" Tanya Sandra.

"Ya...terserah kamu," ucap Marco kesal.

"Tidak ada wanita lain?" Tanya Sandra.

"Ya, anggap saja ini hukuman bagi saya tidak menyentuh kamu dan tidak bisa memilki wanita lain," ucap
Marco dan lagi-lagi ia sangat kesal. Marco sebenarnya tidak akan bisa memenuhi syarat untuk tidak
menyetuh Sandra dan ia akan melakukan hal licik seperti apa yang disarankan Defran padanya.

"Oke tapi, izinkan aku pergi ke Paris bersama Lifia!" Pinta Sandra.

"Oke," ucap Marco. "Kita menikah malam ini juga ya!" Ucap Marco dan ia mengeratkan pelukannya.

"Gila kamu Mas," ucap Sandra kesal.

"Saya sudah menghubungi ayah kandung kamu dan dia akan kemari dalam waktu tiga puluh menit,
paling tidak kita akan nikah dulu disini dan nanti baru kita

4/7

Jangan pergi lagi


pikirkan bagaimana menghadapi orang tuaku!" ucap Marco.

"Maksud kamu, kamu telah menemui Papiku? Kapan?" Lirih Sandra.

"Sudah sejak lama, tapi saya kembali bertemu dengannya lagi seminggu yang lalu" ucap Marco.

"Apa yang kamu janjikan padanya?" Lirih Sandra.

"Uang," jujur Marco. "Saya tidak ingin berbohong lagi sama kamu dan sejujurnya saya katakan jika saya
telah memberikan Papimu sejumlah uang agar beliau bersedia menikahkan kita!" Ucap Marco.

"Tadinya dia tidak mau menikahkan kita, tapi karena uang dia bersedia menikahkan kita," lirih Sandra.

"Ya...kamu pikir selama ini saya tidak berhubungan dengan keluargamu? Saya mencarimu Larisa, saya
sudah menjadi menjadi calon suami kamu sejak lama, dan enam tahun yang lalu saya telah melamar
kamu," ucap Marco.
"Itu sebabnya perusahaan Papiku belum bangkrut," lirih Sandra. Selama ini ia sengaja pergi tanpa kabar
karena Papinya menghubunginya, ketika ia kuliah diluar negeri untuk memintanya pulang dan menikah
dengan rekan bisnisnya, agar bisa membantu investasi diperusahaannya.

Harga diri Sandra benar-benar telah terjual demi sejumlah uang karena keluarganya dan Marco akan
melakukan apa saja demi mendapatkannya. Setidaknya Marco yang akan menjadi suaminya, bukan
lelaki tua yang dulu dijodohkan keluarganya padanya. "Kalau kita menikah aku tidak mau berhubungan
dekat dengan keluargaku apakah bisa?" Tanya Sandra.

"Oke, apapun itu, kita hanya butuh Papimu untuk menikahkan kita secara hukum dan agama,
pernikahan kita bukan pernikahan sirih karena saya sudah mendaftarkan

5/7

Jangan pergi lagi


berkasnya sejak lama. Setelah menikah kita akan menemui kedua orang tuaku, kamu tenang saja
mereka akan menerimamu!" ucap Marco.

"Tidak perlu menandatangi perjanjian kontrak pernikahan apapun!" Ucap Sandra. "Tapi aku tetap belum
mau disentuh oleh kamu!" Ucap Sandra.

"Oke..." ucap Marco tersenyum senang. Belum dan itu artinya nanti Larisanya ini akan bersedia ia
sentuh. la hanya membutuhkan waktu agar bisa mendapatkan hati Larisa Sandra Davis agar bisa benar-
benar menjadi istrinya.

Sandra menarik tangan Marco agar melepaskan pelukkannya. la segera keluar dari pintu kamar ini dan ia
tekejut karena ternyata masih ada Lifia yang berada di rumah ini. "Kamu belum pulang Lifia?" Tanya
Sandra tekejut.

"Belum, soalnya Mas Defran katanya akan menjadi saksi nikah kalian, aku kan itu sekarang dimana Mas
Defran, disitu ada aku Sandra," ucap Lifia tersenyum senang. "Ayo kita bersiap sebentar lagi Pak
penghulu akan kemari, ya ampun kamu duluan nikah Sandra. Tadinya aku tekejut banget karena Mas
Marco bilang rencanya memang hari ini kalian menikah," ucap Lifia membuat Sandra menghela
napasnya.

Marco memang telah menyusun rencana pernikahan ini jauh hari dan ia akan memaksa Sandra dengan
berbagai ancaman agar Sandra mau menikah dengannya hari ini. Pernikahan ini akan dilakukan setelah
magrib, ia bahkan telah meminta izin Handaru kakak sulungnya itu. Tapi Handaru sengaja tidak akan
datang ke acara ini dan jika ia datang, ia akan ikut terkena hukuman karena ia tidak memberitahukan
kedua orang tuanya mengenai kenakalan adiknya ini.

6/7
Memangnya boleh.
Memangnya boleh
Persiapan pernikahan dilakukan secara cepat dan saat ini acara akad nikah sedang berlangsung. Marco
memang telah menyiapkan acara ini dan ia tak peduli dengan pendapat Sandra karena ia akan memaksa
Sandra dengan cara apapun. Untung saja Sandra akhirnya setuju menikah dengannya dan ia hanya perlu
membujuk Sandra untuk berbaikan dan benar-benar menjadi istrinya. Mungkin sekarang Sandra masih
membencinya, namun ia yakin suatu saat ia bisa membuat istrinya ini mencintainya dan menerimanya
sebagai suaminya.

Lifia tersenyum melihat Sandra telihat sangat cantik hari ini, meskipun hanya memakai kebaya
sederhana namun aura kecantikan Sandra yang anggun sangat menganggumkan. Lifia duduk disamping
Sandra, ia menatap Defran yang seperti biasa terlihat serius dan itu membuatnya semakin tampan.
Acara akad nikah berlangsung sangat cepat dan saat ini Marco dan Sandra telah menandatangani berkas
yang telah disiapkan oleh pihak KUA. Marco tahu setelah ini ia akan menghadapi badai lebih besar lagi
karena kemarahan Papinya padanya bisa membuatnya pusing.

Sandra menghela napasnya karena Papinya sama sekali tidak mengajaknya berbincang dan ia telihat
sangat dingin kepadanya. Hubungan ia dan Papinya telah lama memburuk(apalagi setelah ia
memutuskan pergi dari rumah lalu menolak menikahi lelaki tua yang telah dijodohkan dengannya. Saat
ini Marco menatap Davis dengan tatapan ramahnya seperti biasa dan ia menjabat tangan Davis.
"Terimakasih Papi mertua sudah menikahkan saya sesuai janji," ucap Marco membuat Davis

1/6

Memangnya boleh
menggerakan rahangnya.

Marco telah mempermainkannya, membuat perusahaannya mengalami kesulitan lalu Marco pula yang
menyelamatkan perusahaannya demi mendapatkan putri durhakanya ini. Sandra hanya diam, baginya
laki-laki yang ia panggil Papi ini telah membuatnya kecewa. Banyak hal yang membuatnya merasa sangat
kecewa dengan apa yang telah dilakukan Papinya itu. "Saya pulang," ucap Davis.

"Oke, Bapak Mertua silahkan pulang!" Ucap Davis. la juga sangat kecewa karena pernikahan ini diadakan
secara diam-diam yang artinya putrinya Larisa ini akan menjadi istri simpanan. Istri simpanan dari anak
salah satu petinggi negara yaitu seorang Abib Laksamana Dewandaru mentri yang sangat disegani di
Negara ini. Davi merasa sangat murka karena ia tidak bisa mendapatkan manfaat dari pernikahan ini,
dan seharusnya mahar yang diberikan keluarga kaya raya seperti Marco sangatlah besar namun ia telah
diperdaya oleh Marco hingga tak bisa berbuat apapun.

Davis menatap Larisa Sandara Davis dengan dingin dan ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini
tanpa memeluk putrinya yang harusnya ia rindukan. Sandra telah terbiasa mendapatkan perlakukan
dingin dari sang Papi, ia bahkan menganggap tak ada satu pun orang yang menyayanginya selain dirinya
sendiri. Lifia bisa melihat raut wajah kecewa Sandra dan ia memeluk lengan Sandra dan berbisik. "Sama
nasib kita Sandra, ayah kandungku juga tidak memperdulikanku sejak dulu," ucap Lifia sendu. la ingin
menangis rasanya, namun ia menahannya sekuat tenaga terlebih lagi Sandra terlihat kuat seolah telah
mengetahui jika ia pasti akan diperlakukan seperti ini oleh Papinya, ketika mereka bertemu.

"Aku sudah terbiasa, menangis pun akan percuma, dia tidak akan berbalik datang mendekatiku dan
memelukku

2/6

Memangnya boleh
Lifia. Hidupku baginya hanya akan berarti jika aku memberikan keuntungan untuknya, sekarang aku
tidak bisa memberikan keuntungan lagi untuknya, apalagi setelah melihat ekspresi wajahnya terlihat
dengan jelas jika aku itu sepertinya memang hanya menyusahkannya saja," ucap Sandra sendu.

Lifia memang sangat perasa, tanpa sadar ia meneteskan air matanya, ia segera menghapusnya dengan

cepat apa lagi mata tajam dan dingin itu ternyata sedang menatapnya. Saat ini Pak penghulu telah
pulang sama halnya dengan beberapa orang yang hadir termasuk Papi Sandra. Sekarang hanya tinggal
Defran Satyas, Lifia Ayu, Sandra dan Marco. "Jadi setelah menikah apa rencana kamu?" Tanya Defran
kepada Marco.

"Saya akan mempertemukan Sandra dengan keluarga saya tapi secara perlahan menunggu keadaan
tenang,"

3/6

Memangnya boleh
ucap Marco.

"Oke, silahkan menikmati malam pertama kalian, saya dan Lifia pulang dulu," ucap Defran.

"Oke," ucap Marco. Sebenaranya tadi ia sangat kesal dengan kedatangan Defran yang bisa saja
menggagalkan rencananya, tapi ternyata kedatangan Defran dan Lifia membuatnya tak perlu
mengancam Sandra untuk menikah. Sandra bahkan bersedia menikah dengannya dan itu membuatnya
sangat bahagia.

Lifia memeluk Sandra dan ia membisikkan sesuatu ditelinga Sandra. "Pokoknya kamu harus menemaniku
ke Paris Sandra!" Pinta Lifia.

"Iya aku usahakan, aku bakal kembali bekerja setelah semuanya aman terkendali!" Ucap Sandra.

"Oke," ucap Lifia mengecup pipi kanan dan kiri Sandra lalu ia segera pamit pulang bersama Defran.
Saat ini Defran dan Lifia sedang dalam perjalanan menuju Apartemen. Pupus sudah harapan Lifia untuk
mampir ke Rumah kedua orang tuanya karena ia ia pulang dari kediaman Marco telah larut malam.
Lagian Defran juga tak ingin mereka menginap di Kediaman orang tuanya. "Apa yang kamu pikirkan?"
Tanya Defran sambil fokus mengemudikan mobilnya.

"Banyak hal," ucap Lifia.

"Apa saja?" Tanya Defran penasaran dengan apa yang saat ini Lifia pikirkan.

"Pertama aku itu pengen ketemu Ibu dan Ayah, aku kangen sama mereka Mas. Apalagi ibu bilang sama
Mbak Kana katanya kenapa aku jarang pulang dan lebih sering menginap di Rumah orang tua kamu,
Mas," ucap Lifia sendu.

"Kamu bilang saja, kalau kamu nggak mau pisah tidur sama saya, kalau boleh sekamar sama kamu di
Rumah

4/6

Memangnya boleh
orang tua kamu, kita akan lebih sering menginap disana!"

Ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya terkejut dengan ucapan Defran.

"Astaga Mas, kamu pikir kita itu suami istri? Jangan gila dong Mas bilang itu ke Ibu dan Ayah sama aja
bunuh diri," kesal Lifia membuat Defran menaikkan sebelah alisnya.

"Untuk sementara ini kamu nggak usah menginap di Rumah orang tua kamu!" Ucap Defran.

"Sampai kapan?" Tanya Lifia kesal.

"Sampai kita menikah dan bisa bebas tidur satu kamar," ucap Defran membuat wajah Lifia memerah
karena malu. la bahkan tak berani menanyakan kapan Defran akan menikahinya karena semua ini
bagaikan mimpi baginya. Mimpi hingga ia takut untuk bangun apalagi menyadari, jika semua yang
terjadi padanya memang benar-benar hanya mimpi.

"Mas kamu itu kalau ngomong jangan sembarangan kayak gitu, kita itu hanya tidur sekamar tapi kan
nggak pernah gitu tidur satu ranjang," ucap Lifia. Selama ini ia mengira Defran selalu tidur disofa dan ia
sama sekali tidak menyadari, jika setiap malam ia tidur satu ranjang dengan Defran Satyas. Jika saja Lifia
tahu ia tidur satu ranjang dengan Defran selama ini, mungkin saja ia akan jatuh pingsan saat melihat
wajah tampan itu berada sangat dekat dengannya.

"Kenapa? Kamu sepertinya sangat ingin tidur satu rajang sama saya?" Tanya Defran. "Apa yang akan
kamu lakukan kalau kamu tidur satu ranjang sama saya?" ucap Defran membuat Lifia menelan ludahnya,
mungkin saja tangannya akan gemetaran saat ingin memegang pipi Defran Satyas yang sangat mulus itu,
bahkan setiap kali ia mengingat bagaimana bibirnya pernah menempel dibibir Defran, membuatnya
jantungnya berdetak dengan kencang
5/6

Memangnya boleh
hingga wajahnya memerah karena malu.

"Kalau kamu mau tidur seranjang sama saya, saya perbolehkan!" Ucap Defran mengangkat sudut
bibirnya dan ia akan sangat senang jika Lifia menjawab ia ingin tidur seranjang dengannya.

"Memangnya boleh?" Tanya Lifia mengigit bibirnya sambil menatap Defran dengan tatapan penuh
minat.

Defran melirik Lifia dan sialnya wajah Lifia terlihat sedang menatapnya dengan tatapan menggoda dan
itu membuatnya kesal, karena ulah Lifia ini sangatlah berbahaya. "Boleh," ucap Defran membuat Lifia
terkejut dan ia mengerjapkan kedua matanya. Selama ini ia selalu tidur lebih dulu dan ia belum pernah
melihat wajah tampan itu terlelap.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

22

Jangan dulu.
Jangan dulu
Lifia menelan ludahnya jika Defran mengatakan iya bolehkan ia mengatakan jika ia ingin tidur satu
ranjang dengan Defran. Astaga belum tidur saja baru memiliki niat seperti ini saja jantungnya telah
berdetak dengan sangat kencang. "Aku mau Mas tapi kan...nggak baik kalau kita tidur disatu ranjang,"
ucap Lifia.

"Sejak kapan kamu dan saya telihat baik?" Tanya Defran membuat Lifia menelan ludahnya. la bahkan
tidak tahu sejak kapan ia merasa sangat nyaman berada didekat Defran dan ia juga bingung sejak kapan
Defran menjadi perhatian padanya. Perhatian...ya tentu saja perhatian karena Defran selalu meluangkan
waktunya hanya untuk menemaninya. Bahkan setiap malam ia tidak perlu ketakutan atau merasa sedih
karena tinggal sendirian. Defran selalu ada untuknya dan itu sangat nyaman untuknya, kenyamanan
yang tidak ingin menghilang begitu saja dari hidupnya.

"Kamu itu sebenarnya sangat baik sama aku Mas," ucap Lifia.

"Saya baik sama kamu karena saya ada tujuan yang saya inginkan," ucap Defran membuat wajah Lifia
memucat. Tujuan? la jadi takut jika Defran sebenarnya memilki tujuan lain mendekatinya dan itu
bukanlah berita baik untuknya. Apalagi ia sangat mencintai Defran dan belum siap menerima
kenayataan, kenyataaan jika Defran menjadi sadar lalu ia tidak jadi menikah dengan Defran.
"Aa...apa tujuan kamu, Mas?" Tanya Lifia dan ia mengalihkan pandangannya menatap jalanan dari pada
menatap Defran, lalu menujukkan ekspresi wajah sedih dan

1/6

Jangan dulu
kecewanya saat ini.

"Memiliki kamu," ucap Defran dan ucapan Defran itu begitu mengejutkan baginya. "Laki-laki tidak akan
meluangkan waktunya setiap hari secara khusus hanya ingin menemani seseorang perempuan," ucap
Defran, membuat hati Lifia menghangat.

"Iya Mas," ucap Lifia tersenyum.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen dan keduanya segera keluar dari mobil, lalu
menuju lift. Lifia merasa canggung berada berdua saja didalam lift seperti ini dan tak butuh waktu lama,
pintu lifit terbuka membuat keduanya segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Keduanya
melangkahkan kakinya menuju koridor unit apartemen dan Defran melihat sosok Handaru yang baru
saja ingin membuka pintu unit Apartemennya.

"Kita perlu bicara!" Ucap Handaru dingin.

Defran melihat kearah Lifia dan ia mengisyaratkan, agar Lifia masuk lebih dulu kedalam unit
Apartemennya. Lifia memganggukkan kepalanya dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam unit
apartemen milik Defran. Saat ini Handaru menatap Defran dengan dingin dan ia melipat kedua
tangannya. "Apakah pernikahan Marco dan Larisa berjalan dengan lancar?" Tanya Handaru penasaran
dengan pernikahan adiknya yang baru saja terjadi haru ini.

"Ya, pernikahannya berjalan dengan lancar dan Larisa sudah menjadi istri Marco," jelas Defran.

"Kalian juga telah berdamai?" Tanya Handaru.

"Ya, tentu saja kalau tidak berdamai kita akan

bertengkar dan itu semua karena kamu Handaru," sinis Defran. Harusnya Handaru tidak memukul Marco
sebrutal itu dan menemui Marco dengan baik-baik lalu merangkulnya sebagai saudara yang sangat
menyayangi

2/6

Jangan dulu
adiknya. "Saya hanya berharap kamu tahu dan berusaha membantu Marco tapi yang terlihat saya
seperti orang yang ingin membuat kalian bertengkar," sinis Defran. "Marco bagian mempertanyakan
kenapa saya berkhianat padanya, sedangkan kamu pasti akan menyalahkan saya jika saya merahasiakan
masalah ini," ucap Defran dingin.
"Siapapun akan emosi jika memiliki seorang adik yang telah sangat mengecewakan keluarga, bagaimana
kalau dia tidak pernah tahu jika dia memiliki anak dan bisa saja anaknya nanti, menikah dengan anak
saya bersama Kiran nanti setelah mereka dewasa," ucap Handaru kesal.

"Wah...sudah memikirkan ingin memiliki anak bersama Kiran, nikah saja belum," sinis Defran.

"Setidaknya saya tidak menjadi penipu ulung seperti kamu Defran, saya jujur dengan perasaan saya dan
tidak perlu membuatnya sakit hati seperti apa yang kamu lakukan," sinis Handaru.

"Saya tidak pernah merasa membuat Lifia sakit hati, apa yang saya lakukan selama ini itu demi menjaga
dia dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya," ucap Defran kesal.

"Termasuk bersikap dingin dan berpura-pura tidak menyukainya?" Tanya Handaru sinis.

"Sikap saya memang seperti ini tidak seperti adikmu yang sangat ramah kepada wanita dan juga tidak
sepertimu yang sangat pandai berjanji. Kalian berdua saudara yang sama-sama memilki mulut yang
manis yang menyebalkan," ucap Defran dingin membuat Handaru mengepalkan tangannya. Jika terus
berdebat dan akhitnya keduanya berkelahi hanya akan membuat keributan yang mengakibatkan Kiran
pasti akan marah padanya. Handaru tak ingin itu terjadi apalagi Kiran sangat tidak suka ia berkelahi.

"Pokoknya saya yang akan lebih dulu menikah dengan

3/6

Jangan dulu
Kiran!" Ucap Handaru kesal.

"Kapan?" Sinis Defran.

"Secepatnya!" Ucap Handaru.

"Kamu pikir Kiran akan mau menikahi kamu secepatnya? Sepertinya tidak, kamu berusaha dulu
bagaimana membuatnya segera bersedia menikah denganmu, saya akan segera menikah dengan Lifia
karena dia sudah setuju menikah dengan saya!"

ucap Defran.

Defran bisa melihat betapa harga diri Handaru merasa terluka karena adiknya menikah lebih dulu
darinya, bahkan adiknya telah memberikan orang tua mereka cucu lebih dulu dan itu membuatnya kalah
dari Marco adiknya. Menunggu Handaru menikah lebih dulu darinya akan membuatnya menunda
pernikahannya bersama Lifia menjadi lebih lama lagi. "Def, Lifia lebih muda dari Kiran dan harusnya saya
dan Kiran menikah lebih dulu!" Ucap Handaru berusaha membujuk Defran, agar tidak menikah lebih
dulu darinya.
"Tidak bisa, saya telah mengurus syarat nikah kantor dan saya akan segera mendaftarkannya setelah
saya bertemu Ayah kandung Kiran," ucap Defran. "Saya juga tidak mungkin menunggu Kiran mau kamu
nikahi Handaru, mengingat sikap Kiran yang kerasa kepala," ucap Defran.

"Keras kepalanya itu adalah pesonanya Def," ucap Handaru membuat Defran mengangkat sebelah
alisnya.

"Nanti kita atur waktu kalau kamu ingin banyak bicara dengan saya, hari ini saya sangat sibuk dan butuh
segera beristirahat!" Ucap Defran membuat Handaru menatap Defran dengan sinis.

"Sibuk beristirahat, cih....jangan bercanda Def, kamu hanya ingin melihat perempuan cantik yang ada
didalam

4/6

Jangan dulu
apartemen kamu. Kamu ini benar-benar tidak bisa diatur, ingin sekali rasanya memberitahukan ayah
mertua apa yang telah kamu lakukan pada putrinya," ucap Handaru kesal.

Handaru sangat kesal karena ia tidak bisa membuat Kiran tinggal bersama dengannya, sebelum mereka
menikah dan Defran anak kebanggaan keluarganya itu yang tekenal dengan sikapnya yang sangat dingin
kepada

perempuan, ternyata memiliki banyak akal hingga bisa membuat Lifia tinggal di satu Apartemen
dengannya.

"Setidaknya saya tidak segila kamu yang sangat suka mencium Kiran dimanapun kamu mau," ucap
Defran dingin.

"Asal kamu tahu Def yang paling menyebalkan itu menyentuhnya tanpa dia sadari, selama ini apa kamu
puas bisa memeluk dan menciumnya ketika dia tidur,

5/6

Jangan dulu
astaga...dasar sinting..." ucap Handaru dan hanya dia satu-satunya yang tahu kegilaan yang dilakukan
Defran Satyas selama ini. Bahkan ia yang membantu menggiring Lifia agar bisa tinggal di Apartemen
Albiseka Dewandaru sepupunya, melalui Ike yang juga merupakan manajer Lifia. Ike yang meminjamkan
Apartemen suaminya kepada Lifia, agar Lifia bisa tinggal didekat Apartemen Defran Satyas.

Defran melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemennya dan ia meninggalkan Handaru yang
mengupat kesal karena dirinya. Saat ini yang lebih penting baginya, ia ingin mendekati Lifia dan
penasaran apa yang sedang Lifia lakukan saat ini. Defran membuka pintu kamar dan ia mendengar suara
percikan air dari dalam kamar mandi, itu artinya saat ini Lifia sedang mandi. la duduk disofa dengan
santai seolah sedang menunggu peremuan cantik itu muncul dari balik pintu kamar mandi.
13

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6

Tidur.
Tidur
Lifia merasa sangat segar setelah ia mandi air hangat hingga membasahi rambutnya karena ia merasa
tumbuhnya lengket, seharian beraktivitas diluar apartemen. Setelah membersihkan dirinya Lifia keluar
dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan ia tekejut melihat sosok Defran sedang duduk
santai disofa. Lifia sangat malu dan ia menelan ludahnya lalu dengan cepat mengambil pakaiannya.
Apalagi saat ini Defran sedang memperhatikannya dan tatapan Defran itu seolah cctv yang sedang
menatap pergerakannya saat ini.

Lifia kembali masuk ke kamar mandi dengan cepat dan jantungnya berdetak dengan cepat. la merutuki
kebodohannya yang bisa-bisanya lupa membawa pakaiannya, sedangkan kamar ini bisa dimasuki Defran
kapan saja. Lifia memakai pyamanya. ia keluar dengan pelan dan sengaja berpura-pura tidak melihat
Defran. 'Astaga aku sama Mas Defran udah kayak suami istri saja, berbagi kamar mandi dan untung saja
nggak berbagi ranjang, Batin Lifia.

Defran berdiri dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Lifia segera
mengeringkan rambutnya dengan gugup. la membayangkan Defran yang nantinya keluar dengan
handuk dipinggangnya lalu mendekatinya dan bahkan Defran akan mengeringkan rambutnya.
Membayangkan itu semua, membuat wajah Lifia memerah karena malu. "Astaga pikiranku, ini nih kalau
belum pernah dekat sama laki-laki dan aku belum berpengalaman, sampai dibayangkan begini...stop
memikirkan hal itu please!" Ucap Lifia pada dirinya yang sangat sering memikirkan

1/6

Tidur
Defran Satyas bersikap romantis padanya.

Beberapa menit kemudian Defran melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan ia terlihat begitu
tampan, membuat Lifia segera mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat jika saat ini matanya
sangat ingin menatap Defran Satyas. Defran melihat kearah Lifia yang ternyata juga belum tidur
diranjang. "Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Defran.

"Nanti saja, Mas..." ucap Lifia menelan ludahnya dan ia menatap Defran dengan tatapan kagum.
Bagaimana tidak Defran hanya memakai celana panjang traning tanpa baju dan otot perutnya
terekspose dengan begitu menganggumkan. Defran sangat rajin berolahraga dan menjaga pola
makannya dengan begitu baik ini, terlihat begitu seksi.

'Astaga Mas gila aja kamu sering banget nggak pakek baju begini, Batin Lifia kesal. 'Pengen peluk..aduh
gila..pikiranku udah nggak suci lagi. Bener apa kata orang nggak baik kalau perempuan itu berada disatu
ruangan, dengan laki-laki apalagi laki-lakinya setampan Mas Defran,'

Defran duduk disamping Lifia dan matanya melirik Lifia yang saat ini sedang menatapnya. "Mas sudah
mau tidur ya?" Tanya Lifia karena sofa ini menjadi daerah kekuasaan Defran. Sebenarnya Defran hanya
akan tidur disofa ini sebentar saja, karena setelah Lifia terlelap ia akan tidur disamping Lifia seperti
biasanya.

"Belum," ucap Defran singkat dan Lifia kembali menatap wajah tampan itu hingga membuatnya gugup
dan canggung.

"Oo..." ucap Lifia dengan wajahnya yang

memerah.

Lifia sangat suka memandangi wajah Defran, namun ia sangat malu jika Defran menyadari bertapa
ekspresi

2/6

Tidur
wajahnya saat ini sangat ingin melakukan sesuatu pada Defran yaitu ia ingin sekali, mencium bibir
Defran dan juga ia ingin berada dipelukan Defran. Seperti apa yang dikatakan Kiran padanya sebelumnya
jika ia harus menjaga harga dirinya sebagai seorang peremuan. Sebagai perempuan Lifia memiliki harga
diri dan jangan memulai untuk merayu lelaki, apalagi Lifia adalah sosok yang sangat cantik. Hampir
semua orang mengatakan jika Lifia cantik dan ia telah menyadari jika ia memiliki fisik, yang membuat
orang tertarik untuk menatapnya itu sejak ia remaja. Tapi hanya Defran yang menatap lifia sekilas, lalu ia
akan kembali fokus dengan buku yang ia baca dan dulu itu menjadi salah satu daya tarik seorang Defran
bagi Lifia. Defran yang tidak tetarik padanya hingga membuatnya merasa Defran satu-satunya lelaki
yang sangat menarik baginya.

Lifia tidak tahu jika Defran bahkan tidur diranjang yang sama dengannya, sambil memeluknya dan ia juga
sangat sering memandangi wajah cantik Lifia, bahkan menciumnya. Awalnya ia hanya penasaran dengan
bibir merah muda itu, yang terlihat sangat kenyal jika ia menyentuhnya dengan jarinya, namun ketika ia
melihat bibir itu menyetuh pipi lelaki lain di Film, membuatnya sangat geram. Bahkan ia menjadi tidak
sopan dengan mencium bibir Lifia, ketika Lifia terlelap karena kesal dan ia tidak bisa berterus terang
untuk mengatakan kepada Lifia, jika ia tidak suka Lifia disentuh orang lain.

"Malam ini kamu mau saya tidur seranjang sama kamu?" Tanya Defran membuat Lifia terkejut karena
sebenarnya tawaran itu sangat menggiurkan baginya.
'Astaga ini beneran atau hanya mimpi sih... Batin Lifia dan ia mencubit lengannya sendiri, untuk
memastikan jika saat ini ia sedang tidak bermimpi.

"Hmmm...Mas yakin?" Tanya Lifia, ia mengerjapkan kedua matanya dan ia menelan ludahnya, karena ia
sangat

3/6

Tidur
gugup saat ini. Bayangkan ia akan tidur seranjang dengan Defran Satyas, yang selama ini hanya bisa ia
impikan.

Apalagi Defran selalu bersikap antipati kepadanya dan berulang kali membuatnya putus asa. Biasanya
tidak ada laki-laki yang menolaknya, jika ia mendekati mereka dan hanya Defran Satyas satu-satunya
telihat sangat menolaknya. Sebenarnya Defran tidak bermaksud menolak Lifia selama ini, hanya saja ia
menjaga dirinya agar tidak kebablasan ingin melakukan hal yang ingin ia lakukan, hingga ia menganggap
Lifia adalah racun yang membuatnya berdosa.

Defran selama ini tidak pernah berpikir negatif melakukan hal gila dengan seorang perempuan hingga
membuatnya benar-benar ingin menyentuhnya, bahkan memilikinya seorang diri. Defran pernah
menyangkal perasaannya itu karena Lifia berdekatan dengan lawan jenis, yang merupakan lawan
mainnya difilm. Bahkan gosip kedekatan mereka membuatnya sangat terganggu, meskipun ia tahu itu
hanya gosip saja dan bukan suatu kebenaran yang ia tahu. Apalagi Lifia terlihat sangat menyukainya dan
harusnya itu tidak membuatnya khawatir, namun ternyata tetap saja ia kesal. Kesal karena wajah cantik
itu bisa dinikmati orang lain bahkan wajah cantik itu tidak bisa ia sembunyikan agar laki-laki lain tidak
mengangguminya.

"Mas...aku itu nanya sama kamu, Mas yakin mau tidur sama aku di satu ranjang?" Tanya Lifia.

"Iya..." ucap Defran.

"Mas nggak takut kalau aku hmmm...pengen banget..." ucap Lifia terhenti dan ia malu mengatakan, jika
ia ingin sekali tidur dipelukan Defran. Apalagi menyetuh perut Defran yang memiliki otot perut yang
sangat seksi itu.

'Mas kalau aku khilaf dan berbuat nakal sama kamu, gimana? Aku nggak bisa nahan diri...Astaga kok aku
kayak

4/6

Tidur
mau memperkosa kamu Mas, mengerikan banget sih...pikiran aku ini,' Batin Lifia.

"Kamu harusnya waspada itu sama saya Lifia! kamu nggak takut sama saya?" Tanya Defran.
"Nggak Mas," ucap Lifia.

"Tidur sana!" Perintah Defran.

"lya..tata...tapi kita coba yuk Mas tidur satu ranjang gitu!" Pinta Lifia gugup.

"Oke," ucap Defran membuat Lifia tersenyum dan ia melangkahkan kakinya menuju ranjang, lalu
membaringkan tubuhnya. la melihat Defran juga melangkahkan kakinya mendekatinya, lalu Defran
membaringkan tubuhnya disisi ranjang tepat disampingnya.

Jantung Lifia berdetak dengan kencang dan tentu saja

5/6

Tidur
ia sangat gugup saat ini, ia bingung apa ia harus bertindak lebih dulu dengan memeluk Defran, namun ia
tidak seberani itu melakukannya saat ini. Apalagi ia gugup, bingung hingga penasaran. Penasaran
dengan apa yang terjadi jika ia memeluk Defran dengan erat atau bahkan mencium bibir Defran sambil
berbaring seperti ini. Tapi kalau ia yang mencium Defran, berarti Defran yang akan berada diposisi
bawah dan ia berada diatas.

Lifia kesal ketika melihat Defran memejamkan matanya dan terlihat Defran tidak gugup seperti dirinya
yang gugup dengan keberadaan Defran, yang saat ini berbaring disampingnya. "Mas..." panggil Lifia.

"Tidur Lifia!" Perintah Defran. Lifia mengurungkan niatnya untuk meminta Defran memeluknya dan ia
mencoba memejamkan matanya, namun matanya tidak juga terpejam. Lifia terlihat sangat gelisah
membuat Defran menarik Lifia kedalam pelukkannya. "Tidurlah, kalau kamu tidak tidur kamu tidak akan
selamat dari saya!" Ancam Defran dengan suaranya yang berat.

"li...iya Mas," ucap Lifia gugup. la takut Defran akan keluar dari kamar ini dan tidak ingin menemaninya
tidur dikamar ini.

Komentar lainnya

Berikan Suara

16

6/6

Mau lagi Mas.


Mau lagi Mas
Lifia telah berusaha keras untuk tidur dengan nyaman namun setelah ia menyadari sosok tampan yang
membuat jantungnya berdetak dengan kencang ada disampingnya, ia sama sekali tidak bisa tertidur
dengan pulas. Bahkan ia sangat gugup dan merasa tidak terbiasa berbaring disatu ranjang bersama
Defran Satyas yang tampan dan laki-laki yang ia cintai setengah mati. Lifia membuka matanya dan ia
tekejut ketika melihat Defran ternyata sedang menatapnya sambil menopang kepalanya dengan sebelah
tangannya.

"Kenapa belum tidur?" Tanya Defran dengan suara beratnya. Lifia menggeser tubuhnya memberikan
jaraknya kepada Defran, jujur saja saat ini jantungnya berdetak dengan kencang karena ulah Defran
Satyas. "Biasanya kamu langsung tidur," ucap Defran dan tangannya menyentuh dahi Lifia memastikan
Lifia sedang tidak demam. Lifia menatap bibir seksi Defran dan ia menelan ludahnya karena otaknya
memerintahkannya untuk mencium bibir Defran, namun ia berusaha keras untuk menolaknya. Apalagi
Defran seolah sengaja tidak mengenakan baju atasnya dan bertelanjang d**a seperti ini.

"Mas kenapa nggak pakai baju?" Tanya Lifia.

"Saya terbiasa tidur dengan tidak memakai baju atasan," ucap Defran yang sialnya ia semakin telrihat
tampan jika menatapnya seperti ini.

Tangan Defran terulur dan ia mengelus pipi Lifia dengan lembut, membuat wajah Lifia memerah karena
malu. Mata tajam Defran meneliti wajah cantik itu hingga ia mengeraskan rahangnya dan itu membuat
Lifia terkejut.

1/7

Mau lagi Mas


"Kenapa kamu suka sekali menggoda saya?" Tanya Defran dingin. Lifia menelan ludahnya, sejak kapan ia
suka menggoda Defran dan ia sejak tadi merasa sangat gugup hingga membuatnya salah tingkah.
Bahkan Defran yang sejak tadi menggodanya bukan dirinya, apalagi ia memakai pakaian sopan
sedangkan Defran tidak.

"Aku nggak menggoda kamu Mas, bukannya Mas yang menggoda aku... Mas Def kenapa ganteng banget
ya..." ucap Lifia dan ia ingin sekali menyentuh pipi Defran, namun ia yang gugup mencoba menahan diri
untuk tidak menyentuh pipi Defran Satyas.

"Saya ganteng?" Tanya Defran.

"Iya ganteng banget," ucap Lifia malu-malu dan Defran menyetil dahi Lifia, membuat Lifia menyebikkan
bibirnya karena kesal. "Sakit Mas," ucap Lifia manja.

"Kamu bohong, saya melakukannya dengan pelan," ucap Defran.

"Mas kalau bicara jangan ambigu gitu, melakukan apa coba? Yang jelas Mas!" Ucap Lifia.

"Tidur Lifia!" Perintah Defran kesal karean Lifia yang bandel seperti ini membuatnya memikirkan yang
iya-iya.
"Iya..." ucap Lifia. Terjadi keheningan dan Lifia mencoba memejamkan matanya. Ia membalik tubuhnya
agar tidak melihat wajah Defran yang membuat jantungnya, berdetak dengan kencang. Tetap saja
setelah satu jam berlalu, Lifia telah mencoba untuk terlelap namun ia tak bisa terlelap sejak tadi
matanya mata santai ingin melihat pemandangan indah yang sangat sedap dipandang, sosok yang selalu
ia doakan dalam sujudnya untuk menjadi imamnya. Lifia membalik tubuhnya dengan pelan dan ia
melihat Defran telah memejamkan matanya.

Lifia menyunggingkan senyumannya karena ia merasa sangat beruntung bisa melihat wajah tampan ini
terpejam.

2/7

Mau lagi Mas


Wajah bak malaikat tampan yang terlihat sangat damai, namun jika mata ini terbuka sosoknya terlihat
sangat dingin bahkan membuat orang-orang merasa takut dengan auranya. Lifia mengulurkan
tangannya dan ia ingin mengelus pipi Defran, namun ia ragu tapi ia yakin Defran tidak akan terbangun
membuatnya segera menyentuh pipi Defran dengan lembut.

'Ganteng banget sih.., Mas... Batin Lifia.

Lifia menggerakkan tangannya hingga jari telunjuknya itu mengenai bibir Defran dan ia tersenyum
senang karena ia ingat, bibir itu pernah menempel diwajahnya. Lifia tidak menyadari jika bibir itu sering
sekali mencium bibirnya dan tubuh seksi itu bahkan memeluknya setiap malam akhir-akhir ini. Lifia
menggerakkan jari telunjuknya dengan pelan, hingga mengenai hidung mancung Defran. Tiba-tiba
Defran menyunggingkan senyumannya dan ia membuka matanya perlahan, membuat Lifia terkejut.
Defran menarik tubuh Lifia hingga d**a Lifia menempel didada Defran dan wajah keduanya terlihat
sangat dekat.

"Kenapa kamu tidak tidur dan kamu sengaja ingin menggoda saya?" Tanya Defran dingin, membuat
wajah Lifia bersemu merah.

"Aku nggak ada maksud untuk menggoda kamu Mas, aku itu pengen saja pegang wajah kamu!" ucap
Lifia gugup dan ia ingin segera menjauh dari Defran, namun tangan Defran menahan pergerakannya.
Lifia mengigit bibirnya karena wajah tampan itu sangat dekat dengannya, apalagi tatapan Defran
padanya membuatnya merasa melayang.

Defran menatap wajah Lifia yang sangat dekat dengan wajahnya itu dengan tatapan malu, "Kamu tahu
segala tindakan konyol kamu pun itu adalah bagian dari cara kamu untuk menggoda saya," ucap Defran.
Lifia menelan ludahnya tindakan konyol yang dimaksud Defran,

3/7

Mau lagi Mas


membuatnya merasa bingung karena baru kali ini ia menyetuh wajah Defran diatas ranjang seperti ini.
"Tindakan konyol aku yang mana, Mas?" Tanya Lifia menyebikkan bibirnya.

"Banyak sekali, mau saya sebutkan satu-satu?" Tanya Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya.
"Mata kamu, mata kamu ini menatap saya dengan tatapan yang membuat saya ingin sekali
menyelaminya hingga membuat mata kamu hanya bisa dipandang oleh saya, tapi apa yang kamu
lakukan. kamu dengan lancang memilih menjadi artis dan berdekatan dengan lawan main kamu," ucap
Defran dingin.

"Tapi kan itu hanya akting," ucap Lifia. "Aku kan sukanya sama kamu, yang ganteng lebih dari kamu itu
banyak Mas, tapi nggak tahu bagi aku itu Mas tetap kamu yang paling ganteng...Mas," jujur Lifia. Lifia
seperti telah menarik semua hatinya, hingga tidak bersisa lagi untuk dimasuki laki-laki lain.

"Kalau saya tertidur kamu mau ngapain, saya?" Tanya Defran.

"Nggak berani lagi pegang-pegang kamu, soalnya kamu ternyata nggak tidur," sinis Lifia.

"Saya bukan kamu yang bisa saya apa-apain kalau kamu tidur," ucap Defran membuat Lifia tekejut.

"Ma...maksud kamu apa Mas?" Tanya Lifia penasaran dengan ucapan Defran.

"Nggak ada apa-apa," ucap Defran.

"Kamu nggak melakukan hal yang aneh kan, Mas?"

Tanya Lifia menatap Defran dengan tatapan curiga. "Kamu nggak curang kan Mas? kamu kalau cium
aku...masa aku nggak boleh cium kamu?" Tanya Lifia dan ia mengerjapkan kedua matanya menunggu
ucapan Defran.

Defran mengelus pipi Lifia dengan lembut dan ia

4/7

Mau lagi Mas


menujuk bibirnya. "Kalau mau cium saya...cium saja!" Ucap Defran.

"Nggak mau, aku kayak pengen banget gitu malu-malu in banget Mas," ucap Lifia dengan wajah
memerah karena malu. "Aku memang suka banget sama kamu tapi nggak mau cium-cium kamu duluan,
perempuan itu ada harga..." ucap Lifia terhenti karena Defran mencium bibirnya hingga membuatnya
melototkan matanya. Defran melepaskannya

dan Lifia menatap Defran dengan tatapan bingung.

"Mas...lagi!" Ucap Lifia membuat Defran menghela

napasnya.
"Saya kalau kamu pancing begini bisa gawat Lifia, kamu mau kita melakukan hubungan suami istri?
Jangan membuat keadaan semakin kacau!" Ucap Defran yang telah berusaha dengan sangat keras
menahan keinginannya selama ini.

5/7

Mau lagi Mas


"Yaudah kalau nggak mau," ucap Lifia mendorong tubuh Defran dengan pelan agar melepaskannya dan
wajahnya saat ini bersemu merah karena ia benar-benar sangat malu.

Defran menghembuskan napasnya Lifia benar-benar membuatnya kehilangan akal, mulai dari ia yang
terpaksa jadi laki-laki pengecut menciumnya dan memeluknya ketika ia terlelap dan mengendalikan Lifia
secara perlahan. Gila..perempuan ini membuatnya menjadi gila. Selama ini Defran menahan dirinya
untuk tidak menujukkan betapa ia menginginkan Lifia karena ia akan membuat Lifia ketakutan karena
sikapnya yang sangat overprotektif. Perempuan cantik yang digilai banyak lelaki ini bisa saja merasa
marah dan kesal dengan tingkahnya lalu memilih pergi dari hidupnya.

Apalagi Lifia terbiasa diperlakukan secara manis oleh lelaki yang menyukainya, namun tidak dengan
dirinya. la sangat sulit untuk sekedar mengatakan hal romantis apalagi melakukan kontak fisik sebelum
menikah. Terlebih lagi Lifia pasti akan membuatnya terpancing melakukan hal diluar nalarnya sebagai
lelaki baik selama ini.

Defran menarik Lifia hingga Lifia saat ini berada diposisi bawahnya. la menahan pergerakan Lifia hingga
mengunci tubuh Lifia membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang. Defran mencium bibir Lifia dan
menggerakkannya, melumat bibir kenyal itu hingga menyelusurinya dengan lidahnya, lalu menelannya
hingga membuat Lifia terkejut. Defran melepaskan ciummnya dengan napasnya yang memburu "Jangan
mencoba memancing saya Lifia, saya ingin benar-benar memiliki kamu setelah kita menikah!" Ucap
Defran dan ia melepaskan Lifia hingga ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi lalu menutup
pintu kamar mandi dengan keras.

Jantung Lifia berdetak dengan kencang dan ia hampir

6/7

Kamu merahasiakannya.
Kamu merahasiakannya
Lifia merasa sangat malu mengingat apa yang terjadi malam tadi dengannya. Setelah Defran masuk
kedalam kamar mandi ia yang malu berusaha untuk tidur lebih dulu, namun ia tak kunjung bisa
memejamkan matanya, hingga beberapa menit kemudian ia akhirnya bisa tertidur setelah melihat
Defran memilih tidur di sofa. Lifia yang tertidur nyenyak lagi-lagi tidak menyadari jika Defran akan
kembali berbaring disampingnya sampai subuh agar bisa ikut tidur lelap.
"Malu banget sih..." ucap Lifia menepuk pipinya dan ia melihat jam menujukkan pukul lima sore dan
sebentar lagi Defran akan pulang. Mengingat Defran pulang membuatnya merasa sangat canggung
seperti kejadian pagi tadi, Defran menatapnya dengan intens sambil meminum kopi pahit buatannya.

Siang ini ia kesepian karena Defran tidak pulang untuk makan siang, tapi Defran meminta Lifia untuk
memasak makannya dan mengirim makanan itu ke Rumah Sakit kepolisian tempat Defran bekerja.
Ya...selain bekerja di Rumah sakit bhayangkara, ia juga membantu di Rumah sakit keluarganya. Untung
saja siang ini ia bisa menghubungi Sandra dan semenjak menikah, Sandra diberikan kebebasan
memegang ponselnya. Itu membuatnya bisa menghubungi Sandra kapan saja, apalagi saat ini Sandra
sedang berupaya membujuk Marco agar mengizinkannya untuk pergi ke Paris bersama Lifia.

Pintu terbuka membuat Lifia menatap pintu itu sambil merapikan rambutnya. la bingung apa ia harus
tersenyum ketika menyambut kepulangan Defran, apa ia langsung

1/6

Kamu merahasiakannya
mendekati Defran lalu memeluknya. Memikirkan hal itu membuat bulu kuduknya meremang dan ia
sangat malu mengingat ciumman panjang yang Defran lakukan pada bibirnya. Lifia terkejut saat yang
membuka pintu kamar ini tenryata adalah Liana hingga membuat wajahnya memucat.

"Assalamulaikum, Lifia sayang..." ucap Liana.

"Waalikumsalam, Mi..." ucap Lifia gugup seolah ia akan mendapatkan hukuman saat ini.

"Mami jemput kamu, kamu untuk sementara ini tinggal di Rumah Mami ya Nak!" Pinta Liana membuat
Lifia menggelengkan kepalanya. "Loh kenapa? Nanti kamu bisa...aduh...Maafin anak Mami ya sayang dia
ngancem kamu apa sampai kamu mau saja tinggal sama dia di Apartemenya kayak gini?" ucap Liana.
"Apalagi katanya kamu belum ambil Job gitu dan masih libur begini, memangnya Defran nggak
ngebolehin kamu kerja lagi? jangan mau dia larang kamu, kamu itu belum resmi jadi istrinya sayang!"
ucap Liana.

Lifia menelan ludahnya jika saat itu Defran masih bersikap antipati padanya, mungkin ia akan berusha
pergi menjauh dari Defran atau akan memilih untuk ikut pulang ke Kediaman orang tua Defran, seperti
ajakan Maminya Defran ini. la juga bisa memilih pulang ke Kediaman orang tuanya, tapi sekarang ini
cintanya dengan Defran masih hangat-hangatnya, bahkan Defran telah mencium bibirnya dengan sangat
hot.

"Nggak gitu Mi, hmmm...sekarang itu hubungan aku sama Mas Defran lagi adem gitu Mi," ucap Lifia
dengan wajah memerah karena malu.

"Makanya karena itu kamu harus ikut Mami pulang dulu nanti biar dia nyusulin kamu pulang, lagian
kamu katanya mau ke Paris?" Tanya Liana.

"Rencananya gitu Mi," ucap Lifia.


2/6

Kamu merahasiakannya
"Kayaknya nggak bakal jadi kamu kesana," ucap Liana.

Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok Defran melangkahkan kakinya masuk kedalam Apartemen membuat
Liana menghela napasnya, putranya ini pasti sangat terburu-buru karena telah mendapatkan laporan
dari para Bodyguard yang menjaga Lifia, jika ia datang berkunjung kemari. "Assalamualikum," ucap
Defran.

"Waalikumsalam, untung saja kamu masih sempat ngucapin salam," sinis Liana. "Kamu anak durhaka
Def, tega sama Mami Def," ucap Liana kesal.

"Mami nggak usah drama!" Ucap Defran kesal.

"Kamu yang suka drama kalau Mami nggak ya...Def," kesal Liana.

"Mi..." kesal Defran membuat Liana tersenyum melihat kekesalan putranya.

"Kamu itu belum sah jadi suami Lifia, jangan paksa dia buat tinggal sama kamu Def!" Ucap Liana.

"Mami tanya sana sama Lifia apa dia terpaksa tinggal sama saya?" Tanya Defran dingin.

"Kamu ini ya Def, sama Mami saja kaku banget kayak kamu itu nggak pernah ada diperut Mami. Padahal
saat hamil kamu itu Mami kesulitan banget banyak maunya, mual, pusing...suka ambekan sama Papi.
Tapi kamu gede gini kamu nggak manis lagi sama Mami..tegaan," ucap Liana kesal. "Lifia kamu terpaksa
kan tinggal disini sama Defran?" Tanya Liana kepada Lifia. "Mami tahu siapa dia Lifia, dia kan dingin
banget sama kamu, cuekin kamu sekalinya ngomong kasar sekali," ucap Liana lagi sengaja ingin
memojokkan Defran.

"Cukup Mi, jangan membuat Defran kesel banget sama Mami!" Ucap Defran dan menghadapi Liana
adalah suatu kesabaran yang teramat besar dikeluarganya. Apalagi kalau Liana sudah tersinggung
padanya, Papinya pun akan

3/6

Kamu merahasiakannya
ikut-ikutan memusuhinya dan itu bisa membuatnya merasa sangat dirugikan.

"Mami bukan nanya sama kamu, Mami nanya sama Lifia!" Ucap Liana dan ia menyunggingkan
senyumannya melihat Defran merasa terpojok. "Bener Defran ancam kamu makanya kamu tinggal sama
dia?" Tanya Liana.

Lifia. "Nggak diancam Mi, Mas Defran baik sama Lifia," ucap
"Baik dari mana...dia baik? Astaga Lifia paling kamu itu dimanfaatkan sama dia, kalian sudah tidur
bersama?" Tanya Liana.

"Belum Mi," ucap Lifia dengan wajah memerah karena malu ditanya seperti ini oleh calon ibu
mertuanya. Mungkin hanya dia calon menantu yang dipergoki mertua tinggal bersama putranya lalu
ditanya ditiduri atau tidak oleh Defran. Pertanyaan aneh yang harusnya tidak ditunjukkan

4/6

Kamu merahasiakannya
padanya.

"Kakek nggak suka kalian kumpul kebo," ucap

Liana.

"Nggak kumpul kebo Mi," ucap Defran kesal.

"Kamu ini dibiarkan tambah jadi Def, sebelum kalian resmi menikah Lifia sebaiknya tinggal di Rumah kita
atau kembalikan dia ke rumah orang tuanya!" Ucap Liana.

"Sekarang belum aman Mi, hmmm...ada kasus pengutin dan dia berbahaya, aku nggak mau libatin
siapapun Mi!" Ucap Lifia.

"Kamu hanya mau libatin Defran, itu maksud kamu nak? Defran bisa menyelesaikan kasus kamu itu
dengan mudah, kasus itu pasti udah selesai dan dia hanya ingin menahan kamu agar tetap bisa tinggal
sama dia. Dikasih hati minta jantung kamu Def, nikahin dulu dan kamu bebas tinggal sama Lifia mau
kalian main gundu pun nggak masalah, kalau sudah nikah!" Ucap

Liana.

"Memangnya penguntit itu sudah ditangkap Mas?" Tanya Lifia.

"Sudah tapi dalangnya belum," ucap Defran.

"Dalang...cih...kamu ajak Lifia pulang ke Rumah ayah kandungnya temui dalangnya tanya apa maunya
kalau perlu polisikan!" Ucap Liana membuat Lifia bingung.

"Kamu main ngurus nikah saja tanpa bantuan Mami, kayak anak yang nggak ada induknya, tahu nggak
kamu Def Mami itu kesal banget sama kamu," kesal Liana.

Liana menatap Defran dengan bingung, penguntit sudah ditangkap dan dalangnya berasa dari
keluarganya membuatnya penasaran apa maksud dari ucapan Liana. Kenapa Defran merahasiakan
semua ini padanya, ia harusnya tahu ser semuanya dan ia menatap Defran dengan tatapan menuntut.
"Ayo pulang sama Mami, jangan mau

5/6
Kamu merahasiakannya
sama Def yang banyak rahasia ini Nak!" Ucap Liana dan ia sengaja melakukan ini untuk melihat
kekuasaan yang putranya agungkan selama ini, tentang Lifia yang mencintainya runtuh hanya dengan
kata-katanya. "Def itu susah jelasin isi pikiran yang ada dikepalanya, ayo Lifia pulang saja sama Mami!"
Ajak Liana.

"Iya Mi," ucap Lifia membuat Defran menatap Lifia dengan tatapan yang sangat dingin dan Lifia tahu
Defran marah padanya. Lifia sangat kesal karena Defran merahasiakan orang yang ingin menyakitinya. la
ingin tahu mengenai kasus itu, apalagi jika itu melibatkan keluarga Ayah kandungnya. Mengingat
masalah ini berasal dari keluarganya, membuatnya merasa sangat sensitif dan ketakutan yang ia hadapi
sangat besar.

Komentar lainnya

Berikan Suara

12

6/6

Jangan mau.
Jangan mau
Defran terlihat sangat tidak menerima keputusan Lifia dan ia mendekati Lifia karena kesal membuat Lifia
bersembunyi dibalik tubuh Liana. Defran pasti akan mengintimidasinya dan melarangnya agar tidak
pulang, belum lagi ancaman Defran yang pastinya "Udah Def, jangan kebiasaan!" Ucap Liana kesal
dengan sikap Defran yang suka semena-mena dengan calon menantunya.

"Ayo sayang!" Ajak Liana dan ia menarik tangan Lifia agar mengikutinya.

"Iya Mi," ucap Lifia lalu keduanya melangkahkan kakinya keluar dari apartemen ini meninggalkan Defran
yang terlihat sangat murka.

Defran mengeraskan rahanganya karena Lifia berani melawannya dan mengikuti Maminya pergi,
sedangkan Lifia saat ini merasa sangat kesal karena Defran tidak mengatakan apapun, jika penguntit itu
sudah ditangkap dan ada keterlibatan keluarganya. Defran seolah merahasiakannya untuk
memanfaatkan keadaannya yang ketakutan selama ini dan itu membuatnya merasa dibohongi oleh
Defran.

Saat ini keduanya sedang melangkahkan kakinya bersama menuju lift. "Lifia kamu kayaknya butuh
liburan, kamu tahu nggak yang minta tolong Mami bawa kamu keluar dari apartemen Defran siapa?"
Ucap Liana.

"Siapa Mi?" Tanya Lifia penasaran.


"Kiran," ucap Liana membuat Lifia berpikir keras dan menduga kenapa Kiran meminta bantuan Liana.
Keduanya saat ini segera masuk kedalam Lifit. Tak butuh waktu lama lift terbuka lalu keduanya
melangkahkan kakinya menuju lobi apartemen ini. Didepan teras lobi mobil Liana bersama

1/6

Jangan mau
supirnya telah siap membawa mereka pergi dari Apartemen ini.

"Mbak Kiran Mi? Kenapa Mbak Kiran pengen aku keluar dari apartemen Mi?" Tanya Lifia bingung.

"Iya, Kiran...dia bilang kamu hari Kamis ini akan pergi ke Paris dan dia yakin Defran tidak akan
mengizinkan kamu pergi, Defran anak Mami itu keras kepala sekali Lifia. Hmmm...Mami tahu kamu cinta
sekali sama Defran tapi apa kamu siap jika dia mengekang kamu?" Tanya Liana penasaran dengan
jawaban Lifia, karena ia tidak mau nanti tumah tangga Defran dan Lifia, bermasalah karena Defran yang
keras kepala tidak bisa Lifia kendalikan.

"Aku..." ucap Lifia.

"Nak...menikah itu bukan satu satu dua hari, kalian akan hidup bertahun-tahun hingga maut
memisahkan kalian, Mami nggak mau ada kata perceraian. Maksud Mami, kamu kan tahu bagiamana
sikap Defran selama ini sama kamu, dia itu overprotektif banget dan dia nggak suka kamu jadi artis. Ike
saja manajer kamu kewalahan saat meminta izin sama Defran agar mengizinkan kamu ke Paris," ucap
Liana. Kiran adalah sahabat karib Ike dan ia mengatakan kesulitan Ike untuk berkomunikasi dengan Lifia,
setelah Lifia tinggal bersama Defran.

"Aku yakin Mas Defran nggak akan mengerti Mi, lagian kalau sudah menikah dan punya anak aku ingin
seperti para bestie yang mendukung karir suaminya," ucap Lifia. "Aku bukan berhenti dari dunia yang
membesarkan namaku Mi, tapi aku akan menguranginya dan meminta izin dari suamiku nanti untuk
bekerja dibeberapa proyek film yang menurutnya bagus Mi," ucap Lifia. la sudah bisa memahami sedikit
karakter seorang Defran Satyas calon suaminya itu dan ia yakin calon suaminya itu tidak akan
menyakitinya, apalagi berbuat buruk padanya. Hanya Defran yang ia inginkan dan sampai saat ini, ia
tidak akan

2/6

Jangan mau
berubah dengan keyakinan jika hidup bersama Defran adalah hal yang sangat membahagiakan baginya.

Saat ini keduanya telah berada didalam mobil dan supir segera melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang. Dalam perjalanan menuju kediamannya, Liana menceritakan bagaimana masa kecil Defran dan
ia terkejut ketika tahu Defran memilki kesulitan tidur karena kebiasaan buruknya. "Sebenarnya Defran
itu sulit tidur Lifia, kondisi itu terjadi ketika dia kuliah karena dia kebiasaan membaca buku hingga lupa
waktu dan akhirnya menyebabkan dia kesulitan tidur," ucap Liana dan ia sangat prihatin dengan kondisi
putranya yang akhirnya hanya bisa tidur ketika pagi hari pukul sembilan, sementara pukul sembilan
Defran harus bekerja.

"Defran akhirnya selalu mengambil dinas malam karena agar ia bisa beritirahat pagi," ucap Liana.

"Tapi Mi Mas Defran sekarang malah nggak pernah lagi Dinas malam, setiap malam dia nemenin Lifia
kok Mi," ucap Lifia. la selalu memperhatikan Defran yang selalu bekerja pagi hingga sore dan Defran
selalu ada ketika malam bersamanya. "Tapi kayaknya Mas Defran kalau malam bisa tidur, Mi," ucap Lifia.

"Iya makanya Mami bersyukur banget kalau Defran bisa beristirahat malam, soalnya Mami sampai
bingung kapan bisa berinteraksi sama putra Mami itu kalau siang hari. Dia tidur kalau pagi sampai siang
dan itu kan nggak sehat banget Lifia, kalau bukan minum obat tidur saat malam hari, Defran itu nggak
bisa tidur," ucap Liana.

"Bera banget sama aku ya Mi yang ganggang banget tidur," ucap Lifia.

"Iya kalian berdua itu aneh makanya Mami bilang jodoh banget dan kamu itu istri yang sangat tepat
buat Defran! Ucap Liana.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di

3/6

Jangan mau
kediaman Nasir Satyas dan keduanya segera turun dari dalam mobil, lalu melangkahkan kakinya masuk
kedalam kediaman ini. "Astaga Mi...aku kemari tapi tadi jadi lupa bawa baju Mi, hmmm...apa malam ini
aku pulang saja ke Rumah Ayah dan Ibu, Mi?" Tanya Lifia menghela napasnya. Jika ia bisa kembali ke
Kediaman orang tuanya saat ini juga, ia akan merasa lega karena ia tak perlu bertemu Defran saat ini. la
tidak ingin luluh karena tergiur dengan

wajah tampan yang pastinya, akan membuatnya rindu ingin memeluknya.

"Baju kamu itu sudah ada banyak Lifia, saat kamu pulang lebih dulu ke Bali, Defran meminta Salsa dan
Kila untuk membelikan kamu pakaian termasuk pakaian dalam, semua sudah tersedia sayang!" Jelas
Liana membuat Lifia tekejut. la memang ingin sekali berbelanja bersama dengan Salsa dan Kila, namun
Defran segera mengajaknya

4/6

Jangan mau
pulang hingga ia tidak bisa menghabiskan sisa liburannya bersama keluarga besar Defran.

"Iya Mi, hmmm...kamar aku dimana, Mi?" Tanya Lifia dan ia merutuki kebodohannya karena masih
bertanya mengenai kamarnya di Rumah ini, sedangkan seperti biasanya ia akan menepati kamar yang
berada dihadapan kamar Defran.
"Kamu mau pindah ke kamar Defran?" Goda Liana.

"Eng...enggak Mi," ucap Lifia gugup dan ia menggelengkan kepalanya.

"Kalau iya juga nggak apa-apa," ucap Liana. la bahkan telah memerintahkan orang suruhannya, untuk
memperbaiki cctv dikoridor kamar Defran dan Lifia, untuk mengantisipasi sesuatu hal yang menarik yang
membuatnya sangat penasaran.

"Beneran Mi, aku tinggal dikamar yang lama saja, tapi kalau Mami mau aku tidur sama Salsa juga nggak
apa-apa!" Ucap Lifia dan ia mengelus tengkuknya karena ia sangat gugup saat ini.

"Sebentar lagi pasti Defran akan pulang kemari dan hahaha...benar kan kata Mami," ucap Liana tertawa
saat melihat Defran melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, namun ia sengaja tidak menegur
Liana dan Lifia atau bahkan mengucapkan salam karena ia sangat kesal saat ini.

Lifia mengepalkan tangannya, harusnya ia yang sangat kesal dengan Defran, bukan Defran yang sangat
kesal padanya seperti ini. "Kamu cuekin saja dia jangan mau tegur duluan!" Ucap Liana.

"lii...iya Mi," ucap Lifia.

"Coba jangan ngalah sama dia...Lifia!" Perintah Liana dan ia tersenyum lembut dengan calon
menantunya ini.

5/6

Jangan berantem ya.


Jangan berantem ya
Lifia menatap pintu kamarnya, Defran tidak datang menemuinya, sepertinya Defran sangat marah
padanya dan itu membuatnya sangat kesal. Harusnya ia yang marah dengan Defran, karena ia tidak
mengetahui apapun mengenai masalah yang telah membuat hidupnya berantakan. la sangat ingin tahu
siapa pelaku penguntit dan dalangnya dibalik kejadian yang telah membuatnya ketakutan itu. Tentu saja
rasa was-was dan takut selalu menghantuinya selama ini, hingga membuatnya merasa tidak nyaman
dikeramaian. Defran Satyas tega merahasiakan semua ini dari dirinya dan tidak mengatakan jika
penguntit itu telah tertangkap, hingga membuatnya berpikir jika penguntit itu masih berkeliaran
disekitarnya. Ketakutannya ini membuatnya dangat bergantung dengan seorang Defran Satyas.

Lifia memutuskan untuk tidak mengalah dan ia juga diam saja sama seperti yang Defran lakukan. la
butuh penjelasan dan ia yakin Defran Satyas memilih untuk tidak menjelaskan apapun padanya dan itu
sangatlah menyebalkan. la harus kuat dan bertahan untuk terlihat marah kepada Defran meskipun itu
sangat berat baginya. Ketukan pintu membuat Lifia segera membukannya dan terlihat sosok Salsa
tersenyum padanya. Salsa segera memeluknya dengan erat, ia terlihat sangat senang melihat
kedatangan Lifia.

"Wah senang banget kalau kamu datang, Mbak," ucap Salsa. "Rumah jadi rame banget," ucap Salsa.
"Rame? Bukannya tumah ini memang selalu rame Sa, ada keponakan kita dan ada yang masakin kamu
makanan enak," ucap Lifia mengingat Kana kakaknya itu juga sangat

1/6

Jangan berantem ya
pintar memasak.

"Iya makanya kalian itu bertiga koki cantik coba saja aku punya kakak laki-laki satu lagi, pasti Mbak Kiran
juga akan menjadi menantu di Rumah ini," ucap Salsa.

"Bisa saja kamu," ucap Lifia tersneyum. la dan kedua kakak perempuannya itu memang mahir jika itu
dalam hal memasak. Apalagi mereka sejak kecil, telah melihat Murni ibunya yang setiap hari memasak
hingga membuka catering. Apalagi ibu dan Ayah mereka memang mengajarkan mereka mandiri, namun
mereka juga bisa bermanja kepada kedua orang tuanya itu yang selalu melimpahkan kasih sayang
kepada keempat anaknya.

"Sepertinya ada yang mau ke Paris nih..." goda Salsa.

la telah mengetahui hal ini dari Maminya dan baginya ini pasti akan sangat seru karena kakak keduanya
yang berkepresi minim itu pasti sangat keberatan.

"Iya ada kerjaan," ucap Lifia tersenyum.

"Mas Def itu nggak setuju Mbak pergi, kita semua tahu kok karakter dia, apalagi dia nggak suka melihat
Mbak pakai baju seksi di catwalk dan di Paris itu banyak laki-laki hot yang seksi melebihi dia. Mereka
juga sangat ramah dan nggak dingin kayak Mas Def...cemburunya Mas Def itu luar biasa banget loh
Mbak," ucap Salsa menyunggingkan senyumannya mengingat kekesalan seorang Defran Satyas.

Cemburu? Lifia bahkan belum pernah melihat Defran cemburu padanya, Defran yang ia kenal hanya
sering berkata kasar padanya bahkan tak segan untuk menghinanya. Defran yang sekarang jauh berbeda
karena menujukkan sikap yang lebih manis padanya dan itu saja telah membuatnya bahagia. Apalagi
ketika mengingat kontak fisiknya bersama Defran yang membuatnya merasa itu semua sangatlah
romantis.

"Mas Defran nggak akan cemburu, kayak dia cinta

2/6

Jangan berantem ya
banget gitu sama aku Sa," ucap Lifia sekaan tak percaya dengan ucapan Salsa. Defran memang akan
menikahinya dan mungkin itu sebagai bentuk tanggung jawab Defran, untuk menjaga nama baiknya.
Apalagi ia dan Defran tinggal dalam satu kamar lalu Defran sudah terbiasa dengan kehadirannya hingga
kontak fisik bisa saja dilakukan Defran, karena merasa ia nyaman padanya. Kenyamanan itu bukan cinta
dan Defran yang merupakan laki-laki yang bertanggung jawab, pasti akan menikahinya.
Lifia samgat bersyukur Defran akan menikahinya dan ia tak berharap banyak, Defran tidak memiliki
perasaan padanya sebagai perempuan yang dicintainya namun ia memang ia tahu Defran mungki
merasa terbiasa dengannya. Apalagi Defran tidak mengatakan jika ia mencintainya, hanya saja Lifia tahu
Defran Satyas sangat menyayanginya. "Astaga Mbak, gimana ya mau jelasin ini semua sama Mbak, Mas
Defran itu yang anti permepuan dan anti sosial itu, kalau berurusan sama Mbak dia jadi sangat sensitif,
sikapnya jadi aneh banget loh Mbak," ucap Salsa.

"Nggak ada yang aneh Sa, Mas Defran yang sekarang itu normal saja tetap sama sikapnya yang dingin,
apalagi kalau sedang marah," ucap Lifia.

"Nanti deh kalau Mbak sudah sadar si dingin yang Mbak kenal itu akan jadi sosok aneh karena cinta,
beneran Mbak. Mas Defran itu sangat mencintai Mbak," ucap Salsa dan ia menghela napasnya karena
Kakaknya yang bodoh itu, malah mempersulit dirinya sendiri jika berhadapan dengan sosok Lifia. " Ayo
kita makan malam Mbak, udah lapar nih..." ucap Salsa mengajak Lifia, agar segera menuju ruang makan
karena makan malam keluarga akan segera berlangsung. Habis magrib seperti ini keluarganya memang
akan makan malam bersama dan itu dilakukan setiap hari oleh keluarga besar mereka. Berkumpul
makan

3/6

Jangan berantem ya
malam seperti ini seolah telah menjadi kewajiban setiap anggota keluarganya.

Salsa dan Lifia melangkahkan kakinya bersama, Lifia melihat semua keluarga telah duduk santai di ruang
makan. Lifia mengedarkan pandangannya mencari sosok Defran dan ia tidak menemukannya. la
menghela napasnya, tetap saja ia akan perhatian dengan sosok yang ia cintai setengah mati itu. "Mas
Def mana Mi?" Tanya Salsa dan ia sengaja duduk disamping Lifia.

"Ada, itu..." ucap Liana menujuk Defran yang melangkahkan kakinya mendekati mereka, lalu duduk
dihadapan Lifia. Sorot matanya tampak dingin hingga membuat Lifia yang bertemu mata dengan mata
Defran, segera mengalihkan pandangnya. Defran masih sangat marah padanya, Serkan menyunggingkan
senyuman melihat adiknya ini terlihat sedang menatap Lifia dengan dingin. la ingin tertawa karena sikap
adiknya ini bukannya membuat perempuan yang ada dihadapannya ini menjadi menyayanginya, tapi
perempuan yang ditatap seperti ini olehnya akan sangat kesal padanya.

"Kalian lagi marahan?" Tanya Serkan membuka pembicaraan.

"Siapa Mas?" Tanya Kana kepada suaminya ini.

"Mereka berdua, yang satu seperti ketakutan akan dimangsa karena dia dari tadi matanya seolah ingin
melahap Lifia," ucap Serkan membuat Defran menatap Serkan dengan dingin. "Kamu...jangan tidak
sopan kepada saya Def!" Ucap Serkan. la akan memakai otoritasnya sebagai seorang Kakak sulung yang
memilki kedudukan lebih tinggi dari Defran Satyas. "Jangan melampaui batas!" Ucap Serkan.
Defran mengeraskan rahangnya dan ia mengunyah makanannya dengan kesal. Liana dan Salsa menahan
tawanya melihat kekesalan Defran. Defran memang tidak

4/6

Jangan berantem ya
takut menerima hukuman dari Kakek, Papinya dan Kakak sulungnya, namun ia terbisa mengalah karena
sangat menghormati mereka semua.

"Habiskan makananya kalau kalian berdua mau berantem Papi jadi jurinya saja Serkan!" Ucap Nasir
membuat Kana menggelengkan kepalanya sama halnya dengan Lifia yang saat ibu melototkan matanya.
Kana pernah melihat wajah suaminya itu kebab dan ternyata itu

diakibatkan ia aduh tanding dengan adiknya sendiri yaitu Defran.

"Nggak usah pakai berantem apa lagi di tanding Pi, mereka nanti luka-luka dan Mas Serkan akan sangat
manja sama aku kalau sakit," ucap Kana membuat mereka semua tersenyum.

"Soalnya tadi kayaknya lagi sengit sekali, Papi kan jadi suka nonton live adu tanding mereka kayak dulu!"
Ucap

5/6

Jangan berantem ya
Nasir.

"Pi...jangan keterlaluan Pi! Dulu beda mereka nggak ada istri sekarang kan sudah ada yang bakal
khawatir kalau luka dikit. Aduh... Mami Kok ingat saat Janu sama Defran berantem," ucap Liana
mengingat Janu keponakan suaminya itu bertarung dengan Defran, lalu keduanya sama-sama terluka
parah.

"Udah Pi...jangan berantem jangan diizinkan!" Ucap Kana membuat Serkan mengelus kepala Kana
dengan lembut. "Kalau Defran kenapa-napa Lifia bisa pingsan loh..." goda Kana membuat wajah Lifia
memerah dan ia menggelengkan kepalanya.

"Nggak kok Mbak, ngapain aku pingsan..." ucap Lifia dan mata Defran kembali menatap Lifia dengan
tatapan tajam.

Komentar lainnya

Berikan Suara

6/6
Pergi saja.
Pergi saja
Defran yang sangat marah itu terlihat sangat jelas memperlihatkan jika dirinya benar-benar sangat
marah saat ini. Biasanya ia hanya akan menujukkan wajah datarnya saja tapi tidak dengannya hari ini, ia
terlihat sangat kesal mendengar ucapan Lifia. Apalagi Lifia telah lancang melawan perintahnya hingga
memilih pulang ke Rumah orang tuanya. Setelah makan malam selesai semua keluarga tampak duduk
bersantai di ruang keluarga sedangkan Lifia saat ini sedang berada didapur. la butuh minum perasan
lemon ditambah dengan serai dan juga sedikit madu.

Lifia meminumnya dengan santai dan ia sangat terkejut saat ia berbalik ada sosok Defran dihadapannya,
namun sosok itu sama sekali tidak mengatakan apapun dan terlihat acuh padanya. Lifia pun bertekad
melakukan hal yang sama dan ia mempercepat langkah kakinya menjauh dari Defran setelah ia
menghabiskan minumannya. Lifia mengambil ponselnya yang merupakan ponsel milik Defran dan ia
merutuki kebodohannya karena tidak mengambil ponsel miliknya yang saat ini masih berada bersama
Defran.

'Dasar bego harusnya kemarin itu aku minta ponsel aku sama dia, kalau begini kan aku ajak dia ngomong
aku bisa kalah, Batin Lifia. Jika ia yang mengajak Defran bebicara berarti ia yang kalah dan ia tidak ingin
itu terjadi, karena ia ingin mempertahankan harga dirinya saat ini.

Lifia bergabung bersama keluarga Defran yang sedang duduk di ruang keluarga, biasanya mereka akan
berbincang mengenai kelucuan para keponakan Defran

1/7

Pergi saja
dan juga keinginan Maminya, yang ingin mencarikan Salsa pacar agar tidak jomblo setiap malam minggu.

"Setiap malam minggu kamu selalu di Rumah, dulu ya Mami itu kalau malam minggu waktu yang sangat
kita tunggu, Mami dan Papi dulu pacaran itu naik motor keliling gitu ya Pi, hmmm kepasar malam Pi,"
ucap Liana mengenang masalah lalu membuat Nasir tersenyum.

"Kita juga sering malam mingguan ya Mas..." ucap Kana kepada Serkan, membuat Serkan
menganggukkan kepalanya dan sebelah tangannya menepuk pelan puncak kepala istrinya. Bagi Lifia
Serkan dan Kana adalah pasangan sempurna yang saling melengkapi, keduanya bahkan tidak berpacaran
sebelumnya. Pasangan romantis yang sempurna dan setiap keduanya menujukkan kemesraan seperti
ini, Lifia dan Salsa merasa sangat iri melihat keduanya.

Kamu nggak bosan dek?" Goda Liana kepada putri bungsunya.

"Bosan banget tapi kan kalau mau pacaran katanya nggak boleh cowok sembarangan," ucap Salsa.
"Pacaran saja sama Dokter Zilo," ucap Nasir menyunggingkan senyumannya ketika melihat putrinya itu
terlihat kesal dengannya membuatnya merasa sangat terhibur. Salsa yang manja akan sangat cocok
dengan seorang darah keturunan Alexsander yang merupakan seorang dokter yang sangat hebat itu.
Arzilo Alexsander putra bungsu sahabatnya itu adalah sosok mandiri dan ia sangat menganggumkan,
karena sangat menyayangi keluarganya dibalik sikap dinginya.

"Pi, nggak bosan apa jodohin Salsa sama dia, dia itu sebelas dua belas sama Mas Defran. Punya kakak
yang aneh kayak Mas Defran saja sudah membuat aku pusing banget karean menerka gitu, apa maunya!
apalagi kalau aku sampai menikah sama dia...ya ampun dia saja sudah

2/7

Pergi saja
kayak patung dewa gitu itu loh, biarpun dia ganteng tapi kan butuh ekspresi gitu. Kayaknya waktu lahir
saat pembagian hati...hatinya kurang berapa persen makanya jadi nggak punya hati," ucap Salsa
membuat Serkan mengangkat sebelah alisnya karena adik bungsunya ini, baru kali ini terlihat begitu
emosi dengan sosok yang saat ini sedang mereka bicarakan.

"Def...Zilo itu bukanya temannya kamu?" Tanya

Serkan. Zilo dan Defran merupakan sahabat dekat namun kesibukan membuat keduanya jarang bertemu
apalagi keduanya sama-sama bekerja sebagaian seorang Dokter. Kalau Defran bekerja sebagai dokter
polisi sedangkan Zilo memnag menjadi dokter spesialis dirumah sakit swasta.

"Iya," ucap Defran yang baru saja duduk bergabung bersama mereka.

"Iya temannya Mas Defran makanya kalau dia bertemu keduanya itu sama-sama nggak ada obrolan
sama sekali, sekalinya ngobrong bahasannya tentang teori atau hal yang berkaitan dengan dunia
kesehatan, dasar membosankan," ucap Salsa kesal.

Pertemuan Defran dan Zilo bahkan menjadi bahan perbincangan ketika keduanya saat itu menjadi
narasuber seminar yang diadakan oleh salah satu Universitas ternama dan keduanya sama-sama
tampan, pintar dan berkarakter dingin. "Ya ampun Sa coba kamu sama Zilo pendekatan saja dulu!" Ucap
Liana. "Mamanya Zilo itu baik banget Za dan dia itu ibu mertua yang sangat menyangi menantunya,"
ucap Liana yang sangat mengenal calon besannya itu.

"Nanti kalau nggak dapat laki-laki lagi mungkin saja aku mau, tapi kan aku itu masih muda Mi, jalan
masih panjang..." ucap Salsa.

"Mami dan Papi itu maunya kalian semua sudah

3/7
Pergi saja
menikah jadi Mami dan Papi bisa jalan-jalan ke mana gitu tanpa mengkhawatirkan kalian. Mami nggak
mau pergi jalan-jalan sama Papi menikmati hidup kalau Kamu dan Defran belum menikah, apalagi kamu
Sa, kalau salah memilih suami aduh...nak amit-amit Mami maunya yang terbaik untuk kamu," ucap
Liana.

Lifia tersenyum, Liana sama halnya dengan Murni

ibunya. Walaupun Murni bukanlah ibu kandungnya namun Murni sangat menyanginya dan itu
menbuatnya bersyukur. Setelah badai hidupnya ketika kecil berlalu ia akhirnya mendapatkan kasih
sayang yang tulus dari saudari ibunya itu bahkan Subekti juga sangat menyayanginya. la bukan hanya
sekedar keponakan bagi keduanya. "Defran..." panggil Nasir.

"Iya Pi," ucap Defran sambil melihat kearah sang Papi.

"Kamu kenapa tidak memberitahu Papi dan Mami kalau kamu sedang mengurus surat pendaftaran
pernikahan kamu?" Tanya Nasir.

"Papi sudah tahu tanpa saya beritahu," ucap Defran membuat Nasir menghela napasnya. Putranya ini
tahu jika selama ini gerak-geriknya pun tak luput dari pengawasannya.

"Def kamu ini bisa tidak beritahu Papi secara formal?" Tanya Nasir.

"Bisa, sekarang saja saya jelaskan, Pi!" Ucap Defran. Lifia tidak terkejut lagi dengan sikap Defran ini,
apalagi Defran bukan hanya bersikap seperti ini kepadanya tapi juga kepada keluarganya.

"Jelaskan!" Ucap Defran.

"Semua berkas sudah siap Pi, tinggal meminta wali dari orang tua kandung Lifia," ucap Defran membuat
Lifia menundukkan kepalanya jantungnya berdetak dengan kencang jika itu membahas mengenai orang
tua

4/7

Pergi saja
kandungnya yang hanya tinggal satu itu yaitu Papi kandungnya.

"Kamu sudah menghubungi mereka?" Tanya Nasir penasaran dengan apa tindakan yang akan Defran
lakukan.

"Tidak bisa dengan cara biasa, Papi tidak usah ikut campur karena saya bisa menyelesaikannya dengan
cara saya Pi!" Ucap Defran membuat Nasir menghembuskan

napas kasarnya karena ia sangat kesal saat ini. "Lagian ada Mas Serkan yang pasti akan membantu!"
Ucap Defran.
"Papi...Defran itu nggak mau Papi pusing kayak biasa, dia kan anak ajaib kita yang sulit banget kita
mengerti Pi!" Ucap Liana sinis, membuat Defran menghela napasnya. "Def... Lifia akan pergi ke Paris
karena pekerjaannya sudah menunggu disana, Paris itu impiannya Def jadi kamu jangan coba
menghalangi karirnya dia!" Ucap Liana.

5/7

Pergi saja
"Mami nggak perlu mewakilkan dia untuk mengatakan hal ini sama saya, lakukan jika dia ingin
melakukannya, dia tidak perlu izin dari saya lagi karena dia belum menjadi istri saya!" ucap Defran dingin
membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang, apalagi ucapan Defran seolah mengiris hatinya yang
saat ini merasa kecewa. Defran kembali menjadi Defran yang dingin dan sulit untuk ia sentuh.

"Iya Mi, benar apa kata Mas Defran, aku nggak boleh bergantung sama dia apalagi meminta izin sama
dia aku mau kemana Mi. Rencananya hari Kamis aku dan Sandra akan ke Paris," ucap Lifia.

"Berapa lama Mbak?" Tanya Salsa.

"Belum bisa dipastikan Sa, bisa jadi nanti tiga bulan," ucap Lifia sengaja berbohong karena kesal dengan
sikap Defran. Sebenarnya paling lama ia berada di Paris sekitar sepuluh harian, namun ia masih sangat
kesal dengan sikap Defran dan ia sengaja mengatakan hal ini, untuk melihat sikap apa lagi yang akan
ditunjukkan Defran padanya.

"Kenapa nggak pergi satu tahun atau dua tahun?"

Tanya Defran dingin membuat Lifia menahan dirinya untuk tidak meluapkan emosinya saat ini juga.
Defran bahkan memintanya pergi sangat lama dan ucapan Defran membuatnya sangat kecewa. Liana
dan Salsa saling berpandangan lalu keduanya menghela napasnya. Maksud Liana ingin membiarkan Lifia
ke Paris agar bisa menggapai impiannya dan setelah itu, ketika nanti Lifia menjadi istri Defran, Lifia
belum tentu bisa pergi bebas sesuai dengan keinginannya.

14

Komentar lainnva

Berikan Suara

6/7

Dia sangat marah.


Dia sangat marah
Lifia sangat kesal mengingat ucapan Defran, setelah pembicaraan mereka selesai saat itu, Lifia segera
pamit menuju kamarnya karena ia sangat kesal. Bagaimana ia tidak kesal karena Defran mengatakan
seolah Defran tak akan pernah merindukannya meskipun ia pergi satu tahun atau dua tahun lamanya.
Ucapan Defran ini benar-benar telah membuatnya sangat kecewa, bahkan ia ingin sekali menangis
setiap ia mengingatnya. Sudah tiga hari ia tidak bertegur sapa dengan Defran dan hari ini ia akan pergi
ke Paris bersama Sandra.

Pagi-pagi sekali Sandra datang menjemputnya dan keduanya saat ini telah berada didalam mobil menuju
bandara. Supir Sandra yang diperintahkan khusus oleh Marco suami Sandra yang akan mengantar
Sandra dan Lifia ke Bandara. Hubungan Sandra dan Marco saat ini masih sangat dingin, keduanya akan
berbincang ketika itu membahas mengenai Dikta putranya, selain itu keduanya sibuk dengan urusan
mereka masing-masing. Apalagi Marco juga telah berjanji mengizinkannya pergi ke Paris bersama Lifia
dan Sandra, dulu ia pasti akan bingung dengan siapa yang akan menjaga putra semata wayangnya itu
tinggal tapi sekarang ada Marco suaminya yang pastinya akan menjaga putranya.

"Wah banyak juga makanan yang dibuatin Ibu dan Mami Liana ya Lif," ucap Sandra.

"Iya mereka takut aku nggak sempat masak Apalagi makanan disana belum tentu cocok untuk kita. Ada
rendang dan dendeng ini kan bisa buat makan selama satu minggu," ucap Lifia. Sandra bisa melihat jika
Lifia saat ini terlihat berat untuk pergi apalagi dengan keadaan ia yang

1/6

Dia sangat marah


tidak bertegur sapa dengan Defran Satyas.

"Iya Lif...hmmm...Mas Defran nggak ngaterin kamu ke Bandara?" Tanya Sandra.

"Nggak ada....dia marah sama aku, dia bahkan ingin aku pulang satu atau dua tahun," lirih Lifia. "Begini
nih kalau dia nggak cinta sama aku, tapi akunya yang sangat cinta sama dia. Aku terlalu berharap
makanya hatiku pasti bakal kecewa, tapi aku tetap nggak mau melepaskan dia Sandra. Aku akan lebih
sakit lagi kalau ...hmmmm...kalau Mas Defran menikahi perempuan lain, paling nanti kita disini sebulan
saja atau nanti kamu bisa pulang lebih dulu setelah pekerjaan selesai. Soalnya aku pengen menikmati
waktu santai liburan gitu disini selama sebulan," ucap Lifia.

"Kamu yakin mau lama di Paris?" Tanya Sandra.

"Iya, tapi kamu pulang saja Sandra kasihan suami kamu dan anak kamu, kalau lama kamu tinggal ke
Paris!"

Ucap Lifia.

memangnya kamu berani sendiri?" "Iya sih...hmmm memang

Goda Sandra.

"Nggak sih tapi kan aku harus coba mandiri, lagian ada Gracela yang katanya mau nemenin aku jalan-
jalan," ucap Lifia. Garcela adalah super model yang telah lama bekerja di Paris dan ia dulu juga pernah
berkarir di Indonesia. Lifia dan Gracela menjadi akrab saat ada acara Fashion star di Singapura, keduanya
sama-sama menjadi bintang tamu diacara tersebut.

"Tapi kenapa aku nggak yakin ya Lif, kamu bisa pergi lama gitu sekarang, kamu nggak kengen sama Mas
Defran..." goda Sandra.

"Kayaknya usaha dulu biar nggak kangen sama Mas Defran, lagian dia tega banget merahasiakan
semuanya dari aku Sandra, apa aku nggak berhak tahu tentang penguntit itu apalagi mereka sepertinya
bukan hanya ingin

2/6

Dia sangat marah


membuat namaku buruk dan karirku hancur, tapi mereka ingin hmmm...membunuhku," ucap Lifia. la
ingin tahu siapa dalangnya dan kenapa mereka tega melakukan semua itu padanya.

"Selama ini aku merasa aku nggak pernah berbuat jahat sama seseorang, banyak kok artis yang lebih
cantik bahkan lebih terkenal dari aku tapi mereka juga nggak mendapatkan masalah kayak aku. Aku
sempat berpikir buruk tentang fansku dan merasa curiga terus menerus ketika aku bekerja, menduga
apa ada dari mereka yang ingin menyakitiku," ucap Lifia sendu.

Sandra mengerti Lifia kesal dan marah kepada Defran yang merahasiakan semuanya, tapi Sandra juga
berpikir apakah Defran ingin melindungi Lifia dengan cara seperti itu. Tidak memberitahukan Lifia adalah
jalan yang terbaik untuk saat ini mungkin itu yang dipikirkan Defran namun Defran yang dingin memnag
tidak suka banyak berbicara hingga membuat Lifia salah paham. Beberapa menit Kemudian mereka
sampai di Bandara dan Lifia terus menolehkan kepalanya ke belakang berharap Defran datang. Jika
Defran menghentikannya sekarang dan ingin menjelaskan semuanya ia memilih untuk tidak pergi.

"Kenapa ragu buat pergi?" Tanya Sandra.

"Aku berharap dia datang," ucap Lifia sendu. Sandra tersenyum dan ia bisa mengerti jika Lifia saat ini
sedih karena Defran mengacuhkannya dan kembali kumat dengan sikapnya yang sangat menyebalkan.

"Yuk kita masuk, kayaknya memang Mas Defran nggak datang Lifia," ucap Sandra.

Keduanya segera masuk kedalam Bandara dan beberapa menit kemudian pesawat telah terbang menuju
Paris. Lifia menatap langit dan banyak hal yang ia pikirkan saat ini, tentang siapa keluarganya yang tega
menyakitinya. Sebenaranya ia sudah bisa menebak siapa

3/6

Dia sangat marah


dalangnya karena satu-satunya orang yang sangat membencinya adalah ibu tirinya. Istri kedua Papinya
yang menganggapnya biang masalah yang harus segera dilenyapkan dari muka bumi ini. Jika dulu Lifia
tidak memohon agar Subekti dan Murni membawanya pergi, mungkin tidak akan ada Lifia Ayu yang
masih bisa menghirup udara sebebas ini. Lifia memejamkan matanya meskipun ia takut namun ia bisa
bertahan karena ada Sandra disampingnya, apalagi Sandra bisa selalu menenangkannya.

Sementara itu saat ini Defran mengepalkan tangannya karena Lifia berani melawannya, bahkan Lifia
pergi tanpa mengajaknya bicara seolah ingin mengajaknya perang. Saat ini rapat sedang berlangsung di
Rumah sakit Satyas, namun tidak ada tanda-tanda dari Defran untuk pergi ke Bandara untuk mengantar
kepergian Lifia. Salsa yang duduk disamping Defran, ia sengaja ingin berbicara dengan Defran lalu
membujuk Defran untuk datang ke Bandara mengantar Lifia. "Mas..." panggil Salsa.

"Ada apa?" Tanya Defran.

"Mas kenapa nggak anterin Mbak Lifia ke Bandara?" Tanya Salsa.

"Dia bisa pergi sendiri ke Bandara," ucap Defran.

"Mas...Mbak Lifia itu pasti kesal juga sama Mas, makanya Mas itu harus lebih terbuka sama pasangan
Mas!"

Ucap Salsa mencoba menasehati Defran.

"Zilo kamu diminta Salsa untuk lebih terbuka padanya!" Ucap Defran tiba-tiba membuat Salsa membuka
mulutnya, apalagi semua peserta rapat yang saat ini masih berada diruang rapat ini, menatap kearah
Defran dan Salsa.

Wajah Salsa memucat dan ia melihat kearah Zilo, yang mata dinginnya sedang menatapnya seolah ingin
menghancurkannya saat ini. "Mas udah gila ya?" Ucap

4/6

Dia sangat marah


Salsa pelan nyaris tidak terdengar jika Defran tidak berada disampingnya.

"Biar kamu tahu dan paham jika kamu sering kali ikut campur urusan pribadi saya, kamu akan menerima
akibatnya. Saya akan mendukung Mami dan Papi untuk menikahkan kamu dengan Zilo. Apalagi saya
telah mendengar jika Zilo tidak ingin pacaran karena baginya pacaran itu sangat membosankan. Dia akan
langsung

menerima perempuan yang disukai orang tuanya," ucap Defran membuat Salsa menelan ludahnya
karena ia tahu jika Maminya sangat akrab dengan orang tua Zilo.

"Mas aku itu hanya ingin menasehati Mas saja, sebagai sesama perempuan aku juga nggak mau
pasanganku itu nggak terbuka dengan aku Mas," ucap Salsa pelan.

"Zilo...Salsa ingin kamu membuka hati kamu!" Ucap Defran dengan suaranya yang cukup tinggi, kali ini
gosip
5/6

Berhalusinasi.
Berhalusinasi
Lifia sangat lelah karena pekerjaannya sangat menumpuk, namun ia sangat puas semua pekerjaannya
selsesai dengan sangat memuaskan. Apalagi ia bisa bertemu model dan aktris terkenal lainnya yaitu para
selebriti Hollywood bahkan ada juga idol Korea, yang juga mengikuti acara yang ia hadiri beberapa hari
yang lalu.

Lifia juga mendapatkan penawaran untuk ikut casting film dari sutradara ternama yang sering kali
membut film yang tentunya sangat disukai oleh penonton dari berbagai negara. Sutradara itu tertarik
melihat kencantikan dan keanggunan Lifia sebagai wajah Asia yang menurutnya cocok berkarir di
Hollywood.

Lifia melihat Sandra yang telah siap dengan kopernya, hari ini Sandra akan pulang ke Indonesia setelah
sepuluh hari lamanya ia berada di Paris. "Kamu yakin belum mau pulang?" Tanya Sandra menatap Lifia
dengan tatapan menilai.

"Sebenarnya nggak yakin tapi disini jauh lebih aman dari penguntit atau apapun," ucap Lifia. la memang
sangat sering menghubungi Ibunya berjam-jam, lalu juga telah diberikan akses oleh Kana untuk melihat
video cctv dikediaman orang tua mereka jika ia snagat merindukan keluarganya. "Sebenarnya yang aku
kangenin itu ibu sama ayah, karena waktu pamit pergi ke Paris, aku hanya sebentar sekali bertemu
mereka,"

ucap Lifia, sebelum menuju bandara saat itu ia memnag mampir sebentar ke Kediaman orang tuanya
untuk pamit pergi.

"Kamu nggak kangen, Mas Def?" Tanya Sandra.

"Kangen banget...hmmm, tapi ya...dia masih marah.

1/6

Berhalusinasi
Sebenarnya kamu tahu kan Fashion show yang ada disini itu impianku banget, apalagi aku bisa memakai
baju dari desainer ternama dunia. Suatu prestasi yang sangat besar yang aku capai, mungkin kalau nanti
aku menikah dengan Mas Def, aku nggak akan bisa seperti ini lagi. Impian aku akan berubah Sandra, aku
ingin menjadi ibu rumah tangga dan fokus pada keluarga dan aku nggak mau keluargaku terabaikan
karean keegoisanku dalam karir," ucap Lifia.

Sandra mengerti maksud Lifia, ini yang terakhir Lifia bekerja jauh seperti ini tanpa izin Defran karena jika
Defran Satyas telah menjadi suaminya, Lifia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Defran.
"Seperti sekarang kamu aku tinggalkan sendirian disini dan kamu hanya ngandelin Gracela buat
menemani kamu, bagaimana kamu tidur malam ini Lifia? kamu yakin trauma kamu sudah sembuh
sepenuhnya?" Tanya Sandra yang tidak yakin Lifia akan bertahan seorang diri malam ini tanpa
ketakutan, apalagi Gracela mungkin akan kembali ke kota ini besok pagi.

"Bukanya aku harus mandiri? Harus melewati ini sendirian...banyak hal yang sudah terjadi dalam
hidupku Sandra. Misalnya dipukul dan dikurung ibu tiri, tidak diberikan makanan selama dua hari dan
hampir mati," ucap Lifia. "Sepertinya ini bukanlah apa-apa," ucap Lifia membuat Sandra menghela
napasnya.

"Sampai kapan kamu akan disini?" Tanya Sandra.

"Hmmm satu minggu lagi saja," ucap Lifia. la ingin menikmati liburan singkat ini dengan santai.

"Nanti setelah pulang kamu akan bagaimana dengan Mas Defran? Gimana kalau Mas Defran punya
pacar baru Lifia?" Goda Sandra.

"Jangan nakutin Sandra, Mas Def nggak akan begitu!" ucap Lifia.

2/6

Berhalusinasi
"Loh...bisa saja dia marah dan lupain kamu, apalagi kamu nggak pernah menghubungi dia," ucap Sandra.

"Kalau begitu aku bisa apa, paling aku jadi sakit hati terus pergi saja tinggal jauh dari dia, aku kan bisa
kalau pulang hanya ingin ketemu Ibu dan Ayah, kalau para saudaraku mereka pasti akan datang
menemuiku apalagi Mbak Kiran udang ngancem aku harus pulang secepatnya kalau pekerjaan sudah
selesai dan kalau aku nggak pulang, Mbak Kiran akan datang jemput aku," ucap Lifia yang selama ini
selalu bergantung dengan sosok Kiran yang memang menjadi kakak perempuannya yang sangat mandiri
dan tangguh.

"Yaudah hati-hati ya Sayang...malam nanti jangan nangis kalau boboknya sendirian!" Goda Sandra lagi
membuat Lifia tersenyum dan Sandra mencium pipi kana dan kiri Lifia. la pamit pulang lebih dulu karena
ia sudah berjanji kepada Dikta untuk segera pulang, apalagi Dikta mengatakan dia dijaga oleh asisten
Papinya yang cantik dan entah mengapa Sandra merasa sangat kesal mendengar hal itu.

Sandra segera pamit, ia menggeret kopernya keluar dari apartemen ini dan ia melangkahkan kakinya
meninggalkan Lifia yang saat ini sedang menatap punggungnya yang menjauh lalu menghilang perlahan.
Saat ini Lifia duduk disofa dan ia merasa sepi, ya...meskipun ia ingin menghabiskan waktunya disini
beberapa hari lagi, tapi entah mengapa semangat itu hilang mengingat ucapan Sandra. Bisa saja Defran
menemukan perempuan lain saat ia pergi menjauh seperti ini dan itu membuat Lifia menjadi sangat
sedih. la jadi ingat apa ucapan para bestie, jika ia harus mengikuti kemana Defran pergi apalagi Defran
adalah makhluk tampan yang sangat memikat.

Semalam ia sudah mengajak para bestie video call bersamanya dan mereka sangat senang melihat Lifia
3/6

Berhalusinasi
mengatakan, akan segera bertemu dengan mereka lagi ketika pulang dari Paris. Lifia juga ingin
memberikan mereka oleh-oleh kepada mereka dan hari ini ia berencana untuk berpergian seorang diri
membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-temannya. Lifia tidak ingin mengharapkan hal yang tidak
mungkin terjadi, misalnya Defran datang menemuinya di Paris. Kota romantis yang harusnya bisa
dinikmati berdua dengan kekasihnya dan ia berharap suatu saat nanti ia bisa pergi bersama Defran ke
kota ini.

Lifia memakai makeup tipis dan ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen ini sambil membawa tas
kecilnya. la akan berkeliling kota dan melihat pemandangan Indah yang memanjakan matanya. la
berencana akan pulang malam hari ke mengunjungi Menara Eiffel dan menghabiskan waktunya disana.
Lifia menaiki taksi, ia belum paham bagaimana menggunakan angkutan umum dikota ini, ia menaiki taksi
dan taksi melaju dengan kecepatan sedang. Laki-laki parubaya yang menjadi supir taksi ini bertanya
mengenai asal Lifia dan ia memuji kecantikan Lifia yang menurutnya sangatlah menawan. Laki-laki
parubaya ini juga mengatakan agar Lifia pergi dengan hati-hati dan lebih baik ke tempat yang ramai
bukan bar atau pub yang bisa mengundang para lelaki untuk mendekati Lifia.

Lifia menerima nasehat itu karena ia memang berencana untuk tidak pergi ke sembarang tempat dan
hanya ke tempat wisata seperti tokoh oleh-oleh, toko pakaian dan toko roti. Lifia juga tidak seberani itu
berkeliaran ditempat yang mengundang kejahatan. Lifia sampai di toko oleh-oleh, ia fokus membeli
oleh-oleh untuk para bestie dan keluarganya. Ternyata berbelanja itu sangat mengaksikan dan ia telah
membeli banyak barang. "Astaga kalau belanjanya sebanyak ini, sepertinya aku harus pulang dulu nanti
ke Apartemen baru aku keluar lagi

4/6

Berhalusinasi
kalau mau lihat pemandangan menara Eiffel dimalam hari," ucap Lifia.

Lifia melihat toko kue yang rame didatangi para pengunjung dan seperti biasa, ia melihat review toko itu
terlebih dahulu dan setelah merasa toko itu memiliki review yang bagus, ia segera melangkahkan
kakinya masuk kedalam toko itu. Lifia memesan secangkir kopi hangat dan juga beberapa kue untuknya.
la melihat pemandangan

orang-orang yang sibuk berjalan bersama kekasihnya dari balik kaca toko ini, dengan tersenyum miris. la
sendirian disini dan ia ternyata bukanlah sosok orang yang akan merasa nyaman, jika menghabiskan
waktunya seorang diri. Beberapa lelaki bergantian datang mendekati Lifia untuk mengajak Lifia
berkenalan, namun Lifia menolaknya dengan lembut.

Lifia menghela napasnya dan ia membayangkan

5/6
Berhalusinasi
bagaimana menyenangkannya, jika ia bisa pergi bersama Defran berkeliling kota lalu duduk berhadapan
seperti ini.

Lifia menopang dagunya sambil memakan roti yang harusnya terasa enak, namun di lidahnya ia tidak
terlalu menikmatinya. Setelah pulang mungkin ia yang akan mengalah dan mengajak Defran berbicara
lebih dulu dan itu pasti akan ia lakukan, karena sekarang ia merasakan rindu pada sosok yang akan
menatapnya dengan dingin itu. Mata Lifia tertuju pada punggung sosok laki-laki yang telrihat seperti
punggung Defran, namun ia menghembuskan napasnya karena itu tidak mungkin Defran Satyas.

"Aku telalu bucin sama kamu Mas makanya begini, orang lain saja aku anggap kamu, aku kayak orang
mabuk suka berhalusinasi," ucap Lifia dan ia meminum kopinya dengan santai. la sengaja meminum kopi
ini karena ia yakin ia tidak akan bisa tidur malam ini, apalagi malam ini ia akan berada di Apartemen
seorang diri.

Komentar lainnya

Berikan Suara

11

6/6

Merindukanya separah ini.


Merindukanya separah ini
Lifia kembali ke Apartemenya setelah ia banyak sekali membeli barang-barang, hingga ia pun kesulitan
untuk membawanya. Lifia saat ini berada didalam taksi dan ia menghela napasnya karena sepertinya ia
memang tidak bisa lama kabur dari masalah dan menetap di Negara ini, sedangkan pikirannya berada di
Jakarta. Beberapa menit kemudian ia sampai di gedung apartemennya dan ia segera turun dari taksi.
Lifia lagi-lagi melihat punggung lelaki yang sangat mirip dengan punggung calon suaminya dan
jantungnya berdetak dengan kencang. la ingin mendekati orang itu, namun ia yakin orang itu bukan
Defran Satyas, ia merutuki kebodohannya yang terlalu mencintai Defran Satyas hingga seringkali
berhalusinasi Defran datang menemuinya.

Seorang perempuan menyapa Lifia membuat Lifia tersenyum lalu keduanya sedikit berbincang karena
perempuan itu ternyata juga berasal dari Indonesia. Apalagi perempuan ternyata merupakan salah satu
fans Lifia hingga ia meminta Lifia untuk foto bersamanya. Setelah itu Lifia pamit dan ia segera membawa
barang belanjaannya, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lobi Apartemen dan petugas keamanan
tersenyum padanya. Saat ini Lifia sedang berada didalam lift dan seorang laki-laki yang juga berada
didalam lift ini berniat ingin membantu Lifia membawakan barang-barang belanjaannya, namun Lifia
menolaknya dengan ramah. Lift terbuka, Lifia keluar dari dalam lift dan ia melangkahkan kakinya menuju
unit Apartemenya. la saat ini telah berada didepan pintu unit Apartemennya dan ia segera membuka
pintu Apartemenya dengan menelan kode pasword pintu. Lifia membuka pintu apartemen dan ia
melangkahkan

1/6

Merindukanya separah ini


kakinya masuk kedalam Apartemennya. Tiba-tiba ia tekejut melihat sosok laki-laki tampan itu saat ini
sedang duduk dengan santai di sofa, sambil menatapnya dengan tatapan dingin.

Lifia menjatuhkan barang belanjaannya dan ia menguncek kedua matanya untuk memastikan apakah ia
berhalusinasi atau tidak, lalu ia menghela napasnya. la merasa halusinasinya ini semakin parah dan
apakah efek dari merindukan Defran benar-benar telah mengganggu kesehatan mentalnya saat ini. Lifia
mengacuhkan Defran dan ia ingin mengangkat barang-barangnya menuju kamar. "Jadi kamu sangat suka
tinggal disini sendirian?"

Tanyanya membuat Lifia mengangkat wajahnya dan ia meletakkan paperbag berisi barang belanjaannya
itu, lalu ia menepuk pipinya.

"Mas Def...?" Tanya Lifia setelah menyadari jika saat ini ia sedang tidak bermimpi.

"Kamu pikir saya siapa, hantu?" Tanya Defran dengan suara beratnya yang sangat Lifia rindukan.

Lifia tersenyum, ia segera melangkahkan kakinya mendekati Defran dan ia memeluk Defran dengan erat,
bahkan ia duduk dipangkuan Defran. la mengalungkan kedua tangannya dileher Defran dan ia merasa
sangat bahagia Defran datang ke Paris untuk menemuinya. "Mas datang kesini ada kerjaan ya Mas?"
Tanya Lifia sambil mengulum senyumnya. la sudah tahu jawaban Defran yang pastinya akan mengatakan
jika ia bukan menemuinya secara khusus.

"Iya," ucap Defran. "Ada pekerjaan yang membuat saya datang ke Paris," ucap Defran membuat Lifia
menyunggikan senyumannya.

Defran bahkan bisa masuk dengan mudah kedalam apartemennya dan ia yakin, ini semua ulah Sandra.
Lifia merasa sangat bahagia dan ia mengeratkan pelukannya

2/6

Merindukanya separah ini


hingga ia dengan berani mencium pipi Defran. Lifia menghirup napasnya dalam-dalam lalu ia kembali
tersenyum senang. "Aku pikir malam ini aku bakal sendirian Mas," ucap Lifia takjub dengan kedatangan
Defran.

"Kalau kamu mau sendirian silahkan saja!" Ucap Defran dingin.

"Jadi Mas masih marah sama aku? Yang marah itu harusnya aku loh Mas," ucap Lifia sendu. "Kenapa
kamu nggak cerita semuanya sama aku, Mas?" Tanya Lifia.
"Cerita apa?" Tanya Defran dengan wajah datarnya.

"Mas nggak usah pura-pura nggak tahu kalau aku itu kesal sama kamu, kalau kamu nggak merahasiakan
sesuatu dari aku, aku nggak akan ikut Mami pulang ke rumah orang tua kamu Mas," ucap Lifia. Lifia
menelan ludahnya karena tatapan Defran yang datar namun terlihat tampan itu, sungguh sangat
menggemaskan. Mata Defran tertuju pada bibir Lifia dan ia menghela napasnya.

"Ada apa Mas? Hmmm...muka aku kotor? Atau aku jadi jelek?" Tanya Lifia dan ia terlihat salah tingkah.
Lifia bahkan lebih cantik jika tidak bermakeup dan wajah polosnya terlihat sangat menggemaskan bagi
seorang Defran Satyas. Lifia turun dari pangkuan Defran dan ia melangkahkan kakinya menuju
kamarnya, lalu ia melihat wajahnya dikaca. la meneliti wajahnya apa ada yang terlihat aneh hingga
Defran terlihat tidak suka melihat wajahnya.

"Wajahku nggak kotor, makeup di wajahku juga nggak tebal, terus kenapa?" Tanya Lifia dan ia kembali
melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamar karena takut Defran pergi meninggalkannya.

Defran melihat Lifia yang terlihat panik dan Lifia hampir saja terjatuh. "Apa perlu kamu berlari di
Apartemen

3/6

Merindukanya separah ini


sekecil ini?" Tanya Defran sinis.

Lifia memilih tidak mengungkapkan kenapa ia panik dan belari mendekati Defran. "Untuk ukuran di Paris
Apartemen ini lumayan mahal Mas," ucap Lifia.

"Berarti uang kamu tidak banyak melebihi uang milik saya," ucap Defran membuat Lifia menyebikkan
bibirnya. "Jadi kamu tidak bisa melampaui saya dalam hal kekayaan dan kamu jangan sombong dengan
bersikap kamu bisa pergi tanpa saya!" Ucap Defran.

Lifia memang harus banyak mengalah dalam hal menentukan keinginannya karena Defran Satyas tidak
akan pernah mengalah dan ia yang harus berusaha untuk membujuknya. Apalagi ia tahu Defran memiliki
hati padanya hingga Defran mau saja menyusulnya ke Paris. Siapapun tidak akan ada yang mampu
memerintahkan Defran datang kemari menjemputnya termasuk orang tua Defran. "Iya Mas...sekali ini
saja aku pergi tanpa izin kamu, kalau nanti jadi istri kamu, aku nggak bakal begitu lagi aku janji!" ucap
Lifia sendu.

Lifia kembali duduk dan ia memeluk lengan Defran. "Mas, Sandra ya Mas yang kasih tahu pasword
apartemen aku?" Tanya Lifia.

"Hmmm..." ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

"Mas..." panggil Lifia membuat mata tajam bak elang itu menatap kearahnya dengan dingin, hingga
membuat Lifia menelan ludahnya. "Mas kenapa datangnya lama banget? sudah sepuluh hari aku disini
Mas, kamu nggak kangen sama aku Mas?" Tanya Lifia dan ia menatap mata Defran dengan sendu karena
Defran biasanya akan mengatakan hal yang membuatnya kesal, jika ia bertanya seperti ini. Defran akan
mengatakan jika ia tidak merindukannya dan bahkan mengatakan hal yang menyulut emosinya.

4/6

Merindukanya separah ini


"Saya harus cuti dulu dan tidak bisa pergi sesuka hati saya," jelas Defran, ia menatap Lifia dengan dalam
membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang. Sebagai seorang abdi negara ada beberapa prosedur
yang harus ia lakukan.

"Kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Lifia lagi dan ia menatap Defran dengan tatapan penuh harap,
membuat Defran tiba-tiba mengangkat tubuh Lifia lalu membawanya

kedalam kamar. "Mas..." lirih Lifia. la tidak memberontak karena sejujurnya ia sangat merindukan
Defran Satyas. Defran membaringkan tubuh Lifi di ranjang hingga membuat Lifia terkejut.

"Diam dan jangan banyak bergerak!" Perintah Defran dan ia membuka jas yang ia kenakan dan juga baju
atasnya. Lifia membuka mulutnya dan ia menelan ludahnya karena melihat Defran seperti ingin
menyerangnya saat ini

5/6

Merindukanya separah ini


dan Defran membaringkan tubuhnya disampingnya. Lifia sangat tekejut dengan tindakan Defran hingga
tangan besar dan kokoh itu menariknya kedalam pelukkannya.

"Saya lelah, temani saya tidur selama dua jam dan setelah itu, kamu bebas membawa saya pergi
kemanapun kamu mau!" Ucap Defran membuat Lifia melototkan matanya dan ini adalah tawaran yang
sangat menarik baginya hingga ia tersenyum bahagia.

"Serius Mas? Mas mau aku ajakin pergi kemanapun aku mau?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran singkat.

"Aku mau ke Menara Eiffel dan makan malam romantis sama kamu!" Ucap Lifia. "Mau ya Mas!" Pinta
Lifia menatap Defran dengan tatapan penuh harap.

"Oke," ucap Defran dan ia memejamkan matanya sambil memeluk Lifia dengan erat.

Komentar lainnya

Berikan Suara

21
6/6

Bawahan.
Bawahan
Lifia sama sekali tidak bisa tidur saat ini, apalagi ia menyadari ada sosok tampan yang saat ini terbaring
disampingnya sambil memeluknya dengan erat hingga tak ada jarak. Lifia membuka matanya dan
memperhatikan wajah tampan Defran, ia menahan dirinya untuk tidak menyentuh wajah Defran
meskipun ia sangat ingin melakukannnya, ia tak ingin Defran terbangun dan acara makan malam
romantis hingga ke menara Eiffel, bisa saja gagal karena ulahnya. la bahkan masih sulit menebak apa
yang akan dilakukan Defran, jika ia melanggar janjinya membiarkan Defran tertidur selama dua jam.

Saat ini Defran telah tertidur lelap, ia mendengat napas teratur Defran yang terasa hangat, Lifia melihat
bibir Defran yang seksi hingga hidung Defran yang sangat mancung. la menyunggingkan senyumannya
mengingat bagaimana bibir ini pernah menyentuh bibirnya, hingga mengeskplore semua bagian bibirnya
dan mengingat hal itu pasti membuatnya sangat malu.

Lifia sama sekali tidak bisa tidur dan ia juga merasa sulit menggerakan tubuhnya karena Defran
memeluknya dengan erat. la memilih memejamkan matanya dan akhirnya ia pun ikut terlelap. Dua jam
lebih Lifia terlelap dan ia membuka matanya, lalu melihat disekelilingnya mencari keberadaan Defran
Satyas namun, ia tidak melihat keberadaan Defra.

Lifia menghembuskan napasnya karena ia merasa Defran datang ke Paris kemukinan besar hanyalah
mimpi indah baginya. Namun ketika pintu kamar mandi terbuka, terlihat Defran keluar dari sana
membuat Lifia tersenyum senang.

1/6

Bawahan
'Alhamdulilah ini bukan mimpi,' Batin Lifia.

Defran mengerutkan dahinya melihat ekspresi Lifia yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan
menilai, "kamu kenapa?" Tanya Defran.

"Nggak kenapa-kenapa Mas," ucap Lifia tersenyum.

"Mandi sana!" Perintah Defran.

"Oke Mas sayang," ucap Lifia dan ia segera turun dari ranjang, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar
mandi. Lifia segera mandi dengan cepat dan setelah itu, ia melihat Defran yang ternyata sedang berada
dibalkon membuatnya dengan cepat mengambil pakaian gantinya. Setelah itu Lifia segera mengganti
pakainnya dengan cepat. Defran kembali masuk kedalam kamar dan ia duduk santai disofa, ia melihat
Lifia telah memakai pakaiannya dengan rapi.
"Tadi Mas sudah janji sama aku mau makan malam romantis, setelah itu kita mampir ke Menara Eiffel
Mas!" Ucap Lifia mengingatkan keinginannya itu agar Defran tidak lupa.

"Iya," ucap Defran membuat Lifia tersenyum senang.

Lifia memoleskan makeup tipis diwajahnya, lalu ia memakai lipstik dan ia kembali mendekati Defran. la
mengulurkan tangannya agar Defran segera bediri. "Kita pergi sekarang saja Mas, biar kita bisa pergi
dengan waktu yang cukup lama gitu!" Ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran.

Lifia memeluk lengan Defran dan keduanya melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen ini. Defran
selalu terlihat tampan dia mata Lifia, mau dia tidak tersenyum ataupun sedang tersenyum. Baginya
Defran tidak pernah terlihat tidak tampan disetiap kesempatan. Keduanya saat ini memilih berjalan
bersama dan Lifia

2/6

Bawahan
terlihat sangat senang berada disamping Defran seperti ini. Lifia melihat beberapa jajanan dan ia
mengajak Defran untuk membelinya. Lifia takjub ternyata Defran sangat mahir mengunakan bahasa
prancis.

"Je veux acheter celui-ci!" Ucap Defran. Defran mengatakan jika ia ingin membeli makanan itu. Defran
terlihat sangat lancar berbahasa Prancis dan ia bebicara dengan pedagang yang menjual makanan ini
dengan pembicaraan yang cukup panjang. Pedagang itu menayakan siapa Lifia bagi Defran, lalu Defran
menjawabnya jika Lifia adalah istrinya. Lifia sama sekali tidak mengerti pembicaraan mereka karena
selama tinggal di Paris, ia selalu menggunakan bahasa Inggris.

Defran memberikan makanan itu kepada Lifia membuat Lifia sangat senang, "Mas mau?" Tanya Lifia.

Defran menatap Lifia dengan datar dan ia tidak mengatakan mau atau tidak namun Lifia tetap saja
menyuapkan makanan itu. kedalam mulut Defran sambil tersenyum dan Defran mengunyahnya dengan
pelan.

"Mas berapa lama kita disini?" Tanya Lifia. la berharap Defran bisa liburan bersamanya selama satu
minggu lebih karena ini kencan yang telah ia impikan selama ini.

"Besok kita pulang!" Ucap Defran membuat Lifia menghela napasnya, ia sudah sangat bersyukur Defran
mau datang menjemputnya seperti ini. "Kamu tidak mau pulang besok?" Tanya Defran melihat ekspresi
Lifia yang menujukkan respon negatif karena Lifia tidak tersenyum seperti tadi.

"Mau Mas, kamu kesini datang untuk jemput aku pulang kan Mas?" Tanya Lifia.
"Iya," ucap Defran. Untuk menenangkan hati perempuan cantik yang ada disampingnya ini, ia harus
segera mengatakan iya, karena kalau tidak Lifia akan salah paham padanya. Lifia lagi-lagi tersenyum dan
baginya hari

3/6

Bawahan
ini adalah hari yang sangat membahagiakannya.

Defran menghubungi seseorang dan setelah mereka berdua berjalan menyelusuri jalanan yang
menjajakan banyak makanan, tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiri mereka. Lifia bingung, namun
ketika Defran menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam mobil itu, membuatnya mengerti
jika mobil itu adalah mobil yang mungkin telah disewa Defran. Mobil melaju dengan kecepatan sedang,
Lifia melihat keramaian kota Paris dimalam hari dan ia sesekali mencuri pandang Defran yang ternyata
sedang memperhatikannya. Wajah Lifia memerah karena malu diperhatikan oleh Defran dan jantungnya
berdetak dengan kencang, lalu ia memutuskan untuk mencium pipi Defran dengan lembut.

Defran mengangkat sebelah alisnya dan tatapannya terlihat dingin seperti biasanya, namun Lifia seolah
tidak peduli dengan respon Defran yang terlihat tidak suka dengan tindakannya. Defran Satyas yang
sering kali membuatnya bingung dengan sikapnya, tapi perlahan ia sedikit mengerti ekspresi dingin
Defran, bukan berarti ia tidak suka dengan tindakannya. Beberapa menit kemudian mereka sampai
disebuah Restauran mewah dan Lifia tersenyum senang karena Restauran ini menjadi Restauran
romantis yang sering dikunjungi para turis, apalagi Restauran ini berada didekat menara Eiffel. Keduanya
turun dari dalam mobil dan Defran mengulurkan tangannya kepada Lifia. Lifia menyambut uluran tangan
Defran dan ia merasa sangat hangat, Defran terlihat sangat manis saat ini.

Lifia menggandeng tangan Defran, keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam Restauran yang
terlihat sangat ramai dan Defran mengajak Lifia menuju lantai dua. Dilantai dua sepertinya adalah
tempat privat yang pastinya, memiliki harga yang cukup mahal jika ingin duduk disana. Keduanya telah
berada dilantai dua dan

4/6

Bawahan
keduanya duduk berhadapan. Defran menyandarkan punggungnya sambil menatap Lifia yang saat ini
takjub dengan suasana Restauran. "Mas..." panggil Lifia sambil mengedarkan pandangannya dengan
tatapan kagum.

"Ada apa?" Tanya Defran.

"Mas tahu saja kalau ada Restauran yang bagus banget kayak gini disekitar Menara Eiffel, Mas?" Tanya
Lifia.

"Ini bukan pertama kalinya saya ke Paris," ucap Defran


dengan gaya sombongnya seperti biasanya.

"Pokoknya kalau Mas ke sini lagi nanti aku juga akan ikut kamu, ya Mas!" Ucap Lifia.

"Tergantung pengabdian kamu kepada saya!" ucap Defran dingin.

"Pengabdian kayak sama atasan dan bawahan saja, memangnya aku itu bawahan kamu?" Tanya Lifia

5/6

Bawahan
kesal.

"Kamu akan lebih suka berada diposisi bawah saat kita bersama diatas ranjang!" Ucap Defran dengan
ekspresi datarnya yang membuat wajah Lifia, memerah karena malu. Bisa-bisanya Defran mengatakan
hal ini kepadanya hanya karena kata bawahan.

"Apaan sih Mas? suka banget ngomong kayak gini tiba-tiba buat aku jantungan saja," ucap Lifia
menyebikkan bibirnya dan Defran mengangkat sebelah alisnya.

Komentar lainnya

Berikan Suara

11

6/6

Rencana yang gagal.


Rencana yang gagal
Lifia merasa bulu kuduknya meremang karena sejak tadi mata tajam Defran, sedang memantaunya
bahkan ketika ia menatap menu makanan, Defran juga masih menatapnya. Tentu saja tatapan Defran itu
membuatnya sangat gugup bahkan ia merasa bingung. Defran biasanya tidak pernah menatapnya
seperti ini tapi kali ini Defran menatapnya dengan intens seolah ia adalah mangsa yang ini ditangkap
oleh Defran.

"Mas...kamu mau pesan apa?" Tanya Lifia kepada

Defran.

"Kamu tahu apa yang saya suka!" Ucap Defran. Lifia menganggukkan kepalanya karena ia memang
sudah sangat mengerti apa yang Defran Satyas suka selama ini. Bahkan mencatatnya dibuku catatan
harian mengenai sosok Defran Satyas, Lifia ingat tentang makanan yang disukai Defran dan juga
makanan yang tidak disukai Defran.
Lifia memesan beberapa makanan dan wajah Lifia merasa panas saat tatapan Defran kepadanya
semakin intens, Defran tidak mengalihkan sedikit pun tatapannya seolah matanya sedang menilai sosok
cantik yang ada dihadapannya ini. "Mas kenapa lihatin aku kayak gitu?"

Tanya Lifia.

"Kamu bukan perempuan bodoh yang tidak tahu apa arti dari tatapan saya," ucap Defran dingin.

"Semua perempuan akan menjadi bodoh kalau dihadapkan sama kamu Mas, kamu menatap aku tajam
dan dingin begitu bisa diartikan dengan pandangan yang berbeda-berbeda oleh orang lain. Tatapan
dingin kamu bisa diartikan jika kamu terlihat kesal sama aku dan kamu

1/6

Rencana yang gagal


juga terlihat benci sama aku, kalau kamu menatap aku dingin banget kayak gini," ucap Lifia. Lifia bahkan
sering kali salah paham dengan sikap Defran yang seperti ini, sulit bagi Defran Satyas, untuk
mengubahnya dan Lifia tahu hanya dia yang harus belajar memahami sikap Defran padanya.

"Saya memnang seperti ini dari dulu dan kalau saya tersenyum tidak jelas saya akan terlihat seperti laki-
laki bodoh. Saya bukan Marco atau Handaru dan kamu harus menerima saya apa adanya!" Ucap Defran.

"Siapa juga yang minta kamu jadi kayak Mas Handaru atau Mas Marco, aku suka kamu apa adanya Mas
walaupun terkadang kamu itu nyebelin banget," ucap Lifia.

Beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan sampai dan Lifia tekejut saat melihat ada
sebuah kue tart berukuran kecil yang ada diatas meja. la sama sekali tidak memesan kue tart itu dan itu
membuatnya sangat bingung. la menduga jika kue tart itu adalah sebagai pencuci mulut gartis tapi
sepertinya tidak karean bentuknya bahkan terlihat mewah. "Mas kita nggak pesan kue kan Mas?" Tanya
Lifia.

"Saya yang memesannya!" Ucap Defran membuat Lifia takjub karena Defran tahu, jika ia menyukai
makanan manis namun Lifia memang membatasi asupan gula dan hanya akan memakan kue manis
seperti ini, satu minggu sekali.

"Aku mau makan kuenya dulu kalau begitu!"

Ucap

Lifia dan ia menyendokan kue itu namun ia melihat ekspresi Defran yang mengerutkan dahinya.

"Hati-hati mengunyahnya jangan ditelan! Ada cincin didalamnya!" Ucap Defran membuat Lifia
melototkan matanya dan ia melihat ekspresi Defran yang terlihat sangat canggung. Lifia tersedak dan
Defran segera

2/6
Rencana yang gagal
mendekati Lifia dan ia menatap Lifia denga raut wajah kahwatir. "Buka mulut kamu!" Pinta Defran.

Lifia membuka mulutnya, ia melihat Defran memperhatikan bagian dalam mulutnya membuatnya
menghela napasnya. "Ini namanya bukan romantis tapi cara bodoh untuk membuatmu masuk ke Rumah
sakit," Sinis Defran.

"Nggak tetelan kok Mas... kayaknya cincinnya masih didalam kuenya Mas," ucap Lifia. la memotong kue
itu dan benar saja cincin itu ada didalam kue itu, Lifia mengambilnya sambil tersenyum senang. la
membersihkan cincin itu sambil menahan tawanya apalagi melihat ekspresi Defran saat ini terlihat
sangat kesal. Defran berniat untuk memberikan kejutan padanya dengan cara romantis, namun Defran
sangat kahwatir jika ia menelan cincin yang ada didalam kue itu. "Mas siapa yang memberi ide kayak gini
Mas?" Tanya Lifia penasaran ide dari siapa walaupun ia sudah bisa menebak siapa yang akan
memberikan ide romantis seperti ini.

Defran memegang tengkuknya dan ia terlihat salah tingkah, ia memang sulit sekali melakukan hal
romantis yang harusnya dilakukan seoarang laki-laki kepada perempuan yang ingin ia nikahi. "Siapa
Mas?" Tanya Lifia tersenyum.

"Mami dan Salsa," ucap Defran membuat Lifia kembali tersenyum dan sialnya ia terlihat sangat cantik
jika tersenyum seperti ini. Defran ingin sekali melarang Lifia tersenyum seperti didepan umum apalagi di
Tv, karena akan ada banyak laki-laki yang pastinya menatap Lifia dengan tatapan mendamba. "Jangan
pernah membuat saya melakukan hal aneh seperti ini Lifia, meskipun kamu menginginkan hal yang
romantis, romantis tapi kalau ceroboh akan berakibat fatal," ucap Defran.

"Iya Mas, tapi namanya juga usaha kan Mas, paling

3/6

Rencana yang gagal


nggak kamu itu sayang sama aku makanya kamu mau melakukan hal yang menurut kamu bodoh ini,"
ucap Lifia.

"Pakai cincinya!" Ucap Defran dan ia mengeraskan rahangnya saat pemain biola yang ia pesan baru saja
datang sementara kejutan romantis yang telah ia siapkan gagal. Defran mengisyaratkan dengan
tangannya agar pemain biola itu segera menyingkir dan Lifia menarik sudut bibirnya. Defran
mengulurkan tangannya dan pemain biola itu memberikan secarik kertas yang terlipat rapi itu kepada
Defran. Saat Defran ingin membuang kertas itu Lifia mengambilnya dari tangan Defran.

"Lifia kamu harus mau jadi istri saya!" Lifia membaca tulisan itu dan ia menahan tawanya melihat
tingkah Defran yang mengajaknya menikah, namun dengan kalimat yang memaksa.

Tadinya Defran ingin pemain biola itu memainkan biolanya terlebih dahulu, setelah memainkan
beberapa lagu ia ingin pemain biola itu menyerahkan secarik kertas kepada Lifia. Setelah Lifia
menganggukkan kepalanya setuju menjadi istrinya, Defran meminta Lifia memakan kue itu dan
mendapati cincin yang ada didalamnya, namun itu sesuai urutan setelah makanan lain telah mereka
makan. Tapi semuanya berantakan dimulai dengan kedatangan kue yang lebih mencolok dari pada
makanan lain. Harusnya kue itu datang menjadi makanan penutup untuk Lifia dan Defran baru kali ini
mendapati rencanannya itu gagal.

Defran sama seperti Serkan Satyas kakak sulungnya yang pandai dalam mengatur strategi, pada sebuah
perencanaan termasuk dibidang militer dan hebatnya lagi Defran lebih unggul karena ia yang juga
sangat jago dalam menyusun rencana bisnis. Defran menatap Lifia dengan tatapan menyelidik dan
sebenarnya ia tidak perlu melakukan hal konyol ini jika bukan Mami dan Salsa yang

4/6

Rencana yang gagal


mendorongnya untuk melakukannya. "Mami bilang kamu butuh pengakuan jika saya benar-benar ingin
menikahi kamu, agar kamu tidak lari saat kita menikah nanti karena salah paham dengan sikap saya,"
ucap Defran membuat Lifia menyunggingkan senyumannya.

"Mas aku mau tanya sama kamu, hmmm....sebenarnya kamu hanya ingin menikahi aku apa karean
dorongan Mami?" Tanya Lifia sebenaranya ia ingin menanyakan

apakah Defran mencintainya atau tidak.

"Tidak ada yang bisa memaksa saya untuk melakukan hal yang tidak saya inginkan," ucap Defran.

"Itu artinya kamu memang ingin menikahi aku kan Mas?" Tanya Lifia lagi.

"Ya...agar saya bisa bebas tinggal sama kamu dan bisa melakukan apapun sesuai hukum dan agama,
sudah seharusnya kita segera menikah!" ucap Defran. Lifia

5/6

Love in Paris.
Love in Paris
Makan malam ini membuat Lifia tersenyum sejak tadi dan ia merasa Defran sangat manis, meskipun
kejutan yang ia siapkan itu gagal tapi baginya tidak gagal karena Defran telah benar-benar
mengejutkannya hari ini dengan sikapnya. Sikap Defran yang mau mengikuti ucapan Liana yang
memintanya untuk melakukan hal romantis secara formal dengan mengajak Lifia menikah. Defran
sebenarnya tidak ingin melakukannya karena ia merasa percaya diri Lifia tidak akan menolaknya, namun
melihat Lifia yang telah berani melawannya membuatnya akhirnya menyetujui gagasan itu.

Defran tidak ingin Lifia membangkang perintahnya hingga dengan merasa salah pahan dan menganggap
ia tidak melakukan lamaran yang layak secara pribadi kepada Lifia. Hal romantis yang menurut Serkan
Satyas kakak sulungnya adalah hal yang sangatlah penting untuk dilakukan agar hubungannya dengan
Lifia berjalan dengan baik. Akhirnya Defran menyetujui gagasan melakukan lamaran secara pribadi dan
ia mulai menyusun rencana strategi hingga meminta Sandra menunda kepulangannya selama dua hari.
Sandra seharusnya hanya seminggu di Paris, namun Defran tidak bisa langsung ke Paris karena ada
beberapa hal yang harus ia selesaikan terkait dengan pekerjaannya. Apalagi saat ini ia juga telah
memegang beberapa perusahaan dan bertanggung jawab sebagai CEO, perkerjaan ganda yang diam-
diam ia lakukan.

"Mas cincinnya nggak dipakein?" Tanya Lifia dan ia menarik telapak tangan Defran, lalu meletakkan
cincin yang telah ia bersihkan itu ketelapak tangan Defran. Defran menatap Lifia dengan datar dan ia
menarik tangan Lifia

1/6

Love in Paris
dengan pelan, lalu meletakkan cincin itu dijari manis Lifia.

"Hadia kedua dari kamu Mas..." ucap Lifia menatap Defran dengan tatapan sayang.

"Yakin hadia kedua?" Tanya Defran sinis.

"Memangnya Mas pernah ngasih aku banyak barang secara khusus selain hadia ulang tahun dan cincin
ini?"Tanya Lifia menujuk cincin yang telah ada dijari manisnya. "Kemarin itu hadia ulah tahun pertama
yang Mas berikan sama aku," ucap Lifia menyebikkan bibirnya. la menjadi serakah karena menginginkan
Defran harus dulu sering memberikan hadia ulang tahun untuknya.

"Ada beberapa barang yang dulu saya berikan kepada kamu setiap tahun," ucap Defran dingin membuat
Lifia bingung. Sepertinya ia harus menanyakan secara detail kepada Defran nanti, karena jika ia
mendesaknya momen bahagia ini akan menjadi pertengkaran kecil diantara ia dan Defran.

"Coba dari dulu Mas kayak gini sama aku, aku pasti jadi perempuan yang paling bahagia, Mas," ucap
Lifia.

"Maksud kamu sekarang kamu tidak bahagia?" Tanya Defran melipat kedua tangannya.

"Bahagia banget apalagi aku kan mau dijadiin istri sama kamu, Mas," ucap Lifia lagi-lagi menunjukkan
senyum manisnya membuat Defran menghela napasnya.

"Mas kayak nggak senang gitu ya jadiin aku istri, kenapa sih Mas?" Lirih Lifia.

"Saya itu kesal sama kamu kalau kamu senyum terlalu berlebihan," ucap Defran karena jika para lelaki
melihat senyum Lifia maka mereka berpotensi kagum dengan senyum manis Lifia. Lifia terlihat sangat
cantik jika tersneyum dan itu menjadi daya tarik Lifia hingga membuat mereka yang melihatnya
terpesona. Defran bahkan melihat disekelilingnya dan benar saja Lifia menjadi pusat perhatian oleh
warga asing, karena
2/6

Love in Paris
kecantikannnya yang sangat menawan. Kecantikan Asia yang tentu saja dikagumi oleh para warga
Prancis, jika tidak ada dia disini maka akan banyak lelaki yang datang mendekati Lifia dan mengajak Lifia
berkenalan.

"Mas aku itu memang harus sering tersenyum Mas apalagu kalau aku itu lagi sama kamu," ucap Lifia.

"Oke, saya izinkan kamu tersenyum kalau kamu sedang bersama saya!" Ucap Defran.

"Iya Mas sayang, aduh makin sayang sama kamu..." ucap Lifia dan Defran menyunggingkan
senyumannya.

Setelah selesai makan malam, Defran mengajak Lifia berjalan kaki menuju menara Eiffel yang memang
tidak terlalu jauh dari Restauran ini. Lifia melihat ada beberapa orang yang sepertinya merupakan
pasangan seperti dirinya. Mereka tak malu menujukkan kasih sayangnya dengan berciuman, hingga
membuat wajah Lifia memerah karena malu. Defran sosok yang sangat dingin apa Defran mau
menciumnya ditempat ramai seperti ini dan dugaan Lifia tidak.

"Mas mereka itu romantis banget, hmmm...nggak malu ciuman begitu ya Mas," ucap Lifia.

"Bagi mereka itu menjadi suatu yang biasa," ucap Defran. "Tapi bagi kita tidak," ucap Lifia.

"Iya Mas," ucap Lifia. Pupus sudah harapannya ingin Defran menciumnya ditempat romantis ini.

Lifia kagum dengan Menara Eiffel dan Defran mengajaknya untuk naik keatas. "Mau naik keatas?" Tanya
Defran.

"Mau Mas," ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran keduanya menuju transportasi yang akan mengangkat mereka naik menuju keatas
dan Defran memeluk Lifia ketika Lifia terlihat ketakutan dan Defran tahu sebenarnya Lifia takut akan
ketinggian.

3/6

Love in Paris
Keduanya saat ini telah sampai dan terlihat beberapa orang sedang menatap takjub dengan
pemandangan kota Paris sama seperti Lifia yang sangat takjub namun, Lifia telihat sangat takut hingga ia
memeluk lengan Defran dengan erat. "Kalau takut harusnya kita tidak perlu naik!" Ucap Defran.

"Tapi aku rugi banget Mas nggak naik dan lihat kota ini dari Menara yang tinggi. Kamu juga belum tentu
mau ajakin aku kesini lagi," ucap Lifia.
"Lain kali kalau kita kesini kita sudah bertiga," ucap Defran membuat Lifia menatap Defran dengan
tatapan bingung. "Bertiga sama anak kita," ucap Defran membuat Senyum Lifia merekah.

"Tapi kita nggak tahu kan Mas kapan kita diberi anak, kalau kita belum punya anak gimana kita nggak
kesini-sini lagi?" Tanya Lifia.

"Kita bisa Adopsi anak!" ucap Defran. "Saya hanya ingin hidup bersama kamu, kalau belum dikaruniai
anak kita bisa adopsi anak," jelas Defran.

"Kayak Mbak Kana ya Mas yang mengadopsi Nata dan Tama," ucap Lifia. Serkan dan Kana telah
mengadopsi Nata dan Tama dua anak kembar yang sangat menggemaskan. Saat ini mereka memiliki tiga
orang putra yang sangat menggemaskan.

"Iya," ucap Defran. Defran memeluk Lifia dari belakang dan ia meletakkan dagunya dibahu Lifia
membuat jantung Lifia berdetak dengan kencang. Keduanya melihat pemandangan kota yang sangat
indah dan bagi Lifia perlakuan Defran ini padanya sudah sangat romatis.

"Mas..." ucap Lifia pelan.

"Ada apa?" Tanya Defran dan ia melepaksan pelukannya lalu memutar tubuh Lifia menghadapnya.

"Kamu sudah lamar aku dan aku setuju jadi istri kamu Mas. Jadi kapan kita nikahnya?" Tanya Lifia dan ia
mengigit

4/6

Love in Paris
bibirnya.

"Setelah pulang ini kita akan mengunjungi Ayah kandung kamu, saya ingin meminta dia menjadi wali
nikah kamu tapi kalau dia menolak untuk datang keacara pernikahan kita, kita bisa memintanya untuk
membuat surat pernyataan agar menyerahkan wali nikah kamu kepada saudari ayahmu, mungkin
paman atau Om kamu," ucap Defran.

"Sebenarnya aku ingin Papiku yang menikahkan kita, dia memang nggak suka sama aku Mas tapi aku kan
tetap anaknya," ucap Lifia.

"Kalau begitu serahkan saja sama Mas!" Ucap Defran.

"Mas bisa bujukin Papi?" Tanya Lifia.

"Bisa, tapi kalau dia nggak mau kita yang paksa!"

5/6
Love in Paris
Ucap Defran.

Lifia memyebikkan bibirnya dan ia menatap Defran dengan sendu. "Jangan sedih!" Ucap Defran dan ia
mengelus pipi Lifia dengan lembut.

"Aku..." ucap Lifia, namun ia terkejut saat Defran menarik pinggangnya dan mencium bibirnya dengan
pelan hingga akhirnya bergerak seolah Defran sangat menginginkan bibir ini dan ingin melahapnya
habis. Lifia mengerjapkan kedua matanya dan ia pasrah mengikuti gerakan bibir Defran.

Defran melepaksan pelukannya dan ia menatap Lifia dengan tatapan dalam. "Aku kira Mas nggak mau
ciuumm aku ditempat umum kayak gini," ucap Lifia dengan wajah memerah karena malu.

"Biar kamu ingat momen ini kalau saya pernah menciiumm kamu disini, lagian tidak ada yang mengenal
kita disini," ucap Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya dengan pelan dan wajahnya bersemu
merah karena malu. Malam indah yang telah ia impikan akhirnya terwujud, ada momen romatisnya
bersama Defran...love in Paris.

12

Comments

Vote

6/6

Dia telah berusaha keras.


Dia telah berusaha keras
Lifia dan Defran turun dari menara Eiffel dan Lifia mempercepat langkah kakinya saat telah berada
dibawah Menara Eiffel dan ia merentangkan tangannya, lalu memutar tubuhnya sambil tersenyum
bahagia. la menghentikan langkah kakinya dan melihat sosok tampan Defran Satyas itu melangkahkan
kakinya dengan santai mendekatinya. Wajah dingin itu terlihat sangat mempesona dengan mata tajam
bak elang dan bibir yang tertutup rapat, sedangkan rahang keras membuatnya terlihat begitu gagah.
Pesona seorang Defran Satyas yang tidak terbantahkan jika ia adalah pemilik hatinya.

"Jangan berlari nanti kamu jatuh Lifia!" Ucap Defran memperingatkan Lifia karena tingkah Lifia saat ini
bak remaja yang terlihat sangat bahagia karena bisa bebas berjalan seperti ini tanpa kahwatir apapun.
Lifia yang cantik memang sangat dijaga oleh keluarganya, seperti adik laki-lakinya Altaf yang selalu
melindunginya selama ini dan Altaf memang menitipkan Lifia padanya. Apalagi Lifia gadis lemah tidak
seperti Kiran yang tangguh bahkan tidak. takut dengan apapun.

"Aku kan senang banget Mas, hari ini kamu manis banget jadi si Sayang tambah cinta sama kamu
eh...bukan hanya si Sayang tapi Lifia dong," ucap Lifia.
Sekarang diotak Defran, itu ia sedang memikirkan bagaimana ia bisa mengurung Lifia agar para lelaki
yang menatap Lifia dengan tatapan kurang ajar atau menganggumi Lifia, tidak bisa menikmati
pemandangannya yang harusnya hanya menjadi miliknya saja. Seoverprotektif itu Defran kepada Lifia,
hingga ia

berusaha keras melepaksan Lifia untuk sementara saat itu

1/7

Dia telah berusaha keras


agar Lifia bisa melakukan hal yang disukainya, sementara Defran Satyas sangat sibuk dengan
pekerjaannya. Tapi yang ia lakukan ternyata salah, membiarkan Lifia bebas akan berdampak Lifia hampir
saja celaka bahkan Lifia bisa kehilangan nyawanya.

Lifia melangkahkan kakinya mundur, namun sambil menatap Defran dengan senyumannya manisnya.
"Jalan yang benar Lifia!" Tegur Defran dan Lifia hampir saja terjatuh, jika Defran tidak sigap menariknya
kedalam pelukkannya. "Dasar ceroboh," ucap Defran.

"Ceroboh ya Mas? Hmm...tapi kalau dipeluk kayak gini jatuh juga nggak apa-apa, Mas!" ucap Lifia
tersenyum menggoda dan aw... Lifia menatap kakinya yang ternyata lecet akibat sepatu yang ia pakai.

"Kita ini bukan sedang Fashion show, kamu ini nggak bisa bedakan sepatu mana yang nyaman untuk
dipakai jalan-jalan Lifia!" Tegur Defran dingin.

"Nggak bisa Mas, heheh...makanya aku itu butuh kamu buat mengingatkan aku Mas!" Ucap Lifia
membuat Defran menghela napasnya.

Defran menjongkokkan tubuhnya dan ia melepaskan sepatu yang dipakai Lifia, lalu ia melihat luka
ditumit Lifia.

"Sakit...Mas..." lirih Lifia.

Defran menjongkokkan tubuhnya agar Lifia naik keatas punggungnya dan tentu saja Lifia tidak akan
berpikir dua kali jika Defran akan menggendongnya seperti ini. Defran melangkahkan kakinya dengan
santai dan ia meminta Lifia mengambil ponselnya. "Hubungi Ben!" Ucap Defran.

"Oke Mas," ucap Lifia.

Lifia mengetikan nama Ben di pencarian kontak dan ia kemudian menghubunginya lalu meletakan
ponsel itu ditelinga Defran. Defran berbicara dengan Aron dengan bahasa Prancis yang tidak Lifia
mengerti dan Defran

2/7
Dia telah berusaha keras
menurunkan Lifia dibangku. "Kita menunggu Ben menjemput kita disini!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Defran meletakkan jaket yang ia pakai di kaki Lifia.

"Lain kali pakai baju yang sopan Lifia!" Ucap Defran dingin membuat Lifia tersenyum.

"Ini kan hanya selutut Mas nggak pendek gitu," ucap Lifia karena Defran pasti akan melarangnya
memakai pakaian yang menampakkan auratnya.

"Tetap saja itu bisa menggoda orang lain untuk melihat kamu!" Ucap Defran dan buktinya ia saja yang
dulu kuat imamnya akan tergoda dengan Lifia.

"Orang lain yang tergoda, Mas nggak?" Tanya Lifia membuat Defran menghela napasnya.

"Kamu pikir selama ini saya ini baik-baik saja ngadepin kamu?" Tanya Defran sinis.

"Aku nggak tahu Mas, kamu nggak cerita apa-apa sama aku!" Ucap Lifia. "Hmmm...Mas kita pulang ke
Apartemen?" Tanya Lifia segera mengalihkan pembicaran dan ia tidak ingin Defran kesal padanya
sebelum ia bisa berada dikamar lalu bersantai dengan Defran Satyas.

"Malam ini kita menginap dihotel!" Ucap Defran.

"Oke Mas siap!" Ucap Lifia terlihat sangat bersemangat.

"Dingin?" Tanya Defran kepada Lifia dan sikap perhatian Defran ini lagi-lagi membuat hati Lifia
menghangat.

"Nggak dingin Mas, panas karena dekat sama kamu," goda Lifia.

"Kebiasaan kamu," sinis Defran.

"Kebiasaan godain kamu Mas," ucap Lifia dan ia menyandarkan kepalanya dibahu Defran.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti

3/7

Dia telah berusaha keras


dihadapannya membuat Defran segera menggendong Lifia, lalu ia memasukkan Lifia kedalam mobil itu.
Defran ikut masuk kedalam mobil, mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Defran menghela
napasnya dan ia melihat sosok Lifia saat ini terlihat sangat mengantuk.

"Jangan tidur dulu!" Ucap Defran memperingatkan Lifia.


"Kalau didekat kamu itu Mas bawaan aku itu pengen tidur gitu," ucap Lifia.

"Kalau kamu tidur sekarang berati kamu mengizinkan saya untuk melihat tubuh kamu karena saya yang
akan mengantikan baju kamu!" Ucap Defran membuat Lifia menyebikkan bibirnya.

"Jangan gitu Mas, katanya tunggu kita menikah!" Ucap

Lifia.

"Kalau begitu kamu jangan memancing saya, Lifia!"

Ucap Defran memperingatkan Lifia.

"Mas kamu tahan banget ya Mas sebagai seorang laki-laki, aku itu pernah meragukan kamu loh Mas,
masa kata si Anyelir lelaki normal itu biasanya nggak tahan nggak menyentuh perempuan yang dia
inginkan Mas, apalagi kalau berada disatu kamar kayak kita. Tapi Alhamdulilahnya kamu itu nggak c***l
dan dulu aku hehehe...kira kamu hom..." ucap Lifia terhenti dan ia menutup mulutnya agar tidak
melanjutkan ucapannya, membuat Defran tersenyum sinis.

Seorang Defran Satyas tidak melakukan apapun

kepada Lifia selama tidur sekamar dengan Lifia, itu tidaklah mungkin. Lifia bahkan tidak menyadari apa
yang Defran lakukan hampir setiap malam kepada Lifia. Bahkan ia sangat sering menciumm Lifia
dimalam hari bukan hanya pipi dan bibir, tapi hal yang membuatnya gila bahkan ia tidak suka hal itu
dilihat oleh orang lain. "Siapa bilang saya tidak c***l, setiap malam kalau kamu

4/7

Dia telah berusaha keras


menggoda saya, saya harus mandi dimalam hari, kamu itu meresahkan," ucap Defran dingin.
"Meresahkan hingga saya pernah memikirkan saya pasti akan berada dineraka nantinya jika membuka
hal yang sangat dilarang saya sentuh," ungkap Defran membuat wajah Lifia menelan ludahnya dan
wajahnya bersemu merah.

'Kamu bohong Mas, kamu nggak akan memanfaatkan keadaan aku yang sedang tidur Mas,' batin Lifia.

Beberapa menit kemudian mobil sampai di Hotel dan Lifia membuka mulutnya karena hotel ini ternyata
sangatlah mewah. "Mas kamu yakin kita menginap disini? Hotel ini mahal banget loh Mas..." ucap Lifia
dan saat ini ia masih berada digendongan Defran.

"Kalau kamu jadi istri saya, kamu nggak akan saya biarkan tinggal di apartemen murah yang
keamanannya tidak terjamin!" Ucap Defran membuat Lifia menyebikkan

5/7
Dia telah berusaha keras
bibirnya.

"Sombong banget sih Mas, seperti biasanya suka banget menghina aku yang nggak sekaya kamu," ucap
Lifia dan keduanya saat ini menuju lobi hotel. Defran mengambil kartu yang merupakan akses masuk
kedalam kamar hotelnya dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lift. Lift terbuka dan keduanya
melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar hotel. Lifia merasa sangat gugup saat melihat ranjang
yang begitu luas, ia juga melihat kearah sofa.

Defran mendudukkan Lifia disofa dan ia

melangkahkan kakinya menuju pintu kamar hotel, lalu mengambil obat yang diberikan karyawan hotel
padanya. Defran kembali mendekati Lifia dan ia mengangkat kaki Lifia sambil memangkunya. Tanpa kata
Defran mengobati luka dikaki Lifia dan ia menempelkan plaster di kaki Lifia setelah mengoleskan
obatnya. "Untung saja ya Mas acara Fashion shownya sudah selesai," ucap Lifia.

"Selalu ada kata untung atas kecerobohan kamu,"

sinis Defran membuat Lifia menahan diri untuk tersenyum.

"Semuanya harus disyukuri Mas, kalau aku nggak luka kamu nggak akan mau gendong aku," ucap Lifia.

"Hmmm....Mas aku saja tidur disofa, kamu tidur diranjang!" Pinta Lifia.

"Kamu saja tidur diranjang!" Perintah Defran dan seperti biasanya jika Lifia telah tertidur pulas, ia akan
tidur disamping Lifia.

Lifia. "Tapi aku tu nggak enak Mas, kamu tidur disofa," ucap

"Bilang saja kalau kamu ingin tidur dengan saya Lifia!" Ucap Defran menatap Lifia dengan intens.

