E-ISSN: 2579-9258 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika
P-ISSN: 2614-3038 Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan
Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat Tali Dzikir di Madrasah
Ibtidaiyah
Alfiatur Rohmaniyah1, Muhammad Dzimar2
1, Program Studi Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, UIN KH. Abdurrahman Wahid
2 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN KH. Abdurrahman Wahid
Jalan Kusuma Bangsa No. 9, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
alfiatur.rohmaniyah24010@[Link]
Abstract
Mathematics learning in madrasah ibtidaiyah often faces challenges related to the abstract nature of concepts and
low student motivation, particularly in the topic of Least Common Multiple (LCM). Many instructional
approaches have yet to fully integrate cognitive, affective, and spiritual dimensions holistically. This study aims
to explore the implementation of the Lompat Tali Dzikir method in teaching LCM at madrasah ibtidaiyah and
examine its impact on conceptual understanding, student engagement, and the integration of spiritual values
through traditional games. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through
observation, interviews, and documentation involving fifth-grade teachers and students. The findings reveal that
this method effectively enhances students’ engagement and understanding of LCM in a concrete way, while also
reviving traditional games that are increasingly being abandoned. Moreover, the integration of dzikir (Islamic
remembrance) within the learning process strengthens students’ spiritual values, positively influencing their
attitudes and character. This research addresses a gap in previous studies that have rarely combined mathematics
learning with cultural and spiritual elements simultaneously. The method presents a promising alternative for
contextual-religious learning that supports the development of Pancasila student profiles and Islamic values.
Keywords: Lompat Tali Dzikir, LCM, Contextual Learning, Spirituality, Traditional Games
Abstrak
Pembelajaran matematika di madrasah ibtidaiyah sering kali dihadapkan pada tantangan abstraksi konsep dan
rendahnya motivasi belajar siswa, terutama pada materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Banyak
pendekatan pembelajaran belum mampu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara
menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan metode Lompat Tali Dzikir dalam
pembelajaran KPK di madrasah ibtidaiyah, serta mengkaji dampaknya terhadap pemahaman konsep, keterlibatan
belajar siswa, dan integrasi nilai spiritual melalui permainan tradisional. Studi ini menggunakan metode kualitatif
deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap guru dan
siswa kelas V madrasah ibtidaiyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan
keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap konsep KPK secara konkret, serta menghidupkan kembali
permainan tradisional yang mulai ditinggalkan. Selain itu, aktivitas dzikir yang terintegrasi dalam proses belajar
memberikan penguatan spiritual yang berdampak positif pada sikap dan karakter siswa. Penelitian ini mengisi
celah kajian sebelumnya yang jarang mengaitkan pembelajaran matematika dengan elemen budaya dan
spiritualitas secara simultan. Metode ini berpotensi menjadi alternatif pembelajaran kontekstual-religius yang
mendukung penguatan profil pelajar Pancasila dan nilai-nilai Islam.
Kata kunci: Lompat Tali Dzikir, KPK, Pembelajaran Kontekstual, Spiritualitas, Permainan Tradisional
Copyright (c) 2025 Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar
Corresponding author: Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar
Email Address: alfiatur.rohmaniyah24010@[Link] (Kusuma Bangsa, Pekalongan, Jawa Tengah)
Received 22 May 2025, Accepted 04 July 2025, Published 05 December 2025
DoI: [Link]
PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) memegang peran krusial
dalam membentuk fondasi berpikir logis dan sistematis bagi peserta didik usia dini. Namun, dalam
praktiknya, pembelajaran matematika seringkali menghadapi tantangan kompleks, terutama ketika
2 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
berkaitan dengan materi abstrak seperti Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Konsep KPK
memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sementara karakteristik kognitif siswa MI cenderung
masih berada pada tahap operasional konkret. Hal ini mengakibatkan banyak siswa mengalami
kesulitan dalam memahami materi secara mendalam. Tidak hanya itu, motivasi belajar siswa juga
cenderung rendah, terutama ketika pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat monoton dan
kurang kontekstual (Suryani, 2020).
Secara teoretis, pembelajaran matematika yang efektif seharusnya mampu mengintegrasikan
aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara menyeluruh. Teori konstruktivisme, misalnya, menekankan
pentingnya pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual, di mana siswa aktif membangun
pengetahuannya sendiri melalui interaksi sosial dan lingkungan(Vygotsky, 1978). Selain itu,
pendekatan pendidikan holistik dan pendidikan karakter menuntut keterpaduan antara penguasaan
materi akademik dengan penanaman nilai-nilai moral dan spiritual. Dalam konteks madrasah, integrasi
nilai-nilai Islam dalam pembelajaran tidak hanya relevan, tetapi menjadi keniscayaan dalam
mendukung pembentukan kepribadian yang utuh.
