0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan41 halaman

Engine Fundamental

Dokumen ini membahas klasifikasi mesin mobil berdasarkan jenis bahan bakar, termasuk mesin bensin, diesel, dan LPG, serta prinsip kerja masing-masing. Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem pendingin dan pelumasan yang penting untuk menjaga performa mesin. Informasi ini penting untuk memahami cara kerja dan efisiensi mesin kendaraan.

Diunggah oleh

Muhammad Rizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan41 halaman

Engine Fundamental

Dokumen ini membahas klasifikasi mesin mobil berdasarkan jenis bahan bakar, termasuk mesin bensin, diesel, dan LPG, serta prinsip kerja masing-masing. Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem pendingin dan pelumasan yang penting untuk menjaga performa mesin. Informasi ini penting untuk memahami cara kerja dan efisiensi mesin kendaraan.

Diunggah oleh

Muhammad Rizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ENGINE FUNDAMENTAL

A. KLASIFIKASI ENGINE
Engine mobil diklasifikasikan menurut bahan bakar yang digunakan, seperti:
1. Engine Bensin
Engine ini menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Ukuran kecil, kecepatan
tinggi, tenaga tinggi, dan beban yang ringan, secara luas diaplikasikan dalam
kendaraan penumpang, kendaraan niaga, dan truk-truk kecil.
2. Engine Diesel
Engine diesel menggunakan bahan bakar solar. Karena lebih irit daripada
engine bensin, engine diesel sering digunakan pada bus dan truk-truk besar
dimana bahan bakar yang ekonomis menjadi penting. Engine diesel kecil juga
digunakan dibeberapa kendaraan penumpang, tetapi kurang dalam aspek-
aspek seperti tingkat kecepatan maksimum, output, beban dan
kebisingan/getaran dibandingkan engine bensin.
3. Engine LPG
Engine LPG menggunakan LPG (Liquefied Petroleum Gas) atau bahan bakar
alami. Meskipun outputnya lebih rendah daripada engine bensin, namun engine
LPG secara luas digunakan pada kendaraan taxi karena unggul dalam bahan
bakar yang ekonomis.

B. PRINSIP KERJA ENGINE BENSIN


1. Deskripsi
Komponen-komponen dasar dari engine bensin adalah silinder, yang
merupakan tempat campuran dan pembakaran bahan bakar dengan udara,
piston, connecting rod, dan crankshaft, yang bergerak bersama-sama untuk
mengubah energi yang dihasilkan pembakaran campuran bahan bakar dan
udara menjadi gerak putar.

Nissan College 1 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Pada bagian atas silinder 1 terdapat cylinder head 2 dan piston 3 yang
bergerak bebas ke atas dan ke bawah di dalam silinder. Connecting rod 5
menghubungkan piston ke crankshaft 4 sehingga crankshaft akan berputar saat
piston bergerak ke atas maupun ke bawah. Pada bagian belakang crankshaft,
terdapat flywheel 6 untuk membuat putaran menjadi halus dan rata.
Pada cylinder head terdapat intake valve 7 dan exhaust valve 8 untuk
memasukkan campuran bahan bakar dengan udara dan mengeluarkan gas
buang, serta busi 9 untuk membakar campuran tersebut. Saat piston bergerak
ke bawah, udara masuk melewati carburetor 11, membuat campuran bensin
dan udara, yang terhisap ke silinder melalui intake manifold 12.
Ketika campuran bahan bakar dan udara terbakar dalam ruang
pembakaran yang terdapat di atas piston, maka tekanan di dalam akan naik
dengan cepat. Tekanan tersebut akan mendorong piston ke bawah dan
memutarkan crankshaft melalui connecting rod. Piston yang telah
menyelesaikan gerakan ke bawah akan terdorong ke atas lagi karena adanya
momentum flywheel.
Pada kejadian ini, engine gerak bolak-balik yang menggunakan bensin
sebagai bahan bakar, mengubah gerakan bolak-balik piston akibat tekanan

Nissan College 2 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
pembakaran campuran bahan bakar, menjadi gerakan putar crankshaft untuk
digunakan sebagai pembangkit tenaga.

2. Cara Kerja Mesin 4 Langkah

a. Langkah Hisap
Intake valve akan terbuka saat piston bergerak ke bawah dan campuran
bahan bakar akan terhisap ke silinder (ruang pembakaran).
b. Langkah Kompresi
Saat piston mulai bergerak ke atas, intake valve menutup ruang bakar dan
campuran bahan bakar dikompresikan. Campuran bahan bakar dan udara
dikompresikan antara 1-7 sampai 1-10 dari volume semula, dan temperatur
serta tekanannya akan naik.

