0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan56 halaman

Skripsi Baru Update

Dokumen ini membahas pengaruh likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, dengan fokus pada laporan keuangan sebagai sumber informasi penting. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan ketidak-konsistenan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Diunggah oleh

daviddearaujo45
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan56 halaman

Skripsi Baru Update

Dokumen ini membahas pengaruh likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, dengan fokus pada laporan keuangan sebagai sumber informasi penting. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan ketidak-konsistenan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Diunggah oleh

daviddearaujo45
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan yang cukup pesat pada dunia ekonomi saat ini membuat

persaingan perusahaan dalam dunia bisnis menjadi semakin ketat dan juga berat.

Perusahaan dituntut untuk dapat berinovasi pada produk dan cara pemasaran yang

menarik agar dapat memenangkan pasar. Setiap perusahaan yang didirikan selalu

memiliki tujuan yang akan dicapainya, tujuan utama dari sebuah peruahaan antara

lain yaitu untuk memperoleh laba yang maksimal. Laba yang dihasilkan dapat

digunakan untuk pengembangan perusahaan, untuk tambahan pembiayaan

perusahaan, serta untuk menjaga siklus hidup perusahaan. Pengukuran tingkat

keberhasilan perusahaan dapat dilihat berdasarkan kinerja perusahaan. Sedangkan,

kinerja dalam perusahaan dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan.

Menurut Subramanyam dan Wild (2013:7) menyatakan bahwa laporan keuangan

digunakan untuk mengungkapkan cara perusahaan mendapatkan sumber dana,

pengolahan dana (modal) dan seberapa efektif penggunaan dananya. Laporan

keuangan merupakan sumber informasi penting bagi pihak internal dan juga pihak

eksternal perusahaan.

Salah satu informasi yang terdapat dalam laporan keuangan adalah laba.

Menurut Subraham dan Wild (2013:109) laba merupakan suatu ringkasan dari

hasil bersih aktivitas operasional perusahaan dalam periode tertentu yang

dinyatakan dalam istilah keuangan. Alat utama yang digunakan dalam analisis

1
keuangan suatu perusahaan adalah dengan analisis rasio, dengan analisis rasio

keuangan dapat menjawab berbagai pertanyaan yang timbul tentang keuangan

perusahaan (Tampubolon, 2013:19).

Pertumbuhan laba merupakan peningkatan presentase kenaikan laba yang

diperoleh perusahaan. Pertumbuhan laba yang baik menggambarkan bahwa

perusahaan dalam kondisi yang baik dan meningkatkan nilai perusahaan karena

besarnya dividen yang akan dibayar dimasa yang akan datang sangat bergantung

pada kondisi perusahaan. Dengan tingginya tingkat pengembalian maka akan

memperlancar kinerja perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis

kinerja keuangan sebelum mengambil keputusan ekonomi. Analisis kinerja

keuangan dapat digunakan dalam memprediksi kinerja perusahaan pada periode

berikutnya, termasuk kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan PT. Telkom Indonesia Tbk.

dimana perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia pada sektor jasa layanan telekomunikasi dan jaringan. Dimana PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk merupakan perusahaan penyedia layanan

telekomunikasi terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan publik, TELKOM harus

memperhatikan pertumbuhan labanya untuk memastikan kelangsungan bisnisnya

dan memenuhi kebutuhan para pemegang sahamnya. Oleh karena itu, faktor-

faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba TELKOM perlu dikaji lebih lanjut.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan laba yang digunakan

dalam penelitian ini, antara lain likuiditas, leverage, dan ukuran perusahaan.

2
Likuiditas adalah rasio yang dapat digunakan untuk menunjukan

kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Jika perusahaan

memiliki kemampuan membayar atau melunasi utang jangka pendeknya saat jatuh

tempo maka dapat dikatakan perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang

likuid. Menurut Anggraeni (2017) likuiditas suatu perusahaan dapat menunjukan

kemungkinan perusahaan memperoleh pinjaman dana dari kreditur. Selain itu,

perusahaan akan semakin mudah menjalankan kegiatan operasionalnya untuk

menghasilkan laba.

Dalam penelitian ini rasio likuiditas diukur menggunakan Curent Ratio

(CR). Curent Ratio adalah perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar

dalam suatu perusahaan. Rasio lancar digunakan untuk mengungkapkan jaminan

keamanan (margin of safety) perusahaan terhadap kreditor jangka pendek. Jika

perbadingan utang lancar melebihi aktiva lancarnya (rasio lancar menunjukan

angka di bawah 1), maka perusahaan dikatakan mengalami kesulitan melunasi

utang jangka pendeknya. Jika rasio lancarnya terlalu tinggi, maka sebuah

perusahaan dikatakan kurang efisien dalam mengurus aktiva lancarnya.

Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana

aktiva perusahaan dapat dibiayai oleh hutang. Rasio leverage menunjukan

kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh hutangnya dengan aset yang

dimiliki perusahaan. Dalam penelitian ini leverage diukur dengan Debt Equity

Ratio (DER). Debt equity ratio merupakan perbandingan antara total hutang dan

total equitas. Semakin tinggi hasil dari rasio ini berarti semakin tinggi penggunaan

utang sebagai sumber pendanaan perusaan (Subramayam, 2014:36).

3
Selain itu, menurut Anggraeni (2017) semakin tingginya hasil maka

menunjukan tidak adanya efisiesi dari perusahaan dalam memanfaatkan modal

sendiri untuk menjamin seluruh hutang perusahaan. DER menunjukan tingginya

ketergantungan perusahaan dalam memperoleh modal dari pihak luar yang

menyebabkan beban perusahaan semakin berat sehingga dapat membuat

pertumbuhan laba perusahaan menurun (Sayekti & Saputra, 2015).

Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator untuk mengetahui keadaan

suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat dilihat berdasarkan Total aset suatu

perusahaan yang digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan

merupakan dari ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang

kinerja perusahaan dimasa yang akan datang. Baik tidaknya kinerja dari suatu

perusahaan juga dapat dilihat dari ukuran perusahaan, apabila ukuran perusahaan

tersebut besar dianggap dapat untuk terus meningkatkan kinerja perusahaannya

dengan berusaha untuk menumbuhkan labanya.

Menurut Fakhruddin et al (2020), perusahaan yang lebih besar memiliki

keuntungan dalam skala ekonomi dan kemampuan untuk menghasilkan laba yang

tinggi. Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi pertumbuhan laba dengan cara

yang berbeda-beda. Perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki akses yang

lebih mudah ke sumber daya dan pasar yang lebih besar, tetapi mungkin juga

mengalami hambatan atau kendala dalam menjaga fleksibilitas dan adaptabilitas

terhadap perubahan pasar yang cepat.

4
Fathi Yakan Bachsinar (2022) dalam penelitiannya yang berjudul

Pengaruh Likuiditas, Leverage, Dan Aktivitas Terhadap Pertumbuhan Laba Pada

Perusahaan Sub Sektor Otomotif Dan Komponen Yang Terdaftar Di Bursa Efek

Indonesia (Bei) Periode 2016-2020, menunjukan bahwa rasio likuiditas (CR),

leverage (DER) dan aktivitas (TATO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan

laba pada perusahaan sub sector otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020.