"Kalau aku tidur sama kamu diranjang aku nggak bisa tidur Mas, jantungku rasanya mau copot," ucap
Lifia.

6/7

Dia telah berusaha keras


"Memang seharusnya kamu itu tidak tidur sampai pagi dengan saya Lifia!" Ucap Defran membuat Lifia
menelan ludahnya. Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut, "Kamu tidur saja diranjang dan jangan
membantah!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia dan ia tidak ingin memperdebatkan ini lagi jika itu akan membuat Defran kesal
padanya. Hari ini ia ingin menjadi Lifia yang manis karena Defran telah banyak berkorban untuknya.
Berkorban banyak waktu demi datang menjemputnya di Paris dan hari ini Defran juga berusaha untuk
menyenangkannya.
Vote

Comments

7/7

Ladang.

Ladang
Malam tadi Lifia memang terlelap setelah ia mengganti pakaiannya dengan kemeja milik Defran karena
baju miliknya masih berada di Apartemennya. Tapi ketika ia membuka matanya dari tidur lelapnya, ia
terkejut melihat sosok Defran Satyas sedang memejamkan matanya dan berada disampingnya sambil
memeluknya diranjang. Tentu saja ini sangat mengejutkan untuknya, apalagi ketika mata Defran terlihat
bergerak dan Lifia segera berpura-pura memejamkan matanya dengan cepat, agar ia terlihat belum
terbangun dari tidur lelapnya. Defran melihat wajah cantik Lifia dengan tatapan dalam dan tentu saja
Lifia yang terlihat tertidur pulas menjadi mangsa yang sangat menarik untuk ia sentuh dan benar saja ia
mencium bibir Lifia dengan lembut hingga menggerakkannya bibirnya meniju pipi Lifia hingga bergerak
menuju lehernya. Perlakuan Defran sangat mengejutkan untuknya bahkan Defran menciummm
daddanya, kegiatan yang sepertinya sangat disukai seorang Defran Satyas.

Jantung Lifia berdetak dengan kencang dan ia menahan dirinya untuk tidak terbangun. la ingat ia minum
kopi dan mungkin itu yang membuatnya cepat terbangun karena rasa kantuknyya tidak seperti kantuk
yang bisanya ia alami hingga tertidur pulas dalam waktu yang cukup lama. Bahkan ia lebih cepat
terbangun tidak seperti ia yang biasanya, harus dibangunkan oleh Defran. Defran memgancinkan baju
Lifia dan ia mengelus pipi Lifia dengan lembut lalu lagi-lagi Defran menciuumm bibirnya. Lifia sekuat
tenaga menahan dirinya agar tidak membuka matanya, jika ia membuka matanya ia akan bingung ingin
mengatakan apa kepada Defran Satyas, apalagi hal ini sungguh sangat mengejutkannya. Lifia mendengar
suara

1/6

Ladang
pergerakkan Defran dan ia mencium dahi Lifia, lalu Defran turun dari ranjang. Lifia sangat terkejut
dengan tingkah Defran Satyas, apa Defran sering kali menyentuhnya selama ini dan itu membuatnya
merasa sangat malu. la merasa malu karena Defran bahkan sangat bernafsu padanya dan ia menarik
kata-katanya yang pernah mengatakan Defran kemukinan adalah seorang homo.

Lifia membuka matanya dan ia melihat Defran kembali membaringkan tubuhnya disofa setelah keluar
dari kamar mandi. Wajah Lifia bersemu merah, ia sangat sulit kembali untuk tidur lagi hingga akhirnya
pagi pun menjelang. Defran melihat sosok Lifia sedang memainkan ponselnya dan ia melipat kedua
tangannya. "Tumben bisa bangun sendiri," ucap Defran.
"Nggak tahu, kenapa bisa bangun lebih dulu dari pada kamu Mas," ucap Lifia pelan, ia sungguh sangat
malu mengingat bibir itu telah berkeliaran di tubuhnya, apalagi sosok itu saat terlihat tidak pernah
melakukan hal itu padanya. Apa jadinya jika ia yang mendekati Defran lebih dulu bahkan duduk
dipangkuannya dan sepertinya yang terjadi Defran tidak akan menolaknya.

'Aku juga sangat menyadari apa yang kamu lakukan Mas, aku hampir nggak percaya kamu
memanfaatkan kepolosanku saat tidur Mas, Batin Lifia

Defran mendengar suara bel berbunyi dan ia segera membuka pintu kamar lalu membawa masuk koper
milik Lifia. "Loh kok koper aku ada disini Mas?" Tanya Lifia.

"Saya memerintahkan seseorang untuk membereskan apartemen kamu dan membawa koper kamu
kemari sedangkan barang lainnya telah berada didalam mobil yang akan mengantar kita menuju
Bandara. Semuanya sudah rapi dan kita tidak perlu lagi kembali ke Apartemen kamu!" Ucap Defran.

Lifia menatap Defran dengan tatapan menyelidik

2/6

Ladang
seolah meminta penjelasan dengan apa yang dilakukan Defran padanya semalam, namun Defran yang
tidak tahu Lifia menyadari tingkahnya, terlihat menujukkan eskpresi biasa. Jika Defran tidak segera
menikahinya, Defran sangatlah keterlaluan padanya apalagi Derfan bak bayi yang mengisap susssu
miliknya, astaga memikirkan hal itu membuatnya gila. Lifia penasaran sejak kapan Defran
memanfaatkannya yang sedang tertidur pulas. Ya...ia sangat yakin seratus persen jika kopi yang ia
minum membuatnya memergoki tingkah laku calon suaminya ini yang jauh dari kata laki-laki dingin yang
tidak suka menyentuh perempuan tanpa izin. Defran melakukan hal itu tanpa izin darinya dan itu
membuatnya berpikir, sudah berapa lama Defran melakukan hal ini padanya.

"Jam delapan kita sudah harus ke Bandara!" Ucap Defran membuat Lifia segera turun dari ranjang dan ia
melangkahkan kakinya mendekati kopernya. la mengambil beberapa pakaiannya dan setelah itu ia
segera membawanya masuk kedalam kamar mandi.

Lifia segera mandi dan guyuran air dikepalanya membuatnya pikirannya yang kusut karena rasa
penasarannya itu membuatnya menjadi sedikit relax.

Defran Satyas dengan segala tindakannya yang sangat luar bisa itu telah meluluhlantakkan hati dan
pikirannya. Ada kekesalan karean selama ini sepertinya Defran memperlakukannya dengan dingin
hingga sangat sering membuatnya patah hati, namun jika mengingat sosok Defran yang selalu ada disaat
ia membutuhkannya, Lifia berusaha keras untuk tidak protes dengan sosok Defran Satyas.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Lifia melangkahkan kakinya mendekati Defran yang
saat ini sedang duduk santai. Lifia terlihat sangat segar dan wajah polosnya tanpa makeup benar-benar
menganggumkan. "Mas nanti aku mau tinggal di Rumah Ibu saja Mas!" Ucap
3/6

Ladang
Lifia.

"Kenapa?" Tanya Defran menatap Lifia dengan tatapan dingin.

"Nggak enak kalau kita tinggal bersama tanpa ikatan," ucap Lifia dan ia menelan ludahnya saat melihat
ekspresi Defran terlihat tidak suka dengan ucapannya. "Lagian aku nantinya nggak tahan Mas karena aku
itu suka peluk-peluk kamu, kamu jadi nggak nyaman kan sama aku. Aku ini

perempuan agresif dan nggak bisa menahan diri," ucap Lifia membuat Defran mengangkat sebelah
alisnya dan jiwa penasarannya bangkit karena ucapan Lifia sepertinya sangat berbeda dengan Lifia yang
biasanya.

"Maksud kamu apa?" Tanya Defran dingin.

"Ya kita kan belum menikah, jadi nggak wajar saja kalau tinggal satu atap," ucap Lifia. Defran melipat
kedua tangannya dan ia menatap Lifia dengan tatapan

4/6

Ladang
menyelidik.

"Selama ini kita tinggal bersama apa kamu lupa?" Sinis Defran.

"Iya Mas, tapi kan kamu itu abdi negara Mas, nggak baik saja kalau kita tidur bersama Mas didalam satu
kamar, kalau ketahuan gimana? Kamu bisa dipecat loh Mas..."

ucap Lifia.

"Pinter banget sekarang kamu, sengaja ingin menghindari dari saya, kenapa tidak mau tinggal sama
saya? Bukanya kita akan segera menikah," ucap Defran.

"Aku kan publik figur Mas kalau kamu kena gosip kan jadinya nggak baik Mas, karir kamu juga
dipertaruhkan," ucap Lifia. "Lagian kamu kan..." ucap Lifia terhenti.

"Saya kenapa?" Tanya Defran mengerutkan dahinya dan ia menunggu kalimat apa yang ingin Lifia
katakan padanya.

"Mas aku mau nanya..." ucap Lifia dan ia sudah sangat sulit untuk menahan rasa penasarannya.

"Selama ini kamu itu tidur dimana Mas? Beneran tidur sofa saat kita sekamar?" Tanya Lifia membuat
Dsran menatap Lifia dengan datar.
"Kamu sudah lihat kan setiap kamu bangun, saya tidur dimana?" ucap Defran dingin dan ia mencoba
menyangkalnya.

"Kamu bohong, aku juga bego banget nggak sadar. Ini juga akibat aku nggak suka ngaca jadi aku nggak
tahu kalau..." ucap Lifia.

"Kalau apa?" Tanya Defran dengan gayanya yang santai.

"Kalau kamu buat tanda didaada aku, kamu sering kan Mas kayak gini sama aku? malam ini bukan
pertama kalinya kamu melakukan ini sama aku," ucap Lifia dengan

5/6

Ladang
wajahnya yang bersemu merah.

"Ini memang bukan pertama kalinya, kamu pikir saya itu laki-laki baik yang hebat dalam hal menahan
diri, sementara ada perempuan yang terus menganggu saya dengan tatapannya yang menggoda saya
setiap kali bertemu dengan saya," ucap Defran. Lifia membuka mulutnya dan ia sangat terkejut dengan
ucapan Defran.

"Lagian sudah semestinya kamu bertanggung jawab atas saya Lifia!" Ucap Defran dan ia tidak ingin
disalahkan atas tindakannya yang pengecut dengan menciummi Lifia ketika Lifia tertidur.

"Kamu gila Mas kok kamu tega sih...aku itu lagi tidur Mas, coba lakukan kalau aku sedang tidak tidur!"
Tantang Lifia kesal.

"Kalau begitu, apa sudah kamu siap untuk saya miliki seutuhnya tanpa menikah terlebih dahulu?" Tanya
Defran sinis. "Jangan protes dengan apa yang saya lakukan, biarkan hanya saya saja berdosa sedikit,
kamu tidak perlu!" Ucap Defran membuat wajah Lifia bersemu dengan merah. "Kalau sudah begini kita
memang harus segera menikah!" Ucap Defran. "Kamu itu jadi ladang dosa saya kalau terus
menundanya," ucap Defran dingin.

"Iya...kita nikah saja secepatnya," ucap Lifia dan ia menggeser tubuhnya menjauh dari Defran karena
ingat, ia telah menjadi ladang dosa bagi seorang Defran Satyas.

Comments

Vote

15

6/6
Sudah sejak lama.
Sudah sejak lama
Kepulangan Defran ke Jakarta bersama Lifia telah ditunggu semua keluarga, bahkan Lifia telah
menghubungi Murni jika ia akan pulang ke Kediaman orang tuanya. Lifia yakin dengan kedatangan
Ayahnya yang menjemputnya secara khusus di Bandara Defran tidak akan bisa memaksanya untuk
pulang ke Apartemennya. Lifia berpikir hubungannya dengan Defran Satyas sudah tidak sehat lagi jika
statusnya belum menjadi istri dari seorang Defran Satyas.

Defran telah mengetahui kedatangan calon Ayah mertuanya ini dari supir pribadinya yang
menjemputnya. Setelah perawat sampai ke Bandara Defran mengaktifkan ponselnya dan terlihat
beberapa pesan dari supirnya yang mengatakan jika Subekti sedang menunggu kedatangan Lifia. Saat ini
mereka telah turun dari pesawat dan masuk kedalam Bandara, Defran memegang tangan Lifia lalu
menariknya. "Mas jangan begini pakek masker dulu, kamu pikir aku itu bukan publik figur...!" ucap Lifia.

"Tidak perlu," ucap Defran membuat Lifia

mengerjapkan kedua matanya dan benar saja semua orang menyadari kehadiran Lifia, membuat mereka
semua tersenyum dan beberapa dari mereka mengambil foto Lifia yang sedang melangkahkan kakinya
bersama Defran. Lifia merasa gugup karena baru pertama kalinya ia mempublikasi hubungannya
didepan kamera walaupun Defran menolak untuk diwawancarai saat ini. Lifia melihat sosok Subekti yang
tersenyum padanya dan ia melepaskan tangan Defran lalu ia segera mendekati Subekti. Lifia
mengulurkan tangannya dan ia mencium punggung tangan Subekti.

1/7

Sudah sejak lama


"Ayah jemput Lifia sama siapa?" Tanya Lifia.

"Sendirian dong, ibu sudah menunggu kamu di Rumah!" Ucap Subekti tersenyum bahagia.

"Iya Yah..." ucap Lifia.

"Defran kamu ikut Ayah pulang ke Rumah Ayah nak!" Ucap Subekti.

"Iya Yah," ucap Defran.

Mereka masuk kedalam mobil milik Subekti dan Defran meminta supir untuk mengikuti mereka dari
belakang. "Gimana kerjaan kamu Lifia?" Tanya Subekti.

"Alhamdulilah lancar Yah," ucap Lifia.

"Kalian puas jalan-jalan berdua di Paris, tapi gosip tentang hubungan kalian sudah sangat meresahkan,
saya harap kamu segera menikahi anak saya Defran!" Ucap Subekti.
"Iya Yah, rencananya minggu ini saya akan bertemu Papinya Lifia!" Pinta Defran.

"Iya sudah saatnya Lifia bertemu dengan Papinya, kamu siap Lifia ketemu Papi kamu?" Tanya Subekti.
Dulu Lifia sangat trauma dan tidak ingin bertemu Papinya karena ia takut dengan ibu tirinya. Lifia takut
dengan rasa kecewanya karena selama ini Papinya itu telah menyakitinya. Menyakitinya hingga ia
menangis bahkan merasa menjadi orang yang paling menyedihkan karena Papinya tidak membelanya
didepan ibu tirinya dan keluarga besarnya yang lain.

"Siap Yah, lagian ada Mas Defran yang menemani aku Yah," ucap Lifia.

"Iya Nak, walau bagaimanapun dia adalah Papimu dan kamu memang perlu restu darinya!" Ucap
Subekti.

Lifia menatap Subekti dengan tatapan sayang,

2/7

Sudah sejak lama


andaikan Subekti adalah ayah kandungnya, Subekti yang akan menjadi wali nikahnya. Beberapa menit
kemudian mereka sampai di Kediaman Subekti dan telihat ada tenda yang terpasang disana. Lifia
membuka mulutnya dan ia menatap kearah Defran karena penasaran dengan tenda yanga ada didepan
rumah ini.

"Ada acara apa, Yah?" Tanya Lifia kepada Subekti.

"Acara pertunangan kamu," ucap Subekti membuat Lifia mengerjapkan kedua matanya. "Kamu sudah
bersedia menikah dengan Defran jadi sekarang serahkan pada orang tua untuk persiapan acaranya.
Maminya Defran ingin melamar secara resmi dan katanya hari ini saja lamarannya, agar Defran tidak
menolak diadakan acara pertunangan," ucap Subekti.

Defran menghela napasnya, Maminya telah

membohonginya karena jika ia telah melamar Lifia secara pribadi, Maminya berjanji tidak perlu prosesi
pertunangan secara formal antar keluarga. Defran menginginkan langsung pada intinya yaitu segera
menikah saja, karena pertunangan menurutnya hanya akan membuang waktu saja. "Sekalian
menentukan tanggal kalian menikah!" Ucap Subekti membuat wajah Lifia memerah dan ia memegang
kedua pipinya karena gugup.

Mereka keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam Rumah. Liana dan Murni segera
menarik lengan Lifia agar masuk kedalam kamar membuat Lifia pasrah mengikuti kedua ibunya ini. "Ibu
tahu kamu capek banget ya Nak, tapi kan asyik kalau tunangannya itu dilakukan secara mengejutkan
kayak gini," ucap Murni.

"Tapi kenapa Lifia nggak diberitahu Mi, Bu? Lifia kira tadi ini mungkin acara lamaran Mbak Kiran," ucap
Lifia.
"Ini acara kamu sayang, Defran nggak mau menunggu

3/7

Sudah sejak lama


Kiran dan Handaru katanya lama kalau menunggu mereka menikah, hmmm...Mami dengar dari Defran
acara lamaran Defran di Paris berantakkan ya sayang?" Tanya Liana.

"Nggak kok Mi, lamaran Mas Defran itu sangat mengesankan dan aku suka," jujur Lifia. Baginya lamaran
yang dilakukan Defran tetap saja mengejutkannya.

"Yaudah Jeng, Lifia ganti baju saja dulu ya Jeng!" Ucap Liana.

"Iya Jeng," ucap Murni.

"Aduh deg-degan banget aku takut banget Lifia nggak jadi menantuku, Jeng..." ucap Liana terlihat sangat
bahagia karena selangkah lagi Lifia akan benar-benar akan menjadi menantunya.

"Iya Jeng....Alhamdulilah banget, kita jadi besan lagi dan dua anak perempuanku menjadi menatu kamu
ya

4/7

Sudah sejak lama


Jeng," ucap Murni.

"Untung saja aku nggak punya anak laki-laki lagi kalau nggak, Kiran sudah aku nikahkan juga sama anak
laki-lakiku yang lain," ucap Liana membuat Murni terkekeh.

Lifia tersenyum dan ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu ia pasrah
menerima baju kebaya yang dipakaikan ke tubuhnya dan juga beberapa aksesoris serta makeup oleh
penata rias yang terkenal. Beberapa menit kemudian Lifia telah terlihat sangat cantik dan kedua kakak
perempuannya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ini. "Aduh nyebelin banget kenapa aku
harus dilangkah begini sama kamu," ucap Kiran kesal membuat Kana tekekeh melihat kekesalan adiknya.

"Salah sendiri diajak nikah malah nolak," ucap Kana.

"Gimana nggak nolak kalau dia itu nyebelin banget, bilang cinta tapi suka banget bertindak sesukanya
sekarang saja dia kemana coba, nggak tahu aku dimana dia berada," kesal Kiran.

"Gimana Mbak mau tahu dimana Mas Handaru berada kalau Mbak nggak bertanya sama Mas Handaru,"
ucap Lifia membuka suaranya.

"Wah udah sombong nih...karena mau dinikahin juga akhirnya setelah mengalami patah hati dalam
waktu yang cukup lama," ucap Kiran sinis.
"Bilang saja Mbak iri ya aku nikah duluan..." goda Lifia.

"Iri banget..." goda Kana.

"Neyeblin banget sih kalian berdua," ucap Kiran.

"Makanya jangan galak banget sama Handaru, tapi ya...Handaru itu hebat banget bisa sabar ngadepin
kamu

5/7

Sudah sejak lama


Kiran. Kamu kan suka marah-marah sama dia tapi dianya sabar banget dan senyum penuh cinta kalau
kamu marahin dia," ucap Kana yang selalu menahan tawanya ketika melihat interaksi diantara Kiran dan
Handaru. Handaru seolah merasa senang melihat kemarahan Kiran padanya dan itu membuatnya sangat
takjub.

"Dia itu aneh...aneh banget...dulu ya sering banget ngajak berantem dan terang-terangan menghina aku
gitu tapi tiba-tiba saja ngaku kalau aku itu pacarnya kan aneh..." ucap Kiran yang masih saja curiga
dengan motif tersembunyi dari Handaru Laksamana Dewandaru padanya.

"Nggak aneh itu Mbak, namanya juga cinta bisa datang kapan saja Mbak. Aku saja nggak tahu kalau
akhirnya Mas Defran luluh juga dan ngajakin aku nikah gitu," ucap Lifia tersenyum bahagia dan ia ingat
momen bagaimana lamaran Defran padanya hingga ciumman hangat Defran.

"Kalau Defran itu sudah lama suka sama kamu Lifia," ucap Kana membuat Lifia terkejut.

"Mbak tahu dari mana?" Tanya Lifia.

"Tahu dong, gini-gini Mbakmu ini memperhatikan tingkah lakunya," ucap Kana. la telah lama menciumm
tingkah laku Defran yang memang menyukai Lifia sejak lama, karena saat Defran memilih tinggal di
Apartemen lebih sering itu juga disebabkan Lifia pindah di Apartemen yang berdekatan dengan unit
Apartemennya. Kana juga memperhatikan tingkah Defran yang selalu pulang ke rumah, jika Lifia berada
di Rumah orang tuanya dan seolah ia memang ingin bertemu Lifia disetiap kesempatan.

Comments

Vote

6/7
Jangan basa-basi.
Jangan basa-basi
Lifia merasa sangat bahagia, meskipun dihari yang sangat penting ini ia tidak ditemani kedua orang tua
kandungnya namun ia sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini. Mami kandungnya telah lama
meninggal sedangkan Papinya yang telah menikah dengan perempuan lain, tidak menyayanginya namun
keluarga inilah yang datang menyambutnya, lalu memeluknya dengan hangat. la sebenarnya tidak
membenci Papi kandungnya karean ia tahu Papinya itu telah dimanfaatkan oleh ibu tirinya, namun ia
yang saat itu masih sangat kecil dan tidak berdaya hingga mengalami trauma lalu ia memilih untuk tidak
pernah pulang ke kediaman Papinya.

"Mbak..." lirih Lifia dan matanya berkaca-kaca.

"Stop nggak usah melo ya dek, ini baru lamaran resmi, hanya pertunangan dan bukan akad nikah. Jadi
kamu nggak perlu menangis karena teharu!" Ucap Kiran karena sebenaranya sejak tadi ia pun menahan
dirinya untuk tidak teharu dan akhirnya meneteskan air matanya.

"Kok nggak boleh teharu? tapi kan beneran aku itu teharu banget loh Mbak," ucap Lifia

"Kamu itu sudah cantik begini makeup kamu nanti luntur kalau nangis Dek!" Ucap Kiran dan ia
mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat oleh Lifia jika ia juga ikut teharu apalagi ia juga ingin
menangis saat ini.

Kana memeluk Lifia dan ia sangat menyayangi Lifia, ia ingat bagaimana Lifia kecil menangis sedih dan
bertanya kepadanya, bolehkan ia tinggal di rumahnya saat itu. Bolehkan ia tidur sekamar dengannya,
bolehkah ia itu bermain bersamannya, Kiran dan Altaf... "Mbak bahagia

1/6

Jangan basa-basi
kalau kamu bahagia Dek, hari ini kamu sangat cantik dan kamu sangat cocok bersama Defran," ucap
Kana yang kagum akan kecantikan Lifia. la dan Kiran juga sangat cantik, namun Lifia memang lebih
menojol karena ia terlihat sangat ceria hingga membuat suasana terasa menyenangkan, sejak ia tinggal
bersama mereka.

"Mbak, aku sangat sayang sama kalian berdua Mbak,

kalian berdua banyak mengalah sama aku. Disaat ibu memperhatikan aku kalian nggak ada yang
cemburu apalagi kesal sama aku, karena perhatian ibu direbut sama aku," lirih Lifia.

"Kita itu sayang sama kamu, sejak kamu tinggal sama kita kamu itu adalah adik kita Lifia yang berharga,"
ucap Kiran.
Ketukkan pintu membuat mereka melihat kearah pintu dan terlihat sosok tampan yang ternyata baru
saja pulang dari perantauannya. Siapa lagi kalau bukan anak laki-laki satu-satunya yang menjadi
kebanggaan mereka yaitu Altaf. Altaf tersenyum melihat ketiga saudarinya ini dan melangkahkan
kakinya masuk kedalam kamar ini lalu ia merentangkan tangannya.

"Yang punya acara nggak mau peluk Ataf ya?" Tanya Altaf membuat Lifia tersenyum. Altaf memeluk Lifia
dengan erat teman berantemnya dan juga satu-satunya perempuan dirumah ini yang sangat
membutuhkan perlindungannya.

Lifia bukan hanya cantik tapi ia snagat berbakat bahkan sangat menyayangi keluarganya.

"Alhamdulilah akhirnya kamu akan segera menikah, Mbak," ucap Altaf.

"Alhamdulilah kalau kamu ingat, Lifia Mbaknya kamu," sinis Kiran dengan suaranya yang terdengar kesal
karena Altaf selalu mengaku jika ia lebih tua dari Lifia selama ini.

"Aku pikir yang akan menikah duluan itu Mbak

2/6

Jangan basa-basi
Kiran...ehhh...ternyata dilangkahin sama Mbak Lifia sayang," ucap Altaf. "Ckckckc...tega banget sih
Mbak," ejek Altaf.

"Jangan ngerjain Mbak ya Dek! Nyebelin banget sih setiap pulang selalu saja bikin emosi," ucap Kiran
kesal.

"Itulah uniknya Altaf Mbak," goda Altaf. Altaf melepaskan pelukannya kepada Lifia. "Nggak boleh lama-
lama nanti Mas Defran nanti marah karena ada cowok yang lebih tampan darinya yang memeluk calon
istrinya!" Ucap Altaf.

"Lebay banget kamu dek, mana sok ganteng kaти," ucap Kiran sinis.

Altaf saat ini tidak terlihat seperti seorang polisi karena ia lebih mirip seperti seorang aktor dengan
penampilannya yang terlihat tampan. Saat ini Altaf memang bekerja sebagai seorang polisi dengan
menjadi intel. la dituntut berpenampilan tidak seperti seorang polisi dan memakai baju bebas, ia juga
sering melakukan penyamaran. Tugas Altaf memang sangat berbahaya dan ia sering kali berpergian dari
satu kota ke kota lainnya.

"Loh nggak lihat ini udah kayak aktor Korea? Mirip Cha Eun Woo," ucap Altaf menyunggar rambutnya
dan mengedipkan kedua matanya membuat Kana terkekeh.

"Hehehe...tetap aja kamu itu bakatnya ngelawak ya Dek," ucap Kana.

Altaf mendekati Kana lalu ia memeluk Kana dengan erat. "Senang banget melihat Mbak Kana yang
semakin lama semakin cantik, karena Mbak ini orangnya sangat penyabar dan tidak mudah marah
seperti seseorang," ucap Altaf dan ia sengaja ingin mengejek Kiran tang seorang pemarah. "Makanya
yang suka marah-marah nggak jelas itu katanya sih sekarang sedang sedih, sedih karena

3/6

Jangan basa-basi
dilangkahin adiknya," ejek Altaf.

"Altaf...." teriak Kiran kesal "Kamu mau dihajar ya? Nyebelin banget, bisa-bisanya kamu mengejekin
Mbak kayak gini," ucap Kiran kesal dan ia menggulung lengan kebaya yang ia pakai sekaan ingin sekali
memukul wajah tampan Altaf.

"Mbak Kiran yang cantik jangan galak dong! sudah feminim begini mau main hajar saja. Mbak kenapa
jadi

sensitif begini jangan-jangan lagi marahan sama Mas Handaru?" Tanya Altaf penasaran.

"Jangan sok tahu kamu..." kesal Kiran.

Ketukan pintu membuat sosok Salsa menatap kesekeliling kamar ini. "Wah pada ngumpul semua
nih...yuk kebawah! Soalnya acara akan segera dimulai!" Ucap Salsa.

4/6

Jangan basa-basi
"Oke," ucap Kana dan ia mengacungkan jari jempolnya kepada adik iparnya ini.

Mereka semua keluar dari dalam kamar lalu melangkahkan kakinya menuju lantai dasar. Jantung Lifia
berdetak dengan kencang saat ia duduk tepat disamping Defran. Semua mata tertuju pada sosok Lifia
dan Defran yang terlihat seperti pasangan yang sempuran. Apalagi baju Lifia dan Defran terlihat seperti
couple karena memang dibuat dengan warna yang sama.

Pembawa acara segera membuka acara lamaran ini dan mereka meminta pihak perwakilan dari pihak
lelaki untuk mengatakan secara resmi maksud dan tujuan datang ke Kediaaman ini. Serkan memang
yang diminta untuk menjadi juru bicara dan terlihat dengan sangat jelas jika seorang Serkan terlihat
sangat santai, dalam mengatakan maksud kedatangan ia dan keluarganya.

"Assalamuaikum, Sebelumnya Saya sangat berterimakasih kepada keluarga Pak Subekti dalam hal ini
saya juga saya sebagai menantu Pak Subekti. Saya ingin menjadi sosok penengah dalam acara lamaran
ini, saya juga mewakilkan keluarga saya untuk mengajukan lamaran secara resmi kepada Lifia Ayu yang
ingin dipersunting oleh adik kandung saya yang bernama Defran Satyas. Saya mengharapkan agar
pertunangannya diresmikan segera mungkin, mengingat adik saya sepertinya sudah tidak bisa
dipisahkan lagi dengan Lifia," ucap Serkan membuat mereka semua tersenyum.
Keluarga besar Satyas semuanya juga hadir dalam acara lamaran resmi ini dan memang yang diundang
di acara ini hanyalah keluarga dekat saja dan juga tetangga satu RT. "Bagaimana Ayah mertua apakah
lamaranya diterima?" Tanya Serkan dan semuanya terkekeh karena jawabnya sudah dapat dipastikan.

"Sudah saya lamar dari jauh hari sama Ayah dan

5/6

Bangunin dia.
Bangunin dia
Pertunangan yang diadakan semalam sangatlah meriah, apalagi keluarga besar Defran telah membawa
banyak seserahan pernikahaan diacara pertunangan ini.

Tak tanggung-tanggu ada tas dengan harga cukup fantastis dan juga satu set perhiasan yang diberikan
keluarga Defran untuk Lifia. Saat ini Lifia mengerjapkan kedua matanya, ia membuka matanya dengan
perlahan dan ia tekejut saat melihat sosok Defran ada disampingnya sambuk memeluknya. Wajahnya
sangat dekat hingga Lifia menelan ludahnya. Defran Satyas sangat berani tidur dikamarnya apalagi ini di
Kediaman oran tuanya.

Lifia mendorong tubuh Defran dengan pelan membuat Defran membuka matanya. Mata keduanya
bertemu, Lifia segera duduk dan ia menyilangkan kedua tangannya didada. Defran memilih duduk dan ia
turun dari ranjang, lalu ia melangkahkan kakinya duduk dikursi belajar milik Lifia kontras dengan
tubuhnya yang tegap. Saat ini Lifia menatap Defran dengan tatapan dingin, ia kesal karena malam tadi
pun ketika ia tertidur ternyata sosok Defran, bisa dengan mudah masuk kedalam kamarnya, meskipun
saat ini mereka berada didalam rumah orang tuanya.

"Mas gimana cara kamu masuk ke dalam kamar aku?

Nggak mungkin kan Ibu dan Ayah ngizinin kamu masuk ke kamar anak gadisnya?" Tanya Lifia melipat
kedua tangannya, sambil menatap tersangka yang saat ini duduk dikursi belajarnya dengan tubuh
gagahnya tanpa pakaian atasnya itu. Jantung Lifia berdetak dengan kencang membayangkan apa yang
telah Defran lakukan padanya tadi malam.

"Menurut kamu bagaimana?" Tanya Defran dengan

1/6

Bangunin dia
menyangkal perbuatannya.

"Mas kalau suka bohong itu dosa... Mas," ucap

Lifia.
"Kamu yang lebih berdosa karena kamu suka sekali menggoda saya, sebagai orang yang sama-sama
berdosa terima saja apa yang ingin saya lakukan dan jangan protes!" Ucap Defran membuat Lifia
menyebikkan bibirnya.

Lifia. "Mas kamu keluar dari kamar aku sekarang!" Ucap

"Berani sekali kamu mengusir saya setelah kamu memanfaatkan saya selama ini Lifia..." ucap Defran
dingin.

"Nggak kebalik, kamu Mas yang memanfaat aku selama ini. Kamu lakuin hal gila kalau aku sedang tidur
Mas, kamu ngapain tubuh aku Mas?" Tanya Lifia kesal.

"Makanya kalau tidur itu jangan terlalu nyenyak, mulai sekarang kamu saya larang menginap di rumah
orang lain apalagi kalau kamu berpergian tanpa saya atau asisten kamu. Bisa-bisanya kamu tidur mati
dan nggak sadar kalau ada orang yang masuk kekamar kamu dan cium kamu," ucap Defran dingin.

Lifia. "Kamu bukan hanya ciummm aku Mas...." Kesal

"Ooo...iya saya haus soalnya makanya saya..." ucap Defran dengan tatapan setannya yang membuat Lifia
harus lebih banyak bersabar menghadapi Defran yang tak akan mau mengalah, jika berdebat
dengannya.

"Nggak usah diperjelas Mas, kamu ini nyebelin banget sih..." kesal Lifia membuat Defran
menyunggingkan senyumannya.

Defran mengambil kaos atasnya dan ia memakainya lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar
Lifia.

3/6

Bangunin dia
Jantung Lifia berdetak dengan kencang dan ia tidak menyangka Defran akan berani masuk kedalam
kamarnya, bahkan tidur bersamanya. Padahal ia telah mengunci pintu kamarnya lalu dari mana Defran
masuk dan ia membuka mulutnya saat melihat jendela kamarnya terbuka.

Gila...Defran Satyas memang benar-benar gila, sejak kapan ia berani melakukan. Ini padanya..Entalah ia
bingung sejak kapan tapi yang jelas Defran tidak akan melepaskannya

begitu saja meskipun ia harus menepuh resiko ketahuan keluarganya yang lain. Sampai saat ini Lifia
tidak tahu jika selama ini Defran, memiliki insomnia parah hingga ia sulit untuk tidur dimalam hari dan
Lifia bak obat yang mampu membuatnya tertidur pulas selama ini.

Lifia menutup jendela kamarnya dan ia merasa lega telah mengusir maling yang menerobos masuk
kedalam kamaranya dan dengan tidak sopannya tidur

4/6
Bangunin dia
disampingnya. Lifia mencoba memejamkan matanya dan akhirnya ia kembali terlelap hingga ketukkan
pintu pun pasti tidak akan membuatnya terbangun. Ada alasan kenapa orang yang berada di rumah ini
meminta Lifia tidak mengunci pintu kamarnya, karena Lifia akan sulit untuk dibangunkan.

Jam menujukkan pukul tuju pagi, Kana diperintahkan oleh Murni untuk membangunkan Lifia. Saat ini
Kana mengetuk pintu kamar Lifia namun tetap saja sang putri tidur tdiak akan bangun. Biasanya Lifia
akan bangun sendiri pukul satu siang jika mereka tidak

membangunkannya dan Lifia akan terbangun, ketika ia merasa jika perutnya sangat lapar.

"Lifia...Lifia bangun!" Ucap Kana mengetuk pintu kamar Lifia namun tidak ada jawaban.

"Kenapa nggak juga bangun si calon pengantin?"

Tanya Kiran mendekati Kana.

"Nggak usah ngeggas gitu dong Dek, pakek kata calon

pengantin, gih...minta dikawini sama Handaru segera!"

Ucap Kana melihat Kiran yang masih terlihat kesal karena Lifia akan menikah lebih dulu dari pada
dirinya.

"Nggak usah bahas Handaru Mbak!" Ucap Kiran kesal.

"Hehehe...yang lagi berantem menggemaskan banget sih..." goda Kana.

"Jadi gimana ini kita minta Altaf aja yang bangunin masuk lewat jendela kamar?" Tanya Kana.

"Ngapain minta tolong Altaf, itu suruh calon suaminya yang bangunin dia lewat jendela kamar biar tahu
betapa kebo calon istrinya yang sulit bangun pagi," ucap Kiran.

"Defran pasti sudah tahu Lifia begini," ucap Kana.

"Yaudah biar aku panggil Mas Defran!" Ucap Kiran

5/6

Dia yang penggoda.


Dia yang penggoda
Kiran mendekati Defran dan Altaf yang sedang duduk dikursi makan. "Mas Def...." Panggil Kiran.

Defran mengalihkan pandangannya melihat kearah Kiran "Ada apa Kiran?" Tanya Defran.

"Lifia Mas belum bangun-bangun," ucap Kiran.


"Yaudah sini biar Altaf yang bangunin!" Ucap Altaf yang sangat bisa diandalkan dalam hal
membangunkan Lifia.

"Nggak usah biar saya saja!" Ucap Defran dan ia segera berdiri.

"Kamarnya dikunci Mas, kita nggak bisa masuk," ucap Kiran membuat Defran mengerutkan dahinya.

"Itu mah gampang lewat jendela, Mas!" Ucap Altaf menyunggingkan senyumannya. Tidak usah Altaf
beritahu bagaimana caranya ia bisa masuk kedalam kamar Lifia karena ia sudah melakukannya tadi
malam dngan menyusup kedalam kamar Lifia.

"Oke biar saya yang masuk lewat jendela!" Ufap Defran. Altaf menyunggingkan senyumannya dan
sebenaranya Altaf telah meletakkan cctv dibelakang jendela kamarnya yang bersebelahan dengan kamar
Lifia. la bahkan mendengar ucapan Defran dan Lifia, yang membuatnya terbangun. Tingkah Defran telah
diketahui Altaf, namun ia tidak ingin membuat Defran kesal padanya jika ia membahasnya.

Mereka semua menatap kearah Defran yang melangkahkan kakinya menuju kamar Lifia dan benar saja,
Defran melewati jendela dan ia bisa dengan mudah membuka jendela Lifia dengan mencongkel jendela
dengan

1/7

Dia yang penggoda


alat kecil yang ia miliki. Defran masuk kedalam kamar Lifia melewati jendela dengan santai dan ia
melihat sosok Lifi tertidur dengan pulas. "Memang kamu ini nggak bsia dibiarkan tidur sendirian," ucap
Defran menatap perempuan cantik yang saat ini sedang terlelap.

Defran mendekat Lifia, ia menggoyangkan lengan Lifia namun Lifia tidak bergeming membuat Defran
menggendong Lifia menuju kamar mandi dan ia mendudukkan Lifia dikamar mandi, lalu ia mengguyur
tubuh Lifia dengan air. Lifia membuka matanya dan ia terkejut melihat Defran sedang menyiramnya
dengan air.

"Astaga Mas ngapain..." teriak Lifia.

"Bangun!" Ucap Defran membuat Lifia segera bediri dan ia menatap Defran dengan kesal.

"Nggak ada cara yang lebih manis Mas kalau mau bangunin aku?" Tanya Lifia kesal.

"Cara apalagi? Bercinta sama kamu sekarang diranjang agar kamu bangun?" Tanya Defran membuat
Lifia membuka mulutnya, karena terkejut dengan ucapan Defran.

"Astaga Mas isi otak kamu itu pulgar banget Mas," kesal Lifia.

"Mau gimana lagi kita sudah sama-sama dewasa Lifia, aneh kalau saya tidak tergoda sama kamu apalagi
kamu dalam keadaan basah seperti ini!" Ucap Defran dingin.
"Pakek dibahas lagi... Mas... kamu keluar aku mau mandi!" Usir Lifia.

"Oke," ucap Defran dan ia mengacak-acak rambut Lifia dengan sesuka hatinya, lalu ia segera
melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Lifia telah selesai mandi, ia mengerjapkan kedua matanya dan ia
menghentikan langkah kakinya ketika melihat Defran masih berada dikamarnya. Defran bahkan duduk
santai sambil

2/7

Dia yang penggoda


memainkan ipadnya miliknya dan ia mengangkat wajahnya melihat kearah Lifia, saat menyadari
kehadiran Lifia. Lifia mengambil bajunya dan ia yang kesal segera kembali masuk ke kamar mandi, untuk
mengganti pakaiannya. Setelah mengganti pakaian, Lifia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi
dan ia mendekati Defran.

"Udah..." ucap Lifia.

"Udah apa?" Tanya Defran dengan nada dingin.

"Udah mandi," ucap Lifia kesal.

"Lalu?" Tanya Defran.

"Terus mau ngapain lagi? ini kamu sudah bangunin aku loh Mas..." ucap Lifia.

"Sarapan pagi," ucap Defran dan ia berdiri, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lifia diikuti oleh
Lifia.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di ruang makan terlihat semua keluarga telah berkumpul dan
sedang duduk santai. "Tuan putri sudah bangun..." goda Altaf.

"Apaan si Al, nyebelin banget..." ucap Lifia.

"Loh hanya Mbak loh satu-satunya orang di Rumah ini yangs selalu dibuat hebo setiap pagi," ucap Altaf.

"Nggak hebo kok...biasa saja," ucap Lifia.

"Biasa dari mana? Mbak itu luar biasa hanya Mbak loh yang bisa membuat calon suami Mbak masuk ke
kamar Mbak itu lewat jendela," ucap Altaf membuat Lifia menghela napasnya.

"Kamu Lifia kenapa kamar kamu dikunci?" Tanya Murni.

"Takut singa masuk Bu," ucap Kiran membuat Kana terkekeh.

"Iya kan Mas Serkan, singa di Rumah Mas dulu pura-pura nggak suka tapi ternyata bucin," goda Kiran
3/7

Dia yang penggoda


membuat Defran mengangkat sebelah alisnya menatap Kiran karena Kiran telah berani mengusiknya.

"Handaru mana?" Tanya Defran sengaja menyebut nama Handaru untuk membuat kiran kesal. Kana
menahan tawanya sedangkan Altaf, Subekti dan Murni tersenyum melihat ekspresi kesal Kiran.

"Tanya sama siapa? Sama aku?" Ucap Kiran sinis. "Bukanya Mas Defran itu sahabatnya dia yang lebih
tahu

dimana dia?" Tanya Kiran sangat-sangat kesal dengan sosok Defran karena menanyakan Handaru
padanya.

"Sahabat itu tidak lebih tahu dari pacarnya, kamu kan pacarnya makanya saya tanya sama kamu dimana
Handaru!" Ucap Defran membuat Kiran menyebikkan bibirnya.

"Gimana hubungan mereka mau lancar kalau Kiran saja nggak pernah telepon Handaru lebih dulu,
harusnya

4/7

Dia yang penggoda


Nak kamu itu tanya dia lagi dimana! Apalagi kalian itu sama-sama sibuk, komunikasi itu paling penting!"
Nasehat Murni kepada Kiran.

"Iya komunikasi itu yang paling penting, biar nggak salah paham!" Ucap Lifia.

"Dengerin tu Mas Defran apa kata Lifia, komunikasi yang paling penting!" Ucap Kiran.

"Kalau aku sama Mas Defran nggak usah ditanya Mbak, kita komunikasinya lancar banget ya Mas..."
ucap Lifia karena ia tidak suka Defran dipojokkan oleh Kiran.

"Awas ya Dek kamu curhat tentang Mas Defran sama Mbak lagi!" Ucap Kiran membuat mereka semua
terkekeh.

Serkan melihat Kiran sangat kesal dan ia sepertinya harus membuka suaranya. "Handaru lagi sibuk, dia
ada di Sumatera bersama sepupunya mengurusi perusahaan keluarga," ucap Serkan.

"Acara pertunangan Defran terbilang mendadak makanya Handaru belum bisa pulang, dia sudah bicara
sama Ayah dan Ibu. Tapi...tapi Ayah khawatir sama Handaru," ucap Subekti dan ia menatap Kiran
dengan serius.

"Kenapa Yah?" Tanya Murni penasaran kenapa suaminya khawatir kepada calon menatunya itu, sama
halnya dengan Kiran yang juga penasaran dengan kekhawatiran Ayahnya.
"Tadi diberita ada yang bilang, katanya anak Pak Abib mentri dijodohkan dengan anak ketua partai, Ayah
khawatirnya itu Handaru," ucap Subekti.

"Wajar sih kalau Mas Handaru berpaling soalnya Mbak Kiran galak banget nggak ada manis-manisnya,
kalau aku sih bosan dijelitin sama calon istri. Apalagi calon istrinya terlihat tidak tertarik sama dia, cari
perempuan lain saja,

5/7

Dia yang penggoda


banyak kok yang cantik dan pintar," ucap Altaf sengaja ingin menggoda Kiran.

Kiran memilih diam dan ia fokus mengunyah makanannya. Kana dan Lifia sangat mengenal Kiran dan ia
tahu jika saat ini Kiran pasti sangat kesal mendengat ucapan Altaf, namun ia menahan dirinya untuk
tidak terlihat terpengaruh dengan ucapan mereka semua tentang hubungannya bersama Handaru.
Beberapa menit mereka selesai sarapan, Lifia bersyukur karena tadi tidak ada pembicaraan mengenai
Defran yang menyusup kedalam kamarnya dan itu artinya tidak ada satupun keluarganya yang tahu hal
itu.

Defran melihat jam ditangannya dan ia harus segera kembali bekerja, "Yah, Bu... Mas, Mba dan
semuanya saya pamit mau ke Rumah Sakit," pamit Defran.

"Iya, Nak Defran," ucap Subekti. Defran mendekati mereka dan ia mencium punggung tangan Subekti,
Murni, Serkan dan Kana, lalu ia juga pamit dengan Altaf dan Kiran.

Lifia mengikuti Defran menuju pintu keluar rumah ini dan ia melihat mobil Defran telah berada didepan
rumah. Tadi supir Defran mengantarkan mobil Defran kemari dan Lifia sama sekali tidak tahu jika hari ini
Defran telah kembali bekerja. "Mas..." panggil Lifia saat Defran membuka pintu mobil.

Lifia mendekati Defran dan ia mengulurkan tangannya lalu ia mencium punggung tangan Defran Satyas
calon suaminya. Mulai sekarang ia harus terbisa belajar bagaimana menjadi istri yang baik. "Mas kamu
nanti pulang kesini, Mas?" Tanya Lifia.

"Sepertinya tidak, saya akan pulang ke Apartemen," ucap Defran dengan suaranya yang terdengar
dingin.

"Aku gimana? Disini saja?" Tanya Lifia.

"Disini saja kalau kamu nggak mau saya menggangu

6/7

Dia yang penggoda


kamu setiap kali kamu tidur!" Ucap Defran membuat wajah Lifia memerah karena malu.
"Iya Mas, kalau mau tinggal bareng lagi kita harusnya sudah menikah," ucap Lifia.

"Ya dan hari ini saya akan bertemu dengan Kakak tiri

kamu yang selalu menghalangi saya untuk bertemu Papimu," ucap Defran membuat Lifia memeluk
Defran dengan erat.

"Sebenaranya dia kakak kandungku Mas, dia anak kandung Papi dengan perempuan itu!" Lirih Lifia.

"Kamu tenang saja dia bukan apa-apa bagi saya!"

Ucap Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya.

Comments

Vote

7/7

Melindungi orang yang salah.


Melindungi orang yang salah
Defran saat ini menuju rumah sakit dan ia akan melakukan beberapa pekerjaan terlebih dahulu, sebelum
ia pergi menemui Kakak Lifia yang bernama Ronal, ia tidak tahu motif apa yang membuat Ronal
terkadang terlihat melindungi Lifia, namun terkadang ia juga terlihat seperti dalang dibalik kejadian
buruk yang menimpa Lifia. Setelah Defran menyelesaikan pekerjaaanya, tepat pukul satu siang ia
akhirnya datang ke sebuah Restauran tempat dimana laki-laki yang bernama Ronal itu akan bertemu
investor barunya hari ini.

Laki-laki yang merupakan saudara seayah Lifia ini tidak tahu jika investor yang dimaksud adalah Defran
Satyas calon adik iparnya. Defran ingin mengetahui semua yang terjadi dan ia tak akan memberi ampun
jika laki-laki bernama Ronal ini adalah salah satu algojo yang mengikuti perintah Maminya. Defran
melangkahkan kakinya turun dari mobilnya dan ia masuk kedalam Restauran menuju lantai dua. la
melihat sosok Ronal melihat jam ditangannya dan ia terkejut ketika Defran Satyas duduk dihadapanya.
Seharusnya hari ini yang ia temui adalah Malik Sanjaya, alias Megantara Sanjaya Satyas sepupu Defran.
Megan memang memiliki nama lain yaitu Malik Sanjaya karena masalalunya yang kelam, ia pernah
kehilangan jati dirinya ketika masih kecil. Megan menjadi korban penukaran bayi yang dikira orang
tuanya sudah meninggal, namun ternyata jati dirinya yang asli adalah Megantara Sanjaya Satyas.

Dengan bantuan Megan sepupunya itu yang menggunakan nama Malik, yang dulu sangat dikenal
sebagai pengusaha muda yang sukses membuat Defran

1/6
Melindungi orang yang sal...
bisa dengan mudah menjebak Ronal, agar bertemu dengannya yang berpura-pura menjadi Malik. Defran
duduk dihadapan Ronal membuat Ronal menatap Defran dengan sinis. Defran mengulurkan tangannya
dan ia ingin memperkenalkan dirinya, sebagai calon adik iparnya.

"Anda pasti mengenal saya," ucap Defran.

"Kamu adalah orang yang menyelidiki saya," ucap Ronal sinis.

"Ya...Tentu saja saya akan menyelidiki siapapun yang telah menyakiti perempuan yang saya cintai!" ucap
Defran dingin.

"Saya tidak begitu, saya tidak menyakiti Lifia..." ucap Ronal dingin.

"Tapi yang kamu lakukan dengan melindungi wanita tua itu, tetap saja adalah suatu kesalahan," ucap
Defran.

Ronal mengepalkan tangannya sebenaranya ia juga sangat membenci kedua orang tuanya yang
menbuat semua kedaan keluarganya hancur berantakan, karena kesalahan mereka. Kesalahan dimasa
muda yang menbuatnya lahir ke dunianya ini lalu sempat dibuang, hingga dipungut kembali ketika
mereka membutuhkannya.

"Saya juga korban, tapi yang saya lakukan adalah usaha terlahir saya untuk melindungi keluarga ini, saya
hanya jngin memperbaiki semuanya!" Ucap Ronal.

"Memperbaiki dengan membuat Lifia hampir saja kehilangan nyawanya, Kakak macam apa kamu?"
Tanya Defran sinis.

"Saya kakak yang sangat menyayangi adik saya," ucap Ronal namun tidak membuat Defran percaya
semudah itu percaya.

"Apakah kau juga menginginkan mendapatkan kompensasi uang asuransi yang inginkan Mamimu?"
Tanya Defran dingin, membuat Ronal mengepalkan kedua

2/6

Melindungi orang yang sal...


tangannya.

Ingin sekali rasanya Ronal menghajar laki-laki sombong bernama Defran Satyas. Jika Defran tidak dicintai
oleh adiknya yang bodoh bernama Lifia itu, mungkin sekarang juga ia akan mengambil resiko berkelahi
dengan Defran ditempat ini. Dibesarkan dengan keras, hingga tidak mengenal dengan baik keluarganya
membuatnya menjadi sosok yang tidak berperasaan, namun selama ini ia selalu
mengemis kasih sayang dari ibu kandungnya. Kasih sayang yang harusnya ia dapatkan namun ia dibuang
hanya karena ia hadir disaat yang tidak tepat.

"Uang bukanlah hal yang saya inginkan," sinis Ronal.

"Jadi apa yang kamu inginkan? Sebuah pengakuan keluarga jika kamu bisa menjadi pemimpin keluarga
dengan menyakiti Lifia?" Tanya Defran.

3/6

Melindungi orang yang sal...


"Bukan saya yang ingin menyakiti Lifia!" Teriak Ronal.

"Tapi membiarkan ibumu memerintahkan orang lain untuk melenyapkan Lifia hanya demi mendapatkan
hak waris dan asuransi, bukanya sangatlah jahat, itu sama saja kamu membiarkan Lifia terbunuh," ucap
Defran kesal dnegan sosok Ronal.

"Lifia akan baik-baik saja dan saya bisa jamin dengan nyawa saya!" Ucap Ronal.

"Saya ingin sekali menjebloskan perempuan tua yanh kamu sayang itu ke Penjara, tapi ternyata darah
yang mengalir ditubuh calon istri saya membuatnya tidak tega untuk melenyapkan keluarga kalian,"
ucap Defran dingin.

"Mami tidak sejahat itu, dia menjadi seperti itu karena dia membenci perempuan yang masuk kedalam
kehidupan Papi saya," ucap Ronal membuat Defran menatap sinis Ronal. "Ibu kandung Lifia merebut
kebahagiaannya," jelas Ronal.

"Lifia masih kecil dan dia tidak tahu apa-apa mengenai masalah percintaan orang tua kalian, tapi apa
yang dilakukan orang tuamu itu sungguh sangat keteraluan, melindunginya hanya akan membuatnya
mengulangi perbuatan yang sama," ucap Defran kesal. "Saya menemui kamu juga ingin mengatakan jika
saya akan segera menikahi Lifia dan saya ingin bertemu Papi kalian!" Ucap Defran.

"Temui saja dia..." ucap Ronal. "Walaupun saya kakaknya Lifia saya tetap tidak bisa menikahkan Lifia
karena Papi saya yang berhak menikahinya," ucap Ronal.

"Ya..saya akan memintanya untuk menikahkan saya dan Lifia, kalau dia menolak dia harus bersiap
membiarkan istri kesayangannya itu, tinggal dipenjara karena

4/6

Melindungi orang yang sal...


melakukan percobaan pembunuhan!" Ucap Defran mengancam Ronal.

"Penjarakan saja saya!" Ucap Ronal.


"Wah...ternyata kamu anak yang sangat berbakti karena ingin menerima hukuman ibu tercinta," ucap
Defran. "Bukanya kamu telah muak dengan kepalsuan yang dia berikan kepadamu dengan berpura-pura
menyayangimu, padahal dia sama sekali tidak menyayangimu," ucap Defran sinis. la mengeluarkan
berkas yang ada ditangannya. "Kamu itu anak yang malang karena telah dibohongi oleh perempuan itu,"
ucap Defran.

"Apa maksudmu?" Tanya Ronal dingin.

"Bukan hanya telah dibohongi tapi dimanfaatkan," ucap Defran sinis.

Ronal sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Defran dan ia membuka berkas yang diberikan
kepadanya. Ternyata berkas itu berisi hasil tes DNA antara kedua orang tuanya dan hasilnya sangat
mengejutkan. la merupakan anak kandung Papinya namun ia bukanlah anak kandung Maminya.

"Apa maksudmu?" Tanya Ronal dan ia mengeraskan rahangnya. Tak pernah ia terpikirkan untuk
memeriksa dirinya apakah ia benar anak dari kedua orang tuanya, ternyata fakta yang ia dapatkan
sekarang ia bukanlah anak kandung Maminya lalu ia anak kandung siapa. "Kalau dia bukan ibu
kandungku, jadi siapa ibu kandungku?" Tanya Ronal.

"Ibumu adalah perempuan yang harusnya dinikahi Papimu tapi Anya memanfaatkannya, dia mengambil
kamu dari ibunya, lalu mengaku jika Papimu harus bertanggung jawab atas dirinya yang telah memiliki
kamu," ucap Defran.

"Itu tidak mungkin," ucap Defran.

5/6

Melindungi orang yang sal...


"Penyelidikan saya tidak mungkin salah, saya tidak akan berbaik hati ingin bekerja sama dengan kamu,
kalau dia memang ibu kandungmu dia akan menyayangi kamu dan bahkan akan membiarkan kamu
menjadi pewaris perusahaan suaminya," ucap Defran. "Kamu pasti bukan orang bodoh Ronal, kenapa
selama ini dia membiarkan kamu melakukan apapun, walaupun itu salah sekalipun dan itu bukan kasih
sayang seorang ibu," ucap Defran.

Defran ingin menyadarkan Ronal dan ia juga ingin Ronal berada dipihaknya. Defran mengeluarkan
seebuah amplop coklat dan ia memberikan kepada Ronal. "Temui Ibu kandungmu dia masih tinggal
disana tapi dia telah memilki keluarga baru, kemungkinan kedatanganmu akan membuatnya tekejut dan
ketakutan. Dia takut Anya Mamimu itu akan membunuhnya jika tahu kamu telah mengetahui semua
rahasia ini," ucap Defran.

Ronal sangat terpukul mengetahui fakta ini dan ia hampir tidak percaya jika selama ini ia melindungi
orang yang salah, bahkan ia hampir lalai menjaga Lifia. "Pikirkanlah, tentang kerjasama kita!" Ucap
Defran.
"Oke, saya akan membawamu menemui Papi saya!" Ucap Ronal. Ya menemui Papi Lifia sangatlah sulit
karena memiliki banyak Bodyguard dan memang saat ini karir Papi Lifia sangatlah bagus.

Comments

Vote

6/6

Memanfaatkannya selama ini.


Memanfaatkannya selama ini
Ronal mengeraskan rahangnya dan setelah pertemuannya dengan Defran beberapa hari yang lalu, ia
sangat membenci sosok perempuan parubaya yang dulu sering kali mengintimidasinya, hingga
membuatnya sangat membencinya. Dulu ia percaya dengan ucapan perempuan itu yang
menyalahkannya lahir kedunia ini, karena kesalahan dan telah menghancurkan masa depannya.

Ternyata selama ini ia dijadikan senjata oleh perempuan itu, ia ditinggalkan dipanti asuhan hingga ibu
kandung Lifia meninggal, ia kemudian kembali dijemput olehnya dan mempertemukannya dengan Ayah
kandungnya.

Ronal melangkahkan kakinya masuk kedalam Kediaman mewah milik Parmoko Bagaspati dan seperti
biasanya, ia akan menemui Anya Dewi yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya. Perempuan
ningrat yang terlihat bermartabat itu berhasil menipu seorang laki-laki tampan pemilik pesantren yang
sekarang beralih menjadi pengusaha sukses, setelah pertengkarannya dengan keluarga besarnya
dimasalalu. la meninggalkan desa dan menetap dikota ini.

"Kenapa pulang?" Tanya Anya sinis.

"Mami sudah bilang kamu jangan ikut campur urusan Mami dan Lifia, anak itu harus segera dilenyapkan
agar posisi kamu aman di keluarga ini Ronal!" Ucap Anya kesal karena Ronal melindungi Lifia dan
menggagalkan rencana penculikan Lifia beberapa waktu yang lalu.

"Posisi saya? apa posisi anak Mami?" Tanya

Ronal.

"Apa maksud kamu?" Tanya Anya dingin. la menatap Ronal dengan tajam seolah ingin menguliti Ronal
sekarang

1/6

Memanfaatkannya selama...
juga. Ya...ia sangat membenci Ronal karena Ronal juga akan menjadi batu sandungan putranya yang saat
ini masih SMP, itu untuk menggantikan posisi Ayahnya. Apalagi suaminya ini ternyata sangat
menyayangi Ronal dari pada putranya padahal ia telah melakukan banyak hal agar bisa hamil anak lelaki
yang akan menguatkan posisinya.

Parmoko Bagaspati adalah laki-laki hebat dan pintar sejak dulu, hingga ia mendulang sukses melebih
kesuksesan kedua orang tuanya. Keluarganya sangat agamis dan oleh karena itu sejak kecil, ia telah
dijodohkan oleh Rara yang merupakan ibu kandung Lifia. Parmoko yang berkuliah diluar akhirnya
bertemu dengan seorang perempuan cantik yang juga berkuliah bersamanya.

Perempuan itu adalah ibu kandung Ronal, keduanya menikah sirih karena hubungan keduanya tidak
direstui oleh kedua keluarganya, hingga perempuan yang sangat dicintai Parmoko itu dijebak dan
akhirnya keduanya bercerai.

Anya yang melakukan banyak hal untuk mendapatkan Parmoko yang sejak dulu ia cinta, hingga ia
sengaja menghancurkan rumah tangga sahabatnya itu. Ya...setelah bercerai mantan istri Parmoko itu
ternyata telah hamil dan setelah ia melahirkanputranya itu ditukar oleh Anya ketika melahirkan dengan
anak perempuan yang ia ambil dari panti. Anya sebelumnya memang pernah menjebak Parmoko yang
mabuk hingga Parmoko mengira Anya adalah mantan istrinya. Anya kemudian mengatakan ia telah
memiliki anak dengan Parmoko sementara saat itu Parmoko telah menikah dengan permepuan yang
telah dijodohkan dengannya sejak kecil.

Saat ini Ronal ingin sekali mengungkapkan kekesalannya, namun ia masih harus bersabar karena ia tahu
perempuan parubaya ini sangatlah jahat hingga membuat skema rencana jahat untuk keuntungannya
sendiri. "Mas Ronal akhirnya pulang juga," ucap Rima

2/6

Memanfaatkannya selama...
mendekati Ronal. Rima Bagaspati harusnya tak pantas menyandang nama Bagaspati karena ia bukan
anak kandung Papinya. Rima anak mantan suaminya Anya yang diakui sebagai anak angkat oleh Anya.
Gila...ya...Anya benar-benar perempuan serakah.

"Iya saya memang harus pulang bukannya ini rumah saya," ucap Ronal. la duduk disofa dengan santai
membuat Anya mengerutkan dahinya, karena merasa aneh dengan

sikap Ronal yang biasanya mengemis kasih sayang padanya.

"Kamu kenapa jadi nggak sopan begini sama Mami Ronal, kita perlu banyak bicara! Apa benar kamu
membantu Lifia selamat dari Guntur?" Tanya Anya. "Kamu tahu Lifia itu tidak berhak hidup karena sejak
awal dia tidak berhak menjadi pemilik pesantren apalagi menjadi salah satu pewaris Bagaspati Ronal,
semuanya akan

3/6
Memanfaatkannya selama...
menjadi milik kamu dan adik kamu, kalian adalah anak-anak Mami yang Mami sayangi!" Ucap Anya.

"Saya? Yakin menyayangi saya? bukanya saya adalah Anak yang dengan tega dititipkan dipanti hingga
berumur lima tahun dan membawa saya kembali untuk mendapatkan simpati Papi," ucap Ronal
membuat Anya melayangkan pukulannya kewajah Ronal hingga sosok laki-laki parubaya yang baru saja
pulang bersama putra bungsunya itu, terkejut melihat Anya yang saat ini sedang menampar Ronal.

"Ada apa ini Mi?" Tanya Parmoko dan ia melangkahkan kakinya mendekati mereka. Wajah Anya
memucat dan ia tidak ingin Ronal menyebut nama Lifia, ia menyesal telah membesarkan monster yang
akan mengacaukan semua rencananya.

"Nggak apa-apa Pi," ucap Anya dan ia tersenyum lembut kepada Parmoko, hal inilah yang membuat
Ronal dulu tertipu dengan sosok Anya yang terlihat lemah lembut.

"Ronal sudah lama nggak pulang sekalinya pulang kamu berantem sama Mamimu, Papi tahu kamu
sudah sukses tapi ingat dibalik kesuksesan kamu ada Mamimu yang selalu mendukung kamu!" Ucap
Parmoko.

"Papi jangan tertipu, Pi!" Ucap Ronal membuat Anya begitu terkejut mendengar ucapan Lifia.

"Ronal..." teriak Anya dan ia bersumpah akan membunuh anak tidak tahu diuntung ini karena telah
berani melawannya.

kamu "Ada apa dengan kalian berdua? Ronal kenapa

membicarakan Mamimu seperti itu Nak?" Tanya Ronal.

"Ada banyak hal yang ingin Ronal katakan Pi," ucap Ronal. Anya mengeraskan rahangnya dan ia
memanggil

4/6

Memanfaatkannya selama...
dua orang bodyguardnya untuk membawa Ronal pergi dari sinis.

"Sepertinya Pi, Ronal harus ditenangkan dulu!" Ucap Anya membuat Ronal menggulung lengan
kemejanya.

"Wah anda sungguh ibu yang baik Nyonya Anya setelah saya tidak berguna bagi anda, saya juga akan
anda lenyapkan seperti anda melenyapkan Lifia," ucap Ronal membuat Parmoko memejamkan matanya
mengingat nama itu, putri kecilnya yang menangis dan berteriak jika ia tidak salah, putrinya yang
menatapnya dengan tatapan memohon agar jangan memperdulikannya lagi dan biarkan ia pergi
bersama Kakak perempuan mendiang istrinya. Luka yang telah membuat Parmoko sampai saat ini selalu
saja merindukan sosok putrinya itu dan ia hanya bisa menatapnya dilayar kaca.
"Jangan ada yang berani menyentuh putra saya!"

Ucap Parmoko. Wajah tampan Ronal sangat mirip dengannya dan putranya ini adalah putra kandungnya
sesuai dengan tes DNA yang dulu pernah ia lakukan kepada Ronal secara diam-diam, tanpa
sepengetahuan Anya. la menikahi Anya agar Ronal dan Lifia memiliki keluarga yang lengkap, setelah ia
kehilangan mendiang istri keduanya.

"Mas..." lirih Anya.

"Ada seseorang yang ingin bertemu Papi dan saya yang bodoh ini tidak akan pernah menutupi lagi apa
yang dilakukan Nyonya Anya ini kepada Papi!" Ucap Ronal membuat Anya kembali menampar Ronal.

Plak...

"Sudah cukup Anya!" Ucap Parmoko.

Anya mengeraskan tanganya dan ia melihat putra semata wayangnya menangis ketakutan. Putranya itu
mendekati Parmoko dan ia terlihat enggan mendekati Anya yang saat ini ingin memeluknya. Rima
menghela napasnya,

5/6

Memanfaatkannya selama...
ibunya yang memang memilki sikap keras dan akan melakukan apa saja demi keuntungannya sepertinya
akan segera kehilangan taringnya. la tidak ingin kehilangan kemewahan ini dan ia memilih menghidar,
dari masalah dengan melangkahkan kakinya menuju lantai dua. la tidak perduli apa yang akan terjadi
nanti, ia juga tidak akan mengikuti Maminya jika terusir dari rumah ini.

Parmoko meminta salah satu maid agar membawa putra bungsunya itu menjauh darinya, Fadil masih
kecil dan ia tidak harus tahu apa yang akan disampaikan Ronal padanya, mengenai istrinya ini. "Kalian
keruang kerja Papi!" Ucap Parmoko.

"Oke Pi," ucap Ronal dan ia menatap Anya dengan tatapan dingin.

10

Comments

Vote

6/6
Dia selalu melindungi.
Dia selalu melindungi
Ronal mengirimkan pesan kepada Defran dan ia mengatakan sebentar lagi ia pasti akan
mempertemukan Defran dengan Parmoko Papinya. Saat ini Ronal duduk dihadapan Parmoko dan ia
menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Defran Satyas calon suami Lifia.

Parmoko menatap dingin perempuan yang saat ini terlihat sangat murka dengan Ronal.

"Pi, saya memang anak kandung Papi, tapi ternyata saya bukan anak kandung dia Pi, saya anak mantan
istri Papi yang difitnah hingga akhirnya bercerai tapi saat bercerai, ibu saya telah mengandung saya,"
ucap Ronal menjelaskan hal yang membuatnya sangat terpukul. Parmoko terkejut dengan ucapan putra
sulungnya ini dan ia menghembuskan napasnya, satu-satunya perempuan yang ia cintai adalah istri
pertamanya namun mereka bercerai, karena istrinya itu berselingkuh darinya. "Ibu kandung saya
difitnah Pi oleh sahabatnya sendiri yang merencanakan sekenario jahat, agar Papi bercerai dengan ibu
saya," ucap Ronal. "Defran yang telah menemukan fakta itu Pi," ucap Ronal. Sahabat yang dimaksud
Rnak adalah Anya yang saat ini terlihat sangat kesal dengan Ronal.

"Kamu bodoh Ronal, Defran itu hanya mengarang cerita, dia keluarga kita pecah Ronal. Jangan-jangan
dia berasal dari lawan politik Papi yang tidak ingin Papi menang dalam perebutan posisi gubernur," ucap
Anya.

"Lagian kamu itu anak Mami tanya sama Papi Nak..astaga kamu tega banget sama Mami hiks...hiks..."
tangis Anya.

"Saya tidak peduli dengan pencalonan gubernur karena itu juga adalah ambisi kamu yang menginginkan

1/6

Dia selalu melindungi


saya terus saja terjun ke dunia politik, batalkan saja Anya karena saya ingin pensiun. Saya sangat kecewa
sama kamu apalagi jika semua ini benar!" ucap Parmoko mengeraskan rahangnya. Jika apa yang
disampaikan Ronal itu benar maka selama ini ia telah menikahi seorang monster.

"Mas semua ini tidak benar, kamu harus mempercayai saya Mas!" Lirih Anya.

"Pi, mengenai asuransi Ibu kandung Lifia dan juga asuransi Lifia, dia juga ingin menguasainya. Dia
berencana untuk melenyapkan Lifia. Dia sungguh serakah karena sebelum Lifia menikah, dia ingin Lifia
terbunuh oleh rencananya. Apalagi dia ingin menjadikan Guntur sebagai suami Lifia dengan cara
menculik Lifia, memperkosa Lifia bahkan memaksa Lifia untuk menikahi Guntur. Opsi yang terakhir yang
akan dia lakukan adalah membunuh Lifia Pi," ucap Ronal.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan Papi Ronal? Apa kamu termasuk kaki tangan Mami kamu ini?"
Tanya Parmoko dingin dan ia terliahat sangat murka dengan Anya saat ini.
"Dia bukan Mami Ronal Pi, seorang ibu tidak akan bertindak kejam kepada anaknya sendiri seperti yang
dia lakukan dia kepada Ronal selama ini. Memaksa dan mengacam menjadi kaki tangannya untuk
menyakiti Lifia.

Sudah cukup Lifia menderita ketika kecil disiksa olehnya dan difitnah dengan sangat kejam agar terusir
dari rumah ini!" Ucap Ronal. "Papi lebih memilih Ronal dari pada Lifia, karena jenis kelamin Ronal yang
merupakan anak laki-laki Papi dan Papi ingin menjadikan Ronal pewaris sementara Nenek saat itu
menginginkan Lifia yang menjadi pewarisnya," ucap Ronal. "Selama ini Lifia yang menderita Pi, tapi
beruntung dia bisa selamat dan bahagia karena tinggal bersama keluarga yang lebih baik dari pada
keluarga ini," ucap Ronal.

2/6

Dia selalu melindungi


Parmoko mengusap wajahnya, sungguh ucapan putra sulungnya sekaan meremas jantungnya dan
selama ini ia menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan putrinya karena tidak ingin putrinya bersedih
hingga masih marah kepadanya. la ingat bagaimana Lifia bersujud memohon ingin tinggal bersama
Subekti dan Murni dari pada tinggal bersamanya. Ternyata wanita ini yang telah membuat putrinya
menderita, harus ia apakah perempuan jahat ini

agar rasa bersalahnya kepada putrinya Lifia sedikit terobati. Bodohnya seorang Parmoko tidak ingin
putra bungsunya bersedih, Parmoko bingung namun ia tidak bisa membiarkan perbuatan perempuan
ini.

"Papi jangan percaya Pi, itu semua tidak benar. Pi...please...!" lirih Anya dan ia akan berusaha membujuk
suaminya ini agar mempercayainya seperti sebelumnya.

3/6

Dia selalu melindungi


Sementara itu saat ini Lifia sedang melangkahkan kakinya keluar ke JayaMaret salah satu mini market
yang berada tidak jauh dari kediaman Subekti. Lifia saat ini sedang berbelanja bersama Kiran. Keduanya
memang memilih berjalan kaki dan kemudian keduanya ingin mampir ke Kediaman Marco. Lifia ingin
bertemu Sandra dan ada banyak hal yang ingin Lifia ceritakan kepada Sandra dan juga Kiran.

"Tumben memilih libur hari ini," ucap Lifia. la kira hari ini Kiran akan pergi bekerja, namun ternyata
tidak.

"Gimana lagi jadwalnya memang libur hari ini," sinis Kiran. "Kamu itu yang aneh, mau cerita tentang
lamaran saja pengennya di Rumah Sandra, kamu cerita dulu sama Mbak baru nanti kamu cerita juga
sama Sandra!" Pinta Kiran.

"Nggak seru Mbak, aku pengennya kalian itu dengar detail cerita aku itu berbarengan gitu, Mbak!" ucap
Lifia.
"Mas Defran itu lelaki paling tidak romantis dan sekalinya romantis dia bikin meleleh..." ucap Lifia
dengan wajahnya yang memerah mengingat lamaran Defran padanya saat di Paris.

"Kamu sebenaranya sudah cerita sama kita tapi nggak detail," ucap Kiran.

"Makanya nanti detailnya ya Mbak, aku juga punya rahasia besar hehehe..Mbak mau tahu kan gimana
aku menjalani rasa patah hatiku siapa tahu menginspirasi Mbak yang juga ingin melakukannya, agar Mas
Handaru kembali sama Mbak, apa benar kalian itu sudah putus?" Tanya Lifia sambil memasukkan barang
belanjaannya kedalam keranjang belanjanya.

"Nggak tahu, nggak jelas..." ucap Kiran sendu dan rasanya ia ingin sekali menangis saat ini juga, namun
ia yang terlihat tegar dan kuat seperti batu karang ini mencoba untuk bertahan agar tidak terlihat
memalukan

4/6

Dia selalu melindungi


didepan Lifia.

"Aku serius nanya Mbak," ucap Lifia.

"Nanti saja Mbak cerita kalau sudah jelas statusnya," ucap Kiran.

Setelah selesai berbelanja keduanya melangkahkan kakinya menuju kasir dan membayar barang
belanjannya.

Kasir tersenyum kepada mereka karena mengenal keduanya yang memang sangat terkenal di Tv. Dua
saudara yang sama-sama cantik, pintar dan berwawasan tinggi. Keduanya saat ini melangkahkan kakinya
keluar dari mini

market ini, namun ketika keduanya berjalan ditrotoar tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan
tinggi membuat Kiran panik apalagi ia melihat mobil itu seperti mengarah kepada Lifia adiknya, lalu ia
menarik tangan Lifia dengan kencang membuat keduanya terjatuh.

Lifia merasakan lengannya terasa sangt sakit karena tubuhnya terkena bagian samping mobil sedangkan
Kiran terluka karena berguling melindungi adiknya. Kepala Kiran terluka dan darah menetes didahinya
membuat Lifia berdiri sambi menahan rasa sakitnya. Kiran masih sempat berdiri dan ia menuju mobil
yang kesulitan untuk mundur, karena menabrak tiang. Kiran menarik supir itu dengan berani keluar dari
mobilnya seolah tak ada hal yang ia takutkan saat ini.

"Mbak..." lirih Lifia menggelengkan kepalanya tidak ingin Kiran mendekati supir itu. Kiran memukul
wajah lelaki itu dengan kepalan tangannya hingga hidung lelaki itu terluka. Beberapa orang mendekati
mereka dan membantu Lifia yang terlihat kesakitan dan Lifia menangis. Lagi-lagu Kiran sang jagoannya
beraksi didepannya untuk melindunginya bahkan tak peduli dengan keselamatan nyawanya. "Pak tolong
bawa orang ini ke kantor polisi!" Ucap Kiran.
"Baik Mbak," ucap salah satu lelaki yang ada disana.

5/6

Dia selalu melindungi


Supir itu ingin berlari meninggalkan mereka namun beberapa orang lainnya berhasil mengejar laki-laki
itu dan menangkapnya.

Kiran mendekati Lifia dan ia meneliti tubuh adiknya yang sangat berharga baginya. "Apa yang sakit?"
Tanya Kiran kepada Lifia.

Dua orang Bodyguard menghampiri mereka, keduanya terkejut melihat majikan mereka menangis
kencang apalagi Kiran Ayu terluka. "Mbak hiks...hiks... berdarah..." tangis Lifia. Keduanya tadi sedang
makan siang ditempat yang tidak terlalu jauh dari kediaman Subekti dan keduanya tidak menyangka
akan terjadi hal ini. Kedua Bodyguard ini harus siap menerima hukuman dari Defran Satyas.

"Mbak nggak apa-apa hanya luka sedikit," ucap Kiran. Lifia begitu terkejut dengan kejadian ini hingga ia
terduduk lemas hingga ia pingsan karena panik melihat darah mentes diwajah Kiran.

Para Bodyguard segera membawa Lifia dan Kiran ke Rumah sakit terdekat, mereka juga menghubungi
Defran Satyas. Kiran merasakan kepalanya pusing namun ia masih bisa bertahan karena adiknya ini
membutuhkan dirinya. la harus tetap sadar meskipun penglihatannya sudah mulai kabur, ia meminum
air mineral dan berusaha keras untuk terjaga. la yakin supir itu sengaja ingin membunuh adiknya ini dan
siapapun mereka, ia tidak akan melepaskannya.

10

Comments

Vote

6/6

Melakukan apapun untuk dia.


Melakukan apapun untuk dia
Ternyata dugaan Serkan memang benar jika Janu tidak diperintahkan Serkan untuk datang mengawasi
Defran Satyas adiknya itu maka, akan terjadi keributan besar diantara Handaru dan Defran. Handaru
menganggap Defran tidak becus mengurusi permasalahan Lifia hingga melibatkan calon istrinya. "Dari
pada kalian ribut seperti ini, lebih baik kalian saling membantu!" Ucap Janu mencoba menasehati
keduanya.

"Membatu? Kamu pikir saya tidak bisa menyelesaikan semuanya?" Tanya Defran kesal.
"Iya kamu tidak bisa menyelsaikan masalah dan akhirnya melibatkan Kiran...pakai otak Defran kalau
buat rencana, hanya lawan seperti mereka saja kamu bisa buat kesalahan seperti ini..." teriak Handaru
membuat emosi Defran memuncak. Sebenaranya ia ingin menemui Kiran dan menanyakan kronologis
kejadian dari sisi Kiran. Namun sepertinya ia akan kembali bertengkar, jika menemui Kiran sekarang
juga.

"Mas...lebih baik Mas menemui Kiran!" Ucap Marco mencoba meredakan konflik karena jika keduanya
bertengkar hebat, hanya akan membuat permaslaah semakin rumit.

Handaru menghempaskan tangan Marco yang mengunci tubuhnya agar tidak mendekati Defran dan ia
yang kesal segera melangkahkan kakinya menjauh dari Defran. la sangat murka mendengar Kiran terluka
dan apalagi sepertinya kecelakaan yang terjadi bukanlah kecelakaan biasa. Ya...percobaan pembunuhan
Lifia berdampak kepada calon istrinya dan itu adalah suatu kelalaian, m Defran. Saat ini Handaru masuk
kedalam

1/7

Melakukan apapun untuk...


kamar perawatan Kiran dengan suasana hati yang berkecamuk emosi. Kila dan Salsa melihat kedatangan
Handaru, keduanya tersenyum lalu keduanya segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari
ruangan ini. Mereka ingin membiarkan Kiran berbicara berdua bersama Handaru.

Handaru duduk disamping Kiran, ia memegang tangan Kiran membuat Kiran terjaga dan ia membuka
matanya dengan perlahan. Kiran yang tidak sakit pasti akan memberontak atau bahkan menghempaskan
tangannya, namun tidak dengan Kiran yang saat ini terlihat lemah. Matanya yang sayu itu terlihat
mengkhawatirkan sesuatu dan itu membuat Handaru menggerakan tubuhnya agar bisa lebih dekat
dengan Kiran, lalu ia mengelus pipi Kiran dengan lembut. "Maafkan saya yang terlalu sibuk," ucap
Handaru dengan suara beratnya.

Kiran menelan ludahnya dan suaranya seakan tak ingin keluar karena banyak hal yang ingin ia katakan
pada sosok lelaki tampan, yang telah berbuat kurang ajar kepadanya hingga tidak menghubunginya
selama ini. Ya ia yang egois ini ingin Handaru yang menghubunginya lebih dulu, karean gengsi yang ia
miliki selama ini. "Mana yang sakit?" Tanya Handaru dan ia menatap Kiran dengan tatapan menilai.

"Katakan sayang...apa yang ingin kamu katakan, mau memaki saya seperti biasa saya rela
mendengarnya!" Pinta Handaru dan ia terlihat sangat khawatir.

Kiran meneteskan air matanya, membuat Handaru terlihat panik dan tentu saja ia tidak suka melihat
perempuan kesayayangannya ini menangis. "Jangan nangis hmmm...kalau sakit sekali Mas panggil
dokter ya!" Ucap Handaru menatap Kiran dengan tatapan sayang.

"Baru pertama kalinya dihidup aku, aku ketakutan seperti ini. Aku takut adikku diambil dariku...aku takut

2/7
Melakukan apapun untuk...
Lifia..." ucap Kiran terisak membuat Handaru menghapus air mata Kiran dengan jemarinya. Kiran sunggu
sangat panik dan takut, ia tidak sanggup kehilangan adiknya yang sangat ia sayangi dan selalu ingin ia
lindungi.

"Sssttt...Lifia sudah tidak apa-apa, yang kamu kahwatirkan sekarang itu kamu," ucap Handaru.

"Aku kuat, Lifia yang nggak kuat..." lirih Kiran dan buktinya adiknya itu pingsan hanya karna melihat
darah yang mentes dari wajahnya.

"Iya kamu selalu kuat," ucap Handru dan ia tahu Kiran tidak suka terlihat lemah didepan orang lain.

"Aku nggak cengeng...hiks..." tangis Kiran, ia merasa sangat bodoh karena tangisnya yang sejak tadi ia
tahan ketika ibunya, Salsa, Liana, Kila dan Kana datang melihatnya ia sama sekali tidak mengeluarkan air
mata sedikitpun, tapi ketika sosok gagah dan tampan ini datang tangisnya tumpah begitu saja.

"Iya kamu nggak cengeng..." ucap Handaru dengan suara beratnya.

"Hanya sama kamu saja aku bisa nangis kayak gini...hiks...hiks..." ucap Kiran terlihat sangat terpukul
ketika melihat mobil dengan kecepatan tinggi itu ingin menghantam tubuh adiknya.

"Iya...kamu nggak usah takut, saya pulang untuk kamu. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti
kamu!" Ucap Handaru.

"Hiks...hiks...kamu bohong...kamu nyakitin aku," ucap Kiran kembali terisak. la menahan dirinya untuk
mengatakan jika ia sangat kesal mengenai berita tentang Handaru yang akan dijodohkan dengan anak
ketua partai yang sangat cantik itu.

"Tidak, saya tidak akan menyakiti kamu, saya tidak berniat seperti itu," ucap Handaru.

3/7

Melakukan apapun untuk...


"Kamu pergi tanpa kabar terus kamu nggak telepon aku, kamu suka bertindak sendiri tanpa memikirkan
perasaan aku," ucap Kiran dan ia menatap Handaru dengan dingin.

Handaru menggaruk tengkuknya, ia memang tidak banyak memilki pengalaman mengejar perempuan
karena selama ini, ia yang selalu dikejar para perempuan yang menyukainya. Baru kali ini ia menyukai
seseorang hingga ingin menikahinya, tapi perempuan yang ia cintai sama seperti dirinya yang juga
memiliki sikap yang dingin bahkan cuek. "Apa yang kamu inginkan dari Mas Kiran? Katakan saja!" Pinta
Handaru menatap Kiran dengan sayang.

"Kamu harus kasih aku kabar kemana kamu akan pergi, chat saja aku kalau kamu nggak mau telepon
aku!"

Ucap Kiran.
"Oke," ucap Handaru.

"Apalagi?" Tanya Handaru.

"Bantu Mas Defran menyelsaikan masalah Kiran!"

Pinta Kiran menatap Handaru dengan tatapan memohon, membuat Handaru menghela napasnya.
"Kenapa kamu nggak mau? Biar aku saja yang ikut campur dan kamu nggak usah berpura-pura khawatir
sama aku, biar aku yang terluka atau mati nanti kamu nggak usah peduli!" Lirih Kiran dan ia tahu
bagaimana kehebatan seorang Handaru yang memilki otak cerdas dalam menyelesaikan masalah, jika
Handaru menjadi pengacara Lifia yang mengurusi permasalahan yang Lifia hadapan pasti semuanya
akan cepat selesai. Kiran tidak ingin lagi terjadi sesuatu kepada Lifia, bahkan air mata adiknya itu saja
sangat berharga bagi ia dan Kana.

"Oke apapun yang kamu mau akan saya turuti!" Ucap Handaru dan ia akan memaksa Defran agar ia bisa
ikut campur.

4/7

Melakukan apapun untuk...


"Sepertinya kasus ini melibatkan keluarga Lifia yaitu Bagaspati," ucap Kiran. Handaru mengambil
ponselnya, ia bebricara kepada seseorang agar mencari tahu, detail kasus yang dihadapi Lifia dan latar
belakang keluarga Lifia. Tak butuh waktu lama semua data telah dikirimkan lewat file di email milik
Handaru dan ia akan segera mempelajarinya lalu menemui Defran agar mau bekerja sama.

"Sekarang apa lagi yang kamu inginkan agar kamu memaafkan saya yang membuat kamu kesal?" Tanya
Handaru.

"Kamu saja yang tinggal disini menemani aku malam ini!" Ucap Kiran dan ia mengalihkan pandangannya
saat matanya bertemu dengan mata Handaru yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan menilai.

"Kalau itu tidak usah kamu bilang, saya memang akan

5/7

Melakukan apapun untuk...


menjaga kamu selama kamu di Rumah sakit!" Ucap Handaru.

"Terimakasih," ucap Kiran. Handaru menatap bibir Kiran dan ia menghela napasnya karena sempat-
sempatnya ia berpikir ingin mencium bibir Kiran. la menyugar rambutnya karena akan merasa aneh, jika
ia meminta izin mencium Kiran dan sepertinya, ia memang harus melakukan keinginannya itu tanpa izin
dari Kiran. Tadi ia telah berbicara dengan Kana ditelepon dan ia menayakan keadaan Kiran ketika Kana
memberitahukan jika Lifia dan Kana berada di Rumah sakit karena kecelakaan. Jujur saja meskipun Kana
telah menjelaskan jika kondisi Kiran telah baik-baik saja, namun tetap saja ia sangat kahwatir jika ia tidak
melihat secara langsung bagaimana keadaan Kiran saat ini.
Handaru mendekatkan wajahnya dan ia mengecup bibir Kiran dengan lembut membuat wajah Kiran
memerah namun ia tidak berteriak atau memaki Handaru seperti biasanya. "Masih pusing?" Tanya
Handaru.

"Sedikit," ucap Kiran. "Alhamdulilah hasil pemeriksaan aku hanya mengalami gegar otak ringan," ucap
Kiran.

"Kamu seperti ini karena menyelamatkan, Lifia?" Tanya Handaru.

"Ya...hidupku akan lebih hancur lagi ketika aku melihat adikku kecelakaan hingga tidak bernyawa
dihadapanku," ucap Kiran sendu. la tidak bisa membayangkan bagaiman hidupnya jika ia tidak berhasil
menyelamatkan Lifia saat itu. Jika ia tidak berlari dengan cepat dan menarik tangan Lifia pasti saat itu
mobil itu telah menghantam tubuh Lifia. "Kecelakaan itu disengaja Mas...please tangkap dan hukum
mereka yang telah menyakiti adikku!" Ucap Kiran menatap Handaru dengan tatapan memohon. la
kembali meneteskan air matanya

6/7

Melakukan apapun untuk...


karena takut kejadian itu akan terulang lagi dan kali ini bagaimana dengan nasib adiknya. Apalagi ia baru
mengetahui tadi dari Kana jika percobaan penculikan pun pernah terjadi kepada Lifia.

"Oke, Tentu saja apapun yang kamu inginkan agar kamu tidak sedih lagi akan Mas lakukan Kiran!" Ucap
Handaru dingin. la mencium dahi Kiran dengan lembut dan ia merasa lega karena Kiran tidak marah
mengenai berita konyol tentang perjodohannya itu dimedia. Padahal ia telah bersiap menerima
kemarahan Kiran yang pasti akan menghajarnya habis-habisan jika membahas tentang hal itu dan ia
akan mengalah dengan senang hati menerima hukuman dari perempuan yang ia cintai ini.

12

Comments

Vote

7/7

Tidak akan memaafkan.


Tidak akan memaafkan
Defran saat ini menemani Lifia yang berada diruang operasi hingga bius Lifia benar-benar membuatnya
tidak sasarkan diri. Lifia sejak tadi memang telihat takut dan ia menggenggam tangan Defran dengan
erat seolah tidak ingin Defran meninggalkannya. Beberapa dokter dan suster tersenyum melihat tingkah
Lifia yang manja dengan Dokter Defran Satyas, apalagi Defran Satyas dikenal sebagai dokter dingin yang
sering kali mematahkan hati para perempuan yang berusaha mendapatkan hatinya. Defran menatap
wajah cantik yang terbaring itu dengan tatapan kahwatir, sungguh ia sangat tidak tega melihat Lifia
bersedih apalagi menangis.

Mata Lifia telah terpejam dan perlahan genggaman tangannya mulai melemah dan akhirnya terlepas
dari tangan Defran. Defran mencium dahi Lifia dengan lembut dan ia menatap rekannya sesama dokter
dengan tatapan memohon. "Saya serahkan calon istri saya Dok, semoga operasinya sukses!" Ucap
Defran.

"Oke Dok, kita akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Dokter itu. Defran tidak bisa menepati
janjinya yang akan terus berada di ruang operasi, karena ia tidak ingin rekan kerjanya terganggu akibat
keberadaanya. Defran melangkahkan kakinya keluar dari ruang operasi dan beberapa menit kemudian
operasi segera dilaksanakan.

Defran membuka seragam scrub, seragam yang memang khusus dipakai di ruang operasi dan saat ini
Defran berniat ingin menunggu di ruang tunggu bersama keluarganya yang lain. Saat Defran keluar dari
ruang operasi ia dikejutkan dengan kehadiran Ronal dan seorang

1/6

Tidak akan memaafkan


laki-laki parubaya yang sepertinya adalah Parmoko Bagaspati Ayah kandung Lifia. "Bagaimana keadaan
Lifia?" Tanya Ronal terlihat kahwatir.

"Alhamdulilah dia sekarang sedang dioperasi," ucap Defran dingin. Ronal menghela napasnya dan ia
melihat kearah Papinya yang saat ini sedang berbincang dengan Subekti dan Murni. "Itu Papi saya dan
tentu saja dia juga Papinya Lifia," ucap Ronal.

Defran melangkahkan kakinya mendekati Parmoko Bagaspati dan ia mengulurkan tangannya kepada
Parmoko membuat Parmoko segera menyambut uluran tangan Defran. Defran mencium punggung
tangan Parmoko dengan hormat apalagi ia baru pertama kalinya bertemu dengan Defran Satyas. "Nama
saya Defran Satyas, tunangannya Lifia," ucap Defran.

"Iya Nak, saya telah banyak mendengar cerita tentang kamu dari kakak ipar saya ini," ucap Parmoko
menatap Murni dan Subekti dengan tatapan penuh rasa terimakasih. "Saya Ayah yang buruk hingga
putri saya membenci saya dan memilih untuk tidak tinggal bersama saya meskipun saya memohonnya.
Dulu dia bilang jika dia tinggal bersama saya, dia pasti akan segera menyusul Maminya yang artinya dia
memilih mati agar bisa bersama Maminya," ucap Parmoko. "Tentu saja saya tidak ingin itu terjadi karena
kematian istri saya adalah karena saya, yang telah membuatnya banyak menderita selama kami
menikah. Wajar saja jika putri saya itu membenci saya," ucap Parmoko.

"Lifia tidak pernah membenci Papi, dia sangat menyayangi Papi buktinya dia ingin Papi yang menjadi
wali nikah kami nanti!" Ucap Defran dengan nada seriusnya dan ia terlihat sangat santun. Nasir dan
Liana menyunggingkan senyumannya melihat putranya yang bisanya sangat dingin dan sombong itu
terlihat santun berbicara dengan calon Ayah mertuanya.
2/6

Tidak akan memaafkan


"Alhamdulilah, Papi merasa sangat bahagia kalau Lifia tidak marah sama Papi," lirih Parmoko. "Tapi
tetap saja saya telah menyakiti putri saya karena membela yang salah, lalu saya juga terlihat
menyalahkannya atas peristiwa masa kecilnya yang membuatnya sangat kecewa kepada saya," jelas
Parmoko sendu.

Subekti menepuk pundak Parmoko dan ia menciba menenangkan Parmoko. "Yang lalu nggak usah
diingat lagi Dek Parmoko, sekarang itu yang penting kita doakan operasi Lifia lancar dan dia bisa
bertemu dengan Papinya yang sangat dia sayangi!" Ucap Subekti. Selama ini Subekti selalu berhubungan
baik dengan Parmoko dan ia juga menceritakan tentang Lifia setiap kali merek bertemu, bahkan Subekti
juga telah meminta Lifia segera pulang bertemu Ayah kandungnya ini, namun Lifia selalu menolaknya.

"Saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting kepada Papi!" ucap Defran dengan nada dingin.

"Oke," ucap Parmoko.

"Bagaimana kalau kita bicara di ruang kerja saya Pi!"

Pinta Defran.

"Oke..." ucap Parmoko.

"Ayo Pi!" Ajak Defran dan keduanya melangkahkan kakinya menjauh dari mereka lalu menuju ruangan
Defran yang ada di Rumah sakit ini.

Defran juga mengajak Ronal agar juga ikut bersamanya, ia ingin membicarakan mengenai semua yang
telah dilakukan istri Parmoko yang telah menyakiti istrinya, bahkan telah melakukan percobaan
pembunuhan. Apalagi saat ini Defran telah mendapatkan jawaban dari penabrak siapa yang telah
membayarnya untuk menabrak Lifia. Defran bahkan menawarkan sejumlah uang lebih besar daripada
yang diberikan Anya, agar supir itu

3/6

Tidak akan memaafkan


mengatakan sejujurnya karena meskipun disiksa sekalipun supir itu tidak akan mengatakan siapa
pelakunya kecuali dengan uang.

Saat ini mereka sedang berada didalam ruang kerja Defran, Defran membuka ipadanya dan ia
memperlihatkan bukti pengakuan supir yang menabrak Lifia mengenai siapa dalang yang
memerintahkannya untuk menabrak Lifia. "Awalnya dia tidak mau mengaku tapi aliran dana yang ada di
rekening putrinya itu merupakan aliran dana berasal dari asisten ibu Anya istri Papi," ucap Defran
membuat Parmoko mengeraskan rahangnya dan ia tidak akan memaafkan Anya.
"Saya tdiak akan membantu Anya dalam menjalani proses hukum, ini akibat yang harus dia tanggung
sendiri karena telah berani melakukan tindak kejahatan, terlebih lagi kepada putri saya sendiri. Saya
sangat menyayangi Lifia, Mbak Murni dan Mas Subekti tahu betapa saya yang tidak pernah bisa bertemu
mata dengannya ini, selalu mengetahui perkembangan Lifia dari dia kecil hingga dia dewasa. Saya tidak
tahu apa yang terjadi hingga membuat Lifia sangat keras kepala dan tidak mau tinggal bersama saya lagi
dan saya baru tahu dari Ronal apa yang dilakukan Anya kepada Lifia selama ini," ucap Parmoko yang
terlihat sangat terpukul.

"Jadi apa yang akan kamu lakukan Defran?" Tanya Ronal.

"Saya akan melaporkan semua kejahatan yang telah Ibu Anya lakukan kepada Lifia, dari percobaan
pembunuhan sebelumnya termasuk mencoba merusak nama baik Lifia beberapa waktu yang lalu.
Banyak kasus yang telah dia lakukan demi membuat Lifia stres agar bisa menguasai aset atau uang milik
Lifia, temasuk menginginkan saham milik Lifia diperusahaan Papi," ucap Defran. la sengaja memanggil
Parmoko Papi tanpa izin Parmoko karena baginya, ia memang telah menjadi

4/6

Tidak akan memaafkan


menantu Parmoko walaupun secara resmi ia belum menikahi Lifia.

"Saya setuju, apapun yang kamu lakukan saya akan dukung Defran, saya akan memberikan keadilan
kepada Lifia dan juga Ronal!" ucap Parmoko.

Defran merasa sangat lega dengan pernyataan Parmoko dan jika kasus ini tidak melibatkan keluarga
Lifia, mungkin ia bisa dengan mudah menyelesaikannya.

Apalagi dengan melaporkan Anya ke polisi maka akan terjadi keributan besar, hingga akan berdampak
pada perusahan Parmoko jika kabar penangkapan Anya terjadi. Banyak hal yang harus dipikirkan oleh
Defran karena Defran sangat memahami Lifia yang selama ini diam dan tidak melaporkan kejahatan
yang dilakukan Anya ketika ia kecil karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan Papinya.

5/6

Bawa saja dia.


Bawa saja dia
Operasi Lifia telah selesai dan berjalan dengan lancar, saat ini Lifia masih belum sadar. la telah dibawa ke
dalam ruang perawatan dan memang semua keluarga saat ini sebagian ada yang telah pamit untuk
pulang. Yang akan menunggu Lifia malam ini adalah Murni, Salsa dan Defran.

Sedangkan Kiran saat ini akan ditemani Subekti, Handaru dan Kana. Sementara Lifia dan Kiran sedang
dirawat di Rumah Sakit
Saat ini Parmoko terlihat sangat geram dengan

perempuan yang telah lama menjadi istrinya itu, ia tidak menyangka Anya yang terlihat lemah lembut
itu ternyata adalah seorang iblis. Iblis jahat dibalik wajah cantiknya yang telah membuat hidupnya
berantakan. Sejak semalam Parmoko telah menahan dirinya agar tidak bertengkar dengan Anya setelah
ia pulang ari rumah sakit menemui Defran dan ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa agar tidak membuat
Anya kabur dari rumah ini. Walaupun ia tahu saat ini Anya merasa sangat kesal karena ia telah
memblokir semua rekening tabungan bahkan kartu kerdir milik Anya untuk melumpuhkan pergerakan
Anya. Apalagi saat ini, Ronal telah mengendalikan semua yang telah dikuasai Anya agar kekuasaan Anya
runtuh. la juga mengambil Alih para Bodyguard dan menyelusuri orang suruhan Anya lalu
menangkapnya.

Saat ini semua keluarga sedang makan pagi dan

memang Rinal telah kembali ke Rumah ini atas permintaaan Parmoko, Anya berpura-pura jika saat ini
mereka sedang tidak ada masalah dan ia mencoba menjadi istri yang baik dengan melayani Parmoko
sejak tadi.

"Pi...ini dimakan Pi!" Ucap Anya menyerahkan makanan

1/7

Bawa saja dia


yang telah ia siapkan untuknya.

"Anak-anak...." Panggil Parmoko membuat semuanya menatap karah Parmoko. "Jangan ada yang makan
makanan ini karena kemungkinan besar Mami kalian yang kalian sayangi ini, memberi sesuatu
didalamnya!" Ucap Parmoko membuat Anya membuka mulutnya dan ia mengeraskan rahangnya.

"Apa maksud kamu, Pi? Astagfirulah Pi, tega sekali kamu sama Mami Pi!" Ucap Anya dan ia terlihat
sangat sedih saat ini.

Ronal menatap sinis Anya dan ia merasa sangat kesal dengan sikap Anya yang sangat pintar berakting,
wajar saja jika selama ini ia dan Papinya tertipu dengan sikap Anya.

"Fadil..." panggil Parmoko.

"Iya Pi," lirih Fadil. la menatap sendu Parmoko membuat Parmoko menghela napasnya.

"Kalau kamu ingin mengurangi kegiatan diluar sekolah termasuk les privat yang tidak kamu inginkan Papi
setuju," ucap Parmoko membuat Fadil terkejut dan tentu saja ia sangat setuju untuk menguranginya. la
bahkan tidak memiliki banyak waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya, karena Anya selalu
memberikan jadwal ketat untuknya dan harus ia ikuti.

"Nggak bisa Pi, Fadil anak aku, aku tahu yang terbaik untuknya dan ingat ya Pi... Fadil itu adalah pewaris
Bagaspati!" Ucap Anya dan ia kesal dengan keputusan sepihak Parmoko.
"Kamu jangan ikut campur, saya kepala keluarga disini! Kalau kamu tidak suka dengan keputusan saya
kamu boleh pergi hari ini juga! angkat kaki dari rumah saya!" Usir Parmoko.

"Kamu mengusir aku Mas?" Tanya Anya dingin.

"Iya saya mengusir kamu, Fadil kamu sudah besar nak dan Papi ingin kamu memilih apa yang ingin kamu
lakukan,

2/7

Bawa saja dia


tanpa terpengaruh dengan keinginan orang lain!" Ucap Parmoko.

"Orang lain? Saya ini Ibu kandungnya Mas..." teriak Anya.

Rima menghela napasnya ia memilih untuk tidak ikut campur karena ia telah mengetahui beberapa
tindakan Maminya yang memang sangat keterlaluan. Maminya memang tidak bersyukur dengan apa
yang telah didapatkannya selama ini. Bahkan Maminya selalu berbohong pada Papinya yang sangat baik
padanya. "Saya ayahnya dan saya berhak menentukan apa yang baik bagi putra saya...lagian saya sudah
tidak tahan lagi dengan kamu, apa yang kamu lakukan kepada putri saya Lifia sudah sangat jahat,
sekalian saja saya akan memberitahu alasan kenapa saya bersikap seperti ini kepada kamu!" Ucap
Parmoko. Anya yang berpura-pura tidak bersalah memang terbiasa bersikap seperti ini, ia menganggap
Parmoko akan lebih percaya padanya apalagi selama ini Parmoko telah menerimanya sebagai istrinya,
terlebih lagi ia telah melahirkan Fadil untuknya.

"Mas kamu jangan percaya dengan Ronal! Ronal kamu tega lebih mempercayai Mami dari pada orang
yang menghasut kamu," ucap Anya.

"Polisi yang akan menentukan apa anda bersalah atau tidak!" Ucap Ronal membuat Anya mengeraskan
rahangnya.

"Kalian tidak berhak melakukan ini kepada saya!" Ucap Anya. "Mas saya telah melahirkan Fadil dan
kamu adalah orang yang sangat bertanggung jawab Mas, anak kita masih membutuhkan aku Mas!" Lirih
Anya dan ia harus bisa membuat Parmoko memikirkan Fadil, agar Parmoko bisa percaya sepenuhnya
padanya.

"Jangan jadikan Fadil sebagai alasan dan membuat saya membela kegilaan kamu yang ingin membunuh
Lifia

3/7

Bawa saja dia


putri saya!" ucap Parmoko dingin membuat Rima dan Fadil saling berpandangan. Keduanya mengira
Ibunya tidak akan sejahat itu kepada Lifia, apalagi Rima ingat bagaimana Anya berhasil membuat Lifia
tersingkir dari Rumah ini, selama bertahun-tahun.
"Kamu masih tidak puas membuatnya ketakutan dan memilih pergi dari sini, tapi kamu bahkan ingin
membunuhnya, untuk apa? demi uang? demi keserakahan kamu," ucap Parmoko. "Ohhh...saya hampir
lupa kamu ingin pencarian asuransi kematian mendiang istri saya dan juga putri saya. Itu kan yang kamu
mau?" Tanya Parmoko menatap Anya dengan murka.

"Kamu salah paham Mas..." teriak Anya. "Aku tidak melakukan itu...kamu harus percaya sama aku Mas!"
Teriak Anya.

"Saya tidak mempercayainya lagi, bukti semuanya telah berada ditangan polisi dan lebih baik kamu
menyerah Anya. Kamu harus menerima hukuman atas semua perbuatan kamu!" Ucap Parmoko
membuat Fadil terisak dan ia ia terduduk lemah, karena ia tidak percaya jika ibu yang telah
melahirkannya ternyata telah melakukan hal seperti ini. "Kamu bahkan berbohong dengan mengatakan
Ronal adalah anak kamu, padahal dia anak mantan istri saya yang kamu rebut dan kamu
menggantikannya dengan anak lain," ungkap Parmoko membuat Fadil dan Rima terkejut.

"Fadil... Rima kamu percaya sama Mami, Nak!" Pinta Anya.

"Apa benar Mas Ronal bukan anak Mami?" Tanya Rima dengan suaranya yang bergetar. Entah mengapa
ia menjadi sangat takut dengan apa yang dilakukan Anya jika memang apa yang diucapkan Parmoko
benar. "Apa benar Mami ingin membunuh Lifia?" Tanya Rima. "Kalau Mami yang memfitan Lifia, Rima
tahu Mi dan Mami selalu

4/7

Bawa saja dia


mengatakan kepada Rima jika Mami melakukan itu semua demi Rima, agar menjadi putri tunggal dari
Parmoko Bagaspati," lirih Rima dan ia begitu terkejut mendengar kebenaran ini.

"Rima...kamu jangan menyalahkan Mami, apa yang Mami lakukan itu semua demi kalian berdua!" Teriak
Anya prustasi karean semua yang telah ia lakukan telah tebongkar.

"Mi...Papi telah menganggap Rima sebagai putrinya sendiri Mi, Papi sudah sangat baik walaupun Mami
membohonginya tentang jari diri Rima yang hanya adopsi ini, padahal Rima adalah anak kandung Mami
pasti Papi akan memaafkannya, tapi tidak dengan Mami yang ingin membunuh Lifia," ucap Rima
membuat Anya naik pitam dan ia menampar wajah Rima dengan sangat keras.

"Kurang ajar kamu, harusnya kamu ikut bersama

5/7

Bawa saja dia


laki-laki itu Rima... bukan ikut Mami!" teriak Anya prustasi.

Ronal mendekati Rima dan ia menarik tangan Rima agar menjauh dari Anya. "Hanya uang yang disayang
dan bukan anaknya, kalian berdua mengerti apa maksud, Mas!" Ucap Ronal kepada kedua adiknya. Fadil
terlihat sangat sedih dan terpukul dengan apa yang terjadi hingga bibirnya sulit untuk bergerak. la hanya
bisa menangis sedih saat ini dan baginya Maminya telah sangat keterlaluan, apalagi Lifia adalah Kakak
perempuannya. Walaupun berbeda ibu namun ia dan Lifia memiliki ayah yang sama, sama seperti Ronal.

Lima orang polisi masuk kedalam rumah ini dan mereka terlihat sangat tidak bersahabat apalagi tatapan
mereka tertuju kepada Anya. Anya terlihat sangat panik dan ia hampir tidak percaya jika suaminya tidak
akan membantunya saat ini. "Selamat Pagi..." ucap salah satu polisi.

"Pagi Pak, saya persilahkan Bapak membawa istri saya untuk diproses!" Ucap Parmoko membuat Anya
sangat terkejut.

"b******n kamu Mas, harusnya kamu membela saya...apa yang saya lakukan itu semuanya untuk
keluarga kita Mas, ingat Mas dengan saya ditangkap seperti ini bagaimana dengan karir politik kamu
Mas!" Teriak Anya.

"Saya tidak peduli bahkan jika karean kejahatan kamu saham diperusahaan saya turun, saya juga tidak
peduli. Saya punya Ronal yang akan membereskan semua masalah yang kamu ciptakan!" Ucap Parmoko
dingin. la melihat Anya memberontak ketika para polisi menyeretnya, agar mengikutinya ke kantor
polisi.

"Papi hiks...hiks..." tangis Fadil membuat Parmoko mendekati Fadil dan ia memeluk putra bungsunya itu

6/7

Kamu adikku.
Kamu adikku
Lifia menatap Defran yang sejak tadi membereskan barang-barangnya dibantu oleh Ibunya dengan
tatapan sayang. Defran Satyas selalu menemaninya sejak ia dirawat dirumah sakit dan Defran hanya
pergi jika ia sedang bekerja. Bahkan jam makan siang Defran akan berada didalam ruang perawatannya.
Lifia menghela napasnya ia mengingat sosok Kiran yang telah menyelamatkan nyawanya, ia sangat
menyayangi Kakak perempuannya itu dan ia sangat kesal karena ia yang ingin bertemu Kiran sejak
beberapa hari yang lalu, sampai saat ini belum juga dipertemukan kepada Kiran. "Bu Mbak Kiran nggak
apa-apa kan, Bu?" Tanya Lifia penasaran dengan keadaan Kiran.

"Nggak apa-apa, Mbakmu juga sudah pulang ke Rumah lebih dulu," jelas Murni.

"Kalau nggak apa-apa kenapa nggak jengukin Lifia, Bu?" Tanya Lifia sendu. Ingin sekali memeluk Kiran
dan mengucapkan rasa terimakasihnya.

"Nanti kamu tanya sendiri kenapa sama Mbakmu, Ibu juga bingung mau jelasin nanti salah lagi kalau ibu
jelasin, lebih baik kamu tanya langsung sama Mbakmu itu!" Ucap Murni. Pintu terbuka terlihat Kana dan
Serkan masuk kedalam kamar ini.

"Mbak..." panggil Lifia manja. Seperti biasa Lifia sangat manja kepada Kiran dan Kana.
"Ada apa adekku sayang?" Tanya Kana tersenyum lega melihat kondisi adiknya ini Alhamdulilah telah
membaik. "Mbak Kiran kemana? Kenapa nggak jenguk aku? Katanya lukanya nggak parah Mbak, tapi dia
nggak datang jenguk aku. Apa Mbak Kiran marah ya sama aku karena aku

1/6

Kamu adikku
ceroboh?" Tanya Lifia sendu.

"Mana bisa marah dia sama kamu Dek yang ada di nangis kayak biasa kalau lihat kamu terluka,
terkadang ya kamu itu sama dia bikin Mbak sama Altaf iri saja, kok bisa saya akrabnya membuat saudara
lain tersingkir," goda Lifia.

"Mbak aku serius ini! Aku kangen sama Mbak Kiran," ucap Lifia sendu.

"Kangen apa kamu takut sama dia kalau nanti kalian bertemu, kamunya dimarahin?" Tanya Kana.

"Nggak gitu, Mbak...kalau Mbak Kiran nggak narik aku, mungkin aku sudah mati Mbak," lirih Lifia sendu.

"Husss...nggak boleh ngomong begitu!" Ucap Murni.

"Iya Dek, ngapain sih diungkit kayak gitu lagi, kamu selamat berarti yang diatas ingin kamu berumur
panjang loh Dek," ucap Kana.

Defran sejak tadi hanya mendengarkan percakapan Lifia dengan Murni dan Kana, sama halnya dengan
Serkan. "Mas..." panggil Lifia dan sekarang ia terbiasa sangat manja kepada Defran. Defran
melangkahkan kakinya mendekati Lifia, membuat Lifia memegang tangan Defran dengan tangannya
yang tidak terluka. "Ada apa?" Tanya Defran.

"Ini kan pulang, kamu ikut pulang sama aku ke Rumah Ibu ya Mas! Aku ingi kamu tinggal sama aku!"
Ucap Lifia.

"Mana bisa begitu Nak, kalian belum menikah!" Ucap Murni mengulum senyumannya mendengar
permintaan Lifia kepada Defran.

"Di Rumah Sakit bisa Bu, Mas Def nungguin Lifia masa di Rumah nggak bisa," ucap Lifia dan ia takut
kehilangan Defran, mengingat nyawanya hampir saja melayang. la

2/6

Kamu adikku
tidak ingin kehilangan momen kebersamaannya bersama Defran Satyas calon suaminya itu. "Yaudah
sore ini saja nikahnya Bu!" Ucap Lifia.

"Kebiasaan, kamu itu ngeyel sekali sama kayak Defran yang juga minta sore ini menikah. Kalian janjian
buat desak Ibu untuk menikahkan kalian secepatnya?" Tanya Murni kesal.
"Kan semua kelengkapan administrasinya udah lengkap ya, Mas? Waktu itu katanya tinggal...." Ucap
Lifia pelan dan ia menelan ludahnya jika mengingat ia harus bertemu dengan Papinya terlebih dulu dan
meminta izin untuk menikah. Lifia memang belum sempat bertemu Papinya karena saat operasi selesai
Lifia belum juga sadar dan mereka semua

"Besok kamu itu sama Defran katanya mau nikah kantor dulu, jalanin prosesnya Nak! Nanti bebas kalian
bsia tinggal dimana saja tapi mulai saat ini kamu nggak boleh keluar rumah dulu!" Ucap Murni.

"Iya Bu," ucap Lifia. "Mas...tidurnya dikamar Altaf saja, nanti izin saja sama Ayah!" Pinta Lifia membuat
Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut. "Bolehkan Bu?" Tanya Lifia.

"lya," ucap Murni mmebuat Serkan dan Kana tersenyum.

Lifia turun dari ranjang dengan pelan dibantu Kana dan Murni, sedangkan Serkan dan Defran
membawakan barang-barang yang akan dibawa pulang. Mereka melangkahkan kakinya menuju mobil
dan untung saja di Rumah sakit ini, wartawan tidak bisa masuk sembarangan untuk meliput berita
mengenai Lifia. Berita memang mengabarkan tentang Lifia yang mengalami kecelakaan, tapi manajemen
Lifia telah menjelaskan jika keadaan Lifia dan Kiran saat ini baik-baik saja.

Saat ini mereka telah berada didalam mobil yang

3/6

Kamu adikku
melaju dengan kecepatan sedang, Serkan yang mengemudikan mobilnya dan tak butuh waktu lama saat
ini mereka telah sampai di Kediaman orang tua Lifia. Semua keluarga telah terlihat berkumpul
menunggu kepulangan Lifia, Lifia merasa sangat teharu apalagi ternyata ada keluarga Defran yang juga
datang khusus untuk menyambut kepulangannya. Lifia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dn
Liana segera

mendekatinya laku memeluknya dengan erat.

"Alhamdulilah sudah pulang ke Rumah nak, harusnya sekarang kamu itu tinggalnya sama Mami saja
kalau sudah menikah nanti ya Nak!" Pinta Liana.

Defran menghela napasnya dan ia tidak bermaksud tinggal di rumah orang tuanya ataupun orang tua
Lifia karena ia telah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya. "Kita akan tinggal berdua saja, Mi,"
ucap Defran membuat

4/6

Kamu adikku
Liana menyebikkan bibirnya.
"Lagian Mami sih, masa Lifia juga mau dibawa ke Rumah Mami, kasihan sama Ibu," ucap Salsa membuat
Liana tersenyum malu. "Mbak Kana usah dibawa eh...Mami juga kau bawa Mbak Lifia membuat mereka
semua tersenyum.

Lifia mengedarkan pandangannya dan ia melihat Kiran yang sedang duduk disofa menbuatnya segera
mendekati Kiran lalu memeluk Kiran. Kepala Kiran masih diperban dan itu membuat Lifi sangat khwatir.
"Makasih Mbak hiks...hiks...kalau nggak ada Mbak aku mungkin..." ucap Lifia dan ia terisak. Inilah yang
menbuat Kiran memilih untuk tidak menemui Lifia karena ia juga akan menangis sedih karena kahwatir.
la sangat menyayangi Lifia dan ia tak mungkin hanya diam saja melihat adiknya itu menderita. la bahkan
pernah berbicara dengan Defran dan melarang Defran mendekati Lifia jika Defran tidak serius dengan
Lifia.

"Mbak takut banget kamu kenapa-napa Dek, mereka sungguh jahat, salah kamu apa?" Tanya Kiran
sendu. "Lain kali apapun yang terjadi sama kamu, kamu harus bilang sama Mbak Dek!" Pinta Kiran.

"Iya Mbak, hiks...hiks...tapi nggak boleh berkorban kayak gini demi aku Mbak, gimana kalau terjadi
sesuatu sama Mbak, aku nggak mau Mbak! Lebih baik aku saja yang tertabrak Mbak jangan!" Tangis
Lifia.

"Kalaupun itu terjadi kepada Mbak Kana dan Altaf, Mbak juga akan melakukan hal yang sama karena
kamu adiknya Mbak!" Ucap Kiran membuat sosok laki-laki yang sejak tadi mendengar pembicaraan
mereka dan ia menatap Lifia dengan sendu. la juga teharu melihat kedekatan Lifia dengan keluarga yang
ada disini. Adiknya begitu beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.

5/6

Jangan kesal apalagi cemburu.


Jangan kesal apalagi cemburu
Ronal memang diperintahkan Parmoko Papinya untuk menyambut kedatangan Lifia, besok setelah
sidang nikah dinas nanti Parmoko ingin bertemu Lifia secara khusus.

Lifia duduk dengan tenang disamping Kiran, ia tekejut saat melihat wajah cantik Kakak perempuannya
itu yang galak ternyata terlihat sangat-sangat sedih, bahkan seperti ingin menangis. Sekarang tanpa ia
tanya sekalipun, ia tahu kenapa Kiran Ayu tidak menemuinya di Rumah Sakit, padahal mereka sama-
sama dirawat di Rumah Sakit yang sama. Kiran tidak ingin terlihat cengeng dan menangis didepannya,
apalagi kemungkinan besar Kiran sama seperti dirinya mengalami trauma.

"Sudah jangan sedih lagi!" Ucap Murni, ia menghapus air mata Lifia dan juga air mata Kiran.

"Kata Defran penjahatnya sudah ditangkap," ucap Murni.


"Siapa Bu penjahatnya? Lifia mau ketemu dan nanya kenapa dia jahatin Lifia?" Tanya Lifia dengan
matanya yang telah tergenang air mata. Murni memeluk Lifia dengan erat dan ia mencoba
menenangkan Lifia yang terlihat ingin kembali menangis.

Ronal melangkahkan kakinya mendekati Lifia dan ia menjokokkan tubuhnya, ia memegang tangan Lifia
membuat Lifia terkejut melihat wajah Rolan. "Maafkan Mas yang terlambat menemui kamu, Mas janji
tidak akan ada lagi yang menyakiti kamu!" Ucap Ronal, membuat Lifia membuka mulutnya, perlahan air
mata Lifia menetes dan ia bisa mengingat wajah ini tak banyak berubah, karena sosok ini yang sering kali
menyelamatkannya ketika ibu tirinya mengurungnya.

1/6

Jangan kesal apalagi cem...


"Mas Ronal," lirih Lifia.

"Kamu nggak lupa sama Mas Ronal?" Tanya Ronal dengan suara lembutnya, namun terdengar sangat
lembut.

"Nggak Mas, gimana mau lupa hiks...hiks...kalau kamu itu kayak Mbak Kiran yang sering kali
mementingkan aku dari pada mementingkan keselamatan kamu sendiri," lirih Lifia, kembali menangis
dan sebelah tangannya menarik tangan Ronal, agar bediri lalu ia memeluk Ronal dengan erat.

Jika Ronal bukan kakak kandung Lifia seayah mungkin Defran akan memukul laki-laki ini yang berani
memeluk calon istrinya. "Lifia kangen Mas hiks...hiks..mau ketemu takut sama dia Mas, kalau Lifia
pulang ke Rumah Papi dia pasti akan menyakiti Lifia lagi dan Mas juga akan sering dihukum sama dia.
Maafkan Lifia yang benci sama Maminya Mas Ronal!" Ucap Lifia sendu. la tahu tak ingin menyinggung
Ronal karena membenci Lifia.

"Dia bukan ibunya Mas Lifia, dibukan surganya Mas hingga membuat Mas harus berbakti sama dia
seperti dulu. Dia penipu jahat yang ingin menyakiti kita..." lirih Ronal. Lifia ingat bagaimana Ronal
memintanya untuk tetap diam bersembunyi dibawah meja saat Anya memukulnya kareana telah berani
memberikan Lifia, makanan dan mengajak Lifia kabur dari gudang. "Seorang ibu tidak akan tega
memukuli anaknya, Rima saja yang dia akui sebagai anak adopsi, ternyata anak kandungnya terbukti dia
tidak pernah dipukul seperti kita," ucap Ronal membuat Lifia terkejut. la ingat bagaimana Anya selalu
menyalahkannya ketika Rima menangis.

"Iya Mas... Lifi kangen Papi tapi Lifi takut ketemu Papi," jujur Lifia. Semarah apapun ia kepada sosok
Parmoko Bagaspati yang telah menyakitinya karena lebih mempercayakan dirinya dalam pengasuhan
Anya, tetap

2/6

Jangan kesal apalagi cem...


saja ia sangat menyayangi Parmoko Bagaspati Papi kandungnya itu.
"Besok setelah acara kamu dan Defran selesai di kantor, kita ketemu Papi! Papi yang meminta Mas
untuk bertemu kamu setelah kamu pulang di Rumah sakit!" ucap Ronal membuat Lifia lagi-lagi terkejut
dan ia merasa senang karena Papinya mau bertemu dengannya.

"Saat kamu dioperasi, Papi dan Kakak sulungmu ini datang Lifia, mereka jenguk kamu tapi kamu belum
sadar Lifia," ucap Murni. la dan suaminya selalu membujuk Lifia untuk bertemu Parmoko Bagaspati
bahkan keduanya berjanji untuk menemani Lifia pulang ke Rumahnya. Bahkan Lifia tidak tahu jika saat
ini Papinya telah lama menetap di Jakarta dan membangun perusahaannya disini.

"Papi jenguk aku?" Lirih Lifia.

"Papi juga setuju kamu menikah, makanya besok kalian nikah secara dinas dulu dan Mas temani besok
ya!"

Ucap Ronal membuat Lifia menganggukkan kepalanya.

Selama ini Ronal sering sekali melihat Lifia dari jauh namun setelah Defran memerintahkan orang-orang
menjaga Lifia, Ronal mencari tahu siapa Defran hingga Defran akhirnya menemukan hal yang berkaitan
tentang dirinya. Defran jugalah yang ternyata membantu Lifia ketika Lifia hampir diculik di apartemen
lamanya waktu itu.

"Yaudah kita makan dulu, sudah lapar semua ini kayaknya!" Ucap Nasir.

"Altaf mana?" Tanya Lifia mengedarkan pandangannya mencari sosok Altaf.

"Dia nggak bisa pulang tadi udah telepon Ibu," ucap Murni. "Hari ini spesial Mami Liana yang masakin,"
ucap Murni membuat Liana tersenyum.

3/6

Jangan kesal apalagi cem...


Lifia. "Mami memang Mami mertuaku yang terbaik," ucap

"Iya dong, punya anak-anak menantu yang cantik dan pintar sangat membahagiakan, kalian itu investasi
kebahagiaan Mami dimasa tua, bener nggak Pi?" Tanya Liana kepada Nasir suaminya.

"Benar sekali," ucap Nasir menbuat mereka semua tertawa.

Semua keluarga saat ini telah duduk dikursi makan, Serkan memang baru saja menghadiahkan kursi
makan panjang yang bisa menampung semua keluarga besar mereka, jika ingin makan bersama di
Kediaman mertuanya ini. Tentu saja Murni menerima dengan senang hati apalagi ia tidak ingin menolak
pemberian anak-anaknya yang memang sangat mencintainya. Bahkan dimasa tuanya, ia merasa sangat
bahagia karena anak-anaknya sudah bisa hidup mandiri, apalagi sebentar lagi Lifia juga akan segera
menikah dengan Defran Satyas. Laki-laki yang juga sangat ia setujui untuk menjadi menantunya, Lifia
berhak bahagia karena Lifia telah mengalami banyak masalah salam hidupnya selama ini.
Makan bersama seperti ini terlihat begitu

menyenangkan, Lifia bahkan terseyum kepada Ronal saat menceritakan beberapa kejadian lucu ketika
keduanya masih kecil. la lupa jika sosok Defran yang ada disebelahnya terlihat terpengaruh dengan
kedekatan mereka hingga merasa Lifia telah lancang bersikap acuh padanya. Biasanya Lifia hanya akan
fokus kepadanya dan Lifia sangat suka melihatnya yang sedang makan namun hari ini tidak, semua
perhatian Lifia tertuju kepada Kakak sulungnya itu.

Salsa menyadari sikap Defran yang terlihat kesal dan ia menyunggingkan senyumannya, karena
sepertinya mengganggu Defran Satyas akan sangat menyenangkan

4/6

Jangan kesal apalagi cem...


saat ini. Apalagi Defran bersikap sangat dingin dan bahkan sengaja fokus dengan makanannya, tanpa
ingin melihat kerah Lifia yang sedang sibuk berbincang dengan Ronal. "Mas Def..." panggil Salsa dan ia
menyenggol tangan Defran membuat Defran mendelik kesal. Biasanya Defran hanya akan menatapnya
dengan tatapan dingin namun tidak kesal seperti saat ini.

"Ada apa?" Tanya Defran dingin.

"Ya ampun kenapa jadi galak gini Mas..." bisik Salsa. "Mas lagi kesel karean dicuekin Mbak Lifia ya?

Hehehe...Masku sayang namanya juga Adek yang lama nggak ketemu sama Kakaknya. Jadi gitu deh Mas,
banyak cerita yang ingin mereka ceritakan," ucap Salsa mencoba menenangkan Defran.

"Sok tahu, kamu...saya tidak kesal," ucap Defran sinis.

5/6

Jangan kesal apalagi cem...


"Hehehe...Masku kita ini kan adek kakak dan aku itu juga yang paling memahami Mas Loh. Apalagi jika
Mas nggak pedulikan aku dari kecil, aku pasti marah banget, tapi kan untungnya kamu itu tetap the best
kakak terbaik setelah Mas Serkan," ucap Salsa membuat Defran menatap Salsa dengan kesal. Salsa
berani sekali membandingnnya dengan Serkan yang memang menjadi sosok yang sukai banyak orang
dikeluarganya.

Comments

Vote

6/6
Tidak mau gagal.
Tidak mau gagal
Malam tadi Lifia mencari keberadaan Defran yang ternyata memilih pulang dari pada menginap di
Rumah ini, sesuai permintaannya kemarin. Defran bahkan tidak pamit pulang padanya dan itu
membuatnya bingung. Ada apa dengan Defran Satyas hingga mengacuhkannya seperti ini. Lifia melihat
jam menunjukkan pukul tujuh pagi dan pagi-pagi sekali Ibunya telah membangunkannya karena hari ini
ia akan melakukan sidang nikah secara dinas yang akan di selenggarakan di Polri yang akan dihadiri oleh
orang tua setiap pasangan.

"Bu," panggil Lifia.

"Ada apa nak?" Tanya Murni.

"Ini udah rapi, Bu?" Tanya Lifia dan ia bediri lalu memutar tubuhnya. Walaupun tangannya masih digips
ia tetap ingin telrihat cantik diacara sidang nikah dinas ini.

Apalagi ini adalah acara yang sangat penting untuknya.

"Udah anak ibu udah cantik," ucap Murni. Lifia memang meminta bantuan Sandra untuk memoles
wajahnya dengan makeup tipis dan ia saat ini telah memakai baju putih dan rok hitam.

"Bu Mas Def, kayaknya ngambek sama aku semalam Bu, dia pulang nggak bilang-bilang sama kamu.
Gimana kalau dia nggak datang Bu? aku batal sidang nikah dinas Bu, kalau Mas Def nggak datang,"

ucap Lifia sendu membuat Murni tersenyum.

"Kamu ini nak ada-ada saja, pikiran kamu ini sama Nak Defran itu terkadang membuat kita semua
merasa aneh melihat tingkah kalian itu," ucap Murni. "Jelas-jelas Nak Def sudah berjuang untuk kamu
sampai dia pergi ke

1/6

Tidak mau gagal


Paris untuk jemput kamu, masa hanya gara-gara dia ngambek sama kamu semalam pernikahan kalian
ditunda lagi. Acara ini sangat penting kalau kalian tidak datang, Defran dianggap menyalahi prosedur
dan juga telah membuat atasannya kecewa karena meremehkan institusi mereka," ucap Murni.

Kiran menyunggingkan senyumannya, Lifia sangat menggemaskan jika sedang khawatir seperti ini. Jelas-
jelas semua orang tahu bagaimana bucinnya seorang Defran Satyas padanya, tapi tetap saja Lifia merasa
takut Defran tidak menepati janjinya. "Udah jam berapa, Bu? Jangan-jangan Mas Defran benar-benar
nggak datang," ucap Kiran membuat Lifia menyebikkan bibirnya.
"Mbak kayaknya senang banget kalau Mas Defran nggak datang, Mas Defran nggak akan begitu Mbak
sama aku. Mbak pasti nggak mau aku langkahin ya Mbak? Kalau gitu besok saja Mbak langsung nikah
saja lebih dulu dari aku!" Ucap Lifia membuat Kiran menatap Lifia dengan kesal.

"Loh kenapa jadinya ngejekin Mbak Lifia? sekarang ini coba kamu telepon saja Mas Defran kenapa dia
belum datang!" Ucap Kiran.

Sebenaranya Kiran memang kesal karena Lifia akan menikah lebih dulu dengan Defran, tadinya ia masih
bersantai karena ia tidak menyangka Defran dan Lifia secepat itu memutuskan untuk segera menikah.
Tapi apa boleh buat Defran adalah laki-laki yang sangat dicintai Lifia, sudah seharusnya mereka segera
menikah dan ia tidak boleh menjadi egois dengan melarang keduanya untuk segera menikah.

"Mas Def nyebelin banget, dia sudah janji mau nginap disini tapi dia pulang tanpa pamit sama aku," ucap
Lifia kesal.

"Udah kamu tenang saja sebentar lagi pasti Mas

2/6

Tidak mau gagal


Defran pasti datang!" Ucap Kiran.

Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil,

Subektu melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan ia tersenyum saat melihat sosok Defran terlihat
sangat gagah dengan seragamnya ketika keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya mendekati
Nasir, lalu Defran mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Nasir.

"Wah...anak menantu Ayah gagah sekali," puji Subekti membuat Defran menyunggingkan senyumannya.

"Bu...Nak Defran sudah datang menjemput kita!"

Teriak Subekti membuat Lifia yang mendengar ucapan Subekti tersenyum senang dan ia mencium pipi
kanan dan kiri Kiran, lalu melangkahkan kakinya mendekati Ayahnya yang sedang berbincang bersama
Defran. Lifia tersenyum senang melihat penampilan Defran yang terlihat sangat gagah, dengan seragam
polisi yang ia kenakan.

Defran menatap Lifia dengan dingin dan itu membuat Lifia menghela napasnya. Sebaiknya ia tidak
menayakan apapun saat ini demi kelancaran acara sidang nikahnya ini jika tidak, bisa saja Defran akan
bersikap lebih dingin padanya atau Defran menggagalkan acara ini lalu, ia memilih untuk tidak
menikahinya. Lifia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi, ia akan patah hati dan memilih untuk sendiri
hingga ia benar-benar melupakan Defran. Lifia tidak ingin itu terjadi dan ia harus bisa meredam
kekesalannya.

Murni mendekati mereka dan ia menatap mereka dengan tatapan bingung. "Loh...kenapa bengong gitu,
yaudah kita berangkat sekarang!" Ucap Murni.
Mereka semua masuk kedalam mobil dan Lifia tersenyum senang melihat sosok tampan dan juga sangat
gagah yaitu Ronal yang ternyata telah berada didalam mobil ini. "Mas Ronal ikut juga..." ucap Lifia.

"Dia hanya sopir karena yang bisa masuk hanya kedua

3/6

Tidak mau gagal


pasang orang tua dan calon pengantin!" Ucap Defran dingin.

"Ooo..." ucap Lifia.

Sejak semalam bahkan ia telah belajar dari para bestienya yang menceritakan proses nikah Dinas ini
padanya. Bahkan pertanyaan apa yang diajukan para petinggi nanti. Dalam perjalanan Subekti telihat
sedang berbincang bersama Ronal dan mereka terdengar sangat akrab, membuat Lifia penasaran sejak
kapan Ayahnya itu sering bertemu Ronal Kakak sulungnya ini. Beberapa menit kemudian mereka sampai
di Kantor Defran, mereka turun dari mobil kecuali Ronal yang mengatakan akan menunggu didalam
mobil. Saat ini mereka sedang melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan dan Lifia menjadi pusat
perhatian rekan kerja Defran, membuatnya segera menggandeng tangan Defran karena merasa malu
hingga terlihat gugup.

Defran menyadari tangan Lifia yang terasa dingin dan Lifia terlihat sangat gugup. Defran mencoba
mengalihkan perhatian Lifia, agar mengurangi rasa gugupnya. "Mami dan Papi sudah datang..." ucap
Defran menujuk Liana yang telah duduk dikursi bersama Nasir. Subekti dan Murni segera bergabung
bersama Liana dan Nasir, sedangkan Lifia mengikuti Defran.

Lifia menelan ludahnya dan ia melihat disekelilingnya, ternyata yang ikut sidang nikah hari ini, bukan
hanya dirinya tapi juga beberapa pasangan lainnya. Defran melirik Lifia yang saat ini telah duduk
disampingnya dan ia menarik sudut bibirnya, karena calon istrinya ini adalah perempuan yang paling
cantik diruangan ini atau mungkin dikantor ini. "Mas aku gugup!" Ucap Lifia pelan.

"Jawab saja pertanyaannya dengan santai!" Ucap Defran.

"Kalau aku salah jawab gimana?" Tanya Lifia.

4/6

Tidak mau gagal


"Ya...nggak jadi nikah," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Jadi gimana Mas? Ini lebih menakutkan dari aku syuting atau jumpa fans Mas, apalagi mereka sejak tadi
melihat aku terus," ucap Lifia memegang tengkuknya. Sebenaranya mereka ingin memastikan, apa
benar yang ada disebelah Defran adalah seorang Dewi perfilman Indonesia yang sangat terkenal cantik
dan berbakat yaitu
Lifia Ayu.

Defran menatap Lifia dengan tatapan dalam membuat Lifia menelan ludahnya, "Ada saya disamping
kamu, kamu tidak perlu gugup apalagi takut!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Acara dimulai dan terdengar pengacara melakukan pembukaan. Tidak butuh waktu lama inti dari acara
ini pun segera dilaksanakan. Setiap calon pengantin ditanya

5/6

Tidak mau gagal


mengenai kesanggupan dalam menjadi pasangan abdi negara dan juga tugas-tugas seorang abdi negara,
jika telah menjadi sebuah keluarga. Bahkan ada pertanyaan mengenai kesanggupan sang istri, jika
suaminya diminta pergi untuk melakukan tugasnya. Lifia berhasil menjawabnya dengan tegas jika ia
akan mendukung karir suaminya, membuat mereka semua tersenyum karena terlihat dengan jelas Lifia
juga mengatakan kesanggupannya untuk meninggalkan karirnya.

Lifia sama dengan calon istri pasangan yang lainnya yang juga terlihat sangat gugup, namun semua
prosesi berhasil diselesaikan dengan sangat baik. Mereka mendengar nasehat-nasehat tentang
pernikahan, bahkan terjadi hal yang lucu saat pertanyaan kepada Defran mengenai pekerjaan istrinya
dan dengan lantang Defran mengatakan istrinya seorang aktris terkenal hingga mengundang tawa
mereka. Sidang BP4R telah selesai dijalani dan saat ini mereka sedamg berada diluar ruangan bersama
para orang tua. Sejak tadi beberapa orang tampak ingin mengajak foto secara pribadi bersama Lifia,
namun mereka terlihat tidak berani mengatakan hal itu karena ada sosok Defran disamping Lifia. Defran
bak seorang singa yang tidak suka pasangannya dilirik apalagi didekati orang lain.

Comments

Vote

6/6

Cantik siapa?
Cantik siapa?
Semua orang di Rumah ini sedang pergi ke acara sidang nikah Lifia dan Defran. Saat ini Lifia menatap
lurus kedepan dan ia merasa sepi karena di Rumah ini hanya menyisakan ia sendiri. Kiran memang ini ya
untuk banyak beristirahat beberapa hari ini dan Kiran memang belum mau pergi bekerja walaupun
sudah banyak perkerjaan yang menantinya saat ini. Kiran menghela napasnya karena ternyata sendirian
di Rumah itu tidaklah enak, apalagi semua keluarga sedamg sibuk dengan urusan masing-masing. Dulu ia
sempat berpikir, jika ia berniat untuk hidup melajang karena ia tidak suka dengan laki-laki yang hanya
bisa menyakiti dirinya dengan kebohongan-kebohongan, bahkan pengabaian karena Kiran sejatinya
memang suka laki-laki yang perhatian. la memang tidak menujukkan segara langsung jika ia
menginginkan sosok laki-laki sepeti Ayahnya, ya....ia ingin memilki suami seperti Subekti Ayahnya yang
terlihat sangat menyayangi Murni, ibunya.

Dulu beberapa kali Kiran mencoba menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki, namun ternyata tidak
sesuai eksperasinya karena laki-laki yang ia kenal bahkan memiliki sikap yang tidak ia sukai. Kiran terlalu
menganggumi sosok Subekti yang sangat menyayanginya, sosok yang sering kali meluangkan banyak
waktu untuknya hanya sekedar mengantarkannya ke sekolah dan Subekti juga sangat sering menjaganya
berpergian seperti berkencan antara Ayah dan putrinya. la dan kedua saudarinya menganggap Ayahnya
adalah pahlawannya dan juga lelaki terbaik yang mereka punya hingga anak-anaknya sangat
menganggumi ayahnya. Hal ini yang membuat Kiran, Lifia dan Kana sangat selektif dalam

1/6

Cantik siapa?
memilih pasangan, bahkan Kana menyerahkan urusan memilih pasangan kepada keluarganya.

Tidak terhitung beberapa kali lelaki yang mencoba menarik perhatiannya, bahkan mengajaknya menikah
secara terang-terangan. Mereka dari berbagai profesi seperti Dokter, polisi, Aktor, pembalap, pengusaha
sukses, pengacara, hakim dan masih banyak lagi lelaki yang ingin merebut hatinya, namun hanya
Handaru yang seberani itu padanya. Hari ini Handaru tidak memberinya kabar dan itu membuatnya
kesal, ia akhirnya mengambil ponselnya, lalu mencoba menghubungi Handaru.

Sementara saat ini Handru yang sedang berada di Kediaman orang tuanya menyunggingkan
senyumannya melihat nama Kiran tertera diponselnya. Handaru mengganti nama kiran dengan sebutan
Cantik. Tentu saja hal itu membuat Abib mengerutkan dahinya saat mencuri lihat nama yang tertera
diponsel putra sulungnya.

"Cantik?" Tanya Abib. "Siapa?" Tanya Abib penasaran dengan perempuan yang namanya cantik, karena
ia tahu bagaimana tipe perempuan yang disukai putranya ini. Apalagi putranya sangat sulit untuk jatuh
cinta meskipun istrinya telah banyak menjodohkannya dengan banyak perempuan.

"Kalau cantik yang kamu maksud itu perempuan mandiri yang cerdas seperti Kiran Ayu, Papi sangat
setuju Handaru," ucap Abib yang sejak dulu menginginkan Kiran menjadi menantunya bahkan Abib
mengatakan keinginannya itu didepan media saat ia diwawancarai dimedia masa mengenai Handaru
yang masih sendirian sampai saat ini.

"Papi ingin Kiran itu sama kamu karena dia anak yang baik, seorang perempuan baik-baik yang
terhormat, cerdas, mandiri dan penyayang. Buktinya Papi pernah ditolong Kiran beberapa kali ketika
Papi membutuhkan

2/6
Cantik siapa?
sarannya, dia sedikit bicara tapi apa yang dikatakannya mampu membuat orang lain tergugah," ucap
Abib mengingat sosok Kiran.

"Itu tuh...Papi minta Mami untuk bilang sama Liana Maminya Serkan, kalau dia ingin bertemu orang tua
Kiran. Kalau Papi masih muda dan tampan kayak dulu mungkin dia akan jatuh cinta lebih dulu sama
Kiran dari pada sama Mami," ucap Ariani Maminya Handaru dan Marco serta istri dari Abib Laksamana
Dewandaru.

"Kok ngomongnya gitu My Love?" Goda Abib membuat Handaru menghela napasnya karena kedua
orang tuanya, selalu saja menunjukkan kemesraan mereka.

"Loh Papi...sih kayak terpesona banget sama Kiran, tapi aksinya nggak ada, sok atuh...jodohkan sama
dua anak Papi yang masih jomblo!" Ucap Ariani.

"Kalau Marco Papi capek...nah anak itu juga tidak kelihatan batang hidungnya hari ini. Kenapa dia nggak
pulang sementara dia sudah lama tidak bertemu orang tuanya," ucap Abib kesal. Kesibukannya sebagai
seorang mentri memang membuatnya kesulitan untuk bertemu anak-anaknya. Oleh sebab itu ia
mengizinkan istrinya mengadopsi seorang putri berumur tujuh tahun untuk menemani istrinya itu agar
tidak kesepian.

"Mi...Malco nggak datang kayaknya," ucap Hana membuat Abib tersenyum lalu ia merentangkan
tangannya agar Hana melangkahkan kakinya mendekatinya.

"Sini sama Papi!" Ucap Abib dan ia melangkahkan kakinya mendekati Abib lalu duduk dipangkuan Abib.

Kasta tertinggi di keluarganya Handaru saat ini? diduduki oleh putri kecil bernama Hana. "Harusnya
Hana ini seumuran cucu kita ya Pi, kalau Handaru cepat menikah," ucap Ariani.

"Semua ada prosesnya Mi, nggak bisa pakek Ngawinin anak orang langsung terus punya anak diluar
nikah," ucap

3/6

Cantik siapa?
Handaru.

"Kalau kamu punya anak diluar nikah, burung kamu yang Papi sate," ucap Abib membuat Handaru
terkekeh karean burung adiknya Marco akan di sate Papinya, jika tahu saat ini Marco telah memiliki istri
dan anak. "Handaru kamu kalau cari istri pokoknya harus yang seiman, harus mandiri, harus pinter dan
kalau cantik itu bonus. Tapi Papi tanya kamu sekarang, kamu sudah punya pacar?" Tanya Abib
penasaran apalagi putranya saat ini sangat terlihat sibuk dan wajahnya terlihat bahagia.

"Sudah," ucap Handaru.


"Siapa?" Tanya Abib penasaran.

"Papi pasti setuju," ucap Handaru.

"Jangan bilang kamu sedang mendekati anak ketua partai itu? Papi itu nggak benar-benar menjodohkan
kamu sama anaknya....Handaru. Anaknya itu hanya tukang buat masalah, lihat pakaiannya di medsos
seksi sekali dan hidupnya bebas. Papi nggak setuju sama dia!" Ucap Abib. "Kamu itu anak Papi yang
berhasil Papi didik dengan baik, kamu nggak Playboy seperti Marco. Marco itu mirip Mami yang duku
punya cowok banyak," ucap Abib membuat Ariani melototkan matanya.

"Pi ada Hana Pi, aduh anakku..." ucap Arianti segera mengambil Hana dari pelukan Abib, lalu ia
menggendong Hana. Ariani meminta salah satu maidnya mengajak Hana bermain ke lantai dua. "Papi
Pak Mentri kesayangan Mami, please kalau ngomong didepan Hana harus hari-hati!" Ucap Arianti
memperingatkan suaminya ini.

"Papi sih...sibuk sekali minta saya nikah," ucap Handaru.

"Papi mau tahu dulu siapa pacar kamu!" ucap Abib dengan tatapan menuntut.

"Pacar saya itu namanya Kiran Ayu Pi," ucap Handaru membuat Abib mengerjapkan kedua matanya.

4/6

Cantik siapa?
"Kamu serius? Memangnya dia mau sama kamu?" Tanya Abib yang tidak mudah percaya begitu saja
kalau Kiran menyukai Handaru. Kiran terkenal dengan perempuan berhati dingin yang sangat sulit
ditaklukan para lelaki yang mencoba mendekatinya.

"Pi sejak kapan saya bohong sama Papi, Papi doakan saja agar Kiran mau saya nikahin dia secepatnya!"
Ucap Handaru.

"Kamu serius, kamu sedang tidak ngeprank Papi karena sebentar lagi Papi ulang tahun?" Tanya Abib.

"Iya Nak, kamu nggak bohong kan kalau Kiran pacar kamu?" Tanya Ariani seakan tidak percaya putranya
akhirnya bisa jatuh cinta.

"Tidak Mi, Pi...anak kalian ini mencintai sangat Kiran, hanya saja Kiran yang memang sulit ditaklukan itu,
harus bisa percaya dulu sama anak Papi dan Mami ini. Handaru

5/6

Cantik siapa?
janji akan segera membawanya bertemu Mami dan Papi!" Ucap Handaru membuat Abib tersenyum
senang dan ia terlihat sangat bahagia.

"Jadi berita mengenai kecelakaan Kiran dan Lifia itu bagaimana?" Tanya Abib.
"Alhamdulilah keduanya selamat dan hanya terluka namun telah berangsur-angsur pulih, sekarang
Handaru mau pamit ke Rumah Kiran Pi," ucap Handaru.

"Kamu kasih buktinya kalau kamu sedang berpacaran sama Kiran!" Ucap Abib. "Atau ini hanya akal-
akalan kamu yang meminta Papi dan Mami stop menjodohkan kamu," ucap Abib.

"Oke, nanti Handaru kirim foto Handaru sama Kiran," ucap Handaru.

"No edit ya nak!" Ucap Ariani membuat Handaru menghela napasnya, karena kedua orang tuanya ini
sangat meremehkannya hingga tidak percaya ia telah berhasil memaksa Kiran untuk menjadi pacarnya.

Comments

Vote

6/6

Bukti.
Bukti
Handaru menyunggingkan senyumannya sepanjang perjalanan ya menuju kediaman orang tua Kiran.
Sebegitu tidak percayanya Papi dan Maminya kepadanya hingga menuduhnya berbohong jika saat ini ai
memiliki hubungan spesial bersama Kiran. Ponsel Handaru berbunyi dna ia melihat nama Kiran kembali
terlihat. Handaru membuka ponselnya dan memihat wajah Kiran telrihat kesal.

"Mas kamu dimana? Kamu kesini dong cepatan!" Pinta Kiran menatap Handaru dengan tatapan
memohon. Baru kali ini Kiran menghubunginya dan memintanya untuk segera menemuinya dengan
tatapan memohon seperti itu, tentu saja hal ini membuat Handaru sangat bahagia.

"Iya, sabar ya sayang!" Ucap Handaru membuat wajah Kiran memerah dan sambungan teleponnya
terputus.

Handaru menyunggingkan senyumannya karena Kiran yang seperti ini sangatlah manis dan ia ingin sekali
mencium bibir manis itu saat ini juga. Otaknya mulai berpikir bagaimana agar secepatnya ia bisa
menaklukan Kiran, agar Kiran bersedia segera dibawa ke penghulu. Ariani Ernalita Maminya tidak akan
pernah menghentikan perjodohan ini hingga ia berhasil mendapatkan menantu. Beberapa menit
kemudian Handaru sampai di Kediaman calon mertuanya dan ia mengentuk pintu rumah. Kiran
membuka pintunya dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal dan itu membuat Handaru tersenyum.

"Assalamualikum," ucap Handaru.

"Waalaikumsalam," ucap Kiran.


Handaru melangkahkan kakinya mendekati Kiran yang telah duduk disofa dan ia duduk disofa tepat
disamping Kiran, lalu ia meletakkan paperbag yang ia bawa diatas

1/6

Bukti
meja. "Untuk kamu dari Mami," ucap Handaru. "Dibuka Kiran!" Perintah Handaru.

Kiran membuka paperbag itu dan ternyata isinya yaitu kue Japanase cake buatan Ariani Ernalita
Maminya Handaru. "Mami sendiri yang membuatnya," ucap Handaru.

"Kayaknya enak Mas," ucap Kiran.

"Iya memang kue buatan Mami enak," ucap Handaru.

"Hmmm...Mami pengen ketemu kamu," ucap Handaru membuat Kiran menatap kearah Handaru
dengan tatapan terkejut. Handaru mengelus pipi Kiran dengan lembut.

"Jangan macam-macam Mas ada cctv itu," ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah dan ia menujuk
cctv yang ada disudut ruangan ini membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Kamu nggak bosan berada di Rumah?" Tanya Handaru. "Kita keluar bagaimana?" Tanya Handaru.

"Dokter bilang aku harus banyak istirahat," ucap Kiran.

"Kamu bisa istirahat di Apartemen saya Kiran!" Ucap Handaru.

"Kalau menginap di Apartemen kamu, kelihatan banget kamu ingin melakukan sesuatu sama aku," tebak
Kiran.

"Yakin hanya aku yang kamu mau? Kamu tidak merindukan saya Kiran, ciumman saya misalnya?" Ucap
Handaru membuat Kiran menghela napasnya.

"Nggak," ucap Kiran dan wajahnya semakin memerah. Ponsel Handaru berbunyi membuatnya segera
mengangkat ponselnya dan ia melangkahkan kakinya menjauh dari Kiran hingga membuat dahi Kiran
berkerut karena penasaran siapa yang sedang ditelepon Handaru.