Nissan College 3 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
c. Langkah Pembakaran
Tepat sebelum langkah kompresi selesai, bunyi dinyalakan untuk membakar
campuran bahan bakar dan udara. Temperatur dan tekanan dari campuran
gas dalam silinder naik dengan cepat, menyebabkan gas berekspansi dan
menekan piston ke bawah sehingga crankshaft berputar.
d. Langkah Exhaust
Sesaat sebelum piston menyelesaikan langkah ke bawah, exhaust valve
terbuka dan gas hasil pembakaran keluar akibat tekanan di dalam gas
tersebut. Langkah kembali piston ke atas akan menekan gas yang masih
tertinggal. Ketika piston hampir menyelesaikan langkah ke atas, langkah
intake selanjutnya dimulai.

[Referensi]
Titik paling atas di dalam silinder yang dapat dijangkau piston disebut Top Dead
Center (TDC), dan titik terendahnya disebut Bottom Dead Center (BDC). Jarak gerak
piston antara Top Dead Center dan Bottom Dead Center disebut dengan langkah.
Ruang volume dihasilkan di atas piston dan Top Dead Center disebut dengan ruang
pembakaran. Timing pemasukan bahan bakar dibuat agar bahan bakar dihisap
sebelum top dead center. Nilai standar dinyatakan dengan 10 derajat BTDC (sebelum
TDC).

Nissan College 4 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
C. PERFORMA ENGINE
Dalam katalog-katalog ataupun brosur-brosur menggambarkan urutan
karakteristik yang digunakan untuk mengukur performa engine seperti: piston
displacement, rasio kompresi, power output, torsi dan konsumsi bahan bakar.
a. Piston Displacement

b. Rasio Kompresi

c. Torsi dan Horse Power

Nissan College 5 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
d. Kurva Performa Engine

D. PEMBAKARAN ENGINE

Nissan College 6 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Nissan College 7 Revisi Des 2015
PT. Nissan Motor Indonesia
E. PRINSIP KERJA ENGINE DIESEL

1. Deskripsi
Engine diesel, memiliki efisiensi thermis yang tinggi, ditemukan pada
tahun 1892 oleh Rudolf Diesel dan menggunakan bahan bakar lebih berat dari
bensin. Engine diesel memiliki keuntungan seperti penanganan bahan bakar
yang aman, pemakaian bahan bakar yang irit dan tahan lama. Engine diesel
banyak diaplikasikan pada truk, bus, kapal dan lainnya.
2. Cara Kerja Engine Diesel 4 Langkah
Dibandingkan dengan cara kerja engine bensin, terdapat perbedaan
pada langkah intake dan langkah pembakaran engine diesel seperti terlihat di
bawah ini.

a. Langkah Hisap
Engine bensin menghisap campuran bahan bakar dan udara, namun dalam
engine diesel hanya udara yang terhisap masuk ke dalam silinder.
b. Langkah Kompresi
Dalam engine diesel, bahan bakar dinyalakan oleh adanya panas dari udara
yang terkompresi, sehingga udara harus dikompresikan hingga
temperaturnya mencapai temperatur pembakaran bahan bakar. Pada

Nissan College 8 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
umumnya, temperature tersebut sekitar 400 sampai 500°C. Rasio kompresi
engine diesel adalah dua atau tiga kali dari engine bensin.
c. Langkah Pembakaran
Cara penyalaan engine diesel berbeda dengan engine bensin. Engine
bensin menggunakan busi sebagai penyala campuran bahan bakar secara
elektrik. Dalam engine diesel, bahan bakar diinjeksikan dari nozzle injector
pada akhir langkah kompresi. Bahan bakar yang diinjeksikan akan terbakar
karena temperatur tinggi dari udara yang terkompresi.
d. Langkah Exhaust
Bahan bakar yang terbakar menjadi gas bekas akan dikeluarkan melalui
exhaust valve dengan cara yang sama pada engine bensin. Hal itu menjadi
sangat penting bahwa jumlah bahan bakar yang tepat diinjeksikan pada
waktu yang tepat pula. Hal ini menjadi sangat sulit pada awal-awal
pengembangan dari engine diesel. Masalah ini dapat dipecahkan dengan
menggunakan injection pump yang ditemukan pada tahun 1927, dan sejak
saat itu engine diesel telah digunakan secara luas.

Nissan College 9 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
F. SISTEM PENDINGIN

1. Pengertian
Selama mesin berputar suhu pembakaran mencapai 2,000°C (3,632°F).
Jika suhu pembakaran sampai pada angka tersebut maka dipastikan suhu
dinding silinder, piston dan katup akan ikut naik sehingga hal ini akan merusak
komponen tesrebut. Dengan demikian maka dipasangkan sirkulasi sistem
pendingin untuk menjaga gar mesin berada pada suhukerja yang optimal. Suhu
sirkulasi pendingin optimal untuk menjaga agar mesin tetap maximal adalah
80°C-90°C (176°F sampai 194°F). suhu cairan pendingin yang terlalu rendah
akan menyebabkan gesekan yang lebih besar, efisiensi bahan bakar yang
rendah dan peningkatan kadar emisi gas buang. Sistem pendingin terdiri dari:
- Water jackets pada cylinder head dan cylinder block
- Water pump
- Thermostat
- Radiator
- Cooling fan
- Heater
- Joint tubes.
Cairan pendingin diedarkan (bersirkulasi) di dalam blok silinder, cylinder
head melalui water jacket oleh water pump. Cairan pendingin akan menerima
panas pembakaran dan dibuang ke udara melaui radiator. Nissan mengadopsi
sitem pendingin model dual cooling system, dimana sistem ini dilengkapi
dengan Water Control Valve yang memungkinkan sirkulasi air pendingin dapat
diarahkan sesuai kondisi aktual mesin.

