0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Conclusion

Penelitian ini mengeksplorasi korelasi antara usia dan durasi latihan terhadap perkembangan kecakapan hidup atlet, dengan fokus pada atlet petanque di Kota Kediri. Hasil menunjukkan bahwa usia memiliki hubungan positif yang kuat dan signifikan dengan kecakapan hidup, sementara durasi latihan menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya perkembangan kognitif dan psikososial seiring bertambahnya usia, serta perlunya pendekatan pengajaran yang terstruktur dalam program olahraga untuk mengembangkan kecakapan hidup.

Diunggah oleh

maensepaturoda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Conclusion

Penelitian ini mengeksplorasi korelasi antara usia dan durasi latihan terhadap perkembangan kecakapan hidup atlet, dengan fokus pada atlet petanque di Kota Kediri. Hasil menunjukkan bahwa usia memiliki hubungan positif yang kuat dan signifikan dengan kecakapan hidup, sementara durasi latihan menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya perkembangan kognitif dan psikososial seiring bertambahnya usia, serta perlunya pendekatan pengajaran yang terstruktur dalam program olahraga untuk mengembangkan kecakapan hidup.

Diunggah oleh

maensepaturoda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Korelasi Usia dan Durasi Latihan Terhadap Perkembangan

Kecakapan Hidup Atlet


Rizki Burstiando1,*, Amung Ma’mun2, Komarudin3, Yudy Hendrayana4
1,2,3,4
Doctoral Program of Sports Education, School Postgraduates Studies, Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung, 40154, Jawa Barat, Indonesia
1
Email First Author*; 2 Email Second Author; 3 Email Third Author (10pt)
* Amung Ma’mun

INTRODUCTION
1.1 Olahraga tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kebugaran fisik
dan prestasi (Corbin & McKenzie, 2008), tetapi juga sebagai medium yang kuat untuk
pengembangan potensi manusia secara holistik, termasuk aspek psikologis dan sosial.
Paradigma "pembangunan melalui olahraga" (development through sport) menekankan
peran aktivitas fisik dalam memfasilitasi pengembangan keterampilan non-fisik, yang
sering disebut sebagai kecakapan hidup (life skills). Kecakapan hidup ini mencakup
kemampuan manajerial (seperti manajemen waktu), keterampilan interpersonal
(komunikasi dan kepemimpinan), serta kemampuan koping untuk menghadapi tantangan
dan tekanan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.
1.2 Pencapaian prestasi atlet tidak semata-mata bergantung pada keterampilan
teknis dan fisik, melainkan juga pada kemampuan mereka untuk mengelola berbagai aspek
kehidupan, baik di dalam maupun di luar arena olahraga. Atlet, terutama pada tingkat
remaja, sering dihadapkan pada tantangan seperti manajemen waktu antara latihan dan
pendidikan, tekanan kompetisi, serta interaksi sosial. Oleh karena itu, integrasi program
kecakapan hidup ke dalam model latihan olahraga merupakan upaya penting dalam
pengembangan pemuda yang positif.
1.3 Dua faktor kunci yang secara intuitif dianggap memengaruhi perkembangan ini
adalah usia atlet dan durasi keterlibatan mereka dalam latihan. Usia atlet berhubungan
dengan tahap perkembangan kognitif dan psikososial mereka, di mana kemampuan untuk
memahami konsep abstrak dan menginternalisasi nilai-nilai tertentu berkembang seiring
waktu (berdasarkan teori perkembangan, seperti yang diimplikasikan dalam diskusi
tentang fase perkembangan anak dalam olahraga). Sementara itu, durasi latihan
mencerminkan paparan sistematis dan pengalaman yang diperoleh atlet dalam lingkungan
olahraga (berdasarkan konsep program latihan yang sistematis dan terencana).
1.4 Meskipun peran olahraga dalam mengembangkan kecakapan hidup telah
banyak diteliti, pemahaman mengenai bagaimana faktor spesifik seperti usia kronologis

1
dan durasi latihan secara bersama-sama berkorelasi dengan tingkat kecakapan hidup atlet
masih memerlukan eksplorasi lebih dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah
tersebut dengan mengkaji secara empiris korelasi antara usia dan durasi latihan terhadap
perkembangan kecakapan hidup atlet, menggunakan pendekatan kuantitatif dan didukung
oleh kerangka teori perkembangan manusia dan teori pembelajaran melalui pengalaman
dalam olahraga.

METHODS
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional.
Desain penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui hubungan dan tingkat korelasi
antara variabel bebas (Usia dan Durasi Latihan) dengan variabel terikat (Perkembangan
Kecakapan Hidup Atlet). Terdapat 2 variabel bebas dan 1 variabel terikat Variabel Bebas yaitu
Usia Atlet (data rasio, dalam tahun) dan Durasi Latihan (berupa total tahun latihan). Sedangkan
Variabel Terikat berupa Perkembangan Kecakapan Hidup Atlet (data interval/rasio, diukur
melalui instrumen

Populasi dalam penelitian ini seluruh atlet petanque yang berada di Kota Kediri
menggunakan tehnik total sampling didapat 18 sampel yang terdiri dari 11 laki-laki dan 7
perempuan dengan rata-rata usia 16,72. Instrumen yang digunakan dari cronin & Allen 2017
life skill scale for sport dimana terdiri dari 8 kecakapan hidup seperti kerja sama tim,
penetapan tujuan, keterampilan sosial, penyelesaian masalah, komunikasi dan keterampilan
emosional.