'Siapa yang telepon kamu Mas? Mencurigakan banget,'

2/6

Bukti
Batin Kiran. la memperhatikan gerak-gerik Handaru yang saat ini sedang melangkahkan kakinya menjauh
darinya. Mengapa Kiran menjadi tidak mau Handaru menjauh darinya, ketika ia mengangkat telepon
tadi seolah ada sesuatu yang disembunyikan Handaru padanya. la paling tidak suka dibohongi dan ia
Biasanya langsung saja memutuskan hubungan dengan laki-laki yang telah membohonginya. Tapi
kenapa dengan Handaru, ia merasa sangat berat mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan
dengan Handaru.

Handaru menutup ponselnya dan ia kembali duduk disamping Kiran. la memperhatikan Kiran yang
terlihat bertambah kesal, bahkan mulutnya mengunyah makanan terlihat seperti tidak rela. "Kiran..."
panggil Handaru.

"lya," ucap Kiran dingin.

"Kamu kayaknya lagi kesal sama saya?" Tanya Handaru dan ia menatap Kiran dengan tatapan menilai,
namun bodohnya tatapanya itu fokus pada bibir Kiran yang membuatnya ingin menciummnya saat ini
juga.

"Aku nggak suka kamu merahasiakan sesuatu sama aku!" Ucap Kiran dengan nada suara yang terdengar
sangat kesal.

"Merahasiakan apa?" Tanya Handaru mengerutkan dahinya ketika Kiran tidak ingin menatapnya.

Kiran berdiri dan ia menarik tangan Hadaru, agar mengikutinya menuju kamarnya. Handaru
mengerutkan dahinya ketika ia saat ini telah masuk kedalam kamar Kiran. "Kenapa kamu bawa saya ke
kamar kamu, Kiran?

Nafsuan sekali ternyata kamu," ucap Handaru membuat Kiran membuka mulutnya karena kesal. la

menghembuskan napas kasarnya karena dengan bodohnya ia mengajak Handaru masuk kedalam
kamarnya untuk menghindari cctv, namun apa yang ia lakukan saat ini ternyata memancing singa yang
ingin segera

3/6

Bukti
menerkamnya.

"Biar cctv nggak lihat kita!" ucap Kiran.

"Jadi kamu mau saya ciumm?" Tanya Handaru takjub dengan tindakan Kiran yang tiba-tiba mengajaknya
ke kamar.

"Mas...nyebelin banget sih...ini aku itu bahas yang tadi Mas," lirih Kiran kesal.

"Bahas apa?" Tanya Handaru berpura-pura lupa dengan apa yang tadi ingin dibicarakan ia dan Kiran.

"Aku nggak mau ada rahasia, tadi itu sikap kamu seperti merahasiakan sesuatu dari aku!" lirih Kiran.
"Kamu sengaja nggak mau angkat telepon didekat aku, kamu ada rahasia apa?" Tanya Kiran. Biasanya
lelaki akan menjawab jika ia sedang membahas masalah pekerjaan.
"Jadi sekarang saya nggak boleh angkat telepon menjauh kalau lagi didekat kamu, kamu mau nguping
pembicaraan saya?" Tanya Handaru membuat Kiran menyebikkan bibirnya.

"Siapa juga yang mau menguping pembicaraan kamu Mas? nyebelin banget sih nuduh aku kayak gitu,"
ucap Kiran kesal.

"Oke saya turuti keinginan kamu, tapi kamu juga harus begitu kepada saya, tidak ada lagi hal privasi
diantara kita!" Ucap Handaru melipat keduanya tangannya, sambil menatap Kiran dengan dingin. Inilah
sifat Handaru Laksamana Dewandaru yang sebenarnya, dingin, sombong, egois dan selalu ingin menang.
Hanya didepan Kiran, ia mengubah dirinya menjadi sedikit lembut dan tidak menujukkan sikap dinginnya
selama ini.

"Iya," ucap Kiran membuat Handaru tersenyum, ia mendekati Kiran lalu membuat Kiran memundurkan
langkah kakinya, hingga ia terpojok dan tidak bisa bergerak.

4/6

Bukti
Handaru menciumm bibir Kiran dengan lembut membuat Kiran terkejut dengan tingkah Handaru.
Handaru melepaskan ciummannya dan ia menatap kearah ranjang. 'Sial...saya ingin sekali
menyentuhnya seluruh tubuhnya,' Batin Handaru kesal.

"Jangan pernah memancing saya untuk menyetuh kamu sebelum kita menikah!" Ucap Handaru dingin.

"Aku nggak maksud mancing kamu Mas," ucap Kiran

dengan wajahnya yang memerah, karena mengingat ciuumman hangat dari Handaru yang terlihat
menggebu.

"Tadi itu telepon dari Defran, dia meminta saya dan kamu menyusul ke Rumah Papi kandung Lifia,
katanya disana akan diadakan acara syukuran," ucap Handaru.

"Kalau teleponnya dari Mas Defran kenapa harus

5/6

Bukti
menjauh dari aku!" Kesal Kiran karena sempat curiga jika Handaru bisa saja memiliki perempuan lainnya.

"Oke, mulai sekarang kamu bisa melihat layar ponsel saya, sedang teleponan dengan siapa!" Ucap
Handaru.

"lya," ucap Kiran.

"Ponsel kamu juga begitu!" Pinta Handaru.


"lya," ucap Handaru.

Ponsel Handaru kembali berdering dan Handaru mendekati Kiran lalu menunjukan layar ponselnya siapa
yang sedang menelponnya. "Mami...?" Tanya Kiran.

"Iya," ucap Handaru dan ia segera mengangkat ponselnya.

"Assalamualikum, Mi," ucap Handaru.

"Mana buktinya kalau kamu sedang menjalin hubungan dengan Lifia!" Ucap Ariani Ernalita. Ariani
merupakan panggilan sayang dari Abib kepada istrinya sedangkan istrinya itu sering dikenal dengan
nama Erna.

Comments

Vote

6/6

15

Ingin menjebak.
Ingin menjebak
Kiran terkejut ketika Handaru menyebut jika saat ini ia sedang mengangkat telepon dari Maminya dan ia
mengerjapkan kedua matanya ketika tahu sekarang Handaru bukan hanya telepon tapi video call
Maminya. Kiran sangat gugup dan ia menelan ludahnya, ingin sekali ia memarahi Handaru saat ini juga
karena tiba-tiba ingin memperkenalkannya dengan Maminya. "Mi...saya nggak bohong loh Mi, ini
sekarang di Rumah Kiran," ucap Handaru. "Lagian sejak kapan anak Mami ini bohong sama Mami," ucap
Handaru.

"Sejak kamu sering kali bohong sama Mami? Ya ampun kayak nggak pernah bohong sama Mami saja
kamu Handaru. Kamu itu suka ingkar janji, kamu bilang waktu itu kamu mau datang menemui
perempuan yang mau Mami jodohkan sama kamu, tapi kamu nggak datang, itu namanya kamu udah
berani bohongi Mami. Mami mana percaya sama ucapan kamu lagi, kamu udah kayak Marco saja
banyak banget alasannya," ucap Ariani Ernalita dan suaranya terdengar sangat kesal saat ini.

"Mami Ariani," panggil Handaru.

"Hanya Papi yang boleh panggil Mami dengan nama Ariani!" kesalnya.

"Iya Mami Erna sayang...ini anaknya Mami sedang tidak bercanda loh...serius. Mami mau ketemu calon
mantu Mami ya?" Ucap Handaru dan ia menatap Kiran dengan tatapan menyelidik membuat Kiran
menggerakan kedua tangannya menolak, namun Handaru tidak menghiraukan penolakan Kiran. la
mengarahkan ponselnya kepada Kiran lalunia menarik Kiran kedalam pelukannya.
Ariani Ernalita membuka mulutnya dan ia hampir

1/6

Ingin menjebak
tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sosok cantik Kiran berada didalam pelukkan anaknya dan ia
berteriak histeris memanggil suaminya. Namun Lifia segera menodorong tubuh Handaru agar menjauh
darinya. "Kenapa?" Tanya Handaru.

Kiran ingin memarahi Handaru saat ini, namun ponsel Handaru masih melakukan video call kepada
Maminya dan itu membuatnya sangat kesal. "Udah Mas...please!" Ucap Kiran membuat Handaru
menyunggingkan senyumannya. "Kamu video call sama Mami kamu saat kamu berada dikamar
aku..kalau mereka salah sangka sama kamu dan aku gimana Mas?" lirih Kiran dan ia menyesal membawa
Handaru kedalam kamarnya. Niatnya agar pembicaraan tidak terekam oleh cctv tapi ternyata membawa
Handaru kedalam kamarnya hanya membawa masalah.

"Tidak apa-apa biar kita segera dinikahkan sama mereka!" Ucap Handaru seenaknya.

"Siapa juga yang mau nikah Mas, kita belum saling mengenal," ucap Kiran.

"Pi..." ucap Handaru menatap layar ponselnya membuat Kiran membuka mulutnya dan ia ingin sekali
bersembunyi saat ini juga. Apalagi Abib yang saat ini sedang berbicara dengan Handaru.

"Pi...ini calon menantu Papi!" Ucap Handaru dan ia menyunggingkan senyumannya, ketika melihat
wajah Kiran memucat. la sengaja melakukan hal ini agar Kiran yang terlihat menghormati Papinya itu
tidak bisa mengelak apalagi sekarang saatnya ia menjebak Kiran agar bisa ia nikahi segera mungkin.

"Mana?" Tanya Abib pensaran apa benar yang dikatakan istrinya tadi jika ia benar-benar melihat Kiran.

Handaru memperlihatkan Kiran membuat Kiran terpaksa harus menyapa Abib. "Assalamualikum Pak,"
ucap

2/6

Ingin menjebak
Kiran.

"Wah...Alhamdulilah Kiran, Papi senang banget kamu akhirnya bisa menjadi menantunya Papi. Kamu
mau menjadi menantu Papi, Kiran? jangan panggil Bapak lagi...panggil Papi!" Ucap Abib yang terlihat
sangat antusias melihat Kiran.

Kiran mengerjapkan kedua matanya dan ia menelan ludahnya gugup diberikan pertanyaan oleh Abib,
apa ia mau menjadi menantunya. "Kalau sudah dibawa ke Kamar seperti ini nggak mungkin nggak mau
Pi!" Ucap Handaru menbuat Kiran melototkan matanya.
"Alhamdulilah, kamu segera ajak Kiran ke Rumah kita Handaru!" Pinta Abib.

"Iya Pi, tentu saja," ucap Handaru.

"Kiran kenapa bengong? Apa kamu nggak tahu kalau Handaru itu anak saya?" Tanya Abib lagi. Tidak
mungkin Kiran tidak tahu siapa Handaru, apalagi beberapa kali Abib menyebut nama Handaru setiap ia
bertemu dengan Kiran diberbagai kesempatan. Bahkan diberbagai kesempatan Handaru pasti juga
pernah bertemu Kiran.

"Saya tahu Pak," ucap Kiran.

"Jangan Bapak dong, udah main kamar-kamaran sama anak saya, masih panggil Bapak!" Ucap Abib
membuat wajah Kiran merah padam. Memang hanya seorang Handaru Laksamana Dewandaru yang bisa
mempermalukannya seperti ini.

"Iya...Pi..." lirih Kiran. Wajahnya saat ini terlihat memucat hingga keringatnya bercucuran.

"Udah Pi kapan-kapan saja ngobrolnya sama Kiran, Assalamualikum," ucap Handaru.

"Waalikumsalam," ucap Abib. Handaru mematikan ponselnya dan ia sepertinya harus menghadapi
perempuan cantiknya ini yang pastinya akan marah padanya.

3/6

Ingin menjebak
"Dasar kambing kamu Mas, tega benget sih..melakukan ini sama aku..." Kesal Kiran.

"Sama kamu itu saya memang harus tega jika tidak, kamu kapan lagi kamu mau ketemu orang tua saya?
Saya tidak mau dua tahun lagi untuk memperkenalkan kamu kepada orang tua saya Kiran," ucap
Handaru menatap Kiran dengan tatapan dalam. "Orang tau saya ingin saya segera menikah dan mereka
telah menjodohkan saya dengan perempuan lain. Sekarang saya tanya sama kamu, kamu nggak ada niat
mau jadikan saya suami kamu?" Tanya Handaru.

"Ngapain sih Mas nanya kaya gini sama aku?" ucap Kiran dingin.

Handaru menghela napasnya, Kiran memang sangat-sangat sulit ditebak pikirannya namun melihat sikap
Kiran yang terlihat nyaman padanya, membuatnya memutuskan untuk segera meresmikan
hubungannya dengan Kiran. Paling tidak Kiran mau bertemu dengan orang tuanya, hingga membuat
orang tuanya berhenti untuk menjodohkannya dengan anak rekan kerjanya, kerabat atau anak
sahabatnya.

"Jadi kamu nggak serius menjalani hubungan dengan saya, kamu setuju saya dijodohkan dengan
perempuan lain, kamu beneran ingin kita mengakhiri semua ini, agar kamu bisa hidup nyaman dan
normal..." ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya.
"Oke saya terima kalau kamu tidak mau bersama saya!" ucap Handaru dingin membuat Kiran membuka
mulutnya karena kesal.

"Aku belum jawab tapi kamu sudah memutuskan saja," kesal Kiran. "Diberita katany kamu sudah mau
nikah sama orang lain, kamu mau nikah sama anak ketua partai itu, kan Mas?" ucap Kiran kesal dan ia
tidak suka diintimidasi Handaru dan sekarang ia yang terlihat

4/6

Ingin menjebak
bersalah saat ini.

"Saya tidak ada hubungan apapun dengan wanita lain Kiran, satu-satu pacar saya itu kamu!" Ucap
Handaru dingin. "Kalau saya ada hubungan dengan dia, kenapa yang saya perkenalkan sama orang tua
saya sebagai calon istri saya itu kamu," ucap Handaru kesal.

Ponselnya berbunyi dan ada notifikasi pesan dari Defran, Defran menanyakan keberadaannya dan ia

memintanya agar segera membawa Kiran menuju Kediaman Bagaspati. "Saya tidak akan memaksa kamu
lagi, sekarang saya akan mengantar kamu ke Rumah orang tua Lifia!" Ucap Handaru.

"Aku ganti baju dulu Mas!" Ucap Kiran pelan dan ia bisa melihat jika saat ini Handaru sangat dingin
padanya.

"Oke, saya tunggu diluar!" Ucap Handaru dingin.

5/6

Ingin menjebak
Kiran segera mengganti pakaiannya dan setelah itu ia menyapu wajahnya dengan makeup tipis. la
menghela napasnya karena ekspresi wajah Handaru berubah menjadi sangat dingin padanya, sepertinya
Handaru menjadi sosok Handaru yang dulu ia kenal sebelum Handaru menyatakan perasaanya padanya
dan entah mengapa ia merasa tidak suka melihat Handaru bersikap seperti itu padanya. Kiran
melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan ia melihat Handaru sedang duduk disofa. la ingin
mengatakan sesuatu kepada Handaru, namun ia merasa gugup.

Kiran duduk disamping Handaru dan ia menatap Handaru yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.
"Mas..." panggil Kiran membuat Handaru mengangkat wajahnya dan cup... Kiran mengecup bibir
Handaru.

"Nggak usah marah kita damai saja!" Ucap Kiran.

"Akan saya pertimbangkan!" Ucap Handaru.


"Kok gitu Mas, jelas-jelas harusnya aku yang marah sama kamu!" ucap Kiran, namun Handaru tidak
menujukkan respon positif kepadanya, membuatnya kesal. "Yaudah nggak usah pergi saja!" Kesal Kiran
dan ia berdiri, lalu melangkahkan kakinya ingin masuk kedalam kamarnya namun Handaru memegang
tangannya.

"Ayo pergi!" Ucap Handaru menarik tangan Kiran agar mengikutinya.

12

Comments

Vote

6/6

Ingin sekali dipeluk.


Ingin sekali dipeluk
Saat ini Lifia sedang berada didalam mobil bersama keluarganya dan orang tua Defran juga mengikuti
mobil yang membawanya ini menuju kediaman Bagaspasti.

Rumah yanga kan mereka datangi ini, bukanlah rumah masa kecil Lifia karena dulu rumahnya berada
didesa dan juga dekat dengan pesantren keluarganya. Parmoko Bagaspati telah lama tinggal di Rumah
yang mereka tuju ini, sejak bisnisnya menjadi lebih besar. Dulu Parmoko berniat untuk mengajak Lifia
kembali tinggal bersamanya, namun ketika mendengar penjelasan Murni jika Lifia tidak akan mau tinggal
dengan Parmoko, membuatnya akhirnya menyerah dn meminta Murni mengirimkan video Lifia setiap
momen penting yang sedang Lifia alami.

Beberapa menit kemudian mereka berhenti didepan sebuah rumah mewah, dengan pagar yang sangat
tinggi. Ronal membuka kaca mobil dan kemudian pagar terbuka otomatis membuat Ronal segera
melajukan mobilnya masuk kedalam halaman rumah. Rumah mewah berwarna putih terlihat begitu
menganggumkan dan sosok laki-laki parubaya, berdiri diteras sambil tersenyum melihat kedatangan
mereka. la mendekati Nasir dan Liana yang baru saja keluar dari mobilnya, lalu mengulurkan tangannya
menjabat tangan mereka.

Laki-laki parubaya ini adalah Parmoko Bagaspati ayah kandung Lifia, ia memang pernah bertemu dengan
Nasir dan Liana ketika menunggu Lifia yang sedang dioperasi di Rumah Sakit. "Selamat datang Pak Nasir,
silahkan masuk, Pak!" Pinta Parmoko sambil tersenyum ramah.

"Iya Pak Parmoko," ucap Nasir.

"Ayo Bu, Pak...!" Ajak Parmoko dan ia dengan isyarat

1/6
Ingin sekali dipeluk
matanya meminta Subekti dan Murni agar segera masuk bersama Lifia dan Defran. Didalam rumah ini
ternyata telah ada Salsa, Kila, Kana, Serkan, Bita, Rima dan Fadil.

Lifia menatap rumah mewah ini dengan tatapan dingin, jantungnya berdetak dengan kencang karena
tadi ia sempat melihat Papinya yang datang menyambut kedatangan orang tua Defran, lalu mengajak
mereka segera masuk kedalam rumah. Lifia ingat bagiamana lelaki parubaya itu dulu begitu tampan dan
terlihat sangat gagah, namun beberapa tahun setelah ia tidak bertemu dengan Papinya itu, Papinya
telah terlihat tidak muda lagi.

Wajahnya terlihat begitu murung dan menyimpan kesedihan dibalik senyum ramahnya.

"Ayo masuk Bu, Yah, Def dan Lifia!" Ajak Ronal, Defran memberi isyarat agar Ronal masuk kedalam lebih
dulu.

"Iya nak nanti kamu menyusul masuk kedalam!" Ucap Subekti membuat Ronal tersenyum dan ia
melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

"Ayo kita masuk!" Ajak Murni kepada Lifia.

"Bu..." panggil Lifia dengan suaranya yang terdengar sangat lirih.

"Iya sayang ada apa?" Tanya Murni menatap Lifia dengan tatapan sayang.

"Yang tadi itu Papi aku kan, Bu?" Tanya Lifia.

"lya," ucap Murni.

"Ini Rumah Papi kamu yang artinya ini juga Rumah kamu sayang," ucap Murni.

"Iya Bu," ucap Lifia. Defran memperhatikan gerak-gerik Lifia, yang terlihat gelisah. "Tante Anya...aku
nggak mau ketemu dia, Bu!" Ucap Lifia sendu.

"Dia nggak ada di Rumah ini," ucap Defran membuka suaranya.

2/6

Ingin sekali dipeluk


Subekti mendekati Lifia, lalu ia mengelus kepala Lifia dengan lembut. "Ada Papi, Mami, Defran dan calon
mertua kamu dan keluarga kita yang lain, juga sudah ada didalam, apa yang kamu kahwatirkan nak?"
Tanya Subekti.

"Percayalah tidak akan ada yang terjadi didalam, apalagi

hal yang dulu pernah membuat kamu takut tidak akan

pernah terjadi lagi!" Ucap Subekti.


"Tidak ada yang akan mengurung kamu apalagi memukul kamu Nak! Percaya sama Ibu!" Pinta Murni
dengan tatapan memohon, agar Lifia percaya padanya dan Lifia tidak akan takut lagi bahkan trauma
seperti dulu.

"Ibu dan Ayah masuk saja lebih dulu, biar saya yang berbicara sama Lifia!" Pinta Defran membuat
Subekti dan Murni saling berpandangan lalu keduanya menganggukkan kepalanya setuju untuk masuk
kedalam rumah ini lebih dulu.

"Oke, Nak Defran," ucap Subekti.

"Lifi, Ibu dan Ayah masuk kedalam ya! Nanti kamu segera menyusul masuk kedalam rumah, sama Nak
Defran!" Ucap Murni.

"Iya Bu," ucap Lifia.

Murni dan Subekti melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, menuju ruang makan. Serkan, Kana,
Salsa, Bita dan Kila memang datang lebih dulu ke Kediaman Bagaspati untuk membantu perisapan
makan siang bersama di Rumah ini. Hanya Fajrin, Lely dan Lee yang tidak ikut ke rumah ini karena
mereka sedang tidak berada di kota ini sedangkan Janu, Megan dan bersama istrinya dalam perjalanan
datang kemari. Hari ini, Parmoko ingin mengenalkan dirinya secara resmi sebagai ayah kandung Lifia,
kepada keluarga Defran dan ia juga ingin meminta maaf karena tidak hadir ketika acara lamaran Lifia
beberapa waktu yang lalu.

Parmoko, Subekti dan Murni telah merencanakan

3/6

Ingin sekali dipeluk


beberapa rencana untuk pernikahan Lifia dan ia ingin menyampaikan hal itu ketika mereka semua
berkumpul seperti saat ini. Apalagi Parmoko ingin terlibat diacara yang sangat penting dihidup putrinya.
Putri satu-satunya yang ia miliki dan kesalahan terbesarnya adalah telalu mempercayai tipu muslihat
seorang Anya.

Sementara itu saat ini Lifia menatap Defran dengan tatapan sendu, banyak hal yang ingin ia bicarakan
kepada Defran namun ia menahan dirinya karena sejujurnya saat in yang ia takutkan adalah jika ia
bertemu dengan ibu tirinya. "Kalau sekarang yang kamu takutkan itu jika kamu bertemu dengan Anya
ibu tiri kamu, dia tidak akan ada rumah ini!" Ucap Defran dingin.

Lifia menatap mata Defran dengan tatapan sendu

"Wanita licik seperti Anya tidak mungkin ingin meninggalkan Papinya begitu saja, terlebih lagi hari ini,
dia pasti ingin mengambil peran sebagai ibu yang baik untuk aku," ucap Lifia.

"Apa kamu lupa kalau dia sekarang berada di penjara, dia tidak akan ada di Rumah ini Lifia," jelas Defran.

"Bisa saja dia sudah bebas Mas," lirih Lifia.


"Tidak semudah itu, lagian apa yang kamu takutkan?

Kamu yakin nggak mau masuk?" Tanya Defran demgan tatapan menyelidik.

"Aku mau masuk kok," ucap Lifia dan ia memeluk lengan Defran dengan erat. "Aku hanya takut Mas!"
Lirih Lifia. "Apa Papi akan membenciku karena selama ini, aku tidak mau bertemu dengan Papi Mas,"
lirih Lifia.

"Papimu tidak akan mengadakan acara ini jika dia membenci kamu, dia sangat ingin bertemu dengan
kamu dan bebicara dengan kamu, Lifia!" Jelas Defran.

"Aku sayang sama Papi Mas," lirih Lifia. la masih ingat bagaimana tatapan kecewa Papinya saat itu ketika
ia pernah menolak untuk pulang ke Rumah Papinya, bahkan

4/6

Ingin sekali dipeluk


ia yang takut untuk pulang membuat Papinya itu sangat terpukul. "Papi saat itu terpaksa merelakan aku
tinggal sama Ayah dan Ibu, apalagi saat beliau memintaku pulang aku tidak pernah mau pulang Mas,"
lirih Lifia.

"Saya tahu kamu menyayangi Papimu, beliau juga sangat sedih tidak bertemu kamu selama ini," ucap

Defran.

"Iya Mas, aku gugup dan bingung Mas...apa Papi mau menikahkan kita apa tidak? hmmm...apa Papi mau
menjadi wali nikah aku Mas?," lirih Lifia. la bingung bagaimana nanti menghadapi seorang Parmoko
Bagaspati dan apakah Papinya itu mau memeluknya sebentar saja.

5/6

Kerinduan seorang Anak.


Kerinduan seorang Anak
Lifia tekejut ketika Parmoko ternyata datang mendekatinya yang saat ini masih berada diteras rumah ini.
Tatapan Parmoko kepada Lifia sarat akan kasih sayang dan ia terlihat sangat merindukan Lifia hingga air
matanya, menetes saat ia berada tepat didepan Lifia. Tangan Parmoko bergetar ingin menyetuh wajah
putrinya yang cantik, yang sangat ingin ia sentuh sejak dulu. Lifianya telah sangat dewasa dan tidak ada
lagi raut wajah ketakutan saat melihatnya. Lifia yang kecewa padanya dulu selalu terlihat ketakutan, jika
mereka bertemu. Saat ini Lifia memilih menundukkan kepalanya seolah tak ingin melihat wajahnya,
membuatnya menghela napasnya.
"Apa yang harus Papi lakukan padamu Nak agar menebus rasa marahmu kepada Papi Nak?" Tanya
Parmoko sendu.

Lifia berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini, ia tidak tega melihat wajah Papinya yang
saat ini menatapnya dengan sendu. "Kamu bilang kamu merindukan Papimu Lifia, kalau kamu
merindukan dia...peluklah dia sekarang!" Ucap Defran dengan nada memerintah membuat Lifia
mengangkat wajahnya dan ia menatap wajah Parmoko dengan sendu. Air mata Lifia menetes dan ia
ingin sekali memeluk Parmoko, namun hati kecilnya juga mengatakan pantaskah ia memeluk Papinya
setelah ia juga menuntup diri selama bertahun-tahun kepada sang Papi, agar tidak bertemu dengannya
lagi.

"Maafkan Papi Nak, kamu mau memaafkan Papi?" Tanya Parmoko membuat Lifia terisak dan ia
melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Parmoko, lalu memeluk Parmoko dengan erat.

1/7

Kerinduan seorang Anak


"Papi..." tangis Lifia terdengar begitu lirih. "Maafkan Lifia yang tidak pernah pulang, Lifia bukan tidak
ingin pulang Pi, bukan...hiks....hiks...Lifia hanya tidak ingin pengalaman buruk Lifia terulang lagi, apalagi
dia masih berada disini. Nggak ada satupun orang di Rumah ini yang percaya dengan ucapan Lifia Pi,
nggak ada," ucap Lifia.

Tinggal satu atap bersama Anya, hanya akan membuat hidupnya menderita apalagi Papinya sangat sibuk
berkerja, bahkan sering berada diluar kota. Berulang kali Anya mengancam akan mengusirnya dari
rumah atau meninggalkannya di Panti, jika berani tidak menuruti semua perintahnya. Lifia harus terlihat
menyebalkan agar Parmoko kesal dan terlihat lebih menyayangi Rima. Semua apa yang diberikan
Parmoko untuk Lifia, harus menjadi milik Rima hingga itu memancing keributan diantara Lifia dan Rima
saat ini. Peraturan yang ditetapkan Anya hanya untuk membuat Lifia menderita, apalagi Anya juga
mengancam Rima jika Rima tidak menuruti perintahnya, Rima yang akan tinggal di Panti asuhan.

"Papi salah nak, Papi tidak bermaksud membuat kamu marah apalagi benci sama Papi, Papi sayang sama
Lifia Nak!" ucap Parmoko sendu.

"Iya Pi, Lifia sayang sama Papi tapi Lifia dulu nggak bisa tinggal sama Papi, apalagi Papi pasti sangat
marah sama Lifia karena setiap Papi pulang Lifia selalu membuat masalah untuk Papi," ucap Lifia
membuat Parmoko menghela napasnya.

"Itu semua tidak benar Nak, kamu tidak salah sayang... Papi yang begitu bodoh hingga tidak
memperhatikan kalian Nak, maafkan Papi!" Lirih Parmoko.

"Papi...hiks...hiks" tangis Lifia.

"Sekarang kamu nggak marah lagi sama Papi, Nak?"

2/7
Kerinduan seorang Anak
Tanya Parmoko.

"Nggak Pi, Lifia nggak marah sama Papi," ucap Lifia membuat Parmoko melepaskan pelukannya dan ia
menatap wajah putrinya yang bersimbah air mata. Parmoko menghapus air mata Lifia dengan jemarinya
dan ia melihat wajah tampan yang telah menua itu, sangat mengkhawatirkan dirinya.

"Kamu mirip sekali sama Mami, perempuan baik yang sangat mencintai Papi, bahkan memaafkan semua
yang telah membuatnya kecewa. Papi jatuh cinta dengan perempuan lain ketika Papi telah bertunangan
dengannya, Papi dijodohkan oleh Nenek dan Kakek sejak kecil kepada Mamimu dan Mamimu tetap ingin
menikahi Papi, yang telah bercerai saat itu karena beliau sangat mencintai Papi," jelas Parmoko.

"Papi itu sangat tampan makanya banyak perempuan yang suka sama Papi, Papi kayak Mas Ronal," ucap
Lifia melihat Ronal yang saat ini telah mendekati mereka dan ia berdiri tepat disamping Defran Satyas.

"Papi sangat bersyukur kamu bahagia tinggal bersama Ibu dan Ayahmu yang juga sangat menyayangimu,
mereka selalu mewakili Papi menghadiri setiap momen indah dan momen sedih kamu selama ini Nak,"
ucap Parmoko bersyukur memiliki kakak ipar yang sangat baik seperti Murni dan Subekti.

"Iya Pi," ucap Lifia. "Pi...Lifia izin mau menikah dengan Mas Defran Pi!" Ucap Lifia dan ia menarik lengan
Defran agar mendekatinya. Parmoko tersenyum dan tentu saja ia setuju dengan Defran apalagi Defran
telah mengatakan niatnya itu terlebih dahulu padanya. Defran juga meminta secara khusus agar
Parmoko bersedia menjadi walinya Lifia. "Papi setuju kan, Pi!" Ucap Lifia membuat Parmoko tertawa.

"Hahaha...tentu saja Papi sangat setuju Nak, kalau

3/7

Kerinduan seorang Anak


kalian mau besok saja kalian menikah Papi siap mengadakan pernikahan sedapat kilat untuk kalian, apa
yang tidak Papi lakukan untuk kamu sayang, Papi bahkan juga telah mengajukan gugatan cerai kepada
Anya agar kamu tidak perlu bertemu dengannya lagi!" Ucap Parmoko yang sudah tidak bisa bersama
dengan Anya lagi. Kejahatan Anya harus diberikan hukuman setimpal, bukan hanya hukuman penjara
yang akan di terima Anya, tapi statusnya sebagai istrinya.

"Maksud Papi?" tanya Lifia seakan tidak percaya karena ia telah melihat bagaimana Papinya ini, terlihat
menyayangi istrinya selama ini.

"Ya Papi akan segera menduda dan sepertinya sendiri itu akan jadi lebih baik Nak, Papi sepertinya tidak
memerlukan istri karena ada anak-anak Papi pasti akan selalu ada untuk Papi," ucap Parmoko menatap
Ronal dan Lifia secara bergantian sambil tersenyum.

"Lebih baik Papi rujuk dengan ibu kandung saya Pi!


saya dengar Mami kandung saya itu sampai saat ini tidak pernah menikah lagi setelah bercerai dari Papi,
dia punya keluarganya sendiri memang benar, ada anak yang dulu Mami kira anak kandungnya. Anak
perempuan itu menyayangi Mami, dia adalah anak yang tukar oleh Anya," ucap Ronal membuat
Parmoko menghela napasnya.

"Untuk saat ini Papi ingin fokus dengan acara pernikahan Lifia dan juga proses hukum Anya harus
berjalan dengan semestinya," ucap Parmoko. "Sebenarnya yang Papi inginkan itu adalah acara
pernikahan Lifia harus semeriah mungkin," ucap Parmoko.

"Kalau itu sudah pasti Pi," ucap Defran.

"Ayo masuk Nak, masih banyak waktu untuk kita bisa berbincang bersama!" Ucap Parmoko.

"Iya Pi," ucap Lifia.

Mereka melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah

4/7

Kerinduan seorang Anak


dan menuju ruang makan. Lifia terkejut saat melihat semua keluarga telah berkumpul bahkan Ibu dan
Mami mertuanya, sepertinya telah membuat kesepakatan tentang pernikahannya bersama Defran
Satyas. Kana mendekatinya dan mencium kedua pipinya, "Selamat sayang selangkah lagi kamu akan jadi
istri Mas Defran sekaligus jadi adik ipar aku, sungguh hubungan yang aneh diantara kita," goda Kana.

"Iya mbak, siapa suruh kalau Mbak punya adik ipar setampan dia Mbak," ucap Lifia membuat Kana
tersenyum.

"Hmmm...Mbak Kiran mana?" Tanya Lifia mengedarkan pandangannya mencari sosok Kiran.

"Dia dijemput Handaru, sebentar lagi mereka sampai," ucap Kana.

"Mbak...bukanya mereka sedang berantem? Soalnya Mbak Kiran nggak ngebahas dia dan terlihat kesal
gitu Mbak," ucap Lifia.

"Benci-benci cinta kalau mereka berdua, paling nanti

setelah kalian berdua menikah mereka juga akan menikah,"

ucap Kana.

"Iya Mbak, semoga nggak berantem lagi ya Mbak," ucap Lifia.

"Justru aneh kalau mereka nggak berantem," ucap Kana.

Salsa dan Kila mendekati Lifia dan keduanya memeluk Lifia bergantian. Mereka sangat berhati-hati agar
lengan Lifia, tidak tersentuh karena saat ini lengan Lifia masih dalam pemulihan. Sebenarnya Lifia juga
ingin cepat-cepat menikah, namun ia ingin ketika resepsi tangannya sudah tidak digips lagi. Semua
keluarga saat ini sedang menentukan tanggal pernikahan dan juga resepsi pernikahan. Liana dan Murni
setuju untuk mengadakan resepsi setelah tangan Lifia sembuh. Namun Defran ingin akad nikah
dilakukan paling lambat minggu depan,

5/7

Kerinduan seorang Anak


sedangkan resepsi pernikahannya diadakan satu bulan lagi.

"Jeng, kalau dua bulan lagi saja mereka menikah bagaimana?" Tanya Liana dan ia sengaja mengatakan
hal ini dengan suara yang cukup besar agar Defran mendengarnya.

"Kalau aku Jeng terserah anak-anak maunya kapan!"

Ucap Murni.

"Saya maunya besok atau paling lambat minggu depan Lifia sudah menjadi istri saya dan resepsinya
diadakan satu bulan lagi!" Ucap Defran membuat mereka semua tersenyum. Ucapan Defran seperti
tidak ingin dibantah siapapun dan ia akan memaksanya, jika ada diantara keluarganya ini yang melarang
keinginannya itu.

6/7

Dia telah mempengaruhiku.


Dia telah mempengaruhiku
Kiran menghela napasnya, Handaru benar-benar marah padanya terbukti Handaru kemarin malam
hanya mengantarnya ke Kediaman Bagaspati dan kemudian Handaru memilih pulang tanpa pamit
padanya. Kiran jadi kepikiran dengan sikap Handaru, ia bahkan tidak fokus dengan pembicaraan
mengenai persiapan pernikahan Defran dan Lifia yang menjadi pembahasan kemari malam. Seolah
semua keceriaan malam itu hilang darinya karena memikirkan Handaru. la memang kesal dengan
Handaru yang tiba-tiba mengajaknya video call dengan kedua orang tuanya, membuatnya sangat malu
terlebih lagi penampilannya yang terlihat kusut.

Kiran bahkan menunggu Handaru mengirimkannya pesan atau menghubunginya, namun sejak semalam
Handaru tidak juga menghubunginya. Kiran sangat kesal dan entah mengapa ia paling tidak suka
merasakan perasaan seperti ini. "Kamu kayaknya marah banget ya Mas, sama aku," ucap Kiran kesal.
"Kemarin dalam perjalana ke Rumah Papinya Lifia, kamu diam saja," ucap Kiran mengingat Handaru
yang tiba-tiba mendiamkannya setelah perdebatan diantara keduanya terjadi.

Kiran mendengar ketukan pintu dan ia segera melangkahkan kakinya mendekati pintu kamarnya, lalu
membuka pintu kamarnya. Terlihat Murni tersenyum melihat Kiran dan ia masuk kedalam kamar Kiran.
"Kenapa nggak mau sarapan dan sekarang kayaknya nggak mau makan siang anak ibu ini, soalnya ini
udah jam dua dan kamu kelihatan nggak lapar, Nak?" Tanya Murni. "Ada apa? Kayaknya banyak pikiran,
cerita dong sama ibu!" Pinta Murni lagi.

1/6

Dia telah mempengaruhiku


"Nggak ada apa-apa... Bu," ucap Kiran tersenyum lembut. la malu untuk menceritakan masalahnya
apalagi pertengkaran diantara dirinya dan Handaru bukanlah pertengkaran pertamanya. "Bu nanti jam
lima sore aku ada acara Debat, Bu ditayangkan langsung secara live," ucap Kiran.

"Loh...kenapa sudah kerja aja kamu Kiran, bukannya kamu masih harus istirahat beberapa hari lagi?"
Tanya Murni menatap Kiran dengan tatapan sendu. Putrinya ini terlalu sibuk bekerja dan memang lebih
suka bekerja dari pada menghabiskan waktunya di Rumah.

"Nggak Bu, aku bosan Bu di Rumah terus, lagian aku juga mau bantuin persiapan pernikahan Lifia Bu,
nggak bisa diam aja di Rumah," ucap Kiran.

"Acara apa yang harus kamu hadiri sampai bela-belain sore ini mau pergi?" Tanya Murni.

"Acara debat Bu, debat kandidat calon gubernur," ucap Kiran. "Kebetulan Kiran dipercaya jadi
moderator,

pihak acara maunya Kiran Bu," ucap Kiran.

"Oke Nak, tapi kamu harus makan, apalagi kondisi tubuh kamu belum stabil, kepala kamu gimana?
Masih sakit nggak nak?" Tanya Murni.

"Nggak sakit lagi Bu, jahitannya juga sudah kering Bu, lukanya juga nggak terlihat karena nanti ditutupi
sama rambut palsu, hanya tiga jam kok Bu acaranya," ucap Kiran.

"Ya sudah kalau kamu sudah bisa bekerja tapi jangan ambil perkerjaan yang banyak dulu nak, lagian kan
sebentar lagi adek kamu mau menikah. Kamu juga harus meluangkan banyak waktu di Rumah!
Hmmm...kamu nggak mau cerita sama Ibu tentang hubungan kamu sama nak Handaru?" Tanya Murni
mengubah topik pembicaraan karena kemarin malam Handaru hanya mengantar Kiran dan ia segera
pamit pulang kepada Subekti suaminya.

2/6

Dia telah mempengaruhiku


Kiran menghembuskan napasnya, sebenarnya ia ingin bercerita banyak, namun ia merasa malu. "Dia
sedang marah sama Kiran Bu, Mas Handaru itu nyebelin banget Bu," ucap Kiran.

"Nyebelin gimana, niat dia itu pengen serius sama kamu Nak, tapi ya...kamu kayaknya belum mau serius
sama dia. Kamu nyesel nggak kalau tiba-tiba dia bosan menunggu kamu yang Yah.....kamu itu ambekan
sayang dan ibu itu kahwatirnya kamu memang nggak niat nikah," ucap Murni yang dulu sangat khawatir
dengan Kiran putrinya ini karena sangat dingin menanggapi beberapa laki-laki yang mendekatinya.
"Ayah dan Ibu rencananya mau jodohin kamu dengan anak temannya Ayah, tapi untung saja nggak jadi
karena keburu kamu sudah punya pacar. Pacar kamu hebat banget, idola ibu-ibu dan gadis-gadis cantik,"
ucap Murni.

"Mas Handaru nggak sehebat itu Bu, tetap saja dia juga ambekan gitu. Harusnya aku yang marah sama
dia ehhh...dibalik marah sama aku...Bu," ucap Kiran kesal.

"Udah damai saja Nak, kamu telepon dia lebih dulu!"

Ucap Murni tersenyum melihat kelakuan putrinya yang tidak ingat makan karena memikirkan
hubungannya dengan Handaru.

"Kalau dia mau ngajakin putus ya sudah Bu putus saja, Bu!" ucap Kiran kesal.

"Yakin mau putus?" Tanya Murni membuat Kiran menghela napasnya. la merasa terbiasa dengan
kehadiran Handaru dan hati kecil tak ingin hubungannya bersama Handaru berakhir begitu saja.

"Nggak tahu Bu, pusing..." ucap Kiran.

"Kalau ragu nggak usah mengambik keputusan karena emosi Nak, itu membuktikan kalau kamu itu
mencintai Nak Handaru. Buktinya kamu yang cuek dan tidak memikirkan perasaan laki-laki yang
biasanya kamu tolak, tapi sekarang

3/6

Dia telah mempengaruhiku


sikap kamu berbeda sama Nak Handaru. Ibu tahu kamu Nak, kamu sangat menyukainya," ucap Murni
membuat Kiran menghela napasnya. Nyatanya ia tidak mengerti dengan perasaanya saat ini, terlebih
lagi Handaru memang bersikap sangat berbeda dengan Handaru yang dulu ia kenal.

Handaru Laksamana terkenal dengan sikap dinginnya dan ucapannya yang tidak segan-segan menolak
dengan tegas perempuan yang ia sukai. Tapi Handaru ketika menyatakan cinta padanya sangatlah
berbeda, ia bahkan selalu mengalah kepadanya dan terus menujukkan rasa sayangnya dengan
mengatakan hal yang manis padanya. Apa benar Handaru mengubah sikapnya agar ia merasa nyaman
padanya.

Setelah pembicaraan Kiran dan Murni selesai, Kiran segera makan meskipun ia merasa tidak terlalu
lahap seperti biasanya. Handaru benar-benar sangat berpengaruh dalam hidupnya dan tentu saja, ia
bukannya hanya kesal, tapi menyayangkan sikap Handaru kepadanya yang tidak mengirimkan pesan
apa-apa hingga saat ini. Kiran melempar ponselnya keatas tempat tidurnya dan ia segera mandi untuk
bersiap-siap pergi kepada Debat kandidat calon walikota.

Setelah Mandi Kiran segera memakai baju kerjanya dengan rapi dan seperti biasanya, ia terlihat sangat
cantik dengan rambutnya yang terurai panjang, namun melihatbekas jahitan dikepalanya masih terlihat,
ia segera menguncir rambutnya dan memilih salah satu rambut palsu andalannya. Semua perisapan
untuk pergi ke Acara debat telah selesai, Lifia segera keluar dari kamarnya karena mobil online yang
telah ia peesan, telah sampai didepan rumah ini. Kiran pamit kepada Ibu dan Ayahnya, lalu ia segera
pergi dengan menggunakan mobil online menuju tempat dimana acara itu dilaksanakan. Ya...ia tidak
perlu lagi ke studio karena semua perlengkapannya telah

4/6

Dia telah mempengaruhiku


disiapkan oleh rekan kerjanya.

Kiran memasuki lobi hotel dan ternyata aula hotel tempat diadakan acara ini adalah hotel milik
keluarganya Handaru. Kiran sangat ingat nama belakang Handaru yaitu Handaru Laksmana Dewandaru
dan nama hotel bintang lima ini adalah Dewandaru hotel. Kiran telah disambut oleh salah satu kru
namun beberapa fans mendekatinya dan bahkan meminta untuk berfoto bersama. Kiran

melihat sosok Handaru yang tenryata juga datang pasa acara ini dan ia sama sekali tidak melihat
kearahanya seolah Handaru Laksamana Dewandaru tidak mengenalnya dan itu membuatnya sangat
kesal.

'Gila kenapa aku jadi cewek bodoh kayak gini sih...please Kiran nggak usah baperan sama cowok,' Batin
Kiran.

Kiran lagi-lagi melihat ponselnya dan berharap

5/6

Dia telah mempengaruhiku


Handaru akan menyapanya lewat chat, namun lagi-lagi Handaru tidak mengirimkan chat padanya.
Setelah melayani beberapa fansnya untuk mengajaknya foto bersama Kiran segera melangkahkan
kakinya masuk kedalam tempat diadakan acara debat ini. Beberapa orang terlihat sedang menatapanya
dan Kiran mencoba menghindari para massa dari beberapa calon Gubernur. la melangkahkan kakinya
duduk santai ditempat moderator sambil mempersiapkan dirinya untuk acara ini. la mencoba
menenangkan pikirannya dan tidak terpengaruh dengan masalah pribadi yang sedang ia hadapi. Kiran
fokus membaca berkas dan randown acara hari ini dan hanya butuh beberapa menit bagi seorang Kiran,
untuk paham dengan apa yang harus ia lakukan pada acara debat kandidat ini.

Semua orang terlihat telah berkumpul dan Kiran menolehkan kepalanya ke belakangnya. la melihat
Handaru Laksamana Dewandaru hadir sebagai tamu diacara ini. Seorang praktisi hukum yang masih
muda namun sangat dihargai karena kemampuannya yang sangat luar biasa dibidang hukum. Kira
menghela napasnya karena lagi-lagu Handaru seolah tidak menyadari keberadaannya saat ini.

Vote
17

Comments

6/6

Kamu yang marah.


Kamu yang marah
Acara Debat dimulai, Kiran terlihat sangat menawan ketika berbicara dan ia memang sangatlah cerdas
hingga dikagumi para kaum adam. Sungguh pemandangan indah dan kekaguman yang luar biasa pada
sosok cantik yang saat ini menjadi salah satu pusat perhatian diacara ini. Debat diadakan dengan
beberapa sesi, bahkan panitia juga menyiapkan berbagai pertanyaan untuk para calon gubernur dan
juga para calon gubernur nanti, disesi selanjutnya juga akan saling melemparkan pertanyaan kepada
calon gubernur lainnya.

Kiran memang sudah terbiasa menjadi moderator, pembicaran bahkan menjadi pembawa acara
diberbagai kesempatan. Sebenarnya ia hampir saja tidak bisa menjadi moderator hari ini, karena
kecelakaan yang terjadi padanya namun untung saja keadaan telah pulih. Kiran melihat salah satu
moderator cadangan yang telah disiapkan pihak panitia jika kondisinya tiba-tiba memburuk.
Ya...kesempatan emas bagi perempuan cantik lainnya yang juga berprofesi sama dengannya. Untung
saja semua berjalan dengan lancar hingga akhir acara dan penampilan

Kiran terlihat sempuran seperti biasanya.

"Terimakasih kepada hadirin semuanya yang sudah berpartisipasi dengan baik dan mengikuti tata tertib
debat calon gubernur dan wakil gubernur hari ini, kita sudah mendengarkan visi dan misi calon gubernur
dan wakil gubernur kita, untuk permirsa yang ada di Rumah yang menonton acara ini, semoga dengan
acara Debat ini kita semua dapat menentukan pilihan kita secara cerdas dan bermartabat. Saya Kiran
Ayu sekali lagi saya mengucapkan Terimakasih karena telah diberikan kesempatan untuk

1/6

Kamu yang marah


menjadi moderator hari ini dan Akhir kata, sampai jumpa dilain kesempatan, Assalamualaiku, Wrb."
Kiran menutup acara ini dengan sangat baik dan terdengar suara para pendukung massa dari setiap
pasangan calon gubernur memenuhi aula ini.

Beberapa tamu dan juga pejabat terkait yang diundang pada acara ini mendekati Kiran dan menjabat
tangan Kiran. Kiran mengedarkan pandangannya dan ia mengehla napasnya karena Handaru tega tidak
menyapanya bahkan telah pergi meninggalkannya. la melangkahkan kakinya dengan pelan menuju
ruang khusus yang telah disediakan untuk pembawa acara dan moderator. "Mbak Kiran, boleh
wawancara sedikit!" Pintanya. Kiran melihat jam dipergelangan tangannya dan harusnya ia segera
pulang karena jam sudah menujukkan pukul dua belas malam.

"Boleh, tapi nggak bisa lama ya Mbak, Mas..." ucap Lifia tersenyum ramah.

"Baik Mbak," ucap salah satu dari mereka.

"Kita mulai ya Mbak!" Ucapnya. Kiran menganggukkan kepalanya dan seperti biasa ia akan menujukkan
senyum ramahnya. "Kamu ingin menanyakan mengenai kecelakaan yang menimpa Mbak Kiran dan
Mbak Lifia, bagaimana keadaan Mbak Kiran sekarang?" Tanyanya.

"Alhamdulilah saya sudah pulih, saya memang memakai rambut palsu ini karena ada jahitan sedikit
dikepala saya," ucap Kiran menujuk bagian kepalanya yang terluka tapi ia memang tidak membuka wig
yang ia pakai.

"Alhamdulilah, Mbak saya mau nanya apa benar berita yang mengatakan Mbak sekarang berpacaran
dengan salah satu anggota dewan Mbak?" Tanyanya.

"Enggak, saya tidak pernah berpacaran dengan anggota Dewan," ucap Kiran tegas.

2/6

Kamu yang marah


"Kalau begitu apa sekarang Mbak Kiran masih sendiri?" Tanyanya membuat Kiran menelan ludahnya dan
sepertinya ia harus jujur jika saat ini ia sudah memiliki kekasih agar tidak ada yang menciba
mendekatinya lagi.

"Saya sudah ada pacar dan mohon doanya saja agar bisa disegerakan," ucap Kiran membuat keduanya
tersenyum.

"Wah...kita jadi penasaran Mbak, siapa pacar Mbak Kiran," ucapnya.

Kiran tersenyum dan ia belum bisa mengatakan jika ia saat ini berpacaran dengan Handaru karena
statusnya saat ini juga masih belum jelas. Handaru bahkan mengacuhkannya dan tidak
memperdulikannya membuatnya merasa kesal namun ia menciba menahan dirinya untuk tidak
menghubungi Handaru lebih dulu. Wawancara dilanjutkan dengan membahas masalah mengenai politik
dan setelah wawancara selesai, Kiran segera pamit pulang. la mengambil ponselnya dan mencari mobil
online, Kiran melihat sebuah mobik berhenti didepannya.

"Masuk!" Ucapnya membuat Kiran mengangkat wajahnya dan ia bernafas dengan lega karena yang
memintanya masuk kedalam mobil adalah Handaru.

Kiran masuk kedalam mobil Handaru, dari pada ia harus pulang dengan mobil online lebih baik ia masuk
kedalam mobil Handaru dan ia bisa pulang dengan selamat. Handaru melajukan mobilnya dengan
kecepatan sedang, Kiran melirik Handaru dan ia bingung harus memulai pembicara atau tidak. Baru kali
ini ia memiliki perasaan yang seperti ini hingga membuatnya serba salah serta bingung harus melakukan
apa. Ponsel Handaru berbunyi membuatnya segera mengangkatnya.

"Assalamualikum, Yah...iya ini dijalan, oke Yah...siap,

3/6

Kamu yang marah


Walaikumsalam," ucap Handaru menutup ponselnya.

Yah...kata itu membuat Kiran penasaran dengan siapa yang baru saja menghubungi Handaru. "Itu
Ayahku yang menelpon kamu?" Tanya Kiran.

"Iya," ucap Handaru singkat membuat Kiran menatap Handaru dengan tatapan menyelidik karena ia
sangat penasaran apa yang dibicarakan Ayahnya hingga lebih memilih menghubunginya dari pada
memghubungi dirinya.

Kiran membuka ponselnya dan ternyata ada pesan dari Ayahnya, Ayahnya mengatakan jika ia
mengizinkan Kiran menginap di apartemen Handaru, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat
dimana hotel tempat acara debat berlangsung. Tadinya Kiran memang ingin menginap dihotel saja, jika
ia tidak mendapatkan tumpangan untuk pulang. Kiran lelah dan ia tidak ingin berdebat dengan Handaru,
ia menyandarkan punggungnya dengan santai. Sesekali Handaru melirik Kiran dan ia membiarkan Kiran
bersantai. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Apartemen dan Kiran membuka matanya.

"Ayo turun!" Perintah Handaru. la melihat Kiran yang terlihat patuh padanya dan melangkahkan kakinya
turun dari mobil sesuai perintahnya.

Keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam lobi Apartemen dan Kiran melihat kearah tangan
Handaru.

Entah mengapa ia menjadi ingin memegang tangan itu. Kiran menghela napasnya dan ia menahan
dirinya untuk tidak melakukan itu. Keduanya saat ini berada didalam lift, lift terbuka namun Kiran yang
sibuk dengan pemikirannya tidak melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, membuat Handaru
menarik tangannya agar mengikutinya keluar dari lift. Kiran mengikuti Handaru yang saat ini masuk
kedalam Apartemennya.

"Malam ini kamu tidur disini!" Ucap Handaru.

4/6

Kamu yang marah


"Iya terimakasih," ucap Kiran.

"Tidur dikamar, tapi sebelum tidur kamu makan dulu!" Ucap Handaru.
"Makasih Mas, nggak usah Mas aku sudah kenyang!"

Ucap Kiran. "Hmmm...besok saja makannya," ucap Kiran.

Kiran melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar namun saat berada didepan pintu, ia menjadi ragu
untuk

tidur dikamar Handaru, sementara Handaru tidur disofa yang ada diruang tengah. Handaru masih marah
padanya terlihat dengan sikapnya yang terlihat begitu dingin padanya. Kiran kembali keluar dari kamar,
ia mendekati Handaru yang sedang membuka baju atasannya membuat Kiran sangat terkejut ketika
d**a bidang dan perut yang berotot itu terlihat. Handaru menolehkan kepalanya melihat Kiran dan ia
mengerutkan dahinya.

5/6

Kamu yang marah


"Ada apa?" Tanya Handaru.

"Kamu tidur disini Mas?" Tanya Kiran.

"Iya," ucap Handaru.

"Kamu saja yang tidur di Kamar, biar aku yang tidur disofa!" Ucap Kiran.

Handaru menghembuskan napas lelahnya dan ia sangat kesal dengan sikap Kiran yang ingin
membantahnya. "Jangan membantah!" Ucap Handaru dan ia mendekati Kiran, lalu menarik tangan Kiran
masuk kedalam kamar. "Kamu tidur dikamar ini dengan nyaman, kalau kamu merasa tidak nyaman
dengan saya yang berada didalam satu Apartemen sama kamu, saya akan tidur di Apartemen Defran!"
Ucap Handaru dingin.

"Kamu kenapa bicara kayak gini sama aku Mas, kalau masih marah sama aku bilang!" Ucap Kiran kesal.

Handaru melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan ia membaringkan tubuhnya disofa sedangkan,
Kiran segera mengambil baju Handaru yang ada dilemari. Kiran mengambil baju milik Handaru dan tentu
saja ia tidak pamit kepada sang pemilik apartemen untuk meminjam bajunya karena kesal. Jika keluar
dari kamar ini dan kembali mendekati Handaru makan ia akan kembali berdebat dengan Handaru.
Setidaknya malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak, karena ia telah bertemu dengan Handaru dan besok
Kiran akan berusaha berbicara dengan Handaru, lalu mengajaknya berdamai.

Comments

Vote

12

6/6
Sabar bisa.
Sabar bisa
Handaru menatap pintu kamar Kiran dan ia mengerutkan dahinya, karena Kiran sangat keras kepala
sama seperti dirinya. Jika ia tidak mengalah dan menunggu Kiran pulang, Kiran tidak akan
menghubunginya. Kiran merasa ia bisa mandiri tanpa pertolongan siapapun dan sikapnya ini membuat
Handaru kesal. Handaru ingin Kiran bergantung padanya, namun ternyata Kiran tetap keras kepala
hingga mengacuhkannya dan tidak menghiraukan keberadaan dirinya. Handaru membaringkan
tubuhnya disofa, ia memejamkan matanya dan mencoba untuk terlelap.

Satu jam berlalu Kiran tidak bisa tidur karena ia merasa gelisa dan tidak enak karena telah tidur
diranjang Handaru dengan nyaman, tapi Handaru tidur disofa yang berada diluar kamar. Kiran
mengambil selimut dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. la mendekati Handaru yang
sepertinya telah tertidur pulas dan ia mengerjapkan kedua matanya, saat melihat wajah tampan itu
terlihat begitu menggoda hingga ia menelan ludahnya ketika bibirnya menatap bibir seksi Handaru.

'Asatga kenapa sih ini otak mikirinnya yang aneh-aneh banget, Batin Kiran kesal.

Kiran menghembuskan napasnya dan ia meletakkan selimut disofa, lalu meneliti wajah tampan Handaru.
la bahkan mengangkat tangan Handaru yang berada dibawah lalu menaikannya dengan pelan, agar
berada diatas perut Handaru. la menatap Handaru dengan tatapan menilai, tubuh Handaru memang
terlihat ateltis dan bukan itu saja otot-otot ditubuh Handaru seolah menggodanya, untuk menyetuhnya
bahkan memeluknya. Lifia menghela

1/6

Sabar bisa
napasnya jika seperti ini terus ia bisa gila hanya dengan memikirkan seorang Handaru Laksamana
Dewandaru, terbukti laki-laki tampan ini telah mempengaruhinya bahkan bodohnya ia memiliki nafsu
sebagai perempuan, yang juga menginginkan pelukan hangat dari laki-laki tampan yang sedang terlelap
ini.

"Kamu itu tampan tapi nyebelin banget, kayak bunglon Mas. Aku itu bingung sama sikap kamu yang bisa
manis, nyebelin, sombong, acuh. Kamu itu yang aslinya gimana sih Mas..." kesal Kiran dan ia
mengurungkan niatnya yang ingin mengelus pipi Handaru.

Kiran tidak menyadari jika saat ini Handaru menyadari keberadaanya, bahkan mendengar ucapannya, ia
menahan dirinya untuk tidak bangun dan menarik Kiran masuk kedalam pelukannya. Sosok yang
teramat ia rindukan dan ia inginkan berada dipelukannya, namun Kiran telah membuatnya kesal karena
sepertinya menolak untuk segera menikah dengannya. Handaru merasa ia tidak mungkin terus menerus
bisa bertahan untuk tidak mememlik perempuan cantik yang semakin hari semakin membuatnya
tergoda untuk segera memilikinya, belum lagi banyak lelaki yang berusaha mendapatkannya hingga
setiap saat ia harus sangat waspada.
Handaru tidak mungkin memperlihatkan sikap posesif, overprotektif dan rasa cemburunya yang begitu
besar kepada Kiran saat ini, karena hanya akan membuat Kiran berpikir ulang untuk menikahinya. la
ingin Kiran telah menjadi istrinya dan dengan perlahan, ia akan menujukkan sikap aslinya yang ingin ia
lakukan kepada Kiran sebagai seorang suami. Kiran menyelimuti tubuh Handaru dengan selimut.
"Untung saja aku itu baik sama kamu, setelah kamu membuat aku kesal Mas. Aku ini bukan perempuan
yang nggak tahu diri dengan membiarkan kamu pemilik apartemen ini tidur disofa yang nggak nyaman
begini, sedangkan aku tidur dikamar kamu. Aku

2/6

Sabar bisa
hanya bisa memberikan selimut ini ya Mas..." ucap Kiran pelan.

Handaru menyunggingkan senyumannya yumannya dan dengan cepat ia segera mengubah mimik
wajahnya, agar terlihat benar-benar terlelap. Kiran kembali menatap wajah Handaru dengan tatapan
kagum, hingga membuat wajahnya bersemu merah, lalu ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat
untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Handaru membuka matanya dan ia menyunggingkan
senyumannya, sepertinya perjuangannya selama ini akan segera membuahkan hasil. Kiran memang
tidak ingin menujukkan perhatiannya selama ini padanya, tapi hari ini Kiran sedikit mengkhawatirkan
dirinya yang tidur tanpa selimut disofa. Handaru memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama
saat ini ia benar-benar tertidur lelap.

Pagi menjelang, pintu terbuka membuat Kiran tekejut ketika mendapati Handaru sedang melangkahkan
kakinya menuju kamar mandi. Semalam ia memang tidak mengunci pintu kamar karena jika Handaru
terbangun dan ingin tidur disampingnya, ia akan mengizinkannya. Kiran mempercayai Handaru yang
tidak akan berbuat yang macam-macam tanpa seizinnya. Ya seizinnya tentu saja dan bodohnya dengan
kertarikan fisik yang begitu besar diantara mereka, bisa saja mereka akan melakukan hal yang
seharusnya tidak mereka lakukan karena saling sukses. Dosa yang sudah ada didepan mata dan itu
membuat Kiran menghembuskan napas kasarnya. Handaru melihat kearahnya dan tatapan keduanya
bertemu.

Kiran beraharap Handaru akan menyapanya dengan senyuman seperti biasanya namun ternyata tidak,
Handaru masih mendiamkannya. Handaru |

Saat ini sedang melaksanakan ibadah sholat subuh dan itu tak luput dari tatapan Kiran. 'Kalau aku jadi
istri kamu, aku pasti akan sering lihat kamu berada dikamar ini

3/6

Sabar bisa
Mas,' Batin Kiran. 'Astaga kenapa sih...pikiranku udah kesana saja. Ingat Kiran berumah tangga itu nggak
mudah, terlebih lagi kalau nggak ada rasa cinta, ucap Kiran.
Kiran masih belum benar-benar percaya jika saat ini, ia telah mencintai Handaru Laksamana Dewandaru.
Setelah sholat subuh, Handaru menuju dapur dan ia membuatkan sarapan sedangkan Kiran segera
mandi, lalu melaksanakan sholat subuh. Kiran merapikan muken dan sajadahnya lalu ia merapikan
penampilannya. Kiran membuak pintu kamar dan ia mencium aroma roti panggang dengan telur dadar
yang membuatnya segera melangkahkan kakinya menuju dapur dan ia melihat Handaru yang sedang
menggunakan mesin kopi. Handaru meletakkan dua cangkir kopi diatas meja dan ia duduk disana,
sedangkan Kiran masih berdiri terpaku menatap meja makan dan ia telihat ragu untuk mendekat.

"Ayo sarapan!" Perintah Handaru.

"Oke," ucap Kiran pelan dan ia duduk dihadapan Handaru. Menolak ajakan Handaru untuk sarapan
bersama membuatnya merasa akan sangat dirugikan, apalagi Handaru yang telah menyiapkan sarapan
ini untuknya.

Keduanya makan dengan pelan dan Kiran berusaha menahan dirinya untuk tidak memulai percakapan.
la sebenarnya ingin mengatakan keberatannya dengan sikap Handaru yang dingin padanya. Ponsel Kiran
berbunyi membuat Kiran segera mengangkatnya. "Halo Assalamulaikum, Bu," ucap Kiran.

"Waalaikumsalam, Nak," ucap Murni. "Hari ini kamu libur kan Nak?" Tanya Murni.

"Iya Bu, nggak ada jadwal kerja Bu," ucap Kiran.

"Ibu bisa minta tolong nggak sama kamu?" Tanya Murni.

"Bisa Bu, ada apa Bu?" Tanya Kiran.

4/6

Sabar bisa
Mendekati acara akad nikah adiknya, ibunya ini pasti akan sangat sibuk. " Ini Ibu ada pesanan kue, nanti
kamu yang antar ya Nak! Nggak enak kalau dianterin crab atau rojol Nak!" Ucap Murni.

"Iya Bu," ucap Kiran.

"Iya soalnya kuenya ini untuk Maminya Nak Handaru, Ibu udah janji mau buatin Maminya Nak Handaru
kue jadi kamu yang anterin ya!" Ucap Murni membuat Kiran

melototkan matanya.

"Ibu sekongkol sama Mas Handaru?" Tanya Kiran dan ia menunjuk Handaru dengan kesal. "Bu...kenapa
harus Kiran coba yang anterin kuenya?" Tanya Kiran kesal dan ia terlihat sangat prustasi.

"Kiran sayang, itu kan calon mertua kamu nak. Ibu sebenarnya mau ikut juga ketemu calon Mami
mertua kamu, tapi ibu mau pergi sama Jeng Liana. Kita mau ke

5/6
Sabar bisa
desainer bajunya Lifia. Akad nikahnya kan tinggal hitungan hari Nak, kamu tolong ibu ya Nak!" Ucap
Murni dengan nada memaksa.

"Iya Bu, sudah ya Bu...Assalamualikum," ucap Kiran dan ia menutup ponselnya dengan kesal, lalu ia
menatap Handaru dengan tajam.

"Ini ulah kamu kan Mas?" Tanya Kiran kesal. "Kenapa sih Mas harus kayak gini? kamu nggak bisa sabar
dulu biarkan aku itu siapkan hati aku dulu ketemu orang tua kamu," ucap Kiran.

"Kalau kamu nggak mau ketemu Mami saya, tidak apa-apa!" Ucap Handaru sambil meminum kopinya
dengan santai.

"Mas...kamu itu maunya apa?" Tanya Kiran prustasi.

Handaru menatap Kiran dengan datar. "Tidak perlu kamu tanya saya maunya apa, karena kamu sudah
tahu jawaban apa yang saya inginkan dari kamu!" Ucap Handaru dingin.

Comments

Vote

14

6/6

Gengsinya aku.
Gengsinya aku
Setelah selesai sarapan, Kiran mencuci piring dan ia sesekali melirik Handaru yang sedang mengubungi
seseorang. la menyusun piring yang telah ia cuci lalu ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam
kamar untuk mengambil tasnya. Sepertinya Handaru sama sekali tidak bisa ia ajak bicara karena
Handaru masih menujukkan sikapnya yang sangat menyebalkan.

"Saya mau pulang," ucap Kiran yang saat ini telah berada dihadapan Handaru.

"Sebentar," ucap Handaru.

"Nggak perlu diantar!" Ucap Kiran.

"Oke," ucap Handaru membuat Kiran membuka mulutnya dan ia yang kesal segera keluar dari
Apartemen Handaru dengan kesal.

Handaru Laksmana Dewandaru telah membuatnya benar-benar kesal, seharusnya Handaru seperti
biasanya membujuknya dan mengantarnya pulang tapi tidak, Handaru sama sekali tidak mengantarnya
pulang. Kiran masuk kedalam lift dan ia segera memesan mobil online. la keluar dari dalam lift dan saat
ini ia menuju mobil online yang sebentar lagi datang. Kiran menolehkan kepalanya berharap Handaru
akan datang mendekatinya, lalu mengantarnya pulang namun tidak, Handaru tidak datang seperti
harapannya. Mobil online telah berada didepan dan ia melangkahkan kakinya menuju mobil online itu,
lalu segera masuk kedalam mobil.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tuanya. Kiran merasa sangat kesal,
sudah beberapa kali, hatinya menjadi sangat tidak baik-baik saja karena Handaru. Handaru berbicara
seperlunya padanya,

1/6

Gengsinya aku
tidak membujuknya seperti biasanya dan itu membuatnya benar-benar sangat kesal. Kiran menatap
jalanan dan ia merasa hatinya bergemuruh karena sedih diperlakukan seperti ini oleh Handaru. la
mengambil ponselnya dan menghubungi Ike sahabatnya.

"Assalamualikum Ke," ucap Kiran.

"Waalikumsalam," ucap Ike.

"Gue lagi kesal Ke, kesal banget butuh lo buat dengerin cerita gue dan beri pendapat lo juga tentang
masalah si cowok kambing," ucap Kiran.

"Siapa sih best, makhluk Adam yang membuat lo jadi kayak gini? Kambing memangnya dia nggak mandi
atau mirip kambing?" Tanya Ike.

"Si laki-laki kurang ajar Best, nyebelin banget dan tegaan sama gue, dia mah ganteng gue aja yang kesal

makanya bilangin dia kambing," ucap Kiran.

"Loh lok gue jadi penasaran siapa sih cowok yang bisa membuat sahabat gue ini meresa kesal banget
gitu," ucap Ike.

"Si kambing Handaru," ucap Kiran membuat Ike terkekeh.

"Hehehe...Jadi kamu sekarang lo sudah beneran punya hubungan spesial sama Handaru nih? ini
Handaru pengacara itu kan hmmm...anak Pak Mentri?" Tanya Ike.

"Iya Ke, siapa lagi yang namanya Handaru Laksmana selain dia," ucap Kiran.

"Ada kok, anaknya Tante Erna dan Pak Abib dan dia sepupunya suami aku," ucap Ike membuat Kiran
menelan ludahnya dan ia hampir lupa, kalau nama belakang suaminya Ike juga Dewandaru.

"Astaga gue hampir lupa kalau dia sepupu suami lo, Ke," ucap Kiran.

2/6
Gengsinya aku
"Hahaha...mereka memang kalangan yang menyebalkan, tapi kalau udah cinta beuh...baiknya kayak
suami gue Ran, percaya deh!" Ucap Ike. "Jadi dia kenapa?" Tanya Ike penasaran. Kiran jadi ragu untuk
mengatakan apa yang terjadi pada dirinya dan Handaru. "Tenang saja gue dipihak lo Ran!"

ucap Ike menyakinkan Kiran, agar menceritakan permasalahannya dengan Handaru.

Kiran menceritakan semuanya kepada Ike hingga Ike yang saat ini sedang duduk dihadapan suaminya
itu, tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Kiran.

"Hahaha....Fix lo nikah saja sama di Ran! Gue setuju. Lo itu udah jatuh cinta sama dia, lo aja yang nggak
sadar. Lo kesal dan marah sama dia itu artinya dia sangat penting buat lo!" Ucap Ike.

"Kayaknya gue nggak cinta tuh..." ucap Kiran mencoba menyangkal perasaannya.

"Nggak mungkin nggak cinta Ran, udah kelihatan banget loh itu butuh perhatiannya dia, lo kesal kan dia
nggak kayak dulu sama lo yang menujukkan rasa sayangnya," ucap Ike.

"Nggak tahu Ke, udah dulu ya Ke...Assalamualikum," ucap Kiran.

"Waalikumsalam," ucap Ike.

Kiran menutup sambungan teleponnya dan ia menghela napasnya. la memikirkan ucapan Ike dan ia
membuka ponselnya, lalu melihat foto Handaru di sosial media. 'Sial kayaknya gue udah diracun sama
nih orang...!'

ucap Kiran dan ia menarik napasnya, lalu ia menghembuskan napasnya karena kesal.

Kiran sampai di kediaman orang tuanya dan benar saja rumah terlihat sepi. la menuju dapur dan melihat
kue yang ada diatas meja serta memo yang tertempel disana. Itu artinya ia harus pergi ke Rumah orang
tua Handaru

3/6

Gengsinya aku
sebentar lagi. Kiran masuk kedalam kamarnya dan ia membaringkan tubuhnya di ranjang. la menahan
dirinya untuk tidak menghubungi Handaru, agar mau menjemputnya bertemu orang tuanya. "Massa aku
harus datang ke Rumah orang tuanya sendirian...Arghh...nyebelin banget kamu Mas," kesal Kiran
prustasi. "Nyebelin...ih...ngeselin..." teriak Kiran.

Suara ketukkan pintu membuat Kiran segera

membuka pintu kamarnya dan terlihat sosok tampan yang saat ini menatapnya dengan kesal. "Mbak
ngapain teriak-teriak!" Ucapnya kesal membuat Kiran terkejut dan ia segera memeluk adik bungsunya
ini dengan erat.
"Altaf sayangku...cintaku...kasihku...Mbak kangen banget sama kamu. Kamu cuti ya dek makanya bisa
pulang," ucap Kiran dan ia mencium kedua pipi Altaf. "Mbak rindu banget sama kamu," ucap Kiran
membuat bulu kuduk Altaf meremang. Altaf memang memang cuti beberapa hari, untuk menghadiri
acara akad nikah Defran dan Lifia.

"Astaga ini anak gadis kok liar banget sih...pakek cium-cium dan nyatain cinta segala..." ucap Altaf kesal.

"Altaf please mau ya...!" Pinta Kiran menatap Altaf dengan tatapan memohon.

"Mau apa Mbak? Ini baiknya sudah bisa ditebak pasti karena ada maksud tersembunyi," ucap Altaf kesal
dan ia mengerutkan dahinya menunggu apa yang dinginkan Kiran, sampai dia mengeluarkan kalimat
manis padanya.

"Begini...Mbak diminta ke Rumah orang tua Mas Handaru sama Ibu, mau antar pesanan kue," ucap
Kiran.

"Terus hubungan sama aku apa Mbak?" Tanya Altaf sinis.

4/6

Gengsinya aku
"Temenin Al, please...massa Mbak datang sendiri kesana dan Mbak belum pernah datang kesana
bertemu Maminya Mas Handaru!" Ucap Kiran.

"Harusnya Mbak itu minta jemput sama Mas Handaru, sekalian dikenalin secara resmi bukan hanya jadi
pengantar kurir kue Mbak," ucap Altaf.

"Dia marah sama Mbak Al," ucap Kiran.

"Wah lagi berantem nih kayaknya seru, cerita dong

Mbak!" Goda Altaf membuat Kiran memutar kedua bola matanya jengah dengan sikap Altaf.

"Udah deh...nggak jadi minta tolong sama kamu!"

kesal Kiran. "Keluar Al, Mbak nggak rindu sama kamu dan harusnya kamu pulangnya saat akad nikah
saja, biar rumah ini tenang!" Ucap Kiran murka membuat Altaf

5/6

Gengsinya aku
menyunggingkan senyumannya dan dengan santai ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

Kiran menghela napasnya dan sepertinya ia harus pergi sendiri ke Kediaman orang tua Handaru. la
segera mencari baju yang cocok untuk berkunjung menemui orang tua Handaru dan ia sangat prustasi
karena bingung baju apa yang cocok untuknya. "Astaga kenapa aku jadi bingung begini," ucap Kiran. la
memutuskan untuk memakai baju santai yang terlihat sopan, namun lagi-lagi setelah melihat
penampilannya dikaca ia merasa tidak percaya diri. Kiran akhirnya memakai baju stelan dengan rok dan
juga baju atasan kemeja. "Udah kayak gini aja," ucap Kiran.

12

Comments

Vote

6/6

Pengen mukul.
Pengen mukul
Kiran tiba-tiba merasa gugup dan ia keringatnya menetes didahinya, karena jujur saja datang ke Rumah
orang tua Handaru membuatnya mentalnya benar-benar teruji. la bahkan merasa gugup dibandingkan ia
yang sedang menghadapi sidang sikripsi atau dulu ketika ia wawancara kerja. Kiran memang belum
pernah datang ke Rumah Orang tua Handaru, dan ia mendapatkan alamatnya dari Ike karena Kiran yang
masih saja gengsi menghubungi Handaru. Kiran berharap ketika ia datang ia tidak perlu bertemu
Handaru dan bahkan hanya bertemu maid yang bekerja di kediaman orang tua Handaru, lalu ia akan
langsung pulang setelah menyerahkan kue yang ada dipaperbag yang ia bawa ini.

Mobil yang mengantar Kiran berhenti didepan pagar yang terlihat tinggi dan kokoh ini. Rumah ini
terlihat sangat megah dan mewah, apalagi dang pemilik bukan hanya perang mentri di negara ini tapi ia
juga berasal dari keluarga pengusaha yang sukses. Kiran turun dari dalam mobil membuat seorang
Satpam mendekatinya, satpam itu segera tersenyum melihat Kiran dan tanpa banyak bertanya, ia
mempersilahkan Kiran untuk masuk kedalam rumah, bahkan ia mengantar Kiran menuju bangunan
utama di Kediaman ini dengan berjalan kaki bersama.

Jarak antara pagar rumah ini dengan bangunan utama cukup jauh, untung saja tadi Kiran memakai
sepatu flat hingga memudahkannya untuk melangkahkan kakinya.

"Masuk saja Mbak, Ibu sudah menunggu Mbak Kiran," ucap maid itu dan ia terlihat sangat sopan
padanya.

"Iya terimkasih Pak," ucap Kiran. la menatap pintu besar itu dan Kiran menghembuskan napasnya.

1/7

Pengen mukul
Kiran menghentikan langkah kakinya dan melihat sebuah mobil berhenti didepan bangunan utama, lalu
sosok laki-laki yang juga tampan keluar dari dalam mobil. Kiran mengira laki-laki itu adalah Handaru,
karena wajahnya mirip dengan Handaru tapi ternyata laki-laki itu Marco adiknya Handaru. Marco keluar
dari dalam mobil dan ia menyunggingkan senyumannya, melihat kehadiran Kiran di Rumah ini.
"Wah...ada Kiran," ucapnya melangkahkan kakinya mendekati Kiran.

"Loh mana Mas Handaru?" Tanya Marco mengedarkan pandangannya.

"Nggak tahu," ucap Kiran ketus membuat Marco tersenyum.

"Yaudah ayo masuk Kiran!" Ajak Marco dan sedikit kegugupan yang dialami Kiran sejak tadi akhirnya
berkurang dengan kehadiran Marco, yang mencairkan suasana.

Keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam Kediaman Abib Laksamana, "Mas Marco..." panggil
Kiran.

"Ya..." ucap Marco.

"Sandra mana?" Tanya Kiran membuat Marco menghentikan langkah kakinya.

"Kiran, saya mohon jangan dulu bahas Sandra!

Soalnya saya lagi menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepada orang tua
saya!" Ucap Marco. "Hubungan saya dengan Sandra juga belum membaik, dia masih salah paham sama
saya. Sebenarnya nanti saya akan memberitahu Mami dan Papi, setelah kamu dan Mas Handaru
menikah!" Ucap Marco membuat Kiran membuka mulutnya. Apa kaitan pernikahannya dengan Handaru
dengan masalah Marco dan Sandra.

"Kok gitu?" Tanya Kiran.

"Begini, hmmm...paling nggak keinginan Papi

2/7

Pengen mukul
mendapatkan kamu sebagai menantunya terpenuhi, asal kamu tahu ya...dulu kita selalu mendengar Papi
memuji-muji kamu setiap acara kamu ditayangkan di Tv, Papi bilang dia ingin Mas Handaru menjadikan
kamu istri," ucap Marco.

Kiran menghela napasnya dan entah mengapa hatinya merasa kesal, jika yang sebenarnya yang
mendorong Handaru mendekatinya itu karena keinginan Abib Laksamana dan bukan keinginan Handaru.
"Ayo kayaknya Mami sudah menunggu kita di ruang keluarga!" Ucap Marco.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan disana perempuan parubaya yang cantik
dan ayu itu tersenyum melihat kedatangan keduanya, yang saat ini melangkahkan kakinya
mendekatinya. "Assalamualikum," ucap Kiran dan Marco bersamaan.

"Waalikumsalam, Kiran...calon mantu Mami," ucap Ariani Ernalita Mami kandung Handaru dan Marco
yang terlihat sangat antusias melihat kedatangan Kiran.
Ariani adalah panggilan kesayangan Abib kepada istrinya ini, namun semua orang dikeluarganya selalu
memanggilnya dengan Erna. Erna mencium pipi kanan dan kiri Kiran, lalu ia memeluk Kiran dengan erat.
Kiran menelan ludahnya dan jujur saja ia terkejut dengan tindakan Erna yang ternyata diluar dugaannya.
Baginya mertua terbaik itu diduduki oleh Liana dan Nasir, karena ia banyak sekali mendengar mertua
yang bersikap kurang ramah kepada menantunya atau bahkan sengaja menjaga jarak dengan
menantunya.

"Kamu sama siapa kesini, sama Marco?" Tanya Erna melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah
cantik Kiran.

"Sendiri Tan, tadi aku ketemu Marco didepan," jelas Kiran.

3/7

Pengen mukul
"Tan? Jangan dong nak...panggil Mami saja biar nanti kamu terbiasa memanggil aku itu Mami, oke!"
Pinta Erna.

"Iya Mi...hmmm...ini kue dari Ibu," ucap Kiran menyerahkan paperbag ditangannya.

"Aduh sayang...repot-repot banget," ucap Erna membuat Kiran membuka mulutnya karena tadi ibunya
mengatakan, jika Erna yang memesan kue padanya. Kiran menghela napasnya ternyata ini akal-akal-
akalan ibunya dan pasti dalangnya adalah Handaru.

Kiran mengedarkan pandangannya mencari sosok Handaru sang pelaku yang membuatnya kesal, namun
sepertinya Handaru tidak berada di Rumah ini. "Cari Handaru ya nak? sebentar lagi dia pulang. Ada
urusan sebentar katanya, sekarang dia sudah mulai mengurangi pekerjaannya di bidang hukum karena
dia mengalah untuk menjadi CEO salah satu perusahaan kakeknya, Albi udah murka banget sama anak-
anaknya Pak Abib, hehehe..."

kekeh Erna.

""Kok berdiri ayo kita duduk!" Ucap Erna meminta Kiran untuk duduk disampingnya.

"Mi, Marco pamit ke atas!" Ucap Marco.

"Iya nanti Mami panggil kalau kita mau makan siang bersama, soalnya Papi juga sudah janji mau pulang
makan siang sama kita!" Ucap Erna.

"Oke Mi," ucap Marco melangkahkan kakinya menuju lantai dua.

"Aduh anak itu nggak bisa diatur maunya apa, beda banget sama Abangnya. Dia itu Playboy tapi sampai
sekarang belum pernah bawa pacarnya yang sebenarnya, untuk dikenalkan sama kita. Dulu ya Mami kira
dia itu akan sama Binar tapi ehhh... Binar udah nikah gitu sama Megan. Sampai sekarang Marco itu
masih jomblo tapi nanti ya Ran kalau kalian sudah menikah, baru Mami cariin Marco jodoh
4/7

Pengen mukul
juga biar nggak kelamaan jomblo," ucap Erna membuat Kiran tersenyum. Nyatanya Kiran tahu jika
Marco bahkan telah memiliki seorang putra bersama Sandra, Kiran tidak bisa membayangkan
bagaimana jika nanti orang tua Marco mengetahui hal ini.

Sosok Erna yang hangat membuatnya kegugupan yang dialami Kiran hilang seketika. "Nanti ya Ran kalau
kamu menikah sama Handaru kalian tinggal disini saja soalnya

rumah ini terlalu besar, Mami kan pengen rumah ini rame sama anak-anak kalian!" ucap Erna membuat
wajah Kiran bersemu merah dan Kiran hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, karena
ia tidak mungkin mengatakan tidak hingga melihat wajah cantik bak malaikat ini kecewa.

'Astaga Maminya Mas Handaru lebih berbahaya dari anaknya, aku nggak bisa nolak... Batin Kiran.

5/7

Pengen mukul
Kiran melihat sosok Handaru yang baru saja datang dan ia melangkahkan kakinya mendekati mereka.

"Assalamualikum," ucap Handaru.

"Waalaikumsalam," ucap Kiran dan Erna.

Handaru mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Erna dan ia mengalihkan pandanganya
menatap kearah Kiran. Erna memukul lengan Handaru dengan kesal. "Handaru ini kebiasaan nggak
ramah banget sama orang, ngelihatin perempuan kayak alergi gitu Ran, kamu harus banyak bersabar
sama dia!" Ucap Erna.

'Alergi? Sejak kapan Mas Handaru alergi sama perempuan yang ada dia suka nemepelin aku, bahkan
cium-cium aku,' Batin Kiran.

"Pacar itu harusnya dipeluk kalau ketemu keningnya dicium dan disayang-sayang. Capek Mami ngajarin
kamu!" Ucap Erna.

Handaru menatap Kiran dengan tatapan dingin dan lagi-lagi Erna memukul tangan Handaru dengan
cukup keras "Handaru...dengar nggak apa yang Mami bilang?" Tanya Erna.

"Dengar Mi, nggak mungkin juga cium dia disini!"

Ucap Handaru. "Saya keatas dulu Mi ganti baju!" Ucap Handaru.

Erna menatap Kiran yang terlihat kesal kepada Handaru dan ia menghela napasnya. "Kamu keatas saja
Ran sama Handaru!" Ucap Erna.
"Nggak usah Mi, Hmm...soalnya aku juga mau pulang, Mi!" Ucap Kiran menolak.

"Jangan pulang dong, hari ini kamu temani Mami disini ya! Lagian kita mau makan siang bersama disini!"
Pinta Erna. Handaru melipat kedua tangannya menatap Kiran dengan dingin, membuat Kiran
mengepalkan kedua tangannya karena kesal.

6/7

Pengen mukul
Tanpa Kiran duga Handaru menarik tangannya agar mengikutinya menuju lantai dua, membuat Erna
tersenyum melihat keduanya yang terlihat sangat manis dimatanya. Kiran berusaha melepaskan
tangannya yang dipegang Handaru "Jangan bandel Kiran!" Ucap Handaru dingin.

"Ini semua rencana kamu kan Mas sama Ibu, biar aku kesini?" Tanya Kiran.

"Ya..." jujur Handaru membuat Kiran benar-benar kesal dan ingin sekali rasanya ia memukul Handaru
saat ini juga.

17

Comments

Vote

7/7

Mau apa tidak.


Mau apa tidak
Kiran dengan sangat terpaksa mengikuti langkah kaki Handaru yang memaksa agar ikut dengannya.
Handaru sedang memanfaatkannya dan itu membuatnya sangat kesal dengan tingkah Handaru. Saat ini
keduanya sedang menaiki tangga dan melihat sosok Marco yang sedang duduk santai dilantai dua,
sambil menonton Tv. Marco menolehkan kepalanya kearah mereka dan ia memang sengaja menonton
acara Tv yang dibawakan Kiran. "Wah ada Kiran tuh di TV," ucap Marco.

"Acara lama, baru ditayangkan," ucap Kiran.

"Jadi kapan kalian menikah?" Tanya Marco seenaknya membuat Kiran membuka mulutnya karena kesal.

"Ngapain sih tanya-tanya tentang nikah?" Ucap Kiran.

Handaru menatap kearah Kiran dengan dingin membuat Kiran menghela napasnya. Handaru menarik
Kiran agar mengikutinya masuk kedalam kamarnya, membuat Kiran terkejut sedangkan Marco hanya
menghela napasnya. la tidak peduli apa yang dilakukan Kiran dan Handaru asalkan keduanya segera
menikah secepatnya. Handaru berhasil membawa kiran masuk kedalam kamarnya dan ia menutup pintu
kamarnya lalu menguncinya dari dalam. la mengambil kuncinya dan menyimpannya disaku celananya,
membuat Kiran menatap Handaru dengan dingin.

"Kenapa mesti dikunci, Mas?" Tanya Kiran kesal.

"Semua ini ulah kamu Mas, kamu sekongkol sama Ibu agar aku bisa ke Rumah kamu," ucap Kiran kesal.
"Tega banget kamu Mas," ucap Kiran. Handaru melipat kedua tangannya dan ia menatap Kiran dengan
dingin. "Harusnya

1/7

Mau apa tidak


aku yang marah sama kamu Mas, kamu kalau mau duel sama aku ayo!" Ajak Kiran dan ia bersiap dengan
kuda-kudanya ingin menghajar Handaru.

"Yakin kamu bisa mengalahkan saya? Kalau saya menang hadianya apa?" Tanya Handaru sinis.

"Nggak usah, nggak perlu duel sama kamu, aku hanya bercanda! Sekarang buka pintu kamar ini Mas!"
Pinta Kiran. Tentu saja ia akan kalah dengan Handaru dan ia sebenaranya masih sangat kesal dengan
sikap Handaru kepadanya.

"Buka saja sendiri!" Ucap Handaru, ia melangkahkan kakinya mendekati lemari pakaiannya, lalu
membuka pintu lemarinya dan mengambil beberapa bajunya. Handaru melangkahkan kakinya menuju
kamar mandi membuat Kiran mengepalkan tangannya karena kesal. la mengedarkan pandangannya
melihat kesekelilingnya dan baru pertama kalinya ia masuk kedalam kamar Handaru yang ada di Rumah
ini. Banyak sekali buku-buku mengenai hukum tertata rapi dilemari khusus buku milik Handaru. Bahkan
buku yang Handaru miliki ada beberapa buku dengan bahasa asing dan tipe laki-laki seperti Handaru
yang sangat pintar ini, adalah tipenya.

Kiran tertarik dengan sebuah buku milik Handaru yang

berada di rak yang berada diatas dan ia mencoba menggapainya, namun ia sulit untuk menggapai buku
itu. Sebuah tangan tiba-tiba mengambil buku itu membuat Kiran membalik tubuhnya, ia terkejut karena
Handaru saat ini bertelanjang d**a didepannya dan Handaru hanya memakai handuk dipinggangnya.
Handaru melempar buku itu diatas tempat tidur dan matanya menatap wajah Kiran yang bersemu
merah. "Kamu ngapain Mas?" Tanya Kiran dan ia mendorong d**a Handaru, agar menjauh darinya
namun ia merasa kesulitan karena tubuh Handaru yang kekar dan berotot itu ternyata sangat kokoh.

2/7

Mau apa tidak


"Mas jangan begini! Menjauh!" Pinta Kiran. Handaru hanya mengangkat sebelah alisnya. "Astaga Mas
pakai baju kamu dulu Mas, nggak malu apa sama aku?" Tanya Kiran.

"Kamu pikir apa saya masih punya malu didepan kamu? Tanya Handaru.
"Iya kamu memang nggak punya malu," kesal Kiran.

Handaru memegang dagu Kiran dan ia menatap wajah cantik Kiran, lalu matanya tertuju pada bibir Kiran
membuat Kiran menelan ludahnya. Wajah tampan ini sangat menggoda imannya dan ia pasti akan
tergoda jika Handaru mengecup bibirnya saat ini. "Mas..." ucap Kiran pelan.

"Jangan menghindar karena kalau kamu bergerak bisa saja handuk yang saya pakai terlepas dan kamu
harus bertanggung jawab, karena kamu telah melihatnya. Satu-satunya perempuan yang telah melihat
burungg dewasa milik saya, harus menjadi istri saya!" Ucap Handaru.

Kira mengerjapkan kedua matanya karena Handaru Laksamana Dewandaru sangat keterlaluan padanya.

Handaru mendekatkan wajahnya ke wajah Kiran, ia mencium bibir Kiran dengan lembut hingga
menggerakkan bibirnya perlahan. Kiran yang sangat terkejut seolah tak berkutik dan ia membiarkan
bibir itu bergerak dibibirnya karena ia merasa terbuai. Handaru melepaskan bibirnya dan ia menatap
wajah cantik itu dengan tatapan menilai. "Apa saya harus menghamili kamu dulu baru kamu mau
menikah dengan saya Kiran?" Tanya Handaru. Kiran membuka mulutnya dan ia itu memberikan
kesempatan Handaru agar bisa mencium Kiran lagi lali mengekspor bibir Kiran sesuai hatinya.

"Hmmpttt..." ucap Kiran berusaha keras

3/7

Mau apa tidak


menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba handuk yang dipakai Handaru terlepas, membuat Handaru
menarik pinggang Kiran agar tidak melihat kebawah.

Handaru tidak membiarkan Kiran melihat kebawah dan ia memegang kedua pipi Kiran. "Jangan melihat
kebawah karena kalau kamu sudah melihatnya kamu harus memilikinya!" Ucap Handaru sambil menarik
sudut bibirnya.

"Dasar gila kamu Mas..." teriak Kiran kesal dan ia memejamkan matanya. Meskipun saat ini rasa
penasaran akan burungg milik lelaki tampan ini begitu besar hingga menbuatnya ingin melihatnya,
namun ia menahan dirinya untuk tidak melihatnya. Handaru menyunggingkan senyumannya saat Kiran
menutup kedua matanya. "Kamu bakalan rugi kalau tidak melihatnya!" Ucap Handaru sengaja ingin
menggoda Kiran.

4/7

Mau apa tidak


"Dasar gila kamu Mas..." teriak Kiran.

"Tergila-gila sama kamu, ya...itu memang benar," ucap Handaru. Sebenarnya ia telah memakai celana
pendek dibalik handuk yang ia kenakan tadi dan ia sengaja ingin menggoda Kiran agar ia merasa terhibur
melihat ekspresi kekesalan Kiran.
"Pakai handuknya Mas!" Teriak Kiran.

"Sekalian saja kamu teriak lebih keras agar keluarga saya mendengar teriakkan kamu!" Ucap Handaru. la
segera kembali melilitkan handuk dipinggangnya dan ia menatap wajah Kiran yang masih memejamkan
matanya dengan tatapan ingin. Handaru mencium pipi Kiran dengan pelan, hingga membuat Kiran
membuka matanya dengan perlahan.

"Kamu yakin tidak mau menikah dengan saya?" Tanya Handaru menatap Kiran dengan tatapan yang
menutut, agar Kiran segera menjawab pertanyaannya.

"Aku nggak bilang aku nggak mau," ucap Kiran pelan.

Mata keduanya bertemu dan Handaru terlihat sangat tampan hingga jantung Kiran berdetak dengan
kencang. "Tapi kita kan butuh waktu Mas, aku sama sekali nggak memahami kamu, lagian dulu aku
sempat berpikir untuk tidak menikah," ucap Kiran.

"Kenapa?" Tanya Handaru.

"Aku nggak punya waktu untuk pacaran dan mengenal seseorang karena aku lebih mengutamakan
karirku. Aku juga tidak mudah percaya orang lain untuk masuk kedalam kehidupan nyamanku," ucap
Kiran.

"Jadi kamu ingin kita terus seperti ini? Saya nggak bisa mengontrol diri saya untuk tidak menyetuh kamu,
itu artinya bersama dengan kamu itu hanya akan membuat dosa saya semakin hari semakin banyak
Kiran. Saya ingin menikah sama kamu karena saya..." ucap Handaru dingin.

5/7

Mau apa tidak


"Kamu bisa nggak Mas bicaranya pakai baju dulu!" ucap Kiran memotong ucapan Handaru. Kiran
menepuk-nepuk pelan kedua pipinya karena gugup dan malu.

Handaru membuka handuknya memperlihatkan celana pendek yang telah ia pakai. "Kamu pakek celana
pendek dari tadi Mas?" Tanya Kiran.

"Iya," ucap Handaru membuat Kiran mengepalkan kedua tangannya karena Handaru telah
membohonginya.

"Jadi kamu bohongi aku, kamu bilang kamu nggak pakek apa-apa tadi," ucap Kiran kesal.

"Saya nggak bilang, kalau saya nggak pakek apa-apa," ucap Handaru sinis.

"Kamu tega bohongi aku, kamu juga tega nggak anterin aku pulang tadi pagi," kesal Kiran.

"Kamu nggak bisa sabar menunggu karena saya sedang berbicara dengan rekan bisnis saya," ucap
Handaru. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, Kiran. Saya ingin menikahi kamu!" Ucap Handaru. "Saya
lelaki dewasa yang punya nafsu, kalau kamu nggak mau saya menikahi kamu, saya tidak akan menemui
kamu lagi! hubungan yang tidak ada niat untuk serius sampai menikah, hanya akan membuang waktu
saja!" ucap Handaru.

"Kamu nggak suka sama saya dan kamu ingin menikahi saya karena dorongan orang tua kaти," исар
Kiran membuat Handaru mengerutkan dahinya karena kesal dengan ucapan Kiran.

"Saya tidak pernah memperlakukan perempuan lain seperti saya memperlakukan kamu secara istimewa,
saya bahkan baru mengatakan kepada orang tua saya kalau selama ini, saya telah lama mengincar kamu
untuk jadi istri saya tanpa mereka harus memaksa saya untuk mendekati kamu," ucap Handaru. "Apa isi
otak kamu itu selalu saja

6/7

Mau apa tidak


mencurigai niat baik saya untuk mempersunting kamu?" Tanya Handaru lagi.

"Tidak, aku nggak kayak gitu Mas," ucap Kiran.

"Kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, kamu boleh pulang sekarang juga tidak perlu makan siang
bersama keluarga saya dan tidak perlu pamit kepada orang tua saya!" Ucap Handaru kesal dan ia
membalik tubuhnya agar tidak menatap wajah Kiran.

"Iya aku mau nikah sama kamu tapi nggak dalam waktu dekat!" Kesal Kiran dengan wajahnya yang
bersemu merah. la melihat punggung Handaru sama sekali tidak melihat kearahnya.

Kiran menghela napasnya dan ia mendekati Handaru, lalu ia memeluk Handaru dari belakang. "Udah aku
capek...kamu neyeblin kalau nggak mau peluk aku nggak apa-apa!" Ucap Kiran kesal.

Comments

Vote

26

7/7

Nggak bisa sabar.


Nggak bisa sabar
Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia menarik tangan Kiran agar melepaskan pelukannya.

Keduanya saat ini saling berhadapan dan Handaru mengelus kepala Kiran dengan lembut, selain Murni
hanya Handaru yang memperlakukannya seperti ini. "Saya tidak suka kamu terlalu mandiri Kiran, kamu
bisa meminta saya untuk menjemput kamu atau kalau saya tidak berada di Jakarta akan ada supir yang
akan mengantar kamu!" Ucap Handaru. la merasa sangat kahwatir setiap ia berpergian, apalagi setelah
mengetahui Kiran kecelakaan ia sangat kesal pada dirinya sendiri, karena merasa lalai hingga membuat
ia hampir kehilangan Kiran.

"Kalau begitu aku hanya akan merepotkan kamu, Mas," ucap Kiran. Selama ini terbiasa mandiri bahkan
ia sering kali pulang larut malam seorang diri.

"Saya merasa tidak direpotkan oleh kamu dan saya sangat suka kamu repotkan!" Ucap Handaru dan ia
meneliti wajah Kiran, lalu ia menatap kepala Kiran yang masih terlihat jahitan bekas luka karena
kecelakaan itu.

Handaru mengeraskan rahangnya dan ia menatap luka itu dengan amarah yang memuncak. la akan
terus mengawal jalannya persidangan agar semua orang yang terlibat dengan kecelakaan Kiran dan Lifia,
dihukum berat.

"Mas kenapa nggak suka pakai baju sih Mas...kalau di Kamar?" Ucap Kiran dan pemandangan indah ini
membuatnya malu.

"Kebiasaan saya memang begitu," ucap Handaru.

'Kebiasan? Kayaknya kamu itu mau pamer, Mas? Pamer badan kamu bagus,' Batin Kiran.

"Kamu juga boleh buka baju kalau kamu mau!" Ucap

1/7

Nggak bisa sabar


Handaru membuat Kiran membuka mulutnya.

"Nggak mau, apa-apaan kamu Mas..." ucap Kiran kesal.

"Buka bajunya kalau dikamar saja!" Ucap Handaru.

Kiran mendesis kesal tentu saja yang akan sangat diuntungkan adalah Handaru yang bisa melihat
dadanya. Handaru menarik Kiran kedalam pelukkannya dan matanya menatap Kiran dengan tatapan
dingin. "Kamu itu nyebelin, Mas..." ucap Kiran.

"Saya nyebelin, bukannya kamu yang nyebelin?" ucap Handaru dengan suara beratnya.

"Mana ada," ucap Kiran kesal. Handaru mengangkat tubuh Kiran keatas membuat Kiran terkejut "Kamu
mau ngapain Mas? Jangan kurang ajar Mas!" teriak Kiran.

"Jangan teriak, apa kamu mau seisi rumah ini datang ke Kamar saya dan melihat kita seperti ini?" Ucap
Handaru.

Kiran menggelengkan kepalanya membuat Handaru menyunggingkan senyumannya. Handaru


melangkahkan kakinya sambil mengangkat tubuh Kiran, lalu ia mendudukkan Kiran diatas nakas agar
wajahnya bisa sejajar dnegan wajah Kiran. Handaru menatap wajah Kiran dengan tatapan dalam,
tangannya terulur dan ia mengelus pipi Kiran dengan lembut.

"Mas nggak sopan banget kamu," lirih Kiran dengan wajah memerah karena salah tingkah dengan
tatapan Handaru. Kiran berusaha mengalihkan pandangannya namun Handaru menarik pelan wajah
Kiran agar menatapnya. Wajah Kiran bersemu merah dan tatapannya tertuju pada bibir Handaru lalu ia
menelan ludahnya.

"Kenapa nggak mau melihat saya Kiran? kamu yakin nggak suka dengan wajah saya?" Tanya Handaru
dan ia yakin Kiran sangat tertarik dengan wajahnya.

"Wajah kamu biasa saja, banyak kok yang tampan dan keren dari kamu Mas," ucap Kiran dan ia menelan
ludahnya

2/7

Nggak bisa sabar


ketika matanya bertemu dengan mata hitam milik Handaru.

"Kamu yakin kamu nggak tetarik dengan wajah saya!"

Ucap Handaru dan tatapan Kiran tertuju pada bibir Handaru, lalu turun kebagian jakun Handaru.

"Tertarik, tapi kan nggak gini juga Mas," lirih Kiran. la merasa sangat malu saat ini dengan tingkah
Handaru yang seperti ini padanya.

"Ciummm!" Perintah Handaru dan ia menujuk bibirnya membuat Kiran menelan ludahnya. la sangat
gugup dan tekejut dengan permintaan Handaru yang memintanya untuk menciummnya.

"Mas jangan gila...udah aku mau turun!" Ucap Kiran kesal.

"Ciummm dulu!" Ucap Handaru lagi dengan wajahnya

3/7

Nggak bisa sabar


yang datar dan terlihat sangat menyebalkan. Handaru saat ini menjadi sosok pemaksa yang tidak akan
membiarkan Kiran lolos darinya begitu saja, jika Kiran tidak menciumnya.

Cupp... Kiran mengecup pipi Handaru, membut Handaru mengerutkan dahinya "Ini namanya ciumman
anak kecil Kiran," ucap Handaru sinis. Yang saat ini sangat ia inginkan yaitu bibir kenyal dan seleksi itu
berada dibibirnya dan ia bisa mengeksplornya sesuka hatinya.

Kiran mengecup bibir Handaru, namun saat Kiran ingin menjauh darinya, Handaru segera menggerakkan
bibirnya dengan memagut bibir Kiran, lalu melumatnya hingga membuat Kiran terkejut. Handaru seakan
tidak ingin melepaskan bibir Kiran dan ia menikmatinya hingga ia memejamkan matanya. Handaru
melepaksan bibir Kiran dan ia menatap mata Kiran dengan tatapan penuh arti, lalu mencium dahi Kiran
dengan lembut. Handaru menurunkan Kiran dan ia merapikan baju Kiran yang terlihat berantakan.

"Ayo kita temui Mami dibawah, Mas!" Ajak Kiran dengan wajahnya yang memerah karena malu,
mengingat ciumman panjang tadi bersamaHandaru. Apalagi tak baik baginya dengan Handaru untuk
tetap berada didalam kamar ini.

"Saya masih ingin bersama kamu!" Ucap Handaru.

"Nggak baik Mas, kalau kita berdua saja dikamar!" Ucap Kiran.

"Didalam kamar berdua lebih baik, karena kita bisa..."

ucap Handaru terhenti karena Kiran menutup bibir Kiran dengan telapak tangannya.

"Mas please...nggak enak ini rumah orang tua kamu Mas," ucap Kiran.

4/7

Nggak bisa sabar


"Kalau di Rumah kita kamu mau?" Tanya Handaru membuat Kira menepuk d**a Handaru dengan pelan.

"Pakai baju Mas!" Pinta Kiran lagi.

"Pakaikan saya baju, kalau kamu nggak mau pakaikan saya baju, saya nggak usah pakai baju saja!" Ucap
Handaru sengaja berulah, agar Kiran mau memakaikan baju padanya.

Kiran mengambil baju kaos yang ada dilemari Handaru "Nunduk Mas!" Perintah Kiran karena tubuh
Handaru yang menjulang tinggi, sulit untuknya memakaikan Handaru baju terlebih lagi saat ini ia ingin
memakaikan baju kaos kepada Handaru. Handaru membungkukkan tubuhnya dan Kiran segera
memakaikan Handaru kaos. la kemudian merapikan baju Handaru dan tersenyum karena laki-laki
dihadapannya ini adalah laki-laki tertampan baginya.

Handaru memegang tangan Kiran lalu mengajaknya menuju lantai dasar. Kiran menelan ludahnya saat
melihat sosok Abib Laksamana Dewandaru tersenyum kepadanya. "Kiran Ayu anak perempuan
kesayangan Papi, yang akan segera menjadi menantu Papi!" Ucapnya membuat Kiran mendekati Abib
lalu ia mencium punggung tangan Abib dengan jantung yang berdetak dengan kencang.

"Selamat siang Pak," ucap Kiran.

"Pa k? Astaga Kiran...kamu itu menantu saya, nggak usah terlalu formal!" Pinta Abib. Kiran
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan wajahnya saat ini bersemu merah karena malu. "Papi
kan sudah bilang kamu itu sangat cocok dengan Handaru, terbukti kalian itu akhirnya bisa bersama,"
ucap Abib tersenyum lembut kepada Kiran.

Erna. "Pi...kita bicara sambil makan siang saja yuk!" Ucap


"Ariani, saya itu sedang asyik-asyiknya berbicara

5/7

Nggak bisa sabar


dengan menantu kita Ariani!" Ucap Abib kesal karena istrinya memotong pembicaraannya bersama
Kiran.

"Sudah! makan nanti Papi bisa bicara banyak sama Kiran atau kalau perlu jangan biarkan Kiran pulang!"
Ucap Erna.

"Saya setuju Mi!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya.

"Lain kali saja Kiran menginap disini, soalnya nggak enak dirumah lagi rame karena sebentar lagi Lifia
mau menikah," ucap Kiran.

"Harusnya kamu dan Handaru yang menikah lebih dulu, kamu sama Lifia itu siapa yang adik, Ran?"
Tanya Abib.

"Lifia Pak," ucap Kiran.

"Papi..nak biasakan memanggil saya Papi!" Pinta Abib, membuat Kiran menganggukkan kepalanya
dengan pelan.

"Maksudnya Pi, Kiran yang lebih tua," ucap Handaru.

"Iya aku yang lebih tua..." ucap Kiran membuat Abib menyungingkan senyumannya.

"Malam ini Papi mau ketemu orang tua kamu Rin, Papi mau protes kenapa Lifia yang lebih dulu
menikah," ucap Abib membuat Kiran terkejut. "Kalian berdua yang harusnya segera menikah, Papi dan
Mami itu pengen kalian menikah secepatnya!" Ucap Abib.

'Astaga ini kenapa sih...nggak bisa sabar?' batin Kiran.

"Hmmm...kita belum ada rencana dalam waktu dekat Pi, biarkan saja Defran dan Lifia menikah lebih
dulu!" Ucap Handaru membuat Kiran menghembuskan napasnya dengan lega.

6/7

Sudah kangen.
Sudah kangen
Lifia melihat jam ditangannya, Defran memang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengannya dan ia
juga menahan diri untuk tidak menanyakan kabar Defran.
Beberapa hari lagi akad nikahnya akan segera dilaksanakan dan kebetulan Papinya meminta akad
nikahnya akan diselenggarakan di Kediaman Bagaspati dan sore ini Lifia akan mulai tinggal di Kediaman
Parmoko Bagaspasti bersama keluarga besarnya. Sebenarnya Lifia ingin pernikahannya diadakan
dikediaman Nasir dan Murni, namun Murni mengatakan jika Parmoko Bagaspati Papinya belum pernah
menginginkan sesuatu yang berkaitan dengan Lifia sebelumnya, padahal sejak dulu Parmoko ingin
kembali membawa Lifia tinggal bersamanya setelah satu bulan ia berpisah dengannya saat itu. Tapi Lifia
menolak untuk pulang membuat Parmoko mengalah dengan keinginan Lifia saat iu. Ya... Parmoko
merasa sangat sedih ketika Lifia lebih memilih Murni dan Nasir dari pada dirinya.

Lifia hari ini telah berjanji dengan para bestienya untuk bertemu dan ia ingin ketiganya datang diacara
akad nikahnya. la memang belum lama mengenal mereka, tapi para bestie adalah teman yang tulus
padanya hingga terlihat sangat menyayanginya selama ini. la yang melakukan penyamaran menjadi si
Sayang mendapatkan perhatian dari para sahabatnya itu, bahkan mereka sempat kesal dengan sosok
Lifia karena pemberitaan mengenai Lifia dan Defran. Hari ini Lifia memang sengaja mengubah
penampilannya menjadi si Sayang, agar ia bisa menghabiskan waktunya dengan para bestie, tanpa
gangguan para fansnya. Apalagi saat ini ia sedang berada di Mall dan pasti banyak sekali pengunjung
yang bisa saja

1/6

Sudah kangen
mengenalnya jika ia hanya menggunakan masker diwajahnya.

Lifia memang tidak memberitahukan Defran pertemuannya hari ini bersama para bestie, karena Defran
kemungkinan besar tidak akan mengizinkannya untuk pergi ke hari ini. Jika nanti Defran marah padanya
Lifia memiliki alasan karena ia ditemani seorang Bodyguard tampan yang saat ini sedang mengantarnya
ke Mall.

"Astaga gila saja kamu Mbak, nggak mirip sama sekali dengan Lifia," ucap Altaf yang baru pertama
kalinya melihat sosok Lifia yang saat ini menjadi si Sayang.

Lifia. "Wah berarti penyamaranku ini keren ya Al," ucap

"Lumayan keren sih," ucap Altaf sengaja tidak ingin memuji Lifia terlalu tinggi, karena Lifia bisanya akan
merasa diatas angin jika ia terlalu memujinya, namun ia akui Lifia memang sangat hebat dalam hal
menyamar.

"Mas Def tahu kalau Mbak ke Mall sekarang?" Tanya Altaf.

"Nggak tahu, dia juga nggak ngasih kabar sama aku," ucap Lifia kesal.

"Kalian kan dilarang ketemu sama Ibu dan Mami Liana," ucap Altaf. "Soalnya kalau ketemu nanti
berbahaya, rindu itu kalau dituntaskan dengan menggebu-gebu bisa gawat Mbak," ucap Altaf.
"Apa sih Al, nyebelin banget kalau aku dan Mas Def mau buat dosa dari kemarin juga udah kita lakuin,"
ucap Lifia.

"Makanya ya pernikahaannya pengen banget dipercepat udah nggak tahan lagi, hahaha...kalian itu lucu
banget ya Mbak," tawa Altaf mengingat video cctv yang memperlihatkan Defran masuk kedalam kamar
Lifia ketika malam melewati jendela. "Untung saja beberapa hari ini Mas Defran menepati janjinya untuk
tidak masuk kedalam

2/6

Sudah kangen
kamar Mbak malam hari diam-diam," goda Altaf.

"Ngarang kamu, Mas Def nggak kayak gitu," ucap Lifia dengan wajah memerah. la sangat malu jika
tingkah laku Defran diketahui banyak orang selama ini padahal dulu ia mengira Defran sama sekali tidak
menyukainya.

"Mbak juga nungguin Mas Def kan kalau malam? itu soalnya jendela kamar Mbak beberapa hari ini
sengaja nggak ditutup, biar Mas Def bisa masuk dengan mudah,"

goda Altaf membuat Lifia menatap tajam Altaf.

"Lo kebiasan banget Al, semakin hari semakin nyebelin, sekalinya pulang pasti deh bikin hebo," ucap
Lifia kesal membuat Altaf menyunggingkan senyumannya. "Lebih baik Al kamu juga fokus cari cewek biar
nggak jomblo terus dan nggak usah ngegodain Mbak dan Mbak Kiran terus!" Ucap Lifia kesal.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti diparkiran

3/6

Sudah kangen
Mall dan Lifia menatap Altaf dengan tatapan penasaran, apa Altaf juga akan masuk kedalam Mall
bersamanya. "Al jangan bilang kamu mau nemenin Mbak juga masuk ke Mall? Atau kamu mau ikutan
nongkrong sama ibu-ibu ngegosip?" Tanya Lifia.

"Nggak, ngapain juga ikut nongkrong sama ibu-ibu bestie temannya Mbak, udah lama aku nggak ke Mall,
Mbak mau duduk santai dulu sambil minum coffee," ucap Altaf.

"Oke berarti nanti kamu yang antar Mbak pulang ya Al!" Pinta Lifia.

"Oke Mbak," ucap Altaf.

Lifia melangkahkan kakinya menuju lantai dimana tempat ia dan para bestienya berjanji untuk
berkumpul bersama. Benar saja dengan penampilan Lifia yang seperti ini, ia tampak normal dan banyak
orang-orang yang tidak menyadari, jika seorang aktris terkenal bernama Lifi Ayu sedang jalan santai di
Mall seperti ini. Lifia telah berada didepan Restauran dan ia segera masuk kedalam Restauran, lalu
melihat para bestienya sedang duduk santai sambil berbincang. Lifia tersenyum dan ia segera mendekati
mereka, lalu membuat Tyas yang telah melihat kehadiran Lifia segera berdiri, sambil menujukan
senyumannya.

"Sayang..." ucap Tyas membuat Novi dan Anyelir mengalihkan pandangannya melihat kearah Lifia
dengan tatapan rindu.

Lifia mencium pipi kanan dan kiri ketiganya, hingga ia juga memeluk mereka bertiga karena rindu. "Ya
ampun kita kangen banget..." ucap Anyelir.

"Iya kangen kamu dan hehehe...kangen ngegosip," ucap Novi.

Tyas. "Hahaha...udah lengkap nih para bestie," ucap

4/6

Sudah kangen
"Ayo duduk!" Ajak Anyelir meminta Lifia segera bergabung bersama mereka.

"Aduh kangen banget sih sama kamu Sayang...maaf udah kebisaan manggil sayang, kayak sulit manggil
kamu Lifia," jujur Novi.

"Nggak apa-apa kalau nggak jadi si Sayang baru panggil aku Lifia," ucap Lifia.

"Wah...ya mau nikah...makin hari makin terlihat wah... banget gitu auranya," goda Anyelir.

"Iya Alhamdulilah senang banget dan nggak nyangka juga," ucap Lifia dengan wajahnya yang bersemu
merah.

"Hmmm... Mbak Bestie..." panggil Lifia.

"Hehehe...Sayang kalau kamu bersikap kayak gini kita itu nggak menyangka banget, kalau kamu itu Lifia
yang cantik, percaya diri dan ya...beda banget maksudnya, iya kan..." ucap Novi sambil menatap kedua
temannya lain meminta persetujuan mereka atas pernyataannya.

"Iya Sayang...hmmm...ada cerita apa nih?" Goda Tyas.

"Begini, aku mau mengundang Mbak-mbak bestie untuk hadir diacara akad nikahku Mbak, kalau
resepsinya kemungkinan satu bulan lagi Mbak. Tapi aku pengennya kalian datang dua-duanya, diacara
akad nikah dan juga diacara resepsi!" Pinta Lifia dan ia menyerahkan ketiga undangan acara akad
nikahnya.

"Oke kita pasti datang," ucap Anyelir tersenyum bahagia karena Lifia juga sangat tulus
memperlakukannya meskipun ia hanyalah ibu rumah tangga biasa.
"Iya kapan lagi kan datang keacara kondangan artis," ucap Novi yang terlihat sangat antusias.
"Hehehe...maaf ya Sayang jadi norak begini!" Ucap Novi.

"Nggak norak kok, aku tu senang banget punya teman kayak kalian," ucap Lifia memegang tangan para

5/6

Sudah kangen
sahabatnya.

"Iya Sayang," ucap ketiganya kompak.

"Ngomong-ngomong sebenarnya kita datangnya sama itu Lifia..." ucap ketiganya menujuk para suami
mereka yang sedang duduk dicafe yang tekenal akan kenikmatan coffeenya. Cafe itu berada tepat di
sebelah Restauran ini, hingga mereka bisa saling melihat. Para lelaki itu saat ini sedang duduk santai
disana dan Lifia mengucek kedua matanya saat melihat sosok tampan yang sedang berbincang dengan
para suami sahabatnya ini terlihat seperti Defran Satyas. Lifia tersenyum karena ternyata laki-laki itu
memang Defran Satyas dan disamping Defran juga ada sosok Adik laki-lakinya yaitu Altaf.

'Dasar Altaf, pasti sudah janjian sama Mas Def, biar bisa ketemu aku hehehe...kayaknya Mas Def udah
kangen banget sama aku...' Batin Lifia.

Comments

Vote

6/6

Kerjasama yang baik.


Kerjasama yang baik
Lifia menyunggingkan senyumannya karena sulit bagi keduanya untuk bertemu, namun dengan
kedatangannya hari ini ke Mall ternyata dimanfaatkan oleh Defran untuk bertemu dengannya. "Seru
juga kalau nanti kita bisa liburan bersama bestie," ucap Anyelir membuat Lifia segera mengalihkan
pandangannya menatap Anyelir. la sibuk memandangi defran dari jauh, hingga ia tidak menyimak
ucapan Anyerlir.

"Kenapa Mbak?" Tanya Lifia. Tyas dan Novi terkekeh karena sejak mereka mengatakan ada Defran
disana, fokus Lifia sepertinya hanya tertuju pada Defran Satyas.

"Aduh bestie kayaknya udah kangen banget ya sama calon suami? Udah berapa lama nggak ketemu?"
Goda Tyas.
"Nggak..." ucap Lifia menggelengkan kepalanya dan ia sangat malu saat ini.

"Kalau iya juga nggak apa-apa kok, kita semua ngerti banget..." ucap Anyelir tersenyum menggoda.

Lifia merasa sangat malu, jujur saja ia memang sangat merindukan Defran Satyas apalagi Defran
sepertinya juga merindukannya. "Tadi aku itu bilang pasti seru deh kalau kita bisa liburan bersama,"
ucap Anyelir.

"Kalau itu pasti seru, Mbak," ucap Lifia tersenyum senang.

"Apalagi nanti kalau Sayang juga sudah punya anak," ucap Tyas. "Anak kita bisa main bersama,
hmmm...guys aku rencanya mau program anak kedua," ucap Tyas.

"Barengan saja nanti hamil ya biar seru dan hehehe...nanti kalau anak kalian seumuran gitu kan bisa

1/6

Kerjasama yang baik


jodohin nanti kalau udah gede," ucap Novi.

"Wah...iya," ucap Tyas tersenyum senang.

"Iya pasti anak Lifia sama Pak Defran cakep-cakep banget secara Bapak ibunya luar biasa tampan dan
cantik gini," ucap Novi membuat Lifia tersenyum malu. la jadi membayangkan bagaimana anak-anaknya
nanti bersama Defran Satyas dan wajahnya tiba-tiba kembali bersemu merah karena ia mengingat
proses pembuatan anaknya nanti setelah ia sah menjadi istri Defran Satyas.

"Sayang kita ada kado spesial buat kamu loh...hehehee...pokoknya kejutan," ucap Anyelir tersenyum
menggoda.

Lifia. "Aduh jadi penasaran apa sih kadonya?" Tanya

"Ini spesial pokoknya harus dipakai biar Pak Defran klepek-klepek," ucap Novi. Lifia memegang
tengkuknya sepertinya ia sudah bisa menebak kado apa yang akan diberikan para bestie ini padanya.

Mereka saat ini makan siang bersama para bestie, sebenarnya Lifia khawatir apa Defran dan Altaf sudah
makan siang apa belum. Lifia ingin menghubungi Defran Satyas, namun ia merasa malu jika menelpon
Defran dengan jarak yang tidak jauh seperti ini. "Kayaknya ada yang nggak sabar lagi nih...mau ketemu
Pak Defran," goda Novi.

"Best memangnya kalian itu udah janjian gitu ya sama Pak suami makanya ngumpul gitu kayak gini?"
Tanya Lifia penasaran.

"Iya Pak Defran yang juga ajakin para suami, kalau kita kan yang ajak ketemu disini itu kamu Sayang. Jadi
kalian calon pengantin yang ngajakin kita date bareng begini. Waktunya juga sangat pas lagi lepas dinas
semua," ucap Tyas. Berkumpul seperti ini Biasanya sangat suit untuk mengatur jadwalnya, apalagi siang
seperti hari seperti hari

2/6

Kerjasama yang baik


ini.

Lifia tersenyum, pantasan saja Altaf menawarkan dirinya untuk mengantarnya ternyata Altaf, pasti
diperintahkan oleh Defran, agar mengantarnya pergi sekalian ngumpul bersama teman-teman
seprofesinya.

"Kalau cintanya Pak Defran sama kamu nggak usah diragukan lagi, apalagi si Sayang sama Lifia itu orang
yang

sama hehehe..." kekeh Anyelir mengingat kekonyolan mereka yang sangat kesal dengan sosok Lifia saat
itu.

"Iya nggak usah diragukan lagi," ucap Novi.

"Dia memang secinta itu sama aku bestie, aduh kenapa aku jadi malu banget ya best..." ucap Lifi
menepuk pelan pipinya, membuat mereka semua tersenyum bahagia melihat kebahagian sahabatnya
ini..

3/6

Kerjasama yang baik


Sementara itu saat ini Defran sedang duduk berdua saja dengan Altaf sedangkan teman-temannya tadi
sedang menemui anak-anak mereka yang sedang berada diwahana bermain. "Mas...teman-teman Mas
sudah punya anak saja tapi Mas Def proses buat anak saja belum," goda Altaf.

"Dari dulu mau dinikahi secepatnya, tapi melihat karirnya begitu cemerlang makanya harus sabar
menunggu waktu yang tepat," ucap Defran membuat Altaf tersenyum. Ternyata itu juga yang menjadi
alasan Defran, kenapa ia belum menikahi Lifia selama ini. "Saya menunggu dia yang sudah siap saya
nikahi karena kalau sudah menikah dengan saya, tidak semua film dan acara Tv bisa dia ikuti," ucap
Defran. la ingin istrinya lebih fokus kepada keluarga kecilnya apalagi setelah mereka punya anak nanti.

"Kamu katanya dekat dengan anak Jendral?" Tanya Defran membuat Altaf mengerutkan dahinya. Dari
mana calon kakak iparnya ini tahu jika saat ini ia menyamar di sekolah dan berada didekat anak Pak
Jendral.

"Tidak Mas, itu hanya pekerjaan," ucap Altaf.

"Kalau kamu suka, lamar saja Al!" Ucap Defran.


"Belum Mas, saya tidak suka perempuan cengeng dan tidak mandiri. Apalagi dia manja dan tidak bisa
apa-apa.

Lagian dia masih kecil dan belum pantas dijadikan istri,"

ucap Altaf.

"Memangnya istri yang kamu mau itu harus pintar masak, mencuci, memijit, tidak cengeng?" Sinis
Defran.

"Nggak gitu juga Mas, paling nggak kombinasi antara tiga kakak permepuanku," ucap Altaf.

"Itu namanya kamu mau yang sempurna Altaf," ucap Defran.

Defran melihat sosok Lifia melangkahkan kakinya mendekatinya dan Lifia dalam sosok sayang saja sudah
sangat cantik menurutnya apalagi Lifia tanpa makeup aneh

4/6

Kerjasama yang baik


itu. Lifi mengulurkan tangannya dengan tatapan malu-malu, membuat Defran menyambut uluran
tangan Lifia. Lifia mencium punggung tangan Defran dan itu membuat Altaf menghela napasnya. "Belum
menikah saja kalian sudah kayak suami istri saja Mbak, Mas..." sinis Altaf.

"Al...," ucap Defran dan dengan isyarat matanya ia meminta Altaf agar segera pergi menjauh darinya.

"lya...iya..." ucap Altaf dan ia melangkahkan kakinya keluar dari cafe ini meninggalkan Defran dan Lifia.

Lifia menatap Defran dengan tatapan malu-malu dan sejujurnya ia ingin sekali memeluk Defran saat ini
juga.

"Mas sudah makan?" Tanya Lifia.

"Nanti saja," ucap Defran.

Lifia mengeluarkan paperbagnya yang ia bawa, ternyata tadi ia membelikan makanan untuk Defran dan
Altaf. Lifia membukanya dan ia menyuapkan makanan itu kepada Defran. Defran tentu saja membuka
mulutnya dan dengan senang hati, ia menerima suapan makanan dari Lifia. "Mas...kenapa nggak telepon
aku?" Tanya Lifia.

"Kamu kenapa nggak telepon saya?" Tanya Defran

sinis.

"Kalau hanya telepon kamu Mas, hmmm aku akan semakin rindu sama kamu, Mas. Rindunya aku itu
pengen ketemu kamu dan peluk kamu, gimana Mas? Hmmm...kalau nggak begini saja kita nggak bisa
ketemu Mas, kamu sudah kerja sama Altaf biar nggak ketahuan Ibu sama Mami, kalau kita ketemu hari
ini," ucap Lifia.

"Iya," ucap Defran santai membuat Lifia

menyunggingkan senyumannya. "Kalau kamu tidak keluar dari rumah, bagaimana saya bisa ketemu
kamu, apalagi katanya hari ini kamu akan tinggal di Rumah Papimu," ucap Defran dan ia menepuk sisi
sofa yang ada disampingnya agar Lifia bisa duduk disana.

5/6

Stop memanfaatkan saya.


Stop memanfaatkan saya
Berbincang bersama Defran selama tiga puluh menit saja, Lifia sudah sangat bersyukur. Sejak tadi ia
bahkan mengubar senyumnya dan ia melihat ponselnya. Ada nama Ibunya membuatnya segera
mengangkatnya.

"Assalamualikum Bu," ucap Lifia.

"Waalaikumsalam, kamu kemana? Kok belum datang ke Rumah Papimu, Nak?" Tanya Murni. "Ibu dan
Ayah udah disini loh, kamu sama Altaf kemana?" Tanya Murni.

"Lifi ke Mall sebentar Bu, mau ketemu para bestie sekalian mengundang mereka agar datang nanti ke
acara akad nikahnya aku Bu," ucap Lifia.

"Kamu sama siapa? Jangan bilang ya kamu ketemuan sama Nak Defran." Ucap Murni geram dengan
putrinya ini, karena tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu Defran beberapa hari ini.

"Bu, Mbak Kiran udah ada disana?" Tanya Lifia sengaja mengalihkan pembicaraan, agar ia tidak perlu
berbohong dengan mengatakan ia tidak bertemu dengan Defran Satyas, padahal saat ini Defran ada
dihadapannya sambil menatapnya dengan santai.

"Tadi Nak Handaru telepon katanya Maminya Nak Handaru pengen Kiran menginap di Rumah mereka,
nanti Maminya mau bicara langsung sama Ibu," ucap Murni. "Hehehe...ibu senang karena berhasil
membuat Mbakmu ketemu sama Orang tuanya Nak Handaru, kasihan Nak Handaru dicuekin terus sama
Mbakmu yang nggak peka itu, mana bilang sama Ibu waktu itu nggak mau nikah maunya nemenin ibu
terus sampai tua," ucap Murni dan inilah yang membuatnya sangat kahwatir karena Kiran memang
sangat berprinsip. Sepertinya hanya Handaru

1/7

Stop memanfaatkan saya


Laksamana Dewandaru yang mampu mengendalikan seorang Kiran Ayu putrinya ini.
Lifia. "Nanti biar Lifia yang teleponin Mbak Kiran, Bu," ucap

"Iya Nak, gih...kamu cepetan kesini sama Altaf!" Ucap Murni.

"Iya bu, segera," ucap Lifia.

"Yaudah, Assalamulaikum," ucap Murni.

"Waalikumsalam," ucap Lifia dan ia menutup

ponselnya lalu menatap wajah tampan yang saat ini sedang menatapanya.

"Mas aku harus segera pulang ke Rumah Papi, untuk pertama kalinya aku menginap di Rumah Papi.

Hmmm....sebemarnya canggung banget apalagi aku belum sempat berbincang dengan Rima dan Fadil,
Mas," ucap Lifia dan ia telrihat sangat khawatir.

"Ajak saja mereka bicara dari hati ke hati, kamu kan mahir dalam bersosialisasi!" ucap Defran.

"Iya memang aku itu masih lebih baik dari pada kamu Mas, kalau dalam hal bersikap sama orang lain,"
ucap

Lifia.

"Iya, anggap saja begitu," ucap Defran.

Defran Satyas memang bukan sosok yang ramah apalagi mengajak seseorang bicara dari hati kehati
seperti yang ia katakan tadi. "Mau sih ngajakin Merka bicara, tapi aku tetap saja nggak enak, soalnya aku
pulang ke rumah mereka tapi Mami mereka harus pergi dari rumah mereka Mas, kehadiranku bisa saja
tidak diharapkan oleh mereka berdua," ucap Lifia sendu. Keluarga mereka dulu sepertinya sangat
harmonis, namun karena kebencian Mami mereka terhadap dirinya membuat kehidupan mereka
menjadi kacau.

Defran menepuk-nepuk pelan kepala Lifia, "Jangan

2/7

Stop memanfaatkan saya


berpikiran seperti ini, kamu belum mendekati mereka kamus udah berpikiran negatif!" ucap Defran. la
mengelus pipi Lifia dengan lembut. "Ajak saja mereka berbicara dan coba akrabkan diri kamu, tapi kalau
memang mereka tidak menerima kehadiran kamu, bertahan saja disana dan setelah menikah kamu bisa
hadapi mereka nanti sama saya. Lagian kita tidak akan tinggal di sana!" Ucap Defran membuat Lifia
tersenyum dan ia menganggukkan

kepalanya karena ucapan Defran memang benar. Mereka tidak akan tinggal disana setelah menikah
nanti, karena Defran ingin tinggal di Rumahnya sendiri.
Rumah, Lifia menyunggingkan senyumannya membayangkan rumah tepat ia tinggal nanti bersama
Defran akan seperti apa, lagian ia hanya akan tinggal berdua saja dengan Defran Satyas. "Mas sudah jam
tiga, aku mau pulang, tapi anterin ya Mas! Hmmm...sampai

3/7

Stop memanfaatkan saya


parkiran mobil saja nggak apa-apa!" Ucap Lifia.

Sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Defran, apalagi sejujurnya ia masih sangat
rindu dengan Defran Satyas calon suaminya ini.

"Kita berbicara sedikit didalam mobil Mas, nanti biar Altaf nyusulin kita!" Ucap Defran.

"Oke Mas," ucap Lifia.

Keduanya segera keluar dari dalam Restauran dan keduanya melangkahkan kakinya menuju parkiran
mobil milik Defran. Para bestienya saat ini pasti sedang bersenang-bersenang dengan keluarga kecilnya
dan mungkin nanti, Lifia juga akan bergabung bersama dengan mereka ketika ia telah memiliki anak.
Anak-anaknya bisa bermain dengan anak para bestienya, memikirkan itu semua membuat Kiran
menyunggingkan senyumannya.

"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Defran saat keduanya melangkahkan kakinya mendekati Mobil Defran.

"Nggak ada Mas," ucap Lifia, karena ia merasa sangat malu mengungkapkan kepada Defran apa yang
saat ini sedang ia pikirkan.

Keduanya masuk kedalam mobil, Lifia duduk disamping Defran. Defran menyalakan mesin mobilnya dan
ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil Defran berhenti disebuah taman dan ia
menghentikan mobilnya, namun tidak mematikan mobilnya karean Defran ingin mengajak Lifia
berbicara. "Kenapa berhenti disini Mas?" Tanya Lifia.

"Disini sepi," ucap Defran membuat Lifia mengedarkan pandangannya dan ia menganggukkan
kepalanya. "Mobil ini gelap dan dari luar tidak kelihatan," ucap Defran lagi.

"Terus kita ngapain Mas kalau nggak kelihatan?" Tanya

4/7

Stop memanfaatkan saya


Lifia pelan dan ia menelan ludahnya, jujur saja saat ini ia merasa sangat malu.

"Menurut kamu kita harus ngapain?" Tanya Defran.

"Aku pengen peluk kamu!" ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena malu.
"Peluk saja!" Ucap Defran membuat Lifia menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Kalau saya bukan
hanya ingin memeluk kamu, tapi saya ingin menciuuum kamu," jujur Defran dengan wajah dinginya itu
dan telrlihatdengan jelas jika ia tidak menerima penolakkan. Lifia merasa salah tingkah jujur saja ia
sangat suka Defran menciumnya dan ia sangat merindukan Defran Satyas.

"Yakin Mas nggak ada yang lihat? Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Tanya Lifia mengedarkan
pandanganya dan ia bernapas lega karena ternyata taman ini memang sepi pengunjung.

"Ya nggak apa-apa," ucap Defran seenaknya.

Lifia menyunggingkan senyumannya dan ia menggerakkan tubuhnya ingin segera memeluk Defran,
namun Defran menghentikan gerakan Lifia membuat Lifia sangat malu. "Sebentar!" Ucap Defran dan ia
memundurkan posisi tempat duduknya dan juga memperbaiki sandarannya. "Duduk sini!" Ucap Defran
membuat Lifia terkejut namun tentu saja memeluk Defran sambil duduk seperti ini, tidak akan ia tolak.

Lifia bergerak dan ia duduk dipaha Defran, hingga Defran menarik sandaran tempat duduknya agar
turun dan Lifia saat ini berada diatas tubuhnya dengan Defran yang sedang berbaring santai dikursi.
"Mas kita kayak abg m***m tahu," ucap Lifia.

"Anggap saja begitu, untuk pertama kakinya saya seperti ini," ucap Defran sambil mengelus pipi Lifia
dengan

5/7

Stop memanfaatkan saya


lembut.

"Memangnya dulu kamu nggak pernah pacaran Mas?" Tanya Lifia.

"Pacaran dimasa muda hanya buang waktu, karena belum bisa berpikiran jernih, lagian saya fokus
belajar," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

Lifia memeluk Defran dengan erat dan ia merasa tubuh kekar ini, sangat nyaman untuk ia peluk dengan
erat.

Defran menarik wajah Lifia dengan pelan dan ia mensejajarkan wajahnya, lalu ia mencium bibir Lifia
dengan lembut hingga Lifia terpejam seolah menikmati bibir lembut itu menyetuhnya. Defran masih saja
khawatir dengan lengan Lifia dan ia sangat menjaga lengan Lifia agar tidak terhimpit.

Ponsel Defran berbunyi membuatnya melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuh Lifia, agar duduk
kembali disampingnya. Wajah Lifia merah padam dan Defran membuka kaca mobilnya dan ia melihat
sosok Altaf keluar dari dalam mobilnya. Defran memang telah mengirimkan pesan kepada Altaf, agar
segera menyusulnya ke Taman ini. Altaf mengetuk kaca mobil Defran, Defran segera menurunkan kaca
mobilnya.
"Gila ya Mas niat banget kalian berdua kesini ditempat sepi begini, asal kamu tahu ya Mbak tempat ini
tekenal banyak hantunya makanya sepi," ucap Altaf. "Kelihatan banget pengen m***m disini," sinis
Altaf.

"Beneran ya Mas, disini banyak hantunya?" Tanya Lifia. Defran hanya diam saja dan ia menyunggingkan
senyumannya. Gosip yang beredar memang mengatakan tempat ini banyak hantunya, apalagi ditempat
ini pernah terjadi kasus pembunuhan. Defran sengaja kemari karena tempat ini tempat terdekat dari
Mall untuknya, agar bisa memeluk dan mencium Lifia dengan aman.

"Iya Mbak makanya sepi," ucap Altaf. "Udah ya stop

6/7

Stop memanfaatkan saya


memanfaatkan saya untuk membuat kalian bisa bertemu, tahan hanya beberapa hari lagi kalian akan
segera menikah!" Ucap Altaf kesal. "Ayo Mbak pulang!" Ajak Altaf.

"liiya..." ucap Lifia dan ia mengecup pipi Defran dengan cepat, lalu melangkahkan kakinya keluar dari
mobil Defran membuat Defran menyunggingkan senyumannya karena merasa hari ini ia menjadi sangat
konyol.

15

Comments

Vote

7/7

Ikat dia.
Ikat dia
Kiran menatap Jam ditangannya menujukkan pukul setengah empat, ia ingin pulang ke Rumah orang
tuanya apalagi hari ini rencananya mereka semua akan mulai tinggal di Kediamana orang tua Lifia,
sampai acara pernikahan Lifia selesai. Kiran menatap Handaru yang saat ini sedang berbincang bersama
Papinya, ia sebenarnya sangat bersyukur karena orang tua Handaru menerimanya sebagai calon
menantu, namun ia juga merasa ketakutan karena mereka ingin ia dan Handaru segera menikah
secepatnya. Bukanya Kiran tidak mau, namun baginya pernikahan saat ini terlalu cepat untuknya dan
Handaru.

"Kiran..." panggil Erna tersenyum lembut kepada calon menantunya ini.

"Iya Mi," ucap Kiran.


"Kamu menginap disini ya Nak! tadi Handaru juga sudah bilang sama ibu kamu, nanti Mami yang telepon
Ibu kamu. Biar ibu kamu percaya anaknya ada disini, nanti dikira kalian berada di Apartemen berdua saja
sama Handaru," ucap Erna. "Jangan menolak! Mami tahu kamu canggung sama Mami dan Papi, tapi kan
Nak kamu harus beradaptasi sama kita. Menginap dulu malam ini Nak, Mami itu pengen banget punya
menatu makanya begini!"

ucap Erna dengan tatapan memohon.

"Kiran memang akan menginap disini, Mi!" ucap Handaru dan ia mengangkat sudut bibirnya karena
Kiran tidak akan bisa menolak.

"Marco..." panggil Abib membuat Marco mengangkat kepalanya dan ia menatap Abib dengan tatapan
penasaran.

1/7

Ikat dia
"Kamu malam ini tidur di Rumah, ini kamu nggak pernah lagi tidur disini, kamu memang punya
apartemen tapi kan kamu punya rumah! Ini rumah keluarga kita jangan lupakan itu!" Ucap Abib dingin.
"Apa kamu mau pergi ke Club terus jalan sama perempuan-perempuan kamu itu? Sudah cari istri yang
bener dan menikah Marco!" Ucap Abib kesal dengan Marco yang memiliki banyak perempuan tapi
ternyata diantara mereka tidak ada

pacarnya.

Kiran menyunggingkan senyumannya, jika saja saat ini rahasia Marco terbongkar, pasti ia akan dihukum
berat oleh Papinya ini. "Pi, Marco banyak pekerjaan Pi, lain kali Marco menginap!" Ucap Marco.

"Udah tiga bulan kamu kerjaannya pulang ke rumah ini kalau diminta pulang, kamu ini udah nggak
punya aturan Marco," kesal Abib.

2/7

Ikat dia
"Mami dan Papi sekarang juga sudah punya anak angkat perempuan di Rumah jadi kan rumah ini rame,
nggak sepi lagi," ucap Marco.

"Astaga Marco jadi kamu ngambek sama Mami karena Mami kasih kamu adek lagi?" Tanya Erna kesal
dengan putranya ini.

"Mami sih nggak kira-kira ambil anak cewek umur lima tahun jadi anak, cocoknya jadi cucu Mami," ucap
Marco kesal membuat Handaru tersedak, sedangkan Kiran tersenyum.

"Loh...kayak kalian ini sudah kasih Mami cucu saja, pantasan saja kamu sering kesal sama Mami kalau
Mami titipin Daisy sama kamu," ucap Erna kesal.
"Mami juga nggak kira-kira nitipin anak sama Marco, lain kali itu titip ke mereka Mi! Sekalian biar Kiran
belajar jagain anak!" Ucap Marco, membuat Kiran melototkan matanya karena Marco mencoba
menyinggung dirinya.

"Kiran tidak perlu belajar jaga anak, dia sudah keibuan seperti ini jadi tidak perlu diajarinya!" Ucap
Handaru menyungingkan senyumannya, sedangkan Kiran menghela napasnya. Ingin sekali Kiran
mengatakan rahasia Marco yang telah memiliki anak saat ini juga, namun ia menahan dirinya karena tak
ingin keributan di Rumah ini disebabkan dirinya.

Suara tangis anak perempuan terdengar dan ia melangkahkan kakinya mendekati Handaru, membuat
semua orang menatap kearah Handaru. "Mas...Halu..." ucapnya.

"Hahaha...Halu...memang dia itu memang suka menghalu Dek," ucap Marco membuat Kiran memukul
lengan Marco. "Ya ampun so sweet banget ya udah dibelain sama pacar," goda Marco. "Kalau sama Mas
Handaru mukulnya pasti nggak keras kayak gini!" Ucap Marco.

3/7

Ikat dia
"Nyebelin..." ucap Kiran pelan.

Handaru menggendong Daisy dan anak perempuan itu tampaknya sangat dekat dengan Handaru. "Dia
lebih sayang sama Handaru dari pada Papinya ya sayang?"ucap Erna menatap Daisy dengan tatapan
penuh kasih sayang dan bocah perempuan cantik itu menganggukkan kepalanya.

Handaru mencium pipi Daisy karena gemas membuat Kiran tersenyum dan hari ini, ia bisa melihat sosok
lain dari pengacara sombong yang menyebalkan ini. "Sini sama Papi, besok Papi ajak beli mainan!" Ucap
Abib membuat Daisy mengulurkan tangannya meminta Abib untuk menggendongnya dan Handaru
memberikan Daisy kepada Abib.

"Harusnya memang sudah punya cucu, tapi punya anak laki-laki sibuk aja terus sama pekerjaaanya.
Makanya Kiran nanti kalau kamu menikah sama Handaru kamu tinggal disini saja sama Mami dan Papi!
kamu kan tetap kerja nanti dan anak kamu biar Mami yang urus. Kamu tenang saja, karir kamu akan
seimbang dengan kehidupan rumah tangga kamu dan Mami menentang jika Handaru meminta kamj
untuk berhenti berkarir!" Ucap Erna membuat Kiran tersenyum senang, ia tidak menyangka calon ibu
mertuanya akan mengatakan hal ini padanya, biasanya para ibu mertua akan meminta menantunya
untuk tidak bekerja dan hanya fokus dengan keluarganya.

"Karir kamu bagus dan sangat membanggakan kita semua. Apalagi Mami dan Papi sangat suka
menonton kamu di Tv," ucap Erna.

"Iya Mi, Terimakasih," ucap Kiran.

"Jangan-jangan karena hal ini juga kamu kesal kalau membahas pernikahan," ucap Handaru membuat
Kiran menelan ludahnya. Salah satu alasannya juga ini, karena
4/7

Ikat dia
Kiran masih ingin berkarir dalam waktu yang cukup lama. la sangat suka dengan dunia pekerjaanya dan
ia ingin sekali keluarganya tetap mendukungnya.

"Jadi kalian sudah bahas mengenai pernikahan?"

Tanya Abib tersenyum senang. "Wah...anak Papi ini hebat sekali...sat set...aja ya nak hahaha..." tawa
Abib karena ia sangat bahagia saat ini.

"Ya...Pi kenapa mesti ditunda-tunda, harus disegerakan!" Ucap Handaru membuat Kiran menelan
ludahnya karena Handaru seolah tidak ingin mendengar pendapatnya yang belum ingin segera menikah.

"Iya nak Kiran, harus disegerakan biar rumah ini bertambah rame Nak!" Ucap Erna.

"Jangan dipaksa kalau Kiran belum mau segera menikah!" Ucap Abib karena ia melihat Kiran
menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang memerah, Kiran memang masih belum yakin menikah
secepat itu. "Kayaknya Kiran belum yakin sama Handaru! Kalau Handaru Papi sangat percaya sama dia
kalau sampai saat ini dia nggak ada perempuan lain, kalau itu yang kamu khawatirkan Kiran!" Ucap Abib.

"Dia mau menikah Pi, nanti kita bicarakan setelah Lifia dan Defran menikah!" Ucap Handaru. "Iya kan
Kiran?" Tanya Handaru dan ia memang sengaja menanyakan hal ini depan orang tuanya agar Kiran tidak
mengingkarinya.

"Iya, Pi...nanti dibicarakan setelah pernikahan Lifia dan Defran," ucap Kiran membuat Handaru
menyunggingkan senyumannya. Jika Kiran sudah berjanji seperti ini, Kiran tidak bisa lagi menghindari
pernikahan yang ia inginkan segera terlaksana.

"Oke Nak," ucap Abib tersenyum senang dan ia menatap Handaru dengan tatapan bangga, hingga ia
mengisyaratkan agar jangan pernah melepaskan Kiran Ayu untuk menjadi menantunya.

5/7

Ikat dia
Setelah itu Kiran beristirahat dikamar Handaru, entah apa yang pikirkan Mami Erna hingga ia meminta
Handaru, agar beristirahat dikamar Handaru sementara ia dan Handaru belum menikah. Kiran saat ini
sedang duduk disofa yang berada dikamar ini dan Handaru duduk disampingnya. "Nanti malam kamu
tenang saja, saya nggak akan tidur dikamar ini, Mami menempatkan kamu tdiur disini agar terbiasa
dengan kamar ini!" Ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya.

"Iya aneh saja Mami kamu meminta aku tidur dikamar kamu," ucap Kiran.

"Bukan aneh tapi orang tua saya berharap kamu


segera terikat dengan saya Kiran!" Ucap Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Mas...apa kamu yakin jadiin aku istri? Kamu nggak takut dengan sikap aku yang dominan dan..." ucap
Kiran. la menyadari jika ia sering kali bersikap egois dan bahkan melakukan suatu hal sesuka hatinya.

"Saya lebih dominan dari pada kamu, kalau kamu lupa siapa saya," ucap Handaru dan ucapan Handaru
memang benar jika sikap Handaru padanya bahkan membuatnya takluk. Handaru sepertinya bisa
mengendalikan dirinya dan ia harus menuruti keinginan Handaru bahkan Handaru melebih Ayahnya
yang bisa menasehatinya. Sosok dominan yang pastinya bisa menjadi Imam yang baik untuknya.

"Apalagi keraguan yang ada dipikiran kamu tentang pernikahan kita? Kamu keberatan kalau kamu
tinggal disini bersama orang tua saya?" Tanya Handaru.

"Tidak Mas, justru aku senang jika bisa tinggal disini bersama orang tua kamu," ucap Kiran.

"Kita juga akan sering menginap di Rumah orang tua kamu!" Ucap Handaru mencoba membujuk Kiran
agar mau segera ia nikahi.

6/7

Ikat dia
Handaru menarik Kiran kedalam pelukkannya "Percayakan hidup kamu sama saya dan ingat kamu itu
milik saya!" Ucap Handaru membuat Kiran mengangkat wajahnya dan ia menatap wajah Handaru yang
terlihat sangat serius padanya.

"Iya Mas," ucap Kiran dan ia mengeratkan pelukkannya. Baru kali ini ia akhirnya mempercayakan hatinya
kepada seorang laki-laki yang bisa

menyakinkannya jika kehidupan pernikahan bukan untuk ia takuti. Apalagi keinginanya mendapatkan
sosok yang bisa menyakinkannya, jika kehidupannya setelah menikah nanti akan baik-baik saja
bersamanya. Handaru Laksamana Satyas sosok pengacara yang sangat terkenal dan disukai banyak
perempuan, karena kehebatannya menangani kasus hingga ketampanannya yang memanjakan mata.

11

Comments

Vote

7/7
Dia ingin bebas.
Dia ingin bebas
Lifia sebenarnya sangat canggung berada di Kediaman Bagaspasti, bagaimana tidak setelah bertahun-
tahun lamanya ia tinggal bersama Murni dan Nasir, akhirnya ia kembali tinggal bersama Papi
kandungnya untuk sementara ini. Lifia melihat Ronal sedang duduk santai sambil berbincang dengan
Altaf, keduanya tampak akrab dan ia sangat bersyukur berbeda dengan Rima dan Fadil yang terlihat
sangat canggung saat ini, hingga keduanya memilih untuk diam.

Lifia sebenaranya ingin mendekati Fadil namun ia belum memiliki kesempatan dan tiba-tiba Fadil berdiri
dan ia melangkhkan kakinya menuju dapur. Fadil meminum segelas air dan ia duduk dikursi makan
sambil termenung, membuat Lifia segera duduk disampingnya. "Hai Fadil..." tegur Lifia membuat Fadil
terlihat gugup dan ia bingung bagaimana memperlakukan Lifia, Kakak beda ibu yang selama ini tidak
pernah ia temui.

"Hai...jujuga," ucap Fadil gugup.

"Hmmm...Mbak tahu mungkin kamu juga sama seperti Mbak canggung dan kita sama-sama belum
mengenal, tapi bagi Mbak kamu ini adiknya Mbak Fadil," ucap Lifia mencoba menghangatkan suasan
dan ia tersenyum lembut kepada Fadil. Fadil menelan ludahnya selama ini ia mendapatkan kasih sayang
yang tulus dari Rima Kakak perempuannya, sedangkan ibunya hanya bisa memerintahnya bahkan
memarahinya.