State of the art menunjukkan bahwa berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk
menjawab tantangan dalam pembelajaran matematika tingkat dasar. Fauziah ( 2020) mengembangkan
media visual interaktif berbasis teknologi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap KPK dan
FPB. Penelitian Nurhayati dan Yusuf (2020) menunjukkan efektivitas permainan edukatif berbasis
kartu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Sari et al.(2022) menekankan pentingnya
pembelajaran kontekstual dengan melibatkan pengalaman konkret siswa dalam memahami konsep
abstrak matematika. Studi dari Lestari dan Pamungkas (2023) mengungkap bahwa pembelajaran
berbasis proyek mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam materi matematika. Di sisi lain,
Rahmawati(2022) menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran
matematika untuk memperkuat karakter religius siswa madrasah. Terakhir, Wulandari dan Hidayat
(2023) menyatakan bahwa penggunaan permainan tradisional dalam pembelajaran matematika dapat
menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan efektif, meskipun belum secara eksplisit
melibatkan aspek spiritual.
Namun demikian, terdapat kesenjangan (gap) yang cukup mencolok dari kajian-kajian
tersebut. Sebagian besar penelitian masih menekankan pada aspek visual, teknologi, atau pendekatan
kontekstual umum, tanpa mengaitkan secara langsung pembelajaran matematika dengan praktik
ibadah atau nilai spiritual. Pendekatan yang memadukan permainan tradisional dengan unsur religius,
khususnya dzikir, dalam konteks pembelajaran matematika masih sangat minim ditemukan. Padahal,
lingkungan madrasah yang berbasis nilai-nilai Islam justru memberikan peluang besar untuk
menerapkan pembelajaran yang menyatukan aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara utuh
(Muttaqin, M., & Hamdani, 2022). Maka dari itu, pendekatan integratif berbasis budaya dan keislaman
menjadi ruang inovasi yang belum tergarap secara maksimal.
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat
Tali Dzikir di Madrasah Ibtidaiyah, Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar 3
Selain itu, berbagai studi ilmiah menunjukkan bahwa pembelajaran matematika di jenjang
pendidikan dasar, termasuk di madrasah, masih didominasi oleh pendekatan konvensional yang
berorientasi pada prosedur, hafalan rumus, dan latihan soal mekanistik. Penelitian oleh Putri & Suryadi
(2020) menunjukkan bahwa lebih dari 65% guru di sekolah dasar menggunakan metode ceramah
dalam mengajarkan konsep matematika abstrak seperti KPK dan FPB, tanpa memberikan pengalaman
belajar konkret yang relevan bagi anak. Hal ini berdampak pada rendahnya kemampuan pemecahan
masalah dan berpikir kritis siswa. Studi lain [Link], Z., Nurhadi, D., & Wulandari (2021)
mengungkap bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar cenderung gagal mengaitkan materi
dengan kehidupan sehari-hari dan tidak mengembangkan aspek afektif dan nilai karakter secara
optimal.
Selain itu, hasil riset nasional yang dilakukan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran
(Pusmenjar) Kemendikbudristek (2020) menyatakan bahwa mayoritas siswa sekolah dasar dan MI
menunjukkan kesulitan memahami materi matematika dasar karena pembelajaran tidak kontekstual
dan tidak berbasis aktivitas nyata. Data Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) 2021 juga
menunjukkan bahwa lebih dari 50% siswa SD/MI belum mencapai level minimum dalam numerasi,
termasuk dalam memahami konsep dasar kelipatan dan faktor .
Tak hanya dari sisi kognitif, dimensi afektif dan spiritual yang seharusnya menjadi ciri khas
pembelajaran di madrasah juga belum diintegrasikan secara sistematis dalam pembelajaran
matematika. Hasil studi oleh Rahman A. & Zakiyah (2020) menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman
di madrasah lebih sering dihadirkan secara normatif di luar kelas (seperti dalam kegiatan keagamaan),
dan jarang dikontekstualisasikan ke dalam mata pelajaran umum seperti matematika. Padahal, integrasi
nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran terbukti mampu meningkatkan makna belajar, motivasi
internal siswa, serta memperkuat pembentukan karakter religius (Muttaqin, M., & Hamdani, 2022).
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa permasalahan dalam pembelajaran matematika
tidak hanya terkait dengan pendekatan pengajaran yang terlalu prosedural, tetapi juga mencakup
minimnya integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam proses pembelajaran. Masalah
ini bersifat struktural dan sistemik, sebagaimana dipaparkan oleh berbagai lembaga dan jurnal
akademik nasional, dan karenanya membutuhkan solusi inovatif yang bersifat integratif dan
kontekstual.