2. Cara Kerja Sistem Pendingin


Ketika mesin dalam kondisi dingin dan baru mulai start engine,
thermostat dan water control valve dalam kondisi tertutup. Hal ini bertujuan agar
sirulasi cairan pendingin hanya pada area cylinder head sebagai komponen
yang mendapat efek panas paling cepat dari sistem pembakaran. Perhatikan
gambar berikut ini untuk memudahkan anda memahami sirkulasi pendingin
pada saat ini:

Nissan College 10 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Dengan demikian suhu mesin perlahan akan mulai naik untuk mencapai suhu
optimal mesin.

Nissan College 11 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Ketika suhu cairan pendingin mencapai sekitar 80°C (176°F), thermostat
mulai membuka sehingga sirkulasi cairan pendingin melalui radiator. Selama
suhu cairan pendingin dibawah 95°C (203°F), water control valve masih tertutup
sehigga cairan pendingin dari radiator hanya disirkulasikan melalui cylinder
head seperti gambar berikut ini:

Saat ciclinder block mulai memanas dan suhu cairan pendingin melebihi 95°C
(203°F), water control valve mulai terbuka. Hal ini akan mengakibatkan cairan
pendingin dari radiator tidak hanya dialirkan ke cylinder head tetapi juga
dialirkan ke cylinder blok. Dengan mengalirnya cairan pendingin ke silinder blok
maka hal ini akan mencegah peningkatan suhu pada cylinder blok secara
berlebihan dan suhu akan kembali turun ke suhu optimal. Perhatikan gambar
berikut ini ketika thermostat dan water control valve terbuka bersamaan.

Nissan College 12 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Komponen penting dalam sistem
pendingin adalah thermostat.
Thermostat berfungi untuk membuka
dan menutup sirkulasi cairan pendingin
ke radiator berdasarkan suhu cairan
pendingin itu sendiri, sehingga
thermostat dapat mepertahankan suhu
cairan pendingin seusai dengan nilai
spesifikasi tertentu.
Pada dasarnya prinsip kerja thermostat sam dengan prinsip kerja water control
valve hanya saja titik suhu pembukaan dan penutupan pada thermostat
berbeda dengan titik suhu pembukaan dan penutupan pada water control valve.

Nissan College 13 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Cairan pendingin yang menggunakan air (H2O) akan mendidih pada
suhu 100°C (212°F) di bawah tekanan 1 atm. Peran utama tutup radiator adalah
untuk menaikkan titik didih dengan cara menaikkan tekanan di dalam radiator,
sehingga dapat meningkatkan rentang suhu dan meningkatkan efisiensi sistem
pendingin. Peran penting lain pada tutup radiator adalah melepaskan tekanan
yang berlebihan pada radiator ke tangki reservoir. Hal ini terjadi ketika tekanan
di dalam radiator melebihi 88 kPa (0.88 bar, 0.9 kg/cm2, 13 psi). Tutup radiator
juga akan menghisap cairan pendingin pada tangki reservoir apabila tekanan di
dalam radiator negatif, yaitu ketika suhu cairan pendingin mengalami
penurunan.

3. Permasalahan dan Solusi pada Sistem Pendingin


Pada prinsipnya, air akan membeku pada suhu 0°C (32°F). titik didih ini
mungkin tidak bermasalah di Negara tropis seperti Indonesia yang suhunya
tidak mencapai 00C atau bahakan negatif. Namun di Negara yang pada musim
tertentu suhunya mancapai 00C bahkan negative, tidak menutup kemungkinan
akan terjadi pembekuan pada sistem pendingin apabila cairan pendingin
menggunakan air murni.
Dengan kondisi demikian maka perlu adanya solusi untuk menghindari
pembekuan pada cairan sistem pendingin. Maka cairan pendingin ditambahkan
dengan zat tambahan seperti ethylene glycol (antibeku). Antifreeze
diklasifikasikan menjadi dua tipe : Alkohol base dan Etylene glycol base.
Umumnya, Ethylene glycol base lebih banyak digunakan karena efek terakhir

