BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan yang cukup pesat pada dunia ekonomi saat ini membuat
persaingan perusahaan dalam dunia bisnis menjadi semakin ketat dan juga berat.
Perusahaan dituntut untuk dapat berinovasi pada produk dan cara pemasaran yang
menarik agar dapat memenangkan pasar. Setiap perusahaan yang didirikan selalu
memiliki tujuan yang akan dicapainya, tujuan utama dari sebuah peruahaan antara
lain yaitu untuk memperoleh laba yang maksimal. Laba yang dihasilkan dapat
digunakan untuk pengembangan perusahaan, untuk tambahan pembiayaan
perusahaan, serta untuk menjaga siklus hidup perusahaan. Pengukuran tingkat
keberhasilan perusahaan dapat dilihat berdasarkan kinerja perusahaan. Sedangkan,
kinerja dalam perusahaan dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan.
Menurut Subramanyam dan Wild (2013:7) menyatakan bahwa laporan keuangan
digunakan untuk mengungkapkan cara perusahaan mendapatkan sumber dana,
pengolahan dana (modal) dan seberapa efektif penggunaan dananya. Laporan
keuangan merupakan sumber informasi penting bagi pihak internal dan juga pihak
eksternal perusahaan.
Salah satu informasi yang terdapat dalam laporan keuangan adalah laba.
Menurut Subraham dan Wild (2013:109) laba merupakan suatu ringkasan dari
hasil bersih aktivitas operasional perusahaan dalam periode tertentu yang
dinyatakan dalam istilah keuangan. Alat utama yang digunakan dalam analisis
1
keuangan suatu perusahaan adalah dengan analisis rasio, dengan analisis rasio
keuangan dapat menjawab berbagai pertanyaan yang timbul tentang keuangan
perusahaan (Tampubolon, 2013:19).
Pertumbuhan laba merupakan peningkatan presentase kenaikan laba yang
diperoleh perusahaan. Pertumbuhan laba yang baik menggambarkan bahwa
perusahaan dalam kondisi yang baik dan meningkatkan nilai perusahaan karena
besarnya dividen yang akan dibayar dimasa yang akan datang sangat bergantung
pada kondisi perusahaan. Dengan tingginya tingkat pengembalian maka akan
memperlancar kinerja perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis
kinerja keuangan sebelum mengambil keputusan ekonomi. Analisis kinerja
keuangan dapat digunakan dalam memprediksi kinerja perusahaan pada periode
berikutnya, termasuk kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba.
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan PT. Telkom Indonesia Tbk.
dimana perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia pada sektor jasa layanan telekomunikasi dan jaringan. Dimana PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk merupakan perusahaan penyedia layanan
telekomunikasi terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan publik, TELKOM harus
memperhatikan pertumbuhan labanya untuk memastikan kelangsungan bisnisnya
dan memenuhi kebutuhan para pemegang sahamnya. Oleh karena itu, faktor-
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba TELKOM perlu dikaji lebih lanjut.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan laba yang digunakan
dalam penelitian ini, antara lain likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan.
2
Likuiditas adalah rasio yang dapat digunakan untuk menunjukan
kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Jika perusahaan
memiliki kemampuan membayar atau melunasi utang jangka pendeknya saat jatuh
tempo maka dapat dikatakan perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang
likuid. Menurut Anggraeni (2017) likuiditas suatu perusahaan dapat menunjukan
kemungkinan perusahaan memperoleh pinjaman dana dari kreditur. Selain itu,
perusahaan akan semakin mudah menjalankan kegiatan operasionalnya untuk
menghasilkan laba.
Dalam penelitian ini rasio likuiditas diukur menggunakan Curent Ratio
(CR). Curent Ratio adalah perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar
dalam suatu perusahaan. Rasio lancar digunakan untuk mengungkapkan jaminan
keamanan (margin of safety) perusahaan terhadap kreditor jangka pendek. Jika
perbadingan utang lancar melebihi aktiva lancarnya (rasio lancar menunjukan
angka di bawah 1), maka perusahaan dikatakan mengalami kesulitan melunasi
utang jangka pendeknya. Jika rasio lancarnya terlalu tinggi, maka sebuah
perusahaan dikatakan kurang efisien dalam mengurus aktiva lancarnya.
Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
aktiva perusahaan dapat dibiayai oleh hutang. Rasio leverage menunjukan
kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh hutangnya dengan aset yang
dimiliki perusahaan. Dalam penelitian ini leverage diukur dengan Debt Equity
Ratio (DER). Debt equity ratio merupakan perbandingan antara total hutang dan
total equitas. Semakin tinggi hasil dari rasio ini berarti semakin tinggi penggunaan
utang sebagai sumber pendanaan perusaan (Subramayam, 2014:36).
3
Selain itu, menurut Anggraeni (2017) semakin tingginya hasil maka
menunjukan tidak adanya efisiesi dari perusahaan dalam memanfaatkan modal
sendiri untuk menjamin seluruh hutang perusahaan. DER menunjukan tingginya
ketergantungan perusahaan dalam memperoleh modal dari pihak luar yang
menyebabkan beban perusahaan semakin berat sehingga dapat membuat
pertumbuhan laba perusahaan menurun (Sayekti & Saputra, 2015).
Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator untuk mengetahui keadaan
suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat dilihat berdasarkan Total aset suatu
perusahaan yang digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan
merupakan dari ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang
kinerja perusahaan dimasa yang akan datang. Baik tidaknya kinerja dari suatu
perusahaan juga dapat dilihat dari ukuran perusahaan, apabila ukuran perusahaan
tersebut besar dianggap dapat untuk terus meningkatkan kinerja perusahaannya
dengan berusaha untuk menumbuhkan labanya.
Menurut Fakhruddin et al (2020), perusahaan yang lebih besar memiliki
keuntungan dalam skala ekonomi dan kemampuan untuk menghasilkan laba yang
tinggi. Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi pertumbuhan laba dengan cara
yang berbeda-beda. Perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki akses yang
lebih mudah ke sumber daya dan pasar yang lebih besar, tetapi mungkin juga
mengalami hambatan atau kendala dalam menjaga fleksibilitas dan adaptabilitas
terhadap perubahan pasar yang cepat.
4
Fathi Yakan Bachsinar (2022) dalam penelitiannya yang berjudul
Pengaruh Likuiditas, Leverage, Dan Aktivitas Terhadap Pertumbuhan Laba Pada
Perusahaan Sub Sektor Otomotif Dan Komponen Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia (Bei) Periode 2016-2020, menunjukan bahwa rasio likuiditas (CR),
leverage (DER) dan aktivitas (TATO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan
laba pada perusahaan sub sector otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020.
Puspita Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) dalam penelitiannya
yang berjudul pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap
pertumbuhan laba (studi kasus pada sub sektor perbankan yang terdaftar di BEI
periode tahun 2015-2019), menunjukan bahwa likuiditas dan ukuran perusahaan
tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, leverage berpengaruh negatif
terhadap pertumbuhan laba.