Puspita Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) dalam penelitiannya

yang berjudul pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap

pertumbuhan laba (studi kasus pada sub sektor perbankan yang terdaftar di BEI

periode tahun 2015-2019), menunjukan bahwa likuiditas dan ukuran perusahaan

tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, leverage berpengaruh negatif

terhadap pertumbuhan laba.

Berta Agus Petra (2020) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh

Ukuran Perusahaan, Current Ratio dan Perputaran Persediaan terhadap

Pertumbuhan Laba, menunjukan bahwa ukuran perusahaan secara parsial

berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba, Current Ratio secara parsial

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan laba dan perputaran

persediaan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan [Link] regresi secara

simultan diperoleh bahwa ukuran perusahaan, current ratio dan perputaran

persediaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan

laba.

5
Dari latar belakang dan penelitian-penelitian diatas mengungkapkan hasil

temuan yang berbeda, ketidak-konsistenan hasil penelitian terdahulu sehingga

perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggeneralisasi hasil penelitian.

Adanya ketidak konsistenan dari beberapa hasil penelitian-penelitan sebelumnya

menyebabkan isu ini menarik untuk diteliti kembali. Maka penelitian ini

dilakukan untuk menguji kembali “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Ukuran

Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba PT Telekomunikasi Indonesia,

Tbk.”

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan perumusan latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan

rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Pengaruh Likuiditas, Leverage dan

Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba PT Telekomunikasi Indonesia,

Tbk.

1.3 PERSOALAN PENELITIAN

1. Bagaimana pengaruh Likuiditas terhadap Pertumbuhan Laba PT.

Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?

2. Bagaimana pengaruh Leverage terhadap Pertumbuhan Laba PT.

Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?

3. Bagaimana pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan Laba

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.?

6
1.4 TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas terhadap Pertumbuhan Laba

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

2. Untuk mengetahui pengaruh Leverage terhadap Pertumbuhan Laba PT.

Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

3. Untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap

Pertumbuhan Laba PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

1.4.2 Manfaat Penelitian

1. Bagi Akademik

Sebagai referensi dan sumber data bagi penelitian selanjutnya yang

berkaitan dengan pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan

terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

2. Bagi Praktis

Sebagai refrensi bagi praktisi di industri di Telekomunikasi Indonesia

mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba

perusahaan dan bagaimana cara mengelolanya.

7
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Likuiditas

Menurut Moeljadi (2010:67) bahwa likuiditas merupakan suatu

indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban

finansialnya pada saat jatuh tempo. Sedangkan menurut (sujarweni, 2017)

likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban

hutang-hutang jangka pendeknya. Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukan

bahwa perusahaan tidak mengalami kesulitan membayar kewajibannya dalam

jangka pendek, sehingga kreditur tidak perlu khawatir dalam memberikan

pinjaman.

Likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan jangka pendek

perusahaan untuk membayar financial jangka pendek tepat pada waktunya,

likuiditas perusahaan dapat ditunjukan oleh besar kecilnya aset lancar yaitu aset

yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang

persediaan. (Weygandt [Link] 2008). Ataupun likuiditas adalah seberapa cepat

waktu yang diperlukan sampai suatu aset dapat terealisasi atau dikonversi menjadi

kas atau sampai suatu liabilitas dapat terbayar.

Menurut Fred Weston dalam Kasmir (2010:110), pengertian likuiditas

adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban

(utang) jangka pendeknya. Artinya apabila perusahaan ditagih, maka akan mampu

untuk memenuhi utang (membayar) tersebut terutama utang yang sudah jatuh

8
tempo. Current Ratio (CR) merupakan rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan

rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka

pendek atau utang yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan

sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu

perusahaan Kasmir (2010:111). Current Ratio dapat dirumuskan dengan:

CR = Aset Lancar / Kewajiban Lancar

Aset lancar dalam laporan keuangan merupakan aset perusahaan yang

memiliki masa manfaat kurang dari satu tahun. Aset lancar adalah semua aset

perusahaan yang berupa uang tunai atau sedang dalam proses dibuat likuid dalam

setahun atau kurang.

Kewajiban lancar adalah kewajiban yang harus dibayar dengan aktiva

lancar serta jatuh tempo dalam jangka pendek dalam kurun waktu tidak lebih dari

satu tahun. Kewajiban lancar dalam laporan keuangan digunakan untuk mengukur

likuiditas suatu perusahaan dengan aset lancar.

2.2 Leverage

Hery (2016:162) Rasio Leverage atau rasio solvabilitas merupakan rasio

yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aset perusahaan dibiayai oleh

hutang. Rasio leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

memenuhi seluruh kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka

panjangnya.

9
Leverage merupakan rasio untuk mengukur seberapa bagus struktur

permodalan perusahaan, struktur permodalan merupakan pendanaan permanen

yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang

saham (Wahyono, 2015:12). Struktur modal adalah pembelanjaan permanen

dimana mencerminkan pengimbangan antar hutang jangka panjang dan modal

sendiri. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan itu sendiri

(cadangan, laba) atau berasal dari mengambil bagian, peserta, atau pemilik (modal

saham, modal peserta dan lain-lain) (Riyanto, 2016: 22).

Sedangkan menurut kasmir (2016:151), leverage merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur sejauhmana aset perusahaan dibiayai dengan utang

atau rasio yang menunjukan kemampuan perusahan untuk membayar seluruh

kewajibannya apabila perusahaan dibubarkan. Pembiayaan dengan utang

mempunyai pengaruh bagi perusahaan karena utang mempunyai beban yang

bersifat tetap. Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan

proporsi leverage perusahaan agar tidak membebani perusahaan pada saat jatuh

tempo yang dapat menyebabkan perusahaan bangkrut.

Leverage diukur menggunakan debt to equity ratio (DER) yang

merupakan perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka

panjang) dan modal yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada.

Total kewajiban merupakan jumlah keseluruhan hutang jangka pendek,

jangka panjang dan lainya pada laporan keuangan. Total kewajiban digunakan

10
untuk mengukur leverage suatu perusahaan dengan dibandingkan dengan ekuitas

perusahaan.

Ekuitas adalah hak seorang pemilik aset pada perusahaan. Ekuitas juga

merupakan selisih nilai antara nilai aset dengan liabilitas atau kewajiban. Nilai

ekuitas juga dapat dijadikan salah satu faktor penentu harga saham perusahaan

walau ada beberapa harga saham yang lebih tinggi dibanding nilai ekuitas

perusahaannya. Ekuitas digunakan untuk mengukur leverage suatu perusahaan

dengan dibandingkan dengan total kewajiban.

Debt to equity di ukur dengan rumus sebagai berikut:

Total Kewajiban
DER =
Ekuitas

2.3 Ukuran Perusahaan

Menurut Brigham & Houston (2010:14) ukuran perusahaan merupakan

ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau nilai oleh total

aset, total penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain. Besar kecilnya

perusahaan dapat dilihat dari nilai equity, nilai perusahaan, ataupun hasil nilai

total aktiva dari suatu perusahaan (Riyanto, 2010).

