IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Berbasis Sekolah.
Dosen Pengampu:
Missi Tri Astuti, S. Pd., M. Pd
Disusun Oleh:
Almira Nabila 226910589
Ayu Suhada 226910502
Malika Desrirori 226910532
Novitri Rahayu 226910506
Viona Febrianty 226910559
Yurike Rosiana 226910564
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2025
A. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen berbasis sekolah adalah suatu pendekatan dalam mengelola
sekolah dengan melibatkan pasrtisipasi aktif semua komponen sekolah dan
masyarakat dalam rangka meningkatkan produktivitas dan mutu pendidikan
melalui pemberian otonomi dan pemberdayaan sekolah secara sungguh-sungguh.
B. Tujuan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di Era otonomi daerah memiliki
peran strategis dan sinergis, karena menurut (E. Mulyasa, 2011: 25). Tujuan utama
MBS adalah meningkatkan efektifitas, efisienis, mutu, dan pemerataan pendidikan.
Peningkatan mutu diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya, dan
penyederhanaan birokrasi serta dengan cara meningkatkan partisipasi orang tua,
kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru sehingga
diharapkan dapat menumbuhkembangkan suasana yang kondusif, sedangkan
pemerataan pendidikan akan terlihat dengan tumbuhnya partisipasi masyarakat
terutama yang mampu dan peduli, sedangkan bagi yang belum mampu menjadi
tanggung jawab pemerintah.
C. Prinsip Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Dalam buku yang dikutip oleh David Wijaya yang berjudul “Implementasi
Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Jawa Barat”, bahwa ada enam prinsip
yang menjadi pedoman implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yaitu
sebagai berikut:
1. Memiliki Visi, Misi dan Strategi
Dengan sekolah memiliki visi, misi dan strategi, maka kegiatan atau
program akan berjalan ke arah pencapaian kualitas pendidikan, khususnya kualitas
siswa yang sesuai dengan jenjang pendidikan.
2. Berpijak pada Pembagian Kewenangan
Dengan berpijak pada pembagian kewenangan maka pengelolaan
pendidikan seharusnya berlandaskan pada keinginan untuk saling mengisi,
membantu dan menerima serta kewenangan sesuai dengan fungsi dan peran
masing-masing.
3. Adanya Profesionalisme di Seluruh Bidang
Dengan adanya profesionalisme di seluruh bidang, maka implementasi
menuntut derajat profesionalisme dari berbagai komponen praktisi, pengelola dan
pemimpin pendidikan termasuk profesionalisme komite sekolah.
4. Melibatkan Partisipasi Masyarakat yang Kuat
Dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang kuat, maka tanggung jawab
pelaksanaan pendidikan bukan hanya dibebankan pada sekolah (guru dan kepala
sekolah), namun juga menuntut keterlibatan dan tanggung jawab dari seluruh
komponen lapisan masyarakat, termasuk orang tua siswa.
5. Membentuk Komite Sekolah
Dengan hal ini, setiap sekolah harus membentuk komite sekolah sebagai
lembaga yang melaksanakan manajemen berbasis sekolah.
6. Adanya Transparansi dan Pengelolaan Sekolah
UUSPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 48 Ayat (1), mengemukakan bahwa
“Pengelolaan dana pendidikan, dengan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi dan
akuntabilitas” (Tabrani 260). Manajemen berbasis sekolah harus berpijak pada
keterbukaan pengelolaan sekolah, termasuk masalah fisik dan non-fisik, sekolah
dan komite sekolah merupakan lembaga terdepan yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan sekolah. Implementasi manajemen berbasis sekolah sangat
menjunjung tinggi pelaksanaan sekolah yang transparan, yaitu transparan dalam
menyampaikan informasi terkait keuangan sekolah maupun program sekolah (Sairi
51).
Pendapat lain, menurut (Minarti, 2011: 78), terdapat empat prinsip MBS
yaitu: 1) prinsip equifinality, yaitu mendorong terjadinya desentralisasi kekuasaan
serta mempersiapkan sekolah memiliki mobilitas yang cukup dalam rangka
pencapaian tujuan, 2) prinsip desentralisasi yaitu sekolah diberikan kewenangan
dan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul secara efektif
dan secepat mungkin, 3) sistem pengelolaan mandiri, yaitu pihak sekolah diberikan
otonomi untuk mengelola sekolahnya secara mandiri dengan tetap mengacu kepada
aturan yang berlaku, 4) prinsip inisiatif yaitu melibatkan sumber daya manusia di
sekolah untuk berperan dan berinisiatif dalam pencapaian tujaun sekolah.
