HAK ASASI MANUSIA DI ERA GLOBALISASI
Artikel ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan
Disusun Oleh :
Tri Ambar Wibowo
NIM. 053458909
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TERBUKA
2024
A. PENDAHULUAN
Hak Asasi Manusia yang selanjutkan akan disebut dengan HAM
adalah komponen yang integral dari kekuatan politik, ekonomi, dan
budaya dalam globalisasi. Perlindungan hak asasi manusia tidak lagi
dipandang sebagai isu nasional, namun juga lingkup global. HAM adalah
hak-hak dasar yang melekat pada tiap orang selaku insan buatan Tuhan
Yang Maha Satu. HAM menerangkan bahwa hak-hak ini tidak dapat
dikurangi ataupun dicabut, serta legal untuk seluruh orang tanpa
memandang suku bangsa, agama, jenis kelamin, bahasa, asal-usul, maupun
status sosialnya.
Pada era globalisasi ini masalah HAM menjadi sorotan utama,
dengan pertanyaan mengenai bagaimana negara menangani pelanggaran
HAM dan menyesuaikan dengan standar Internasional yang berlaku.
Globalisasi menimbulkan tantangan baru bagi HAM di seluruh dunia, hal
ini disebabkan karena pertukaran informasi yang semakin cepat dan
tersebar di berbagai media social, sehingga membuka mata Masyarakat
mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai dunia.
Globalisasi telah mendorong terjadinya penguatan kerja sama
internasional dalam bidang HAM. Hal ini daoat dibuktikan karena
semakin banyak perjanjian internasional mengenai HAM di negara-negara
dunia yang diratifikasi. Perjanjian-perjanjian internasional tersebut
menjadi instrument hukum yang mengikat dan wajib bagi negara-negara
untuk menghormati, melindungi, memenuhi HAM, dan mentaati.
Selain itu, globalisasi juga menimbulkan tantangan bagi HAM.
Salah satu yang menjadi tantangan tersebut adalah terjadinya kesenjangan
ekonomi yang dapat mengakibatkan pelanggaran HAM seperti kemiskinan
ekstrem, kelaparan, pengangguran, ketidaksetaraan akses terhadap layanan
Kesehatan dan Pendidikan, serta kesenjangan dalam akses terhadap
2
keadilan atau diskriminasi. Globalisasi juga telah meningkatkan mobilitas
manusia, baik dalam bentuk migrasi, perdagangan manusia, maupun
kejahatan lintas batas, yang mana hal tersebut dapat menimbulkan
berbagai risiko bagi HAM, seperti perdagangan orang, kerja paksa, dan
eksploitas anak.
Hal-hal yang dapat menjadi upaya dalam mengatasi tantangan-
tantangan yang muncul dalam era globalisasi dapat dilakukan dengan
kolaborasi internasional yang lebih erat dan terorganisir dapat menjadi
kunci. dimana kerja sama antara negara-negara serta lembaga-lembaga
internasional, perlindungan HAM dapat diperkuat. Selain itu, peningkatan
pendidikan dan kesadaran publik mengenai pentingnya HAM, penguatan
hukum internasional dan peran masyarakat sipil juga akan tetap menjadi
pilar utama dalam menjaga dan memperjuangkan hak asasi manusia.
B. KAJIAN PUSTAKA
1. Beti Zania, Ismatul Maula, Siti Tiara Maulia: Meninjau Penegakan
Hukum Mengenai Hak Asasi Manusia di Indonesia dalam Era Global,
Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 2024: Penelitian ini
mengemukakan bahwa HAM merupakan isu penting dalam konteks
globalisasi, termasuk di Indonesia. Negara-negara dihadapkan pada
tekanan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar HAM
internasional yang semakin ketat. Meskipun Indonesia telah
mengadopsi kerangka kerja HAM internasional dan memiliki
komitmen formal terhadap HAM, tantangan dalam penegakan HAM
masih ada. Faktor-faktor seperti kekurangan sumber daya, kelemahan
sistem hukum, dan intervensi politik sering kali menghambat proses
penegakan hukum yang efektif. Penegakan hukum HAM di Indonesia
perlu terus beradaptasi dengan dinamika globalisasi dan tantangan
3
yang ada.