"Fadil...dek...kamu itu adeknya Mbak, adik bungsu kita, Mbak minta maaf karena baru bisa ketemu
kamu dan bicara sama kamu seperti ini!" Ucap Kiran dan ia mengelus kepala Fadil dengan lembut. la
ingin bisa akrab dengan

1/6

Dia ingin bebas


Fadil hingga tidak canggung seperti sebelumnya.

"Iya Mbak, hmmm...Mbak nggak benci sama Fadil?"

Tanya Fadil menatap Lifia dengan sendu. la sangat mengerti jika Lifia membencinya karena perebuatan
Maminya yang sudah sangat jahat kepada Lifia selama ini.

"Mbak, kalau benci sama Fadil, benci saja Mbak nggak apa-apa...Mami Fadil yang salah," ucap Fadil
membuat Lifia menghela napasnya.

"Kenapa Mbak harus membenci kamu Dek, kamu nggak salah apa-apa kok, lagian rugi banget benci
sama Adik Mbak yang sangat menggemaskan ini!" Ucap Lifia membuat Fadil akhirnya tersenyum.

Fadil ingat bagaimana Maminya memintanya ikut


membenci Lifia, hingga setiap Lifia muncul di TV, Anya akan

menghina Lifia. Bahkan Anya menghukum Rima yang

membela Lifia, ketika Anya berkata kasar tentang Lifia.

Kemarahan Rima memuncak karena ia merasa Maminya telah memanfaatkannya selama ini agar
menyakiti Lifia dan pertengkaran itu sangat sering terjadi hingga membuat Fadil ketakutan.

"Mbak itu sayang sama kamu, ini Mbakmu loh dan Mbak nggak akan membenci kamu apalagi nyakitin
kamu!" Ucap Lifia menyakinkan Fadil jika ia sangat menyayangi Fadil.

"Mami memang pantas dihukum Mbak, Fadil tidak menyalahkan Mbak atau Papi jika Mami masuk
penjara," ucap Fadil membuat Lifia tersenyum lembut.

Rima melipat tangannya dan sejak tadi ia bersembunyi dibalik dinding. Sama halnya dengan Fadil ia juga
memiliki kekhawatiran yang sama, apalagi ia tidak memiliki hubungan darah dengan Lifia dan Ronal.
Rima hanyalah anak bawaan Anya, ia hanya memiliki hubungan darah dengan Fadil. Keluarga ini pun
bisa saja membuangnya kapan saja mereka mau dan ia telah bersiap

2/6

Dia ingin bebas


untuk itu. Rencananya Rima akan hidup mandiri dan tinggal di Apartemen yang akan ia sewa dengan
uang tabungannya selama ini. Ya..ia yakin akan ada waktunya kejahatan yang dilakukan Maminya itu
akan terbongkar dan terbukti sekarang Maminya itu telah menerima akibat atas kejahatannya selama
ini.

Ronal melihat Rima yang sepertinya sedang menguping pembicaraan Lifia dengan Fadil dan ia
melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Rima, lalu ia menarik tangan Rima agar menjauh dari
mereka. "Kamu apa-apaan Mas?" Kesal Rima.

"Jangan bilang kamu akan menuruti sifat Mamimu yang serakah dan akan melakukan apa saja demi
keuntungan kamu?" Tanya Ronal dingin.

"Apa aku segila itu Mas? kamu tidak mengenal aku selama ini dan kamu tidak berhak memfitnah aku
hanya karenavaku anak kandung Anya," ucap Rima kesal.

"Biasanya buah tidak jauh jantuhnya dari pohonya Rima," ucap Ronal.

"Kamu tenang saja Mas, tadinya aku berniat untuk tetap jadi benalu di Rumah ini, dengan menjadi putri
dari seorang Parmoko Bagaspati. itu semua bukan hanya karena aku serakah dan tidak ingin jatuh
miskin, tapi karena Fadil. Aku pikir Fadil masih membutuhkan aku, tapi sepertinya sekarang ia telah
memiliki Mbak yang lebih baik dari aku. Kamu tenang sana setelah acara pernikahan Lifia selesai, aku
akan pergi dari rumah ini!" Ucap Rima dingin.
"Aku cukup tahu diri sebagai anak yang tidak ada hubungan darah dengan kalian berdua, aku tidak
berhak tinggal disini tapi aku hanya ingin kalian tetap menyayangi Fadil, karena kita sama-sama memiliki
satu adik yang sama. Aku ingin keluarga ini memberikan yang terbaik baik untuk Fadil!" Ucap Rima
dingin dan ia berusaha untuk

3/6

Dia ingin bebas


tegar. Kali ini ia akan terbebas dengan segala belenggu yang mengikatnya dan sepertinya keluarga ini,
tidak memerlukannya lagi bahkan akan sangat bersyukur jika ia tidak tinggal di Rumah ini lagi.

Ronal menatap Rima dengan tatapan kesal, bisa-bisanya Rima mengatakan hal seperti ini padanya. Pergi
dari sini hanya akan memperumit masalah keluarga ini dan sepertinya, rencana kepergian Rima telah ia
susun dengan rapi. "Kamu mau pergi dari rumah ini dan bebas berkeliaran diluar sana? Kamu pikir nama
belakang kamu itu siapa? Seumur hidup kamu apa yang akan kamu lakukan, akan terkait dengan
keluarga ini!" Ucap Ronal.

"Lalu mau kamu apa, Mas? Apa?" Tanya Rima dingin.

Ronal menarik tangan Rima dengan kesal, sejujurnya ia sangat menyayangi Rima, walaupun Rima
ternyata bukanlah adik kandungnya. la tidak ingin Rima hidup bebas diluar rumah dan tidak ada yang
menjaganya, namun ia kesulitan untuk mengatakan hal ini karena tak ingin Rima nantinya besar kepala.
Ronal masuk kedalam kamar Rima, lalu mengunci pintu kamar ini dari dalam, ia tidak ingin semua
keluarga mendengar pembicaraan mereka.

"Sudah sepatutnya kamu membantu keluarga ini Rima, semua ini terjadi akibat tingkahlaku Mami kamu
yang membuat beberapa investor menarik investasinya, ketika pemberitaan mengenai kejahatan Mami
kamu itu beredar dimedia masa. Perbuatan Mami kamu membuat saham perusahaan keluarga ini turun.
Sebagai seorang anak, sudah sepatutnya kamu membantu!" Ucap Ronal.

"Oke aku akan bekerja di perushaan keluarga!" Ucap Rima membuat Ronal menghela napasnya.

4/6

Dia ingin bebas


"Hanya bekerja? Kamu pikir itu bisa membantu perusahaan kita? Jawabannya tidak," ucap Ronal dingin.

"Lalu kamu mau apa Mas? Kamu mau apa dari aku?" Lirih Rima.

"Bertindak sebagai seorang putri Bagaspati, menikah demi bisnis keluarga!" Ucap Ronal membuat Rima
melototkan matanya.

"Kamu menolak? Ingat ya Rima selama ini kamu menjalankan hidup kamu dengan baik di Rumah ini.
Menjadi putri bagi Parmoko Bagaspati dan setelah apa yang dilakukan Mamimu, membuat perusahaan
keluarga kita hancur, kamu tidak kasihan sama Papi? Kamu jangan egois Rima!" Ucap Ronal membuat
tenggorokan Rima terasa keluh dan ia tentu saja tidak ingin menikah dengan laki-laki, yang tidak ia kenal
apalagi demi bisnis keluarga.

5/6

Dia ingin bebas


Ronal telah benar-benar memperlakukannya dengan seenaknya dan ia tidak bisa menerima itu.

"Kamu gila Mas, kamu tega sama aku...apa kamu tidak pernah menganggap aku ini adikmu, Mas?" Tanya
Rima dengan tatapan kecewa. la merasa menikah dengan laki-laki yang tidak ia kenal, sungguh sudah
sangat keterlaluan.

"Justru karena aku ini Kakak sulungmu dan aku masih bertanggung jawab tentang kamu, termasuk
kehidupan kamu. Kamu mau keluar dari rumah ini akan saya kabulkan Rima, tapi kamu harus menikah
dengan laki-laki pilihan saya dan Papi!" Ucap Ronal membuat Rima terduduk diranjang dan ia berteriak
kesal.

Ronal keluar dari kamar Rima dan ia melihat Papinya ternyata berada didepan kamar Rima. "Dugaan
Papi benar, dia berencana untuk keluar dari rumah ini Pi," ucap Ronal membuat Parmoko menghela
napasnya. la sangat mengenal Rima yang pastinya tidak akan menghilangkan kesempatan untuk segera
bebas dari rumah ini, setelah Anya berada didalam penjara.

"Setelah Lifia menikah, lebih baik dia juga segera dinikahkan dengan laki-laki yang baik, agar dia tidak
salah dalam bergaul!" Ucap Parmoko.

"Iya Pi," ucap Ronal menyetujui ucapan Parmoko.

Comments

Vote

6/6

Saudara durhaka.
Saudara durhaka
Acara yang ditunggu semua keluarga besarnya akhirnya hari ini akan segera diselenggarakan, sejak
subuh Lifia telah terlihat sibuk dan ia saat ini sedang dimakeup oleh penata rias ternama. Azura sebagai
sahabat Lifia pun, ikut hadir hari ini bersama suaminya dan ia juga telah datang pagi-pagi sekali karena
ingin menemani Lifia dengan ritual pagi hari ini, untuk menyambut acara akad nikah yang akan
diselenggarkan pukul sembilan pagi ini.
Saat ini Kiran terlihat ikut panik dan memang ia yang paling sibuk bersama Rima, untuk mengurus segala
sesuatu mengenai acara pagi ini. Untung saja Rima bisa diajak berkerjasama membuat pekerjaan Kiran
semakin ringan. "Gila saja kamu yang nikah Mbak yang repot Lifia, awas saja kalau nanti saat Mbak
menikah kamu nggak repot kayak Mbak!" Ucap Kiran kesal.

"Tergantung takdir kalau nanti saat kamu mau menikah Lifia sedang hamil, Defran nggak akan
mengizinkan Lifia kerepotan untuk mengurusi pernikahan kamu," ucap Kana menyunggingkan
senyumannya melihat adik perempuannya ini, terlihat sangat kesal.

"Kalian menyebalkan sekali," sinis Kiran. Semuanya telihat ingin mengejeknya dan itu membuatnya
sangat kesal.

"Salah Mbak....harusnya waktu Mas Handaru lamar Mbak, ya terima saja toh...ujung-ujungnya hanya
Mas Handaru yang bisa jadi Imamnya Mbak," ucap Lifia membuat Azura terkekeh. Azura selalu kagum
dengan persaudaraan Lifia, Kana dan Kiran, ia akhirnya membujuk suaminya agar nantinya ia bisa
memiliki banyak anak dan

1/6

Saudara durhaka
rumah tangganya akan semakin berwarna dengan keramaian anak-anaknya.

"Paling nanti setelah aku menikah, Mbak Kiran juga langsung akan menikah sama Mas Handaru," ucap
Lifia.

"Itu sih maunya dia," ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah mengingat jika Handaru memang
ingin segera menikahinya.

Lifia telah selesai dimakeup dan ia memang terlihat sangat cantik, membuat semua orang kagum
melihat kecantikan seorang Lifia Ayu. "Aduh pangling banget ya lihat kamu pakek kebaya begini,
walaupun sudah sering lihat kamu di Tv juga kalau kamu jadi model atau lagi syuting," ucap Kana
menatap Lifia dengan tatapan kagum.

"Iya, Lifia memang paling cantik menurut survei dan dia juga lebih cantik dari pada Kiran," ucap Kiran
tersenyum bangga melihat kecantikan adiknya.

"Tapi Kiran lebih pintar dari pada Lifia," ucap

Lifia.

"Kombinasi dari kalian berdua ya Kana," ucap Kana memuji dirinya sendiri membuat mereka semua
tersenyum.

Kana adalah sosok yang paling menyenangkan dan sangat membanggakan sejak kecil. la menjadi
kesayangan semua orang, karena ramah dan baik hati kepada siapa saja.
"Kalian bertiga itu menganggumkan, makanya enak banget kalau banyak saudari kayak kalian," ucap
Azura.

Rima sejak tadi hanya diam saja, sebenarnya ia juga kagum dengan keluarga Lifia dan ada perasaan iri
dihatinya, melihat keakraban mereka. Sedangkan saat ini ia pun tidak akur dengan Ronal yang sejak dulu
telah ia anggap sebagai kakak sulungnya. Rima menghela napasnya, coba saja Maminya itu tidak jahat
dan bisa

2/6

Saudara durhaka
bersikap baik, mungkin keluarganya juga akan bahagia sejak dulu.

Sementara itu saat ini Defran terlihat sangat sibuk di Kediaman Satyas. Apalagi mereka semua
berkumpul di Rumah utama Satyas. Sejak tadi Megan, Janu dan Serkan sengaja menggodanya dengan
mengatakan pangeran terakhir akhirnya menikah. Tapi yang membuat Defran merasa sangat kesal, para
saudaranya ini memaksanya untuk melakukan ritual aneh yang sengaja dilakukan untuk mengerjainya.
"Def, kamu ini mau nikah apa nggak? diminta mandi kembang saja kamu nggak mau!" Ucap Janu sebagai
membuat ritual aneh agar Defran kesal.

"Kalian ini keterlaluan, kalian menikah saya nggak ikut campur, kenapa saat saya mau menikah kalian
perlakukan saya kayak anak kecil begini," sinis Defran kesal.

"Mas Def, ini bagian dari ritual agar tercium bau harum dari tubuh kamu Mas," ucap Megan.

"Itu hanya alasan kalian semua, kalau kalian mau berkelahi ayo!" Ucap Defran dan ia menolak ketika
Serkan, Janu dan Megan memaksanya untuk mandi kembang sedangkan Fajrin dan Amran menahan
tawanya melihat kekonyolan pagi ini. "Kalian jangan keterlaluan keluar sana!" Usir Defran.

"Mandi saja apa susahnya, Def!" Ucap Serkan. "Kalau kamu ngajakin berkelahi apa kamu yakin kamu
bsia menghadapi kita semua?" Ucap Serkan sinis.

"Mas Serkan jangan keterlaluan sama saya!" Kesal Defran.

"Def ikuti saja maunya mereka, kamu yang salah tidak mengadakan pesta lajang," ucap Serkan. "Atau
kamu mau, kita semua tidak datang ke acara akad nikah kamu hari ini?" ancam Serkan membuat Defran
mengeraskan rahangnnya. Defran terpaksa masuk kedalam bathup yang

3/6

Saudara durhaka
telah ditaburi kelopak bunga, ia membiarkan Serkan dan yang lainnya mencukur jambangnya hingga
mereka juga dengan sengaja mengacak-acak rambutnya seakan sedang keramas.

"Kapan lagi bisa mengacak-agak rambut Tuan Defran," ucap Janu tersenyum penuh kemenangan.
Defran menahan dirinya untuk tidak meledak saat ini juga, ia harus bersabar karena jika ia menyinggung
mereka semua, bisa-bisa mereka benar-benar tidak akan datang pagi ini. Megan mengeringkan rambut
Defran dengan handuk. "Pangeran sudah mandi setelah ini mau diapakan lagi?" Tanya Megan.

"Kalian ini terniat sekali, lebih baik kalian bersiap sekarang juga!" Ucap Defran kesal, apalagi saat ini
mereka hanya memakai baju kaos dan celana pendek rumahan, dan yang paling menyebalkan baju kaos
yang mereka pakai bertuliskan Defran si perjaka.

"Kita itu kalau bersiap lebih cepat dari kamu, karena semuanya sudah disiapkan istri," ucap Serkan.
Malam tadi ia memang ikut menginap di Kediaman Bagaspasti dan pagi-pagi sekali, ia sengaja pulang
karena ingin ikut mengerjai Defran Satyas.

"Kamu yang terniat Mas, kenapa kamu pulang kemari sementara sejak semalam kamu menginap di
Rumah mertua saya," ucap Defran kesal.

"Kenapa memangnya? Kamu mau melarang saya? kamu mau saya bilang sama mertua kamu, kalau
pernikahan kamu ditunda besok saja atau lusa?" Ucap Serkan dan ia menahan tawanya melihat ekspresi
Defran yang terlihat sangat kesal.

Setelah selesai mandi Defran duduk santai disofa dengan wajahnya yang terlihat kesal. "Kamu masih
berhutang sama kita Def, jadi nanti acara liburan keluarga semuanya kamu yang tanggung!" Ucap Janu.

4/6

Saudara durhaka
"lya," ucap Defran sinis membuat mereka tersenyum.

"Itu bajunya Def!" Ucap Amran membuka suaranya dan sejak tadi ia menahan tawanya melihat Defran
yang kesal karena tingkah para saudaranya ini.

Defran memakai pakaiannya dibantu Amran dan Fajrin, setelah itu seorang penata rias mendekati
Defran membuat Defrab melototkan matanya. Penata rias yang

merupakan seorang laki-laki itu menatap mereka semua dengan tatapan penuh minat apalagi didalam
kamar ini ternyata berkumpul para lelaki tampan.

"Ayo Mas ganteng dibedakan dulu wajahnya!"

Pintanya menatap Defran dengan tatapan penuh minat.

"Nggak usah!" Ucap Defran kesal.

5/6
Saudara durhaka
"Salsa...Kila...." teriak Defran karena ia tahu siapa dalang yang memerintahkan laki-laki cantik ini masuk
kedalam kamarnya. Salsa dan Kila melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Keduanya tertawa
terbahak-bahak apalagi ternyata bukan hanya Defran yang terlihat kesal padanya, tapi semua laki-laki
tampan yang ada di Rumah ini.

"Beb...mereka nggak mau dimakeup, kamu makeuppin kita aja Beb!" Ucap Salsa.

"Aduh rugi banget Darl nggak makeup sama eke!"

ucapnya menatap semua lelaki tampan dengan yang ada dikamar ini dengan tatapan kecewa.

"Bawa dia keluar Salsa!" Ucap Defran kesal.

"Kalian berdua tunggu hukuman dari, Mas!" Ucap Serkan membuat Kila dan Salsa terkekeh.

"Oke Mas-Masku yang tampan," ucap Salsa. Salsa dan Kila segera melangkahkan kakinya keluar sambil
menarik laki-laki cantik itu agar keluar bersamanya.

Comments

Vote

6/6

Acara ini.
Acara ini
Jantung Lifia berdetak dengan kencang, apalagi saat ini, sosok Ronal dan Altaf datang menghampirinya.
Keduanya tersenyum melihatnya yang saat ini duduk diatas sofa, sambil menunggu acara yang sebentar
lagi akan dimulai. "Calon suaminya kamu sudah datang, Dek," ucap

Ronal.

"lii...iya Mas," ucap Lifia gugup.

"Kenapa gugup sekali?" Tanya Ronal.

"Biasa Mas sudah nggak sabaran dia jadi istri Ma Def," goda Altaf.

"Nyebelin banget sih..." ucap Lifia.

Kiran menatap Lifia dengan sendu dan entah mengapa ia merasa ingin menangis sat ini juga. Dulu ketika
kecil Lifia selalu saja menempel kepadanya dan meminta untuk tidur sekamar dengannya, hingga
membuat Altaf kesal dan ia akhirnya mengajak Kana untuk tidur bersamanya. "Udah gede gini kita
akhirnya pisah semua ya," lirih Kiran membuat Kana merangkul bahu Kiran dan Altaf sambil tersenyum.
Kiran memang terlihat tomboy, acuh tak acuh dan terkesan sangat cuek tapi sebenarnya Kiran adalah
sosok yang sangat perhatian. la mengucapkan kata-kata dingin, namun hatinya terasa hangat Altaf tahu
yang paling kehilangan sosok Lifia adalah Kiran.

"Mbak Kiran katanya kan juga mau segera menikah dan yang kasihan itu Ibu dan Ayah, semua anak
perempuannya diambil semua oleh suaminya," ucap Altaf tersenyum lembut dan ia merasa sangat
beruntung memiliki tiga orang kakak perempuan yang luar biasa cantik.

"Makanya nanti Al, kamu sama istri kamu saja yang

1/7

Acara ini
tinggal di Rumah sama Ayah Ibu!" Ucap Kana.

"Mana bisa Mbak, Aku kerjanya pindah terus," ucap Altaf membuat mereka bertiga menghela napasnya.

"Tenang saja Ibu dan Ayah bisa bergantian tinggal sama kita, atau kita nanti gantian tinggal sama Ibu dan
Ayah!" Ucap Lifia membuat mereka semua tersenyum karena setuju dengan ucapan Lifia.

"Ayo kita ke bawah!" Ucap Ronal membuat mereka semua segera keluar dari kamar Lifia.

Ronal dan Altaf yang mengantarkan Lifia menuju tempat dimana akad nikah akan diselenggarkan.
Dekorasi bewarna putih dengan penuh bunga ini terlihat sangat cantik. Kiran tersenyum saat melihat
Defran telah duduk dipanggung kecil yang telah disiapkan untuk menjadi tempat akad nikah ini. Disana
juga telah duduk Papi kandungnya Parmoko dan disampingnya juga ada Subekti yang saat ini sedamg
duduk sambil tersenyum melihatnya. Sungguh hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi
dirinya.

Lifia duduk disamping Defran, ia mengulum senyumnya karena hanya dengan hitungan detik, ia akan
segera menjadi istri dari seorang kaki-laki hebat bernama Defran Satyas. Para tamu memang tidak
terlalu banyak diundang dan hanya kerabat deka serta juga para sahabat, namun undangan ini ternyata
mencapai seratus orang. Acara akad nikah ini juga dilakukan secara privat dan Defran memang tidak
ingin pernikahannya bersama Lifia diliput banyak media.

Pak penghulu saat ini sedang bebicara dan memberikan banyak nasehat kepada kedua calon pengantin.
Setelah itu acara ijab kabul pun segera dimulai. Terjadi keheningan ketika Defran menyambut uluran
tangan Parmoko Bagaspati, diiringi dengan ijab kabul dengan satu kaliamat dengan cepat dan tegas,
akhirnya

2/7
Acara ini
kata sah terdengar menggema diruangan ini. Lifia merasa haru dan ia menahan dirinya untuk tidak
meneteskan air matanya. Keduanya menandatangi sejumlah dokumen dan setelah itu keduanya
memegang buku nikah masing-masing.

Lifia diminta oleh pembawa acara untuk mencium punggung tangan Defran dan terdengar suara tepuk
tangan, dari semua tamu yang hadir pada acara ini. Murni mendekati Lifia, membuat Lifia segera
mencium punggung tangan Murni dan memeluk Lifia dengan erat. "Selamat sayang, anaknya Ibu sudah
jadi istri sekarang..." ucap Murni dan ia ingat bagaimana Lifia kecil menangis terseduh-seduh didalam
pelukannya, ketika mereka berada di pemakaman ibu kandung Lifia.

"Iya Bu," ucap Lifia.

Acara di lanjutkan dengan memohon restu kepada para keluarga besar mereka termasuk Kakek Ali yang
juga datang keacara pernikahan cucunya ini. Kakek Ali sangat bahagia karena dimasa tuanya ini ia bisa
melihat Defran cucunya akhirnya menikah dengan Lifia. Hanya tinggal satu cucunya yang belum menikah
yaitu Salsa, membuatnya tersenyum melihat Salsa yang saat ini sedang memeluk lengannya hingga ia
menetapkan target jika Salsa juga harus segera menikah.

Kana dan Kiran meneteskan air matanya karena keduanya ikut terharu melihat kebahagian Lifia. Sama
seperti Rima yang juga mengulum senyumnya karean ia ikut bahagia dengan pernikahan Lifia. Masa lalu
buruknya dengan Lifia ketika kecil ingin segera ia hapus dan ia sangat bersyukur Lifia bisa mendapatkan
kebahagiaannya. Suara indah Azura yang sedang menyanyikan sebuah lagu terdengar begitu merdu,
Azura mendekati Kiran dan ia menarik Kiran agar ikut naik keatas panggung bersamanya.

3/7

Acara ini
Awalnya Kiran menolak untuk menyanyi apalagi saat ini ada sosok laki-laki tampan yang sedang
menatapnya. Kiran menelan ludahnya namun sepertinya ia memang harus ikut menghibur para tamu
saat ini hingga akhirnya Kiran mengeluarkan suara emasnya. Suara merdu itu terdengar sangat indah
membuat sosok Handaru menyunggingkan senyumannya. "Nggak salah Papi kamu setuju sekali Kiran
jadi menantunya," ucap Erna yang datang sendiri ke pesta ini membuat Handaru terkejut.

"Mami sama siapa?" Tanya Handaru dan ia mengedarkan pandangannya melihat sosok Sandra yang
sedang menggendong Dikta.

"Sendiri dong, Mami diminta Kiran untuk datang...ya Mami datang dong wakilin Papi karena Papi tadi
mau datang juga, tapi katanya rapatnya belum selesai," ucap Erna. "Marco mana? Nggak mungkin nggak
datang secara sahabat karibnya yang nikah," ucap Erna mengedarkan pandangannya mencari sosok
Marco, hingga matanya bertemu dengan mata Marco yang tekejut melihatnya.
Marco merasa sangat panik dan ia mengedarkan pandangannya mencari Sandra dan putranya, untung
saja Maminya tidak melihat Sandra. Marco melangkahkan kakinya mendekati Maminya dan ia memeluk
Maminya itu dengan erat. "Marco lebay banget kamu ya," ucap Erna.

"Mami kenapa nggak bilang kalau mau datang? Kalau Mami bilang kan, Marco saja yang menemani
Mami kesini!" Ucap Marco.

"Ini anak tumben banget manis sekali mulutnya sama Mami, biasanya sok sibuk banget kalau Mami
minta ditemani kemana," ucap Erna.

"Hehehe...Mami itu nggak dicoba dulu udah bilang begitu tentang Marco," ucap Marco tertawa garing

4/7

Acara ini
membuat Handaru menghela napasnya.

Handaru lebih memilih menatap Kiran yang sedang bernyanyi dari pada mendengarkan ucapan Marco,
apalagi membantu Marco. Kiran melihat kearah Handaru yang ternyata sedang fokus menantapnya,
membuatnya jadi salah tingkah. Setelah selesai menyanyi, Kiran melangkahkan kakinya ingin mendekati
Handaru namun langkah kakinya terhenti, karena ada beberapq orang yang

memintanya untuk berfoto bersama.

Handaru mengedarkan pandangannya dan ia melihat banyak lelaki rekan kerja Defran yang terlihat
menyukai Kiran, bahkan beberapa dari mereka saat ini meminta Kiran untuk berfoto bersama mereka.
Handaru melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia mempercayakan Maminya kepada Marco.
Marco membuka mulutnya karena kesal pada Handaru yang meninggalkan Maminya dan ia

5/7

Acara ini
yang harus bersama Maminya ini hingga nanti Maminya pulang.

Kiran tersenyum dan ia mengulurkan tangannya membuat beberapa orang menatap kearah Handaru.
Handaru menarik Kiran dan ia membawa Kiran menjauh dari keramaian. Handaru bahkan membantu
menarik ekor kebaya yang dikenakan Kiran. "Mas kamu baru datang ya?" Tanya Kiran.

"Iya," ucap Handaru menatap Kiran dengan intens.

Perempuan yang ada dihadapannya ini selalu saja membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
"Besok kerja saya antar jemput ya!" Ucap Handaru.

"Kamu nggak sibuk Mas?" Tanya Kiran.

"Nggak, besok nggak ke pengadilan dan hanya ke kantor saja," ucap Handaru.
"Kalau makan siang bersama kamu bisa Mas?" Tanya Kiran.

"Makan siang di Apartemen?" Tanya Handaru membuat Kiran menggelengkan kepalanya. Berbahaya
baginya jika ia makan siang di Apartemen, apalagi Handaru biasanya akan kumat dan suka menciumnya.

"Mas..." panggil Kiran dan ia menujuk Dikta yang saat ini mendekati Marco yang sedang bersama Erna.

"Akhirnya ini terjadi," ucap Handaru menghela napasnya dan ia bisa melihat dari kejauhan bagaimana
wajah Maminya saat ini.

"Mas kita kesana!" Ucap Kiran membuat Handaru menganggukkan kepalanya, lalu keduanya segera
melangkahkan kakinya bersama mendekati mereka.

19

Comments

Vote

6/7

Jangan bawa dia.


Jangan bawa dia
Marco tekejut melihat putranya mendekatinya dan memanggilnya. "Papa, Dikta mau sama Papa!" Ucap
Dikta membuat Erna yang berada disamping Marco segera menarik pelan Dikta, lalu menatap Dikta
dengan tatapan menilai.

"Marco bisa jelaskan siapa anak tampan ini?" Tanya Erna membuat Marco menelan ludahnya. Erna
seperti melihat Marco ketika kecil saat menatap wajah anak kecil ini. Semua bagian dari anak ini sangat
mirip dengan Marco putranya ketika masih kecil.

"Nanti Marco jelasin Mi tapi yang jelas Mami pasti sudah bisa menduga siapa dia, Mi..." ucap Marco dan
ia sudah tidak bisa menutupi lagi mengenai putranya ini. Mau tidak mau ia harus siap menerima
hukuman dari kedua orang tuanya nanti.

"Papa..." ucap Dikta dan ia mengulurkan tangannya meminta Marco untuk menggendongnya, membuat
Marco segera menggendong Dikta.

Kepala Erna tiba-tiba merasa sangat pusing, karena ia tahu jika anak laki-laki yang ada dipelukan
putranya ini adalah cucunya. Ingin sekali rasanya memaki atau bahkan memukul putranya yang sangat
kurang ajar ini, karena telah merahasiakan cucunya. "Mi..." panggil Handaru.

"Handaru....Nak kamu tahu tingkah adik kamu ini Nak...anak ini mirip sekali dengan dia," ucap Erna
sendu. Kalau Hadaru mengetahui hal ini dan ia ikut bersekongkol merahasiakannya, ia akan sangat
murka dengan kedua putranya ini.
"Nggak tahu, Mi," ucap Handaru sengaja menutupi hal ini karena jika ia mengatakan ia mengetahuinya
makanya

1/6

Jangan bawa dia


Maminya ini juga akan murka kepadanya.

"Kamu nggak bohong sama Mami, nak?" Tanya Erna membuat Handaru menelan ludahnya karena si
brengseeek Marco ini, telah membuatnya berbohong kepada Maminya ini. Kiran menatap Handaru
dengan tatapan menyelidik, ia tahu mungkin Handaru berusaha untuk tidak menambah masalah jika
tidak Maminya bisa saja akan menangis sekarang juga karena kecewa padanya.

"Handaru bawa anak itu pergi ke Rumah kita!" Pinta Erna membuat Handaru melototkan matanya.

"Nggak bisa Mi, ingat Mi...kita saat ini dimana Mi, please nanti Marco sendiri yang ajak anak Marco
datang menemui Mami!" Ucap Handaru mencoba menangkan Erna. Anak Marco kata-kata telah
menjelaskan semuanya jika anak laki-laki ini adalah cucunya.

Erna ingin mengambil Dikta dari pelukan Marco namun Dikta menggeleng kepalanya. "Dia nggak mau
sama Mami Marco, itu semua karena kamu," ucap Erna prustasi. Bagaimana mungkin Dikta bisa dekat
dengannya, jika Dikta baru kali ini bertemu dengannya.

Sandra terlihat sedang mencari Dikta dan ia telihat panik karena belum menemukan keberadaan Dikta.
namun setelah melihat Dikta ternyata berada dipelukan Marco, membuatnya merasa tenang. Sandara
melihat kearah Marco dan mata keduanya bertemu. Marco dengan isyarat matanya terlihat begitu
dingin apalagi sosok wanita parubaya yang ada disamping Marco itu terlihat sangat marah ketika
melihat Dikta. Wajah Sandra memucat dan ia bingung harus bagaimana saat ini, ia yakin jika perempuan
parubaya itu adalah Maminya Marco, apalagi ada Handaru dan Kiran yang juga sedang berbincang
dengan mereka. Sandra sangat prustasi apalagi saat ini Marco terlihat memintanya untuk segera
mendekatinya.

2/6

Jangan bawa dia


Sandra melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia menundukkan kepalanya saat ia telah berdiri
disamping Marco. "Mama..." ucap Dikta.

"Mi...perkenalan Mi...ini..." ucap Marco berat untuk mengatakannya dan Kiran mengelus pelan
punggung Erna mencoba menenangkan Erna.

Sandra mencium punggung tangan Erna dan wajahnya terlihat sangat pucat pasih, hingga ia juga terlihat
sangat gugup saat ini. "Besok kalian pulang ke Rumah, Mami tunggu kedatangan kalian tapi kalau kamu
Marco tidak datang membawa mereka, jangan harap Mami akan memaafkan kamu!" Ucap Erna.
"Handaru Mami mau pulang!" Ucap Erna memijit dahinya yang tiba-tiba merasa pusing memikirkan
Marco.

Selama ini yang paling Erna khawatirkan adalah Marco putranya yang terkenal Playboy, namun Erna
sangat mengenal putranya ini. Meskipun Marco terkenal sangat ramah dengan para perempuan yang
menyukainya, namun ia tidak pernah memanfaatkan mereka dengan berhubungan seks bebas. Tapi
kepercayaannya ini berubah menjadi rasa amarah yang begitu besar karena anak nakalnya ini telah
membuat ia sangat kecewa.

"Mami sakit kepala melihat tingkah dia Handaru,"

ucap Erna terlihat sangat kecewa dengan Marco Laksamana Dewandaru yang telah mengecewakannya.

"Oke Mi," ucap Handaru dan ia melangkahkan kakinya membawa Erna segera keluar dari rumah ini. Erna
terlihat sangat marah, dengan apa yang telah dirahasiakan putranya ini dan ia sangat kecewa.

Handaru membawa Erna masuk kedalam mobilnya dan ia menatap Kiran yang tadi mengantarnya
menuju mobil. "Saya antar Mami pulang dulu dan nanti saya akan telepon kamu Kiran!" Ucap Handaru.

3/6

Jangan bawa dia


"Oke Mas," ucap Kiran dan ia melihat kearah Erna yang terlihat sangat sedih saat ini "Mi istirahat yang
banyak ya Mi jangan dipikirkan Mi!" Pinta Kiran sendu membuat Erna menganggukkan kepalanya.

Handaru mencium dahi Kiran, ia mengelus kepala Kiran dengan lembut dan ia segera melangkahkan
kakinya masuk kedalam mobil, lalu melajukannya dengan kecepatan sedang. Kiran kembali masuk
kedalam rumah membuat Sandra dengan cepat datang mendekati Kiran, lalu ia memegang tangan Kiran.
"Mbak gimana Mbak...aku gimana?" Tanya Sandra, ia telihat sangat panik dan ketakutan.

"Besok kamu datang saja ketemu Mami dan Papi, kamu tenang saja Mami dan papi itu orangnya baik
banget," ucap Kiran dan ia yakin semarah apapun mereka kepada Marco merkea tidak akan menyakiti
Sandra.

"Kayaknya nggak Mbak, mereka belum tentu menerima aku Mbak apalagi pendidikan aku masih rendah
dan aku tidak memiliki prestasi apapun. Aku sama sekali tidak cocok untuk Mas Marco Mbak karena Mas
Marco bukan hanya memiliki pendidikan yang tinggi, tapi dia anak seorang Mentri," lirih Sandra sendu.
"Bagaimana kalau mereka mengambil anakkku dan meminta aku berpisah dari Mas Marco Mbak atau
gini saja Mbak, aku bawa pergi anakku menjauh dari sini," ucap Sandra panik membuat Kiran menarik
Sandara agar mengikutinya duduk ditaman lalu ia memeluk Sandra dengan erat.

"Kenapa kamu berpikiran buruk seperti itu?" Tanya Kiran dan ia mengelus kepala Sandra dengan lembut.
"Orang tua Marco tidak berpikiran sempit seperti itu Sandra, Mbak tahu kamu ketakutan tapi cobalah
bekerja sama dengan Marco agar kalian bertemu dengan orang tua Marco, lalu meminta maaf karena
merahasiakan hubungan kalian!" Ucap Kiran.
4/6

Jangan bawa dia


"Aku nggak tahu Mbak harus bagaimana, nyatanya hubunganku dengan Mas Marco hanya demi Dikta.
Tidak ada cinta diantara kami tapi jika aku bercerai dari Mas Marco, yang akan banyak dirugikan adalah
aku terutama berkaitan dengan penghasilanku yang kecil dan pasti akan mudah bagi Mas Marco
merebut hak asuh Dikta," ucap Sandra telah berpikiran sejauh itu membuat Kiran menghela napasnya. la
yakin Marco mencintai Sandra jika

tidak, ia tidak akan memaksa untuk menikahi Sandra.

"Berbicaralah dari hati ke hati kepada Mami Sandra! beliau sangat baik dan penyayang. Mbak yang baru
saja mengenal dia membuat Mbak merasa nyaman memiliki calon mertua seperti Mami Erna," ucap
Kiran.

"Mbak Kiran dicariin, diminta foto bersama!" Ucap Altaf membuat Kiran menganggukkan kepalanya dan
ia

5/6

Jangan bawa dia


memberikan isyarat setuju dengan mengacungkan jari jempolnya kepada Altaf.

"Mbak kesana dulu Sandra, kamu tenang saja tidak akan terjadi suatu hal yang buruk untuk kamu dan
Dikta!" ucap Kiran. "Mbak kesana dulu nanti kita bicarakan lagi!" Ucap Kiran membuat Sandra
menganggukkan kepalanya dan ia menatap punggung Kiran yang telah menjauh dengan sendu.

Comments

Vote

6/6

Kakak lelaki sang penjaga.


Kakak lelaki sang penjaga
Acara akad nikah telah selesai, Lifia merasa sangat bahagia apalagi ada acara makan malam keluarga dan
saat ini semua keluarganya telah berkumpul bersama di taman yang disulap menjadi tempat makan
malam yang indah di Kediaman Bagaspasti. Lifia memakai gaun malam yang sangat cantik sama halnya
dengan para perempuan di keluarganya ini juga memakai gaun dan para lelaki memakai jasnya.
Lifia yang baru selesai berdandan cantik dan ia mendekati Defran yang saat ini sedang berbincang
bersama para saudaranya. Lifia tiba-tiba memeluk lengan Defran dengan erat. "Kangen banget sama
kamu Mas," ucap Lifia membuat Defran menyunggingkan senyumannya.

"Aduh nggak usah bikin kita iri ya Mbak, tahu deh yang pengantin baru...udah nggak sabar ya malam
nanti," ucap Salsa tersenyum menggoda.

"Apa-apaan sih Sa, kalau yang itu nggak usah dibahas!" Ucap Lifia menyebikkan bibirnya. Defran menarik
Salsa lalu ia memeluk leher Salsa dengan sebelah tangannya.

"Udah merasa besar kamu?" Tanya Defran.

"Udah besar ya Mas...ini sudah diizinkan menikah jadi sudah besar," ucap Salsa.

"Pantas sudah berani pakai baju seksi kayak gini..." ucap Defran membuat Salsa membuka mulutnya.

"Seksi bagaimana sih... ini baju hanya tanpa lengan kok. Mas Janu..." ucap Salsa merengek manja kepasa
Janu dan ia mengulurkan tangannya meminta pertolongan Januarta Sanjaya Satyas kakak sepupunya
yang juga

1/7

Kakak lelaki sang penjaga


sangat menyayanginya. Janu menjadi sangat overprotektif kepada Salsa, setelah adik perempuannya
meninggal. la bahkan sangat menyayangi Salsa dan selalu membela Salsa.

"Udah biarkan saja Def, jangan sampai Salsa nangis!" Ucap Janu membuat Defran melepaskan
tangannya dan Salsa segera mendekati Janu, lalu memeluk Janu membuat istri Janu terkekeh melihat
tingkah Salsa. Wirda Wiyasa istri Janu sebenarnya sangat pencemburu dan hanya sosok Salsa yang tidak
akan pernah membuatnya cemburu, karena satu-satunya adik perempuan Janu adalah Salsa.

"Kamu nggak malu ya Sa peluk suami orang Sa," goda Kiran.

"Bilang saja Mbak itu iri karena nggak ada kakak laki-laki kan, aku itu kaya banget sama kakak laki-lakiku
dan banyak banget. Ada Mas Serkan, Mas Defran, Mas Janu, Mas Megan dan Mas Fajrin," ucap Salsa
tersenyum bangga memiliki kakak laki-laki yang sangat menyayanginya.

"Iya sudah jadi suami orang semua," ucap Kiran.

"Punya kakak banyak itu ada untungnya, tapi juga banyak yang nggak untungnya, contohnya kamu akan
kesulitan jika dalam hal memilih pasangan," ucap Kiran.

"Kalau itu sudah pasti," ucap Defran.

"Iya, dia nggak boleh dimiliki oleh lelaki bodoh," ucap Janu mengelus kepala Salsa dengan lembut.
"Calon pasanganmu harus banyak sabar karena harus menghadapi kita. Seperti menghadapi calon dia!"
Ucap Janu menunjuk Serkan yang sedang berbincang dengan para orang tua. "Looknya Kakak yang baik
sekali tapi dia kayak Bapak-Bapak pemikirannya kalau laki-laki itu nggak masuk sama dia, dia pasti akan
bisa membuat calon pasanganmu kapok bertemu kamu lagi," ucap Janu. "Sama halnya dengan yang ada
disebelahnya, Fajrin tim khusus

2/7

Kakak lelaki sang penjaga


yang sangat mahir menculik orang," bisik Janu yang sangat suka menakuti Salsa.

"Kalau Defran dia akan menghajarnya secara terang-terangan," ucap Janu menbuat Defran mengangkat
sudut bibirnya karena itu akan terjadi jika laki-laki yang mencoba menjadi pasangan Salsa tidak
kooperatif kepadanya.

"Apalagi dia..." tunjuk Defran pada sosok Megantara Sanjaya Satyas. "Diam-diam menghanyutkan dia
bisa nongol tiba-tiba ketika kamu sedang berkencan," ucap Defran dan terbukti semua itu pernah terjadi
membuat Salsa sangat tekejut dengan tindakan gila Kakak sepupunya itu. Bahkan teman laki-lakinya itu
diwawancarai hingga ucapannya direkam untuk ditunjukkan kepada para saudaranya.

Kila memegang kuduknya dan mereka hanya berbicara mengenai Salsa, tapi ia juga merasa terpenjara
karena mereka semua juga menganggapnya adik. "Nggak ada untungnya jadi adik mereka," ucap Kila
membuat Janu mengangkat sebelah alisnya, sedangkan Wirda terkekeh melihat tingkah para pangeran
Satyas ini yang memang sangat overprotektif kepada adik perempuanya.

"Kiran hanya beruntung karena dia sudah memiliki Handaru, kalau Handaru tidak ada yang tidak akan
setuju jika kamu bersama Handaru. Lagian Handaru itu sangat menyuiai kamu, terbukti dia jadi lelaki
bodoh kalau berada didepan kamu Kiran, mau-maunya mengejar kamu setengah mati, orang super
sibuk kayak dia, bisa-bisa meluangkan waktunya untuk sekedar melihat kamu dari kejauhan," ucap Janu
membuat wajah Kiran memerah, apa mungkin Handaru selama ini sengaja ingin bertemu dengannya
dibeberapa kesempatan. Bahkan setiap bertemu dulu, ia dan Handaru selalu saja bertengkar.

"Mas Janu serius Mas Handaru kayak gitu sama aku?"

3/7

Kakak lelaki sang penjaga


Tanya Kiran menyunggingkan senyumannya.

"Iya dimana lagi kamu dapat laki-laki unik kayak dia," ucap Defran dan ia sangat setuju Kiran menikah
dengan Handaru, agar ia tidak perlu repot membantu Handaru menanyakan jadwal Kiran kepada ibu
mertuanya.

"Udah kalian jangan mulai ngejodohin orang, sekarang itu pikirkan Salsa saja! Kalau aku sudah
menerima Mas Handaru kalau kamu sama siapa sekarang, Sa?" Tanya Kiran.
"Kemarin Mbak, Mbak Salsa mau kecan buta kopdar gitu sama cowok," ucap Kila membuat Salsa
melototkan matanya.

"Kila..." kesal Salsa.

"Loh mbak dari pada nanti ditolak sama para Mas lebih baik minta para Mas saja carikan Mbak jodoh
kalau sudah kebelet pengen nikah, kalau aku belum ya...masih mau berkarir dulu dong!" ucap Kila
membuat Salsa kesal karena Kila berkhianat padanya.

"Memangnya kalau sudah nikah nggak boleh berkarir lagi?" Tanya Kiran membuat Lifia menghela
napasnya, Kiran sangat menyukai pekerjaannya dan itu kemungkinan besar yang membuat Kiran saat ini
belum juga mau menikah.

"Boleh...siapa bilang tidak boleh!" Ucap Handaru yang baru saja datang dan ia tersenyum melihat Kiran.
la memegang tangan Kiran membuat Kiran menghempaskan tangan Handaru, namun setelah itu ia
memeluk lengan Handaru dengan erat membuat mereka semua tersenyum.

"Akhirnya datang juga," ucap Defran sinis.

"Sory pulang lebih cepat karena masalah Marco sudah ketahuan Mami," ucap Handaru membuat Lifia
terkejut. Lifia menjadi sangat khawatir dengan keadaan Sandar asisten sekaligus sahabatnya itu. Sandra
bahkan segera

4/7

Kakak lelaki sang penjaga


pamit pulang ketika acara akad nikah berakhir dan ia tidak berjanji akan bisa ikut makan malam bersama
karena ia pusing memikirkan bagiaman menghadapi orang tua Marco.

"Wah...hahaha pasti seru sekali melihat Marco dihukum Papimu Handaru," tawa Janu membuat Wirda
istrinya Janu, segera mencubit lengan suaminya ini karena kesal.

"Kebiasaan banget sih Mas, ketawain teman sendiri," kesal Wirda membuat Janu mengecup punggung
tangan Wirda agar Wirda tidak marah padanya.

"Jangan marah sayang..." ucap Janu membuat wajah Wirda memerah karena suaminya secara terang-
terangan menggodanya seperti ini didepan keluarga besarnya.

"Dia itu ngakunya Dewa cinta sama kita, karena dia merasa dia yang paling paham dengan perempuan,
tapi

5/7

Kakak lelaki sang penjaga


nyatanya dia sendiri yang kesulitan saat ini," ucap Janu.
"Dewa cinta memnag begitu cinta sendiri dia nggak paham tapi cinta orang lain dia sok paham," ucap
Salsa.

"Mas Janu, kenal nggak sama Dokter Zilo?" Tanya Kila tiba-tiba.

"Ngapain sih nanyain si Zilo?" Tanya Salsa kesal.

"Zilo adiknya Mas Keanu?" Tanya Janu.

"Iya," ucap Defran.

"Kenapa dia mau dijodohin sama Salsa atau kamu Kila?" Tanya Janu berpura-pura tidak tahu jika desis
desus tentang perjodohan itu telah tersebar. "Kalau sama Zilo Mas Janu setuju, dia itu sebanding dengan
keluarga kita dan para Masmu ini," ucap Janu membuat Kiran, Lifia dan Kila tersenyum.

Defran membisikkan sesuatu ditelinga Lifia. "Jangan terlalu lelah," ucap Defran.

"Pasti capek Mas, dari pagi acara kita Mas," ucap Lifia pelan.

"Minum vitamin biar nggak capek karena acara utama belum kita lakukan!" Bisik Defran.

"Mbak Kiran..setelah acara makan malam ini ada acara apa lagi?" Tanya Lifia.

"Seharusnya nggak ada lagi," ucap Kiran.

"Kalau acara khusus kalian berdua pasti ada," ucap Janu membuat Defran menyungingkan
senyumannya, sedangkan Lifia mengerjapkan kedua matanya dan tiba-tiba wajahnya memerah, karena
ia telah menyadari apa acara utama yang dimaksud Defran Satyas suaminya ini.

"Sudah pasti ada," ucap Defran dengan ekspresi datarnya yang terlihat begitu menggemaskan, hingga

6/7

Candu.
Candu
Jantung Lifia berdetak dengan kencang, karena Defran mengatakan keinginannya langsung yang ingin
segera memilikinya dan ia menghela napasnya. Lifia sangat malu jika nanti semua keluarganya akan
menggodanya tentang hal ini. Saat ini jam menujukkan pukul dua belas malam dan para keluarganya
masih berbincang diluar, sedangkan ia saat ini memilih segera membersihkan makeupnya dan setelah
itu mandi. Lifia baru saja selesai mandi dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan
memakai baju tidurnya. la melihat sosok Defran sedang duduk disofa, sambil memainkan ponsel dan itu
membuat jantungnya kembali berdetak dengan kencang.

Bukan pertama kalinya ia tidur bersama Defran Satyas dalam artian hanya tidur dan tidak melakukan
apa-apa, namun malam ini sepertinya ia tidak akan bisa menolak keinginan laki-laki tampan ini. Defran
melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi tanpa menyapanya dan itu membuat Lifia dengan
cepat mengeringkan rambutnya. Setelah rambutnya kering, ia membaringkan tubuhnya diranjang dan
berharap ia bisa segera tertidur, karena jujur saja hari ini ia sangat lelah. Lifia mengupat kesal karena
sejak tadi ia mencoba untuk tidur, namun beberapa menit berlalu ia tidak juga bisa tertidur nyenyak.
Lifia mendengar suara pintu terbuka, membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Apalagi ia bisa
mendengar suara langkah kaki Defran yang saat ini mendekatinya, hingga Defran membaringkan
tubuhnya diranjang tepat disampingnya.

Lifia memejamkan matanya dan berharap Defran tidak

1/7

Candu
menyadari jika saat ini ia sedang berpura-pura sedang tertidur lelap. "Jangan berpura-pura tidur Lifia!"
Ucap Defran membuat Lifia menghela napasnya dan ia membuka matanya. la melihat wajah Defran
begitu dekat dengannya.

"Kamu takut?" Tanya Defran membuat Lifia menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Bagus kalau tidak takut," ucap Defran mengangkat sudut bibirnya.

Defran membisikkan doa ditelinga Lifia, lalu ia mencium dahi Lifia dengan lembut. Wajah Lifia bersemu
merah dan ia menelan ludahnya, apalagi Defran terlihat begitu tampan dengan jarak sedekat ini dan
keduanya memang terlihat sedang menganggumi ketampanan dan kecantikan sosok yang saat ini ada
dihadapan mereka. Defran mengelus rambut Lifia dengan lembut, ia sampai lupa sejak kapan ia sangat
tertarik dengan Lifia hingga ia mengucapkan kata-kata dingin selama ini, demi untuk mengalihkan
perhatian Lifia agar Lifia tidak tahu, jika ia menyukai Lifia.

Defran terlalu malu untuk mengakui secara langsung, jika ia mencintai Lifia apalagi hampir setiap Lifia
menginap di Rumahnya, ia bak seorang pencuri masuk kedalam kamar Lifia, agar bisa tertidur nyenyak.
Awalnya ia berpikir ketertarikannya kepada Lifia hanya sebatas tertidur lelap saja, namun ternyata ia
juga menyukai wajah cantik itu, yang terlihat malu-malu saat bebicara padanya atau menatapnya dari
kejauhan dengan tatapan kagum.

"Kalau kamu lelah, saya tidak memaksa kamu!" Ucap Defran dan matanya itu menatap Lifia dengan
tatapan dingin, namun membuat Lifia bukanya takut menghadapi Defran, namun ia tersenyum.

"Capek sih tapi kan besok bisa istirahat juga," ucap

Lifia.

"Oke," ucap Defran membuat Lifia terlihat sangat

2/7
Candu
gugup. "Jangan pingsan!" Goda Defran. Lifia terkejut mendengar ucapan Defran dan ia memukul pelan
d**a Defran sambil menatap Defran dengan tatapan malu-malu.

"Mas kamu jahil banget sih..." ucap Lifia dengan wajahnya yang bersemu merah. "Aku itu susah banget
deketin kamu, kamu dulu kayaknya nggak suka sama aku," ucap Lifia.

"Saya suka sama kamu, makanya begitu," ucap Defran.

"Kalau suka nggak akan gitu harusnya Mas, aku itu banyak banget nangis gara-gara kamu, aku kan takut
banget kehilangan kamu sampai-sampai saat kau kena tembak itu aku pingsan Mas," lirih Lifia.

"Iya, saya tahu...saya beruntung dicintai oleh kamu Lifia. Rasa percaya diri saya begitu besar, karena saya
yakin kamu pasti akan menunggu kepulangan saya dan kamu nggak akan bisa berpaling dari saya!" ucap
Defran yakin Lifia pasti akan selalu bersamanya.

"Siapa bilang Mas, aku hampir saja putus asa dan mencoba mendekati laki-laki lain Mas, aku beri mereka
peluang agar aku bisa moveon saat itu," ucap Lifia mengingat saat ia sangat sedih karena merasa tidak
ada kesempatan baginya untuk bersama Defran Satyas.

"Oh..ya?" Tanya Defran dan ia mencuil hidung mancung Lifia. "Kamu itu sering membuat saya marah
setiap kamu main film Lifia," ucap Defran.

"Kenapa Mas?" Tanya Lifia dan ia menatap Defran dengan tatapan penasaran. "Cerita dong Mas...jangan
buat aku penasaran!" Pinta Lifia dengan tatapan memohon.

"Siapa yang cium kamu pertama kali?" Tanya Defran.

"Lawan main aku Mas, tapi itu kan hanya akting Mas

3/7

Candu
dan hanya kecup gitu dan cepat, nggak kayak kamu cium aku waktu itu," ucap Lifia dengan wajahnya
yang bersemu merah.

"Saya yang cium kamu pertama kali, kalau yang kamu maksud film jelek kamu yang ada adegan
ciummannya itu," ucap Defran kesal.

"Film jelek, tapi film itu aku dapat penghargaan Mas," ucap Lifia kesal, ia tiba-tiba memikirkan ucapan
Defran,

kapan Defran menciumnya untuk pertama kalinya.

"Memangnya kapan Mas kamu cium aku untuk pertama kalinya?" Tanya Lifia penasaran.
"Saat saya datang kekamar kamu dan tidur disamping kamu, awalnya pelukan kamu itu membuat saya
sangat nyaman, tapi saya yang serakah memilih mencium kamu. Kamu sama sekali tidak bangun
meskipun saya mencium bibir kamu bahkan mencium bagian lainnya, kamu tetap

4/7

Candu
tidak terbangun. Itu adalah keuntungan yang saya dapatkan selama ini dengan tidur disamping kamu,"
ucap Defran membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Sejak saat itu saya melarang milik saya untuk menginap disembarang tempat, tanpa pengawasan
saya!"'ucap Defran.

"Tapi waktu aku syuting dinas diluar kota bahkan luar negeri gimana?" Tanya Lifia.

"Sandra selalu mengawasi kamu, dia terima uang lebih dari saya saat dia menjaga kamu!" Ucap Defran
membuat Lifia terkejut karena Sandra merahasiakan hal ini darinya.

"Jadi selama ini kamu sering minta bantuan Sandra buat jagain aku?" Tanya Lifia.

"Iya dan saya juga menggiring kamu agar bisa tinggal di Apartemen milik Albiseka Dewandaru suami Ike
manajer kamu," ucap Defran membuat Lifia tersenyum malu karena cintanya selama ini tidak bertepuk
sebelah tangan seperti yang ia pikirkan.

Defran mengecup bibir Lifia dan ia menghimpit tubuh Lifia agar tidak bisa menghidar darinya. "Berhenti
berbicara!" Pinta Defran.

"liii...iya," ucap Lifia gugup.

"Mendesah boleh!" Ucap Defran dengan wajahnya yang terlihat sangat serius membuat Lifia sangat
malu.

Lifia. "Mas nggak usah ngomong gitu, aku kan malu!" Pinta

"Nggak usah malu!" Ucap Defran dan ia segera mencium bibir Lifia karena Lifia yang sangat
menggemaskan ini, memang telah lama membuatnya ingin memilikinya. Biasanya ia hanya bisa
menyentuhnya sedikit saja dan itu menjadi candu yang luar biasa, hingga

5/7

Candu
pertahanannya sangat diuji selama ini.

Defran melepaskan ciummannya dan kali ini ia membuka kacing baju Lifia satu persatu sambil menatap
wajah Lifia dengan tatapan ingin, membuat Lifia menelan ludahnya. Hanya dengan tatapan Defran saja,
telah membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Apalagi semua bagian atas tubuhnya telah
terbuka sepenuhnya dan sosok Defran, segera mencium bagian dddada milik istrinya ini hingga,
membuat Lifia merasa melayang. Defran Satyas saat ini sedang menyiksanya hingga membuat tubuhnya
terasa panas, akibat sentuhan-sentuhan naka dari Defran ditubuhnya.

"Mas...." Rengek Lifia karena Defran membuatnya sungguh tidak berdaya, hingga merasakan hal yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya ia disentuh laki-laki dengan sadar
sepenuhnya dan laki-laki itu adalah suaminya ini. Suaminya yang juga pernah menyentuh tubuhnya,
tanpa ia sadari dan sekarang ia sadar sepenuhnya dengan apa yang dilakukan suaminya ini padanya,
hingga ia sulit untuk menolaknya.

Defran melepaskan semua pakaiannya dan ia benar-benar menjadikan Lifia miliknya seutuhnya. Lifia
merasa sangat lelah, namun ia merasa sangat bahagia apalagi suaminya ini terlihat sangat-sangat
menghargainya, hingga menanyakan beberapa kali kepadanya apakah merasa sakit dan apa ada yang
tidak nyaman. Defran yang ia kira akan bertindak kasar karena telihat sangat menginginkannya ini,
ternyata bersikap lembut padanya.

Defran mengecup dahi Lifia dengan lembut dan dengan tubuh keduanya yang tidak memakai apapun
itu, ia memeluk perempuan yang menjadi miliknya itu dengan erat. Hari ini ia meminta haknya dengan
lembut, apalagi untuk pertama kalinya ia menyatukan tubuhnya dengan tubuh istrinya ini. Namun
dihari-hari yang lain, ia mungkin

6/7

Candu
tidak bisa mengontrol dirinya karena Lifia adalah candu baginya. "Tidurlah!" Ucap Defran mengelus
kepala Lifia dengan lembut, membuat Lifia menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil tersenyum.
la memejamkan matanya dengan perasaan yang sangat bahagia, karena telah menjadi istri seorang
Defran Satyas yang merupakan pangeran berkuda putih, yang sangat ia inginkan menjadi pendamping
hidupnya.

Comments

Vote

10

7/7

Pagi yang menyenangkan.


Pagi yang menyenangkan
Lifia membuka matanya ketika wajahnya telah basah terkena air dan saat ini ternyata telah berada
dibathup. la melihat sosok Defran yang dengan wajah datarnya menyiramnya air shower dengan pelan
dan dulu jika ia belum menikah Defran akan menyiramnya dengan kasar. Begitu terlihat perbedaan
prilaku Defran saat ini padanya. "Mandi Lifia sudah subuh!" Ucap Defran. "Saya mau sholat subuh
dimesjid bersama Ronal dan Altaf!" Ucap Defran.

"Iya, Mas," ucap Lifia dan Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut, lalu ia segera melangkahkan
kakinya keluar dari kamar mandi. Sepertinya Lifia harus terbiasa dibangunkan oleh Defran dengan
dimandiin seperti ini atau mungkin dengan cara lain agar ia bisa segera terbangun. Cara apapun bisa saja
Defran lakukan saat ini padanya dan itu membuat wajahnya lagi-lagi bersemu merah, jika mengingat apa
yang telah dilakukan Defran semalam padanya. Lifia tersenyum senang karena ia tidak pernah
membayangkan jika kehidupan asmaranya, akan seperti ini jadinya dan impiannya menjadi istri Defran
Satyas akhirnya terwujud.

Setelah selesai mandi, Lifia segera melaksanakan sholat subuh dan kemudian ia melangkahkan kakinya
keluar dari kamar ini lalu menuju dapur. la melihat sosok Rima yanh terlihat cekatan didapur dan Lifia
sebenarnya sangat ingin mengajak Rima berbicara berdua saja dengannya, namun ia belum memiliki
kesempatan. Jujur saja masalalu kelam ketika ia masih kecil, masih saja mempengaruhi dirinya, apalagi
hubungannya dengan Rima saat itu memburuk karena Rima pun sangat takut dengan

1/6

Pagi yang menyenangkan


Anya saat itu, hingga ia hanya bisa menuruti keinginan Anya.

"Boleh aku bantuin?" Tanya Lifia kepada Rima membuat Rima merasa gugup.

"Nnnnggak usah, Lifia," ucap Rima.

Kiran yang baru saja datang melangkahkan kakinya mendekati keduanya. Setelah ia ikut tinggal di
Rumah ini beberapa hari ini, Kiran bisa melihat bagaimana canggungnya Rima dan Lifia jika keduanya
bersama. "Kayaknya kalian berdua itu harus berbicara dari hati kehati, ngebahas masalalu juga boleh
atau lebih baiknya kalian mengungkapkan perasaan kalian masing-masing, agar kalian berdua sama-
sama moveon dan persaudaraan kalian menjadi erat!" Ucap Kiran.

Lifia menatap Rima dengan sendu, ia memang ingin mengajak Rima berbincang namun Rima terlihat
menghindarinya dan hanya berbicara seperlunya saja. "Ayo kalian bicara berdua!" Ucap Kiran dan ia
kesal dengan keduanya, lalu ia menarik tangan mereka berdua agar mengikutinya. "Sarapannya biar
maid dan Ibu yang nyiapin!" Ucap Kiran membuat keduanya demgan pasrah mengikuti Kiran.

Kiran membawa Rima dan Lifia masuk kedalam kamarnya yang ada di Kediaman ini, lalu ia duduk disofa
seolah menjadi pengawas keduanya agar tidak bertengkar. Rima menghela napasnya, sebagai orang
yang dulu telah menjadi penyebab pertengkaran diantara Lifia dan Papinya, ia ingin meminta maaf
dengan tulus.

"Hmmm...maafkan aku Lifia!" Pinta Rima menatap Lifia dengan sendu. Matanya berkaca-kaca dan ia
menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini.
"Aku sudah memaafkannya lagian kita juga sama, tapi yang lebih menyakitkan itu kamu Rima," ucap
Lifia. la pun bingung bagaimana seorang ibu kandung membicarakan

2/6

Pagi yang menyenangkan


kepada orang-orang, jika Rima bukan anaknya melainkan anak angkatnya. Bahkan Rima sering kali
dipukul dan dimaki jika Rima tidak mengikuti perintah Anya saat itu.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu dan maafkan aku yang pergi dari neraka itu seorang diri," ucap
Lifia menatap Rina dengan tatapan menyesal.

Lifia ingat bagaimana Rima hanya bisa menangis saja saat Anya memfitnahnya jika Lifia yang memukul
Rima,

hingga Rima terluka. Padahal pelaku yang memukul Rima bukanlah Lifia, tetapi Anya yang memukulnya.
Anya ingin memfitnah Lifia, agar Lifia mendapatkan hukuman dari Parmoko Bagaspasti saat itu. Setelah
Lifia dihukum Rima akan mendatanginya diam-diam lalu memberikannya makanan, ketika Anya
melarang siapapun untuk memberikan Lifia makanan.

"Bagiku kamu itu bukan hanya saudari, tapi juga

3/6

Pagi yang menyenangkan


teman Rima walaupun masalalu kita buruk dan kamu terpaksa menuruti keinginan Mamimu, namun
sebenarnya kamu adalah teman yang sangat baik," ucap Lifia.

"Ya kesalahanku sangatlah banyak Lifia, aku sebenarnya terlalu malu untuk tetap berada disini dan
tinggal bersama keluarga ini," jujur Rima.

"Jangan begitu Rima, kalau kamu pergi siapa yang nemenin adek kita, kasihan dia dan aku juga kasihan
sama Papi!" Ucap Lifia sendu.

"Loh...Rima juga pasti akan segera menikah sama pacarnya, dia juga nggak mungkin tinggal sama
Papimu dan juga Fadil terus... Lifia," ucap Kiran. "Oke kalian biacara berdua dulu ya Mbak keluar dulu!"
Ucap Kiran dan ia tersenyum senang membuat keduanya telah bebicara dari hati ke hati. Kiran
melangkahkan kakinya dengan riang keluar dari kamar ini, entah mengapa mendamaikan seseorang
menjadi hal yang sangat menyenangkan baginya.

Lifia memegang tangan Rima dan ia tersenyum lembut, lalu ia memeluk Rima dengan erat. "Bagiku dulu
ataupun sekarang kamu adalah saudariku, aku pergi dari rumah dulu juga bukan salahmu Rima. Aku
memohon kepada Ibu dan Ayah saat itu untuk membawaku bersama mereka, karena itu akan lebih baik
bagi kita berdua. Kamu tidak akan disiksa Mamimu karena aku!" Lirih Lifia.
"Selama ini aku pikir kamu pergi karena aku Lifia,"

lirih Rima dan ia sangat sedih ketika Lifia pergi dari rumah ini. Kepergian Lifia tetap tidak membuat Anya
memperlakukannya dengan baik, bahkan Anya selalu memintanya belajar dan terus belajar, agar tidak
hidup dengan membuatnya Mali karena tidak mendapatkan rangking di Sekolah adalah aib bagi Anya
saat itu.

"Nggak kok, aku pergi karena merasa itulah yang terbaik bagi kita semua!" Ucap Lifia tersenyum.

4/6

Pagi yang menyenangkan


Tidak ada kebencian ataupun rasa kecewanya pada sosok Rima yang dulu terpaksa ikut memfitnahnya,
karena ulah Anya yang ingin membuatnya terusir dari Kediaman Bagaspati saat itu. Rima meneteskan air
matanya setidaknya satu masalah dihidupnya telah selesai. Saat ini ia memang tidak bisa mengabaikan
Anya begitu saja, karena Anya adalah perempuan yang telah melahirkannya, tapi ia juga tidak ingin
meminta maaf kepada Lifia karean perebuatan Anya yang sangat jahat. Baginya Anya patut untuk
mendapatkan hukuman bahkan bertahun-tahun dipenjara tidak cukup menghapus dosa-dosa yang telah
dilakukan Anya kepada keluarga ini.

Setelah banyak sekali berbincang dan keduanya pun tertawa bersama, akhirnya keduanya memilih
untuk keluar dari kamar lalu segera bergabung bersama Kiran dan Murni yang pastinya masih berada
didapur. Namun ketika keduanya keluar dari kamar, Ronal yang melihat keduanya segera mendekat.
Ronal menatap Rima dengan dingin hingga membuat Lifia mengerutkan dahinya. "Rima kamu ikut saya!"
Ucap Ronal.

Lifia. "Loh kenapa Mas kami mau ke dapur loh!" Ucap

"Nanti dia menyusul!" Ucap Ronal.

"Oke," ucap Lifia dan ia menatap kesal Ronal lalu ia segera melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.

Saat ini hanya tinggal Ronal dan Rima yang sedang saling menatap. Ronal terlihat sangat kesal dengan
Rima, apalagi Rima adalah anak perempuan yang ia benci dan karena Rima saat itu Lifia menderita.
"Kamu jangan pernah berniat untuk menyakiti Lifia jika niat kamu itu untuk membalas dendam Mamimu
yang jahat itu, saya tidak akan membiarkan kamu hidup tenang Rima!" Ucap Ronal dingin.

"Aku hanya bicara sama Lifia Mas, nggak ada niatku

5/6

Pagi yang menyenangkan


untuk membalas dendam karena aku tahu Mami pantas diberikan hukuman!" Ucap Rima.
"Kamu tidak usah berpura-pura baik Rima, kamu itu sama saja dengan Mamimu maka dari itu kamu
tidak akan saya biarkan bebas begitu saja!" Ucap Ronal. Rima menghembuskan napasnya karena Ronal
selalu saja berpikiran buruk tentangnya.

"Kamu pikir aku mau menyakiti Lifia saat itu, aku tidak pernah berpikiran jahat Mas, itu semua karena
Mami..." lirih Rima.

"Setelah Mamimu masuk penjara kamu menyalahkannya dan memilih tidak berpihak padanya karena
apa? Karena kamu takut miskin," ucap Ronal. "Lusa kamu bertemu dengan calon suami kamu, suka atau
tidak suka kamu harus mau!" Ucap Ronal membuat Rima mengepalkan tangannya.

'b******k kau Ronal...' Batin Rima kesal.

Comments

Vote

6/6

Jangan katakan hal itu.


Jangan katakan hal itu
Jika Lifia dan Defran saat ini menikmati

kebahagiaannya berbeda dengan asistennya Sandra yang saat ini sedang sangat pusing memikirkan
nasib rumah tangganya. Sandra bahkan sama sekali tidak tidur, hingga membuat wajahnya terlihat
sangat menyedihkan pagi ini. Sandra bahkan tidak berniat untuk keluar dari kamarnya, meskipun tadi ia
sempat memandikan Dikta namun ia merasa ia tidak bisa terus berada di kamar ini.

Sebenaranya Sandra hanya tidak ingin berbicara dengan Marco saat ini, karena jujur saja ia sangat kesal
kepada Marco.

Sandra melihat jam diponselnya yang menunjukkan pukul delapan pagi, sepertinya Marco telah
mengantar Dikta ke sekolah membuatnya segera mandi dan setelah memakai daster rumahan, ia
melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini. Sandra melihat dua orang maid tersenyum ramah
melihatnya membuat Sandra juga ikut tersenyum, namun senyuman Sandra terlihat getir. Bagaimana
tidak, sejujurnya ia belum siap bertemu dengan kedua orang tuan Marco.

Sandra duduk dikursi makan dan ia menghela napasnya, ia sama sekali tidak ada tenaga untuk makan
meskipun saat ini perutnya sangat lapar. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok Marco yang
melangkahkan kakinya mendekatinya, membuat Sandra segera berdiri dan ia sengaja menghindari
Marco membuat kedua Maid yang melihat mereka saling berbisik. Marco mempercepat langkah kakinya
mengejar Sandra, yang saat ini telah menjauh darinya dan Sandra berniat untuk mengurung dirinya
sendiri dikamar.

1/6

Jangan katakan hal itu


Marco berhasil menarik tangan Sandra dan ia masuk kedalam kamar, lalu ia segera mengunci pintu
kamar. la menatap sosok Sandra yang ada dihadapannya dengan dingin. "Kenapa kamu menghindari
saya Larisa?" Tanya Marco dingin.

"Aku hanya tidak ingin berbicara sama kamu!" Ucap

Sandra.

"Menghidari saya bukalah jalan keluar atas permasalahan kita Larisa!" Ucap Marco dan ia terlihat sangat
kesal dengan istrinya ini. "Kita sudah menikah dan asal kamu tahu kita tidak akan mungkin bercerai, jika
sekarang itu yang ada dipikiran kamu!" Ucap Marco dan ia sama sekali tidak suka jika Sandra membahas
mengenai perceraian.

"Kalau orang tua kamu tidak suka sama aku, kita memang harus segera bercerai, Mas!" lirih Sandra.
"Aku nggak mungkin terus jadi istri kamu Mas, aku itu sadar diri kalau kita itu nggak cocok," ucap Sandra
membuat Marco mengepalkan kedua tangannya karena Sandra telah lancang mengatakan hal ini.

"Siapa bilang kita tidak cocok? Kamu yakin kita tidak cocok Larisa? Ingat kalau bercerai dari saya, kamu
jangan harap bisa bertemu Dikta!" Ucap Marco membuat Sandra menatap Marco dengan kesal.
Ancaman ini menajdi senjata ampuh bagi Marco, agar Sandra mempertimbangkan untuk tidak bercerai
dengannya.

"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti itu Mas, aku itu yang melahirkan Dikta, tidak ada yang
lebih baik membesarkannya selain aku!" Ucap Sandra dingin. la tidak akan menyerahkan putranya dalam
pengasuhan

Marco.

"Kalau kita berpisah yang akan jadi korban itu anak kita Larisa, apa kamu mau anak kita akan dibesarkan
oleh ibu yang bukan ibunya atau ayah, yang bukan ayahnya?

2/6

Jangan katakan hal itu


Aku tidak mau anakku dibesarkan dengan laki-laki lain!" Ucap Marco. "Kamu yakin kamu rela
membiarkan saya menikah dengan perempuan lain setelah kita bercerai? Kalau saya tidak rela kamu
dimiliki lelaki lain Larisa, saya mencintai kamu hanya kamu, kenapa kamu tidak mempercayai saya?"
Tanya Marco membuat Sandra menatap Marco dengan tatapan nanar.
Sandra sangat takut kehilangan putranya dan jika ia

melihat Marco bersama perempuan lain seperti dulu, ia pasti akan sangat kesal. la tidak bisa bertahan
dengan melihat Marco bersama perempuan lain dan alasanya pergi menjauh dari Marco karena ia
menyadari, ia tidak pantas untuk Marco. Apalagi ia juga tidak secantik pacar-pacar Marco sebelumnya.
"Saya butuh dukungan kamu untuk menemui orang tua saya, Larisa. Kalau kamu janji untuk selalu
bersama saya dan tidak ada kata-kata cerai dari bibir

3/6

Jangan katakan hal itu


kamu, saya rela dipukuli Papi saya habis-habisan asalkan ada kamu disamping saya!" Ucap Marco dingin
membuat Sandra mematung dan ia mencerna ucapan Marco.

"Kalau saya mengkhianati kamu, kamu boleh memaki saya atau bahkan bercerai dari saya karena mulai
saat ini saya berjanji tidak akan pergi ke Club kalau bukan sama kamu, saya juga akan mengganti nomor
ponsel saya atau kamu boleh menduplikatkan pesan, chat atau telepon saya Larisa!" Pinta Marco. Akan
sangat berbahaya jika ia mengajak Sandra bertemu orang tuanya dan Sandra mengatakan akan bercerai
darinya. Seorang Abib Laksamana Dewandaru sangat tidak suka kata perceraian dan hukumannya akan
bertambah banyak jika Abib tahu ia memaksa Sandra untuk menikah dengannya.

"Kalau kamu mengatakan ingin berpisah dengan saya didepan orang tua saya, maka kita berdua akan
kehilangan Dikta orang tua saya yang pastinya akan mengambil Dikta karena mereka tidak akan setuju
Dikta tinggal dengan salah satu dari kita!" Ucap Marco yang sangat mengenal Papinya.

"Jadi kita harus bagaimana?" Tanya Sandra dan ia tanpa sadar meneteskan air matanya. "Aku nggak mau
berpisah dari Dikta Mas, aku nggak mau!" Lirih Sandra.

"Kalau kamu nggak mau berpisah dari Dikta, kita harus bekerja sama menjadi orang tua yang baik untuk
Dikta dan hubungan kita harus berjalan seperti bagaimana mestinya seorang suami dan istri Larisa,
terlebih lagi itu didepan orang tua saya," ucap Marco. la ingin memanfaatkan masalah ini agar
hubungannya bersama Sandra membaik dan ia akan berusaha mendapatkan hati Sandra.

"Kalau memang harus begitu, aku nggak bilang mengenai perceraian atau apapun yang membuat
Papimu

4/6

Jangan katakan hal itu


bertambah marah," ucap Sandra.

"Iya kamu haru melakukan itu kalai sulit bagimu untuk benar-benar tulus terlihat mencintai saya, kamu
harus bisa berakting didepan keluarga saya Larisa!" Pinta Marco. la melangkahkan kakinya mendekati
Sandra dan ia menarik Sandra kedalam pelukannya. "Cobalah untuk memberikan saya kesempatan agar
bisa dicintai oleh kamu!" Pinta Marco membuat Sandra menghela napasnya.

"Apa kamu sering mengatakan hal manis seperti ini kepada setiap perempuan Mas?" Tanya Sandra
membuat Marco memeluk Sandra dengan erat.

"Nggak Larisa, saya tidak pernah berkata manis kepada mereka dan selama ini saya hanya menghormati
mereka dengan tersenyum atau menanggapi ucapan mereka. Saya ini seorang dokter dan menghadapi
pasien itu saya harus ramah Larisa," ucap Marco.

"Mas Defran itu Dokter juga, ia tidak terlalu ramah sama perempuan dan pasiennya tetap saja banyak
banget," ucap Sandra dan ia menyadari jika saat ini tangan Marco bergerak menyentuh pahanya. Sandra
segera mendorong tubuh Marco, agar menjauh darinya membuat Marco menyunggingkan
senyumannya.

"Kamu jangan kurang ajar Mas!" Teriak Sandra kesal dengan tingkah Marco.

"Tindakan saya yang mana, yang kamu kategorikan kurang ajar, Larisa?" Tanya Marco dengan ekspresi
wajah seolah jika ia tidak bersalah dengan apa yang ia lakukan saat ini.

"Tangan kamu pegang-pegang paha aku," ucap Sandra kesal.

"Ooo...ini namanya bukan kurang ajar Larisa, tapi saya mengajarkan kamu soal kenikmatan," ucap
Marco membuat Sandra melototkan matanya.

"Kamu menyebalkan sekali, aku nggak mau nemenin

5/6

Jangan katakan hal itu


kamu ketemu orang tua kamu Mas!" Ucap Sandra seolah ingin mengancam Marco.

"Apa yang saya lakukan ini, bukanlah hal yang kurang ajar karena sejak kapan suami menjadi kurang
ajar, jika yang dia ingin menyentuh bagian dari tubuh istrinya," ucap Marco dan ia menyunggingkan
senyumannya ketika melihat raut wajah kesal Sandra dan benar saja, detik selanjutnya sebuah pukulan
keras dari Sandra hampir saja mengenai wajahnya jika ia tidak segera menepisnya.

Comments

Vote

6/6
Siap dihukum.
Siap dihukum
Sandra sangat kesal dengan Marco, apalagi saat ini Marco seolah mencuri kesempatan utuk mencoba
menyentuhnya dengan alasan harus terbiasa dengannya terlebih lagi jika itu didepan orang tuanya. Saat
ini mereka sedang menjemput Dikta di Sekolahnya dan dalam perjalanan menuju Sekolah Dikta, Marco
terlihat biasa saja padahal setelah ini mereka akan bertemu orang tua Marco.

"Ingat ya kamu jangan menolak saya kalau didepan Mami dan Papi, kamu haru terlihat kalau kamu itu
mencintai saya!" Pinta Marco sambil fokus menyetir. Sandra membuka mulutnya karena kesal dengan
sikap Marco, itu artinya ia harus menempel kepada Marco dan terlihat seperti menggilai Marco seperti
perempuan-perempuan yang ada disekeliling Marco.

"Kamu sengaja ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan," sinis Sandra.

"Wah kamu sekarang sudah pintar sekali ya sayang..."

goda Marco dan dengan sebelah tangannya yang tidak berada distir mobil, ia mengelus kepala Sandra
dengan lembut namun Sandra segera menepis tangannya.

"Jangan lancang Mas!" Kesal Sandra.

"Loh...ini bukan lancang, saya tulus menyayangi kamu Larisa," goda Marco lagi. Sejujurnya ia sangat
ingin menyetuh perempuan yang ada disampingnya ini yanv telah menjadi istrinya. Apalagi ia sangat
merindukan Larisanya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan.

"Stop Mas, geli banget lihat kamu bersandiwara begini sama aku," ucap Sandra kesal dengan tingkah
Marco.

1/7

Siap dihukum
"Nanti kamu akan terbiasa sayang," ucap Marco dan ia mengedipkan sebelah matanya.

"Dasar Playboy cap kucing," kesal Sandra. Marco hanya tersenyum melihat kekesalan Sandra padanya.
Semakin hari istrinya ini semakin menggemaskan, ia memang terlihat santai menghadapi orang tuanya
karena betapapun marah sang Papi kepadanya, Papinya juga pasti akan luluh setelah melihat Dikta.

Marco sangat beruntung bisa menghamili Sandra, hingga Sandra akhirnya terjerat padanya mungkin jika
saat itu ia tidak tergoda dengan sosok Sandra, mungkin ia tidak akan bisa mendapatkan Sandra dengan
mudah. Hanya tinggal membujuk Sandra dan menyakinkan Sandra jika ia benar-benar mencintai Sandra.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di Sekolah Dikta, Marco menghentikan mobilnya dan ia
menatap Sandra dengan tatapan sayang. "Udah sampai Ma, mau ikut turun jemput Dikta atau biar Papa
saja yang turun?" Tanya Marco. Tatapannya telihat begitu menggoda dan Sandra mendorong wajah
tampan Marco agar tidak mendekatinya. "Si Mama galak banget sama Papa, padahal dulu saat buat
Dikta minta lagi dan lagi sama Papa ketagihan," goda Marco dan ia sangat senang melihat reaksi kesal
Sandra padanya.

"Cukup Mas, jangan gila...aku nggak pernah bilang kayak gitu," ucap Sandra dan ia yang kesal segera
keluar dari mobilnya membuat Marco menyunggingkan senyumannya. Sebenarnya ia kesal ketika ia
menjemput Dikta, pasti banyak sekali perempuan yang terlihat menyukainya dan itu fakta apalagi
mereka menyangka Dikta adalah keponakannya. Selama ini Marco hanya terlalu ramah hingga membuat
para perempuan menjadi salah paham dengan sikapnya itu.

Marco akhirnya ikut turun dari mobil, agar para

2/7

Siap dihukum
perempuan ini tahu jika ia memiliki istri dan Dikta, adalah anaknya bersama Sandra, ia memang baru
memindahkan Dikta ke Sekolah ini karena baginya sekolah ini adalah sekolah terbaik untuk Dikta.
"Papa..Mama..." teriak Dikta ketika melihat kedatangan Sandra dan Marco yang menjemputnya.

Marco menyunggingkan senyumannya melihat putranya itu terlihat sangat bahagia melihatnya.
"Ini..Papa

dan Mamanya aku," ucap Dikta. la tidak ingin apa yang menimpanya disekolah lamanya dulu terjadi
kembali. Ya...di Sekolah lamanya banyak yang mengejek Dikta tidak memiliki Papa dan itu sering kali
membuat Dikta bertengkar dengan teman-temannya. Tapi di Sekolah ini, ia ingin menujukkan jika ia
memiliki orang tua yang lengkap. "Nama Papaku Maco dan Mamaku Sanda" ucap Dikta.

Marco menggendong Dikta dan ia mencium kedua pipi

3/7

Siap dihukum
Dikta. "Kita mau pergi ke Rumah Opa dan Oma," ucap Marco, membuat Dikta mengerjapkan kedua
matanya.

"Orang tuanya Papa," ucap Marco lagi.

"Nenek kakek?" Tanya Dikta.

"lya..." ucap Marco.

"Hole..." teriak Dikta.

Sandra berbincang dengan dua orang ibu guru dan mereka baru saja mengetahui jika Sandra adalah ibu
Dikta, apalagi selama ini mereka mengira Sandra pengasuh Dikta karena melihat penampilan Sandra
seperti bukan istri lelaki kaya raya. Apalagi selama bersekolah disini Marco yang mengantar Dikta. Marco
termasuk Dokter selebriti yang sangat tekenal dan memang hubungan asmara Marco juga sering
disangkut pautkan dengan para selebritis.

Saat ini mereka telah berada didalam mobil dan Sandra memangku Dikta. Melihat Sandra dan Dikta
bersama dengannya didalam mobil seperti ini, membuat Marco merasa sangat bahagia, baginya
keduanya adalah rumah ternyamannya dan ia ingin melindungi keduanya. Marco hanya tinggal
menjalani hukuman yang diberikan Papinya dan setelah itu ia bisa bahagia bersama keluarga kecilnya.
Marco juga telah menghubungi Handaru agar mengajak Kiran datang bersamanya ke Kediaman orang
tuanya. Kehadiran Kiran pasti menbuat Papinya tidak terlalu berat menghukumnya, apalagi Kiran adalah
sosok yang memilki pemikiran logis yang tidak suka dengan kekerasan.

Beberpa menit kemudian mereka sampai di Kediaman Abib Laksamana Dewandaru dan Marco melihat
mobil Handaru telah berada digarasi rumah ini membuatnya menyunggingkan senyumannya. Jantung
Sandra berdetak dengan kencang, ada perasaan takut yang saat ini ia rasakan, apalagi ia akan
menghadapi orang tua Marco. Orang tua mana yang tidak akan kecewa saat mengetahui

4/7

Siap dihukum
jika ia ternyata memiliki cucu yang selama ini tidak ia ketahui. Apalagi Marco menikah tanpa
mengatakan apapun pada kedua orang tuanya dan itu membuat Abib sangat murka dengan tingkah
Marco.

Marco mematikan mesin mobilnya dan ia turun dari mobil, lalu ia menggendong Dikta. "Lumanya gede
Pa," ucap Dikta.

"Iya Nak," ucap Marco. "Nanti kalau ketemu Nenek Kakek jangan lupa salim tangannya!" Ucap Marco.

"Iya Pa," ucap Dikta.

Kiran dan Handaru keluar dari dalam rumah dan keduanya melangkahkan kakinya mendekati Marco dan
Sandra. "Dikta main sama Tante ya!" Pinta Kiran membuat Dikta menganggukkan kepalanya. la meminta
Marco menurunkannya dan ia segera mendekati Kiran lalu memegang tangan Kiran.

"Biar Dikta kenalan dulu sama Mami dan Papi!" Ucap Kiran.

"Oke," ucap Marco dan ia tersenyum kepada Handaru.

"Dasar gila, masih bisa senyum kamu..." kesal Handaru.

"Loh Mas nggak mungkin saya masuk kedalam sambil menangis, Mas pikir saya itu bodoh..." Kesal
Marco.

"Kamu memang bodoh sampai nggak tahu akibat dari burung kamu itu, ternyata kamu punya anak yang
nggak kamu ketahui selama ini," sinis Handaru.
"Bukanya nggak mau tanggung jawab Mas, Larisa lari dari saya Mas," ucap Marco kesal.

"Dia lari karena takut sama playboy kayak kamu, tapi ya Larisa...manggil kamu ini Larisa atau Sandra?"
Tanya Handaru sambil melipat kedua tangannya melihat pasangan yang telah membuatnya kesal. Marco
telah

5/7

Siap dihukum
menyebabkan anaknya dan Kiran nanti bukan menjadi cucu pertama di Keluarganya ini.

Belum sempat Sandra mengeluarkan suaranya, Marco segera menjawab pertanyaan Handaru "Panggil
istri saya Sandra saja Mas, Larisa itu panggilan sayang saya," ucap Marco membuat wajah Sandra merah
padam mendengar ucapan Marco.

"Kamu kayak Mami dan Papi saja ada panggilan sayang," sinis Handaru.

"Namanya juga pasangan romantis Mas," ucap Marco.

'Romantis dari Hongkong, dasar menyebalkan...' Batin Sandra kesal.

"Ayo masuk Mami dan Papi telah menunggu kalian!" Ucap Handaru.

"Ayo!" Ucap Marco mengenggam tangan Sandra namun jantung Sandra berdetak dengan kencang. la
merasa sangat ketakutan saat ini. Marco menarik tangan Sandra agar mengikutinya namun Sandra
menahan pergerakan tangan Marco.

"Aku takut..." jujur Sandra membuat Marco menghela napasnya.

"Apa yang kamu takutkan hmmm...? Yang akan dihukum itu aku Larisa bukan kamu!" Ucap Marco.

"Tetap saja aku itu punya harga diri dan aku bukan perempuan murahan!" Ucap Sandra sendu. Handaru
menghela napasnya dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Marco yang saat ini sedang membujuk
Sandra.

"Siapa yang bilang kamu perempuan murahan, orang tua saya nggak akan mengatakan hal sekasar itu
pada kamu, lagian saya yang salah Larisa bukan kamu!" Ucap Marco dan ia menarik Larisa kedalam
pelukkannya. Larisa

6/7

Saya salah.
Saya salah
Kiran melangkahkan kakinya mendekati Abib dan Erna yang saat ini sedang duduk santai diruang
keluarganya.
Entah apa yang dipikirkan Marco, hingga menikahi Sandra lebih dahulu tanpa memberitahukannya
kepada kedua orang tuanya ini. Erna menyadari jika Kiran saat ini melangkahkan kakinya mendekatinya
dengan membawa seorang bocah kecil yang pernah ia temui kemarin ketika pergi ke acara akad nikah
Defran dan Lifia. Bocah kecil yang sangat mirip dengan Marco ketika Marco masih kecil dan tentu saja ia
sudah bisa menduga jika bocah kecil ini benar-benar adalah cucunya.

"Dikta itu Kakek dan Nenek!" Ucap Kiran membuat Dikta mengerjapkan kedua matanya, ia terlihat ragu
untuk melangkahkan kakinya mendekati Abib dan Erna. "Salim sama Kakek dan Nenek!" Pinta Kiran
membuat Dikta dengan perlahan mendekati Abib dan Erna. la kemudian mengulurkan tangannya dan
mencium punggung tangan Abib, lalu punggung tangan Erna.

Abib terdiam dan ia memang telah mendengar cerita tentang putranya yang sangat kurang ajar hingga
memilki anak tanpa sepengetahuannya. Abib mengangkat tubuh Dikta, membuat Dikta terlihat sangat
tidak nyaman namun Kiran menenangkan Dikta. "Kakek Dikta udah lama mau ketemu Dikta," ucap Kiran.
Kira sudah akrab dengan Dikta karena ia telah beberapa kali bertemu Dikta dan untung saja Dikta
menjadi dekat dengannya, hingga ia bisa mengajak Dikta berkenalan dengan Abib dan Erna seperti ini.

"Kakek dan Nenek kayaknya nggak suka Dikta," ucap Dikta membuat Erna terkejut, sama halnya dengan
Abib

1/6

Saya salah
yang tidak menyangka Dikta akan mengatakan hal ini padanya. "Opa...panggil Opa saja dan Opa ini
sayang sama Dikta!" ucap Abib dan ia berusaha untuk mendapatkan hati cucunya ini.

"Opa..." ucap Dikta membuat Abib tersenyum senang dan ia mencium pipi Dikta. la menang sangat
murka dengan perbuatan Marco namun ia tidak akan membenci cucunya ini. la hanya kesal karena baru
saja bertemu

cucunya ini dan ia tidak bisa menggendong cucunya ini ketika bayi karena putranya yang bodoh itu.
"Opa sama Oma sayang sama Dikta, Dikta mau tinggal disini sama Opa dan Oma?" Tanya Abib membuat
Erna menghela napasnya. la sudah tahu apa yang saat ini dinginkan Abib dan ternyat ia ingin membujuk
Dikta agar tinggal bersamanya.

"Pi..." terus Erna membuat Abib menatap Erna dengan

2/6

Saya salah
kesal.

"Opa pengen main sama Dikta, jadi Dikta tinggal dulu disini sama Opa dan Oma!" Pinta Abib lagi dan ia
tidak memperdulikan Erna yang terlihat kesal padanya. la ingin menghukum putranya yang kurang ajar
itu dan merasa samgat hebat. la pikir menikah tanpa restu darinya adalah sikap yang pantas, Abib
merasa telah dilangkahi sebagai orang tua yang membesarkan Marco dan sikap Marco ini harus ia beri
pelajaran.

Handaru melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia duduk disamping Dikta, "Sebaiknya kalau mau
bicara dengan orang tuanya jangan libatkan anaknya! Dia masih begitu kecil dan dia akan menangis jika
melihat kebrutalan Papi!" Ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya. "Ran...bawa Dikta jalan-
jalan keliling rumah ya, ke Taman atau kemanapun jauh dari sini!" Ucap Handaru.

"Iya," ucap Kiran. Handaru juga tidak ingin Kiran mendengar ucapan Papinya atau kemarahan Papinya
hingga nanti, membuatnya takut dan memilih meninggalkannya. Apalagi ia tahu calon istrinya itu sama
sekali tidak suka dengan kekerasan tapi begitulah seorang Abib Laksamana Dewandaru menperlakukan
putranya yang berbuat salah. Kiran mengajak Dikta mengikutinya menuju taman belakang dan ia setuju
dengan Handaru yang tidak ingin Dikta mendengar ucapan Papinya jika nanti Papinya lepas kontrol
hingga menagatakan kalimat kasar pada Marco dan Sandra.

Marco menggegam tangan Sandra dan ia melangkahkan kakinya bersama Sandra menuju ruang
keluarga. Disana telihat Abib sedang menatap Marco dan Sandra dengan tatapan tidak bershabatnya.
Marco menghentikan langkah kakinya, membuat Sandra juga ikut menghentikan langkah kakinya.
"Kamu nggak usah takut!" Ucap Marco. "Papi saya tidak akan menghukum kamu!

3/6

Saya salah
Kalau kamu takut berarti kamu mengkhawatirkan saya," ucap Marco.

Sejujurnya Sandra juga sangat mengkhawatirkan Marco apalagi jika Marco harus menerima kemarahan
orang tuanya dan akhirnya kehilangan kasih sayang keluarganya. Cukup dirinya yang seperti itu dan
Marco jangan mengalami hal seperti apa yang terjadi pada dirinya, karena hidup tidak memiliki keluarga
yang berada didekatnya, sangatlah hampa. Sandra sangat bersyukur telah melahirkan Dikta baginya
Dikta adalah alasannya memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya selama ini.

Marco kembali melanjutkan langkah kakinya dan mendekati kedua orang tuanya. "Assalamualikum,"
ucap Marco.

"Waalaikumsalam," ucap mereka bersamaan. Marco mengulurkan tangannya untuk mencium punggung
tangan Abib, namun Abib menepisnya dengan kasar.

"Hebat kamu Marco, kamu sungguh anak yang sangat tahu berterimakasih," sinis Abib.

"Pi, dengarkan dulu penjelasan Marco!" Pinta

Marco.
"Sebelum Papi mendengarkan penjelasan kamu lebuh baik kamu dihukum terlebih dahulu. Ingat apa
pesan Papi kepada kalian berdua?" Tanya Abib dingin.

"Ingat Pi," ucap Marco.

"Kalau ingat kenapa kamu lakukan Marco!" Teriak Abib dan ia menatap tajam Marco membuat Sandra
menundukkan kepalanya, sungguh ia sangat menghormati kedua orang tua Marco. Tapi Sandra sangat
takut karena dalam permasalahan ini ia juga bersalah, seandainya ia memberitahukan Marco dan tidak
bersembunyi mungkin hal ini tidak akan terjadi.

"Pi makanya Marco mah menjelaskan semuanya sama

4/6

Saya salah
Papi!" Ucap Marco.

Abib mendekati Marco dan ia memukul wajah Marco dengan kencang, membuat Sandra terkejut. Laki-
laki parubaya mertuanya ini ternyata, sangat kuat dan ia memukul Marco hingga Marco terjatuh seperti
ini. Sandra ingin membantu Marco untuk berdiri tapi Handaru menarik Sandra agar tidak mendekati
Marco.

"Biarkan dia menerima hukumannya!" Ucap Marco dingin.

"Tapi..." lirih Sandra.

"Ada waktunya jika kamu ingin membelanya!" Ucap Handaru membuat mata Sandra berkaca-kaca
apalagi saat ini Marco sedang dipukuli Papinya dengan pukulan keras dan ia kesal karean Mami Marco
dan Handaru hanya diam saja.

"Marco, Papi paling tidak suka anak Papi menyakiti hati perempuan. Kamu menghamilinya dan
membuatkan dia hidup sendirian hingga melahirkan putramu sendiria. Otak kamu dimana, kamu utus
sorang Dokter harusnya kamu tahu caranya menggunakan burung kamu dengan baik agar tidak
menyakiti perempuan," ucap Abib.

"Iya Pi, Marco ngaku kalau Marco salah!" Ucap Marco membuat Abib mengangkat kera bahu Marco dan
menatap putranya ini dengan bengis.

"Kamu pikir dengan kamu mengaku salah semuanya sudah selesai, hah?" Tanya Abib dan ia menepuk-
nepuk kedua pipi Marco dengan keras. "Kamu memisahkan Papi dengan cucu Papi dan kamu juga telah
berbuat jahat dengan menikah tanpa sepengetahuan Papi dan Mami!" Ucap Abib dan ia menerjang
peruut Marco hingga Marco terjatuh. Luka ditubuh Marco dan wajah Marco cukup banyak dan itu
membuat Sandra panik.

Sandra tiba-tiba berlutut dan itu membuat Abib menghela napasnya. "Kamu tidak perlu melakukan hal
ini,
5/6

Dia yang suka debat.


Dia yang suka debat
Erna menatap sendu Sandra yang saat ini sedang

berlutut dan ia segera mengangkat tubuh Sandra agar

segera bediri. la kagum dengan Sandra yang membesarkan

cucunya seorang diri, bahkan Sandra harus merelakan kehidupannya mudanya untuk menjaga cucunya.
Sedangkan putranya bebas berkeliaran dan melanjukan banyak hal yang dia inginkan. "Nak...kamu tidak
salah nak...jangan seperti ini!" Ucap Erna dan ia membantu Sandra agar segera berdiri, lalu mengajak
Sandra duduk disampingnya. "Yang harus berlutut itu Marco, tega sekali menyakiti kamu..." ucap Erna
membuat Sandra mengerjapkan kedua matanya dan ia begitu tekejut dengan sikap Erna padanya.

Sandra hampir tidak percaya Erna akan mengatakan hal ini padanya. Biasanya orang kaya akan berpikir
dua kali untuk menerima menantu seperti dirinya, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang
bagus apalagi ia juga telah terbuang dari keluarganya. "Nak...kamu sudah banyak menderita...kenapa
Mami dan Papi harus menyalahkan kamu dengan apa yang terjadi Nak, kamu tidak salah!" Ucap Erna
lembut. la merasa sangat kasihan dengan Sandra, baginya sudah saatnya Sandra bahagia. la ingin
mewujudkan apa yang dinginkan Sandra termasuk jika Sandra ingin berpisah dari putranya. Erna sangat
mengenal Marco yang pastinya akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Tapi..." ucap Sandra membuat Erna memeluk Sandra dengan erat dan ia mengelus rambut Sandra
dengan lembut.

Marco benar-benar babak belur dan Abib telah

1/6

Dia yang suka debat


menghajar Marco, hingga Marco tidak berdaya lagi. Bukan hanya pukulan tapi terjangan yang sangat
keras dan itu membuat Marco tersungkur beberapa kali. "Sudah Pi!" Pinta Handaru jika dibiarkan
adiknya ini akan benar-benar terluka parah.

"Dasar anak tidak berguna kamu...sangat mengecewakan. Papi salah apa sama kamu Marco, apa yang
kamu inginkan Papi berikan, kamu tidak pernah

kekurangan kasih sayang dan perhatian selama ini. Kalian tahu Mami kalian itu memilih untuk menjadi
ibu rumah tangga dan meninggalkan karirnya demi kalian berdua agar bisa mengawasi tumbuh kembang
kalian. Mami kalian sangat bertanggung jawab sebagai ibu kalian dan juga istri," ucap Abib benar-benar
kecewa pada kedua putranya ini. la merasa sebagai orang tua ia dan istrinya telah gagal, hingga
putranya ini telah membuatnya sangat

2/6

Dia yang suka debat


kecewa.

Kekecewaannya juga terlihat pada putra sulungnya yang hanya diam saja ketika ia memukul Marco. Abib
bisa menduga jika Handaru telah lama mengetahui masalah ini dan Handaru bekerja sama dengan
Marco untuk menutupi masalah ini. Abib mendekati Handaru dan plak...ia menampar wajah putra
sulungnya itu. "Untuk kamu yang kurang ajar karena menutupi semuanya dari Papi. Jangan kira Papi
tidak tahu kalau kamu sudah tahu apa yang dilakukan adik kamu ini dan kamu sengaja ikut menutupi
masalah ini dari Papi!" Ucap Abib dengan raut wajahnya yang terlihat sangat kecewa dengan sikap putra
sulungnya ini.

Handaru memegang pipinya yang dipukul Papinya dan ia menghela napasnya. "Papi dengarkan dulu
penjelasan mereka!" Pinta Handaru.

"Kenapa kamu juga mau melawan Papi, sudah merasa hebat kamu?" Tanya Abib, ia memukul Handaru
dengan keras. Handaru membiarkan Papinya itu memukulnya dan sebagai seorang anak ia memang ikut
bersalah karena tidak melaporkan masalah ini langsung kepada Abib.

Saat ini Kiran telah berhasil membuat Dikta bermain dengan adik bungsu Handaru, hingga keduanya
telrihat akrab dan ketika ia keluar dari kamar ini dan ingin menuju lantai dasar, ia melihat Abib memukul
Handaru membuatnya panik. Kiran segera melangkahkan kakinya dengan cepat, bahkan berlari
mendekati mereka. la mendekati Handaru dan menatap Abib dengan tatapan kesal. la melihat wajah
Handaru yang dipukul Abib dan ia nyatanya tidak suka melihat wajah tampan ini terluka.

Erna menghela napasnya, ia tidak bisa melakukan apapun jika suaminya ini sedang marah dan ia sengaja
mengambil anak perempuan agar bisa membuat hati suaminya ini sedikit melunak. "Apa salah Mas
Handaru,

3/6

Dia yang suka debat


Pi?" Tanya Kiran dan ia mengelus pipi Handaru membuat Handaru menujukkan rasa sakitnya karena
menerima luka ini membuat Abib merasa kesal melihat tingkah putra sulungnya itu.

Handaru bahkan menujukkan sikap manjanya kepada calon menantunya itu hingga membuat Abib ingin
memukulnya lagi. "Papi mukulin Mas, Kiran..." adu Handaru.
Kiran mengajak Handaru duduk disofa, ia menatap Abib sang mentri dan orang yang paling berkuasa
dirumah ini dengan kesal. "Pi...kalau jadi pemimpin Papi nggak boleh bersikap otoriter gitu, Pi! Semua
bisa dibicarakan dengan baik-baik nggak harus pakai kekerasan. Coba Papi pikir gimana kalau Dikta
melihat Papanya babakbelur kayak gini? Kalau dia tahu Papi yang memukuli Marco, bisa-bisa Dikta benci
sama Papi..." ucap Kiran. "Papi bisa nggak kalau marah nggak mukul kayak gini...jujur ya Pi Kiran sama
Sandra itu takut loh Pi..." ucap Kiran.

Abib menghela napasnya, ia menatap Sandra dan Kiran bergantian. Sandra sejak tadi menundukkan
kepalanya dan ia telihat ingin menolong Marco sejak tadi, tapi Erna melarangnya karena takut Sandra
juga akan terkena pukulan dari suaminya ini. "Papi..memang begini..makanya kita itu ya Pi nggak
diberikan anak perempuan yang lahir dari rahim Mami. Soalnya kalau anak perempuan kita melihat
Papinya brutal kayak gini kalau marah, dia pasti takut. Papi boleh marahin anak, dipukul beberapa kali
saja lagian kayak nggak ada hukuman lain saja," ucap Erna.

"Selama ini kamu nggak melarang saya Ariani, kamu membiarkan saya untuk mendidik anak kita dengan
cara saya," ucap Abib.

"Saya tidak melarang kalau kalau hanya satu atau dua pukulan tapi kalau udah babak belur begitu, kamu
sudah

4/6

Dia yang suka debat


sangat kerterlaluan," ucap Erna kesal.

Handaru seolah mencari kesempatan dan ia memeluk Kiran bahkan kepalanya berada didekat d**a
Kiran. Abib melihat tingkah putra sulungnya itu membuatnya sangat kesal, apalagi ternyata sekarang
menantunya akan menjadi orang yang sangat bisa mengendalikannya karena Kiran yang sangat pandai
berdebat denganya. "Sakit banget Ran..." lirih Handaru membuat Kiran meniup pipi Handaru dengan
pelan.

"Kamu nggak usah berpura-pura kesakitan begitu Handaru, kepalamu bocor saja kamu nggak mengeluh
sakit," ucap Abib kesal.

"Ran Papi memang keterlaluan, jadi nanti kita kayaknya nggak usah tinggal sama Papi. Kalau Mas
dimarahin Papi sampai babak belur kayak Marco gimana?" Tanya Handaru.

"Kamu kan nggak nakal kayak Marco Mas," ucap Kiran.

"Oohhh...jadi kamu nggak mau tinggal sama Papi Handaru, Kiran?" Tanya Abib kesal dan ia
menghembuskan napas kasarnya karena ucapan kedua biang kerok ini sungguh membuatnya sangat-
sangat kesal. Apalagi ia ingin Kiran dan Handaru tinggal bersamanya, rumahnya begitu luas bahkan
semua anaknya dan cucunya bisa tinggal bersama di Rumah ini.
"Tergantung Papi, kalau Papi janji nggak ngebujuk Mas Handaru dan Marco lagi ya...kita damai Pi," tawar
Kiran dan ia terlihat seberani itu kepada Abib membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.
Wanita yang dicintainya ini memang sangat mahir dalam hal membujuk Papinya ini. Apalagi Papinya
terlihat kesal dan tidak berkutik. "Siapa juga yang mau suaminya babak belur terus setiap ada masalah,
harusnya kan dengar dulu penjelasan mereka!" Ucap Kiran membuat Abib menghela napasnya dan ia

5/6

Hukuman yang nikmat.


Hukuman yang nikmat
Kiran memang sosok yang luar biasa tegas dan calon menantunya ini tampaknya tidak akan pernah takut
menghadapi siapapun, namun ia bisa mengendalikan pikiran orang lain untuk menyetujui ucapannya.
Wanita cerdas ini sangat cocok dengan putra sulungnya yang juga cerdas, namun saat ini Handaru
Laksmana Dewandaru sengaja terlihat t***l untuk menarik perhatian calon menantunya ini. Marco
membiarkan darah yang mengucur dari pelipisnya membuat Sandra melangkahkan kakinya duduk
disamping Marco dan ia menghapus darah yang menetes dengan tisu yang ada di tangannya. Marco
memperhatikan raut wajah Marco yang terlihat sangat khawatir saat ini.

Sandra memang sangat khawatir dan ia menahan dirinya untuk tidak menangis saat ini juga, apalagi
Marco terlihat sangat mengenaskan. Marco menatapnya dengan tatapan menyelidik, seolah menunggu
mata perempuan yang sedang menatapnya ini meneteskan air matanya dan benar saja, air mata Sandra
tiba-tiba menetes membuat Marco segera menghapusnya dengan jemarinya.

"Jadi sekarang bagaimana Pi? Mami rasa sudah cukup Papi memukul Marco, khasihan dia Pi!" Ucap Erna
membujuk suaminya agar tidak memukul putranya lagi.

"Marco sekarang kamu jelaskan kenapa kamu mengkhianati Papi, membohongi Papi dan melanggar
aturan Papi!" Ucap Abib dingin.

Marco menatap Sandra yang masih membersihkan darah dibeberapa bagian wajahnya. "Biarkan Mas
bicara dulu nanti saja kamu obati luka Mas sayang!" Ucap Marco

1/7

Hukuman yang nikmat


tersenyum senang karena Sandra memperhatikannya.

"lii...iya Mas," ucap Sandra dan ia terlihat sangat malu mendengar Marco memanggilnya sayang didepan
keluarganya seperti ini.

Marco menggenggam tangan Sandra seolah dengan menggenggam tangan Sandra, ia diberikan
kekuatan.
Marco menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Sandra, ia yang lebih dulu tertarik dengan Sandra.
Awalnya ia menganggap Sandra adik seperti ia menganggap Binar adik sahabatnya yang telah ia anggap
seperti adiknya sendiri. Namun ternyata ia memperlakukan Sandra sangat berbeda, ia bahkan tidak suka
saat Sandra pergi dengan laki-laki lain dan mengabaikan perintahnya.

Bahkan ketika Sandra dijebak oleh teman laki-lakinya ia bak pahlawan menolong Sandra dan
membawanya pergi namun ternyata ia tidak bisa menjadi pahlawan yang sesungguhnya. la tergoda
dengan sosok Sandra yang mencoba merayunya dan imannya tidak sekuat itu, ketika melihat tubuh
perempuan yang ia cintai seolah memintanya untuk menyentuhnya. Marco telah berjanji akan
menjadikan Sandra istrinya dan ia akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan perempuan yang telah
ia jadikan miliknya itu, namun Sandra menolaknya.

Sandra pergi darinya dan benar-benar menghilang dari hidupnya membuatnya merasa sangat terpukul
hingga mencari Sandra selama beberapa tahun ini. Bahkan Marco terlihat berhemat bukan hanya demi
tabungannya demi membuat impiannya menjadi kenyataan yaitu membangun Rumah Sakit Dewandaru
namun ia juga harus membayar pengeluaran dengan memperkerjakan orang-orang suruhannya untuk
mencari Sandra. Marco tidak menyalahkan Sandra karena keputusannya untuk meniduri Sandra saat itu
adalah hal yang memang sangat ia inginkan karena Sandra tidak mencintainya.

2/7

Hukuman yang nikmat


Papinya ini pernah mengatakan usahakan mendapatkan perempuan yang kalian ingin untuk menjadi
istri kalian karena hidup hanya satu kali. Percuma saja punya wajah yang sangat tampan, tapi tidak bisa
merayu mereka untuk dijadikan istri. Cintai satu perempuan dan jadikan dia pasanganmu, itu yang
sering dikatakan Abib kepada anak laki-lakinya.

"Kalau Papi dan Mami mau marah sama Marco, Papi boleh meluapkan kemarahan Papi tapi jangan sama
istri Marco Pi. Marco sengaja tidak memberitahukan Sandra yang telah Marco temukan ternyata telah
melahirkan Dikta karena Marco ingin Sandra telah menajdi istri Marco dan mempertemukannya dengan
Papi dan Mami!" Ucap Marco.

"Tapi kenapa kamu tidak juga memberitahukan Mami dan Papi setelah kamu menikah Marco?" Tanya
Abib kesal dengan putranya ini.

"Pi...Marco itu sebenaranya mau memberitahukan Papi setelah Mas Handaru menikah Pi, soalnya
kemarahan Papi juga nggak akan terlalu besar gitu kalau Papi sudah sangat senang mendapatkan
menantu idaman Papi," ucap Marco membuat Erna menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan
Marco. "Marco itu ya Pi sebenarnya nggak enak sama Mas Handaru melangkahi dia yang lebih tua.
Adikku tenyata menikah dan telah memilki anak, sedangkan dia belum meningkah dan masih berusaha
mengejar cintanya Pi," ucap Marco.
"Nggak usah diperjelas Marco, duh...kan ini sakit lagi...Ran," ucap Marco membuat Abib mengerutkan
dahinya melihat tingkah Handaru yang terlihat menyebalkan. Kenapa Handaru telah memanfaatkan luka
yang ia miliki sama seperti istrinya yang sangat manja jika terluka ataupun ketika sedang sakit.

"Sini Kiran tiup lagi Mas!" Ucap Kiran dan ia meniup

3/7

Hukuman yang nikmat


luka Handaru dengan pelan. "Ini kalau nggak cepat diobati bisa infeksi!" ucap Kiran kesal dan ia tanpa
takut sengaja menunjukkan kekesalannya kepada Abib yang menjadi pelaku utama, yang telah membuat
Handaru terluka seperti ini.

"Nanti saja diobati, dia itu sengaja pura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian kamu Kiran, jangan
mudah percaya sama Handaru karena dia itu sama kayak Maminya. Manja banget kalau luka sedikit..."
ucap Abib membuat Erna menatap kesal Abi. Suaminya ini berani-beraninya mengatakan hal ini didepan
anak-anaknya.

"Nggak usah sangkut pautkan sikap Mami sama manjanya Handaru ke Kiran Pi!" Ucap Erna kesal.

"Kan Mami memang begitu..." ucap Abib dan ia segera mengubah pembicaraan agar istrinya ini tidak
marah padanya. "Marco itu hanya alasan kamu saja, kamu sengaja karena kamu itu nggak sayang sama
Mami dan Papi kamu, kamu bahkan hampir membuat Mamimu malu karena dia mau menjodohkan
kamu juga," ucap Abib.

"Iya...teman-teman Mami itu punya cucu semua dan Mami belum punya karena anak-anak Mami
semuanya gila kerja sama kayak Papinya. Keluarga nomor dua dan pekerjaan nomor satu," ucap Erna
sinis.

"Bukan pekerjaan nomor satu Mi, tapi tanggung jawab apalagi pekerjaan Papi sekarang itu bukan
pekerjaan main-main Mi, itu negara dan sebagai orang yang diberikan kepercayaan Papi harus bisa
menunjukkan dedikasi Papi," jelas Abib membuat Erna menghela napasnya. "Ini Papi lagi marahi Marco
loh Mi bukan Mami, jadi Mami dengerin dulu Papi ngomong!"pinta Abib.

Marco menyunggingkan senyumannya karena berbincang seperti ini, akan membuat hukumannya
berkurang. Apalagi Papinya telah membuat Maminya kesal

4/7

Hukuman yang nikmat


dan pastinya, Papinya tidak ingin membuat istrinya itu marah besar padanya. "Mi, kalau masalah cucu
sekarang Mami sudah punya cucu Mi, ganteng mirip Marco Mi," ucap Marco.

"Iya makanya Mami tadinya kesal banget sama kamu tapi karena ada Dikta, kekesalan Mami sedikit
berkurang," ungkap Erna.
"Sekarang Sandra kamu benar-benar rela Marco jadi

suami kamu?" Tanya Abib. ia ingin meyakinkan keduanya jika pernikahan mereka harus langgeng hingga
mau memisahkan keduanya.

"Jawab ya!" Bisik Marco. la tidak ingin Sandra mengatakan tidak, hingga Papinya bisa saja meminta ia
menceraikan Sandra.

"Iya Pi, saya rela," ucap Sandra membuat Marco merasa lega.

5/7

Hukuman yang nikmat


"Baiklah hukuman kalian sekarang itu akan segera diberlakukan mulai hari ini!" Ucap Abib membuat
Marco mengerutkan dahinya, bingung apa maksud Papinya ini.

"Maksudnya apa Pi?" Tanya Marco bingung.

"Oke Papi jelaskan, Papi ingin kalian berdua rela membiarkan Dikta tinggal sama Papi dan Mami, kalau
kalian mau pulang ke rumah yang telah kamu siapkan Marco untuk keluarga kecil kamu itu, silahkan
saja!" Ucap Abib dingin.

Handaru sengaja menginjak Kaki Marco, membuat Marco terkejut dan ia menatap Marco dengan isyarat
matanya agar Marco mengerti maksudnya. Handaru menatap sinis Marco karena adiknya ini tidak juga
mengerti apa maksud dari ucapannya itu. Sepertinya ia yang harus berbicara saat ini. "Papi dan Mami itu
ingin agar mereka bisa akrab dengan cucunya dan mereka maunya kalian itu ikut tinggal disini dan
memastikan jika hubungan kalian baik-baik saja!" Jelas Handaru.

"Iya Papi ingin memastikan cucu Papi dibesarkan dengan keluarga yang sehat dan bukan keluarga yang
berpura-pura mesra. Apalagi kalau kalian bercerai jangan harap kalian bisa membawa Dikta pergi dari
sini, kalian mengerti apa maksud Papi. Tapi Papi nggak memaksa jika kalian tidak mau tinggal disini,
Dikta akan tinggal bersama kalian lagi jika kalian berdua mampu memberikan Papi cucu lagi!" Ucap Abib
membuat Sandra menelan ludahnya.

"Kalau itu Mami setuju sama Papi!" Ucap Erna.

Marco menyunggingkan senyumannya, tentu saja ia sangat setuju dengan keinginan Papinya. Tinggal di
rumah ini pun dia rela, asalkan bisa membuat Sandra jadi miliknya lagi dan bahkan ia bisa berusaha
membuat adik untuk Dikta. Ini namanya hukuman yang penuh dengan

6/7
Tahu kelemahannya.
Tahu kelemahannya
Saat ini Handaru mengajak Kiran menuju kamarnya dan ia merasa sangat-sangat senang hari ini karena
ia tahu kelemahan seorang Kiran Ayu calon istrinya ini. Kiran adalah sosok perempuan dingin yang sering
kali menolak banyak lelaki dan sikapnya selalu saja membuat para lelaki kesal dan bertambah
penasaran. Banyak dari mereka yang mencoba kembali mendekati Kiran lagi dan lagi namun mereka
gagal. Selama ini Handaru hanya mengamati Kiran dan lebih banyak mencari tahu Kiran agar usahanya
tidak sia-sia jika ia mendekati Kiran. Apalagi dulu Handaru memilih tidak menjadi lelaki bodoh yang
mencintai perempuan dingin bernama Kiran namun ternyata ia terus saja terjebak dengan beberapa kali
pertemuan mereka.

"Masih sakit Mas?" Tanya Kiran dan ia meringis melihat luka diwajah Handaru. "Papi memang
keterlaluan kenapa sih mesti mukul kamu, kamu nggak salah yang salahkan Marco. Marco juga minta
kamu merahasiakan masalah ini jadi kan kamu ikut terlibat," ucap Kiran kesal.

Kiran mengambil kotak obat dan ia membubuhkan cairan pembersih luka lalu mengoleskan dengan
pelan obat tu kewajah Handaru yang lebam. "Lain kali menghidar Mas, kalau berantem sama aku kamu
jagoan banget," ucap Kiran kesal.

"Loh nggak mungkin kan Mas melawan Papi, nanti Mas jadi anak durhaka dong. Jadi kalau Papi marah
Mas pasrah aja," ucap Handaru.

"Pasrah jangan dong Mas, Mas menghindar saja! Muka ganteng gini kan jadi bengkak kayak gini
aduh...nggak rela

1/6

Tahu kelemahannya
banget," ucap Kiran dan ia kembali meniup pelan luka lebam diwajah Handaru. "Papi ngapain sih
sasarannya wajah kamu Mas, seperti nggak ada bagian lain saja yang bisa dipukul sama Papi.

"Kamu minta bagian mana yang dipukul Papi?" Tanya Handaru.

"Hmmm, bagian mana ya?" Tanya Kiran dan ia menatap Handaru dengan tatapan menilai. Menilai
bagian mana yang membuatnya rela Papinya Handaru memukul Handaru. Ternyata tidak ada bagian
yang ia rela dipukul oleh papinya Handaru.

"Jangan bilang bagian yang Ran!" Ucap Handaru menujuk bagian burrrung perkututnya membuat Kiran
melototkan matanya. "Kalau bagian ini kan gawat Ran, ini itu akan jadi bagian favorit kamu loh Ran,"
ucap Handaru berpura-pura sedih.

"Mas kenapa jadi bahas bagian yang itu..." kesal Kiran dan ia merasa bodoh karena terjebak dengan
ucapan Handaru yang seolah mengajak untuk menggiringnya kebagian itu.
"Berarti nggak ada yang kamu rela ya?" Tanya Handaru.

"Iya nggak ada," kesal Kiran agar Handaru puas.

Semakin hari Handaru semakin membuatnya seolah harus terbiasa, jika Handaru mengajaknya berbicara
mengenai hal ini.

"Alhamdulillah kalau kamu suka semua bagian tubuh Mas, Kiran," ucap Handaru membuat Kiran
menghela napasnya.

"Iya udah puas kamu Mas," kesal Kiran dan ia menekan luka diwajah Handaru membuat Handaru
meringis kesakitan.

"Aduh sakit Ran..." ucap Handaru membuat Kiran terlihat panik dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi

2/6

Tahu kelemahannya
sekarang Handaru Laksamana Dewandaru. Kiran meniupnya dengan pelan hingga wajah keduanya
terlihat sangat dekat dan cup...Handaru sengaja mengecup bibir Handaru dengan cepat.

"Mas kamu ini nakal banget..." ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah.

"Saya itu sayang banget sama kamu," ucap Handaru mengelus pipi Kiran dan ia kemudian menarik Kiran
kedalam pelukannya. "Nggak usah pulang ya! Kamu menginap di Rumah ini saja, dikamar ini!" Ucap
Handaru membuat Kira segera mendorong tubuh Handaru dengan pelan hingga pelukkan Handaru
terlepas.

"Jangan gila Mas, orang tua kamu pasti nggak akan suka aku menginap disini, lagian nggak enak sama
Mami dan Papi. Memangnya kamu sudah bilang sama orang tua aku, kalau kamu mau menikahi aku?"
Tanya Kiran.

"Sudah dan mereka sangat setuju punya menantu seperti saya, Kiran," ucap Handaru. la mencium dahi
Kiran dengan lembut membuat wajah Kiran memerah karena Handaru sangat suka menyentuhnya
seperti ini.

"Kamu sama Marco sama Mas, suka menyentuh aku tiba-tiba, lagian kita itu harus membatasi diri Mas.
Jangan sampai kamu kayak Marco Mas!" Ucap Kiran.

"Iya kamu benar, Mas pasti akan melakukan hal seperti Marco yang membuat bayi terlebih dulu kalau
kamu tidak mau segera dinikahi!" Ucap Handaru membuat Kiran membuka mulutnya.

"Mas kamu ini percuma saja ya Mas, sholat terus tapi kamu berpikiran seperti itu pengen buat dosa,"
ucap Kiran.
"Hidup itu hanya sekali Ran, kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, apalah arti hidup indah ini,"
ucap Handaru. "Semuanya harus seimbang, ibadah dan juga logika mengejar cinta," ucap Handaru.

3/6

Tahu kelemahannya
"Pemikiran macam apa itu Mas, nyebelin banget..." ucap Kiran membuat Handaru tersenyum.

Kiran adalah bidadari cantik yang sangat ia sayangi dan ia sangat suka melihat setiap ekspresi yang
ditunjukkan Kiran, termasuk ekspresi marah Kiran padanya. "Saya itu pengen banyak menghabiskan
waktu sama kamu Ran!" Jujur Handaru namun saat ini ia telah mendapatkan banyak pekerjaannya
sebagai seorang

keturunan Dewandaru, yang bertanggung jawab pada beberapa perusahaan. Bahkan Handaru telah
mengurangi pekerjaan utamanya sebagai seorang pengacara.

"Bohong banget, kamu kan orang yang paling sibuk, mana ada banyak waktu untuk aku," protes Kiran
membuat Handaru menyunggingkan senyumannya karena ternyata Kiran tidak muak dengannya. la
sengaja menarik ulur dirinya karena ia ingin, membuat Kiran memperhatikan

4/6

Tahu kelemahannya
sikapnya bahkan terlihat kehilangan dirinya.

"Saya memang sibuk Ran tapi beberapa hari ini saya akan banyak waktu untuk kamu. Saya tidak akan
pergi ke Pengadilan atau bahkan ke perusahaan dengan wajah saya yang seperti ini," ucap Handaru.

Handaru tidak ingin menimbulkan banyak pertanyaan bahkan jika bertemu dengan wartawan dengan
keadaan wajah yang lebam pasti akan menimbulkan pertanyaan bahkan dugaan yang bisa saja
menimbulkan gosip. Apalagi saat ini hubungannya dengan Kiran belum terpublikasi, bahkan sampai saat
ini Kiran belum mengizinkannya untuk mempublikasikan jika ia dan Kiran sedang menjalani hubungan
serius, menuju jenjang pernikahan.

"Kenapa Mas? Biasnaya kamu sangat sibuk bahkan kamu tidak menghubungi aku," ucap Kiran.

"Jadi selama ini kamu menunggu saya menghubungi kamu ya?" Tanya Handaru dan ia menyunggingkan
senyumannya, karena Kiran terlihat gugup saat ini. la telah berhasil membuat seorang Kiran terpengaruh
dengan kehadirannya dan sepertinya Kiran akan segera memahami perasaannya. "Hubungan kita itu
akan menjadi lebih baik jika komunikasi kita itu tidak satu arah Kiran. Harusnya kalau kamu rindu sama
saya, kamu lebih dulu menghubungi saya Kiran!" Ucap Handaru membuat Kiran menelan ludahnya.

Selama Handaru tidak menghubunginya dan tidak memberikan ia kabar, sepertinya itu sangat
mempengaruhinya. Jika ia sudah mulai ingin mencari tahu Handaru di mana? sedang apa? Apa Handaru
merindukannya apa tidak, apa itu bisa diartikan ia merindukan Handaru? Entahlah Kiran bingung dengan
perasaanya. "Hubungi saya lebih dulu kalau saya sibuk dengan pekerjaan saya, fokus saya biasanya akan
teralihkan pada pekerjaan, itu hal buruk yang saya miliki

5/6

Tahu kelemahannya
Kiran. Selama ini saya tidak pernah mengejar perempuan dan saya biasanya yang dikejar-kejar para
perempuan, jadi saya sebenarnya laki-laki yang cuek, tapi setelah menyadari saya menyukai kamu, saya
berusaha menyesuaikan diri saya agar bisa membuat kamu menyukai saya!" Ucap Handaru.

"Kalau aku menghubungi kamu Mas, nanti kamu yang sibuk nggak mau angkat telepon aku Mas," ucap
Kiran.

"Jika saya sedang rapat pun kalau yang telepon kamu, akan saya hentikan rapatnya!" Jelas Handaru
memuat Kiran mengerjapkan kedua matanya. "Saya selalu akan ada waktu untuk kamu, tapi terkadang
sifat saya yang dulunya acuh itu membuat saya lupa kalau ada perempuan cantik yang telah mengambil
hati saya sedang menunggu telepon dari saya," ucap Handaru tersenyum penuh kemenangan melihat
wajah Kiran bersemu merah.

"Kalau ingin lebih banyak waktu bersama saya, kita segera menikah secepatnya!" Ucap Handaru
berupaya membujuk Kiran agar segera menyetujui keinginannya itu.

Comments

Vote

10

6/6

Dia yang terluka.


Dia yang terluka
Sementara itu saat ini Sandra terlihat gelisah dan ia memilih diam lalu mendengarkan banyak nasehat
dari kedua orang tua Marco. Keduanya ingin segera meresmikan pernikahannya bersama Marco dan
menurutnya itu tidak perlu. Apalagi ia dan Marco memiliki hubungan yang bukan dalam artian saling
mencintai. Sebenarnya ia takut memulai hubungan dengan Marco, tapi ketika melihat Marco babak
belur seperti ini dengan mengambil resiko menikahinya, membuatnya merasa jika Marco sepertinya
benar-benar tulus padanya.

"Sandra...Marco, rumah tangga ini dijalani dengan ikhlas jangan terpaksa dan kalian itu harus bangun
komunikasi yang baik. Saling terbuka dan cobalah untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan
masing-masing!" Pinta Abib. "Papi itu hanya ingin kalian benar-benar serius menjalani pernikahan
karena pernikahaan itu bukan permainan!" Ucap Abib.

"Iya Pi, Marco mengerti Pi," ucap Marco, ia menatap Abib dengan tatapan seriusnya seolah meyakinkan
jika ia tidak akan pernah melepaskan Sandra dan ia benar-benar sangat mencintai Sandra.

"Pi...udah nasehatinnya besok-besok saja lagi Pi, Handaru saja pasti sudah diobati sama Kiran sedangkan
Marco yang lebih parah lukanya, belum diobati sama istrinya!" ucap Erna. Handaru memang segera
pamit bersama Kiran menuju kamarnya dengan alasan Kiran ingin mengobati Handaru secepatnya.
Sebenarnya Kiran kesal dengan hukuman yang diberikan Abib kepada anak-anaknya, ia sangat tidak suka
dengan yang namanya kekerasan.

1/6

Dia yang terluka


"Yaudah...sekarang keputusan ada ditangan kalian, kalau kalian mau pulang dulu pikirkan tentang
keinginan Papi dan hukumannya. Kalau Dikta tidak bisa kalian bawa pulang, Papi nggak bisa membiarkan
Dikta tinggal bersama orang tua yang tidak akur. Cucu Papi bisa stres melihat hubungan kalian yang
tidak harmonis," Ucap Abib membuat Marco membuka mulutnya dan segera memeluk Sandra.

"Siapa bilang kita tidak harmoni Pi, Sandra hanya malu-malu saja menunjukkannya," ucap Marco. "Kita
sangat akur kok Pi," ucap Marco dan ia mengecup pipi Sandra dengan cepat seolah menunjukkan jika
hubungannya dengan Sandra baik-baik saja.

"Kalian nggak usah bohong, itu gestur tubuh Sandra terlihat tidak nyaman sama kamu, lagian kalau
masalah hati kalian saja belum beres jangan harap kalian bisa membesarkan anak kalian dengan baik.
Kalau hubungan kalian itu baik-baik saja, kamu tidak perlu membayar Bodyguard sebanyak itu untuk
menjaga istri kamu agar tidak kabur dari kamu, Marco," ucap Abib membuat Marco mengepalkan kedua
tangannya, ia sangat kesal karena secepat itu Papinya mendapatkan informasi tentang dirinya,
sedangkan selama ini apa ia lakukan tidak terdeteksi oleh Papinya.

"Sandra kenapa kamu mau kabur dari Marco? Apa putra Papi ini telah sangat menyakiti kamu? Apa dia
tidak pantas jadi suami kamu?" Tanya Abib membuat Sandra menelan ludahnya. la bingung apa ia harus
mengatakan hal yang sedang ia pikirkan selama ini tentang Marco. Sejujurnya ia takut, Marco tidak bisa
setia dengannya dan menghianatinya mengingat sifat Marco yang seorang playboy.

"Bukan begitu Pi, Mas Marco baik sama aku Pi," ucap Sandra membuat Marco bernapas lega. Setidaknya
istrinya ini, tidak mengatakan hal buruk mengenainya seperti

2/6

Dia yang terluka


biasanya jika sedang marah padanya.
"Pi, Marco pamit pulang sama Sandra, biar Dikta tinggal disini dulu Pi!" Ucap Marco membuat Sandra
membuka mulutnya karena Marco memutuskan sesuatu tanpa mengatakan apapun padanya. Sandra
menatap Marco dengan dingin, membuat Marco meletakkan sebelah tangannya keatas kepala Sandra
sambil mengelusnya dengan lembut. "Kita bicarakan di Rumah ya, Ma!" Ucap Marco, ia menatap Sandra
dengan tatapan memohon membuat Sandra menganggukkan kepalanya.

Marco ingin bediri, namun ia merasakan nyeri dikakinya dan kemudian terasa sangat sakit. Marco
hampir saja terjatuh jika Sandra tidak segera memeluk lengan Marco. Keadaan Marco saat ini sangat
memprihatinkan dan sebenarnya Erna sangat khawatir dengan keadaan Marco, hingga ia menatap tajam
suaminya yang tega memukul putranya itu. "Pak Diman akan mengantar kamu ke Rumah sakit!" Ucap
Abib.

"Nggak usah Pi, nanti ada wartawan dan ini akan jadi berita hebo, nggak bagus bagi karir Papi!" Ucap
Marco. "Marco masih bisa nyetir sendiri kok Pi!" Ucap Marco.

"Memang karir Papi itu penting? Karir Papi nggak begitu penting, bagi Papi keluarga itu yang lebih
penting," sinis Abib. Ingin sekali ia memukul Marco yang sangat suka berbicara seenaknya.

"Bercanda Pi, jangan marah lagi ya Pi! Kan Marco sudah kasih Papi cucu!" Ucap Marco dan ia
melangkahkan kakinya keluar dari kediaman orang tuanya, sambil berjalan dengan pelan. Sudah ia duga
ia akan babak belur seperti ini apalagi ia tidak melawan dan dengan pasrahnya menerima pukulan
mantan atlet, yang sampai saat ini pun masih saja terus melatih fisiknya ini. Abib memiliki banyak
prestasi termasuk ia merupakan salah satu atlet yang sangat terkenal di masanya.

3/6

Dia yang terluka


Saat ini keduanya berada didekat mobil dan Sandra mengambil kunci mobil dari tangan Marco. "Biar aku
saja yang nyetir!" Ucap Sandra.

"Oke," ucap Marco menyunggingkan senyumannya.

Meskipun istrinya terlihat sangat kesal padanya namun istrinya ini juga sangat menghkhawatirkan
keadaannya, apalagi kondisinya saat ini benar-benar memprihatinkan.

wajah Marco memang terlihat sangat pucat dan itu

sungguh membuat Sandra sangat khawatir. Sandra melajukan mobilnya dengan cepat membuat Marco
mengerutkan dahinya. "Mau kemana? Kita pulang dan kamu nggak usah ngebut Larisa!" Ucap Marco.

"Kita ke Rumah sakit saja!" Ucap Sandra.

"Tidak perlu, kita mampir ke apotik dan kang beli obat-obat yang saya tulis ini!" Ucap Marco
mengeluarkan buku resepnya. "Jangan ngebut saya belum mau mati!"

4/6
Dia yang terluka
Ucap Marco membuat Sandra menghentikan mobilnya dan bunyi klakson mobil terdengar. Sandra
segera menepikan mobilnya dan ia menatap Marco dengan dingin.

"Kamu tega...Kamu jahat!" Teriak Sandra dan sejak tadi ia telah menahan emosinya agar tdiak meluap,
terlebih lagi itu didepan orang tua Marco. "Kenapa sih Mas...Kamu harus mengatakan hal yang aku
benci..." ucap Sandra membuat Marco menghela napasnya.

"Apa yang membuat kamu membenci saya, Larisa?

yah...saya hampir lupa kalau kamu memang membenci saya dan mungkin banyak hal yang membuat
saya ini sangat buruk dimata kamu," ucap Marco dingin. Sandra tiba-tiba meneteskan air matanya dan ia
segera menghapus air matanya dengan jemarinya.

Sandra kembali melajukan mobilnya dan ia berhenti disebuah apotik. Marco menuliskan resep obat dan
ia memberikannya kepada Sandra. Sandra segera turun dari mobil dan ia membeli beberapa obat untuk
Marco setelah itu ia segera kembali masuk kedalam mobil. la melihat Marco memejamkan matanya dan
itu membuatnya panik, ia mendekati Marco lalu menggoyangkan lengan Marco dengan pelan. "Bangun
laki-laki brengsssek....bangun!" Lirih Sandra namun Marco masih terpejam.

"Mas....hiks....hiks..." isak tangis Sandra terdengar membuat Marco membuka sebelah matanya dan ia
tersenyum.

"Ayo pulang!" Ucap Marco. "Udah jangan nangis!"

Pinta Marco dan bodohnya Larisa menangis kencang membuat Marco menghela napasnya. "Semakin
kita lama pulang semakin kamu membuat saya menderita karena menahan sakit Larisa!" Ucap Marco.

Sandra segera melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Marco menghela napasnya.
"Jangan ngebut Larisa! kalau kita berdua kecelakaan kamu

5/6

Dokter tamu.
Dokter tamu
Sandra sangat kesal dengan sosok Marco yang pandai sekali membolak-balik perasaannya. la sangat
marah kecewa dan kesal pada Marco yang mengucapkan kalimat yang membuatnya meneteskan air
matanya karena khawatir. Apalagi tadi Marco sempat tidak membuka matanya dan itu membuatnya
merasa hidupnya tidak berarti jika Marco tidak ada lagi. la kesal dengan perasaannya yang ternyata
tetap saja tidak bisa berpaling dari Ayah anaknya ini. Beberapa tahun ini ia mencoba untuk
melupakannya dan menghapus segala kenangan manis bersama Marco namun si brengseeek ini tetap
saja telah mengambil hatinya.
Dulu Marco memperlakukannya seperti seorang adik, meskipun saat ini ia kesal dan menolak menjadi
adik seorang Marco. Namun kedekatannya dengan Marco saat itu sangatlah manis dan bahkan Marco
selalu menunjukkan rasa sayangnya yang berlebihan, seperti melarangnya pergi dimalam hari dan
Marco lebih sering menemaninya, walaupun itu hanya berbelanja di super market yang tidak jauh dari
flat tempat ia tinggal. Sandra mati-matian mengubah rasa sukanya sebagai seorang wanita itu menjadi
rasa sayang kepada seorang Kakak. Tapi setelah kejadian itu hubungannya bersama Marco menjadi
rumit, hingga ia memutuskan untuk pergi jauh dari Marco.

Saat ini mereka telah sampai di Rumah, Sandra memapah Marco agar duduk disofa yang berada di ruang
tengah. la meletakkan semua obat yang tadi ia beli diatas meja, ia menatap wajah tampan yang terlihat
lebam dan terluka. "Mas ini kayaknya kamu mesti panggil Dokter!" Ucap Sandra.

1/6

Dokter tamu
"Saya Dokter," ucap Marco.

"Iya tapi itu kaki kamu juga terluka dan emangnya kamu nggak perlu pemeriksaan lengkap?" Tanya
Sandra dan ia terlihat sangat cemas melihat keadaan Marco saat ini.

"Nggak perlu," ucap Marco.

Sandra mengambil ponselnya, ia menghubungi Defran, Defran Satyas pernah meminta bantuannya
untuk mengawasi Lifia dan sekarang ia ingin Defran datang untuk mengobati Marco. "Halo
Assalamualaikum, Mas..." ucap Sandra membuat Marco melototkan matanya karena kesal, siapa yang
Sandra telepon dengan sangat lembut lalu menyebut kata Mas. Marco menarik tangan Sandra membuat
Sandra segera menghempaskannya karena kesal.

"Waalaikumsalam," ucap Defran.

"Mas Def..." panggil Sandra. Marco menghembuskan napasnya karena lega, ternyata yang Sandra
telepon adalah sahabatnya si kampretto Defran Satyas sang pengantin baru.

"Ada apa Sandra?" Tanya Defran dingin.

"Maaf mengganggu acara Mas Def sama Lifia, aku bisa minta tolong nggak Mas, obatin Mas Marco!"
Pinta Sandra membuat Marco menyunggingkan senyumannya, permintaan istrinya ini pasti menyulitkan
Defran karena saat ini Defran sedang sibuk bersama istrinya. "Please Mas, Mas Marco nggak mau
dibawa ke Rumah Sakit apalagi katanya nanti ada yang tahu dia terluka parah karena dipukul Papi dan
masalah ini bisa saja masuk berita Mas," ucap Sandra dengan suaranya yang terdengar memelas karena
ingin memohon agar Defran datang mengobati Marco.

"Kalian di mana sekarang?" Tanya Defran.

"Di Rumah Mas Marco yang didekat rumah Ayahnya


2/6

Dokter tamu
dan Ibu Lifia," ucap Sandra.

"Oke, tunggu saja disana!" Ucap Defran.

"Oke makasi, Mas," ucap Sandra.

"Assalamualaikum," ucap Defran.

"Waalaikumsalam," ucap Sandra dan ia merasa lega.

la mengambil kapas dan mengobati wajah Marco yang terluka.

"Nggak usah telepon Defran, dia sibuk sama istrinya dan kamu mengganggu acara pengantin baru," ucap
Marco.

"Tapi di mau nolongin aku, mungkin kalau kamu yang telepon dia, dia mana mau nolongin kamu Mas,"
ucap Sandra bangga karena Defran mau datang menolong Marco.

"Penting banget ya kamu dimata dia, saya ini sahabatnya," ucap Marco kesal. la kesal karena Sandra
sepertinya menganggap Defran itu adalah seorang Dokter yang sangat berkemampuan.

"Paling dia minta adiknya kesini," ucap Marco. Defran biasanya sangat tidak suka seseorang yang sedang
mengganggu aktivitas penting baginya terlebih lagi aktivitasnya bersama istrinya.

Beberapa menit kemudian sosok laki-laki melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah ini, membuat
Marco bernapas dengan lega. Sebenarnya tadi Marco telah menghubungi rekan kerjanya dan
memintanya untuk datang kesini. Seorang jenius dibidang kedokteran dan ia adalah dokter yang telah
banyak mendapatkan prestasi dengan banyak penelitian yang telah ia lakukan. Laki-laki tampan
berwajah dingin dan terlihat sangat tidak ramah.

"Assalamualikum," ucapnya.

"Waalaikumsalam," ucap Marco dan Sandra

3/6

Dokter tamu
bersamaan.

"Adiknya Dokter K, terimakasih sudah datang," ucap Marco membuat sosok tampan ini menghela
napasnya.
"Nggak usah banyak basa basih, kamu pikir waktu saya itu hanya untuk kamu," sinisnya membuat Marco
menyunggingkan senyumannya.

"Larisa, ini Dokter Zilo," ucap Marco memperkenalkan

Zilo. Zilo menatap Sandra sekilas dan ia kemudian menganggukan kepalanya.

"Azillo Alexsander," ucapnya mengatupkan kedua tangannya membuat Sandra tersenyum terpaksa
karena akhirnya ia bertemu dengan Dokter yang snagat terkenal ketika ia masih berkuliah. Dokter muda
yang banyak menerima penghargaan.

4/6

Dokter tamu
"Saya izin Nyonya Marco mengobati Marco!"

Ucap Zilo.

"Silahkan!" Ucap Sandra.

Zilo mengobati luka Marco dan ia juga memeriksa semua bagian tubuh Marco yang terluka lalu
memastikan jika tidak ada yang patah dibagian kaki Marco karena tadi Marco merasa kakinya terasa
sangat sakit. "Hanya terkilir," ucap Azilo.

"Halo...Assamaulikum, Mbak Sandra..." teriaknya.

Marco mengangkat sudut bibirnya dan tentu saja pesuruh yang diminta untuk memeriksanya oleh
Defran adalah Salsa Satyas yang saat ini melangkahkan kakinya mendekatinya. "Waalaikumsalam," ucap
mereka.

"Kenapa kamu mengundang perempuan berisik itu kemari Marco," ucap Zilo, membuat Marco
menyunggingkan senyumannya.

"Itu istri saya khawatir dan minta tolong Defran kemari, tapi yang datang adiknya yang cantik itu," goda
Marco.

"Loh kalau tahu dia juga datang ngapain aku datang," sinis Salsa. Zilo mengalihkan pandangannya
menatap Salsa dan ia menatap Salsa dengan dingin. "Nggak usah pakek marah ya! Ini bukan di Rumah
sakit!" Ucap Salsa kesal.

"Hmmm...kalian makan malam disini saja! Aku akan menyiapkan makan malam!" Ucap Sandra.

"Tidak perlu!" Ucap Zilo.

"Woy Pak Dokter, nggak usah pelit waktu, ditawari makan nolak...tahu deh yang kaya raya tujuh turunan
jadi gayanya belagu banget," ucap Salsa sini.
"Istri saya ingin mengucapkan terimakasih Zilo, makan disini dulu! Lagian kamu baru pertama kalinya
datang ke Rumah saya yang baru ini," ucap Marco seolah ingin

5/6

Dokter tamu
memamerkan rumah barunya, yang telah ia bangun dengan megah. "Jangan ditolak oke!" Pinta Marco.

"Jawab dong, kalau kehadiran aku disini membuat kamu kesal, aku pergi deh! Lagian aku nggak nolongin
apa-apa yang ngobatin Mas Marco juga kamu," ucap Salsa.

"Salsa juga makan disini, ayo bantu Mbak didapur!" Ajak Sandra menatap Salsa dengan tatapan
memohon membuat Salsa akhirnya menganggukkan kepalanya.

Keduanya melangkahkan kakinya didapur meninggalkan Marco yang masih diobati Zilo, saat ini mereka
telah berada di dapur. "Mbak kalau tahu yang datang itu Zilo aku nggak akan mau kemari!" Ucap Salsa.

"Kalian bermusuhan? Aneh..bisanya rekan kerja itu nggak ada tuh musuhan kelas berat kayak kamu,
baru melihat dia kamu kayak mau nonjokkin orang Sa," ucap Sandra.

"Mbak belum tahu saja siapa dia," ucap Salsa kesal mengingat bagaimana ia selalu saja bertengkar setiap
ia bertemu dengan Zilo. "Jelas-jelas keluarganya juga ada rumah sakit, nggak tahu kenapa dia mau juga
kerja di Rumah sakit keluargaku," ucap Salsa kesal dengan permintaan Papinya yang memintanya untuk
mendekati Zilo, bahkan menikahi Zilo jika mau beberapa warisan darinya.

Comments

Vote

6/6

16

Jodoh atau enggak.


Jodoh atau enggak
Sandra menyunggingkan senyumannya dan akhirnya ia juga bertemu lelaki yang menjadi bahan
pembicaraan Kana, ketika keluarga mereka berkumpul. "Jadi dia yang dibicarakan Mbak Kana itu ya Sa?"
ucap Sandra sambil menyiapkan bahan masakkannya. "Dokter Zilo yang mau dijodohin sama kamu,"
ucap Sandra lagi dan ia tersenyum menggoda melihat Salsa menghela napasnya.

"Siapa juga yang mau," ucap Salsa pelan.

"Tapi ganteng banget Sa, para Mas kamu itu saja kalah...kayaknya ada keturunan bule gitu ya Sa dianya
dan kalau senyum kayaknya manis banget loh Sa. Jarang banget ada cowok paket complete gitu kayak
dia, udah ganteng, manis, kaya dan pintar," ucap Sandra.

"Kayaknya sih dia memang ganteng dari para Mas, tapi dia bukan paket complete Mbak, soalnya
orangnya songong dan sombong gitu," ucap Salsa.

"Tapi kayaknya kamu suka ya Sa sama dia?" Tanya Sandra membuat Salsa melototkan matanya.

"Nggak Mbak, ngapain...lihat tadi saja aku bertengkar gitu sama dia," ucap Salsa. "Setiap ketemu pasti
aja ada ucapannya yang sangat menyebalkan, dia itu sok ganteng banget Mbak orangnya, sombong dan
ya...maklum saja dia kan orang kaya gitu," ucap Salsa.

"Loh memangnya kamu bukan orang kaya ya Sa?" Goda Sandra. Baginya Salsa dan Zilo terlihat sangat
cantik apalagi jika diukur dari segi fisik. Zilo seperti seorang laki-laki gagah pelindung seorang putri
manja seperti Salsa.

"Keluargaku kaya tapi mereka lebih kaya lagi," ucap Salsa. "Alexander grup dan dia anak bungsu Dokter
Kenzo

1/6

Jodoh atau enggak


yang hebat itu dana Kakak sulungnya juga Dokter," ucap Salsa.

"Keluarga kalian kan cocok kebanyakan dokter, jadi ya kalian itu memang pantes banget dijodohin!"
Ucap Sandra.

"Wah sekarang ini ya Mbak, nggak usah main jodoh-jodohan, pacaran aja yang bener sampai menikah
saja bisa cerai gitu aja, apalagi yang dijodohin dan dipaksa keluarga, baru sebentar bisa langsung cerai,"
ucap Salsa.

"Tapi banyak yang langgeng, itu Mbak Kana sama suaminya kan adem ayem gitu dan terlihat banget
kalau hubungan keduanya itu sangat harmonis," ucap Sandra.

Mereka memang harmonis dan mereka itu termasuk pasangan yang sangat beruntung karena
dijodohkan dengan orang yang tepat," ucap Salsa. la juga kagum dengan Serkan dan Kana yang memiliki
hubungan yang sangat romantis hingga membuatnya sangat iri. "Tapi kebanyakan sih, nggak tepat
Mbak. Mbak beruntung bisa menikah dengan laki-laki yang Mbak cintai," ucap Salsa membuat gerakan
tangan Sandra terhenti dan ia kemudian segera melanjutkan acara masaknya.

"Mbak aku buatin makanan penutupnya ya!" Ucap Salsa.

"Oke," ucap Sandra.

"Hmmm...bahan kuenya ada, Mbak?" Tanya


Salsa.

"Ada, disana..,tapi nggak tahu Sa lengkap apa nggak," ucap Sandra.

"Oke, aku lihat dulu Mbak mau buat kue apa gitu, kalau kue sih sering lihat Mbak Kana masak, tapi
nggak tahu ini bisa aku praktekin juga apa nggak. Soalnya hehehe aku juga baru belajar masak..." ucap
Salsa tersenyum

2/6

Jodoh atau enggak


malu.

"Nggak apa-apa coba saja masak!0 ucap Sandra.

"Oke Mbak siap!" Ucap Salsa.

Keduanya saat ini sedang sibuk dengan masak makanan masing-masing, Sandra dengan cekatan
memasak sup daging, ayam goreng serundeng, tumis kangkung dan sambal hijau. Sedangkan Salsa saat
ini sedang memasak pie s**u yang ukurannya cukup besar. Setelah semuanya selesai dimasak Sandra
memanggil Marco dan Zilo yang sedang berbincang di ruang tengah. "Makanan sudah siap," ucap
Sandra.

Marco mengulurkan tangannya kepada Sandra membuat Sandra menghela napasnya. Padahal ada Zilo
yang bisa membantu memapahnya menuju ruang makan. Sandra mendekati Marco dan ia memeluk
lengan Marco lalu melangkahkan kakinya menuju ruang makan. "Ayo Zilo!" Ajak Marco ketika Zilo juga
belum berdiri mengikutinya.