Nissan College 14 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
dari Alcohol base hanya sementara (musim). Efek dari Ethylene glycol base
dapat bertahan lebih lama sehingga disebut dengan Long Life Coolant (LLC).
Tujuan penggunaan LLC untuk engine coolant adalah sebagai tambahan
untuk mencegah pembekuan, mencegah karatan pada radiator dan engine
block, melumasi water pump, menaikkan titik didih air, dan lainya. Efek dari LLC
bervariasi berdasarkan pada jarak mil pemakaian, masa pakai, tipe engine dan
lain-lain yang berhubungan dengan Service Manual mengenai pemeriksaan dan
perawatan berkala. Ketika menggunakan salah satu Nissan genuine coolant
atau produk yang mirip, maka pemeriksaan dan perawatan berkala menjadi
berubah. Jika melalaikan pemeriksaan atau penggantian LLC, maka bagian
dalam radiator dan silinder akan berkarat dan selanjutnya water pump radiator
akan tersumbat, menyebabkan overheating. Cooling water dengan efisiensi
yang kurang baik karena terdapat kotoran juga dapat menyebabkan masalah
pada water pump.
Pemeriksaan engine coolant diperlukan untuk mengetahui apakah LLC
bekerja dengan baik atau tidak. Terdapat beberapa cara untuk memeriksa
engine coolant. Jarak mil atau masa pakai mungkin bisa diperiksa setelah
menggunakan coolant baru. Perbandingan campuran engine coolant mungkin
juga bisa diperiksa. Untuk memeriksa perbandingan campuran, sebuah
hydrometer atau sebuah battery coolant tester harus digunakan. Apabila
menggunakan hydrometer, data di bawah ini dapat dijadikan acuan sebagai
pungukuran.

Nissan College 15 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
G. SISTEM PELUMASAN

1. Fungsi sistem pelumasan


Sistem pelumasan merupakan salah satu sistem pada kendaraan yang
sangat penting. Fungsi sistem ini antara lain:

Fungsi dimaksud pada gambar di atas adalah sebagai berikut:


a. Lubrication
Sistem pelumasan berfungi mengurangsi gesekan pada komponen yang
bergesekan dan berotasi untuk menjegah terjadinya keausan yang
berlebihan.
b. Sealing
Sistem pelumasan berfungsi sebagai sealer antara dinding silinder dan
piston untuk menghindari terjadinya kehilangan energi (energy loss)
c. Cooling
Sistem pelumasan berfungsi sebagai pendingin untuk mencegah
penguncian antara piston dan dinging silinder.

Nissan College 16 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
d. Cleaning
Sistem pelumasan berfungsi membersihkan jelaga oleh pembakaran untuk
menjaga agar komponen di dalam mesin tetap bersih.
e. Anti-rust dan corrosion
Sistem pelumasan berfungsi mencegah komponen dari adanya karat dan
korosi oleh adanya oksida dan air dari hasil pemabakaran.
f. Baffer action
Sistem pelumasan berfungsi meredam getaran mekanis dari komponen.

2. Kasifikasi Pelumas Berdasarkan Tingkat Performa


Berdasarkan tingkat performanya, pelumas diklasifikasikan dalam
beberapa standar seperti: API, ILSAC and ACEA.
a. American Petroleum Institute (API).
API secara luas digunakan di seluruh dunia. API disertifikasi oleh engine oil
licensing certification system (EOLCS) yang diselenggarakan oleh American
Petroleum Institute, Society of Automotive Engineers, American Society for
Testing and Materials, American Automobile Manufacturers Association dan
lain-lain.

Standar oli di bawah naungan API yang didesain untuk mesin bensin
diberi simbol “S” ( Service) misalnya: SF dan SG
Standar oli di bawah naungan API yang didesain untuk mesin diesel
diberi simbol “C” ( Commercial) misalnya: CF dan CG

Oli mesin yang di sertifikasi oleh API diseombokan seperti gambar di bawah
ini.

Nissan College 17 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
b. International Lubricants Standardization and Approval Committee (ILSAC)
Standar ILSAC menambahkan kinerja efisiensi bahan bakar dengan
klasifikasi layanan API dan menentukan 30 nilai viskositas. ILSAC
disertifikasi oleh EOLCS sebagai API. (Misalnya GF1 dan GF2)

c. Association des Constructers Europeans Automobiles (ACEA)

ACEA merupakan standar untuk oli mesin di Eropa dengan kriteria yang
lebih ketat dalam hal penguapan oli, kompatibilitas oil sealant, dll daripada
sertifkasi oleh EOLCS maupun API.

Pada service manual, pembahasan mengenai kalsifikasi oli lebih sering


menggunakan standar API, sehingga pembahasan lebih ditekankan pada
standar API. Standar API menunjukkan kemampuan yang diperlukan oleh oli
seperti efisiensi bahan bakar, ketahanan panas dan lain lain.

Nissan College 18 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Standar API digambarkan sebagai berikut:

3. Klasifikasi oli berdasarkan kekentalan (Viskositas)


Standar Society of Automotive Engineers (SAE) umumnya digunakan untuk
mengklasifikasikan kriteria viskoasitas. Indikasi di bawah ini merupakan contoh
simbol kekentalan berdasarkan standar SAE.