Menurut Hery (2016:3) semakin besar ukuran perusahaan dapat

memberikan asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat dikenal oleh masyarakat

luas sehingga lebih murah untuk meningkatkan nilai perusahaan. Investor

cenderung memberikan perhatian yang khusus terhadap perusahaan besar karena

11
dianggap memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih mudah dalam hal

memperoleh sumber pendanaan yang bersifat internal maupun eksternal.

Ukuran perusahaan adalah suatu ukuran perusahaan yang dapat

diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut size. Ukuran perusahaan dapat

menentukan baik tidaknya kinerja sebuah perusahaan dalam mengelola

kekayaanya untuk menghasilkan laba. Ukuran Perusahaan dirumuskan sebagai

berikut:

Size = ln × Total Aset

Total aset adalah total atau jumlah keseluruhan dari kekayaan perusahaan

yang terdiri dari aset tetap, aset lancar dan aset lain-lain, yang nilainya seimbang

dengan total kewajiban dan ekuitas. Total aset dapat memberikan gambaran besar

kecilnya ukuran perusahaan perusahaan.

2.4 Pertumbuhan Laba

Menurut Harahap (2015:310), pertumbuhan laba adalah rasio yang

menunjukan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan laba bersih di

bandingkan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pertumbuhan laba merupakan

rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan meningkatkan laba bersih

dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian dapat diketahui kenaikan laba

maupun penurunan laba suatu perusahaan.

Menurut Shafira (2020:132) Pertumbuhan laba adalah presentase

perubahan naiknya laba yang didapatkan oleh sebuah entitas dan dapat berfungsi

12
untuk mengevaluasi performa keuangan entitas tersebut. Pertumbuhan laba sangat

diperlukan oleh pihak-pihak yang berhubungan dalam perusahaan terlebih para

pihak investor. Para investor mengharapkan perusahaan mengalami peningkatan

laba sehingga pengembalian kepada para pemegang saham juga akan meningkat.

Laba merupakan tujuan utama bagi setiap perusahaan yang berdiri, setiap

perusahaan menjalankan aktivitas perusahaan dengan merencanakan bagaimana

memperoleh laba. Prihadi (2012:89) mendefinisikan bahwa laba bersih atau yang

biasa disebut dengan net income adalah hak dari pemililik, dan jika laba bersih

tersebut tidak dibagikan sebagai deviden maka saldo laba tersebut akan

menambah saldo laba di laporan keuangan periode selanjutnya. Pertumbuhan laba

dirumuskan sebagai berikut:

Laba BersihTahun sekarang ( t )−Laba Bersih Tahunsebelum (t−1)


Net income =
Laba BersihTahun sebelumnya(t−1)

Menurut (Dwi dkk 2017) ada beberapa jenis laba yaitu laba bruto, laba

sebelum pajak, laba tahun berjalan dan laba per saham. Laba bruto berasal dari

pendapatan dikurangi dengan beban pokok penjualan. Laba sebelum pajak adalah

total laba sebelum pajak penghasilan. laba tahun berjalan merupakan hasil neto

laba perusahaan selama satu periode perusahaan. Dan laba per saham adalah

jumlah laba periode berjalan per lembar saham yang beredar.

13
2.5 Konsep Penelitian

a) Likuiditas

Dalam penelitian ini likuiditas dilihat dari rasio lancar. Rasio lancar adalah

perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar.

b) Leverage

Dalam penelitian ini Leverage dilihat dari Debt to Equity Ratio. Debt to

Equity Ratio adalah perbandingan antara total kewajiban dan total ekuitas.

c) Ukuran Perusahaan

Dalam penelitian ini ukuran perusahaan dilihat dari total aset.

d) Pertumbuhan Laba

Dalam penelitian ini pertumbuhan laba dilihat dari Net Income. Net

Income adalah perbandingan antara laba bersih tahun sekarang dan laba

bersih tahun sebelumnya.

14
2.6 Indikator Empirik Dan Skala Pengukuran

Tabel 2.1

Konsep Penelitian

No Konsep Variabel Indikator Skala

Pengukuran

1 Likuiditas Rasio Lancar 1. Aset lancar Rasio

2. Kewajiban lancar

2 Leverage Debt to Equity [Link] kewajiban Rasio

Ratio 2. Total ekuitas

3 Ukuran Size 1. Total aset Rasio

Perusahaan

Pertumbuhan Net Income 1. Laba bersih tahun Rasio

4 Laba sekarang (t)

2. laba bersih tahun

sebelumnya (t-1)

Sumber, Peneliti 2023

15
2.7 Kerangka Dasar Pemikiran

Likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk dapat menunjukan

kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Jika perusahaan

memiliki kemampuan membayar atau melunasi utang jangka pendeknya saat jatuh

tempo maka dapat dikatakan perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang

likuid. Menurut Nurhidayati et al (2020), likuiditas memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan. Perusahaan yang memiliki

tingkat likuiditas yang tinggi cenderung mampu menghasilkan laba yang lebih

tinggi karena memiliki kemampuan dalam mengelola arus kasnya dengan baik.

Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana

aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio leverage menunjukan kemampuan

perusahaan dalam membayar seluruh hutangnya dengan aset yang dimiliki

perusahaan salah satunya yaitu debt to equity ratio. Dalam penelitian yang

dilakukan oleh Firdaus dan Ratnawati (2020), leverage memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan. Perusahaan yang memiliki

tingkat leverage yang rendah cenderung mampu menghasilkan laba yang lebih

tinggi karena memiliki kemampuan dalam menghasilkan laba yang stabil dan

mengurangi risiko keuangan.

Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk

dapat mengetahui keadaan suatu perusahaan. Total aset suatu perusahaan yang

16
digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan merupakan dari

ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan

dimasa yang akan datang. Menurut Fakhruddin et al (2020), perusahaan yang

lebih besar memiliki keuntungan dalam skala ekonomi dan kemampuan untuk

menghasilkan laba yang tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Avivah

(2018), terdapat pengaruh bersifat positif antara ukuran perusahaan terhadap

pertumbuhan laba. Dari hasil penelitian yang dilakukan menyatakan jika ukuran

perusahaan semakin meningkat, ditunjukan dengan jumlah aset yang besar, maka

pertumbuhan laba suatu perusahaan tersebut akan mengalami peningkatan.

Adapun kerangka berpikir yang berhubungan dengan penelitian ini adalah

Pengaruh Likuiditas, Leverage, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pertumbuhan

Laba dapat digambarkan skema paradigma penelitian sebagai berikut:

Gambar 2.1

Likuiditas

Pertumbuhan Laba
Leverage

Ukuran Perusahaan

Sumber, Peneliti 2023

Dari gambar 2.1 penelitian diatas dapat dilihat bahwa terdapat tiga variabel

independent dalam penelitian ini yaitu Likuiditas (X₁), Leverage (X₂), dan

Ukuran Perusahaan (X₃) sedangkan variabel dependen adalah Pertumbuhan Laba

(Y).

17
2.8 Hipotesis

Dalam sebuah metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu objek

hendaknya memiliki acuan hipotesis, yang berfungsi sebagai jawaban sementara

yang masih harus dibuktikan kebenaran dengan menggunakan data. Dari kerangka

pemikiran teoritis diatas maka dapat ditarik hipotesis untuk penelitian, yaitu:

H1 : Likuiditas berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk.