Berta Agus Petra (2020) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Ukuran Perusahaan, Current Ratio dan Perputaran Persediaan terhadap
Pertumbuhan Laba, menunjukan bahwa ukuran perusahaan secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba, Current Ratio secara parsial
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan laba dan perputaran
persediaan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan [Link] regresi secara
simultan diperoleh bahwa ukuran perusahaan, current ratio dan perputaran
persediaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
laba.
5
Dari latar belakang dan penelitian-penelitian diatas mengungkapkan hasil
temuan yang berbeda, ketidak-konsistenan hasil penelitian terdahulu sehingga
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggeneralisasi hasil penelitian.
Adanya ketidak konsistenan dari beberapa hasil penelitian-penelitan sebelumnya
menyebabkan isu ini menarik untuk diteliti kembali. Maka penelitian ini
dilakukan untuk menguji kembali “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Ukuran
Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk.”
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan perumusan latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan
rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Pengaruh Likuiditas, Leverage dan
Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk.
1.3 PERSOALAN PENELITIAN
1. Bagaimana pengaruh Likuiditas terhadap Pertumbuhan Laba PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?
2. Bagaimana pengaruh Leverage terhadap Pertumbuhan Laba PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?
3. Bagaimana pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?
6
1.4 TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas terhadap Pertumbuhan Laba
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
2. Untuk mengetahui pengaruh Leverage terhadap Pertumbuhan Laba PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
3. Untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap
Pertumbuhan Laba PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Bagi Akademik
Sebagai referensi dan sumber data bagi penelitian selanjutnya yang
berkaitan dengan pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan
terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
2. Bagi Praktis
Sebagai refrensi bagi praktisi di industri di Telekomunikasi Indonesia
mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba
perusahaan dan bagaimana cara mengelolanya.
7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Likuiditas
Menurut Moeljadi (2010:67) bahwa likuiditas merupakan suatu
indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban
finansialnya pada saat jatuh tempo. Sedangkan menurut (sujarweni, 2017)
likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
hutang-hutang jangka pendeknya. Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukan
bahwa perusahaan tidak mengalami kesulitan membayar kewajibannya dalam
jangka pendek, sehingga kreditur tidak perlu khawatir dalam memberikan
pinjaman.
Likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan jangka pendek
perusahaan untuk membayar financial jangka pendek tepat pada waktunya,
likuiditas perusahaan dapat ditunjukan oleh besar kecilnya aset lancar yaitu aset
yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang
persediaan. (Weygandt [Link] 2008). Ataupun likuiditas adalah seberapa cepat
waktu yang diperlukan sampai suatu aset dapat terealisasi atau dikonversi menjadi
kas atau sampai suatu liabilitas dapat terbayar.
Menurut Fred Weston dalam Kasmir (2010:110), pengertian likuiditas
adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
(utang) jangka pendeknya. Artinya apabila perusahaan ditagih, maka akan mampu
untuk memenuhi utang (membayar) tersebut terutama utang yang sudah jatuh
8
tempo. Current Ratio (CR) merupakan rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan
rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
pendek atau utang yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan
sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu
perusahaan Kasmir (2010:111). Current Ratio dapat dirumuskan dengan:
CR = Aset Lancar / Kewajiban Lancar
Aset lancar dalam laporan keuangan merupakan aset perusahaan yang
memiliki masa manfaat kurang dari satu tahun. Aset lancar adalah semua aset
perusahaan yang berupa uang tunai atau sedang dalam proses dibuat likuid dalam
setahun atau kurang.
Kewajiban lancar adalah kewajiban yang harus dibayar dengan aktiva
lancar serta jatuh tempo dalam jangka pendek dalam kurun waktu tidak lebih dari
satu tahun. Kewajiban lancar dalam laporan keuangan digunakan untuk mengukur
likuiditas suatu perusahaan dengan aset lancar.
2.2 Leverage
Hery (2016:162) Rasio Leverage atau rasio solvabilitas merupakan rasio
yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aset perusahaan dibiayai oleh
hutang. Rasio leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka
panjangnya.
9
Leverage merupakan rasio untuk mengukur seberapa bagus struktur
permodalan perusahaan, struktur permodalan merupakan pendanaan permanen
yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang
saham (Wahyono, 2015:12). Struktur modal adalah pembelanjaan permanen
dimana mencerminkan pengimbangan antar hutang jangka panjang dan modal
sendiri. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan itu sendiri
(cadangan, laba) atau berasal dari mengambil bagian, peserta, atau pemilik (modal
saham, modal peserta dan lain-lain) (Riyanto, 2016: 22).
Sedangkan menurut kasmir (2016:151), leverage merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur sejauhmana aset perusahaan dibiayai dengan utang
atau rasio yang menunjukan kemampuan perusahan untuk membayar seluruh
kewajibannya apabila perusahaan dibubarkan. Pembiayaan dengan utang
mempunyai pengaruh bagi perusahaan karena utang mempunyai beban yang
bersifat tetap. Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan
proporsi leverage perusahaan agar tidak membebani perusahaan pada saat jatuh
tempo yang dapat menyebabkan perusahaan bangkrut.
Leverage diukur menggunakan debt to equity ratio (DER) yang
merupakan perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka
panjang) dan modal yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada.
Total kewajiban merupakan jumlah keseluruhan hutang jangka pendek,
jangka panjang dan lainya pada laporan keuangan. Total kewajiban digunakan
10
untuk mengukur leverage suatu perusahaan dengan dibandingkan dengan ekuitas
perusahaan.
Ekuitas adalah hak seorang pemilik aset pada perusahaan. Ekuitas juga
merupakan selisih nilai antara nilai aset dengan liabilitas atau kewajiban. Nilai
ekuitas juga dapat dijadikan salah satu faktor penentu harga saham perusahaan
walau ada beberapa harga saham yang lebih tinggi dibanding nilai ekuitas
perusahaannya. Ekuitas digunakan untuk mengukur leverage suatu perusahaan
dengan dibandingkan dengan total kewajiban.
Debt to equity di ukur dengan rumus sebagai berikut:
Total Kewajiban
DER =
Ekuitas
2.3 Ukuran Perusahaan
Menurut Brigham & Houston (2010:14) ukuran perusahaan merupakan
ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau nilai oleh total
aset, total penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain. Besar kecilnya
perusahaan dapat dilihat dari nilai equity, nilai perusahaan, ataupun hasil nilai
total aktiva dari suatu perusahaan (Riyanto, 2010).
Menurut Hery (2016:3) semakin besar ukuran perusahaan dapat
memberikan asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat dikenal oleh masyarakat
luas sehingga lebih murah untuk meningkatkan nilai perusahaan. Investor
cenderung memberikan perhatian yang khusus terhadap perusahaan besar karena
11
dianggap memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih mudah dalam hal
memperoleh sumber pendanaan yang bersifat internal maupun eksternal.