Sebagai jawaban atas permasalahan tersebut, penelitian ini menghadirkan pendekatan inovatif
berupa metode Lompat Tali Dzikir, yang mengintegrasikan permainan tradisional lompat tali dengan
praktik spiritual dzikir dalam pembelajaran matematika. Metode ini dirancang tidak hanya untuk
mengaktifkan fisik dan kognisi siswa, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman dalam proses
belajar. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,
bermakna, dan religius sekaligus membumikan materi abstrak seperti KPK dalam konteks yang lebih
dekat dengan pengalaman hidup siswa.
4 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
Dengan mengintegrasikan elemen budaya lokal, pengalaman kinestetik, dan nilai-nilai
spiritual, metode ini tidak hanya menawarkan solusi atas kesulitan siswa dalam memahami konsep
KPK, tetapi juga menjadi model pembelajaran kontekstual-religius yang mendukung penguatan Profil
Pelajar Pancasila dan pendidikan karakter Islami.
Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penerapan metode
Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran matematika materi KPK di kelas V Madrasah Ibtidaiyah.
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode tersebut terhadap pemahaman
konsep KPK, peningkatan keterlibatan aktif siswa, serta penguatan nilai spiritual dalam proses belajar.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengisi celah penelitian sebelumnya sekaligus memberikan
kontribusi nyata dalam inovasi pembelajaran matematika yang kontekstual, bermuatan budaya, dan
religius di lingkungan madrasah.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk
mengeksplorasi secara mendalam proses penerapan metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran
matematika, khususnya materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) di Madrasah Ibtidaiyah .
Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara kontekstual bagaimana
metode ini memengaruhi pemahaman konsep siswa, keterlibatan mereka dalam proses belajar, serta
integrasi nilai-nilai spiritual Islam melalui permainan tradisional. Penelitian ini tidak bertujuan
menggeneralisasi, melainkan mengungkap makna, praktik, dan pengalaman belajar secara utuh.
Penelitian dilaksanakan di MI Walisongo Kranji 02 dengan partisipan utama terdiri dari guru
matematika kelas V D serta siswa kelas V D yang mengikuti proses pembelajaran menggunakan
metode Lompat Tali Dzikir. Pemilihan lokasi dan subjek dilakukan secara purposive dengan
pertimbangan bahwa madrasah ini telah menerapkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan
unsur kognitif, afektif, dan spiritual.
Data dikumpulkan menggunakan tiga teknik utama berikut:
Observasi Partisipatif
Peneliti mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya saat metode
Lompat Tali Dzikir diterapkan. Observasi difokuskan pada bagaimana metode ini digunakan oleh guru,
respons dan interaksi siswa selama kegiatan berlangsung, serta munculnya unsur keterlibatan
emosional dan spiritual di dalamnya.
Wawancara Semi-Terstruktur
Wawancara dilakukan terhadap guru dan beberapa siswa terpilih untuk menggali pemahaman
mereka mengenai konsep KPK sebelum dan sesudah penerapan metode, pengalaman belajar yang
dirasakan, serta persepsi terhadap integrasi unsur dzikir dan permainan tradisional. Pertanyaan bersifat
terbuka agar peserta dapat mengungkapkan pendapat secara reflektif dan mendalam.
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat
Tali Dzikir di Madrasah Ibtidaiyah, Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar 5
Dokumentasi
Data dokumentasi dikumpulkan dari catatan guru, foto dan video kegiatan pembelajaran,
lembar kerja siswa, serta perangkat ajar. Dokumentasi ini digunakan untuk mendukung dan
memverifikasi data observasi dan wawancara, serta menampilkan bukti konkret penerapan metode
dalam konteks nyata.
Data dianalisis menggunakan analisis tematik (thematic analysis) sebagaimana dijelaskan oleh
Febriandiela & Fitrisia, (2023), melalui enam langkah sistematis:
1. Familiarisasi dengan data, dengan membaca dan meninjau berulang seluruh catatan observasi,
transkrip wawancara, dan dokumentasi,
2. Pembuatan kode awal (initial coding) terhadap data yang berkaitan dengan aspek penerapan
metode, pemahaman konsep, keterlibatan siswa, dan nilai spiritual
3. Identifikasi tema, yaitu pola-pola makna yang muncul dari data yang dikodekan,
4. Penelaahan tema, untuk memastikan relevansi dan konsistensi antar-data dan antar-subjek,
5. Penamaan dan definisi tema, sehingga setiap temuan memiliki makna yang jelas dan sistematis,
6. Penyusunan narasi hasil, yang menyajikan temuan secara runtut dan sesuai dengan tujuan
penelitian.
