BAMBU SEBAGAI TANAMAN KONSERVASI
ZAIN ARAFAT, [Link]
PENDAHULUAN
Laju degradasi lahan di Daerah Aliran Sungai ( DAS ) pada bagian hulu dan terlebih
lagi pada bagian hilir terus meningkat dan bahkan terkesan tidak terkendali. Bila hal ini
dibiarkan, maka berdampak pada tidak stabilnya tatanan siklus hidrologi. Sehingga apabila
musim penghujan datang maka sering terjadi banjir dan apabila musim kemarau terjadi krisis
air. Pemerintah memang sudah berusaha untuk melakukan konservasi lahan dengan cara
revegetasi, menanam tanaman berkayu di daerah – daerah kritis. Tapi tidak bisa dipungkiri,
pemulihan hutan dan lahan serta fungsi DAS dengan cara penanaman tanaman berkayu
tergolong mahal, membutuhkan perawatan dan memakan waktu yang tidak sebentar. Untuk
mengatasi keadaan tersebut, adalah sebuah langkah yang tepat dengan pemilihan bambu
sebagai tanaman konservasi.
1
BAMBU UNTUK KONSERVASI TANAH DAN AIR
Bambu, tanaman yang tumbuh mengelompok
dalam satu rumpun ini, merupakan salah satu jenis
tanaman perintis, sehingga tidak memiliki persyaratan
tumbuh yang rumit. Adapun syarat tumbuh yang baik
untuk bambu adalah 1) pada semua jenis tanah terutama
jenis tanah dengan tekstur berpasir sampai
berlempung, drainase baik, pH tanah yang dikehendaki
antara 5,6 – 6,5; 2) pada dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 1.500 m
dpl; 3) dengan iklim tipe A hingga C ( Schmidt – Ferguson) dengan suhu udara 270 – 360 C
dan kelembaban udara ± 80 %, walaupun demikian bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering
dengan tipe iklim D, seperti di Nusa Tenggara Timur.
2
Tanaman yang mudah ditanam ini memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, dapat
tumbuh pada semua jenis tanah, tidak memiliki perawatan khusus, tidak membutuhkan
investasi besar, sudah dewasa pada umur 3 – 5 tahun, dapat
dipanen sepanjang tahun tanpa merusak rumpun serta
memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan
kebakaran. Selain itu, bambu juga memiliki kemampuan
peredam suara yang baik dan menghasilkan oksigen yang
banyak sehingga dapat ditanam di daerah pemukiman atau
jalan raya, dapat memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu
meningkatkan water storage ( cadanga air bawah tanah ).
Sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat dan sangat tahan
terhadap terpaan angin kencang. Perakaran sangat rapat dan menyebar ke segala arah,
memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertical sehingga tidak
3
mudah putus dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi
dan tanah longsor di sekitanya, lahan di bawah tegakan bambu
sangat stabil dan mudah meresapkan air sehingga mampu
menjaga ekosistem tanah.
Kecepatan tumbuh selama masa pertumbuhan
vegetatif merupakan yang tercepat dan tidak ada tanaman yang mampu menyamainya. Dari
hasil beberapa penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar
30 cm – 120 cm tergantung dari jenisnya. Bambu memiliki umur yang panjang dalam siklus
hidupnya, dapat mencapai 30 – 100 tahun tergantung jenisnya. Bambu tahan kekeringan dan
bisa tumbuh baik di lahan curam, sehingga berpotensi menahan longsor. Jika bambu ditanam
berderet menyerupai teras pada sebuah lereng dan membentuk sabuk gunung, dimana akar
bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun, maka kekuatannya akan sangat luar
biasa. Rumpun bambu dan serasah di bawahnya juga mampu menahan top soil sehingga tidak
4
hanyut tergerus run off air hujan. Sehingga tanaman
bambu sangat mampu untuk menahan erosi dan longsor.
Perbanyakan tanaman bambu biasanya dilakukan
dengan cara vegetatif melalui stek batang, cabang dan
rhizome. Tapi untuk mendapatkan bibit secara masal
dalam waktu relative singkat, mudah dan murah adalah
dengan cangkokan cabang/ranting. Sediakan kantong plastik bening ukuran 0,5 kg dengan
media sabut kelapa. Rendam sabut dalam air dan masukkan dalam kantong plastik, padatkan
dan ujungnya diikat, dan sayat sebagian kantong tersebut. Pangkal cabang yang akan
dicangkok dimasukkan ke bagian yang tersayat lalu ikat erat. Dalam waktu kurang dari satu
bulan akar sudah tumbuh, dan cabang baru bisa diambil setelah akar
yang kelihatan pada bungkus plastik berwarna coklat, ujung cabang
dipotong tinggal 1,5 meter sebelum disemai di polibag.
5
Hasil studi Akademi Kehutanan Beijing ( 1998 ) yang melakukan studi banding antara
hutan pinus dan bambu pada beberapa DAS di China, mendapatkan bahwa hutan bambu mampu
menambah 240 % air bawah tanah lebih besar dibanding hutan pinus. Utthan Centre sebuah
LSM di India, tahun 2004 melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha pada bekas
penambangan batu, dan dalam jangka waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat
6,3 meter.
Hutan Bambu dan Vihara di Cina Hutan Bambu di Bangli, India
6
Selain untuk konservasi tanah dan air, bambu juga merupakan hasil hutan bukan kayu
yang sangat mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Dengan tingkat pertumbuhan
yang cepat dan masa panen yang lama, bambu bisa dipanen dari hanya berupa batang bambu
muda sampai tua serta berbagai aneka hasil olahannya.
Diambil dari berbagai sumber
Disusun oleh Zain Arafat, [Link]