H2 : Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk.

H3 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

18
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel

3.1.1 Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013:115).

Populasi dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk. Tahun 1995-2022.

3.1.2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti, dipandang

sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri.

Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili

keseluruhan gejala yang diamati. Pengambilan sampel yang digunakan pada

penelitian ini menggunakan metode Simple Random Sampling.

Sampling Random Sampling adalah metode pengambilan sampel secara

sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Peneliti menentukan

sendiri sampel yang digunakan dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Sampel

19
yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

periode 2013-2022.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder berupa

laporan keuangan perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-

2022. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui sumber yang telah ada

dan tidak perlu dikumpulkan sendiri oleh peneliti (Azwar, 2007).

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi.

Dokumentasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan dokumen-

dokumen yang terdapat pada perusahaannya. Teknik pengumpulan data melalui

dokumen dan catatan yang berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan.

Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan laporan keuangan PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk pada periode 2013-2022.

3.3 Teknik Analisis Data

3.3.1. Analisis Pendahuluan

Dalam penelitian ini analisis data yang pertama dilakukan adalah analisis

deskriptif yang dilakukan dengan memberikan gambaran mengenai masing-

masing indikator konsep dengan bantuan tabel. Menurut Sugiyono (2015: 126)

Analisis Deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran

pada objek yang diteliti melalui sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa

melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum dari data

20
tersebut, yang termasuk dalam analisis data deskriptif adalah penyajian data

melalui tabel distribusi frekuensi.

3.3.2 Analisis Lanjutan

Untuk melihat pengaruh antar variabel dalam penelitian ini menggunakan

analisis rasio keuangan. Analisis ini didasarkan pada data yang bersifat kuantitatif

yaitu data berupa angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-2022. Rasio yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a) Current Ratio

Aset lancar
×100 %
Kewajiban Lancar

b) Debt to equity ratio

Total Kewajiban
×100 %
Ekuitas

c) Size

log × Total Aset

d) Net income

Laba BersihTahun t−Laba BersihTahun t−1


Laba BersihTahun t−1

21
BAB IV

ANALISIS DAN BAHASAN HASIL ANALISIS

4.1 Gambaran Objek Penelitian

Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesian Stock Exchange (IDX)

merupakan pasar modal yang ada di Indonesia. Bursa Efek Indonesia memiliki

peranan penting sebagai sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi, yang

merupakan salah satu alternatife penanaman modal. Bagi perusahaan, Bursa Efek

Indonesia (BEI) membantu perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal

dengan cara go public yaitu kegiatan penawaran saham atau efek lainnya yang

dilakukan oleh emiten (perusahaan yang go public) kepada masyarakat.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) merupakan salah satu

perusahaan yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Telkom

Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)

dan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Pemegang saham mayoritas Telkom

adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%, sedangkan 47.91%

sisanya dikuasai oleh publik. Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek

Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE)

dengan kode “TLK”.

22
PT Telekomunikasi Indonesia dibentuk pada tahun 1991 berdasarkan

peraturan pemerintah No. 25 Tahun 1991. Berawal pada tahun 1882 didirikan

badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf, lalu kemudian statusnya

diubah menjadi perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel) pada

tahun 1961. Tahun 1965, kemudian PN Postel dipecah menjadi Perusahaan

Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi

(PN Telekomunikasi).

Berikut Purpose, Visi, Misi dan Values PT Telkom Indonesia,Tbk:

a. Purpose

Mewujudkan bangsa yang lebih sejahtera dan berdaya saing serta memberikan

nilai tambah yang terbaik bagi pemangku kepentingan.

b. Visi

Menjadi digital telco pilihan utama untuk memajukan masyarakat.

c. Misi

1. Mempercepat pembangunan infrastruktur dan platform digital cerdas yang

berkelanjutan, ekonomis dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

2. Mengembangkan talenta digital unggulan yang membantu mendorong

kemampuan digital dan tingkat adopsi digital bangsa.

3. Mengorkestrasi ekosistem digital untuk memberikan pengalaman digital

pelanggan terbaik.

23
4.2 Analisis Pendahuluan

4.2.1 Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini analisis data yang pertama dilakukan adalah analisis

deskriptif yang dilakukan dengan memberikan gambaran mengenai masing-

masing indikator konsep dengan bantuan tabel.

A. Likuiditas

Rasio Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi

atau melunasi kewajiban hutang-hutang jangka pendeknya. Jika perusahaan

memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya pada saat

jatuh tempo, maka perusahaan tersebut dikatakan sebagai perusahaan yang likuid.

Sebaliknya jika perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban

jangka pendeknya pada saat jatuh tempo, maka perusahaan tersebut dikatakan

sebagai perusahaan yang tidak likuid. Dalam penelitian ini likuiditas diukur

menggunakan Current Ratio yang tediri dari dua indicator yaitu aset lancar dan

kewajiban lancar yang ditunjukan pada tabel 4.1 dan 4.2.

Berdasarkan tabel 4.1 dibawah menunjukan data aset lancar tahun berjalan

dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi

24
Indonesia ,Tbk, Mengalami fluktuasi. Secara keseluruhan aset lancar cenderung

mengalami peningkatan tertinggi pada tahun 2021 yaitu sebesar

Rp14.[Link] atau 24% sedangkan peningkatan terendah terjadi pada

tahun 2017 yaitu sebesar Rp-[Link] atau -0%. Nilai Rata-rata aset lancar

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun 2013-2022 adalah sebesar

Rp.45.783,[Link].

Tabel 4.1

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Aset Lancar

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Perubahan
Tahun Aset Lancar
Absolute %

2013 33.075 0 0

2014 33.762 6.87 2%

2015 47.912 14.150 30%

2016 47.701 -2.11 0%

2017 47.561 -1.40 0%

2018 43.268 -4.293 -10%

2019 41.722 -1.546 -4%

2020 46.503 4.781 10%

2021 61.277 14.774 24%

25
2022 55.057 -6.220 -11%

Rata-rata 45.783.8 21.98,2 4%

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 4.2

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Kewajiban Lancar

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Perubahan
Tahun Kewajiban Lancar
Absolute %

2013 50527 0 0

2014 54770 4.243 8%

2015 72745 17.975 25%

2016 74067 1.322 2%

2017 86354 12.287 14%

2018 46261 -40.093 -87%

2019 58369 12.108 21%

2020 69093 10.724 16%

2021 69131 38 0%

2022 70388 1.257 2%

26
Rata-rata 65.170.5 1.986.1 0%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.2 diatas laporan keuangan kewajiban lancar tahun

berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi

Indonesia Tbk, Setiap tahun mengalami peningkatan. Peningkatan tertinggi terjadi

pada tahun 2015 yaitu sebesar Rp17.[Link] atau 24,70% sedangkan

penurunan tertinggi terjadi pada tahun 20218 sebesar Rp.-[Link].00 atau

-87% kemudian pada tahun 2022 mengalami kenaikan kewajiban lancar sebesar

Rp1.[Link] atau 2%. Nilai Rata-rata kewajiban lancar PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode berjalan tahun 2013-2022 adalah sebesar

Rp.65.170,[Link].