D. Lingkup Layanan/ Komponen Penting Manajemen Berbasi Sekolah
Agar implementas MBS dapat efektif, yaitu diharapkan dapat mancapai
tujuan secara produktif, maka diperlukan kejelasan lingkup dan kewenangan yang
akan menjadi tanggung jawab sekolah sebagai bagian dari proses pendelegasian
sebagian kewenangan kepada sekolah, adapun lingkup layanan MBS sebagaimana
dikemukakan oleh ([Link], 2002: 39) adalah meliputi 1) Manajemen
Kurikulum, 2) MBS pembelajaran, 3) Manajemen Tenaga Kependidikan, 4)
Manajemen Kesiswaan, 5) Manajemen Pembiayaan, 6) Manajemen Sarana dan
Prasarana Pendidikan, 7) Manajemen hubungan Sekolah dengan Masyarakat, 8)
Manajemen hal hal khusus.
a. Manajemen Kurikulum dan Pengajaran
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam bidang ini, yaitu: 1)
tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan yang dirumuskan,
maka makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan
untuk mencapai tujuan, 2) program harus sederhana dan fleksibel, 3) program-
program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan, 4) program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas
pencapaiannya, dan 5) harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di
sekolah.
b. Manajemen Tenaga Kependidikan
Menurut E. Mulyasa, dalam manajemen tenaga kependidikan mencakup:
(1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan
pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6)
konpensasi, dan (7) penilaian pegawai. Oleh karena itu, manajemen tenaga
pendidikan ini haruslah mendapatkan perhatian yang lebih, sebab seluruh bagian
manajemen yang terkait di dalam pengelolaan pendidikan baik itu manajemen
kurikulum, kesiswaan, personalia dan yang lainya bersumber dari sistem
pendidikan, manajemen personalia harus dilakukan dengan baik serta dilakukan
dengan usaha kerja sama untuk mencapai tujuan. Sebab manusia merupakan faktor
utama dalam menentukan keseluruhan proses.
c. Manajemen Kesiswaan
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen ini, yaitu: menerima
siswa baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin.
d. Manajemen Sarana dan Prasarana
Manajemen ini harus menciptakan sekolah yang bersih, rapi, dan indah
sehingga menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan bagi warga sekolah.
Selain itu dengan tersedianya perlengkapan dan fasilitas belajar yang memadai di
sekolah diharapkan akan semakin meningkatkan semangat dan kualitas pendidikan
di sekolah. Karena manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat memberikan
konstribusi secara optimal pada jalannya proses belajar mengajar.
Hal iti semua dilakukan untuk menciptakan sekolah yang bersih, rapi, dan
indah sehingga menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan bagi warga
sekolah, sehingga dapat memperlancar jalannya proses pembelajaran yang pada
akhirnya proses pembelajaran tersebut dapat ditingkatkan.
e. Manajemen Hubungan Masyarakat
Dalam manajemen ini, masyarakat dengan sekolah dianggap sangat penting
karena antara sekolah dengan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat.
Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat, bukan suatu lembaga yang terpisah
dari masyarakat, karena masyarakat merupakan faktor pendukung terhadap
peningkatan PBM. Dengan partisipasi masyarakat serta dukungan dan sumbangsih
pemikiran maupun dana akan berpengaruh terhadap kemajuan sekolah. Dengan
kata lain, sekolah merupakan lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani
anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
f. Manajemen Layanan Khusus
Layanan khusus ini diperuntukkan bagi siswa dengan tujuan agar mereka
bisa melaksanakan kegiatan belajarnya dengan baik tanpa adanya ganjalan apa pun.
