0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Materi Ajar Perceraian

Perceraian dalam Islam, yang dikenal sebagai talak, adalah putusnya ikatan perkawinan yang diatur oleh hukum dan syarat tertentu. Meskipun dibolehkan, perceraian sebaiknya menjadi pilihan terakhir karena dampaknya terhadap keluarga dan anak. Terdapat berbagai jenis talak yang berbeda berdasarkan proses, jumlah, keadaan istri, dan kemungkinan rujuk kembali.

Diunggah oleh

Syafrudin tabang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Materi Ajar Perceraian

Perceraian dalam Islam, yang dikenal sebagai talak, adalah putusnya ikatan perkawinan yang diatur oleh hukum dan syarat tertentu. Meskipun dibolehkan, perceraian sebaiknya menjadi pilihan terakhir karena dampaknya terhadap keluarga dan anak. Terdapat berbagai jenis talak yang berbeda berdasarkan proses, jumlah, keadaan istri, dan kemungkinan rujuk kembali.

Diunggah oleh

Syafrudin tabang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAMPIRAN 1

MATERI AJAR FIKIH

A. PERCERAIAN

PENGERTIAN
Perceraian dalam bahasa fikih dikenal dengan Istilah talak diambil dari kata (
‫ اطالق‬/ itlaq), secara bahasa artinya melepaskan, atau meninggalkan. Sedangkan
dalam pengertian secara istilah, Talak adalah melepaskan ikatan perkawinan,
atau rusaknya hubungan perkawinan dengan menggunakana katakata.
Sedangkan pengertian perceraian dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 117
menyebutkan bahwa perceraian adalah ikrar suami dihadapkan sidang
pengadilan agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.
Berdasarkan uraian tersebut dapatlah diperoleh pemahaman bahwa perceraian
adalah putusnya ikatan perkawinan antara suami istri yang sah dengan
menggunakan lafaz talak atau semisalnya.
Perceraian dalam Islam memang dibolehkan, namun bukan berarti perceraian itu
digunakan sesukanya pasangan suami istri. Justru dengan pasangan suami istri
yang bercerai, terdapat dampak yang diakibatkan. Misalnya bagaimana
kelanjutan anak keturunan dan bagaimana hubungan dengan keluarga yang
diceraikan? Maka dalam Islam walaupun perceraian itu boleh namun perceraian
itu menjadi solusi yang terakhir dalam penyelesaian persoalan.

DASAR HUKUM PERCERAIAN

Islam mengatur tata cara untuk menyelesaikan persoalan dalam rumah tangga.
Aturan penyelesaian tersebut adalah sebuah solusi dalam menghadapi
pemasalahan kehidupan rumah tangga. Penyelesaian melalui jalur perceraian itu
dilakukan karena tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan kehidupan rumah
tangga, dan solusi terbaiknya adalah cerai atau talak.
Berikut ini QS. An-Nisa : [4] : 130

‫يما‬ ‫ك‬ ‫ح‬


َ ََ
ُ ‫ان ه‬
َ ‫ٱَّلل َ َٰو س ًعا‬ ‫ك‬‫و‬ ۚ ‫ۦ‬ ‫ه‬‫ت‬ َ ‫ٱَّلل ُك ًّۭل ِّمن َس‬
‫ع‬ ُ ‫َوإن َي َت َف َّر َقا ُي ْغن ه‬
‫ِ ا‬ ِ ِِ ‫ا‬ ِ ِ
Artinya: "Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan
kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya),
Mahabijaksana." (Q.S An-Nisa, [4]: 130).

َ ۚ َّ ْ ُ ْ َ َ َّ َّ َّ ُ ْ ُ ِّ َ َ َ ۤ َ ِّ ُ ُ ْ ‫َٰٰٓ َ ُّ َ َّ ُّ َ َ ه‬
‫يايها الن ِ يب ِاذا ۚطلقتم النساء فطلقوهن ِل ِعد ِت ِهن واحصوا ال ِعد ْة‬
‫اَّلل َرَّب ُك ْم ََل ُت ْخر ُج ْو ُه َّن ِم ْْۢن ُب ُي ْوته َّن َو ََل َي ْخ ُر ْج َن ِا َّ َّٰٓل َا ْن َّيأ ِت ْ ن‬
َ‫ي‬ َ ‫َو َّات ُقوا ه‬
َ‫اَّلل َف َق ْد َظ َلم‬ ‫َ َ ُّ َ ِّ َ ٍۗ َ ْ َ ِ ُ ُ ْ ُ ه ٍۗ َ َ ْ ِ َّ ِ َ َ َّ ُ ُ ْ َ ه‬
ِ ‫اَّلل ومن يتعدَ حدود‬ ِ ‫ش ٍة َمبين ٍة َو ِتلك حدود‬ َ ٍۗ ‫اح‬
ِ ‫َ ِب ْف‬
َ َ ُ ‫ه‬ ْ
َ ‫نف َسه َل تدر ْي ل َع َّل‬
‫اَّلل ُي ْح ِدث َب ْعد ذ َٰ ِلك ا ْم ًرا‬ ِ
Artinya : "Wahai Nabi, Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah
kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang
wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan)
keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-
hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia
telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali
setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru. " (Q.S At-talaq [65]: 1)

Artinya: Dari Ibn Umar r.a dari Nabi Saw. bersabda: Perkara halal yang dibenci
Allah adalah ṭalāk” (HR. Abu Dawud).

