Modul Ajar: Bahasa Indonesia
Modul Ajar: Bahasa Indonesia
BAHASA
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Alokasi waktu : 6 JP
Jumlah siswa :
INDONESIA
KOMPETENSI AWAL
Fase :F
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
PERTEMUAN 2
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
2
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
PERTEMUAN 3
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
3
[Link] didik menulis teks novel/cerpen yang ada sesuai dengan contoh yang telah dibaca
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
4. Peserta didik mempresentasikan teks novel/cerpen di depan kelas
5. Peserta didik secara bergantian menyampaikan pendapat atas hasil presentasi kelompok lain (L3)
6. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru terkait tulisan teks novel/cerpen yang telah
dibuat
7. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
8. Peserta didik mengumpulkan teks novel/cerpen dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan penulisan teks novel/cerpen yang tepat
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
ASESMEN
Diagnostik
Lembar observasi dengan instrumen angket daring di Microsoft form
Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa
Aktivitas siswa selama belajar sebelumnya
Kondisi keluarga siswa dan pergaulan siswa
Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
Formatif
1. Pengetahuan
Bentuk : tes lisan, dan refleksi
2. Keterampilan
Bentuk : unjuk kerja
3. Sikap Profil Pelajar Pancasila
Bentuk : observasi
Sumatif
Tes tulis
Tes unjuk kerjai
Bentuk asesmen
Tes lisan dan refleksi
Esai
Unjuk kerja
PENGAYAAN DAN REMIDIAL
PENGAYAAN
Peserta didik dengan pencapaian tinggi diberikan pengayaan berupa kegiatan tambahan membaca
teks novel/cerpen
REMIDIAL
Peserta didik yang menemukan kesulitan/sulit memahami konsep dapat diberikan materi tambahan berupa
latihan mandiri dengan guru (dilakukan ketika guru melakukan formatif asesmen, dan peserta didik lainnya
sedang beraktivitas)
Peserta didik diberikan kutipan sebuah teks novel/cerpen dan diidentifikasi isi, ciri, dan bagian
untuk berlatih di luar jam pelajaran
Peserta didik diberikan waktu khusus sebelum masuk kelas pelajaran Bahasa Indonesia untuk
mengeksplorasi teks novel/cerpen
REFLEKSI PESERTA DIDIK DAN GURU
Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
Adakah hal menarik lainnya?
Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratikkan pembelajaran?
Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam belajar teks novel/cerpen?
Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
Apakah kamu merasa puas dapat menyelesaikan pembelajaran hari ini?
Apakah kamu dapat merefleksikan seluruh kegiatan pembelajaran hari ini dan dapatkah
pembelajaran hari ini digunakan acuan dalam pengembangan kehidupan sehari-hari
BAHAN BACAAN SISWA
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Blog guru : [Link]
4
GLOSARIUM
Esai : karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi
penulisnya
fakta : sesuatu hal yang benar-benar ada dan terjadi, fakta sering juga disebut dengan kenyataan
opini : pendapat atau pikiran seseorang yang belum tentu benar karena tidak/ belum ada bukti
kebenarannya
teks novel/cerpen : digunakan untuk menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan dari penulis
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
5
DAFTAR LAMPIRAN
1. Teks novel/cerpen
2. Lembar Materi Ajar
3. LK PD
4. Lembar Observasi Sikap
5. Lembar Asesmen Diagnostik
6. Lembar Asesmen Formatif
7. Lembar Asesmen Sumatif
8. Lembar Rubrik Penilaian Formatif
9. Lembar Rubrik Penilaian Sumatif
10. Lembar Refleksi
6
LAMPIRAN 1
Teks cerpen
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
BAIKLAH kumulai dengan fakta tak
terbantah: pada 27 Februari 1907 Samin
Soerosentiko ditangkap. Sebelum dia dibuang ke
Sawahlunto, Padang, aku, Asisten Residen Blora,
kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda,
telah mencatat hasil interogasi perih lelaki yang
secara diam-diam kukagumi itu. Sejak itu, kau
tahu, warga Randublatung, seperti kehilangan
patih, seperti kehilangan ratu.