Tehnik pengumpulan data meliputi perisinan, penyebaran kuisioner dan tabulasi data
penelitian. Pertama perizinan dilakukan dengan meminta izin kepada pengurus cabang
olahraga beserta pelatih petanque kota kediri untuk melakukan penelitian. Ketika izin telah
diperoleh maka langkah selanjutnya adalah menyebar instrumen kepada para atlet, dimana
sebelumnya dijelaskan terlebih dahulu cara pengisian intrumen kemudian para atlet mengisi
intrumen sesuai apa yang mereka yakini yang pada akhirnya ditabulasi menggunakan aplikasi
excel.

Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan statistik parametrik dengan bantuan
perangkat lunak statistik SPSS . Langkah-langkah analisis meliputi Statistik Deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik data usia, durasi latihan, dan kecakapan
hidup. Uji Prasyarat Analisis menggunakan uji normalitas dan linearitas untuk memastikan
kelayakan data menggunakan uji korelasi parametrik. Uji Korelasi
Bivariat: Menggunakan korelasi Product Moment Pearson untuk menganalisis hubungan
antara Usia terhadap Perkembangan Kecakapan Hidup dan Durasi Latihan terhadap
Perkembangan Kecakapan Hidup. Uji Korelasi Multivariat (Analisis Regresi Berganda)
Untuk mengetahui korelasi simultan atau pengaruh bersama antara usia dan durasi latihan
terhadap perkembangan kecakapan hidup. Uji Signifikansi: Menentukan apakah korelasi yang
ditemukan signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi tertentu (misalnya, α = 0,05).

RESULTS AND DISCUSSION

Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui karakteristik dasar dari subjek
penelitian yang berjumlah 18 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata usia atlet
adalah 16,72 tahun dengan standar deviasi (SD) sebesar 2,782 . Rerata durasi latihan yang
telah dijalani oleh para atlet adalah 3,17 tahun (SD = 1,505. Sementara itu, skor rerata
kecakapan hidup yang diukur dari sampel penelitian adalah 182,61 dengan standar deviasi
sebesar 28,332. Data ini memberikan gambaran awal bahwa sampel didominasi oleh atlet
remaja dengan tingkat pengalaman latihan yang bervariasi, seperti tertera pada tabel 1 berikut.

Tabel 1

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Variabel N Rerata (Mean) Standar Deviasi (Std. Deviation)

Usia 18 16,72 2,782

Durasi_Latihan 18 3,17 1,505

Kecakapan_Hidup 18 182,61 28,332

Pengujian normalitas menggunakan saphiro wing karena data peserta yang relatif kecil
didapat nilai uji normalitas pada data usia senilai 0,135 yang berarti berdistribusi normal,
kemudian durasi latihan sebesar 0,42 yang berarti berdistribusi tidak normal dan kecakapan
hidup sebesar 0,259 yang berarti berdistribusi normal. Dikarenakan ada data yang tidak
terdistribusi normal maka uji korelasi dilakukan secara non parametrik.
Untuk menguji hubungan antara Usia dengan Kecakapan Hidup dan durasi latihan dengan
kecakapan hidup, dilakukan analisis korelasi non-parametrik Spearman's, mengingat asumsi
normalitas data tidak terpenuhi seperti tertera pada Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Uji Korelasi Spearman

Koefisien
Nilai
Korelasi
Variabel Signifikansi (p- N Keterangan
Rank
value)
Spearman

Korelasi Positif
Usia - Kecakapan Hidup 0,664 0,003
18 Kuat

Korelasi Positif,
Durasi Latihan - Kecakapan Hidup 0,310 0,211
18 Tidak Signifikan

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara usia
dan kecakapan hidup dengan nilai signifikasi sebesar 0,003. Koefisien korelasi Spearman's
yang positif sebesar 0.664 mengindikasikan bahwa hubungan tersebut searah (positif) dan
memiliki hubungan yang kuat. Interpretasi dari temuan ini adalah bahwa semakin tinggi usia
subjek penelitian, semakin tinggi pula tingkat kecakapan hidup yang dimilikinya, dan
sebaliknya. Dengan kata lain, usia memberikan kontribusi yang signifikan dan substansial
terhadap pengembangan kecakapan hidup.

Pada pengujian hubungan antara durasi latihan dan kecakapan hidup didapat bahwa
koefisien korelasi Spearman's antara Durasi Latihan dan Kecakapan Hidup adalah 0.310 nilai
ini mengindikasikan adanya hubungan yang positif (searah) namun tergolong lemah. Artinya,
durasi latihan yang lebih lama sedikit berhubungan dengan kecakapan hidup yang lebih tinggi.
Namun, nilai signifikansi (p-value) yang diperoleh adalah 0.2119. Karena nilai p-value lebih
besar dari tingkat signifikansi yang ditetapkan (α = 0.05), maka hubungan tersebut dinyatakan
tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada
hubungan yang meyakinkan secara statistik antara Durasi Latihan dan Kecakapan Hidup.