Analisis dilakukan secara reflektif dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya, karakteristik
pendidikan di madrasah, dan tujuan pembelajaran matematika yang integratif. Untuk menjamin
keabsahan (trustworthiness) data, penelitian ini menggunakan empat kriteria dari Luthfiyani &
Murhayati (2024).
1. Kredibilitas diperoleh melalui triangulasi teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan
dokumentasi) dan member checking kepada informan untuk memastikan kebenaran data yang
ditranskrip.
2. Transferabilitas dijaga dengan memberikan deskripsi konteks penelitian secara mendetail,
sehingga memungkinkan pembaca untuk menilai relevansi temuan terhadap konteks lain yang
serupa.
3. Dependabilitas dicapai dengan mencatat seluruh prosedur penelitian secara sistematis dan
transparan, sehingga memungkinkan untuk direplikasi dalam konteks berbeda.
4. Konfirmabilitas dijaga melalui audit trail dan refleksi kritis peneliti untuk memastikan bahwa
interpretasi data bebas dari bias personal dan sepenuhnya didasarkan pada temuan empiris.
HASIL DAN DISKUSI
Implementasi Metode Lompat Tali Dzikir
Implementasi metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran matematika materi Kelipatan
Persekutuan Terkecil (KPK) menunjukkan keberhasilan integrasi pendekatan kontekstual, aktivitas
fisik, dan nilai spiritual Islam. Metode ini terdiri atas tiga tahapan utama: persiapan, aktivitas inti, serta
refleksi dan diskusi. Tahapan ini dirancang untuk mengatasi hambatan pembelajaran KPK di madrasah
6 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
ibtidaiyah, seperti kesulitan memahami konsep abstrak dan kurangnya relevansi materi dengan
kehidupan siswa.
Pada tahap persiapan, guru menentukan dua bilangan untuk dicari KPK-nya (misalnya 3 dan
4), menyiapkan tali karet dan kartu angka, serta membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Satu
kelomppok terdiri dari 2 orang. Secara bergantian satu kelompok menajdi pemegang tali karet.
Kelompok yang bermain, 1 anak menyebut “Subhanallah” untuk kelipatan 3, dan anak lain
“Alhamdulillah” untuk kelipatan 4. Saat mencapai KPK (misal 12), kedua anak melompat bersama
sambil mengucapkan “Allahu Akbar.” Tahapan ini menggabungkan kesiapan mental dan spiritual
siswa serta membangun ekspektasi positif terhadap kegiatan belajar.
Aktivitas inti berupa permainan lompat tali yang dikombinasikan dengan dzikir terbukti
mampu mengaktifkan aspek kognitif dan afektif siswa. Melalui perhitungan ritmis dan pelafalan lafaz
dzikir, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pendekatan ini sejalan dengan teori embodied cognition
yang menyatakan bahwa keterlibatan fisik mendukung proses berpikir dan pemaknaanRespons siswa
sangat positif—mereka lebih cepat memahami pola kelipatan karena adanya pengulangan melalui
gerakan dan suara. Hal ini relevan dengan teori Multiple Intelligences Gardner (1993), yang
menekankan peran kecerdasan kinestetik dan musikal dalam pembelajaran anak usia dini.
Metode ini juga berdampak signifikan terhadap motivasi intrinsik siswa. Anak-anak yang
biasanya pasif menjadi lebih aktif, percaya diri, dan terlibat dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan teori
Self-Determination oleh Deci dan Ryan (1985), yang menyatakan bahwa motivasi tumbuh ketika siswa
merasa kompeten dan terhubung secara sosial.
Dari sisi spiritualitas, dzikir yang dilakukan dalam proses pembelajaran terbukti menciptakan
ketenangan dan fokus siswa. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih damai dan
dekat dengan Allah saat belajar. Guru juga mencatat suasana kelas menjadi lebih tertib. Temuan ini
sejalan dengan Engel & Salma (2024) yang menyebutkan bahwa aktivitas spiritual seperti dzikir dapat
meningkatkan perhatian dan mengatur emosi. Dalam konteks madrasah, praktik ini merupakan
implementasi nyata pendidikan Islam yang holistik.
Tahapan refleksi memungkinkan siswa menyimpulkan konsep KPK sekaligus merefleksikan
pengalaman spiritual mereka. Diskusi mengungkap bahwa siswa mulai mengaitkan konsep
matematika dengan nilai keislaman, seperti kerja sama dan rasa syukur. Dokumentasi pembelajaran
menunjukkan siswa lebih memahami konsep dan menunjukkan sikap kolaboratif serta sportif. Hal ini
mencerminkan pembentukan karakter sosial dan spiritual yang kuat.