Akan tetapi, ada juga fakta yang
kusembunyikan: sembilan hari kemudian
seseorang—yang semula kuanggap hantu bermuka pucat—malam-malam datang ke
rumahku dan memperkenalkan diri sebagai Samin. “Aku Samin. Aku masih di Kedung
Tuban. Tak satu pun kompeni yang bisa menangkapku.”
Tentu saja aku kaget. Aku hafal benar wajah Samin Soerosentiko. Namun harus
kuakui raut lelaki beraroma daun jati itu sungguh serupa dengan anak Soerowidjojo[1],
serupa dengan Kohar[2].
“Sila duduk,” aku mencoba menyembunyikan keterkejutan. “Kau dari mana dan
akan ke mana?”
Sejenak sunyi. Rasanya aku melihat daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di
halaman tak bergerak.
Setelah lelaki 48 tahun itu menyeruput minuman yang disajikan oleh jongosku, dia
menjawab pertanyaanku dengan tenang. Kata dia, “Aku dari hati dan akan kembali ke
hati.”
Ini jawaban khas Samin. Meskipun demikian, aku tak sepenuhnya percaya lelaki
kurus dengan kumis melintang ini benar-benar Soerosentiko. Karena itulah, aku
memancing dengan beberapa pertanyaan lagi. Aku meniru pertanyaan yang diajukan sang
interogator kepada Samin sesaat setelah dia ditangkap. Aku hanya mengulang apa pun
laporan yang sudah termaktub di Het Nieuws von Den Dag pada 5 Maret 1907.
“Siapa namamu?” tanyaku, sedikit gugup.
“Aku wit. Wit itu pohon. Orang-orang memanggilku Kalang atau Kasmin. Kompeni
memanggilku Kasmin Kalang. Tetapi aku sesungguhnya Samin. Bukan Samin Soerosentiko.
Samin Soerosentiko tak ada. Samin itu bukan nama. Ia hanya tetenger[3], maknanya
kabut.”
Kubiarkan dia menggugat keberadaan Samin Soerosentiko. Aku harus bersabar
agar tahu lebih banyak tentang laki-laki misterius ini.
“Di mana kamu tinggal?” tanyaku dalam nada resmi.
“Kepalaku adalah rumahku. Pesantrenku, pesantren untuk badanku sendiri, berada
di Kalang. Aku bertetangga dengan hujan. Aku sering bercakap-cakap dengan sungai.”
Hmm, ini jawaban yang agak kacau. Seharusnya dia tidak menyebut-nyebut sungai
atau hujan.
Apakah aku perlu menanyakan dia percaya pada Tuhan? Kurasa tidak perlu.
Percaya atau tak percaya bukan urusanku. Tetapi aku yakin benar lelaki kencana ini sangat
dekat dengan Tuhan sehingga jika kutanya paling-paling dia akan menjawab, “Aku percaya
pada diriku. Aku percaya pada kabut. Aku percaya pada Samin.”
Apakah aku juga perlu bertanya, apakah dia percaya pada surga, neraka, atau
kehidupan setelah kematian? Kurasa juga tidak perlu. Aku yakin pria bermata tajam ini
sangat mengimani keberadaan surga-neraka; jika pun itu kutanyakan, paling-paling dia
akan menjawab, “Surga dan neraka ada di mulutku. Jika mulutku membuncahkan kata-kata
kotor, neraka akan muncrat ke mana-mana. Sebaliknya jika mulutku menguarkan kata-kata
wangi, surga akan bertebaran ke hati siapa pun. Adapun tentang kematian, sedikit pun aku
tak percaya, karena di kubur atau di mana pun, aku tetap hidup.”
Karena itulah, kuteruskan dengan pancingan lain. “Apakah Tuhan menyayangimu?”
“Apakah kerbau menyayangimu?” dia balik bertanya.
Aku tertawa. Dia juga tertawa.
“Ayolah jawab! Apakah kerbau menyayangimu?”
7
Aku tak mau menjawab. Aku justru teringat ramalan atau nubuat Samin
Soerosentiko perihal kerbau. Samin pernah bilang, “Kerbau jawa masukkanlah ke kandang,
kerbau bule biarkan di luar.[4]” Itu berarti tak lama lagi kami—yang mereka sebut sebagai
kompeni—akan pergi dan orang-orang Jawa akan berkuasa.