Zilo berdiri dan ia melangkahkan kakinya mendekati mereka lalu segera duduk bergabung dimeja makan
yang telah terhidang beberapa makanan. Marco tersenyum melihat macan cantiknya saat ini terlihat
begitu sabar menghadapinya walaupun ia tahu jika saat ini Sandra pasti sangat kesal padanya. Salsa
menghela napasnya kue yang ia buat ternyata gosong dan ia malu untuk menghidangkannya, tapi
Sandra tadi sempat mengatakan jika rasa kue itu sepertinya enak, hingga dengan terpaksa kue itu saat
ini ada dihadapan mereka.

"Kuenya unik," ucap Marco membuat Salsa menyebikkan bibirnya. "Kamu yang buat Mas?" Tanya Marco
kepada Sandra.

"Bukan aku yang buat," ucap Salsa.

"Pantas saja penampilan kue itu mirip dengan yang membuatnya," ucap Zilo membuka suaranya
membuat

3/6
Jodoh atau enggak
Salsa menata Zilo dengan tajam.

"Iya aku buat kue ini jadi hitam, mungkin rasanya pahit karena bertemu kamu membuat suasana hati
aku jadi buruk banget," ucap Salsa menatap Zilo dengan tatapan penuh permusuhan.

la sangat kesal kenapa ia harus bertemu Zilo hari ini, setiap bertemu Zilo ia selalu merasa emosinya
memuncak dan ingin sekali rasanya ia memukul wajah tampan itu,

dengan kepalan tinjunya ini. "Udah...udah ini kenapa calon pasangan jadi ribut begini, kalian itu kan
pasangan klan...yang akan segera disatukan, semacam simbol penyatuan keluarga. Dengar-dengar
bakalan ada proyek besar yang melibatkan kedua grup besar dan hasil kesepakatan mereka ingin
menjodohkan putra dan putri mereka," ucap Marco membuat Zilo menatap datar Marco sedangkan
Salsa menghembuskan napasnya.

4/6

Jodoh atau enggak


Salsa ingin berkata kasar saat ini juga, tapi ia menahan dirinya karena menurutnya saat ini bukanlah
waktu yang tepat, untuk mengatakan hal ini terlebih lagi hanya didepan mereka. "Saya belum setuju,"
ucap Zilo.

"Zilo Papamu bilang, beliau ingin kamu menikahi Salsa, sebagai anak yang berbakti nikah saja Zilo!" Ucap
Marco menyunggingkan senyumannya melihat raut wajah kesal Salsa. "Kalau dilihat Salsa juga tidak
jelek," ucap Marco lagi membuat Salsa ingin sekali memukul wajah mengesalkan milik Marco, yang telah
berani mencoba memprovokasinya saat ini.

"Dia memang tidak jelek tapi lamban dan bodoh," ucap Zilo membuat Salsa membuka mulutnya dan ia
menujuk wajah Zilo dengan jari telunjuknya.

"Siapa juga yang setuju mau nikah sama kamu, aku yang bodoh ini lebih memilih laki-laki bermulut
manis, dari pada laki-laki bermulut kejam kayak kamu!" Ucap Salsa kesal.

"Mulut saja kejam?" Tanya Zilo mengerutkan dahinya.

"Iya kejam banget...dan kamu itu nggak ngotak!" Ucap Salsa.

"Mulut kamu sendiri yang harusnya diberi pelajaran!" ucap Zilo dingin.

"Kasih dia pelajaran Zilo tentang bagaimana lelaki menggunakan mulutnya dengan baik, untuk
membungkam mulut perempuannya!" Goda Marco membuat Sandra menatap sinis Marco. "Ciumm aja
biar dia diam!" Ucap Marco menjelaskan maksudnya membuat Salsa mendengus kesal.

"Mas Marco, astaga aku bilangin sama Mas Serkan dan Mas Def!" Ucap Salsa kesal.

"Mereka nggak akan marah jika itu berkaitan dengan


5/6

Jodoh atau enggak


kamu dan Zilo, kamu itu dilahirkan memang untuk menikah dengan Zilo!" Ucap Marco lagi membuat
Salsa benar-benar sangat murka. "Lagian kalau kamu mencium Salsa sekarang juga, pasti tidak akan jadi
masalah oleh keluarga besar kalian, yang ada kalian langsung diminta untuk segera menikah!" Ucap
Marco.

"Udah..kenyang aku mau pulang, Mbak makasi ya makanannya, disini panas banget makanya nggak
betah.

Banyak setannya ada dua lagi dan Mbak harus hati-hati Mbak! Jangan mudah dibujuk rayu sama dia!"
Ucap Salsa menujuk Marco dengan kesal.

"Oke, kamu hati-hati ya Sa!" Ucap Sandra dan ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Sandra lalu segera
melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.

"Sa...Salim dulu sama calon imam kamu!" Tidak Marco.

"Ogah..." teriak Salsa. Zilo dengan santai memakan makanannya, seolah tidak pengaruh dengan Salsa
yang telah pulang lebih dulu darinya.

Comments

Vote

10

6/6

Ingin segera memilikinya.


Ingin segera memilikinya
Setelah Zilo dan Salsa pulang, saat ini hanya tinggal Marco dan Sandra yang sedang berada diruang
makan. Kue buatan Salsa ternyata setelah Zilo, Marco dan Sandra memakannya, mereka akhirnya
menyetujui jika rasa kue tetap enak meskipun gosong. Saat ini Sandra sedang membereskan piring kotor
dan Marco menatap punggung Sandra sambil menyunggingkan senyumannya. Sudah ada suatu rencana
yang saat ini ia pikirkan agar Sandra tidak akan pernah berpikir untuk bercerai darinya. Ya...lebih baik ia
memikirkan bagaimana jika ia bisa memiliki anak lagi bersama Sandra.

"Biarkan para maid yang nanti membersihkan piringnya Larisa!" Ucap Marco.

Sandra tidak mengatakan apapun dan ia tetap membersihkan piringnya dengan pelan, setelah selesai ia
sengaja meninggalkan Marco yang saat ini menatap punggungnya. "Mau kemana?" Tanya Marco.
"Ke kamar!" Ucap Sandra.

"Ajak saya dong!" Ucap Marco dengan nada menggoda.

"Ngapain ngajakin kamu," sinis Sandra.

"Ingat Larisa, kalau kita seperti ini terus kasihan Dikta.

Dikta tidak bisa tinggal bersama kita dan anak kita akan sedih karena semua ini Larisa. Sebagai orang tua
yang baik kita harus memberikan yang terbaik untuk anak kita!"

Ucap Marco.

"Jadi maksud kamu, kamu mau aku hamil lagi begitu?" Sinis Sandra karena itulah keinginan orang tua
Marco, yang akan membiarkan Dikta tinggal bersamanya lagi jika ia dan Marco memiliki anak lagi.

1/6

Ingin segera memilikinya


"Iya, hal itu tidak sulit, terbukti hanya satu malam kita menggarap sawah, kita bisa langsung panen,"
ucap Marco membuat Sandar menghentikan langkah kakinya dan ia membalikkan tubuhnya, lalu
menatap Marco dengan tatapan kesal.

"Perumpamaan yang saat buruk," sinis Sandra.

"Oke kalau mau yang lebih jelas, kita bercinta satu malam dan kamu sudah hamil," ucap Marco. "Betapa
bibit yang saya miliki sangat unggul apalagi hasilnya anak setampan Dikta," ucap Marco.

Sandra menghela napasnya, Marco sungguh tidak tahu malu dengan mengatakan hal ini padanya hingga
membuat wajahnya memerah karena amarah. "Mas kamu ini nggak tahu malu banget," ucap Sandra
kesal.

"Saya memang nggak tahu malu, makanya saya memutuskan untuk meniduri kamu dengan sangat sadar
dan tanpa paksaan," ucap Marco. Sebenaranya ia bisa saja memberikan obat penenang untuk Sandra
saat itu, namun ia memilih untuk tidak melakukannya karena ingin mewujudkan keinginannya yang
terpendam sebagai seorang laki-laki.

Marco berdiri dan ia melangkahkan kakinya mendekati Sandra dengan santai, membuat Sandra
membuka mulutnya karena ternyata Marco berbohong padanya. Bagaimana tidak Marco bisa berjalan
dengan santai mendekatinya dan ia menyunggingkan senyuman. Sandra memundurkan langkah kakinya
mencoba menjauh dari Marco. Marco menangkap tangan Sandra, ia menarik tangan Sandra dengan
keras lalu memeluknya dengan erat.

"Badan Mas sakit semua sayang," ucap Marco dengan suara manjanya. "Butuh sandaran dan belaian
kamu!" Ucap Marco dengan suara seraknya.
"Stop Mas, kamu ini nggak tahu malu banget sih

2/6

Ingin segera memilikinya


Mas..." kesal Sandra. "Mas jangan kayak gini kalau ada yang lihat gimana?" Tanya Sandra dan ia
mengedarkan pandangannya. la tidak ingin kehilangan mukanya, karena Marco memeluknya seperti ini
apalagi banyak maid yang dipekerjakan Marco di Rumah ini.

"Kalau ada yang lihat mereka pasti mengerti!" Ucap Marco. la mengeratkan pelukannya tak peduli
dengan tubuhnya yang masih merasa nyeri, akibat pukulan seorang Abib Laksmana Dewandaru Papinya
yang perkasa itu.

"Lapasin Mas!" Kesal Sandra.

"Kita ke kamar saja ya!" Ucap Marco membuat Sandra melototkan matanya. la mencoba
menghempaskan tangan Marco namun ternyata sulit untuknya karena Marco lebih kuat darinya.

"Jangan lancang Mas! Kamu mau mengambil kesempatan dan kamu ingin memanfaatkan aku," kesal
Sandra.

"Astagfirullah sayang, kapan Masmu ini mau mengambil kesempatan dan memanfaatkan kamu. Mas ini
ingin kita bahagia!" Ucap Marco.

"Lepasin nggak!" Teriak Sandra lagi dan Marco melepaskan tangannya membuat Sandra segera
melangkahkan kakinya menuju lantai dua.

Marco menyunggingkan senyumannya dan ia mengikuti Sandra yang melangkahkan kakinya menaiki
tangga. la menyunggingkan senyumannya karena sejujurnya saat ini, ia sangatlah lega. Orang tuanya
telah mengetahui keberadaan Sandra dan Dikta, apalagi ia juga telah mendapatkan hukumannya. la
sangat bersyukur Papinya membantunya, agar membuat Sandra berhenti untuk kabur darinya apalagi
Dikta saat ini berada bersama Papi dan Maminya. Kelemahan istrinya ini adalah putranya,

dengan putranya tinggal bersama orang tuanya membuatnya akan lebih muda mendapatkan hatinya.

3/6

Ingin segera memilikinya


Sandra membuka pintunya namun Marco menarik tangan Sandra. "Kamar kamu disana bukan disini!"
Ucap Marco.

"Selama ini aku tidur disini bukan disana!" Ucap Sandra kesal.

"Sekarang kamu tidur sama saya Sandra! Dosa kalau kamu menolak saya!" Ucap Marco.

"Kamu ini maunya apa sih Mas!" Kesal Sandra da


wajahnya merah padam saat ini.

Marco kembali menarik tangan Sandra agar mengikutinya menuju kamar utama, yang akan menjadi
kamarnya bersama Sandra. "Astaga Mas apa-apaan kamu, jangan kayak anak kecil Mas!" Teriak Sandra.

"Anak kecil? Bukanya kamu yang yang kayak anak kecil, saya ini sudah dewasa makanya bisa buat anak
kecil.

4/6

Ingin segera memilikinya


Kamu yang kayak anak kecil, diajak bersikap dewasa tapi kamu nggak mau," ucap Marco.

Sandra terpaksa mengikuti Marco masuk kedalam kamar ini dan nanti jika ada kesempatan ia akan kabur
dari Marco menuju kamarnya.

Marco tiba-tiba memeluknya "Malam ini kita hanya tidur bersama, saya janji nggak akan menyentuh
kamu hari ini!" Ucap Marco. "Tapi hanya hari ini, hari selanjutnya saya mau memiliki kamu!" Bisik Marco
sengaja ingin menggoda Sandra dan ia mencium pipi Sandra dengan lembut. "Ingat kalau kamu menolak
kita akan lebih sulit lagi untuk tinggal bersama dengan Dikta. Kita bisa sih tinggal bersama di Kediaman
orang tua saya hingga kamu hamil dan melahirkan disana, lalu kita bisa pulang ke Rumah ini lagi
bersama Dikta," ucap Marco.

"Kamu memang pantas dipukuli Mas dan sepertinya pukulan Papi kurang!" sinis Sandra.

"Kamu yakin tega melihat saya babak belur?" Tanya Marco mengelus kepala Sandra dengan lembut.
"Jangan keras kepala sayang, kamu jangan kurang ajar sama saya dan egois karena saya yang lebih
mencintai kamu," ucap Marco dengan suaranya yang terdengar sangat dingin. Marco menarik dagu
Sandra dan matanya menyelusuri wajah cantik Sandra. "Saya bisa melakukan apa saja demi mencapai
tujuan yang saya inginkan!" Ucap Marco.

Sandra menelan ludahnya karena Marco terlihat sangat serius mengatakan hal ini padanya. Apalagi
Marco memang bisa melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan. "Apa yang kamu
takutkan dari pernikahan ini?" Tanya Marco dingin. la menyelusuri wajah Sandra dengan jemarinya
membuat jantung Sandra berdetak dengan kencang. Sikap Marco yang seperti ini kepadanya
membuatnya merasa takut. Sandra mendorong tubuh Marco dengan pelan dan ia menuju kamar mandi
membuat

5/6

Ingin segera memilikinya


Marco menghela napasnya karena sepertinya hanya dengan membut Sandra takut, Sandra akan
menuruti semua keinginannya.
Sandra masuk kedalam ruang yang berada disamping kamar mandi dan ia takjub dengan ruang ini.
Terdapat lemari tinggal yang berisi koleksi pakaian milik Marco, sepatu dan juga aksesoris milik Marco
tapi ternyata disana juga ada barang milik perempuan. Sandra menghela napasnya, siapa perempuan
yang pernah tinggal disini hingga semua koleksi yang ada dikamar ini terlihat begitu mewah. la
mengambil baju piyama berwarna merah muda, lalu ia membawanya kembali masuk kedalam kamar
mandi.

Marco duduk disofa dan ia melihat Sandra telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia beli
untuk Sandra. Baju piama tidur itu terlihat begitu pas ditubuh istrinya ini, Sandra menaiki ranjang dan ia
membaringkan tubuhnya disana. Marco memperhatikan Sandra dan setelah istrinya itu tertidur lelap, ia
akan membaringkan tubuhnya disamping istrinya lalu memeluknya dengan erat.

Comments

Vote

6/6

Sudah sangat lama.


Sudah sangat lama
Hari ini Lifia mengajak Sandra, Kiran, Salsa, Kila, Kana dan Bita sahabatnya Kana sekaligus istri sepupu
suaminya itu untuk bertemu. Lifia berencana ingin membahas acara bulan madunya bersama Defran
dan ia ingin bukan hanya bulan madu berdua, tapi juga pergi bertamasya bersama keluarganya. Saat ini
Lifia melihat jam ditangannya dan ia menatap suaminya yang saat ini sedang duduk disampingnya.
"Mas..." panggil Lifia.

"Ya..." ucap Defran yang sedang membaca berkasnya.

Pagi ini hari minggu dan ia memang menginap di Apartemen Defran, dengan alasan ingin memiliki waktu
berdua saja. Defran memang sangat overprotektif padanya terbukti setiap apa yang ia lakukan suaminya
ini akan mengawasinya termasuk dalam hal memilih peran. Pernikahannya memang dilakukan secara
tertutup dan hanya mengundang kerabat dekat saja. Oleh sebab itu desas-desus pernikahannya menjadi
tanda tanya para fansnya, Lifia memang akan mengadakan resepsi pernikahan dan hari ini, rencananya
ia ingin mengupload beberapa foto pernikahannya bersama Defran.

"Mas aku mau makan siang sama Mbak Kana, Mbak Bita, Sandra, Mbak Kiran, Salsa, Mbak Bita dan Kila,"
ucap Lifia.

"Iya Mas tahu dan juga mengizinkan kamu siang ini," ucap Defran.

"Terus akunya diantar sama kamu Mas?" Tanya


Lifia.

"Diantar," ucap Defran dan ia menatap mata Lifia dengan tatapan dingin, lalu ia menujuk bibirnya
dengan jari telunjuknya mengisyaratkan agar Lifia segera mencium

1/6

Sudah sangat lama


bibirnya. Lifi dengan malu-malu mendekatkan wajahnya dengan wajah tampan milik Defran dan cup....ia
mengecup cepat bibir Defran. Namun saat ia ingin menjauh Defran segera menarik pinggangnya dan
mencium Lifia dengan lembut hingga membuat Lifia terkejut. Defran melepaskan ciummannya dan ia
menatap Lifia dengan tatapan datarnya.

"Mas udah ayo kita pergi Mas!" Pinta Lifia dan ia memeluk lengan Defran.

"Oke," ucap Defran. Lifia merasa ada yang janggal dengan sikap Defran, terlebih lagi hari ini hari libur
dan biasanya ia memintanya untuk tidak pergi kemanapun.

Keduanya melangkahkan kakinya bersama keluar dari Apartemen ini dan Lifia merasa ia tak perlu lagi
menutupi jati dirinya ketika ia pergi bersama Defran. Hanya saja ia akan memakai masker jika berada
dikeramaian, ia hanya tidak ingin Defran terganggu dengan para fansnya yang ingin meminta berfoto
dengannya atau menatapnya dengan tatapan kagum. Terlebih lagi jika fansnya itu seorang laki-laki
karena suaminya ini, memang tipe laki-laki pencemburu dan ia memang tidak terlalu
memperlihatkannya kepada Lifia namun sikap Defran yang sangat dingin tiba-tiba bahkan
mengacuhkannya merupakan tanda-tanda jika ia sedang cemburu.

Saat ini keduanya telah berada didalam mobil dan Lifia tersenyum kagum karena suaminya ini memang
benar-benar tampan, hingga membuatnya tak pernah bosan melihatnya. "Kamu itu gantengnya
berlebihan Mas," ucap Lifia.

"Namanya itu anugerah, kenapa? Kamu nggak suka dengan wajah saya?" Tanya Defran.

"Suka banget makanya kalau kamu lagi dekat sama perempuan cantik aku bisa sangat cemburu, Mas,"
ucap

2/6

Sudah sangat lama


Lifia membuat Defran menyunggingkan senyumannya karena ia merasa sangat senang jika Lifia cemburu
padanya.

"Nggak ada perempuan yang lebih cantik dari kamu," jujur Defran. Meskipun kakak iparnya juga sangat
cantik dan beberapa rekan kerjanya juga tergolong perempuan cantik, tapi baginya hanya Lifia yang
sangat cantik dan membuatnya sangat tertarik untuk memilikinya.
"Gombal banget sih Mas..." ucap Lifia dengan wajahnya yang memerah karena malu.

"Ini bukan gombal tapi memang kenyataannya kamu yang memang sangat cantik," ucap Defran dan
sebelah tangannya mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Sejak kapan Mas sadar kalau aku itu cantik?" Tanya Lifia dan ia tersenyum sambil menatap Defran
dengan tatapan sayang. Defran yang sedang fokus menyetir mengalihkan pandanganya sekilas lalu ia
kembali fokus menyetir mobilnya.

"Sejak pertama kali ketemu kamu, saya tidak bisa melupakan wajah kamu. Makanya waktu di Club
hanya melihat punggung kamu saja, saya sudah tahu kalau itu kamu," ucap Defran membuat Lifia
menyunggingkan senyumannya dan ia merasa sangat senang mendengarnya.

"Jadi dulu itu, kamu memang sengaja ingin ketemu aku atau gimana Mas?" Tanya Lifia penasaran.

"Saya sedang ada tugas penyelidikan disana dan kebetulan saya melihat kamu ditempat terlarang yang
banyak sekali bahayanya. Apalagi saya tidak suka laki-laki menatap kamu dengan tatapan lapar seolah
ingin menelanjangi kamu," ucap Defran.

"Kamu kayak tahu banget apa yang mereka pikirkan tentang aku Mas, memangnya aku itu semenggoda
itu?" Tanya Lifia penasaran.

3/6

Sudah sangat lama


"Iya kamu memang semenggoda itu," ucap Defran.

"Pada hal aku itu kan kesana nggak memakai baju yang seksi Mas," ucap Lifia karena ia tidak memakai
baju kurang bahan seperti teman-temannya.

"Kamu itu kelihatan betis kamu saja sudah menggoda," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Kok bisa? Masa hanya melihat betis aku saja sudah menggoda berarti Mas sebenarnya kamu kan yang
tergoda, makanya kamu bilang begitu," ucap Lifia dan ia penasaran dengan tanggapan dari ucapannya
ini.

"Iya, saya yang kuat imannya ini saja bisa tergoda dengan mudahnya karena kamu apalagi mereka yang
selalu memikirkan wanita," ucap Defran membuat Lifia menatap Defran dengan tatapan terkejut.

4/6

Sudah sangat lama


"Tapi kan kamu juga nggak kuat imannya, buktinya kamu sering ke kamar aku dan tidur disamping aku
Mas," ucap Lifia.
"Awalnya saya suka bau tubuh kamu hingga membuat saya itu tertidur nyenyak makanya saya senang
sekali kalau kamu itu tidur dengan sangat nyenyak hingga kamu nggak sadar dan saya bisa tidur
disamping kamu. Tapi tubuh kamu itu membuat saya tergoda hingga saya menjadi sangat-sangat sensitif
dengan kamu. Saya nggak suka kamu mendapatkan perhatian dari laki-laki lain dan kamu yang club
membuat saya ingin sekali menyeret kamu pulang," jelas Defran.

"Kamu kan memang menyeret aku pulang Mas, terus ngomongnya kasar banget sama aku," ucap Lifia
mengingat kejadian itu.

"Ya...makanya saya mencoba menghindari kamu tapi tetap saja nggak bisa dan saya yang membuat
skenario agar kamu bisa terus berada disamping saya," jelas Defran membuat Lifia merasa bahagia
karena Defran ternyata sangat mencintainya.

"Tapi kamu yang kayak gitu membuat aku sedih banget Mas, coba dari awal kamu bilang begini sama
aku.

Aku pasti dengan suka rela mengikuti keinginan kamu. Aku kan cinta banget sama kamu dari dulu. Aku
sedih banget Mas saat membayangkan kamu menikah dengan perempuan lain dan kamu punya anak
sedangkan aku yang nggak bisa melupakan kamu, belum juga menikah. Makanya dari pada itu terjadi
lebih dulu, aku memilih untuk mencoba melupakan kamu dan mencari calon suami yang lain," ucap Lifia
mengingat kisah pilunya yang sering menangis karena patah hati.

Defran tersenyum karena itu semua tidak akan terjadi, sejak dulu keinginannya untuk menikahi Lifia,
telah ia utarakan kepada Nasir Papinya dan juga kepada Subekti

5/6

Sudah sangat lama


ayah Lifia. Saat itu Subekti memintanya untuk bersabar karena ingin Lifia merasa puas dengan
pencapaiannya sebelum ia menikah. Apalagi Defran telah menyampaikan keinginannya yang tidak akan
membiarkan Lifia bebas bekerja sesuai keinginannya ketika Lifia telah menjadi istrinya.

"Kamu nggak akan bisa menikah dengan orang lain karena saya telah lama mengatakan keinginan saya
kepada Ayahmu. Setelah kejadian di Club besoknya saya bertemu Ayahmu dan mengatakan kepada
beliau kalau saya ingin menikahi kamu," ucap Defran membuat Lifia terkejut.

Kejadian itu sudah sangat lama dan itu terjadi ketika Serkan dan Kana baru saja menikah saat itu.

"Itu sudah sangat lama Mas, kamu juga sudah tahu kan Mas kalau selama ini aku itu suka banget sama
kamu," ucap Lifia.

"Kalau kamu sudah tahu saya juga menginginkan kamu, mungkin kita sudah lama menikah dan saya
tidak bisa meninggalkan kamu ketika saya pergi ke wilayah perang," ucap Defran dan ia tidak tega
meninggalkan Lifia apalagi melihat Lifia menangis karena dirinya. Sebagai suami ia akan merasa gagal
karena telah membuat istrinya itu khawatir, hingga menangis sedih.
Comments

Vote

6/6

Panik dan pamit.


Panik dan pamit
Defra menghentikan mobilnya diparkiran Mall membuat Lifia mengerutkan dahinya karena harusnya
Defran hanya menurunkannya di depan lobi mall. Defran mengalihkan pandangannya menatap Lifia
yang saat ini juga sedang menatapnya. "Mas..." panggil Lifia.

"Ada apa?" Tanya Defran.

"Mas kenapa nggak nuri in aku dilobi aja, nggak usah parkir?" Tanya Lifia.

"Bukan kamu saja yang mau ketemu dengan keluarga kita, saya juga akan bertemu dengan mereka,"
ucap Defran.

"Maksudnya Mas juga janjian gitu sama Mas Serkan dan yang lainnya?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya.

"Kok gitu? Janjiannya di mana Mas?" Tanya Lifia.

"Di Restauran tempat kamu janjian," ucap Defran.

"Bukan kamu saja yang ingin membahas acara bulan madu karena saya juga ingin mengatakan kepada
mereka, agar abdi negara seperti saya dan Mas Serkan bisa mengambil cuti. Ingat jadwal liburan itu dua
hari terakhir Liburan kita akan mengabiskan waktu hanya berdua saja!" Ucap Defran mengingatkan Lifia
tentang syarat bulan madu ini jika ingin dilakukan bersama keluarganya, Lifia harus meluangkan
waktunya selama dua hari khusus bersama Defran tanpa gangguan keluarga meremas

Lifia bisa menduga apa yang dinginkan Defran selama dua hari dan sepertinya Defran akan
mengurungnya didalam kamar dan hanya keluar kamar jika mereka makan

1/7

Panik dan pamit


malam atau menikmati makan siang yang berada diluar hotel. "Iya Mas aku ingat," ucap Lifia.

Defran memasangkan masker diwajah Lifia, ia memakaikan topi miliknya lalu ia mematikan mesin
mobilnya dan melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Defran memegang tangan Lifia membuat wajah
Lifia memerah, ia masih saja selalu malu dengan prilaku Defran yang baginya sangat manis. Keduanya
segera menuju Restauran dan ketika keduanya sampai di Restauran terlihat semua keluarga telah
berkumpul, bedanya para lelaki dan perempuan sengaja duduk terpisah.

"Jadi sengaja duduk disatu Restauran dan kita itu duduknya terpisah gitu ya Mas?" Tanya Lifia kepada
Defran membuat Defran mengangkat sebelah alisnya.

"Ya..." ucap Defran.

"Kamu sengaja kan Mas, biar kalau susah makan kamu bisa pergi sama aku gitu, kamu kayak nggak rela
banget hari minggu begini aku habiskan waktu sama mereka," ucap Lifia.

"Semua waktu kamu itu untuk saya, saya harus selalu jadi prioritas kamu Lifia, yang bisa membuat saya
tidak menjadi prioritas kalau kita punya anak. Saya akan mengalah pada anak kita, tapi bagi saya kamu
yang lebih utama dari pada anak kita," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

"Iya sayangnya aku," ucap Lifia dan ia memeluk lengan Defran dengan erat. "Ayo kita kesana!" Ucap Lifia
dan ia melepaskan lengan Defran lalu melangkahkan kakinya mendekati Kiran, Salsa, Kila, Bita, Kana dan
Sandra. Sedangkan Defran melangkah kakinya mendekati par keluarganya dan sahabatnya yang sedang
duduk santai.

"Assalamualaikum, hai semuanya," ucap Lifia dan ia melepaskan masker wajahnya lalu duduk bergabung

2/7

Panik dan pamit


bersama mereka.

"Waalaikumsalam," ucap mereka bersamaan. Lifia mencium pipi kanan dan pipi kiri mereka bergantian.

"Aduh kalau duduk sama dua aktris terkenal begini kita harus siap jadi sorotan, jadi berasa aktris juga,"
ucap Salsa dan ia mengedarkan pandangannya dan benar saja mereka sepertinya adalah fans Kiran atau
Lifia.

"Kamu juga bisa loh Dek jadi aktris, soalnya kamu cantik, imut-imut dan lucu," ucap Lifia membuat Salsa
tersenyum malu.

"Tapi aku nggak percaya diri Mbak sayang," ucap Salsa.

"Aduk pengantin baru cerita dong pengalamanya sebagai pengantin baru!" Ucap Kiran membuat wajah
Lifia memerah karena malu.

"Ngapain bahas begituan Mbak, makanya Mbak segera menikah sama Mas Handaru!" Ucap Lifia.
"Kalau itu sih kalian tunggu saja, segeranya masih sedang dipikirkan!" Ucap Kiran dan ia sebenarnya
sedang mempertimbangkan keinginan Handaru agar segera meresmikan hubungannya bersama
Handaru ke jenjang pernikahan.

"Kami udah nggak sabar loh Mbak, masa nanti keduluan Mbak Salsa yang kayaknya juga mau segera
nikah nih..." goda Kila.

"Mana ada, udah jangan bicarain yang nggak-nggak fokus saja sama Mbak Lifia dan Mbak Kana, kalau
aku masih lama banget!" Ucap Salsa dan ingin sekali mencubit lengan Kila saat ini juga karena telah
berani menggodanya.

"Perlu banget dibahas karena semua keluarga sudah setuju Salsa menikah sama Zilo, restu sudah
ditangan dan tinggal menikah saja," jelas Kana dan ia menyunggingkan

3/7

Panik dan pamit


senyumannya melihat Salsa terlihat kesal padanya.

"Mbak jahil banget sih...udah ikutan Mas Serkan saja ngomporin aku agar segera menyetujui perjodohan
itu," kesal Salsa.

"Soalnya kalian itu cocok, kalau terlalu benci itu bisa banget jadi cinta, karena terlalu memperhatikan,"
ucap Kana.

"Kalau ini aku setuju sama kamu Kana, duduk aku itu

benci dan suka sama Mas Fajrin tipis banget, tapi nyatanya dari lubuk hati aku yang paling dalam nggak
ada kesal ataupun benci tapi cinta," ucap Bita yang sudah sangat bucin kepada suaminya.

"Sekarang saja bilangnya begitu, dulu nggak," ucap Salsa kesal.

"Hahahaa...Salsa...takut nikah padahal enak loh, ya

4/7

Panik dan pamit


ampun malam pertama itu enak banget, tanya sama Kana dan Lifia!" Ucap Bita.

"Yaudah kalian jelaskan saja sama kita mengenai masalah ranjang kalian!" Pinta Salsa membuat Kana
dan Bita terkekeh sedangakan wajah Lifia memerah karena malu.

"Ayo ceritakan yang masih pengantin baru nih!" Ucap Kiran sengaja ingin menggoda Lifia dan Sandra.
Kiran penasaran bagaimana hubungan Sandra dan Marco saat ini mengingat keduanya telah
mendapatkan hukuman dari orang tua Marco. Apalagi semenjak kejadian itu Sandra tidak kunjung
datang ke Kediaman orang tua Marco untuk menemui Dikta.
Sandra sebenarnya masih kepikiran karena pagi tadi ketika ia mengajak Dikta video call, Dikta menangis
karena merindukannya. Sepertinya ia tidak bisa egois dengan keadaan yang saat ini ia hadapi, apalagi
jika itu mengenai putra kecilnya. Dikta masih sangat membutuhkan dirinya dan itu membuatnya sangat
sedih, karena ia tidak bisa memeluk putranya itu untuk menenangkannya seperti biasanya. Sandra sejak
tadi memang memilih diam dan mendengarkan pembicaraan mereka karena sebenarnya pikirannya
sedang tidak berada disini.

"Nggak ada yang perlu diceritakan!" Ucap Lifia malu-malu.

"Mbak Sandra gimana romantis nggak Mas Marco?" Tanya Salsa.

Sandra terkejut dan ia mengerjapkan kedua matanya seolah bingung dengan pertanyaan Salsa. "Apa...?"
Tanya Salsa.

"Mas Marco Mbak, dia kan sosok yang ramah dan penyayang pasti Mbak diratukan sama Mas Marco.
Makanya aku tanya apa Mas Marco romantis, Mbak?" Tanya Salsa.

5/7

Tak ingin dikhianati.


Tak ingin dikhianati
Marco mendekati Sandra dan sepertinya ia juga telah mengetahui kabar dari Maminya, jika saat ini Dikta
sedang sakit. Keduanya melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari Restauran. Marco memegang
tangan Sandra membuat Sandra menghentikan langkah kakinya.

"Kenapa?" Tanya Marco.

"Kita harus gimana?" Tanya Sandra.

"Kita bicarain dimobil ya!" Ucap Marco lembut membuat Sandra menganggukkan kepalanya.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan saat ini keduanya telah masuk kedalam
mobil. Marco menyalakan mobilnya dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Jadi kita
harus bagaimana Mas?" Tanya Sandra memulai pembicaraan ini.

Marco menghela napasnya dan ia melirik Sandra sekilas, "Maunya saya kita benar-benar bisa menjadi
suami istri sampai maut memisahkan kita Sandra, sepertinya keinginan kedua orang tua saya juga
begitu, beliau ingin kamu dan saya benar-benar serius menjalani rumah tangga kita tanpa terpaksa,"
ucap Marco. "Saya tidak terpaksa tapi kamu yang terpaksa," ucap Marco membuat Sandra menelan
ludahnya, ia memejamkan keduanya matanya dan ia tiba-tiba meneteskan air matanya.

"Sejujurnya aku sulit mempercayai orang lain, dulu hanya kamu yang aku percayai menjadi pelindungku
karena kamu pun menganggap aku adikmu. Ingat bagaimana kamu selalu berusaha melindungiku dan
menemaniku saat itu, kamu bahkan sangat perhatian padaku," lirih Sandra.
"Saya tanya sama kamu apa kamu tidak mencintai

1/7

Tak ingin dikhianati


saya? Kamu rela memberikan Dikta ibu tiri?" Tanya Marco. "Kalau kita bercerai orang tua saya pasti
meminta saya menikah lagi karena mereka ingin Dikta memiliki orang tua lengkap Kalau kamu bercerai
dari saya, berarti kamu sengaja membuang Dikta karena saya akan memperjuangkan Dikta agar tinggal
bersama saya!" Ucap Marco.

Marco menepikan mobilnya dan ia menghentikan mobilnya. la menatap Sandra yang saat ini terlihat
sedang berpikir keras mengenai hal ia katakan. "Kalau saya bukan jadi alasan kamu agar rumah tangga
kita bertahan, setidaknya pikirkan Dikta!" Ucap Marco lagi.

"Jadi maksud kamu aku harus hamil lagi? Kalau aku nggak hamil-hamil bagaimana Mas?" Tanya Sandra.
Defran menyunggingkan senyumannya dan ia menarik tangan Sandra membuat Sandra mengalihkan
pandanganya menatap Marco.

"Kita akan memberikan Dikta adik!" Ucap Marco.

"Dengan bayi tabung?" Tanya Sandra membut Marco menghela napasnya.

"Kamu yakin nggak mau bercinta dengan saya? Astaga Sandra sebenci itu kamu sama saya?" Tanya
Marco kesal membuat Sandra menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu tidak membenci saya kamu
kenapa seperti ini sama saya? Saya itu menginginkan kamu dan..." ucap Marco sangat kesal dengan
sikap Sandra dan ia sudah tidak bisa bersabar lagi dengan keras kepalanya Sandra.

"Aku nggak suka kamu punya perempuan lain, aku nggak mau kamu seperti Ayah kandungku, aku nggak
mau menjalani pernikahan yang membuatku makan hati, karena rasa cemburuku dan was-wasnya aku
karena takut kamu selingkuh," ucap Sandra.

"Saya nggak akan selingkuh!" Ucap Marco.

"Lalu mau kamu kemanakan pacar kamu yang lain

2/7

Tak ingin dikhianati


Mas?" Tanya Sandra.

"Saya nggak punya pacar, kalau perempuan yang menyukai saya memang banyak Larisa," ucap Marco
dan ia mengulurkan tangannya lalu mengelus pipi Sandra. "Kamu yakin mau berpisah dari saya
hmmm...? Kamu yakin nggak akan menyesal? Kalau kamu tidak ada perasaan sama saya kenapa kamu
melahirkan Dikta? Kenapa kamu menjauh dari saya? Kamu pasti yakin kan kalau saya mau bertanggung
jawab Larisa? Bukan hanya sekedar tanggung jawab tapi saya mencintai kamu Larisa," ucap Marco.

Marco melepaskan pelukannya, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menghela
napasnya dan Marco benar-benar kesal dengan Sandra. Dalam perjalanan menuju kediaman orang tua
Marco, keduanya lebih memilih diam. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Kediaman orang tua
Marco. Marco menghentikan mobilnya dan ia kembali menatap Sandra yang saat ini meneteskan air
matanya, hingga terdengar isakan kecil dari bibirnya.

"Kita tinggal disini saja ya Mas, aku nggak sanggup pisah dari Dikta dan kamu!" Lirih Sandra membuat
Marco menyunggingkan senyumannya dan ucapan Sandra ini membuatnya sangat bahagia. "Tapi kamu
janji apapun yang terjadi nanti kamu nggak akan ninggalin aku dan Dikta!" Ucap Sandra.

"Iya sayang nggak usah berjanji karena Mas nggak akan pernah meninggalkan kamu hingga maut
memisahkan kita!" Ucap Marco. "Kalau nanti Mami dan Papi sudah yakin kalau kamu menerima Mas
sebagai suamimu pasti mereka akan mengizinkan kita kembali ke Rumah kita lagi!" Ucap Marco
membuat Sandra menganggukkan kepalanya dan ia memeluk Marco dengan erat dan Marco mencium
dahi Sandra dengan lembut.

"Ayo kita temui Mami dan Papi!" Ajak Marco membuat

3/7

Tak ingin dikhianati


Sandra menganggukkan kepalanya.

Sandra sejak beberapa hari yang lalu memang telah banyak berpikir dan sejujurnya, ia sangat mencintai
Marco.

Melahirkan Dikta adalah keputusan yang tidak pernah ia ragukan, ketika ia mengetahui jika ia sedang
hamil. Memiliki bagian dari laki-laki yang sejak dulu ia cintai adalah suatu anugerah yang tidak ia duga. la
pernah kecewa karena Marco mengatakan kepada temannya, jika

ia hanya menganggapnya adik namun tidak dengan ia yang telah memiliki perasaan dengan Marco. Rasa
kecewa yang membuatnya berusaha keras melupakan Marco, namun ternyata ia tidak bisa melupakan
Marco dan ia berusaha melarikan dirinya dari perasaan yang takut tersakiti.

Keduanya saat ini keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam Kediaman Abib
Laksamana Dewandaru. Keduanya melihat sosok Erna

4/7

Tak ingin dikhianati


sedang mencoba menenangkan Dikta yang saat ini sedang menangis sedih. "Hiks...hiks...mau sama
Mama...Mama..." ucap Dikta.
"Iya sayang Mama sebentar lagi datang nah...itu Mamanya!" Ucap Erna dan ia menghapus air mata Dikta
dengan jemarinya.

Abib menatap Marco dan Sandra dengan dingin.

"Orang tua yang tidak bertanggung jawab yang hanya egois dengan..." ucapan Abib terhenti karena
Marco memotong ucapan Abib.

"Yang Papi inginkan Marco dan Larisa tinggal disini, kami sudah memutuskan akan tinggal disini Pi!"
Ucap Marco membuat Abib tersenyum senang. "Nanti kalau cucu kedua Papi lahir kalian boleh pindah
lagi ke Rumah kalian!" Ucap Abib.

Sandra mengambil Dikta dari pelukan Marco dan ia memeluk Dikta dengan erat. "Jangan nangis sayang
ini Mama pulang dan Mama juga akan tinggal disini sama Dikta!" Bisik Sandra.

"Aku sakit Ma..." ucap Dikta.

"Iya nanti Papa yang periksa Dikta sayang!" Ucap Sandra.

"Papa dan Mama nggak belantem lagi?" Tanya Dikta.

"Nggak," ucap Sandra dan ia mencium pipi Marco membuat Dikta tersenyum.

Abib menghembuskan napasnya lega melihat cucunya terlihat sangat bahagia. "Lihat anak kalian itu jadi
terpengaruh dan sedih kalau melihat orang tuanya bertengkar. Walau kalian tidak bertengkar
dihadapannya, tapi dia yang perasa pasti tahu kalau kalian sedang tidak baik-baik saja," jelas Abib.

"Iya Pi, maafkan aku Pi...aku nggak mau berpisah dari

5/7

Tak ingin dikhianati


suami dan anakku!" Ucap Sandra.

"Oke, Papi sangat setuju karena bukan alasan anak saja kamu bertahan di pernikahan ini Sandra!" Ucap
Abib.

"Iya Pi, aku mengerti..." ucap Sandra. Arti dari keluarga sangat penting baginya dan ia ingin menjadi istri
dan ibu yang baik. Tadi ia sengaja ingin mendengar kesungguhan seorang Marco apa dia benar-benar
mencintainya atau tidak. "Lagian Mas Marco sudah berjanji nggak akan ke Club apalagi pacaran...hmmm
dengan wanita lain," ucap Sandra.

Dikta terlihat nyaman digendongan Sandra dan ia terlihat tertidur nyenyak. "Kalau dia seperti itu, Papi
yang akan mengusirnya dan menghukumnya!" Ucap Abib membuat Sandra meneteskan air matanya dan
ia menganggukkan kepalanya. Selama ini ia selalu merasa sendiri dan isakan tangisnya membuat Erna
meminta salah seorang Maid membawa cucunya yang telah terlelap kedalam kamar. Sandra berlutut
dan itu membuat Abib menghembuskan napasnya.

"Kenapa berlutut Nak?" Tanya Abib. "Berdiri!" Pinta Abib.

"Hiks...hiks...ini rasa hormat dan baktiku pada Mami dan Papi, aku ingin mengucapkan terimakasih
karena telah menerimaku sebagai menantu. Aku sangat beruntung diperlakukan dengan sangat baik
oleh Mami dan Papi yang tidak melihat latar belakangku dan juga pendidikanku," ucap Sandra.

Erna mendekati Sandra dan ia membantu Sandra untuk berdiri, lalu memeluk Sandra dengan erat.
"Kamu adalah bagian dari keluarga ini, Mami nggak akan memihak siapapun nak, jika Marco bersalah
sama kamu dia akan Mami hukum!" Ucap Erna membuat Sandra menganggukkan kepalanya sambil
terisak.

6/7

Sore pertama.
Sore pertama
Marco menatap Sandra yang masih menangis dipelukkan Maminya dan ia juga melihat Papinya yang
saat ini menatapnya dengan tajam. "Pi, istri saya menangis bukan berarti saya telah menyakitinya, coba
Papi tanya saja sama Larisa. Papi jangan hukum Marco lagi Pi, sudah cukup ini luka Marco saja belum
pulih," ucap Marco kesal. la bisa menduga jika Papinya ingin kembali menghajarnya karena mengira ia
yang menyebabkan Sandra menangis.

Sandra melepaskan pelukkan Erna dengan pelan dan ia tidak ingin suaminya ini terluka lagi karena
dipukul oleh Abib Laksmana Dewandaru, yang ternyata sangat mengerikan jika sedang marah. "Maafkan
Mas Marco Pi!" Pinta Sandra menatap Abib dengan tatapan memohon, ia melangkahkan kakinya
mendekati Marco dan ia duduk disamping Marco, lalu ia memeluknya dengan erat.

"Papi sudah memaafkan kalian, lagian Papi sudah biasa menerima berita kenakalan Marco dan sekarang
mengenai berita kamu yang dinikahi Marco hingga kamu yang telah memberikan Papi cucu," ucap Abib.
"Semua kejutan yang diberikan Marco putra saya yang paling hebat ini memang sungguh sangat luar
biasa," sinis Abib membuat Marco menyunggingkan senyumannya.

Seorang Abib Laksamana Dewandaru tidak peduli akan karirnya sebagai seorang mentri, jika ia harus
mempublikasikan cucu dan menantunya ini. la hanya ingin keluarganya bahagia dan hidup santai dimasa
tuanya. Bahkan pinangan berbagai partai yang menginginkannya mencalonkan diri menjadi presiden ia
tolak. Abib merasa karirnya didunia politik sudah cukup dan sekarang ia ingin

1/7

Sore pertama
kembali kedunia bisnis sambil menghabiskan banyak waktu bersama anak-anak dan cucunya.
"Kalau kalian memutuskan untuk bersama selamanya, Papi akan mendoakan agar rumah tangga kalian
selamanya akan selalu berkah dan bahagia. Papi juga akan mulai memperkenalkan Sandra ke publik tapi
secara perlahan tapi kalau Sandra tidak nyaman, Papi rasa kita hanya akan memperkenalkan Sandra
sebagai menantu kita kepada kerabat dekat kita. Sandra dan Dikta harus bertemu Kakak kandung Papi
Abahsil, Marco kamu harus membawa anak istrimu bertemu Abahsil!" Ucap Abib. Sekarang Abib juga
harus menerima omelan Kakak sulungnya yang pastinya saat ini telah bersiap, untuk memarahinya
karena telah lalai mengawasi tingkah putranya.

"Iya Pi, Papi Abah pasti sudah tahu mengenai Sandra dan Dikta dari Albi," ucap Marco.

"Yasudah sekarang kamu periksa anak kamu, Mami telah memberikan obat penurun panas!" ucap Erna
memotong pembicaraan karena ia tidak ingin suaminya ini semakin marah, mengingat jika ia juga akan
diberikan nasehat panjang oleh Kakaknya karena tingkah laku Marco.

"Iya Mi," ucap Marco dan ia berdiri membuat Sandra juga ikut berdiri, tentu saja ia belum terbiasa
berbincang hangat bersama orang tua Marco dan ia akan merasa canggung jika Marco meninggalkannya
disini seorang diri menghadapi orang tua Marco.

"Aku ikut, Mas!" Ucap Sandra.

"Oke, Mi...Pi...kita berdua keatas dulu!" Ucap Marco.

"Iya Nak," ucap Marco dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Abib dan Erna yang saat ini menatap
punggung keduanya sambil menghela napasnya.

2/7

Sore pertama
Sandra memeluk lengan Marco membuat Marco menyunggingkan senyumannya, ia sangat bahagia
karena Sandra telah menerima perasaannya. Meskipun istrinya ini masih terlihat takut dan canggung
berada disini bersamanya, tapi paling tidak istrinya ini sudah mau menempel padanya seperti ini.
Keduanya menuju kamar Dikta dan ketika keduanya masuk kedalam kamar, terlihat seorang Maid
tersenyum kepada mereka lalu ia segera pamit keluar dari kamar ini.

Marco duduk diranjang dan ia memeriksa putra semata wayangnya itu. "Panasnya sudah turun dan
nanti setelah bangun berikan sup hangat dan bubur saja!" Ucap Marco.

"Dikta susah banget Mas kalau makan bubur, dia nggak suka," ucap Sandra.

"Nanti kita bujuk!" Ucap Marco dan ia mencium dahi Dikta dengan lembut. la kemudian menarik tangan
Sandra lalu menggenggamnya. "Terimakasih karena telah melahirkannya Larisa," ucap Marco sambil
menatap Sandra dengan tatapan sayang.

"Iya Mas, dia anak kamu dan sudah sepatutnya aku mempertahankan duplikat kamu yang sangat
menggemaskan ini," ucap Sandra membuat Marco tersenyum. Marco mendekatkan wajahnya ke wajah
Sandra dan terlihat dengan jelas saat ini Marco ingin mencium Sandra. "Mas ada Dikta," lirih Sandra dan
ia menelan ludahnya karena Marco malah tersenyum padanya.

"Kekamar kita yuk!" Ajak Marco membuat Sandra membuka mulutnya.

"Mas jangan gila kamu, ini jam berapa dan ngapain ke kamar kamu?" Ucap Sandra kesal.

Marco menarik Sandra kedalam pelukkannya "Kamar kita sayang, kamu belum pernah melihat kamar
kita...disana Mas sering sekali memimpikan kamu berharap

3/7

Sore pertama
setelah Mas membuka mata, ada kamu disamping Mas sayang," ucap Marco membuat wajah Sandra
memerah karena malu.

Marco tiba-tiba mengangkat tubuhnya membuat Sandra terkejut, "Mas kamu ngapain?" Ucap Sandra
nyaris berteriak.

"Jangan berteriak sayang, nanti Dikta bangun!" Ucap Marco dan ia tersenyum penuh kemenangan.
"Lagian kamu

harus terbiasa menerima keromantisan suami kamu ini, Larisa sayang!" Ucap Marco.

Sandra sangat malu jika ada orang yang melihat Marco menggendongnya seperti ini. "Iya tapi kan nggak
enak kalau dilihat orang tua kamu Mas!" Lirih Sandra.

"Bagus dong kalau mereka lihat," ucap Marco dan ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan ia
membuka pintu kamar lalu membaringkan sandra diranjang.

4/7

Sore pertama
Marco mengunci pintu kamarnya, membuat Sandra segera duduk dan ia mengedarkan pandangannya
melihat kamar Marco yang ternyata sangat luas. "Nanti baju kamu biar Mas saja yang ambil di Rumah
kita!" Ucap Marco dan ia mendekati Sandra membuat jantung Sandra berdetak dengan kencang. "Kamu
takut sama Mas Larisa?" Tanya Marco tersenyum penuh arti.

"Enggak," ucap Sandra.

"Kalau nggak kenapa kayaknya kamu takut," ucap Marco dan ia tersenyum melihat ekspresi wajah cantik
itu terlihat salah tingkah. Marco duduk disampingnya dan ia menangkup pipi Sandra.

"Hmmm....Mas aku mau lihat isi kamar ini Mas!" Ucap Sandra segera mengalihkan pembicaraan dan ia
berdiri, membuat Marco menyunggingkan senyumannya. Istrinya ini berusaha menghindar darinya dan
ia ingin melihat sampai kapan Sandra akan terus menghindarinya saat ini.
Sandra membuka lemari pakaian Marco dan dua sisi lemari ini terlihat kosong. "Nanti baju kamu bisa
kamu letakkan disana!" Ucap Marco.

"Iya Mas," ucap Sandra.

Sandra terkejut ketika sebuah tangan bergelung dipinggangnya. "Kamu menghidari Mas, Larisa," bisik
Marco dan sesuatu yang hangat menjalar ditubuh Sandra.

Marco tiba-tiba mencium lehernya.

"Mas ini masih siang Mas," ucap Sandra.

"Sore," ucap Marco dan ia mengambil kesempatan melepaskan gelungan tangannya yang tadi berada
dipinggang Sandra, lalu memutar tubuh Sandra agar menghadapnya. "Nggak ada larang tidak boleh
beruhubunngan sore, pagi, siang..." ucap Marco menatap

Sandra dengan tatapan penuh arti.

"Mas anak kita itu sedang sakit," ucap Sandra.

5/7

Sore pertama
"Kalau dia tahu ibu bapaknya akur kayak gini, dia akan segera sehat!" Ucap Marco.

"Mana ada kayak gitu," ucap Sandra.

"Ada, itu anak kita sakit karena kesal Mama dan Papanya nggak akur," ucap Marco dan ia tiba-tiba
mencium bibir Sandra membuat Sandra terkejut. Marco menggerakkannya dengan pelan seolah
menikmati bubur mungil yang saat ini sedang ia lahap. Perlahan-lahan hingga gerakkannya semakin
cepat, Marco bahkan menyelusuri setiap lekuk tubuh Sandra dengan jari-jarinya.

"Sebentar saja ya!" Pinta Marco saat ia melepaskan ciummannya. "Nggak lama, paling lama satu jam!"
Ucap Marco membuat Sandra melototkan matanya. "Mau ya!" Bujuk Marco.

"Mas...gila kamu, malam aja!" Ucap Sandra dengan wajahnya yang bersemu merah karena telah
membahas hal ini.

"Malam nanti juga!" Ucap Marco. "Larisa apa kamu nggak kasihan sama suamiku ini, udah berapa tahun
senjata ini kesepian!" Ucap Marco menatap Sandra dengan tatapan memohon.

"Astaga Mas..." ucap Sandra membuat Marco segera menggendong Sandra dan ia membaringkan
Sandra diranjang lalu mengunci tubuh Sandra dengan menghimpit nya. Marco menjalankan aksinya
melepaskan pakaian Sandra membuat Sandra menghela napasnya.

"Ini jadinya kayak memperkossa istri sendiri," ucap Marco membuat Sandra mendelik kesal.
"Iya sebentar saja!" Ucap Sandra.

"Oke...oke..." ucap Marco tersenyum senang dan ia menjalankan aksinya dengan melucuti semua
pakaiannya hingga yang tersisa hanya celana pendek yang ia kenakan. Sandra mengalihkan
pandangannya dan jika dulu ia

6/7

Sore pertama
berusaha melupakan sosok tampan ini, sekarang sialnya ia jadi ingat bagaimana pertama kalinya ia dan
Marco bercintaa beberapa tahun yang lalu.

Sandra membiarkan apa yang harusnya terjadi pada dirinya, setelah ia menjadi istri seorang Marco. la
harus mempercayai laki-laki ini demi kebahagiaannya sendiri dan menyerahkan dirinya kepada suaminya
ini. Marco Laksamana Dewandaru suami messsummya dibalik dirinya yang suka mengumbar senyum
ramahnya, ternyata suaminya ini tipe yang sangat jago jika dalam hal membuatnya menjadi lemah tak
berdaya diatas ranjang.

Janji Marco hanya sebentar ternyata hanyalah bohong belaka, karena setelah itu Marco kembali
menggodanya dengan mencium semua tubuhnya bahkan berulang kali mengatakan jika ia mencintainya.
"Mas mencintai kamu Sandra, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan. Mas harus ingat
tanggalnya dan jam berapa tadi kita melakukannya?" Tanya Marco.

"Mas...stop astaga nggak usah dibahas!" Kesal Sandra dan ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Kenapa nggak boleh dibahas?" Goda Marco dan ia menarik selimut Sandra. "Ini namanya sore
pertama," ucap Marco tersenyum senang ketika melihat wajah istrinya ini terlihat sangat
menggemaskan jika malu seperti ini.

Comments

Vote

7/7

Takut kehilangan.
dengan sosok laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Apalagi laki-laki tersenyum penuh minat padanya
dan ia sudah lama tidak pernah beretemj lagi dengan laki-laki itu.

"Maaf saya tidak bisa menerima bunganya!" Ucap Kiran dengan nada bicara yang terdengar sangat
ramah. la tidak ingin berbicara sinis seperti ia yang biasanya karena itu hanya akan membuatnya terlihat
marah besar pada laki-laki yang ada dihadapan ini hingga akan menimbulkan kesalahpahaman.
"Saya hanya menganggumimu dan seenggaknya kamu menerima buket pemberian saya Kiran!" Ucapnya
menatap Kiran dengan tatapan memuja.

Rifat merupakan salah satu penggemar Kiran yang berprofesi sebagai seorang seorang aktor terkenal
dan ia bahkan bukan hanya terkenal di Indonesia saja, tapi juga di mancanegara karena film Hollywood
yang ia perankan. Kiran menimbang apa ia harus menerima buket bunga itu atau tidak dan ia terkejut
saat melihat sosok Handaru melangkahkan kakinya mendekatinya membuatnya menelan ludahnya.
'Astaga serem banget kamu Mas...' Batin Kiran.

"Saya menyukai kamu Kiran," ucap Rifat tiba-tiba.

"Apa kamu bilang? Kamu menyukai siapa?" Tanya Handaru dengan nada suaranya yang terdengar
meninggi.

Kiran menghembuskan napasnya, ia tidak ingin melihat keduanya berdebat panjang atau bahkan
berkelahi hanya karena dirinya.

"Saya menyukai Kiran dan saya ingin Kiran menjadi kekasih saya!" Ucap Rifat. Kiran menepuk jidatnya
dan ia kesal karena Rifat tiba-tiba mengatakan hal ini didepan Handaru yang merupakan kekasihnya.

"Jangan mimpi, dia calon istri!" Ucap Handaru

2/6

Takut kehilangan
dingin.

"Kiran belum dimiliki siapa-siapa dan sah saja kalau ada laki-laki yang berusaha untuk mendapatnya,
saya serius ingin mengajaknya menikah lalu membawanya tinggal di Amerika bersama saya!" Ucap Rifat.

"Saya tidak setuju kamu pikir kamu siapa? Saya ini calon suami Kiran!" Ucap Handaru dan ia
mengeraskan rahangnya. Ingin sekali ia menonjok wajah laki-laki ini yang

berusaha merebut Kiran darinya. Baginya ia lebih memiliki Nokia dan lebih pantas bersama Kiran bahkan
tak ada yang lebih pantas bersanding dipelaminan bersama Kiran selain dirinya.

Rifat bukanlah sosok yang baru saja Kiran temui karena beberapa tahun yang lalu Rifat pernah
mendekati Kiran, hingga Kiran memberikan Rifat kesempatan. Tapi Rifat tiba-tiba menghilang dan
mengatakan jika ia harus

3/6
Takut kehilangan
pergi ke Amerika karena ada yang ingin ia capai, sebelum ia benar-benar akan menetap di Indonesia.
"Saya tidak percaya, ingat Kiran saya pernah bilang sama kamu ketika saya pulang saya bukan hanya
ingin kamu menjadi pacar saya, tapi saya ingin segera menikahi kamu!" Ucap Rifat.

Handaru mengepalkan kedua tangannya dan ia mendekati Rifat dengan cepat hingga Kiran menarik
tangan Handaru agar menghentikan gerakkannya yang ingin memukul Rifat. Handaru menatap Kiran
dengan dingin, membuat Kiran menghela napasnya. "Maaf Rifat, Mas Handaru ini calon suamiku," ucap
Kiran.

"Maaf? Kamu nggak perlu meminta maaf sama dia!"

Kesal Handaru karena baginya orang seperti Rifat harusnya segera diberi pelajaran.

Rifat mengepalkan kedua tangannya, "Kiran kamu marah sama saya karena saya pergi ke Amerika tanpa
persetujuan kamu? saya melakukannya demi masa depan kita dan saya berhasil, jadi kamu nggak perlu
berpura-pura kamu memiliki hubungan dengannya hanya untuk membuat saya marah!" Ucap Rifat
kesal.

"Kamu tuli ya..saya ini calon suaminya kenapa saya harus berbohong? Apa kamu perlu bukti?" Tanya
Handaru kesal. "Oke kalau kamu perlu bukti!" Ucap Handaru dan ia menarik pinggang Kiran, lalu ia
mencium bibir Kiran dengan lembut. "Lihat dia nggak nolak calon suaminya, pergi kamu jangan pernah
mendekati Kiran lagi kalau kamu mau selamat!" Ucap Handaru dan ia menarik Kiran agar segera
mengikutinya masuk kedalam mobilnya.

Kiran masuk kedalam mobil dan ketika Handaru ingin masuk kedalam mobil, ia menatap Rifat dengan
dingin lalu tanpa diduga Handaru mengubah tatapanya dengan menatap Rifat tajam, lalu ia memberikan
isyarat agar Rifat jangan pernah bertemu dengan Kiran lagi. Rifat seolah

4/6

Takut kehilangan
menantang seorang Handaru Laksamana Dewandaru, membuat Handaru kesal "Awas...kalau kamu
berani mendekati calon istri saya!" Ancam Handaru dan jika ia mengikuti keinginannya yang ingin
menghajar Rifat, itu hanya akan membuatnya berurusan dengan hukum.

Handaru masuk kedalam mobil dan ia menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukannya dengan
kecepatan tinggi membuat Kiran menghela napasnya. "Mas please!" Pinta Kiran. Mengemudi dengan
kecepatan tinggi seperti ini bukan hanya merugikan si pengemudi dan penumpang, tapi orang lain yang
juga berada dijalan. "Mas..." tegur Kiran lagi namun Handaru yang kesal masih juga tidak menghiraukan
permintaannya.

"Mas kamu dengar nggak sih...stop!" Teriak Kiran membuat Handaru segera menepikan mobilnya dan ia
menatap Kiran dengan tatapan tajam. Nafasnya memburu dan ia terlihat sangat marah saat ini. Rasa
cemburunya yang membuatnya menjadi seperti ini, jujur saja Handaru tidak suka dengan perasaan yang
sangat menyiksa ini.

Cemburu yang membuatnya tak ingin kehilangan perempuan yang telah mengambil hatinya ini.

"Kamu mau bunuh aku Mas? Please semua bisa dibicarakan baik-baik, kamu pengacara kan, Mas?kamu
ngerti kan kalau emosi tinggi yang nggak kekontrol ini hanya akan merugikan!" ucap Kiran dingin.
"Kenapa sih Mas harus marah sama aku? karena dia yang datang sama aku tiba-tiba," kesal Kiran.

Handaru menghela napasnya dan ia memijit dahinya karena ia benar-benar merasa marah saat ini dan
lebih tepatnya ia kecewa. la merasa hanya dirinya yang antusias dengan hubungan yang sedang mereka
jalani saat ini. Kiran tidak mencintainya dan itu membuatnya merasa takut kehilangan Kiran, hingga
membuatnya kehilangan kontrol emosinya. "Sepertinya hanya saya yang merasakan rasanya cemburu
dan kamu tidak," ucap Handaru merasa tidak

5/6

Takut kehilangan
adil dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. "Saya sangat cemburu, marah dan kesal," jujur Handaru.

Handaru mengalihkan pandangannya menatap Kiran dengan tatapan sayang, "Inilah kalau hanya saya
saja yang takut kehilangan kamu," ucap Handaru membuat Kiran menghembuskan napasnya.

Beberapa hari ini Kiran telah berusaha untuk bersabar dengan gosip yang sedang beredar mengenai
hubungan Handaru dengan wanita itu. Wanita yang mengaku jika ia telah memiliki hubungan serius
dengan Kiran. la mempercayai Handaru tidak akan berpaling darinya dan itu semua hanya gosip belaka.
"Tapi memang hanya saya yang takut tapi kamu sepertinya tidak memiliki perasaan cemburu, apalagi
takut kehilangan saya!" Ucap Handaru dengan nada suaranya yang terdengar seperti sangat kecewa,
pada sosok cantik yang ada di sampingnya ini.

Comments

Vote

6/6

Karena kesal akhirnya ketemu bestie.


Karena kesal akhirnya ketemu bestie
Kiran merasa kecewa karena Handaru mengatakan hal ini padanya seolah ia tidak perduli dengan
perasaan Handaru. Padahal bagi Kiran, Handaru yang tidak mengerti perasaanya, ia ingin sekali memaki
Handaru sekarang juga dan saat ini ia mencoba menahannya. "Apa dia lebih baik dari saya?" Tanya
Handaru dan ia terlihat sangat kesal saat ini apalagi ketika mendengar Rifat pernah memiliki hubungan
dengan Kiran. la merasa telah gagal mengawasi Kiran selama ini dan ia tidak akan rela jika Kiran memilih
lelaki lain.

Kiran menghela napasnya dan ia menatap Handaru dengan dingin. "Oke aku akan klarifikasi sama kamu
agar kamu stop membuat aku kesal Mas!" Ucap Kiran karena jika ia diam saja maka, ia merasa tidak ada
pembelaan pada dirinya dengan apa yang terjadi saat ini. Bahkan Handaru terlihat menganggapnya
sedang berselingkuh dan itu yang membuatnya sangat kesal. "Yang pertama dia itu dulu pernah dekatin
aku, tapi dia bukan pacar aku Mas, aku belum sempat jadian sama dia!" Ucap Kiran.

Handaru menatap Kiran dengan tatapan dalam, "Yang kedua, dia itu datang tanpa memberitahu aku
atau bahkan menghubungi aku, Mas. Tiba-tiba saja gitu muncul dan kasih aku bunga," jelas Kiran dengan
suaranya yang terdengar sangat kesal saat ini. "Yang ketiga, aku sama sekali nggak menerima bunga
darinya Mas, kamu kenapa sih marah-marah nggak jelas sama aku kayak kamu nggak pernah buat salah
saja sama aku!" Ucap Kiran kesal.

"Memang saya pernah buat salah apa sama kamu?" Tanya Handaru dan ia menatap Kiran dengan
tatapan menilai.

1/6

Karena kesal akhirnya kete...


"Kalau kamu nggak sadar kesalahan kamu, sepertinya nggak perlu dibahas Tuan sempurna!" ucap Kiran
sinis.

"Apa maksud kamu mengatakan hal ini sama saya Kiran? Tuan sempurna? Kalau kamu tidak mengatakan
apa yang salah dari saya, saya bisa saja tidak tahu apa yang kamu maksud!" Ucap Handaru kesal.

"Sepertinya hari ini kita tidak perlu memperdebatkan ini semua Mas, kalau kamu dengan mudahnya
marah sama aku!" ucap Kiran dan ia merasa sangat lelah, apalagi moodnya benar-benar berubah
melihat sikap Handaru seperti ini padanya. "Kamu mau antar aku pulang atau aku pulang sendiri?"
Tanya Kiran kesal.

"Saya antar kamu pulang!" Ucap Handaru dingin.

"Oke," ucap Kiran. la semakin kesal karena Handaru tidak membujuknya bahkan menuruti keinginannya
untuk pulang. Padahal ia ingin sekali pergi bersama Handaru dan sejak tadi, ia sudah tidak sabar
menghabiskan waktunya bersama Handaru. Dalam perjalanan pulang Kiran memilih untuk tidak
berbincang bersama Handaru, ia hanya diam karena kesal.

Handaru melirik Kiran sekilas dan ia bisa menduga jika saat ini Kiran juga sedang marah padanya dan ia
juga sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena rasa cemburunya. Harusnya Kiran
mengatakan hal yang membuatnya lebih tenang karena saat ini ia merasa Kiran masih ragu akan
perasaan Kiran padanya dan Kiran belum sepenuhnya mencintainya. Apalagi Kiran seolah tidak memiliki
rasa cemburu meskipun, berita mengenai kedekatannya dengan perempuan lain sedang berhembus
kencang.
Beberapa menit kemudian Kiran telah sampai di Kediaman orang tuanya dan ia segera turun dari dalam
mobil dengan kesal, lalu melangkahkan kakinya tanpa

2/6

Karena kesal akhirnya kete...


pamit kepada sosok yang saat ini sedang menatap punggungnya. Kiran sangat berharap Handaru
Laksamana Dewandaru itu akan turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya mendekatinya namun
ternyata Handaru memilih untuk pergi. Kiran masuk kedalam kamarnya dengan kesal, ia bahkan tak
sempat mencari keberadaan Ibunya yang bisanya berada didapur bersama dua orang temannya, untuk
membuat kue pesanan seperti biasanya.

Kiran mengambil ponselnya dan menunggu Handaru akan mengirimkan pesan atau chat padanya,
namun tidak.

Banyak sekali chat dari beberapa lelaki yang memang berusaha mendekatinya, namun Kiran
mengabaikannya. Kiran menghela napasnya dan ia kesal dengan sikap Handaru padanya, hingga ia
melihat chat dari salah satu teman SMAnya yang mengajaknya untuk ikut reuni hari ini. "Lebih baik aku
pergi sama mereka dari pada kepalaku pusing memikirkan tingkah kamu Mas," ucap Kiran dan ia segera
mengirimkan pesan kepada temannya itu jika ia akan pergi bersama mereka.

Tentu saja kedatangan Kiran dengan cepat menjadi topik utama di grup reuni tiga angkatan di SMAnya
dan ia tersenyum karena sepertinya harinya tidak terlalu buruk, jika ia pergi keacara reuni nanti. Kiran
membuka lemari pakaiannya dan mencari gaun yang sopan dan ia menemukan gaun yang ia kira cocok
yaitu gaun warna coklat muda. Kiran mengambil ponselnya lagi dan terdengar suara ponselnya
berdering. Nama Meta terlihat disana dan ia segera mengangkatnya.

"Assalamualikum, Halo Ran," ucap Meta.

"Walaikumsalam, iya Meta," ucap Kiran.

"Wah...semua hebo loh lo mau datang, ternyata teman gue ini ya terkenal banget banyak fansnya.
Biasanya diajak reuni gini kamu nggak mau, tumben aja kamu mau," ucap Meta.

3/6

Karena kesal akhirnya kete...


"Lagi ada waktu bebas kenapa nggak gue kumpul sama kalian, lagian kalian itu ya...bukan reuni namanya
kalau tiap satu semester ngajakin ketemuan gitu, bikin acara kayak gini tiga angkatan coba buat apa,"
ucap kiran.

"Biar yang jomblo berkualitas kayak kamu ini segera mendapatkan jodohnya," ucap Meta.

"Widih...kayak lo nggak jomblo aja Meta, emangnya lo udah ada pacar?" Tanya Kiran karena sudah lama
ia tidak berbicara panjang dengan sahabatnya ini.
"Boro-boro punya pacar, gue ini tulang punggung keluarga dan sibuk cari uang Ran, udah yatim piatu
nih, kakakku yang paling tua juga sudah meninggal jadi anak-anaknya sama aku sekarang," ucap Meta.

"Astaga maaf gue nggak tahu maafkan gue ya Ta, lo serius Bang Aldi udah nggak ada?" Tanya Kiran.

"Iya tiga bulan yang lalu, gue juga nggak

memberitahukan teman-teman kita kok, soalnya kakak gue

dikebumikan di kampung mendiang istrinya," ucap Meta.

"Udah, nggak usah sedih gitu! Gue yang minta maaf nggak ngabarin, Alhamdulilah gue kuat apalagi
sekarang gue jadi punya dua anak yang mesti gue jaga, hidup gue jadi berwarna Ran, btw...lo mau gue
jemput nggak?" Tanya Meta.

"Mau banget, jemput ya!" Pinta Kiran.

"Siap bos!" Ucap Meta dengan suaranya yang terdengar ceria. "Eh...semoga kakak tingkat kita yang
ganteng-ganteng dulu datang ya Ran! Siapa tahu diantara mereka ada yang nyangkut gitu dihati gue
atau hati lo," ucap Meta dengan suaranya yang terdengar sangat renyah.

"Ya ampun Meta lo ini nggak pernah berubah ya? Jangan bilang lo masih mengidolakan siapa itu gue
lupa namanya," ucap Kiran mencoba mengingat nama laki-laki

4/6

Karena kesal akhirnya kete...


yang dulu sangat disukai Meta.

"Si...Ronal? Wah...udah nggak lagi, dia sombong banget orangnya. Masa dia nggak kenal sama gue
secara kan dulu gue kan yang nguber dia," ucap Meta.

"Memangnya kamu ketemu dia dimana, Meta?" Tanya Kiran penasaran.

"Di Kantor, dia itu ternyata anaknya Pak bos gue Ran, katanya sih dia bakalan gantikan bokapnya nanti,
calon

pewaris gitu...," ucap Meta.

"Yaudah Ta, kejar aja lagi kayak dulu! Lo yang sekarang kan nggak sedekil dulu, udah kinclong tanpa
jerawat dan lo juga udah bening, Ta!" Ucap Kiran.

"Dasar gila lo Ran, kalau gue masih kayak dulu tiba-tiba deketin dia terus dengan muka tembok gue, gue
nyatain cinta sama dia. Gue bisa dilenyapkan dari muka

5/6
Karena kesal akhirnya kete...
bumi ini sama dia atau mungkin gue ini jadi mimpi buruk dia kalau dia tahu gue ini jadi karyawan dia.
Besok saat kerja gue kena pecat lo Ran, ini aja gue selalu bersembunyi dari dia kalau dikantor, gue pakek
masker gitu dan bilang kalau gue lagi flu kalau rapat besar. Untungnya dia bukan atasan gue secara
langsung jadi gue susah gitu ketemu langsung sama dia," ucap Meta.

"Hahaha...lucu banget sih dengar cerita lo Ta, kangen

banget gue sama lo, harusnya gue itu bisa ketemu lo setiap minggu," ucap Kiran.

"Jangan Ran, kelihatan banget kita itu masih jomblo," ucap Meta.

"Hehehe...gue nggak jomblo lagi Ta, gue udah punya pacar," ucap Kiran.

"Serius Ran?" Tanya Meta.

"Serius," ucap Kiran.

Meta. "Nanti lo harus cerita sama gue, harus!" Ucap

"Oke siap," ucap Kiran. "Yaudah sampai jumpa nanti Meta," ucap Kiran.

"Oke sayangku, Assalamualaikum," ucap Meta.

"Waalaikumsalam," ucap Kiran mematikan ponselnya.

Comments

Vote

6/6

Kedatangan dia.
Kedatangan dia
Kiran saat ini sedang bersiap untuk pergi keacara reuni dan ia telah memakai gaunnya, lalu ia
memoleskan makeup tipis diwajahnya cantiknya. la masih menunggu pesan dari Handaru, namun
ternyata Handaru memilih untuk tidak menghubunginya dan itu membuatnya merasa kesal. "Astaga
Mas kok marahnya gitu banget sih...harus banget ya aku yang datang ke rumah kamu untuk ketemu
kamu dan membujuk kamu agar kamu nggak marah lagi sama aku," ucap Kiran kesal.

Kiran mendengar suara ponselnya dan ia lihat ada nama Meta dilayar ponselnya. la segera
mengangkatnya "Halo Ran, gue udah didepan rumah lo," jelas Meta.
"Oke Ta," ucap Kiran dan ia segera mengambil tasnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
la mencari keberadaan kedua orang tuanya yang saat ini sedang duduk santai di ruang keluarga. "Mau
pergi kemana, Nak?" Tanya Subekti. Kiran mencium punggung tangan Subekti dan juga punggung tangan
Murni.

"Ada acara reuni Yah, Bu," ucap Kiran.

"Sama Nak Handaru perginya?" Tanya Murni.

"Nggak Bu, aku perginya sama Meta. Aku pamit ya Bu, Yah...Assalamualaikum," ucap Kiran.

"Waalaikumsalam," ucap Subekti dan Murni bersamaan membuat Kiran merasa lega karena orang
tuanya tidak bertanya kenapa ia tidak mengajak Handaru pergi bersamanya.

Kiran melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan ia melihat mobil Meta berada didepan rumahnya. la
segera mendekati mobil Meta, lalu ia mengetuk pelan kaca jendela mobil Meta. Meta segera
menurunkan kacanya dan ia

1/6

Kedatangan dia
tersenyum kepada Kiran. "Masuk Ran!" Ucap Meta.

"Oke," ucap Kiran dan ia menarik handel pintu mobil lalu ia segera masuk kedalam mobil.

Saat ini Kiran telah duduk disamping Meta dan ia tersenyum melihat Meta yang terlihat sangat cantik.

"Jerawat hilang wajahmu berubah menjadi cantik, tapi memang dasarnya kamu itu cantik Meta," ucap
Kiran.

"Wah...hanya lo yang bilang gue cantik," ucap Meta.

"Berarti banyak yang buta kalau lo yang sekarang itu dibilang jelek," ucap Kiran membuat Meta
terkekeh.

Meta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tadinya ia ingin bertemu dengan orang tua Kiran
sekalian pamit pergi bersama Kiran, namun Kiran mengatakan lain kali saja Meta bertemu dengan orang
tuanya. "Gue penasaran Ran lo pacaran sama siapa, soalnya gosip saja kalau kamu dekat dengan siapa
gitu. Apalagi kamu nggak pernah konfirmasi, nanti kamu kayak Lifia adikmu itu yang tiba-tiba saja
menikah," ucap Meta.

"Memang mereka sudah konfirmasi, belum kan," ucap Kiran.

"Belum sih konferensi pers gitu tapi beritanya sudah hebo saja kan, memangnya nggak ada pesta gitu ya,
Ran?" Tanya Meta.

"Ada kok," ucap Kiran. "Tenang saja nanti aku udang," ucap Kiran membuat Meta tersenyum senang.
"Kapan lagi aku bisa datang ke pesta artis terkenal, pasti banyak banget artis yang nantinya yang bisa
aku temui," ucap Meta.

"Pasti banyak," ucap Kiran.

Beberapa menit kemudian mereka sampai disebuah rumah mewah, yang ternyata milik salah satu
penyelenggara acara reuni ini. Disini mereka juga

2/6

Kedatangan dia
menggalangkan donasi untuk membantu anak-anak berprestasi di SMA mereka yang kurang mampu.
Bahkan ikatan alumni mereka yang kuat ini beberapa waktu yang lalu, juga telah membantu beberapa
sisiwa untuk berkuliah di Universitas.

"Ini Rumahnya Elga ya?" Tanya Kiran.

"Iya, dia baru saja dia menyelesaikan S2nya diluar negeri dan sekarang dia menjalankan perusahaan
keluarganya bersama para saudaranya. Dia memang yang meminta acara reuni ini di Kediamannya, biar
hemat dan uang sumbangan dari kita, bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat," jelas Meta.

Keduanya saat ini keluar dari mobil, lalu

melangkahkan kakinya bersama masuk kedalam rumah, terdengar suara musik ketika mereka masuk
kedalam rumah ini. Beberapa orang menatap kearah Kiran dan Meta, mereka takjub melihat kedatangan
keduanya. Kiran terkejut saat matanya tertuju pada sosok laki-laki tampan, yang saat ini sedang
mendekatinya. Sedangkan Meta membuka mulutnya dan ia sangat terkejut melihat laki-laki yang
merupakan atasannya itu mendekatinya. Ingin sekali rasanya Meta bersembunyi sekarang juga dari
Ronal dan sepertinya jika Ronal tahu ia adalah Meta yang bekerja di Perusaannya, ia pasti akan segera
dipecat.

"Loh Mas, kok kamu ada disini?" Tanya Kiran penasaran.

"Kamu benar-benar sudah lupa kalau saya itu sama kamu satu SMA Ran?" Tanya Ronal.

"Maaf Mas aku nggak ingat dan aku kan memang kurang gaul gitu loh Mas, tapi orang-orang yang
banyak kenal aku. Lagian kamu nggak pernah bilang kalau kita itu ternyata satu SMA," ucap Kiran.

"Hahaha....saya yang dulu berbeda karena pakai kaca mata Ran, tadinya saya bingung karena tumben
saja

3/6
Kedatangan dia
Handaru menghubungi saya dan mengajak saya untuk datang diacara alumni eh...mungkin karena kamu
datang, makanya dia mau datang juga," ucap Ronal membuat Kiran menyunggingkan senyumannya, ia
berharap apa yang dikatakan Ronal benar.

Tatapan Ronal tertuju pada perempuan yang ada disebelah Kiran dan ia menatap perempuan itu dengan
tatapan menyelidik. "Dia..." ucap Ronal penasaran dengan sosok Meta.

Meta menelan ludahnya sedangkan Kiran menahan tawanya, ia baru menyadari Ronal yang dimaksud
Meta ternyata Ronal yang merupakan kakak kandung Lifia. "Ta, ini Mas Ronal Kakak kandung Lifia," ucap
Kiran membuat Meta membuka mulutnya.

"Tata..." ucap Meta mengulurkan tangannya kepada Ronal.

"Ronal," ucap Ronal menyambut uluran tangan Meta.

Rona menatap Meta dengan tatapan menilai membuat Meta terlihat salah tingkah dan ia sangat takut,
jika Ronal mengenali dirinya sebagai Meta yang dulu sangat mengangguminya.

"Jadi Mas, Mas Handaru mana?" Tanya Kiran.

"Itu dia, biasa banyak cewek yang suka sama dia,"

ucap Ronal membuat Kiran menghela napasnya. Handaru memang terkenal sejak dulu dan ia terkenal
sangat dingin.

"Mas Ronal juga, itu lihat sejak tadi diincar para cewek disini yang masih jomblo loh Mas," ucap Kiran
membut keduanya terkekeh.

Wajah Meta pucat pasih dan ia berdoa agar Ronal sama sekali tidak mengenalinya lagi. Ronal
mengerutkan dahinya dan ia sebenarnya tahu jika perempuan cantik ini sepertinya adalah perempuan
berjerawat yang dulu selalu mengganggunya.

4/6

Kedatangan dia
"Kamu Meta, bukan siapa tadi Tata," ucap Ronal.

"Iya..." ucap Meta gugup. "Tapi tenang saja Mas...aku nggak akan mengganggu anggu kamu kayak dulu!"
Ucap Meta karena ia tidak ingin laki-laki ini salah paham padanya. la tahu diri jika ia tidak akan bersikap
memalukan seperti dulu, bahkan Meta menyesali tindakannya yang gegabah karena menyukai Ronal.

Tatapan Kiran tertuju kepada Handaru dan ia

menghela napasnya. la bingung apa yang harus ia lakukan sementara ia tahu, Handaru sedang marah
padanya. la menyadari mungkin ia yang egois karena menganggap Handaru keterlaluan karena marah
padanya. Tapi ketika ia melihat Handaru berbincang dengan perempuan lain, hingga menujukkan
senyumannya seperti Handaru yang selama ini tersenyum padanya, membuatnya merasa cemburu. la
tidak suka Handaru mengabaikannya seperti

5/6

Kedatangan dia
ini dan sepertinya ia harus segera bertindak.

"Mas Ronal tadi Mas Handaru berbicara sesuatu tentang aku nggak sama Mas Ronal?" Tanya Kiran.

"Nggak ada, dia hanya membicarakan bisnis," ucap Ronal.

"Ran, kamu sama Mas Handaru yang pengacara itu?"

Tanya Meta pelan dan ia yang takut kepada Ronal sengaja bersembunyi dibalik tubuh Kiran.

"Dia pacar gue Ta, bukan hanya sekedar pacaran tapi...tapi dia calon suami gue," ucap Kiran membuat
Meta terkejut.

"Lo serius? Ya ampun ternyata kalian benar-benar berjodoh Ran," ucap Meta takjub. "Lo nggak salah
dulu bilang sama gue kalau kakak senior yang paling tampan dan yang paling kamu kagumi itu Mas
Handaru minus dengan hehehe sikapnya ya Ran," ucap Meta.

"Iya dan bodohnya aku baru menyadari, jika aku sangat takut kehilangan dia," ucap Kiran menghela
napasnya.

Comments

Vote

6/6

Jangan gengsi dekatin dia.


Jangan gengsi dekatin dia
Kiran menghela napasnya Handaru menatapnya dengan dingin meskipun beberapa orang saat ini
sedang mengajaknya berbicara. Apalagi saat ini tiba-tiba Kiran telah didatangi beberapa lelaki yang
memang terlihat sangat mengangguminya. Mungkin yang dinginkan Handaru saat ini pengakuan
seorang Kiran mengenai hubungan mereka. Apalagi gosip hangat mengenai ia yang berdekatan dengan
lelaki lain dan Handaru yang berdekatan dengan perempuan lain, sungguh sangat mengganggu. Apalagi
Kiran merasa sangat kesal dan ingin sekali ia menarik Handaru agar menjauh dari para perempuan itu.
"Ran," bisik Meta, ia merasa sangat tidak nyaman berada didekat Ronal, apalagi nanti jika Ronal tahu ia
bekerja di perusahaannya, ia bisa saja dipecat. Sedangkan Meta sangat membutuhkan pekerjaan untuk
menghidupi kedua keponakannya yang masih kecil. "Ran..." panggil Meta lagi karena Kiran sepertinya
tidak mendengarnya.

"Ya," ucap Kiran namun matanya masih menatap Handaru dengan dingin. Bahkan mata keduanya
bertemu dan Kiran segera mengalihkan pandangannya karena kesal kepada Handaru.

"Kamu lagi berantem ya sama Mas Handaru?" Tanya Meta. Jika Kiran berpacaran dengan Handaru,
harusnya keduanya saat ini datang bersama kecara ini dan bukannya datang sendiri-sendiri seperti ini.

"Iya," lirih Kiran.

"Wah bahaya Ran, itu pacar kamu didekati banyak perempuan, walaupun Mas Handaru itu laki-laki
dingin tapi

1/7

Jangan gengsi dekatin dia


kalau didekati dengan cewek modelan Ajeng kan susah juga buat nolak. Ajeng yang cantik, kaya populer,
seksi dan pintar," ucap Meta. Kiran menghela napasnya, ucapan Meta memang benar dan itu
membuatnya merasa ia harus segera bertindak.

"Pintar aku kayaknya, aku itu hanya nggak kaya saja seperti dia," jelas Kiran.

"Jadi kamu yakin nih membiarkan Mas Handaru..."

ucap Meta pelan dan ia sejak tadi ia sengaja berada dibelakang Kiran seolah menjadi bayangan Kiran,
agar ia tidak terlibat dengan laki-laki yang sedang berbincang dengan beberapa temannya, namun saat
ini laki-laki itu ada dihadapannya.

"Nyebelin banget sih, gue udah nggak tahan lagi Ta,"

ucap Kiran, ia melangkahkan kakinya tanpa pamit dengan teman-temannya yang yang sedang
berbincang dengan Ronal. Kiran saat ini mendekati Handaru dan teman-temannya. Meta yang gugup
dan bingung ditinggalkan begitu saja dengan Kiran, akhirnya segera melangkahkan kakinya mengikuti
Kiran dari belakang.

Ajeng menatap Kiran dengan tatapan dingin, sejak dulu Kiran adalah saingan terberatnya. Kiran selalu
unggul dalam bidang akademi dan non akademik, ia selalu berada dibawah Kiran. Kiran hanya tidak suka
mengikuti lomba-lomba seni jika tidak Kiran pasti menduduki peringkat cewek terpopuler karena ia yang
memiliki banyak bakat. "Wah...ada Kiran, apa kabar Ran?" Tanya salah satu kakak kelasnya yang Kiran
juga lupa siapa namanya, namun wajah perempuan itu terlihat familiar.
"Alhamdulilah baik," ucap Kiran dan matanya tertuju pada sosok yang saat ini menatapnya dingin.
"Mas..." panggil Kiran dan ia membuang rasa malunya lalu ia mengulurkan tangannya. Jika Handaru
tidak menyambut

2/7

Jangan gengsi dekatin dia


uluran tangannya, ia akan segera pulang dan memutuskan semua kontaknya kepada Handaru karena ia
benar-benar murka.

Handaru menarik tangannya agar berada disampingnya, "Kalian...?" Tanya Ajeng dan ia mengerjapkan
kedua matanya lelah tidak percaya jika seorang Handaru yang dingin itu mau-maunya memegang tangan
Kiran. Sudah sejak lama ia mengejar Handaru, bahkan ia sering kali mendatangi kantor Handaru untuk
berkonsultasi beberapa masalah yang ia hadapi. la mencoba menarik perhatian Handaru, namun
Handaru yang sangat dingin itu sangat sulit untuk ditaklukan.

"Dia calon suami aku," ucap Kiran. "Hmmm...Mas kenapa nggak bilang kalau kamu datang juga kesini?"
Tanya Kiran.

"Kamu yang nggak memberitahu saya Kiran, kamu pergi gitu saja tanpa izin kepada saya, kalau Ronal
nggak bilang informasi digrup kalau kamu juga hadir, saya tidak akan tahu," ucap Handaru. "Kamu
kemari ingin menemui siapa?" Tanya Handaru dingin. Kiran menelan ludahnya, Handaru mode cemburu
memang seperti ini.

"Hehehe... Mas, hmmm maaf ya teman-teman, Mas Handaru lagi kumat kalau cemburu," ucap Kiran dan
ia menarik lengan Handaru agar mengikutinya. Handaru mengikuti Kiran yang mengajaknya menjauh
dari teman-temannya sedangkan Meta saat ini kembali bingung hingga ia mematung ditempat ia berdiri
saat ini.

Kiran melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini dan ia mengajak Handaru menuju tempat yang agak
sepi. Kiran saat ini berhadapan dengan Handaru dan ia menatap Handaru dengan kesal. "Aku kesal
banget sama kamu Mas, aku itu tipe perempuan setia dan nggak akan pernah selingkuh. Tapi tadi itu
kamu membut aku seperti tersangka, padahal aku kan pengen kangen-kangenan

3/7

Jangan gengsi dekatin dia


sama kamu," ucap Kiran kesal membuat Handaru terkejut.

Handaru menatap Kiran dengan tatapan menilai apa benar ucapan Kiran jika ia ingin kangen-kangenan
padanya "Kamu nggak percaya, Mas?" Tanya Kiran dan ia menghela napasnya.
"Siapa bilang hanya kamu yang mencintai aku, aku juga mencintai kamu, aku juga nggak suka kamu
dekat sama perempuan lain, karena aku mencintai kamu Mas," lirih Kiran. "Mas jangan diam saja!" Kesal
Kiran.

"Iya saya tahu, maaf ya karena nggak mudah bagi saya untuk mengendalikan emosi saya karena saya
cemburu," ucap Handaru dan ia menarik Kiran kedalam pelukkannya.

"Aku nggak suka gosip mengenai hubungan kamu sama perempuan lain Mas, aku menunggu kamu buat
jelasin semuanya sama aku!" Lirih Kiran dan ia mengeratkan pelukkannya.

"Kamu tahu saya sangat mencintai kamu, saya ingin menikahi kamu dan saya nggak pernah seyakin ini
untuk mengajak kamu hidup bersama saya sampai maut memisahkan," ucap Handaru. "Saya bahkan
akan menandatangi perjanjian apapun agar kamu percaya pada saya!" Ucap Handaru.

"Nggak perlu Mas, aku percaya sama kamu sekarang dan seterusnya aku akan selalu percaya sama
kamu," ucap Kiran dan ia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Handaru dengan tatapan sendu.
"Capek banget melihat wajah kamu kalau bediri kayak gini Mas, kamu tinggi banget," ucap Kiran
membuat Handaru tersenyum.

"Mau gendong kamu disini, tapi nanti kamu malu!"ucap Handaru dan ia mengelus kepala Kiran dengan
lembut.

"Kalau itu sih sudah pasti aku malu Mas," ucap Kiran.

4/7

Jangan gengsi dekatin dia


"Mas pulang yuk, kemana gitu nggak usah disini!" Ucap Kiran.

"Kenapa memangnya?" Tanya Handaru dan ia kembali memeluk Kiran dengan erat.

"Aku lebih suka berada di Rumah orang tua kamu Mas!" Ucap Kiran.

"Kalau nggak ada kamu datang bersama Mas pulang ke Rumah orang tua Mas, Mas malas pulang Ran,"
ucap

Handaru.

"Kenapa Mas?" Tanya Kiran.

"Marco kurang ajar, dia sangat mesra dengan Sandra dan membuat Mas merasa kesal, apalagi Marco
tanpa malu cium-cium pipi istrinya didepan Mas, nggak tahu malu Ran," ucap Handaru membuat Kiran
terkekeh.

"Hehehe...Kamu juga begitu Mas, suka banget cium

5/7
Jangan gengsi dekatin dia
aku," ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah memikirkan bagaimana jika ia telah menjadi istri
Handaru nanti. Bisa-bisa Handaru juga akan menujukkan kemesraannya tanpa malu.

"Iya makanya kita harus segera nikah Ran!" Ucap Handaru.

"Iya Mas tapi bagaimana kalau mulai besok kita benar-benar mempublikasikan hubungan kita?

Hmmm...aku juga akan bilang sama semua teman-temanku kalau aku itu pacaran sama Handaru
Laksamana Dewan dari dan media sosial aku akan ada foto kamu.

Hmmm....Besok aku juga akan datang ke Kantor kamu, Mas," ucap Kiran.

"Oke, tapi kapan nikahnya?" Tanya Handaru dan baginya itu yang lebih penting saat ini. Semakin lama ia
menunda pernikahannya bersama Kiran, akan ada banyak laki-laki yang berusaha mendapatkan Kiran.

"Kalau itu sih...gimana kalau orang tua Mas yang membicarakan masalah ini sama orang tuaku!" Pinta
Kiran membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Ya sudah ayo kita pulang dan bilang sama orang tua Mas!" Ucap Handaru.

"Ayo Mas, tapi..." ucap Kiran.

"Kenapa?" Tanya Handaru.

"Meta sendirian Mas, tadi aku itu pergi sama dia Mas," ucap Kiran.

"Ooo...kalau itu gampang," ucap Handaru dan ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

"Ron, titip Meta temannya Kiran!" Ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya dan Meta pasti
akan marah besar padanya saat ini. "Saya dan Kiran pulang lebih dulu Ron!" Ucap Handaru.

"Oke," ucap Ronal. Handaru memutuskan sambungan

6/7

Meminta pertemuan.
Meminta pertemuan
Kiran merasa sangat bahagia, apalagi sejak tadi ia tersenyum sambil melirik Handaru yang sedang fokus
mengemudi. Kecemburuan Handaru sangat berbahaya dan Handaru bisa saja mendiamkannya seharian
atau mungkin beberapa hari, jika ia tidak bertindak. Kiran ingin menanyakan apa yang dilakukan
Handaru jika ia tidak datang ke Acara reuni ini. "Mas..." panggil Kiran.

"Ya...ada apa?" Tanya Handaru menatap Kiran sekilas dan ia kembali fokus mengemudi.
"Kalau tadi aku nggak datang ke reuni, apa kamu masih datang kesana?" Tanya Kiran.

"Saya datang kesana karena kamu datang, selama ini saya nggak pernah datang ke Acara seperti itu
Kiran dan yang sering rajin datang itu Ronal, entah apa yang dicari Ronal disana," ucap Handaru.

"Tapi kalau kamu nggak datang keacara reuni kita pasti akan lama gitu Mas marahnya, kamu jahat
banget sama aku Mas. Kamu anterin aku pulang saja dan setelah itu kamy langsung pergi," ucap Kiran.

"Kalau kamu nggak pergi keacara reuni, saya nggak pergi tapi besoknya saya pasti akan datang jemput
kamu pulang kerja," ucap Handaru.

"Memangnya kamu tahu jadwal kerja aku Mas?" Tanya Kiran membuat Handaru menyunggingkan
senyumannya.

"Asal kamu tahu ya Ran, ibu itu sudah berada dipihak aku dan dia sudah sangat setuju menjadikan aku
menantunya. Mas juga sesudah deal-deal lan gitu sama Ibu, jadi informasi dimana kamu itu gampang
banget Mas aku dapatkan," ucap Handaru membuat Kiran terkejut.

1/6

Meminta pertemuan
"Mas tadi beneran marah banget sama aku?" Tanya Kiran penasaran.

"Iya," ucap Handaru.

"Aku juga kesal sama kamu Mas, masak kamu nggak percaya gitu sama aku. Aku itu sayang banget sama
kamu Mas kalau nggak aku nggak akan rela kamu jemput apalagi kamu ciummm," ucap Kiran membuat
Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Saya butuh bukti, kamu sampai kapan ingin menyembunyikan hubungan kita? saya nggak suka ada laki-
laki lain lagi datang menemui kamu dan mencoba mendekati kamu, karena mengira kalau kamu masih
jomblo," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum. la bahkan tidak pernah berpikir jika hubungan
asmaranya akan jadi seperti ini, apalagi dulu ia ingin menjadi seorang wanita karir hingga belum
memikirkan untuk memiliki pasangan apalagi menikah.

Tapi semua pikirannya itu berubah begitu saja setelah ia bertemu dengan Handaru, Handaru mode laki-
laki yang dulu sangat dingin dan sombong padanya ini, tiba-tiba berubah haluan mengajaknya
berpacaran bahkan memaksanya. Handaru berusaha mengubah sikapnya dengan bersikap romantis
padanya dan perhatian padanya. Sosok yang sangat berusaha untuk menyenangkan dirinya dan sudah
seharusnya ia tidak boleh egois kepada Handaru Laksaman Dewandaru yang sepertinya sangat
mencintainya.

Kiran tiba-tiba berinisiatif mengecup cepat pipi Handaru membuat Handaru yang sedang fokus
mengemudi tersenyum. "Kalau ada yang kamu takutkan ceritakan saja sama Mas Kiran, agar hubungan
kita berjalan dengan lancar, saya ingin kita itu saling percaya!" Ucap Handaru membuat Kiran
menyunggingkan senyumannya.

2/6

Meminta pertemuan
"Iya Mas, aku sayang banget sama kamu," ucap Kiran.

"Belum pernah aku merasa nggak nyaman gitu dan merasa sangat kesal Mas, kalau ada yang marah
sama aku. Dulu aku itu nggak peduli cowok-cowok yang dekatin aku kalau dia marah ketika aku
mengatakan secara langsung aku nggak mau sama dia, atau menolak ajakan dia dengan kasar. Tapi kalau
kamu udah ditolak kamu tetap gigih, terus kamu itu berusaha agar aku percaya kamu kalau kamu sayang
sama aku," ucap Kiran.

Handaru tersenyum dan ia merasa bahagia karena Kiran mencintainya seperti yang ia harapkan selama
ini.

"Aku nggak mau kamu abaikan aku Mas, please ya Mas jangan kayak gitu lagi!" Pinta Kiran lagi.

"Iya saya nggak akan begitu lagi!" Ucap Handaru.

"Janji!" Pinta Kiran.

"Iya janji," ucap Handaru.

"Terus kalau aku ngambek gitu sama kamu, kamu yang bujukin aku ya Mas!" Pinta Kiran membuat
Handaru menyunggingkan senyumannya karena Kiran terlihat sangat menggemaskan dengan
permintaannya yang seperti ini. "Aku tadinya berharap banget kamu tiba-tiba telepon aku atau chat aku
terus, ngajakin aku pergi jalan gitu Mas," ucap Kiran dan ia merutuki kebodohannya karena ia bersikap
sok imut seperti ini.

"Iya, kamu kayaknya kesal banget sama saya Ran dari tadi maunya ngomelin saya terus," ucap Handaru.

"Iya kesel banget, nggak mau kamu kayak gitu lagi

Mas. Ingat janji harus ditepati Mas kamu sudah janji tadi nggak akan begitu lagi!" Ucap Kiran.

"Oke siap sayang," ucap Handaru.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di Kediaman Abib Laksamana Dewandaru dan keduanya saat
ini melangkahkan kakinya keluar dari mobil, lalu masuk kedalam rumah. Kiran melihat Sandra dan Marco
sedang

3/6
Meminta pertemuan
duduk disofa bersama kedua orang tua Handaru. Kiran menyunggingkan senyumannya menatap wajah
Handaru yang saat ini merasa bahagia karena kehadirannya. "Kalau ada kamu Ran, saya nggak akan
terlihat menyedihkan karena berada didekat mereka," ucap Handaru menatap semua keluarganya yang
saat ini terlihat sangat mesra.

"Iya Mas sayang aku ngerti," ucap Kiran

menyunggingkan senyumannya.

Keduanya mendekati mereka dan Abib tersenyum senang melihat kedatangan Kiran. "Assalamualikum,"
ucap Kiran dan Handaru bersamaan.

"Waalaikumsalam," ucap mereka.

"Wah....Andai saja kalian sudah menikah, Papi akan sangat bahagia hari ini karena semua keluarga kita
berkumpul dengan pasangan masing-masing," ucap

4/6

Meminta pertemuan
Abib.

"Iya ya Pi, kita bisa ngedate bareng dan kalau Kiran nggak datang ke rumah kita ini kasihan banget sama
Mas Handaru," ucap Marco membuat Handaru tersenyum karena Marco mendukungnya dengan
membuat Kiran berpikir, jika mereka harus segera menikah. "Mbak Kiran segera dong nikah sama Mas
Handaru!" Pinta Marco.

"Rencanya sih begitu," ucap Kiran dengan wajahnya yang memerah karena malu dan ia memeluk lengan
Handaru dengan erat. Kiran dan Handaru duduk dihadapan Abib dan Erna lalu keduanya tersenyum
bahagia.

"Alhamdulilah," ucap Abib, Erna, Marco dan Sandra bersamaan.

"Jadi sekarang kalian ingin segera menikah?" Tanya Abib memastikan jika ia bisa segera melamar Kiran
secepat mungkin.

"Iya Pi, Kiran sudah setuju," ucap Handaru menatap Kiran dengan tatapan penuh cinta.

"Papi sangat senang mendengar berita ini," ucap Abib.

"Jadi kapan Mami dan Papi melamar kamu Kiran?"

Tanya Erna dan ia juga terlihat sangat antusias mendengar berita ini.
"Terserah Mami dan Papi kapan, nanti kalau sudah menentukan waktunya, Kiran tinggal bilang sama Ibu
dan Ayah," ucap Kiran.

"Minggu depan saja gimana?" Tanya Abib.

"Setuju Pi," ucap Handaru membuat Abib terkekeh.

"Wah anak Papi ini sudah tidak sabar agar segera menikah! Udah nggak mau ketemu saingan lagi ya
Nak? Goda Abib.

5/6

Meminta pertemuan
"lya, Pi..." jujur Handaru.

"Pi, aku Minggu depan itu resepsi pernikahan Lifia dan Defran," ucap Kiran.

Abib. "Kalau begitu sebelum resepsi saja Kiran!" Ucap

"Besok saja Pi!" Ucap Handaru membuat Kiran terkejut. "Pertemuan keluarga saja dulu, biar Mami dan
Papi bisa ngobrol dengan besan Mami dan Papi!" Ucap Handaru membuat Kiran terkejut.

"Oke, Papi setuju!" Ucap Abib. "Ran telepon Ibu dan Ayah sekarang, bilang kalau Mami dan Papi akan
datang ke Rumah kamu besok!" Ucap Abib.

"Iya Pi," ucap Kiran.

Comments

Vote

10

6/6

Publikasi.
Publikasi
Malam ini akan menjadi malam pertemuan keluarganya dan keluarga calon suaminya. Pertemuan ini
memang hanyalah pertemuan untuk mengakrabkan keluarga mereka dan bukanlah lamaran secara
resmi. Apalagi hanya keluarga inti yang akan bertemu membicarakan hubungan Handaru dan Kiran,
yang akan segera diresmikan ke jenjang pernikahan. Kiran saat ini sedang berada di Kantor dan ia sudah
tidak sabar pulang, untuk melihat kesibukan para keluarganya yang pastinya kesal karena pertemuan
keluarga ini dilakukan secara mendadak. Apalagi pertemuan kilat ini dilaksanakan ketika para keluarga,
juga sedang sibuk menyiapkan acara resepsi pernikahan Lifia dan Defran.
Kiran menyadarkan kepalanya diatas meja kerjanya dan ia memejamkan matanya sambil tersenyum.
Hari ini hanya akan ada satu kali syuting lagi dan setelah itu, ia akan pulang ke Rumahnya yang pastinya
para keluarganya sekarang sedang sibuk menyiapkan acara pertemuan keluarga. Tiba-tiba sebuah
tangan mengelus kepalanya membuat beberapa orang terkejut melihat sosok tampan itu berada
disamping Kiran. Bahkan mereka juga bersiap melihat kemarahan Kiran yang tidak suka para lelaki
menyentuhnya apalagi seorang Handaru Laksamana Dewandaru, yang biasanya selalu bertengkar
dengannya.

Kiran mengangkat kepalanya, ia terlihat sangat kesal karena dengan pelaku yang mengelus kepalanya,
namun ketika ia melihat siapa pelakunya, membuat senyumnya merekah. "Mas..." ucap Kiran dan ia
segera bediri dan ia memeluk Handaru dengan erat membuat rekan kerjanya,

1/6

Publikasi
mengerjapkan kedua matanya seolah melihat pemandangan yang aneh saat ini.

Bagaimana tidak, Kiran perempuan dingin yang sering kali menolak banyak laki-laki dengan kalimat
dinginnya dan tatapannya itu, bisanya terlihat sangat kesal pada setiap laki-laki mencoba mendekatinya.
Namun Kiran menjadi sosok yang sangat jauh berbeda, dengan Kiran yang mereka kenal saat ini "Aku
masih lama pulangannya Mas, ada syuting satu kali lagi dan setelah itu pulang," ucap Kiran.

"Saya tunggu kamu disini tadi juga sudah bilang sama penanggung jawab program," ucap Handaru
mengangkat tangannya ketika kepala divisi program acara ini tersenyum padanya.

"Wah Ran, kayaknya udah resmi ini ya Ran?" Tanya salah satu rekan kerjanya.

"Iya, bukan hanya pacar ini tapi calon suami," ucap Kiran tersenyum bangga saat mengatakan Handaru
agar segera menjadi suaminya.

"Wah...udah berapa lama kalian pacaran? kalian pacaran diam-diam biar nggak tersorot media ya? Apa
mungkin kalian sudah pacaran ketika Pak Abib bilang ingin menjadikan Kiran menantunya?" Tanyanya
mengingat salah satu program acara yang mengatakan Abib ingin menjadikan Kiran menantunya.

Kiran dan Handaru hanya tersenyum, membuat mereka semua ikut tersenyum bahagia karena bagi
mereka, keduanya merupakan sosok pasangan yang sangat sempurna. Kedekatan Kiran dan Handaru
saat ini, menepis semua berita tentang kedekatan Handaru dengan perempuan yang mengaku memiliki
hubungan dengan Handaru. Apalagi Handaru selama ini memang tidak suka berbicara kepada awak
media, jika itu membahas mengenai masalah pribadinya.

2/6
Publikasi
"Mbak Kiran, sudah saatnya syuting!" Ucap salah satu rekan kerjanya dengan suaranya yang sedikit
berteriak.

"Oke," ucap Kiran dan ia memegang tangan Handaru "Mas nonton aku syuting ya!" Pinta Kiran dan ia
mengatakan hal ini dengan suaranya yang terdengar sangat manja, membuat rekan kerjanya yang
mendengar ucapan Kiran itu, membuka mulutnya seakan tidak percaya jika Kiran mengatakan hal ini
pada mereka.

"Oke," ucap Handru dan ia melangkahkan kakinya mengikuti Kiran menuju studio tiga, tempat ia akan
syuting dan hari ini ia memang akan memandu sebuah acara seperti biasanya.

Kiran memperkenalkan Handaru kepada rekan kerjanya yang lain dan ia memperkenalkan Handaru
sebagai calon suaminya. Handaru tersenyum ramah kepadanya, membuat beberapa perempuan
tersenyum kepada Handaru. Baru kali ini mereka melihat seorang Handaru Laksmana Dewandaru yang
juga terkenal dingin itu, tersenyum ramah pada mereka. Seolah sosoknya itu, berubah ketika mereka
berada disamping Kiran Ayu.

Syuting dimulai, Kiran terlihat sangat cantik dengan penampilannya yang sangat spektakuler seperti
biasanya. Kiran Ayu sang perempuan cerdas yang banyak disukai banyak laki-laki dari berbagai kalangan.
Bahkan beberapa aktor terkenal mengatakan jika Kiran adalah tipe perempuan yang mereka sukai. Satu
jam kemudian syuting selesai dan Kiran segera mendekati Handaru. Bintang tamu dari acara Kiran
melihat secara langsung bagaimana Kiran terlihat sangat manis dan manja kepada Handaru.

"Mas kira langsung pulang ke Rumah saja! Soalnya aku pengen bantuin Ibu masak kue untuk malam
nanti!" Ucap Kiran.

"Oke sekalian Mas juga mau main ke Rumah kamu,

3/6

Publikasi
boleh nggak kalau Mas numpang tidur!" Bisik Handaru membuat wajah Kiran memerah dan ia memukul
pelan lengan Handaru.

"Yaudah ayo kita pulang!" Ucap Handaru membuat Kiran menganggukkan kepalanya.

Keduanya melangkahkan kakinya keluar dari studio, namun saat mereka ingin menuju parkiran, ada
empat orang wartawan dan dua kameramen mendekati mereka.

Kiran menahan tawanya karena mereka semua ternyata adalah rekan kerjanya yang sepertinya ingin
meliput berita tentang hubungannya bersama Handaru Laksaman Dewandaru, sang pengacara terkenal
sekaligus putra sulung Pak Mentri Abib. "Ran mau ya diwawancara sama kita lebih dulu loh Ran! Ini kita
kan rekan kerja, kita curi start duluan loh Ran. Masa nanti media lain yang wawancara kamu sama Pak
Handaru!" ucap salah satu dari

4/6

Publikasi
mereka.

"Gimana Mas?" Tanya Kiran menatap Handaru dengan senyum manisnya.

"Terserah kamu!" Ucap Handaru dan ia mengelus kepala Kiran dengan lembut membuat mereka semua
bersorak.

"Cie..,cie...manis banget sih kalian..." ucap salah satu dari mereka.

"Oke, tapi sebentar saja ya soalnya mau pulang nih!"

Goda Kiran membuat mereka semua kembali terkekeh.

"Oke kita mulai ya Ran!" Pintanya dan semuanya telah bersiap menyiapkan pertanyaan hingga beberapa
pertanyaan pun telah siapkan mereka lontarkan.

"Wah...Ran Pak Handaru, sejak kapan nih kalian menjalani hubungan?" Tanya salah satu dari mereka.

"Saya sudah cukup lama kenal," ucap Handaru.

"Iya kalau kenal sudah lama banget sejak SMA gitu," ucap Kiran.

"Saya menyukainya sejak dulu tapi baru beberapa bulan ini berusaha mengejarnya dan memintanya
setuju untuk saya nikahi," ucap Handaru membuat wajah Kiran memerah karena malu. la tidak
menyangka Handaru akan mengatakan hal ini dengan sangat lantang jika ia lebih dulu menyukainya
bahkan mengerjainya.

"Jadi ini Pak Handaru duluan yang suka apa Mbak Kiran?" Tanya mereka.

"Saya telah lama menyukainya, bahkan mengangguminya namun saya tidak ingin hanya sekedar
berpacaran, tapi saya ingin segera menikahinya," ucap Handaru membuat mereka lagi-lagi tersenyum.

Kiran bahkan menjawab pertanyaan mereka sambil tersenyum kagum menatap Handaru. Keduanya
segera

5/6

Publikasi
mempublikasikan hubungan keduanya didepan awak media, lalu keduanya memohon doa yang terbaik
untuk hubungan keduanya. Setelah berbincang bersama para wartawan, saat ini keduanya telah berada
didalam mobil. Kiran sangat terkejut dengan kedatangan Handaru ke kantornya dan tadi ia hampir tidak
percaya, jika calon suaminya itu masuk menuju kubikelnya untuk menemuinya.

Handaru melirik Kiran yang saat ini menatap lurus kedepan, namun wajahnya terlihat memerah karena
malu. Ya... "Apa kamu tidak suka kalau Mas sering datang menjemput kamu dan masuk ke studio
kamu?" Tanya Handaru.

"Sangat suka Mas, sangat-sangat suka," ucap Kiran menatap Handaru dengan tatapan penuh cinta.

Comments

Vote

12

6/6

Penuh kejutan.
Penuh kejutan
Beberapa menit kemudian Handaru dan Kiran sampai di rumah orang tua Kiran. Keduanya
melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan saat Kiran sampai didepan pintu ia dikejutkan dengan
Lifia dan Kana yang sedang memegang kue tart ditangan mereka. "Selamat ulang tahun Mbak," teriak
Lifia.

"Selamat ulang tahun adikku sayang," ucap Kana.

"Wah makasih banyak, aduh senang banget tadi kirain lupa," ucap Kiran.

"Tiup dong lilinya!" Ucap Lifia. Kiran segera meniup lilinya dan setelah itu Kiran dan Kana segera
menyingkir.

Tiba-tiba seember air mengenai tubuh Kiran membuat Kiran terkejut, tadinya ia berpikir mereka akan
melupakan acara ulang tahunnya karena hari ini semuanya sedang sibuk menyiapkan pertemuan
keluarga ini dan juga resepsi pernikahan Defran dan Lifia. "Altaf....nyebelin banget sih..." teriak Kiran.

"Itu hadia ulang tahun dari aku Mbak," ucap Altaf.

"Kebiasaan banget sih kamu Taf, nyebelin," ucap Kiran.

"Kapan lagi bisa beginiin kamu Mbak, soalnya nanti kalau sudah jadi istri Mas Handaru aku bisa kena
marah sama Mas Handaru," ucap Altaf membuat Kiran tersenyum malu. "Aku itu Mbak cuti lagi ini
karena ulang tahun Mbak Kiran dan resepsi pernikahan Mas Defran dan Mbak Lifia.

Jadi cuti untuk jalan-jalan kayaknya nggak ada lagi tahun ini!" Ucap Altaf.

"Aduh kasihan banget kamu Taf, rasakan...biar kamu


1/6

Penuh kejutan
nggak usah pakek cuti-cuti lagi, cutinya khusus acara pernikahan saja!" Ucap Kiran membuat Lifia
tersenyum penuh arti.

"Jadi kali ini Mbak yang akan segera menikah ya Mbak?" Tanya Lifia dan ia tersenyum penuh menggoda
melihat Kiran yang terlihat malu-malu.

"Iya, soalnya aku nggak mau lagi pisah sama Mas Handaru," ucap Kiran membuat mereka semua
tersenyum senang karena akhirnya Kiran menerima lamaran Handaru.

Handaru menatap Kiran dengan tatapan penuh cinta, karena sekarang ia benar-benar yakin jika Kiran
telah jatuh cinta padanya.

Handaru menarik tangan Kiran, lalu memberikan sebuah kotak bludru kepada Kiran "Selamat ulang
tahun sayang," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum malu dan ia memeluk Handaru dengan erat.

"Cie...Cie Mbak Kiran yang mandiri ini sekarang jadi manja banget sama Mas Handaru, dulu saja pasti
kesel banget kalau melihat ada cewek yang bucin eh...nggak tahunya sekarang, dia yang bucin banget,"
ucap Lifia membuat mereka semua terkekeh.

"Iya, dulu dia bilang orang yang bucin itu lebay, bodoh nggak tahunya sekarang dia yang bucin,
hehehe..."

Kekeh Altaf.

"Kamu itu ya Al, kalau belum merasakan jatuh cinta kamu jadi sok tahu, tapi nanti kalau kamu sudah
jatuh cinta, kamu bakalan kelepek-kelepek," ucap Kiran kesal.

"Buka dong kadonya!" Pinta Kana membuat Kiran segera membuka kotak bludru itu dan ia tersenyum
senang saat sebuah kalung inisial namanya, terlihat begitu indah.

"Bagus banget Mas kalungnya, Mas pakaikan dong!" Pinta Kiran tersenyum senang.

2/6

Penuh kejutan
"Oke," ucap Handaru.

Hadaru segera memakaikan kalung itu ke leher Kiran dan ia merasa sangat puas kesan kalung itu sangat
cocok dileher calon istrinya ini. Kiran tiba-tiba mengecup pipi Handaru. "Makasih, Mas," ucap Kiran.

"Cie...cie...astaga..." teriak Kana. "Ibu...Kiran cium Handaru Bu, ini mereka harus segera dinikahkan!"
Teriak Kana.
"Iya Bu, langsung saja dinikahkan!" Teriak Lifia. Murni yang berada didapur bersama besannya, hanya
tertawa saja mendengar keseruan anak-anaknya yang saat ini sedang mengerjai Kiran.

"Hehehe nikahnya kapanpun, aku siap kok!" ucap Kiran mencoba menantang keluarganya jika hari ini
pun, jika mereka ingin segera dinikahkan ia dan Handaru sangat siap.

"Kamu mandi dulu sayang!" Ucap Handaru. la tidak ingin Kiran sakit karena bajunya yang basah bisa
membuatnya masuk angin.

"Wah...Mas Handaru perhatian banget sih...takut banget calon istrinya sakit," ucap Lifia.

"Iya dong, kalau dia sakit saya nggak rela," ucap

Handaru.

"Iya Mas aku mandi dulu!" Ucap Kiran.

Kiran melangkahkan kakinya menuju kamarnya sambil tersenyum senang. Hari ini ia sangat bahagia
karena semua keluarganya berkumpul merayakan hari ulang tahunnya. Apalagi Altaf pun mempercepat
kepulangannya hari ini, karena ingin hadir diacara ulang tahunnya. Kiran masuk kedalam kamarnya dan
lagi-lagi ia dikejutkan dengan beberapa kado ulang tahun yang telah berada diatas ranjangnya.
"Penasaran apa isinya, aku mandi dulu ah..." ucap Kiran.

3/6

Penuh kejutan
Kiran segera mandi dan beberapa menit kemudian ia telah selesai mandi. la memakai baju. Kaos dan
celana training kesukaannya, lalu ia segera melangkahkan kakinya. Ternyata di ruang keluarga semua
keluarganya telah berkumpul termasuk kedua calon mertuanya. 'Astaga mereka semua sudah datang,
Batin Kiran.

"Kita sekalian magriban disini," ucap Abib membuka suaranya karena ia bisa menduga calon
menantunya ini

penasaran padanya kenapa datang lebih cepat dari yang dijanjikan.

Kiran duduk disamping Handaru dan ia melihat kearah Kana dan Lifia yang terlihat seperti sedang ingin
menggodanya. Abib berbincang dengan Subekti, Nasir dan mereka terlihat sangat akrab hingga tertawa
bersama, membuat Kiran merasa sangat lega. Ayahnya terlihat sangat mengagumi satu sama lainnya,
hingga telah

4/6

Penuh kejutan
berbincang dengan santai seperti layaknya sahabat lama.
"Mas Defran mana?" tanya Kiran kepada Lifia yang sedang duduk disampingnya.

"Mas Def, lagi dijalan tadi dia pulang dulu ke Rumah ambil ponsel aku Mbak tinggal tadi dan sekalian
jemput Salsa soalnya kan Papi sama Mami sejak siang sudah disini sama kita," ucap Lifia membuat Kiran
tersenyum.

Kirab hampir lupa jika Kana dan Lifia menikahi dua saudara Satyas hingga keduanya memiliki mertua
yang sama. Beberapa menit kemudian lifia segera keluar karena ia baru saja menghubungi Defran yang
mengatakan jika Defran saat ini telah berada didepan teras rumah bersama Salsa. Lifia melihat Salsa
melangkahkan kakinya mendekatinya, lalu mengulurkan tangannya kepada Lifia. Salsa mencium
punggung tangan Lifia dan ia tersenyum senang karena ia mengetahui rahasia yang Defran sembunyikan
dari Lifia "Mbak wah...nggak nyangka banget pokoknya kejutan gitu," ucap Salsa.

"Salsa..." teriak Defran membuat Salsa terkekeh.

"Hehehe...oke Mas, aku diam!" Ucap Salsa. "Mbak aku duluan masuk kedalam ya!" Pamit Salsa.

Oke Sa," ucap Lifia.

Salsa melangkahkan kakinya menjauh dari Lifia membuat Lifia segera mendekati Defran lalu menatap
Defran dengan kesal. "Mas..." rengek Lifia.

"Ada apa?" Tanya Defran menyunggingkan senyumannya melihat istrinya yang terlihat manja padanya.

"Nggak usah pura-pura nggak tahu Mas dan jangan jadi menyebalkan Mas!" Kesal Lifia membuat Defran
merentangkan tangannya dan Lifia dengan cepat masuk kedalam pelukan Defran.

"Kamu sudah makan?" Tanya Defran.

5/6

Penuh kejutan
"Kejutan apa yang dimaksud Salsa?" Tanya Lifia.

Defran menghela napasnya, adik bungsunya ini memang sangat menyebalkan, tadinya ia ingin
merahasiakan semuanya dari Lifia. "Ya udah, ayo ikut Mas sebentar!" Ucap Handaru membuat Kiran
menganggukkan kepalanya dan ia melangkahkan kakinya bersama Handaru menuju rumah yang ada
disamping rumah ini.

"Loh kenapa kesini?" Tanya Kiran. Defran membuka pintu pagar rumah dan beberapa pekerja
membungkukkan tubuhnya kepada mereka.

"Ini rumah kita," ucap Defran membuat Lifia membuka mulutnya dan ia sangat terkejut mengetahui
fakta ini.

"Rumah ini kan udah dibeli dua tahun yang lalu Mas,"
ucap Lifia. "Tapi udah enam bulan yang lalu direnovasi," ucap Lifia seakan tidak percaya dengan ucapan
Defran jika rumah ini ternyata telah menjadi milik Defran.

11

Comments

Vote

6/6

Merasa bersalah banget.


Merasa bersalah banget
Defran menyunggikan senyumannya melihat

kebahagiaan istrinya, apalagi istrinya sangat puas dengan rumah yang telah disiapkan Defran.
Sebenarnya Defran telah lama mengincar rumah ini dan itu terjadi ketika ia berniat ingin memiliki Lifia
beberapa tahun yang lalu. Defran ingat bagaimana saat itu pertama kalinya ia tersenyum melihat sosok
Lifia yang berada di video yang dikirim kakeknya untuk Serkan. Saat itu Lifia sedang bersama Kana yang
memang telah dijodohkan dengan keluarganya untuk Serkan Satyas. Serkan memang belum pernah
bertemu Kana saat itu namun ia telah menganggumi Kana dari video dan juga cerita Kakek mereka yang
sering menghabiskan waktunya dengan Kana bersaudara.

"Mas hmmm...boleh nggak kita ke lantai duanya?" Tanya Lifia.

"Boleh, tapi hati-hati karena renovasinya belum selesai!" Ucap Defran membuat Lifia menganggukkan
kepalanya, sambil menunjukkan senyum manisnya.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju lantai dua, Lifia sangat puas dengan renovasi rumah ini dan
ternyata suaminya ini, sangat memahaminya hingga ia pun tak bisa berkata-kata apalagi mengenai
renovasi rumah ini yang begitu menakjubkan. Keduanya masuk kedalam kamar dan terlihat kamar ini
juga sedang di renovasi. "Ranjangnya nanti biar kamu yang pilih dan masih banyak perabotan yang harus
kamu pilih sendiri!" ucap Defran.

"Iya Mas, hmmm...kamu temanin aku saat beli perabotan ya Mas, gimana?" Tanya Lifia.

"Sebaiknya kamu pilih sendiri Lifia, nanti kalau ada

1/7

Merasa bersalah banget


Mas kamu pasti akan tanya ke Mas dan itu namanya bukan pilihan kamu sendiri!" Ucap Defran.
"Bilang saja kamu nggak mau diajak keliling kan Mas?" Tanya Lifia membuat Defran mengangkat sudut
bibirnya.

Sebenarnya setelah mereka nanti pulang dari bulan madu, Defran akan sangat sibuk dengan
pekerjaannya. Apalagi ia juga baru saja mendapatkan posisi cukup bergengsi di kesatuannya. Sebagai
seorang Abdi Negara ia harus bekerja dengan maksimal, namun untung saja pekerjaannya itu tidak
berada diluar kota.

Dua orang pekerja tersenyum melihat kedatangan Defran, biasanya yang akan datang memeriksa
pekerjaan mereka adalah asisten Defran yang memang dipekerjakan Defran, untuk mengawasi
pekerjaannya di perusahaannya. Dengan begitu Defran bisa fokus dengan pekerjaannya sebagai Abdi
Negara. "Mas rumah ini setahuku sudah direnovasi sejak lama Mas, kamu mau bohong ya sama aku
kalau rumah ini baru saja direnovasi beberapa bulan yang lalu," ucap Lifia.

"Pembangunannya memang telah lama dilakukan kalau renovasi didalamnya baru enam bulan ini," Jelas
Defran.

"Kalau kita tinggal disini, Ibu dan Ayah nggak akan kesepian Mas," ucap Lifia. Dulu ia sangat khawatir
dengan Ayah dan Ibunya jika ketiga anaknya telah menikah akan ikut tinggal bersama suaminya. Namun
kekhawatirannya itu segera hilang karena Defran memberikan hadia pernikahan terindah untuknya yaitu
rumah ini. "Ini hadia pernikahan untuk aku ya Mas?" Tanya Lifia.

"Kok kamu tahu?" Tanya Defran.

"Tahu dong Mas," ucap Lifia membuat Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut. Semakin hari
istrinya ini semakin menggemaskan dan ia sangat suka melihat istrinya ini tersenyum. "Mas yakin resepsi

2/7

Merasa bersalah banget


pernikahan kita boleh diliput media?" Tanya Lifia, ia baru tahu tadi dari ibu mertuanya jika Defran
mengizinkan media untuk meliput pernikahannya.

"Boleh, kamu publik figur dan saya tidak ingin membatasi berita baik apalagi semua fans kamu juga
harus tahu, jika idolanya telah menikah dengan saya," ucap Defran. Lifia lagi-lagi tersenyum bahagia, ia
tidak menyangka jika ia benar-benar bisa mewujudkan impiannya yaitu menjadi seorang istri dari Defran
Satyas.

"Makasih Mas, sudah mau menjadikan aku istri kamu," ucap Lifia.

Defran memeluk Lifia dari belakang, "Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan saya Lifia," ucap Defran.

"Mas rumah yang itu juga lagi dibangun, itu rumah siapa ya Mas? Kok aku jadi curiga jangan-jangan itu
rumahnya Mas Serkan atau Mas Handaru?" Tebak Lifia membuat Defran menyunggingkan
senyumannya.
"Rumah siapa ya?" Tanya Defran berpura-pura tidak tahu dengan rumah yang ada dihadapan rumahnya.

"Komplek ini tiba-tiba berubah menjadi perumahan orang kayak Mas, masa rumahnya besar dan
dibangun dari gabungan beberapa perumahan," ucap Lifia. Rumah ini pun juga seperti itu, dibangun
dengan beberapa tanah dari beberapa rumah hingga rumah ini pun juga sangat luas.

"Nanti kamu juga akan tahu, rumah itu rumahnya siapa!" Ucap Defran.

Ponsel Defran berbunyi ternyata nomor Serkan yang menghubunginya, ia segera mengangkatnya dan
mendengarkan ucapan Serkan yang ternyata memintanya untuk segera pulang ke Kediaman mertuanya.
"Nanti kita kesini lagi kalau kamu belum puas melihat semua ruangan yang ada di rumah ini!" Ucap
Defran.

3/7

Merasa bersalah banget


"Tentu saja Mas aku belum puas, soalnya aku belum lihat semuanya dan khususnya bagian dapur, Mas,"
ucap Lifia. Para istri bisanya paling suka menghabiskan waktunya di dapur, jika ia memiliki hobi
memasak seperti dirinya.

"Oke nanti interior dapur kamu pilih sendiri mau yang bagaimana!" Ucap Defran membuat Lifia
tersenyum senang. "Ayo kita kembali ke rumah Ibu dan Ayah!" Ucap

Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah dan tidak butuh waktu lama saat ini
keduanya telah berada didepan teras rumah orang tua Lifia. Rumah ini bersebelahan dan tentu saja Lifia
akan meminta Defran untuk membangun pintu pagar samping, agar mereka bisa masuk kedalam rumah
orang tuanya dengan mudah.

4/7

Merasa bersalah banget


Keduanya masuk kedalam rumah dan terlihat semua keluarga telah berkumpul dan ingin melaksanakan
sholat berjamaah. Lifia mengajak Defran kedalam kamar untuk segera bersiap membersihkan tubuhnya,
lalu bergabung untuk sholat berjamaah.

Saat ini semua keluarga sedang sholat berjamaah dan setelah itu, para perempuan akan menyiapkan
makan malam bersama. Makan malam keluarga sedang berlangsung, perbincangan mengenai rencana
pernikahan Handaru dan Kiran sedang menjadi topik hangat keluarganya. Kiran terlihat sangat bahagia
dan sejak tadi ia mencuri dengan pembicaran orang tuanya. Kiran dan Handaru memang menyerahkan
rencana pernikahannya kepada para orang tua keduanya untuk menentukan segalanya.
Setelah makan malam mereka duduk diruang keluarga, para orang tua sedang duduk disofa bersama
sambil berbincang. Sedangkan Defran, Serkan, Marco, Altaf dan Ronal sedang duduk diluar teras
samping sambil berbincang bersama. Saat ini para ladys dirumah ini sejak tadi mereka membicarakan
Sandra yang menceritakan jika hubungannya dengan Marco berjalan dengan baik. Sandra menyadari jika
ia tidak bisa berpisah dari Marco.

"Mbak," panggil Salsa.

"Ya," ucap Kiran.

"Memangnya Mas Handaru kapan melamar Mbak secara resmi pakai cincin gitu Mbak? Kok kita nggak
dikasih tahu Mbak?" Tanya Salsa penasaran kapan Handaru melamar Kiran dengan sangat romantis.

"Nggak ada yang istimewa karena nggak ada perayaan atau hal formal, Mas Handaru hanya mengatakan
ingin segera menikah," ucap Kiran dan ia tidak ingin meminta Handaru menjadi sangat romantis dengan
mengadakan lamaran secara khusus padanya lalu memberikan cincin

5/7

Merasa bersalah banget


padanya.

"Nggak perlu acara seperti itu, Mbak saja nggak ada acara begitu," ucap Kana mencoba menengahi
pembicaraan ini apalagi ekspresi Salsa terlihat sangat bersalah saat ini karena membahas hal ini.

"Iya sih, acara seperti itu kan untuk yang mau romantis saja," ucap Sandra.

Salsa merasa tidak enak telah menanyakan hal ini dan ia merutuki kebodohannya karena telah membuat
Kiran kepikiran. Apalagi Kiran sepertinya memikirkan ucapannya, karena Defran adik iparnya itu
melakukan lamaran secara khusus kepada Lifia saat di Paris. Salsa memeluk lengan Lifia dan ia
membisikan sesuatu ditelinga Lifia. "Mbak...aku bodoh banget ya Mbak nanyain soal lamaran khusus
sama Mbak Kiran, aku pikir Mas Handaru melakukannya jadi..."

ucap Salsa membuat Lifia tersenyum.

"Nggak usah nggak enak gitu, nggak apa-apa Dek!" Ucap Lifia.

"Tetap saja dengan aku bertanya seperti Mbak, jadinya Mbak Kiran kepikiran," ucap Salsa merasa sangat
bersalah.

Kiran menatap Handaru dengan tatapan sendu, ia sebenarnya ingin juga dilamar secara romantis, tapi ia
tidak ingin mengatakan hal ini kepada Handaru karena Handaru telah banyak berubah demi dirinya.
Handaru selalu memaklumi keinginanya dan jika ia mengatakannya, Handaru pasti akan melakukannya.
Kiran segera menggubah ekspresi sendunya dengan kembali tersenyum. Baginya Handaru cukup
menjadi dirinya sendiri dengan menujukkan cintanya selamanya ini padanya dan ia sudah sangat
bersyukur, dicintai oleh seorang Handaru Laksamana Dewandaru.
6/7

Penuh dengan cinta.


Penuh dengan cinta
Acara resepsi pernikahan pagi ini sebenatar lagi akan segera dilaksanakan. Saat ini Lifia telah dimakeup
dengan sangat cantik, sejak semalam ia telah bermalam dihotel ini bersama Defran suaminya dan juga
para keluarganya.

Setelah selesai ritual pagi untuk acara resepsi pernikahan ini, kamar Lifia dikunjungi oleh para
keluarganya dan mereka semua juga terlihat sangat cantik dengan gaun indah yang mereka pakai, gaun
seragam yang telah dipersiapkan selama satu bulan dengan dasar dan warna yang sama, namun
memiliki model gaun yang berbeda-beda.

"Pokoknya nanti resepsi pernikahan Mbak Kiran sama Mas Handaru, bajunya warna hijau muda ya
Mbak!" Pinta Salsa menatap Kiran dengan tatapan memohon.

"Itu sih maunya kamu, Dek," ucap Kana. "Kenapa nggak pernikahan kamu saja sama Zilo nanti kalau mau
serba hijau muda?" ucap Kana sengaja ingin menggoda Salsa.

"Mbak Kana kenapa sih sudah kayak Mas Serkan dan Mas Defran saja, godain aku terus sama dia. Aku
itu nggak ada hubungan apa-apa sama dia, dia itu hanyalah rekan kerja sesama dokter," ucap Salsa
kesal.

"Tapi kan Mbak, itu Papi Nasir maunya Dokter Zilo jadi menantunya agar dia bisa tetap kerja sama di
Rumah Sakir kita Mbak, walau nanti dia juga kembali bekerja di Rumah sakit keluarganya," ucap Kila.

"Iya kamu benar Kila, kemampuan Zilo sebagai Dokter dan juga sebagai pengelola Rumah Sakit sangat
diperhitungkan, Papi merasa sangat rugi melepaskan calon menantu yang sangat sempurna itu," ucap
Kana.

1/6

Penuh dengan cinta


"Aku juga setuju Salsa sama Zilo, dia itu paket komplit banget sudah pinter, kaya, tampan dan populer.
Ya ampun dia itu cocok banget sama kamu Salsa!" Ucap Bita.

"Loh...kenapa sih mau jodohin dia sama aku, kenapa nggak sama Kila saja!" Ucap Salsa.

"Kila itu masih kecil," ucap Lifia, membuat Salsa menyebikkan bibirnya karena kesal.

"Masih kecil dari mana? Udah gede gitu..." ucap Salsa.

"Loh, sekarang ini kan memang giliran kamu yang nikah," ucap Kiran tersenyum penuh menggoda,
apalagi Salsa terlihat sangat kesal.
"Kenapa jadi ngomongin aku sih...stop kayaknya kita mesti keluar dari ruangan ini dan ini udah jam
sepuluh!" Ucap Salsa dan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, membuat mereka semua terkekeh
melihat tingkah Salsa.

Salsa keluar dari kamar Lifia sambil menyebikkan bibirnya dan ia melihat para lelaki di keluarganya, telah
terlihat tampan dengan stelan jas yang mereka pakai. Salsa membuka mulutnya ketika melihat sosok
yang tidak ia harapkan itu datang, apalagi Serkan tersenyum padanya seolah ingin menggodanya dengan
kehadiran Zilo, yang sengaja mereka undang untuk menjadi pendamping Salsa.

'Neyeblin banget kenapa sih dia harus datang gitu," kesal Salsa.

"Panggil pengantinya karena kita akan segera menuju aula resepsi pernikahan!" Ucap EO acara resepsi
pernikahan ini.

"Oke biar Slasa saja yang panggil pengantin perempuannya!" Ucap Salsa dan ia melangkahkan kakinya
masuk kedalam kamar Lifia dan ia segera membuka pintu kamar yang ada dihadapannya.

2/6

Penuh dengan cinta


"Mbak ayo keluar acara sudah mau dimulai!" Ucap Salsa.

"Oke," ucap Lifia tersenyum bahagia dan ia segera berdiri dibantu Kiran dan Kana. Rima mengangkat
ekor gaun milik Lifia, lalu menyusunya dengan rapi.

Mereka semua keluar dari kamar ini, mengikuti Lifia yang kemudian menuju tempat di mana suaminya
berdiri dengan gagahnya. Defran Satyas terlihat begitu gagah dan tampan dengan seragamnya dan Lifia
merasa, sangat bahagia melihat ketampanan suaminya ini. Apalagi Defran menatapnya dengan tatapan
sayang seolah ingin memuji betapa cantiknya istrinya ini, dengan menggunakan gaun pernikahannya ini.

"Cantik," ucap Defran singkat.

"Makasih Mas, istri Mas ini kan memang cantik," ucap Lifia tersenyum malu.

"Ya...kamu selalu saja cantik," ucap Defran dan Lifia memukul lengan Defran dengan pelan.

"Udah mesra-mesraannya! Ayo kita segera keluar!"

Ucap Kiran dan ia menggandeng lengan Handaru, lalu melangkahkan kakinya mengikuti Defran dan Lifia,
yang saat ini telah melangkahkan kakinya dengan pelan menuju aula resepsi pernikahan.

Saat ini mereka telah sampai di depan pintu aula, suara pembawa acara terdengar dan ia meminta
pengantin untuk segera masuk kedalam kamar aula ini, dengan suaranya yang terdengar lantang dan
ceria. Pengantin yang menjadi raja dan ratu sehari itu, melangkahkan kakinya masuk kedalam aula ini
menuju singgasananya diikuti rekan kerja Defran yang menjadi pengawal, diikuti juga oleh para
Bridesmaid dan groomsmen.
Salsa sangat kesal karena kedua kakak laki-lakinya telah memperingatkannya, agar bersikap sopan
terlebih

3/6

Penuh dengan cinta


lagi kepada Zilo yang juga menjadi pasangannya hari ini.

"Senyum dong Sa!" Pinta Kiran.

"Iya, nyebelin banget sih," ucap Salsa membuat sosok yang ada disamping Salsa mengerutkan dahinya,
melihat tingkah aneh Salsa yang terlihat sangat sulit untuk melangkahkan kakinya berjalan beriringan
dengannya.

"Jangan berisik!" Ucap Zilo membuka suaranya

membuat Salsa menatap Zilo dengan kesal. Sebenarnya ingin sekali ia memaki Zilo karena telah berani
menjadi groomsmen hingga membuatnya kesulitan.

"Jangan ngajak ribut ya!" Sinis Salsa dan ia mengacuhkan Zilo yang saat ini sedang menatapnya dengan
tatapan dingin.

Kiran dan Handaru tersenyum ketika mendengar pembicaraan Salsa dan Zilo, lalu keduanya fokus

4/6

Penuh dengan cinta


melangkahkan kakinya mengikuti Defran dan Lifia yang saat ini telah menaiki pelaminan, lalu duduk
santai disana. Para bridesmaid dan groomsmen telah duduk di meja yang

telah disiapkan khusus untuk keluarga besar mereka. Sebenarnya yang Murni inginka untuk menemani
Lifia bersanding di pelaminan adalah Parmoko Bagaspati, namun Parmoko menolaknya. la ingin putrinya
ditemani orang tua yang lengkap dan selama ini Murni dan Subekti, yang telah membesarkan putrinya.
Sudah sepantasnya Subekti dan Murni yang menjadi sosok orang tua yang bersanding dipelaminan
menggantikan dirinya dan mendiang istrinya.

Lifia melihat Papinya yang saat ini menatapnya dengan tatapan bahagia, namun mata tua itu terlihat
berkaca-kaca karena teharu. Lifia tersenyum bahagia dan ia ingin sekali mengucapkan terimakasih
kepada Papinya itu, karena tanpa ia katakan keinginannya, papinya itu seolah telah mengetahui semua
apa yang ia inginkan. Ya...Lifia memang ingin Nasir dan Murni yang menemaninya diatas pelaminan,
namun ia berat untuk mengatakannya kepada Parmoko karena ia tidak ingin menyakiti hati Parmoko.
Lifia melihat Rima yang begitu sayang dengan Papinya dan ia sangat bersyukur karena selama ini Rima
adalah sosok yang tulus sayang kepada Papinya, hingga Rima masih tetap menjadi putri seorang
Parmoko Bagaspati.
Parmoko mengacungkan jari jempolnya sambil tersenyum, membuatnya Lifia menunjukkan simbol hati
dengan kedua jarinya. Jujur saja setelah permasalahannya dengan Papinya selesai, ia merasa sangat
bahagia. Apalagi hubungannya bersama Papinya dan juga para Bagaspati berjalan dengan sangat baik.

Lifia mengedarkan pandangannya dan ia merasa sangat bahagia, karena para tamu yang hadir sangat
banyak dan pesta ini, juga sangatlah mewah. Banyak sekali

5/6

Penuh dengan cinta


yang diundang yaitu dari berbagai kalangan seperti rekan bisnis kedua ketiga keluarga, rekan kerja
Defran, sanak saudara, kerabat dekat, kalangan politik, pejabat pemerintahan hingga para artis dan
aktor.

"Mas..." panggil Lifia.

"Ada apa?" Tanya Defran sambil menatap wajah cantik Lifia.

"Aku mau mengucapkan terima kasih, Mas!" Ucap Lifia dengan suaranya yang serak, namun ia menahan
dirinya untuk tidak menangis haru dan saat ini ia menatap Defran dengan tatapan penuh
cinta."Terimakasih karena telah menjadi malaikat untukku Mas!" Ucap Lifia.

Comments

Vote

6/6

Resminya.
Resminya
Resepsi pernikahan Lifia dilakukan dengan sangat megah, apalagi semua kerabat dekat, rekan bisnis
ketiga keluarga dan juga semua rekan kerja kedua mempelai diundang. Acara ini pun dilaksanakan
dihotel mewah yang diliput oleh banyak media, mengingat Lifia adalah sosok aktris terkenal. Pernikahan
ini menjadi konsumsi publik dan banyak hal posistif yang diberitakan dimedia sosial, mengenai
pernikahan Lifia dan Defran, bahkan kisah cinta keduanya diceritakan secara khusus oleh seorang
penggemar yang mengamati isu kedekatan keduanya selama ini.

Saat ini semua keluarga terlihat sedang berbincang dan para tamu juga sangatlah ramai, tiba-tiba sosok
tampan yang juga terkenal sebagai pengacara sekaligus pengusaha sukses itu,

mengambil microphone dari tangan pembawa acara.


Handaru Laksmana Dewandaru terkenal sebagai seorang pengacara yang minim ekspresi, karena selalu
menujukkan wajah seriusnya ketika diwawancara awak media. Saat ini Handaru pun terlihat sangat
serius diatas panggung, sambil menatap satu perempuan yang sedang duduk ditempat yang disediakan
khusus untuk keluarga besar pengantin.

"Selamat siang semuanya, perkenalan saya Handaru Laksmana Dewandaru, saya adalah sahabatnya
Defran Satyas. Saya meminta izin kepada kedua mempelai untuk mendapatkan perhatian sedikit dihari
bahagiannya ini," ucap Handaru membuat Kiran mengerjap kedua matanya dan ia terkejut mendengar
suara Handaru, hingga ia menatap sosok Handaru yang tampan itu sedang berada

1/7

Resminya
diatas panggung.

"Loh Mbak, itu Mas Handaru," ucap Salsa membuka mulutnya dan ia takjub melihat Handaru yang
sedang berada didepan. "Mas Handaru kayaknya mau nyanyi," ucap Salsa.

"Nyanyi romantis khusus untuk Mbak Kiran," ucap Kila.

"Bukan nyanyi tapi melamar," ucap Sandra membuat mereka semua semakin hebo mendengar ucapan
Sandra.

"Itu dengarkan baik-baik, Mbak Kiran sayang!" Pinta Sandra dan ia menujuk kearah Handaru yang saat
ini sedang menatap kearah mereka. Kiran melangkahkan kakinya agar bisa melihat dengan jelas sosok
Handaru dan ia menghentikan langkah kakinya, sambil menatap lurus kedepan melihat Handaru yang
tersenyum padanya.

"Hmmm... Def diizinkan nggak?" Tanya Handaru membuat Defran menyunggingkan senyumannya.
Tentu saja ia izinkan apalagi Handaru telah mengatakan hal ini sebelumnya tentang ia yang ingin
melamar Kiran hari ini. Handaru juga telah memberikan hadia pernikahan padanya dengan jumlah yang
cukup fantastis, tentu saja Defran akan dengan senang hati mengizinkannya untuk melamar Kiran dihari
pernikahannya.

"Diizinkan!" Ucap Defran dan ia mengacungkan jari jempolnya.

Handaru menyunggingkan senyumannya membuat mereka semua yang hadir berteriak histeris
khususnya para perempuan muda yang ada di acara ini. "Sudah lama suka sama dia, tapi lebih sering
diajakin berantem dari pada dirayu agar mau diajak pacaran," ucap Handaru. "Dia yang galak dan dingin
punya sifat yang sama dengan saya, tapi ternyata ketika saya lebih mengenalnya lagi, dia sangat manja
khususnya dengan saya," ucap Handaru dengan ekspresinya yang serius seolah sedang menjelaskan
kasus

2/7
Resminya
yang sedang ia tangani.

"Dia nggak suka saya cuekin tapi dia yang sering nyuekin saya," ucap Handaru membuat mereka semua
tersenyum mendengar ucapan Handaru. "Tapi saya nggak bisa lupain dia, setiap hari selalu rindu. Kalau
kata Papi saya, nikahin saja biar bisa ketemu tiap hari kalau nggak saya nikahi segera nanti diambil
orang. Yang lebih gilanya lagi Papi saya yang sangat menginginkannya dia menjadi menantu, tapi Papi
saya dulu nggak tahu kalau saya itu juga ingin menjadikan dia istri sejak dulu," ucap Handaru. "Hai
perempuan cantik yang merebut hati saya, sudah ya...kita jangan berdebat lagi. Saya pasti akan kalah
sama kamu karena saya nggak sanggup kamu marahin, jadi terima saya ya!" Ucap Handaru membuat
Kiran tersenyum.

"Siapa?" Teriak salah satu tamu. Sebagian dari mereka belum mengetahui siapa wanita yang diajak
Handaru menikah. Apalagi ternyata ada beberapa perempuan yang ada disini yang memang masih terus
mencoba mendekati Handaru selama ini, namun selalu saja diberikan respons dingin oleh Handaru.

"Kiran Ayu, maukan kamu menikah dengan saya?"

Tanya Handaru.

"Nyebelin kamu Mas, kamu kan sudah bilang itu sama aku berulang kali," ucap Kiran pelan membuat
Salsa terkekeh melihat ekspresi bahagia Kiran yang saat ini, sedang dilamar oleh Handaru secara resmi
depan banyak orang seperti ini.

Handaru memberikan microphone itu kepada pembawa acar resespsi ini dan ia melangkahkan kakinya
turun dari panggung, lalu mendekati Kiran. Keduanya saat ini saling berhadapan dan beberapa orang
terlihat cemas, apalagi mereka yang mengenal kiran sebelumnya, yang belum mengetahui kedekatan
Kiran dengan Handaru

3/7

Resminya
biasanya bisa menebak jika Handaru bisa saja ditolak. Biasanya Kiran memang akan menolak lelaki yang
tidak ia sukai secara langsung, meskipun sedang berada keramaian seperti ini, namun mereka dikejutkan
dengan Kiran yang tiba-tiba memeluk Handaru dengan erat, hingga tepukan tangan terdengar didalam
aula hotel ini.

"Kamu ini ada-ada aja Mas," bisik Kiran dan ia meneteskan air mata haru, karena ia tidak menyangka

Handaru yang kemukinan besar tidak akan melakukan hal sperti ini, namun akhirnya Handaru
melakukannya demi dirinya.

Handaru melepaskan pelukan Kiran, lalu ia mengeluarkan kotak bludur dari kantong jasnya dan
membukanya. "Mau kah kamu jadi nyonya Handaru Laksamana Dewandaru?" Tanya Handaru.
"Mau...mau... mau..." teriakan para tamu menggema

4/7

Resminya
membuat Kiran menganggukan kepalanya.

"Mau banget," ucap Kiran. Mereka semua bertepuk tangan ikut bahagia melihat kebahagiaan Handaru
dan Kiran. Handaru mengeluarkan cincin itu dan ia memakaikan cincin itu dijari manis Kiran.

Kiran kembali memeluk Handaru dengan erat dan tiba-tiba sosok pengantin saat ini berada diatas
panggung, menyanyikan lagu romatis. Semua mata tertuju pada sosok Defran yang menyanyikan sebuah
lagu bersama Lifia dengan gaya kakunya, sedangkan Lifia memeluk lengan Defran dan ia bernyanyi
sambil tersenyum bahagia.

"Astaga benar-benar hebo banget acaranya, aduh pengen juga dilamar didepan banyak orang kayak
gini," ucap Salsa. "Kamu juga maukan Kila dilamar kayak gini dan menikah dengan pangeran impian?"
Tanya Salsa dan ia menarik tangan Kila, namun ia terkejut karena lengan Kila terasa besar membuatnya
menolehkan kepalanya ke samping dan ia terkejut karena ia salah memeluk orang. Ternyata yang ia
peluk adalah Arzillo Alexsander, yang saat ini menatapnya dengan dingin. "Kok kamu sih..." kesal Salsa
dan ia segera memundurkan langkahnya mendekati Kila, lalu menarik tangan Kila.

"Kil, kamu sengaja ya?" Tanya Salsa kesal.

"Sengaja apaan, Mbak?" Tanya Kila bingung.

"Kamu kok nggak ada disamping aku?" Tanya

Salsa.

"Loh tadi saat Mas Handaru lamar Mbak Kiran, Mbak kan pergi sendiri jalan mendekati mereka," jelas
Kila membuat Salsa menelan ludahnya.

"Ooo...berarti aku yang bego," ucap Salsa menyadari kesalahannya.

Sementara itu Kiran saat ini berada disamping Handaru dan menerima ucapan selamat dari teman-
temannya karena akan segera menikah.

5/7

Resminya
"Wah...keduluan, hebat banget ya ketahuan pacaran saat kita reuni eh...ternyata sekarang sudah
dilamar saja sama Mas Handaru," ucap Meta.