Nissan College 19 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
4. Komponen sistem pelumasan
Sistem pelumasan akan berfungsi secara optimal dengan ditunjang oleh
beberapa komponen berikut:
a. Oil Pump
Oil pump atau pompa oli berfungsi untuk mengedarkan oli ke seluruh
wilayah engine yang memerlukan pelumasan melalui oil jacket. Pompa oli
memiliki beberapa jenis diantaranya tipe Trochoid dan tipe Duo-centic
gear. Perbedaan kedua tipe tersebut ditunjukkan pada gambar berikut ini:

b. Oil Pressure Regulator


Oil pressure regulator memegang peran penting pada sebuah sistem
pelumasan. Oil pressure regulator berfungsi mempertahankan tekanan di
dalam sirkulasi oli. Ketika tekanan rendah (rpm rendah) oli akan bersirkulasi
normal, namun pada putaran tinggi oli akan melewati saluran bypass dan
mendorong pegas katup sehingga tekanan oli akan berkurang. Kemudian
ketika tekanan menurun katup bypass akan menutp kembali.

Nissan College 20 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
c. Oil Filter
Pada sebuah sirkulasi oli, tidak menutup kemungkinan debu dan geram-
geram berkontaminasi dengan oli. Apabila hal ini dibiarkan maka akan
menggangu fungsi oli bahkan merusak komponen engine, sehingga
diperlukan filter oli. Sirkulasi oli pada oil filter yang masih normal (bersih) oli
akan masuk ke saluran inlet dan melewati filter oli kemudian keluar melalui
saluran outlet. Namun pabila oil filter sudah dipenuhi oleh kotoran dan
geram-geram maka oli tidak dapat melelwati filter sehingga langsung
melewati relief valve oil filter (sejenis bypass) sehingga dalam hal ini oil
sudah tidak di filter lagi.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pada kilometer tertentu oil filter
harus diganti. Perhatikan gambar berikut:

Nissan College 21 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
5. Sirkuit/Aliran Sistem Pelumasan
Sirkulasi oli di dalam sistem pelumasan dipompa oleh oil pump dan
dialirkan ke seluruh komponen yang memerlukan elumasan seperti pada
gambar dan alur sirkulasi sistem pelumasan berikut ini:

Nissan College 22 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
H. SISTEM ALIRAN UDARA
Salah satu syarat terjadinya proses
pembakaran adalah banyaknya udara serta
aliran udara itu sendiri, semakin banyak
udara yang masuk dengan aliran yang
cepat dan campuran yang homogen,
maka semakin baik pula terjadinya
proses pembakaran. Pada Mesin Diesel
sistem udara sangatlah berperan
penting dalam proses pembakaran.
Pada era karburator, siklus sistem aliran
udara adalah sebagai berikut:

Udara Air Cleaner Karburator Intake Manifold Mesin

Muffler/Knalpot Exhaust Manifold

Nissan College 23 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Seiring berjalannya waktu, teknologi berkembang dari sistem karburator
menjadi sistem injeksi dimana terdapat beberapa sensor untuk mendeteksi jumlah
aliran udara yang masuk seperti Mass Airflow Sensor. Dalam hal ini siklus aliran
udara ditunjukkan seperti gambar berikut ini:

Setelah menggunakan beberapa sensor dan komponen lain seperti IACV,


sistem aliran udara berkembang seiring dengan perkembangan dari sistem injeksi
bahan bakar menjadi sistem ECCS. Sistem aliran udara pada ECCS hampir sama
dengan sistem aliran udara pada sistem injeksi bahan bakar biasa namun pada
ECCS komponen tambahan speerti IACV tidak digunakan lagi melainkan
digunakan bebrapa komponen penunjang lain seperti berikut ini:

1. Variable Induction Air Control System (VIAS)


VIAS berfungsi untuk mengatur jumlah udara yang masuk ke dalam
intake manifold sesuai dengan kondisi mesin. Saat kendaraan berjalan pada
kecepatan sedang, ECM mengirimkan sejumlah tegangan ke VIAS untuk
memposisikan VIAS dalam kondisi ON. Apabila VIAS dalam kondisi ON maka
katup aktuator VIAS akan menutup, hal ini akan membuat aliran udara pada
intake manifold menjadi panjang dan meningkatkan efisiensi hisapan udara
sehingga torsi yang dihasilkanpun meningkat. Perhatikan gambar dibawah ini:

Nissan College 24 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Ketika mesin bekrja pada kecepatan rendah dan tinggi maka ECM
mengirim sejumlah tegangan untuk meng-OFF kan VIAS. Hal ini akan
mengakibatkan katup solenoid justru terbuka. Hal ini akan memperpendek jalur
hisapan sebagaimana pada simbol “B”. ini dilakukan karena pada kecepatan
rendah dan tinggi daya hisap jestru menurun dan tidak memerlukan pasokan
udara yang terlalu banyak. Perhatikan gambar berikut ini:

Nissan College 25 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
2. Tumble Control System
Tumble control system adalah sebuah sebuah katup control yang
dipasang pada masing-masing intake manifold. Katup control ini bekerja seperti
daun pintu yang berfungsi memperlebar dan memprsempit aliran udara ke
dalam ruang bakar. Dengan adanya tumble control solendoid ini diharapkan
udara yang masuk ke ruang bakar dapat bervariasi sesuai dengan kondisi
mesin. Perhatikan gambar berikut ini:

3. Three Way Catalitic (TWC)


Three way catalytic adalah komponen yang dipasang antara exhaust
manifold dan peredam. TWC berfungsi merubah gas beracun dan berbahaya
menjadi gas yang tidak berbahaya sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan.
TWC akan mengubah 90% gas CO, HC dan NOx menjadi carbon dioxide (CO2),
nitrogen (N2) dan Air (H2O). selain mengubah gas beracun menjadi gas yang
aman bagi lingkungan, TWC juga turut serta membantu ketercapaian campuran
stoikiometri (14,7:1) dengan bantuan closed loop system dan didukung oleh
oxygen sensor. Perhatikan konstrusi TWC berikut:

Nissan College 26 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
4. Turbo Charger
Tekanan hasil pembakaran
yang melalui exhaust, digunakan
untuk memutarkan turbin wheel,
dimana turbin tersebut memiliki satu
poros terhadap kompresor, sehingga
udara yang masuk melalui intake
manifold akan lebih banyak dan
berturbolensi, sehingga udara dan
bahan bakar tercampur lebih baik
(homogen)

I. SISTEM BAHAN BAKAR


Sistem bahan bakar merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah
kendaraan. Bahan bakar di dalam tangki berbentuk cair, sedangkan bahan yang di
bakar di dalam ruang bakar adalah berbentuk uap gas. Disinilah fungsi sistem
bahan bakar untuk mengubah dari bahan bakar cair menjadi uap / gas bahan bakar.
Dari waktu ke waktu sistem bahan bakar mengalami perkembangan mulai dari era
karburator sampi injeksi.

1. Sistem bahan bakar konvensional (Karburator)


Sistem bahan bakar
konvensional dalam hal ini adalah
sistem bahan bakar yang masih
menggunakan karburator sebagai
sarana menguapkan bahan bakar
cair dan memsaukkannya ke dalam
ruang bakar. Pada sistem bahan
bakar jensi karburator ini bahan
bakar masuk ke dalam ruang bakar
berdasarkan kevakuman di dalam ruang bakar. Secara sederhana kevakuman
ruang bakar dapat diartikan sebagai kondisi dimana tekanan udara di dalam
ruang bakar di bawah tekanan udara 1 atm.

Nissan College 27 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Tingkat kevakuman paling tinggi di dalam ruang bakar adalah pada saat
putaran idle atau kondisi dimana throttle sedang tertutup. Hal ini karena ada
langkah hisap di dalam ruang bakar sedangkan akses masuknya udara ke
dalam ruang bakar tertutup oleh throttle. Sehingga pada mesin karburator
dibuatlah saluran idle atau sering disebut slow jet. Saluran slow jet ini berfungsi
untuk memasukkan udara dan bahan bakar ke dalam ruang engine pada saat
throttle dalam kondisi tertutup.
Permasalahan utama pada sistem bahan bakar karburator adalah ketika
mesin sedang deselerasi, dimana throttle dalam kondisi tertutup sedangkan
mesin sedang dalam putaran tinggi, kevakuman di dalam ruang bakar pasti
sedang tinggi. Situasi deselerasi adalah keadaan dimana kendaraan sedang
melambat atau mungkin driver akan mengehentikan kendaraan, tentunya tidak
membutuhkan bahan bakar untuk di bakar. Akan tetapi deselerasi pada sistem
bahan bakar konvensional justru memasukan bahan bakar ke dalam ruang
bakar, dan hal ini menyebabkan bahan bakar terbakar sia-sia. Perhatikan
gambar berikut:

Nissan College 28 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
2. Sistem bahan bakar pada ECCS (Injeksi)
Berawal dari beberapa kekurangan dari sistem bahan bakar karburator,
maka teknologi berkembang ke sistem injeksi bahan bakar. Pada sistem injeksi
ini bahan bakar masuk ke dalam ruang bakar tidak mengandalkan kevakuman
sebagaimana pada sistem karburator. Sistem injeksi bahan bakar memasukkan
bahan bakar dengan ditekan oleh pompa bahan bakar kemudian di semprotkan
melalui injector. Banyaknya bahan bakar yang diinjeksikan tergantung dari
lamanya injector membuka. Adapu waktu penginjeksian ditentukan oleh laporan
beberapa sensor kepada ECM.