“Baiklah kalau kau tak mau menjawab,” dia tampak mulai tak sabar, “akan kujawab
sendiri pertanyaan itu. Kerbau menyayangimu karena mereka menganggapmu sebagai
kerbau. Kerbau menyayangi Tuhan karena ia menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang tak
tersentuh oleh akal. Bukan akal manusia, tetapi akal kerbau.”
“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari
kegelapan itu sedang mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau
tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan
beberapa pertanyaan lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok,
aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan
yang keliru. Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya
dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri
kayu. Kau tahu, sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora,
Grobogan, dan Bojonegoro sebagai miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak
hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan sebagai houtvesterijen. Rakyat
dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti tahu, aku
bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi
mana pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek.
“Maling milik kompeni boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau
melihat hal-hal yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau
mendengarkan apa pun yang tak pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah
mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan
berbagai pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau
bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan
apa pun sehingga aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku.
Untuk sementara aku harus menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi
meniadakan Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan,
dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut
Agama Adam lahir dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan
dimakan. Kami juga tumbuh dari pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk
hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit,
palawija, burung, kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa
pun yang digunakan untuk urip bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa
kewan[5].”
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin.
Akan tetapi beberapa bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan.
Hanya, aku yakin kunci terakhir segala persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan
8
kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal ada Ratu Adil yang
menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu
Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan
tetapi ada di dalam rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan
menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran
Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-jangan kau malah akan
ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat
diinterogasi pun tak mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang
ini guru Samin Soerosentiko? Atau jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin
Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang.
Bahkan kami tidak bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali
meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada
aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada malam hari, dan bikin pagar
untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu
sesungguhnya berada di pihak kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam
pertama berbunyi.
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa
sesungguhnya Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai
lelaki misterius itu. Akan tetapi mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika
pagi itu aku menginterogasi beberapa warga, mereka serempak menjawab, “Kami semua
Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal
Hujan, apakah kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal
Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan
dan kutinggalkan mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-
mata mengunjungi Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan
mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu
Kembar? Baiklah kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko,
“Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi
percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku
palsu atau asli. Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh
pengalamanku ini di Het Nieuws van Den Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk
hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap
fakta bahwa seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang
penggelora perlawanan pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh
dari Samin: Mistisisme Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
9
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin
sebagai lijdelijk verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita
pendek, 2014) dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di
Semarang.
[Link]
10
LAMPIRAN 2
Lembar Materi
Ajar
Pengertian Teks Cerita Sejarah
Pengertian teks cerita sejarah dapat dipahami sebagai sebuah teks yang memuat
mengenai penjelasan atau penceritaan tentang suatu fakta dan peristiwa yang terjadi masa
lalu. Teks cerita sejarah sendiri biasanya digunakan untuk mencari asal usul atau latar
belakang munculnya benda atau terjadi peristiwa, sehingga memiliki nilai sejarah.
Dalam konsep pengertian teks cerita sejarah, teks ini pada dasarnya termasuk ke
dalam jenis karya sastra prosa yang bersifat imajinatif. Penyusunan dan penulisan teks
cerita sejarah harus memuat fakta dari peristiwa sejarah yang terjadi.
Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah tidak semua peristiwa di masa lalu
dapat digolongkan sebagai peristiwa sejarah.
Hal itu dikarenakan, suatu peristiwa yang dapat dianggap memiliki nilai sejarah
karena telah memenuhi beberapa syarat. Beberapa syarat teks cerita sejarah antara lain
yaitu, peristiwa tersebut dapat memberikan dampak kepada banyak orang. Selain itu, teks
cerita sejarah hanya dapat memuat peristiwa yang unik, abadi, dan dianggap penting.
Jenis Teks Cerita Sejarah
Setelah Kamu mengetahui tentang pengertian teks cerita sejarah, pada bagian ini
akan dijelaskan tentang jenis dari teks cerita sejarah yang perlu diketahui. Untuk
memudahkan dalam mengingat jenis teks cerita sejarah, Kamu mungkin sudah tahu
tentang novel sejarah atau teks sejarah.