B. Leverage

Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh

mana aset perusahaan dibiayai dengan hutang atau rasio yang menunjukan

kemapuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibanya apabila perusahaan

dibubarkan. Dalam penelitian ini leverage diukur menggunakan Debt to Equity

Ratio yang terdiri dari dua indikator yaitu total kewajiban dan ekuitas yang

ditunjukan pada tabel 4.3 dan 4.4.

Berdasarkan tabel 4.3 dibawah ini laporan keuangan total kewajiban

tahun berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara

27
keseluruhan dapat dilihat bahwa Peningkatan tertinggi pada tahun 2015 yaitu

sebesar Rp.[Link].00 atau 25% sedangkan penurunan tertinggi terjadi

pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp-[Link].00 atau -5%. Jumlah Nilai Rata-

rata total kewajiban PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-2022 adalah

sebesar Rp91.508,[Link].

Tabel 4.3

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Total Kewajiban

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Perubahan
Tahun Total Kewajiban
Absolute %

2013 50.527 0 0

2014 54.770 4.243 8%

2015 72.745 17.975 25%

2016 74.067 1.322 2%

2017 86.354 12.287 14%

2018 88.893 2.539 3%

2019 103.958 15.065 14%

2020 126.054 22.096 18%

28
2021 131.785 5.731 4%

2022 125.930 -5.855 -5%

Rata-rata 91.508,3 7.540,3 8%

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 4.4

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Ekuitas

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Perubahan
Tahun Ekuitas
Absolute %

2013 77.424 0 0

2014 85.992 8.568 10%

2015 93.428 7.436 8%

2016 105.544 12.116 11%

2017 112.130 6.586 6%

2018 117.303 5.173 4%

2019 117.250 -53 0%

2020 120.889 3.639 3%

2021 145.399 24.510 17%

29
2022 149.262 3.863 3%

Rata-rata 112.462,1 71.83,8 6%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.4 diatas laporan keuangan Ekuitas tahun berjalan dan

perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk,

Setiap tahun cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Secara

keseluruhan dapat dilihat bahwa Peningkatan tertinggi pada tahun 2021 yaitu

sebesar Rp.[Link].00 atau 17% dan penurunan tertinggi terjadi pada

tahun 2019 yaitu sebesar Rp.-[Link] atau 0%. Nilai Rata-rata Ekuitas PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun berjalan 2013-2022 adalah sebesar

Rp.112.462,[Link].

C. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk

mengetahui keadaan suatu perusahaan. Total aset suatu perusahaan yang

digunakan untuk memperlancar kegiatan operasional perusahaan merupakan dari

ukuran perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan

dimasa yang akan datang. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur

menggunakan size dengan indikatornya total aset yang ditunjukan pada tabel 4.5.

Berdasarkan tabel 4.5 dibawah ini laporan keuangan Total Aset tahun

berjalan dan perubahannya untuk periode tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara keseluruhan periode

tahun berjalan Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar

30
Rp25.[Link] atau 15% dan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2022

yaitu sebesar Rp-[Link].00 atau -1%. Nilai rata- rata Total aset PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode tahun 2013-2022 adalah sebesar

Rp203.983,[Link].

Tabel 4.5

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Total Aset

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Perubahan
Tahun Total Aset

Absolute %

2013 12.7951 0 0

2014 140.895 12.944 9%

2015 166.173 25.278 15%

2016 179.611 13.438 7%

2017 198.484 18.873 10%

2018 206.196 7.712 4%

2019 221.208 15.012 7%

31
2020 246.943 25.735 10%

2021 277.184 30.241 11%

2022 275.192 -1.992 -1%

Rata-rata 203.983,7 14,724,1 7%

Sumber: data diolah, 2023

D. Pertumbuhan Laba

Partumbuhan laba adalah rasio yang memperlihatkan kemampuan

perusahaan dalam hal peningkatkan laba bersih pada tahun yang berjalan

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba juga merupakan

presentase peningkatan ataupun penurunan laba dari satu periode ke periode

selanjutnya, pihak investor hanya ingin berinvestasi pada perusahaan pada

perusahaan yang memiliki tingkatan laba yang besar. Dalam penelitian ini

pertumbuhan laba diukur menggunakan Net Income yang terdiri dari dua indikator

yaitu laba tahun sekarang (t) dan laba tahun sebelumnya (t-1) yang ditunjukan

pada tabel 4.6 dan 4.7.

Berdasarkan tabel 4.6 dibawah ini laporan keuangan Laba Bersih Tahun

Sekarang (t) periode berjalan tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Setiap tahun mengalami peningkatan. Secara keseluruhan peningkatan tertinggi

pada tahun 2016 yaitu sebesar Rp29.[Link] atau 18% sedangkan

penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp-[Link].00

32
atau -23%. Nilai rata-rata laba bersih tahun sekarang PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk adalah sebesar Rp27,[Link].

Tabel 4.6

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Laba Bersih Tahun Sekarang (t)

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Laba bersih Perubahan

Tahun tahun sekarang

(t) Absolute %

2013 20.290 0 0

2014 21.446 1156 5%

2015 23.948 2502 10%

2016 29.172 5224 18%

2017 32.701 3529 11%

2018 26.979 -5722 -21%

33
2019 27.592 613 2%

2020 29.563 1971 7%

2021 33.968 4405 13%

2022 27.680 -6288 -23%

Rata-rata 27,334 739 2%

Sumber: data diolah, 2023

Tabel 4.7

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Laba Bersih Tahun Sebelum (t-1)

Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Laba bersih
Perubahan
Tahun tahun sekarang
Absolute %
(t-1)

2013 18.362 0 0

2014 20.290 1.928 10%

2015 21.446 1.156 5%

2016 23.317 1.871 8%

2017 29.172 5.855 20%

2018 32.701 3.529 11%

34
2019 26.979 -5.722 -21%

2020 27.592 6.13 2%

2021 29.563 1.971 7%

2022 33.968 4.405 13%

Rata-rata 26.339 1.560,6 5%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.7 diatas laporan keuangan Laba Bersih Tahun

Sebelum (t-1) periode berjalan tahun 2013-2022 PT Telekomunikasi Indonesia,

Tbk Setiap tahun mengalami penurunan dan peningkatan. Secara keseluruhan

peningkatan tertinggi pada tahun 2016 yaitu sebesar Rp29.[Link] atau

18% sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar Rp-

[Link].00 atau -21%. Nilai rata-rata laba bersih tahun sekarang PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk adalah sebesar Rp26.[Link].

35
4.3 Analisis Lanjutan

4.3.1 Analisis Rasio Keuangan

Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka

yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka

lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen

lainnya dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada diantara

laporan keuangan. Kemudian, angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-

angka di dalam suatu periode maupun beberapa periode. Rasio keuangan yang

digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur pertumbuhan laba ialah Current

ratio, Debt to equity ratio, dan size.