Ukuran perusahaan adalah suatu ukuran perusahaan yang dapat
diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut size. Ukuran perusahaan dapat
menentukan baik tidaknya kinerja sebuah perusahaan dalam mengelola
kekayaanya untuk menghasilkan laba. Ukuran Perusahaan dirumuskan sebagai
berikut:
Size = ln × Total Aset
Total aset adalah total atau jumlah keseluruhan dari kekayaan perusahaan
yang terdiri dari aset tetap, aset lancar dan aset lain-lain, yang nilainya seimbang
dengan total kewajiban dan ekuitas. Total aset dapat memberikan gambaran besar
kecilnya ukuran perusahaan perusahaan.
2.4 Pertumbuhan Laba
Menurut Harahap (2015:310), pertumbuhan laba adalah rasio yang
menunjukan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba bersih di
bandingkan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pertumbuhan laba merupakan
rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan meningkatkan laba bersih
dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian dapat diketahui kenaikan laba
maupun penurunan laba suatu perusahaan.
Menurut Shafira (2020:132) Pertumbuhan laba adalah presentase
perubahan naiknya laba yang didapatkan oleh sebuah entitas dan dapat berfungsi
12
untuk mengevaluasi performa keuangan entitas tersebut. Pertumbuhan laba sangat
diperlukan oleh pihak-pihak yang berhubungan dalam perusahaan terlebih para
pihak investor. Para investor mengharapkan perusahaan mengalami peningkatan
laba sehingga pengembalian kepada para pemegang saham juga akan meningkat.
Laba merupakan tujuan utama bagi setiap perusahaan yang berdiri, setiap
perusahaan menjalankan aktivitas perusahaan dengan merencanakan bagaimana
memperoleh laba. Prihadi (2012:89) mendefinisikan bahwa laba bersih atau yang
biasa disebut dengan net income adalah hak dari pemililik, dan jika laba bersih
tersebut tidak dibagikan sebagai deviden maka saldo laba tersebut akan
menambah saldo laba di laporan keuangan periode selanjutnya. Pertumbuhan laba
dirumuskan sebagai berikut:
Laba BersihTahun sekarang ( t )−Laba Bersih Tahunsebelum (t−1)
Net income =
Laba BersihTahun sebelumnya(t−1)
Menurut (Dwi dkk 2017) ada beberapa jenis laba yaitu laba bruto, laba
sebelum pajak, laba tahun berjalan dan laba per saham. Laba bruto berasal dari
pendapatan dikurangi dengan beban pokok penjualan. Laba sebelum pajak adalah
total laba sebelum pajak penghasilan. laba tahun berjalan merupakan hasil neto
laba perusahaan selama satu periode perusahaan. Dan laba per saham adalah
jumlah laba periode berjalan per lembar saham yang beredar.
13
2.5 Konsep Penelitian
a) Likuiditas
Dalam penelitian ini likuiditas dilihat dari rasio lancar. Rasio lancar adalah
perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar.
b) Leverage
Dalam penelitian ini Leverage dilihat dari Debt to Equity Ratio. Debt to
Equity Ratio adalah perbandingan antara total kewajiban dan total ekuitas.
c) Ukuran Perusahaan
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan dilihat dari total aset.
d) Pertumbuhan Laba
Dalam penelitian ini pertumbuhan laba dilihat dari Net Income. Net
Income adalah perbandingan antara laba bersih tahun sekarang dan laba
bersih tahun sebelumnya.
14
2.6 Indikator Empirik Dan Skala Pengukuran
Tabel 2.1
Konsep Penelitian
No Konsep Variabel Indikator Skala
Pengukuran
1 Likuiditas Rasio Lancar 1. Aset lancar Rasio
2. Kewajiban lancar
2 Leverage Debt to Equity [Link] kewajiban Rasio
Ratio 2. Total ekuitas
3 Ukuran Size 1. Total aset Rasio
Perusahaan
Pertumbuhan Net Income 1. Laba bersih tahun Rasio
4 Laba sekarang (t)
2. laba bersih tahun
sebelumnya (t-1)
Sumber, Peneliti 2023
15
2.7 Kerangka Dasar Pemikiran
Likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk dapat menunjukan
kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Jika perusahaan
memiliki kemampuan membayar atau melunasi utang jangka pendeknya saat jatuh
tempo maka dapat dikatakan perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang
likuid. Menurut Nurhidayati et al (2020), likuiditas memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan. Perusahaan yang memiliki
tingkat likuiditas yang tinggi cenderung mampu menghasilkan laba yang lebih
tinggi karena memiliki kemampuan dalam mengelola arus kasnya dengan baik.
Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio leverage menunjukan kemampuan
perusahaan dalam membayar seluruh hutangnya dengan aset yang dimiliki
perusahaan salah satunya yaitu debt to equity ratio. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Firdaus dan Ratnawati (2020), leverage memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan. Perusahaan yang memiliki
tingkat leverage yang rendah cenderung mampu menghasilkan laba yang lebih
tinggi karena memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang stabil dan
mengurangi risiko keuangan.
Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk
dapat mengetahui keadaan suatu perusahaan. Total aset suatu perusahaan yang
16
digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan merupakan dari
ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan
dimasa yang akan datang. Menurut Fakhruddin et al (2020), perusahaan yang
lebih besar memiliki keuntungan dalam skala ekonomi dan kemampuan untuk
menghasilkan laba yang tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Avivah
(2018), terdapat pengaruh bersifat positif antara ukuran perusahaan terhadap
pertumbuhan laba. Dari hasil penelitian yang dilakukan menyatakan jika ukuran
perusahaan semakin meningkat, ditunjukan dengan jumlah aset yang besar, maka
pertumbuhan laba suatu perusahaan tersebut akan mengalami peningkatan.
Adapun kerangka berpikir yang berhubungan dengan penelitian ini adalah
Pengaruh Likuiditas, Leverage, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan
Laba dapat digambarkan skema paradigma penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1
Likuiditas
Pertumbuhan Laba
Leverage
Ukuran Perusahaan
Sumber, Peneliti 2023
Dari gambar 2.1 penelitian diatas dapat dilihat bahwa terdapat tiga variabel
independent dalam penelitian ini yaitu Likuiditas (X₁), Leverage (X₂), dan
Ukuran Perusahaan (X₃) sedangkan variabel dependen adalah Pertumbuhan Laba
(Y).
17
2.8 Hipotesis
Dalam sebuah metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu objek
hendaknya memiliki acuan hipotesis, yang berfungsi sebagai jawaban sementara
yang masih harus dibuktikan kebenaran dengan menggunakan data. Dari kerangka
pemikiran teoritis diatas maka dapat ditarik hipotesis untuk penelitian, yaitu:
H1 : Likuiditas berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk.
H2 : Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk.
H3 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
18
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
3.1.1 Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013:115).
Populasi dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk. Tahun 1995-2022.
3.1.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti, dipandang
sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri.
Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili
keseluruhan gejala yang diamati. Pengambilan sampel yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan metode Simple Random Sampling.
Sampling Random Sampling adalah metode pengambilan sampel secara
sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Peneliti menentukan
sendiri sampel yang digunakan dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Sampel
19
yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
periode 2013-2022.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder berupa
laporan keuangan perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-
2022. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui sumber yang telah ada
dan tidak perlu dikumpulkan sendiri oleh peneliti (Azwar, 2007).
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi.
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan dokumen-
dokumen yang terdapat pada perusahaannya. Teknik pengumpulan data melalui
dokumen dan catatan yang berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan.
Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan laporan keuangan PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk pada periode 2013-2022.
3.3 Teknik Analisis Data
3.3.1. Analisis Pendahuluan
Dalam penelitian ini analisis data yang pertama dilakukan adalah analisis
deskriptif yang dilakukan dengan memberikan gambaran mengenai masing-
masing indikator konsep dengan bantuan tabel. Menurut Sugiyono (2015: 126)
Analisis Deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran
pada objek yang diteliti melalui sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa
melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum dari data
20
tersebut, yang termasuk dalam analisis data deskriptif adalah penyajian data
melalui tabel distribusi frekuensi.
3.3.2 Analisis Lanjutan
Untuk melihat pengaruh antar variabel dalam penelitian ini menggunakan
analisis rasio keuangan. Analisis ini didasarkan pada data yang bersifat kuantitatif
yaitu data berupa angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-2022. Rasio yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a) Current Ratio
Aset lancar
×100 %
Kewajiban Lancar
b) Debt to equity ratio
Total Kewajiban
×100 %
Ekuitas
c) Size
log × Total Aset
d) Net income
Laba BersihTahun t−Laba BersihTahun t−1
Laba BersihTahun t−1
21
BAB IV
ANALISIS DAN BAHASAN HASIL ANALISIS
4.1 Gambaran Objek Penelitian
Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesian Stock Exchange (IDX)
merupakan pasar modal yang ada di Indonesia. Bursa Efek Indonesia memiliki
peranan penting sebagai sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi, yang
merupakan salah satu alternatife penanaman modal. Bagi perusahaan, Bursa Efek
Indonesia (BEI) membantu perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal
dengan cara go public yaitu kegiatan penawaran saham atau efek lainnya yang
dilakukan oleh emiten (perusahaan yang go public) kepada masyarakat.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) merupakan salah satu
perusahaan yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Telkom
Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom
adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91%
sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE)
dengan kode “TLK”.
22
PT Telekomunikasi Indonesia dibentuk pada tahun 1991 berdasarkan
peraturan pemerintah No. 25 Tahun 1991. Berawal pada tahun 1882 didirikan
badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf, lalu kemudian statusnya
diubah menjadi perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel) pada
tahun 1961. Tahun 1965, kemudian PN Postel dipecah menjadi Perusahaan
Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi
(PN Telekomunikasi).
Berikut Purpose, Visi, Misi dan Values PT Telkom Indonesia,Tbk:
a. Purpose
Mewujudkan bangsa yang lebih sejahtera dan berdaya saing serta memberikan
nilai tambah yang terbaik bagi pemangku kepentingan.
b. Visi
Menjadi digital telco pilihan utama untuk memajukan masyarakat.
c. Misi
1. Mempercepat pembangunan infrastruktur dan platform digital cerdas yang
berkelanjutan, ekonomis dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.
2. Mengembangkan talenta digital unggulan yang membantu mendorong
kemampuan digital dan tingkat adopsi digital bangsa.
3. Mengorkestrasi ekosistem digital untuk memberikan pengalaman digital
pelanggan terbaik.
23
4.2 Analisis Pendahuluan
4.2.1 Analisis Deskriptif
Dalam penelitian ini analisis data yang pertama dilakukan adalah analisis
deskriptif yang dilakukan dengan memberikan gambaran mengenai masing-
masing indikator konsep dengan bantuan tabel.
A. Likuiditas
Rasio Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
atau melunasi kewajiban hutang-hutang jangka pendeknya. Jika perusahaan
memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya pada saat
jatuh tempo, maka perusahaan tersebut dikatakan sebagai perusahaan yang likuid.
Sebaliknya jika perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban
jangka pendeknya pada saat jatuh tempo, maka perusahaan tersebut dikatakan
sebagai perusahaan yang tidak likuid. Dalam penelitian ini likuiditas diukur
menggunakan Current Ratio yang tediri dari dua indicator yaitu aset lancar dan
kewajiban lancar yang ditunjukan pada tabel 4.1 dan 4.2.
Berdasarkan tabel 4.1 dibawah menunjukan data aset lancar tahun berjalan
dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi
24
Indonesia ,Tbk, Mengalami fluktuasi. Secara keseluruhan aset lancar cenderung
mengalami peningkatan tertinggi pada tahun 2021 yaitu sebesar
Rp14.[Link] atau 24% sedangkan peningkatan terendah terjadi pada
tahun 2017 yaitu sebesar Rp-[Link] atau -0%. Nilai Rata-rata aset lancar
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun 2013-2022 adalah sebesar
Rp.45.783,[Link].
Tabel 4.1
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Aset Lancar
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Perubahan
Tahun Aset Lancar
Absolute %
2013 33.075 0 0
2014 33.762 6.87 2%
2015 47.912 14.150 30%
2016 47.701 -2.11 0%
2017 47.561 -1.40 0%
2018 43.268 -4.293 -10%
2019 41.722 -1.546 -4%
2020 46.503 4.781 10%
2021 61.277 14.774 24%
25
2022 55.057 -6.220 -11%
Rata-rata 45.783.8 21.98,2 4%
Sumber: data diolah, 2023
Tabel 4.2
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Kewajiban Lancar
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Perubahan
Tahun Kewajiban Lancar
Absolute %
2013 50527 0 0
2014 54770 4.243 8%
2015 72745 17.975 25%
2016 74067 1.322 2%
2017 86354 12.287 14%
2018 46261 -40.093 -87%
2019 58369 12.108 21%
2020 69093 10.724 16%
2021 69131 38 0%
2022 70388 1.257 2%
26
Rata-rata 65.170.5 1.986.1 0%
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.2 diatas laporan keuangan kewajiban lancar tahun
berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk, Setiap tahun mengalami peningkatan. Peningkatan tertinggi terjadi
pada tahun 2015 yaitu sebesar Rp17.[Link] atau 24,70% sedangkan
penurunan tertinggi terjadi pada tahun 20218 sebesar Rp.-[Link].00 atau
-87% kemudian pada tahun 2022 mengalami kenaikan kewajiban lancar sebesar
Rp1.[Link] atau 2%. Nilai Rata-rata kewajiban lancar PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode berjalan tahun 2013-2022 adalah sebesar
Rp.65.170,[Link].