Sebenarnya Meta masih kesal dengan Kiran yang meninggalkannya begitu saja, saat acara reuni hingga
ia harus berada disamping Ronal dengan canggung. Saat ini Ronal memang belum tahu jika ia bekerja
diperusahaannya dan ia sangat bersyukur Ronal belum tahu sampai sekarang. Meta belum menemukan
pekerjaan yang gajinya lebih besar dari pada diperusahaan tempat ia bekerja saat ini jika tidak, ia pasti
segera pindah kerja untuk menghindari konflik.

"Hehehe... Mas aku tu ada salah gitu sama Meta, nanti Metanya kita traktir ya, Mas!" Ucap Kiran kepada
Handaru membuat Meta tersenyum senang.

"Iya, itu sudah pasti...," ucap Handaru.

"Nggak usah ditraktir Mas Handaru tapi hehehe...ada lowongan kerja nggak diperusahaan Mas
Handaru?" Tanya Meta.

"Loh memangnya kenapa mau resign? Tanya Handaru.

"Iya Mas, gajinya kurang gede Mas dan nggak nyaman kerja disana!" Ucap Meta.

"Memangnya kamu kerja di mana?" Tanya Ronal yang ternyata ada dibelakang Meta sejak tadi. Meta
menelan ludahnya dan sekarang ia benar-benar kena getahnya, karena bosnya berada tepat
dibelakangnya.

"Ada perusahaan yang lama dulu, bukan perusahaan yang sekarang yang membuat aku itu nggak betah.
Kalau perusahaan sekarang tempat aku kerja, aku tuh betah banget, bosnya baik soalnya," ucap Meta
tersenyum malu, membuat Kiran menahan tawanya melihat tingkah konyol sahabatnya ini.

6/7

Kunjungan tapi menyakitkan.


Kunjungan tapi menyakitkan
Resepsi pernikahan telah usai saat ini semua keluarga seharusnya diajak pergi ke acara bulan madu
Defran dan Lifia, namun ada beberapa pasangan yang memang tidak bisa ikut keacara tersebut seperti,
Bita dan Fajrin yang tidak bisa ikut karena pekerjaan Fajrin yang tidak bisa ditinggalkan. Serkan dan Kana
yang tidak ingin meninggalkan anak-anaknya karena si kembar saat ini sedang kurang sehat. Akhirnya
Defran menundanya acara liburan bersama mereka.

Saat ini Defran berada di penjara bersama Rima yang datang mengunjungi ibunya. Defran juga mengajak
Lifia, namun Lifia memilih untuk tidak ikut masuk karena ia belum sanggup untuk bertemu muka dengan
Anya. Anya begitu melukai hatinya dan setiap mengingat Anya yang pernah menyakitinya dimasalalu,
membuat Lifia merasa sangat-sangat sedih.

Defran sengaja menemani Rima karena memang Rima yang meminta untuk ditemani. Beberapa hari
yang lalu saat Rima bertemu Maminya ini, Maminya memakinya dan bahkan memintanya untuk
menelpon laki-laki tua yang ingin ia jodohkan kepada Rima. Rima sangat kesal dan hari ini ia bertemu
dengan Maminya hanya ingin menyampaikan, jika ia telah berusaha mencari pengacara untuk
meringankan hukuman Maminya ini. "Kenapa kamu kemari bersama dia Rima?" Tanya Anya menatap
Defran dengan tatapan benci. "Mana Papimu?" Tanya Anya lagi. la ingin bertemu Parmoko dan berusaha
membujuk Parmoko agar membantunya bebas dari penjara.

"Papi merasa, tidak ada kaitan lagi antara Mami dan Papi," ucap Rima.

1/7

Kunjungan tapi menyakitk...


"Papimu nggak mungkin berbicara seperti itu Rima," teriak Anya seakan tidak terima jika mantan
suaminya mengacuhkannya. "Kamu jangan mengarang cerita..." ucap Anya murka.

"Itulah yang terjadi, Mi," ucap Rima sendu.

"Kamu sudah temui Ayah kandungmu?" Tanya Anya dan ia berharap mantan suaminya itu mau
menolongnya.

"Sudah," ucap Rima.

"Apa katanya?" Tanya Anya menatap Rima dengan tatapan penuh harap, ia ingin mantan suaminya itu
membantunya mengingat ia juga telah memberikan seorang putri cantik ini dan mempertemukan
mereka setelah beberapa tahun tidak bertemu.

"Kalau Mami berharap dia maksudku mantan suami Mami yaitu ayah kandungku itu membantu Mami,
itu tidak akan terjadi Mi. Bapak sakit Mi bahkan mereka menginginkan bantuan dari aku, Mami pikir aku
itu punya uang banyak untuk membantu mereka? aku nggak ada uang tabungan lagi Mi," lirih Anya.
Uang tabungannya ia gunakan untuk membayar biyaya pengacara Anya dan juga kebutuhan Anya yang
memintanya untuk dibelikan ini itu setiap kali ia berkunjung.

"Kamu jual tas-tas Mami dan perhiasan Mami, dasar bodoh kamu. Ehhh...kamu punya otak kan Rima?
Percuma saja selama ini Mami sekolahkan kamu tinggi-tinggi kalau kamu g****k begini," Ucap Anya
membuat Defran menghela napasnya.

"Mami pikir mudah bagiku melakukan itu semua? bahkan barang-barang yang kita miliki itu bukan milik
kita Mi, dan tidak ada hak Mami apalagi aku untuk menjualnya!" Ucap Rima prustasi melihat tingkah
laku sang Mami, yang tidak akan pernah berubah.

Rima mengeluarkan berkas yang ia bawa dan ia

2/7

Kunjungan tapi menyakitk...


memberikan bekas itu kepada Anya. "Ini Mami tanda tangani dan hanya pengacara ini yang bisa Rima
berikan Mi! kalau Mami masih mau dibela agar hukuman Mami dikurangi, silahkan tanda tangani tapi
kalau tidak mau, ya tidak apa-apa!" Ucap Rima.
"Dasar anak tidak tahu diri, kalau Mami tidak membawa kamu pergi tinggal sama Mami, kamu itu akan
jadi gembel Rima..." teriak Anya membuat Rima segera berdiri dan ia menahan dirinya untuk tidak
menangis saat ini.

Defran menghela napasnya, ia tidak habis pikir kenapa Anya memperlakukan Rima seperti itu, padahal
Rima adalah putri kandungnya. Rima menatap Defran dengan sendu dan ia menganggukkan kepalanya
mengisyaratkan jika ia pamit keluar dari ruangan ini. Rima mempercepat langkah kakinya keluar dari
rumah tahanan ini, menuju mobil yang saat ini ada Lifia didalamnya. la mengetuk kaca mobil membuat
Lifia menurunkan kaca mobilnya.

"Lifia aku pulang dulu ya, ada yang harus aku kerjakan!" Ucap Rima.

"Loh kita nggak bareng aja Rim, pasti Mas Defran hanya sebentar didalam!" Ucap Lifia.

"Nggak usah, itu mobilnya udah didepan, Lifia," ucap Rima tersenyum dan ia melangkah kakinya
menjauh dari Lifia. Rima sengaja menutupi perasaannya yang saat ini ingin menangis, namun ia
menahan dirinya untuk tidak meneteskan air matanya karena ia sungguh sangat sedih dan kecewa saat
ini.

Apapun yang Rima lakukan untuk kedua orang tua kandungnya, semuanya itu hanya akan percuma saja
karena keduanya tidak memiliki rasa syukur. Rima segera masuk kedalam mobil online dan ia memilih
untuk berkeliling hingga ia selesai menenangkan dirinya. Baginya tidak ada orang yang bisa membantu
saat ini kecuali

3/7

Kunjungan tapi menyakitk...


dirinya sendiri, lelah...ia sungguh sangat lelah. la harus membantu kedua orang tuanya dan juga ia harus
menerima hukuman karena telah menjadi anak Maminya yang sangat jahat. Ya...ia akan segera
menikahi laki-laki yang tidak ia kenal untuk membalas budi Papi tirinya yang telah membesarkannya.

Sementara itu saat ini Defran menatap Anya dengan tatapan dingin membuat Anya menghela napasnya
karena

setiap kali bertemu dengan suami Lifia ini, selalu saja emosinya terpancing. "Sudah setua ini anda masih
saja tidak ingin bertobat," ucap Defran sinis.

"Jangan sok menasihati saya dan kenapa lagi kamu menemui saya?" Tanya Anya sinis.

"Saya sangat suka menertawakan orang bodoh yang memperlakukan anak-anaknya tidak manusiawi
seperti anda. Kalau saya jadi Rima, saya tidak akan pernah

4/7
Kunjungan tapi menyakitk...
membantu ibu jahat seperti kamu yang sepertinya tidak akan pernah bertobat," ucap Defran.

Jika Anya adalah seorang perempuan, mungkin ia telah menghajar Anya sama seperti para penguntit
yang diperintahkan Anya selama ini untuk mengganggu Lifia bahkan menculik Lifia. Anya segera bediri
dan ia memilih untuk segera masuk kedalam tahanan dari pada berbicara dengan Defran Satyas anak
kurang ajar yang telah menikahi putri tirinya. Defran merasa sangat puas bisa melihat wajah kesal
perempuan tua itu, apalagi wajah angkuh dan sombongnya itu masih tetap terlihat walaupun ia berada
didalam penjara.

Defran melangkahkan kakinya keluar dari rumah tahanan ini dan ia menuju mobilnya yang berada
diparkiran. la masuk kedalam mobil dan melihat istri cantiknya itu sedang memejamkan matanya.
Defran menghidupkan mesin mobilnya dan sudah ia duga istri cantiknya ini tidak akan terbangun. Defran
melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya. Tadinya ia ingin mengajak
istrinya ini berbelanja beberapa barang perlengkapan rumah barunya, namun istrinya ternyata sangat
kelelahan.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen, Defran segera menggendong istrinya itu lalu
membawanya menuju unit Apartemennya. la tersenyum karena kelelahan Lifia akhirnya tertidur pulas,
jika ia sedang tertidur akan sulit untuk membangunkannya, kecuali jam tidurnya itu telah berakhir.
Defran biasanya akan membangunkannya dengan beberapa cara, jika dulu ia tinggal mengguyur tubuh
Lifia dengan air agar kedinginan hingga membuka matanya, tapi saat ini ia memiliki cara lainnya. Defran
bisa dengan mudah menyetuh bagian tubuhnya istrinya yang sensitif, hingga akhirnya mata itu terbuka.

Jika hanya berupa pelukan dan ciuuumannya dibibir

5/7

Kunjungan tapi menyakitk...


saja, istri cantiknya itu tidak akan terbangun dari tidur lelapnya. Defran masuk kedalam unit
apartemennya dan ia membaringkan tubuh istrinya itu diatas ranjang. la mengelus kepala Lifia dengan
lembut dan menahan tawanya karena merasa lucu dengan tingkah Lifia yang tiba-tiba tertidur setelah
mengirimkan pesan kepadanya jika Rima telah pulang lebih dulu. Lifia memang tidak ingin bertemu
dengan Anya karena ia ingin bertemu Anya, jika telah sadar dengan perbuatannya selama ini namun
ternyata sampai saat ini Anya tidak pernah sadar akan kesalahannya.

Defran mengambil berkas yang tadi pagi diberikan Lifia padanya, sesuai kesepakatan ia bersama Lifia jika
proyek film apun yang ingin diperankan Lifia, itu harus seizin dirinya. Defran membuka berkasnya dan ia
membaca berkas itu satu persatu, ia tidak ingin istrinya memiliki adegan intim karena akan memancing
rasa cemburunya yang tidak bisa ia kontrol. Dulu pun Defran tidak pernah ingin menonton film yang
diperankan Lifia, jika ada adegan ciuumman yang membuatnya muak dan rasanya ia ingin memukul
wajah lawan main Lifia atau memukul sutradara, yang telah memerintahkan Lifia memiliki adegan tidak
senonoh didalam film
Defran menyunggingkan senyumannya karena ada tiga film yang ia izinkan untuk istrinya mengambil
peran di film itu. Jika hanya ciuman dipipi Defran masih bisa menahannya atau jika dimungkinkan ia
ingin ada peran pengganti, walaupun nantinya pasti sutradara akan menolaknya. la hanya perlu
memberikan suntikan dana kepada tim produksi jika itu diperlukan, ya sekarang hasil kerjanya didunia
bisnis bisa ia pergunakan untuk istrinya dan juga anaknya kelak. Defran memisahkan berkas yang tidak
perlu dipertimbangkan oleh istrinya dan ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Ronal karena tadi ia
pergi bersama Rima.

6/7

Kunjungan tapi menyakitk...


Defran tidak mengerti sikap Ronal kepada Rima yang memang sangat keras. Ronal mengatakan jika ia
menyayangi Rima sama seperti ia menyayangi Lifia, walaupun Rima tidak memiliki hubungan darah
dengannya. Tapi melihat interaksi antara Ronal dan Rima, Rima terlihat takut dengan Ronal hingga Rima
membiarkan Ronal ikut campur masalah pribadinya. Ya Ronal akan menikahkan Rima dengan laki-laki
pilihan Papinya yang merupakan pewaris grup yang juga sangat terkenal.

Keputusan itu diambil, agar Rima bisa hidup lebih baik dan agar Rima tidak perlu lagi menuruti keinginan
Anya yang ingin menjodohkan Rima dengan lelaki tua untuk bisa ia manfaatkan.

puputhamzah

ceitanya Rima judulnya: perfect man and stupid womenPerfect Man and Stupid Women

Comments

Vote

7/7

Tanggung jawab ya Mas.


Tanggung jawab ya Mas
Dua bulan setelah resepsi pernikahannya, Lifia saat ini sedang berbenah rumah baru yang telah
disiapkan suaminya untuk keluarga kecilnya. Ya Rumah idaman itu telah siap dihuni dan saat ini Lifia
sedang dibantu para maid menyusun barang-baranya yang telah dipindahkan sejak seminggu yang lalu.
Rumah ini akan menjadi tempat ternyamanya bersama suaminya dan ia hampir tidak menyangka, jika ia
akan berada dititik ini bersama Defran.

Setelah Lifia tahu mengenai rumah ini, Lifia memberitahukan Defran jumlah tabungannya dan ia
bermaksud untuk membantu Defran dalam pembiayaan renovasi rumah mewah ini, namun Defran
menolaknya. Defran mengatakan ia memiliki uang yang jauh lebih banyak dari pada Lifia dan bukanya
Lifia yang memberikan uang pada Defran, tapi Defran yang memberikan tabungannya kepada Lifia.
Suaminya ini telah mempercayakan tabungannya untuk ia gunakan dan itu lagi-lagi membuatnya takjub,
laki-laki tampan ini ternyata memiliki bisnis yang sangat banyak hingga pundi-pundi penghasilnya pun
juga sangat banyak.

"Wah...rumah Mbak Lifia gede banget," ucap Kila.

Defran Satyas sepupunya ini sangat luar biasa menabung sejak dulu. Bahkan Kila pernah hanya dengan
merengek kepada Defran, Defran segera memberikan apa yang ia mau saat itu. Defran satyas adalah
kakak yang sangat penyayang dibalik wajah dinginnya yang menyebalkan itu dan sekarang, setelah
menikah Defran meratukan istri cantiknya ini.

"Alhamdulillah, berkat kerja keras Mas kalian," ucap

1/6

Tanggung jawab ya Mas


Lifia tersenyum bahagia.

Saat ini mereka sedang berbincang di ruang keluarga dan beberapa maid sibuk membereskan rumah
besar ini dan menyusun perabotan yang baru saja datang. "Malam ini sudah menginap di Rumah ini ya,
Mbak?" Tanya Salsa sambil memakan kripik buatan Murni yang memang luar biasa enaknya.

"Iya, semalam juga aku dan Mas Defran sudah menginap disini," jelas Lifia. "Kalian kapan nginap disini?"
Tanya Lifia. Akan sangat menyenangkan jika kedua adik suaminya ini menginap di rumah ini, apalagi
mereka itu adalah sosok yang ramai dan suka bercerita banyak hal padanya.

"Nanti kalau Mas Def sedang dinas luar, kita berdua bakal menginap disini kok," ucap Salsa.

"Iya Mbak, kesempatan makan gratis pasti nggak akan kita lewati," ucap Kila.

"Sebenarnya beberapa hari ini kayaknya capek banget gitu, apa karena efek pindahan ya?" Ucap Lifia.
Kila dan Salsa saling berpandangan.

"Mbak nggak menunda kehamilan kan, Mbak?" Tanya Salsa.

"Nggak," ucap Lifia.

Ponsel Lifia berbunyi membuat ia segera mengangkat teleponnya. "Assalamualikum, Mas," ucap Lifia.

"Waalikumsalam," ucap Defran. "Udah minum vitamin?" Tanya Defran.

"Belum Mas, untung Mas ingatin...jam berapa Mas pulang?" Tanya Lifia.

"Ini sudah dijalan pulang," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

"Hati-hati ya Mas, aku tunggu di Rumah!" Ucap Lifia membuat Kila dan Salsa saling berpandangan dan
2/6

Tanggung jawab ya Mas


keduanya menyunggingkan senyumannya.

"Assalamualikum," ucap Lifia.

"Waalaikumsalam," ucap Defran, Lifia mematikan ponselnya dan ia tersenyum bahagia karena semakin
hari, ia semakin cinta pada suaminya.

"Aduh romantis banget sih Mbak," ucap Kila. "Kila jadi iri deh..." ucap Kila.

"Kita cari pacar yuk Kil, biar nggak jomblo begini,"

ucap Salsa.

"Kalau pacaran sembarangan kita bisa dimarahin Mbak, ingat nggak waktu itu ada cowok yang deketin
aku. Mas Fajrin dan Mas Defran langsung bilang nggak setuju.

Mereka bilang sebelum hubungan aku sama dia suda lebih jauh dan serius, lebih baik putus saja," ucap
Kila.

"Kayaknya dia nggak cocok buat aku, terus siapa dong yang cocok? Nyebelin banget kan..." ucap Kila
tidak mengerti

3/6

Tanggung jawab ya Mas


jalan pikiran Defran dan Fajrin. "Kalau Mas Serkan dia nggak mau tuh ikut campur," ucap Kila.

"Mas Serkan itu lebih parah, dia hanya berpura-pura nggak ikut campur," ucap Salsa mengingat tingkah
kakak-kakaknya itu. "Mereka memang nyebelin ikut campur urusan pribadi kita giliran urusan pribadi
mereka, kita berdua nggak boleh ikut campur," ucap Salsa. Seorang Maid mendekati mereka dan
memberikan vitamin untuk Lifia. "Wait...tunggu Mbak!" Ucap Salsa dan ia melihat vitamin yang diminum
Lifia lalu segera mengambilnya dari tangan Lifia.

"Mbak, Mbak hamil ya?" Tanya Salsa penasaran apa Lifia sengaja ingin menyembunyikan kehamilannya
kepada keluarga besar mereka.

"Enggak tahu, kayaknya nggak deh," ucap Lifia ragu.

"Tapi itu kan vitamin yang biasanya diminum ketika hamil," ucap Salsa.

"Mas Defran yang berikan vitamin ini," ucap Lifia.


"Bentar, Mbak datang bulannya bulan ini sudah Mbak?" Tanya Salsa dan ia menatap Lifia yang saat ini
sedang serius memikirkan kapan terakhir ia datang bulan.

"Kayaknya udah lama...terakhir itu seminggu sebelum resepsi," ucap Lifia.

"Mbak merasa ada yang aneh nggak sama tubuh Mbak?" Tanya Salsa, ia bisa menduga jika Lifia
kemungkinan besar telah hamil dan Defran sengaja belum mengatakannya kepada istrinya ini.

"Hmmm...jadi sering mengantuk dan merasa capek, kemarin itu dadda aku kayaknya penuh gitu," ucap
Lifia.

"Udah bilang sama Mas Def?" Tanya Salsa.

4/6

Tanggung jawab ya Mas


"Udah, makanya dikasih vitamin," ucap Lifia.

"Astaga Mbak, Mbak itu hamil," ucap Salsa membuat Lifia mengerjapkan kedua matanya.

"Beneran? Nanti aku berharap hamil nggak tahunya belum hamil," ucap Lifia sendu.

"Tanya aja deh sama Mas Def, itu orangnya!" Ucap Salsa menujuk sosok Defran melangkahkan kakinya
mendekati mereka.

"Mas Def....astaga Mas tanggung jawab!" Ucap Salsa membuat Defran mengerutkan dahinya mendengar
ucapan adik bungsunya itu.

"Tanggung jawab apa Salsa?" Tanya Defran.

"Mas yang menghamili Mbak Lifia kan? Astaga Mas kenapa diam saja Mas," teriak Salsa kesal.

"Iya siapa lagi yang menghamili istri saya, pertanyaan kamu itu aneh," ucap Defran.

Kila tersenyum karena Salsa yang panik memang sering kali mengeluarkan pernyataan lucu seperti ini.

"Maksud Mbak Salsa itu Mas, Mbak Lifia hamil kan Mas?" Tanya Kila.

"Iya," ucap Defran santai membuat Lifia membuka mulutnya dan ia menatap suaminya itu dengan kesal.

"Mas kenapa nggak bilang sih Mas?" Tanya Lifia kesal membuat Defran melangkahkan kakinya
mendekati Lifia lalu memeluk Lifia. la mengelus kepala Lifia dengan lembut sambil tersenyum. "Harusnya
bilang kalau aku hamil, aku kan bisa hati-hati kalau jalan," ucap Lifia. Defran tersenyum ia sangat
mengenal istrinya ini jika Lifia telah mengetahui jika ia hamil, Lifia akan bersikap overprotektif kepada
dirinya sendiri. la akan jalan dengan hati-hati bahkan mengunyah makanannya dengan hati-hati.

"Kamu, Mas ajak ke Rumah sakit kamu nggak mau, kamu maunya tidur makan, tidur makan selama
5/6

Tanggung jawab ya Mas


menganggur," ucap Defran. Lifia hanya mengambil satu proyek film dan saat ini mereka sedang syuting
film.

"Aku tu malas banget ke Rumah sakit nungguin kamu memeriksa pasien Mas, aku pengennya bobok aja
gitu di Rumah," ucap Lifia.

"Jadi intinya Mbak Lifia hamil apa nggak Mas?" Tanya Salsa.

"Hamil, tapi belum diperiksa saja. Rencananya besok kita periksa nanti setelah mengetahui hasilnya baru
kita umumkan sama keluarga kita," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.

"Pantesan aku itu pusing banget seminggu yang lalu dan setelah Mas kasih vitamin aku nggak pusing
lagi," ucap Lifia.

"Aduh udah nggak sabar lihat anaknya Mbak Lifia sama Mas Defran, pasti cakep banget deh..." ucap
Salsa.

"Kalau itu sih...sudah pasti," ucap Kila tersenyum bahagia.

Comments

Vote

13

6/6

Dua pengganggu datang.


Dua pengganggu datang
Kabar kehamilan Lifia telah menyebar, seperti biasanya jika Kila dan Salsa yang telah mengetahui berita
ini, maka keduanya akan menyebarkan berita ini kepada semua keluarga mereka. Seperti saat ini ketika
bangun pagi ia dihebokan dengan kedatangan Liana dan tentu saja Murni yang telah membawakannya
makanan untuk mereka. Lifia yang masih tidur lelap setelah subuh dan akhirnya ia dibangunkan oleh
Murni dan Liana untuk sarapan bersama.

"Lifi bangun dong!" Pinta Liana menatap putri cantik yang sedang tertidur itu dengan tatapan sayang. la
sangat menyayangi menantunya ini, baginya putra yang dingin itu sangat beruntung memiliki istri sebaik
dan secantik Lifia.
"Nggak akan bangun Jeng kalau nggak dikasih air gitu, tapi kan ini tempat tidurnya saja masih baru
sayang kalau udah kita guyur sama air," ucap Murni. Biasanya ia akan menyerap wajah putrinya ini
dengan air lalu menyeretnya agar mengikutinya menuju kamar mandi.

"Def..." panggil Liana menatap putranya yang saat ini duduk disofa sambil memainkan ponselnya dan ia
terlihat bersikap acuh dengan apa yang dilakukan Liana dan Murni.

Tentu saja Defran sangat kesal saat ini karena keduanya telah mengganggu acara paginya bersama Lifia.
Apalagi ketika Maminya ini menghubunginya di jam enam pagi, Defran bahkan tidak bisa memeluk
istrinya ini hingga pukul delapan pagi seperti biasanya karena kedua ibunya ini akan datang tepat pukul
tujuh pagi hari ini, untuk bertemu Lifia. "Def..." panggil Liana lagi.

1/6

Dua pengganggu datang


Defran menghela napasnya dan ia menatap Maminya ini dengan dingin. "Ada apa Mi?" Tanya Defran.

"Gimana bangunin istri kamu ini Def, kalau tidur susah banget dibangunin! Kamu mau Mami siram istri
kamu sama air?" Tanya Liana membuat Defran menghela napasnya.

"Mami dan Ibu datangnya kepagian, harusnya tadi datangnya siang saja!" Ucap Defran kesal.

"Loh...Mami pengen lihat menantu Mami ini sarapan Def," ucap Liana. "Lagian Maki kan pengen Lifia
makan makanan buatan kita yang enak gitu Def, buatan tangan ibu itu bisanya lebih baik dan bergizi
Def," ucap Liana.

"Iya lagian kamu ini kenapa nggak kasih tahu Ibu Def kalau Lifia lagi hamil begini, mana kalian baru
pindah kan pasti capek banget Def ngurusin ini itu, Ibu sudah sama kalian berdua biar ibu yang bantu
tapi kata kamu udah ada yang bantu," ucap Murni kesal dengan menantunya ini yang menolaknya
keinginannya untuk membantu.

"Lifia nggak kerja apa-apa Bu, hanya ngelihatin mereka saja," jelas Defran.

"Ayo Def bangunin Lifia!" Ucap Liana.

"Oke, Mami dan Ibu di luar dulu!" Ucap Defran karena ia membangun Lifia dengan cara yang tak biasa
dan tidak patut dilihat kedua orang tuanya ini.

"Iya," ucap Liana, "Ayo Jeng kita tunggu diluar!" Ucap Liana mengajak Murni, agar segera keluar dari
kamar ini.

Keduanya melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini membuat Defran menyunggingkan senyumannya
karena takjub dengan tingkah kedua ibu cantik itu yang ternyata sangat menyayangi istrinya.
Defran menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup dan kedua ibu kesayangannya itu telah berada
diluar kamarnya. la mengunci pintu kamarnya karena cara yang akan ia lakukan itu tidak biasa. Defran
membaringkan

2/6

Dua pengganggu datang


tubuhnya diatas ranjang dan seperti biasanya ia akan menyentuh bagian tubuh istrinya yang sangat-
sangat sensitif, hingga perlahan istrinya itu merasa gelisah karena ulahnya dan akhirnya membuka
matanya. "Hmmm...Mas ngapain sih...? udah, Mas!" rengek Lifia.

"Bangun!" Ucap Defran dan ia menciuumm semua permukaan wajah istrinya ini. Hingga akhirnya ia
mencium bibir mungil yang saat ini terlihat sangat menggodanya.

"Mas ihhh.., aku masih ngantuk lagian ngapain sih bangunin aku pakai cara ini kan jadi kepengen," ucap

Lifia membuat Defran menyunggingkan senyumannya dan ia menyentil dahi Lifia dengan pelan.

"Ada Ibu dan Mami diluar sudah bawakan kamu sarapan," ucap Defran membuat Lifia terkejut dan
tatapan wajahnya yang terlihat masih mengantuk itu akhirnya terbuka sepenuhnya dengan senyuman
manis dibibirnya.

"Beneran Mas ada Ibu dan Mami?" Tanya Lifia.

"Iya, mereka sejak tadi mencoba membangunkan kamu tapi kamu nggak bangun-bangun," ucap Defran
membuat Lifia tersenyum malu.

"Hmmm...Mandi Mas ayo!" Ucap Lifia mengulurkan tangannya membuat Defran segera menggendong
Lifia, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. "Mas keluar saja, aku mandi sendiri biar
cepat kalau di mandiin sama kamu, bukan mandi lagi nanti tapi kita melakukan perbuatan yang
menyenangkan," ucap Lifia membuat Defran mengelus kepala istrinya ini dengan lembut.

"Oke," ucap Defran dan ia segera keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur. la
melihat kedua ibunya itu sedang sibuk menata makanan diata meja makan dan ia segera mendekati
mereka lalu duduk

3/6

Dua pengganggu datang


disana.

"Loh Lifianya mana, Def?" Tanya Liana mengedarkan pendatangan mencari Lifia.

"Lagi mandi," ucap Defran singkat.

"Loh nggak dimandiin Def?" Goda Liana.


"Kalau mandiin dia nanti lama Mi," ucap defran dengan santai, membuat Liana terkekeh sedangkan
Murni memukul bahu Liana dengan pelan sambil tersenyum malu.

"Hehehe...biasanya gitu ya Def kalau nggak ada Mami dan Ibu kamu," ucap Liana terkekeh.

"Kita jadi ingat saat kita masih muda ya, jeng," ucap Murni.

"Iya hahaha...suka banget kalau malam dan pagi hari, semua terasa menyenangkan," ucap Liana
membuat Defran menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya. Ibu mertuanya yang biasanya
berucap lembut dan sopan itu, akan berubah seratus delapan puluh derajat jika telah bergabung
bersama Maminya ini.

Liana memang memiliki pengaruh yang sangat besar pada sosok Murni yang biasanya terlihat sangat
keibuan dan lembut. Tapi jika ia telah bersama Liana, sosoknya yang lemah lembut itu seketika berubah
menjadi sosok pecicilan yang sering tertawa. Beberapa menit kemudian Lifia terlihat sangat ceria dan ia
melangkahkan kakinya mendekati mereka semua yang berada dimeja makan. "Wah...senang banget
dikunjungi Mami dan Ibu pagi-pagi begini," ucap Lifia dan ia mengulurkan tangannya mencium pipi
kanan dan kiri Liana, lalu ia juga mencium pipi kanan dan kiri Murni.

"Kamu senang banget tapi suami kamu enggak," ucap Liana menatap Defran dengan sinis. Defran
sepertinya sangat terganggu dengan kedatangannya bersama Murni pagi ini.

4/6

Dua pengganggu datang


"Mas Def, senang banget kok Bu, Mi. Mas Def itu pura-pura nggak senang saja tapi dalam hatinya
senang banget," ucap Lifia membuat Liana menyebikkan bibirnya ketika matanya bertemu dengan mata
putranya ini.

Lifia hanya ingin menyenangkan ia dan Murni dengan mengatakan hal ini. Liana sangat mengenal
putranya itu, kedatangannya dipagi hari seperti ini telah membuatnya sangat kesal apalagi Defran sejak
tadi hanya menunjukkan

ekspresi dingin dan angkuh seperti biasanya, jika ia sedang kesal. "Ayo makan Lifia sayang, kamu harus
banyak makan makanan bergizi atau bila perlu kamu tinggal sama Ibu atau Mami saja!" Ucap Liana.
"Kalau suami kamu, biar dia tinggal disini saja sendirian sampai kamu lahiran," ucap Liana membuat
Defran membuka mulutnya karena kesal mendengar ucapan Maminya ini

"Mana bisa begitu, Mi ingat urusan rumah tangga

5/6

Dua pengganggu datang


Defran bukan menjadi urusan para orang tua lagi. Mana ada suami dipisahkan sama istrinya ketika
istrinya sedang hamil," ucap Defran.
"Loh...kenapa nggak boleh, kalau suaminya nggak bisa jaga istrinya kalau lagi hamil ya harus orang tua
yang ikut membantu menjaganya," ucap Liana membuat Murni tersenyum mendengar perdebatan
keduanya.

"Tapi tetap saja Mi, istrinya Mas Defran ini nggak mau pisah dari Mas Defran," ucap Lifia membuat
Defran tersenyum penuh kemenangan.

"Ihhh...kalian berdua ini memang sama-sama bucin sulit banget dipengaruhi, terlalu kompak," ucap
Liana kesal. Tadinya ia ingin Lifia tinggal bersamanya atau bersama Murni, agar keduanya bisa
bergantian memantau keadaan Lifia.

"Makan Lifia biar kamu dan cucu Mami dan Ibu sehat!" Ucap Murni.

"Iya Bu, lagian Ibu dan Mami bukanya lagi sibuk membantu Mbak Liana untuk persiapan
pernikahannya?"

Tanya Lifia.

"Kalau itu mah gampang, iya nggak Jeng?" Ucap

Murni.

"Gampang banget, di mana ada Murni yang sibuk pasti ada Liana yang juga sibuk. Bukan kalian saja ya
yang kompak, tapi Mami dan Ibu ini juga kompak dalam segala hal," ucap Liana membuat Murni
menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Liana.

Comments

Vote

6/6

Supir baru.
Supir baru
Lifia menahan tawanya mengingat betapa kesal suaminya karena Mami dan Ibunya yang saat ini
menemaninya memeriksa dirinya ke dokter kandungan. Murni dan Liana memang sengaja melakukan ini
karena kesal dengan Defran, yang telah lama menyadari kehamilan Lifia dan ia sengaja belum
memberitahukan kabar baik ini dan terkesan merahasiakannya dari Lifia, bahkan keluarganya. Sejak dulu
Defran memang sering mengambil keputusan sendiri, tanpa ingin melibatkan orang lain dan kebiasaan
itu akan selalu Defran lakukan, jika ia tidak diberi pelajaran.

"Kamu beneran nggak kesal sama suamimu yang sengaja diam saja dan hanya memberi vitamin sama
kamu tanpa kamu tahu kalau kamu lagi hamil?" Tanya Liana.
"Awalnya sih kesel Mi, tapi kan aku juga yang bego hehehe...nggak sadar kalau aku hamil Mi," ucap Lifia.

"Def itu nggak mau kamu diperiksa sama dokter laki-laki pada hal kan dia juga tahu profesi dokter itu
sudah disumpah gitu dan nggak akan ada tuh dokter yang aneh-aneh sama pasiennya. Dasar dia saja itu
yang sangat cemburu Lifia," ucap Liana.

"Cemburu itu tanda cinta Jeng, jadi kalau aku sih sangat setuju saja sama menantuku yang hebat itu.
Sudah pintar, penyayang dan cemburu itu sempurna banget untuk Lifia," ucap Murni membuat Liana
menyunggingkan senyumannya karena Murni memang sangat menyayangi kedua menantunya yaitu
Serkan dan Defran.

"Terkadang ya Jeng aku tu merasa kamu itu yang jadi ibu kandungnya Defran sama Serkan, hehehe..dan
aku

1/6

Supir baru
yang jadi ibu kandungnya Lifia sama Kana," kekeh Liana.

"Soalnya menantuku itu hebat-hebat banget mana ganteng pisan," ucap Murni membuat Lifia
tersenyum.

Serkan dan Defran memang sangat tampan, apalagi keduanya merupakan sosok penyayang dibalik
wajah dingin kedunya. Defran sangat berbeda dengan Serkan, karena keduanya memiliki sifat yang
sangat berbeda. Serkan sosok yang sangat bijak dan sering kali menjadi penasehat yang baik, bagi orang-
orang disekitarnya. Sedangkan Defran sosok dingin yang mengamati sesuatu dalam diam, lalu akan
bertindak sesuai dengan pemikirannya.

Tadi mereka baru saja memeriksa kandung Lifia dan Alhamdulillah janin yang ada di kandungan Lifia
sehat.

Setelah itu mereka menuju kediaman Liana karena Liana sengaja ingin Lifia menginap di Rumahnya
malam ini. la yakin putranya itu sebentar lagi akan menyusulnya, apalagi hari ini mereka berencana ingin
mengadakan rapat panitia acara pernikahan Kiran, ya panitia ini terdiri dari para keluarga dan juga EO
yang telah diundang untuk datang malam ini. Liana memang ingin membantu Murni dan Erna, sebagai
ibu dari kedua calon pengantin.

"Erna udah di mana Jeng?" Tanya Murni.

"Ini dia sudah mau ke Rumah sama Kiran, tapi tenang saja Jeng kita duluan yang sampai rumah..." ucap
Liana. Murni merasa tidak enak jika Erna yang lebih dulu datang dari pada dirinya.

Saat ini mereka sedang menuju mobil yang telah berada diparkiran dan tentu saja sosok yang menjadi
supir ini pun, terlihat sangat dingin ketika mereka masuk kedalam mobil. Lifia menyunggingkan
senyumannya melihat Defran yang terlihat sangat dingin, namun ia bisa dengan mudah nantinya
meredakan amarah Defran

2/6

Supir baru
dengan sedikit merayu Defran. Murni tersenyum melihat Defran yang saat ini menjadi supir pribadinya.
"Pak ini antar kita pulang ke Rumah Pak Nasir ya Pak!" Ucap Liana sengaja ingin menggoda Defran.

"Iya Nyonya," ucap Defran membuat mereka terkekeh.

"Def kamu marah sama Mami?" Tanya Liana.

"Enggak," ucap Defran singkat.

"Wah fix ini ngambek sama Mami ini," ucap Liana sengaja ingin mendramatisir keadaan.

"Udah nggak usah ngambek, nggak enak Def malu sama mertua kamu yang ada disini," goda Liana lagi.

Defran hanya diam dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Kediaman orang
tuanya. "Mami sudah duga kalau kamu pasti akan menyusul kemari ehhh...ternyata kita dikejutkan
dengan supir baru," goda Liana. Defran memang datang ke Rumah Sakit dan ia sengaja meminta supir
untuk pulang membawa mobilnya sedangkan ia menggantikan supir pribadi Maminya.

"Mami ini ya suka sekali mengganggu kesenangan anaknya, lihat saja nanti Mi kalau anak Def udah lahir,
Def titipin terus anak Def sama Mami dan Ibu kalau Def dan Lifia mau pergi berdua saja!" Ucap Defran.

"Iya titipin saja, kita dengan senang hati menjaga para cucu kita, iya nggak Jeng?" tanya Liana kepada
Murni.

"Iya dong," ucap Murni.

Lifia menatap Defran dengan tatapan penuh cinta, semenjak ia menjadi istri seorang Defran Satyas,
Defran selalu memperhatikannya dan memberikan banyak cinta kepadanya. Dulu ia tidak pernah
berpikir jika sosok Defran sangat penyayang seperti ini. Lifia menarik pelan baju Defran "Alhamdulillah
dia sehat Mas," ucap Lifia pelan.

3/6

Supir baru
"Alhamdulillah," ucap Defran. Murni dan Liana saling berpandangan dan keduanya menyunggingkan
senyumannya melihat kedua anaknya ini terlihat sangat bahagia.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di Rumah dan Liana segera turun dari mobil bersama Murni.
Sepeti biasanya, akan terjadi kehebohan Liana jika ia bertemu dengan Lely adiknya. "Assalamualaikum,
Mbak," ucap Lely.
"Waalaikumsalam," ucap Liana. "Aduh Lely kenapa datangnya terlambat begini? harusnya kamu itu
datangnya lebih pagi agar kita bisa datang gangguin Defran," ucap Liana membuat Defran yang berada
dibelakang Liana bersama Lifia dan Murni terlihat kesal, sedangkan Murni dan Lifia terkekeh mendengar
ucapan Liana.

"Tahu nggak Lely, Defran kesal banget kamu tahu kan kalau ekspresi wajahnya itu kalau lagi kesal
hahaha...menggemaskan banget Lely," tawa Liana.

"Terus saja ya Mi, buat ulah di Rumah Defran," ucap Defran kesal.

"Kamu sih...sombong banget setelah menikah kamu main rahasia-rahasiaan sama Mami dan ibu mertua
kamu," ucap Liana.

"Ini nih...pasti karena Salsa, mana Salsa Mi?" Tanya Defran kesal.

"Kayaknya belum pulang, dia masuk pagi mungkin sebentar lagi dia pulang," ucap Liana.

Mereka semua masuk kedalam rumah dan terlihat Liana segera mendekati para cucunya yang sedang
bermain, sedangkan Murni menuju dapur tepat yang paling ia sukai karena hobinya yang suka memasak.
Defran mengajak Lifia menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Saat ini keduanya telah berada
didalam kamar, Defran menatap Lifia dengan tatapan sayang lalu segera

4/6

Supir baru
memeluknya. "Mas hmmm...aku mau tanya sama kamu," ucap Lifia.

"Mau tanya apa?" Tanya Defran.

"Ini masalah Pak Guntur, apa benar dia itu suruhan Ibu tiri aku?" Tanya Lifia.

"Iya," ucap Defran.

Lifia menghela napasnya dan ia tidak menyangkan jika Anya tidak melepaskannya. "Kenapa dia begitu
jahat sama

aku dan tidak mau melepaskan aku meskipun aku telah pergi ya Mas? Pada hal aku sudah tidak tinggal
lagi sama dia Mas," ucap Lifia sendu.

"Itu karena uang asuransi, dia selalu merasa kekurangan uang. Seolah mempersiapkan diri untuk
putranya yang ia inginkan menjadi pewaris Bagaspati. Sebenarnya Papi kamu telah mewariskan
perusahaan

5/6
Supir baru
untuk Ronal karena baginya Ronal adalah putra sulungnya yang mampu melindungi adik-adiknya," ucap
Defran.

"Tapi nggak harus dengan perjodohan Rima Mas, siapa yang mau dijodohkan seperti itu Mas, apalagi
Rima akan menikah dengan lelaki yang tidak dia kenal, baru-baru ini Fadil bilang dia lihat Rima menangis
didalam kamarnya Mas, aku itu khawatir Mas," lirih Lifia.

"Perjodohan itu mungkin telah dipikirkan Papi dan Ronal demi kebaikan Rima. Asal kamu tahu ayah
kandung Rima dan keluarganya tidak sebaik yang kamu kira.

Kebenciannya kepada ibu tiri kamu Anya akan mereka lampiaskan kepada Rima karena Anya, membuat
keluarga mereka mengalami kebangkrutan. Toko keluarga mereka habis tak bersisa dan Anya membawa
lari uang mereka," ucap Defran.

Comments

Vote

6/6

Waktu berdua.
Waktu berdua
Kiran saat ini sedang berada di kediaman calon mertuanya dan ia akan mengajak Erna untuk datang ke
Rumah Mertuanya Lifia dan Kiran, untuk membahas persiapan acara pernikahannya bersama Handaru.

Pertemuan keluarga sebelumnya telah membahas mengenai akad nikah dan siangnya sekalian langsung
akan diadakan resepsi pernikahan,

apalagi acara itu juga akan memperkenalkan Sandra dan Dikta.

Handaru terlihat baru saja pulang dari kantor dan ia segera mendekati Erna, lalu mencium punggung
tangan Erna. "Assalamualikum," ucap Handaru.

"Waalaikumsalam, cepat banget pulangnya tumben," goda Erna kepada putra sulungnya ini.

"Ada Kiran pasti cepat pulang Mi," ucap Handaru.

"Mami sama Kiran mau pergi ini," ucap Erna.

"Biar Handaru yang anter, Mi!" ucap Handaru.

"Bilang saja kalau kamu mau ikut," ucap Erna.


"Itu Mami sudah tahu, ayo Mi pergi Mi!" Ucap Handaru. la memegang tangan Kiran sambil tersenyum,
membuat Kiran tersenyum malu apalagi Handaru memegang tangannya didepan Maminya seperti ini.

"Handaru, ngapain pegang-pegang tangan Kiran?

kamu itu kan belum menikah," ucap Erna kesal dengan tingkah putranya ini.

"Pegang yang lain juga udah boleh Mi, ini namanya pacaran dan sudah tunangan juga Mi," ucap Handaru
membuat Erna menghela napasnya. Jika keduanya dibiarkan belum menikah dalam waktu yang lama,
bisa

1/8

Waktu berdua
saja ia akan kembali memiliki cucu diluar nikah dan itu membuatnya prustasi. Cukup seorang Marco saja
yang gagal ia didik, tapi jangan ada anak-anaknya yang lain memiliki kehidupan bebas hingga
menghamili kekasihnya.

"Kalian ini memang harus segera dinikahkan, kalau bisa dipercepat pernikahannya biar nggak dosa!
Mami nggak bisa bayangin kalau Kiran hamil diluar nikah gara-gara kamu Nak," ucap Erna membuat
Handaru terkekeh.

"Hehehe...Mami sayang kalau kita mau sudah dari kemarin-kemarin Kiran sudah hamil Mi, ini sudah
ditahan puasa dengan sangat lama loh Mi. Kesabaran kita sudah diuji Mi, jadi Mami tenang saja kalau
pegang-pegang sedikit itu nggak akan jadi masalah," ucap Handaru.

"Itu maunya kamu, dasar anak nakal," kesal Erna.

Handaru terkekeh dan ia mengelus kepala Kiran dengan lembut.

"Ayo Mi, nanti terlambat nggak enak kan sama mertua saya Mi!" ucap Handaru.

"Ya sudah ayo kita pergi!" ucap Erna.

Mereka melangkahkan kakinya menuju mobil Handaru, lalu ia segera masuk kedalam mobil. Handaru
mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan beberapa menit kemudian, mobil sampai di
Kediamaan Nasir Satya. Liana yang menginginkan acara kumpul ini diadakan di Rumahnya, ia memang
ingin membantu Erna dan Murni mengadakan pesta pernikahan anak mereka. Abib Laksamana
Dewandaru dan Marco Laksmana Dewandaru berserta keluarga kecilnya, akan datang menyusul ketika
Abib pulang kerja nanti.

Mereka turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah ini, Handaru membisikkan
sesuatu ditelinga Kiran. "Kita pergi sebentar mau?" Tanya

2/8
Waktu berdua
Handaru.

"Kemana?" Tanya Kiran pelan dan ia tersenyum melihat tingkah Handaru yang mengajaknya pergi
berdua saja.

"Cari jajanan sebentar!" ucap Handaru. la mencari alasan agar bisa pergi berdua saja dengan Kiran dan
dua hari ini, ia memang sulit bertemu dengan Kiran karena ia sangat sibuk menyelsaikan pekerjaannya
sebelum cuti pernikahaannya nanti.

"Oke Mas," ucap Kiran.

"Mi...kita beli makanan sebentar ya Mi, masak nggak bawa makanan Mi kemari!" Ucap Handaru.

"Yaudah kalian saja yang beli, tapi jangan lama!" Ucap Erna memperingatkan putranya sulungnya ini dan
calon menantunya.

"Iya Mi," ucap Handaru tersenyum penuh kemenangan karena ia bisa pergi berdua saja dengan Kiran.
"Ayo Ran!"

Ucap Handaru dan ia kembali memegang tangan Kiran, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju
mobil. Namun ketika mereka akan masuk kedalam mobil, sosok Slasa yang baru saja turun dari mobil
segera menyapa keduanya.

"Mau kemana?" Tanya Salsa dengan suaranya yang cukup keras.

"Beli makanan sebentar," ucap Kiran.

"Nggak usah beli lagi, ini aku juga sudah banyak beli makanan Mbak," ucap Salsa membuat Kiran
mengalihkan pandangannya menatap kearah Handaru.

"Kita mau pergi beli makanan pokoknya dan itu yang kamu bawa masih kurang!" Ucap Handaru.

"Tapi ibu juga sudah banyak masak dari kemarin, sudah masak beberapa cemilan gitu, kemarin aku dan
Kila lihat loh Mas," ucap Salsa.

3/8

Waktu berdua
"Masih kurang banyak!" ucap Handaru.

"Kalau gitu aku ikut dong Mas!" Ucap Salsa menyunggingkan senyumannya, karena ia sangat suka
menggoda Handaru dan Kiran.

"Enggak bisa," ucap Handaru membuat Kiran tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...jujur saja kenapa sih Mas kalau mau pergi berdua saja sama Mbak Kiran, dasar Mas Handaru
nyebelin sama saja sama Mas Def," ucap Salsa.

"Itu kamu sudah tahu, ayo Ran!" Ajak Handaru membuat Kiran tersenyum kepada Salsa dan keduanya
melangkah kakinya masuk kedalam mobil.

Handaru menghidupkan mesin mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan Kiran
tersenyum melihat tingkah calon suaminya ini. Kiran bahkan tidak menyangka jika ia akan jatuh cinta
secepat ini kepada Handaru dan dulu, ia sangat sering mengejek Lifia jika Lifia bodoh karena mudah
jatuh cinta. Kiran bahkan tidak pernah memikirkan untuk menikah di tahun ini, tapi ternyata semuanya
berjalan dengan cepat ketika ia telah mempercayakan hatinya kepada Handaru Laksamana Dewandaru.

"Mas, kita mau beli makanannya dimana?" Tanya Kiran.

"Lumayan jauh, biar kita bisa berduaanya cukup lama," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti didepan sebuah toko makanan, Handaru ternyata mengajak
Kiran membeli pempek makanan khas dari Palembang membuat Kiran lagi-lagi tersenyum senang.
"Terimakasih Mas, tahu aja kalau aku itu suka banget makan pempek," ucap Kiran. "Mas tahu dari mana
aku suka banget makan pempek?" Tanya Kiran penasaran.

"Dari teman kamu," ucap Handaru.

4/8

Waktu berdua
"Meta ya Mas?" Tanya Kiran.

"Iya, kalian kan memang pencinta pempek. Kalau pulang sekolah kalian suka sekali pergi cari toko
makanan yang menyediakan pempek," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum. "Sebentar Mas pesan
dulu ya! Kamu tunggu dimobil saja!" Ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran.

Kedatangan Handaru ke toko pempek ini membuat

beberapa orang menatap kearah Handaru, apalagi wajah Handaru yang tampan dan terkenal, menjadi
daya tarik mereka. Wajah Handaru dan Kiran beberapa hari ini memang sering kali terlihat diberita
selebriti, apalagi berita lamaran Handaru diresepsi pernikahan Lifia dan Defran menjadi topik utama.
Masyarakat bahkan hampir tidak percaya, jika keduanya memiliki hubungan meskipun Abib Laksamana
Dewandaru, pernah mengatakan disalah satu

5/8
Waktu berdua
acara yang dipandu Kiran, jika ia menginginkan Kiran menjadi menantunya.

Handaru tersenyum ramah kepada mereka, hingga membuat beberapa perempuan yang menjadi
pengunjung toko ini berteriak histeris. Setelah selesai memesan pempek, Handaru memilih untuk
menunggu didalam mobil bersama Kiran. "Pempeknya digoreng dulu," ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran. la tersenyum bahagia melihat sosok Handaru yang terlihat sangat tampan setiap
harinya. Kiran bahkan berpikir kapan Handaru terlihat jelek dimatanya dan ia tersenyum mengingat, jika
Handaru akan terlihat jelek dimatanya saat Handaru dulu sering kali membuatnya kesal.

"Kenapa tersenyum begitu?" Tanya Handaru penasaran dengan tingkah Kiran.

"Hehehe...gini Mas, aku sempat bingung gitu kapan ya kamu terlihat tidak tampan Mas, ternyata kamu
terlihat jelek dimata aku kalau kamu bikin aku kesal setengah mati dulu," ucap Kiran.

"Itu penilaian nggak objektif sayang," ucap Handaru membuat wajah Kiran memerah ketika Handaru
memanggilnya sayang. "Saya itu selalu terlihat tampan," ucap Handaru dan ia menunjukkan senyumnya
manisnya, berusaha untuk memikat Kiran.

"Mas...nyebelin banget kalau sudah sok tampan kayak gitu," ucap Kiran.

"Kamu nggak kangen sama, Mas?" Tanya Handaru.

"Kangen banget Mas," jujur Kiran. la bahkan sering kali membayangkan sosok Handaru yang suka sekali
menyentuhnya diberbagai kesempatan dan ia merasa hangat, setiap kali mengingat betapa Handaru,
akan jadi sangat berbeda jika berada disampingnya.

6/8

Waktu berdua
"Ciummm!" Ucap Handaru.

"Disini Mas?" Tanya Kiran dan ia mengedarkan pandangannya.

"Mobil ini kacanya gelap nggak kelihatan dari luar, kecuali mata kamu hampir menempel dikaca," jelas
Hadaru.

"Kiran mengecup bibir Handaru dengan singkat membuat Handaru mengangkat sebelah alisnya. "Kurang
Ran, jangan sebentar seperti ini!" Pinta Handaru.

"Kalau maunya lama, kamu saja Mas yang ciummm duluan!" Pinta Kiran malu-malu, membuat Handaru
segera mencium bibir Kiran dengan lembut. Handaru membuka mulutnya dan ia melahapnya dengan
pelan, lalu menyampu setiap permukaan bibir Kiran. Saat Handaru ingin menggerakan bibirnya menuju
leher Kiran membuat Kiran segera menghindar. "Mas jangan keterlaluan, ingat sabar!" Ucap Kiran
dengan wajahnya yang memerah.
"Oke," ucap Handaru tersenyum.

Ketukkan kaca mobilnya membuat Handaru menurunkan kaca mobilnya. Seorang laki-laki memberikan
paperbag berisi pempek yang telah dipesan Handaru, ia tekejut ketika melihat Kiran pembawa acara
idolanya ini berada didalam mobil ini. Kiran tersenyum ramah membuat laki-laki ini menatap Kiran
dengan tatapan memuja.

"Kalau kamu hanya kagum saja boleh, tapi kalau suka jangan ya! Ini Kiran sebentar lagi jadi istri saya
loh," ucap Handaru membuat Kiran menepuk bahu Handaru sambil tersenyum. Laki-laki itu terlihat salah
tingkah dan ia segera pamit undur diri, membuat Kiran menghela napasnya namun ia segera
menujukkan senyumannya.

"Saya itu aslinya pencemburu tapi kalau dia fans kamu, saya masih memakluminya saja walaupun kesal,"
ucap Handaru dingin.

7/8

Si ahli rencana beraksi.


Si ahli rencana beraksi
Acara kumpul keluarga saat ini sedang berlangsung, canda tawa semua keluarga terdengar begitu keras
hingga Handaru dan Kiran yang baru datang saling berpandangan, lalu keduanya tersenyum karena
tingkah konyol keduanya yang pergi dengan alasan ingin membeli makanan. "Mas kita beli makanan
atau kemana jadi asalannya apa?" Tanya Kiran kepada Handaru. Keduanya telah pergi selama empat jam
dan Handaru juga sengaja tidak mengangkat ponselnya, ketika Maminya menghubunginya dan
menanyakan di mana keberadaannya bersama Kiran.

"Bilang saja sejujurnya kalau kita melepas rindu," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum malu.

Bagaimana tidak setelah membeli pempek, Handaru mengajaknya kembali ke Apartemennya dan
menonton film sambil memeluk Kiran, kebiasaan yang sepertinya akan sering mereka lakukan ketika
menikah nanti. Apalagi keduanya memang lebih suka berada berdua saja di Apartemen dari pada pergi
ke keramaian. Keduanya juga telah bersepakat akan memilih tempat liburan atau bulan madu ditempat
yang masih asri karena keduanya lebih menyukai tempat di pedesaan yang dingin dan sejuk dari pada
dikota.

"Mas ngomong kayak gitu didepan keluarga malu tahu," ucap Kiran membuat Handaru menyunggikan
senyumannya.

"Memangnya sekarang kita masih punya malu didepan mereka?" Tanya Handaru membuat Kiran
tersenyum karena ucapan Handaru memang benar, ia bahkan tidak memiliki rasa malu lagi sejak ia telah
bersama Handaru. Apalagi Handaru memperlihatkan rasa cintanya kepadanya

1/7
Si ahli rencana beraksi
didepan semua keluarganya tanpa malu.

Keduanya melangkahkan kakinya mendekati mereka dan Salsa menyunggingkan senyumannya, melihat
dua pasangan yang sedang kasmaran ini sengaja pergi berdua saja untuk melepas rindu sesuai dengan
dugaannya. "Wah Mbak Kiran dan Mas Handaru baru pulang setelah izin pergi sebentar gitu mau

belanja, katanya sih...sebentar," goda Salsa membuat Kiran tersenyum malu.

"Mana bisa sebentar, apalagi kalau lagi kasmaran. Salsa kayak nggak ngerti saja sih..." ucap Lifia.

"Gimana mau ngerti Lifia, Salsa kan masih jomblo jadi mana ngerti dia," ucap Kana membuat Salsa
menyebikkan bibirnya. Sekarang ia yang akan jadi bulan-bulanan keluarganya karena belum menikah,
apalagi Papinya menginginkannya menikah dengan laki-laki pilihannya yang telah membuatnya sangat
kesal.

Salsa bosan dengan laki-laki cool yang tidak perhatian dan terlihat sombong karena semua kakak-
kakaknya, memiliki sikap yang hampir sama walaupun sebenarnya mereka perhatian. Salsa
menginginkan laki-laki yang perhatian padanya dan suka tersenyum bahkan sering menceritakan cerita
humor yang membuat suasana semakin riang dengan canda dan tawa. "Kalau mau jodohin Salsa bisa
nggak sih jangan yang sok cool gitu, sombong, sok kaya, angkuh, cuek, nyebelin dan terlalu pintar," ucap
Salsa.

"Loh kok ciri-cirinya mirip suamiku ya? Tapi sekarang suamiku nggak kayak gitu lagi loh...Sa," ucap Lifia
membuat Defran menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan suaminya. Defran saat ini memang
sedang tidak duduk disamping Lifia dan ia sejak tadi duduk di sofa tempat berkumpulnya para lelaki yang
ada di Rumah ini, bahkan saat ini Handaru juga sudah duduk

2/7

Si ahli rencana beraksi


bersama Defran dan Serkan.

"Emangnya Zilo kayak gitu? Sepertinya nggak sih, dia itu ramah banget tuh sama kita," ucap Kana yang
juga merupakan rekan kerja Zilo. "Sa, Zilo itu anaknya baik dan dia itu nggak mata keranjang gitu apalagi
suka mempermainkan perempuan, makannya kedua Masmu itu setuju juga sama dia. Kalau kamu sama
dia pasti langsung diizinkan menikah sama keluarga kita," jelas Kana.

"Bosen ngadepin cowok pintar, nggak bisa dibodohin apalagi diboongin," ucap Salsa dan itu membuat
Liana yang baru datang segera mendekati Salsa, lalu ia duduk disamping Salsa. Liana mencubit pipi Salsa
karena gemas dengan sikap putri bungsungya ini, disaat banyak anak perempuan yang mengejar Zilo
dan mencoba mendapatkan Zilo. Putrinya ini bisa dengan mudah mendapatkan Zilo melalui perjodohan,
namun putrinya ini
3/7

Si ahli rencana beraksi


menolak perjodohan itu.

"Mamanya Zilo itu Jeng Sesil orangnya baik banget, kamu nggak akan mengalami drama ibu mertua
jahat yang suka marahin menantunya loh Dek, kamu dengerin Mami dulu!" Ucap Liana saat Salsa
menggelengkan kepalanya menolak keinginan Maminya itu.

"Mami kok sama Papi sama saja sekarang, ini lagi semuanya pada mau jodohin aku juga sama Zilo, dia
saja nggak suka sama aku juga kan dan kami itu sama-sama nggak tertarik satu sama lainnya," ucap Salsa
kesal membuat Kiran menyunggingkan senyumannya.

"Ihhh...ada yang marah, padahal suka banget godain kita tapi giliran digoda dia ngambek gitu," ucap
Kiran.

"Slasa nggak ngambek Mbak, ini namanya protes karena ini sudah meresahkan banget," ucap Salsa.

"Iya meresahkan sampai jantungnya deg-degan gitu ya Sa," goda Kana membuat Salsa menyebikkan
bibirnya, sedangkan Kila menahan tawanya melihat tingkah Salsa yang terlihat sangat kesal. Saat ini Kila
masih bisa tenang karena Salsa juga belum memiliki pasangan sama seperti dirinya, jadi ia masih bisa
santai karena Kakak-kakaknya ini tidak akan menuntutnya seperti mereka menuntut Salsa. Tapi nanti
jika Salsa sudah memiliki pasangan, ia akan siap-siap untuk dibully oleh para kakak-kakaknya ini atau
bahkan nanti, ia juga akan dijodohkan oleh mereka.

"Jadi ini tanggalnya sudah jelas ya tanggal berapa?"

Tanya Kana membuka pembicaraan mengenai pernikahan Kiran dan Handaru.

"Kan udah dibicarain sama Mami, Papi, Ibu dan Ayah, katanya bulan depan," ucap Kiran.

"Nggak jadi bulan depan," ucap Erna membuka suaranya membuat mereka semua menatap Erna
dengan tatapan terkejut.

"Loh kenapa Jeng nggak jadi bulan depan?" Tanya

4/7

Si ahli rencana beraksi


Liana.

Erna menghela napasnya, ia meminta pertemuan ini diadakan segera karena ingin membicarakan
mengenai pernikahan ini dan ia telah membicarakan hal ini kepada Murni sebelumnya. "Makanya aku
itu ngajakin ngumpul secepatnya itu karena ingin meminta bantuan semuanya, agar pernikahan ini
segera dilaksanakan," ucap Erna.
"Maksudnya dimajuin gitu?" Tanya Liana.

"Iya Jeng, begini...ini permintaan Papinya juga mengingat Papinya takut putranya itu kebablasan, kalau
Kiran sih bisa menjaga diri tapi kalau Handaru kita yang nggak yakin. Jadi dua minggu lagi saja dan
undangan juga sudah selesai dicetak lusa, jadi bisa langsung disebarin gitu sama sanak keluarga kita
yang jauh diluar kota," jelas Erna.

Kiran tersenyum senang ternyata bujukkan Handaru berhasil, ia ingin menikah dua minggu lagi karena
baginya untuk apa menunggu satu bulan, semakin baik semakin baik. Jika Defran bisa mempercepat
pernikahannya kenapa mereka juga tidak bisa. Bahkan Serkan bisa dengan mudah menggantikan Amran
menikahi Kana dan semuanya bisa ia atur sesuai rencananya. "Wah kalau dipercepat juga bagus itu,
hotelnya sudah dikonfirmasi?" Tanya Liana.

"Sudah Albi keponakanku sudah menyiapkan semuanya dan juga dia membayar semua biaya resepsi
dihotel jadi ya...kita diminta membuat rapat panitia keluarga saja begitu katanya," ucap Erna.

"Alhamdulilah kalau semuanya sudah siap, tinggal persiapan kita saja kalau begitu," ucap Liana.

"Makanya aku itu mau nanya sama Jeng Murni secara langsung dari pada kita bicarain ditelepon Jeng,"
ucap Erna.

"Mau tanya apa Jeng?" Tanya Murni penasaran.

"Akad nikahnya mau diadakan di Kediaman Jeng atau

5/7

Si ahli rencana beraksi


di mana Jeng? apa kita dihotel saja semuanya?" Tanya Erna membuat Murni tersenyum.

"Sebenaranya akad nikah saya dan suami menginginkan Kiran akad nikahnya di Rumah tapi karena
halaman rumah kita kecil, kami memutuskan akad nikahnya di Masjid dekat rumah dan setelah akad
nikah, syukurannya secara sederhana disana lalu malamnya baru resepsi di Hotel," jelas Murni.
"Bagaimana Jeng?" Tanya Murni kepada Erna.

"Saya setuju Jeng," ucap Erna membuat mereka semua yang ada diruangan ini tersenyum. Begitu juga
dengan Subekti dan Abib yang juga berada didalam ruangan ini. Bagi keduanya, keputusan ada ditangan
para istri mereka dan juga anak-anak mereka. Keduanya bahkan saat ini sedang sibuk bermain catur dan
sosok Nasir sedang menunggu giliran bermain catur siapa diantara keduanya yang menang nanti, yang
akan melawan dirinya.

Makanan yang berupa cemilan dihidangkan diatas meja dan makan berat, juga telah berada di
prasmanan yang telah disiapkan didekat mereka. Lifia mengambil pempek yang ada diatas meja. "Udah
dingin pempeknya," ucap Lifia.
Defran ternyata mendengar ucapan istrinya itu dan ia segera berdiri, lalu mendekati istrinya itu. "Mau
dipanasin?" Tanya Defran.

"Boleh Mas maunya garing gitu makannya," ucap Lifia membuat Defran mengambil beberapa pempek
dan ia meminta Maid untuk menggorengnya.

"Wah perhatian banget Mas Defran," ucap Kana.

"Istrinya lagi hamil pasti deh tambah perhatian," ucap Sandra membuka pembicaraan. "Itu beberapa
kontrak juga dibatalin sama mereka karena takut Lifia kecapean," ucap Sandra yang saat ini masih
menjadi asisten Lifia.

6/7

Si ahli rencana beraksi


"Kamu juga akan berhenti jadi asisten Lifia, kalau nanti kamu hamil lagi Sandra," ucap Kiran membuat
Sandra tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya.

"Tapi kalau sudah lahiran, dia akan kembali kerja sama aku dan kata Mbak Ike sih...Sandra mau diangkat
sebagai manajer aku bukan asisten lag!" jelas Lifia.

"Iya," ucap Sandra menyetujui ucapan Lifia.

"Ini pempek wajar aja sih dipanasin lagi, udah alot...gimana nggak alot digorengnya jam berapa tadi
hehehe...yang beli pempek lupa kalau mesti pulang cepat," goda Salsa.

"Wah kumat ini anak, mau banget ya di godain sama kita," ucap Kiran. "Mami Liana, Salsa setuju nikah
sama Zilo," teriak Kiran membuat Salsa melototkan matanya.

Comments

Vote

7/7

Semua sayang kamu.


Semua sayang kamu
Defran semakin menjadi overprotektif dan ia yang sibuk dengan pekerjaan di Rumah Sakit hingga bisnis
keluarga yang ia tangani, membuatnya menitipkan Lifia kepada Maminya. Sebenaranya mereka bisa saja
tinggal bersama Nasir dan Murni apalagi rumah mereka yang berdekatan, namun saat ini Nasir dan
Murni sedang sibuk dengan persiapan acara pernikahan Kiran. Apalagi Maminya Liana meminta agar
selama hamil Lifia tinggal bersamanya dan nanti akan bergantian menjaga Lifia bersama Murni ketika
acara pernikahan Kiran dan Handaru selesai diselenggarakan.

"Mas aku dirumah juga nggak apa-apa Mas, aku nggak mah ngerepotin Mami," ucap Lifia.

"Kalau kamu ngomong kayak gini ke Mami, Mami bisa marah sama kamu Lifia," ucap Defran membuat
Lifia menghela napasnya. Tentu saja Liana akan marah padanya, jika ia mengatakan tidak ingin Liana
repot jika ia tinggal bersama mereka.

"Tapi kan aku bisa jaga diri aku Mas, di tiang kita juga ada banyak Maid yang bisa menemani aku," ucap
Lifia. Defran tidak ingin Lifia merasa sendiri di rumah meskipun ada Maid yang menemaninya, keluarga
adalah yang terbaik apalagi Kana, Salsa dan Liana akan membuat

suasana hati Lifia gembira jika bersama mereka.

"Kalau di Rumah Mami, kamu akan lebih terpantau Lifia, Mas pulang jam sepuluh malam hari ini karena
ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa Mas tinggalkan," jelas Defran sambil mengemudikan mobilnya
menuju kediaman orang tuanya. "Salsa hari ini juga tidak berkerja di off, jadi kamu ada teman ngobrol,
selain itu ada Mbak Kana juga di

1/6

Semua sayang kamu


Rumah..." ucap Defran membuat Lifia segera memotong pembicaraan mereka.

"Stop Mas, iya aku tahu kamu nggak mau aku bengong sendirian di Rumah dan kamu khawatir kan Mas
kalau aku kesepian. Tapi kan aku harus terbiasa gitu Mas sama keadaan aku sekarang setelah aku jadi
istri kamu," ucap Lifia.

"Kamu sedang hamil butuh perhatian lebih berbeda

kalau kamu sedang tidak hamil Lifia," ucap Defran mengingatkan Lifia jika saat ini ia sedang hamil.

"Iya Mas," ucap Lifia dan ia menerima keputusan suaminya ini agar untuk sementara ini mereka tinggal
di Kediaman orang tuanya.

"Tapi kamu pulang kan malam ini, Mas?" Tanya

Lifia.

2/6

Semua sayang kamu


"Iya pulang paling lama jam satu malam, ada pekerjaan yang nggak bisa Mas tinggalkan tapi Mas
usahakan jam sepuluh malam Mas sudah pulang!" Ucap Defran.
"Apa perkerjaannya berbahaya?" Tanya Lifia khawatir. la ingat bagaimana Defran ketika sedang bertugas
dipasukkan khusus, yang sangat berbahaya. Apalagi saat ia menerima berita tentang Defran yang
terkena tembak saat itu membuatnya sangat terpukul dan stres berat.

"Kalau kamu bekerja, kamu ingat ya Mas kalau ada aku dan calon anak kita yang nungguin kamu pulang,
jadi kamu harus hati-hati!" Ucap Lifia menunjuk perutnya yang memang belum membesar karena usia
kandungannya masih sangat muda.

"Iya, Insyallah Mas akan hati-hati," ucap Defran. Lifia memeluk Defran dengan erat membuat Defran
menghentikan mobilnya dan ia mencium dahi Lifia. Defran ingat bagaimana khawatirnya Lifia tentang
keadaannya saat itu dan istrinya ini sempat pingsan dilokasi syuting, membuat semua orang khawatir
dengan keadaannya. "Ya sudah kita lanjut ke Rumah Mami!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Defran melepaskan pelukkannya dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Pekerjaan Mas
nggak berbahaya seperti yang kamu duga Lifia, setiap pekerjaan pasti ada resikonya dan suamimu ini
bukan orang yang lemah Lifia," ucap Defran. la tidak ingin istrinya ini banyak berpikir apalagi
mengkhawatirkannya.

"Iya Mas," ucap Lifia pelan.

Defran kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan beberapa menit kemudian, mereka
sampai di Kediaman orang tua Defran. Keduanya keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya
bersama masuk kedalam rumah. Liana segera menyambut

3/6

Semua sayang kamu


kedatangan Lifia, tentu saja barang-barang Lifia dan Defran sudah ada didalam rumah ini. Defran
memang menyediakannya karena mereka memang akan sering menginap di Rumah ini.

"Aduh nak Mami senang banget dengan keputusan kalian, kamu itu sayang harusnya memang tinggal
disini sama Mami, biar Mami bisa jagain kamu. Kalau kamu pulang ke Rumah Papimu, itu juga akan
percuma saja karena tidak ada yang bisa mengurusi kamu secekatan Mami dan Ibu kamu," ucap Liana
tersenyum dan ia menatap Lifia dengan tatapan sayang. Liana selalu merasa sedih ketika mengingat
bagaimana menderitanya Lifia, ketika masih kecil dan wajah cantik ini selalu bersimbah air mata jika
merasa ketakutan. Liana juga sangat marah dengan apa yang dilakukan ibu tiri Lifia dan ia mengutuk
perbuatan Anya, hingga ia tidak setuju jika Anya dibebaskan bersyarat seperti keinginannya yang
meminta Fadil dan Rima memohon kepada Papi mereka.

"Iya Mi, Defran akhir-akhir sibuk sekali Mi," ucap Defran. la mengambil keputusan seperti ini karena Lifia
memang tidak bisa tinggal sendirian, Lifia masih trauma dan ketakutan. Apalagi orang-orang yang telah
menyakiti Lifia telah berada didalam penjara, tapi bisa saja masih ada orang-orang yang ingin menyakiti
istrinya dan ia tidak boleh lengah.
Liana mengelus kepala Lifia dan ia menarik tangan Lifia dengan pelan, agar segera masuk kedalam
rumah lalu menuju ruang makan. "Mami sudah menyiapkan banyak makanan agar kamu banyak makan
sayang, makanan bergizi sangat penting untuk pertumbuhan janin kamu, itu kata Papi kalian," ucap
Liana mengingat bagaimana suaminya dulu menyiapkan makanan bergizi untuknya ketika ia sedang
mengandung.

Defran tersenyum mengingat Maminya ini membujuknya dengan sangat keras untuk memintanya

4/6

Semua sayang kamu


agar Lifia tinggal disini selama masa kehamilannya.

"Pokoknya kalau ada yang mau kaku makan, kamu bilang sama Mami ya sayang!" Pinta Liana. "Kalau
ngidam itu harus diusahakan sayang,"

Ucap Liana.

"Iya Mi," ucap Lifia tersenyum senang.

Defran duduk disamping Lifia dan ia memperhatikan Maminya yang mengambilkan beberapa makanan
untuk Lifia. Kana yang baru saja turun dari lantai dua segera mendekati mereka dan ia tersenyum
melihat Lifia yang saat ini merasa sangat bahagia, melihat makanan yang telihat sangat banyak
macamnya yang saat ini berada dihadapannya. "Mbak..." ucap Lifia melihat kedatangan Kana. la
mencium punggung tangan Kana membuat Kana mencium dahi adik perempuannya itu dengan lembut.

"Mbak juga akan bantuin Mami jagain kamu, biar suamimu yang overprotektif ini bisa fokus sama
pekerjaannya!" Ucap Kana dan ia sangat mengerti bagaimana perkerjaan seorang Abdi Negara sama
seperti suaminya.

"Iya Mbak," ucap Lifia.

Kana tersenyum, ia juga sudah tahu mengenai Defran yang ingin ditarik di Tim utama pasukan khusus,
tapi Defran menolaknya. Defran akhirnya bekerja sebagai pelatih pasukan khusus dibidang kedokteran
imbas ia yang menolak posisi penting itu. Jika dulu ia belum menikah, ia pasti menyetujuinya apalagi
pekerjaan itu membuatnya bisa berkeliling Indonesia bahkan dunia. Tapi ketika ia telah memiliki istri,
Defran ingin hidupnya lebih stabil dan bekerja dibalik layar tidak seperti dulu yang tidak memikirkan
keselamatannya.

"Mas makan juga ya!" Pinta Lifia.

"lya," ucap Defran.

Mereka semua makan bersama menemani Lifia, agar

5/6
Semua sayang kamu
Lifia makan lebih lahap, apalagi Defran mengatakan jika nafsu makan Lifia akhir-akhir ini sedikit
menurun. Lifia sangat beruntung menerima banyak kasih sayang dari keluarganya, ini meskipun ia tidak
merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya selama ini.

Lifia selesai makan dan ia menatap Defran dengan sendu. "Mas mau mangga muda Mas," ucap Lifia
membuat Defran menganggukkan kepalanya dan ia langsung berdiri.

"Mi dibelakang pohon mangganya berbuah kan Mi?" Tanya Defran.

"Berbuah," ucap Liana tersenyum. Benar apa kata suaminya, di rumahnya ini harus memiliki pohon
mangga karena nanti jika mereka memiliki menantu dan anak yang sedang hamil, buah mangga adalah
yang terbaik ketika masa-masa ngidam terjadi kepada keluarganya.

Comments

Vote

6/6

Gagal makan malam.


Gagal makan malam
Besok adalah hari di mana Kiran akan segera menjadi istri dari Handaru Laksmana Dewandaru. Hari ini ia
akan fitting baju lagi untuk acara resepsi pernikahan yang juga akan diselenggarakan besok. Kiran saat ini
masih berada di Studio meskipun besok ia akan menikah tapi tetap harus tetap berkerja. Jadwal
pekerjaannya tidak bisa diundur dan memang seharusnya pernikahannya tidak dipercepat, jika sesuai
jadwal sebelumnya namun Kiran tidak bisa menggubah jadwal kerjanya lagi setelah pernikahannya
dipercepat.

"Wah Ran, besok nikah sempat-sempatnya syuting," ucap Dian salah satu rekan kerjanya. Dian sejak
dulu menginginkan posisi Kiran sebagai pembawa acara terfavorit, apalagi gaji seorang Kiran setiap ia
membawakan sebuah acara sangatlah besar. Dian ingin sekali memiliki popularitas seperti Kiran, namun
ia merasa kesulitan mendapatkannya karena Kiran yang selalu mendapatkan tawaran menggiurkan dan
jujur saja Dian sangat iri dengan Kiran Ayu.

"Ini karena Mas Handaru mempercepat pernikahan kami, harusnya kan dua minggu lagi pernikahannya,"
ucap Kiran. Dian menatap perut Kiran membuat Kiran menghela napasnya. "Aku nggak hamil, nyoblos
saja belum sempat apalagi pacaran hanya sebentar dan langsung menikah," ucap Kiran.
"Wah pacaran sehat ya Ran," ucap Dian. "Biasanya orang cepat sekali menikah dan sebelumnya
hubungannya tidak tercium awak media itu, menyimpan rahasia besar ya...seperti yang tadi aku bilang
menikah karena kecelakaan," ucap Dian.

1/7

Gagal makan malam


"Aku sih nggak hamil dan asal kamu tahu, aku itu bukan cewek gampangan yang mudah banget jatuh
cinta," ucap Kiran membuat wajah Dian memerah, karena ia menahan diri untuk tidak meledak karena
marah mendengar ucapan Kiran. Ya...ia memang beberapa kali pacaran dengan laki-laki dari berbagai
profesi, namun lagi-lagi hubungannya tidak berakhir dipelaminan.

"Kamu beruntung mendapatkan Mas Handaru,

soalnya dia itu disukai banyak perempuan apalagi dia anak Pak Mentri dan keluarganya berasal dari
keluarga kaya raya. Tapi Ya...Ran Pak Handaru itu kan dingin banget orangnya," ucap Dian yang pernah
beberapa kali mencoba mendekati Handaru, namun ia gagal karena Handaru mengabaikannya.

"Iya dong, punya pacar dingin kayak gitu tapi ya kalau didepan publik saja dingin, aslinya nggak sama
sekali,"

2/7

Gagal makan malam


ucap Kiran dan baru kali ini ia terbuka dengan temannya ini mengenai masalah kehidupan pribadinya
karena Kiran selama ini, ia tidak pernah menceritakan mengenai hubungan asmaranya ini.

"Aku pamit pulang kalian jangan lupa datang ya besok!" Ucap Kiran tersenyum ramah kepada merkea
semua yang ada didalam ruangan ini.

"Iya Ran..." ucap salah satu dari mereka.

"Pasti itu," ucapnya yang lainnya.

Dian menghela napasnya saat melihat punggung Kiran menjauh darinya, sebenarnya ia merasa sangat iri
dengan karir yang dimiliki Kiran dan sekarang Kiran mendapatkan calon suami, yang sangat luar biasa
hebatnya. Dulu ia setengah mati mengejar Handaru agar bisa berkenalan dengannya, namun berulang
kali ia mendeketi Handaru Laksamana Dewandaru ia selalu ditolak. Peruntungan Kiran memang sangat
luar biasa dan ia merasa kalah dan terus kalah hingga, akhirnya hari ini ia harus mengakui jika Kiran
selalu lebih unggul darinya.

Kiran melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan beberapa orang tersenyum melihatnya. la
sudah mendengar dari beberapa rekan kerjanya, jika banyak sekali yang merasa patah hati karena kabar
pernikahannya. Bahkan bukan hanya para lelaki yang menyukainya yang mengalami patah hati bersama,
tapi juga para perempuan yang menyukai Handaru calon suaminya itu. la tidak menyangkal Handaru
juga memilki popularitas luar biasa hingga disukai banyak perempuan. la menjadi sangat beruntung
mendapatkan Handaru dan ia tidak perlu mengejar Handaru seperti para perempuan lainnya.

Kiran melangkahkan kakinya dengan cepat saat melihat mobil Handaru telah terlihat berada diparkiran
dan ia segera mendekatinya. Handaru memang menolak adanya pingitan atau hal yang melarangnya
untuk bisa

3/7

Gagal makan malam


bertemu dengan calon istrinya ini. Dengan berbagai alasan hampir setiap hari ia harus bertemu dengan
Kiran meskipun Maminya itu telah melarangnya. Maminya bahkan berteriak kesal padanya dan merasa
sangat malu kepada besannya yaitu orang tua Kiran, karena tingkah putranya ini namun Handaru selalu
saja bisa membantah ucapan Erna dengan ucapannya yang membuat Erna bertambah kesal.

Handaru mengatakan jika ia menuruni sifat Maminya yang sangat suka mengikuti Papinya itu
kemanapun Papinya itu pergi dan sifatnya itu menurun kepadanya.

Bahkan Handaru tidak bisa menahan rindunya kepada Kiran, hingga ia selalu saja bertemu Kiran setiap
hari hanya untuk berbincang sebentar kepada Kiran lalu mencium Kiran. Saat ini Kiran tersenyum dan ia
menarik handel pintu mobil, ia segera masuk kedalam mobil dan duduk tepat disamping Handaru.

Handaru mengulurkan tangannya meminta Kiran mencium punggung tangannya namun Kiran menepis
pelan tangan Handaru. "Nanti Mas kalau sudah sah jadi istri kamu," ucap Kiran membuat Handaru
tersenyum.

"Sekarang kita kemana sayang?" Tanya Handaru.

"Katanya mau fitting baju lagi Mas," ucap Kiran.

"Itu kan hanya alasan saja, gimana kalau kita jalan-jalan saja, malam terakhir pacaran karena besok
bukan pacaran lagi namanya," ucap Handaru.

"Masih pacaran kok namanya Apalgi kalau ngedate hanya berdua Mas," ucap Kiran.

"Beda dong kalau sekarang nggak bisa ngapa-ngapain kalau sudah nikah bisa bebas ngajakin kamu
kemana saja tanpa ada batasan waktu," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum. "Jadi sekarang
kemana nih Mas? Soalnya pas tua sebentar lagi diminta ibu pulang apalagi di Rumahku kan ada acara
gitu Mas," ucap Kiran.

4/7

Gagal makan malam


"Acara apa?" Tanya Handaru.
"Bapak-Bapak komplek pada ngumpul Mas dan ibu-ibunya juga," ucap Kiran.

"Kita makan malam saja gimana?" Tanya Handaru.

"Oke Mas, hmmm...di Apartemen?" Tanya Kiran.

"Kalau kamu masak nanti kamu capek, kita makan malam di Restauran saja. Lagian kita tidak perlu
menghindari dari jika ada orang yang mengenal kita. Semua yang lihat berita pasti tahu kalau kita akan
menikah," ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran.

Handaru ingat seminggu yang lalu ketika ia sedang berada di Pengadilan, salah seorang lawannya saat
sidang terlihat sangat mengebu-ngebu ingin mengalahkannya. Tentu saja Handaru lagi-lagi
mendapatkan kemenangan seperti biasanya dan laki-laki itu terlihat semakin kesal dengannya. Handaru
mengajak laki-laki itu berbicara secara pribadi dan ternyata laki-laki itu adalah salah seorang fans fanatik
Kiran. la sangat kesal dengan Handaru karena Handaru telah merebut Kirannya dan baginya, Handaru
tidak pantas untuknya.

"Ran, banyak fans kamu yang nggak setuju saya sama kamu," ucap Handaru.

"Terus, aku harus menuruti ucapan mereka?" Tanya Kiran. "Ini hidup aku Mas sayang, aku sudah
memilih kamu dan aku akan masa bodoh aja tuh..." ucap Kiran membuat Handaru tersenyum. "Mau fans
aku melarang aku sama kamu, aku nggak peduli. Aku tahu yang terbaik untuk aku dan itu kamu sayang,"
ucap Kiran.

"Wah...kamu sudah pintar banget merayu Mas ya Ran!" Ucap Handaru.

"Iya dong," ucap Kiran.

5/7

Gagal makan malam


Handaru tiba-tiba dikejutkan dengan suara klakson mobil dan juga ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.

Membuatnya menepikan mobilnya dan segera mengangkat ponselnya. Nama Altaf tertera diponselnya
dan ia dengan cepat mengangkat ponselnya, namun ketukan kaca mobil membuat Handaru segera
membuka kaca mobilnya. Terlihat Altaf menatap Handaru dengan tatapan sinis.

"Wah...kalian ini kayak anak abg saja yang kasmaran, Mbak pulang!" Kesal Altaf prustasi sedangkan
Defran yang berada didalam mobil menyungingkan senyumannya melihat tingkah konyol Handaru. Tadi
setelah pulang dari Rumah Sakit, ia segera menyusul Lifia yang sedang berada di Kediaman orang
tuanya. Namun tiba-tiba Murni memintanya bersama Altaf mencari Kiran, agar membawa paksa Kiran
pulang. "Gila aja besok menikah malam begini masih pacaran, di Rumah kita masih banyak tamu dan
nanyain kemana pengantin perempuannya, masa ibu harus bilang sejujurnya kalau Kiran Ayu pergi
pacaran dan belum pulang padahal besok akan menikah," ucap Altaf kesal membuat Handaru terkekeh.
"Mas aku pulang!" Ucap Kiran dan ia membatalkan acara makan malamnya.

"Makanya Mbak, tadi kan udah dibilangin kalau Altaf yang akan jemput Mbak, tapi Mbak nggak telepon
Altaf dan ternyata Mbak malah pergi sama Mas Handaru. Asataga kalian berdua ini nakal banget masih
sempat pacaran," kesal Altaf.

"Maaf Taf, iya ini Mbak pulang," ucap Kiran ia segera turun dari mobil Handaru, lalu melangkahkan
kakinya masuk kedalam mobil yang ada dibelakangnya. Kiran melihat Altaf masih mengomel panjang
kepada Handaru sedangkan sosok yang sedangkan berada dikursi kemudi ini menyungginkan
senyumannya melihat tingkah konyol Kiran dan Handaru.

6/7

Kokopan.
Kokopan
Kepulangan Kiran ke Rumah disambut dengan hangat oleh para keluarganya, bahkan Lifia sengaja
terang-terangan menggodanya hingga membuat Kiran benar-benar sangat malu. la sampai
menundukkan kepalanya dan ingin segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun Kana tidak
membiarkannya begitu saja. Bagi Kana, Kiran harus digoda bersama karena pasti akan

sangat menyenangkan bisa membuat Kiran sang perempuan dingin ini, tidak berkutik karena godaan
para keluarganya.

"Mau kemana Ran, baru juga pulang udah mau ke kamar aja, cerita dulu dong habis pulang kerja kamu

1/6

Kokopan
kemana lagi?" Tanya Kana mengangkat sudut bibirnya ketika melihat raut wajah Kiran terlihat kesal.

"Mbak please jangan mulai Mbak!" Ucap Kiran.

"Terus aja Mbak, giliran godain aku Mbak Kiran nomor satu. Tapi saat kita mau ngegodain Mbak,
ehhh...mau kabur," ucap Lifia membuat mereka semua terkekeh.

"Kalau Salsa sih pasrah saja sekarang kalau ada yang mau ngegoda," ucap Salsa dan ia sangat suka
melihat wajah kesal Kiran, yang ingin sekali membalas ucapan mereka namun memilih diam saja.

"Pasrah yakin Sa?" Goda Lifia membuat Salsa tersenyum malu.

"Mbak Kiran masih sempat-sempatkan pacaran ya? Padahal besok mau nikah pasti kangen banget gitu
sama Mas Handaru, dikokop nggak tadi?" Tanya Salsa membuat Kiran membuka mulutnya dan ia
menatap Salsa dengan kesal, sedangkan mereka semua terkekeh mendengar ucapan Salsa.
"Mas Defran...itu adiknya harus segera dinikah segera, udah ngerti saja dikokop, atau nanti apalagi
istilahnya yang mengarah kesitu," ucap Kiran.

"Diciuumm, digelung Mbak, dibelai ihhh....kok jadi gimana gitu pengen," goda Salsa mengedipkan
sebelah matanya.

"Iya ya...kita kelamaan jomblo Mbak, harusnya kita itu udah pacaran sejak SMA. Sayangnya kita punya
kakak-kakak yang mengerikan banget kalau ketahuan pacaran," ucap Kila mengingat bagaimana ketika ia
gagal memiliki hubungan istimewa dengan ketua OSIS idolanya ketika ia SMA karena tingkah Fajrin dan
juga Defran. "Kalau dulu idolaku itu nggak didatangin Mas Defran dan Mas Fajrin, mungkin sampai
sekarang aku akan jadi pacarnya. Mbak tahu nggak dulu itu kesayangan Kila itu pakek diancam gitu, kan
mengerikan banget jadi dia menjauh

2/6

Kokopan
dari Kila, sekarang Kila nggak tahu lagi gimana kabarnya," jelas Kila.

"Iya dulu mereka itu mengerikan banget, bukannya kita berdua bersyukur punya Kakak-kakak luar biasa
tampan dan keren, tapi kita kayak di neraka yang dikelilingin iblis ya Kil, orang-orang sudah pada punya
pacar ehhh...kita ketakutan kalau pacar kita di apa-apain gitu sama mereka," ucap Salsa.

"Makanya kamu itu nikahnya sama Zilo saja," ucap Fajrin membuka suaranya membuat Salsa
melototkan matanya.

"Tumben Mas Fajrin datang biasanya sibuk banget dan diwakilin sama Mbak Bita, sekalinya datang suka
banget ninbrung dan ikut-ikutan godain aku," ucap Salas sinis kepada Kakak sepupunya ini. "Sekarang itu
kakak-kakakku sekalian kita bersatu menggoda Mbak Kiran dan bukan Salsa yang jadi target. kita juga
jangan cepat pulang dong biar pengantin perempuannya kecapean sampai besok pagi," ucap Salsa. "Kan
seru banget kalau malam ini kelelahan karena kecapean eh....ditambah besok pagi acara akad nikah dan
resepsi pernikahan jadi malamnya...hehehe..." ucap Salsa.

"Setuju, biar malam pertamanya mereka berdua nggak ngapa-ngapain hahaha..." goda Lifia tertawa
membuat Defran menyunggingkan senyumannya melihat istrinya yang ikut serta menggoda Kiran.
"Aduh Mas...Kiran capek banget Mas, besok saja ya ditunda!" Ucap Lifia menirukan gaya bicara Kiran.

"Mas udah nggak tahan dek gimana?" Goda Bita yang juga ikut-ikutan menggoda Kiran.

"Kalau nggak tahan lagi mandi sana!" Ucap Kana menirukan gaya bicara Kiran.

"Mas Serkan, istrimu kenapa jadi begini? Mas tegur dong istrimu yang jadi penghianat jahatin adiknya!"
Ucap

3/6
Kokopan
Kiran kesal.

"Sayang..." panggil Serkan.

"Iya Mas sayang," ucap Kana.

"Lanjutkan apa yang kamu lakukan, Mas akan selalu mendapatkan dukungan dari suami kamu ini!" Ucap
Serkan membuat Kana tersenyum penuh kemenangan.

"Udah capek aku mau mandi!" Ucap Kiran dan ia segera bediri namun tangan Salsa dan Kila menahan
pergerakannya hingga membuatnya kembali terduduk.

"Jangan gitu dong Mbak, kita datang malam-malam begini demi bertemu Mbak kok kita dicuekin, ingat
ya Mbak tamu adalah raja!" Ucap Salsa.

"Raja dari Hongkong, kalian ini nyebelin banget sih...astaga...kenapa juga kalian datang sampai malam-
malam begini harusnya kalian pulang saja!" Kiran kesal.

"Asal Mbak tahu ya, mereka semua menginap di Rumah aku, kan rumah aku ada disamping Mbakku.
Jadi setelah pulang dari sini kita semua bisa langsung bobok,m dan kita kayaknya begadang aja sampai
jam dua," goda Lifia.

"Dasar gila," kesal Kiran. "Lifia kamu itu sedang hamil, nggak baik tidurnya malam dan harusnya kamu itu
banyak-banyak istirahat!" Ucap Kiran.

"Mbak Kiran lupa ya kalau suami aku itu dokter? Aku saja waktu itu belum tahu aku hamil, suamiku
sudah tahu duluan," ucap Lifia menatap Defran dengan tatapan penuh cinta.

"Jadi ya Mbak kalau Mbak Kiran itu calon suaminya kan pengacara gitu dan keduanya kalau berdebat
pasti seru banget, ribut nggak tuh kalau nentuin makan apa dan

4/6

Kokopan
di mana Mbak? Anggap saja sekarang itu Salsa sedang mewawancarai Mbak Kiran," ucap Salsa.

"Nggak usah ditanya Sa, melihat tingkah Mbak Kiran mereka berdua pasti sering berdebat," ucap Altaf
dan ia duduk disamping Salsa.

"Altaf kamu ngapain duduk disini? sana duduk sama laki-laki!" Ucap Kiran kesal. Kalau Altaf sudah ikut-
ikutan dapat dipastikan itu akan menjadi penyerangan yang melelahkan, bagi seorang Kiran yang hanya
akan menerima serangan dari berbagai arah seorang diri.

Altaf. "Nah kan...sengaja mengalihkan pembicaraan," ucap


"Nggak, ini ya aku jawab. Aku sama Mas Handaru itu asal kalian tahu saja kita kompak banget, dia juga
selalu mengalah kok sama aku maunya aku itu apa, Mas Handaru itu cinta banget sama aku, lagian kita
itu punya hobinya juga sama," jelas Kiran. Handaru juga sangat suka menonton di Rumah dari pada
dibioskop sama seperti dirinya. la juga menyukai alam bebas dan memilih liburan yang ekstrim misalnya
mendaki gunung, mencari air terjun sama seperti dirinya.

"Iya ya Mbak? Wah...pantesan jodoh dan asal kalian tahu Mbak Kiran lagi ngapain coba saat kita jemput
paksa dia pulang tadi?" Tanya Altaf, membuat Kiran melototkan matanya dan ia memukul bahu Altaf
karena kesal.

"Jangan ngarang ya Taf, kurang ajar banget kamu..."

teriak Kiran membuat mereka semua tertawa melihat kekesalan Kiran.

"Loh ini kdrt Mbak, jangan pukul-pukul. Altaf jujur loh kalau nggak percaya tanya sama Mas Defran, tadi
kan yang jemput Mbak bukan hanya Altaf!" Ucap Altaf.

"Ayah...Altaf nakal, sekarang Altaf merokok Yah..." teriak Kiran.

"Oh oh...sekarang Altaf bebas loh Mbak, nggak ada tuh

5/6

Kokopan
takut dimarahin Ayah Ibu kalau hanya karena rokok," ucap Altaf. "Lihat tuh Ayah nggak beraksi, Ayah
sibuk sama teman-teman gank satu RT," ucap Altaf.

Kiran memukul-mukul Altaf karena kesal, namun seperti biasanya Altaf bisa menangkis serangan Kiran
dengan tangannya. Kiran memang sangat pandai bela diri berbeda dengan Kana dan Lifia yang memang
sangat feminim. "Mbak Kiran tadi ngapain, Mas Def?" Tanya Lifia dengan suaranya yang cukup keras
agar Defran mendengar ucapannya.

"Kamu ingat nggak apa yang pernah kita lakukan dulu, nah itu yang Kiran dan Handaru lakukan," ucap
Defran, membuat wajah Lifia memerah karena malu apalagi semua keluarganya tersenyum penuh arti
menatap kearahnya dan juga kearah Kiran.

"Berati kokopan ya Mas, hehehe..." Kekeh Lifia.

"Udah stop pusing banget sih sama tingkah kalian yang nyebelin..." kesal Kiran prustasi.

Comments

Vote

6/6
Dia perhatian sekali.
Dia perhatian sekali
Pagi ini semua keluarga disibukkan dengan acara akad nikah yang akan diselenggarakan jam delapan
pagi, yang akan diadakan di masjid yang berada didekat Kediaman Subekti. Saat ini Lifia masih tertidur
lelap dipelukan Defran dan jam saat ini telah menunjukkan pukul lima kurang. Malam tadi setelah puas
menggoda Kiran, sebagian dari keluarganya memang menginap di Rumah ini. Bahkan

keluarga besar Handaru sebenarnya juga telah menginap di Kediaman Marco yang juga berjarak
beberapa rumah dari rumah Subekti, agar tidak telambat untuk datang keacara akad nikah pagi ini.

Defran perlahan membuka matanya dan ia mencium

1/6

Dia perhatian sekali


pipi Lifia, namun seperti biasanya Lifia tidak mudah untuk dibangunkan seperti biasanya. Defran
membisikkan kata-kata lembut untuk membangunkan Lifia tapi hasilnya tetap sama putri tidur ini
semakin nyenyak tertidur dipelukkan. Hanya ada satu cara untuk membangunkan Lifia selain
memandikan Lifia yaitu menyetuh bagian sensitif istrinya ini dan binggo...Lifia membuka matanya.

"Mas..." lirih Lifia. Siapa lagi yang bisa membuatnya bangun kecuali suaminya ini.

Defran mencium dahi Lifia dengan lembut, lalu ia segera mengecup bibir Lifia dengan cepat. "Ayo
bangun sayang!" Ucap Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Sekarang jam berapa, Mas?" Tanya Lifia.

"Jam lima kurang," ucap Defran, menunjuk jam didinding kamarnya.

"Kita belum Sholat Mas," ucap Lifia.

"Iya, ayo bangun!" Ucap Defran dan ia turun dari ranjang.

"Gendong!" Ucap Lifia manja dan ia menatap Defran dengan tatapan memohon, agar Defran mau
menggendongnya.

Defran mengangkat tubuh Lifia dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Defran
menurunkan Lifia dibawah shower dan ia menghidupkan shower dengan mengukur suhu air untuk
memastikan jika airnya terasa hangat, lalu ia menyiramnya ditubuh Lifia.

Defran bisanya bangun lebih pagi dan ia sangat suka sholat subuh berjemaah di Masjid, tapi hari ini tidak
ia lakukan karena pagi ini setelah subuh, ia akan segera datang ke Kediaman mertuanya untuk
membantu mempersiapkan acara akad nikah. Keluarganya memang menyerahkan acara ini kepada
panitia acara di RT ini dan juga EO, namun tetap saja semua keluarga juga terlibat
2/6

Dia perhatian sekali


pada acara ini.

"Mas, aku mandi sendiri saja!" Ucap Lifia.

"Oke," ucap Defran dan setelah ia melihat istrinya itu selesai mandi, ia baru akan mandi. la memang
sering kali mengawasi Lifia karena istrinya yang baru bangun tidur, biasanya akan berjalan ceroboh
hingga bisa saja terjatuh dan Defran tidak ingin itu terjadi.

Defran segera mandi saat melihat punggung istrinya itu menghilang dari balik pintu kamar mandi,

setelah itu ia melihat istrinya itu sedang duduk disofa dengan telah menggunakan mukenanya. Defran
segera memakai baju kokoh dan sarung, lalu ia mengajak Lifia sholat subuh berjemaah. Beberapa menit
kemudian setelah sholat, keduanya segera bergegas keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya
menuju lantai dasar. Lifia melihat Salsa dan Kila dan ia mendekati keduanya yang sedang duduk disofa,
yang berada di ruang tengah. "Loh kenapa nggak sarapan? Sarapan disini saja Kila, Salsa!"

Ucap Lifia.

"Iya Mbak kita sarapan disini dan kita sudah minta dibuatin roti bakar sama Mbaknya dibelakang," ucap
Salsa.

"Kila juga sudah minta dibuatin telur ceplok sama roti gandum," ucap Kila.

Defran melangkahkan kakinya ke dapur dan ternyata ia membuatkan istrinya itu segelas s**u, lalu ia
segera memberikannya kepada Lifia. "Minum!" Perintah Defran membuat Lifia dan Slasa tersenyum
melihat betapa perhatiannya Defran kepada Lifia.

"Nggak salah dulu Mbak berusaha berjuang mendapatakan Mas Defran, kalau hasilnya diratukan begini
ya Mbak," goda Kila membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Iya patah hati udah nggak terhitung lagi," ucap Lifia

3/6

Dia perhatian sekali


dan ia kembali meminum s**u hangat yang telah dibuat oleh Defran.

"Mas Defran sih lempeng banget, seolah nggak ada aksi padahal ya hehehe..aku juga tahu loh Mbak
kalau Mas Def suka bobok bareng sama Mbak, kalau Mbak menginap di Rumah kita," ucap Salsa
membuat wajah Lifia lagi-lagi bersemu merah. "Jangan tanya kenapa aku nggak bilang ke semua orang
hehehe...karena aku dikasih uang jajan yang banyak sama Mas Def," ucap Salsa.

"Mas...." Ucap Lifia menatap Defran dengan tatapan penasaran.


"Apa hmmm...?" Tanya Defran mengelus pipi Lifia dengan lembut.

"Siapa lagi yang tahu dan kamu bungkam biar aku nggak tahu, Mas?" Tanya Lifia.

"Hanya beberapa orang," ucap Defran.

"Kila juga tahu kok," ucap Kila. "Tapi Kila diam saja karena kalau Kila bilangin sama Mbak Lifia, Mbak
pasti nggak percaya," ucap Kila. Dulu jika Kila mengatakan hal ini padanya, ia pasti tidak percaya jika
Defran sering datang ke kamarnya jika ia menginap di Kediaman orang tua Defran atau sedang liburan
bersama.

Percuma saja ia menanyakan hal itu sekarang kepada Defran, karena Defran tidak akan membahasnya.
Apalagi sekarang hal itu tidak menjadi hal yang sangat penting lagi baginya. Bagi Lifia yang terpenting
saat ini kehidupannya yang sekarang bersama dengan Defran Satyas yang sangat ia cintai, cintanya juga
telah berbalas dan itu sudah sangat-sangat membuatnya bahagia.

"Kita itu sedang menunggu penata rias kita Mbak, katanya sebentar lagi datang," ucap Kila.

"Nggak usah bermakeup tebal Kila, Lifia!" Ucap Defran.

4/6

Dia perhatian sekali


"Mas kita itu harus tampil perfect dong soalnya kita masih jomblo dan harus terlihat wah gitu disetiap
kesempatan!" Ucap Salsa membuat Lifia menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Salsa.

Seorang Maid mendekati mereka dan mengatakan jika sarapan pagi telah siap. "Ayo kita sarapan dulu!"

Ucap Lifia

"Oke Mbak," ucap Kila dan Salsa bersamaan.

Mereka saat ini melangkahkan kakinya menuju ruang makan, lalu mereka sarapan bersama. Salsa
melihat kebiasan sarapan Defran yang memang tidak memakan makanan yang berat dan biasanya ia
hanya akan memakan protein atau jus sama seperti Lifia. Tapi kali ini Defran memberikan makanan yang
bergizi lengkap untuk Lifia, karena Lifia yang sedang hamil harus memakan makanan yang begizi
lengkap.

"Aku gemuk nggak Kila, Salsa?" Tanya Lifia membuat Defran mengisyaratkan kepada Salsa dan Kila agar
menggelengkan kepalanya.

"Nggak kok, Mbak itu tetap cantik loh Mbak," ucap Salsa.

"Iya Mbak, mau Mbak gemuk sekalipun kalau lagi hamil pasti Mbak akan tetap cantik, apalagi kalau
hamil ya aneh Mbak kalau kurus," jelas Kila.
"Kalau lagi hamil berat badan kamu memang harus naik, kan ada yang tumbuh diperut kamu!" Ucap
Defran. "Ayo dimakan!" Ucap Defran. "Apa mau disuapin?" Tanya Defran.

"Nggak usah Mas, malu tahu disuapin didepan mereka Mas," ucap Lifia membuat Salsa dan Kila
terkekeh.

"Nggak apa-apa Mbak kita maklum kok!" Ucap

Salsa.

Mereka saat ini makan dengan lahap sambil

5/6

Dia perhatian sekali


menceritakan kisah masa kecil mereka, bagaimana Defran bersikap overprotektif kepada Kila dan Salsa
hingga dulu membuat mereka kesal. Defran sosok yang menyebalkan yang sangat tegas berbeda dengan
Serkan, Janu, Fajrin dan Amran. Setelah sarapan bersama, ketiganya segera bersiap dengan memakai
kebaya dan juga memakeup wajah mereka dengan bantuan penata rias. Sedangkan Defran, ia segera
bergegas menemui semua keluarga yang telah berkumpul di Kediaman mertuanya.

Comments

Vote

6/6

Tiba-tiba gugup dan cemas.


Tiba-tiba gugup dan cemas
Lifia menatap wajahnya dicermin dan ia tersenyum karena setelah dimakeup oleh penata rias yang
sering menangani makeup pernikahan untuk artis. Lifia merasa wajahnya berubah menjadi sangat
cantik. Tadi malam ia sangat kesal dengan tingkah para keluarganya yang sengaja membuatnya akhirnya
tidur jam dua pagi apalagi Altaf, Kila dan Salsa mengatakan jika mereka akan

mengadakan pesta lancang dengan waktu yang singkat tadi malam. Ya...mereka memaksa Kiran untuk
duduk bersama mereka di Taman belakang sambil melihat bintang yang mereka tunggu, namun tidak
muncul. Altaf bahkan sengaja tidak berbincang dengan para lelaki

1/6
Tiba-tiba gugup dan cemas
dikeluarganya, hanya karena ingin mengganggu Kiran dan ia bergabung dengan Kila dan Salsa bersatu
untuk membuat Kiran kesal.

"Kelihatan masih mengantuk," goda Kila dan ia juga saat ini masih sangat mengantuk namun ia dan Salsa
sudah terbiasa tidak tidur ketika mendapatkan dinas malam di Rumah Sakit.

"Kalian berdua itu tega, mau-maunya ikut kegilaan Altaf," sinis Kiran.

"Mbak kata Altaf kita itu memang harus merayakan pesta lajang Mbak dan semalam itu khusus kita-kita
yang belum nikah, makanya yang sudah nikah diperbolehkan untuk tidak ikut acara kita," jelas Salsa.

"Kalian itu sengaja ingin ngerjain Mbak, nyebelin banget tunggu ya pembalasan Mbak!" Ucap Kiran kesal
membuat Kana, Lifia, Kila dan Salsa terkekeh.

"Tuh...kalian siap-siap ya ada yang mau balas dendam, hehehe..." goda Lifia kepada Kila dan Salsa.

Kana tersenyum dan ia menatap Kiran yang telah cantik dengan kebaya putihnya dengan tatapan
sayang. Acara akad nikah akan berlangsung di Masjid dan sebentar lagi adiknya ini akan menjadi seorang
istri. Tiba-tiba Kana mendekati Kiran, lalu ia memeluk lengan Kiran dan diikuti oleh Lifia yang juga
memeluk lengan Kiran. "Adekku sekarang akan jadi istri orang, nggak kerasa dulu kamu dan Lifia itu
selalu mengikuti Mbak," ucap Kana.

"Iya Mbak, dulu kita itu sukanya main Barbie ya Mbak Dek, terus petak umpet dan ingat nggak ada
rahasia kita bertiga yang nggak boleh banget dibahas karena takut Ibu dan Ayah tahu?" Ucap Kiran
membuat Kana dan Lifia tersenyum.

"Apa sih rahasianya? Jangan bikin kita penasaran!" Ucap Salsa penasaran.

Lifia terkekeh mengingat kenakalan mereka bertiga

2/6

Tiba-tiba gugup dan cemas


saat itu. "Rahasia kita itu dulu hehehe saat SD gitu kita kelaparan ketika puasa. Kita pecah puasa diam-
diam jam dua siang dan setelah itu kita berpura-pura puasa karena takut dimarahin sama Ibu dan Ayah,"
ucap Lifia mengingat rahasia mereka bertiga.

"Terus kita bertiga janji nggak akan seperti itu lagi, karena nggak enak banget bohong sama Ayah dan
Ibu apalagi Ibu membuatkan makanan kesukaan kita," ucap Kiran mengingat bagaimana ibunya yang
begitu bangga saat menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, bahkan ibunya memuji mereka hebat
karena tahan puasa.

"Iya sedih banget kalau saat itu ibu tahu, anak perempuannya kompak berbohong gitu," ucap Kana
membuat Salsa dan Kila tertawa.
"Hahaha...ternyata mereka sama kayak kita Mbak, kita dulu juga pernah pecah puasa karena kehausan
dulu saat kecil, aku dan Mbak Salsa main sepeda gitu dan sebenaranya kita sudah dilarang Mami Liana
tapi dasar kitanya aja bandel, kita diam-diam kedapur gitu dan kita minum Mbak hahaha..." tawa Kila
mengingat kejadian itu.

"Iya terus kita ketahuan sama Mas Defran, kita dimarahin habis-habisan sama Mas Def, terus Mas Def
pakek ngadu lagi sama Mas Fajrin, Mas Janu dan Mas Serkan, pokoknya kita dimarahin terus hari itu
capek banget. Aku sama Kila nangis gitu dan minta maaf karena bohong pura-pura masih puasa," ucap
Salsa membuat mereka semua terkekeh mendengar cerita Salsa dan Kiran.

"Nanti gantian tuh anak-anak kita yang pastinya akan main sama-sama dan menikmati masa kecil yang
indah," ucap Kana mengingat masa kecilnya yang begitu indah bersama adik-adiknya.

"Semoga nanti aku cepat nyusul juga segera diberikan

3/6

Tiba-tiba gugup dan cemas


momongan," ucap Kiran. Dulu ia bahkan tidak pernah berpikir bakal menikah apalagi memiliki anak, tapi
setelah bertemu dengan Handaru segalanya berubah.

"Aaminn..." ucap mereka semua.

Ketukan pintu membuat mereka semua melihat kearah pintu kamar dan sosok Altaf tersenyum melihat
Kiran yang terlihat sangat cantik. "Ayo kita ke masjid Mbak!" Ajak Altaf.

"Naik mobil ya Al?" Tanya Kiran.

"Nggak Mbak, kita jalan kaki loh...ngapain naik mobil toh...masjidnya dekat sini Mbak," ucap Altaf.

Kira merasa sangat malu apalagi ketika berjalan pasti akan banyak orang yang melihatnya dan ia sangat
gugup saat ini. "Udah nggak usah malu Mbak sayang, semua perempuan yang akan menikah pasti akan
melewati momen deg-degan begini ketika akan menikah," ucap Lifia.

"Apa aku terlihat cantik Lifia?" Tanya Kiran gugup.

"Cantik, cantik banget...dari dulu kan Mbak yang paling cantik diantara kita," ucap Lifia.

"Kamu itu kalau ditanya sama aku siapa yang paling cantik diantara kita bertiga, kamu pasti jawab aku.
Tapi kalau Mbak Kana yang tanya sama kamu, pasti kamu bilang Mbak Kana yang cantik," ucap Kiran dan
sebenarnya saat ini ia sedang mencoba menghilangkan rasa gugupnya, yang tiba-tiba muncul dan
membuat ia cemas.

"Hehehe...sebagai adik, aku dan Altaf itu menjaga perasaan Kakak kita ini, iya nggak Al?" Tanya Lifia
kepada Altaf.
"Iya dong," ucap Altaf. "Ayo sini Mbak sayang! Altaf gandeng tangannya biar nggak gugup!" Ucap Altaf
menyadari Kiran yang banyak bicara dapat dipastikan jika

4/6

Tiba-tiba gugup dan cemas


saat ini Kiran sedang merasa sangat gugup.

Kiran memeluk lengan Altaf membuat mereka semua tersenyum, lalu Altaf dan Kiran melangkahkan
kakinya keluar dari kamar ini. Mereka semua segera keluar dari kamar mengikuti Kiran dan Altaf yang
sedang berjalan melewati jalanan menuju masjid.

Ketika Lifia ingin melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini, sosok Defran tiba-tiba berada
disampingnya.

Lifia tersenyum dan ia memeluk lengan Defran dengan erat, lalu keduanya melangkahkan kakinya
bersama mengikuti semua keluarga yang saat ini melangkahkan kakinya menuju masjid.

Tak butuh waktu lama, saat ini mereka telah berada di masjid yang telah terlihat ramai. Lifia melihat
ekspresi wajah Kiran yang memucat, membuatnya tersenyum. Kiran Ayu biasanya terlihat sangat
percaya diri dan tidak takut apapun itu, saat ini terlihat sangat berbeda. Kiran bukan hanya gugup tapi ia
juga sangat khawatir dan cemas. Saat ini mereka telah sampai dimasjid dan Defran memastikan Lifia
mendapatkan tempat yang nyaman untuk duduk dan ia kemudian segera bergabung duduk, bersama
para lelaki di keluarganya sambil mengawasi Lifia yang saat ini duduk disamping Salsa. Dengan isyarat
matanya ia meminta Salsa untuk menjaga istrinya itu dan Salsa yang mengertikan segera memberikan
isyarat dengan menganggukkan kepalanya kepada Defran.

Beberapa menit kemudian acara segera dimulai dan Kiran menundukkan kepalanya, hingga ia tidak
berani melihat kesampingnya untuk sekedar melihat calon suaminya, yang saat ini sedang duduk
disampingnya. Acarapun dimulai, semua tamu yang hadir tampak sangat ramai dan saat ini Kiran
bertambah gugup namun tidak dengan sosok laki-laki tampan yang berada disampingnya. Ya Handaru
terlihat begitu santai dan ia tidak terpengaruh dengan ramainya para tamu, apalagi acara ini telah lama
ia

5/6

Apa sih.
Apa sih
Acara akad nikah pun dimulai, pak penghulu saat ini memberikan nasehatnya lalu ia segera memulai
cara akad nikah ini. Subekti saat ini menjabat tangan Handaru dan terdengar suara Subekti lalu
kemudian suara lantang Handaru hingga terdengar kata sah yang terucap dari semua yang hadir di
Masjid ini. Wajah Kiran yang memucat saat ini terlihat lebih lega dan ia memberanikan diri untuk
mengangkat wajahnya. la melihat kesampingnya dan Handaru tersenyum padanya, lalu ia mengulurkan
tangannya membuat Kiran mencium punggung tangan Handaru. Kiran merasa sangat lega dan ia
tersenyum ketika Handaru tersenyum padanya.

1/6

Apa sih
Acara akad nikah ini diselenggarakan dengan sederhana, namun terlihat begitu membahagiakan. Setelah
itu Kiran dan Handaru meminta restu kepada para orang tua, kepada para keluarganya dan juga para
tamu. Kiran menahan dirinya untuk tidak terharu dan sebenarnya ia ingin menangis saat ini juga. Kiran
bahkan tak berani menggenggam tangan suaminya, karena ia masih canggung memperlihatkan sedikit
kemesraannya didepan para keluarganya dan juga para tamu.

Keduanya saat ini telah kembali ke Kediaman orang tua Kiran dan keduanya duduk dipelaminan
sederhana, untuk menyambut uluran tangan para tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada
keduanya secara langsung. Ada dua meja hidangan yang juga telah disiapkan di tempat ini untuk para
tamu dan semua tamu disini juga telah diundang untuk hadir diacara resepsi pernikahan mereka nanti
malam.

"Kamu cantik," ucap Handaru membuka pembicaraan diantara keduanya. Sejak tadi keduanya tidak
sempat berbincang dan mengikuti ritual akad nikah hingga meminta restu kepada keluarganya.

"Iya Mas...Kamu sudah sering bilang aku cantik," ucap Kiran pelan.

"Tapi kan hari ini jadi berkali-kali lipat cantiknya," ucap Handaru menyunggingkan senyumannya ketika
melihat wajah istrinya itu terlihat malu-malu. Istri...kata ini bisa membuat suasana hatinya semakin
merasa sangat bahagia seolah euforia sedang mengelilinginya.

"Ini karena efek makeup Mas," ucap Kiran membuat Handaru lagi-lagi tersenyum.

"Bukan karena efek makeup Ran, tapi karena kamu yang telah menjadi istri Mas, Ran. Jadi kamu akan
selalu cantik dimata dan pikiran Mas," ucap Handaru. Wajah Kiran memerah karena malu mendengar
ucapan Handaru yang

2/6

Apa sih
begitu manis padanya. "Kamu kangen nggak?" Tanya Handaru pelan membuat Kiran mencubit pelan
lengan Handaru karena ia sangat malu apalagi Handaru mengatakan hal ini padanya. Sejujurnya
berpisah dengan Handaru beberapa jam saja sudah membuatnya gelisah dan ingin tahu sedang apa
Handaru saat itu.

"Nggak usah ditanya Mas," ucap Kiran, membuat Handaru tersenyum. Kiran merasa ia yang sekarang
sangat memalukan karena kasamaran yang ia rasakan, sepertinya sangatlah berlebihan. Apalagi jika
mengingat ia yang dulu, sering kali mengejek para keluarganya yang bucin parah membuatnya sangat
malu.

Kiran tersenyum bahagia saat melihat Murni ibunya dan Erna Maminya Handaru, terlihat sangat akrab.
keluarga besar Handaru yaitu para Dewandaru juga telah hadir saat ini. seorang perempuan imut dan
cantik mendekati mereka bersama dengan suaminya yang tampan. Handaru melihat para sepupunya itu
sedang berbincang bersama dan sesekali akan tersenyum padanya. Albi dan istrinya juga ikut berperan
dalam acara pernikahannya ini, keduanya bahkan terlihat ikut sibuk bersama Marco dan Sandra.
Handaru tersenyum saat melihat Januarta Sanjaya Satyas yang merupakan sepupu Defran Satyas itu
bersama dengan istrinya, mendekati mereka untuk mengucapkan selamat.

"Selamat bro," ucap Janu tersenyum bahagia melihat Handaru Laksamana Dewandaru, akhirnya
menikah dengan perempuan yang ia cintai.

"Terimakasih bro nanti malam jangan lupa datang ke resepsi pernikahan saya!" ucap Handaru.

"Kalau itu sudah pasti kita akan datang lagi dengan formasi yang lebih lengkap," ucap Janu membuat
Wirda istri Janu tersenyum kepada Kiran. Bahkan Kiran dan Wirda terlihat akrab dengan menujukkan
kedekatan keduanya

3/6

Apa sih
dengan mencium pipi kanan dan kiri.

"Kita pamit Kiran sekali lagi selamat ya Ran!" ucap Wirda dan ia membisikkan sesuatu ditelinga Kiran.
"Ada kado spesial dari aku loh nanti dibuka dan dipakai malam pertama," bisik Wirda membuat wajah
Kiran memerah karena malu.

"Astaga, nggak perlu repot-repot Mbak Wirda," ucap Kiran.

"Nggak repot kok," ucap Wirda dan ia tersenyum penuh kemenangan karena Kiran mengerti apa isi kado
darinya itu.

Wirda merupakan salah satu penyumbang terbesar diyayasan tempat Kiran yang juga menjadi anggota
yayasan. Yayasan sosial ini biasanya membantu orang-orang yang sangat membutuhkan dan Kiran telah
mengenal Wirda sejak dua tahun lalu. Kiran tidak menyangka jika Handaru berteman akrab dengan
Januarta Sanjaya Satyas suami Wirda.

"Mas Handaru bilang sama istrinya kalau lupa pakek kado dari aku nanti malam," ucap Wirda membuat
wajah Kiran semakin memerah.

Handaru tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya. "Terimakasih Wirda," ucap Handaru.

"Kita pamit Han, untuk persiapan party nanti malam!" Ucap Janu.
"Kalian menginap saja dihotel!" Ucap Handaru yang memang menyediakan penginapan dihotel untuk
keluarga dan para sahabatnya.

"Oke," ucap Janu. la dan istrinya saat ini melangkahkan kakinya keluar dari Rumah ini.

Saat ini Kana mendekati Kiran dan Handaru, lalu ia memberikan sepiring makanan kepada Kiran. "Makan
dulu kalian berdua kayaknya nggak sarapan, makan romantis ya

4/6

Apa sih
suap-suapan gitu!" Goda Kana.

"Ih...Mbak Kana kok jadi genit begini sih..." ucap Kiran kesal.

"Loh...yang aneh itu kamu Ran, sudah menikah masih malu tapi saat belum menikah kamu malu-maluin.
Kamu pikir Mbak nggak tahu tingkah laku kalian itu yang sering berduaan di Apartemen Handaru," ucap
Kana. "Sudah itu kamu makan sambil suapin suami kamu! nanti kalau kurang kamu bilang saja sama
Mbak!" Ucap Kana membuat Kiran menganggukkan kepalanya dengan pelan.

Kiran menatap Handaru yang saat ini menaikkan sebelah alisnya dan Kiran menyodorkan sesendok
makanan kepada Handaru. Handaru membuka mulutnya dan ia memakan makanan itu dengan pelan.
"Cie...cie suapan dari istri memang begitu nikmat," teriak Salsa membuat mereka semua tertawa.

"Hahaha..." tawa mereka.

Wajah Kiran memerah, ia harus berusaha keras terlihat anggun saat ini dan mengabaikan godaan para
keluarganya yang memang sangat suka menggodanya saat ini. "Kamu makan juga Ran!" Ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran dan ia menyuapkan sesendok makanan itu kedalam mulutnya.

"Kamu nggak usah malu, anggap saja mereka semua tidak ada!" Ucap Handaru.

Kiran menghela napasnya, bagaimana ia tidak terpengaruh dengan godaan mereka, apalagi mereka
seolah mencari kesempatan dan celah untuk menggodanya saat ini. "Mereka itu sengaja banget Mas
mau godain aku, aku kan malu Mas. Aku nggak biasa dibully kayak gitu, biasanya kan aku yang ikutan
bully mereka," ucap Kiran.

"Ohh...kalau begitu mereka namanya sekarang itu balas dendam sama kamu, jadi agar kita terlihat

5/6

Apa sih
memenangkan pertarungan ini, kamu harus bersikap santai seolah ucapan mereka untuk menggoda
kamu itu kamu abaikan. Kamu sekarang itu harus mengubah fokus kamu, kamu hanya fokus sama suami
kamu, Ran!" Pinta Handaru membuat Kiran tersenyum malu. Apalagi Handaru menggerakan pipi Kiran
dengan tanganya, hingga mata keduanya bertemu.

"Mbak Kiran mau kokopan ya, kayaknya nggak tahan lagi tuh...walaupun semalam sudah bergadang
sama kita," goda Salsa lagi membuat mereka kembali tertawa. "Lihat tuh matanya aktif banget memberi
isyarat kepengen banget tuh..." ucap Salsa.

"Kepengen apa Sa?" Tanya Lifia.

"Kepengen gitu Mbak, Mas...dijadikan aku milikmu!"

Ucap Salsa membuat mereka semua kembali tertawa melihat Kiran yang terlihat kesal mendengar
ucapan Salsa.

'Sa...tunggu ya kamu, nanti akan Mbak balas godain kamu sampai kamu minta ampun,' batin Kiran kesal.

Comments

Vote

6/6

Mengumbar.
Mengumbar
Kiran sangat lelah dan ia baru bisa istirahat pukul empat sore dan sebentar lagi, ia juga harus segera ke
hotel.

la membersihkan wajahnya yang tadi telah dimakeup ketika akad Nikah dan sebentar lagi ia akan
dimakeup kembali untuk acara resepsi pernikahannya malam ini.

Terdengar suara ketukan pintu membuat Kiran segera membukanya dan sosok tampan itu
melangkahkan kakinya

masuk kedalam kamar. Jantung Kiran berdetak dengan kencang karena untuk pertama kalinya ia berada
didalam kamar sebagai sepasang suami istri.

"Kita sudah mau berangkat ke hotel Ran," ucap Handaru membuat Kiran menganggukkan kepalanya.

1/6
Mengumbar
"Loh...kenapa kamu menundukkan kepala kamu? Nggak mau lihat suami kamu?" Tanya Handaru. Wajah
Kiran memerah karena malu dan ia mengangkat wajahnya dengan pelan, lalu menatap wajah tampan itu
yang saat ini menyapanya dengan tatapan menyelidik.

"Mau kok Mas, mau banget..." ucap Kiran membuat Handaru tersenyum. Handaru melangkahkan
kakinya agar lebih dekat dengan Kiran dan ia menarik tangan Kiran lalu memeluk Kiran dengan erat.

"Istri Handaru apa kabar?" Tanya Handaru membuat wajah Kiran memerah.

"Alhamdulilah baik, Mas. Hari ini aku itu sangat bahagia," ucap Kiran dan ia mengeratkan pelukkannya.

Ketukan pintu terdengar, membuat Kiran melepaskan pelukannya namun Handaru menahan tubuh
Kiran dan ia mengeratkan pelukannya. "Mas...bukain dulu pintunya!" Pinta Kiran.

"Sebentar saya belum bisa melepaskan pelukan ini Kiran!" Ucap Handaru dengan suara beratnya. Kiran
merasa memeluk Handaru sangatlah menyenangkan dan menghangatkan hatinya.

"Tapi nggak enak Mas, itu mungkin sangat penting!" Ucap Kiran gugup.

Handaru menghela napasnya, bisakah ia memiliki sedikit banyak waktu untuk sekedar memeluk istrinya
ini? Karena sejak tadi ia ingin menciuuum Kiran dan memeluk Kiran dengan erat. Handaru melepaskan
pelukannya dan ia melangkahkan kakinya mendeketi pintu lalu membukanya.

"Mbak..." ucap Altaf dengan wajahnya yang terlihat kesal.

"Ada apa Al?" Tanya Handaru.

"Hehehe...tadi aku pikir Mbak Kiran yang buka," kekeh Altaf. "Itu Mas kita harus segera ke hotel
sekarang, jadi

2/6

Mengumbar
acara bercintanya ditunda dulu Mas!" Ucap Altaf membuat Kiran yang berada dibelakang Handaru
terlihat kesal dengan ucapan Altaf.

"Kurang ajar sekali kamu Altaf, kenapa sih harus banget buat Mbakmu ini malu?" kesal Kiran membuat
Altaf menyunggingkan senyumannya.

"Maaf deh kalau Altaf telah mengganggu acara bercintanya Mbak Kiran sama Mas Handaru,
hehehe...tapi acara kita ini kan padat banget karena malam nanti resepsinya. Jadi Mas... Mbak kita harus
segera melakukan persiapan!" Ucap Altaf.

"Iya tapi kan kamu nggak perlu bilang kayak gitu Taf, siapa juga mau bercintanya sekarang," ucap Kiran
dengan wajahnya yang memerah karena malu.
"Loh...Mbak Mas kalau aku jadi kalian aku pasti akan melakukan hal yang aku sangat inginkan sekarang,
apalagi kalau ada kesempatan," goda Altaf.

Handaru mengangkat sudut bibirnya, apa yang dikatakan Altaf benar. la pun sudah tidak sabar untuk
segera memiliki Kiran. Keinginan untuk menyerang Kiran saat ini juga begitu besar apalagi ada
kesempatan seperti ini berdua saja didalam kamar. "Nggak kita nggak kayak gitu," ucap Kiran kesal.

"Terimakasih Altaf sudah mengingatkan saya, kalau kamu tidak datang mengetuk pintu ini dan
mengingatkan agar kita segera pergi ke hotel, mungkin saya akan benar-benar melakukan apa yang saya
sangat inginkan saat ini juga," jelas Handaru membuat Kiran membuka mulutnya.

"Mas..." ucap Kiran kesal karena Handaru mengakui, jika ia saat ini benar-benar akan melakukannya jika
Altaf tidak datang mengingatkannya untuk segera pergi.

"Udah Mbak, sekarang bukan waktunya kita berdebat karena semakin cepat kita ke hotel akan semakin
baik,

3/6

Mengumbar
Mbak!" Ucap Altaf kembali mengingatkan Kiran. "Lagian Mbak itu butuh banyak persiapan!" Ucap Altaf.

"Oke," ucap Kiran. la bisa melihat jika saat ini prioritas adiknya ini memang untuk mengingatkannya dan
bukan ingin mengganggunya.

"Oke kita tunggu didepan Mbak!" Ucap Altaf dan ia segera menjauh dari kamar ini dan bergabung
dengan keluarganya yang lain.

Kiran mengambil tasnya dan ia melihat koper yang telah siap akan dibawanya ke hotel. Handaru
membawa koper itu dan ia menggeret koper itu keluar dari kamar ini.

"Mas...pakaian kamu mana Mas?" Tanya Kiran.

"Sudah ada dihotel!" Ucap Handaru.

"Oke Mas," ucap Kiran.

Keduanya melangkahkan kakinya bersama menuju pra keluarganya yang telah berada didepan teras.
Handaru mendekati mobilnya dan ia memasukkan koper Kiran kedalam mobilnya. Handaru
mengerutkan dahinya saat melihat Marco adiknya itu ternyata sedang duduk dikursi kemudi. "Nggak
usah aneh gitu, Mas kayak melihat setan," sinis Handaru.

"Kamu kenapa berada didalam mobilku, Marco?"

Tanya Handaru dingin.


"Aku diperintahkan Papi agar menjadi sopir spesial kamu Mas, kapan lagi coba sopir sepesial begini dari
Papi mau-maunya jadi sopir pribadi kamu," ucap Marco.

"Tidak perlu kamu turun saja Marco!" Perintah

Handaru.

"Ohhh...ohhh tidak bisa Mas," ucap Marco. "Mas jangan ngebantah perintah orang tua Mas!" Ucap
Marco.

"lya," ucap Handaru kesal.

Handaru mendekati Kiran dan ia pamit kepada

4/6

Mengumbar
keluarganya yang lain untuk pergi lebih dulu ke hotel, tempat yang akan diadakan resepsi
pernikahannya. "Ayah Ibu kita diminta untuk pergi lebih dulu ke hotel Bu," ucap Handaru pamit kepada
ibu dan Ayah mertuanya. Saat ini memang sebagian keluarga besar mereka telah berada di hotel lebih
dulu.

"Iya Nak, kalau kamu butuh sopir? Altaf bisa kok jadi sopir kalian!" tawar Murni.

"Tidak perlu Bu, karena ternyata orang tua saya telah menyiapkan seorang sopir pribadi yang sangat
istimewa,". Ucap Handaru membuat Murni terkekeh dan ia telah mendengar dari Erna, jika ia meminta
Marco yang akan mengendarai mobil yang akan mengantar Kiran dan Handaru.

"Oke pergilah Nak, hati-haru ya!" ucap Subekti. Kiran dan Handaru mencium punggung kedua orang
tuanya ini lalu keduanya segera masuk kedalam mobil.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan saat ini, Kiran melihat sosok supir yang memiliki wajah yang
sangat familiar. la melototkan matanya ketika menyadari jika Marco yang menjadi supir pribadi mereka
saat ini. "Loh kok Marco ada disini?" Tanya Kiran penasaran.

"Hari ini khusus menjadi supir pribadinya Mas Handaru dan Mbak Kiran. Soalnya Mami khawatir kepada
Mas Handaru kalau nyetir sendirian, nanti bukannya datang ke hotel tepat waktu, tapi Mbak dan Mas
malah nanti terlambat!" Ucap Marco membuat wajah Kiran semakin memerah.

"Sudah Marco jangan menggoda kakak ipar kamu, kakak ipar kamu ini aslinya sangat santun sekali dan
baik hati!" Ucap Handaru dan ia menarik Kiran agar masuk kedalam pelukannya.

"Baru dibilangin eh...udah mengumbar kemesraan," sinis Marco.

5/6
Mengumbar
"Udah Marco bilang saja kamu iri sama saya yang tidak perlu sampai menghamili dulu untuk
mendapatkan Kiran," ucap Handaru membuat Marco sangat kesal karena Handaru mengungkit masalah
pernikahannya bersama Sandra.

"Dasar pengacara kampreeerzz...." Kesal Marco. Handaru tersenyum penuh kemenangan, buah dari
kesabarannya akhirnya berbuah manis dan ia telah benar-benar menjadikan Kiran sebagai istrinya
secara hukum dan agama tanpa pemaksaan.

Comments

Vote

6/6

Tingkahnya yang durhaka.


Tingkahnya yang durhaka
Kiran sampai di hotel bersama Handaru dan keduanya segera menuju kamar yang akan menjadi kamar
untuk malam pertamanya. Kamar ia terlihat sangat mewah dan kamar ini memang memiliki ukuran yang
sangat besar dengan memiliki ruangan khusus untuk menerima tamu yang memiliki sofa untuk
bersantai. Kiran dan Handaru saat ini sedang bersama Marco yang sengaja mengikutinya dari belakang,
membuat Handaru menghela napasnya.

"Marco lebih baik kamu menemui istri kamu sekarang!" Usir Handaru karena ia sangat kesal dengan
tingkah Marco yang saat ini terus saja mengikutinya.

"Sebagai adik yang baik aku hanya ingin melayani kakak sulungku ini dengan sangat baik. "Apa kalian
berdua lupa jika kalian itu raja dan ratu sehari, besok-besok mau kamu paksa aku nggak akan mau Mas
mengikuti kamu kayak babu seperti ini," ucap Marco sinis membuat Kiran terkekeh melihat tingkah
keduanya yang sejak tadi selalu berdebat.

Kiran tidak menyangka jika Handaru dan Marco yang dulunya terlihat sangat akur itu, ternyata juga
sering bertengkar bahkan keduanya terlihat bersaing akan sesuatu hal terbukti ketika Marco lebih dulu
menikah, Handaru merasa terkhianati, apalagi Marco telah memiliki anak lebih dulu darinya. "Mas aku
melakukan ini semua demi mendapatkan permintaan maafku Mas, karena telah menikah lebih dulu dari
kamu dan memilki anak lebih dulu juga. Kalau dipikir-pikir aku itu memang selangkah lebih maju dari
Mas," ucap Marco membuat Handaru mengeraskan rahangnya, karena ingin sekali ia mengusir

1/6
Tingkahnya yang durhaka
Marco saat ini juga. Apalagi ia ingin sekali memiliki waktu berdua saja dengan Kiran sebelum penata rias
datang untuk kembali memoleskan makeup ke wajah istri cantiknya ini.

"Marco keluar!" Usir Handaru.

"Aku duduk disini saja Mas, kalau mau kekamar silahkan saja tapi ingat waktunya nggak panjang loh
paling hanya sepuluh menit. Tanggung banget loh Mas...nggak bisa lama mainnya," ucap Marco
membuat Kiran melototkan matanya sedangkan Handaru sangat geram dengan tingkah adiknya ini.

Handaru menarik tangan Kiran agar masuk kedalam kamar dan ia menutup pintu kamar dengan kencang
lalu menguncinya. Saat ini hanya Handaru dan Kiran yang sedang berada didalam kamar dan Kiran
mengedarkan pandangannya untuk melihat seisi kamar ini. Matanya tertuju pada ranjang yang ternyata
telah dihiasi kelopak bunga berbentuk hati dan terdapat sebuket bunga mawar indah, membuat Kiran
tersenyum melihatnya.

"Mas ternyata orang hotel tahu saja ya Mas kalau aku suka banget bunga mawar merah Mas," ucap
Kiran.

"Kalau buket bunga mawar itu bukan dari hotel, tapi dari suami kamu Kiran," ucap Handaru membuat
Kiran tersenyum dan ia melangkahkan kakinya segera mendekati buket bunga mawar itu.

"Bunganya cantik banget," ucap Kiran dan ia mengangkat buket bunga itu lalu mencium buket bunga itu.
"Harum banget Mas," ucap Kiran.

"Coba lihat lagi ada apa di buket bunganya!" Ucap Handaru membuat Kiran segera mencari sesuatu yang
dimaksud Handaru.

Kiran segera membukanya dan ia melihat ada kotak bludru bewarna hitam didalamnya. Kiran
mengambilnya dengan pelan lalu segera membukanya, ia tersenyum

2/6

Tingkahnya yang durhaka


melihat isi kotak itu ternyata sebuah anting-anting cantik.

"Mas kamu juga baru kasih aku perhiasan dan ini kamu kasih lagi," ucap Kiran dan ia meletakan buket
bunga itu diatas bufet.

"Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Handaru.

"Suka banget Mas," ucap Lifia dan ia tersenyum senang. "Makasih sayang," ucap Kiran. la segera
melangkahkan kakinya mendekati Handaru lalu segera memeluk Handaru dengan erat.

"Ran ciumm saja ya!" Pinta Handaru membuat wajah Kiran memerah karena malu.
"Mas aku tu masih saja malu gitu sama kamu," jujur

Kiran.

"Kalau kamu malu berarti kamu suka dan mau," ucap

Handaru memutuskan seenaknya, jika Kiran mengizinkan ia menciumnya. Kiran terkejut saat melihat
bibir Handaru tiba-tiba menempel dibibirnya dan bergerak pelan. Handaru menciumnya bibir Kiran
dengan lembut dan berhati-hati, namun setelah ia merasa Kiran telah terbiasa dengan irama gerakkan
bibirnya, Handaru menggerakkan bibirnya dengan cepat seolah ingin mengeksplorasi semua bibir Kiran
dan ia seolah tidak cukup puas dengan apa yang ia lakukan saat ini.

Ketukan pintu terdengar membuat Kiran mendorong pelan d**a Handaru, agar melepaskan pelukannya.
Dengan wajah memerah Kiran memundurkan langkah kakinya setelah Handaru melepaskan tangannya
dari pinggang Kiran. Handaru menghela napasnya dan ia segera membuka pintu kamar, terlihat wajah
tengil Marco yang membuatnya ingin sekali menghajarnya sekarang ini juga karena telah berani
mengganggu aktivitasnya bersama Kiran.

"Nanti saja Mas cipokkannya, ini penata riasnya sudah datang, ayo buka pintunya lebar-lebar biar
mereka bisa

3/6

Tingkahnya yang durhaka


masuk!" Ucap Marco membuat Handaru menatapnya dengan dingin. "Malam nanti bisa loh Mas setelah
resepsi mau sampai pagi juga bisa!" goda Marco membuat dua orang perempuan cantik yang
merupakan penata rias terkenal itu, terkekeh melihat sosok Handaru yang terlihat sangat kesal dengan
ucapan Marco.

"Mas itu dibersihkan dulu dong ada lipstik Kiran itu tertempel dibibir Mas, hot banget ini kayaknya,"
ucap Marco lagi.

Kiran yang mendengar ucapan Marco dan ia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya karena sangat malu. Kiran mengambil tisu dan ia mendekati Handaru, lalu membersihkan
bibir Handaru dengan pelan. Mereka semua terkekeh melihat adegan di mana pengantin baru ini
terlihat tertangkap basah baru saja berciuman, apalagi ketika melihat Kiran terlihat sangat panik saat ini.

Handaru menyunggingkan senyumannya. Entah mengapa melihat wajah istrinya ini yang dengan serius
membersihkan bibirnya, terlihat begitu menggemaskan.

"Ran harusnya jangan pakai tisu, pakai bibir kamu saja lagi Ran!" Ucap Handaru membuat Kiran
memukul pelan bahu Handaru.

"Mas..." rengek Kiran kesal dengan tingkah suaminya

ini.
"Mereka itu pengertian semua, Ran!" Ucap Handaru.

Marco tersenyum melihat tingkah Kakak sulungnya ini dan Handaru biasanya selalu terlihat sangat serius
itu tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangat berbeda, jika berada disamping Kiran Ayu. "Mas malu
banget," ucap Kiran dengan wajahnya yang bersemu merah, membuat Handaru segera memeluknya
dengan erat.

"Yaudah masuk saja Mbak!" Ucap Handaru dan

4/6

Tingkahnya yang durhaka


keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar ini.

Handaru masih memeluk Kiran dengan erat sambil tersenyum dan baginya istrinya ini sangatlah
menggemaskan dibalik sikapnya yang dulu terlihat sangat dingin terutama, jika berhadapan dengan para
lelaki pemujanya. Dua orang penata rias itu takjub dengan sosok Handaru yang biasanya terlihat sangat
serius itu, sekarang

tersenyum kepada mereka. Handaru melepaskan pelukannya dan ia mendorong tubuh Kiran dengan
pelan, agar kedua penata rias itu bisa melihat istrinya yang cantik.

"Buat istri saya semakin cantik ya Mbak!" Ucap Handaru.

"Tentu saja Mas Handaru," ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum bahagia.

"Mas tunggu diluar ya!" Ucap Handaru.

5/6

Tingkahnya yang durhaka


"Iya Mas," ucap Kiran.

Handaru melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini dan ia mencari keberadaan Marco, yang ternyata
telah kabur darinya. Adiknya itu sengaja ingin membuatnya kesal dan ia sangat mengenal Marco
Laksamana Dewandaru yang pastinya akan mengambil kesempatan itu. la yakin tidak ada perintah
Maminya untuk mengawasinya, apalagi ingin Marco mengantarnya ke Hotel. Semua itu hanya akal-
akalan Marco yang ingin membuatnya kesal hari ini. Handaru membaringkan tubuhnya disofa dan ia
memang memilih beristirahat disini, agar jika nanti Kiran mencarinya ia akan segera masuk kedalam
kamar.

Comments

Vote
6/6

Aku juga ingin tahu.


Aku juga ingin tahu
Lifia saat ini baru saja tiba dihotel bersama Defran dan semua keluarga memang akan bermalam dihotel
ini agar mempermudah mereka beristirahat ketika nanti resepsi pernikahan ini selesai. Lifia
melangkahkan kakinya masuk kedalam lobi hotel dan ia terkejut saat melihat sosok Ronal yang sedang
berbicara dengan seseorang. la mengerutkan dahinya saat tahu siapa yang sedang bersama Ronal, Lifia
menghela napasnya karena ia melihat Rima terlihat sangat terpojok apalagi wajahnya memucat. Defran
menyadari apa yang sedang dilihat istrinya dan ia menarik tangan Lifia dengan pelan, agar tidak
mendekati mereka.

"Mau kemana? Kita itu kesana!" Ucap Defran menunjuk resepsionis.

"Itu aku lihat Mas Ronal sama Rima, Mas. Hmmm...Aku penasaran apa yang sedang dibicarakan Mas
Ronal dan Rima Mas, kayaknya serius sekali Mas. Apa ada masalah?" Tanya Lifia dan ia ingin sekali
mendekati mereka untuk mengetahui masalah apa yang sedang mereka bahas.

"Kamu tidak usah ikut campur urusan mereka Lifia!"

Ucap Defran, karena ia sangat mengenal istrinya ini yang pastinya tidak suka melihat pertengkaran yang
terjadi diantara Ronal dan Rima. la tahu jika Rima saat ini sedang berusaha untuk menolong Anya ibu
kandungnya yang mendekam dipenjara. Putusan pengadilan sebentar lagi akan segera keluar dan secara
garis besarnya, Anya memang dinyatakan bersalah. Anya ingin naik banding dan mengajukan
pembebasan bersyarat namun banyak hal yang sulit untuk dilakukan Rima agar keinginan Anya itu
tercapai. Anya memang memaksa Rima untuk menemui Ronal agar membujuk Ronal membantunya
memenuhi

1/6

Aku juga ingin tahu


keinginan Anya.

"Tapi Mas, Rima itu saudara aku juga Mas. Aku hanya tidak ingin mereka berdua ribut Mas," ucap Lifia.
la khawatir karena Ronal sering kali mengucapkan kata-kata kasar kepada Rima, hingga membuat Rima
merasa terpojok bahkan terlihat ketakutan. Fadil beberapa kali mengatakan kepadanya mengenai Rima
yang terlihat semakin sibuk, bahkan Rima saat ini telah bekerja dan tidak seperti dulu sering menemani
Fadil.

"Semua yang dibicarakan mereka berdua pasti itu berkaitan dengan ibu tiri kamu Anya dan apa kamu
masih mau dengar pembicaraan mereka? Kemungkinan besar Rima pasti berusaha membantu ibunya,
sedangkan kamu dan Ronal menginginkan Anya masuk kedalam penjara," ucap Defran.
"Apa aku nggak boleh tahu apa yang mereka bicarakan Mas?" Tanya Lifia sendu. "Siapa tahu bukan
mengenai hal itu Mas," ucap Lifia.

"Kalau kamu mau tahu silahkan saja, tapi kamu tidak boleh berpikir keras karena saya tidak mau kondisi
kamu drop apalagi menangis memikirkan masalah yang harusnya tidak perlu kamu pikirkan lagi!" Ucap
Defran dingin.

"Iya aku janji nggak akan nangis atau khawatir berlebihan tapi aku kan harus tahu Mas masalah apalagi
yang sedang mereka bahas!" Ucap Lifia.

"Ya sudah ayo kesana!" Ucap Defran.

Keduanya melangkahkan kakinya mendekati Ronal dan Rima, samar-samar terdengar perdebatan sengit
diantara mereka berdua. "Mas kenapa semua kartuku kamu blokir?" Tanya Rima sendu.

"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang telah kamu lakukan Rima? Kamu ingin membantu perempuan itu
dan membebaskannya," ucap Ronal dingin.

2/6

Aku juga ingin tahu


"Bukan seperti itu Mas, aku tidak ada niat membebaskan Mami. Apa yang aku lakukan itu karena aku ini
darah dagingnya Mas, aku anaknya. Mami selalu mengatakan hal itu ketika dia memintaku untuk
bertemu dengannya, aku tahu kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan tapi Mas, aku butuh uang itu
untuk mencari pengacara Mas dan aku melakukan itu karena dia ibuku Mas," ucap Rima.

"Dasar bodoh, sudah berapa kali saya bilang sama kamu, jangan ikut campur urusan Ibu kamu! Kamu ini
tidak tahu diri Rima, selama ini siapa yang membesarkan kamu dan membuat kamu bisa mengenyam
pendidikan tinggi hingga bisa hidup mewah, siapa?" Tanya Ronal dingin dan ia mengepalkan tangannya
karena merasa kesal dengan adik tirinya ini yang begitu bodoh ingin menolong perempuan jahat itu.

"Papi Mas, Papi...aku tahu itu," lirih Rima.

Defran menarik tangan Lifia dan bersembunyi dibalik pilar hanya untuk mencuri dengar apa yang
mereka bicarakan saat ini. Defran yakin jika ia dan Lifia keluar, Ronal tidak akan melanjutkan
pembicaraan mereka sedangkan istrinya ini sangat penasaran ingin tahu pembicaraan mereka.

"Kalau kamu tahu harusnya yang kamu membela Papi dengan membiarkan Mamimu yang jahat itu
mendekam dipenjara!" Ucap Ronal.

"Dia memang jahat Mas tapi aku tidak bisa menutup mataku dan membiarkan perintahnya begitu saja
Mas, aku putri kandungnya dalam hal ini aku juga bersalah karena membiarkan Mamiku melakukan
kejahatannya tapi aku bisa apa, Mas. Aku bahkan tidak memiliki apapun saat ini dan hanya sedikit uang
tabungan yang sekarang tidak bisa aku gunakan lagi. Kalah kartu kredit dari Papi memang tidak bisa aku
gunakan lagi aku tidak apa-apa Mas tapi aku
3/6

Aku juga ingin tahu


mohon jangan blokir uang tabunganku Mas!" Pinta Rima sendu.

"Mas Mami itu tidak akan bisa bebas dari penjara, tapi dengan aku mendapatkan pengacara untuknya,
itu akan membuatnya sedikit lega Mas, apalagi ia juga tidak akan memaksaku untuk melakukan hal-hal
aneh lagi Mas!" Ucap Rima sendu.

"Hal aneh apa? Katakan!" Ucap Ronal dengan nada memaksa membuat Rima menghela napasnya.

"Kamu tidak perlu tahu Mas!" Ucap Rima, membuat emosi Ronal memuncak dan ia tidak akan
membiarkan Rika melakukan hal diluar batas hingga membuatnya merasa gagal menjadi seorang Kakak.

"Lancang kamu Rima, kamu pikir kamu bisa menyelesaikan semuanya? Saya tahu apa yang terjadi sama
kamu beberapa hari ini, kamu menemui laki-laki yang ingin Mamimu itu jodohkan demi mendapatkan
uang, jangan bodoh!" Ucap Ronal. "Ingat hidup kamu itu milik keluarga kami Rima, menikahlah dengan
laki-laki yang akan dijodohkan Papi untuk kamu. Setidaknya dengan menuruti perintah Papi, kamu bisa
membalas budinya dan jangan mengecewakannya apa lagi melakukan hal diluar batas!" Ucap Ronal
menatap Rima dengan tajam membuat wajah Rima memucat.

Rima tidak mengerti kenapa ia yang harus berkorban demi kepentingan mereka semua. Maminya ingin
ia menikahi laki-laki tua demi uang mahar yang cukup besar dan Papi tirinya ingin ia menikah dengan
laki-laki pilihannya demi bisnisnya. Hidupnya menjadi tidak berguna dan sia-sia, ia tidak bisa melakukan
apa yang ingin ia lakukan. la merasa sangat sedih saat ini dan rasanya dunianya runtuh karena ia akan
hidup terjebak dengan keadaan hingga ia tak akan pernah merasa cinta yang ia inginkan. la ingin
memiliki keluarga bahagia seperti

4/6

Aku juga ingin tahu


keluarga lain, yang sangat bahagia dengan hidup dengan orang yang ia cintai.

