0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan16 halaman

LP RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan untuk Respiratory Distress Syndrome (RDS) di ruang NICU RSUD Welas Asih. RDS adalah gangguan pernapasan pada neonatus yang disebabkan oleh keterlambatan perkembangan paru dan kurangnya surfaktan. Laporan ini mencakup definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan konsep asuhan keperawatan terkait RDS.

Diunggah oleh

Alfathir Alfathir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan16 halaman

LP RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan keperawatan untuk Respiratory Distress Syndrome (RDS) di ruang NICU RSUD Welas Asih. RDS adalah gangguan pernapasan pada neonatus yang disebabkan oleh keterlambatan perkembangan paru dan kurangnya surfaktan. Laporan ini mencakup definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan konsep asuhan keperawatan terkait RDS.

Diunggah oleh

Alfathir Alfathir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS) DI


RUANGAN NICU RSUD WELAS ASIH PROVINSI JAWA BARAT

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas


Praktek Profesi Keperawatan Gawa darurat dan Kritis (PPKGK)

NAMA : Mutiara Dwi Puarmawati


NIM : KHGD25088
KELAS : B – PROFESI NERS

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARSA HUSADA GARUT
2025/2026
A. Konsep Teori Respiratory Distress Syndrome
1.1 Definisi Respiratory Distress Syndrome
Sindroma gagal nafas Respiratory Distress Syndrome, (RDS) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan
penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Adolph, 2023).
Syndrome distress pernapasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem
pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai
hyaline membrane disease (HMD) (Wahyuni & Wiwin,2022).
Sindrom gawat npas RDS (Respiratory Distress Syndrome) Sindrom gawat
napas RDS (Respiratory Distress Syndrom) adalah istilah yang digunakan untuk
disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang
berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru (Wijanarti, 2022).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Respiratory Distress Syndrom atau sindrom
gawat nafas adalah gangguan pada sistem pernafasan yang disebabkan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru.
1.2 Etiologi
Penyebab Menurut (Putri, 2022) penyebab RDS (Respiratory Distress
Syndrome) pada neonatus yaitu terdiri dari:
1. Faktor ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih
dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit
pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit
jantung, diabetes melitus, dan lain-lain
2. Faktor janin.
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit
leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur, kelainan
kongenital pada neonatus dan lain-lain.
3. Faktor persalinan
Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain- lain.
Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau tidak
adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paruparu. Sementara afiksia neonatorum
merupakan gangguan pernafasan akibat ketidak mampuan bayi beradaptasi terhadap
asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena adanya masalahmasalah kehamilan
dan pada saat persalinan. Menurut (Pakaya, 2023), etiologi dari RDS yaitu:
a. Ketidakmampuan paru untuk mengembang dan alveoli terbuka. Alveoli masih
kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan pengembangan kurang
[Link] surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap
berkembang dan berisi udara,sehingga pada bayi premature dimana surfaktan
masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi
akan mengalami sesak nafas.
b. Membran hialin berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrate serum (saringan serum protein),difagosit oleh makrofag.
c. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram.
d. Adanya kelainan di dalam dan diluar [Link] dalam paru yang
menunjukan sindrom ini adalah pneumothoraks/ pneumomediastinum penyakit
membran hialin (PMH).
e. Bayi premature atau kurang bulan. Diakibatkan oleh kurangnya produksi
[Link] surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22,
semakin muda usia kehamilan,maka semakin besar pula kemungkinan terjadi
(RDS.).
1.3 Patofisiologi
Respiratory Dinstress Syndrome terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang
disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk
pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri
dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan
tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa
udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia
akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun, tubuh akan beralih ke metabolisme anaerobik
yang menyebabkan penumpukan asam laktat dan asam organik lainnya.
Akibatnya, kondisi ini dapat memicu terjadinya asidosis metabolik.
2. Kerusakan pada endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menyebabkan
terjadinya transudasi cairan ke dalam alveoli, yang kemudian membentuk
fibrin. Fibrin tersebut, bersama dengan jaringan epitel yang mengalami
nekrosis, akan membentuk lapisan membran hialin
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan
aliran darah keparu, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada
bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan
adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan [Link]
punctum terjadi akibat penusukan benda tajam,sehingga menyebabkan contuiniutas
jaringan [Link] umumya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses
peradangan atau [Link] hal ini adapeluang besar terjadinya infeksi hebat
(Rahayu, 2023).
1.4 Manifestasi Klinis
Kematangan paru sangat berpengaruh dengan tingkat keparahan RDS atau
beratnya gejala klinis. Gejala klinis akan semakin parah jika berat badan dan usia
kehamilan juga semakin rendah. Gejala akan muncul setelah beberapa jam bayi
dilahirkan. Bayi dengan RDS yang dapat mempertahankan hidupnya pada 96 jam
pertama memiliki prognosis yang lebih baik. Gejala umum yang terjadi pada RDS
adalah: sesak nafas (lebih dari 60x / menit), nafas pendek, ngorok, bibir keunguan, kulit
pucat, kelelahan, apnea dan pernafasan yang tidak teratur, suhu tubuh
mengalamipenurunan, retraksisupra dan tulang dada bagian bawah, pernafasan lobus
hidung (Wahyuni & Wiwin, 2022).
1.5 Pathway Respiratory Distress Syndrome