Secara garis besar, novel sejarah dan teks sejarah pada dasarnya masih termasuk
dalam bentuk teks cerita sejarah.
Nah, berikut ini adalah penjelasan tentang dua jenis teks cerita sejarah, diantaranya
yaitu:
1. Fiksi
Jenis teks cerita sejarah yang pertama yaitu fiksi atau biasa dikenal dengan novel
sejarah. Sebagai sebuah karya sastra, novel memang identik dengan karangan imajinatif.
Namun, banyak novel sejarah yang memuat fakta sejarah tentang suatu peristiwa.
Misalnya saja, novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.
Selain novel, teks cerita sejarah juga dapat ditulis ke dalam bentuk cerpen, legenda,
hingga roman. Pembuatan teks cerita sejarah berjenis fiksi biasanya dibuat sesuai data
yang didapatkan dari sumber sejarahnya.
2. Nonfiksi
Jenis teks cerita sejarah yang kedua adalah nonfiksi atau biasa dikenal dengan teks
sejarah. Berbeda dengan cerita fiksi yang mengandung sedikit karangan dari penulis,
bentuk teks cerita sejarah nonfiksi murni berangkat dari fakta yang sebenarnya. Hal ini
menjadikan teks cerita sejarah lebih kuat dalam bagian peristiwa, bukan penceritaan.
Contoh teks cerita sejarah atau teks sejarah misalnya adalah biografi, autobiografi,
catatan perjalanan, dan catatan sejarah. Sementara, karya yang termasuk teks cerita
sejarah yaitu, Sejarah Melayu karangan Shellabear dan Catatan Seorang Demonstran
karya Soe Hok Gie.
11
Selain itu, sebagai cerita sejarah yang menceritakan rangkaian peristiwa yang
terjadi di masa lampau, teks cerita sejarah harus memuat berbagai fakta yang terjadi.
Selanjutnya, teks cerita sejarah juga perlu disusun dan diceritakan dengan runtut atau
kronologis, berdasarkan waktu terjadinya peristiwa sejarah tersebut. Hal penting dilakukan
agar pembaca tidak salah paham dalam memaknai teks cerita sejarah. Dan yang terakhir,
teks cerita sejarah biasanya banyak menggunakan konjungsi temporal, misalnya seperti
lalu, kemudian, sejak, selama, hingga, dan lain sebagainya.
12
keterangan tentang waktu atau kapan suatu peristiwa terjadi.
Dikarenakan teks cerita sejarah, maka keterangan waktunya cenderung menunjukan
masa lampau. Contoh penggunaan keterangan waktu, yaitu: pada zaman, pada waktu,
pada tahun, dan lain-lainnya.
c. Keterangan tempat
Pada kaidah kebahasaan yang ketiga ini, teks cerita sejarah menggunakan keterangan
tempat. Keterangan tempat ini digunakan untuk memberikan keterangan yang
menunjukkan dan menginformasikan lokasi atau tempat terjadinya peristiwa sejarah.
Keterangan waktu dapat ditandai dengan beberapa kata, misalnya di, ke, dan dari.
d. Konjungsi temporal (waktu)
Pada kaidah kebahasaan yang keempat ini, teks cerita sejarah menggunakan konjungsi
temporal. Konjungsi temporal sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kata untuk
menghubungkan sesuatu yang menandai waktu. Berdasarkan letaknya, konjungsi
temporal dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
i. Intrakalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam satu kalimat, misalnya saja pada
kata karena, sebab, dan lain seterusnya.
ii. Antarkalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam dua kalimat, misalnya saja pada
kata oleh sebab itu, oleh karena itu, maka dari itu, dan lain seterusnya.
e. Konjungsi kausalitas (sebab-akibat)
Pada kaidah kebahasaan yang kelima, teks cerita sejarah banyak menggunakan
konjungsi kausalitas. Konjungsi kausalitas sendiri dapat diartikan sebagai sebuah kata
yang menghubungkan sesuatu yang menyatakan sebab akibat. Berdasarkan letaknya,
konjungsi kausalitas dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
i. Intrakalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam satu kalimat, misalnya saja pada
kata karena, sebab, dan lain seterusnya.