J. SISTEM PENGAPIAN

Nissan College 29 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Sistem pengapian berfungsi untuk menghasilkan percikan bunga api di
dalam ruang bakar, dimana percikan bunga api tersebut digunakan untuk
memantik pembakaran campuran udara dan bahan bakar. Dari waktu-kewaktu
sistem pengapian mengalami beberapa perkembangan sebagai berikut:

1. Sistem pengapian konvensional.


Sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian yang sudah
banyak dipahami oleh teknisi, yakni sstem pengapian yang memiliki komponen
pendukung seperti: ignition coil, distributor, spark plugs dan kabel tegangan
tinggi seperti gambar berikut:

2. Sistem pengapian dengan power transistor.


Berawal dari permasalahan pada sistem pengapian konvensional,
NISSAN mengembangkan teknologi sistem pengapian yang dikontrol oleh ECM.
Sistem pengapian merupakan salah satu bagian dari sistem pada kendaraan
Nissan yang dikendalikan oleh sistem ECCS. Sistem pengapian jenis ini sudah

Nissan College 30 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
tidak menggunakan distributor sebagai penentu silinder mana yang
membutuhkan pengapian dan sumber tegangan tinggi tidak hanya
menggunakan satu koil, melainkan tiap-tiap silinder memiliki koil tersendiri
sebagai pembangkit tegangan tinggi dan masing-masing koil memiliki power
transistor sebagai penghubung dan pemutus arus sebagaimana platina pada
sistem pengapian konvensional. Perhatikan gambar berikut:

Prinsip kerja pada sistem pengapian dengan power transistor adalah ECM
menentukan timing pengapian berdasarkan sinyal dari sensor kecepatan mesin
dan lebar gelombang penginjeksian (injection pulse). Dua hal ini sama dengan
centrifugal dan vacuum advancer pada sistem pengapian konvensional. Dalam
menentukan timing pengapian, ECM memerlukan informasi dari beberapa sensor-
sensor yang terkait dengan sistem pengapian (pembahasan sensor-sensor ada di
section:ECCS). Untuk mengetahui sensor sensor yang terkait dengan sistem
pengisian, perhatikan gambar berikut ini:

Nissan College 31 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Nissan College 32 Revisi Des 2015
PT. Nissan Motor Indonesia
K. SISTEM STARTER

1. Konstruksi Sistem Starter


Sistem starter berfungsi untuk
memutar mesin. System starter ini
umumnya menggunakan motor DC
yang menggunakan arus dari baterai
sebagai sumber tegangan. Motor
tersebut akan berputar ketika kunci
kontak diputar ke posisi ST (START).
Momen puntir motor starter disalurkan
melalui pinion gear pada starter motor
ke gigi-gigi flywheel yang melekat pada
crankashaft.
Ketika mesin di-start, torsi dalam jumlah besar diperlukan untuk menekan
campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder mesin, dan mengatasi
resistansi kekentalan oli mesin dan beban lainnya. Oleh karena itu arus dalam
jumlah besar (150A – 200A) harus mengalir melalui motor starter, sebagai
konsekuensinya baterai harus terisi penuh.
Perhatikan konstruksi sistem starter berikut ini:

Nissan College 33 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
2. Cara kerja sistem starter
 Ignition switch: OFF
Ketika kunci kontak diposisikan ke “OFF”, contact terbuka oleh karena adanya
pegas, hal ini untuk mencegah arus mengalir ke motor sebelum waktunya.

 Ignition switch: ST Position


(Saat kunci kontak dirubah ke posisi ST)
Dengan digerakkan kunci kontak ke posisi ST, arus mengalir dari baterai
melalui terminal S ke shunt coil dan series coil. Hal ini menyebabkan core
menjadi magnet dan menarik plunger ke kiri. Gerakan plunger mengantarkan
pinion melalui shift lever, sehingga pinion bergerak ke sebelah kanan dan mulai

Nissan College 34 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
berkaitan dengan ring gear. Sebelum kontak terminal B dan M tertutup,
arusnmengalir ke series coil kemudian masuk ke motr. Oleh karena itu motor
mulai berputar dengan perlahan.

 Ignition switch: ST Position


(Saat engine sedang cranking)
Oleh karena plunger tertarik penuh, contacts tertekan dan berhubungan penuh.
Situasi ini menghubungkan terminal B dan terminal M, dan arus dalam jumlah
besar (biasanya 150A – 200A) mulai mengalir ke motor. Kemudian motor mulai
berputar dengan cepat.

Nissan College 35 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
Pada saat bersamaan, pinion berkait penuh dengan ring gear dan memutar
mesin dengan kekuatan penuh.
Arus tidak akan mengalir ke series coil ketika kontak terminal B dan M sedang
berhubungan penuh. Kontak masih tetap berhubungan dengan mengandalkan
kemagnetan pada shunt coil.