Ada tiga layanan khusus dalam bidang ini, yaitu: 1) layanan perpustakaan, 2)
memberikan pelayanan kesehatan jasmani dan rohani, dan 3) memberikan
pelayanan keamanan. Pelayanan perpustakaan tersebut ditujukan agar siswa dapat
memperkaya ilmu pengetahuannya dengan cara membaca di waktu-waktu luang
pada waktu istirahat, kemudian layanan kesehatannya dilakukan dengan tujaun agar
mereka bisa menjalani masa belajarnya tanpa ada gangguan kesehatan baik jasmani
maupun rohaninya, sedangkan layanan keamanannya dilakukan guna menunjang
terhadap keamanan proses pembelajaran. Dan hal itu semua diharapkan mampu
menjadi menambah semangat dan motivasi siswa dalam hal belajarnya.
Dengan adanya beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa Proses
Pembelajaran dapat ditingkatkan dengan adanya implementasi Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS). Walaupun tidak sepenuhnya berhasil, karena adanya
beberapa faktor yang mempengaruhinya.
E. Tahap-tahap Implementai Manajemen Berbasis Sekolah
Konsep manajemen berbasis sekolah telah terbukti berhasil diterapkan di
negara-negara maju, namun masih merupakan konsep manajemen pendidikan yang
baru di negara ini, yaitu Indonesia. Mahdayeni mengemukakan bahwa
implementasi manajemen berbasis sekolah akan berjalan efektif apabila didukung
oleh sumber daya manusia yang professional untuk mengoperasikan sekolah, dana
yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana dan
prasarana yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran, serta dukungan
orang tua dan masyarakat yang tinggi (Atmaka 18). Hal ini merupakan persyaratan
umum dalam rangka mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah.
Dalam rangka implementasi manajemen berbasis sekolah, ada syarat yang
perlu dilakukan, yaitu adanya kebutuhan kebutuhan untuk berubah atau inovasi,
adanya desain ulang organisasi pendidikan dan proses perubahan sebagai proses
belajar (Ardiansyah dan dkk 13). Agar terjadinya suatu perubahan maka perlunya
kesadaran dalam melakukannya. Dalam implementasi manajemen berbasis
sekolah, secara umum dibagi menjadi tiga tahapan (Ardiansyah dan dkk 18-19),
yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemahaman
Pada tahap ini, mencakup ide dasar manajemen berbasis sekolah, pada
jajaran Kemdikbud dan stakeholder, kejelasan karir dan kebijakan yang menjadi
wewenang pusat, daerah dan pusat. Perubahan pola hubungan sub-ordinasi,
perubahan sikap perilaku baik pimpinan jajaran birokrasi maupun masyarakat,
deregulasi aturan dan transparan serta akuntabilitas.
2. Tahap Implementasi
Pada tahap ini, ada beberapa syarat yang harus dilakukan, yaitu: 1) pihak
sekolah dapat menerima informasi tentang MBS secara lengkap dan dapat diterima
maknanya secara filosofis, logis dan dapat dipertanggungjawabkan. 2) Melakukan
benchmarking ke sekolah yang telah melaksanakan MBS terlebih dahulu dan
mengidentifikasi semua persoalan yang dihadapi. 3) menyusun tahapan
implementasi dalam ruang lingkup yang termudah terlebih dahulu. 4) memulai
implementasi sesuai dengan konteks lokal.
3. Tahap Penguatan
Penguatan implementasi MBS dilakukan secara simultan dari waktu ke
waktu dengan melakukan evaluasi dan penguatan berkala, sehingga diperoleh
model implementasi yang benar-benar cocok. Dalam mengaplikasikan manajemen
berbasis sekolah, maka pihak sekolah memiliki hak otonomi yaitu hak atau
kewenangan sekolah dalam mengatur dan mengurus kepentingan sekolah dalam
mencapai tujuan pendidikan serta dapat mewujudkan mutu pendidikan yang
berkualitas.
F. Faktor Penghambat dan Pendukung Implementasi Manajemen Berbasis
Sekolah
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sering dihadapkan pada berbagai
faktor penghambat yang dapat mempengaruhi efektivitas implementasinya. Salah
satu faktor utama adalah kurang keterampilan dan pengalaman manajerial di
kalangan kepala sekolah dan staf. Ini dapat menghambat pengambilan pengambilan
keputusan yang tepat dan pengelolaan sumber daya yang efisien. Selain itu,
kurangnya dukungan dan keterlibatan dari orang tua serta masyarakat dapat
membatasi keberhasilan MBS. Tanpa partisipasi yang kuat dari pemangku
kepentingan, sekolah mungkin mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
lokal dan mendapatkan dukungan untuk program-program baru.