Kelahiran Premature

Anatomi Fisiologi belum sempur

Respiratory Distress Syndrome (RDS)

Sirkulasi pernafasan terganggu


Surfaktan menurun Lemak subkutan tipis

Kejang
Suhu tubuh
Paru-paru tidak bisa
dan udara
berkembang secara
berbeda
sempurna Hipoksia
Kurangnya oksigen
(Atelectasis) ke jaringan
Kulit teraba
Gangguan dingin
Kejang dan tidak mampu Pertukaran Perfusi Perifer
menahan sisa udara
Gas (D.0003) Tidak Efektif
fungsional pada akhir Hipotermia
(D.0009)
(D.0131)

Ventilasi paru- paru


terganggu, nafas periodik

Pola Napas
Tidak
Efektif
(D.0005)
1.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pada RDS menurut (Rogayyah, 2024), antara lain:
1. Tes kematangan pada paru
Tes biokimia : Paru-paru pada janin berkaitan pada cairan amnion maka
dari itu jumlah fosfilipid pada cairan amnion berguna untuk
memperkirakan hasil surfaktan, sebagaimana menjadi tolak ukur
kematangan paru.
2. Analisa gas darah
Gas darah menentukkan respiratorik yang diiringi dengan kekurangan
oksigen dan asidosis metabolik. Asidosis terjadi akibat dari atelaksis
alveolus atau pembesaran pada jalan napas terminal.
3. Pemeriksaan radiografi dada
Pada neonatus yang mengalami RDS dibuktikan dengan tekanan saat
respirasi yang buruk, terdapat air bronchograms yaitu gambaran yang
ditunjukkan dengan bronkiolus yang terdapat udara di alveoli yang
kolaps. Gambaran pada jantung bisa saja membesar bahkan tidak
terdapat apa-apa/normal. Penemuan ini bisa saja berbeda hasil dengan
dilakukannya terapi surfaktan sedini mungkin dan tambahan ventilasi
mekanik yang tepat.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah rangkaian interaksi dengan klien dan lingkungan
untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian dalam merawat dirinya
(Setiyorini, 2023).
2.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan catatan tentang hasil pengkajian yang dilaksanakan
untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar tentang klien, dan
membuat catatan respons kesehatan klien. Dalam memperoleh data tidak jarang
terdapat masalah yang perlu diantisipasi oleh perawat. Data hasil pengkajian perlu
didokumentasikan dengan baik (Setiyorini, 2023).
1. Identitas klien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, tanggal lahir, alamat, nama orang
tua, dan nomor rekam medis.
2. Masalah ibu
a. Penyakit seperti diabetes militus, toksemia, plasenta previa,
hipertensi, dan kehamilan ganda.
b. Riwayat kelahiran dini atau abortus, pemakaian narkoba,
alkohol, atau tembakau.
3. Bayi pada saat kelahiran
a. Kepala biasanya lebih besar dari dada, berat badan biasanya
dibawah 2500 g, dan individu kurus. (lingkar kepala 33 cm,
lingkar dada 30 cm, panjang badan 45 cm).
b. Kardiovaskular: denyut jantung apical rata-rata 120-160 denyut
per menit; bunyi jantung seperempat iga; aritmia; tekanan darah
sistolik adalah 45-60 mmHg; dan nadanya antara 100-160
denyut per menit.
c. Sistem pencernaan: perut menggembung, pengeluaran mikorium
biasanya terjadi dalam waktu kurang dari 12 jam, refleks
menelan serta menghisap lemah, dan Gerak peristatik terkait
umur yang terlihat jelas.