Analisis regresi berganda dengan metode bootstrapping digunakan untuk mengatasi asumsi
tidak terdistribusi normal pada data durasi latihan dan ukuran sampel yang kecil N=18 seperti
pada tabel 2 berikut.

Tabel 3. Analisis regresi berganda dilakukan untuk melihat pengaruh usia dan durasi
latihan secara simultan dan parsial terhadap kecakapan hidup

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the


Estimate

1 0.768 0.590 0.535 19.318

Nilai R (koefisien korelasi berganda) adalah 0.768, yang mengkonfirmasi hubungan yang
kuat antara prediktor (usia dan durasi latihan) dengan variabel dependen (kecakapan hidup).
Nilai R Square (koefisien determinasi) adalah 0.590. Ini berarti 59.0% variasi dalam kecakapan
hidup dapat dijelaskan oleh model regresi yang mencakup usia dan durasi latihan, sementara
41.0% dijelaskan oleh faktor lain di luar model.
1.5 Discussion

Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa usia kronologis atlet memiliki korelasi
positif yang kuat dan signifikan secara statistik dengan perkembangan kecakapan hidup,
sementara durasi latihan (dalam total tahun) menunjukkan hubungan yang positif namun lemah
dan tidak signifikan secara statistik. Hal ini menyoroti peran sentral proses perkembangan
alami dibandingkan hanya paparan waktu dalam lingkungan olahraga dalam konteks
pengembangan non-fisik atlet remaja.

Peran Usia dalam Perkembangan Kecakapan Hidup

Hubungan kuat antara usia dan kecakapan hidup dapat dijelaskan secara komprehensif
melalui lensa Teori Perkembangan Manusia (human developmental theories). Seiring
bertambahnya usia, atlet (yang dalam penelitian ini rata-rata berusia 16,72 tahun, berada dalam
fase remaja) mengalami kemajuan dalam perkembangan kognitif dan psikososial. Kemampuan
untuk memahami konsep abstrak, mengelola emosi, dan menavigasi interaksi sosial meningkat
secara alami sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka, terlepas dari lamanya waktu yang
dihabiskan dalam pelatihan olahraga spesifik. Penelitian lain juga menemukan bahwa atlet
yang lebih tua cenderung memiliki skor kecakapan hidup yang lebih tinggi di berbagai subskala
seperti penetapan tujuan, penyelesaian masalah, dan komunikasi.

Pengaruh Durasi Latihan dalam perkembangan kecakapan hidup

Sebaliknya, durasi latihan yang lebih lama, meskipun secara intuitif dianggap mengarah
pada keterampilan hidup yang lebih baik, hanya menunjukkan korelasi yang lemah dan tidak
signifikan dalam penelitian ini. Ini menunjukkan bahwa paparan waktu saja tidak cukup
menjamin pembelajaran kecakapan hidup. Temuan ini sejalan dengan Teori Pembelajaran
Melalui Pengalaman (experiential learning theory) dan model Positive Youth Development
(PYD) dalam olahraga, yang menekankan bahwa kecakapan hidup tidak berkembang secara
otomatis hanya dengan berpartisipasi dalam olahraga. Lingkungan olahraga menyediakan
konteks yang kaya akan pengalaman kompetitif, sosial, dan emosional. Namun, efektivitas
pengembangan kecakapan hidup sangat bergantung pada strategi pengajaran yang disengaja
(intentional teaching) oleh agen sosial utama seperti pelatih dan orang tua. Program yang secara
eksplisit mengintegrasikan pengajaran kecakapan hidup (seperti kerja sama tim, penetapan
tujuan, dan komunikasi) ke dalam latihan olahraga menunjukkan dampak yang lebih signifikan
pada perilaku dan kondisi mental atlet dibandingkan dengan latihan yang hanya berfokus pada
aspek fisik dan teknis.

Kesimpulan Integratif

Secara ringkas, hasil analisis regresi berganda (R Square = 0,590) mengonfirmasi bahwa
baik usia maupun durasi latihan secara kolektif menjelaskan sebagian besar variasi dalam
kecakapan hidup atlet, namun usia adalah prediktor yang lebih dominan. Kematangan biologis
dan kognitif yang terkait dengan usia kronologis tampaknya menjadi fondasi penting yang
memungkinkan atlet untuk memproses dan menginternalisasi "kecakapan hidup" dari
pengalaman olahraga mereka secara lebih efektif. Untuk mengoptimalkan hasil, program
olahraga perlu memanfaatkan kemajuan perkembangan alami ini dengan menerapkan
intervensi kecakapan hidup yang terstruktur dan disengaja, daripada hanya mengandalkan
durasi latihan sebagai satu-satunya pendorong perkembangan.

CONCLUSION (Microsoft Word template style: Heading 1)

Anda mungkin juga menyukai