Note : ketika terminal B dan M terhubung, arus mengalir melalui kedua


terminal karena keduanya tidak memiliki nilai resistansi yang berarti,
sehingga arus tidak mengalir ke series coil karena nilai resistansinya lebih
tinggi.

 Ignition switch: ST Position to ON position

(saat kunci kontak dirubah dari poisi ST ke ON)


Ketika kunci kontak diubah dari ST ke ON, setelah mesin hidup, arus mengalir
melalui series coil pada arah sebaliknya, hal ini juga menyebabkan kemagnetan
antara series coil dan shunt coil bersifat netral karena saling mnghilangkan.
Hasilnya plunger kembali ke posisi semula karena adanya gaya dari pegas
pengembali. Kembalinya plunger ke posisi semula menyebabkan pinion dan
ring gear tidak berhubungan, pada saat yang bersamaan kontak terminal B dan
M menjadi terputus karena gerakan plunger tersebut.

Nissan College 36 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
L. SISTEM PENGISIAN
1. Konstruksi Sistem Pengisian
Mobil memiliki banyak perangkat elektronik, seperti system starter,
penerangan, radio dan lain sejenisnya. Perangkat tersebut dioperasikan oleh
arus listrik yang disuplai oleh baterai dan alternator. Jumlah power yang
dihasilkan tergantung pada spesifikasi alternator dan kecepatan mesin. Power
yang hasilkan terkontrol secara otomatis tergantung kondisi baterai dan
penggunaan perangkat kelistrikan pada kendaraan tersebut (beban) pada
waktu tertentu. Secara umum, baterai tidak terisi ketika mesin berputar idle.
Dan ketika putaran mesin meningkat, baterai akan terisi oleh alternator. Adapun
konstruksi dari alternator adalah sebagai berikut:

2. Cara kerja sistem pengisian.


Cara kerja pengisian baik di posisi kunci kontak ON, engine running dan
lain-lain adalah sebagai berikut:
 IGNITION SWITCH: ON ENGINE: OFF
Ketika kunci kontak ON, arus mengalir melalui jalur berikut ini:
Battery  Ignition switch  Charge Lamp  Alternator terminal L 
Rotor  Terminal F  Tr1  Ground
Hasilnya, lampu indikator pengisian menyala.

Nissan College 37 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
 IGNITION SWITCH: ON ENGINE: RUNNING
Pada saat ini aliran arus adlah sebagai berikut:
Diodeass’y  IC Regulator  Terminal B  Battery
(aliran arus ini berfungsi mengisi arus pada baterai)
Diodeass’y  Rotor  Terminal F  Tr1  Ground
(arus yang digunakan untuk membangkitkan kemagnetan pada rotor tidak
disuplai oleh baterai tetapi dari output alternator itu sendiri).

Nissan College 38 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
 ENGINE RUNNING AT HIGH SPEEDS
Pada saat ini aliran arus adalah sebagai berikut:
Diode ass’y  IC Regulator  Terminal B  Terminal S  Zener diode 
Tr2  Ground

Nissan College 39 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
M. SISTEM AIR CONDITIONER (AC)
A/C adalah alat yang dapat mengatur temperatur udara dalam kendaran
sesuai dengan tingkat kenyamanan yang diinginkan penumpang. Kendaraan atau
mobil sekarang pada umumnya sudah memiliki / dilengkapi dengan air conditioner,
adapun fungsi dari air conditioner secara umum adalah:
- Memanaskan dan mendinginkan ruangan
- Mensirkulasikan udara
- Mengurangi kelembaban Udara
Sistem Air Conditoning ini menggunakan media Gas Freon (CFC atau R 134a),
serta dilengkapi beberapa komponen-komponen penunjang seperti terlihat pada
gambar.

Adapun prinsip kerja sistem A/C adalah sebagai berikut:


1. Kompressor mengkompresikan gas freon dengan cara menggunakan tenaga
dari mesin dengan bantuan belt ke engine pulley dan magnetic clutch pada
kompressor

Nissan College 40 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia
2. Gas freon yang sudah dikompresikan kemudian di kondensasikan dengan
menggunakan condensor ( mirip dengan radiator ). Gas freon panas
didinginkan sehingga berubah menjadi freon cair, dengan menggunakan fan
3. Cairan freon yang sudah dikompresikan kemudian disaring terlebih dahulu oleh
receiver drier sebelum di ekspansikan oleh expansion valve ke evaporator
4. 4. Kemudian evaporator merubah cairan dingin freon menjadi gas dingin
sebelum diteruskan ke kompressor kembali. .
Gas dingin yang terdapat di sekitar evaporator tersebut dihembuskan oleh
blower ke ruang kabin atau penumpang. Namun apabila menginginkan temperatur
yang hangat, udara yang dihembuskan dapat melalui heatercoil. Perhatikan
gambar berikut:

Nissan College 41 Revisi Des 2015


PT. Nissan Motor Indonesia

Anda mungkin juga menyukai