Rima menahan diri untuk tidak menangis saat ini, ia iri dengan Lifia yang bisa menikahi laki-laki yang ia
cintai, ia iri dengan Kiran yang haru ini juga menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Haruskah ia
mengakhiri hidupnya karena rasa keputusan asaan yang ia miliki? Tapi ia ingat, ia masih memiliki
pondasi agama yang kuat dan hal itu akan

berusaha ia hindari.

"Setidaknya Papi tidak akan menikahkan kamu dengan laki-laki tua seperti Mami kandungmu yang jahat
itu!" Ucap Ronal membuat Lifia menutup mulutnya dan ia tidak mengerti kenapa Ronal tega
mengatakan ini semua kepada Rima. Lifia sangat kecewa dengan Ronal yang tega mengatakan ini
kepada Rima.
Defran sudah menduga jika istrinya ini akan

5/6

Bebas marah.
Bebas marah
Ronal menatap sendu Lifia, apalagi adiknya itu terlihat

sangat kesal padanya bercampur kecewa. Sebenarnya ia

ingin menjelaskan semuanya kepada Lifia tentang apa yang

ia lakukan saat ini itu adalah demi kepentingan Rima.

Ronal memang bersikap sangat keras kepada Rima karena ia ingin Rima mengikuti keinginannya. Rima
menundukkan kepalanya, ia merasa tidak enak dengan apa yang terjadi hingga ia sebenaranya tidak
ingin Lifia mengetahuinya.

Lifia sudah banyak menderita karena Maminya dan ia yang tidak tahu diri ini, malah datang kemari
menemui Ronal. Sebenarnya Rima datang kesini juga karena ia menjadi panitia keluarga untuk
menyukseskan acara resepsi pernikahan Kiran dan Handaru. "Bisa ceritakan apa yang telah terjadi?"
Tanya Lifia sendu. "Tapi sepertinya tidak perlu diceritakan lagi, karena aku sudah mendengar
semuanya," ucap Lifia kesal dan tatapannya tertuju pada Ronal, namun yang terlihat merasa bersalah
saat ini adalah Rima.

"Maafkan aku Lifia!" Ucap Rima ia mengangkat wajahnya dan menatap Lifia dengan tatapan memohon.
Rima menahan air matanya agar tidak menetes dan ia tidak ingin Lifia bertambah khawatir lagi. Apalagi
Rima menghindari masalah yang akan melibatkannya dengan Defran, yang bisa saja juga bersikap
seperti Ronal yang akan menyusahkan hidupnya. Defran lebih mengerikan dari pada Ronal mengingat
bagaimana sikap Defran selama ini dan Defran pasti akan melakukan apa saja untuk melindungi Lifia.

Lifia menghela napasnya dan ia mendekati Rima, lalu

1/6

Bebas marah
memegang tangan Rima. "Kenapa kamu mesti minta maaf sama aku Rima, kamu nggak salah apa-apa!"
Ucap Lifia sendu. "Yang salah itu Mas Ronal!" Ucap Lifia membuat Rima terkejut. la tidak menyangka jika
Lifia akan menyalahkan Ronal dan bukan dirinya.

Rima menatap Ronal yang merasa ketakutan karena tidak ingin Ronal marah kepadanya, karena Lifia
kesal padanya. Ya...apa yang ia lakukan akan selalu salah didepan mereka terutama Ronal, bukan
salahnya jika ia terlahir dari seorang Anya yang tega melakukan banyak kesalahan dan ia harus
memperbaiki kesalahan ibunya itu dengan melakukan beberapa hal untuk orang-orang yang disakiti oleh
Anya. "Nggak Lifia semua salah aku, aku minta maaf dan sepertinya aku harus segera pamit karena aku
mau bersiap mengganti pakaianku dan bersiap untuk acara resepsi. Lagian Salsa dan Kila pasti juga
sedang mencari aku Lifia!" Ucap Rima tersenyum ramah namun Lifia tahu senyum yang ditunjukkan
Rima, hanyalah sebuah kepalsuan karena Rima saat ini sebenarnya sangatlah terluka.

Lifia menghela napasnya, tidak ada gunanya ia menahan Rima saat ini karena yang lebih penting untuk
menjelaskan apa yang terjadi saat ini adalah kakak sulungnya ini. "Oke Rima," ucap Lifia.

"Makasih Ran," ucap Rima menghembuskan napas leganya. Setidaknya ia tidak perlu menjelaskan apa
yang tadi ia bicarakan bersama Ronal. Rima segera melangkahkan kakinya menjauh dari mereka dan ia
menuju lift.

Saat ini Rima memang sudah cukup dekat dengan keluarganya Lifia, bahkan ia juga sangat akrab dengan
adik ipar Lifia. Lifia menganggapnya saudara meskipun ia adalah anak dari orang yang telah
membuatnya menderita selama ini. Rima tidak ingin menjadi tidak tahu diri lagi, apalagi menceritakan
permintaannya kepada Lifia hingga

2/6

Bebas marah
nanti Lifia Kemukinan besar akan membantunya. Rima menghela napasnya, ia menahan dirinya untuk
tidak meluapkan rasa sedihnya apalagi menangis saat ini.

Sementara itu Lifia menatap Ronal dengan kesal dan itu membuat Ronal menghela napasnya. "Mas akan
jelasin semuanya Ran!" Ucap Ronal sendu. la tahu adiknya ini pasti sangat kesal padanya karena telah
menekan Rima dan berbicara kasar kepada Rima.

"Aku sudah dengar semuanya Mas, apa salah Rima Mas. Masalah yang kita hadapi ini bukan aku dan
kamu saja yang jadi korban tapi Rima dan Fadil juga. Apa Mas juga akan memperlakukan Fadil seperti
memperlakukan Rima juga Mas? Apa Mas tidak akan memperlakukan Fadil dengan semena-mena
karena Fadil adik satu ayah kita, sementara Rima tidak memiliki hubungan darah dengan kita berdua?"
Tanya Lifia dengan tatapan kecewanya. la hampir tidak percaya jika kakak sulungnya ini ternyata
sangatlah kejam.

Defran membiarkan Lifia meluapkan emosinya, ia menggenggam tangan Lifia dan ia menarik tangan Lifia
dengan pelan, agar Lifia mengikutinya untuk duduk disofa yang berada di Cafe hotel ini. "Kita duduk
disana saja!" Ucap Defran dan dengan isyarat matanya ia meminta Kakak iparnya itu untuk mengikutinya
menuju cafe di hotel ini.

Lifia dan Defran saat ini duduk disofa bersama Ronal, Lifia menatap Ronal dengan dingin. Ada banyak
pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya dan i ingin Ronal menjelaskannya. Ronal ingin sekali memeluk
adiknya itu namun jangankan memeluknya, mendekatinya saja sekarang adalah hal yang sulit karena
sosok laki-laki dingin yang ada disampingnya ini bisa saja segera menerkamnya saat ini juga. Defran
Satyas tidak peduli walaupun ia adalah kakak kandung Lifia sekalipun. karena air mata perempuan ini
sangatlah berharga baginya dan

3/6

Bebas marah
siapapun yang menyakitinya harus membayarnya dengan hukuman.

"Kenapa kau tega sekali sama Rima Mas kenapa?"

Tanya Lifia lagi dan ia sudah tidak bisa bersabar lagi menunggu Ronal menceritakan semuanya padanya.

"Dengerin dulu penjelasan Mas, Lifia! Apa yang dilakukan Mas itu semuanya demi Rima. Papi dan Mas
itu menyayangi Rima dan ingin yang terbaik untuk Rima. Jika kita membiarkan Rima apalagi
membuatkannya pergi dari rumah tanpa pengawasan, Rima hanya akan dimanfaatkan Mamjnya dan
juga ayah kandungnya yang baru saja dia temui," ucap Ronal.

"Tapi Mas..." ucap Lifia kesal saat mendengar ucapan kasar Ronal mengenai hutang budi yang harus
dibayar Rima.

"Mas hanya bisa berbicara seperti itu padanya Lifia, mas sangat mengenal Rima. Dia jauh lebih mandiri
dari yang kita kira, dia keras kepala tapi berhati lembut. Dia tidak akan mau menuruti semua yang
diminta Papi jika kita tidak mengingatkan dia pada posisinya kenapa dia harus menuruti keinginan Papi,
makanya Mas membahas masalah hutang budi. Tidak ada jalan lain selain ini, coba kamu pikirkan Lifia,
dari pada Rima menikah dengan laki-laki yang dijodohkan wanita itu lebih baik dia menikahi laki-laki
yang dijodohkan Papi," jelas Ronal.

Lifia mencerna ucapan Ronal dan ia

mempertimbangkan penjelasan Ronal. Defran menghela napasnya dan ia memeluk Lifia dengan erat.
"Biarkan Kakakmu dan Papimu yang mengurus masalah Rima, kamu ingat apa yang Mas katakan tadi
padamu?" Ucap Defran.

"Iya Mas, aku hanya kasihan sama Rima," lirih Lifia. "Dia sama seperti aku yang tidak tahu apa yang
terjadi selama ini dan hanya terjebak dengan ibu yang harusnya,

4/6

Bebas marah
bisa melindunginya tapi ternyata tidak memberikan kenyamannya padanya tapi ketakutan," ucap Lifia.

Ronal tahu jika Lifia menyayangi Rima sejak mereka masih kecil dan Lifia telah menganggap Rima adalah
saudarinya. Meskipun dulu alasan jahat Anya untuk menyakitinya adalah Rima namun Rima saat itu
selalu berusaha untuk melindunginya. "Kalau dibiarkan Rima bisa saja mengikuti keinginan Anya dengan
menikahi laki-laki
tua hanya demi uang. Apalagi Anya pasti meminta laki-laki tua itu membayar orang-orangnya untuk
menangkap Rima, lalu memaksa Rima menikahinya. Hanya dengan perlindungan Masmu ini dan Papi,
Rima akan tetap aman dalam pengawasan. Dua hari lagi dia akan bertemu dengan calon suaminya dan
kamu tenang saja laki-laki yang di jodohkan Papi pasti jauh lebih baik dan umurnya juga tidak setua itu
Lifia," jelas Ronal.

5/6

Bebas marah
"Iya Mas," ucap Lifia membuat Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Kalau kamu nggak marah lagi sama Mas, kamu lihat Mas dong Lifia!" pinta Ronal karena adiknya ini
memilih menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Defran dengan erat.

Lifia melepaskan pelukannya dan ia menatap Ronal dengan kesal. "Kalau suatu saat terjadi sesuatu sama
Rima karena keputusan Mas yang salah, aku akan menyalahkan Mas!" Ucap Lifia.

"Iya Lifia kamu bebas marah sama Mas jika itu terjadi!" Ucap Ronal tersenyum sayang kepada adiknya
ini.

Comments

Vote

6/6

Dia ternyata berbeda.


Dia ternyata berbeda
Resepsi pernikahan Handaru dan Kiran sebentar lagi akan segera dilaksanakan, semua keluarga tampak
terlihat sangat antusias. Kiran telah menggunakan gaun pernikahannya, ia terlihat sangat anggun dan
cantik.

Semua tamu telah terlihat sangat ramai dan saat ini Kiran sedang bersiap untuk keluar mendekati
Handaru yang telah menunggunya. Handaru sejak tadi telah bergabung bersama para laki-laki di
keluarganya dan juga para sahabatnya. Kana dan Lifia memeluk lengan Kiran yang saat ini berada di
tengahnya, lalu melangkahkan kakinya bersama mendekati Handaru yang tersenyum melihat
kedatangan Kiran yang terlihat sangat cantik.

"Gimana cantik nggak Mas?" Goda Altaf,

"Cantik, Al," jujur Handaru membuat wajahnya Kiran memerah.


Handaru mengulurkan tangannya membuat Kiran segera menyambut uluran tangannya, lalu menariknya
dengan pelan agar mendekat dan menggandeng lengan Kiran. Semua keluarga tersenyum melihat
keduanya yang terlihat sangat serasi. Defran mengulurkan tangannya menyambut tangan istrinya dan ia
berada dibelakang pasangan Serkan dan Kana yang saat ini telah berdiri dibelakang pengantin.

Mereka melangkahkan kakinya bersama menuju aula pernikahan yang telah disulap dengan mewah.
Tampak pasangan lainnya yang menggunakan gaun berwarna senada telah menunggu untuk bergabung
dengan mereka. Ada pasangan Janu dan Wirda, Albi dan Ike, Azura dan Ilham, Gatra dan Aruna, Ronal
dan Rima, Kila dan Altaf, Salsa dan Zilo. Tak butuh waktu lama saat ini mereka

1/7

Dia ternyata berbeda


semua telah melangkahkan kakinya masuk kedalam aula menuju pelaminan dan kedua orang tua
mempelai telah duduk disinggasana pelaminan.

Kiran dan Handaru melangkahkan kakinya dengan pelan dan pembawa acara menjelaskan profil
keduanya, hingga para tamu berdecak kagum melihat bagaimana serasinya kedua pasangan suami istri
ini. Para tamu yang hadir bukan hanya dari kalangan keluarga, rekan kerja dan rekan bisnis saja tapi juga
kalangan pemerintah bahkan kalangan politik. Apalagi presiden telah dikonfirmasi akan datang keacara
ini bersama mentri-mentri, mengingat Abib adalah seorang mentri di Negara ini.

Keduanya saat ini telah duduk dipelaminan sedangkan para pengiringnya tadi telah duduk dikursi khusus
keluarga yang telah disiapkan para EO acara ini.

Acara segera dimulai dengan rentetan kata sambuntan dari pihak keluarga dan juga perwakilan dari
tamu yang diwakilkan oleh salah satu mentri yang merupakan rekan kerja Abib. Para artis juga terlihat
menjadi tamu hingga tiga orang Diva ternyata menjadi bintang tamu dan menyanyikan beberapa lagu
diacara resepsi pernikahan.

Semua keluarga tampak sedang berbincang, Kiran dan Handru merasa sangat bahagia ketika pak
presiden saat ini berfoto bersamanya dan kemudian bergantian dengan para artis dan juga para mentri
hingga para pejabat lainnya.

Azura dan Lifia tidak tinggal diam, keduanya menaiki panggung dan menyumbangkan dua buah lagu
untuk memerikan acara pernikahan Kiran dan Handaru. "Kita ini bukan penyanyi tapi kita itu tulus
banget ingin menghibur tapi ya...Lifia," ucap Azura melihat kearah Lifia yang ada disampingnya sambil
menangis.

"Ya kita bukan penyanyi tapi aktris hehehe...tapi siapa tahu nanti setelah nyanyi ada yang mau jadikan
kita penyanyi ya Ra?" ucap Lifia.

2/7
Dia ternyata berbeda
"Mungkin nanti Lifi, kalau kita ada projek bareng gitu film dan soundtraknya kita yang nyanyi gimana?"
Tanya Azura membuat mereka semua tersenyum mendengar ucapan Azura.

"Wah mau banget Ra," ucap Lifia.

"Lanjut ya kita nyanyi Bu Mil ini lagi suka nyanyi akhir-akhir ini," ucap Azura. Para tamu lagi-lagi
tersenyum mendengar ucapan Azura dan kata ibu hamil ini membuat mereka semua tahu jika mungkin
salah satu dari mereka saat ini sedang hamil.

"Astaga kenapa dibilang lagi hamil?" Bisik Lifia.

"Hehehe...aku juga hamil Lifia," ucap Azura membuat Lifia terkejut lalu tersenyum bahagia.

Keduanya kembali bernyanyi bersama dan setelah selesai bernyanyi, Lifia kembali mendekati Defran
yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Defran menyadari kedatangan istrinya dan ia segera
memegang tangannya, Defran sangat perhatian padanya hingga hampir membuatnya tak percaya. Dulu
Lifia pernah membayangkan jika Deftan masih akan bersikap acuh padanya meskipun ia telah menjadi
istrinya, namun ternyata diluar ekspektasinya Defran berubah menjadi sosok yang sangat perhatian
setelah menikah.

"Mau makan?" Tanya Defran, ia menyudahi perbincangannya bersama teman-temannya dan saat ini
perhatiannya tertuju pada sosok istrinya.

"Mau Mas hmmm...tadi aku lihat kue gitu Mas kayaknya enak," ucap Lifia.

"Saya pamit dulu sama istri, nanti kita ngobrol lagi!" Ucap Defran tiba-tiba kepada teman-temannya
yang sedang berbincang.

"Kapan-kapan saja Def ngobrolnya, fokus dulu sama istri cantiknya," goda salah satu teman Defran,
membuat Defran menyunggingkan senyumannya.

3/7

Dia ternyata berbeda


Defran mengajak Lifia mencari kue yang dimaksud Lifia, ia sangat mengenal istrinya yang pastinya tidak
mau sendirian makan dan pasti menunggu dirinya jika sedang pergi pesta seperti ini. Apalagi banyak
sekali sejak tadi orang-orang yang disekitar mereka meminta foto bersama Lifia. "Mas itu kuenya!" Ucap
Lifia membuat Defran segera mengantri mengambil kue yang dimaksud Lifia. Defran mengambilkan
beberapa kue lalu ia mendekati meja keluarga dan duduk disana.

Kila dan Salsa melihat Lifia memakan kue dengan lahap, "Biar Salsa sama Kila saja yang ambil makanan
apa yang Mbak mau, lagian jauh-jauh antri disana sama tamu yang lain, itu meja prasmanan khusus
keluarga dan tamu khusus nggak pakek ngantri," ucap Salsa membuat Lifia melihat kearah meja
prasmanan yang dimaksud Lifia dan ia terkekeh.
"Mas hehehe...tadi berati itu kita merakyat ya Mas," ucap Lifia membuat Defran tersenyum.

"Mas Def, akhir-akhir ini selalu tersenyum jadi terlihat tambah tampan ya Mbak? Tapi senyumnya itu
kalau lagi sama Mbak saja hehehe..." kekeh Kila.

"Itu tadi Mas ada yang berdiri bersebelahan gitu, couple baru Mas dan setelah ini kayaknya mereka saja
yang menikah ya Mas!" Ucap Lifia.

"Siapa Mbak aku? Masa aku dan Altaf yang nikah kita kan bestie loh Mbak, tapi sepertinya yang Mbak
Lifia maksud itu hehehe...Mbak Salsa sama Dokter Zilo," ucap Kila tersenyum senang melihat Salsa
terlihat kesal padanya saat ini.

"Jangan gila ya...nggak ada tadi gue pegang tangan kayak pasangan seperti kalian, kita hanya jalan
beriringan...ingat jalan beriringan jangan buat gosip Kila nanti dikira beneran dan gawat banget kalau
aku nikah sama dia," ucap Salsa kesal kepada Kila.

4/7

Dia ternyata berbeda


"Gawat kenapa?" Tanya Defran datar membuat Salsa menghela napasnya. la tidak mengerti kenapa
Kakak-kakaknya ini seolah mendukung orang tuanya yang ingin menjadikan Zilo menantu.

"Sekarang aku tanya kenapa nggak Kila saja yang menikah sama Dokter Zilo?" Tanya Salsa membuat Kila
menyunggi kan senyuman.

"Ya kalau Dokter Zilo mau ya boleh-boleh saja

sayangnya dari awal yang dijodohkan sama Dokter Zilo itu bukan Kila ya Mbak," ucap Kila.

Salsa menghela napasnya dan ia menatap kearah Zilo yang saat ini sedang berbincang bersama keluarga
besarnya yang juga menjadi tamu undangan diacara resepsi pernikahan ini. Zilo memang sangat tampan
dan disukai banyak perempuan, namun Salsa tidak suka dengan sikap Zilo yang dingin mirip dengan
Defran. Apalagi

5/7

Dia ternyata berbeda


ia juga tidak suka dicuekin dan ia lebih suka laki-laki periang yang membuat suasana menjadi meriah
sama seperti dirinya. Zilo juga selalu mengajaknya bertengkar setiap keduanya bertemu, hingga setiap
bertemu Salsa akan menjadi sangat kesal dan mengutuk Zilo laki-laki dingin yang tidak berperasaan.

"Udah nggak usah bicarain dia yang nggak penting, Mbak mau makan apa lagi? biar Slasa saja yang
ambil!" Ucap Salsa.

"Mau makan nasi Sa, tapi nasinya dikit aja lauknya yang banyak ya Sa!" Ucap Lifia.
"Oke Mbak," ucap Salsa. "Ayo Kila!" Ucap Salsa dengan nada kesal membuat Kila terkekeh dan ia segera
memeluk lengan Salsa dengan erat. lalu melangkahkan kakinya menuju prasmanan.

Saat ini Defran menatap Lifia dan ia merasa istrinya ini sepertinya terlihat sangat lelah. "Makan dan
duduk disini saja jangan kemana-mana lagi!" Ucap Defran.

"Kamu mau kemana?" Tanya Lifia.

"Disini menemani kamu makan!" Ucap Defran.

"Hmmm...kalau aku minta kamu suapin Mas, kamu mau?" Tanya Lifia malu-malu.

"Kalau kamu mau, saya suapin!" Ucap Defran.

"Nggak usah Mas, aku hanya bercanda saja," ucap Lifia membuat Defran mengelus kepala Lifia dengan
lembut.

"Kalau capek kamu bilang ya! kita ke kamar saja lebih dulu dan nggak usah sampai selesai acaranya!"
Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

6/7

Nasehat menghilangkan waktu.


Nasehat menghilangkan waktu
Semua keluarga berfoto bersama Kiran dan Defran, setelah itu acara akhirnya berakhir. Acara resepsi
diselenggarakan dengan sangat sukses dan semua keluarga merasa sangat puas. Saat ini Abib menatap
putranya ini dengan tatapan bangga, apalagi putranya telah menjadi seorang suami dari Kiran Ayu, anak
perempuan yang cerdas dan berani yang membuatnya kagum.

Kekagumannya itu ia sampaikan secara langsung kepada kedua putranya saat itu dan pendapat Handaru
saat itu, diluar ekspektasinya yang mengatakan akan mendapatkan Kiran. Janji yang awalnya Abib tidak
terlalu menutut Handaru menepatinya, namun ternyata akhirnya bisa

terwujud.

Saat ini semuanya terlihat sudah beristirahat dikamar hotel masing-masing dan Kiran juga telah berada
dikamar seorang diri karena Handaru sedang berhadapan dengan Abib Laksamana Dewandaru yang saat
ini sedang bebricara bertiga dengan kedua putranya. Ketiganya sedang duduk santai di sofa yang berada
di ruang khusus di hotel ini dan Handaru terlihat gelisah karena ia ingin sekali kembali ke Kamarny,
menemui istri cantiknya. "Papi tahu kalau kamu itu sudah tidak tahan mau kembali ke Kamar kamu
Handaru, nggak malam ini juga bisa berciinta sama istri kamu loh Nak," ucap Abib membuat Handaru
menghela napasnya, sedangkan Marco terkekeh melihat tingkah Handaru.
"Iya Pi," ucap Handaru singkat.

"Papi itu sangat menyayangi istri kalian berdua seperti anak kandung Papi sendiri, apalagi kalian tahu
kan kalau Papi itu punya anak kandung jagoan semua yaitu hanya

1/7

Nasehat menghilangkan w...


kalian berdua ini. Kalian sudah terbiasa melihat melihat contoh bagaimana Papi memperlakukan Mami
kalian, Papi nggak pernah kasar apalagi memukul Mami kalian, itu nggak pernah terjadi. Sudahlah istri
kalian, kalian tidurin dan kalian siksa seuka hati kalian itu namanya Iblis Nak. Ingat ya istri itu diratukan,
dihargai dan diberikan kasih sayang yang berlimpah agar dia mau menemani kalian sampai tua!" Ucap
Abib.

"Iya Pi," ucap Handaru segera menanggapi ucapan Papinya ini.

"Jawab Marco!" Ucap Abib kesal dengan Marco yang selalu membuatnya kesal.

"Iya Pi," ucap Marco akhirnya. Tentu saja ia akan memperlakukan istrinya dengan baik apalagi
mendapatkan hati Sandra tidaklah muda.

"Kamu tahu nggak Marco...semua orang kesal sama Papi karena tidak mengundang mereka
dipernikahan kamu. Papi sampai bingung bagaimana harus menjelaskan kepada mereka apa yang
terjadi, Papi hanya bilang kamu nggak mau pesta pernikahan yang mewah dan hanya keluarga utama
saja yang hadir, padahal Papi saja nggak ada diacara pernikahan kamu," ucap Abib kesal mengingat
kejahatan yang telah dilakukan putranya ini padanya dan istrinya. Marco menelan ludahnya karena
sepertinya ia harus sering mendengar hal ini seumur hidupnya dari keluhan sang Papi dan Maminya.
"Kasihan istri kamu tidak merasakan pernikahan yang direstui kedua keluarga seperti ini dan ini semua
karena kecerobohan kamu," kesal Abib.

"Iya Pi salah Marco, tapi kan Pi.... Marco sudah minta maaf sama Papi!" Lirih Marco dan ia ingin
membujuk Papinya ini agar segera menyelesaikan nasehatnya. Tadinya ia berpikir Handaru yang akan
diberikan banyak wejangan namun ternyata dirinya yang saat ini harus mendengar

2/7

Nasehat menghilangkan w...


kemarahan Papinya, tentang pernikahannya.

"Kasihan Sandra, kamu banyak salah sama dia nak.

Kalau Papi dengar kamu baut masalah apalagi selingkuh dari Sandra, kamu Papi buang jadi anak!" Ucap
Abib dan ia serius dengan ucapannya.
"Nggak Pi, gimana mau selingkuh dari Sandra kalau Marco itu cinta banget Pi sama Sandra. Makanya
Marco nggak punya pacar selama ini, kalau yang ngaku pacar Marco banyak sekali Pi tapi kan nyatanya
Marco nggak ada hubungan apa-apa sama mereka!" Jelas Marco.

"Nanti kalau istri kamu hamil, kita adakan acara tujuh bulanan dan juga setelah melahirkan kita adakan
syukuran juga. Anak perempuan seperti Sandra itu pasti banyak sekali impiannya yang nggak tercapai
karena saat muda hamil dan setelah melahirkan sibuk dengan membesarkan anak seorang diri sambil
bekerja," ucap Abib.

"Iya Pi, sekarang itu fokus Marco itu bukan lagi cari uang buat membangun rumah sakit impian Marco Pi
tapi buat ngebahagiain Sandra dan Dikta," ucap Marco. "Sekalian kan lagi program api, maunya kasih
Papi cucu perempuan," ucap Marco.

"Kalau masalah cucu, saya juga nggak menunda Pi.

Sedikasihnya saja nanti sama yang diatas, pokoknya kalau bisa hamil cepat itu lebih baik," ucap Handaru
seolah tidak mau kalah membuat Abib tertawa senang.

"Hahaha... Papi jadi semakin betah dirumah kalau banyak cucu, apalagi sebentar lagi Papi mau pensiun
saja biar fokus sama Mami, adik kalian dan juga cucu-cucu Papi. Kalau kalian bukan menjadi fokus Papi
lagi, kalian sudah besar makanya kalian bukan lagi Papi fokus Papi," ucap Abib.

"Iya Pi, tapi bukanya kata Papi waktu itu mau tinggal di Eropa kalau pensiun?" Tanya Marco.

"Itu karena kalian belum nikah-nikah, teman-teman

3/7

Nasehat menghilangkan w...


Papi sudah banyak punya cucu tapi Papi belum, makanya Papi bilang seperti itu," ucap Abib kesal.

"Jadi sekarang Papi itu berubah pikiran karena sudah punya cucu," ucap Marco tersenyum penuh
kemenangan ketika melihat Handaru menatapnya dengan dingin. "Ini nih...rasanya punya anak jadi cucu
sulung," goda Marco.

"Dikta memang cucu sulung tapi karena didapatkan dengan jalan yang bukan jalan selayaknya, harusnya
Dikta itu jadi anak saya dan Kiran Pi. Biarkan kami yang mengadopsinya saja biar dia jadi anak sulung
kami!" ucap Handaru sengaja ingin membuat Marco kesal.

"Enak saja...kamu jangan lancang Mas," kesal Marco. la tidak akan pernah rela anaknya menjadi anak
Handaru yang artinya semua keputusan mengenai Dikta akan menjadi hak Handaru yang akan
memutuskannya.

"Kalau kamu nggak mau, kamu diam dan jangan mengungkit tentang cucu sulung Papi!" Ucap Handaru
kesal membuat Marco menatap Handaru dengan kesal sedangkan Abib terkekeh melihat tingkah kedua
putranya ini
"Pi bagaimana pun caranya aku mendapatkan cucu untuk Papi, tetap saja itu usahaku untuk
memperoleh cinta Pi. Buktinya aku nggak ada tuh pernah tidur sama perempuan lain selain Sandra, aku
itu paling setia Pi sama kayak Papi, hanya saja caraku yang salah untuk mendapatkan Sandra tapi kan itu
aku mengikuti cara Mami, Pi. Dulu Mami juga mengejar cinta Papi dengan cara apapun agar
mendapatkan Papi," ucap Marco.

Setiap kali membicarakan tentang istrinya, membuat Abib tersenyum mengingat masalalu bagaimana
istrinya mencoba menarik perhatiannya dengan tingkahnya yang menggemaskan. "Aduh Papi jadi
kangen Mami, sekarang sudah jam berapa?" Tanya Abib.

4/7

Nasehat menghilangkan w...


"Jam dua," ucap Handaru sinis membuat Abib terkekeh.

"Wah...baru kali ini Papi bergadang diumur setua ini, ya sudah Papi mau kembali ke kamar Mami, kalian
kalau mau berdebat silahkan saja! Papi mau tidur dulu!" Ucap Abib segera bediri dan ia melangkahkan
kakinya keluar dari ruangan ini. la menuju lift dan segera masuk kedalam lift, lalu menekan tombol angka
di mana lantai kamarnya

bersama istrinya berada.

Saat ini Marco dan Handaru saling bertatapan dengan tatapan dingin, keduanya menghela napasnya
karena berdebat hanya akan membuat waktu semakin habis untuk hanya sekedar memeluk istri mereka
masing-masing. "Lain kali kalau Papi sudah begini kamu harus mengingatkan Papi tentang Mami Mas,
kalau tidak begitu kita bisa kembali kekamar itu sekitar jam lima subuh," jelas

5/7

Nasehat menghilangkan w...


Marco.

"Iya, kamu kenapa lama sekali membiarkan Papi bicara panjang lebar, seharusnya saat pembicaraan
awal tadi kamu langsung saja bahas Mami biar kita selamat dan bisa tidur bersama istri kita. Kalau sudah
jam segini, saya nggak akan tega bangunin Kiran," ucap Handaru membuat Marco terkekeh.

"Hehehe...kelihatan sekali sudah tidak tahan ya Mas," goda Marco.

"lya..." ucap Handaru mengakui jika ia memang sudah tidak tahan untuk menjadikan Kiran itu miliknya.
Handaru segera bediri dan ia melangkahkan kakinya menjauh dari Marco, yang saat ini juga segera
berdiri meninggalkan ruangan ini.

Handaru sangat kesal, malam pertamanya telah berlalu karena jam dua pagi hanya akan membuatnya
tidur sambil memeluk Kiran. Istrinya itu pasti saat ini sangat kelelahan, apalagi sejak kemarin Kiran
memang kurang beristirahat. Handaru masuk kedalam lift bersama Marco, keduanya memang memiliki
garis wajah yang mirip hanya saja Handaru memang lebih tinggi dari Marco dan perawakannya terlihat
lebih serius, dibandingkan Marco yang pecicilan.

11

puputhamzah

kode penukaran guys: ADFHMNPWIstri Tuan CEO Albiseka Dewandaru

"

6/7

Berapa lama.
Berapa lama
Handaru melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar yang saat ini sedang ditempati sosok cantik yang
telah menjadi istrinya. Ia mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada sosok cantik yang telah
terlelap disofa. Sepertinya Kiran sejak tadi menunggu kedatangannya dan karena lelah, Kiran akhirnya
tertidur disofa. Handaru masuk kedalam kamar mandi dan ia segera membersihkan tubuhnya lalu
mengganti pakaiannya. Setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Kiran dan menggendong
tubuh Kiran, lalu membaringkan tubuh Kiran diatas ranjang.

Handaru kemudian membaringkan tubuhnya disamping Kiran membuat Kiran terjaga dan perlahan ia
membuka matanya. la melihat sepasang mata indah milik suaminya itu sedang menatapnya dan mata
keduanya bertemu, Handaru mengelus pipi Kiran dengan lembut dengan jemarinya dan terlihat Handaru
sangat menganggumi kecantikan Kiran. "Tidurlah!" Ucap Handaru membuat Kiran tersenyum dan ia
mengeratkan pelukannya lalu ia memejamkan matanya. Handaru seolah mengerti jika saat ini ia sangat
lelah dan bahkan Handaru tidak melakukan kontak fisik yang harusnya terjadi malam ini. Malam ini
mereka hanya akan tidur berpelukan karena keduanya benar-benar merasa lelah dan tidak butuh waktu
lama keduanya telah tidur dengan lelap.

Subuh pukul lima pagi, Handaru membuka matanya karena alarm yang memang selalu terdengar
diponselnya ketika subuh terdengar. Kiran yang terjaga juga membuka matanya dan keduanya saling
menatap, lalu Kiran tersenyum melihat wajah bantal suaminya ini ternyata

1/7

Berapa lama
terlihat begitu tampan. "Sholat!" Ucap Handaru.

"Aku nggak sholat Mas, hmmm....aku ternyata sedang datang bulan, pagi tadi," ucap Kiran pelan dan ia
terlihat sangat malu mengatakan hal ini kepada suaminya.

"Ya sudah kamu tidur saja lagi!" Ucap Handaru mengelus pipi Kiran dengan lembut.
"Iya Mas," ucap Kiran dan ia kembali memejamkan matanya, membuat Defran mencium dahi Kiran
dengan lembut. Sepertinya ia harus berpuasa beberapa hari kedepan dan itu membuatnya harus lebih
banyak bersabar.

Handaru segera mandi dan setelah itu ia melaksanakan sholat subuh. Beberapa menit kemudian setelah
sholat, ia melipat sajadahnya dan kembali mengganti baju kokoh dan sarung yang ia kenakan dengan
baju santai, lalu ia membaringkan tubuhnya disamping Kiran sambil memainkan ponselnya. Handru
melihat tubuh Kitan begerak mendekatinya dan seperti ingin memeluknya, membuatnya meletakkan
ponselnya dinakas lalu ia memeluk Kiran dengan erat. Beberapa menit kemudian Handaru kembali
tertidur lelap bersama Kiran hingga pukul delapan pagi suara bel terdengar membuat Handaru segera
turun dari ranjang dan ia melangkahkan kakinya membuka pintu kamar.

Kiran membuka matanya, ia melihat punggung Handaru yang saat ini sedang melangakhkan kakinya
keluar dari kamar dan kemudian Handaru membuka membuka pintu kamar utama. la melihat sosok
Salsa yang ternyata diminta membangunkannya. "Sory Mas, ganggu soalnya Salsa diminta untuk
membangunkan Mas Handaru dan Mbak Kiran, agar ikut sarapan pagi bersama keluarga, tadinya tugas
ini adalah tugas Mbak Kana tapi anak-anak Mbak Kana sedang rewel, jadi Salsa mengantikan tuganya!"
Jelas Salsa.

2/7

Berapa lama
"lya," ucap Handaru. "Sebentar lagi saya dan Kiran akan menyusul ikut sarapan pagi bersama," ucap
Handaru.

"Oke Mas," ucap Salsa dan ia segera melangkahkan kakinya menjauh dari Handaru.

Handaru kembali masuk kedalam kamar dan ia mendekati putri tidur yang saat ini masih terlelap.
"Ran..." panggil Handaru. la mengelus pipi Kiran lalu mengecup pipi Kiran. "Bangun Ran!" Bisik Handaru
ditelinga Kiran membuat Kiran membuka matanya. Kira tersenyum melihat wajah tampan suaminya dan
ia menggelungkan tangannya ke leher Handaru hingga Handaru mengangkat tubuh Kiran agar segera
duduk. "Tadi kamu sudah bangun, kamu pura-pura pura tidur hmmm..." ucap Handaru.

"Nggak pura-pura karena aku tu sebenarnya masih mengantuk Mas," ucap Kiran.

"Nanti kamu tidur lagi ya Tan, sekarang kamu mandi karena kita sudah ditunggu untuk sarapan
bersama!" Ucap Handaru.

"Oke Mas," ucap Kiran dan ia segera melepaskan gelungan tangannya yang berada dileher Handaru lalu
ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.

Handaru menghela napasnya, sungguh ia memang benar-benar harus bersabar beberapa hari lagi, agar
bisa menjadikan Kiran seutuhnya menjadi miliknya. Beberap menit kemudian Kiran keluar dari kamar
mandi dengan hanya mengenakan handuk membuat Handaru menghela napasnya. Sungguh penampilan
Kiran sangat menggoda imannya dan ia mengeram kesal. Kiran mungkin sama sekali tidak mengetahui
jika saat ini ia sedang sangat menahan dirinya dan jika Marco, Defran, Serkan, Janu dan Megan tahu, ia
belum juga melakukan malam pertama. Handaru pasti akan jadi bahan ejekan mereka dan alasan utama
ia belum melakukan hal itu, karena istrinya sedang

3/7

Berapa lama
datang bulan. Mereka semua pasti akan menertawakannya karena keputusannya yang salah memilih
tanggal menikah, hingga membuatnya harus berpuasa beberapa hari ini.

Kiran mengambil pakaiannya dan ia segera melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam kamar mandi
dengan wajah memerah. Kiran merutuki kebodohannya karena lupa membawa bajunya. la dengan cepat
memakai pakaiannya dengan cepat dan setelah itu ia keluar dari kamar mandi lalu memoles wajahnya
dengan makeup tipis. "Ayo Mas!" Ucap Kiran karena ia telah siap untuk sarapan bersama dengan
keluarga besar mereka.

"Hmmm...Mas nggak mandi lagi?" Tanya Kiran ketika Handaru saat ini sibuk dengan ponselnya.

"Mas..." panggil Kiran hingga membuat Handaru mengangkat wajahnya dan ia melihat kearah Kiran.

"Ada apa?" Tanya Handaru.

"Kamu nggak dengar ya Mas aku ngomong barusan sama kamu?" Tanya Kiran kesal dan ia duduk
disamping Handaru. "Kamu lihatin apa diponsel?" Tanya Kiran, ia melihat ponsel Handaru dan tiba-tiba
wajahnya memerah karena malu.

"Hmmm....saya penasaran kira-kira berapa hari kamu datang bulan," ucap Handaru dan sejak tadi ia
memang membaca informasi mengenai hal ini di googleee.

"Mas kenapa nggak nanya aja?" Tanya Kiran dengan wajahnya yang bersemu merah.

"Bertanya sama kamu itu opsi kedua, jika saya sudah sangat ingin tahu kapan kita bisa..." ucap Handaru
membuat Kiran mendekati Handaru lalu menutup mulut Handaru dengan telapak tangannya.

"Mas..." rengek Kiran. "Nggak usah ditanya kalau gitu..." ucap Kiran dengan wajah memerah.

Handaru menarik pelan tangan Kiran untuk

4/7

Berapa lama
melepaskan tangan Kiran yang menutup bibirnya dan ia menatap Kiran dengan tatapan dingin.
"Bagaimana kalau pertanyaannya saya ganti, berapa hari lagi agar saya bisa menyetuh kamu?" Tanya
Handaru membuat Kiran menelan ludahnya.
"Enggak lama Mas, nanti kalau sudah selesai datang bulannya aku beritahu Mas!" Ucap Kiran dan ia
sudah tidak bisa menutupi rasa malunya karena Handaru membahas

hal ini.

Handaru mendengar ponselnya berbunyi dan ternyata yang menghubunginya adalah Marco. Handaru
segera mengangkat ponselnya dan ia mendengar suara Marco yang terdengar sangat kesal padanya.
"Assalamualikum Mas, bangun Mas...ya ampun Mas...kita sudah nungguin kalian! Cepetan kebawah dan
ikut sarapan bersama! Udah dibangunin sama Salsa tapi ternyata nggak bangun juga,"

5/7

Berapa lama
kesal Marco. Handaru menghela napasnya, belum sempat ia membalas salam, adiknya ini terlihat sangat
ingin memakinya saat ini.

"Iya...ini saya dan istri saya sudah siap ke bawah," ucap Handaru dan karena kesal ia segera mematikan
ponselnya.

"Ayo!" Ucap Handaru dan ia menarik tangan Kiran lalu menggenggamnya.

"Iya Mas," ucap Kiran. Keduanya melangkahkan kakinya bersama keluar dari kamar hotel ini lalu menuju
lantai dasar tempat di mana mereka akan sarapan bersama. Keduanya masuk kedalam lift, keduanya
terkejut saat ini karena ada Januarta Sanjaya Satyas bersama istrinya, yang merupakan sepupu Defran
dan juga sahabat Handaru yang berada dalam lift ini.

"Sudah bisa diduga kalau pengantin baru pasti bangun kesiangan," ucap Janu.

"Kalau saya yang bangun kesiangan itu wajar Janu tapi kamu bisa-bisanya bangun siang juga dan
mengahajar istrimu sampai pagi," ucap Handaru membuat Kiran melototkan matanya karena suaminya
ini membahas hal ini didepannya dan juga didepan Wirda istri Janu.

"Namanya juga bucin sama istri," ucap Janu menatap Wirda dengan tatapan penuh cinta membuat Kiran
tersenyum.

Lift terbuka dan mereka segera keluar dari lift lalu melangkahkan kakinya menuju Restauran hotel.
Ternyata Restauran hotel tempat keluarga mereka berkumpul ini, berbeda dengan restoran hotel yang
menjamu tamu lain yang menginap dihotel ini. Ya...keluarga besar Handaru dan Kiran ternyata meminta
tempat khusus untuk sarapan pagi, agar keluarga mereka bisa berbincang bersama sambil makan
bersama dan tidak mengganggu tamu lain, karena suara berisik kehebohan sarapan pagi mereka.

6/7
Berbincang pagi.
Berbincang pagi
Semua keluarga sedang sarapan bersama dan terlihat para orang tua memilih duduk di meja khusus
yang memang disediakan oleh mereka bahkan ada meja anak-anak dan para pengasuh mereka, agar
bisa bermain bersama. Saat ini Salsa mendekati mereka semua setelah ia tadi diminta untuk
membangunkan Handaru dan Kiran. la duduk disamping Kila dan ia menghela napasnya mengingat
pertengkarannya bersama Zilo. Bahkan yang membuatnya merasa kesal lagi kenapa Maminya
mengenalkannya secara khusus kepada orang tua Zilo, seakan ia dan Zilo memiliki hubungan kusus.
Salsa bisa bernapas lega karena Zilo dan keluarganya memilih untuk pulang dan mereka menolak untuk
menginap di hotel ini.

"Kenapa wajah kamu udah cemberut pagi-pagi Dek?" Tanya Lifia dan ia mengambilkan beberapa
makanan untuk Defran suaminya, lalu memberikannya kepada Defran.

"Terimkasih Lifia," ucap Defran.

"Kesal saja kenapa sih mesti ada perjodohan," ucap Salsa membuat Defran dan Serkan menatap kearah
Salsa dengan dahi yang berkerut. "Kemarin Mamj sengaja banget ngenalin aku sama orang Maminya
Zilo," ucap Salsa kesal.

"Mas Zilo!" Ucap Serkan.

"Tidak semua perjodohan itu buruk Sa," ucap Kana membuka suaranya buktinya Mbak dan Masmu iji
juga karena dijodohkan," ucap Kana.

"Iya sampai Mbak hampir salah memilih suami kan Mbak," ucap Salsa membuat Amran yang berada
didekat

1/6

Berbincang pagi
mereka menatap Salsa dengan kesal. "Iya Mas Amran aku nggak akan mengungkitnya lagi agar kalian
nggak bertengkar karena masalalu aneh kalian," ucap Salsa dan ia tersenyum melihat istri Amran yang
terkekeh mendengar ucapan Salsa.

"Makanya Sa kalau biacara itu dipikirkan dulu!" Ucap Defran menatap dingin adik bungsunya itu yang
sering kali sembarangan bicara.

"Kalian semua itu kompak banget sampai Mami dan Papi juga kompak banget, terus nanti Kakek juga
kompak banget minta aku nikah sama si Zilo," ucap Salsa kesal. "Mas Janu belain aku apa nggak nih?"
Tanya Salsa kepada Januarata Sanjaya Satyas yang biasanya selalu membelanya. Wirda menepuk pelan
lengan suaminya itu sambil tersenyum, Salsa memang sangat manja dengan Janu. Apalagi Janu memang
sangat perhatian kepada adik sepupu kesayangannya itu dan semenjak adik bungsu Janu meninggal,
Janu menjadi sangat overprotektif kepada Salsa.

"Begini ya Sa, Mas itu juga sangat sayang sama kamu tapi setelah Mas tahu siapa yang mau dijodohkan
sama kamu, Mas cari tahu semua tentang dia dan hasilnya sangat mengejutkan," ucap Janu membuat
Salsa menghela napasnya karena jawabnya pasti sama dengan para kakak-kakak laki-lakinya yang lain.

"Mas, pasti juga sama kayak Mas Serkan dan Mas Defran,"sinis Salsa kesal karena kekompakan mereka
yang sangat menyukai Zilo seolah Zilo adalah sosok sempurna yang cocok menjadi suaminya.

"Ya...Arzilo Alexsander adalah sosok Dokter hebat dan memiliki kemampuan yang sempurna. Dia juga
memiliki catatan asamara yang bersih sama kayak Defran dan dia sangat sabar, jadi dia sangat cocok
untuk kamu. Zilo tidak perlu mengikuti tes untuk jadi suami kamu dan dia lolos

2/6

Berbincang pagi
tes, iya kan Megan?" Tanya Zilo kepada Megantara Sanjaya Satyas adik kandung Janu yang sejak tadi
sibuk menatap istri imutnya.

"Ya, saya setuju Salsa menikah dengan Zilo," ucap Megan membuat Salsa membuka mulutnya karena
kesal.

"Mas Megan kenapa tega banget sama Salsa? Astaga bener-bener nggak ada yang berpihak sama aku,
nyebelin banget sih kalian," ucap Salsa kesal membuat mereka semua tertawa.

"Hahaha..." tawa mereka.

"Salsa, kamu tadi beneran ke kamar Mas Handaru dan Kiran?" Tanya Marco sambil menatap jam
dipergelangan tangannya.

"Iya Mas, sudah tadi Mbak Kana yang minta aku bangunin si pengantin baru, tapi ya aku nggak tahu
kalau mereka kemungkinan tidur lagi," ucap Salsa.

"Ya sudah Mas, kamu saja yang telepon Mas Handaru!" Pinta Sandra.

"Oke," ucap Marco dan ia segera berdiri lalu melangkahkan kakinya menjauh dari mereka, agar bisa
menelpon Handaru. Jika Handaru tidak datang sarapan bersama, Handaru bisa saja akan dimarahi oleh
keluarganya yang lain terutama Papinya dan juga Ayah mertuanya. Apalagi dengan tidak hadirnya kedua
pengantin baru itu, keduanya akan dianggap tidak sopan dan kurang menghargai keluarga mereka yang
lain. Marco segera menghubungi Handaru dan ia meminta Handaru agar segera menyusulnya untuk
sarapan pagi bersama.

Beberapa menit kemudian terlihat sosok Kiran dan Handaru baru saja datang membuat Marco
menyunggingkan senyumannya. Handaru duduk disampingnya bersama Kiran istrinya "Pengantin baru
3/6

Berbincang pagi
kalau nggak dibangunkan nggak akan bangun," ucap Marco membuka pembicaraannya.

"Ketika Salsa yang membangunkan kita, kita sudah bangun," ucap Handaru. "Saya bukan kamu Marco
yang pastinya akan tidur lagi setelah subuh," ungkap Handaru yang sering kali memperhatikan tingkah
laku adiknya itu. Sebenarnya Handaru memiliki kebiasaan tidak akan tidur lagi setelah subuh karena
aktivitasnya biasanya akan membaca buku mengenai hukum dan setelah itu, ia akan berolahraga seperti
kebiasaannya selama ini.

Kiran mengambilkan Handaru makanan dan itu tak luput dari perhatian Handaru dan ia merasa sangat
senang melihat betapa cekatannya istrinya ini mengambilkan makanan untuknya. "Jadi bulan madunya
mau kemana, Ran?" Tanya Serkan. la berencana ingin membelikan hadia berupa tiket perjalanan untuk
adik iparnya ini.

"Belum kepikiran Mas mau kemana, Kiran masih ada pekerjaan katanya nanti sambil dipikiran sama
Kiran dia mau kemana!" Ucap Handaru. Biasnya ia memanggil Serkan dengan namanya saja tapi ketika ia
telah resmi menjadi suami Kiran, ia harus mengikuti Kiran yang memanggil Serkan dengan sebutan Mas
karena Serkan adalah suami dari Kana Kakak iparnya.

Sosok Altaf terlihat melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia duduk disamping Kila. "Sory ada
urusan tadi makanya baru bisa ikut sarapan jam segini," ucap Altaf.

"Memang dari mana saja Al?" Tanya Kiran kepada adiknya.

"Paling dia sibuk menerima telepon seperti biasanya Mbak, maklum ajudannya Jendral," ucap Lifia.

"Sok tahu banget sih Mbak," ucap Altaf kesal kepada

Lifia.

"Loh...terus kamu mau bilang kalau kamu bangun

4/6

Berbincang pagi
kesiangan? Nggak akan mungkin kamu bangun kesiangan Al sayang, kita sangat memahami kebisaan
kamu," ucap Kana. Diserang oleh ketiga saudari perempuannya ini harus membuatnya mengalah dan
pasrah menerima ucapan mereka. Apalagi sekarang mereka semua telah memiliki singa ganas yang
pastinya akan selalu membela para istri mereka.

"Kayanya aku juga ini perlu istri biar ada yang belain."
Sinis Altaf membuat mereka semua terkekeh. "Nggak enak jomblo, Kil kita cari pacar yuk Kil...nanti aku
bantu seleksi juga Kil dan kamu bantu Abang Altaf seleksi cewek cantik yang imut untuk Abang!" Ucap
Altaf kepada Kila.

"Udah banyak yang suka sama lo Taf itu kemarin yang ketemu dihotel siapa, dia kayaknya suka banget
sama lo Taf sampai bilang mau minta dikenali sama keluarga kamu," ucap Kila.

5/6

Berbincang pagi
"Jangan mulai ya Kil kamu udah janji loh semalam," bisik Altaf ditelinga Kila.

"Bisik-bisik tetangga," ejek Kiran.

"Emangnya ada yang mau sama Altaf yang cerewet dan terlalu pembersih ini," ucap Kana.

"Ada Mbak, namanya siapa ya Lili kalau nggak salah dan Altaf kayaknya kesel banget sama dia karena
dianya agresif hahaha..." tawa Kila karena ia harus berpura-pura menjadi pacarnya Altaf agar Lili
berhenti menganggap Altaf.

"Pada hal kalau tahu si Altaf manja banget sama Ibu hahaha...nggak lagi deh bucin banget sama Altaf,"
ucap Kiran membuat mereka semua tertawa.

"Suka banget ngejekin aku sama Sasa ya Sa, Sa si Kila dong kita goda juga sama siapa gitu." Ucap Altaf.

"Iya Al, sama siapa ya Al..." ucap Salsa dan ia menatap semua kakak-kakaknya. "Itu Kila jodohin sama
siapa gitu jangan aku aja yang dijodohin!" Ucap Salsa kesal.

"Mbak sayang, Kila itu masih kecil belum boleh pacaran tanya deh sama Mas Def!" Ucap Kila.

"Iya Kila nikahnya dua tahun lagi saja! Tapi nggak boleh pacaran sembarang!" Ucap Defran.

"Iya, Kila fokus kerja dan lanjut kuliah lagi!" Ucap Serkan karena Kila sangat pintar dan memang sangat
suka belajar tidak seperti Salsa yang lebih suka jalan-jalan dari pada belajar dan mereka semua sangat
bersyukur Salsa berhasil menyelesaikan kuliah kedokterannya.

Comments

Vote

6/6
Sudah boleh.
Sudah boleh
Handaru dan Kiran menunda acara bulan madunya dan setelah seminggu menikah, mereka baru
berencana akan pergi bulan madu ke vila menikmati waktu berdua saja, sambil mendaki gunung atau
mencari air terjun ke daerah yang cukup terpencil jauh dari kota. Sebenarnya Defran juga menyukai
berpergian ke alam seperti keduanya, namun dengan kondisi istrinya yang sedang hamil ia memang
tidak akan ikut, apalagi ia juga belum bisa cuti dari pekerjaannya.

Keinginan Handaru dan Kiran yang ingin pergi berdua saja ternyata tidak bisa terlaksana karena Kila,
Salsa dan Altaf berencana untuk ikut pergi berpetualang bersama mereka. Awalnya Handaru tidak setuju
dengan keikutsertaan mereka, namun ketiganya berjanji tidak akan mengganggu acara mereka berdua
dan akhirnya Handaru setuju mengajak ketiga orang yang jomblo itu, untuk ikut bersama mereka. Saat
ini keduanya sedang dalam perjalanan ke Apartemen dan memang mereka lebih memilih tinggal di
Apartemen untuk sementara ini, meskipun kedua keluarga besar mereka menginginkan mereka tinggal
bersama mereka.

"Mas sebelum pulang ke Apartemen, aku pengen beli makanan buat besok kita berangkat Mas," ucap
Kiran yang saat ini sedang menatap Handaru yang sedang fokus mengemudi.

"Mau beli apa?" Tanya Handaru.

"Kue-kue gitu," ucap Kiran.

"Oke," ucap Handaru.

Keduanya menuju toko kue yang tidak jauh dari Apartemen ini dan memang toko kue itu, terkenal akan

1/7

Sudah boleh
kelezatan kuenya. Keduanya turun dari mobil dan segera masuk kedalam toko kue, beberapa
pengunjung yang sedang menikmati kopi dan juga kue manis yang lezat itu sedang menatap kearah
Kiran dan Handaru, yang terlihat sangat serasi. Apalagi keduanya memang sangat terkenal saat ini dan
berita mengenai kisah cinta keduanya viral dimedia sosial. Kiran tersenyum ramah dan ia bersedia
berfoto bersama dengan para penggemarnya yang ada ditoko ini yang meminta untuk berfoto bersama.
Bagi Kiran ia sangat bersyukur jika ia banyak disukai para penggemarnya dan ketika bertemu walaupun
saat ini sedang bersama keluarganya, ia akan berusaha memenuhi keinginan fansnya untuk berfoto
bersama mereka.

Kiran dan Lifia memang terkenal sangat ramah

disetiap berbagai kesempatan. Didunia selebriti, keduanya bukan hanya memiliki paras yang cantik tapi
juga memiliki sifat yang sangat ramah. Fans keduanya pun sangat terkenal dengan kesetiaannya hingga
jika ada komentar buruk mengenai Kiran dan Lifia, secepat kila para fans keduanya akan terus membela
Kiran dan Lifia. Setelah berfoto bersama para fansnya, Kiran memilih beberapa kue yang ada di etalase
dan ia juga mengambil beberapa roti untuk bekal makanan besok dijalan.

Seorang perempuan tersenyum melihat kedatangan Kiran dan Handaru, perempuan ini ternyata adalah
pemilik toko kue ini dan ia meminta Kiran dan Handaru untuk berfoto bersama. Pemilik toko
memberikan cendra mata kepada Kiran yaitu sekotak roti unyil dan juga cake unyil dengan bentuk yang
lucu sebagai ucapan terimakasih, karena telah membeli kue ditokonya. Saat ini keduanya telah kembali
berada didalam mobil dan Handaru melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Ternyata enak ya jadi artis bisa dapat kue gratis," goda Handaru kepada istri cantiknya ini.

"Alhamdulilah, Mas..." ucap Kiran. "Pembawa acara

2/7

Sudah boleh
tekenal yang sekarang menikah sama pengacara terkenal, terkenal tampan dan bengis kalau di
persidangan," ucap Kiran membuat Handaru tersenyum karena ucapan istrinya itu memang benar, jika
ia memang terkenal bengis ketika dipersidangan.

Handaru menyunggingkan senyumannya, entah sejak kapan ia merasa sangat tertarik dengan Kira dan
sepertinya itu terjadi sejak mereka SMA. Perempuan cantik yang sangat suka membaca itu, namun juga
sangat suka berkelahi adalah sosok Kiran Ayu yang sangat terkenal.

Kiran memang memiliki kemampuan bela diri karena ia juga mengikuti ekstra kulikuler ilmu bela diri
yang bisanya digemari para lelaki. Kiran yang dingin dan terlihat tidak takut apapun itu, sangatlah sering
menolak lelaki yang menyukainya dan biasanya ia akan menolak mereka dengan dingin. Kiran juga tidak
takut berkelahi dengan geng anak perempuan kaya yang sangat suka membulynya, ia bahkan berani
membalaskan dendamnya dengan membuly mereka yang telah melakukan kejahatan kepadanya dan
juga teman-temannya.

"Kamu ingat nggak, dulu kamu pernah datang bulan dan kamu tidak sadar kalau kamu sedang datang
bulan," ucap Handaru.

"Hmmm...waktu SMA yang saat itu kamu meminjamkan jaket kamu kan Mas? terus akhirnya aku
diganggu sama perempuan yang suka sama kamu karena jaket kamu ada sama aku," ucap Kiran
mengingat masa lalu yang membuatnya sangat kesal dengan Handaru. "Kamu itu nyebelin banget dulu,
udah mengejek aku dan bilang rok ku tembus,

Kamu memang baik sedikit dengan meminjamkan jaket kamu untuk menutupi nodanya, tapi ternyata
kamu jahat juga sama aku Mas, karena jaket itu aku diganggu sama fans kamu," ucap Kiran.

3/7
Sudah boleh
"Jadi karena itu kamu benci sama Mas?" Tanya Handaru.

"Iya...tapi bukan itu saja, setelah sekian lama akhirnya ketemu aku, kamu kayak pura-pura nggak kenal
aku bahkan sering kali mengeluarkan kalimat kasar sama aku," ucap Kiran kesal jika mengingat
masalalunya bersama Handaru.

"Ooo...itu karena Mas terlalu sayang sama kamu makanya seperti itu cara Mas mengambil perhatian
kamu, kalau nggak begitu belum tentu kamu ingat sama Mas. Benci itu kan sebagian dari rasa sayang
Ran," ucap Handaru membuat Kiran menyunggingkan senyumannya.

"Iya nggak nyangka aja ternyata kebencian aku itu sejak dulu itu sebenarnya cinta, aku kesal karena
kamu melupakan aku dan selalu membuat aku marah sama tingkah kamu. Pada hal dulu itu aku pengen
banget loh Mas kamu perhatiin aku, makanya aku masuk ke ekstrakurikuler kayak basket, karena kamu
kan anak basket juga kan Mas," ucap Kiran. Handaru menyunggingkan senyumannya karena ternyata
istrinya ini pun sama seperti diriku yang telah lama tertarik satu sama lainnya sejak SMA.

"Ran..." Panggil Handaru.

"Ya Mas," ucap Kiran.

"Hmmm...sudah selesai datang bulannya?" Tanya Handaru tanpa basa-basi membuat wajah Kiran merah
padam.

"Sudah Mas," ucap Kiran pelan.

"Bagus kalau gitu," ucap Handaru menyunggingkan senyumannya membuat Kiran menjadi salah tingkah.
la tahu keinginan suaminya ini dan ia memang telah siap namun tetap saja ia masih sangat malu.
Jantung Kiran berdetak dengan kencang karena malam ini pasti Handaru

4/7

Sudah boleh
meminta haknya sebagai seorang suami. "Malam ini bisa kan Ran?" Tanya Handaru menatap Koran
dengan tatapan seriusnya.

"Bi...bisa Mas," ucap Kiran gugup dan ia mengalihkan pandangannya menatap jalanan, agar ia tidak
terlalu terlihat jika saat ini ia sangat malu karena Handaru membahas hal ini padanya.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di

Apartemen dan Handaru segera menghentikan mobilnya diparkiran mobil Apartemen ini. la dan Kiran
melangkahkan kakinya bersama menuju lobi Apartemen, lalu masuk kedalam lift. Tak butuh waktu lama
saat ini keduanya telah keluar dari dalam lifit dan kembali melangkahkan kakinya bersama menuju unit
Apartemennya. Keduanya saat ini telah berada didepan pintu unit Apartemen, Handaru menekan
tombol kunci

5/7

Sudah boleh
password pintu dan terdengar bunyi bip...bip pintu terbuka. Keduanya masuk kedalam unit Apartemen
dan Kiran segera menuju dapur. la memakai celemek ditubuhnya membuat Handaru mengerutkan
dahinya.

"Loh...kenapa langsung masak Ran? Kalau kamu capek kita pesan saja makanannya!" Ucap Handaru.

"Nggak usah Mas aku masakin saja!" Ucap Kiran.

"Lagian masih ada bahan makanan kita dikulkas, sayang kalau nggak dipakai masak, besok kan kita pergi
selama satu minggu," ucap Kiran membuat Handaru menganggukkan kepalanya karena ucapan istrinya
ini memang benar. "Kamu mandi saja dulu Mas!" Ucap Kiran tersenyum lembut kepada suaminya ini.

"Oke," ucap Handaru dan ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, lalu menuju kamar
mandi.

Kiran segera mengambil bahan-bahan lainnya didalam kulkas untuk memasak dan setelah itu, ia segera
memasak dengan cepat. Ya Kiran ingin membuat perkedel kentang makanan kesukaan Handaru dan ia
juga akan memasak ayam goreng mentega dengan sambal hijau teri medan. Kiran juga menumis
kangkung balacan dan tanpa terasa saat ini semuda hidangkan itu telah selesai ia masak. Setelah mandi,
Handaru memang bersantai duduk disofa sambil sesekali melirik Kiran yang sedang memasak didapur.

"Mas, aku mandi dulu terus kita makan bersama ya Mas!" Ucap Kiran.

"Oke," ucap Handaru membuat Kiran menyunggingkan senyumannya dan ia melangkahkan kakinya
masuk kedalam kamar mandi.

Kiran terkejut ketika ia masuk kedalam kamar mandi ternyata sosok Handaru mengikutinya dari
belakang. "Loh Mas ngapain?" Tanya Kiran gugup dan jantungnya berdetak

6/7

Sudah boleh
dengan kencang.

"Saya lupa tanya sama kamu, apakah kamu mau saya

mandikan atau tidak?" Tanya Handaru membuat wajah Kiran memerah karena malu dan ia segera
mendorong tubuh Handaru agar segera keluar dari kamar mandi. Jantungnya berdetak dengan kencang
karena ulah Handaru ini, ia tidak menyangka Handaru akan menggodanya seperti ini. Terdengar suara
tawa Handaru dari balik pintu kamar mandi, membuatnya semakin bertambah kesal dengan tingkah
Handaru yang sengaja ingin menggodanya.

Comments

Vote

7/7

Akhirnya kamu.
Akhirnya kamu
Kiran mempercepat acara mandinya dan setelah itu ia segera mengganti pakaiannya dan ia mengambil
air wudu. la melihat wajahnya dicermin untuk memastikan jika penampilannya sudah telihat cantik dan
ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Kiran melihat Handaru sedang duduk santai disofa dan ia
mendekekati Handaru. "Mas...." Panggil Kiran. "Sholat magrib dulu baru kita makan!" Ucap Kiran
membuat Handaru mengangkat wajahnya melihat kearah Kiran.

Handaru melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. "Oke," ucap Handaru.

Handaru segera melangkahkan kakinya menuju kamar diikuti oleh Kiran yang segera memakai
mukenanya, karena tadi ia telah mengambil wudu sedangkan Handaru menuju kamar mandi untuk
mengambil wudu. Handaru keluar dari kamar mandi,

ia melihat istrinya itu sedang menunggunya dan ia segera memakai baju kokoh dan sarung, lalu segera
mengajak Kiran sholat magrib berjamaah. Setelah sholat saat ini keduanya sedang duduk berhadapan
dimeja makan. Handaru tersenyum melihat beberpa hidangan yang terlihat sangat lezat, telah ada
dimeja makan.

"Wah ini semua pasti sangat enak," ucap Handaru.

"Iya dong pasti sangat enak," ucap Kiran dengan rasa percaya diri yang sangat besar. Selama ini ia
memang dieluh-eluhkan oleh keluarganya, jika ia mahir dalam memasak sama seperti Kana.

Kiran mengambil beberapa makanan untuk suaminya itu dan ia memberikannya kepada Handaru sambil

1/7

Akhirnya kamu
tersenyum manis. Handaru tidak menyangka jika istrinya ini akan lebih sering tersenyum kepadanya,
mengingat dulu sifat Kiran sangat dingin padanya. Kiran Ayu istrinya ini benar-benar tidak terduga,
istrinya ini dulu sangat sering marah bahkan berteriak kesal padanya setiap ia menggodanya, tapi
sekarang istrinya itu terlihat sangat jauh berbeda. Handaru terlihat sangat lahap mengunyah
makanannya sama halnya dengan Kiran, yang juga makan dengan lahap. Setelah selesai makan Handaru
mencuci piringnya dan Kiran mengawasi Handaru yang saat ini menjadi penguasa dapur. Urusan
mencuci piring setelah makan diserahkan kepada Handaru yang memang ingin membantu Kiran.

Setelah selesai mencuci piringnya, Handaru melihat kearah Kiran hingga terjadi keheningan dan Kiran
merasa sangat gugup. Mas ada film baru nggak? Kita nonton dulu yuk Mas!" Ajak Kiran. la ingin
mengubah suasana yang saat ini canggung mengingat Handaru mengajaknya untuk tidur bersama dalam
artian bercintta dengannya. Handaru menghela napasnya dan itu membuat Kiran merasa tidak enak
dengan Handaru. "Kita baru sudah makan Mas, aku janji kok nggak akan mengantuk malam ini!" Ucap
Kiran membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Oke," ucap Handaru.

Handaru dan Kiran melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada diruang tengah, lalu Handaru
mengambil remote tv dan ia segera mencari film terbaru yang ingin mereka tonton. Keduanya nonton
dengan serius dan Kiran memeluk Handaru dengan erat ketika film horor yang mereka tonton
memperlihatkan sosok hantu yang sangat mengerikan. "Takut?" Tanya Handaru.

"Seram Mas, kalau aku hamil aku nggak mau pergi jalan-jalan ke desa yang serem kayak gitu, kalau nanti
ketemu orang yang bersekutu sama iblis dan mau ambil anak didalam kandungan," ucap Kiran.

2/7

Akhirnya kamu
"Kalau kamu hamil nanti tinggal di Rumah Ibu atau di Rumah Mami!" ucap Handaru membuat Kiran
tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya.

"Lagian Mas, kenapa pilih film yang nyeramin banget, Mas," ucap Kiran.

"Biasanya kamu nggak protes," ucap Handaru.

"Sebenarnya sih filmnya bisa saja, tapi aku kesel aja sama suaminya yang cuek banget sama istri. Sudah
tahu istrinya hamil tapi malah ditinggal sendirian Mas," ucap Kiran kesal. "Makanya kalau aku hamil aku
nggak mau ditinggal sendirian di Apartemen! Apalagi konon katanya bahaya kalau ibu hamil ditinggal
sendirian," ucap Kiran.

"Iya, Mas nggak akan meninggalkan kamu sendirian," ucap Handaru.

"Janji!" Pinta Kiran.

"Janji," ucap Handaru dan ia terkekeh melihat Kiran yang saat ini terlihat kesal padanya.

"Sekarang aku tahu Mas, kenapa Papi dan Mami kesel banget sama tingkahnya Marco. Mami dan Papi
itu kasihan sama Sandra karena dulu Sandra menghadapi kehamilannya seorang diri," ucap Kiran.
"Itu terjadi karena Sandra kabur dari Marco dan menyembunyikan kehamilannya, kalau nggak Marco
pasti nggak akan membiarkan Sandra hamil seorang diri, saya sangat mengenal adik saya Kiran dia
adalah sosok yang bertanggung jawab," ucap Handaru.

"Iya Maaf ya Mas bahas ini sama kamu, soalnya di film itu suaminya ninggalin istrinya yang sedang hamil
kan nyebelin banget," ucap Kiran, membuat Handaru tersenyum dan ia mengelus kepala Kiran dengan
lembut.

Beberapa menit kemudian film horor yang mereka

3/7

Akhirnya kamu
tonton berakhir. Handaru mengelus kepala Kiran dengan lembut dan ia menatap wajah cantik itu
dengan tatapan sayang. Selama seminggu ia sudah sangat bersabar menahan dirinya untuk tidak
melakukan hal yang telah sering hadir didalam mimpinya. "Kamu mau dengar hal yang jujur dari Mas
nggak? tapi kamu jangan marah!" Ucap Handaru sambil mengelus kepala Kiran dengan lembut.

"Kalau hal yang jujurnya bukan tentang perempuan lain, aku nggak apa-apa," ucap Kiran. Handaru
kembali tersenyum mendengar ucapan istrinya ini, ternyata istrinya ini sosok yang sangat pencemburu
sama seperti dirinya.

"Oke..sejak ketemu kamu saat SMA, yang membuat Mas kesal itu kenapa setiap mimpi perempuan
cantik, perempuannya itu kamu," ucap Handaru membuat Kiran

4/7

Akhirnya kamu
menyunggingkan senyumannya dan ia terlihat sangat malu saat ini.

"Astaga Mas, suka banget sih becanda kayak gini, Mas belajar dari siapa merayu aku kayak gini, Mas?"
Tanya Kiran.

"Ibu bukan bercanda sayang dan ini juga bukan dalam rangka merayu karena ini benar-benar terjadi
sama suami kamu ini sejak dulu," ucap Handaru.

Kiran tersenyum bahagia dan ia ingin sekali memeluk Handaru sekarang juga. Ya Kiran bukan hanya
memeluk, tapi ia mengecup ngecup bibir Handaru dengan berani membuat Handaru menyunggingkan
senyumannya dan ia segera mengangkat tubuh Kiran membuat Kiran terkejut hingga ia berteriak.

"Mas..." teriak Kiran.

Handaru tidak menghiraukan teriakan Kiran, ia seolah tuli dan ia melangkahkan kakinya menuju kamar
mereka "Jangan menolak kalau menolak kamu dosa Kiran!" Ucap Handaru dan wajah Kiran memerah.
"Siapa juga yang mau menolak kamu Mas, aku mau kok beribadah sama kamu!" Ucap Kiran dengan
wajah memerah padam dan suaranya yang serak. Handaru membaringkan tubuh Kiran diranjang dan ia
membisikan doa ke telinga Kiran, lalu mencium dahi Kiran dengan lembut. Handaru berada diatas tubuh
Kiran dan ia merapikan rambut yang menutupi wajah Kiran, lalu mencium bibir Kiran dengan lembut.

Handaru menggerakkan tangannya membuka pakaian Kiran, ia menciumi seluruh permukaan wajah
Kiran, hingga kebagian leher Kiran secara perlahan dan lembut, lalu turun kebagian dadda Kiran hingga
menyentuh kedua gunnnung kembar yang menggoda itu dan mengisaapnya dengan pelan. Sensasi itu
yang membuat Kiran sangat terkejut sekaligus menikmati apa yang telah dilakukan

5/7

Akhirnya kamu
suaminya ini, hingga saat ini semua pakaiannya telah dilucuti oleh Handaru Laksamana Dewandaru.

Handaru mennyetuh semua tubuhnya dengan lembut dan perlahan hingga Kiran benar-benar telah
menjadi miliknya. Kedunya menikmati malam panjang yang membuat keduanya merasa melayang dan
berulang kali mengucapkan kata cinta. Setelah itu Kiran sang perempuan dingin yang sering kali
membuat hati para lelaki yang menyukainya itu patah hati, berhasil ditaklukan Handaru hingga
kelelahan dan tertidur lelap didalam pelukkannya.

Handru mengeratkan pelukkannya dan ia berjanji akan selalu menghormati dan menghargai istrinya. la
tidak akan menghianatinya dan Kiran akan menjadi satu-satunya perempuan yang akan ia cintai seumur
hidupnya. "Kamu keluarga saya Kiran, kamu akan menjadi ratu di rumah tangga kita sayang," ucap
Handaru mencium dahi Kiran dengan lembut dan ia yang mengantuk, lalu memejamkan matanya hingga
ikut tertidur lelap.

11

puputhamzah

Hai terimkasih telah membaca buku-bukuku, berikut ini kode yanh bisa kalian gunakan :
ADFHMNPWIstri Tuan CEO Albiseka DewandaruDia yang Ku SayangBertemu Kembali Denganmu

6/7

Mau putus hubungan rasanya.


Mau putus hubungan rasanya
Menjelang pagi Kiran membuka matanya dan ia mendengar suara Handaru yang sedang mengaji. Kiran
tersenyum karena suaminya ini memang sangat mengejutkannya dibalik sikapnya dinginnya dulu. Ya...ia
dan suaminya ini sekarang sangat terkenal dengan sebutan pasangan yang sama-sama memiliki sifat
yang dingin. Bahkan ada yang ingin mewawancarai mereka secara esklusif untuk menanyakan
bagaimana keduanya bisa bertemu dan jatuh cinta, lalu memutuskan untuk menikah. Banyak gosip yang
beredar mengenai hubungan keduanya yang berawal dari perjodohan dan ada juga yang mengatakan,
jika Handaru terpaksa menikahi Kiran atas permintaan Abib Papinya Handaru, yang sangat
mengidolakan Kiran.

Kiran bangun, ia kemudian segera turun dari ranjang dan melangkah kakinya menuju kamar mandi.
Kiran membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia segera mengganti pakaiannya, lalu memakai
mukenanya. Handaru yang telah selesai menganji segera mengajak Kiran sholat subuh berjamaah dan
setelah itu, keduanya duduk disofa. Kiran masih saja canggung membuat Handaru menggeser tubuhnya
dan ia menarik Kiran kedalam pelukannya.

"Kamu yang terlalu mandiri ini harus terbisa bergantung dengan suamimu!" Ucap Handaru dan ia
mengangkat wajah Kiran dengan pelan, agar bisa menatap mata indah milik istrinya dan ia mengecup
bibir Kiran dengan cepat. "Kamu harus terbiasa disentuh oleh suami kamu dan terbiasa menerima
perhatian dari suami kamu!" Ucap Handaru membuat Kiran tersenyum. Berada didalam dekapan
seorang Handaru Laksamana Dewandaru, selalu

1/7

Mau putus hubungan rasa...


bisa membuatnya nyaman dan tenang. Handaru hanya bersikap seperti ini padanya dan ia terbisa
menujukkan sikap tegas dan sangat dinginnua kepada orang-orang disekitarnya, hingga membuatnya
sulit untuk didekati.

"Iya Mas," ucap Kiran. "Hmmm... Mas, Altaf tumben banget ambil cuti dan mau pergi jalan-jalan,
biasanya dia itu suka pergi sama para sahabatnya Mas," ucap Kiran.

"Dia hanya ingin menemani kamu dan dia bilang sudah lama tidak ikut liburan, tadinya dia ingin ikut
diacara bulan madunya Lifia dan Defran, tapi karena mereka belum jadi pergi, jadi Altaf memutuskan
ingin ikut," ucap Handaru.

"Pada hal kamu nggak setuju mereka ikut, tumben saja kamu mau diikuti sama mereka," ucap Kiran.

"Mereka janji nggak akan gangguin kita, lagian Altaf juga membawa temannya paling tidak bisa menjaga
Kila atau Salsa," ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran tersenyum.

Suara ketukkan pintu terdengar membuat Handaru melepaskan pelukannya dan ia membuka pintu
Apartemennya. "Assalamualaikum," ucap Kila dan Salsa.

"Waalaikumsalam," ucap Handaru dan Kiran.

Handaru membuka pintunya dengan lebar dan mempersilahkan mereka masuk kedalam Apartemen.
"Ayo masuk!" ucap Handaru mempersilahkan mereka untuk masuk.
Kila dan Salsa terlihat menggeret koper, keduanya segera masuk kedalam apartemen Handaru dan
ternyata dibelakang keduanya ada dua orang satpam yang membantunya membawa barang lainnya.
Kedua satpam itu segera pamit setelah membantu membawakan barang-barang Kila dan Salsa. Kiran
dan Handaru saling

2/7

Mau putus hubungan rasa...


berpandangan, keduanya menghela napasnya melihat barang-barang yang ada dihadapan mereka saat
ini.

"Terpaksa bawa keatas juga barang-barang kita soalnya sejak tadi ditelepon Mas Handaru dan Mbak
Kiran nggak angkat teleponnya," ucap Kila.

Kiran melihat semua barang bawaan mereka berdua dan ia menghela napasnya karena kedua adik
perempuannya terlalu banyak membawa barang. "Kalian yakin mau bawa barang sebanyak ini?" Tanya
Kiran.

"Sebenarnya nggak Mbak tapi itu Mamiku dan Mamanya Kila yang menyusun semua barang, makanya
kita mau bawa beberapa aja kan nanti bisa dibeli kalau ada kekurangan apa gitu!" ucap Salsa.

"Mami kalian pikir kita itu mau keluar negeri," ucap Handaru.

"Hehehe iya Mas, pada hal kita kan hanya mau ke Desa saja ya Mas," ucap Kila membuat mereka semua
tersenyum.

"Udah ini Kila kita satu koper aja gitu lagian kan hanya seminggu kita liburannya, mau pergi ke alam
begini seru banget aduh jadi nggak sabar pengen memanjakan mata," ucap Salsa.

"Iya Mbak," ucap Kila.

"Ya sudah ayo cepat kita pilih yang mana harus dibawa yang mana tidak!" Ucap Salsa.

"Iya Mbak," ucap Kila dan keduanya segera membongkar barang-barang bawaanya dan setelah itu
menjadikannya hanya berada dalam satu koper. Setelah semuanya selesai, keduanya merasa sangat
lega.

"Mbak haus..." ucap Salsa membuat Kiran terkekeh dan ia mengambilkan air mineral untuk Salsa dan
Kila.

"Ini," ucap Kiran.

3/7

Mau putus hubungan rasa...


"Makasih Mbak," ucap keduanya sambil menunjukkan senyum ramahnya.
"Sama-sama," ucap Kiran. "Udah siap?" Tanya Kiran.

"Udah Mbak," ucap Salsa.

"Semua sudah beres, barang-barang pentingnya sudah masuk kedalam koper!" ucap Kila.

Bunyi bel pintu Apartemen ini membuat Salsa segera

membukannya dan terlihat wajah tampan Altaf yang tersenyum melihat Salsa, yang telah sampai di
Apartemen Handaru. "Loh tadi kalau kalian minta jemput, aku jemput loh!" ucap Altaf.

"Nggak usah Al ngerepotin," ucap Salsa.

Altaf melangkahkan kakinya masuk kedalam Apartemen dan ia melihat barang-barang bawaan

4/7

Mau putus hubungan rasa...


mereka.

"Kita berangkat sekarang Mas?" Tanya Altaf kepada Handaru.

"Oke, saya dan istri saya ganti baju dulu!" ucap Handaru. la dan Kiran segera melangkahkan kakinya
menuju kamar untuk mengganti pakaian, setelah itu keduanya segera keluar dari kamar, sambil
membawa dua buah ransel milik keduanya.

Altaf. "Wah ini sudah siap banget berpetualang," ucap

"Iya kata mas Handaru nggak usah bawa koper makanya bawa tas saja, tadinya Mbak juga mau bawa
koper," ucap Kiran.

"Ya sudah ayo kita berangkat!" Ucap Handaru.

"Oke," ucap Altaf.

Mereka melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen dan Altaf membawa banyak barang bawaan
mereka bersama Handaru menuju lantai dasar. Didepan lobi Apartemen telah menunggu sosok laki-laki
berwajah manis dan bertubuh tegap yang melihat kedatangan mereka.

"Bang Aryo," teriak Altaf.

Sosok laki-laki tampan dan berwajah manis itu mendekati mereka, lalu membantu Altaf membawa
barang-barangnya. "Eits....kenalan dulu dong sama keluarga saya Mas!" Ucap Altaf yang ingin
memperkenalkan Aryo kepada mereka semua.

"Ini Mas Aryono yang akan ikut liburan bersama kita, beliau ini anak gunung banget loh..." ucap Altaf
membuat mereka semua tersenyum kepada Aryo.
"Aryo..." ucap Aryo mengulurkan tangannya kepada Handaru.

"Handaru dan ini istri saya...Kiran!" Ucap Handaru. Kiran menjabat tangan Aryo sambil tersenyum. Aryo
juga

5/7

Mau putus hubungan rasa...


menjabat tangan Salsa dan Kila sambil memperkenalkan diri mereka.

"Beliau yang akan menujukkan jalan dan beberapa tempat yang akan kita kunjungi," ucap Altaf.

"Memangnya kita mau ke daerah mana?" Tanya Salsa.

"Ke Sumatera Selatan," ucap Handaru karena ia memang menginginkan pergi ke daerah Sumatera
Selatan.

"Wah...aku pulang ke Rumah," ucap Kila. "Mampir ke kota Palembang kan Mas?" Tanya Kila. Dulu ia
pernah lama tinggal Palembang bersama Mamanya dan juga Kakak sulungnya. Bahkan Serkan dan Fajrin
pernah lama menetap karena markas perlatihan mereka dulu berada didaerah Sumatera Selatan.

"Kemungkinan kita belum tentu mampir karena akan langsung menuju daerah kabupaten," ucap
Handaru karena ia tidak ingin membuang waktu berada dikota. "Paling nanti satu hari sebelum pulang
baru kita jalan-jalan dikotanya dan mungkin kita bisa mampir ke rumahmu Kila," Ucap Handaru. la masih
memikirkan manajemen waktunya dan jika perjalanan mereka lancar mereka bisa nanti bermain di Kota
selama satu hari.

"Iya Mas aku mau kuliner disana, mau beli pempek dan kerupuk Mas," ucap Kiran.

"Kalau dikota, serahkan saja sama Kila Mbak, semua tempat makanan yang enak-enak Kila tahu tanya
deh sama Mbak Kana dan Mbak Bita, makanan apa saja yang enak gitu yang direkomendasikan Kila,"
ucap Kila tersenyum senang karena ia dengan senang hati akan mengajak mereka semua, wisata kuliner
bersamanya.

"Oke siap," ucap Kiran tersenyum.

Mereka semua masuk kedalam mobil yang akan mengantar mereka ke Bandara dan setelah itu mereka
akan

6/7

Mau putus hubungan rasa...


naik pesawat menuju Palembang. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di Bandara dan saat
ini mereka sedang menunggu keberangkatan diruang tunggu. Salsa melihat makanan yang dibawa Kiran,
"Wah sempat-sempatnya bawa jajanan Mbak, aku karena sibuk urusan izin di Rumah Sakit jadi lupa beli
makanan," ungkap Salsa.

"Iya nggak apa-apa makanya Mbak ingat kalian berdua suka ngemil, jadi ya Mbak beli roti dan kue gitu
sorenya," ucap Kiran.

"Mbak Sa, pergi nggak izin sama Mas Zilo ya?" Goda Kila membuat Salsa menyebikkan bibirnya.

"Nggak usah bahas dia ya Kil," kesal Salsa.

"Hehehe....Mbak tahu nggak ada yang bilang kalau dia nggak suka sama Dokter Zilo, tapi ternyata dia
cemburu melihat Dokter Zilo didekati pasiennya yang merupakan pasien vip gitu Mbak, kabarnya sih
anak pengusaha terkenal gitu," ucap Kila.

"Jadi karena itu ya Kil, Salsa mau pergi jalan-jalan sama kita?" Tanya Kiran.

"Udah Mbak nggak usah dipercaya ucapan Kila, dia itu nyebelin banget orangnya sumpah, Kil kalau
kamu bukan sepupu aku ya, kita sudah putus hubungan persahabatan!" Ucap Salsa kesal membuat Kiran
dan Kila terkekeh melihat kekesalan Salsa. Kiran merasa jika ucapan Kila memang benar terlihat dari
ekspresi Salsa yang kesal karena membahas hal ini.

Comments

Vote

7/7

Jalan-jalan.
Jalan-jalan
Pesawat mereka telah terbang menuju ke Palembang, dalam perjalanan Kiran terlihat sangat bahagia
bisa berpergian bersama Handaru dan adik-adiknya, sejak berada didalam pesawat ia memeluk lengan
suaminya ini dengan erat sambil tersenyum. Kiran memang sejak tadi menggunakan masker diwajahnya
sama seperti Handaru, mengingat berita mengenai keduanya saat ini sedang viral.

Jika keduanya tidak menggunakan masker, para wartawan bisa saja mengendus keberangkatan mereka
dan mengikuti mereka untuk mendapatkan berita eksklusif mengenai acara liburan mereka.

"Mas kalau berdua saja jalan-jalan menggunakan mobil jadinya memang kurang seru ya Mas," ucap
Kiran.

"Ya bilang saja kalau kamu maunya pergi rame-rame kayak gini," ucap Handaru mencuil dagu Kiran
karena gemas.
"Iya Mas, kalau pergi rame-rame kayak gini kan seru banget Mas, malamnya yang hanya kita berdua
gitu," ucap Kiran membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.

"Resiko punya istri terkenal jadi harus pake masker kayak gini," ucap Handaru membuat Kiran menutup
mulut Handaru dengan telapak tangannya.

"Hsssttt...nanti kalau ada yang kenal, kamu harus rela loh aku fokus sama fans aku dulu baru kek kamu
lagi, makanya jangan sebut nama Mas! Hmmm...gimana Mas panggil aku darl atau love gitu...ih geli
banget sih," ucap Kiran.

"Yanng saja," ucap Handaru. Kiran menganggukan

1/6

Jalan-jalan
kepalanya setuju jika mereka akan saling memanggil dengan kata Yanng dari kata Sayang dan kata itu
pasti akan terdengar indah jika Handaru memanggilnya dengan sebutan Yanng.

"Yanng...." Panggil Kiran kepada Handaru membuat Handaru ingin sekali menciumm Kiran, namun
terhalang dengan masker yang sedang ia kenakan.

"Jangan menggoda Yanng!" Ucap Handaru dan kali ini wajah Kiran memerah karena malu mendengar
ucapan Handaru.

"Mas..." panggil Kiran.

"Kenapa nggak panggil Yanng lagi, hmmm?" Tanya Handaru lembut.

"Ya nggak apa-apa nanti saja, soalnya aku kan bisa panggil kamu tanpa nama Mas, jadi kalau mau
panggil kamu Yanng atau nggak, bisa juga kan..." ucap Kiran.

"Iya...terserah kamu," ucap Handaru dan ia mengelus kepala Kiran dengan lembut.

"Tidurlah, kamu kurang tidur malam tadi!" Ucap Handaru membuat Kiran tersenyum dan ia
menganggukkan kepalanya. Salah siapa hingga ia kurang tidur tadi malam jika bukan karena Handaru
Laksamana Dewandaru.

Semenatara itu saat ini Kila melirik kearah Altaf yang berada diseberangnya dan sedang berbincang
bersama Aryo. Namun tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Aryo membuatnya terkejut dan Kila
segera mengalihkan pandangannya. 'Astaga manis banget sih kamu, tapi mahal banget senyumannya,
Batin Kila.

Aryo memang terlihat pendiam, hanya berbicara seperlunya saja, tipikal laki-laki militer yang kaku dan
tegas. Jantung Kila berdetak dengan kencang dan ia menghembuskan napasnya agar meredakan
kegugupan yang saat ini melandanya. Kila menatap kearah Salsa yang
2/6

Jalan-jalan
terlihat menatap lurus kedepan, entah apa yang dipikirin Salsa saat ini karena sejak tadi ia terlihat
sedang banyak pikiran, hingga ia menjadi lebih pendiam dari pada biasanya. "Mbak...jadi beneran
sedang patah hati ya?" Tanya Kila membuat Salsa geram.

"Nggak usah ditanya terus bisa nggak Kil? Nyebelin banget sih..." kesal Salsa membuat Kila terkekeh dan
ia memeluk lengan Salsa dengan erat.

"Mbak itu temannya Mas Altaf, ganteng banget Mbak, hitam manis dan gagah," ucap Kila.

"Wow tipe kamu banget ya, tapi dia itu abdi negara alias polisi kamu mau jadi Ibu Bhayangkari juga?"
Tanya Salsa.

"Astaga Mbak, langsung mikir kesana saja ini Mbak, aku kan cuman bilang dia itu manis, lagian siapa
tahu sudah punya istri kita kan nggak tahu Mbak, ingat apa kata

3/6

Jalan-jalan
Mami Liana jangan mudah jatuh cinta sama orang yang belum kita kenal!" Ucap Kila.

"Iya Mbak tahu, udah kamu ingatin terus setiap kali ada cowok tampan dihadapan kita, makanya sampai
sekarang aku dan kamu masih jomblo akut," ucap Salsa dan sebenaranya ia merasa nyaman saja belum
memiliki kekasih, tapi yang membuatnya tidak nyaman itu ketika ia harus dijodohkan dengan Zilo dan
terkesan dipaksa hingga beberapa lagi dipertemukan oleh keluarganya. Zilo terlihat tidak menyambut
baik perjodohan mereka dan sering kali memahatkan kata-kata kasar padanya. Itulah yang membuat
Salsa kesal, walaupun sebenarnya ia merasa sangat kagum dengan sosok Zilo yang sangat pintar.

"Mbak nggak jomblo lagi, udah punya jodoh tinggal menentukan kapan menikah saja!" Ucap Kila.

"Ihhh...Kamu ingatin lagi, nyebelin banget sih...dia itu mana peduli sama aku, lihat dia nggak pernah
telepon aku nanya aku dimana sedang apa, terus dia juga ngga tanya aku kenapa minta cuti," ucap Salsa.
Zilo tidak pernah memikirkannya dan kenapa ia harus memikirkan Zilo, itu yang saat ini dipikirkan Salsa
hingga ia merasa sangat kesal.

"Nah curhat lagi nih..." ucap Kila membuat Salsa menghela napasnya.

"Nyebelin banget sih..." kesal Salsa. la memejamkan matanya membuat Kila tersenyum melihat tingkah
Salsa.

Beberapa menit kemudian Kila juga ikut memejamkan matanya hingga tanpa terasa saat ini mereka
telah sampai di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Mereka melangkahkan kakinya turun
dari pesawat dan mereka segera melanjutkan perjalanan ke kabupaten Lahat. Saat ini mereka sedang
berada didalam mobil menuju kabupaten Lahat dan dalam perjalanan mereka

4/6

Jalan-jalan
kagum dengan pemandangan indah dikanan-kirinya disetiap jalan. Apalagi ada hamparan sawah
berwarna hijau yang juga terlihat dipinggir jalan dengan rumah-rumah panggung yang membuat Kiran
dan Salsa takjub.

"Mas kalau mau makan, enaknya di mana?" Tanya Salsa. "Satu jam lagi aku itu lapar," ucap Salsa.

"Kalau mau makan nasi, udah ada kok...Ibu buat bekal untuk kita semua, tinggal kita panaskan..." ucap
Altaf membuat mereka semua terkejut.

"Serius ada masakan Ibu?" Tanya Kiran.

"Ada dong," ucap Altaf.

"Wah kenapa nggak bilang dek?" Tanya Kiran.

"Loh...nggak usah bilang juga, ibu itu kalau tahu aku mau bepergian pasti dia siapin bekal buat aku Mbak
yang tahan beberapa hari," ucap Altaf membuat Kiran tersenyum. Ibunya itu memang sangat
memanjakan Altaf, sebagai anak yang paling kecil dan anak laki-laki satu-satunya, Altaf selalu
dimanjakan di keluarganya. "Lagian Ibu tahu kita pergi sama-sama jadi makanan yang bawa pasti banyak
Mbak," ucap Altaf.

"Gimana kalau kita piknik dipinggir jalan aja atau ada sungai gitu makan dipinggir sungai?" Ucap Kila.

"Wah...itu ide yang sangat bagus," ucap Kiran setuju dengan ucapan Kila.

Mobil yang mereka gunakan adalah mobil milik orang tuanya Kila yang masih berada di Palembang.
mobil ini sering digunakan Lee Papinya Kila menuju kebun kelapa sawitnya bersama rekan bisnisnya. Kila
juga meminta perlengkapan berkemah pada bawahan sang Papi agar disiapkan didalam mobil. Disana
tersimpan tenda bahkan kompor kecil dan panci untuk memasak.

"Di mobil sudah ada tenda, kompor dan panci, jadi

5/6

Hanya kesal.
Hanya kesal
Lifia sebenarnya ingin sekali ikut pergi liburan bersama Kiran, tapi Defran melarangnya dan ia hanya bisa
pasrah melupakan liburan hingga kembali fokus bekerja seperti hari ini. Ada beberapa kontrak kerja
yang harus ia selesaikan, apalagi Lifia merasa bertanggung jawab menyelesaikan syuting iklan ini.
Untung saja ia akan menjadi salah satu brand skincare yang sangat populer akhir-akhirnya ini, ia dan
Azura yang akan menjadi bintang iklannya.

Azura mendekati Kiran dan ia duduk disamping Kiran. "Ada apa?" Tanya Azura.

"Lagi lihat status di media sosialnya Salsa ada foto Kiran, Kila sama Salsa di Bandara, mereka pergi
liburan," ucap Lifia sendu membuat Azura tersenyum.

Azura kembali tersenyum saat mengingat sosok Defran yang memilki sikap yang hampir sama seperti
Defran. Defran sama seperti Ilham suaminya, yang pastinya akan sangat overprotektif kepada istrinya.
Dengan keadaan Lifia yang sedang berbadan dua, pasti Defran tidak ingin membuat Lifia kelelahan dan
ingin Lifia fokus dengan kehamilannya. "Kamunya pasti mau banget ikut pergi liburan, tapi Mas Defran
nggak setuju kalian liburan," ucap Azura.

"Iya Ra, Mas Def bilang aku nggak boleh kecapean dan dia kasihan sama aku, lagian aku juga bisa pergi
karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum benar-benar istirahat," ucap Lifia.

"Lifia memang nggak boleh kecapean, bisa-bisanya sebagai manajernya aku kena omel sama Mas Def,"
ucap Sandra. "Setelah pekerjaan dua bulan ke depan telah

1/6

Hanya kesal
selesai, aku dilarang ambil job untuk Lifia," ucap Sandra. Defran akan mengizinkan jika itu hanya berupa
endrose produk yang bisa di review oleh Lifia di Rumah. Apalagi Defran tahu jika istrinya ini, masih
memilki trauma karena kejadian penguntit itu dan Lifia masih sangat berhati-hati dalam bertindak. Lifia
masih tidak berani berada disuatu tempat seorang seorang diri dan untung saja Sandra selalu
menemaninya saat ini.

"Mbak syutingnya akan segera dilanjutkan!" Ucap karyawan penanggung jawab syuting ini.

"Oke, ayo Azura!" Ajak Lifia membuat Azura tersenyum.

Sandra tersenyum melihat keduanya, apalagi keduanya sangat beruntung karena sama-sama hamil
Sandra menatap perutnya dan ia menghela napasnya karena ia belum juga hamil saat ini. Kehamilannya
saat ini sangat diharapakan, agar Papi dan Mami mertuanya itu merasa jika rumah tanggannya bersama
Marco baik-baik saja. Mereka bahkan masih curiga jika saat ini ia dan Marco, bisa saja bersandiwara jika
hubungan mereka saat ini telah membaik.

Sandra memperhatikan jalannya proses syuting, Lifia dan Azura memang sama-sama cantik dan
berbakat. Sebagai orang yang percaya menjadi manajer Sandra sangat bangga dengan artis yang ia
layani selama ini.
Apalagi Lifia sangat baik padanya dan menganggapnya sahabatnya hingga selalu menujukkan kasih
sayang hingga membuatnya menjadi sangat penting. Sandra pernah mengalami krisis kepercayaan
selama ini dan ia benci, dengan beberapa orang yang sangat suka memanfaatkan orang lain demi
kepentingannya. Mengenal Lifia membuatnya percaya jika masih banyak orang-orang baik yang
menganggapnya penting bahkan memperlakukannya dengan sangat-sangat baik.

2/6

Hanya kesal
Setelah selesai syuting, Lifia menyunggingkan senyumnya karena tiba-tiba Defran datang menjemputnya
dan Defran melangkahkan kakinya mendekatinya. Biasanya Defran akan menunggu di mobilnya, namun
semenjak menikah Defran bahkan tak canggung untuk datang mendekati Lifia, meskipun Lifia sedang
dilokasi syuting. Azura tersenyum melihat perhatian Defran kepada Lifia, jika Defran sudah datang
langsung menjemput Lifia, suaminya saat ini berada didekat produser karena ia telah lama mengenal
eksekutif produser iklan ini.

"Aku kesana dulu mau ajak Mas Ilham pulang!" Ucap Azura.

"Oke Ra," ucap Lifia. la melangkahkan kakinya mendekati Ilham sedangkan saat ini Lifia tersenyum
karena Defran telah duduk dihadapannya. Tatapan Defran tertuju pada wajahnya yang saat ini telah
dimakeup.

"Mas..." panggil Lifia.

"Ya," ucap Defran singkat.

"Kenapa kamu natap aku kayak gitu, apa makeupnya nggak cocok gitu sama aku?" Tanya Lifia.

"Makeupnya cocok," ucap Defran, ia mengulurkan tangannya dan ia mengelus pipi Lifia dengan lembut.
"Kamu jadi semakin cantik," jujur Defran membuat Lifia menyunggingkan senyumannya. "Sudah selesai
syutingnya?" Tanya Defran.

"Sudah selesai Mas Def," ucap Sandra membuka suaranya membuat Lifia terkejut karena ia hampir lupa
jika saat ini Sandra berada didekatnya. "Nggak usah kaget begitu, kalau kalian mau mesra-mesraan
silahkan saja!" Ucap Sandra dan ia tersenyum.

"Astaga aku minta maaf Sandra, hmmm...aku pulangnya sama Mas Defran!" Ucap Lifia.

"Oke, tadi juga Mas Def sudah bilang kok dipesan kalau dia yang jemput kamu, makanya aku juga nggak

3/6

Hanya kesal
bawa mobil tadi naik mobil perusahaan karena Mas Marco juga janji mau jemput," ucap Sandra.
"Iya Sandra," ucap Lifia.

"Mas Def, ada yang sedih nggak bisa pergi ikut acara bulan madunya Mas Handaru sama Mbak Kiran."
Ucap Sandra. "Ya sudah aku pulang dulu Mas! Kayaknya Mas Ilham sebentar lagi sampai," ucap Sandra
karena Lifia terlihat kesal ketika ia mengatakan jika Lifia terlihat bersedih karena tidak bisa pergi liburan.

Sandra melangkahkan kakinya dengan cepat menjauh dari Defran dan Lifia. Sementara itu saat ini
Defran menatap Lifia dengan tatapan menyelidik dan ia mengulurkan tangannya mengisyaratkan agar
Lifia segera memegang tangannya. Lifia lagi-lagi menghela napasnya dan ia segera memegang tangan
Defran, lalu mengikuti Defran yang melangkahkan kakinya keluar dari lokasi syuting. Keduanya menuju
mobil, keduanya segera masuk kedalam mobil dan Defran melajukan mobilnya dengan kecepatan
sedang.

"Kamu kesal kita nggak ikutan liburan sama Handaru dan Kiran?" Tanya Defran. Lifia menghela napasnya
dan sepertinya ia harus jujur kepada Defran.

"Iya Mas, pasti seru sekali Mas," ucap Lifia. Wajah Defran berubah menjadi sangat dingin membuat Lifia
menundukkan kepalanya. Entah mengapa ia menjadi sangat melankolis dan merasa Defran akan marah
besar padanya, lalu akan mengacuhkannya karena sedang marah besar.

"Hiks...hiks..." isak tangis Lifia terdengar membuat Defran terkejut dan ia segera menepikan mobilnya.

"Ada apa Lifia?" Tanya Defran. Lifia masih terisak dan dengan perlahan ia mengangkat wajahnya dengan
berani menatap Defran. "Mas nggak akan tahu kalau kamu nggak bicara, kamu maunya apa Kiran? Mas
akan kabulkan

4/6

Hanya kesal
keinginan kamu, tapi kecuali kalau kamu keras kepala mau pergi nyusulin mereka ke Palembang atau hal
lain yang membuat kamu dalam bahaya!" Ucap Defran.

"Hiks...hiks...Kamu itu marah sama aku Mas? Aku nggak mau dimarahin sama kamu! Aku kan merasa
asyik banget bisa pergi sama mereka, itu aja," ucap Lifia.

"Loh...siapa yang marah sama kamu?" Tanya Defran Satyas yang tidak mengerti kenapa Lifia
mengatakan, jika

ia sedang marah.

"Tadi kamu marah makanya kamu diamin aku dan cuek gitu, kamu kan nggak pernah lagi cuekin aku
selama kita menikah Mas" ucap Lifia

"Saya hanya kesal tapi saya tidak marah sama kamu, Lifia," ucap Defran dan ia harus menjelaskan
semuanya agar istrinya ini mengerti jika ia sedang tidak marah saat ini.
5/6

Demi kamu Dek.


Demi kamu Dek
Tetap saja Lifia memilih diam dan tidak banyak bicara didalam mobil, ia memang menjadi sensitif.
Apalagi ia tidak mau Defran marah padanya karena ia yang memang merasa sangat ingin berpergian
bersama Kila, Salsa dan Kiran. Defran yang fokus mengemudi melihat mata istrinya itu sembab dan ia
menghela napasnya, lalu sengaja memutar jalan menuju taman agar bisa menjelaskan kepada Lifia.
Mobil berhenti diparkiran taman membuat Lifia menatap Defran dengan tatapan penasaran.

"Kenapa berhenti disini Mas?" Tanya Lifia. "Kamu mau nurunin aku dan pulang sendirian gitu ya Mas?"
Tanya Lifia membuat Defran menghela napasnya.

"Kamu pikir saya itu sejahat itu sama kamu?" Ucap Defran yang kesal dengan pemikiran istrinya ini.

"Kamu marah sama aku Mas, hiks...hiks... aku minta maaf," tangis Lifia membuat Defran menarik tangan
Lifia lalu menggenggamnya. la menatap Lifia yang saat ini masih terisak. "Aku kan cuma iri sedikit saja
karena mereka pergi liburan rame-rame gitu," ucap Lifia.

"Sekarang saya tanya sama kamu mana yang lebih penting, kesehatan kamu dan anak kita atau pergi
liburan sama mereka?" Tanya Defran.

"Nggak usah ditanya kamu pasti tahu jawabannya Mas, aku pasti lebih mementingkan anak kita," ucap
Lifia.

"Kamu jangan menyela ucapan saya dulu dan dengarkan baik-baik!" Pinta Defran, ia telah berusaha
menahan emosinya agar tidak membuat istrinya takut. Padahal selama ini Defran tidak pernah bersikap
lunak sedang siapapun kecuali perempuan cantik yang ada

1/8

Demi kamu Dek


disebelahnya ini.

"Iya," ucap Lifia membuat Defran mengelus kepala Lifia dengan lembut.

"Perjalanan mereka itu sulit ditempuh dengan kondisi kamu yang sedang hamil, mereka itu ingin
menikmati wisata alam yang artinya melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan menggunakan
mobil menuju lokasi terpencil atau bahkan nanti mereka akan berjalan kaki yang jaraknya pasti akan
sangat jauh," jelas Defran. la ingin memberi pengertian jika keputusan untuk tidak pergi bersama
mereka adalah keputusan yang terbaik.

"Dari kesehatan fisik kamu yang sekarang saja jika kamu nggak hamil itu sangat berat Lifia, saya tahu
bagaimana kamu, kita bisa pergi kesana setelah kamu melahirkan dan anak kita berumur dua atau tiga
tahun jadi bisa ditinggal bersama neneknya," ucap Defran membuat Lifia menatap Defran dengan
tatapan nanar.

"Maaf Mas aku nggak memikirkan hal itu, aku pikir liburannya ke Palembang aja," ucap Lifia dan
sebenarnya yang ia inginkan itu bukan jalan-jalan jauh mencari sesuatu yang indah yang ditemukan di
pemandangan alam.

"Liburannya kedaerah kabupaten melewati jalan yang cukup jauh ditempuh dengan mobil, lalu masuk
kepelosok menuju Desa," jelas Defran lagi.

"Dulu aku pernah ke Palembang saat ada acara gitu Mas, jadi aku makan empek-empek khas makanan
mereka gitu Mas dan enak banget. Ada pempek panggang, pempek belah, lenggang, ada otak-otak,
rujak mie dan semuanya aku pengen makan itu," lirih Lifia.

"Di Jakarta kan ada!" Ucap Defran.

"Beda Mas rasanya disana itu enak banget Mas," ucap Lifia sendu. "Soalnya aku juga lihat vlog gitu ada
yang ke Palembang dan mereka makan gitu Mas enak banget makanannya," ucap Lifia.

2/8

Demi kamu Dek


Defran menghela napasnya, besok entah apa lagi yang dilihat istrinya diponselnya yang membuatnya
ingin memakannya. "Kalau mau makanan yang seperti di media sosial kita nggak harus makan didaerah
itu Lifia, Mas bisa minta chef untuk memasakkan kamu makanan kalau kamu nggak mau Mas masakan!"
Ucap Defran.

Defran melihat istrinya ini terlihat sangat sensitif dan sepertinya istrinya sedang ingin memakan
makanan yang ia sebut tadi sesegera mungkin. Istrinya sedang mengidam dan itu kemungkinan besar
karena kehamilannya. "Nanti Mas minta Salsa sama Kila yang beliin untuk kamu," ucap Defran.

Lifia menganggukkan kepalanya dengan pelan dan hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini yaitu
menyetujui ucapan Defran. "Sebenarnya aku lebih suka buatan kamu Mas, tapi kamu nggak bisa masak
pempek Mas," ucap Lifia.

"Siapa bilang saya nggak bisa masak, semuanya bisa dipelajari," ucap Defran.

"Memangnya kamu mau masakin pempek untuk aku?

Kalau kamu mau nggak usah beli pempek sampai ke Palembang Mas!" Ucap Lifia.

"Oke, Mas telepon Mami dulu minta disuapin bahannya!" Ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia dan ia tersenyum senang karena Defran mau memasak pempek untuknya.

Defran mengambil ponselnya dan ia menghubungi Maminya. "Assalamualaikum, Mi," ucap Defran.
"Waalikumsalam," ucap Liana.

"Mi, Lifia pengen makan pempek Mi dan kalau bukan buatan Defran dia mau makan pemmpek yang ada
di Palembang," ucap Defran membuat Liana terkekeh mendengarnya.

3/8

Demi kamu Dek


"Ya berarti kamu harus buat pempek atau kamu pergi ke Palembang menyeruak Kiran dan Handaru atau
minta Lifia dan Kila beli peempeknya dulu, kalau lagi hamil gitu nggak bisa ditunda Def," ucap Liana. la
sudah bisa menduga keputusan apa yang akan diambil Defran. Apalagi putranya ini pintar memasak dan
sebenarnya bukan hanya pintar memasak, Defran itu suka belajar dan selama ini yang dia pelajari selalu
berhasil.

"Rencannya Defran yang akan memasak pempeknya sore ini Mi, bisa Mi? Maksud Defran carikan ikan
tenggiri giling Mi," ucap Defran.

"Bisa sayang, itu mah gampang nanti Mami minta Mbak Nanik beli ikannya!" ucap Liana.

"Oke Mi, ini Def bentar lagi mau pulang ke rumah," ucap Defran.

"Iya hati-hati dijalan," ucap Liana.

"Iya Mi, Assalamualaikum," ucap Defran.

"Waalaikumsalam," ucap Liana.

Defran menutup ponselnya dan ia menatap Lifia dengan tatapan seriusnya. "Sekarang kamu mau apa
lagi?"

Tanya Defran.

Lifia. "Mau minum es Mas, maunya dawet hitam," ucap

"Oke," ucap Defran.

"Memangnya Mas tahu dawet hitamnya di mana?" Tanya Lifia.

"Didekat rumah kita," ucap Defran membuat Lifia tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya sambil
tersenyum.

"Ternyata kamu tahu Mas, aku dulu suka banget minum es dawet hitam kalau pulang syuting," ucap
Lifia.

"Kebiasaan kamu itu hampir semuanya saya tahu,"

4/8
Demi kamu Dek
ucap Defran. Lifia tersenyum dan ia tidak menyangka jika ia dicintai oleh suaminya sampai kebiasaannya
pun diketahui oleh suaminya.

Defran melanjutkan mobilnya menuju es dawet yang ingin dibeli Lifia, beberpa menit kemudian mereka
sampai di tempat es dawet, Lifia membelikan beberapa es dawet untuk kedua orang tuanya dan juga
untuk kediaman mertuanya. Lifia sangat mengenal penjual es dawet yang

sering ia minum. "Wah Mbak Lifia sudah lama nggak mampir," ucap Bude penjual es dawet.

"Iya Bude, sekarang untuk sementara tinggal di Rumah Ibu mertua Bude," ucap Lifia. Sosok Defran
berada tepat dibelakang Defran dan ia menganggukkan kepalanya saat Bude tersenyum padanya. "Bude
pesan tiga puluh biji buku Bude?" Tanya Lifia.

"Kayaknya hanya dua puluh lima Mbak Lifia," ucap

5/8

Demi kamu Dek


Bude.

"Iya Bude nggak apa-apa dua puluh lima aja," ucap Lifia, membuat Bude itu tersenyum dan ia
menganggukkan kepalanya. la segera membungkus es dawet untuk Lifia. Defran dan Lifia duduk santai
disana dan beberapa orang melihat kearah Lifia dan Defran, mereka kagum melihat kecantikan Lifia dan
ketampanan Defran.

Beberapa menit kemudian Bude itu mendekati Lifia dan memberikan es dawet yang telah dibungkus.

"Terimkasih Bude," ucap Lifia.

"Sama-sama Mbak Lifia, dulu ya Mbak Lifia ini langganan esnya Bude ini dari kecil," ucap Bude.

"Iya Bude, aku dan Mbak Kiran yang sering nongkrong disini," ucap Lifia.

"Iya kalau Mbak Kana bisanya minta bungkus karean Mbak Kana itu orang rumahan bener jarang sekali
dia ikut kesini," ucap Bude.

Sebenarnya bukan jarang, tapi Kana memang lebih suka meminum es dawet dirumah karena ia
membantu Ibu mereka memasak kue untuk jualan ibunya. Lifia dan Kiran memang menjadi pesuruh
Kana yang sering kali meminta mereka untuk berbelanja ini itu

"Makasi Bude, kita pamit dulu!" Ucap Lifia.

"Iya Mbak," ucap Bude.


Setelah berbelanja mereka mendatangi kediaman kedua orang tua Lifia, saat ini keduanya turun dari
dalam mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kediaman orang tua Lifia. "Assalamualaikum,"
ucap Lifia dan Defran.

"Waalaikumsalam," ucap Murni dan ia tersenyum melihat kedatangan Lifia dan Defran.

"Baru saja tadi Serkan sama Kana pulang," ucap

Murni.

6/8

Demi kamu Dek


"Iya Bu, ini Lifia bawakan ibu dan Ayah es dawet," ucap Lifia.

"Wah terimkasih Nak," ucap Murni tersenyum

senang.

"Ayah mana Bu?" Tanya Lifia.

"Ayah ke masjid ada urusan," ucap Murni.

"Bu, Lifia langsung pulang sama Mas Def, itu Mas Def janji mau masakin Lifia pempek," ucap Lifia.

"Wah...pasti enak masakan Defran," ucap Murni. la pernah mendengar dari Liana bertapa Defran Satyas
sangat mahir dalam memasak.

"Iya Bu, nanti Def buat untuk Ibu dan Ayah juga," ucap Defran membuat Murni tersenyum. la dulu tidak
menyangka jika Defran akan menjadi sosok yang penyayang karena Defran selalu menunjukkan sikap
dinginnya selama ini, namun ternyata dibalik sikap dinginnya, Defran adalah sosok yang sangat hangat.

Keduanya pamit pulang dan saat ini keduanya telah berada didalam mobil, Lifia menatap suaminya itu
dengan tatapan hangat. Defran selalu bisa membolak-balik hatinya yang tadi sedih dan detik berikutnya
ia bisa menjadi senang hanya dengan ucapan, bahkan perhatian kecil dari Defran. Beberapa menit
kemudian mereka sampai di Kediaman orang tua Defran, keduanya melangkahkan kakinya masuk
kedalam rumah dan Defran segera menuju dapur. Benar saja bahan membuat pempek telah tersedia di
dapur dan Defrans segera memakai celemeknya lalu mencuci tangannya.

Lifia yang berada dibelakang Defran, ia sengaja duduk dipantry dan ia mengambil video suaminya itu.
Liana dan Kana melangkahkan kakinya mendekati Lifia lalu keduanya ikut tersenyum melihat Defran
yang cekatan memasukkan bahan-bahan kedalam baskom, bahkan ia mengerutkan dahinya saat
membaca resep pembuatan pempek yang ia

7/8
Demi kamu Dek
dapat dari temannya yang berprofesi sebagai seorang koki ternama.

"Tenang saja rasanya pasti lezat," ucap Liana.

"Kok Mami tahu kalau Def, ternyata pintar memasak Mi?" Tanya Kana.

"Suamimu juga pintar memasak, hanya adik perempuannya yang nggak hehehee...mungkin itu karena
kakak-kakaknya ini memanjakannya sejak kecil," ucap Liana mengingat sosok Salsa yang memang sangat
manja kepada Defran dan Serkan.

"Dulu minta Defran memasak itu susah banget dan biasanya Serkan yang mengalah kalau Mami pengen
makan masakan anak lelaki Mami," ucap Liana dan ia tersenyum kepada Lifia karena Lifia berhasil
membuat Defran mengalah dan akan melakukan apapun demi Lifia. "Defran lebih manusia sekarang
nggak kayak patung yang nggak ada ekspresi," ucap Liana.

"Mi, bisa nggak jangan berisik!" Ucap Defran kesal membuat Liana terkekeh.

Comments

Vote

8/8

Bisa jadi apa saja.


Bisa jadi apa saja
Defran dengan cekatan dan cepat mengolah adonan yang ia masukan kedalam baskom dengan memakai
mixer dan ia mengira-ngira apa rasanya adonannya itu sudah pas atau belum. Setelah adonan tercampur
Defran mematikan mixer dan ia menguleni adonan dengan telapak tangannya d yang telah ia pakaikan
sarung tangan plastik dengan pelan agar adonan tidak keras. Dua jam kemudian Defran berhasil
memasak pempek dibantu oleh dua orang Maid yang menjadi asistennya dan tak tanggung-tanggung
pempek yang ia masak memang dalam jumlah cukup banyak. Para Maid mengakui jika Tuan Mudanya
ini, ternyata memang sangat pandai memasak, terbukti pempek yang ia buat terasa sangat lezat.

"Enak," ucap Defran, ketika ia mencicipi masakannya sendiri.

Defran membalikkan tubuhnya, ia melihat sosok Lifia yang saat ini tersenyum padanya dan Defran
meletakkan pempek kapal selam yang ia goreng dengan pempek kecil yang telah ia goreng juga
dihadapannya istrinya ini. la juga memberikan mie kuning dan juga irisan timun dipiringnya.

"Ini pempek berserta rujak mie," ucap Defran membuat Lifia tersenyum.
"Wah Def, masa hanya istri kamu saja sih yang dikasih, kita juga mau!" Protes Liana kepada Defran
putranya ini.

"Punya Mami dan Mbak Kana lagi digoreng sama Maid, itu nanti Mi....pisahkan pempeknya untuk
mertua Defran!" Ucap Defran.

"Mertua kamu ada dua Def," ucap Liana. Ya mertua Defran saat ini ada dua yang pertama itu Subekti
dan

1/8

Bisa jadi apa saja


Murni, yang telah membesarkan Lifia sampai Lifia dewasa seperti saat ini dan Parmoko yang merupakan
Papi kandung Lifia.

"Dua-duanya Mi...dikasih," ucap Defran dan ia duduk dihadapan Lifia, lalu memperhatikan Lifia makan
dengan lahap. Istrinya itu terlihat begitu semangat memakan pempek buatannya. "Kok rasanya lebih
enak dari pada yang pernah aku makan Mas, ini kuahnya juga enak," ucap Lifia.

"Kan Mami sudah bilang, suamimu ini pinternya kebangetan dan sejak dulu dia itu rasa pengen tahunya
itu tinggi banget. Makanya Defran itu jadi apapun dia bisa Lifia," jelas Liana memuji putranya ini.

"Iya Mi, ini rasanya enak banget," ucap Kana yang juga segera mencicipi masakan Defran dan ia tidak
menyangka Defran bahkan bisa memasak pempek.

Sosok Serkan melangkahkan kakinya mendekati mereka. "Ooo...gini kamu ya sayang, suaminya diminta
jagain anak kamunya disini ngobrol sambil makan, makan apa sih?" Tanya Serkan. Tadi ia diminta Kana
untuk memperhatikan anak-anak mereka yang sedang bermain dan Kana pamit kebawah ingin
membuat kopi untuk suaminya. "Kopinya nggak datang-datang," ucap Serkan.

"Astaga Mas aku lupa, maaf Mas, hmmm aku lagi makan pempek buatan Defran, Mas. Rasanya enak dan
lembut, ini sudah pempek yang keempat aku makan, Mas," ucap Kana.

"Mas mau Kana!" Ucap Serkan.

"Oke Mas," ucap Kana. Lifia segera meminta Maid untuk mengambilkannya mangkok dan ia ikut duduk
dimeja makan sambil memakan pempek buatan Defran.

"Wah ini enak Def, kamu jualan pempek pasti laris,

2/8
Bisa jadi apa saja
buka aja toko pempek Def, kamu ajari dulu penanggung jawabnya buat pempek, langsung kontrak dia
selama dua puluh lima tahun nanti kalau dia udah nggak mau kerja lagi, resep pempek kamu bocor sama
dia, kamu udah banyak untungnya," ucap Serkan.

"Serkan sudah ketularan Papi, otak bisnisnya nggak bisa ada peluang dikit," ucap Defran. "Tapi bisa
Defran pertimbangkan usulan Mas Serkan, soalnya di Jakarta

nggak ada pempek seenak buatan Defran ya kan Mi?" ucap Defran membuat mereka semua
menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Defran.

Terdengar suara langkah kaki yang saat ini sedang mendekati mereka dan terlihat Nasir melihat semua
istri dan anak-anaknya sedang berada di meja makan. "Loh sore-sore begini pada makan apa?" Tanya
Nasir. Tadi ketika masuk kedalam rumah, ia menanyakan keberadaan

3/8

Bisa jadi apa saja


istrinya kepada salah satu Maid. Maid itu mengatakan jika saat ini istrinya sedang berada di dapur
bersama Defran, Lifia, Serkan dan Kana.

"Makan pempeek buatan Defran...Pi," ucap Liana sambil mengunyah pempek.

"Kalau buatan Defran itu sudah terjamin rasanya, rasanya pasti enak," ucap Nasir. "Sama kayak Serkan,
yang juga pintar masak, Maminya bisa kalah itu..." ucap Nasir.

"Papi..." teriak Liana kesal membuat Nasir terkekeh.

"Tenang saja sayang, bagi suamimu ini masakanmu yang paling enak didunia ini," ucap Nasir.

Liana tersenyum dan ia mendekati Nasir, lalu memeluk lengan Nasir dengan erat. "Pintar banget sih Mas
ngerayu aku," ucap Liana tersenyum senang karena suaminya ini telah memuji dirinya.

"Hehehe...kalau nggak bisa merayu kamu, anak kita nggak akan jadi tiga Mi," ucap Nasir terkekeh.

"Papi mau apa nggak nih?" Tawar Lifia dan ia telah memakan pempek keenamnya hingga ia merasa
sangat kenyang.

"Mau dong," ucap Nasir dan ia memberikan jas putih miliknya kepada istrinya, lalu ia segera duduk
dikursi makan bergabung bersama mereka.

Liana memberikan semangkok pempek kepada Nasir, membuat Nasir dengan lahap memakan pempek
itu dengan cepat. "Wow ini enak sekali Def, ini beneran kamu yang buat?" Tanya Nasir.

"Iya Pi," ucap Defran.


"Astaga ini bisa dijual Def, dapat resep dari mana?" Tanya Nasir.

"Dari teman Pi, tapi Defran tambah bahan lain karena

4/8

Bisa jadi apa saja


kayaknya kalau mengikuti resepnya teman Defran, itu pempeknya nggak akan lembut," ucap Defran.

"Kamu ini ternyata jago sekali Nak memasak dan selalu berhasil," ucap Nasir.

Setiap ia berulang tahun dulu ia meminta kedua putranya ini berkolaborasi untuk memasak makan
malam keluarga, "Enam tahun yang lalu setiap Papi atau Mami ulang tahun, kita minta hadia dari
mereka berdua ini, masakin makan malam khusus untuk acara makan malam keluarga," ucap Nasir
tersenyum melihat kedua menantunya ini terkejut dengan ucapannya.

"Beneran Pi?" tanya Kana terkejut dengan ucapan

Nasir.

"Astaga kalau tahu Mas Def pintar masak begini, Lifia minta dimasakin aja makanan enak sama Mas
Def," ucap Lifia.

"Beneran dan kita sekeluarga itu takjub sekali dengan masakan mereka berdua, sampai Kakek mereka
itu pengen juga dimasakin oleh mereka berdua setiap kakek mereka ulang tahun," ucap Nasir tersenyum
bangga dengan kedua putranya ini.

"Bakat Mami menurun kepada mereka berdua loh..." ucap Liana.

"Iya tetap saja masakan Mami yang paling terbaik,"

ucap Nasir membuat Liana tersenyum senang saat suaminya memujinya seperti ini.

Defran memang sangat pandai memasak tapi ia juga

lebih suka makan masakan istrinya yang juga sangat lezat. la tersenyum puas ketika melihat istrinya
sejak tadi memakan pempekk buatannya itu dengan lahap. "Gimana masih mau makan pempek yang di
Palembang?" Tanya Defran membuat Lifia menyunggingkan senyumannya.

"Buatan kamu ternyata lebih enak Mas," ucap Lifia.

5/8
Bisa jadi apa saja
"Ngapain pergi jauh-jauh kalau kamu bisa membuatnya sendiri, lagian hehehe...aku kayaknya memang
nggak sanggup pergi ke Palembang ngikuti mereka," ucap Lifia. la kemudian menujukkan foto Salsa,
Kiran, Kila, Handaru dan Altaf yang sedang makan disungai, apalagi disekitar mereka sepertinya hutan.

"Nah kamu tahu kan sayang kenapa Mas melarang kamu pergi, kamu nggak akan sanggup pergi sama
mereka apalagi sedang hamil," ucap Defran.

"Iya Mas," ucap Lifia.

"Udah Lifi, itu Salsa dan Kila mau rasain jadi anak gunung biarin aja biar nggak manja. Tadinya Mami mau
melarang mereka tapi kata Papi kalian ini, anak jangan terlalu dimanjakan, sebelum mereka menikah
lepaskan mereka agar bisa melakukan hal yang berkaitan dengan alam agar nanti mereka tidak manja
banget," ucap Liana.

"Anak sekarang manjanya keterlaluan dan biasanya itu juga karena peran orang tuanya yang
memanjakan anaknya, makanya Papi bilang sama Mami kalian agar tidak memanjakan Salsa dan Kila
terlalu. Tapi untung saja adik-adik kalian itu tahu diri, mereka selalu rajin bekerja dan nggak banyak
protes gitu dan mereka nggak mau dispesialkan," ucap Nasir.

Salsa memang bekerja di Rumah sakit keluarganya sendiri tapi ia sama sekali tidak dimanjakan oleh
keluarganya. Terbukti Salsa ingin pekerjaan sama seperti karyawan lainnya dan ia juga mendapatkan
dinas malam bergantian dengan karyawan Rumah sakit. "Ada alasan Papi kenapa ingin Salsa menikahi
Zilo karena sejak Zilo masih kecil, Papi sudah mengenalnya dengan sangat baik. Anaknya Kenzo
Alexsander sangat terdidik dan patuh, dia juga sangat pintar seperti Kakak dan Ayahnya," ucap Nasir.

6/8

Bisa jadi apa saja


"Tapi bukan hanya itu alasan Papi kan?" Tanya Serkan.

"Ya, Papi ingin Zilo tetap bekerja dan bertanggung jawab di Rumah Sakit kita. Papi ingin dia membantu
Papi di Rumah sakit dan Zilo selama ini tidak terlihat memiliki hubungan dekat dengan perempuan lain,
keluarganya juga menjamin jika Salsa menjadi menantunya, mereka akan sangat menerimanya dan
pastinya akan sangat menyayangi Salsa," ucap Nasir. Yang paling ditakuti seorang ayah ketika memiliki
anak perempuan adlaah bagaimana kehidupannya kelak ketika menikah. Nasir tidak ingin Salsa salah
dalam memilih pasangan dan ia ingin melihat Salsa hidup bahagia.

"Kalian memang kakak laki-lakinya tapi kalau sudah menikah tanggung jawab ke Salsa sudah nggak ada,
jadi suaminya yang berhak mengatur dia," ucap Nasir. "Papi ingin Salsa tidak salah dalam menemukan
pasangan, Serkan dan Defran juga telah melihat profil Zilo. Banyak sekali teman-teman Papi yang juga
menginginkan Zilo jadi menatunya mereka tapi setelah orang tua Zilo bertemu Salsa mereka bilang
mereka yang pengen Salsa jadi menantunya," ucap Nasir.
"Mamanya Zilo itu kayak Mami gitu yang bertemu Lifia, langsung jatuh hati pengen Lifia jadi menantu
Mami," ucap Liana. "Sama kayak Kana juga setelah ketemu Kana sejak kecil Mami sudah lihat pontensi
Kana yang cocok jadi istrinya Serkan," ucap Liana. la merasa sangat beruntung karena anak-anaknya
telah menemukan kebahagiaannya, dengan menantu yang memang sangat ia inginkan jadi menantunya.

Setelah pembicaraan mereka selesai, Defran dan Lifia saat ini berada didalam kamar, setelah Defran
mandi dan mengganti pakaiannya Defran saat ini duduk disofa sambil memeluk Lifia. Defran membaca
berkas diipadnya dan itu membuat Lifia penasaran apa yang sedang suaminya itu

7/8

Bisa jadi apa saja


baca. "Mas baca apa sih Mas?" Tanya Lifia.

"Jurnal kesehatan, kebetulan Mas sekarang diminta untuk menjadi salah satu dosen di Fakultas
Kedokteran, dulu Mas selalu menolak undangan mereka karena tidak cukup banyak waktu, tapi
sekarang Mas sudah bekerja di rumah sakit kepolisian dan menetap disana, karena sudah cukup
berpetualanganya," ucap Defran sambil mencium pipi Lifia dengan lembut.

"Iya Mas, pokoknya aku akan selalu dukung karir kamu Mas, kalau kamu pindah tugas, aku juga akan
ikut kemanapun kamu pergi!" Ucap Lifia, jika perlu ia akan meninggalkan karirnya demi keluarga
kecilnya.

5 Comments

Vote

8/8

Kagum padanya.
Kagum padanya
Kiran merasa sangat bahagia karena pemandangan indah yang ia lewati ketika berada didaerah ini,
sungguh membuat hatinya bahagia. Sudah lama ia tidak merasakan kebebasan seperti ini, seperti saat
ini mereka sedang bersantai di sungai menghirup udara segar setelah melewati beberapa perjalanan
darat. Salsa dan Kila bersama dengan Altaf, sedang menghidupkan kompor.

Mereka bermaksud untuk memanaskan lauk pauk dan juga nasi yang telah mereka bawa.

"Ajaib banget sih kamu Al, bisa saja siapin makanan apalagi masakan ibu yang pastinya enak banget,"
ucap Salsa takjub dengan makanan yang Altaf bawa.

1/6
Kagum padanya
"Kalau enak itu sudah pasti hehehe...siapa dulu dong yang masak, ibu," ucap Kila yang selalu memuji
masakan Murni yang memang terkenal lezat.

"Ibu selalu memperhatikan anak-anaknya dan ya kalau bepergian begini, pasti kita dibekali apalagi kalau
aku keluar kota Ibu bawakan satu toples dendeng sama rendang yang tahan beberapa hari," ucap Altaf
mengingat betapa Murni sangat menyayangi anak-anaknya. Bukan hanya kepada dirinya tapi juga
kepada kakak-kakak perempuannya, ibunya selalu memperhatikan mereka semua.

"Keripik ibu juga enak, aku pernah lo bawa keripik Ibu ke Korea hehehe..aku kasih temanku kata mereka
ya ampun enak banget kripiknya," ucap Salsa.

"Mbak aku ada acara di Korea, sepupuku nikah disana, mau ikut nggak?" Ajak Kila. Papi Kila adalah
keturunan Korea dan keluarga besar sebelah Papinya hampir semuanya berada di Korea. Kila sangat
sering pulang mengunjungi keluarganya itu ke Korea.

"Mau sih, nanti aku izin sama Papi dulu, Kil. Kamu tahu kan kuota aku ke luar negeri itu susah nggak ada
tahun ini, apalagi sekarang Papi itu minta aku untuk segera menikah saja karena aku katanya sering buat
dia pusing," ucap Salsa kesal menjatuhkan Kila terkekeh.

"Mbak kira aku juga nggak apa, itu Mamaku minta aku nikah muda aja Kil biar nanti anak kamu nggak
terlalu jauh umurnya, kamu terlihat awet muda punya anak dewasa tapi kamu masih muda," ucap Kila
menirukan gaya bicara Mamanya membuat Altaf tersenyum mendengar pembicaran keduanya ini.

"Aneh banget orang tua zaman sekarang, udah kayak orang tua jadul yang suka jodohin anak-anaknya.
Memang sih zaman sekarang ini susah cari laki-laki yang baik, tapi kan kita punya hak untuk memilih,"
ucap Salsa kesal

2/6

Kagum padanya
dengan sikap Mami dan Papinya yang terlalu memuji Zilo dan mengatakan Zilo adalah laki-laki terbaik
untuknya. "Papi dan Mami itu sekarang kayaknya mata duitan gitu, ngejodohin aku sama Zilo karena Zilo
anak orang kaya, coba kalau Zilo bukan Alexsander mungkin Mami dan Papi belum tentu mau jodohin
aku sama dia," ucap Salsa membuat Altaf menghela napasnya.

"Yang namanya orang tua itu maunya yang terbaik untuk anaknya Sa," ucap Altaf membuat Salsa
menyebikkan bibirnya.

"Iya aku tahu, makanya nggak mudah jadi orang tua kan? Jadi aku benar loh...cari suami yang sayang
sama aku karena aku kan mau menghabiskan waktuku seumur hidup sama dia. Aku nggak mau kawin
cerai gitu, makanya aku memilih yang terbaik dari baik," ucap Salsa.
"Iya Mbak, cari suami itu yang mandiri dan bisa melakukan apa saja untuk kita, istilahnya itu
memperjuangkan kita," ucap Kila dan ia menatap kearah Aryo yang terlihat tampan.

"Mas Aryo itu tipe suami idaman, dia serba bisa dan hehehe...ada jiwa bapaknya juga, jiwa kakaknya
juga dan jiwa ibu juga. Buktinya dia itu pintar banget beradaptasi, kira-kira kalau aku minta digendong
sama sandaran dibahu Mas Aryo dia nolak nggak ya?" Ucap Kila tersenyum malu.

"Norak Kil, norak..." ucap Salsa membuat Kila tersenyum.

"Jangan genit Kil, ingat kamu bisa dia hajar sama para Mas!" Ucap Altaf mengingat sosok Defran, Fajrin,
Serkan, Megan dan Janu.

"Nggak genit kok, tapi kan memang Mas Aryo itu menggoda, wajah manis dengan garis ketegasan
seorang pria macho," ucap Kila dan ia membisikkan sesuatu ditelinga Salsa. "Kayaknya jago diranjang
Mbak hehehe...."

3/6

Kagum padanya
Kekeh Kila.

"Astagfirullah, budaya kamu sekarang ini sudah kabarat-baratan, ini anak cocoknya dicariin ustad biar
tobat!" Ucap Salsa. Untuk saja kegilaan Kila hanya ia yang tahu karena selama ini Kila memiliki image
anak perempuan polos dan manja didepan para saudaranya. Padahal diotak pintar Kila yang suka
menghalu itu, ia sangat suka dengan sosok lelaki tampan dan gagah. Kila bahkan sangat sering
menonton acara olahraga seperti basket, bola dan badminton karena ingin melihat otot lelaki gagah
yang tampan.

Tatapan Salsa tiba-tiba tertuju pada sosok Handaru yang saat ini sedang memeluk Kiran dari belakang
sambil menatap air terjun yang ada dihadapannya. Mereka memang berhasil menemukan air terjun
didaerah gunung dan tidak jauh dari jalan hingga aksesnya sangat mudah. "Wah mesra banget, jadi
pengen pergi kesini sama pasangan," ucap Salsa.

Saat ini Aryo terlihat cekatan dengan membentang tikar dan menyusun barang-barang mereka. "Untung
kamu bawa teman Al, itu Mas Aryo cekatan banget kayaknya biasa gitu jalan-jalan begini," ucap Kila
menatap kagum Aryo.

"Memang dia sudah terbiasa, Mas Aryo itu terbiasa ke gunung gitu kalau liburan dan dia jago mendaki,
dia juga mantan atlit loh," jelas Altaf.

"Pantas saja Kila jadi deg-degan ternyata dia pencinta olahraga. Kalau aku itu pencinta pria berotot atlit
yang gagah hehehe..." kekeh Kila. "Dia itu senior kamu kok bisa akrab banget?" Tanya Kila.
"Dia itu sebenarnya juga seorang dokter spesialis forensik dan medikolegal, dia temannya Mas Def juga.
Makanya yang menyarankan aku untuk mengajak beliau itu Mas Def, katanya kalau bawa adik
perempuannya harus

4/6

Kagum padanya
bawa bodyguard," ucap Altaf membuat Kila menatap punggung Aryo dengan tatapan takjub. Aryo
dokter forensik yang baginya itu sangat keren.

"Bisa-bisanya Mas Def masih saja mau ngawasin kita, nyebelin banget," ucap Salsa.

Nasi mereka telah selesai dipanaskan dan saatnya mereka memanaskan rendang dan juga dendeng.

"Ternyata ibu juga bawakan kita keripik ubi sambal," ucap Altaf membuat Salsa tersenyum senang.

Sementara itu saat ini Kiran merasa sangat senang melihat pemandangan air terjun dan juga suara
gemercik air. "Mas dulu saat kuliah, aku sering menghabiskan liburanku jalan-jalan cari air terjun gitu
sama teman-temanku, aku juga pernah ke gunung Rinjani loh Mas," ucap Kiran.

"Saya tahu," ucap Handaru.

"Memangnya Mas tahu dari siapa?" Tanya Kiran.

"Saya ini juga fans berat kamu, kamu saja yang nggak sadar betapa saya itu selalu memperhatikan kaти,"
исар Handaru. "Semua kegiatan kamu selalu kamu posting di media sosial kamu," ucap Handaru.

"Iya tapi kan kita dulu nggak berteman di media sosial Mas, apa Mas pengikut aku gitu?" Tanya Kiran.

"Saya punya tiga akun, satu akun namanya Handaru dan satu lagi lamanya Dewan dan satu lagi kamu
tahu namanya," ucap Handaru.

Kiran mengerutkan dahinya dan jika Handaru bernama Dewan, Handaru yang sering kali memberikan
tanda hati disetiap postingan nya bahakan Handaru mengirimkan dm padanya dan memberikan
semangat padanya dan baikan si Dewan mengajarkan kepadanya jika ia selalu terlihat cantik dan hebat.
"Astaga Mas, jadi itu kamu ya Mas?" Tanya Kiran membuat Handaru menyunggingkan senyumannya.

5/6

Istirahat dulu ya.


Istirahat dulu ya
Kiran dan yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka menuju Desa yang berada dibawah bukit.
Besoknya mereka berencana untuk mendaki bukit besar yang terkenal sangat indah pemandangannya.
Melihat Alma terbentang dan merasa bebas, membuat Kiran bersyukur bisa melihat banyak
pemandangan indah bersama suaminya. Ya...kata suami membuatnya merasa sangat

bahagia mendengarnya, ia bahkan tidak pernah bermimpi akan pergi jalan-jalan seperti ini, melupakan
sejenak kesibukannya di dunia kerjanya. Apalagi kepergiannya bersama orang yang sangat ia cintai dan
ia sangat bersyukur bertemu dengan Handaru Laksamana

1/7

Istirahat dulu ya
Dewandaru.

Kiran melihat sosok Kila yang terlihat sangat lesu Karena bisanya Kila akan banyak bercerita ketika
mereka sedang berkumpul seperti ini. Wajah Kila terlihat pucat dan sepertinya kondisinya memang
kurang sehat, semalam ia memang kurang tidur ketika mereka bermalam di penginapan. Kiran terlihat
khawatir dan ia mendekati Kila " Kamu nggak apa-apa Kila?" Tanya Kiran sambil memegang pundak Kila.

"Nggak apa-apa Mbak, nggak usah khawatir...aku kan dokter loh Mbak," ucap Kila mengingatkan Kiran
jika ia adalah seorang dokter yang bisa mengobati pasien.

"Dokter ya dokter tapi kan kalian juga manusia, apalagi kalian juga butuh diperiksa, kamu itu sekarang
statusnya itu adalah pasien!" ucap Kiran.

"Lagian Kila sudah diperiksa tadi sama Salsa Mbak,"

ucap Kila dan ia tidak ingin Kiran khawatir dengan keadaannya.

"Hanya tiga puluh menit lagi kita sampai," ucap Aryo membuka suaranya. Sedikit banyak melihat kondisi
Kila, Kila hanya butuh makan dan istirahat ketika mereka sampai nanti. Saat ini Aryo yang sedang
mengemudi mobil dan yang duduk disampingnya adalah Altaf. Sedangkan Kiran dan Handaru berada
dikursi paling belakang, serta Kila dan Salsa berada dikursi tengah. Altaf, Kila dan Salsa memang tidak
ingin mengganggu acara bulan madu mereka dan mereka terkadang berpura-pura tidak melihat apa
yang keduanya lakukan. Sebenarnya Salsa merasa sangat kagum dengan keduanya, yang dulu mungkin
tidak pernah ia pikirkan keduanya akan menkkah, apalagi sikap keduanya sama-sama sangat dingin.

Kila bersandar dibahu Salsa dan ia memejamkan matanya. Perjalanan cukup jauh dan memang jalanan
yang mereka lewati berliku, hingga membuat Kila dan Salsa

2/7

Istirahat dulu ya
mabuk. Tanpa terasa saat ini mereka telah sampai di Desa yang akan mereka datangi dan saat ini
mereka berhenti didepan rumah panggung yang terlihat sangat estetik. "Wah Mas Aryo ini rumah
tempat kita menginap?" Tanya Kila takjub melihat rumah panggung yang sangat indah.
"Iya," ucap Aryo.

"Alhamdulilah, aku pengen bobok..." ucap Kila membuat Salsa terkekeh. la juga mabuk perjalanan
namun ia berbeda dengan Kila yang benar-benar terlihat menyedihkan jika mabuk. Jika Salsa masih bisa
makan lalu muntah, tapi tidak membuat kondisinya drop berbeda dengan Kila yang muntah dan memilih
tidak makan apapun hingga terlihat sangat lemas seperti saat ini.

"Iya kamu memang harus banyak istirahat dan makan soalnya perut kamu itu kosong Kila!" Ucap Salsa.

"Iya Mbak," ucap Kila. la harus menjadi sosok yang penurut jika tidak Salsa dan Kiran akan memarahinya.
Salsa memang cerewet tapi Salsa adalah kakak yang sangat baik untuknya, jika tidak ada Salsa maka ia
hanya akan dikelilingi pangeran tampan yang overprotektif, sama halnya dengan Salsa juga sangat
bersyukur memiliki adik sepupu seperti Kila.

Mereka semua turun dari mobil, Aryo mendekati pemilik rumah yang terlihat sangat bahagia melihat
kedatangan Aryo apalagi ada sosok perempuan desa yang terlihat malu-malu melihat kedatangan Aryo.
Kila bisa menduga, jika perempuan itu sepertinya sangat menyukai Aryo. Perempuan itu mendekati Aryo
dan ia mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Aryo.

"Pacar kamu ya Mas?" Tanya Kila membuka suaranya membuat Altaf dan Salsa terkejut mendengar ucap
Kila dengan nada sinis, sedangkan Kiran menyunggingkan senyumannya melihat tingkah Kila.

3/7

Istirahat dulu ya
"Dia namanya Sendy dan dia anak pemilik rumah ini," ucap Aryo. "Yang ini Pak Awal, Bapaknya Sendy,"
ucap Aryo memperkenalkan keduanya kepada mereka.

"Kirain pacaranya Mas Aryo soalnya..." ucap Kila terhenti ketika telapak tangan Salsa menutup
mulutnya.

"Hehehe...soalnya mbaknya cantik, itu maksud Kila," ucap Salsa segera meralat ucapan Kila, karena
sepertinya ia bisa menebak apa yang akan dikatakan Kila. Kila pasti akan mengatakan ekspresi
perempuan itu yang terlihat sangat menyukai Aryo. Mereka semua memang bisa melihat dengan jelas,
bagaimana perempuan itu menatap Aryo dengan tatapan memuja. Tapi mereka masih bisa menahan diri
untuk tidak bertanya secara langsung seperti Kila yang selalu bertanya ketika ia penasaran. Sepertinya
sosok Aryo memiliki daya tarik baginya dan itu membuatnya sangat penasaran.

"Kenapa Kil? Kamu takut ya Mas Aryo diambil Mbak Sendy ini?" Tanya Altaf membuat Kila terkejut dan
wajahnya memerah karena malu.

"Apaan sih...Altaf, nyebelin banget," ucap Kila kesal. Mereka semua menjabat tangan Pak Awal dan
Sendy satu persatu namun ketika Sendy menyambut uluran tangan Kila, ia sengaja menjabatnya dengan
keras. Aryo memang tidak menanggapi ucapan Kila dan Salsa karena ia memang telah mengetahui
dengan jelas jika Sendy menyukainya.
"Pak Awal, seperti yang saya ceritakan ditelepon beberap hari yang lalu, kita ini akan menginap di rumah
Bapak beberapa hari dan kita akan memakai tiga kamar Pak!" Ucap Aryo. Handaru memang telah
menyerahkan semuanya kepada Aryo yang memang sangat paham dengan daerah ini. Apalagi ia juga
telah melihat beberapa pemandangan menarik di Desa ini dari media sosial.

4/7

Istirahat dulu ya
"Oke Nak Aryo, terimakasih telah mempercayakan penginapan Nak Aryo dan teman-teman Nak Aryo di
penginapan sederhana kami ini. Kamarnya sudah kita siapkan nak Aryo dan teman-temannya silahkan
masuk!" Ucap Pak Awal.

"Ayo masuk!" Ucap Aryo membuat mereka semua melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah
mengikuti pemilik rumah.

Sendy memang terlihat sangat bahagia dengan kedatangan Aryo, ia juga telah memperlihatkan rasa
tidak suka dengan sosok Salsa dan Kila. Apalagi Salsa dan Kila lebih cantik darinya dan itu membuatnya
sangat kesal karena ia sangat cemburu. Aryo memang telah tiga kali datang ke Desa ini untuk menikmati
liburannya, namun baru kali ini Aryo datang bersama tiga orang perempuan cantik yang ternyata juga
ikut serta menginap di penginapan milik keluarganya.

Salsa memapah Kila dan ia mendudukkan Kila disofa, terlihat beberapa karyawan penginapan ini
memberikan beberpa cangkir teh hangat untuk mereka. "Perjalanannya jauh ya, ini sepertinya Nak..."
ucapnya terhenti ketika menatap Kila.

"Kila," ucap Altaf.

"Iya Nak Kila mabuk perjalanan ini diminum teh hangatnya biar perutnya enakkan!" Ucap Pak Awal
tersenyum ramah.

"Iya Pak," ucap Kila.

la mengambil secangkir teh, lalu meniupnya pelan dan ia menyeruput teh itu dengan pelan. "Maaf Pak
Awal saya mau tanya kalau toko jajanan gitu, maksudnya warung gitu di mana ya Pak?" Tanya Kiran.

"Ada Nak diujung gang, kalau neng mau kesana bisa berjalan kaki atau pakai sepeda aja Nak!" Ucap Pak
Awal.

5/7

Istirahat dulu ya
"Memangnya Mbak mau beli apa Mbak?" Tanya Salsa.

"Jajanan pokoknya," ucap Kiran.


"Wah aku mah ikut, Al kita ikut juga... Pak sepedanya ada berapa Pak?" Tanya Salsa terlihat antusias.

"Ada enam Nak," ucap Pak Awal. "Bisa boncengan gitu," ucap Pak Awal.

"Oke Pak, Al lo bonceng gue oke!" Ucap Salsa.

Kila. "Kalau kalian pergi semua aku juga mau ikut!" Ucap

"Stop ya Kil, kamu nikmati saja kemabukan kamu ini!" Ucap Salsa.

"Masa aku ditinggal sendiri sih..." ucap Kila kesal.

"Nggak sendiri, itu ada Mas Aryo yang menemanin kamu!" Ucap Salsa. "Mas Aryo, temani Kila ya Mas,
jangan ditinggalin sendirian soalnya dia itu penakut!" Pinta Salsa.

"Oke," ucap Aryo.

11

puputhamzah

kode penukaran: BDFRX248Dia yang Ku SayangIstri Tuan CEO Albiseka Dewandarulstri Tuan CEO
Albiseka Dewandarulkatan Hati Sang Kapten

"

6/7

Mengenalnya.
Mengenalnya
Kiran terkejut ketika melihat sepeda yang dimaksud ternyata adalah sepeda listrik dan ia menahan
tawanya melihat tubuh besar Handaru yang akan mengendarai sepeda listrik itu bersamanya. "Pak
nggak ada sepeda gunung aja?" Tanya Handaru membuat Altaf mengangkat sudut bibirnya. Handaru
merasa kendaraan yang ada dihadapannya itu seperti mainan anak-anak dan ia merasa

tubuhnya yang tinggi akan kontras dengan sepeda ini. "Ini sepeda mungkin nggak kuat Kiran." Ucap
Handaru kepada istrinya yang saat ini memeluk lengannya sambil tersenyum.

"Wah...masa Mas Handaru nggak bisa naik sepeda

1/6
Mengenalnya
listrik nih...lihat!" Ucap Altaf sengaja ingin memprovokasi Handaru agar juga mengendari sepeda listrik
ini. "Naik Sa!" Ucap Altaf meminta Salsa segera naik sepeda bersamanya dan Altaf mengendari sepeda
itu dijalan yang menurun membuat Salsa berteriak.

"Wahhhh...lucu banget...seru lho... Ayo Mas, Mbak!" Teriak Salsa membahana membuat Kiran menatap

Wajah tampan suaminya ini.

Handaru tahu Kiran yang melihat Salsa terlihat sangat senang menaiki sepeda listrik itu bersama Altaf,
pasti ingin menngendarai sepeda itu juga. Handaru menghela napasnya saat ini sedang mengamati
sepeda ini hingga menduga-duga apa sepeda ini kuat menampung tubuh besarnya. "Kalau saya yang
naik sepeda ini sendiri, saya mau tapi kalau saya membawa istri saya apakah aman? Atau disini ada
kuda?" Tanya Handaru kepada Pak Awal membuat Kiran melototkan matanya.

"Kita nggak ada kuda," ucap Pak Awal.

"Kalau Mas nggak mau aku aja yang bonceng, Mas!

Aku bisa mengendarai sepeda ini!"

ucap Kiran.

Handaru menghela napasnya sepertinya istrinya ia sangat ingin menaiki sepeda ini dan ia akhirnya
menyerah.

"Mas bisa, ayo naik!" Ucap Handaru membuat Kiran tersenyum dan dengan senang ia segera menaiki
sepeda ini bersama Handaru.