B. Leverage
Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana aset perusahaan dibiayai dengan hutang atau rasio yang menunjukan
kemapuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibanya apabila perusahaan
dibubarkan. Dalam penelitian ini leverage diukur menggunakan Debt to Equity
Ratio yang terdiri dari dua indikator yaitu total kewajiban dan ekuitas yang
ditunjukan pada tabel 4.3 dan 4.4.
Berdasarkan tabel 4.3 dibawah ini laporan keuangan total kewajiban
tahun berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara
27
keseluruhan dapat dilihat bahwa Peningkatan tertinggi pada tahun 2015 yaitu
sebesar Rp.[Link].00 atau 25% sedangkan penurunan tertinggi terjadi
pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp-[Link].00 atau -5%. Jumlah Nilai Rata-
rata total kewajiban PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-2022 adalah
sebesar Rp91.508,[Link].
Tabel 4.3
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Total Kewajiban
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Perubahan
Tahun Total Kewajiban
Absolute %
2013 50.527 0 0
2014 54.770 4.243 8%
2015 72.745 17.975 25%
2016 74.067 1.322 2%
2017 86.354 12.287 14%
2018 88.893 2.539 3%
2019 103.958 15.065 14%
2020 126.054 22.096 18%
28
2021 131.785 5.731 4%
2022 125.930 -5.855 -5%
Rata-rata 91.508,3 7.540,3 8%
Sumber: data diolah, 2023
Tabel 4.4
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Ekuitas
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Perubahan
Tahun Ekuitas
Absolute %
2013 77.424 0 0
2014 85.992 8.568 10%
2015 93.428 7.436 8%
2016 105.544 12.116 11%
2017 112.130 6.586 6%
2018 117.303 5.173 4%
2019 117.250 -53 0%
2020 120.889 3.639 3%
2021 145.399 24.510 17%
29
2022 149.262 3.863 3%
Rata-rata 112.462,1 71.83,8 6%
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.4 diatas laporan keuangan Ekuitas tahun berjalan dan
perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk,
Setiap tahun cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara
keseluruhan dapat dilihat bahwa Peningkatan tertinggi pada tahun 2021 yaitu
sebesar Rp.[Link].00 atau 17% dan penurunan tertinggi terjadi pada
tahun 2019 yaitu sebesar Rp.-[Link] atau 0%. Nilai Rata-rata Ekuitas PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun berjalan 2013-2022 adalah sebesar
Rp.112.462,[Link].
C. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk
mengetahui keadaan suatu perusahaan. Total aset suatu perusahaan yang
digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan merupakan dari
ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan
dimasa yang akan datang. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur
menggunakan size dengan indikatornya total aset yang ditunjukan pada tabel 4.5.
Berdasarkan tabel 4.5 dibawah ini laporan keuangan Total Aset tahun
berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara keseluruhan periode
tahun berjalan Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar
30
Rp25.[Link] atau 15% dan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2022
yaitu sebesar Rp-[Link].00 atau -1%. Nilai rata- rata Total aset PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun 2013-2022 adalah sebesar
Rp203.983,[Link].
Tabel 4.5
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Total Aset
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Perubahan
Tahun Total Aset
Absolute %
2013 12.7951 0 0
2014 140.895 12.944 9%
2015 166.173 25.278 15%
2016 179.611 13.438 7%
2017 198.484 18.873 10%
2018 206.196 7.712 4%
2019 221.208 15.012 7%
31
2020 246.943 25.735 10%
2021 277.184 30.241 11%
2022 275.192 -1.992 -1%
Rata-rata 203.983,7 14,724,1 7%
Sumber: data diolah, 2023
D. Pertumbuhan Laba
Partumbuhan laba adalah rasio yang memperlihatkan kemampuan
perusahaan dalam hal peningkatkan laba bersih pada tahun yang berjalan
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba juga merupakan
presentase peningkatan ataupun penurunan laba dari satu periode ke periode
selanjutnya, pihak investor hanya ingin berinvestasi pada perusahaan pada
perusahaan yang memiliki tingkatan laba yang besar. Dalam penelitian ini
pertumbuhan laba diukur menggunakan Net Income yang terdiri dari dua indikator
yaitu laba tahun sekarang (t) dan laba tahun sebelumnya (t-1) yang ditunjukan
pada tabel 4.6 dan 4.7.
Berdasarkan tabel 4.6 dibawah ini laporan keuangan Laba Bersih Tahun
Sekarang (t) periode berjalan tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara keseluruhan peningkatan tertinggi
pada tahun 2016 yaitu sebesar Rp29.[Link] atau 18% sedangkan
penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp-[Link].00
32
atau -23%. Nilai rata-rata laba bersih tahun sekarang PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk adalah sebesar Rp27,[Link].
Tabel 4.6
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Laba Bersih Tahun Sekarang (t)
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Laba bersih Perubahan
Tahun tahun sekarang
(t) Absolute %
2013 20.290 0 0
2014 21.446 1156 5%
2015 23.948 2502 10%
2016 29.172 5224 18%
2017 32.701 3529 11%
2018 26.979 -5722 -21%
33
2019 27.592 613 2%
2020 29.563 1971 7%
2021 33.968 4405 13%
2022 27.680 -6288 -23%
Rata-rata 27,334 739 2%
Sumber: data diolah, 2023
Tabel 4.7
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Laba Bersih Tahun Sebelum (t-1)
Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Laba bersih
Perubahan
Tahun tahun sekarang
Absolute %
(t-1)
2013 18.362 0 0
2014 20.290 1.928 10%
2015 21.446 1.156 5%
2016 23.317 1.871 8%
2017 29.172 5.855 20%
2018 32.701 3.529 11%
34
2019 26.979 -5.722 -21%
2020 27.592 6.13 2%
2021 29.563 1.971 7%
2022 33.968 4.405 13%
Rata-rata 26.339 1.560,6 5%
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.7 diatas laporan keuangan Laba Bersih Tahun
Sebelum (t-1) periode berjalan tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia,
Tbk Setiap tahun mengalami penurunan dan peningkatan. Secara keseluruhan
peningkatan tertinggi pada tahun 2016 yaitu sebesar Rp29.[Link] atau
18% sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar Rp-
[Link].00 atau -21%. Nilai rata-rata laba bersih tahun sekarang PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah sebesar Rp26.[Link].
35
4.3 Analisis Lanjutan
4.3.1 Analisis Rasio Keuangan
Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka
yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka
lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen
lainnya dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada diantara
laporan keuangan. Kemudian, angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-
angka di dalam suatu periode maupun beberapa periode. Rasio keuangan yang
digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur pertumbuhan laba ialah Current
ratio, Debt to equity ratio, dan size.