Secara keseluruhan, metode Lompat Tali Dzikir menciptakan suasana belajar yang aktif,
kontekstual, dan religius. Metode ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil
Pelajar Pancasila. Dengan fleksibilitas dalam gaya belajar dan integrasi nilai Islami, metode ini layak
dikembangkan lebih luas dalam pembelajaran di madrasah sebagai strategi pedagogik berbasis iman,
ilmu, dan amal.
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat
Tali Dzikir di Madrasah Ibtidaiyah, Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar 7
Peningkatan Pemahaman Konsep KPK
Penerapan metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran matematika kelas V D MI
Walisongo Kranji 02 terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret
(Piaget), siswa usia sekolah dasar membutuhkan pengalaman nyata untuk memahami konsep abstrak
seperti KPK. Observasi awal menunjukkan bahwa mayoritas siswa hanya menghafal kelipatan tanpa
memahami logika relasi bilangan. Mereka pasif dalam kelas dan sulit membedakan KPK dengan FPB.
Namun, saat metode Lompat Tali Dzikir diterapkan, antusiasme dan keterlibatan siswa meningkat
secara drastis.
Permainan lompat tali yang dikombinasikan dengan pelafalan dzikir dan hitungan ritmis, siswa
mulai memahami keterkaitan antar bilangan. Misalnya, dalam mencari KPK 4 dan 6, siswa kelompok
4 melompat sambil menyebut “Subhanallah,” sedangkan kelompok 6 menyebut “Alhamdulillah.”
Ketika mereka melompat bersamaan pada bilangan 12, penjaga tali menyebut “Allahu Akbar,”
menandai tercapainya KPK. Aktivitas ini memperkuat pemahaman logis sekaligus membentuk
pengalaman bermakna. Hasil observasi pada pertemuan keempat menunjukkan bahwa 75% siswa
mampu menentukan KPK secara mandiri, baik dalam soal pilihan maupun aplikasi cerita.
Peningkatan ini juga tercermin dari data evaluasi: ketuntasan belajar siswa naik dari 41,7%
menjadi 79,2%. Siswa mulai mampu menjelaskan alasan pemilihan KPK dengan kata-kata sendiri.
Lembar kerja mereka menunjukkan proses berpikir logis, seperti menggarisbawahi kelipatan yang
sama dan menuliskan alasan pemilihannya. Ini menunjukkan keterlibatan kognitif yang lebih dalam.
Sejalan dengan teori Vygotsky (1978), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran sosial dan
kontekstual yang melibatkan interaksi langsung.
Wawancara dengan guru menguatkan temuan ini. Sebelumnya, banyak siswa keliru
membedakan KPK dan FPB karena hanya mempelajarinya secara simbolik. Pendekatan kinestetik dan
ritmis dalam metode ini mendorong pattern recognition secara alami. Salah satu siswa mengaku,
“Kalau belajar sambil lompat, aku lebih ingat karena sambil hitung terus teman-teman bantu juga”
tutur Hafizh, salah satu yang terlihat antusias. Ini membuktikan bahwa kolaborasi dan irama
mendukung pembelajaran berbasis kecerdasan musikal dan interpersonal (Gardner, 1993).
Penelitian oleh Suryani (2020) dan Rohmah (2022) mendukung bahwa pendekatan
kontekstual dan media visual meningkatkan pemahaman KPK. Namun, Lompat Tali Dzikir
menawarkan pendekatan unik dengan menggabungkan gerak tubuh, ritme suara, dan spiritualitas.
Dzikir seperti “Subhanallah” dan “Alhamdulillah” yang dilafalkan secara ritmis memberi efek
ketenangan emosional. Guru mencatat bahwa siswa lebih fokus dan suasana kelas lebih tertib setelah
dzikir. Hal ini sejalan dengan pandangan Al-Attas (1990), bahwa pendidikan ideal menyatukan akal,
jiwa, dan nilai ilahiyah.
Keseluruhan temuan menunjukkan bahwa metode Lompat Tali Dzikir tidak hanya
menyenangkan, tetapi juga mentransformasi pembelajaran dari hafalan menjadi pemahaman, dari
8 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
simbolik menjadi konkret. Metode ini merepresentasikan pembelajaran berbasis nilai dan budaya yang
cocok untuk siswa madrasah. Dengan integrasi spiritual dan kontekstual, pendekatan ini layak
dijadikan strategi pembelajaran inovatif yang membumi, bermakna, dan sejalan dengan visi
pendidikan Islam holistik.