d. Mukoloskeletal: Tulang rawan telinga rapuh dan belum
berkembang sempurna.
e. Paru-paru: Rata-rata jumlah napas per menit adalah antara 40
dan 60, dengan gejala apnea, pernapasan tidak merata, hidung
meradang, dan mendengkur bercampur.
f. Urinaria: Ketidakmampuan memecah ekskresi menjadi urin;
buang air kecil setelah 8 jam kelahiran.
g. Reproduksi: Testisnya belum turun ke dalam skrotum, dan
skrotum bayi pria masih mempunyai rugae kecil. bayi Wanita
mempunyai klitoris yang membesar serta labiamayoranya yang
belum berkembang.
4. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan primer merupakan gejala atau keluhan yang memerlukan rawat inap
bagi pasien. Bayi yang mengalami Respiratory Distress Syndrome (RDS)
seringkali mengeluhkan berat badan lahirnya yang kurang dari 2500 gram,
napas cepat, serta ketidakmampuan menyusui.
b. Riwaya Penyakit
Saat ini: Keadaan kesehatan pasien sebelum pengaduan hingga bayi
dipindahkan ke rumah sakit didokumentasikan secara kronologis, mendalam,
dan jelas dalam riwayat perjalanan tersebut (ternasuk cara bayi dirawat sejak
lahir serta terapi apa yang diberikan).
c. Riwayat antenatal
Berikut adalah beberapa hal terkait riwayat antenatal yang harus diperhatikan
atau dipekajari pada kasus RDS; Anemia, hypertensi, gizi buruk, penyakit
kolagen, tumor rahim, merokok, ketergantungan pada obat-obatan dengan efek
samping teratogenic (anti-metabolik), antikonvulsan, pengguanaan trimetadon,
dan penyakit seperti diabetes militus, penyakit kardiovaskular, serta penyakit
paru-paru merupakan factor-factor yang dapat memberi dampak kesehtan ibu
sebelum dan selama kehamilan. Kelahiran dini selama kehamilan
dimungkinkan karena faktor-faktor termasuk persalinan dini sebelumnya atau
kelahiran kembar. Usia kehamilan suatu kehamilan, baik lewat waktu atau
premature, tidak ditentukan dengan mengurangkan hari pertama dari hari dari
hari terakhir.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Gangguan kardio pulmonal, penyakit infeksi, gangguan genetic, diabetes
mellitus.
5. Pola fungsional sehat (Gordon)
a. Pola Nutrisi Metabolik
Selain peberian obat intravena pada bayi, faktor-faktor seperti gangguan
penyerapan gastrointestinal, aspirasi muntahan, dan kelemahan dalam
menghisap harus diteliti pada bayi RDS untuk memenuhi kebutuhan bayi akan
elektrolit, cairan, kalori, serta buat memperbaiki dehidrsi, asidosis metabolic,
dan hipoglikemia. Persyaratan minum neonatal;
Hari ke-1 sebesar 50-60 cc/kg BB/hari,
Hari ke-2 sebesar 90 cc/kg BB/hari,
Hari ke-3 sebesar 120 cc/kg BB/hari,
Hari ke-4 sebesar 150 cc/kg BB/hari,
Harian hingga mencapai 180-200 cc/kg BB/hari.
b. Pola Eliminasi
1) BAB : frekuensi, jumlah, konsistensi, perhatikan adanya dalah dalam feses.
2) BAK : frekuensi, jumlah.
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. Indikator vital: Jika suhu tubuh bayi premature di bawah 37,0 °C, kemungkinan
terjadi hipotermia. Meskipun kisaran suhu tubuh, denyut nadi, dan pernapasan
masing-masing adalah 36,5 °C hingga 37,5 °C, 120- 140, dan 40-60, untuk bayi
baru lahir dengan hipoksia berat, pernapasan tidak teratur sering terjadi.