A. Pertumbuhan laba
Pertumbuhan Laba dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan
apakah perusahaan akan membagikan laba sebagai deviden kepada pemilik saham
atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa
mendatang. Rumus yang digunakan untuk memprediksi pertumbuhan laba ialah
Net Income dengan menghitung laba bersih tahun sekarang dikurangi laba bersih
36
laba bersih tahun sebelum dibagi laba bersih tahun sebelum. Setelah dilakukan
olah data hasil dari perhitungan Net Income PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
periode tahun 2013-2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.8
PTTelekomunikasi Indonesia, Tbk
Net Income
Periode 2013-2022
(Dinyatakan Dalam Miliaran Rupiah)
Laba bersih Laba bersih Net Income
Tahun tahun t (a) tahun t-1 (b) (a-b)/b
Rp Rp %
2013 20.290 18.362 10%
2014 21.446 20.290 6%
2015 23.317 21.446 9%
2016 29.172 23.317 25%
2017 32.701 29.172 12%
2018 26.979 32.701 -17%
2019 27.592 26.979 2%
2020 29.563 27.592 7%
2021 33.968 29.563 15%
37
2022 27.680 33.968 -19%
Rata-rata 5%
Sumber: data diolah, 2023
Dari data pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan laba
yang diukur dengan net income adalah sebesar 5% dan nilai net income selama
tahun 2013-2022 tidak konsisten. Dimana net income paling rendah terdapat pada
tahun 2022 yaitu sebesar -19% dan net income tertinggi pada tahun 2016 yaitu
sebesar 25%.
Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya ada tiga
faktor yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Likuiditas, Leverage dan Ukuran
perusahaan.
B. Likuiditas
Likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan Current Ratio. Dimana
Current Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk dapat mengukur
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau utang
yang akan segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Semakin
tinggi Current Ratio maka perusahaan semakin mudah memperoleh pendanaan
dari kreditor dan investor untuk meningkatkan laba perusahaan. Current Ratio
diukur dengan membandingkan aset lancar dan kewajiban lancar. Current Ratio
menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar.
38
Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar semakin tinggi
kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.
Setelah dilakukannya olah data pada laporan keuangan, diperoleh data
perhitungan current ratio pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-
2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.9
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Current Ratio
Periode Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Aset lancar (a) Kewajiban lancar (b) CR (a/b)
Tahun
Rp Rp %
2013 33.075 50.527 65%
2014 33.762 54.77 62%
2015 47.912 72.745 66%
2016 47.701 74.067 64%
2017 47.561 86.354 55%
2018 43.268 46.261 94%
2019 41.722 58.369 71%
39
2020 46.503 69.093 67%
2021 61.277 69.131 89%
2022 55.057 70.388 78%
Rata-rata 71%
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.9 yang dihitung menggunakan Current Ratio PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk. dimana nilai rata-rata dari current ratio adalah
sebesar 71% atau 0,71. Nilai Current ratio terendah terdapat pada tahun 2017
yaitu sebesar 55% atau 0,55 dan tertinggi terdapat pada tahun 2018 sebesar 94%
atau 0,94. Maka hipotesis pertama dalam penelitian ini ditolak. Dengan kata lain
likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk.
C. Leverage
Leverage dalam penelitian ini dihitung menggunakan Debt To Equity
Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya proporsi utang
terhadap modal. Rasio ini digunakan untuk mengetahui besarnya perbandingan
antara jumlah dana yang disediakan oleh kreditor dengan jumlah dana yang
berasal dari pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk
mengetahui beberapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai
jaminan utang.
40
Tabel 4.9
Pt Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Debt To Equity Ratio
Periode Tahun 2013-2022
(Dalam Miliaran Rupiah)
Total
Ekuitas (b)
Tahun Kewajiban (a) DER (a/b)
Rp Rp
2013 50.527 77.424 65%
2014 54.77 85.992 64%
2015 72.745 93.428 78%
2016 74.067 105.544 70%
2017 86.354 112.13 77%
2018 88.893 117.303 76%
2019 103.958 117.25 89%
2020 126.054 120.889 104%
41
2021 131.785 145.399 91%
2022 125.93 149.262 84%
Rata-rata 80%
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.9 yang dihitung dengan menggunakan Debt to Equity
Ratio PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. nilai yang tidak konsisten tetapi
cenderung mengaami peningkatan dimana nilai rata-rata dari Debt to Equity Ratio
adalah sebesar 80%. Nilai Debt to Equity Ratio terendah terdapat pada tahun 2014
yaitu sebesar 64% dan tertinggi terdapat pada tahun 2020 sebesar 104%. Maka
hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima. Dengan kata lain leverage
berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
D. Size
Size diukur dengan mentrasformasikan total aset yang dimiliki perusahaan
kedalam bentuk logaritma natural. Ukuran perusahaan diproksikan dengan
menggunakan Logaritma Natural Total Aset dengan tujuan agar mengurangi
fluktuasi data yang berlebih. Dengan menggunakan log natural, jumlah aset
dengan nilai ratusan miliar bahkan triliun akan disederhanakan, tanpa mengubah
proporsi dari jumlah aset yang sesungguhnya.
Setelah dilakukan olah data hasil perhitungan Size PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk periode tahun 2013-2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
42
Tabel 4.10
Pt Telekomunkasi Indonesia, Tbk
Size
Periode 2013-2022
(Dinyatakan Dalam Miliaran Rupiah)
Size
Tahun Total Aset (a)
(Ln× a)
2013 127.951 5
2014 140.895 5
2015 166.173 5
2016 179.611 5
2017 198.484 5
2018 206.196 5
2019 221.208 5
2020 246.943 6
2021 277.184 6
2022 275.192 6
43
Rata-rata 5
Sumber: data diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4.10 diatas yang dihitung dengan menggunakan Size PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk. menunjukan bahwa rata-rata size sebesar 5 dan
ukuran perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia terus konsisten dari tahun 2013-
2019 yaitu sebesar 5 dan mengalami kenaikan menjadi 6 pada tahun 2020 yang
terus konsisten sampai 2022. Maka hipotesis ketiga dalam penelitian ini diterima.
Dengan kata lain Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.
4.4 Bahasan Hasil Analisis
4.4.1. Pengaruh Current Ratio Terhadap Pertumbuhan Laba PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Pada tahun 2013, Current Ratio sebesar 0,65 atau 65% dan Perumbuhan
Laba tumbuh sebesar 10%. Tahun 2014 Current Ratio menurun menjadi sebesar
0,62 atau 62% dan Perumbuhan Laba menurun menjadi 6%. Pada tahun 2015
Current Ratio meningkat menjadi 0,66 atau 66% dan Perumbuhan Laba
meningkat menjadi 9%. Tahun 2016, Current Ratio menurun menjadi sebesar
0,64 atau 64% dan Perumbuhan Laba tumbuh cukup tinggi sebesar 25%. Pada
tahun 2017, Current Ratio menurun menjadi sebesar 0,55 atau 55% dan
Perumbuhan Laba menurun menjadi 12%. Tahun 2018, Current Ratio meningkat
secara signifikan menjadi sebesar 0,94 atau 94% dan Perumbuhan Laba
mengalami penurunan sebesar -17%. Pada tahun 2019, Current Ratio menurun
menjadi 0,71 Atau 71% dan Perumbuhan Laba meningkat menjadi 2%. Tahun
44
2020, Current Ratio terus menurun menjadi sebesar 0,67 atau 67% sedangkan
Perumbuhan Laba meningkat menjadi 7%. Pada tahun 2021, Current Ratio
meningkat menjadi 0,89 atau 89% dan Perumbuhan Laba meningkat sebesar 15%.