ii. Antarkalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam dua kalimat, misalnya saja pada
kata oleh sebab itu, oleh karena itu, maka dari itu, dan lain seterusnya.
f. Nomina
Pada kaidah kebahasaan yang keenam ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan
nomina. Penggunaan nomina biasanya mengacu pada suatu nama, misalnya seperti
nama orang, hewan, benda, atau bisa juga pada gagasan atau ide. Nomina sendiri dapat
dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Modifikatif (unsur inti+pewatas): Hari senin, bulan desember, dan lain sebagainya.
b. Koordinatif (semua inti): Hak kewajiban, tanah air, sandang pangan,dan lain
sebagainya.
[Link] (keterangan): Raja Sriwijaya, Raden Wijaya, Soekarno, Soeharto, dan lain
sebagainya.
g. Verba
Pada kaidah kebahasaan ketujuh ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan verba
dalam menceritakan peristiwa yang pernah terjadi. Verba sendiri adalah kata yang
menunjukkan tindakan, biasanya ditandai oleh imbuhan me-, di-, ber-, ter-, me-kan, ber-
kan, di-kan, dan lain seterusnya.
Contoh penggunaan verba yaitu seperti melihat, melukis, diserahkan, dan lain
sebagainya.
Contoh Teks Cerita Sejarah
Nah, setelah Kamu mengetahui tentang pengertian teks cerita sejarah, jenis, ciri,
struktur, hingga kaidah kebahasaan. Pada bagian ini, Kamu akan disajikan teks cerita
sejarah lengkap dengan analisis dan pembahasannya. Selamat Belajar.
Sejarah Terciptanya Instagram
Orientasi:
Siapa yang tidak kenal dengan instagram? Aplikasi yang berfungsi untuk berbagi
foto dan video ini memungkinkan penggunanya untuk mengambil foto, mem-filter digital,
menambahkan efek, dan mempublikasikan foto tersebut ke berbagai jenis jejaring sosial
yang ada termasuk ke dalam jejaring Instagram itu sendiri.
Instagram sendiri terbentuk dari dua kata utama yakni “insta” yang berarti “instan”
seperti pada kamera jenis polaroid yang lebih akrab disebut dengan foto instan. Dan kata
“gram” mengarah pada kata “telegram” yang cara atau pengaplikasiannya adalah untuk
mengirimkan sejumlah informasi pada seseorang dengan sangat cepat.
13
Urutan Peristiwa:
Burbn, Inc yang merupakan perusahaan start up teknologi yang notabennya hanya
berkonsentrasi pada pengembangan dan pembuatan aplikasi telepon genggam berdiri pada
sekitar tahun 2010 lalu.
Pada mulanya Burbn, Inc sendiri berfokus pada pendalaman seluruh fungsi bahasa
pemrograman yakni HTML5. Namun seiring berjalannya waktu, Mike Krieger dan Kevin
Systorm selaku CEO dari perusahaan ini memilih untuk berfokus hanya pada satu hal saja.
Seminggu lamanya mereka berusaha membuat ide ide yang mungkin dapat
mendatangkan profit, pada akhirnya kedua CEO ini berhasil menciptakan versi pertama
dari Instagram, namun seperti pada prototype pada umumnya, versi awal dari Instagram
ini masih memiliki banyak sekali kelemahan dalam segala sistemnya.
Setelah melalui berbagai tahap penyempurnaan versi Burbn (Instagram) ini
akhirnya sudah dapat diuji coba dengan menggunakan perangkat iphone. Namun tetap saja
dirasa memiliki banyak sekali fitur yang tidak terkategori dengan baik.
Sulit bagi Kevin dan Mike untuk mengatur ulang seluruh fitur yang ada dan
memulai semuanya dari awal. Akhirnya Mike dan Kevin memilih untuk berfokus hanya
pada fitur foto, berkomentar dan menyukai foto saja. Inilah kerangka awal terbentuknya
jejaring sosial Instagram saat ini.
Pada tahun 2012 tepatnya tanggal 09 April diumumkan sebuah berita besar yakni
saham dan kepemilikan Instagram akan diambil alih oleh Mark Zuckerberg selaku pemilik
Facebook dengan uang tunai dan saham senilai 1 miliar dollar.