c. Head to toe :
1) Kepala : Pada pemeriksaan kepala ditemukan fontanel cekung dan
ukuran kepala tampak kecil dengan dahi menonjol, yang dapat
mengindikasikan gangguan neurologis atau dehidrasi akibat kesulitan
menyusu karena sesak napas.
2) Mata : Mata tampak lebar dan konjungtiva pucat, menunjukkan
kemungkinan hipoksia intrauterin yang persisten serta adanya anemia
sebagai dampak dari kekurangan oksigen.
3) Hidung : Bentuk hidung tampak pesek dengan batang hidung yang
sedikit cekung, disertai pernapasan cuping hidung, yang menjadi
indikator adanya gangguan pernapasan seperti aspirasi mekonium atau
RDS.
4) Mulut : Ditemukan refleks menghisap dan menelan yang lemah serta
lendir di rongga mulut, yang mengganggu kemampuan bayi untuk
menyusu dan dapat memperberat gejala sesak napas.
5) Telinga: Telinga tampak simetris, namun perlu diwaspadai adanya
kelainan bawaan karena sering kali berhubungan dengan sindrom
tertentu yang meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
6) Muka : Terdapat sedikit asimetri wajah dan lipatan epikantus, dengan
wajah tampak pucat, yang bisa menjadi ciri dismorfik dan tanda
hipoksia berat
7) Leher : Tidak ditemukan kelainan fiksasi atau hematoma, namun leher
tampak pendek dan lemah menopang kepala, sesuai dengan kondisi bayi
baru lahir yang prematur.
8) Jantung : Denyut jantung didapatkan lebih dari 160 kali per menit
dengan ritme teratur, dan terdengar murmur halus yang dapat
mengindikasikan adanya aliran darah abnormal akibat hipertensi
pulmonal sekunder dari RDS.
9) Abdomen : Bentuk abdomen sedikit cekung (skafoid), dan bayi belum
defekasi dalam 12 jam pertama, yang bisa menunjukkan gangguan
perfusi organ akibat hipoksia sistemik.
10) Genetalia : Genetalia menunjukkan tanda prematuritas, seperti skrotum
yang belum berkerut sempurna dan testis belum turun, atau labia mayora
belum menutupi labia minora.
11) Anus : Anus tampak normal, namun belum ditemukan frekuensi BAB
sejak lahir dan warna tinja belum tampak jelas, sehingga perlu observasi
lebih lanjut.
12) Ekstremitas : Ekstremitas terasa dingin dengan warna kebiruan (sianosis
perifer), gerakan lemah, dan bayi tampak tidak aktif, menunjukkan
adanya gangguan sirkulasi akibat hipoksia.
13) Tumbuh kembang : Berat badan lahir 1800 gram dengan panjang badan
42 cm dan lingkar kepala 30 cm, menunjukkan bayi lahir prematur yang
sangat berisiko mengalami RDS karena belum cukup produksi surfaktan
paru.
7. Evaluasi Riwayat Keluarga
Keluarga tampak cemas namun responsif terhadap kondisi bayi, dengan tidak
ada riwayat gangguan pernapasan pada bayi sebelumnya.
8. Evaluasi nilai apgar
Apgar score bayi pada menit ke-1 adalah 4 dan pada menit ke-5 adalah 6,
menandakan adanya depresi pernapasan dan perlunya tindakan resusitasi segera.
9. Pemeriksaan fisik tambahan
Bayi mengalami takipnea lebih dari 60x/menit, terdengar grunting, terdapat
retraksi dinding dada dan pernapasan cuping hidung, serta tampak pucat dan sesekali
mengalami apnea – semua merupakan tanda khas dari Respiratory Distress Syndrome.
2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon


manusia (status Kesehatan atau risiko perubahan pola) dari individua tau kelompok,
dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan
intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi,
mencegah, dan merubah. Diagnosa keperawatan adalah Keputusan klinis mengenai
seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau
proses kehidupan yang atau potensial. Diagnosa keperawatan merupakan dasar
dalam penyusunan rencana tindakan asuhan keperawatan, sangat perlu untuk di
dokumentasikan dengan baik (Gofur, 2022). Masalah yang muncul menurut
(Fadhillah et al., 2024):

1. Pola nafas tidak efektif b.d Hambatan upaya napas (kelemahan otot
pernafasan) (D.0005).
2. Gangguan pertukaran gas b.d Perubahan membran alveolus-kapiler (D.0003).
3. Perfusi perifer tidak efektif b.d Penurunan aliran arteri dan/atau vena (D.0009)
4. Hipotermi b.d kekurangan lemak subkutan (D.0131)

2.1.1 Perencanaan Keperawatan

Menurut (Fadhillah et al., 2024), Intervensi keperawatan adalah segala

treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan

penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Adapun


intervensi yang sesuai dengan penyakit respiratory distress syndrome adalah sebagai

berikut:

No Diagnosa SLKI (Tujuan dan Kriteria hasil) SIKI (Intervensi


Keperawatan Keperawatan)
1 Pola nafas tidak Pola Napas (L.01004) Manajemen Jalan Napas
efektif b.d (I.01011)
Hambatan upaya Tujuan :
napas (kelemahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan
otot pernafasan) diharapkan pola napas membaik . Observasi:
(D.0005) Kriteria hasil : 1. Monitor pola napas (frekuensi,
1. Dispnea menurun (1-5) kedalaman usaha napas)
2. Penggunaan otot bantu napas
2. Monitor bunyi napas tambahan
menurun (1-5)
3. Pemanjangan fase ekspirasi (misalnya:gurgling,mengi,wheezing,
menurun (1-5) ronchi kering)
4. Frekuensi napas membaik (1-5) [Link] sputum (jumlah, warna,
5. Kedalaman napas membaik (1-5) aroma)
Terapeutik:
4. Pertahankan kepatenan jalan
napas dengan head-tilt dan chin-lift
(jaw thrust jika curiga trauma fraktur
servikal)
5. Posisikan semi-fowler atau fowler
6. Berikan minum hangat
7. Lakukan fisioterapi dada, jika
perlu
8. Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
[Link] hiperoksigenasi sebelum
penghisapan endotrakeal
10. Keluarkansumbatan benda padat
dengan forsep McGill
11. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi:
12. Anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi
13. Ajarkan Teknik batuk efektif
Kolaborasi:
14. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.