Keterlibatan Aktif Siswa melalui Metode Lompat Tali Dzikir
Penerapan metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran matematika tidak hanya
meningkatkan pemahaman konsep KPK, tetapi juga secara signifikan mendorong keterlibatan aktif
siswa. Di madrasah ibtidaiyah, pembelajaran matematika sering bersifat monoton, dengan pola
mengajar yang cenderung satu arah: guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu mengerjakan soal. Situasi
ini kerap menyebabkan kejenuhan dan rendahnya partisipasi siswa. Namun, implementasi Lompat Tali
Dzikir mengubah suasana kelas menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan menyenangkan.
Observasi menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa berpartisipasi aktif dalam setiap sesi
pembelajaran. Mereka membentuk kelompok kecil dan bergiliran menjadi pelompat, pengucap
kelipatan, hingga pencatat hasil. Aktivitas ini mengaktifkan banyak aspek dalam diri siswa: motorik
saat melompat, kognitif saat menghitung, dan sosial saat berinteraksi. Guru menyatakan bahwa anak-
anak yang biasanya pasif menjadi jauh lebih antusias. “Bahkan siswa yang pemalu pun berani tampil,”
ungkapnya. Ini menunjukkan bahwa metode ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang aman
dan mendukung (safe learning environment) sebagaimana ditekankan oleh Rogers (1983) dalam
pendekatan pembelajaran humanistik.
Antusiasme siswa juga terlihat dari respons spontan mereka; lebih dari 85% siswa secara
sukarela ingin berpartisipasi dan bahkan menyarankan variasi permainan. Ini menjadi indikator
munculnya motivasi intrinsik, yaitu dorongan belajar karena kesenangan terhadap aktivitas itu sendiri,
sejalan dengan teori Self-Determination dari Deci dan Ryan(1985) , yang menyatakan bahwa motivasi
tumbuh saat siswa merasa memiliki kendali, kompetensi, dan keterhubungan sosial. Mereka tidak
hanya aktif secara fisik, tetapi juga secara intelektual dan emosional—sebuah bentuk pembelajaran
utuh yang memperkuat keterampilan abad ke-21, terutama communication dan collaboration (Trilling
& Fadel, 2019).
Keterlibatan ini tidak bersifat sementara. Dalam wawancara, siswa menyatakan lebih mudah
mengingat materi karena pengalaman bermain. “Saya hafal KPK 4 dan 6 itu 12 karena kami melompat
sampai angka itu dan semua teman bilang sama,” ujar Sania, salah satu siswa. Temuan ini menguatkan
konsep embodied cognition (Wilson, 2002) bahwa keterlibatan fisik membantu memperkuat ingatan
jangka panjang dan pemahaman konseptual.
Metode ini juga membentuk karakter siswa. Mereka belajar menunggu giliran, membantu
teman, dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Guru mencatat bahwa siswa menjadi lebih sabar
dan saling menyemangati, bahkan di luar kelas. Hal ini mendukung pandangan Widiandari (2022),
bahwa pembelajaran bermakna harus menyentuh keseluruhan potensi peserta didik, termasuk aspek
afektif dan sosial.
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat
Tali Dzikir di Madrasah Ibtidaiyah, Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar 9
Penelitian Setyowati dan Ma’ruf (2019) serta Suryani (2020) mendukung bahwa permainan
tradisional dan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan semangat dan partisipasi siswa. Dengan
demikian, Lompat Tali Dzikir tidak hanya menghidupkan kembali budaya lokal, tetapi juga menjadi
sarana pedagogik yang mendorong keterlibatan belajar secara menyeluruh.
Metode ini membuktikan bahwa pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan spiritual
mampu menciptakan ruang belajar yang partisipatif dan bermakna, selaras dengan prinsip pendidikan
Islam dan pedagogi modern.
Integrasi Nilai Spiritual dan Penguatan Karakter
Metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran KPK tidak hanya berdampak pada
pemahaman konsep dan keterlibatan siswa, tetapi juga secara signifikan memperkuat nilai-nilai
spiritual dan pembentukan karakter Islami. Di madrasah ibtidaiyah, spiritualitas bukanlah unsur
pelengkap, melainkan inti dari proses pendidikan yang menyatukan akal, hati, dan jasad siswa.
Widiandari(2020) menyatakan bahwa pendidikan Islam sejati adalah proses internalisasi adab yang
mengharmoniskan akal dan ruh, menjadikan pembelajaran sebagai sarana pembentukan kepribadian
utuh.