2. Candra Perbawati: Penegakan Hak Asasi Manusia di Era Globalisasi
dalam Perspektif Hukum Islam, Universitas Lampung. Penelitian ini
mengemukakan bahwa semua HAM adalah universal, tidak dapat
dipisahkan, saling tergantung, dan saling terkikat. Islam sangat
mendukung konsep HAM dengan teori yang merupakan manifestasi
dari pemeliharaan aspek keniscayaan (dharuriyyat), yaitu meliputi hak
perlindungan terhadap jiwa, hak perlindungan keyakinan, hak
perlindungan terhadap akal/pikiran, perlindungan terhadap hak milik,
hak berkeluarga, dan hak pemeliharaan terhadap kehormatan.
3. Rifqi Mubarok, Agis M. H. S, Dhamar Pandu J., Syafrizal H: Hukum
dan Hak Asasi Manusia, Advances In Social Humanities Research,
2023. Penelitian ini mengemukakan bahwa Hubungan antara Hak
Asasi manusia dan negara hukum sangat erat. Hak asasi mausia adalah
hak dasar atau kewarganegaraan yang melekat pada individu sejak ia
lahir secara kodrat yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha
Esa yang tidak dapat dirampas dan dicabut keberadaannya dan wajib
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah dan setiap orang demi kehormatan dan perlindungan harkat
dan martabat manusia.
4. Ika Kurniaty, Ikaningtyas, Anak Agung Ayu Nanda saraswati,
Fransiska Ayulistya Susanto: Pengantar Hukum HAM Internasioanal.
Buku ini menyatakan bahwa hukum HAM internasional memiliki misi
untuk memberikan perlindungan kepada ciri universal manusia dari
pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. HAM berperan dan memiliki
kepentingan dalam hukum intermasional karena memberikan
pemantauan terhadap keadilan distributif dari struktur dan operasi
4
tatanan hukum internasional.
C. PEMBAHASAN
1. Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah prinsip yang mendasar dan
universal yang mengakui bahwa setiap individu, tanpa memandang ras,
agama, jenis kelamin, atau status sosial, memiliki hak yang inheren
dan tidak bisa diganggu-gugat. Konsep ini telah menjadi pijakan moral
dan hukum dalam masyarakat modern yang berupaya menciptakan
lingkungan yang adil, damai, dan beradab. Salah satu aspek paling
penting dari konsep HAM adalah prinsip bahwa setiap orang memiliki
hak untuk hidup, kebebasan, dan keamanan pribadi. Artinya, setiap
individu berhak untuk tidak disiksa atau dianiaya secara fisik, serta
untuk hidup dalam lingkungan yang aman dan terlindungi.
HAM juga mencakup hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya,
yang mengakui bahwa setiap orang berhak atas pekerjaan yang layak,
standar hidup yang memadai, akses yang adil terhadap pendidikan dan
perawatan kesehatan, serta hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
budaya dan spiritual masyarakat. Konsep ini menegaskan bahwa
keadilan sosial dan ekonomi merupakan bagian integral dari martabat
manusia, dan bahwa setiap orang harus memiliki kesempatan yang
sama untuk mencapai potensi mereka secara penuh.
Di Indonesia, perlindungan terhadap hak asasi manusia diatur
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(UUD 1945), khususnya pada Pasal 28 yang menyatakan bahwa
"kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pendapat
dengan lisan dan tulisan, dan seterusnya, ditentukan oleh undang-
undang." Selain itu, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
5
Hak Asasi Manusia memberikan landasan hukum lebih lanjut bagi
perlindungan HAM di Indonesia, dengan menyatakan bahwa setiap
orang berhak atas pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi
manusia yang mendasar. Dalam undang-undang tersebut menetapkan
mengenai lembaga-lembaga yang bertugas untuk menegakkan HAM,
seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang selanjutnya dikenal
Komnas HAM, yang memiliki peran penting dalam pemantauan dan
penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia.
2. Globalisasi
Masa globalisasi adalah periode di mana interaksi antarnegara
dalam aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya semakin terhubung
dan saling memengaruhi. Proses ini telah mengubah hampir semua
aspek kehidupan manusia, membawa tantangan sekaligus peluang
baru. Di bidang ekonomi, globalisasi menciptakan pasar yang lebih
terintegrasi, yang memungkinkan aliran perdagangan, investasi, dan
modal antarnegara menjadi lebih bebas dan mudah. Kemajuan
teknologi informasi memfasilitasi pertukaran barang dan jasa secara
cepat, sedangkan perusahaan multinasional semakin mendominasi
ekonomi global dengan menyebar produksi di berbagai negara. Karena
hal tersebut, ketergantungan pada pasar global meningkatkan
kerentanannya terhadap krisis ekonomi yang dapat menyebar dengan
cepat.
Globalisasi juga memengaruhi budaya dan sosial, dengan
mempercepat pertukaran budaya melalui media massa dan internet.