Handaru mempelajari bagiamana menghidupkan sepeda ini dan ia menggas sepeda ini dengan pelan
namun saat menarik gas sepeda ini, berbeda dengan sepeda motor yang perlahan dan tidak
mengejutkan "Sama seperti motor hanya saja kurang aman karena nggak pakai helem, ini bukan
kendaraan untuk anak-anak," ucap Handaru. la melajukan kecepatan dengan sedang mengelilingi desa
dan untuk pertama kalinya ia

2/6

Mengenalnya
mengendarai sepeda listrik ini. "Sepeda ini nggak baik untuk keponakanku," ucap Handaru mengingat
sosok Dikta. la sering kali melihat anak-anak mengendari sepeda listrik ini dan tadinya ia mengira sepeda
ini untuk mainan anak-anak.

"Mas..." teriak Kiran ketika mereka menuruni jalan dan ia tersenyum senang. Pemandangan desa
memang sangat indah hingga membuatnya takjub. "Seru banget, Mas...pemandangannya indah
banget," teriak Kiran membuat Handaru menyunggikan senyumannya. Suasana Desa memang yang
terbaik bahkan banyak sekali pepohonan, bunga-bunga indah tubuh disekitar halaman rumah warga dan
sepertinya memang ditanam untuk dibudidayakan.

"Alhamdulilah kalau kamu suka pemandangannya," ucap Handaru.

"Mas Altaf sama Salsa di mana?" Tanya Kiran.

"Mungkin sudah di Toko jajanan," ucap Handaru.

"Iya Mas, ayo kita kesana!" Teriak Kiran dan ia terlihat sangat bersemangat.

Handaru segera melakukan sepedanya menuju toko yang dimaksud, yang katanya berada diujung jalan.
Kiran melihat beberapa orang melihat kearahnya dan mungkin saja ada sebagaian dari mereka yang
mengenal Kiran dan Handaru. Tapi keduanya tidak peduli karena keduanya ingin menikmati liburan ini
dengan santai dan jika nanti ada fans Kiran yang meminta berfoto bersama Kiran, dengan senang hati
Handaru akan mempersilahkannya.

"Mas itu mereka," ucap Kiran menujuk Salsa yang saat ini sedang melambaikan tangannya memintanya
untuk mendekat.

"Oke," ucap Handaru.

Handaru menghentikan sepeda listrik yang ia

3/6

Mengenalnya
kendarai tepat didepan Salsa. "Mbak banyak banget jajanannya, jajanan saat SD juga ada, Mbak," ucap
Salsa dengan mata berbinar dan menunjukkan permen warna warni kesukaannya.

"Wah...seru banget nih, Mbak juga mau beli," ucap Kiran dan ia turun dari sepeda. "Ayo Mas!" Ajak
Kiran. Handaru juga turun dari sepeda dan ia mengikuti Kiran yang saat ini masuk kedalam toko sambil
menarik tangannya.

Keduanya melihat banyak sekali jajanan membuat Kiran mengambil beberapa jajanan yang memang ia
suka termasuk rambut nenek, coklat jadul, opak balado, snack ribut dan beberapa jajanan lainnya yang
sulit ia temukan. Handaru membayar belanjaan istrinya dan ia tersenyum melihat istrinya saat ini
sedang mengunyah kue sagon kesukaannya dan juga kue kacang. "Surga banget kan Mbak?" Tanya
Salsa.

"Iya, gagal diet kita Sa," ucap Kiran membuat Salsa terkekeh.

"Kalau liburan begini hajar aja Mbak, sayangkan kalau masih diet kayak biasa!" Ucap Salsa.

"Iya Sa," ucap Kiran.


Lima orang anak kecil berumur sekitar sembilan tahunan menatap kearah mereka, sepertinya mereka
baru saja bermain bersama. Kelima anak ini penasaran dengan sosok Kiran, Handaru, Sals dan Altaf yang
belum pernah mereka temui didesa, namun sepertinya mereka menduga jika mereka itu berasal dari
penginapan yang berada diatas.

"Kalian mau jajan?" tanya Kiran sambil tersenyum kepada mereka.

"Iya kalau mau jajan, ambil saja!" Ucap Salsa dan mereka terkejut dengan ucapan Salsa.

"Iya biar kakak ini yang bayar!" Ucap Kiran membuat

4/6

Mengenalnya
Altaf dan Handaru tersenyum melihat Salsa dan Kiran terlihat sangat ramah dengan anak-anak bahkan
mengajak mereka untuk berbelanja.

"Kita nggak ada duit, Mbak," ucap salah satu dari mereka.

"Ini teman kita yang mau beli mie," ucapnya. Mereka memang kompak dan sengaja datang ke toko ini,
demi menemani salah satu teman mereka untuk berbelanja.

"Tadi Mbak bilang apa sama kalian?" Tanya Salsa tersenyum. "Mbak bilang Mbak kita yang bayar itu
artinya kalian tinggal ambil saja apa yang kalian mau! Gimana mau?" Ucap Salsa membuat mereka
semua saling berpandangan lalu menganggukkan kepalanya.

Pemilik warung tersenyum melihat Kiran, Handaru, Salsa dan Altaf sebagai orang kota yang sepertinya
ingin berlibur. la juga menduga jika Kiran, Salsa, Altaf dan Handaru sangat baik. Bahkan mereka
membayarkan anak-anak di Desa ini untuk membeli makanan. "Aku mau," ucap salah satu dari mereka.
Kesempatan untuk membeli makanan secara gratis seperti ini, sulit baginya untuk melewatkannya.

"Aku juga mau..." ucap yang lain hingga ketiganya yang lain nya juga setuju untuk mengambil beberapa
makanan.

Mereka mengambil snack kesukaan mereka dan Handaru segera membayarnya. la ternyata tidak salah
dalam memilih istri, Kirannya bukan hanya pintar dan cantik tapi juga memiliki hati yanga mulia. Setelah
selesai berbelanja Handaru dan Altaf terlihat sedang berbicara dengan pemilik Toko. Keduanya bertanya
banyak hal tentang budaya bahkan tempat wisata yang ada di Desa ini. Sebenarnya Aryo juga telah
mengatakan semuanya kepada mereka tentang beberapa wisata yang akan mereka

5/6

Mengenalnya
kunjungi disekitar tempat ini.
"Terimkasih Pak," ucap Handaru dan mereka berjabat tangan. Pemilik warung sebenarnya mengenal
mereka berdua dan tadi, ia merasa canggung karena ada orang yang sangat terkenal datang ke Desa
mereka ini.

Bagaimana ia tidak tahu dengan Handaru dan Kiran, karena hampir setiap hari ia menonton Tv sambil
menjaga usaha keluarganya ini.

Comments

Vote

6/6

Jantungku nggak baik.


Jantungku nggak baik
Kila menghela napasnya, sebenarnya ia memang tidak mudah beradaptasi dan biasanya ketika ia pergi
ke tempat yang baru Maminya akan menemaninya selama satu bulan lalu setelah itu Maminya itu baru
akan pulang meninggalkannya. Ketika ia kuliah di Jerman ia juga seperti itu, mengalami kesulitan dan
butuh perjuangan untuknya menyelesaikan kuliah kedokterannya. Sejak kecil Kila

memang sangat pintar, ia bahkan hanya menempuh dua tahun di SMP dan dua tahun di SMA. Bahkan
diangkatannya ia menjadi angkatan termuda ketika ia kuliah dan sistem pembelajaran di Universitasnya
juga membuat bakatnya terpacu untuk lebih fokus dengan

1/6

Jantungku nggak baik


pembelajarannya, hingga Kila pun juga cepat menyelesaikan pendidikannya.

Tapi untuk saat ini Kila menunda untuk mengambil spesialis karena ia mulai merasa bosan dengan yang
namanya belajar. Sekarang ia membantu di Rumah sakit keluarganya, namun entah mengapa ia juga
belum berniat melanjutkan kuliahnya meskipun semua keluarga telah membujuknya untuk segera
melanjutkan kuliahnya. Kila membaringkan tubuhnya disofa yang ada di ruang tengah ini, karena ia tidak
ingin tidur sendirian dikamar. Apalagi saat ini ada sosok tampan yang juga sedang duduk santai disofa.

"Kalau kamu mau istirahat, istirahat dikamar saja agar lebih nyaman!" Ucapnya dengan suara beratnya.

"Disini nyaman Mas, justru kalau didalam kamar yang nggak nyaman," ucap Kila.

"Kenapa nggak nyaman dikamar? Dikamar ada ranjang dan kamu bisa leluasa tidur nggak seperti disini!"

Ucap Aryo.
"Aku itu sebenarnya belum bisa beradaptasi langsung sama lingkungan baru Mas, bukanya takut tapi
lebih ke canggung dan kurang nyaman. Mungkin ini kebiasaan aku saja yang sejak kecil selalu ditemani
oleh Mbak pengasuhku yang aku percaya," ucap Kila.

"Apa bedanya dengan saya yang orang baru, kamu baru mengenal saya dan kamu membiarkan diri
kamu berada disini bersama saya apa kamu nggak canggung?" Tanya Aryo membuat Kila mengerutkan
dahinya dan ia segera duduk lalu menatap Aryo yang sejak tadi tidak menatapnya dan fokus dengan
ponselnya, walaupun sedang berbicara padanya.

"Iya kamu benar Mas, kenapa ya? Aku nyaman gitu sama kamu loh...lagian kamu nggak kelihatan tuh
orang jahat. Mas apa benar pekerjaan dokter forensik itu

2/6

Jantungku nggak baik


menyenangkan?" Tanya Kila dan ia terlihat antusias.

"Kamu yakin bertanya jika pekerjaan saya ini menyenangkan?" Tanya Aryo dan ia mengangkat wajahnya,
lalu menatap Kila dengan tatapan dingin.

"Nggak sih tapi kan keren gitu Mas, biasanya orang-orang lebih memilih menjadi spesialis penyakit
dalam misalnya, spesialis anak, mata, urologi, bedah dan saraf. Aku tuh nggak tahu mau kuliah lagi,"
ucap Kila.

"Kamu sudah selesai kuliah?" Tanya Aryo membuat Kila membuka mulutnya. "Kamu sepertinya masih
sangat kecil," ucapnya lagi.

"Wah...Mas gini-gini aku tu sudah dewasa, kalau kamu mau kawin sama aku juga bisa loh..." ucap Kila
kesal. Mika memang memiliki wajahnya yang seperti anak SMA, ia memang tidak terlihat menyakinkan
sebagai seorang dokter. Apalagi tubuhnya yang kecil dan ia memang mirip idola Korea karena ayahnya
Lee, merupakan keturunan orang Korea. "Kenapa apa kamu mau bilang aku bukan tipenya kamu ya
Mas? Apa karena aku terlalu putih atau terlalu cantik?" Tanya Kila kesal. "Wajah kayak aku ini disukai
banyak lelaki lagian aku cukup populer loh Mas," ucap Kila dan ia menatap sosok Aryo yang kembali
fokus memainkan ponselnya.

Kila sangat terkenal karena memiliki wajah cantik seperti idola kpop dan ia juga memiliki otak yang
sangat cemerlang. Kila akan sangat pendiam jika ia berada di Lingkungan yang membuatnya kurang
nyaman namun ia akan menjadi sosok yang banyak bicara saat bersama keluarganya. Kila yang kesal
melemparkan bantal kursi yang ada disampingnya. "Mas...Kamu itu ya kayak mau bicara sama aku atau
nggak sih....?" ucap Kila.

Kila biasanya memang terbiasa mendapatkan perhatian dari para pangeran di keluarganya dan ia sangat
dilindungi apalagi ia dianggap anak yang polos selama ini.

3/6
Jantungku nggak baik
Kila yang kesal akhirnya berdiri lalu ia mendekati Aryo dan dengan berani, ia duduk disamping Aryo.
"Mas kamu udah lama jadi polisi?" Tanya Kila. la memang ingin mengetahui banyak hal mengenai Aryo.

ini. "Sudah," ucap Aryo dan keheningan yang terjadi saat

"Mas kamu nggak ada yang mau kamu tanya gitu sama aku?" Tanya Kila dengan percaya diri. "Biasanya
cowok-cowok kalau ketemu aku itu mereka banyak tanya Mas, kok kamu nggak mau tanya apa gitu
sama aku!" Ucap Kila dan ia mengerjapkan kedua matanya ketika mata Aryo bertemu dengan matanya.
Apalagi Kila berada tepat disebelahnya dan sekarang dengan lancang Kila memeluk lengannya. Tingkah
Kila ini begitu mengejutkan bagi Aryo walaupun sebenarnya ia sering menemui perempuan seperti Kila
yang mencoba mendekatinya namun perempuan itu tidak sepolos Kila.

"Apa kamu sering seperti ini sama lelaki yang baru kamu kenal?" Tanya Aryo.

"Akhirnya Mas mau tanya juga sama aku," ucap Kila tersenyum bahagia membuat Aryo mengerutkan
dahinya.

"Aku itu nggak ramah kayak gini Mas sama sembarang orang, hanya orang-orang tertentu saja. Mas
Aryo kan kenal sama Mas Defran dan Altaf jadi Mas Aryo itu laki-laki aman yang bisa Kila dekati karena
pasti orangnya baik," ucap Kila.

Aryo menghela napas kaya ternyata benar dugaannya jika Kila sangatlah polos dan bisa dengan mudah
ditipu lelaki yang mendekatinya. "Kamu kalau bertemu dengan laki-laki nggak bener habis kamu," ucap
Aryo.

"Sayangnya ya Mas nggak ada laki-laki aneh yang dekatin aku, soalnya Mas Fajrin kakak sulungku itu
galak banget, beliau kan tentara gitu dan jadi andalan dipasukan khusus," ucap Kila. "Mas kalau gitu aku
deketin Mas aja ya!

4/6

Jantungku nggak baik


Kalau belum mau jadiin aku pacar, kita jadi adik kakak aja dulu Mas. Syukur-syukur nanti kalau kita bisa
akrab gitu Mas," ucap Kila dan ia menunjukkan senyumannya yang terlihat amat manis.

Kila bahkan dengan berani menyadarkan kepalanya dilengan Aryo "Kamu tahu saya ini bukan kakak
kamu," ucap Aryo.

"Iya Mas, nggak usah Mas bilang Kila itu tahu kalau Mas itu bukan kakaknya Kila. Makanya tadi Kila tanya
Mas itu kalau nggak mau pacaran sama Kila, jadi kakak adik aja, kayak gini!" Kila membuat Aryo
menyentuh dahi Kila dengan tangannya.

"Kamu demam makanya melantur begini bicaranya,"


ucap Aryo. la berdiri dan melangkahkan kakinya menjauh dari Kila membuat Kila berdiri.

"Mas kamu mau kemana?" Tanya Kila dan ia mengikuti Aryo yang masuk kedalam kamarnya.

Aryo mengambil ranselnya dan ia mencari obat penurun panas. la membalik tubuhnya dan terkejut
melihat Kila hampir saja terjatuh saat menabrak tubuhnya jika ia tidak memeluk Kila. Jantung Kila
berdetak dengan kencang dan ia baru kali ini merasakan jantungnya berdetak dengan kencang seperti
ini kepada seorang laki-laki, terlebih lagi laki-laki ini sedang memeluknya.

"Mas...Kamu satu-satunya laki-laki yang memeluk aku kayak gini selain keluarga aku Mas," ucap Kila.

Aryo menghela napasnya, ia tidak ingin Handaru dan Altaf salah paham dengannya lalu ia menggendong
Kila. la membawa Kila ke Ruang tengah lalu kembali membaringkan tubuh Kila diatas sofa. "Kamu jangan
ikuti saya lagi dan tetap berbaring! Saya hanya ingin mengambil segelas air minum untuk kamu!" Ucap
Aryo.

"Iya Mas," ucap Kila mencebikkan bibirnya. Tadi itu ia kesal karena Aryo pergi begitu saja dan itu
membuatnya

5/6

Mau mundur.
Mau mundur
Kiran melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah panggung bersama Salsa dan keduanya terkejut
melihat sosok Kila memeluk lengan Aryo dengan berani sedang Aryo sibuk membaca buku yang sedang
ia baca. Keduanya tersenyum dan keduanya bisa menduga jika Kila sepertinya menyukai Aryo apalagi
Kila bertingkah aneh hingga ia sering bertanya mengenai Aryo.

"Assalamualaikum," ucap Salsa dan Kiran bersamaan.

"Waalaikumsalam," ucap Kila dan Aryo bersamaan. Kila tidak melepaskan pelukannya dan ia tidak
perduli jika tingkahnya ini dilihat mereka semua.

1/6

Mau mundur
"Wah Kila, udah berani meluk Mas Aryo aja kamu," ucap Salsa sinis.

"Mbak aku lagi demam loh Mbak, nggak enak badan gitu," ucap Kila dan ia mencibikkan bibirnya.
"Untung ada Mas Aryo yang menemani aku Mbak," ucap Kila. Aryo melepaskan tangan Kila dengan
pelan karena ia merasa tidak nyaman dengan sikap Kila, apalagi sekarang ada Kiran dan Salsa.

"Sekarang kamu bisa peluk Salsa!" Ucap Aryo membuat Salsa tersedak dan ia ingin tertawa terbahak-
bahak melihat tingkah Kila yang ternyata memaksa Aryo agar bersedia ia peluk.
Kila menghela napasnya dan ia membiarkan Aryo menjauh darinya, sepertinya jiwanya meronta dan
ingin sekali berada didekat Aryo saat ini. Entah mengapa bersama Aryo membuatnya merasa sangat
tenang, ya ia menyukai Aryo dan ingin mengenal Aryo lebih dekat lagi. Apalagi ia kagum dengan
pekerjaan Aryo yang sangat luar biasa keren baginya, bagaimana tidak Aryo dokter forensik yang
ternyata sangat terkenal dan dihormati.

"Mas Aryo sini aja Mas!" Pinta Kila demamnya belum turun, Mas kan dokter dan sudah memeriksa aku,
jadi Mas bertanggung jawab sama aku sampai sembuh!" Ucap Kila membuat Salsa meletakkan sebelah
telapak tangannya didahi Kila.

"Wah ini dia benar-benar demam dan hampir sinting kayaknya," sinis Salsa.

Kiran tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kila yang ternyata juga bisa bersikap genit padahal
selama ini Kila terkenal dengan sosok yang kalem dan sangat polos. "Apaan sih Mbak, kenapa
memangnya aku nggak boleh suka sama Mas Aryo? Siapa tahu kan direstui sama Mama dan Papa serta
keluarga besar kita," ucap Kila dan ia tersenyum melihat Aryo.

2/6

Mau mundur
Altaf yang baru saja masuk kedalam rumah ini mengerutkan dahinya ketika melihat ekspresi Aryo yang
mengerutkan dahinya. "Ada apa?" Tanya Altaf penasaran.

"Kila udah genit Altaf, dia naksir Mas Aryo," Adu Salsa.

Altaf menatap Aryo yang biasanya tidak terlalu suka dengan sosok perempuan yang mulai menyukainya.
Aryo memiliki permasalahan pelik dengan kekasihnya yang dulu hingga sampai saat ini Aryo memilih
untuk hidup sendiri dan memang belum mencoba hubungan baru. "Dia meluk Mas Aryo dengan alasan
minta dirawat karena demam," ucap Salsa.

"Emang Mas Aryo mau dipeluk Kila?" Tanya Altaf.

"Tadinya nggak mau, tapi Kila paksa sampai mau dan akhirnya mau aja tuh apalagi Kila kan demam.
Selama ini Kila manja kalau demam," ucap Kila.

"Yaudah Mas Aryo peluk aja Kila nggak apa-apa!" Ucap Altaf mempersilahkan Aryo untuk memeluk Kila
membuat Aryo melempar bantal kursi kearah Altaf. Altaf tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan
Aryo saat ini.

"Nggak usah pakek marah Mas Aryo!" Ucap Altaf.

"Gassken kalau mau sama Kila!0 ucap Altaf dan ia mengedipkan sebelah matanya kearah Kila membuat
Kila terkekeh.

"Ini kita makan apa ini malam ini?" Tanya Aryo sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Masak barbeque aja gimana?" Tanya Salsa.

"Kayak ada yang jual bahan-bahan untuk barbequ saja," ucap Altaf.

"Makanya ya Al lihat tadi kita itu beli apa aja, disana itu kulkasnya banyak makanan forezen bahan buat
tom Yam dan barbequ gitu walaupun ini Desa terpencil, tapi

3/6

Mau mundur
cukup maju karena daerah wisata Altaf," ucap Salsa membuat Altaf mengacungkan jari jempolnya.

"Wah....ya udah, ayo kita siap-siapkan bahannya habis magrib kita masak dong, di mana ya enaknya
nah.. Disana itu ada pondokan kecil dibawah!" Ucap Altaf saat melihat kearah jendela dan ia melihat
sebuah pondokan saung yang terlihat nyaman.

"Saya akan menyiapkan peralatan memasaknya!" Ucap Aryo.

"Ayo kita berdua nanti yang menyiapkannya" ucap Handaru kepada Aryo.

"Oke," ucap Aryo dan ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini bersama Handaru.

"Kalau begitu kita yang menyiapkan bumbunya Mbak!" Ucap Salsa.

Kila. "Kalau kalian pergi semua aku sama siapa lagi?" Lirih

"Sama Altaf!" Ucap Salsa membuat Kila menghela napasnya. Salsa dan Kiran terkekeh melihat tingkah
Kila yang sangat manja jika ia sedang sakit. "Ayo Mbak kita ke dapur!" Ajak Salsa.

"Ayo," ucap Kiran. Salsa dan Kiran melangkahkan kakinya menuju dapur meninggalkan Kila dan Altaf,
namun ternyata Salsa menghentikan langkah kakinya. Salsa bersembunyi, agar bisa mendengar
pembicaraan Kila dan Altaf.

"Al..." rengek Kila.

"Iya Kil ada apa?" Tanya Altaf menyunggingkan senyumannya melihat Kila yang terlihat kesal saat ini.

"Kamu aja yang temenin Mas Handaru, biar Mas Aryo sama aku saja!" Pinta Kila.

"Kamu yakin nggak takut sama Mas Aryo? Dia itu jago banget main pisau dan dia itu ilmunya banyak
loh...suka

4/6

Mau mundur
membedah mayat, baunya aja sering bau amis darah dan..." ucap Altaf terhenti saat Kila mencubit
lengan Altaf.
"Aku tu dokter juga Altaf, aku nggak takut yang namanya begituan, ihhh...nyebelin banget," ucap Kila.

"Astaga aku itu benar-benar tertipu sama wajah cantik kamu dan Salsa, dulu aku kira kamu berbeda
dengan Salsa, Kil. Kamu itu lebih kalem, bijak dan pendiam nggak tahunya kalian itu sama saja," ucap
Altaf.

"Hehehe...dari dulu aku memang begini salah kamu yang jarang pulang jadi jarang ngumpul sama kita
Altaf," ucap Kila. "Al..." panggil Kila.

"Ada apa?" Tanya Altaf.

"Nanti setelah pulang liburan minta nomor ponselnya Mas Aryo dong!" Ucap Kila.

"Untuk apa?" Tanya Altaf.

"Ya ampun Al, lo macam nggak tahu aja untuk apa sih...? pastinya untuk pendekatan loh Al, tipe Mas
Aryo itu nggak akan mau deketin aku duluan. Apalagi aku kan cantik banget, you know aku ini ini
wajahnya teramat cantik dan sering kali didekati laki-laki lebih dulu tapi kali ini Kila yang mau deketin dia
lebih dulu. Ibaratnya kasih sinyal cinta Al, nah bicarain Mas Aryo bikin aku cepat sembuh dan sekarang
demam ku sudah turun Al," Kila membuat Altaf terkekeh melihat tingkah Kila.

"Iya jangan cerewet nanti aku bantu dan informasi semua tentang Mas Aryo, tapi ingat ya kamu harus
membicarakan ini sama Mas Defran, dia itu temenan sama Mas Defran, kalau Mas Defran nggak setuju
kamu mundur!" Ucap Altaf membuat Kila menghela napasnya. Kenapa ia harus melaporkan semua
keinginanya yang berkaitan dengan laki-laki itu kepada Defran Satyas yang lebih memiliki otoriter dalam
memutuskan hubungannya dengan Aryo. Defran lebih sulit dihadapi, dibandingkan

5/6

Mau mundur
kakak kandungnya sendiri yaitu Fajrin.

"Kenapa? Kamu mau mundur kalau aku bilang sama Mas Defran?" Sinis Altaf.

"Kamu kayak nggak tahu Mas Defran saja Al," ucap Kila kesal. Altaf terkekeh, Kila memang sangat
menghindari hal-hal yang membuat keluarganya marah atau kesal.

"Iya Kila udah satu konsekuensinya punya banyak kakak laki-laki," ucap Salsa yang ternyata masih
berada dibalik pintu dan mendengar pembicaraan Kila dan Altaf.

"Mbak nguping...jahat banget sih..." ucap Kila kesal.

Comments

Vote
6/6

Jangan norak.
Jangan norak
Saat ini mereka sedang sholat magrib berjamaah dan setelah itu mereka akan berbaque bersama di
pondokan yang berada dibawah. Yang menjadi imam sholat magrib ini adalah Handaru, Kiran merasa
sangat senang karena ia merasa jika ia tidak salah jatuh cinta dengan suaminya yang ternyata serba bisa
ini. Handaru bukan hanya cerdas dan tegas tapi ia juga memiliki sisi positif yang lainnya yang

membuatnya sangat mudah mencintai Handaru. Setelah selesai sholat Kiran melangkahkan kakinya
menuju kamarnya bersama Handaru. Keduanya saling menatap lalu tersenyum, Kiran melepaskan
mukenanya dan ia memeluk Handaru dengan erat.

1/6

Jangan norak
"Sampai kapan mau pelukan seperti ini?" Tanya Handaru sendu.

"Hmmm...sampai lapar mau makan, Mas," ucap Kiran.

la merasa sangat hangat jika berada didalam pelukkan Handaru laksamana Dewandaru suaminya ini.

"Jadi maksud kamu, Kamu lapar dan mau makan saya?" Tanya Handaru menyunggingkan senyumannya
dan ia membalik tubuh Kiran agar menghadap kearahnya. Keduanya saling bertatapan dan Handaru
mengecup bibir istrinya itu dengan lembut lalu ia memeluknya dengan erat.

"Mas apaan sih Mas..." ucap Kiran dengan wajah yang memerah. "Bahasamu itu loh Mas," ucap Kiran
malu-malu.

"Loh kenapa? Kamu nggak mau kita..." ucap Handaru membuat Kiran menutup mulut Handaru dengan
telapak tangannya.

"Malam nanti saja ya! Kita kebawah dulu!" Ucap Handaru membuat Kiran memukul pelan lengan
Handaru.

"Ya udah ayo Mas!" Ucap Kiran.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju pondokan tempat di mana mereka semua berkumpul. "Ran,
setelah pulang kamu mau kita tinggal di mana? Bagi saya asalkan sama kamu tinggal dimanapun saya
mau Ran," ucap Handaru. "Kita bisa tinggal di Rumah orang tua kamu atau orang tua saya, kita juga bisa
tinggal di Apartemen atau di Rumah kita!" Ucap Handaru yang ingin istrinya ini memilih dimana mereka
akan tinggal.
"Aku juga gitu Mas, asalkan sama kamu aku mau tinggal dimanapun, di Rumah orang tua kamu juga
boleh Mas, lagian orang tua kamu itu juga orang tua aku, aku akan dengan senang hati bisa bersama
orang tua kita. Tapi Mas, kamu ngajakin aku tinggal di Rumah, maksudnya

2/6

Jangan norak
rumah yang mana?" Tanya Kiran membuat Handaru tersenyum.

"Rumah kita, saya punya beberapa rumah dan kamu bisa pilih salah satunya Rumah yang mana yang
ingin kamu tinggali!" Ucap Handaru. Kiran tersenyum mendengar ucapan Handaru, memiliki suami kaya
raya seperti ini adalah anugerah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apalagi dulu ia memilih
hidup sendiri tanpa menggantungkan hidupnya dengan siapapun termasuk lelaki. Namun sekarang ia
sangat tergantung dengan laki-laki yang saat ini menggenggam tangannya, bahkan pelukan laki-laki ini
selalu bisa menenangkannya.

Keduanya saat ini telah berada didekat pondokan yang berada dihalaman rumah ini. Terlihat Aryo dan
Altaf sedang menyiapkan api unggun agar mereka merasa hangat, meskipun berada diluar rumah.
Daerah ini memang akan terasa dingin dimalam hari, apalagi rumah yang mereka tempati ini tidak jauh
dari gunung yang rencananya akan mereka daki besok.

Kila tampak lebih sehat dan wajahnya tidak terlihat pucat seperti tadi, saat ini ia sedang duduk dipondok
bersama Salsa keduanya sedang menyiapkan makanan yang akan mereka masak. "Ini kalau yang
bumbuin tomyamnya Mbak Kiran pasti rasanya sangat lezat," ucap Kila.

"Iya nggak mungkin aku yang bumbu in semuanya, itu kan maksud kamu Kila," sinis Salsa. Akhir-akhir ini
ia memang menjadi sangat sensitif dan mudah kesal terutama kepada Kila yang sangat suka
menggodanya.

"Hehehe...iya Mbak, Mbak nggak usah marah ya Mbak! Jangan terlalu sensitif gitu!" Ucap Kila membuat
Salsa menatap Kila dengan sinis. "Mbak itu bukannya tenang liburannya, tapi kayak kesel gitu disetiap
kesempatan,

3/6

Jangan norak
makanya jangan berantem sama Dokter Zilo!" Goda Kila.

"Nah...kan kebiasan banget kamu Sa, bisa nggak...nggak usah nyebut nama dia?" Tanya Salsa kesal
membuat Kiran yang saat ini mendekati mereka tersenyum melihat tingkah keduanya. Dulu keduanya
sangat kompak, namun ketika Kila menemukan bahan pembicaraan untuk membuat Salsa kesal, ia selalu
menggoda Salsa agar sangat kesal padanya.

"Loh kenapa berantem sih?" Tanya Kiran dan ia mencubit pipi Salsa yang menggemaskan.
"Kila nyebelin banget Mbak pakek ingatin aku terus tentang dia, ngapain sih...dokter sok pinta itu saja
nggak ingat sama aku," ucap Salsa kesal mengingat sosok Zilo yang sangat acuh tak acuh padanya.

"Loh Mbakku sayang, Mbak juga sering gangguin aku loh...balas aja gangguin aku sama Mas Aryo, aku
rela!" Ucap Kila tersenyum penuh kemenangan. la bahkan sangat-sangat menginginkan Aryo disebut-
sebut dalam pembicaraan mereka saat ini.

"Iya kamu rela-rela aja aku nggak rela diganggu sama kamu dan diingatin tentang dia, aku itu kesini mau
liburan," kesal Salsa membuat Kila terkekeh.

"Hehehe...kalau terlalu benci itu namanya cinta," ucap Kila. "Berati Mbak Salsa itu sayang sama Dokter
Zilo, makanya kepikiran terus dan butuh liburan, sekarang aku itu paham deh yang namanya jatuh cinta
itu begini rasanya. Ada perasaan kagum dan pengen dekat-dekat terus gitu....huh....dunia milik kita
pokoknya yang lain pada ngontrak," ucap Kila dan ia menatap Aryo dengan tatapan penuh cinta.

Kiran duduk disamping Salsa dan Kila, ia merangkul keduanya sambil tersenyum bahagia. "Kalian itu
kalau berantem menggemaskan banget loh," ucap Kiran.

4/6

Jangan norak
"Kita itu nggak lagi berantem Mbak, tapi hanya saling protes gitu!" Ucap Salsa karena baginya saat ini ia
sedang tidak berantem dengan Kila. la hanya kesal dengan tingkah Kila yang sering kali menggodanya
dengan mengatakan hal yang berkaitan tentang Zilo.

"Iya, hehehe...pokoknya terimaksih karena kalian berdua bersedia ikut acara liburan Mbak bersama
suami Mbak. Kalau nggak ada kalian mungkin nggak akan seramai ini dan menjadi sangat menyenangkan
gitu. Apalagi Mbak sama Mas Handaru itu adalah sosok yang serius dan sebenarnya kehadiran kalian itu
menjadi sangat amat penting bagi Mbak," ucap Kiran. Kila dan Salsa itu sosok yang menyenangkan dan
juga sangat lucu hingga kehadiran keduanya membuat suasana menjadi sangat ramai.

"Beneran Mbak, Mbak nggak terganggu dengan tingkah aku dan Kila?" Tanya Salsa membuat Kiran
tersenyum.

"Nggak dong, justru kehadiran kalian itu melengkapi kebahagiaan diacara liburan Mbak sama suami
Mbak," jelas Kiran.

"Alhamdulilah..." ucap Kila dan Salsa bersamaan.

"Alhamdulilah," ucap Kiran.

"Salsa mana nih yang mau dimasak? Kita sudah lapar banget!" Ucap Altaf.
"Iya bentar!" Teriak Salsa dan ia melangkahkan kakinya sambil membawa nampan berisi daging slice dan
juga jagung yang siap untuk dibakar. Salsa segera menyerahkan nampan itu kepada Altaf dan ia melihat
Altaf dan Aryo terlihat sangat cekatan segera memasak makanan mereka.

Saat ini Aryo terlihat sedang berbincang bersama Handaru dan Altaf saat ini, membuat Kiran dan Kila
saling bertatapan. "Mbak Kiran bantuin aku pendekatan sama

5/6

Indahnya.
Indahnya
Pemandangan disekitar mereka sangat sangat indah, mereka telah melewati perjalanan cukup

Melelahkan hingga bisa mencapai bukit dan melihat hamparan rumput yang luas dan pemandangan
langit yang terlihat sangat menganggukkan. Mereka terasa berada diatas awan dan dinginnya udara,
tidak membuat mereka menghentikan pengalaman hingga mereka berhasil

menikmati pemandangan indah itu.

Kiran menatap Handaru, ia tidak menyangka akan mendapatkan partner hidup yang memiliki hobi yang
sama dengannya. "Suka sama pemandangannya?" Tanya Handaru.

1/6

Indahnya
"Suka banget Mas, hmmm...tahun depan kita kemana lagi?" Tanya Kiran.

"Yakin tahun depan? Kenapa nggak bulan depan?"

Tanya Handaru membuat Kiran memukul bahu Handaru dengan pelan.

"Nggak bisa Mas, aku bisa dipecat," ucap Kiran. la ingin saja selalu bertualang dengan suaminya ini
namun masih banyak pencapaian yang ingin ia capai sebagai seorang pembawa acara terkenal. Apalagi
ia telah memiliki acara sendiri dan disukai banyak fansnya yang selalu mendukungnya.

"Kamu nggak kerja juga nggak apa-apa!" Ucap Handaru. Semenjak ia fokus dengan bisnisnya ia memiliki
waktu luang lebih banyak dari pada ia menjadi seorang pengacara. Apalagi ia sudah bisa mengendalikan
perusahaan dengan membangun manajemen pondasi yang sangat kuat hingga ia bisa
mengendalikannya meskipun tidak datang ke kantor tempat ia bekerja.

"Aku masih mau kerja Mas, kalau menunggu kamu di Rumah seorang diri atau misalnya tinggal sama
orang tua aku atau orang tua kamu, tetap saja aku masih keingat kerjaan kecuali..." ucap Kiran terhenti
dan ia tersenyum.
"Kecuali apa?" Tanya Handaru.

"Kecuali kalau kita sudah punya anak," ucap Kiran membuat Handaru tersenyum.

"Kalau begitu kita juga harus sering-sering melakukan prosesnya!" Ucap Handaru tersenyum penuh
kemenangan saat melihat wajah istrinya ini merah padam.

"Iya Mas, prosesnya memang harus sering dilakukan," ucap Kiran menyetujui ucapan suaminya.

"Aduh sepemikiran ya kita sayang," ucap Handaru dan ia memeluk Kiran dari belakang sambil menatap
pemandangan indah.

2/6

Indahnya
Kiran ingat bagaimana lelahnya ia saat mendaki tadi tapi, Handaru selalu memberinya semangat bahkan
sengaja berjalan bersamanya dengan pelan meskipun Handaru pasti sangat mudah mencapai tempat ini
lebih dulu jika tidak menunggungnya. "Ran..." panggil Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran, ia merasakan napas hangat ditelinganya karena tubuh suaminya yang saat ini
memeluknya itu membukukan tubuhnya dan ia berbisik ditelinganya.

"Mau punya anak berapa?" Tanya Handaru.

"Pengennya sih banyak Mas, biar nggak kesepian kalau kamu kerja," ucap Kiran sambil mengelus pelan
kepala tangan Handaru yang memeluk pinggangnya.

"Berarti kamu sudah berniat akan berhenti kerja jika kita punya anak, Ran?" Tanya Handaru.

"Iya Mas, Ada hal yang harus aku utamakan setelah kita punya anak Mas, ada waktu yang nggak bisa aku
beli yaitu merawat anak dan suamiku," ucap Kiran. Baginya waktu itu teramat penting, ia tidak ingin
kehilangan momen kebersamaannya bersama anak-anaknya dan juga suaminya. "Kamu bisa mencari
uang untuk keluarga kita dan aku berhenti kerja demi memberikan banyak waktu untuk kamu dan juga
anak kita. Fokusku akan berubah dan aku akan seperti Ibuku yang akan fokus menjaga anak-anak dan
juga menjaga suaminya," jelas Kiran.

"Kamu yakin suamimu ini perlu dijaga?" Tanya Handaru.

"Yakin, banget...kamu memang harus benar-benar dijaga Mas, kamu pikir kamu itu nggak ganteng?
Kamu itu ya Mas ganteng banget..." ucap Kiran dan ia membalik tubuhnya lalu menyetuh pipi Handaru
dengan telapak tangannya. "Banyak loh perempuan-perempuan yang pastinya akan berusaha untuk
mendapatkan kamu, pelakor

3/6
Indahnya
ada dimana-mana jadi istrinya kamu itu harus sigap!" ucap Kiran.

"Memang ada?" Goda Handaru.

"Ada banyak, Mas... Kamu mau aku periksa satu persatu gitu? Aku bisa kok datang ke tempat kerja kamu
dan lihat siapa yang mencoba menarik perhatian kamu, aku ini ya Mas istri yang tegas. Aku nggak suka
dibohongi apalagi diselingkuhi," jelas Kiran membuat Handaru tersenyum.

"Kalau kamu jadi overprotektif begini, Mas merasa sangat bahagia karena itu artinya kamu sangat
menyukai Mas, Ran," ucap Handaru.

"Sama halnya dengan Mas, kalau nikahnya bukan sama Mas, aku juga belum tentu menikah Mas...aku
itu sayang banget sama kamu dan jangan ragukan itu!"ucap Kiran.

Keduanya saat ini terlihat sangat romantis berbeda dengan Salsa dan Kila yang terlihat sangat lelah.
Keduanya bahkan sangat lama sampai ditempat ini dan kenyataannya, stamina mereka memang tidak
bagus. "Kil, kita kayaknya harus gmy atau olahraga gitu Kil, lihat kita yang masih mudah ini memiliki
napas jompo," ucap Salsa membuat Kila terkekeh mendengar ucapan Salsa. la dan Salsa memang sangat
lelah namun untung saja ia dibantu oleh Aryo sedangkan Salsa dibantu oleh Altaf.

"Kalau aku memang harus banyak olahraga Mbak soalnya, calon suamiku itu dia sukanya pergi ke Alam
kayak gini dan aku harus punya stamina kalau mau ikuti dia liburan," ucap Kila membuat Salsa membuka
mulutnya.

"Benar-benar saraf lo ya Dek, astaga kenapa lo udah banyak ngehalu begini. Calon suami yang mana?
Jangan ngaku-ngaku Kil, malu tahu!" Ucap Salsa kesal.

"Hehehe...Mbak diaminkan gitu loh Mbak, aku itu

4/6

Indahnya
kayaknya mau serius sama Mas Aryo, kalau tadi Mas Aryo nggak nolongin aku Mbak, mungkin aku sudah
terjatuh gitu Mbak," ucap Kila. "Tangan aku ini kan berharga banget kalau patah gimana? Aku nggak bisa
kerja Mbak," ucap Kila.

Mata Kila menatap punggung Aryo yang menurutnya sangat seksi itu, punggung lebar dan tegap itu
sepertinya sangat nyaman jika ia meletakkan kepalanya disana.

Ya...tadi pun ia telah sempat merasakan punggung nyaman itu karena ia yang lelah membuat Aryo
akhirnya bukan hanya memapahnya namun menggendongnya dipunggungnya. "Tadi aja Mbak lihat kan
Mas Aryo gendong aku gitu, wah....dia perhatian banget sama aku loh Mbak," ucap Kila.
"Itu bukan perhatian namanya tapi demi kemanusiaan, wajah kamu pucat banget dan kamu maksain
untuk ikut," ucap Salsa.

"Kalau aku nggak ikut, tuh lihat...perempuan itu ngikutin Mas Aryo dari tadi," ucap Kila kesal. "Nyebelin
banget sih...kenapa dia nempel gitu sama Mas Aryo," kesal Kila.

"Kamu kesel sama dia, dia juga kesal tuh sama kamu, Kila. Tadi saja saat kamu digendong sama Mas
Aryo, ekspresi wajahnya nyeremin banget," ucap Salsa.

"Mbak aku mau kesana sebentar!" Ucap Kila dan ia ingin mendekati Aryo yang sedang bediri sambil
melipat tangannya melihat pemandangan yang ada dihadapannya, namun disampingnya saat ini ada
sosok Sindy. "Kalau dibiarkan Mas Aryo bisa diambil sama dia!" Ucap Kila.

"Kila jangan lebay....please udah duduk disini saja!" Pinta Salsa.

"Bilang saja kalau Mbak minta ditemanin sama aku karena Mbak nggak mau duduk sendirian," ucap Kila
kesal. "Mbak itu kelihatan banget pikirannya kayak kusut gitu

5/6

Indahnya
mikirin Dokter Zilo!" Ucap Kila sengaja menyebut Zilo agar Salsa kesal lalu membiarkannya mendekati
Aryo.

"Tindakan kamu itu sudah kebaca, pokoknya kamu duduk disini sama Mbak!" Ucap Salsa.

Kila menghela napasnya, Cindy juga terlihat ingin mendekati Altaf namun Altaf tidak terlalu ramah
padanya hingga ia akhirnya Cindy kembali mendekati Aryo. Aryo masih menjawab beberapa pertanyaan
Cindy, karena ia menghormati orang tua Cindy yang sangat baik padanya, namun tetap saja Aryo
memang sulit untuk membuka hatinya.

Comments

Vote

6/6

Dia yang paling menyakitkan.


Dia yang paling menyakitkan
Liburan telah usai, Handaru dan Kiran saat ini telah pulang ke Kediaman orang tua Kiran. Keduanya
bersepakat beberapa hari ini, ia akan tinggal di Kediaman orang tuanya sedangkan saat ini Lifia ternyata
juga sedang berada di Kediamaan orang tuanya. Lifia memang telah membatalkan beberapa kontrak
kerjasama, karena kondisi kehamilannya yang tidak memungkinkan untuk ia

melakukan adegan action.

Lifia. "Rumah sepi nggak ada Altaf si pembuat onar," ucap

"Ya mau gimana lagi Dek, Altaf kan nggak bisa izin terus kayak suami Mbak hehehe..." ucap Kiran
menatap

1/6

Dia yang paling menyakitk...


Handaru dengan tatapan penuh cinta.

"Dulu aja ya Mbak, nggak suka banget sama Mas Handaru bawaannya berantem mulu tapi sekarang
udah lengket banget nggak mau pisah," ucap Lifia.

"Inilah yang namanya kekuatan cinta," ucap Kiran mengakui jika ucapan Lifia benar, ia bahkan ingin
selalu berada didekat Handaru. Lifia terkekeh karena dulu Kakak perempuannya ini tidak mau
membahas tentang percintaannya tapi sekarang Kiran seterbuka itu menceritakan bertapa ia sangat
mencintai suaminya.

Lifia melihat jam ditangannya "Mau kemana, Lifia? Mbak kan mau cerita tentang liburan Mbak sama
Mas Handaru dan rekan-rekan," ucap Kiran.

"Pasti mau bahas Kila yang tergila-gila sama...siapa tuh...?" Tanya Lifia yang memang ia belum mengenal
Aryo tapi ia sepertinya pernah mendengar namanya dari suaminya. "Itu si dokter forensik," ucap Lifia.

"Ooo...Mas Aryo," ucap Kiran. "Tepat sekali, mau bahas tentang dia sebenarnya," ucap Kiran membuat
Lifia penasaran.

"Bahas sekarang saja Mbak! soalnya nanti aku mau dijemput Mas Ronal pulang ke Rumah Papi, soalnya
si Adek juara kelas!" ucap Lifia. Adik bungsunya Fadil mendapatkan juara kelas, jadi keluarganya
bermaksud untuk memberikan peryaaan kecil untuk Fadil.

"Wah aku mau telepon Fadil nanti, mau ucapin selamat sama dia," ucap Kiran.

"Jadi apa sih Mbak ceritanya?" Tanya Lifia yang telah sangat penasaran.

"Oke, begini ceritanya..." ucap Kiran. "Jadi ya Lifia, aku kan ikut bertanggung jawab sama suamiku jika
nanti Kila benar-benar cinta banget sama si Mas Aryo ini. Apalagi yang ngajak dia pergi liburan itu si
adek, maksud Mbak itu Altaf. Takutnya ya Aryo ini bukan laki-laki yang baik gitu

2/6
Dia yang paling menyakitk...
buat Kila, apalagi Kila selama ini nggak menujukkan ketertarikan sama lawan jenis pribumi. Dia kan suka
yang mirip-mirip bapaknya orang Korea sono," ucap Kiran.

"Iya Mbak Kila kan katanya mau cari yang kayak Bapaknya biar dia bisa tinggal di Korea," ucap Lifia.

"Iya tapi kan ternyata Bapaknya itu nggak mau

anaknya nikah sama orang luar gitu, dia maunya Kila nikah sama orang Indonesia saja, katanya lebih baik
makan lotek sayur dari pada kmichi," ucap Kiran membuat Lifia terkekeh.

"Iya, Salsa juga pernah cerita itu sama aku...Mbak," ucap Lifia.

"Nah...jadi Mbak cari tahu gitu dan tanya sama Mbak Kana, ternyata Mbak Kana kenal sama Mas Aryo,
Mas Aryo itu bibit unggul dan dia sangat cerdas. Dia itu pernah ditawari di banyak universitas dulunya
saat selesai SMA gitu dan setelah menamatkan universitas dia juga banyak sekali yang mau narik dia
kerja. Tapi dia malah daftar jadi polisi gitu dan ya akhirnya jadi dokter forensik seperti sekarang,
pengalaman kerjanya itu luar biasa sekali," jelas Kiran.

Lifia. "Intinya itu apa Mbak? Hanya bibit unggul?" Tanya

"Intinya dia sering kali mengabaikan perempuan yang mendekatinya karena masalalunya yang buruk
tentang percintaannya. Banyak banget gosip mengenai percintaannya tapi nggak tahu mana yang
bener," ucap Kiran.

"Sebagai wartawan Mbak memang nggak cocok menjadi wartawan percintaan, karena informasi yang
Mbak berikan belum tentu valid," ucap Lifia.

"Iya sih, kayaknya berpengalaman Kila sih, kata Salsa Kila itu kayak polos gitu sepertinya dulu waktu SMA
pernah pacaran dan ketahuan gitu sama suamimu," ucap

3/6

Dia yang paling menyakitk...


Kiran.

"Kalau itu kayaknya sudah pasti secara Kila sangat cantik, anak Korea yang cantik tapi mahir berbahasa
Indonesia," ucap Lifia membut mereka terkekeh.

"Kalau Kila itu pakai bahas Korea kita kira dia memang bukan orang Indonesia," ucap Kiran.

"Bicara apa sih...hebo sekali?" Tanya Murni kepada kedua putrinya. la melangkahkan kakinya mendekati
mereka berdua lalu ikut bergabung duduk disofa.

"Itu Bu, Kila jatuh cinta sama temannya Altaf," ucap Kiran.
"Wah...berita baik, teman Altaf yang Aryo itu?" Tanya Murni yang mengenal Aryo karena ia dikenalkan
oleh Altaf tiga bulan yang lalu.

"Iya Bu," ucap Kiran.

"Ya bagus dong, anaknya sopan walaupun nggak suka banyak bicara gitu, mungkin kalau dia lagi duduk
berdua sama Defran, dua-duanya lebih banyak diam," ucap Murni karena melihat Aryo
mengingatkannya pada sosok Defran menantunya, membuat Lifia dan Kiran terkekeh.

"Hehehe...iya Bu, kan sama-sama pendiam, suara mereka itu mahal tapi Mas Def itu kalau sama Lifia Bu,
mana bisa jadi pendiam gitu apalagi kalau Lifia yang ajak dia bicara," ucap Lifia.

"Ya beda kali Lifia kalau sedang sama kamu, dia memang harus banyak bicara soalnya kalau pake kode
gitu memangnya kamu ngerti, kang saja salah paham terus sama dia makanya kamu kira dia benci sama
kamu pada hal dia itu mau cari cara agar dekat sama kamu makanya gitu," ucap Kiran.

"Iya, aku itu nggak tahu ya Mbak kalau Mas Def itu ternyata romantis banget," ucap Lifia.

"Ya romantisnya itu kebangetan sekarang, lihat dia

4/6

Dia yang paling menyakitk...


nggak bisa jemput kamu, dia pasti memerintahkan Kakak kamu yang jemput kamu," ucap Kiran.

"Iya lagian, Mas Ronal itu juga overprotektif gitu sama aku Mbak. Aku, Fadil dan Rima selalu ditelepon
gitu sama dia. Tapi bedanya kalau telepon Rima, Mas Ronal kasar banget," ucap Lifia sendu.

"Kenapa gitu?" Tanya Kiran.

"Hmmm...katanya sih, agar Rima itu tidak membantah ucapannya, lagian Papi berniat menjodohkan
Rima dengan anak rekan bisnisnya Mbak," ucap Lifia sendu. Sebenarnya dia tidak menyetujui keinginan
Papinya itu, karena jodoh yang terbaik itu jika keduanya bersepakat untuk menikah tanpa paksaan.

"Iya sih, kamu benar kenapa mesti dijodohkan.

Apalagi Rima sepertinya orang yang sangat tertutup, apa dia sering bercerita tentang dirinya padamu
Lifia?" Tanya Kiran.

"Nggak Mbak, Rima itu tipe yang mandiri dan dia nggak gampang percaya orang lain. Dulu saat aku
disalahkan Tante Anya karena difitnah memukul Rima, sebenaranya Rima yang dipukul Tante Anya
hanya agar aku terlihat salah didepan Papi," jelas Lifia.

"Ya, dulu aku ingin sekali membalas Tante jahat itu,"

ucap Kiran mengingat luka lebam yang dialami Lifia ketika masih kecil.
"Sebenarnya yang paling menyakitkan itu Rima Mbak, bagaimana mungkin seorang Ibu memukul
anaknya dengan keras, bahkan tak segan untuk melukainya demi mencapai tujuannya," ucap Lifia sendu.
Dulu ia bahkan merasa kasihan dengan Rima dan sekarang ia masih merasa kasihan. Rima tidak bisa
berbuat apa-apa untuk membela dirinya apalagi Ronal selalu mengatakan tentang balas budi, karena
Rima dibesarkan dengan kedua orang tua yang utuh dan benar-benar menyayanginya.

5/6

Dia bisa apa.


Dia bisa apa
Lifia saat ini sedang bersama Ronal yang datang menjemputnya dan ia memang sangat bahagia karena
kakak sulungnya ini sangat perhatian padanya, namun ia juga kesal karena kakak sulungnya ini begitu
keras dengan Rima dan terkesan tidak bersikap adil. Saat ini keduanya sedang berada didalam mobil
menuju kediaman Bagaspati, "Mas..." panggil Lifia membuka pembicaraan.

"Ya," ucap Ronal.

"Mas, bisa nggak sih...ngomongnya jangan kasar banget sama Rima. Aku itu kasihan sama Rima, Mas!"
Ucap Lifia.

"Apa yang dilakukan Papi dan Mas itu, semuanya demi Rima. Anya masih ingin mengendalikan Rima dan
bahkan dia meminta Rima mengajukan banding agar bisa bebas bersyarat, kalau bebas bersyarat dari
mana Rima mendapatkan uang. Papi telah menyelidiki keinginan perempuan tua itu yang ingin
menjodohkan Rima dengan lelaki tua. Dari pada Rima menikah dengan laki-laki yang banyak istrinya,
lebih baik Rima menikah dengan pengusaha kaya raya yang Papi jodohkan untuknya!" Ucap Ronal.

"Apa laki-laki yang mau dijodohkan sama Rima masih muda?" Tanya Lifia.

"Masih muda, namanya Sakuta sekala Lesmana," ucap Ronal yang telah mengetahui siapa yang akan
dijodohkan dengan Rima, bahkan Rima telah bertemu Sakuta.

"Semoga ini yang terbaik ya Mas," ucap Lifia.

"Iya, Mas yakin ini yang terbaik, apalagi orang tua Sakuta adalah sahabat Papi dan mereka pasti yakin
jika

1/7

Dia bisa apa


putra mereka akan menerima Rima," ucap Ronal.

"Untung saja aku sudah menikah dengan Mas Defran, kalau nggak kalian mungkin kalian juga akan
menjodohkan aku juga sama seperti Rima," ucap Lifia sendu.
"Nggak, kamu tidak seperti Rima. Rima itu anak yang sayang dengan orang tuanya dan keluarga, dia
akan sulit menjauh dari mereka apalagi jika ada suatu hal yang mengancamnya. Kamu tidak mudah
dipengaruhi Lifia, tapi Rima berbeda...dia akan menderita jika dia mengikuti keinginan Anya," ucap
Ronal.

"Jangan-jangan Mas juga mengancam Rima dengan membawa nama Fadil?" Tanya Lifia membuat Ronal
terkekeh karena tebakan Lifia benar.

"Hehehe...Rima paling menyayangi Fadil, jadi...ya kalau dia mau yang terbaik untuk Fadil dia harus mau
menikah dengan Sakuta," ucap Ronal.

"Astaga Mas, tega banget sih..." ucap Lifia kesal.

"Terus mau bagaimana lagi, kalau hanya hutang budi itu nggak cukup, karena Rima tahu jika Papi
menyayanginya dengan tulus dan Papi masih mau mendengarnya jika dia memohon sama Papi," ucap
Ronal.

"Tapi kan kasihan banget loh Mas sama Rima," ucap Lifia yang tidak tega melihat Rima yang pastinya
akan merasa sangat sedih.

"Yakinlah ini yang terbaik!" Ucap Ronal. "Sudah jangan jadikan ini pikiran ingat kondisi kamu, kalau kamu
banyak pikiran dan drop Mas bisa dimarahin sama suami galak kamu," ucap Ronal mengingat Defran
yang lebih galak dari pada dirinya yang merupakan kakak sulung Lifia.

"Iya Mas," ucap Lifia.

Ronal tersenyum, dulu setiap film yang diperankan

2/7

Dia bisa apa


adiknya ini, ia akan meminta bawahannya untuk menonton film itu bersama di bioskop. Sesayang itu ia
dengan Lifia walaupun ia hanya bisa melihat Lifia dari jauh saat itu. "Coba ya Dek, kita sudah lama bisa
kayak gini jalan bersama keluarga dan..." ucap Ronal.

"Iya Mas tapi aku bersyukur banget kok, bisa kayak gini akhirnya," ucap Lifia tersenyum bahagia.

"Iya Alhamdulillah," ucap Ronal.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti tepat didepan kediaman Bagaspati, Ronal dan Lifia keluar dari
mobil lalu keduanya melangkahkan kakinya masuk kedalam Kediaman Bagaspati. Fadil mendekati Lifia
dan Ronal, ia terlihat senang melihat kedatangan Lifia. "Mbak nginap kan?" Tanya Fadil.

"Assalamualaikum," ucap Lifia membuat Fadil terkekeh.

"Hehehe...sampai lupa ya Mbak, Waalikumsalam," ucap Fadil.


"Masuk dulu!" Ucap Ronal dan ia merangkul kedua adiknya ini.

Mereka memang terlihat memiliki kemiripan namun Lifia memang lebih mirip dengan mendiang ibunya.
Lifia menatap kearah Ronal dan ia memberikan kode kepada Ronal agar membawa hadia yang tadi telah
ia bawa khusus

untuk Fadil. "Papi mana?" Tanya Lifia.

"Di ruang keluarga sama Mbak Rima, Mbak," ucap Fadil.

"Ayo kita kesana!" Ucap Lifia.

Mereka melangkahkan kakinya mendekati Parmoko Bagaspasti, yang sepertinya sedang berbicara
dengan seseorang di telepon sedangkan Rima sedang mengamati Parmoko. Rima melihat kedatangan
Lifia dan ia segera tersenyum, lalu mendekati Lifia. "Wah ibu hamil tambah

3/7

Dia bisa apa


cantik aja," puji Rima membuat Lifia tersenyum.

"Cantik banget ya aku?" Tanya Lifia tersenyum malu. la terkadang tidak sadar jika ia memang cantik dan
ia dulunya merasa teman-temannya lebih cantik dari pada dirinya. Padahal dulu Lifia yang dianggap
paling cantik di sekolahnya saat itu.

"Cantik, dua-duanya adiknya Mas Ronal cantik semua," ucap Ronal membuat Lifia dan Rima tersenyum.

Mereka duduk disofa dan mendengar pembicaraan Papanya yang terlihat sangat kesal, bahkan Parmoko
sepertinya ingin marah besar saat ini. Parmoko menutup ponselnya dan ia menatap kearah Rima dengan
sendu namun ketika melihat Fadil ia segera mengubar raut wajahnya. "Kalian sudah datang semua,"
ucap Parmoko.

"Iya Pi, ini Papi kok marah-marah nanti cepat tua Pi!"

Ucap Lifia sengaja ingin mengubah suasana.

"Hehehe kamu ini ada-ada saja, Papi nggak mungkin tetap muda, apalagi sebentar lagi sudah jadi
Kakek," ucap Parmoko.

"Iya Pi makanya jangan suka marah-marah!" Ucap Lifia membuat Rima dan Fadil tersenyum. Rima
merasa sangat senang berada bersama mereka namun ia juga memiliki beban dan sesuatu yang
membuat hatinya sedih yaitu ia sebenarnya bukanlah bagian dari keluarga ini. Fakta itulah yang
membuatnya sedih dan setiap mengingatnya ia ingin menangis tapi bagianya tangisannya itu tidak ada
artinya.
"Fadil hebat banget ya, juara satu dan katanya dia mau ikut lomba Olimpiade matematika," ucap Rima.
Selama ini memang Rima yang mengurusi segala tentang Fadil termasuk sekolah Fadil sejak Fadil kecil.

"Makanya Mbak mau datang langsung ngucapin

4/7

Dia bisa apa


selamat sama Fadil dan ada hadia dari kita buat Fadil," ucap Lifia membuat Ronal memberikan sebuah
tas yang ia bawa lalu memberikannya kepada Fadil.

Fadil tersenyum senang dan ia membukannya lalu terkejut ketika melihat laptop yang sangat ia inginkan
itu ternyata hadia dari kakak-kakaknya ini. "Makasi Mas, Mbak Lifa, Mbak Rima," ucap Fadil.

"Sama-sama, kamu harus tetap rajin belajar tapi kamu

juga harus sering liburan biar nggak stres karena belajar!" Ucap Lifia.

"Iya Mbak," ucap Fadil dan ia memeluk Lifia. Rima tersenyum karena ia bersyukur Fadil sangat
menyayangi Lifia dan begitu juga dengan Lifia.

"Fadil kamu main laptopnya diatas saja ya, sekarang waktunya Papi bicara sama Kakak-kakakmu!" Ucap
Parmoko.

5/7

Dia bisa apa


"Iya Pi, hmmm...Mbak, Mas... Fadil keatas dulu!" ucap Fadil membuat mereka semua tersenyum. Fadil
melangkahkan kakinya dengan riang meninggalkan mereka semua dan ia menuju lantai dua di mana
kamarnya berada.

Saat ini Parmoko menatap anak-anaknya itu dengan sendu. "Ada apa Pi?" Tanya Ronal penasaran.

"Rima..." panggil Parmoko.

"Iya Pi," ucap Rima.

"Maafkan Papi Nak tapi inilah yang terbaik untuk kamu Nak!" Ucap Parmoko membuat wajah Rima
memucat.

Lifia menghembuskan napasnya dan ia merasa hal ini seharunya tidak terjadi, apalagi sepertinya hal ini
berkaitan dengan pernikahan yang dipaksakan Papinya ini. "Iya Pi, Rima akan mengikuti keinginan Papi!"
Ucap Rima dengan suaranya yang bergetar.

"Pihak keluarga Lesmana ingin kamu menikah dengan Kakaknya Sakuta, kamu memang belum pernah
bertemu dengan Ibra tapi Papi mengenal Ibra," ucap Parmoko.
"Ibra?" Tanya Ronal.

"Iya, Ibra penguasa Kertanegara," ucap Parmoko.

"Pi...dia itu..." ucap Ronal dan ia tidak ingin menyerahkan Rima kepada Ibra karena ia tahu bagaimana
kejamnya seorang Ibra Sekala Kertanegara.

"Siapa pun yang ingin Papi nikahkan sama aku akan aku terima sebagai rasa terimaksih ku karena selama
ini Papi yang membesarkan aku!" Ucap Rima dengan suaranya yang bergetar membuat Lifia meneteskan
air matanya.

"Lagian mau Sakuta atau Ibra, semuanya sama saja," ucap Rima sambil tersenyum lirih.

Lifia yang tidak sanggup mendengar ini semua, segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ia tidak
bisa

6/7

Menemani kamu.
Menemani kamu
Tanpa terasa kehamilan Lifia memasuki sembilan bulan dan Defran sangat overprotektif kepada Lifia.
Apalagi Lifia akhir-akhir ini Lifia mengkhawatirkan banyak masalah. la bahkan bertambah manja dan
menjadi sangat-sangat-sangat sensitif. "Mas ganti baju!" Ucap Lifia menatap Defran dengan tatapan
memohon.

"Kenapa?" Tanya Defran.

"Aku mau peluk, tapi nggak suka bau parfum kamu, Mas!" Ucap Lifia membuat Defran mengangkat
sebelah alisnya. Ya sejak hamil istrinya memang tidak suka ia memakai parfum karena membuatnya
mual. Setiap pulang kerja Defran biasanya memang segera mandi dan mengganti pakaiannya, sebelum
datang mendekati istrinya. Tapi tadi ia berbincang dengan ibu mertuanya terlebih dahulu, karena Murni
baru saja datang dan akan ikut tinggal di Rumah ini hingga nanti anak Defran dan Lifia menginjak umur
satu bulan.

"Oke," ucap Defran.

Lifia baru sadar jika suaminya ini ternyata sangat penyabar dan dulu ia merasa suaminya akan marah
kepadanya, jika ia mengatakan hal, ini bahkan protes hanya karena masalah kecil. Tapi ternyata
kesabaran suaminya ini seluas samudra, hingga ia segera melangkahkan kakinya menjauh darinya dan
segera melaksanakan perintahnya membuat Kana terkekeh melihat tingkah Defran.

"Dulu mana berani kamu begini ya dek, minta Defran ini itu," ucap Kana mengingat sikap Lifia yang tidak
ingin Defran tersinggung dengan permintaannya, hingga berusaha membuat Defran agar nyaman
bersamanya.
1/6

Menemani kamu
"Mana berani, takut banget dia marah, tapi sekarang aku tahu karakternya dia yang nggak akan marah
sama aku Mbak," ucap Lifia membuat Kana tersenyum.

"Ya cinta mengubah segalanya," ucap Kana.

"Hehehe kayaknya iya Mbak," ucap Lifia.

Lifia memang tinggal di Kediaman orang tua Defran, hingga nanti ia melahirkan dan setelah
kandungannya menginjak sembilan bulan, ia akan menjalani operasi cesar. Apalagi Defran memang tidak
ingin mengambil resiko menunggu kelahiran anaknya dengan cara alami. Defran ingin menemani
kelahiran anaknya jika itu sesuai jadwal dan ia telah mempersiapkannya sejak beberapa hari yang lalu.

"Tadi Altaf telepon dia minta maaf nggak bisa pulang karena dia nggak bisa cuti terus Dek," ucap Kana.

"Nggak apa-apa Mbak, kan katanya tahun depan kemungkinan Altaf pindah ke Jakarta," ucap Lifia. la
tahu Altaf sangat sibuk dengan pekerjaannya dan mungkin nanti Altaf akan pulang ketika mereka
mengadakan syukuran.

"lya," ucap Kana dan ia memperhatikan tatapan adiknya itu terkadang telihat kosong, seperti ada yang
sedang menganggu pikirannya saat ini. "Kamu kelihatan banget takut, nggak usah takut proses
persalinan insyallah akan berjalan dengan lancar," ucap Kana.

"Iya Mbak, tapi tetap saja aku takut gitu," ucap Lifia dan ia telah berusaha agar tidak terlihat ketakutan
didepan keluarganya, terutama suaminya tapi ternyata tetap saja ia masih terlihat ketakutan
menghadapi persalinan bayinya.

Defran melangkahkan kakinya mendekati Lifia setelah ia mengganti bajunya tanpa menyemprotkan
parfum, Lifia melihat kedatangan Defran membuatnya segera Lifia mengulurkan kedua tangannya
meminta Defran

2/6

Menemani kamu
memeluknya. Defran memeluk istrinya yang sangat menggemaskan ini dan mengecup bibir Lifia dengan
cepat.

"Udah kayak meluk bayi besar ya Def," goda

Kana.
"Bilang saja kalau Mbak juga minta dipeluk sama Mas Serkan!" ucap Lifia. Kana menyunggingkan
senyumannya dan ia melihat sosok suaminya yang saat ini tersenyum padanya, membuat sosok Salsa
menatap mereka dengan tatapan iri.

"Kenapa Dek iri ya?" Tanya Kana yang melihat Salsa terlihat kesal melihat kemesraan keluarganya ini.
Apalagi di Rumah ini hanya ia yang tidak memiliki pasangan. Kila saat ini pun sedang sibuk mendekati
Aryo dan ia telah menjadi fans sejati Aryo. Kila bahkan ingin lebih banyak lagi mengetahui kegiatan Aryo
hingga ia beberapa kali menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan, agar bisa mendekati Aryo yang
ternyata menjadi ketua relawan.

"Nyebelin si Kila sekarang sibuk banget, mana pergi terus gitu kalau hari libur, masa dia ikutan si Mas
Aryo itu pergi kegiatan sosial gitu," ucap Salsa.

"Kamu kenapa nggak ikut juga?" Tanya Liana dan ia duduk disamping putri bungsunya ini. Salsa
memeluk Liana dengan erat, seperti biasanya ia akan terlihat manja jika sudah bersama Maminya ini.

"Mi, kalau aku itu kerja ya kerja gitu fokus dan kalau memang ingin membantu ya niatnya itu tulus gitu
nggak ada agenda apa-apa kayak Kila, Kila kan pengen dekat gitu sama Mas Aryo makanya dia ikut terus
kegiatannya Mas Aryo," ucap Salsa.

Defran melepaskan pelukan Lifia dan ia merangkul Lifia. "Kamu kenapa nggak ikut kegiatan Zilo saja!"
Ucap Defran menatap adik bungsunya itu dengan tatapan dingin.

3/6

Menemani kamu
"Aduh...ngapain Mas, ngapain?" Tanya Salsa kesal.

"Loh bener juga ya Def, kan mereka sudah mau tunangan," ucap Liana.

"Nggak mau," ucap Salsa kesal.

"Loh kamu kan sudah kalah taruhan gitu, terakhir

kamu didekatin sama itu siapa tuh Dokter spesialis mata itu tapi akhirnya nggak cocok," ucap Liana
mengingat salah

satu lelaki yang Salsa kenalkan padanya. "Terus kamu juga pendekatan gitu sama Jaksa itu, baru jalan
empat kali, kamu juga bilang nggak cocok," ucap Liana karena ternyata putrinya itu berubah pikiran
tentang hubungannya dengan laki-laki yang berprofesi sebagai seorang jaksa.

"Kan masih ada satu kesempatan lagi buat aku deketin cowok yang aku suka Mi," ucap Salsa kesal.

4/6
Menemani kamu
Salsa memang memiliki perjanjian kepada Papinya, jika tiga kali ia memilih lelaki dan semua hubungan
mereka berakhir, maka mau tidak mau Salsa harus bertunangan dengan Zilo. Salsa saat ini hanya
memiliki satu kali kesempatan lagi dan itu membuatnya sangat kesal, memikirkan masalah ini. la tidak
bisa gegabah lagi dalam mencari pasangan karena setelah ini, ia akan berakhir menjadi istrinya Zilo jika
ia gagal lagi.

"Udah dari pada repot mencari laki-laki baik versi kamu lebih baik kamu menerima laki-laki terbaik versi
keluarga kayak Mas dan Mas Serkan yang mendapatkan menantu yang diinginkan Mami dan Papi!" ucap
Defran membuat Liana tersenyum senang mendengar ucapan Defran dan memang ucapan Defran itu
benar.

"Kalian itu berbeda kan memang sudah cinta pada pandangan pertama Mas, kalah aku itu boro-boro
jatuh cinta pada pandangan pertama, yang ada berantem pada pertemuan pertama," ucap Salsa.

"Kamu itu belum mengenal baik Zilo, Zilo anaknya baik sekali, satun dan sayang sama orang tua," ucap
Liana mengelus kepala Salsa dengan lembut.

"Mi, nggak usah tunangan langsung dinikahkan saja!" Ucap Defran sengaja ingin membuat adiknya itu
kesal terbukti saat ini Lifia membuka mulutnya dan menatap Defran dengan tajam.

"Nyebelin banget kamu Mas, awas ya!" Ancam Salsa membuat Defran mengangkat sudut bibirnya dan ia
merasa sangat senang melihat ekspresi kesal Salsa padanya.

"Udah kenapa ribut gitu, ini Ibu buatkan es dawet untuk kalian!" Ucap Murni dan ia meletakan es yang ia
buat itu keras meja.

"Wah...Ibu tahu aja kalau Salsa butuh minum Bu," ucap Salsa membuat mereka semua tertawa karena
eskpresi Salsa saat mengambil es itu menatap tajam Defran

5/6

Menemani kamu
Satyas.

Lifia mencubit pelan lengan suaminya ini "Kebiasaan banget ya Mas suka banget jahilin Salsa," ucap Lifia.

"Nggak apa-apa biar dia sadar kalau yang dijodohkan sama dia itu yang terbaik," ucap Defran.

Lifia. "Mas kenapa setuju sekali sih sama Zilo?" Tanya

"Kalau kamu sudah mengenal Zilo, kamu akan tahu jika dia adalah laki-laki yang paling cocok
mendampingi Salsa," ucap Defran sambil mengelus perut istrinya itu yang telah membesar. "Gugup?"
Bisik Defran.

"Iya," jujur Lifia.


"Mas akan menemani kamu Lifia, jadi kamu tenang saja!" Ucap Defran mencium pipi Lifia dengan
lembut.

Comments

Vote

6/6

Dia yang menemaniku.


Dia yang menemaniku
Sejak kemarin malam Lifia dan Defran telah menginap di Rumah sakit dan pagi ini, rencananya Lifia akan
dioperasi. Semua keluarga memang telah mulai berdatangan dan Lifia saat ini baru saja diberikan obat.
Untung saja Defran akan menemani persalinannya dan itu membuat Lifia sedikit lega. Tadinya Lifia
sangat takut apalagi ini adalah pengalaman pertamanya dan ketika tangan hangat ini sedang memegang
tangannya lalu menatapnya dengan tatapan sayang, rasa khawatir itu pun hilang.

Operasi akhirnya dilaksanakan dan saat ini diluar ruangan operasi terlihat beberapa keluarga sedang
berkumpul, namun akhirnya Salsa meminta mereka semua untuk pindah ke ruang perawatan Lifia yang
telah disiapkan, agar semua keluarga nyaman menunggu disana. "Kita tunggu diruang perawatan saja
Bu, Mi!" Ucap Salsa kepada keduanya.

"Mami mau disini saja!" ucap Liana menolak karena ia ingin menunggu kelahiran cucunya. Apalagi sejak
Lifia berada didalam ruang operasi ia selalu berdoa agar menantu dan cucunya selamat.

"Ibu juga mau disini!" Ucap Murni. Sebenarnya ia juga sangat khawatir sama seperti ketika Kana
melahirkan. Apalagi Lifia memang ing lebih manja dari pada kedua putrinya yang lain.

"Nanti dedek bayinya itu kita bawa ke ruang perawatan oma-oma," ucap Salsa membujuk para orang
tua. agar setuju mengikutinya menuju ruang perawatan Lifia.

"Nggak kita disini saja!" Ucap Liana keras kepala dan

1/6

Dia yang menemaniku


Murni menganggukkan kepalanya setuju dengan keputusan Liana.

Nasir tersenyum melihat kegigihan istrinya itu, yang ingin menunggu didepan ruang operasi ini. Salsa
melihat sosok Zilo yang mendekati mereka dan ia mencium punggung tangan Liana, Nasir, Murni,
Subekti dan Parmoko.
"Udah lama Bu, disini?" Tanya Zilo.

"Lumayan Zilo, aduh kamu tambah tampan saja!"

Ucap Liana membuat Salsa menghela napasnya. Mata Salsa dan Zilo bertemu namun Salsa segera
mengalihkan pandangannya.

"Nak Zilo Terimaksih udah datang menemui Mami disini, hari ini pasti Nak Zilo sangat sibuk dan pasien
Nak Zilo banyak sekali," ucap Liana dan ia terlihat sangat senang dengan kehadiran Zilo yang datang
mendekatinya.

"Iya Bu, saya juga sekalian mau ada yang dibicarakan sama Dokter Nasir!" ucap Zilo melihat kearah Nasir
membuat Nasir menganggukkan kepalanya, "Saya permisi dulu Bu!" Ucap Zilo dan ia mendekati Nasir
lalu Nasir segera mengikuti Zilo, agar menjauh dari mereka.

"Jeng, dia itu..." ucap Murni.

"Iya Zilo calonnya Salsa," ucap Liana membuat Murni tersenyum kepada Salsa. Sejak tadi ia mengamati
gerak-gerik Salsa yang terlihat kurang nyaman dan sepertinya Salsa memang memiliki hubungan khusus
dengan Zilo.

"Enggak kok," ucap Salsa.

"Iya, dia calon menantuku Jeng!" Ucap Liana dan ia terlihat kesal ketika Salsa mengatakan tidak. Semua
keluarga setuju Zilo menikah dengan Salsa apalagi Zilo adalah putra seorang Sesil yang sangat ramah
kepadanya. Menjadi bagian dari keluarga Alexsander merupakan suatu

2/6

Dia yang menemaniku


hal yang luar biasa dan Liana, ingin Salsa mendapatkan suami yang terbaik.

"Jadi kapan Jeng pestanya?" Tanya Murni.

"Ibu dan Mami jangan mulai!" Kesal Salsa membuat keduanya tersenyum, apalagi wajah Salsa memerah
karena terlihat kesal.

"Hahaha...kelihatan banget Sa kalau kamu itu sebenarnya suka sama Zilo, hampir semua yang tahu siapa
Zilo itu kagum banget sama dia dan kamu nggak mungkin nggak suka sama sama dia," ucap Liana sambil
melihat kearah calon menantunya itu yang sedang berbicara dengan suaminya.

"Yaudah tunggu saja disini, tadi yang minta aku mengatakan menunggu di kamar saja itu Mas Defran
biar para Oma dan semuanya itu menunggu di ruang perawatannya Mbak Lifia saja!" ucap Salsa dan ia
segera melangkahkan kakinya menjauh dari mereka dengan kesal karena kedatangan Zilo membuatnya
digoda habis-habisan oleh keluarganya.
Sebenarnya tahun ini ia sudah pusing dengan kuliah-kuliah dan kuliah, ditambah lagi keluarganya
mendesaknya untuk menikah dengan Zilo. Awalnya ia mengira hanya permainan saja, tapi ternyata
keluarganya serius ingin menikahkannya dengan Zilo.

Saat ini operasi sedang berlangsung dan ini bukan pertama kalinya Defran melihat jalannya operasi dan
ia menatap istrinya itu sambil tersenyum lembut, agar istrinya itu tenang. Terdengar suara tangisan bayi
membuat Defran kembali menujukkan senyumannya kepada Lifia dan ia mengelus kepala Lifia dengan
lembut. "Jagoannya ganteng sekali sama kayak Bapaknya ini," goda Dokter yang menangani Lifia dan ia
merupakan teman Defran.

"Kalau itu sudah pasti," ucap Defran tersenyum

3/6

Dia yang menemaniku


bangga.

Defran meminta suster untuk membersihkan tubuh putranya dan ia masih tetap berada disamping Lifia
agar istrinya ini tenang. Tanpa terasa operasi telah selesai dan Defran bayi mungil itu diberikan kepada
Defran. Defran mengazankan putranya itu membuat semua orang yang berada di ruang operasi
tersenyum melihat Defran. Mereka ikut merasakan kebahagian yang dirasakan oleh kedua

pasangan suami istri ini.

Defran memperlihatkan putranya kepada Lifia membuat Lifia tersenyum bahagia. Setelah semua
prosedur selesai, Lifia akhirnya akan dibawa ke ruang obesvasi lalu ke ruang perawatan. Defran keluar
dari ruangan operasi dengan membawa bayi mungil didalam pelukannya, seperti yang ia duga Salsa
adiknya tidak akan berhasil membujuk mereka untuk menunggu didalam

4/6

Dia yang menemaniku


ruang perawatan Lifia.

Murni dan Liana segera mendekati Defran dan keduanya tersenyum bahagia melihat cucu mereka.
Defran menyerahkan putranya itu kepada Liana dan ia melihat Parmoko yang melangkahkan kakinya
dengan cepat untuk mendekatinya. la bahkan hampir terjatuh jika Ronal tidak berada didekatnya. "Pi,
pelan-pelan!"tegur Ronal.

"Bagaimana keadaan Lifia?" Tanya Parmoko.

"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar," ucap Defran.

"Alhamdulillah," ucap Parmoko tersenyum lega.


Tadinya ia hanya diam saja karena sejak tadi ia berdoa agar putrinya dan juga cucunya itu selamat.

"Lifia akan segera dibawa ke Ruang perawatan," ucap Defran membuat Parmoko menganggukkan
kepalanya.

Ronal dengan isyarat matanya meminta Rima agar menjaga Papinya ini dan memang Parmoko sedang
kurang sehat hari ini. Rima segera mendekati Parmoko dan ia menggandeng tangan Parmoko. Defran
kembali mengambil putranya dari gendongan Maminya dan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam
ruangan. la memberikan putranya kepada suster lalu ia kembali mendekati istrinya. Lifia dibawa
kedalam ruang perawatan yang telah disiapkan untuknya, Defran memang membedakan ruangan
sebelum melahirkan dan setelah melahirkan.

Semua keluarga terlihat bergantian melihat keadaan Lifia dan kali ini yang masuk kedalam ruangan
adalah Parmoko, Rima dan Ronal. Parmoko merasa sangat bersyukur melihat keadaan putrinya dan ia
mengelus kepala Lifia dengan lembut. "Anal Papi sudah jadi Ibu," ucap Parmoko.

"Iya Pi," ucap Lifia tersenyum.

"Kamu sangat mirip dengan Mamimu, Papi menyesal

5/6

Dia yang menemaniku


karena pernah menyia-nyiakan cinta Mamimu," ucap Parmoko membuat Lifia tersenyum.

"Papi sayang, Mamiku pasti sangat bahagia sekarang Pi, apalagi Papi sangat menyayangiku dan selalu
ada buat aku," ucap Lifia dan Lifia memperhatikan wajah Parmoko yang terlihat pucat.

"Papi sakit ya?" Tanya Lifia khawatir.

"Hanya demam," ucap Parmoko.

"Papi mencret dan demam sejak kemarin!" Ucap Rima.

"Papi dirawat saja Pi! Please aku nggak mau Papi mengabaikan kesehatan karena khawatir sama aku!"
Ucap Lifia.

"Iya Pi, dirawat saja kalau masih sakit Pi!" Ucap Ronal.

"Nggak Papi sehat kok nih...udah sehat sekali!" Ucap Ronal membuat Lifia tersenyum.

"Papi pulang saja istrirahat dulu, besok Papi kesini lagi kalau mau gendong cucu!" Ucap Lifia.

"Iya, Papi besok pasti kesini lagi!" Ucap Parmoko.

4
Comments

Vote

6/6

Mirip kamu.
Mirip kamu
Semua keluarga besar saat ini sedang berkumpul di Kediaman Nasir Satyas, Lifia hari ini baru saja pulang
dari rumah sakit. la duduk disamping Defran sambil menggendong putranya dan ia tersenyum bahagia
karena impian menjadi kenyataan yaitu menjadi istri Defran. Apalagi ia juga telah mendapatkan hadia
yang paling indah dihidupnya yaitu kehadiran putranya yang suaminya beri nama Daigo Lifran Satyas.
Putra tampan yang akan menghiasi hidupnya dan menjaganya adalah prioritasnya saat ini.

Semua keluarga tersenyum melihat Lifia dan Defran yang terlihat sangat bahagia. Defran juga sangat
perhatian kepada Lifia hingga ia pun selalu berusaha memenuhi semua keinginan Lifia dan tidak
mengambil keputusan sendiri seperti sebelumnya ketika mereka belum menikah.

"Daigo ganteng banget sih cucu Oma, mirip banget sama Shamir," ucap Liana.

"Iya dong, sepupunya... Bapaknya aja mirip," ucap Salsa membuat mereka semua tersenyum. Shamir
Satyas merupakan anak dari Serkan dan Kana yang memang terlihat mirip dengan Daigo. Sepertinya gen
Defran lebih besar dalam penciptaan putranya hingga Daigo hanya kebagian bentuk bibirnya yang mirip
dengan Lifia.

"Jadi Ibu dan Ayah sesuai janji sama Lifia akan tinggal disini temani Lifi sampai umur Daigo empat puluh
hari," ucap Lifia.

"Iya, paling Ayah nanti yang sesekali pulang sebentar," ucap Nasir.

"Iya dong, Ibu mah menemani kamu sampai Daigo berumur empat puluh hari baru ibu pulang," ucap

1/7

Mirip kamu
Murni.

Parmoko menatap Lifia dengan sendu, sebenarnya ia ingin Lifia juga tinggal bersamanya tapi ia tidak
berani mengungkapkan keinginannya itu, membuat Rima yang duduk disampingnya mengelus lengan
Parmoko. Sebagai seorang Ayah ia gagal membesarkan putrinya ini dan menyerahkan putrinya kepada
pengasuhan Kakak iparnya. la merasa tidak berhak mengatakan keinginannya dan memilih untuk diam.
Lifia menyadari tatapan sendu Papi kandungnya itu dan ia tidak ingin Papinya merasa terasingkan karena
ia tidak mengatakan apapun tentang Papinya, apalagi saat ini hubungannya dengan Papinya ini telah
membaik.
"Kakek Moko..." panggil Lifia membuat Parmoko menatap kearah Lifia lalu ia tersenyum. Ya Kakek Moko
panggilan yang terdengar imut membuat mereka semua tersenyum mendengarnya.

"Nanti Kakek Moko kalau Daigo sudah empat puluh hari, Daigo pulang ke Rumah Daigo, Kakek Moko
tinggal saja di Rumah Daigo menginap atau nanti Daigo yang menginap di Rumah Kakek Moko," ucap
Lifia membuat Parmoko tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya. Tentu saja dengan senang hati ia
akan tinggal di rumah putrinya agar bisa bermain bersama cucunya. Parmoko memang telah
menyerahkan perusahaan miliknya agar dikelolah oleh Ronal dan ia bisa pensiun untuk menikmati masa
tuanya. Sejujurnya ia telah banyak mengalami hal yang membuatnya merasa sedih, ya ia bahkan
menutup hatinya kepada Anya yang ingin bertemu dengannya. la memang sudah memaafkan namun ia
tak akan pernah kembali kepada Anya, dengan alasan apapun karena baginya hubungannya bersama
Anya telah berakhir.

Ronal sebenarnya ingin menyelesaikan masalah Papinya dengan mantan istri pertamanya yaitu ibu
kandung Ronal, namun Parmoko Papinya itu merasa ia

2/7

Mirip kamu
tidak pantas mendapatkan maaf dari mantan istrinya itu. Karena kelalaiannya sebagai seorang suami, ia
tidak bisa mempertahankan rumah tangganya bahkan ia pun tidak tahu istrinya itu hamil hingga
dimanfaatkan oleh Anya untuk mendapatkan dirinya.

"Pokoknya Daigo senang banget punya Kakek tiga dan Nenek dua," ucap Lifia membuat mereka semua
tersenyum.

"Iya Daigo kaya banget punya Kakek yang ganteng-ganteng," goda Salsa.

"Sa kamu kapan nikahnya?" Tanya Liana membuka pembicaraan membuat Salsa menatap Maminya itu
dengan kesal.

"Kenapa bahas Salsa lagi sih..." kesal Salsa.

"Sa, punya anak diumur kamu yang masih segini itu menguntungkan banget, biar nanti anak kamu
dewasa kamu masih muda gitu. Lagian kamu butuh mentor untuk membantu kamu kuliah lagi kan Sa,
kalau kamu nikahnya sama Zilo dia bisa bantu kamu menyelesaikan kuliah nanti!" Ucap Liana.

"Siapa juga mau lanjut kuliah, pengen rebahan aja di Rumah, buat apa punya Papi kaya kalau uang jajan
masih kecil banget gini," protes Salsa karena uang jajannya masih tidak juga dinaikkan meskipun ia
harusnya mendapatkan uang jajan lebih.

"Nggak akan naik, kalau warisan buat kamu nanti akan diberikan setelah kamu kasih Papi cucu," ucap
Nasir membuat Salsa membuka mulutnya dan mereka semua tertawa melihat kekesalan Salsa. "Tapi
anak kamu harus anaknya Zilo," ucap Nasir lagi.
"Jadi Papi dukung kalau aku dihamili Zilo?" Tanya Salsa kesal.

"Ya dukung dong karena bibit bebet jelas dan cucu Papi nanti pintarnya kayak Zilo bisa bantu rumah
sakit Papi

3/7

Mirip kamu
jadi n lebih berkembang lagi dan maju. Papi pengen masa depan cucu Papi ada yang dokter dan fokus
dokter gitu bukan jadi dokter tapi jadi polisi," ucap Nasir sengaja mengatakan hal ini karena Defran yang
telah menyelesaikan sekolah kedokterannya saat itu, tiba-tiba memilih untuk menjadi polisi.

"Tapi walau jadi abdi negara saya juga masih bantu Papi," ucap Defran.

"Sedikit membantu nggak banyak," ucap Nasir. Defran juga memegang beberapa perusahaan keluarga,
hingga fokusnya yang terbagi ketiga pekerjaan menurut Nasir tidak terlalu membantunya di Rumah
Sakit.

"Papi dari tadi yang diprotes itu hanya Mas Defran dan Salsa saja, itu keponakan Papi sekarang sedang
jatuh cinta sama Dokter forensik Pi," ucap Salsa menunjuk Kila.

"Emang nggak boleh jatuh cinta?" Tanya Kila. "Lagian

4/7

Mirip kamu
kan belum aku dapatin juga hatinya," ucap Kila membuat mereka semua tersenyum.

"Mau dibantu Kila?" Tanya Defran membuat Kila melototkan matanya.

"Memangnya Mas Def setuju Kila sama Mas Aryo? Masa Papa bilang Kila nikah aja sama kerabatnya di
Korea? Kila maunya pejantan orang lokal aja," ucap Kila membuat Le yang sejak tadi sedang duduk
disamping istrinya Lely menghela napasnya melihat tingkah putri satu-satunya itu.

"Papa kan hanya kesal anak Papa yang cantik mgejar-ngejar cowok segitunya Kil..." ucap Le.

"Kila nggak ngejar Pi, Kila kan hanya nyatain suka aja dan kirim pesan gitu sama dia. Nggak sempat
datangin Mas Aryo Pi kalau lagi dia lagi sibuk," ucap Kila.

"Itu sama aja Kila, kayaknya Kila dulu yang bakal nikah dari pada aku," ucap Salsa.

"Nggak kamu dulu yang akan nikah, orang tua Zilo juga sudah setuju tahun ini akhir bulan," ucap Liana
membuat Salsa melototkan matanya dan semua keluarga tertawa melihat kekesalan Salsa.

Lifia tersenyum mendengar pembicaraan keluarganya ini lucunya Daigo sepertinya tidak tertanggung
dengan keributan para keluarganya ini bahkan Daigo juga telihat sangat nyaman dipelukannya. Lifia
merasa Daigo akan jadi anak tukang tidur sama seperti dirinya yang sulit bangun, jika tidak dibangunkan.
la tersenyum melihat suaminya ini sedang memperhatikan Daigo.

"Sepertinya Daigo sudah tidur," ucap Defran memperhatikan putranya itu yang telah memejamkan
matanya dipelukkan istrinya. Defran mengambil Daigo dari gendongan Lifia, lalu ia menyerahkan Daigo
kepada pengasuh Daigo agar segera dibaringkan di kamar. "Sekarang giliran Maminya Daigo yang
digendong!" Ucap

5/7

Mirip kamu
Defran membuat wajah Lifia memerah karena malu.

"Apa-apaan sih Mas..." ucap Lifia berpura-pura kesal tapi sebenarnya ia hanya merasa malu Defran ingin
menggendongnya didepan semua keluarganya seperti ini.

"Kamu butuh banyak istirahat!" Ucap Defran.

"Nanti aja Mas!" Ucap Lifia menolak untuk beristirahat di kamar. la masih ingin menikmati kumpul
keluarga seperti ini.

"Udah kamu istirahat saja Nak, kalau Daigo tidur kamu tidur juga dulu, kamu kan memang masih harus
banyak istirahat Nak!" Ucap Liana.

"Iya Lifi, sana ke kamar istirahat!" Ucap Murni membuat Lifia akhirnya menganggukan kepalanya.

Defran segera menggendong Lifia dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada dilantai
dua. Defran masuk kedalam kamar membuat pengasuh Daigo segera keluar dari kamar ini. Untuk
sementara ini Defran memang ingin putranya berada didalam kamar bersamanya dan ia telah membeli
box tempat tidur khusus untuk putranya ini agar memudahkan mereka jika putranya itu terbangun.

Defran membaringkan tubuh Lifia diranjang dan ia melihat ranjang bary yang ternyata baru Defran beli.

"Ranjangnya luas banget Mas," ucap Lifia.

"Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Defran.

"Suka Mas, kapan sih belinya kok aku nggak tahu," ucap Lifia.

"Mas minta Mami yang ganti ranjangnya, biar kamu

bisa tidur lebih nyenyak dan kita bisa tidur bertiga nanti kalau Daigo sudah besar," ucap Defran.

Lifia. "Kayak setiap hari saja tidur bertiga Mas," ucap

6/7
Dia yang sangat mengerti.
Dia yang sangat mengerti
Meskipun ia telah menjadi istri dari Handaru Laksmana Dewandaru, Kiran masih tetap bekerja di Tv dan
ia juga memiliki acara khusus di utube. Handaru memang tidak menuntutnya untuk segera memiliki
anak, tapi Kiran yang kesal setiap kali datang bulan membuat Handaru mengerti kesedihan yang dialami
istrinya. Kiran juga belum pernah pergi ke Rumah sakit untuk memeriksakan dirinya karena alasan sibuk,
padahal sebenarnya ia takut. Kiran takut jika setelah ia diperiksa nanti ternyata ada masalah pada
dirinya dan itu akan membuatnya mengalami stres. Handaru juga tidak bertanya mengenai hal ini dan
semua keluarganya juga tidak menuntutnya, apalagi bertanya kepadanya Kiran secara langsung. Kiran
mengerti mungkin para keluarganya tidak ingin melihatnya bersedih dan oleh karena itu, Kiran merasa ia
harus mengalihkan pikirannya negatifnya ini dengan sibuk bekerja.

"Mbak Kiran kayaknya kelelahan deh, wajah Mbak itu pucat banget," ucap Yuli yang merupakan asisten
Kiran.

Setelah selesai syuting, Kiran segera pergi ke ruangannya untuk beristirahat ditemani oleh Yuli
asistennya.

"Iya sih aku merasa capek banget hari ini dan lemas gitu," ucap Kiran. Nafsu makanya akhir-akhir ini juga
menurun dan ia juga menjadi sering mengantuk.

Yuli. "Mbak pulang aja Mbak, istirahat di Rumah!" Ucap

"Hari ini aku itu mau ke Rumah Kakak perempuanku, mau main sama Daigo, kangen banget sama si lucu
Daigo apalagi aku juga sudah ada janji sama Shamir dan si kembar," ucap Kiran mengingat para
keponakannya itu

1/6

Dia yang sangat mengerti


yang saat ini berada di Kediamaan Satyas.

"Keponakan Mbak jagoan semua ya?" Tanya Yuli. la mengetahui semua tentang keluarga Kiran yang saat
ini memiliki cucu laki-laki.

"Iya nanti kalau ada anak perempuan di keluarga kami, pasti itu akan diratukan sekali hehehe..." kekeh
Kiran mengingat para jagoan di rumahnya sangat berisik dan anak tetangga yang perempuan sering kali
diajak bermain bersama mereka semua. Pra bocah itu sangat penyayang hingga sering bertengkar jika
anak perempuan itu menangis. "Kamu sebenarnya juga penasaran kan Yul, mau tanya apa aku program
hamil apa nggak?" Ucap Kiran yang bisa menduga pikiran asistennya ini tentang dirinya.

"Hmmm...iya Mbak, aku kagum banget sama Mbak Kiran sejak dulu apalagi setelah menikah dengan
Mas Handaru, kayaknya bukan aku saja yang penasaran kita semua disini penasaran banget Mbak,
gimana kalau nanti Mbak punya anak pasti ganteng atau cantik banget gitu," ucap Yuli membuat Kiran
tersenyum. la juga penasaran akan seperti apa anaknya nanti bersama Handaru jika ia dikaruniai anak.

"Aku nggak program dan nggak nunda juga Yul, sedikasihnya saja dan aku belum sempat periksa ke
dokter gitu. Semua keluarga itu menjadi support sistem buat aku, karena mereka memberikan aku
kenyaman bahkan belum ada yang tanya ini itu mengenai masalah ini. Suamiku juga tahu bagaimana aku
yang mau banget punya anak dan dia juga tahu aku ketakutan kalau periksa ke dokter itu. Aku belum
siap Yul untuk program khusus ke Dokter, lagian suamiku bilang semuanya dia serahkan sama aku, aku
maunya apa," ucap Kiran mengingat sosok Handaru yang selalu mengatakan hal itu padanya, jika apa
yang Kiran inginkan ia akan berusaha untuk mewujudkannya.

2/6

Dia yang sangat mengerti


Sebenaranya kiran juga tahu betapa Handaru juga ingin segera memiliki anak, tapi suaminya itu lebih
memikirkan dirinya dan tak ingin menekannya dengan masalah ini. Kiran merasa sangat beruntung
memiliki suami seperti Handaru yang sangat menyayanginya dan mencintainya. Bahkan ia tidak
menyangka rumah tangganya bersama Handaru menjadi sangat manis saat ini dan jauh dari gosip
negatif, apalagi Handaru selalu

perhatian padanya bahkan berusaha selalu datang menjemputnya disela-sela kesibukannya.

"Dulu aku mengira Mbak itu akan nikah sama orang politik gitu Mbak, apalagi yang suka sama Mbak itu
banyak banget, eh...nggak tahunya nikahnya sama anak Pak Mentri. Aku tu Mbak penasaran sama
Mbak, apa benar Mbak itu mau dijodohkan sama Pak Mentri?" Tanya Yuli membuat Kiran tersenyum. la
sudah menjelaskan kalau ia

3/6

Dia yang sangat mengerti


sama sekali tidak dijodohkan dengan Handaru.

"Aku nggak dijodohkan kok, ketemu sama Mas Handaru itu di SMA gitu, dia kakak kelas aku," ucap Kiran.

"Dulu sama sekali nggak suka karena dia itu menyebalkan banget dan kalau ketemu kita itu bertengkar
terus, tapi setelah menikah malah adem ayem, dia banyak ngalah gitu sama aku," ucap Kiran tersenyum
setiap kali mengingat tingkah Handaru padanya.

"Ya ampun Mbak kisah cinta Mbak Kiran so sweet gitu,"

ucap Yuli kagum dengan kisah cinta Kiran dan Handaru.

Suara ketukkan pintu membuat tatapan keduanya tertuju pada pintu dan Kiran mempersilahkan sosok
yang mengetuk pintu ruangannya itu untuk masuk. Ternyata yang datang adalah sosok tampan yang
sangat dicintai Kiran yaitu Handaru Laksamana Dewandaru. Tadi Kiran sempat mengirimkan pesan jika ia
sedang tidak enak badan dan merasa sangat lemas. Tentu saja Handaru segera datang menemuinya dan
pasti akan segera mengajaknya pulang. Yuli tersenyum dan ia segera pamit keluar dari ruangan Kiran
meninggalkan Kiran dan Handaru yang saat ini berada di ruangan ini.

"Bagiamana keadaan kamu? Kita ke Rumah sakit saja, gimana?" Tanya Handaru dan ia terlihat khawatir
membuat Kiran menggelengkan kepalanya dan ia tersenyum.

"Hari ini kita tidak usah bermain bersama keponakan kita, kita pulang saja ke Rumah Mami dan Papi,
nanti Mas minta Marco yang periksa kamu kalau kamu nggak mau ke Rumah Sakit!" Ucap Handaru.
Sebenarnya Kana juga bisa memeriksa Kiran, namun jika mereka berada disana, Kiran tidak akan bisa
beristirahat dengan tenang. Apalagi ia pasti akan tergoda untuk bermain bersama para keponakannya.

4/6

Dia yang sangat mengerti


"Iya Mas," ucap Kiran membuat Handaru mengulurkan tangannya kepada Kiran. Kiran tersenyum dan ia
melangkahkan kakinya mengikuti Handaru yang mengajaknya segera keluar dari ruangan ini.

Keduanya melangkahkan kakinya bersama membuat beberapa orang tersenyum melihat mereka.
Apalagi Handaru terlihat sangat mencintai Kiran dan keduanya adalah pasangan serasi, karena bukan
hanya sama-sama cantik dan tampan, tapi keduanya sama-sama pintar. "Hari ini pekerjaan Mas banyak
ya?" Tanya keduanya sambil mengalihkan kakinya beriringan.

"Nggak terlalu, sejak pagi tadi kondisi kamu mengkhawatirkan jadi Mas meminta beberapa rapat agar
segera dibatalkan," ucap Handaru membuat Kiran tersenyum.

"Perhatian banget sih kesayangan aku ini..." ucap Kiran tersenyum menggoda menatap suaminya yang
saat ini sedang menggenggam tangannya.

"Harus itu soalnya dapetin kamu itu susah sekali," ucap Handaru membuat Kiran lagi-lagi tersenyum.

"Jangan bilang Mas ngerasa aku ini dulu keterlaluan banget sama Mas, padahal dulu Mas kan juga gitu,"
ucap Kiran.

"Memangnya Mas dulu menyebalkan banget?" Tanya Handaru dan keduanya masuk kedalam mobil.

"Menyebalkan banget," ucap Kiran membuat Handaru

terkekeh.

"Hehehe... Mas itu seperti itu hanya sama kamu agar kamu itu ingat Mas terus," ucap Handaru.

"Iya...iya buktinya ini setiap hari ingat terus kamu Mas, aku itu kayak diguna-gunain," ucap Kiran.
Handaru menghidupkan mesin mobilnya dan ia mencium dahi Kiran dengan lembut lalu dengan cepat
mengecup bibir Kiran.
5/6

Dia yang sangat mengerti


"Kalau mau sedang nggak sakit, mungkin lebih baik kita pulang ke Apartemen terus bobok diranjang
sampai puas," ucap Handaru.

"Dasar mesummm," ucap Kiran dan ia menjulurkan lidahnya melihat sosok Handaru yang memang selalu
saja membuat jantung berdetak dengan kencang.

"Kamu benar-benar sudah makan?" Tanya Handaru.

Tadi Handaru mengirimkan pesan padanya menanyakan apakah dia sudah makan apa belum dan Kiran
menjawab sedang makan.

"Sedikit karena aku tu muak banget mas," ucap Kiran. "Kayaknya lambung aku kumat Mas," ucap Kiran.

"Nanti setelah di Rumah Mami, kamu makan ya!" Ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran. Meskipun ia lapar, tapi entah mengapa ia jadi mual ketika melihat makanan yang
tadi diberikan Yuli padanya.

10

Comments

Vote

6/6

Sangat perhatian.
Sangat perhatian
Mobil berhenti dihalaman Kediamaan Abib

Laksamana Dewandaru, Kiran melangkahkan kakinya turun dari mobil bersama Handaru, lalu keduanya
berpegangan tangan sambil melangkahkan kakinya masuk dalam rumah. Terilhat Ariani Ernalita
menatap keduanya dengan tatapan senang, ya...iya sangat-sangat senang dengan kedatangan anak-
anaknya dan ia berniat untuk menyiapkan makan malam yang lezat hari ini. Apalagi semua anaknya
sedang berkumpul seperti ini dan biasanya ia juga akan membuat hidangan penutup yang sangat enak.

"Assalamualaikum," ucap Handaru dan Kiran bersamaan dan keduanya melangkahkan kakinya
mendekati Erna. Keduanya mencium punggung tangan Erna.

"Waalikumsalam salam," ucap Erna.


"Tumben Mami jam segini ada di Rumah, biasanya Mami pasti ikut Papi," ucap Handaru membuat Erna
tersenyum.

"Ya mau gimana lagi maunya Mami itu di Rumah terus

tapi kan nggak mau juga pisah sama suami, tapi hari ini

Papi pulang cepat makanya jam segini Mami udah pulang," ucap Erna dan ia menatap wajah
menantunya ini dengan tatapan menyelidik dan ia menghela napasnya "Itu kenapa wajah kamu pucat
banget sayang, kamu sakit?" Tanya Erna kepada Kiran membuat Kiran menganggukkan kepalanya.

"Ya ampun...sini sama Mami...kita duduk dulu!" Ajak Erna dan ia memeluk lengan Kiran lalu mengajak
Kiran melangkahkan kakinya mengikutinya duduk di sofa tepat disampingnya.

1/6

Sangat perhatian
Erna memegang dahi Kiran dan ia merasa dahi Kiran tidak panas, tapi ia penasaran kenapa menantunya
ini terlihat sangat pucat. "Apa yang sakit nak?" Tanya Erna khawatir melihat menantunya ini.

"Hanya mual dan lemas gitu Mi," jelas Kiran.

"Sepertinya lambungnya kambuh," ucap Handaru.

Erna mengerutkan dahinya dulu ketika ia hamil Handaru ia juga merasakan hal yang sama, mual dan
lemas bahkan nafsu makanya berkurang. la juga sering mengantuk dan tidak ingin mengerjakan apapun,
bahkan ia memilih untuk tidak makan. Jika Kiran sedang mengandung, Kiran harus minum vitamin agar
nafsu makanya kembali karena nanti tidak baik untuk pertumbuhan janinya. Erna menatap menantunya
ini dengan tatapan menilai apa benar dugaannya jika menantunya ini sedang hamil.

"Kamu sudah makan?" Tanya Erna.

"Sedikit Mi, karena mual banget," ucap Kiran.

"Kamu sudah datang bulan?" Tanya Erna.

"Biasanya kan memang telat Mi dan nanti kayak waktu itu hmmm....aku nggak mau berharap," ucap
Kiran menundukkan kepalanya. la belum pernah membahas hal ini kepada Ibu mertuanya ini karena ia
sebenarnya sangat sedih terlebih lagi ia juga ingin segera hamil seperti para saudaranya yang telah
memiliki keturunan.

"Berharap boleh sayang, kamu periksa ya kalau nggak diperiksa kan nanti nggak tahu, kalau kamu
beneran hamil dan kurang gizi gimana? Lemas nggak nafsu makan, kasihan kan dedeknya kalau udah
ada," ucap Erna membuat Kiran menelan ludahnya dan ia menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Ucapan Ibu mertuanya ini benar, bagaimana jika ia benar-benar hamil saat ini dan kasihan dengan
janinnya,

2/6

Sangat perhatian
jika ia tidak tahu keberadaannya. Apalagi jika terjadi apa-apa karena kelalaiannya, ia akan sangat
menyesal sekali nantinya. "Periksa saja ke Dokter!" ucap Erna sambil mengelus kepala Kiran dengan
lembut.

"Besok saja Mi aku periksanya!" Ucap Kiran karena hari ini ia benar-benar sangat lelah.

"Nanti biar Marco yang periksa Mi, kalau perlu nanti biar Kiran dinfus di rumah kalau dia masih nggak
mau

makan," ucap Handaru. Istrinya memang tidak ini berada di Rumah Sakit apalagi jika sampai menginap.

"Kok dinfus Mas? Aku kan nggak apa-apa," ucap Kiran.

"Kamu itu kayaknya kurang makan karena mual dan itu yang menyebabkan kamu lemas sayang, lagian
kalau kamu nggak makan tubuh kamu akan semakin lemas," ucap Handaru.

3/6

Sangat perhatian
"Udah kayak dokter aja kamu Mas," ucap Kiran membuat Handaru tersenyum.

Sandra melangkahkan kakinya mendekati mereka sambil membawakan nampan berisi makanan untuk
mereka. "Aku masak bolu jadul, mungkin Mbak Kiran mau coba," ucap Sandra. Tadi ia sempat
mendengar jika Kiran hanya makan sedikit dan ia juga bisa menduga saat ini sepertinya Kiran sedang
hamil. Sandra duduk disamping Kiran dan ia menatap Kiran dengan tatapan menilai.

"Kenapa Ran kayak aneh gitu ngeliatin aku?" Tanya Kiran membuat Sandra tersenyum. Ternyata Kiran
sangat sensitif dan itu artinya dugaannya benar.

"Hmmm...Mbak aku mau nanya sama Mbak, dadda Mbak sakit nggak?" Tanya Sandra membuat Kiran
mengerutkan dahinya.

"Kok kamu tahu?" Tanya Kiran.

Sandra dan Erna saling berpandangan karena sepertinya dugaan mereka benar. "Mas ini sepertinya
Mbak Kiran udah isi," ucap Sandra. "Mbak Kiran kurang nafsu makan dan mual," ucap Sandra lagi.

"Aku juga lemas dan sering mengantuk," ucap Kiran lagi membuat Sandra tersenyum.
"Udah kita tunggu suami kamu pulang untuk memastikannya!" Ucap Erna membuat Sandra tersenyum
dan ia menganggukkan kepalanya.

"Ya sudah kamu istirahat saja dikamar atau mau makan dulu? Mami suapin!" Ucap Erna membuat Kiran
tersenyum.

"Nggak usah Mi," ucap Kiran.

"Ran kalau suami kamu itu sakit dia manja banget loh sama Mami, maunya makan disuapin sama
Mami!" Ucap Erna membuat Kiran terkekeh.

"Hehehe....Ya ampun Mas udah gede masih mau

4/6

Sangat perhatian
disuapin," goda Kiran.

"Sekarang kalau Mas sakit kamu yang suapin!" Ucap Handaru. Erna tersenyum melihat kemesraan
Handaru dan Kiran berbeda dengan pasangan Marco dan Sandra. Marco sering kali sengaja ingin
membuat Sandar kesal, bahkan sesekali terdengar pertengkaran kecil diantara keduanya. Apalagi dua-
duanya terlihat saling cemburu, Marco tidak suka melihat istrinya terlalu tampil cantik jika pergi seorang
diri tanpa dirinya bahkan hanya dengan makeup saja Marco bisa sangat marah.

"Yaudah kita mandi ya!" Ajak Handaru dan ia menaikan sebelah alisnya membuat Kiran memukul lengan
Handaru karena malu.

"Kebiasan banget sih... Kamu Mas, jangan ngomong seperti itu didepan..." ucap Kiran dan wajahnya
bersemu merah.

Handaru menyunggingkan senyumannya dan ia memegang tangan istrinya itu lalu mengajaknya segera
berdiri. "Kita ke kamar dulu Mi, Sandra," ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Sandra.

"Iya jangan lama ya dikamar!" Goda Erna.

"Lama kayaknya Mi," ucap Handaru membuat Kiran menyebikkan bibirnya kesal dengan suaminya ini
karena telah membuatnya malu.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka yang berada dilantai dua, hari ini memang
rumah masih terlihat sepi karena si kecil Dikta belum pulang dari les privatnya. Tapi sebentar lagi akan
ada Dikta yang sering kali membuat tawa keluarganya karena tingkahnya, yang lucu bersama Marco
Papinya. Marco memang belum bisa keluar dari rumah ini jika ia belum memberikan anak kedua karena
kedua orang tua mereka itu tidak percaya jika hubungan Sandra dan Marco telah membaik. Abib dan
Erna
5/6

Sangat perhatian
ingin mengawasi keduanya.

Saat ini Kiran dan Handaru telah berada dikamarnya, Kira segera masuk kedalam kamar mandi dan
dengan jahilnya Handaru mengikutinya. "Mas aku mau mandi!"

Ucap Kiran.

"Mas juga," ucap Handaru.

"Jangan gila Mas, malu kalau kelamaan di kamar!"

Ucap Kiran karena ia tahu apa isi otak suaminya ini.

Handaru tersenyum menggoda dan ia memeluk istrinya ini dari belakang.

"Oke, karena hari ini kamu sedang sakit jadi kamu selamat sayang," ucap Handaru dan ia mengecup pipi
Kiran. "Pintunya jangan dikunci! Teriak kalau ada apa-apa!" Ucap Handaru karena ia takut istrinya itu
pingsan apalagi istrinya telihat sangat lemas saat ini.

"Iya Mas," ucap Kiran.

Comments

Vote

6/6

Persaudaraan yang erat.


Persaudaraan yang erat
Kiran merasa masih sangat lemas, setelah mandi ia memilih untuk berbaring diranjang dan mencoba
memejamkan matanya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur. Sebenarnya ia sangat lapar tapi karena mual ia
sangat sulit untuk memakan sesuatu. Terdengar suara langkah kaki yang datang mendekatinya
membuatnya segera menatap kearah pintu. Handaru melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar
bersama Marco dan ia duduk ditepi ranjang.

"Mas minta aku memeriksa istri Mas, tapi kenapa Mas seolah menghalangi aku dengan duduk disana,"
Ucap Marco membuat Kiran terkekeh.

"Oke, bilang kalau kamu langsung mau memeriksa Kiran, Marco!" Ucap Handaru.
"Memangnya kenapa aku masuk kesini Mas kalau bukan memeriksa Kiran, kamu pikir aku mau melihat
kemesraan kalian? Menyebalkan sekali kalian berdua," ucap Marco membuat Kiran terkekeh.

"Hehehe...kalian berdua ini lucu banget sih..." ucap Kiran.

"Lucu dari Hongkong," ucap Marco kesal.

"Yang sopan sama kakak ipar kamu Marco!" Kesal Handaru.

"Iya Mas," ucap Marco kesal dan ia segera mendekati Kiran, lalu memeriksa Kiran. Marco menghela
napasnya membuat Handaru menatap Marco dengan dingin dan ia penasaran kenapa adiknya bersikap
seperti ini. "Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini, Mbak?" Tanya Marco.

"Mual, pusing dan aku sering banget mengantuk,"

1/7

Persaudaraan yang erat


ucap Kiran.

"Marco istri Mas sakit apa?" Tanya Handaru dan ia menatap Marco dengan tatapan penasaran.

"Nggak sakit tapi hamil," ucap Marco.

"Alhamdulilah," ucap Kiran dan ia tersenyum senang.

Handaru mengerjapkan kedua matanya dan ia tadinya sempat berpikir yang tidak-tidak karena ekspresi
kurang ajar dari wajah Marco yang menyebalkan.

"Besok ke Rumah sakit jangan ditunda biar tahu gimana perkembangan janinnya!" Ucap Marco.

"Iya Dek, terimakasih..." ucap Handaru dan ia memeluk Kiran sambil mengecup semua permukaan wajah
Kiran.

"Mas geli, hehehe..." kekeh Kiran.

"Kebiasaan banget ya sok mesra," ucap Marco dan ia ingin menglangkahkan kakinya menjauh dari
mereka, namun suara dingin Handaru yang memanggilnya, membuatnya segera menghentikan langkah
kakinya.

"Marco..." panggil Handaru.

Marco mengalihkan pandangan menatap Handaru "Ada apa lagi Mas?" Tanya Marco.

"Kamu kenapa terlihat nggak suka istri Mas hamil?"

Tanya Handaru dingin dan ia ingin sekali memukul wajah adiknya ini hingga rasa kesalnya itu hilang.
"Bukan nggak suka tapi iri Mas," jujur Marco.

"Kamus udah punya anak juga masih iri sama, Mas," ucap Handaru.

"Kalau Larisa hamil, kami bisa segera kembali ke Rumah kami Mas dan karena Mbak Kiran yang hamil
duluan jadi kami yang akan tetap tinggal disini," ucap Marco membuat Handaru tersenyum.

"Kalau kamu nggak mau tinggal disini, kami mau kok tetap tinggal sama Mami dan Papi sesuai perjanjian
dulu,

2/7

Persaudaraan yang erat


kalau kamu dan Sandra nggak mau tinggal disini!" Ucap Kiran membuat Handaru tersenyum karena
istrinya ini, memang memegang teguh perjanjian yang telah ia ucapkan.

"Lagian Mami dan Papi juga lebih sering keluar negeri dan ke luar kota, lihat kebun milik mereka.
Sebentar lagi Papi pensiun dan dengan presiden baru nanti belum tentu Papi diajak lagi jadi Mentri,"
ucap Handaru.

"Mas nggak usah ngebodohin aku, Papi itu Mentri yang jujur dan pasti dia akan mendapatkan posisi lagi
di pemerintahan," ucap Marco. "Ini karena Larisa yang belum mau hamil lagi, masa hanya seminggu dua
kali saja ibadahnya harusnya kan tiap hari, ucap Marco.

"Astaga Marco, nggak tiap hari juga kali," ucap Handaru.

"Mbak yang minta jatah terus itu pasti Mas Handaru

3/7

Persaudaraan yang erat


kan Mbak? dia juga pasti sering setiap hari juga dan sama saja sama aku kan Mbak?" Tanya Marco
membuat Kiran terkekeh karena wajah Handaru merah padam saat ini.

"Sama aja, kalian berdua itu sama aja," ucap Kiran.

"Mas, nggak usah sok menasehati aku ya mas, kamu itu menyebalkan sekali Mas," ucap Marco.

"Udah keluar sana!" Usir Handaru.

"Nah ini dia habis manis sepah dibuang, tega sekali kamu Mas," ucap Marco melangkahkan kakinya
keluar dari kamar Handaru sambil tersenyum. la merasa ikut senang dengan kehamilan Kiran dan ia
sangat bersyukur karena Kiran dan Handaru terlihat sangat ingin segera memiliki anak.

Saat Handaru melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kiran dan Handaru, Erna dan Sandra mendekati
Marco. "Gimana Mas?" Tanya Sandra.
"Alhamdulillah sesuai harapan, Mbak Kiran hamil tapi untuk memastikan lebih lanjut, besok Mbak Kiran
ke dokter spesialis," ucap Marco.

"Alhamdulillah," ucap Erna dan Sandra tersenyum senang. Marco meminta salah satu maid untuk pergi
membeli obat agar mual agar nanti Kiran bisa makan malam ini.

Sementara itu Kiran sangat bahagia, ia meminta Handaru untuk berbaring bersamanya sambil
memeluknya dengan erat. "Kamu sedang hamil, jadi ingat kamu perlu banyak makan makanan bergizi,
meskipun mual kamu harus tetap makan!" Ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran tersenyum. "Mas...aku mau izin sama kamu," ucap Kiran dan ia ingin
menyampaikan sesuatu kepada Handaru.

4/7

Persaudaraan yang erat


"Ada apa?" Tanya Handaru dan ia mengelus kepala Kiran lalu mencium dahi Kiran dengan lembut.

"Mas aku sangat menyukai pekerjaanku Mas," ucap Kiran.

"Mas sudah bilang tidak meminta kamu untuk berhenti bekerja," ucap Handaru dan ia tahu
kekhawatiran istrinya ini.

"Iya Mas," ucap Kiran. "Hmmm...aku ada kekhawatiran Mas kalau aku terlalu sibuk, aku nggak bisa
menemani kamu dan kalau pulang aku pasti capek apalagi dalam kondisi hamil kayak gini. Aku juga jadi
lebih sensitif Mas, kalau dimarah sedikit-sedikit saja aku bisa nangis gitu," ucap Kiran.

"Jadi seminggu yang lalu kamu bertengkar sama siapa?" Tanya Handaru.

"Kok kamu tahu Mas, kalau aku waktu itu bertengkar di Kantor?" Tanya Kiran penasaran kenapa
suaminya ini tahu, jika tadi ada pertengkaran kecil diantara ia dan rekan kerjanya, tapi hal itu telah
membuatnya sangat kesal jika mengingatnya. Padahal dulu biasanya ia hanya tersenyum saja
menanggapi ucapan mereka.

"Mas tahu karena selama kamu di kantor, Mas masih bisa memantau kamu, hanya memantau karena
Mas ingin kamu tetap terjaga sayang," ucap Handaru. la memang memiliki teman salah satu kru dan ia
juga memberikan uang jajan kepada kru itu agar memberitahu apapun yang terjadi di Kantor tentang
istrinya.

Istrinya selama ini merasa kesulitan dengan ucapan rekan kerjanya yang sengaja ingin mencari masalah
dengannya. Apalagi salah satu rekan kerjanya itu, terlihat pamer ketika ia sedang hamil dan
pernikahannya masih dalam hitungan bulan. Tapi Kiran menjadi sensitif ketika mereka mengatakan Kiran
kurang subur dan sepertinya kurang gizi. Kiran yang dulunya bisa bersabar itu langsung

5/7
Persaudaraan yang erat
mengatakan kalau perempuan itu sepertinya sudah hamil duluan diluar pernikahan seperti gosip yang
beredar.

Keduanya hampir bertengkar hebat jika salah satu kru orang suruhan Ibra, tidak segera datang
menghentikannya dan mengajak Kiran agar segera bertemu asistennya yang telah menunggunya
didalam ruangan.

"Aku tu kesal Mas, keluarga kita aja nggak ada yang pernah membahas mengenai kita kapan punya anak.
Kok kenapa ditempat kerja aku hanya orang itu yang suka banget gangguin aku Mas. Dia kan
menganggap aku itu saingannya dalam bekerja Mas, tapi aku itu nggak. Aku terlalu fokus dengan
pekerjaanku selama ini dan mengabaikan hatinya yang sering kali kesal sama aku Mas, dengar-dengar
sih...suaminya yang sekarang itu fans berat aku," ucap Kiran.

""Kamu itu memang pantas dicintai sayang dan ada yang tidak suka karena kita tidak bisa membut
semua orang menyukai kita jika orang itu sudah benci sama kita," ucap Handaru.

"Iya Mas," ucap Kiran. "Hmmm...aku ingin mengurangi pekerjaanku Mas dan fokus sama kehamilanku
hingga nanti anak kita lahir," ucap Kiran.

"Semua keputusan ada ditangan kamu Kiran dan apapun yang kamu mau jika itu bukan hal yang
berbahaya, Mas akan menyetujuinya!" Ucap Handaru mengelus kepala Kiran dengan lembut, membuat
Kiran tersenyum mendengar ucapan istrinya ini.

"Iya Mas, aku cinta banget sama kamu. Dulu aku nggak akan percaya kamu bisa bersikap seperti sama
aku. Aku kira dulu kamu itu pemaksa sama kayak Defran," ucap Kiran.

Handaru menyunggingkan senyumannya karena mengingat sikap Defran yang sangat mencintai Lifia
dengan caranya. "Defran yang dibutuhkan Lifia begitu juga

6/7

Persaudaraan yang erat


dengan Lifia yang membutuhkan Defran, keduanya saling melengkapi," ucap Handaru.

"Hmm...Mas aku lapar tapi aku masih mual," ucap Kiran.

"Ayo makan sayang! nanti Mas suapin kamu makan.

Kalau kamu makan berdua sama Mas kayaknya nggak akan mual lagi!" Ucap Handaru membuat Kiran
tersenyum dan ia menganggukkan kepalanya.

"Iya Mas," ucap Kiran.


Keduanya melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Terlihat diruang makan
sosok Kana dan Lifia tersenyum melihatnya. "Mbak kangen...kita bawain Mbak vitamin dan obat loh,"
ucap Lifia.

Sandra dan Erna segera menghubungi Kana dan Lifia, lalu keduanya segera datang ke Rumah ini karena
merasa sangat bahagia dengan kabar gembira ini. "Ibu juga titip makanan kesukaan kamu katanya besok
Ibu akan kesini," ucap Kana. Kiran mendekati mereka lalu memeluk keduanya dengan erat, keduanya
adalah saudari yang selalu mendukungnya selama ini. Dari pekerjaan yang dulu susah sekali ia dapatkan
dan ia bahkan menceritakan banyak hal kepada mereka jika ia mengalami kesulitan.

Persaudaraan yang sangat erat antara ketiganya dari kecil, hingga telah sama-sama menikah seperti ini.

Comments

Vote

7/7

Ketika dia patah hati.


Ketika dia patah hati
Semua keluarga saat ini sedang berkumpul di Kediaman Abib Laksamana Dewandaru dan semuanya
terlihat sangat bahagia, ketika hadir diacara tujuh bulanan Kiran. Apalagi saat ini mereka ingin sekali
menghibur Kila yang katanya sedang patah hati, hingga beberapa bulan yang lalu memilih menyendiri di
Korea untuk menyembuhkan luka hatinya. Kila sangat menyukai Aryo, seorang dokter forensik yang
sangat gagah dan tampan. Namun Aryo memang tidak terlalu suka dengan sikap Kila yang ikut
kegiatannya yang berbahaya sedang Kila adalah sosok yang manja.

Kila ingin mengikuti kegiatan itu memang alasannya agar ia bisa menghabiskan banyak waktunya
bersama Aryo. Tapi yang membuat Aryo semakin marah kepada Kila karena Kila juga ingin menjadi
dokter forensik padahal sebenaranya Kila ingin menjadi dokter anak atau dokter spesialis bedah.

Kila sedang duduk santai di gazebo dan ia memainkan ponselnya sambil menyebikkan bibirnya, karena ia
merindukan sosok Aryo. Saat ini Sandra sedang duduk disampingnya dan ia menatap Kila dengan
tatapan penasaran. "Ada yang mau kamu ceritakan sama Mbak, Kila?" Tanya Sandra tersenyum lembut
membuat Kila menghela napasnya. "Mbak dengar kamu katanya siapa sih..Aryo? Nama Aryo banyak
yang Mbak kenal ini Aryo mana?" Ucap Sandra berpura-pura tidak tahu Aryo yang mana yang Kila suka.

"Mbak masa sih nggak tahu Aryo yang mana," ucap Kila kesal membuat Sandra terkekeh karena Kila
terlihat sangat menggemakan.

1/6
Ketika dia patah hati
"Mana Mbak tahu Dek, yang namanya Aryo kan ada juga loh temannya Mas Marco," ucap Sandra
membuat Kila menyebikkan bibirnya.

"Aryo kan hanya satu dihatinya Kila Mbak, hmmm... begini ceritanya Kila kan mau daftar dokter yang
pergi ke tempat rawan perang gitu Mbak, mau cari pengalaman ikut Mas Aryo tapi katanya nggak
boleh," ucap Kila sendu. "Aku juga dimarahin juga Mbak sama Mas Aryo dan kasar banget

gitu, bikin aku sedih banget Mbak," ucap Kila sendu mengingat bagaimana sosok Aryo marah padanya.

"Jadi karena itu kamu satu bulan liburan ke Korea?" Tanya Sandra.

"Sebenarnya Mbak bukan liburan, tapi lari dari rasa sakit hati dan berharap untuk sembuh tapi gagal.
Tetap saja cinta pertama itu sulit banget dilupakan," ucap Kila.

2/6

Ketika dia patah hati


"Mungkin dia khawatir sama kamu, makanya dia nggak mau kamu ikut," ucap Sandra.

"Kalau gitu aku juga khawatir sama dia Mbak," ucap Sandra membuat Kila lagi-lagi menghela napasnya.

Salsa sejak tadi mencuri dengar pembicaraan mereka dan ia segera duduk disamping Kila, sambil
merangkul Kila, "Udah nggak usah kecewa gitu Kila, kalau cari pasangan kita itu memang harus sabar
Kila, apalagi kalau suami kita kaya hmmm..suaminya Mbak Rima," ucap Salsa, membuat Sandra dan Kila
saling menatap.

"Ternyata Mbak juga sama kayak aku dan Mbak Sandra, kita juga agak gimana gitu dengan suami Mbak
Rima, katanya sih suami Mbak Rima itu serem gitu walau ganteng," ucap Kila.

Sandra menghela napasnya membuat Kila dan Rima saling menatap, "Cerita dong kenapa sih Mbak,
Mbak pasti tahu sesuatu gitu?" Tanya Kila.

"Iya Mbak, aku tahunya sedikit dari Mbak Kana, aku nggak mau tanya langsung sama Mbak Lifia atau
sama Mbak Rimanya, kan nggak enak," ucap Salsa.

"Hmmm...Kalau Mbak itu tahunya dari teman aku gitu di manajemen, sebenarnya waktu itu aku kira
suaminya Rima itu namanya Sakuta Sekala Kertanegara ternyata bukan," ucap Sandra.

"Namanya kan Ibra Kertanegara," ucap Salsa.

"Iya, Ibra dan dia itu sangat terkenal loh, kaya raya gitu tapi ada yang janggal sama dia," ucap Sandra
membuat bulu kuduk Salsa dan Kila meremang.

"Apa Mbak? kok jadi penasaran gini kaya kita lagi dengerin cerita horor gitu, menegangkan," ucap Salsa.
"Kalau menegangkan itu pasti karena suaminya Rima itu memang seorang pengusaha, tapi di juga kayak

3/6

Ketika dia patah hati


gengster gitu," ucap Sandra dengan suaranya yang pelan, takut Lifia dengar dan ia tidak enak jika
kedapatan sedang membicarakan saudarinya Lifia.

"Wah jadi gosip itu benar ya Mbak, ada juga yang bilang gitu pekerjaannya suami Mbak Rima itu bukan
hanya pemimpin perusahaan gitu, tapi juga kepala keluarga dari para gengster," ucap Salsa.

"Jadi karena itu Mbak Rima itu sulit sekali datang kemari sekarang, kalau dulu dia masih bisa datang
kumpul sama kita tapi kan suaminya nggak pernah datang," ucap Kila. "Pasti dilarang gitu ya Mbak,"
ucap Kila sendu.

"Pernah datang tapi gitu sikapnya dingin banget dan mau dihormati gitu katanya sih hanya Mas Defran
dan Mas Serkan, yang tahan menghadapinya, kalau Mas Ronal hehehe...dia bertengkar gitu sama
suaminya Mbak Rima. Malahan Mas Ronal sering bilang terus terang minta Mbak Rima cerai dari
suaminya," ucap Salsa.

"Ada yang bilang, kalau Suaminya Rima itu suka bertindak yang melanggar hukum gitu dan punya
bodyguard banyak sekali," ucap Sandra.

"Ya ampun padahal kan Mbak Rima itu orang nya lemah lembut gitu dan perempuan baik-baik gitu
kayak Mbak Lifia, yang nggak banyak ulah macam kita, Kil," ucap Salsa membuat Kila menatap Salsa
dengan bingung.

Kila. "Memangnya apa ulah kita sih, Mbak?" Tanya

"Kita itu sok cantik gitu dan percaya diri kita sangat tinggi, oleh karena itu kalau suka sama cowok kita
yang lebih agresif. Tapi sebenarnya kamu ya Kil yang nggak tahu malu gitu, kalau aku sih masih tahu
malu ya..." ucap Salsa.

"Namanya cinta kan harus diperjuangkan, udah banyak kok contohnya yang dapetin cintanya kerena dia
berusaha mendekati si cowok, contohnya Mbak Lifia," ucap

4/6

Ketika dia patah hati


Kila. Lifia menjadi panutannya dan ia ingin membuat hatinya terus bersabar menunggu, jika Aryo luluh
padanya.

"Kita ini ngegosip aja kalau ketemu ya hahaha..." tawa Salsa. "Padahal ini kita kumpul dalam rangka
acara buat besok tujuh bulanan Mbak Kiran, eh... Mbak Rima kayaknya nggak datang," ucap Salsa. Salsa
dan Kila memang menginap disini, agar mereka bisa seru-seruan sampai besok acara tujuh bulanan
kehamilan Kiran.

"Seperti yang kamu bilang, mungkin suaminya nggak ngebolehin dia keluar gitu," ucap Sandra.

"Untung ya Mbak, Mas Marco nggak kayak gitu ya Mbak," ucap Kila.

"Wah kamu nggak tahu aja Dek, awal-awal menikah Mbak Sandra itu nggak boleh keluar rumah gitu
alias dikurung ya Mbak," ucap Salsa.

"Nah...ini kok jadi ceritanya Mbak sih..." ucap Sandra.

"Coba sekarang ceritakan tentang kisah asmara kamu sama Dokter Zilo?" Pinta Sandra.

"Nggak ada yang menarik Mbak kalau tentang dia," ucap Salsa.

"Berantem lagi?" Tanya Kila.

"Udah cerita yang lainnya aja kenapa sih...nggak ada yang menarik kalau bahas aku!" Ucap Salsa
membuat Kila dan Sandra terkekeh.

"Giliran bahas masalahnya dia, dia nggak mau Mbak tapi giliran bahas masalah kita wah...semangat
banget," ucap Kila protes karena Salsa jarang sekali menceritakan tentang perasaannya yang sebenarnya
kepada Zilo.

5/6

Misi.
Misi
Malam ini semua keluarga sedang bekumpul dan besok acara tujuh bulan akan segera dilaksanakan.

Kediaman Abib Laksmana telah dihias dengan indah dan semua keluarga merasa sangat bahagia malam
ini, tapi tidak dengan Salsa yang terlihat sangat kesal karena ternyata Zilo datang malam ini bersama
Aryo. Entah mengapa keduanya bisa diundang malam ini padahal, acara tujuh bulanan kehamilan Kiran
akan diadakan besok.

Dengan sangat terpaksa Salsa harus bertemu dengan Zilo setelah beberapa hari yang lalu, ia juga merasa
sangat kesal dengan tingkah Zilo.

Kiran mengelus perutnya yang telah membesar, ia memang telah mengurangi semua aktivitasnya saat
ini dan fokus pada kehamilannya. "Udah gede Mbak, udah nendang-nendang," ucap Kiran dan memanen
kehamilannya ini sangat ia nikmati apalagi ada Handaru yang sangat perhatian padanya.

"Iya," ucap Kana dan ia tersenyum melihat adiknya yang terlihat sangat bahagia. "Sehat-sehat
keponakanku tersayang," ucap Kana mengelus perut Kiran.
"Salsa kenapa duduk disini?" Tanya Kiran melihat kerah Salsa yang sejak tadi masih tetap duduk santai
padahal Zilo sejak tadi telah datang.

"Kenapa Mbak? Emang aku harus duduk di mana?" Tanya Salsa.

"Disana dong ada tamunya kamu loh...tunangan tersayang!" Goda Kana.

"Nggak gitu juga kali Mbak," ucap Salsa kesal.

"Loh...Kamu nggak berbakti banget loh Dek, sana tawarin makan Dek!" Ucap Kiran.

1/6

Misi
"Sekarang itu statusnya dia itu sebagai tamunya Mbak Kiran loh dan kenapa harus aku yang ajakin dia
makan," ucap Salsa, membuat sosok Liana yang berada tepat dibelakang Salsa segera menjewer telinga
Salsa.

"Aw..Mami sakit..." kesal Salsa membaut Liana segera melepaskan tangannya yang sedang menarik daun
telinga Salsa.

"Sa, dia itu calon suami kamu, kamu jangan nggak berbakti begini...sana ke Zilo! Kebiasaan banget kalau
Mami nggak bilang sama dia kamu disini, kamu nggak akan kasih tahu kalau malam ini kamu menginap
disini," ucap Liana membuat Salsa menyebikkan bibirnya. "Ingat ya kamu sudah dikasih kesempatan cari
sendiri calon suami kamu dan tiga kali gagal jadi kamu mesti nurut apa kata orang tua!" Ucap Liana
membuat Salsa menghela napasnya.

Salsa memang telah gagal dalam menemukan calon suami impiannya dan keluarganya hanya
memberikan kesempatan untuknya sebanyak tiga kali. Jika Salsa gagal, apalagi menemukan sesuatu hal
yang tidak baik dari calon suaminya yang tidak bisa diterima keluarga mereka, maka calon suami pilihan
Salsa itu dianggap tidak pantas menjadi calon menantu di keluarganya.

"Udah Sana dekatin Zilo yang sudah jauh-jauh datang kemari, kan nggak enak Sa!" Ucap Kiran.

"Astaga belum tunangan sudah dianggap tunangan," kesal Salsa.

"Kalian itu sudah tunangan, makanya kamu dapat cincin dari orang tua Zilo, cukup orang tua saja dulu
yang atur semuanya dan kamu sama Zilo tinggal menjalaninya saja!" Ucap Liana membuat Salsa
membuka mulutnya dan ia tidak habis pikir dengan keluarganya ini yang sangat menyukai Zilo si muka
datar itu.

"Mi...kenapa sih repot-repot begini mengurusi tentang

2/6
Misi
pernikahan aku Mi," ucap Salsa.

"Kalau kamu nggak mau direpotin sama Mami kamu putar waktu dan saat mau turun kedunia kamu
bilang kalau kamu menolak lahir dari rahim Mami!" Ucap Liana kesal kepada putrinya yang sangat keras
kepala.

Salsa melangkahkan kakinya menjauh dari mereka dan ia menuju ruangan di mana Zilo berada, namun
kakinya terhenti ketika melihat sosok Kila yang

bersembunyi dibalik pilar, namun tatapan matanya tertuju pada sosok Aryo yang sedang berbincang
bersama Zilo, Defran, Handaru, Serkan dan Fajrin. "Hey..." ucap Salsa menepuk pundak Kila.

"Astaga Mbak mengejutkan banget sih..." kesal Kila sambil mengelus dadanya dan ia menatap Salsa
dengan kesal.

"Kamu ngapain Kila sayang? Ngintip?" Tanya Salsa

3/6

Misi
melihat tingkah Kila yang sengaja menguping pembicaraan para lelaki diruangan ini.

"Ya gitu deh ngintip orang ganteng lagi ngobrol, tapi kan nggak dosa Mbak," ucap Kila.

"Dosa, siapa bilang nggak dosa, apalagi kalau pembicaraan mereka jadi gosip dan kamu sampaikan
rahasia mereka kepada orang lain," ucap Salsa membuat Kila terkekeh. "Tapi malu-maluin Kil, katanya
udah putus asa, tapi ini kok kamu jadi kayak gini binall banget pakek ngintip segala Kil," ucap Salsa.

"Astaga Mbak bahasa kamu itu mengerikan banget Mbak," kesal Kila. "Selama janur kuningnya Mas Aryo
belum dimiliki siapapun, aku masih punya harapan," ucap Kila.

"Lebay banget sih kamu Dek, sebentar-sebentar patah hati terus kamu balik lagi bucin, nggak ngerti aku
sama kamu," ucap Salsa.

Kila menyunggingkan senyumannya dan sepertinya, saat ini Salsa pasti sangat kesal dengan tingkah
Maminya, yang memaksanya mendekati Zilo yang juga sedang duduk didekat Aryo pujaan hatinya.
"Kamu yang seperti ini mirip banget tahu sama Mbak Lifia, bucin dan terkadang kamu ini bertingkah
aneh nggak jelas, tapi untungnya Mas Defran cinta banget sama Mbak Lifia," ucap Salsa.

"Mbak juga suka kan sama Dokter Zilo nggak mungkin kalau nggak ada rasa kagum, sama dokter hebat
seperti Dokter Zilo," ucap Kila.

"Kagum sih...kagum Kila tapi bukan berarti jatuh cinta Kila," ucap Salsa membuat Kila terkekeh.
"Dari pada dimarahin Mami lebih baik Mbak kesana gitu ngobrol bentar sama Dokter Zilo yang tampan!"
Ucap Kila.

"Kamu nggak usah sok ngajarin Mbak ya Dek, kamu juga begitu loh...jangan hanya bisa ngintip begini!
Sana

4/6

Misi
kamu samperin Mas Aryo!" Ucap Salsa.

"Aku merasa malu gitu loh Mbak kalau datang deketin dia secara langsung didepan keluarga, karena aku
kan nggak ada status kayak Mbak," jago Kila.

"Status apaan? Aku sama dia itu belum ada hubungan apa-apa!" jelas Salsa.

"Jelas ada hubungan Mbak, semua orang di Rumah ini tahu loh kalau kalian itu udah tukaran cincin,"
ucap Kila.

"Yang tukaran cincin itu para orang tua, aku dan dia nggak ada komitmen hubungan apa-apa!" Ucap
Salsa.

"Ada loh Mbak...simbolis orang tua itu namanya pertunangan Mbak, hanya saja belum diadakan secara
umum gitu lamarannya hanya diantara orang tua saja," ucap Kila.

Salsa tahu benar jika ucapan Kila itu memang benar, laki-laki yang bernama Arzilo Alexander ini memang
adalah calon suaminya, yang telah dipilihkan keluarganya. Sekarang waktunya baginya untuk membujuk
Zilo agar menolak menikah dengannya. "Hayo Mbak masih nggak mau ngaku kalau Mas Zilo itu
tunangan Mbak? Kalau Mbak nggak ngaku begini Mbak, nanti kalau Mami Liana tahu beliau akan sangat
terluka," jelas Kila.

"Aku kan udah ngaku Kil, kalau dia itu tunangan aku!

Aku nggak ada niat tuh mau nyakitin Mami," lirih Salsa.

"Yaudah Mbak lanjutkan misi Mbak dan aku akan melanjutkan misi aku Mbak!" Ucap Kila.

"Misi apa lagi? Nyebelin banget kamu Kila," ucap Salsa kesal.

"Misi melayani calon suami dengan baik, itu ajak ngobrol Mas Zilo, ehhh...Mas kan ya panggilannya?
Tapi mbak apa Dokter Zilo tahu tentang makna cincin?" tanya.

5/6
Karena Mami.
Karena Mami
Melayani calon suami yang datang keacara keluarganya, itu yang saat ini harus Salsa lakukan. Ya...Salsa
sangat kesal karena hubungannya dengan Zilo, tidak seperti dengan apa yang dipikirkan keluarganya. la
bahkan jarang berbicara dengan makhluk yang selalu dieluhkan banyak perempuan itu dan Salsa tidak
tahu lagi harus berbuat apa lagi, agar ia bisa menolak perjodohan itu. la memang telah kalah bertaruh
dari Maminya dan itu membuatnya harus menerima segala konsekuensinya yaitu harus menikah dengan
Arzilo Alexsander.

"Yaudah Mbak sana nanti Mbak dimarahin Mami kan bisa repot apalagi kalau dimarahin Mami didepan
para Mas..." ucap Kila dan ucapan Kila benar, ia belum siap dimarahi Maminya didepan Zilo. Jika itu
terjadi, Zilo akan menjadi besar kepala padanya dan merasa diatas angin karena mendapatkan
dukungan.

Salsa melangkahkan kakinya mendekati mereka dan ia menghela napasnya saat melihat sosok Zilo yang
hanya melihatnya sekilas padanya dan kemudian sibuk berbincang dengan Handaru. 'Astaga
menyebalkan banget kamu Zilo, Batin Salsa kesal.

Kaki Salsa terasa sangat berat untuk berjalan agar lebih dekat dengan Zilo. Salsa menghembuskan
napasnya, jika ia tidak mendekati Zilo sekarang juga dan ia tidak mengajak Zilo ke belakang bertemu
Maminya sebagai bukti kalau ia sudah melaksanakan perintahnya, ia pasti akan mendapatkan hukuman
yang berat dari Maminya. "Permisi..." ucap Salsa membuat mereka yang sedang duduk bersantai sambil
berbincang melihat kearah Salsa.

1/6

Karena Mami
"Ada apa, Sa?" Tanya Defran.

"Itu tuh..." ucap Salsa menujuk Zilo. "Ada perlu!" Ucap Salsa dan ia mendekati Zilo lalu menarik tangan
Zilo agar mengikutinya, membuat mereka semua tersenyum melihat tingkah Salsa yang sangat
menggemaskan.

"Cie Salsa, mau ngapain... Sa?" Tanya Marco sengaja ingin menggoda Salsa, membuat Salsa sangat kesal
dengan tingkah kekanak-kanakan Marco.

"Udah Mas nggak usah ikut campur!" Kesal Salsa dan ia menatap Zilo dengan kesal. "Kamu ikut aku!"
Ucap Salsa.

Zilo mengangkat sebelah alisnya dan ia terpaksa

mengikuti langkah kaki Salsa dan ia sengaja menahan kakinya, agar Salsa sulit menariknya hingga semua
keluarganya terkekeh melihat tingkah Salsa dan Zilo. "Kurang ajar banget kamu Mas, ikut sekarang!"
Ucap Salsa kesal. "Cepetan Mas, jangan keras kepala! Ingat ini bukan rumah sakit!" Ucap Salsa
memperingatkan Zilo jika saat ini ia yang lebih berkuasa ditempat ini.

Entah keberanian dari mana yang dimiliki Salsa, hingga ia berani menarik Zilo dengan kasar seperti ini
dan jika di Rumah Sakit, Salsa tidak akan berani melakukan hal ini kepada Zilo. "Kita perlu bicara Mas!"
Ucap Salsa dan ia tidak ingin Zilo menolaknya.

"Bicara apa?" Tanya Zilo melipat kedua tangannya membuat Salsa sulit untuk memegang tangan Zilo.

"Jangan disini, disana saja!" Ucap Salsa menujuk tempat dimana Maminya sedang duduk besantai
bersama

kakak iparnya, membuat Zilo mengerutkan dahinya.

"Disini saja!" Ucap Zilo.

"Mana bisa, kalau aku nggak ngajakin kamu kesana aku bisa dimarah sama Mami, paling nggak aku
ngelapor dulu kalau aku sudah ngajak kamu bicara!" Ucap Salsa.

2/6

Karena Mami
Zilo mengerutkan dahinya namun tiba-tiba Salsa kembali menarik tangannya, lalu menggenggam
tangannya. Salsa membuatnya memilih untuk mengikuti Salsa mendekati Liana Maminya Salsa yang juga
sosok yang memprakarsai perjodohannya dengan Salsa. Salsa mengajak Zilo mendekati mereka dan ia
melihat sosok Liana tersenyum senang melihatnya.

"Calon menantu Mami, sudah makan Nak?" Tanya

Liana.

"Pasti sudah Mi di Rumahnya dong, Maminya kan sudah menyiapkan makanan enak, iya Kan
Mas...masakan Maminya pasti the best kayak masakan Mamiku ini," ucap Salsa membuat Liana
menghela napasnya.

"Awas ya kalau kamu bilang masakan Mami Sesil itu enak didepan dia, kamu ngejek namanya!" Ucap
Liana membuat Salsa mengerjapkan kedua matanya.

3/6

Karena Mami
"Maksudnya apa sih Mi...?" Tanya Salsa.

"Aduh ini anak harus sering kamu ajak main ke Rumah kamu Zilo biar terbiasa nanti, apalagi kalau kalian
sudah menikah dia juga harus beradaptasi sama keluarga kamu!" Ucap Liana.
"Oke Mi," ucap Zilo singkat.

Salsa terkadang tidak mengerti dengan sikap Zilo yang terkadang bisa pendiam sekali dan menjawab
ucapan orang lain dengan singkat. Salsa yang banyak bicara ini, terkadang merasa terhina jika berada
disamping Zilo yang memilih diam jika ia tidak bertanya.

"Nak...Zilo makan ya itu Slasa temanin kalau perlu minta disuapin sama Salsa!" Ucap Liana.

'Mau disuapin? Ya ampun Mami benar-benar memanjat aku itu malu banget loh...Mi. Ngapain juga aku
yang suapin dia, dia punya tangan...' Batin Salsa kesal dengan tingkah Maminya ini.

"Salsa...sayang, itu kamu siapkan makanan untuk calon suami kamu, ajak Zilo makan didekat kolam itu!"
Pinta Liana menujuk sofa yang berada didekat kolam renang. Sebagai anak yang baik yang telah banyak
diberikan kesempatan namun gagal, Salsa sulit untuk menolak perintah sang Mami.

"Iya Mi, Mas kamu tunggu disana dan jangan kemana-mana!" Ucap Salsa.

Zilo tidak mengatakan ya membuat Salsa segera melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil
sepiring makanan. "Lagi ngapain Sa?" Tanya Kana sengaja ingin menggoda Salsa.

"Udah Mbak nggak usah tanya-tanya, nyebelin banget...!" Ucap Salsa membuat Kana terkekeh. Apalagi
Kana sengaja mengambil video Salsa yang sedang mengambil sepiring makanan untuk Zilo.

4/6

Karena Mami
"Begini ceritanya, Salsa mau nyuapin calon suami," goda Kana sambil mengarahkan kamera ponselnya
kearah Salsa. "Mereka itu kalau didepan kita saja kayak kucing sama anjingg tapi kalau sudah ketemu
berdua wah...pasti sangat mesrah banget," ucap Kana.

"Wah suami istri sekrang sudah pada jahil semua,"

sinis Salsa membuat Kana terkekeh. Kapan lagi ia bisa membuat Salsa kesal seperti ini.m dan ternyata
suaminya Serkan juga sangat sering mengganggu Salsa.

Salsa mempercepat langkah kakinya dan suara pesan masuk diponselnya berbunyi, ia sudah bisa
menduga pembicaraan apa yang saat ini sedang mereka bicarakan digrup. Pasti mereka sedang
membahas video yang dikirimkan Kana di chat grup keluarga. "Dasar jahil," kesal Salsa.

Salsa melangkahkan kakinya menuju kolam samping dimana Zilo sedang menunggunya namun setelah ia
sampai didekat kolam renang sosok Zilo sama sekali tidak terlihat dan itu membuatnya sangat kesal.
Salsa menghentak-hentakkan kakinya karena ia benar-benar kesal dengan tingkah Zilo. Zilo sama sekali
tidak menuruti perintahnya dan sekarang ia harus mencari keberadaan Zilo. Salsa melangkahkan kakinya
mencari keberadaan Zilo dan benar saja Zilo kembali duduk bersama para lelaki di Rumah ini.

"Mas..." ucap Salsa membuat Zilo mengerutkan dahinya.


'Astaga lo...nggak ngerti bahasa manusia ya Zilo, otak aja lo pintar tapi ternyata lo nggak ngerti perintah,
lo kalah sama kucing yang sangat penurut, Batin Salsa kesal.

"Dipanggil lagi Zil," ucap Defran. "Udah sana makan dulu!" Ucap Defran dan ia tersenyum kepada Salsa
yang menunjukkan ekspresi kesal saat ini.

Salsa mendekati Zilo dan ia memberikan piring bersisi

5/6

Karena Mami
makanan kepada Zilo. "Ini makanannya!" Ucap Salsa.

"Suapin Zilo, Sa! Hari ini tangannya pasti sangat capek karena tadi ada beberapa operasi yang tadi dia
kerjakan," Jelas Defran membuat Salsa ingin sekali menonjok wajah Defran yang terlihat sangat
menyebalkan dan berani mengganggunya.

"Dia ada tangan masih sehat, bisa makan sendiri!" ucap Salsa kesal dan ia melangkahkan kakinya
menjauh dari mereka semua yang tersenyum melihat tingkahnya.

37

Comments

Vote

6/6

Anda mungkin juga menyukai