Reorientasi:
Instagram saat ini telah banyak diminati baik tua maupun muda. Penggunaan yang
mudah dan fitur yang terkesan canggih membuat Instagram semakin populer dari tahun ke
tahun. Dengan jejaring sosial Instagram ini kita dapat mengetahui segala aktivitas teman
teman kita hanya dengan melihat foto dan video mereka.
14
LAMPIRAN 3
Lembar Kerja Peserta
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
15
“Ayolah jawab! Apakah kerbau menyayangimu?”
Aku tak mau menjawab. Aku justru teringat ramalan atau nubuat Samin
Soerosentiko perihal kerbau. Samin pernah bilang, “Kerbau jawa masukkanlah ke kandang,
kerbau bule biarkan di luar.[4]” Itu berarti tak lama lagi kami—yang mereka sebut sebagai
kompeni—akan pergi dan orang-orang Jawa akan berkuasa.
“Baiklah kalau kau tak mau menjawab,” dia tampak mulai tak sabar, “akan kujawab
sendiri pertanyaan itu. Kerbau menyayangimu karena mereka menganggapmu sebagai
kerbau. Kerbau menyayangi Tuhan karena ia menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang tak
tersentuh oleh akal. Bukan akal manusia, tetapi akal kerbau.”
“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari
kegelapan itu sedang mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau
tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan
beberapa pertanyaan lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok,
aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan
yang keliru. Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya
dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri
kayu. Kau tahu, sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora,
Grobogan, dan Bojonegoro sebagai miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak
hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan sebagai houtvesterijen. Rakyat
dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti tahu, aku
bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi
mana pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek.
“Maling milik kompeni boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau
melihat hal-hal yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau
mendengarkan apa pun yang tak pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah
mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan
berbagai pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau
bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan
apa pun sehingga aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku.
Untuk sementara aku harus menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi
meniadakan Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan,
dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut
Agama Adam lahir dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan
dimakan. Kami juga tumbuh dari pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk
hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit,
palawija, burung, kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa
pun yang digunakan untuk urip bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa
kewan[5].”
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin.
Akan tetapi beberapa bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan.
Hanya, aku yakin kunci terakhir segala persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan
16
kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal ada Ratu Adil yang
menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu
Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan
tetapi ada di dalam rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan
menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran
Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-jangan kau malah akan
ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat
diinterogasi pun tak mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang
ini guru Samin Soerosentiko? Atau jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin
Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang.
Bahkan kami tidak bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali
meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada
aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada malam hari, dan bikin pagar
untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu
sesungguhnya berada di pihak kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam
pertama berbunyi.
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa
sesungguhnya Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai
lelaki misterius itu. Akan tetapi mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika
pagi itu aku menginterogasi beberapa warga, mereka serempak menjawab, “Kami semua
Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal
Hujan, apakah kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal
Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan
dan kutinggalkan mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-
mata mengunjungi Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan
mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu
Kembar? Baiklah kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko,
“Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi
percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku
palsu atau asli. Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh
pengalamanku ini di Het Nieuws van Den Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk
hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap
fakta bahwa seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang
penggelora perlawanan pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh
dari Samin: Mistisisme Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
17
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin
sebagai lijdelijk verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita
pendek, 2014) dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di
Semarang.
[Link]
3. Jika kamu akan mencari informasi yang berkaitan dengan teks tersebut di laman
internet, kata apa yang kamu ketikkan di sana?
7. Apakah kamu pernah mendengar tentang orang Samin? Apa yang kamu dengar
tentang orang Samin sebelum membaca teks tersebut?
8. Setelah membaca teks tersebut, apakah menurutmu orang Samin itu baik? Jelaskan
alasanmu!
9. Jika kamu memiliki teman seperti orang Samin pada cerita tersebut, apa yang akan
kamu sampaikan pada temanmu itu? Mengapa kamu berkata demikian?