2 Gangguan Pertukaran gas (L.01003) Pemantauan Respirasi (l.01014)


pertukaran gas
b.d Perubahan Tujuan :
Observasi:
membran Setelah dilakukan tindakan
alveolus- keperawatan diharapkan 1. Monitor frekuensi, irama,
kapiler (D.0003) pertukaran gas meningkat. kedalaman dan upaya napas
Kriteria hasil :
2. Monitor pola napas (seperti
1. Dispnea menurun (1-5)
2. Bunyi napas tambahan menurun bradypnea, takipnea, hiperventilasi,
(1-5) kussmaul, Cheyne- stokes, biot,
3. Takiardia membaik (1-5)
ataksik)
4. PCO2 membaik (1-5)
5. PO2 membaik (1-5) 3. Monitor kemampuan batuk efektif
6. pH arteri membaik (1-5) 4. Monitor adanya produksi sputum
5. Monitor adanya sumbatan jalan
napas
6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7. Auskultasi bunyi napas
8. Monitor saturasi oksigen
9. Monitor nilai analisa gas darah
10. Monitor hasil x-ray thoraks
Terapeutik:
11. Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi pasien
12. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi:
13. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
14. Informasikan hasil pemantauan,
jika perlu
3 Perfusi perifer tidak Perfusi Perifer (L.02011) Perawatan Sirkulasi (l.02079)
efektif b.d
Penurunan aliran
Tujuan : Observasi:
arteri dan/atau
vena (D.0009) Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Periksa sirkulasi perifer (mis: nadi
diharapkan perfusi perifer meningkat. perifer, edema, pengisian kapiler,
Kriteria hasil : warna, suhu, ankle-brachial index)
1. Kekuatan nadi perifer meningkat (1-5) 2. Identifikasi faktor risiko gangguan
2. Warna kulit pucat menurun (1-5) sirkulasi (mis: diabetes, perokok,
3. Pengisian kapiler membaik (1-5) orang tua, hipertensi, dan kadar
4. Akral membaik (1-5) kolesterol tinggi)
5. Turgor kulit membaik (1-5) 3. Monitor panas, kemerahan, nyeri,
atau bengkak pada ekstremitas
Terapeutik:
4. Hindari pemasangan infus, atau
pengambilan darah diarea
keterbatasan perfusi
5. Hindari pengukuran tekanan darah
pada ekstremitas dengan
keterbatasan perfusi Hindari
penekanan dan pemasangan
tourniquet pada area yang cidera
6. Lakukan pencegahan infeksi
7. Lakukan perawatan kaki dan kuku
8. Lakukan hidras
Edukasi:
9. Anjurkan berhenti merokok
10. Anjurkan berolahraga rutin
11. Anjurkan mengecek air mandi
untuk menghindari kulit terbakar
12. Anjurkan menggunakan obat
penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolesterol, jika perlu
13. Anjurkan minum obat pengontrol
tekanan darah secara teratur
14. Anjurkan menghindari
penggunaan obat penyekat beta
15. Anjurkan melakukan perawatan
kulit yang tepat (mis: melembabkan
kulit kering pada kaki)
16. Anjurkan program rehabilitasi
vaskular
17. Ajarkan program diet untuk
memperbaiki sirkulasi (mis: rendah
lemak jenuh, minyak ikan omega 3)
18. Informasikan tanda dan gejala
darurat yang harus dilaporkan (mis:
rasa sakit yang tidak hilang saat
istirahat, luka tidak sembuh,

4 Hipotermia b.d Termoregulasi (L.14134) Manajemen Hipotermia (I.14507)


kekurangan lemak
subkutan (D.0131)
Tujuan : Observasi:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitor suhu tubuh
diharapkan termoregulasi membaik. 2. Identifikasi penyebab
Kriteria hasil : hipotermia(mis: terpapar suhu
1. Menggigil menurun(1-5) lingkungan rendah, pakaian tipis,
2. Suhu tubuh membaik (1-5) kerusakan hipotalamus, penurunan
3. Suhu kulit membaik (1-5) laju metabolisme, kekurangan
lemak subkutan)
3. Monitor tanda dan gejala akibat
hipotermia (mis:hipotermia ringan:
takipnea, disartria, menggigil,
hipertensi, diuresis; hipotermia
sedang: aritmia, hipotensi, apatis,
koagulopati,refleks menurun;
hipotermia berat oliguria refleks
menghilang, edema paru, asam-
basa abnormal)
Terapeutik:
4. Sediakan lingkungan yang hangat
(mis: atur suhu ruangan, inkubator)
5. Ganti pakaian dan/atau linen yang
basah
6. Lakukan penghangatan pasif (mis:
selimut, menutup kepala, pakaian
tebal)
7. Lakukan penghangatan aktif
eksternal (mis: kompres hangat,
botol hangat, selimut hangat,
perawatan metode kangguru)
8. Lakukan penghangatan aktif
internal (mis: infus cairan hangat,
oksigen hangat, lavase peritoneal
dengan cairan hangat)
Edukasi:
9. Anjurkan makan/minum hangat

Anda mungkin juga menyukai