Budaya populer dari negara-negara besar seperti musik, film, dan
mode menyebar luas, tetapi hal ini juga menimbulkan ancaman
terhadap keberagaman budaya lokal. Dominasi budaya global dapat
6
menyebabkan pengikisan identitas budaya tradisional, yang
mendorong beberapa negara untuk melindungi nilai-nilai lokal melalui
kebijakan proteksionis.
Di sisi lain, globalisasi menciptakan peluang bagi negara-
negara berkembang untuk meningkatkan ekonomi melalui akses pasar
global, menarik investasi asing, dan mendorong inovasi. Namun,
globalisasi juga semakin memperburuk kesenjangan ekonomi antara
negara kaya dan negara miskin, serta meningkatkan ketidaksetaraan
sosial di dalam negara. Negara-negara maju sering mengadopsi
kebijakan liberalisasi untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan
globalisasi, sementara negara-negara lain lebih berhati-hati dan
memilih untuk lebih melindungi industri domestik yang dimiliki.
Dewasa ini, banyak negara lebih memilih pendekatan inklusif dengan
tujuan untuk mengintegrasikan diri dalam ekonomi global sambil
menjaga kesejahteraan sosial dan melindungi lingkungan.
3. Tantangan Penerapan Hak Asasi Manusia di Era Globalisasi
Penerapan HAM di era globalisasi menghadapi berbagai
tantangan yang semakin kompleks. Meskipun globalisasi membuka
peluang dalam banyak bidang, namun hal tersebut juga dapat
memperburuk berbagai masalah terkait pelanggaran HAM yang ada.
Yang meliputi tantangan besar tersebut adalah:
a) Ketimpangan ekonomi dan sosial yang semakin melebar antara
negara maju dan berkembang, serta antara kelompok-kelompok
sosial di dalam negara. Meskipun globalisasi menawarkan potensi
pertumbuhan ekonomi, ketidaksetaraan yang ditimbulkan sering
kali menghalangi perlindungan terhadap hak-hak sosial dan
ekonomi dasar, seperti hak atas pekerjaan yang layak, pendidikan,
7
dan perawatan kesehatan. Pada negara berkembang sering kali
kesulitan melindungi hak warganya karena keterbatasan sumber
daya dan kemampuan.
b) Eksploitasi pekerja dan tenaga kerja anak. Globalisasi ekonomi
sering kali berhubungan dengan eksploitasi tenaga kerja, seperti
buruh yang diperlakukan tidak adil atau penggunaan tenaga kerja
anak, terutama di negara-negara dengan regulasi yang lemah.
c) Penyebaran budaya dan ancaman terhadap identitas lokal.
Globalisasi mempercepat pertukaran budaya, yang membawa
dampak positif dalam memperkenalkan berbagai budaya di dunia.
Namun, hal ini juga dapat mengancam keberagaman budaya lokal.
Dominasi budaya dari negara-negara maju, terutama dalam bentuk
media massa, film, musik, dan mode, dapat membuat budaya lokal
terpinggirkan atau bahkan tergerus. Beberapa negara berusaha
melindungi nilai-nilai budayanya dengan kebijakan yang
membatasi pengaruh budaya asing, namun hal tersebut sering kali
menimbulkan ketegangan antara tradisi dan modernitas.
d) Isu migrasi dan pengungsi. Hal ini juga menjadi tantangan besar
dalam konteks globalisasi. Peningkatan mobilitas manusia, baik
karena alasan ekonomi maupun akibat adanya konflik atau
kekerasan, dapat menyebabkan masalah besar terkait dengan hak-
hak migran dan pengungsi. Banyak migran dan pengungsi yang
menghadapi diskriminasi, kekerasan, atau kesulitan dalam
mengakses hak dasar seperti tempat tinggal yang layak, pekerjaan,
pendidikan, dan perawatan kesehatan. Kebijakan imigrasi yang
ketat, terutama di negara-negara maju, sering kali menghalangi
perlindungan terhadap hak-hak pengungsi dan imigran
8
e) Pesatnya kemajuan teknologi informasi memungkinkan pertukaran
data dan informasi yang lebih cepat, namun juga dapat
menimbulkan masalah terkait privasi, kebebasan berekspresi, dan
pengawasan. Penyalahgunaan data pribadi, pemantauan yang
berlebihan, serta penyebaran disinformasi melalui media sosial
dapat melanggar hak individu atas privasi dan kebebasan
berpendapat. sehingga perlu bagi pemerintah untuk menciptakan
kebijakan yang mampu mengatur penggunaan teknologi tanpa
mengorbankan hak-hak dasar individu.
f) Konflik global dan keamanan internasional. Globalisasi telah
memperburuk masalah konflik bersenjata, terorisme, dan
pelanggaran HAM terkait dengan isu-isu keamanan. Negara-negara
yang terlibat dalam konflik sering kali tidak dapat mematuhi
prinsip-prinsip HAM, terutama yang berkaitan dengan
perlindungan warga sipil. Negara yang sedang memerangi
terorisme terkadang juga melakukan pelanggaran HAM dengan
cara penyiksaan, penahanan tanpa proses hukum, dan pembatasan
kebebasan berbicara.