Pelaksanaan dzikir bersama sebelum dan sesudah permainan, seperti melafalkan
“Subhanallah,” “Alhamdulillah,” dan “Allahu Akbar”, menciptakan suasana khusyuk yang
mengarahkan fokus belajar siswa. Guru menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya rutinitas,
tetapi momentum spiritual yang menanamkan kesadaran bahwa belajar matematika juga bagian dari
ibadah. Integrasi dzikir dalam permainan tidak mengganggu alur belajar, justru memperkuat fokus dan
disiplin siswa. Irama dzikir yang dilakukan setiap tiga lompatan membentuk keseimbangan antara
aktivitas fisik dan spiritual, antara keseruan dan kekhusyukan.
Wawancara menunjukkan bahwa siswa merasa lebih tenang dan percaya diri saat belajar.
“Kalau baca Subhanallah terus loncat, rasanya tenang, gak takut salah,” ujar Kafa, salah seorang siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa dzikir berfungsi sebagai alat regulasi emosi, bukan sekadar simbol
religius. Satra (2025) menyebutkan bahwa praktik spiritual seperti dzikir berkontribusi pada
kesejahteraan psikologis dan ketahanan siswa dalam menghadapi tekanan belajar.
Dokumentasi juga menunjukkan perubahan sikap yang mencerminkan nilai spiritual: siswa
lebih sabar, sopan, dan peduli terhadap teman. Bahkan dalam diskusi, siswa mulai mengaitkan konsep
matematika dengan nilai Islam. “KPK itu kayak cari jalan yang sama ya” ungkap Ellys, seorang siswa.
Pendekatan ini selaras dengan temuan Suyadi & Sutrisno (2019), bahwa integrasi nilai-nilai keislaman
dalam pembelajaran lebih efektif jika dilakukan melalui konteks nyata, bukan hanya melalui ceramah.
Spiritualitas dalam metode ini juga mendorong empati dan keteladanan. Saat seorang siswa
tergelincir, teman-temannya merespons dengan “Alhamdulillah” dan membantu tanpa instruksi guru.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai telah tertanam secara alami melalui pengalaman, sesuai dengan
prinsip tazkiyatun nafs dalam pendidikan Islam. (Hussein et al., 2024) menekankan bahwa pembiasaan
spiritual lebih kuat dampaknya daripada hafalan dogmatis karena menyentuh kesadaran dan perasaan
10 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
secara bersamaan. Guru menyatakan bahwa kelas menjadi lebih kondusif tanpa harus bersuara keras,
sejalan dengan pandangan Al-Ghazali bahwa hati yang sering berdzikir lebih mudah menerima ilmu.
Dengan demikian, metode Lompat Tali Dzikir terbukti tidak hanya menyentuh ranah
akademik, tetapi juga menjadi media transformasi spiritual dan sosial siswa. Pendekatan ini sejalan
dengan Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil Pelajar Pancasila berlandaskan nilai-nilai Islam. Ia
layak dikembangkan sebagai model pembelajaran kontekstual-spiritual di lingkungan madrasah yang
mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal
KESIMPULAN
Penerapan metode Lompat Tali Dzikir dalam pembelajaran matematika materi KPK di madrasah
ibtidaiyah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual siswa, mendorong keterlibatan
aktif dalam proses belajar, serta memperkuat integrasi nilai-nilai spiritual dalam suasana kelas yang
menyenangkan dan kolaboratif. Metode ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep kelipatan
persekutuan terkecil secara konkret melalui gerakan fisik dan visualisasi pola bilangan, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai Islami melalui pembiasaan dzikir yang terintegrasi dalam aktivitas
pembelajaran. Selain itu, penggunaan permainan tradisional sebagai media belajar turut merevitalisasi
budaya lokal yang mulai tergerus zaman.
Berdasarkan temuan ini, disarankan agar guru-guru madrasah mengadopsi pendekatan
pembelajaran kontekstual dan holistik seperti Lompat Tali Dzikir, yang tidak hanya memfokuskan
pada aspek akademik semata, tetapi juga menumbuhkan karakter, spiritualitas, dan kebersamaan. Ke
depan, pengembangan metode serupa yang memadukan tradisi, gerak fisik, dan nilai agama sangat
direkomendasikan sebagai strategi inovatif untuk menguatkan profil pelajar Pancasila dan menjawab
tantangan pembelajaran abad ke-21 di lingkungan madrasah dan sekolah dasar berbasis nilai.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada adik penulis,
Muhammad Dzimar, yang telah memberikan dukungan luar biasa dalam proses penyusunan artikel ini.
Kontribusinya tidak hanya berupa kerja sama aktif dalam diskusi dan penyusunan naskah, tetapi juga
dukungan finansial yang membantu menanggung sebagian biaya publikasi artikel ini. Bantuan tersebut
sangat berarti dalam kelancaran pelaksanaan penelitian dan penerbitan artikel.