Koordinasi yang buruk antara sekolah dan otoritas Pendidikan pusat juga
bisa menjadi penghambat. Ketidaksesuaian antara kebijakan nasional dan
Keputusan sekolah dapat ketidakstabilan dalam implementasi MBS. Terakhir,
masalah anggaran dan sumber daya yang terbatas dapat membatasi kemampuan
sekolah untuk menerapkan inovasi dan meningkatkan kualitas Pendidikan.
Implementasi MBS oleh dukungan masyarakat yang kuat. Seperti
berpartisipasi dalam membantu menjaga keamanan sekolah, membantu dalam
berbagai kegiatan sekolah dan memberikan ide-ide kreatif yang dapat
meningkatkan sekolah. Mereka juga membantu dalam menyiapkan perlombaan
yang diikuti sekolah. Selanjutnya, hal-hal yang menjadi penghalang untuk
menerapkan manajemen berbasis sekolah untuk meningkatkan kualitas Pendidikan,
Adapun faktor yang menghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah
ini adalah sebagai berikut: terdapat ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan
peraturan yang diterapkan di sekolah ini dan ada juga bagian masyarakat yang tidak
suka dengan sekolah dan tidak mau membantu kemajuan sekolah. Selain itu,
kekurangan dana sekolah menyebabkan sarana dan prasarana kurang memadai.
Selain itu, tidak ada sumber daya manusia yang memadai dan sekolah kesulitan
mencari instruktur untuk mengajar ekstrakulikuler. Akibatnya, banyak
ekstrakulikuler terbengkalai.
Keberhasilan MBS, ada beberapa faktor pendukung utama termasuk
sosialisasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan gerakan untuk
meningkatkan kualitas. Pendidikan dan gotong royong keluarga, potensi sumber
daya manusia, organisasi profesi, dan dukungan dari dunia usaha dan industri.
Dari pembahasan tersebut maka kami mendapat hasil yaitu
pengimplementasian MBS perlu tingkat kewajiban dan pertanggung jawaban yang
tinggi kepada masyarakat. Maka kepala sekolah harus transparan, demokratis
bertanggung jawab terhadap masyarakat dan pemerintah. MBS memiliki tujuan
utama yaitu sebagai pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Karakteristik utama MBS adalah desentralisasi dan memberikan otonomi kepada
sekolah dalam pengambilan keputusan. MBS memiliki beberapa faktor
penghambat salah satunya yaitu kurang terampilnya kepala sekolah dan staf dalam
hal manajerial, namun, ada faktor pendukungnya seperti keterlibatan orang tua dan
masyarakat, otonomi sekolah yang lebih besar, akuntabilitas dan transparansi yang
kuat serta fleksibel dalam pengambilan keputusan.
G. Peran Pihak Sekolah dalam Implementasi manajemen Berbasis Sekolah
Peran Pihak Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS)
1. Peran Kepala Sekolah
Menurut Ginanjar (2019, kepala sekolah memiliki peran paling strategis
dalam keberhasilan MBS. Peran utama kepala sekolah: 1) Pemimpin (leader),
mengarahkan visi dan misi sekolah agar selaras dengan prinsip MBS (otonomi,
partisipasi, akuntabilitas). 2) Manajer, mengatur sumber daya manusia, keuangan,
sarana prasarana, serta mengkoordinasikan seluruh program sekolah. 3) Inovator,
menciptakan iklim sekolah yang kondusif, terbuka, dan partisipatif. 4) Motivator,
mendorong guru dan staf agar aktif berpartisipasi dalam perencanaan dan
pelaksanaan program. 5) Supervisor, melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap
pelaksanaan program sekolah. Kepala sekolah adalah penggerak utama dan
pengambil keputusan strategis dalam pelaksanaan MBS. Tanpa kepemimpinan
yang demokratis dan visioner, MBS sulit berjalan efektif.