Meskipun terdapat instrumen internasional yang mengatur HAM,
seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) dan berbagai
perjanjian internasional, namun pada penerapannya sering kali
terbatas. Negara-negara yang melanggar HAM sering kali tidak
mendapatkan sanksi yang efektif karena lemahnya sistem penegakan
hukum. Negara-negara besar yang memiliki pengaruh politik dan
ekonomi sering kali mengabaikan kewajiban internasional untuk
mematuhi dan menghormati aturan yang telah ditetapkan. Namun
sebaliknya, bagi negara dengan sistem hukum yang lemah masih
9
kesulitan untuk menerapkan perlindungan HAM secara efektif di
dalam negeri.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
HAM merupakan prinsip dasar yang mengakui hak setiap individu, tanpa
memandang ras, agama, jenis kelamin, atau status sosial, untuk hidup
dengan martabat dan kebebasan yang tak dapat diganggu gugat. Di
Indonesia, perlindungan terhadap HAM diatur dalam konstitusi dan
undang-undang yang memberikan dasar hukum bagi penegakan hak-hak
tersebut. Namun, di era globalisasi, penerapan HAM menghadapi berbagai
tantangan besar yang semakin kompleks. Globalisasi telah membawa
dampak signifikan, baik dari sisi ekonomi, budaya, maupun sosial, yang
berpotensi memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi, serta
memperburuk eksploitasi pekerja, migrasi, dan ancaman terhadap
keberagaman budaya. Selain itu, perkembangan teknologi yang pesat juga
menciptakan masalah baru dalam hal privasi dan kebebasan berekspresi.
2. Saran
Untuk mengatasi tantangan dalam penerapan HAM di era globalisasi,
terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan, pertama, negara dapat
memperkuat sistem hukum nasional agar hak asasi manusia dapat
terlindungi dengan lebih baik. Selain itu, negara juga harus meningkatkan
kerja sama internasional untuk memperbaiki mekanisme penegakan
hukum global, agar pelanggaran HAM bisa diberi sanksi yang tegas.
Kedua, kebijakan ekonomi harus lebih inklusif, artinya negara tidak hanya
fokus pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga memastikan semua orang
memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses pada
10
pendidikan, pekerjaan yang layak, dan layanan kesehatan. Pemerintah juga
perlu menjaga dan melindungi budaya lokal dari pengaruh budaya asing
yang dapat mengancam identitas bangsa..
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ham, Komnas. (1998). Hak Asasi Manusia: Membangun Jaringan Kerjasama.
Jakarta.
Kurniaty, R., Ikaningtyas, Nanda Saraswati, A. A., & Susanto, F. A. (2021).
Pengantar Hukum HAM Internasional. Malang: UB Press.
ARTIKEL ILMIAH
Mubarok , R., Sya'bani, A. M., Jananta, D. P., & Hidayatulloh, S. (2023). Hukum
dan Hak Asasi Manusia. Advances In Social Humanities Research, 269.
Perbawati, C. (2015). Penegakan Hak Asasi Manusia di Era Globalisasi dalam
Perspektif Hukum Islam. 849.
Putri, N. G., Avita, F. D., & Putri, H. J. (2024). Perlindungan Hak Asasi Manusia
dalam Konteks Hukum Internasional. Indonesian Journal of Law, 3.
Tarmizi, P. Z. (2024). Analisis Perlindungan Hak Asasi Manusia di Era Digital:
Tantangan dan Solusi. Jurnal Kajian HUkum Dan Kebijakan Publik, 460.
Yazdi, M. H., Gavin, N. D., & David, S. F. (2024). Peran Hukum Internasional
dalam Hak Asasi Manusia. Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 12.
Zania, B., Maula, I., & Maulia, S. T. (2024). Meninjau Penegakan Hukum
Mengenai Hak Asasi Manusia di Indonesia dalam Era Global. Jurnal
Hukum dan Kewarganegaraan.
PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
11
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
12