A. Pertumbuhan laba

Pertumbuhan Laba dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan

apakah perusahaan akan membagikan laba sebagai deviden kepada pemilik saham

atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa

mendatang. Rumus yang digunakan untuk memprediksi pertumbuhan laba ialah

Net Income dengan menghitung laba bersih tahun sekarang dikurangi laba bersih

36
laba bersih tahun sebelum dibagi laba bersih tahun sebelum. Setelah dilakukan

olah data hasil dari perhitungan Net Income PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

periode tahun 2013-2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.8

PTTelekomunikasi Indonesia, Tbk

Net Income

Periode 2013-2022

(Dinyatakan Dalam Miliaran Rupiah)

Laba bersih Laba bersih Net Income

Tahun tahun t (a) tahun t-1 (b) (a-b)/b

Rp Rp %

2013 20.290 18.362 10%

2014 21.446 20.290 6%

2015 23.317 21.446 9%

2016 29.172 23.317 25%

2017 32.701 29.172 12%

2018 26.979 32.701 -17%

2019 27.592 26.979 2%

2020 29.563 27.592 7%

2021 33.968 29.563 15%

37
2022 27.680 33.968 -19%

Rata-rata 5%

Sumber: data diolah, 2023

Dari data pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan laba

yang diukur dengan net income adalah sebesar 5% dan nilai net income selama

tahun 2013-2022 tidak konsisten. Dimana net income paling rendah terdapat pada

tahun 2022 yaitu sebesar -19% dan net income tertinggi pada tahun 2016 yaitu

sebesar 25%.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya ada tiga

faktor yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Likuiditas, Leverage dan Ukuran

perusahaan.

B. Likuiditas

Likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan Current Ratio. Dimana

Current Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk dapat mengukur

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau utang

yang akan segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Semakin

tinggi Current Ratio maka perusahaan semakin mudah memperoleh pendanaan

dari kreditor dan investor untuk meningkatkan laba perusahaan. Current Ratio

diukur dengan membandingkan aset lancar dan kewajiban lancar. Current Ratio

menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar.

38
Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar semakin tinggi

kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.

Setelah dilakukannya olah data pada laporan keuangan, diperoleh data

perhitungan current ratio pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2013-

2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.9

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Current Ratio

Periode Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Aset lancar (a) Kewajiban lancar (b) CR (a/b)


Tahun
Rp Rp %

2013 33.075 50.527 65%

2014 33.762 54.77 62%

2015 47.912 72.745 66%

2016 47.701 74.067 64%

2017 47.561 86.354 55%

2018 43.268 46.261 94%

2019 41.722 58.369 71%

39
2020 46.503 69.093 67%

2021 61.277 69.131 89%

2022 55.057 70.388 78%

Rata-rata 71%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.9 yang dihitung menggunakan Current Ratio PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk. dimana nilai rata-rata dari current ratio adalah

sebesar 71% atau 0,71. Nilai Current ratio terendah terdapat pada tahun 2017

yaitu sebesar 55% atau 0,55 dan tertinggi terdapat pada tahun 2018 sebesar 94%

atau 0,94. Maka hipotesis pertama dalam penelitian ini ditolak. Dengan kata lain

likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi

Indonesia Tbk.

C. Leverage

Leverage dalam penelitian ini dihitung menggunakan Debt To Equity

Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya proporsi utang

terhadap modal. Rasio ini digunakan untuk mengetahui besarnya perbandingan

antara jumlah dana yang disediakan oleh kreditor dengan jumlah dana yang

berasal dari pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk

mengetahui beberapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai

jaminan utang.

40
Tabel 4.9

Pt Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Debt To Equity Ratio

Periode Tahun 2013-2022

(Dalam Miliaran Rupiah)

Total
Ekuitas (b)
Tahun Kewajiban (a) DER (a/b)

Rp Rp

2013 50.527 77.424 65%

2014 54.77 85.992 64%

2015 72.745 93.428 78%

2016 74.067 105.544 70%

2017 86.354 112.13 77%

2018 88.893 117.303 76%

2019 103.958 117.25 89%

2020 126.054 120.889 104%

41
2021 131.785 145.399 91%

2022 125.93 149.262 84%

Rata-rata 80%

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.9 yang dihitung dengan menggunakan Debt to Equity

Ratio PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. nilai yang tidak konsisten tetapi

cenderung mengaami peningkatan dimana nilai rata-rata dari Debt to Equity Ratio

adalah sebesar 80%. Nilai Debt to Equity Ratio terendah terdapat pada tahun 2014

yaitu sebesar 64% dan tertinggi terdapat pada tahun 2020 sebesar 104%. Maka

hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima. Dengan kata lain leverage

berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

D. Size

Size diukur dengan mentrasformasikan total aset yang dimiliki perusahaan

kedalam bentuk logaritma natural. Ukuran perusahaan diproksikan dengan

menggunakan Logaritma Natural Total Aset dengan tujuan agar mengurangi

fluktuasi data yang berlebih. Dengan menggunakan log natural, jumlah aset

dengan nilai ratusan miliar bahkan triliun akan disederhanakan, tanpa mengubah

proporsi dari jumlah aset yang sesungguhnya.

Setelah dilakukan olah data hasil perhitungan Size PT Telekomunikasi

Indonesia Tbk periode tahun 2013-2022 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

42
Tabel 4.10

Pt Telekomunkasi Indonesia, Tbk

Size

Periode 2013-2022

(Dinyatakan Dalam Miliaran Rupiah)

Size
Tahun Total Aset (a)
(Ln× a)

2013 127.951 5

2014 140.895 5

2015 166.173 5

2016 179.611 5

2017 198.484 5

2018 206.196 5

2019 221.208 5

2020 246.943 6

2021 277.184 6

2022 275.192 6

43
Rata-rata 5

Sumber: data diolah, 2023

Berdasarkan tabel 4.10 diatas yang dihitung dengan menggunakan Size PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk. menunjukan bahwa rata-rata size sebesar 5 dan

ukuran perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia terus konsisten dari tahun 2013-

2019 yaitu sebesar 5 dan mengalami kenaikan menjadi 6 pada tahun 2020 yang

terus konsisten sampai 2022. Maka hipotesis ketiga dalam penelitian ini diterima.

Dengan kata lain Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.

4.4 Bahasan Hasil Analisis

4.4.1. Pengaruh Current Ratio Terhadap Pertumbuhan Laba PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Pada tahun 2013, Current Ratio sebesar 0,65 atau 65% dan Perumbuhan

Laba tumbuh sebesar 10%. Tahun 2014 Current Ratio menurun menjadi sebesar

0,62 atau 62% dan Perumbuhan Laba menurun menjadi 6%. Pada tahun 2015

Current Ratio meningkat menjadi 0,66 atau 66% dan Perumbuhan Laba

meningkat menjadi 9%. Tahun 2016, Current Ratio menurun menjadi sebesar

0,64 atau 64% dan Perumbuhan Laba tumbuh cukup tinggi sebesar 25%. Pada

tahun 2017, Current Ratio menurun menjadi sebesar 0,55 atau 55% dan

Perumbuhan Laba menurun menjadi 12%. Tahun 2018, Current Ratio meningkat

secara signifikan menjadi sebesar 0,94 atau 94% dan Perumbuhan Laba

mengalami penurunan sebesar -17%. Pada tahun 2019, Current Ratio menurun

menjadi 0,71 Atau 71% dan Perumbuhan Laba meningkat menjadi 2%. Tahun

44
2020, Current Ratio terus menurun menjadi sebesar 0,67 atau 67% sedangkan

Perumbuhan Laba meningkat menjadi 7%. Pada tahun 2021, Current Ratio

meningkat menjadi 0,89 atau 89% dan Perumbuhan Laba meningkat sebesar 15%.