2. Peran Guru
Berdasarkan Siburian et al. (2025), guru menjadi pelaksana utama dalam
mewujudkan MBS di tingkat operasional. Peran guru: 1) Pelaksana kurikulum,
menerapkan pembelajaran sesuai kebutuhan dan potensi siswa (kurikulum berbasis
sekolah). 2) Inovator pembelajaran, menciptakan metode kreatif dan aktif untuk
meningkatkan mutu belajar. 3) Partisipan dalam perencanaan, terlibat dalam
penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan Anggaran
Sekolah (RKAS). 4) Penghubung dengan masyarakat, menjalin komunikasi antara
sekolah dengan orang tua dan komunitas sekitar. Guru bukan hanya pelaksana
teknis, tetapi juga mitra kepala sekolah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi program sekolah.
3. Peran Komite Sekolah
Menurut Ekawati dkk. (2024), komite sekolah berperan sebagai jembatan
antara sekolah dan masyarakat. Peran utama komite: 1) Advisory Agency (pemberi
pertimbangan), memberi masukan terhadap kebijakan sekolah. 2) Supporting
Agency (pendukung), membantu sekolah dalam penyediaan dana dan fasilitas. 3)
Controlling Agency (pengawas), mengawasi transparansi penggunaan dana dan
pelaksanaan program. 4) Mediator, menyalurkan aspirasi masyarakat kepada pihak
sekolah. Komite sekolah memperkuat prinsip transparansi dan partisipasi publik
dalam MBS, memastikan semua kebijakan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat
sekolah.
4. Peran Orang Tua dan Masyarakat
Masyarakat memiliki kontribusi penting dalam mendukung keberhasilan
MBS. Perannya antara lain: 1) Mendukung moral dan material, membantu dana
kegiatan sekolah, mendukung program pendidikan anak. 2) Partisipasi dalam
kegiatan sekolah, ikut dalam gotong royong, rapat, atau kegiatan sosial sekolah. 3)
Memberi masukan dan kontrol sosial, menilai kebijakan sekolah secara terbuka.
Partisipasi masyarakat mencerminkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung
jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen sosial.
Kunci keberhasilan MBS terletak pada kolaborasi dan sinergi semua pihak
sekolah. Bila semua elemen bekerja bersama sesuai perannya, maka tujuan utama
MBS yakni kemandirian, partisipasi, dan peningkatan mutu pendidikan dapat
tercapai dengan baik.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) merupakan langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui
pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber daya,
tenaga pendidik, serta program pembelajaran sesuai kebutuhan dan potensi masing-
masing sekolah. MBS menekankan pentingnya transparansi, partisipasi
masyarakat, profesionalisme guru, dan pembagian kewenangan yang jelas antar
pihak terkait. Dengan adanya MBS, sekolah dapat menjadi lebih mandiri, kreatif,
dan efektif dalam mengatur kegiatan pendidikan sehingga hasil pembelajaran dapat
lebih optimal.
Selain itu, keberhasilan implementasi MBS sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor pendukung seperti dukungan masyarakat, kompetensi kepala
sekolah, dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai. Namun, terdapat pula
tantangan seperti keterbatasan dana, kurangnya keterampilan manajerial, dan
minimnya partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan MBS memerlukan
kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, masyarakat, serta pemerintah agar
tujuan utamanya yaitu peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan dapat
tercapai secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, A. ”Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi di SMP Islam Al
Azhar Pekan Baru”, Management of Education: Jurnal Manajemen
Pendidikan Islam, Vol 7, No.3, h,5.
Indra, H. S. L. “Peran Kepala Sekolah dalam Penerapan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) di SDIT Jabal Nur Gamping, Sleman”, Jurnal Akuntabilitas
Manajemen Pendidikan, Vol 2, No. 2, 2024. Hal.179.
Minarti, S. 2011. Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Yogyakarta.
Ar-Ruzz Media
Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Rosdakarya.
Rizka, A. “Peran Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis
Sekolah”, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol 8, No.1 Tahun 2022.
Hal.50.
Shelty, D. M. S. “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Peningkatan
Mutu Pembelajaran”, Jurnal Bahana Manajemen Pendidikan, Vol 12, No.1,
2023, h.97.
Siti, A., dkk, “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan Pada Mts Kota Lhokseumawe”, Jurnal Administrasi
Pendidikan, Vol 3, No.2, Mei 2015. Hal.20