Talak ialah melepaskan tali ikatan nikah dari pihak suami dengan menggunakan
lafaz tertentu. Dalam Islam talak merupakan perbuatan yang halal tapi sangat
dibenci oleh Allah
Berdasar hadis di atas hukum talak adalah makruh. Akan tetapi hukum tersebut
dapat berubah dalam kondisi-kondisi tertentu. Berikut penjelasan ringkasnya:
 Hukum talak menjadi wajib, bila suami istri sering bertengkar dan tidak
dapat didamaikan yang mengakibatkan rusaknya kehidupan rumah
tangga.
 Hukum talak menjadi haram, jika dengan terjadinya talak antara suami
istri akan mendatangkan madharat yang lebih besar bagi kedua belah
pihak (suami istri).

RUKUN DAN SYARAT TALAK

Rukun talak ada tiga yaitu suami, istri, dan lafadz (ucapan) talak. Adapun
syarat-syarat dari setiap ketiganya sebagaimana berikut:
a) Suami yang menjatuhkan talak
1) Ada ikatan pernikahan yang sah dengan istri
2) Baligh
3) Berakal
4) Tidak dipaksa
b) Istri (di talak), mempunyai ikatan pernikahan yang sah dengan
suami.
c) Ucapan talak, jelas dan dimaksudkan untuk talak

MACAM-MACAM TALAK

Ditinjau dari proses menjatuhkannya.

 Talak ditinjau dari segi ucapan


 Sarih (tegas), yaitu mengungkapkan lafaz talak yang tidak mungkin
dipahami makna lain kecuali talak. Seperti ungkapan seorang suami
kepada istri yang ia talak,“engkau tertalak”.
 Sindiran, yaitu mengungkapkan satu lafaz yang memiliki kemungkinan
makna talak. Seperti ungkapan seorang suami kepada istri yang ia
talak, "Pulanglah engkau ke rumah orangtuamu". Talak dengan
sindiran harus disertai niat mentalak.
 Talak dengan tulisan
 Talak dengan isyarat. Jenis Talak ini hanya berlaku bagi orang yang tidak
dapat berbicara atau menulis.

Ditinjau dari segi jumlahnya

 Talak satu, yaitu talak satu yang pertama kali dijatuhkan suami kepada
istriya.
 Talak dua, yaitu talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya untuk yang
kedua kalinya.
 Talak tiga ialah talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya untuk yang
ketiga kalinya.
Pada talak satu dan dua, suami boleh rujuk kepada istri sebelum masa
iddah berakhir atau dengan akad baru bila masa iddah telah habis. Akan
tetapi pada talak tiga, suami tidak boleh rujuk dengan istrinya kecuali jika
ia telah menikah dengan laki-laki lain, pernah melakukan hubungan
biologis dengannya, kemudian ia dicerai dalam kondisi normal dalam hal
ini ada yang namanya muhallil. Bukan karena adanya konspirasi antara
suami baru yang mencerainya dengan suami sebelumnya yang
menjatuhkan talak tiga padanya sebagaimana hal ini terjadi pada nikah
tahlil yang diharamkan syariat.
Ditinjau dari segi keadaan istri

 Talak sunni, yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang pernah
dicampuri ketika istri:
 Dalam keadaan suci dan saat itu ia belum dicampuri
 Ketika hamil dan jelas kehamilannya
 Talak bid’ah yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri ketika istri:
 Dalam keadaan haid
 Dalam keadaan suci yang pada waktu itu ia sudah dicampuri
suami.
Talak ini hukumnya haram.

Ditinjau dari segi boleh atau tidaknya rujuk

 Talak raj’i yaitu talak yang dijatuhkan suami kepada istri dimana istri
boleh dirujuk kembali sebelum masa iddah berakhir.
Allah Swt. berfirman:

Artinya: “ Talak yang dapat dirujuk adalah dua kali. Setelah itu boleh rujuk
lagi dengan cara baik-baik, dan mencerainya dengan cara yang baik-baik
pula...” (QS. Al Baqarah [2]: 229)

 Talak bain, yaitu talak yang menghalangi suami untuk rujuk kembali
kepada istrinya. Talak bain ini terbagi menjadi dua:
1. Talak bain kubra, yaitu Talak tiga, sebagaimana Allah sampaikan
dalam firman-Nya:

Artinya: “Dan jika suami menceraikannya sesudah Talak yang kedua,


maka perempuan itu boleh dinikahinya lagi hingga ia kawin dengan
laki-laki. Jika suami yang lain menceraikannya maka tidak ada dosa
bagi keduanya (bekas suami) pertama dan istri untuk kawin kembali
jika keduanya berkeyakinan akan dapat menjalankan hukum-hukum
Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 230)
2. Talak bain sugra, yaitu Talak yang menyebabkan istri tidak boleh
dirujuk, akan tetapi ia boleh dinikahi kembali dengan akad dan mas
kawin baru, dan tidak harus dinikahi terlebih dahulu oleh laki-laki lain,
seperti talak dua yang telah habis masa iddahnya.

Anda mungkin juga menyukai