Tahun 2022, Current Ratio menurun menjadi 0,78 atau 78% dan Perumbuhan
Laba kembali menurun menjadi -19%.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa tidak ada pengaruh antara Current
Ratio dan pertumbuhan laba. Dimana Current Ratio mengalami peningkatan
sedangkan pertumbuhan lama mengalami penurunan seperti yang terdapat pada
tahun 2018. Adapun yang terjadi pada tahun 2016, 2019 dan 2020 Current Ratio
mengalami penurunan sedangkan pertumbuhan laba mengalami peningkatan.
Hasil ini menolak hipotesis pertama yang menyatakan Likuiditas berpengaruh
terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Hal ini bisa terjadi karena perusahaan tidak mampu memanfaatkan kas
yang
tersedia dan juga menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya tidak memberikan jaminan ketersediaan modal kerja
guna untuk mendukung aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan,
sehingga
perolehan laba yang ingin dicapai menjadi tidak seperti apa yang diharapkan dan
tidak maksimal. (Fathi Yakan Bachsinar, 2022)
Menurut Dewi (2018) dan Andriyani (2015) tidakn ada ketentuan yang
mutlak tentang berapa tingkat current ratio yang dianggap baik atau yang harus
45
dipertahankan oleh suatu perusahaan karena biasanya tingkat current ratio ini juga
sangat tergantung kepada jenis usaha dari masing-masing perusahaan, semakin
mudah perusahaan itu membayar utang jangka pendek, dan semakin tinggi
current ratio menunjukkan perubahan laba yang tinggi pula. Artinya perusahaan
memiliki hutang jangka pendek yang melebihi aktiva lancarnya, sehingga dalam
memenuhi kewajibannya perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi
hutang-hutang jangka pendeknya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Fathi Yakan Bachsinar (2022) yang menunjukan bahwa rasio likuiditas (CR),
tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, Nava Yansi Anggraeni (2022)
yang menunjukan banwa Current Ratio tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan
laba dan Puspita Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) menunjukan bahwa
likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Tinggi ataupun rendahnya Current Ratio tidak berpengaruh terhadap laba.
Hal ini dapat disebabkan karena laba perusahaan bisa dihasilkan melalui
pendapatan lainnya dan perusahaan yang memiliki utang lebih memilih melunasi
hutangnya dengan dana lainnya sehingga laba bisa terus meningkat.
4.4.2 Pengaruh Debt to EquityTerhadap Pertumbuhan Laba PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
sejauh mana perusahaan mengandalkan utang dalam struktur keuangannya.
46
Penelitian ini untuk melihat bagaimana perubahan Debt to Equity Ratio
mempengaruhi pertumbuhan laba.
Pada tahun 2013, Debt to Equity Ratio sebesar 65% dan Pertumbuhan
Laba sebesar 10%. Pada tahun 2014, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 64%
dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi 6%. Pada tahun 2015, Debt to Equity
Ratio meningkat menjadi 78% dan Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 9%.
Pada tahun 2016, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 70% dan Pertumbuhan
Laba meningkat menjadi 25%. Tahun 2017, Debt to Equity Ratio meningkat
menjadi 77% dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi 12%. Pada tahun 2018,
Debt to Equity Ratio menurun menjadi 76% dan Pertumbuhan Laba menurun
menjadi -17%. Tahun 2019, Debt to Equity Ratio meningkat menjadi 089% dan
Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 2%. Pada tahun 2020, Debt to Equity
Ratio meningkat menjadi 104% dan Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 7%.
Pada tahun 2021, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 91% dan Pertumbuhan
Laba meningkat menjadi 15%. Tahun 2022, Debt to Equity Ratio menurun
menjadi 84%dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi -19%
Dari data diatas dapat dilihat bahwa ada pengaruh antara Debt to Equity
Ratio dan pertumbuhan laba. Dimana Debt to Equity Ratio mengalami
peningkatan maka pertumbuhan laba juga mengalami peningkatan seperti yang
terdapat pada tahun 2015, 2019 dan 2020. Adapun yang terjadi pada tahun 2014,
2018 dan 2022 Debt to Equity Ratio mengalami penurunan maka pertumbuhan
laba juga mengalami penurunan. Hasil ini menerima hipotesis kedua yang
47
menyatakan Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Debt to Equity Ratio mempengaruhi pertumbuhan laba suatu perusahaan.
Debt to Equity Ratio merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki
perusahaan dengan modal sendiri. Hal ini menunjukkan Debt to Equity Ratio
dalam memenuhi kebutuhan aktifitas perusahaan masih dibantu oleh hutang.
Ketika suatu perusahaan mengalami banyak aktifitas maka perusahaan akan
menambah hutang untuk memenuhi kebutuhan aktifitas perusahaan. Sehingga hal
tersebut mempengaruhi pertumbuhan laba pada perusahaan (Puspita Hendrawati
dan Akhmad Syarifudin, 2021)
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Puspita
Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) menunjukan bahwa leverage
berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba, Nur Amalina, dkk. (2021)
menunjukan bahwa Debt to Equity ratio berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan laba dan Atika Apriani, dkk. (2017) menunjukan bahwa Debt to
Equity ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Hal ini menunjukan bahwa perusahaan mampu menggunakan utang
sebagai modal perusahaannya dimana semakin besar utang maka modal
perusahaan juga semakin besar sehingga dapat mempengaruhi laba perusahaan.
Akan tetapi perusahaan harus lebih bijak dalam menggunkan hutang sebagai
modal perusahaan karena jika perusahaan memiliki hutang yang terlampau besar
dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan itu sendri.
48
4.4.3 Pengaruh Size Terhadap Perumbuhan Laba PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk
Pada tahun 2013-2016 ukuran perusahaan yang diukur menggunakan size
menunjukan bahwa ukuran perusahaan terus konsisten yaitu sebesar 5. Pada tahun
2017 ukuran perusahaan mengalami peningkatan menjadi 6 dan terus konsisten
sampai 2022. Hasil ini menerima hipotesis ketiga yang menyatakan ukuran
perusahaaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk.
Berta Agus Petra (2020) menunjukan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba, Petty Aprilia Sari (2020)
menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
laba dan Isni Denok Alfitri, dkk. (2018) menyatakan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Hal ini didukung oleh Hery (2016:3) semakin besar ukuran perusahaan
dapat memberikan asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat dikenal oleh
masyarakat luas sehingga lebih murah untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Investor cenderung memberikan perhatian yang khusus terhadap perusahaan besar
karena dianggap memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih mudah dalam hal
memperoleh sumber pendanaan yang bersifat internal maupun eksternal.