Dukungan moril, intelektual, dan material yang diberikan menjadi bagian penting dalam
keberhasilan penulisan karya ini. Semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan
yang terbaik dan menjadi amal jariyah yang bermanfaat.
REFERENSI
Al-Attas, S. M. N. (1990). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy
Rekonstruksi Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan dan Bermakna: Eksplorasi Kualitatif Metode Lompat
Tali Dzikir di Madrasah Ibtidaiyah, Alfiatur Rohmaniyah, Muhammad Dzimar 11
of education. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Arifin, Z., Nurhadi, D., & Wulandari, T. (. (2021). Contextual problems in primary mathematics
instruction: A case study of teacher practices in Indonesia. Journal of Educational Practice,
12(3), 45–52.
C Rogers. (1983). Freedom to learn (2nd ed.). Merrill.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2018). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior.
Springer.
Engel, D., & Salma, N. Z. (2024). Tinjauan literatur: manfaat dzikir dalam regulasi emosi. Jurnal
Pendidikan Islam Dan Sosial Agama, 03(04), 289–301.
[Link]
Febriandiela, F., & Fitrisia, A. (2023). Implementasi Thematic Analysis Melalui Langkah Coding
dalam Penelitian Kualitatif pada Ilmu Sosial. 8(1), 1–10.
[Link]
Gardner, H. (1993). Multiple intelligences: The theory in practice. Basic Books.
Hosnan, M. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21. Ghalia
Indonesia.
Hussein, A., Dzaiy, S., & Abdullah, S. A. (2024). The Use of Active Learning Strategies to Foster
Effective Teaching in Higher Education Institutions. Zanco Journal of Humanity Sciences,
28(4), 328–351.
Luthfiyani, P. W., & Murhayati, S. (2024). Strategi Memastikan Keabsahan Data Dalam Penelitian
Kualitatif. 8, 45315–45328.
McCullough, M. E., Willoughby, B. L. (2019). Religion, self-regulation, and self-control:
Associations, explanations, and implications. Psychological Bulletin, 135(1), 69–93.
Muttaqin, M., & Hamdani, D. (2022). Integrasi nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran matematika:
Telaah terhadap pendekatan pembelajaran berbasis spiritual. , 8(2),. Jurnal Pendidikan Islam,
8(2), 135–150.
Nasution, F. (2020). Kedatangan dan Perkembangan Islam di Indonesia. Mawa’izh: Jurnal Dakwah
Dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, 11, 2646.
Putri, R. I., & Suryadi, D. (2020). Profil pembelajaran matematika di sekolah dasar: Analisis
pendekatan dan tantangan implementasi. IndoMath: Jurnal Pendidikan Matematika, 3(1), 25–
34.
Rahman, A., & Zakiyah, N. (2020). Pendidikan karakter religius melalui integrasi nilai-nilai Islam
dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan Agama Islam (PAI), 16(1), 67–8.
Rahmawati, R. (2022). Integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran matematika di madrasah. Tadris:
Jurnal Pendidikan Islam.
Rohmah, L. N. (2022). Efektivitas media pembelajaran berbasis visual dalam meningkatkan
pemahaman konsep KPK dan FPB siswa MI. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 8(1), 65–
12 Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 10, Nomor 01, December 2025-March 2026, pp. 1-12
76.
Sari, N. L., & Lestari, R. D. (2023). Strategi Guru dalam Penanaman Nilai Religius Melalui Asesmen
Otentik di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 6(2), 131–142.
Sari, I. J., & El Islami, R. A. Z. (2022). A Comparison of Senior High School Curriculum Between
Indonesia and Japan. Jurnal Pendidikan Indonesia Gemilang, 2(2), 123–129.
[Link]
Setyowati, H., & Ma’ruf, A. (2019). Revitalisasi permainan tradisional dalam pembelajaran karakter
di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2), 144–157.
Suryani, L. (2020). Pembelajaran matematika yang menyenangkan di sekolah dasar berbasis
pendekatan kontekstual. Jurnal Ilmu Pendidikan, 26(1), 47–55.
Suyadi, & Sutrisno. (2019). The integrated Islamic education: Principles and curriculum. Qudus
International Journal of Islamic Studies (QIJIS), 7(1), 1–22.
Trilling, B., & Fadel, C. (2019). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. Jossey-Bass.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. MA:
Harvard University Press.
Wilson, M. (2002). Six views of embodied cognition. Psychonomic Bulletin & Review, 9(4), 625–636.
Wulandari, M., & Hidayat, S. (2023). Pemanfaatan permainan tradisional dalam pembelajaran
matematika untuk siswa MI. Jurnal Pendidikan Karakter.