Tahun 2022, Current Ratio menurun menjadi 0,78 atau 78% dan Perumbuhan

Laba kembali menurun menjadi -19%.

Dari data diatas dapat dilihat bahwa tidak ada pengaruh antara Current

Ratio dan pertumbuhan laba. Dimana Current Ratio mengalami peningkatan

sedangkan pertumbuhan lama mengalami penurunan seperti yang terdapat pada

tahun 2018. Adapun yang terjadi pada tahun 2016, 2019 dan 2020 Current Ratio

mengalami penurunan sedangkan pertumbuhan laba mengalami peningkatan.

Hasil ini menolak hipotesis pertama yang menyatakan Likuiditas berpengaruh

terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Hal ini bisa terjadi karena perusahaan tidak mampu memanfaatkan kas

yang

tersedia dan juga menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban jangka pendeknya tidak memberikan jaminan ketersediaan modal kerja

guna untuk mendukung aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan,

sehingga

perolehan laba yang ingin dicapai menjadi tidak seperti apa yang diharapkan dan

tidak maksimal. (Fathi Yakan Bachsinar, 2022)

Menurut Dewi (2018) dan Andriyani (2015) tidakn ada ketentuan yang

mutlak tentang berapa tingkat current ratio yang dianggap baik atau yang harus

45
dipertahankan oleh suatu perusahaan karena biasanya tingkat current ratio ini juga

sangat tergantung kepada jenis usaha dari masing-masing perusahaan, semakin

mudah perusahaan itu membayar utang jangka pendek, dan semakin tinggi

current ratio menunjukkan perubahan laba yang tinggi pula. Artinya perusahaan

memiliki hutang jangka pendek yang melebihi aktiva lancarnya, sehingga dalam

memenuhi kewajibannya perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi

hutang-hutang jangka pendeknya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Fathi Yakan Bachsinar (2022) yang menunjukan bahwa rasio likuiditas (CR),

tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, Nava Yansi Anggraeni (2022)

yang menunjukan banwa Current Ratio tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan

laba dan Puspita Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) menunjukan bahwa

likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

Tinggi ataupun rendahnya Current Ratio tidak berpengaruh terhadap laba.

Hal ini dapat disebabkan karena laba perusahaan bisa dihasilkan melalui

pendapatan lainnya dan perusahaan yang memiliki utang lebih memilih melunasi

hutangnya dengan dana lainnya sehingga laba bisa terus meningkat.

4.4.2 Pengaruh Debt to EquityTerhadap Pertumbuhan Laba PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

sejauh mana perusahaan mengandalkan utang dalam struktur keuangannya.

46
Penelitian ini untuk melihat bagaimana perubahan Debt to Equity Ratio

mempengaruhi pertumbuhan laba.

Pada tahun 2013, Debt to Equity Ratio sebesar 65% dan Pertumbuhan

Laba sebesar 10%. Pada tahun 2014, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 64%

dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi 6%. Pada tahun 2015, Debt to Equity

Ratio meningkat menjadi 78% dan Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 9%.

Pada tahun 2016, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 70% dan Pertumbuhan

Laba meningkat menjadi 25%. Tahun 2017, Debt to Equity Ratio meningkat

menjadi 77% dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi 12%. Pada tahun 2018,

Debt to Equity Ratio menurun menjadi 76% dan Pertumbuhan Laba menurun

menjadi -17%. Tahun 2019, Debt to Equity Ratio meningkat menjadi 089% dan

Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 2%. Pada tahun 2020, Debt to Equity

Ratio meningkat menjadi 104% dan Pertumbuhan Laba meningkat menjadi 7%.

Pada tahun 2021, Debt to Equity Ratio menurun menjadi 91% dan Pertumbuhan

Laba meningkat menjadi 15%. Tahun 2022, Debt to Equity Ratio menurun

menjadi 84%dan Pertumbuhan Laba menurun menjadi -19%

Dari data diatas dapat dilihat bahwa ada pengaruh antara Debt to Equity

Ratio dan pertumbuhan laba. Dimana Debt to Equity Ratio mengalami

peningkatan maka pertumbuhan laba juga mengalami peningkatan seperti yang

terdapat pada tahun 2015, 2019 dan 2020. Adapun yang terjadi pada tahun 2014,

2018 dan 2022 Debt to Equity Ratio mengalami penurunan maka pertumbuhan

laba juga mengalami penurunan. Hasil ini menerima hipotesis kedua yang

47
menyatakan Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada PT

Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Debt to Equity Ratio mempengaruhi pertumbuhan laba suatu perusahaan.

Debt to Equity Ratio merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki

perusahaan dengan modal sendiri. Hal ini menunjukkan Debt to Equity Ratio

dalam memenuhi kebutuhan aktifitas perusahaan masih dibantu oleh hutang.

Ketika suatu perusahaan mengalami banyak aktifitas maka perusahaan akan

menambah hutang untuk memenuhi kebutuhan aktifitas perusahaan. Sehingga hal

tersebut mempengaruhi pertumbuhan laba pada perusahaan (Puspita Hendrawati

dan Akhmad Syarifudin, 2021)

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Puspita

Hendrawati dan Akhmad Syarifudin (2021) menunjukan bahwa leverage

berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba, Nur Amalina, dkk. (2021)

menunjukan bahwa Debt to Equity ratio berpengaruh positif terhadap

pertumbuhan laba dan Atika Apriani, dkk. (2017) menunjukan bahwa Debt to

Equity ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

Hal ini menunjukan bahwa perusahaan mampu menggunakan utang

sebagai modal perusahaannya dimana semakin besar utang maka modal

perusahaan juga semakin besar sehingga dapat mempengaruhi laba perusahaan.

Akan tetapi perusahaan harus lebih bijak dalam menggunkan hutang sebagai

modal perusahaan karena jika perusahaan memiliki hutang yang terlampau besar

dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan itu sendri.

48
4.4.3 Pengaruh Size Terhadap Perumbuhan Laba PT Telekomunikasi

Indonesia Tbk

Pada tahun 2013-2016 ukuran perusahaan yang diukur menggunakan size

menunjukan bahwa ukuran perusahaan terus konsisten yaitu sebesar 5. Pada tahun

2017 ukuran perusahaan mengalami peningkatan menjadi 6 dan terus konsisten

sampai 2022. Hasil ini menerima hipotesis ketiga yang menyatakan ukuran

perusahaaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada PT Telekomunikasi

Indonesia, Tbk.

Berta Agus Petra (2020) menunjukan bahwa ukuran perusahaan

berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba, Petty Aprilia Sari (2020)

menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan

laba dan Isni Denok Alfitri, dkk. (2018) menyatakan bahwa ukuran perusahaan

berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Hal ini didukung oleh Hery (2016:3) semakin besar ukuran perusahaan

dapat memberikan asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat dikenal oleh

masyarakat luas sehingga lebih murah untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Investor cenderung memberikan perhatian yang khusus terhadap perusahaan besar

karena dianggap memiliki kondisi yang lebih stabil dan lebih mudah dalam hal

memperoleh sumber pendanaan yang bersifat internal maupun eksternal.