10. Nilai apa yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut? Jelaskan alasanmu!
18
LAMPIRAN 4
Lembar Observasi
NO KRITERIA TINGKAT KEMAMPUAN
1 2 3
1 Merespon secara Belum Mampu Mampu
verbal/non verbal menunjukkan menunjukkan hanya menunjukkan
kemampuan sama salah satu dari pemahaman melalui
sekali bahasa verbal/non bahasa nonverbal,
verbal dan verbal.
2 Memberikan Mampu bertanya Mampu bertanya Mampu bertanya
pertanyaan tentang isi dan menjawab dan menjawab isi dan menjawab isi
teks tentang isi dan dan struktur teks dan struktur teks
struktur teks
3 Partisipasi dalam peserta didik peserta didik peserta didik
proses kegiatan mengikuti kegiatan mengikuti semua mengikuti semua
belajar belajar kegiatan, tetapi ada kegiatan dengan
beberapa peserta tuntas
yang tidak tuntas
mengerjakan
tugasnya.
4 Profil Mandiri : memiliki kesadaran memiliki kesadaran memiliki kesadaran
memiliki kesadaran akan diri dan akan diri dan akan diri dan
akan diri dan situasi situasi yang situasi yang situasi yang
yang dihadapi serta dihadapi serta dihadapi namun dihadapi namun
memiliki memiliki regulasi kurang memiliki tidak memiliki
regulasi diri. diri. regulasi diri. regulasi diri.
5 Profil Bernalar Kritis : memperoleh dan memperoleh dan memperoleh dan
memperoleh dan memproses memproses memproses
memproses informasi informasi serta informasi serta informasi serta
serta gagasan dengan gagasan dengan gagasan dengan gagasan dengan
baik, lalu menganalisa baik, lalu baik, namun belum baik, namun tidak
dan mengevaluasinya, menganalisa dan menganalisa dan menganalisa dan
kemudian mengevaluasinya, mengevaluasinya, mengevaluasinya,
merefleksikan kemudian kemudian kemudian
pemikiran dan proses merefleksikan merefleksikan merefleksikan
berpikirnya. pemikiran dan pemikiran dan pemikiran dan
proses berpikirnya. proses berpikirnya. proses berpikirnya.
6 Profil Kritis menghasilkan menghasilkan menghasilkan
menghasilkan gagasan, gagasan, gagasan,
gagasan, karya dan tindakan karya dan tindakan karya dan tindakan
karya dan tindakan yang orisinil, dengan yang banyak
yang orisinil, memiliki memiliki mengadaptasi serta dipengaruhi ide
keluwesan berpikir keluwesan berpikir kurang memiliki yang sudah ada dan
dalam mencari dalam mencari keluwesan berpikir tidak memiliki
alternatif solusi alternatif solusi dalam mencari keluwesan berpikir
permasalahan. permasalahan. alternatif solusi dalam mencari
permasalahan. alternatif solusi
permasalahan.
Jumlah skor
Penghitungan nilai:
Skor maksimal = 6
NILAI AKHIR = Skor perolehan X 10
Skor maksimal
19
LAMPIRAN 5
Lembar Asesmen
1. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
2. Adakah hal menarik lainnya?
3. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam
mempratekkan pembelajaran?
4. Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam pembelajaran ini?
5. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
6. Bagaimana kamu dapat terus mempraktikkan keterampilan ini?
7. Dapatkah kamu merefleksikan pembelajaran hari ini dengan pengembangan
kehidupan sehari-hari?
20
LAMPIRAN 6
Lembar Asesmen
Formatif
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
21
“Apakah kerbau menyayangimu?” dia balik bertanya.
Aku tertawa. Dia juga tertawa.
“Ayolah jawab! Apakah kerbau menyayangimu?”
Aku tak mau menjawab. Aku justru teringat ramalan atau nubuat Samin
Soerosentiko perihal kerbau. Samin pernah bilang, “Kerbau jawa masukkanlah ke kandang,
kerbau bule biarkan di luar.[4]” Itu berarti tak lama lagi kami—yang mereka sebut sebagai
kompeni—akan pergi dan orang-orang Jawa akan berkuasa.
“Baiklah kalau kau tak mau menjawab,” dia tampak mulai tak sabar, “akan kujawab
sendiri pertanyaan itu. Kerbau menyayangimu karena mereka menganggapmu sebagai
kerbau. Kerbau menyayangi Tuhan karena ia menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang tak
tersentuh oleh akal. Bukan akal manusia, tetapi akal kerbau.”