Ukuran perusahaan yang stabil dan meningkat pada tahun 2017
menunjukan bahwa perusahaan mampu mengelola aset perusahaannya dengan
baik yang menimbulkan laba yang baik pula untuk perusahaan. Dengan ukuran
49
perusahaan yang stabil dan cenderung meningkat dapat meningkatkan
kepercayaan investor untuk memanamkan modal sehingga aset perusahaan pun
meningkat.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
2. Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT. Telekomunikasi
Indonesia Tbk.
3. Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
5.2. Implikasi Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat pada pembangunan ilmu
manajemen yang khususnya membahas mengenai pertumbuhan laba. Diharapkan
50
pula dapat memberikan informasi tambahan mengenai faktor-faktor apa saja yang
dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Oleh karena itu, dapat diimplikasikan hal-
hal berikut:
1. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Tinggi ataupun rendahnya Current Ratio tidak berpengaruh
terhadap laba. Hal ini dapat disebabkan karena laba perusahaan bisa
dihasilkan melalui pendapatan lainnya dan perusahaan yang memiliki
utang lebih memilih melunasi hutangnya dengan dana lainnya sehingga
laba bisa terus meningkat.
2. Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT. Telekomunikasi
Indonesia Tbk.
Hal ini menunjukan bahwa perusahaan mampu menggunakan utang
sebagai modal perusahaannya dimana semakin besar utang maka modal
perusahaan juga semakin besar sehingga dapat mempengaruhi laba
perusahaan. Akan tetapi perusahaan harus lebih bijak dalam menggunkan
hutang sebagai modal perusahaan karena jika perusahaan memiliki hutang
yang terlampau besar dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan itu
sendri.
3. Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk.
51
Ukuran perusahaan yang stabil dan meningkat pada tahun 2017
menunjukan bahwa perusahaan mampu mengelola aset perusahaannya
dengan baik yang menimbulkan laba yang baik pula untuk perusahaan.
Dengan ukuran perusahaan yang stabil dan cenderung meningkat dapat
meningkatkan kepercayaan investor untuk memanamkan modal sehingga
aset perusahaan pun meningkat.
5.3. Implikasi Terapan
Hasil penelitian ini dapat menambah informasi dan pengetahuan mengenai
pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Perusahaan harus terus memantau dan
mengelola likuiditas perusahaan dengan baik untuk dapat memenuhi hutang
jangka pendek. Penggunaan utang harus dipertibangkan dengan hati-hati dengan
memperhatikan risiko dan kondisi pasar. Ukuran perusahaan yang lebih besar
cenderung berkolerasi positif terhadap pertumbuhan laba, manajemen dapat
mempertimbangkan strtategi pertumbuhan yang mendukung peningkatan ukuran
perusahan. Dari hasil penelitian ini peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya
untuk dapat mengkaji lebih dalam rasio-rasio keuangan yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan laba perusahaan dengan menganti atau menambah variabel periode
dan objek penelitian yang digunakan peneliti terdahulu agar dapat melihat faktor-
faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba perusahaan.
52
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, Irham. 2013. Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Ghosh , A. And D. Moon. 2010. “Corporate Debt Financing and Earnings Quality
Journal of Business Finance and Accounting”, 37 (5-6), pp:538- 559.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hanafi, Dr Mahmud M, M.B.A, Dan Halim, Abdul. 2009. Analisis Laporan
Keuangan. Edisi Keempat. Cetakan Pertama. YKPN. Yogyakarta.
Irawati, Dhian Eka. 2012. “Pengaruh Struktur Modal, Pertumbuhan Laba, Ukuran
Perusahaan dan Likuiditas terhadap Kualitas laba”. Accounting Analysis
Journal, 1(2), pp: 1-6.
Martani Dwi, Siregar Sylvia Veronika dkk. 2018. Akuntansi Keuangan Menengah
Berbasis PSAK. Edisi kedua. Buku satu. Jakarta: Salemba empat.
53
Puspita Hendarwati, Akhmad Syarifudin. 2021. “Pengaruh Likuiditas, Leverage
dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pertumbuhan Laba (Studi Kasus Pada
Perusahaan Sub Sektor Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode Tahun 2015-2019)”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen, Bisnis
dan Askuntansi 3 (1).
Reyhan, Arief. 2014. “Pengaruh Komite Audit, Asimetri Informasi, Ukuran
Perusahaan, Pertumbuhan Laba dan Profitabilitas Terhadap Kualitas Laba
(Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI 2009- 2010)”.
JOM FEKON Vol. 1 No. 2 Oktober.
Setianingsih, Ely puji. 2013 “Pengaruh mekanisme tata kelola perusahaan dan
kinerja perusahaan terhadap kualitas laba (studi kasus perusahaan otomotif
dan komponen dibursa efek indonesia)” Procceding PESAT (psikologi,
ekonomi, sastra, arsitektur, dan teknik sipil) Vol, 5.
Shanie Sukmawati, Kusmuriyanto dan Linda Agustina. 2014, Pengaruh Struktur
Modal, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, dan Return On Asset Terhadap
Kualitas Laba. Accounting Analysis Journal, 3(1)
Simamora, Erikson, Prof. Dr. Amries Rusli Tanjung, MM., Ak., CA., Julita, SE,
[Link]., Ak. 2014. “Pengaruh investment opportunity set (IOS), mekanisme
good corporate governance dan reputasi KAP terhadap kualitas laba
perusahaan (Studi empiris pada perusahaan property and real estate yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2010-2012)”. JOM FEKON Vol. 1 No.
2.
54
Sofian, Saudah, Siti Zaleha A.R., and Mohammadghorban Mehri. 2011.
Conservatism of Earnings and Investor Protection. International Journal of
Bussines and Social Science, 2 (4), pp: 143-148.
Surifah. 2010. Kualitas Laba Dan Pengukurannya. Jurnal Ekonomi & Akuntansi
Vol. 8, No. 2, Mei – Agustus. Fakultas Ekonomi. Universitas
Cokroaminoto. Yogyakarta.
Sugiono, Lisa Puspitasari dan Y. Jogi Christiawan. 2013. Analisa Faktor yang
Mempengaruhi Likuiditas Pada Industri Ritel yang Terdaftar Pada Bursa
Efek Indonesia Tahun 2007-2012. Business Accounting Review, 1 (2), pp:
298-305.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2012. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Wulansari, Yenny. 2013. “Pengaruh Investment Opportunity Set, Likuiditas Dan
Leverage Terhadap Kualitas Laba”. Jurnal Universitas Negeri Padang.
Warianto, Paulina, Ch. Rusiti.2013. “Pengaruh ukuran perusahaan, struktur
modal, Likuiditas dan investment opportunity set (ios) terhadap Kualitas
laba pada perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI”. Jurnal
Universitas Atma Jaya.
55
Yeni Wulansari. 2013. Pengaruh Investement Opportunity Set, Likuiditas Dan
Leverage Terhadap Kualitas Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di BEI. Jurnal Akuntansi, 1(2).
56