Ukuran perusahaan yang stabil dan meningkat pada tahun 2017

menunjukan bahwa perusahaan mampu mengelola aset perusahaannya dengan

baik yang menimbulkan laba yang baik pula untuk perusahaan. Dengan ukuran

49
perusahaan yang stabil dan cenderung meningkat dapat meningkatkan

kepercayaan investor untuk memanamkan modal sehingga aset perusahaan pun

meningkat.

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

2. Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT. Telekomunikasi

Indonesia Tbk.

3. Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

5.2. Implikasi Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat pada pembangunan ilmu

manajemen yang khususnya membahas mengenai pertumbuhan laba. Diharapkan

50
pula dapat memberikan informasi tambahan mengenai faktor-faktor apa saja yang

dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Oleh karena itu, dapat diimplikasikan hal-

hal berikut:

1. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Tinggi ataupun rendahnya Current Ratio tidak berpengaruh

terhadap laba. Hal ini dapat disebabkan karena laba perusahaan bisa

dihasilkan melalui pendapatan lainnya dan perusahaan yang memiliki

utang lebih memilih melunasi hutangnya dengan dana lainnya sehingga

laba bisa terus meningkat.

2. Leverage berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT. Telekomunikasi

Indonesia Tbk.

Hal ini menunjukan bahwa perusahaan mampu menggunakan utang

sebagai modal perusahaannya dimana semakin besar utang maka modal

perusahaan juga semakin besar sehingga dapat mempengaruhi laba

perusahaan. Akan tetapi perusahaan harus lebih bijak dalam menggunkan

hutang sebagai modal perusahaan karena jika perusahaan memiliki hutang

yang terlampau besar dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan itu

sendri.

3. Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

51
Ukuran perusahaan yang stabil dan meningkat pada tahun 2017

menunjukan bahwa perusahaan mampu mengelola aset perusahaannya

dengan baik yang menimbulkan laba yang baik pula untuk perusahaan.

Dengan ukuran perusahaan yang stabil dan cenderung meningkat dapat

meningkatkan kepercayaan investor untuk memanamkan modal sehingga

aset perusahaan pun meningkat.

5.3. Implikasi Terapan

Hasil penelitian ini dapat menambah informasi dan pengetahuan mengenai

pengaruh likuiditas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Perusahaan harus terus memantau dan

mengelola likuiditas perusahaan dengan baik untuk dapat memenuhi hutang

jangka pendek. Penggunaan utang harus dipertibangkan dengan hati-hati dengan

memperhatikan risiko dan kondisi pasar. Ukuran perusahaan yang lebih besar

cenderung berkolerasi positif terhadap pertumbuhan laba, manajemen dapat

mempertimbangkan strtategi pertumbuhan yang mendukung peningkatan ukuran

perusahan. Dari hasil penelitian ini peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya

untuk dapat mengkaji lebih dalam rasio-rasio keuangan yang dapat mempengaruhi

pertumbuhan laba perusahaan dengan menganti atau menambah variabel periode

dan objek penelitian yang digunakan peneliti terdahulu agar dapat melihat faktor-

faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba perusahaan.

52
DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, Irham. 2013. Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Ghosh , A. And D. Moon. 2010. “Corporate Debt Financing and Earnings Quality

Journal of Business Finance and Accounting”, 37 (5-6), pp:538- 559.

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hanafi, Dr Mahmud M, M.B.A, Dan Halim, Abdul. 2009. Analisis Laporan

Keuangan. Edisi Keempat. Cetakan Pertama. YKPN. Yogyakarta.

Irawati, Dhian Eka. 2012. “Pengaruh Struktur Modal, Pertumbuhan Laba, Ukuran

Perusahaan dan Likuiditas terhadap Kualitas laba”. Accounting Analysis

Journal, 1(2), pp: 1-6.

Martani Dwi, Siregar Sylvia Veronika dkk. 2018. Akuntansi Keuangan Menengah

Berbasis PSAK. Edisi kedua. Buku satu. Jakarta: Salemba empat.

53
Puspita Hendarwati, Akhmad Syarifudin. 2021. “Pengaruh Likuiditas, Leverage

dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pertumbuhan Laba (Studi Kasus Pada

Perusahaan Sub Sektor Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Periode Tahun 2015-2019)”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen, Bisnis

dan Askuntansi 3 (1).

Reyhan, Arief. 2014. “Pengaruh Komite Audit, Asimetri Informasi, Ukuran

Perusahaan, Pertumbuhan Laba dan Profitabilitas Terhadap Kualitas Laba

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI 2009- 2010)”.

JOM FEKON Vol. 1 No. 2 Oktober.

Setianingsih, Ely puji. 2013 “Pengaruh mekanisme tata kelola perusahaan dan

kinerja perusahaan terhadap kualitas laba (studi kasus perusahaan otomotif

dan komponen dibursa efek indonesia)” Procceding PESAT (psikologi,

ekonomi, sastra, arsitektur, dan teknik sipil) Vol, 5.

Shanie Sukmawati, Kusmuriyanto dan Linda Agustina. 2014, Pengaruh Struktur

Modal, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, dan Return On Asset Terhadap

Kualitas Laba. Accounting Analysis Journal, 3(1)

Simamora, Erikson, Prof. Dr. Amries Rusli Tanjung, MM., Ak., CA., Julita, SE,

[Link]., Ak. 2014. “Pengaruh investment opportunity set (IOS), mekanisme

good corporate governance dan reputasi KAP terhadap kualitas laba

perusahaan (Studi empiris pada perusahaan property and real estate yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2010-2012)”. JOM FEKON Vol. 1 No.

2.

54
Sofian, Saudah, Siti Zaleha A.R., and Mohammadghorban Mehri. 2011.

Conservatism of Earnings and Investor Protection. International Journal of

Bussines and Social Science, 2 (4), pp: 143-148.

Surifah. 2010. Kualitas Laba Dan Pengukurannya. Jurnal Ekonomi & Akuntansi

Vol. 8, No. 2, Mei – Agustus. Fakultas Ekonomi. Universitas

Cokroaminoto. Yogyakarta.

Sugiono, Lisa Puspitasari dan Y. Jogi Christiawan. 2013. Analisa Faktor yang

Mempengaruhi Likuiditas Pada Industri Ritel yang Terdaftar Pada Bursa

Efek Indonesia Tahun 2007-2012. Business Accounting Review, 1 (2), pp:

298-305.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2012. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Wulansari, Yenny. 2013. “Pengaruh Investment Opportunity Set, Likuiditas Dan

Leverage Terhadap Kualitas Laba”. Jurnal Universitas Negeri Padang.

Warianto, Paulina, Ch. Rusiti.2013. “Pengaruh ukuran perusahaan, struktur

modal, Likuiditas dan investment opportunity set (ios) terhadap Kualitas

laba pada perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI”. Jurnal

Universitas Atma Jaya.

55
Yeni Wulansari. 2013. Pengaruh Investement Opportunity Set, Likuiditas Dan

Leverage Terhadap Kualitas Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang

Terdaftar Di BEI. Jurnal Akuntansi, 1(2).

56

Anda mungkin juga menyukai