“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari
kegelapan itu sedang mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau
tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan
beberapa pertanyaan lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok,
aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan
yang keliru. Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya
dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri
kayu. Kau tahu, sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora,
Grobogan, dan Bojonegoro sebagai miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak
hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan sebagai houtvesterijen. Rakyat
dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti tahu, aku
bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi
mana pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek.
“Maling milik kompeni boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau
melihat hal-hal yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau
mendengarkan apa pun yang tak pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah
mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan
berbagai pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau
bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan
apa pun sehingga aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku.
Untuk sementara aku harus menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi
meniadakan Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan,
dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut
Agama Adam lahir dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan
dimakan. Kami juga tumbuh dari pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk
hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit,
palawija, burung, kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa
pun yang digunakan untuk urip bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa
kewan[5].”
22
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin.
Akan tetapi beberapa bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan.
Hanya, aku yakin kunci terakhir segala persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan
kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal ada Ratu Adil yang
menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu
Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan
tetapi ada di dalam rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan
menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran
Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-jangan kau malah akan
ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat
diinterogasi pun tak mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang
ini guru Samin Soerosentiko? Atau jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin
Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang.
Bahkan kami tidak bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali
meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada
aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada malam hari, dan bikin pagar
untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu
sesungguhnya berada di pihak kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam
pertama berbunyi.
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa
sesungguhnya Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai
lelaki misterius itu. Akan tetapi mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika
pagi itu aku menginterogasi beberapa warga, mereka serempak menjawab, “Kami semua
Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal
Hujan, apakah kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal
Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan
dan kutinggalkan mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-
mata mengunjungi Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan
mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu
Kembar? Baiklah kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko,
“Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi
percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku
palsu atau asli. Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh
pengalamanku ini di Het Nieuws van Den Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk
hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap
fakta bahwa seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang
penggelora perlawanan pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
23
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh
dari Samin: Mistisisme Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin
sebagai lijdelijk verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita
pendek, 2014) dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di
Semarang.
[Link]
3. Jika kamu akan mencari informasi yang berkaitan dengan teks tersebut di laman
internet, kata apa yang kamu ketikkan di sana?
7. Apakah kamu pernah mendengar tentang orang Samin? Apa yang kamu dengar
tentang orang Samin sebelum membaca teks tersebut?
8. Setelah membaca teks tersebut, apakah menurutmu orang Samin itu baik? Jelaskan
alasanmu!
9. Jika kamu memiliki teman seperti orang Samin pada cerita tersebut, apa yang akan
kamu sampaikan pada temanmu itu? Mengapa kamu berkata demikian?
10. Nilai apa yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut? Jelaskan alasanmu!
24
LAMPIRAN 7
Lembar Asesmen Sumatif
25
26
LAMPIRAN 8
Lembar Rubrik Penilaian
Formatif
PERTEMUAN 1
Nm Deskripsi Skor Bobot
r
1 Menjawab soal nomor 1 dengan tepat 1 10
2 Menjawab soal nomor 2 dengan tepat 1 10
3 Menjawab soal nomor 3 dengan tepat 1 10
4 Menjawab soal nomor 4 dengan tepat 1 10
5 Menjawab soal nomor 5 dengan tepat 1 10
6 Menjawab soal nomor 6 dengan tepat 1 10
7 Menjawab soal nomor 7 dengan tepat 1 10
8 Menjawab soal nomor 8 dengan tepat 1 10
9 Menjawab soal nomor 9 dengan tepat 1 10
10 Menjawab soal nomor 10 dengan tepat 1 10
27
LAMPIRAN 9
Lembar Rubrik Sumatif
28
LAMPIRAN 10
Lembar
a. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
b. Adakah hal menarik lainnya?
c. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam
mempratekkan pembelajaran?
d. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami
instruksi/perintah?
e. Apakah kamu benar-benar sudah memahami tema dan suasana puisi
f. Apakah kamu bisa untuk membuat simpulan keterkaitan tema puisi
dengan kehidupan sehari-hari.
29